Social Items

Hati atau batin yang gelisah dan tidak tenteram hanya merupakan akibat dari sibuknya pikiran! Kalau pikiran tenang dan hening seperti air telaga yang tidak diusik, maka batin akan menjadi hening dan bebas dari segala macam perasaan pula. Akan tetapi sekali pikiran kacau dan keruh seperti air yang diaduk sehingga semua lumpur dan kotoran dari dasar yang tadinya mengendap itu timbul dan mengeruhkan, keheningan air pun lenyap.

Jadi yang paling penting bukanlah menekan kesibukan pikiran karena penekanan ini pun merupakan kesibukan lain lagi dari pikiran itu sendiri. Yang terpenting adalah menyelami dan mempelajari, mengamati kesibukan pikiran sendiri, bukan pengamatan dengan niat mendiamkan pikiran, melainkan pengamatan yang timbul dari kewaspadaan.

Tanpa penekanan dan perlawanan, tanpa adanya si aku yang menekan atau mengamati, tanpa adanya aku yang ingin melihat pikiran menjadi tenang, maka bagaikan kehabisan setrum, pikiran akan menjadi diam dengan sendirinya, bukan dibikin diam.

Sejak kecil sampai tua atau mati, kehidupan kita sekan-akan dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan persoalan. Masing-masing dari kita mempunyai masalah sendiri dan menghadapi persoalan tertentu sendiri-sendiri, suka duka selalu berselang-seling, susah senang menjadi pakaian sehari-hari.

Semua ini bukan lain ditimbulkan oleh pikiran atau si aku karena si aku adalah bentukan pikiran kita sendiri. Ingin ini, ingin itu, mengapa begini, mengapa tidak begitu seperti yang kita inginkan, mengapa harapan kita menjadi hampa, mengapa keinginan kita tidak dapat terlaksana, mengapa orang lain senang dan kita susah, orang lain pandai dan kita bodoh, orang lain kaya dan kita miskin, dan sebagainya.

Perang atau konflik terjadi dalam diri kita masing-masing, konflik antara kenyataan dan keinginan lain, konflik antara keadaan seperti adanya dengan keadaan seperti yang kita kehendaki. Konflik di dalam diri setiap manusia ini lantas menjalar menjadi konflik antara kelompok, golongan, bahkan antara bangsa hingga menjadi perang yang mengguncang dunia.

Semua pertikaian atau konflik antara dua orang selalu timbul karena kepentingan pikiran masing-masing, karena si aku yang selalu ingin disenangkan biar pun jarang sekali ingin menyenangkan, selalu ingin dikasihani meski jarang sekali mengasihani. Masing-masing memperebutkan kebenaran sendiri dan kebenaran yang diperebutkan itu pasti kebenaran yang didasari ingin senang sendiri. Keduanya memperebutkan kebenaran sendiri-sendiri yang berbeda, bahkan berlawanan.

Tradisi usang dan kebiasaan lama kadang-kadang merupakan kebijaksanaan pada suatu masa atau kurun waktu tertentu dan jika selalu dipertahankan, maka akan menimbulkan konflik karena segala sesuatu akan berubah dengan berubahnya waktu. Mengekor saja pada kebiasaan atau tradisi lama tanpa pertimbangan yang bijaksana merupakan suatu kebodohan.

Semenjak ribuan tahun, di Tiongkok terdapat satu anggapan yang telah berakar di dalam hati setiap keluarga, menjadi tradisi yang amat kokoh kuat, yaitu bahwa setiap keluarga harus mempunyai keturunan laki-laki! Mungkin sekali anggapan ini terdorong oleh dua keadaan.

Pertama, seorang anak laki-laki dianggap akan bisa membantu keluarga orang tuanya di sawah karena pada waktu itu, sebagian besar rakyat hidup sebagai petani yang miskin. Kebutuhan akan tenaga bantuan inilah yang mendorong mereka beranggapan bahwa bila mempunyai anak laki-laki berarti memperoleh tenaga bantuan yang amat baik dan dapat dipercaya, dan berarti bisa meringankan beban keluarga. Hal ke dua, anak laki-laki akan melanjutkan tradisi nenek moyang, akan melanjutkan keturunan marga mereka masing-masing, dan akan memelihara abu nenek moyang.

Jelasnya, seorang anak laki-laki akan dapat meneruskan silsilah keluarga, melanjutkan riwayat marga itu. Tetapi sebaliknya anak perempuan sejak kecil hanya menjadi beban, merupakan makhluk lemah yang tenaganya tidak bisa banyak diharapkan di waktu anak itu menjadi dewasa, bahkan hanya akan mengundang datangnya gangguan yang datang dari orang-orang muda, hingga akhirnya anak itu hanya akan diboyong oleh orang lain, membantu rumah tangga keluarga lain! Yang dianggap lebih celaka lagi, begitu menikah seorang anak perempuan segera berganti she (nama marga) yang berarti telah menjadi anggota keluarga marga baru itu, dan marganya sendiri telah terlepas darinya. Tentu saja pendapat yang menjadi tradisi seperti ini merupakan sebuah pendapat yang seluruhnya berdasarkan kepentingan si aku, di dalam hal ini adalah kepentingan si orang tua sendiri.

Pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu akan mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat. Begitu pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, menimbulkan banyak tindakan yang sesat pada kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial bila mana mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya terlahir perempuan melulu, tanpa ada yang laki-laki, lantas memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, malah ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur! Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi

Tentu saja segala sesuatu ada kecualinya, tidak semua demikian, akan tetapi pada masa cerita ini terjadi, mungkin sembilan dari sepuluh keluarga bersikap seperti itulah.


********************

Kebiasaan atau anggapan tradisionil seperti ini malah melanda keluarga ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang berkepandaian tinggi! Siapakah yang tak mengenal perkumpulan Cin-ling-pai yang terletak di sebuah puncak pegunungan Cin-ling-san, diketuai oleh Pendekar Sakti Cia Kong Liang yang pada waktu itu sudah berusia enam puluh lima tahun.

Biar pun telah menjadi seorang kakek, namun ketua ini masih nampak tegap dan gagah, wataknya masih saja keras, jujur dan memegang teguh peraturan. Seperti telah dituturkan di dalam kisah Asmara Berdarah, isteri ketua Cin-ling-pai ini, yaitu Bin Biauw, telah tewas di tangan Siang-tok Sian-li, seorang iblis wanita yang lihai sekali. Kini ketua Cin-ling-pai sudah menjadi seorang duda.

Dalam kedudukannya sebagai ketua Cin-ling-pai, dia dibantu oleh putera tunggalnya yang bernama Cia Hui Song, seorang pendekar yang usianya kurang lebih tiga puluh delapan tahun, sangat lihai karena selain sudah mewarisi kepandaian ayah dan mendiang ibunya, dia pun pernah digembleng oleh mendiang Siangkiang Lojin atau San-sian, salah seorang di antara Delapan Dewa, dan menerima ilmu-ilmu tinggi dalam hal sinkang dan ginkang.

Sejak belasan tahun yang lalu, Cia Hui Song ini menikah dengan Ceng Sui Cin, seorang wanita perkasa pula, pendekar wanita gemblengan sebab dia adalah puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang tinggal di Pulau Teratai Merah dl lautan selatan. Ibunya juga seorang pendekar yang lihai bukan main, bernama Toan Kim Hong.

Selain menerima ilmu-ilmu dari ayah ibunya, Ceng Sui Cin juga memperoleh gemblengan dalam hal ginkang oleh Wu-yi Lo-jin, seorang di antara Delapan Dewa pula. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Ceng Sui Cin, bahkan lebih lihai dari suaminya!

Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin mempunyai seorang anak gadis yang telah berusia lima belas tahun bernama Cia Kui Hong. Kui Hong merupakan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil sejak kecilnya, juga mempunyai kecerdasan dan bakat yang baik sekali dalam ilmu silat sehingga ketika dia berusia lima belas tahun, dia telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian dari ayah dan ibunya. Wataknya juga sama dengan watak ibu dan ayahnya. Dia manis, galak dan berandalan, akan tetapi jenaka dan lincah, juga berjiwa pendekar yang gagah perkasa.

Melihat keadaan keluarga Cia ini, orang lain tentu membayangkan bahwa mereka adalah keluarga yang berbahagia. Mereka tidak kekurangan, merupakan keluarga yang sehat dan nampak selalu gembira. Juga mereka memiliki kedudukan sebagai keluarga pimpinan dari sebuah perkumpulan yang terpandang dan terhormat. Akan tetapi sebetulnya tidaklah demikian. Semenjak bertahun-tahun yang lalu, ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, dengan berterang menyatakan bahwa harapannya sendiri sudah terlepas darinya.

Pendapat yang kemudian menjadi tradisi seperti ini tentu saja merupakan suatu pendapat yang seluruhnya hanya berdasarkan pada kepentingan si aku, dalam hal ini kepentingan si orang tua sendiri. Dan pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu akan mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat.

Begitu pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, dapat menimbulkan banyak tindakan yang sesat di kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial jika mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya, terlahir perempuan melulu, tanpa ada seorang pun yang laki-laki, lantas memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, bahkan ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur!

Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang namun tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi.

"Hui Song, sekarang di depan isterimu aku hendak minta ketegasan dan keputusanmu. Bagaimana dengan permintaanku agar engkau menikah lagi?"

Mendengar ini Sui Cin kaget bukan main. Suaminya belum pernah menceritakan tentang keinginan hati ayah mertuanya itu, dan mendengar betapa kini orang tua itu minta kepada suaminya agar menikah lagi, tiba-tiba mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah sekali. Tetapi karena yang ditanya adalah suaminya maka dia pun diam saja, hanya memandang kepada suaminya dengan penuh perhatian.

Hui Song juga terkejut. Ayahnya sudah berterus terang di depan isterinya, berarti hal ini merupakan desakan yang terakhir dan sangat kuat, yang memaksa dia untuk mengambil keputusan, tidak seperti biasanya yang hanya dia elakkan dan tangguhkan saja.

Diam-diam dia merasa sangat kasihan kepada isterinya dan tidak berani menoleh untuk memandang wajahnya. Kalau mengingat isterinya dan cinta kasih di antara mereka, ingin rasanya dia meneriakkan keberatannya, akan tetapi untuk menolak dia pun takut kepada ayahnya. Dia tahu ayahnya menganggap keturunan laki-laki yang amat diharapkannya itu sebagai suatu hal yang penting sekali. Maka, dalam keadaan bingung dia menunduk dan berkata dengan suara lirih.

"Ayah, aku... aku tidak mempunyai pikiran untuk..."

"Hui Song!" Cia Kong Liang membentak karena sejak tadi amarahnya sudah menyesak di dada dan dia menduga bahwa puteranya tentu menolak sehingga kalimat jawaban yang belum putus itu langsung dianggapnya sebagai penolakan. "Apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang put-hauw (tidak berbakti atau durhaka)? Ingat, sudah lama aku ingin mengundurkan diri dan menyerahkan kedudukan ketua Cin-ling-pai kepadamu, akan tetapi selama engkau belum mempunyai seorang anak laki-laki, maka terpaksa aku tidak berani mengundurkan diri dan mengoperkan kedudukan pimpinan padamu. Aku hanya ingin agar engkau mengambil seorang gadis yang baik-baik supaya dia dapat memberikan seorang cucu laki-laki kepadaku, untuk menyambung keturunan she Cia kita!"

"Tetapi, Ayah...?"

"Tidak ada tetapi. Engkau harus menuruti perintahku, kecuali kalau engkau ingin menjadi seorang anak durhaka seperti kataku tadi, tidak hanya durhaka terhadap aku, terhadap mendiang ibumu, akan tetapi juga terhadap nenek moyangmu, nenek moyang she Cia!"

"Akan tetapi, Ayah, isteriku...?

Cia Kong Liang menoleh dan menatap wajah mantunya dengan sinar mata tajam penuh selidik, juga marah. "Ada apa dengan dia?"

Semenjak tadi Sui Cin berusaha menahan kemarahannya. Selama menjadi mantu ketua Cin-ling-pai itu, Cia Kong Liang selalu bersikap baik, penuh kasih sayang, dan juga sangat sayang kepada Kui Hong. Belum pernah ayah mertuanya itu mengeluarkan kata-kata atau memperlihatkan sikap yang menyakitkan hati.

Akan tetapi sekali ini Sui Cin merasa seolah-olah jantungnya ditusuk-tusuk dan sejak tadi dia sudah menahan kemarahannya yang makin berkobar. Kini, mendengar betapa ayah mertuanya itu menanggapi secara acuh saja, dia tidak tahan lagi.

"Ayah, apakah keluarga ini masih menganggap saya sebagai manusia, ataukah sebagai kertas pembungkus saja?"

Mendengar pertanyaan ini, Cia Kong Liang melebarkan matanya. "Maksudmu?"

"Jika saya dianggap sebagai kertas pembungkus, maka hanya dipergunakan dan dirawat sewaktu diperlukan saja, kalau tidak diperlukan lagi boleh dibuang begitu saja! Akan tetapi kalau diperlakukan sebagai manusia, mengapa saya tidak pernah diajak berunding? Saya adalah isteri Cia Hui Song, saya berhak untuk menentukan tentang dirinya!"

"Tapi... tapi aku yakin bahwa engkau tentu akan menyetujui kalau Hui Song mengambil seorang gadis lain sebagai isteri, untuk menyambung keturunan she Cia..."

"Saya tidak setuju!" teriak Sui Cin, sekarang tidak lagi bersopan-sopan, melainkan secara spontan mengeluarkan isi hati berikut kemarahannya. Mendengar teriakan ini dan melihat sikap anak mantunya, Cia Kong Liang yang juga memiliki hati keras itu seketika bangkit kemarahannya.

"Engkau... tidak berhak untuk menolak atau tidak menyetujui! Engkau hanyalah seorang isteri, hanya seorang anak menantu, yang harus patuh kepada suaminya, kepada ayah mertuanya!"

"Ayah, kapankah aku tidak pernah patuh?" teriak Sui Cin. "Selama belasan tahun tinggal di sini, bukankah aku selalu patuh? Akan tetapi sekali ini menyangkut hubungan di antara suami isteri. Aku tidak pernah bersalah kepada Hui Song, aku menjadi seorang isteri yang dicinta dan mencinta, kenapa tiba-tiba saja Hui Song harus menjadi milik wanita lain? Aku tidak mau membaginya dengan wanita lain! Aku tidak setuju kalau dia mengambil seorang wanita lain sebagai isteri ke dua!"

"Engkau tidak berhak melarang!" teriak Cia Kong Liang pula dengan sama marahnya dan menudingkan telunjuknya kepada muka anak mantu yang biasanya amat disayangnya itu. "Engkau sudah tidak mampu melahirkan seorang keturunan laki-laki!"

"Belum tentu kalau aku yang tidak mampu! Siapa tahu Hui Song juga tidak mampu untuk mempunyai turunan laki-laki? Jangan hanya menyalahkan aku seorang!" Kedua mata Sui Cin sudah mulai basah dengan air mata, akan tetapi dia tidak menangis dan memandang kepada ayah mertuanya dengan mata terbelalak biar pun telah basah bahkan air matanya mulai jatuh berderai.

"Kalau dia mengambil gadis lain, tentu dapat mempunyai keturunan laki-laki!"

"Mungkin saja! Kalau aku menikah lagi dengan pria lain juga mungkin saja aku melahirkan anak laki-laki! Akan tetapi, pernikahan antara kami jika tidak membuahkan anak laki-laki, itu bukanlah salahku, atau salah Hui Song. Jangan salahkan kepadaku, Ayah, pendeknya aku tidak setuju kalau Hui Song menikah lagi!"

Ketua Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Belum pernah dia didebat dan ditentang orang seperti itu, apa lagi kini yang menentangnya adalah anak mantunya sendiri. Hal ini merupakan pukulan batin yang sangat hebat, yang membuat dia marah bukan main dan dia telah bangkit dari kursinya, mengepal tinju dan agaknya sudah siap untuk menyerang Sui Cin. Melihat ini, Sui Cin juga bangkit berdiri, siap untuk membela diri!

"Sui Cin, jangan...!" Hui Song berteriak dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan ayahnya, membentur-benturkan dahinya ke lantai. "Ayah... Ayah, ampunkanlah isteriku, Ayah. Apa bila Ayah hendak menjatuhkan hukuman, hukumlah aku. Ayah, tenanglah dan ampunkan kami."

Melihat ini, Cia Kong Liang sadar kembali. Dia tahu bahwa kalau dia menyerang Sui Cin dan mantunya itu melawan, dia bahkan akan kalah oleh anak mantunya yang sangat lihai itu. Dan kalau sampai terjadi hal demikian, bukankah akan memalukan sekali dan nama besar Cin-ling-pai akan hancur sama sekali.

Bayangkan bagaimana akan pendapat orang kalau mendengar bahwa ketua Cin-ling-pai bentrok dengan mantu perempuannya, bahkan dipukul roboh oleh mantu perempuannya sendiri! Dia lalu menjatuhkan dirinya kembali di atas kursi, napasnya terengah-engah dan mukanya masih merah sekali.

"Sudahlah,sekarang engkau boleh pilih. Engkau menuruti permintaan ayahmu, mengambil seorang gadis lain untuk menyambung keturunan she Cia, atau aku yang akan memungut seorang murid yang baik untuk kujadikan putera angkatku, kuberikan she Cia kepadanya, kemudian dia kukawinkan agar dapat menyambung keturunan she Cia, walau pun secara memungut anak. Dan engkau... jangan harap lagi aku mengakuimu sebagai anak."

"Ayah...!" Hui Song berteriak dan kini air matanya pun jatuh bertitik.

Sui Cin menjadi semakin marah. Dianggapnya bahwa orang tua itu sungguh tidak adil dan keterlaluan. Maka, melihat suaminya menangis, dia pun segera berkata sambil menatap ayah mertuanya dengan pandang mata tajam.

"Ayah, mengapa Ayah begitu mendesak Hui Song? Kenapa tidak Ayah sendiri saja yang menikah lagi dan mempunyai seorang anak keturunan laki-Iaki yang lain?"

Mendengar ini, Hui Song, merasa mempunyai harapan untuk mengatasi persoalan itu. "Itu benar, Ayah..."

"Diam...!" Cia Kong Liang membentak penuh kemarahan. "Ceng Sui Cin, jangan engkau mengajukan usul yang begitu gila!" Sejak Sui Cin menjadi mantunya, baru sekarang dia menyebut nama menantunya itu lengkap dengan nama she-nya, dan Sui Cin merasakan benar sebutan itu. Dia sudah mulai dianggap orang luar oleh ayah mertuanya ini!

"Bukan aku yang mengajukan usul yang gila, Ayah, tetapi Ayah sendiri yang mengajukan permintaan yang bukan-bukan."

"Cukup!" Kembali ketua Cin-lin-pai itu membentak. "Sekali lagi, Hui Song, kau boleh pilih. Engkau menikah lagi dengan gadis lain untuk mendapatkan keturunan she Cia, atau aku tidak menganggapmu sebagai anakku lagi dan engkau boleh pergi dari sini bersama isteri dan anakmu."

Mendengar ini, Sui Cin juga berteriak, "Cia Hui Song, dengarkan kata-kataku. Aku akan pergi bersama Kui Hong kembali ke rumah orang tuaku. Kalau engkau kawin lagi, kita tak perlu berjumpa kembali. Kalau engkau masih memberatkan kami, susullah kami ke Pulau Teratai Merah!" Setelah berkata demikian, dengan sekali berkelebat Sui Cin sudah lenyap dari ruangan itu, keluar untuk mencari anaknya.

"Sui Cin...!" Hui Song berkata dan dia pun terkejut bukan main, bangkit berdiri.

"Hui Song, jika engkau pergi meninggalkan ruangan ini, jangan harap akan dapat kembali kepadaku!"

Hui Song yang sudah bangkit itu tersentak dan menoleh kepada ayahnya, lantas menoleh ke arah pintu. Pada waktu itu hatinya terobek menjadi dua, tubuhnya menggigil, kemudian tiba-tiba dia pun mengeluh dan terpelanting jatuh pingsan saking hebatnya pukulan batin yang dideritanya.

Tiada sesuatu yang abadi di dalam kehidupan ini! Perubahan terjadi setiap saat, seperti matahari yang tiba-tiba tertutup awan hitam sehingga dunia menjadi gelap. Hujan yang deras pun tiba-tiba dapat terhenti dan langit kembali menjadi terang. Bahkan perubahan yang paling hebat dapat saja terjadi setiap waktu dengan tiba-tiba, yaitu kalau kematian datang menjemput.

Orang yang selalu waspada pasti mempunyai kebijaksanaan untuk menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kewajaran, sebagai suatu hal yang sudah semestinya terjadi, karena itu takkan mengguncangkan batinnya. Bahkan kematian yang datang menjemput juga akan diterima dengan iklas, pasrah dan mulut tersenyum karena maklum bahwa dia tidak berdaya, tidak berkuasa, hanya menjadi anak wayang saja yang harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang dijalankan oleh Sang Sutradara!

Dijadikan pemegang peran apa pun tidak penting, biar pun dijadikan raja atau pengemis, orang kaya atau pun orang miskin, pintar atau bodoh, sehat atau berpenyakitan. Tidak mengeluh kalau memegang peran rendah, tidak berlebihan gaya kalau memegang peran mulia, karena yang paling penting adalah menghayati peran itu, memainkan peran yang dipegangnya dengan sebaik mungkin.

Memegang peran apa pun juga, baik yang kalah atau yang menang, yang rendah atau yang tinggi, yang miskin atau kaya, bodoh atau pandai, kesemuanya itu hanyalah untuk sementara saja dan semua akan berakhir sama, yaitu tamatnya cerita atau datangnya kematian. Karena maklum bahwa segala sesuatu, yang baik mau pun yang buruk, tidak abadi, bahwa kehidupan sebagai roda, maka tak akan mengeluh selagi berada di bawah dan tidak akan sombong selagi berada di atas. Demikianlah seorang yang bijaksana.


********************

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Cia Hui Song. Dia mengeluh panjang pendek, sampai tiga hari dia tidak mampu meninggalkan kamarnya, hanya rebah dengan gelisah dan menyesali nasibnya setelah dia mendekati usia empat puluh tahun itu. Hatinya ingin sekali pergi menyusul isteri dan puterinya yang pergi secara mendadak tanpa pamit lagi, hanya membawa buntalan pakaian saja.

Dia tahu akan kekerasan hati dan keangkuhan isterinya, tentu isterinya itu mengajak Kui Hong untuk pergi ke Pulau Teratai Merah dan isterinya tidak akan kembali ke Cin-ling-san sebelum dia datang menyusul. Akan tetapi ia pun mengenal baik kekerasan hati ayahnya. Kalau dia nekat pergi, tentu dia benar-benar takkan diakui lagi sebagai anak dan ayahnya tak mungkin mau mengampuninya lagi.

Terjadi perang di dalam batinnya. Dia membayangkan betapa ayahnya akan menderita batin yang amat hebat apa bila dia memaksa diri meninggalkan ayahnya. Ayahnya hanya mempunyai dia seorang, tidak ada lagi keluarga lainnya, dan hanya kepada ayahnya dia memandang dan bergantung. Kalau dia pergi, mungkin hal itu akan menghancurkan hati ayahnya sehingga dia akan mempercepat kematian ayahnya dan dia tentu akan merasa berdosa selama hidupnya kalau sampai terjadi hal seperti itu.

Sebaliknya, isteri dan puterinya akan hidup aman dan terjamin bila berada di Pulau Teratai Merah dan mudah-mudahan saja kelak perasaan Sui Cin akan melunak. Bagaimana pun juga, sebagai putera tunggal tak mungkin ia meninggalkan ayahnya, tak mungkin menjadi anak durhaka yang dikutuk ayahnya sendiri. Selain itu, dia pun harus menjaga nama dan kehormatan Cin-ling-pai, sungguh pun dia harus mengorbankan perasaannya yang seperti tertindih selalu dan semangatnya seolah-olah terbang mengikuti isteri dan puterinya.

Bagaikan seorang yang patah semangat, Cia Hui Song pendekar sakti itu menurut saja ketika ayahnya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterinya, untuk dapat memberi seorang putera penyambung keturunan Cia, keturunan keluarganya. Demi ayahnya, demi keluarga Cia, dia harus mentaati perintah ayahnya walau pun diam-diam hatinya hancur.

Tak mungkin dia bisa mencinta isterinya yang baru, seorang gadis berusia delapan belas tahun dari keluarga Siok, seperti cintanya terhadap Sui Cin. Dia hanya merasa kasihan kepada isteri barunya, Siok Bi Nio, karena seperti sudah lazim pada jaman itu, gadis ini pun menjadi isterinya karena kehendak orang tuanya.

Orang tua mana yang tidak akan merasa bangga apa bila anak perempuannya menjadi mantu Ketua Cin-ling-pai, biar pun hanya menjadi isteri ke dua? Nama besar Cin-ling-pai akan mengangkat derajat keluarga Siok pula di samping kehidupan makmur yang akan dapat dinikmati oleh gadis she Siok itu.

Demikianlah, Cia Hui Song menikah lagi tanpa dirayakan secara meriah karena sungguh pun dia tidak berani menolak kehendak ayahnya untuk kawin lagi, dia berkeras tidak mau jika pernikahan itu dirayakan, tetapi terjadi secara sederhana saja dan hanya melakukan upacara sembahyangan sebagaimana mestinya tanpa mengundang banyak tamu.

Hati Kakek Cia Kong Liang sangat puas dan gembira karena puteranya mau memenuhi permintaannya. Tetapi, tanpa ada yang mengetahuinya, dia sendiri merasa amat berduka dengan kepergian Kui Hong tanpa pamit. Dia amat sayang kepada cucunya itu, bahkan ketika Kui Hong masih kecil, dialah yang menimang-nimang anak itu. Akan tetapi sayang bahwa Kui Hong adalah seorang cucu perempuan, dan kakek ini merasa prihatin bahkan malu kalau sampai puteranya tidak memiliki anak laki-laki yang kelak akan menyambung keturunan keluarga Cia.

Setelah Kui Hong pergi tanpa pamit bersama ibunya, dia merasa sangat kehilangan dan sering kali, seorang diri di dalam kamarnya, kakek ini menutupi mukanya dan menghapus beberapa butir air mata yang keluar karena duka ketika teringat akan cucu perempuan yang amat disayangnya itu. Dia tidak merasa bersalah dalam urusan itu, merasa bahwa keputusannya itu sudah benar dan tepat, dan mantunyalah yang tidak tahu diri, yang tidak adil, tidak seperti para wanita lainnya yang tentu bahkan akan menganjurkan sang suami untuk mengambil isteri muda agar memperoleh keturunan laki-laki!

Lebih gembira dan puas lagi hati Kakek Cia Kong Liang ketika setahun setelah Hui Song menikah dengan Siok Bi Nio, mantu perempuannya itu melahirkan seorang anak laki-laki. Harapannya dan dambaannya terkabul sudah! Keluarga Cia tidak akan putus, melainkan akan bersambung terus dengan lahirnya Cia Kui Bu, cucunya yang kedua itu. Karena itu, begitu cucu ini terlahir, Cia Kong Liang lalu mengundurkan diri dan mengangkat Cia Hui Song menjadi ketua Cin-ling-pai!

Jabatan ini sedikit banyak menghibur hati Hui Song yang selalu teringat kepada Ceng Sui Cin dan Kui Hong. Kesibukan di dalam perkumpulan menyita banyak waktu dan pikiran. Dia bekerja keras untuk memperbaiki segala kekurangan dalam perkumpulan Cin-ling-pai, memperketat peraturan dan menambah latihan-latihan untuk menggembleng para anggota dan murid agar kelak bisa mengangkat tinggi nama besar Cin-ling-pai. Bahkan dia sendiri terjun untuk melatih murid-murid kepala.

Sementara itu, Cia Kong Liang mernperoleh pekerjaan baru yang mengasyikkan hatinya, dan merupakan hiburan pula padanya karena kini dia dapat mengasuh cucunya sebagai pengganti Kui Hong!

********************

Kita tinggalkan dulu keluarga Cia di Cin-ling-san ini dan mari kita ikuti perjalanan Ceng Sui Cin dan anaknya, Cia Kui Hong. Pada hari itu juga, malam-malam setelah dia ribut mulut dengan ayah mertuanya, Sui Cin memanggil anaknya. Kui Hong terkejut sekali melihat ibunya berkemas dan melihat betapa pada wajah ibunya ada tanda bahwa ibunya habis menangis.

"Ibu, ada apakah, Ibu?" tanyanya, hatinya tidak enak.

Biasanya ibunya selalu ramah dan senang bergurau, dan dia sendiri pun paling senang bergurau dan memandang dunia ini dengan sepasang mata berkilauan dan wajah berseri serta hati yang lapang dan terang. Akan tetapi, kini ibunya kelihatan murung dan kusut, maka dia pun tidak berani bergurau seperti biasanya dan tidak berani merangkul, hanya menyentuh lengan ibunya sambil mengajukan pertanyaan itu.

Dengan menahan tangisnya karena dia tidak mau memperlihatkan kelemahan di hadapan anaknya, Sui Cin berkata, "Kui Hong, engkau berkemaslah, keluarkan semua pakaianmu yang terbaik, sekarang juga kita pergi ke Pulau Teratai Merah."

Sejenak wajah yang manis itu berseri dan matanya terbelalak. "Ke tempat tinggal kakek dan nenek di Laut Selatan?"

"Benar, cepatlah berkemas!" kata ibunya singkat.

"Horeee... kita pesiar ke lautan, ke tempat Kakek Ceng!" Gadis itu berteriak dan bersorak seperti anak kecil saking girang hatinya.

Baru dua kali dia berkunjung ke tempat yang jauh itu, dan yang terakhir kalinya ketika dia baru berusia sepuluh tahun. Sekarang dia telah berusia lima belas tahun, dan mengenang tempat yang indah sekali di pulau itu, dikelilingi lautan yang liar dan luas, dia pun merasa girang bukan main.

Setelah mereka berdua selesai berkemas, Sui Cin yang sudah selesai lebih dulu, segera menggendong buntalan besar pakaiannya dan menyuruh puterinya melakukan hal yang sama.

"Mari kita berangkat!"

"Ehh, apakah ayah tidak ikut, Ibu?" tiba-tiba gadis remaja itu bertanya.

Ibunya hanya menggeleng kepala tanpa menjawab. Mereka keluar dari dalam kamar dan ibunya mengajak dia langsung keluar.

"Ibu, kita pamit dulu dari kongkong (Kakek) dan ayah "

"Tidak usah, aku sudah pamit tadi. Kita langsung berangkat!" kata ibunya singkat. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima oleh Kui Hong yang amat sayang kepada kakeknya dan ayahnya.

"Tapi, Ibu..."

"Cukup! Tidak perlu banyak cakap lagi, mari kita langsung berangkat, lihat, malam sudah semakin gelap!"

"Tetapi mengapa tergesa-gesa, Ibu? Bukankah berangkat besok pagi-pagi lebih baik dan aku harus pamit... "

"Diam dan mari kita pergi!" Tiba-tiba Sui Cin membentak.

Gadis remaja itu terkejut bukan main melihat ibunya demikian galak, apa lagi melihat dua titik air mata meloncat keluar dari mata ibunya. Dia maklum bahwa ibunya sedang marah sekali, maka dia pun tidak berani membantah lagi dan keluarlah dia mengikuti ibunya. Dia merasa lebih terkejut dan heran lagi melihat betapa setelah berada di luar rumah, ibunya langsung saja menggunakan ilmu berlari cepat, meluncur di dalam gelap seperti terbang saja. Terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan lari ibunya dan mereka lalu melakukan perjalanan yang amat cepat menuju ke tenggara.

Dapat dibayangkan alangkah heran rasa hati Kui Hong melihat ibunya tidak pernah mau berhenti berlari sampai akhirnya, beberapa jam kemudian, lewat tengah malam, Kui Hong yang sudah berkeringat dan napasnya memburu, berkata kepada ibunya.

"Ibu, jangan cepat-cepat... ahh, aku... aku sudah lelah sekali...," dan gadis itu pun mogok lari.

Melihat ini, Sui Cin baru teringat akan keadaan puterinya. Dia pun lantas berhenti berlari dan mengajak puterinya beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Dia sendiri pun baru sadar bahwa peluh sudah membasahi seluruh leher dan mukanya, betapa napasnya juga memburu.

Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di kaki gunung itu, memandang ke atas. Tidak ada bulan di langit, namun langit yang kelam itu penuh dengan bintang yang nampak gemerlapan indah sekali pada latar belakang hitam itu, nampak bagaikan ratna mutu manikam di atas beludru hitam. Kadang-kadang nampak bintang meluncur dengan berekor panjang lalu lenyap ditelan kegelapan. Bintang jatuh? Atau bintang pindah?

Kui Hong selalu kagum jika memandang angkasa penuh bintang, atau angkasa diterangi bulan purnama. Baginya, angkasa penuh denganrahasia alam yang amat hebat, sehingga orang-orang pandai seperti ayahnya dan bahkan kakeknya pun tidak mampu memberikan penjelasan ketika dia bertanya kepada mereka tentang bulan dan bintang. Ia tahu bahwa ibunya juga suka menikmati kebesaran alam, bahkan ibunya suka berkhayal dan bercerita bahwa karena menurut dongeng, bintang-bintang itu merupakan dunia-dunia, maka tentu di setiap bintang dikuasai oleh seorang dewa.

Kalau begitu, alangkah banyaknya dewa-dewa di langit! Tidak terhitung banyaknya! Lebih banyak bintang di langit dari pada rambut di kepalamu, demikian kata ibunya. Mungkin hal itu benar, pikir Kui Hong, sebab walau pun sangat banyak, apa bila memang dikehendaki, rambut di kepala masih dapat dihitung manusia. Akan tetapi bintang di langit? Siapakah yang mampu menghitungnya? Makin gelap langit, makin banyaklah bintang yang nampak, sampai berdempetan dan tak mungkin dihitung.

"Aduh, bukan main indahnya bintang-bintang itu, Ibu..." Kui Hong yang sejenak lupa akan segala hal itu berkata penuh kagum.

Akan tetapi ibunya tidak menjawab dan dia terheran. Biasanya ibunya paling suka memuji keindahan alam. Dia segera menengok dan di dalam keremangan malam itu dia melihat ibunya menyembunyikan muka di balik lengan yang memeluk lutut! Baru dia teringat akan keadaan mereka dan Kui Hong merasa gelisah sekali.

Dia bukan anak kecil lagi. Tentu sudah terjadi sesuatu yang hebat, yang membuat ibunya berduka seperti itu. Jangan-jangan kakeknya atau neneknya yang di Pulau Teratai Merah meninggal dunia, pikirnya dan dia pun bergidik ngeri. Tak mungkin! Kalau benar terjadi hal demikian, tentu ayahnya pun ikut pergi, bahkan Kakek Cia Kong Liang juga tentu pergi melayat. Tidak, tentu ada peristiwa lain.

"lbu... lbu, engkau kenapakah, Ibu...?" tanyanya lirih sambil menyentuh tangan ibunya.

Pertanyaan puterinya ini menyentuh senar yang terhalus di dalam hati Sui Cin. Dia terisak sambil menyembunyikan muka di balik kedua tangannya. Dia menangis!

Ibunya menangis! Kui Hong tersentak kaget. Belum pernah dia melihat ibunya menangis! Dia selalu menganggap bahwa ibunya adalah seorang wanita yang terhebat, yang gagah perkasa dan pantang menangis. Bahkan pada waktu dia masih kecil dan suka menangis, ibunya sering memberi nasehat bahwa seorang wanita gagah lebih menghargai air mata dari pada darah!

Keringat bahkan darah sekali pun boleh menetes kalau perlu, akan tetapi air mata harus dipantang! Tangis hanya menunjukkan kelemahan saja, dan seorang wanita yang gagah perkasa bukanlah orang yang lemah. Demikian kata-kata ibunya yang hingga kini masih diingatnya, kata-kata yang ikut menggembleng dirinya menjadi seorang gadis yang tabah, keras hati, penuh keberanian menghadapi apa pun juga tanpa mengeluh. Tapi sekarang, ibunya menangis!

"Ibu...!" Kui Hong merangkul ibunya dan memaksa ibunya supaya menurunkan tangan. Dipandanginya wajah ibunya. Memang tidak banyak air mata yang mengalir keluar, akan tetapi tetap saja terbukti bahwa ibunya menangis. "Ibu, engkau menangis? Mungkinkah ini? Apakah yang sudah terjadi, Ibuku?" Kui Hong bertanya sambil menciumi pipi ibunya yang agak basah oleh air mata.

Dengan sekuat tenaga Sui Cin menekan perasaannya, menghapus air matanya. Anaknya ini bukan kanak-kanak lagi, melainkan seorang gadis menjelang dewasa, maka tak perlu menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya, karena Kui Hong kini tentu sudah dapat mengerti.

"Ayahmu... Ayahmu harus menikah lagi." jawabnya dan begitu dia menjawab, dia merasa lancar dan bisa menahan getaran perasaannya. Sekarang kedukaannya terganti oleh rasa penasaran dan kemarahan.

Mendengar keterangan ini, Kui Hong terkejut sekali, juga heran dan sejenak ia kehilangan akal, hampir tidak dapat mengerti dan tidak dapat menangkap maksud kata-kata ibunya. Ayahnya harus menikah lagi? Keterangan macam apa ini?

Akan tetapi, semuda itu Kui Hong sudah digembleng untuk dapat menguasai hatinya dan sikapnya masih tetap tenang walau pun keterangan ibunya tadi membuatnya terkejut dan terheran-heran sekali. Sukar baginya untuk dapat percaya bahwa ayahnya akan menikah lagi! Dia mempertimbangkan keterangan ibunya dalam satu kalimat tadi. Ayahnya harus menikah lagi. Harus?

"Ibu, siapa yang mengharuskan ayah menikah lagi?"

"Kakekmu, siapa lagi?" Suara ibunya mengandung penasaran dan kemarahan sehingga Kui Hong dapat menduga bahwa tentu ibunya sudah ribut dengan kakeknya.

"Menikah dengan siapa?"

"Dengan siapa saja, ayahmu sendiri pun belum tahu."

"Tetapi, kenapa? Kenapa kongkong menyuruh dan bahkan mengharuskan ayah menikah lagi? Bukankah ayah sudah menikah dengan Ibu?"

"Kongkong-mu ingin mempunyai seorang cucu laki-laki..."

"Akan tetapi, kongkong sudah mempunyai cucu aku!"

"Dia ingin cucu laki-laki untuk menyambung keluarga Cia! Karena aku tidak mempunyai anak laki-laki, maka ayahmu diharuskan menikah lagi."

"Dan ayah... ayah mau...?"

"Ayahmu terpaksa, kalau tidak, dia tak akan diakui lagi sebagai anak kongkong-mu, akan diusir!"

"Ahhh...!" Wajah Kui Hong berubah, kini agak pucat karena dia mulai mengerti benar dan tahu bahwa memang sudah terjadi peristiwa yang hebat sekali, bahkan merupakan malapetaka bagi ibu dan ayahnya, yang mengubah kehidupan keluarga mereka semua!

"Jadi karena itukah Ibu pergi? Tapi... tapi mengapa pergi, Ibu? Mengapa kalau Ibu tidak setuju, Ibu tidak melarang saja pada ayah agar dia tidak usah menikah lagi?"

"Aku sudah menyatakan tidak setuju, bahkan aku sampai cekcok dengan kongkong-mu, akan tetapi kongkong-mu memaksa ayahmu, jika ayahmu tidak mau, maka ayahmu harus pergi dan tidak diakui sebagai anak lagi."

"Ah, kenapa Ibu tidak bilang begitu selagi kita pergi. Biarlah aku kembali ke sana dan aku akan menegur kongkong dan ayah!" Kui Hong bangkit berdiri sambil mengepal tinju, akan tetapi melihat itu, Sui Cin merangkul anaknya disuruhnya duduk kembali.

"Tidak ada gunanya, Kui Hong. Engkau tidak tahu alangkah keras hati kongkong-mu dan betapa pentingnya cucu laki-laki baginya, atau bagi laki-laki yang mana pun juga di dunia ini agaknya. Sungguh menjemukan! Sudahlah, biarlah kita pergi saja dan kalau memang ayahmu ingin berbakti pada kongkong-mu dan melupakan kita, biarlah kita hidup sendiri, di rumah orang tuaku di Pulau Teratai Merah."

"Tapi, Ibu, kenapa Ibu tidak menentang dengan kekerasan saja?"

"Tiada gunanya, juga tidak baik dan memalukan! Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang saja ke Pulau Teratai Merah dan kalau ayahmu menyusul kita dan mengurungkan niat kongkong-mu yang mengharuskan dia menikah lagi, baru aku mau ikut dengannya. Bila sebaliknya yang terjadi, dia menikah lagi, biarlah selamanya kita tinggal saja di Pulau Teratai Merah."

Percakapan itu terhenti dan kedua orang wanita itu tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Beberapa kali Cia Kui Hong mengepal tinjunya, hatinya marah dan panas sekali, melebihi panasnya hati ibunya.

Apa bila kelak ayahnya benar menikah lagi, dia akan menegur ayahnya itu, dan menegur kakeknya, kalau perlu dia akan membunuh wanita yang menjadi isteri ayahnya, ibu tirinya yang mendatangkan kehancuran di dalam hidup ibunya. Ibunya kini sampai meninggalkan rumah, kedinginan di kaki gunung ini, di bawah pohon, terlunta-lunta!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Perjalanan yang dilakukan oleh Ceng Sui Cin dan puterinya, Cia Kui Hong, adalah sebuah perjalanan yang sangat jauh dan akan makan waktu beberapa bulan lamanya walau pun mereka sudah mempergunakan ilmu berlari cepat! Tentu saja ibu dan anak ini mengalami banyak kesulitan. Di samping rasa lelah dan hati mereka yang tertekan duka, juga masih banyak gangguan yang harus mereka hadapi sebagai dua orang wanita cantik melakukan perjalanan tanpa pengawalan.

Meski pun usianya telah tiga puluh tiga tahun, namun Sui Cin masih nampak cantik jelita. Tubuhnya yang dulu ramping itu kini memang agak gemuk dibandingkan ketika sebelum dia memiliki anak, akan tetapi bukan gemuk karena kebanyakan gajih sehingga nampak kedodoran, melainkan gemuk padat sebab dia masih terus berlatih silat sehingga dia lebih tepat dikatakan bertubuh montok. Wajahnya kelihatan jauh lebih muda dari usianya yang sesungguhnya sehingga dalam melakukan perjalanan bersama Kui Hong, mereka berdua lebih pantas disebut enci adik dari pada ibu dan anak.

Sampai sekarang pun Sui Cin masih tidak mengubah kebiasaannya semenjak dulu, yaitu sikapnya bebas dan pakaiannya pun agak nyentrik. Dia lebih mengutamakan enak dipakai dari pada indah dipakai. Karena sedang melakukan perjalanan yang jauh, dia tidak lupa membawa payungnya yang merupakan senjata pusakanya, yang dulu sudah mengangkat namanya ketika dia masih gadis, di samping benda itu dapat pula dipergunakan sebagai payung untuk melindungi muka dari sengatan terik matahari dan curahan air hujan.

Juga puterinya mengenakan pakaian yang nyentrik, yakni pakaian pria yang ketat hingga tubuhnya yang bagaikan bunga sedang mulai mekar itu kelihatan indah menarik laksana buah yang sedang ranum. Berbeda dengan ibunya yang membawa sebuah payung, yang diikat pada buntalan pakaiannya di punggung bila tidak digunakan sebagai payung, gadis yang berusia lima belas tahun ini membawa sebatang pedang yang dipasangnya di atas buntalan di punggung.

Karena gadis ini membawa pedang secara mencolok itulah agaknya yang sudah banyak menolong mereka. Setiap kali ada lelaki yang tertarik dan bermaksud kurang ajar, mereka langsung mundur teratur sesudah melihat pedang itu, maklum bahwa dua orang wanita itu adalah dua orang wanita kang-ouw (sungai telaga, golongan ahli silat) yang tidak boleh sembarangan diganggu.

Kurang lebih sebulan kemudian sesudah meninggalkan Cin-ling-san, pada suatu sore ibu dan anak ini tiba di kota Nan-sian yang terletak di tepi Telaga Tung-ting. Kota ini memang sangat indah karena letaknya di pinggir telaga besar itu yang menampung air dari Sungai Yang-ce-kiang yang lebar. Oleh karena hari telah menjelang sore dan tak mengenal baik daerah itu, pula melihat betapa puterinya tadi mengagumi keindahan pemandangan alam di telaga itu dari suatu ketinggian, Ceng Sui Cin kemudian mengambil keputusan untuk bermalam saja di kota Nan-sian ini.

Mereka memasuki kota Nan-sian, menyewa sebuah kamar yang cukup bersih di sebuah rumah penginapan yang terletak di tempat indah sekali, yaitu di tepi telaga. Setelah mandi dan berganti pakaian, ibu dan anak ini meninggalkan buntalan pakaian mereka di dalam kamar, akan tetapi tidak lupa membawa senjata mereka.

Sedapat mungkin Kui Hong menyembunyikan pedangnya di bawah baju, sedangkan Sui Cin membawa payungnya. Mereka lantas meninggalkan rumah penginapan untuk melihat keindahan telaga itu di mana terdapat banyak sekali perahu sewaan untuk orang pesiar ke telaga.

"Ibu, kita menyewa perahu, membeli makanan dan makan di atas perahu. Tentu akan menyenangkan sekali!" kata Kui Hong.

Sui Cin tersenyum. Setelah melakukan perjalanan bersama puterinya, sedikit demi sedikit Sui Cin dapat menutup kedukaan hatinya, namun dia merasa kasihan terhadap puterinya yang ikut terbawa terlunta-lunta bersamanya.

"Baiklah, Kui Hong. Mari kita memilih rumah makan yang baik dan minta kepada pelayan untuk mengantar makanan ke perahu yang kita sewa."

Dengan hati gembira, seperti dua orang ibu dan anak yang tengah pergi pelesir dan sama sekali melupakan kedukaan mereka. Sui Cin dan Kui Hong lantas memilih sebuah perahu yang catnya masih baru dan berbentuk naga, tukang perahunya juga seorang kakek yang berpakaian rapi dan bersih. Setelah memperoleh perahu, mereka lalu memesan makanan dan arak yang diantar ke perahu oleh pelayan restoran dibantu oleh kakek pemilik perahu.

Tidak lama kemudian perahu itu pun sudah didayung perlahan oleh kakek tukang perahu, sedangkan Sui Cin dan Kui Hong makan minum di kepala perahu yang sengaja didayung menuju ke barat, menyongsong mentari yang sedang tenggelam. Pemandangan itu indah bukan main. Matahari yang condong ke barat itu membakar langit barat dan bayangannya pada permukaan air yang tenang dan jernih benar-benar merupakan pemandangan yang menakjubkan sekali.

Gembira hati ibu dan anak ini makan minum sambil melihat pemandangan indah itu, dan banyak pula perahu-perahu pesiar lain yang hilir mudik di permukaan telaga yang teramat luas. Terdengar suara musik dipukul orang, ada pula gadis-gadis penyanyi yang bermain yang-kim dan suling, bernyanyi menghibur hati para tuan muda yang bersenang-senang dan bermabok-mabokan di atas perahu besar.

Sui Cin dan Kui Hong tidak senang melihat lagak para kongcu yang bersenang-senang di atas perahu bersama gadis-gadis penyanyi itu. Mereka lalu menyuruh tukang perahu agar mendayung perahu itu menjauh, mencari tempat yang ramai.

Dari jauh perahu-perahu pelesir yang di cat indah itu nampak laksana binatang-binatang aneh yang meluncur berenang di permukaan air. Hanya ada satu dua buah perahu yang kadang-kadang bersimpangan jalan dengan perahu ibu dan anak itu yang masih belum selesai makan minum dengan sangat asyiknya karena mereka tidak tergesa-gesa.

Mendadak terdengar suara merdu dari tiupan suling yang diiringi suara sentilan yang-kim (semacam siter). Di tempat yang sunyi itu, jauh dari perahu-perahu lain yang bising, suara ini terdengar amat merdu, menambah keindahan pemandangan senja hari itu.

Petikan yang-kim yang mengiringi tiupan suling itu sungguh amat indah dan paduan suara itu demikian tepat dan serasi sehingga merupakan musik yang seakan-akan memberikan penghormatan dan mengiringi Sang Raja Hari yang sedang mengundurkan diri ke istana barat.

Ibu dan anak itu tertarik dan menoleh. Ternyata suara itu keluar dari sebuah perahu kecil sederhana bercat merah yang meluncur perlahan dari arah kiri ke arah mereka. Dengan tenang perahu itu meluncur, dan ternyata digerakkan oleh layar kecil yang terpasang di atas perahu, dibiarkan meluncur ke arah mana pun sebab penumpangnya hanya seorang saja dan orang ini pun tidak mengemudikan perahu karena ternyata dialah yang sedang asyik memainkan musik itu. Akan tetapi, seorang saja memainkan paduan musik suling dan yang-kim, demikian indahnya pula, sungguh sukar untuk dipercaya!

"Dekati perahu itu...," kata Kui Hong kepada kakek tukang perahu karena dia tertarik dan gembira, juga Sui Cin mengangguk setuju.

Akan tetapi kakek itu mengerutkan alisnya, bahkan kemudian menggeleng kepala. "Tidak boleh terlalu dekat, Toanio dan Siocia (Nyonya Besar dan Nona)."

"Ehh, memangnya kenapa?" tanya Kui Hong dan Sui Cin juga memandang heran.

"Saya adalah tukang perahu yang setiap hari bekerja di sini sehingga saya mengetahui segala peristiwa yang terjadi di telaga ini, Nona. Sudah kurang lebih dua minggu perahu kecil itu muncul dan orang-orang tidak berani mengganggunya, karena pada hari pertama, ada sebuah perahu besar mengganggu dan perahu itu langsung saja dibalikkan sehingga tenggelam oleh penumpang perahu yang bermain suling dan yang-kim itu!"

Tentu saja Sui Cin dan Kui Hong tertarik sekali mendengar berita yang aneh itu. "Jahat sekali dia! Siapa sih orang itu?" tanya Kui Hong, mencoba untuk memandang orang yang duduk di dalam perahu kecil itu.

Akan tetapi karena jarak di antara perahunya dan perahu itu masih agak jauh dan cuaca telah mulai remang-remang, dia pun tidak mampu melihat jelas. Hanya kelihatan seorang laki-laki bertubuh sedang yang duduk menunduk di perahu itu, sambil memangku sebuah yang-kim dan memegang sebuah suling. Dia memegang suling itu dengan tangan kirinya, agaknya dia meniup suling dan memainkan suling itu dengan tangan kirinya saja, ada pun tangan kanannya digunakan untuk memainkan senar-senar yang-kim yang berada di atas pangkuannya.

"Saya tidak tahu, Nona. Tak seorang pun yang tahu siapa dia. Akan tetapi semua tukang perahu tidak berani mendekatinya. Selama dia tidak diganggu, maka dia pun tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, malah menyenangkan dengan permainan suling dan yang-kimnya yang luar biasa. Merdu, bukan?"

"Bagaimana dia menggulingkan perahu besar?" Sui Cin yang merasa tertarik bertanya.

Kakek itu menggelengkan kepala. "Siapa mengerti, Toanio? Tahu-tahu perahu itu terbalik, sedangkan orang itu berhenti meniup suling dan memainkan yang-kim. Sesudah perahu besar itu terbalik, barulah dia main musik lagi dan perahu kecilnya meluncur pergi."

"Apa yang telah dilakukan oleh perahu besar itu sehingga dia terganggu dan marah?" Sui Cin bertanya lagi, hatinya semakin tertarik.

"Perahu besar itu hanya lewat terlalu dekat sehingga ada air yang memercik membasahi pakaian dan yang-kimnya, dan para penumpang perahu besar mentertawakannya," jawab tukang perahu yang menghentikan dayungnya karena tidak mau datang terlalu dekat.

"Sombong benar orang itu, ingin aku melihat bagaimana macam orangnya. Paman tua, dekatkan perahu kita dengan perahunya!" kata Kui Hong yang sudah merasa tertarik dan penasaran sekali.

Sui Cin juga tertarik, karena menduga bahwa orang yang dapat sekaligus bermain suling dan yang-kim menjadi paduan suara yang sangat serasi, dan yang berwatak aneh seperti menggulingkan perahu besar yang airnya memercik kepadanya, tentu merupakan orang yang luar biasa. Apa lagi bila dipikir bahwa menggulingkan perahu bukan pekerjaan yang mudah.

"Dekatkan perahu kita," katanya pula kepada tukang perahu.

"Tidak, Toanio, Siocia, saya tak berani. Bagaimana jika nanti perahuku digulingkan pula? Celaka, saya akan menderita rugi." Ia lalu memandang kepada mereka. "Dan belum tentu Ji-wi (Anda Berdua) dapat menyelamatkan diri dengan berenang seperti para penumpang perahu besar itu. Bagaimana kalau Ji-wi sampai tenggelam?"

"Aku akan mengganti kerugianmu kalau terjadi demikian," kata Sui Cin sambil tersenyum.

"Saya tidak berani, Toanio."

"Heh, tukang perahu cerewet! Jika engkau mendekatkan perahumu ke sana, belum tentu dia akan menggulingkan perahumu, akan tetapi jika engkau tidak mau dan masih banyak cerewet, maka sekarang juga aku akan membikin perahumu terguling!" bentak Kui Hong yang gemas sekali melihat tukang perahu itu ketakutan dan menolak permintaan mereka.

Mata tukang perahu itu terbelalak kaget dan mukanya berubah pucat. Celaka, pikirnya, kiranya dua orang perempuan yang menumpang di perahunya ini sama gilanya dengan laki-laki peniup suling itu! Akan tetapi karena yang mengancamnya hanya seorang gadis remaja, tentu saja dia tidak begitu takut. Agaknya Kui Hong melihat pula hal ini, maka dia pun menggerakkan jari-jari tangan kirinya, menusuk pinggiran perahu yang terbuat dari papan tebal itu.

"Cusss...!" Tiga buah jari yang kecil mungil itu menusuk masuk ke dalam kayu yang keras itu seolah-olah papan tebal itu hanya merupakan tahu yang lunak saja.

"Kau ingin aku membikin lubang-lubang di dasar perahumu?" Kui Hong membentak.

Sepasang mata kakek itu semakin melebar dan mukanya semakin pucat. "Tidak... tidak, Siocia, baiklah... saya... saya mendekatkan perahu...," katanya dengan suara gemetar.

Hampir dia tidak dapat percaya melihat betapa tiga buah jari tangan yang kecil mungil dan halus itu dapat menusuk amblas ke papan perahu seperti tiga batang jari baja memasuki agar-agar saja! Karena maklum bahwa ancaman di dalam perahunya lebih berbahaya dari pada ancaman perahu kecil pemain suling itu, maka dia pun mulai mendayung perahunya perlahan-lahan mendekati perahu kecil dengan hati berdebar ketakutan. Dengan hati-hati dia mendekatkan perahu, menjaga agar dayungnya tidak membuat air terpercik terlampau keras dan agar perahunya tidak sampai menubruk perahu kecil di depan itu.

Kini perahu kecil itu tidak meluncur lagi karena rupa-rupanya angin telah berhenti bertiup. Karena tidak didayung atau dikemudikan, perahu kecil itu hanya bergoyang lirih, kadang-kadang mengarah ke kanan dan kadang-kadang ke kiri seperti orang mabuk. Akan tetapi orang yang duduk pada kepala perahu itu agaknya tak mempedulikan hal ini, masih terus bermain yang-kim yang mengiringi tiupan sulingnya.

Remang-remang nampak seorang laki-laki meniup suling. Dengan ibu jari tangan kirinya dia menyangga suling, ada pun jari-jari tangan kiri lainnya mempermainkan lubang-lubang suling. Laki-laki itu meniup suling dengan suara merdu, melengking-lengking tinggi rendah dengan amat indah, dan suara ini diiringi petikan yang-kim yang dilakukan dengan jari-jari tangan kanannya.

Walau pun memainkan setiap alat musik hanya dengan satu tangan saja, namun jari-jari tangan itu bermain dengan sangat lincahnya dan suara yang berpadu itu amat merdunya. Orang itu adalah seorang laki-laki bertubuh sedang, dan karena mukanya menunduk, apa lagi ditutup oleh sebuah caping lebar yang berada di atas kepalanya, maka ibu dan anak itu tidak dapat melihat dengan jelas.

Sui Cin teringat akan seorang tokoh dunia persilatan terkenal yang belasan tahun yang lalu masih dilihatnya, yaitu yang berjuluk Shantung Lo-kiam (Pedang Tua dari Shantung), seorang pendekar dari Shantung, merupakan salah seorang di antara Sam Lo-eng (Tiga Pendekar Tua) yang terkenal sebagai seorang ahli pedang dan seorang sastrawan yang pandai pula bermain yang-kim.

Akan tetapi, belasan tahun yang lalu Shantung Lo-kiam telah berusia delapan puluh tahun lebih, dan juga belum pernah dia mendengar bahwa kakek itu juga pandai meniup suling. Apa lagi dengan cara memainkan dua buah alat musik seperti orang ini. Agaknya bukan Shantung Lo-kiam, pikirnya. Lalu siapakah orang ini?

Tiba-tiba suara suling dan yang-kim terhenti, lalu laki-laki bercaping itu mengangkat muka, memandang ke angkasa dan dia pun mulai bernyanyi. Suara nyanyiannya cukup merdu dan lantang, kini diiringi suara yang-kim yang ramai karena dimainkan dengan sepuluh jari tangannya.

"Minum arak meniup suling memetik yang-kim seorang diri di atas perahu yang meluncur tanpa kemudi di permukaan Telaga Tung-ting yang amat luas perahuku meluncur dengan bebas melalui jalur yang diciptakan matahari jalur emas sang surya di senja hari hidup begini bahagia dan indah perlu apa segala keluh kesah...?"

Mendengar nyanyian yang seolah-olah merupakan nasehat dan hiburan bagi hati mereka yang memang sedang dirundung malang itu, tentu saja ibu dan anak ini saling pandang dan Sui Cin memuji, "Bagus sekali sajak itu...!"

Sejak tadi Kui Hong juga mengamati orang itu. Setelah kini menengadah, dia bisa melihat wajahnya dan dia tercengang. Seraut wajah yang amat tampan! Wajah seorang pemuda yang agaknya hanya beberapa tahun saja lebih tua darinya. Dan nyanyian yang merdu itu, kata-kata nyanyian yang demikian indahnya. Kui Hong memandang seperti terpesona, setuju atas pujlan ibunya. Memang indah sajak itu, indah pula suaranya.

Tadinya laki-laki itu seolah-olah merasa bahwa dirinya hanya sendirian di tempat luas itu, karena itu agaknya dia terkejut mendengar pujian orang. Dia seperti baru sadar dan cepat memandang, sinar matanya mencorong mengejutkan hati Sui Cin. Untuk sejenak pemuda itu menatap wajah Sui Cin, kemudian mengalihkan pandangan matanya dan memandang kepada Kui Hong penuh selidik. Melihat orang memandang kepadanya demikian lama, Kui Hong mendongkol sekali.

"Apakah kau hendak menggulingkan perahu kami? Coba lakukan, hendak kulihat apakah kau dapat melakukan itu!" tantangnya.

Sui Cin kaget bukan main, akan tetapi tak sempat mencegah puterinya yang menantang itu.

Mendengar tantangan ini, sepasang mata yang mencorong itu sekarang ditujukan kepada tukang perahu seakan-akan orang itu mengerti bahwa tentu tukang perahu itu yang telah bercerita bahwa dia pernah menggulingkan perahu. Melihat betapa mata yang mencorong itu menatap kepadanya, tukang perahu segera menjadi ketakutan dan dia pun menjura di tempatnya.

"Mohon maaf, kedua orang penumpang saya ini yang memaksa saya untuk mendekat, maafkan saya..."

Melihat betapa tukang perahu itu begitu penakut, Kui Hong menjadi semakin mendongkol. "Huh, memang benar kami yang memaksamu mendekat. Jika engkau demikian pengecut, tak usah engkau ikut campur. Memangnya danau atau telaga ini miliknya maka kita tidak boleh ke sana ke sini sesuka hati?"

Sekarang sepasang mata itu menjadi ramah, dan wajah yang tampan itu berseri ketika dia berkata, "Paman tua tukang perahu, aku bukan tukang makan orang, mengapa engkau begitu ketakutan?" Kemudian dia bangkit berdiri, lantas menjura ke arah Sui Cin dan Kui Hong. "Bibi yang terhormat dan adik yang manis, aku juga bukan tukang menggulingkan perahu. Tentu saja engkau boleh pergi ke mana saja dengan perahumu itu, siapa yang melarang?"

Sesudah berkata demikian, laki-laki itu tiba-tiba menggerakkan dayungnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menarik lepas tali layar dan meluncurlah perahu kecil itu dengan cepat meninggalkan tempat itu.

"Siapa sudi kau bermanis-manis?" bentak Kui Hong akan tetapi ibunya sudah memegang lengannya. Ketika gadis itu memandang, dia melihat ibunya tersenyum geli.

"Kui Hong, engkau ini kenapakah? Orang itu bersikap sopan dan baik, kenapa kau marah-marah? Wah, jangan-jangan engkau telah kemasukan setan penunggu telaga ini!" kelakar ibunya.

"Mata orang itu seperti mata maling, membikin hatiku sangat mendongkol, Ibu!" kata Kui Hong yang teringat bahwa sikapnya tadi memang agak keterlaluan. Dia telah menantang digulingkan perahunya, kemudian dia marah-marah ketika disebut adik manis. Bagaimana pun juga, harus diakuinya bahwa sikap pemuda itu sopan dan manis budi.

"Memang telaga ini dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang gawat," tiba-tiba saja tukang perahu itu menanggapi mendengar kelakar nyonya itu. "Tadinya kami juga menganggap pemuda peniup suling itu adalah makhluk halus pula. Maka harap Nona tidak main-main di sini. Entah sudah berapa banyak pelancong yang tewas di telaga ini karena gangguan makhluk halus."

Tadinya Kui Hong hendak membentak orang yang lancang mencampuri percakapan itu, akan tetapi mendengar kalimat terakhir, kembali dia merasa tertarik.

"Kenapa banyak orang pelancong tewas di telaga ini? Diganggu makhluk halus katamu?" Diam-diam Kui Hong melirik ke kanan kiri.

Cuaca sudah menjadi agak gelap dan dia merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin. Bagaimana pun juga Kui Hong hidup di jaman di mana banyak orang masih percaya penuh kepada segala macam takhyul dan dongeng-dongeng tentang setan, iblis dan siluman. Semua itu merupakan hal-hal yang tak dimengertinya dan menurut dongeng, makhluk halus tidak mungkin dilawan dengan ilmu silat yang bagaimana tinggi pun karena makhluk halus pandai menghilang.

Tentu saja dia merasa takut begitu ada orang bercerita tentang makhluk halus. Apa lagi di telaga seperti itu, di mana dia merasa demikian lemah dan tidak leluasa seperti kalau dia menginjak tanah keras.

Agaknya tukang perahu nampak senang. Bagaimana pun juga, dia memperlihatkan bukti bahwa dia lebih tahu tentang telaga itu, dan lebih tahu tentang makhluk halus dan melihat gadis ini agaknya takut-takut, dia merasa lebih menang!

"Memang telaga ini mengandung banyak keanehan, Nona." katanya bercerita. "Meski pun nampaknya tenang, akan tetapi orang bilang bahwa di bagian tertentu telaga ini demikian dalamnya sehingga tak seorang pun manusia mampu mengukurnya. Kata orang lebih dari seratus tingginya pohon cemara, dan bahkan ada yang bilang bahwa ada bagian di mana terdapat terowongan yang menghubungkan air telaga ini dengan lautan di timur! Bahkan kadang-kadang bagaikan lautan saja, telaga ini akan mengamuk, airnya bergelombang besar dan kalau sudah begitu, banyak perahu tenggelam dan banyak orang binasa. Juga, banyak pula binatang-binatang aneh seperti naga dan laln-lain bermunculan di telaga ini."

"Ihhh...!" Kui Hong kembali melirik ke kanan kiri.

"Tidak aneh kalau telaga ini menjadi gawat dan banyak dihuni setan, karena banyak roh penasaran berkeliaran di sini."

"Kenapa begitu?" Kui Hong mendesak, tapi diam-diam dia mengisar duduknya mendekati ibunya.

"Di samping menjadi tempat hiburan bagi para pelancong, telaga ini juga terkenal sebagai tempat orang membunuh diri, Nona."

"Bunuh diri? Mengapa...?"

"Aihh, banyak sekali sebabnya, Nona. Karena patah hati, karena ketakutan, karena malu dan sebagainya. Sebagian besar wanita yang membunuh diri di sini."

"Maksudku, kenapa di sini?"

"Karena tempat ini amat dalam, sekali terjun, mereka yang tak dapat berenang tentu akan tewas. Dan airnya dingin sekali, juga sangat dalam. Orang yang sudah tenggelam, sukar untuk diselamatkan orang lain. Hanya mereka yang pandai renang sajalah yang tidak mati kalau sampai terlempar ke air. Baru kemarin dulu ada sepasang orang muda membunuh diri di sini. Aihh, kasihan sekali, masih muda remaja, seusia Nona..."

Melihat puterinya nampak ketakutan, Sui Ceng segera berkata. "Sudahlah, jangan bicara tentang hal yang bukan-bukan. Sekarang antarkan kami ke tepi, kami hendak mengaso, malam telah mulai tiba."

"Baik, Toanio dan maafkan saya." Tukang perahu itu girang sekali dan cepat mendayung perahunya kembali ke tepi.

Senang sekali kalau sudah terbebas dari dua orang wanita yang berani ini, yang tadi telah membuat dia ketakutan bukan main karena diharuskan mendekati perahu kecil Si Peniup Suling. Dia masih merasa heran mengapa laki-laki peniup suling itu tidak menggulingkan perahunya tadi, atau tidak membunuh nona yang menantangnya, bahkan bersikap ramah dan sopan. Bahkan Si Peniup Suling itu kelihatan takut. Ya, takut! Aihh, jangan-jangan...

Sambil melirik ke arah Sui Cin dan Kui Hong, kakek itu menjadi pucat mukanya. Ibu dan anak yang demikian cantik, bahkan yang lebih tua itu tidak patut menjadi ibu, cantik halus akan tetapi berani menantang Si Peniup Suling dan bertanya-tanya kepadanya mengenai makhluk halus! Ihh...! Siapa tahu dua orang wanita ini malah makhluk halus yang sengaja menyamar dan mempermainkan dia.

Setelah tiba di tepi, Sui Cin dan Kui Hong meloncat ke darat, membayar tukang perahu itu kemudian pergi. Tukang perahu sejenak melongo sambil memandang uang yang berada pada tangannya, setengah menduga bahwa uang itu tentu akan menjadi batu kerikil atau rumput seperti dongeng orang-orang yang sering dia dengar tentang pembayaran setan yang menyamar sebagai manusia. Dan mulai keesokan harinya, di antara tukang-tukang perahu di situ, tentu akan muncul dongeng baru tentang siluman yang menyamar sebagai dua orang wanita cantik menyewa perahu kakek itu, siluman yang berani menantang Si Tukang Suling yang ditakuti itu!

Ketika Sui Cin dan Kui Hong berjalan menyusuri telaga, tiba-tiba mereka lihat ribut-ribut di tepi sebelah depan, di mana sebuah perahu pelesir yang besar berlabuh. Mereka segera menghampiri tempat itu dan melihat betapa ada enam orang laki-laki tinggi besar yang berpakaian tukang pukul rebah malang melintang dan seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun berpakaian mewah nampak berlutut minta ampun kepada seseorang, dan tak jauh dari situ nampak seorang wanita sedang menangis, yang bila dilihat dari pakaiannya tentu seorang gadis penyanyi.

Pendekar Mata Keranjang Jilid 17

Hati atau batin yang gelisah dan tidak tenteram hanya merupakan akibat dari sibuknya pikiran! Kalau pikiran tenang dan hening seperti air telaga yang tidak diusik, maka batin akan menjadi hening dan bebas dari segala macam perasaan pula. Akan tetapi sekali pikiran kacau dan keruh seperti air yang diaduk sehingga semua lumpur dan kotoran dari dasar yang tadinya mengendap itu timbul dan mengeruhkan, keheningan air pun lenyap.

Jadi yang paling penting bukanlah menekan kesibukan pikiran karena penekanan ini pun merupakan kesibukan lain lagi dari pikiran itu sendiri. Yang terpenting adalah menyelami dan mempelajari, mengamati kesibukan pikiran sendiri, bukan pengamatan dengan niat mendiamkan pikiran, melainkan pengamatan yang timbul dari kewaspadaan.

Tanpa penekanan dan perlawanan, tanpa adanya si aku yang menekan atau mengamati, tanpa adanya aku yang ingin melihat pikiran menjadi tenang, maka bagaikan kehabisan setrum, pikiran akan menjadi diam dengan sendirinya, bukan dibikin diam.

Sejak kecil sampai tua atau mati, kehidupan kita sekan-akan dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan persoalan. Masing-masing dari kita mempunyai masalah sendiri dan menghadapi persoalan tertentu sendiri-sendiri, suka duka selalu berselang-seling, susah senang menjadi pakaian sehari-hari.

Semua ini bukan lain ditimbulkan oleh pikiran atau si aku karena si aku adalah bentukan pikiran kita sendiri. Ingin ini, ingin itu, mengapa begini, mengapa tidak begitu seperti yang kita inginkan, mengapa harapan kita menjadi hampa, mengapa keinginan kita tidak dapat terlaksana, mengapa orang lain senang dan kita susah, orang lain pandai dan kita bodoh, orang lain kaya dan kita miskin, dan sebagainya.

Perang atau konflik terjadi dalam diri kita masing-masing, konflik antara kenyataan dan keinginan lain, konflik antara keadaan seperti adanya dengan keadaan seperti yang kita kehendaki. Konflik di dalam diri setiap manusia ini lantas menjalar menjadi konflik antara kelompok, golongan, bahkan antara bangsa hingga menjadi perang yang mengguncang dunia.

Semua pertikaian atau konflik antara dua orang selalu timbul karena kepentingan pikiran masing-masing, karena si aku yang selalu ingin disenangkan biar pun jarang sekali ingin menyenangkan, selalu ingin dikasihani meski jarang sekali mengasihani. Masing-masing memperebutkan kebenaran sendiri dan kebenaran yang diperebutkan itu pasti kebenaran yang didasari ingin senang sendiri. Keduanya memperebutkan kebenaran sendiri-sendiri yang berbeda, bahkan berlawanan.

Tradisi usang dan kebiasaan lama kadang-kadang merupakan kebijaksanaan pada suatu masa atau kurun waktu tertentu dan jika selalu dipertahankan, maka akan menimbulkan konflik karena segala sesuatu akan berubah dengan berubahnya waktu. Mengekor saja pada kebiasaan atau tradisi lama tanpa pertimbangan yang bijaksana merupakan suatu kebodohan.

Semenjak ribuan tahun, di Tiongkok terdapat satu anggapan yang telah berakar di dalam hati setiap keluarga, menjadi tradisi yang amat kokoh kuat, yaitu bahwa setiap keluarga harus mempunyai keturunan laki-laki! Mungkin sekali anggapan ini terdorong oleh dua keadaan.

Pertama, seorang anak laki-laki dianggap akan bisa membantu keluarga orang tuanya di sawah karena pada waktu itu, sebagian besar rakyat hidup sebagai petani yang miskin. Kebutuhan akan tenaga bantuan inilah yang mendorong mereka beranggapan bahwa bila mempunyai anak laki-laki berarti memperoleh tenaga bantuan yang amat baik dan dapat dipercaya, dan berarti bisa meringankan beban keluarga. Hal ke dua, anak laki-laki akan melanjutkan tradisi nenek moyang, akan melanjutkan keturunan marga mereka masing-masing, dan akan memelihara abu nenek moyang.

Jelasnya, seorang anak laki-laki akan dapat meneruskan silsilah keluarga, melanjutkan riwayat marga itu. Tetapi sebaliknya anak perempuan sejak kecil hanya menjadi beban, merupakan makhluk lemah yang tenaganya tidak bisa banyak diharapkan di waktu anak itu menjadi dewasa, bahkan hanya akan mengundang datangnya gangguan yang datang dari orang-orang muda, hingga akhirnya anak itu hanya akan diboyong oleh orang lain, membantu rumah tangga keluarga lain! Yang dianggap lebih celaka lagi, begitu menikah seorang anak perempuan segera berganti she (nama marga) yang berarti telah menjadi anggota keluarga marga baru itu, dan marganya sendiri telah terlepas darinya. Tentu saja pendapat yang menjadi tradisi seperti ini merupakan sebuah pendapat yang seluruhnya berdasarkan kepentingan si aku, di dalam hal ini adalah kepentingan si orang tua sendiri.

Pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu akan mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat. Begitu pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, menimbulkan banyak tindakan yang sesat pada kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial bila mana mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya terlahir perempuan melulu, tanpa ada yang laki-laki, lantas memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, malah ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur! Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi

Tentu saja segala sesuatu ada kecualinya, tidak semua demikian, akan tetapi pada masa cerita ini terjadi, mungkin sembilan dari sepuluh keluarga bersikap seperti itulah.


********************

Kebiasaan atau anggapan tradisionil seperti ini malah melanda keluarga ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang berkepandaian tinggi! Siapakah yang tak mengenal perkumpulan Cin-ling-pai yang terletak di sebuah puncak pegunungan Cin-ling-san, diketuai oleh Pendekar Sakti Cia Kong Liang yang pada waktu itu sudah berusia enam puluh lima tahun.

Biar pun telah menjadi seorang kakek, namun ketua ini masih nampak tegap dan gagah, wataknya masih saja keras, jujur dan memegang teguh peraturan. Seperti telah dituturkan di dalam kisah Asmara Berdarah, isteri ketua Cin-ling-pai ini, yaitu Bin Biauw, telah tewas di tangan Siang-tok Sian-li, seorang iblis wanita yang lihai sekali. Kini ketua Cin-ling-pai sudah menjadi seorang duda.

Dalam kedudukannya sebagai ketua Cin-ling-pai, dia dibantu oleh putera tunggalnya yang bernama Cia Hui Song, seorang pendekar yang usianya kurang lebih tiga puluh delapan tahun, sangat lihai karena selain sudah mewarisi kepandaian ayah dan mendiang ibunya, dia pun pernah digembleng oleh mendiang Siangkiang Lojin atau San-sian, salah seorang di antara Delapan Dewa, dan menerima ilmu-ilmu tinggi dalam hal sinkang dan ginkang.

Sejak belasan tahun yang lalu, Cia Hui Song ini menikah dengan Ceng Sui Cin, seorang wanita perkasa pula, pendekar wanita gemblengan sebab dia adalah puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang tinggal di Pulau Teratai Merah dl lautan selatan. Ibunya juga seorang pendekar yang lihai bukan main, bernama Toan Kim Hong.

Selain menerima ilmu-ilmu dari ayah ibunya, Ceng Sui Cin juga memperoleh gemblengan dalam hal ginkang oleh Wu-yi Lo-jin, seorang di antara Delapan Dewa pula. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Ceng Sui Cin, bahkan lebih lihai dari suaminya!

Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin mempunyai seorang anak gadis yang telah berusia lima belas tahun bernama Cia Kui Hong. Kui Hong merupakan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil sejak kecilnya, juga mempunyai kecerdasan dan bakat yang baik sekali dalam ilmu silat sehingga ketika dia berusia lima belas tahun, dia telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian dari ayah dan ibunya. Wataknya juga sama dengan watak ibu dan ayahnya. Dia manis, galak dan berandalan, akan tetapi jenaka dan lincah, juga berjiwa pendekar yang gagah perkasa.

Melihat keadaan keluarga Cia ini, orang lain tentu membayangkan bahwa mereka adalah keluarga yang berbahagia. Mereka tidak kekurangan, merupakan keluarga yang sehat dan nampak selalu gembira. Juga mereka memiliki kedudukan sebagai keluarga pimpinan dari sebuah perkumpulan yang terpandang dan terhormat. Akan tetapi sebetulnya tidaklah demikian. Semenjak bertahun-tahun yang lalu, ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, dengan berterang menyatakan bahwa harapannya sendiri sudah terlepas darinya.

Pendapat yang kemudian menjadi tradisi seperti ini tentu saja merupakan suatu pendapat yang seluruhnya hanya berdasarkan pada kepentingan si aku, dalam hal ini kepentingan si orang tua sendiri. Dan pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu akan mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat.

Begitu pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, dapat menimbulkan banyak tindakan yang sesat di kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial jika mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya, terlahir perempuan melulu, tanpa ada seorang pun yang laki-laki, lantas memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, bahkan ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur!

Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang namun tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi.

"Hui Song, sekarang di depan isterimu aku hendak minta ketegasan dan keputusanmu. Bagaimana dengan permintaanku agar engkau menikah lagi?"

Mendengar ini Sui Cin kaget bukan main. Suaminya belum pernah menceritakan tentang keinginan hati ayah mertuanya itu, dan mendengar betapa kini orang tua itu minta kepada suaminya agar menikah lagi, tiba-tiba mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah sekali. Tetapi karena yang ditanya adalah suaminya maka dia pun diam saja, hanya memandang kepada suaminya dengan penuh perhatian.

Hui Song juga terkejut. Ayahnya sudah berterus terang di depan isterinya, berarti hal ini merupakan desakan yang terakhir dan sangat kuat, yang memaksa dia untuk mengambil keputusan, tidak seperti biasanya yang hanya dia elakkan dan tangguhkan saja.

Diam-diam dia merasa sangat kasihan kepada isterinya dan tidak berani menoleh untuk memandang wajahnya. Kalau mengingat isterinya dan cinta kasih di antara mereka, ingin rasanya dia meneriakkan keberatannya, akan tetapi untuk menolak dia pun takut kepada ayahnya. Dia tahu ayahnya menganggap keturunan laki-laki yang amat diharapkannya itu sebagai suatu hal yang penting sekali. Maka, dalam keadaan bingung dia menunduk dan berkata dengan suara lirih.

"Ayah, aku... aku tidak mempunyai pikiran untuk..."

"Hui Song!" Cia Kong Liang membentak karena sejak tadi amarahnya sudah menyesak di dada dan dia menduga bahwa puteranya tentu menolak sehingga kalimat jawaban yang belum putus itu langsung dianggapnya sebagai penolakan. "Apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang put-hauw (tidak berbakti atau durhaka)? Ingat, sudah lama aku ingin mengundurkan diri dan menyerahkan kedudukan ketua Cin-ling-pai kepadamu, akan tetapi selama engkau belum mempunyai seorang anak laki-laki, maka terpaksa aku tidak berani mengundurkan diri dan mengoperkan kedudukan pimpinan padamu. Aku hanya ingin agar engkau mengambil seorang gadis yang baik-baik supaya dia dapat memberikan seorang cucu laki-laki kepadaku, untuk menyambung keturunan she Cia kita!"

"Tetapi, Ayah...?"

"Tidak ada tetapi. Engkau harus menuruti perintahku, kecuali kalau engkau ingin menjadi seorang anak durhaka seperti kataku tadi, tidak hanya durhaka terhadap aku, terhadap mendiang ibumu, akan tetapi juga terhadap nenek moyangmu, nenek moyang she Cia!"

"Akan tetapi, Ayah, isteriku...?

Cia Kong Liang menoleh dan menatap wajah mantunya dengan sinar mata tajam penuh selidik, juga marah. "Ada apa dengan dia?"

Semenjak tadi Sui Cin berusaha menahan kemarahannya. Selama menjadi mantu ketua Cin-ling-pai itu, Cia Kong Liang selalu bersikap baik, penuh kasih sayang, dan juga sangat sayang kepada Kui Hong. Belum pernah ayah mertuanya itu mengeluarkan kata-kata atau memperlihatkan sikap yang menyakitkan hati.

Akan tetapi sekali ini Sui Cin merasa seolah-olah jantungnya ditusuk-tusuk dan sejak tadi dia sudah menahan kemarahannya yang makin berkobar. Kini, mendengar betapa ayah mertuanya itu menanggapi secara acuh saja, dia tidak tahan lagi.

"Ayah, apakah keluarga ini masih menganggap saya sebagai manusia, ataukah sebagai kertas pembungkus saja?"

Mendengar pertanyaan ini, Cia Kong Liang melebarkan matanya. "Maksudmu?"

"Jika saya dianggap sebagai kertas pembungkus, maka hanya dipergunakan dan dirawat sewaktu diperlukan saja, kalau tidak diperlukan lagi boleh dibuang begitu saja! Akan tetapi kalau diperlakukan sebagai manusia, mengapa saya tidak pernah diajak berunding? Saya adalah isteri Cia Hui Song, saya berhak untuk menentukan tentang dirinya!"

"Tapi... tapi aku yakin bahwa engkau tentu akan menyetujui kalau Hui Song mengambil seorang gadis lain sebagai isteri, untuk menyambung keturunan she Cia..."

"Saya tidak setuju!" teriak Sui Cin, sekarang tidak lagi bersopan-sopan, melainkan secara spontan mengeluarkan isi hati berikut kemarahannya. Mendengar teriakan ini dan melihat sikap anak mantunya, Cia Kong Liang yang juga memiliki hati keras itu seketika bangkit kemarahannya.

"Engkau... tidak berhak untuk menolak atau tidak menyetujui! Engkau hanyalah seorang isteri, hanya seorang anak menantu, yang harus patuh kepada suaminya, kepada ayah mertuanya!"

"Ayah, kapankah aku tidak pernah patuh?" teriak Sui Cin. "Selama belasan tahun tinggal di sini, bukankah aku selalu patuh? Akan tetapi sekali ini menyangkut hubungan di antara suami isteri. Aku tidak pernah bersalah kepada Hui Song, aku menjadi seorang isteri yang dicinta dan mencinta, kenapa tiba-tiba saja Hui Song harus menjadi milik wanita lain? Aku tidak mau membaginya dengan wanita lain! Aku tidak setuju kalau dia mengambil seorang wanita lain sebagai isteri ke dua!"

"Engkau tidak berhak melarang!" teriak Cia Kong Liang pula dengan sama marahnya dan menudingkan telunjuknya kepada muka anak mantu yang biasanya amat disayangnya itu. "Engkau sudah tidak mampu melahirkan seorang keturunan laki-laki!"

"Belum tentu kalau aku yang tidak mampu! Siapa tahu Hui Song juga tidak mampu untuk mempunyai turunan laki-laki? Jangan hanya menyalahkan aku seorang!" Kedua mata Sui Cin sudah mulai basah dengan air mata, akan tetapi dia tidak menangis dan memandang kepada ayah mertuanya dengan mata terbelalak biar pun telah basah bahkan air matanya mulai jatuh berderai.

"Kalau dia mengambil gadis lain, tentu dapat mempunyai keturunan laki-laki!"

"Mungkin saja! Kalau aku menikah lagi dengan pria lain juga mungkin saja aku melahirkan anak laki-laki! Akan tetapi, pernikahan antara kami jika tidak membuahkan anak laki-laki, itu bukanlah salahku, atau salah Hui Song. Jangan salahkan kepadaku, Ayah, pendeknya aku tidak setuju kalau Hui Song menikah lagi!"

Ketua Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Belum pernah dia didebat dan ditentang orang seperti itu, apa lagi kini yang menentangnya adalah anak mantunya sendiri. Hal ini merupakan pukulan batin yang sangat hebat, yang membuat dia marah bukan main dan dia telah bangkit dari kursinya, mengepal tinju dan agaknya sudah siap untuk menyerang Sui Cin. Melihat ini, Sui Cin juga bangkit berdiri, siap untuk membela diri!

"Sui Cin, jangan...!" Hui Song berteriak dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan ayahnya, membentur-benturkan dahinya ke lantai. "Ayah... Ayah, ampunkanlah isteriku, Ayah. Apa bila Ayah hendak menjatuhkan hukuman, hukumlah aku. Ayah, tenanglah dan ampunkan kami."

Melihat ini, Cia Kong Liang sadar kembali. Dia tahu bahwa kalau dia menyerang Sui Cin dan mantunya itu melawan, dia bahkan akan kalah oleh anak mantunya yang sangat lihai itu. Dan kalau sampai terjadi hal demikian, bukankah akan memalukan sekali dan nama besar Cin-ling-pai akan hancur sama sekali.

Bayangkan bagaimana akan pendapat orang kalau mendengar bahwa ketua Cin-ling-pai bentrok dengan mantu perempuannya, bahkan dipukul roboh oleh mantu perempuannya sendiri! Dia lalu menjatuhkan dirinya kembali di atas kursi, napasnya terengah-engah dan mukanya masih merah sekali.

"Sudahlah,sekarang engkau boleh pilih. Engkau menuruti permintaan ayahmu, mengambil seorang gadis lain untuk menyambung keturunan she Cia, atau aku yang akan memungut seorang murid yang baik untuk kujadikan putera angkatku, kuberikan she Cia kepadanya, kemudian dia kukawinkan agar dapat menyambung keturunan she Cia, walau pun secara memungut anak. Dan engkau... jangan harap lagi aku mengakuimu sebagai anak."

"Ayah...!" Hui Song berteriak dan kini air matanya pun jatuh bertitik.

Sui Cin menjadi semakin marah. Dianggapnya bahwa orang tua itu sungguh tidak adil dan keterlaluan. Maka, melihat suaminya menangis, dia pun segera berkata sambil menatap ayah mertuanya dengan pandang mata tajam.

"Ayah, mengapa Ayah begitu mendesak Hui Song? Kenapa tidak Ayah sendiri saja yang menikah lagi dan mempunyai seorang anak keturunan laki-Iaki yang lain?"

Mendengar ini, Hui Song, merasa mempunyai harapan untuk mengatasi persoalan itu. "Itu benar, Ayah..."

"Diam...!" Cia Kong Liang membentak penuh kemarahan. "Ceng Sui Cin, jangan engkau mengajukan usul yang begitu gila!" Sejak Sui Cin menjadi mantunya, baru sekarang dia menyebut nama menantunya itu lengkap dengan nama she-nya, dan Sui Cin merasakan benar sebutan itu. Dia sudah mulai dianggap orang luar oleh ayah mertuanya ini!

"Bukan aku yang mengajukan usul yang gila, Ayah, tetapi Ayah sendiri yang mengajukan permintaan yang bukan-bukan."

"Cukup!" Kembali ketua Cin-lin-pai itu membentak. "Sekali lagi, Hui Song, kau boleh pilih. Engkau menikah lagi dengan gadis lain untuk mendapatkan keturunan she Cia, atau aku tidak menganggapmu sebagai anakku lagi dan engkau boleh pergi dari sini bersama isteri dan anakmu."

Mendengar ini, Sui Cin juga berteriak, "Cia Hui Song, dengarkan kata-kataku. Aku akan pergi bersama Kui Hong kembali ke rumah orang tuaku. Kalau engkau kawin lagi, kita tak perlu berjumpa kembali. Kalau engkau masih memberatkan kami, susullah kami ke Pulau Teratai Merah!" Setelah berkata demikian, dengan sekali berkelebat Sui Cin sudah lenyap dari ruangan itu, keluar untuk mencari anaknya.

"Sui Cin...!" Hui Song berkata dan dia pun terkejut bukan main, bangkit berdiri.

"Hui Song, jika engkau pergi meninggalkan ruangan ini, jangan harap akan dapat kembali kepadaku!"

Hui Song yang sudah bangkit itu tersentak dan menoleh kepada ayahnya, lantas menoleh ke arah pintu. Pada waktu itu hatinya terobek menjadi dua, tubuhnya menggigil, kemudian tiba-tiba dia pun mengeluh dan terpelanting jatuh pingsan saking hebatnya pukulan batin yang dideritanya.

Tiada sesuatu yang abadi di dalam kehidupan ini! Perubahan terjadi setiap saat, seperti matahari yang tiba-tiba tertutup awan hitam sehingga dunia menjadi gelap. Hujan yang deras pun tiba-tiba dapat terhenti dan langit kembali menjadi terang. Bahkan perubahan yang paling hebat dapat saja terjadi setiap waktu dengan tiba-tiba, yaitu kalau kematian datang menjemput.

Orang yang selalu waspada pasti mempunyai kebijaksanaan untuk menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kewajaran, sebagai suatu hal yang sudah semestinya terjadi, karena itu takkan mengguncangkan batinnya. Bahkan kematian yang datang menjemput juga akan diterima dengan iklas, pasrah dan mulut tersenyum karena maklum bahwa dia tidak berdaya, tidak berkuasa, hanya menjadi anak wayang saja yang harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang dijalankan oleh Sang Sutradara!

Dijadikan pemegang peran apa pun tidak penting, biar pun dijadikan raja atau pengemis, orang kaya atau pun orang miskin, pintar atau bodoh, sehat atau berpenyakitan. Tidak mengeluh kalau memegang peran rendah, tidak berlebihan gaya kalau memegang peran mulia, karena yang paling penting adalah menghayati peran itu, memainkan peran yang dipegangnya dengan sebaik mungkin.

Memegang peran apa pun juga, baik yang kalah atau yang menang, yang rendah atau yang tinggi, yang miskin atau kaya, bodoh atau pandai, kesemuanya itu hanyalah untuk sementara saja dan semua akan berakhir sama, yaitu tamatnya cerita atau datangnya kematian. Karena maklum bahwa segala sesuatu, yang baik mau pun yang buruk, tidak abadi, bahwa kehidupan sebagai roda, maka tak akan mengeluh selagi berada di bawah dan tidak akan sombong selagi berada di atas. Demikianlah seorang yang bijaksana.


********************

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Cia Hui Song. Dia mengeluh panjang pendek, sampai tiga hari dia tidak mampu meninggalkan kamarnya, hanya rebah dengan gelisah dan menyesali nasibnya setelah dia mendekati usia empat puluh tahun itu. Hatinya ingin sekali pergi menyusul isteri dan puterinya yang pergi secara mendadak tanpa pamit lagi, hanya membawa buntalan pakaian saja.

Dia tahu akan kekerasan hati dan keangkuhan isterinya, tentu isterinya itu mengajak Kui Hong untuk pergi ke Pulau Teratai Merah dan isterinya tidak akan kembali ke Cin-ling-san sebelum dia datang menyusul. Akan tetapi ia pun mengenal baik kekerasan hati ayahnya. Kalau dia nekat pergi, tentu dia benar-benar takkan diakui lagi sebagai anak dan ayahnya tak mungkin mau mengampuninya lagi.

Terjadi perang di dalam batinnya. Dia membayangkan betapa ayahnya akan menderita batin yang amat hebat apa bila dia memaksa diri meninggalkan ayahnya. Ayahnya hanya mempunyai dia seorang, tidak ada lagi keluarga lainnya, dan hanya kepada ayahnya dia memandang dan bergantung. Kalau dia pergi, mungkin hal itu akan menghancurkan hati ayahnya sehingga dia akan mempercepat kematian ayahnya dan dia tentu akan merasa berdosa selama hidupnya kalau sampai terjadi hal seperti itu.

Sebaliknya, isteri dan puterinya akan hidup aman dan terjamin bila berada di Pulau Teratai Merah dan mudah-mudahan saja kelak perasaan Sui Cin akan melunak. Bagaimana pun juga, sebagai putera tunggal tak mungkin ia meninggalkan ayahnya, tak mungkin menjadi anak durhaka yang dikutuk ayahnya sendiri. Selain itu, dia pun harus menjaga nama dan kehormatan Cin-ling-pai, sungguh pun dia harus mengorbankan perasaannya yang seperti tertindih selalu dan semangatnya seolah-olah terbang mengikuti isteri dan puterinya.

Bagaikan seorang yang patah semangat, Cia Hui Song pendekar sakti itu menurut saja ketika ayahnya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterinya, untuk dapat memberi seorang putera penyambung keturunan Cia, keturunan keluarganya. Demi ayahnya, demi keluarga Cia, dia harus mentaati perintah ayahnya walau pun diam-diam hatinya hancur.

Tak mungkin dia bisa mencinta isterinya yang baru, seorang gadis berusia delapan belas tahun dari keluarga Siok, seperti cintanya terhadap Sui Cin. Dia hanya merasa kasihan kepada isteri barunya, Siok Bi Nio, karena seperti sudah lazim pada jaman itu, gadis ini pun menjadi isterinya karena kehendak orang tuanya.

Orang tua mana yang tidak akan merasa bangga apa bila anak perempuannya menjadi mantu Ketua Cin-ling-pai, biar pun hanya menjadi isteri ke dua? Nama besar Cin-ling-pai akan mengangkat derajat keluarga Siok pula di samping kehidupan makmur yang akan dapat dinikmati oleh gadis she Siok itu.

Demikianlah, Cia Hui Song menikah lagi tanpa dirayakan secara meriah karena sungguh pun dia tidak berani menolak kehendak ayahnya untuk kawin lagi, dia berkeras tidak mau jika pernikahan itu dirayakan, tetapi terjadi secara sederhana saja dan hanya melakukan upacara sembahyangan sebagaimana mestinya tanpa mengundang banyak tamu.

Hati Kakek Cia Kong Liang sangat puas dan gembira karena puteranya mau memenuhi permintaannya. Tetapi, tanpa ada yang mengetahuinya, dia sendiri merasa amat berduka dengan kepergian Kui Hong tanpa pamit. Dia amat sayang kepada cucunya itu, bahkan ketika Kui Hong masih kecil, dialah yang menimang-nimang anak itu. Akan tetapi sayang bahwa Kui Hong adalah seorang cucu perempuan, dan kakek ini merasa prihatin bahkan malu kalau sampai puteranya tidak memiliki anak laki-laki yang kelak akan menyambung keturunan keluarga Cia.

Setelah Kui Hong pergi tanpa pamit bersama ibunya, dia merasa sangat kehilangan dan sering kali, seorang diri di dalam kamarnya, kakek ini menutupi mukanya dan menghapus beberapa butir air mata yang keluar karena duka ketika teringat akan cucu perempuan yang amat disayangnya itu. Dia tidak merasa bersalah dalam urusan itu, merasa bahwa keputusannya itu sudah benar dan tepat, dan mantunyalah yang tidak tahu diri, yang tidak adil, tidak seperti para wanita lainnya yang tentu bahkan akan menganjurkan sang suami untuk mengambil isteri muda agar memperoleh keturunan laki-laki!

Lebih gembira dan puas lagi hati Kakek Cia Kong Liang ketika setahun setelah Hui Song menikah dengan Siok Bi Nio, mantu perempuannya itu melahirkan seorang anak laki-laki. Harapannya dan dambaannya terkabul sudah! Keluarga Cia tidak akan putus, melainkan akan bersambung terus dengan lahirnya Cia Kui Bu, cucunya yang kedua itu. Karena itu, begitu cucu ini terlahir, Cia Kong Liang lalu mengundurkan diri dan mengangkat Cia Hui Song menjadi ketua Cin-ling-pai!

Jabatan ini sedikit banyak menghibur hati Hui Song yang selalu teringat kepada Ceng Sui Cin dan Kui Hong. Kesibukan di dalam perkumpulan menyita banyak waktu dan pikiran. Dia bekerja keras untuk memperbaiki segala kekurangan dalam perkumpulan Cin-ling-pai, memperketat peraturan dan menambah latihan-latihan untuk menggembleng para anggota dan murid agar kelak bisa mengangkat tinggi nama besar Cin-ling-pai. Bahkan dia sendiri terjun untuk melatih murid-murid kepala.

Sementara itu, Cia Kong Liang mernperoleh pekerjaan baru yang mengasyikkan hatinya, dan merupakan hiburan pula padanya karena kini dia dapat mengasuh cucunya sebagai pengganti Kui Hong!

********************

Kita tinggalkan dulu keluarga Cia di Cin-ling-san ini dan mari kita ikuti perjalanan Ceng Sui Cin dan anaknya, Cia Kui Hong. Pada hari itu juga, malam-malam setelah dia ribut mulut dengan ayah mertuanya, Sui Cin memanggil anaknya. Kui Hong terkejut sekali melihat ibunya berkemas dan melihat betapa pada wajah ibunya ada tanda bahwa ibunya habis menangis.

"Ibu, ada apakah, Ibu?" tanyanya, hatinya tidak enak.

Biasanya ibunya selalu ramah dan senang bergurau, dan dia sendiri pun paling senang bergurau dan memandang dunia ini dengan sepasang mata berkilauan dan wajah berseri serta hati yang lapang dan terang. Akan tetapi, kini ibunya kelihatan murung dan kusut, maka dia pun tidak berani bergurau seperti biasanya dan tidak berani merangkul, hanya menyentuh lengan ibunya sambil mengajukan pertanyaan itu.

Dengan menahan tangisnya karena dia tidak mau memperlihatkan kelemahan di hadapan anaknya, Sui Cin berkata, "Kui Hong, engkau berkemaslah, keluarkan semua pakaianmu yang terbaik, sekarang juga kita pergi ke Pulau Teratai Merah."

Sejenak wajah yang manis itu berseri dan matanya terbelalak. "Ke tempat tinggal kakek dan nenek di Laut Selatan?"

"Benar, cepatlah berkemas!" kata ibunya singkat.

"Horeee... kita pesiar ke lautan, ke tempat Kakek Ceng!" Gadis itu berteriak dan bersorak seperti anak kecil saking girang hatinya.

Baru dua kali dia berkunjung ke tempat yang jauh itu, dan yang terakhir kalinya ketika dia baru berusia sepuluh tahun. Sekarang dia telah berusia lima belas tahun, dan mengenang tempat yang indah sekali di pulau itu, dikelilingi lautan yang liar dan luas, dia pun merasa girang bukan main.

Setelah mereka berdua selesai berkemas, Sui Cin yang sudah selesai lebih dulu, segera menggendong buntalan besar pakaiannya dan menyuruh puterinya melakukan hal yang sama.

"Mari kita berangkat!"

"Ehh, apakah ayah tidak ikut, Ibu?" tiba-tiba gadis remaja itu bertanya.

Ibunya hanya menggeleng kepala tanpa menjawab. Mereka keluar dari dalam kamar dan ibunya mengajak dia langsung keluar.

"Ibu, kita pamit dulu dari kongkong (Kakek) dan ayah "

"Tidak usah, aku sudah pamit tadi. Kita langsung berangkat!" kata ibunya singkat. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima oleh Kui Hong yang amat sayang kepada kakeknya dan ayahnya.

"Tapi, Ibu..."

"Cukup! Tidak perlu banyak cakap lagi, mari kita langsung berangkat, lihat, malam sudah semakin gelap!"

"Tetapi mengapa tergesa-gesa, Ibu? Bukankah berangkat besok pagi-pagi lebih baik dan aku harus pamit... "

"Diam dan mari kita pergi!" Tiba-tiba Sui Cin membentak.

Gadis remaja itu terkejut bukan main melihat ibunya demikian galak, apa lagi melihat dua titik air mata meloncat keluar dari mata ibunya. Dia maklum bahwa ibunya sedang marah sekali, maka dia pun tidak berani membantah lagi dan keluarlah dia mengikuti ibunya. Dia merasa lebih terkejut dan heran lagi melihat betapa setelah berada di luar rumah, ibunya langsung saja menggunakan ilmu berlari cepat, meluncur di dalam gelap seperti terbang saja. Terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan lari ibunya dan mereka lalu melakukan perjalanan yang amat cepat menuju ke tenggara.

Dapat dibayangkan alangkah heran rasa hati Kui Hong melihat ibunya tidak pernah mau berhenti berlari sampai akhirnya, beberapa jam kemudian, lewat tengah malam, Kui Hong yang sudah berkeringat dan napasnya memburu, berkata kepada ibunya.

"Ibu, jangan cepat-cepat... ahh, aku... aku sudah lelah sekali...," dan gadis itu pun mogok lari.

Melihat ini, Sui Cin baru teringat akan keadaan puterinya. Dia pun lantas berhenti berlari dan mengajak puterinya beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Dia sendiri pun baru sadar bahwa peluh sudah membasahi seluruh leher dan mukanya, betapa napasnya juga memburu.

Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di kaki gunung itu, memandang ke atas. Tidak ada bulan di langit, namun langit yang kelam itu penuh dengan bintang yang nampak gemerlapan indah sekali pada latar belakang hitam itu, nampak bagaikan ratna mutu manikam di atas beludru hitam. Kadang-kadang nampak bintang meluncur dengan berekor panjang lalu lenyap ditelan kegelapan. Bintang jatuh? Atau bintang pindah?

Kui Hong selalu kagum jika memandang angkasa penuh bintang, atau angkasa diterangi bulan purnama. Baginya, angkasa penuh denganrahasia alam yang amat hebat, sehingga orang-orang pandai seperti ayahnya dan bahkan kakeknya pun tidak mampu memberikan penjelasan ketika dia bertanya kepada mereka tentang bulan dan bintang. Ia tahu bahwa ibunya juga suka menikmati kebesaran alam, bahkan ibunya suka berkhayal dan bercerita bahwa karena menurut dongeng, bintang-bintang itu merupakan dunia-dunia, maka tentu di setiap bintang dikuasai oleh seorang dewa.

Kalau begitu, alangkah banyaknya dewa-dewa di langit! Tidak terhitung banyaknya! Lebih banyak bintang di langit dari pada rambut di kepalamu, demikian kata ibunya. Mungkin hal itu benar, pikir Kui Hong, sebab walau pun sangat banyak, apa bila memang dikehendaki, rambut di kepala masih dapat dihitung manusia. Akan tetapi bintang di langit? Siapakah yang mampu menghitungnya? Makin gelap langit, makin banyaklah bintang yang nampak, sampai berdempetan dan tak mungkin dihitung.

"Aduh, bukan main indahnya bintang-bintang itu, Ibu..." Kui Hong yang sejenak lupa akan segala hal itu berkata penuh kagum.

Akan tetapi ibunya tidak menjawab dan dia terheran. Biasanya ibunya paling suka memuji keindahan alam. Dia segera menengok dan di dalam keremangan malam itu dia melihat ibunya menyembunyikan muka di balik lengan yang memeluk lutut! Baru dia teringat akan keadaan mereka dan Kui Hong merasa gelisah sekali.

Dia bukan anak kecil lagi. Tentu sudah terjadi sesuatu yang hebat, yang membuat ibunya berduka seperti itu. Jangan-jangan kakeknya atau neneknya yang di Pulau Teratai Merah meninggal dunia, pikirnya dan dia pun bergidik ngeri. Tak mungkin! Kalau benar terjadi hal demikian, tentu ayahnya pun ikut pergi, bahkan Kakek Cia Kong Liang juga tentu pergi melayat. Tidak, tentu ada peristiwa lain.

"lbu... lbu, engkau kenapakah, Ibu...?" tanyanya lirih sambil menyentuh tangan ibunya.

Pertanyaan puterinya ini menyentuh senar yang terhalus di dalam hati Sui Cin. Dia terisak sambil menyembunyikan muka di balik kedua tangannya. Dia menangis!

Ibunya menangis! Kui Hong tersentak kaget. Belum pernah dia melihat ibunya menangis! Dia selalu menganggap bahwa ibunya adalah seorang wanita yang terhebat, yang gagah perkasa dan pantang menangis. Bahkan pada waktu dia masih kecil dan suka menangis, ibunya sering memberi nasehat bahwa seorang wanita gagah lebih menghargai air mata dari pada darah!

Keringat bahkan darah sekali pun boleh menetes kalau perlu, akan tetapi air mata harus dipantang! Tangis hanya menunjukkan kelemahan saja, dan seorang wanita yang gagah perkasa bukanlah orang yang lemah. Demikian kata-kata ibunya yang hingga kini masih diingatnya, kata-kata yang ikut menggembleng dirinya menjadi seorang gadis yang tabah, keras hati, penuh keberanian menghadapi apa pun juga tanpa mengeluh. Tapi sekarang, ibunya menangis!

"Ibu...!" Kui Hong merangkul ibunya dan memaksa ibunya supaya menurunkan tangan. Dipandanginya wajah ibunya. Memang tidak banyak air mata yang mengalir keluar, akan tetapi tetap saja terbukti bahwa ibunya menangis. "Ibu, engkau menangis? Mungkinkah ini? Apakah yang sudah terjadi, Ibuku?" Kui Hong bertanya sambil menciumi pipi ibunya yang agak basah oleh air mata.

Dengan sekuat tenaga Sui Cin menekan perasaannya, menghapus air matanya. Anaknya ini bukan kanak-kanak lagi, melainkan seorang gadis menjelang dewasa, maka tak perlu menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya, karena Kui Hong kini tentu sudah dapat mengerti.

"Ayahmu... Ayahmu harus menikah lagi." jawabnya dan begitu dia menjawab, dia merasa lancar dan bisa menahan getaran perasaannya. Sekarang kedukaannya terganti oleh rasa penasaran dan kemarahan.

Mendengar keterangan ini, Kui Hong terkejut sekali, juga heran dan sejenak ia kehilangan akal, hampir tidak dapat mengerti dan tidak dapat menangkap maksud kata-kata ibunya. Ayahnya harus menikah lagi? Keterangan macam apa ini?

Akan tetapi, semuda itu Kui Hong sudah digembleng untuk dapat menguasai hatinya dan sikapnya masih tetap tenang walau pun keterangan ibunya tadi membuatnya terkejut dan terheran-heran sekali. Sukar baginya untuk dapat percaya bahwa ayahnya akan menikah lagi! Dia mempertimbangkan keterangan ibunya dalam satu kalimat tadi. Ayahnya harus menikah lagi. Harus?

"Ibu, siapa yang mengharuskan ayah menikah lagi?"

"Kakekmu, siapa lagi?" Suara ibunya mengandung penasaran dan kemarahan sehingga Kui Hong dapat menduga bahwa tentu ibunya sudah ribut dengan kakeknya.

"Menikah dengan siapa?"

"Dengan siapa saja, ayahmu sendiri pun belum tahu."

"Tetapi, kenapa? Kenapa kongkong menyuruh dan bahkan mengharuskan ayah menikah lagi? Bukankah ayah sudah menikah dengan Ibu?"

"Kongkong-mu ingin mempunyai seorang cucu laki-laki..."

"Akan tetapi, kongkong sudah mempunyai cucu aku!"

"Dia ingin cucu laki-laki untuk menyambung keluarga Cia! Karena aku tidak mempunyai anak laki-laki, maka ayahmu diharuskan menikah lagi."

"Dan ayah... ayah mau...?"

"Ayahmu terpaksa, kalau tidak, dia tak akan diakui lagi sebagai anak kongkong-mu, akan diusir!"

"Ahhh...!" Wajah Kui Hong berubah, kini agak pucat karena dia mulai mengerti benar dan tahu bahwa memang sudah terjadi peristiwa yang hebat sekali, bahkan merupakan malapetaka bagi ibu dan ayahnya, yang mengubah kehidupan keluarga mereka semua!

"Jadi karena itukah Ibu pergi? Tapi... tapi mengapa pergi, Ibu? Mengapa kalau Ibu tidak setuju, Ibu tidak melarang saja pada ayah agar dia tidak usah menikah lagi?"

"Aku sudah menyatakan tidak setuju, bahkan aku sampai cekcok dengan kongkong-mu, akan tetapi kongkong-mu memaksa ayahmu, jika ayahmu tidak mau, maka ayahmu harus pergi dan tidak diakui sebagai anak lagi."

"Ah, kenapa Ibu tidak bilang begitu selagi kita pergi. Biarlah aku kembali ke sana dan aku akan menegur kongkong dan ayah!" Kui Hong bangkit berdiri sambil mengepal tinju, akan tetapi melihat itu, Sui Cin merangkul anaknya disuruhnya duduk kembali.

"Tidak ada gunanya, Kui Hong. Engkau tidak tahu alangkah keras hati kongkong-mu dan betapa pentingnya cucu laki-laki baginya, atau bagi laki-laki yang mana pun juga di dunia ini agaknya. Sungguh menjemukan! Sudahlah, biarlah kita pergi saja dan kalau memang ayahmu ingin berbakti pada kongkong-mu dan melupakan kita, biarlah kita hidup sendiri, di rumah orang tuaku di Pulau Teratai Merah."

"Tapi, Ibu, kenapa Ibu tidak menentang dengan kekerasan saja?"

"Tiada gunanya, juga tidak baik dan memalukan! Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang saja ke Pulau Teratai Merah dan kalau ayahmu menyusul kita dan mengurungkan niat kongkong-mu yang mengharuskan dia menikah lagi, baru aku mau ikut dengannya. Bila sebaliknya yang terjadi, dia menikah lagi, biarlah selamanya kita tinggal saja di Pulau Teratai Merah."

Percakapan itu terhenti dan kedua orang wanita itu tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Beberapa kali Cia Kui Hong mengepal tinjunya, hatinya marah dan panas sekali, melebihi panasnya hati ibunya.

Apa bila kelak ayahnya benar menikah lagi, dia akan menegur ayahnya itu, dan menegur kakeknya, kalau perlu dia akan membunuh wanita yang menjadi isteri ayahnya, ibu tirinya yang mendatangkan kehancuran di dalam hidup ibunya. Ibunya kini sampai meninggalkan rumah, kedinginan di kaki gunung ini, di bawah pohon, terlunta-lunta!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Perjalanan yang dilakukan oleh Ceng Sui Cin dan puterinya, Cia Kui Hong, adalah sebuah perjalanan yang sangat jauh dan akan makan waktu beberapa bulan lamanya walau pun mereka sudah mempergunakan ilmu berlari cepat! Tentu saja ibu dan anak ini mengalami banyak kesulitan. Di samping rasa lelah dan hati mereka yang tertekan duka, juga masih banyak gangguan yang harus mereka hadapi sebagai dua orang wanita cantik melakukan perjalanan tanpa pengawalan.

Meski pun usianya telah tiga puluh tiga tahun, namun Sui Cin masih nampak cantik jelita. Tubuhnya yang dulu ramping itu kini memang agak gemuk dibandingkan ketika sebelum dia memiliki anak, akan tetapi bukan gemuk karena kebanyakan gajih sehingga nampak kedodoran, melainkan gemuk padat sebab dia masih terus berlatih silat sehingga dia lebih tepat dikatakan bertubuh montok. Wajahnya kelihatan jauh lebih muda dari usianya yang sesungguhnya sehingga dalam melakukan perjalanan bersama Kui Hong, mereka berdua lebih pantas disebut enci adik dari pada ibu dan anak.

Sampai sekarang pun Sui Cin masih tidak mengubah kebiasaannya semenjak dulu, yaitu sikapnya bebas dan pakaiannya pun agak nyentrik. Dia lebih mengutamakan enak dipakai dari pada indah dipakai. Karena sedang melakukan perjalanan yang jauh, dia tidak lupa membawa payungnya yang merupakan senjata pusakanya, yang dulu sudah mengangkat namanya ketika dia masih gadis, di samping benda itu dapat pula dipergunakan sebagai payung untuk melindungi muka dari sengatan terik matahari dan curahan air hujan.

Juga puterinya mengenakan pakaian yang nyentrik, yakni pakaian pria yang ketat hingga tubuhnya yang bagaikan bunga sedang mulai mekar itu kelihatan indah menarik laksana buah yang sedang ranum. Berbeda dengan ibunya yang membawa sebuah payung, yang diikat pada buntalan pakaiannya di punggung bila tidak digunakan sebagai payung, gadis yang berusia lima belas tahun ini membawa sebatang pedang yang dipasangnya di atas buntalan di punggung.

Karena gadis ini membawa pedang secara mencolok itulah agaknya yang sudah banyak menolong mereka. Setiap kali ada lelaki yang tertarik dan bermaksud kurang ajar, mereka langsung mundur teratur sesudah melihat pedang itu, maklum bahwa dua orang wanita itu adalah dua orang wanita kang-ouw (sungai telaga, golongan ahli silat) yang tidak boleh sembarangan diganggu.

Kurang lebih sebulan kemudian sesudah meninggalkan Cin-ling-san, pada suatu sore ibu dan anak ini tiba di kota Nan-sian yang terletak di tepi Telaga Tung-ting. Kota ini memang sangat indah karena letaknya di pinggir telaga besar itu yang menampung air dari Sungai Yang-ce-kiang yang lebar. Oleh karena hari telah menjelang sore dan tak mengenal baik daerah itu, pula melihat betapa puterinya tadi mengagumi keindahan pemandangan alam di telaga itu dari suatu ketinggian, Ceng Sui Cin kemudian mengambil keputusan untuk bermalam saja di kota Nan-sian ini.

Mereka memasuki kota Nan-sian, menyewa sebuah kamar yang cukup bersih di sebuah rumah penginapan yang terletak di tempat indah sekali, yaitu di tepi telaga. Setelah mandi dan berganti pakaian, ibu dan anak ini meninggalkan buntalan pakaian mereka di dalam kamar, akan tetapi tidak lupa membawa senjata mereka.

Sedapat mungkin Kui Hong menyembunyikan pedangnya di bawah baju, sedangkan Sui Cin membawa payungnya. Mereka lantas meninggalkan rumah penginapan untuk melihat keindahan telaga itu di mana terdapat banyak sekali perahu sewaan untuk orang pesiar ke telaga.

"Ibu, kita menyewa perahu, membeli makanan dan makan di atas perahu. Tentu akan menyenangkan sekali!" kata Kui Hong.

Sui Cin tersenyum. Setelah melakukan perjalanan bersama puterinya, sedikit demi sedikit Sui Cin dapat menutup kedukaan hatinya, namun dia merasa kasihan terhadap puterinya yang ikut terbawa terlunta-lunta bersamanya.

"Baiklah, Kui Hong. Mari kita memilih rumah makan yang baik dan minta kepada pelayan untuk mengantar makanan ke perahu yang kita sewa."

Dengan hati gembira, seperti dua orang ibu dan anak yang tengah pergi pelesir dan sama sekali melupakan kedukaan mereka. Sui Cin dan Kui Hong lantas memilih sebuah perahu yang catnya masih baru dan berbentuk naga, tukang perahunya juga seorang kakek yang berpakaian rapi dan bersih. Setelah memperoleh perahu, mereka lalu memesan makanan dan arak yang diantar ke perahu oleh pelayan restoran dibantu oleh kakek pemilik perahu.

Tidak lama kemudian perahu itu pun sudah didayung perlahan oleh kakek tukang perahu, sedangkan Sui Cin dan Kui Hong makan minum di kepala perahu yang sengaja didayung menuju ke barat, menyongsong mentari yang sedang tenggelam. Pemandangan itu indah bukan main. Matahari yang condong ke barat itu membakar langit barat dan bayangannya pada permukaan air yang tenang dan jernih benar-benar merupakan pemandangan yang menakjubkan sekali.

Gembira hati ibu dan anak ini makan minum sambil melihat pemandangan indah itu, dan banyak pula perahu-perahu pesiar lain yang hilir mudik di permukaan telaga yang teramat luas. Terdengar suara musik dipukul orang, ada pula gadis-gadis penyanyi yang bermain yang-kim dan suling, bernyanyi menghibur hati para tuan muda yang bersenang-senang dan bermabok-mabokan di atas perahu besar.

Sui Cin dan Kui Hong tidak senang melihat lagak para kongcu yang bersenang-senang di atas perahu bersama gadis-gadis penyanyi itu. Mereka lalu menyuruh tukang perahu agar mendayung perahu itu menjauh, mencari tempat yang ramai.

Dari jauh perahu-perahu pelesir yang di cat indah itu nampak laksana binatang-binatang aneh yang meluncur berenang di permukaan air. Hanya ada satu dua buah perahu yang kadang-kadang bersimpangan jalan dengan perahu ibu dan anak itu yang masih belum selesai makan minum dengan sangat asyiknya karena mereka tidak tergesa-gesa.

Mendadak terdengar suara merdu dari tiupan suling yang diiringi suara sentilan yang-kim (semacam siter). Di tempat yang sunyi itu, jauh dari perahu-perahu lain yang bising, suara ini terdengar amat merdu, menambah keindahan pemandangan senja hari itu.

Petikan yang-kim yang mengiringi tiupan suling itu sungguh amat indah dan paduan suara itu demikian tepat dan serasi sehingga merupakan musik yang seakan-akan memberikan penghormatan dan mengiringi Sang Raja Hari yang sedang mengundurkan diri ke istana barat.

Ibu dan anak itu tertarik dan menoleh. Ternyata suara itu keluar dari sebuah perahu kecil sederhana bercat merah yang meluncur perlahan dari arah kiri ke arah mereka. Dengan tenang perahu itu meluncur, dan ternyata digerakkan oleh layar kecil yang terpasang di atas perahu, dibiarkan meluncur ke arah mana pun sebab penumpangnya hanya seorang saja dan orang ini pun tidak mengemudikan perahu karena ternyata dialah yang sedang asyik memainkan musik itu. Akan tetapi, seorang saja memainkan paduan musik suling dan yang-kim, demikian indahnya pula, sungguh sukar untuk dipercaya!

"Dekati perahu itu...," kata Kui Hong kepada kakek tukang perahu karena dia tertarik dan gembira, juga Sui Cin mengangguk setuju.

Akan tetapi kakek itu mengerutkan alisnya, bahkan kemudian menggeleng kepala. "Tidak boleh terlalu dekat, Toanio dan Siocia (Nyonya Besar dan Nona)."

"Ehh, memangnya kenapa?" tanya Kui Hong dan Sui Cin juga memandang heran.

"Saya adalah tukang perahu yang setiap hari bekerja di sini sehingga saya mengetahui segala peristiwa yang terjadi di telaga ini, Nona. Sudah kurang lebih dua minggu perahu kecil itu muncul dan orang-orang tidak berani mengganggunya, karena pada hari pertama, ada sebuah perahu besar mengganggu dan perahu itu langsung saja dibalikkan sehingga tenggelam oleh penumpang perahu yang bermain suling dan yang-kim itu!"

Tentu saja Sui Cin dan Kui Hong tertarik sekali mendengar berita yang aneh itu. "Jahat sekali dia! Siapa sih orang itu?" tanya Kui Hong, mencoba untuk memandang orang yang duduk di dalam perahu kecil itu.

Akan tetapi karena jarak di antara perahunya dan perahu itu masih agak jauh dan cuaca telah mulai remang-remang, dia pun tidak mampu melihat jelas. Hanya kelihatan seorang laki-laki bertubuh sedang yang duduk menunduk di perahu itu, sambil memangku sebuah yang-kim dan memegang sebuah suling. Dia memegang suling itu dengan tangan kirinya, agaknya dia meniup suling dan memainkan suling itu dengan tangan kirinya saja, ada pun tangan kanannya digunakan untuk memainkan senar-senar yang-kim yang berada di atas pangkuannya.

"Saya tidak tahu, Nona. Tak seorang pun yang tahu siapa dia. Akan tetapi semua tukang perahu tidak berani mendekatinya. Selama dia tidak diganggu, maka dia pun tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, malah menyenangkan dengan permainan suling dan yang-kimnya yang luar biasa. Merdu, bukan?"

"Bagaimana dia menggulingkan perahu besar?" Sui Cin yang merasa tertarik bertanya.

Kakek itu menggelengkan kepala. "Siapa mengerti, Toanio? Tahu-tahu perahu itu terbalik, sedangkan orang itu berhenti meniup suling dan memainkan yang-kim. Sesudah perahu besar itu terbalik, barulah dia main musik lagi dan perahu kecilnya meluncur pergi."

"Apa yang telah dilakukan oleh perahu besar itu sehingga dia terganggu dan marah?" Sui Cin bertanya lagi, hatinya semakin tertarik.

"Perahu besar itu hanya lewat terlalu dekat sehingga ada air yang memercik membasahi pakaian dan yang-kimnya, dan para penumpang perahu besar mentertawakannya," jawab tukang perahu yang menghentikan dayungnya karena tidak mau datang terlalu dekat.

"Sombong benar orang itu, ingin aku melihat bagaimana macam orangnya. Paman tua, dekatkan perahu kita dengan perahunya!" kata Kui Hong yang sudah merasa tertarik dan penasaran sekali.

Sui Cin juga tertarik, karena menduga bahwa orang yang dapat sekaligus bermain suling dan yang-kim menjadi paduan suara yang sangat serasi, dan yang berwatak aneh seperti menggulingkan perahu besar yang airnya memercik kepadanya, tentu merupakan orang yang luar biasa. Apa lagi bila dipikir bahwa menggulingkan perahu bukan pekerjaan yang mudah.

"Dekatkan perahu kita," katanya pula kepada tukang perahu.

"Tidak, Toanio, Siocia, saya tak berani. Bagaimana jika nanti perahuku digulingkan pula? Celaka, saya akan menderita rugi." Ia lalu memandang kepada mereka. "Dan belum tentu Ji-wi (Anda Berdua) dapat menyelamatkan diri dengan berenang seperti para penumpang perahu besar itu. Bagaimana kalau Ji-wi sampai tenggelam?"

"Aku akan mengganti kerugianmu kalau terjadi demikian," kata Sui Cin sambil tersenyum.

"Saya tidak berani, Toanio."

"Heh, tukang perahu cerewet! Jika engkau mendekatkan perahumu ke sana, belum tentu dia akan menggulingkan perahumu, akan tetapi jika engkau tidak mau dan masih banyak cerewet, maka sekarang juga aku akan membikin perahumu terguling!" bentak Kui Hong yang gemas sekali melihat tukang perahu itu ketakutan dan menolak permintaan mereka.

Mata tukang perahu itu terbelalak kaget dan mukanya berubah pucat. Celaka, pikirnya, kiranya dua orang perempuan yang menumpang di perahunya ini sama gilanya dengan laki-laki peniup suling itu! Akan tetapi karena yang mengancamnya hanya seorang gadis remaja, tentu saja dia tidak begitu takut. Agaknya Kui Hong melihat pula hal ini, maka dia pun menggerakkan jari-jari tangan kirinya, menusuk pinggiran perahu yang terbuat dari papan tebal itu.

"Cusss...!" Tiga buah jari yang kecil mungil itu menusuk masuk ke dalam kayu yang keras itu seolah-olah papan tebal itu hanya merupakan tahu yang lunak saja.

"Kau ingin aku membikin lubang-lubang di dasar perahumu?" Kui Hong membentak.

Sepasang mata kakek itu semakin melebar dan mukanya semakin pucat. "Tidak... tidak, Siocia, baiklah... saya... saya mendekatkan perahu...," katanya dengan suara gemetar.

Hampir dia tidak dapat percaya melihat betapa tiga buah jari tangan yang kecil mungil dan halus itu dapat menusuk amblas ke papan perahu seperti tiga batang jari baja memasuki agar-agar saja! Karena maklum bahwa ancaman di dalam perahunya lebih berbahaya dari pada ancaman perahu kecil pemain suling itu, maka dia pun mulai mendayung perahunya perlahan-lahan mendekati perahu kecil dengan hati berdebar ketakutan. Dengan hati-hati dia mendekatkan perahu, menjaga agar dayungnya tidak membuat air terpercik terlampau keras dan agar perahunya tidak sampai menubruk perahu kecil di depan itu.

Kini perahu kecil itu tidak meluncur lagi karena rupa-rupanya angin telah berhenti bertiup. Karena tidak didayung atau dikemudikan, perahu kecil itu hanya bergoyang lirih, kadang-kadang mengarah ke kanan dan kadang-kadang ke kiri seperti orang mabuk. Akan tetapi orang yang duduk pada kepala perahu itu agaknya tak mempedulikan hal ini, masih terus bermain yang-kim yang mengiringi tiupan sulingnya.

Remang-remang nampak seorang laki-laki meniup suling. Dengan ibu jari tangan kirinya dia menyangga suling, ada pun jari-jari tangan kiri lainnya mempermainkan lubang-lubang suling. Laki-laki itu meniup suling dengan suara merdu, melengking-lengking tinggi rendah dengan amat indah, dan suara ini diiringi petikan yang-kim yang dilakukan dengan jari-jari tangan kanannya.

Walau pun memainkan setiap alat musik hanya dengan satu tangan saja, namun jari-jari tangan itu bermain dengan sangat lincahnya dan suara yang berpadu itu amat merdunya. Orang itu adalah seorang laki-laki bertubuh sedang, dan karena mukanya menunduk, apa lagi ditutup oleh sebuah caping lebar yang berada di atas kepalanya, maka ibu dan anak itu tidak dapat melihat dengan jelas.

Sui Cin teringat akan seorang tokoh dunia persilatan terkenal yang belasan tahun yang lalu masih dilihatnya, yaitu yang berjuluk Shantung Lo-kiam (Pedang Tua dari Shantung), seorang pendekar dari Shantung, merupakan salah seorang di antara Sam Lo-eng (Tiga Pendekar Tua) yang terkenal sebagai seorang ahli pedang dan seorang sastrawan yang pandai pula bermain yang-kim.

Akan tetapi, belasan tahun yang lalu Shantung Lo-kiam telah berusia delapan puluh tahun lebih, dan juga belum pernah dia mendengar bahwa kakek itu juga pandai meniup suling. Apa lagi dengan cara memainkan dua buah alat musik seperti orang ini. Agaknya bukan Shantung Lo-kiam, pikirnya. Lalu siapakah orang ini?

Tiba-tiba suara suling dan yang-kim terhenti, lalu laki-laki bercaping itu mengangkat muka, memandang ke angkasa dan dia pun mulai bernyanyi. Suara nyanyiannya cukup merdu dan lantang, kini diiringi suara yang-kim yang ramai karena dimainkan dengan sepuluh jari tangannya.

"Minum arak meniup suling memetik yang-kim seorang diri di atas perahu yang meluncur tanpa kemudi di permukaan Telaga Tung-ting yang amat luas perahuku meluncur dengan bebas melalui jalur yang diciptakan matahari jalur emas sang surya di senja hari hidup begini bahagia dan indah perlu apa segala keluh kesah...?"

Mendengar nyanyian yang seolah-olah merupakan nasehat dan hiburan bagi hati mereka yang memang sedang dirundung malang itu, tentu saja ibu dan anak ini saling pandang dan Sui Cin memuji, "Bagus sekali sajak itu...!"

Sejak tadi Kui Hong juga mengamati orang itu. Setelah kini menengadah, dia bisa melihat wajahnya dan dia tercengang. Seraut wajah yang amat tampan! Wajah seorang pemuda yang agaknya hanya beberapa tahun saja lebih tua darinya. Dan nyanyian yang merdu itu, kata-kata nyanyian yang demikian indahnya. Kui Hong memandang seperti terpesona, setuju atas pujlan ibunya. Memang indah sajak itu, indah pula suaranya.

Tadinya laki-laki itu seolah-olah merasa bahwa dirinya hanya sendirian di tempat luas itu, karena itu agaknya dia terkejut mendengar pujian orang. Dia seperti baru sadar dan cepat memandang, sinar matanya mencorong mengejutkan hati Sui Cin. Untuk sejenak pemuda itu menatap wajah Sui Cin, kemudian mengalihkan pandangan matanya dan memandang kepada Kui Hong penuh selidik. Melihat orang memandang kepadanya demikian lama, Kui Hong mendongkol sekali.

"Apakah kau hendak menggulingkan perahu kami? Coba lakukan, hendak kulihat apakah kau dapat melakukan itu!" tantangnya.

Sui Cin kaget bukan main, akan tetapi tak sempat mencegah puterinya yang menantang itu.

Mendengar tantangan ini, sepasang mata yang mencorong itu sekarang ditujukan kepada tukang perahu seakan-akan orang itu mengerti bahwa tentu tukang perahu itu yang telah bercerita bahwa dia pernah menggulingkan perahu. Melihat betapa mata yang mencorong itu menatap kepadanya, tukang perahu segera menjadi ketakutan dan dia pun menjura di tempatnya.

"Mohon maaf, kedua orang penumpang saya ini yang memaksa saya untuk mendekat, maafkan saya..."

Melihat betapa tukang perahu itu begitu penakut, Kui Hong menjadi semakin mendongkol. "Huh, memang benar kami yang memaksamu mendekat. Jika engkau demikian pengecut, tak usah engkau ikut campur. Memangnya danau atau telaga ini miliknya maka kita tidak boleh ke sana ke sini sesuka hati?"

Sekarang sepasang mata itu menjadi ramah, dan wajah yang tampan itu berseri ketika dia berkata, "Paman tua tukang perahu, aku bukan tukang makan orang, mengapa engkau begitu ketakutan?" Kemudian dia bangkit berdiri, lantas menjura ke arah Sui Cin dan Kui Hong. "Bibi yang terhormat dan adik yang manis, aku juga bukan tukang menggulingkan perahu. Tentu saja engkau boleh pergi ke mana saja dengan perahumu itu, siapa yang melarang?"

Sesudah berkata demikian, laki-laki itu tiba-tiba menggerakkan dayungnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menarik lepas tali layar dan meluncurlah perahu kecil itu dengan cepat meninggalkan tempat itu.

"Siapa sudi kau bermanis-manis?" bentak Kui Hong akan tetapi ibunya sudah memegang lengannya. Ketika gadis itu memandang, dia melihat ibunya tersenyum geli.

"Kui Hong, engkau ini kenapakah? Orang itu bersikap sopan dan baik, kenapa kau marah-marah? Wah, jangan-jangan engkau telah kemasukan setan penunggu telaga ini!" kelakar ibunya.

"Mata orang itu seperti mata maling, membikin hatiku sangat mendongkol, Ibu!" kata Kui Hong yang teringat bahwa sikapnya tadi memang agak keterlaluan. Dia telah menantang digulingkan perahunya, kemudian dia marah-marah ketika disebut adik manis. Bagaimana pun juga, harus diakuinya bahwa sikap pemuda itu sopan dan manis budi.

"Memang telaga ini dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang gawat," tiba-tiba saja tukang perahu itu menanggapi mendengar kelakar nyonya itu. "Tadinya kami juga menganggap pemuda peniup suling itu adalah makhluk halus pula. Maka harap Nona tidak main-main di sini. Entah sudah berapa banyak pelancong yang tewas di telaga ini karena gangguan makhluk halus."

Tadinya Kui Hong hendak membentak orang yang lancang mencampuri percakapan itu, akan tetapi mendengar kalimat terakhir, kembali dia merasa tertarik.

"Kenapa banyak orang pelancong tewas di telaga ini? Diganggu makhluk halus katamu?" Diam-diam Kui Hong melirik ke kanan kiri.

Cuaca sudah menjadi agak gelap dan dia merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin. Bagaimana pun juga Kui Hong hidup di jaman di mana banyak orang masih percaya penuh kepada segala macam takhyul dan dongeng-dongeng tentang setan, iblis dan siluman. Semua itu merupakan hal-hal yang tak dimengertinya dan menurut dongeng, makhluk halus tidak mungkin dilawan dengan ilmu silat yang bagaimana tinggi pun karena makhluk halus pandai menghilang.

Tentu saja dia merasa takut begitu ada orang bercerita tentang makhluk halus. Apa lagi di telaga seperti itu, di mana dia merasa demikian lemah dan tidak leluasa seperti kalau dia menginjak tanah keras.

Agaknya tukang perahu nampak senang. Bagaimana pun juga, dia memperlihatkan bukti bahwa dia lebih tahu tentang telaga itu, dan lebih tahu tentang makhluk halus dan melihat gadis ini agaknya takut-takut, dia merasa lebih menang!

"Memang telaga ini mengandung banyak keanehan, Nona." katanya bercerita. "Meski pun nampaknya tenang, akan tetapi orang bilang bahwa di bagian tertentu telaga ini demikian dalamnya sehingga tak seorang pun manusia mampu mengukurnya. Kata orang lebih dari seratus tingginya pohon cemara, dan bahkan ada yang bilang bahwa ada bagian di mana terdapat terowongan yang menghubungkan air telaga ini dengan lautan di timur! Bahkan kadang-kadang bagaikan lautan saja, telaga ini akan mengamuk, airnya bergelombang besar dan kalau sudah begitu, banyak perahu tenggelam dan banyak orang binasa. Juga, banyak pula binatang-binatang aneh seperti naga dan laln-lain bermunculan di telaga ini."

"Ihhh...!" Kui Hong kembali melirik ke kanan kiri.

"Tidak aneh kalau telaga ini menjadi gawat dan banyak dihuni setan, karena banyak roh penasaran berkeliaran di sini."

"Kenapa begitu?" Kui Hong mendesak, tapi diam-diam dia mengisar duduknya mendekati ibunya.

"Di samping menjadi tempat hiburan bagi para pelancong, telaga ini juga terkenal sebagai tempat orang membunuh diri, Nona."

"Bunuh diri? Mengapa...?"

"Aihh, banyak sekali sebabnya, Nona. Karena patah hati, karena ketakutan, karena malu dan sebagainya. Sebagian besar wanita yang membunuh diri di sini."

"Maksudku, kenapa di sini?"

"Karena tempat ini amat dalam, sekali terjun, mereka yang tak dapat berenang tentu akan tewas. Dan airnya dingin sekali, juga sangat dalam. Orang yang sudah tenggelam, sukar untuk diselamatkan orang lain. Hanya mereka yang pandai renang sajalah yang tidak mati kalau sampai terlempar ke air. Baru kemarin dulu ada sepasang orang muda membunuh diri di sini. Aihh, kasihan sekali, masih muda remaja, seusia Nona..."

Melihat puterinya nampak ketakutan, Sui Ceng segera berkata. "Sudahlah, jangan bicara tentang hal yang bukan-bukan. Sekarang antarkan kami ke tepi, kami hendak mengaso, malam telah mulai tiba."

"Baik, Toanio dan maafkan saya." Tukang perahu itu girang sekali dan cepat mendayung perahunya kembali ke tepi.

Senang sekali kalau sudah terbebas dari dua orang wanita yang berani ini, yang tadi telah membuat dia ketakutan bukan main karena diharuskan mendekati perahu kecil Si Peniup Suling. Dia masih merasa heran mengapa laki-laki peniup suling itu tidak menggulingkan perahunya tadi, atau tidak membunuh nona yang menantangnya, bahkan bersikap ramah dan sopan. Bahkan Si Peniup Suling itu kelihatan takut. Ya, takut! Aihh, jangan-jangan...

Sambil melirik ke arah Sui Cin dan Kui Hong, kakek itu menjadi pucat mukanya. Ibu dan anak yang demikian cantik, bahkan yang lebih tua itu tidak patut menjadi ibu, cantik halus akan tetapi berani menantang Si Peniup Suling dan bertanya-tanya kepadanya mengenai makhluk halus! Ihh...! Siapa tahu dua orang wanita ini malah makhluk halus yang sengaja menyamar dan mempermainkan dia.

Setelah tiba di tepi, Sui Cin dan Kui Hong meloncat ke darat, membayar tukang perahu itu kemudian pergi. Tukang perahu sejenak melongo sambil memandang uang yang berada pada tangannya, setengah menduga bahwa uang itu tentu akan menjadi batu kerikil atau rumput seperti dongeng orang-orang yang sering dia dengar tentang pembayaran setan yang menyamar sebagai manusia. Dan mulai keesokan harinya, di antara tukang-tukang perahu di situ, tentu akan muncul dongeng baru tentang siluman yang menyamar sebagai dua orang wanita cantik menyewa perahu kakek itu, siluman yang berani menantang Si Tukang Suling yang ditakuti itu!

Ketika Sui Cin dan Kui Hong berjalan menyusuri telaga, tiba-tiba mereka lihat ribut-ribut di tepi sebelah depan, di mana sebuah perahu pelesir yang besar berlabuh. Mereka segera menghampiri tempat itu dan melihat betapa ada enam orang laki-laki tinggi besar yang berpakaian tukang pukul rebah malang melintang dan seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun berpakaian mewah nampak berlutut minta ampun kepada seseorang, dan tak jauh dari situ nampak seorang wanita sedang menangis, yang bila dilihat dari pakaiannya tentu seorang gadis penyanyi.