Pendekar Mata Keranjang Jilid 22

KEGEMBIRAAN di sekitarnya menular kepada Hay Hay. Ia merasa gembira, hatinya ringan, pikirannya bebas tanpa beban, dan semua ini membuat seluruh anggota tubuhnya bekerja dengan sempurna dan akibatnya dia merasa amat lapar! Hal ini sudah wajar kalau diingat bahwa sejak kemarin siang dia tidak pernah makan sedikit pun. Sekarang terdengar suara berkeruyuk di dalam perutnya.

Dia harus mencari makanan, pikirnya. Kelinci-kelinci itu! Agaknya terdapat banyak kelinci di dalam hutan ini, daging kelinci yang lunak dan cukup sedang untuk mengisi perutnya. Daging kelinci panggang, dengan diberi garam dan bumbu yang berada di dalam buntalan pakaiannya, hemmm, sedap bukan kepalang. Mengingat akan ini, perut Hay Hay semakin meronta dan menjerit.

Dia memungut dua buah batu sebesar ibu jari kaki. Cukup untuk menjatuhkan seekor atau dua ekor kelinci gemuk! Dengan dua buah batu di tangannya, Hay Hay kemudian mencari kelinci.

Tak lama kemudian dia melihat empat ekor kelinci di balik semak-semak, berkejaran dan mereka itu terlihat bergembira. Agaknya satu keluarga, pikir Hay-Hay. Dua ekor yang kecil diikuti dua ekor yang besar. Sayang masih terlampau kecil, pikirnya.

Maka dia lalu memilih salah satu di antara dua ekor yang besar. Cukup besar dan gemuk, seekor pun akan cukup untuk mengenyangkan perut. Dipilihnya yang bulunya putih bersih dan di lain saat, begitu dia menggerakkan tangan, sebuah batu melayang dengan sangat cepatnya ke arah leher kelinci itu.

"Takkk…!" batu itu runtuh di tengah jalan!

Hay Hay terbelalak, merasa penasaran dan batu kedua melayang, lebih cepat dan kuat ke arah kepala kelinci putih itu. Menurut perhitungannya, kalau batu pertama tadi hanya akan membuat kelinci itu jatuh pingsan, batu kedua ini akan membunuhnya.

"Takkk…!" kembali batu itu runtuh seolah-olah menabrak dinding yang tidak nampak.

Akan tetapi pandangan mata Hay Hay yang tajam melihat meluncurnya sinar hitam kecil dari samping dan sinar itulah yang menahan batu-batunya. Dia tidak tahu sinar apakah itu, tapi dia pun tidak sempat melakukan penyelidikan karena dia harus cepat menangkap kelinci sebelum keempat ekor binatang itu melarikan diri ke dalam semak belukar penuh duri. Maka dia pun cepat meloncat ke balik semak-semak, bagaikan seekor harimau dia menerkam ke arah kelinci putih dengan tangan di ulur untuk menangkapnya.

“Wuuutttt...!"

Tiba-tiba saja empat ekor kelinci itu seperti ditiup angin, lenyap begitu cepatnya sehingga dia hanya menangkap angin saja! Pada saat dia mengangkat muka memandang ke arah berkelebatnya binatang-binatang itu, dia melihat betapa dengan tubuh gemetar empat ekor kelinci itu berada di atas pangkuan seorang kakek yang sedang duduk bersila di bawah pohon, tadi tidak kelihatan karena tertutup semak belukar. Dan Hay Hay terbelalak penuh kekagetan dan keheranan, mengamati kakek itu penuh perhatian karena selama hdiupnya belum pernah dia melihat seorang kakek seaneh ini.

Dua orang gurunya, yaitu Ciu-sian Sin-kai dan See-thian Lama atau Go-bi San-jin, juga merupakan dua orang kakek aneh, bahkan gurunya ketiga, Pek Mau San-jin pertapa di Min-san, lebih aneh lagi. Akan tetapi mereka bertiga itu masih menyerupai manusia yang hidup terikat oleh peraturan umum, baik sikap, pakaian dan bicaranya. Akan tetapi kakek ini, baru melihat keadaannya saja sudah tidak lumrah manusia.

Kakek ini sukar ditaksir berapa usianya, mungkin sudah tua sekali jika melihat mukanya yang penuh keriput dan garis-garis malang melintang itu. Kepalanya besar, nampak tidak normal karena bagian belakangnya seperti membengkak, dan kepala itu gundul bukannya akibat dicukur tetapi botak dan tidak ditumbuhi rambut. Akan tetapi kumis dan jenggotnya tumbuh lebat dan masih hitam, membuat wajah yang sempit itu nampak bagaikan monyet atau manusia hutan yang liar. Pendeknya, lebih mendekati monyet dari pada manusia!

Tubuhnya nampak kecil pendek, bukan karena ukurannya memang pendek tetapi karena tubuh itu bongkok dan punggungnya melengkung seperti tubuh udang. Sepasang mata itu kecil bundar bagaikan mata monyet, dikelilingi kerut merut, akan tetapi Hay Hay merasa silau ketika bertemu pandang dengan mata itu, karena sepasang mata kecil itu bagaikan dua titik api membara! Hidungnya juga pesek seperti hidung monyet, mulutnya kecil dan seolah selalu tersenyum mengejek.

Yang lebih mengherankan adalah tubuh kakek itu yang tidak tertutup pakaian! Hanya ada semacam cawat terbuat dari kulit pohon yang tergantung di pinggang,. Kakinya telanjang tanpa alas kaki. Sungguh merupakan seorang manusia hutan yang agaknya tidak pernah mengenal peradaban!

Akan tetapi Hay Hay langsung tertegun ketika mendengar suaranya! Bukan manusia liar, juga bukan setengah binatang, tapi seorang manusia yang dapat mengeluarkan kata-kata penuh kasih sayang terhadap empat ekor kelinci di atas pangkuannya itu!

Hanya sebentar saja kakek itu membalas pandang mata Hay Hay karena dia lantas sibuk mengelus-elus tubuh empat ekor kelinci itu bergantian, kemudian mulutnya bicara dengan kata-kata yang penuh kasih sayang.

"Jangan takut, sayang, jangan khawatir. Selama ada Kakek Song di sini, tidak akan ada seorang pun manusia jahat yang mampu mengganggumu. Tenanglah dan pergilah sana bermain-main. Akan tetapi hati-hati selalu apabila melihat ada manusia, bersembunyilah karena manusia lebih jahat dari pada ular, lebih keji dari iblis. Pergilah, sayang...!" Kakek itu mengelus punggung empat ekor kelinci lalu mendorong mereka agar masuk ke dalam semak-semak. Binatang-binatang itu nampak jinak sekali terhadap Si Kakek.

Melihat sikap dan mendengar kata-kata kakek itu, hati Hay Hay merasa tidak enak sekali. Dengan sikap hormat dia pun melangkah maju menghampiri kakek itu lalu menjura.

"Maafkan aku, Kek. Apakah kelinci-kelinci itu peliharaanmu?"

Kakek itu bangkit hingga tubuhnya nampak makin bongkok, matanya mengeluarkan sinar yang menyambar ke arah muka Hay Hay, lantas dia menudingkan sebatang telunjuk yang bengkok. "Manusia jahat, kau masih muda tetapi sudah jahat, tahunya hanya menangkap binatang untuk dipelihara atau dimakan dagingnya. Keji, sungguh kejam dan jahat sekali! Semua binatang di dunia ini adalah sahabatku, aku tak mengenal apa itu peliharaan. Dan awas kau, kalau kau mengganggu seekor binatang terkecil pun, akan kubunuh kau!"

"Tapi, Kek..."

"Huh, tidak ada tapi! Lihat, pagi demikian indah, alam demikian elok dan suasana begini suci dan penuh bahagia..." Mendadak Hay Hay melihat betapa wajah itu membayangkan kelembutan dan suaranya berubah halus, kata-katanya indah seperti sajak. "Dan engkau manusia jahat lalu datang, tanpa mempedulikan semua keindahan itu, dengan hati penuh kebencian, penuh nafsu membunuh!"

"Tetapi, Kakek yang baik, hatiku tidak dipenuhi kebencian, tidak penuh nafsu membunuh. Yang benar, perutku yang penuh keluh kesah dan jerit akibat lapar!"

"Gila kau! Masa perut lapar saja hendak membunuh kelinci?" bentak kakek itu. "Kau lebih jahat dari pada segala makhluk. Binatang jauh lebih baik dari pada manusia macam kau!"

Hay Hay merasa amat penasaran. Dia melihat ke atas dan tampak seekor burung sedang makan ulat. "Kakek yang baik, jangan kau sembarangan memaki orang. Lihat, binatang-binatang pun memakan sesama makhluk hidup bila mereka lapar. Burung itu makan ulat, juga cacing dan serangga. Kucing makan tikus dan cecak. Harimau dan singa memakan kijang, kambing dan kelinci!"

"Tentu saja, tolol! Karena memang itu makanannya! Harimau tidak suka makan rumput, kalau tidak ada kijang atau kambing atau binatang kecil lainnya maka dia akan mampus kelaparan. Sebaliknya, kerbau tidak suka makan daging, makanannya adalah rumput, jika tidak ada rumput dia akan mampus kelaparan! Akan tetapi engkau adalah manusia, apa saja yang tidak kamu makan? Kamu makan daging bukan karena lapar, melainkan karena mencari enak! Tidak boleh disamakan dengan harimau!" Kakek itu mencak-mencak dan nampak marah.

"Kakek yang baik, sekarang ini perutku sedang lapar bukan main. Kalau aku tidak boleh menangkap binatang untuk kumakan dagingnya, aku pun tentu akan mati kelaparan."

"Bohong, begini banyaknya makanan di sekelilingmu. Daun-daunan, buah-buahan, bahkan rumput pun dapat kau makan."

Hay Hay tertegun. "Apakah engkau sendiri juga tidak pernah makan daging, Kek? Hanya makan rumput, daun dan buah?"

"Tentu saja! Aku bukan manusia jahat pelahap macam engkau! Aku penyayang binatang karena mereka itu jauh lebih suci dari pada manusia yang berhati palsu, curang, kejam dan munafik, ha-ha-ha!" Tiba-tiba kakek itu berjingkrak dan tertawa.

Hay Hay merasa betapa bulu tengkuknya meremang. Kakek ini bukan hanya aneh, akan tetapi agaknya otaknya juga sudah miring, sudah gila! Suara tawanya itu tidak wajar dan muka yang dapat berubah-ubah itu menunjukkan bahwa kakek itu memang tidak waras.

Agaknya untuk membuktikan kata-katanya, kakek itu lantas mencabut rumput hijau muda lantas memakannya. Nampak enak seperti seperti seekor sapi makan rumput, kemudian memetik pupus daun pohon dan memakannya pula.

Melihat ini Hay Hay tersenyum. "Kakek yang baik, apa kau sangka karena makan rumput dan daun saja, engkau tidak membunuh? Rumput dan daun itu pun telah kau bunuh saat engkau memakannya, belum lagi terhitung kutu-kutu dan binatang-binatang kecil yang tak nampak oleh mata, yang berada di daun dan rumput itu, ikut pula kau kunyah dan kau telan. Entah berapa ratus ekor binatang kecil sekali yang kau makan bersama rumput dan daun itu!"

Kakek bongkok itu memandang dengan sepasang mata mencorong. Mulutnya yang tadi sedang mengunyah daun menghentikan gerakannya, kemudian kalamenjing itu bergerak menelan rumput dan daun di mulutnya, nampaknya agak sukar. Setelah semua sayur itu habis di telannya, baru dia dapat berkata marah,

"Engkau gila! Sudah, aku tak sudi berbicara dengan orang gila, aku tidak mau naik darah lantas membunuh orang gila! Akan tetapi awas, sekali saja kau ganggu seekor binatang, akan kubunuh kau, manusia jahat!" Sebelum Hay Hay menjawab, sekali berkelebat kakek itu pun lenyap.

Hay Hay tertegun. Tidak disangkanya bahwa kakek itu memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya, seperti menghilang saja. Maklumlah dia bahwa kakek itu bukannya sembarang orang. Tadi saat menangkis sambitan batunya sampai dua kali, kemudian menghindarkan kelinci dari tubrukannya, sudah membuktikan bahwa kakek itu memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Siapakah kakek itu pikirnya. Tingkahnya seperti orang yang otaknya miring, seperti orang gila, akan tetapi kakek itu memaki dia sebagai orang gila. Kakek itu menyayang binatang, hal ini jelas sekali, dan menganggap orang yang makan daging binatang amatlah biadab.

Siapakah yang gila, kakek itu ataukah dia? Dia tahu bahwa banyak sekali binatang kecil yang tak bisa dilihat oleh mata saking kecilnya, hidup di dalam dan di luar daun-daun dan sayur-sayuran sehingga jika makan sayur mentah pun tanpa disengaja sudah membunuh banyak binatang!

Ahh, di sinilah letak perbedaannya, pikir Hay Hay. Kakek itu pantang membunuh, biar pun tadi mengancamnya akan membunuh bila mana dia berani mengganggu binatang. Kakek itu pantang membunuh, apa lagi membunuh untuk makan!

Membunuh sengaja dan tanpa sengaja jelas berbeda. Membunuh binatang untuk makan dagingnya memupuk kekejaman serta memperbesar nafsu mengejar kesenangan melalui makanan. Agaknya inilah inti pelajaran yang tersembunyi di balik tingkah yang aneh dari kakek tadi.

Ahh, peduli amat, perutnya lapar! Hay Hay menengok ke kanan kiri namun tidak nampak bayangan kakek tadi, juga tidak terdengar suara, maka dia merasa yakin bahwa kakek itu tentu sudah jauh dari situ. Dia pun kembali mulai mencari binatang buruan untuk dijadikan calon korbannya, calon mangsanya.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh gerakan di atas pohon. Dia berhenti bergerak dan melihat ada seekor ular sedang merayap turun dari atas sebuah pohon melalui sebatang cabang yang menjulur ke bawah. Gerakan ular itu lambat sekali, tak mengeluarkan suara, bahkan seperti tidak nampak bergerak tapi tubuhnya semakin maju dan lidahnya bergerak keluar masuk moncongnya dengan amat cepat seperti tusukan pedang di tangan seorang ahli.

Ketika Hay Hay memperhatikan ke bawah, dia melihat seekor tikus besar sedang makan bangkai ayam hutan. Begitu asyiknya tikus hitam itu makan daging bangkai ayam hingga agaknya dia lupa akan segala. Walau pun matanya selalu bergerak ke kanan kiri dengan waspada, akan tetapi dia tak melihat benda bergerak yang hidup dan mengancam di atas kepalanya itu. Seekor ular sedang mengintai dan merunduk calon korban dan mangsanya, pikir Hay Hay.

Hatinya tertarik sekali maka dia pun tidak berani bergerak, takut kalau akan mengejutkan pemburu di atas pohon berikut buruannya yang berada di dekat semak di bawah cabang pohon itu. Sebagai seorang ahli silat, perasaannya sangat peka terhadap setiap gerakan dan dia seakan-akan dapat merasakan ketegangan dan kegembiraan penuh harapan dari ular itu, kegembiraan seorang pemburu yang mengintai dan mengejar calon korban!

Hay Hay yang mengikuti gerakan ular itu, diam-diam ikut pula merasakan kegembiraan itu dan dia malah membuat ancang-ancang, seolah-olah dialah yang hendak menerkam tikus itu. Saat melihat posisi ular yang telah tiba di dekat ujung cabang yang mulai melengkung akibat bobot ular itu, dia sudah merasakan bahwa kini tibalah waktunya untuk menerkam. Dan ternyata perhitungannya tepat sekali, binatang itu pun menjatuhkan diri ke bawah!

Karena kehilangan beban berat, maka cabang pohon itu melenting ke atas dan daunnya mengeluarkan bunyi. Hal ini cukup membuat tikus yang berada di bawah menjadi terkejut ketakutan dan meloncat karena perasaan nalurinya membisikkan ancaman bahaya.

Akan tetapi tubuh panjang ular itu memungkinkannya untuk menyambar dengan moncong terbuka ke arah meloncatnya tikus itu sehingga loncatan itu harus terhenti di udara karena tubuhnya sudah tertahan oleh gigitan ular yang tepat mengenai lehernya. Tikus itu segera meronta-ronta, mencakar dan mengeluarkan suara bercuitan menyedihkan.

Sejenak Hay Hay memejamkan mata hingga suara itu terhenti. Ketika dia membuka mata lagi, nampak betapa ular itu perlahan-lahan mulai menelan tubuh tikus yang tak bernyawa lagi itu, sedikit demi sedikit karena perut tikus yang gendut itu lebih besar dari pada lebar mulutnya. Sepasang mata ular itu meram melek dan kelihatan betapa dia amat menikmati santapannya!

Hay Hay menghela napas panjang. Betapa mengerikan, betapa kejamnya. Sejenak timbul keinginannya untuk membunuh ular itu. Akan tetapi dia teringat bahwa memang beginilah cara ular mempertahankan hidupnya, yaitu membunuh dan memakan binatang lain yang lebih kecil atau juga lebih besar namun kalah kuat.

Ular tidak akan dapat hidup dari makan rumput, daun atau pun buah. Makanannya adalah bangkai binatang lain! Tikus itu pun tadi sedang makan bangkai ayam hutan yang mulai membusuk! Dia mulai melihat kebenaran tingkah dan sikap kakek gila tadi. Tidak, ular itu tidak kejam, tidak buas. Ular membunuh untuk mempertahankan hidupnya. Akan tetapi manusia?

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan bening. Hay Hay cepat meloncat ke arah dari mana datangnya suara itu. Suara rusa betina! Dia mengenal suara itu. Daging rusa amat enak, lebih lezat dan gurih dari pada daging domba! Masa bodoh dengan peringatan kakek gila itu beserta filsafatnya, masa bodoh dengan ular itu, yang penting dia amat lapar dan kini dia sedang membutuhkan daging rusa yang enak!

Dengan ilmu lari cepatnya, sebentar saja Hay Hay sudah dapat melihat rusa betina yang mengeluarkan lengkingan tadi. Dia mengintai dari balik semak-semak. Di depan, di dekat sebuah rawa kecil, nampak seekor rusa betina bersama seekor anaknya dan rusa betina itu nampak marah, bersikap melindungi anaknya dan siap menyerang seekor rusa jantan yang mendekatinya.

Sejenak mereka berdua itu mendengus-dengus. Si jantan hendak mendekati tapi si betina marah dan menolak. Akhirnya rusa jantan itu kecewa, menggerakkan kepala ke atas lalu memutar tubuhnya, membalik dan berlari pergi.

Rusa betina itu agak kurus, maklum karena sedang menyusui, dan anaknya masih terlalu kecil untuk dimakan dagingnya. Hay Hay telah siap untuk meloncat dan menangkap rusa betina itu. Walau pun rusa itu amat gesit dan dapat berlari cepat, dia yakin akan mampu menangkapnya. Apa lagi rusa betina itu sedang menjaga anaknya, tentu dia tidak akan mau meninggalkan anaknya melainkan mengajaknya melarikan diri, akan tetapi rusa kecil itu belum begitu kuat untuk berlari secepat induknya.

Akan tetapi tiba-tiba timbul keraguan di hati Hay Hay. Apakah dia akan sama dengan ular tadi? Kalau dia membunuh induk rusa itu, lalu bagaimana dengan anaknya? Tentu akan mati karena tidak ada yang menyusuinya! Dan bagaimana pula kalau diketahui oleh kakek tadi? Berarti dia mencari musuh.

Sekaligus dia akan menukar beberapa potong daging rusa kurus yang belum tentu enak itu dengan tiga kerugian. Pertama, dia akan membayangkan bahwa dia tak ada bedanya dengan ular tadi, ke dua dia akan selalu teringat sebagai seorang kejam yang membunuh induk rusa dan membiarkan anak rusa itu mati kelaparan, dan yang ke tiga, mungkin dia akan dibenci dan dimusuhi kakek gila yang sakti tadi.

Selagi dia hendak meninggalkan tempat itu karena nafsunya untuk makan daging kijang lenyap sama sekali, terdengarlah auman nyaring dan suara itu bergema di seluruh hutan, menggetarkan bumi. Hay Hay melihat munculnya seekor harimau di balik semak-semak, tak jauh dari tepi rawa di mana induk rusa tadi berada. Anak rusa cepat-cepat mendekati induknya dan rusa betina menggigil, keempat kakinya gemetar, akan tetapi dengan gagah dia melindungi anaknya sambil memasang kepalanya ke bawah, matanya melirik ke arah harimau itu, siap melindungi anaknya sampai saat terakhir!

Melihat ini, Hay Hay lupa segala. Dorongan batinnya untuk menolong pihak yang lemah terancam membuat dia melompat bersamaan dengan lompatan harimau yang menerkam rusa. Dua tubuh itu bertemu di udara dan Hay Hay sudah menggerakkan tangan terbuka menghantam ke arah kepala harimau itu.

"Dukkk!"

Pukulan tangan miring itu begitu kerasnya, mengenai belakang telinga kiri harimau. Tubuh harimau itu terbanting keras, mengaum tiga kali akan tetapi lalu berkelojotan dan akhirnya mati. Dari mulut, hidung serta telinganya mengalir darah. Induk dan anak rusa itu sudah berloncatan pergi entah ke mana, dan entah muncul dari mana pula, kini di tempat rusa itu telah berdiri kakek yang gila dan aneh tadi.

Tentu saja Hay Hay menjadi terkejut sekali. Cara kakek itu muncul dan sekarang berdiri memandangnya dengan mata lebar melotot, membuat dia mengerti bahwa kakek itu telah melihat segalanya dan kini marah karena dia telah membunuh harimau itu. Maka dia pun cepat melangkah maju dan menjura dengan sikap hormat.

"Locianpwe (Orang Tua Gagah), harap maafkan. Tadi bukan aku sengaja membunuh dan mengganggu binatang, akan tetapi ketika melihat betapa harimau itu hendak membunuh induk rusa, aku merasa kasihan kepada induk rusa dan anaknya, maka aku lupa diri dan membela mereka."

"Huh! Kasihan kepada rusa dan anaknya, akan tetapi tidak kasihan terhadap harimau itu! Entah telah berapa hari dia kelaparan dan pada saat dia memperoleh calon penyambung hidupnya, ada saja orang yang usil bahkan membunuhnya dalam keadaan kelaparan!"

Hay Hay terkejut. Tak disangkanya akan demikian jalan pikiran kakek aneh itu. Otomatis dia lalu memandang ke arah bangkai harimau dan melihat binatang itu menggeletak mati dengan mulut, hidung serta telinga berdarah, dengan perut yang kempis, tiba-tiba saja dia merasa kasihan juga.

"Maaf, Locianpwe. Aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang kulakukan hanya apa yang timbul dalam perasaanku pada saat itu. Melihat rusa dan anaknya itu terancam..."

"Perlukah harus membunuh harimau itu? Dengan kepandaianmu, mudah saja jika engkau mengusir tanpa harus membunuh. Engkau membunuhnya untuk mendapatkan dagingnya sebagai ganti daging rusa itu bukan? Kejam, sungguh kejam!"

"Maaf, Locianpwe," kata pula Hay Hay, merasa khawatir kalau-kalau peristiwa itu nantinya akan menimbulkan kebencian di dalam hati kakek itu terhadap dirinya sehingga mereka akan bermusuhan, hanya oleh sebab yang amat sepele itu.

"Huh, kalau aku tidak melihat engkau membunuhnya untuk melindungi rusa, apa kau kira aku hanya akan tinggal diam saja? Engkau terlampau mengandalkan kepandaianmu, nah, sekarang aku ingin mencoba sampai di mana kelihaianmu itu. Bersiaplah!" tanpa memberi kesempatan kepada Hay Hay untuk membantah lagi, kakek itu segera menerjang kalang kabut kepada pemuda itu!

Hay Hay kaget bukan main. Kakek itu menyerang dengan gerakan yang aneh dan seperti ngawur saja, dan di dalam semua serangannya terkandung sifat gerakan segala macam binatang, akan tetapi ternyata serangan-serangan itu dahsyat dan berbahaya bukan main. Agaknya semua gerakannya itu sepenuhnya berdasarkan naluri saja dan tidak terkendali oleh pikiran, seperti yang dilakukan binatang apa bila sedang berkelahi. Akan tetapi, kalau binatang mempunyai kekuatan terbatas sesuai dengan sifat serta keadaan tubuh mereka, kakek ini memiliki tenaga terlatih yang tumbuh berkat latihan, dan memiliki tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya.

Karena repot kalau harus mengelak terus ke sana sini, sedangkan ke mana pun tubuhnya mengelak selalu dibayangi oleh dua tangan kakek itu yang bergerak otomatis melanjutkan serangan yang gagal, terpaksa Hay Hay menggunakan lengan tangannya menangkis.

"Dukkk!"

Keduanya terpental ke belakang. Hay Hay merasa betapa tubuhnya tergetar, sebaliknya kakek itu mengeluarkan suara menggereng karena dia pun merasa betapa pertemuan tenaga itu telah membuat isi perutnya terguncang hebat.

"Eh, kau boleh juga!" kata kakek itu memuji dan kini dia menyerang lagi, lebih hebat dan lebih aneh dari pada tadi karena sekarang dia menyerang dengan jalan menyerudukkan kepalanya ke depan seperti tingkah seekor binatang buas yang bertanduk jika melakukan penyerangan.

Akan tetapi kakek itu tidak bertanduk, dan mempergunakan kepalanya yang gundul botak serta membendol besar, dan karena memang tubuhnya agak bongkok melengkung maka ketika menyeruduk seperti itu, dia tiada bedanya laksana seekor kerbau yang menyerang lawan. Tetapi kalau binatang bertanduk hanya mengandalkan tanduknya dalam serangan, kakek ini di samping menggunakan kepalanya, juga dibantu oleh kedua tangannya yang menyerang dari kanan kiri, bahkan kakinya siap untuk melakukan tendangan!

Hay Hay menjadi amat sibuk mengelak ke sana sini, akan tetapi karena serangan kakek itu memang aneh bukan kepalang, sulit diduga kemana perkembangan gerakan serangan itu, dan mengandung tenaga yang bukan main kuatnya, juga amat cepat, tetap saja Hay Hay terdorong oleh angin pukulan tangan kanan yang membuatnya terpelanting!

Namun pemuda yang sudah memiliki ilmu yang hebat itu segera melompat kembali begitu tubuhnya menyentuh tanah, dan sekarang dia pun mulai menjadi marah. Gila atau pun tidak, kakek ini sungguh keterlaluan, mendesaknya sedemikian rupa. Maka dia pun mulai membalas! Melihat ini, kakek itu cepat mengelak sambil mengibaskan lengan menangkis dan terkekeh.

"He-he-he, bagus, engkau mulai mempunyai nyali untuk menyerangku. Nah, orang muda kejam, jangan kira bahwa engkau akan bisa merobohkan aku seperti engkau merobohkan harimau tadi. Hayo keluarkan semua kepandaianmu!" katanya sambil berdiri tegak.

Setegak-tegaknya kaki itu berdiri terpentang, tetap saja dia seperti seekor monyet besar sedang berdiri karena punggungnya yang bongkok. Matanya mencorong dan seperti ada api membara di dalamnya, bibirnya yang tersenyum menyeringai itu malah terlihat seperti orang cemberut atau mengejek.

Aneh sekali, melihat kakek ini tiba-tiba timbul perasaan iba di dalam hati Hay Hay. Kakek yang amat tua, tidak seperti manusia lumrah, wajahnya begitu buruk seperti monyet saja, terlantar tanpa baju dan tanpa sepatu, hanya bercawat, padahal memiliki ilmu kepandaian yang demikian tingginya! Timbul perasaan tidak tega untuk menyerang kakek ini, karena itu secara diam-diam dia mengerahkan tenaga batinnya, hendak menggunakan sihir untuk menundukkan kakek ini dan membuat dia tidak marah sehingga tidak menyerangnya lagi.

"Kakek yang baik, lihatlah kepadaku! Aku bukan musuhmu, aku adalah sahabat baikmu! Lihatlah, kita adalah dua sahabat baik, bukan? Aku sahabatmu maka tak seharusnya kita berkelahi atau bermusuhan!" Di dalam setiap kata-katanya itu terkandung kekuatan sihir yang amat kuat.

Kakek itu tampak tertegun, lalu mendengus seperti seekor lembu marah dan membentak, "Aku tidak mempunyai sahabat macam engkau!"

Hay Hay terkejut. Kekuatan sihir yang dipergunakannya tadi amat kuat karena dia sudah mengerahkan tenaga batin. Biar pun kakek ini memiliki pertahanan batin yang bagaimana kuat pun, tentu akan dapat ditembus! Akan tetapi kakek itu kelihatan tidak apa-apa dan enak saja membantah kata-katanya!

"Locianpwe, lihat baik-baik, siapakah aku ini?"

"Engkau seorang manusia yang kejam melebihi ular dan harimau!"

"Engkau keliru, aku adalah cucumu sendiri!"

"Bohong, aku tidak punya cucu!"

"Aku adalah puteramu!"

"Omong kosong, aku tidak punya anak!"

Sungguh celaka, pikir Hay Hay. Dia yakin bahwa siapa saja apa bila dihadapinya dengan sihir ini, tentu akan takluk dan membenarkan semua kata-katanya. Akan tetapi kakek gila ini menyangkal semua ucapannya dan ini hanya berarti bahwa kakek itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya.

Demikian kuatkah kakek ini, ataukah kekuatan sihirnya sendiri yang sudah melempem? Dia teringat bahwa kakek ini agaknya pembenci manusia tetapi pencinta binatang, maka kini dia menambah kekuatan pada pandangan mata dan suaranya, lantas berseru dengan suara menggetar penuh kekuatan sihir.

"Locianpwe, lihat baik-baik, aku adalah seekor kelinci!" Dia teringat betapa kakek itu amat melindungi kelinci-kelinci dan nampak sayang sekali kepada binatang itu.

"Ha-ha-ha-ha, engkau yang buruk ini mana bisa dibandingkan dengan kelinci yang bersih, manis dan mungil? Jangan mengacau!"

"Kakek, aku adalah seekor harimau, lihat baik-baik!"

"Ho-ho-ho, tak perlu membadut. Engkau yang lemah ini mana patut menjadi harimau yang gagah perkasa?"

Sial betul, pikir Hay Hay. Kakek ini kebal terhadap serangan sihir, atau memang kekuatan sihirnya yang telah melempem. Sekarang tidak ada jalan lain kecuali lari secepat mungkin meninggalkan kakek gila itu, atau kalau tidak agaknya dia harus berkelahi mati-matian melawan kakek yang benar sakti luar biasa ini.

Dia memilih yang pertama maka cepat dia meloncat ke belakang, berjungkir balik sambil mengerahkan ilmu sihirnya. Di mata orang lain tentu dia akan lenyap menjadi asap, tetapi dia pun tak peduli lagi apa pengaruh sihirnya terhadap kakek gila, melainkan cepat-cepat mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan ilmu berlari cepat untuk meninggalkan tempat itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Pada waktu itu Hay Hay sudah mempunyai ilmu berlari cepat yang amat hebat. Dia sudah mewarisi bermacam ilmu dari tiga orang sakti yang menggemblengnya penuh ketekunan di samping bakatnya sendiri memang besar sekali. Jarang ada orang yang akan mampu mengejarnya, maka sesudah berlari cepat kurang lebih seperempat jam dia telah berada jauh sekali, mendaki bukit yang dipenuhi hutan.

Karena sejak tadi mengerahkan tenaga, Hay Hay merasa lelah dan tubuhnya berkeringat. Maka, pada saat melihat sebuah batu hitam menggeletak di bawah sebatang pohon besar yang rindang dan teduh, dia pun menghampiri batu itu dan duduk menjatuhkan diri.

"Aaaahhhh...!" Dia menghela napas panjang dan lega. Enak sekali rasanya beristirahat di tempat teduh itu setelah berlari-lari seperti dikejar setan tadi.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika batu yang diduduki itu tiba-tiba saja bergerak lantas terdengar suara dari batu itu, "Hemm, engkau baru tiba. Sampai mengantuk aku menanti kedatanganmu. Mari kita lanjutkan perkelahian kita!"

Hay Hay meloncat sampai lima meter jauhnya dari batu itu dan ketika dia memandang, ternyata batu itu bukan lain adalah kakek gila tadi yang duduk bersila di situ! Tengkuknya meremang! Sukar di percaya bahwa dia bertemu dengan seorang manusia begini sakti!

Sekarang dia mengerti bahwa dia kalah jauh dalam hal ilmu sihir dan ilmu berlari cepat. Bukan saja kakek itu sudah dapat mendahuluinya, bahkan kakek itu dapat mengubah diri menjadi batu sehingga dia dapat dikelabui. Ini juga merupakan semacam sihir atau sulap yang aneh sekali sehingga orang seperti dia, yang pernah mempelajari ilmu sihir dari Pek Mau San-jin dapat tertipu!

"Locianpwe, maafkan aku. Aku tak ingin berkelahi dengan Locianpwe," katanya merendah sambil menjura.

"Heh-heh-heh, aku tidak peduli apakah engkau ingin atau tidak, akan tetapi engkau sudah memperlihatkan kepandaian membunuh harimau yang tidak berdosa di hadapanku, maka sebagai hukumannya, engkau harus melawanku, hendak kulihat sampai dimana hebatnya kepandaianmu. Nah, bersiaplah engkau!"

Kakek itu menerjang lagi seperti tadi, dengan gerakan ngawur dan tidak menurut aturan ilmu silat, maka amat sukar bagi Hay Hay untuk mengenal atau bisa menduga gerakan-gerakannya. Kembali Hay Hay segera terdesak hebat dan diam-diam dia merasa sangat penasaran.

Bagaimana pun lihainya, kakek ini hanyalah seorang manusia biasa dan dia sendiri sudah memiliki ilmu silat tinggi. Maka dia harus membela diri dan membalas serangan kakek ini dengan ilmu-ilmu tinggi yang pernah dipelajarinya.

"Baiklah, kalau engkau memaksa, aku harus membela diri!" teriaknya.

Dia pun langsung membalas serangan kakek itu dengan serangan kilat. Kakinya bergerak dengan Jiau-poa Poan-soan, ilmu langkah ajaib yang pernah dipelajarinya dari See-thian Lama, sedangkan kedua tangannya mengirim serangan bertubi-tubi, tamparan yang amat dahsyat, totokan-totokan yang menggunakan satu jari, dua jari, bahkan tiga jari, semua mengancam jalan darah terpenting di seluruh bagian tubuh lawan! Hebat bukan kepalang serangkaian serangannya itu sehingga berkali-kali kakek itu berloncatan mengelak sambil memuji-muji.

"Wah, hebat kau! Hei, bukankah ini Jiau-poa Poan-soan? Wah, agaknya engkau mewarisi ilmu dari See-thian Lama, manusia dari Go-bi-san itu, ya? Ha-ha-ha, keluarkan semua!"

Hay Hay semakin heran dan terkejut, yakin bahwa tentu kakek ini seorang yang memiliki kedudukan tinggi walau pun nampak terlantar dan gila, tetapi buktinya mengenal ilmu dari suhu-nya yang kedudukannya amat tinggi sebagai seorang di antara Delapan Dewa.....

Setelah lebih dari tiga puluh jurus semua serangannya gagal karena agaknya lawan telah mengenal ilmu silatnya, Hay Hay merubah gerakannya dan kini dia memainkan Ciu-sian Cap-pek-ciang yang amat dahsyat, yang diciptakan Ciu-sian Sin-kai khusus untuk dirinya. Begitu dia memainkan ilmu silat yang membuat daun-daun pohon di sekeliling tempat itu banyak yang rontok oleh sambaran angin pukulannya, berkali-kali kakek itu harus kembali berseru kaget sambil terus mengelak dan kadang-kadang menangkis.

"Wah-wah, engkau Si Jembel Ciu-sian Sin-kai kalau begini! Bocah ini sungguh beruntung, mewarisi pula ilmu-ilmu milik Si Jembel dari Delapan Dewa itu!" Akan tetapi, seperti tadi, dia dapat menghindarkan semua serangan Hay Hay.

Diam-diam pemuda ini semakin kagum dan terpaksa dia mencabut sulingnya, sebatang suling dari kayu seperti milik Ciu-sian Sin-kai. Suling ini panjangnya hanya tiga kaki, bisa dipakai sebagai alat musik dan dapat pula dimainkan seperti pedang. Dengan senjata ini kembali dia menyerang sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Sambil terus memuji-muji kakek itu kembali menghadapi semua serangan Hay Hay hanya dengan elakan-elakan dan tangkisan, dan tiba-tiba dia membentak, "Cukup!"

Tiba-tiba tubuh Hay Hay terpental seperti terbawa angin badai yang sangat kuat dan biar pun dia telah mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri, tidak urung dia terhuyung meski pun tidak sampai jatuh.

"Bagus, engkau kuat pula menahan bentakan kilat itu!" kakek itu memuji.

Sekarang sikapnya tidak seperti tadi, bukan sikap orang yang gendeng melainkan penuh wibawa. Akan tetapi sikap seperti itu hanya berlangsung sebentar saja karena begitu Hay Hay menjatuhkan diri dan berlutut di depannya, dia sudah tertawa-tawa lagi dengan suara ketawa menyeramkan yang tidak normal!

"Heh-heh-ha-ha-ha, engkau orang muda kejam telah mempelajari banyak ilmu hebat, tapi masih mentah! Dan orang mentah seperti engkau ini berani memamerkan kepandaian di depan Song Lojin (Kakek Song)? Ha-ha-ha!"

Hay Hay mengingat-ingat, akan tetapi belum pernah dia mendengar tentang nama Song Lojin di antara tokoh-tokoh persilatan, bahkan tiga orang gurunya belum pernah ada yang bercerita tentang seorang tokoh tua yang bernama Kakek Song. Dia merasa yakin bahwa tingkat kakek ini tidak di sebelah bawah tingkat kedua orang gurunya yang merupakan dua orang tokoh Delapan Dewa, maka dia pun cepat memberi hormat sambil berlutut dan berkata, "Locianpwe, saya yang bodoh bernama Hay Hay mohon petunjuk dari Locianpwe yang mulia."

"Siapa yang mulia? Ha-ha-ha, perangkap kehormatan dan rayuan tidak akan menjebakku karena aku tidak pernah membutuhkannya." Dia terkekeh. "Akan tetapi aku suka melihat bakatmu, engkau berbakat dan semuda ini sudah memiliki ilmu silat dan sihir yang jarang dimiliki orang lain. Ehh, namamu Hay Hay, tetapi siapa she-mu?"

"Maaf, Locianpwe, saya sangat membenci ayah saya yang amat jahat, maka saya tidak mau mempergunakan nama keturunannya. Nama saya Hay Hay titik, tanpa she."

"Wah-wah... ha-ha-ha, engkau pun tidak mau terikat, akan tetapi itu timbul karena benci. Nah, Hay Hay, bagaimana kalau engkau mematangkan ilmu-ilmu yang kau miliki?"

Tentu saja Hay Hay merasa girang bukan main dan kembali dia memberi hormat sampai dahinya menyentuh tanah. "Kalau Suhu berkenan menurunkan ilmu, teecu akan berterima kasih dan selamanya tak akan melupakan budi Suhu."

"Wah-wah-wah! Aku tidak butuh diingat, juga tidak mau menghutangkan budi. Akan tetapi engkau harus mentaati semua perintahku. Berani?"

"Teecu berani."

"Selama berada di dekatku, engkau tidak boleh makan bangkai!"

"Teecu selamanya tidak pernah makan bangkai!" kata Hay Hay memprotes.

"Huh, siapa bilang? Kalau engkau makan daging bukankah bangkai yang kau makan itu? Daging binatang yang sudah mati, apakah itu bukan bangkai?"

Hay Hay tertegun dan tidak mau membantah. "Baik, teecu akan mentaati semua perintah itu."

"Latihan-latihannya sangat berat, kalau tidak kuat engkau dapat menjadi gila atau bahkan mati. Engkau harus mentaati perintahku, menjalankan latihan apa saja tanpa membantah. Sekali engkau membangkang, maka terpaksa aku harus membunuhmu karena engkau akan menjadi makhluk yang amat berbahaya. Sanggup?"

Hay Hay merasa ngeri. Jangan-jangan kakek ini sudah menjadi gila karena latihan-latihan yang entah bagaimana. Akan tetapi dia adalah seorang laki-laki yang jantan dan gagah, tidak sudi menjilat ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut.

"Teecu sanggup!"

"Engkau tidak boleh meninggalkan latihanmu sebelum aku menyuruhmu, tetapi kalau aku sudah menyuruh engkau pergi, engkau tidak boleh membantah, di mana saja dan kapan saja. Sanggup?"

"Sanggup, Suhu."

"Nah, sekarang engkau harus melakukan latihan yang pertama. Ingat baik-baik kalimat ini lantas hafalkan: Ada datang dari Tiada, maka segala yang Ada akan kembali ke Tiada. Nah, coba hafalkan!"

Hay Hay menahan ketawanya. Tentu saja amat mudah baginya untuk menghafal kalimat itu, apa lagi karena dari See-thian Lama dia sudah banyak diajar tentang Agama Buddha, sedangkan dari Ciu-sian Sin-kai dia banyak mendengar tentang filsafat Agama To.

"Baik, Suhu. Ada datang dari Tiada, maka segala yang Ada akan kembali ke Tiada."

"Bagus, engkau pintar sekali," kata kakek itu memuji karena memang Hay Hay membaca kalimat itu dengan suara indah setengah dinyanyikan. Sudah banyak dia membaca sajak maka pandai berdeklamasi. "Sekarang berikan bungkusanmu kepadaku, juga tanggalkan semua pakaianmu dan mari ikut bersamaku."

Hay Hay tertegun, memandang kepada gurunya dengan bengong. Dia disuruh telanjang dan pakaiannya dibawa oleh kakek ini? Akan tetapi teringat akan janjinya, dan mengingat bahwa di tempat itu sunyi dan tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, Hay Hay tidak membantah. Dia menanggalkan semua pakaiannya, lantas pakaian itu dimasukkan dalam buntalan pakaiannya, diserahkan kepada kakek itu yang memandang sambil menyeringai.

"Kau tidak khawatir kalau aku melarikan diri membawa semua pakaianmu?"

Hay Hay menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, karena Suhu tidak suka berpakaian."

"Nah, mari ikuti aku!"

Kakek itu berlari cepat. Hay Hay mengikutinya dan pemuda ini harus mengerahkan Ilmu Yang-cu Coan-in (Burung Walet Membungkus Awan) untuk bisa mengimbangi kecepatan langkah kedua kaki kakek itu. Ternyata kakek ini membawanya kembali ke hutan pertama di mana dia untuk pertama kalinya bertemu kakek yang mengaku bernama Kakek Song ini. Setibanya di pinggir sebuah anak sungai, di antara pohon-pohon yang besar, kakek itu baru berhenti.

"Nah, sekarang engkau masuklah ke dalam air dan berendam hingga setinggi leher sambil duduk bersila. Apa pun yang terjadi, jangan pernah engkau tinggalkan tempat ini sampai aku datang menyuruhmu keluar."

Hay Hay langsung bergidik ngeri. Berendam di dalam air anak sungai itu? Sampai kapan? Sementara perutnya lapar bukan main dan hawa amat dingin. Akan tetapi dia tidak berani membantah, hanya bertanya.

"Bagaimana kalau perut saya lapar sekali, Suhu?" Hay Hay mulai memancing, "Bolehkah saya menangkap ikan yang berenang dekat lantas memakannya kalau perut saya sudah lapar sekali?"

Pancingannya berhasil. Kakek itu mencak-mencak dan matanya melotot, bahkan menjadi kemerahan. "Apa kau bilang? Mau menangkap ikan yang tak berdosa dan makan bangkai ikan? Akan kubenamkan kepalamu ke dalam air sampai putus napasmu kalau begitu!"

Habis, bagaimana kalau saya lapar?"

"Apakah engkau akan mampus kelaparan kalau tidak makan bangkai? Lihat di sekitarmu, begitu banyak makanan lezat dan segar, lihatlah ke atasmu. Akan tetapi awas, sebelum engkau kusuruh keluar, engkau tidak boleh meninggalkan tempat latihan itu, dan seluruh perhatianmu harus kau curahkan kepada kalimat yang kau hafalkan tadi. Mengerti?"

"Mengerti, Suhu."

"Kalau begitu, lekas kau lakukan!"

Hay Hay tidak mengerti apa manfaat latihan gila ini, akan tetapi karena sudah berjanji dan karena dia yakin akan kesaktian kakek itu, ia pun menurut saja, memasuki air yang amat dingin, lalu memilih tempat di tengah, di mana dia dapat duduk di atas batu yang bundar dan rata. Ketika dia duduk bersila, ternyata air sampai di atas dadanya dekat leher.

"Bagus, dan ingat, jangan mengira setelah aku pergi engkau dapat meninggalkan tempat bertapa itu tanpa kuketahui. Kalau engkau melanggar, berarti pelajaran gagal dan engkau boleh pergi sebelum aku datang membunuhmu!" Setelah berkata demikian, kakek itu lalu berkelebat dan lenyap bersama buntalan pakaian Hay Hay.

Pemuda itu celingukan memandang ke kanan kiri, tiba-tiba merasa seperti sudah menjadi seekor kura-kura di tengah sungai, kesepian dan ditinggalkan, merasa laksana menjadi bulan-bulanan permainan dan olok-olok. Mengapa dia menurut saja? Apa yang dilakukan dengan bertelanjang bulat di tengah sungai seperti ini? Tidak boleh meninggalkan tempat itu padahal perutnya amat lapar?

Dia lalu memandang ke atas dan mengertilah dia akan maksud gurunya yang baru itu. Ternyata tempat itu penuh dengan pohon-pohon yang mengandung buah-buah yang lezat dan segar. Bahkan di kanan kiri anak sungai itu nampak bergantungan buah apel merah yang besar-besar! Akan tetapi bagaimana dia dapat mengambil buah itu? Dia tidak boleh meninggalkan tempat duduknya itu!

Perut yang lapar membuat dia memutar otak mencari akal. Dia lalu mengambil batu-batu kecil dari dasar sungai. Disambitnya apel yang bergantung di hadapannya. Dua buah butir apel runtuh ke atas air lalu terbawa arus sungai itu menghampirinya sebab dia diharuskan duduk melawan atau menghadapi arus air.

Dengan gembira dimakannya buah itu dan ternyata rasanya manis dan segar bukan main. Setelah menghabiskan tujuh butir apel besar perutnya menjadi kenyang dan mulailah dia memperhatikan latihan yang diberikan oleh gurunya yang aneh itu.

Dia duduk dengan tenang dan karena dia sambil bersemedhi, maka mudah saja baginya untuk mengheningkan cipta sehingga yang teringat hanya kalimat itu saja yang dibacanya berulang-ulang di dalam hatinya. Kadang kala bibirnya ikut bergerak-gerak karena seluruh perhatiannya dicurahkan kepada kalimat itu.

Kesadarannya bekerja bersama pengamatannya karena dia mulai mengamati isi atau arti dari kalimat itu. Agama To mengajarkan bahwa sebelum ada sesuatu, yang ada hanyalah Kosong, dan Kosong sama dengan Tiada. Disebut Tiada atau Kosong karena keadaan itu tak bisa diselami oleh pikiran manusia yang berisi, isi yang terbentuk dari ingatan-ingatan tentang pengalaman masa lampau, yang hanya dapat dicatat oleh pikiran berupa ingatan. Akan tetapi, jauh sebelum itu, otak tak mampu mencatatnya.

Segala sesuatu yang ada, segala sesuatu yang terjadi, sudah pasti mempunyai sebab. Segala sesuatu hanya merupakan akibat belaka dari sebab-sebab tertentu. Dan selama ingatan masih mampu mencatat, selama pikiran masih mampu meraba, orang pasti bisa melihat sebab-sebabnya.

Akan tetapi sebab dan akibat itu berkait-kaitan, tiada putusnya dan ingatan tak mungkin dapat menelusuri sampai pada bagian yang tanpa batas. Dan kalau sudah begini, maka manusia tidak tahu lagi dan tidak dapat melihat sebab-sebab yang tidak dilihatnya, tidak dimengertinya.

Oleh karena itulah otak yang kehilangan akal dan kehilangan ukuran lalu melahirkan kata 'Nasib', menyerahkan Kehendak Tuhan, atau bahkan tak mau tahu karena tidak melihat sebabnya, hanya mementingkan akibatnya sambil mencari kesalahan kepada siapa saja secara membabi-buta!


Begitu malam tiba, hawanya dingin bukan main, rasanya sampai menusuk tulang. Maka terpaksa Hay Hay harus mengerahkan tenaga sinkang-nya untuk melawan hawa dingin ini. Semalam suntuk dia berjuang seperti melawan musuh yang tak nampak, musuh yang berupa hawa dingin dan yang lebih dari pada itu, perasaan ngeri.

Gerakan air yang menggoyang tubuhnya, suara air, penglihatan remang-remang, semua ini mendatangkan bayang-bayangan yang mengerikan dan menyeramkan, mengingatkan dia akan segala macam dongeng tentang setan dan iblis. Juga dia harus berjuang keras melawan rasa kantuk. Tidak mungkin membiarkan dirinya terseret hanyut oleh tidur dalam keadaan bersila di dalam air yang tingginya hanya di bawah dagu itu!

Semalam suntuk Hay Hay merasa tersiksa, namun dengan gagah dia melawan semua itu sampai matahari pagi menimbulkan kabut di permukaan air anak sungai itu, dan burung-burung berkicau menyambut sinar pertama matahari pagi. Akan tetapi, sampai matahari naik tinggi, kakek itu belum juga muncul! Padahal Hay Hay mengharapkan pagi ini kakek itu akan menghentikan siksaan atas dirinya.

Makin siang makin kecewa hatinya dan ketika diam-diam dia merenung kembali kalimat yang harus selalu diingatnya itu, dia mendapat kenyataan baru dalam hidup, sehubungan dengan kesibukan pikirannya. Dia mendapat kenyataan bahwa kekecewaan timbul karena adanya harapan. Mengharapkan untuk memperoleh sesuatu menjadi biang kekecewaan, yaitu kalau harapan itu tidak terpenuhi seperti yang dilakukannya sejak semalam.

Ia mengharapkan kakek itu akan mengakhiri penderitaannya pada keesokan harinya, dan kini dia merasa kecewa bukan main karena kenyataannya kakek itu tidak muncul! Andai kata dia tidak mengharapkan, agaknya tidak akan muncul rasa kecewa itu.

Ketika perasaan kecewa itu hampir membuat dia tidak kuat menahan lagi, mendorongnya untuk meloncat ke darat, ia cepat memejamkan kedua matanya dan seluruh perhatiannya dicurahkan kepada kalimat itu, bahkan bibirnya ikut bergerak seperti membaca mantera.

"Ada datang dari Tiada, maka segala yang Ada akan kembali ke dalam Tiada," demikian berkali-kali dia mengulang membaca kalimat itu. Memang segalanya pasti akan kembali ke tiada, termasuk juga dirinya.

Sesudah matahari condong ke langit barat, perut kosongnya mulai menagih lagi. Kembali dia meruntuhkan buah-buahan yang berada di hadapannya, dan buah-buahan itu terbawa hanyut oleh air menghampirinya. Dia makan buah-buahan itu sampai kenyang, lalu duduk terpekur pula.

Hatinya terasa tenang sesudah dia mengulang kalimat itu dan sesudah perutnya kenyang sehingga dia tak lagi memikirkan hal yang bukan-bukan, tak lagi ada rasa kecewa setelah semuanya hening dan kosong. Dia kini mulai tenggelam ke dalam keheningan dan terus memasuki keheningan itu dalam keadaan sadar sepenuhnya, akan tetapi tak merasakan apa-apa lagi, tidak mendengar apa-apa lagi, tidak melihat apa-apa lagi. Yang hidup hanya kesadarannya yang masuk ke dalam dirinya sendiri, tak terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya.

Dan rasanya seperti melayang-layang ke dalam dunia yang amat luas, dengan beraneka macam warna, beraneka macam suara dan penglihatan yang tembus pandang namun tak dapat diingat lagi bagaimana bentuk yang sesungguhnya. Sudah matikah dia? Tidak, dia masih hidup, hal ini diketahuinya benar melalui kesadarannya. Namun dia merasa seperti berada di dunia lain!

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang sangat keras dibarengi dengan cahaya yang menyilaukan mata, yang menyeret Hay Hay kembali ke alam kenyataan. Ia pun membuka mata, segera terbelalak heran karena ternyata sudah turun hujan dan suara menggelegar dibarengi cahaya tadi adalah suara kilat menyambar.

Kiranya hujan sudah turun agak lama apa bila melihat dari rambut kepalanya yang sudah basah kuyup. Dan cuaca telah remang-remang, agaknya sudah senja atau karena cahaya matahari terhalang oleh mendung dan hujan. Seingatnya hari amat cerah sebelum dia tadi tenggelam ke dalam alam semedhi, maka tak disangkanya sekarang turun hujan.

Ia lalu merenungkan kembali kalimat yang harus selalu diingatnya, matanya memandang permukaan air sungai yang selama ini tidak pernah berhenti bergerak, dan kini ditambah pula rintik air hujan yang menetes-netes tiada hentinya, membuat permukaan air bagaikan tertimpa ribuan batu-batu kecil.

Hidup seperti air sungai mengalir, renungnya. Setiap gerakan air, setiap tetes air bergerak karena ada sebabnya, ada pendorong di belakangnya. Juga air hujan yang berjatuhan dari angkasa itu pun ada penyebabnya. Juga guntur dan kilat itu. Hidup bagaikan air sungai mengalir, tak pernah berhenti dan tak pernah sama, selalu berubah. Biar pun nampaknya sama, namun setiap detik ada perubahan pada permukaan air sungai, tidak pernah sama keadaannya karena bukan benda mati.

Karena itu, mempelajari hidup harus membiarkan diri hanyut oleh hidup itu sendiri, detik demi detik. Tak mungkin mempelajari hidup sambil tiduran karena kehidupan akan lewat dan jauh meninggalkan si pelajar.

Malam pun tiba dan malam itu gelap sekali. Hujan sudah berhenti, dan air naik tinggi. Hay Hay mengambil sebuah batu lagi untuk mengganjal pantatnya sehingga dia dapat duduk lebih tinggi dan tidak sampai tenggelam.

Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Bagaimana kalau muncul ular air, atau buaya atau binatang lain? Akan tetapi dia segera melenyapkan rasa takut itu. Dia sudah pasrah dan bertekad untuk terus melakukan tapa itu sampai Kakek Song datang menyuruhnya keluar. Apa pun yang akan terjadi akan dihadapinya dengan tabah.

Hay Hay pernah mempelajari tentang perbintangan dan setelah menjelang tengah malam, angkasa penuh dengan sejuta bintang. Indah bukan main. Kalimat yang harus diingatnya itu membuatnya sadar bahwa segala bintang di angkasa itu pun terjadi dan tercipta bukan tanpa sebab.

Alangkah banyaknya rahasia di alam mayapada ini, dan alangkah besar kekuasaan Sang Pencipta. Penuh rahasia gaib yang tidak mungkin dapat dibuka oleh pikiran manusia yang sesungguhnya amatlah dangkal, rapuh, dan penuh sesak sehingga membuatnya menjadi kotor.

Ketika dia melihat jutaan bintang itu, nampak olehnya keindahan yang selama ini belum pernah dilihatnya, juga merasakan kebahagiaan yang belum pernah menyentuh batinnya. Betapa indahnya malam ini, dan betapa bahagianya manusia dapat melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasakan semua keindahan yang seolah-olah dilimpahkan untuk manusia. Keindahan yang begitu mudah dinikmati, tinggal membuka mata memandang, tinggal membuka hidung mencium untuk menikmati keharuman, tinggal membuka telinga mendengar untuk menikmati kemerduan.

Betapa bahagianya hidup ini. Hidup adalah kebahagiaan itu sendiri karena hidup adalah anugerah, hidup adalah cinta kasih. Tapi mengapa kita tidak dapat melihatnya? Mengapa kita tak mau menikmatinya? Mengapa pikiran kita sibuk terus dan demikian ruwet, penuh sesak dan tak henti-hentinya dikuasai keinginan mengejar kesenangan-kesenangan yang sebetulnya hanya merupakan gelembung-gelembung kosong yang mudah pecah belaka?

Jutaan bintang mendatangkan cahaya remang-remang, tapi cukup terang bagi mata Hay Hay yang terlatih. Tiba-tiba dia terkejut. Ada benda hitam besar bergerak-gerak di depan, hanya kurang lebih sepuluh meter di depan sana. Dan benda hitam panjang itu bergerak menuju ke arahnya. Berenang menghampiri dirinya, meluncur dengan berat dan perlahan-lahan, lambat namun tentu menuju ke arah dirinya.

Buaya! Apa lagi kalau bukan buaya? Dan sekarang memang nampak garis bentuk tubuh buaya itu, mulai dari moncong yang panjang sampai ekor yang kokoh kuat bergigi-gigi itu. Celaka, pikirnya.

Apa bila dia berada di darat, dia tidak perlu takut menghadapi buaya, di samping mudah menghindar, juga dia dapat menyerang dan mungkin membunuh binatang air yang buas itu. Akan tetapi dia berada di tengah sungai! Dan dia tidak sehebat kalau berada di atas tanah, walau pun selama berada di Pulau Hiu, ikut gurunya yang kedua, Ciu-sian Sin-kai, dia sudah biasa dengan air laut dan pandai pula berenang. Akan tetapi berkelahi melawan buaya di air? Wah, dia tidak berani!

Dengan jantung berdebar saking tegang dan takutnya, Hay Hay memandang benda hitam yang bergerak mendekatinya itu. Teringatlah dia bahwa apa pun yang terjadi, dia harus tenang dan sama sekali tidak boleh meninggalkan tempat itu.

Kini ada dua pilihan. Mampus dimakan buaya akan tetapi mentaati perintah kakek gila itu, atau meloncat ke darat lantas menyelamatkan diri akan tetapi melanggar janjinya dan dia harus melarikan diri dalam keadaan telanjang bulat kalau tidak mau dibunuh kakek itu!

Dan dia memilih yang pertama. Apa bila buaya itu memang akan menyerangku, sampai bagaimana pun juga akan kulawan, akan tetapi aku tidak akan melanggar janji, tidak akan meninggalkan tempat ini, demikianlah tekadnya dan kembali dia membaca kalimat yang harus selalu diingatnya.

"Ada datang dari Tiada, maka segala yang Ada akan kembali ke dalam Tiada. Ada datang dari Tiada!" Dia mengulangnya terus sambil memandang kepada benda hitam itu penuh kewaspadaan. “Ada datang dari Tiada…!”

Dan... sesudah benda itu berada dekat, hanya dalam jarak satu meter sehingga dia dapat memandang lebih jelas, hampir saja dia tertawa bergelak mentertawakan dirinya sendiri. Jantungnya masih berdebar dan keringat masih membasahi keningnya, padahal hawanya amat dingin. Benda yang berbentuk buaya dan berenang menghampirinya itu kini ternyata hanya sepotong kayu hitam panjang! Potongan batang pohon yang hanyut di sungai itu!

Malam itu bukan hanya ‘buaya’ itu yang nampak oleh Hay Hay. Berturut-turut muncullah ular-ular, ikan-ikan aneh serta lintah-lintah besar yang merubung dan mengancam dirinya, akan tetapi semua itu ternyata hanyalah daun-daun dan ranting-ranting.

Tahulah dia bahwa semua itu timbul dari khayalannya sendiri yang dihantui rasa khawatir dan takut. Senja tadi dia membayangkan semua binatang itu sehingga kini bermunculan menggodanya!

Menjelang pagi tiba-tiba saja tampak bayangan orang dan tahu-tahu seorang kakek telah berdiri di atas batu yang tak jauh dari tempat dia berendam diri. Batu itu menonjol ke atas permukaan air dan kakek itu telah berada di situ, mengulurkan tangan kepadanya, seperti hendak menolongnya keluar dari sungai itu.

Hay Hay menggeleng kepalanya dengan keras dan ketika dia berkedip, bayangan kakek itu pun lenyap. Anehnya, kini dia tidak merasa dingin lagi. Agaknya tubuhnya sudah dapat menyesuaikan diri dengan hawa dingin di dalam air itu, bahkan dia merasa betapa hawa yang hangat menjalari seluruh tubuh.

Dia pun menampung hawa ini di pusarnya dan setelah berkumpul, dia membiarkan hawa panas itu berputar-putaran di seluruh tubuhnya, mendatangkan rasa yang sangat nyaman sehingga hampir saja membuat dia tertidur pulas! Untung dia masih sadar dan kesadaran ini, disertai kewaspadaan mencurahkan perhatian pada kalimat yang harus dihafalkannya, membuat kantuk itu lenyap.

Pada keesokan harinya barulah kakek Song muncul. "Bagus, engkau bisa menyelesaikan dengan baik. Sekarang meningkat pada latihan selanjutnya. Keluarlah dulu dari situ dan kenakan pakaianmu."

Bukan main leganya rasa hati Hay Hay. Selama berguru kepada tiga orang sakti, yaitu See-thian Lama, Ciu-sian Sin-kai dan Pek Mau San-jin, belum pernah dia mendapatkan latihan seaneh ini. Namun latihan pertama yang berlangsung selama dua malam itu telah mendatangkan pengalaman yang tak akan terlupakan olehnya. Mengerikan, menakutkan sekaligus juga sangat menegangkan, di mana orang harus berjuang melawan perasaan, khayal serta penderitaan yang dibuat oleh pikirannya sendiri, juga siksaan karena adanya kemungkinan ancaman bahaya-bahaya.

"Terima kasih, Suhu!" katanya.

Dan ketika dia menggerakkan tubuhnya meloncat, diam-diam dia merasa heran mengapa tubuhnya tidak merasa kaku setelah selama dua malam bersila di atas batu dalam air itu, bahkan terasa segar dan ringan sekali walau pun perutnya kembali terasa lapar. Dengan cepat Hay Hay segera mengenakan pakaian dari buntalan yang telah dibawa ke situ oleh Kakek Song.

"Nah, sekarang engkau boleh makan sampai kenyang, akan tetapi ingat, jangan makan bangkai! Mulai sore nanti engkau harus melakukan latihan kedua yang lebih berat. Datang saja ke goa di mana aku tinggal, di tengah hutan ini, tidak jauh dari rawa yang kemarin dulu itu. Nah, sampai sore nanti!" Kembali kakek itu berkelebat dan lenyap.

Hay Hay tidak mau mengejar walau pun dia ingin sekali bertanya-tanya. Dia maklum akan keanehan watak kakek itu dan mengejar pun percuma saja. Maka dia pun lantas memilih buah-buah yang paling enak, makan sampai kenyang, lalu beristirahat dan tertidur di atas pohon besar. Dia tidak berani tidur di bawah, karena tahu bahwa dalam keadaan kurang tidur, dia akan nyenyak sekali dan ada bahaya diserang binatang buas. Sebelum tidur dia menanam dalam ingatannya bahwa sebelum matahari terbenam, dia harus sudah bangun

Hay Hay tidur pulas sekali. Sekarang terbayarlah sudah semua hutang kepada matanya. Dan menjelang senja, dia pun terbangun. Cepat digendongnya buntalan pakaiannya yang tadi dipakai sebagai bantal, dan dia meloncat turun lalu mencari goa itu, di dinding bukit tak jauh dari rawa di mana kemarin dulu dia bertemu suhu-nya.

Kakek itu nampak duduk bersila di mulut goa. Goa itu sendiri bermulut kecil, hanya satu meter, akan tetapi di dalamnya cukup luas.

"Engkau sudah siap? Tinggalkan buntalan pakaianmu di dalam goa dan seperti kemarin dulu, tanggalkan semua pakaianmu dan ikuti aku!"

Hay Hay mengerutkan alis. Celaka, kiranya kakek gila ini memang suka mempermainkan orang. Kalau kemarin dulu dia disuruh bertapa di dalam air, maka bertelanjang pun tidak mengherankan. Akan tetapi sekarang? Apakah dia disuruh berendam di dalam air lagi?

Dia tidak berani membantah dan sambil menarik napas panjang, dia lalu menanggalkan semua pakaiannya dan dalam keadaan telanjang bulat dia mengikuti kakek itu yang juga hampir telanjang karena pakaiannya hanyalah sebuah cawat kecil! Karena ini Hay Hay tak merasa canggung. Kakek ini membawanya ke sebuah lereng bukit yang gundul penuh dengan pasir dan batu-batu. Bagian itu tandus sekali, tidak ditumbuhi pohon sama sekali.

"Nah, sekarang engkau harus menghafalkan kalimat yang lain lagi. Dengarkan baik-baik: Yang merasa dirinya pintar adalah tolol, dan yang merasa dirinya bodoh adalah waspada. Tirukan!"

Kembali Hay Hay merasakan keanehan pada kalimat ini. Mudah dimengerti dan sangat sederhana, apa lagi kalimat yang sependek itu, tentu saja sekali dengar dia sudah hafal, kenapa harus diuji dulu? Akan tetapi dia tidak membantah dan mengulang dengan suara lantang, "Yang merasa dirinya pintar adalah tolol, dan yang merasa dirinya bodoh adalah waspada!"

"Bagus, sekarang kau galilah lubang di dalam pasir kemudian duduk bersila dalam lubang itu dan kubur tubuhmu dengan pasir sampai sebatas leher. Ingat, yang nampak hanyalah kepalanya saja, dan sekali ini engkau tidak boleh makan minum, bertapa dan berpuasa sampai aku datang menyuruhmu keluar!" Tanpa memberi kesempatan pemuda itu bicara, kakek itu sudah berkelebat dan lenyap pula.

Thanks for reading Pendekar Mata Keranjang Jilid 22 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »