Pendekar Mata Keranjang Jilid 46

MENDADAK terdengar suara gerengan aneh dan dahsyat, lalu disusul datangnya angin dari arah jalan terusan. Mulana cepat memberi isyarat kepada para pembantunya yang segera mengerjakan tugas yang telah diatur sebelumnya, yaitu dengan golok-golok tajam mereka menyembelih tiga ekor anjing hitam itu.

Anjing-anjing itu tak sempat mengeluarkan suara lagi. Darah mengucur dari leher mereka yang putus, dan segera darah itu ditampung ke dalam ember-ember yang telah disiapkan.

Sekarang angin yang menyambar-nyambar menjadi makin dahsyat dan nampaklah asap hitam bergumpal-gumpal keluar dari dalam jalan terusan, mengerikan sekali. Akan tetapi Mulana yang sudah siap dengan pakaian pendeta berwarna kuning dan rambut terurai, kini melangkah maju dengan pedang di tangan kanan.

Dia mencelup pedang itu ke dalam darah anjing sampai ke gagangnya, lalu mengangkat pedang itu tinggi-tinggi sambil melangkah maju dan mulutnya berkemak-kemik. Belasan orang itu mengikutinya dan dengan gayung kecil, mereka itu menciduk darah anjing lalu memercikkannya ke arah asap hitam yang bergumpal-gumpal. Sungguh aneh, asap hitam yang bergulung-gulung itu segera lenyap, angin pun berhenti bertiup dan cuaca menjadi bersih kembali, jalan terusan itu nampak kembali.

Akan tetapi kini terdengar gerengan yang semakin keras dan dari dalam jalan terusan itu kembali muncul asap hitam bergumpal-gumpal, lalu dari dalam asap itu muncullah seekor naga hijau yang menyeramkan. Naga itu besar sekali, sepasang matanya mencorong dan moncongnya yang terbuka lebar mengeluarkan api menyala-nyala, dua lubang hidungnya mengeluarkan asap putih yang panas sedangkan kedua cakar depan dengan kuku-kuku yang mengerikan seperti hendak menubruk ke arah Mulana.

Akan tetapi Mulana tidak menjadi gentar dan dia pun terus maju dengan pedangnya yang kini berubah merah oleh darah anjing, sedangkan para pembantunya sibuk memercikkan darah anjing ke arah asap hitam yang semakin menjalar.

Anak buah pasukan yang berada di belakang melihat dengan mata terbelalak dan muka pucat. Tentu saja mereka merasa nyeri dan takut. Akan tetapi para tokoh pendekar yang melihat ini, maklum bahwa mereka menghadapi ilmu hitam yang dahsyat, maka mereka segera mengerahkan sinkang untuk memperkuat batin dan menolak pengaruh ilmu hitam ini.

Can Sun Hok dan Cia Ling yang sudah mempunyai tingkat kepandaian yang cukup tinggi, sesudah mengerahkan sinkang berhasil membuat mata mereka menjadi terang sehingga bayangan naga yang menyeramkan itu pun menipis walau pun belum lenyap. Mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu menghadapi ilmu hitam seperti ini, dan hanya percaya bahwa Mulana akan mampu memunahkannya.

Mulana melangkah maju, lalu pedangnya menyambar menyerang ke arah naga hijau itu, sedangkan orang-orangnya terus memercikkan darah anjing. Terdengar bunyi melengking dahsyat kemudian naga hijau itu pun lenyap, asap hitam pun bergulung-gulung naik dan mundur hingga lenyap. Mulana memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk maju terus, sedangkan pasukan di belakangnya, dengan didahului oleh para pendekar, juga bergerak maju lagi dan mulai memasuki jalan terusan.

Kini sunyi di jalan terusan itu. Dengan hati-hati sekali pasukan yang dipimpin sendiri oleh Menteri Cang itu memasuki terusan. Karena maklum bahwa mereka memasuki perangkap yang mengerikan, mau tidak mau jantung pejabat tinggi itu berdebar penuh ketegangan pula. Dia memandang ke atas, kanan kiri dan merasa seram.

Dinding bukit itu menjulang tinggi dan kalau ada batu-batu runtuh ke bawah, pasukannya akan celaka, apa lagi kalau sampai dinding itu diledakkan! Dia hanya mengharapkan agar mereka yang bertugas merayap ke atas bukit di kanan kiri itu akan berhasil menyergap dan menggagalkan rencana peledakan dinding bukit.

Akan tetapi kesunyian itu mendadak dipecahkan oleh beberapa suara jeritan di sana-sini, dilakukan oleh anak buah pasukan. Dan Mulana melihat betapa kembali ada asap hitam bergulung-gulung dan di atas dinding bukit di kanan kiri nampak segala macam serangga beracun merayap turun. Ular, kalajengking, kelabang dan banyak lagi macamnya, sangat mengerikan dan juga menjijikkan!

Ia tahu bahwa semua itu bukanlah binatang-binatang asli, melainkan jadi-jadian hasil ilmu hitam. Maka dia segera memimpin orang-orangnya untuk memercikkan darah anjing, ada pun pedangnya yang berlumuran darah anjing hitam itu sudah mengamuk, membabat ke arah binatang-binatang kecil yang menjijikkan itu. Dan seperti juga tadi, penglihatan yang mengerikan itu pun lenyap bersama asap hitam.

Kini semua pasukan pemerintah itu telah memasuki jalan terusan dan berbareng dengan bunyi tambur yang dipukul gencar, sekarang dari luar jalan terusan bermunculan pasukan pemberontak yang menerjang dari belakang. Pada saat itu juga terdengar sorak-sorai dan pasukan pemberontak yang bersembunyi di dalam, kini pun bermunculan dan menyerang dari depan. Dengan demikian pasukan induk pemerintah itu kini tergencet dari depan dan belakang, dan berada di dalam jalan terusan yang memanjang itu.

Tepat seperti yang telah diperhitungkan oleh Mulana. Akan tetapi yang membikin pasukan pemerintah merasa bingung adalah mengepulnya asap hitam yang membuat penglihatan mereka menjadi gelap, akan tetapi agaknya tidak demikian bagi pasukan pemberontak.

Jika tidak ada Mulana, tentu pasukan pemerintah akan celaka bertempur dalam keadaan seperti itu. Mulana dan para pembantunya sibuk memercikkan darah anjing ke kanan kiri dan akhirnya, asap hitam yang bergulung-gulung itu pun perlahan-lahan lenyap sehingga kini mereka dapat bertempur dalam keadaan cuaca terang karena matahari sudah mulai muncul!

Melihat betapa pada pihak pemberontak terdapat orang-orang Kui-kok-pang yang mudah dikenal dengan pakaian mereka yang putih dan gerakan mereka yang ganas dan dahsyat, Can Sun Hok dan Cia Ling segera terjun dan menerjang mereka, merobohkan beberapa orang anggota Kui-kok-pang.

Can Sun Hok segera melihat kepala gerombolan ini, yaitu Kim San yang mudah diketahui dari keadaan pakaiannya dan kelihaian gerakannya. Can Sun Hok segera menerjang Kim San yang bertangan kosong. Segera terjadi perkelahian yang amat seru.

Biar pun bertangan kosong, namun kedua tangan Ketua Kui-kok-pang yang membentuk cakar itu sangat berbahaya dan mengandung hawa beracun yang jahat. Namun Can Sun Hok yang memegang suling itu tidak mau memberi kesempatan kepada lawan yang lihai ini. Dia lalu memutar sulingnya dan memainkan ilmu pedang simpanannya, yaitu Kwi-ong Kiam-sut (Ilmu Pedang Raja Iblis) yang amat dahsyat.

Walau pun dia memainkannya dengan suling, namun keampuhannya tidak kalah dengan pedang, dan ilmu pedang ini dahulu adalah ciptaan Si Raja Iblis, datuk sakti kaum sesat itu. Maka, betapa pun lihainya Kim San, menghadapi ilmu pedang ini dia segera terdesak hebat dan hanya karena bantuan anak buahnya saja dia masih mampu mempertahankan diri.

Ling Ling sendiri telah mengamuk pula dan gadis ini biasanya juga bertangan kosong. Dia telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari ayahnya, maka meski pun dia bertangan kosong, kedua tangan dan kedua kakinya merupakan senjata-senjata yang amat ampuh. Dengan gerakan amat lincah laksana seekor burung walet, gadis ini berloncatan dan menyambar-nyambar ke sana-sini, dan setiap kali tangan atau kakinya mencuat ke samping atau ke depan, tentu ada seorang anggota pasukan musuh yang terjungkal roboh.

Sementara itu, di atas sebatang pohon yang tumbuh di tebing, ada dua orang sejak tadi menonton pertempuran. Mereka adalah Pek Han Siong dan Cu Bi Lian atau lebih tepat lagi, Siangkoan Bi Lian walau pun gadis itu sendiri belum tahu akan nama keturunannya yang sesungguhnya.

Seperti telah kita ketahui, Han Siong bertemu dengan Bi Lian secara kebetulan sekali. Pada saat itu Bi Lian sedang dikeroyok oleh Kulana dan Lam-hai Giam-lo yang hendak menangkapnya. Hampir saja Bi Lian celaka dan dapat tertangkap akibat ilmu sihir yang dipergunakan Kulana, akan tetapi tiba-tiba muncul Han Siong yang menyelamatkan gadis itu dengan kekuatan sihirnya pula.

Kemudian mereka berkenalan dan saling mengetahui bahwa mereka masih suheng dan sumoi, walau pun Han Siong belum menceritakan bahwa sumoi-nya itu sesungguhnya adalah puteri kedua orang gurunya, bahkan juga sudah menjadi calon jodohnya! Mereka berdua bertemu dengan Mulana dan menjadi tamu orang Birma aneh ini, bahkan menjadi saksi akan peristiwa mengharukan ketika Yasmina, isteri Mulana, membunuh diri.

Setelah meninggalkan Mulana yang kemudian mereka lihat dari jauh membakar istananya sendiri, Han Siong dan Bi Lian kemudian melakukan penyelidikan ke sarang gerombolan pemberontak. Bi Lian ingin membalas kematian kedua orang gurunya, yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, yang mati sampyuh karena saling bertentangan sendiri ketika Bi Lian dilamar oleh Kulana. Bi Lian menganggap bahwa kematian kedua orang gurunya adalah akibat ulah Kulana dan Lam-hai Giam-lo, maka dara ini hendak membalas kepada kedua orang sakti itu.

Ada pun Pek Han Siong, selain siap menentang gerombolan pemberontak itu, juga ingin mencari adik kandungnya, Pek Eng, yang menurut Bi Lian kini sedang berada di sarang gerombolan pemberontak, bahkan telah menjadi murid dan anak angkat Lam-hai Giam-lo, Bengcu dari gerombolan pemberontak.

Namun sepasang orang muda perkasa ini mendapat kenyataan betapa kuatnya keadaan di sarang gerombolan. Bahkan sekarang seribu lebih orang anak buah gerombolan telah berkumpul, berlatih perang-perangan sehingga sangat berbahayalah kalau mereka berani memasuki sarang itu. Karena itu mereka hanya melakukan penyelidikan di luar saja dan menanti kesempatan baik untuk melaksanakan niat mereka.

Pada pagi hari itu mereka melihat penyerbuan pasukan pemerintah, kemudian dari tempat pengintaian itu mereka melihat pula betapa Kulana segera melakukan sambutan dengan ilmu hitam yang sangat dahsyat, yang membuat Bi Lian merasa terkejut dan juga ngeri. Melihat hal ini Han Siong lalu berkata,

"Orang yang bernama Kulana itu memang hebat. Yang dia lakukan itu bukan sekedar ilmu sihir saja, melainkan ilmu hitam yang menggunakan tenaga gaib dan kotor yang berasal dari iblis dan setan. Untung bahwa di sana agaknya ada orang yang dapat memunahkan kekuatan ilmu hitamnya, kalau tidak, tentu pasukan pemerintah akan celaka."

"Akan tetapi engkau sendiri bukankah seorang yang mengerti akan ilmu sihir, Suheng?"

"Benar, aku pernah mempelajari ilmu sihir. Akan tetapi ilmu sihir hanya dapat digunakan untuk mempengaruhi pikiran dan panca indera seorang atau beberapa orang lawan saja. Sebaliknya, ilmu hitam dapat mengeluarkan jadi-jadian yang datangnya dari alam rendah sehingga dapat mempengaruhi ribuan orang pasukan musuh. Sungguh berbahaya sekali orang itu."

"Lihat, Suheng, pertempuran menjadi semakin hebat dan tampaknya pasukan pemerintah yang berada di tengah-tengah itu kini terdesak karena digencet dari depan dan belakang. Mereka terjebak ke dalam jalan terusan yang terapit dinding bukit itu! Mari, Suheng, mari kita bantu pasukan pemerintah! Aku akan turun dan menyerang Kulana si jahanam itu!"

"Hati-hatilah, Sumoi. Biar aku menghadapi dia," pesan Han Siong yang merasa khawatir karena Kulana sungguh terlalu berbahaya bagi Bi Lian.

Mereka lantas meninggalkan batang pohon itu dan merayap turun melalui tebing lain yang tidak begitu terjal seperti kedua tebing bukit pada kanan kiri jalan terusan itu. Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dengan cepat mereka bisa turun ke tempat pertempuran.

Akan tetapi ketika mereka terjun ke dalam gelanggang pertempuran, mereka tidak melihat lagi Kulana yang tadi mereka lihat dari atas batu besar. Karena itu kedua orang muda ini lalu terjun dan segera mengamuk di antara para anggota gerombolan pemberontak yang menjadi kocar-kacir karena tidak ada yang mampu menahan kedua orang muda perkasa ini.

Akan tetapi, dari pihak pemberontak segera bermunculan orang-orang lihai sekali. Suami isteri Lam-hai Siang-mo, yaitu Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sudah cepat melihat sepak terjang yang hebat dari pemuda dan gadis yang baru muncul itu dan bersama sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan, yaitu Kwee Siong dan Tong Ci Ki, mereka segera menerjang ke dalam pertempuran.

Lam-hai Siang-mo segera mengeroyok Han Siong, ada pun Si Tangan Maut dan isterinya, Si Jarum Sakti, atau sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan itu lalu mengeroyok Bi Lian yang mereka kenal sebagai murid mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi yang amat lihai. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di antara mereka.

Menteri Cang yang melihat betapa pasukan pemberontak sudah dikerahkan lalu memberi isyarat dan terdengarlah suara sorak-sorai disertai suara terompet dan tambur, dan enam kelompok pasukan yang tadinya mengepung sarang kini bermunculan dari enam jurusan, semua menuju ke jalan terusan dan dengan demikian maka kini berbalik pihak pasukan pemberontak yang terkepung dari dalam dan luar!

Sekarang keadaan menjadi kacau balau dan pertempuran berlangsung semakin seru dan mati-matian. Kini para pendekar juga sudah bertemu langsung dengan para tokoh sesat sehingga mereka merupakan kelompok tersendiri yang saling gempur menggunakan ilmu silat tinggi, dan terjadilah pertempuran yang amat hebat di luar dan di dalam jalan terusan.

Bagaimana Can Sun Hok dan Cia Ling dapat muncul di dalam pertempuran itu, padahal mereka bertugas bersama Cia Kui Hong untuk mencegah peledakan dinding tebing bukit sebelah kiri? Mari kita tengok apa yang terjadi di kedua puncak tebing itu.

Dengan diikuti belasan orang anak buah pasukan, Cia Kui Hong, Can Sun Hok serta Cia Ling mendaki bukit sebelah kiri jalan terusan. Memang tepat seperti yang diperhitungkan oleh Mulana, mereka melihat gerombolan berjumlah dua belas orang dikepalai seorang kakek cebol gendut dengan kepala kecil, berkulit hitam, duduk bergerombol mengelilingi sebuah batu besar.

Melihat ini, Cia Kui Hong menyuruh teman-temannya supaya bersembunyi dan dia sendiri mempergunakan kepandaiannya untuk menyelinap di antara batu-batu dan pohon-pohon, mendekati untuk melakukan pemeriksaan. Untung baginya bahwa matahari sudah mulai memancarkan sinarnya sehingga dia bisa meneliti dari jarak agak jauh dan melihat bahwa yang berada di atas batu besar itu adalah benda seperti tali putih yang dipasang dari atas batu itu terus menuruni tebing.

Tidak salah lagi, pikirnya, tentu itulah sumbu bahan peledak, siap untuk dinyalakan oleh gerombolan orang itu setelah terdapat isyarat dari Kulana! Ia dan kawan-kawannya harus bisa menguasai sumbu itu, jika tidak, pasukan pemerintah di bawah tentu akan terancam bahaya maut!

Ia segera menyelinap lagi dan kembali ke tempat teman-temannya bersembunyi. Setelah merundingkannya dengan Sun Hok dan Ling Ling, mereka bertiga mengambil keputusan untuk melakukan penyergapan secara tiba-tiba.

"Kalian menyergap Si Cebol yang agaknya lihai itu, sedangkan pasukan menyerbu dan menyerang anak buahnya. Aku sendiri akan menguasai sumbu itu dan menjaganya agar pihak lawan tidak ada yang dapat mendekat!" bisik Kui Hong. Sesudah mengatur siasat, mereka lalu berindap-indap menghampiri batu yang dikurung oleh tiga belas orang itu.

Penyergapan itu dilakukan serentak sehingga Si Cebol yang bukan lain adalah Hek-hiat Mo-ko dan anak buahnya menjadi terkejut sekali. Apa lagi ketika Hek-hiat Mo-ko melihat betapa dirinya diserang secara dahsyat oleh seorang pemuda dan seorang pemudi. Dia mengeluarkan suara mencicit seperti tikus, tubuhnya yang cebol itu melompat dan terus bergulingan membebaskan diri dari serangan kedua orang muda yang lihai itu.

Sedangkan belasan orang anak buahnya juga telah sibuk menghadapi serangan belasan orang anak buah pasukan pemerintah. Kui Hong sendiri merobohkan dua orang dengan tamparannya lalu dia pun meloncat ke atas batu besar itu. Dengan gagahnya dia menjaga sumbu di atas batu, dan untuk penjagaan, dia mengeluarkan sepasang pedangnya.

Ketika dia memandang, dengan lega dia mendapat kenyataan betapa Can Sun Hok dan Ling Ling sudah dapat mendesak kakek cebol itu, bahkan anak buah yang belasan orang banyaknya itu pun telah menyerbu dan mendesak anak buah gerombolan pemberontak.

Hek-hiat Mo-ko adalah keturunan Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo dan dia juga sudah mewarisi ilmu sesat yang hebat dari neneknya, yaitu Hek-hiat Mo-li. Demikian mendalam dia menguasai ilmu Hek-hiat (Darah Hitam) itu sehingga darah di tubuhnya benar-benar agak kehitaman!

Dan tentu saja kedua tangannya sudah dialiri hawa beracun yang menjadi pukulan maut. Dia lihai dan kejam bukan main, disamping wataknya yang cabul dan jahat. Entah berapa puluh atau bahkan berapa ratus orang wanita yang sudah menjadi korban kebiadabannya selama puluhan tahun ini.

Betapa hebatnya ilmu kepandaian Hek-hiat Mo-ko, namun menghadapi Can Sun Hok dan Cia Ling, dia seperti mati kutu. Apa lagi harus dikeroyok dua. Baru menghadapi seorang di antara mereka saja dia belum tentu akan mampu menang, biar pun bagi Sun Hok atau Ling Ling juga tidak akan demikian mudahnya menundukkan Si Cebol ini kalau saja harus turun tangan sendiri tanpa bantuan.

Akan tetapi kini mereka maju bersama. Perkelahian ini bukan urusan pribadi, melainkan urusan perang, maka dua orang muda perkasa ini pun tidak merasa sungkan untuk maju bersama mengeroyok Hek-hiat Mo-ko.

Biar pun Hek-hiat Mo-ko telah mengerahkan seluruh tenaga racunnya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya, namun tetap saja dia terdesak hebat dan akhirnya tidak mampu lagi membalas, melainkan hanya mengelak dan menangkis saja. Akhirnya sebuah tamparan dari tangan kiri Ling Ling menyerempet pelipisnya.

Dia terjungkir namun cepat melompat bangun lagi, akan tetapi langsung disambut totokan suling di tangan Sun Hok yang tepat mengenai dada kirinya. Dari mulutnya keluar suara mencicit nyaring, disusul keluarnya darah hitam dan tubuh Hek-hiat Mo-ko kini tersungkur.

Akan tetapi orang ini memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Meski pun totokan tadi telah mengenai jalan darah yang membawa maut, tetap saja dia masih dapat bergulingan, hanya arahnya ngawur sehingga dia bergulingan ke tepi tebing dan tak dapat dihindarkan lagi, tubuhnya tergelincir dan meluncur turun ke bawah tebing yang amat curam itu dalam keadaan sudah hampir mati!.

Kedua belas orang anak buah Hek-hiat Mo-ko juga telah roboh semua oleh Sun Hok dan Ling Ling. Setelah tidak nampak seorang pun lagi musuh di puncak tebing itu, mereka lalu memandang ke bawah dan melihat pertempuran masih berlangsung.

Melihat betapa pasukan pemerintah dihimpit dari depan dan belakang, Sun Hok kemudian berkata, "Ah, di bawah sana telah terjadi pertempuran. Untuk apa kita menganggur saja di sini? Lebih baik membantu di bawah."

"Akan tetapi tempat ini harus terus kita jaga agar jangan sampai ada musuh yang dapat meledakkan tebing," bantah Ling Ling.

"Kalian berdua turunlah dan bantulah menggempur gerombolan pemberontak. Biarlah aku dan pasukan ini yang berjaga di sini!" kata Kui Hong yang juga melihat betapa tidak ada gunanya mereka bertiga menganggur di tempat itu.

Demikianlah, mendengar kesanggupan Kui Hong untuk menjaga sumbu bahan peledak di situ, Ling Ling dan Sun Hok cepat menuruni tebing kemudian mereka ikut pula bertempur membantu pasukan pemerintah, menerjang Kui-kok-pangcu Kim San dan anak buahnya.

Keadaan pada puncak tebing sebelah kanan juga tidak banyak bedanya dengan apa yang terjadi di puncak tebing sebelah kiri. Pasukan belasan orang yang mendaki puncak tebing sebelah kanan dipimpin oleh suami isteri Ciang Su Kiat dan Kok Hui Lian, yaitu pasangan suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi itu.

Ada pun tokoh sesat yang diberi tugas untuk memimpin belasan orang meledakkan tebing kanan ini apa bila ada isyarat dari Kulana bukan lain adalah Min-san Mo-ko, bekas tokoh Pek-lian-kauw yang lihai ilmu pedang dan ilmu sihirnya itu. Karena usianya sudah enam puluh lebih, Min-san Mo-ko tidak begitu bernafsu untuk ikut bertempur dalam peperangan, maka dia memilih untuk menjaga sumbu bahan peledak yang dipasang di puncak tebing sebelah kanan. Dia sudah siap untuk meledakkannya, dengan menyulut sumbunya begitu menerima isyarat dari Kulana.

Diam-diam dia merasa gembira sekali karena dia akan dapat menonton kalau nanti tebing itu runtuh menimpa pasukan pemerintah sehingga akan terkubur hidup-hidup! Akan tetapi dia harus menanti isyarat dari Kulana lebih dulu. Karena kalau tidak, mungkin yang akan terkubur hidup-hidup oleh ledakan tebing itu justru pasukan kawan sendiri.

Tiba-tiba saja muncul belasan orang prajurit pemerintah yang mendaki puncak tebing itu. Melihat belasan orang prajurit musuh ini, Min-san Mo-ko langsung tertawa dan suaranya melengking tinggi ketika dia berkata, "Ha-ha-ha-ha, hayo bunuh bebeberapa ekor cacing busuk itu!"

Dia terlalu memandang rendah kepada belasan orang prajurit musuh yang disangkanya secara kebetulan saja naik ke puncak ini. Akan tetapi pada saat itu muncullah Kok Hui Lian yang bergerak cepat, dengan gerakan indah sekali telah menampar roboh dua orang prajurit pemberontak.

Melihat munculnya seorang wanita muda yang demikian cantiknya, juga gerakannya amat cepat sehingga dengan mudahnya dapat merobohkan dua orang anak buahnya, Min-san Mo-ko amat terkejut akan tetapi juga gembira sekali. Wanita itu cantik menarik.

"Ha-ha-ha, kebetulan sekali. Aku sedang kesepian dan kini engkau datang menemaniku, manis!" kata Min-san Mo-ko yang biar pun sudah berusia enam puluh tahun lebih namun masih amat mata keranjang itu.

Dia memandang ringan wanita cantik itu, maka sekali meloncat dia sudah meninggalkan benda yang dijaganya sejak tadi, yaitu ujung sumbu bahan peledak yang menghubungkan sumbu dengan bahan peledak yang ditanam di bawah puncak tebing. Ujung sumbu itu ditindih beberapa buah batu dan nampak mencuat putih. Dengan kedua tangannya yang panjang dan kurus Min-san Mo-ko menubruk dari belakang untuk menangkap Hui Lian.

Namun sekali ini orang yang kurus pucat tetapi lihai ini kecelik bukan main. Tubuh wanita cantik yang ditubruknya dari belakang itu mendadak berputar di atas tumit kiri, kemudian kaki kanannya telah mengirim tendangan yang sangat cepatnya, demikian cepat sehingga orang selihai Min-san Mo-ko sampai tidak sempat mengelak atau menangkis lagi. Tentu saja hal ini dapat terjadi terutama sekali karena Min-san Mo-ko memandang lawan terlalu ringan.

"Dukkk...!"

"Ihhhhhh...!" Min-san Mo-ko mengeluarkan suara melengking nyaring, kemudian tubuhnya terhuyung ke belakang, matanya terbelalak dan dia mulai marah sekali. Tak disangkanya bahwa dia akan terkena tendangan pada dadanya, dan tendangan itu membuat dadanya terasa agak nyeri.

"Perempuan setan, kiranya engkau mempunyai kepandaian juga? Kalau begitu bersiaplah untuk mampus!" Min-san Mo-ko mencabut pedangnya, dengan sekali melompat dia sudah berada di depan Hui Lian dan tiba-tiba dia menudingkan pedangnya pada wajah Hui Lian sambil mengeluarkan suara lengking panjang disusul kata-kata yang nyaring melengking dan berpengaruh.

"Perempuan muda, berlutut dan menyerahlah engkau!" Dia mengerahkan sihirnya sambil menggerak-gerakkan pedangnya, kedua matanya mencorong aneh dan menyeramkan.

Hui Lian tidak menyangka bahwa dia akan diserang dengan ilmu sihir, maka tiba-tiba saja dia menekuk lututnya. Hal ini terjadi di luar kehendaknya, maka dia pun kaget sekali dan sambil meloncat ke atas dia mengeluarkan bentakan nyaring sambil mengerahkan tenaga saktinya dan seketika buyarlah kekuatan sihir yang tadi hampir mempengaruhi. Hui Lian menjadi marah sekali dan sepasang matanya berkilat ketika memandang wajah Min-san Mo-ko.

"Iblis busuk, ilmu iblismu itu tidak ada artinya bagiku!" dan kini wanita perkasa ini sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Entah kapan dia mengeluarkan pedang itu, tahu-tahu sudah berada di tangannya. Itulah pedang Kiok-hwa-kiam peninggalan orang sakti yang dia temukan di dalam goa di tebing curam.

Min-san Mo-ko tidak berani main-main lagi, sama sekali tidak berani memandang rendah. Bahkan dia terkejut bukan main melihat betapa wanita cantik itu mampu membuyarkan kekuatan sihirnya. Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tangguh, maka melihat lawan memegang pedang, tanpa banyak cakap lagi dia pun mencabut pedangnya dan mendahului lawan menyerang dengan pedangnya. Gerakannya cepat dan kuat sekali.

Min-san Mo-ko memang terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mempunyai banyak macam ilmu pedang yang bermutu tinggi. Sekarang begitu dia memutar pedang, senjata itu segera lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan menyambar-nyambar.

Melihat ini, Hui Lian pun tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang yang sangat lihai, maka dia pun memutar Kiok-hwa-kiam (Pedang Bunga Seruni) dan segera mainkan Ilmu Pedang In-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Awan), yaitu satu di antara ilmu yang dipelajarinya bersama suaminya di dalam goa tebing. Ilmu pedang ini adalah peninggalan mendiang In Liong Nio-nio, seorang di antara tokoh sakti Delapan Dewa.

Begitu dia memutar pedang, terdengar suara mengaung panjang dan terkejutlah Min-san Mo-ko karena gulungan sinar pedangnya segera tertekan dan terdesak oleh ilmu pedang yang aneh dan belum pernah dilihatnya itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan semua kepandaiannya untuk mengimbangi permainan pedang lawan, tetapi percuma saja karena gulungan sinar pedang di tangan wanita sakti itu ternyata jauh lebih kuat. Dia terdesak hebat sehingga harus mundur terus.

Sementara itu belasan orang anggota pasukan yang dikepalai Min-san Mo-ko tentu saja bukan lawan Ciang Su Kiat, sebab itu sebentar saja pendekar lengan buntung ini dengan mudah merobohkan mereka semua, menendangi mereka hingga tubuh mereka terlempar ke bawah tebing. Setelah membasmi belasan orang itu, Su Kiat menoleh ke arah isterinya dan dia tidak merasa khawatir karena isterinya kelihatan mendesak Min-san Mo-ko.

Akan tetapi pada saat itu pula, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul seorang lelaki yang berusia empat puluh lebih bertubuh sedang dengan wajah anggun berwibawa, mengenakan jubah seperti pendeta, dengan rambut riap-riapan dan sebatang pedang di tangan, telah berdiri dekat sumbu yang tadi dijaga oleh Min-san Mo-ko dan anak buahnya.

Ciang Su Kiat memandang kaget, bahkan lebih terkejut lagi sesudah melihat laki-laki itu mengeluarkan sebuah benda dari saku jubahnya dan tiba-tiba benda itu bernyala lalu dia membuat gerakan untuk membakar sumbu bahan peledak itu!

"Tahan...!" Su Kiat membentak dan dengan ringan sekali, seperti seekor burung rajawali terbang menyambar, tubuhnya sudah meluncur ke arah orang itu lantas lengan kanannya yang utuh sudah menusuk dengan jari tangan terbuka ke arah dada.

Serangannya ini cepat bukan main, juga mengandung hawa pukulan yang mengeluarkan suara mencicit sehingga pria itu terkejut sekali. Dia cepat-cepat menyimpan kembali alat pembakar yang sudah padam lagi itu, dan sambil meloncat ke samping untuk mengelak, pedangnya cepat menyambar untuk membacok leher lawan yang menyerangnya sambil meluncur seperti terbang.

"Wuuuuuttt...! Takkk...!"

Kulana, laki-laki itu, terkejut bukan main karena lawannya yang hanya berlengan sebelah itu sudah mampu menangkis pedangnya dengan ujung baju lengan kirinya yang buntung. Begitu bertemu pedang, ujung lengan baju itu menjadi keras bagaikan tongkat baja! Hal ini menunjukkan bahwa lawannya memiliki tenaga sinkang yang amat hebat!

Benar-benar seorang lawan yang tangguh, pikirnya, apa lagi ketika tadi dia melihat betapa Min-san Mo-ko juga terdesak hebat oleh seorang wanita cantik. Akan tetapi, Kulana yang naik ke situ untuk meledakkan tebing tanpa mempedulikan bahwa pasukan pemberontak masih berada di atas jalan terusan dan akan menjadi korban pula kalau tebing runtuh, kini tidak merasa gentar dan masih mengandalkan ilmu hitamnya.

Ciang Su Kiat yang maklum betapa berbahayanya apa bila sumbu itu sempat dinyalakan, sudah cepat-cepat meloncat ke dekat sumbu dan melindunginya, kedua matanya dengan tajam menatap ke arah laki-laki berambut riap-riapan yang berpakaian jubah pendeta itu, menduga-duga siapa adanya orang aneh itu. Dia sama sekali tak menduga bahwa orang ini adalah Kulana, pemimpin yang sesungguhnya dari pemberontakani.

Kulana maklum bahwa Si Lengan Buntung itu lihai sekali, maka cepat dia mengelebatkan pedangnya lantas berkemak-kemik membaca mantera dan berkata dengan suara lantang yang berlogat asing. "Hemmm, orang berlengan satu, betapa pun lihainya engkau, mana mungkin dapat melawan aku? Lihat, engkau hanya seorang diri, sedangkan aku berlima!"

Su Kiat membelalakkan kedua matanya ketika melihat bahwa kini orang itu benar-benar telah berubah menjadi lima orang! Lima orang kembar yang menyeringai dan memandang kepadanya dengan mata mencorong beringas. Dia menganggap hal ini mustahil dan tahu bahwa ini tentulah permainan sihir, maka dia pun mengerahkan sinkang-nya kemudian membentak nyaring untuk membuyarkan kekuatan sihir lawan.

Namun kekuatan sihir yang dipergunakan Kulana jauh berbeda dibandingkan dengan ilmu sihir yang dikuasai Min-san Mo-ko. Dengan pengerahan tenaga batin maka kekuatan sihir Min-san Mo-ko dapat dibuyarkan oleh Hui Lian, akan tetapi sihir dari Kulana adalah ilmu hitam yang jahat dan mengandung kekuatan roh jahat atau setan yang menyeramkan.

Sedangkan Ciang Su Kiat, betapa pun lihai ilmu silatnya, tidak pernah mempelajari ilmu sihir, maka pengerahan tenaga sinkang-nya tidak mampu membuyarkan ilmu sihir Kulana dan matanya masih tetap melihat betapa kelima orang lawan yang kembar itu kini mulai mengepungnya!

"Iblis busuk, aku tak akan gentar menghadapimu meski engkau menjadi seratus!" Su Kiat membentak dan laki-laki tinggi besar ini berdiri dengan gagahnya di atas tempat di mana terdapat sumbu yang dijaganya itu. Bagaimana pun juga dia akan melindungi sumbu itu agar jangan sampai dibakar musuh.

Ketika melihat lima orang kembar itu mulai menggerakkan pedang menyerangnya dengan kepungan, dia pun memutar lengan kirinya yang buntung sehingga ujung lengan baju itu membentuk gulungan sinar yang melindungi tubuhnya! Tangan kanannya juga melakukan tamparan dan pukulan ke kanan kiri, dibantu oleh kedua kakinya.

Bagaimana pun juga, tentu saja dia menjadi repot dikeroyok lima orang kembar itu, yang semuanya amat lihai. Setelah mempertahankan diri selama dua puluh jurus lebih, tiba-tiba ujung lengan baju kirinya itu terbabat pedang sehingga putus! Hal ini dapat terjadi karena pada detik itu, untuk menghimpun hawa segar, dia melepaskan pengerahan sinkang-nya. Hanya sedetik dua detik saja, akan tetapi sudah cukup bagi Kulana yang pandai untuk mempergunakan kesempatan itu membabat putus ujung lengan baju yang ampuh itu.

Setelah ujung lengan baju yang dipergunakan sebagai senjata dan perisai itu putus, tentu saja Su Kiat menjadi makin repot. Lawannya amat lihai, dengan ilmu pedang yang aneh, dengan tenaga sakti yang amat kuat, ditambah lawannya berubah menjadi lima orang. Tentu saja Su Kiat terdesak hebat dan dengan mati-matian dia bertahan untuk menjaga agar sumbu itu tidak sampai dinyalakan lawan.

Pada saat itu nampak sebatang pedang yang merah karena berlepotan darah, meluncur dan menangkis pedang di tangan Kulana.

"Tringgg...!"

Bunga api berpijar dan mata Su Kiat terbelalak. Yang muncul adalah orang yang serupa benar dengan penyerangnya. Dan aneh sekali, lawan yang tadinya berubah menjadi lima orang itu kini telah kembali menjadi seorang saja. Dan sekarang dua orang itu telah saling berhadapan, dua orang yang serupa benar baik wajah mau pun bentuk badannya, yang berbeda hanya warna jubah mereka.

Orang pertama berjubah putih, sedangkan orang ke dua berjubah kuning. Orang pertama memegang pedang putih, sedangkan orang ke dua memegang pedang yang berlepotan darah merah!

Orang ke dua itu bukan lain adalah Mulana! Karena pedangnya berlepotan darah anjing, ditambah lagi dengan ilmunya memunahkan sihir, maka kekuatan sihir Kulana tadi sudah buyar dan dia pun nampak hanya satu orang saja, bukan lima seperti tadi. Dan marahlah Kulana ketika dia melihat saudara kembarnya.

"Ahh, bangsat keparat! Kiranya engkau Mulana? Engkau berani mengkhianati saudaramu sendiri dan membantu musuh?"

"Kulana, justru engkaulah yang telah menyeleweng! Engkau menganggap aku musuh dan engkau hendak menimbulkan pemberontakan, malah kini hendak meledakkan tebing, tak peduli siapa yang berada di bawah sana. Engkau jahat, Kulana, aihhh, engkau jahat dan terpaksa aku harus menantangmu!"

"Huh, pantas! Pantas saja tadi semua ilmu sihirku buyar, dan di kedua puncak tebing ini datang musuh menyerang. Tentu karena ulahmu, Mulana!"

"Memang benar, Kulana. Kini lebih baik engkau segera mengakhiri petualanganmu yang jahat ini dan marilah kita berdua pergi, kembali ke selatan. Marilah, Kulana, aku saudara kembarmu, aku mengingatkanmu sebelum semuanya terlambat..."

"Engkaulah yang terlambat, Mulana, sebab sekarang sudah pasti aku akan membunuhmu dengan pedangku ini!" Setelah berkata demikian, Kulana menerjang dengan pedangnya, menusuk dengan gerakan kilat yang amat kuat dan cepat. Mulana melompat ke samping sambil menangkis dengan pedangnya yang berlepotan darah anjing.

"Tringgg...! Tranggg...! Cringgg...!" Kembali nampak bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata dan kedua orang ini sudah saling terjang dengan hebatnya.

Melihat ini Ciang Su Kiat tertegun. Munculnya Mulana tadi membuat dia bingung. Dia tak mengenal kedua orang itu akan tetapi dari percakapan mereka, biar pun dilakukan dalam bahasa Birma yang hanya dimengerti sedikit, dia dapat menduga bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar yang kini saling bermusuhan.

Melihat betapa orang pertama yang kini diketahuinya bernama Kulana itu membantu para pemberontak, maka tentulah orang kedua yang bernama Mulana itu membantu pasukan pemerintah. Akan tetapi dia masih merasa ragu untuk turun tangan membantu. Apa lagi melihat betapa mereka adalah dua orang saudara kembar yang demikian mirip sehingga sukar membedakan antara mereka kecuali warna jubah mereka, Su Kiat pun merasa tidak enak dan tidak tega untuk mencampuri urusan mereka. Maka dia pun hanya mendekati sumbu dan menjaga agar benda itu tidak diganggu orang.

Sementara itu perkelahian antara Hui Lian dan Min-san Mo-ko sudah mendekati akhirnya. Min-san Mo-ko mempertahankan diri mati-matian, akan tetapi semakin lama dia semakin terdesak oleh wanita sakti itu sehingga dia hanya mampu menangkis dan mengelak saja, tanpa mampu membalas serangan Hui Lian yang semakin mendesak keras.

"Haiiii! Rebah kamuuu...!" tiba-tiba Min-san Mo-ko berteriak lantang dan mengisi suara itu dengan seluruh kekuatan sihirnya.

Hal ini merupakan serangan yang mendadak bagi Hui Lian. Dia terkejut dan tergetar, kedua kakinya lemas dan hampir dia terpelanting. Kesempatan ini segera dipergunakan oleh Min-san Mo-ko untuk menerjang dengan pedangnya. Dalam keadaan terhuyung itu Hui Lian menangkis, namun hal ini bahkan membuat dia terguling jatuh. Dengan girang Min-san Mo-ko langsung menubruk, akan tetapi pada saat itu pula sebuah batu sebesar telur ayam meluncur dan mengenai hidungnya.

"Tukkk!"

"Aduuhhhh...!" Min-san Mo-ko memegangi hidungnya dengan tangan kiri dan tangan itu berlepotan darah. Hidungnya pecah dan darah bercucuran deras.

Saat itu Hui Lian yang tadinya terjatuh sudah meloncat dengan meminjam tanah sebagai penahan loncatan kaki, dan sebelum Min-san Mo-ko sempat mengelak atau menangkis karena dia masih sibuk memeriksa hidungnya, pedang Kiok-hwa-kiam telah menghilang ke dalam dadanya, dari bawah menembus jantung! Dia terbelalak heran, seolah-olah tak percaya bahwa dia telah menjadi korban penusukan itu.

Hui Lian menarik kembali pedangnya sambil menendang supaya pakaiannya tidak sampai terkena percikan darah. Tubuh Min-san Mo-ko yang sudah tak berdaya itu terlempar dan kebetulan jatuh terguling ke bagian yang menurun sehingga tubuh itu terus menggelinding turun dan terjatuh dari tepi tebing yang curam!

Hui Lian cepat meloncat ke dekat suaminya, menyentuh lengan suaminya sambil berkata, "Terima kasih..." bisiknya.

Dia tahu bahwa tadi, dalam keadaan terdesak karena lawan menggunakan sihir, biar pun belum tentu dia akan celaka, suaminya sudah membantunya dengan lontaran batu yang membikin remuk hidung Min-san Mo-ko.

"Sshhh..." Su Kiat berbisik dan menunjuk ke depan.

Hui Lian memandang dan dia pun terheran-heran melihat kedua orang kembar itu saling serang dengan hebatnya. Dia segera tahu bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu memiliki ilmu pedang aneh dan kepandaian yang tinggi.

"Siapa... siapa mereka...?" bisiknya sambil memegang tangan suaminya.

"Mereka saudara kembar, yang jubah putih membantu pemberontak, yang jubah kuning membantu pemerintah." kata Su Kiat.

Tiba-tiba saja terdengar suara melengking tinggi dan benturan pedang yang hebat sekali, membuat Kulana dan Mulana masing-masing terdorong mundur. Kulana lalu mengangkat pedangnya, berkemak-kemik dan kembali memekik. Terlihat asap hitam bergulung-gulung di atas tebing itu. Segera segala sesuatu menjadi gelap. Suami isteri pendekar itu terkejut sekali. Mereka cepat mengerahkan sinkang, namun tetap saja tempat itu menjadi gelap.

"Kita jaga sumbu ini, kau di kanan aku di kiri...," bisik Su Kiat. "Siapkan pedangmu dan setiap kali mendengar gerakan mendekatimu, serang!" Suami isteri itu lalu berdiri dengan sikap waspada di kanan kiri sumbu yang harus mereka jaga.

"Heii, kedua orang gagah di sana...!" tiba-tiba terdengar suara Mulana dari asap hitam, "Hati-hati berjaga di situ, jangan perkenankan iblis itu mendekati sumbu itu. Aku... aku... tak berdaya, darah di pedangku telah bersih..."

Kiranya dalam perkelahian tadi pedang di tangan Mulana berkali-kali telah beradu dengan pedang Kulana sehingga darah anjing yang berlepotan di situ sudah memercik lepas dan kini pedang itu telah bersih. Tanpa adanya darah anjing, kini Mulana tidak berdaya untuk menolak dan membuyarkan pengaruh ilmu hitam yang dipergunakan Kulana.

Menyusul suara Mulana ini, terdengarlah suara ketawa yang menyeramkan, suara ketawa Kulana dan suara itu menunjukkan bahwa orang yang tertawa mempunyai gejala kelainan jiwa alias gila!

Tiba-tiba terdengar gerakan pedang dan Hui Lian cepat menangkis dengan pedangnya ke arah suara itu.

"Cringgg...!"

Bunga api berpijar ketika pedangnya berhasil menangkis pedang yang tadi dipergunakan Kulana untuk menyerangnya dalam kegelapan yang tidak wajar itu. Beberapa kali Kulana mencoba untuk menyerang lagi, namun selalu dapat ditangkis oleh Hui Lian, bahkan ada sambaran tangan yang amat ampuh dari Su Kiat menyerangnya. Biar pun suami isteri itu tidak dapat melihat lawan di dalam kegelapan itu, namun pendengaran mereka amat peka sehingga suami isteri yang mempunyai ilmu kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya itu seolah-olah dapat melihatnya.

Kulana menjadi amat sibuk dan tak berdaya menghadapi suami isteri yang kini bergabung menjaga sumbu itu. Dia tahu bahwa meski pun dalam kegelapan, sukar untuk menghalau suami isteri itu meninggalkan sumbu bahan peledak, apa lagi mengalahkan mereka! Dia menjadi marah dan penasaran sekali.

"Jahanam Mulana, pengkhianat saudara sendiri! Engkau biang keladinya hingga usahaku gagal!" bentaknya yang disambut oleh Mulana dengan suara ketawa cerah.

"Ha-ha-ha, Kulana! Ingatlah bahwa semua usaha jahat selalu akan menimpa diri sendiri, seperti mengalirnya air ke tempat rendah."

"Jahanam, mampuslah kau lebih dulu sebelum aku meledakkan tebing ini!" Kulana sudah menyerang dengan gemas sekali.

"Trang-trang-trang...!"

Sampai tiga kali Mulana berhasil menangkis serangan pedang saudara kembarnya yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Mulana juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka seperti kedua orang suami isteri itu, dia pun memiliki panca indera yang amat peka. Biar pun dia tak dapat melihat dengan jelas gerakan Kulana yang masih bersembunyi di dalam kegelapan asap hitam, tetapi Mulana dapat menangkis serangan bertubi yang dilancarkan oleh saudara kandungnya.

Betapa pun juga, karena kekuatan sihir yang dipergunakan Kulana semakin kuat, maka pengaruhnya bukan hanya menimbulkan kegelapan namun juga mendatangkan perasaan ngeri dan seram, apa lagi ketika terdengar suara yang aneh-aneh, bukan suara manusia melainkan suara yang lebih mirip suara setan dan iblis dari neraka.

Mulana mulai menjadi sibuk dan permainan pedangnya yang digunakan untuk melindungi tubuhnya menjadi kacau. Dia terdesak hebat dan di antara suara tawa dari mulut Kulana yang terdengar menyeramkan, Mulana kini terhimpit sehingga hanya mampu menangkis dan mengelak dengan susah payah.

"Dessss...!" Sebuah tendangan yang mengikuti bacokan pedang mengenai lutut Mulana, membuat dia terpelanting.

"Ha-ha-ha, Mulana, bersiaplah untuk mampus...!" Kulana tertawa bergelak dan siap untuk menubruk saudara kembarnya yang sudah jatuh terlentang sehingga tidak akan sanggup menyelamatkan diri lagi itu.

Akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti karena mendadak saja semua asap hitam lenyap dan cuaca menjadi terang lagi, cuaca dari matahari pagi yang mulai muncul di ufuk timur. Kulana marah dan menyangka bahwa Mulana yang sudah memunahkan kekuatan sihirnya, maka dia menubruk ke depan dan menusukkan pedangnya ke arah dada Mulana yang masih rebah terlentang.

"Trangggg...!" Pedang itu tertangkis.

Kulana cepat meloncat ke belakang dengan muka berubah pucat karena tangkisan pada pedangnya tadi membuat dia merasa kulit telapak tangannya seperti akan pecah-pecah. Panas dan perih sekali! Dia lalu mengangkat muka dan memandang.

Dan ternyata yang berdiri di depannya hanyalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun, wajahnya cerah, matanya mencorong dan pemuda tampan yang berpakaian biru muda dengan garis pinggir kuning ini tersenyum-senyum dengan tenang.

Dia tidak mengenal Hay Hay, karena ketika pemuda ini diterima oleh Lam-hai Giam-lo, dia tidak berada di sana dan sebelum Kulana datang ke sarang pemberontak untuk mengatur gerakan pasukan pemberontak, Hay Hay sudah pergi meninggalkan sarang itu karena dia penasaran dituduh menggauli Pek Eng.

Seperti kita ketahui, tadinya Hay Hay membayangi Han Lojin yang sedang membuat peta di daerah sarang pemberontak. Setelah melihat Han Lojin menghadap Menteri Cang yang memimpin pasukan pemerintah, maka Hay Hay tidak lagi mencurigai Han Lojin dan dapat menduga bahwa tentu Han Lojin kini menjadi mata-mata pemerintah yang sengaja datang ke sarang pemberontak untuk melakukan penyelidikan.

Hay Hay menganggap bahwa sungguh merupakan perbuatan berbahaya dan nekat kalau memaksa masuk ke sarang pemberontak untuk mencari Ki Liong. Oleh karena itu dia lalu membayangi pasukan pemerintah itu dan hendak membantunya di samping niatnya untuk menemui Ki Liong dan menyelidiki siapakah para perusak Pek Eng dan Ling Ling itu.

Ketika melihat jalannya pertempuran, Hay Hay tidak merasa khawatir karena yakin bahwa pasukan pemerintah pasti akan menang. Maka dia lalu membantu sana-sini dan akhirnya dia naik ke tebing karena melihat ada perkelahian di sana.

Dia melihat betapa dua orang laki-laki yang berpakaian pendeta saling serang, akan tetapi yang seorang mempergunakan ilmu hitam menciptakan asap hitam bergulung-gulung. Dia melihat pula Ciang Su Kiat dan Kok Hui Lian berdiri dengan tegang saling membelakangi, agaknya juga terpengaruh oleh ilmu hitam itu. Maka Hay Hay segera mengerahkan ilmu sihirnya dan dalam sekejap mata saja dia sudah berhasil mengusir semua asap hitam dan memunahkan kekuatan sihir Kulana.

Ketika melihat betapa orang yang melakukan ilmu hitam itu hampir membunuh pendeta lain yang mempunyai wajah dan tubuh yang mirip sekali, Hay Hay langsung meloncat ke depan kemudian menggunakan sulingnya untuk menangkis, sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Keparat! Siapa engkau?!" Kulana membentak. Dari sinar mata mencorong pemuda itu dia dapat menduga bahwa kiranya pemuda inilah yang tadi sudah memunahkan kekuatan sihirnya.

"Namaku Hay Hay, dan siapakah engkau? Mengapa main-main dengan sulap dan seperti sedang menghibur anak-anak saja?"

"Jahanam muda! Engkau belum mengenal Kulana, ya? Kini rasakan pembalasanku!"

"Amboi...! Inikah yang bernama Kulana, yang dijagokan oleh Lam-hai Giam-lo? Hemmm, ingin aku melihat pembalasan apa yang kau maksudkan, karena aku tidak berhutang apa pun padamu!" Hay Hay mengejek.

Kulana sudah berkemak-kemik membaca mantera sambil pedangnya diacungkan ke atas. Tiba-tiba nampak api berkobar keluar dari pedang itu, lantas bagaikan hidup saja kobaran api itu melepaskan diri dari ujung pedang dan melayang ke arah Hay Hay, seakan-akan mengancam dan hendak membakar pemuda itu.

"Hay Hay, awasss...!" Hui Lian berseru khawatir, bahkan hendak meloncat ke depan akan tetapi lengannya dipegang suaminya.

"Sssttt, tenanglah, kurasa dia pasti mampu mengatasi ilmu hitam itu!" kata suaminya yang sudah menduga bahwa tentu pemuda aneh itu yang tadi sudah membuyarkan ilmu hitam yang mendatangkan asap hitam.

Mendengar ucapan suaminya, Hui Lian lalu teringat akan kehebatan Hay Hay, maka dia pun diam saja, apa lagi mengingat bahwa dia dan suaminya harus menjaga sumbu bahan peledak itu secara mati-matian sehingga dia tidak boleh meninggalkan tempat itu. Dengan jantung berdebar tegang dia memandang ke arah Hay Hay yang menghadapi gumpalan api berkobar. Juga Mulana memandang dengan mata terbelalak. Dia telah bangkit berdiri dan kini menjadi penonton pertandingan aneh ini, bersama suami isteri pendekar itu.

Hay Hay bersikap tenang menghadapi serangan api yang berkobar itu. Dia sadar bahwa lawannya sangat lihai, memiliki kekuatan sihir yang tidak boleh dipandang ringan, apa lagi disertai ilmu hitam yang menjadi ilmu setan. Tapi dia adalah murid Pek Mau San-jin yang merupakan ahli sihir yang jarang ditemui tandingannya, bahkan kemudian dia digembleng oleh Song Lojin sehingga ilmu silat dan ilmu sihirnya menjadi semakin kuat.

Dari Pek Mau San-jin dia telah banyak mempelajari tentang ilmu hitam, bukan belajar cara penggunaannya, tetapi cara penanggulangannya, cara melumpuhkan dan mengatasinya. Kini, melihat datangnya api berkobar, bukan sekedar khayal seperti juga nampak oleh tiga orang berilmu tinggi yang menjadi saksi, dia segera mengacungkan sulingnya.

"Kulana, api akan kehilangan kekuatannya jika bertemu dengan air, bukan? Nah, mari kita lihat apimu padam oleh airku!"

Sungguh luar biasa, dari ujung suling itu kini memancur air seolah-olah suling itu menjadi pipa yang dialiri air. Pancaran air itu lalu jatuh menimpa kobaran api.

"Cesss...!" terdengar suara disusul padamnya api yang tersiram air. Begitu api padam, air yang memancar keluar dari suling pun terhenti.

Wajah Kulana menjadi merah padam. "Keparat, engkau suka air, ya? Nah, terimalah air ini secukupnya!" Dan ketika dia mengacungkan pedangnya ke atas, dari atas kini turun air yang banyak sekali, seperti dituangkan dari atas, seolah-olah di atas terdapat sungai yang kini membanjir ke bawah!

Hay Hay kembali mengacungkan sulingnya ke atas, wajahnya agak pucat dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong. "Betapa pun banyaknya, air bisa dibendung dan diarahkan alirannya. Kulana!" Terdengar suara Hay Hay tenang, lantas tiba-tiba saja dari ujung sulingnya itu tercipta sebuah bendungan yang menerima air yang tumpah dari atas, dan karena bendungan itu miring ke depan, maka air yang ditampungnya mengalir turun dan menimpa ke arah Kulana sendiri!

Terpaksa Kulana cepat menarik kembali ilmu sihirnya dan begitu air itu lenyap, bendungan itu pun lenyap. Kini Kulana menjadi marah bukan main, sepasang matanya menjadi jalang dan merah, mulutnya mengeluarkan buih, cuping hidungnya kembang kempis dan lubang hidungnya mengeluarkan uap putih. Kegilaan nampak pada wajahnya yang tertarik-tarik aneh itu.

"Hay Hay, hari ini aku Kulana akan mengadu nyawa denganmu! Bersiaplah untuk mampus di ujung pedangku!" Sambil berkata demikian Kulana melontarkan pedangnya ke atas dan seperti bernyawa, pedang itu mendadak meluncur turun ke arah Hay Hay, mengeluarkan suara mencicit mengerikan seolah-olah dibawa oleh tangan iblis yang tidak nampak untuk menyerang pemuda itu.

Hay Hay mengenal ilmu ini yang termasuk ilmu sihir pula, akan tetapi dia juga tahu bahwa pedang itu bergerak menurut kehendak hati pemiliknya, seakan-akan Kulana sendiri yang memainkannya dengan ilmu pedangnya. Dia pun segera mengerahkan tenaga batinnya dan melontarkan sulingnya ke atas.

"Sulingku akan menyambut pedangmu seperti aku yang akan menyambut semua ilmumu, Kulana!" katanya dengan tenang namun penuh wibawa.

Suling itu meluncur ke atas, lalu membalik, bagaikan seekor naga memandang ke arah lawan, kemudian meluncur ke depan menyambut pedang itu. Dan terjadilah 'perkelahian' yang amat menarik, aneh, hebat dan seru antara pedang dan suling. Pedang masih terus mengeluarkan suara mencicit, suling mengeluarkan suara mengaung-ngaung, dan setiap kali pedang dan suling bertemu, terdengar suara nyaring dibarengi muncratnya bunga api!

Hui Lian dan Su Kiat yang menjadi penonton tentu saja memandang dengan takjub dan kagum, sedangkan Mulana juga memandang dengan kagum. Alisnya berkerut karena dia tahu bahwa kini saudara kembarnya bertemu dengan seorang lawan yang amat tangguh, baik dalam ilmu silat mau pun ilmu sihir.

Hay Hay juga tidak berani main-main. Di dalam hatinya pemuda ini harus mengaku bahwa selama dia berkelana, belum pernah dia bertemu tanding yang begini tangguh, baik ilmu silat mau pun ilmu sihirnya. Selama ini baru dua kali dia bertemu tanding yang agaknya setingkat dengannya, yaitu Sim Ki Liong dan Han Lojin.

Walau pun dia sendiri belum pernah bentrok secara sungguh-sungguh dengan Ki Liong, namun dia pernah melihat Sim Ki Liong melawan jagoan-jagoan Bu-tong-pai itu dan dia tahu bahwa pemuda itu sungguh lihai dan merupakan lawan berat. Demikian pula dengan Han Lojin. Walau pun dia hanya baru melakukan pibu (adu ilmu silat) dengan Han Lojin dan bukan berkelahi sungguh-sungguh, tapi dia tahu bahwa orang tua itu pun merupakan lawan yang tangguh sekali. Sekarang dia bertemu Kulana yang bukan hanya hebat ilmu silatnya, namun juga berbahaya sekali ilmu sihirnya.

Pertandingan antara pedang dan suling itu berlangsung semakin seru dan kini nampaklah betapa wajah Kulana penuh dengan keringat, juga dari kepalanya yang tidak tertutup dan rambutnya terurai itu keluar uap putih yang tebal. Kulana berdiri dengan kedua tangan diangkat ke atas, kedua lengannya itu kini gemetar, kedua kakinya menggigil.

Sebaliknya Hay Hay berdiri dengan tenang, kedua tangannya juga diangkat ke atas dan mulutnya tersenyum, tetapi sepasang matanya bersinar mencorong memandang ke arah pertempuran antara pedang dan sulingnya itu. Ternyata Hay Hay lebih unggul dalam adu ilmu senjata ini. Pemuda ini pernah digembleng dengan tekun oleh tiga orang sakti, tiga orang di antara Delapan Dewa, maka tentu saja dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, yang kemudian telah dimatangkan pula oleh gemblengan Song Lojin.

Kulana yang keras kepala itu merasa sangat penasaran, tidak mau percaya bahwa dia akan dikalahkan oleh seorang pemuda yang tidak ternama! Dia tidak menerima keadaan, tak menyadari akan kelemahannya dan dengan nekat dia melawan terus, bahkan segera mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi kini jelas nampak oleh tiga orang penonton itu betapa gerakan pedang makin melemah, sedangkan suling itu makin mengganas. Suara suling terdengar makin nyaring mengaung-ngaung, sedangkan suara pedang yang tadi mencicit garang sekarang berubah mengecil, seperti bunyi cicit tikus yang ketakutan. Suling mendesak terus dan akhirnya, dengan hantaman yang amat kuat, pedang itu dibuat terpental oleh suling lalu pedang itu meluncur turun ke arah Kulana!

"Kulana, awas...!" Mulana memperingatkan sambil meloncat ke depan. Namun terlambat!

Kulana yang masih juga keras kepala itu masih berusaha untuk mengerahkan seluruh semangat dan tenaganya untuk mengirim kembali pedangnya yang seperti melarikan diri itu. Tetapi betapa pun juga dia tidak kuat dan pedangnya tetap meluncur turun, lalu tanpa dapat dielakkannya lagi, pedangnya itu menancap di dadanya sendiri!

Kulana terkejut sekali, mengeluh seperti orang tidak percaya. Dengan kedua tangannya dia mencabut pedang yang lebih setengahnya menancap ke dalam dadanya. Kemudian dia menunduk, dua matanya terbelalak memandang darahnya yang mengucur dari dada hingga membasahi jubahnya yang putih, membuat jubah itu menjadi merah pada bagian dada, kemudian dia pun roboh terjengkang.

"Kulana...!" Mulana menubruk saudara kembarnya, berlutut dan berusaha merangkulnya. Bagaimana pun juga mereka adalah saudara kembar, maka terdapat hubungan dan ikatan batin yang amat dekat antara mereka. Melihat Kulana kini terkapar dengan mandi darah, Mulana merasa seolah-olah dadanya sendiri yang terluka.

"Mulana... kau... kau... biang keladinya...!"

Dengan sisa-sisa tenaganya yang masih ada, tiba-tiba Kulana menusukkan pedangnya itu ke dada saudara kembar yang merangkulnya. Pedang menancap di dada Mulana sampai setengahnya. Mulana terbelalak, namun dia tidak melepaskan rangkulannya, bahkan dia tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Baiklah, kutemani engkau... pulang... pulang..., Kulana..." Dia pun lantas tergelimpang, jatuh di samping saudaranya, kedua lengannya masih merangkul Kulana yang juga sudah menghembuskan napas pada saat itu pula.

Hay Hay berdiri dengan muka pucat. Dia menghapus peluhnya dan memandang dengan mata sayu. Hatinya merasa sedih dan terharu. Mengapa manusia harus saling bunuh? Jika di dunia ini ada kebaikan, mengapa manusia malah memilih kejahatan untuk mengisi hidupnya? Kalau ada kasih sayang, mengapa manusia saling membenci?

"Hay Hay...!" Panggilan Hui Lian ini menyadarkannya. Wanita yang dulu pernah hampir menaklukkan hatinya itu sudah berdiri di hadapannya dan memegang kedua pundaknya, mengguncangnya karena Hui Lian tadi melihat Hay Hay berdiri diam dengan muka pucat seperti patung.

"Enci... Enci Hui Lian..." Dia berkata dan cepat-cepat melangkah mundur, dengan lembut melepaskan diri dari rangkulan Hui Lian ketika dia melihat pendekar lengan kiri buntung, suami wanita itu berdiri di situ.

"Lihat, di bawah masih terjadi pertempuran, sebaiknya kita membantu ke sana," kata Su Kiat yang dapat merasakan kecanggungan yang diperlihatkan Hay Hay.

Diam-diam Su Kiat merasa kagum sekali terhadap Hay Hay. Pemuda itu memang hebat, dan seorang pemuda seperti itu memang patut mendapatkan kasih sayang dari Hui Lian. Seorang pemuda yang tampan, mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, sikapnya sederhana dan gembira, namun harus diakuinya bahwa Hay Hay memang memiliki watak yang agak mata keranjang terhadap wanita.

"Akan tetapi kita harus menjaga sumbu itu...," kata Hui Lian yang sudah bisa memulihkan ketenangannya setelah tadi diliputi keharuan dan kebanggaan terhadap Hay Hay.

"Kita dapat menarik sumbu ini sampai putus di bawah sana sehingga takkan dapat disulut orang lagi," kata Su Kiat dan dia lalu memegang ujung sumbu itu dan menariknya.

Sumbu itu sangat panjang menuju ke bawah, ke tempat bahan peledak ditanam. Sambil mengerahkan tenaga, sekali tarik sumbu itu pun putus di sekitar timbunan bahan peledak.

"Nah, sekarang kita boleh meninggalkan tempat ini dengan aman," kata Su Kiat dan dia pun berlari menuruni bukit itu, diikuti oleh Hui Lian dan Hay Hay. Pertempuran di bawah memang masih terjadi dengan serunya, dan Hay Hay ingin segera mencari Ki Liong untuk diminta pertanggungan jawabnya tentang diri Pek Eng.

Sementara itu di bagian lain, di bawah dekat jalan terusan di mana terjadi pertempuran pula, kita kembali melihat perkelahian yang amat seru antara Pek Han Siong dan Bi Lian yang menghadapi dua pasang suami isteri iblis yang lihai.

Han Siong dikeroyok oleh Lam-hai Siang-mo, yaitu suami isteri Siang-koan Leng dan Ma Kim Li yang keduanya merupakan tokoh sesat yang amat lihai dan kejam. Namun sekali ini mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang amat lihai. Han Siong menghadapi dua orang lawan yang berpedang itu dengan tangan kosong saja karena tadi dia sudah menyerahkan pedang Kwan-im-kiam kepada Bi Lian. Meski pun hanya bertangan kosong, dia sama sekali tidak terdesak, bahkan tamparan-tamparannya yang mengandung tenaga sinkang hebat sekali itu membuat Lam-hai Siang-mo sangat kewalahan dan beberapa kali nampak mereka itu terhuyung seperti dilanda angin badai yang kuat.

Keadaan suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan, yaitu Kwee Siong dan Tiong Ci Ki, ternyata juga sama saja. Mereka berdua menggunakan pedang menghadapi Bi Lian yang sudah menerima pedang dari Han Siong.

Ketika mereka terjun ke dalam pertempuran dan dihadapi dua pasang suami isteri, Han Siong merasa khawatir akan keselamatan Bi Lian, maka dia segera mengambil pedang Kwan-im-kiam yang diterima dari kedua orang gurunya, melemparkannya kepada Bi Lian sambil berkata. "Sumoi, kau pergunakan pedang ini!"

Bi Lian menyambut pedang itu dan ketika mencabutnya, dia merasa girang sekali melihat bahwa senjata itu merupakan sebuah pedang pusaka yang sangat indah, ringan dan juga ampuh, mengeluarkan sinar berkilauan. Dengan pedang Kwan-im-kiam di tangan, dengan tenang dan tanpa harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga, Bi Lian lantas menghadapi pengeroyokan suami isteri itu.

Akan tetapi gadis ini mengalami suatu keanehan saat dia memainkan pedang itu. Pedang di tangannya itu merupakan senjata yang amat baik untuk melindungi diri, bahkan pedang itu seperti mengeluarkan hawa yang sangat kuat setiap kali dipergunakan untuk bertahan. Akan tetapi setiap kali dipakai untuk menyerang, pedang itu terasa berat dan gerakannya lamban, seolah-olah pedang itu tidak suka dipakai untuk menyerang manusia!

Bi Lian merupakan murid terkasih dari dua orang datuk sesat, maka tentu saja dia sudah digembleng dengan berbagai ilmu yang jahat dan kejam oleh Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi. Akan tetapi karena di dalam darahnya mengalir darah pendekar maka dia tidak suka, bahkan selalu menentang perbuatan jahat dan kejam.

Ketika melihat betapa dua orang suami lsteri itu tidak berdaya menghadapi gulungan sinar pedang yang diputarnya, Bi Lian lalu mulai melakukan serangan dengan tangan kirinya.

"Tranggg...!"

Bi Lian mengerahkan sinkang-nya ketika menangkis pedang Tong Ci Ki yang menusuk dadanya. Tangkisan itu demikian kuatnya hingga Tong Ci Ki mengeluarkan suara jeritan halus. Pedangnya hampir terlepas dari pegangannya dan tubuhnya terhuyung. Pada saat terhuyung ini, tangan kirinya bergerak dan sinar halus hitam menyambar ke arah Bi Lian!

Gadis ini maklum bahwa lawan telah menggunakan senjata rahasia. Jarum-jarum beracun memang menjadi keistimewaan Tong Ci Ki hingga wanita ini mendapat julukan Si Jarum sakti. Akan tetapi, sebagai murid dua orang datuk sesat, tentu saja Bi Lian mengenal baik segala macam serangan gelap dan curang. Tubuhnya telah melayang ke atas, kemudian dengan kemarahan meluap tangan kirinya menyambar ke arah kepala Tong Ci Ki.

Wanita ini terkejut, cepat mengelak mundur, akan tetapi tangan kiri Bi Lian itu dapat mulur dan mengejar terus. Hal ini tentu saja sama sekali tidak pernah disangka oleh Tong Ci Ki sehingga dia terkejut sekali dan tanpa dapat dihindarkannya lagi, tangan kiri Bi Lian yang kini mengeluarkan uap putih itu telah mengenai pelipisnya.

"Plakkk!"

Tubuh Tong Ci Ki terpelanting dan wanita itu mengeluarkan jerit kecil, lalu terkulai lemas dan tewas seketika!

Melihat isterinya roboh, Kwee Siong marah bukan main. Sambil mengeluarkan gerengan laksana seekor harimau terluka, dia menyerang dengan pedangnya, membarengi dengan hantaman tangan kirinya.

Serangan ini ganas sekali karena tangan kiri Kwee Siong tidak kalah ampuh dibandingkan pedang pada tangan kanannya. Dia berjuluk Si Tangan Maut karena kehebatan tangan kirinya itu.

Tetapi sambil membalik tubuhnya Bi Lian menghadapi serangan dahsyat itu dengan pekik melengking yang amat hebat. Itulah ilmu Ho-kang, gerengan atau pekik melengking yang mengandung tenaga khikang hebat, yang dipelajari dari Tung Hek Kwi.

Mendengar pekik yang amat hebat ini seketika Kwee Siong menjadi seperti lumpuh, kaki tangannya seperti kaku sehingga tak dapat digerakkan. Sebelum dia sempat memulihkan keadaannya, karena jantungnya tergetar hebat oleh pekikan itu, tangan kiri Bi Lian sudah menampar.

"Takkk...!"

Jari-jari tangan mungil dari tangan Bi Lian menyambar ke arah tengkuk, lantas robohlah Kwee Siong, tak dapat bangkit kembali karena nyawanya telah menyusul nyawa isterinya.

"Sumoi, mengapa engkau tidak mempergunakan pedang itu? Pedang itu kuterima dari Subo..."

Bi Lian membalik menghadapi suheng-nya, dan dia melihat bahwa Han Siong juga sudah merobohkan Lam-hai Siang-mo. Tidak terlalu sulit bagi Han Siong untuk merobohkan dua orang pengeroyoknya itu karena tingkat kepandaian mereka jauh di bawah tingkatnya. Dia merobohkan Siangkoan Leng dengan cara menyentil pedang di tangan Siangkoan Leng sehingga membalik dan menusuk tenggorokan pemegangnya sendiri, sedangkan Ma Kim Li dirobohkannya dengan totokan maut yang mengenai pangkal leher kiri.

Tadi Han Siong sempat menyaksikan ketika Bi Lian merobohkan dua orang suami isteri itu, maka dia merasa heran dan bertanya mengapa gadis itu tidak menggunakan pedang untuk merobohkan mereka.

Bi Lian tersenyum, "Sayang kalau pedang ini dikotori dengan darah mereka, Suheng. Nih, kukembalikan pedangmu dan terima kasih." Han Siong lalu menerima kembali pedang itu, pedang yang menjadi tanda ikatan jodoh antara dia dengan gadis itu.

"Heiii, lihat siapa di sana itu...!" Tiba-tiba Bi Lian menunjuk ke depan.

Han Siong cepat menengok dan dia melihat seorang gadis mengamuk di antara pasukan pemberontak. Seorang gadis yang masih muda sekali, antara tujuh belas sampai delapan belas tahun, tinggi ramping dengan wajah manis. Gerakan gadis itu lincah dan Han Siong melihat bahwa tingkat kepandaian silat gadis itu biasa saja, namun sudah cukup tangguh untuk merobohkan anggota-anggota pasukan pemberontak. Dara yang tadinya bertangan kosong itu dapat merampas sebuah golok dan kini ia mengamuk dengan golok rampasan itu.

"Siapakah dia?" Han Siong bertanya, tidak begitu tertarik, bertanya hanya karena Bi Lian menunjukkan gadis itu kepadanya.

"Dia adalah gadis yang kau cari-cari, Pek Eng adikmu, Suheng."

"Ahh ...!" Mendengar ini Han Siong langsung melompat, kemudian dengan tendangan-tendangannya dia merobohkan beberapa orang anggota pemberontak yang mengeroyok Pek Eng, diikuti oleh Bi Lian yang tersenyum melihat ulah suheng-nya itu.

"Enci Bi Lian...!" Pek Eng berseru girang ketika melihat Bi Lian dan dia menoleh kepada Han Siong, lalu mengangguk.

"Terima kasih atas bantuan kalian."

"Eng-moi, tahukah engkau siapa adanya dia ini? Dia adalah kakakmu yang bernama Pek Han Siong!"

Wajah Pek Eng berubah, dua matanya terbelalak dan dia memandang kepada Han Siong yang sebaliknya juga memandang adiknya dengan mata mengandung keharuan.

"Adik Eng...!"

"Kakak Han Siong..., kakakku...!" Pek Eng lari maju dan menubruk kakaknya yang cepat merangkulnya dan tiba-tiba Pek Eng menangis tersedu-sedu di atas dada kakaknya yang sudah banyak didengarnya namun yang selamanya belum pernah ditemuinya itu. Bahkan ketika dia terlahir, kakaknya sudah tidak berada di rumah orang tuanya.

Melihat pertemuan yang sangat mengharukan itu, Bi Lian sengaja menjauhkan diri lantas melanjutkan amukannya di antara pasukan pemberontak karena pertempuran masih terus berlangsung dengan amat serunya.

Sementara itu diam-diam Han Siong terkejut dan agak kecewa. Kenapa adik kandungnya ini ternyata seorang gadis yang cengeng? Memang pertemuan di antara mereka itu amat menyentuh perasaan dan mengharukan, akan tetapi bukankah mereka berada di tengah pertempuran dan tadi adiknya ini terlihat demikian gagah menghadapi pengeroyokan para pemberontak? Kenapa tiba-tiba menjadi begini cengeng setelah bertemu dengan dia?

Akan tetapi dia pun merasa khawatir saat memperhatikan adik kandungnya itu. Bukankah menurut keterangan ayah ibunya, Pek Eng merupakan seorang gadis yang cerdik, berani dan tabah ? Dan kini tangisnya begitu menyedihkan, seolah-olah ada sesuatu yang amat mengganggu perasaan gadis ini, maka dia merangkulnya lebih erat untuk menghiburnya.

"Tenangkan hatimu, adikku. Kenapa engkau menangis begini sedih? Bukankah pertemuan antara kita ini sangat menggembirakan? Tahukah engkau betapa aku sudah mencarimu sampai beberapa lamanya? Aku mendengar tentang engkau dari Sumoi Bi Lian. Kenapa engkau seperti orang berduka, adikku?"

Mendengar kata-kata itu, tangis Pek Eng makin menjadi-jadi! Dia kini sesenggukan dan Han Siong merasa betapa dadanya basah akibat air mata adiknya itu menembus bajunya. Ahh, tentu ada sesuatu yang menghancurkan hati adiknya, pikir Han Siong khawatir.

"Katakanlah saja kepada kakakmu ini, adikku. Apakah yang telah terjadi? Siapakah yang telah membuatmu begini berduka?"

Mendengar pertanyaan itu, Pek Eng langsung mengangkat mukanya memandang kepada wajah kakaknya penuh harap. "Koko, apakah engkau sayang kepadaku? Apakah engkau kasihan kepadaku?"

Hampir saja Han Siong tertawa mendengar ini. Mendadak dia menggerakkan kaki kirinya dan seorang prajurit pemberontak segera terlempar jauh. Tadi prajurit itu agaknya hendak mempergunakan kesempatan untuk menyerang dengan goloknya selagi kakak beradik itu lengah.

"Tentu saja aku sayang dan kasihan kepadamu, adikku."

"Dan engkau mau memaafkan kalau aku membuat kesalahan?"

"Tentu, tentu saja..."

"Koko, aku... aku telah dicemarkan orang..."

Han Siong terkejut sekali, bagaikan disambar halilintar. Dia memegang pundak adiknya dengan dua tangannya dan mendorongnya untuk dapat melihat wajah adiknya lebih jelas. "Kau... telah diperkosa orang?"

Pek Eng menggelengkan kepala. " Aku... aku menyerahkan diri dengan suka rela, Koko, aku... aku terlampau lemah dan aku... aku cinta padanya. Akan tetapi dia... dia... ahhh..." Gadis itu menangis lagi.

"Dia mengapa? Dia siapa? Katakanlah, adikku!" kata Han Siong dengan hati tidak enak.

"Dia... mengingkarinya, Koko. Dia tak mau bertanggung jawab, bahkan dia menyangkal!" Kini Pek Eng tak menangis lagi, akan tetapi mengepal tinju dengan marah. "Bantulah aku, Koko, untuk menyadarkannya, atau kalau dia tetap menyangkal, untuk membunuhya!"

Han Siong mengerutkan alisnya. "Sungguh aku tak mengerti, adikku. Bagaimana mungkin dia mengingkarinya, menyangkal kalau memang benar dia telah melakukannya?"

Dengan singkat Pek Eng lalu menceritakan peristiwa malam itu di dalam pondok taman yang sunyi, betapa pemuda itu sudah menggaulinya, akan tetapi kemudian melarikan diri dan menyangkal perbuatan itu.

"Siapa dia?" Han Siong bertanya marah.

"Dia Hay-ko..."

"Hay...? Maksudmu, Hay Hay yang menjadi penggantiku di keluarga orang tua kita itu?"

"Benar, Koko, dialah orangnya. Temuilah dia, Koko. Hanya ada dua pilihan baginya, mau memperisteriku dengan baik-baik atau dia harus mati di tanganku."

"Di mana dia?"

"Aku tidak tahu, Koko, aku pun sedang mencarinya. Mungkin sekarang dia berada pula di dalam medan pertempuran ini."

"Hayo kita cari dia!" kata Han Siong dan mereka pun segera pergi, mencari Hay Hay.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bi Lian meninggalkan Han Siong, mulai mencari sendiri musuh-musuhnya, yaitu Lam-hai Giam-lo dan Kulana. Dara ini masih merasa sakit hati terhadap kedua orang itu karena kematian kedua orang gurunya. Dan tak lama kemudian, dia melihat Lam-hai Giam-lo!

Kakek ini sedang mengamuk dan pada punggungnya terdapat sebuah gendongan kain. Mudah saja diduga bahwa kakek ini agaknya telah siap untuk melarikan diri, dan di dalam gendongannya itu terdapat batangan emas yang diterimanya dari Kulana.

Para prajurit kerajaan yang melihat kakek ini segera mengepung, akan tetapi mereka ini bagaikan sekawanan nyamuk yang menyambar api saja. Lam-hai Giam-lo terlampau lihai sehingga setiap orang prajurit yang berani mendekat langsung roboh oleh tamparan atau tendangannya. Bahkan beberapa orang pendekar anggota Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai dan Kong-thong-pai roboh pula menjadi korban kelihaian pemimpin pemberontak itu.

Melihat Lam-hai Giam-lo, Bi Lian yang tadinya telah khawatir kalau-kalau musuh besarnya ini sudah melarikan diri, segera menghampiri dengan cepat sambil membentak, "Lam-hai Giam-lo, iblis busuk! Bersiaplah untuk menebus nyawa kedua orang guruku!"

Setelah mengeluarkan bentakan, Bi Lian sudah menerjang maju dan menyerang dengan ganasnya karena gadis ini maklum akan kelihaian lawan, maka begitu menyerangnya dia sudah mengerahkan tenaga sekuatnya.

Lam-hai Giam-lo juga mengenal Bi Lian. Dia pun maklum bahwa sebagai murid paman gurunya, Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, tentu gadis itu berbahaya sekali, maka dia pun menyambut serangan itu dengan sepenuh tenaganya, menangkis dengan tangan kiri ke arah lengan kanan Bi Lian yang mencengkeram ke arah lambungnya, sedangkan tangan kanannya sudah menampar dari atas mengarah ubun-ubun kepala Bi Lian.

"Ciuuuttt...!"

Bi Lian sudah melompat ke samping sehingga hantaman maut itu hanya lewat di samping kepalanya. Bi Lian segera membalas dengan tusukan jari-jari tangan kanannya ke arah dada lawan. Lam-hai Giam-lo tidak berani memandang ringan jari-jari tangan mungil ini karena tangan mungil itu sudah diisi dengan tenaga sinkang yang membuat tangan itu dapat tajam seperti golok sehingga jika mengenai sasaran, dapat menembus kekebalan, merobek kulit daging dan mematahkan tulang.

"Dukkk!"

Lam-hai Giam-lo menangkis dari samping dan ketika kedua lengan bertemu, tubuh Bi Lian langsung terdorong mundur sedangkan tubuh Lam-hai Giam-lo hanya tergetar saja. Hal ini membuktikan bahwa dalam hal kekuatan tenaga sinkang, pemimpin pemberontak itu masih lebih kuat dibandingkan adik misan seperguruannya. Terjadilah serang menyerang yang sengit antara kedua orang ini.

Para pendekar lain yang merasa bahwa tingkat kepandaian mereka masih belum mampu menandingi Lam-hai Glam-lo dan maklum bahwa kalau mereka maju berarti hanya akan mengantar nyawa, segera menonton dari jarak jauh. Perkelahian antara dua orang itu makin lama semakin seru dan akhirnya Bi Lian mulai terdesak juga.

Bi Lian maklum akan ketangguhan lawan, maka dia mulai melirik ke sana-sini menunggu kemunculan Pek Han Siong untuk mengharapkan bantuan pemuda itu. Akan tetapi yang muncul bukan Han Siong, melainkan dua orang yang amat ditakuti oleh Lam-hai Giam-lo. Mereka adalah suami isteri Ciang Su Kiat dan Kok Hui Lian!

"Lam-hai Giam-lo, bersiaplah untuk mampus!" terdengar Hui Lian membentak nyaring dan begitu dia menyerang, nampak sinar terang menyambar ke arah leher Lam-hai Giam-lo.

"Singggg...!" Pedang itu berhasil dielakkan oleh Lam-hai Giam-lo yang membuang diri ke belakang.

"Wuuuttt...!"

Angin dingin menyambar dari arah lain dan Lam-hai Giam-lo kembali harus melempar diri ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran ujung lengan baju kiri milik Su Kiat yang tidak kalah berbahayanya dibandingkan pedang Kiok-hwa-kiam di tangan isterinya itu.

Thanks for reading Pendekar Mata Keranjang Jilid 46 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »