Pendekar Mata Keranjang Jilid 37

GADIS itu memandang dan menyembunyikan senyum, lalu menunduk dan menggunakan sumpit besar itu membalikkan ikan di dalam tanah liat itu. "Kalau dipanggang begitu saja, ikannya akan bau asap, juga bisa gosong. Akan tetapi kalau dibungkus tanah liat, tidak berbau asap, tidak gosong dan panasnya lebih meresap, bumbunya akan terasa benar sehingga biar pun dagingnya masih nampak putih kemerahan seperti mentah, akan tetapi sebetulnya sudah lunak dan matang. Memanggang seperti ini adalah cara memanggang istimewa yang biasanya dihidangkan kepada para bangsawan di istana."

Sun Hok mengerutkan kedua alisnya. Gadis ini tahu akan kebiasaan memasak di istana bangsawan? Apakah dia seorang puteri? Jika melihat pakaiannya, biar pun cukup indah, namun tidaklah terlalu mewah. Juga perhiasan di leher, telinga dan lengannya bukan dari emas murni dan berhiaskan permata mahal, hanya perhiasan sederhana saja. Akan tetapi cara bicaranya demikian halus, seperti orang terpelajar, dan gerak-geriknya pun lembut, suaranya merdu dan mengerti tentang cara memasak hidangan para bangsawan! Makin tertariklah hatinya, seperti menghadapi sebuah rahasia yang harus dipecahkan.

Setelah tanah liat itu terlihat kemerahan, gadis itu mengetuk-ngetuknya dengan sepasang sumpit ranting dan berkata girang. "Sekarang sudah matang, siap untuk dimakan setelah agak dingin."

Dengan sumpitnya dia lantas mengambil dua ikan yang terbungkus tanah itu, dikeluarkan dari api unggun yang tetap dibiarkan hidup terus untuk menerangi tempat itu, juga untuk mengusir nyamuk. Malam mulai masuk dan cuaca mulai menjadi gelap.

Dengan gerakan yang lincah dan cekatan gadis itu lalu memukul-mukulkan batu sehingga tanah liat yang telah mengering itu menjadi pecah dan tampaklah daging ikan yang putih kemerahan karena semua sisik ikan itu melekat pada tanah liat. Dan terciumlah bau yang sedap dan membuat Sun Hok tiba-tiba merasa lapar! Dia menggunakan dua batang kayu sebagai sumpit, mengambil daging ikan dan memakannya. Bukan main enaknya! Begitu gurih, sedap dan benar saja, sedikit pun tidak ada bau asap atau gosong!

"Wah, lezat sekali!" Dia memuji dan gadis itu tersenyum girang.

"Sayang bumbunya kurang lengkap, kalau lengkap lebih enak lagi. Biarlah lain kali kalau ada kesempatan, kalau ada bumbu-bumbu lengkap, akan kubuatkan engkau masakan-masakan yang lebih enak lagi, Kongcu.” Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya, seperti teringat akan sesuatu, matanya terbelalak dan dia pun berseru. "Ah, apa yang kukatakan tadi? Aku sudah lupa diri, lupa akan keadaanku dan lupa bahwa baru saja engkau sudah menyelamatkan aku, dan... dan aku belum tahu siapa Kongcu, engkau pun belum tahu siapa aku..."

Sun Hok tersenyum melihat kegugupan gadis itu. Dia tidak merasa seperti itu. Dia merasa seolah-olah dia telah mengenal gadis ini selama bertahun-tahun, dan seolah-olah mereka adalah sepasang sahabat yang akrab dan tidak asing.

"Tenanglah, Nona. Ikan sudah dipanggang matang. Mari kita makan dulu, baru kita bicara tentang hal lain. Belum terlambat, bukan?"

Melihat sikap pemuda itu, gadis tadi bisa menguasai dirinya kembali. Dia tersenyum, lalu mengangguk dan mulai pula menyumpit daging ikan. Mereka berdua makan tanpa bicara, hanya kadang-kadang saling pandang melalui sinar api unggun yang selalu ditambah kayu bakarnya oleh Sun Hok.

Bagi dua orang itu, belum pernah mereka merasakan suasana yang begitu santai, damai dan juga makan demikian enaknya, walau pun tidak ada nasi dan hanya makan daging ikan saja. Tanpa malu-malu keduanya makan sampai dua ekor ikan itu tinggal tulangnya saja. Barulah Sun Hok mengeluarkan seguci anggur dari dalam buntalannya.

"Aku... aku tidak suka minum arak, takut mabok...!" kata gadis itu.

Sun Hok menggeleng kepalanya. "Bukan arak yang keras, Nona, melainkan anggur yang halus dan enak. Engkau tidak akan mabok meski habis sepuluh cawan sekali pun. Hanya sayang, aku tak biasa membawa cawan. Maklum, biasanya aku minum sendirian, cukup meneguk dari guci. Nah, silakan, Nona. Engkau perlu minum setelah makan daging ikan." Sun Hok lalu memberikan guci anggurnya kepada nona itu setelah mencabut sumbatnya. Tercium bau yang harum dan sama sekali tidak keras seperti bau arak.

Kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali. Meski pun sinar api unggun itu telah membuat wajahnya nampak merah, akan tetapi kini menjadi semakin merah sehingga mudah dilihat oleh Sun Hok. Dengan kedua tangannya nona itu menolak dan berkata,

"Aih, Kongcu. Bagaimana aku berani? Engkau sendiri belum minum, lalu bagaimana aku berani minum lebih dulu dan mengotori mulut guci?"

Sun Hok pun tertawa. "Ha-ha-ha, engkau lucu, Nona. Bagaimana mulut guci ini bisa kotor kalau engkau menenggak isinya? Mungkin terbalik, mulut guci inilah yang akan mengotori bibirmu, Nona. Akan tetapi jangan khawatir, guci ini selalu kucuci sampai bersih sebelum diisi anggur. Nah, minumlah, Nona."

Akan tetapi gadis itu tetap saja menolak. "Tidak, Kongcu. Aku tak berani. Sepantasnya... engkau yang minum lebih dulu, baru... baru aku akan mencobanya."

"Ehh, kenapa begitu?"

"Pertama, karena engkau adalah pemilik guci itu, dan ke dua, karena engkau adalah tuan rumahnya, dan ke tiga karena... engkau pria dan aku wanita."

Sun Hok melebarkan matanya dan tersenyum kembali. Heran, belum pernah dia merasa segembira itu, belum pernah dia tertawa dan tersenyum sebanyak itu dalam waktu yang demikian singkat!

"Baiklah, aku akan minum terlebih dahulu, baru engkau!" Dan dia pun meneguk beberapa teguk anggur dari dalam guci. Enak bukan main, lebih enak dari pada yang sudah-sudah. Setelah merasa cukup, dia kemudian menyerahkan guci itu kepada gadis yang sejak tadi menatapnya penuh kagum.

Kali ini gadis itu tak menolak. Dengan hati-hati ditempelkannya bibir guci ke bibirnya yang merah basah itu lantas dia pun meneguk anggur dari dalam guci. Apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Dia tidak tersedak dan ternyata isi guci itu memang sama sekali tidak keras. Anggur yang manis, ada asamnya sedikit, sedap dan harum. Enak sekali!

"Wah, terima kasih, Kongcu. Anggur ini memang enak sekali dan amat segar!" katanya memuji.

Sekarang mereka duduk berhadapan, terhalang oleh api unggun. "Sekarang bagaimana, Nona. Apakah aku harus mengantarmu pulang?"

"Pulang...?" Dan tiba-tiba gadis itu kelihatan gelisah dan ketakutan. "Pulang ke mana? Ahh, Kongcu, aku... aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi... "

"Ehhh?" Sun Hok terkejut dan heran bukan main. "Engkau, seorang gadis seperti engkau ini tidak mempunyai tempat tinggal? Habis bagaimana dengan keluargamu? Orang tuamu atau... suamimu barang kali?"

Gadis itu menggeleng kepalanya. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku tidak memiliki orang tua, aku tidak mempunyai suami atau saudara..."

"Tapi... tapi bagaimana mungkin itu? Dan engkau tadi tertangkap oleh lima orang jahat. Apakah yang telah terjadi. Nona?"

Gadis itu menarik napas panjang, "Cerita tentang diriku amat panjang, Kongcu. Sesudah aku berhutang budi dan nyawa, aku tidak ingin membikin susah Kongcu lebih lanjut lagi. Biarlah aku pergi, Kongcu, membawa nasib diriku yang malang ini. Dan sekali lagi terima kasih, semoga Thian yang membalas semua budi kebaikan Kongcu kepadaku," Gadis itu lalu bangkit dan melangkah hendak pergi meninggalkan Sun Hok.

Pemuda itu terkejut dan sekali melompat dia telah menghadang di depan gadis itu. "Nona! Tadi kau mengatakan tidak memiliki tempat tinggal, akan tetapi engkau akan pergi begitu saja? Lalu ke mana engkau hendak pergi?"

"Ke mana saja. Mungkin masih ada bekas kenalan yang sudi menampung diriku yang tak berharga ini."

"Ahh, Nona. Bukankah kita sudah berkenalan, bahkan... ehh, kita sudah makan bersama seperti sahabat? Kalau begitu, marilah menjadi tamu di rumahku, Nona. Jangan khawatir, aku menjamin bahwa Nona akan aman berada di dalam rumahku."

"Aku hanya mengganggu dan menyusahkanmu saja, Kongcu."

"Tidak sama sekali! Marilah, Nona. Aku mengundangmu menjadi tamuku yang terhormat dan di rumah nanti kita baru bicara."

Gadis itu hanya dapat mengangguk, lantas pergilah mereka meninggalkan tepi sungai itu setelah Sun Hok memadamkan api unggun. Untung bahwa langit penuh bintang sehingga perjalanan menuju ke kota Siang-tan itu tidaklah begitu gelap.

Sun Hok terpaksa berjalan seenaknya, santai dan tidak menggunakan ilmu berlari cepat seperti biasanya karena dia harus mengiringi seorang gadis yang demikian lemah lembut. Ketika mereka sampai di istana kuno itu, Si Gadis terbelalak dan menahan langkahnya di depan pintu gerbang.

"Aih, kiranya engkau seorang bangsawan besar, mendiami sebuah istana, Kongcu! Mana aku... berani... mengganggumu?"

"Ahh, jangan berlebihan, Nona. Di sini aku tinggal hanya seorang diri. Memang istana ini peninggalan mendiang orang tuaku. Aku pun sebatang kara, yatim piatu dan tinggal di sini hanya dengan tiga orang pelayan tua. Mari, masuklah dan jangan khawatir."

Seorang kakek tukang kebun, seorang kakek dan nenek penjaga rumah yang merangkap tukang masak, menyambut kedatangan kongcu mereka. Meski pun mereka merasa heran melihat majikan mereka pulang bersama seorang gadis muda yang cantik, namun mereka tak berani bertanya sesuatu. Sun Hok lalu berkata kepada nenek yang menjadi pengurus rumah tangga di rumahnya.

"Nek, harap antarkan Nona ini ke dalam kamar tamu dan layani dia baik-baik. Kemudian persiapkan makan malam untuk kami berdua di ruangan makan." Kepada gadis itu Sun Hok berkata, "Nona, silakan Nona mengikuti nenek ini ke kamar Nona, agar Nona dapat mandi dan beristirahat sebelum kita makan malam."

Gadis itu berkata, "Aku akan membantu Nenek memasak."

Pada waktu makan malam sudah dihidangkan di ruangan makan, Sun Hok melihat gadis itu sama sekali bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pelayan karena nona inilah yang membantu nenek memasak dan menghidangkan semua masakan di atas meja. Nenek itu pun dengan gembira berkata,

"Kongcu, Nona inilah yang memasak semuanya. Dia pandai sekali memasak! Dan dialah yang memaksa diri untuk membantu mempersiapkan makanan ini."

Sun Hok memandang dengan perasaan senang sekali. Agaknya nona itu sudah mandi, akan tetapi pakaiannya amat lucu, mengenakan pakaian bersih yang biasa dipakai nenek itu sehingga nampaknya terlalu besar dan sederhana sekali, pakaian pelayan!

"Dia memaksa meminjam pakaian saya, Kongcu," kata Si Nenek, takut kalau disalahkan.

"Untuk sementara saja, Nek," kata gadis itu. "Pakaianku terbawa orang jahat, biar besok aku akan membeli beberapa potong karena aku masih memiliki sedikit simpanan uang."

Kini mereka duduk makan nasi dan masakan, berdua saja karena para pelayan dengan penuh pengertian sudah meninggalkan mereka. Para pelayan itu sudah tua, dan biar pun mereka tidak tahu hubungan apa yang terdapat di antara dua orang muda itu, akan tetapi mereka tidak suka menjadi pengganggu.

Setelah selesai makan malam mereka duduk berdua di serambi depan, dan baru mereka memperoleh kesempatan untuk berkenalan! Mereka pun bercakap-cakap di bawah sinar lampu yang cukup terang,.

"Nona, agaknya sekarang sudah tepat kalau aku mengetahui siapa dirimu dan apa yang sudah terjadi denganmu sehingga engkau tertawan oleh lima orang jahat itu. Ketahuilah, aku bernama Can Sun Hok, yatim piatu dan tinggal di sini bersama ketiga orang pelayan tadi. Tidak ada apa-apa yang aneh tentang diriku untuk diceritakan dan kuharap engkau mau menceritakan segala peristiwa yang telah terjadi denganmu, tentu saja kalau engkau percaya kepadaku."

Gadis itu menghela napas panjang, dan wajahnya yang lembut dan cantik manis itu kini seperti tertutup awan tipis, nampak agak muram. Akan tetapi dia tidak menangis, bahkan mencoba untuk tersenyum, walau pun merupakan senyum pahit.

Sun Hok dapat menduga bahwa gadis ini tentu telah mengalami banyak penderitaan batin yang tersembunyi di balik wajahnya yang begitu cantik menarik. Dara yang halus lembut, penuh sifat-sifat kewanitaan, bukan seperti Cia Kui Hong dan ibunya, Ceng Sui Cin, yang merupakan wanita-wanita perkasa. Gadis seperti ini membutuhkan perlindungan, dan dia akan merasa senang apa bila dapat menjadi pelindungnya.

"Namaku Bhe Siauw Cin, Can-kongcu…" dia berhenti seperti hendak melihat tanggapan pemuda itu, apakah pernah mendengar nama itu ataukah belum.

"Nama yang bagus," kata Sun Hok yang melihat gadis itu menghentikan pembicaraannya.

Kembali gadis itu, Siauw Cin, menarik napas panjang. "Engkau belum pernah mendengar namaku, hal ini saja menunjukkan bahwa engkau seorang pemuda bangsawan yang lain dari pada semua pemuda di Siang-tan ini, Kongcu. Semua pemuda lain, meski pun belum pernah melihatku setidaknya tentu pernah mendengar namaku."

"Begitu terkenalkah engkau, Nona Bhe?"

"Betapa janggalnya. Engkau, seorang pemuda bangsawan tinggi yang kaya raya, namun menyebut aku Nona Bhe. Padahal orang lain menyebut namaku Siauw Cin seperti nama boneka saja. Ya, orang lain menganggap aku tidak lain hanya sebagai boneka. Memang aku dikenal di kota ini, Kongcu, terutama oleh para pria yang suka mengejar kesenangan. Aku seorang gadis penyanyi, gadis penghibur."

"Ahhh... !" Sun Hok benar-benar terkejut karena tidak menyangka sama sekali.

Dia sendiri belum pernah keluyuran ke rumah-rumah hiburan, juga belum pernah bergaul dengan gadis penyanyi, gadis penghibur atau pelacur, akan tetapi dia tahu sampai betapa rendah dan hinanya martabat seorang gadis penghibur itu. Hampir dia tak dapat percaya bahwa gadis seperti ini adalah seorang gadis penghibur yang boleh menghibur setiap pria yang mampu dan suka membayarnya!

Siauw Cin menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kepahitan yang terbayang di wajahnya. "Engkau... engkau mulai merasa kecewa dan menyesal telah mengundangku ke rumah ini, Kongcu?" tanyanya sambil menundukkan muka, suaranya lirih sekali.

"Sama sekali tidak! Aku tadi berseru hanya karena terkejut dan tidak percaya sama sekali! Engkau seorang gadis penyanyi, gadis penghibur? Aku tidak percaya, Nona Bhe!"

Siauw Cin mengangkat mukanya dan tersenyum manis sekali. "Ya Tuhan, baru sekarang inilah ada ucapan yang demikian menggirangkan hatiku, akan tetapi juga mendatangkan rasa duka dan penyesalan. Baiklah, aku akan menuturkan riwayatku kepadamu, Kongcu. Belum pernah aku menceritakan riwayat hidupku kepada siapa pun juga dan engkaulah orang pertama dan satu-satunya yang akan mendengar riwayatku."

Siauw Cin lalu bercerita. Sejak kecil dia telah dijual oleh orang tuanya yang tidak mampu kepada keluarga bangsawan di kota raja. Karena sejak kecil dia tampak mungil dan cantik maka oleh keluarga itu dia pun dididik sehingga pandai baca tulis, juga pandai melakukan pekerjaan kerajinan, masak dan lain-lain bahkan dilatih pula untuk memainkan alat musik, menari dan menyanyi. Pendeknya, dia dilatih untuk menjadi seorang dayang yang baik.

Ketika dia berusia enam belas tahun, majikannya sendiri, seorang bangsawan tua di kota raja, tergila-gila kepadanya dan menggaulinya. Karena sebagai dayang dia tiada bedanya dengan seekor anjing atau kucing peliharaan, atau sebuah benda mahal di rumah itu yang sepenuhnya dikuasai majikannya, Siauw Cin hanya dapat menangis ketika menyerahkan diri.

Hal ini lalu diketahui oleh isteri majikannya dan dia pun dijual! Dia dijual ke sebuah rumah hiburan yang besar di kota raja, dengan harga cukup tinggi mengingat dia masih muda, belum banyak terjamah pria, pandai bermain musik, menari dan menyanyi.

Sebentar saja nama Siauw Cin terkenal di kalangan para hartawan dan bangsawan yang suka keluyuran di rumah-rumah hiburan. Ia menjadi kembang baru yang mahal harganya. Dengan kedudukannya yang amat menguntungkan pemilik rumah hiburan, Siauw Cin pun bisa menjual mahal. Dia tidak sudi melayani segala macam orang, tak mau menyerahkan diri secara sembarangan saja, melainkan dia pun berhak memilih.

Demikianlah, dia kemudian menjelma sebagai gadis penghibur yang menjadi rebutan. Dia tampak hidup bergelimang kemewahan dan kesenangan, akan tetapi sebenarnya, bila dia rebah seorang diri di dalam kamarnya, sering kali dia menangis menyesali nasib dirinya dan masa depannya yang suram. Betapa pedih hatinya ketika secara terpaksa dia harus menyerahkan dirinya dipermainkan sesuka hati oleh seorang pria yang sama sekali tidak dicintanya!

Tidak mungkin dia menolak mereka semua, karena hal itu tentu akan membuat pemilik rumah hiburan menjadi marah, dan dia bisa disiksa jika terus-menerus menolak. Biar pun jarang, sekali waktu dia harus mau menerima langganan yang royal. Betapa memuakkan membiarkan diri digeluti seorang laki-laki tua botak yang perutnya gendut dan napasnya terengah-engah. Ingin rasanya mati saja!

"Kemudian, entah mengapa aku sendiri tidak tahu, Kongcu. Pagi tadi aku dijual kepada lima orang yang datang itu. Aku dipaksa ikut dengan mereka naik perahu itu dan katanya aku telah dibeli oleh bengcu mereka yang berjuluk Lam-hai Giam-lo. Dapat kubayangkan betapa rasa takutku, karena baru mendengar namanya saja aku sudah merasa ngeri. Apa lagi lima orang itu bersikap kasar kepadaku. Kemudian, muncullah engkau, Kongcu."

Sejak tadi Sun Hok mendengarkan dengan bermacam perasaan mengaduk batinnya. Tak disangkanya bahwa gadis ini adalah seorang gadis penghibur, bukan seorang dara yang bersih tanpa noda, melainkan seorang wanita yang meski pun masih sangat muda, tetapi sudah berulang kali terjatuh ke tangan bermacam-macam pria! Sungguh sulit untuk dapat dipercaya! Gadis yang begini halus, sopan dan lembut!

"Karena itu, pada waktu engkau bertanya tentang tempat tinggalku, aku menjadi bingung, Kongcu. Aku telah dijual, berarti telah bebas dari rumah hiburan itu dan sampai mati pun aku tidak sudi kembali ke sana! Lebih baik aku mati saja!"

Dan baru sekarang Siauw Cin tidak sanggup menahan lagi air matanya yang bercucuran membasahi kedua pipinya. Cepat dia mengusap air matanya dengan sapu tangan sambil menundukkan mukanya. Sungguh tangis yang wajar, bukan tangis buatan, dan Sun Hok dapat merasakan kebingungan hati wanita ini.

"Sungguh engkau seorang gadis yang bernasib malang sekali, Nona. Lalu, jika sekarang engkau tidak sudi kembali kepada induk semangmu itu, apa rencanamu selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan hidupmu yang penuh liku-liku itu?"

Cepat saja Siauw Cin dapat menghentikan tangisnya. Sudah terlalu banyak dia menangis, sudah pandai dia menekan perasaan duka di hatinya. Ia menghapus sisa air matanya dan dengan sepasang mata kemerahan dia memandang kepada pemuda itu.

"Kongcu, sudah terlampau lama saya hidup dengan batin tersiksa, bahkan ketika bertemu denganmu, Kongcu, semakin kelihatan jelas sekali betapa kotor kehidupanku yang sudah lampau. Ketika kita sama-sama makan ikan di tepi sungai itu, Kongcu, aku berjanji dalam hatiku bahwa aku akan meninggalkan kehidupan lamaku. Lebih baik mati dari pada harus kembali menjadi gadis penghibur! Aku akan mencari pekerjaan, menjadi pelayan, menjadi tukang masak, apa saja, bahkan kalau perlu mengemis, dari pada kembali menjadi wanita penghibur. Itulah tekadku, Kongcu. Besok pagi-pagi aku akan pergi untuk mulai mencari pekerjaan, dari rumah ke rumah. Mustahil tak akan ada yang suka menerima aku sebagai tukang cuci atau tukang masak atau pengasuh anak kecil..."

"Kalau begitu, engkau tak perlu pergi, Nona. Biarlah engkau kuterima bekerja di sini saja, menjadi tukang masak," cepat Sun Hok berkata sambil menatap wajah yang cantik halus kemerahan itu.

Siauw Cin mengangkat mukanya dan kembali dua sinar mata bertaut sampai lama. Akan tetapi sekali ini Siauw Cin menundukkan mukanya, lantas dengan suara lirih dia berkata, "Can-kongcu, aku... aku tidak tega untuk menodai namamu yang bersih..."

"Ehh, apa maksudmu?"

"Semua orang tahu siapa diriku, dan kalau nanti mereka mendengar bahwa aku sekarang tinggal di sini, tentu nama Kongcu akan terseret dan ternoda..."

"Peduli amat dengan pendapat orang lain! Bukankah di sini engkau kuterima sebagai juru masak?"

"Tidak akan ada orang yang mau percaya, Kongcu. Engkau seorang Kongcu yang hidup membujang, belum berkeluarga, tentu mereka akan menduga yang bukan-bukan, apa lagi kalau mendengar bahwa Kongcu yang telah merampasku dari tangan lima orang penjahat itu."

"Nona..."

"Kongcu ingin menerimaku sebagai seorang tukang masak, seorang pelayan, akan tetapi masih menyebutku Nona. Bukankah ini saja sudah janggal sekali?"

"Baiklah, Siauw Cin, aku bermaksud menolongmu. Aku kasihan padamu dan aku girang sekali engkau hendak meninggalkan cara hidupmu yang lama. Engkau tinggallah saja di sini, memasak untukku dan tidak akan ada orang yang berani mengganggu selembar pun rambutmu."

Kembali mereka saling pandang dan perlahan-lahan, tanpa dia ketahui, kedua mata gadis itu kembali menjadi basah. Pandang mata pria ini! Selamanya belum pernah dia berjumpa dengan pandang mata seperti itu!

Biasanya, dia sudah terbiasa oleh pandang mata pria jika ditujukan kepadanya. Pandang mata pria itu tentu akan menjelajahi seluruh tubuhnya, dari rambut turun sampai ke kaki, seperti pandang mata seorang pedagang sapi yang sedang menaksir seekor sapi yang akan dibelinya, atau seperti pandang mata seorang yang sedang memilih sebuah benda indah yang hendak dibelinya. Pandang mata pria itu lalu penuh dengan kekaguman tetapi juga dipenuhi nafsu birahi.

Akan tetapi pandang mata Can-kongcu ini sama sekali tidak seperti itu! Memang ada rasa kagum di dalam sinar mata yang kadang-kadang mencorong menakutkan itu, akan tetapi rasa kagum yang membayangkan iba yang mendalam!

"Bagaimana, Siauw Cin? Maukah engkau menjadi tukang masakku di rumah ini? Kalau engkau tidak mau, tentu saja aku tidak akan memaksamu."

"Aku? Tidak mau? Aih, Can-kongcu, bagaimana mungkin aku tak mau menerima dengan tangan dan hati terbuka? Bahkan inilah sebuah kesempatan bagiku untuk membalas budi Kongcu, biar pun hanya merupakan setetes air di samudera. Kalau tadi saya meragukan, hanya karena saya hendak menjaga nama baik Kongcu sendiri. Tentu saja saya mau dan mau sekali, Kongcu!"

Sun Hok tersenyum, lega hatinya. Akan tetapi, Siauw Cin lalu bangkit berdiri dan mundur.

"Ehh, apa lagi ini? Engkau belum selesai bicara denganku."

Siauw Cin membungkuk. "Kongcu, lupakah Kongcu bahwa mulai saat ini saya menjadi pelayan Kongcu, khususnya tukang masak? Sungguh tidak pantas kalau seorang pelayan bercakap-cakap dengan majikannya. Sekarang saya bukan tamu lagi, harap Kongcu ingat baik-baik hal ini, kalau Kongcu tidak menginginkan orang lain mencemooh Kongcu. Dan saya akan menjaga supaya Kongcu tidak dicemooh orang. Selamat malam, Kongcu, saya harus memberi tahukan kepada kedua kakek dan nenek. Atau, barang kali Kongcu masih hendak memerintah sesuatu kepada saya?"

Sun Hok tersenyum, meragu, lalu menggeleng kepala. "Baiklah, selamat tidur, Siauw Cin. Aku... aku sungguh girang sekali engkau menerima permintaanku, tinggal di rumah ini."

Sun Hok mengikuti langkah gadis itu dengan pandang matanya sampai bayangan gadis itu menghilang di balik pintu yang menuju ke ruangan belakang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Demikianlah keadaan Can Sun Hok yang namanya disinggung oleh Jaksa Kwan kepada Hay Hay, bahkan Jaksa Kwan minta kepada Hay Hay agar suka berkenalan dengan Sun Hok dan membujuknya agar suka pula turun tangan bersama para pendekar menentang gerakan yang dipimpin oleh datuk sesat Lam-hai Giam-lo.

Gadis bernama Siauw Cin itulah gadis penghibur yang digunakan oleh Jaksa Kwan untuk memancing keluar Sun Hok. Dialah yang menyuruh orang-orangnya menyamar sebagai utusan Lam-hai Giam-lo lalu membeli gadis itu dan memaksanya pergi naik perahu, tepat pada saat Sun Hok mengail ikan di sore hari itu.

Memang pancingannya berhasil, membuat Sun Hok turun tangan menyelamatkan gadis itu. Akan tetapi agaknya tidak sampai menggerakkan hati pemuda itu untuk menentang orang yang disebut oleh gadis itu sebagai bengcu yang menyuruh orangnya memaksa dia pergi, yaitu Lam-hai Giam-lo. Menurut penyelidikan yang dilakukan Jaksa Kwan, Sun Hok kini bahkan mengambil gadis itu menjadi pelayan!

Setelah satu bulan tinggal di dalam rumah Can Sun Hok, memasak dan membantu nenek pengurus rumah tangga, setiap hari bertemu dengan pemuda itu, Siauw Cin mengalami dan menghadapi sesuatu yang membuat dia kadang-kadang merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini, akan tetapi kadang kala juga membuat dia gelisah bukan main, khawatir, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa!

Dia melihat dengan jelas betapa pemuda itu bukan hanya kasihan kepadanya, melainkan jatuh cinta! Ya, dia tahu betul akan hal itu. Pemuda yang menjadi majikannya itu, pemuda bangsawan kaya raya yang alim, tampan, gagah dan mempunyai ilmu kepandaian tinggi seperti seorang pendekar perkasa, ternyata telah jatuh cinta padanya!

Belum pernah Sun Hok menyatakan cintanya dengan kata-kata, namun pernyataan cinta kasih itu jelas nampak oleh Siauw Cin melalui sinar matanya, melalui getaran suaranya. Belum pernah ada pria, apa lagi seperti Sun Hok, yang mencintanya seperti itu. Para pria yang pernah menguasai serta menggaulinya hanya mencinta tubuhnya saja, cinta nafsu yang akan musnah setelah terpuaskan, seperti mendung tebal yang lenyap sehabis hujan lebat.

Tentu saja dia merasa berbahagia bukan main. Akan tetapi, di dalam kebahagiaannya ini timbul rasa cemas dan gelisah karena dia pun mendapat kenyataan yang meyakinkan bahwa dia sendiri juga jatuh cinta kepada Can Sun Hok! Hal ini pun selama hidupnya belum pernah dia rasakan! Dan justru cintanya inilah yang membuat dia merasa gelisah bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya.

Can Sun Hok, seorang pemuda bangsawan kaya raya, selama hidupnya belum pernah bergaul dengan wanita, hal ini dia yakin benar, seorang pendekar gagah perkasa, pendek kata, seorang pemuda pilihan. Dan dia? Seorang bekas wanita penghibur! Gadis namun bukan perawan lagi yang sudah digauli banyak pria! Seorang bekas pelacur tingkat tinggi atau mahal!

Betapa mungkin dia membiarkan pria yang dicintanya, dipuja dan dikaguminya itu sampai terikat dengan seorang perempuan seperti dirinya. Kasihan Can Sun Hok! Tidak, dia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi! Inilah yang membuat dia sering kali menangis di tengah malam dan di dalam batinnya terjadi perang hebat.

Sun Hok memang tak pernah menyatakan cintanya lewat kata-kata. Akan tetapi sikapnya terhadap Siauw Cin bukan sikap seorang majikan terhadap pelayannya. Begitu sering dia mengajak Siauw Cin memancing ikan di tepi sungai lantas memasak ikan itu di situ juga untuk dimakan bersama.

Juga, segera sesudah dia tahu bahwa Siauw Cin pandai bermain musik, bernyanyi dan menari, dia pun sering bermain suling dan yang-kim bersama gadis itu. Kadang-kadang dia bermain yang-kim dan Siauw Cin meniup suling atau sebaliknya, kadang dia bermain yang-kim mengiringi Siauw Cin menyanyi atau menari. Kalau dilihat orang lain, hubungan mereka itu bagaikan hubungan antara sahabat atau saudara saja, bukan seperti majikan dengan pelayannya.

Tiga orang pelayan tua itu pun bukan orang yang tidak berpengalaman. Mereka juga tahu bahwa majikan mereka sudah jatuh cinta kepada pelayan baru itu. Dan mereka bertiga pun sayang kepada Siauw Cin yang memiliki watak yang halus dan rendah hati. Bahkan Siauw Cin juga telah mengaku siapa dirinya kepada mereka, mengaku bahwa dahulunya dia adalah seorang wanita penghibur tapi kini sudah bersumpah meninggalkan cara hidup yang dahulu.

Tiga orang pelayan tua itu maklum pula bahwa kedudukan majikan mereka terlalu tinggi, dan bahwa Siauw Cin bukan pasangan yang cocok untuk menjadi calon isteri. Akan tetapi apa salahnya bila menjadi seorang selirnya? Tentu saja mereka tidak berani mencampuri dan mereka hanya ikut bergembira melihat betapa terjadi perubahan di dalam kehidupan Sun Hok.

Kini, baru sebulan setelah Siauw Cin berada di situ, Sun Hok menjadi periang, wajahnya selalu berseri, makannya banyak, suka bermain musik dan pakaiannya juga menjadi rapi, tubuhnya menjadi agak gemuk! Bahkan lenyap sudah kebiasaan suka termenung sejak kematian Wa Wa Lobo.

Pada suatu malam bulan purnama, malam belum larut dan bulan purnama baru muncul, menerangi permukaan bumi. Permulaan malam yang indah sekali. Udaranya sejuk, angin hanya bersilir lembut, di musim semi taman penuh bunga semerbak mengharum.

Sun Hok mengajak Siauw Cin untuk bermain suling dan yang-kim di dalam taman mereka di samping gedung. Bahkan tiga orang pelayan tua itu diajak pula menikmati malam bulan purnama indah di situ. Mereka hanya duduk di atas tikar yang dibentangkan di atas petak rumput yang tebal dan lunak, dekat kolam ikan. Anggur dan kue-kue dihidangkan.

Melihat bulan purnama, Siauw Cin menarik napas panjang. Hal ini nampak oleh Sun Hok. "Ehhh, bulan purnama demikian indah, mengapa engkau malah menghela napas panjang, Siauw Cin?" tanyanya.

"Apakah Kongcu tadi melihat seekor burung kecil terbang melayang di sana?" Siauw Cin menunjuk ke arah bulan. Sun Hok menggeleng kepala, akan tetapi nenek pelayan bilang bahwa dia tadi ada melihatnya, seekor burung kecil.

"Saya pernah melihat burung kecil terbang melayang di bawah sinar bulan purnama dan saya mempunyai sebuah lagu untuk itu, Kongcu."

"Bagus! Nyanyikan lagu itu untuk kami, Siauw Cin!" kata Sun Hok dengan gembira.

"Ahh, nyanyian itu tidak menggembirakan, tentang kisah burung murai yang malang."

"Tidak mengapa, kalau engkau yang menyanyikan tentu indah."

Melihat Siauw Cin meragu, tiga orang pelayan yang terbawa oleh kegembiraan suasana ikut pula membujuk. Akhirnya gadis itu pun menurut.

"Biar kumainkan lagunya beberapa kali dengan suling supaya Kongcu bisa mengenalnya dan kalau sudah bisa, nanti Kongcu dapat mengiringi saya bernyanyi dengan memainkan yang-kim." katanya.

Sun Hok mengangguk gembira, lantas gadis itu pun mulai meniup suling. Suara sulingnya mengalun demikian lirih, indah sekali dan ternyata lagunya sederhana saja sehingga baru dimainkan tiga empat kali saja, Sun Hok yang memang sangat berbakat itu sudah dapat menghafalnya.

"Sekarang coba dengarkan aku memainkan lagu itu dengan yang-kim. Jika sudah benar, baru engkau bernyanyi dan aku mengiringimu dengan yang-kim."

Sun Hok lalu memainkan yang-kimnya dan ternyata memang dia sudah hafal dengan lagu itu sehingga permainannya indah, dipuji oleh Siauw Cin dan tiga orang pelayannya.

"Nah, sekarang nyanyikanlah lagu itu, tentang murai itu, dan aku akan mengiringi dengan yang-kim," kata Sun Hok gembira.

Kemudian, di antara suara berkencringnya yang-kim yang bening, terdengar suara merdu dari mulut Siauw Cin, dengan kata-kata yang indah pula, didengarkan penuh perhatian oleh Sun Hok dan tiga orang pelayannya.

"Burung murai terbang melayang ingin mencapai bulan di awang-awang murai betina bodoh janganlah mimpi sang bulan bagimu terlalu tinggi! Murai melihat bulan terbang di air telaga dia meluncur mengejar dan tenggelam binasa habislah kisah murai dan bulan purnama!"

Tiga orang pelayan itu bertepuk tangan memuji. Memang indah sekali suara Siauw Cin, dan menjadi lagu yang amat indah ketika diiringi yang-kim yang dipetik dengan mahirnya oleh jari-jari tangan Sun Hok. Tetapi Sun Hok tidak ikut bertepuk tangan dan memandang kepada Siauw Cin yang menundukkan mukanya. Gadis itu nampak berduka.

Tiba-tiba terdengar suara orang. "Hebat, sungguh nyanyian yang amat merdu dan indah, diiringi yang-kim yang hebat pula. Sungguh mengagumkan sekali!"

Sun Hok segera mengangkat muka memandang dan ternyata di pintu gerbang taman itu sudah berdiri seorang pemuda, yaitu seorang pemuda yang usianya sebaya dengannya, wajahnya tampan dan amat menarik sebab wajah itu selalu dihias senyum ramah, dengan sepasang mata yang bersinar sehingga wajah itu selalu nampak berseri-seri. Kepalanya tertutup sebuah caping lebar.

"Murai betina jelita kembalilah ke dunia banyak murai jantan perkasa menantimu dengan hati cinta!"

Pemuda bercaping lebar itu bernyanyi, lagunya mirip dengan yang dinyanyikan Siauw Cin tadi, dan memang dia pandai sekali bernyanyi untuk mengimbangi lagu tadi, suaranya pun merdu sehingga tiga orang pelayan tua yang sedang bergembira itu pun bertepuk tangan.

Diam-diam Siauw Cin juga memuji pemuda itu karena sebagai seorang ahli, dia langsung tahu bahwa pemuda yang baru datang ini memiliki bakat yang amat baik untuk membuat sajak dan bernyanyi seketika untuk mengimbangi nyanyiannya tadi. Bahkan isi nyanyian itu merupakan hiburan bagi Si Murai betina supaya jangan mengharapkan terlampau jauh, melainkan kembali kepada kenyataan bahwa jodoh murai betina itu adalah murai jantan, bukan bulan purnama!

Akan tetapi Sun Hok mengerutkan alisnya. Dia tidak mengenal orang ini, tetapi tahu-tahu orang ini berada di pintu gerbang taman rumahnya, tanpa ijin, masuk begitu saja, bahkan lancang mulut ikut pula bernyanyi! Dia pun cepat bangkit berdiri dan dengan perlahan dia lalu melangkah maju.

Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang bagaikan sedang saling menyelidiki. Pemuda bercaping lebar itu masih tersenyum dan wajahnya berseri, mengajak bersahabat. Akan tetapi Sun Hok mengerutkan alisnya, penuh kecurigaan.

"Siapakah engkau dan mau apa engkau datang mengganggu kami di sini?" tanya Sun Hok sambil memandang tajam.

Pemuda bercaping lebar itu bukan lain adalah Hay Hay. Setelah menerima anjuran Jaksa Kwan untuk berkenalan dengan pemuda yang menurut jaksa itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, pada malam hari itu dia pun datang berkunjung.

Malam belum larut dan sedang terang bulan. Ketika dia lewat di depan istana kuno itu, dia mendengar suara nyanyian tadi. Tentu saja hatinya tertarik bukan main sehingga dia pun segera melangkah dan mendekati taman, mengintai sambil mendengarkan.

Saat melihat gadis cantik manis itu dia pun teringat akan cerita Kwan-taijin tentang gadis panggilan dari kota raja yang digunakan sebagai umpan agar pemuda yang bernama Can Sun Hok itu keluar dari sarang dan bangkit semangatnya untuk menentang persekutuan kaum sesat yang digerakkan oleh Lam-hai Giam-lo. Akan tetapi pemuda itu tetap acuh, demikian kata Jaksa Kwan.

Dan kini, melihat keadaan pemuda itu dan mendengarkan nyanyian merdu gadis itu, Hay Hay dapat menduga apa yang sudah terjadi! Agaknya gadis itu sudah jatuh cinta kepada penolongnya, kepada pemuda itu. Dan begitu dia berhadapan kemudian saling pandang dengan pemuda itu, dia pun tidak menyalahkan gadis itu. Memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas untuk dicinta seorang gadis cantik yang bagaimana pun juga.

Akan tetapi dia pun teringat bahwa gadis cantik yang bernyanyi ini hanya seorang gadis penghibur, yang seperti isi nyanyiannya tentu saja merasa tidak sepatutnya jika berjodoh dengan seorang pemuda bangawan seperti Can Sun Hok. Gadis itu tadi mengumpamakan dirinya seekor murai betina yang merindukan bulan! Sungguh kasihan.

Mendengar teguran Sun Hok yang kelihatan tidak senang itu, Hay Hay tersenyum dan dia memberi hormat dengan bersoja, yaitu mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan tubuh agak dibungkukkan.

"Maaf kalau aku mengganggu. Terus terang saja, aku datang untuk berjumpa dan bicara dengan seorang Kongcu yang bernama Can Sun Hok."

Dengan penuh perhatian Sun Hok mengamati muka yang sebagian tersembunyi di bawah caping itu. Hay Hay sengaja menurunkan capingnya sehingga tergantung di punggungnya dan kini wajahnya nampak jelas. Sun Hok kagum. Wajah seorang pemuda yang tampan, gagah dan ramah sekali, bukan wajah penjahat.

Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak senang karena dia merasa terganggu. Lenyaplah sudah kegembiraan yang dirasakannya pada saat dia hanya bersama Siauw Cin dan tiga orang pelayannya tadi. Hilanglah sudah suasana meriah dan suasana santai.

"Akulah Can Sun Hok, akan tetapi aku tidak pernah mengenalmu!" katanya, tidak ramah untuk memperlihatkan kekesalan hatinya.

"Memang kita belum pernah saling berjumpa, Can-kongcu. Namaku Hay Hay dan karena aku mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi, maka hatiku tertarik sekali dan aku ingin sekali datang berkunjung dan berkenalan denganmu."

Sun Hok mengerutkan alisnya. Dia tidak mengenal nama Hay Hay, dan pula ketika itu dia sama sekali tidak ada keinginan untuk berkenalan dengan orang lain, apa lagi dia belum tahu orang macam apa adanya pemuda yang mengaku bernama Hay Hay ini.

"Akan tetapi aku tak ingin berkenalan denganmu, dan aku tidak mempunyai waktu. Sobat, harap engkau pergi dan jangan mengganggu kami. Pula, di malam hari seperti ini bukan waktunya orang berkunjung untuk berkenalan." Suaranya masih halus, namun nada suara itu jelas mengusir!

"Can-kongcu, ketahuilah bahwa aku datang untuk berbicara denganmu mengenai gerakan dari persekutuan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Kukira sudah menjadi kewajiban seorang pendekar seperti Kongcu untuk bangkit dan menentang persekutuan jahat yang amat berbahaya bagi keamanan hidup rakyat jelata. Nah, kini maukah engkau menerimaku sebagai seorang sahabat dan kita bicara tentang itu?"

"Hemm, apakah engkau seorang pendekar?" Can Sun Hok bertanya, nada suaranya agak memandang rendah dan mengejek. Hay Hay tertawa dan merasa lucu. Dia sendiri belum pernah bertanya apakah dia adalah seorang pendekar, maka dia merasa lucu ketika ada yang bertanya secara demikian langsung.

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, Kongcu. Akan tetapi setidaknya aku merasa penasaran dan ingin menentang gerakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo."

Siauw Cin yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, tiba-tiba berkata kepada Sun Hok, "Can-kongcu, agaknya Kongcu yang datang ini membawa berita sangat penting. Lam-hai Giam-lo adalah orang yang menyuruh anak buahnya untuk menculik aku, apakah Kongcu tidak merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang dia?"

Mendengar ini, Hay Hay lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Siauw Cin dan pandang matanya penuh kagum.

"Sungguh berbahagia sekali mataku dapat melihat seorang gadis secantik bidadari seperti Nona dan telingaku dapat mendengar nyanyian sorga seperti yang Nona nyanyikan tadi, bahkan kini mendengar pula pendapat yang amat bijaksana. Sukarlah di dunia ini mencari gadis kedua yang sehebat Nona. Harap jangan sebut aku Kongcu, karena aku hanyalah seorang pemuda pengelana biasa saja, Nona yang mulia."

Sepasang mata itu terbelalak dan Siauw Cin memandang kepada Hay Hay, tersenyum lebar, lalu menutup kembali mulutnya, mukanya menjadi kemerahan. Bukan main pemuda ini. Kata-katanya demikian penuh madu, manis merayu dan baru sekarang ini dia merasa dipuji-puji orang sampai ke langit ke tujuh, bukan sekedar rayuan seorang laki-laki yang tergila-gila akibat nafsu. Dan ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuat hatinya tiba-tiba menjadi lemah, tunduk dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Kalau begitu, engkau tentu seorang Taihiap (Pendekar Besar), dan harap jangan sebut aku Nona yang mulia, Taihiap, karena aku hanyalah seorang pelayan yang hina dan setia dari Can-kongcu," katanya merendah dengan suara merdu.

"Nona, engkau bukan hanya seorang pelayan yang setia, akan tetapi juga seorang gadis secantik bidadari yang mencinta majikannya dengan segenap badan dan nyawa..."

"Hei, orang asing! Tutup mulutmu dan lekas pergi dari tempat ini!" bentak Sun Hok yang mukanya merah sekali mendengar ucapan Hay Hay itu. Akan tetapi, anehnya Siauw Cin menengahi dan berkata kepada majikannya.

"Kongcu, biarkan dia bicara. Saya kira dia ini seorang yang jujur dan baik, tidak berniat buruk "

"Ha-ha, engkau sungguh seorang gadis yang berpenglihatan tajam, Nona manis. Jangan khawatir, pria mana pun yang kejatuhan cintamu, sudah pasti akan membalasnya, karena pria mana di dunia ini yang tak akan tergila-gila kepada seorang gadis secantik engkau?"

Sun Hok tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Wuuutttt…!" Dia sudah meloncat dan berdiri berhadapan dengan Hay Hay.

"Keparat! Apakah engkau sengaja datang ingin menantang aku? Hay Hay, kalau memang itu adalah namamu, tidak perlu engkau merayu Siauw Cin, tetapi hadapilah aku sebagai laki-laki kalau memang engkau mencari keributan di sini!"

"Kongcu... jangan...! Jangan memusuhinya, aku yakin bahwa dia seorang yang baik hati." Siauw Cin yang telah berada dalam kekuasaan Hay Hay yang mempengaruhinya dengan ilmu sihir itu, kini memegang lengan Sun Hok dan berusaha menarik pemuda itu mundur agar jangan menyerang Hay Hay.

Hay Hay tersenyum dan melepaskan kekuatan sihirnya. Ketika kekuasaan sihir itu lenyap, tiba-tiba Siauw Cin menyadari betapa dia memegangi lengan itu dan melangkah mundur dengan bingung.

"Can-kongcu, agaknya Nona pelayanmu itu lebih pandai menilai orang. Percayalah, aku datang bukan untuk memusuhimu atau membikin ribut, melainkan untuk bicara denganmu tentang gerakan kalangan sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Kongcu, kapan lagi engkau dapat berbakti terhadap nusa dan bangsa, akan mempergunakan kepandaianmu demi kepentingan rakyat kalau tidak sekarang?"

Akan tetapi Sun Hok sudah marah sekali. Pemuda ini perayu besar dan sungguh lancang sekali bicara tentang cinta di dalam hati Siauw Cin terhadap dirinya, bahkan menyinggung cintanya terhadap gadis itu pula. Bagaimana begitu muncul pemuda ini dapat menduga dengan tepat isi hatinya dan isi hati Siauw Cin?

"Baiklah, akan tetapi aku harus melihat dahulu orang macam apa yang hendak berbicara dengan aku tentang pembelaan terhadap rakyat. Apakah engkau benar seorang pendekar ataukah hanya seorang lelaki yang lancang mulut dan pandai merayu. Nah, majulah dan mari kita main-main sebentar, ingin aku melihat kelihaian tangan kakimu. Bukan sekedar mulutmu!"

Setelah berkata demikian, Can Sun Hok segera menerjang ke depan, mengirim serangan dengan dua tangan terbuka. Tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Hay Hay, ada pun tangan kanannya yang juga terbuka menusuk dari bawah ke arah perut.

Serangan pertama ini untuk menarik perhatian sedangkan tangan kanan yang merupakan serangan inti. Serangan ini amat berbahaya, dengan sekali pandang saja maklumlah Hay Hay bahwa pemuda ini memiliki dasar ilmu silat dari golongan sesat yang sifatnya curang dan kejam, juga sangat berbahaya, tidak memperhatikan segi keindahan melainkan segi hasilnya walau pun curang dan kejam sekali pun.

"Hemmm, bagus!" teriaknya dan dengan lincahnya dia pun mengelak.

Dengan langkah Jiauw-pou-poan-soan yang berputar-putaran dia dapat mengelak dengan mudah dan sungguh pun lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tujuh jurus berantai, tetap saja semua serangan tidak dapat menyentuhnya.

Jiauw-pou-poan-soan adalah langkah ajaib berputaran yang dulu dipelajari Hay Hay dari See-thian Lama, berdasarkan ilmu perbintangan ditambah ilmu ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi. Jangankan hanya satu orang, biar ada sepuluh orang mengepung dan mengeroyoknya, dengan senjata sekali pun, tak akan mudah dapat mengenai tubuh Hay Hay kalau dia memainkan ilmu langkah ajaib ini.

Tentu saja Can Sun Hok menjadi terkejut dan juga penasaran sekali. Serangannya sudah bertubi-tubi dan cepat sekali karena dia ingin segera merobohkan lawan ini, akan tetapi sedikit pun tidak pernah berhasil menyentuh tubuh lawan yang selalu lenyap pada saat serangannya tiba, seperti menyerang bayangan setan saja.

"Pengecut! Jangan lari saja, balaslah menyerang kalau engkau mampu!" bentak Can Sun Hok dengan marah karena dia sangat penasaran dan merasa dipermainkan.

"Sabarlah, Can-kongcu. Kita bukan bermusuhan, namun hanya main-main untuk menguji kepandaian dan saling berkenalan, ingat?"

Sun Hok makin penasaran karena selain dapat terus mengelakkan semua serangannya, lawan itu masih sempat pula bicara dengan nada berkelakar! Dia pun teringat akan ilmu pukulan baru yang sudah dikuasainya selama tiga tahun ini, yaitu yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ibu kandungnya.

Tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangannya, menggosok dua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga dan menahan napas. Dan kini, begitu dia menggerakkan sepasang tangannya untuk menyerang lagi, Hay Hay mencium bau harum dari dua telapak tangan itu. Sambaran tangan kiri berhasil dielakkan akan tetapi bau wangi menyambar hidungnya sehingga membuat pandang matanya berkunang.

"Ihh...!" Hay Hay cepat menguasai dirinya lalu sambil mengerahkan tenaganya menangkis lengan kanan lawan yang menghantam ke dadanya. Baru sekali ini dia menangkis karena sudah tidak sempat mengelak setelah bau harum itu membuat matanya berkunang.

"Dukkk!"

Akibat benturan kedua lengan ini, tubuh Sun Hok segera terhuyung ke belakang. Pemuda ini terbelalak. Bukan main kuatnya lengan lawan yang menangkisnya tadi, maka mulailah dia menyadari bahwa Hay Hay bukan sekedar pemuda yang lihai mulutnya, akan tetapi lihai pula ilmu silatnya dan memiliki tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Hal ini selain mendatangkan rasa penasaran, juga menimbulkan kegembiraan di hatinya untuk menguji kepandaiannya dengan sungguh-sungguh.

Karena tahu bahwa lawan lihai, dia pun berani mengerahkan seluruh kepandaiannya dan tenaganya. Sekarang dia menghujankan serangan dengan Ilmu Pukulan Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi) yang sangat hebat itu. Akibat dari ilmu ini, di sekeliling tempat itu tercium bau wangi.

Akan tetapi anehnya, Siauw Cin beserta tiga orang pelayan yang menonton perkelahian dan mencium bau wangi ini, menjadi pening sehingga terpaksa mereka menjatuhkan diri dan duduk di atas rumput! Demikian hebatnya pengaruh hawa beracun itu. Apa lagi kalau sampai terkena pukulan tangan yang mengandung hawa beracun itu!

Hay Hay juga terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa meski pun pemuda ini seorang bangsawan dan oleh Jaksa Kwan dianggap sebagai seorang pendekar, akan tetapi kalau melihat dari ilmu-ilmunya yang sesat dan kejam, jelas bahwa pemuda ini telah menerima pendidikan dari datuk sesat.

Dia harus mengumpulkan hawa murni untuk melawan hawa beracun berbau wangi itu dan melihat betapa gerakan ilmu silat lawan itu cukup cepat dan berbahaya, Hay Hay segera mengeluarkan ilmu-ilmunya dari Ciu-sian Sin-kai, yaitu Ciu-sian Cap-pek-ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Silat Dewa Arak).

Begitu dia memainkan ilmu ini, Sun Hok menjadi bingung. Gerakan Hay Hay sangat indah namun juga aneh, seperti gerakan orang mabok, akan tetapi setiap tangannya bergerak, ada hawa pukulan yang sangat dahsyat dan walau pun untuk serangan jurus pertama dia masih mampu mengelak dan bertahan, ketika Hay Hay menyerangnya lagi dengan jurus ke dua, meski pun Sun Hok berusaha menangkis dengan kedua lengannya, tetap saja dia terdorong sampai lima langkah, lalu terhuyung dan hampir roboh!

"Cukuplah sudah kita bermain-main, Can-kongcu!" Hay Hay berkata, tersenyum ramah, sama sekali tidak mengejek.

"Belum!" bentak Sun Hok, "Mari kita mencoba kelihaian dalam hal memainkan senjata!" Berkata demikian, dia sudah memegang suling dengan tangan kiri dan yang-kim dengan tangan kanan!

Melihat ini Hay Hay terbelalak. Baru sekarang ini dia melihat lawan yang mempergunakan suling dan yang-kim sebagai senjata. Dia sendiri suka mempergunakan sulingnya sebagai senjata, sungguh pun hal ini jarang sekali dia lakukan. Melihat betapa pemuda itu hendak menggunakan alat musik sebagai senjata, Hay Hay juga segera mencabut sulingnya lalu menghadapi Sun Hok sambil tersenyum lebar.

"Wah, kita ini mau main silat ataukah mau main musik?" tanyanya.

Sun Hok menjawab dengan serangannya. Sulingnya meluncur hingga terdengarlah suara mengaung pada saat suling itu menusuk dada seperti sebatang pedang dan memang dia sedang memainkan ilmu pedang yang baru dipelajarinya dari kitab lama. Ilmu pedang ini dinamakan Kwi-ong Kiam-sut (Ilmu Pedang Raja Iblis), peninggalan dari kakek gurunya Si Raja Iblis. Sementara itu, yang-kim di tangan kanannya juga menyambar ke arah kepala lawan.

Kembali Hay Hay terkejut sekali. Ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari pemuda bangsawan itu pun hebat sekali, bukan seperti ilmu pedang biasa. Dia pun menggerakkan tubuhnya mengelak dan membalas tusukan pedang dari samping ke arah pundak kanan. Namun yang-kim itu bergerak menangkis suling dan kembali suling di tangan kiri Sun Hok sudah membabat, sekali ini membabat pinggang sambil mengeluarkan suara mengaung yang menyeramkan.

Hay Hay cepat menggeser kakinya dan kembali mengandalkan langkah-langkah ajaibnya untuk menghindarkan diri. Sambil menghindar jari tangan kirinya menyentil ke arah tali-tali yang-kim sehingga terdengarlah nada-nada yang merdu!

Untuk belasan jurus lamanya Hay Hay terus memperhatikan gerakan lawan. Setelah tahu bahwa dia masih menang jauh di dalam hal kecepatan, dan bahwa langkah-langkah ajaib Jiauw-pou-poan-soan telah cukup baginya untuk menyelamatkan diri, maka mulailah Hay Hay meniup sulingnya dengan satu tangan, lantas dia pun sengaja memainkan lagu yang dinyanyikan oleh Siauw Cin! Kadang-kadang tangan kirinya dia gunakan untuk menangkis dan balas menotok atau menampar.

Perkelahian itu terjadi dengan cepat sekali dan Siauw Cin bersama tiga orang pelayan itu memandang bengong. Bagaimana mereka takkan menjadi bengong ketika melihat betapa tubuh kedua orang pemuda itu lenyap menjadi dua sosok bayangan berkelebatan sambil terdengar suara suling ditiup melagukan nyanyian tentang murai dan bulan purnama tadi?

Can Sun Hok bukan orang yang tak tahu diri. Berulang kali dia dikejutkan oleh kehebatan ilmu lawan dan sekarang lawannya hanya menghadapinya dengan langkah-langkah ajaib itu, dengan tangan kiri yang kadang menangkis atau bahkan balas menyerang dan tangan kanan meniup suling memainkan lagu tadi! Apa bila dia tidak mengalaminya sendiri, tidak mungkin dia dapat percaya. Selama hidupnya baru sekarang inilah dia berjumpa dengan lawan yang begini sakti, dan diam-diam dia pun merasa takluk!

Sun Hok cepat melompat ke belakang, lalu menjura. "Sobat, ilmu kepandaianmu sungguh berlipat kali lebih tinggi dariku. Aku mengaku kalah!" katanya tanpa malu-malu lagi.

Sikap ini membuat Hay Hay menjadi kagum dan suka sekali kepada pemuda bangsawan ini. Benar kata Jaksa Kwan. Pemuda ini adalah seorang gagah dan seorang yang berjiwa pendekar walau pun ilmu silatnya merupakan ilmu kaum sesat. Dengan wajah sungguh-sungguh dia pun balas memberi hormat.

"Can-kongcu, harap jangan merendahkan diri. Kepandaianmu sendiri juga sangat hebat. Sekarang maukah engkau menerimaku untuk bicara tentang gerakan kaum sesat itu?"

Sun Hok menarik napas panjang. Dia memang selalu ingat akan nasehat pendekar wanita Ceng Sui Cin yang pernah dianggapnya sebagai musuh besarnya itu. Satu-satunya jalan untuk berbakti kepada mendiang ibu kandungnya adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai seorang pendekar sehingga dengan perbuatan-perbuatan itu seolah-olah dia dapat mencuci noda dan dosa ibunya yang pernah menjadi tokoh wanita sesat!

Dia kagum terhadap pemuda di hadapannya ini yang teramat lihai. Ingin dia bersahabat dengan pemuda ini sehingga dia bisa mendapat tambahan pengetahuan biar pun pemuda ini lebih muda darinya. Akan tetapi mengingat betapa pemuda ini sangat pandai merayu, timbul perasaan cemburu dalam hatinya. Jangan-jangan pemuda ini bukan hanya berhasil menarik rasa suka dan kagumnya, akan tetapi bahkan menarik hati dan membuat Siauw Cin tergila-gila kepadanya!

"Tak perlu banyak bicara lagi," katanya. "Aku pasti akan pergi menyelidiki sarang Lam-hai Giam-lo di Yunan dan untuk itu, aku lebih suka bekerja seorang diri tanpa kawan."

Hay Hay maklum bahwa kehadirannya tidak dikehendaki dan dia pun tahu sebabnya. Dia tersenyum, lantas menjura kepada tuan rumah. "Baiklah, Can-kongcu, aku percaya akan kesanggupanmu dan aku juga merasa gembira sekali bahwa engkau telah berjanji untuk mengulurkan tangan membantu." Kemudian dia menoleh ke arah Siauw Cin yang masih memandang dengan terheran-heran, lalu berkata dengan halus. "Nona, jangan bersedih hati tentang murai dan bulan purnama. Kalau dua hati sudah saling mencinta, maka apa pun dapat terjadi. Percayalah!" Setelah berkata demikian, Hay Hay mempergunakan ilmu kepandaiannya, dengan sekali berkelebat dia sudah lenyap dari tempat itu. Hal ini sangat mengejutkan Siauw Cin dan ketiga orang pelayan itu, dan sangat mengagumkan hati Sun Hok.

Siauw Cin bangkit dan mendekati Sun Hok, takut-takut. "Kongcu... apakah dia tadi itu... manusia ataukah setan...?"

Sun Hok memegang tangan gadis itu yang terasa dingin. "Jangan takut, dia itu setengah manusia setengah setan. Karena itu, jangan mudah terkena rayuannya."

Siauw Cin mengerling tajam. "Aihh, Kongcu. Kau kira aku demikian mudah dirayu orang? Walau pun dia memang luar biasa, akan tetapi bagi saya tak ada seorang pun pria yang lebih baik dari pada engkau, Kongcu."

Mereka berdua, diikuti oleh tiga orang pelayan, lalu memasuki rumah. Malam mulai larut dan hawa mulai dingin. Tiga orang pelayan langsung menuju ke kamar masing-masing di belakang, akan tetapi Siauw Cin masih berada di ruangan dalam bersama Sun Hok.

Wajah keduanya memerah dan tanpa kata-kata Sun Hok menggandeng tangan wanita itu. Jari-jari tangan mereka bergetar, akan tetapi ketika Sun Hok menuntun Siauw Cin menuju ke kamarnya, gadis itu menahan diri dan menghentikan langkahnya. Mereka berdiri saling pandang, berhadapan dekat sekali.

Sun Hok merasa betapa tubuhnya gemetar dan napasnya terengah-engah. Dari pandang matanya memancar kemesraan dan permintaan, permintaan setiap pria yang jatuh cinta dan ingin menumpahkan semua rasa sayangnya kepada wanita yang dicintanya. Melihat sinar mata yang biasanya hanya mengandung rasa iba dan cinta, kini mengandung birahi, Siauw Cin menundukkan mukanya, lalu perlahan-lahan dia menggelengkan kepalanya.

"Jangan, Kongcu... jangan... sekarang...," katanya lirih.

Sun Hok mempererat pegangannya pada tangan yang masih merasa dingin itu.

"Kenapa, Siauw Cin? Aku cinta kepadamu, dan bukankah engkau pun cinta kepadaku?" bisiknya dengan suara gemetar.

Selama hidupnya belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan sekarang mendadak timbul gairah dan hasratnya untuk tidur bersama gadis yang dicintanya ini!

Siauw Cin mengangkat mukanya dan Sun Hok melihat betapa sepasang mata itu menjadi basah, "Saya cinta padamu, Kongcu, cinta dengan sepenuh jiwa raga saya. Akan tetapi... saya tahu di mana tempat saya, Kongcu. Engkau adalah seorang perjaka, engkau belum pernah berhubungan dengan wanita, sedangkan aku... ahhh, aku tidak layak. Kelak, kalau Kongcu sudah menikah, sudah mempunyai seorang isteri yang pantas mendampingimu sebagai isteri yang sah, barulah saya akan menyerahkan diri, menjadi selir, atau pelayan, atau apa saja. Tapi jangan sekarang, Kongcu..."

"Apa... apa bedanya? Apa salahnya kalau sekarang?"

"Tidak... sama sekali salah. Apa akan kata orang nanti. Engkaulah yang akan malu... ah, mengertilah, Kongcu. Saya cinta padamu, akan tetapi biarlah sementara ini saya menjadi pelayanmu. Kelak saja, kalau Kongcu sudah beristeri, kalau Kongcu masih menghendaki diriku. Diriku bukan untuk pria lain, sampai saya mati, kecuali hanya untukmu, Kongcu..." Gadis itu menarik tangannya, lantas berlari sambil terisak menuju ke kamarnya di bagian belakang.

Sun Hok berdiri termenung seperti patung. Dia sungguh bingung, tak mengerti akan sikap gadis itu. Akan tetapi dia tidak menyesal, bahkan merasa lega bahwa gadis itu menolak ajakannya. Bukan menolak karena tidak mau atau tidak cinta, melainkan karena gadis itu hendak menjaga nama baiknya, dan gadis itu sungguh tahu diri. Ahh, adakah wanita lain seperti Siauw Cin di dunia ini?

Cinta memang sesuatu yang aneh. Cinta dapat melanda hati siapa pun juga, pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan seorang wanita yang dicap sebagai wanita pengobral cinta, seorang pelacur tidak terluput dari serangan cinta. Cinta yang lain dari pada yang dijualnya untuk ,mencari uang, atau karena terpaksa, atau karena kebutuhan jasmani mau pun batin. Cinta yang satu ini lain lagi. Cinta yang satu ini meniadakan kepentingan diri pribadi, melainkan mementingkan kepentingan orang yang dicintanya.

Seorang pelacur adalah seorang yang sedang menderita sakit, seperti para penyeleweng atau pelanggar hukum dan susila lainnya, seperti pencuri, penjahat dan lain sebagainya. Sedang sakit! Bukan badannya yang sakit, akan tetapi batinnya. Dan orang yang sakit, baik sakit badan mau pun sakit batin, dapat sembuh, dapat pula kambuh, tergantung dari pemeliharaan batin itu selanjutnya.

Karena itu, mencemooh dan merendahkan orang yang sedang dilanda sakit, baik badan mau pun batinnya, adalah suatu perbuatan yag tidak patut dan tidak terpuji. Seyogianya mengulurkan tangan, memberi jalan keluar, memberi pengobatan. Harus selalu diingat bahwa yang sakit, baik sakit badan mau pun batin bisa sembuh sama sekali, sebaliknya yang sedang sehat, baik badan mau pun batinnya, sekali waktu dapat saja jatuh sakit!

Seperti juga penyakit badan maka penyakit batin timbul dari berbagai macam sebab dan keadaan. Mungkin juga seperti badan yang lemah, batin dapat pula melemah sehingga mudah terserang penyakit. Olah raga menguatkan badan sehingga tidak mudah diserang penyakit, juga olah batin menguatkan batin sehingga tidak mudah diserang penyakit pula.

Olah batin adalah perenungan akan kehidupan, akan kebenaran, tentang kemanusiaan, tentang Tuhan Maha Kasih! Berbahagialah orang yang dapat menjaga kesehatan badan dan batinnya, karena keduanya haruslah seimbang. Kalau salah satu sampai sakit, maka yang lain akan terpengaruh dan kebahagiaan tak mungkin dapat dirasakan lagi.


********************

Hay Hay melakukan perjalanan seorang diri di daerah pegunungan yang sunyi itu. Enak berjalan di padang rumput itu. Pemandangan alamnya sungguh menyenangkan hati dan menyedapkan mata. Serba hijau dan bau rumput dan tanah, juga pohon-pohonan amatlah sedapnya. Dia menyedot napas sekuatnya sampai seluruh paru-parunya penuh dan hawa murni itu terus turun mendesak ke bawah, terasa nikmat dan penuh, lalu dihembuskannya perlahan-lahan. Bukan main nyamannya.

Hidup adalah bahagia! Karena bahagia hanyalah suara perasaan, suatu sebutan, seperti juga hidup. Hidup juga hanya suatu perasaan. Merasa hidup! Siapa yang merasa hidup? Siapa yang merasa bahagia?

Hanya kesadaran pikiran bahwa ada aku yang merasakannya! Kalau kesadaran tertutup sementara selagi tidur, tidak ada lagi itu yang dinamakan hidup atau kebahagiaan, atau bahkan kedudukan, kesenangan dan sebagainya lagi. Semua itu kosong! Sesungguhnya tidak apa-apa, yang ada itu hanyalah permainan pikiran sendiri belaka!


Pagi itu cerah sekali. Sinar matahari pagi menghidupkan segala yang tertidur malam tadi, mendatangkan kesegaran, kehangatan, kenyamanan dan keindahan. Cahaya mataharilah yang menghidupkan segala sesuatunya. Bahkan cahaya matahari pagi sempat membawa batin Hay Hay ke alam yang penuh semangat dan kegembiraan, mendorong dirinya untuk melepaskan riang lewat nyanyian.

Pada saat dia membuka mulut dan mulai bernyanyi, tanpa sengaja dia menyanyikan lagu yang pernah didengarnya dari mulut gadis pelayan dari Can Sun Hok itu! Nyanyi tentang burung murai betina yang bodoh, yang merindukan bulan purnama! Burung yang tidak mampu mencapai bulan purnama, lantas mengejar bulan di dalam air dan akhirnya tewas tenggelam! Setelah nyanyian itu selesai dinyanyikan, baru dia sadar bahwa tanpa sengaja dia menyanyikan lagu baru itu. Dan Hay Hay tertawa sendiri.

Burung murai yang bodoh, pikirnya mencela. Itulah kalau menginginkan sesuatu yang tak terjangkau! Akhirnya bahkan dapat mencelakakan diri sendiri! Tiba-tiba saja dia berhenti melangkah. Kisah burung murai itu, bukankah itu kisah semua manusia?

Bukankah setiap manusia selalu menginginkan keadaan yang lebih? Lebih indah, lebih enak, lebih banyak, pendeknya, semua manusia menginginkan yang serba lebih. Saling berebutan dan bersaing untuk memperoleh yang serba lebih itu, jika perlu saling serang, saling menjatuhkan, dengan cara apa saja demi memperoleh yang serba lebih itu! Seperti si murai bodoh.

Karena pengejaran akan yang serba lebih inilah maka mata menjadi buta dan tidak lagi dapat melihat dan menikmati apa yang ada! Mata ditujukan jauh ke depan, kepada yang dianggap serba lebih itu, yang dikejarnya dan tak terjangkau olehnya. Akhirnya hanya ada dua hal yang terjadi sebagai akibat dari pengejaran itu, sesudah di dalam pengejaran itu menimbulkan banyak pertentangan dan permusuhan.

Apa bila yang dikejar itu bisa didapat, belum tentu akan terasa seindah sebelum didapat, seindah seperti ketika masih dikejar karena hati ini sudah dipenuhi dengan pengejaran terhadap yang lain lagi, yang lebih lagi dari pada yang sudah didapat! Dan kalau gagal? Kecewa, menyesal, berduka dan sengsara!

Hay Hay melompat dan tertawa. "Ha-ha-ha-ha, berbahagialah orang yang tidak mengejar apa-apa, tidak menginginkan apa-apa yang tidak ada padanya! Berbahagialah orang yang membuka mata melihat apa yang ada padanya saja, melihat keindahan dari apa YANG ADA."

Kembali dia menarik napas panjang dan merasakan benar betapa nikmatnya menghirup udara bersih seperti itu! Dia lalu mengamati semua yang terbentang luas di hadapannya. Rumput-rumput hijau luas, pohon-pohon tinggi besar, bunga-bunga, burung-burung yang beterbangan di angkasa yang terhias awan-awan putih laksana sekelompok domba putih bergerak, sinar matahari pagi yang menerobos menembus celah-celah daun pohon.

Betapa indah semua itu, indah tak terlukiskan dengan kata-kata! Dan semua itu tentu tak akan nampak oleh mata yang dibutakan oleh keinginan mendapatkan sesuatu yang tidak ada dan tidak dimiliki!

Tiba-tiba perutnya berkeruyuk. "Hishh, tak tahu malu." Dia menepuk perutnya sendiri dan baru teringat bahwa sejak kemarin siang dia belum makan.

Semalam, sesudah mengunjungi istana tua tempat tinggal Sun Hok, dia pun melanjutkan perjalanan keluar dari kota Siang-tan, kemalaman di tengah jalan dan melewatkan malam di sebuah gubuk petani di tengah sawah, tanpa makan. Pagi tadi, ketika pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan melanjutkan perjalanan, mendaki bukit dan kini berjalan di padang rumput.

"Wah, perut lapar di tempat seperti ini. Mana ada makanan?" Dia lalu menoleh ke kiri.

Di lereng itu terdapat hutan. Kalau dia dapat menangkap seekor kelinci, atau ayam hutan, atau kijang muda, tentu tuntutan perutnya yang lapar akan dapat dipenuhi. Dan di dalam hutan yang serimbun itu sudah pasti ada binatangnya. Dia lalu berlari ke arah hutan itu.

Dengan berindap-indap Hay Hay lalu memasuki hutan, mulai mengintai mencari mangsa, calon pengisi perutnya yang lapar bukan main. Seperti seekor harimau kelaparan dia pun jalan perlahan-lahan, jangan sampai mengeluarkan suara sehingga mengejutkan binatang yang dicarinya, yaitu ayam hutan, kelinci atau kijang. Hanya daging tiga binatang ini saja yang dia suka.

Dia tidak suka makan daging kera, ular atau binatang lainnya. Akan tetapi yang dilihatnya hanyalah beberapa ekor kera dan dua ekor ular besar saja. Dia berjalan terus sehingga akhirnya melihat seekor kijang muda sedang minum di pinggir anak sungai. Ketika angin bertiup, baru dia menyadari bahwa angin dari arahnya.

Benar saja, kijang itu menangkap bau manusia melalui angin itu, lantas binatang itu pun meloncat berlari cepat sebelum Hay Hay sempat mendekatinya. Hay Hay juga melompat dan melakukan pengejaran. Kijang itu berloncatan cepat sekali, meloncati semak-semak belukar, kadang-kadang menghilang ke dalam semak-semak, lari lagi mendaki bukit.

Hay Hay mengejar terus dan akhirnya dia melihat kijang itu terhalang sebuah jurang yang curam di tebing bukit. Binatang itu kebingungan, lari ke kanan kiri di tepi jurang. Kalau dia meloncat, maka lenyaplah binatang itu, akan tetapi tentu akan hancur terbanting di bawah jurang. Binatang itu agaknya maklum pula bahwa tak mungkin baginya meloncat turun.

Sejak tadi Hay Hay telah siap, mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya. Dia merasa heran kenapa binatang itu tidak mau lari ke barat di mana terdapat semak-semak belukar, seolah-olah di sana terdapat sesuatu yang menakutkan, melainkan lari ke kanan lalu ke kiri seperti dikepung.

Setelah binatang itu berhenti sejenak melepas lelah sambil terengah-engah, Hay Hay lalu menggerakkan tangannya. Batu itu melucur cepat mengarah tengkuk binatang itu, bagian yang sekali kena akan mematikan. Dan dia melihat kijang itu roboh terguling, tak bergerak lagi.

Hay Hay berloncatan dengan hati girang dan hampir saja dia berteriak-teriak dan bersorak kegirangan ketika mendadak dari balik semak belukar di sebelah barat itu pun melompat keluar seorang gadis yang berlari seperti terbang cepatnya menghampiri bangkai kijang. Gadis itu memeriksa sebentar, tersenyum girang lalu memegang ekor kijang untuk diseret dan dibawa pergi.

"Heii...! Nanti dulu...!" Hay Hay berteriak dan berlari cepat ke tempat itu.

Gadis itu kaget sekali, tidak mengira akan ada orang berteriak seperti itu di tempat sunyi itu. Saking tersentak kaget, pegangannya pada ekor kijang itu terlepas dan dia menoleh menghadapi Hay Hay dengan mata terbelalak. Dan Hay Hay terpesona! Maklumlah, mata keranjang berhidung belang.

Sekarang dia tiba di depan gadis itu, berdiri berhadapan dalam jarak tiga meter. Hay Hay seperti terpukau, tak bergerak seperti patung, hanya mengamati wajah gadis di depannya itu.

Seorang gadis yang usianya masih sangat muda, tak akan lebih dari delapan belas tahun. Pakaiannya sederhana bahkan terlihat nyentrik, setengah pakaian pemburu dan setengah pakaian puteri, agak kedodoran akan tetapi tidak menyembunyikan tubuh yang padat dan lekuk-lengkungnya sempurna, tubuh seorang gadis yang bagaikan sekuntum bunga mulai mekar meranum.

Rambutnya awut-awutan, terlepas dari gelungnya, tetapi menjadi penambah manis wajah yang sudah sangat manis itu. Anak rambut di pelipis dan sinom di dahi itu bergerak-gerak lembut, wajah yang bulat telur itu berdagu runcing, sepasang matanya tajam seperti mata kucing namun lebih indah, dan hidung itu kecil mancung dan ujungnya seperti kemerahan dan dapat bergerak lucu, mulutnya memiliki bibir yang penuh dan tipis, seperti kulit buah tomat yang mudah pecah, merah basah. Mata yang indah itu mengerling seperti gunting saja tajamnya, akan tetapi nampak galak.

Thanks for reading Pendekar Mata Keranjang Jilid 37 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »