Social Items

Cang Taijin tersenyum. Meski pun dia sendiri bukan ahli silat yang pandai, namun sudah banyak dia bertemu dengan para pendekar sehingga dia dapat menilai tingkat kepandaian seseorang dari gerakannya dan tenaga yang terkandung dalam gerakan itu.

“Baik, kau undang gurumu ke sini!”

Cang Hui lalu memperlihatkan kegesitannya. Dahulu sebelum belajar ilmu silat, dia adalah seorang gadis yang gerak-geriknya lemah lembut walau pun semenjak kecil dia memang memiliki pembawaan lincah jenaka. Kini dia meninggalkan ruangan itu sambil berlari dan gerakannya nampak gesit sekali.

Melihat ini diam-diam Liong Ki dan Liong Bi menahan senyum mereka. Gadis bangsawan yang baru satu atau dua tahun belajar silat itu tentu saja tidak ada artinya bagi mereka.

Setelah Coa-ciangkun (Perwira Coa) yang usianya sudah enam puluh tahun itu muncul, Cang Taijin lantas memberi tahukan bahwa dia menerima tiga orang muda untuk bekerja sebagai pengawal keluarga, dan untuk itu dia minta kepada Coa-ciangkun untuk menguji ilmu kepandaian silat mereka.

Perwira yang bertugas sebagai sebagai guru silat dari puteri dan keponakan Cang Taijin itu menyanggupi dan mereka lalu pergi ke lian-bu-thia (ruang latihan silat) yang berada di sebelah belakang. Ruangan ini memang sengaja dibuat untuk keperluan Cang Hui berlatih silat, sebuah ruangan yang kosong dan cukup luas.

Bukan hanya Cang Taijin yang turut menonton, bahkan isterinya yang ingin sekali melihat kepandaian orang-orang yang akan menjadi pengawal keluarganya turut pula menonton. Suami isteri bangsawan ini duduk di sudut, ada pun Cang Sun juga duduk di situ bersama Cang Hui dan Teng Cin Nio.

“Ayah, biarlah aku dengan Cin Nio yang menguji wanita itu, dan nanti suhu yang menguji kakaknya. Aku ingin sekali tahu dan yakin bahwa orang yang dicalonkan sebagai guruku benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari suhu!”

Menteri Cang mengangguk, dan mendengar ini Coa-ciangkun segera mundur. Demikian pula Liong Ki meninggalkan adiknya yang akan diuji oleh puteri Menteri Cang sendiri.

Teng Cin Nio yang diam-diam telah jatuh hati kepada Cang Sun, pemuda yang dicalonkan menjadi suaminya, bagaimana pun juga ingin memamerkan kepandaiannya di depan pria yang dikasihinya. Maka dia pun bangkit dan memberi hormat kepada paman dan bibinya.

“Saya mohon perkenan Paman dan Bibi untuk menandingi wanita ini.”

“Ehh, nanti dulu, Cin-moi. Biar aku yang maju lebih dulu melawannya, baru nanti engkau yang maju kalau aku sudah mengukur kepandaiannya,” kata Cang Hui yang juga bangkit berdiri. Melihat dua orang gadis cantik itu berebut, Liong Bi tersenyum ramah.

“Ji-wi siocia (nona berdua) harap jangan sungkan. Silakan maju bersama agar ji-wi dapat berlatih dan sekalian menguji apakah aku pantas menjadi guru ji-wi atau tidak,” kata-kata ini diucapkan dengan suara lembut dan ramah sehingga tidak terdengar seperti tantangan, bahkan sikapnya seolah membimbing.

“Baik, kalau begitu kami akan maju bersama!” kata Cang Hui. “Mari, Cin-moi!” Keduanya menghampiri Liong Bi dan wanita ini kembali tersenyum dan berkata halus.

“Ji-wi siocia, karena ini hanya merupakan suatu ujian, maka sebaiknya kalau sebelumnya diadakan aturan tertentu. Aturan ini hanya berlaku untukku, bukan untuk ji-wi. Ji-wi (kalian berdua) boleh menyerangku sesuka hati, dengan tangan kosong atau dengan senjata apa pun boleh. Aku tak akan balas memukul, tapi aku hanya akan berusaha untuk mengambil perhiasan rambut ji-wi tanpa melukai ji-wi, kemudian aku akan mengembalikannya lagi dan ji-wi boleh mengelak atau menghalangi. Bagaimana pendapat ji-wi dengan aturan itu?”

Dua orang gadis itu bertukar pandang, bahkan Cang Sun dan ayah ibunya diam tertegun. Demikian lihaikah Liong Bi, atau amat sombong?

“Wah, kalau begitu kalian tidak boleh mempergunakan senjata!” seru Cang Sun kepada kedua orang gadis itu.

“Tidak,” kata Menteri Cang. “Gadis itu diuji untuk menjadi pengawal, dalam pekerjaannya dia mungkin harus berhadapan dengan penjahat atau pembunuh! Sebaiknya kalau kalian menggunakan senjata yang biasa kalian latih.”

Mendengar ini Cang Hui dan Cin Nio segera menghampiri rak senjata dari mana mereka masing-masing mengambil sepasang pedang yang biasa menjadi senjata mereka ketika berlatih. Coa-ciangkun sendiri hanya berdiri menonton. Dia tahu bahwa dua orang gadis yang menjadi muridnya itu masih mentah dalam ilmu silat mereka, akan tetapi jika mereka maju bersama dengan siang-kiam (sepasang pedang), apa lagi kalau lawan tidak boleh membalas, mereka akan cukup membahayakan lawan. Untuk dapat menang seperti yang dijanjikan tadi, wanita cantik itu harus mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat hebat!

Kini Cang Hui dan Cin Nio telah berdiri di depan Liong Bi, dengan kedua pedang bersilang di depan dada, suatu pasangan kuda-kuda yang mereka pelajari dari guru mereka. Coa-ciangkun adalah murid Kun-lun-pai, maka ilmu pedang pasangan yang dikuasai dua orang gadis itu adalah ilmu pedang Kun-lun-pai. Liong Bi yang mengenal berbagai macam ilmu pedang, sekali lihat saja tahu bahwa dua orang gadis itu menguasai ilmu pedang Kun-lun.

“Nah, ji-wi Siocia boleh memulai. Seranglah aku dan tidak perlu sungkan lagi!” tantangnya dengan suara lembut dan ramah, tidak mengandung kesombongan.

“Lihat pedang!”

“Jaga seranganku!”

Dua orang gadis itu segera menggerakkan pedang mereka, Cang Hui menyerang dengan tusukan ke arah perut sedangkan pedang kiri Cin Nio menyambar ke arah leher. Serangan ini dilanjutkan dengan pedang ke dua.

Namun gerakan Liong Bi amat lincahnya. Dengan tenang dan mudah saja dia mengelak dengan langkah ke belakang, bahkan ketika pedang ke dua menyambar ke arah kaki dan kepala, dia pun dapat menghindarkan diri dengan tenang saja. Memang gerakan kedua orang gadis bangsawan itu terlampau lamban bagi wanita yang telah menguasai ilmu silat tinggi dengan amat mahir ini.

Pada saat itu Coa-ciangkun yang menjadi penonton terlihat mengerutkan alisnya. Tadi dia menganggap wanita cantik itu terlampau sombong, menyuruh kedua orang muridnya maju mengeroyok dengan senjata sedangkan wanita itu bertangan kosong bahkan mengajukan peraturan yang sangat merugikan dirinya sendiri, yaitu menghadapi dua orang lawan yang berpedang tanpa membalas, bahkan harus mengambil hiasan rambut tanpa melukai, lalu mengembalikannya lagi! Hal ini bukan main-mian.

Akan tetapi, pada waktu dia melihat gerakan wanita itu menghindarkan diri, diam-diam dia terkejut sekali karena dia segera mengenal gerakan seorang ahli silat yang telah matang! Buktinya, gerakan Liong Bi bukan sekedar mengelak menjauhkan diri saja atau asal tidak terkena serangan lawan saja. Liong Bi justru berani mengelak dengan gerakan mendekat, dengan perhitungan matang bahwa biar pun dekat, kedudukannya itu menyulitkan lawan untuk menyerang. Sepasang kakinya membuat langkah-langkah aneh, tetapi selalu ujung pedang kedua orang gadis itu tidak pernah mampu menyentuhnya, bahkan beberapa kali pedang kedua orang gadis itu berbenturan satu sama lain!

Setelah membiarkan dua orang gadis itu menyerangnya dan dia hanya mengelak ke sana sini sampai dua puluh jurus lebih, tiba-tiba wanita cantik itu mengeluarkan bentakan halus namun nyaring.

“Ji-wi siocia, awas terhadap seranganku! Lindungi hiasan rambut kalian!”

Mendengar peringatan ini, Cang Hui dan Cin Nio cepat-cepat memutar sepasang pedang mereka, membentuk perisai untuk melindungi kepala mereka agar hiasan rambut mereka tidak sampai terampas.

Namun mendadak mereka terkejut bukan kepalang dan menjadi bingung. Bahkan semua penonton termasuk Coa-ciangkun terkejut melihat betapa tiba-tiba tubuh wanita itu lenyap bentuknya dan yang nampak hanyalah bayangan berkelebat cepat sekali, membuat dua orang gadis itu merasa seolah-olah mereka menghadapi lawan yang banyak sekali dan menyerang dari segala jurusan!

Mereka berusaha untuk melindungi kepala dengan sepasang pedang mereka. Tetapi tiba-tiba saja dua orang gadis itu merasa betapa sepasang lengan mereka lumpuh kehilangan tenaga dan pedang mereka seperti terbang meninggalkan tangan mereka, lantas mereka merasa betapa hiasan rambut mereka direnggut orang. Sesudah mereka memutar tubuh memandang, ternyata wanita itu telah memegang empat batang pedang pada satu tangan dan dua buah hiasan rambut di tangan yang lain!

“Maafkan, ji-wi siocia, ini pedang ji-wi saya kembalikan!” kata Liong Bi sambil menjulurkan tangan yang memegang empat batang pendang, digenggam begitu saja pada ujungnya yang tajam!

Hanya Coa-ciangkun dan Cang Taijin yang mampu melihat betapa wanita cantik itu tadi menggunakan ilmu menotok yang luar biasa sehingga membuat kedua lengan dua orang gadis itu kehilangan tenaga, kemudian dengan mudah merampas empat batang pedang dan dengan gerakan secepat kilat tangan kanannya merenggut hiasan rambut dari kepala mereka!

Cang Hui adalah seorang gadis yang keras hati dan amat pemberani. Walau pun Cin Nio sudah menjadi gentar dan tunduk, akan tetapi dia masih merasa penasaran. “Kami tidak membutuhkan pedang yang telah terampas! Kau kembalikan saja hiasan rambut di kepala kami, dan kami akan mencegah dengan kedua tangan kami saja!”

Gadis ini berani dan juga cerdik. Tadi pun dia sudah mendapat kenyataan betapa dia dan Cin Nio sama sekali tidak berdaya dengan sepasang pedang, bahkan pedang itu menjadi penghalang melindungi kepala. Maka ia memilih tanpa senjata saja agar kedua tangannya mampu melindungi kepala dan mencegah wanita cantik itu mengembalikan hiasan rambut mereka.

Dia memasang kuda-kuda, lantas mengambil tempat di belakang Cin Nio dengan beradu punggung sehingga mereka dapat saling melindungi bagian belakang, sedangkan kedua tangan mereka dapat dipergunakan untuk melindungi bagian depan. Wanita ini tentu akan sukar sekali untuk dapat mengembalikan hiasan rambut ke kepala mereka!

Liong Bi mengangguk dan tersenyum. “Bagus! Siocia memang cerdik sekali. Biarlah saya kembalikan dulu dua pasang pedang ini!”

Wanita itu lantas memandang ke arah rak senjata di sudut jauh. Sekali dia menggerakkan tangan kiri yang menggenggam empat batang pedang pada ujungnya, maka empat batang pedang itu langsung meluncur ke arah rak itu, bagaikan empat ekor burung yang terbang berlomba. Dan semua orang, termasuk Coa-ciangkun, terbelalak heran dan kagum ketika melihat betapa dua pasang pedang itu dengan tepat memasuki lubang di rak senjata itu seperti dimasukkan dengan tangan saja!

Cang Taijin mengangguk-angguk. Dari gerakan ini saja dia tahu bahwa memang wanita itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, mengingatkan dia akan kelihaian Cia Kui Hong!

“Hu-ji, lanjutkan ujian itu!” teriaknya kepada puterinya dan nada suaranya gembira.

Biar pun kini Cang Hui juga gentar melihat betapa wanita cantik itu dapat mengembalikan empat batang pedang seperti itu, namun dia masih penasaran. Maka, mendengar teriakan ayahnya dia segera memberi isyarat kepada Cin Nio dan keduanya menyerang Liong Bi sambil mengeluarkan semua jurus pilihan dengan pengerahan seluruh tenaga mereka.

Seperti juga tadi Liong Bi hanya mengelak saja, bahkan menangkis pun tidak karena dia tak ingin menyakiti dua orang gadis itu. Gerakannya memang jauh lebih lincah, bagaikan seekor burung walet saja dia menyelinap di antara empat tangan serta empat kaki yang menyambar-nyambar menyerangnya.

Karena Liong Bi berloncatan ke arah belakang dua orang gadis itu, hal ini membuat Cang Hui dan Cin Nio terpaksa sering kali memutar tubuh dengan cepat. Dan gerakan ini mulai membuat keduanya berkeringat dan napas mereka memburu setelah lebih dari tiga puluh jurus mereka menyerang sekuat tenaga namun serangan mereka selalu mengenai tempat kosong belaka.

Karena kelelahan, apa lagi tadi juga sudah memainkan siang-kiam, gerakan kedua orang gadis ini menjadi lambat. Akhirnya, dengan kecepatan luar biasa, ketika dua orang gadis itu menyerang, seperti terbang tubuh Liong Bi dengan loncatan ke atas berjungkir balik di udara, lantas dengan kepala di bawah tubuhnya kini meluncur turun, didahului oleh kedua tangannya dan tahu-tahu hiasan rambut itu sudah berada kembali di kepala Cang Hui dan Cin Nio, terpasang dengan rapi!

Cang Taijin bertepuk tangan, sedangkan isterinya tersenyum-senyum kagum, juga Cang Sun bertepuk tangan lebih keras dari pada ayahnya. Coa-ciangkun mengangguk-angguk dan memandang kagum pula. Cang Hui dan Cin Nio juga menjadi kagum dan Cang Hui kehilangan rasa penasarannya. Ia sudah takluk dan bahkan girang mendapatkan seorang guru yang demikian pandainya.

“Engkau memang hebat, enci Liong Bi!” katanya memuji.

“Aih, Siocia terlalu memuji. Siocia juga mempunyai bakat yang baik sekali,” kata Liong Bi, bukan sekedar menyenangkan hati puteri bangsawan itu melainkan memang sebenarnya gadis itu memiliki bakat yang baik untuk belajar ilmu silat.

“Sekarang harap Coa-ciangkun suka menguji saudara Liong Ki!” kata Cang Sun gembira dan Menteri Cang juga mengangguk ke arah Coa-ciangkun.

Perwira itu ada;ah bawahan Menteri Cang. Andai kata tidak menjadi guru dua orang gadis itu pun dia tetap seorang perwira yang mempunyai tugas lain. Baginya, baik menjadi guru kedua orang gadis itu atau tidak, sama saja dan tidak ada bedanya karena mengajar dua orang gadis itu pun merupakan pelaksanaan tugas yang diperintahkan atasannya.

Kini dia diberi tugas untuk menguji kepandaian pemuda yang katanya kakak dari wanita cantik itu. Dia dapat menduga bahwa kalau adiknya yang perempuan saja demikian lihai, apa lagi kakaknya. Dia pun bangkit, memberi hormat kepada Menteri Cang dan isterinya, kemudian melangkah ke tengah ruangan.

Liong Ki juga memberi hormat kepada tuan rumah, lalu melangkah maju menghadapi Coa-ciangkun dan memberi hormat kepada perwira itu. “Ciangkun, maafkanlah dan bermurah hatilah kepada saya yang muda.”

Ucapan itu sungguh merupakan ucapan yang merendah. Mendengar ini dan melihat sikap pemuda itu, senanglah hati Coa-ciangkun. Orang muda ini tentu lihai dan sikapnya sopan dan rendah hati, sungguh akan merupakan hamba yang baik dan dapat diandalkan. Tapi bagaimana pun juga dia harus yakin dengan kemampuan pemuda yang hendak dijadikan pengawal pribadi atasannya ini.

“Orang muda yang gagah, kalau melihat tingkat kepandaian adikmu, aku dapat mengerti bahwa engkau tentu lihai bukan main. Harap jangan sungkan, aku hanya bertugas untuk menguji kepandaianmu.”

“Kalau begitu silakan, Ciangkun. Bagaimana Ciangkun hendak mengatur ujian ini? Dengan bertangan kosong? Ataukah bersenjata?”

Coa-ciangkun menghadap Menteri Cang dan bertanya, “Taijin, bolehkah saya mengujinya dengan cara saya untuk melihat apakah dia benar-benar cakap untuk menjadi pengawal pribadi Taijin?”

Menteri Cang mengangguk-angguk. “Lakukanlah, Ciangkun. Engkau lebih tahu bagaimana harus menguji calon pengawal pribadi yang baik.”

“Terima kasih, Taijin,” kata perwira itu yang kini menghadapi pemuda itu lagi. “Liong-sicu (orang gagah Liong), menjadi pengawal pribadi atau pengawal keluarga harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan adanya bahaya yang mengancam. Mending kalau yang mendatangkan bahaya hanya seorang saja, akan tetapi sanggupkah engkau menghadapi serbuan lima orang pengacau?”

“Tentu saja, Ciangkun. Kalau saya sudah menjadi pengawal, maka saya akan melindungi dan membela keselamatan yang saya kawal dengan taruhan nyawa saya.”

“Bagus kalau begitu! Nah, katakanlah bahwa saya bersama lima orang anak buah saya menyerbu rumah Cang Taijin dan engkau harus melindungi keselamatan keluarga beliau.”

Perwira itu melangkah ke pintu dan memanggil lima orang pengawal yang masing-masing mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi karena mereka itu adalah para sute (adik seperguruan) darinya. Lima orang prajurit itu masuk, memberi hormat kepada keluarga Menteri Cang, kemudian atas isyarat suheng mereka, mereka berdiri mengepung Liong Ki dalam bentuk setengah lingkaran.

“Liong-sicu, kami berenam adalah pengacau-pengacau yang menyerang rumah keluarga yang kau lindungi. Kami semua bersenjata dan kami akan menyerang dengan sungguh-sungguh. Sanggup dan beranikah engkau menghadapi kami? Karena ini hanya ujian, tentu saja engkau tak boleh melukai kami, hanya boleh merobohkan tanpa melukai. Sanggup?”

“Nanti dulu!” Cang Sun berseru. “Tidak adil kalau begini. Masa seorang dikeroyok enam orang? Di sini masih ada nona Liong Bi, dan ada pula tunangan saudara Liong Ki. Mereka bertiga tentu juga akan bergerak melawan kalau rumah ini diserbu enam orang penjahat!”

Akan tetapi sambil tersenyum ramah Liong Bi lalu berkata. “Biarkan saja, Cang-kongcu. Kurasa kakakku masih akan dapat menghadapi keroyokan enam orang penguji itu. Nanti kalau dia kewalahan baru aku akan membantunya, kalau saja diperbolehkan.”

Mendengar ini Cang-taijin yang sudah merasa gembira dan kagum itu lalu berkata, “Tentu saja boleh kalau nanti engkau hendak membantu kakakmu.”

Kini Perwira Coa sudah mencabut pedangnya. Melihat ini, lima orang sute-nya juga turut mengeluarkan senjata mereka, ada yang memegang golok, ada yang membawa tombak, dan ada pula yang menggenggam pedang. Perwira Coa lantas berkata, Nah, Liong-sicu, keluarkan senjatamu untuk menghadapi keroyokan kami.”

Liong Ki melolos sabuknya, selembar sabuk sutera yang berwarna biru muda, lemas dan panjangnya ada dua meter. Dia menggerakkan tangan kanan dan sabuk itu melayang ke atas, membuat lingkaran dan membelit-belit lengannya sampai tergulung semua.

“Inilah senjataku, Ciangkun. Cu-wi (kalian semua) mulailah!”

Liong Ki memang tampan dan gagah sehingga dua orang gadis itu memandang dengan penuh kagum. Alangkah gagahnya pemuda itu, tetap bersikap demikian tenangnya ketika menghadapi enam orang bersenjata tajam yang hendak mengeroyoknya, bahkan hanya mempergunakan sehelai sabuk sutera tipis dan lemas sebagai senjatanya! Semua orang memandang tegang kecuali tentu saja Liong Bi. Wanita ini yakin benar bahwa kakaknya akan mampu menandingi pengeroyokan enam orang itu.

“Liong-sicu, awas, kami mulai menyerang!” kata Coa-ciangkun dan dia mendahului sute-nya untuk menyerang dengan pedangnya.

Gerakannya cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga pedangnya berubah menjadi sinar terang dan menimbulkan bunyi bersiutan saat menyambar! Gerakan pedang ini segera disusul oleh gerakan senjata lima orang sute-nya. Karena mereka merupakan prajurit-prajurit yang biasa bertempur sebagai pasukan, terlebih lagi mereka adalah kakak-beradik seperguruan yang mengenal ilmu silat masing-masing, maka gerakan mereka itu amat teratur dan rapi, tidak simpang siur dan saling mendukung.

Tadinya semua orang memandang tegang melihat enam buah senjata menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan menyambar-nyambar ke arah tubuh pemuda itu. Tetapi mereka pun lalu terbalalak kagum ketika tubuh Liong Ki lenyap dan terbungkus lingkaran gulungan biru yang dihasilkan oleh sabuk suteranya. Bahkan Liong Bi juga memandang kagum. Kakaknya memang hebat, lebih hebat darinya!

Dan keenam orang pengeroyoknya itu terkejut karena setiap kali senjata mereka bertemu dengan sabuk yang sinarnya bergulung-gulung itu, mereka merasa betapa telapak tangan mereka tegetar hebat! Bahkan pertemuan antara senjata dengan sabuk itu menimbulkan suara berdenting seolah-olah sabuk itu berubah menjadi baja yang kaku! Itu menunjukkan bahwa pemuda itu memang memiliki tenaga sinkang yang sudah tinggi tingkatnya, dapat membuat sabuk sutera menjadi keras dan kaku.

Mula-mula Liong Ki mempergunakan kelincahan gerakannya yang didasari ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi. Tubuhnya berkelebatan laksana kilat dan menyelinap di antara gulungan sinar enam buah senjata. Hanya kadang-kadang saja pengelakannya dibantu dengan tangkisan sabuk suteranya.

Sampai belasan jurus dia menghindarkan serangan-serangan itu dengan mengandalkan keringanan tubuh dan kecepatan gerakannya. Memang tampaknya lucu dan indah. Enam orang itu seperti enam orang anak-anak yang berlomba menangkap seekor burung walet yang beterbangan di antara mereka.

Setelah lewat belasan jurus, Liong Ki mengubah permainannya. Dia tidak lagi berloncatan mengelak, melainkan berdiri tegak sambil memutar sabuknya. Sabuk itu berubah menjadi benteng sinar biru yang membentengi dirinya sehingga semua serangan yang datang dari depan, kanan kirii dan atas itu terpental kembali sesudah bertemu dengan benteng sinar sabuk biru itu!

Berulang kali enam orang itu mengerahkan tenaga, menggunakan senjata mereka untuk menyerang dan menembus perisai atau benteng sinar biru, akan tetapi semua serangan itu gagal karena senjata mereka terpental seperti bertemu dengan kitiran baja yang amat kuat!

Kalau pengeroyok berusaha untuk mengelilinginya, Liong Ki memutar tubuh dan gulungan sinar itu pun menyelimuti seluruh tubuhnya! Sampai belasan jurus Liong Ki mengandalkan senjata yang istimewa itu untuk menghalau semua serangan, sama sekali tidak mengelak lagi.

“Awas, jaga senjata kalian!” Tiba-tiba Liong Ki berseru lantas gerakan sabuknya berubah, kini berlenggak-lenggok seperti gerakan ular.

Tiba-tiba seorang pengeroyok berteriak kaget. Pedangnya terlibat ujung sabuk dan begitu ditarik, pedang itu pun segera terlepas dari pegangannya! Coa-ciangkun cepat menerjang dengan pedangnya, membacok ke arah sabuk itu untuk merampas kembali pedang anak buahnya yang terampas.

“Tranggg...!”

Hampir saja pedang itu lepas dari tangan Coa-ciangkun setelah ujung sabuk itu membalik dan pedang rampasan itu menangkis pedangnya. Kemudian, sekali ujung sabuk bergerak, pedang rampasan itu sudah terbang ke arah rak senjata dan menancap di papan rak!

Sekarang sabuk itu mengamuk. Bagaikan seekor ular besar atau seekor naga, sabuk itu menyambar-nyambar dengan amat cepatnya sehingga para pengeroyok yang tinggal lima orang itu menjadi terkejut dan menggerakkan senjata melindungi diri. Akan tetapi berturut-turut empat orang anak buah Coa-ciangkun berteriak dan senjata mereka satu demi satu beterbangan karena dirampas ujung sabuk dan semua senjata itu menancap pada papan rak senjata! Tinggal Coa-ciangkun seorang!

Coa-ciangkun yang merasa penasaran segera menerjang dengan nekat. Akan tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti dan tahu-tahu tubuhnya telah terbelit-belit sabuk sutera sehingga kedua lengannya tak mampu digerakkan lagi, juga pedang di tangannya! Dia hanya dapat berdiri tegak dengan mata terbelalak!

“Ciangkun, maafkan aku!” kata Liong Ki kemudian sekali menggerakkan tangan, sabuk itu pun melepaskan libatannya.

Cang Sun dan semua orang bertepuk tangan memuji. Mau tidak mau Coa-ciangkun harus mengakui kehebatan ilmu kepandaian pemuda itu. Dia memberi hormat kepada Menteri Cang dan berkata dengan hati tulus.

“Harap paduka ketahui bahwa kepandaian Liong-sicu ini benar-benar sangat tangguh dan dapat dipercaya untuk menjadi pengawal pribadi paduka.”

Tentu saja Menteri Cang girang sekali, terutama Cang Sun juga merasa gembira karena dua orang penolongnya itu dapat diterima oleh ayahnya. Bahkan Cang Hui juga merasa gembira. Dia mendekati Liong Bi dan berkata,

“Enci, engkau harus mengajarkan ilmu silatmu yang sangat lincah tadi, dan cara engkau merampas senjata lalu melemparkannya ke rak senjata! Aku tidak akan menyebut engkau subo (ibu guru). Engkau masih terlalu muda untuk menjadi ibu guru. Biar kusebut engkau enci (kakak) saja!”

Liong Bi menjura dengan sikap hormat. “Jangan khawatir, Siocia. Aku akan mengajarkan kepadamu semua ilmu yang kuketahui...”

“Aku juga, Enci Liong Bi...,” kata Teng Cin Nio.

Liong Bi merasa ragu-ragu karena dia belum tahu siapa gadis cantik pendiam ini. Melihat keraguan wanita itu, Cang Sun cepat berkata, “Dia juga, Enci. Dia bernama Teng Cin Nio, adik misanku dan dia pun merupakan anggota keluarga kami, bahkan calon anggota yang dekat sekali.”

Liong Bi mengangguk dan tersenyum. “Baiklah, akan kuajarkan kepada kalian berdua.”

Liong Ki dan Liong Bi lalu berpamit untuk mengambil pakaian di rumah penginapan, juga untuk menjumpai tunangan Liong Ki yang ditinggalkan di rumah penginapan. Menteri Cang menyetujui dan mereka pun meninggalkan gedung itu dengan hati dipenuhi kegembiraan karena cita-cita mereka sudah tercapai.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Para pembaca tentu dapat menduga siapa Liong Ki dan Liong Bi itu. Mereka adalah Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa! Itulah rencana siasat yang diatur oleh Su Bi Hwa pada malam hari dia berasil memikat Ki Liong sehingga pemuda itu tidur sekamar dengannya, tanpa diketahui Mayang yang tidur sendiri di kamar lain.

Wanita itu memang cerdik dan berpengalaman. Dia adalah seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang sejak kecil telah ditanamkan bibit kebencian terhadap pemerintah. Akan tetapi usahanya bersama Pek-lian Sam-kwi untuk menghancurkan Cin-ling-pai telah gagal total, bahkan dia nyaris tewas seperti yang dialami tiga orang gurunya, yaitu Pek-lian Sam-kwi.

Dia berhasil lolos. Ketika bertemu dengan Sim Ki Liong segera dia mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya. Dia mendapatkan seorang kekasih yang tampan dan gagah perkasa, yang menguasai ilmu silat tinggi lebih tangguh darinya, dan pada diri pemuda itu dia menemukan pula seorang sekutu yang amat baik dan dapat diandalkan. Maka dia pun segera menyusun siasat untuk bertualang bersama pemuda itu ke kota raja dan mencari kedudukan agar sesudah memperoleh kedudukan, hal itu dapat dimanfaatkan demi Pek-lian-kauw!

Sim Ki Liong telah mabuk akan kesenangan yang diberikan oleh wanita cantik itu. Dia pun melihat bahwa wanita itu berpengalaman dan cerdik sekali. Karena itu dia hanya menurut saja dan demikianlah, di Nan-king mereka meninggalkan Mayang di rumah penginapan lalu keduanya segera keluar untuk memulai dengan petualangan mereka.

Agaknya bintang mereka memang sedang terang. Secara kebetulan sekali hari itu Cang Sun keluar seorang diri dan pergi ke danau. Sejak tadi dua orang petualang itu memang melakukan pengintaian terhadap rumah gedung itu, sesuai dengan rencana Bi Hwa untuk ‘mendekati’ keluarga Cang yang dia tahu memiliki kekuasaan tertinggi di samping Menteri Yang Ting Hoo setelah kaisar sendiri.

Su Bi Hwa telah mempunyai data lengkap tentang keluarga itu. Karena itu, ketika melihat Cang Sun dia lalu mengajak Sim Ki Liong untuk membayanginya. Ketika melihat bahwa pemuda bangsawan itu berperahu seorang diri, cepat Su Bi Hwa mengatur siasat.

Dia menyuruh Ki Liong menyamar sebagai penculik dengan berkedok, menculik pemuda bangsawan itu dan dia sendiri lantas muncul sebagai penolong! Akhirnya mereka berdua berhasil diterima sebagai pengawal keluarga Cang!

Mayang menyambut mereka dengan cemberut. “Dari mana saja kalian?” tegurnya kepada mereka.

Ki Liong menjawab dengan wajah berseri-seri. “Ah, kami beruntung sekali, Mayang! Kami sudah berhasil baik sekali! Kau tentu tidak dapat menduga apa yang telah kami capai.”

“Hemmm…” Mayang menyambut kegembiraan itu dengan sikap dingin saja. “Kalian baru pulang dari rumah Menteri Cang Ku Ceng! Apa yang kalian lakukan di sana?”

Dua orang itu terkejut dan terbelalak. “Ehh? Engkau sudah tahu? Mayang, kami... Eh, kita bertiga sudah diterima menjadi pengawal-pengawal keluarga Cang! Bayangkan! Kini kita sudah menjadi pengawal keluarga menteri yang sangat terkenal itu. Kita akan mempunyai penghasilan besar, berkedudukan tinggi terhormat, dan hidup kita terjamin!”

“Itu benar, adik Mayang. Menteri Cang berkenan menerima kita bertiga menjadi pengawal keluarga. Tunanganmu ini menjadi pengawal pribadi sang menteri, sedangkan kita berdua menjadi pengawal keluarganya. Bukankah itu bagus sekali?”

Akan tetapi mayang masih mengerutkan alisnya. “Hemmm, betapa pun bagusnya, kalian sudah melakukan penipuan! Kalian kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan terhadap pemuda bangsawan di perahu itu? Kalian menipunya untuk mencari pahala!”.

Kembali Ki Kiong dan BI Hwa saling pandang dan mereka terkejut bukan main. “ Mayang, jadi engkau tahu semuanya?”

“Kau kira aku ini anak kecil yang dapat kalian bohongi begitu saja? Semenjak kalian pergi hatiku sudah tidak enak. Aku lalu pergi menyusul dan melihat kalian pergi keluar kota. Aku membayangi terus, kemudian melihat segala yang terjadi dengan penuh keheranan dan penasaran!”

“Adik Mayang, maafkan aku.Terus terang saja, pembesar yang kukenal itu sudah pindah. Kebetulan sekali kami melihat Cang-Kongcu, lalu kami membayangi dia ke danau,” kata Bi Hwa membela kekasihnya yang sejenak kebingungan itu.

“Benar, Mayang. Melihat dia timbullah harapan kami. Menteri Cang merupakan pembesar yang berkedudukan tinggi. Apa bila kita dapat menghambakan diri kepadanya, tentu kita akan mendapat kesempatan besar sekali untuk berjasa kepada negara dan memperoleh kedudukan yang baik.”

“Tapi, kalau hendak bekerja kepadanya, kenapa harus menggunakan tipu muslihat, pura-pura menculk puteranya kemudian dibebaskan?” Mayang membantah, masih marah.

“Adik Mayang, terus terang saja semua ini adalah rencanaku. Saudara Sim Ki Liong tidak bersalah. Aku pun mempergunakan siasat itu hanya karena terpaksa. Kita membutuhkan pekerjaan dan kami tadi tidak mencelakai orang. Semuanya itu hanya sandiwara belaka. Tanpa mempergunakan siasat itu, bagaimana mungkin Menteri Cang Ku Ceng menerima kami? Kami tidak mengenalnya dan tidak ada perantara yang bisa memperkenalkan kami. Dengan jalan itu terbukti kami berhasil diterima menjadi pengawal-pengawal keluarga.”

“Benar, Mayang. Semuanya ini demi kebaikan kita dan juga kebaikanmu. Kalau aku telah mendapatkan pekerjaan yang tetap, kedudukan yang baik, tentu aku tak perlu malu untuk menghadap ibumu dan subo-mu.”

Karena di bujuk-bujuk dua orang itu, akhirnya Mayang terpaksa menerima juga. “Baiklah, akan kulihat saja bagaimana perkembangannya di sana nanti,” katanya.

Ki Liong girang bukan main. “Tetapi untuk membuat mereka tidak bercuriga, kami sudah menggunakan nama palsu dan mengaku sebagai kakak-beradik, Mayang. Aku memakai nama Liong Ki dan dia bernama Liong Bi, adikku.”

“Aku tidak mau menggunakan nama palsu seperti penjahat!” kata Mayang, kembali sambil mengerutkan asisnya.

Diam-diam Ki Liong memberi isyarat kepada Bi Hwa untuk meninggalkan mereka. Bi Hwa menangkap isyarat ini dan dia pun berkata sambil melangkah keluar.

“Kalian bicaralah, aku hendak mengemasi pakaian.”

Sesudah Bi Hwa pergi, Ki Liong berkata, “Mayang lupakah engkau siapa aku ini? Engkau tentu masih ingat bahwa aku adalah seorang berdosa. Sesudah bertemu dengan engkau baru aku berusaha untuk kembali ke jalan benar! Aku pernah menyeleweng, Mayang, dan engkau tahu benar akan hal ini. Demi cintaku kepadamu, aku harus berusaha keras untuk kembali ke jalan benar!”

“Kalau hendak kembali ke jalan benar, kenapa harus menipu keluarga itu?”

“Aih, Mayang, pikirkan dulu jangan berkeras. Aku melakukan sandiwara itu hanya dengan satu tujuan, agar aku diterima di sana dan mendapatkan pekerjaan. Sesudah aku bekerja dengan baik, bukankah itu berarti aku sudah kembali ke jalan yang benar? Aku terpaksa menggunakan nama palsu. Kalau aku menggunakan nama sendiri dan kemudian Menteri Cang tahu bahwa aku pernah melakukan penyelewengan, apakah dia akan mau memberi pekerjaan kepadaku? Bersikaplah adil, Mayang..., semua ini kulakukan demi engkau!”

Mayang mengerutkan alisnya, akan tetapi dia diam saja. Dia tahu kebenaran alasan pria yang dicintanya itu. Memang kekasihnya itu dahulu pernah menyeleweng dan membantu golongan sesat, tapi kini telah bertobat, bahkan sudah membuktikan mau mengembalikan pedang ke Pulau Teratai Merah. Kalau kini kekasihnya itu terpaksa menggunakan nama palsu agar dapat memperoleh pekerjaan dan kedudukan yang baik, apa salahnya?

“Baiklah, akan kulihat perkembangannya nanti,” katanya mengulang pendapatnya tadi.

Ki Liong merangkul dan mencium pipinya. Sejenak Mayang terlena. Bagaimana pun juga dia kagum dan tertarik kepada pria ini, bahkan mencintanya, maka tentu saja cumbuan ini mendatangkan kemesraan dan kebahagiaan hatinya. Akan tetapi dia teringat Bi Hwa dan dengan lembut namum pasti dia melepaskan rangkulan pemuda itu.

“Mari kita berkemas! Dan di sana, biar pun engkau mengaku bahwa aku ini tunanganmu, akan tetapi engkau jangan macam-macam dan jangan membuat aku menjadi malu.”

Dengan senyum menawan dan sikap menarik Ki Liong memberi hormat, berlagak seperti menghormati seorang puteri dan berkata, “Baik, tuan puteri, hamba pasti akan mematuhi perintah paduka!”

“Cih, tak usah merayu!” Mayang berkata ketus, akan tetapi matanya tersenyum.

Harus diakuinya bahwa dia memang tertarik dan mencinta pemuda ini, walau pun kadang-kadang hatinya kesal jika teringat akan masa silam kekasihnya itu dan mengkhawatirkan masa depannya, kalau-kalau penyakit kekasihnya akan kambuh lagi, yaitu menyeleweng dari pada kebenaran.

Pada waktu Bi Hwa, Ki Liong dan Mayang tiba di rumah keluarga Menteri Cang, mereka disambut dengan gembira oleh keluarga itu. Dan begitu melihat Mayang, mereka merasa kagum akan kecantikan khas dari gadis peranakan Tibet itu. Menteri Cang sendiri yang sudah banyak pengalaman lalu bertanya.

“Liong Ki, apakah tunanganmu ini seorang gadis Tibet?”

Liong Ki atau Sim Ki Liong memberi hormat, “Dia adalah peranakan Tibet, Taijin.”

Cang Hui mendekati Mayang, menatap penuh perhatian dan nampaknya tertarik sekali. “Siapa namamu dan berapakah usiamu?”

Melihat gadis bangsawan cantik itu bertanya dengan sikap yang terbuka dan bersahabat, Mayang juga menjawab dengan jujur dan sikap terbuka. Logat suaranya terdengar sedikit aneh, namun enak didengar. “Namaku Mayang, dan usiaku dua puluh tahun. Nona tentu yang bernama Cang Hui, puteri Cang Taijin bukan? Nona cantik sekali!”

Jawaban ini seketika mendatangkan rasa suka di dalam hati Cang Hui dan dia pun lantas menggandeng tangan Mayang. “Aku memang Cang Hui, dan engkau juga sangat cantik, Mayang. Apakah engkau pun ahli silat seperti kakak-beradik she Liong itu?”

Mayang tersenyum. “Aku tak sepandai Liong-ko, akan tetapi aku juga pernah belajar ilmu silat, Nona.”

Untung bagi Ki Liong bahwa dia memakai nama palsu Liong Ki sehingga Mayang masih bisa tetap memanggilnya Liong-ko seperti biasa. Andai kata dia menggunakan nama lain, maka akan sukar bagi Mayang untuk mengubah panggilannya, bahkan mungkin dia tidak mau melakukannya.

“Mayang, engkau jangan menyebut siocia (nona) kepadaku. Aku ingin kau menyebutku Hui saja!” kata Cang Hui yang seketika merasa amat dekat dan akrab dengan Mayang.

Mayang tersenyum. Entah kenapa dia pun merasa suka sekali kepada gadis bangsawan yang berwatak polos ini. “Terima kasih,” katanya.

“Enci Hui, apakah tidak sebaiknya jika kita minta Mayang memperlihatkan ilmunya pula?” kata Cin Nio. “Mayang, tadi enci Liong Bi sudah memperlihatkan kepandaiannya. Enci Hui bersama aku mengeroyoknya. Kami berpedang dan dia bertangan kosong, dan dia dapat merampas hiasan rambut kami lalu mengembalikannya tanpa melukai kami. Sanggupkah kau melakukan itu?”

“Cin-moi, rasanya tidak perlu lagi. Aku percaya akan keterangan kakak-beradik Liong itu.”

“Memang tidak perlu diuji lagi, aku pun sudah percaya,” kata Cang Sun.

Sejak tadi pemuda ini kadang melirik ke arah Mayang dengan sinar mata penuh kagum. Gadis ini mempunyai sesuatu yang membuat jantungnya berdebar, akan tetapi dia cepat melawannya dengan ingatan bahwa gadis peranakan Tibet ini sudah menjadi calon isteri Liong Ki!

“Hemmm, kalau begitu kurang adil!” Tiba-tiba Cang Taijin berkata sambil tertawa. “Kakak-beradik Liong telah memperlihatkan kemampuan mereka, dan Mayang juga akan bekerja di sini, maka sudah selayaknya kalau dia pun memperlihatkan kemampuannya. Mayang, coba engkau perlihatkan ilmu yang kau miliki agar kami sekeluarga melihatnya.” Biar pun ucapan itu ramah dan lembut, namun mengandung wibawa dan perintah.

“Baik, Taijin,” kata Mayang dan dia pun memandang ke sekeliling dengan matanya yang sipit namun bersinar tajam itu. “Siapa yang akan mengujiku?”

Cang Hui yang merasa suka kepada Mayang langsung berkata, “Aku sudah lelah dan aku percaya kepada Mayang. Cin-moi, apakah engkau hendak mengujinya?”

Cin Nio menunduk dan mukanya kemerahan. “Kalau harus maju sendiri, mana aku berani, Hui-ci…”

“Tidak perlu bertanding,” kata Menteri Cang. “Mayang, kau perlihatkan saja kemahiranmu mempergunakan senjatamu, memperlihatkan kecepatanmu dan kekuatanmu.”

“Baik, Taijin,” kata Mayang dan dia pun melolos senjatanya yang tak pernah terpisah dari badannya, yaitu sebatang cambuk yang dipakainya sebagai sabuk. Pecut atau cambuk ini berwarna hitam, kecil dan panjang.

Mayang memandang ke kanan kiri dan melihat sebuah arca singa yang besarnya seperti seekor anjing. Melihat bentuk dan ukurannya, dia sudah dapat menaksir beratnya karena dahulu di rumah subo-nya terdapat pula sebuah arca besi seperti itu yang biasanya dia pergunakan untuk latihan. Melihat ukurannya, arca di rumah subo-nya lebih berat.

“Taijin, beratkah arca singa itu?” tanya Mayang kepada Menteri Cang. Caranya bertanya kepada pejabat tinggi itu demikian sederhana, seolah-olah dia bertanya kepada seorang kawan saja, membuat Menteri Cang tertawa dan teringat akan sikap Cia Kui Hong.

“Tentu saja berat. Arca itu terbuat dari kuningan. Sedikitnya dua orang laki-laki baru dapat menggotongnya,” katanya.

“Adik Hui, aku mau bermain-main dengan arca itu, mudah-mudahan tenagaku cukup kuat untuk mengangkatnya,” katanya sambil melirik ke arah gadis Cang Hui. Gadis bangsawan ini terkejut.

“Ihhh, jangan main-main, Mayang. Benda itu berat sekali. Kalau engkau tidak kuat, dapat menimpamu dan membuatmu terluka!”

“Kita lihat sajalah!” kata Mayang.

Suaranya itu segera diikuti oleh suara ledakan-ledakan kecil karena dia telah memainkan cambuknya. Dia bersilat dengan pecut itu, gerakannya indah laksana orang menari, akan tetapi ujung cambuk meledak-ledak di sekeliling tubuhnya dan setiap kali meledak tampak asap mengepul!

Setelah bersilat belasan jurus, tubuhnya menari-nari dengan indahnya sehingga membuat Su Bi Hwa sendiri diam-diam terkejut dan kagum, tiba-tiba Mayang mengeluarkan seruan nyaring, ujung cambuknya menyerang ke arah singa kuningan. Ujung cambuk itu melibat perut singa dan sekali gadis itu membentak dengan suara melengking, singa-singaan itu pun segera terangkat ke atas!

Mayang memutar-mutar singa-singaan itu di atas kepalanya, lantas menurunkan kembali dengan hati-hati! Tentu saja pertunjukan ini memancing tepuk tangan gemuruh. Bahkan isteri Menteri Cang juga ikut bertepuk tangan.

Mayang bukan seorang gadis yang sombong atau senang memamerkan kepandaiannya. Akan tetapi sekarang dia merasa seolah-olah medapatkan saingan dalam diri Su Bi Hwa. Karena dia maklum bahwa wanita itu sudah memperlihatkan kepandaiannya di hadapan keluarga itu seperti juga Ki Liong, maka dia pun tidak ingin dianggap lemah. Setelah tepuk tangan berhenti, dia pun memberi hormat ke arah pasangan suami isteri pejabat tinggi itu dan berkata,

“Taijin, saya lihat banyak lalat di sini. Bolekah saya membunuh mereka?”

Menteri Cang mencari dengan pandangan matanya dan memang ada beberapa ekor lalat beterbangan di ruangan itu. Tidak banyak, akan tetapi ada. Dan dia memandang dengan tidak percaya. Bagaimana gadis itu akan mampu membunuhi binatang kecil yang sangat gesit itu dengan cambuknya? Akan tetapi dia mengangguk gembira.

“Boleh, bunuhlah lalat-lalat itu!” katanya.

Mayang menggerakkan pecutnya. Senjata ini meledak-ledak sambil menyambar-nyambar lagi. Tampaknya hanya beberapa kali saja menyambar dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandang mata orang biasa, kemudian tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, lalu mengumpulkan dengan kakinya. Ternyata di lantai telah ada bangkai belasan ekor lalat!

Melihat bangkai itu tidak hancur, dapat dimengerti alangkah hebatnya permainan cambuk itu, yang ujungnya mampu membunuh lalat-lalat itu dengan tepat tanpa menghancurkan tubuhnya yang kecil! Hal ini tidak mengherankan karena guru dara ini, yaitu Kim Mo Sian-kouw, adalah seorang ahli silat yang memiliki ilmu istimewa menggunakan cambuk itu!

Kembali semua orang memuji dan diam-diam Su Bi Hwa terkejut. Tak disangkanya bahwa kekasih Ki Liong itu memiliki kepandaian sehebat itu! Ia harus berhati-hati sekali terhadap Mayang. Gadis itu tidak suka diajak melakukan penyelewengan, berwatak terbuka, terlalu jujur dan keras. Gadis seperti itu dapat menggagalkan semua usahanya! Bagaimana juga dia tahu bahwa Ki Liong amat mencinta gadis itu, karena itu untuk sementara ini dia harus menggunakan siasat melakukan pendekatan secara akrab.

“Mayang, engkau saja yang mengajarku ilmu silat!” Cang Hui berseru gembira dan segera merangkul gadis peranakan Tibet itu. “Aku ingin bisa memainkan cambuk seperti itu!”

Mulai hari itu Ki Liong, Mayang dan Su Bi Hwa bekerja menjadi pengawal keluarga Cang. Tentu saja mereka hidup senang karena mereka bukan saja dianggap sebagai pekerja, akan tetapi juga seperti anggota keluarga sendiri. Terutama Mayang dan Bi Hwa. Mereka sangat akrab dengan Cang Hui dan Teng Cin Nio. Hanya bedanya, kalau Mayang akrab dengan mereka dengan hati tulus karena memang kedua orang gadis bangsawan itu baik budi, sebaliknya Su Bi Hwa hanya pada lahirnya saja baik dan akrab, akan tetapi di dalam hatinya, iblis betina ini mencari-cari kesempatan untuk mengatur rencana dengan kekasih barunya, yaitu Ki Liong!

Karena telah maklum akan kelihaian Mayang, Bi Hwa dan Ki Liong berhati-hati sekali dan mereka selalu menjaga diri jangan sampai menimbulkan kecurigaan hati Mayang. Ketika pada suatu pagi Mayang sedang memberi petunjuk ilmu silat kepada Cang Hui dan Teng Cin Nio di dalam taman bunga yang luas dan indah itu, Bi Hwa dan Ki Liong mengadakan pertemuan di kamar Bi Hwa, dari mana mereka dapat mengintai keluar lewat jendela dan melihat Mayang bersama dua orang gadis bangsawan itu dari jauh. Tidak ada orang lain mengetahui bahwa mereka berdua berada di dalam kamar itu.

Mereka langsung berpelukan melepas rindu yang selama ini ditahan-tahan, akan tetapi Bi Hwa berbisik, “Ssttt, aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan hal yang penting. Kerinduan kita dapat ditunda dulu, lain waktu masih banyak. Kita harus mengatur siasat.”

Biar pun kecewa terpaksa Ki Liong menuruti keinginan wanita itu, sebab mereka memang jarang mendapat kesempatan berada berdua saja. Mereka lalu berbisik-bisik dan Bi Hwa mengatur siasatnya. Siasat yang membuat Ki Liong amat tertegun karena siasat itu terlalu besar dan muluk, juga amat berani!

Bi Hwa merencanakan agar mereka berdua dapat menguasai keluarga itu, yaitu dengan cara memikat anak-anak Menteri Cang. Dia sendiri akan memikat dan merayu Cang Sun, sedangkan Ki Liong dianjurkan agar merayu Cang Hui!

“Kalau kita berdua, atau salah seorang di antara kita dapat menjadi mantu Menteri Cang, tentu kedudukan kita akan menjadi semakin kuat,” katanya.

“Engkau dapat mencoba untuk memikat Cang Sun dan engkau pasti berhasil. Akan tetapi aku? Bagaimana mungkin? Di sana ada Mayang...” kata Ki Liong meragu.

“Aihh, lagi-lagi Mayang! Tentu saja engkau boleh mengambilnya sebagai isterimu! Kalau engkau menjadi menantu Menteri Cang, apa salahnya mempunyai beberapa orang isteri? Yang penting memikat puteri menteri itu dahulu, soal Mayang mudah saja.”

“Jangan pandang rendah Mayang! Dia pasti akan menolak, dan dia dapat menggagalkan dan merusak semuanya. Dia keras hati dan keras kepala. Jika sampai dia marah kepada kita lalu membongkar rahasia kita di depan Menteri Cang, bukankah kita akan celaka?”

“Bodoh, dia tak akan berbuat seperti itu, apa lagi kalau dia telah dijinakkan! Engkau harus dapat menjinakkannya. Engkau harus berhasil menggaulinya sehingga dia tidak berdaya lagi karena dia tentu ingin mencuci aib dengan menjadi isterimu sehingga akan mentaati semua perintahmu.”

“Hemmm, justru itulah yang sulit. Dia tidak pernah mau! Dia hanya mau melayaniku kalau kami sudah menikah dan dia tidak mau menikah sebelum mendapat restu dari ibunya dan subo-nya!” Ki Liong berkata kesal.

“Itu perkara kecil. Aku akan membantumu. Tunggu saja, aku akan menguasainya dengan sihir dan malam ini aku akan menyuruh dia memasuki kamarmu, lantas dengan kekuatan sihir aku akan membuat dia menyerah kepadamu dengan suka rela. Sekali hal ini terjadi, andai kata dia menyadarinya pun sudah terlambat dan dia tentu akan tunduk dan taat.”

Wajah Ki Liong menjadi berseri. “Engkau dapat melakukan itu?”

Bi Hwa mengangguk. Ia memang tidak merahasiakan sesuatu dari kekasihnya itu setelah saling mengetahui latar belakang masing-masing dan maklum bahwa dulu mereka adalah segolongan!

“Tidak percuma aku menjadi anggota Pek-lian-kauw,” kata wanita itu. “Pendeknya, urusan Mayang mudah saja. Kalau aku tidak menggunakan sihir, aku masih mempunyai banyak cara untuk membuat dia lupa diri dan menyerah kepadamu. Yang penting, engkau harus merayu puteri bangsawan itu sedangkan aku akan merayu Cang Sun yang ganteng. Tapi untuk mereka tidak boleh menggunakan cara yang tidak wajar. Kita harus dapat membuat mereka benar-benar jatuh cinta agar kelak tidak mendatangkan hal yang dapat merugikan kita!”

Dengan bisik-bisik Bi Hwa menjelaskan rencananya jangka panjang. Kalau mereka sudah dapat menguasai keluarga Cang, tentu akan mudah bagi mereka untuk mempergunakan pengaruh serta kekuasan Menteri Cang untuk mempengaruhi kaisar! Kemudian mereka dapat mengatur siasat demi keuntungan gerakan Pek-lian-kauw. Dari situ mereka seperti menemukan anak tangga untuk mencapai kedudukan atau keadaan yang lebih tinggi lagi.

Dengan berbisik-bisik mereka mengatur siasat sambil bermesraan melepas rindu, dan dari jendela kamar itu mereka bisa mengamati gerak-gerik Mayang agar jangan sampai gadis itu mengetahui pertemuan rahasia mereka.

Sementara itu, dengan sepenuh hati Mayang memberi petunjuk tentang ilmu silat kepada Cang Hui dan Cin Nio. Dua orang gadis ini merasa gembira bukan main karena Mayang merupakan guru yang jauh lebih lihai dan lebih menyenangkan dibandingkan perwira Coa yang kaku. Dengan adanya petunjuk Mayang, kedua orang gadis itu segera mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu silat. Sesudah mengajak kedua orang gadis itu berlatih silat tangan kosong, mereka lalu duduk mengaso sambil bercakap-cakap.

“Adik Hui, engkau adalah puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi. Engkau cantik jelita, kaya raya, mempunyai kedudukan mulia, tidak kekurangan apa pun juga. Pelayan cukup banyak, pengawal pun ada. Kenapa engkau bersusah payah mempelajari ilmu silat yang melelahkan? Apakah tidak sayang apa bila kulit tanganmu yang halus lunak itu nanti menjadi kasar?” Mayang bertanya sambil mengagumi kecantikan puteri bangsawan itu.

Cang Hui tertawa. “Heh-heh, engkau ini ada-ada saja, Mayang. Coba engkau bercermin. Engkau pandai ilmu silat, akan tetapi engkau tetap cantik jelita dan kulitmu demikian putih kemerahan dan begitu segar! Dan mengenai ilmu silat, aku menyukai ilmu silat semenjak ada seorang pendekar wanita yang dulu tinggal bersama kelurga kami. Aku amat kagum kepadanya dan aku ingin menjadi seperti dia!”

“Ehh? Pendekar wanita siapakah itu?”

“Enci Kui Hong. Cia Kui Hong...”

Sepasang mata yang sipit panjang dan bentuknya indah itu langsung terbelalak. Nama itu tentu saja amat mengejutkan Mayang karena dia tidak menyangka sama sekali.

“Ketua Cin-ling-pai...?” Mayang menegaskan karena belum yakin bahwa gadis itulah yang dimaksudkan oleh Cang Hui.

“Benar, engkau sudah mengenalnya, Mayang?”

Mayang mengangguk, merasa tidak perlu menceritakan sejelasnya. “Aku pernah bertemu dengannya. Siapa yang tidak mengenal ketua Cin-ling-pai itu?”

Pada saat itu pula Cin Nio berpamit. Dia hendak membantu di dapur seperti biasanya dan berjanji sore nanti akan mengajak Cang Hui untuk berlatih kembali. Setelah Cin Nio pergi, Cang Hui berkata lirih,

“Kasihan, Cin Nio selalu merasa tidak enak setap kali mendengar disebutnya nama enci Kui Hong.”

“Ehh, kenapakah?” tentu saja Mayang merasa heran sekali.

“Mayang, setelah beberapa hari tinggal di sini, engkau sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, maka biar akan kuceritakan tentang semua itu kepadamu. Ketahuilah bahwa pada saat enci Kui Hong tinggal di sini, membantu ayah untuk menyelidiki kekacauan di istana, ayah mempunyai keinginan untuk menjodohkan koko Cang Sun dengan enci Kui Hong.”

“Hemm, menarik sekali! Kakakmu memang seorang pemuda yang tampan dan terpelajar, juga budi pekertinya baik.”

“Ehh? Bagaimana engkau tahu kalau dia baik budi?”

“Melihat penampilannya saja sudah dapat diketahui. Dia sopan dan ramah,” kata Mayang, lalu membelokkan percakapan, “Lalu, bagaimana perjodohan itu?”

Cang Hui menggelengkan kepalanya. “Agaknya Sun-koko telah menyetujui dan mencinta enci Kui Hong, akan tetapi enci Kui Hong menolak karena dia sudah mempunyai pilihan hati pemuda lain.”

Disangkanya aku tidak mengerti, bisik hati Mayang dengan bangga. Pemuda pilihan hati ketua Cin-ling-pai itu bukan lain adalah kakak tirinya, kakak seayah kandung, yaitu Tang Hay!

“Sejak saat itu koko Cang tidak pernah mau kalau hendak dijodohkan dengan gadis lain sehingga membuat ayah dan ibu menjadi kesal. Ayah dan ibu lalu menarik adik Cin Nio ke mari untuk diperkenalkan dengan Sun-koko dan dicalonkan menjadi jodoh Sun-koko.”

“Baik sekali...,” kata Mayang.

“Apanya yang baik?” Cang Hui mengerutkan alis. “Sun-koko sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Cin-moi, kecuali sebagai anggota keluarga biasa. Cin-moi tahu bahwa dia hendak dijodohkan dengan Sun-koko, dan dia sudah mendengar pula tentang enci Kui Hong. Dan kurasa Cin-moi sudah terlanjur jatuh hati kepada kakakku, maka kasihan dia kalau kakakku selalu acuh terhadap dirinya.”

Mayang diam saja, melamun. Betapa banyak liku-liku cinta. Dia sendiri jatuh cinta kepada Sim Ki Liong, akan tetapi kadang-kadang dia merasa khawatir kalau-kalau pemuda yang dicintanya itu, yang tadinya pernah tersesat, akan kembali ke jalan sesat!

“Engkau beruntung, Mayang.” Sampai dua kali Cang Hui mengeluarkan ucapan itu, baru Mayang sadar.

“Apa…? Mengapa…?” tanyanya, agak gagap seperti orang baru terbangun dari mimpi.

“Hi-hi-hik, kau melamun, Mayang. Kukatakan bahwa engkau beruntung, memiliki seorang tunangan yang tampan dan gagah seperti Liong Ki. Memang engkau cocok sekali menjadi jodohnya. Sama elok wajahnya, sama gagah perkasa dan keduanya pendekar!”

“Hemm, mudah-mudahan Tuhan akan memberkahi kami, adik Hui,” kata Mayang dengan pikiran melayang jauh.

Kembali dia melamun. Kali ini dia membiarkan ingatannya melayang dan mengenangkan apa yang dia lihat dan dengar ketika malam tadi dia bercakap-cakap dengan Su Bi Hwa. Wanita itu dengan jujur mengakui bahwa dia tertarik kepada Cang Sun! Di depan Mayang Su Bi Hwa memuji-muji putera Menteri Cang itu, bahkan ada kata-katanya yang terngiang di telinganya, yang membuat dia mengerutkan alisnya.

“Aihhh, kalau saja aku bisa menjadi isterinya! Betapa akan bahagia rasa hatiku! Menjadi mantu Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal di seluruh negeri!”

Wanita cantik itu selalu nampak genit dan pesolek, bahkan dia pernah melihat Su Bi Hwa mencolek dan mencubit paha Ki Liong ketika mereka bicara dan mengira bahwa dia tidak melihatnya! Dia menekan perasaan cemburunya, namun menganggap bahwa main-main atau kelakar seperti itu sudah keterlaluan dan hanya dapat dilakukan oleh seorang gadis yang genit dan ‘ada apa-apanya’! Maka dia seperti melihat bahaya mengancam pemuda yang sopan dan ramah itu ketika mendengar akan pujian dan harapan Bi Hwa terhadap putera Menteri Cang!

“Engkau melamun lagi, Mayang!” tegur Cang Hui.

“Ahh, maaf... Aku hendak berpesan sesuatu kepadamu, adik Hui.”

“Eh? Apakah itu, Mayang? Katakanlah, engkau seperti penuh rahasia!” Gadis bangsawan itu tersenyum.

“Aku hanya ingin engkau memperingatkan kakakmu agar dia berhati-hati terhadap Liong Bi…!”

“Hemm, adik tunanganmu itu?”

Ingin dia meneriakkan bahwa wanita itu bukan adik Ki Liong, namun dia tidak menjawab, hanya melanjutkan pesannya. “Dia adalah wanita kang-ouw yang berpengalaman dan dia agaknya tertarik kepada kakakmu. Mungkin dia akan berusaha memikat hati kakakmu.”

Cang Hui terbelalak kemudian tersenyum. “Aih, Sun-koko tidak mudah tertarik oleh wanita semenjak cintanya terhadap enci Kui Hong kandas. Adik tunanganmu itu memang cantik dan ilmu silatnya tinggi, hanya sayang... bagiku dia terlalu genit. Aku pun tidak suka kalau kakakku bisa terpikat olehnya. Maaf, Mayang, aku bicara buruk tentang adik tunanganmu, calon adik iparmu. Tapi engkau sendiri juga menduga buruk terhadap dirinya. Baik, akan kusampaikan kepada kakakku.”

Meski pun hanya menyampaikan pesan seperti itu, hati Mayang merasa lega. Setidaknya pihak keluarga Cang sudah siap dan berhati-hati, pikirnya. Malam itu, Mayang gelisah di pembaringannya. Dia makin tidak tenang dan tidak betah tinggal di rumah keluarga Cang. Dia segera melihat bahwa keluarga itu terancam oleh Bi Hwa dan Ki Liong! Dia khawatir Ki Liong bersama Bi Hwa akan melakukan sesuatu yang jahat! Dia bukan saja tidak ingin keluarga yang amat baik budi itu terancam bahaya, terutama sekali dia tidak ingin kalau Ki Liong melakukan sesuatu yang jahat dan buruk.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 10

Cang Taijin tersenyum. Meski pun dia sendiri bukan ahli silat yang pandai, namun sudah banyak dia bertemu dengan para pendekar sehingga dia dapat menilai tingkat kepandaian seseorang dari gerakannya dan tenaga yang terkandung dalam gerakan itu.

“Baik, kau undang gurumu ke sini!”

Cang Hui lalu memperlihatkan kegesitannya. Dahulu sebelum belajar ilmu silat, dia adalah seorang gadis yang gerak-geriknya lemah lembut walau pun semenjak kecil dia memang memiliki pembawaan lincah jenaka. Kini dia meninggalkan ruangan itu sambil berlari dan gerakannya nampak gesit sekali.

Melihat ini diam-diam Liong Ki dan Liong Bi menahan senyum mereka. Gadis bangsawan yang baru satu atau dua tahun belajar silat itu tentu saja tidak ada artinya bagi mereka.

Setelah Coa-ciangkun (Perwira Coa) yang usianya sudah enam puluh tahun itu muncul, Cang Taijin lantas memberi tahukan bahwa dia menerima tiga orang muda untuk bekerja sebagai pengawal keluarga, dan untuk itu dia minta kepada Coa-ciangkun untuk menguji ilmu kepandaian silat mereka.

Perwira yang bertugas sebagai sebagai guru silat dari puteri dan keponakan Cang Taijin itu menyanggupi dan mereka lalu pergi ke lian-bu-thia (ruang latihan silat) yang berada di sebelah belakang. Ruangan ini memang sengaja dibuat untuk keperluan Cang Hui berlatih silat, sebuah ruangan yang kosong dan cukup luas.

Bukan hanya Cang Taijin yang turut menonton, bahkan isterinya yang ingin sekali melihat kepandaian orang-orang yang akan menjadi pengawal keluarganya turut pula menonton. Suami isteri bangsawan ini duduk di sudut, ada pun Cang Sun juga duduk di situ bersama Cang Hui dan Teng Cin Nio.

“Ayah, biarlah aku dengan Cin Nio yang menguji wanita itu, dan nanti suhu yang menguji kakaknya. Aku ingin sekali tahu dan yakin bahwa orang yang dicalonkan sebagai guruku benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari suhu!”

Menteri Cang mengangguk, dan mendengar ini Coa-ciangkun segera mundur. Demikian pula Liong Ki meninggalkan adiknya yang akan diuji oleh puteri Menteri Cang sendiri.

Teng Cin Nio yang diam-diam telah jatuh hati kepada Cang Sun, pemuda yang dicalonkan menjadi suaminya, bagaimana pun juga ingin memamerkan kepandaiannya di depan pria yang dikasihinya. Maka dia pun bangkit dan memberi hormat kepada paman dan bibinya.

“Saya mohon perkenan Paman dan Bibi untuk menandingi wanita ini.”

“Ehh, nanti dulu, Cin-moi. Biar aku yang maju lebih dulu melawannya, baru nanti engkau yang maju kalau aku sudah mengukur kepandaiannya,” kata Cang Hui yang juga bangkit berdiri. Melihat dua orang gadis cantik itu berebut, Liong Bi tersenyum ramah.

“Ji-wi siocia (nona berdua) harap jangan sungkan. Silakan maju bersama agar ji-wi dapat berlatih dan sekalian menguji apakah aku pantas menjadi guru ji-wi atau tidak,” kata-kata ini diucapkan dengan suara lembut dan ramah sehingga tidak terdengar seperti tantangan, bahkan sikapnya seolah membimbing.

“Baik, kalau begitu kami akan maju bersama!” kata Cang Hui. “Mari, Cin-moi!” Keduanya menghampiri Liong Bi dan wanita ini kembali tersenyum dan berkata halus.

“Ji-wi siocia, karena ini hanya merupakan suatu ujian, maka sebaiknya kalau sebelumnya diadakan aturan tertentu. Aturan ini hanya berlaku untukku, bukan untuk ji-wi. Ji-wi (kalian berdua) boleh menyerangku sesuka hati, dengan tangan kosong atau dengan senjata apa pun boleh. Aku tak akan balas memukul, tapi aku hanya akan berusaha untuk mengambil perhiasan rambut ji-wi tanpa melukai ji-wi, kemudian aku akan mengembalikannya lagi dan ji-wi boleh mengelak atau menghalangi. Bagaimana pendapat ji-wi dengan aturan itu?”

Dua orang gadis itu bertukar pandang, bahkan Cang Sun dan ayah ibunya diam tertegun. Demikian lihaikah Liong Bi, atau amat sombong?

“Wah, kalau begitu kalian tidak boleh mempergunakan senjata!” seru Cang Sun kepada kedua orang gadis itu.

“Tidak,” kata Menteri Cang. “Gadis itu diuji untuk menjadi pengawal, dalam pekerjaannya dia mungkin harus berhadapan dengan penjahat atau pembunuh! Sebaiknya kalau kalian menggunakan senjata yang biasa kalian latih.”

Mendengar ini Cang Hui dan Cin Nio segera menghampiri rak senjata dari mana mereka masing-masing mengambil sepasang pedang yang biasa menjadi senjata mereka ketika berlatih. Coa-ciangkun sendiri hanya berdiri menonton. Dia tahu bahwa dua orang gadis yang menjadi muridnya itu masih mentah dalam ilmu silat mereka, akan tetapi jika mereka maju bersama dengan siang-kiam (sepasang pedang), apa lagi kalau lawan tidak boleh membalas, mereka akan cukup membahayakan lawan. Untuk dapat menang seperti yang dijanjikan tadi, wanita cantik itu harus mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat hebat!

Kini Cang Hui dan Cin Nio telah berdiri di depan Liong Bi, dengan kedua pedang bersilang di depan dada, suatu pasangan kuda-kuda yang mereka pelajari dari guru mereka. Coa-ciangkun adalah murid Kun-lun-pai, maka ilmu pedang pasangan yang dikuasai dua orang gadis itu adalah ilmu pedang Kun-lun-pai. Liong Bi yang mengenal berbagai macam ilmu pedang, sekali lihat saja tahu bahwa dua orang gadis itu menguasai ilmu pedang Kun-lun.

“Nah, ji-wi Siocia boleh memulai. Seranglah aku dan tidak perlu sungkan lagi!” tantangnya dengan suara lembut dan ramah, tidak mengandung kesombongan.

“Lihat pedang!”

“Jaga seranganku!”

Dua orang gadis itu segera menggerakkan pedang mereka, Cang Hui menyerang dengan tusukan ke arah perut sedangkan pedang kiri Cin Nio menyambar ke arah leher. Serangan ini dilanjutkan dengan pedang ke dua.

Namun gerakan Liong Bi amat lincahnya. Dengan tenang dan mudah saja dia mengelak dengan langkah ke belakang, bahkan ketika pedang ke dua menyambar ke arah kaki dan kepala, dia pun dapat menghindarkan diri dengan tenang saja. Memang gerakan kedua orang gadis bangsawan itu terlampau lamban bagi wanita yang telah menguasai ilmu silat tinggi dengan amat mahir ini.

Pada saat itu Coa-ciangkun yang menjadi penonton terlihat mengerutkan alisnya. Tadi dia menganggap wanita cantik itu terlampau sombong, menyuruh kedua orang muridnya maju mengeroyok dengan senjata sedangkan wanita itu bertangan kosong bahkan mengajukan peraturan yang sangat merugikan dirinya sendiri, yaitu menghadapi dua orang lawan yang berpedang tanpa membalas, bahkan harus mengambil hiasan rambut tanpa melukai, lalu mengembalikannya lagi! Hal ini bukan main-mian.

Akan tetapi, pada waktu dia melihat gerakan wanita itu menghindarkan diri, diam-diam dia terkejut sekali karena dia segera mengenal gerakan seorang ahli silat yang telah matang! Buktinya, gerakan Liong Bi bukan sekedar mengelak menjauhkan diri saja atau asal tidak terkena serangan lawan saja. Liong Bi justru berani mengelak dengan gerakan mendekat, dengan perhitungan matang bahwa biar pun dekat, kedudukannya itu menyulitkan lawan untuk menyerang. Sepasang kakinya membuat langkah-langkah aneh, tetapi selalu ujung pedang kedua orang gadis itu tidak pernah mampu menyentuhnya, bahkan beberapa kali pedang kedua orang gadis itu berbenturan satu sama lain!

Setelah membiarkan dua orang gadis itu menyerangnya dan dia hanya mengelak ke sana sini sampai dua puluh jurus lebih, tiba-tiba wanita cantik itu mengeluarkan bentakan halus namun nyaring.

“Ji-wi siocia, awas terhadap seranganku! Lindungi hiasan rambut kalian!”

Mendengar peringatan ini, Cang Hui dan Cin Nio cepat-cepat memutar sepasang pedang mereka, membentuk perisai untuk melindungi kepala mereka agar hiasan rambut mereka tidak sampai terampas.

Namun mendadak mereka terkejut bukan kepalang dan menjadi bingung. Bahkan semua penonton termasuk Coa-ciangkun terkejut melihat betapa tiba-tiba tubuh wanita itu lenyap bentuknya dan yang nampak hanyalah bayangan berkelebat cepat sekali, membuat dua orang gadis itu merasa seolah-olah mereka menghadapi lawan yang banyak sekali dan menyerang dari segala jurusan!

Mereka berusaha untuk melindungi kepala dengan sepasang pedang mereka. Tetapi tiba-tiba saja dua orang gadis itu merasa betapa sepasang lengan mereka lumpuh kehilangan tenaga dan pedang mereka seperti terbang meninggalkan tangan mereka, lantas mereka merasa betapa hiasan rambut mereka direnggut orang. Sesudah mereka memutar tubuh memandang, ternyata wanita itu telah memegang empat batang pedang pada satu tangan dan dua buah hiasan rambut di tangan yang lain!

“Maafkan, ji-wi siocia, ini pedang ji-wi saya kembalikan!” kata Liong Bi sambil menjulurkan tangan yang memegang empat batang pendang, digenggam begitu saja pada ujungnya yang tajam!

Hanya Coa-ciangkun dan Cang Taijin yang mampu melihat betapa wanita cantik itu tadi menggunakan ilmu menotok yang luar biasa sehingga membuat kedua lengan dua orang gadis itu kehilangan tenaga, kemudian dengan mudah merampas empat batang pedang dan dengan gerakan secepat kilat tangan kanannya merenggut hiasan rambut dari kepala mereka!

Cang Hui adalah seorang gadis yang keras hati dan amat pemberani. Walau pun Cin Nio sudah menjadi gentar dan tunduk, akan tetapi dia masih merasa penasaran. “Kami tidak membutuhkan pedang yang telah terampas! Kau kembalikan saja hiasan rambut di kepala kami, dan kami akan mencegah dengan kedua tangan kami saja!”

Gadis ini berani dan juga cerdik. Tadi pun dia sudah mendapat kenyataan betapa dia dan Cin Nio sama sekali tidak berdaya dengan sepasang pedang, bahkan pedang itu menjadi penghalang melindungi kepala. Maka ia memilih tanpa senjata saja agar kedua tangannya mampu melindungi kepala dan mencegah wanita cantik itu mengembalikan hiasan rambut mereka.

Dia memasang kuda-kuda, lantas mengambil tempat di belakang Cin Nio dengan beradu punggung sehingga mereka dapat saling melindungi bagian belakang, sedangkan kedua tangan mereka dapat dipergunakan untuk melindungi bagian depan. Wanita ini tentu akan sukar sekali untuk dapat mengembalikan hiasan rambut ke kepala mereka!

Liong Bi mengangguk dan tersenyum. “Bagus! Siocia memang cerdik sekali. Biarlah saya kembalikan dulu dua pasang pedang ini!”

Wanita itu lantas memandang ke arah rak senjata di sudut jauh. Sekali dia menggerakkan tangan kiri yang menggenggam empat batang pedang pada ujungnya, maka empat batang pedang itu langsung meluncur ke arah rak itu, bagaikan empat ekor burung yang terbang berlomba. Dan semua orang, termasuk Coa-ciangkun, terbelalak heran dan kagum ketika melihat betapa dua pasang pedang itu dengan tepat memasuki lubang di rak senjata itu seperti dimasukkan dengan tangan saja!

Cang Taijin mengangguk-angguk. Dari gerakan ini saja dia tahu bahwa memang wanita itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, mengingatkan dia akan kelihaian Cia Kui Hong!

“Hu-ji, lanjutkan ujian itu!” teriaknya kepada puterinya dan nada suaranya gembira.

Biar pun kini Cang Hui juga gentar melihat betapa wanita cantik itu dapat mengembalikan empat batang pedang seperti itu, namun dia masih penasaran. Maka, mendengar teriakan ayahnya dia segera memberi isyarat kepada Cin Nio dan keduanya menyerang Liong Bi sambil mengeluarkan semua jurus pilihan dengan pengerahan seluruh tenaga mereka.

Seperti juga tadi Liong Bi hanya mengelak saja, bahkan menangkis pun tidak karena dia tak ingin menyakiti dua orang gadis itu. Gerakannya memang jauh lebih lincah, bagaikan seekor burung walet saja dia menyelinap di antara empat tangan serta empat kaki yang menyambar-nyambar menyerangnya.

Karena Liong Bi berloncatan ke arah belakang dua orang gadis itu, hal ini membuat Cang Hui dan Cin Nio terpaksa sering kali memutar tubuh dengan cepat. Dan gerakan ini mulai membuat keduanya berkeringat dan napas mereka memburu setelah lebih dari tiga puluh jurus mereka menyerang sekuat tenaga namun serangan mereka selalu mengenai tempat kosong belaka.

Karena kelelahan, apa lagi tadi juga sudah memainkan siang-kiam, gerakan kedua orang gadis ini menjadi lambat. Akhirnya, dengan kecepatan luar biasa, ketika dua orang gadis itu menyerang, seperti terbang tubuh Liong Bi dengan loncatan ke atas berjungkir balik di udara, lantas dengan kepala di bawah tubuhnya kini meluncur turun, didahului oleh kedua tangannya dan tahu-tahu hiasan rambut itu sudah berada kembali di kepala Cang Hui dan Cin Nio, terpasang dengan rapi!

Cang Taijin bertepuk tangan, sedangkan isterinya tersenyum-senyum kagum, juga Cang Sun bertepuk tangan lebih keras dari pada ayahnya. Coa-ciangkun mengangguk-angguk dan memandang kagum pula. Cang Hui dan Cin Nio juga menjadi kagum dan Cang Hui kehilangan rasa penasarannya. Ia sudah takluk dan bahkan girang mendapatkan seorang guru yang demikian pandainya.

“Engkau memang hebat, enci Liong Bi!” katanya memuji.

“Aih, Siocia terlalu memuji. Siocia juga mempunyai bakat yang baik sekali,” kata Liong Bi, bukan sekedar menyenangkan hati puteri bangsawan itu melainkan memang sebenarnya gadis itu memiliki bakat yang baik untuk belajar ilmu silat.

“Sekarang harap Coa-ciangkun suka menguji saudara Liong Ki!” kata Cang Sun gembira dan Menteri Cang juga mengangguk ke arah Coa-ciangkun.

Perwira itu ada;ah bawahan Menteri Cang. Andai kata tidak menjadi guru dua orang gadis itu pun dia tetap seorang perwira yang mempunyai tugas lain. Baginya, baik menjadi guru kedua orang gadis itu atau tidak, sama saja dan tidak ada bedanya karena mengajar dua orang gadis itu pun merupakan pelaksanaan tugas yang diperintahkan atasannya.

Kini dia diberi tugas untuk menguji kepandaian pemuda yang katanya kakak dari wanita cantik itu. Dia dapat menduga bahwa kalau adiknya yang perempuan saja demikian lihai, apa lagi kakaknya. Dia pun bangkit, memberi hormat kepada Menteri Cang dan isterinya, kemudian melangkah ke tengah ruangan.

Liong Ki juga memberi hormat kepada tuan rumah, lalu melangkah maju menghadapi Coa-ciangkun dan memberi hormat kepada perwira itu. “Ciangkun, maafkanlah dan bermurah hatilah kepada saya yang muda.”

Ucapan itu sungguh merupakan ucapan yang merendah. Mendengar ini dan melihat sikap pemuda itu, senanglah hati Coa-ciangkun. Orang muda ini tentu lihai dan sikapnya sopan dan rendah hati, sungguh akan merupakan hamba yang baik dan dapat diandalkan. Tapi bagaimana pun juga dia harus yakin dengan kemampuan pemuda yang hendak dijadikan pengawal pribadi atasannya ini.

“Orang muda yang gagah, kalau melihat tingkat kepandaian adikmu, aku dapat mengerti bahwa engkau tentu lihai bukan main. Harap jangan sungkan, aku hanya bertugas untuk menguji kepandaianmu.”

“Kalau begitu silakan, Ciangkun. Bagaimana Ciangkun hendak mengatur ujian ini? Dengan bertangan kosong? Ataukah bersenjata?”

Coa-ciangkun menghadap Menteri Cang dan bertanya, “Taijin, bolehkah saya mengujinya dengan cara saya untuk melihat apakah dia benar-benar cakap untuk menjadi pengawal pribadi Taijin?”

Menteri Cang mengangguk-angguk. “Lakukanlah, Ciangkun. Engkau lebih tahu bagaimana harus menguji calon pengawal pribadi yang baik.”

“Terima kasih, Taijin,” kata perwira itu yang kini menghadapi pemuda itu lagi. “Liong-sicu (orang gagah Liong), menjadi pengawal pribadi atau pengawal keluarga harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan adanya bahaya yang mengancam. Mending kalau yang mendatangkan bahaya hanya seorang saja, akan tetapi sanggupkah engkau menghadapi serbuan lima orang pengacau?”

“Tentu saja, Ciangkun. Kalau saya sudah menjadi pengawal, maka saya akan melindungi dan membela keselamatan yang saya kawal dengan taruhan nyawa saya.”

“Bagus kalau begitu! Nah, katakanlah bahwa saya bersama lima orang anak buah saya menyerbu rumah Cang Taijin dan engkau harus melindungi keselamatan keluarga beliau.”

Perwira itu melangkah ke pintu dan memanggil lima orang pengawal yang masing-masing mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi karena mereka itu adalah para sute (adik seperguruan) darinya. Lima orang prajurit itu masuk, memberi hormat kepada keluarga Menteri Cang, kemudian atas isyarat suheng mereka, mereka berdiri mengepung Liong Ki dalam bentuk setengah lingkaran.

“Liong-sicu, kami berenam adalah pengacau-pengacau yang menyerang rumah keluarga yang kau lindungi. Kami semua bersenjata dan kami akan menyerang dengan sungguh-sungguh. Sanggup dan beranikah engkau menghadapi kami? Karena ini hanya ujian, tentu saja engkau tak boleh melukai kami, hanya boleh merobohkan tanpa melukai. Sanggup?”

“Nanti dulu!” Cang Sun berseru. “Tidak adil kalau begini. Masa seorang dikeroyok enam orang? Di sini masih ada nona Liong Bi, dan ada pula tunangan saudara Liong Ki. Mereka bertiga tentu juga akan bergerak melawan kalau rumah ini diserbu enam orang penjahat!”

Akan tetapi sambil tersenyum ramah Liong Bi lalu berkata. “Biarkan saja, Cang-kongcu. Kurasa kakakku masih akan dapat menghadapi keroyokan enam orang penguji itu. Nanti kalau dia kewalahan baru aku akan membantunya, kalau saja diperbolehkan.”

Mendengar ini Cang-taijin yang sudah merasa gembira dan kagum itu lalu berkata, “Tentu saja boleh kalau nanti engkau hendak membantu kakakmu.”

Kini Perwira Coa sudah mencabut pedangnya. Melihat ini, lima orang sute-nya juga turut mengeluarkan senjata mereka, ada yang memegang golok, ada yang membawa tombak, dan ada pula yang menggenggam pedang. Perwira Coa lantas berkata, Nah, Liong-sicu, keluarkan senjatamu untuk menghadapi keroyokan kami.”

Liong Ki melolos sabuknya, selembar sabuk sutera yang berwarna biru muda, lemas dan panjangnya ada dua meter. Dia menggerakkan tangan kanan dan sabuk itu melayang ke atas, membuat lingkaran dan membelit-belit lengannya sampai tergulung semua.

“Inilah senjataku, Ciangkun. Cu-wi (kalian semua) mulailah!”

Liong Ki memang tampan dan gagah sehingga dua orang gadis itu memandang dengan penuh kagum. Alangkah gagahnya pemuda itu, tetap bersikap demikian tenangnya ketika menghadapi enam orang bersenjata tajam yang hendak mengeroyoknya, bahkan hanya mempergunakan sehelai sabuk sutera tipis dan lemas sebagai senjatanya! Semua orang memandang tegang kecuali tentu saja Liong Bi. Wanita ini yakin benar bahwa kakaknya akan mampu menandingi pengeroyokan enam orang itu.

“Liong-sicu, awas, kami mulai menyerang!” kata Coa-ciangkun dan dia mendahului sute-nya untuk menyerang dengan pedangnya.

Gerakannya cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga pedangnya berubah menjadi sinar terang dan menimbulkan bunyi bersiutan saat menyambar! Gerakan pedang ini segera disusul oleh gerakan senjata lima orang sute-nya. Karena mereka merupakan prajurit-prajurit yang biasa bertempur sebagai pasukan, terlebih lagi mereka adalah kakak-beradik seperguruan yang mengenal ilmu silat masing-masing, maka gerakan mereka itu amat teratur dan rapi, tidak simpang siur dan saling mendukung.

Tadinya semua orang memandang tegang melihat enam buah senjata menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan menyambar-nyambar ke arah tubuh pemuda itu. Tetapi mereka pun lalu terbalalak kagum ketika tubuh Liong Ki lenyap dan terbungkus lingkaran gulungan biru yang dihasilkan oleh sabuk suteranya. Bahkan Liong Bi juga memandang kagum. Kakaknya memang hebat, lebih hebat darinya!

Dan keenam orang pengeroyoknya itu terkejut karena setiap kali senjata mereka bertemu dengan sabuk yang sinarnya bergulung-gulung itu, mereka merasa betapa telapak tangan mereka tegetar hebat! Bahkan pertemuan antara senjata dengan sabuk itu menimbulkan suara berdenting seolah-olah sabuk itu berubah menjadi baja yang kaku! Itu menunjukkan bahwa pemuda itu memang memiliki tenaga sinkang yang sudah tinggi tingkatnya, dapat membuat sabuk sutera menjadi keras dan kaku.

Mula-mula Liong Ki mempergunakan kelincahan gerakannya yang didasari ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi. Tubuhnya berkelebatan laksana kilat dan menyelinap di antara gulungan sinar enam buah senjata. Hanya kadang-kadang saja pengelakannya dibantu dengan tangkisan sabuk suteranya.

Sampai belasan jurus dia menghindarkan serangan-serangan itu dengan mengandalkan keringanan tubuh dan kecepatan gerakannya. Memang tampaknya lucu dan indah. Enam orang itu seperti enam orang anak-anak yang berlomba menangkap seekor burung walet yang beterbangan di antara mereka.

Setelah lewat belasan jurus, Liong Ki mengubah permainannya. Dia tidak lagi berloncatan mengelak, melainkan berdiri tegak sambil memutar sabuknya. Sabuk itu berubah menjadi benteng sinar biru yang membentengi dirinya sehingga semua serangan yang datang dari depan, kanan kirii dan atas itu terpental kembali sesudah bertemu dengan benteng sinar sabuk biru itu!

Berulang kali enam orang itu mengerahkan tenaga, menggunakan senjata mereka untuk menyerang dan menembus perisai atau benteng sinar biru, akan tetapi semua serangan itu gagal karena senjata mereka terpental seperti bertemu dengan kitiran baja yang amat kuat!

Kalau pengeroyok berusaha untuk mengelilinginya, Liong Ki memutar tubuh dan gulungan sinar itu pun menyelimuti seluruh tubuhnya! Sampai belasan jurus Liong Ki mengandalkan senjata yang istimewa itu untuk menghalau semua serangan, sama sekali tidak mengelak lagi.

“Awas, jaga senjata kalian!” Tiba-tiba Liong Ki berseru lantas gerakan sabuknya berubah, kini berlenggak-lenggok seperti gerakan ular.

Tiba-tiba seorang pengeroyok berteriak kaget. Pedangnya terlibat ujung sabuk dan begitu ditarik, pedang itu pun segera terlepas dari pegangannya! Coa-ciangkun cepat menerjang dengan pedangnya, membacok ke arah sabuk itu untuk merampas kembali pedang anak buahnya yang terampas.

“Tranggg...!”

Hampir saja pedang itu lepas dari tangan Coa-ciangkun setelah ujung sabuk itu membalik dan pedang rampasan itu menangkis pedangnya. Kemudian, sekali ujung sabuk bergerak, pedang rampasan itu sudah terbang ke arah rak senjata dan menancap di papan rak!

Sekarang sabuk itu mengamuk. Bagaikan seekor ular besar atau seekor naga, sabuk itu menyambar-nyambar dengan amat cepatnya sehingga para pengeroyok yang tinggal lima orang itu menjadi terkejut dan menggerakkan senjata melindungi diri. Akan tetapi berturut-turut empat orang anak buah Coa-ciangkun berteriak dan senjata mereka satu demi satu beterbangan karena dirampas ujung sabuk dan semua senjata itu menancap pada papan rak senjata! Tinggal Coa-ciangkun seorang!

Coa-ciangkun yang merasa penasaran segera menerjang dengan nekat. Akan tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti dan tahu-tahu tubuhnya telah terbelit-belit sabuk sutera sehingga kedua lengannya tak mampu digerakkan lagi, juga pedang di tangannya! Dia hanya dapat berdiri tegak dengan mata terbelalak!

“Ciangkun, maafkan aku!” kata Liong Ki kemudian sekali menggerakkan tangan, sabuk itu pun melepaskan libatannya.

Cang Sun dan semua orang bertepuk tangan memuji. Mau tidak mau Coa-ciangkun harus mengakui kehebatan ilmu kepandaian pemuda itu. Dia memberi hormat kepada Menteri Cang dan berkata dengan hati tulus.

“Harap paduka ketahui bahwa kepandaian Liong-sicu ini benar-benar sangat tangguh dan dapat dipercaya untuk menjadi pengawal pribadi paduka.”

Tentu saja Menteri Cang girang sekali, terutama Cang Sun juga merasa gembira karena dua orang penolongnya itu dapat diterima oleh ayahnya. Bahkan Cang Hui juga merasa gembira. Dia mendekati Liong Bi dan berkata,

“Enci, engkau harus mengajarkan ilmu silatmu yang sangat lincah tadi, dan cara engkau merampas senjata lalu melemparkannya ke rak senjata! Aku tidak akan menyebut engkau subo (ibu guru). Engkau masih terlalu muda untuk menjadi ibu guru. Biar kusebut engkau enci (kakak) saja!”

Liong Bi menjura dengan sikap hormat. “Jangan khawatir, Siocia. Aku akan mengajarkan kepadamu semua ilmu yang kuketahui...”

“Aku juga, Enci Liong Bi...,” kata Teng Cin Nio.

Liong Bi merasa ragu-ragu karena dia belum tahu siapa gadis cantik pendiam ini. Melihat keraguan wanita itu, Cang Sun cepat berkata, “Dia juga, Enci. Dia bernama Teng Cin Nio, adik misanku dan dia pun merupakan anggota keluarga kami, bahkan calon anggota yang dekat sekali.”

Liong Bi mengangguk dan tersenyum. “Baiklah, akan kuajarkan kepada kalian berdua.”

Liong Ki dan Liong Bi lalu berpamit untuk mengambil pakaian di rumah penginapan, juga untuk menjumpai tunangan Liong Ki yang ditinggalkan di rumah penginapan. Menteri Cang menyetujui dan mereka pun meninggalkan gedung itu dengan hati dipenuhi kegembiraan karena cita-cita mereka sudah tercapai.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Para pembaca tentu dapat menduga siapa Liong Ki dan Liong Bi itu. Mereka adalah Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa! Itulah rencana siasat yang diatur oleh Su Bi Hwa pada malam hari dia berasil memikat Ki Liong sehingga pemuda itu tidur sekamar dengannya, tanpa diketahui Mayang yang tidur sendiri di kamar lain.

Wanita itu memang cerdik dan berpengalaman. Dia adalah seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang sejak kecil telah ditanamkan bibit kebencian terhadap pemerintah. Akan tetapi usahanya bersama Pek-lian Sam-kwi untuk menghancurkan Cin-ling-pai telah gagal total, bahkan dia nyaris tewas seperti yang dialami tiga orang gurunya, yaitu Pek-lian Sam-kwi.

Dia berhasil lolos. Ketika bertemu dengan Sim Ki Liong segera dia mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya. Dia mendapatkan seorang kekasih yang tampan dan gagah perkasa, yang menguasai ilmu silat tinggi lebih tangguh darinya, dan pada diri pemuda itu dia menemukan pula seorang sekutu yang amat baik dan dapat diandalkan. Maka dia pun segera menyusun siasat untuk bertualang bersama pemuda itu ke kota raja dan mencari kedudukan agar sesudah memperoleh kedudukan, hal itu dapat dimanfaatkan demi Pek-lian-kauw!

Sim Ki Liong telah mabuk akan kesenangan yang diberikan oleh wanita cantik itu. Dia pun melihat bahwa wanita itu berpengalaman dan cerdik sekali. Karena itu dia hanya menurut saja dan demikianlah, di Nan-king mereka meninggalkan Mayang di rumah penginapan lalu keduanya segera keluar untuk memulai dengan petualangan mereka.

Agaknya bintang mereka memang sedang terang. Secara kebetulan sekali hari itu Cang Sun keluar seorang diri dan pergi ke danau. Sejak tadi dua orang petualang itu memang melakukan pengintaian terhadap rumah gedung itu, sesuai dengan rencana Bi Hwa untuk ‘mendekati’ keluarga Cang yang dia tahu memiliki kekuasaan tertinggi di samping Menteri Yang Ting Hoo setelah kaisar sendiri.

Su Bi Hwa telah mempunyai data lengkap tentang keluarga itu. Karena itu, ketika melihat Cang Sun dia lalu mengajak Sim Ki Liong untuk membayanginya. Ketika melihat bahwa pemuda bangsawan itu berperahu seorang diri, cepat Su Bi Hwa mengatur siasat.

Dia menyuruh Ki Liong menyamar sebagai penculik dengan berkedok, menculik pemuda bangsawan itu dan dia sendiri lantas muncul sebagai penolong! Akhirnya mereka berdua berhasil diterima sebagai pengawal keluarga Cang!

Mayang menyambut mereka dengan cemberut. “Dari mana saja kalian?” tegurnya kepada mereka.

Ki Liong menjawab dengan wajah berseri-seri. “Ah, kami beruntung sekali, Mayang! Kami sudah berhasil baik sekali! Kau tentu tidak dapat menduga apa yang telah kami capai.”

“Hemmm…” Mayang menyambut kegembiraan itu dengan sikap dingin saja. “Kalian baru pulang dari rumah Menteri Cang Ku Ceng! Apa yang kalian lakukan di sana?”

Dua orang itu terkejut dan terbelalak. “Ehh? Engkau sudah tahu? Mayang, kami... Eh, kita bertiga sudah diterima menjadi pengawal-pengawal keluarga Cang! Bayangkan! Kini kita sudah menjadi pengawal keluarga menteri yang sangat terkenal itu. Kita akan mempunyai penghasilan besar, berkedudukan tinggi terhormat, dan hidup kita terjamin!”

“Itu benar, adik Mayang. Menteri Cang berkenan menerima kita bertiga menjadi pengawal keluarga. Tunanganmu ini menjadi pengawal pribadi sang menteri, sedangkan kita berdua menjadi pengawal keluarganya. Bukankah itu bagus sekali?”

Akan tetapi mayang masih mengerutkan alisnya. “Hemmm, betapa pun bagusnya, kalian sudah melakukan penipuan! Kalian kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan terhadap pemuda bangsawan di perahu itu? Kalian menipunya untuk mencari pahala!”.

Kembali Ki Kiong dan BI Hwa saling pandang dan mereka terkejut bukan main. “ Mayang, jadi engkau tahu semuanya?”

“Kau kira aku ini anak kecil yang dapat kalian bohongi begitu saja? Semenjak kalian pergi hatiku sudah tidak enak. Aku lalu pergi menyusul dan melihat kalian pergi keluar kota. Aku membayangi terus, kemudian melihat segala yang terjadi dengan penuh keheranan dan penasaran!”

“Adik Mayang, maafkan aku.Terus terang saja, pembesar yang kukenal itu sudah pindah. Kebetulan sekali kami melihat Cang-Kongcu, lalu kami membayangi dia ke danau,” kata Bi Hwa membela kekasihnya yang sejenak kebingungan itu.

“Benar, Mayang. Melihat dia timbullah harapan kami. Menteri Cang merupakan pembesar yang berkedudukan tinggi. Apa bila kita dapat menghambakan diri kepadanya, tentu kita akan mendapat kesempatan besar sekali untuk berjasa kepada negara dan memperoleh kedudukan yang baik.”

“Tapi, kalau hendak bekerja kepadanya, kenapa harus menggunakan tipu muslihat, pura-pura menculk puteranya kemudian dibebaskan?” Mayang membantah, masih marah.

“Adik Mayang, terus terang saja semua ini adalah rencanaku. Saudara Sim Ki Liong tidak bersalah. Aku pun mempergunakan siasat itu hanya karena terpaksa. Kita membutuhkan pekerjaan dan kami tadi tidak mencelakai orang. Semuanya itu hanya sandiwara belaka. Tanpa mempergunakan siasat itu, bagaimana mungkin Menteri Cang Ku Ceng menerima kami? Kami tidak mengenalnya dan tidak ada perantara yang bisa memperkenalkan kami. Dengan jalan itu terbukti kami berhasil diterima menjadi pengawal-pengawal keluarga.”

“Benar, Mayang. Semuanya ini demi kebaikan kita dan juga kebaikanmu. Kalau aku telah mendapatkan pekerjaan yang tetap, kedudukan yang baik, tentu aku tak perlu malu untuk menghadap ibumu dan subo-mu.”

Karena di bujuk-bujuk dua orang itu, akhirnya Mayang terpaksa menerima juga. “Baiklah, akan kulihat saja bagaimana perkembangannya di sana nanti,” katanya.

Ki Liong girang bukan main. “Tetapi untuk membuat mereka tidak bercuriga, kami sudah menggunakan nama palsu dan mengaku sebagai kakak-beradik, Mayang. Aku memakai nama Liong Ki dan dia bernama Liong Bi, adikku.”

“Aku tidak mau menggunakan nama palsu seperti penjahat!” kata Mayang, kembali sambil mengerutkan asisnya.

Diam-diam Ki Liong memberi isyarat kepada Bi Hwa untuk meninggalkan mereka. Bi Hwa menangkap isyarat ini dan dia pun berkata sambil melangkah keluar.

“Kalian bicaralah, aku hendak mengemasi pakaian.”

Sesudah Bi Hwa pergi, Ki Liong berkata, “Mayang lupakah engkau siapa aku ini? Engkau tentu masih ingat bahwa aku adalah seorang berdosa. Sesudah bertemu dengan engkau baru aku berusaha untuk kembali ke jalan benar! Aku pernah menyeleweng, Mayang, dan engkau tahu benar akan hal ini. Demi cintaku kepadamu, aku harus berusaha keras untuk kembali ke jalan benar!”

“Kalau hendak kembali ke jalan benar, kenapa harus menipu keluarga itu?”

“Aih, Mayang, pikirkan dulu jangan berkeras. Aku melakukan sandiwara itu hanya dengan satu tujuan, agar aku diterima di sana dan mendapatkan pekerjaan. Sesudah aku bekerja dengan baik, bukankah itu berarti aku sudah kembali ke jalan yang benar? Aku terpaksa menggunakan nama palsu. Kalau aku menggunakan nama sendiri dan kemudian Menteri Cang tahu bahwa aku pernah melakukan penyelewengan, apakah dia akan mau memberi pekerjaan kepadaku? Bersikaplah adil, Mayang..., semua ini kulakukan demi engkau!”

Mayang mengerutkan alisnya, akan tetapi dia diam saja. Dia tahu kebenaran alasan pria yang dicintanya itu. Memang kekasihnya itu dahulu pernah menyeleweng dan membantu golongan sesat, tapi kini telah bertobat, bahkan sudah membuktikan mau mengembalikan pedang ke Pulau Teratai Merah. Kalau kini kekasihnya itu terpaksa menggunakan nama palsu agar dapat memperoleh pekerjaan dan kedudukan yang baik, apa salahnya?

“Baiklah, akan kulihat perkembangannya nanti,” katanya mengulang pendapatnya tadi.

Ki Liong merangkul dan mencium pipinya. Sejenak Mayang terlena. Bagaimana pun juga dia kagum dan tertarik kepada pria ini, bahkan mencintanya, maka tentu saja cumbuan ini mendatangkan kemesraan dan kebahagiaan hatinya. Akan tetapi dia teringat Bi Hwa dan dengan lembut namum pasti dia melepaskan rangkulan pemuda itu.

“Mari kita berkemas! Dan di sana, biar pun engkau mengaku bahwa aku ini tunanganmu, akan tetapi engkau jangan macam-macam dan jangan membuat aku menjadi malu.”

Dengan senyum menawan dan sikap menarik Ki Liong memberi hormat, berlagak seperti menghormati seorang puteri dan berkata, “Baik, tuan puteri, hamba pasti akan mematuhi perintah paduka!”

“Cih, tak usah merayu!” Mayang berkata ketus, akan tetapi matanya tersenyum.

Harus diakuinya bahwa dia memang tertarik dan mencinta pemuda ini, walau pun kadang-kadang hatinya kesal jika teringat akan masa silam kekasihnya itu dan mengkhawatirkan masa depannya, kalau-kalau penyakit kekasihnya akan kambuh lagi, yaitu menyeleweng dari pada kebenaran.

Pada waktu Bi Hwa, Ki Liong dan Mayang tiba di rumah keluarga Menteri Cang, mereka disambut dengan gembira oleh keluarga itu. Dan begitu melihat Mayang, mereka merasa kagum akan kecantikan khas dari gadis peranakan Tibet itu. Menteri Cang sendiri yang sudah banyak pengalaman lalu bertanya.

“Liong Ki, apakah tunanganmu ini seorang gadis Tibet?”

Liong Ki atau Sim Ki Liong memberi hormat, “Dia adalah peranakan Tibet, Taijin.”

Cang Hui mendekati Mayang, menatap penuh perhatian dan nampaknya tertarik sekali. “Siapa namamu dan berapakah usiamu?”

Melihat gadis bangsawan cantik itu bertanya dengan sikap yang terbuka dan bersahabat, Mayang juga menjawab dengan jujur dan sikap terbuka. Logat suaranya terdengar sedikit aneh, namun enak didengar. “Namaku Mayang, dan usiaku dua puluh tahun. Nona tentu yang bernama Cang Hui, puteri Cang Taijin bukan? Nona cantik sekali!”

Jawaban ini seketika mendatangkan rasa suka di dalam hati Cang Hui dan dia pun lantas menggandeng tangan Mayang. “Aku memang Cang Hui, dan engkau juga sangat cantik, Mayang. Apakah engkau pun ahli silat seperti kakak-beradik she Liong itu?”

Mayang tersenyum. “Aku tak sepandai Liong-ko, akan tetapi aku juga pernah belajar ilmu silat, Nona.”

Untung bagi Ki Liong bahwa dia memakai nama palsu Liong Ki sehingga Mayang masih bisa tetap memanggilnya Liong-ko seperti biasa. Andai kata dia menggunakan nama lain, maka akan sukar bagi Mayang untuk mengubah panggilannya, bahkan mungkin dia tidak mau melakukannya.

“Mayang, engkau jangan menyebut siocia (nona) kepadaku. Aku ingin kau menyebutku Hui saja!” kata Cang Hui yang seketika merasa amat dekat dan akrab dengan Mayang.

Mayang tersenyum. Entah kenapa dia pun merasa suka sekali kepada gadis bangsawan yang berwatak polos ini. “Terima kasih,” katanya.

“Enci Hui, apakah tidak sebaiknya jika kita minta Mayang memperlihatkan ilmunya pula?” kata Cin Nio. “Mayang, tadi enci Liong Bi sudah memperlihatkan kepandaiannya. Enci Hui bersama aku mengeroyoknya. Kami berpedang dan dia bertangan kosong, dan dia dapat merampas hiasan rambut kami lalu mengembalikannya tanpa melukai kami. Sanggupkah kau melakukan itu?”

“Cin-moi, rasanya tidak perlu lagi. Aku percaya akan keterangan kakak-beradik Liong itu.”

“Memang tidak perlu diuji lagi, aku pun sudah percaya,” kata Cang Sun.

Sejak tadi pemuda ini kadang melirik ke arah Mayang dengan sinar mata penuh kagum. Gadis ini mempunyai sesuatu yang membuat jantungnya berdebar, akan tetapi dia cepat melawannya dengan ingatan bahwa gadis peranakan Tibet ini sudah menjadi calon isteri Liong Ki!

“Hemmm, kalau begitu kurang adil!” Tiba-tiba Cang Taijin berkata sambil tertawa. “Kakak-beradik Liong telah memperlihatkan kemampuan mereka, dan Mayang juga akan bekerja di sini, maka sudah selayaknya kalau dia pun memperlihatkan kemampuannya. Mayang, coba engkau perlihatkan ilmu yang kau miliki agar kami sekeluarga melihatnya.” Biar pun ucapan itu ramah dan lembut, namun mengandung wibawa dan perintah.

“Baik, Taijin,” kata Mayang dan dia pun memandang ke sekeliling dengan matanya yang sipit namun bersinar tajam itu. “Siapa yang akan mengujiku?”

Cang Hui yang merasa suka kepada Mayang langsung berkata, “Aku sudah lelah dan aku percaya kepada Mayang. Cin-moi, apakah engkau hendak mengujinya?”

Cin Nio menunduk dan mukanya kemerahan. “Kalau harus maju sendiri, mana aku berani, Hui-ci…”

“Tidak perlu bertanding,” kata Menteri Cang. “Mayang, kau perlihatkan saja kemahiranmu mempergunakan senjatamu, memperlihatkan kecepatanmu dan kekuatanmu.”

“Baik, Taijin,” kata Mayang dan dia pun melolos senjatanya yang tak pernah terpisah dari badannya, yaitu sebatang cambuk yang dipakainya sebagai sabuk. Pecut atau cambuk ini berwarna hitam, kecil dan panjang.

Mayang memandang ke kanan kiri dan melihat sebuah arca singa yang besarnya seperti seekor anjing. Melihat bentuk dan ukurannya, dia sudah dapat menaksir beratnya karena dahulu di rumah subo-nya terdapat pula sebuah arca besi seperti itu yang biasanya dia pergunakan untuk latihan. Melihat ukurannya, arca di rumah subo-nya lebih berat.

“Taijin, beratkah arca singa itu?” tanya Mayang kepada Menteri Cang. Caranya bertanya kepada pejabat tinggi itu demikian sederhana, seolah-olah dia bertanya kepada seorang kawan saja, membuat Menteri Cang tertawa dan teringat akan sikap Cia Kui Hong.

“Tentu saja berat. Arca itu terbuat dari kuningan. Sedikitnya dua orang laki-laki baru dapat menggotongnya,” katanya.

“Adik Hui, aku mau bermain-main dengan arca itu, mudah-mudahan tenagaku cukup kuat untuk mengangkatnya,” katanya sambil melirik ke arah gadis Cang Hui. Gadis bangsawan ini terkejut.

“Ihhh, jangan main-main, Mayang. Benda itu berat sekali. Kalau engkau tidak kuat, dapat menimpamu dan membuatmu terluka!”

“Kita lihat sajalah!” kata Mayang.

Suaranya itu segera diikuti oleh suara ledakan-ledakan kecil karena dia telah memainkan cambuknya. Dia bersilat dengan pecut itu, gerakannya indah laksana orang menari, akan tetapi ujung cambuk meledak-ledak di sekeliling tubuhnya dan setiap kali meledak tampak asap mengepul!

Setelah bersilat belasan jurus, tubuhnya menari-nari dengan indahnya sehingga membuat Su Bi Hwa sendiri diam-diam terkejut dan kagum, tiba-tiba Mayang mengeluarkan seruan nyaring, ujung cambuknya menyerang ke arah singa kuningan. Ujung cambuk itu melibat perut singa dan sekali gadis itu membentak dengan suara melengking, singa-singaan itu pun segera terangkat ke atas!

Mayang memutar-mutar singa-singaan itu di atas kepalanya, lantas menurunkan kembali dengan hati-hati! Tentu saja pertunjukan ini memancing tepuk tangan gemuruh. Bahkan isteri Menteri Cang juga ikut bertepuk tangan.

Mayang bukan seorang gadis yang sombong atau senang memamerkan kepandaiannya. Akan tetapi sekarang dia merasa seolah-olah medapatkan saingan dalam diri Su Bi Hwa. Karena dia maklum bahwa wanita itu sudah memperlihatkan kepandaiannya di hadapan keluarga itu seperti juga Ki Liong, maka dia pun tidak ingin dianggap lemah. Setelah tepuk tangan berhenti, dia pun memberi hormat ke arah pasangan suami isteri pejabat tinggi itu dan berkata,

“Taijin, saya lihat banyak lalat di sini. Bolekah saya membunuh mereka?”

Menteri Cang mencari dengan pandangan matanya dan memang ada beberapa ekor lalat beterbangan di ruangan itu. Tidak banyak, akan tetapi ada. Dan dia memandang dengan tidak percaya. Bagaimana gadis itu akan mampu membunuhi binatang kecil yang sangat gesit itu dengan cambuknya? Akan tetapi dia mengangguk gembira.

“Boleh, bunuhlah lalat-lalat itu!” katanya.

Mayang menggerakkan pecutnya. Senjata ini meledak-ledak sambil menyambar-nyambar lagi. Tampaknya hanya beberapa kali saja menyambar dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandang mata orang biasa, kemudian tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, lalu mengumpulkan dengan kakinya. Ternyata di lantai telah ada bangkai belasan ekor lalat!

Melihat bangkai itu tidak hancur, dapat dimengerti alangkah hebatnya permainan cambuk itu, yang ujungnya mampu membunuh lalat-lalat itu dengan tepat tanpa menghancurkan tubuhnya yang kecil! Hal ini tidak mengherankan karena guru dara ini, yaitu Kim Mo Sian-kouw, adalah seorang ahli silat yang memiliki ilmu istimewa menggunakan cambuk itu!

Kembali semua orang memuji dan diam-diam Su Bi Hwa terkejut. Tak disangkanya bahwa kekasih Ki Liong itu memiliki kepandaian sehebat itu! Ia harus berhati-hati sekali terhadap Mayang. Gadis itu tidak suka diajak melakukan penyelewengan, berwatak terbuka, terlalu jujur dan keras. Gadis seperti itu dapat menggagalkan semua usahanya! Bagaimana juga dia tahu bahwa Ki Liong amat mencinta gadis itu, karena itu untuk sementara ini dia harus menggunakan siasat melakukan pendekatan secara akrab.

“Mayang, engkau saja yang mengajarku ilmu silat!” Cang Hui berseru gembira dan segera merangkul gadis peranakan Tibet itu. “Aku ingin bisa memainkan cambuk seperti itu!”

Mulai hari itu Ki Liong, Mayang dan Su Bi Hwa bekerja menjadi pengawal keluarga Cang. Tentu saja mereka hidup senang karena mereka bukan saja dianggap sebagai pekerja, akan tetapi juga seperti anggota keluarga sendiri. Terutama Mayang dan Bi Hwa. Mereka sangat akrab dengan Cang Hui dan Teng Cin Nio. Hanya bedanya, kalau Mayang akrab dengan mereka dengan hati tulus karena memang kedua orang gadis bangsawan itu baik budi, sebaliknya Su Bi Hwa hanya pada lahirnya saja baik dan akrab, akan tetapi di dalam hatinya, iblis betina ini mencari-cari kesempatan untuk mengatur rencana dengan kekasih barunya, yaitu Ki Liong!

Karena telah maklum akan kelihaian Mayang, Bi Hwa dan Ki Liong berhati-hati sekali dan mereka selalu menjaga diri jangan sampai menimbulkan kecurigaan hati Mayang. Ketika pada suatu pagi Mayang sedang memberi petunjuk ilmu silat kepada Cang Hui dan Teng Cin Nio di dalam taman bunga yang luas dan indah itu, Bi Hwa dan Ki Liong mengadakan pertemuan di kamar Bi Hwa, dari mana mereka dapat mengintai keluar lewat jendela dan melihat Mayang bersama dua orang gadis bangsawan itu dari jauh. Tidak ada orang lain mengetahui bahwa mereka berdua berada di dalam kamar itu.

Mereka langsung berpelukan melepas rindu yang selama ini ditahan-tahan, akan tetapi Bi Hwa berbisik, “Ssttt, aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan hal yang penting. Kerinduan kita dapat ditunda dulu, lain waktu masih banyak. Kita harus mengatur siasat.”

Biar pun kecewa terpaksa Ki Liong menuruti keinginan wanita itu, sebab mereka memang jarang mendapat kesempatan berada berdua saja. Mereka lalu berbisik-bisik dan Bi Hwa mengatur siasatnya. Siasat yang membuat Ki Liong amat tertegun karena siasat itu terlalu besar dan muluk, juga amat berani!

Bi Hwa merencanakan agar mereka berdua dapat menguasai keluarga itu, yaitu dengan cara memikat anak-anak Menteri Cang. Dia sendiri akan memikat dan merayu Cang Sun, sedangkan Ki Liong dianjurkan agar merayu Cang Hui!

“Kalau kita berdua, atau salah seorang di antara kita dapat menjadi mantu Menteri Cang, tentu kedudukan kita akan menjadi semakin kuat,” katanya.

“Engkau dapat mencoba untuk memikat Cang Sun dan engkau pasti berhasil. Akan tetapi aku? Bagaimana mungkin? Di sana ada Mayang...” kata Ki Liong meragu.

“Aihh, lagi-lagi Mayang! Tentu saja engkau boleh mengambilnya sebagai isterimu! Kalau engkau menjadi menantu Menteri Cang, apa salahnya mempunyai beberapa orang isteri? Yang penting memikat puteri menteri itu dahulu, soal Mayang mudah saja.”

“Jangan pandang rendah Mayang! Dia pasti akan menolak, dan dia dapat menggagalkan dan merusak semuanya. Dia keras hati dan keras kepala. Jika sampai dia marah kepada kita lalu membongkar rahasia kita di depan Menteri Cang, bukankah kita akan celaka?”

“Bodoh, dia tak akan berbuat seperti itu, apa lagi kalau dia telah dijinakkan! Engkau harus dapat menjinakkannya. Engkau harus berhasil menggaulinya sehingga dia tidak berdaya lagi karena dia tentu ingin mencuci aib dengan menjadi isterimu sehingga akan mentaati semua perintahmu.”

“Hemmm, justru itulah yang sulit. Dia tidak pernah mau! Dia hanya mau melayaniku kalau kami sudah menikah dan dia tidak mau menikah sebelum mendapat restu dari ibunya dan subo-nya!” Ki Liong berkata kesal.

“Itu perkara kecil. Aku akan membantumu. Tunggu saja, aku akan menguasainya dengan sihir dan malam ini aku akan menyuruh dia memasuki kamarmu, lantas dengan kekuatan sihir aku akan membuat dia menyerah kepadamu dengan suka rela. Sekali hal ini terjadi, andai kata dia menyadarinya pun sudah terlambat dan dia tentu akan tunduk dan taat.”

Wajah Ki Liong menjadi berseri. “Engkau dapat melakukan itu?”

Bi Hwa mengangguk. Ia memang tidak merahasiakan sesuatu dari kekasihnya itu setelah saling mengetahui latar belakang masing-masing dan maklum bahwa dulu mereka adalah segolongan!

“Tidak percuma aku menjadi anggota Pek-lian-kauw,” kata wanita itu. “Pendeknya, urusan Mayang mudah saja. Kalau aku tidak menggunakan sihir, aku masih mempunyai banyak cara untuk membuat dia lupa diri dan menyerah kepadamu. Yang penting, engkau harus merayu puteri bangsawan itu sedangkan aku akan merayu Cang Sun yang ganteng. Tapi untuk mereka tidak boleh menggunakan cara yang tidak wajar. Kita harus dapat membuat mereka benar-benar jatuh cinta agar kelak tidak mendatangkan hal yang dapat merugikan kita!”

Dengan bisik-bisik Bi Hwa menjelaskan rencananya jangka panjang. Kalau mereka sudah dapat menguasai keluarga Cang, tentu akan mudah bagi mereka untuk mempergunakan pengaruh serta kekuasan Menteri Cang untuk mempengaruhi kaisar! Kemudian mereka dapat mengatur siasat demi keuntungan gerakan Pek-lian-kauw. Dari situ mereka seperti menemukan anak tangga untuk mencapai kedudukan atau keadaan yang lebih tinggi lagi.

Dengan berbisik-bisik mereka mengatur siasat sambil bermesraan melepas rindu, dan dari jendela kamar itu mereka bisa mengamati gerak-gerik Mayang agar jangan sampai gadis itu mengetahui pertemuan rahasia mereka.

Sementara itu, dengan sepenuh hati Mayang memberi petunjuk tentang ilmu silat kepada Cang Hui dan Cin Nio. Dua orang gadis ini merasa gembira bukan main karena Mayang merupakan guru yang jauh lebih lihai dan lebih menyenangkan dibandingkan perwira Coa yang kaku. Dengan adanya petunjuk Mayang, kedua orang gadis itu segera mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu silat. Sesudah mengajak kedua orang gadis itu berlatih silat tangan kosong, mereka lalu duduk mengaso sambil bercakap-cakap.

“Adik Hui, engkau adalah puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi. Engkau cantik jelita, kaya raya, mempunyai kedudukan mulia, tidak kekurangan apa pun juga. Pelayan cukup banyak, pengawal pun ada. Kenapa engkau bersusah payah mempelajari ilmu silat yang melelahkan? Apakah tidak sayang apa bila kulit tanganmu yang halus lunak itu nanti menjadi kasar?” Mayang bertanya sambil mengagumi kecantikan puteri bangsawan itu.

Cang Hui tertawa. “Heh-heh, engkau ini ada-ada saja, Mayang. Coba engkau bercermin. Engkau pandai ilmu silat, akan tetapi engkau tetap cantik jelita dan kulitmu demikian putih kemerahan dan begitu segar! Dan mengenai ilmu silat, aku menyukai ilmu silat semenjak ada seorang pendekar wanita yang dulu tinggal bersama kelurga kami. Aku amat kagum kepadanya dan aku ingin menjadi seperti dia!”

“Ehh? Pendekar wanita siapakah itu?”

“Enci Kui Hong. Cia Kui Hong...”

Sepasang mata yang sipit panjang dan bentuknya indah itu langsung terbelalak. Nama itu tentu saja amat mengejutkan Mayang karena dia tidak menyangka sama sekali.

“Ketua Cin-ling-pai...?” Mayang menegaskan karena belum yakin bahwa gadis itulah yang dimaksudkan oleh Cang Hui.

“Benar, engkau sudah mengenalnya, Mayang?”

Mayang mengangguk, merasa tidak perlu menceritakan sejelasnya. “Aku pernah bertemu dengannya. Siapa yang tidak mengenal ketua Cin-ling-pai itu?”

Pada saat itu pula Cin Nio berpamit. Dia hendak membantu di dapur seperti biasanya dan berjanji sore nanti akan mengajak Cang Hui untuk berlatih kembali. Setelah Cin Nio pergi, Cang Hui berkata lirih,

“Kasihan, Cin Nio selalu merasa tidak enak setap kali mendengar disebutnya nama enci Kui Hong.”

“Ehh, kenapakah?” tentu saja Mayang merasa heran sekali.

“Mayang, setelah beberapa hari tinggal di sini, engkau sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, maka biar akan kuceritakan tentang semua itu kepadamu. Ketahuilah bahwa pada saat enci Kui Hong tinggal di sini, membantu ayah untuk menyelidiki kekacauan di istana, ayah mempunyai keinginan untuk menjodohkan koko Cang Sun dengan enci Kui Hong.”

“Hemm, menarik sekali! Kakakmu memang seorang pemuda yang tampan dan terpelajar, juga budi pekertinya baik.”

“Ehh? Bagaimana engkau tahu kalau dia baik budi?”

“Melihat penampilannya saja sudah dapat diketahui. Dia sopan dan ramah,” kata Mayang, lalu membelokkan percakapan, “Lalu, bagaimana perjodohan itu?”

Cang Hui menggelengkan kepalanya. “Agaknya Sun-koko telah menyetujui dan mencinta enci Kui Hong, akan tetapi enci Kui Hong menolak karena dia sudah mempunyai pilihan hati pemuda lain.”

Disangkanya aku tidak mengerti, bisik hati Mayang dengan bangga. Pemuda pilihan hati ketua Cin-ling-pai itu bukan lain adalah kakak tirinya, kakak seayah kandung, yaitu Tang Hay!

“Sejak saat itu koko Cang tidak pernah mau kalau hendak dijodohkan dengan gadis lain sehingga membuat ayah dan ibu menjadi kesal. Ayah dan ibu lalu menarik adik Cin Nio ke mari untuk diperkenalkan dengan Sun-koko dan dicalonkan menjadi jodoh Sun-koko.”

“Baik sekali...,” kata Mayang.

“Apanya yang baik?” Cang Hui mengerutkan alis. “Sun-koko sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Cin-moi, kecuali sebagai anggota keluarga biasa. Cin-moi tahu bahwa dia hendak dijodohkan dengan Sun-koko, dan dia sudah mendengar pula tentang enci Kui Hong. Dan kurasa Cin-moi sudah terlanjur jatuh hati kepada kakakku, maka kasihan dia kalau kakakku selalu acuh terhadap dirinya.”

Mayang diam saja, melamun. Betapa banyak liku-liku cinta. Dia sendiri jatuh cinta kepada Sim Ki Liong, akan tetapi kadang-kadang dia merasa khawatir kalau-kalau pemuda yang dicintanya itu, yang tadinya pernah tersesat, akan kembali ke jalan sesat!

“Engkau beruntung, Mayang.” Sampai dua kali Cang Hui mengeluarkan ucapan itu, baru Mayang sadar.

“Apa…? Mengapa…?” tanyanya, agak gagap seperti orang baru terbangun dari mimpi.

“Hi-hi-hik, kau melamun, Mayang. Kukatakan bahwa engkau beruntung, memiliki seorang tunangan yang tampan dan gagah seperti Liong Ki. Memang engkau cocok sekali menjadi jodohnya. Sama elok wajahnya, sama gagah perkasa dan keduanya pendekar!”

“Hemm, mudah-mudahan Tuhan akan memberkahi kami, adik Hui,” kata Mayang dengan pikiran melayang jauh.

Kembali dia melamun. Kali ini dia membiarkan ingatannya melayang dan mengenangkan apa yang dia lihat dan dengar ketika malam tadi dia bercakap-cakap dengan Su Bi Hwa. Wanita itu dengan jujur mengakui bahwa dia tertarik kepada Cang Sun! Di depan Mayang Su Bi Hwa memuji-muji putera Menteri Cang itu, bahkan ada kata-katanya yang terngiang di telinganya, yang membuat dia mengerutkan alisnya.

“Aihhh, kalau saja aku bisa menjadi isterinya! Betapa akan bahagia rasa hatiku! Menjadi mantu Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal di seluruh negeri!”

Wanita cantik itu selalu nampak genit dan pesolek, bahkan dia pernah melihat Su Bi Hwa mencolek dan mencubit paha Ki Liong ketika mereka bicara dan mengira bahwa dia tidak melihatnya! Dia menekan perasaan cemburunya, namun menganggap bahwa main-main atau kelakar seperti itu sudah keterlaluan dan hanya dapat dilakukan oleh seorang gadis yang genit dan ‘ada apa-apanya’! Maka dia seperti melihat bahaya mengancam pemuda yang sopan dan ramah itu ketika mendengar akan pujian dan harapan Bi Hwa terhadap putera Menteri Cang!

“Engkau melamun lagi, Mayang!” tegur Cang Hui.

“Ahh, maaf... Aku hendak berpesan sesuatu kepadamu, adik Hui.”

“Eh? Apakah itu, Mayang? Katakanlah, engkau seperti penuh rahasia!” Gadis bangsawan itu tersenyum.

“Aku hanya ingin engkau memperingatkan kakakmu agar dia berhati-hati terhadap Liong Bi…!”

“Hemm, adik tunanganmu itu?”

Ingin dia meneriakkan bahwa wanita itu bukan adik Ki Liong, namun dia tidak menjawab, hanya melanjutkan pesannya. “Dia adalah wanita kang-ouw yang berpengalaman dan dia agaknya tertarik kepada kakakmu. Mungkin dia akan berusaha memikat hati kakakmu.”

Cang Hui terbelalak kemudian tersenyum. “Aih, Sun-koko tidak mudah tertarik oleh wanita semenjak cintanya terhadap enci Kui Hong kandas. Adik tunanganmu itu memang cantik dan ilmu silatnya tinggi, hanya sayang... bagiku dia terlalu genit. Aku pun tidak suka kalau kakakku bisa terpikat olehnya. Maaf, Mayang, aku bicara buruk tentang adik tunanganmu, calon adik iparmu. Tapi engkau sendiri juga menduga buruk terhadap dirinya. Baik, akan kusampaikan kepada kakakku.”

Meski pun hanya menyampaikan pesan seperti itu, hati Mayang merasa lega. Setidaknya pihak keluarga Cang sudah siap dan berhati-hati, pikirnya. Malam itu, Mayang gelisah di pembaringannya. Dia makin tidak tenang dan tidak betah tinggal di rumah keluarga Cang. Dia segera melihat bahwa keluarga itu terancam oleh Bi Hwa dan Ki Liong! Dia khawatir Ki Liong bersama Bi Hwa akan melakukan sesuatu yang jahat! Dia bukan saja tidak ingin keluarga yang amat baik budi itu terancam bahaya, terutama sekali dia tidak ingin kalau Ki Liong melakukan sesuatu yang jahat dan buruk.