Social Items

PEGUNUNGAN Cin-ling-san berderet panjang dari barat ke timur dengan puncak-puncaknya yang tinggi menembus awan. Terletak di perbatasan tiga propinsi, yaitu Propinsi Shen-si dan Kan-su di utara, dan Propinsi Secuan di selatan. Dari pegunungan inilah mengalir air sungai Wei-ho di sebelah utara yang kemudian memuntahkan airnya ke sungai Huang-ho, dan di selatan mengalir sungai Han-sui yang kemudian bergabung dengan sungai Yang-ce.

Karena adanya sumber-sumber air yang besar ini, maka permukaan gunung Cin-ling-pai nampak kehijauan, tanahnya subur dan para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah itu tak pernah kekurangan makan. Pemandangan alamnya amat indah, malah ada beberapa bukit yang ditumbuhi banyak macam tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat.

Pegunungan Cin-ling-san bukan hanya terkenal karena tanahnya yang subur, atau karena keindahan alamnya dan kesejukan hawanya, akan tetapi bagi dunia kang-ouw terutama sekali karena di situ terdapat sebuah perkumpulan para pendekar yang bernama Cin-ling-pai.

Perkumpulan orang gagah ini berada di sebuah lereng dekat puncak, lereng yang sangat subur dan landai. Karena banyak anggota Cin-ling-pai yang tinggal di situ, maka lereng ini merupakan suatu perkampungan tersendiri di mana terdapat bangunan-bangunan yang di kelilingi pagar tembok. Tidak kurang dari seratus orang anggota Cin-ling-pai berkumpul di situ, bersama keluarga mereka. Di tengah perkampungan ini berdiri sebuah bangunan tua yang paling besar, berdiri seperti bersandar pada sebuah bukit, dan rumah ini merupakan tempat tinggal keluarga ketua Cin-ling-pai.

Cin-ling-pai sangat terkenal di dunia kang-ouw karena banyak pendekar dari perkumpulan ini sudah membuat nama besar di dunia ramai dan mengangkat tinggi nama Cin-ling-pai sehingga perkumpulan itu diakui sebagai sebuah perkumpulan besar di waktu itu.

Pada waktu itu perkumpulan orang-orang gagah lainnya yang terkenal adalah Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Kong-thong-pai, Im-yang-pai serta masih banyak partai atau perkumpulan lain, akan tetapi semua itu merupakan cabang atau pecahan dari perkumpulan-perkumpulan besar itu.

Semenjak beberapa turunan, Cin-ling-pai dipimpin oleh keluarga Cia. Keluarga ini terkenal sebagai ahli-ahli silat yang mempunyai kepandaian tinggi. Banyak macam ilmu silat tinggi yang hebat-hebat dimiliki keluarga ini sehingga nama Cin-ling-pai menjulang tinggi di dunia persilatan. Apa lagi karena sepak terjang keluarga ini selalu menentang kejahatan dengan gigih, maka mereka dikenal sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.

Kurang lebih seratus tahun yang silam, Cin-ling-pai dipimpin oleh seorang pendekar sakti yang bernama Cia Bun Houw, seorang yang telah membuat nama besar sehingga bukan hanya namanya saja yang terkenal, namun dia juga membawa nama Cin-ling-pai menjadi terkenal di seluruh dunia persilatan.

Pengganti Cia Bun Houw sebagai ketua Cin-ling-pai adalah Cia Kong Liang yang ketika itu telah menjadi seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh dua tahun dan tidak aktif lagi melainkan lebih banyak bertapa di dalam kamarnya pada bagian belakang bangunan keluarga ketua Cin-ling-pai yang besar itu. Cia Kong Liang lalu digantikan oleh puteranya, Cia Hui Song yang membuat nama Cin-ling-pai semakin harum dengan sepak terjangnya sebagai pendekar yang gagah perkasa.

Sungguh pun pada waktu itu Cia Hui Song baru berusia kurang lebih empat puluh empat tahun, namun dia sudah mengundurkan diri sebagai ketua Cin-ling-pai. Memang dia tidak berbakat menjadi seorang ketua, karena lebih suka hidup bebas dan berkelana bersama isterinya, yaitu Ceng Sui Cin puteri dari Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah.

Kedudukan ketua Cin-ling-pai lalu diserahkan kepada ketua baru yang dipilih melalui ujian dan pertandingan. Akhirnya kedudukan ketua baru dipegang oleh puterinya, yaitu Cia Kui Hong, seorang pendekar wanita yang amat gagah perkasa pula.

Cia Kui Hong baru berusia sembilan belas tahun ketika menjadi ketua Cin-ling-pai, hampir dua tahun yang lampau. Sebagai seorang gadis pendekar yang memiliki darah petualang yang sama seperti ayahnya, sesungguhnya Kui Hong tidak suka menjadi ketua. Kalau dia ikut dalam pemilihan ketua, hal itu dia lakukan karena dia melihat seorang murid baru Cin-ling-pai yang tidak disukanya ikut dicalonkan oleh kakek Cia Kong Liang menjadi ketua.

Dia tidak suka kepada Tang Cun Sek, murid itu. Untuk mencegah agar orang yang bukan dari keluarga Cia ini menjadi ketua baru, Kui Hong mengikuti pemilihan ketua. Ia berhasil mengalahkan Tan Cun Sek dan gadis inilah yang dipilih menjadi ketua baru menggantikan ayahnya!

Kemudian ternyata bahwa Tang Cun Sek ini memang bukan orang baik-baik. Sesudah dia dikalahkan oleh Kui Hong dalam pemilihan ketua Cin-ling-pai, dia minggat sambil mencuri pusaka Cin-ling-pai, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Namun akhirnya Tang Cun Sek tewas dalam pertempuran melawan para pendekar sehingga pedang Hong-cu-kiam kembali ke tangan Cia Kui Hong. Semua peristiwa itu sudah diceritakan di dalam kisah SI KUMBANG MERAH.

Ketika Kui Hong meninggalkan Cin-ling-pai hampir dua tahun yang lalu, dia menyerahkan kepengurusan Cin-ling-pai kepada Gouw Kian Sun, yaitu seorang tokoh Cin-ling-pai yang masih terhitung susiok-nya (paman seperguruan) sendiri. Ia sendiri pergi merantau untuk mencari Tang Cun Sek dan merampas kembali pusaka Hong-cu-kiam.

Ternyata Gouw Kian Sun cukup pandai memimpin Cin-ling-pai. Apa lagi masih ada kakek Cia Kong Liang yang menjadi pengawas dan penasehat, meski pun kakek ini lebih banyak bertapa di dalam kamarnya. Gouw Kian Sun yang usianya empat puluh dua tahun namun belum berkeluarga itu mempunyai kepandaian yang cukup tangguh. Dia telah menguasai semua ilmu dari Cin-ling-pai, kecuali beberapa ilmu rahasia yang tidak boleh dikuasai oleh sembarang murid.

Dari semua ilmu-ilmu silat milik keluarga Cia di Cin-ling-pai, yang paling ampuh antara lain adalah ilmu Toat-po-san, yaitu semacam ilmu kekebalan yang dapat membuat kulit tubuh menjadi keras dan kuat menahan pukulan, bahkan juga bacokan senjata tajam. Thian-te Sin-ciang merupakan ilmu silat tangan kosong yang mengandung tenaga sinkang sangat kuatnya. Siang-bhok Kiam-sut adalah ilmu pedang khas Cin-ling-pai yang asalnya adalah ilmu pedang yang dimainkan dengan pedang kayu akan tetapi kini dapat pula dimainkan dengan pedang baja yang ringan.

Thai-kek Sin-kun adalah ilmu silat yang amat halus namun kokoh kuat, bukan saja dapat dipergunakan untuk memperkuat tubuh sebagai latihan senam lahir batin, akan tetapi juga dapat digunakan sebagai ilmu bela diri yang ampuh. Di samping ilmu silat tangan kosong Thai-kek Sin-ciang dan Thai-kek Sin-kun, Cin-ling-pai masih mempunyai ilmu silat tangan kosong San-in Kun-hwat (Silat Awan Gunung) dan Im-yang Sin-kun. Juga ilmu tongkat pasangan Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga) boleh dibilang amat tangguh.

Walau pun semua ilmu silat Cin-ling-pai merupakan ilmu silat tinggi, akan tetapi tentu saja semua masih ada tandingannya, yaitu ilmu-ilmu dari partai-partai persilatan besar. Hanya ada satu ilmu Cin-ling-pai yang amat ditakuti oleh semua tokoh kang-ouw. Ilmu itu disebut Thi-khi I-beng (Mencuri Kekuatan Mengganti Semangat).

Sesungguhnya ilmu ini merupakan kekuatan sinkang (tenaga sakti) yang bekerja di tubuh orang yang menguasai ilmu itu, dan hebatnya, setiap kali bagian tubuh lawan menempel pada tubuh pemilik ilmu ini, maka tenaga sinkang lawan akan terhisap kemudian pindah ke dalam tubuh si pemilik ilmu. Ilmu ini amat ditakuti orang, karena orang yang lebih tinggi ilmu silatnya pun dapat dibuat tidak berdaya apa bila menghadapi ilmu menyedot sinkang lawan? ini.

Sayang tak sembarang orang dapat menguasai ilmu ini. Untuk menguasainya dibutuhkan bakat yang besar dan juga keadaan tubuh yang sesuai. Oleh karena itu jarang ada tokoh Cin-ling-pai yang menguasai Thi-khi I-beng. Selama ini hanya ayah dari mendiang Cia Bun Houw yang bernama Cia Keng Hong yang bisa menguasai ilmu Thi-khi I-beng itu. Bahkan Cia Bun Houw juga tidak mampu mewarisinya. Apa lagi Cia Kong Liang putera Cia Bun Houw, dia tidak menguasai Thi-khi I-beng. Puteranya yang lebih lihai, yaitu Cia Hui Song, juga tidak dapat menguasai ilmu luar biasa itu, apa lagi Cia Kui Hong.

Ilmu yang amat hebat itu seakan-akan sudah lenyap dari Cin-ling-pai karena tidak ada lagi keturunan Cin-ling-pai yang menguasainya. Untuk masa itu kiranya hanya satu orang saja yang menguasai Thi-khi I-beng, yaitu Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang menjadi majikan para penghuni Pulau Teratai Merah!

Demikianlah sedikit catatan mengenai Cin-ling-pai beserta para tokohnya. Pada waktu itu ketuanya, yaitu nona Cia Kui Hong, sudah lama pergi meninggalkan Cin-ling-pai dan yang mewakilinya mengatur perkumpulan itu adalah Gouw Kian Sun. Dia dibantu oleh seorang murid Cin-ling-pai lainnya yang termasuk murid keponakannya bernama Ciok Gun, murid berusia tiga puluh dua tahun yang sudah terkenal karena kegagahannya.

Berkat kesungguhan hati kedua orang inilah maka semua murid Cin-ling-pai tetap taat dan mematuhi peraturan, juga selalu menjaga nama baik perkumpulan dengan setia, biar pun Cin-ling-pai ditinggalkan oleh ketuanya sampai lama.

********************

Pagi yang cerah sekali. Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang hangat. Ciok Gun bersama dua orang anggota Cin-ling-pai yang lain memasuki sebuah hutan di bukit sebelah barat perkampungan mereka dengan membawa busur dan anak panah. Pagi hari itu Ciok Gun keluar sendiri untuk berburu di hutan. Bulan itu banyak terdapat ayam hutan dan kelinci di hutan yang mereka masuki itu. Hanya pada bulan-bulan tertentu saja di situ banyak berkeliaran kelinci gemuk dan ayam hutan dan itulah waktu untuk berburu.

Ciok Gun adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh dua tahun yang bertubuh jangkung dan tegap. Di antara murid Cin-lingpai tingkat kedua, dialah merupakan murid terpandai, maka oleh susiok-nya, Gouw Kian Sun, dia dipercaya untuk menjadi wakil dan pembantu utamanya. Bahkan Ciok Gun juga mewakili susiok-nya untuk mengamati serta memimpin latihan silat.

Dua orang kawannya adalah para sute-nya yang juga bertingkat dua dan mereka sudah memiliki ilmu silat Cin-ling-pai yang cukup tangguh. Mereka berdua adalah Teng Sin yang berusia dua puluh lima tahun dan Koo Ham yang berusia dua puluh tujuh tahun.

Teng Sin berwajah tampan dan tubuhnya tinggi besar, sedangkan Koo Ham tinggi kurus dengan kulit kehitaman. Walau pun belum setangguh Ciok Gun, namun mereka berdua itu sudah merupakan dua orang pendekar yang berkepandaian tinggi dan sukar dikalahkan.

Pada pagi hari itu tiga orang tokoh Cin-ling-pai ini akan berburu, selain untuk bersenang-senang juga hasilnya nanti hendak mereka serahkan kepada susiok mereka, Gouw Kian Sun dan para susiok lain, yaitu para murid tingkat pertama dari Cin-ling-pai. Di antara tiga orang murid tangguh Cin-ling-pai itu, hanya Koo Ham yang sudah menikah walau pun dia dan isterinya belum memperoleh turunan. Teng Sin dan Ciok Gun belum berumah tangga, masih membujang walau pun Teng Sin sudah berusia dua puluh lima tahun dan Ciok Gun bahkan sudah tiga puluh dua tahun.

Sesudah memasuki hutan, Teng Sin yang wataknya gembira itu berbisik. "Lihat, di pohon besar sana itu ada ayam-ayam hutan. Mari kita berlomba, siapa di antara kita yang dapat lebih dulu menjatuhkan seekor!"

Koo Ham tersenyum. "Hemm, mana engkau bisa menandingi Ciok-suheng yang amat ahli dalam menggunakan panah?"

Ciok Gun tersenyum pula. "Iihh, belum tentu juga. Hasil dalam berburu tidak sepenuhnya ditentukan oleh keahlian memanah. Juga nasib memegang peran penting. Yang bernasib terang, ketika berburu setiap langkah kakinya membawa dia berhadapan langsung dengan binatang buruan, sebaliknya kalau bintang sedang gelap, bisa jadi seharian penuh tidak pernah bertemu dengan seekor pun binatang buruan..."

Setelah dekat dengan pohon besar itu, mereka melihat ada tiga ekor ayam hutan sedang bertengger pada cabang pohon sambil bergerak-gerak dengan gesitmya. Mereka segera mengambil tempat yang enak, mempersiapkan busur dan anak panah lalu membidik dan menyusup dekat. Kini mereka sudah menarik tali busur, akan tetapi anak panah milik Ciok Gun meluncur lebih dulu dan lebih cepat, kemudian mengenai sasarannya dengan tepat.

Seekor ayam hutam jatuh ke bawah dengan leher ditembusi anak panah. Dua ekor ayam hutan melayang jatuh pula dengan perut tertembus anak panah yang dilepas Teng Sin dan Koo Ham. Mereka bertiga cepat mengambil ayam hutan itu lantas saling memperlihatkan kepada teman.

"Hah, kau lihat! Mana kita mampu menandingi kepandaian Ciok-suheng?" kata Koo Ham sambil tertawa.

Teng Sin harus mengakui keunggulan suheng-nya. Anak panahnya dan anak panah Koo Ham menembus perut ayam hutan, sedangkan anak panah Ciok Gun menembus leher! Tentu saja yang menembus leher itu lebih baik karena daging badan ayam tidak rusak oleh anak panah dan masih utuh, tidak seperti bidikan mereka yang menembus perut dan tentu saja hal ini merugikan karena sebagian daging ayam itu menjadi rusak.

Namun sungguh tidak mudah untuk membidik ke arah leher. Sedikit saja selisihnya maka akan gagal! Mereka masih belum sanggup memanah dan mengenai leher dengan tepat seperti yang dilakukan oleh suheng mereka.

Bagaimana pun juga, memanah ayam hutan yang gerakannya demikian lincah dan gesit bukan merupakan pekerjaan yang mudah, akan tetapi mereka bertiga telah membuktikan kelihaian mereka. Apa lagi memanah lawan seorang manusia, alangkah akan mudahnya bagi mereka untuk merobohkan lawan itu!

Belum lewat setengah hari lamanya, ketiga orang murid Cin-ling-pai yang gagah ini sudah membunuh dua puluh lebih ayam hutan dan belasan ekor kelinci. Mereka lalu bersepakat untuk pulang ke perkampungan mereka karena hasil buruan itu sudah cukup banyak.

Akan tetapi, ketika baru saja mereka keluar dari hutan, tiba-tiba di lereng bukit yang sunyi itu mereka berhadapan dengan dua orang yang entah muncul dari mana, tahu-tahu sudah berada di depan mereka seperti setan. Tentu saja tiga orang murid Cin-ling-pai itu terkejut sekali.

Mereka adalah pendekar-pendekar yang sudah banyak pengalaman, maka mereka dapat menduga bahwa kedua orang itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sehingga gerakan mereka amatlah cepatnya. Mereka lalu mengamati penuh perhatian karena belum pernah mereka melihat dua orang ini di daerah itu.

Orang pertama adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya agak kekuning-kuningan tetapi cukup tampan, mulutnya tersenyum mengandung ejekan. Rambutnya yang masih berwarna hitam itu digelung ke atas, terlihat mengkilap oleh minyak dan dijepit dengan jepitan rambut dari emas. Pria ini mengenakan pakaian mirip jubah pendeta. Di punggungnya tergantung siang-kiam (sepasang pedang).

Ada pun orang kedua amat menarik perhatian. Dia adalah seorang wanita yang usianya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Sulit menaksir usia wanita ini sebenarnya sebab wajahnya yang cantik manis itu ditutupi oleh bedak tebal. Bibir dan pipinya diwarnai merah.

Kalau pria tadi sudah amat pesolek, maka wanita muda ini lebih pesolek lagi. Pakaiannya gemerlap indah, di punggungnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya diukir dan diwarnai indah, gambar bunga-bunga dan kupu-kupu. Wanita ini lantas tersenyum manis dan agaknya dia yang menjadi juru bicara karena temannya, pria yang berpakaian seperti pendeta tosu (pendeta agama To) itu diam saja, hanya mengelus-elus jenggotnya sambil tersenyum mengejek.

"Kalian bertiga adalah murid-murid Cin-ling-pai yang terkenal itu, bukan?" tanya si wanita dan ketika dia bicara, gerak bibirnya jelas menunjukkan kegenitannya.

Mulut itu memang nampak penuh gairah menantang. Ketika dia bicara bibirnya bergerak-gerak memikat sehingga nampak giginya berderet rapi dan putih berikut rongga mulutnya yang merah. Lidah yang kecil panjang berwarna merah muda itu kadang-kadang menjilat bibir penuh daya pikat.

Namun tiga orang murid Cin-ling-pai itu adalah tiga orang pendekar gagah perkasa yang berbatin bersih dan teguh. Ciok Gun lalu menjawab dengan pandang mata penuh selidik dan alis berkerut karena dia merasa tidak suka melihat sikap wanita cantik itu yang jelas bukan seorang wanita sopan.

"Memang benar kami murid-murid Cin-ling-pai dan pada saat ini kami berada di daerah kami sendiri. Sebaliknya ji-wi (anda berdua) adalah orang asing. Ji-wi siapakah, dari mana dan ada keperluan apa maka berada di daerah ini?" Pertanyaan ini cukup tegas dan tidak ramah walau pun nadanya halus dan sopan.

Wanita itu tertawa, tertawa bebas sehingga mulutnya terbuka lebar. Akan tetapi sikapnya ini tidak membuat dia nampak buruk karena dia memang cantik. "Heh-heh-heh, alangkah gagahnya! Tentu engkau yang bernama Ciok Gun, murid utama Cin-ling-pai dan engkau yang membantu Gouw Kian Sun memimpin Cin-ling-pai, bukan?"

Diam-diam Ciok Gun terkejut. Wanita asing ini agaknya tahu segala tentang Cin-ling-pai. Timbul kekhawatirannya. Jangan-jangan wanita ini adalah seorang sahabat baik ketuanya, yaitu nona Cia Kui Hong yang sekarang sedang merantau dan belum pulang, pikirnya. Dia harus berhati-hati dan jangan sampai bersikap kurang hormat.

"Benar sekali, Nona. Ketua kami, yaitu Cia-pangcu, sekarang tidak berada di rumah maka yang mewakilinya adalah susiok Gouw Kian Sun, sedangkan saya hanya diperintah untuk membantu susiok."

Wanita itu tersenyum manis, lalu memandang kepada Teng Sin dan Koo Ham. "Dan dua orang ini murid-murid Cin-ling-pai tingkat rendahan?"

Wajah Ciok Gun berubah merah. Sahabat ketuanya atau bukan, wanita ini sikapnya amat buruk, lancang mulut dan sangat sombong. "Mereka adalah dua orang sute-ku!" katanya, tidak begitu hormat lagi. "Sesungguhnya siapakah ji-wi dan ada keperluan apa..."

"Ciok Gun, mulai saat ini engkau tidak membantu Gouw Kian Sun atau Cia Pangcu (Ketua Cia) lagi, melainkan membantu aku!"

"Ya... baik... ehh...", apa artinya semua ini?" Ciok Gun terkejut bukan main karena di luar keinginannya, begitu saja dia tadi menyanggupi untuk menjadi pembantu wanita yang tak dikenalnya itu! Hanya setelah memaksa hatinya memberontak dia dapat menahan diri dan kini dia memandang dengan mata terbelalak. "Nona, apa maksudmu? Apa artinya semua ini?"

Kembali wanita itu tertawa. "Ha-ha-he-he! Artinya, laki-laki yang gagah, bahwa mulai saat ini akulah yang berkuasa dan engkau harus mentaati semua perintahku!"

Selagi Ciok Gun masih tertegun karena bukan saja terheran mendengar ucapan itu, akan tetapi juga dia seperti terpengaruh akibat kekuatan yang aneh karena ucapan itu ditujukan kepadanya. Sementara dua orang sute-nya yang tidak terpengaruh sudah menjadi marah bukan main.

"Sungguh lancang mulut!" bentak Teng Sin marah sambil mengepal tinju dan melangkah dekat.

"Siapakah engkau ini wanita yang berani bersikap kurang ajar pada suheng kami?!" Koo Ham juga membentak sambil melangkah maju.

Wanita itu memandang kepada mereka dengan senyum mengejek, lalu dia mengibaskan tangannya ke arah mereka seperti orang mengusir lalat sambil berkata, "Huhh, kalian ini dua orang anak kecil tahu apa?"

Tentu saja kedua orang murid Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Mereka adalah tokoh-tokoh Cin-ling-pai tingkat dua yang telah memiliki kegagahan dan kepandaian tinggi tetapi kini diperlukan seperti dua orang anak kecil oleh seorang perempuan muda!

"Nona, kami adalah pendekar-pendekar yang tidak sudi menyerang wanita, kecuali kalau wanita itu seorang penjahat yang patut dibasmi. Karena itu, kalau engkau seorang wanita baik-baik, pergilah dari sini dan jangan sampai membuat kami marah!" Teng Sin berkata dengan sikap gagah. Bagaimana pun marahnya, dia masih ingat bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita dan tidak ada alasan bagi mereka untuk saling bermusuhan.

Wanita itu tersenyum, memandang kepada Teng Sin mulai kepala sampai ke kaki seperti orang yang sedang menaksir sebuah barang dagangan. "Hemmm, engkau ini anak kecil mengaku pendekar? Jika aku bukan orang baik-baik dan tidak mau pergi dari sini, engkau akan bisa berbuat apakah?"

"Keparat! Kalau begitu terpaksa aku harus mengusirmu dengan kekerasan!" bentak Teng Sin.

"Hik-hik-hik, kukira engkau tidak akan mampu, cucuku!" wanita itu mengejek.

Ini sudah keterlaluan, maka Teng Sin menerjang sambil mengeluarkan bentakan nyaring. Tentu saja dia masih belum tega untuk mencelakai wanita itu, tetapi hanya ingin memberi hajaran saja, maka dengan tenaga Thian-te Sin-ciang dia menampar ke arah pundak kiri wanita itu. Biar pun dia murid tingkat dua, akan tetapi Teng Sin sudah dapat menghimpun tenaga Thian-te Sin-ciang yang cukup kuat sehingga terdengar suara dan muncul angin menyambar keras ketika tangannya menyambar dengan tamparan itu,.

"Wuuuuttt...! Plakk!"

Tamparan itu tepat mengenai pundak kiri wanita itu karena memang tidak ditangkis atau dielakkan. Kedua mata Teng Sin terbelalak karena merasa khawatir sekali melihat betapa tamparannya itu mengenai pundak lawan tanpa ditangkis atau dielakkan. Kiranya wanita itu tidak pandai ilmu silat!

Akan tetapi dia semakin menjadi heran karena tangannya mengenai pundak yang begitu lunak seperti segumpal daging tanpa tulang saja dan tenaga Thian-te Sin-ciang itu seperti tenggelam lantas lenyap. Pada saat itu pula tangan kiri wanita itu bergerak secepat kilat sehingga tidak nampak. Tangan iu dengan jari terbuka menusuk ke arah dada Teng Sin.

"Bukkkk...!" Teng Sin terjengkang dan darah segar muncrat dari mulutnya.

Koo Ham dan Ciok Gun terkejut sekali. Mereka berlutut memeriksa dan ternyata Teng Sin telah tewas! Di ulu hatinya nampak tanda merah kehitaman bekas telapak tangan wanita itu, dan bajunya pada bagian dada hancur!

Dengan mata terbelalak Koo Ham memandang sute-nya yang tewas, lantas dia melompat sambil mencabut pedang yang tergantung pada pinggangnya. "Iblis betina, engkau berani membunuh saudaraku?!" bentaknya.

Koo Ham sudah menyerang dengan pedangnya, dan karena dia maklum betapa lihainya wanita itu, begitu menyerang dia langsung memainkan ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang pernah dipelajarinya, walau pun belum sempurna benar.

Sambil melompat ke samping untuk mengelak sambaran pedang, wanita itu berseru. "Iih, inilah Siang-bhok Kiam-sut? Kaku sekali!" Kembali dia mengelak sampai tiga kali berturut-turut ketika Koo Ham mendesaknya dengan serangan pedang.

"Tentu saja kaku, karena selain ilmunya itu belum sempurna, juga seharusnya untuk ilmu itu dipergunakan Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum)!" pendeta yang sejak tadi hanya memandang saja tiba-tiba menjawab ucapan wanita itu.

"Hah, kalau begitu bocah ini tidak ada gunanya!" kata wanita itu.

Pada saat itu pula pedang di tangan Koo Ham telah menyambar dengan tusukan ke arah lambung. Wanita itu menggeser kaki dan miringkan tubuhnya. Pedang meluncur ke dekat lambung dan begitu tangan kirinya bergerak, dia sudah menangkap pedang itu dengan tangan kirinya!

Koo Ham yang merasa marah karena kematian Teng Sin tidak peduli dan cepat menarik pedangnya untuk membuat tangan wanita itu tersayat. Namun pedangnya tidak bergerak seolah-olah bukan dijepit dengan tangan melainkan dengan jepitan baja yang amat kuat! Kembali dia mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya, namun pada saat itu pula tangan kanan wanita itu sudah bergerak. Demikian cepat gerakan itu sehingga Koo Ham tidak menduganya.

"Plakkk!"

Jari-jari tangan yang kecil halus itu menampar pelipis kepalanya, lantas tubuh Koo Ham terpelanting roboh di dekat mayat Teng Sin. Ketika Ciok Gun memandang, ternyata Koo Ham sudah tewas pula dan di pelipis kepala yang tertampar itu pun terdapat tanda bekas jari tangan merah kehitaman!

Ciok Gun maklum betapa gawatnya keadaan. Tentu saja dia merasa marah dan sakit hati sekali melihat betapa dua orang sute-nya tewas di tangan wanita itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa agaknya orang itu memusuhi Cin-ling-pai, maka dia cepat-cepat menahan kemarahannya dan ingin tahu siapa mereka dan mengapa begitu kejam membunuh dua orang murid Cin-ling-pai.

Ciok Gun sudah mencabut pedangnya karena maklum bahwa wanita ini lihai bukan main. Dengan pedang melintang di depan dada, dia memandang wanita itu dengan mata tajam penuh selidik.

"Siapakah sesungguhnya engkau dan mengapa engkau memusuhi kami?"

Wanita itu terkekeh lalu menoleh kepada tosu yang sejak tadi berdiri diam saja itu. "Suhu, lihat betapa gagahnya dia! Hayo Suhu, kenapa engkau sejak tadi diam saja? Membiarkan seorang wanita bekerja kelelahan. Sekarang giliranmu untuk menghadapi Ciok Gun ini. Akan tetapi ingat, jangan bunuh dia, Suhu, sesuai dengan rencana kita."

"Hemmm, untuk mengurus cacing ini saja harus aku yang turun tangan sendiri?" Tosu itu mengomel, namun dia segera melangkah maju menghadapi Ciok Gun. "Ciok Gun, seperti yang sudah dikatakan oleh muridku tadi, mulai saat ini engkau harus menjadi pembantu kami. Ketahuilah bahwa kami akan membuat Cin-ling-pai bangkit kembali menjadi sebuah perkumpulan besar yang kelak akan merajai seluruh perkumpulan dan partai persilatan. Dan engkau akan membantu kami!"

"Aku tak sudi!" Ciok Gun membentak. "Lo-tiang, engkau ini nampaknya seorang pendeta, tapi kenapa bersikap begini kejam membiarkan muridmu membunuh dua orang sute-ku? Siapakah engkau?"

"Aku bernama Kim Hwa Cu, masih ada dua orang suheng-ku bernama Siok Hwa Cu dan Lan Hwa Cu. Dia adalah Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa, murid kami bertiga. Sekarang mau tidak mau engkau harus menjadi pembantu kami!"

Ciok Gun belum pernah mendengar nama tiga orang pendeta itu, akan tetapi dia merasa pernah mendengar nama Tok-ciang Bi Mo-li (Iblis Betina Cantik Tangan Beracun) di dunia kang-ouw.

"Biar sampai mati aku tidak akan sudi! Sekarang kalian harus mempertanggung jawabkan kematian dua orang sute-ku!" berkata demikian, dia pun menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada tosu di depannya itu.

Tosu yang bernama Kim Hwa Cu itu mengeluarkan dengus mengejek dari hidungnya. Dia menggerakkan tangan untuk menangkis, lantas ujung lengan baju yang lebar dan panjang menyembunyikan tangannya itu menyambut pedang.

"Plakkk!"

Ciok Gun berseru kaget karena tangkisan ujung lengan baju itu demikian kuatnya. Dia tak mampu mempertahankan pedangnya lagi sehingga terpental lepas dari tangannya lantas terlempar sampai jauh!

Hampir dia tidak percaya akan apa yang dialaminya. Dua orang sute-nya, masing-masing dalam segebrakan saja langsung tewas di tangan wanita cantik genit itu, sedangkan dia sendiri dalam satu gebrakan saja sudah kehilangan pedangnya melawan tosu yang tinggi kurus ini. Bagaimana mungkin ini? Ketuanya sendiri pun tidak mungkin dapat membuat dia melepaskan pedang dalam satu gebrakan saja!

Ciok Gun adalah murid tingkat dua yang sudah terhitung ahli. Bahkan di antara para murid setingkat, dialah yang paling lihai dan dia pun ahli dalam ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung). Maka, biar pun pedangnya sudah terlempar, dia tidak mau menyerah dan sekarang dia sudah menyerang dengan dua tangan kosong, memainkan ilmu silat San-in Kun-hoat! Tetapi dua kali pukulan dan tendangannya dihindari tosu itu dengan elakan.

"Bi Hwa, perhatikanlah. Inilah San-in Kun-hoat!" kata kakek itu sambil terus mengelak, seolah memberi kesempatan kepada Ciok Gun untuk mempertontonkan ilmu silat itu.

"Hemmm, gerakannya sudah lumayan." Wanita itu pun memberi komentar. 鈥淭etapi jangan kau lukai dia, Suhu. Dialah yang akan membantu kita."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir, Bi Hwa. Nah, kurobohkan dia!" kata tosu itu.

Ciok Gun yang mendengarkan percakapan itu tentu saja amat terkejut dan dia pun cepat memasang kuda-kuda untuk membela dirinya yang akan dirobohkan tosu itu. Akan tetapi pada saat itu dua ujung lengan baju telah menyambar dari kanan kiri. Demikian cepatnya dan demikian dahsyatnya sehingga biar pun Ciok Gun berusaha untuk menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan, tetap saja pundaknya tersentuh ujung lengan baju dan dia pun roboh tertotok dalam keadaan pingsan!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ciok Gun membuka matanya. Sejenak dia nanar dan merasa tubuhnya panas. Pada saat nanarnya hilang dan dia menyadari bahwa dia berada di atas sebuah pembaringan dalam sebuah kamar, dia merasa terkejut dan segera teringat akan peristiwa di dalam hutan itu. Mimpikah dia? Mimpi buruk tentang kedua orang sute-nya yang tewas? Di mana dia?

Dia bangkit duduk dan makin kaget mendapatkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat, akan tetapi sebelum bangkit tadi tubuhnya tertutup selimut. Tiba-tiba dia merasa ada yang bergerak di sebelahnya, maka dia menoleh dan Ciok Gun berseru kaget.

Wanita cantik itu berada di dekatnya, juga tanpa pakaian. Wanita yang dilihatnya dalam 'impi' sudah membunuh dua orang sute-nya. Bukan mimpi kalau begitu! Teringatlah dia betapa dia melawan tosu yang amat lihai dan tahulah dia bahwa kini dia telah tertawan!

"Keparat...!" serunya. Dia hendak meloncat turun, tetapi tiba-tiba wanita itu merangkulnya sehingga dia pun tidak mampu meronta.

"Ciok Gun, hendak ke mana engkau? Ingat, engkau adalah pembantuku, pembantu kami. Aihh, engkau memang gagah sekali..." Wanita itu mendekap dan mencium.

Ciok Gun hendak meronta tetapi tidak dapat dan dia pun seperti tenggelam dalam lautan yang amat panas. Dia tidak lagi menyadari apa yang dia lakukan dengan wanita itu. Ada dorongan dalam tubuhnya yang membuat dia seperti mabuk, seperti dalam mimpi, namun nalurinya membisikkan bahwa dia sudah melakukan hal yang sungguh tidak pantas, yang berlawanan dengan suara hatinya.

Setelah semua berlalu, Ciok Gun terengah-engah dan setelah dorongan hasrat yang tidak wajar itu terpuaskan, dia pun teringat kembali. Dia menyadari bahwa dirinya terpengaruh bius dan obat racun perangsang yang membuat dia lupa segala.

Dia meronta karena teringat bahwa wanita cantik di sampingnya yang kini rebah telentang dengan mata terpejam dan mulut tersenyum itu adalah orang yang telah membunuh Teng Sin dan Koo Ham. Wanita ini adalah iblis betina yang amat jahat. Membunuh dua orang sute-nya, menawan dia, bahkan kini menggunakan cara yang sangat keji untuk memaksa dia melakukan perbuatan yang amat menjijikkan bagi kesadarannya.

"Jahanam kau!" Dan dia pun mengerahkan tenaganya memukul kepala wanita yang rebah tersenyum dan memejamkan mata itu.

"Prokkk...!"

Bukan kepala wanita itu yang terkena hantamannya melainkan bantal yang tadi ditidurinya dan sebelum Ciok Gun dapat menyerang lagi, sebuah totokan jari tangan wanita itu sudah membuat dia roboh lemas di atas pembaringan.

"Hi-hi-hik, Ciok Gun, engkau masih saja liar dan ganas!" kata wanita itu sambil merangkul kembali dan menciumi Ciok Gun yang terpaksa hanya mampu memejamkan mata karena tidak mampu bergerak untuk menghindar.

Sisa hawa panas yang membuat dia dibakar hasrat itu bahkan masih ada sehingga diam-diam dengan hati ngeri dia merasakan kenyataan betapa belaian wanita itu mendatangkan kenikmatan dan kesenangan bagi tubuhnya! Dia hendak meronta, hendak menolak, tetapi tubuhnya seolah bukan miliknya lagi dan tidak dapat dikuasainya.

Karena tubuhnya kini tertotok hingga tidak dapat digerakkan, maka di dalam dirinya terjadi perang perasaan antara melayani rayuan dan belaian wanita itu atau menolaknya. Ketika wanita itu mendengar rintih dan desahnya, mendadak totokan pada tubuhnya dibebaskan dan dia pun sekali lagi tenggelam ke dalam gairah nafsu yang berkobar dan tidak mampu mempertahankan dirinya lagi.

Setelah peristiwa ulangan itu selesai, Ciok Gun merasa begitu tidak berdaya sehingga dia menangis di atas pembaringan yang dianggapnya mendatangkan peristiwa jahanam yang menghancurkan segala martabatnya itu. Wanita itu segera merangkul dan membelainya untuk menghiburnya.

"Ciok Gun, sudahlah, tenangkan hatimu. Engkau sudah menjadi kekasihku, bukan? Nah, mulai sekarang engkau menjadi pembantuku dan kita akan selalu hidup senang..."

"Tidak...! Tidak sudi...!" Ciok Gun meronta dan melompat turun dari atas pembaringan.

Dia maklum bahwa dia tidak berdaya menghadapi wanita ini, dan jika dia menyerang pun dia takkan menang. Dia sudah ternoda, bagaimana mungkin dia dapat menghadapi para pemimpin Cin-ling-pai dan menceritakan semua ini? Dia cepat melompat ke arah dinding dan bermaksud untuk membenturkan kepalanya ke dinding itu supaya kepalanya pecah. Mati masih jauh lebih baik dari pada apa yang dia alami waktu itu!

"Plakkk!"

Kepalanya tidak membentur dinding melainkan ditahan oleh tangan lembut wanita itu dan pada lain saat dia pun sudah roboh kembali karena ditotok secara aneh oleh wanita yang bukan main lihainya itu.

"Hemmm, keras kepala!" Kini wanita itu tidak lagi bersikap lembut. Dia mengangkat tubuh Ciok Gun yang sudah tak mampu bergerak, lantas melemparkannya ke atas pembaringan kembali. Dia mengenakan pakaiannya dan keluar dari dalam kamar, kemudian menutup kembali daun pintu kamar itu dari luar.

Dengan rambut masih awut-awutan, bedak luntur serta pemerah bibir dan pipi yang juga kerserakan, wanita itu memasuki sebuah ruangan yang luas di mana nampak duduk tiga orang pria yang berpakaian pendeta. Seorang di antara mereka adalah pendeta yang tadi bersamanya menghadang perjalanan tiga orang murid Cin-ling-pai itu.

Melihat kemunculan wanita itu dengan wajah dan rambut kusut, tosu yang tadi mengaku bernama Kim Hwa Cu tertawa akan tetapi pandang matanya membayangkan perasaan iri dan tak suka hati. "Bagus! Kami menunggu di sini dan engkau lupa diri bersenang-senang sepuasnya dengan tawananmu, ya?"

Wanita itu cemberut, kemudian dengan sikap kasar duduk di atas kursi menghadapi meja dan menuangkan arak ke dalam cawan lalu meminumnya hingga tiga kali. Sikapnya sama sekali tidak menghormat kepada tiga orang pendeta itu!

Siapakah mereka? Seperti pengakuan tosu pertama itu kepada Ciok Gun tadi, mereka itu adalah Kim Hwa Cu yang bertubuh tinggi kurus bermuka kuning yang usianya sekitar lima puluh tahun. Dua orang tosu lainnya adalah dua orang suheng-nya (kakak seperguruan).

Yang berperut gendut pendek, mukanya hitam serta bermata lebar adalah Siok Hwa Cu, berusia lima puluh enam tahun. Tosu ketiga yang paling tua, usianya sekitar enam puluh tahun dan bernama Lan Hwa Cu. Tubuhnya tinggi besar dan wajahnya kasar, akan tetapi sikapnya lembut seperti wanita.

Boleh jadi ketiga orang ini tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, apa lagi di daerah Cin-ling-san. Akan tetapi di dunia barat dan utara, mereka ini dikenal dengan sebutan Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw). Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sebuah perkumpulan golongan sesat berkedok agama yang suka memberontak terhadap pemerintah. Pek-lian-kauw memiliki banyak sekali orang pandai, dan tiga orang ini adalah tiga di antara para tokoh besarnya yang telah memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingannya!

Ada pun wanita itu adalah murid mereka bertiga, ya murid ya kekasih! Keadaan seperti ini tidaklah aneh di dalam dunia golongan sesat, di mana aturan dan kesusilaan ditentukan oleh mereka yang berkuasa dan yang lebih kuat.

Su Bi Hwa, gadis berusia dua puluh lima tahun itu, semenjak kecil menjadi murid Pek-lian Sam-kwi. Semua ilmu tiga orang sakti itu telah dipelajarinya. Dalam urusan kejahatan dan kekejian, gadis ini sungguh tidak memalukan tiga orang gurunya sehingga dia mendapat julukan Tok-ciang Bi Moli (Iblis Betina Cantik Tangan Beracun)!

Dia seorang wanita yang selain lihai, juga berwatak kejam dan cabul. Bukan saja secara terang-terangan dia membiarkan dirinya menjadi kekasih dari tiga orang gurunya, terutama sekali Kim Hwa Cu yang terkenal paling cabul di antara mereka bertiga, juga dia begitu mudah menyerahkan diri kepada pria mana pun yang disukainya.

Tiga orang gurunya tidak dapat melarang, juga tidak mau melarangnya. Inilah kebebasan yang dianut oleh orang-orang golongan sesat, di mana tidak ada lagi peraturan, tidak ada lagi kesusilaan, tidak ada lagi hukum dan kesopanan. Tapi justru inilah yang menimbulkan kerukunan dan persatuan di antara mereka!

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw dan murid mereka ini datang jauh dari barat dan mereka sedang membawa tugas yang diperintahkan pimpinan pusat Pek-lian-kauw. Gerakan Pek-lian-kauw selalu gagal di mana-mana, bukan saja karena kekuatan pemerintah, melainkan terutama sekali karena adanya para pendekar yang selalu menentangnya. Maka tahulah para pimpinan pusat Pek-lian-kauw bahwa selama mereka belum dapat menguasai para pendekar dan tidak dapat merajai dunia kang-ouw, maka akan sukarlah bagi mereka untuk mengalahkan pemerintah.

Kini Pek-lian Sam-kwi mendapat tugas yang amat berat dan sulit, yaitu berusaha dengan cara apa pun untuk dapat menguasai dunia persilatan, menundukkan para pendekar dan para tokoh kang-ouw, baik golongan putih mau pun golongan hitam. Para pucuk pimpinan Pek-lian-kauw merasa yakin akan kesanggupan serta kemampuan Pek-lian Sam-kwi yang merupakan tokoh-tokoh kelas satu dari Pek-lian-kauw. Selain lihai ilmu silatnya serta kuat ilmu sihirnya, juga mereka memiliki seorang murid yang terkenal kecerdikannya, yaitu Su Bi Hwa yang berjuluk Tok-ciang Bi Moli, yang dalam hal ilmu silat hanya sedikit di bawah tingkat guru-gurunya, dan biar pun ilmu sihirnya tidak sekuat Pek-lian Sam-kwi, namun dia memiliki kecerdikan yang mengalahkan semua gurunya.

Su Bi Hwa yang mengatur siasat agar menguasai dan meminjam nama Cin-ling-pai untuk mengacau dunia para pendekar dan menguasai mereka! Dan untuk melaksanakan siasat yang amat berbahaya itu, diam-diam mereka memilih bukit itu yang tidak berapa jauh dari perkampungan Cin-ling-pai sebagai tempat persembunyian mereka. Di tempat itu mereka membangun sebuah rumah yang tersembunyi dalam hutan, sebuah rumah yang lengkap dengan segala peralatan, bahkan yang mereka pasangi alat-alat rahasia.

Mereka telah mulai dengan rencana mereka, yaitu dengan menyelidiki semua keadaan di Cin-ling-pai, para pemimpin mereka, kekuatan dan kelemahan mereka dan pada hari itu mereka sudah mulai turun tangan, membunuh dua orang murid Cin-ling-pai yang mereka kubur secara rahasia, juga menawan Ciok Gun. Mereka hendak menundukkan Ciok Gun dan menjadikan pembantu wakil ketua Cin-ling-pai itu sebagai boneka mereka!

Begitulah keadaan empat orang yang penuh rahasia itu. Tentu saja Bi Hwa merasa amat mendongkol, kecewa dan marah ketika melihat betapa bujuk rayunya terhadap Ciok Gun telah gagal! Biar pun dengan penggunaan obat bius dan obat perangsang dia telah dapat memaksa Ciok Gun jatuh ke dalam pelukannya, tetapi bukan ini yang menjadi tujuannya. Dia ingin agar tokoh Cin-ling-pai itu benar-benar jatuh cinta dan taat kepadanya.

Kiranya pria gagah itu sama sekali tidak mau tunduk, malah hampir saja mau membunuh diri! Maka dengan hati mendongkol dia lalu menotok Ciok Gun dan sesudah melemparnya ke atas pembaringan, dia lalu menghampiri ruangan di mana tiga orang gurunya berada.

Dan begitu masuk dia segera disambut dengan teguran Kim Hwa Cu yang sedikit banyak membayangkan perasaan cemburu! Hal ini membuat hati Bi Hwa semakin mengkal lagi. Dia duduk di atas kursi, menghadapi tiga orang gurunya dan menjawab teguran Kim Hwa Cu yang mengatakan bahwa dia hanya bersenang-senang dengan tawanan.

"Sam-suhu (guru ke tiga) menganggap aku bersenang-senang, ya? Huh, kalau tidak ingat akan tugas, sudah kuhancurkan kepala Ciok Gun itu!"

"Ahhh? Mengapa begitu? Apa yang terjadi?" tanya Lan Hwa Cu, guru pertama, suaranya tinggi seperti suara wanita, dan kalau bicara matanya melirik genit.

Di antara Pek-lian Sam-kwi, orang pertama yang paling tua ini yang menganggap Bi Hwa sebagai murid dan seperti anak sendiri karena dia tidak pernah bersikap mesra terhadap Bi Hwa dan terhadap wanita mana pun juga. Lan Hwa Cu ini mempunyai kelainan dan dia lebih suka mendekati seorang pemuda tampan ketimbang seorang gadis cantik.

"Dia keras kepala. Sampai bagaimana pun tidak mau tunduk walau pun pengaruh obat itu telah membuat dia meniduriku. Akan tetapi perasaan hatinya tidak pernah tunduk, bahkan tadi hampir saja dia membunuh diri."

"Huh-huh! Kalau begitu bunuh saja dia. Dia tidak ada gunanya!" kata Siok Hwa Cu yang berwatak kasar, keras dan kejam.

Kim Hwa Cu juga mengagguk-angguk. "Benar, kalau tidak di bunuh, untuk apa?"

Bi Hwa makin cemberut. Ji-suhu (guru kedua) dan Sam-suhu (guru ke tiga) hanya mau mudahnya saja, tanpa mempergunakan kecerdikan sehingga aku khawatir tugas kita akan gagal kalau menuruti kata-kata kalian."

Kim Hwa Cu dan Siok Hwa Cu saling pandang dan menggerakkan pundak. Mereka harus mengakui bahwa mereka tidak berdaya menghadapi murid ini, karena mereka tidak dapat menduga akal apa yang akan dipergunakan oleh murid yang cantik dan amat cerdik itu.

"Sudahlah, Bi Hwa. Engkau tidak perlu marah terus. Hayo ceritakan, setelah Ciok Gun tak berhasil kau bujuk untuk membantu kita, lantas apa yang selanjutnya hendak kau lakukan terhadap dia?"

"Kwa-suhu (guru tertua), tidak ada lain jalan. Kita harus mengubah rencana. Ciok Gun kita jadikan mayat hidup, kemudian melalui dia, kita melumpuhkan para pimpinan Cin-ling-pai. Dapat di atur begini..."

Gadis itu kemudian bicara berbisik-bisik walau pun mereka merasa yakin bahwa di sana tak mungkin ada yang ikut mendengarkan. Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk dan pandangan mata mereka ditujukan kepada mulut gadis yang berbicara itu dengan penuh kagum.

********************

Pagi hari yang cerah. Matahari belum nampak, baru sinarnya saja yang sudah membakar langit timur. Akan tetapi cahaya kemerahan itu sudah bisa mengusir sisa kegelapan yang ditinggalkan sang malam. Cahaya itu pula yang mendatangkan suasana gembira.

Setiap batang rumput, setiap helai daun, tenggelam di dalam suasana gembira itu, berseri basah oleh embun bermandikan cahaya keemasan laksana puteri-puteri jelita baru keluar dari dalam danau. Burung-burung juga berdendang riang, berkicau saling sahut-menyahut sambil menari berloncatan dari ranting ke ranting, siap untuk memenuhi tugas kehidupan mereka, yaitu mencari makan setiap hari.

Di lereng yang sangat sunyi dan segar indah berseri itu nampak dua orang manusia yang berjalan-jalan dengan wajah yang ceria pula. Dua orang itu merupakan dua keadaan yang amat berlawanan, akan tetapi merupakan perpaduan yang membuktikan kekuasaan alam. Seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun bersama seorang anak laki-laki berusia lima tahun! Seorang manusia yang sudah sampai di ambang akhir perjalanan hidup, bersama seorang manusia lain yang baru saja muncul dari ambang pertama dan sedang tumbuh, menggambarkan awal dan akhir perjalanan hidup manusia yang hanya dibatasi oleh usia, oleh sang waktu yang melesat cepat tanpa terasa. Akhirnya kakek itu akan mati, ada pun anak itu akhirnya akan menjadi seperti kakek itu, siap untuk mati pula, mungkin kelak dia juga akan menggandeng tangan seorang cucunya seperti dia sekarang yang digandeng oleh kakeknya.

Biar pun usianya sudah tujuh puluh dua tahun namun kakek itu masih nampak gagah dan tubuhnya masih tegap. Wajahnya anggun dan mudah dilihat bahwa pada masa muda dia tentu seorang pria yang amat ganteng. Langkahnya juga masih gagah dan perutnya tidak menggendut seperti perut kebanyakan laki-laki yang sudah berusia lanjut, juga tidak kurus kering melainkan tubuh itu masih padat.

Dia adalah Cia Kong Liang, kakek yang dahulu pernah menjadi ketua Cin-ling-pai, kakek dari ketua yang sekarang, yaitu nona Cia Kui Hong. Sudah belasan tahun kakek ini lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk bersemedhi, atau berjalan-jalan di puncak-puncak bukit sunyi, merasa lebih akrab dengan alam dari pada dengan manusia lain. Dan pada pagi hari itu dia berjalan-jalan bersama cucunya, anak laki-laki berusia lima tahun yang bernama Cia Kui Bu itu.

Cia Kui Bu adalah anak kedua dari Cia Hui Song, pendekar Cin-ling-pai yang pernah pula menjadi ketua. Isterinya bernama Ceng Sui Cin, seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian silat tinggi, tak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian suaminya sebab wanita ini adalah puteri tunggal dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin majikan Pulau Teratai Merah dan isterinya Toan Kim Hong yang pernah berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan), kini seorang nenek berusia tujuh puluh tahun yang mempunyai kepandaian setingkat dengan suaminya!

Akan tetapi Ceng Sui Cin merupakan ibu tiri dari Cia Kui Bu. Anak tunggal Ceng Sui Cin adalah Cia Kui Hong yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai. Sedangkan Cia Kui Bu adalah putera Cia Hui Song dari seorang isteri muda bernama Bi Nio yang kini sudah meninggal, akan tetapi anak ini sejak kecil dirawat Ceng Sui Cin seperti anaknya sendiri sehingga dia pun menganggap bahwa ibunya adalah Ceng Sui Cin.

Kemarin baru saja Cia Hui Song bersama Ceng Sui Cin dan anak mereka itu pulang dari perjalanan mereka ke Pulau Teratai Merah, berkunjung ke tempat kediaman orang tua Sui Cin. Sampai berbulan-bulan lamanya mereka beristirahat di tempat itu dan baru kemarin mereka kembali ke Cin-ling-pai. Namun puteri mereka yang menjadi ketua, Cia Kui Hong, belum pulang dari perantauannya.

Tentu saja kedatangan mereka lantas disambut gembira oleh semua anggota Cin-ling-pai. Terutama sekali kakek Cia Kong Liang merasa girang bukan main melihat cucunya, Cia Kui Bu. Dan pada pagi hari ini kakek itu mengajak Cia Kui Bu berjalan-jalan seperti yang semalam telah dijanjikannya kepada cucunya. Cuaca masih gelap pada saat mereka tadi meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai.

Sesudah berbulan-bulan tinggal di Pulau Teratai Merah dan setiap hari hanya menikmati keindahan pemandangan alam pulau yang dikepung air laut itu, tentu saja kini keindahan alam pegunungan merupakan keindahan yang lain sama sekali sehingga mendatangkan kegembiraan di hati anak itu. Dia berlari-larian mengejar kelinci, meneriaki burung-burung sehingga kakeknya terbawa oleh kegembiraan cucunya.

Kesenangan lewat panca indera dikemudikan oleh nafsu, oleh karena itu selalu berakhir dengan kebosanan dan dengan pengejaran akan kesenangan yang lain. Inilah sebabnya mengapa orang-orang kota merasa gembira kalau pergi ke dusun, dan sebaliknya orang dusun amat senang bila pergi ke kota.

Karena sudah terbiasa, penduduk pantai tidak dapat menikmati keindahan pemandangan di tepi laut lagi dan merindukan keindahan suasana di pegunungan, sebaliknya penghuni gunung telah bosan akan pemandangan di pegunungan dan akan mengagumi keindahan pemandangan di tepi laut.

"Kongkong (kakek), di sana ada kijang. Mari kita tangkap!" Tiba-tiba Cia Kui Bu berlari cepat mendaki lereng sebuah bukit.

"Heii, hati-hati, Kui Bu, jangan berlari sembarangan!" Kakek itu berseru dan mengejar.

Dia dapat menyusul dan menggandeng tangan cucunya, lalu mereka berlarian mengejar seekor kijang muda yang seperti hewan lainnya kalau masih muda senang bermain-main. Kijang itu seolah mengajak mereka bermain, berlari-lari sambil berloncatan kecil. Apa bila jarak antara mereka terlampau jauh maka dia berhenti dan seperti menanti, namun kalau sudah dekat dia berlari lagi.

Cia Kong Liang membiarkan saja cucunya bergembira dan mengejar kijang itu. Dia hanya menjaga agar cucunya itu jangan sampai terjatuh ke dalam jurang. Tanpa terasa mereka telah tiba di tepi hutan lebat yang berada di lereng bukit itu.

Kijang itu melompat ke dalam hutan lantas lenyap di balik semak belukar. Ketika Cia Kui Bu yang digandeng kakeknya hendak mengejar, dari dalam hutan itu tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki yang berdiri seperti patung dan memandang kepada mereka.

Cia Kong Liang berhenti kemudian memandang. "Haii, Ciok Gun! Mengapa engkau belum pulang? Semua orang di sana menantimu. Sejak kemarin pagi engkau pergi berburu dan sampai sekarang belum pulang. Di mana Teng Sin dan Koo Ham?"

Ciok Gun terlihat ragu-ragu sejenak, lalu memberi hormat kepada kakek itu. "Sukong, sute Teng Sin dan Koo Ham baik-baik saja. Nanti teecu (murid) akan pulang."

Cia Kong Liang memandang dengan heran. Memang Ciok Gun tidak pandai bicara, malu-malu walau pun dia amat setia kepada Cin-ling-pai. Akan tetapi kenapa pagi ini sikapnya kelihatan demikian dingin dan bahkan kaku? Sebelum dia bertanya, Kui Bu sudah berlari ke arah Ciok Gun.

"Suheng...!" serunya gembira.

Karena sudah berbulan-bulan meninggalkan Cin-ling-pai, setelah pulang Kui Bu bersikap ramah kepada semua orang sebagai pelepasan rindunya. Apa lagi kepada Ciok Gun dan Gouw Kian Sun, dua orang yang dekat dengan keluarga Cin-ling-pai. Maka ketika melihat Ciok Gun yang masih terhitung suheng (kakak seperguruan), kakaknya, atau juga murid keponakan orang tuanya, dia lalu lari menghampiri dengan gembira.

"Ciok-suheng, mana hasil buruanmu?" tanyanya setelah dia sampai di hadapan Ciok Gun. Tiba-tiba Ciok Gun menyambar tubuh Kui Bu dan memondongnya, terus mengajaknya lari ke dalam hutan.

"Heiiii, Ciok-suheng, kita ke mana...?" Kui Bu berseru heran akan tetapi gembira karena mengira bahwa tentu Ciok Gun akan mengajaknya bermain-main. Namun kakek Cia Kong Liang merasa heran dan curiga. Ada sesuatu di dalam sikap Ciok Gun yang dianggapnya aneh sekali.

"Ciok Gun, berhenti...!" bentaknya, lalu dia pun melompat dan mengejar.

Akan tetapi Ciok Gun tidak mau berhenti dan berlari terus, dikejar oleh Cia Kong Liang. Akhirnya Ciok Gun yang memondong Kui Bu tiba di depan sebuah pondok yang dari luar nampak sederhana saja. Kakek itu memandang heran.

Bukit ini sunyi dan biar pun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah mendaki bukit ini, akan tetapi seingatnya tidak pernah ada orang tinggal di sini karena bukit ini jauh dari dusun-dusun lain, juga masih liar dan berbahaya.

Ketika dia hendak mengejar masuk pondok melalui pintunya yang terbuka lebar, tiba-tiba muncul tiga orang pria berpakaian pendeta dan seorang wanita muda yang cantik. Wanita itu berada paling depan dan agaknya sengaja menyambut sambil tersenyum-senyum.

"Selamat datang di pondok kami, locianpwe Cia Kong Liang!" Su Bi Hwa berkata sambil tersenyum manis sekali.

Kakek itu mengerutkan sepasang alisnya. Dia tak mengenal empat orang ini, akan tetapi karena wanita muda itu menyambutnya dengan sikap hormat, dia pun segera membalas penghormatannya sambil berkata. "Siapakah Nona, dan harap Nona menyuruh Ciok Gun keluar mengajak cucuku."

"Cia-locianpwe, sekarang locianpwe sudah menjadi tamu kami, seperti juga anak Cia Kui Bu itu. Mari, locianpwe, silakan masuk dan kita bicara di dalam..."

Biar pun sudah amat tua namun kakek Cia Kong Liang masih waspada. Pengalamannya yang banyak membuat dia maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak boleh dipercaya begitu saja.

"Harap suruh Ciok Gun keluar membawa cucuku dulu, baru nanti kita bicara!" Kemudian dia mengerahkan khikang, suaranya menggetar ketika berteriak ke arah pondok itu. "Ciok Gun, aku sukong-mu yang bicara ini. Kuperintahkan engkau keluar mengajak Kui Bu!"

Suara itu hebatnya bukan kepalang, melengking dan seperti menggetarkan jantung semua orang. Dengan diam-diam empat orang itu terkejut sekali dan harus mereka akui bahwa kakek yang sudah tua ini tidak boleh di pandang ringan. Su Bi Hwa lalu berteriak pula ke arah pintu pondok.

"Ciok Gun, engkau tinggal saja di dalam sana dan jaga baik-baik Cia Kui Bu. Engkau tidak boleh keluar sebelum kuperintahkan! Ini aku Su-siocia (Nona Su) yang bicara!"

Dari dalam pondok terdengar suara Ciok Gun, "Baik, Su-siocia!"

Kakek itu terbelalak. Tidak mungkin cucu muridnya itu begitu saja mentaati wanita ini dan berani membangkang terhadap perintahnya. Tentu ada sesuatu yang tidak wajar!

"Nona, apa artinya ini? Apa yang kau lakukan kepada Ciok Gun?"

Kini gadis itu tertawa dan begitu tertawa kakek itu pun mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang kejam dan amat jahat. "Ha-ha-hi-hi-hik! Cia-locianpwe, tidak perlu engkau mencoba untuk memerintah Ciok Gun. Dia sekarang telah menjadi hambaku yang setia."

"Walau begitu cucuku akan kuambil sendiri!" Cia Kong Liang meloncat ke arah pintu. Akan tetapi nampak bayangan berkelebat dan wanita itu telah menghadang di depan pintu.

"Nona, engkau minggirlah! Aku tak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga. Aku hanya ingin mengambil kembali cucuku!" bentak Cia Kong Liang, sekarang sikapnya angkuh dan tegas, penuh wibawa.

"Locianpwe, ini adalah rumah kami. Tanpa seijin kami, engkau atau siapa pun tidak boleh memasukinya!" kata gadis itu sambil tetap tersenyum.

Wajah Cia Kong Liang berubah merah. Dia sudah marah bukan main. "Nona, apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau sudah menculik cucuku dan kini hendak menahannya di dalam poncokmu ini?"

"Boleh saja kau anggap demikian, Cia Kong Liang," kata Bi Hwa dan sekarang dia sudah menanggalkan kedoknya, tidak lagi bersikap hormat.

"Hemmm, tidak semestinya aku seorang tua harus berkelahi melawan seorang muda, apa lagi seorang gadis! Sekali lagi kuminta engkau membebaskan cucuku dan aku tidak akan menggunakan kekerasan!"

Bi Hwa tertawa. "Ha-ha-heh-heh, justru kami ingin melihat engkau mengeluarkan semua kepandaianmu untuk melawanku, Cia Kong Liang!"

"Keparat!" Kakek itu sudah lama sekali tidak pernah berkelahi, akan tetapi untuk menjaga kesehatan hampir setiap hari dia masih berlatih. Dia sudah berhasil menjadi seorang yang penyabar sekali. Andai kata tidak untuk membebaskan cucunya, tentu dia akan mengalah dan akan pergi menelan semua penghinaan orang. Akan tetapi sekali ini tak mungkin dia tinggal diam. Cucunya disekap di dalam pondok itu! Dia pun menggerakkan kaki hendak memasuki pintu pondok.

Su Bi Hwa cepat menghalang dan kakek itu menggerakkan tangan mendorong wanita itu ke samping. Karena dia menduga bahwa wanita itu tentu lihai, dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang ketika mendorong.

"Plakkk!"

Gadis itu menangkis sambil mengerahkan tenaga pula dan akibatnya keduanya terdorong ke belakang masing-masing tiga langkah. Gadis itu tersenyum, sama sekali tidak terkejut karena dia sudah tahu sebelumnya bahwa kakek ini memiliki ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka tentu saja amat tangguh.

Sebaliknya Cia Kong Liang terkejut bukan main. Gadis yang usianya paling banyak baru dua puluh lima tahun itu mampu menangkis dorongannya, bahkan membuat dia terdorong mundur tiga langkah!

"Bagus, kiranya engkau penjahat yang mengandalkan kepandaianmu! Nah, terpaksa aku akan menyerangmu untuk menolong cucuku!" Sesudah berkata demikian Cia Kong Liang mulai menyerang dan memainkan ilmu silat Im-yang Sin-kun sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya. Tangannya yang kiri menyambar dengan tamparan ke arah pelipis kepala, tangan kanan memukul ke arah perut.

"Haiiiiitttt...!"

Bi Hwa cepat meloncat ke kiri sambil menangkis pukulan itu, lantas membalas dengan tendangan kilat yang dapat pula ditangkis oleh Cia Kong Liang. Kakek itu kini melihat jelas betapa lihainya lawannya walau pun dia seorang wanita yang masih muda. Maka dia lalu memainkan Im-yang Sin-kun dengan sebaiknya untuk mendesak Bi Hwa.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 01

PEGUNUNGAN Cin-ling-san berderet panjang dari barat ke timur dengan puncak-puncaknya yang tinggi menembus awan. Terletak di perbatasan tiga propinsi, yaitu Propinsi Shen-si dan Kan-su di utara, dan Propinsi Secuan di selatan. Dari pegunungan inilah mengalir air sungai Wei-ho di sebelah utara yang kemudian memuntahkan airnya ke sungai Huang-ho, dan di selatan mengalir sungai Han-sui yang kemudian bergabung dengan sungai Yang-ce.

Karena adanya sumber-sumber air yang besar ini, maka permukaan gunung Cin-ling-pai nampak kehijauan, tanahnya subur dan para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah itu tak pernah kekurangan makan. Pemandangan alamnya amat indah, malah ada beberapa bukit yang ditumbuhi banyak macam tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat.

Pegunungan Cin-ling-san bukan hanya terkenal karena tanahnya yang subur, atau karena keindahan alamnya dan kesejukan hawanya, akan tetapi bagi dunia kang-ouw terutama sekali karena di situ terdapat sebuah perkumpulan para pendekar yang bernama Cin-ling-pai.

Perkumpulan orang gagah ini berada di sebuah lereng dekat puncak, lereng yang sangat subur dan landai. Karena banyak anggota Cin-ling-pai yang tinggal di situ, maka lereng ini merupakan suatu perkampungan tersendiri di mana terdapat bangunan-bangunan yang di kelilingi pagar tembok. Tidak kurang dari seratus orang anggota Cin-ling-pai berkumpul di situ, bersama keluarga mereka. Di tengah perkampungan ini berdiri sebuah bangunan tua yang paling besar, berdiri seperti bersandar pada sebuah bukit, dan rumah ini merupakan tempat tinggal keluarga ketua Cin-ling-pai.

Cin-ling-pai sangat terkenal di dunia kang-ouw karena banyak pendekar dari perkumpulan ini sudah membuat nama besar di dunia ramai dan mengangkat tinggi nama Cin-ling-pai sehingga perkumpulan itu diakui sebagai sebuah perkumpulan besar di waktu itu.

Pada waktu itu perkumpulan orang-orang gagah lainnya yang terkenal adalah Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Kong-thong-pai, Im-yang-pai serta masih banyak partai atau perkumpulan lain, akan tetapi semua itu merupakan cabang atau pecahan dari perkumpulan-perkumpulan besar itu.

Semenjak beberapa turunan, Cin-ling-pai dipimpin oleh keluarga Cia. Keluarga ini terkenal sebagai ahli-ahli silat yang mempunyai kepandaian tinggi. Banyak macam ilmu silat tinggi yang hebat-hebat dimiliki keluarga ini sehingga nama Cin-ling-pai menjulang tinggi di dunia persilatan. Apa lagi karena sepak terjang keluarga ini selalu menentang kejahatan dengan gigih, maka mereka dikenal sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.

Kurang lebih seratus tahun yang silam, Cin-ling-pai dipimpin oleh seorang pendekar sakti yang bernama Cia Bun Houw, seorang yang telah membuat nama besar sehingga bukan hanya namanya saja yang terkenal, namun dia juga membawa nama Cin-ling-pai menjadi terkenal di seluruh dunia persilatan.

Pengganti Cia Bun Houw sebagai ketua Cin-ling-pai adalah Cia Kong Liang yang ketika itu telah menjadi seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh dua tahun dan tidak aktif lagi melainkan lebih banyak bertapa di dalam kamarnya pada bagian belakang bangunan keluarga ketua Cin-ling-pai yang besar itu. Cia Kong Liang lalu digantikan oleh puteranya, Cia Hui Song yang membuat nama Cin-ling-pai semakin harum dengan sepak terjangnya sebagai pendekar yang gagah perkasa.

Sungguh pun pada waktu itu Cia Hui Song baru berusia kurang lebih empat puluh empat tahun, namun dia sudah mengundurkan diri sebagai ketua Cin-ling-pai. Memang dia tidak berbakat menjadi seorang ketua, karena lebih suka hidup bebas dan berkelana bersama isterinya, yaitu Ceng Sui Cin puteri dari Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah.

Kedudukan ketua Cin-ling-pai lalu diserahkan kepada ketua baru yang dipilih melalui ujian dan pertandingan. Akhirnya kedudukan ketua baru dipegang oleh puterinya, yaitu Cia Kui Hong, seorang pendekar wanita yang amat gagah perkasa pula.

Cia Kui Hong baru berusia sembilan belas tahun ketika menjadi ketua Cin-ling-pai, hampir dua tahun yang lampau. Sebagai seorang gadis pendekar yang memiliki darah petualang yang sama seperti ayahnya, sesungguhnya Kui Hong tidak suka menjadi ketua. Kalau dia ikut dalam pemilihan ketua, hal itu dia lakukan karena dia melihat seorang murid baru Cin-ling-pai yang tidak disukanya ikut dicalonkan oleh kakek Cia Kong Liang menjadi ketua.

Dia tidak suka kepada Tang Cun Sek, murid itu. Untuk mencegah agar orang yang bukan dari keluarga Cia ini menjadi ketua baru, Kui Hong mengikuti pemilihan ketua. Ia berhasil mengalahkan Tan Cun Sek dan gadis inilah yang dipilih menjadi ketua baru menggantikan ayahnya!

Kemudian ternyata bahwa Tang Cun Sek ini memang bukan orang baik-baik. Sesudah dia dikalahkan oleh Kui Hong dalam pemilihan ketua Cin-ling-pai, dia minggat sambil mencuri pusaka Cin-ling-pai, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Namun akhirnya Tang Cun Sek tewas dalam pertempuran melawan para pendekar sehingga pedang Hong-cu-kiam kembali ke tangan Cia Kui Hong. Semua peristiwa itu sudah diceritakan di dalam kisah SI KUMBANG MERAH.

Ketika Kui Hong meninggalkan Cin-ling-pai hampir dua tahun yang lalu, dia menyerahkan kepengurusan Cin-ling-pai kepada Gouw Kian Sun, yaitu seorang tokoh Cin-ling-pai yang masih terhitung susiok-nya (paman seperguruan) sendiri. Ia sendiri pergi merantau untuk mencari Tang Cun Sek dan merampas kembali pusaka Hong-cu-kiam.

Ternyata Gouw Kian Sun cukup pandai memimpin Cin-ling-pai. Apa lagi masih ada kakek Cia Kong Liang yang menjadi pengawas dan penasehat, meski pun kakek ini lebih banyak bertapa di dalam kamarnya. Gouw Kian Sun yang usianya empat puluh dua tahun namun belum berkeluarga itu mempunyai kepandaian yang cukup tangguh. Dia telah menguasai semua ilmu dari Cin-ling-pai, kecuali beberapa ilmu rahasia yang tidak boleh dikuasai oleh sembarang murid.

Dari semua ilmu-ilmu silat milik keluarga Cia di Cin-ling-pai, yang paling ampuh antara lain adalah ilmu Toat-po-san, yaitu semacam ilmu kekebalan yang dapat membuat kulit tubuh menjadi keras dan kuat menahan pukulan, bahkan juga bacokan senjata tajam. Thian-te Sin-ciang merupakan ilmu silat tangan kosong yang mengandung tenaga sinkang sangat kuatnya. Siang-bhok Kiam-sut adalah ilmu pedang khas Cin-ling-pai yang asalnya adalah ilmu pedang yang dimainkan dengan pedang kayu akan tetapi kini dapat pula dimainkan dengan pedang baja yang ringan.

Thai-kek Sin-kun adalah ilmu silat yang amat halus namun kokoh kuat, bukan saja dapat dipergunakan untuk memperkuat tubuh sebagai latihan senam lahir batin, akan tetapi juga dapat digunakan sebagai ilmu bela diri yang ampuh. Di samping ilmu silat tangan kosong Thai-kek Sin-ciang dan Thai-kek Sin-kun, Cin-ling-pai masih mempunyai ilmu silat tangan kosong San-in Kun-hwat (Silat Awan Gunung) dan Im-yang Sin-kun. Juga ilmu tongkat pasangan Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga) boleh dibilang amat tangguh.

Walau pun semua ilmu silat Cin-ling-pai merupakan ilmu silat tinggi, akan tetapi tentu saja semua masih ada tandingannya, yaitu ilmu-ilmu dari partai-partai persilatan besar. Hanya ada satu ilmu Cin-ling-pai yang amat ditakuti oleh semua tokoh kang-ouw. Ilmu itu disebut Thi-khi I-beng (Mencuri Kekuatan Mengganti Semangat).

Sesungguhnya ilmu ini merupakan kekuatan sinkang (tenaga sakti) yang bekerja di tubuh orang yang menguasai ilmu itu, dan hebatnya, setiap kali bagian tubuh lawan menempel pada tubuh pemilik ilmu ini, maka tenaga sinkang lawan akan terhisap kemudian pindah ke dalam tubuh si pemilik ilmu. Ilmu ini amat ditakuti orang, karena orang yang lebih tinggi ilmu silatnya pun dapat dibuat tidak berdaya apa bila menghadapi ilmu menyedot sinkang lawan? ini.

Sayang tak sembarang orang dapat menguasai ilmu ini. Untuk menguasainya dibutuhkan bakat yang besar dan juga keadaan tubuh yang sesuai. Oleh karena itu jarang ada tokoh Cin-ling-pai yang menguasai Thi-khi I-beng. Selama ini hanya ayah dari mendiang Cia Bun Houw yang bernama Cia Keng Hong yang bisa menguasai ilmu Thi-khi I-beng itu. Bahkan Cia Bun Houw juga tidak mampu mewarisinya. Apa lagi Cia Kong Liang putera Cia Bun Houw, dia tidak menguasai Thi-khi I-beng. Puteranya yang lebih lihai, yaitu Cia Hui Song, juga tidak dapat menguasai ilmu luar biasa itu, apa lagi Cia Kui Hong.

Ilmu yang amat hebat itu seakan-akan sudah lenyap dari Cin-ling-pai karena tidak ada lagi keturunan Cin-ling-pai yang menguasainya. Untuk masa itu kiranya hanya satu orang saja yang menguasai Thi-khi I-beng, yaitu Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang menjadi majikan para penghuni Pulau Teratai Merah!

Demikianlah sedikit catatan mengenai Cin-ling-pai beserta para tokohnya. Pada waktu itu ketuanya, yaitu nona Cia Kui Hong, sudah lama pergi meninggalkan Cin-ling-pai dan yang mewakilinya mengatur perkumpulan itu adalah Gouw Kian Sun. Dia dibantu oleh seorang murid Cin-ling-pai lainnya yang termasuk murid keponakannya bernama Ciok Gun, murid berusia tiga puluh dua tahun yang sudah terkenal karena kegagahannya.

Berkat kesungguhan hati kedua orang inilah maka semua murid Cin-ling-pai tetap taat dan mematuhi peraturan, juga selalu menjaga nama baik perkumpulan dengan setia, biar pun Cin-ling-pai ditinggalkan oleh ketuanya sampai lama.

********************

Pagi yang cerah sekali. Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang hangat. Ciok Gun bersama dua orang anggota Cin-ling-pai yang lain memasuki sebuah hutan di bukit sebelah barat perkampungan mereka dengan membawa busur dan anak panah. Pagi hari itu Ciok Gun keluar sendiri untuk berburu di hutan. Bulan itu banyak terdapat ayam hutan dan kelinci di hutan yang mereka masuki itu. Hanya pada bulan-bulan tertentu saja di situ banyak berkeliaran kelinci gemuk dan ayam hutan dan itulah waktu untuk berburu.

Ciok Gun adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh dua tahun yang bertubuh jangkung dan tegap. Di antara murid Cin-lingpai tingkat kedua, dialah merupakan murid terpandai, maka oleh susiok-nya, Gouw Kian Sun, dia dipercaya untuk menjadi wakil dan pembantu utamanya. Bahkan Ciok Gun juga mewakili susiok-nya untuk mengamati serta memimpin latihan silat.

Dua orang kawannya adalah para sute-nya yang juga bertingkat dua dan mereka sudah memiliki ilmu silat Cin-ling-pai yang cukup tangguh. Mereka berdua adalah Teng Sin yang berusia dua puluh lima tahun dan Koo Ham yang berusia dua puluh tujuh tahun.

Teng Sin berwajah tampan dan tubuhnya tinggi besar, sedangkan Koo Ham tinggi kurus dengan kulit kehitaman. Walau pun belum setangguh Ciok Gun, namun mereka berdua itu sudah merupakan dua orang pendekar yang berkepandaian tinggi dan sukar dikalahkan.

Pada pagi hari itu tiga orang tokoh Cin-ling-pai ini akan berburu, selain untuk bersenang-senang juga hasilnya nanti hendak mereka serahkan kepada susiok mereka, Gouw Kian Sun dan para susiok lain, yaitu para murid tingkat pertama dari Cin-ling-pai. Di antara tiga orang murid tangguh Cin-ling-pai itu, hanya Koo Ham yang sudah menikah walau pun dia dan isterinya belum memperoleh turunan. Teng Sin dan Ciok Gun belum berumah tangga, masih membujang walau pun Teng Sin sudah berusia dua puluh lima tahun dan Ciok Gun bahkan sudah tiga puluh dua tahun.

Sesudah memasuki hutan, Teng Sin yang wataknya gembira itu berbisik. "Lihat, di pohon besar sana itu ada ayam-ayam hutan. Mari kita berlomba, siapa di antara kita yang dapat lebih dulu menjatuhkan seekor!"

Koo Ham tersenyum. "Hemm, mana engkau bisa menandingi Ciok-suheng yang amat ahli dalam menggunakan panah?"

Ciok Gun tersenyum pula. "Iihh, belum tentu juga. Hasil dalam berburu tidak sepenuhnya ditentukan oleh keahlian memanah. Juga nasib memegang peran penting. Yang bernasib terang, ketika berburu setiap langkah kakinya membawa dia berhadapan langsung dengan binatang buruan, sebaliknya kalau bintang sedang gelap, bisa jadi seharian penuh tidak pernah bertemu dengan seekor pun binatang buruan..."

Setelah dekat dengan pohon besar itu, mereka melihat ada tiga ekor ayam hutan sedang bertengger pada cabang pohon sambil bergerak-gerak dengan gesitmya. Mereka segera mengambil tempat yang enak, mempersiapkan busur dan anak panah lalu membidik dan menyusup dekat. Kini mereka sudah menarik tali busur, akan tetapi anak panah milik Ciok Gun meluncur lebih dulu dan lebih cepat, kemudian mengenai sasarannya dengan tepat.

Seekor ayam hutam jatuh ke bawah dengan leher ditembusi anak panah. Dua ekor ayam hutan melayang jatuh pula dengan perut tertembus anak panah yang dilepas Teng Sin dan Koo Ham. Mereka bertiga cepat mengambil ayam hutan itu lantas saling memperlihatkan kepada teman.

"Hah, kau lihat! Mana kita mampu menandingi kepandaian Ciok-suheng?" kata Koo Ham sambil tertawa.

Teng Sin harus mengakui keunggulan suheng-nya. Anak panahnya dan anak panah Koo Ham menembus perut ayam hutan, sedangkan anak panah Ciok Gun menembus leher! Tentu saja yang menembus leher itu lebih baik karena daging badan ayam tidak rusak oleh anak panah dan masih utuh, tidak seperti bidikan mereka yang menembus perut dan tentu saja hal ini merugikan karena sebagian daging ayam itu menjadi rusak.

Namun sungguh tidak mudah untuk membidik ke arah leher. Sedikit saja selisihnya maka akan gagal! Mereka masih belum sanggup memanah dan mengenai leher dengan tepat seperti yang dilakukan oleh suheng mereka.

Bagaimana pun juga, memanah ayam hutan yang gerakannya demikian lincah dan gesit bukan merupakan pekerjaan yang mudah, akan tetapi mereka bertiga telah membuktikan kelihaian mereka. Apa lagi memanah lawan seorang manusia, alangkah akan mudahnya bagi mereka untuk merobohkan lawan itu!

Belum lewat setengah hari lamanya, ketiga orang murid Cin-ling-pai yang gagah ini sudah membunuh dua puluh lebih ayam hutan dan belasan ekor kelinci. Mereka lalu bersepakat untuk pulang ke perkampungan mereka karena hasil buruan itu sudah cukup banyak.

Akan tetapi, ketika baru saja mereka keluar dari hutan, tiba-tiba di lereng bukit yang sunyi itu mereka berhadapan dengan dua orang yang entah muncul dari mana, tahu-tahu sudah berada di depan mereka seperti setan. Tentu saja tiga orang murid Cin-ling-pai itu terkejut sekali.

Mereka adalah pendekar-pendekar yang sudah banyak pengalaman, maka mereka dapat menduga bahwa kedua orang itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sehingga gerakan mereka amatlah cepatnya. Mereka lalu mengamati penuh perhatian karena belum pernah mereka melihat dua orang ini di daerah itu.

Orang pertama adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya agak kekuning-kuningan tetapi cukup tampan, mulutnya tersenyum mengandung ejekan. Rambutnya yang masih berwarna hitam itu digelung ke atas, terlihat mengkilap oleh minyak dan dijepit dengan jepitan rambut dari emas. Pria ini mengenakan pakaian mirip jubah pendeta. Di punggungnya tergantung siang-kiam (sepasang pedang).

Ada pun orang kedua amat menarik perhatian. Dia adalah seorang wanita yang usianya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Sulit menaksir usia wanita ini sebenarnya sebab wajahnya yang cantik manis itu ditutupi oleh bedak tebal. Bibir dan pipinya diwarnai merah.

Kalau pria tadi sudah amat pesolek, maka wanita muda ini lebih pesolek lagi. Pakaiannya gemerlap indah, di punggungnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya diukir dan diwarnai indah, gambar bunga-bunga dan kupu-kupu. Wanita ini lantas tersenyum manis dan agaknya dia yang menjadi juru bicara karena temannya, pria yang berpakaian seperti pendeta tosu (pendeta agama To) itu diam saja, hanya mengelus-elus jenggotnya sambil tersenyum mengejek.

"Kalian bertiga adalah murid-murid Cin-ling-pai yang terkenal itu, bukan?" tanya si wanita dan ketika dia bicara, gerak bibirnya jelas menunjukkan kegenitannya.

Mulut itu memang nampak penuh gairah menantang. Ketika dia bicara bibirnya bergerak-gerak memikat sehingga nampak giginya berderet rapi dan putih berikut rongga mulutnya yang merah. Lidah yang kecil panjang berwarna merah muda itu kadang-kadang menjilat bibir penuh daya pikat.

Namun tiga orang murid Cin-ling-pai itu adalah tiga orang pendekar gagah perkasa yang berbatin bersih dan teguh. Ciok Gun lalu menjawab dengan pandang mata penuh selidik dan alis berkerut karena dia merasa tidak suka melihat sikap wanita cantik itu yang jelas bukan seorang wanita sopan.

"Memang benar kami murid-murid Cin-ling-pai dan pada saat ini kami berada di daerah kami sendiri. Sebaliknya ji-wi (anda berdua) adalah orang asing. Ji-wi siapakah, dari mana dan ada keperluan apa maka berada di daerah ini?" Pertanyaan ini cukup tegas dan tidak ramah walau pun nadanya halus dan sopan.

Wanita itu tertawa, tertawa bebas sehingga mulutnya terbuka lebar. Akan tetapi sikapnya ini tidak membuat dia nampak buruk karena dia memang cantik. "Heh-heh-heh, alangkah gagahnya! Tentu engkau yang bernama Ciok Gun, murid utama Cin-ling-pai dan engkau yang membantu Gouw Kian Sun memimpin Cin-ling-pai, bukan?"

Diam-diam Ciok Gun terkejut. Wanita asing ini agaknya tahu segala tentang Cin-ling-pai. Timbul kekhawatirannya. Jangan-jangan wanita ini adalah seorang sahabat baik ketuanya, yaitu nona Cia Kui Hong yang sekarang sedang merantau dan belum pulang, pikirnya. Dia harus berhati-hati dan jangan sampai bersikap kurang hormat.

"Benar sekali, Nona. Ketua kami, yaitu Cia-pangcu, sekarang tidak berada di rumah maka yang mewakilinya adalah susiok Gouw Kian Sun, sedangkan saya hanya diperintah untuk membantu susiok."

Wanita itu tersenyum manis, lalu memandang kepada Teng Sin dan Koo Ham. "Dan dua orang ini murid-murid Cin-ling-pai tingkat rendahan?"

Wajah Ciok Gun berubah merah. Sahabat ketuanya atau bukan, wanita ini sikapnya amat buruk, lancang mulut dan sangat sombong. "Mereka adalah dua orang sute-ku!" katanya, tidak begitu hormat lagi. "Sesungguhnya siapakah ji-wi dan ada keperluan apa..."

"Ciok Gun, mulai saat ini engkau tidak membantu Gouw Kian Sun atau Cia Pangcu (Ketua Cia) lagi, melainkan membantu aku!"

"Ya... baik... ehh...", apa artinya semua ini?" Ciok Gun terkejut bukan main karena di luar keinginannya, begitu saja dia tadi menyanggupi untuk menjadi pembantu wanita yang tak dikenalnya itu! Hanya setelah memaksa hatinya memberontak dia dapat menahan diri dan kini dia memandang dengan mata terbelalak. "Nona, apa maksudmu? Apa artinya semua ini?"

Kembali wanita itu tertawa. "Ha-ha-he-he! Artinya, laki-laki yang gagah, bahwa mulai saat ini akulah yang berkuasa dan engkau harus mentaati semua perintahku!"

Selagi Ciok Gun masih tertegun karena bukan saja terheran mendengar ucapan itu, akan tetapi juga dia seperti terpengaruh akibat kekuatan yang aneh karena ucapan itu ditujukan kepadanya. Sementara dua orang sute-nya yang tidak terpengaruh sudah menjadi marah bukan main.

"Sungguh lancang mulut!" bentak Teng Sin marah sambil mengepal tinju dan melangkah dekat.

"Siapakah engkau ini wanita yang berani bersikap kurang ajar pada suheng kami?!" Koo Ham juga membentak sambil melangkah maju.

Wanita itu memandang kepada mereka dengan senyum mengejek, lalu dia mengibaskan tangannya ke arah mereka seperti orang mengusir lalat sambil berkata, "Huhh, kalian ini dua orang anak kecil tahu apa?"

Tentu saja kedua orang murid Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Mereka adalah tokoh-tokoh Cin-ling-pai tingkat dua yang telah memiliki kegagahan dan kepandaian tinggi tetapi kini diperlukan seperti dua orang anak kecil oleh seorang perempuan muda!

"Nona, kami adalah pendekar-pendekar yang tidak sudi menyerang wanita, kecuali kalau wanita itu seorang penjahat yang patut dibasmi. Karena itu, kalau engkau seorang wanita baik-baik, pergilah dari sini dan jangan sampai membuat kami marah!" Teng Sin berkata dengan sikap gagah. Bagaimana pun marahnya, dia masih ingat bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita dan tidak ada alasan bagi mereka untuk saling bermusuhan.

Wanita itu tersenyum, memandang kepada Teng Sin mulai kepala sampai ke kaki seperti orang yang sedang menaksir sebuah barang dagangan. "Hemmm, engkau ini anak kecil mengaku pendekar? Jika aku bukan orang baik-baik dan tidak mau pergi dari sini, engkau akan bisa berbuat apakah?"

"Keparat! Kalau begitu terpaksa aku harus mengusirmu dengan kekerasan!" bentak Teng Sin.

"Hik-hik-hik, kukira engkau tidak akan mampu, cucuku!" wanita itu mengejek.

Ini sudah keterlaluan, maka Teng Sin menerjang sambil mengeluarkan bentakan nyaring. Tentu saja dia masih belum tega untuk mencelakai wanita itu, tetapi hanya ingin memberi hajaran saja, maka dengan tenaga Thian-te Sin-ciang dia menampar ke arah pundak kiri wanita itu. Biar pun dia murid tingkat dua, akan tetapi Teng Sin sudah dapat menghimpun tenaga Thian-te Sin-ciang yang cukup kuat sehingga terdengar suara dan muncul angin menyambar keras ketika tangannya menyambar dengan tamparan itu,.

"Wuuuuttt...! Plakk!"

Tamparan itu tepat mengenai pundak kiri wanita itu karena memang tidak ditangkis atau dielakkan. Kedua mata Teng Sin terbelalak karena merasa khawatir sekali melihat betapa tamparannya itu mengenai pundak lawan tanpa ditangkis atau dielakkan. Kiranya wanita itu tidak pandai ilmu silat!

Akan tetapi dia semakin menjadi heran karena tangannya mengenai pundak yang begitu lunak seperti segumpal daging tanpa tulang saja dan tenaga Thian-te Sin-ciang itu seperti tenggelam lantas lenyap. Pada saat itu pula tangan kiri wanita itu bergerak secepat kilat sehingga tidak nampak. Tangan iu dengan jari terbuka menusuk ke arah dada Teng Sin.

"Bukkkk...!" Teng Sin terjengkang dan darah segar muncrat dari mulutnya.

Koo Ham dan Ciok Gun terkejut sekali. Mereka berlutut memeriksa dan ternyata Teng Sin telah tewas! Di ulu hatinya nampak tanda merah kehitaman bekas telapak tangan wanita itu, dan bajunya pada bagian dada hancur!

Dengan mata terbelalak Koo Ham memandang sute-nya yang tewas, lantas dia melompat sambil mencabut pedang yang tergantung pada pinggangnya. "Iblis betina, engkau berani membunuh saudaraku?!" bentaknya.

Koo Ham sudah menyerang dengan pedangnya, dan karena dia maklum betapa lihainya wanita itu, begitu menyerang dia langsung memainkan ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang pernah dipelajarinya, walau pun belum sempurna benar.

Sambil melompat ke samping untuk mengelak sambaran pedang, wanita itu berseru. "Iih, inilah Siang-bhok Kiam-sut? Kaku sekali!" Kembali dia mengelak sampai tiga kali berturut-turut ketika Koo Ham mendesaknya dengan serangan pedang.

"Tentu saja kaku, karena selain ilmunya itu belum sempurna, juga seharusnya untuk ilmu itu dipergunakan Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum)!" pendeta yang sejak tadi hanya memandang saja tiba-tiba menjawab ucapan wanita itu.

"Hah, kalau begitu bocah ini tidak ada gunanya!" kata wanita itu.

Pada saat itu pula pedang di tangan Koo Ham telah menyambar dengan tusukan ke arah lambung. Wanita itu menggeser kaki dan miringkan tubuhnya. Pedang meluncur ke dekat lambung dan begitu tangan kirinya bergerak, dia sudah menangkap pedang itu dengan tangan kirinya!

Koo Ham yang merasa marah karena kematian Teng Sin tidak peduli dan cepat menarik pedangnya untuk membuat tangan wanita itu tersayat. Namun pedangnya tidak bergerak seolah-olah bukan dijepit dengan tangan melainkan dengan jepitan baja yang amat kuat! Kembali dia mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya, namun pada saat itu pula tangan kanan wanita itu sudah bergerak. Demikian cepat gerakan itu sehingga Koo Ham tidak menduganya.

"Plakkk!"

Jari-jari tangan yang kecil halus itu menampar pelipis kepalanya, lantas tubuh Koo Ham terpelanting roboh di dekat mayat Teng Sin. Ketika Ciok Gun memandang, ternyata Koo Ham sudah tewas pula dan di pelipis kepala yang tertampar itu pun terdapat tanda bekas jari tangan merah kehitaman!

Ciok Gun maklum betapa gawatnya keadaan. Tentu saja dia merasa marah dan sakit hati sekali melihat betapa dua orang sute-nya tewas di tangan wanita itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa agaknya orang itu memusuhi Cin-ling-pai, maka dia cepat-cepat menahan kemarahannya dan ingin tahu siapa mereka dan mengapa begitu kejam membunuh dua orang murid Cin-ling-pai.

Ciok Gun sudah mencabut pedangnya karena maklum bahwa wanita ini lihai bukan main. Dengan pedang melintang di depan dada, dia memandang wanita itu dengan mata tajam penuh selidik.

"Siapakah sesungguhnya engkau dan mengapa engkau memusuhi kami?"

Wanita itu terkekeh lalu menoleh kepada tosu yang sejak tadi berdiri diam saja itu. "Suhu, lihat betapa gagahnya dia! Hayo Suhu, kenapa engkau sejak tadi diam saja? Membiarkan seorang wanita bekerja kelelahan. Sekarang giliranmu untuk menghadapi Ciok Gun ini. Akan tetapi ingat, jangan bunuh dia, Suhu, sesuai dengan rencana kita."

"Hemmm, untuk mengurus cacing ini saja harus aku yang turun tangan sendiri?" Tosu itu mengomel, namun dia segera melangkah maju menghadapi Ciok Gun. "Ciok Gun, seperti yang sudah dikatakan oleh muridku tadi, mulai saat ini engkau harus menjadi pembantu kami. Ketahuilah bahwa kami akan membuat Cin-ling-pai bangkit kembali menjadi sebuah perkumpulan besar yang kelak akan merajai seluruh perkumpulan dan partai persilatan. Dan engkau akan membantu kami!"

"Aku tak sudi!" Ciok Gun membentak. "Lo-tiang, engkau ini nampaknya seorang pendeta, tapi kenapa bersikap begini kejam membiarkan muridmu membunuh dua orang sute-ku? Siapakah engkau?"

"Aku bernama Kim Hwa Cu, masih ada dua orang suheng-ku bernama Siok Hwa Cu dan Lan Hwa Cu. Dia adalah Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa, murid kami bertiga. Sekarang mau tidak mau engkau harus menjadi pembantu kami!"

Ciok Gun belum pernah mendengar nama tiga orang pendeta itu, akan tetapi dia merasa pernah mendengar nama Tok-ciang Bi Mo-li (Iblis Betina Cantik Tangan Beracun) di dunia kang-ouw.

"Biar sampai mati aku tidak akan sudi! Sekarang kalian harus mempertanggung jawabkan kematian dua orang sute-ku!" berkata demikian, dia pun menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada tosu di depannya itu.

Tosu yang bernama Kim Hwa Cu itu mengeluarkan dengus mengejek dari hidungnya. Dia menggerakkan tangan untuk menangkis, lantas ujung lengan baju yang lebar dan panjang menyembunyikan tangannya itu menyambut pedang.

"Plakkk!"

Ciok Gun berseru kaget karena tangkisan ujung lengan baju itu demikian kuatnya. Dia tak mampu mempertahankan pedangnya lagi sehingga terpental lepas dari tangannya lantas terlempar sampai jauh!

Hampir dia tidak percaya akan apa yang dialaminya. Dua orang sute-nya, masing-masing dalam segebrakan saja langsung tewas di tangan wanita cantik genit itu, sedangkan dia sendiri dalam satu gebrakan saja sudah kehilangan pedangnya melawan tosu yang tinggi kurus ini. Bagaimana mungkin ini? Ketuanya sendiri pun tidak mungkin dapat membuat dia melepaskan pedang dalam satu gebrakan saja!

Ciok Gun adalah murid tingkat dua yang sudah terhitung ahli. Bahkan di antara para murid setingkat, dialah yang paling lihai dan dia pun ahli dalam ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung). Maka, biar pun pedangnya sudah terlempar, dia tidak mau menyerah dan sekarang dia sudah menyerang dengan dua tangan kosong, memainkan ilmu silat San-in Kun-hoat! Tetapi dua kali pukulan dan tendangannya dihindari tosu itu dengan elakan.

"Bi Hwa, perhatikanlah. Inilah San-in Kun-hoat!" kata kakek itu sambil terus mengelak, seolah memberi kesempatan kepada Ciok Gun untuk mempertontonkan ilmu silat itu.

"Hemmm, gerakannya sudah lumayan." Wanita itu pun memberi komentar. 鈥淭etapi jangan kau lukai dia, Suhu. Dialah yang akan membantu kita."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir, Bi Hwa. Nah, kurobohkan dia!" kata tosu itu.

Ciok Gun yang mendengarkan percakapan itu tentu saja amat terkejut dan dia pun cepat memasang kuda-kuda untuk membela dirinya yang akan dirobohkan tosu itu. Akan tetapi pada saat itu dua ujung lengan baju telah menyambar dari kanan kiri. Demikian cepatnya dan demikian dahsyatnya sehingga biar pun Ciok Gun berusaha untuk menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan, tetap saja pundaknya tersentuh ujung lengan baju dan dia pun roboh tertotok dalam keadaan pingsan!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ciok Gun membuka matanya. Sejenak dia nanar dan merasa tubuhnya panas. Pada saat nanarnya hilang dan dia menyadari bahwa dia berada di atas sebuah pembaringan dalam sebuah kamar, dia merasa terkejut dan segera teringat akan peristiwa di dalam hutan itu. Mimpikah dia? Mimpi buruk tentang kedua orang sute-nya yang tewas? Di mana dia?

Dia bangkit duduk dan makin kaget mendapatkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat, akan tetapi sebelum bangkit tadi tubuhnya tertutup selimut. Tiba-tiba dia merasa ada yang bergerak di sebelahnya, maka dia menoleh dan Ciok Gun berseru kaget.

Wanita cantik itu berada di dekatnya, juga tanpa pakaian. Wanita yang dilihatnya dalam 'impi' sudah membunuh dua orang sute-nya. Bukan mimpi kalau begitu! Teringatlah dia betapa dia melawan tosu yang amat lihai dan tahulah dia bahwa kini dia telah tertawan!

"Keparat...!" serunya. Dia hendak meloncat turun, tetapi tiba-tiba wanita itu merangkulnya sehingga dia pun tidak mampu meronta.

"Ciok Gun, hendak ke mana engkau? Ingat, engkau adalah pembantuku, pembantu kami. Aihh, engkau memang gagah sekali..." Wanita itu mendekap dan mencium.

Ciok Gun hendak meronta tetapi tidak dapat dan dia pun seperti tenggelam dalam lautan yang amat panas. Dia tidak lagi menyadari apa yang dia lakukan dengan wanita itu. Ada dorongan dalam tubuhnya yang membuat dia seperti mabuk, seperti dalam mimpi, namun nalurinya membisikkan bahwa dia sudah melakukan hal yang sungguh tidak pantas, yang berlawanan dengan suara hatinya.

Setelah semua berlalu, Ciok Gun terengah-engah dan setelah dorongan hasrat yang tidak wajar itu terpuaskan, dia pun teringat kembali. Dia menyadari bahwa dirinya terpengaruh bius dan obat racun perangsang yang membuat dia lupa segala.

Dia meronta karena teringat bahwa wanita cantik di sampingnya yang kini rebah telentang dengan mata terpejam dan mulut tersenyum itu adalah orang yang telah membunuh Teng Sin dan Koo Ham. Wanita ini adalah iblis betina yang amat jahat. Membunuh dua orang sute-nya, menawan dia, bahkan kini menggunakan cara yang sangat keji untuk memaksa dia melakukan perbuatan yang amat menjijikkan bagi kesadarannya.

"Jahanam kau!" Dan dia pun mengerahkan tenaganya memukul kepala wanita yang rebah tersenyum dan memejamkan mata itu.

"Prokkk...!"

Bukan kepala wanita itu yang terkena hantamannya melainkan bantal yang tadi ditidurinya dan sebelum Ciok Gun dapat menyerang lagi, sebuah totokan jari tangan wanita itu sudah membuat dia roboh lemas di atas pembaringan.

"Hi-hi-hik, Ciok Gun, engkau masih saja liar dan ganas!" kata wanita itu sambil merangkul kembali dan menciumi Ciok Gun yang terpaksa hanya mampu memejamkan mata karena tidak mampu bergerak untuk menghindar.

Sisa hawa panas yang membuat dia dibakar hasrat itu bahkan masih ada sehingga diam-diam dengan hati ngeri dia merasakan kenyataan betapa belaian wanita itu mendatangkan kenikmatan dan kesenangan bagi tubuhnya! Dia hendak meronta, hendak menolak, tetapi tubuhnya seolah bukan miliknya lagi dan tidak dapat dikuasainya.

Karena tubuhnya kini tertotok hingga tidak dapat digerakkan, maka di dalam dirinya terjadi perang perasaan antara melayani rayuan dan belaian wanita itu atau menolaknya. Ketika wanita itu mendengar rintih dan desahnya, mendadak totokan pada tubuhnya dibebaskan dan dia pun sekali lagi tenggelam ke dalam gairah nafsu yang berkobar dan tidak mampu mempertahankan dirinya lagi.

Setelah peristiwa ulangan itu selesai, Ciok Gun merasa begitu tidak berdaya sehingga dia menangis di atas pembaringan yang dianggapnya mendatangkan peristiwa jahanam yang menghancurkan segala martabatnya itu. Wanita itu segera merangkul dan membelainya untuk menghiburnya.

"Ciok Gun, sudahlah, tenangkan hatimu. Engkau sudah menjadi kekasihku, bukan? Nah, mulai sekarang engkau menjadi pembantuku dan kita akan selalu hidup senang..."

"Tidak...! Tidak sudi...!" Ciok Gun meronta dan melompat turun dari atas pembaringan.

Dia maklum bahwa dia tidak berdaya menghadapi wanita ini, dan jika dia menyerang pun dia takkan menang. Dia sudah ternoda, bagaimana mungkin dia dapat menghadapi para pemimpin Cin-ling-pai dan menceritakan semua ini? Dia cepat melompat ke arah dinding dan bermaksud untuk membenturkan kepalanya ke dinding itu supaya kepalanya pecah. Mati masih jauh lebih baik dari pada apa yang dia alami waktu itu!

"Plakkk!"

Kepalanya tidak membentur dinding melainkan ditahan oleh tangan lembut wanita itu dan pada lain saat dia pun sudah roboh kembali karena ditotok secara aneh oleh wanita yang bukan main lihainya itu.

"Hemmm, keras kepala!" Kini wanita itu tidak lagi bersikap lembut. Dia mengangkat tubuh Ciok Gun yang sudah tak mampu bergerak, lantas melemparkannya ke atas pembaringan kembali. Dia mengenakan pakaiannya dan keluar dari dalam kamar, kemudian menutup kembali daun pintu kamar itu dari luar.

Dengan rambut masih awut-awutan, bedak luntur serta pemerah bibir dan pipi yang juga kerserakan, wanita itu memasuki sebuah ruangan yang luas di mana nampak duduk tiga orang pria yang berpakaian pendeta. Seorang di antara mereka adalah pendeta yang tadi bersamanya menghadang perjalanan tiga orang murid Cin-ling-pai itu.

Melihat kemunculan wanita itu dengan wajah dan rambut kusut, tosu yang tadi mengaku bernama Kim Hwa Cu tertawa akan tetapi pandang matanya membayangkan perasaan iri dan tak suka hati. "Bagus! Kami menunggu di sini dan engkau lupa diri bersenang-senang sepuasnya dengan tawananmu, ya?"

Wanita itu cemberut, kemudian dengan sikap kasar duduk di atas kursi menghadapi meja dan menuangkan arak ke dalam cawan lalu meminumnya hingga tiga kali. Sikapnya sama sekali tidak menghormat kepada tiga orang pendeta itu!

Siapakah mereka? Seperti pengakuan tosu pertama itu kepada Ciok Gun tadi, mereka itu adalah Kim Hwa Cu yang bertubuh tinggi kurus bermuka kuning yang usianya sekitar lima puluh tahun. Dua orang tosu lainnya adalah dua orang suheng-nya (kakak seperguruan).

Yang berperut gendut pendek, mukanya hitam serta bermata lebar adalah Siok Hwa Cu, berusia lima puluh enam tahun. Tosu ketiga yang paling tua, usianya sekitar enam puluh tahun dan bernama Lan Hwa Cu. Tubuhnya tinggi besar dan wajahnya kasar, akan tetapi sikapnya lembut seperti wanita.

Boleh jadi ketiga orang ini tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, apa lagi di daerah Cin-ling-san. Akan tetapi di dunia barat dan utara, mereka ini dikenal dengan sebutan Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw). Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sebuah perkumpulan golongan sesat berkedok agama yang suka memberontak terhadap pemerintah. Pek-lian-kauw memiliki banyak sekali orang pandai, dan tiga orang ini adalah tiga di antara para tokoh besarnya yang telah memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingannya!

Ada pun wanita itu adalah murid mereka bertiga, ya murid ya kekasih! Keadaan seperti ini tidaklah aneh di dalam dunia golongan sesat, di mana aturan dan kesusilaan ditentukan oleh mereka yang berkuasa dan yang lebih kuat.

Su Bi Hwa, gadis berusia dua puluh lima tahun itu, semenjak kecil menjadi murid Pek-lian Sam-kwi. Semua ilmu tiga orang sakti itu telah dipelajarinya. Dalam urusan kejahatan dan kekejian, gadis ini sungguh tidak memalukan tiga orang gurunya sehingga dia mendapat julukan Tok-ciang Bi Moli (Iblis Betina Cantik Tangan Beracun)!

Dia seorang wanita yang selain lihai, juga berwatak kejam dan cabul. Bukan saja secara terang-terangan dia membiarkan dirinya menjadi kekasih dari tiga orang gurunya, terutama sekali Kim Hwa Cu yang terkenal paling cabul di antara mereka bertiga, juga dia begitu mudah menyerahkan diri kepada pria mana pun yang disukainya.

Tiga orang gurunya tidak dapat melarang, juga tidak mau melarangnya. Inilah kebebasan yang dianut oleh orang-orang golongan sesat, di mana tidak ada lagi peraturan, tidak ada lagi kesusilaan, tidak ada lagi hukum dan kesopanan. Tapi justru inilah yang menimbulkan kerukunan dan persatuan di antara mereka!

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw dan murid mereka ini datang jauh dari barat dan mereka sedang membawa tugas yang diperintahkan pimpinan pusat Pek-lian-kauw. Gerakan Pek-lian-kauw selalu gagal di mana-mana, bukan saja karena kekuatan pemerintah, melainkan terutama sekali karena adanya para pendekar yang selalu menentangnya. Maka tahulah para pimpinan pusat Pek-lian-kauw bahwa selama mereka belum dapat menguasai para pendekar dan tidak dapat merajai dunia kang-ouw, maka akan sukarlah bagi mereka untuk mengalahkan pemerintah.

Kini Pek-lian Sam-kwi mendapat tugas yang amat berat dan sulit, yaitu berusaha dengan cara apa pun untuk dapat menguasai dunia persilatan, menundukkan para pendekar dan para tokoh kang-ouw, baik golongan putih mau pun golongan hitam. Para pucuk pimpinan Pek-lian-kauw merasa yakin akan kesanggupan serta kemampuan Pek-lian Sam-kwi yang merupakan tokoh-tokoh kelas satu dari Pek-lian-kauw. Selain lihai ilmu silatnya serta kuat ilmu sihirnya, juga mereka memiliki seorang murid yang terkenal kecerdikannya, yaitu Su Bi Hwa yang berjuluk Tok-ciang Bi Moli, yang dalam hal ilmu silat hanya sedikit di bawah tingkat guru-gurunya, dan biar pun ilmu sihirnya tidak sekuat Pek-lian Sam-kwi, namun dia memiliki kecerdikan yang mengalahkan semua gurunya.

Su Bi Hwa yang mengatur siasat agar menguasai dan meminjam nama Cin-ling-pai untuk mengacau dunia para pendekar dan menguasai mereka! Dan untuk melaksanakan siasat yang amat berbahaya itu, diam-diam mereka memilih bukit itu yang tidak berapa jauh dari perkampungan Cin-ling-pai sebagai tempat persembunyian mereka. Di tempat itu mereka membangun sebuah rumah yang tersembunyi dalam hutan, sebuah rumah yang lengkap dengan segala peralatan, bahkan yang mereka pasangi alat-alat rahasia.

Mereka telah mulai dengan rencana mereka, yaitu dengan menyelidiki semua keadaan di Cin-ling-pai, para pemimpin mereka, kekuatan dan kelemahan mereka dan pada hari itu mereka sudah mulai turun tangan, membunuh dua orang murid Cin-ling-pai yang mereka kubur secara rahasia, juga menawan Ciok Gun. Mereka hendak menundukkan Ciok Gun dan menjadikan pembantu wakil ketua Cin-ling-pai itu sebagai boneka mereka!

Begitulah keadaan empat orang yang penuh rahasia itu. Tentu saja Bi Hwa merasa amat mendongkol, kecewa dan marah ketika melihat betapa bujuk rayunya terhadap Ciok Gun telah gagal! Biar pun dengan penggunaan obat bius dan obat perangsang dia telah dapat memaksa Ciok Gun jatuh ke dalam pelukannya, tetapi bukan ini yang menjadi tujuannya. Dia ingin agar tokoh Cin-ling-pai itu benar-benar jatuh cinta dan taat kepadanya.

Kiranya pria gagah itu sama sekali tidak mau tunduk, malah hampir saja mau membunuh diri! Maka dengan hati mendongkol dia lalu menotok Ciok Gun dan sesudah melemparnya ke atas pembaringan, dia lalu menghampiri ruangan di mana tiga orang gurunya berada.

Dan begitu masuk dia segera disambut dengan teguran Kim Hwa Cu yang sedikit banyak membayangkan perasaan cemburu! Hal ini membuat hati Bi Hwa semakin mengkal lagi. Dia duduk di atas kursi, menghadapi tiga orang gurunya dan menjawab teguran Kim Hwa Cu yang mengatakan bahwa dia hanya bersenang-senang dengan tawanan.

"Sam-suhu (guru ke tiga) menganggap aku bersenang-senang, ya? Huh, kalau tidak ingat akan tugas, sudah kuhancurkan kepala Ciok Gun itu!"

"Ahhh? Mengapa begitu? Apa yang terjadi?" tanya Lan Hwa Cu, guru pertama, suaranya tinggi seperti suara wanita, dan kalau bicara matanya melirik genit.

Di antara Pek-lian Sam-kwi, orang pertama yang paling tua ini yang menganggap Bi Hwa sebagai murid dan seperti anak sendiri karena dia tidak pernah bersikap mesra terhadap Bi Hwa dan terhadap wanita mana pun juga. Lan Hwa Cu ini mempunyai kelainan dan dia lebih suka mendekati seorang pemuda tampan ketimbang seorang gadis cantik.

"Dia keras kepala. Sampai bagaimana pun tidak mau tunduk walau pun pengaruh obat itu telah membuat dia meniduriku. Akan tetapi perasaan hatinya tidak pernah tunduk, bahkan tadi hampir saja dia membunuh diri."

"Huh-huh! Kalau begitu bunuh saja dia. Dia tidak ada gunanya!" kata Siok Hwa Cu yang berwatak kasar, keras dan kejam.

Kim Hwa Cu juga mengagguk-angguk. "Benar, kalau tidak di bunuh, untuk apa?"

Bi Hwa makin cemberut. Ji-suhu (guru kedua) dan Sam-suhu (guru ke tiga) hanya mau mudahnya saja, tanpa mempergunakan kecerdikan sehingga aku khawatir tugas kita akan gagal kalau menuruti kata-kata kalian."

Kim Hwa Cu dan Siok Hwa Cu saling pandang dan menggerakkan pundak. Mereka harus mengakui bahwa mereka tidak berdaya menghadapi murid ini, karena mereka tidak dapat menduga akal apa yang akan dipergunakan oleh murid yang cantik dan amat cerdik itu.

"Sudahlah, Bi Hwa. Engkau tidak perlu marah terus. Hayo ceritakan, setelah Ciok Gun tak berhasil kau bujuk untuk membantu kita, lantas apa yang selanjutnya hendak kau lakukan terhadap dia?"

"Kwa-suhu (guru tertua), tidak ada lain jalan. Kita harus mengubah rencana. Ciok Gun kita jadikan mayat hidup, kemudian melalui dia, kita melumpuhkan para pimpinan Cin-ling-pai. Dapat di atur begini..."

Gadis itu kemudian bicara berbisik-bisik walau pun mereka merasa yakin bahwa di sana tak mungkin ada yang ikut mendengarkan. Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk dan pandangan mata mereka ditujukan kepada mulut gadis yang berbicara itu dengan penuh kagum.

********************

Pagi hari yang cerah. Matahari belum nampak, baru sinarnya saja yang sudah membakar langit timur. Akan tetapi cahaya kemerahan itu sudah bisa mengusir sisa kegelapan yang ditinggalkan sang malam. Cahaya itu pula yang mendatangkan suasana gembira.

Setiap batang rumput, setiap helai daun, tenggelam di dalam suasana gembira itu, berseri basah oleh embun bermandikan cahaya keemasan laksana puteri-puteri jelita baru keluar dari dalam danau. Burung-burung juga berdendang riang, berkicau saling sahut-menyahut sambil menari berloncatan dari ranting ke ranting, siap untuk memenuhi tugas kehidupan mereka, yaitu mencari makan setiap hari.

Di lereng yang sangat sunyi dan segar indah berseri itu nampak dua orang manusia yang berjalan-jalan dengan wajah yang ceria pula. Dua orang itu merupakan dua keadaan yang amat berlawanan, akan tetapi merupakan perpaduan yang membuktikan kekuasaan alam. Seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun bersama seorang anak laki-laki berusia lima tahun! Seorang manusia yang sudah sampai di ambang akhir perjalanan hidup, bersama seorang manusia lain yang baru saja muncul dari ambang pertama dan sedang tumbuh, menggambarkan awal dan akhir perjalanan hidup manusia yang hanya dibatasi oleh usia, oleh sang waktu yang melesat cepat tanpa terasa. Akhirnya kakek itu akan mati, ada pun anak itu akhirnya akan menjadi seperti kakek itu, siap untuk mati pula, mungkin kelak dia juga akan menggandeng tangan seorang cucunya seperti dia sekarang yang digandeng oleh kakeknya.

Biar pun usianya sudah tujuh puluh dua tahun namun kakek itu masih nampak gagah dan tubuhnya masih tegap. Wajahnya anggun dan mudah dilihat bahwa pada masa muda dia tentu seorang pria yang amat ganteng. Langkahnya juga masih gagah dan perutnya tidak menggendut seperti perut kebanyakan laki-laki yang sudah berusia lanjut, juga tidak kurus kering melainkan tubuh itu masih padat.

Dia adalah Cia Kong Liang, kakek yang dahulu pernah menjadi ketua Cin-ling-pai, kakek dari ketua yang sekarang, yaitu nona Cia Kui Hong. Sudah belasan tahun kakek ini lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk bersemedhi, atau berjalan-jalan di puncak-puncak bukit sunyi, merasa lebih akrab dengan alam dari pada dengan manusia lain. Dan pada pagi hari itu dia berjalan-jalan bersama cucunya, anak laki-laki berusia lima tahun yang bernama Cia Kui Bu itu.

Cia Kui Bu adalah anak kedua dari Cia Hui Song, pendekar Cin-ling-pai yang pernah pula menjadi ketua. Isterinya bernama Ceng Sui Cin, seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian silat tinggi, tak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian suaminya sebab wanita ini adalah puteri tunggal dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin majikan Pulau Teratai Merah dan isterinya Toan Kim Hong yang pernah berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan), kini seorang nenek berusia tujuh puluh tahun yang mempunyai kepandaian setingkat dengan suaminya!

Akan tetapi Ceng Sui Cin merupakan ibu tiri dari Cia Kui Bu. Anak tunggal Ceng Sui Cin adalah Cia Kui Hong yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai. Sedangkan Cia Kui Bu adalah putera Cia Hui Song dari seorang isteri muda bernama Bi Nio yang kini sudah meninggal, akan tetapi anak ini sejak kecil dirawat Ceng Sui Cin seperti anaknya sendiri sehingga dia pun menganggap bahwa ibunya adalah Ceng Sui Cin.

Kemarin baru saja Cia Hui Song bersama Ceng Sui Cin dan anak mereka itu pulang dari perjalanan mereka ke Pulau Teratai Merah, berkunjung ke tempat kediaman orang tua Sui Cin. Sampai berbulan-bulan lamanya mereka beristirahat di tempat itu dan baru kemarin mereka kembali ke Cin-ling-pai. Namun puteri mereka yang menjadi ketua, Cia Kui Hong, belum pulang dari perantauannya.

Tentu saja kedatangan mereka lantas disambut gembira oleh semua anggota Cin-ling-pai. Terutama sekali kakek Cia Kong Liang merasa girang bukan main melihat cucunya, Cia Kui Bu. Dan pada pagi hari ini kakek itu mengajak Cia Kui Bu berjalan-jalan seperti yang semalam telah dijanjikannya kepada cucunya. Cuaca masih gelap pada saat mereka tadi meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai.

Sesudah berbulan-bulan tinggal di Pulau Teratai Merah dan setiap hari hanya menikmati keindahan pemandangan alam pulau yang dikepung air laut itu, tentu saja kini keindahan alam pegunungan merupakan keindahan yang lain sama sekali sehingga mendatangkan kegembiraan di hati anak itu. Dia berlari-larian mengejar kelinci, meneriaki burung-burung sehingga kakeknya terbawa oleh kegembiraan cucunya.

Kesenangan lewat panca indera dikemudikan oleh nafsu, oleh karena itu selalu berakhir dengan kebosanan dan dengan pengejaran akan kesenangan yang lain. Inilah sebabnya mengapa orang-orang kota merasa gembira kalau pergi ke dusun, dan sebaliknya orang dusun amat senang bila pergi ke kota.

Karena sudah terbiasa, penduduk pantai tidak dapat menikmati keindahan pemandangan di tepi laut lagi dan merindukan keindahan suasana di pegunungan, sebaliknya penghuni gunung telah bosan akan pemandangan di pegunungan dan akan mengagumi keindahan pemandangan di tepi laut.

"Kongkong (kakek), di sana ada kijang. Mari kita tangkap!" Tiba-tiba Cia Kui Bu berlari cepat mendaki lereng sebuah bukit.

"Heii, hati-hati, Kui Bu, jangan berlari sembarangan!" Kakek itu berseru dan mengejar.

Dia dapat menyusul dan menggandeng tangan cucunya, lalu mereka berlarian mengejar seekor kijang muda yang seperti hewan lainnya kalau masih muda senang bermain-main. Kijang itu seolah mengajak mereka bermain, berlari-lari sambil berloncatan kecil. Apa bila jarak antara mereka terlampau jauh maka dia berhenti dan seperti menanti, namun kalau sudah dekat dia berlari lagi.

Cia Kong Liang membiarkan saja cucunya bergembira dan mengejar kijang itu. Dia hanya menjaga agar cucunya itu jangan sampai terjatuh ke dalam jurang. Tanpa terasa mereka telah tiba di tepi hutan lebat yang berada di lereng bukit itu.

Kijang itu melompat ke dalam hutan lantas lenyap di balik semak belukar. Ketika Cia Kui Bu yang digandeng kakeknya hendak mengejar, dari dalam hutan itu tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki yang berdiri seperti patung dan memandang kepada mereka.

Cia Kong Liang berhenti kemudian memandang. "Haii, Ciok Gun! Mengapa engkau belum pulang? Semua orang di sana menantimu. Sejak kemarin pagi engkau pergi berburu dan sampai sekarang belum pulang. Di mana Teng Sin dan Koo Ham?"

Ciok Gun terlihat ragu-ragu sejenak, lalu memberi hormat kepada kakek itu. "Sukong, sute Teng Sin dan Koo Ham baik-baik saja. Nanti teecu (murid) akan pulang."

Cia Kong Liang memandang dengan heran. Memang Ciok Gun tidak pandai bicara, malu-malu walau pun dia amat setia kepada Cin-ling-pai. Akan tetapi kenapa pagi ini sikapnya kelihatan demikian dingin dan bahkan kaku? Sebelum dia bertanya, Kui Bu sudah berlari ke arah Ciok Gun.

"Suheng...!" serunya gembira.

Karena sudah berbulan-bulan meninggalkan Cin-ling-pai, setelah pulang Kui Bu bersikap ramah kepada semua orang sebagai pelepasan rindunya. Apa lagi kepada Ciok Gun dan Gouw Kian Sun, dua orang yang dekat dengan keluarga Cin-ling-pai. Maka ketika melihat Ciok Gun yang masih terhitung suheng (kakak seperguruan), kakaknya, atau juga murid keponakan orang tuanya, dia lalu lari menghampiri dengan gembira.

"Ciok-suheng, mana hasil buruanmu?" tanyanya setelah dia sampai di hadapan Ciok Gun. Tiba-tiba Ciok Gun menyambar tubuh Kui Bu dan memondongnya, terus mengajaknya lari ke dalam hutan.

"Heiiii, Ciok-suheng, kita ke mana...?" Kui Bu berseru heran akan tetapi gembira karena mengira bahwa tentu Ciok Gun akan mengajaknya bermain-main. Namun kakek Cia Kong Liang merasa heran dan curiga. Ada sesuatu di dalam sikap Ciok Gun yang dianggapnya aneh sekali.

"Ciok Gun, berhenti...!" bentaknya, lalu dia pun melompat dan mengejar.

Akan tetapi Ciok Gun tidak mau berhenti dan berlari terus, dikejar oleh Cia Kong Liang. Akhirnya Ciok Gun yang memondong Kui Bu tiba di depan sebuah pondok yang dari luar nampak sederhana saja. Kakek itu memandang heran.

Bukit ini sunyi dan biar pun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah mendaki bukit ini, akan tetapi seingatnya tidak pernah ada orang tinggal di sini karena bukit ini jauh dari dusun-dusun lain, juga masih liar dan berbahaya.

Ketika dia hendak mengejar masuk pondok melalui pintunya yang terbuka lebar, tiba-tiba muncul tiga orang pria berpakaian pendeta dan seorang wanita muda yang cantik. Wanita itu berada paling depan dan agaknya sengaja menyambut sambil tersenyum-senyum.

"Selamat datang di pondok kami, locianpwe Cia Kong Liang!" Su Bi Hwa berkata sambil tersenyum manis sekali.

Kakek itu mengerutkan sepasang alisnya. Dia tak mengenal empat orang ini, akan tetapi karena wanita muda itu menyambutnya dengan sikap hormat, dia pun segera membalas penghormatannya sambil berkata. "Siapakah Nona, dan harap Nona menyuruh Ciok Gun keluar mengajak cucuku."

"Cia-locianpwe, sekarang locianpwe sudah menjadi tamu kami, seperti juga anak Cia Kui Bu itu. Mari, locianpwe, silakan masuk dan kita bicara di dalam..."

Biar pun sudah amat tua namun kakek Cia Kong Liang masih waspada. Pengalamannya yang banyak membuat dia maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak boleh dipercaya begitu saja.

"Harap suruh Ciok Gun keluar membawa cucuku dulu, baru nanti kita bicara!" Kemudian dia mengerahkan khikang, suaranya menggetar ketika berteriak ke arah pondok itu. "Ciok Gun, aku sukong-mu yang bicara ini. Kuperintahkan engkau keluar mengajak Kui Bu!"

Suara itu hebatnya bukan kepalang, melengking dan seperti menggetarkan jantung semua orang. Dengan diam-diam empat orang itu terkejut sekali dan harus mereka akui bahwa kakek yang sudah tua ini tidak boleh di pandang ringan. Su Bi Hwa lalu berteriak pula ke arah pintu pondok.

"Ciok Gun, engkau tinggal saja di dalam sana dan jaga baik-baik Cia Kui Bu. Engkau tidak boleh keluar sebelum kuperintahkan! Ini aku Su-siocia (Nona Su) yang bicara!"

Dari dalam pondok terdengar suara Ciok Gun, "Baik, Su-siocia!"

Kakek itu terbelalak. Tidak mungkin cucu muridnya itu begitu saja mentaati wanita ini dan berani membangkang terhadap perintahnya. Tentu ada sesuatu yang tidak wajar!

"Nona, apa artinya ini? Apa yang kau lakukan kepada Ciok Gun?"

Kini gadis itu tertawa dan begitu tertawa kakek itu pun mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang kejam dan amat jahat. "Ha-ha-hi-hi-hik! Cia-locianpwe, tidak perlu engkau mencoba untuk memerintah Ciok Gun. Dia sekarang telah menjadi hambaku yang setia."

"Walau begitu cucuku akan kuambil sendiri!" Cia Kong Liang meloncat ke arah pintu. Akan tetapi nampak bayangan berkelebat dan wanita itu telah menghadang di depan pintu.

"Nona, engkau minggirlah! Aku tak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga. Aku hanya ingin mengambil kembali cucuku!" bentak Cia Kong Liang, sekarang sikapnya angkuh dan tegas, penuh wibawa.

"Locianpwe, ini adalah rumah kami. Tanpa seijin kami, engkau atau siapa pun tidak boleh memasukinya!" kata gadis itu sambil tetap tersenyum.

Wajah Cia Kong Liang berubah merah. Dia sudah marah bukan main. "Nona, apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau sudah menculik cucuku dan kini hendak menahannya di dalam poncokmu ini?"

"Boleh saja kau anggap demikian, Cia Kong Liang," kata Bi Hwa dan sekarang dia sudah menanggalkan kedoknya, tidak lagi bersikap hormat.

"Hemmm, tidak semestinya aku seorang tua harus berkelahi melawan seorang muda, apa lagi seorang gadis! Sekali lagi kuminta engkau membebaskan cucuku dan aku tidak akan menggunakan kekerasan!"

Bi Hwa tertawa. "Ha-ha-heh-heh, justru kami ingin melihat engkau mengeluarkan semua kepandaianmu untuk melawanku, Cia Kong Liang!"

"Keparat!" Kakek itu sudah lama sekali tidak pernah berkelahi, akan tetapi untuk menjaga kesehatan hampir setiap hari dia masih berlatih. Dia sudah berhasil menjadi seorang yang penyabar sekali. Andai kata tidak untuk membebaskan cucunya, tentu dia akan mengalah dan akan pergi menelan semua penghinaan orang. Akan tetapi sekali ini tak mungkin dia tinggal diam. Cucunya disekap di dalam pondok itu! Dia pun menggerakkan kaki hendak memasuki pintu pondok.

Su Bi Hwa cepat menghalang dan kakek itu menggerakkan tangan mendorong wanita itu ke samping. Karena dia menduga bahwa wanita itu tentu lihai, dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang ketika mendorong.

"Plakkk!"

Gadis itu menangkis sambil mengerahkan tenaga pula dan akibatnya keduanya terdorong ke belakang masing-masing tiga langkah. Gadis itu tersenyum, sama sekali tidak terkejut karena dia sudah tahu sebelumnya bahwa kakek ini memiliki ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka tentu saja amat tangguh.

Sebaliknya Cia Kong Liang terkejut bukan main. Gadis yang usianya paling banyak baru dua puluh lima tahun itu mampu menangkis dorongannya, bahkan membuat dia terdorong mundur tiga langkah!

"Bagus, kiranya engkau penjahat yang mengandalkan kepandaianmu! Nah, terpaksa aku akan menyerangmu untuk menolong cucuku!" Sesudah berkata demikian Cia Kong Liang mulai menyerang dan memainkan ilmu silat Im-yang Sin-kun sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya. Tangannya yang kiri menyambar dengan tamparan ke arah pelipis kepala, tangan kanan memukul ke arah perut.

"Haiiiiitttt...!"

Bi Hwa cepat meloncat ke kiri sambil menangkis pukulan itu, lantas membalas dengan tendangan kilat yang dapat pula ditangkis oleh Cia Kong Liang. Kakek itu kini melihat jelas betapa lihainya lawannya walau pun dia seorang wanita yang masih muda. Maka dia lalu memainkan Im-yang Sin-kun dengan sebaiknya untuk mendesak Bi Hwa.