Social Items

SAMPAI menjelang tengah malam Mayang masih gelisah di atas pembaringannya. Malam itu sunyi sekali. Agaknya semua penghuni rumah itu sudah tertidur nyenyak, kecuali tentu saja para penjaga. Biar pun dia, Ki Liong dan Bi Hwa menjadi pengawal keluarga di rumah itu, namun penjagaan malam tetap diadakan dan mereka melakukan perondaan. Mereka bertiga hanya siap kalau-kalau ada mara bahaya, dan mereka tidur di kamarnya masing-masing. Dia dan Bi Hwa mendapat kamar di samping dengan jendela menghadap taman, sedangkan Ki Liong mendapatkan kamar di bagian belakang.

Mendadak ingatannya melayang kepada Ki Liong. Wajah pemuda itu seolah nampak jelas membayang di depan matanya dan secara aneh sekali dia merasa sangat rindu kepada pemuda yang dicintanya itu. Rasa rindunya tidak dapat ditahan lagi dan dia ingin sekali bertemu dengan Ki Liong. Malam itu juga! Ia turun dari pembaringan, mengenakan sepatu dan baju luar, dan tak lama kemudian tubuhnya sudah melayang ke luar melalui jendela, ke dalam taman.

Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan matanya terbelalak. Kenapa hatinya begini berdebar dan wajah Ki Liong terbayang-bayang, dan perasaannya mengatakan betapa dia sangat mencinta Ki Liong, betapa dia amat merindukannya? Kenapa dia seperti didorong-dorong untuk menuju ke kamar kekasihnya itu, untuk melepaskan rindu dendamnya?

“Hemm, ini tidak wajar!” Begitu pikiran ini menyelinap ke dalam hatinya.

Mayang memejamkan kedua matanya, mengerahkan tenaga batin seperti yang ia pelajari dari subo-nya dan seketika perasaan yang mendorong-dorongnya itu pun lenyap! Seolah angin malam semilir mendinginkan hati dan kepalanya, membuat dia bisa melihat betapa janggal keadaannya. Malam-malam begini mendadak timbul keinginan untuk mengunjungi Ki Liong di kamarnya! Sungguh mustahil!

“Keparat, siapa berani main-main dengan aku? Tak perlu menggunakan ilmu setan untuk menakuti anak kecil, keluarlah jika engkau memang berani dan mempunyai kepandaian!” tantangnya, suaranya mengandung tenaga batin yang masih menggelora di dadanya.

Akan tetapi sepi dan hening saja. Hanya suara jengkerik yang menjawabnya. Dengan hati kesal dia pun kembali ke kamarnya melalui jendela. Benarkah ada orang yang bermain-main dengannya? Ataukah Ki Liong yang menggunakan tenaga batin untuk memanggilnya agar dia mau menyerahkan dirinya malam itu? Ataukah memang dorongan itu datang dari perasaan cinta dan rindunya?

Dia tidak tahu betapa dengan kecewa Su Bi Hwa menggeleng-geleng kepala di tempat gelap tersembunyi.

“Sialan,” gerutunya dalam hati. “Anak perempuan itu bahkan sanggup menolak kekuatan sihirku!” Dia menyelinap pergi sambil mengomel lagi, “Harus kupergunakan cara lain untuk menundukkan bocah itu!”

Pada keesokan harinya Mayang tidak bertanya kepada Ki Liong. Tidak ada bukti bahwa pemuda itu yang mempergunakan kekuatan tidak wajar untuk mendorongnya melakukan hal-hal yang tidak pantas. Akan tetapi bagaimana pun juga, sejak malam itu dia menjadi makin waspada, secara diam-diam melakukan pengamatan terhadap Bi Hwa dan terhadap kekasihnya sendiri.

Di samping kekesalan hatinya dia terhibur juga oleh pergaulannya dengan Cang Hui dan Teng Cin Nio. Diam-diam dia merasa kasihan terhadap Cang Sun yang selalu bersikap ramah dan sopan kepadanya. Kadang-kadang ia melihat betapa wajah pemuda itu seperti diliputi mendung kedukaan. Dia menaruh iba karena tahu bahwa pemuda itu sudah gagal dalam cintanya terhadap Cia Kui Hong.

********************

Kita tinggalkan dahulu Mayang, Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa yang kini telah mendapatkan kedudukan yang baik di rumah keluarga Menteri Cang Ku Ceng. Sudah terlalu lama kita meninggalkan Hay Hay.

Sesudah bertemu dengan suami isteri yang aneh, isterinya cantik dan suaminya buruk, si cantik yang bodoh dan si buruk yang pintar, Hay Hay lalu melanjutkan perjalanan. Hatinya terasa ringan dan udara pegunungan terasa sejuk segar menyehatkan. Betapa nikmat dan indahnya hidup ini apa bila pikiran tidak dilanda prahara!

Hay Hay berjalan-jalan di pegunungan yang sunyi itu, menikmati keindahan alam senja. Matahari condong ke barat, meninggalkan cahaya kemerahan yang sangat indah di langit barat. Langit bagaikan disepuh emas, ada warna emas, biru dan putih perak yang indah dilatar belakangi warna merah redup.

Pada saat itu pikirannya kosong, tidak terisi ingatan apa pun, tidak muncul kenangan apa pun, tidak timbul pendapat dan penilaian. Panca inderanya bekerja dengan sepenuhnya. Tanpa menilai matanya memandang semua yang terbentang di depannya. Tiada sebutan indah dalam pikiran, tetapi semua yang nampak mendatangkan perasaan yang tak dapat dilukiskan bagaimana. Mungkin inilah perasaan damai dan tenteram, semua yang tampak ditelan dalam ingatan.

Telinganya menangkap suara burung yang berkelompok beterbangan kembali ke sarang mereka, juga nyanyian katak di perairan yang berdendang menyambut datangnya malam. Hidungnya menyambut semua ganda yang segar dari pohon-pohon, rumput serta tanah, diselingi keharuman beraneka kembang di sana sini, menghirup udara yang memenuhi dadanya sepenuh-penuhnya sampai ke ujung pusar.

Hay Hay ingin tertawa ketika dia berdiri di puncak bukit dan menghadap ke barat, melihat matahari sudah menjadi bola besar merah yang mulai tenggelam di balik kaki langit. Dan dia pun tidak menahan keinginannya itu. Dia tertawa bergelak, lepas bebas hingga suara tawanya bergema di seluruh permukaan bukit. Selama hidupnya belum pernah dia tertawa seperti itu!

Kini baru terasa olehnya betapa biasanya, kalau dia tertawa di hadapan orang lain, suara tawanya terkendali, terdorong sesuatu bahkan terkekang sesuatu, tak dapat bebas lepas seperti ini. Malah dia merasa betapa suara tawanya itu biasanya palsu, hanya demi sopan santun, demi menyenangkan orang, tidak seperti sekarang ini. Dia tertawa tanpa sebab tertentu. Tertawa yang timbul dari perasaan diri ada dan bersatu dengan alam, perasaan bebas!

Kenapa dia biasanya hidup di antara manusia-manusia lain lalu menjadi terbelenggu oleh kebiasaan-kebiasaan umum, membuat dia tak pernah merasa bebas seperti sekarang ini? Kehidupan di dunia ramai membuat dia bagaikan sebuah biduk yang oleng ke sana sini, dipermainkan gelombang kehidupan yang penuh dengan ombak suka-duka, lebih banyak dukanya dari pada sukanya.

“Siancai (damai)...! Sungguh mengagumkan aku masih bisa mendengar suara tawa yang seindah itu. Puji syukur kepada Tuhan Maha Kasih, suara tawa itu datang dari surga...!”

Hay Hay membalikkan tubuhnya dan dia pun melihat seorang kakek sedang tertatih-tatih mendaki puncak. Kakek itu sudah sangat tua, tentu usianya sudah delapan puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus, rambut dan jenggot kumisnya sudah putih semuanya, gerak-geriknya membayangkan kelembutan dan kelemahan. Dengan tongkatnya dia melangkah satu-satu dan hati-hati agar jangan sampai tersandung batu, menuju ke tempat Hay Hay berdiri.

Melihat ini otomatis timbul rasa hormat dan iba di hati Hay Hay, dan dia pun cepat-cepat menghampiri dan membantu kakek itu, menuntun dengan memegangi tongkatnya. Ketika mereka tiba di puncak itu, si kakek duduk di atas batu yang halus sambil terengah-engah, akan tetapi wajah yang dikelilingi rambut putih halus itu nampak segar kemerahan seperti wajah anak kecil. Mata kakek itu pun bersinar-sinar lembut, pada saat tersenyum nampak mulutnya sudah tak bergigi sebuah pun, membuat wajah itu semakin mirip dengan wajah kanak-kanak!

Hay Hay segera memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk. “Maaf, Totiang (bapak pendeta), bolehkah saya mengetahui, siapa Totiang dan tinggal di mana?”

“Ho-ho-ho, orang muda, aku bukan pendeta. Aku seorang manusia yang sudah tua dan lemah badannya, aku seorang kakek-kakek jompo, heh-heh. Aku sendiri sudah lupa nama apa yang diberikan kepadaku, aku seorang kakek tanpa nama.”

“Bu Beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama)? Itukah sebutan untuk kakek?” tanya Hay Hay.

“Heh-heh-heh-heh, tidak ada sebutan apa-apa. Tempat tinggalku adalah di mana tubuh ini berada. Rumahku alam ini, atap rumahku langit, lantaiku bumi, dindingku empat penjuru, heh-heh. Adakah yang lebih indah dari pada alam ini? Adakah lauk yang lebih lezat dari pada lapar? Adakah tempat tidur yang lebih enak dari pada kantuk? Adakah yang lebih kaya dari pada yang tidak menginginkan apa-apa?”

Hay Hay memandang kagum. Mungkin kakek ini seorang yang mempunyai jasmani yang lemah, akan tetapi dia tidak melihat jiwa dan semangat yang lemah!

“Kakek yang bijaksana, saya merasa beruntung sekali bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan kakek di sini. Nama saya Hay Hay dan juga seperti kakek, saya tidak mempunyai rumah tinggal yang tetap. Sesudah berjumpa denganmu, saya yakin akan menemukan jawaban dari banyak pertanyaan tentang kehidupan yang selama ini mengganggu hatiku. Kakek yang baik, maukah kakek menerangkan, apakah bahagia itu dan bagaimana saya bisa memperolehnya?”

Kakek itu terkekeh-kekeh, seakan-akan pertanyaan Hay Hay tadi terdengar sangat lucu. “He-he-heh-heh, mari kita duduk, orang muda. Mari kita bicara. Angin bicara pada pohon dan daun, burung-burung bicara, alam bicara, akan tetapi siapa mau mendengarkannya? Kulihat engkau bersungguh-sungguh ingin mengetahui, sekarang marilah kita sama-sama menyelidikinya. Marilah kita renungkan dan bicarakan, apa sih artinya bahagia itu? Orang muda, pernahkah engkau berbahagia?”

Hay Hay termenung, mengingat-ingat. Baru-baru saja ini ketika dia berada di samping Kui Hong, melakukan perjalanan bersama gadis yang dicintanya, bercakap dan bergurau, dia merasa berbahagia sekali! Akan tetapi setelah perjodohan itu tidak disetujui keluarga Kui Hong dan dia terpaksa meninggalkan gadis itu, dia merasa berduka sekali.

Akan tetapi kedukaan itu pun lewat begitu saja dan sekarang sudah hampir tak berbekas. Suka duka seperti itu sering dialaminya sepanjang hidupnya, susah senang silih berganti mengisi hidupnya. Akan tetapi bahagia?

“Entahlah, Kek. Pernah aku merasa seperti berbahagia, tetapi pada lain saat perasaan itu lenyap berganti duka dan sengsara. Aku tidak tahu apakah itu perasaan bahagia ataukah bukan?”

“Yang berganti duka adalah suka, orang muda, dan yang berganti susah adalah senang. Senang susah memang menjadi bagian dari pada isi kehidupan ini, yang satu tidak dapat terpisahkan dari yang lain, sambung menyambung dan susul menyusul, seperti siang dan malam, terang dan gelap, atas dan bawah, langit dan bumi. Apa bila ada yang satu, pasti ada yang lainnya. Bagaimana orang akan dapat mengenal suka kalau dia tidak mengenal duka dan demikian sebaliknya. Adanya yang satu memang untuk melengkapi yang lain, bahkan yang satu menciptakan yang lain. Sejak kita masih kanak-kanak, sejak pikiran kita bekerja, kita sudah mengalami suka duka, senang susah itu yang ditandai dengan tawa dan tangis!”

“Engkau benar sekali, Kakek yang mulia. Yang kurasakan itu hanyalah kesenangan dan kesusahan, kepuasan dan kekecewaan. Akan tetapi, apakah kebahagiaan itu, Kek?”

Kakek itu tersenyum, memperlihatkan mulut ompongnya yang kelihatan bersih dan sehat. "Orang muda, kalau kita belum pernah bertemu dengan seseorang, bagaimana mungkin kita mengenalnya? Kalau kita belum pernah makan garam, bagaimana mungkin kita tahu rasanya? Kalau kita belum pernah berbahagia, bagaimana kita bisa menceritakan apakah kebahagiaan itu? Seperti yang pernah kita alami, yang kita rasakan hanyalah senang dan susah, dan kedua perasaan itu baru timbul setelah kita menilai. Suatu peristiwa tidaklah disebut susah atau senang sebelum kita menilainya. Susah atau senang tergantung dari hasil penilaian. Bukankah demikian? Oleh karena itu, senang dan susah bukanlah sebuah kenyataan, namun hasil penilaian oleh pikiran. Pikiran bergelimang nafsu, maka dengan sendirinya penilaiannya didasari oleh kepentingan diri pribadi. Yang menguntungkan akan menimbulkan senang, yang merugikan menimbulkan susah. Jelas bahwa penilaian adalah palsu, dan hasilnya, susah senang pun hanya bayangan palsu belaka."

"Maafkan, Kek. Maukah engkau menjelaskan tentang palsunya susah senang yang timbul karena penilaian palsu sebagai hasil kerja pikiran yang bergelimang nafsu?"

"Contohnya hujan, orang muda. Hujan adalah suatu peristiwa, tidak ada kaitannya dengan susah senang. Hujan adalah sebuah kenyataan, suatu kewajaran, suatu bukti kekuasaan Tuhan. Akan tetapi kita menilainya. Kalau di waktu kita menilai itu kita membutuhkan air hujan, maka hal itu dianggap menguntungkan dan karenanya kita menjadi senang dengan turunnya hujan. Akan tetapi kalau di lain saat kita terganggu oleh turunnya hujan, maka penilaian kita langsung berbalik, kita dirugikan dan kita menjadi susah. Kalau pada hujan pertama kita menganggap hujan itu baik dan menyenangkan, di lain kali kita menganggap hujan itu buruk dan menyusahkan. Nah, nampak sekali kepalsuan penilaian itu, bukan?"

Hay Hay mengangguk-angguk mengerti, "Kita sudah menyelidiki mengenai senang-susah yang hanya merupakan akibat dari pada penilaian yang didasari oleh nafsu kepentingan diri pribadi. Jadi kesenangan bukanlah kebahagiaan. Lalu apakah kebahagiaan itu, Kek?"

"Nah, itulah. Bagaimana menceritakan tentang asinnya garam kepada orang yang tidak pernah makan garam? Semua orang agaknya mencari-cari kebahagiaan, heh-heh-heh."

"Benar, Kek. Semua orang haus akan kebahagiaan."

"Engkau juga, orang muda?"

"Tentu saja, Kek. Siapa orangnya yang tidak ingin berbahagia dalam hidupnya.?"

"Di sinilah letak rahasianya, orang muda. Kebahagiaan tak akan mungkin ada bagi orang yang mencari dan mengejarnya!"

"Ehh? Kenapa begitu, Kek?"

"Karena keinginan mendapatkan kebahagiaan itu sendiri adalah nafsu, dan selama nafsu menguasai hati dan akal pikiran, maka yang dikejar itu tiada lain hanyalah kesenangan, yang menyenangkan, dan tadi kita sudah tahu bahwa pengejar kesenangan sudah pasti akan bertemu pula dengan kesusahan, saudara kembarnya."

"Kalau begitu, lalu bagaimana kita dapat memperoleh kebahagiaan, Kek?"

"Ho-ho-heh-heh," kakek itu tertawa. "Pertanyaanmu itu bukankah mengandung keinginan untuk mengejar kebahagiaan pula?"

Hay Hay menjadi bengong dan bingung. "Habis, lalu apa yang harus kita lakukan, Kek?"

"Tak ada yang harus melakukan apa-apa. Mari kita simak dengan lebih teliti, orang muda. Sekarang jawab sejujurnya, mengapa manusia mencari kebahagiaan? Mengapa engkau menginginkan kebahagiaan?"

Ditanya demikian, Hay Hay lantas termenung. Ya, mengapa? Sukarnya mencari jawaban! Mengapa dia mendambakan kebahagiaan? Tiba-tiba wajahnya berseri dan dia menjawab,

"Karena aku merasa tidak berbahagia, Kek! Kukira semua orang juga demikian. Mereka tidak berbahagia, maka mendambakan kebahagiaan!"

"Tepat sekali. Memang agaknya demikianlah, jawabanmu amat jujur dan sewajarnya. Kita selalu mencari kebahagiaan, tentu saja yang menjadi sebabnya adalah karena kita tidak berbahagia, atau lebih tepatnya karena kita MERASA tidak bahagia! Nah, dalam keadaan tidak berbahagia kita hendak mengejar kebahagiaan, bagaimana mungkin itu? Keadaan tidak berbahagia merupakan kenyataan apa yang ada, sedangkan kebahagiaan masih merupakan khayalan, harapan. Bagaimana mungkin yang kotor ingin bersih? Bagaimana mungkin yang sakit ingin sehat? Bukankah lebih tepat kalau kita mencari sebab penyakit itu, mencari penyebab yang membuat kita tidak sehat dan menyembuhkan penyakit itu? Demikian pula lebih tepat bila kita menyelidiki APA yang menyebabkan kita tidak merasa berbahagia. Kalau penyebab itu sudah lenyap, kalau kita sudah tidak sakit lagi, apakah kita membutuhkan kesehatan? Demikian pula jika tidak ada sesuatu yang menyebabkan kita TIDAK berbahagia, apakah kita masih membutuhkan kebahagiaan? Yang mencari air minum adalah mereka yang haus, yang tidak haus tentu tidak butuh air minum."

Hay Hay memandang pada wajah kakek itu dengan sinar mata berseri-seri dan wajahnya penuh senyum maklum. "Jelas sekali, Kek. Yang tak merasa lagi bahwa dia tidak bahagia tentu tidak mencari kebahagiaan, karena DIA SUDAH BERBAHAGIA!"

"Nah, jadi yang merasa tidak berbahagia kemudian mengejar-ngejar kebahagiaan, bukan lain adalah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang menamakan diri sendiri si-aku yang mengaku-aku.”

"Kalau begitu, Kek, sebenarnya kebahagiaan itu sudah ada pada kita, akan tetapi seolah-olah tidak ada karena kita tidak merasakannya? Mengapa kita tidak merasa berbahagia walau pun tidak ada apa-apa yang mengganggu?"

"Itulah kelemahan manusia. Dalam keadaan sehat tanpa ada gangguan penyakit, jarang ada orang yang menyadari kesehatannya tetapi kalau dia terganggu penyakit, barulah dia membayangkan alangkah senang dan indahnya kalau dia sehat. Demikian pula dengan kebahagiaan. Bila mana ada sesuatu yang terjadi, yang membuat dia merana dan merasa tidak berbahagia, dia menjadi haus akan kebahagiaan! Selama hati dan akal pikiran masih bergelimang nafsu, kita akan selalu haus akan sesuatu yang lebih dan tak pernah merasa puas dengan yang ada. Pengejaran akan sesuatu yang lebih, yang dianggap akan dapat membahagiakan adalah penghancur kebahagiaan itu sendiri."

"Aihh, kalau begitu biang keladinya adalah nafsu, Kek. Pantas saja banyak cerdik pandai yang bertapa dan mengasingkan diri untuk mengendalikan nafsu, untuk memerangi nafsu mereka sendiri."

"Siapa yang berhasil? Bagaimana mungkin hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu ini dapat melakukan usaha untuk membersihkan diri sendiri dari gelimangan nafsu? Kita hanya akan terseret dalam lingkaran setan, orang muda. Hasil usaha dari nafsu tentu saja juga masih mementingkan diri sendiri, berpamrih, malah akan memperkuat cengkeraman nafsu. Sebagai manusia hidup kita tidak mungkin melenyapkan nafsu. Kita membutuhkan nafsu untuk hidup. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia."

"Wah, wah! Kalau begini bagaimana, Kek? Nafsu bisa mencelakakan kita, akan tetapi kita tidak dapat hidup tanpa nafsu! Lalu bagaimana?"

"Nafsu laksana api, orang muda. Kalau menjadi pelayan, maka dia akan sangat berguna, sebaliknya kalau menjadi majikan, dia akan berbahaya. Nafsu itu pelayan yang setia dan majikan yang kejam. Nafsu adalah alat, maka harus kita peralat sehingga akan nampak kegunaannya. Akan tetapi sekali dia yang memperalat kita maka akan binasalah kita. Jadi nafsu harus kita pertahankan sebagai pelayan, jangan sampai menjadi majikan.”

"Tetapi bukankah usaha kita adalah usaha hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu? Lalu siapa yang akan mampu mempertahankan agar nafsu menjadi alat atau pelayan?"

"Kita memang lemah. Biar pun kita waspada dan menyadari tetap saja kita tidak akan kuat melawan desakan nafsu kita sendiri. Oleh karena itu, satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengembalikan nafsu kepada tugasnya semula, hanyalah Sang Maha Pencipta! Hanya kekuasaan Tuhan yang mampu, karena kekuasaan Tuhan pula yang menciptakan nafsu sebagai alat manusia hidup di dunia."

"Tuhankah yang menciptakan nafsu yang membuat manusia menyeleweng dan menjadi jahat?"

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ho-ho, kau kira siapa ? Segala yang ada di alam mayapada ini, yang nampak mau pun yang tidak nampak, dari yang terkecil sampai terbesar, dari yang terlembut sampai yang terkasar, segala ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa!"

"Tapi mengapa Tuhan menciptakan yang buruk dan jahat?"

"Hushhh, kita yang mengatakan buruk dan jahat karena kita tidak tahu, dan pengetahuan kita hanya pengetahuan si-aku yang selalu ingin senang dan ingin enak. Bagaimana kita mengetahui atau mengerti akan kehendak Tuhan?"

"Lalu apa yang harus kita lakukan agar kekuasaan Tuhan mengendalikan nafsu kita dan mengembalikannya kepada tugasnya yang benar?"

"Kita justru tidak usah melakukan apa-apa! Bila kita melakukan apa-apa, berarti kita tidak pasrah pada Tuhan! Kita hanya menyerah saja dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan, dengan iman kita. Kalau sudah demikian, kalau kita telah menyerah dengan sebulatnya, maka segala yang menimpa diri kita akan kita terima sebagai sesuatu yang dikehendaki Tuhan, dan tak akan ada keluhan yang keluar dari batin kita. Yang ada hanya penyerahan mutlak dan puja-puji bagi Tuhan Maha Kasih, puji syukur tanpa putus. Kalau sudah demikian, kita tidak butuh kebahagiaan lagi. Bimbingan Tuhan itulah kebahagiaan, cinta kasih Tuhan itulah kebahagiaan, cahaya Tuhan itulah kebahagiaan, tak dapat dinilai, tak dapat digambarkan, jauh di atas senang susah."

Pada saat itu terdengar teriakan dari bawah puncak. Akan tetapi karena Hay Hay masih penasaran mendengar ucapan terakhir tadi, dia pun mengejar dengan pertanyaan. "Kakek yang baik, kalau kita hanya pasrah saja, tidak melakukan usaha apa pun, benarkah itu?"

"Ho-ho-ho, itu pemalas namanya. Orang semacam itu berdosa besar, hendak memperalat kekuasaan Tuhan! Tentu saja tidak. Kita manusia ini hidup, bergerak, serba sempurna dan lengkap dengan jasmani, hati dan akal pikiran. Karena itu kita harus berusaha, berikhtiar sekuat tenaga. Tetapi semua usaha kita itu berlandaskan penyerahan kepada kekuasaan Tuhan! Jelaskah?"

"Hei, manusia jahat penyebab kesengsaraan kami, hendak lari ke mana kau?" bentakan ini terdengar dari bawah puncak dan tak lama kemudian orangnya pun muncul.

Ketika Hay Hay melihat orang itu dia terbelalak kaget dan heran. Yang muncul itu adalah lelaki sebaya dia yang cebol, bermuka hitam, matanya sipit, hidung besar dan bibir tebal. Orang muda buruk rupa yang pernah dijumpainya, suami wanita yang cantik manis dan lincah itu!

Tentu saja dia merasa heran mengapa laki-laki itu mendaki puncak dengan sikap marah-marah, dan dengan gerakan gesit laki-laki itu melocat dan berdiri tak jauh dari situ dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang busur dan beberapa batang anak panah! Kini dia mengamangkan busur dan anak panah itu kepadanya.

"Heh, pengecut mata keranjang! Bersiaplah engkau untuk mampus! Aku sengaja datang untuk mencabut nyawamu dengan anak panah ini supaya engkau tidak lagi meracuni hati wanita!"

Hay Hay menoleh ke kanan kiri dan belakang. Tidak ada orang lain di situ kecuali dia dan kakek tua renta tadi yang masih duduk di atas batu. Tak mungkin kakek itu dimaki perayu mata keranjang yang meracuni hati wanita! Jadi dialah yang dimaki!

Makian mata keranjang bagi dia tak menjadi soal. Dia sudah terbiasa dengan itu, bahkan dia dijuluki Pendekar Mata Keranjang oleh banyak tokoh persilatan. Akan tetapi sekali ini dia penasaran. Dia tidak merasa mengganggu dan merayu wanita, kenapa si buruk rupa ini datang-datang memakinya ? Ketika dia bertemu dengan isteri si buruk rupa itu, dia pun tidak merayunya walau pun dia sempat bercakap-cakap sejenak.

"Heiiii, saudara yang baik. Siapakah yang engkau maki-maki itu?" tanya Hay Hay sambil melangkah maju.

"Siapa lagi kalau bukan engkau? Masih pura-pura bertanya lagi?"

"Ehh?! Apa salahku?"

"Manusia ceriwis, mata keranjang! Engkau sudah menggoda isteriku, merayu isteriku dan meracuni hatinya!"

"Bohong! Aku tidak melakukan hal itu. Kami hanya bercakap-cakap biasa saja!" bantah Hay Hay.

Dalam keadaan biasa, tuduhan seperti itu tentu hanya akan dihadapi dengan sikap main-main saja. Akan tetapi sekarang di situ terdapat kakek tua renta yang baru saja memberi penerangan pada batinnya. Dia merasa malu mendengar tuduhan itu yang dilakukan di depan kakek tua renta yang arif bijaksana itu!

"Engkau masih hendak membantah! Begitu isteriku bertemu denganmu, dia telah berubah sama sekali! Dia tak mau lagi melayaniku dengan manis budi, tetapi dia selalu cemberut, marah-marah dan setiap membicarakan engkau matanya segera bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri dan selalu mengatakan bahwa engkau sangat menarik hatinya, menimbulkan kegembiraan hatinya dan sebagainya lagi. Huh, tentu engkau telah mempergunakan ilmu hitam guna-guna untuk merayu dan menjatuhkan hatinya."

“Tidak sama sekali! Bohong itu...!” kata Hay Hay. Akan tetapi laki-laki pendek muka hitam yang amat cemburu itu sudah memasang tiga batang anak panah pada busurnya.

"Engkau mampuslah!" bentak laki-laki itu, lantas sekali menarik busur dan melepaskan tali busurnya, tiga batang anak panah itu meluncur dengan amat cepatnya ke arah tubuh Hay Hay.

Hay Hay tahu bahwa lelaki itu mempunyai tenaga besar. Pernah dia mendemonstrasikan tenaganya ketika mereka saling bertemu. Lelaki itu menekankan jari-jari tangannya pada batu dan telapak tangannya meninggalkan bekas sedalam dua sentimeter pada batu itu! Maka kini serangan anak panah itu tentu saja mengandung tenaga yang hebat, melihat derasnya tiga batang anak panah itu menyambar yang cepatnya seperti kilat.

Tetapi tidak terlalu cepat bagi Hay Hay! Dengan mudah saja Hay Hay meloncat ke kiri dan bahkan masih sempat menendang ke arah anak panah yang menyambar tadi sehingga dua batang di antaranya terlempar ke atas.

"Aughhhh...!" terdengar keluhan lirih dan ketika Hay Hay menengok matanya terbelalak.

Tanpa diketahuinya ternyata kakek tua renta yang tadi duduk di atas batu telah turun dari batu dan agaknya melangkah menghampirinya. Oleh karena itu, ketika sebatang di antara anak panah yang menyambarnya tadi luput, anak panah itu meluncur terus dan tahu-tahu kini menancap pada dada kakek tua renta itu! Kakek itu mengeluh lirih dan terjengkang, roboh telentang di atas tanah!

Bukan hanya Hay Hay yang terbelalak dan terkejut. Juga lelaki pendek muka buruk yang melepas anak panah, terbelalak dan berseru, "Ya Tuhan...!"

Dia segera berlari menghampiri kakek itu dan berlutut di dekatnya. Muka yang hitam itu nampak kelabu, tanda bahwa dia pucat sekali melihat betapa anak panahnya menembusi dada sampai ke punggung!

"Duhai kakek... ahh, aku… aku tidak sengaja... aihh, kenapa begini jadinya? Kakek... aku menyesal sekali, aku mohon ampun, Kek..." Laki-laki muka buruk yang tadi marah-marah kini menangis dan merintih minta ampun kepada kakek itu.

Hay Hay menghampiri dan sekali lihat saja dia pun tahu bahwa tidak mungkin sama sekali mengobati kakek itu yang dadanya sudah tertembus anak panah! Dia pun berlutut dengan prihatin sekali.

Kakek itu kelihatan tersenyum! Senyum yang ikhlas dan tenang. Dengan matanya yang masih bersinar dia memandang kepada laki-laki muka buruk itu kemudian berkata lemah, "Semoga Tuhan mengampunimu, Nak. Aku…. aku maafkan engkau..."

Hay Hay merasa terharu bukan kepalang. Selama hidupnya baru sekarang dia berjumpa dengan orang seperti kakek ini. Begitu lemah lembut, begitu arif bijaksana, begitu sabar dan begitu pasrah kepada kekuasaan Tuhan!

“Kek...,” panggilnya lirih sambil mendekat. Kakek itu menoleh kepadanya.

"Kau, orang muda. Kau... tolong ambilkan segulung tulisan yang berada di saku jubahku sebelah kiri..." Dia bergerak lemah.

Hay Hay segera memenuhi permintaannya dan benar saja, di saku jubah sebelah kiri dia menemukan segulung kertas berisi tulisan huruf-huruf yang indah halus. Ujung gulungan kertas itu sudah bernoda darah.

"Orang muda, maukah engkau memenuhi permintaanku yang terakhir...?” kata pula kakek itu.

Si muka buruk cepat berkata, "Kakek, serahkan saja tugas itu kepadaku. Demi Tuhan aku akan memenuhi pesanmu untuk menebus dosaku kepadamu, Kek!"

Kakek itu menoleh kepadanya dan tersenyum. "Asal engkau tidak lagi pencemburu dan pemarah, dosamu pasti akan tertebus." Lalu dia memandang lagi kepada Hay Hay. "Kau simpanlah gulungan kertas ini, dan kelak... apa bila ada kesempatan atau kalau kebetulan engkau lewat di Nan-king, berikan kertas-kertas ini kepada seorang di antara dua menteri bijaksana, yaitu Menteri Yang atau Menteri Cang...” suara kakek itu melemah, lehemya terkulai dan dia pun menghembuskan napas terakhir.

"Kakek...!" Pemuda pendek itu menangis menggerung-gerung seperti anak kecil. "Ampuni aku, Kek...! Aku tidak sengaja membunuhmu..., ampuni aku...”

Hay Hay bangkit berdiri dan menyimpan gulungan kertas ke dalam saku bajunya sebelah dalam, lalu dia memandang kepada laki-laki yang masih berlutut dan menangisi kematian kakek itu.

"Hemm, apa gunanya kau tangisi lagi? Menangis pun takkan menghidupkan dia kembali, juga tidak akan dapat mencuci darah dari anak panahmu itu!"

Mendengar ini laki-laki itu makin mengguguk. Tiba-tiba dia meloncat dan menghadapi Hay Hay dengan air mata masih berlinang. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka Hay Hay.

"Kau...! Kaulah biang keladinya sehingga aku membunuh kakek yang sama sekali tidak kukenal dan tidak bersalah ini! Engkau yang mula-mula meracuni isteriku, membuat aku marah. Kemudian, ketika aku menyerangmu, kembali engkaulah yang mengelak sehingga anak panahku mengenai kakek ini!" ,

Hay Hay rnerasa betapa perutnya menjadi panas. Orang ini benar-benar tidak tahu diri, pikirnya. Kalau hanya dia dituduh mata keranjang dan merayu isterinya, hal itu dapat dia hadapi sambil main-main. Akan tetapi sekali ini lain lagi. Cemburu yang tak berdasar dari orang ini telah menjadi sebab kematian kakek yang arif bijaksana dan luhur budi itu! Dia pun mulai marah.

"Hemm, jadi menurut engkau, pada saat engkau memanahku, aku harus menerima anak panahmu itu tanpa mengelak supaya dadaku ditembus dan aku mati konyol, begitukah? Engkau sungguh seorang yang tolol, kepala batu, pencemburu besar. Sungguh mati, aku heran sekali mengapa isterimu dapat mencinta seorang laki-laki tolol macam engkau!"

Laki-laki cebol yang mukanya buruk itu memelototkan matanya yang sipit dan hidungnya yang besar itu berkembang kempis, mengamangkan busurnya yang terbuat dari baja dan menghardik.

"Mata keranjang busuk! Sebelum bertemu denganmu, isteriku sangat sayang kepadaku, akan tetapi sekarang dia berubah, pemarah dan sikapnya tidak manis lagi. Engkau tentu sudah mengguna-gunainya! Sekarang engkau pula yang menyebabkan aku membunuh kakek tidak berdosa ini, maka kalau tadinya aku hanya hendak membunuhmu, sekarang aku harus membunuhmu dua kali!" Setelah berkata demikian dia lantas menerjang dengan busurnya dan terdengar suara berdesing saking kuat dan cepatnya busur itu dia gerakkan.

"Singgg...!"

Busur itu menyambar ke arah kepala Hay Hay yang dengan tenang melangkah mundur sehingga busur itu menyambar tempat kosong. Sekarang kaki yang pendek itu menyusul, menendang ke arah pusar. Kembali Hay Hay mengelak ke samping dan sekali ini kakinya mencuat, tepat menendang pinggir sambungan lutut kanan lawan sehingga si pendek itu pun terpelanting. Akan tetapi dia meloncat bangun kembali dan menjadi semakin marah.

"Engkau mata keranjang, engkau jai-hwa-cat (penjahat cabul), kubunuh kau!" teriaknya dan dia menyerang kalang-kabut dengan penuh kebencian.

Sebenarnya Hay Hay juga sudah sangat marah karena orang ini telah membunuh kakek bijaksana, walau pun dia tahu tidak sengaja. Akan tetapi dia teringat akan isteri si pendek ini, wanita yang manis budi dan lincah jenaka, maka dia pun merasa kasihan kepada si pendek ini.

Alangkah sengsaranya si buruk rupa ini mempunyai isteri yang secantik itu. Tentu hatinya selalu tersiksa oleh cemburu karena merasa rendah diri, merasa bahwa isterinya terlalu cantik baginya, tidak sepadan. Dia dapat membayangkan betapa si buruk rupa ini setiap saat akan dibakar cemburu, setiap kali isterinya berbicara dengan pria lain, bahkan setiap kali isterinya dipandang pria lain! Dan semakin besar cemburu dan pemarahnya, isterinya tentu akan semakin berani bersikap genit dan manis terhadap pria lain, walau pun hal itu hanya dilakukan untuk memancing cemburu suaminya!

Dengan tingkat kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, beberapa kali Hay Hay merobohkan lawan tanpa melukainya. Si cebol buruk rupa itu diam-diam terkejut dan kagum sekali. Tidak disangkanya bahwa pemuda yang dianggapnya penjahat cabul mata keranjang dan yang akan dibunuhnya itu sedemikian lihainya sehingga busurnya sama sekali tak pernah dapat menyentuhnya, bahkan sebaliknya berulang kali dia roboh, walau pun tidak sampai terluka parah. Tapi, apa bila teringat akan isterinya yang disangkanya tergila-gila kepada pemuda itu, setiap kali roboh dia pun bangun kembali dan menyerang lebih dahsyat!

Hay Hay merasa jengkel juga dengan kekerasan hati lawannya. Sungguh tidak tahu diri. Seharusnya orang itu tahu bahwa dia telah bersikap lunak dan tidak melukainya, kenapa masih nekat terus menyerang seperti babi buta? Diam-diam Hay Hay lalu mengerahkan kekuatan sihirnya, kemudian membentak dengan suara nyaring.

"Heh, cebol pemarah, lihat isterimu datang! Engkau masih berani marah-marah?"

Si cebol terkejut dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Ketika dia memandang lagi kepada lawan, dia terbelalak. Kiranya yang berada di depannya adalah isterinya, dan pemuda tadi telah lenyap entah ke mana! Seketika tubuhnya menjadi lemas dan busur itu terlepas dari tangannya. Dia memandang isterinya dengan bingung dan mulutnya hanya dapat berkata heran.

"Kau... kau... di sini...?”

Dia tadi meninggalkan isterinya tanpa memberi tahu ke mana. Siapa tahu isterinya sudah menyusul. Isterinya yang cantik itu kemudian mengambil busur yang dilepaskannya tadi. Wajahnya cemberut marah.

"Engkau ini suami tolol, selalu cemburu dan marah-marah, sungguh menyebalkan hatiku!” Dan isteri yang cantik itu lalu memukul-mukulkan gendewa itu kepada suaminya!

"Plak! Plakk! Plakkk!”

Si cebol berusaha menangkis dan mengelak, sama sekali tidak berani melawan biar pun dia tahu isterinya tidak pandai silat. Akan tetapi sungguh mengejutkan hatinya. Meski pun dia sudah mengelak dan menangkis, tetapi gendewa itu tetap saja mengenai tubuhnya, di kepala, pundak, punggung, paha dan mendatangkan rasa nyeri yang cukup membuat dia berteriak-teriak.

"Sudah...! Sudah...! Aku mengaku bersalah! Maafkan aku...!" teriaknya sambil berusaha melindungi kepalanya. Namun isterinya terus saja memukulnya sampai dia babak belur.

"Aku isterimu yang selalu setia, akan tetapi engkau malah menuduhku yang bukan-bukan! Bersumpahlah engkau bahwa engkau tidak akan menuduhku lagi!"

"Aku bersumpah... aku bersumpah...!" Laki-laki cebol itu berkata.

Sesudah pemukulan dengan busur itu dihentikan, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan ketika suami itu mengangkat muka memandang, ternyata isterinya sudah lenyap dan di depannya berdiri pemuda tadi yang melemparkan busur ke depan kakinya!

"Ehh...? Bagaimana ini? Mana isteriku... ?” Ia menjadi bingung sekali, melupakan semua rasa nyeri di tubuhnya yang babak belur dan dia memandang ke sekeliling mencari-cari isterinya.

Hay Hay menghentikan tawanya. "Isterirnu tidak pernah berada di sini, mengapa engkau mencari-carinya?"

"Tapi... tapi tadi dia marah-marah dan memukul aku...!”

"Tentu saja, karena engkau sudah bersalah. Dia muncul di dalam angan-anganmu untuk menghukummu dan menyadarkanmu."

Laki-laki itu kini memandang kepada Hay Hay dengan bengong. "Jadi... engkaukah tadi? Engkau menggunakan sihir! Orang muda, siapakah engkau sini? Pendekar dari mana dan siapa namamu, dari perguruan mana?” Dia mulai merasa kagum dan juga gentar.

"Aku hanya hendak menyadarkanmu dari kesalahanmu, Toako (kakak). Isterimu seorang wanita yang hebat, cantik manis, lincah jenaka dan mencintamu. Akan tetapi engkau akan merusaknya dengan cemburumu yang tidak ketulungan itu! Tentang diriku, namaku bukanlah hal penting bagimu. Bukankah engkau sudah memberi nama Mata Keranjang kepadaku? Nah, julukan itu baik sekali, katakanlah aku mata keranjang, akan tetapi aku bukanlah jai-hwa-cat! Aku tahu bahwa isterimu amat baik dan amat sayang kepadamu. Kalau engkau melanjutkan sikapmu yang mengandung cemburu yang berlebihan, sekali waktu mungkin saja dia akan berubah dan akan benar-benar memilih pria lain!"

Wajah itu menjadi pucat. "Aihh... aku telah bersalah... aku tidak mau kehilangan isteriku, sama saja dengan kehilangan nyawaku…."

"Hemm, kalau begitu hilangkan atau kurangi cemburumu. Wanita memang ingin suaminya cemburu karena bagi wanita, sikap cemburu suaminya itu membuktikan bahwa suaminya cinta kepadanya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Akan tetapi sikap cemburu itu jangan berlebihan karena ini menimbulkan anggapan bagi wanita bahwa suaminya tidak percaya kepadanya dan hal itu berbahaya sekali! Engkau harus memperlihatkan sikap melindungi, memiliki akan tetapi jangan mengekang dan membatasi. Engkau harus selalu memujinya, sering menyenangkan hatinya, bahkan memanjakannya, namun jangan selalu menuruti keinginannya secara membuta hingga engkau diperbudak olehnya. Engkau harus terlihat kuat dan berkuasa, akan tetapi jangan menindas. Dengan demikian, isterimu akan selalu memujamu. Wanita ingin dipuji, ingin dimanja, ingin diperhatikan. Kalau engkau bersikap demikian, tentu engkau yang selalu dibayangkannya."

Pria cebol itu bengong, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Wah-wah-wah, orang muda, engkau benar-benar mencengangkan! Engkau bukan saja berkepandaian tinggi, lihai ilmu silatmu, juga pandai ilmu sihir, akan tetapi juga ahli dalam soal wanita! Aku mengerti sekarang mengapa isteriku kelihatan tertarik kepadamu, karena engkau sangat pandai memuji dan menyenangkan hatinya. Engkau sungguh... berbahaya bagi wanita-wanita!"

Hay Hay tersenyum. "Jangan khawatir, kawan. Aku memang senang memuji kecantikan wanita, akan tetapi dalam pujian itu tidak terkandung pamrih ingin merayu dan menggoda, apa lagi untuk memilikinya. Selama hidup aku tidak pernah mengganggu wanita, apa lagi yang sudah bersuami. Nah, kini kembalilah kepada isterimu, aku akan mengubur jenazah kakek yang bijaksana ini."

"Aku akan membantumu!" kata si cebol.

Kemudian mereka sibuk bekerja menggali lubang dan mengubur jenazah kakek tua yang hanya dikenal oleh Hay Hay sebagai kakek tak bernama itu. Setelah selesai dan memberi penghormatan terakhir kepada makam kakek itu, si cebol segera meninggalkan Hay Hay untuk kembali kepada isterinya dengan hati gembira karena telah memperoleh ‘bekal ilmu’ dari Hay Hay untuk membahagiakan isterinya.

Hay Hay sendiri lalu meninggalkan puncak bukit itu menuju ke Nan-king. Tanpa sengaja, tanpa disangka, dia telah menerima tugas dari seorang kakek yang tidak dikenalnya akan tetapi yang sangat dihormatinya, yaitu untuk mengantar segulung surat dan menyerahkan kepada seorang di antara dua menteri terkenal, yaitu Menteri Yang Ting Hoo atau Menteri Cang Ku Ceng.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas) yang berada di bagian timur pegunungan Heng-tuan-san merupakan sebuah lembah yang pemandangannya amat indah, tanahnya subur dan udaranya sejuk nyaman. Lembah itu sendiri sangat sunyi dan hanya ada sebuah pondok yang cukup besar di situ.

Beberapa perkampungan penduduk yang tidak begitu besar tersebar di sana-sini sekitar lembah, dihuni oleh penduduk pegunungan yang mata pencahariannya bertani. Banyak buah-buahan dan bunga-bunga dihasilkan di tempat itu, oleh penduduk lalu dibawa turun ke kota dan dusun di bawah lembah dan itulah penghasilan penduduk pegunungan yang hidupnya bersahaja itu.

Pondok besar yang berada di lembah itu merupakan tempat tinggal sepasang suami isteri yang oleh para penduduk di sekitarnya dianggap sebagai dua orang pertapa yang budiman karena sering kali membantu para penduduk dengan pengobatan. Akan tetapi, walau pun sudah bertahun-tahun kedua orang tokoh itu bersembunyi atau setidaknya mengasingkan diri dari dunia ramai, namun para tokoh kang-ouw mengenal mereka sebagai dua orang yang sakti. Yang pria bernama Siangkoan Ci Kang, berusia empat puluh tujuh tahun, ada pun isterinya yang berusia empat puluh enam tahun bernama Toan Hui Cu.

Siangkoan Ci Kang adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dan berwibawa. Pakaiannya sederhana longgar seperti pakaian kaum pendeta, dan yang menarik adalah lengan kirinya yang buntung sebatas siku.

Semenjak kecil pria ini terbiasa dengan kehidupan yang keras karena mendiang ayahnya adalah seorang datuk di dunia kang-ouw yang sangat ditakuti, berjuluk Si Iblis Buta dan disebut Siangkoan Lojin. Biar pun lengan kirinya buntung, akan tetapi Siangkoan Ci Kang memiliki kepandaian tinggi.

Bukan saja dia telah mewarisi ilmu tongkat dari mendiang ayahnya yang buta, akan tetapi dia juga murid dari Ciu-sian Lokai dan telah mewarisi kitab ilmu yang sakti, yaitu Kwan Im Sin-kun dan Kwan Im Kiam-sut yang tangguh. Selain itu, bersama isterinya yang sama saktinya dia sudah menciptakan sebuah ilmu silat di lembah itu, yang mereka beri nama Kim-ke Sin-kun (Silat Sakti Ayam Emas).

Isterinya juga seorang wanita sakti. Bahkan ayah dan ibu dari Toan Hui Cu lebih terkenal lagi karena mereka adalah suami isteri datuk besar dunia sesat yang berjuluk Raja Iblis dan Ratu Iblis! Dari mendiang ayah ibunya Toan Hui Cu mewarisi ilmu-ilmu yang aneh, juga bersama suaminya dia sudah mewarisi ilmu Kwan Im Sin-kun. Dalam usianya yang kini sudah empat puluh enam tahun, wanita ini masih kelihatan cantik dan anggun seperti wanita bangsawan, walau pun latihan ilmu sesat orang tuanya sudah membuat wajahnya menjadi agak kepucatan.

Mereka memiliki seorang anak saja, bernama Siangkoan Bi Lian yang kini sudah berusia dua puluh tiga tahun. Juga baru-baru ini mereka telah menerima seorang murid bernama Tan Hok Seng, yaitu seorang bekas perwira di kota raja yang sebelumnya telah memiliki kepandaian cukup tangguh.

Tan Hok Seng ini kemudian ternyata bernama Tang Gun, seorang perwira yang melakukan penyelewengan, putera kandung dari mendiang penjahat cabul besar Ang-hong-cu. Suami isteri itu sama sekali tidak tahu tentang hal itu, bahkan mereka mengijinkan puteri mereka untuk menemani suheng-nya itu ke kota raja.

Dan kini, beberapa bulan kemudian, puteri mereka itu pulang, bukan bersama Tan Hok Seng melainkan bersama Pek Han Siong murid mereka yang pertama dan ditemani pula oleh Pek Hong, ketua Pek-sim-pang atau ayah Pek Han Siong, dan Pek Ki Bu, kakek dari Pek Han Siong.

Tentu saja suami isteri penghuni Lembah Ayam Emas itu menjadi girang dan juga heran melihat puterinya pulang bersama murid pertama mereka, ditemani ayah dan kakek murid itu. Mereka menyambut dengan hati gembira dan setelah diperkenalkan kepada ayah dan kakek murid mereka, suami isteri itu kemudian mempersilakan mereka semua memasuki ruangan dalam dan mereka pun duduk dalam suasana akrab dan gembira.

Diam-diam Toan Hui Cu merasa girang sekali melihat betapa puterinya nampak demikian akrab dengan muridnya, terlebih lagi dia pun bisa melihat kasih sayang dalam sinar mata mereka ketika saling pandang. Dia segera berkata dengan suara lantang,

"Aihhh, kepulanganmu sekali ini sungguh membuat kami menjadi bingung dan kaget, biar pun juga sangat menggembirakan, Bi Lian. Sebelum engkau ceritakan hal-hal lain, jawab dulu pertanyaanku. Di mana suheng-mu Tan Hok Seng?"

Gadis itu memandang kepada ibunya, menoleh kepada Han Siong yang juga suheng-nya, memandang lagi kepada ibunya dan ayahnya, lantas tersenyum. Gadis ini memang manis sekali.

Tubuhnya ramping dan padat, rambutnya panjang hitam dan ketika itu rambutnya dikucir panjang sampai ke pinggul. Matanya tajam, hidungnya mancung kecil dan bibirnya merah basah. Bentuk wajahnya bulat telur dan semua kecantikan itu bertambah manis dengan adanya tahi lalat di dagunya. Gadis ini bukan saja mewarisi ilmu-ilmu dari ayah ibunya, akan tetapi ketika remaja dia pernah menjadi murid mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua di antara Empat Setan, datuk-datuk yang amat lihai dari golongan sesat.

"Ibu dan Ayah. Ketika kami berangkat, aku pun percaya sepenuhnya kepada orang yang mengaku bernama Tan Hok Seng dan berhasil menjadi suheng-ku, bahkan mempelajari ilmu-ilmu dari ayah dan ibu. Akan tetapi ternyata kita telah kebobolan Ibu!"

"Kebobolan? Apa maksudmu?" tanya ibunya dengan heran.

“Namanya bukan Tan Hok Seng, melainkan Tang Gun dan dia adalah seorang penjahat, perwira yang menyeleweng dan menjadi buruan pemerintah. Bahkan kemudian diketahui bahwa dia adalah putera penjahat besar Ang-hong-cu!"

"Ahhh...!" Suami isteri yang sakti itu kaget bukan kepalang mendengar keterangan puteri mereka itu. Mereka telah menerima seorang jahat menjadi murid!

"Akan tetapi jangan khawatir, si jahat Tang Gun itu bersama ayahnya dan sekutunya telah berhasil ditumpas dan dihancurkan. Tang Gun yang kita kenal sebagai Tan Hok Seng itu pun telah tewas. Aku bertemu dengan suheng Pek Han Siong dan para pendekar lainnya, lalu bekerja sama dan menumpas para penjahat itu."

Suami isteri itu mengangguk-angguk dan merasa lega. Biar pun mereka telah kebobolan dan mengambil murid seorang penjahat, akan tetapi penjahat itu telah tewas. Mereka lalu memandang kepada murid mereka, Pek Han Siong dan Siangkoan Ci Kang bertanya.

"Dan bagaimana pula sekarang Bi Lian dapat pulang bersama engkau, Han Siong? Dan ditemani pula oleh ayahmu dan kakekmu yang terhormat ini?"

Pemuda itu baru mengangkat muka memandang kepada suhu-nya dengan warna muka berubah agak kemerahan. Pemuda ini memiliki kulit muka yang putih, maka kini nampak sekali perubahan warna itu. Alisnya yang tebal agak berkerut, matanya yang agak sipit itu ditundukkan.

Dia adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan memiliki kepandaian tinggi, bahkan juga memiliki kekuatan sihir dan tak pernah merasa gentar menghadapi apa pun. Namun sekarang dia merasa bingung dan malu ketika menghadapi pertanyaan suhu-nya itu. Dia memandang kepada ayahnya dan kakeknya, seperti minta bantuan dari mereka.

"Suhu dan Subo, seperti yang diceritakan sumoi tadi, kami bertemu ketika bersama para pendekar kami menghadapi Ang-hong-cu dan dua orang anaknya yang jahat. Kemudian... sumoi dan teecu (murid) pergi ke Kong-goan, menghadap ayah teecu dan... dan sekarang ayah dan kakek teecu ikut ke mari untuk menghadap Suhu dan Subo dan untuk... untuk bicara... " Han Siong tidak mampu melanjutkan, hanya memandang kepada ayahnya dan kakeknya dengan sikap tidak berdaya dan menyerah!

Siangkoan Ci Kang dan isterinya tentu saja sudah dapat menduga apa maksud kunjungan keluarga murid mereka itu. Mereka hanya tersenyum saja melihat kecanggungan murid mereka,. Melihat keadaan puteranya, Pek Kong ketua Pek-sim-pang segera bangkit dan memberi hormat kepada Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.

"Sebelumnya harap ji-wi (anda berdua) suka memaafkan kami bila mana kami dianggap lancang. Akan tetapi atas desakan putera kami dan juga nona Siangkoan Bi Lian, maka kami terpaksa memberanikan diri untuk datang menghadap ji-wi. Terus terang saja, kami datang ke sini tak lain untuk memenuhi permintaan putera kami, yaitu untuk mengajukan pinangan atas diri nona Siangkoan Bi Lian."

Mendengar ucapan yang penuh sopan santun itu, dan juga sikap Pek Kong yang nampak sungkan, suami isteri itu saling pandang lalu mereka berdua tertawa dengan gembira.

"Ha-ha-ha, sungguh lucu dan aneh terdengarnya, Saudara Pek," kata Siangkoan Ci Kang. "Sebelum Saudara datang hari ini, kami yang lebih dahulu bertindak lancang. Ketahuilah bahwa semenjak lama kami berdua telah menjodohkan murid kami dengan puteri kami ini! Kini Saudara datang untuk mengajukan pinangan, tentu saja kami setuju sepenuhnya!"

Mereka semua bergembira dan tidak seperti gadis-gadis lain, Bi Lian tidak menjadi malu-malu walau pun kedua pipinya berubah kemerahan. Dia tidak lari ke dalam dan dia malah melayani ketika orang tuanya menjamu tamu-tamu itu dengan hidangan yang dibuatnya sendiri bersama ibunya.

Atas persetujuan kedua belah pihak, maka pernikahan antara Han Siong dengan Bi Lian dilangsungkan dua bulan kemudian, di lembah itu. Perayaannya sederhana saja, dihadiri keluarga Pek yang terdiri dari belasan orang dan tamu yang diundang hanyalah penduduk dusun-dusun di sekitar pegunungan Heng-tuan-san. Perayaan itu benar-benar sederhana, namun cukup meriah dan menggembirakan, dirayakan pada malam hari.

Sebagai tuan rumah Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu menerima para tamu dengan gembira kemudian mempersilakan tamu-tamu untuk mengambil tempat duduk. Pesta pun dimulai dan para tamu memberi selamat kepada sepasang mempelai sehingga suasana menjadi meriah gembira. Sesudah mengira bahwa tentu sudah tidak ada tamu baru yang datang lagi, Siangkoan Ci Kang dan isterinya lalu duduk di dekat sepasang mempelai.

Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian pertapa yang tentu saja membuat semua orang merasa heran. Juga Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu heran melihat datangnya kedua orang tamu aneh itu, akan tetapi mereka cepat menuju ke depan untuk menyambut.

Mereka adalah dua orang yang berjubah kuning, pakaian yang biasa dipakai para hwesio. Usia mereka enam puluh tahun lebih. Salah seorang di antara mereka berkepala gundul dan tubuhnya gendut, akan tetapi yang amat menyolok adalah warna kulitnya, yaitu hitam kehijauan! Bukan hanya warna kulit muka, melainkan juga kulit tangan dan leher, bahkan mungkin juga warna kulit seluruh tubuhnya. Sepasang matanya mencorong dan mulutnya selalu tersenyum sinis.

Kakek ke dua juga mengenakan pakaian jubah kuning akan tetapi kepalanya tidak gundul, melainkan berambut putih tipis yang digelung ke atas seperti kebiasaan seorang pertapa atau tosu. Orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya selalu muram dan mulutnya cemberut.

Siangkoan Ci Kang dan isterinya menyambut dengan sikap hormat, mengangkat tangan di depan dada dan Siangkoan Ci Kang berkata dengan lembut. "Kami merasa terhormat sekali menerima kunjungan ji-wi Suhu (guru berdua). Dapatkah kami mengetahui nama ji-wi yang mulia?"

Kedua orang kakek itu tidak membalas penghormatan tuan dan nyonya rumah, suatu hal yang membuat mereka yang melihat sungguh menjadi penasaran. Biasanya para pendeta amatlah sopan dan halus budi, akan tetapi mengapa dua orang ini demikian tidak sopan? Bahkan yang perutnya gendut itu kini menyeringai dan bertanya,

"Apakah engkau yang bernama Siangkoan Ci Kang?" Suara pendeta gendut ini terdengar parau dan besar seperti gerengan binatang buas. Sementara itu yang kurus tinggi hanya memandang saja dengan mulut cemberut.

Melihat sikap dua orang tamu itu tentu saja Siangkoan Ci Kang dan terutama sekali Toan Hui Cu merasa tidak senang. Namun mengingat bahwa mereka adalah tuan rumah yang sedang merayakan pernikahan puteri mereka dan harus bersikap ramah terhadap semua tamu, Sioangkoan Ci Kang menahan perasaan hatinya dan dia pun mengangguk.

"Benar sekali, Lo-suhu. Aku adalah Siangkoan Ci Kang," katanya dan dia melihat betapa kakek gundul itu memandang ke arah lengan kirinya yang buntung sebatas siku.

"Omitohud...! Bagus kalau begitu, tidak sia-sia perjalanan kita jauh-jauh ke sini, Ban-tok (Selaksa Racun)!" kata si gendut kepada kawannya yang nampak semakin murung.

"Sudah kukatakan, kita pasti berhasil. Akan tetapi mereka tengah merayakan pernikahan, sebaiknya lain kali saja kita datang kembali," kata si kurus tinggi. "Tak enak mengganggu orang yang sedang berpesta, Hek-tok (Racun Hitam)!"

Mendengar percakapan itu, Siangkoan Ci Kang cepat berkata, "Marilah, jiwi Suhu, silakan masuk untuk menjadi tamu kehormatan kami, menerima hidangan kami serta menambah doa restu bagi puteri kami yang sedang melangsungkan pernikahannya."

"Silakan, ji-wi Losuhu, " kata pula Toan Hui Cu dengan ramah walau pun di dalam hatinya nyonya ini merasa penasaran sekali dengan sikap dua orang kakek itu yang sangat aneh dan tidak sopan.

Kakek gendut itu lantas tertawa. "Ha-ha-ha, tidak perlu kalian menjamu kami. Ketahuilah, Siangkoan Ci Kang, kedatanganku ke sini adalah untuk menangkapmu!"

Tentu saja Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu terkejut mendengar ini, juga para tamu yang duduk dekat pintu mendengar ini dan mereka pun berbisik-bisik sehingga bisikan itu akhirnya terdengar pula oleh sepasang mempelai.

Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian terkejut bukan main, dan biar pun tidak pantas bagi sepasang mempelai yang sedang duduk bersanding itu untuk bangkit sebelum waktunya, mereka tidak peduli dan keduanya sudah bangkit dan mendekat ke pintu. Demikian pula Pek Kong dan isterinya Siauw Bwee, Pek Ki Bu dan lima orang tokoh pimpinan Pek-sim-pang bangkit dan mendekat ke pintu. Mereka adalah keluarga pengantin pria, besan dari tuan rumah, maka tentu saja mereka harus ikut menjaga keamanan pesta pernikahan itu.

Dengan sikap tenang Siangkoan Ci Kang yang mendengar ucapan kakek gendut itu lalu berkata, "Locianpwe siapakah dan mengapa pula Locianpwe datang hendak menangkap aku?"

Meski pun sekarang di dekat pintu telah berkumpul banyak orang, di antaranya sepasang mempelai beserta keluarga mempelai pria, kakek gendut itu tak peduli dan dia pun bicara dengan lantang seperti seorang hakim yang mengadili seorang terdakwa.

"Siangkoan Ci Kang, ingatkah engkau pada Ceng Hok Hwesio, ketua cabang Siauw-lim-pai di luar kota Yu-shu, di tepi sungai Cin-sha tak begitu jauh dari sini?"

Pendekar yang lengan kirinya buntung itu mengerutkan alisnya, menduga-duga siapakah orang ini dan apa hubungannya dengan Siauw-lim-pai. Akan tetapi dia menjawab dengan tegas. "Tentu saja aku masih ingat dengan baik kepada suhu Ceng Hok Hwesio."

"Omitohud...! Bagus sekali kalau begitu. Tentu engkau mau pula mengakui bahwa Ceng Hok Hwesio sudah meninggal dunia karena engkau! Karena ulahmu, murid yang murtad!” Senyum itu menghilang dari wajah yang menghitam, dan mata itu mencorong.

Siangkoan Ci Kang tidak merasa heran ketika mendengar bahwa Ceng Hok Hwesio telah meninggal dunia karena memang hwesio itu sudah tua. Akan tetapi dia merasa terkejut dan penasaran mendengar tuduhan bahwa hwesio tua itu mati karena ulahnya.

"Locianpwe, bicaralah yang jelas. Memang aku mengenal baik mendiang suhu Ceng Hok Hwesio, bahkan aku pernah menjadi muridnya untuk mempelajari soal agama, tetapi aku tidak merasa sudah menyebabkan kematiannya! Bahkan baru sekarang aku tahu bahwa dia telah meninggal dunia."

"Heh-heh, kalau sejak dahulu kami tahu, jangan harap engkau akan dapat hidup sampai hari ini. Sayang kami tahu sesudah terlambat. Kami datang ke kuil itu dan mendapatkan Ceng Hok Hwesio sudah tinggal tulang dan kulit, bahkan dia mati di dalam pelukan kami. Dan dari para hwesio di sana kami mendengar tentang kematiannya. Siangkoan Ci Kang, dulu sebagai seorang muda engkau datang kepada Ceng Hok Hwesio bersama seorang wanita bernama Toan Hui Cu...”

"Akulah Toan Hui Cu yang datang bersama dia ke kuil Siauw-lim-pai!" tiba-tiba Toan Hui Cu berkata dengan nada ketus.

"Aha, kiranya keduanya berada di sini dan menjadi suami isteri, ya? Omitohud, ini sangat memudahkan pekerjaan pinceng (aku). Nah, bersiaplah kalian berdua untuk ikut dengan kami ke kuil Siauw-lim-pai untuk menebus dosa dan menerima hukuman atas perbuatan kalian. Kalian telah mengotori kuil dan menodai kesucian kuil sehingga Ceng Hok Hwesio menghukum kalian. Akan tetapi hal itu membuat dia menyesali dirinya sendiri sehingga selama bertahun-tahun dia menyiksa diri, bertapa di dalam ruangan tertutup dan akhirnya berpuasa sampai mati. Kalian harus menebus dosa!"

Sejenak Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu termenung mendengar ucapan itu. Teringat mereka akan semua peristiwa yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu itu.

Siangkoan Ci Kang merasa bahwa dia adalah keturunan seorang datuk sesat, yaitu Si Iblis Buta, sedangkan Toan Hui Cu lebih lagi, karena ayah ibunya adalah Raja dan Ratu Iblis. Keduanya saling jatuh cinta, kemudian karena ingin membersihkan diri, mereka bersepakat untuk menebus dosa-dosa orang tua mereka di dalam kuil Siauw-lim-pai yang dipimpin oleh Ceng Hok Hwesio.

Mereka diterima sebagai murid untuk mempelajari agama, kemudian mereka bersemedhi untuk menebus dosa. Akan tetapi kecantikan Hui Cu agaknya sudah membuat Ceng Hok Hwesio lupa diri. Nafsu telah mencengkeramnya, mendatangkan gairah dan dia mendekati Hui Cu.

Namun, Hui Cu yang mencinta Siangkoan Ci Kang dan telah menyerahkan jiwa raganya tentu saja menolak. Hal ini membuat Ceng Hok Hwesio menjadi marah dan mendendam. Dia lalu menjatuhkan hukuman kepada kedua orang muda itu dan mengharuskan mereka ‘bertapa’ di ruangan terpisah selama dua puluh tahun. Dengan cara demikian kotoran dari dosa orang tua mereka baru akan dapat terhapus!

Mereka berdua mentaati hukuman itu, walau pun tanpa sepengetahuan orang lain mereka pernah berhubungan sebagai suami isteri. Kemudian terlahirlah Siangkoan Bi Lian yang terpaksa mereka titipkan pada seorang penduduk di sebuah dusun. Dengan kepandaian mereka yang tinggi, tak sukar bagi mereka untuk sewaktu-waktu menengok anak mereka.

Akan tetapi kemudian Bi Lian diculik oleh dua datuk jahat dan menjadi murid kedua datuk itu. Setelah gadis itu dewasa baru dapat bertemu kembali dengan mereka, berkat bantuan Pek Han Siong, murid mereka. Dan kini, tiba-tiba saja muncul dua orang pendeta aneh ini yang menyalahkan mereka karena kematian Ceng Hok Hwesio yang sudah tua!

"Locianpwe, kami tak pernah melakukan pelanggaran dan selalu mentaati mendiang suhu Ceng Hok Hwesio. Kami tidak tahu-menahu tentang kematiannya, dan kalau dia mati tua dan mati karena bertapa, kenapa harus menyalahkan kami?"

"Omitohud....! Kalau tidak karena ulah kalian, tidak mungkin beliau mati dalam keadaan tersiksa lahir batin seperti itu! Karena itu kalian harus dihukum!"

"Penasaran...!" kakek Pek Ki Bu yang semenjak tadi mendengarkan saja tiba-tiba berseru marah dan dia pun menghampiri dua orang pendeta itu.

Si gendut memandang kepadanya dan mulutnya menyeringai sadis. "Hem, siapa pun juga tidak boleh mencampuri urusan kami! Orang luar yang lancang akan celaka."

"Hemm, hwesio sombong, aku bukan orang luar! Bahkan aku merasa heran sekali kalau engkau mengaku hendak mengurus mendiang Ceng Hok Hwesio. Aku kenal baik dengan Ceng Hok Hwesio sebab dia adalah saudara seperguruanku, dia adalah murid keponakan dari mendiang ayahku, Pek Khun! Siangkoan Ci Kang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, jadi mengapa kalian malah menyalahkan dia kalau Ceng Hok Hwesio mati tua dalam pertapaannya?"

"Akulah saksinya bahwa suhu Siangkoan Ci Kang tidak bersalah!" tiba-tiba Pek Han Siong berseru dengan tenang dan juga menghadapi dua orang pendeta itu.

Si gendut melemparkan senyumnya. "Dan siapa pula engkau?! Bukankah engkau adalah mempelai prianya?" tanyanya sambil memandang pakaian Han Siong, pakaian pengantin.

"Benar. Namaku Pek Han Siong dan aku adalah murid suhu Siangkoan Ci Kang dan subo Toan Hui Cu yang kini menjadi mertuaku. Aku juga bekas murid di kuil Siauw-lim-si yang dipimpin mendiang Ceng Hok Hwesio. Aku pernah berkunjung ke sana sesudah suhu dan subo bebas dari hukuman di kuil itu. Ceng Hok Hwesio sendiri yang mengatakan bahwa dia benar-benar merasa menyesal karena menghukum suhu dan subo tanpa salah! Kalau dia mati karena penyesalan, hal itu bukanlah kesalahan suhu dan subo!"

Siangkoan Ci Kang melangkah maju, lantas menghadapi keluarga Pek dan mohon agar mereka mundur. "Biarlah kami yang akan menghadapi semua urusan ini," katanya. Ia lalu menghadapi kedua orang pendeta itu dan berkata. "Ji-wi datang dengan tuduhan-tuduhan dan tuntutan, tetapi kami belum mengetahui siapakah ji-wi sebenarnya dan apa hubungan ji-wi dengan Ceng Hok Hwesio maka kini menuntut kami."

"Sebut saja aku Hek-tok Sian-su (Dewa Racun Hitam) dan dia adalah suheng-ku Ban-tok Sian-su (Dewa Racun Selaksa). Ketahuilah, Siangkoan Ci Kang, bahwa dulu kami pernah menjadi tokoh-tokoh sesat. Kami disadarkan oleh Cang Hok Hwesio, malah setelah diajar agama, beliau mengirim kami berdua ke India untuk memperdalam ilmu. Kami berhutang budi yang lebih besar dari pada nyawa kepada Ceng Hok Hwesio. Sampai puluhan tahun kami memperdalam ilmu di dunia barat, kemudian dengan penuh kerinduan akhirnya kami pulang ke kuil. Tetapi apa yang kami temukan? Ceng Hok Hwesio yang tinggal kulit dan tulang, napasnya tinggal satu-satu dan akhirnya ia meninggal dalam rangkulan kami. Dari para hwesio kami mendengar tentang engkau dan isterimu. Nah, kami segera mencarimu dan akhirnya saat ini kita dapat berhadapan."

Sejak tadi Siangkoan Bi Lian hanya mendengarkan saja, namun kini dia tidak lagi mampu menahan kemarahannya. Dia meloncat ke depan, lengkap dengan pakaian pengantin dan tangan kirinya bergerak, telunjuknya menunjuk ke arah hidung pendeta gendut itu.

"Kalian pendeta-pendeta sesat! Jika selama ini kalian memperdalam ilmu tentang agama, tentu kalian telah menjadi manusia-manusia yang arif bijaksana dan budiman. Akan tetapi kalian pulang sebagai iblis-iblis penuh dendam, bahkan julukan kalian juga Racun! Jelas yang kalian pelajari dan perdalam selama ini hanyalah ilmu iblis!"

Bentakan Bi Lian memang tepat sekali dengan suara hati mereka yang hadir, yang juga menduga demikian setelah mendengar cerita pendeta gendut, dan agaknya Siangkoan Bi Lian sudah akan menerjang maju menyerang dua orang pendeta, siap dibantu oleh Han Siong. Namun Siangkoan Ci Kang cepat melompat ke depan dan mencegah sepasang mempelai itu turun tangan.

"Kalian mundurlah. Tidak baik bagi kalian yang sedang melangsungkan pernikahan untuk berkelahi. Ini adalah urusan pribadi, maka biar kami berdua saja yang menghadapinya," katanya.

"Benar, orang lain harap jangan mencampuri. Kami berdua masih sanggup menghadapi dua orang iblis berjubah pendeta ini!" kata pula Toan Hui Cu dan dari ucapannya itu saja jelaslah bahwa nyonya ini juga sudah marah bukan main.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 11

SAMPAI menjelang tengah malam Mayang masih gelisah di atas pembaringannya. Malam itu sunyi sekali. Agaknya semua penghuni rumah itu sudah tertidur nyenyak, kecuali tentu saja para penjaga. Biar pun dia, Ki Liong dan Bi Hwa menjadi pengawal keluarga di rumah itu, namun penjagaan malam tetap diadakan dan mereka melakukan perondaan. Mereka bertiga hanya siap kalau-kalau ada mara bahaya, dan mereka tidur di kamarnya masing-masing. Dia dan Bi Hwa mendapat kamar di samping dengan jendela menghadap taman, sedangkan Ki Liong mendapatkan kamar di bagian belakang.

Mendadak ingatannya melayang kepada Ki Liong. Wajah pemuda itu seolah nampak jelas membayang di depan matanya dan secara aneh sekali dia merasa sangat rindu kepada pemuda yang dicintanya itu. Rasa rindunya tidak dapat ditahan lagi dan dia ingin sekali bertemu dengan Ki Liong. Malam itu juga! Ia turun dari pembaringan, mengenakan sepatu dan baju luar, dan tak lama kemudian tubuhnya sudah melayang ke luar melalui jendela, ke dalam taman.

Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan matanya terbelalak. Kenapa hatinya begini berdebar dan wajah Ki Liong terbayang-bayang, dan perasaannya mengatakan betapa dia sangat mencinta Ki Liong, betapa dia amat merindukannya? Kenapa dia seperti didorong-dorong untuk menuju ke kamar kekasihnya itu, untuk melepaskan rindu dendamnya?

“Hemm, ini tidak wajar!” Begitu pikiran ini menyelinap ke dalam hatinya.

Mayang memejamkan kedua matanya, mengerahkan tenaga batin seperti yang ia pelajari dari subo-nya dan seketika perasaan yang mendorong-dorongnya itu pun lenyap! Seolah angin malam semilir mendinginkan hati dan kepalanya, membuat dia bisa melihat betapa janggal keadaannya. Malam-malam begini mendadak timbul keinginan untuk mengunjungi Ki Liong di kamarnya! Sungguh mustahil!

“Keparat, siapa berani main-main dengan aku? Tak perlu menggunakan ilmu setan untuk menakuti anak kecil, keluarlah jika engkau memang berani dan mempunyai kepandaian!” tantangnya, suaranya mengandung tenaga batin yang masih menggelora di dadanya.

Akan tetapi sepi dan hening saja. Hanya suara jengkerik yang menjawabnya. Dengan hati kesal dia pun kembali ke kamarnya melalui jendela. Benarkah ada orang yang bermain-main dengannya? Ataukah Ki Liong yang menggunakan tenaga batin untuk memanggilnya agar dia mau menyerahkan dirinya malam itu? Ataukah memang dorongan itu datang dari perasaan cinta dan rindunya?

Dia tidak tahu betapa dengan kecewa Su Bi Hwa menggeleng-geleng kepala di tempat gelap tersembunyi.

“Sialan,” gerutunya dalam hati. “Anak perempuan itu bahkan sanggup menolak kekuatan sihirku!” Dia menyelinap pergi sambil mengomel lagi, “Harus kupergunakan cara lain untuk menundukkan bocah itu!”

Pada keesokan harinya Mayang tidak bertanya kepada Ki Liong. Tidak ada bukti bahwa pemuda itu yang mempergunakan kekuatan tidak wajar untuk mendorongnya melakukan hal-hal yang tidak pantas. Akan tetapi bagaimana pun juga, sejak malam itu dia menjadi makin waspada, secara diam-diam melakukan pengamatan terhadap Bi Hwa dan terhadap kekasihnya sendiri.

Di samping kekesalan hatinya dia terhibur juga oleh pergaulannya dengan Cang Hui dan Teng Cin Nio. Diam-diam dia merasa kasihan terhadap Cang Sun yang selalu bersikap ramah dan sopan kepadanya. Kadang-kadang ia melihat betapa wajah pemuda itu seperti diliputi mendung kedukaan. Dia menaruh iba karena tahu bahwa pemuda itu sudah gagal dalam cintanya terhadap Cia Kui Hong.

********************

Kita tinggalkan dahulu Mayang, Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa yang kini telah mendapatkan kedudukan yang baik di rumah keluarga Menteri Cang Ku Ceng. Sudah terlalu lama kita meninggalkan Hay Hay.

Sesudah bertemu dengan suami isteri yang aneh, isterinya cantik dan suaminya buruk, si cantik yang bodoh dan si buruk yang pintar, Hay Hay lalu melanjutkan perjalanan. Hatinya terasa ringan dan udara pegunungan terasa sejuk segar menyehatkan. Betapa nikmat dan indahnya hidup ini apa bila pikiran tidak dilanda prahara!

Hay Hay berjalan-jalan di pegunungan yang sunyi itu, menikmati keindahan alam senja. Matahari condong ke barat, meninggalkan cahaya kemerahan yang sangat indah di langit barat. Langit bagaikan disepuh emas, ada warna emas, biru dan putih perak yang indah dilatar belakangi warna merah redup.

Pada saat itu pikirannya kosong, tidak terisi ingatan apa pun, tidak muncul kenangan apa pun, tidak timbul pendapat dan penilaian. Panca inderanya bekerja dengan sepenuhnya. Tanpa menilai matanya memandang semua yang terbentang di depannya. Tiada sebutan indah dalam pikiran, tetapi semua yang nampak mendatangkan perasaan yang tak dapat dilukiskan bagaimana. Mungkin inilah perasaan damai dan tenteram, semua yang tampak ditelan dalam ingatan.

Telinganya menangkap suara burung yang berkelompok beterbangan kembali ke sarang mereka, juga nyanyian katak di perairan yang berdendang menyambut datangnya malam. Hidungnya menyambut semua ganda yang segar dari pohon-pohon, rumput serta tanah, diselingi keharuman beraneka kembang di sana sini, menghirup udara yang memenuhi dadanya sepenuh-penuhnya sampai ke ujung pusar.

Hay Hay ingin tertawa ketika dia berdiri di puncak bukit dan menghadap ke barat, melihat matahari sudah menjadi bola besar merah yang mulai tenggelam di balik kaki langit. Dan dia pun tidak menahan keinginannya itu. Dia tertawa bergelak, lepas bebas hingga suara tawanya bergema di seluruh permukaan bukit. Selama hidupnya belum pernah dia tertawa seperti itu!

Kini baru terasa olehnya betapa biasanya, kalau dia tertawa di hadapan orang lain, suara tawanya terkendali, terdorong sesuatu bahkan terkekang sesuatu, tak dapat bebas lepas seperti ini. Malah dia merasa betapa suara tawanya itu biasanya palsu, hanya demi sopan santun, demi menyenangkan orang, tidak seperti sekarang ini. Dia tertawa tanpa sebab tertentu. Tertawa yang timbul dari perasaan diri ada dan bersatu dengan alam, perasaan bebas!

Kenapa dia biasanya hidup di antara manusia-manusia lain lalu menjadi terbelenggu oleh kebiasaan-kebiasaan umum, membuat dia tak pernah merasa bebas seperti sekarang ini? Kehidupan di dunia ramai membuat dia bagaikan sebuah biduk yang oleng ke sana sini, dipermainkan gelombang kehidupan yang penuh dengan ombak suka-duka, lebih banyak dukanya dari pada sukanya.

“Siancai (damai)...! Sungguh mengagumkan aku masih bisa mendengar suara tawa yang seindah itu. Puji syukur kepada Tuhan Maha Kasih, suara tawa itu datang dari surga...!”

Hay Hay membalikkan tubuhnya dan dia pun melihat seorang kakek sedang tertatih-tatih mendaki puncak. Kakek itu sudah sangat tua, tentu usianya sudah delapan puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus, rambut dan jenggot kumisnya sudah putih semuanya, gerak-geriknya membayangkan kelembutan dan kelemahan. Dengan tongkatnya dia melangkah satu-satu dan hati-hati agar jangan sampai tersandung batu, menuju ke tempat Hay Hay berdiri.

Melihat ini otomatis timbul rasa hormat dan iba di hati Hay Hay, dan dia pun cepat-cepat menghampiri dan membantu kakek itu, menuntun dengan memegangi tongkatnya. Ketika mereka tiba di puncak itu, si kakek duduk di atas batu yang halus sambil terengah-engah, akan tetapi wajah yang dikelilingi rambut putih halus itu nampak segar kemerahan seperti wajah anak kecil. Mata kakek itu pun bersinar-sinar lembut, pada saat tersenyum nampak mulutnya sudah tak bergigi sebuah pun, membuat wajah itu semakin mirip dengan wajah kanak-kanak!

Hay Hay segera memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk. “Maaf, Totiang (bapak pendeta), bolehkah saya mengetahui, siapa Totiang dan tinggal di mana?”

“Ho-ho-ho, orang muda, aku bukan pendeta. Aku seorang manusia yang sudah tua dan lemah badannya, aku seorang kakek-kakek jompo, heh-heh. Aku sendiri sudah lupa nama apa yang diberikan kepadaku, aku seorang kakek tanpa nama.”

“Bu Beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama)? Itukah sebutan untuk kakek?” tanya Hay Hay.

“Heh-heh-heh-heh, tidak ada sebutan apa-apa. Tempat tinggalku adalah di mana tubuh ini berada. Rumahku alam ini, atap rumahku langit, lantaiku bumi, dindingku empat penjuru, heh-heh. Adakah yang lebih indah dari pada alam ini? Adakah lauk yang lebih lezat dari pada lapar? Adakah tempat tidur yang lebih enak dari pada kantuk? Adakah yang lebih kaya dari pada yang tidak menginginkan apa-apa?”

Hay Hay memandang kagum. Mungkin kakek ini seorang yang mempunyai jasmani yang lemah, akan tetapi dia tidak melihat jiwa dan semangat yang lemah!

“Kakek yang bijaksana, saya merasa beruntung sekali bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan kakek di sini. Nama saya Hay Hay dan juga seperti kakek, saya tidak mempunyai rumah tinggal yang tetap. Sesudah berjumpa denganmu, saya yakin akan menemukan jawaban dari banyak pertanyaan tentang kehidupan yang selama ini mengganggu hatiku. Kakek yang baik, maukah kakek menerangkan, apakah bahagia itu dan bagaimana saya bisa memperolehnya?”

Kakek itu terkekeh-kekeh, seakan-akan pertanyaan Hay Hay tadi terdengar sangat lucu. “He-he-heh-heh, mari kita duduk, orang muda. Mari kita bicara. Angin bicara pada pohon dan daun, burung-burung bicara, alam bicara, akan tetapi siapa mau mendengarkannya? Kulihat engkau bersungguh-sungguh ingin mengetahui, sekarang marilah kita sama-sama menyelidikinya. Marilah kita renungkan dan bicarakan, apa sih artinya bahagia itu? Orang muda, pernahkah engkau berbahagia?”

Hay Hay termenung, mengingat-ingat. Baru-baru saja ini ketika dia berada di samping Kui Hong, melakukan perjalanan bersama gadis yang dicintanya, bercakap dan bergurau, dia merasa berbahagia sekali! Akan tetapi setelah perjodohan itu tidak disetujui keluarga Kui Hong dan dia terpaksa meninggalkan gadis itu, dia merasa berduka sekali.

Akan tetapi kedukaan itu pun lewat begitu saja dan sekarang sudah hampir tak berbekas. Suka duka seperti itu sering dialaminya sepanjang hidupnya, susah senang silih berganti mengisi hidupnya. Akan tetapi bahagia?

“Entahlah, Kek. Pernah aku merasa seperti berbahagia, tetapi pada lain saat perasaan itu lenyap berganti duka dan sengsara. Aku tidak tahu apakah itu perasaan bahagia ataukah bukan?”

“Yang berganti duka adalah suka, orang muda, dan yang berganti susah adalah senang. Senang susah memang menjadi bagian dari pada isi kehidupan ini, yang satu tidak dapat terpisahkan dari yang lain, sambung menyambung dan susul menyusul, seperti siang dan malam, terang dan gelap, atas dan bawah, langit dan bumi. Apa bila ada yang satu, pasti ada yang lainnya. Bagaimana orang akan dapat mengenal suka kalau dia tidak mengenal duka dan demikian sebaliknya. Adanya yang satu memang untuk melengkapi yang lain, bahkan yang satu menciptakan yang lain. Sejak kita masih kanak-kanak, sejak pikiran kita bekerja, kita sudah mengalami suka duka, senang susah itu yang ditandai dengan tawa dan tangis!”

“Engkau benar sekali, Kakek yang mulia. Yang kurasakan itu hanyalah kesenangan dan kesusahan, kepuasan dan kekecewaan. Akan tetapi, apakah kebahagiaan itu, Kek?”

Kakek itu tersenyum, memperlihatkan mulut ompongnya yang kelihatan bersih dan sehat. "Orang muda, kalau kita belum pernah bertemu dengan seseorang, bagaimana mungkin kita mengenalnya? Kalau kita belum pernah makan garam, bagaimana mungkin kita tahu rasanya? Kalau kita belum pernah berbahagia, bagaimana kita bisa menceritakan apakah kebahagiaan itu? Seperti yang pernah kita alami, yang kita rasakan hanyalah senang dan susah, dan kedua perasaan itu baru timbul setelah kita menilai. Suatu peristiwa tidaklah disebut susah atau senang sebelum kita menilainya. Susah atau senang tergantung dari hasil penilaian. Bukankah demikian? Oleh karena itu, senang dan susah bukanlah sebuah kenyataan, namun hasil penilaian oleh pikiran. Pikiran bergelimang nafsu, maka dengan sendirinya penilaiannya didasari oleh kepentingan diri pribadi. Yang menguntungkan akan menimbulkan senang, yang merugikan menimbulkan susah. Jelas bahwa penilaian adalah palsu, dan hasilnya, susah senang pun hanya bayangan palsu belaka."

"Maafkan, Kek. Maukah engkau menjelaskan tentang palsunya susah senang yang timbul karena penilaian palsu sebagai hasil kerja pikiran yang bergelimang nafsu?"

"Contohnya hujan, orang muda. Hujan adalah suatu peristiwa, tidak ada kaitannya dengan susah senang. Hujan adalah sebuah kenyataan, suatu kewajaran, suatu bukti kekuasaan Tuhan. Akan tetapi kita menilainya. Kalau di waktu kita menilai itu kita membutuhkan air hujan, maka hal itu dianggap menguntungkan dan karenanya kita menjadi senang dengan turunnya hujan. Akan tetapi kalau di lain saat kita terganggu oleh turunnya hujan, maka penilaian kita langsung berbalik, kita dirugikan dan kita menjadi susah. Kalau pada hujan pertama kita menganggap hujan itu baik dan menyenangkan, di lain kali kita menganggap hujan itu buruk dan menyusahkan. Nah, nampak sekali kepalsuan penilaian itu, bukan?"

Hay Hay mengangguk-angguk mengerti, "Kita sudah menyelidiki mengenai senang-susah yang hanya merupakan akibat dari pada penilaian yang didasari oleh nafsu kepentingan diri pribadi. Jadi kesenangan bukanlah kebahagiaan. Lalu apakah kebahagiaan itu, Kek?"

"Nah, itulah. Bagaimana menceritakan tentang asinnya garam kepada orang yang tidak pernah makan garam? Semua orang agaknya mencari-cari kebahagiaan, heh-heh-heh."

"Benar, Kek. Semua orang haus akan kebahagiaan."

"Engkau juga, orang muda?"

"Tentu saja, Kek. Siapa orangnya yang tidak ingin berbahagia dalam hidupnya.?"

"Di sinilah letak rahasianya, orang muda. Kebahagiaan tak akan mungkin ada bagi orang yang mencari dan mengejarnya!"

"Ehh? Kenapa begitu, Kek?"

"Karena keinginan mendapatkan kebahagiaan itu sendiri adalah nafsu, dan selama nafsu menguasai hati dan akal pikiran, maka yang dikejar itu tiada lain hanyalah kesenangan, yang menyenangkan, dan tadi kita sudah tahu bahwa pengejar kesenangan sudah pasti akan bertemu pula dengan kesusahan, saudara kembarnya."

"Kalau begitu, lalu bagaimana kita dapat memperoleh kebahagiaan, Kek?"

"Ho-ho-heh-heh," kakek itu tertawa. "Pertanyaanmu itu bukankah mengandung keinginan untuk mengejar kebahagiaan pula?"

Hay Hay menjadi bengong dan bingung. "Habis, lalu apa yang harus kita lakukan, Kek?"

"Tak ada yang harus melakukan apa-apa. Mari kita simak dengan lebih teliti, orang muda. Sekarang jawab sejujurnya, mengapa manusia mencari kebahagiaan? Mengapa engkau menginginkan kebahagiaan?"

Ditanya demikian, Hay Hay lantas termenung. Ya, mengapa? Sukarnya mencari jawaban! Mengapa dia mendambakan kebahagiaan? Tiba-tiba wajahnya berseri dan dia menjawab,

"Karena aku merasa tidak berbahagia, Kek! Kukira semua orang juga demikian. Mereka tidak berbahagia, maka mendambakan kebahagiaan!"

"Tepat sekali. Memang agaknya demikianlah, jawabanmu amat jujur dan sewajarnya. Kita selalu mencari kebahagiaan, tentu saja yang menjadi sebabnya adalah karena kita tidak berbahagia, atau lebih tepatnya karena kita MERASA tidak bahagia! Nah, dalam keadaan tidak berbahagia kita hendak mengejar kebahagiaan, bagaimana mungkin itu? Keadaan tidak berbahagia merupakan kenyataan apa yang ada, sedangkan kebahagiaan masih merupakan khayalan, harapan. Bagaimana mungkin yang kotor ingin bersih? Bagaimana mungkin yang sakit ingin sehat? Bukankah lebih tepat kalau kita mencari sebab penyakit itu, mencari penyebab yang membuat kita tidak sehat dan menyembuhkan penyakit itu? Demikian pula lebih tepat bila kita menyelidiki APA yang menyebabkan kita tidak merasa berbahagia. Kalau penyebab itu sudah lenyap, kalau kita sudah tidak sakit lagi, apakah kita membutuhkan kesehatan? Demikian pula jika tidak ada sesuatu yang menyebabkan kita TIDAK berbahagia, apakah kita masih membutuhkan kebahagiaan? Yang mencari air minum adalah mereka yang haus, yang tidak haus tentu tidak butuh air minum."

Hay Hay memandang pada wajah kakek itu dengan sinar mata berseri-seri dan wajahnya penuh senyum maklum. "Jelas sekali, Kek. Yang tak merasa lagi bahwa dia tidak bahagia tentu tidak mencari kebahagiaan, karena DIA SUDAH BERBAHAGIA!"

"Nah, jadi yang merasa tidak berbahagia kemudian mengejar-ngejar kebahagiaan, bukan lain adalah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang menamakan diri sendiri si-aku yang mengaku-aku.”

"Kalau begitu, Kek, sebenarnya kebahagiaan itu sudah ada pada kita, akan tetapi seolah-olah tidak ada karena kita tidak merasakannya? Mengapa kita tidak merasa berbahagia walau pun tidak ada apa-apa yang mengganggu?"

"Itulah kelemahan manusia. Dalam keadaan sehat tanpa ada gangguan penyakit, jarang ada orang yang menyadari kesehatannya tetapi kalau dia terganggu penyakit, barulah dia membayangkan alangkah senang dan indahnya kalau dia sehat. Demikian pula dengan kebahagiaan. Bila mana ada sesuatu yang terjadi, yang membuat dia merana dan merasa tidak berbahagia, dia menjadi haus akan kebahagiaan! Selama hati dan akal pikiran masih bergelimang nafsu, kita akan selalu haus akan sesuatu yang lebih dan tak pernah merasa puas dengan yang ada. Pengejaran akan sesuatu yang lebih, yang dianggap akan dapat membahagiakan adalah penghancur kebahagiaan itu sendiri."

"Aihh, kalau begitu biang keladinya adalah nafsu, Kek. Pantas saja banyak cerdik pandai yang bertapa dan mengasingkan diri untuk mengendalikan nafsu, untuk memerangi nafsu mereka sendiri."

"Siapa yang berhasil? Bagaimana mungkin hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu ini dapat melakukan usaha untuk membersihkan diri sendiri dari gelimangan nafsu? Kita hanya akan terseret dalam lingkaran setan, orang muda. Hasil usaha dari nafsu tentu saja juga masih mementingkan diri sendiri, berpamrih, malah akan memperkuat cengkeraman nafsu. Sebagai manusia hidup kita tidak mungkin melenyapkan nafsu. Kita membutuhkan nafsu untuk hidup. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia."

"Wah, wah! Kalau begini bagaimana, Kek? Nafsu bisa mencelakakan kita, akan tetapi kita tidak dapat hidup tanpa nafsu! Lalu bagaimana?"

"Nafsu laksana api, orang muda. Kalau menjadi pelayan, maka dia akan sangat berguna, sebaliknya kalau menjadi majikan, dia akan berbahaya. Nafsu itu pelayan yang setia dan majikan yang kejam. Nafsu adalah alat, maka harus kita peralat sehingga akan nampak kegunaannya. Akan tetapi sekali dia yang memperalat kita maka akan binasalah kita. Jadi nafsu harus kita pertahankan sebagai pelayan, jangan sampai menjadi majikan.”

"Tetapi bukankah usaha kita adalah usaha hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu? Lalu siapa yang akan mampu mempertahankan agar nafsu menjadi alat atau pelayan?"

"Kita memang lemah. Biar pun kita waspada dan menyadari tetap saja kita tidak akan kuat melawan desakan nafsu kita sendiri. Oleh karena itu, satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengembalikan nafsu kepada tugasnya semula, hanyalah Sang Maha Pencipta! Hanya kekuasaan Tuhan yang mampu, karena kekuasaan Tuhan pula yang menciptakan nafsu sebagai alat manusia hidup di dunia."

"Tuhankah yang menciptakan nafsu yang membuat manusia menyeleweng dan menjadi jahat?"

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ho-ho, kau kira siapa ? Segala yang ada di alam mayapada ini, yang nampak mau pun yang tidak nampak, dari yang terkecil sampai terbesar, dari yang terlembut sampai yang terkasar, segala ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa!"

"Tapi mengapa Tuhan menciptakan yang buruk dan jahat?"

"Hushhh, kita yang mengatakan buruk dan jahat karena kita tidak tahu, dan pengetahuan kita hanya pengetahuan si-aku yang selalu ingin senang dan ingin enak. Bagaimana kita mengetahui atau mengerti akan kehendak Tuhan?"

"Lalu apa yang harus kita lakukan agar kekuasaan Tuhan mengendalikan nafsu kita dan mengembalikannya kepada tugasnya yang benar?"

"Kita justru tidak usah melakukan apa-apa! Bila kita melakukan apa-apa, berarti kita tidak pasrah pada Tuhan! Kita hanya menyerah saja dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan, dengan iman kita. Kalau sudah demikian, kalau kita telah menyerah dengan sebulatnya, maka segala yang menimpa diri kita akan kita terima sebagai sesuatu yang dikehendaki Tuhan, dan tak akan ada keluhan yang keluar dari batin kita. Yang ada hanya penyerahan mutlak dan puja-puji bagi Tuhan Maha Kasih, puji syukur tanpa putus. Kalau sudah demikian, kita tidak butuh kebahagiaan lagi. Bimbingan Tuhan itulah kebahagiaan, cinta kasih Tuhan itulah kebahagiaan, cahaya Tuhan itulah kebahagiaan, tak dapat dinilai, tak dapat digambarkan, jauh di atas senang susah."

Pada saat itu terdengar teriakan dari bawah puncak. Akan tetapi karena Hay Hay masih penasaran mendengar ucapan terakhir tadi, dia pun mengejar dengan pertanyaan. "Kakek yang baik, kalau kita hanya pasrah saja, tidak melakukan usaha apa pun, benarkah itu?"

"Ho-ho-ho, itu pemalas namanya. Orang semacam itu berdosa besar, hendak memperalat kekuasaan Tuhan! Tentu saja tidak. Kita manusia ini hidup, bergerak, serba sempurna dan lengkap dengan jasmani, hati dan akal pikiran. Karena itu kita harus berusaha, berikhtiar sekuat tenaga. Tetapi semua usaha kita itu berlandaskan penyerahan kepada kekuasaan Tuhan! Jelaskah?"

"Hei, manusia jahat penyebab kesengsaraan kami, hendak lari ke mana kau?" bentakan ini terdengar dari bawah puncak dan tak lama kemudian orangnya pun muncul.

Ketika Hay Hay melihat orang itu dia terbelalak kaget dan heran. Yang muncul itu adalah lelaki sebaya dia yang cebol, bermuka hitam, matanya sipit, hidung besar dan bibir tebal. Orang muda buruk rupa yang pernah dijumpainya, suami wanita yang cantik manis dan lincah itu!

Tentu saja dia merasa heran mengapa laki-laki itu mendaki puncak dengan sikap marah-marah, dan dengan gerakan gesit laki-laki itu melocat dan berdiri tak jauh dari situ dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang busur dan beberapa batang anak panah! Kini dia mengamangkan busur dan anak panah itu kepadanya.

"Heh, pengecut mata keranjang! Bersiaplah engkau untuk mampus! Aku sengaja datang untuk mencabut nyawamu dengan anak panah ini supaya engkau tidak lagi meracuni hati wanita!"

Hay Hay menoleh ke kanan kiri dan belakang. Tidak ada orang lain di situ kecuali dia dan kakek tua renta tadi yang masih duduk di atas batu. Tak mungkin kakek itu dimaki perayu mata keranjang yang meracuni hati wanita! Jadi dialah yang dimaki!

Makian mata keranjang bagi dia tak menjadi soal. Dia sudah terbiasa dengan itu, bahkan dia dijuluki Pendekar Mata Keranjang oleh banyak tokoh persilatan. Akan tetapi sekali ini dia penasaran. Dia tidak merasa mengganggu dan merayu wanita, kenapa si buruk rupa ini datang-datang memakinya ? Ketika dia bertemu dengan isteri si buruk rupa itu, dia pun tidak merayunya walau pun dia sempat bercakap-cakap sejenak.

"Heiiii, saudara yang baik. Siapakah yang engkau maki-maki itu?" tanya Hay Hay sambil melangkah maju.

"Siapa lagi kalau bukan engkau? Masih pura-pura bertanya lagi?"

"Ehh?! Apa salahku?"

"Manusia ceriwis, mata keranjang! Engkau sudah menggoda isteriku, merayu isteriku dan meracuni hatinya!"

"Bohong! Aku tidak melakukan hal itu. Kami hanya bercakap-cakap biasa saja!" bantah Hay Hay.

Dalam keadaan biasa, tuduhan seperti itu tentu hanya akan dihadapi dengan sikap main-main saja. Akan tetapi sekarang di situ terdapat kakek tua renta yang baru saja memberi penerangan pada batinnya. Dia merasa malu mendengar tuduhan itu yang dilakukan di depan kakek tua renta yang arif bijaksana itu!

"Engkau masih hendak membantah! Begitu isteriku bertemu denganmu, dia telah berubah sama sekali! Dia tak mau lagi melayaniku dengan manis budi, tetapi dia selalu cemberut, marah-marah dan setiap membicarakan engkau matanya segera bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri dan selalu mengatakan bahwa engkau sangat menarik hatinya, menimbulkan kegembiraan hatinya dan sebagainya lagi. Huh, tentu engkau telah mempergunakan ilmu hitam guna-guna untuk merayu dan menjatuhkan hatinya."

“Tidak sama sekali! Bohong itu...!” kata Hay Hay. Akan tetapi laki-laki pendek muka hitam yang amat cemburu itu sudah memasang tiga batang anak panah pada busurnya.

"Engkau mampuslah!" bentak laki-laki itu, lantas sekali menarik busur dan melepaskan tali busurnya, tiga batang anak panah itu meluncur dengan amat cepatnya ke arah tubuh Hay Hay.

Hay Hay tahu bahwa lelaki itu mempunyai tenaga besar. Pernah dia mendemonstrasikan tenaganya ketika mereka saling bertemu. Lelaki itu menekankan jari-jari tangannya pada batu dan telapak tangannya meninggalkan bekas sedalam dua sentimeter pada batu itu! Maka kini serangan anak panah itu tentu saja mengandung tenaga yang hebat, melihat derasnya tiga batang anak panah itu menyambar yang cepatnya seperti kilat.

Tetapi tidak terlalu cepat bagi Hay Hay! Dengan mudah saja Hay Hay meloncat ke kiri dan bahkan masih sempat menendang ke arah anak panah yang menyambar tadi sehingga dua batang di antaranya terlempar ke atas.

"Aughhhh...!" terdengar keluhan lirih dan ketika Hay Hay menengok matanya terbelalak.

Tanpa diketahuinya ternyata kakek tua renta yang tadi duduk di atas batu telah turun dari batu dan agaknya melangkah menghampirinya. Oleh karena itu, ketika sebatang di antara anak panah yang menyambarnya tadi luput, anak panah itu meluncur terus dan tahu-tahu kini menancap pada dada kakek tua renta itu! Kakek itu mengeluh lirih dan terjengkang, roboh telentang di atas tanah!

Bukan hanya Hay Hay yang terbelalak dan terkejut. Juga lelaki pendek muka buruk yang melepas anak panah, terbelalak dan berseru, "Ya Tuhan...!"

Dia segera berlari menghampiri kakek itu dan berlutut di dekatnya. Muka yang hitam itu nampak kelabu, tanda bahwa dia pucat sekali melihat betapa anak panahnya menembusi dada sampai ke punggung!

"Duhai kakek... ahh, aku… aku tidak sengaja... aihh, kenapa begini jadinya? Kakek... aku menyesal sekali, aku mohon ampun, Kek..." Laki-laki muka buruk yang tadi marah-marah kini menangis dan merintih minta ampun kepada kakek itu.

Hay Hay menghampiri dan sekali lihat saja dia pun tahu bahwa tidak mungkin sama sekali mengobati kakek itu yang dadanya sudah tertembus anak panah! Dia pun berlutut dengan prihatin sekali.

Kakek itu kelihatan tersenyum! Senyum yang ikhlas dan tenang. Dengan matanya yang masih bersinar dia memandang kepada laki-laki muka buruk itu kemudian berkata lemah, "Semoga Tuhan mengampunimu, Nak. Aku…. aku maafkan engkau..."

Hay Hay merasa terharu bukan kepalang. Selama hidupnya baru sekarang dia berjumpa dengan orang seperti kakek ini. Begitu lemah lembut, begitu arif bijaksana, begitu sabar dan begitu pasrah kepada kekuasaan Tuhan!

“Kek...,” panggilnya lirih sambil mendekat. Kakek itu menoleh kepadanya.

"Kau, orang muda. Kau... tolong ambilkan segulung tulisan yang berada di saku jubahku sebelah kiri..." Dia bergerak lemah.

Hay Hay segera memenuhi permintaannya dan benar saja, di saku jubah sebelah kiri dia menemukan segulung kertas berisi tulisan huruf-huruf yang indah halus. Ujung gulungan kertas itu sudah bernoda darah.

"Orang muda, maukah engkau memenuhi permintaanku yang terakhir...?” kata pula kakek itu.

Si muka buruk cepat berkata, "Kakek, serahkan saja tugas itu kepadaku. Demi Tuhan aku akan memenuhi pesanmu untuk menebus dosaku kepadamu, Kek!"

Kakek itu menoleh kepadanya dan tersenyum. "Asal engkau tidak lagi pencemburu dan pemarah, dosamu pasti akan tertebus." Lalu dia memandang lagi kepada Hay Hay. "Kau simpanlah gulungan kertas ini, dan kelak... apa bila ada kesempatan atau kalau kebetulan engkau lewat di Nan-king, berikan kertas-kertas ini kepada seorang di antara dua menteri bijaksana, yaitu Menteri Yang atau Menteri Cang...” suara kakek itu melemah, lehemya terkulai dan dia pun menghembuskan napas terakhir.

"Kakek...!" Pemuda pendek itu menangis menggerung-gerung seperti anak kecil. "Ampuni aku, Kek...! Aku tidak sengaja membunuhmu..., ampuni aku...”

Hay Hay bangkit berdiri dan menyimpan gulungan kertas ke dalam saku bajunya sebelah dalam, lalu dia memandang kepada laki-laki yang masih berlutut dan menangisi kematian kakek itu.

"Hemm, apa gunanya kau tangisi lagi? Menangis pun takkan menghidupkan dia kembali, juga tidak akan dapat mencuci darah dari anak panahmu itu!"

Mendengar ini laki-laki itu makin mengguguk. Tiba-tiba dia meloncat dan menghadapi Hay Hay dengan air mata masih berlinang. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka Hay Hay.

"Kau...! Kaulah biang keladinya sehingga aku membunuh kakek yang sama sekali tidak kukenal dan tidak bersalah ini! Engkau yang mula-mula meracuni isteriku, membuat aku marah. Kemudian, ketika aku menyerangmu, kembali engkaulah yang mengelak sehingga anak panahku mengenai kakek ini!" ,

Hay Hay rnerasa betapa perutnya menjadi panas. Orang ini benar-benar tidak tahu diri, pikirnya. Kalau hanya dia dituduh mata keranjang dan merayu isterinya, hal itu dapat dia hadapi sambil main-main. Akan tetapi sekali ini lain lagi. Cemburu yang tak berdasar dari orang ini telah menjadi sebab kematian kakek yang arif bijaksana dan luhur budi itu! Dia pun mulai marah.

"Hemm, jadi menurut engkau, pada saat engkau memanahku, aku harus menerima anak panahmu itu tanpa mengelak supaya dadaku ditembus dan aku mati konyol, begitukah? Engkau sungguh seorang yang tolol, kepala batu, pencemburu besar. Sungguh mati, aku heran sekali mengapa isterimu dapat mencinta seorang laki-laki tolol macam engkau!"

Laki-laki cebol yang mukanya buruk itu memelototkan matanya yang sipit dan hidungnya yang besar itu berkembang kempis, mengamangkan busurnya yang terbuat dari baja dan menghardik.

"Mata keranjang busuk! Sebelum bertemu denganmu, isteriku sangat sayang kepadaku, akan tetapi sekarang dia berubah, pemarah dan sikapnya tidak manis lagi. Engkau tentu sudah mengguna-gunainya! Sekarang engkau pula yang menyebabkan aku membunuh kakek tidak berdosa ini, maka kalau tadinya aku hanya hendak membunuhmu, sekarang aku harus membunuhmu dua kali!" Setelah berkata demikian dia lantas menerjang dengan busurnya dan terdengar suara berdesing saking kuat dan cepatnya busur itu dia gerakkan.

"Singgg...!"

Busur itu menyambar ke arah kepala Hay Hay yang dengan tenang melangkah mundur sehingga busur itu menyambar tempat kosong. Sekarang kaki yang pendek itu menyusul, menendang ke arah pusar. Kembali Hay Hay mengelak ke samping dan sekali ini kakinya mencuat, tepat menendang pinggir sambungan lutut kanan lawan sehingga si pendek itu pun terpelanting. Akan tetapi dia meloncat bangun kembali dan menjadi semakin marah.

"Engkau mata keranjang, engkau jai-hwa-cat (penjahat cabul), kubunuh kau!" teriaknya dan dia menyerang kalang-kabut dengan penuh kebencian.

Sebenarnya Hay Hay juga sudah sangat marah karena orang ini telah membunuh kakek bijaksana, walau pun dia tahu tidak sengaja. Akan tetapi dia teringat akan isteri si pendek ini, wanita yang manis budi dan lincah jenaka, maka dia pun merasa kasihan kepada si pendek ini.

Alangkah sengsaranya si buruk rupa ini mempunyai isteri yang secantik itu. Tentu hatinya selalu tersiksa oleh cemburu karena merasa rendah diri, merasa bahwa isterinya terlalu cantik baginya, tidak sepadan. Dia dapat membayangkan betapa si buruk rupa ini setiap saat akan dibakar cemburu, setiap kali isterinya berbicara dengan pria lain, bahkan setiap kali isterinya dipandang pria lain! Dan semakin besar cemburu dan pemarahnya, isterinya tentu akan semakin berani bersikap genit dan manis terhadap pria lain, walau pun hal itu hanya dilakukan untuk memancing cemburu suaminya!

Dengan tingkat kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, beberapa kali Hay Hay merobohkan lawan tanpa melukainya. Si cebol buruk rupa itu diam-diam terkejut dan kagum sekali. Tidak disangkanya bahwa pemuda yang dianggapnya penjahat cabul mata keranjang dan yang akan dibunuhnya itu sedemikian lihainya sehingga busurnya sama sekali tak pernah dapat menyentuhnya, bahkan sebaliknya berulang kali dia roboh, walau pun tidak sampai terluka parah. Tapi, apa bila teringat akan isterinya yang disangkanya tergila-gila kepada pemuda itu, setiap kali roboh dia pun bangun kembali dan menyerang lebih dahsyat!

Hay Hay merasa jengkel juga dengan kekerasan hati lawannya. Sungguh tidak tahu diri. Seharusnya orang itu tahu bahwa dia telah bersikap lunak dan tidak melukainya, kenapa masih nekat terus menyerang seperti babi buta? Diam-diam Hay Hay lalu mengerahkan kekuatan sihirnya, kemudian membentak dengan suara nyaring.

"Heh, cebol pemarah, lihat isterimu datang! Engkau masih berani marah-marah?"

Si cebol terkejut dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Ketika dia memandang lagi kepada lawan, dia terbelalak. Kiranya yang berada di depannya adalah isterinya, dan pemuda tadi telah lenyap entah ke mana! Seketika tubuhnya menjadi lemas dan busur itu terlepas dari tangannya. Dia memandang isterinya dengan bingung dan mulutnya hanya dapat berkata heran.

"Kau... kau... di sini...?”

Dia tadi meninggalkan isterinya tanpa memberi tahu ke mana. Siapa tahu isterinya sudah menyusul. Isterinya yang cantik itu kemudian mengambil busur yang dilepaskannya tadi. Wajahnya cemberut marah.

"Engkau ini suami tolol, selalu cemburu dan marah-marah, sungguh menyebalkan hatiku!” Dan isteri yang cantik itu lalu memukul-mukulkan gendewa itu kepada suaminya!

"Plak! Plakk! Plakkk!”

Si cebol berusaha menangkis dan mengelak, sama sekali tidak berani melawan biar pun dia tahu isterinya tidak pandai silat. Akan tetapi sungguh mengejutkan hatinya. Meski pun dia sudah mengelak dan menangkis, tetapi gendewa itu tetap saja mengenai tubuhnya, di kepala, pundak, punggung, paha dan mendatangkan rasa nyeri yang cukup membuat dia berteriak-teriak.

"Sudah...! Sudah...! Aku mengaku bersalah! Maafkan aku...!" teriaknya sambil berusaha melindungi kepalanya. Namun isterinya terus saja memukulnya sampai dia babak belur.

"Aku isterimu yang selalu setia, akan tetapi engkau malah menuduhku yang bukan-bukan! Bersumpahlah engkau bahwa engkau tidak akan menuduhku lagi!"

"Aku bersumpah... aku bersumpah...!" Laki-laki cebol itu berkata.

Sesudah pemukulan dengan busur itu dihentikan, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan ketika suami itu mengangkat muka memandang, ternyata isterinya sudah lenyap dan di depannya berdiri pemuda tadi yang melemparkan busur ke depan kakinya!

"Ehh...? Bagaimana ini? Mana isteriku... ?” Ia menjadi bingung sekali, melupakan semua rasa nyeri di tubuhnya yang babak belur dan dia memandang ke sekeliling mencari-cari isterinya.

Hay Hay menghentikan tawanya. "Isterirnu tidak pernah berada di sini, mengapa engkau mencari-carinya?"

"Tapi... tapi tadi dia marah-marah dan memukul aku...!”

"Tentu saja, karena engkau sudah bersalah. Dia muncul di dalam angan-anganmu untuk menghukummu dan menyadarkanmu."

Laki-laki itu kini memandang kepada Hay Hay dengan bengong. "Jadi... engkaukah tadi? Engkau menggunakan sihir! Orang muda, siapakah engkau sini? Pendekar dari mana dan siapa namamu, dari perguruan mana?” Dia mulai merasa kagum dan juga gentar.

"Aku hanya hendak menyadarkanmu dari kesalahanmu, Toako (kakak). Isterimu seorang wanita yang hebat, cantik manis, lincah jenaka dan mencintamu. Akan tetapi engkau akan merusaknya dengan cemburumu yang tidak ketulungan itu! Tentang diriku, namaku bukanlah hal penting bagimu. Bukankah engkau sudah memberi nama Mata Keranjang kepadaku? Nah, julukan itu baik sekali, katakanlah aku mata keranjang, akan tetapi aku bukanlah jai-hwa-cat! Aku tahu bahwa isterimu amat baik dan amat sayang kepadamu. Kalau engkau melanjutkan sikapmu yang mengandung cemburu yang berlebihan, sekali waktu mungkin saja dia akan berubah dan akan benar-benar memilih pria lain!"

Wajah itu menjadi pucat. "Aihh... aku telah bersalah... aku tidak mau kehilangan isteriku, sama saja dengan kehilangan nyawaku…."

"Hemm, kalau begitu hilangkan atau kurangi cemburumu. Wanita memang ingin suaminya cemburu karena bagi wanita, sikap cemburu suaminya itu membuktikan bahwa suaminya cinta kepadanya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Akan tetapi sikap cemburu itu jangan berlebihan karena ini menimbulkan anggapan bagi wanita bahwa suaminya tidak percaya kepadanya dan hal itu berbahaya sekali! Engkau harus memperlihatkan sikap melindungi, memiliki akan tetapi jangan mengekang dan membatasi. Engkau harus selalu memujinya, sering menyenangkan hatinya, bahkan memanjakannya, namun jangan selalu menuruti keinginannya secara membuta hingga engkau diperbudak olehnya. Engkau harus terlihat kuat dan berkuasa, akan tetapi jangan menindas. Dengan demikian, isterimu akan selalu memujamu. Wanita ingin dipuji, ingin dimanja, ingin diperhatikan. Kalau engkau bersikap demikian, tentu engkau yang selalu dibayangkannya."

Pria cebol itu bengong, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Wah-wah-wah, orang muda, engkau benar-benar mencengangkan! Engkau bukan saja berkepandaian tinggi, lihai ilmu silatmu, juga pandai ilmu sihir, akan tetapi juga ahli dalam soal wanita! Aku mengerti sekarang mengapa isteriku kelihatan tertarik kepadamu, karena engkau sangat pandai memuji dan menyenangkan hatinya. Engkau sungguh... berbahaya bagi wanita-wanita!"

Hay Hay tersenyum. "Jangan khawatir, kawan. Aku memang senang memuji kecantikan wanita, akan tetapi dalam pujian itu tidak terkandung pamrih ingin merayu dan menggoda, apa lagi untuk memilikinya. Selama hidup aku tidak pernah mengganggu wanita, apa lagi yang sudah bersuami. Nah, kini kembalilah kepada isterimu, aku akan mengubur jenazah kakek yang bijaksana ini."

"Aku akan membantumu!" kata si cebol.

Kemudian mereka sibuk bekerja menggali lubang dan mengubur jenazah kakek tua yang hanya dikenal oleh Hay Hay sebagai kakek tak bernama itu. Setelah selesai dan memberi penghormatan terakhir kepada makam kakek itu, si cebol segera meninggalkan Hay Hay untuk kembali kepada isterinya dengan hati gembira karena telah memperoleh ‘bekal ilmu’ dari Hay Hay untuk membahagiakan isterinya.

Hay Hay sendiri lalu meninggalkan puncak bukit itu menuju ke Nan-king. Tanpa sengaja, tanpa disangka, dia telah menerima tugas dari seorang kakek yang tidak dikenalnya akan tetapi yang sangat dihormatinya, yaitu untuk mengantar segulung surat dan menyerahkan kepada seorang di antara dua menteri terkenal, yaitu Menteri Yang Ting Hoo atau Menteri Cang Ku Ceng.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas) yang berada di bagian timur pegunungan Heng-tuan-san merupakan sebuah lembah yang pemandangannya amat indah, tanahnya subur dan udaranya sejuk nyaman. Lembah itu sendiri sangat sunyi dan hanya ada sebuah pondok yang cukup besar di situ.

Beberapa perkampungan penduduk yang tidak begitu besar tersebar di sana-sini sekitar lembah, dihuni oleh penduduk pegunungan yang mata pencahariannya bertani. Banyak buah-buahan dan bunga-bunga dihasilkan di tempat itu, oleh penduduk lalu dibawa turun ke kota dan dusun di bawah lembah dan itulah penghasilan penduduk pegunungan yang hidupnya bersahaja itu.

Pondok besar yang berada di lembah itu merupakan tempat tinggal sepasang suami isteri yang oleh para penduduk di sekitarnya dianggap sebagai dua orang pertapa yang budiman karena sering kali membantu para penduduk dengan pengobatan. Akan tetapi, walau pun sudah bertahun-tahun kedua orang tokoh itu bersembunyi atau setidaknya mengasingkan diri dari dunia ramai, namun para tokoh kang-ouw mengenal mereka sebagai dua orang yang sakti. Yang pria bernama Siangkoan Ci Kang, berusia empat puluh tujuh tahun, ada pun isterinya yang berusia empat puluh enam tahun bernama Toan Hui Cu.

Siangkoan Ci Kang adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dan berwibawa. Pakaiannya sederhana longgar seperti pakaian kaum pendeta, dan yang menarik adalah lengan kirinya yang buntung sebatas siku.

Semenjak kecil pria ini terbiasa dengan kehidupan yang keras karena mendiang ayahnya adalah seorang datuk di dunia kang-ouw yang sangat ditakuti, berjuluk Si Iblis Buta dan disebut Siangkoan Lojin. Biar pun lengan kirinya buntung, akan tetapi Siangkoan Ci Kang memiliki kepandaian tinggi.

Bukan saja dia telah mewarisi ilmu tongkat dari mendiang ayahnya yang buta, akan tetapi dia juga murid dari Ciu-sian Lokai dan telah mewarisi kitab ilmu yang sakti, yaitu Kwan Im Sin-kun dan Kwan Im Kiam-sut yang tangguh. Selain itu, bersama isterinya yang sama saktinya dia sudah menciptakan sebuah ilmu silat di lembah itu, yang mereka beri nama Kim-ke Sin-kun (Silat Sakti Ayam Emas).

Isterinya juga seorang wanita sakti. Bahkan ayah dan ibu dari Toan Hui Cu lebih terkenal lagi karena mereka adalah suami isteri datuk besar dunia sesat yang berjuluk Raja Iblis dan Ratu Iblis! Dari mendiang ayah ibunya Toan Hui Cu mewarisi ilmu-ilmu yang aneh, juga bersama suaminya dia sudah mewarisi ilmu Kwan Im Sin-kun. Dalam usianya yang kini sudah empat puluh enam tahun, wanita ini masih kelihatan cantik dan anggun seperti wanita bangsawan, walau pun latihan ilmu sesat orang tuanya sudah membuat wajahnya menjadi agak kepucatan.

Mereka memiliki seorang anak saja, bernama Siangkoan Bi Lian yang kini sudah berusia dua puluh tiga tahun. Juga baru-baru ini mereka telah menerima seorang murid bernama Tan Hok Seng, yaitu seorang bekas perwira di kota raja yang sebelumnya telah memiliki kepandaian cukup tangguh.

Tan Hok Seng ini kemudian ternyata bernama Tang Gun, seorang perwira yang melakukan penyelewengan, putera kandung dari mendiang penjahat cabul besar Ang-hong-cu. Suami isteri itu sama sekali tidak tahu tentang hal itu, bahkan mereka mengijinkan puteri mereka untuk menemani suheng-nya itu ke kota raja.

Dan kini, beberapa bulan kemudian, puteri mereka itu pulang, bukan bersama Tan Hok Seng melainkan bersama Pek Han Siong murid mereka yang pertama dan ditemani pula oleh Pek Hong, ketua Pek-sim-pang atau ayah Pek Han Siong, dan Pek Ki Bu, kakek dari Pek Han Siong.

Tentu saja suami isteri penghuni Lembah Ayam Emas itu menjadi girang dan juga heran melihat puterinya pulang bersama murid pertama mereka, ditemani ayah dan kakek murid itu. Mereka menyambut dengan hati gembira dan setelah diperkenalkan kepada ayah dan kakek murid mereka, suami isteri itu kemudian mempersilakan mereka semua memasuki ruangan dalam dan mereka pun duduk dalam suasana akrab dan gembira.

Diam-diam Toan Hui Cu merasa girang sekali melihat betapa puterinya nampak demikian akrab dengan muridnya, terlebih lagi dia pun bisa melihat kasih sayang dalam sinar mata mereka ketika saling pandang. Dia segera berkata dengan suara lantang,

"Aihhh, kepulanganmu sekali ini sungguh membuat kami menjadi bingung dan kaget, biar pun juga sangat menggembirakan, Bi Lian. Sebelum engkau ceritakan hal-hal lain, jawab dulu pertanyaanku. Di mana suheng-mu Tan Hok Seng?"

Gadis itu memandang kepada ibunya, menoleh kepada Han Siong yang juga suheng-nya, memandang lagi kepada ibunya dan ayahnya, lantas tersenyum. Gadis ini memang manis sekali.

Tubuhnya ramping dan padat, rambutnya panjang hitam dan ketika itu rambutnya dikucir panjang sampai ke pinggul. Matanya tajam, hidungnya mancung kecil dan bibirnya merah basah. Bentuk wajahnya bulat telur dan semua kecantikan itu bertambah manis dengan adanya tahi lalat di dagunya. Gadis ini bukan saja mewarisi ilmu-ilmu dari ayah ibunya, akan tetapi ketika remaja dia pernah menjadi murid mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua di antara Empat Setan, datuk-datuk yang amat lihai dari golongan sesat.

"Ibu dan Ayah. Ketika kami berangkat, aku pun percaya sepenuhnya kepada orang yang mengaku bernama Tan Hok Seng dan berhasil menjadi suheng-ku, bahkan mempelajari ilmu-ilmu dari ayah dan ibu. Akan tetapi ternyata kita telah kebobolan Ibu!"

"Kebobolan? Apa maksudmu?" tanya ibunya dengan heran.

“Namanya bukan Tan Hok Seng, melainkan Tang Gun dan dia adalah seorang penjahat, perwira yang menyeleweng dan menjadi buruan pemerintah. Bahkan kemudian diketahui bahwa dia adalah putera penjahat besar Ang-hong-cu!"

"Ahhh...!" Suami isteri yang sakti itu kaget bukan kepalang mendengar keterangan puteri mereka itu. Mereka telah menerima seorang jahat menjadi murid!

"Akan tetapi jangan khawatir, si jahat Tang Gun itu bersama ayahnya dan sekutunya telah berhasil ditumpas dan dihancurkan. Tang Gun yang kita kenal sebagai Tan Hok Seng itu pun telah tewas. Aku bertemu dengan suheng Pek Han Siong dan para pendekar lainnya, lalu bekerja sama dan menumpas para penjahat itu."

Suami isteri itu mengangguk-angguk dan merasa lega. Biar pun mereka telah kebobolan dan mengambil murid seorang penjahat, akan tetapi penjahat itu telah tewas. Mereka lalu memandang kepada murid mereka, Pek Han Siong dan Siangkoan Ci Kang bertanya.

"Dan bagaimana pula sekarang Bi Lian dapat pulang bersama engkau, Han Siong? Dan ditemani pula oleh ayahmu dan kakekmu yang terhormat ini?"

Pemuda itu baru mengangkat muka memandang kepada suhu-nya dengan warna muka berubah agak kemerahan. Pemuda ini memiliki kulit muka yang putih, maka kini nampak sekali perubahan warna itu. Alisnya yang tebal agak berkerut, matanya yang agak sipit itu ditundukkan.

Dia adalah seorang pemuda yang gagah perkasa dan memiliki kepandaian tinggi, bahkan juga memiliki kekuatan sihir dan tak pernah merasa gentar menghadapi apa pun. Namun sekarang dia merasa bingung dan malu ketika menghadapi pertanyaan suhu-nya itu. Dia memandang kepada ayahnya dan kakeknya, seperti minta bantuan dari mereka.

"Suhu dan Subo, seperti yang diceritakan sumoi tadi, kami bertemu ketika bersama para pendekar kami menghadapi Ang-hong-cu dan dua orang anaknya yang jahat. Kemudian... sumoi dan teecu (murid) pergi ke Kong-goan, menghadap ayah teecu dan... dan sekarang ayah dan kakek teecu ikut ke mari untuk menghadap Suhu dan Subo dan untuk... untuk bicara... " Han Siong tidak mampu melanjutkan, hanya memandang kepada ayahnya dan kakeknya dengan sikap tidak berdaya dan menyerah!

Siangkoan Ci Kang dan isterinya tentu saja sudah dapat menduga apa maksud kunjungan keluarga murid mereka itu. Mereka hanya tersenyum saja melihat kecanggungan murid mereka,. Melihat keadaan puteranya, Pek Kong ketua Pek-sim-pang segera bangkit dan memberi hormat kepada Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.

"Sebelumnya harap ji-wi (anda berdua) suka memaafkan kami bila mana kami dianggap lancang. Akan tetapi atas desakan putera kami dan juga nona Siangkoan Bi Lian, maka kami terpaksa memberanikan diri untuk datang menghadap ji-wi. Terus terang saja, kami datang ke sini tak lain untuk memenuhi permintaan putera kami, yaitu untuk mengajukan pinangan atas diri nona Siangkoan Bi Lian."

Mendengar ucapan yang penuh sopan santun itu, dan juga sikap Pek Kong yang nampak sungkan, suami isteri itu saling pandang lalu mereka berdua tertawa dengan gembira.

"Ha-ha-ha, sungguh lucu dan aneh terdengarnya, Saudara Pek," kata Siangkoan Ci Kang. "Sebelum Saudara datang hari ini, kami yang lebih dahulu bertindak lancang. Ketahuilah bahwa semenjak lama kami berdua telah menjodohkan murid kami dengan puteri kami ini! Kini Saudara datang untuk mengajukan pinangan, tentu saja kami setuju sepenuhnya!"

Mereka semua bergembira dan tidak seperti gadis-gadis lain, Bi Lian tidak menjadi malu-malu walau pun kedua pipinya berubah kemerahan. Dia tidak lari ke dalam dan dia malah melayani ketika orang tuanya menjamu tamu-tamu itu dengan hidangan yang dibuatnya sendiri bersama ibunya.

Atas persetujuan kedua belah pihak, maka pernikahan antara Han Siong dengan Bi Lian dilangsungkan dua bulan kemudian, di lembah itu. Perayaannya sederhana saja, dihadiri keluarga Pek yang terdiri dari belasan orang dan tamu yang diundang hanyalah penduduk dusun-dusun di sekitar pegunungan Heng-tuan-san. Perayaan itu benar-benar sederhana, namun cukup meriah dan menggembirakan, dirayakan pada malam hari.

Sebagai tuan rumah Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu menerima para tamu dengan gembira kemudian mempersilakan tamu-tamu untuk mengambil tempat duduk. Pesta pun dimulai dan para tamu memberi selamat kepada sepasang mempelai sehingga suasana menjadi meriah gembira. Sesudah mengira bahwa tentu sudah tidak ada tamu baru yang datang lagi, Siangkoan Ci Kang dan isterinya lalu duduk di dekat sepasang mempelai.

Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian pertapa yang tentu saja membuat semua orang merasa heran. Juga Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu heran melihat datangnya kedua orang tamu aneh itu, akan tetapi mereka cepat menuju ke depan untuk menyambut.

Mereka adalah dua orang yang berjubah kuning, pakaian yang biasa dipakai para hwesio. Usia mereka enam puluh tahun lebih. Salah seorang di antara mereka berkepala gundul dan tubuhnya gendut, akan tetapi yang amat menyolok adalah warna kulitnya, yaitu hitam kehijauan! Bukan hanya warna kulit muka, melainkan juga kulit tangan dan leher, bahkan mungkin juga warna kulit seluruh tubuhnya. Sepasang matanya mencorong dan mulutnya selalu tersenyum sinis.

Kakek ke dua juga mengenakan pakaian jubah kuning akan tetapi kepalanya tidak gundul, melainkan berambut putih tipis yang digelung ke atas seperti kebiasaan seorang pertapa atau tosu. Orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya selalu muram dan mulutnya cemberut.

Siangkoan Ci Kang dan isterinya menyambut dengan sikap hormat, mengangkat tangan di depan dada dan Siangkoan Ci Kang berkata dengan lembut. "Kami merasa terhormat sekali menerima kunjungan ji-wi Suhu (guru berdua). Dapatkah kami mengetahui nama ji-wi yang mulia?"

Kedua orang kakek itu tidak membalas penghormatan tuan dan nyonya rumah, suatu hal yang membuat mereka yang melihat sungguh menjadi penasaran. Biasanya para pendeta amatlah sopan dan halus budi, akan tetapi mengapa dua orang ini demikian tidak sopan? Bahkan yang perutnya gendut itu kini menyeringai dan bertanya,

"Apakah engkau yang bernama Siangkoan Ci Kang?" Suara pendeta gendut ini terdengar parau dan besar seperti gerengan binatang buas. Sementara itu yang kurus tinggi hanya memandang saja dengan mulut cemberut.

Melihat sikap dua orang tamu itu tentu saja Siangkoan Ci Kang dan terutama sekali Toan Hui Cu merasa tidak senang. Namun mengingat bahwa mereka adalah tuan rumah yang sedang merayakan pernikahan puteri mereka dan harus bersikap ramah terhadap semua tamu, Sioangkoan Ci Kang menahan perasaan hatinya dan dia pun mengangguk.

"Benar sekali, Lo-suhu. Aku adalah Siangkoan Ci Kang," katanya dan dia melihat betapa kakek gundul itu memandang ke arah lengan kirinya yang buntung sebatas siku.

"Omitohud...! Bagus kalau begitu, tidak sia-sia perjalanan kita jauh-jauh ke sini, Ban-tok (Selaksa Racun)!" kata si gendut kepada kawannya yang nampak semakin murung.

"Sudah kukatakan, kita pasti berhasil. Akan tetapi mereka tengah merayakan pernikahan, sebaiknya lain kali saja kita datang kembali," kata si kurus tinggi. "Tak enak mengganggu orang yang sedang berpesta, Hek-tok (Racun Hitam)!"

Mendengar percakapan itu, Siangkoan Ci Kang cepat berkata, "Marilah, jiwi Suhu, silakan masuk untuk menjadi tamu kehormatan kami, menerima hidangan kami serta menambah doa restu bagi puteri kami yang sedang melangsungkan pernikahannya."

"Silakan, ji-wi Losuhu, " kata pula Toan Hui Cu dengan ramah walau pun di dalam hatinya nyonya ini merasa penasaran sekali dengan sikap dua orang kakek itu yang sangat aneh dan tidak sopan.

Kakek gendut itu lantas tertawa. "Ha-ha-ha, tidak perlu kalian menjamu kami. Ketahuilah, Siangkoan Ci Kang, kedatanganku ke sini adalah untuk menangkapmu!"

Tentu saja Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu terkejut mendengar ini, juga para tamu yang duduk dekat pintu mendengar ini dan mereka pun berbisik-bisik sehingga bisikan itu akhirnya terdengar pula oleh sepasang mempelai.

Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian terkejut bukan main, dan biar pun tidak pantas bagi sepasang mempelai yang sedang duduk bersanding itu untuk bangkit sebelum waktunya, mereka tidak peduli dan keduanya sudah bangkit dan mendekat ke pintu. Demikian pula Pek Kong dan isterinya Siauw Bwee, Pek Ki Bu dan lima orang tokoh pimpinan Pek-sim-pang bangkit dan mendekat ke pintu. Mereka adalah keluarga pengantin pria, besan dari tuan rumah, maka tentu saja mereka harus ikut menjaga keamanan pesta pernikahan itu.

Dengan sikap tenang Siangkoan Ci Kang yang mendengar ucapan kakek gendut itu lalu berkata, "Locianpwe siapakah dan mengapa pula Locianpwe datang hendak menangkap aku?"

Meski pun sekarang di dekat pintu telah berkumpul banyak orang, di antaranya sepasang mempelai beserta keluarga mempelai pria, kakek gendut itu tak peduli dan dia pun bicara dengan lantang seperti seorang hakim yang mengadili seorang terdakwa.

"Siangkoan Ci Kang, ingatkah engkau pada Ceng Hok Hwesio, ketua cabang Siauw-lim-pai di luar kota Yu-shu, di tepi sungai Cin-sha tak begitu jauh dari sini?"

Pendekar yang lengan kirinya buntung itu mengerutkan alisnya, menduga-duga siapakah orang ini dan apa hubungannya dengan Siauw-lim-pai. Akan tetapi dia menjawab dengan tegas. "Tentu saja aku masih ingat dengan baik kepada suhu Ceng Hok Hwesio."

"Omitohud...! Bagus sekali kalau begitu. Tentu engkau mau pula mengakui bahwa Ceng Hok Hwesio sudah meninggal dunia karena engkau! Karena ulahmu, murid yang murtad!” Senyum itu menghilang dari wajah yang menghitam, dan mata itu mencorong.

Siangkoan Ci Kang tidak merasa heran ketika mendengar bahwa Ceng Hok Hwesio telah meninggal dunia karena memang hwesio itu sudah tua. Akan tetapi dia merasa terkejut dan penasaran mendengar tuduhan bahwa hwesio tua itu mati karena ulahnya.

"Locianpwe, bicaralah yang jelas. Memang aku mengenal baik mendiang suhu Ceng Hok Hwesio, bahkan aku pernah menjadi muridnya untuk mempelajari soal agama, tetapi aku tidak merasa sudah menyebabkan kematiannya! Bahkan baru sekarang aku tahu bahwa dia telah meninggal dunia."

"Heh-heh, kalau sejak dahulu kami tahu, jangan harap engkau akan dapat hidup sampai hari ini. Sayang kami tahu sesudah terlambat. Kami datang ke kuil itu dan mendapatkan Ceng Hok Hwesio sudah tinggal tulang dan kulit, bahkan dia mati di dalam pelukan kami. Dan dari para hwesio di sana kami mendengar tentang kematiannya. Siangkoan Ci Kang, dulu sebagai seorang muda engkau datang kepada Ceng Hok Hwesio bersama seorang wanita bernama Toan Hui Cu...”

"Akulah Toan Hui Cu yang datang bersama dia ke kuil Siauw-lim-pai!" tiba-tiba Toan Hui Cu berkata dengan nada ketus.

"Aha, kiranya keduanya berada di sini dan menjadi suami isteri, ya? Omitohud, ini sangat memudahkan pekerjaan pinceng (aku). Nah, bersiaplah kalian berdua untuk ikut dengan kami ke kuil Siauw-lim-pai untuk menebus dosa dan menerima hukuman atas perbuatan kalian. Kalian telah mengotori kuil dan menodai kesucian kuil sehingga Ceng Hok Hwesio menghukum kalian. Akan tetapi hal itu membuat dia menyesali dirinya sendiri sehingga selama bertahun-tahun dia menyiksa diri, bertapa di dalam ruangan tertutup dan akhirnya berpuasa sampai mati. Kalian harus menebus dosa!"

Sejenak Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu termenung mendengar ucapan itu. Teringat mereka akan semua peristiwa yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu itu.

Siangkoan Ci Kang merasa bahwa dia adalah keturunan seorang datuk sesat, yaitu Si Iblis Buta, sedangkan Toan Hui Cu lebih lagi, karena ayah ibunya adalah Raja dan Ratu Iblis. Keduanya saling jatuh cinta, kemudian karena ingin membersihkan diri, mereka bersepakat untuk menebus dosa-dosa orang tua mereka di dalam kuil Siauw-lim-pai yang dipimpin oleh Ceng Hok Hwesio.

Mereka diterima sebagai murid untuk mempelajari agama, kemudian mereka bersemedhi untuk menebus dosa. Akan tetapi kecantikan Hui Cu agaknya sudah membuat Ceng Hok Hwesio lupa diri. Nafsu telah mencengkeramnya, mendatangkan gairah dan dia mendekati Hui Cu.

Namun, Hui Cu yang mencinta Siangkoan Ci Kang dan telah menyerahkan jiwa raganya tentu saja menolak. Hal ini membuat Ceng Hok Hwesio menjadi marah dan mendendam. Dia lalu menjatuhkan hukuman kepada kedua orang muda itu dan mengharuskan mereka ‘bertapa’ di ruangan terpisah selama dua puluh tahun. Dengan cara demikian kotoran dari dosa orang tua mereka baru akan dapat terhapus!

Mereka berdua mentaati hukuman itu, walau pun tanpa sepengetahuan orang lain mereka pernah berhubungan sebagai suami isteri. Kemudian terlahirlah Siangkoan Bi Lian yang terpaksa mereka titipkan pada seorang penduduk di sebuah dusun. Dengan kepandaian mereka yang tinggi, tak sukar bagi mereka untuk sewaktu-waktu menengok anak mereka.

Akan tetapi kemudian Bi Lian diculik oleh dua datuk jahat dan menjadi murid kedua datuk itu. Setelah gadis itu dewasa baru dapat bertemu kembali dengan mereka, berkat bantuan Pek Han Siong, murid mereka. Dan kini, tiba-tiba saja muncul dua orang pendeta aneh ini yang menyalahkan mereka karena kematian Ceng Hok Hwesio yang sudah tua!

"Locianpwe, kami tak pernah melakukan pelanggaran dan selalu mentaati mendiang suhu Ceng Hok Hwesio. Kami tidak tahu-menahu tentang kematiannya, dan kalau dia mati tua dan mati karena bertapa, kenapa harus menyalahkan kami?"

"Omitohud....! Kalau tidak karena ulah kalian, tidak mungkin beliau mati dalam keadaan tersiksa lahir batin seperti itu! Karena itu kalian harus dihukum!"

"Penasaran...!" kakek Pek Ki Bu yang semenjak tadi mendengarkan saja tiba-tiba berseru marah dan dia pun menghampiri dua orang pendeta itu.

Si gendut memandang kepadanya dan mulutnya menyeringai sadis. "Hem, siapa pun juga tidak boleh mencampuri urusan kami! Orang luar yang lancang akan celaka."

"Hemm, hwesio sombong, aku bukan orang luar! Bahkan aku merasa heran sekali kalau engkau mengaku hendak mengurus mendiang Ceng Hok Hwesio. Aku kenal baik dengan Ceng Hok Hwesio sebab dia adalah saudara seperguruanku, dia adalah murid keponakan dari mendiang ayahku, Pek Khun! Siangkoan Ci Kang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, jadi mengapa kalian malah menyalahkan dia kalau Ceng Hok Hwesio mati tua dalam pertapaannya?"

"Akulah saksinya bahwa suhu Siangkoan Ci Kang tidak bersalah!" tiba-tiba Pek Han Siong berseru dengan tenang dan juga menghadapi dua orang pendeta itu.

Si gendut melemparkan senyumnya. "Dan siapa pula engkau?! Bukankah engkau adalah mempelai prianya?" tanyanya sambil memandang pakaian Han Siong, pakaian pengantin.

"Benar. Namaku Pek Han Siong dan aku adalah murid suhu Siangkoan Ci Kang dan subo Toan Hui Cu yang kini menjadi mertuaku. Aku juga bekas murid di kuil Siauw-lim-si yang dipimpin mendiang Ceng Hok Hwesio. Aku pernah berkunjung ke sana sesudah suhu dan subo bebas dari hukuman di kuil itu. Ceng Hok Hwesio sendiri yang mengatakan bahwa dia benar-benar merasa menyesal karena menghukum suhu dan subo tanpa salah! Kalau dia mati karena penyesalan, hal itu bukanlah kesalahan suhu dan subo!"

Siangkoan Ci Kang melangkah maju, lantas menghadapi keluarga Pek dan mohon agar mereka mundur. "Biarlah kami yang akan menghadapi semua urusan ini," katanya. Ia lalu menghadapi kedua orang pendeta itu dan berkata. "Ji-wi datang dengan tuduhan-tuduhan dan tuntutan, tetapi kami belum mengetahui siapakah ji-wi sebenarnya dan apa hubungan ji-wi dengan Ceng Hok Hwesio maka kini menuntut kami."

"Sebut saja aku Hek-tok Sian-su (Dewa Racun Hitam) dan dia adalah suheng-ku Ban-tok Sian-su (Dewa Racun Selaksa). Ketahuilah, Siangkoan Ci Kang, bahwa dulu kami pernah menjadi tokoh-tokoh sesat. Kami disadarkan oleh Cang Hok Hwesio, malah setelah diajar agama, beliau mengirim kami berdua ke India untuk memperdalam ilmu. Kami berhutang budi yang lebih besar dari pada nyawa kepada Ceng Hok Hwesio. Sampai puluhan tahun kami memperdalam ilmu di dunia barat, kemudian dengan penuh kerinduan akhirnya kami pulang ke kuil. Tetapi apa yang kami temukan? Ceng Hok Hwesio yang tinggal kulit dan tulang, napasnya tinggal satu-satu dan akhirnya ia meninggal dalam rangkulan kami. Dari para hwesio kami mendengar tentang engkau dan isterimu. Nah, kami segera mencarimu dan akhirnya saat ini kita dapat berhadapan."

Sejak tadi Siangkoan Bi Lian hanya mendengarkan saja, namun kini dia tidak lagi mampu menahan kemarahannya. Dia meloncat ke depan, lengkap dengan pakaian pengantin dan tangan kirinya bergerak, telunjuknya menunjuk ke arah hidung pendeta gendut itu.

"Kalian pendeta-pendeta sesat! Jika selama ini kalian memperdalam ilmu tentang agama, tentu kalian telah menjadi manusia-manusia yang arif bijaksana dan budiman. Akan tetapi kalian pulang sebagai iblis-iblis penuh dendam, bahkan julukan kalian juga Racun! Jelas yang kalian pelajari dan perdalam selama ini hanyalah ilmu iblis!"

Bentakan Bi Lian memang tepat sekali dengan suara hati mereka yang hadir, yang juga menduga demikian setelah mendengar cerita pendeta gendut, dan agaknya Siangkoan Bi Lian sudah akan menerjang maju menyerang dua orang pendeta, siap dibantu oleh Han Siong. Namun Siangkoan Ci Kang cepat melompat ke depan dan mencegah sepasang mempelai itu turun tangan.

"Kalian mundurlah. Tidak baik bagi kalian yang sedang melangsungkan pernikahan untuk berkelahi. Ini adalah urusan pribadi, maka biar kami berdua saja yang menghadapinya," katanya.

"Benar, orang lain harap jangan mencampuri. Kami berdua masih sanggup menghadapi dua orang iblis berjubah pendeta ini!" kata pula Toan Hui Cu dan dari ucapannya itu saja jelaslah bahwa nyonya ini juga sudah marah bukan main.