Social Items

HANYA Ci Kang yang tetap tenang. Kini dia menghadapi si gendut, lantas bertanya, "Ji-wi Locianpwe, kami suami isteri tidak merasa bersalah, oleh karena itu kami pun menolak untuk menjadi tangkapan ji-wi dan tidak mau mengikuti ji-wi pergi. Nah, itulah keputusan kami dan terserah kepada ji-wi."

Si gendut itu tertawa dan menoleh kepada si kurus. "Heh-heh-heh, Ban-tok, sudah kita duga bahwa mereka akan berani membantah dan melawan kita!"

Si kurus nampak semakin muram dan dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum menjawab, "Aihh, Hek-tok, sudahlah, jangan ganggu mereka. Mereka sedang merayakan pernikahan anak mereka, mengapa harus diganggu? Sebaiknya kita pulang saja dan kita mengadakan sembahyangan besar untuk suhu Ceng Hok Hwesio." Nampaknya pendeta kurus yang kepalanya berambut tipis itu berlainan pendapat dengan kakek gundul yang menjadi sute-nya. Dia nampak malas dan tidak bergairah.

"Heiii, Suheng Ban-tok! Apakah engkau takut melawan bocah berlengan buntung sebelah ini?"

Mendengar ucapan itu, si tinggi kurus yang tadinya bermalas-malasan dan seperti orang mengantuk, seketika terbangun semangatnya dan dia memandang marah kepada sute-nya, "Hek-tok, jangan seenak perut gendutmu saja engkau bicara! Aku takut? Biar orang tua dia ini, Si Iblis Buta bangkit dari kubur dan membantunya mengeroyokku, aku masih tidak takut!"

"Kalau tidak takut, kenapa masih banyak cakap lagi? Bantulah aku untuk menangkap dia dan membawanya ke kuil untuk menerima hukuman. Ini merupakan tugas kita membalas budi mendiang Ceng Hok Hwesio!" kata si gendut.

Mendengar ini, si tinggi kurus segera melangkah maju menghadapi Siangkoan Ci Kang. Pendekar ini diam-diam terkejut. Agaknya kedua orang aneh ini sudah menyelidiki secara mendalam tentang dirinya sehingga tahu pula bahwa dia adalah putera Si Iblis Buta.

"Siangkoan Ci Kang, sebaiknya engkau menyerah saja dan ikut dengan kami ke kuil. Tak ada gunanya engkau melawanku. Ingat, selama empat puluh tahun kami menggembleng diri dan memperdalam ilmu-ilmu kami. Engkau tak akan menang, bahkan mungkin terluka parah kalau berani melawan aku!" kata si tinggi kurus dengan suaranya yang kecil seperti suara wanita.

"Pendeta siluman, kami akan menghajarmu!" Lima orang pimpinan Pek-sim-pang tiba-tiba menerjang maju.

Mereka adalah para pembantu dari Pek Kong ketuanya. Sebagai tamu-tamu dan pengiring pengantin pria, mereka menjadi marah sekali ketika melihat ada dua orang pendeta yang membikin kacau, mengganggu perayaan pernikahan itu. Mereka merasa tidak enak sekali kalau hanya berdiam diri saja, maka melihat pendeta gendut yang seakan-akan menjadi biang keladinya karena si kurus tadi kelihatan enggan berkelahi, kini menerjang ke arah si gendut dengan serentak.

Mereka tidak mempergunakan senjata, hanya menyerang dengan pukulan dan tamparan. Akan tetapi karena mereka adalah tokoh-tokoh Pek-sim-pang yang tinggi tingkatnya, yaitu pembantu-pembantu ketua, maka serangan mereka cukup dahsyat, terlebih lagi mereka menyerang dengan berbareng sambil mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Siangkoan Ci Kang terkejut sekali, akan tetapi tidak sempat lagi untuk mencegah karena serbuan lima orang Pek-sim-pang itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Bahkan Pek Ki Bu dan Pek Kong sendiri pun tidak menyangka sehingga mereka berdua hanya dapat memandang.

Mereka semua menjadi semakin terkejut sesudah melihat betapa kakek gendut itu masih menyeringai saja, sama sekali tidak membuat gerakan untuk mengelak atau menangkis. Maka tentu saja pukulan lima orang Pek-sim-pang itu mengenai sasaran dengan tepat dan terdengarlah suara bak-bik-buk seperti orang-orang memukuli sekarung pasir ketika pukulan-pukulan itu mengenai sasaran, yaitu di perut, punggung, dada, lambung dan leher kakek gendut itu.

Akibatnya ternyata lebih mengejutkan lagi. Kakek gendut itu masih nampak berdiri sambil menyeringai, bahkan kini terdengar suara tawanya, sebaliknya lima orang yang berhasil menyarangkan pukulan mereka ke sasaran itu terjengkang atau terpelanting roboh, lantas berkelojotan dan segera terdiam kaku, mati dengan kulit tubuh berubah menghitam persis seperti kulit kakek gendut itu!

Siangkoan Ci Kang terkejut bukan kepalang. Kiranya si gendut hitam itu merupakan orang yang memiliki tubuh yang beracun, luar biasa sekali betapa pukulan itu diterimanya begitu saja dan yang memukul langsung keracunan! Ini merupakan ilmu sesat yang amat kejam dan jahat, padahal pukulan lima orang itu sama sekali tak boleh dipandang ringan karena pukulan itu mengandung tenaga sinkang yang cukup kuat!

"Jangan sentuh...!" Han Siong cepat berseru ketika melihat ayah dan kakeknya meloncat ke dekat mayat-mayat itu. Untung dia segera mengeluarkan seruan ini karena orang yang menyentuh mayat-mayat itu terancam bahaya keracunan, setidaknya keracunan kulitnya.

"Ha-ha-ha, jangan salahkan pinceng (aku). Mereka yang menyerangku, jadi mereka mati karena perbuatan sendiri. Memang sudah takdirnya mereka mati," kata si gendut sambil tertawa-tawa.

Wajah Siangkoan Ci Kang berubah. Kini dia sudah marah sekali. Dalam pesta pernikahan puterinya bukan hanya terjadi pengacauan, akan tetapi juga pembunuhan walau pun dia juga melihat sendiri betapa kelima orang tamu itu tadi menyerang si kakek gendut yang sama sekali tidak menangkis atau balas menyerang. Bagaimana pun juga lima orang itu adalah tamu-tamunya, bahkan tamu kehormatan karena mereka adalah pengikut-pengikut mempelai pria, tokoh-tokoh Pek-sim-pang. Dialah yang bertanggung jawab, sebagai tuan rumah.

"Kalian adalah orang-orang tua, pendeta-pendeta, yang tidak patut dihormati. Kalian iblis-iblis jahat!" bentaknya dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan.

Akan tetapi sebelum pendekar ini menyerang si gendut yang telah membunuh lima orang Pek-sim-pang, si kurus sudah menyambutnya dengan sambaran tangannya ke arah leher. Sambaran tangan yang kurus panjang itu tampaknya tidak bertenaga, akan tetapi nampak sinar hitam dari telapak tangan itu.

Maka tahulah Ci Kang bahwa si tinggi kurus ini pun mempunyai pukulan beracun, apa lagi jika dingat bahwa julukannya pun Ban-tok Sian-su (Dewa Selaksa Racun)! Dia mengelak dengan menarik tubuh atas ke samping, lalu dari samping tangannya menyambar dengan totokan ke arah lambung.

Ban-tok Sian-su dapat mengelak dengan mudah lantas membalas lagi, dan sekarang dua orang sakti itu sudah saling menyerang dengan dahsyatnya. Setiap serangan merupakan cengkeraman maut dan tentu akan mematikan kalau mengenai sasaran.

Karena maklum bahwa lawannya mempergunakan hawa beracun yang amat berbahaya, maka Siangkoan Ci Kang tak mau menangkis melainkan selalu mengandalkan kecepatan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dari setiap serangan. Setiap kali menyerang dia pun selalu melindungi jari tangannya dengan sinkang untuk menolak hawa beracun kalau sampai serangannya mengenai tubuh lawan, atau kalau lengannya beradu dengan lengan lawan yang menangkis. Dan setiap kali beradu lengan, pendekar ini pun maklum bahwa lawannya benar-benar lihai, memiliki sinkang yang amat kuat, setidaknya tidak kalah kuat olehnya.

Puluhan jurus telah lewat dan mereka sama kuat, akan tetapi Toan Hui Cu maklum bahwa suaminya berada di pihak yang terdesak. Dia tahu penyebabnya, yaitu karena suaminya tak berani menangkis langsung melainkan selalu mengelak. Hal ini tentu saja mengurangi kesempatannya dalam melakukan serangan untuk mendesak lawan. Memang berbahaya sekali menggunakan tangan kosong dalam menghadapi lawan yang ahli racun itu. Maka nyonya ini lalu minta pedang Kwan-im-kiam dari Han Siong dan dia melemparkan pedang itu kepada suaminya sambi! berseru.

"Membunuh ular beracun harus dengan senjata. Terimalah ini!"

Ci Kang maklum akan maksud isterinya, maka dia pun melompat ke belakang dan cepat menyambar pedang yang pada waktu itu dilontarkan isterinya dengan penuh perhitungan. Setelah pedang Kwan-im-kiam berada di tangan kanannya, Ci Kang lantas meloncat turun menghadapi lawannya. Dia adalah seorang gagah yang berjiwa pendekar, maka dia tidak segera menyerang melainkan berkata dengan sikap gagah.

"Ban-tok Sian-su, keluarkan senjatamu!"

Si tinggi kurus itu mewek-mewek seperti mau menangis, padahal maksud hatinya hendak tersenyum mengejek! Memang orang ini tidak bisa menggerakkan mulut untuk tertawa. Kedua ujung mulutnya selalu bergerak ke bawah, tidak dapat ke atas.

"Siangkoan Ci Kang, aku tidak pernah mempergunakan senjata. Apa perlunya bersenjata untuk menghadapi seorang muda seperti engkau? Majulah!"

"Lihat pedangku!" Ci Kang membentak dan dia pun mulai menyerang.

Kakek tinggi kurus itu mengelak, lalu dari samping tangannya cepat menyampok pedang! Kakek itu memang lihai sekali. Kedua lengan dan tangannya agaknya memiliki kekebalan sehingga dia berani menyampok pedang pusaka dari samping. Biar pun tidak menangkis mata pedang secara langsung, akan tetapi sampokan ini saja sudah membuktikan bahwa lengannya kebal.

Kembali mereka saling serang dengan seru, bahkan lebih hebat dari pada tadi. Sesudah memegang Kwan-im-kiam, kini Siangkoan Ci Kang laksana seekor harimau yang tumbuh sayap. Bersama isterinya memang ia telah mewarisi ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut yang dahsyat, apa lagi ilmu itu kini dimainkan dengan Kwan-im-kiam, maka pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Indah namun amat berbahaya, lembut tapi mengandung kekuatan yang dahsyat bukan main. Ilmu itu seperti menggambarkan sifat Dewi Kwan Im. Lemah lembut, luhur budi, namun mengandung kesaktian yang sukar dilawan!

Bahkan seorang sakti seperti Ban-tok Sian-su menjadi terkejut dan mulailah dia terdesak. Si gendut Hek-tok Sian-su yang menjadi penonton di pinggir, memandang dengan mata terbelalak hingga mulutnya lupa tersenyum. Hampir dia tak percaya. Bagaimana mungkin suheng-nya yang sudah menguasai ilmu yang amat hebat itu sampai terdesak oleh lawan yang lengannya buntung sebelah itu?

Tadinya dia dan suheng-nya amat memandang rendah terhadap Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, mengingat mereka hanyalah murid-murid Ceng Hok Hwesio yang tingkat kepandaiannya jauh di bawah mereka. Akan tetapi, di luar dugaannya Ci Kang bukan saja mampu menandingi Ban-tok Sian-su, bahkan dapat mendesaknya dan membuat suheng-nya itu kini terancam bahaya.

Tentu saja dia merasa gelisah! Dia ingin sekali membantu suheng-nya yang kini terancam oleh gulungan sinar yang lembut namun amat kuat itu. Akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh yang sombong begitu saja. Dia dapat melihat kenyataan, dapat mengenal keadaan dan mempertimbangkannya, menghitungnya masak-masak.

Kalau dia membantu suheng-nya, hal itu bukan menguntungkan pihaknya, bahkan sama dengan melemparkan dirinya sendiri ke dalam bahaya. Di situ terdapat Toan Hui Cu yang kabarnya tidak kalah lihainya dibandingkan Ci Kang, apa lagi mengingat bahwa wanita itu adalah puteri tunggal mendiang Raja Iblis dan Ratu Iblis.

Di sana masih terdapat pula sepasang mempelai, yaitu puteri dan murid suami isteri itu yang tentu juga amat lihai, di samping adanya orang-orang Pek-sim-pang. Tidak, apa bila dia main keroyokan maka dia dan suheng-nya akan celaka! Karena itu dia menahan diri dan hanya menjadi penonton, dengan hati berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan.

Kekhawatiran Hek-tok Sian-su memang beralasan. Pada waktu itu, pertandingan itu sejak dimulai sampai sekarang sudah berlangsung seratus jurus lebih dan kini Ban-tok Sian-su telah terdesak hebat. Beberapa kali dia mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu sepasang tangan yang didorongkan ke depan hingga mengeluarkan uap hitam yang berbau busuk, tanda bahwa uap itu beracun dan jahat sekali.

Tetapi gulungan sinar pedang itu menghalau uap hitam dan melihat ini, Toan Hui Cu, Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian yang memiliki kepandaian tinggi telah memperingatkan para tamu untuk menyingkir dan menjauhi tempat perkelahian itu karena mereka maklum bahwa uap hitam itu amat berbahaya kalau sampai tersedot atau tersentuh para tamu.

Walau pun Ban-tok Sian-su sudah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya yang aneh-aneh dan jahat, akan tetapi ilmu pedang itu bisa menghalau semua serangan, bahkan gulungan sinar pedang itu mengurungnya dan membuat Ban-tok Sian-su menjadi sibuk sekali untuk mengelak dan menangkis sehingga akhirnya tidak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk balas menyerang. Beberapa kali dicobanya pula untuk menggunakan ilmu sihir dan beberapa kali Ci Kang terhuyung, terkena pengaruh sihir yang sangat kuat walau pun dia sudah mengerahkan sinkang-nya.

Akan tetapi Han Siong yang melihat ini segera diam-diam membantu suhu dan juga ayah mertuanya. Dengan kekuatan sihirnya dia memunahkan daya sihir kakek kurus sehingga Ci Kang tidak terpengaruh lagi.

Kakek kurus itu tidak tahu bahwa pemuda mempelai pria itu yang menolak sihirnya. Yang terasa olehnya hanya betapa kekuatan sihirnya membalik laksana seekor anjing pemburu yang lari kembali kepada majikannya dengan ekor ditekuk ke bawah! Tentu saja pendeta ini menjadi semakin panik dan karena itu gerakannya jauh mengendur.

Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ci Kang. Dengan gerakan istimewa, setengah membalik dengan tubuh condong, pedangnya menyambar dan tahu-tahu sudah menusuk dan menembus dada Ban-tok Sian-su.

"Crappp...!"

"Aughhh...!"

Ci Kang cepat-cepat mencabut pedangnya dan begitu pedang dicabut, kakek tinggi kurus itu segera roboh terjengkang. Dua tangannya mendekap dada dan darah pun bercucuran dari celah-celah jari tangannya.

Ci Kang sudah lama mengundurkan, bahkan seperti mengasingkan diri bersama isterinya, menjauhi dunia kang-ouw dan menghindari kekerasan. Sebab itu dia menjadi terkejut dan menyesal bukan main ketika melihat betapa pedangnya sudah menembusi dada seorang lawan yang tadinya sama sekali tak dikenalnya, bahkan tidak ada urusan apa pun antara mereka.

"Ah, maafkan aku " katanya dan dia pun berlutut di dekat tubuh yang rebah terlentang itu.

"Ayah, jangan...!" teriak Bi Lian, dan Han Siong juga menubruk ke depan.

Namun terlambat. Dua tangan yang berlumuran darah dan yang tadinya mendekap dada yang tertembus pedang, tiba-tiba saja menyambar ke depan. Biar pun Han Siong sempat mendorong tubuh suhu-nya ke samping, akan tetapi tetap saja tangan kiri Ban-tok Sian-su sempat pula menghahtam dada kanan Ci Kang.

"Plakkk...!"

Ci Kang terjengkang, tetapi dapat segera bangkit kembali dan pada bajunya bagian dada terlihat tanda cap merah, yaitu bekas tangan Ban-tok Sian-su yang berlepotan darah. Dan tiba-tiba terjadi keanehan. Ban-tok Sian-su yang semenjak tadi selalu kelihatan cemberut dan mukanya muram dan masam, kini tiba-tiba tertawa bergelak-gelak.

"Bak-tok...!" Si Kakek gendut cepat lari menubruk dan merangkul suheng-nya yang masih tertawa. Begitu suara tawa itu terhenti, kepala si tinggi kurus itu terkulai di pangkuan Hek-tok Sian-su dan dia pun tewas! Dan terjadilah keanehan ke dua. Kakek gendut yang sejak tadi hanya tersenyum dan tertawa-tawa, sekarang merangkul mayat si tinggi kurus sambil menangis tersedu-sedu!

Semua orang memandang dengan bengong. Sambil terus menangis si gendut itu bangkit dan memondong mayat suheng-nya. "Siangkoan Ci Kang, lain waktu aku akan membuat perhitungan denganmu. Sekarang aku hendak mengurus suheng-ku lebih dulu!" Dia lalu membalikkan tubuhnya.

"Pendeta palsu, engkau hendak lari ke mana?" bentak Toan Hui Cu yang telah mengambil pedang Kwan-im-kiam dari tangan suaminya.

"Tahan...!" kata Ci Kang lemah. "Biarkan dia pergi mengurus jenazah suheng-nya."

Dengah gemas Toan Hui Cu terpaksa mentaati suaminya, demikian pula Han Siong dan Bi Lian tidak berani melanggar, walau pun mereka berdua ingin pula untuk menahan dan membunuh kakek gendut yang berbahaya itu. Apa lagi ketika mereka melihat Siangkoan Ci Kang terkulai lemas dan dirangkul oleh Hui Cu.

"Bagaimana keadaanmu...?" isteri itu bertanya khawatir.

Han Siong dan Bi Lian mendekat dan mereka berdua terkejut bukan main melihat betapa kulit leher dan muka Siangkoan Ci Kang perlahan-lahan berubah menghitam! Keracunan! Tentu pukulan tadi mengandung racun yang amat hebat!

"Keparat, pendeta busuk itu!" Bi Lian teringat dan dia telah meloncat berdiri lalu menoleh. Akan tetapi bayangan pendeta gendut tadi sudah tidak nampak lagi. "Aku harus mengejar dia untuk minta obat penawar!"

Han Siong memegang lengannya. "Nanti dulu, Lian-moi. Kita periksa dulu keadaan ayah."

Han Siong segera memondong tubuh suhu-nya yang kini menjadi ayah mertuanya itu ke dalam, diikuti oleh Bi Lian dan Toan Hui Cu, sedangkan Pek Ki Bu dan Pek Kong, dibantu oleh beberapa orang, sibuk mengurus jenazah lima orang pimpinan Pek-sim-pang.

Tentu saja perayaan itu segera bubar. Para tamu, orang-orang dusun, merasa ketakutan dan juga tahu diri. Mereka melihat betapa pihak tuan rumah mengalami kesulitan, maka tanpa banyak cakap lagi mereka segera pergi meninggalkan tempat perayaan, kembali ke dusun masing-masing.

Sementara itu Hui Cu, Bi Lian dan Han Siong segera memeriksa keadaan Siangkoan Ci Kang. Pendekar ini tentu telah tewas kalau saja dia tidak mempunyai tubuh yang kuat dan penuh tenaga sinkang. Pukulan tadi mengandung hawa beracun yang sangat jahat, yang membuat kulit tubuhnya menjadi kehitaman!

Sebagai ahli-ahli silat, Hui Cu, Bi Lian dan Han Siong mengerti pula tentang pengobatan, dan mereka sudah membantu Ci Kang dengan pengerahan sinkang untuk mengusir hawa beracun, juga memberi obat yang akan mencegah menjalarnya racun. Akan tetapi semua usaha itu hanya dapat menahan menjalarnya racun, namun tidak mampu mengusir racun yang sudah memasuki dada dan tidak menyembuhkan lukanya. Racun yang terkandung dalam pukulan Ban-tok Sian-su memang aneh dan luar biasa jahatnya.

"Biar kukejar dan kucari pendeta iblis gendut itu, akan kupaksa supaya dia menyerahkan obat penawarnya!" kata Bi Lian.

"Jangan, Lian-moi. Hek-tok Sian-su itu amat berbahaya, biar aku saja yang mengejarnya. Sebaiknya engkau pergi mencari Hay Hay. Dia memiliki sebuah batu giok mustika yang dapat menyedot racun dan menjadi obat yang amat manjur. Engkau pinjamlah mustika itu darinya, dan aku sendiri yang akan mengejar Hek-tok Sian-su."

"Akan tetapi ke mana aku dapat mencari Hay Hay?" tanya Bi Lian.

"Dia tentu pergi ke Cin-ling-san bersama Kui Hong. Carilah di sana, dan andai kata tidak jumpa pun tentu engkau akan dapat mendengar ke mana dia pergi."

Karena amat mengkhawatirkan keadaan Ci Kang yang keadaannya parah itu, pada esok harinya, pagi-pagi sekali Han Siong dan Bi Lian telah berangkat. Bahkan Han Siong telah berangkat lebih dulu untuk melakukan pelacakan dan pengejaran terhadap Hek-tok Sian-su yang pergi membawa jenazah Ban-tok Sian-su.

Benar-benar menyedihkan sekali. Sepasang pengantin yang tidak sempat berpengantinan karena mereka harus saling berpisah! Toan Hui Cu tinggal di rumah, menjaga suaminya dengan hati penuh kegelisahan. Keluarga Pek juga segera kembali ke Kong-goan sambil membawa abu lima orang pimpinan Pek-sim-pang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Karena melakukan perjalanan sambil melacak dan mencari keterangan tentang jejak Hek-tok Sian-su, maka Han Siong terlambat tiba di kuil Siauw-lim-si itu. Seandainya dia tidak mengikuti jejak kakek gendut itu tetapi langsung saja pergi ke sana, tentu dia tidak akan terlambat. Setelah dia kehilangan jejak kakek itu, barulah dia teringat untuk mencari di kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu, di pinggir sungai Cin-sha di kaki pegunungan Heng-tuan-san, juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mertuanya.

Ketika akhirnya dia tiba di kuil itu, para hwesio masih ingat kepada Han Siong yang dulu dikenal sebagai seorang sin-tong (bocah ajaib) dan mereka menyambut dengan gembira. Pemuda ini pernah menjadi kacung atau juga pelayan dan juga murid Ceng Hok Hwesio. Karena wataknya yang baik dan penurut, maka semua hwesio di kuil itu menyayanginya. Dari mereka inilah Han Siong mendengar keterangan yang lebih jelas.

Ternyata bahwa Ban-tok Sian-su dan Hek-tok Sian-su memang benar dahulu merupakan hwesio muda di kuil itu. Setelah mereka sadar dari penyelewengannya menjadi penjahat-penjahat yang ditaklukkan oleh Ceng Hok Hwesio, mereka kemudian menjadi hwesio dan menerima ajaran agama dari Ceng Hok Hwesio. Atas petunjuk Ceng Hok Hwesio mereka kemudian melakukan perjalanan ke daerah barat, ke Tibet dan India untuk memperdalam ilmu keagamaan mereka.

Satu bulan yang lalu mereka datang sebagai dua orang pendeta yang aneh dan berilmu tinggi. Kedatangan mereka tepat pada hari kematian Ceng Hok Hwesio karena usia tua. Mereka bertanya mengenai Ceng Hok Hwesio yang bertapa dan menghukum diri sendiri, dan mendengar tentang Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui. Cu, mereka lalu menganggap bahwa kematian Ceng Hok Hwesio adalah karena kesalahan suami isteri yang pernah dihukum di kuil itu

"Mereka juga mengirim seorang di antara kami untuk menyelidiki di mana adanya seorang pendekar yang bernama Tang Hay atau Hay Hay. Kemarin dulu Hek-tok Sian-su pulang sambil membawa jenazah Ban-tok Sian-su. Setelah jenazah itu diperabukan dia lalu pergi ke kota raja untuk mencari Hay Hay karena menurut penyelidikan, pendekar itu mungkin sekali berada di kota raja..."

Han Siong merasa amat kecewa sekaligus heran bukan main. Dia merasa kecewa karena ternyata kedatangannya terlambat, dan merasa heran mengapa Hek-tok Sian-su mencari Hay Hay! Ada urusan apa pendeta hitam itu dengan Hay Hay?

Ceng Sun Hwesio, yaitu hwesio yang kini menjadi kepala kuil di situ menggantikan Ceng Hok Hwesio yang sudah wafat, melihat kekecewaan itu dan dia pun berkata, omitohud, apakah engkau sedang mencari obat penawar racun?"

Han Siong kaget sekali dan meloncat bangun, memberi hormat kepada hwesio tua itu lalu berseru, "Bagaimana Losuhu bisa mengetahuinya? Memang benar saya mencari Hek-tok Sian-su untuk minta obat penawar racun!"

"Omitohud...! Alangkah bijaksananya Hek-tok Sian-su walau pun nama julukannya sangat menyeramkan. Han Siong, sebelum pergi beliau telah meninggalkan sebungkus obat dan agaknya beliau sudah tahu bahwa tentu engkau akan datang mengejarnya ke sini. Beliau berpesan agar obat penawar itu diberikan kepadamu!"

Hwesio tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan menyerahkannya kepada Han Siong. Dengan heran dan ragu namun penuh harapan, pemuda itu menerima bungkusan dan dengan hati-hati membukanya. Di dalam bungkusan itu terdapat bubuk putih.

"Losuhu, apakah Hek-tok Sian-su tidak meninggalkan pesan yang berkaitan dengan obat penawar racun ini?"

"Ada... ada! Beliau berpesan supaya obat ini diminumkan sekaligus sampai habis. Beliau juga berpesan bahwa Siangkoan Ci Kang harus bertapa di sini hingga mati. Jika dia tidak datang sendiri, kelak beliau yang akan menjumpainya. Nah, hanya itulah pesannya."

Han Siong mengucapkan terima kasih, kemudian cepat-cepat dia kembali ke Kim-ke-kok. Subo-nya menerimanya dengan gembira setelah dia menceritakan pengalamannya, akan tetapi guru dan murid ini berhati-hati sekali ketika hendak memberikan obat penawar itu kepada Siangkoan Ci Kang. Bergantian mereka mencoba dan menjilat obat itu. Setelah yakin bahwa obat itu tidak menganduhg racun, barulah mereka berani memberikan obat itu kepada Siangkoan Ci Kang yang keadaannya masih lemah.

Sebelum minum obat, pada saat dilapori Han Siong tentang obat yang oleh Hek-tok Sian-su ditinggalkan kepada hwesio di kuil Siauw-lim-si, Ci Kang pun mengangguk-angguk dan mau meminumnya. Mereka bertiga dapat mengerti jalan pikiran hwesio gendut itu. Tentu hwesio itu tidak rela melihat Ci Kang mati begitu saja oleh racun dan menghendaki agar Ci Kang dan Hui Cu menebus dosaa dan bertapa di kuil itu sampai mati sebagai hukuman mereka yang menjadi sebab Ceng Hok, Hwesio menderita sampai mati!

Han Siong menunggu sampai tiga hari setelah suhu-nya minum obat penawar racun. Dan ternyata memang benar, obat itu manjur sekali. Keadaan Ci Kang membaik dan sesudah tiga hari dadanya tidak terasa nyeri lagi. Kulitnya yang tadinya menghitam kini mulai pulih dan bersih kembali. Akan tetapi saat dia mencoba untuk mengerahkan sinkang, ternyata tenaganya lemah bukan main. Tahulah dia bahwa akibat racun yang ganas itu dia sudah kehilangan tenaganya dan dia harus berlatih dengan tekun untuk menghimpun kekuatan sinkang-nya kembali.

"Engkau pergilah menyusul isterimu kemudian ajaklah dia pulang," kata Ci Kang kepada mantunya. "Keadaanku sudah membaik, tinggal mengumpulkan tenaga saja."

"Benar, Han Siong. Pergilah engkau mencari isterimu dan ajak dia pulang. Kasihan kalian berdua, semestinya menjadi pengantin baru tetapi malah saling berpisah seperti ini," kata Hui Cu.

Han Siong tersenyum dan memberi hormat kepada suhu dan subo-nya yang kini menjadi ayah dan ibu mertuanya itu. "Harap Ayah dan Ibu tidak memikirkan hal remeh seperti itu. Yang penting Ayah dapat diselamatkan. Kini saya akan pergi mencari Lian-moi dan kalau sudah jumpa, kami akan berpesiar sebagai bulan madu, mengajaknya ke rumah keluarga saya di Kong-goan, mengunjungi para pendekar kenalan kami yang pernah bekerja sama, kemudian baru kembali ke sini."

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu mengangguk-angguk girang. Setelah mengucapkan selamat tinggal Han Siong lalu meninggalkan Kim-ke-kok, pergi mencari isterinya. Karena sebelum Bi Lian pergi dia memberi tahu supaya mencari keterangan tentang Hay Hay ke Cin-ling-pai, maka dia pun melakukan pengejaran ke sana, walau pun dari para hwesio di kuil Siauw-lim-si dia mendengar bahwa kabarnya Hay Hay berada di kota raja dan Hek-tok Sian-su juga pergi ke sana. Baginya yang terpenting adalah menemukan isterinya dulu.

********************

Cang Hui, dara jelita yang lincah jenaka itu maklum akan maksud ayah ibunya yang ingin menjodohkan saudara misannya, Teng Cin Nio, dengan kakaknya, Cang Sun. Dia sangat sayang kepada kakaknya, dan juga dia sayang kepada Cin Nio yang dianggapnya bukan saja manis wajahnya, akan tetapi juga manis budinya sehingga akan menjadi isteri yang baik sekali bagi kakaknya. Maka dia sepenuhnya mendukung niat orang tuanya itu.

Sering kali secara cerdik dan tidak menyolok ia menceritakan semua kebaikan kakaknya kepada Teng Cin Nio sehingga gadis yang memang kagum kepada Cang Sun itu menjadi semakin tertarik. Akan tetapi tentu saja Cin Nio tidak berani menyatakan rasa kagumnya, walau kepada Cang Hui sekali pun. Seorang gadis baik-baik tidak mungkin mau mengaku kepada orang lain tentang cinta kasihnya terhadap seorang pria, sebab hal itu merupakan pantangan besar!

Cang Hui memang cerdik, lincah dan jenaka. Ia tak kekurangan akal untuk menjodohkan saudara misannya dengan kakaknya, yaitu dengan jalan mempertemukan mereka berdua empat mata saja. Dia pun mulai mengatur siasat.

Dia menanti sampai malam bulan purnama tiba, karena biasanya orang mudah jatuh cinta di bawah cahaya bulan purnama! Dia tahu bahwa kakaknya sering kali menikmati bulan purnama di taman bunga mereka yang indah, di mana terdapat sebuah kolam ikan dan tempat duduk yang terlindung atap tanpa dinding, dan di tempat inilah biasanya kakaknya menulis sajak atau membaca buku sampai jauh malam.

Ketika saat yang dinanti-nantinya tiba dan dia tahu betul bahwa pada malam itu kakaknya berada di taman, ia lalu mengajak Cin Nio untuk berjalan-jalan di taman bunga menikmati keindahan bulan purnama. Cin Nio yang tidak mencurigai misannya yang disayangnya itu menjadi gembira dan tak lama kemudian dua orang gadis bangsawan itu telah melangkah perlahan-lahan memasuki taman.

Berbeda dengan para puteri bangsawan lainnya yang biasanya diiringi oleh para pelayan, dua orang gadis ini tidak ditemani pelayan. Mereka adalah gadis-gadis yang mempelajari ilmu silat dan merasa diri mereka cukup kuat untuk melindungi diri sendiri sehingga tidak membutuhkan penjagaan pelayan atau pengawal.

Ketika mereka berjalan-jalan di dekat kolam ikan, tiba-tiba Cang Hui menarik tangan Cin Nio dan memberi isyarat agar gadis itu tak mengeluarkan suara, lalu mereka bersembunyi di balik rumpun bunga mawar. Cin Nio memandang ke depan dan pipinya terasa panas.

Kini dia pun melihat seorang pemuda duduk membelakangi mereka, menghadapi kolam ikan, agaknya menikmati bulan yang tenggelam di dalam kolam, lantas terdengar pemuda itu membaca sajak yang nampaknya baru saja dibuatnya. Suaranya terdengar lembut dan merdu, menambah keindahan malam itu.

Malam gemilang dengan cahaya bulan purnama, langit bersih, taman yang penuh bunga-bunga musim semi yang sedang bersaing dalam lomba kecantikan, semerbak harum dan silir angin lembut, ditambah suara merdu membaca sajak, diiringi paduan suara jengkerik dan belalang!

"Bunga setaman aneka wama bermandikan cahaya purnama bersaing cantik indah berseri berlomba sedap harum mewangi betapa bahagianya hati ini! Namun, bagaikan mimpi hampa tak lama lagi bulan sirna meninggalkanku dalam gulita bunga akan habis gugur layu tinggal aku di sini sepi sendiri. Wahai ikan-ikan dalam kolam taman kalian akan tetap gembira dengan teman-teman tetapi aku...? Sepi sendiri termenung iri!"

Terdengar tepuk tangan mendahului munculnya seorang wanita cantik. Cang Hui dan Cin Nio menahan diri, bahkan Cang Hui memegang lengan Cin Nio dan memberi isyarat agar jangan mengeluarkan suara. Tadi dia sudah siap bertepuk tangan memuji kakaknya, akan tetapi dia tidak jadi bertepuk tangan begitu mendengar tepuk tangan dari lain jurusan.

Dua orang gadis itu melihat bahwa yang muncul adalah Liong Bi yang kini sudah menjadi pengawal keluarga Cang. Cang Hui ingin sekali melihat apa yang hendak dilakukan oleh wanita yang walau pun kelihaiannya dia kagumi akan tetapi sikapnya yang dianggap genit itu menimbulkan perasaan tidak suka dalam hatinya itu.

Sementara itu Cang Sun segera bangkit dari duduknya ketika melihat bahwa yang muncul dan bertepuk tangan memuji adalah Liong Bi, wanita cantik yang sekarang sudah menjadi pengawal keluarga ayahnya.

"Hebat, Cang-kongcu. Tidak kusangka bahwa Kongcu sepandai ini, dapat membuat sajak sedemikian indahnya!" Liong Bi atau Su Bi Hwa memuji sambil memperlihatkan senyum manis dan kerling mata memikat.

Wajah Cang Sun berubah kemerahan. "Ahh, Liong-lihiap (pendekar wanita Liong) terlalu memuji. Aku hanya iseng menikmati bulan purnama."

Liong Bi mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama sambil tersenyum hingga giginya nampak berkilauan tertimpa sinar bulan. "Memang cantik dan indah sekali malam ini, Kongcu, maka tak mengherankan jika keindahan ini menggerakkan jiwa senimu untuk membuat sajak. Alangkah akan semakin meriah kalau malam yang indah ini diisi dengan tarian pedang. Maukah Kongcu melihat saya menari pedang untuk mengimbangi sajakmu tadi?"

Cang Sun adalah seorang pemuda yang sopan. Walau pun dia merasa tidak sepatutnya seorang laki-laki seperti dia mengadakan pertemuan berdua saja dengan seorang wanita muda dan cantik pada malam hari dalam taman, akan tetapi dia merasa tidak baik kalau menolak. Apa lagi wanita itu adalah pengawal keluarga, dan sekarang hanya ingin menari pedang untuk memeriahkan suasana malam bulan purnama. Maka dia pun mengangguk dan hanya berkata,

"Silakan."

Liong Bi segera mencabut pedangnya, kemudian mulailah dia menari. Memang tarian itu mengandung gerakan silat pedang, akan tetapi dilakukan dalam gaya tarian yang nampak indah dan menonjolkan keindahan lekuk lengkung tubuh wanita itu. Terlebih lagi Liong Bi sengaja bergerak lambat, dengan gerakan seindah mungkin yang disertai senyum manis dan kerling memikat sehingga Cang Sun terpesona juga.

Memang Liong Bi adalah seorang wanita yang cantik menarik dan sudah berpengalaman. Ia tahu bagaimana harus bergaya untuk memikat hati pria. Tubuhnya yang memang padat menggairahkan dengan kulit yang halus putih itu sengaja dibungkus dengan pakaian yang ketat dan ketika dia menarikan silat pedang ini, tubuh yang ramping itu membuat gerakan dan goyangan seperti seekor ular, menggairahkan dan memikat.

Dan tarian itu memang indah, pedangnya membuat gulungan sinar berkeredepan. Wanita cantik itu tampak gagah perkasa sehingga mengingatkan Cang Sun akan Kui Hong, gadis pendekar yang dicintanya. Cang Sun terpesona, sebab itu dia pun segera bertepuk tangan memuji setelah Liong Bi menghentikan tariannya.

"Bagus sekali, Liong-lihiap. Tarianmu indah dan gagah!" serunya gembira.

Setelah menyimpan pedangnya Liong Bi menghampiri pemuda itu. Seorang pemuda yang ganteng, pikirnya. Bukan saja ganteng akan tetapi juga putera seorang menteri yang amat terkenal dan kekuasaannya besar. Betapa akan senangnya kalau dia dapat menjadi isteri pemuda ini, dan akan besar sekali manfaatnya bagi Pek-lian-kauw! Jika berhasil dia akan mendapat keuntungan ganda. Dia sendiri akan menikmati kemuliaan, dan dia akan dapat berbuat banyak demi keuntungan Pek-lian-kauw.

"Aihh, sekarang engkaulah yang terlampau memujiku, Kongcu. Sajakmu tadi yang patut dikagumi, hanya sayang sekali pada bagian akhir sajak itu engkau bersedih, Kongcu. Kenapa engkau iri terhadap ikan-ikan di kolam ini, Kongcu?' Liong Bi memandang ke arah ikan-ikan emas yang berenang berkejaran di dalam kolam.

Cang Sun juga memandang ke arah kolam. "Mereka itu selalu bergembira dengan teman-teman mereka, tak peduli ada bulan atau pun tidak, bunga bersemi atau tidak, sedangkan aku..." Cang Sun tidak melanjutkan ucapannya, merasa bahwa dia kelepasan bicara.

"Kongcu sepi sendiri? Aihh, Cang Kongcu, kenapa Kongcu membuat sajak yang bunyinya seperti itu? Bagaimana mungkin seorang pemuda seperti Kongcu bisa kesepian? Semua orang, terutama para gadis di seluruh negeri, akan merasa bangga untuk menjadi teman Kongcu!" Dia mendekat, lalu dengan lembut duduk di atas bangku di samping pemuda itu, dan dengan pandang mata penuh daya pikat dia pun berbisik, "Setidaknya aku siap sedia untuk menemani dan menghibur Kongcu, setiap saat, dalam suka mau pun duka..."

Cang Sun terbelalak, mukanya semakin merah dan jantungnya berdebar. Dia bangkit dan berseru, "Long-lihiap..." Akan tetapi dia cepat menahan diri untuk melanjutkan tegurannya karena teringat betapa wanita ini pernah menyelamatkan nyawanya ketika tempo hari dia diserang penjahat di telaga.

"Kongcu, sejak pertemuan kita yang pertama aku sudah kagum sekali padamu. Aku siap untuk melindungimu, menghiburmu, menemanimu dan membahagiakanmu selamanya..." Suaranya merayu-rayu, lalu dengan lembut dan hangat jari tangan wanita itu menyentuh lengan Cang Sun.

Pemuda itu menjadi salah tingkah. Harus diakuinya bahwa dia sangat tertarik. Wanita ini tampak demikian cantik menggairahkan, demikian gagah, dan demikian menantang. Akan tetapi hati nuraninya menolak karena dia belum mengenal betul siapa sebenarnya wanita ini, orang macam apa dan apakah semua perasaan yang diucapkannya tadi benar-benar tulus. Maka dia pun melangkah mundur tiga langkah.

Liong Bi sudah bangkit berdiri. Melihat usahanya hampir berhasil, dia tak mau begitu saja melepaskan mangsa yang sudah di depan mulut. Dia pun melangkah maju mendekat lagi, suaranya menggetar penuh perasaan, "Kongcu..."

Pada saat itu terdengar suara Cang Hui, "Sun-ko, apakah engkau di situ?" dan muncullah Cang Hui dan Cin Nio.

Begitu mendengar suara gadis itu, Liong Bi cepat mundur beberapa langkah sehingga dia berdiri cukup jauh dari pemuda itu ketika dua orang gadis itu muncul dan tiba di situ.

"Engkau sedang apakah, Sun-ko? Ehh, kiranya Enci Liong Bi juga berada di sini? Sedang apakah engkau, Enci Liong Bi?" tanya Cang Hui sambil memandang tajam.

Dengan sikap tenang Liong Bi menjawab, "Saya kebetulan lewat di sini ketika meronda, Siocia. Permisi, saya hendak melanjutkan perondaan, menjaga keamanan malam ini."

"Lebih baik begitu, Enci Liong Bi," kata Cang Hui, seakan menyembunyikan makna yang tajam dalam ucapan itu walau pun dapat pula dianggap wajar.

Liong Bi memberi hormat, "Permisi, Siocia, Kongcu... !" dan dia pun pergi dari situ.

Setelah Liong Bi pergi, Cang Hui menghampiri kakaknya. "Koko, mau apa sih enci Liong Bi berada di sini?"

Cang Sun menarik napas dan dia memandang kepada Cin Nio yang hanya berdiri di situ sambil menundukkan mukanya. "Dia hanya kebetulan lewat ketika meronda dan melihat aku berada di sini, dia lalu datang menghampiri aku dan kami bercakap-cakap. Mengapa engkau menanyakan urusan itu?" Cang Sun membalas sambil memandang adiknya yang dianggap terlalu mencampuri urusan pribadinya.

"Tidak apa-apa, Koko, hanya aku merasa heran melihat keberaniannya menemui engkau seorang diri pada waktu malam begini. Hati-hati, Koko, aku mendengar dari enci Mayang bahwa enci Liong Bi adalah seorang janda. Jangan-jangan engkau akan terpikat olehnya!"

"Huh, bicaramu sudah menyimpang, Hui-moi!" Cang Sun menegur adiknya. "Engkau lupa telah mengajak Cin-moi dan sekarang kau diamkan saja. Silakan duduk, Cin-moi."

Cin Nio yang sejak tadi hanya mendengarkan kini tersenyum dan mengangguk, lalu maju menghampiri Cang Hui, "Terima kasih, Sun-ko," katanya lirih.

Seperti tak sengaja Cang Hui menemukan kertas yang telah ditulisi sajak oleh kakaknya, lalu membacanya dengan suara berirama dan merdu. Cang Sun tidak melarang, hanya memandang adiknya sambil tersenyum. Adiknya itu selalu manja dan dia sangat sayang kepadanya karena hanya seorang itulah saudaranya.

Sesudah selesai membaca sajak itu, Cang Hui berseru, "Aihhh, indah sekali sajakmu ini, Koko. Hanya sayang, sajak ini memandang ringan, bahkan seolah menganggap aku dan enci Cin ini tidak ada saja. Kau keterlaluan, Koko."

"Ehh? Apa maksudmu?"

"Coba saja pikir, dalam sajakmu engkau berkeluh kesah, merasa kesepian tiada teman. Apakah kami berdua ini bukan teman yang baik?"

"Ihhh, anak nakal! Tentu saja, engkau malah adikku dan Cin-moi ini adik misan, lebih dari saudara!"

"Nah, kalau begitu, kenapa di malam yang indah ini berkeluh kesah dan mengatakan sepi sendiri? Hayo, Koko, kita harus merayakan malam seindah ini bertiga! Atau, engkau lebih senang bercakap-cakap dengan janda itu?"

"Hushh! Tentu saja aku senang bersamamu dan adik Cin Nio...," kata Cang Sun dengan muka berubah merah.

"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan untuk menghidangkan kueh dan anggur. Enci Cin, kau temani Sun-ko sebentar!" tanpa menanti jawaban, gadis yang lincah ini sudah berlari meninggalkan mereka berdua.

Memang inilah yang dia kehendaki. Dia ingin memberi kesempatan kepada kakaknya dan Cin Nio untuk berdua saja agar mereka dapat leluasa bicara. Selama ini hampir tidak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara empat mata, dan tanpa adanya pertemuan berdua saja, bagaimana mungkin niat orang tuanya untuk menjodohkan mereka akan bisa terlaksana? Dia harus membantu mereka, membantu agar dua orang yang disayangnya itu mendapatkan kesempatan!

Sesudah Cang Hui pergi meninggalkan mereka, dua orang muda itu duduk berhadapan namun keduanya berdiam diri. Cin Nio yang berwatak pendiam itu tidak berani berkutik. Kalau ada Cang Hui biasanya dia masih berani bicara kepada kakak misannya itu, karena bagaimana pun juga mereka telah saling mengenal dan bergaul semenjak dia masih kecil. Akan tetapi, setelah kini duduk berdua saja, dia merasa rikuh dan tak berani berkutik, apa lagi memandang pemuda itu. Bahkan bernapas pun hanya lirih dan lembut sekali.

Cang Sun juga merasa rikuh sekali. Dia tahu bahwa orang tuanya hendak menjodohkan dia dengan Cin Nio. Gadis ini memang cukup cantik jelita dan halus budi pekertinya. Akan tetapi sejak dulu dia menganggap Cin Nio sebagai adik misan, sebagai anggota keluarga sehingga sulitlah baginya untuk mengubah perasaan sayang seorang kakak terhadap adik ini menjadi cinta asmara seperti cintanya terhadap Kui Hong. Dia merasa iba kepada Cin Nio.

Para gadis, terutama sekali gadis keluarga bangsawan, selalu hanya dapat tunduk pada kehendak orang tua, harus menerima calon suami yang dijodohkan orang tua! Selama ini, apa bila dia memperhatikan sikap gadis itu, nampaknya Cin Nio mulai menaruh harapan kepadanya! Memang dia tidak merasakan getaran cinta dalam pandangan mata gadis itu, akan tetapi jelas bahwa Cin Nio tertarik dan kagum kepadanya.

Dia dapat membayangkan betapa akan sengsaranya hati Cin Nio bila sampai jatuh cinta kepadanya dan dia tidak bisa menyambut cinta itu. Dia telah merasakan betapa pahitnya cinta sepihak, seperti dia mencintai Kui Hong yang tidak terbalas oleh gadis itu! Tidak, dia harus membuyarkan harapan Cin Nio, harus membuka mata gadis itu sebelum terlambat, sebelum gadis itu benar-benar jatuh cinta kepadanya! Dan sekarang inilah saatnya yang baik, karena kalau tidak sekarang selagi mereka duduk berdua, kapan lagi?

"Cin-moi..." katanya lirih sekali. Bagaimana pun juga jantungnya berdebar tegang hendak membuka kenyataan yang pahit bagi gadis itu.

Cin Nio mengangkat muka memandang, namun menunduk kembali ketika melihat betapa kakak misannya sedang menatap tajam wajahnya, "Ya, Sun-ko? Ada apakah?" jawabnya dengan suara dibuat wajar dan tenang, namun tetap saja suaranya agak gemetar.

"Cin-moi, kebetulan sekali kini kita duduk berdua saja. Aku memang ingin sekali berbicara denganmu, akan tetapi selalu tidak ada kesempatan."

"Bicara urusan apakah Sun-ko?" gadis itu bertanya, sekarang suaranya lebih tenang.

"Urusan kita berdua. Engkau tentu tahu bahwa orang tua kita berniat untuk menjodohkan kita. Bagaimana pendapatmu tentang hal itu, Cin-moi?"

Meski pun sudah menduga ke arah mana pembicaraan itu, tetap saja wajah itu menjadi merah sekali mendengar pertanyaan ini. Ia tetap menunduk ketika menjawab, "Apa yang dapat kukatakan, Sun-ko? Aku hanya dapat mentaati semua keinginan orang tua..."

Cang Sun menghela napas panjang. "Aku tahu, dan memang begitulah nasib para gadis bangsawan. Tapi aku adalah seorang laki-laki, Cin-moi. Aku memiliki pendirian sendiri dan aku hanya dapat menikah dengan seorang gadis yang saling mencinta dengan aku. Terus terang saja, Cin-moi, aku sayang kepadamu sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Sejak kecil kita sudah bergaul dan sejak kecil engkau kuanggap sebagai adikku. Sukar bagiku untuk mengubah perasaan itu sehingga terasa janggallah jika kita harus berjodoh. Aku tidak ingin membiarkan engkau dalam keraguan, Cin-moi, oleh karena itu aku hendak berterus terang bahwa tidak mungkin aku dapat menuruti kehendak orang tua agar aku menikah denganmu. Bukan sekali-kali aku menolak karena engkau kurang baik, Cin-moi, melainkan karena aku tidak dapat menikahi seorang gadis yang kuanggap seperti adikku sendiri." Cang Sun berhenti bicara. Dadanya terasa lapang bukan main seolah batu besar yang selama ini menghimpit perasaannya kini telah terlontar keluar.

Kini kepala itu semakin menunduk. Tidak, Cin Nio tidak merasa ditolak! Dia tidak merasa dikesampingkan dan tidak merasa terhina. Tetapi dia merasa kecewa dan bersedih. Harus diakuinya bahwa selama ini timbul perasaan gembira kalau dia membayangkan betapa dia akan menjadi isteri Cang Sun. Dia kagum kepada kakak misannya itu dan alangkah akan mudahnya untuk jatuh cinta kepadanya!

Dia tidak merasa sakit hati karena kakak misannya berterus terang. Bahkan secara diam-diam dia merasa bersyukur karena kakak misannya berani berterus terang. Dengan begini kesemuanya jelas sudah, dan dia tidak perlu lagi menggantungkan harapannya terhadap perjodohan itu.

Akan tetapi, bagaimana pun juga runtuhnya harapan itu menusuk perasaannya dan meski pun dia menahan diri sehingga tidak sampai terisak, tetap saja kedua matanya menjadi basah dan cepat ia menyusutnya dengan sapu tangannya. Akan tetapi air mata itu keluar lagi, maka dia segera bangkit berdiri, membelakangi Cang Sun dan menguatkan hatinya untuk berkata tanpa menoleh,

"Maafkan aku... aku hendak kembali... ke kamarku"

Cang Sun merasa iba sekali ketika melihat gadis itu melangkah lunglai,. "Cin-moi, engkau maafkanlah aku..."

Akan tetapi gadis itu tak menjawab, segera berlari kecil meninggalkan taman, kembali ke kamarnya di mana dia lalu membanting diri ke atas pembaringan dan menangis sepuas hatinya.

Saat kembali ke dalam taman bersama dua orang pelayan yang membawa makanan dan minuman, Cang Hui merasa heran karena tidak melihat Cin Nio di situ, hanya kakaknya duduk melamun seorang diri.

"Ehh? Ke mana perginya enci Cin?" tanyanya.

Cang Sun memandang kepada dua orang pelayan itu dan Cang Hui menyuruh mereka pergi setelah mereka menaruh makanan dan minuman di atas meja.

"Apakah yang telah terjadi, Koko?" tanyanya setelah mereka duduk berdua saja.

Pemuda itu menghela napas panjang. "Dia sudah kembali ke kamarnya. Aku telah bicara terus terang kepadanya tentang hubungan kami, yaitu tentang perjodohan di antara kami yang dikehendaki para orang tua..."

Cang Hui membelalakkan matanya. "Apa yang kau katakan kepadanya, Koko?"

"Aku berkata terus terang bahwa aku tidak mungkin bisa menikahinya karena aku sayang kepadanya seperti adik sendiri, bukan mencintanya seperti seorang pria kepada seorang wanita..."

"Ihhh, kau kejam, Koko!"

"Hemm, apakah engkau lebih senang melihat aku berpura-pura, membiarkan dia menanti dan mengharap?"

Cang Hui termenung. Dia tidak dapat menyalahkan kakaknya. Tetapi dia merasa amat iba terhadap Cin Nio, "Engkau menghancurkan perasaan hatinya, Koko. Aku tahu bahwa dia cinta padamu."

"Habis, apa yang harus kulakukan? Tak mungkin cinta bertepuk tangan sebelah, aku telah merasakan kepahitannya..."

"Aihh, Koko. Kenapa engkau tidak dapat melupakan enci Kui Hong? Dia tidak dapat kau harapkan lagi karena dia sudah mencinta pria lain. Bukankah enci Cin amat baik? Kenapa engkau tidak dapat mencintanya? Apakah cintamu hanya untuk enci Kui Hong seorang?"

"Sampai saat ini aku belum dapat melupakannya dan belum ketemu penggantinya," kata pemuda itu dengan wajah murung.

"Betapa lemah hatimu, Koko. Engkau harus bisa melihat kenyataan. Enci Kui Hong jelas bukan jodohmu. Mungkin sekarang dia sudah menjadi isteri lain orang. Jadi untuk apa kau kenang dan pikirkan terus menerus? Sudah sepatutnya bila engkau memperhatikan gadis lain. Dan hati-hati, jangan sampai engkau terpikat oleh enci Liong Bi itu."

Cang Sun menggeleng kepala, kembali menghela napas panjang. "Aku tidak akan tertarik kepadanya. Agaknya memang nasibku harus selalu kecewa dalam urusan yang satu ini. Ada gadis yang menarik hatiku dan sangat kukagumi, akan tetapi dia sudah bertunangan dengan orang lain..."

Cang Hui terlonjak kaget kemudian membelalakkan sepasang matanya memandang pada wajah kakaknya, "Mayang...??" tanyanya terheran-heran.

Kakaknya mengangguk dan kembali menarik napas panjang. "Tapi dia telah bertunangan dengan Liong Ki, maka aku pun tidak berani memikirkannya."

"Ahh...! Ruwet kalau begini...!" kata Cang Hui dan dia pun bertopang dagu, melamun jauh.

Dia merasa turut prihatin dengan keadaan kakaknya. Mengapa yang dicinta kakaknya itu selalu gadis yang sudah menjadi milik pria lain? Dia tidak terlalu menyalahkan kakaknya. Kalau menjadi seorang pria, dia sendiri pun akan tergila-gila kepada Mayang.

Gadis itu memang hebat sekali! Kecantikannya khas dan istimewa, ilmu kepandaiannya pun tinggi, rambutnya hitam panjang berombak, kulitnya putih bagaikan susu, dan bentuk tubuhnya, bukan main! Akan tetapi sayang, gadis itu telah bertunangan dengan Liong Ki, dan harus dia akui bahwa pasangan itu amat serasi. Liong Ki juga seorang pendekar yang gagah perkasa dan tampan, memang cocok dan tepat kalau menjadi calon suami seorang dara perkasa seperti Mayang.

Kakak beradik itu duduk termenung seperti patung, lupa pada anggur dan makanan yang dibawa oleh dua orang pelayan tadi. Akhirnya mereka pun menggigil ketika hawa udara mulai dingin sekali. Mereka lalu meninggalkan taman dan kembali ke kamarnya masing-masing!

********************

Mayang termenung di dalam kamarnya. Entah mengapa dia merasakan sebuah keadaan yang tak menyenangkan hatinya. Entah itu karena sikap Sim Ki Liong yang dirasakannya berbeda dari biasanya, atau sikap Su Bi Hwa, ataukah pengalamannya yang aneh ketika dia seperti ditarik-tarik oleh kekuasaan aneh untuk memasuki kamar Ki Liong. Pendeknya dia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, walau pun dia tidak tahu apa yang menyebabkannya.

Kembali terjadi pertentangan di dalam batinnya sendiri. Di satu pihak dia harus mengakui bahwa dia mencinta Sim Ki Liong dan mau memaafkan semua kesesatan yang pernah dilakukan pemuda itu di masa silam, asalkan dia mau bertobat lalu akan mengubah jalan hidupnya dan menjadi seorang pendekar. Dan dia percaya bahwa demi cintanya pemuda itu akan dapat merubah jalan hidupnya, menjadi seorang pemuda yang baik dan menebus kesesatannya yang lalu dengan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa.

Akan tetapi akhir-akhir ini timbul keraguan di dalam hatinya, dan hal itu timbul semenjak pertemuan mereka dengan Su Bi Hwa. Dia merasakan suatu ketidak wajaran dalam sikap Bi Hwa, seakan-akan wanita itu menyimpan banyak rahasia. Yang jelas, lirikan mata dan senyum wanita itu terhadap Ki Liong teramat genit.

Dia sudah membuang jauh-jauh perasaan cemburu yang tidak beralasan, akan tetapi kini ia melihat sikap Bi Hwa terhadap Cang Sun yang sama pula genitnya. Dan ada perasaan tidak enak dan tidak suka terhadap wanita cantik yang sangat lihai itu, seolah-olah wanita itu merupakan suatu ancaman tersembunyi baginya.

Dia harus menemui Ki Liong dan mengajaknya berbicara dengan serius. Akan ditanyakan kepada kekasihnya tentang diri Bi Hwa, tentang latar belakang kehidupannya dan tentang riwayatnya. Malam ini juga!

Dia cepat membereskan pakaian dan rambutnya, lalu keluar dari dalam kamar dan karena dia tidak ingin orang lain, terutama Bi Hwa sendiri, melihat dia bicara empat mata dengan Ki Liong. Mayang mempergunakan kepandaiannya untuk bergerak cepat. Dia menyelinap di antara pilar dan berloncatan menuju ke taman. Dari taman akan mudah baginya untuk menghampiri kamar Ki Liong tanpa dilihat orang lain.

Akan tetapi, setelah sampai di luar kamar Ki Liong dan mengetuk daun jendela kamar itu, dia tidak mendapat jawaban. Dia mengintai dari celah-celah jendela dan melihat kamar itu gelap pekat. Tak mungkin Ki Liong sudah tidur karena malam baru saja mulai.

Setelah yakin bahwa pemuda itu pasti tidak berada di kamarnya, dia lalu mengira bahwa tentu Ki Liong sedang menjalankan tugas atas perintah Cang Tai-jin, maka dia pun masuk ke taman dengan maksud untuk menanti sampai pemuda itu kembali ke kamarnya.

Tiba-tlba dia menyelinap dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dilihatnya Cang Hui berjalan seorang diri memasuki taman itu. Setelah melihat bahwa orang itu adalah Cang Hui, dia hendak keluar menyapanya. Akan tetapi dia menahan diri dan mengintai sesudah melihat bahwa gerak-gerik gadis bangsawan itu tidak seperti biasa dan aneh.

Gadis itu melangkah seperti orang yang sedang tidur saja, tidak pernah menengok ke kiri kanan dan terus memandang lurus. Mayang membayangi dari belakang dengan hati-hati. Jantungnya berdebar tegang ketika dia melihat munculnya Ki Liong di sebelah depan, dan pemuda itu langsung menyongsong Cang Hui dengan sikap yang manis budi dan ramah!

"Selamat malam, nona Cang Hui!" katanya dengan ramah dan sopan.

Cang Hui berhenti melangkah ketika melihat munculnya pemuda itu di depannya, dan dia nampak bingung. "Liong-ciangkun (perwira Liong)," katanya lirih.

Mayang mengintai dengan perasaan heran. Ia melihat betapa Ki Liong menghampiri gadis bangsawan itu hingga dekat kemudian tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu memegang kedua tangan Cang Hui! Dan gadis itu pun menyerah saja, tidak menjadi marah biar pun kedua tangannya dipegang dengan sikap demikian mesra oleh pengawal baru itu.

"Nona, kenapa malam-malam begini engkau keluar ke taman? Hawanya amat dingin dan banyak angin. Aku takut engkau masuk angin, Nona. Engkau begini cantik jelita seperti bidadari, sayang kalau sampai jatuh sakit... " Ucapan itu lembut dan mesra.

"Aku... aku..." kata Cang Hui bingung dan agaknya tidak tahu apa yang harus dikatakan, namun tidak marah atau membantah ketika Ki Liong menarik dan merapatkan tubuhnya.

Melihat ini Mayang terbelalak dan hatinya panas terbakar. Apa artinya semua ini? Ki Liong bermain gila dengan Cang Hui? Jelas bahwa pemuda itu berusaha merayu, akan tetapi kenapa sikap Cang Hui demikian aneh? Seperti orang dalam mimpi saja.

Dia pun teringat akan keadaan dirinya beberapa malam yang lalu, ketika timbul perasaan aneh mendorongnya untuk mencari Ki Liong dan ada rasa rindu yang tidak wajar terhadap kekasihnya itu. Teringat akan hal ini, Mayang cepat berdiri menghadap ke arah Cang Hui, lalu menyilangkan dua lengan ke depan dada, matanya memandang tajam ke arah gadis bangsawan itu dan ia pun mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh sihir yang menguasai Cang Hui, kalau memang kekuatan sihir mencengkeram gadis itu seperti yang disangkanya. Dia memang menguasai ilmu ini dari Kim-mo Sian-kiauw, gurunya.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 12

HANYA Ci Kang yang tetap tenang. Kini dia menghadapi si gendut, lantas bertanya, "Ji-wi Locianpwe, kami suami isteri tidak merasa bersalah, oleh karena itu kami pun menolak untuk menjadi tangkapan ji-wi dan tidak mau mengikuti ji-wi pergi. Nah, itulah keputusan kami dan terserah kepada ji-wi."

Si gendut itu tertawa dan menoleh kepada si kurus. "Heh-heh-heh, Ban-tok, sudah kita duga bahwa mereka akan berani membantah dan melawan kita!"

Si kurus nampak semakin muram dan dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum menjawab, "Aihh, Hek-tok, sudahlah, jangan ganggu mereka. Mereka sedang merayakan pernikahan anak mereka, mengapa harus diganggu? Sebaiknya kita pulang saja dan kita mengadakan sembahyangan besar untuk suhu Ceng Hok Hwesio." Nampaknya pendeta kurus yang kepalanya berambut tipis itu berlainan pendapat dengan kakek gundul yang menjadi sute-nya. Dia nampak malas dan tidak bergairah.

"Heiii, Suheng Ban-tok! Apakah engkau takut melawan bocah berlengan buntung sebelah ini?"

Mendengar ucapan itu, si tinggi kurus yang tadinya bermalas-malasan dan seperti orang mengantuk, seketika terbangun semangatnya dan dia memandang marah kepada sute-nya, "Hek-tok, jangan seenak perut gendutmu saja engkau bicara! Aku takut? Biar orang tua dia ini, Si Iblis Buta bangkit dari kubur dan membantunya mengeroyokku, aku masih tidak takut!"

"Kalau tidak takut, kenapa masih banyak cakap lagi? Bantulah aku untuk menangkap dia dan membawanya ke kuil untuk menerima hukuman. Ini merupakan tugas kita membalas budi mendiang Ceng Hok Hwesio!" kata si gendut.

Mendengar ini, si tinggi kurus segera melangkah maju menghadapi Siangkoan Ci Kang. Pendekar ini diam-diam terkejut. Agaknya kedua orang aneh ini sudah menyelidiki secara mendalam tentang dirinya sehingga tahu pula bahwa dia adalah putera Si Iblis Buta.

"Siangkoan Ci Kang, sebaiknya engkau menyerah saja dan ikut dengan kami ke kuil. Tak ada gunanya engkau melawanku. Ingat, selama empat puluh tahun kami menggembleng diri dan memperdalam ilmu-ilmu kami. Engkau tak akan menang, bahkan mungkin terluka parah kalau berani melawan aku!" kata si tinggi kurus dengan suaranya yang kecil seperti suara wanita.

"Pendeta siluman, kami akan menghajarmu!" Lima orang pimpinan Pek-sim-pang tiba-tiba menerjang maju.

Mereka adalah para pembantu dari Pek Kong ketuanya. Sebagai tamu-tamu dan pengiring pengantin pria, mereka menjadi marah sekali ketika melihat ada dua orang pendeta yang membikin kacau, mengganggu perayaan pernikahan itu. Mereka merasa tidak enak sekali kalau hanya berdiam diri saja, maka melihat pendeta gendut yang seakan-akan menjadi biang keladinya karena si kurus tadi kelihatan enggan berkelahi, kini menerjang ke arah si gendut dengan serentak.

Mereka tidak mempergunakan senjata, hanya menyerang dengan pukulan dan tamparan. Akan tetapi karena mereka adalah tokoh-tokoh Pek-sim-pang yang tinggi tingkatnya, yaitu pembantu-pembantu ketua, maka serangan mereka cukup dahsyat, terlebih lagi mereka menyerang dengan berbareng sambil mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Siangkoan Ci Kang terkejut sekali, akan tetapi tidak sempat lagi untuk mencegah karena serbuan lima orang Pek-sim-pang itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Bahkan Pek Ki Bu dan Pek Kong sendiri pun tidak menyangka sehingga mereka berdua hanya dapat memandang.

Mereka semua menjadi semakin terkejut sesudah melihat betapa kakek gendut itu masih menyeringai saja, sama sekali tidak membuat gerakan untuk mengelak atau menangkis. Maka tentu saja pukulan lima orang Pek-sim-pang itu mengenai sasaran dengan tepat dan terdengarlah suara bak-bik-buk seperti orang-orang memukuli sekarung pasir ketika pukulan-pukulan itu mengenai sasaran, yaitu di perut, punggung, dada, lambung dan leher kakek gendut itu.

Akibatnya ternyata lebih mengejutkan lagi. Kakek gendut itu masih nampak berdiri sambil menyeringai, bahkan kini terdengar suara tawanya, sebaliknya lima orang yang berhasil menyarangkan pukulan mereka ke sasaran itu terjengkang atau terpelanting roboh, lantas berkelojotan dan segera terdiam kaku, mati dengan kulit tubuh berubah menghitam persis seperti kulit kakek gendut itu!

Siangkoan Ci Kang terkejut bukan kepalang. Kiranya si gendut hitam itu merupakan orang yang memiliki tubuh yang beracun, luar biasa sekali betapa pukulan itu diterimanya begitu saja dan yang memukul langsung keracunan! Ini merupakan ilmu sesat yang amat kejam dan jahat, padahal pukulan lima orang itu sama sekali tak boleh dipandang ringan karena pukulan itu mengandung tenaga sinkang yang cukup kuat!

"Jangan sentuh...!" Han Siong cepat berseru ketika melihat ayah dan kakeknya meloncat ke dekat mayat-mayat itu. Untung dia segera mengeluarkan seruan ini karena orang yang menyentuh mayat-mayat itu terancam bahaya keracunan, setidaknya keracunan kulitnya.

"Ha-ha-ha, jangan salahkan pinceng (aku). Mereka yang menyerangku, jadi mereka mati karena perbuatan sendiri. Memang sudah takdirnya mereka mati," kata si gendut sambil tertawa-tawa.

Wajah Siangkoan Ci Kang berubah. Kini dia sudah marah sekali. Dalam pesta pernikahan puterinya bukan hanya terjadi pengacauan, akan tetapi juga pembunuhan walau pun dia juga melihat sendiri betapa kelima orang tamu itu tadi menyerang si kakek gendut yang sama sekali tidak menangkis atau balas menyerang. Bagaimana pun juga lima orang itu adalah tamu-tamunya, bahkan tamu kehormatan karena mereka adalah pengikut-pengikut mempelai pria, tokoh-tokoh Pek-sim-pang. Dialah yang bertanggung jawab, sebagai tuan rumah.

"Kalian adalah orang-orang tua, pendeta-pendeta, yang tidak patut dihormati. Kalian iblis-iblis jahat!" bentaknya dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan.

Akan tetapi sebelum pendekar ini menyerang si gendut yang telah membunuh lima orang Pek-sim-pang, si kurus sudah menyambutnya dengan sambaran tangannya ke arah leher. Sambaran tangan yang kurus panjang itu tampaknya tidak bertenaga, akan tetapi nampak sinar hitam dari telapak tangan itu.

Maka tahulah Ci Kang bahwa si tinggi kurus ini pun mempunyai pukulan beracun, apa lagi jika dingat bahwa julukannya pun Ban-tok Sian-su (Dewa Selaksa Racun)! Dia mengelak dengan menarik tubuh atas ke samping, lalu dari samping tangannya menyambar dengan totokan ke arah lambung.

Ban-tok Sian-su dapat mengelak dengan mudah lantas membalas lagi, dan sekarang dua orang sakti itu sudah saling menyerang dengan dahsyatnya. Setiap serangan merupakan cengkeraman maut dan tentu akan mematikan kalau mengenai sasaran.

Karena maklum bahwa lawannya mempergunakan hawa beracun yang amat berbahaya, maka Siangkoan Ci Kang tak mau menangkis melainkan selalu mengandalkan kecepatan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dari setiap serangan. Setiap kali menyerang dia pun selalu melindungi jari tangannya dengan sinkang untuk menolak hawa beracun kalau sampai serangannya mengenai tubuh lawan, atau kalau lengannya beradu dengan lengan lawan yang menangkis. Dan setiap kali beradu lengan, pendekar ini pun maklum bahwa lawannya benar-benar lihai, memiliki sinkang yang amat kuat, setidaknya tidak kalah kuat olehnya.

Puluhan jurus telah lewat dan mereka sama kuat, akan tetapi Toan Hui Cu maklum bahwa suaminya berada di pihak yang terdesak. Dia tahu penyebabnya, yaitu karena suaminya tak berani menangkis langsung melainkan selalu mengelak. Hal ini tentu saja mengurangi kesempatannya dalam melakukan serangan untuk mendesak lawan. Memang berbahaya sekali menggunakan tangan kosong dalam menghadapi lawan yang ahli racun itu. Maka nyonya ini lalu minta pedang Kwan-im-kiam dari Han Siong dan dia melemparkan pedang itu kepada suaminya sambi! berseru.

"Membunuh ular beracun harus dengan senjata. Terimalah ini!"

Ci Kang maklum akan maksud isterinya, maka dia pun melompat ke belakang dan cepat menyambar pedang yang pada waktu itu dilontarkan isterinya dengan penuh perhitungan. Setelah pedang Kwan-im-kiam berada di tangan kanannya, Ci Kang lantas meloncat turun menghadapi lawannya. Dia adalah seorang gagah yang berjiwa pendekar, maka dia tidak segera menyerang melainkan berkata dengan sikap gagah.

"Ban-tok Sian-su, keluarkan senjatamu!"

Si tinggi kurus itu mewek-mewek seperti mau menangis, padahal maksud hatinya hendak tersenyum mengejek! Memang orang ini tidak bisa menggerakkan mulut untuk tertawa. Kedua ujung mulutnya selalu bergerak ke bawah, tidak dapat ke atas.

"Siangkoan Ci Kang, aku tidak pernah mempergunakan senjata. Apa perlunya bersenjata untuk menghadapi seorang muda seperti engkau? Majulah!"

"Lihat pedangku!" Ci Kang membentak dan dia pun mulai menyerang.

Kakek tinggi kurus itu mengelak, lalu dari samping tangannya cepat menyampok pedang! Kakek itu memang lihai sekali. Kedua lengan dan tangannya agaknya memiliki kekebalan sehingga dia berani menyampok pedang pusaka dari samping. Biar pun tidak menangkis mata pedang secara langsung, akan tetapi sampokan ini saja sudah membuktikan bahwa lengannya kebal.

Kembali mereka saling serang dengan seru, bahkan lebih hebat dari pada tadi. Sesudah memegang Kwan-im-kiam, kini Siangkoan Ci Kang laksana seekor harimau yang tumbuh sayap. Bersama isterinya memang ia telah mewarisi ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut yang dahsyat, apa lagi ilmu itu kini dimainkan dengan Kwan-im-kiam, maka pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Indah namun amat berbahaya, lembut tapi mengandung kekuatan yang dahsyat bukan main. Ilmu itu seperti menggambarkan sifat Dewi Kwan Im. Lemah lembut, luhur budi, namun mengandung kesaktian yang sukar dilawan!

Bahkan seorang sakti seperti Ban-tok Sian-su menjadi terkejut dan mulailah dia terdesak. Si gendut Hek-tok Sian-su yang menjadi penonton di pinggir, memandang dengan mata terbelalak hingga mulutnya lupa tersenyum. Hampir dia tak percaya. Bagaimana mungkin suheng-nya yang sudah menguasai ilmu yang amat hebat itu sampai terdesak oleh lawan yang lengannya buntung sebelah itu?

Tadinya dia dan suheng-nya amat memandang rendah terhadap Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, mengingat mereka hanyalah murid-murid Ceng Hok Hwesio yang tingkat kepandaiannya jauh di bawah mereka. Akan tetapi, di luar dugaannya Ci Kang bukan saja mampu menandingi Ban-tok Sian-su, bahkan dapat mendesaknya dan membuat suheng-nya itu kini terancam bahaya.

Tentu saja dia merasa gelisah! Dia ingin sekali membantu suheng-nya yang kini terancam oleh gulungan sinar yang lembut namun amat kuat itu. Akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh yang sombong begitu saja. Dia dapat melihat kenyataan, dapat mengenal keadaan dan mempertimbangkannya, menghitungnya masak-masak.

Kalau dia membantu suheng-nya, hal itu bukan menguntungkan pihaknya, bahkan sama dengan melemparkan dirinya sendiri ke dalam bahaya. Di situ terdapat Toan Hui Cu yang kabarnya tidak kalah lihainya dibandingkan Ci Kang, apa lagi mengingat bahwa wanita itu adalah puteri tunggal mendiang Raja Iblis dan Ratu Iblis.

Di sana masih terdapat pula sepasang mempelai, yaitu puteri dan murid suami isteri itu yang tentu juga amat lihai, di samping adanya orang-orang Pek-sim-pang. Tidak, apa bila dia main keroyokan maka dia dan suheng-nya akan celaka! Karena itu dia menahan diri dan hanya menjadi penonton, dengan hati berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan.

Kekhawatiran Hek-tok Sian-su memang beralasan. Pada waktu itu, pertandingan itu sejak dimulai sampai sekarang sudah berlangsung seratus jurus lebih dan kini Ban-tok Sian-su telah terdesak hebat. Beberapa kali dia mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu sepasang tangan yang didorongkan ke depan hingga mengeluarkan uap hitam yang berbau busuk, tanda bahwa uap itu beracun dan jahat sekali.

Tetapi gulungan sinar pedang itu menghalau uap hitam dan melihat ini, Toan Hui Cu, Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian yang memiliki kepandaian tinggi telah memperingatkan para tamu untuk menyingkir dan menjauhi tempat perkelahian itu karena mereka maklum bahwa uap hitam itu amat berbahaya kalau sampai tersedot atau tersentuh para tamu.

Walau pun Ban-tok Sian-su sudah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya yang aneh-aneh dan jahat, akan tetapi ilmu pedang itu bisa menghalau semua serangan, bahkan gulungan sinar pedang itu mengurungnya dan membuat Ban-tok Sian-su menjadi sibuk sekali untuk mengelak dan menangkis sehingga akhirnya tidak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk balas menyerang. Beberapa kali dicobanya pula untuk menggunakan ilmu sihir dan beberapa kali Ci Kang terhuyung, terkena pengaruh sihir yang sangat kuat walau pun dia sudah mengerahkan sinkang-nya.

Akan tetapi Han Siong yang melihat ini segera diam-diam membantu suhu dan juga ayah mertuanya. Dengan kekuatan sihirnya dia memunahkan daya sihir kakek kurus sehingga Ci Kang tidak terpengaruh lagi.

Kakek kurus itu tidak tahu bahwa pemuda mempelai pria itu yang menolak sihirnya. Yang terasa olehnya hanya betapa kekuatan sihirnya membalik laksana seekor anjing pemburu yang lari kembali kepada majikannya dengan ekor ditekuk ke bawah! Tentu saja pendeta ini menjadi semakin panik dan karena itu gerakannya jauh mengendur.

Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ci Kang. Dengan gerakan istimewa, setengah membalik dengan tubuh condong, pedangnya menyambar dan tahu-tahu sudah menusuk dan menembus dada Ban-tok Sian-su.

"Crappp...!"

"Aughhh...!"

Ci Kang cepat-cepat mencabut pedangnya dan begitu pedang dicabut, kakek tinggi kurus itu segera roboh terjengkang. Dua tangannya mendekap dada dan darah pun bercucuran dari celah-celah jari tangannya.

Ci Kang sudah lama mengundurkan, bahkan seperti mengasingkan diri bersama isterinya, menjauhi dunia kang-ouw dan menghindari kekerasan. Sebab itu dia menjadi terkejut dan menyesal bukan main ketika melihat betapa pedangnya sudah menembusi dada seorang lawan yang tadinya sama sekali tak dikenalnya, bahkan tidak ada urusan apa pun antara mereka.

"Ah, maafkan aku " katanya dan dia pun berlutut di dekat tubuh yang rebah terlentang itu.

"Ayah, jangan...!" teriak Bi Lian, dan Han Siong juga menubruk ke depan.

Namun terlambat. Dua tangan yang berlumuran darah dan yang tadinya mendekap dada yang tertembus pedang, tiba-tiba saja menyambar ke depan. Biar pun Han Siong sempat mendorong tubuh suhu-nya ke samping, akan tetapi tetap saja tangan kiri Ban-tok Sian-su sempat pula menghahtam dada kanan Ci Kang.

"Plakkk...!"

Ci Kang terjengkang, tetapi dapat segera bangkit kembali dan pada bajunya bagian dada terlihat tanda cap merah, yaitu bekas tangan Ban-tok Sian-su yang berlepotan darah. Dan tiba-tiba terjadi keanehan. Ban-tok Sian-su yang semenjak tadi selalu kelihatan cemberut dan mukanya muram dan masam, kini tiba-tiba tertawa bergelak-gelak.

"Bak-tok...!" Si Kakek gendut cepat lari menubruk dan merangkul suheng-nya yang masih tertawa. Begitu suara tawa itu terhenti, kepala si tinggi kurus itu terkulai di pangkuan Hek-tok Sian-su dan dia pun tewas! Dan terjadilah keanehan ke dua. Kakek gendut yang sejak tadi hanya tersenyum dan tertawa-tawa, sekarang merangkul mayat si tinggi kurus sambil menangis tersedu-sedu!

Semua orang memandang dengan bengong. Sambil terus menangis si gendut itu bangkit dan memondong mayat suheng-nya. "Siangkoan Ci Kang, lain waktu aku akan membuat perhitungan denganmu. Sekarang aku hendak mengurus suheng-ku lebih dulu!" Dia lalu membalikkan tubuhnya.

"Pendeta palsu, engkau hendak lari ke mana?" bentak Toan Hui Cu yang telah mengambil pedang Kwan-im-kiam dari tangan suaminya.

"Tahan...!" kata Ci Kang lemah. "Biarkan dia pergi mengurus jenazah suheng-nya."

Dengah gemas Toan Hui Cu terpaksa mentaati suaminya, demikian pula Han Siong dan Bi Lian tidak berani melanggar, walau pun mereka berdua ingin pula untuk menahan dan membunuh kakek gendut yang berbahaya itu. Apa lagi ketika mereka melihat Siangkoan Ci Kang terkulai lemas dan dirangkul oleh Hui Cu.

"Bagaimana keadaanmu...?" isteri itu bertanya khawatir.

Han Siong dan Bi Lian mendekat dan mereka berdua terkejut bukan main melihat betapa kulit leher dan muka Siangkoan Ci Kang perlahan-lahan berubah menghitam! Keracunan! Tentu pukulan tadi mengandung racun yang amat hebat!

"Keparat, pendeta busuk itu!" Bi Lian teringat dan dia telah meloncat berdiri lalu menoleh. Akan tetapi bayangan pendeta gendut tadi sudah tidak nampak lagi. "Aku harus mengejar dia untuk minta obat penawar!"

Han Siong memegang lengannya. "Nanti dulu, Lian-moi. Kita periksa dulu keadaan ayah."

Han Siong segera memondong tubuh suhu-nya yang kini menjadi ayah mertuanya itu ke dalam, diikuti oleh Bi Lian dan Toan Hui Cu, sedangkan Pek Ki Bu dan Pek Kong, dibantu oleh beberapa orang, sibuk mengurus jenazah lima orang pimpinan Pek-sim-pang.

Tentu saja perayaan itu segera bubar. Para tamu, orang-orang dusun, merasa ketakutan dan juga tahu diri. Mereka melihat betapa pihak tuan rumah mengalami kesulitan, maka tanpa banyak cakap lagi mereka segera pergi meninggalkan tempat perayaan, kembali ke dusun masing-masing.

Sementara itu Hui Cu, Bi Lian dan Han Siong segera memeriksa keadaan Siangkoan Ci Kang. Pendekar ini tentu telah tewas kalau saja dia tidak mempunyai tubuh yang kuat dan penuh tenaga sinkang. Pukulan tadi mengandung hawa beracun yang sangat jahat, yang membuat kulit tubuhnya menjadi kehitaman!

Sebagai ahli-ahli silat, Hui Cu, Bi Lian dan Han Siong mengerti pula tentang pengobatan, dan mereka sudah membantu Ci Kang dengan pengerahan sinkang untuk mengusir hawa beracun, juga memberi obat yang akan mencegah menjalarnya racun. Akan tetapi semua usaha itu hanya dapat menahan menjalarnya racun, namun tidak mampu mengusir racun yang sudah memasuki dada dan tidak menyembuhkan lukanya. Racun yang terkandung dalam pukulan Ban-tok Sian-su memang aneh dan luar biasa jahatnya.

"Biar kukejar dan kucari pendeta iblis gendut itu, akan kupaksa supaya dia menyerahkan obat penawarnya!" kata Bi Lian.

"Jangan, Lian-moi. Hek-tok Sian-su itu amat berbahaya, biar aku saja yang mengejarnya. Sebaiknya engkau pergi mencari Hay Hay. Dia memiliki sebuah batu giok mustika yang dapat menyedot racun dan menjadi obat yang amat manjur. Engkau pinjamlah mustika itu darinya, dan aku sendiri yang akan mengejar Hek-tok Sian-su."

"Akan tetapi ke mana aku dapat mencari Hay Hay?" tanya Bi Lian.

"Dia tentu pergi ke Cin-ling-san bersama Kui Hong. Carilah di sana, dan andai kata tidak jumpa pun tentu engkau akan dapat mendengar ke mana dia pergi."

Karena amat mengkhawatirkan keadaan Ci Kang yang keadaannya parah itu, pada esok harinya, pagi-pagi sekali Han Siong dan Bi Lian telah berangkat. Bahkan Han Siong telah berangkat lebih dulu untuk melakukan pelacakan dan pengejaran terhadap Hek-tok Sian-su yang pergi membawa jenazah Ban-tok Sian-su.

Benar-benar menyedihkan sekali. Sepasang pengantin yang tidak sempat berpengantinan karena mereka harus saling berpisah! Toan Hui Cu tinggal di rumah, menjaga suaminya dengan hati penuh kegelisahan. Keluarga Pek juga segera kembali ke Kong-goan sambil membawa abu lima orang pimpinan Pek-sim-pang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Karena melakukan perjalanan sambil melacak dan mencari keterangan tentang jejak Hek-tok Sian-su, maka Han Siong terlambat tiba di kuil Siauw-lim-si itu. Seandainya dia tidak mengikuti jejak kakek gendut itu tetapi langsung saja pergi ke sana, tentu dia tidak akan terlambat. Setelah dia kehilangan jejak kakek itu, barulah dia teringat untuk mencari di kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu, di pinggir sungai Cin-sha di kaki pegunungan Heng-tuan-san, juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mertuanya.

Ketika akhirnya dia tiba di kuil itu, para hwesio masih ingat kepada Han Siong yang dulu dikenal sebagai seorang sin-tong (bocah ajaib) dan mereka menyambut dengan gembira. Pemuda ini pernah menjadi kacung atau juga pelayan dan juga murid Ceng Hok Hwesio. Karena wataknya yang baik dan penurut, maka semua hwesio di kuil itu menyayanginya. Dari mereka inilah Han Siong mendengar keterangan yang lebih jelas.

Ternyata bahwa Ban-tok Sian-su dan Hek-tok Sian-su memang benar dahulu merupakan hwesio muda di kuil itu. Setelah mereka sadar dari penyelewengannya menjadi penjahat-penjahat yang ditaklukkan oleh Ceng Hok Hwesio, mereka kemudian menjadi hwesio dan menerima ajaran agama dari Ceng Hok Hwesio. Atas petunjuk Ceng Hok Hwesio mereka kemudian melakukan perjalanan ke daerah barat, ke Tibet dan India untuk memperdalam ilmu keagamaan mereka.

Satu bulan yang lalu mereka datang sebagai dua orang pendeta yang aneh dan berilmu tinggi. Kedatangan mereka tepat pada hari kematian Ceng Hok Hwesio karena usia tua. Mereka bertanya mengenai Ceng Hok Hwesio yang bertapa dan menghukum diri sendiri, dan mendengar tentang Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui. Cu, mereka lalu menganggap bahwa kematian Ceng Hok Hwesio adalah karena kesalahan suami isteri yang pernah dihukum di kuil itu

"Mereka juga mengirim seorang di antara kami untuk menyelidiki di mana adanya seorang pendekar yang bernama Tang Hay atau Hay Hay. Kemarin dulu Hek-tok Sian-su pulang sambil membawa jenazah Ban-tok Sian-su. Setelah jenazah itu diperabukan dia lalu pergi ke kota raja untuk mencari Hay Hay karena menurut penyelidikan, pendekar itu mungkin sekali berada di kota raja..."

Han Siong merasa amat kecewa sekaligus heran bukan main. Dia merasa kecewa karena ternyata kedatangannya terlambat, dan merasa heran mengapa Hek-tok Sian-su mencari Hay Hay! Ada urusan apa pendeta hitam itu dengan Hay Hay?

Ceng Sun Hwesio, yaitu hwesio yang kini menjadi kepala kuil di situ menggantikan Ceng Hok Hwesio yang sudah wafat, melihat kekecewaan itu dan dia pun berkata, omitohud, apakah engkau sedang mencari obat penawar racun?"

Han Siong kaget sekali dan meloncat bangun, memberi hormat kepada hwesio tua itu lalu berseru, "Bagaimana Losuhu bisa mengetahuinya? Memang benar saya mencari Hek-tok Sian-su untuk minta obat penawar racun!"

"Omitohud...! Alangkah bijaksananya Hek-tok Sian-su walau pun nama julukannya sangat menyeramkan. Han Siong, sebelum pergi beliau telah meninggalkan sebungkus obat dan agaknya beliau sudah tahu bahwa tentu engkau akan datang mengejarnya ke sini. Beliau berpesan agar obat penawar itu diberikan kepadamu!"

Hwesio tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan menyerahkannya kepada Han Siong. Dengan heran dan ragu namun penuh harapan, pemuda itu menerima bungkusan dan dengan hati-hati membukanya. Di dalam bungkusan itu terdapat bubuk putih.

"Losuhu, apakah Hek-tok Sian-su tidak meninggalkan pesan yang berkaitan dengan obat penawar racun ini?"

"Ada... ada! Beliau berpesan supaya obat ini diminumkan sekaligus sampai habis. Beliau juga berpesan bahwa Siangkoan Ci Kang harus bertapa di sini hingga mati. Jika dia tidak datang sendiri, kelak beliau yang akan menjumpainya. Nah, hanya itulah pesannya."

Han Siong mengucapkan terima kasih, kemudian cepat-cepat dia kembali ke Kim-ke-kok. Subo-nya menerimanya dengan gembira setelah dia menceritakan pengalamannya, akan tetapi guru dan murid ini berhati-hati sekali ketika hendak memberikan obat penawar itu kepada Siangkoan Ci Kang. Bergantian mereka mencoba dan menjilat obat itu. Setelah yakin bahwa obat itu tidak menganduhg racun, barulah mereka berani memberikan obat itu kepada Siangkoan Ci Kang yang keadaannya masih lemah.

Sebelum minum obat, pada saat dilapori Han Siong tentang obat yang oleh Hek-tok Sian-su ditinggalkan kepada hwesio di kuil Siauw-lim-si, Ci Kang pun mengangguk-angguk dan mau meminumnya. Mereka bertiga dapat mengerti jalan pikiran hwesio gendut itu. Tentu hwesio itu tidak rela melihat Ci Kang mati begitu saja oleh racun dan menghendaki agar Ci Kang dan Hui Cu menebus dosaa dan bertapa di kuil itu sampai mati sebagai hukuman mereka yang menjadi sebab Ceng Hok, Hwesio menderita sampai mati!

Han Siong menunggu sampai tiga hari setelah suhu-nya minum obat penawar racun. Dan ternyata memang benar, obat itu manjur sekali. Keadaan Ci Kang membaik dan sesudah tiga hari dadanya tidak terasa nyeri lagi. Kulitnya yang tadinya menghitam kini mulai pulih dan bersih kembali. Akan tetapi saat dia mencoba untuk mengerahkan sinkang, ternyata tenaganya lemah bukan main. Tahulah dia bahwa akibat racun yang ganas itu dia sudah kehilangan tenaganya dan dia harus berlatih dengan tekun untuk menghimpun kekuatan sinkang-nya kembali.

"Engkau pergilah menyusul isterimu kemudian ajaklah dia pulang," kata Ci Kang kepada mantunya. "Keadaanku sudah membaik, tinggal mengumpulkan tenaga saja."

"Benar, Han Siong. Pergilah engkau mencari isterimu dan ajak dia pulang. Kasihan kalian berdua, semestinya menjadi pengantin baru tetapi malah saling berpisah seperti ini," kata Hui Cu.

Han Siong tersenyum dan memberi hormat kepada suhu dan subo-nya yang kini menjadi ayah dan ibu mertuanya itu. "Harap Ayah dan Ibu tidak memikirkan hal remeh seperti itu. Yang penting Ayah dapat diselamatkan. Kini saya akan pergi mencari Lian-moi dan kalau sudah jumpa, kami akan berpesiar sebagai bulan madu, mengajaknya ke rumah keluarga saya di Kong-goan, mengunjungi para pendekar kenalan kami yang pernah bekerja sama, kemudian baru kembali ke sini."

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu mengangguk-angguk girang. Setelah mengucapkan selamat tinggal Han Siong lalu meninggalkan Kim-ke-kok, pergi mencari isterinya. Karena sebelum Bi Lian pergi dia memberi tahu supaya mencari keterangan tentang Hay Hay ke Cin-ling-pai, maka dia pun melakukan pengejaran ke sana, walau pun dari para hwesio di kuil Siauw-lim-si dia mendengar bahwa kabarnya Hay Hay berada di kota raja dan Hek-tok Sian-su juga pergi ke sana. Baginya yang terpenting adalah menemukan isterinya dulu.

********************

Cang Hui, dara jelita yang lincah jenaka itu maklum akan maksud ayah ibunya yang ingin menjodohkan saudara misannya, Teng Cin Nio, dengan kakaknya, Cang Sun. Dia sangat sayang kepada kakaknya, dan juga dia sayang kepada Cin Nio yang dianggapnya bukan saja manis wajahnya, akan tetapi juga manis budinya sehingga akan menjadi isteri yang baik sekali bagi kakaknya. Maka dia sepenuhnya mendukung niat orang tuanya itu.

Sering kali secara cerdik dan tidak menyolok ia menceritakan semua kebaikan kakaknya kepada Teng Cin Nio sehingga gadis yang memang kagum kepada Cang Sun itu menjadi semakin tertarik. Akan tetapi tentu saja Cin Nio tidak berani menyatakan rasa kagumnya, walau kepada Cang Hui sekali pun. Seorang gadis baik-baik tidak mungkin mau mengaku kepada orang lain tentang cinta kasihnya terhadap seorang pria, sebab hal itu merupakan pantangan besar!

Cang Hui memang cerdik, lincah dan jenaka. Ia tak kekurangan akal untuk menjodohkan saudara misannya dengan kakaknya, yaitu dengan jalan mempertemukan mereka berdua empat mata saja. Dia pun mulai mengatur siasat.

Dia menanti sampai malam bulan purnama tiba, karena biasanya orang mudah jatuh cinta di bawah cahaya bulan purnama! Dia tahu bahwa kakaknya sering kali menikmati bulan purnama di taman bunga mereka yang indah, di mana terdapat sebuah kolam ikan dan tempat duduk yang terlindung atap tanpa dinding, dan di tempat inilah biasanya kakaknya menulis sajak atau membaca buku sampai jauh malam.

Ketika saat yang dinanti-nantinya tiba dan dia tahu betul bahwa pada malam itu kakaknya berada di taman, ia lalu mengajak Cin Nio untuk berjalan-jalan di taman bunga menikmati keindahan bulan purnama. Cin Nio yang tidak mencurigai misannya yang disayangnya itu menjadi gembira dan tak lama kemudian dua orang gadis bangsawan itu telah melangkah perlahan-lahan memasuki taman.

Berbeda dengan para puteri bangsawan lainnya yang biasanya diiringi oleh para pelayan, dua orang gadis ini tidak ditemani pelayan. Mereka adalah gadis-gadis yang mempelajari ilmu silat dan merasa diri mereka cukup kuat untuk melindungi diri sendiri sehingga tidak membutuhkan penjagaan pelayan atau pengawal.

Ketika mereka berjalan-jalan di dekat kolam ikan, tiba-tiba Cang Hui menarik tangan Cin Nio dan memberi isyarat agar gadis itu tak mengeluarkan suara, lalu mereka bersembunyi di balik rumpun bunga mawar. Cin Nio memandang ke depan dan pipinya terasa panas.

Kini dia pun melihat seorang pemuda duduk membelakangi mereka, menghadapi kolam ikan, agaknya menikmati bulan yang tenggelam di dalam kolam, lantas terdengar pemuda itu membaca sajak yang nampaknya baru saja dibuatnya. Suaranya terdengar lembut dan merdu, menambah keindahan malam itu.

Malam gemilang dengan cahaya bulan purnama, langit bersih, taman yang penuh bunga-bunga musim semi yang sedang bersaing dalam lomba kecantikan, semerbak harum dan silir angin lembut, ditambah suara merdu membaca sajak, diiringi paduan suara jengkerik dan belalang!

"Bunga setaman aneka wama bermandikan cahaya purnama bersaing cantik indah berseri berlomba sedap harum mewangi betapa bahagianya hati ini! Namun, bagaikan mimpi hampa tak lama lagi bulan sirna meninggalkanku dalam gulita bunga akan habis gugur layu tinggal aku di sini sepi sendiri. Wahai ikan-ikan dalam kolam taman kalian akan tetap gembira dengan teman-teman tetapi aku...? Sepi sendiri termenung iri!"

Terdengar tepuk tangan mendahului munculnya seorang wanita cantik. Cang Hui dan Cin Nio menahan diri, bahkan Cang Hui memegang lengan Cin Nio dan memberi isyarat agar jangan mengeluarkan suara. Tadi dia sudah siap bertepuk tangan memuji kakaknya, akan tetapi dia tidak jadi bertepuk tangan begitu mendengar tepuk tangan dari lain jurusan.

Dua orang gadis itu melihat bahwa yang muncul adalah Liong Bi yang kini sudah menjadi pengawal keluarga Cang. Cang Hui ingin sekali melihat apa yang hendak dilakukan oleh wanita yang walau pun kelihaiannya dia kagumi akan tetapi sikapnya yang dianggap genit itu menimbulkan perasaan tidak suka dalam hatinya itu.

Sementara itu Cang Sun segera bangkit dari duduknya ketika melihat bahwa yang muncul dan bertepuk tangan memuji adalah Liong Bi, wanita cantik yang sekarang sudah menjadi pengawal keluarga ayahnya.

"Hebat, Cang-kongcu. Tidak kusangka bahwa Kongcu sepandai ini, dapat membuat sajak sedemikian indahnya!" Liong Bi atau Su Bi Hwa memuji sambil memperlihatkan senyum manis dan kerling mata memikat.

Wajah Cang Sun berubah kemerahan. "Ahh, Liong-lihiap (pendekar wanita Liong) terlalu memuji. Aku hanya iseng menikmati bulan purnama."

Liong Bi mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama sambil tersenyum hingga giginya nampak berkilauan tertimpa sinar bulan. "Memang cantik dan indah sekali malam ini, Kongcu, maka tak mengherankan jika keindahan ini menggerakkan jiwa senimu untuk membuat sajak. Alangkah akan semakin meriah kalau malam yang indah ini diisi dengan tarian pedang. Maukah Kongcu melihat saya menari pedang untuk mengimbangi sajakmu tadi?"

Cang Sun adalah seorang pemuda yang sopan. Walau pun dia merasa tidak sepatutnya seorang laki-laki seperti dia mengadakan pertemuan berdua saja dengan seorang wanita muda dan cantik pada malam hari dalam taman, akan tetapi dia merasa tidak baik kalau menolak. Apa lagi wanita itu adalah pengawal keluarga, dan sekarang hanya ingin menari pedang untuk memeriahkan suasana malam bulan purnama. Maka dia pun mengangguk dan hanya berkata,

"Silakan."

Liong Bi segera mencabut pedangnya, kemudian mulailah dia menari. Memang tarian itu mengandung gerakan silat pedang, akan tetapi dilakukan dalam gaya tarian yang nampak indah dan menonjolkan keindahan lekuk lengkung tubuh wanita itu. Terlebih lagi Liong Bi sengaja bergerak lambat, dengan gerakan seindah mungkin yang disertai senyum manis dan kerling memikat sehingga Cang Sun terpesona juga.

Memang Liong Bi adalah seorang wanita yang cantik menarik dan sudah berpengalaman. Ia tahu bagaimana harus bergaya untuk memikat hati pria. Tubuhnya yang memang padat menggairahkan dengan kulit yang halus putih itu sengaja dibungkus dengan pakaian yang ketat dan ketika dia menarikan silat pedang ini, tubuh yang ramping itu membuat gerakan dan goyangan seperti seekor ular, menggairahkan dan memikat.

Dan tarian itu memang indah, pedangnya membuat gulungan sinar berkeredepan. Wanita cantik itu tampak gagah perkasa sehingga mengingatkan Cang Sun akan Kui Hong, gadis pendekar yang dicintanya. Cang Sun terpesona, sebab itu dia pun segera bertepuk tangan memuji setelah Liong Bi menghentikan tariannya.

"Bagus sekali, Liong-lihiap. Tarianmu indah dan gagah!" serunya gembira.

Setelah menyimpan pedangnya Liong Bi menghampiri pemuda itu. Seorang pemuda yang ganteng, pikirnya. Bukan saja ganteng akan tetapi juga putera seorang menteri yang amat terkenal dan kekuasaannya besar. Betapa akan senangnya kalau dia dapat menjadi isteri pemuda ini, dan akan besar sekali manfaatnya bagi Pek-lian-kauw! Jika berhasil dia akan mendapat keuntungan ganda. Dia sendiri akan menikmati kemuliaan, dan dia akan dapat berbuat banyak demi keuntungan Pek-lian-kauw.

"Aihh, sekarang engkaulah yang terlampau memujiku, Kongcu. Sajakmu tadi yang patut dikagumi, hanya sayang sekali pada bagian akhir sajak itu engkau bersedih, Kongcu. Kenapa engkau iri terhadap ikan-ikan di kolam ini, Kongcu?' Liong Bi memandang ke arah ikan-ikan emas yang berenang berkejaran di dalam kolam.

Cang Sun juga memandang ke arah kolam. "Mereka itu selalu bergembira dengan teman-teman mereka, tak peduli ada bulan atau pun tidak, bunga bersemi atau tidak, sedangkan aku..." Cang Sun tidak melanjutkan ucapannya, merasa bahwa dia kelepasan bicara.

"Kongcu sepi sendiri? Aihh, Cang Kongcu, kenapa Kongcu membuat sajak yang bunyinya seperti itu? Bagaimana mungkin seorang pemuda seperti Kongcu bisa kesepian? Semua orang, terutama para gadis di seluruh negeri, akan merasa bangga untuk menjadi teman Kongcu!" Dia mendekat, lalu dengan lembut duduk di atas bangku di samping pemuda itu, dan dengan pandang mata penuh daya pikat dia pun berbisik, "Setidaknya aku siap sedia untuk menemani dan menghibur Kongcu, setiap saat, dalam suka mau pun duka..."

Cang Sun terbelalak, mukanya semakin merah dan jantungnya berdebar. Dia bangkit dan berseru, "Long-lihiap..." Akan tetapi dia cepat menahan diri untuk melanjutkan tegurannya karena teringat betapa wanita ini pernah menyelamatkan nyawanya ketika tempo hari dia diserang penjahat di telaga.

"Kongcu, sejak pertemuan kita yang pertama aku sudah kagum sekali padamu. Aku siap untuk melindungimu, menghiburmu, menemanimu dan membahagiakanmu selamanya..." Suaranya merayu-rayu, lalu dengan lembut dan hangat jari tangan wanita itu menyentuh lengan Cang Sun.

Pemuda itu menjadi salah tingkah. Harus diakuinya bahwa dia sangat tertarik. Wanita ini tampak demikian cantik menggairahkan, demikian gagah, dan demikian menantang. Akan tetapi hati nuraninya menolak karena dia belum mengenal betul siapa sebenarnya wanita ini, orang macam apa dan apakah semua perasaan yang diucapkannya tadi benar-benar tulus. Maka dia pun melangkah mundur tiga langkah.

Liong Bi sudah bangkit berdiri. Melihat usahanya hampir berhasil, dia tak mau begitu saja melepaskan mangsa yang sudah di depan mulut. Dia pun melangkah maju mendekat lagi, suaranya menggetar penuh perasaan, "Kongcu..."

Pada saat itu terdengar suara Cang Hui, "Sun-ko, apakah engkau di situ?" dan muncullah Cang Hui dan Cin Nio.

Begitu mendengar suara gadis itu, Liong Bi cepat mundur beberapa langkah sehingga dia berdiri cukup jauh dari pemuda itu ketika dua orang gadis itu muncul dan tiba di situ.

"Engkau sedang apakah, Sun-ko? Ehh, kiranya Enci Liong Bi juga berada di sini? Sedang apakah engkau, Enci Liong Bi?" tanya Cang Hui sambil memandang tajam.

Dengan sikap tenang Liong Bi menjawab, "Saya kebetulan lewat di sini ketika meronda, Siocia. Permisi, saya hendak melanjutkan perondaan, menjaga keamanan malam ini."

"Lebih baik begitu, Enci Liong Bi," kata Cang Hui, seakan menyembunyikan makna yang tajam dalam ucapan itu walau pun dapat pula dianggap wajar.

Liong Bi memberi hormat, "Permisi, Siocia, Kongcu... !" dan dia pun pergi dari situ.

Setelah Liong Bi pergi, Cang Hui menghampiri kakaknya. "Koko, mau apa sih enci Liong Bi berada di sini?"

Cang Sun menarik napas dan dia memandang kepada Cin Nio yang hanya berdiri di situ sambil menundukkan mukanya. "Dia hanya kebetulan lewat ketika meronda dan melihat aku berada di sini, dia lalu datang menghampiri aku dan kami bercakap-cakap. Mengapa engkau menanyakan urusan itu?" Cang Sun membalas sambil memandang adiknya yang dianggap terlalu mencampuri urusan pribadinya.

"Tidak apa-apa, Koko, hanya aku merasa heran melihat keberaniannya menemui engkau seorang diri pada waktu malam begini. Hati-hati, Koko, aku mendengar dari enci Mayang bahwa enci Liong Bi adalah seorang janda. Jangan-jangan engkau akan terpikat olehnya!"

"Huh, bicaramu sudah menyimpang, Hui-moi!" Cang Sun menegur adiknya. "Engkau lupa telah mengajak Cin-moi dan sekarang kau diamkan saja. Silakan duduk, Cin-moi."

Cin Nio yang sejak tadi hanya mendengarkan kini tersenyum dan mengangguk, lalu maju menghampiri Cang Hui, "Terima kasih, Sun-ko," katanya lirih.

Seperti tak sengaja Cang Hui menemukan kertas yang telah ditulisi sajak oleh kakaknya, lalu membacanya dengan suara berirama dan merdu. Cang Sun tidak melarang, hanya memandang adiknya sambil tersenyum. Adiknya itu selalu manja dan dia sangat sayang kepadanya karena hanya seorang itulah saudaranya.

Sesudah selesai membaca sajak itu, Cang Hui berseru, "Aihhh, indah sekali sajakmu ini, Koko. Hanya sayang, sajak ini memandang ringan, bahkan seolah menganggap aku dan enci Cin ini tidak ada saja. Kau keterlaluan, Koko."

"Ehh? Apa maksudmu?"

"Coba saja pikir, dalam sajakmu engkau berkeluh kesah, merasa kesepian tiada teman. Apakah kami berdua ini bukan teman yang baik?"

"Ihhh, anak nakal! Tentu saja, engkau malah adikku dan Cin-moi ini adik misan, lebih dari saudara!"

"Nah, kalau begitu, kenapa di malam yang indah ini berkeluh kesah dan mengatakan sepi sendiri? Hayo, Koko, kita harus merayakan malam seindah ini bertiga! Atau, engkau lebih senang bercakap-cakap dengan janda itu?"

"Hushh! Tentu saja aku senang bersamamu dan adik Cin Nio...," kata Cang Sun dengan muka berubah merah.

"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan untuk menghidangkan kueh dan anggur. Enci Cin, kau temani Sun-ko sebentar!" tanpa menanti jawaban, gadis yang lincah ini sudah berlari meninggalkan mereka berdua.

Memang inilah yang dia kehendaki. Dia ingin memberi kesempatan kepada kakaknya dan Cin Nio untuk berdua saja agar mereka dapat leluasa bicara. Selama ini hampir tidak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara empat mata, dan tanpa adanya pertemuan berdua saja, bagaimana mungkin niat orang tuanya untuk menjodohkan mereka akan bisa terlaksana? Dia harus membantu mereka, membantu agar dua orang yang disayangnya itu mendapatkan kesempatan!

Sesudah Cang Hui pergi meninggalkan mereka, dua orang muda itu duduk berhadapan namun keduanya berdiam diri. Cin Nio yang berwatak pendiam itu tidak berani berkutik. Kalau ada Cang Hui biasanya dia masih berani bicara kepada kakak misannya itu, karena bagaimana pun juga mereka telah saling mengenal dan bergaul semenjak dia masih kecil. Akan tetapi, setelah kini duduk berdua saja, dia merasa rikuh dan tak berani berkutik, apa lagi memandang pemuda itu. Bahkan bernapas pun hanya lirih dan lembut sekali.

Cang Sun juga merasa rikuh sekali. Dia tahu bahwa orang tuanya hendak menjodohkan dia dengan Cin Nio. Gadis ini memang cukup cantik jelita dan halus budi pekertinya. Akan tetapi sejak dulu dia menganggap Cin Nio sebagai adik misan, sebagai anggota keluarga sehingga sulitlah baginya untuk mengubah perasaan sayang seorang kakak terhadap adik ini menjadi cinta asmara seperti cintanya terhadap Kui Hong. Dia merasa iba kepada Cin Nio.

Para gadis, terutama sekali gadis keluarga bangsawan, selalu hanya dapat tunduk pada kehendak orang tua, harus menerima calon suami yang dijodohkan orang tua! Selama ini, apa bila dia memperhatikan sikap gadis itu, nampaknya Cin Nio mulai menaruh harapan kepadanya! Memang dia tidak merasakan getaran cinta dalam pandangan mata gadis itu, akan tetapi jelas bahwa Cin Nio tertarik dan kagum kepadanya.

Dia dapat membayangkan betapa akan sengsaranya hati Cin Nio bila sampai jatuh cinta kepadanya dan dia tidak bisa menyambut cinta itu. Dia telah merasakan betapa pahitnya cinta sepihak, seperti dia mencintai Kui Hong yang tidak terbalas oleh gadis itu! Tidak, dia harus membuyarkan harapan Cin Nio, harus membuka mata gadis itu sebelum terlambat, sebelum gadis itu benar-benar jatuh cinta kepadanya! Dan sekarang inilah saatnya yang baik, karena kalau tidak sekarang selagi mereka duduk berdua, kapan lagi?

"Cin-moi..." katanya lirih sekali. Bagaimana pun juga jantungnya berdebar tegang hendak membuka kenyataan yang pahit bagi gadis itu.

Cin Nio mengangkat muka memandang, namun menunduk kembali ketika melihat betapa kakak misannya sedang menatap tajam wajahnya, "Ya, Sun-ko? Ada apakah?" jawabnya dengan suara dibuat wajar dan tenang, namun tetap saja suaranya agak gemetar.

"Cin-moi, kebetulan sekali kini kita duduk berdua saja. Aku memang ingin sekali berbicara denganmu, akan tetapi selalu tidak ada kesempatan."

"Bicara urusan apakah Sun-ko?" gadis itu bertanya, sekarang suaranya lebih tenang.

"Urusan kita berdua. Engkau tentu tahu bahwa orang tua kita berniat untuk menjodohkan kita. Bagaimana pendapatmu tentang hal itu, Cin-moi?"

Meski pun sudah menduga ke arah mana pembicaraan itu, tetap saja wajah itu menjadi merah sekali mendengar pertanyaan ini. Ia tetap menunduk ketika menjawab, "Apa yang dapat kukatakan, Sun-ko? Aku hanya dapat mentaati semua keinginan orang tua..."

Cang Sun menghela napas panjang. "Aku tahu, dan memang begitulah nasib para gadis bangsawan. Tapi aku adalah seorang laki-laki, Cin-moi. Aku memiliki pendirian sendiri dan aku hanya dapat menikah dengan seorang gadis yang saling mencinta dengan aku. Terus terang saja, Cin-moi, aku sayang kepadamu sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Sejak kecil kita sudah bergaul dan sejak kecil engkau kuanggap sebagai adikku. Sukar bagiku untuk mengubah perasaan itu sehingga terasa janggallah jika kita harus berjodoh. Aku tidak ingin membiarkan engkau dalam keraguan, Cin-moi, oleh karena itu aku hendak berterus terang bahwa tidak mungkin aku dapat menuruti kehendak orang tua agar aku menikah denganmu. Bukan sekali-kali aku menolak karena engkau kurang baik, Cin-moi, melainkan karena aku tidak dapat menikahi seorang gadis yang kuanggap seperti adikku sendiri." Cang Sun berhenti bicara. Dadanya terasa lapang bukan main seolah batu besar yang selama ini menghimpit perasaannya kini telah terlontar keluar.

Kini kepala itu semakin menunduk. Tidak, Cin Nio tidak merasa ditolak! Dia tidak merasa dikesampingkan dan tidak merasa terhina. Tetapi dia merasa kecewa dan bersedih. Harus diakuinya bahwa selama ini timbul perasaan gembira kalau dia membayangkan betapa dia akan menjadi isteri Cang Sun. Dia kagum kepada kakak misannya itu dan alangkah akan mudahnya untuk jatuh cinta kepadanya!

Dia tidak merasa sakit hati karena kakak misannya berterus terang. Bahkan secara diam-diam dia merasa bersyukur karena kakak misannya berani berterus terang. Dengan begini kesemuanya jelas sudah, dan dia tidak perlu lagi menggantungkan harapannya terhadap perjodohan itu.

Akan tetapi, bagaimana pun juga runtuhnya harapan itu menusuk perasaannya dan meski pun dia menahan diri sehingga tidak sampai terisak, tetap saja kedua matanya menjadi basah dan cepat ia menyusutnya dengan sapu tangannya. Akan tetapi air mata itu keluar lagi, maka dia segera bangkit berdiri, membelakangi Cang Sun dan menguatkan hatinya untuk berkata tanpa menoleh,

"Maafkan aku... aku hendak kembali... ke kamarku"

Cang Sun merasa iba sekali ketika melihat gadis itu melangkah lunglai,. "Cin-moi, engkau maafkanlah aku..."

Akan tetapi gadis itu tak menjawab, segera berlari kecil meninggalkan taman, kembali ke kamarnya di mana dia lalu membanting diri ke atas pembaringan dan menangis sepuas hatinya.

Saat kembali ke dalam taman bersama dua orang pelayan yang membawa makanan dan minuman, Cang Hui merasa heran karena tidak melihat Cin Nio di situ, hanya kakaknya duduk melamun seorang diri.

"Ehh? Ke mana perginya enci Cin?" tanyanya.

Cang Sun memandang kepada dua orang pelayan itu dan Cang Hui menyuruh mereka pergi setelah mereka menaruh makanan dan minuman di atas meja.

"Apakah yang telah terjadi, Koko?" tanyanya setelah mereka duduk berdua saja.

Pemuda itu menghela napas panjang. "Dia sudah kembali ke kamarnya. Aku telah bicara terus terang kepadanya tentang hubungan kami, yaitu tentang perjodohan di antara kami yang dikehendaki para orang tua..."

Cang Hui membelalakkan matanya. "Apa yang kau katakan kepadanya, Koko?"

"Aku berkata terus terang bahwa aku tidak mungkin bisa menikahinya karena aku sayang kepadanya seperti adik sendiri, bukan mencintanya seperti seorang pria kepada seorang wanita..."

"Ihhh, kau kejam, Koko!"

"Hemm, apakah engkau lebih senang melihat aku berpura-pura, membiarkan dia menanti dan mengharap?"

Cang Hui termenung. Dia tidak dapat menyalahkan kakaknya. Tetapi dia merasa amat iba terhadap Cin Nio, "Engkau menghancurkan perasaan hatinya, Koko. Aku tahu bahwa dia cinta padamu."

"Habis, apa yang harus kulakukan? Tak mungkin cinta bertepuk tangan sebelah, aku telah merasakan kepahitannya..."

"Aihh, Koko. Kenapa engkau tidak dapat melupakan enci Kui Hong? Dia tidak dapat kau harapkan lagi karena dia sudah mencinta pria lain. Bukankah enci Cin amat baik? Kenapa engkau tidak dapat mencintanya? Apakah cintamu hanya untuk enci Kui Hong seorang?"

"Sampai saat ini aku belum dapat melupakannya dan belum ketemu penggantinya," kata pemuda itu dengan wajah murung.

"Betapa lemah hatimu, Koko. Engkau harus bisa melihat kenyataan. Enci Kui Hong jelas bukan jodohmu. Mungkin sekarang dia sudah menjadi isteri lain orang. Jadi untuk apa kau kenang dan pikirkan terus menerus? Sudah sepatutnya bila engkau memperhatikan gadis lain. Dan hati-hati, jangan sampai engkau terpikat oleh enci Liong Bi itu."

Cang Sun menggeleng kepala, kembali menghela napas panjang. "Aku tidak akan tertarik kepadanya. Agaknya memang nasibku harus selalu kecewa dalam urusan yang satu ini. Ada gadis yang menarik hatiku dan sangat kukagumi, akan tetapi dia sudah bertunangan dengan orang lain..."

Cang Hui terlonjak kaget kemudian membelalakkan sepasang matanya memandang pada wajah kakaknya, "Mayang...??" tanyanya terheran-heran.

Kakaknya mengangguk dan kembali menarik napas panjang. "Tapi dia telah bertunangan dengan Liong Ki, maka aku pun tidak berani memikirkannya."

"Ahh...! Ruwet kalau begini...!" kata Cang Hui dan dia pun bertopang dagu, melamun jauh.

Dia merasa turut prihatin dengan keadaan kakaknya. Mengapa yang dicinta kakaknya itu selalu gadis yang sudah menjadi milik pria lain? Dia tidak terlalu menyalahkan kakaknya. Kalau menjadi seorang pria, dia sendiri pun akan tergila-gila kepada Mayang.

Gadis itu memang hebat sekali! Kecantikannya khas dan istimewa, ilmu kepandaiannya pun tinggi, rambutnya hitam panjang berombak, kulitnya putih bagaikan susu, dan bentuk tubuhnya, bukan main! Akan tetapi sayang, gadis itu telah bertunangan dengan Liong Ki, dan harus dia akui bahwa pasangan itu amat serasi. Liong Ki juga seorang pendekar yang gagah perkasa dan tampan, memang cocok dan tepat kalau menjadi calon suami seorang dara perkasa seperti Mayang.

Kakak beradik itu duduk termenung seperti patung, lupa pada anggur dan makanan yang dibawa oleh dua orang pelayan tadi. Akhirnya mereka pun menggigil ketika hawa udara mulai dingin sekali. Mereka lalu meninggalkan taman dan kembali ke kamarnya masing-masing!

********************

Mayang termenung di dalam kamarnya. Entah mengapa dia merasakan sebuah keadaan yang tak menyenangkan hatinya. Entah itu karena sikap Sim Ki Liong yang dirasakannya berbeda dari biasanya, atau sikap Su Bi Hwa, ataukah pengalamannya yang aneh ketika dia seperti ditarik-tarik oleh kekuasaan aneh untuk memasuki kamar Ki Liong. Pendeknya dia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, walau pun dia tidak tahu apa yang menyebabkannya.

Kembali terjadi pertentangan di dalam batinnya sendiri. Di satu pihak dia harus mengakui bahwa dia mencinta Sim Ki Liong dan mau memaafkan semua kesesatan yang pernah dilakukan pemuda itu di masa silam, asalkan dia mau bertobat lalu akan mengubah jalan hidupnya dan menjadi seorang pendekar. Dan dia percaya bahwa demi cintanya pemuda itu akan dapat merubah jalan hidupnya, menjadi seorang pemuda yang baik dan menebus kesesatannya yang lalu dengan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa.

Akan tetapi akhir-akhir ini timbul keraguan di dalam hatinya, dan hal itu timbul semenjak pertemuan mereka dengan Su Bi Hwa. Dia merasakan suatu ketidak wajaran dalam sikap Bi Hwa, seakan-akan wanita itu menyimpan banyak rahasia. Yang jelas, lirikan mata dan senyum wanita itu terhadap Ki Liong teramat genit.

Dia sudah membuang jauh-jauh perasaan cemburu yang tidak beralasan, akan tetapi kini ia melihat sikap Bi Hwa terhadap Cang Sun yang sama pula genitnya. Dan ada perasaan tidak enak dan tidak suka terhadap wanita cantik yang sangat lihai itu, seolah-olah wanita itu merupakan suatu ancaman tersembunyi baginya.

Dia harus menemui Ki Liong dan mengajaknya berbicara dengan serius. Akan ditanyakan kepada kekasihnya tentang diri Bi Hwa, tentang latar belakang kehidupannya dan tentang riwayatnya. Malam ini juga!

Dia cepat membereskan pakaian dan rambutnya, lalu keluar dari dalam kamar dan karena dia tidak ingin orang lain, terutama Bi Hwa sendiri, melihat dia bicara empat mata dengan Ki Liong. Mayang mempergunakan kepandaiannya untuk bergerak cepat. Dia menyelinap di antara pilar dan berloncatan menuju ke taman. Dari taman akan mudah baginya untuk menghampiri kamar Ki Liong tanpa dilihat orang lain.

Akan tetapi, setelah sampai di luar kamar Ki Liong dan mengetuk daun jendela kamar itu, dia tidak mendapat jawaban. Dia mengintai dari celah-celah jendela dan melihat kamar itu gelap pekat. Tak mungkin Ki Liong sudah tidur karena malam baru saja mulai.

Setelah yakin bahwa pemuda itu pasti tidak berada di kamarnya, dia lalu mengira bahwa tentu Ki Liong sedang menjalankan tugas atas perintah Cang Tai-jin, maka dia pun masuk ke taman dengan maksud untuk menanti sampai pemuda itu kembali ke kamarnya.

Tiba-tlba dia menyelinap dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dilihatnya Cang Hui berjalan seorang diri memasuki taman itu. Setelah melihat bahwa orang itu adalah Cang Hui, dia hendak keluar menyapanya. Akan tetapi dia menahan diri dan mengintai sesudah melihat bahwa gerak-gerik gadis bangsawan itu tidak seperti biasa dan aneh.

Gadis itu melangkah seperti orang yang sedang tidur saja, tidak pernah menengok ke kiri kanan dan terus memandang lurus. Mayang membayangi dari belakang dengan hati-hati. Jantungnya berdebar tegang ketika dia melihat munculnya Ki Liong di sebelah depan, dan pemuda itu langsung menyongsong Cang Hui dengan sikap yang manis budi dan ramah!

"Selamat malam, nona Cang Hui!" katanya dengan ramah dan sopan.

Cang Hui berhenti melangkah ketika melihat munculnya pemuda itu di depannya, dan dia nampak bingung. "Liong-ciangkun (perwira Liong)," katanya lirih.

Mayang mengintai dengan perasaan heran. Ia melihat betapa Ki Liong menghampiri gadis bangsawan itu hingga dekat kemudian tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu memegang kedua tangan Cang Hui! Dan gadis itu pun menyerah saja, tidak menjadi marah biar pun kedua tangannya dipegang dengan sikap demikian mesra oleh pengawal baru itu.

"Nona, kenapa malam-malam begini engkau keluar ke taman? Hawanya amat dingin dan banyak angin. Aku takut engkau masuk angin, Nona. Engkau begini cantik jelita seperti bidadari, sayang kalau sampai jatuh sakit... " Ucapan itu lembut dan mesra.

"Aku... aku..." kata Cang Hui bingung dan agaknya tidak tahu apa yang harus dikatakan, namun tidak marah atau membantah ketika Ki Liong menarik dan merapatkan tubuhnya.

Melihat ini Mayang terbelalak dan hatinya panas terbakar. Apa artinya semua ini? Ki Liong bermain gila dengan Cang Hui? Jelas bahwa pemuda itu berusaha merayu, akan tetapi kenapa sikap Cang Hui demikian aneh? Seperti orang dalam mimpi saja.

Dia pun teringat akan keadaan dirinya beberapa malam yang lalu, ketika timbul perasaan aneh mendorongnya untuk mencari Ki Liong dan ada rasa rindu yang tidak wajar terhadap kekasihnya itu. Teringat akan hal ini, Mayang cepat berdiri menghadap ke arah Cang Hui, lalu menyilangkan dua lengan ke depan dada, matanya memandang tajam ke arah gadis bangsawan itu dan ia pun mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh sihir yang menguasai Cang Hui, kalau memang kekuatan sihir mencengkeram gadis itu seperti yang disangkanya. Dia memang menguasai ilmu ini dari Kim-mo Sian-kiauw, gurunya.