Social Items

SEKARANG, ketika Jaksa Kwan mendapat cuti, keluarga itu mengadakan pelesir di Telaga Tung-ting yang indah. Apa bila berpelesir di telaga ini, keluarga pembesar lain tentu akan berpesta pora dalam perahu besar, mengundang gadis-gadis penyanyi dan tukang-tukang musiknya, bahkan banyak pula yang membawa gadis-gadis pelacur. Akan tetapi Jaksa Kwan menikmati masa liburnya dengan memancing ikan di telaga, atau minum arak dan membuat sajak memuji keindahan tamasya alam di telaga itu.

Pada sore hari itu Jaksa Kwan duduk seorang diri di kepala perahu, menghadapi guci dan cawan arak, juga kertas dan alat tulis karena dia sedang minum arak dan menulis sajak. Keluarganya yang tidak besar, hanya seorang isteri dengan dua orang anak, mengaso di dalam bilik perahu besar.

Jaksa Kwan tidak bergerak bagai sebuah patung, termenung sambil menikmati keindahan dan kesunyian telaga yang amat luas itu. Dia seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian longgar sederhana, kumis dan jenggotnya terpelihara baik. Sepasang mata yang lebar itu amat berwibawa, dan di lehernya tergantung sebuah batu giok yang warnanya belang-belang merah dan hijau, indah sekali.

Dia memperoleh batu giok ini sebagai hadiah dari seorang tokoh pendekar yang merasa kagum kepadanya, dan batu giok ini merupakan sebuah pusaka yang amat langka. Kalau dipakai sebagai kalung, dapat menolak datangnya penyakit, juga batu giok itu pun dapat memunahkan segala macam racun yang bagaimana jahat pun. Di samping itu, air yang merendam batu itu semalam suntuk juga dapat merupakan obat kuat yang manjur.

Beberapa buah perahu kecil berseliweran di permukaan telaga, ada pula beberapa buah yang bergerak di dekat perahu besar Kwan-taijin. Akan tetapi pembesar ini agaknya tidak memperhatikan perahu-perahu itu, dan sama sekali tidak tahu bahwa di antara perahu-perahu itu terdapat beberapa buah perahu yang ditumpangi penjahat-penjahat besar yang sejak tadi membayanginya!

Sebuah perahu kecil yang ditumpangi tiga orang yang memegang joran pancing meluncur mendekat dan tiba-tiba dari atas perahu kecil itu melayang sesosok tubuh ke atas perahu besar. Tanpa menimbulkan guncangan, tubuh itu kini hinggap di atas dek perahu besar, di dekat Kwan-taijin yang masih duduk termenung dan sebelum Kwan-taijin sempat bergerak atau berteriak, tiba-tiba saja tubuhnya tertotok lemas dan di lain saat, tubuh pembesar itu telah dipondong oleh kakek kurus itu dan dibawa melompat ke atas perahu kecil di mana dua orang kawannya telah menanti.

Seorang pengawal yang kebetulan melihat peristiwa itu berteriak. Maka gegerlah pasukan pengawal yang hanya terdiri dari selosin orang dan menumpang di atas perahu lain yang berada di belakang perahu besar.

Akan tetapi Min-san Mo-ko yang menawan Kwan-taijin tidak peduli akan pengejaran para pengawal. Dua orang pembantunya sudah mendayung perahu kecil itu dengan cepatnya, meluncur pergi ke tengah telaga! Ketika perahu pengawal melakukan pengejaran, mereka itu dihadang oleh perahu-perahu kecil yang ditumpangi oleh Ji Sun Bi, Lam-hai Siang-mo, suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan, dan anak buah mereka.

Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena dua belas orang pengawal itu sama sekali bukan merupakan lawan berat bagi tokoh-tokoh sesat itu sehingga sebentar saja perahu kecil yang membawa Kwan-taijin lenyap tidak ada yang mengejar! Para pengawal itu pun satu demi satu terlempar ke dalam air dan melihat betapa Min-san Mo-ko berhasil melarikan Kwan-taijin, para penjahat itu pun segera melarikan diri dengan perahu-perahu mereka, tidak mau menunggu datangnya pasukan bala bantuan yang tentu akan tiba di tempat itu.

Sementara itu, setelah merasa aman dari pengejaran para pengawal, Min-san Mo-ko dan dua orang anak buahnya mendarat di tepian yang sunyi. Akan tetapi tiba-tiba saja sebuah perahu nelayan kecil meluncur dari samping, kemudian dari dalam perahu itu berkelebat bayangan orang yang meloncat naik pula ke darat, dan tahu-tahu seorang pemuda telah berdiri di depan Min-san Mo-ko. Pemuda ini bukan lain adalah Hay Hay!

Ketika dia melakukan pengejaran dan tiba di tepi telaga, Hay Hay lalu menyamar sebagai seorang nelayan karena dia melihat ada beberapa orang penjahat yang pernah dilihatnya menyerbu perkampungan suku Miao, nampak sedang berkeliaran di sana, ada pula yang menunggang perahu! Dia dapat menduga bahwa gerombolan itu tentu hendak melakukan sesuatu di tempat itu, entah apa dia tidak dapat menduga. Maka, dia pun lalu menyamar sebagai nelayan dan menyewa sebuah perahu, mendayung perahunya berkeliling sampai akhirnya dia mengenal Min-san Mo-ko bersama dua orang anak buahnya dalam sebuah perahu.

Ia tertarik sekali dan terus membayangi, melindungi mukanya dengan caping lebar. Ketika dia melihat Min-san Mo-ko meloncat ke perahu besar dan menculik seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, dan melihat betapa pasukan pengawal dihadapi oleh anak buah Min-san Mo-ko, tahulah dia bahwa tentu pria yang diculiknya itu seorang pembesar penting. Dia pun cepat mengikuti dari jauh dengan perahunya dan ketika Min-san Mo-ko membawa Kwan-taijin melompat ke darat, dia pun cepat ikut melompat dan kini berhadapan dengan Min-san Mo-ko sambil menyeringai.

"Eh, kiranya Si Dukun Lepus Min-san Mo-ko yang kembali membuat ulah! Hayo lepaskan orang yang kau cilik itu!" bentak Hay Hay.

Melihat munculnya pemuda yang kini amat lihai itu, yang bahkan pandai ilmu sihir hingga dia tidak mungkin lagi menguasainya dengan sihir, Min-san Mo-ko terkejut bukan main.

"Mundur engkau bocah setan!" bentaknya. "Atau... akan kubunuh dahulu Jaksa Kwan ini!" Dan dia pun menempelkan pedangnya pada leher Jaksa Kwan yang masih belum mampu bergerak karena tertotok. "Mundur dan jangan mengikuti kami!"

Hay Hay yang cerdik maklum bahwa setelah susah payah menculik orang, tidak mungkin Min-san Mo-ko akan membunuhnya begitu saja. Dia tak mau digertak, karena itu dia pun tertawa.

"Ha-ha-ha, Min-san Mo-ko dukun cabul! Aku sama sekali tidak mengenal orang yang kau culik itu. Mau kau bunuh atau tidak, tak ada hubungannya dengan aku, dan aku tak akan rugi. Kalau engkau mau membunuhnya, silakan, akan tetapi jangan harap aku akan dapat melepaskan engkau lagi!"

Gertakan dibalas dengan gertakan hingga Min-san Mo-ko menjadi agak bingung. Hatinya sudah khawatir sekali bertemu dengan Hay Hay dan sekarang dia bahkan digertak oleh pemuda remaja yang lihai itu. Dia tidak tahu betapa diam-diam Hay Hay merasa tegang karena pemuda ini melihat bayangan putih berkelebat yang sudah dapat diduganya siapa orangnya.

"Penjahat busuk, terimalah kematianmu!" Tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring dan bagai seekor garuda menyambar, Hui Lian telah meloncat dan menerkam ke arah tengkuk Min-san Mo-ko dengan totokan maut!

"Ihhhhh...!" Min-san Mo-ko cepat mengelak sambil membabatkan pedangnya ke belakang untuk menyambut serangan Hui Lian.

Kesempatan ini memang ditunggu-tunggu oleh Hay Hay. Dia menubruk ke depan dan di lain saat, tubuh Kwan-taijin sudah pindah ke dalam pondongannya! Min-san Mo-ko sangat terkejut, apa lagi ketika dua orang pembantunya yang maju hendak membantunya segera dirobohkan oleh Hui Lian dengan sebuah tendangan dan tamparan!

Dia pun langsung meloncat jauh dan melarikan diri tanpa menoleh lagi! Menghadapi Hay Hay seorang saja dia merasa jeri, apa lagi di situ masih muncul pemuda berpakaian putih yang juga sudah diketahui kelihaiannya.

"Terima kasih... Kok-toako," kata Hay Hay yang tidak mau menyebut enci karena di situ terdapat Kwan-taijin dan dua orang anggota gerombolan yang masih mengaduh-aduh dan memijit-mijit pundak serta kaki yang patah tulangnya.

Hui Lian tidak menjawab, melainkan bertanya tentang Kwan-taijin. "Siapakah orang ini dan mengapa dia diculik?"

Hay Hay membebaskan totokan Kwan-taijin dan setelah mampu bergerak lagi, pembesar ini segera mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada dua orang muda itu.

"Saya adalah Jaksa Kwan dari kota Siang-tan. Memang banyak penjahat yang memusuhi saya, mungkin untuk membalaskan sakit hati rekan-rekan mereka yang saya tangkap dan tuntut hingga dihukum berat. Terima kasih kepada Ji-wi Taihiap (Pendekar Besar Berdua) yang sudah menyelamatkan saya sehingga saya tidak sampai terbunuh, melainkan hanya kehilangan pusaka saya."

"Pusaka? Pusaka apa yang hilang?" tanya Hay Hay.

"Pusaka batu giok penawar segala racun yang tadi saya pakai sebagai kalung. Sayang sekali kalau pusaka yang amat langka itu terjatuh ke tangan penjahat. Dia tadi merenggut kalung itu dan disimpannya ke dalam saku. Ahh, kalau mereka mempergunakan pusaka itu untuk kejahatan, sungguh sayang sekali."

Hui Lian berkata kepada Hay Hay, "Hay-te, kau antarkan Kwan-taijin ini kembali kepada keluarganya, aku akan mengejar mereka!" Tanpa menanti jawaban lagi, sekali berkelebat tampak bayangan putih lantas lenyaplah tubuhnya, membuat Kwan-taijin menghela napas kagum.

"Marilah, Taijin, saya antar kembali ke sana," kata Hay Hay, merasa girang bukan main mendengar suara Hui Lian tadi yang nampaknya sudah tidak marah lagi kepadanya dan sebutan Hay-te (Adik Hay) tadi terdengar demikian akrab.

Keluarga Kwan-taijin merasa gembira sekali melihat pembesar itu kembali dalam keadaan selamat, kehilangan pusaka batu giok itu tidak begitu besar artinya bagi mereka. Setelah menghaturkan terima kasih kepada Hay Hay, keluarga itu cepat-cepat pulang kembali ke Siang-tan, diikuti para pengawal yang juga merasa terkejut dan cemas dengan adanya peristiwa tadi.

********************

Hay Hay segera meninggalkan tempat itu, mempergunakan ilmu berlari cepat untuk turut melakukan pengejaran pula ke arah larinya Min-san Mo-ko yang dikejar oleh Hui Lian tadi. Dia merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Hui Lian karena dia maklum betapa berbahayanya Min-san Mo-ko, apa lagi ilmu sihirnya yang akan sukar dilawan oleh Hui Lian. Dia khawatir, lebih-lebih setelah kini dia tahu bahwa Hui Lian adalah seorang wanita! Seorang gadis yang cantik jelita dan... harum bau keringatnya!

Kekhawatirannya bertambah ketika dia tiba di luar sebuah hutan dan masih belum juga dapat menemukan jejak mereka, baik jejak Min-san Mo-ko dan teman-temannya mau pun jejak Hui Lian. Dia teringat akan dua orang yang tadi terluka oleh Hui Lian, maka cepat dia berlari seperti terbang menuju ke tepi telaga yang tadi. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan mereka yang hanya bisa berjalan perlahan-lahan karena salah seorang di antara mereka menderita patah tulang kaki kirinya sehingga hanya mampu berjalan terpincang-pincang. Ketika melihat Hay Hay yang tiba-tiba muncul, mereka terkejut bukan main dan langsung menggigil ketakutan!

Hay Hay tak mau membuang waktu lagi. Segera dia mengerahkan ilmu sihirnya, menatap tajam dan berkata dengan suara yang sangat berwibawa, "Aku ingin kalian mengatakan di mana sarang Min-san Mo-ko. Apa bila kalian berbohong, awas! Lihat, aku dapat menjadi seorang raksasa yang akan mengganyang habis kalian!"

Dua orang itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat, tubuh mereka menggigil dan mereka berdua jatuh berlutut ketika melihat betapa pemuda yang berada di depan mereka itu benar-benar telah berubah menjadi seorang raksasa yang mukanya amat mengerikan, mulutnya lebar terbuka dan penuh dengan taring yang runcing!

"Ampun... ampunkan kami... kini Min-san Mo-ko pasti berada di dalam kuil Pek-lian-kauw yang terdapat di dalam hutan... di lereng bukit sana..."

Tanpa menanti keterangan lebih lanjut karena sudah cukup baginya, Hay hay berkelebat lenyap dari depan kedua orang itu yang terjungkal pingsan saking takutnya. Kini Hay Hay berlari cepat menuju ke bukit itu dan ketika dia memasuki hutan yang berada di lereng bukit itu, sore telah larut dan cuaca di dalam hutan mulai remang-remang.

Tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata dari tengah hutan. Jantungnya segera berdebar tegang dan dia pun langsung berlompatan ke arah datangnya suara berkelahi itu. Tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil tua dan di situ dia melihat Hui Lian yang memegang pedang sedang dikeroyok oleh banyak orang!

Tentu saja Hui Lian terdesak hebat karena pengeroyoknya adalah Min-san Mo-ko, kedua pasangan suami isteri iblis, dan masih ada pula beberapa orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai! Tidak nampak iblis betina Ji Sun Bi di situ.

Diam-diam Hay Hay merasa lega bahwa Hui Lian belum terluka walau pun dia terdesak hebat. Agaknya gadis ini sudah melindungi dirinya dengan sinkang dan khikang sehingga tak akan mudah dipengaruhi sihir Min-san Mo-ko dan dengan gigihnya dia masih mampu membuat perlawanan.

"Toako, aku datang membantumu!" teriak Hay Hay dan dia pun mencabut sebuah suling dari pinggangnya, lalu terjun ke dalam perkelahian itu dengan suling di tangan.

"Hay-te, cepat ke sini, kita saling melindungi!" kata Hui Lian sambil memutar pedangnya.

Hay Hay yang maklum betapa bahayanya musuh-musuh itu, segera membuka kepungan dengan putaran sulingnya. Terdengar suara senjata beradu, lantas dua orang anak buah gerombolan itu terjengkang. Hay Hay melompat masuk dan sekarang telah berdiri beradu punggung dengan Hui Lian, memutar suling dan menangkis senjata-senjata yang datang menyambar, juga dia menggunakan tangan kiri mendorong ke kanan kiri dan pihak lawan yang kurang kuat tentu langsung terdorong mundur sehingga mereka merasa kaget dan jeri terhadap pemuda yang baru muncul ini.

Kini legalah hati Hui Lian karena tadi dia sudah kewalahan dan kalau Hay Hay terlambat datang, bukan tak mungkin dia akan segera roboh, tertawan atau tewas. Hatinya merasa gembira dan jantungnya berdebar aneh setiap kali pinggulnya menyentuh Hay Hay dalam gerakan mereka yang saling melindungi.

Mereka berdua segera mengamuk dan setelah banyak anak buah gerombolan roboh oleh pedang Hui Lian dan suling di tangan Hay Hay, mereka menjadi jeri dan kini yang masih mengeroyok hanya tinggal Min-san Mo-ko, dua pasang suami isteri dari selatan, ditambah lima orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan bersenjata tongkat panjang.

Beberapa kali tosu dan juga Min-san Mo-ko mencoba ilmu sihir mereka, namun berkat kekuatan sihir Hay Hay, semua serangan mereka tidak mempan. Juga Hay Hay tidak mau mencoba ilmu sihirnya, maklum bahwa dia takkan berhasil karena selain Min-san Mo-ko, di situ terdapat lima orang tosu yang kesemuanya memiliki ilmu sihir yang cukup kuat!

Walau pun kedua orang muda itu dikeroyok sepuluh orang pandai, namun mereka sama sekali tidak merasa gentar, juga tidak terdesak, walau pun bagi mereka berdua pun tidak mudah untuk dapat melukai para pengeroyok yang lihai itu. Selagi Hay Hay berniat untuk mengajak kawannya melarikan diri, tiba-tiba muncul dua orang di pihak para pengeroyok. Mereka itu bukan lain adalah Ji Sun Bi, wanita cabul itu, beserta seorang pemuda yang tampan dan sikapnya gagah.

Ji Sun Bi segera membantu para pengeroyok, menyerang Hui Lian, sedangkan pemuda gagah itu menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya perak mengeroyok Hay Hay. Ketika menangkis cahaya perak itu dengan sulingnya, dia kaget bukan main.

Pemuda yang baru datang ini memiliki sinkang yang amat kuat, dan pedang iu pun sangat bebrahaya karena ujung sulingnya terbabat putus! Kiranya pemuda itu seorang yang amat lihai dan memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh. Secara diam-diam Hay Hay mengeluh. Dengan munculnya pemuda ini dan Ji Sun Bi, jelas bahwa kedudukan dia dan Hui Lian terhimpit dan berat sekali.

Di lain pihak, dengan munculnya Ji Sun Bi yang meyerang dengan siang-kiam (sepasang pedang), Hui Lian juga merasa berat dan repot. Wanita cabul itu memang lihai, lebih lihai kalau dibandingkan suami isteri iblis atau para tosu Pek-lian-kauw. Maka kemunculannya membuat Hui Lian terdesak dan hanya mampu menangkis saja, sedikit sekali mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Kini dia dan Hay Hay dikeroyok dua belas orang dan pada waktu dia melirik melalui sudut matanya, dia melihat betapa pemuda yang datang bersama Ji Sun Bi itu pun ternyata lihai bukan main.

"Toako, mari kita pergi!" tiba-tiba terdengar Hay Hay berseru.

Dan tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak. Suara tawanya sampai menimbulkan gema, demikian dalam penuh wibawa. Para pengeroyok terkejut sekali dan tanpa mereka sadari, mereka pun kini tertawa semua, terseret oleh arus yang sangat kuat dari getaran suara ketawa Hay Hay. Kesempatan ini digunakan oleh Hay Hay untuk menyambar lengan Hui Lian lantas diajaknya meloncat keluar dari kepungan!

Pada saat para lawan terpengaruh sihirnya dan tertawa, Hay Hay yang memegang lengan Hui Lian melompat keluar. Akan tetapi hanya sebentar saja Min-san Mo-ko terpengaruh, demikian pula lima orang tosu Pek-lian-kauw. Min-san Mo-ko sudah menubruk ke depan dengan pedangnya yang menyambar ke arah leher belakang Hay Hay.

Pemuda ini mengelak dengan memutar tubuhnya. Dia melihat benda mencorong di dada Min-san Mo-ko. Batu giok milik Kwan-taijin! Hay Hay lalu menusukkan sulingnya ke arah mata Min-san Mo-ko, akan tetapi tangan kirinya menyambar dan dia berhasil merampas batu giok yang dikalungkan pada leher Min-san Mo-ko. Pada saat itu pula lima orang tosu Pek-lian-kauw sudah menubruknya!

Hui Lian segera membantunya dengan putaran pedang sehingga tongkat para tosu dapat ditangkis. Akan tetapi pada saat itu ada sinar hitam menyambar, dan Hui Lian mengeluh lantas terhuyung. Dia telah diserang dari belakang dengan jarum beracun oleh Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum Sakti, iblis betina dari Goa Iblis Pantai Selatan. Tiga batang jarum kecil memasuki pinggul kanan tanpa dapat ditangkisnya sama sekali sehingga tubuhnya terhuyung dan sebelah kakinya seperti lumpuh.

Pada saat itu pula Hay Hay cepat menyambar tubuh Hui Lian dengan tangan kiri, ada pun sulingnya diputar cepat. Dua orang tosu Pek-lian-kauw terjungkal roboh, akan tetapi ujung pedang di tangan Min-san Mo-ko juga menyerempet dada Hay Hay, merobek baju berikut kulit dan daging di dada kanannya.

"Kami tidak ada waktu melayani kalian. Kami pergi, kami menghilang dan kalian tak dapat melihat kami lagi!" terdengar Hay Hay berseru, kini mengerahkan seluruh tenaga sihirnya.

Sekali ini dia berhasil baik karena semua musuhnya tiba-tiba menjadi bingung ketika Hay Hay dan Hui Lian lenyap. Beberapa kali Min-san Mo-ko beserta para tosu Pek-lian-kauw mengeluarkan bentakan-bentakan untuk memunahkan pengaruh sihir itu, hingga akhirnya mereka berhasil juga menyingkirkan pengaruh itu.

Akan tetapi, ketika semua orang sudah sadar dan mengejar keluar ruangan depan, yang terlihat hanya bayangan kedua orang musuh itu memasuki hutan yang telah menjadi amat gelap. Mengingat akan lihainya dua orang itu, mereka tidak berani melakukan pengejaran di dalam gelap karena hal itu berbahaya sekali bagi mereka.

Min-san Mo-ko membanting-banting kakinya. "Keparat jahanam! Mereka dapat lolos!" Dia mengutuk.

"Jangan khawatir, Mo-ko," kata Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. "Pemuda berpakaian putih itu telah kuhadiahi tiga batang jarum beracunku, tentu dia tidak akan mampu berlari jauh dan akan mampus juga."

"Dan aku melihat tadi pedangmu juga telah melukai dada Hay Hay," kata Ji Sun Bi kepada suhu-nya dengan suara menghibur. "Tentu dia tidak akan terlepas dari maut pula karena pedangmu yang beracun."

Akan tetapi ucapan kedua orang wanita itu agaknya bahkan menambah kejengkelan hati Min-san Mo-ko. "Semoga semua iblis mengutuk mereka!" katanya dengan muka merah dan mata melotot. "Apa artinya luka-luka oleh jarum dan pedang beracun apa bila mereka memiliki batu giok mustika itu?"

"Apa? Jadi batu giok itu terampas oleh mereka?"

"Hay Hay keparat itu yang merampasnya dari leherku. Besok sesudah terang tanah kita harus melakukan pengejaran. Pemuda itu memang harus dibunuh, jika tidak, kelak hanya akan mendatangkan gangguan saja bagi kita. Ahh, bagaimana kita akan bisa menghadap Giam-lo kalau begini? Jaksa Kwan lolos, dan sekarang mustika batu giok juga terampas orang." Min-san Mo-ko kelihatan marah dan juga bingung, takut akan kemarahan Lam-hai Giam-lo yang menjadi pimpinan mereka.

Pemuda tampan yang tadi muncul bersama Ji Sun Bi kini melangkah maju dan berkata kepada Min-san Mo-ko, "Mo-ko, kenapa susah amat? Sungguh memalukan jika kita yang begini banyak sampai tidak mampu membekuk bocah itu. Biarlah aku yang akan mencari dan membekuk mereka, atau setidaknya merampas kembali mustika batu giok itu."

Min-san Mo-ko memandang pada pemuda itu. Seorang pemuda yang usianya juga masih muda, sebaya dengan Hay Hay, dan pemuda ini pun mempunyai ilmu kepandaian yang hebat! Dia sendiri sudah mengujinya dan memang pemuda ini patut menjadi sekutunya yang boleh diandalkan, biar pun pemuda ini tidak memiliki ilmu sihir. Dalam hal ilmu silat, agaknya dia sendiri pun belum tentu akan mampu mengalahkannya!

"Besok pagi kita beramai-ramai akan mencari mereka!" Dia hanya dapat berkata demikian karena dia juga tidak berani bersikap kasar atau keras terhadap pemuda yang baru saja menjadi sekutu mereka ini,.

"Tentang mustika batu giok itu, agaknya Giam-lo juga tidak akan terlalu menyesal karena sebagai gantinya, dia mendapatkan Sim-kongcu sebagai sahabat, dan Sim-kongcu sudah berjanji akan menghadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebuah benda mustika yang tidak kalah langkanya kalau dibandingkan dengan mustika batu giok itu," kata Ji Sun Bi sambil menggandeng tangan pemuda itu dan mengerling dengan sikap manja.

Pemuda yang disebut Sim-kongcu (Tuan Muda Sim) itu hanya tersenyum, lantas berkata dengan suara yang jelas membayangkan kebanggaan dirinya. "Batu giok penawar racun seperti itu saja kiranya tak perlu diperebutkan. Aku memiliki sebuah cawan arak yang bisa dipakai mengenal minuman atau makanan beracun. Cawan itu akan kuhadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai tanda persahabatan, dan kelak dapat dipakai sebagai pengganti mustika batu giok yang tak berhasil lita rampas itu"

Hati Min-san Mo-ko menjadi agak lega ketika mendengar janji ini. Setidaknya kemarahan Lam-hai Giam-lo akan berkurang jika dia mendapat seorang pembantu selihai pemuda ini sebagai pengganti mustika batu giok itu, apa lagi ditambah dengan sebuah cawan pusaka yang langka.

Oleh karena itu, ketika pada keesokan harinya mereka tak berhasil menemukan jejak Hay Hay dan Hui Lian, Min-san Mo-ko mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu dan pergi menghadap Lam-hai Giam-lo untuk memberi laporan.

Siapakah pemuda lihai yang sekarang agaknya baru saja bersekutu dengan gerombolan itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, atau tadinya memakai she Ciang ketika berguru kepada Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah.

Seperti sudah kita ketahui, dengan siasat yang sangat cerdik, ketika berusia empat belas tahun Sim Ki Liong berhasil menjadi murid Pendekar Sadis dan isterinya karena dia amat pandai membawa diri, memperlihatkan diri sebagai seorang pemuda yang sopan santun, berbakti dan juga sangat berbakat. Suami isteri pendekar yang biasanya amat cerdik itu dapat dikelabui dan dia pun mendapat pelajaran ilmu silat yang hebat dari suami isteri itu selama enam tahun.

Suami isteri itu tak pernah melihat kelakuan buruk Ki Liong selama menjadi murid mereka dan tinggal di pulau itu, sampai kemudian datang puteri serta cucu perempuan mereka, yaitu Ceng Sui Cin dan Cia Kui Hong. Berkobarlah nafsu birahi dalam diri Ki Liong ketika dia melihat Kui Hong dan hampir tak tertahankan lagi sehingga dia pun bersikap ceriwis dan kurang ajar terhadap Kui Hong sehingga terjadi keributan.

Agaknya karena memang sudah merasa pandai dan tidak betah lagi tinggal di pulau itu, setelah terjadi keributan dengan Kui Hong yang menolak keinginannya untuk bermesraan, Ki Liong lalu minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa beberapa buah benda pusaka dan juga harta dari pulau itu, milik Pendekar Sadis dan isterinya!

Di antara benda-benda pusaka itu, dia juga membawa pergi Gin-hwa-kiam milik Pendekar Sadis dan sebuah cawan pusaka yang amat langka karena minuman atau makanan apa saja yang mengandung racun, bila mana ditaruh di dalam cawan, lalu akan nampak tanda hijau pada cawan perak itu!

Demikianlah, setelah meninggalkan pulau secara minggat, Ki Liong mencari ibunya yang tinggal di sebuah dusun. Hanya beberapa hari saja dia tinggal di situ. Sesudah rasa rindu pada ibunya terobati, maka mulailah dia merantau untuk mencari musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya.

Menurut ibunya, pembunuh ayahnya itu bernama Siangkoan Ci Kang yang dahulu masih terhitung saudara seperguruan dengan ayahnya yang bernama Sim Thian Bu. Menurut cerita ibunya, Siangkoan Ci Kang adalah seorang laki-laki yang berkepandaian tinggi dan lengan kirinya buntung sebatas siku.

Tidak sukar mencari orang yang buntung lengan kirinya, apa lagi kalau orang itu seorang ahli silat yang lihai. Tentu akan mudah dia mencari keterangan di dunia kang-ouw, karena Si Lengan Buntung yang lihai itu tentu dikenal oleh banyak orang kang-ouw.

Akan tetapi ternyata harapannya sia-sia belaka dan dugaannya meleset. Memang banyak orang mendengar nama Siangkoan Ci Kang, putera dari mendiang Siangkoang Lojin yang berjuluk Si Iblis Buta, akan tetapi semenjak belasan tahun sampai dua puluh tahun yang lalu, nama Siangkoan Ci Kang tidak pernah muncul lagi di dunia kang-ouw dan tidak ada seorang pun tokoh kang-ouw yang tahu di mana adanya jagoan itu.

Hal ini tidaklah aneh karena waktu itu Siangkoan Ci Kang bersama Toan Hui Cu memang bersembunyi di dalam kuil Siauw-lim-si, menjadi orang-orang hukuman sehingga mereka berdua itu seolah-oleh lenyap dari dunia kang-ouw, bahkan dunia ramai.

Ki Liong tidak putus asa dan terus mencari sehingga akhirnya dia tiba di daerah Propinsi Hu-nan dekat Telaga Tung-ting di mana dia berjumpa dengan Ji Sun Bi. Dan seperti kita ketahui, setelah tak mampu mengalahkan Hay Hay dan Hui Lian, Ji Sun Bi juga melarikan diri bersama teman-temannya.

Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka lalu berkumpul di dalam kuil tua di mana terdapat para tosu Pek-lian-kauw yang menjadikan kuil itu sebagai tempat persembunyian mereka untuk sementara waktu. Memang di antara para anggota gerombolan itu dengan Pek-lian-kauw sudah terjalin hubungan baik, apa lagi kalau diingat bahwa Min-san Mo-ko sendiri adalah bekas seorang tokoh Pek-lian-kauw.

Ji Sun Bi tidak betah tinggal di kuil tua yang buruk itu, sebab itu dia pun berkeliaran keluar kuil dan mendaki bukit itu, keluar dari dalam hutan. Dan di puncak bukit inilah dia melihat seorang pemuda yang amat menarik hatinya.

Seperti biasanya, setiap kali berjumpa dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah, maka tergeraklah hati Ji Sun Bi dan gairahnya pun timbul. Melihat pemuda itu melangkah seorang diri dari atas puncak bukit menuju turun, Ji Sun Bi cepat-cepat mencubit pahanya sendiri sampai kain celananya robek dan kulit pahanya membiru, kemudian dia rebah di atas tanah di dekat jalan setapak sambil merintih-rintih.

Ketika berjalan seenaknya menuruni bukit itu, tentu saja Ki Liong dapat melihat seorang wanita yang rebah miring di atas tanah sambil merintih-rintih itu. Dia terkejut sekali, lantas dengan beberapa lompatan saja dia sudah menghampiri wanita itu.

Wanita itu sangat cantik manis. Mukanya bulat dan kulitnya putih mulus, tubuhnya padat dan menggairahkan. Sepasang pedang yang melintang pada punggungnya menunjukkan bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan.

"Aduhh... aughh... aduuhh...," Ji Sun Bi merintih-rintih, pura-pura tidak melihat orang yang datang menghampirinya.

"Toanio, siapakah engkau dan apakah yang telah terjadi?" tanya Ki Liong kepada wanita yang dia takisr usianya tentu beberapa tahun lebih tua darinya biar pun masih cantik dan menarik sekali.

Ji Sun Bi menoleh dan seolah-olah baru melihat Ki Liong. Tiba-tiba saja dia bangkit duduk kemudian meloncat berdiri dengan kaki terpincang, memasang kuda-kuda dan memegang gagang pedangnya.

"Engkau siapa...?!" bentaknya seperti orang khawatir yang sedang menghadapi seorang musuh dalam keadaan terluka.

Ki Liong tersenyum hingga Ji Sun Bi yang mata keranjang itu merasa jantungnya jungkir balik melihat betapa tampannya pemuda ini kalau tersenyum.

"Toanio, jangan salah duga. Aku bukan musuhmu, tadi aku hanya kebetulan saja melihat engkau rebah di sini sambil merintih kesakitan. Apakah engkau sakit, Toanio? Barang kali aku dapat menolongmu...?"

"Tidak! Engkau tentu seorang musuh!" kata Ji Sun Bi.

Dan tiba-tiba saja dia menyerang dengan kedua tangannya, menggunakan jurus pukulan yang sangat ampuh. Tangan kirinya menotok ke arah leher sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung.

Serangan yang hebat ini dilakukan Ji Sun Bi bukan untuk mencelakakan orang, melainkan untuk menguji apakah pemuda ini seorang yang mempunyai kepandaian silat seperti yang diduganya, melihat cara pemuda itu tadi berlompatan menghampirinya. Kalau pemuda ini tidak pandai silat, atau tak begitu pandai sehingga jurusnya ini terlalu berbahaya baginya, tentu dia akan menarik kembali tangannya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ji Sun Bi ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan membuat gerakan aneh dengan dua tangannya dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh pemuda itu! Sepasang lengan pemuda itu tadi bergerak sedemikian cepatnya seperti dua ekor ular saja, mendahului serangannya. Serangannya disambut oleh serangan pula dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya sudah di pegang dan dia tidak berdaya!

Ki Liong memperlebar senyumnya. "Aku bukan musuhmu! Tidak mungkin pula aku mau bermusuhan dengan orang secantik engkau. Aku lebih suka kalau bersahabat denganmu, Toanio," kata Ki Liong, baru kemudian dia melepaskan pegangannya.

Ji Sun Bi yang merasa terkejut, heran dan juga girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda ini ternyata lihai bukan main dan juga ingin bersahabat, lalu sengaja terhuyung dan terpincang kemudian rebah pula, seolah-olah kaki kanannya menjadi lumpuh.

"Aduuuhhh...!"

Kembali Ki Liong sudah berlutut di dekatnya. "Engkau kenapakah, Toanio? Apanya yang sakit?"

Ji Sun Bi berlagak menahan sakit dan menggigit bibirnya, kemudian berkata dengan alis berkerut, "Aku dan kawan-kawan... baru saja berkelahi dengan musuh, dan aku terluka... pada paha kananku, aduuhh...!" Dan dia pun memijit paha kananya.

Ki Liong merasa kasihan. "Bolehkah aku memeriksa lukamu, Toanio? Mungkin aku dapat menolongmu sebab aku membawa obat yang amat manjur untuk menyembuhkan luka..."

Ji Sun Bi mengangguk dan Ki Liong lalu memeriksa paha kanan itu. Dia membuka kain celana yang terobek cukup lebar sehingga nampaklah paha yang mulus karena kulitnya putih mulus, akan tetapi ada nampak biru kemerahan bekas cubitan. Setelah memeriksa dengan teliti, Ki Liong hampir tertawa, akan tetapi dia cukup cerdik untuk menahannya.

Paha itu tidak apa-apa, hanya kulit paha yang halus hangat itu saja yang membiru bekas cubitan. Akan tetapi dia lalu mengelus paha itu dan jantungnya berdebar penuh gairah. Wanita ini cantik sekali, tubuhnya padat dan pahanya demikian mulus!

"Lukanya tidak parah, Toanio, akan segera sembuh sesudah kuurut dan kupijit," kata Ki Liong sambil mengelus-elus kulit paha yang membiru itu.

Diam-diam Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Jelas ada tanda-tanda bahwa pemuda ini menyambut dan suka kepadanya, seorang pemuda yang tampan dan gagah, bahkan dia menduga pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi! Ketika pahanya dielus seperti itu, ingin dia langsung saja merangkul pemuda itu, akan tetapi ditahannya karena dia tidak mau gagal, seperti yang pernah terjadi dengan Hay Hay.

"Terima kasih, ahhh... terasa nyaman sekarang..."

Ki Liong tersenyum, elusan tangannya semakin berani. "Enak...?"

"Enak sekali, terima kasih, nyerinya sudah hampir hilang... ahh, sobat yang baik, engkau tadi begitu mudah menangkap kedua pergelangan tanganku. Engkau yang lihai dan baik hati ini, siapakah engkau?"

Tanpa melepas jari-jari tangannya yang mengelus dan membelai, Ki Liong menatap wajah manis itu sambil menjawab. "Namaku Sim Ki Long, aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini dan bertemu denganmu, Toanio..." Dia memandang paha itu dan melihat kulit paha yang demikian putih mulus, demikian hangat terasa di tangannya, Ki Liong lantas menunduk dan mencium paha itu.

Makin keras jantung Ji Sun Bi berdegup dan mukanya menajdi kemerahan, tanda bahwa nafsunya sudah naik ke kepala. Sungguh beruntung, pikirnya, sekali ini dia menemukan seorang pemuda yang begini hebat dan menyenangkan!

"Sim-kongcu... engkau tentu seorang pemuda bangsawan atau hartawan. Engkau jangan menyebut Toanio kepadaku karena aku belum... belum menikah, ehh, namaku Sun Bi, Ji Sun Bi..." Suara Sun Bi sudah tidak karuan karena napasnya semakin memburu.

"Baiklah, Enci Sun Bi. Wah, engkau cantik sekali..."

Sun Bi tidak dapat menahan dirinya lagi lalu tiba-tiba dia memeluk dan mencium pemuda itu. Hati Sun Bi semakin gembira ketika pemuda itu membalas ciumannya. Dia mendapat kenyataan betapa canggung pemuda ini melakukan hal itu, menandakan bahwa pemuda yang menarik hatinya ini adalah seorang pemuda yang belum memiliki pengalaman sama sekali.

Dia segera menarik pemuda itu rebah di atas rumput, dan kegembiraannya makin besar saat dia mendapat kenyataan bahwa dia bertemu dengan seorang perjaka tulen! Dengan penuh gairah dan kesukaan hati dia pun lalu mengajar dan membimbing pemuda itu untuk memuaskan birahi dan gairah mereka. Dan di dalam hal ini, tentu saja Sun Bi merupakan seorang guru yang amat pandai dan berpengalaman bagi Ki Liong!

Tak lama kemudian, dengan hati yang girang sekali, seperti menemukan sebuah mustika yang amat hebat, Ji Sun Bi sudah menggandeng tangan Ki Liong dan diajaknya pemuda ini menemui Min-san Mo-ko serta yang lain-lainnya, memperkenalkan pemuda itu sebagai sahabat barunya, sebagai kekasihnya!

"Suhu, Sim Ki Liong adalah sahabat baikku yang boleh dipercaya dan jangan dipandang rendah karena dia amat lihai. Ilmu kepandaiannya tidak kalah dibandingkan dengan siapa pun juga, dan andai kata dia membantu kita dalam menghadapi dua orang musuh itu, tentu pihak kita tidak akan kalah!"

Ji Sun Bi adalah murid merangkap kekasih Min-san Mo-ko, akan tetapi Iblis dari Min-san ini tidak merasa cemburu melihat Sun Bi yang gila lelaki itu mendapatkan kekasih baru. Namun diam-diam dia merasa tidak senang mendengar ucapan Sun Bi yang memuji-muji Ki Liong dan mengatakan bahwa pemuda ini tidak akan kalah dibandingkan dengan siapa pun juga. Ucapan itu seperti merendahkan dirinya, seolah-olah dia sendiri pun tentu kalah oleh pemuda yang menjadi kekasih Sun Bi ini. Dia merasa penasaran dan ingin menguji sampai di mana kebenaran pujian Sun Bi.

"Benarkah demikian? Jika memang Sim-kongcu benar-benar lihai dan dapat menahanku sampai sepuluh jurus, sungguh aku merasa girang sekali karena kita telah mendapatkan seorang sekutu baru yang boleh diandalkan."

Ki Liong memiliki watak yang tinggi hati. Merasa bahwa dia adalah murid Pendekar Sadis dan isterinya, dia merasa seakan-akan kepandaian silatnya sudah paling tinggi dan tidak ada lawannya! Oleh karena itu, kini dia pun memandang rendah kepada orang tua yang diperkenalkan oleh Sun Bi sebagai gurunya dan yang bernama Min-san Mo-ko itu.

Kini semua orang sudah berkumpul di situ, ingin sekali melihat pimpinan mereka menguji kepandaian pemuda yang baru tiba itu, juga anak buah gerombolan itu berkumpul di situ dengan hati tegang. Setelah memandang ke sekelilingnya, Ki Liong menghampiri Min-san Mo-ko dan dengan lantang berkata,

"Mo-ko, aku pun ingin sekali mengetahui apakah engkau mampu mengalahkan aku dalam sepuluh jurus, karena kalau begitu halnya, engkau bukan hanya pantas menjadi pimpinan kelompok ini, bahkan pantas menjadi guruku!"

"Bagus!" Min-san Mo-ko menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu dia telah berdiri di depan Ki Liong. "Orang muda, sambutlah seranganku!" Dan dia pun segera menyerang dengan amat ganasnya, menyambung suaranya yang melengking tadi. Tangannya bergerak cepat sekali mencengkeram ke arah kepala Ki Liong, disusul tendangan ke arah pusar.

"Hemmm...!" Ki Liong masih tenang saja dan dengan sangat mudah dia miringkan tubuh mengelak, sedangkan tendangan itu ditangkisnya dengan tangan terbuka. Tendangan itu mental dan kedua pihak kini maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat!

Jurus pertama gagal, lalu disusul jurus kedua dan makin lama serangan Min-san Mo-ko menjadi semakin dahsyat dan berbahaya. Namun bukan saja Ki Liong mampu mengelak dan menangkis, bahkan tiga kali dia mampu membalas dengan serangan yang tentu akan mencelakakan diri Min-san Mo-ko jika saja Ki Liong tidak menahan dan menarik kembali serangannya sambil tersenyum.

Jurus ke sepuluh merupakan serangan paling hebat. Tubuh Min-san Mo-ko melayang ke depan, tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah pelipis kanan lawan, ada pun tangan kanannya mencengkeram ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling lemah dan berbahaya bagi seorang pria. Ji Sun Bi sampai mengeluarkan jerit tertahan ketika melihat kekasihnya terancam demikian hebatnya!

Namun Ki Liong masih tetap tersenyum saja, kakinya bergeser dan lutut kirinya terangkat melindungi bawah pusar, tangan kanannya meluncur bagaikan ular mematuk menyambut totokan ke pelipisnya, dan tangan kirinya sudah menyelinap masuk dan tahu-tahu sudah menyentuh ulu hati di dada Min-san Mo-ko!

Tentu saja Min-san Mo-ko terkejut bukan main dan dia pun sudah cepat meloncat jauh ke belakang, mukanya agak pucat karena dia maklum bahwa jika pemuda itu menghendaki, sekarang dia sudah menjadi mayat atau setidaknya akan terluka parah. Tak disangkanya bahwa bukan saja pemuda itu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan berkali-kali mampu membalas dan yang terakhir kalinya malah memperlihatkan keunggulannya!

Dia lantas mengangguk-angguk. "Sim-kongcu memang hebat! Sun Bi tidak salah memilih kawan dan kami merasa girang sekali mendapatkan seorang sekutu seperti Sim-kongcu. Lam-hai Giam-lo tentu akan girang pula menerimamu, Sim-kongcu."

Tentu saja Ji Sun Bi girang dan bangga sekali. Wanita ini segera merangkul dan mencium mulut Ki Liong begitu saja di depan demikian banyak orang! Tentu saja Ki Liong menjadi gelagapan dan mukanya menjadi merah, akan tetapi Sun Bi langsung menarik tangannya dan diajak keluar dari kuil, diikuti suara ketawa para anggota gerombolan itu.

Seperti sedang mendapatkan barang mainan baru yang sangat menarik hatinya, Ji Sun Bi mengajak Ki Liong menjauhi kuil dan bersenang-senang sepuas hatinya dengan pemuda itu. Di lain pihak, Ki Liong baru saja terjun ke dalam dunia yang baru ini, merasa senang sekali mendapatkan seorang kawan, kekasih dan juga guru dalam permainan cinta yang demikian pandai dan berpengalaman seperti Ji Sun Bi.

Ketika senja itu Hay Hay beserta Hui Lian menyerbu kuil dan Hay Hay berhasil merampas mustika batu giok, barulah Ji Sun Bi dan Ki Liong muncul dan mereka segera membantu sehingga dua orang lawan itu akhirnya melarikan diri.

Ki Liong lalu berjanji akan memberikan hadiah cawan arak pusaka untuk diberikan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai pengganti mustika batu giok yang telah lenyap dirampas lawan. Memang pemuda ini memiliki beberapa benda pusaka yang langka, yaitu yang dicurinya dari Pulau Teratai Merah.

Dengan munculnya Sim Ki Liong maka pihak gerombolan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo menjadi semakin kuat, dan hal ini merupakan ancaman bagi keamanan, juga bagi para pendekar. Sim Ki Liong sendiri mengharapkan untuk memperoleh bantuan kawan-kawan barunya dalam mencari musuh besarnya, yaitu Siangkoan Ci Kang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Goa itu lebar sekali, lebar mulutnya tak kurang dari sepuluh tombak dan dalamnya empat tombak, walau pun bagian depannya tertutup batu-batu besar dan jalan masuk ke dalam goa itu hanya sebesar tubuh orang saja, itu pun masih tertutup semak-semak sehingga jarang ada orang luar yang mengetahui bahwa di balik semak-semak itu terdapat sebuah goa yang demikian lebarnya. Juga goa itu tidak gelap karena di bagian atasnya terdapat lubang besar dari mana sinar matahari dapat masuk. Maka tidak mengherankan apa bila gerombolan Min-san Mo-ko tak dapat menemukan dua orang buronan yang bersembunyi di dalam goa itu.

Sebelum terpaksa melarikan diri bersama Hui Lian, di dalam perantauannya dulu secara kebetulan Hay Hay pernah menemukan goa ini. Oleh karena itu ketika mereka melarikan diri membawa luka yang cukup parah karena mengandung racun, dia mengajak Hui Lian memasuki goa itu dan bersembunyi.

Tentu saja malam itu di dalam goa amat gelapnya. Mereka tidak dapat saling memeriksa luka, dan sesudah masuk ke dalam serta membetulkan lagi semak-semak dari sebelah dalam agar menutupi lubang goa, Hay Hay segera bertanya,

"Bagaimana, Enci Hui Lian, parahkah luka yang kau derita ini?" Di dalam suara Hay Hay terkandung kekhawatiran besar karena ketika melarikan diri tadi, wajah Hui Lian nampak pucat dan larinya kadang terhuyung.

Di dalam kegelapan goa itu Hui Lian lantas meraba pinggul kanannya, dan dia menahan rintihannya. Pinggul kanan itu sekarang membengkak dan rasanya panas, gatal dan sakit bukan main.

"Pinggul kananku... agaknya terkena jarum-jarum berbisa," katanya. Akan tetapi dia pun lalu teringat akan keadaan Hay Hay sendiri yang juga terluka dadanya. "Dan bagaimana dengan luka di dadamu, Hay-te?"

Hay Hay merasa betapa luka di dadanya juga sangat parah, walau pun ujung pedang itu hanya menggores serta merobek kulit dan daging, tidak sampai memasuki rongga dada, namun karena ujung pedang itu mengandung racun, kini lukanya sudah membengkak dan rasanya panas bukan main hingga menembus ke seluruh tubuhnya! Akan tetapi temannya itu sedang terluka parah, tidak baik kalau dibuat khawatir pula.

"Ahh, kulit dadaku hanya tergores sedikit, tidak apa-apa, Enci Lian. Akan tetapi luka pada pinggulmu itu... ahh, apakah jarum-jarum itu sudah kau cabut?"

"Mana bisa mencabutnya? Jarum-jarum itu masuk ke dalam!" kata Hui Lian agak khawatir juga karena saat meraba dengan jari-jari tangannya, dia tidak merasakan adanya gagang jarum di permukaan kulit pinggul. "Agaknya ada tiga batang yang menembus kulit..."

"Ingatkah engkau siapa di antara mereka yang melepas jarum-jarum itu?"

"Ketika aku membalik, kulihat perempuan bermuka mayat yang pakaiannya serba hitam itulah..."

"Ahhh... celaka!" seru Hay Hay. "Dia adalah Tong Ci Ki, Si Jarum Sakti! Jarum-jarumnya mengandung racun yang amat berbahaya, tidak kalah jahatnya dibandingkan jarum-jarum dari Ma Kim Li! Mari, Enci, aku harus membantumu mengeluarkan jarum-jarum itu!"

"Tapi... begini gelap, biarlah kulawan dengan semedhi dan mengerahkan sinkang. Besok kalau sudah terang baru kita..."

"Besok bisa terlambat, Enci. Biar kubuat api unggun dahulu!" kata Hay Hay lalu membuat api unggun dan tak lama kemudian, sinar api unggun mengusir kegelapan dalam goa dan mereka dapat saling pandang. Keduanya langsung terkejut setelah melihat betapa wajah masing-masing pucat kehijauan tanda bahwa hawa beracun mulai menguasai mereka!

"Bagaimana kalau mereka melihat api unggun dan datang menyerbu?" tanya Hui Lian.

"Mereka tidak akan melihatnya, cahaya api tertutup sama sekali. Dan pula, tidak perlu kita memikirkan itu, yang penting sekarang harus mengeluarkan jarum-jarum itu..."

"Tapi... tapi..." tentu saja Hui Lian merasa rikuh bukan main. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan pemuda ini mengeluarkan jarum-jarum dari pinggulnya?

Tentu saja tak mungkin mengeluarkannya sendiri karena kedua tangannya hanya mampu menjangkau tempat itu, juga tangannya hanya mampu meraba-raba saja namun dia tidak dapat melihatnya. Kalau dibiarkan Hay Hay melakukannya, berarti membiarkan Hay Hay melihat pinggulnya! Bukan hanya melihat saja, bahkan meraba dan menyentuhnya pula! Bagaimana mungkin ini?

"Kenapa engkau masih ragu-ragu, Enci? Bukankah berbahaya sekali bila dibiarkan saja? Marilah, biarkan aku memeriksa luka itu!" Hay Hay lantas mendekati Hui Lian yang duduk bersandar dinding goa dan dia pun berlutut, tangannya diulur ke arah pinggul.

"Tidak...! Jangan...!" Hui Lian membentak dan terkejutlah Hay Hay mendengar kemarahan dalam bentakan ini. Ketika dia memandang, ternyata Hui Lian juga sedang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan mendelik marah!

"Ehh, kenapa Enci Lian?"

"Bagaimana... bagaimana engkau berani kurang ajar kepadaku?"

Hay Hay pun melongo. "Wah, kurang ajar? Apa maksudmu, Enci Lian? Aku tidak pernah kurang ajar kepadamu."

"Engkau hendak melihat pinggulku, bahkan mungkin memeriksa sambil merabanya, dan engkau bilang tidak kurang ajar?" Gadis itu kini marah sekali dan ingin ia menampar muka pemuda itu, kalau saja ia tidak melihat betapa wajah pemuda itu pun pucat dan nampak kesakitan.

Hay Hay tersenyum karena mendadak dia mengerti dan melihat kelucuan dalam keadaan mereka itu. "Wah, Enci Lian, pikirkan dulu baik-baik sebelum engkau menuduh aku yang bukan-bukan. Pinggulmu sudah terluka oleh jarum beracun, bukan? Nah, bagaimana aku tidak akan melihat pinggulmu kalau aku hendak menolongmu dan memeriksa pinggul itu? Dalam keadaan seperti ini, di waktu engkau terancam bahaya maut, mengapa memikirkan soal kecil itu, Enci? Baiklah, sekarang biarkan aku memeriksa dan mengobati pinggulmu, lupakan kekurang ajaranku, dan nanti sesudah aku berhasil mengeluarkan jarum-jarum itu dan mengobati lukamu, engkau boleh menghukum aku karena kekurang ajaranku. Aku tidak akan melawan. Bagaimana, akur?"

Lega hati Hui Lian. Bagaimana pun juga dia akan dapat membalas kekurang ajaran itu nanti. "Akur, akan tetapi engkau tidak boleh berbohong dan melanggar janji."

"Aku tidak pernah berbohong."

"Hemm, laki-laki memang paling pandai berjanji akan tetapi paling pandai pula melanggar janji sendiri!"

"Namun aku tidak. Nanti boleh kau hukum aku sesuka hatimu, Enci Lian, tetapi sekarang biarkan aku memeriksa lukamu."

Dan kini Hui Lian rebah menelungkup, memejamkan mata dan menyembunyikan muka di atas dua lengannya, membiarkan Hay Hay memeriksa lukanya. Seluruh bulu di tubuhnya meremang saat dia merasa betapa Hay Hay menyentuh lembut pinggulnya di luar celana.

"Enci Lian, celanamu harus dilepas... ehh, maksudku, harus diturunkan supaya aku dapat memeriksa keadaan luka di pinggulmu..."

"Kurang ajar kau...!" Hui Lian membentak dan dia merasa malu bukan main, akan tetapi jari-jari tangannya melepaskan tali celana itu dan dengan hati-hati dia menurunkan bagian belakang celana itu agar pinggul yang terluka itu kelihatan. Dia menggigit bibir menahan rasa nyeri dan malu.

Akan tetapi pada saat itu seluruh perhatian Hay Hay ditujukan untuk memeriksa keadaan luka. Dia melihat betapa pinggul kanan itu membengkak, merah kebiruan dan ada tiga titik hitam berjajar di situ. Dia meraba dengan sangat hati-hati, akan tetapi jari-jari tangannya tidak merasakan satu pun ujung gagang jarum, maka tahulah dia bahwa jarum-jarum itu sudah terbenam ke dalam daging pinggul!

"Enci Lian, tahanlah, tentu agak sakit, akan tetapi satu-satunya jalan untuk mengeluarkan jarum hanya begini..." Dan tiba-tiba, tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membantah karena Hay Hay tahu bahwa gadis itu tentu akan keberatan, dia cepat-cepat menundukkan mukanya dan menempelkan mulutnya di atas tiga titik hitam itu!

"Aihhh... kau... kau... keparat...!" Hui Lian berseru, akan tetapi rasa sakit yang luar biasa kini menggantikan rasa malu ketika Hay Hay sudah mengerahkan tenaga khikang untuk menyedot dengan mulutnya.

Hui Lian mengaduh dan merintih, lupa akan rasa malu betapa mulut pemuda itu sedang menempel di pinggulnya. Hay Hay melepaskan kecupannya dan meludahkan tiga batang jarum kecil hitam ke atas tanah.

"Jarum-jarum itu telah keluar, akan tetapi racunnya harus dikeluarkan sampai bersih, Enci Lian," katanya.

Dan kembali dia menyedot dengan mulutnya melalui tiga lubang kecil bekas jarum. Nyeri bukan kepalang rasanya bagi Hui Lian, akan tetapi rasa malu bersaing dengan rasa nyeri sehingga dia mampu menahan keduanya!

Setelah beberapa kali menyedot dan meludahkan darah hitam, akhirnya Hay Hay melihat darah merah keluar dari tiga lubang kecil itu, dan dia pun menghentikan penyedotannya.

"Semoga racunnya sudah keluar semua, Enci. Kini tinggal memberi obat luka."

Hay Hay mengambil obat luka berupa bubukan putih yang dibuatnya dari kulit pohon yang dikeringkan dan menaburkan bubukan itu pada luka di pinggul, kemudian memijit-mijitnya sehingga bubukan putih memasuki lubang dan menutupnya.

"Nah, selesailah sudah, Enci Lian." katanya.

Ketika Hay Hay hendak membantu menaikkan celana itu, Hui Lian segera merenggutnya dan menaikannya sendiri, lalu mengikatkan kembali tali celana. Ia lalu bangkit duduk dan tiba-tiba saja tangannya menampar muka Hay Hay sampai tiga kali.

"Plak! Plak! Plak!"

Dua kali tangan kanannya menampar pipi kiri dan satu kali tangan kirinya menampar pipi kanan pemuda itu. Begitu tiba-tiba dan keras sehingga terdengar suara nyaring dan tubuh Hay Hay terguncang ke kanan kiri, kemudian roboh!

Melihat wajah pemuda itu, Hui Lian yang merasa malu dan marah menjadi terkejut sekali. Pemuda ini seperti orang pingsan atau setengah pingsan, nampak lemah sekali. Mukanya menjadi kehitaman, juga kedua ujung bibirnya berdarah.

"Hay-te...!" Hui Lian berseru memanggil dan mengguncang-guncang pundak pemuda itu.

Namun Hay Hay kelihatan semakin lemah. Hui Lian semakin terkejut dan gelisah. Apakah tamparannya tadi demikian kuatnya? Kalau bibir pemuda itu berdarah, hal ini tidak aneh, akan tetapi mengapa Hay Hay sampai pingsan?

"Hay-te, maafkan aku... ahh, engkau sadarlah...!" katanya lagi.

Kini dia cepat-cepat melakukan pemeriksaan. Denyut nadi pemuda itu lemah sekali, dan napasnya juga memburu! Ah, ingatlah dia bahwa pemuda ini pun terluka parah. Cepat Hui Lian merobek baju di bagian dada pemuda itu, dan nampaklah betapa pada dada sebelah kanan terdapat luka yang cukup lebar dan luka itu melepuh, membengkak dan kehitaman! Racun yang jahat telah membuat luka itu menjadi parah dan berbahaya sekali! Dia harus cepat menolongnya.

Dengan amat cekatan jari-jari tangan Hui Lian membuka kancing-kancing baju itu, dengan maksud membuka baju supaya lebih mudah dia berusaha mengobati. Ketika dia hendak menanggalkan baju itu, tiba-tiba saja ada sebuah benda terjatuh keluar dari saku baju dan kebetulan sekali benda itu terjatuh ke atas dada Hay Hay, tepat di atas luka di dadanya.

Hui Lian hendak mengambil benda itu, namun dia mengeluarkan seruan kaget, menahan tangannya. Benda itu adalah sebuah batu giok berwarna belang-belang merah dan hijau dan sekarang benda yang berkilauan terkena sinar api unggun itu perlahan-lahan berubah menjadi menghitam, dan warna hitam pada luka di dada itu perlahan-lahan menghilang! Teringatlah Hui Lian tentang mustika batu giok milik Jaksa Kwan yang dirampas penjahat dan agaknya Hay Hay telah dapat merampasnya kembali. Dia pun teringat akan kata-kata jaksa tinggi itu bahwa mustika itu merupakan benda langka penawar racun!

Dengan hati girang Hui Lian memegang benda itu dan kini sengaja menggosok-gosokkan perlahan-lahan ke atas luka dan tepat seperti yang diduganya, makin digosokkan, benda itu berubah semakin menghitam, sementara luka itu pun dengan cepat sekali mengempis dan kehilangan warna hitamnya.

Hay Hay bergerak dan mengeluh. "Wah, benda apa yang dingin sekali di atas dadaku itu, Enci Lian?"

Hui Lian merasa lega bukan main melihat keadaan Hay Hay yang sudah sembuh secara cepat itu dan dia pun tersenyum. Hay Hay sampai melongo melihat Hui Lian tersenyum. Bukan main cantiknya gadis ini kalau sedang tersenyum, senyum wajar yang pertama kali dilihatnya.

"Enci Lian, engkau... cantik sekali kalau tersenyum," kata Hay Hay dan kembali berkerut alis Hui Lian. Bocah ini sungguh perayu benar, baru saja sadar dari pingsan, pertama kali yang dilakukan adalah memuji kecantikannya!

"Hay-te, engkau membawa mustika batu giok ini yang dengan mudah menyedot semua racun dari dadamu, kenapa tidak kau pergunakan ketika engkau menolong aku?"

Hay Hay bangkit duduk, memeriksa dadanya sendiri dan dia menjadi kagum. Dilihatnya batu giok itu yang kini oleh Hui Lian sudah diletakkan di atas lantai goa. Dari batu giok itu perlahan-lahan menetes cairan hitam, kemudian perlahan-lahan batu giok itu memperoleh kembali cahayanya. Warna hitam makin lenyap bersama cairan yang keluar, lalu berganti dengan warna merah hijau. Benar-benar benda mustika yang langka dan mukjijat!

"Ahh, sungguh... tadi aku lupa sama sekali tentang batu giok ini, Enci Lian. Aku... ahh..." Tiba-tiba Hay Hay memegang kepala dengan kedua tangannya karena kepala itu terasa pening dan bumi seperti terputar, akan tetapi dia memaksa diri melanjutkan, "Aku terlalu khawatir setelah memeriksa pinggulmu... eh, pinggulmu itu indah sekali dan membengkak merah kehitaman... dan keringatmu harum sekali, Enci..."

"Gila...!" Hampir saja Hui Lian menampar muka Hay Hay, akan tetapi tiba-tiba dia melihat pemuda itu terkulai dan roboh pingsan! Tentu saja Hui Lian menjadi terkejut.

"Hay-te, ada apakah...?" Dia cepat mendekat dan lebih kaget lagi setelah dia menyentuh dahi pemuda itu yang terasa panas bukan main.

Ternyata racun dari pedang Min-san Mo-ko amat jahat sehingga tadi sudah menimbulkan hawa beracun di dalam tubuh Hay Hay. Biar pun racunnya telah tersedot oleh batu giok, akan tetapi kini meninggalkan demam yang cukup hebat pada diri Hay Hay. Hal ini terjadi karena tadi Hay Hay mengerahkan khikang ketika menyedot racun dan jarum dari pinggul Hui Lian, dan pengerahan khikang ini membuat hawa beracun terdorong semakin dalam ke dadanya.

Maklum bahwa Hay Hay terserang demam, Hui Lian segera menempelkan kedua telapak tangannya pada dada Hay Hay, lantas dia membantu pemuda itu mengusir hawa beracun itu dengan pengerahan hawa sakti dari tubuhnya. Lambat laun terjadi perubahan pada diri Hay Hay. Napasnya normal kembali, wajahnya menjadi agak kemerahan dan panasnya menurun.

Hui Lian melepaskan tangannya dan membiarkan pemuda itu tertidur. Sampai lama sekali dia terus mengamati wajah pemuda itu dan hatinya semakin tertarik. Terngiang kembali di telinganya kata-kata Hay Hay yang memuji-mujinya, memuji betapa cantiknya kalau dia tersenyum, bahkan sebelum pingsan tadi masih sempat memuji bahwa pinggulnya indah dan keringatnya harum!

Hui Lian pun tersenyum ketika teringat tentang hal ini,. Bocah kurang ajar, pikirnya sambil tersenyum memandang wajah itu. Wajah yang masih kekanak-kanakan, namun sungguh sangat menarik hatinya. Jantungnya berdebar dan bergeloralah gairahnya terhadap Hay Hay. Seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, pandai merayu dan menarik hati walau pun sikapnya agak nakal dan kurang ajar.

Tanpa disadarinya lagi, tangan kirinya bergerak menyentuh dan meraba wajah pemuda itu, mengusap dagunya, bibirnya yang tadi tanpa ragu-ragu menyedot luka beracun pada pinggulnya, mulut yang tadi sampai berdarah akibat ditamparnya. Dia telah menamparnya dengan keras sesudah pemuda itu menyelamatkan nyawanya dan sesudah pemuda itu tanpa rasa jijik sedikit pun menyedot luka beracun di pinggulnya. Dia merasa terharu dan kedua matanya basah.

"Hay Hay, kau maafkan aku...," bisiknya.

Hay Hay membuka matanya, berkejap-kejap lalu bangkit duduk setelah melihat bahwa dia rebah di atas lantai goa dan gadis itu duduk bersimpuh di dekatnya.

"Enci Lian, apakah aku tertidur? Aku seperti dalam mimpi mendengar engkau berbicara kepadaku, seperti maaf-maaf begitu. Apa sih yang kau katakan, Enci Lian?"

Hui Lian tersenyum. Kadang-kadang Hay Hay bersikap kekanak-kanakan dan dia merasa seperti berbicara dengan adiknya sendiri, apa lagi mendengar pemuda itu menyebutnya Enci Lian secara demikian akrabnya.

"Tidak apa-apa, Hay-te. Tidurlah, biar aku menjagamu...!"

"Tidak, Enci Lian. Aku tidur enak-enakan sedangkan engkau yang hendak berjaga kalau ada musuh yang datang? Wah, itu terbalik namanya, Enci. Engkau seorang perempuan dan aku seorang laki-laki. Engkaulah yang tidur dan aku yang berjaga."

"Akan tetapi engkau baru saja pingsan dan demam, juga biar pun perempuan aku lebih tua, engkau kanak-kanak."

Hay Hay yang kesehatannya sudah pulih kembali lalu memandang wajah Hui Lian sambil tersenyum. "Enci yang baik, jangan katakan aku kanak-kanak, aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran sekali pun!"

"Ihhh, engkau memang ceriwis, mata keranjang, kata-katamu tak senonoh!"

Hay Hay membelalakkan matanya. "Wah, seenaknya engkau memaki aku, Enci Lian. Di bagian manakah kata-kataku yang tidak senonoh?" Dia mengingat-ingat, alisnya berkerut. "Belum banyak aku bicara padamu, hemmm... tadi aku memuji bahwa engkau cantik, dan keringatmu berbau harum dan... dan pinggulmu indah..."

"Nah, itulah! Tutup mulutmu, Hay Hay, engkau sungguh lancang dan tak tahu malu!"

"Eihhh? Kenapa, Enci? Apa salahnya kalau aku memuji sesuatu yang memang indah dan patut dipuji? Bukankah pujian itu menunjukkan kejujuranku dan tidak pura-pura? Memang mataku melihat sesuatu yang indah, mulutku langsung memuji, salahkah itu?"

"Tapi bukan... ehh, pinggul! Tidak sopan itu, menyebut-nyebutnya juga sudah tidak sopan dan harus malu!"

Hay Hay menggaruk-garuk belakang telinganya. "Lho! Kenapa tidak sopan? Apa salahnya kalau aku menyebut pinggul, pinggul, pinggul! Bukankah kita manusia ini semua memang berpinggul? Apa bedanya kukatakan pinggulmu indah, dengan matamu indah, tanganmu indah dan sebagainya?"

"Cukup! Jangan membuatku marah! Engkau masih kanak-kanak, aku lebih tua dari pada engkau, maka tidak pantas kalau engkau merayuku dengan kata-kata manis serta pujian-pujian muluk dan kotor!"

"Aku jadi makin penasaran, Enci. Maafkan, aku bukan bermaksud menghinamu. Engkau memang lebih tua, akan tetapi hanya satu dua tahun saja dan itu sama sekali tidak ada artinya. Dan aku bukan kanak-kanak! Usiaku sudah dua puluh satu tahun dan banyak pria berusia dua puluh satu sudah mempunyai dua tiga orang anak! Aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran. Dan tadi aku memujimu dengan jujur, sama sekali bukan merayu, aku hanya mengatakan apa adanya saja menurut penglihatanku!"

Melihat pemuda itu berbicara keras penuh rasa penasaran, Hui Lian berbalik menjadi geli. "Hemm, jika menurut penglihatanmu bagaimana?" tanyanya, tertarik juga karena pemuda ini jelas tidak bermaksud kurang ajar kepadanya.

Pendekar Mata Keranjang Jilid 28

SEKARANG, ketika Jaksa Kwan mendapat cuti, keluarga itu mengadakan pelesir di Telaga Tung-ting yang indah. Apa bila berpelesir di telaga ini, keluarga pembesar lain tentu akan berpesta pora dalam perahu besar, mengundang gadis-gadis penyanyi dan tukang-tukang musiknya, bahkan banyak pula yang membawa gadis-gadis pelacur. Akan tetapi Jaksa Kwan menikmati masa liburnya dengan memancing ikan di telaga, atau minum arak dan membuat sajak memuji keindahan tamasya alam di telaga itu.

Pada sore hari itu Jaksa Kwan duduk seorang diri di kepala perahu, menghadapi guci dan cawan arak, juga kertas dan alat tulis karena dia sedang minum arak dan menulis sajak. Keluarganya yang tidak besar, hanya seorang isteri dengan dua orang anak, mengaso di dalam bilik perahu besar.

Jaksa Kwan tidak bergerak bagai sebuah patung, termenung sambil menikmati keindahan dan kesunyian telaga yang amat luas itu. Dia seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian longgar sederhana, kumis dan jenggotnya terpelihara baik. Sepasang mata yang lebar itu amat berwibawa, dan di lehernya tergantung sebuah batu giok yang warnanya belang-belang merah dan hijau, indah sekali.

Dia memperoleh batu giok ini sebagai hadiah dari seorang tokoh pendekar yang merasa kagum kepadanya, dan batu giok ini merupakan sebuah pusaka yang amat langka. Kalau dipakai sebagai kalung, dapat menolak datangnya penyakit, juga batu giok itu pun dapat memunahkan segala macam racun yang bagaimana jahat pun. Di samping itu, air yang merendam batu itu semalam suntuk juga dapat merupakan obat kuat yang manjur.

Beberapa buah perahu kecil berseliweran di permukaan telaga, ada pula beberapa buah yang bergerak di dekat perahu besar Kwan-taijin. Akan tetapi pembesar ini agaknya tidak memperhatikan perahu-perahu itu, dan sama sekali tidak tahu bahwa di antara perahu-perahu itu terdapat beberapa buah perahu yang ditumpangi penjahat-penjahat besar yang sejak tadi membayanginya!

Sebuah perahu kecil yang ditumpangi tiga orang yang memegang joran pancing meluncur mendekat dan tiba-tiba dari atas perahu kecil itu melayang sesosok tubuh ke atas perahu besar. Tanpa menimbulkan guncangan, tubuh itu kini hinggap di atas dek perahu besar, di dekat Kwan-taijin yang masih duduk termenung dan sebelum Kwan-taijin sempat bergerak atau berteriak, tiba-tiba saja tubuhnya tertotok lemas dan di lain saat, tubuh pembesar itu telah dipondong oleh kakek kurus itu dan dibawa melompat ke atas perahu kecil di mana dua orang kawannya telah menanti.

Seorang pengawal yang kebetulan melihat peristiwa itu berteriak. Maka gegerlah pasukan pengawal yang hanya terdiri dari selosin orang dan menumpang di atas perahu lain yang berada di belakang perahu besar.

Akan tetapi Min-san Mo-ko yang menawan Kwan-taijin tidak peduli akan pengejaran para pengawal. Dua orang pembantunya sudah mendayung perahu kecil itu dengan cepatnya, meluncur pergi ke tengah telaga! Ketika perahu pengawal melakukan pengejaran, mereka itu dihadang oleh perahu-perahu kecil yang ditumpangi oleh Ji Sun Bi, Lam-hai Siang-mo, suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan, dan anak buah mereka.

Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena dua belas orang pengawal itu sama sekali bukan merupakan lawan berat bagi tokoh-tokoh sesat itu sehingga sebentar saja perahu kecil yang membawa Kwan-taijin lenyap tidak ada yang mengejar! Para pengawal itu pun satu demi satu terlempar ke dalam air dan melihat betapa Min-san Mo-ko berhasil melarikan Kwan-taijin, para penjahat itu pun segera melarikan diri dengan perahu-perahu mereka, tidak mau menunggu datangnya pasukan bala bantuan yang tentu akan tiba di tempat itu.

Sementara itu, setelah merasa aman dari pengejaran para pengawal, Min-san Mo-ko dan dua orang anak buahnya mendarat di tepian yang sunyi. Akan tetapi tiba-tiba saja sebuah perahu nelayan kecil meluncur dari samping, kemudian dari dalam perahu itu berkelebat bayangan orang yang meloncat naik pula ke darat, dan tahu-tahu seorang pemuda telah berdiri di depan Min-san Mo-ko. Pemuda ini bukan lain adalah Hay Hay!

Ketika dia melakukan pengejaran dan tiba di tepi telaga, Hay Hay lalu menyamar sebagai seorang nelayan karena dia melihat ada beberapa orang penjahat yang pernah dilihatnya menyerbu perkampungan suku Miao, nampak sedang berkeliaran di sana, ada pula yang menunggang perahu! Dia dapat menduga bahwa gerombolan itu tentu hendak melakukan sesuatu di tempat itu, entah apa dia tidak dapat menduga. Maka, dia pun lalu menyamar sebagai nelayan dan menyewa sebuah perahu, mendayung perahunya berkeliling sampai akhirnya dia mengenal Min-san Mo-ko bersama dua orang anak buahnya dalam sebuah perahu.

Ia tertarik sekali dan terus membayangi, melindungi mukanya dengan caping lebar. Ketika dia melihat Min-san Mo-ko meloncat ke perahu besar dan menculik seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, dan melihat betapa pasukan pengawal dihadapi oleh anak buah Min-san Mo-ko, tahulah dia bahwa tentu pria yang diculiknya itu seorang pembesar penting. Dia pun cepat mengikuti dari jauh dengan perahunya dan ketika Min-san Mo-ko membawa Kwan-taijin melompat ke darat, dia pun cepat ikut melompat dan kini berhadapan dengan Min-san Mo-ko sambil menyeringai.

"Eh, kiranya Si Dukun Lepus Min-san Mo-ko yang kembali membuat ulah! Hayo lepaskan orang yang kau cilik itu!" bentak Hay Hay.

Melihat munculnya pemuda yang kini amat lihai itu, yang bahkan pandai ilmu sihir hingga dia tidak mungkin lagi menguasainya dengan sihir, Min-san Mo-ko terkejut bukan main.

"Mundur engkau bocah setan!" bentaknya. "Atau... akan kubunuh dahulu Jaksa Kwan ini!" Dan dia pun menempelkan pedangnya pada leher Jaksa Kwan yang masih belum mampu bergerak karena tertotok. "Mundur dan jangan mengikuti kami!"

Hay Hay yang cerdik maklum bahwa setelah susah payah menculik orang, tidak mungkin Min-san Mo-ko akan membunuhnya begitu saja. Dia tak mau digertak, karena itu dia pun tertawa.

"Ha-ha-ha, Min-san Mo-ko dukun cabul! Aku sama sekali tidak mengenal orang yang kau culik itu. Mau kau bunuh atau tidak, tak ada hubungannya dengan aku, dan aku tak akan rugi. Kalau engkau mau membunuhnya, silakan, akan tetapi jangan harap aku akan dapat melepaskan engkau lagi!"

Gertakan dibalas dengan gertakan hingga Min-san Mo-ko menjadi agak bingung. Hatinya sudah khawatir sekali bertemu dengan Hay Hay dan sekarang dia bahkan digertak oleh pemuda remaja yang lihai itu. Dia tidak tahu betapa diam-diam Hay Hay merasa tegang karena pemuda ini melihat bayangan putih berkelebat yang sudah dapat diduganya siapa orangnya.

"Penjahat busuk, terimalah kematianmu!" Tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring dan bagai seekor garuda menyambar, Hui Lian telah meloncat dan menerkam ke arah tengkuk Min-san Mo-ko dengan totokan maut!

"Ihhhhh...!" Min-san Mo-ko cepat mengelak sambil membabatkan pedangnya ke belakang untuk menyambut serangan Hui Lian.

Kesempatan ini memang ditunggu-tunggu oleh Hay Hay. Dia menubruk ke depan dan di lain saat, tubuh Kwan-taijin sudah pindah ke dalam pondongannya! Min-san Mo-ko sangat terkejut, apa lagi ketika dua orang pembantunya yang maju hendak membantunya segera dirobohkan oleh Hui Lian dengan sebuah tendangan dan tamparan!

Dia pun langsung meloncat jauh dan melarikan diri tanpa menoleh lagi! Menghadapi Hay Hay seorang saja dia merasa jeri, apa lagi di situ masih muncul pemuda berpakaian putih yang juga sudah diketahui kelihaiannya.

"Terima kasih... Kok-toako," kata Hay Hay yang tidak mau menyebut enci karena di situ terdapat Kwan-taijin dan dua orang anggota gerombolan yang masih mengaduh-aduh dan memijit-mijit pundak serta kaki yang patah tulangnya.

Hui Lian tidak menjawab, melainkan bertanya tentang Kwan-taijin. "Siapakah orang ini dan mengapa dia diculik?"

Hay Hay membebaskan totokan Kwan-taijin dan setelah mampu bergerak lagi, pembesar ini segera mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada dua orang muda itu.

"Saya adalah Jaksa Kwan dari kota Siang-tan. Memang banyak penjahat yang memusuhi saya, mungkin untuk membalaskan sakit hati rekan-rekan mereka yang saya tangkap dan tuntut hingga dihukum berat. Terima kasih kepada Ji-wi Taihiap (Pendekar Besar Berdua) yang sudah menyelamatkan saya sehingga saya tidak sampai terbunuh, melainkan hanya kehilangan pusaka saya."

"Pusaka? Pusaka apa yang hilang?" tanya Hay Hay.

"Pusaka batu giok penawar segala racun yang tadi saya pakai sebagai kalung. Sayang sekali kalau pusaka yang amat langka itu terjatuh ke tangan penjahat. Dia tadi merenggut kalung itu dan disimpannya ke dalam saku. Ahh, kalau mereka mempergunakan pusaka itu untuk kejahatan, sungguh sayang sekali."

Hui Lian berkata kepada Hay Hay, "Hay-te, kau antarkan Kwan-taijin ini kembali kepada keluarganya, aku akan mengejar mereka!" Tanpa menanti jawaban lagi, sekali berkelebat tampak bayangan putih lantas lenyaplah tubuhnya, membuat Kwan-taijin menghela napas kagum.

"Marilah, Taijin, saya antar kembali ke sana," kata Hay Hay, merasa girang bukan main mendengar suara Hui Lian tadi yang nampaknya sudah tidak marah lagi kepadanya dan sebutan Hay-te (Adik Hay) tadi terdengar demikian akrab.

Keluarga Kwan-taijin merasa gembira sekali melihat pembesar itu kembali dalam keadaan selamat, kehilangan pusaka batu giok itu tidak begitu besar artinya bagi mereka. Setelah menghaturkan terima kasih kepada Hay Hay, keluarga itu cepat-cepat pulang kembali ke Siang-tan, diikuti para pengawal yang juga merasa terkejut dan cemas dengan adanya peristiwa tadi.

********************

Hay Hay segera meninggalkan tempat itu, mempergunakan ilmu berlari cepat untuk turut melakukan pengejaran pula ke arah larinya Min-san Mo-ko yang dikejar oleh Hui Lian tadi. Dia merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Hui Lian karena dia maklum betapa berbahayanya Min-san Mo-ko, apa lagi ilmu sihirnya yang akan sukar dilawan oleh Hui Lian. Dia khawatir, lebih-lebih setelah kini dia tahu bahwa Hui Lian adalah seorang wanita! Seorang gadis yang cantik jelita dan... harum bau keringatnya!

Kekhawatirannya bertambah ketika dia tiba di luar sebuah hutan dan masih belum juga dapat menemukan jejak mereka, baik jejak Min-san Mo-ko dan teman-temannya mau pun jejak Hui Lian. Dia teringat akan dua orang yang tadi terluka oleh Hui Lian, maka cepat dia berlari seperti terbang menuju ke tepi telaga yang tadi. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan mereka yang hanya bisa berjalan perlahan-lahan karena salah seorang di antara mereka menderita patah tulang kaki kirinya sehingga hanya mampu berjalan terpincang-pincang. Ketika melihat Hay Hay yang tiba-tiba muncul, mereka terkejut bukan main dan langsung menggigil ketakutan!

Hay Hay tak mau membuang waktu lagi. Segera dia mengerahkan ilmu sihirnya, menatap tajam dan berkata dengan suara yang sangat berwibawa, "Aku ingin kalian mengatakan di mana sarang Min-san Mo-ko. Apa bila kalian berbohong, awas! Lihat, aku dapat menjadi seorang raksasa yang akan mengganyang habis kalian!"

Dua orang itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat, tubuh mereka menggigil dan mereka berdua jatuh berlutut ketika melihat betapa pemuda yang berada di depan mereka itu benar-benar telah berubah menjadi seorang raksasa yang mukanya amat mengerikan, mulutnya lebar terbuka dan penuh dengan taring yang runcing!

"Ampun... ampunkan kami... kini Min-san Mo-ko pasti berada di dalam kuil Pek-lian-kauw yang terdapat di dalam hutan... di lereng bukit sana..."

Tanpa menanti keterangan lebih lanjut karena sudah cukup baginya, Hay hay berkelebat lenyap dari depan kedua orang itu yang terjungkal pingsan saking takutnya. Kini Hay Hay berlari cepat menuju ke bukit itu dan ketika dia memasuki hutan yang berada di lereng bukit itu, sore telah larut dan cuaca di dalam hutan mulai remang-remang.

Tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata dari tengah hutan. Jantungnya segera berdebar tegang dan dia pun langsung berlompatan ke arah datangnya suara berkelahi itu. Tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil tua dan di situ dia melihat Hui Lian yang memegang pedang sedang dikeroyok oleh banyak orang!

Tentu saja Hui Lian terdesak hebat karena pengeroyoknya adalah Min-san Mo-ko, kedua pasangan suami isteri iblis, dan masih ada pula beberapa orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai! Tidak nampak iblis betina Ji Sun Bi di situ.

Diam-diam Hay Hay merasa lega bahwa Hui Lian belum terluka walau pun dia terdesak hebat. Agaknya gadis ini sudah melindungi dirinya dengan sinkang dan khikang sehingga tak akan mudah dipengaruhi sihir Min-san Mo-ko dan dengan gigihnya dia masih mampu membuat perlawanan.

"Toako, aku datang membantumu!" teriak Hay Hay dan dia pun mencabut sebuah suling dari pinggangnya, lalu terjun ke dalam perkelahian itu dengan suling di tangan.

"Hay-te, cepat ke sini, kita saling melindungi!" kata Hui Lian sambil memutar pedangnya.

Hay Hay yang maklum betapa bahayanya musuh-musuh itu, segera membuka kepungan dengan putaran sulingnya. Terdengar suara senjata beradu, lantas dua orang anak buah gerombolan itu terjengkang. Hay Hay melompat masuk dan sekarang telah berdiri beradu punggung dengan Hui Lian, memutar suling dan menangkis senjata-senjata yang datang menyambar, juga dia menggunakan tangan kiri mendorong ke kanan kiri dan pihak lawan yang kurang kuat tentu langsung terdorong mundur sehingga mereka merasa kaget dan jeri terhadap pemuda yang baru muncul ini.

Kini legalah hati Hui Lian karena tadi dia sudah kewalahan dan kalau Hay Hay terlambat datang, bukan tak mungkin dia akan segera roboh, tertawan atau tewas. Hatinya merasa gembira dan jantungnya berdebar aneh setiap kali pinggulnya menyentuh Hay Hay dalam gerakan mereka yang saling melindungi.

Mereka berdua segera mengamuk dan setelah banyak anak buah gerombolan roboh oleh pedang Hui Lian dan suling di tangan Hay Hay, mereka menjadi jeri dan kini yang masih mengeroyok hanya tinggal Min-san Mo-ko, dua pasang suami isteri dari selatan, ditambah lima orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan bersenjata tongkat panjang.

Beberapa kali tosu dan juga Min-san Mo-ko mencoba ilmu sihir mereka, namun berkat kekuatan sihir Hay Hay, semua serangan mereka tidak mempan. Juga Hay Hay tidak mau mencoba ilmu sihirnya, maklum bahwa dia takkan berhasil karena selain Min-san Mo-ko, di situ terdapat lima orang tosu yang kesemuanya memiliki ilmu sihir yang cukup kuat!

Walau pun kedua orang muda itu dikeroyok sepuluh orang pandai, namun mereka sama sekali tidak merasa gentar, juga tidak terdesak, walau pun bagi mereka berdua pun tidak mudah untuk dapat melukai para pengeroyok yang lihai itu. Selagi Hay Hay berniat untuk mengajak kawannya melarikan diri, tiba-tiba muncul dua orang di pihak para pengeroyok. Mereka itu bukan lain adalah Ji Sun Bi, wanita cabul itu, beserta seorang pemuda yang tampan dan sikapnya gagah.

Ji Sun Bi segera membantu para pengeroyok, menyerang Hui Lian, sedangkan pemuda gagah itu menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya perak mengeroyok Hay Hay. Ketika menangkis cahaya perak itu dengan sulingnya, dia kaget bukan main.

Pemuda yang baru datang ini memiliki sinkang yang amat kuat, dan pedang iu pun sangat bebrahaya karena ujung sulingnya terbabat putus! Kiranya pemuda itu seorang yang amat lihai dan memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh. Secara diam-diam Hay Hay mengeluh. Dengan munculnya pemuda ini dan Ji Sun Bi, jelas bahwa kedudukan dia dan Hui Lian terhimpit dan berat sekali.

Di lain pihak, dengan munculnya Ji Sun Bi yang meyerang dengan siang-kiam (sepasang pedang), Hui Lian juga merasa berat dan repot. Wanita cabul itu memang lihai, lebih lihai kalau dibandingkan suami isteri iblis atau para tosu Pek-lian-kauw. Maka kemunculannya membuat Hui Lian terdesak dan hanya mampu menangkis saja, sedikit sekali mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Kini dia dan Hay Hay dikeroyok dua belas orang dan pada waktu dia melirik melalui sudut matanya, dia melihat betapa pemuda yang datang bersama Ji Sun Bi itu pun ternyata lihai bukan main.

"Toako, mari kita pergi!" tiba-tiba terdengar Hay Hay berseru.

Dan tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak. Suara tawanya sampai menimbulkan gema, demikian dalam penuh wibawa. Para pengeroyok terkejut sekali dan tanpa mereka sadari, mereka pun kini tertawa semua, terseret oleh arus yang sangat kuat dari getaran suara ketawa Hay Hay. Kesempatan ini digunakan oleh Hay Hay untuk menyambar lengan Hui Lian lantas diajaknya meloncat keluar dari kepungan!

Pada saat para lawan terpengaruh sihirnya dan tertawa, Hay Hay yang memegang lengan Hui Lian melompat keluar. Akan tetapi hanya sebentar saja Min-san Mo-ko terpengaruh, demikian pula lima orang tosu Pek-lian-kauw. Min-san Mo-ko sudah menubruk ke depan dengan pedangnya yang menyambar ke arah leher belakang Hay Hay.

Pemuda ini mengelak dengan memutar tubuhnya. Dia melihat benda mencorong di dada Min-san Mo-ko. Batu giok milik Kwan-taijin! Hay Hay lalu menusukkan sulingnya ke arah mata Min-san Mo-ko, akan tetapi tangan kirinya menyambar dan dia berhasil merampas batu giok yang dikalungkan pada leher Min-san Mo-ko. Pada saat itu pula lima orang tosu Pek-lian-kauw sudah menubruknya!

Hui Lian segera membantunya dengan putaran pedang sehingga tongkat para tosu dapat ditangkis. Akan tetapi pada saat itu ada sinar hitam menyambar, dan Hui Lian mengeluh lantas terhuyung. Dia telah diserang dari belakang dengan jarum beracun oleh Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum Sakti, iblis betina dari Goa Iblis Pantai Selatan. Tiga batang jarum kecil memasuki pinggul kanan tanpa dapat ditangkisnya sama sekali sehingga tubuhnya terhuyung dan sebelah kakinya seperti lumpuh.

Pada saat itu pula Hay Hay cepat menyambar tubuh Hui Lian dengan tangan kiri, ada pun sulingnya diputar cepat. Dua orang tosu Pek-lian-kauw terjungkal roboh, akan tetapi ujung pedang di tangan Min-san Mo-ko juga menyerempet dada Hay Hay, merobek baju berikut kulit dan daging di dada kanannya.

"Kami tidak ada waktu melayani kalian. Kami pergi, kami menghilang dan kalian tak dapat melihat kami lagi!" terdengar Hay Hay berseru, kini mengerahkan seluruh tenaga sihirnya.

Sekali ini dia berhasil baik karena semua musuhnya tiba-tiba menjadi bingung ketika Hay Hay dan Hui Lian lenyap. Beberapa kali Min-san Mo-ko beserta para tosu Pek-lian-kauw mengeluarkan bentakan-bentakan untuk memunahkan pengaruh sihir itu, hingga akhirnya mereka berhasil juga menyingkirkan pengaruh itu.

Akan tetapi, ketika semua orang sudah sadar dan mengejar keluar ruangan depan, yang terlihat hanya bayangan kedua orang musuh itu memasuki hutan yang telah menjadi amat gelap. Mengingat akan lihainya dua orang itu, mereka tidak berani melakukan pengejaran di dalam gelap karena hal itu berbahaya sekali bagi mereka.

Min-san Mo-ko membanting-banting kakinya. "Keparat jahanam! Mereka dapat lolos!" Dia mengutuk.

"Jangan khawatir, Mo-ko," kata Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. "Pemuda berpakaian putih itu telah kuhadiahi tiga batang jarum beracunku, tentu dia tidak akan mampu berlari jauh dan akan mampus juga."

"Dan aku melihat tadi pedangmu juga telah melukai dada Hay Hay," kata Ji Sun Bi kepada suhu-nya dengan suara menghibur. "Tentu dia tidak akan terlepas dari maut pula karena pedangmu yang beracun."

Akan tetapi ucapan kedua orang wanita itu agaknya bahkan menambah kejengkelan hati Min-san Mo-ko. "Semoga semua iblis mengutuk mereka!" katanya dengan muka merah dan mata melotot. "Apa artinya luka-luka oleh jarum dan pedang beracun apa bila mereka memiliki batu giok mustika itu?"

"Apa? Jadi batu giok itu terampas oleh mereka?"

"Hay Hay keparat itu yang merampasnya dari leherku. Besok sesudah terang tanah kita harus melakukan pengejaran. Pemuda itu memang harus dibunuh, jika tidak, kelak hanya akan mendatangkan gangguan saja bagi kita. Ahh, bagaimana kita akan bisa menghadap Giam-lo kalau begini? Jaksa Kwan lolos, dan sekarang mustika batu giok juga terampas orang." Min-san Mo-ko kelihatan marah dan juga bingung, takut akan kemarahan Lam-hai Giam-lo yang menjadi pimpinan mereka.

Pemuda tampan yang tadi muncul bersama Ji Sun Bi kini melangkah maju dan berkata kepada Min-san Mo-ko, "Mo-ko, kenapa susah amat? Sungguh memalukan jika kita yang begini banyak sampai tidak mampu membekuk bocah itu. Biarlah aku yang akan mencari dan membekuk mereka, atau setidaknya merampas kembali mustika batu giok itu."

Min-san Mo-ko memandang pada pemuda itu. Seorang pemuda yang usianya juga masih muda, sebaya dengan Hay Hay, dan pemuda ini pun mempunyai ilmu kepandaian yang hebat! Dia sendiri sudah mengujinya dan memang pemuda ini patut menjadi sekutunya yang boleh diandalkan, biar pun pemuda ini tidak memiliki ilmu sihir. Dalam hal ilmu silat, agaknya dia sendiri pun belum tentu akan mampu mengalahkannya!

"Besok pagi kita beramai-ramai akan mencari mereka!" Dia hanya dapat berkata demikian karena dia juga tidak berani bersikap kasar atau keras terhadap pemuda yang baru saja menjadi sekutu mereka ini,.

"Tentang mustika batu giok itu, agaknya Giam-lo juga tidak akan terlalu menyesal karena sebagai gantinya, dia mendapatkan Sim-kongcu sebagai sahabat, dan Sim-kongcu sudah berjanji akan menghadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebuah benda mustika yang tidak kalah langkanya kalau dibandingkan dengan mustika batu giok itu," kata Ji Sun Bi sambil menggandeng tangan pemuda itu dan mengerling dengan sikap manja.

Pemuda yang disebut Sim-kongcu (Tuan Muda Sim) itu hanya tersenyum, lantas berkata dengan suara yang jelas membayangkan kebanggaan dirinya. "Batu giok penawar racun seperti itu saja kiranya tak perlu diperebutkan. Aku memiliki sebuah cawan arak yang bisa dipakai mengenal minuman atau makanan beracun. Cawan itu akan kuhadiahkan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai tanda persahabatan, dan kelak dapat dipakai sebagai pengganti mustika batu giok yang tak berhasil lita rampas itu"

Hati Min-san Mo-ko menjadi agak lega ketika mendengar janji ini. Setidaknya kemarahan Lam-hai Giam-lo akan berkurang jika dia mendapat seorang pembantu selihai pemuda ini sebagai pengganti mustika batu giok itu, apa lagi ditambah dengan sebuah cawan pusaka yang langka.

Oleh karena itu, ketika pada keesokan harinya mereka tak berhasil menemukan jejak Hay Hay dan Hui Lian, Min-san Mo-ko mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu dan pergi menghadap Lam-hai Giam-lo untuk memberi laporan.

Siapakah pemuda lihai yang sekarang agaknya baru saja bersekutu dengan gerombolan itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, atau tadinya memakai she Ciang ketika berguru kepada Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah.

Seperti sudah kita ketahui, dengan siasat yang sangat cerdik, ketika berusia empat belas tahun Sim Ki Liong berhasil menjadi murid Pendekar Sadis dan isterinya karena dia amat pandai membawa diri, memperlihatkan diri sebagai seorang pemuda yang sopan santun, berbakti dan juga sangat berbakat. Suami isteri pendekar yang biasanya amat cerdik itu dapat dikelabui dan dia pun mendapat pelajaran ilmu silat yang hebat dari suami isteri itu selama enam tahun.

Suami isteri itu tak pernah melihat kelakuan buruk Ki Liong selama menjadi murid mereka dan tinggal di pulau itu, sampai kemudian datang puteri serta cucu perempuan mereka, yaitu Ceng Sui Cin dan Cia Kui Hong. Berkobarlah nafsu birahi dalam diri Ki Liong ketika dia melihat Kui Hong dan hampir tak tertahankan lagi sehingga dia pun bersikap ceriwis dan kurang ajar terhadap Kui Hong sehingga terjadi keributan.

Agaknya karena memang sudah merasa pandai dan tidak betah lagi tinggal di pulau itu, setelah terjadi keributan dengan Kui Hong yang menolak keinginannya untuk bermesraan, Ki Liong lalu minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa beberapa buah benda pusaka dan juga harta dari pulau itu, milik Pendekar Sadis dan isterinya!

Di antara benda-benda pusaka itu, dia juga membawa pergi Gin-hwa-kiam milik Pendekar Sadis dan sebuah cawan pusaka yang amat langka karena minuman atau makanan apa saja yang mengandung racun, bila mana ditaruh di dalam cawan, lalu akan nampak tanda hijau pada cawan perak itu!

Demikianlah, setelah meninggalkan pulau secara minggat, Ki Liong mencari ibunya yang tinggal di sebuah dusun. Hanya beberapa hari saja dia tinggal di situ. Sesudah rasa rindu pada ibunya terobati, maka mulailah dia merantau untuk mencari musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya.

Menurut ibunya, pembunuh ayahnya itu bernama Siangkoan Ci Kang yang dahulu masih terhitung saudara seperguruan dengan ayahnya yang bernama Sim Thian Bu. Menurut cerita ibunya, Siangkoan Ci Kang adalah seorang laki-laki yang berkepandaian tinggi dan lengan kirinya buntung sebatas siku.

Tidak sukar mencari orang yang buntung lengan kirinya, apa lagi kalau orang itu seorang ahli silat yang lihai. Tentu akan mudah dia mencari keterangan di dunia kang-ouw, karena Si Lengan Buntung yang lihai itu tentu dikenal oleh banyak orang kang-ouw.

Akan tetapi ternyata harapannya sia-sia belaka dan dugaannya meleset. Memang banyak orang mendengar nama Siangkoan Ci Kang, putera dari mendiang Siangkoang Lojin yang berjuluk Si Iblis Buta, akan tetapi semenjak belasan tahun sampai dua puluh tahun yang lalu, nama Siangkoan Ci Kang tidak pernah muncul lagi di dunia kang-ouw dan tidak ada seorang pun tokoh kang-ouw yang tahu di mana adanya jagoan itu.

Hal ini tidaklah aneh karena waktu itu Siangkoan Ci Kang bersama Toan Hui Cu memang bersembunyi di dalam kuil Siauw-lim-si, menjadi orang-orang hukuman sehingga mereka berdua itu seolah-oleh lenyap dari dunia kang-ouw, bahkan dunia ramai.

Ki Liong tidak putus asa dan terus mencari sehingga akhirnya dia tiba di daerah Propinsi Hu-nan dekat Telaga Tung-ting di mana dia berjumpa dengan Ji Sun Bi. Dan seperti kita ketahui, setelah tak mampu mengalahkan Hay Hay dan Hui Lian, Ji Sun Bi juga melarikan diri bersama teman-temannya.

Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka lalu berkumpul di dalam kuil tua di mana terdapat para tosu Pek-lian-kauw yang menjadikan kuil itu sebagai tempat persembunyian mereka untuk sementara waktu. Memang di antara para anggota gerombolan itu dengan Pek-lian-kauw sudah terjalin hubungan baik, apa lagi kalau diingat bahwa Min-san Mo-ko sendiri adalah bekas seorang tokoh Pek-lian-kauw.

Ji Sun Bi tidak betah tinggal di kuil tua yang buruk itu, sebab itu dia pun berkeliaran keluar kuil dan mendaki bukit itu, keluar dari dalam hutan. Dan di puncak bukit inilah dia melihat seorang pemuda yang amat menarik hatinya.

Seperti biasanya, setiap kali berjumpa dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah, maka tergeraklah hati Ji Sun Bi dan gairahnya pun timbul. Melihat pemuda itu melangkah seorang diri dari atas puncak bukit menuju turun, Ji Sun Bi cepat-cepat mencubit pahanya sendiri sampai kain celananya robek dan kulit pahanya membiru, kemudian dia rebah di atas tanah di dekat jalan setapak sambil merintih-rintih.

Ketika berjalan seenaknya menuruni bukit itu, tentu saja Ki Liong dapat melihat seorang wanita yang rebah miring di atas tanah sambil merintih-rintih itu. Dia terkejut sekali, lantas dengan beberapa lompatan saja dia sudah menghampiri wanita itu.

Wanita itu sangat cantik manis. Mukanya bulat dan kulitnya putih mulus, tubuhnya padat dan menggairahkan. Sepasang pedang yang melintang pada punggungnya menunjukkan bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan.

"Aduhh... aughh... aduuhh...," Ji Sun Bi merintih-rintih, pura-pura tidak melihat orang yang datang menghampirinya.

"Toanio, siapakah engkau dan apakah yang telah terjadi?" tanya Ki Liong kepada wanita yang dia takisr usianya tentu beberapa tahun lebih tua darinya biar pun masih cantik dan menarik sekali.

Ji Sun Bi menoleh dan seolah-olah baru melihat Ki Liong. Tiba-tiba saja dia bangkit duduk kemudian meloncat berdiri dengan kaki terpincang, memasang kuda-kuda dan memegang gagang pedangnya.

"Engkau siapa...?!" bentaknya seperti orang khawatir yang sedang menghadapi seorang musuh dalam keadaan terluka.

Ki Liong tersenyum hingga Ji Sun Bi yang mata keranjang itu merasa jantungnya jungkir balik melihat betapa tampannya pemuda ini kalau tersenyum.

"Toanio, jangan salah duga. Aku bukan musuhmu, tadi aku hanya kebetulan saja melihat engkau rebah di sini sambil merintih kesakitan. Apakah engkau sakit, Toanio? Barang kali aku dapat menolongmu...?"

"Tidak! Engkau tentu seorang musuh!" kata Ji Sun Bi.

Dan tiba-tiba saja dia menyerang dengan kedua tangannya, menggunakan jurus pukulan yang sangat ampuh. Tangan kirinya menotok ke arah leher sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung.

Serangan yang hebat ini dilakukan Ji Sun Bi bukan untuk mencelakakan orang, melainkan untuk menguji apakah pemuda ini seorang yang mempunyai kepandaian silat seperti yang diduganya, melihat cara pemuda itu tadi berlompatan menghampirinya. Kalau pemuda ini tidak pandai silat, atau tak begitu pandai sehingga jurusnya ini terlalu berbahaya baginya, tentu dia akan menarik kembali tangannya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ji Sun Bi ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan membuat gerakan aneh dengan dua tangannya dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh pemuda itu! Sepasang lengan pemuda itu tadi bergerak sedemikian cepatnya seperti dua ekor ular saja, mendahului serangannya. Serangannya disambut oleh serangan pula dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya sudah di pegang dan dia tidak berdaya!

Ki Liong memperlebar senyumnya. "Aku bukan musuhmu! Tidak mungkin pula aku mau bermusuhan dengan orang secantik engkau. Aku lebih suka kalau bersahabat denganmu, Toanio," kata Ki Liong, baru kemudian dia melepaskan pegangannya.

Ji Sun Bi yang merasa terkejut, heran dan juga girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda ini ternyata lihai bukan main dan juga ingin bersahabat, lalu sengaja terhuyung dan terpincang kemudian rebah pula, seolah-olah kaki kanannya menjadi lumpuh.

"Aduuuhhh...!"

Kembali Ki Liong sudah berlutut di dekatnya. "Engkau kenapakah, Toanio? Apanya yang sakit?"

Ji Sun Bi berlagak menahan sakit dan menggigit bibirnya, kemudian berkata dengan alis berkerut, "Aku dan kawan-kawan... baru saja berkelahi dengan musuh, dan aku terluka... pada paha kananku, aduuhh...!" Dan dia pun memijit paha kananya.

Ki Liong merasa kasihan. "Bolehkah aku memeriksa lukamu, Toanio? Mungkin aku dapat menolongmu sebab aku membawa obat yang amat manjur untuk menyembuhkan luka..."

Ji Sun Bi mengangguk dan Ki Liong lalu memeriksa paha kanan itu. Dia membuka kain celana yang terobek cukup lebar sehingga nampaklah paha yang mulus karena kulitnya putih mulus, akan tetapi ada nampak biru kemerahan bekas cubitan. Setelah memeriksa dengan teliti, Ki Liong hampir tertawa, akan tetapi dia cukup cerdik untuk menahannya.

Paha itu tidak apa-apa, hanya kulit paha yang halus hangat itu saja yang membiru bekas cubitan. Akan tetapi dia lalu mengelus paha itu dan jantungnya berdebar penuh gairah. Wanita ini cantik sekali, tubuhnya padat dan pahanya demikian mulus!

"Lukanya tidak parah, Toanio, akan segera sembuh sesudah kuurut dan kupijit," kata Ki Liong sambil mengelus-elus kulit paha yang membiru itu.

Diam-diam Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Jelas ada tanda-tanda bahwa pemuda ini menyambut dan suka kepadanya, seorang pemuda yang tampan dan gagah, bahkan dia menduga pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi! Ketika pahanya dielus seperti itu, ingin dia langsung saja merangkul pemuda itu, akan tetapi ditahannya karena dia tidak mau gagal, seperti yang pernah terjadi dengan Hay Hay.

"Terima kasih, ahhh... terasa nyaman sekarang..."

Ki Liong tersenyum, elusan tangannya semakin berani. "Enak...?"

"Enak sekali, terima kasih, nyerinya sudah hampir hilang... ahh, sobat yang baik, engkau tadi begitu mudah menangkap kedua pergelangan tanganku. Engkau yang lihai dan baik hati ini, siapakah engkau?"

Tanpa melepas jari-jari tangannya yang mengelus dan membelai, Ki Liong menatap wajah manis itu sambil menjawab. "Namaku Sim Ki Long, aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini dan bertemu denganmu, Toanio..." Dia memandang paha itu dan melihat kulit paha yang demikian putih mulus, demikian hangat terasa di tangannya, Ki Liong lantas menunduk dan mencium paha itu.

Makin keras jantung Ji Sun Bi berdegup dan mukanya menajdi kemerahan, tanda bahwa nafsunya sudah naik ke kepala. Sungguh beruntung, pikirnya, sekali ini dia menemukan seorang pemuda yang begini hebat dan menyenangkan!

"Sim-kongcu... engkau tentu seorang pemuda bangsawan atau hartawan. Engkau jangan menyebut Toanio kepadaku karena aku belum... belum menikah, ehh, namaku Sun Bi, Ji Sun Bi..." Suara Sun Bi sudah tidak karuan karena napasnya semakin memburu.

"Baiklah, Enci Sun Bi. Wah, engkau cantik sekali..."

Sun Bi tidak dapat menahan dirinya lagi lalu tiba-tiba dia memeluk dan mencium pemuda itu. Hati Sun Bi semakin gembira ketika pemuda itu membalas ciumannya. Dia mendapat kenyataan betapa canggung pemuda ini melakukan hal itu, menandakan bahwa pemuda yang menarik hatinya ini adalah seorang pemuda yang belum memiliki pengalaman sama sekali.

Dia segera menarik pemuda itu rebah di atas rumput, dan kegembiraannya makin besar saat dia mendapat kenyataan bahwa dia bertemu dengan seorang perjaka tulen! Dengan penuh gairah dan kesukaan hati dia pun lalu mengajar dan membimbing pemuda itu untuk memuaskan birahi dan gairah mereka. Dan di dalam hal ini, tentu saja Sun Bi merupakan seorang guru yang amat pandai dan berpengalaman bagi Ki Liong!

Tak lama kemudian, dengan hati yang girang sekali, seperti menemukan sebuah mustika yang amat hebat, Ji Sun Bi sudah menggandeng tangan Ki Liong dan diajaknya pemuda ini menemui Min-san Mo-ko serta yang lain-lainnya, memperkenalkan pemuda itu sebagai sahabat barunya, sebagai kekasihnya!

"Suhu, Sim Ki Liong adalah sahabat baikku yang boleh dipercaya dan jangan dipandang rendah karena dia amat lihai. Ilmu kepandaiannya tidak kalah dibandingkan dengan siapa pun juga, dan andai kata dia membantu kita dalam menghadapi dua orang musuh itu, tentu pihak kita tidak akan kalah!"

Ji Sun Bi adalah murid merangkap kekasih Min-san Mo-ko, akan tetapi Iblis dari Min-san ini tidak merasa cemburu melihat Sun Bi yang gila lelaki itu mendapatkan kekasih baru. Namun diam-diam dia merasa tidak senang mendengar ucapan Sun Bi yang memuji-muji Ki Liong dan mengatakan bahwa pemuda ini tidak akan kalah dibandingkan dengan siapa pun juga. Ucapan itu seperti merendahkan dirinya, seolah-olah dia sendiri pun tentu kalah oleh pemuda yang menjadi kekasih Sun Bi ini. Dia merasa penasaran dan ingin menguji sampai di mana kebenaran pujian Sun Bi.

"Benarkah demikian? Jika memang Sim-kongcu benar-benar lihai dan dapat menahanku sampai sepuluh jurus, sungguh aku merasa girang sekali karena kita telah mendapatkan seorang sekutu baru yang boleh diandalkan."

Ki Liong memiliki watak yang tinggi hati. Merasa bahwa dia adalah murid Pendekar Sadis dan isterinya, dia merasa seakan-akan kepandaian silatnya sudah paling tinggi dan tidak ada lawannya! Oleh karena itu, kini dia pun memandang rendah kepada orang tua yang diperkenalkan oleh Sun Bi sebagai gurunya dan yang bernama Min-san Mo-ko itu.

Kini semua orang sudah berkumpul di situ, ingin sekali melihat pimpinan mereka menguji kepandaian pemuda yang baru tiba itu, juga anak buah gerombolan itu berkumpul di situ dengan hati tegang. Setelah memandang ke sekelilingnya, Ki Liong menghampiri Min-san Mo-ko dan dengan lantang berkata,

"Mo-ko, aku pun ingin sekali mengetahui apakah engkau mampu mengalahkan aku dalam sepuluh jurus, karena kalau begitu halnya, engkau bukan hanya pantas menjadi pimpinan kelompok ini, bahkan pantas menjadi guruku!"

"Bagus!" Min-san Mo-ko menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu dia telah berdiri di depan Ki Liong. "Orang muda, sambutlah seranganku!" Dan dia pun segera menyerang dengan amat ganasnya, menyambung suaranya yang melengking tadi. Tangannya bergerak cepat sekali mencengkeram ke arah kepala Ki Liong, disusul tendangan ke arah pusar.

"Hemmm...!" Ki Liong masih tenang saja dan dengan sangat mudah dia miringkan tubuh mengelak, sedangkan tendangan itu ditangkisnya dengan tangan terbuka. Tendangan itu mental dan kedua pihak kini maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat!

Jurus pertama gagal, lalu disusul jurus kedua dan makin lama serangan Min-san Mo-ko menjadi semakin dahsyat dan berbahaya. Namun bukan saja Ki Liong mampu mengelak dan menangkis, bahkan tiga kali dia mampu membalas dengan serangan yang tentu akan mencelakakan diri Min-san Mo-ko jika saja Ki Liong tidak menahan dan menarik kembali serangannya sambil tersenyum.

Jurus ke sepuluh merupakan serangan paling hebat. Tubuh Min-san Mo-ko melayang ke depan, tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah pelipis kanan lawan, ada pun tangan kanannya mencengkeram ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling lemah dan berbahaya bagi seorang pria. Ji Sun Bi sampai mengeluarkan jerit tertahan ketika melihat kekasihnya terancam demikian hebatnya!

Namun Ki Liong masih tetap tersenyum saja, kakinya bergeser dan lutut kirinya terangkat melindungi bawah pusar, tangan kanannya meluncur bagaikan ular mematuk menyambut totokan ke pelipisnya, dan tangan kirinya sudah menyelinap masuk dan tahu-tahu sudah menyentuh ulu hati di dada Min-san Mo-ko!

Tentu saja Min-san Mo-ko terkejut bukan main dan dia pun sudah cepat meloncat jauh ke belakang, mukanya agak pucat karena dia maklum bahwa jika pemuda itu menghendaki, sekarang dia sudah menjadi mayat atau setidaknya akan terluka parah. Tak disangkanya bahwa bukan saja pemuda itu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan berkali-kali mampu membalas dan yang terakhir kalinya malah memperlihatkan keunggulannya!

Dia lantas mengangguk-angguk. "Sim-kongcu memang hebat! Sun Bi tidak salah memilih kawan dan kami merasa girang sekali mendapatkan seorang sekutu seperti Sim-kongcu. Lam-hai Giam-lo tentu akan girang pula menerimamu, Sim-kongcu."

Tentu saja Ji Sun Bi girang dan bangga sekali. Wanita ini segera merangkul dan mencium mulut Ki Liong begitu saja di depan demikian banyak orang! Tentu saja Ki Liong menjadi gelagapan dan mukanya menjadi merah, akan tetapi Sun Bi langsung menarik tangannya dan diajak keluar dari kuil, diikuti suara ketawa para anggota gerombolan itu.

Seperti sedang mendapatkan barang mainan baru yang sangat menarik hatinya, Ji Sun Bi mengajak Ki Liong menjauhi kuil dan bersenang-senang sepuas hatinya dengan pemuda itu. Di lain pihak, Ki Liong baru saja terjun ke dalam dunia yang baru ini, merasa senang sekali mendapatkan seorang kawan, kekasih dan juga guru dalam permainan cinta yang demikian pandai dan berpengalaman seperti Ji Sun Bi.

Ketika senja itu Hay Hay beserta Hui Lian menyerbu kuil dan Hay Hay berhasil merampas mustika batu giok, barulah Ji Sun Bi dan Ki Liong muncul dan mereka segera membantu sehingga dua orang lawan itu akhirnya melarikan diri.

Ki Liong lalu berjanji akan memberikan hadiah cawan arak pusaka untuk diberikan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai pengganti mustika batu giok yang telah lenyap dirampas lawan. Memang pemuda ini memiliki beberapa benda pusaka yang langka, yaitu yang dicurinya dari Pulau Teratai Merah.

Dengan munculnya Sim Ki Liong maka pihak gerombolan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo menjadi semakin kuat, dan hal ini merupakan ancaman bagi keamanan, juga bagi para pendekar. Sim Ki Liong sendiri mengharapkan untuk memperoleh bantuan kawan-kawan barunya dalam mencari musuh besarnya, yaitu Siangkoan Ci Kang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Goa itu lebar sekali, lebar mulutnya tak kurang dari sepuluh tombak dan dalamnya empat tombak, walau pun bagian depannya tertutup batu-batu besar dan jalan masuk ke dalam goa itu hanya sebesar tubuh orang saja, itu pun masih tertutup semak-semak sehingga jarang ada orang luar yang mengetahui bahwa di balik semak-semak itu terdapat sebuah goa yang demikian lebarnya. Juga goa itu tidak gelap karena di bagian atasnya terdapat lubang besar dari mana sinar matahari dapat masuk. Maka tidak mengherankan apa bila gerombolan Min-san Mo-ko tak dapat menemukan dua orang buronan yang bersembunyi di dalam goa itu.

Sebelum terpaksa melarikan diri bersama Hui Lian, di dalam perantauannya dulu secara kebetulan Hay Hay pernah menemukan goa ini. Oleh karena itu ketika mereka melarikan diri membawa luka yang cukup parah karena mengandung racun, dia mengajak Hui Lian memasuki goa itu dan bersembunyi.

Tentu saja malam itu di dalam goa amat gelapnya. Mereka tidak dapat saling memeriksa luka, dan sesudah masuk ke dalam serta membetulkan lagi semak-semak dari sebelah dalam agar menutupi lubang goa, Hay Hay segera bertanya,

"Bagaimana, Enci Hui Lian, parahkah luka yang kau derita ini?" Di dalam suara Hay Hay terkandung kekhawatiran besar karena ketika melarikan diri tadi, wajah Hui Lian nampak pucat dan larinya kadang terhuyung.

Di dalam kegelapan goa itu Hui Lian lantas meraba pinggul kanannya, dan dia menahan rintihannya. Pinggul kanan itu sekarang membengkak dan rasanya panas, gatal dan sakit bukan main.

"Pinggul kananku... agaknya terkena jarum-jarum berbisa," katanya. Akan tetapi dia pun lalu teringat akan keadaan Hay Hay sendiri yang juga terluka dadanya. "Dan bagaimana dengan luka di dadamu, Hay-te?"

Hay Hay merasa betapa luka di dadanya juga sangat parah, walau pun ujung pedang itu hanya menggores serta merobek kulit dan daging, tidak sampai memasuki rongga dada, namun karena ujung pedang itu mengandung racun, kini lukanya sudah membengkak dan rasanya panas bukan main hingga menembus ke seluruh tubuhnya! Akan tetapi temannya itu sedang terluka parah, tidak baik kalau dibuat khawatir pula.

"Ahh, kulit dadaku hanya tergores sedikit, tidak apa-apa, Enci Lian. Akan tetapi luka pada pinggulmu itu... ahh, apakah jarum-jarum itu sudah kau cabut?"

"Mana bisa mencabutnya? Jarum-jarum itu masuk ke dalam!" kata Hui Lian agak khawatir juga karena saat meraba dengan jari-jari tangannya, dia tidak merasakan adanya gagang jarum di permukaan kulit pinggul. "Agaknya ada tiga batang yang menembus kulit..."

"Ingatkah engkau siapa di antara mereka yang melepas jarum-jarum itu?"

"Ketika aku membalik, kulihat perempuan bermuka mayat yang pakaiannya serba hitam itulah..."

"Ahhh... celaka!" seru Hay Hay. "Dia adalah Tong Ci Ki, Si Jarum Sakti! Jarum-jarumnya mengandung racun yang amat berbahaya, tidak kalah jahatnya dibandingkan jarum-jarum dari Ma Kim Li! Mari, Enci, aku harus membantumu mengeluarkan jarum-jarum itu!"

"Tapi... begini gelap, biarlah kulawan dengan semedhi dan mengerahkan sinkang. Besok kalau sudah terang baru kita..."

"Besok bisa terlambat, Enci. Biar kubuat api unggun dahulu!" kata Hay Hay lalu membuat api unggun dan tak lama kemudian, sinar api unggun mengusir kegelapan dalam goa dan mereka dapat saling pandang. Keduanya langsung terkejut setelah melihat betapa wajah masing-masing pucat kehijauan tanda bahwa hawa beracun mulai menguasai mereka!

"Bagaimana kalau mereka melihat api unggun dan datang menyerbu?" tanya Hui Lian.

"Mereka tidak akan melihatnya, cahaya api tertutup sama sekali. Dan pula, tidak perlu kita memikirkan itu, yang penting sekarang harus mengeluarkan jarum-jarum itu..."

"Tapi... tapi..." tentu saja Hui Lian merasa rikuh bukan main. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan pemuda ini mengeluarkan jarum-jarum dari pinggulnya?

Tentu saja tak mungkin mengeluarkannya sendiri karena kedua tangannya hanya mampu menjangkau tempat itu, juga tangannya hanya mampu meraba-raba saja namun dia tidak dapat melihatnya. Kalau dibiarkan Hay Hay melakukannya, berarti membiarkan Hay Hay melihat pinggulnya! Bukan hanya melihat saja, bahkan meraba dan menyentuhnya pula! Bagaimana mungkin ini?

"Kenapa engkau masih ragu-ragu, Enci? Bukankah berbahaya sekali bila dibiarkan saja? Marilah, biarkan aku memeriksa luka itu!" Hay Hay lantas mendekati Hui Lian yang duduk bersandar dinding goa dan dia pun berlutut, tangannya diulur ke arah pinggul.

"Tidak...! Jangan...!" Hui Lian membentak dan terkejutlah Hay Hay mendengar kemarahan dalam bentakan ini. Ketika dia memandang, ternyata Hui Lian juga sedang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan mendelik marah!

"Ehh, kenapa Enci Lian?"

"Bagaimana... bagaimana engkau berani kurang ajar kepadaku?"

Hay Hay pun melongo. "Wah, kurang ajar? Apa maksudmu, Enci Lian? Aku tidak pernah kurang ajar kepadamu."

"Engkau hendak melihat pinggulku, bahkan mungkin memeriksa sambil merabanya, dan engkau bilang tidak kurang ajar?" Gadis itu kini marah sekali dan ingin ia menampar muka pemuda itu, kalau saja ia tidak melihat betapa wajah pemuda itu pun pucat dan nampak kesakitan.

Hay Hay tersenyum karena mendadak dia mengerti dan melihat kelucuan dalam keadaan mereka itu. "Wah, Enci Lian, pikirkan dulu baik-baik sebelum engkau menuduh aku yang bukan-bukan. Pinggulmu sudah terluka oleh jarum beracun, bukan? Nah, bagaimana aku tidak akan melihat pinggulmu kalau aku hendak menolongmu dan memeriksa pinggul itu? Dalam keadaan seperti ini, di waktu engkau terancam bahaya maut, mengapa memikirkan soal kecil itu, Enci? Baiklah, sekarang biarkan aku memeriksa dan mengobati pinggulmu, lupakan kekurang ajaranku, dan nanti sesudah aku berhasil mengeluarkan jarum-jarum itu dan mengobati lukamu, engkau boleh menghukum aku karena kekurang ajaranku. Aku tidak akan melawan. Bagaimana, akur?"

Lega hati Hui Lian. Bagaimana pun juga dia akan dapat membalas kekurang ajaran itu nanti. "Akur, akan tetapi engkau tidak boleh berbohong dan melanggar janji."

"Aku tidak pernah berbohong."

"Hemm, laki-laki memang paling pandai berjanji akan tetapi paling pandai pula melanggar janji sendiri!"

"Namun aku tidak. Nanti boleh kau hukum aku sesuka hatimu, Enci Lian, tetapi sekarang biarkan aku memeriksa lukamu."

Dan kini Hui Lian rebah menelungkup, memejamkan mata dan menyembunyikan muka di atas dua lengannya, membiarkan Hay Hay memeriksa lukanya. Seluruh bulu di tubuhnya meremang saat dia merasa betapa Hay Hay menyentuh lembut pinggulnya di luar celana.

"Enci Lian, celanamu harus dilepas... ehh, maksudku, harus diturunkan supaya aku dapat memeriksa keadaan luka di pinggulmu..."

"Kurang ajar kau...!" Hui Lian membentak dan dia merasa malu bukan main, akan tetapi jari-jari tangannya melepaskan tali celana itu dan dengan hati-hati dia menurunkan bagian belakang celana itu agar pinggul yang terluka itu kelihatan. Dia menggigit bibir menahan rasa nyeri dan malu.

Akan tetapi pada saat itu seluruh perhatian Hay Hay ditujukan untuk memeriksa keadaan luka. Dia melihat betapa pinggul kanan itu membengkak, merah kebiruan dan ada tiga titik hitam berjajar di situ. Dia meraba dengan sangat hati-hati, akan tetapi jari-jari tangannya tidak merasakan satu pun ujung gagang jarum, maka tahulah dia bahwa jarum-jarum itu sudah terbenam ke dalam daging pinggul!

"Enci Lian, tahanlah, tentu agak sakit, akan tetapi satu-satunya jalan untuk mengeluarkan jarum hanya begini..." Dan tiba-tiba, tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membantah karena Hay Hay tahu bahwa gadis itu tentu akan keberatan, dia cepat-cepat menundukkan mukanya dan menempelkan mulutnya di atas tiga titik hitam itu!

"Aihhh... kau... kau... keparat...!" Hui Lian berseru, akan tetapi rasa sakit yang luar biasa kini menggantikan rasa malu ketika Hay Hay sudah mengerahkan tenaga khikang untuk menyedot dengan mulutnya.

Hui Lian mengaduh dan merintih, lupa akan rasa malu betapa mulut pemuda itu sedang menempel di pinggulnya. Hay Hay melepaskan kecupannya dan meludahkan tiga batang jarum kecil hitam ke atas tanah.

"Jarum-jarum itu telah keluar, akan tetapi racunnya harus dikeluarkan sampai bersih, Enci Lian," katanya.

Dan kembali dia menyedot dengan mulutnya melalui tiga lubang kecil bekas jarum. Nyeri bukan kepalang rasanya bagi Hui Lian, akan tetapi rasa malu bersaing dengan rasa nyeri sehingga dia mampu menahan keduanya!

Setelah beberapa kali menyedot dan meludahkan darah hitam, akhirnya Hay Hay melihat darah merah keluar dari tiga lubang kecil itu, dan dia pun menghentikan penyedotannya.

"Semoga racunnya sudah keluar semua, Enci. Kini tinggal memberi obat luka."

Hay Hay mengambil obat luka berupa bubukan putih yang dibuatnya dari kulit pohon yang dikeringkan dan menaburkan bubukan itu pada luka di pinggul, kemudian memijit-mijitnya sehingga bubukan putih memasuki lubang dan menutupnya.

"Nah, selesailah sudah, Enci Lian." katanya.

Ketika Hay Hay hendak membantu menaikkan celana itu, Hui Lian segera merenggutnya dan menaikannya sendiri, lalu mengikatkan kembali tali celana. Ia lalu bangkit duduk dan tiba-tiba saja tangannya menampar muka Hay Hay sampai tiga kali.

"Plak! Plak! Plak!"

Dua kali tangan kanannya menampar pipi kiri dan satu kali tangan kirinya menampar pipi kanan pemuda itu. Begitu tiba-tiba dan keras sehingga terdengar suara nyaring dan tubuh Hay Hay terguncang ke kanan kiri, kemudian roboh!

Melihat wajah pemuda itu, Hui Lian yang merasa malu dan marah menjadi terkejut sekali. Pemuda ini seperti orang pingsan atau setengah pingsan, nampak lemah sekali. Mukanya menjadi kehitaman, juga kedua ujung bibirnya berdarah.

"Hay-te...!" Hui Lian berseru memanggil dan mengguncang-guncang pundak pemuda itu.

Namun Hay Hay kelihatan semakin lemah. Hui Lian semakin terkejut dan gelisah. Apakah tamparannya tadi demikian kuatnya? Kalau bibir pemuda itu berdarah, hal ini tidak aneh, akan tetapi mengapa Hay Hay sampai pingsan?

"Hay-te, maafkan aku... ahh, engkau sadarlah...!" katanya lagi.

Kini dia cepat-cepat melakukan pemeriksaan. Denyut nadi pemuda itu lemah sekali, dan napasnya juga memburu! Ah, ingatlah dia bahwa pemuda ini pun terluka parah. Cepat Hui Lian merobek baju di bagian dada pemuda itu, dan nampaklah betapa pada dada sebelah kanan terdapat luka yang cukup lebar dan luka itu melepuh, membengkak dan kehitaman! Racun yang jahat telah membuat luka itu menjadi parah dan berbahaya sekali! Dia harus cepat menolongnya.

Dengan amat cekatan jari-jari tangan Hui Lian membuka kancing-kancing baju itu, dengan maksud membuka baju supaya lebih mudah dia berusaha mengobati. Ketika dia hendak menanggalkan baju itu, tiba-tiba saja ada sebuah benda terjatuh keluar dari saku baju dan kebetulan sekali benda itu terjatuh ke atas dada Hay Hay, tepat di atas luka di dadanya.

Hui Lian hendak mengambil benda itu, namun dia mengeluarkan seruan kaget, menahan tangannya. Benda itu adalah sebuah batu giok berwarna belang-belang merah dan hijau dan sekarang benda yang berkilauan terkena sinar api unggun itu perlahan-lahan berubah menjadi menghitam, dan warna hitam pada luka di dada itu perlahan-lahan menghilang! Teringatlah Hui Lian tentang mustika batu giok milik Jaksa Kwan yang dirampas penjahat dan agaknya Hay Hay telah dapat merampasnya kembali. Dia pun teringat akan kata-kata jaksa tinggi itu bahwa mustika itu merupakan benda langka penawar racun!

Dengan hati girang Hui Lian memegang benda itu dan kini sengaja menggosok-gosokkan perlahan-lahan ke atas luka dan tepat seperti yang diduganya, makin digosokkan, benda itu berubah semakin menghitam, sementara luka itu pun dengan cepat sekali mengempis dan kehilangan warna hitamnya.

Hay Hay bergerak dan mengeluh. "Wah, benda apa yang dingin sekali di atas dadaku itu, Enci Lian?"

Hui Lian merasa lega bukan main melihat keadaan Hay Hay yang sudah sembuh secara cepat itu dan dia pun tersenyum. Hay Hay sampai melongo melihat Hui Lian tersenyum. Bukan main cantiknya gadis ini kalau sedang tersenyum, senyum wajar yang pertama kali dilihatnya.

"Enci Lian, engkau... cantik sekali kalau tersenyum," kata Hay Hay dan kembali berkerut alis Hui Lian. Bocah ini sungguh perayu benar, baru saja sadar dari pingsan, pertama kali yang dilakukan adalah memuji kecantikannya!

"Hay-te, engkau membawa mustika batu giok ini yang dengan mudah menyedot semua racun dari dadamu, kenapa tidak kau pergunakan ketika engkau menolong aku?"

Hay Hay bangkit duduk, memeriksa dadanya sendiri dan dia menjadi kagum. Dilihatnya batu giok itu yang kini oleh Hui Lian sudah diletakkan di atas lantai goa. Dari batu giok itu perlahan-lahan menetes cairan hitam, kemudian perlahan-lahan batu giok itu memperoleh kembali cahayanya. Warna hitam makin lenyap bersama cairan yang keluar, lalu berganti dengan warna merah hijau. Benar-benar benda mustika yang langka dan mukjijat!

"Ahh, sungguh... tadi aku lupa sama sekali tentang batu giok ini, Enci Lian. Aku... ahh..." Tiba-tiba Hay Hay memegang kepala dengan kedua tangannya karena kepala itu terasa pening dan bumi seperti terputar, akan tetapi dia memaksa diri melanjutkan, "Aku terlalu khawatir setelah memeriksa pinggulmu... eh, pinggulmu itu indah sekali dan membengkak merah kehitaman... dan keringatmu harum sekali, Enci..."

"Gila...!" Hampir saja Hui Lian menampar muka Hay Hay, akan tetapi tiba-tiba dia melihat pemuda itu terkulai dan roboh pingsan! Tentu saja Hui Lian menjadi terkejut.

"Hay-te, ada apakah...?" Dia cepat mendekat dan lebih kaget lagi setelah dia menyentuh dahi pemuda itu yang terasa panas bukan main.

Ternyata racun dari pedang Min-san Mo-ko amat jahat sehingga tadi sudah menimbulkan hawa beracun di dalam tubuh Hay Hay. Biar pun racunnya telah tersedot oleh batu giok, akan tetapi kini meninggalkan demam yang cukup hebat pada diri Hay Hay. Hal ini terjadi karena tadi Hay Hay mengerahkan khikang ketika menyedot racun dan jarum dari pinggul Hui Lian, dan pengerahan khikang ini membuat hawa beracun terdorong semakin dalam ke dadanya.

Maklum bahwa Hay Hay terserang demam, Hui Lian segera menempelkan kedua telapak tangannya pada dada Hay Hay, lantas dia membantu pemuda itu mengusir hawa beracun itu dengan pengerahan hawa sakti dari tubuhnya. Lambat laun terjadi perubahan pada diri Hay Hay. Napasnya normal kembali, wajahnya menjadi agak kemerahan dan panasnya menurun.

Hui Lian melepaskan tangannya dan membiarkan pemuda itu tertidur. Sampai lama sekali dia terus mengamati wajah pemuda itu dan hatinya semakin tertarik. Terngiang kembali di telinganya kata-kata Hay Hay yang memuji-mujinya, memuji betapa cantiknya kalau dia tersenyum, bahkan sebelum pingsan tadi masih sempat memuji bahwa pinggulnya indah dan keringatnya harum!

Hui Lian pun tersenyum ketika teringat tentang hal ini,. Bocah kurang ajar, pikirnya sambil tersenyum memandang wajah itu. Wajah yang masih kekanak-kanakan, namun sungguh sangat menarik hatinya. Jantungnya berdebar dan bergeloralah gairahnya terhadap Hay Hay. Seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, pandai merayu dan menarik hati walau pun sikapnya agak nakal dan kurang ajar.

Tanpa disadarinya lagi, tangan kirinya bergerak menyentuh dan meraba wajah pemuda itu, mengusap dagunya, bibirnya yang tadi tanpa ragu-ragu menyedot luka beracun pada pinggulnya, mulut yang tadi sampai berdarah akibat ditamparnya. Dia telah menamparnya dengan keras sesudah pemuda itu menyelamatkan nyawanya dan sesudah pemuda itu tanpa rasa jijik sedikit pun menyedot luka beracun di pinggulnya. Dia merasa terharu dan kedua matanya basah.

"Hay Hay, kau maafkan aku...," bisiknya.

Hay Hay membuka matanya, berkejap-kejap lalu bangkit duduk setelah melihat bahwa dia rebah di atas lantai goa dan gadis itu duduk bersimpuh di dekatnya.

"Enci Lian, apakah aku tertidur? Aku seperti dalam mimpi mendengar engkau berbicara kepadaku, seperti maaf-maaf begitu. Apa sih yang kau katakan, Enci Lian?"

Hui Lian tersenyum. Kadang-kadang Hay Hay bersikap kekanak-kanakan dan dia merasa seperti berbicara dengan adiknya sendiri, apa lagi mendengar pemuda itu menyebutnya Enci Lian secara demikian akrabnya.

"Tidak apa-apa, Hay-te. Tidurlah, biar aku menjagamu...!"

"Tidak, Enci Lian. Aku tidur enak-enakan sedangkan engkau yang hendak berjaga kalau ada musuh yang datang? Wah, itu terbalik namanya, Enci. Engkau seorang perempuan dan aku seorang laki-laki. Engkaulah yang tidur dan aku yang berjaga."

"Akan tetapi engkau baru saja pingsan dan demam, juga biar pun perempuan aku lebih tua, engkau kanak-kanak."

Hay Hay yang kesehatannya sudah pulih kembali lalu memandang wajah Hui Lian sambil tersenyum. "Enci yang baik, jangan katakan aku kanak-kanak, aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran sekali pun!"

"Ihhh, engkau memang ceriwis, mata keranjang, kata-katamu tak senonoh!"

Hay Hay membelalakkan matanya. "Wah, seenaknya engkau memaki aku, Enci Lian. Di bagian manakah kata-kataku yang tidak senonoh?" Dia mengingat-ingat, alisnya berkerut. "Belum banyak aku bicara padamu, hemmm... tadi aku memuji bahwa engkau cantik, dan keringatmu berbau harum dan... dan pinggulmu indah..."

"Nah, itulah! Tutup mulutmu, Hay Hay, engkau sungguh lancang dan tak tahu malu!"

"Eihhh? Kenapa, Enci? Apa salahnya kalau aku memuji sesuatu yang memang indah dan patut dipuji? Bukankah pujian itu menunjukkan kejujuranku dan tidak pura-pura? Memang mataku melihat sesuatu yang indah, mulutku langsung memuji, salahkah itu?"

"Tapi bukan... ehh, pinggul! Tidak sopan itu, menyebut-nyebutnya juga sudah tidak sopan dan harus malu!"

Hay Hay menggaruk-garuk belakang telinganya. "Lho! Kenapa tidak sopan? Apa salahnya kalau aku menyebut pinggul, pinggul, pinggul! Bukankah kita manusia ini semua memang berpinggul? Apa bedanya kukatakan pinggulmu indah, dengan matamu indah, tanganmu indah dan sebagainya?"

"Cukup! Jangan membuatku marah! Engkau masih kanak-kanak, aku lebih tua dari pada engkau, maka tidak pantas kalau engkau merayuku dengan kata-kata manis serta pujian-pujian muluk dan kotor!"

"Aku jadi makin penasaran, Enci. Maafkan, aku bukan bermaksud menghinamu. Engkau memang lebih tua, akan tetapi hanya satu dua tahun saja dan itu sama sekali tidak ada artinya. Dan aku bukan kanak-kanak! Usiaku sudah dua puluh satu tahun dan banyak pria berusia dua puluh satu sudah mempunyai dua tiga orang anak! Aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran. Dan tadi aku memujimu dengan jujur, sama sekali bukan merayu, aku hanya mengatakan apa adanya saja menurut penglihatanku!"

Melihat pemuda itu berbicara keras penuh rasa penasaran, Hui Lian berbalik menjadi geli. "Hemm, jika menurut penglihatanmu bagaimana?" tanyanya, tertarik juga karena pemuda ini jelas tidak bermaksud kurang ajar kepadanya.