Social Items

PADA suatu pagi yang cerah, seorang pemuda berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah hutan, menuju ke sebuah dusun yang genteng-genteng rumahnya telah nampak dari atas lereng dari mana dia tadi turun di waktu pagi sekali. Dari atas lereng gunung yang penuh hutan lebat itu, pagi-pagi buta tadi dia melihat sebuah perkampungan di kaki gunung yang di pagi hari itu lampu-lampunya masih belum dipadamkan semua. Kini, setelah melewati hutan terakhir, ketika matahari pagi telah bersinar cerah, dari jauh dia sudah bisa melihat genteng-genteng rumah yang kemerahan.

Pemuda itu berwajah ganteng. Matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup, bibirnya selalu tersenyum atau mengulum senyum, hidungnya mancung serta dagunya membayangkan kegagahan seorang jantan.

Pakaiannya terbuat dari kain sederhana saja, akan tetapi potongannya rapi dan nampak bersih terawat baik. Pakaian itu berwarna biru muda dengan garis-garis kuning di tepinya. Sebuah buntalan pakaian terikat di punggungnya.

Tubuhnya sedang, akan tetapi tegap. Dadanya bidang dan membusung, membayangkan kekuatan yang tersembunyi. Usia pemuda ini sekitar dua puluh tahun. Walau pun masih muda, namun di dalam sinar matanya yang berkilat dan berseri itu, di dalam senyumnya yang seolah-olah penuh pengertian, pemuda ini nampak jauh lebih dewasa dari pada usia yang sebenarnya.

Dari caranya berpakaian, dia seperti seorang pelajar dari dusun yang menempuh ujian di kota dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke dusun, seorang pemuda pelajar yang pandai, halus dan sopan, akan tetapi lemah lembut. Akan tetapi kalau melihat tubuhnya yang tegap dan dadanya yang lebar, dia lebih mirip seorang yang suka akan olah raga, atau setidaknya seorang pemuda yang telah biasa bekerja kasar di ladang di bawah sinar matahari yang sehat.

Pemuda itu bukan lain adalah Hay Hay! Kini dia tidak mau lagi menggunakan she (nama keturunan) Siangkoan karena nama keturunan itu adalah milik Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis yang sudah menculiknya dari tangan keluarga Pek itu. Dan dia pun tidak berani memakai nama keturunan keluarga Pek, karena menurut kedua orang gurunya, sangat diragukan bahwa dia adalah benar-benar putera keluarga Pek.

Bukankah putera keluarga Pek itu adalah Sin-tong seperti yang dahulu pernah diramalkan oleh para Lama dan bahwa Sin-tong memiliki ciri khas pada punggungnya, yaitu dengan tanda kulit punggung merah? Tidak, dari pada menggunakan nama keturunan yang salah, lebih baik dia tidak memakai nama keturunan apa pun dan tetap memakai nama kecilnya saja, yaitu Hay Hay!

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika dia berusia tujuh belas tahun, dia meninggalkan Pulau Hiu karena waktu lima tahun telah lewat, yaitu waktu yang ditentukan baginya untuk berguru kepada Ciu-sian Sin-kai. Sesudah memperoleh bekal ilmu-ilmu yang tinggi, juga nasehat-nasehat serta sekantung uang emas dari gurunya yang mencintanya, Hay Hay mendayung sebuah perahu kecil keluar dari perairan Pulau Hiu yang berbahaya.

Dia masih bergidik ngeri kalau teringat kembali akan peristiwa penyerbuan pulau itu oleh kaum bajak laut pada waktu untuk pertama kali dia datang bersama gurunya ke pulau itu, membayangkan puluhan orang disergap ikan-ikan hiu lalu dijadikan mangsa. Maka, ketika dia mendayung perahu di antara batu-batu karang dan melihat sirip ikan-ikan hiu yang meluncur ke sana-sini, dia pun merasa ngeri juga. Betapa pun tinggi ilmu kepandaiannya, sekali dia terjatuh ke dalam perairan itu, tak mungkin dia dapat menyelamatkan diri lagi.

Akan tetapi berkat pengetahuannya akan rahasia dan lika-liku batu-batu karang di perairan itu, dia dapat keluar dengan selamat dan tidak lama kemudian mendarat di pantai lautan Po-hai. Selama tiga tahun Hay Hay merantau dan sudah banyak dia mengalami hal-hal yang memperdalam pengertiannya akan kehidupan ini dan membuat dia lebih mengenal watak manusia dan sedikit banyak tahu akan keadaan dunia kang-ouw.

Namun dia selalu mentaati pesan kedua orang gurunya, yaitu dia tidak mau menonjolkan diri dan kepandaiannya, dia tak mau membuat nama besar karena menurut pesan kedua orang gurunya, nama besar itu merupakan ikatan yang amat kuat membelenggu diri dan setiap ikatan akan selalu mendatangkan kerepotan.

Memiliki sesuatu merupakan sebuah bentuk ikatan yang amat kuat, demikian antara lain See-thian Lama pernah menasehatinya. Biasanya, kita ingin memiliki sesuatu yang dapat menimbulkan kesenangan tapi siapa yang memiliki sesuatu, dia pasti akan terancam oleh kehilangan. Ancaman inilah yang menimbulkan kekerasan di dalam batin untuk menjaga dan mempertahankan apa yang dimilikinya itu, karena kalau kehilangan, berarti dia akan kehilangan kesenangan-kesenangan yang didatangkan oleh yang dimilikinya itu. Di dalam mempertahankan inilah terjadi kekerasan, permusuhan, kebencian dan selanjutnya.

Dahulu, ketika masih berusia dua belas tahun, Hay Hay belum mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh gurunya itu. Akan tetapi kini dia mengerti dan melihat kenyataan serta kebenaran dalam ucapan pendeta Lama itu. Siapa yang memiliki dia akan menjaga yang dimilikinya dari kehilangan. Yang memiliki sajalah yang akan kehilangan, sedangkan yang tidak memiliki apa-apa takkan kehilangan apa-apa pula.

Dia pun melihat kenyataan bahwa hanya orang yang tak memiliki apa-apa, dalam arti kata batinnya tak terikat oleh apa pun, maka hanya dia itulah yang sebenarnya penuh dengan segala sesuatu! Sedangkan orang yang batinnya kosong, yang jiwanya kosong, memang haus untuk memiliki sesuatu atau dimiliki seseorang, sebab itu dia membutuhkan sesuatu yang disenanginya untuk memenuhi kekosongan jiwanya

Memang di dunia ini banyak kenyataan yang sangat aneh. Mengapa orang ingin memiliki benda-benda yang bisa dinikmati dengan penglihatan, pendengaran atau pun penciuman misalnya? Mengapa kita ingin memiliki bunga yang indah dan harum itu? Padahal, tanpa kita miliki sekali pun, dapat saja kita menikmati keindahan dan keharumannya! Mengapa kita ingin memiliki burung yang nyanyiannya demikian merdu? Bukankah tanpa memiliki sekali pun, kita sudah dapat menikmati kemerduan suara burung itu?

Kita ingin memiliki segala-galanya! Bukan hanya memiliki benda-benda, bahkan memiliki manusia lain. Isteri atau suami, anak-anak, keluarga menjadi milik kita yang kita kuasai, milik yang dapat menimbulkan kesenangan dan kebanggaan hati kita. Bahkan kita ingin memiliki nama besar, kedudukan, kehormatan.

Si Aku tak pernah puas, terus membesar dan berkembang. Tubuhku, namaku, hartaku, kedudukanku, keluargaku, kemudian terus membesar sampai ke bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Karena melihat betapa si aku ini sesungguhnya bukan apa-apa, hanya seonggok daging hidup yang menanti saatnya kematian tiba dan kalau sudah mati lalu segala miliknya itu terpisah dari 'Aku', maka si aku haus untuk mengikatkan diri dengan apa saja, untuk mengisi kekosongan serta kekecilannya, atau untuk tempat bergantung sesudah mati agar diingat terus, agar 'hidup' terus!


cerita silat online karya kho ping hoo

Kini Hay Hay telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun, berwatak gembira, jenaka, memandang kehidupan dengan sepasang mata bersinar-sinar, wajah yang cerah penuh gairah hidup. Baginya hidup selalu tampak indah dan segala hal bisa dinikmatinya sepenuhnya.

Udara yang jernih sejuk dan nyaman, air, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, sayur-sayur, bunga-bunga dan segala yang nampak di permukaan bumi ini sesungguhnya amat indah dan segalanya itu dapat kita nikmati sepenuhnya. Dia memang suka akan keindahan dan agaknya karena inilah maka dia peka sekali terhadap kecantikan wanita!

Ketika Hay Hay berjalan seorang diri menuju ke dusun itu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara ketawa merdu sekelompok wanita. Dia tersenyum gembira. Bagi Hay Hay, suara dan ketawa wanita memasuki telinganya seperti bunyi musik yang merdu dan selalu menimbulkan perasaan yang tenang, damai dan menyenangkan sekali. Dia lalu membelok ke kiri, ke arah datangnya suara itu.

Kiranya ada tujuh orang wanita muda usia, antara lima belas sampai dua puluh tahun, sedang mencuci pakaian dan mandi di sebuah sungai kecil yang mengalir di luar dusun itu. Air sungai itu cukup jernih karena mengalir dari pegunungan yang ditinggalkannya tadi pagi.

Karena mandi di tempat umum sambil mencuci pakaian, gadis-gadis itu tidak telanjang sama sekali, akan tetapi mengenakan pakaian dalam yang tipis. Air yang membasahi tubuh dan pakaian itu membuat pakaian melekat sehingga dari tempat dia berdiri tampak tubuh-tubuh yang padat itu seperti tidak berpakaian saja. Pemandangan yang indah!

Hay Hay tersenyum dan memilih tempat duduk di bawah pohon, di atas batu besar dari mana dia dapat nonton dengan enaknya, lalu menurunkan buntalan bekalnya dan mulai makan sepotong roti kering karena sejak pagi tadi dia belum sarapan. Seguci kecil arak yang tidak keras menemani roti kering itu, juga sepotong daging kering manis.

Makin lezat rasa roti dan daging kering sederhana itu karena pemandangan yang amat menarik hatinya. Alangkah lembut dan padatnya tubuh gadis-gadis itu, dengan kulit yang berkilau mulus tertimpa matahari pagi. Dan wajah-wajah itu demikian manis. Dan suara senda gurau itu demikian riang gembira, merdu laksana tiupan suling. Dengan gigi putih kadang-kadang berkilau ketika gadis-gadis itu tersenyum gembira.

Selama tiga tahun merantau ini, dan dirinya menjadi semakin dewasa, sudah banyak Hay Hay bertemu dan bergaul dengan wanita. Akan tetapi pergaulannya itu selalu dibatasinya. Dia tidak pernah melupakan kuliah yang pernah diterimanya dari Ciu-sian Sin-kai.

Tidak, dia belum siap untuk menjadi suami dan ayah. Dia belum siap untuk menikah. Dan dia pun tak mau menjadi seorang lelaki pengecut yang tidak bertanggung jawab, setelah menghamili seorang gadis lalu meninggalkannya begitu saja.

Karena itu dia selalu berhati-hati, tidak membiarkan dirinya terseret terlalu jauh dan selalu dia menyingkir dan menjauhkan diri apa bila pergaulannya dengan seorang wanita sudah menjadi terlampau erat dan nampak bayangan bahaya terseret ke dalam pelaksanaan hal yang dipantangnya. Dan sejauh ini, dia berhasil!

Keadaan Hay Hay memang berbeda dengan keadaan pemuda pada umumnya, atau para pria apa bila melihat wanita-wanita cantik. Hay Hay secara langsung menikmati keindahan bentuk tubuh wanita-wanita itu, menikmati kecantikan wajah mereka, kelembutan mereka, keluwesan gerakan tubuh mereka, dan kemerduan suara mereka. Dia menikmati semua itu, pada saat itu juga, tanpa membiarkan pikirannya terbawa hanyut ke dalam permainan waktu.

Pada umumnya pria alim akan hanyut ke dalam alam khayal, mengenangkan kembali segala pengalaman dengan wanita-wanita cantik, lalu mengkhayal bahwa wanita-wanita itu, atau salah seorang di antaranya menjadi miliknya, menjadi kekasihnya, dicumbunya sehingga dengan demikian timbullah dan bangkitlah nafsu.

Hay Hay tidak mengkhayalkan apa-apa. Dia melihat semua keindahan itu tanpa keinginan memiliki, seperti orang menikmati keindahan bulan purnama, keindahan tamasya alam di pegunungan, keindahan gelombang air di samudra. Sedikit pun tidak timbul khayal pikiran untuk mengikatkan diri dengan yang dikaguminya, atau untuk mendapatkan kesenangan darinya. Dia menikmati semua itu secara langsung, dan akan habis di saat itu pula, tidak menjadi kenangan.

Akan tetapi karena Hay Hay enak-enak saja duduk di tempat itu tanpa menyembunyikan diri, makan roti dan daging kering sambil menikmati tontonan di bawah sana, tentu saja akhirnya salah seorang di antara gadis-gadis itu melihatnya.

"Aihhhh...!" Gadis itu menjerit lantas mendekam di dalam air sambil menggunakan kedua tangan menutupi dada yang tercetak melekat pada kain basah.

Teman-temannya terkejut kemudian bertanya, dan gadis itu cepat menunjuk ke arah Hay Hay. Semua gadis segera menoleh dan terdengarlah jerit-jerit manja ketika gadis-gadis itu melihat ada seorang pemuda tampan sedang enak-enak duduk nongkrong di atas sebuah batu besar sambil makan dan nonton mereka. Mereka semua berjongkok di dalam air dan menutupi dada dengan kedua tangan.

Hay Hay tersenyum lebar. Sikap para gadis yang malu-malu itu sungguh merupakan sikap kewanitaan yang amat lucu dan menarik. Seratus prosen wanita! Mereka mencoba untuk bersembunyi di dalam air, mencoba untuk menyembunyikan tonjolan payudara dengan kedua tangan akan tetapi kadang-kadang melirik untuk melihat apakah sikap mereka itu cukup manis dan menarik! Namanya juga perempuan!

Naluri kewanitaan selalu mendorong wanita untuk menarik perhatian orang lain, terutama sekali kalau orang lain itu pria, dan lebih-lebih lagi kalau pria muda yang tampan. Haus akan perhatian pria, haus akan kekaguman yang terbayang dalam pandangan mata pria, haus akan pujian yang keluar dari mulut pria. Itulah wanita! Asli!

Seorang di antara para gadis itu, yang paling tua, usianya kurang lebih sembilan belas tahun, agaknya yang paling tabah di antara mereka. Melihat betapa pemuda tampan yang nongkrong itu masih enak-enak makan sambil terus memandangi mereka, dan ternyata pemuda itu adalah seorang asing, bukan pemuda dari dusun mereka, dia lantas berkata dengan nada suara marah.

"Kau... kau pemuda kurang ajar! Tidak sopan!"

Hay Hay membelalakkan matanya. Sebelum menjawab dia mendorong makanan di dalam mulutnya dengan seteguk arak anggur. Kemudian dia membersihkan kedua tangannya dan sambil memandang ke arah tujuh orang gadis yang berjongkok di dalam air itu, dia berkata, suaranya lantang dan tidak dibuat-buat.

"Sungguh aneh. Mengapa kalian harus marah-marah? Bukankah sudah wajar kalau yang indah-indah itu ditonton dan dikagumi? Aku melihat dan mengagumi bunga indah, burung-burung yang bersuara merdu dan manja, aku nonton mereka sepuasku, dan mereka tidak menjadi marah! Semua yang indah-indah memang baru nampak indah kalau ditonton dan dikagumi, bukan?"

"Apa yang indah?" tanya gadis itu.

"Apa yang indah?" Hay Hay bangkit berdiri di atas batu besar itu dan mengembangkan sepasang lengannya. "Kalian masih bertanya lagi? Kalian inilah yang indah! Wajah kalian begitu manis dan cerah, sinar mata begitu indah berseri-seri, senyum kalian di bibir yang segar itu, kedua pipi yang kemerahan, bentuk tubuh yang demikian sempurna. Aihhhh..., suara kalian yang demikian merdu. Demikian banyak keindahan pada diri kalian namun kalian masih bertanya apanya yang indah? Ambooiii...! Kalian adalah gadis-gadis dusun yang benar-benar polos, wajar dan tidak berpura-pura. Semakin mengagumkan, seperti sekumpulan bunga mawar hutan yang liar akan tetapi makin cerah warnanya dan makin semerbak harumnya. Wahai nona-nona cantik jelita, tadi aku terpesona dan hampir saja menyangka bahwa kalian adalah sekumpulan bidadari dari kahyangan yang turun mandi di sungai ini."

Tujuh orang gadis itu adalah gadis-gadis dusun sederhana. Melihat pemuda yang tampan itu berdiri di atas batu dan mengucapkan kata-kata yang amat indah bagi mereka itu, yang penuh dengan pujian-pujian, dengan lagak bagai seorang pemain panggung yang pandai, langsung menjadi melongo semua.

Tidak ada wanita yang perasaannya tidak menjadi nyaman mendengar orang memujinya cantik, terlebih lagi pujian seperti itu, demikian muluk dan indah kata-katanya, dikeluarkan oleh mulut seorang pemuda yang demikian tampan. Hati siapa takkan menjadi gembira? Tujuh orang gadis itu merasa girang sekali, biar pun masih mereka sembunyikan di balik senyum-senyum yang mulai timbul, bahkan terdengar suara ketawa kecil tertahan.

"Ihhh, jangan-jangan itu hanya rayuan gombal!" terdengar seorang di antara para gadis itu berkata lirih, akan tetapi telah cukup bagi pendengaran Hay Hay yang tajam terlatih untuk menangkapnya.

"Astaga, Nona manis, aku mohon janganlah engkau demikian kejam hingga menuduh aku mengeluarkan rayuan gombal. Rayuan gombal adalah rayuan yang mengandung pamrih untuk bermuka-muka dan menjilat-jilat, sedangkan aku tidak mempunyai pamrih apa-apa terhadap kalian, kecuali memang aku merasa terpesona dan kagum akan keadaan kalian yang bagaikan bunga-bunga yang bermandikan embun di waktu pagi, demikian segar dan cerah, demikian cantik dan harum!"

Tentu saja para gadis itu semakin tertarik dan gadis tertua tadi lalu bertanya. "Siapakah engkau dan mau apa engkau berada di sini sambil mengintai kami yang sedang mandi dan mencuci pakaian?"

Hay Hay tersenyum. Selama perantauannya yang tiga tahun ini, dia telah banyak bergaul dengan gadis-gadis cantik, maka dia pun tahu bahwa apa bila seorang gadis sudah mau melayani bicara, itu tanda Si Gadis tertarik dan dapat diajak berkenalan!

"Namaku Hay Hay." Dia menjura dengan sikap hormat. "Dan aku kebetulan lewat di sini. Perutku lapar dan aku lalu beristirahat di sini sambil sarapan dan mengagumi kalian."

"Apakah... apakah engkau tidak akan berbuat kurang senonoh dan kurang ajar terhadap kami?"

Hay Hay mengerutkan alisnya lantas menunjuk ke atas dan ke bawah. "Langit dan Bumi menjadi saksi dan akan menghukum aku jika aku mempunyai niat buruk dan kurang ajar terhadap kalian, Nona-nona manis. Sebagai bukti bahwa aku tidak berniat kurang ajar tapi hanya ingin sekedar berkenalan dan bersahabat, marilah kalian kuundang untuk sarapan pagi, aku masih membawa cukup banyak roti dan daging kering."

Dia mengeluarkan sebungkus roti dan sebungkus daging, lalu dibukanya dan dipamerkan kepada gadis-gadis itu. "Roti ini bukan roti biasa melainkan roti istimewa yang dicampuri kenari, dan daging ini pun lezat bukan main karena ini adalah daging dendeng manis dari daerah Kwei-lin, sedap dan gurih! Dan aku pun masih mempunyai seguci anggur yang tidak keras, wangi dan manis. Silakan, Nona-nona."

Kembali gadis-gadis itu tertawa kecil cekikikan, agak ditahan. Mereka saling berbisik dan nampak seperti kelompok yang lucu. Lalu yang tertua berkata, "Kami mau naik akan tetapi engkau berbaliklah agar kami dapat mengenakan pakaian kering yang patut."

Hay Hay maklum akan batas godaannya. Kalau terlalu didesak sehingga merasa sangat malu, gadis-gadis ini dapat mundur teratur. Dia tersenyum ramah. "Baiklah, Nona-nona, aku tak akan melihat kalian berganti pakaian!" Dan dia pun membalikkan tubuhnya, duduk di atas batu itu membelakangi sungai.

Gadis-gadis itu lalu bergegas berganti pakaian di balik batu-batu sambil kadang-kadang mengerling ke arah Hay Hay. Kalau Hay Hay menengok dan memandang, tentu mereka akan marah dan tidak percaya lagi kepadanya. Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak pernah menengok.

Memang Hay Hay tidak mempunyai keinginan untuk mencuri pandang. Dia suka bergaul dengan gadis-gadis manis yang lincah itu, dan dia tidak menyembunyikan maksud untuk mencuri sesuatu, melainkan rasa suka yang wajar.

Karena melihat bahwa pemuda itu benar-benar tak pernah menengok, maka tujuh orang gadis itu menjadi percaya dan setelah berganti pakaian kering dan mengumpulkan cucian, sambil tertawa-tawa kecil mereka lantas membawa keranjang pakaian keluar dari sungai, mendaki tebing sungai dan menghampiri batu besar di mana Hay Hay duduk.

"Apakah aku sudah boleh memandang?" Hay Hay bertanya walau pun telinganya sudah mendengar akan gerakan mereka yang mendaki tebing.

"Boleh, kami telah berganti pakaian," kata seorang di antara mereka dan kini mereka telah tiba di dekat batu besar.

Hay Hay membalikkan tubuhnya dan dia segera terbelalak memandangi mereka dengan sinar mata penuh kagum yang tidak dibuat-buat dan tidak disembunyikan. Kemudian dia meloncat turun di depan gadis-gadis itu dan mengembangkan kedua lengannya.

"Amboiii...! Setelah kalian berpakaian dan kulihat dari dekat, kalian betul-betul merupakan sekelompok bunga yang indah dan harum semerbak! Lihat, sinar matahari pagi menjadi semakin cerah dengan adanya kalian di sini!"

Wajah tujuh orang gadis itu menjadi kemerahan biar pun jantung mereka berdebar penuh dengan rasa bangga dan gembira. Mereka pun kini memandang kagum karena pemuda yang amat menyenangkan hati mereka karena kata-kata dan sikapnya itu ternyata adalah seorang yang berwajah tampan, bertubuh tegap dan berpakaian pantas. Bukan seorang pemuda dusun, pikir mereka.

"Apakah... apakah engkau seorang kongcu dari kota?" yang tertua bertanya.

Hay Hay tersenyum lebar, nampak deretan giginya yang sehat dan putih terpelihara rapi. Dia menggelengkan kepala. "Nona, apakah bedanya antara orang kota dan orang dusun? Menurut penglihatanku, bedanya hanya bahwa kalau orang kota banyak yang sombong dan licik, maka sebaliknya orang dusun rendah hati, ramah dan jujur. Aku adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku, bagiku dusun dan kota sama saja."

"Akan tetapi engkau tentu bukan pemuda dusun dan engkau tentu pandai baca tulis," kata gadis lain yang ada tahi lalatnya di dagu.

"Aih, Nona, tahi lalat di dagumu itu benar-benar membuat engkau nampak manis sekali!" Hay Hay memuji sehingga dara yang usianya sekitar enam belas tahun tersipu. "Memang aku bisa baca tulis. Ahhh, aku sampai lupa. Silakan mencoba roti dan daging dendengku, Nona-nona, mari, jangan kalian malu-malu. Bukankah kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat?" Hay Hay menawarkan sambil membuka bungkusan roti dan daging itu di atas batu.

Para gadis itu kelihatan ragu-ragu. Namun seorang gadis yang rambutnya terurai panjang sampai ke pinggul berkata, "Dia sudah menawarkan, tidak baik kalau kita menolak. Mari kita cicipi." Dan ia pun memelopori teman-temannya mengambil sepotong roti dan daging.

Setelah gadis berambut panjang itu mengambil sepotong roti dan dendeng, yang lain pun sambil tersenyum-senyum dan tertawa-tawa kecil lalu mengulur lengan-lengan yang kecil mungil dan mulus untuk mengambil roti dan daging, masing-masing sepotong.

Mereka mulai makan, menggigit sedikit-sedikit akan tetapi begitu mereka merasakan roti dan dendeng yang memang enak, gigitan mereka menjadi semakin besar karena mereka tidak pernah berpura-pura dan bersopan-sopan seperti gadis-gadis kota. Melihat ini Hay Hay menjadi semakin gembira. Dengan sinar mata berseri dia memandangi gadis-gadis itu penuh kagum.

"Aduh, indahnya rambutmu, Nona, begitu panjang, hitam dan gemuk. Bukan main!" kata Hay Hay memuji Si Gadis berambut panjang. "Cantik sekali...!"

Para gadis itu tertawa lantas gadis tertua menuding ke arah gadis bertahi lalat dan gadis berambut panjang. "Hi-hik, dia memuji-muji Siauw Lan dan Siauw Cin..." dan semua gadis mentertawakan dua orang gadis itu yang tersipu malu.

Melihat ini, Hay Hay cepat-cepat berkata. "Bukan hanya mereka berdua, akan tetapi aku mengagumi kalian semua karena kalian semua masing-masing memiliki keindahan yang khas. Aku dapat memuji kalian semua, bukan rayuan gombal, tapi pujian yang setulusnya atas dasar kenyataan."

"Aihh..., tidak mungkin engkau memuji kami semua!" kata gadis tertua, menyembunyikan keinginan hatinya untuk mendengar pujian apa yang akan diberikan pemuda luar biasa itu untuknya.

Hay Hay memandang kepada lima orang gadis yang belum dipujinya itu dengan senyum manis. Dia memang suka sekali pada wanita, dan belum pernah dia melihat wanita yang tidak memiliki sesuatu yang menonjol pada dirinya, sesuatu yang menarik dan istimewa.

"Engkau sendiri, Nona, engkau memiliki kulit yang demikian putih dan mulus, bersih dan lembut tanpa cacat! Kulitmu nampak putih kemerahan, seperti sutera halus, nampak amat cemerlang setelah mandi dan basah tertimpa sinar matahari pagi. Alangkah indahnya dan aku yakin, semua pria tentu akan terpesona melihatnya. Hanya pria yang kedua matanya buta sajalah yang tidak akan dapat melihat keindahan kulitmu."

Bukan main girang rasa hati gadis itu. Memang dia memiliki kulit yang paling putih bersih dibanding teman-temannya, akan tetapi selama hidupnya, baru satu kali inilah ada orang yang memuji-muji kebersihan kulitnya seperti itu! Jantungnya berdebar-debar dan dia pun cepat menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.

"Aihhh, bisa saja engkau memuji, Kongcu...!" katanya sambil tersenyum malu-malu.

"Kalau aku yang hitam seperti arang ini, apanya yang pantas dipuji?" tiba-tiba saja gadis berusia tujuh belas tahun yang memang berkulit agak kehitaman berkata, menantang dan teman-temannya memperhatikan pemuda itu. A-kiu ini memang dianggap paling buruk di antara mereka karena kulitnya memang lebih hitam dari pada yang lain.

Hay Hay memandang gadis itu, sinar matanya mencari-cari dan akhirnya dia berseru, "Ah, siapa bilang engkau buruk, Nona? Memang kulitmu agak hitam, akan tetapi hitam manis itu namanya! Dan lihat matamu! Duhai, siapa yang takkan terpesona melihat mata seperti matamu itu? Demikian jeli, demikian jernih, demikian indah bentuknya. Sepasang matamu itu saja sudah cukup untuk menundukkan hati setiap pria, Nona!" Dan kini kawan-kawan nona berkulit kehitaman itu baru melihat bahwa Si A-kiu memang mempunyai mata yang sangat indah!

"Dan engkau, Nona, keistimewaan yang ada padamu adalah bentuk wajahmu. Inilah yang dinamakan bentuk wajah bulat telur. Manis bukan kepalang, dengan dagu meruncing dan tulang pipi sedikit menonjol. Bentuk wajah seperti yang kau miliki itu membuat semua bagian mukamu menjadi nampak manis sekali!" kata Hay Hay memuji gadis berikutnya yang tersipu-sipu malu-malu senang.

"Dan jarang ada gadis yang memiliki hidung serta mulut sepertimu, Nona," katanya lagi memandang gadis berbaju hijau, gadis ke enam. "Hidungmu kecil mancung, cocok sekali dengan mulutmu yang kecil dengan bibir yang penuh dan merah membasah. Amboiiiii...! Mata pria tak akan mau berkedip memandangi mulutmu itu. Engkau seorang gadis yang hebat!" Dan tentu saja gadis itu hanya dapat mengeluarkan suara "aahhh..." yang manja dan tersipu-sipu seperti yang lain.

"Dan engkau?" Hay Hay memandang kepada gadis ke tujuh atau yang terakhir. "Bentuk tubuhmu, Nona! Sungguh laksana setangkai bunga sedang mekar! Pinggangmu ramping, tubuhmu... sungguh menggairahkan setiap orang pria yang memandangnya. Semua pria dapat tergila-gila memandang bentuk tubuh seorang wanita seperti bentuk tubuhmu ini!"

Tujuh orang gadis itu semua telah mendapat giliran dipuji-puji oleh Hay Hay dan mereka yang menerima pujian menjadi girang bukan main, akan tetapi setiap kali Hay Hay memuji seorang gadis, yang lain merasa tak senang dan iri!

"Hemm, Kongcu...," kata gadis tertua yang kulitnya putih.

"Aihh, jangan menyebut Kongcu (Tuan Muda), membikin aku malu saja. Namaku Hay Hay dan kalian boleh saja menyebut aku Kakak Hay."

"Kakak Hay Hay yang baik," kata gadis tertua. "Engkau memuji kami semua, katakanlah siapa di antara kami yang kau anggap paling menarik?"

Gadis-gadis yang lain tersenyum dan tertawa, ikut pula mendesak dan suasana menjadi gembira sekali. Mereka tertawa-tawa, merubung Hay Hay yang menjadi girang sekali.

Dirubung tujuh orang gadis cantik dan segar itu, Hay Hay merasa seperti berada di taman kahyangan dikelilingi tujuh orang bidadari jelita! Dia pun tertawa-tawa gembira. Alangkah bahagianya hidup ini! Pada setiap keadaan terdapat hal-hal yang dapat dinikmati, yang mendatangkan rasa gembira di hati.

"Aku menjadi bingung kalau disuruh mengatakan siapa yang paling menarik. Habis semua menarik sih!" jawabnya sambil tertawa-tawa dan tujuh orang gadis itu pun tertawa semua. Senang rasa hati mereka karena selama hidup belum pernah mereka berjumpa dengan seorang pemuda yang begini menyenangkan hati.

"Andai kata engkau disuruh memilih salah seorang di antara kami untuk menjadi...," gadis berambut panjang itu berhenti, mukanya merah sekali dan dia tidak berani melanjutkan karena malu.

"Menjadi apa?" Hay Hay pura-pura tidak mengerti.

"Jadi itu tuuhh...!" sambung gadis bertahi lalat.

"Jadi pacarmu...!" akhirnya gadis tertua memberanikan diri berkata. "Engkau akan memilih yang mana, Hay-ko?"

Hay Hay tertawa bergelak di tengah-tengah ketujuh gadis itu. "Wah repotnya! Pilih yang mana, ya?" Dia memandang kepada mereka satu demi satu untuk menimbulkan suasana penuh harapan yang amat menegangkan hati mereka, kemudian menyambung, "aku pilih semuanya! Ha-ha-ha!"

Gadis-gadis itu menjerit kecil lantas tertawa-tawa dengan sikap manja dan genit. Mereka pun menikmati keadaan yang luar biasa, menggembirakan dan sekaligus membangkitkan gairah hidup dan semangat muda mereka. Mereka merasa demikian bebas dekat pemuda ini, bebas akan tetapi tidak merasa terancam. Pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar, pandang matanya demikian jenaka tetapi lembut, tanpa kandungan pandang mata penuh nafsu yang kurang sopan.

Biasanya mereka merasa betapa pandang mata pria pada saat ditujukan kepada mereka seolah-olah ingin meraba-raba tubuh mereka, bahkan seolah-olah sinar mata pria hendak menelanjangi mereka. Pemuda ini berbeda. Ucapan-ucapannya yang mengandung pujian bukan rayuan belaka, melainkan pujian yang wajar dan setengah kelakar.

Baik Hay Hay mau pun ketujuh gadis itu tidak tahu bahwa tidak jauh dari situ, di belakang semak-semak belukar, sejak tadi ada sepasang mata jeli yang mengintai dan mengikuti setiap gerakan mau pun kata-kata mereka. Sepasang mata yang sungguh tajam, yang kadang-kadang memancarkan kemarahan, tapi kadang-kadang juga kegembiraan. Pemilik sepasang mata ini adalah seorang dara yang berusia kurang lebih delapan belas tahun.

Terjadi hal lucu pada gadis pengintai ini ketika Hay Hay tadi memuji para gadis itu satu per satu. Kalau Hay Hay memuji rambut seorang di antara mereka, tak terasa lagi dia pun meraba rambutnya. Jika Hay Hay memuji hidung seorang gadis, dia pun otomatis meraba hidungnya sendiri dan seterusnya. Pada waktu Hay Hay dirubung oleh para gadis itu dan mereka semua tertawa-tawa dengan girang, gadis pengintai itu mengerutkan alisnya dan mengamati mereka dengan pandang mata tajam.

"Hemmm, Si Mata Keranjang!" berkali-kali mulutnya mengeluarkan bisikan mendesis dan pandang matanya terhadap Hay Hay menjadi keras dan semakin tajam.

Para gadis itu sampai lupa waktu ketika mereka bersenda gurau dengan Hay Hay. Semua bekal roti dan dendeng pemuda itu sudah habis mereka makan, dan sekarang Hay Hay menanyakan nama mereka. Seperti sekelompok burung, dengan suara merdu dan gaya masing-masing, mereka lalu memperkenalkan nama mereka.

Pada saat itu pula datanglah belasan orang laki-laki tua muda. Mereka datang dari dusun karena mereka adalah penghuni dusun itu, ada yang menjadi ayah atau kakak dari para gadis yang sedang bersenda gurau dengan Hay Hay. Tadi ada seorang anak kecil melihat betapa gadis-gadis itu merubung seorang pemuda asing dan tertawa-tawa, maka dia pun segera berlari ke dusun dan melaporkan kepada para penduduk. Berkumpullah belasan orang dan mereka kini menuju ke tepi sungai kecil.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak seorang kakek kepada mereka.

Pada waktu itu Hay Hay dan ketujuh orang gadis itu sedang bercakap-cakap dan mereka tertawa-tawa mendengarkan sebuah dongeng yang diceritakan Hay Hay kepada mereka, sebuah dongeng lucu.

Mendengar bentakan itu, terkejutlah tujuh orang gadis itu lantas mereka semua menoleh. Kiranya kepala dusun sendiri yang menegur mereka dan tentu saja mereka menjadi amat ketakutan, cepat mengumpulkan cucian mereka dan mundur menjauhi Hay Hay.

"Tidak-apa-apa, kami hanya bercakap-cakap...," gadis tertua mewakili kawan-kawannya menjawab, memandang dengan lugu karena memang tidak merasa bersalah, akan tetapi takut karena sikap kepala dusun itu seperti orang marah.

"Siapa dia?" Kepala dusun itu menuding ke arah Hay Hay yang telah turun dari batu besar yang didudukinya tadi.

"Dia... Hay-ko dan baru saja kami berkenalan dan..."

"Tidak pantas anak perawan bercengkerama dengan pria yang asing, bersenda gurau tak mengenal sopan santun. Hayo lekas kalian pulang sana!" bentak Kepala Dusun dengan nada marah.

Tujuh orang gadis itu semakin ketakutan. Merekar melempar pandang ke arah Hay Hay dengan tatapan khawatir sekali, takut kalau-kalau pemuda yang menyenangkan itu akan dipukuli orang-orang dusun yang kelihatannya amat marah itu.

"Dia tidak melakukan apa pun yang tidak pantas! Dia tidak bersalah apa-apa...!" teriak gadis bertahi lalat yang masih terhitung keponakan dari kepala dusun.

"Diam kau! Cepat pulanglah kalian, anak-anak tidak tahu malu!" bentak Kepala Dusun dan sekarang tujuh orang gadis itu tak berani membantah lagi, segera berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, akan tetapi mereka menengok dan menengok lagi.

Sementara itu, kini Kepala Dusun bersama belasan orang penduduk dusun menghampiri Hay Hay yang sudah turun dan pemuda itu tersenyum, bahkan lalu menjura dengan sikap hormat.

"Lopek yang baik, harap jangan memarahi adik-adik itu. Mereka tidak melakukan sesuatu yang salah. Kami hanya bercakap-cakap saja sesudah saling berkenalan. Saya bernama Hay Hay dan kebetulan lewat di sini. Melihat mereka selesai mencuci pakaian, saya lalu menawarkan roti dan daging kering. Kami pun makan bersama, bercakap-cakap dan tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, Lopek. Kalau memang hal itu dianggap salah, biarlah saya yang bersalah, akan tetapi adik-adik yang baik itu sama sekali tidak bersalah."

Kepala dusun itu bersama yang lain-lain, tertegun melihat sikap pemuda yang hormat dan kata-kata yang halus itu. Mereka saling pandang dan tahulah mereka kini bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang selain tampan dan berpakaian seperti seorang pelajar yang beruang, juga kata-katanya halus dan sopan seperti juga sikapnya. Kepala dusun itu merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap keras. Siapa tahu pemuda ini masih berdarah bangsawan atau setidaknya putera seorang berpangkat tinggi di kota!

"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya merasa tidak pantas sekali jika gadis-gadis bercengkerama dengan seorang laki-laki asing di tempat sunyi begini," katanya. "Kongcu siapakah, datang dari mana dan ada keperluan apakah mengunjungi dusun kami ini? Aku adalah kepala dusun di sini, maka berhak untuk mengenal setiap orang tamu asing yang berada di wilayah kami."

Hay Hay tersenyum dan menjura lagi, kini kepada kakek itu. "Ahh, ternyata saya sedang berhadapan dengan Chung-cu (Kepala Kampung). Maafkan jika saya mengganggu, akan tetapi sesungguhnya seperti yang saya katakan tadi, saya hanya kebetulan saja lewat di sini dan saat melihat keindahan pemandangan sekitar tempat ini, saya bermaksud untuk bermalam di dusun. Kebetulan saya berjumpa dan berkenalan dengan gadis-gadis tadi, harap Chung-cu tidak menyangka yang tidak baik. Nama saya Hay Hay dan saya seorang perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap."

Berubah lagi pandangan mereka sesudah mendengar bahwa pemuda itu seorang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Seorang pemuda dusun itu yang bertubuh tinggi besar dan berwajah galak segera melangkah maju lantas menudingkan telunjuknya. "Tentu saja kami menyangka buruk melihat betapa engkau berani merayu gadis-gadis kami. Sungguh kurang sopan bagi seorang laki-laki yang baru saja datang untuk bersenda gurau dengan gadis-gadis kami!"

Pemuda ini menaruh hati terhadap gadis yang bertahi lalat di dagunya dan sejak tadi dia sudah merasa cemburu dan iri hati sekali terhadap pemuda tampan ini, apa lagi melihat betapa gadis yang dicintanya itu nampak membela Si Pemuda Asing.

Kembali Hay Hay hanya tersenyum menghadapi hardikan ini. "Maaf, sungguh aku tidak mengerti mengapa hanya berbicara dan bersenda gurau secara baik-baik saja dianggap tidak sopan? Kalau aku berbuat tidak sopan, tentu gadis-gadis itu sudah menjadi marah atau melarikan diri. Sebaliknya, mereka suka bersahabat dan makan bersama-sama aku di sini!"

"Karena engkau adalah orang kota yang pandai merayu! Tentu engkau hendak memikat gadis-gadis dusun dengan rayuanmu itu, ya? Lebih baik engkau segera minggat dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan menghajarmu sampai babak belur!" pemuda itu mengancam dengan hati panas dan dengan kedua tangan terkepal.

Hay Hay tidak menjadi marah. Ia malah tersenyum lebar sambil memandang pemuda itu. "Engkau sungguh mengagumkan, sobat. Karena cintamu kepada salah seorang di antara adik-adik itu, maka engkau menjadi panas hati dan hendak menghajarku."

Pemuda itu terbelalak, mukanya menjadi merah, sementara itu beberapa orang temannya tertawa mendengar ini karena mereka memang sudah tahu bahwa temannya ini jatuh hati kepada gadis bertahi lalat yang nama panggilannya Siauw Lan itu.

"Sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Pergilah sekarang juga!" pemuda itu menghardik dan maju semakin dekat, siap untuk memukul.

Hay Hay tetap tenang dan kini dia memandang kepada kepala dusun yang semenjak tadi hanya diam saja menjadi penonton. "Lo-chung-cu, sudah benarkah saya diusir dari dusun ini tanpa dosa? Bagaimana kalau saya pergi kemudian aku mengabarkan perlakuan dan sikap kalian terhadap para tamu yang datang ke dusun ini?"

Kepala Dusun menjadi bimbang. Siapa tahu pemuda tampan itu benar-benar putera atau setidaknya sahabat dari pejabat-pejabat tinggi di kota! Dia pun menengahi lantas menarik lengan pemuda itu agar mundur.

"Sudahlah, selama tidak ada keluhan dan laporan dari anak-anak gadis kami, maka kami habiskan saja perkara ini. Akan tetapi, untuk menjaga supaya tidak terjadi keributan, kami harap agar Kongcu suka pergi dari sini."

"Saya bukan tuan muda, dan harap jangan sebut saya dengan kongcu. Dan saya sudah memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Apakah seorang yang melakukan perjalanan dilarang untuk berhenti di sini barang satu dua malam?"

Kepala dusun itu menarik napas panjang. Pemuda ini terlalu tenang dan sikapnya amat ramah dan baik, tak pernah memperlihatkan sikap sombong atau marah. Tidak baik kalau terus bersikap kaku.

"Terserah kepadamu, orang muda. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dusun kami tidak ada penginapan dan para penduduk tentu tak akan ada yang suka menerima engkau sebagai tamu. Jika engkau suka bermalam di tempat terbuka seperti di sini, terserah kepadamu."

Sesudah berkata demikian, kepala dusun itu lalu mengajak orang-orangnya untuk pulang ke dusun sebab mereka harus melakukan pekerjaan masing-masing. Pemuda tinggi besar itu masih memandang dengan mata tajam kepada Hay Hay, kemudian, sebelum dia pergi bersama yang lain, dia masih sempat dia mengancam.

"Awas, kalau kau berani mendekati gadis-gadis kami lagi, aku benar-benar akan mencari dan menghajarmu!"

Hay Hay hanya tersenyum dan menggerakkan pundaknya sambil menduga-duga, gadis yang mana dari ketujuh gadis tadi yang dicinta pemuda ini. Kasihan gadis itu, tentu kelak akan menjadi bulan-bulan kemarahan pemuda ini kalau sudah menjadi suaminya karena pemuda ini pencemburu benar.

Karena tidak diperbolehkan bermalam di dalam rumah penduduk di dalam dusun itu, Hay Hay lalu mulai mencari tempat untuk melewatkan malam. Memang daerah sekitar dusun itu indah sekali, tanahnya subur dan dusun itu dikelilingi bukit-bukit yang penuh dengan hutan-hutan yang lebat.

Akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi, yang letaknya di tepi hutan pada sebuah lereng bukit, hanya beberapa li jauhnya dari dusun itu. Ketika dia berdiri di depan kuil tua itu, nampaklah dusun itu, kelihatan genteng-genteng rumahnya dan teringatlah dia akan ketujuh orang gadis manis tadi dan dia pun tersenyum gembira.

Sebuah dusun yang subur dengan pemandangannya yang indah, dengan gadis-gadisnya yang segar dan manis. Sayang para penghuninya salah paham dan mengira dia hendak berbuat kurang ajar. Kurang ajarkah dia? Tidak sopankah dia? Dia tak mampu menjawab, hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya kemudian dia pun mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam di dalam kuil itu.

Dia menemukan ruangan dalam yang sangat bersih. Untung, pikirnya, agaknya baru saja ada pelancong yang juga kebetulan lewat dan bermalam di situ, karena ruangan itu bersih dan kelihatan bekas-bekas bahwa ada orang yang membersihkannya, bahkan membuat api unggun di situ. Dengan perasaan lega dia melepaskan buntalan yang dipanggulnya di punggungnya, lalu duduk bersila melepaskan lelah di lantai yang sudah dibersihkan orang lain untuknya itu.

Dia tidak tahu bahwa orang lain yang membersihkan lantai itu untuknya, sekarang sedang mengintai dari jauh sambil mengomel panjang pendek. "Sial dangkalan! Susah-susah aku membersihkan ruangan itu, yang memakai orang lain dan pemuda yang mata keranjang itu lagi!"

Ternyata yang mengomel panjang pendek ini adalah seorang gadis bermata tajam, bukan lain adalah gadis yang tadi melakukan pengintaian pada waktu Hay Hay bersenda gurau dengan tujuh orang gadis dusun.

Dengan perasaan gemas gadis itu lantas berloncatan. Gerakannya demikian ringan dan cepatnya sehingga kalau ada orang yang melihatnya tentu akan tercengang keheranan. Dengan muka merah saking marahnya, gadis itu telah memasuki kuil tanpa mengeluarkan suara dan tahu-tahu dia sudah berada di dalam ruangan di mana Hay Hay masih duduk bersila. Senja telah datang, namun matahari belum kehilangan semua sinarnya sehingga di dalam ruangan kuil rusak itu masih cukup terang.

"Heiii...!" Gadis itu menghardik dengan suara nyaring.

Hay Hay terkejut sekali, membuka kedua matanya dan begitu dia melihat wajah gadis itu, dia pun meloncat bangun dan dengan mata terbelalak dia pun berseru.

"Heiii...!" seruan yang mengejutkan hati gadis itu pula.

"Ada apa kau berteriak seperti orang gila?!" bentaknya.

"Waaah, itu... wajahmu itu..." Gadis itu otomatis membawa kedua tangan ke wajahnya. Apakah pipinya coreng-moreng?

"Rambutmu itu...!" Hay Hay melanjutkan dan kembali Si Gadis meraba kepalanya, takut kalau-kalau rabutnya awut-awutan.

"Matamu...! Hidungmu...! Mulutmu...! Tahi lalat di dagumu! Kulitmu dan bentuk tubuhmu!"

"Heiii! Apakah engkau sudah gila?" teriak gadis itu, merasa dipermainkan.

"Tidak, tidak, siapa yang mempermainkan? Tetapi, engkau tentu bidadari dari kahyangan! Atau siluman! Mengapa begitu cepat engkau mengambil alih setiap keindahan dari tujuh orang gadis dusun tadi? Lihat, wajahmu berbentuk bulat telur, sepasang matamu seperti mata bintang, hidungmu mancung, mulut kecil merah membasah, rambutmu hitam gemuk panjang, kulitmu putih halus, bentuk tubuhmu ramping dan indah. Masih ditambah pula dengan tahi lalat di dagumu! Lengkaplah sudah!"

Bukan main marahnya gadis itu. Dia memang merasa jantungnya berdebar girang akibat pujian-pujian itu, akan tetapi dia dimaki siluman!

"Engkau bilang aku siluman? Engkaukah yang monyet, munyuk, cacing, kecoa, anjing, babi dan tikus!"

Mendengar makian-makian itu nyerocos keluar dari mulut yang manis itu, mata Hay Hay terbelalak dan mengangkat kedua tangan ke atas. "Ampun ya para dewi! Kenapa engkau marah-marah dan memaki-maki aku seperti itu?"

"Huh, apakah kau kira aku akan bersikap seperti perawan-perawan dusun yang menjadi lemah dan takluk menghadapi semua rayuan gombalmu itu? Jangan harap, ya!" Gadis itu mengeluarkan suara dari hidung dengan sikap mengejek dan memandang rendah, tangan kirinya dikibaskan seperti orang mengusir lalat.

Hay Hay terpesona. Selama perjalanannya, sesudah dia menjadi dewasa dan berkenalan dengan banyak wanita, rasanya belum pernah dia berjumpa dengan seorang gadis yang demikian hebat dan kuat daya tariknya! Dan dia tadi tidak sekedar memuji atau merayu.

Gadis itu bertubuh ramping, kulit tubuhnya putih mulus, rambutnya hitam panjang dikuncir dan digelung, dihias dengan perhiasan rambut yang indah. Mukanya bulat telur, hidungnya kecil mancung, matanya tajam seperti bintang, mulutnya kecil berbibir merah membasah, dan di dagunya ada setitik tahi lalat hitam. Semua keistimewaan tujuh orang gadis dusun itu ditemui dalam diri gadis ini!

Dan semua kehebatan ini dimiliki seorang gadis yang luar biasa galaknya! Galak laksana setan, datang-datang memaki-maki dirinya dan dalam pandang mata yang bersinar tajam itu nampak jelas keganasan serta kekerasan hatinya. Melihat pakaiannya yang indah dan caranya bicara, dia dapat menduga bahwa gadis ini bukan seorang gadis dusun.

"Ya ampun...! Apakah kesalahan hamba terhadap paduka maka paduka puteri yang agung menjatuhkan kemarahan yang demikian besarnya terhadap diri hamba?" Hay Hay masih berusaha untuk meredakan kemarahan gadis itu dengan sikapnya yang terlampau hormat dan lucu.

Akan tetapi gadis itu agaknya sama sekali tidak tertarik dengan sikap Hay Hay dan tidak mau melayani kelakarnya. "Laki-Iaki mata keranjang! Akulah yang membersihkan ruangan ini, dan engkau yang baru datang mau enak-enak saja memakainya? Hayo segera pergi tinggalkan tempat istirahatku ini!"

"Ampun, Dewi...! Kiranya begitu?" Hay Hay benar-benar tertegun mendengar ini, bukan hanya karena dia telah memakai tempat yang telah lebih dulu ditemukan dan dibersihkan orang lain, juga amat terheran-heran mendengar bahwa gadis secantik itu memilih tempat ini untuk istirahat.

Kalau bukan orang yang tabah sekali tentu akan merasa ngeri bermalam di tempat yang menyeramkan ini. Biasanya kuil-kuil tua seperti ini, apa lagi di pinggir hutan yang sunyi, akan dikabarkan sebagai tempat yang dihuni oleh setan-setan dan iblis-iblis, atau paling tidak oleh makhluk halus dan siluman.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja tubuh itu berkelebat dan tahu-tahu jari tangan yang mungil itu sudah menyentuh jalan darah di ubun-ubun kepalanya. Diam-diam dia kaget bukan main. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dia maklum bahwa sekali saja wanita itu menggerakkan jari tangannya menyerang, maka dia akan tewas!

"Engkau mengenalku?"

Hay Hay terbelalak dan menggelengkan kepala. "Tidak... tidak... Dewi..."

"Kalau begitu, siapa yang memberi tahu bahwa aku berjuluk Sian-li (Dewi)?" Jari tangan itu masih juga belum meninggalkan ubun-ubun kepalanya.

"Maaf, tak ada orang yang memberi tahu, dan juga aku tidak tahu bahwa engkau berjuluk Sian-li. Aku menyebut Dewi karena engkau demikian cantik dan agung bagaikan seorang dewi... maafkan aku..." Hay Hay merasa tegang bukan main karena nyawanya berada di ujung jari wanita itu, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu.

Agaknya hal inilah yang menyelamatkannya. Dara itu melangkah mundur dan mengomel, "Perayu...!"

Diam-diam Hay Hay bernapas lega. Baru saja dia lolos dari maut yang amat mengerikan dan kini tahulah dia bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, sebab kalau tidak tentu tak akan mampu mengancam ubun-ubun seperti itu. Sekali ini dia harus bersikap waspada.

"Maafkan aku, Nona. Sesungguhnya bukan maksudku untuk merayu apa lagi kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ruangan dalam kuil ini sudah ada yang menempatinya lebih dahulu. Kalau begitu, maafkan, aku akan pindah saja ke ruangan lain, di belakang atau di depan." Berkata demikian Hay Hay mengambil buntalan pakaian dan bekalnya, lalu menggendongnya.

Sejenak gadis itu memandangnya penuh perhatian, lalu berkata, suaranya ketus. "Engkau harus meninggalkan kuil ini, tak boleh tinggal di belakang atau di depan, bahkan di pekarangan pun tidak boleh. Engkau harus pergi meninggalkan tempat ini sampai tidak nampak dari sini, dan jangan mencoba-coba untuk mengganggu aku!"

Aduh galaknya, pikir Hay Hay. Sayang gadis secantik jelita seperti ini memiliki watak yang demikian galak. "Tapi, Nona. Aku tidak akan mengganggumu, dan kiranya engkau pun hanya orang lewat saja yang kemalaman dan singgah di kuil ini. Kuil tua ini tidak ada yang punya, bukan? Siapa saja boleh beristirahat di sini..."

"Cukup! Tahukah engkau bahwa baru saja nyawamu tadi nyaris melayang? Aku tak biasa mengampuni orang untuk kedua kalinya, maka pergilah dan jangan banyak membantah lagi! Thiat-sim Sian-li hanya berbicara satu kali, tidak akan dua kali! Yang kedua kalinya, tanganku yang bicara dan nyawamu pasti melayang! Pergi!"

Hay Hay mengerutkan kedua alisnya. Hatinya merasa kecewa sekali. Gadis ini demikian cantik jelita dan manis, namun juga demikian galak, ganas dan keras! Ingin dia mencoba kepandaian gadis ini, akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia melakukan hal itu, tentu akan menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati gadis yang ganas ini.

Apa bila dia menang, tentu gadis ini akan membencinya, dan kalau sebaliknya dia kalah, besar kemungkinan dia akan mati terbunuh. Dia tidak mau mati, juga tidak ingin dibenci seorang gadis yang secantik ini, tanpa sebab penting. Hanya memperebutkan tempat di kuil kuno dan kotor ini, tidak cukup berharga untuk dijadikan bahan pertentangan. Dia pun tersenyum dan menjura.

"Baiklah, Nona, aku pergi dan mudah-mudahan malam ini Nona akan dapat tidur nyenyak di tempat yang seram dan banyak setannya ini. Selamat tinggal." Dan dia pun melangkah pergi, diikuti pandang mata gadis itu yang mengerutkan alisnya.

Tak sedap rasa hatinya mendengar ucapan Hay Hay itu. Tentu saja dia tidak takut setan, akan tetapi bayangan-bayangan yang menyeramkan bisa saja mengganggu tidurnya nanti malam.

"Sialan," gerutunya, "bertemu dengan pemuda berandalan mata keranjang!"

Siapakah gadis berjuluk Thiat-sim sian-li (Dewi Berhati Besi) yang galak dan ganas itu? Ia adalah puteri tunggal Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang sekarang masih menjadi orang hukuman di kuil Siauw-lim-si di pinggir sungai Cin-sha itu! Namanya adalah Bi Lian, Siangkoan Bi Lian. Akan tetapi dia sendiri mengenal dirinya sebagai Cu Bi Lian, puteri Cu Pak Sun petani di dusun tidak jauh dari kuil itu.

Hal ini disengaja oleh Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Mereka menghendaki agar untuk sementara puteri mereka itu tidak tahu bahwa orang-orang yang dipanggil suhu dan subo sebenarnya adalah ayah dan ibu kandungnya sendiri. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga agar keadaan puteri mereka tetap rahasia dan tersembunyi tidak diketahui oleh para hwesio, dan ke dua, agar puterinya itu tidak menjadi prihatin jika mendengar bahwa ayah ibu kandungnya menjadi orang-orang hukuman di kuil Siauw-lim-si.

Sebab itu semenjak kecil Bi Lian menganggap dirinya adalah puteri keluarga Cu sehingga dia pun memakai nama Cu Bi Lian. Sering kali di waktu malam suhu dan subo-nya datang berkunjung, dan memang sejak kecil dia dilatih dan digembleng oleh mereka.

Akan tetapi pada suatu hari, ketika Bi Lian berusia kurang lebih sepuluh tahun, terjadilah peristiwa yang amat hebat di dusunnya yang kecil itu. Kejadian yang tak pernah diimpikan oleh para penduduk dusun, mala petaka hebat yang menimpa dusun itu sehingga hampir menghancurkan dan membinasakan semua penduduknya.

Memang penduduk dusun itu sedang mengalami nasib sial karena pada suatu malam, muncullah dua orang manusia iblis di dusun itu. Mereka ini bukan lain adalah Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Empat Setan yang terkenal jahat dan kejam, juga mempunyai kesaktian yang luar biasa itu. Dua orang ini memang sudah berjanji hendak saling bertemu di Pegunungan Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sha dan kebetulan sekali mereka saling bertemu di dusun itu!

Mula-mula, pada sore hari itu, seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya brewok, kulitnya hitam, matanya lebar dan sikapnya menakutkan sekali, dengan sikap acuh memasuki dusun. Karena kakek ini merupakan orang asing, dan pakaiannya penuh debu, sepatunya compang-camping, para penduduk menyangka bahwa dia adalah seorang dusun yang biasanya bersikap polos dan ramah.

Mereka mencoba untuk menyapanya. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak menjawab, malah menengok pun tidak, hanya berjalan saja dengan kepala tunduk, mulutnya kemak-kemik. Kakek ini kemudian berkeliaran di dalam dusun itu tanpa tujuan, sedikit pun tidak pernah tersenyum, nampak galak dan kedua mata yang lebar itu mencorong menakutkan.

Para penduduk dusun menjadi ketakutan dan menyangka dia seorang yang terlantar dan gila. Mereka tidak tahu bahwa kakek raksasa yang mereka sangka gila ini adalah seorang manusia iblis yang amat lihai dan berjuluk Tung-hek-kwi, seorang di antara Empat Setan yang membuat semua tokoh kang-ouw gemetar kalau melihatnya!

Akhirnya kakek itu duduk di tepi jalan, di bawah sebatang pohon besar. Agaknya bukan hanya para penduduk dusun itu saja yang menaruh curiga terhadap kakek ini, juga dua ekor anjing dusun datang menyerbu, menggonggong dan menyalak di sekeliling kakek itu, nampak marah akan tetapi juga takut-takut. Beberapa orang penduduk hanya menonton saja dari jauh, tidak mencoba untuk memanggil anjing-anjing itu karena mereka hendak melihat apa yang akan dilakukan kakek raksasa yang mereka sangka gila itu.

Pada mulanya Tung-hek-kwi yang merasa terganggu oleh sikap dua ekor anjing itu hanya mendengus untuk mengusir mereka. Akan tetapi, setelah melihat bahwa seekor di antara kedua anjing itu berbulu hitam mulus dan gemuk sekali, matanya lalu terbelalak. Tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dua ekor anjing itu sudah ditangkap pada lehernya! Dua ekor anjing itu menguik-nguik dan Tung-hek-kwi membanting anjing belang yang ditangkap dengan tangan kirinya.

"Ngekkk...!" Pecah kepala anjing itu dan tak mampu bergerak lagi.

Kemudian, anjing hitam gemuk yang masih dicengkeram tangan kanannya dengan jari-jari panjang besar, yang masih menguik-nguik dan meronta-ronta ketakutan itu, dipegangnya dengan kedua tangannya dan sekali dia menggerakkan tangan itu menarik, terdengarlah suara robek dan pekik maut anjing itu yang tubuhnya telah terobek menjadi dua potong!

Darah muncrat dan seperti orang kehausan, kakek itu cepat menjilat dan mencucup darah anjing hitam yang terus bercucuran itu! Melihat ini, semua orang yang menonton dari jauh segera terbelalak penuh kengerian, dan anak-anak sudah berlari-larian menyembunyikan diri dengan muka pucat.

"Wah, kau lahap dan rakus, Tung-hek-kwi!" Tiba-tiba saja muncul seorang kakek gendut yang bukan lain adalah Pak-kwi-ong. Dia menghampiri rekannya yang masih menikmati darah anjing hitam itu. "Uwahhh...! Anjing hitam! Hebat, obat kuat, jangan dihabiskan, aku pun perlu darahnya!"

"Huh, siapa yang rakus?" bentak Tung-hek-kwi kemudian dia pun melemparkan potongan anjing hitam di tangan kanannya.

Pak-kwi-ong cepat menerimanya dan terus menjilat dan menghisap darah anjing itu pula. Sungguh mengerikan melihat dua orang kakek tua renta ini duduk di bawah pohon sambil menjilati darah anjing hitam, kemudian mereka mulai mengganyang daging anjing dengan menggerogotinya begitu saja!

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang sahabat yang baik, Setan Hitam. Menyambut aku dengan suguhan yang segar dan menyehatkan!" kata Pak-kwi-ong sambil tertawa-tawa, ada pun Tung-hek-kwi tetap makan tanpa senyum, hanya kedua matanya yang lebar itu jelalatan ke sana-sini.

Pendekar Mata Keranjang Jilid 09

PADA suatu pagi yang cerah, seorang pemuda berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah hutan, menuju ke sebuah dusun yang genteng-genteng rumahnya telah nampak dari atas lereng dari mana dia tadi turun di waktu pagi sekali. Dari atas lereng gunung yang penuh hutan lebat itu, pagi-pagi buta tadi dia melihat sebuah perkampungan di kaki gunung yang di pagi hari itu lampu-lampunya masih belum dipadamkan semua. Kini, setelah melewati hutan terakhir, ketika matahari pagi telah bersinar cerah, dari jauh dia sudah bisa melihat genteng-genteng rumah yang kemerahan.

Pemuda itu berwajah ganteng. Matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup, bibirnya selalu tersenyum atau mengulum senyum, hidungnya mancung serta dagunya membayangkan kegagahan seorang jantan.

Pakaiannya terbuat dari kain sederhana saja, akan tetapi potongannya rapi dan nampak bersih terawat baik. Pakaian itu berwarna biru muda dengan garis-garis kuning di tepinya. Sebuah buntalan pakaian terikat di punggungnya.

Tubuhnya sedang, akan tetapi tegap. Dadanya bidang dan membusung, membayangkan kekuatan yang tersembunyi. Usia pemuda ini sekitar dua puluh tahun. Walau pun masih muda, namun di dalam sinar matanya yang berkilat dan berseri itu, di dalam senyumnya yang seolah-olah penuh pengertian, pemuda ini nampak jauh lebih dewasa dari pada usia yang sebenarnya.

Dari caranya berpakaian, dia seperti seorang pelajar dari dusun yang menempuh ujian di kota dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke dusun, seorang pemuda pelajar yang pandai, halus dan sopan, akan tetapi lemah lembut. Akan tetapi kalau melihat tubuhnya yang tegap dan dadanya yang lebar, dia lebih mirip seorang yang suka akan olah raga, atau setidaknya seorang pemuda yang telah biasa bekerja kasar di ladang di bawah sinar matahari yang sehat.

Pemuda itu bukan lain adalah Hay Hay! Kini dia tidak mau lagi menggunakan she (nama keturunan) Siangkoan karena nama keturunan itu adalah milik Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis yang sudah menculiknya dari tangan keluarga Pek itu. Dan dia pun tidak berani memakai nama keturunan keluarga Pek, karena menurut kedua orang gurunya, sangat diragukan bahwa dia adalah benar-benar putera keluarga Pek.

Bukankah putera keluarga Pek itu adalah Sin-tong seperti yang dahulu pernah diramalkan oleh para Lama dan bahwa Sin-tong memiliki ciri khas pada punggungnya, yaitu dengan tanda kulit punggung merah? Tidak, dari pada menggunakan nama keturunan yang salah, lebih baik dia tidak memakai nama keturunan apa pun dan tetap memakai nama kecilnya saja, yaitu Hay Hay!

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika dia berusia tujuh belas tahun, dia meninggalkan Pulau Hiu karena waktu lima tahun telah lewat, yaitu waktu yang ditentukan baginya untuk berguru kepada Ciu-sian Sin-kai. Sesudah memperoleh bekal ilmu-ilmu yang tinggi, juga nasehat-nasehat serta sekantung uang emas dari gurunya yang mencintanya, Hay Hay mendayung sebuah perahu kecil keluar dari perairan Pulau Hiu yang berbahaya.

Dia masih bergidik ngeri kalau teringat kembali akan peristiwa penyerbuan pulau itu oleh kaum bajak laut pada waktu untuk pertama kali dia datang bersama gurunya ke pulau itu, membayangkan puluhan orang disergap ikan-ikan hiu lalu dijadikan mangsa. Maka, ketika dia mendayung perahu di antara batu-batu karang dan melihat sirip ikan-ikan hiu yang meluncur ke sana-sini, dia pun merasa ngeri juga. Betapa pun tinggi ilmu kepandaiannya, sekali dia terjatuh ke dalam perairan itu, tak mungkin dia dapat menyelamatkan diri lagi.

Akan tetapi berkat pengetahuannya akan rahasia dan lika-liku batu-batu karang di perairan itu, dia dapat keluar dengan selamat dan tidak lama kemudian mendarat di pantai lautan Po-hai. Selama tiga tahun Hay Hay merantau dan sudah banyak dia mengalami hal-hal yang memperdalam pengertiannya akan kehidupan ini dan membuat dia lebih mengenal watak manusia dan sedikit banyak tahu akan keadaan dunia kang-ouw.

Namun dia selalu mentaati pesan kedua orang gurunya, yaitu dia tidak mau menonjolkan diri dan kepandaiannya, dia tak mau membuat nama besar karena menurut pesan kedua orang gurunya, nama besar itu merupakan ikatan yang amat kuat membelenggu diri dan setiap ikatan akan selalu mendatangkan kerepotan.

Memiliki sesuatu merupakan sebuah bentuk ikatan yang amat kuat, demikian antara lain See-thian Lama pernah menasehatinya. Biasanya, kita ingin memiliki sesuatu yang dapat menimbulkan kesenangan tapi siapa yang memiliki sesuatu, dia pasti akan terancam oleh kehilangan. Ancaman inilah yang menimbulkan kekerasan di dalam batin untuk menjaga dan mempertahankan apa yang dimilikinya itu, karena kalau kehilangan, berarti dia akan kehilangan kesenangan-kesenangan yang didatangkan oleh yang dimilikinya itu. Di dalam mempertahankan inilah terjadi kekerasan, permusuhan, kebencian dan selanjutnya.

Dahulu, ketika masih berusia dua belas tahun, Hay Hay belum mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh gurunya itu. Akan tetapi kini dia mengerti dan melihat kenyataan serta kebenaran dalam ucapan pendeta Lama itu. Siapa yang memiliki dia akan menjaga yang dimilikinya dari kehilangan. Yang memiliki sajalah yang akan kehilangan, sedangkan yang tidak memiliki apa-apa takkan kehilangan apa-apa pula.

Dia pun melihat kenyataan bahwa hanya orang yang tak memiliki apa-apa, dalam arti kata batinnya tak terikat oleh apa pun, maka hanya dia itulah yang sebenarnya penuh dengan segala sesuatu! Sedangkan orang yang batinnya kosong, yang jiwanya kosong, memang haus untuk memiliki sesuatu atau dimiliki seseorang, sebab itu dia membutuhkan sesuatu yang disenanginya untuk memenuhi kekosongan jiwanya

Memang di dunia ini banyak kenyataan yang sangat aneh. Mengapa orang ingin memiliki benda-benda yang bisa dinikmati dengan penglihatan, pendengaran atau pun penciuman misalnya? Mengapa kita ingin memiliki bunga yang indah dan harum itu? Padahal, tanpa kita miliki sekali pun, dapat saja kita menikmati keindahan dan keharumannya! Mengapa kita ingin memiliki burung yang nyanyiannya demikian merdu? Bukankah tanpa memiliki sekali pun, kita sudah dapat menikmati kemerduan suara burung itu?

Kita ingin memiliki segala-galanya! Bukan hanya memiliki benda-benda, bahkan memiliki manusia lain. Isteri atau suami, anak-anak, keluarga menjadi milik kita yang kita kuasai, milik yang dapat menimbulkan kesenangan dan kebanggaan hati kita. Bahkan kita ingin memiliki nama besar, kedudukan, kehormatan.

Si Aku tak pernah puas, terus membesar dan berkembang. Tubuhku, namaku, hartaku, kedudukanku, keluargaku, kemudian terus membesar sampai ke bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Karena melihat betapa si aku ini sesungguhnya bukan apa-apa, hanya seonggok daging hidup yang menanti saatnya kematian tiba dan kalau sudah mati lalu segala miliknya itu terpisah dari 'Aku', maka si aku haus untuk mengikatkan diri dengan apa saja, untuk mengisi kekosongan serta kekecilannya, atau untuk tempat bergantung sesudah mati agar diingat terus, agar 'hidup' terus!


cerita silat online karya kho ping hoo

Kini Hay Hay telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun, berwatak gembira, jenaka, memandang kehidupan dengan sepasang mata bersinar-sinar, wajah yang cerah penuh gairah hidup. Baginya hidup selalu tampak indah dan segala hal bisa dinikmatinya sepenuhnya.

Udara yang jernih sejuk dan nyaman, air, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, sayur-sayur, bunga-bunga dan segala yang nampak di permukaan bumi ini sesungguhnya amat indah dan segalanya itu dapat kita nikmati sepenuhnya. Dia memang suka akan keindahan dan agaknya karena inilah maka dia peka sekali terhadap kecantikan wanita!

Ketika Hay Hay berjalan seorang diri menuju ke dusun itu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara ketawa merdu sekelompok wanita. Dia tersenyum gembira. Bagi Hay Hay, suara dan ketawa wanita memasuki telinganya seperti bunyi musik yang merdu dan selalu menimbulkan perasaan yang tenang, damai dan menyenangkan sekali. Dia lalu membelok ke kiri, ke arah datangnya suara itu.

Kiranya ada tujuh orang wanita muda usia, antara lima belas sampai dua puluh tahun, sedang mencuci pakaian dan mandi di sebuah sungai kecil yang mengalir di luar dusun itu. Air sungai itu cukup jernih karena mengalir dari pegunungan yang ditinggalkannya tadi pagi.

Karena mandi di tempat umum sambil mencuci pakaian, gadis-gadis itu tidak telanjang sama sekali, akan tetapi mengenakan pakaian dalam yang tipis. Air yang membasahi tubuh dan pakaian itu membuat pakaian melekat sehingga dari tempat dia berdiri tampak tubuh-tubuh yang padat itu seperti tidak berpakaian saja. Pemandangan yang indah!

Hay Hay tersenyum dan memilih tempat duduk di bawah pohon, di atas batu besar dari mana dia dapat nonton dengan enaknya, lalu menurunkan buntalan bekalnya dan mulai makan sepotong roti kering karena sejak pagi tadi dia belum sarapan. Seguci kecil arak yang tidak keras menemani roti kering itu, juga sepotong daging kering manis.

Makin lezat rasa roti dan daging kering sederhana itu karena pemandangan yang amat menarik hatinya. Alangkah lembut dan padatnya tubuh gadis-gadis itu, dengan kulit yang berkilau mulus tertimpa matahari pagi. Dan wajah-wajah itu demikian manis. Dan suara senda gurau itu demikian riang gembira, merdu laksana tiupan suling. Dengan gigi putih kadang-kadang berkilau ketika gadis-gadis itu tersenyum gembira.

Selama tiga tahun merantau ini, dan dirinya menjadi semakin dewasa, sudah banyak Hay Hay bertemu dan bergaul dengan wanita. Akan tetapi pergaulannya itu selalu dibatasinya. Dia tidak pernah melupakan kuliah yang pernah diterimanya dari Ciu-sian Sin-kai.

Tidak, dia belum siap untuk menjadi suami dan ayah. Dia belum siap untuk menikah. Dan dia pun tak mau menjadi seorang lelaki pengecut yang tidak bertanggung jawab, setelah menghamili seorang gadis lalu meninggalkannya begitu saja.

Karena itu dia selalu berhati-hati, tidak membiarkan dirinya terseret terlalu jauh dan selalu dia menyingkir dan menjauhkan diri apa bila pergaulannya dengan seorang wanita sudah menjadi terlampau erat dan nampak bayangan bahaya terseret ke dalam pelaksanaan hal yang dipantangnya. Dan sejauh ini, dia berhasil!

Keadaan Hay Hay memang berbeda dengan keadaan pemuda pada umumnya, atau para pria apa bila melihat wanita-wanita cantik. Hay Hay secara langsung menikmati keindahan bentuk tubuh wanita-wanita itu, menikmati kecantikan wajah mereka, kelembutan mereka, keluwesan gerakan tubuh mereka, dan kemerduan suara mereka. Dia menikmati semua itu, pada saat itu juga, tanpa membiarkan pikirannya terbawa hanyut ke dalam permainan waktu.

Pada umumnya pria alim akan hanyut ke dalam alam khayal, mengenangkan kembali segala pengalaman dengan wanita-wanita cantik, lalu mengkhayal bahwa wanita-wanita itu, atau salah seorang di antaranya menjadi miliknya, menjadi kekasihnya, dicumbunya sehingga dengan demikian timbullah dan bangkitlah nafsu.

Hay Hay tidak mengkhayalkan apa-apa. Dia melihat semua keindahan itu tanpa keinginan memiliki, seperti orang menikmati keindahan bulan purnama, keindahan tamasya alam di pegunungan, keindahan gelombang air di samudra. Sedikit pun tidak timbul khayal pikiran untuk mengikatkan diri dengan yang dikaguminya, atau untuk mendapatkan kesenangan darinya. Dia menikmati semua itu secara langsung, dan akan habis di saat itu pula, tidak menjadi kenangan.

Akan tetapi karena Hay Hay enak-enak saja duduk di tempat itu tanpa menyembunyikan diri, makan roti dan daging kering sambil menikmati tontonan di bawah sana, tentu saja akhirnya salah seorang di antara gadis-gadis itu melihatnya.

"Aihhhh...!" Gadis itu menjerit lantas mendekam di dalam air sambil menggunakan kedua tangan menutupi dada yang tercetak melekat pada kain basah.

Teman-temannya terkejut kemudian bertanya, dan gadis itu cepat menunjuk ke arah Hay Hay. Semua gadis segera menoleh dan terdengarlah jerit-jerit manja ketika gadis-gadis itu melihat ada seorang pemuda tampan sedang enak-enak duduk nongkrong di atas sebuah batu besar sambil makan dan nonton mereka. Mereka semua berjongkok di dalam air dan menutupi dada dengan kedua tangan.

Hay Hay tersenyum lebar. Sikap para gadis yang malu-malu itu sungguh merupakan sikap kewanitaan yang amat lucu dan menarik. Seratus prosen wanita! Mereka mencoba untuk bersembunyi di dalam air, mencoba untuk menyembunyikan tonjolan payudara dengan kedua tangan akan tetapi kadang-kadang melirik untuk melihat apakah sikap mereka itu cukup manis dan menarik! Namanya juga perempuan!

Naluri kewanitaan selalu mendorong wanita untuk menarik perhatian orang lain, terutama sekali kalau orang lain itu pria, dan lebih-lebih lagi kalau pria muda yang tampan. Haus akan perhatian pria, haus akan kekaguman yang terbayang dalam pandangan mata pria, haus akan pujian yang keluar dari mulut pria. Itulah wanita! Asli!

Seorang di antara para gadis itu, yang paling tua, usianya kurang lebih sembilan belas tahun, agaknya yang paling tabah di antara mereka. Melihat betapa pemuda tampan yang nongkrong itu masih enak-enak makan sambil terus memandangi mereka, dan ternyata pemuda itu adalah seorang asing, bukan pemuda dari dusun mereka, dia lantas berkata dengan nada suara marah.

"Kau... kau pemuda kurang ajar! Tidak sopan!"

Hay Hay membelalakkan matanya. Sebelum menjawab dia mendorong makanan di dalam mulutnya dengan seteguk arak anggur. Kemudian dia membersihkan kedua tangannya dan sambil memandang ke arah tujuh orang gadis yang berjongkok di dalam air itu, dia berkata, suaranya lantang dan tidak dibuat-buat.

"Sungguh aneh. Mengapa kalian harus marah-marah? Bukankah sudah wajar kalau yang indah-indah itu ditonton dan dikagumi? Aku melihat dan mengagumi bunga indah, burung-burung yang bersuara merdu dan manja, aku nonton mereka sepuasku, dan mereka tidak menjadi marah! Semua yang indah-indah memang baru nampak indah kalau ditonton dan dikagumi, bukan?"

"Apa yang indah?" tanya gadis itu.

"Apa yang indah?" Hay Hay bangkit berdiri di atas batu besar itu dan mengembangkan sepasang lengannya. "Kalian masih bertanya lagi? Kalian inilah yang indah! Wajah kalian begitu manis dan cerah, sinar mata begitu indah berseri-seri, senyum kalian di bibir yang segar itu, kedua pipi yang kemerahan, bentuk tubuh yang demikian sempurna. Aihhhh..., suara kalian yang demikian merdu. Demikian banyak keindahan pada diri kalian namun kalian masih bertanya apanya yang indah? Ambooiii...! Kalian adalah gadis-gadis dusun yang benar-benar polos, wajar dan tidak berpura-pura. Semakin mengagumkan, seperti sekumpulan bunga mawar hutan yang liar akan tetapi makin cerah warnanya dan makin semerbak harumnya. Wahai nona-nona cantik jelita, tadi aku terpesona dan hampir saja menyangka bahwa kalian adalah sekumpulan bidadari dari kahyangan yang turun mandi di sungai ini."

Tujuh orang gadis itu adalah gadis-gadis dusun sederhana. Melihat pemuda yang tampan itu berdiri di atas batu dan mengucapkan kata-kata yang amat indah bagi mereka itu, yang penuh dengan pujian-pujian, dengan lagak bagai seorang pemain panggung yang pandai, langsung menjadi melongo semua.

Tidak ada wanita yang perasaannya tidak menjadi nyaman mendengar orang memujinya cantik, terlebih lagi pujian seperti itu, demikian muluk dan indah kata-katanya, dikeluarkan oleh mulut seorang pemuda yang demikian tampan. Hati siapa takkan menjadi gembira? Tujuh orang gadis itu merasa girang sekali, biar pun masih mereka sembunyikan di balik senyum-senyum yang mulai timbul, bahkan terdengar suara ketawa kecil tertahan.

"Ihhh, jangan-jangan itu hanya rayuan gombal!" terdengar seorang di antara para gadis itu berkata lirih, akan tetapi telah cukup bagi pendengaran Hay Hay yang tajam terlatih untuk menangkapnya.

"Astaga, Nona manis, aku mohon janganlah engkau demikian kejam hingga menuduh aku mengeluarkan rayuan gombal. Rayuan gombal adalah rayuan yang mengandung pamrih untuk bermuka-muka dan menjilat-jilat, sedangkan aku tidak mempunyai pamrih apa-apa terhadap kalian, kecuali memang aku merasa terpesona dan kagum akan keadaan kalian yang bagaikan bunga-bunga yang bermandikan embun di waktu pagi, demikian segar dan cerah, demikian cantik dan harum!"

Tentu saja para gadis itu semakin tertarik dan gadis tertua tadi lalu bertanya. "Siapakah engkau dan mau apa engkau berada di sini sambil mengintai kami yang sedang mandi dan mencuci pakaian?"

Hay Hay tersenyum. Selama perantauannya yang tiga tahun ini, dia telah banyak bergaul dengan gadis-gadis cantik, maka dia pun tahu bahwa apa bila seorang gadis sudah mau melayani bicara, itu tanda Si Gadis tertarik dan dapat diajak berkenalan!

"Namaku Hay Hay." Dia menjura dengan sikap hormat. "Dan aku kebetulan lewat di sini. Perutku lapar dan aku lalu beristirahat di sini sambil sarapan dan mengagumi kalian."

"Apakah... apakah engkau tidak akan berbuat kurang senonoh dan kurang ajar terhadap kami?"

Hay Hay mengerutkan alisnya lantas menunjuk ke atas dan ke bawah. "Langit dan Bumi menjadi saksi dan akan menghukum aku jika aku mempunyai niat buruk dan kurang ajar terhadap kalian, Nona-nona manis. Sebagai bukti bahwa aku tidak berniat kurang ajar tapi hanya ingin sekedar berkenalan dan bersahabat, marilah kalian kuundang untuk sarapan pagi, aku masih membawa cukup banyak roti dan daging kering."

Dia mengeluarkan sebungkus roti dan sebungkus daging, lalu dibukanya dan dipamerkan kepada gadis-gadis itu. "Roti ini bukan roti biasa melainkan roti istimewa yang dicampuri kenari, dan daging ini pun lezat bukan main karena ini adalah daging dendeng manis dari daerah Kwei-lin, sedap dan gurih! Dan aku pun masih mempunyai seguci anggur yang tidak keras, wangi dan manis. Silakan, Nona-nona."

Kembali gadis-gadis itu tertawa kecil cekikikan, agak ditahan. Mereka saling berbisik dan nampak seperti kelompok yang lucu. Lalu yang tertua berkata, "Kami mau naik akan tetapi engkau berbaliklah agar kami dapat mengenakan pakaian kering yang patut."

Hay Hay maklum akan batas godaannya. Kalau terlalu didesak sehingga merasa sangat malu, gadis-gadis ini dapat mundur teratur. Dia tersenyum ramah. "Baiklah, Nona-nona, aku tak akan melihat kalian berganti pakaian!" Dan dia pun membalikkan tubuhnya, duduk di atas batu itu membelakangi sungai.

Gadis-gadis itu lalu bergegas berganti pakaian di balik batu-batu sambil kadang-kadang mengerling ke arah Hay Hay. Kalau Hay Hay menengok dan memandang, tentu mereka akan marah dan tidak percaya lagi kepadanya. Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak pernah menengok.

Memang Hay Hay tidak mempunyai keinginan untuk mencuri pandang. Dia suka bergaul dengan gadis-gadis manis yang lincah itu, dan dia tidak menyembunyikan maksud untuk mencuri sesuatu, melainkan rasa suka yang wajar.

Karena melihat bahwa pemuda itu benar-benar tak pernah menengok, maka tujuh orang gadis itu menjadi percaya dan setelah berganti pakaian kering dan mengumpulkan cucian, sambil tertawa-tawa kecil mereka lantas membawa keranjang pakaian keluar dari sungai, mendaki tebing sungai dan menghampiri batu besar di mana Hay Hay duduk.

"Apakah aku sudah boleh memandang?" Hay Hay bertanya walau pun telinganya sudah mendengar akan gerakan mereka yang mendaki tebing.

"Boleh, kami telah berganti pakaian," kata seorang di antara mereka dan kini mereka telah tiba di dekat batu besar.

Hay Hay membalikkan tubuhnya dan dia segera terbelalak memandangi mereka dengan sinar mata penuh kagum yang tidak dibuat-buat dan tidak disembunyikan. Kemudian dia meloncat turun di depan gadis-gadis itu dan mengembangkan kedua lengannya.

"Amboiii...! Setelah kalian berpakaian dan kulihat dari dekat, kalian betul-betul merupakan sekelompok bunga yang indah dan harum semerbak! Lihat, sinar matahari pagi menjadi semakin cerah dengan adanya kalian di sini!"

Wajah tujuh orang gadis itu menjadi kemerahan biar pun jantung mereka berdebar penuh dengan rasa bangga dan gembira. Mereka pun kini memandang kagum karena pemuda yang amat menyenangkan hati mereka karena kata-kata dan sikapnya itu ternyata adalah seorang yang berwajah tampan, bertubuh tegap dan berpakaian pantas. Bukan seorang pemuda dusun, pikir mereka.

"Apakah... apakah engkau seorang kongcu dari kota?" yang tertua bertanya.

Hay Hay tersenyum lebar, nampak deretan giginya yang sehat dan putih terpelihara rapi. Dia menggelengkan kepala. "Nona, apakah bedanya antara orang kota dan orang dusun? Menurut penglihatanku, bedanya hanya bahwa kalau orang kota banyak yang sombong dan licik, maka sebaliknya orang dusun rendah hati, ramah dan jujur. Aku adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku, bagiku dusun dan kota sama saja."

"Akan tetapi engkau tentu bukan pemuda dusun dan engkau tentu pandai baca tulis," kata gadis lain yang ada tahi lalatnya di dagu.

"Aih, Nona, tahi lalat di dagumu itu benar-benar membuat engkau nampak manis sekali!" Hay Hay memuji sehingga dara yang usianya sekitar enam belas tahun tersipu. "Memang aku bisa baca tulis. Ahhh, aku sampai lupa. Silakan mencoba roti dan daging dendengku, Nona-nona, mari, jangan kalian malu-malu. Bukankah kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat?" Hay Hay menawarkan sambil membuka bungkusan roti dan daging itu di atas batu.

Para gadis itu kelihatan ragu-ragu. Namun seorang gadis yang rambutnya terurai panjang sampai ke pinggul berkata, "Dia sudah menawarkan, tidak baik kalau kita menolak. Mari kita cicipi." Dan ia pun memelopori teman-temannya mengambil sepotong roti dan daging.

Setelah gadis berambut panjang itu mengambil sepotong roti dan dendeng, yang lain pun sambil tersenyum-senyum dan tertawa-tawa kecil lalu mengulur lengan-lengan yang kecil mungil dan mulus untuk mengambil roti dan daging, masing-masing sepotong.

Mereka mulai makan, menggigit sedikit-sedikit akan tetapi begitu mereka merasakan roti dan dendeng yang memang enak, gigitan mereka menjadi semakin besar karena mereka tidak pernah berpura-pura dan bersopan-sopan seperti gadis-gadis kota. Melihat ini Hay Hay menjadi semakin gembira. Dengan sinar mata berseri dia memandangi gadis-gadis itu penuh kagum.

"Aduh, indahnya rambutmu, Nona, begitu panjang, hitam dan gemuk. Bukan main!" kata Hay Hay memuji Si Gadis berambut panjang. "Cantik sekali...!"

Para gadis itu tertawa lantas gadis tertua menuding ke arah gadis bertahi lalat dan gadis berambut panjang. "Hi-hik, dia memuji-muji Siauw Lan dan Siauw Cin..." dan semua gadis mentertawakan dua orang gadis itu yang tersipu malu.

Melihat ini, Hay Hay cepat-cepat berkata. "Bukan hanya mereka berdua, akan tetapi aku mengagumi kalian semua karena kalian semua masing-masing memiliki keindahan yang khas. Aku dapat memuji kalian semua, bukan rayuan gombal, tapi pujian yang setulusnya atas dasar kenyataan."

"Aihh..., tidak mungkin engkau memuji kami semua!" kata gadis tertua, menyembunyikan keinginan hatinya untuk mendengar pujian apa yang akan diberikan pemuda luar biasa itu untuknya.

Hay Hay memandang kepada lima orang gadis yang belum dipujinya itu dengan senyum manis. Dia memang suka sekali pada wanita, dan belum pernah dia melihat wanita yang tidak memiliki sesuatu yang menonjol pada dirinya, sesuatu yang menarik dan istimewa.

"Engkau sendiri, Nona, engkau memiliki kulit yang demikian putih dan mulus, bersih dan lembut tanpa cacat! Kulitmu nampak putih kemerahan, seperti sutera halus, nampak amat cemerlang setelah mandi dan basah tertimpa sinar matahari pagi. Alangkah indahnya dan aku yakin, semua pria tentu akan terpesona melihatnya. Hanya pria yang kedua matanya buta sajalah yang tidak akan dapat melihat keindahan kulitmu."

Bukan main girang rasa hati gadis itu. Memang dia memiliki kulit yang paling putih bersih dibanding teman-temannya, akan tetapi selama hidupnya, baru satu kali inilah ada orang yang memuji-muji kebersihan kulitnya seperti itu! Jantungnya berdebar-debar dan dia pun cepat menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.

"Aihhh, bisa saja engkau memuji, Kongcu...!" katanya sambil tersenyum malu-malu.

"Kalau aku yang hitam seperti arang ini, apanya yang pantas dipuji?" tiba-tiba saja gadis berusia tujuh belas tahun yang memang berkulit agak kehitaman berkata, menantang dan teman-temannya memperhatikan pemuda itu. A-kiu ini memang dianggap paling buruk di antara mereka karena kulitnya memang lebih hitam dari pada yang lain.

Hay Hay memandang gadis itu, sinar matanya mencari-cari dan akhirnya dia berseru, "Ah, siapa bilang engkau buruk, Nona? Memang kulitmu agak hitam, akan tetapi hitam manis itu namanya! Dan lihat matamu! Duhai, siapa yang takkan terpesona melihat mata seperti matamu itu? Demikian jeli, demikian jernih, demikian indah bentuknya. Sepasang matamu itu saja sudah cukup untuk menundukkan hati setiap pria, Nona!" Dan kini kawan-kawan nona berkulit kehitaman itu baru melihat bahwa Si A-kiu memang mempunyai mata yang sangat indah!

"Dan engkau, Nona, keistimewaan yang ada padamu adalah bentuk wajahmu. Inilah yang dinamakan bentuk wajah bulat telur. Manis bukan kepalang, dengan dagu meruncing dan tulang pipi sedikit menonjol. Bentuk wajah seperti yang kau miliki itu membuat semua bagian mukamu menjadi nampak manis sekali!" kata Hay Hay memuji gadis berikutnya yang tersipu-sipu malu-malu senang.

"Dan jarang ada gadis yang memiliki hidung serta mulut sepertimu, Nona," katanya lagi memandang gadis berbaju hijau, gadis ke enam. "Hidungmu kecil mancung, cocok sekali dengan mulutmu yang kecil dengan bibir yang penuh dan merah membasah. Amboiiiii...! Mata pria tak akan mau berkedip memandangi mulutmu itu. Engkau seorang gadis yang hebat!" Dan tentu saja gadis itu hanya dapat mengeluarkan suara "aahhh..." yang manja dan tersipu-sipu seperti yang lain.

"Dan engkau?" Hay Hay memandang kepada gadis ke tujuh atau yang terakhir. "Bentuk tubuhmu, Nona! Sungguh laksana setangkai bunga sedang mekar! Pinggangmu ramping, tubuhmu... sungguh menggairahkan setiap orang pria yang memandangnya. Semua pria dapat tergila-gila memandang bentuk tubuh seorang wanita seperti bentuk tubuhmu ini!"

Tujuh orang gadis itu semua telah mendapat giliran dipuji-puji oleh Hay Hay dan mereka yang menerima pujian menjadi girang bukan main, akan tetapi setiap kali Hay Hay memuji seorang gadis, yang lain merasa tak senang dan iri!

"Hemm, Kongcu...," kata gadis tertua yang kulitnya putih.

"Aihh, jangan menyebut Kongcu (Tuan Muda), membikin aku malu saja. Namaku Hay Hay dan kalian boleh saja menyebut aku Kakak Hay."

"Kakak Hay Hay yang baik," kata gadis tertua. "Engkau memuji kami semua, katakanlah siapa di antara kami yang kau anggap paling menarik?"

Gadis-gadis yang lain tersenyum dan tertawa, ikut pula mendesak dan suasana menjadi gembira sekali. Mereka tertawa-tawa, merubung Hay Hay yang menjadi girang sekali.

Dirubung tujuh orang gadis cantik dan segar itu, Hay Hay merasa seperti berada di taman kahyangan dikelilingi tujuh orang bidadari jelita! Dia pun tertawa-tawa gembira. Alangkah bahagianya hidup ini! Pada setiap keadaan terdapat hal-hal yang dapat dinikmati, yang mendatangkan rasa gembira di hati.

"Aku menjadi bingung kalau disuruh mengatakan siapa yang paling menarik. Habis semua menarik sih!" jawabnya sambil tertawa-tawa dan tujuh orang gadis itu pun tertawa semua. Senang rasa hati mereka karena selama hidup belum pernah mereka berjumpa dengan seorang pemuda yang begini menyenangkan hati.

"Andai kata engkau disuruh memilih salah seorang di antara kami untuk menjadi...," gadis berambut panjang itu berhenti, mukanya merah sekali dan dia tidak berani melanjutkan karena malu.

"Menjadi apa?" Hay Hay pura-pura tidak mengerti.

"Jadi itu tuuhh...!" sambung gadis bertahi lalat.

"Jadi pacarmu...!" akhirnya gadis tertua memberanikan diri berkata. "Engkau akan memilih yang mana, Hay-ko?"

Hay Hay tertawa bergelak di tengah-tengah ketujuh gadis itu. "Wah repotnya! Pilih yang mana, ya?" Dia memandang kepada mereka satu demi satu untuk menimbulkan suasana penuh harapan yang amat menegangkan hati mereka, kemudian menyambung, "aku pilih semuanya! Ha-ha-ha!"

Gadis-gadis itu menjerit kecil lantas tertawa-tawa dengan sikap manja dan genit. Mereka pun menikmati keadaan yang luar biasa, menggembirakan dan sekaligus membangkitkan gairah hidup dan semangat muda mereka. Mereka merasa demikian bebas dekat pemuda ini, bebas akan tetapi tidak merasa terancam. Pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar, pandang matanya demikian jenaka tetapi lembut, tanpa kandungan pandang mata penuh nafsu yang kurang sopan.

Biasanya mereka merasa betapa pandang mata pria pada saat ditujukan kepada mereka seolah-olah ingin meraba-raba tubuh mereka, bahkan seolah-olah sinar mata pria hendak menelanjangi mereka. Pemuda ini berbeda. Ucapan-ucapannya yang mengandung pujian bukan rayuan belaka, melainkan pujian yang wajar dan setengah kelakar.

Baik Hay Hay mau pun ketujuh gadis itu tidak tahu bahwa tidak jauh dari situ, di belakang semak-semak belukar, sejak tadi ada sepasang mata jeli yang mengintai dan mengikuti setiap gerakan mau pun kata-kata mereka. Sepasang mata yang sungguh tajam, yang kadang-kadang memancarkan kemarahan, tapi kadang-kadang juga kegembiraan. Pemilik sepasang mata ini adalah seorang dara yang berusia kurang lebih delapan belas tahun.

Terjadi hal lucu pada gadis pengintai ini ketika Hay Hay tadi memuji para gadis itu satu per satu. Kalau Hay Hay memuji rambut seorang di antara mereka, tak terasa lagi dia pun meraba rambutnya. Jika Hay Hay memuji hidung seorang gadis, dia pun otomatis meraba hidungnya sendiri dan seterusnya. Pada waktu Hay Hay dirubung oleh para gadis itu dan mereka semua tertawa-tawa dengan girang, gadis pengintai itu mengerutkan alisnya dan mengamati mereka dengan pandang mata tajam.

"Hemmm, Si Mata Keranjang!" berkali-kali mulutnya mengeluarkan bisikan mendesis dan pandang matanya terhadap Hay Hay menjadi keras dan semakin tajam.

Para gadis itu sampai lupa waktu ketika mereka bersenda gurau dengan Hay Hay. Semua bekal roti dan dendeng pemuda itu sudah habis mereka makan, dan sekarang Hay Hay menanyakan nama mereka. Seperti sekelompok burung, dengan suara merdu dan gaya masing-masing, mereka lalu memperkenalkan nama mereka.

Pada saat itu pula datanglah belasan orang laki-laki tua muda. Mereka datang dari dusun karena mereka adalah penghuni dusun itu, ada yang menjadi ayah atau kakak dari para gadis yang sedang bersenda gurau dengan Hay Hay. Tadi ada seorang anak kecil melihat betapa gadis-gadis itu merubung seorang pemuda asing dan tertawa-tawa, maka dia pun segera berlari ke dusun dan melaporkan kepada para penduduk. Berkumpullah belasan orang dan mereka kini menuju ke tepi sungai kecil.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak seorang kakek kepada mereka.

Pada waktu itu Hay Hay dan ketujuh orang gadis itu sedang bercakap-cakap dan mereka tertawa-tawa mendengarkan sebuah dongeng yang diceritakan Hay Hay kepada mereka, sebuah dongeng lucu.

Mendengar bentakan itu, terkejutlah tujuh orang gadis itu lantas mereka semua menoleh. Kiranya kepala dusun sendiri yang menegur mereka dan tentu saja mereka menjadi amat ketakutan, cepat mengumpulkan cucian mereka dan mundur menjauhi Hay Hay.

"Tidak-apa-apa, kami hanya bercakap-cakap...," gadis tertua mewakili kawan-kawannya menjawab, memandang dengan lugu karena memang tidak merasa bersalah, akan tetapi takut karena sikap kepala dusun itu seperti orang marah.

"Siapa dia?" Kepala dusun itu menuding ke arah Hay Hay yang telah turun dari batu besar yang didudukinya tadi.

"Dia... Hay-ko dan baru saja kami berkenalan dan..."

"Tidak pantas anak perawan bercengkerama dengan pria yang asing, bersenda gurau tak mengenal sopan santun. Hayo lekas kalian pulang sana!" bentak Kepala Dusun dengan nada marah.

Tujuh orang gadis itu semakin ketakutan. Merekar melempar pandang ke arah Hay Hay dengan tatapan khawatir sekali, takut kalau-kalau pemuda yang menyenangkan itu akan dipukuli orang-orang dusun yang kelihatannya amat marah itu.

"Dia tidak melakukan apa pun yang tidak pantas! Dia tidak bersalah apa-apa...!" teriak gadis bertahi lalat yang masih terhitung keponakan dari kepala dusun.

"Diam kau! Cepat pulanglah kalian, anak-anak tidak tahu malu!" bentak Kepala Dusun dan sekarang tujuh orang gadis itu tak berani membantah lagi, segera berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, akan tetapi mereka menengok dan menengok lagi.

Sementara itu, kini Kepala Dusun bersama belasan orang penduduk dusun menghampiri Hay Hay yang sudah turun dan pemuda itu tersenyum, bahkan lalu menjura dengan sikap hormat.

"Lopek yang baik, harap jangan memarahi adik-adik itu. Mereka tidak melakukan sesuatu yang salah. Kami hanya bercakap-cakap saja sesudah saling berkenalan. Saya bernama Hay Hay dan kebetulan lewat di sini. Melihat mereka selesai mencuci pakaian, saya lalu menawarkan roti dan daging kering. Kami pun makan bersama, bercakap-cakap dan tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, Lopek. Kalau memang hal itu dianggap salah, biarlah saya yang bersalah, akan tetapi adik-adik yang baik itu sama sekali tidak bersalah."

Kepala dusun itu bersama yang lain-lain, tertegun melihat sikap pemuda yang hormat dan kata-kata yang halus itu. Mereka saling pandang dan tahulah mereka kini bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang selain tampan dan berpakaian seperti seorang pelajar yang beruang, juga kata-katanya halus dan sopan seperti juga sikapnya. Kepala dusun itu merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap keras. Siapa tahu pemuda ini masih berdarah bangsawan atau setidaknya putera seorang berpangkat tinggi di kota!

"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya merasa tidak pantas sekali jika gadis-gadis bercengkerama dengan seorang laki-laki asing di tempat sunyi begini," katanya. "Kongcu siapakah, datang dari mana dan ada keperluan apakah mengunjungi dusun kami ini? Aku adalah kepala dusun di sini, maka berhak untuk mengenal setiap orang tamu asing yang berada di wilayah kami."

Hay Hay tersenyum dan menjura lagi, kini kepada kakek itu. "Ahh, ternyata saya sedang berhadapan dengan Chung-cu (Kepala Kampung). Maafkan jika saya mengganggu, akan tetapi sesungguhnya seperti yang saya katakan tadi, saya hanya kebetulan saja lewat di sini dan saat melihat keindahan pemandangan sekitar tempat ini, saya bermaksud untuk bermalam di dusun. Kebetulan saya berjumpa dan berkenalan dengan gadis-gadis tadi, harap Chung-cu tidak menyangka yang tidak baik. Nama saya Hay Hay dan saya seorang perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap."

Berubah lagi pandangan mereka sesudah mendengar bahwa pemuda itu seorang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Seorang pemuda dusun itu yang bertubuh tinggi besar dan berwajah galak segera melangkah maju lantas menudingkan telunjuknya. "Tentu saja kami menyangka buruk melihat betapa engkau berani merayu gadis-gadis kami. Sungguh kurang sopan bagi seorang laki-laki yang baru saja datang untuk bersenda gurau dengan gadis-gadis kami!"

Pemuda ini menaruh hati terhadap gadis yang bertahi lalat di dagunya dan sejak tadi dia sudah merasa cemburu dan iri hati sekali terhadap pemuda tampan ini, apa lagi melihat betapa gadis yang dicintanya itu nampak membela Si Pemuda Asing.

Kembali Hay Hay hanya tersenyum menghadapi hardikan ini. "Maaf, sungguh aku tidak mengerti mengapa hanya berbicara dan bersenda gurau secara baik-baik saja dianggap tidak sopan? Kalau aku berbuat tidak sopan, tentu gadis-gadis itu sudah menjadi marah atau melarikan diri. Sebaliknya, mereka suka bersahabat dan makan bersama-sama aku di sini!"

"Karena engkau adalah orang kota yang pandai merayu! Tentu engkau hendak memikat gadis-gadis dusun dengan rayuanmu itu, ya? Lebih baik engkau segera minggat dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan menghajarmu sampai babak belur!" pemuda itu mengancam dengan hati panas dan dengan kedua tangan terkepal.

Hay Hay tidak menjadi marah. Ia malah tersenyum lebar sambil memandang pemuda itu. "Engkau sungguh mengagumkan, sobat. Karena cintamu kepada salah seorang di antara adik-adik itu, maka engkau menjadi panas hati dan hendak menghajarku."

Pemuda itu terbelalak, mukanya menjadi merah, sementara itu beberapa orang temannya tertawa mendengar ini karena mereka memang sudah tahu bahwa temannya ini jatuh hati kepada gadis bertahi lalat yang nama panggilannya Siauw Lan itu.

"Sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Pergilah sekarang juga!" pemuda itu menghardik dan maju semakin dekat, siap untuk memukul.

Hay Hay tetap tenang dan kini dia memandang kepada kepala dusun yang semenjak tadi hanya diam saja menjadi penonton. "Lo-chung-cu, sudah benarkah saya diusir dari dusun ini tanpa dosa? Bagaimana kalau saya pergi kemudian aku mengabarkan perlakuan dan sikap kalian terhadap para tamu yang datang ke dusun ini?"

Kepala Dusun menjadi bimbang. Siapa tahu pemuda tampan itu benar-benar putera atau setidaknya sahabat dari pejabat-pejabat tinggi di kota! Dia pun menengahi lantas menarik lengan pemuda itu agar mundur.

"Sudahlah, selama tidak ada keluhan dan laporan dari anak-anak gadis kami, maka kami habiskan saja perkara ini. Akan tetapi, untuk menjaga supaya tidak terjadi keributan, kami harap agar Kongcu suka pergi dari sini."

"Saya bukan tuan muda, dan harap jangan sebut saya dengan kongcu. Dan saya sudah memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Apakah seorang yang melakukan perjalanan dilarang untuk berhenti di sini barang satu dua malam?"

Kepala dusun itu menarik napas panjang. Pemuda ini terlalu tenang dan sikapnya amat ramah dan baik, tak pernah memperlihatkan sikap sombong atau marah. Tidak baik kalau terus bersikap kaku.

"Terserah kepadamu, orang muda. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dusun kami tidak ada penginapan dan para penduduk tentu tak akan ada yang suka menerima engkau sebagai tamu. Jika engkau suka bermalam di tempat terbuka seperti di sini, terserah kepadamu."

Sesudah berkata demikian, kepala dusun itu lalu mengajak orang-orangnya untuk pulang ke dusun sebab mereka harus melakukan pekerjaan masing-masing. Pemuda tinggi besar itu masih memandang dengan mata tajam kepada Hay Hay, kemudian, sebelum dia pergi bersama yang lain, dia masih sempat dia mengancam.

"Awas, kalau kau berani mendekati gadis-gadis kami lagi, aku benar-benar akan mencari dan menghajarmu!"

Hay Hay hanya tersenyum dan menggerakkan pundaknya sambil menduga-duga, gadis yang mana dari ketujuh gadis tadi yang dicinta pemuda ini. Kasihan gadis itu, tentu kelak akan menjadi bulan-bulan kemarahan pemuda ini kalau sudah menjadi suaminya karena pemuda ini pencemburu benar.

Karena tidak diperbolehkan bermalam di dalam rumah penduduk di dalam dusun itu, Hay Hay lalu mulai mencari tempat untuk melewatkan malam. Memang daerah sekitar dusun itu indah sekali, tanahnya subur dan dusun itu dikelilingi bukit-bukit yang penuh dengan hutan-hutan yang lebat.

Akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi, yang letaknya di tepi hutan pada sebuah lereng bukit, hanya beberapa li jauhnya dari dusun itu. Ketika dia berdiri di depan kuil tua itu, nampaklah dusun itu, kelihatan genteng-genteng rumahnya dan teringatlah dia akan ketujuh orang gadis manis tadi dan dia pun tersenyum gembira.

Sebuah dusun yang subur dengan pemandangannya yang indah, dengan gadis-gadisnya yang segar dan manis. Sayang para penghuninya salah paham dan mengira dia hendak berbuat kurang ajar. Kurang ajarkah dia? Tidak sopankah dia? Dia tak mampu menjawab, hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya kemudian dia pun mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam di dalam kuil itu.

Dia menemukan ruangan dalam yang sangat bersih. Untung, pikirnya, agaknya baru saja ada pelancong yang juga kebetulan lewat dan bermalam di situ, karena ruangan itu bersih dan kelihatan bekas-bekas bahwa ada orang yang membersihkannya, bahkan membuat api unggun di situ. Dengan perasaan lega dia melepaskan buntalan yang dipanggulnya di punggungnya, lalu duduk bersila melepaskan lelah di lantai yang sudah dibersihkan orang lain untuknya itu.

Dia tidak tahu bahwa orang lain yang membersihkan lantai itu untuknya, sekarang sedang mengintai dari jauh sambil mengomel panjang pendek. "Sial dangkalan! Susah-susah aku membersihkan ruangan itu, yang memakai orang lain dan pemuda yang mata keranjang itu lagi!"

Ternyata yang mengomel panjang pendek ini adalah seorang gadis bermata tajam, bukan lain adalah gadis yang tadi melakukan pengintaian pada waktu Hay Hay bersenda gurau dengan tujuh orang gadis dusun.

Dengan perasaan gemas gadis itu lantas berloncatan. Gerakannya demikian ringan dan cepatnya sehingga kalau ada orang yang melihatnya tentu akan tercengang keheranan. Dengan muka merah saking marahnya, gadis itu telah memasuki kuil tanpa mengeluarkan suara dan tahu-tahu dia sudah berada di dalam ruangan di mana Hay Hay masih duduk bersila. Senja telah datang, namun matahari belum kehilangan semua sinarnya sehingga di dalam ruangan kuil rusak itu masih cukup terang.

"Heiii...!" Gadis itu menghardik dengan suara nyaring.

Hay Hay terkejut sekali, membuka kedua matanya dan begitu dia melihat wajah gadis itu, dia pun meloncat bangun dan dengan mata terbelalak dia pun berseru.

"Heiii...!" seruan yang mengejutkan hati gadis itu pula.

"Ada apa kau berteriak seperti orang gila?!" bentaknya.

"Waaah, itu... wajahmu itu..." Gadis itu otomatis membawa kedua tangan ke wajahnya. Apakah pipinya coreng-moreng?

"Rambutmu itu...!" Hay Hay melanjutkan dan kembali Si Gadis meraba kepalanya, takut kalau-kalau rabutnya awut-awutan.

"Matamu...! Hidungmu...! Mulutmu...! Tahi lalat di dagumu! Kulitmu dan bentuk tubuhmu!"

"Heiii! Apakah engkau sudah gila?" teriak gadis itu, merasa dipermainkan.

"Tidak, tidak, siapa yang mempermainkan? Tetapi, engkau tentu bidadari dari kahyangan! Atau siluman! Mengapa begitu cepat engkau mengambil alih setiap keindahan dari tujuh orang gadis dusun tadi? Lihat, wajahmu berbentuk bulat telur, sepasang matamu seperti mata bintang, hidungmu mancung, mulut kecil merah membasah, rambutmu hitam gemuk panjang, kulitmu putih halus, bentuk tubuhmu ramping dan indah. Masih ditambah pula dengan tahi lalat di dagumu! Lengkaplah sudah!"

Bukan main marahnya gadis itu. Dia memang merasa jantungnya berdebar girang akibat pujian-pujian itu, akan tetapi dia dimaki siluman!

"Engkau bilang aku siluman? Engkaukah yang monyet, munyuk, cacing, kecoa, anjing, babi dan tikus!"

Mendengar makian-makian itu nyerocos keluar dari mulut yang manis itu, mata Hay Hay terbelalak dan mengangkat kedua tangan ke atas. "Ampun ya para dewi! Kenapa engkau marah-marah dan memaki-maki aku seperti itu?"

"Huh, apakah kau kira aku akan bersikap seperti perawan-perawan dusun yang menjadi lemah dan takluk menghadapi semua rayuan gombalmu itu? Jangan harap, ya!" Gadis itu mengeluarkan suara dari hidung dengan sikap mengejek dan memandang rendah, tangan kirinya dikibaskan seperti orang mengusir lalat.

Hay Hay terpesona. Selama perjalanannya, sesudah dia menjadi dewasa dan berkenalan dengan banyak wanita, rasanya belum pernah dia berjumpa dengan seorang gadis yang demikian hebat dan kuat daya tariknya! Dan dia tadi tidak sekedar memuji atau merayu.

Gadis itu bertubuh ramping, kulit tubuhnya putih mulus, rambutnya hitam panjang dikuncir dan digelung, dihias dengan perhiasan rambut yang indah. Mukanya bulat telur, hidungnya kecil mancung, matanya tajam seperti bintang, mulutnya kecil berbibir merah membasah, dan di dagunya ada setitik tahi lalat hitam. Semua keistimewaan tujuh orang gadis dusun itu ditemui dalam diri gadis ini!

Dan semua kehebatan ini dimiliki seorang gadis yang luar biasa galaknya! Galak laksana setan, datang-datang memaki-maki dirinya dan dalam pandang mata yang bersinar tajam itu nampak jelas keganasan serta kekerasan hatinya. Melihat pakaiannya yang indah dan caranya bicara, dia dapat menduga bahwa gadis ini bukan seorang gadis dusun.

"Ya ampun...! Apakah kesalahan hamba terhadap paduka maka paduka puteri yang agung menjatuhkan kemarahan yang demikian besarnya terhadap diri hamba?" Hay Hay masih berusaha untuk meredakan kemarahan gadis itu dengan sikapnya yang terlampau hormat dan lucu.

Akan tetapi gadis itu agaknya sama sekali tidak tertarik dengan sikap Hay Hay dan tidak mau melayani kelakarnya. "Laki-Iaki mata keranjang! Akulah yang membersihkan ruangan ini, dan engkau yang baru datang mau enak-enak saja memakainya? Hayo segera pergi tinggalkan tempat istirahatku ini!"

"Ampun, Dewi...! Kiranya begitu?" Hay Hay benar-benar tertegun mendengar ini, bukan hanya karena dia telah memakai tempat yang telah lebih dulu ditemukan dan dibersihkan orang lain, juga amat terheran-heran mendengar bahwa gadis secantik itu memilih tempat ini untuk istirahat.

Kalau bukan orang yang tabah sekali tentu akan merasa ngeri bermalam di tempat yang menyeramkan ini. Biasanya kuil-kuil tua seperti ini, apa lagi di pinggir hutan yang sunyi, akan dikabarkan sebagai tempat yang dihuni oleh setan-setan dan iblis-iblis, atau paling tidak oleh makhluk halus dan siluman.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja tubuh itu berkelebat dan tahu-tahu jari tangan yang mungil itu sudah menyentuh jalan darah di ubun-ubun kepalanya. Diam-diam dia kaget bukan main. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dia maklum bahwa sekali saja wanita itu menggerakkan jari tangannya menyerang, maka dia akan tewas!

"Engkau mengenalku?"

Hay Hay terbelalak dan menggelengkan kepala. "Tidak... tidak... Dewi..."

"Kalau begitu, siapa yang memberi tahu bahwa aku berjuluk Sian-li (Dewi)?" Jari tangan itu masih juga belum meninggalkan ubun-ubun kepalanya.

"Maaf, tak ada orang yang memberi tahu, dan juga aku tidak tahu bahwa engkau berjuluk Sian-li. Aku menyebut Dewi karena engkau demikian cantik dan agung bagaikan seorang dewi... maafkan aku..." Hay Hay merasa tegang bukan main karena nyawanya berada di ujung jari wanita itu, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu.

Agaknya hal inilah yang menyelamatkannya. Dara itu melangkah mundur dan mengomel, "Perayu...!"

Diam-diam Hay Hay bernapas lega. Baru saja dia lolos dari maut yang amat mengerikan dan kini tahulah dia bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, sebab kalau tidak tentu tak akan mampu mengancam ubun-ubun seperti itu. Sekali ini dia harus bersikap waspada.

"Maafkan aku, Nona. Sesungguhnya bukan maksudku untuk merayu apa lagi kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ruangan dalam kuil ini sudah ada yang menempatinya lebih dahulu. Kalau begitu, maafkan, aku akan pindah saja ke ruangan lain, di belakang atau di depan." Berkata demikian Hay Hay mengambil buntalan pakaian dan bekalnya, lalu menggendongnya.

Sejenak gadis itu memandangnya penuh perhatian, lalu berkata, suaranya ketus. "Engkau harus meninggalkan kuil ini, tak boleh tinggal di belakang atau di depan, bahkan di pekarangan pun tidak boleh. Engkau harus pergi meninggalkan tempat ini sampai tidak nampak dari sini, dan jangan mencoba-coba untuk mengganggu aku!"

Aduh galaknya, pikir Hay Hay. Sayang gadis secantik jelita seperti ini memiliki watak yang demikian galak. "Tapi, Nona. Aku tidak akan mengganggumu, dan kiranya engkau pun hanya orang lewat saja yang kemalaman dan singgah di kuil ini. Kuil tua ini tidak ada yang punya, bukan? Siapa saja boleh beristirahat di sini..."

"Cukup! Tahukah engkau bahwa baru saja nyawamu tadi nyaris melayang? Aku tak biasa mengampuni orang untuk kedua kalinya, maka pergilah dan jangan banyak membantah lagi! Thiat-sim Sian-li hanya berbicara satu kali, tidak akan dua kali! Yang kedua kalinya, tanganku yang bicara dan nyawamu pasti melayang! Pergi!"

Hay Hay mengerutkan kedua alisnya. Hatinya merasa kecewa sekali. Gadis ini demikian cantik jelita dan manis, namun juga demikian galak, ganas dan keras! Ingin dia mencoba kepandaian gadis ini, akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia melakukan hal itu, tentu akan menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati gadis yang ganas ini.

Apa bila dia menang, tentu gadis ini akan membencinya, dan kalau sebaliknya dia kalah, besar kemungkinan dia akan mati terbunuh. Dia tidak mau mati, juga tidak ingin dibenci seorang gadis yang secantik ini, tanpa sebab penting. Hanya memperebutkan tempat di kuil kuno dan kotor ini, tidak cukup berharga untuk dijadikan bahan pertentangan. Dia pun tersenyum dan menjura.

"Baiklah, Nona, aku pergi dan mudah-mudahan malam ini Nona akan dapat tidur nyenyak di tempat yang seram dan banyak setannya ini. Selamat tinggal." Dan dia pun melangkah pergi, diikuti pandang mata gadis itu yang mengerutkan alisnya.

Tak sedap rasa hatinya mendengar ucapan Hay Hay itu. Tentu saja dia tidak takut setan, akan tetapi bayangan-bayangan yang menyeramkan bisa saja mengganggu tidurnya nanti malam.

"Sialan," gerutunya, "bertemu dengan pemuda berandalan mata keranjang!"

Siapakah gadis berjuluk Thiat-sim sian-li (Dewi Berhati Besi) yang galak dan ganas itu? Ia adalah puteri tunggal Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang sekarang masih menjadi orang hukuman di kuil Siauw-lim-si di pinggir sungai Cin-sha itu! Namanya adalah Bi Lian, Siangkoan Bi Lian. Akan tetapi dia sendiri mengenal dirinya sebagai Cu Bi Lian, puteri Cu Pak Sun petani di dusun tidak jauh dari kuil itu.

Hal ini disengaja oleh Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Mereka menghendaki agar untuk sementara puteri mereka itu tidak tahu bahwa orang-orang yang dipanggil suhu dan subo sebenarnya adalah ayah dan ibu kandungnya sendiri. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga agar keadaan puteri mereka tetap rahasia dan tersembunyi tidak diketahui oleh para hwesio, dan ke dua, agar puterinya itu tidak menjadi prihatin jika mendengar bahwa ayah ibu kandungnya menjadi orang-orang hukuman di kuil Siauw-lim-si.

Sebab itu semenjak kecil Bi Lian menganggap dirinya adalah puteri keluarga Cu sehingga dia pun memakai nama Cu Bi Lian. Sering kali di waktu malam suhu dan subo-nya datang berkunjung, dan memang sejak kecil dia dilatih dan digembleng oleh mereka.

Akan tetapi pada suatu hari, ketika Bi Lian berusia kurang lebih sepuluh tahun, terjadilah peristiwa yang amat hebat di dusunnya yang kecil itu. Kejadian yang tak pernah diimpikan oleh para penduduk dusun, mala petaka hebat yang menimpa dusun itu sehingga hampir menghancurkan dan membinasakan semua penduduknya.

Memang penduduk dusun itu sedang mengalami nasib sial karena pada suatu malam, muncullah dua orang manusia iblis di dusun itu. Mereka ini bukan lain adalah Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Empat Setan yang terkenal jahat dan kejam, juga mempunyai kesaktian yang luar biasa itu. Dua orang ini memang sudah berjanji hendak saling bertemu di Pegunungan Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sha dan kebetulan sekali mereka saling bertemu di dusun itu!

Mula-mula, pada sore hari itu, seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya brewok, kulitnya hitam, matanya lebar dan sikapnya menakutkan sekali, dengan sikap acuh memasuki dusun. Karena kakek ini merupakan orang asing, dan pakaiannya penuh debu, sepatunya compang-camping, para penduduk menyangka bahwa dia adalah seorang dusun yang biasanya bersikap polos dan ramah.

Mereka mencoba untuk menyapanya. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak menjawab, malah menengok pun tidak, hanya berjalan saja dengan kepala tunduk, mulutnya kemak-kemik. Kakek ini kemudian berkeliaran di dalam dusun itu tanpa tujuan, sedikit pun tidak pernah tersenyum, nampak galak dan kedua mata yang lebar itu mencorong menakutkan.

Para penduduk dusun menjadi ketakutan dan menyangka dia seorang yang terlantar dan gila. Mereka tidak tahu bahwa kakek raksasa yang mereka sangka gila ini adalah seorang manusia iblis yang amat lihai dan berjuluk Tung-hek-kwi, seorang di antara Empat Setan yang membuat semua tokoh kang-ouw gemetar kalau melihatnya!

Akhirnya kakek itu duduk di tepi jalan, di bawah sebatang pohon besar. Agaknya bukan hanya para penduduk dusun itu saja yang menaruh curiga terhadap kakek ini, juga dua ekor anjing dusun datang menyerbu, menggonggong dan menyalak di sekeliling kakek itu, nampak marah akan tetapi juga takut-takut. Beberapa orang penduduk hanya menonton saja dari jauh, tidak mencoba untuk memanggil anjing-anjing itu karena mereka hendak melihat apa yang akan dilakukan kakek raksasa yang mereka sangka gila itu.

Pada mulanya Tung-hek-kwi yang merasa terganggu oleh sikap dua ekor anjing itu hanya mendengus untuk mengusir mereka. Akan tetapi, setelah melihat bahwa seekor di antara kedua anjing itu berbulu hitam mulus dan gemuk sekali, matanya lalu terbelalak. Tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dua ekor anjing itu sudah ditangkap pada lehernya! Dua ekor anjing itu menguik-nguik dan Tung-hek-kwi membanting anjing belang yang ditangkap dengan tangan kirinya.

"Ngekkk...!" Pecah kepala anjing itu dan tak mampu bergerak lagi.

Kemudian, anjing hitam gemuk yang masih dicengkeram tangan kanannya dengan jari-jari panjang besar, yang masih menguik-nguik dan meronta-ronta ketakutan itu, dipegangnya dengan kedua tangannya dan sekali dia menggerakkan tangan itu menarik, terdengarlah suara robek dan pekik maut anjing itu yang tubuhnya telah terobek menjadi dua potong!

Darah muncrat dan seperti orang kehausan, kakek itu cepat menjilat dan mencucup darah anjing hitam yang terus bercucuran itu! Melihat ini, semua orang yang menonton dari jauh segera terbelalak penuh kengerian, dan anak-anak sudah berlari-larian menyembunyikan diri dengan muka pucat.

"Wah, kau lahap dan rakus, Tung-hek-kwi!" Tiba-tiba saja muncul seorang kakek gendut yang bukan lain adalah Pak-kwi-ong. Dia menghampiri rekannya yang masih menikmati darah anjing hitam itu. "Uwahhh...! Anjing hitam! Hebat, obat kuat, jangan dihabiskan, aku pun perlu darahnya!"

"Huh, siapa yang rakus?" bentak Tung-hek-kwi kemudian dia pun melemparkan potongan anjing hitam di tangan kanannya.

Pak-kwi-ong cepat menerimanya dan terus menjilat dan menghisap darah anjing itu pula. Sungguh mengerikan melihat dua orang kakek tua renta ini duduk di bawah pohon sambil menjilati darah anjing hitam, kemudian mereka mulai mengganyang daging anjing dengan menggerogotinya begitu saja!

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang sahabat yang baik, Setan Hitam. Menyambut aku dengan suguhan yang segar dan menyehatkan!" kata Pak-kwi-ong sambil tertawa-tawa, ada pun Tung-hek-kwi tetap makan tanpa senyum, hanya kedua matanya yang lebar itu jelalatan ke sana-sini.