Social Items

PADA suatu malam, di waktu hujan, dia membayangi suaminya yang pergi berkunjung ke tetangga sebelah, memasuki kamar nyonya tetangga itu melalui jendela yang dibuka dari dalam! Hampir meledak rasa hati Hui Lian saking panasnya melihat kelakuan suaminya itu. Dia membiarkan hingga beberapa lama, kemudian secara tiba-tiba dia membuka daun jendela dari luar dan melompat ke dalam kamar.

"Jahanam busuk!" bentaknya dan bergidik dia menyaksikan perbuatan suaminya dengan nyonya tetangga itu.

Su Ta Touw terkejut dan ketakutan, mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa kemudian hendak berlari keluar. Namun sekali menggerakkan kakinya, Hui Lian sudah menendang pria itu, sedemikian keras tendangan itu hingga tubuh suaminya terlempar keluar jendela! Hui Lian mengejar keluar, lantas menyeret rambut suaminya, ditariknya kembali ke rumah mereka, tidak peduli akan hujan yang turun mengguyur tubuh mereka.

"Ampun... ampunkan aku... ahh, ampunkann...," Su Ta Touw menggigil ketakutan ketika isterinya melempar tubuhnya ke atas tanah di pekarangan depan rumah mereka.

"Bangunlah dan pertahankan dirimu, karena kalau tidak, demi Tuhan terpaksa aku akan membunuhmu begitu saja!"

"Tidak... tidak... ahhh, ampunkan aku..." Su Ta Touw yang ditantang isterinya itu berlutut dan menyembah-nyembah sambil menangis. Tentu saja dia tak berani melawan Hui Lian, maklum bahwa tingkat kepandaian silatnya masih sangat jauh di bawah sehingga dalam satu gebrakan saja isterinya akan mampu merobohkannya, bahkan membunuhnya.

"Desss…!"

Kembali sebuah tendangan membuat tubuh Su Ta Touw terjengkang lantas bergulingan. Dia mengaduh-aduh, bangkit dan berlutut lagi. Mulutnya berdarah dan seluruh tubuhnya basah oleh lumpur.

"Ampunkan aku... aku bersumpah tidak akan berani lagi... aku bersumpah... ahhh…, kau ampunkan aku."

"Jahanam keparat! Sumpah yang keluar dari mulutmu hina dan busuk!" Kembali kaki Hui Lian menendang dan tubuh itu pun terpelanting keras. Ia menendang untuk melampiaskan kemarahannya, hanya mempergunakan tenaga otot biasa. Kalau dia menendang dengan pengerahan sinkang, satu kali saja tentu nyawa laki-laki itu akan putus.

"Tidak, sekali ini aku tobat benar-benar, aku bersumpah... demi nenek moyangku, demi... nama dan kehormatanku... aku..."

"Cukup sudah!" Hui Lian membentak marah. "Bangkitlah dan lawan aku sebagai seorang laki-laki! Pertahankanlah nyawamu!"

Melihat kemarahan isterinya yang amat ditakuti itu, Su Ta Touw menjadi makin ketakutan dan dia menangis tanpa bangkit dari atas tanah di mana dia merlutut!

Melihat ini, Hui Lian menjadi semakin marah, "Kalau begitu, bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dan dia sudah melangkah maju untuk mengirim tendangan maut.

"Sumoi, tahan...!" Tiba-tiba terdengar suara orang. Hui Lian terkejut, segera membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa seorang laki-laki yang lengan kirinya buntung sudah berdiri di situ.

"Sumoi, apa lagi yang kau lakukan ini?" kembali laki-laki menegurnya dengan suara keras penuh teguran.

"Suheng...!" Hui Lian berlari menghampiri dan menubruk laki-laki itu, kemudian menangis sejadi-jadinya di pundak Su Kiat.

Su Kiat menarik napas panjang, kemudian mendengarkan dengan sabar ketika Hui Lian menceritakan dengan suara terisak-isak tentang semua perbuatan suaminya yang sudah semenjak setahun yang lalu berubah sikapnya, menjadi laki-laki hidung belang. Kemudian diceritakannya pula peristiwa tentang perjinahan suaminya dengan nyonya tetangga yang sudah bersuami dan beranak tiga, bahkan perjinahan itu kini menumbuhkan kandungan di dalam perut nyonya itu.

Su Kiat menggeleng-gelengkan kepalanya, memandang kepada Su Ta Touw yang masih berlutut di atas tanah yang becek. Bagaimana seorang laki-laki dapat terperosok demikian dalamnya, melakukan hal yang amat memalukan hanya karena terdorong nafsu birahi?

"Suheng, sebelum engkau datang, tadinya aku hendak membunuhnya sebelum akhirnya aku bunuh diri. Aku sudah malu hidup di dunia ramai ini..."

Su Kiat terkejut. Dia maklum akan kekerasan hati sumoi-nya dan dia khawatir kalau-kalau sumoi-nya akan betul-betul membunuh diri. "Sumoi, pikiranmu itu sangat keliru. Agaknya memang telah menjadi nasibmu, dua kali menikah dengan laki-laki yang tidak benar. Akan tetapi membunuhnya lalu membunuh diri bukan merupakan jalan keluar yang baik. Bunuh diri hanya dapat dilakukan oleh pengecut yang sudah tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Marilah kita selesaikan urusan ini dengan sebaiknya, Sumoi. Engkau bercerai saja lagi dari keparat ini, kemudian mari kembali membantuku membina Cia-ling Bu-koan kita. Bukankah sebelum semua ini terjadi, kita hidup cukup bahagia?"

Diam-diam Hui Lian menyalahkan suheng-nya yang dulu membujuknya supaya menikah, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Suheng-nya begitu baik, dan siapa lagi orang di dunia ini kecuali suheng-nya yang dapat ditangisinya di waktu dia menghadapi masalah yang demikian menyedihkan hatinya?

"Mari sekarang kita pulang ke Hek-bun, dan besok aku yang akan pergi menemui orang tuanya untuk membereskan urusan perceraianmu dengan jahanam ini." Tanpa pamit lagi, Hui Lian dan Su Kiat mempergunakan ilmu lari cepat meninggalkan tempat itu setelah Hui Lian membawa pakaian dan barang-barangnya yang dianggap perlu.

Pada keesokan harinya, Su Kiat menjumpai Su Ta Touw dan orang tuanya. Su Ta Touw tidak berani banyak cakap lagi karena dia memang merasa bersalah. Juga ayah ibunya tidak berani banyak cakap, maklum akan watak putera mereka yang gila perempuan dan tidak bertanggung jawab itu.

Demikianlah, dalam waktu lima tahun saja, untuk kedua kalinya Hui Lian kembali menjadi janda. Dia merasa malu sekali tinggal di Hek-bun. Seluruh penduduk Hek-bun tahu belaka bahwa dia adalah wanita yang dalam waktu beberapa tahun saja sudah menjanda sampai dua kali! Karena itu, walau pun tidak ada orang berani mengejeknya atau bicara tentang dirinya, Hui Lian merasa malu sendiri dan dia pun lalu berpamit kepada suheng-nya.

"Suheng, perkenankanlah aku pergi dari dusun ini," katanya pada suatu senja.

Su Kiat terkejut bukan main mendengar ucapan ini dan melihat betapa sumoi-nya sudah mengenakan pakaian pria yang agaknya sudah lama dipersiapkannya. Juga sumoi-nya itu mengatur rambutnya seperti seorang pria, menyamar sebagai pria.

Sudah berbulan-bulan sumoi-nya tinggal lagi di situ bersama dia setelah bercerai dari Su Ta Touw dan baru terasa olehnya perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Sebelum sumoi-nya menikah untuk pertama kali, dia merasa hidupnya sangat berbahagia bersama sumoi-nya. Ketika sumoi-nya menikah dengan Tee Sun dan pindah, dia merasa kesepian, bahkan berduka. Namun perasaan ini dilawannya dengan keyakinan bahwa sumoi-nya pergi untuk menempuh hidup baru yang berbahagia dan sepatutnya kalau dia merasa ikut berbahagia pula.

Kemudian sumoi-nya bercerai lantas menikah lagi. Sekarang, setelah sumoi-nya bercerai untuk kedua kalinya dan tinggal lagi bersamanya dalam satu rumah, membantunya, baik untuk melatih para murid mau pun untuk urusan rumah tangga, dia merasa seakan-akan matahari bertambah cerah dan kicau burung bertambah merdu.

Hidup menjadi amat berbahagia baginya, seolah-oleh dia menemukan kembali dirinya dan kebahagiaan yang tadinya sedikit demi sedikit menghilang bersama dengan perginya Hui Lian dari sampingnya. Oleh karena itu, mendengar sumoi-nya berpamit, dia terkejut bukan main sampai air mukanya berubah.

"Kau... kau hendak pergi kemanakah, Sumoi?" tanyanya gagap.

"Aku... aku hendak pergi merantau, ke mana saja, Suheng."

"Ahhh, apa artinya ini, Sumoi? Mengapa engkau sekarang tidak suka tinggal bersamaku dan membantuku? Apakah kita... tidak dapat kembali hidup seperti dulu, Sumoi, di mana kita mengalami segala hal berdua, pahit mau pun manis? Mengapa tiba-tiba saja engkau hendak meninggalkan aku? Dan aku khawatir sekali karena engkau pergi tanpa tujuan."

"Aku hendak mencari pengalaman, Suheng, dan aku... aku berusaha melupakan segala yang pernah terjadi denganku di sini, juga agar semua orang melupakan semua itu... aku mungkin akan mencari keluarga orang tuaku di San-hai-koan."

"Bukankah aku pengganti keluargamu, Sumoi?"

"Benar, benar sekali, Suheng!" Hui Lian memegang tangan suheng-nya yang tergeletak di atas meja. "Engkau adalah keluargaku, engkau pengganti orang tua, kakakku juga guruku dan sahabatku. Ahh... betapa aku sudah bersikap tidak mengenal budi, akan tetapi... aku ingin pergi, Suheng. Aku ingin menghirup udara bebas setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan batin yang tidak mungkin dapat kuceritakan kepadamu. Perkenankanlah aku pergi, Suheng. Untuk satu tahun, dua tahun... Tanpa ijinmu aku tidak berani pergi. Tapi, kasihanilah aku, Suheng..."

Su Kiat memejamkan sepasang matanya. Aih, sumoi, tidakkah seharusnya engkau yang mengasihani diriku, bisik hatinya. Akan tetapi dia menahan gejolak hatinya dan membuka mata, memandang wajah sumoi-nya penuh haru, penuh rasa sayang.

"Baiklah, Sumoi. Tak mungkin aku dapat mencegah kehendakmu. Aku hanya mendoakan semoga engkau akan menemukan kebahagiaan..."

"Aih, Suheng! Engkau seperti dapat menjenguk dan membaca isi hatiku! Benar sekali, aku rindu akan kebahagiaan, Suheng! Selama ini hanya kebahagiaan palsu yang kuraih, dan aku rindu sekali. Aku akan pergi untuk mencari kebahagiaan, Suheng."

Su Kiat tidak menjawab. Dia masih duduk termenung setelah lama sekali Hui Lian pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan dirinya. Ingin dia pun pergi mencari kebahagiaan, akan tetapi hal itu tidaklah mungkin. Bagaimana mungkin dia mencari kebahagiaan kalau baru saja kebahagiaan sendiri meninggalkannya?

Sekarang dia tahu benar. Hui Lianlah sumber kebahagiaannya! Namun kini Hui Lian telah pergi, membawa kebahagiaan menjauhi hatinya yang mendadak menjadi penuh dengan kesepian, penuh kekosongan dan kerinduan.

Betapa banyaknya keinginan itu terlontar dari lubuk hati manusia, baik melalui mulut atau pun hanya dipendam saja. Keinginan untuk mencari kebahagiaan! Mencari kebahagiaan! Semua orang rindu akan kebahagiaan. Semua orang ingin mencari kebahagiaan, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat dicari, dapat ditemukan dan digenggam supaya tidak pergi lagi!

Su Kiat menyangka bahwa baginya, kebahagiaan adalah diri Hui Lian, kehadiran Hui Lian karena dia membutuhkan kehadiran Hui Lian yang menyenangkan hatinya. Namun bagi orang lain mungkin bukan itu, melainkan harta bendalah sumber kebahagiaannya karena dia membutuhkannya, karena hanya harta benda yang dapat menyenangkan hatinya. Ada pula yang mengejar kebahagiaan melalui kedudukan, atau nama besar, atau benda atau keadaan. Namun bagaimana pun juga, pengejaran itu dilakukan semata-mata karena dia membutuhkannya, karena dia menganggap bahwa itulah yang akan dapat menyenangkan dirinya, hatinya, selamanya!

Namun apakah kebahagiaan itu sama dengan kesenangan? Apakah orang yang senang hatinya itu berbahagia? Apakah kesenangan itu dapat dinikmati selamanya? Hal ini dapat kita pelajari dengan mengamati diri sendiri, mengamati kesenangan-kesenangan kita, apa yang kita cari dan kejar-kejar itu.

Betapa banyaknya macam kesenangan atau benda atau keadaan yang mendatangkan kesenangan. Akan tetapi alangkah rapuhnya kesenangan itu sendiri, seperti gelembung-gelembung sabun yang indah beraneka warna, mempesona kanak-kanak yang mengejar-ngejarnya, namun setelah terpegang, gelembung itu pun lalu meletus dan lenyap, terganti kekecewaan. Betapa benda atau orang atau pun keadaan, yang tadinya kita kejar-kejar, kita anggap sebagai sumber kesenangan, bahkan akhirnya mendatangkan kekecewaan, kebosanan, bahkan juga kejengkelan! Adakah kesenangan yang abadi?

Tentu saja bukan! Yang disebut kebahagiaan jelas bukanlah kesenangan! Kesenangan dapat kita gambarkan, dapat kita cari dan perebutkan, tetapi kesenangan memiliki muka yang banyak sekali, seperti sebuah dadu yang memiliki banyak permukaan, tetapi hanya satu permukaan yang menyenangkan sedangkan permukaan yang lain sama sekali tidak menyenangkan!

Kita semua mengejar kebahagiaan secara membabi buta, mengira bahwa kebahagiaan ada di sini, di sana, dan kita mengejar tanpa mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan itu! Apakah mungkin orang mencari sesuatu yang tidak dikenalnya, sesuatu yang tidak diketahuinya?

Kebahagiaan tak mungkin bisa dikenal, karena kebahagiaan adalah sesuatu yang hidup, sedangkan pengenalan hanyalah melalui sesuatu penggambaran yang mati. Kesenangan adalah penggambaran yang mati, sesuatu yang pernah kita kenal melalui pengalaman, maka dapat kita kejar. Kebahagiaan yang terasa lalu dikenal melalui pengalaman bukan kebahagiaan lagi, melainkan menjadi kesenangan dan seperti biasa kita ingin mengulang kesenangan.

Kita tidak dapat mengenal kebahagiaan, tidak dapat menggenggam kebahagiaan. Akan tetapi kita mengenal dan mengerti akan ketidak bahagiaan karena kita semua sering kali mengalaminya, merasakannya. Justru karena tidak berbahagia inilah maka kita mengejar kebahagiaan. Kita ingin lari dari ketidak bahagiaan dan mencari kebahagiaan.

Mengapa kita tidak menghadapi saja ketidak bahagiaan ini, bukan hanya merasakan lalu mencoba lari, namun menyelaminya, mengamatinya dengan seksama dan teliti sehingga akan terlihat benar oleh kita bahwa kita tak berbeda, tak terpisah dari ketidak bahagiaan itu sendiri.

Ketidak bahagiaan itu berasal dari kita sendiri, pikiran kita yang selalu mencari senang menjauhi susah, selalu mengejar keuntungan menghindarkan kerugian, selalu ingin, ingin dan ingin lagi! Hanya pengamatan terhadap diri sendiri inilah yang akan membuat kita waspada dan mengerti, yang akan menghentikan ketidak bahagiaan itu sendiri merajalela di dalam batin.

Dan jika sudah tidak ada lagi ketidak bahagiaan ini di dalam diri kita, apakah kita masih mengejar kebahagiaan? Kiranya tidak, sebab tanpa adanya ketidak bahagiaan maka kita tidak butuh kebahagiaan lagi, justru karena kebahagiaan sudah ada pada kita, menyinar sepenuhnya tidak terhalang oleh awan ketidak bahagiaan, seperti matahari yang terbebas dari pada halangan awan yang menggelapkan.

Tuhan Maha Kasih! Kita dilahirkan dalam keadaan lengkap selengkap-lengkapnya. Bukan hanya kelengkapan pada diri kita lahir batin yang lengkap, bahkan yang berada di luar diri kita, yang berada di alam mayapada ini, yang nampak mau pun yang tak nampak, semua itu melengkapi hidup kita, seolah-olah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Matahari, bulan, bintang, angin, air, tanah serta segenap tumbuh-tumbuhannya, bahkan segala logam dan minyak di dalam tanah, semuanya itu bermanfaat bagi kehidupan kita, bukan hanya bermanfaat, bahkan menghidupkan! Kasih Tuhan inilah kebahagiaan, bagi mereka yang dapat menerimanya dan mau menerimanya. Akan tetapi kebahagiaan akan sirna seperti sinar matahari tertutup mendung kalau muncul ketidak bahagiaan di dalam batin kita, yang sesungguhnya muncul karena sang aku yang tiada hentinya ingin ini dan itu, di antaranya ingin bahagia pula!


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sungai Yuan yang airnya jernih itu mengalir ke timur menuju ke Telaga Tung-ting yang terletak di perbatasan Propinsi Hu-nan dan Hu-pai. Ketika sungai itu melewati pegunungan yang penuh dengan hutan cemara, airnya mengambil jalan berkelok-kelok dan dari tempat ketinggian itu nampak seperti seekor ular perak yang amat panjang.

Pemuda itu mengagumi pemandangan alam yang sangat indah ini, sambil duduk di atas padang rumput di puncak bukit yang datar itu dan memberi kesempatan pada tubuhnya untuk beristirahat. Dari tempat dia duduk nampak di kejauhan Danau Tung-ting yang luar biasa luasnya itu, seperti lautan. Danau inilah yang memberi nama kepada dua propinsi, yaitu Propinsi Hu-nan (sebelah selatan danau) dan Propinsi Hu-pai (sebelah utara danau).

Sebelah selatan Danau atau Telaga Tung-ting ini menampung air dari sungai-sungai Ce, Yuan, Siang, dan Li dan menghubungkan air danau dengan Sungai Yang-ce-kiang yang sangat besar. Danau itu menjadi semacam waduk alam yang amat besar, yang mengatur pasang surutnya air Sungai Yang-ce.

Di pagi hari menjelang siang itu, pemuda tadi duduk mengaso dan termenung. Alangkah jauhnya sudah dia menjelajahi bumi ini. Telaga atau Danau Tung-ting yang dari kejauhan nampak seperti laut membentang luas itu juga pernah dikunjunginya beberapa hari yang lalu, sempat berperahu dan mengail ikan disana. Alangkah jauh dan lama dia menjelajah.

Dia tidaklah terlalu muda lagi. Usianya sudah kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya serba putih dari kain kasar yang kuat dan bersih. Hanya pita rambut dan ikat pinggangnya yang berwarna biru. Sesungguhnya dia bukanlah seorang pemuda, tetapi seorang wanita, yaitu Kok Hui Lian!

Kita tahu bahwa wanita ini sudah meninggalkan Hek-bun, dusun tempat tinggalnya, pergi meninggalkan suheng-nya untuk melakukan perantauan, untuk menghibur hatinya yang penuh dengan kekecewaan dan kedukaan. Sesudah merantau dia menemukan hiburan di dalam kehidupan baru ini sehingga dia lupa akan janjinya untuk pulang ke tempat tinggal suheng-nya.

Sudah dua tahun dia merantau dan sudah jauh tempat yang dijelajahinya. Bahkan sudah pula dia mengunjungi San-hai-koan di mana mendiang ayahnya pernah tinggal dan malah menjabat sebagai gubernur. Tetapi ketika dia melakukan penyelidikan, ternyata ayah dan ibunya serta seisi rumah telah menjadi korban perang, semuanya telah tewas kecuali dia seorang yang diselamatkan seorang pendekar yang menurut cerita suheng-nya kemudian, bernama Cia Hui Song, putera dari Ketua Cin-ling-pai.

Dia berhasil menemui seorang paman, yaitu adik misan ayahnya yang menjadi seorang pembesar di San-hai-koan. Tapi ternyata pamannya itu bersikap congkak dan tinggi hati, membuat dia merasa sungkan untuk mengenalkan dirinya dan akhirnya dia meninggalkan San-hai-koan dan menganggap bahwa orang tuanya tidak meninggalkan anggota keluarga lain kecuali dirinya sendiri. Ia berkunjung ke makam ayah ibunya dan bersembahyang.

Kini dia telah tiba di tempat yang sunyi dan indah itu, dan duduk mengagumi keindahan pemandangan alam sambil melamun. Dia teringat akan masa lalunya, teringat pada Ciang Su Kiat, orang yang tadinya menjadi gurunya, menjadi pengganti orang tuanya, sahabat terdekatnya, dan kemudian menjadi suheng-nya. Dan dia menjadi terharu.

Setiap kali termenung dan terkenang kepada suheng-nya, semakin jelas teringat olehnya alangkah baiknya suheng-nya itu terhadap dirinya. Dan betapa malang nasib suheng-nya. Pernah suheng-nya bercerita tentang lengannya yang buntung. Lengan kiri itu dibuntungi sendiri sebagai pernyataan bersalah terhadap Cin-ling-pai!

Di depan ketua Cin-ling-pai, ayah dari Pendekar Cia Hui Song yang menyelamatkannya, suheng-nya itu membuntungi lengan kirinya sendiri sebagai penebus dosa dan sekaligus sebagai protes pula atas peraturan yang amat keras dan bengis dari Cin-ling-pai. ‘Dosa’ suheng-nya itu adalah karena Su Kiat membunuh seorang tihu untuk membalas dendam atas kematian ayahnya yang disiksa sampai mati oleh tihu itu karena ayahnya mencuri perhiasan untuk membiayai pengobatan anak bungsunya

Kasihan sekali suheng-nya! Dan keterlaluan sekali Ketua Cin-ling-pai itu. Apakah ketua itu tidak melihat bahwa suheng-nya tidak melakukan kejahatan, tetapi hendak membalaskan kematian dan sakit hati ayah kandungnya? Biar pun suheng-nya telah melupakan urusan itu, akan tetapi perasaan penasaran membuat Hui Lian kini mengambil keputusan untuk mengunjungi Cin-ling-pai. Setidaknya ia akan menegur ketua Cin-ling-pai atas kebengisan dan kekejamannya itu!

Tiba-tiba Hui Lian tersentak dari lamunannya ketika ada suara melengking merdu, naik turun dengan lembutnya, memasuki pendengarannya. Dia segera memperhatikan dan itu adalah suara suling yang ditiup secara aneh.

Suara itu begitu lembut, naik turun dengan halusnya, dalam lagu yang selamanya belum pernah dia mendengarnya. Akan tetapi hanya sebentar saja suara itu terdengar, karena segera menjauh dengan amat cepatnya, seolah-olah suling itu dibawa terbang lalu saja.

Hui Lian bangkit berdiri, memandang ke sekeliling untuk mencari peniup suling itu, akan tetapi tidak nampak sesuatu dan kini suara suling itu telah makin sayup-sayup kemudian menghilang di kejauhan. Ketika dia memandang ke bawah, di sebuah lereng yang penuh rumput hijau gemuk, dia melihat ada puluhan ekor domba digembala oleh seorang anak laki-laki yang usianya belasan tahun. Anak itukah Si Peniup Suling, pikirnya.

Karena ingin tahu sekali, masih tertarik oleh suara yang aneh tadi, Hui Lian meninggalkan puncak bukit itu. Dia segera menuruni puncak menuju lereng bukit di mana anak laki-laki itu sedang menggembala dombanya. Karena mengerahkan ilmunya berlari cepat, dalam waktu singkat saja Hui Lian telah tiba di lereng bukit itu.

Akan tetapi, ketika dia sampai di tempat di mana anak laki-laki berusia belasan tahun itu menggembala tiga puluh ekor dombanya, dia terkejut sekali dan cepat menyelinap di balik batang pohon sambil mengintai ke depan. Tidak jauh dari sana, dia melihat empat orang yang mengerikan.

Mereka itu dua orang pria dan dua orang wanita, keempatnya sudah berusia enam puluh tahun lebih. Agaknya mereka adalah dua pasang suami isteri. Yang sepasang merupakan kakek dan nenek biasa saja, bahkan kakek tinggi besar itu kelihatan gagah dan isterinya, nenek yang tubuhnya masih ramping itu memperlihatkan bekas kecantikannya.

Namun pasangan ke dua sangat mengerikan. Yang pria tinggi kurus dengan muka yang cukup tampan akan tetapi seperti topeng saja, karena tidak nampak pergerakan pada kulit muka itu! Ada pun isterinya, yang juga berpakaian hitam-hitam seperti suaminya, dapat dibilang cantik akan tetapi mukanya pucat seperti mayat dan membayangkan kekejaman. Dari sikap mereka saja mudah diduga bahwa empat orang itu bukanlah kakek dan nenek sembarangan.

Dugaannya memang tak keliru. Dua pasang suami isteri tua itu bukan lain adalah Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) dan suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan.

Seperti sudah kita ketahui dari bagian depan kisah ini, dua pasang suami isteri sesat ini pernah saling bermusuhan ketika belasan tahun yang lalu mereka saling memperebutkan Sin-tong (Anak Ajaib). Kemudian, karena dari permusuhan itu mereka sama-sama tidak memperoleh keuntungan, mereka lalu bersekutu dan akhirnya mereka berjumpa dengan tokoh datuk sesat Lam-hai Giam-lo yang amat sakti, kemudian menjadi sekutu atau anak buahnya.

Lam-hai Giam-lo telah memperoleh seorang murid yang kaya raya dan sekarang datuk ini tinggal bersama muridnya, memiliki banyak anak buah yang terdiri dari tokoh-tokoh sesat yang pandai seperti dua pasang suami isteri itu.

"Aahhh, kebetulan sekali. Perut kita lapar dan lihat domba-domba yang muda dan gemuk itu!" terdengar Ma Kim Li, nenek isteri Siangkoan Leng yang menjadi Sepasang Iblis Laut Selatan itu berkata sambil menunjuk ke arah sekumpulan domba yang makan rumput dan berkeliaran di situ.

Anak penggembala itu kini duduk di bawah pohon, kadang-kadang meneriaki domba yang berkeliaran telampau jauh. Melihat pakaiannya yang terbuat dari kain Liu-jang, yaitu kain yang terbuat dari bahan rami yang terkenal di daerah Hu-nan, mudah di duga bahwa anak ini adalah suku bangsa Miao, suku bangsa yang banyak terdapat di daerah itu.

"Benar sekali! Daging domba muda dan gemuk itu dibakar setengah matang, diberi garam saja sudah lezat bukan main," kata suaminya.

"Aku masih menyimpan sisa garam dan bumbunya," kata Tong Ci Ki yang mukanya pucat seperti mayat.

"Aku lebih suka mengganyang otak domba itu mentah-mentah, segar dan memperkuat tulang!" kata suaminya yang bernama Kwee Siong.

"Mari kita tangkap domba itu, seorang seekor dan boleh makan menurut selera masing-masing," kata Siangkoan Leng, suami dari Ma Kim Li.

Mereka serentak muncul dari balik semak-semak dan menghampiri kumpulan domba itu. Melihat ada empat orang kakek dan nenek menghampiri domba-dombanya yang menjadi gelisah, anak penggembala berusia sekitar tiga belas tahun itu pun cepat bangkit dan lari menghampiri.

Pada waktu melihat betapa empat orang kakek dan nenek itu masing-masing menangkap seekor domba muda, anak itu terkejut sekali dan dalam bahasanya sendiri, bahasa suku bangsa Miao, dia berteriak, "Lepaskan domba-dombaku, jangan tangkap mereka!"

Anak itu berusaha untuk mengambil kembali domba-dombanya dari tangan empat orang kakek dan nenek yang menangkapnya, akan tetapi Ma Kim Li yang berdiri paling dekat mendorongkan tangan kirinya dan tubuh anak itu pun terdorong ke belakang, terjengkang dan terguling-guling di atas rumput. Sambil tertawa-tawa empat orang kakek dan nenek sesat itu hendak pergi dari situ membawa empat ekor domba muda yang kini mengembik ketakutan. Anak laki-laki itu terkejut sekali, akan tetapi dia tidak menangis, bahkan cepat dia bangkit lagi dan lari mengejar.

"Kembalikan domba-dombaku! Kembalikan, kalian pencuri-pencuri busuk!"

Begitu mendengar mereka dimaki pencuri busuk, Kwee Siong yang berjuluk Si Tangan Maut berhenti dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang seperti topeng itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Hemm, besar juga nyali anak ini. Tentu otaknya lebih segar dan menguatkan tulang dari pada otak domba. Nak, marilah engkau ikut bersamaku!" katanya dan Kwee Siong sudah melemparkan domba yang tadi dipegangnya ke atas tanah, lalu tangannya menjangkau untuk menangkap leher anak laki-laki itu.

"Tua bangka busuk, jangan ganggu anak itu!" tiba-tiba saja terdengar bentakan halus dan mendadak tubuh anak itu tertarik ke belakang sehingga terluput dari cengkeraman tangan Kwee Siong.

Kakek itu terkejut dan langsung mengangkat muka memandang. Kiranya seorang dengan pakaian serba putih telah berdiri di depannya. Dia seorang laki-laki muda, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya serba putih kasar tetapi bersih, dengan ikat rambut dan ikat pinggang warna biru. Wajahnya yang tampan sekali itu membayangkan kemarahan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong.

Keempat orang tua itu kini menghadapi pemuda yang bukan lain adalah Hui Lian itu, dan mereka semua memandang marah.

"Ehhh, pemuda liar dari mana yang berani mencampuri urusan kami?" bentak Siangkoan Leng sambil melangkah maju, tubuhnya yang tinggi besar itu nampak mengancam dan wajahnya beringas.

Dengan suara lantang dan ketus Hui Lian berkata, "Apa bila melihat sikap kalian, kalian adalah empat orang tua bangka yang tidak miskin, juga bukan orang sembarangan. Tidak malukah kalian mengganggu seorang anak penggembala domba dan merampas domba-dombanya? Kembalikan domba-domba itu!"

"Wah, agaknya bocah lancang ini sudah bosan hidup!" bentak Kwee Siong yang tadi telah melempar dombanya karena hendak menangkap anak penggembala.

Sambil membentak dia sudah menerjang maju dan mengirim tamparan kedua tangannya bergantian ke arah kepala Hui Lian. Tamparan ini bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan yang mengandung tenaga kuat sekali, merupakan serangan maut. Jangankan kepala orang, batu karang pun akan remuk terlanda tamparan kedua tangan yang sangat kuat itu.

Dengan tenang Hui Lian mengangkat kedua lengannya ke kanan kiri. Ketika dua pasang lengan itu bertemu, kedua lengan Kwee Siong terpental dan kesempatan ini dipergunakan Hui Lian untuk melanjutkan sepasang tangannya yang menangkis itu untuk mendorong ke depan, ke arah dada lawan.

Kwee Siong terkejut dan mengelak ke belakang, namun hawa dorongan yang kuat masih menerjangnya dan membuat tubuhnya terjengkang keras! Hanya dengan berjungkir balik sajalah dia terhindar dari bantingan keras.

Tentu saja hal ini mengejutkan empat orang itu. Pemuda berpakaian putih itu bukan saja mampu menangkis tamparan kedua tangan Kwee Siong Si Tangan Maut, bahkan mampu membalas menyerang yang nyaris membuat Kwee Siong terbanting roboh!

Isteri Kwee Siong, Tong Ci Ki, menjadi marah. Dia pun melempar dombanya dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak cahaya hitam kecil-kecil beterbangan menyambar ke arah tubuh Hui Lian. Gadis yang menyamar sebagai seorang pemuda ini maklum bahwa dia diserang jarum-jarum halus yang mungkin sekali mengandung racun.

Akan tetapi, sebagai seorang ahli silat yang berilmu tinggi, Hui Lian tidak menjadi gugup melihat datangnya serangan dengan senjata gelap ini. Sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari depan empat orang lawan karena tubuh itu, dengan ginkang yang luar biasa, sudah mencelat ke atas sehingga jarum-jarum itu lewat di bawah kakinya. Hui Lian tidak hanya mengelak, akan tetapi ketika tubuhnya turun, tubuh itu menyambar ke arah Tong Ci Ki yang tadi menyerangnya dengan jarum.

Tentu saja Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum Sakti, terkejut sekali melihat lawan yang diserang jarum-jarum halus itu secara tiba-tiba lenyap, dan dia menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari atas dan ketika dia menengadah, dia melihat lawannya tadi sudah meluncur turun sambil menyerangnya dengan cengkeraman ke arah ubun-ubun kepalanya!

Datangnya serangan ini demikian tiba-tiba dan cepat sehingga satu-satunya jalan bagi nenek iblis itu untuk menyelamatkan diri hanyalah dengan cara membuang tubuhnya ke samping, ke arah yang berlawanan dengan datangnya serangan, terus menjatuhkan diri ke bawah. Akan tetapi gerakannya masih belum cukup cepat karena pita rambut bersama sebagian rambut, segumpal rambut bercampur uban, telah kena dicengkeram dan rontok dari kepalanya!

Tong Ci Ki bergulingan kemudian melompat bangun dengan muka yang sudah pucat itu menjadi kehijauan dan tengkuk meremang saking ngerinya. Nyaris dia tewas hanya dalam satu gebrakan saja!

Dua pasang suami isteri yang terkenal sebagai tokoh-tokoh sesat yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi itu hampir tak dapat mempercayai mata mereka sendiri melihat betapa ada seorang pemuda yang sama sekali tidak terkenal, dengan beberapa gebrakan saja membuat suami isteri iblis dari Goa Pantai Selatan itu hampir roboh!

Siangkoan Leng dan isterinya tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai, sebab itu tanpa banyak cakap lagi mereka pun melempar domba yang mereka tangkap tadi dan keduanya kemudian menerjang maju membantu kawan-kawan mereka. Siangkoan Leng meloncat ke atas dan menubruk dengan kedua tangannya membentuk cakar, seperti serangan seekor singa kelaparan.

Dengan kecepatan kilat Hui Lian menghindar ke samping, lantas kakinya bergerak cepat menendang ke arah lambung penyerangnya. Siangkoan Leng menangkis tendangan itu dengan tangannya, bermaksud menangkap kaki lawan, akan tetapi akibatnya, lengannya tertendang dan dia pun terhuyung!

Pada saat itu Ma Kim Li sudah menubruk dengan serangan kilat, memukul ke arah dada, disusul dengan serangan yang dilakukan oleh Tong Ci Ki dan Kwee Siong. Karena mereka bertiga memiliki ilmu silat yang amat tinggi, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan mereka bertiga yang dilakukan hampir berbareng itu.

Namun Hui Lian juga maklum bahwa para lawannya bukanlah orang lemah, dan melihat cara mereka menyerang serta ilmu yang dipergunakan itu mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang dari golongan hitam. Ia pun cepat mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya dan tubuh itu pun berkelebatan ke sana-sini, di antara tangan dan kaki lawan yang menyerang.

Hui Lian dikepung dan dikeroyok dari empat penjuru, akan tetapi tubuhnya segera lenyap berubah menjadi bayangan putih yang sulit sekali disentuh, apa lagi dipukul. Lebih mudah menangkap seekor burung walet dari pada menyentuh bayangan putih yang berkelebatan dengan amat cepatnya itu.

Empat orang tokoh sesat itu menjadi semakin terkejut. Tidak mereka sangka bahwa di daerah sunyi ini mereka akan bertemu dengan seorang lawan yang sakti, padahal lawan itu masih demikian muda dan tidak terkenal sama sekali!

Hui Lian tahu bahwa empat orang ini bukan orang baik-baik, tentu dari golongan hitam yang sering bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka dan tidak bermusuhan dengan mereka, sedangkan kesalahan mereka hanyalah mencuri domba-domba, maka dia pun tidak bermaksud untuk membunuh mereka. Apa bila hal itu dikehendakinya, biar pun tak begitu mudah karena dikeroyok empat, dia tentu akan dapat merobohkan mereka satu demi satu.

Kini dia membalas dengan kecepatan gerak tangan dan kakinya, dan sungguh pun empat orang lawan ini pun mampu menghindarkan diri dengan saling bantu, namun permainan silat mereka menjadi kacau saking cepatnya gerakan Hui Lian, dan mereka pun merasa jeri. Mereka sedang melaksanakan tugas, sungguh tidak menguntungkan jika melibatkan diri dalam perkelahian melawan orang yang sangat lihai ini, apa lagi hanya untuk urusan yang sepele.

Siangkoan Leng memberi isyarat kepada tiga orang lainnya untuk melarikan diri, ada pun dia sendiri segera mendahului menarik tangan isterinya diajak meloncat ke luar kalangan perkelahian. Suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan juga berloncatan menjauh, lantas tanpa menoleh lagi keempatnya telah melarikan diri secepatnya meninggalkan lereng itu.

Hui Lian tidak mengejar mereka karena dia mengenal bahayanya melakukan pengejaran terhadap orang-orang dari golongan sesat yang sering kali menggunakan segala macam kecurangan. Apa lagi memang tidak ada apa-apa antara mereka dan dirinya.

Ketika dia menoleh dan mencari, ternyata sekumpulan domba itu sudah lenyap dari situ dan sesudah dia mencari-cari dengan pandangan matanya, domba-domba itu sudah jauh berada di kaki bukit, digembala oleh anak tadi yang sekarang berjalan bersama seorang dewasa yang tidak dikenalnya, seorang laki-laki yang mengenakan sebuah caping lebar yang menutupi seluruh kepala dan mukanya. Caping seperti itu memang dapat digunakan untuk melindungi tubuh, baik dari panas mau pun dari curahan air hujan.

Hui Lian tersenyum. Anak itu telah terlepas dari bahaya tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun kepadanya. Hal ini tidak mengapa, apa lagi anak itu tidak dikenalnya, hanya secara kebetulan saja mereka bertemu, juga anak itu tidak minta tolong kepadanya.

Akan tetapi melihat betapa anak itu sekarang berjalan bersama seorang dewasa, hatinya merasa tidak enak dan dia menjadi curiga. Siapa tahu kalau orang bercaping lebar itu juga seorang penjahat yang menipu anak itu dan hendak merampas domba-dombanya! Maka dia pun cepat berlari turun dari lereng itu melakukan pengejaran.

Ketika dia sudah dapat menyusul, Hui Lian mencoba untuk memperhatikan muka orang dewasa yang berjalan bersama dengan anak gembala itu. Mereka berjalan berdampingan, akan tetapi agaknya tidak pernah bicara.

Anak itu pun melihatnya dan nampaknya bingung dan juga khawatir, akan tetapi dia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya berjalan lebih merapat kepada orang dewasa itu. Ketika Hui Lian mendahului supaya dapat melihat wajah orang, orang itu segera menundukkan mukanya sehingga caping lebar itu kini menutupi mukanya sama sekali dari arah samping dan depan! Hui Lian yang melirik tidak melihat apa-apa kecuali sebuah caping yang dicat kuning itu. Orang itu mengenakan pakaian berwarna biru muda dengan garis-garis pada pinggirnya.

Beberapa kali Hui Lian berjalan sambil melirik di dekat mereka, baik dari belakang mau pun dari depan. Namun selalu hanya caping yang dapat dilihatnya karena dari mana pun dia memandang, muka itu selalu terlindung caping. Dia menjadi penasaran dan semakin curiga.

Jangan-jangan orang ini memang sengaja menyembunyikan wajahnya, pikirnya dongkol akibat merasa dipermainkan. Oleh karena itu, dengan langkah lebar dia pun menghampiri mereka.

"Hei, berhenti dulu!" kata Hui Lian dengan suara gemas, mempergunakan bahasa Miao sedapatnya.

Anak itu cepat menahan langkahnya dan orang bercaping itu pun ikut pula berhenti. Akan tetapi kalau anak itu pun mengangkat muka memandang kepada wajah Hui Lian dengan sikap takut, orang bercaping itu berhenti dan berdiri sambil menundukkan muka sehingga kembali Hui Lian hanya dapat melihat capingnya saja!

"Angkat mukamu dan perlihatkan kepadaku!" bentak Hui Lian yang sudah tidak sabar lagi. Dia masih mempergunakan bahasa campuran dengan bahasa Miao.

Baru sekarang orang itu mengangkat mukanya hingga caping itu kini berada di belakang kepalanya dan wajahnya kelihatan jelas ketika sepasang mata Hui Lian bertemu dengan sepasang mata lain yang membuat dia terkejut bukan kepalang. Wajah itu adalah wajah seorang pemuda yang tampan, hidungnya mancung, mulutnya dihias senyum ramah dan sepasang matanya seperti mata naga, mencorong dan berpengaruh!

"Ehh, siapa kau?" tanyanya dalam bahasa Miao. Akan tetapi pemuda yang usianya dua puluh tahun lebih sedikit itu hanya memandang kepadanya sambil tersenyum bodoh.

Hui Lian mengerutkan alisnya dan bertanya kepada anak penggembala yang juga sedang memandang kepadanya. "Siapakah dia ini?"

Penggembala itu menoleh, lantas memandang kepada Si Caping Lebar dan menggeleng sambil menjawab. "Aku tidak tahu."

Hui Lian menjadi semakin curiga. Wah, benar dugaannya, pikirnya. Penggembala itu tidak mengenal orang ini, berarti penggembala ini tertipu.

"Tanya siapa dia!" katanya lagi dengan bahasa Miao sambil menatap tajam wajah orang bercaping yang masih tersenyum-senyum akan tetapi nampaknya tak mengerti apa yang dipertanyakan itu.

Anak itu kini menghadapi Si Caping Lebar dan menggerak-gerakkan kedua tangan serta jari-jari tangannya, berusaha memberi isyarat dengan tangan untuk menanyakan namanya sambil menuding-nuding ke arah dada orang itu.

Melihat hal ini Hui Lian menjadi semakin heran dan terkejut, juga jengkel karena melalui bahasa isyarat tangan ini, orang bercaping yang berwajah tampan itu agaknya belum juga dapat mengerti maksudnya pertanyaannya melalui anak penggembala itu.

"Sialan," gerutunya dalam bahasanya sendiri. "Dia gagu pula..."

Akan tetapi pemuda tampan itu terkekeh geli sambil memandang kepadanya. "Sobat yang baik, aku tidaklah gagu seperti yang kau kira."

Hui Lian terkejut. Kiranya orang bercaping ini tidak gagu sama sekali. Ia menjadi semakin jengkel karena merasa dipermainkan. "Kalau tidak gagu, mengapa sejak tadi engkau tidak mau menjawab pertanyaanku dan anak ini mengajakmu bicara dengan isyarat tangan?!" bentaknya.

"Aihh, bagaimana aku tahu bahwa tadi engkau mengajakku bicara, sobat? Apa yang kau bicarakan bersama adik ini tadi, aku sama sekali tidak mengerti sebuah kata pun."

Kini Hui Lian menahan ketawanya. Barulah dia mengerti. Ternyata orang ini tidak pandai bahasa Miao, maka tentu saja tidak menjawab ketika dia bertanya karena memang tidak mengerti. Dan dia telah menyuruh anak penggembala itu bertanya kepadanya, tentu saja mereka pun tidak dapat saling bicara dan anak itu agaknya sudah tahu bahwa orang ini tidak pandai bahasa Miao maka mencoba dengan isyarat tangan. Hui Lian tersenyum dan orang itu agaknya girang bukan main melihat senyumnya.

"Wah, dugaanku benar sekali, ha-ha-ha!"

Hui Lian kembali mengerutkan alisnya. Ia melihat pemuda itu tertawa dan wajahnya yang tampan menjadi semakin menarik.

"Engkau mentertawakan apa?!" bentaknya.

Pemuda yang sedang celangap tertawa itu tiba-tiba menghentikan ketawanya dan hal ini nampak demikian lucu sehingga anak penggembala itu tidak dapat menahan ketawanya. Memang lucu sekali melihat wajah yang tadinya tertawa gembira, tiba-tiba menghentikan suara ketawa itu dan berubah menjadi demikian serius.

Pemuda itu kemudian menoleh memandang kepada anak penggembala dan melihat anak itu tertawa-tawa, dia pun tertawa lagi. Keduanya tertawa dan Hui Lian yang tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, mengerutkan alisnya lebih dalam lagi.

"Diam! Mengapa kalian tertawa-tawa seperti orang gila?" bentaknya.

Meski pun anak itu tidak mengerti ucapannya, namun agaknya dia mengerti bahwa orang berpakaian serba putih itu sedang marah-marah. Maka dia pun langsung berhenti tertawa seperti juga Si Pemuda Bercaping Lebar yang secara tiba-tiba sudah menghentikan lagi suara ketawanya.

"Nah, apa yang kau tertawakan? Kau mentertawakan aku, ya?!" Hui Lian kini menghardik Si Caping Lebar.

Caping lebar itu bergerak-gerak lucu pada saat kepala yang ditungganginya menggeleng. "Bukan mentertawakan, melainkan tertawa akibat girang sebab dugaanku agaknya benar. Tadi aku menduga bahwa engkau adalah seorang yang amat tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Ketika engkau menegur aku dan marah-marah, aku merasa kecelik. Orang marah mana bisa nampak tampan? Akan tetapi ketika engkau tidak marah lagi dan tersenyum tadi, barulah aku yakin bahwa dugaanku benar. Engkau seorang laki-laki yang tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Atau... barangkali dugaanku tetap keliru?"

Tentu saja Hui Lian tidak berani lagi memperlihatkan sikap marah. Siapa orangnya yang tidak ingin disebut tampan dan baik hati? Dia tersenyum, kini senyumnya lebih manis dan ramah, namun karena dia masih merasa curiga kalau-kalau pemuda bercaping ini sedang mempermainkannya, dia pun berkata. "Tentu saja aku marah kalau engkau pecengisan?"

"Pecengisan? Apa itu?" tanya Si Pemuda Bercaping.

"Pecengisan itu tidak bersungguh-sungguh tapi ingin memperolokku! Engkau tidak sedang mempermainkan aku, bukan?"

"Wah, tidak! Tidak! Mana bisa aku mempermainkan? Engkau begini tampan dan gagah, begini baik, mana aku berani?"

"Nah, kalau begitu tanggalkan dulu capingmu yang selalu menutupi mukamu supaya aku dapat bicara sambil memandang mukamu!"

Pemuda itu lalu menanggalkan capingnya dengan cara mendorong caping itu ke belakang sehingga benda itu kini tergantung di belakang tubuhnya karena talinya tergantung pada leher, dan caping itu menutupi buntalan pakaiannya yang digendongnya.

Hui Lian makin kagum. Ternyata pemuda ini ganteng bukan kepalang! Pakaiannya yang berwarna biru muda itu biar pun sederhana, namun bersih, juga rambutnya hitam sekali, terawat baik.

"Nah, begitu baru baik. Sekarang katakan, bagaimana engkau tahu-tahu dapat berjalan bersama penggembala ini? Di mana engkau ketika ada orang mencuri domba-domba itu tadi?"

"Aku kebetulan saja lewat dan melihat engkau berkelahi melawan empat orang iblis tadi. Melihat adik penggembala ini ketakutan, aku segera mengajaknya pergi dan menghalau semua domba-dombanya menjauhi tempat itu karena takut kalau-kalau ada orang jahat lagi yang akan merampas dombanya. Bagaimana dengan perkelahian tadi? Menangkah engkau? Dan di mana mereka itu?"

Hui Lian mengangguk-angguk. Ternyata hanya orang lewat secara kebetulan saja. "Aku sudah berhasil mengusir mereka," jawabnya singkat. "Mereka itu orang-orang berbahaya sekali, aku harus mengantar adik penggembala ini sampai ke rumahnya."

"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku pun tadinya hendak mengantarnya, akan tetapi aku takut kalau-kalau ketemu orang jahat. Kalau engkau yang suka mengantarnya, hatiku menjadi lega, Toako. Kini aku bisa melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, senang sekali dapat bertemu seorang yang demikian gagah perkasa seperti engkau."

Pemuda itu mengenakan capingnya kembali, lalu memisahkan diri dengan langkah lebar menuju ke kiri. Kepada anak penggembala itu, dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, dibalas oleh penggembala itu.

"Di mana dusunmu?" Hui Lian bertanya kepada Si Penggembala setelah orang bercaping lebar itu lenyap di balik pohon-pohon.

Anak itu menunjuk ke sebuah bukit gundul yang berada di depannya. "Di balik bukit itu."

"Hemm, kenapa engkau menggembala domba sedemikian jauhnya?"

"Di sana tidak ada rumput yang bagus, dan domba-domba ini harus diberi makan rumput yang segar agar mereka tetap sehat dan segar ketika disembelih esok lusa."

"Disembelih? Semuanya ini...?" Hui Lian memandang kepada domba-domba itu, dan baru sekarang timbul perasaan ngeri mendengar bahwa domba-domba yang jinak dan manis itu akan disembelih semua!

Melihat betapa binatang-binatang yang jinak dan lemah ini, yang pada waktu digiring dan mengembik nampak sekali tidak berdaya, kini hendak disembelih semua, timbul perasaan kasihan dan ngeri. Padahal sejak kecil dia sudah makan daging domba dan belum pernah dia teringat kepada dombanya kalau sedang makan daging domba.

"Ya, semuanya ini dan masih banyak lagi. Kepala suku kami hendak mengadakan pesta pemilihan suami untuk puterinya. Wah, pasti akan ramai sekali karena pemilihan sekali ini pakai sayembara mengadu ilmu ketangkasan!"

Tentu saja Hui Lian merasa tertarik sekali. Dia pernah mendengar tentang suku bangsa yang mempunyai kebiasaan bermacam-macam mengenai pernikahan, dan dia pun pernah mendengar tentang kebiasaan sayembara untuk memperebutkan seorang wanita cantik, terutama puteri kepala suku.

"Apakah aku boleh ikut menonton?" tanyanya, mempergunakan bahasa Miao yang hanya dikuasainya setengah matang tapi cukup untuk dapat dipakai berkomunikasi dengan anak penggembala itu.

Anak itu mengangguk. "Pesta ini memang merupakan pesta suku kami, akan tetapi boleh saja orang luar menonton, bahkan boleh juga kalau ada yang mau mengikuti sayembara. Apa lagi untuk engkau yang sudah menyelamatkan domba-domba ini, kepala suku kami tentu akan senang sekali mendengarnya. Marilah ikut bersamaku sampai ke dusun, nanti akan kuperkenalkan kepada kepala suku."

Hui Lian yang memang sedang merantau dan ingin mengalami hal-hal baru, mengangguk senang. Mereka mendaki bukit di depan dan ketika tiba di puncak bukit, anak itu segera menuding ke bawah. "Nah, di sanalah perkampungan kami."

Di bawah bukit itu nampak sebuah perkampungan terdiri dari rumah-rumah sederhana. Akan tetapi perhatian Hui Lian tertarik kepada sesosok tubuh yang menggeletak tak jauh dari situ, terlentang seperti sudah tak bernyawa saja.

"Di sana ada orang...," katanya dan cepat menghampiri, diikuti oleh anak penggembala itu yang berlari-lari di belakang Hui Lian.

"Aihhh… dia Kiao Yi!" tiba-tiba penggembala itu berseru. "Tuan, apakah dia... dia sudah mati...?" Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kekhawatiran.

Hui Lian cepat memeriksa. Orang itu belum mati, akan tetapi lemah sekali dan pingsan. Melihat mukanya yang agak kebiruan serta mulutnya yang mengeluarkan busa, dia dapat menduga bahwa tentu orang ini sudah keracunan. Suheng-nya pandai membuat obat anti racun, dan dia juga membawa obat itu untuk bekal dalam perjalanan.

"Tidak, dia belum mati. Cepat cari air untuk kuberi minum obat padanya," kata Hui Lian.

Penggembala itu lalu mengeluarkan guci tempat air yang dibawanya untuk bekal. Hui Lian mengeluarkan satu butir pil putih, kemudian memaksa orang yang pingsan itu menelan pil bersama air yang diminumkannya, dibantu oleh penggembala itu.

Hui Lian lalu menotok sana sini. Orang itu masih muda, usianya paling banyak dua puluh lima tahun, kulitnya kecoklatan seperti bangsa Miao pada umumnya, kepalanya memakai kain kepala yang dilibat-libatkan seperti sorban, dan wajahnya cukup tampan.

Pemuda Miao itu mengeluh, mulai siuman dan membuka mata lalu bangkit dan muntah-muntah. Legalah hati Hui Lian. Kalau pemuda itu muntah, hal itu berarti nyawanya akan tertolong, karena racun itu ikut tertumpah keluar.

Sesudah semua isi pencernaannya tertumpah keluar, agaknya pemuda itu baru melihat adanya Hui Lian dan penggembala itu. Dia mengenal penggembala itu, akan tetapi heran melihat Hui Lian. Anak penggembala itu cepat memberi tahu bahwa Hui Lian adalah orang yang telah mengobatinya. Pemuda itu cepat-cepat memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih.

"Tak perlu berterima kasih," kata Hui Lian dengan bahasa Miao yang kaku. "Lebih baik ceritakan bagaimana engkau berada di sini, pingsan dan keracunan."

Pemuda yang bernama Kiao Yi itu mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepala.

"Saya sendiri tidak tahu. Tadi saya sedang bersama para pemuda lain, terutama mereka yang hendak mengikuti sayembara besok, kami makan-makan bersama. Kemudian saya merasa perutku tidak enak sehingga saya lalu menjauhkan diri pergi ke sini. Makin lama perutku terasa semakin nyeri dan akhirnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

"Hemm, engkau keracunan, tentu dalam makanan itu terdapat racunnya," kata Hui Lian.

"Ahh, kalau begitu semua temanku tentu keracunan pula! Saya harus segera kembali ke sana untuk melihatnya!" Kiao Yi meloncat bangun, akan tetapi segera terguling roboh lagi dan dia mengeluh. Kepalanya pening dan tubuhnya lemah sekali.

"Engkau sudah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi masih lemah dan sedikitnya harus beristirahat sampai seminggu barulah kesehatanmu akan pulih kembali."

"Ahh, mana bisa begitu?" Kiao Yi berteriak kaget. "Saya harus mengikuti sayembara itu! Tidak mungkin saya tidak ikut dan membiarkan saja kekasih saya jatuh ke tangan orang lain!"

Anak gembala itu lalu menerangkan kepada Hui Lian. "Kakak Kiao Yi ini adalah kekasih Nian Ci, puteri kepala suku kami, dan juga dia paling gagah di antara para pemuda kami. Sudah dapat dipastikan bahwa dia tentu akan menang dalam sayembara itu, apa lagi dia memperoleh dukungan puteri kepala suku kami. Akan tetapi sekarang dia sakit..."

Kiao Yi mencoba untuk bangkit lagi, tetapi dia harus terduduk kembali sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya karena kepalanya terasa seperti melayang dan pandang matanya terputar.

"Jangan dipaksa berdiri dulu, engkau harus beristirahat. Jelas bahwa engkau tak mungkin dapat mengikuti sayembara itu, apa lagi jika sayembara itu dilakukan besok pagi. Apakah tidak bisa ditunda dan diundurkan sampai seminggu lagi agar engkau sembuh lebih dulu?"

"Tidak mungkin." jawab Kiao Yi. "Waktu telah diputuskan oleh kepala suku sehingga tidak mungkin dirubah atau diundurkan, semua persiapan sudah dilakukan. Ahh, Nian Ci... Nian Ci... agaknya Langit dan Bumi tidak menghendaki kita menjadi suami isteri!" Pemuda itu nampak berduka sekali.

Pada saat itu terdengar suara gaduh dan ketika Hui Lian menoleh, ternyata ada belasan orang pemuda berlari-larian naik ke bukit itu. Melihat mereka, anak penggembala itu cepat mengangkat tongkatnya kemudian berteriak-teriak memanggil. Mereka berlarian naik dan nampak oleh Hui Lian bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang bertubuh sehat dan kuat, juga sikap mereka gembira.

Akan tetapi, saat mereka tiba di situ melihat adanya seorang asing, mereka memandang heran dan sibuklah anak penggembala itu menceritakan betapa domba-dombanya hampir dirampok orang, namun dia ditolong oleh pemuda bangsa Han. Selain itu diceritakannya pula betapa ketika pemuda Han itu sedang mengantar dia pulang, di puncak itu mereka menemukan Kiao Yi dalam keadaan pingsan dan pemuda itu pula yang sudah menolong dan mengobatinya.

"Dan aku harus beristirahat satu minggu baru kesehatanku akan pulih kembali!" Kiao Yi mengeluh kepada teman-temannya. "Dan aku tidak bisa ikut sayembara itu... ahh, betapa sial nasibku...!"

Hui Lian memandang kepada belasan orang muda itu, kemudian bertanya kepada Kiao Yi. "Mereka inikah yang makan-makan bersamamu tadi?"

Kiao Yi mengangguk. "Untung di antara mereka agaknya tidak ada seorang pun yang keracunan seperti aku."

Para pemuda itu lalu menggotong Kiao Yi yang lemah turun dari bukit, diikuti oleh anak penggembala domba dengan domba-dombanya, dan Hui Lian yang semakin tertarik juga mengikuti mereka. Sesudah tiba di perkampungan itu, para pemuda membawa Kiao Yi ke dalam rumahnya, disambut oleh ibu pemuda itu dengan bingung.

Kiao Yi sudah tidak berayah lagi, ada pun ibunya menjadi khawatir sekali melihat keadaan puteranya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa Hui Lian adalah pemuda Han yang telah menolong puteranya, dia segera mempersilakan Hui Lian masuk ke dalam rumah sebagai seorang tamu yang dihormati.

Setelah anak penggembala pergi bersama para pemuda itu, Hui Lian yang duduk di dekat pembaringan Kiao Yi lantas bertanya. "Namamu Kiao Yi, bukan? Aku tadi mendengarnya dari anak penggembala itu."

"Benar sekali," jawab pemuda yang lemah itu.

"Namaku Hui Lian. Kiao Yi, apa saja yang harus dilakukan dalam sayembara yang akan diadakan besok itu?"

"Ada lima macam. Pertama diadu kemahiran menunggang kuda dan mempergunakan anak panah sambil berkuda. Ke dua diadu kecepatan menangkap seekor rusa muda. Ke tiga diharuskan melawan seekor kerbau. Ke empat, diserang tiga kali dengan anak panah dalam jarak seratus meter, dan ke lima siapa yang bisa lulus dalam ujian sampai empat macam itu diharuskan mengadu ilmu berkelahi. Sebagai ujian saringan bagi para pengikut harus membawa sebuah batu besar meloncat ke atas panggung."

Hui Lian mengangguk-angguk. "Hemm, berat juga. Dan tadinya engkau yakin akan dapat menang?"

Kiao Yi lalu menarik napas panjang. "Semenjak kecil saya telah mempelajari semua ilmu ketangkasan suku kami, dan apa bila melihat kemampuan teman-teman yang memasuki sayembara besok, saya dapat mengharapkan untuk menang. Akan tetapi sekarang... ahh, tak mungkin lagi..." Wajahnya nampak sedih sekali.

"Sudahlah, Anakku, tidak perlu berduka. Agaknya Nian Ci memang bukan jodohmu. Lebih baik engkau menjaga dirimu agar cepat sembuh, dan aku akan mencarikan gantinya Nian Ci. Puteri Bibimu Mang juga cantik dan..."

"Tidak, Ibu! Kalau tidak dengan Nian Ci, aku tidak mau menikah!"

"Anakku...!" lbu itu menangis.

Melihat ini, tergerak hati Hui Lian. Pemuda ini sudah saling mencinta dengan Nian Ci, apa bila perjodohan mereka sampai gagal tentu akan mendukakan hati kedua orang muda itu. Dan lebih lagi, dia merasa curiga sekali.

Kiao Yi makan-makan bersama belasan orang pemuda temannya yang juga akan menjadi saingannya besok. Dia keracunan, akan tetapi kenapa pemuda-pemuda yang lain tidak? Agaknya tentu ada permainan kotor di sini! Hal inilah yang membuat dia penasaran sekali.

"Kiao Yi, karena engkau sedang sakit, biarlah aku saja yang akan mewakilimu maju dalam sayembara itu. Aku akan berusaha sampai menang supaya engkau bisa menikah dengan Nian Ci," katanya.

Kedua mata pemuda itu terbelalak dan pandang matanya menatap wajah Hui Lian penuh selidik. "Kak Hui Lian, apakah engkau pernah melihat Nian Ci?"

Hui Lian menggeleng kepala. "Secara kebetulan saja aku bertemu dengan penggembala domba itu dan ikut ke sini."

Pemuda itu nampaknya semakin heran. Tadinya dia mengira bahwa tentu pemuda Han ini melihat Nian Ci dan tertarik oleh kecantikan gadis kepala suku itu.

"Kalau begitu, mengapa engkau hendak ikut sayembara?"

"Aku ingin mencegah agar Nian Ci tidak menikah dengan orang lain, kecuali denganmu."

"Kakak Hui Lian, engkau sudah menolong saya, sekarang hendak melakukan hal itu lagi? Tidak, besok engkau boleh memasuki sayembara, akan tetapi kalau menang, biarlah Nian Ci menjadi isterimu. Ia cantik jelita dan menarik, juga pandai sekali. Dari pada dia terjatuh ke tangan pemuda lain, saya rela kalau dia menjadi isterimu!"

"Tidak, Kiao Yi, aku melakukannya untukmu."

"Mana bisa? Sayembara itu bukan tidak berbahaya, terutama sekali ujian diserang anak panah dan adu ilmu berkelahi itu. Bisa terluka, bahkan bisa tewas!"

"Akan tetapi aku yakin akan dapat menangkan mereka, Kiao Yi."

"Tapi... tapi... Kak Hui Lian, mengapa engkau tidak mau menerima hadiahnya? Mengapa engkau tidak mau menikah dengan Nian Ci jika menang, melainkan hendak memberikan gadis itu kepadaku? Mengapa?" Melihat betapa pemuda ini berkeras dan agaknya akan menolak kalau dia tidak berterus terang, Hui Lian tersenyum.

"Kiao Yi, memang ada rahasianya mengapa aku tidak mau menikah dengan Nian Ci atau gadis mana saja di dunia ini. Akan tetapi, kalau aku membuka rahasia ini kepadamu agar engkau tak merasa penasaran, dapatkah engkau menjaga supaya rahasia ini tidak bocor dan diketahui orang lain?"

"Saya bersumpah tidak akan membocorkannya!" kata Kiao Yi kemudian pemuda ini minta kepada ibunya agar meninggalkan mereka berdua. Ibu yang tahu diri itu pun cepat keluar dan setelah tinggal berdua saja, Hui Lian berkata lirih.

"Kiao Yi, ketahuilah mengapa aku tidak bisa menikah dengan Nian Ci, karena sebenarnya aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria."

Kiao Yi terkejut sekali. Kalau saja tubuhnya tak selemah itu, tentu dia langsung meloncat turun dari pembaringannya. Dia memandang dengan mata terbelalak dan sejenak dia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Akhirnya dia bicara, suaranya berat dan gemetar.

"Kalau begitu, sungguh... lebih tidak mungkin lagi. Sebagai seorang wanita, bagaimana... bagaimana engkau dapat melakukan semua ujian dalam sayembara...?"

Kembali Hui Lian tersenyum. "Jangan khawatir, percayalah kepadaku, Kiao Yi. Kalau aku tidak merasa mampu, tentu aku tidak menawarkan diri mewakilimu."

Kiao Yi segera teringat akan cerita yang pernah didengarnya, yang dianggapnya sebagai dongeng, tentang wanita-wanita pendekar di antara bangsa Han.

"Apakah... apakah... engkau seorang pendekar wanita?"

Untuk meyakinkan hati pemuda itu, Hui Lian segera mengangguk. "Nah, cukuplah, jangan dibicarakan lagi hal itu. Bersikaplah seakan-akan aku masih seperti tadi, seorang sahabat laki-laki. Dan namaku tetap Hui Lian, karena memang itulah namaku."

Kiao Yi girang sekali. Kalau seorang pendekar wanita yang menolongnya, tentu dia akan berhasil menikah dengan gadis kekasihnya itu! Dia lalu berteriak memanggil ibunya yang tergopoh-gopoh memasuki kamar.

"Ibu, kakak Hui Lian ini akan mewakili aku di dalam sayembara dan aku yakin dia pasti dapat menang. Ibu persiapkan saja segala keperluan untuk pernikahanku dengan Nian Ci. Dan berikan kamar tidur besar kepada Kakak Hui Lian. Ibu tidur di sini bersamaku."

Ibunya memandang puteranya dengan perasaan heran. Kenapa tamu muda itu tidak tidur saja bersama Kiao Yi? Bukankah hal itu lebih tepat, pemuda tidur dengan pemuda? Akan tetapi karena tamu itu merupakan orang terhormat, dia pun tidak membantah dan cepat meninggalkan kamar itu untuk membersihkan kamar besar.

********************

Pendekar Mata Keranjang Jilid 25

PADA suatu malam, di waktu hujan, dia membayangi suaminya yang pergi berkunjung ke tetangga sebelah, memasuki kamar nyonya tetangga itu melalui jendela yang dibuka dari dalam! Hampir meledak rasa hati Hui Lian saking panasnya melihat kelakuan suaminya itu. Dia membiarkan hingga beberapa lama, kemudian secara tiba-tiba dia membuka daun jendela dari luar dan melompat ke dalam kamar.

"Jahanam busuk!" bentaknya dan bergidik dia menyaksikan perbuatan suaminya dengan nyonya tetangga itu.

Su Ta Touw terkejut dan ketakutan, mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa kemudian hendak berlari keluar. Namun sekali menggerakkan kakinya, Hui Lian sudah menendang pria itu, sedemikian keras tendangan itu hingga tubuh suaminya terlempar keluar jendela! Hui Lian mengejar keluar, lantas menyeret rambut suaminya, ditariknya kembali ke rumah mereka, tidak peduli akan hujan yang turun mengguyur tubuh mereka.

"Ampun... ampunkan aku... ahh, ampunkann...," Su Ta Touw menggigil ketakutan ketika isterinya melempar tubuhnya ke atas tanah di pekarangan depan rumah mereka.

"Bangunlah dan pertahankan dirimu, karena kalau tidak, demi Tuhan terpaksa aku akan membunuhmu begitu saja!"

"Tidak... tidak... ahhh, ampunkan aku..." Su Ta Touw yang ditantang isterinya itu berlutut dan menyembah-nyembah sambil menangis. Tentu saja dia tak berani melawan Hui Lian, maklum bahwa tingkat kepandaian silatnya masih sangat jauh di bawah sehingga dalam satu gebrakan saja isterinya akan mampu merobohkannya, bahkan membunuhnya.

"Desss…!"

Kembali sebuah tendangan membuat tubuh Su Ta Touw terjengkang lantas bergulingan. Dia mengaduh-aduh, bangkit dan berlutut lagi. Mulutnya berdarah dan seluruh tubuhnya basah oleh lumpur.

"Ampunkan aku... aku bersumpah tidak akan berani lagi... aku bersumpah... ahhh…, kau ampunkan aku."

"Jahanam keparat! Sumpah yang keluar dari mulutmu hina dan busuk!" Kembali kaki Hui Lian menendang dan tubuh itu pun terpelanting keras. Ia menendang untuk melampiaskan kemarahannya, hanya mempergunakan tenaga otot biasa. Kalau dia menendang dengan pengerahan sinkang, satu kali saja tentu nyawa laki-laki itu akan putus.

"Tidak, sekali ini aku tobat benar-benar, aku bersumpah... demi nenek moyangku, demi... nama dan kehormatanku... aku..."

"Cukup sudah!" Hui Lian membentak marah. "Bangkitlah dan lawan aku sebagai seorang laki-laki! Pertahankanlah nyawamu!"

Melihat kemarahan isterinya yang amat ditakuti itu, Su Ta Touw menjadi makin ketakutan dan dia menangis tanpa bangkit dari atas tanah di mana dia merlutut!

Melihat ini, Hui Lian menjadi semakin marah, "Kalau begitu, bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dan dia sudah melangkah maju untuk mengirim tendangan maut.

"Sumoi, tahan...!" Tiba-tiba terdengar suara orang. Hui Lian terkejut, segera membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa seorang laki-laki yang lengan kirinya buntung sudah berdiri di situ.

"Sumoi, apa lagi yang kau lakukan ini?" kembali laki-laki menegurnya dengan suara keras penuh teguran.

"Suheng...!" Hui Lian berlari menghampiri dan menubruk laki-laki itu, kemudian menangis sejadi-jadinya di pundak Su Kiat.

Su Kiat menarik napas panjang, kemudian mendengarkan dengan sabar ketika Hui Lian menceritakan dengan suara terisak-isak tentang semua perbuatan suaminya yang sudah semenjak setahun yang lalu berubah sikapnya, menjadi laki-laki hidung belang. Kemudian diceritakannya pula peristiwa tentang perjinahan suaminya dengan nyonya tetangga yang sudah bersuami dan beranak tiga, bahkan perjinahan itu kini menumbuhkan kandungan di dalam perut nyonya itu.

Su Kiat menggeleng-gelengkan kepalanya, memandang kepada Su Ta Touw yang masih berlutut di atas tanah yang becek. Bagaimana seorang laki-laki dapat terperosok demikian dalamnya, melakukan hal yang amat memalukan hanya karena terdorong nafsu birahi?

"Suheng, sebelum engkau datang, tadinya aku hendak membunuhnya sebelum akhirnya aku bunuh diri. Aku sudah malu hidup di dunia ramai ini..."

Su Kiat terkejut. Dia maklum akan kekerasan hati sumoi-nya dan dia khawatir kalau-kalau sumoi-nya akan betul-betul membunuh diri. "Sumoi, pikiranmu itu sangat keliru. Agaknya memang telah menjadi nasibmu, dua kali menikah dengan laki-laki yang tidak benar. Akan tetapi membunuhnya lalu membunuh diri bukan merupakan jalan keluar yang baik. Bunuh diri hanya dapat dilakukan oleh pengecut yang sudah tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Marilah kita selesaikan urusan ini dengan sebaiknya, Sumoi. Engkau bercerai saja lagi dari keparat ini, kemudian mari kembali membantuku membina Cia-ling Bu-koan kita. Bukankah sebelum semua ini terjadi, kita hidup cukup bahagia?"

Diam-diam Hui Lian menyalahkan suheng-nya yang dulu membujuknya supaya menikah, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Suheng-nya begitu baik, dan siapa lagi orang di dunia ini kecuali suheng-nya yang dapat ditangisinya di waktu dia menghadapi masalah yang demikian menyedihkan hatinya?

"Mari sekarang kita pulang ke Hek-bun, dan besok aku yang akan pergi menemui orang tuanya untuk membereskan urusan perceraianmu dengan jahanam ini." Tanpa pamit lagi, Hui Lian dan Su Kiat mempergunakan ilmu lari cepat meninggalkan tempat itu setelah Hui Lian membawa pakaian dan barang-barangnya yang dianggap perlu.

Pada keesokan harinya, Su Kiat menjumpai Su Ta Touw dan orang tuanya. Su Ta Touw tidak berani banyak cakap lagi karena dia memang merasa bersalah. Juga ayah ibunya tidak berani banyak cakap, maklum akan watak putera mereka yang gila perempuan dan tidak bertanggung jawab itu.

Demikianlah, dalam waktu lima tahun saja, untuk kedua kalinya Hui Lian kembali menjadi janda. Dia merasa malu sekali tinggal di Hek-bun. Seluruh penduduk Hek-bun tahu belaka bahwa dia adalah wanita yang dalam waktu beberapa tahun saja sudah menjanda sampai dua kali! Karena itu, walau pun tidak ada orang berani mengejeknya atau bicara tentang dirinya, Hui Lian merasa malu sendiri dan dia pun lalu berpamit kepada suheng-nya.

"Suheng, perkenankanlah aku pergi dari dusun ini," katanya pada suatu senja.

Su Kiat terkejut bukan main mendengar ucapan ini dan melihat betapa sumoi-nya sudah mengenakan pakaian pria yang agaknya sudah lama dipersiapkannya. Juga sumoi-nya itu mengatur rambutnya seperti seorang pria, menyamar sebagai pria.

Sudah berbulan-bulan sumoi-nya tinggal lagi di situ bersama dia setelah bercerai dari Su Ta Touw dan baru terasa olehnya perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Sebelum sumoi-nya menikah untuk pertama kali, dia merasa hidupnya sangat berbahagia bersama sumoi-nya. Ketika sumoi-nya menikah dengan Tee Sun dan pindah, dia merasa kesepian, bahkan berduka. Namun perasaan ini dilawannya dengan keyakinan bahwa sumoi-nya pergi untuk menempuh hidup baru yang berbahagia dan sepatutnya kalau dia merasa ikut berbahagia pula.

Kemudian sumoi-nya bercerai lantas menikah lagi. Sekarang, setelah sumoi-nya bercerai untuk kedua kalinya dan tinggal lagi bersamanya dalam satu rumah, membantunya, baik untuk melatih para murid mau pun untuk urusan rumah tangga, dia merasa seakan-akan matahari bertambah cerah dan kicau burung bertambah merdu.

Hidup menjadi amat berbahagia baginya, seolah-oleh dia menemukan kembali dirinya dan kebahagiaan yang tadinya sedikit demi sedikit menghilang bersama dengan perginya Hui Lian dari sampingnya. Oleh karena itu, mendengar sumoi-nya berpamit, dia terkejut bukan main sampai air mukanya berubah.

"Kau... kau hendak pergi kemanakah, Sumoi?" tanyanya gagap.

"Aku... aku hendak pergi merantau, ke mana saja, Suheng."

"Ahhh, apa artinya ini, Sumoi? Mengapa engkau sekarang tidak suka tinggal bersamaku dan membantuku? Apakah kita... tidak dapat kembali hidup seperti dulu, Sumoi, di mana kita mengalami segala hal berdua, pahit mau pun manis? Mengapa tiba-tiba saja engkau hendak meninggalkan aku? Dan aku khawatir sekali karena engkau pergi tanpa tujuan."

"Aku hendak mencari pengalaman, Suheng, dan aku... aku berusaha melupakan segala yang pernah terjadi denganku di sini, juga agar semua orang melupakan semua itu... aku mungkin akan mencari keluarga orang tuaku di San-hai-koan."

"Bukankah aku pengganti keluargamu, Sumoi?"

"Benar, benar sekali, Suheng!" Hui Lian memegang tangan suheng-nya yang tergeletak di atas meja. "Engkau adalah keluargaku, engkau pengganti orang tua, kakakku juga guruku dan sahabatku. Ahh... betapa aku sudah bersikap tidak mengenal budi, akan tetapi... aku ingin pergi, Suheng. Aku ingin menghirup udara bebas setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan batin yang tidak mungkin dapat kuceritakan kepadamu. Perkenankanlah aku pergi, Suheng. Untuk satu tahun, dua tahun... Tanpa ijinmu aku tidak berani pergi. Tapi, kasihanilah aku, Suheng..."

Su Kiat memejamkan sepasang matanya. Aih, sumoi, tidakkah seharusnya engkau yang mengasihani diriku, bisik hatinya. Akan tetapi dia menahan gejolak hatinya dan membuka mata, memandang wajah sumoi-nya penuh haru, penuh rasa sayang.

"Baiklah, Sumoi. Tak mungkin aku dapat mencegah kehendakmu. Aku hanya mendoakan semoga engkau akan menemukan kebahagiaan..."

"Aih, Suheng! Engkau seperti dapat menjenguk dan membaca isi hatiku! Benar sekali, aku rindu akan kebahagiaan, Suheng! Selama ini hanya kebahagiaan palsu yang kuraih, dan aku rindu sekali. Aku akan pergi untuk mencari kebahagiaan, Suheng."

Su Kiat tidak menjawab. Dia masih duduk termenung setelah lama sekali Hui Lian pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan dirinya. Ingin dia pun pergi mencari kebahagiaan, akan tetapi hal itu tidaklah mungkin. Bagaimana mungkin dia mencari kebahagiaan kalau baru saja kebahagiaan sendiri meninggalkannya?

Sekarang dia tahu benar. Hui Lianlah sumber kebahagiaannya! Namun kini Hui Lian telah pergi, membawa kebahagiaan menjauhi hatinya yang mendadak menjadi penuh dengan kesepian, penuh kekosongan dan kerinduan.

Betapa banyaknya keinginan itu terlontar dari lubuk hati manusia, baik melalui mulut atau pun hanya dipendam saja. Keinginan untuk mencari kebahagiaan! Mencari kebahagiaan! Semua orang rindu akan kebahagiaan. Semua orang ingin mencari kebahagiaan, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang dapat dicari, dapat ditemukan dan digenggam supaya tidak pergi lagi!

Su Kiat menyangka bahwa baginya, kebahagiaan adalah diri Hui Lian, kehadiran Hui Lian karena dia membutuhkan kehadiran Hui Lian yang menyenangkan hatinya. Namun bagi orang lain mungkin bukan itu, melainkan harta bendalah sumber kebahagiaannya karena dia membutuhkannya, karena hanya harta benda yang dapat menyenangkan hatinya. Ada pula yang mengejar kebahagiaan melalui kedudukan, atau nama besar, atau benda atau keadaan. Namun bagaimana pun juga, pengejaran itu dilakukan semata-mata karena dia membutuhkannya, karena dia menganggap bahwa itulah yang akan dapat menyenangkan dirinya, hatinya, selamanya!

Namun apakah kebahagiaan itu sama dengan kesenangan? Apakah orang yang senang hatinya itu berbahagia? Apakah kesenangan itu dapat dinikmati selamanya? Hal ini dapat kita pelajari dengan mengamati diri sendiri, mengamati kesenangan-kesenangan kita, apa yang kita cari dan kejar-kejar itu.

Betapa banyaknya macam kesenangan atau benda atau keadaan yang mendatangkan kesenangan. Akan tetapi alangkah rapuhnya kesenangan itu sendiri, seperti gelembung-gelembung sabun yang indah beraneka warna, mempesona kanak-kanak yang mengejar-ngejarnya, namun setelah terpegang, gelembung itu pun lalu meletus dan lenyap, terganti kekecewaan. Betapa benda atau orang atau pun keadaan, yang tadinya kita kejar-kejar, kita anggap sebagai sumber kesenangan, bahkan akhirnya mendatangkan kekecewaan, kebosanan, bahkan juga kejengkelan! Adakah kesenangan yang abadi?

Tentu saja bukan! Yang disebut kebahagiaan jelas bukanlah kesenangan! Kesenangan dapat kita gambarkan, dapat kita cari dan perebutkan, tetapi kesenangan memiliki muka yang banyak sekali, seperti sebuah dadu yang memiliki banyak permukaan, tetapi hanya satu permukaan yang menyenangkan sedangkan permukaan yang lain sama sekali tidak menyenangkan!

Kita semua mengejar kebahagiaan secara membabi buta, mengira bahwa kebahagiaan ada di sini, di sana, dan kita mengejar tanpa mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan itu! Apakah mungkin orang mencari sesuatu yang tidak dikenalnya, sesuatu yang tidak diketahuinya?

Kebahagiaan tak mungkin bisa dikenal, karena kebahagiaan adalah sesuatu yang hidup, sedangkan pengenalan hanyalah melalui sesuatu penggambaran yang mati. Kesenangan adalah penggambaran yang mati, sesuatu yang pernah kita kenal melalui pengalaman, maka dapat kita kejar. Kebahagiaan yang terasa lalu dikenal melalui pengalaman bukan kebahagiaan lagi, melainkan menjadi kesenangan dan seperti biasa kita ingin mengulang kesenangan.

Kita tidak dapat mengenal kebahagiaan, tidak dapat menggenggam kebahagiaan. Akan tetapi kita mengenal dan mengerti akan ketidak bahagiaan karena kita semua sering kali mengalaminya, merasakannya. Justru karena tidak berbahagia inilah maka kita mengejar kebahagiaan. Kita ingin lari dari ketidak bahagiaan dan mencari kebahagiaan.

Mengapa kita tidak menghadapi saja ketidak bahagiaan ini, bukan hanya merasakan lalu mencoba lari, namun menyelaminya, mengamatinya dengan seksama dan teliti sehingga akan terlihat benar oleh kita bahwa kita tak berbeda, tak terpisah dari ketidak bahagiaan itu sendiri.

Ketidak bahagiaan itu berasal dari kita sendiri, pikiran kita yang selalu mencari senang menjauhi susah, selalu mengejar keuntungan menghindarkan kerugian, selalu ingin, ingin dan ingin lagi! Hanya pengamatan terhadap diri sendiri inilah yang akan membuat kita waspada dan mengerti, yang akan menghentikan ketidak bahagiaan itu sendiri merajalela di dalam batin.

Dan jika sudah tidak ada lagi ketidak bahagiaan ini di dalam diri kita, apakah kita masih mengejar kebahagiaan? Kiranya tidak, sebab tanpa adanya ketidak bahagiaan maka kita tidak butuh kebahagiaan lagi, justru karena kebahagiaan sudah ada pada kita, menyinar sepenuhnya tidak terhalang oleh awan ketidak bahagiaan, seperti matahari yang terbebas dari pada halangan awan yang menggelapkan.

Tuhan Maha Kasih! Kita dilahirkan dalam keadaan lengkap selengkap-lengkapnya. Bukan hanya kelengkapan pada diri kita lahir batin yang lengkap, bahkan yang berada di luar diri kita, yang berada di alam mayapada ini, yang nampak mau pun yang tak nampak, semua itu melengkapi hidup kita, seolah-olah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Matahari, bulan, bintang, angin, air, tanah serta segenap tumbuh-tumbuhannya, bahkan segala logam dan minyak di dalam tanah, semuanya itu bermanfaat bagi kehidupan kita, bukan hanya bermanfaat, bahkan menghidupkan! Kasih Tuhan inilah kebahagiaan, bagi mereka yang dapat menerimanya dan mau menerimanya. Akan tetapi kebahagiaan akan sirna seperti sinar matahari tertutup mendung kalau muncul ketidak bahagiaan di dalam batin kita, yang sesungguhnya muncul karena sang aku yang tiada hentinya ingin ini dan itu, di antaranya ingin bahagia pula!


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sungai Yuan yang airnya jernih itu mengalir ke timur menuju ke Telaga Tung-ting yang terletak di perbatasan Propinsi Hu-nan dan Hu-pai. Ketika sungai itu melewati pegunungan yang penuh dengan hutan cemara, airnya mengambil jalan berkelok-kelok dan dari tempat ketinggian itu nampak seperti seekor ular perak yang amat panjang.

Pemuda itu mengagumi pemandangan alam yang sangat indah ini, sambil duduk di atas padang rumput di puncak bukit yang datar itu dan memberi kesempatan pada tubuhnya untuk beristirahat. Dari tempat dia duduk nampak di kejauhan Danau Tung-ting yang luar biasa luasnya itu, seperti lautan. Danau inilah yang memberi nama kepada dua propinsi, yaitu Propinsi Hu-nan (sebelah selatan danau) dan Propinsi Hu-pai (sebelah utara danau).

Sebelah selatan Danau atau Telaga Tung-ting ini menampung air dari sungai-sungai Ce, Yuan, Siang, dan Li dan menghubungkan air danau dengan Sungai Yang-ce-kiang yang sangat besar. Danau itu menjadi semacam waduk alam yang amat besar, yang mengatur pasang surutnya air Sungai Yang-ce.

Di pagi hari menjelang siang itu, pemuda tadi duduk mengaso dan termenung. Alangkah jauhnya sudah dia menjelajahi bumi ini. Telaga atau Danau Tung-ting yang dari kejauhan nampak seperti laut membentang luas itu juga pernah dikunjunginya beberapa hari yang lalu, sempat berperahu dan mengail ikan disana. Alangkah jauh dan lama dia menjelajah.

Dia tidaklah terlalu muda lagi. Usianya sudah kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya serba putih dari kain kasar yang kuat dan bersih. Hanya pita rambut dan ikat pinggangnya yang berwarna biru. Sesungguhnya dia bukanlah seorang pemuda, tetapi seorang wanita, yaitu Kok Hui Lian!

Kita tahu bahwa wanita ini sudah meninggalkan Hek-bun, dusun tempat tinggalnya, pergi meninggalkan suheng-nya untuk melakukan perantauan, untuk menghibur hatinya yang penuh dengan kekecewaan dan kedukaan. Sesudah merantau dia menemukan hiburan di dalam kehidupan baru ini sehingga dia lupa akan janjinya untuk pulang ke tempat tinggal suheng-nya.

Sudah dua tahun dia merantau dan sudah jauh tempat yang dijelajahinya. Bahkan sudah pula dia mengunjungi San-hai-koan di mana mendiang ayahnya pernah tinggal dan malah menjabat sebagai gubernur. Tetapi ketika dia melakukan penyelidikan, ternyata ayah dan ibunya serta seisi rumah telah menjadi korban perang, semuanya telah tewas kecuali dia seorang yang diselamatkan seorang pendekar yang menurut cerita suheng-nya kemudian, bernama Cia Hui Song, putera dari Ketua Cin-ling-pai.

Dia berhasil menemui seorang paman, yaitu adik misan ayahnya yang menjadi seorang pembesar di San-hai-koan. Tapi ternyata pamannya itu bersikap congkak dan tinggi hati, membuat dia merasa sungkan untuk mengenalkan dirinya dan akhirnya dia meninggalkan San-hai-koan dan menganggap bahwa orang tuanya tidak meninggalkan anggota keluarga lain kecuali dirinya sendiri. Ia berkunjung ke makam ayah ibunya dan bersembahyang.

Kini dia telah tiba di tempat yang sunyi dan indah itu, dan duduk mengagumi keindahan pemandangan alam sambil melamun. Dia teringat akan masa lalunya, teringat pada Ciang Su Kiat, orang yang tadinya menjadi gurunya, menjadi pengganti orang tuanya, sahabat terdekatnya, dan kemudian menjadi suheng-nya. Dan dia menjadi terharu.

Setiap kali termenung dan terkenang kepada suheng-nya, semakin jelas teringat olehnya alangkah baiknya suheng-nya itu terhadap dirinya. Dan betapa malang nasib suheng-nya. Pernah suheng-nya bercerita tentang lengannya yang buntung. Lengan kiri itu dibuntungi sendiri sebagai pernyataan bersalah terhadap Cin-ling-pai!

Di depan ketua Cin-ling-pai, ayah dari Pendekar Cia Hui Song yang menyelamatkannya, suheng-nya itu membuntungi lengan kirinya sendiri sebagai penebus dosa dan sekaligus sebagai protes pula atas peraturan yang amat keras dan bengis dari Cin-ling-pai. ‘Dosa’ suheng-nya itu adalah karena Su Kiat membunuh seorang tihu untuk membalas dendam atas kematian ayahnya yang disiksa sampai mati oleh tihu itu karena ayahnya mencuri perhiasan untuk membiayai pengobatan anak bungsunya

Kasihan sekali suheng-nya! Dan keterlaluan sekali Ketua Cin-ling-pai itu. Apakah ketua itu tidak melihat bahwa suheng-nya tidak melakukan kejahatan, tetapi hendak membalaskan kematian dan sakit hati ayah kandungnya? Biar pun suheng-nya telah melupakan urusan itu, akan tetapi perasaan penasaran membuat Hui Lian kini mengambil keputusan untuk mengunjungi Cin-ling-pai. Setidaknya ia akan menegur ketua Cin-ling-pai atas kebengisan dan kekejamannya itu!

Tiba-tiba Hui Lian tersentak dari lamunannya ketika ada suara melengking merdu, naik turun dengan lembutnya, memasuki pendengarannya. Dia segera memperhatikan dan itu adalah suara suling yang ditiup secara aneh.

Suara itu begitu lembut, naik turun dengan halusnya, dalam lagu yang selamanya belum pernah dia mendengarnya. Akan tetapi hanya sebentar saja suara itu terdengar, karena segera menjauh dengan amat cepatnya, seolah-olah suling itu dibawa terbang lalu saja.

Hui Lian bangkit berdiri, memandang ke sekeliling untuk mencari peniup suling itu, akan tetapi tidak nampak sesuatu dan kini suara suling itu telah makin sayup-sayup kemudian menghilang di kejauhan. Ketika dia memandang ke bawah, di sebuah lereng yang penuh rumput hijau gemuk, dia melihat ada puluhan ekor domba digembala oleh seorang anak laki-laki yang usianya belasan tahun. Anak itukah Si Peniup Suling, pikirnya.

Karena ingin tahu sekali, masih tertarik oleh suara yang aneh tadi, Hui Lian meninggalkan puncak bukit itu. Dia segera menuruni puncak menuju lereng bukit di mana anak laki-laki itu sedang menggembala dombanya. Karena mengerahkan ilmunya berlari cepat, dalam waktu singkat saja Hui Lian telah tiba di lereng bukit itu.

Akan tetapi, ketika dia sampai di tempat di mana anak laki-laki berusia belasan tahun itu menggembala tiga puluh ekor dombanya, dia terkejut sekali dan cepat menyelinap di balik batang pohon sambil mengintai ke depan. Tidak jauh dari sana, dia melihat empat orang yang mengerikan.

Mereka itu dua orang pria dan dua orang wanita, keempatnya sudah berusia enam puluh tahun lebih. Agaknya mereka adalah dua pasang suami isteri. Yang sepasang merupakan kakek dan nenek biasa saja, bahkan kakek tinggi besar itu kelihatan gagah dan isterinya, nenek yang tubuhnya masih ramping itu memperlihatkan bekas kecantikannya.

Namun pasangan ke dua sangat mengerikan. Yang pria tinggi kurus dengan muka yang cukup tampan akan tetapi seperti topeng saja, karena tidak nampak pergerakan pada kulit muka itu! Ada pun isterinya, yang juga berpakaian hitam-hitam seperti suaminya, dapat dibilang cantik akan tetapi mukanya pucat seperti mayat dan membayangkan kekejaman. Dari sikap mereka saja mudah diduga bahwa empat orang itu bukanlah kakek dan nenek sembarangan.

Dugaannya memang tak keliru. Dua pasang suami isteri tua itu bukan lain adalah Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) dan suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan.

Seperti sudah kita ketahui dari bagian depan kisah ini, dua pasang suami isteri sesat ini pernah saling bermusuhan ketika belasan tahun yang lalu mereka saling memperebutkan Sin-tong (Anak Ajaib). Kemudian, karena dari permusuhan itu mereka sama-sama tidak memperoleh keuntungan, mereka lalu bersekutu dan akhirnya mereka berjumpa dengan tokoh datuk sesat Lam-hai Giam-lo yang amat sakti, kemudian menjadi sekutu atau anak buahnya.

Lam-hai Giam-lo telah memperoleh seorang murid yang kaya raya dan sekarang datuk ini tinggal bersama muridnya, memiliki banyak anak buah yang terdiri dari tokoh-tokoh sesat yang pandai seperti dua pasang suami isteri itu.

"Aahhh, kebetulan sekali. Perut kita lapar dan lihat domba-domba yang muda dan gemuk itu!" terdengar Ma Kim Li, nenek isteri Siangkoan Leng yang menjadi Sepasang Iblis Laut Selatan itu berkata sambil menunjuk ke arah sekumpulan domba yang makan rumput dan berkeliaran di situ.

Anak penggembala itu kini duduk di bawah pohon, kadang-kadang meneriaki domba yang berkeliaran telampau jauh. Melihat pakaiannya yang terbuat dari kain Liu-jang, yaitu kain yang terbuat dari bahan rami yang terkenal di daerah Hu-nan, mudah di duga bahwa anak ini adalah suku bangsa Miao, suku bangsa yang banyak terdapat di daerah itu.

"Benar sekali! Daging domba muda dan gemuk itu dibakar setengah matang, diberi garam saja sudah lezat bukan main," kata suaminya.

"Aku masih menyimpan sisa garam dan bumbunya," kata Tong Ci Ki yang mukanya pucat seperti mayat.

"Aku lebih suka mengganyang otak domba itu mentah-mentah, segar dan memperkuat tulang!" kata suaminya yang bernama Kwee Siong.

"Mari kita tangkap domba itu, seorang seekor dan boleh makan menurut selera masing-masing," kata Siangkoan Leng, suami dari Ma Kim Li.

Mereka serentak muncul dari balik semak-semak dan menghampiri kumpulan domba itu. Melihat ada empat orang kakek dan nenek menghampiri domba-dombanya yang menjadi gelisah, anak penggembala berusia sekitar tiga belas tahun itu pun cepat bangkit dan lari menghampiri.

Pada waktu melihat betapa empat orang kakek dan nenek itu masing-masing menangkap seekor domba muda, anak itu terkejut sekali dan dalam bahasanya sendiri, bahasa suku bangsa Miao, dia berteriak, "Lepaskan domba-dombaku, jangan tangkap mereka!"

Anak itu berusaha untuk mengambil kembali domba-dombanya dari tangan empat orang kakek dan nenek yang menangkapnya, akan tetapi Ma Kim Li yang berdiri paling dekat mendorongkan tangan kirinya dan tubuh anak itu pun terdorong ke belakang, terjengkang dan terguling-guling di atas rumput. Sambil tertawa-tawa empat orang kakek dan nenek sesat itu hendak pergi dari situ membawa empat ekor domba muda yang kini mengembik ketakutan. Anak laki-laki itu terkejut sekali, akan tetapi dia tidak menangis, bahkan cepat dia bangkit lagi dan lari mengejar.

"Kembalikan domba-dombaku! Kembalikan, kalian pencuri-pencuri busuk!"

Begitu mendengar mereka dimaki pencuri busuk, Kwee Siong yang berjuluk Si Tangan Maut berhenti dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang seperti topeng itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Hemm, besar juga nyali anak ini. Tentu otaknya lebih segar dan menguatkan tulang dari pada otak domba. Nak, marilah engkau ikut bersamaku!" katanya dan Kwee Siong sudah melemparkan domba yang tadi dipegangnya ke atas tanah, lalu tangannya menjangkau untuk menangkap leher anak laki-laki itu.

"Tua bangka busuk, jangan ganggu anak itu!" tiba-tiba saja terdengar bentakan halus dan mendadak tubuh anak itu tertarik ke belakang sehingga terluput dari cengkeraman tangan Kwee Siong.

Kakek itu terkejut dan langsung mengangkat muka memandang. Kiranya seorang dengan pakaian serba putih telah berdiri di depannya. Dia seorang laki-laki muda, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya serba putih kasar tetapi bersih, dengan ikat rambut dan ikat pinggang warna biru. Wajahnya yang tampan sekali itu membayangkan kemarahan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong.

Keempat orang tua itu kini menghadapi pemuda yang bukan lain adalah Hui Lian itu, dan mereka semua memandang marah.

"Ehhh, pemuda liar dari mana yang berani mencampuri urusan kami?" bentak Siangkoan Leng sambil melangkah maju, tubuhnya yang tinggi besar itu nampak mengancam dan wajahnya beringas.

Dengan suara lantang dan ketus Hui Lian berkata, "Apa bila melihat sikap kalian, kalian adalah empat orang tua bangka yang tidak miskin, juga bukan orang sembarangan. Tidak malukah kalian mengganggu seorang anak penggembala domba dan merampas domba-dombanya? Kembalikan domba-domba itu!"

"Wah, agaknya bocah lancang ini sudah bosan hidup!" bentak Kwee Siong yang tadi telah melempar dombanya karena hendak menangkap anak penggembala.

Sambil membentak dia sudah menerjang maju dan mengirim tamparan kedua tangannya bergantian ke arah kepala Hui Lian. Tamparan ini bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan yang mengandung tenaga kuat sekali, merupakan serangan maut. Jangankan kepala orang, batu karang pun akan remuk terlanda tamparan kedua tangan yang sangat kuat itu.

Dengan tenang Hui Lian mengangkat kedua lengannya ke kanan kiri. Ketika dua pasang lengan itu bertemu, kedua lengan Kwee Siong terpental dan kesempatan ini dipergunakan Hui Lian untuk melanjutkan sepasang tangannya yang menangkis itu untuk mendorong ke depan, ke arah dada lawan.

Kwee Siong terkejut dan mengelak ke belakang, namun hawa dorongan yang kuat masih menerjangnya dan membuat tubuhnya terjengkang keras! Hanya dengan berjungkir balik sajalah dia terhindar dari bantingan keras.

Tentu saja hal ini mengejutkan empat orang itu. Pemuda berpakaian putih itu bukan saja mampu menangkis tamparan kedua tangan Kwee Siong Si Tangan Maut, bahkan mampu membalas menyerang yang nyaris membuat Kwee Siong terbanting roboh!

Isteri Kwee Siong, Tong Ci Ki, menjadi marah. Dia pun melempar dombanya dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak cahaya hitam kecil-kecil beterbangan menyambar ke arah tubuh Hui Lian. Gadis yang menyamar sebagai seorang pemuda ini maklum bahwa dia diserang jarum-jarum halus yang mungkin sekali mengandung racun.

Akan tetapi, sebagai seorang ahli silat yang berilmu tinggi, Hui Lian tidak menjadi gugup melihat datangnya serangan dengan senjata gelap ini. Sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari depan empat orang lawan karena tubuh itu, dengan ginkang yang luar biasa, sudah mencelat ke atas sehingga jarum-jarum itu lewat di bawah kakinya. Hui Lian tidak hanya mengelak, akan tetapi ketika tubuhnya turun, tubuh itu menyambar ke arah Tong Ci Ki yang tadi menyerangnya dengan jarum.

Tentu saja Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum Sakti, terkejut sekali melihat lawan yang diserang jarum-jarum halus itu secara tiba-tiba lenyap, dan dia menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari atas dan ketika dia menengadah, dia melihat lawannya tadi sudah meluncur turun sambil menyerangnya dengan cengkeraman ke arah ubun-ubun kepalanya!

Datangnya serangan ini demikian tiba-tiba dan cepat sehingga satu-satunya jalan bagi nenek iblis itu untuk menyelamatkan diri hanyalah dengan cara membuang tubuhnya ke samping, ke arah yang berlawanan dengan datangnya serangan, terus menjatuhkan diri ke bawah. Akan tetapi gerakannya masih belum cukup cepat karena pita rambut bersama sebagian rambut, segumpal rambut bercampur uban, telah kena dicengkeram dan rontok dari kepalanya!

Tong Ci Ki bergulingan kemudian melompat bangun dengan muka yang sudah pucat itu menjadi kehijauan dan tengkuk meremang saking ngerinya. Nyaris dia tewas hanya dalam satu gebrakan saja!

Dua pasang suami isteri yang terkenal sebagai tokoh-tokoh sesat yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi itu hampir tak dapat mempercayai mata mereka sendiri melihat betapa ada seorang pemuda yang sama sekali tidak terkenal, dengan beberapa gebrakan saja membuat suami isteri iblis dari Goa Pantai Selatan itu hampir roboh!

Siangkoan Leng dan isterinya tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai, sebab itu tanpa banyak cakap lagi mereka pun melempar domba yang mereka tangkap tadi dan keduanya kemudian menerjang maju membantu kawan-kawan mereka. Siangkoan Leng meloncat ke atas dan menubruk dengan kedua tangannya membentuk cakar, seperti serangan seekor singa kelaparan.

Dengan kecepatan kilat Hui Lian menghindar ke samping, lantas kakinya bergerak cepat menendang ke arah lambung penyerangnya. Siangkoan Leng menangkis tendangan itu dengan tangannya, bermaksud menangkap kaki lawan, akan tetapi akibatnya, lengannya tertendang dan dia pun terhuyung!

Pada saat itu Ma Kim Li sudah menubruk dengan serangan kilat, memukul ke arah dada, disusul dengan serangan yang dilakukan oleh Tong Ci Ki dan Kwee Siong. Karena mereka bertiga memiliki ilmu silat yang amat tinggi, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan mereka bertiga yang dilakukan hampir berbareng itu.

Namun Hui Lian juga maklum bahwa para lawannya bukanlah orang lemah, dan melihat cara mereka menyerang serta ilmu yang dipergunakan itu mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang dari golongan hitam. Ia pun cepat mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya dan tubuh itu pun berkelebatan ke sana-sini, di antara tangan dan kaki lawan yang menyerang.

Hui Lian dikepung dan dikeroyok dari empat penjuru, akan tetapi tubuhnya segera lenyap berubah menjadi bayangan putih yang sulit sekali disentuh, apa lagi dipukul. Lebih mudah menangkap seekor burung walet dari pada menyentuh bayangan putih yang berkelebatan dengan amat cepatnya itu.

Empat orang tokoh sesat itu menjadi semakin terkejut. Tidak mereka sangka bahwa di daerah sunyi ini mereka akan bertemu dengan seorang lawan yang sakti, padahal lawan itu masih demikian muda dan tidak terkenal sama sekali!

Hui Lian tahu bahwa empat orang ini bukan orang baik-baik, tentu dari golongan hitam yang sering bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka dan tidak bermusuhan dengan mereka, sedangkan kesalahan mereka hanyalah mencuri domba-domba, maka dia pun tidak bermaksud untuk membunuh mereka. Apa bila hal itu dikehendakinya, biar pun tak begitu mudah karena dikeroyok empat, dia tentu akan dapat merobohkan mereka satu demi satu.

Kini dia membalas dengan kecepatan gerak tangan dan kakinya, dan sungguh pun empat orang lawan ini pun mampu menghindarkan diri dengan saling bantu, namun permainan silat mereka menjadi kacau saking cepatnya gerakan Hui Lian, dan mereka pun merasa jeri. Mereka sedang melaksanakan tugas, sungguh tidak menguntungkan jika melibatkan diri dalam perkelahian melawan orang yang sangat lihai ini, apa lagi hanya untuk urusan yang sepele.

Siangkoan Leng memberi isyarat kepada tiga orang lainnya untuk melarikan diri, ada pun dia sendiri segera mendahului menarik tangan isterinya diajak meloncat ke luar kalangan perkelahian. Suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan juga berloncatan menjauh, lantas tanpa menoleh lagi keempatnya telah melarikan diri secepatnya meninggalkan lereng itu.

Hui Lian tidak mengejar mereka karena dia mengenal bahayanya melakukan pengejaran terhadap orang-orang dari golongan sesat yang sering kali menggunakan segala macam kecurangan. Apa lagi memang tidak ada apa-apa antara mereka dan dirinya.

Ketika dia menoleh dan mencari, ternyata sekumpulan domba itu sudah lenyap dari situ dan sesudah dia mencari-cari dengan pandangan matanya, domba-domba itu sudah jauh berada di kaki bukit, digembala oleh anak tadi yang sekarang berjalan bersama seorang dewasa yang tidak dikenalnya, seorang laki-laki yang mengenakan sebuah caping lebar yang menutupi seluruh kepala dan mukanya. Caping seperti itu memang dapat digunakan untuk melindungi tubuh, baik dari panas mau pun dari curahan air hujan.

Hui Lian tersenyum. Anak itu telah terlepas dari bahaya tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun kepadanya. Hal ini tidak mengapa, apa lagi anak itu tidak dikenalnya, hanya secara kebetulan saja mereka bertemu, juga anak itu tidak minta tolong kepadanya.

Akan tetapi melihat betapa anak itu sekarang berjalan bersama seorang dewasa, hatinya merasa tidak enak dan dia menjadi curiga. Siapa tahu kalau orang bercaping lebar itu juga seorang penjahat yang menipu anak itu dan hendak merampas domba-dombanya! Maka dia pun cepat berlari turun dari lereng itu melakukan pengejaran.

Ketika dia sudah dapat menyusul, Hui Lian mencoba untuk memperhatikan muka orang dewasa yang berjalan bersama dengan anak gembala itu. Mereka berjalan berdampingan, akan tetapi agaknya tidak pernah bicara.

Anak itu pun melihatnya dan nampaknya bingung dan juga khawatir, akan tetapi dia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya berjalan lebih merapat kepada orang dewasa itu. Ketika Hui Lian mendahului supaya dapat melihat wajah orang, orang itu segera menundukkan mukanya sehingga caping lebar itu kini menutupi mukanya sama sekali dari arah samping dan depan! Hui Lian yang melirik tidak melihat apa-apa kecuali sebuah caping yang dicat kuning itu. Orang itu mengenakan pakaian berwarna biru muda dengan garis-garis pada pinggirnya.

Beberapa kali Hui Lian berjalan sambil melirik di dekat mereka, baik dari belakang mau pun dari depan. Namun selalu hanya caping yang dapat dilihatnya karena dari mana pun dia memandang, muka itu selalu terlindung caping. Dia menjadi penasaran dan semakin curiga.

Jangan-jangan orang ini memang sengaja menyembunyikan wajahnya, pikirnya dongkol akibat merasa dipermainkan. Oleh karena itu, dengan langkah lebar dia pun menghampiri mereka.

"Hei, berhenti dulu!" kata Hui Lian dengan suara gemas, mempergunakan bahasa Miao sedapatnya.

Anak itu cepat menahan langkahnya dan orang bercaping itu pun ikut pula berhenti. Akan tetapi kalau anak itu pun mengangkat muka memandang kepada wajah Hui Lian dengan sikap takut, orang bercaping itu berhenti dan berdiri sambil menundukkan muka sehingga kembali Hui Lian hanya dapat melihat capingnya saja!

"Angkat mukamu dan perlihatkan kepadaku!" bentak Hui Lian yang sudah tidak sabar lagi. Dia masih mempergunakan bahasa campuran dengan bahasa Miao.

Baru sekarang orang itu mengangkat mukanya hingga caping itu kini berada di belakang kepalanya dan wajahnya kelihatan jelas ketika sepasang mata Hui Lian bertemu dengan sepasang mata lain yang membuat dia terkejut bukan kepalang. Wajah itu adalah wajah seorang pemuda yang tampan, hidungnya mancung, mulutnya dihias senyum ramah dan sepasang matanya seperti mata naga, mencorong dan berpengaruh!

"Ehh, siapa kau?" tanyanya dalam bahasa Miao. Akan tetapi pemuda yang usianya dua puluh tahun lebih sedikit itu hanya memandang kepadanya sambil tersenyum bodoh.

Hui Lian mengerutkan alisnya dan bertanya kepada anak penggembala yang juga sedang memandang kepadanya. "Siapakah dia ini?"

Penggembala itu menoleh, lantas memandang kepada Si Caping Lebar dan menggeleng sambil menjawab. "Aku tidak tahu."

Hui Lian menjadi semakin curiga. Wah, benar dugaannya, pikirnya. Penggembala itu tidak mengenal orang ini, berarti penggembala ini tertipu.

"Tanya siapa dia!" katanya lagi dengan bahasa Miao sambil menatap tajam wajah orang bercaping yang masih tersenyum-senyum akan tetapi nampaknya tak mengerti apa yang dipertanyakan itu.

Anak itu kini menghadapi Si Caping Lebar dan menggerak-gerakkan kedua tangan serta jari-jari tangannya, berusaha memberi isyarat dengan tangan untuk menanyakan namanya sambil menuding-nuding ke arah dada orang itu.

Melihat hal ini Hui Lian menjadi semakin heran dan terkejut, juga jengkel karena melalui bahasa isyarat tangan ini, orang bercaping yang berwajah tampan itu agaknya belum juga dapat mengerti maksudnya pertanyaannya melalui anak penggembala itu.

"Sialan," gerutunya dalam bahasanya sendiri. "Dia gagu pula..."

Akan tetapi pemuda tampan itu terkekeh geli sambil memandang kepadanya. "Sobat yang baik, aku tidaklah gagu seperti yang kau kira."

Hui Lian terkejut. Kiranya orang bercaping ini tidak gagu sama sekali. Ia menjadi semakin jengkel karena merasa dipermainkan. "Kalau tidak gagu, mengapa sejak tadi engkau tidak mau menjawab pertanyaanku dan anak ini mengajakmu bicara dengan isyarat tangan?!" bentaknya.

"Aihh, bagaimana aku tahu bahwa tadi engkau mengajakku bicara, sobat? Apa yang kau bicarakan bersama adik ini tadi, aku sama sekali tidak mengerti sebuah kata pun."

Kini Hui Lian menahan ketawanya. Barulah dia mengerti. Ternyata orang ini tidak pandai bahasa Miao, maka tentu saja tidak menjawab ketika dia bertanya karena memang tidak mengerti. Dan dia telah menyuruh anak penggembala itu bertanya kepadanya, tentu saja mereka pun tidak dapat saling bicara dan anak itu agaknya sudah tahu bahwa orang ini tidak pandai bahasa Miao maka mencoba dengan isyarat tangan. Hui Lian tersenyum dan orang itu agaknya girang bukan main melihat senyumnya.

"Wah, dugaanku benar sekali, ha-ha-ha!"

Hui Lian kembali mengerutkan alisnya. Ia melihat pemuda itu tertawa dan wajahnya yang tampan menjadi semakin menarik.

"Engkau mentertawakan apa?!" bentaknya.

Pemuda yang sedang celangap tertawa itu tiba-tiba menghentikan ketawanya dan hal ini nampak demikian lucu sehingga anak penggembala itu tidak dapat menahan ketawanya. Memang lucu sekali melihat wajah yang tadinya tertawa gembira, tiba-tiba menghentikan suara ketawa itu dan berubah menjadi demikian serius.

Pemuda itu kemudian menoleh memandang kepada anak penggembala dan melihat anak itu tertawa-tawa, dia pun tertawa lagi. Keduanya tertawa dan Hui Lian yang tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, mengerutkan alisnya lebih dalam lagi.

"Diam! Mengapa kalian tertawa-tawa seperti orang gila?" bentaknya.

Meski pun anak itu tidak mengerti ucapannya, namun agaknya dia mengerti bahwa orang berpakaian serba putih itu sedang marah-marah. Maka dia pun langsung berhenti tertawa seperti juga Si Pemuda Bercaping Lebar yang secara tiba-tiba sudah menghentikan lagi suara ketawanya.

"Nah, apa yang kau tertawakan? Kau mentertawakan aku, ya?!" Hui Lian kini menghardik Si Caping Lebar.

Caping lebar itu bergerak-gerak lucu pada saat kepala yang ditungganginya menggeleng. "Bukan mentertawakan, melainkan tertawa akibat girang sebab dugaanku agaknya benar. Tadi aku menduga bahwa engkau adalah seorang yang amat tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Ketika engkau menegur aku dan marah-marah, aku merasa kecelik. Orang marah mana bisa nampak tampan? Akan tetapi ketika engkau tidak marah lagi dan tersenyum tadi, barulah aku yakin bahwa dugaanku benar. Engkau seorang laki-laki yang tampan dan ganteng, juga berhati baik sekali. Atau... barangkali dugaanku tetap keliru?"

Tentu saja Hui Lian tidak berani lagi memperlihatkan sikap marah. Siapa orangnya yang tidak ingin disebut tampan dan baik hati? Dia tersenyum, kini senyumnya lebih manis dan ramah, namun karena dia masih merasa curiga kalau-kalau pemuda bercaping ini sedang mempermainkannya, dia pun berkata. "Tentu saja aku marah kalau engkau pecengisan?"

"Pecengisan? Apa itu?" tanya Si Pemuda Bercaping.

"Pecengisan itu tidak bersungguh-sungguh tapi ingin memperolokku! Engkau tidak sedang mempermainkan aku, bukan?"

"Wah, tidak! Tidak! Mana bisa aku mempermainkan? Engkau begini tampan dan gagah, begini baik, mana aku berani?"

"Nah, kalau begitu tanggalkan dulu capingmu yang selalu menutupi mukamu supaya aku dapat bicara sambil memandang mukamu!"

Pemuda itu lalu menanggalkan capingnya dengan cara mendorong caping itu ke belakang sehingga benda itu kini tergantung di belakang tubuhnya karena talinya tergantung pada leher, dan caping itu menutupi buntalan pakaiannya yang digendongnya.

Hui Lian makin kagum. Ternyata pemuda ini ganteng bukan kepalang! Pakaiannya yang berwarna biru muda itu biar pun sederhana, namun bersih, juga rambutnya hitam sekali, terawat baik.

"Nah, begitu baru baik. Sekarang katakan, bagaimana engkau tahu-tahu dapat berjalan bersama penggembala ini? Di mana engkau ketika ada orang mencuri domba-domba itu tadi?"

"Aku kebetulan saja lewat dan melihat engkau berkelahi melawan empat orang iblis tadi. Melihat adik penggembala ini ketakutan, aku segera mengajaknya pergi dan menghalau semua domba-dombanya menjauhi tempat itu karena takut kalau-kalau ada orang jahat lagi yang akan merampas dombanya. Bagaimana dengan perkelahian tadi? Menangkah engkau? Dan di mana mereka itu?"

Hui Lian mengangguk-angguk. Ternyata hanya orang lewat secara kebetulan saja. "Aku sudah berhasil mengusir mereka," jawabnya singkat. "Mereka itu orang-orang berbahaya sekali, aku harus mengantar adik penggembala ini sampai ke rumahnya."

"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku pun tadinya hendak mengantarnya, akan tetapi aku takut kalau-kalau ketemu orang jahat. Kalau engkau yang suka mengantarnya, hatiku menjadi lega, Toako. Kini aku bisa melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, senang sekali dapat bertemu seorang yang demikian gagah perkasa seperti engkau."

Pemuda itu mengenakan capingnya kembali, lalu memisahkan diri dengan langkah lebar menuju ke kiri. Kepada anak penggembala itu, dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, dibalas oleh penggembala itu.

"Di mana dusunmu?" Hui Lian bertanya kepada Si Penggembala setelah orang bercaping lebar itu lenyap di balik pohon-pohon.

Anak itu menunjuk ke sebuah bukit gundul yang berada di depannya. "Di balik bukit itu."

"Hemm, kenapa engkau menggembala domba sedemikian jauhnya?"

"Di sana tidak ada rumput yang bagus, dan domba-domba ini harus diberi makan rumput yang segar agar mereka tetap sehat dan segar ketika disembelih esok lusa."

"Disembelih? Semuanya ini...?" Hui Lian memandang kepada domba-domba itu, dan baru sekarang timbul perasaan ngeri mendengar bahwa domba-domba yang jinak dan manis itu akan disembelih semua!

Melihat betapa binatang-binatang yang jinak dan lemah ini, yang pada waktu digiring dan mengembik nampak sekali tidak berdaya, kini hendak disembelih semua, timbul perasaan kasihan dan ngeri. Padahal sejak kecil dia sudah makan daging domba dan belum pernah dia teringat kepada dombanya kalau sedang makan daging domba.

"Ya, semuanya ini dan masih banyak lagi. Kepala suku kami hendak mengadakan pesta pemilihan suami untuk puterinya. Wah, pasti akan ramai sekali karena pemilihan sekali ini pakai sayembara mengadu ilmu ketangkasan!"

Tentu saja Hui Lian merasa tertarik sekali. Dia pernah mendengar tentang suku bangsa yang mempunyai kebiasaan bermacam-macam mengenai pernikahan, dan dia pun pernah mendengar tentang kebiasaan sayembara untuk memperebutkan seorang wanita cantik, terutama puteri kepala suku.

"Apakah aku boleh ikut menonton?" tanyanya, mempergunakan bahasa Miao yang hanya dikuasainya setengah matang tapi cukup untuk dapat dipakai berkomunikasi dengan anak penggembala itu.

Anak itu mengangguk. "Pesta ini memang merupakan pesta suku kami, akan tetapi boleh saja orang luar menonton, bahkan boleh juga kalau ada yang mau mengikuti sayembara. Apa lagi untuk engkau yang sudah menyelamatkan domba-domba ini, kepala suku kami tentu akan senang sekali mendengarnya. Marilah ikut bersamaku sampai ke dusun, nanti akan kuperkenalkan kepada kepala suku."

Hui Lian yang memang sedang merantau dan ingin mengalami hal-hal baru, mengangguk senang. Mereka mendaki bukit di depan dan ketika tiba di puncak bukit, anak itu segera menuding ke bawah. "Nah, di sanalah perkampungan kami."

Di bawah bukit itu nampak sebuah perkampungan terdiri dari rumah-rumah sederhana. Akan tetapi perhatian Hui Lian tertarik kepada sesosok tubuh yang menggeletak tak jauh dari situ, terlentang seperti sudah tak bernyawa saja.

"Di sana ada orang...," katanya dan cepat menghampiri, diikuti oleh anak penggembala itu yang berlari-lari di belakang Hui Lian.

"Aihhh… dia Kiao Yi!" tiba-tiba penggembala itu berseru. "Tuan, apakah dia... dia sudah mati...?" Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kekhawatiran.

Hui Lian cepat memeriksa. Orang itu belum mati, akan tetapi lemah sekali dan pingsan. Melihat mukanya yang agak kebiruan serta mulutnya yang mengeluarkan busa, dia dapat menduga bahwa tentu orang ini sudah keracunan. Suheng-nya pandai membuat obat anti racun, dan dia juga membawa obat itu untuk bekal dalam perjalanan.

"Tidak, dia belum mati. Cepat cari air untuk kuberi minum obat padanya," kata Hui Lian.

Penggembala itu lalu mengeluarkan guci tempat air yang dibawanya untuk bekal. Hui Lian mengeluarkan satu butir pil putih, kemudian memaksa orang yang pingsan itu menelan pil bersama air yang diminumkannya, dibantu oleh penggembala itu.

Hui Lian lalu menotok sana sini. Orang itu masih muda, usianya paling banyak dua puluh lima tahun, kulitnya kecoklatan seperti bangsa Miao pada umumnya, kepalanya memakai kain kepala yang dilibat-libatkan seperti sorban, dan wajahnya cukup tampan.

Pemuda Miao itu mengeluh, mulai siuman dan membuka mata lalu bangkit dan muntah-muntah. Legalah hati Hui Lian. Kalau pemuda itu muntah, hal itu berarti nyawanya akan tertolong, karena racun itu ikut tertumpah keluar.

Sesudah semua isi pencernaannya tertumpah keluar, agaknya pemuda itu baru melihat adanya Hui Lian dan penggembala itu. Dia mengenal penggembala itu, akan tetapi heran melihat Hui Lian. Anak penggembala itu cepat memberi tahu bahwa Hui Lian adalah orang yang telah mengobatinya. Pemuda itu cepat-cepat memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih.

"Tak perlu berterima kasih," kata Hui Lian dengan bahasa Miao yang kaku. "Lebih baik ceritakan bagaimana engkau berada di sini, pingsan dan keracunan."

Pemuda yang bernama Kiao Yi itu mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepala.

"Saya sendiri tidak tahu. Tadi saya sedang bersama para pemuda lain, terutama mereka yang hendak mengikuti sayembara besok, kami makan-makan bersama. Kemudian saya merasa perutku tidak enak sehingga saya lalu menjauhkan diri pergi ke sini. Makin lama perutku terasa semakin nyeri dan akhirnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

"Hemm, engkau keracunan, tentu dalam makanan itu terdapat racunnya," kata Hui Lian.

"Ahh, kalau begitu semua temanku tentu keracunan pula! Saya harus segera kembali ke sana untuk melihatnya!" Kiao Yi meloncat bangun, akan tetapi segera terguling roboh lagi dan dia mengeluh. Kepalanya pening dan tubuhnya lemah sekali.

"Engkau sudah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi masih lemah dan sedikitnya harus beristirahat sampai seminggu barulah kesehatanmu akan pulih kembali."

"Ahh, mana bisa begitu?" Kiao Yi berteriak kaget. "Saya harus mengikuti sayembara itu! Tidak mungkin saya tidak ikut dan membiarkan saja kekasih saya jatuh ke tangan orang lain!"

Anak gembala itu lalu menerangkan kepada Hui Lian. "Kakak Kiao Yi ini adalah kekasih Nian Ci, puteri kepala suku kami, dan juga dia paling gagah di antara para pemuda kami. Sudah dapat dipastikan bahwa dia tentu akan menang dalam sayembara itu, apa lagi dia memperoleh dukungan puteri kepala suku kami. Akan tetapi sekarang dia sakit..."

Kiao Yi mencoba untuk bangkit lagi, tetapi dia harus terduduk kembali sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya karena kepalanya terasa seperti melayang dan pandang matanya terputar.

"Jangan dipaksa berdiri dulu, engkau harus beristirahat. Jelas bahwa engkau tak mungkin dapat mengikuti sayembara itu, apa lagi jika sayembara itu dilakukan besok pagi. Apakah tidak bisa ditunda dan diundurkan sampai seminggu lagi agar engkau sembuh lebih dulu?"

"Tidak mungkin." jawab Kiao Yi. "Waktu telah diputuskan oleh kepala suku sehingga tidak mungkin dirubah atau diundurkan, semua persiapan sudah dilakukan. Ahh, Nian Ci... Nian Ci... agaknya Langit dan Bumi tidak menghendaki kita menjadi suami isteri!" Pemuda itu nampak berduka sekali.

Pada saat itu terdengar suara gaduh dan ketika Hui Lian menoleh, ternyata ada belasan orang pemuda berlari-larian naik ke bukit itu. Melihat mereka, anak penggembala itu cepat mengangkat tongkatnya kemudian berteriak-teriak memanggil. Mereka berlarian naik dan nampak oleh Hui Lian bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang bertubuh sehat dan kuat, juga sikap mereka gembira.

Akan tetapi, saat mereka tiba di situ melihat adanya seorang asing, mereka memandang heran dan sibuklah anak penggembala itu menceritakan betapa domba-dombanya hampir dirampok orang, namun dia ditolong oleh pemuda bangsa Han. Selain itu diceritakannya pula betapa ketika pemuda Han itu sedang mengantar dia pulang, di puncak itu mereka menemukan Kiao Yi dalam keadaan pingsan dan pemuda itu pula yang sudah menolong dan mengobatinya.

"Dan aku harus beristirahat satu minggu baru kesehatanku akan pulih kembali!" Kiao Yi mengeluh kepada teman-temannya. "Dan aku tidak bisa ikut sayembara itu... ahh, betapa sial nasibku...!"

Hui Lian memandang kepada belasan orang muda itu, kemudian bertanya kepada Kiao Yi. "Mereka inikah yang makan-makan bersamamu tadi?"

Kiao Yi mengangguk. "Untung di antara mereka agaknya tidak ada seorang pun yang keracunan seperti aku."

Para pemuda itu lalu menggotong Kiao Yi yang lemah turun dari bukit, diikuti oleh anak penggembala domba dengan domba-dombanya, dan Hui Lian yang semakin tertarik juga mengikuti mereka. Sesudah tiba di perkampungan itu, para pemuda membawa Kiao Yi ke dalam rumahnya, disambut oleh ibu pemuda itu dengan bingung.

Kiao Yi sudah tidak berayah lagi, ada pun ibunya menjadi khawatir sekali melihat keadaan puteranya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa Hui Lian adalah pemuda Han yang telah menolong puteranya, dia segera mempersilakan Hui Lian masuk ke dalam rumah sebagai seorang tamu yang dihormati.

Setelah anak penggembala pergi bersama para pemuda itu, Hui Lian yang duduk di dekat pembaringan Kiao Yi lantas bertanya. "Namamu Kiao Yi, bukan? Aku tadi mendengarnya dari anak penggembala itu."

"Benar sekali," jawab pemuda yang lemah itu.

"Namaku Hui Lian. Kiao Yi, apa saja yang harus dilakukan dalam sayembara yang akan diadakan besok itu?"

"Ada lima macam. Pertama diadu kemahiran menunggang kuda dan mempergunakan anak panah sambil berkuda. Ke dua diadu kecepatan menangkap seekor rusa muda. Ke tiga diharuskan melawan seekor kerbau. Ke empat, diserang tiga kali dengan anak panah dalam jarak seratus meter, dan ke lima siapa yang bisa lulus dalam ujian sampai empat macam itu diharuskan mengadu ilmu berkelahi. Sebagai ujian saringan bagi para pengikut harus membawa sebuah batu besar meloncat ke atas panggung."

Hui Lian mengangguk-angguk. "Hemm, berat juga. Dan tadinya engkau yakin akan dapat menang?"

Kiao Yi lalu menarik napas panjang. "Semenjak kecil saya telah mempelajari semua ilmu ketangkasan suku kami, dan apa bila melihat kemampuan teman-teman yang memasuki sayembara besok, saya dapat mengharapkan untuk menang. Akan tetapi sekarang... ahh, tak mungkin lagi..." Wajahnya nampak sedih sekali.

"Sudahlah, Anakku, tidak perlu berduka. Agaknya Nian Ci memang bukan jodohmu. Lebih baik engkau menjaga dirimu agar cepat sembuh, dan aku akan mencarikan gantinya Nian Ci. Puteri Bibimu Mang juga cantik dan..."

"Tidak, Ibu! Kalau tidak dengan Nian Ci, aku tidak mau menikah!"

"Anakku...!" lbu itu menangis.

Melihat ini, tergerak hati Hui Lian. Pemuda ini sudah saling mencinta dengan Nian Ci, apa bila perjodohan mereka sampai gagal tentu akan mendukakan hati kedua orang muda itu. Dan lebih lagi, dia merasa curiga sekali.

Kiao Yi makan-makan bersama belasan orang pemuda temannya yang juga akan menjadi saingannya besok. Dia keracunan, akan tetapi kenapa pemuda-pemuda yang lain tidak? Agaknya tentu ada permainan kotor di sini! Hal inilah yang membuat dia penasaran sekali.

"Kiao Yi, karena engkau sedang sakit, biarlah aku saja yang akan mewakilimu maju dalam sayembara itu. Aku akan berusaha sampai menang supaya engkau bisa menikah dengan Nian Ci," katanya.

Kedua mata pemuda itu terbelalak dan pandang matanya menatap wajah Hui Lian penuh selidik. "Kak Hui Lian, apakah engkau pernah melihat Nian Ci?"

Hui Lian menggeleng kepala. "Secara kebetulan saja aku bertemu dengan penggembala domba itu dan ikut ke sini."

Pemuda itu nampaknya semakin heran. Tadinya dia mengira bahwa tentu pemuda Han ini melihat Nian Ci dan tertarik oleh kecantikan gadis kepala suku itu.

"Kalau begitu, mengapa engkau hendak ikut sayembara?"

"Aku ingin mencegah agar Nian Ci tidak menikah dengan orang lain, kecuali denganmu."

"Kakak Hui Lian, engkau sudah menolong saya, sekarang hendak melakukan hal itu lagi? Tidak, besok engkau boleh memasuki sayembara, akan tetapi kalau menang, biarlah Nian Ci menjadi isterimu. Ia cantik jelita dan menarik, juga pandai sekali. Dari pada dia terjatuh ke tangan pemuda lain, saya rela kalau dia menjadi isterimu!"

"Tidak, Kiao Yi, aku melakukannya untukmu."

"Mana bisa? Sayembara itu bukan tidak berbahaya, terutama sekali ujian diserang anak panah dan adu ilmu berkelahi itu. Bisa terluka, bahkan bisa tewas!"

"Akan tetapi aku yakin akan dapat menangkan mereka, Kiao Yi."

"Tapi... tapi... Kak Hui Lian, mengapa engkau tidak mau menerima hadiahnya? Mengapa engkau tidak mau menikah dengan Nian Ci jika menang, melainkan hendak memberikan gadis itu kepadaku? Mengapa?" Melihat betapa pemuda ini berkeras dan agaknya akan menolak kalau dia tidak berterus terang, Hui Lian tersenyum.

"Kiao Yi, memang ada rahasianya mengapa aku tidak mau menikah dengan Nian Ci atau gadis mana saja di dunia ini. Akan tetapi, kalau aku membuka rahasia ini kepadamu agar engkau tak merasa penasaran, dapatkah engkau menjaga supaya rahasia ini tidak bocor dan diketahui orang lain?"

"Saya bersumpah tidak akan membocorkannya!" kata Kiao Yi kemudian pemuda ini minta kepada ibunya agar meninggalkan mereka berdua. Ibu yang tahu diri itu pun cepat keluar dan setelah tinggal berdua saja, Hui Lian berkata lirih.

"Kiao Yi, ketahuilah mengapa aku tidak bisa menikah dengan Nian Ci, karena sebenarnya aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria."

Kiao Yi terkejut sekali. Kalau saja tubuhnya tak selemah itu, tentu dia langsung meloncat turun dari pembaringannya. Dia memandang dengan mata terbelalak dan sejenak dia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Akhirnya dia bicara, suaranya berat dan gemetar.

"Kalau begitu, sungguh... lebih tidak mungkin lagi. Sebagai seorang wanita, bagaimana... bagaimana engkau dapat melakukan semua ujian dalam sayembara...?"

Kembali Hui Lian tersenyum. "Jangan khawatir, percayalah kepadaku, Kiao Yi. Kalau aku tidak merasa mampu, tentu aku tidak menawarkan diri mewakilimu."

Kiao Yi segera teringat akan cerita yang pernah didengarnya, yang dianggapnya sebagai dongeng, tentang wanita-wanita pendekar di antara bangsa Han.

"Apakah... apakah... engkau seorang pendekar wanita?"

Untuk meyakinkan hati pemuda itu, Hui Lian segera mengangguk. "Nah, cukuplah, jangan dibicarakan lagi hal itu. Bersikaplah seakan-akan aku masih seperti tadi, seorang sahabat laki-laki. Dan namaku tetap Hui Lian, karena memang itulah namaku."

Kiao Yi girang sekali. Kalau seorang pendekar wanita yang menolongnya, tentu dia akan berhasil menikah dengan gadis kekasihnya itu! Dia lalu berteriak memanggil ibunya yang tergopoh-gopoh memasuki kamar.

"Ibu, kakak Hui Lian ini akan mewakili aku di dalam sayembara dan aku yakin dia pasti dapat menang. Ibu persiapkan saja segala keperluan untuk pernikahanku dengan Nian Ci. Dan berikan kamar tidur besar kepada Kakak Hui Lian. Ibu tidur di sini bersamaku."

Ibunya memandang puteranya dengan perasaan heran. Kenapa tamu muda itu tidak tidur saja bersama Kiao Yi? Bukankah hal itu lebih tepat, pemuda tidur dengan pemuda? Akan tetapi karena tamu itu merupakan orang terhormat, dia pun tidak membantah dan cepat meninggalkan kamar itu untuk membersihkan kamar besar.

********************