Social Items

KETIKA melihat sepak terjang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi tadi, Hay Hay merasa kagum bukan main karena mendapat kenyataan bahwa mereka itu jauh lebih lihai dibandingkan dengan dua pasang suami isteri iblis itu. Akan tetapi kemudian muncul pengemis itu dan pendeta yang luar biasa ini, maka tentu saja hatinya menjadi bimbang. "Biarkan aku mengenakan pakaianku dulu," katanya.

Pendeta Lama itu tersenyum ramah, lalu menyerahkan pakaiannya, malah membantunya memakai bajunya. Sesudah selesai berpakaian, Hay Hay lalu menuju ke tengah lapangan itu, memandang empat orang itu satu demi satu. Masih sukar dia menentukan sehingga dia memandang ragu-ragu.

Dia suka menjadi murid seorang di antara mereka, mempelajari ilmu yang tinggi supaya kelak dia dapat melakukan penyelidikan sendiri mengenai dirinya. Dia harus mencari ayah bundanya yang asli, dan dia yang akan memberi hajaran kepada orang-orang seperti dua pasang suami isteri tadi. Dia harus mendapatkan guru yang paling pandai. Paling pandai! Itulah ukurannya untuk memilih!

"Aku ingin berguru kepada orang yang paling pandai di antara Locianpwe berempat. Kini silakan para Locianpwe mengadu kepandaian dan siapa yang paling tinggi kepandaiannya dan menang dalam pertandingan ini, nah, dialah guruku."

"Anak setan...!" Tung-hek-kwi menyumpah.

"Omitohud...!" Se-thian Lama berseru.

Dua orang kakek lainnya, yaitu Pak-kwi-ong dan Ciu-sian Sin-kai tertawa bergelak-gelak mendengar kata-kata Hay Hay itu.

"Ha-ha-ha-ha, anak baik, ketahuilah bahwa di antara Delapan Dewa tidak ada yang saling bertanding. Aku suka mengalah kepada See-thian Lama dan dia pun pasti suka mengalah kepadaku. Akan tetapi entah dengan dua orang dari Empat Setan ini. Nah, bagaimana Pak-kwi-ong? Engkau hanya tertawa saja. Apakah engkau ingin memasuki... ha-ha-ha-ha, sayembara ini?" Kata Ciu-sian Sin-kai sambil tertawa geli.

"Heh-heh, aku sungguh tidak tahu diri kalau berani menandingi Pat Sian! Akan tetapi, kini muncul kesempatan bagiku untuk menguji satu jurus pukulanku yang paling akhir. Begini saja, Ciu-sian Sin-kai, karena di antara Pat Sian hanya engkau yang paling cocok dengan aku, karena kita sama-sama suka bergembira, bagaimana kalau engkau membantu aku dan menguji jurusku itu?' Satu jurus saja dan aku akan mengerti sudah, apakah aku harus melangkah terus ataukah mundur.”

Ciu-sian Sin-kai mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia menyukai ketegasan sikap salah seorang di antara Empat Setan yang memang paling suka berkelakar ini walau pun hatinya amat kejam.

"Boleh, boleh, hanya aku khawatir tulang-tulangku yang sudah tua ini akan menjadi remuk nanti dan berarti dalam usia setua ini engkau akan menjadi pembunuh lagi. Ha-ha-ha, itu namanya menambah dosa saja!"

"Heh-heh, usia kita sebaya, Sin-kai. Jika sampai engkau mati berarti aku tidak keterlaluan dan tidak menjadi buah tertawaan orang sedunia. Nah, mari kita bersiap."

"Anak baik, kau minggirlah dulu," kata Sin-kai sambil mendorong pundak Hay Hay dengan lembut.

Anak ini melangkah minggir untuk memberi tempat kepada dua orang kakek yang hendak mengadu ilmu. Diam-diam anak ini merasa girang bukan main. Kalau dia berhasil menjadi murid orang terpandai di antara mereka ini, sungguh hal itu amat menyenangkan.

"Pak-kwi-ong, aku sudah siap," kata Ciu-sian Sin-kai.

Kakek ini sama sekali tidak berani memandang rendah kepada lawannya. Dia tahu siapa adanya Empat Setan yang beberapa puluh tahun yang lalu sudah amat terkenal di dunia persilatan kalangan atas. Orang semacam Empat Setan, apa lagi yang sikapnya gembira seperti Pak-kwi-ong, harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan.

Oleh karena itu, biar pun nampaknya dia berdiri santai saja, namun tubuh tua itu berada dalam keadaan siap siaga, seluruh tubuhnya dialiri hawa sinkang yang sukar dapat diukur kekuatannya. Bahkan tangan kanannya sudah memegang senjata yang juga menjadi alat musiknya, yaitu suling yang terbuat dari kayu berwarna hitam.

Pak-kwi-ong juga tidak mau membuang waktu lagi. Dia bersikap cerdik ketika satu jurus ilmunya minta diuji oleh Ciu-sian Sin-kai. Kalau dia menantang berkelahi, dia meragukan apakah dia akan mampu keluar dengan nyawa masih menempel di tubuhnya.

Ujian hanya satu jurus ini, andai kata dia gagal dan kalah sekali pun, maka dia masih bisa keluar dengan selamat dan satu jurus saja telah cukup baginya untuk menguji. Jurus yang akan dikeluarkan ini adalah jurus terampuh dan kalau jurus ini tidak mampu mengalahkan Sin-kai, maka jurus-jurus lainnya tidak akan ada artinya lagi.

Dengan kedua kakinya yang nampak pendek karena berbentuk bulat, dia melangkah maju sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian tampak uap tebal mengepul dari telapak tangannya.

Dapat dibayangkan kehebatan tenaga sinkang kakek ini. Ketika muncul di sana, tenaga saktinya telah datang menerpa bagai badai yang membuat daun-daun kering beterbangan dan kini dia mengumpulkan seluruh kekuatannya pada kedua telapak tangannya, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya kedua telapak tangan yang telah diisi tenaga sakti itu.

"Sin-kai, terimalah seranganku ini!" Kakek gendut botak itu berseru dengan suara nyaring seperti bentakan.

Kakek ini adalah seorang datuk sesat yang kejam, akan tetapi juga cerdik sekali. Selain mengerahkan seluruh kekuatan dan menggunakan jurus terampuh dalam serangan yang hanya satu kali ini, juga dia memakai sopan-santun memberi peringatan terlebih dulu. Hal ini dilakukan karena dia belum yakin benar akan dapat mengalahkan lawan ini dalam satu serangan itu. Andai kata yang diserangnya itu adalah orang yang tingkatnya lebih rendah dan dia yakin akan sanggup merobohkannya, tentu dia akan turun tangan tanpa banyak aturan lagi.

"Wuuuuttt...!"

Angin dari hawa pukulan itu menyambar dahsyat ketika Pak-kwi-ong menerjang ke arah Ciu-sian Sin-kai. Ternyata jurus pukulan itu hanya sederhana saja, tangan kiri menampar dari atas ke arah kepala sedangkan tangan kanan menghantam lurus dari depan ke arah dada. Biar pun sederhana, jangan harap pukulan ini akan dapat dihindarkan oleh ahli-ahli silat kebanyakan saja karena pada kedua lengan itu terkandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Dan hebatnya, meski pun nampaknya tidak begitu cepat, namun Ciu-sian Sin-kai, seorang di antara Delapan Dewa, melihat bahwa pukulan dari Si Gendut itu tidak mungkin dapat dielakkan karena hawa pukulan itu sudah membuat semua jalan keluar tertutup. Apa bila orang memaksa diri untuk mengelak, tentu akan terkena pukulan, betapa pun cepatnya dia mengelak. Satu-satunya jalan untuk menghadapi pukulan kedua tangan itu hanyalah menyambutnya dengan tangkisan.

Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak-kwi-ong. Dia hendak memaksa lawan menggunakan tenaga menyambutnya untuk mengadu tenaga! Dan karena ini pula maka dia langsung mengerahkan seluruh tenaganya pada kedua tangan.

Akan tetapi Ciu-sian Sin-kai tidak merasa gentar. Juga sebagai seorang datuk persilatan yang sudah memiliki tingkat tinggi sekali, dia tidak kekurangan akal. Dengan tenang saja dia lalu menyalurkan tenaga sinkang dari pusarnya ke arah kedua tangan, lebih banyak ke tangan kiri dari pada tangan kanan.

Tangan kanan yang memegang suling hitam itu lantas bergerak, menggunakan sulingnya untuk menyambut dan menotok ke arah telapak tangan kiri Pak-kwi-ong yang menampar dari atas ke arah kepalanya. Karena dia menyambut tamparan itu dengan totokan, bukan tangkisan, maka dia tak perlu mengerahkan terlampau banyak tenaga. Ujung tongkatnya menyambar ke arah jalan darah yang menjadi pusat, yaitu di antara pangkal telunjuk dan ibu jari. Ada pun tangan kirinya, dengan jari-jari terbuka, menyambut hantaman lawan dari depan. Dia menerima tantangan adu tenaga itu.

Melihat sambaran ujung suling, Pak-kwi-ong maklum bahwa besar kemungkinan tangan kirinya akan tertotok dan hal itu dapat mengakibatkan kelumpuhan. Oleh karena itu, dia terpaksa miringkan sedikit tangan kirinya yang menampar agar ujung suling itu mengenai bagian lain dari telapak tangannya, lantas dengan nekat dia pun mengadu tenaga dengan tangan kanannya yang terbuka, menghantam dahsyat ke arah telapak tangan kiri lawan yang berani menyambutnya.

"Plakk...! Dessss...!"

Hebat bukan main pertemuan tenaga dua kali itu, terutama yang terakhir ketika tangan kanan Pak-kwi-ong bertemu dengan tangan kiri Ciu-sian Sin-kai. Tubuh Hay Hay sampai terpelanting dan para tokoh lain dapat merasakan getaran yang hebat ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu.

Tubuh Ciu-sian Sin-kai yang kurus itu masih berdiri tegak dengan mulut tetap tersenyum, akan tetapi tubuh Pak-kwi-ong yang gendut itu terdorong mundur sampai lima langkah! Jelaslah bahwa Pak-kwi-ong kalah dalam adu tenaga itu dan dia pun terkejut bukan main, merasa untung bahwa dia tadi hanya menantang untuk satu kali atau satu jurus serangan saja.

Jurus itu pun tidak dilanjutkannya karena lengkapnya masih ada susulan tendangan. Dari pertemuan tenaga tadi saja dia maklum alangkah hebatnya tokoh dari Delapan Dewa ini. Bukan nama kosong belaka. Isi dadanya sampai terguncang dan dia pun cepat menahan napas untuk menghimpun hawa murni. Kemudian, sambil tersenyum menyeringai dia pun mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Memang kepandaian Ciu-sian Sin-kai amat hebat. Aku tak merasa malu untuk mengakui kekalahanku."

Berbeda dengan dua orang kakek dari Empat Setan itu, para tokoh Delapan Dewa adalah datuk-datuk persilatan yang berwatak gagah perkasa. Biar pun mereka juga tidak pernah mengaku sebagai golongan putih atau golongan pendekar, dan tidak langsung memusuhi golongan hitam seperti kaum pendekar, akan tetapi mereka juga tidak pernah melakukan perbuatan jahat sehingga terkenal sebagai tokoh-tokoh aneh yang selalu bersikap adil dan gagah perkasa.

Ciu-sian Sin-kai merasa kasihan ketika melihat betapa Pak-kwi-ong, seorang tokoh besar yang tingkatnya telah tinggi sekali, kini bersedia mengakui kekalahannya begitu saja. Tadi ketika bertemu dengan telapak tangan kiri Pak-kwi-ong, suling hitamnya yang terbuat dari kayu cendana itu sudah mengalami keretakan. Hal ini dia tahu dan rasakan benar. Suling itu sudah rusak dan tidak ada gunanya dipakai lagi, maka kini melihat lawannya mengaku kalah, dia pun tertawa.

"He-heh-heh-heh, Pak-kwi-ong, kau ini merendahkan diri ataukah mengejek orang? Lihat, dalam adu tenaga tadi engkau telah merusak sulingku."

Dia melemparkan suling itu ke atas tanah dan ternyata benda itu telah patah menjadi dua potong. Tadinya memang hanya retak saja, akan tetapi dengan bantuan tenaga sinkang Ciu-sian Sin-kai, kini suling itu patah menjadi dua tanpa ada yang melihatnya.

Pak-kwi-ong bukan orang bodoh. Meski pun andai kata benar dia berhasil merusak suling lawan, namun bagaimana pun juga jika perkelahian dilanjutkan, dia akan kalah. Maka dia pun tertawa.

"Sudahlah, kini aku memang kalah. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas kekalahanku. Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, kakek gendut itu lalu melompat kemudian tubuhnya seperti menggelundung saja dari puncak bukit itu, dan sebentar saja dia sudah menghilang.

"Omitohud... Pak-kwi-ong sungguh tahu diri, semoga dia memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hidup…," kata Seng-thian Lama, merasa lega bahwa seorang di antara Empat Setan itu tidak membuat onar selanjutnya dan mau mengalah. "Dan bagaimana dengan engkau, Tung-hek-kwi?"

Semenjak tadi Tung-hek-kwi sudah memutar otak. Dia seorang yang pendiam, akan tetapi juga cerdik. Melihat betapa Pak-kwi-ong tidak mampu mengalahkan Ciu-sian Sin-kai, dia mengerti bahwa dia pun tidak akan menang menghadapi dua orang dari Delapan Dewa itu. Hatinya merasa mengkal sekali.

Dia pun tidak terlalu ingin mengambil anak itu sebagai muridnya. Akan tetapi melihat ada orang datang kemudian mengambil alih begitu saja anak yang tadinya berada di dalam lindungannya, dia merasa dipandang rendah sekali. Apa lagi anak itu telah mengadakan semacam sayembara, yang berarti mengadu domba dan apa bila dituruti berarti dia akan membuktikan kekurangan serta kekalahannya terhadap dua orang kakek Delapan Dewa itu. Maka timbullah kemarahan dan kemendongkolan hatinya terhadap Hay Hay.

"Dari pada diperebutkan, biarlah tak seorang di antara kita memperolehnya!" bentaknya.

"Omitohud...!" See-thian Lama berseru dan tiba-tiba saja tubuhnya lenyap.

Ternyata tubuh yang tinggi besar itu telah melayang ke atas seperti seekor burung garuda terbang saja. Gerakan pendeta Lama ini begitu cepat sehingga dia mampu menghadang di hadapan Hay Hay ketika Tung-hek-kwi datang menghantam anak itu. See-thian Lama menyambut pukulan itu dengan tangkisan tangannya selagi tubuhnya masih menyambar turun.

"Dessss...!"

Demikian hebatnya tangkisan itu dan tak terduga-duga oleh Tung-hek-kwi sehingga tubuh kakek hitam yang tinggi besar itu pun terjengkang dan bergulingan di atas tanah! Melihat betapa kakek hitam itu tadi nyaris saja membunuh anak kecil itu, kakek pendeta ini telah mengerahkan seluruh tenaganya dan mana mungkin Tung-hek-kwi mampu menahannya? Tubuhnya yang terjengkang dan bergulingan itu membuktikan betapa dahsyatnya tenaga tangkisan See-thian Lama!

Tung-hek-kwi segera meloncat bangun dengan muka berubah pucat, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi. Tetapi kini Ciu-sian Sin-kai juga sudah berdiri menghadang di depan anak itu.

"Ha-ha-ha, Tung-hek-kwi, apa bila engkau mau bermain curang dan hendak mengganggu anak ini, maka terpaksa aku akan menghajarmu!"

Tung-hek-kwi adalah orang yang berwatak keras. Akan tetapi dia pun bukan orang bodoh dan dia maklum bahwa menghadapi dua orang kakek itu sama sekali dia tidak akan dapat menandinginya. Baru melawan seorang di antara mereka saja dia akan sulit menang, apa lagi mereka berdua kini melindungi anak itu.

"Huh!" dengusnya. "Tidak sekarang, namun kelak dia akan mampus di tanganku!" Setelah berkata demikian, dia pun membalikkan tubuhnya lantas sekali meloncat, dia pun lenyap dari situ.

Ciu-sian Sin-kai hanya tertawa dan See-thian Lama berkata, "Omitohud... mereka berdua itu kelak akan menjadi ancaman bagi anak ini."

"Siangkoan Hay... "

"Locianpwe, aku tidak mau lagi memakai nama keluarga Siangkoan. Akan tetapi karena nama Hay Hay adalah namaku semenjak kecil, biarlah aku menggunakan nama Hay Hay saja," Hay Hay memotong ucapan Ciu-sian Sin-kai.

Kakek berpakaian pengemis itu terkekeh, "He-he-he, baiklah. Akan tetapi karena engkau dari keluarga Pek, namamu menjadi Pek Hay."

"Omitohud, pinceng sangsikan apakah dia ini benar-benar putera pendekar Pek. Menurut perhitungan dan ramalan para pimpinan Dalai Lama, putera dari pendekar Pek itu adalah Sin-tong dan pada punggungnya terdapat tanda merah. Akan tetapi di punggung anak ini tidak ada tandanya, berarti dia bukan Sin-tong dan bukan pula anak pendekar Pek."

"Pendapatmu itu memang benar, See-thian Lama, tetapi sekarang kita hanya tahu bahwa dahulu Lam-hai Siang-mo menculiknya dari keluarga Pek. Oleh karena itu, sebelum ada keterangan lebih lanjut dari keluarga Pek, biarlah dia bernama Pek Hay. Bagaimana Hay Hay, maukah engkau memakai nama keluarga Pek? Tidak baik orang tidak memiliki nama keluarga sama sekali."

Hay Hay menarik napas panjang. Dia sendiri bingung dengan keadaannya, akan tetapi dia tidak peduli dengan segala macam nama keturunan atau nama keluarga, maka dia pun hanya mengangguk saja.

"Nah, sekarang kepada siapa engkau hendak berguru? Kepadaku atau kepada See-thian Lama? Ingat, antara kami berdua terdapat ikatan persaudaraan maka kami tidak mungkin mau mengadu ilmu untuk memperebutkan dirimu. Kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan menjadi murid seorang pengemis jembel yang kadang-kadang makan sisa makanan dan tidur di emperan toko atau di kuil rusak, tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu makan dan pakaiannya. Kalau engkau ikut dengan See-thian Lama, engkau akan hidup sebagai seorang murid pendeta dan menjadi penghuni kuil. Nah, engkau pilih yang mana?"

Anak itu memandang kepada dua orang kakek itu bergantian, menimbang-nimbang. Dia sudah kehilangan segala-galanya dan kini hidupnya tergantung kepada dua orang kakek ini. Dia belum mengenal mereka dan tidak tahu pula siapa di antara mereka yang paling baik, paling pandai dan paling dapat diharapkan.

"Aku memilih... keduanya!" Dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di hadapan dua orang kakek itu. "Harap Ji-wi Locianpwe sudi menerimaku sebagai murid dan aku berjanji akan mentaati segala perintah Ji-wi."

Dua orang kakek itu saling pandang dan kemudian mereka berdua pun tertawa terbahak. "Omitohud, anak ini memang lihai sekali. Ciu-sian Sin-kai, pinceng merasa kasihan kalau melihat anak yang masih kecil ini kau ajak berkeliaran dan hidup terlantar. Biarlah selama lima tahun dia ikut bersama pinceng dahulu, kemudian setelah lima tahun, engkau boleh menjemputnya dan mengajaknya pergi. Bagaimana?"

"Ha-ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu, See-thian Lama. Tentunya engkau takut anak ini menjadi tersesat seperti aku, maka engkau hendak menanamkan dasar-dasar semua ilmu kepadanya, mengajarkan ilmu membaca, menulis dan keagamaan. Baik, aku setuju saja. Nah kalau tidak ada sesuatu, lima tahun kemudian aku mengunjungimu untuk menjemput Hay Hay. Dan kau, Hay Hay, engkaulah satu di antara jutaan anak-anak di dunia ini yang paling beruntung, dapat menjadi murid See-thian Lama. Belajarlah baik-baik." Dan setelah berkata demikian, Ciu-sian Sin-kai segera berkelebat lalu lenyap dari tempat itu.

Walau pun hatinya agak kecewa ditinggalkan oleh kakek jembel yang ramah dan lucu itu, karena dia sudah berjanji akan mentaati kedua orang itu, Hay Hay diam saja dan masih berlutut di depan See-thian Lama.

"Bangkitlah, Hay Hay, dan mari ikut dengan pinceng." Setelah berkata demikian, kakek itu tanpa menanti Hay Hay bangkit, lalu turun dari puncak bukit itu.

Hay Hay cepat bangkit berdiri lantas mengikuti pendeta itu dari belakang. Karena pendeta itu berjalan perlahan-lahan, maka Hay Hay mampu mengimbangi kecepatannya. Mulailah Hay Hay memasuki suatu keadaan hidup yang baru, yang sama sekali berbeda dengan keadaan hidupnya sebagai putera Siangkoan Leng di Nan-king.

Memang kehidupan ini sangat mudah berubah. Peristiwa-peristiwa yang kebetulan, yang tidak terduga-duga, dapat merubah keadaan hidup seseorang. Apa yang terjadi pada diri Hay Hay juga kebetulan saja.

Kwee Siong dan Tong Ci Ki, suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan itu, selain ingin membalas dendam atas kekalahan-kekalahan mereka dari Siangkoan Leng, juga memiliki niat untuk menculik Hay Hay demi keuntungan mereka sendiri. Akan tetapi, tanpa mereka sengaja suami isteri ini membawa Hay Hay ke puncak bukit itu, dibayangi dan diintai oleh Siangkoan Leng dan isterinya.

Akan tetapi sungguh terjadi hal yang tidak sengaja dan kebetulan sekali bahwa di puncak bukit itu muncul Pak-kwi-ong bersama Tung-hek-kwi, dua orang datuk sesat, tokoh-tokoh Empat Setan yang sakti! Di antara Empat Setan, memang hanya tinggal dua orang tokoh ini yang masih hidup, dan puncak bukit itu memang merupakan tempat pertemuan antara mereka selama puluhan tahun.

Kebetulan sekali, pada pagi hari itu adalah tepat merupakan pertemuan antara dua orang datuk ini. Munculnya dua orang datuk ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hay Hay, hanya kebetulan saja, akan tetapi sudah merubah semua jalan kehidupan Hay Hay. Seandainya mereka tidak muncul dan Hay Hay dibawa pergi oleh suami isteri Goa Iblis, atau mungkin berhasil terampas kembali oleh Lam-hai Siang-mo, tentu keadaan hidupnya akan menjadi berlainan sama sekali.

Di dalam peristiwa yang kebetulan itu, terjadi lagi peristiwa kebetulan lain yang menimpa dirinya, yakni kemunculan Ciu-sian Sin-kai serta See-thian Lama. Dua orang kakek yang jarang sekali muncul di dunia ramai ini adalah dua di antara Pat-sian atau Delapan Dewa, julukan yang diberikan kepada delapan orang tokoh besar dunia persilatan.

Kemunculan mereka di tempat itu pun hanya suatu kebetulan saja. Ciu-sian Sin-kai dalam perantauannya sebagai seorang pengemis selalu memilih jalan sunyi dan tempat-tempat rawan dan gawat, jarang mau menemui orang lain. Sedangkan See-thian Lama, seorang tokoh besar di daerah Pegunungan Himalaya, walau pun dia penganut Agama Buddha seperti para Lama di Tibet, namun dia tidak tergabung dalam golongan Lama di Tibet, juga sedang merantau ke timur dengan dua maksud.

Pertama, untuk turut pula menyelidiki mengenai hilangnya Sin-tong yang menghebohkan para pendeta itu, dan ke dua, untuk mencari murid karena dia merasa sudah tua dan ingin menurunkan ilmu-ilmunya kepada seorang murid yang baik. Dan sungguh dia memperoleh berkah, mungkin disebabkan cara hidupnya yang selalu bersih sehingga terjadi hal yang demikian kebetulan. Dia menemukan anak yang diributkan sebagai Sin-tong, bahkan juga menemukan seorang murid yang baik.

Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah fakta-fakta yang tidak dapat diubah lagi oleh apa dan siapa pun juga. Peristiwa yang terjadi adalah suatu hal yang sudah nyata, wajar, dan tidak baik mau pun buruk. Yang terjadi pun terjadilah!

Kitalah yang menempelkan sebutan baik atau buruk pada peristiwa yang terjadi, sesuai dengan penilaian kita yang didasari oleh kepentingan diri pribadi. Dan sekali kita menilai, sekali kita memberi sebutan baik atau buruk, maka muncullah sebutan baik buruk. Kita senang kalau peristiwa itu baik (menguntungkan) sebaliknya kita kecewa kalau peristiwa itu buruk (merugikan).

Kecewa, marah, duka dan sebagainya berada di dalam CARA MENERIMA KENYATAAN yang berupa peristiwa itu dan bukan terletak pada kenyataan itu sendiri. Dan oleh karena penilaian kita didasari kepentingan diri, maka apa yang kita anggap baik hari ini, belum tentu kita anggap baik pada keesokan harinya, dan sebaliknya. Apa yang kita tangisi hari ini, mungkin besok akan kita tertawakan, dan apa yang mendatangkan tawa kepada kita hari ini, mungkin akan mendatangkan tangis di keesokan harinya. Semua itu tergantung dari keadaan hati kita ketika menghadapi kenyataan itu.

Apa bila kita mau menghadapi segala macam peristiwa di dalam hidup ini sebagai suatu kenyataan, sebagai fakta yang wajar, maka kita akan menerimanya dengan hati lapang, dengan penuh kewaspadaan tanpa menilai baik buruknya. Dengan begitu batin kita akan tetap tenang dan jernih, dan tindakan kita sebagai tanggapan terhadap peristiwa itu tidak lagi dikuasai oleh emosi, oleh nafsu, melainkan didasari kecerdasan dan akal budi yang sehat.

Kewaspadaanlah yang akan membuka mata kita bahwa sesungguhnya, segala peristiwa yang terjadi hanyalah merupakan suatu akibat dari suatu sebab. Sebab-sebab itu dapat berantai panjang, namun pusatnya atau sebab utama dan pertamanya, akan selalu kita dapatkan di dalam diri sendiri!

Kalau sudah begini, tidak mungkin akan ada lagi keluhan, apa pun yang terjadi menimpa diri. Jangankan hanya urusan yang tidak langsung mengenai diri kita, bahkan datangnya penyakit dan kematian sekali pun merupakan suatu kewajaran yang tidak dinilai sebagai baik atau pun buruk.

Dan kalau sudah begini, apakah masih ada masalah dalam kehidupan? Kalau batin telah bebas dari ikatan apa pun juga, kematian pun hanya merupakan suatu kewajaran yang tidak mendatangkan perasaan was-was atau takut sama sekali


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kita tinggalkan dulu Hay Hay yang sedang mengikuti See-thian Lama menuju ke barat, ke Pegunungan Himalaya dan mari kita menengok keadaan keluarga lain yang hubungannya dekat dengan Hay Hay.

Di kota Nam-co, di daerah Tibet, sebelah utara kota Lha-sa yang menjadi ibu kota Tibet di mana para Dalai Lama menjadi penguasa-penguasa mutlak, terdapat banyak pendatang dari timur, jadi bukan penduduk asli Tibet. Mereka ini sebagian besar menjadi pedagang, membuka toko dan melakukan perdagangan dengan mendatangkan barang-barang dari Propinsi-propinsi Yu-nan, Secuan, atau Cing-hai.

Karena banyak pula keluarga bangsa Han (Cina) yang berada di Tibet, maka terdapat pula kelompok-kelompok atau golongan-golongan di kota Nam-co. Akan tetapi yang paling terkenal adalah perkumpulan Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih).

Perkumpulan ini adalah perkumpulan silat, merupakan sebuah perguruan akan tetapi juga perkumpulan sosial yang sering kali bertindak membantu masyarakat yang tertimpa malapetaka atau ketidak adilan. Penjahat-penjahat di daerah Tibet merasa gentar menghadapi perkumpulan Pek-sim-pang, karena keluarga Pek, yaitu pendiri dari Pek-sim-pang, adalah ahli-ahli silat yang amat lihai.

Sejak berdiri kurang lebih empat puluh tahun yang lalu, Pek-sim-pang sudah memperoleh kemajuan besar. Banyak orang muda yang gagah perkasa menjadi murid atau anggota perkumpulan itu. Karena sepak terjang mereka itu gagah perkasa dan seperti pendekar-pendekar sejati, maka nama Pek-sim-pang makin terkenal dan anggotanya pun semakin banyak sampai berjumlah kurang lebih seratus orang.

Selama bertahun-tahun keadaan perkumpulan itu jaya dan tenteram, bahkan nama besar Pek-sim-pang membuat kota Nam-co menjadi tenteram pula. Hal ini juga diakui oleh para pendeta Lama di Lha-sa sehingga mereka amat menghargai Pek-sim-pang yang mereka anggap sebagai perkumpulan sahabat yang dikagumi.

Apa lagi mengingat bahwa pendirinya pada empat puluh tahun yang lalu adalah seorang pendekar besar, murid dari Siauw-lim-pai. Para guru besar Siauw-lim-pai masih memiliki hubungan baik, bahkan hubungan persaudaraan dalam perguruan dengan para pimpinan Lama di Tibet, maka tentu saja keluarga Pek diterima sebagai keluarga seperguruan pula.

Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang abadi dan tidak berubah di dunia ini. Ketenteraman Pek-sim-pang dan keluarga Pek pada khususnya, mengalami perubahan hebat pada tujuh tahun yang lalu.

Pada waktu itu, Pek Khun, pendiri Pek-sim-pang yang sudah berusia enam puluh tahun, telah mengundurkan diri lalu pergi bertapa di sebuah puncak di Pegunungan Kun-lun-san. Yang menggantikannya menjadi ketua Pek-sim-pang adalah Pek Ki Bu, puteranya yang pada waktu itu sudah berusia empat puluh lima tahun.

Pek Ki Bu telah mewarisi ilmu-ilmu silat ayahnya dan dia pun amat lihai dalam ilmu silat Siauw-lim-pai yang sangat banyak ragamnya itu. Pek Ki Bu hanya mempunyai seorang putera yang bernama Pek Kong. Melalui diri Pek Kong inilah peristiwa yang menimbulkan perubahan hebat pada Pek-sim-pang itu terjadi.

Baru setahun Pek Kong menikah dengan seorang gadis puteri seorang pedagang obat di Nam-co, dan ketika isterinya mengandung tua, tiba-tiba saja datang utusan dari Lha-sa, dari para pendeta Dalai Lama yang menyatakan bahwa anak dalam kandungan isteri Pek Kong itu adalah calon Dalai Lama! Sebagai cirinya, pada punggung anak itu akan nampak tanda merah selebar telapak tangan dan karena anak itu merupakan calon orang suci atau guru besar, maka diminta kerelaan orang tuanya untuk menyerahkan anak itu bila mana terlahir kelak!

Keluarga Pek adalah keluarga yang sudah dua keturunan tinggal di daerah Tibet sehingga mereka maklum apa artinya itu. Anak itu kelak akan menjadi seorang calon Dalai Lama dan sama sekali terputus hubungannya dengan keluarga Pek!

Tentu saja keluarga itu tidak rela dengan bayangan ini. Pek Kong merupakan keturunan terakhir dan tunggal dari keluarga Pek. Kalau kelak anak itu terlahir laki-laki, maka anak itulah yang merupakan keturunan terakhir. Bagaimana mungkin mereka bisa menyerahkan keturunan terakhir itu untuk menjadi calon Dalai Lama dan terputus hubungannya dengan keluarga mereka?

Bagaimana kalau Pek Kong, seperti kakeknya dan juga ayahnya, hanya memiliki seorang saja anak laki-laki? Bukankah dengan demikian berarti keturunan keluarga mereka akan putus dan lenyap? Di mana pun, bagi bangsa Han keturunan laki-laki yang menyambung nama keluarga mereka merupakan hal yang teramat penting.

Di dalam kebingungan itu, keluarga Pek tentu saja tidak berani menolak permintaan para pendeta Lama yang amat berpengaruh di Tibet. Pek Ki Bu sebagai ketua Pek-sim-pang menjadi bingung, maka dia cepat pergi menghadap ayahnya yang bertapa di Kun-lun-san untuk minta nasehat.

"Aihh, mengapa keluarga kita ditimpa urusan yang sesulit itu?" Kakek Pek Khun menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang panjang. "Walau pun andai kata ada aku sendiri di sana dan semua puncak pimpinan para Lama menjadi sahabat-sahabat baikku yang amat menghormatiku, namun urusan pemilihan calon Lama itu sungguh merupakan urusan yang tak boleh dipandang ringan. Para Lama itu sangat percaya dengan ramalan, dan menganggap hal itu seperti perintah dari Sang Buddha sendiri. Biar pun sahabat baik, kalau menentang tentu akan dimusuhi! Sebaiknya begini saja. Sebelum anak itu terlahir, Pek Kong dan isterinya harus mengungsi jauh ke timur. Dan kelak, kalau anaknya terlahir, kita harus menukar anaknya itu dengan anak lain, jika memang di punggungnya ternyata ada tanda merah. Ada pun anak itu, cucu buyutku, biarlah aku yang akan membawa dan menyembunyikannya."

Demikianlah, keluarga Pek lantas mentaati kakek Pek Khun itu dan diam-diam Pek Kong bersama isterinya melarikan diri ke timur, memasuki Propinsi Yu-nan kemudian mereka terus melanjutkan perjalanan sampai ke pantai selatan di daerah Propinsi Kuangsi.

Sesudah merasa cukup jauh dan sudah hampir tiba waktunya bagi kandungan isterinya untuk melahirkan, suami isteri Pek ini lantas menyembunyikan diri dan mondok di sebuah kuil. Tetapi, tanpa mereka ketahui, diam-diam mereka dibayangi oleh seorang kakek yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, yaitu kakek mereka sendiri, pertapa Pek Khun yang secara diam-diam melindungi pelarian cucunya itu.

Sesudah mereka mendapatkan tempat pondokan di kuil itu, barulah Pek Khun menemui mereka sehingga girang dan legalah hati Pek Kong bersama isterinya. Saat yang dinanti-nantikan telah tiba dan isteri Pek Kong lalu melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah rasa hati Pek Kong dan isterinya pada saat melihat bahwa di punggung anak mereka memang terdapat tanda merah sebesar telapak tangan! Kulit di bagian itu seperti bekas terbakar atau ada kelainan sehingga warnanya kemerahan.

Bila tidak ada kakek Pek Khun di situ, tentu suami isteri yang masih amat muda itu, baru berusia dua puluh tahun lebih, menjadi panik dan khawatir sekali. Kakek Pek Khun yang membuat mereka tenang. Mula-mula, kakek pertapa ini mencoba untuk mempergunakan ilmu kepandaiannya supaya tanda kemerahan pada punggung itu dapat lenyap. Namun, semua usahanya sia-sia belaka dan akhirnya dia harus mengambil jalan terakhir seperti yang direncanakannya.

"Cucuku, agaknya memang sudah menjadi kehendak Thian bahwa anak ini harus terlahir dengan tanda ini yang tak dapat dihilangkan dengan obat. Maka, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keturunan kita ini adalah menyembunyikan dan menukar anak ini dengan seorang anak lain yang tidak memiliki tanda merah pada punggungnya. Dengan demikian, anak kalian itu dapat kita ajak pulang dan kalau para pendeta Lama tidak melihat tanda merah di punggungnya, tentu mereka tidak akan mengganggunya."

Pek Kong dan isterinya yang merasa bingung hingga tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan putera mereka tanpa menjadi keluarga pelarian, lalu menyetujui saja siasat yang akan diatur oleh kakek Pek Khun itu.

Maka mulailah kakek yang sakti itu melakukan penyelidikan di sepanjang pantai selatan, ke dusun-dusun yang sunyi. Namun dia tak berhasil menemukan anak yang keadaannya dianggap amat cocok dengan cucu buyutnya. Dia harus cepat menemukan keluarga yang mempunyai anak bayi yang sebaya, dan keluarga itu harus bersedia menerima penukaran anak dan mau merawat cucu buyutnya, namun tentu saja tidak mudah mencari keluarga seperti ini.

Pada hari ke tiga, pada saat dia berjalan menyusuri pantai yang sunyi, pandang matanya tertarik oleh sesosok tubuh yang berdiri di atas tebing yang curam. Walau pun waktu itu sudah menjelang senja dan cuaca sudah remang-remang, namun penglihatan kakek yang masih tajam ini dapat melihat bahwa tubuh yang berdiri di tepi tebing itu adalah seorang perempuan yang agaknya memondong sesuatu.

Dia merasa khawatir melihat wanita itu berdiri demikian dekat di bibir tebing yang begitu curam. Ingin dia berteriak memperingatkan wanita itu, akan tetapi dapatlah dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita itu tiba-tiba malah meloncat ke bawah, ke air laut yang bergelombang! Dan lebih ngeri lagi rasa hatinya ketika dia melihat bahwa benda yang dipondong oleh wanita itu adalah seorang anak kecil yang terdengar menangis pada saat wanita itu meloncat ke bawah.

Tanpa pikir panjang lagi kakek Pek Khun kemudian cepat berlari ke pinggir pantai itu dan meloncat ke air bergelombang saat wanita dan anak kecil itu sudah terbanting ke air. Hati kakek itu tergerak melihat tubuh kecil bayi itu diombang-ambingkan ombak dan tangisnya masih terdengar. Maka dia pun cepat berenang ke arah anak itu dan akhirnya berhasil menyambar tubuh kecil itu.

Dengan cepat diikatnya tubuh anak itu pada punggungnya menggunakan robekan bajunya yang lebar, kemudian barulah dia berenang lagi hendak menolong wanita tadi yang sudah timbul tenggelam. Apabila dia tidak bergerak cepat, tentu wanita itu akan dihempaskan ombak ke batu karang di bawah tebing. Untung bahwa semenjak muda kakek Pek Khun memang ahli renang yang terlatih sehingga dia dapat bergerak dengan cepat dan lincah di dalam air, walau pun air laut itu bergelombang dengan amat kuatnya.

Sesudah berhasil mencengkeram rambut wanita itu yang terurai panjang karena terlepas dari sanggulnya, dia cepat berenang ke tepi, memanggul anak kecil di punggungnya yang masih terus menangis sambil menyeret wanita yang sudah pingsan itu. Berhasillah kakek yang gagah perkasa ini membawa tubuh wanita itu ke darat, menjauhi jangkauan air.

Anak itu ternyata seorang bayi laki-laki yang bertubuh sehat dan montok, juga tangisnya amat nyaring. Tangis inilah yang agaknya menolong bayi itu. Dengan amat hati-hati kakek Pek Khun merebahkan bayi itu di atas pasir kemudian dia pun cepat menolong wanita itu, mengeluarkan air dari dalam perutnya.

Akan tetapi wanita itu ternyata telah terluka parah pada dahinya. Pada saat meloncat ke bawah dan dipermainkan ombak, agaknya kepalanya sempat terbentur pada batu karang. Napasnya sudah empas-empis dan banyak darah keluar dari luka di dahinya.

Melihat keadaan dahi itu, kakek Pek Khun mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang ahli silat yang juga pandai ilmu pengobatan, terutama dalam mengobati luka-luka. Melihat luka di dahi yang demikian dalam, dia tidak melihat harapan untuk dapat bertahan hidup pada wanita itu.

Setelah ditotok sana-sini untuk menghentikan darah keluar, mengurangi rasa nyeri sambil menyadarkannya, wanita itu lalu membuka matanya. Dia menengok ke kanan kiri dengan lemah, lalu bertanya,

"Mana... mana anakku...?"

Anak itu sudah berhenti menangis dan kakek itu berkata, "Jangan khawatir, anakmu telah selamat." Dia menunjuk ke arah anak itu yang kini rebah dan diam saja.

Melihat anaknya, wanita itu lalu menitikkan air mata yang bercampur dengan air laut yang menetes-netes dari rambutnya membasahi mukanya. " Anakku... ahh, dia tidak berdosa... biarlah dia mati bersamaku..."

Kakek itu mengerutkan sepasang alisnya. Betapa menyedihkan melihat seorang manusia mengalami penderitaan batin sehingga putus asa dan memilih jalan membunuh diri seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, pikirnya. Seorang perempuan yang masih amat muda, belum dua puluh tahun agaknya, dan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sehat. Dan dia tahu bahwa perempuan muda ini sekarang menghadapi maut yang agaknya sukar untuk dapat dielakkan lagi.

"Anak baik, mengapa engkau melakukan ini? Mengapa engkau berusaha membunuh diri bersama anakmu yang masih bayi itu?"

Mendengar pertanyaan ini, wanita itu lalu memandang wajah kakek Pek Khun, mengamat-amatinya penuh perhatian dan air matanya bercucuran semakin banyak. Kemudian ia pun mulai bercerita, suaranya tersendat-sendat, ada kalanya hanya berbisik-bisik lemah dan napasnya semakin empas-empis. Namun agaknya dia memiliki semangat terakhir untuk menceritakan keadaan dirinya, cerita yang mengandung penuh penasaran baginya.

Wanita muda itu puteri guru silat Coa-kauwsu, seorang guru silat yang tinggal di dusun dekat pantai. Kurang lebih setahun yang lampau, di dusun itu datang seorang pengacau, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang mengganggu wanita-wanita muda di dusun itu, malah telah melakukan penculikan-penculikan dan pemerkosaan-pemerkosaan. Hal ini membuat keluarga Coa yang menjadi jagoan-jagoan di dusun itu merasa sangat marah dan penasaran.

Pada suatu malam, Coa-kauwsu bersama puterinya, yaitu satu-satunya murid yang paling pandai dan boleh diandalkan, melakukan penyelidikan dan pengintaian secara berpencar. Akan tetapi malang bagi Coa Si, anak guru silat itu. Dia bertemu dengan penjahat itu, lalu berkelahi dan dia kalah. Dia yang tadinya hendak menangkap penjahat, sebaliknya malah tertawan dan kemudian diperkosa!

Anehnya, dia malah jatuh cinta kepada jai-hwa-cat yang di samping tampan dan lihai, juga pandai merayu itu sehingga dia merahasiakan peristiwa itu dari orang tuanya. Dia malah kemudian menjadi pacar Sang Penjahat, berkali-kali mengadakan pertemuan. Setiap kali jai-hwa-cat itu lewat di dusun itu, tentu mereka mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi untuk memadu cinta. Dan Sang Jai-hwa-cat juga membebaskan dusun itu dari gangguannya setelah Coa Si menjadi kekasihnya. Akan tetapi, saat Coa Si mengandung, jai-hwa-cat itu pun tidak pernah mau singgah lagi ke dusun itu!

Orang tua Coa Si marah bukan main melihat keadaan puteri mereka yang mengandung dan kemarahan itu semakin memuncak ketika Coa-kauwsu mendengar pengakuan puteri mereka bahwa ayah dari anak yang dikandungnya adalah Sang Jai-hwa-cat! Hampir saja Coa-kauwsu membunuh puterinya itu. Akan tetapi, isterinya yang amat menyayang anak tunggal itu, berhasil meredakan kemarahannya sehingga Coa Si tidak dibunuh melainkan diusir dari rumah keluarga Coa!

Mulailah Coa Si hidup terlunta-lunta, hidup terasing di tepi laut. Akan tetapi ia masih terus mengharapkan kedatangan kekasihnya. Dia tidak dapat mencari kekasihnya itu karena memang tidak tahu di mana tempat tinggal jai-hwa-cat yang merupakan seorang petualang dan perantau itu. Dan akhirnya dia pun melahirkan seorang anak laki-laki, hanya dibantu seorang bidan yang dikirim oleh ibunya yang diam-diam masih suka membantu anaknya.

Kakek Pek Khun mendengarkan cerita itu dengan sabar, cerita yang dituturkan dengan suara lirih dan tersendat-sendat. "...begitulah... ketika anakku terlahir... ayahnya datang... tapi melihat aku melahirkan anak... dia malah marah-marah lantas pergi lagi. Aku... putus asa... lebih baik anakku kubawa mati... ohhh..." Wanita itu terkulai.

Kakek Pek Khun cepat menekan pundak wanita muda itu. "Katakan siapa ayah anak ini, dan siapa pula nama anak ini..."

Wanita muda itu membuka mata, kini bibirnya membentuk senyuman lemah. "Aku... titip anakku... belum kuberi nama... ayahnya... ayahnya... Tang... Tang…" Wanita itu meraba ke balik bajunya dan mencabut sebuah benda yang tadinya menempel di bajunya dengan bantuan peniti, menyerahkan benda itu kepada kakek Pek Khun, sambil berbisik. "...ini... ini dari ayahnya " Dan dia pun terkulai dan napasnya terhenti.

Kakek Pek Khun berusaha untuk menahan kematiannya, namun tidak berhasil. Pada saat itu terdengar suara anak kecil itu menangis, seakan-akan dia merasa bahwa saat itu ibu kandungnya telah meninggalkannya untuk selamanya.

Kakek Pek Khun menarik napas panjang, merebahkan tubuh wanita yang tadi kepalanya diangkat lalu dia pun segera memondong anak bayi itu dan diayun-ayunnya sampai anak itu terdiam kembali. lalu kakek Pek Khun cepat membuat lubang yang cukup dalam dan menguburkan jenazah ibu muda yang malang itu.

Niatnya untuk memberi tahu kepada keluarga wanita itu ke dusun diurungkannya. Malah dia tergesa-gesa mengubur jenazah itu, lalu dengan cepat membawa pergi bayi laki-laki itu, pulang ke kuil di mana Pek Kong dan isterinya sedang menunggu dengan hati penuh ketegangan.

Demikianlah, anak kandung Coa Si itu lantas diserahkan kepada Pek Kong dan isterinya sebagai pengganti anak kandung mereka yang akan dibawa pergi oleh kakek Pek Khun. Semua ini terjadi tanpa ada yang mengetahui kecuali mereka bertiga.

"Ibu anak ini sudah meninggal dunia, namanya Coa Si, dan ayahnya she Tang. Ibunya hanya menyerahkan benda ini kepadaku. Nah, simpanlah benda ini kemudian rawat anak ini baik-baik."

Pek Kong serta isterinya menerima anak laki-laki yang sehat itu bersama sebuah benda yang ternyata berupa sebuah perhiasan terbuat dari logam dan batu permata berwarna merah berbentuk seekor tawon. Seekor tawon merah!

"Kongkong, ke manakah Kongkong hendak membawa anakku...?" tanya isteri Pek Kong sambil mencucurkan air mata, memandang pada anak kandungnya yang sekarang sudah dipondong oleh kakek suaminya.

"Aku akan membawanya bersembunyi di Pegunungan Kun-lun di mana aku bertapa. Tak usah khawatir, kelak jika sudah tidak ada bahaya atau ancaman dari para pendeta Lama, tentu anak kalian akan kukembalikan kepada kalian. Aku akan menjaganya baik-baik dan akan mendidiknya."

Pada malam hari itu juga kakek Pek Khun kemudian pergi membawa cucu buyutnya yang dipondongnya dan dibawanya berlari cepat. Sementara itu Pek Kong sibuk merangkul dan menghibur isterinya yang menangis dengan sedih. Sungguh pun dia tahu bahwa anaknya berada di tangan orang yang akan melindunginya, dan walau pun dia sudah memperoleh penggantinya, seorang anak laki-laki yang bertubuh sehat dan montok, akan tetapi hati ibu muda ini tetap saja berduka karena harus berpisah dari anak kandungnya yang baru berusia dua bulan itu. Hanya dengan setengah hati dia suka menyusui anak yang dibawa oleh kakek Pek Khun.

Melihat keadaan isterinya itu, Pek Kong lalu minta bantuan seorang wanita pengasuh dan seorang nikouw untuk menjaga anaknya, setiap isterinya rewel dan minta diajak berlayar untuk menghibur hatinya. Mereka berdua sering naik perahu layar dan mencari ikan, suatu kesibukan yang kadang-kadang bisa mendatangkan kegembiraan di hati isteri Pek Kong dan membuat dia melupakan kedukaannya.

Ketika Lam-hai Siang-mo, yaitu Siangkoan Leng dan isterinya, Ma Kim Li, datang ke kuil itu dan menculik anak mereka, membunuh pengasuh dan nikouw kemudian meninggalkan mayat anak yang mukanya rusak, Pek Kong bersama isterinya juga sedang mencari ikan di tengah lautan. Mereka berdua sangat gembira karena pada waktu itu sedang musim udang sehingga jala mereka menghasilkan banyak udang besar.

Tentu saja mereka terkejut bukan main sesudah kembali ke kuil dan melihat betapa dua orang pengasuh anak itu telah tewas dan anak mereka telah ditukar dengan seorang anak sebaya yang sudah tewas pula dengan muka rusak! Hal ini sungguh mengejutkan hati mereka dan barulah mereka yakin benar bahwa memang anak mereka itu selalu diincar orang. Untuk memperkuat peristiwa itu, demi keselamatan anak mereka, suami isteri ini lalu menyebar-luaskan berita tentang pembunuhan anak mereka!

Benar saja! Begitu terdengar berita bahwa anak mereka yang di luaran terkenal sebagai Sin-tong itu terbunuh, seketika banyak orang aneh bermunculan dengan alasan melayat, akan tetapi yang sesungguhnya hendak membuktikan dan menyelidiki. Bahkan tiga orang pendeta Lama dari Tibet tiba-tiba muncul di ambang pintu dan mereka ini sengaja datang untuk memeriksa dan membuktikan sendiri mayat anak kecil itu!

Selain tiga orang pendeta Lama, di antara para tamu yang datang melayat terdapat pula suami isteri penghuni Goa Iblis Pantai Selatan. Sepasang iblis ini datang terlambat sebab jenazah nikouw, pengasuh dan anak kecil itu sudah dikubur.

Akan tetapi, pada malam harinya mereka membongkar tiga kuburan itu lantas memeriksa keadaan mayat yang sudah hampir membusuk itu! Dari hasil pemeriksaan inilah mereka dapat menemukan jarum-jarum yang digunakan oleh Ma Kim Li untuk membunuh nikouw dan pengasuh, dan mereka pun bisa menduga siapa yang telah melakukan pembunuhan itu.

Mereka adalah orang-orang cerdik, karena itu mereka tak percaya bahwa anak kecil yang tubuhnya penyakitan dan mukanya rusak itulah yang dikabarkan sebagai Sin-tong, anak kandung suami isteri pendekar Pek! Suami isteri yang bertubuh sehat dan hidup bersih itu tak mungkin mempunyai anak berpenyakitan seperti itu. Tentu Lam-hai Siang-mo mencuri anak ajaib itu dan menukarnya dengan anak kecil yang mereka bunuh pula.

Memang sudah lama suami isteri penghuni Goa Iblis Pantai Selatan bermusuhan dengan Lam-hai Siang-mo, juga mereka ingin sekali menemukan Sin-tong untuk dibawa kembali ke Tibet dan diserahkan kepada para pendeta Lama supaya mereka memperoleh hadiah benda-benda mukjijat. Oleh karena itu, mereka segera mulai melakukan pencarian sambil memperdalam ilmu silat mereka karena mereka maklum bahwa musuh besar mereka itu, Lam-hai Siang-mo, merupakan lawan yang tangguh.

Ketika itu Pek Kong dan isterinya merasa bahwa anak kandung mereka sudah aman dan mereka boleh kembali lagi ke Nam-co. Bukankah sesudah kini tersiar berita bahwa anak kandung mereka yang disebut Sin-tong dan diinginkan oleh para pendeta Lama itu tewas, mereka tak akan mengalami gangguan lagi? Karena itu mereka pun kemudian melakukan perjalanan kembali ke barat, menuju ke Nam-co.

Akan tetapi di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang tua mereka beserta para anggota Pek-sim-pang yang sedang berbondong-bondong menuju ke timur meninggalkan kota Nam-co! Tentu saja pertemuan itu amat mengejutkan dan apakah yang telah terjadi di Nam-co? Kiranya urusan Sin-tong menimbulkan banyak peristiwa yang menyedihkan.

Pada saat mendengar bahwa Pek Kong beserta isterinya melarikan diri dari kota Nam-co, para pendeta Lama menjadi amat marah. Mereka segera pergi mengunjungi perkumpulan Pek-sim-pang di Nam-co. Yang berangkat adalah lima orang pendeta Lama yang menjadi utusan para pimpinan Lama di kota Lha-sa.

Pek Ki Bu sudah menduga bahwa para pendeta Lama tentu tidak akan tinggal diam saja, maka dia pun sudah bersiap dan menyambut kedatangan kelima orang pendeta Lama itu dengan sikap ramah dan hormat. Para pendeta itu dipersilakan duduk, akan tetapi mereka tidak mau duduk dan sambil berdiri dengan sikap kaku mereka memandang pada Pek Ki Bu dengan alis berkerut. Seorang di antara mereka yang menjadi pimpinan lalu bertanya dengan suara lantang.

"Pek-pangcu, kami datang diutus oleh para pimpinan kami untuk menanyakan kesehatan putera pangcu dan terutama keadaan kandungan anak mantu pangcu."

Pek Ki Bu dapat menduga bahwa tentu para pendeta itu telah mendengar bahwa anaknya bersama mantunya sudah melarikan diri. Hal itu sudah lewat lima hari, maka dia merasa aman dan dengan sikap ramah dia menjawab. "Terima kasih banyak atas perhatian para suhu di Lha-sa. Keadaan mereka baik-baik saja berkat doa restu para suhu yang mulia."

"Siancai... kalau begitu bagus sekali! Harap Pangcu suka mempersilakan mantu Pangcu untuk keluar karena kami ingin menyaksikan sendiri keadaan kandungannya."

Pek Ki Bu tidak bermain sandiwara lagi. "Harap Ngo-wi Suhu ketahui bahwa Pek Kong dan isterinya tidak berada di rumah. Mereka sedang melakukan perlawatan ke timur untuk pulang ke kampung halaman karena mantu saya ingin melahirkan di sana, dekat dengan keluarga orang tuanya."

"Omitohud...!" Pendeta Lama itu membelalakkan mata, tindakan yang dibuat-buat karena sebenarnya dia pun sudah mendengar tentang kepergian mereka itu. "Bagaimana Pangcu memperbolehkan mereka pergi tanpa setahu dan seijin pimpinan kami?"

Inilah pertanyaan yang dinanti-nanti oleh ketua Pek-sim-pang. Dia mengerutkan alisnya. Memang harus diakuinya bahwa semenjak dulu, sejak ayahnya mendirikan Pek-sim-pang, keluarga Pek menjadi sahabat-sahabat baik dari para pimpinan pendeta Lama di Lha-sa. Akan tetapi sekali ini, dia menganggap bahwa pihak pendeta Lama terlalu mencampuri urusan dalam keluarganya.

"Ngo-wi Suhu harap suka mengingat bahwa Pek Kong adalah anakku dan isterinya adalah mantu kami. Jika mereka pergi mengunjungi keluarga di kampung halaman, jauh di timur, mereka cukup memperoleh ijin dari kami sebagai orang tuanya. Kenapa harus setahu dan seijin pimpinan para suhu di Lha-sa?"

"Omitohud...! Apakah Pangcu tidak tahu apakah pura-pura tidak tahu? Mantumu adalah wanita yang telah dipilih oleh Sang Buddha untuk melahirkan calon Guru Suci, calon Dalai Lama! Tentu saja selama mengandung, dia harus berada di bawah pengawasan kami dan dia tidak boleh pergi begitu saja tanpa ijin kami. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sin-tong?"

Hati Pek Ki Bu merasa amat mendongkol, akan tetapi dia menahannya karena dia pun tak ingin bermusuhan dengan para pendeta Lama. "Harap Ngo-wi jangan khawatir, mereka akan selamat. Dan pula, belum tentu menantuku akan melahirkan Anak Ajaib yang kelak akan menjadi Dalai Lama."

"Sudah pasti! Ramalan kami tak akan meleset. Yang dikandungnya adalah Sin-tong yang kelak akan menjadi pimpinan kami!"

"Ngo-wi harap jangan lupa bahwa bagaimana pun juga, yang dikandung itu adalah anak dari Pek Kong dan calon cucuku!" kata Pek Ki Bu dengan suara agak keras karena dia mulai marah.

"Omitohud, pertimbangan akal Pangcu benar-benar dangkal. Dalam hal ini keluarga Pek hanya dipinjam saja! Anak yang akan terlahir itu adalah untuk kami, untuk dunia, bukan untuk keluarga Pangcu pribadi. Sudahlah, harap Pangcu beri tahu ke mana mereka pergi, supaya kami dapat cepat menyusul dan mengajak mereka kembali ke sini atau langsung saja ke Lha-sa karena kandungannya sudah tua sehingga dia harus mendapat perawatan dan pengamatan langsung dari kami."

Marahlah Pek Ki Bu. "Para suhu sungguh keterlaluan dan tak memandang persahabatan lagi! Apa pun pendapat para suhu di Lha-sa tentang anak yang akan terlahir itu, dia tetap calon cucuku dan keluarga kami, dan kami yang paling berhak untuk menentukan tentang dirinya!"

"Siancai, sesungguhnya Pek-pangcu yang tidak memandang persahabatan. Tentu Pangcu sudah memaklumi bahwa seluruh wilayah di Tibet tunduk kepada pimpinan kami di Lha-sa dan pimpinan kami merupakan kekuasaan mutlak yang harus ditaati oleh seluruh orang yang tinggal di Tibet. Keluarga Pek sudah dipinjam serta dipilih untuk melahirkan seorang calon Dalai Lama, tapi Pangcu sekeluarga tidak bersyukur atas karunia itu, malah hendak memberontak dan hendak mengubah nasib yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, harap Pangcu cepat memberi tahu di mana kami dapat menemukan kembali anak dan mantu Pangcu."

Wajah ketua Pek-sim-pang berubah merah dan para muridnya sudah siap siaga. Mereka semua memandang pada lima orang pendeta Lama itu dengan sinar mata tajam. Mereka tahu bahwa ketua mereka sudah marah terhadap bekas kawan-kawan baik itu.

"Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa kami tak akan memberi tahukan kepada siapa pun juga!" jawab Pek Ki Bu.

"Siancai...! Berarti Pek-pangcu hendak menentang kami?!" bentak seorang di antara para pendeta Lama itu.

"Terserah penilaian Ngo-wi Suhu, akan tetapi kami tentu akan melawan mati-matian kalau kebebasan pribadi keluarga kami ditekan!"

"Bagus, agaknya Pek-sim-pang memang sudah siap untuk memberontak terhadap kami. Pek-pangcu, kini terpaksa kami harus menangkapmu dan menghadapkan Pangcu kepada pimpinan kami!"

Namun belum juga lima orang pendeta Lama itu bergerak melaksanakan ancamannya, para anak buah Pek-sim-pang telah bergerak mengurung dan menyerang mereka. Karena pertentangan itu hanya bersifat pertentangan pendapat dan didasari panasnya perasaan, bukan merupakan permusuhan, maka para murid Pek-sim-pang itu tidak ada yang berani menggunakan senjata. Mereka menyerang dengan kepalan tangan dan tendangan kaki.

"Omitohud... kalian mencari penyakit saja!" kata para pendeta Lama itu dan mereka pun bergerak berpencaran. Gerakan mereka kuat sekali, ada pun jubah mereka yang berwarna kuning dan sangat lebar itu berkibar-kibar ketika mereka bergerak menyambut serangan para murid Pek-sim-pang.

Tapi agaknya para anggota rendahan itu sama sekali bukan tandingan yang setimpal dari para pendeta Lama itu. Begitu bentrok, lima orang murid Pek-sim-pang terbanting roboh! Hal ini mengejutkan para murid kepala Pek-sim-pang. Biar pun hanya anggota rendahan, namun para murid itu rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tidak mudah dirobohkan demikian saja. Akan tetapi, serangan mereka terhadap lima orang pendeta itu ternyata dalam sekali gebrakan saja membuat mereka sendiri terbanting keras dan tidak mampu melanjutkan perkelahian!

Karena maklum bahwa para pendeta Lama ini lihai sekali, serentak sepuluh orang murid kepala Pek-sim-pang menerjang maju. Mereka disambut dengan tenang oleh lima orang pendeta itu dan sesudah berkelahi sebanyak sepuluh jurus, kembali ada lima orang murid Pek-sim-pang yang roboh.

"Para pendeta yang suka mencampuri urusan keluarga orang!" bentak Pek Ki Bu marah dan dia pun menerjang maju. Terjangan Pek Ki Bu disambut oleh seorang pendeta Lama yang melompat ke depan dan menangkis serangan ketua Pek-sim-pang itu.

"Dukkk...!"

Dua tenaga raksasa melalui saluran kedua lengan itu bertumbuk di udara dan akibatnya, Pek Ki Bu tertahan langkahnya, akan tetapi pendeta Lama itu pun terdorong mundur dua langkah! Hal ini membuktikan bahwa tenaga ketua Pek-sim-pang masih lebih besar dari pada lawannya.

"Omitohud, Pangcu sungguh kuat sekali!" Pendeta Lama itu berseru lantas dia pun maju dan menerjang lagi dengan dahsyatnya.

Pek Ki Bu mengelak dan balas menyerang dari samping yang juga berhasil ditangkis oleh lawannya. Akan tetapi, begitu Pek Ki Bu mainkan ilmu silat Pek-sim-kun (Ilmu Silat Hati Putih) yang merupakan ilmu keturunan dari keluarga Pek dan menjadi dasar dari ilmu-ilmu silat yang dilatih oleh para anggota Pek-sim-pang, pendeta itu segera terdesak hebat dan selalu main tangkis dan mundur. Dasar ilmu ini adalah dari ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi sudah disesuaikan dengan ilmu-ilmu silat lain yang digabung dan menjadi semacam ilmu silat khas dari keluarga Pek.

Melihat ini, dua orang pendeta Lama lainnya menerjang maju dan membantu kawannya. Kini Pek Ki Bu dikeroyok tiga orang pendeta yang sangat lihai dan perkelahian itu menjadi berimbang, bahkan keadaannya berbalik karena ketua Pek-sim-pang itu sekarang mulai terdesak.

Ada pun dua orang pendeta Lama yang lain, kini menghajar semua murid Pek-sim-pang yang berani melawan. Puluhan orang murid Pek-sim-pang sudah roboh terkena pukulan atau tendangan dan yang lain-lain mengeroyok dari kejauhan karena mulai merasa gentar menghadapi para pendeta Lama yang lihai itu.

Keadaan pihak Pek-sim-pang sungguh gawat. Ketuanya sendiri sudah terdesak terus dan sebentar lagi tentu akan roboh oleh tiga orang lawannya yang terlampau kuat baginya itu. Dan para anak muridnya juga sudah banyak yang roboh.

Tiba-tiba saja terdengar bentakan halus, "Omitohud...! Tidak pantas sekali antara sahabat sendiri menggunakan kekerasan seperti ini!"

Dan semua orang merasa betapa ada angin keras bertiup lalu nampak bayangan merah kuning yang melayang turun dari atas seperti seekor burung garuda raksasa. Lima orang pendeta Lama itu merasa seperti terdorong oleh kekuatan yang dahsyat luar biasa, yang membuat mereka berlima terpaksa mundur, dan pihak Pek-sim-pang juga terhuyung oleh kekuatan angin besar yang menarik mereka.

Pendekar Mata Keranjang Jilid 03

KETIKA melihat sepak terjang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi tadi, Hay Hay merasa kagum bukan main karena mendapat kenyataan bahwa mereka itu jauh lebih lihai dibandingkan dengan dua pasang suami isteri iblis itu. Akan tetapi kemudian muncul pengemis itu dan pendeta yang luar biasa ini, maka tentu saja hatinya menjadi bimbang. "Biarkan aku mengenakan pakaianku dulu," katanya.

Pendeta Lama itu tersenyum ramah, lalu menyerahkan pakaiannya, malah membantunya memakai bajunya. Sesudah selesai berpakaian, Hay Hay lalu menuju ke tengah lapangan itu, memandang empat orang itu satu demi satu. Masih sukar dia menentukan sehingga dia memandang ragu-ragu.

Dia suka menjadi murid seorang di antara mereka, mempelajari ilmu yang tinggi supaya kelak dia dapat melakukan penyelidikan sendiri mengenai dirinya. Dia harus mencari ayah bundanya yang asli, dan dia yang akan memberi hajaran kepada orang-orang seperti dua pasang suami isteri tadi. Dia harus mendapatkan guru yang paling pandai. Paling pandai! Itulah ukurannya untuk memilih!

"Aku ingin berguru kepada orang yang paling pandai di antara Locianpwe berempat. Kini silakan para Locianpwe mengadu kepandaian dan siapa yang paling tinggi kepandaiannya dan menang dalam pertandingan ini, nah, dialah guruku."

"Anak setan...!" Tung-hek-kwi menyumpah.

"Omitohud...!" Se-thian Lama berseru.

Dua orang kakek lainnya, yaitu Pak-kwi-ong dan Ciu-sian Sin-kai tertawa bergelak-gelak mendengar kata-kata Hay Hay itu.

"Ha-ha-ha-ha, anak baik, ketahuilah bahwa di antara Delapan Dewa tidak ada yang saling bertanding. Aku suka mengalah kepada See-thian Lama dan dia pun pasti suka mengalah kepadaku. Akan tetapi entah dengan dua orang dari Empat Setan ini. Nah, bagaimana Pak-kwi-ong? Engkau hanya tertawa saja. Apakah engkau ingin memasuki... ha-ha-ha-ha, sayembara ini?" Kata Ciu-sian Sin-kai sambil tertawa geli.

"Heh-heh, aku sungguh tidak tahu diri kalau berani menandingi Pat Sian! Akan tetapi, kini muncul kesempatan bagiku untuk menguji satu jurus pukulanku yang paling akhir. Begini saja, Ciu-sian Sin-kai, karena di antara Pat Sian hanya engkau yang paling cocok dengan aku, karena kita sama-sama suka bergembira, bagaimana kalau engkau membantu aku dan menguji jurusku itu?' Satu jurus saja dan aku akan mengerti sudah, apakah aku harus melangkah terus ataukah mundur.”

Ciu-sian Sin-kai mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia menyukai ketegasan sikap salah seorang di antara Empat Setan yang memang paling suka berkelakar ini walau pun hatinya amat kejam.

"Boleh, boleh, hanya aku khawatir tulang-tulangku yang sudah tua ini akan menjadi remuk nanti dan berarti dalam usia setua ini engkau akan menjadi pembunuh lagi. Ha-ha-ha, itu namanya menambah dosa saja!"

"Heh-heh, usia kita sebaya, Sin-kai. Jika sampai engkau mati berarti aku tidak keterlaluan dan tidak menjadi buah tertawaan orang sedunia. Nah, mari kita bersiap."

"Anak baik, kau minggirlah dulu," kata Sin-kai sambil mendorong pundak Hay Hay dengan lembut.

Anak ini melangkah minggir untuk memberi tempat kepada dua orang kakek yang hendak mengadu ilmu. Diam-diam anak ini merasa girang bukan main. Kalau dia berhasil menjadi murid orang terpandai di antara mereka ini, sungguh hal itu amat menyenangkan.

"Pak-kwi-ong, aku sudah siap," kata Ciu-sian Sin-kai.

Kakek ini sama sekali tidak berani memandang rendah kepada lawannya. Dia tahu siapa adanya Empat Setan yang beberapa puluh tahun yang lalu sudah amat terkenal di dunia persilatan kalangan atas. Orang semacam Empat Setan, apa lagi yang sikapnya gembira seperti Pak-kwi-ong, harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan.

Oleh karena itu, biar pun nampaknya dia berdiri santai saja, namun tubuh tua itu berada dalam keadaan siap siaga, seluruh tubuhnya dialiri hawa sinkang yang sukar dapat diukur kekuatannya. Bahkan tangan kanannya sudah memegang senjata yang juga menjadi alat musiknya, yaitu suling yang terbuat dari kayu berwarna hitam.

Pak-kwi-ong juga tidak mau membuang waktu lagi. Dia bersikap cerdik ketika satu jurus ilmunya minta diuji oleh Ciu-sian Sin-kai. Kalau dia menantang berkelahi, dia meragukan apakah dia akan mampu keluar dengan nyawa masih menempel di tubuhnya.

Ujian hanya satu jurus ini, andai kata dia gagal dan kalah sekali pun, maka dia masih bisa keluar dengan selamat dan satu jurus saja telah cukup baginya untuk menguji. Jurus yang akan dikeluarkan ini adalah jurus terampuh dan kalau jurus ini tidak mampu mengalahkan Sin-kai, maka jurus-jurus lainnya tidak akan ada artinya lagi.

Dengan kedua kakinya yang nampak pendek karena berbentuk bulat, dia melangkah maju sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian tampak uap tebal mengepul dari telapak tangannya.

Dapat dibayangkan kehebatan tenaga sinkang kakek ini. Ketika muncul di sana, tenaga saktinya telah datang menerpa bagai badai yang membuat daun-daun kering beterbangan dan kini dia mengumpulkan seluruh kekuatannya pada kedua telapak tangannya, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya kedua telapak tangan yang telah diisi tenaga sakti itu.

"Sin-kai, terimalah seranganku ini!" Kakek gendut botak itu berseru dengan suara nyaring seperti bentakan.

Kakek ini adalah seorang datuk sesat yang kejam, akan tetapi juga cerdik sekali. Selain mengerahkan seluruh kekuatan dan menggunakan jurus terampuh dalam serangan yang hanya satu kali ini, juga dia memakai sopan-santun memberi peringatan terlebih dulu. Hal ini dilakukan karena dia belum yakin benar akan dapat mengalahkan lawan ini dalam satu serangan itu. Andai kata yang diserangnya itu adalah orang yang tingkatnya lebih rendah dan dia yakin akan sanggup merobohkannya, tentu dia akan turun tangan tanpa banyak aturan lagi.

"Wuuuuttt...!"

Angin dari hawa pukulan itu menyambar dahsyat ketika Pak-kwi-ong menerjang ke arah Ciu-sian Sin-kai. Ternyata jurus pukulan itu hanya sederhana saja, tangan kiri menampar dari atas ke arah kepala sedangkan tangan kanan menghantam lurus dari depan ke arah dada. Biar pun sederhana, jangan harap pukulan ini akan dapat dihindarkan oleh ahli-ahli silat kebanyakan saja karena pada kedua lengan itu terkandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Dan hebatnya, meski pun nampaknya tidak begitu cepat, namun Ciu-sian Sin-kai, seorang di antara Delapan Dewa, melihat bahwa pukulan dari Si Gendut itu tidak mungkin dapat dielakkan karena hawa pukulan itu sudah membuat semua jalan keluar tertutup. Apa bila orang memaksa diri untuk mengelak, tentu akan terkena pukulan, betapa pun cepatnya dia mengelak. Satu-satunya jalan untuk menghadapi pukulan kedua tangan itu hanyalah menyambutnya dengan tangkisan.

Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak-kwi-ong. Dia hendak memaksa lawan menggunakan tenaga menyambutnya untuk mengadu tenaga! Dan karena ini pula maka dia langsung mengerahkan seluruh tenaganya pada kedua tangan.

Akan tetapi Ciu-sian Sin-kai tidak merasa gentar. Juga sebagai seorang datuk persilatan yang sudah memiliki tingkat tinggi sekali, dia tidak kekurangan akal. Dengan tenang saja dia lalu menyalurkan tenaga sinkang dari pusarnya ke arah kedua tangan, lebih banyak ke tangan kiri dari pada tangan kanan.

Tangan kanan yang memegang suling hitam itu lantas bergerak, menggunakan sulingnya untuk menyambut dan menotok ke arah telapak tangan kiri Pak-kwi-ong yang menampar dari atas ke arah kepalanya. Karena dia menyambut tamparan itu dengan totokan, bukan tangkisan, maka dia tak perlu mengerahkan terlampau banyak tenaga. Ujung tongkatnya menyambar ke arah jalan darah yang menjadi pusat, yaitu di antara pangkal telunjuk dan ibu jari. Ada pun tangan kirinya, dengan jari-jari terbuka, menyambut hantaman lawan dari depan. Dia menerima tantangan adu tenaga itu.

Melihat sambaran ujung suling, Pak-kwi-ong maklum bahwa besar kemungkinan tangan kirinya akan tertotok dan hal itu dapat mengakibatkan kelumpuhan. Oleh karena itu, dia terpaksa miringkan sedikit tangan kirinya yang menampar agar ujung suling itu mengenai bagian lain dari telapak tangannya, lantas dengan nekat dia pun mengadu tenaga dengan tangan kanannya yang terbuka, menghantam dahsyat ke arah telapak tangan kiri lawan yang berani menyambutnya.

"Plakk...! Dessss...!"

Hebat bukan main pertemuan tenaga dua kali itu, terutama yang terakhir ketika tangan kanan Pak-kwi-ong bertemu dengan tangan kiri Ciu-sian Sin-kai. Tubuh Hay Hay sampai terpelanting dan para tokoh lain dapat merasakan getaran yang hebat ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu.

Tubuh Ciu-sian Sin-kai yang kurus itu masih berdiri tegak dengan mulut tetap tersenyum, akan tetapi tubuh Pak-kwi-ong yang gendut itu terdorong mundur sampai lima langkah! Jelaslah bahwa Pak-kwi-ong kalah dalam adu tenaga itu dan dia pun terkejut bukan main, merasa untung bahwa dia tadi hanya menantang untuk satu kali atau satu jurus serangan saja.

Jurus itu pun tidak dilanjutkannya karena lengkapnya masih ada susulan tendangan. Dari pertemuan tenaga tadi saja dia maklum alangkah hebatnya tokoh dari Delapan Dewa ini. Bukan nama kosong belaka. Isi dadanya sampai terguncang dan dia pun cepat menahan napas untuk menghimpun hawa murni. Kemudian, sambil tersenyum menyeringai dia pun mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Memang kepandaian Ciu-sian Sin-kai amat hebat. Aku tak merasa malu untuk mengakui kekalahanku."

Berbeda dengan dua orang kakek dari Empat Setan itu, para tokoh Delapan Dewa adalah datuk-datuk persilatan yang berwatak gagah perkasa. Biar pun mereka juga tidak pernah mengaku sebagai golongan putih atau golongan pendekar, dan tidak langsung memusuhi golongan hitam seperti kaum pendekar, akan tetapi mereka juga tidak pernah melakukan perbuatan jahat sehingga terkenal sebagai tokoh-tokoh aneh yang selalu bersikap adil dan gagah perkasa.

Ciu-sian Sin-kai merasa kasihan ketika melihat betapa Pak-kwi-ong, seorang tokoh besar yang tingkatnya telah tinggi sekali, kini bersedia mengakui kekalahannya begitu saja. Tadi ketika bertemu dengan telapak tangan kiri Pak-kwi-ong, suling hitamnya yang terbuat dari kayu cendana itu sudah mengalami keretakan. Hal ini dia tahu dan rasakan benar. Suling itu sudah rusak dan tidak ada gunanya dipakai lagi, maka kini melihat lawannya mengaku kalah, dia pun tertawa.

"He-heh-heh-heh, Pak-kwi-ong, kau ini merendahkan diri ataukah mengejek orang? Lihat, dalam adu tenaga tadi engkau telah merusak sulingku."

Dia melemparkan suling itu ke atas tanah dan ternyata benda itu telah patah menjadi dua potong. Tadinya memang hanya retak saja, akan tetapi dengan bantuan tenaga sinkang Ciu-sian Sin-kai, kini suling itu patah menjadi dua tanpa ada yang melihatnya.

Pak-kwi-ong bukan orang bodoh. Meski pun andai kata benar dia berhasil merusak suling lawan, namun bagaimana pun juga jika perkelahian dilanjutkan, dia akan kalah. Maka dia pun tertawa.

"Sudahlah, kini aku memang kalah. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas kekalahanku. Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, kakek gendut itu lalu melompat kemudian tubuhnya seperti menggelundung saja dari puncak bukit itu, dan sebentar saja dia sudah menghilang.

"Omitohud... Pak-kwi-ong sungguh tahu diri, semoga dia memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hidup…," kata Seng-thian Lama, merasa lega bahwa seorang di antara Empat Setan itu tidak membuat onar selanjutnya dan mau mengalah. "Dan bagaimana dengan engkau, Tung-hek-kwi?"

Semenjak tadi Tung-hek-kwi sudah memutar otak. Dia seorang yang pendiam, akan tetapi juga cerdik. Melihat betapa Pak-kwi-ong tidak mampu mengalahkan Ciu-sian Sin-kai, dia mengerti bahwa dia pun tidak akan menang menghadapi dua orang dari Delapan Dewa itu. Hatinya merasa mengkal sekali.

Dia pun tidak terlalu ingin mengambil anak itu sebagai muridnya. Akan tetapi melihat ada orang datang kemudian mengambil alih begitu saja anak yang tadinya berada di dalam lindungannya, dia merasa dipandang rendah sekali. Apa lagi anak itu telah mengadakan semacam sayembara, yang berarti mengadu domba dan apa bila dituruti berarti dia akan membuktikan kekurangan serta kekalahannya terhadap dua orang kakek Delapan Dewa itu. Maka timbullah kemarahan dan kemendongkolan hatinya terhadap Hay Hay.

"Dari pada diperebutkan, biarlah tak seorang di antara kita memperolehnya!" bentaknya.

"Omitohud...!" See-thian Lama berseru dan tiba-tiba saja tubuhnya lenyap.

Ternyata tubuh yang tinggi besar itu telah melayang ke atas seperti seekor burung garuda terbang saja. Gerakan pendeta Lama ini begitu cepat sehingga dia mampu menghadang di hadapan Hay Hay ketika Tung-hek-kwi datang menghantam anak itu. See-thian Lama menyambut pukulan itu dengan tangkisan tangannya selagi tubuhnya masih menyambar turun.

"Dessss...!"

Demikian hebatnya tangkisan itu dan tak terduga-duga oleh Tung-hek-kwi sehingga tubuh kakek hitam yang tinggi besar itu pun terjengkang dan bergulingan di atas tanah! Melihat betapa kakek hitam itu tadi nyaris saja membunuh anak kecil itu, kakek pendeta ini telah mengerahkan seluruh tenaganya dan mana mungkin Tung-hek-kwi mampu menahannya? Tubuhnya yang terjengkang dan bergulingan itu membuktikan betapa dahsyatnya tenaga tangkisan See-thian Lama!

Tung-hek-kwi segera meloncat bangun dengan muka berubah pucat, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi. Tetapi kini Ciu-sian Sin-kai juga sudah berdiri menghadang di depan anak itu.

"Ha-ha-ha, Tung-hek-kwi, apa bila engkau mau bermain curang dan hendak mengganggu anak ini, maka terpaksa aku akan menghajarmu!"

Tung-hek-kwi adalah orang yang berwatak keras. Akan tetapi dia pun bukan orang bodoh dan dia maklum bahwa menghadapi dua orang kakek itu sama sekali dia tidak akan dapat menandinginya. Baru melawan seorang di antara mereka saja dia akan sulit menang, apa lagi mereka berdua kini melindungi anak itu.

"Huh!" dengusnya. "Tidak sekarang, namun kelak dia akan mampus di tanganku!" Setelah berkata demikian, dia pun membalikkan tubuhnya lantas sekali meloncat, dia pun lenyap dari situ.

Ciu-sian Sin-kai hanya tertawa dan See-thian Lama berkata, "Omitohud... mereka berdua itu kelak akan menjadi ancaman bagi anak ini."

"Siangkoan Hay... "

"Locianpwe, aku tidak mau lagi memakai nama keluarga Siangkoan. Akan tetapi karena nama Hay Hay adalah namaku semenjak kecil, biarlah aku menggunakan nama Hay Hay saja," Hay Hay memotong ucapan Ciu-sian Sin-kai.

Kakek berpakaian pengemis itu terkekeh, "He-he-he, baiklah. Akan tetapi karena engkau dari keluarga Pek, namamu menjadi Pek Hay."

"Omitohud, pinceng sangsikan apakah dia ini benar-benar putera pendekar Pek. Menurut perhitungan dan ramalan para pimpinan Dalai Lama, putera dari pendekar Pek itu adalah Sin-tong dan pada punggungnya terdapat tanda merah. Akan tetapi di punggung anak ini tidak ada tandanya, berarti dia bukan Sin-tong dan bukan pula anak pendekar Pek."

"Pendapatmu itu memang benar, See-thian Lama, tetapi sekarang kita hanya tahu bahwa dahulu Lam-hai Siang-mo menculiknya dari keluarga Pek. Oleh karena itu, sebelum ada keterangan lebih lanjut dari keluarga Pek, biarlah dia bernama Pek Hay. Bagaimana Hay Hay, maukah engkau memakai nama keluarga Pek? Tidak baik orang tidak memiliki nama keluarga sama sekali."

Hay Hay menarik napas panjang. Dia sendiri bingung dengan keadaannya, akan tetapi dia tidak peduli dengan segala macam nama keturunan atau nama keluarga, maka dia pun hanya mengangguk saja.

"Nah, sekarang kepada siapa engkau hendak berguru? Kepadaku atau kepada See-thian Lama? Ingat, antara kami berdua terdapat ikatan persaudaraan maka kami tidak mungkin mau mengadu ilmu untuk memperebutkan dirimu. Kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan menjadi murid seorang pengemis jembel yang kadang-kadang makan sisa makanan dan tidur di emperan toko atau di kuil rusak, tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu makan dan pakaiannya. Kalau engkau ikut dengan See-thian Lama, engkau akan hidup sebagai seorang murid pendeta dan menjadi penghuni kuil. Nah, engkau pilih yang mana?"

Anak itu memandang kepada dua orang kakek itu bergantian, menimbang-nimbang. Dia sudah kehilangan segala-galanya dan kini hidupnya tergantung kepada dua orang kakek ini. Dia belum mengenal mereka dan tidak tahu pula siapa di antara mereka yang paling baik, paling pandai dan paling dapat diharapkan.

"Aku memilih... keduanya!" Dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di hadapan dua orang kakek itu. "Harap Ji-wi Locianpwe sudi menerimaku sebagai murid dan aku berjanji akan mentaati segala perintah Ji-wi."

Dua orang kakek itu saling pandang dan kemudian mereka berdua pun tertawa terbahak. "Omitohud, anak ini memang lihai sekali. Ciu-sian Sin-kai, pinceng merasa kasihan kalau melihat anak yang masih kecil ini kau ajak berkeliaran dan hidup terlantar. Biarlah selama lima tahun dia ikut bersama pinceng dahulu, kemudian setelah lima tahun, engkau boleh menjemputnya dan mengajaknya pergi. Bagaimana?"

"Ha-ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu, See-thian Lama. Tentunya engkau takut anak ini menjadi tersesat seperti aku, maka engkau hendak menanamkan dasar-dasar semua ilmu kepadanya, mengajarkan ilmu membaca, menulis dan keagamaan. Baik, aku setuju saja. Nah kalau tidak ada sesuatu, lima tahun kemudian aku mengunjungimu untuk menjemput Hay Hay. Dan kau, Hay Hay, engkaulah satu di antara jutaan anak-anak di dunia ini yang paling beruntung, dapat menjadi murid See-thian Lama. Belajarlah baik-baik." Dan setelah berkata demikian, Ciu-sian Sin-kai segera berkelebat lalu lenyap dari tempat itu.

Walau pun hatinya agak kecewa ditinggalkan oleh kakek jembel yang ramah dan lucu itu, karena dia sudah berjanji akan mentaati kedua orang itu, Hay Hay diam saja dan masih berlutut di depan See-thian Lama.

"Bangkitlah, Hay Hay, dan mari ikut dengan pinceng." Setelah berkata demikian, kakek itu tanpa menanti Hay Hay bangkit, lalu turun dari puncak bukit itu.

Hay Hay cepat bangkit berdiri lantas mengikuti pendeta itu dari belakang. Karena pendeta itu berjalan perlahan-lahan, maka Hay Hay mampu mengimbangi kecepatannya. Mulailah Hay Hay memasuki suatu keadaan hidup yang baru, yang sama sekali berbeda dengan keadaan hidupnya sebagai putera Siangkoan Leng di Nan-king.

Memang kehidupan ini sangat mudah berubah. Peristiwa-peristiwa yang kebetulan, yang tidak terduga-duga, dapat merubah keadaan hidup seseorang. Apa yang terjadi pada diri Hay Hay juga kebetulan saja.

Kwee Siong dan Tong Ci Ki, suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan itu, selain ingin membalas dendam atas kekalahan-kekalahan mereka dari Siangkoan Leng, juga memiliki niat untuk menculik Hay Hay demi keuntungan mereka sendiri. Akan tetapi, tanpa mereka sengaja suami isteri ini membawa Hay Hay ke puncak bukit itu, dibayangi dan diintai oleh Siangkoan Leng dan isterinya.

Akan tetapi sungguh terjadi hal yang tidak sengaja dan kebetulan sekali bahwa di puncak bukit itu muncul Pak-kwi-ong bersama Tung-hek-kwi, dua orang datuk sesat, tokoh-tokoh Empat Setan yang sakti! Di antara Empat Setan, memang hanya tinggal dua orang tokoh ini yang masih hidup, dan puncak bukit itu memang merupakan tempat pertemuan antara mereka selama puluhan tahun.

Kebetulan sekali, pada pagi hari itu adalah tepat merupakan pertemuan antara dua orang datuk ini. Munculnya dua orang datuk ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hay Hay, hanya kebetulan saja, akan tetapi sudah merubah semua jalan kehidupan Hay Hay. Seandainya mereka tidak muncul dan Hay Hay dibawa pergi oleh suami isteri Goa Iblis, atau mungkin berhasil terampas kembali oleh Lam-hai Siang-mo, tentu keadaan hidupnya akan menjadi berlainan sama sekali.

Di dalam peristiwa yang kebetulan itu, terjadi lagi peristiwa kebetulan lain yang menimpa dirinya, yakni kemunculan Ciu-sian Sin-kai serta See-thian Lama. Dua orang kakek yang jarang sekali muncul di dunia ramai ini adalah dua di antara Pat-sian atau Delapan Dewa, julukan yang diberikan kepada delapan orang tokoh besar dunia persilatan.

Kemunculan mereka di tempat itu pun hanya suatu kebetulan saja. Ciu-sian Sin-kai dalam perantauannya sebagai seorang pengemis selalu memilih jalan sunyi dan tempat-tempat rawan dan gawat, jarang mau menemui orang lain. Sedangkan See-thian Lama, seorang tokoh besar di daerah Pegunungan Himalaya, walau pun dia penganut Agama Buddha seperti para Lama di Tibet, namun dia tidak tergabung dalam golongan Lama di Tibet, juga sedang merantau ke timur dengan dua maksud.

Pertama, untuk turut pula menyelidiki mengenai hilangnya Sin-tong yang menghebohkan para pendeta itu, dan ke dua, untuk mencari murid karena dia merasa sudah tua dan ingin menurunkan ilmu-ilmunya kepada seorang murid yang baik. Dan sungguh dia memperoleh berkah, mungkin disebabkan cara hidupnya yang selalu bersih sehingga terjadi hal yang demikian kebetulan. Dia menemukan anak yang diributkan sebagai Sin-tong, bahkan juga menemukan seorang murid yang baik.

Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah fakta-fakta yang tidak dapat diubah lagi oleh apa dan siapa pun juga. Peristiwa yang terjadi adalah suatu hal yang sudah nyata, wajar, dan tidak baik mau pun buruk. Yang terjadi pun terjadilah!

Kitalah yang menempelkan sebutan baik atau buruk pada peristiwa yang terjadi, sesuai dengan penilaian kita yang didasari oleh kepentingan diri pribadi. Dan sekali kita menilai, sekali kita memberi sebutan baik atau buruk, maka muncullah sebutan baik buruk. Kita senang kalau peristiwa itu baik (menguntungkan) sebaliknya kita kecewa kalau peristiwa itu buruk (merugikan).

Kecewa, marah, duka dan sebagainya berada di dalam CARA MENERIMA KENYATAAN yang berupa peristiwa itu dan bukan terletak pada kenyataan itu sendiri. Dan oleh karena penilaian kita didasari kepentingan diri, maka apa yang kita anggap baik hari ini, belum tentu kita anggap baik pada keesokan harinya, dan sebaliknya. Apa yang kita tangisi hari ini, mungkin besok akan kita tertawakan, dan apa yang mendatangkan tawa kepada kita hari ini, mungkin akan mendatangkan tangis di keesokan harinya. Semua itu tergantung dari keadaan hati kita ketika menghadapi kenyataan itu.

Apa bila kita mau menghadapi segala macam peristiwa di dalam hidup ini sebagai suatu kenyataan, sebagai fakta yang wajar, maka kita akan menerimanya dengan hati lapang, dengan penuh kewaspadaan tanpa menilai baik buruknya. Dengan begitu batin kita akan tetap tenang dan jernih, dan tindakan kita sebagai tanggapan terhadap peristiwa itu tidak lagi dikuasai oleh emosi, oleh nafsu, melainkan didasari kecerdasan dan akal budi yang sehat.

Kewaspadaanlah yang akan membuka mata kita bahwa sesungguhnya, segala peristiwa yang terjadi hanyalah merupakan suatu akibat dari suatu sebab. Sebab-sebab itu dapat berantai panjang, namun pusatnya atau sebab utama dan pertamanya, akan selalu kita dapatkan di dalam diri sendiri!

Kalau sudah begini, tidak mungkin akan ada lagi keluhan, apa pun yang terjadi menimpa diri. Jangankan hanya urusan yang tidak langsung mengenai diri kita, bahkan datangnya penyakit dan kematian sekali pun merupakan suatu kewajaran yang tidak dinilai sebagai baik atau pun buruk.

Dan kalau sudah begini, apakah masih ada masalah dalam kehidupan? Kalau batin telah bebas dari ikatan apa pun juga, kematian pun hanya merupakan suatu kewajaran yang tidak mendatangkan perasaan was-was atau takut sama sekali


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kita tinggalkan dulu Hay Hay yang sedang mengikuti See-thian Lama menuju ke barat, ke Pegunungan Himalaya dan mari kita menengok keadaan keluarga lain yang hubungannya dekat dengan Hay Hay.

Di kota Nam-co, di daerah Tibet, sebelah utara kota Lha-sa yang menjadi ibu kota Tibet di mana para Dalai Lama menjadi penguasa-penguasa mutlak, terdapat banyak pendatang dari timur, jadi bukan penduduk asli Tibet. Mereka ini sebagian besar menjadi pedagang, membuka toko dan melakukan perdagangan dengan mendatangkan barang-barang dari Propinsi-propinsi Yu-nan, Secuan, atau Cing-hai.

Karena banyak pula keluarga bangsa Han (Cina) yang berada di Tibet, maka terdapat pula kelompok-kelompok atau golongan-golongan di kota Nam-co. Akan tetapi yang paling terkenal adalah perkumpulan Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih).

Perkumpulan ini adalah perkumpulan silat, merupakan sebuah perguruan akan tetapi juga perkumpulan sosial yang sering kali bertindak membantu masyarakat yang tertimpa malapetaka atau ketidak adilan. Penjahat-penjahat di daerah Tibet merasa gentar menghadapi perkumpulan Pek-sim-pang, karena keluarga Pek, yaitu pendiri dari Pek-sim-pang, adalah ahli-ahli silat yang amat lihai.

Sejak berdiri kurang lebih empat puluh tahun yang lalu, Pek-sim-pang sudah memperoleh kemajuan besar. Banyak orang muda yang gagah perkasa menjadi murid atau anggota perkumpulan itu. Karena sepak terjang mereka itu gagah perkasa dan seperti pendekar-pendekar sejati, maka nama Pek-sim-pang makin terkenal dan anggotanya pun semakin banyak sampai berjumlah kurang lebih seratus orang.

Selama bertahun-tahun keadaan perkumpulan itu jaya dan tenteram, bahkan nama besar Pek-sim-pang membuat kota Nam-co menjadi tenteram pula. Hal ini juga diakui oleh para pendeta Lama di Lha-sa sehingga mereka amat menghargai Pek-sim-pang yang mereka anggap sebagai perkumpulan sahabat yang dikagumi.

Apa lagi mengingat bahwa pendirinya pada empat puluh tahun yang lalu adalah seorang pendekar besar, murid dari Siauw-lim-pai. Para guru besar Siauw-lim-pai masih memiliki hubungan baik, bahkan hubungan persaudaraan dalam perguruan dengan para pimpinan Lama di Tibet, maka tentu saja keluarga Pek diterima sebagai keluarga seperguruan pula.

Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang abadi dan tidak berubah di dunia ini. Ketenteraman Pek-sim-pang dan keluarga Pek pada khususnya, mengalami perubahan hebat pada tujuh tahun yang lalu.

Pada waktu itu, Pek Khun, pendiri Pek-sim-pang yang sudah berusia enam puluh tahun, telah mengundurkan diri lalu pergi bertapa di sebuah puncak di Pegunungan Kun-lun-san. Yang menggantikannya menjadi ketua Pek-sim-pang adalah Pek Ki Bu, puteranya yang pada waktu itu sudah berusia empat puluh lima tahun.

Pek Ki Bu telah mewarisi ilmu-ilmu silat ayahnya dan dia pun amat lihai dalam ilmu silat Siauw-lim-pai yang sangat banyak ragamnya itu. Pek Ki Bu hanya mempunyai seorang putera yang bernama Pek Kong. Melalui diri Pek Kong inilah peristiwa yang menimbulkan perubahan hebat pada Pek-sim-pang itu terjadi.

Baru setahun Pek Kong menikah dengan seorang gadis puteri seorang pedagang obat di Nam-co, dan ketika isterinya mengandung tua, tiba-tiba saja datang utusan dari Lha-sa, dari para pendeta Dalai Lama yang menyatakan bahwa anak dalam kandungan isteri Pek Kong itu adalah calon Dalai Lama! Sebagai cirinya, pada punggung anak itu akan nampak tanda merah selebar telapak tangan dan karena anak itu merupakan calon orang suci atau guru besar, maka diminta kerelaan orang tuanya untuk menyerahkan anak itu bila mana terlahir kelak!

Keluarga Pek adalah keluarga yang sudah dua keturunan tinggal di daerah Tibet sehingga mereka maklum apa artinya itu. Anak itu kelak akan menjadi seorang calon Dalai Lama dan sama sekali terputus hubungannya dengan keluarga Pek!

Tentu saja keluarga itu tidak rela dengan bayangan ini. Pek Kong merupakan keturunan terakhir dan tunggal dari keluarga Pek. Kalau kelak anak itu terlahir laki-laki, maka anak itulah yang merupakan keturunan terakhir. Bagaimana mungkin mereka bisa menyerahkan keturunan terakhir itu untuk menjadi calon Dalai Lama dan terputus hubungannya dengan keluarga mereka?

Bagaimana kalau Pek Kong, seperti kakeknya dan juga ayahnya, hanya memiliki seorang saja anak laki-laki? Bukankah dengan demikian berarti keturunan keluarga mereka akan putus dan lenyap? Di mana pun, bagi bangsa Han keturunan laki-laki yang menyambung nama keluarga mereka merupakan hal yang teramat penting.

Di dalam kebingungan itu, keluarga Pek tentu saja tidak berani menolak permintaan para pendeta Lama yang amat berpengaruh di Tibet. Pek Ki Bu sebagai ketua Pek-sim-pang menjadi bingung, maka dia cepat pergi menghadap ayahnya yang bertapa di Kun-lun-san untuk minta nasehat.

"Aihh, mengapa keluarga kita ditimpa urusan yang sesulit itu?" Kakek Pek Khun menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang panjang. "Walau pun andai kata ada aku sendiri di sana dan semua puncak pimpinan para Lama menjadi sahabat-sahabat baikku yang amat menghormatiku, namun urusan pemilihan calon Lama itu sungguh merupakan urusan yang tak boleh dipandang ringan. Para Lama itu sangat percaya dengan ramalan, dan menganggap hal itu seperti perintah dari Sang Buddha sendiri. Biar pun sahabat baik, kalau menentang tentu akan dimusuhi! Sebaiknya begini saja. Sebelum anak itu terlahir, Pek Kong dan isterinya harus mengungsi jauh ke timur. Dan kelak, kalau anaknya terlahir, kita harus menukar anaknya itu dengan anak lain, jika memang di punggungnya ternyata ada tanda merah. Ada pun anak itu, cucu buyutku, biarlah aku yang akan membawa dan menyembunyikannya."

Demikianlah, keluarga Pek lantas mentaati kakek Pek Khun itu dan diam-diam Pek Kong bersama isterinya melarikan diri ke timur, memasuki Propinsi Yu-nan kemudian mereka terus melanjutkan perjalanan sampai ke pantai selatan di daerah Propinsi Kuangsi.

Sesudah merasa cukup jauh dan sudah hampir tiba waktunya bagi kandungan isterinya untuk melahirkan, suami isteri Pek ini lantas menyembunyikan diri dan mondok di sebuah kuil. Tetapi, tanpa mereka ketahui, diam-diam mereka dibayangi oleh seorang kakek yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, yaitu kakek mereka sendiri, pertapa Pek Khun yang secara diam-diam melindungi pelarian cucunya itu.

Sesudah mereka mendapatkan tempat pondokan di kuil itu, barulah Pek Khun menemui mereka sehingga girang dan legalah hati Pek Kong bersama isterinya. Saat yang dinanti-nantikan telah tiba dan isteri Pek Kong lalu melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah rasa hati Pek Kong dan isterinya pada saat melihat bahwa di punggung anak mereka memang terdapat tanda merah sebesar telapak tangan! Kulit di bagian itu seperti bekas terbakar atau ada kelainan sehingga warnanya kemerahan.

Bila tidak ada kakek Pek Khun di situ, tentu suami isteri yang masih amat muda itu, baru berusia dua puluh tahun lebih, menjadi panik dan khawatir sekali. Kakek Pek Khun yang membuat mereka tenang. Mula-mula, kakek pertapa ini mencoba untuk mempergunakan ilmu kepandaiannya supaya tanda kemerahan pada punggung itu dapat lenyap. Namun, semua usahanya sia-sia belaka dan akhirnya dia harus mengambil jalan terakhir seperti yang direncanakannya.

"Cucuku, agaknya memang sudah menjadi kehendak Thian bahwa anak ini harus terlahir dengan tanda ini yang tak dapat dihilangkan dengan obat. Maka, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keturunan kita ini adalah menyembunyikan dan menukar anak ini dengan seorang anak lain yang tidak memiliki tanda merah pada punggungnya. Dengan demikian, anak kalian itu dapat kita ajak pulang dan kalau para pendeta Lama tidak melihat tanda merah di punggungnya, tentu mereka tidak akan mengganggunya."

Pek Kong dan isterinya yang merasa bingung hingga tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan putera mereka tanpa menjadi keluarga pelarian, lalu menyetujui saja siasat yang akan diatur oleh kakek Pek Khun itu.

Maka mulailah kakek yang sakti itu melakukan penyelidikan di sepanjang pantai selatan, ke dusun-dusun yang sunyi. Namun dia tak berhasil menemukan anak yang keadaannya dianggap amat cocok dengan cucu buyutnya. Dia harus cepat menemukan keluarga yang mempunyai anak bayi yang sebaya, dan keluarga itu harus bersedia menerima penukaran anak dan mau merawat cucu buyutnya, namun tentu saja tidak mudah mencari keluarga seperti ini.

Pada hari ke tiga, pada saat dia berjalan menyusuri pantai yang sunyi, pandang matanya tertarik oleh sesosok tubuh yang berdiri di atas tebing yang curam. Walau pun waktu itu sudah menjelang senja dan cuaca sudah remang-remang, namun penglihatan kakek yang masih tajam ini dapat melihat bahwa tubuh yang berdiri di tepi tebing itu adalah seorang perempuan yang agaknya memondong sesuatu.

Dia merasa khawatir melihat wanita itu berdiri demikian dekat di bibir tebing yang begitu curam. Ingin dia berteriak memperingatkan wanita itu, akan tetapi dapatlah dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita itu tiba-tiba malah meloncat ke bawah, ke air laut yang bergelombang! Dan lebih ngeri lagi rasa hatinya ketika dia melihat bahwa benda yang dipondong oleh wanita itu adalah seorang anak kecil yang terdengar menangis pada saat wanita itu meloncat ke bawah.

Tanpa pikir panjang lagi kakek Pek Khun kemudian cepat berlari ke pinggir pantai itu dan meloncat ke air bergelombang saat wanita dan anak kecil itu sudah terbanting ke air. Hati kakek itu tergerak melihat tubuh kecil bayi itu diombang-ambingkan ombak dan tangisnya masih terdengar. Maka dia pun cepat berenang ke arah anak itu dan akhirnya berhasil menyambar tubuh kecil itu.

Dengan cepat diikatnya tubuh anak itu pada punggungnya menggunakan robekan bajunya yang lebar, kemudian barulah dia berenang lagi hendak menolong wanita tadi yang sudah timbul tenggelam. Apabila dia tidak bergerak cepat, tentu wanita itu akan dihempaskan ombak ke batu karang di bawah tebing. Untung bahwa semenjak muda kakek Pek Khun memang ahli renang yang terlatih sehingga dia dapat bergerak dengan cepat dan lincah di dalam air, walau pun air laut itu bergelombang dengan amat kuatnya.

Sesudah berhasil mencengkeram rambut wanita itu yang terurai panjang karena terlepas dari sanggulnya, dia cepat berenang ke tepi, memanggul anak kecil di punggungnya yang masih terus menangis sambil menyeret wanita yang sudah pingsan itu. Berhasillah kakek yang gagah perkasa ini membawa tubuh wanita itu ke darat, menjauhi jangkauan air.

Anak itu ternyata seorang bayi laki-laki yang bertubuh sehat dan montok, juga tangisnya amat nyaring. Tangis inilah yang agaknya menolong bayi itu. Dengan amat hati-hati kakek Pek Khun merebahkan bayi itu di atas pasir kemudian dia pun cepat menolong wanita itu, mengeluarkan air dari dalam perutnya.

Akan tetapi wanita itu ternyata telah terluka parah pada dahinya. Pada saat meloncat ke bawah dan dipermainkan ombak, agaknya kepalanya sempat terbentur pada batu karang. Napasnya sudah empas-empis dan banyak darah keluar dari luka di dahinya.

Melihat keadaan dahi itu, kakek Pek Khun mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang ahli silat yang juga pandai ilmu pengobatan, terutama dalam mengobati luka-luka. Melihat luka di dahi yang demikian dalam, dia tidak melihat harapan untuk dapat bertahan hidup pada wanita itu.

Setelah ditotok sana-sini untuk menghentikan darah keluar, mengurangi rasa nyeri sambil menyadarkannya, wanita itu lalu membuka matanya. Dia menengok ke kanan kiri dengan lemah, lalu bertanya,

"Mana... mana anakku...?"

Anak itu sudah berhenti menangis dan kakek itu berkata, "Jangan khawatir, anakmu telah selamat." Dia menunjuk ke arah anak itu yang kini rebah dan diam saja.

Melihat anaknya, wanita itu lalu menitikkan air mata yang bercampur dengan air laut yang menetes-netes dari rambutnya membasahi mukanya. " Anakku... ahh, dia tidak berdosa... biarlah dia mati bersamaku..."

Kakek itu mengerutkan sepasang alisnya. Betapa menyedihkan melihat seorang manusia mengalami penderitaan batin sehingga putus asa dan memilih jalan membunuh diri seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, pikirnya. Seorang perempuan yang masih amat muda, belum dua puluh tahun agaknya, dan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sehat. Dan dia tahu bahwa perempuan muda ini sekarang menghadapi maut yang agaknya sukar untuk dapat dielakkan lagi.

"Anak baik, mengapa engkau melakukan ini? Mengapa engkau berusaha membunuh diri bersama anakmu yang masih bayi itu?"

Mendengar pertanyaan ini, wanita itu lalu memandang wajah kakek Pek Khun, mengamat-amatinya penuh perhatian dan air matanya bercucuran semakin banyak. Kemudian ia pun mulai bercerita, suaranya tersendat-sendat, ada kalanya hanya berbisik-bisik lemah dan napasnya semakin empas-empis. Namun agaknya dia memiliki semangat terakhir untuk menceritakan keadaan dirinya, cerita yang mengandung penuh penasaran baginya.

Wanita muda itu puteri guru silat Coa-kauwsu, seorang guru silat yang tinggal di dusun dekat pantai. Kurang lebih setahun yang lampau, di dusun itu datang seorang pengacau, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang mengganggu wanita-wanita muda di dusun itu, malah telah melakukan penculikan-penculikan dan pemerkosaan-pemerkosaan. Hal ini membuat keluarga Coa yang menjadi jagoan-jagoan di dusun itu merasa sangat marah dan penasaran.

Pada suatu malam, Coa-kauwsu bersama puterinya, yaitu satu-satunya murid yang paling pandai dan boleh diandalkan, melakukan penyelidikan dan pengintaian secara berpencar. Akan tetapi malang bagi Coa Si, anak guru silat itu. Dia bertemu dengan penjahat itu, lalu berkelahi dan dia kalah. Dia yang tadinya hendak menangkap penjahat, sebaliknya malah tertawan dan kemudian diperkosa!

Anehnya, dia malah jatuh cinta kepada jai-hwa-cat yang di samping tampan dan lihai, juga pandai merayu itu sehingga dia merahasiakan peristiwa itu dari orang tuanya. Dia malah kemudian menjadi pacar Sang Penjahat, berkali-kali mengadakan pertemuan. Setiap kali jai-hwa-cat itu lewat di dusun itu, tentu mereka mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi untuk memadu cinta. Dan Sang Jai-hwa-cat juga membebaskan dusun itu dari gangguannya setelah Coa Si menjadi kekasihnya. Akan tetapi, saat Coa Si mengandung, jai-hwa-cat itu pun tidak pernah mau singgah lagi ke dusun itu!

Orang tua Coa Si marah bukan main melihat keadaan puteri mereka yang mengandung dan kemarahan itu semakin memuncak ketika Coa-kauwsu mendengar pengakuan puteri mereka bahwa ayah dari anak yang dikandungnya adalah Sang Jai-hwa-cat! Hampir saja Coa-kauwsu membunuh puterinya itu. Akan tetapi, isterinya yang amat menyayang anak tunggal itu, berhasil meredakan kemarahannya sehingga Coa Si tidak dibunuh melainkan diusir dari rumah keluarga Coa!

Mulailah Coa Si hidup terlunta-lunta, hidup terasing di tepi laut. Akan tetapi ia masih terus mengharapkan kedatangan kekasihnya. Dia tidak dapat mencari kekasihnya itu karena memang tidak tahu di mana tempat tinggal jai-hwa-cat yang merupakan seorang petualang dan perantau itu. Dan akhirnya dia pun melahirkan seorang anak laki-laki, hanya dibantu seorang bidan yang dikirim oleh ibunya yang diam-diam masih suka membantu anaknya.

Kakek Pek Khun mendengarkan cerita itu dengan sabar, cerita yang dituturkan dengan suara lirih dan tersendat-sendat. "...begitulah... ketika anakku terlahir... ayahnya datang... tapi melihat aku melahirkan anak... dia malah marah-marah lantas pergi lagi. Aku... putus asa... lebih baik anakku kubawa mati... ohhh..." Wanita itu terkulai.

Kakek Pek Khun cepat menekan pundak wanita muda itu. "Katakan siapa ayah anak ini, dan siapa pula nama anak ini..."

Wanita muda itu membuka mata, kini bibirnya membentuk senyuman lemah. "Aku... titip anakku... belum kuberi nama... ayahnya... ayahnya... Tang... Tang…" Wanita itu meraba ke balik bajunya dan mencabut sebuah benda yang tadinya menempel di bajunya dengan bantuan peniti, menyerahkan benda itu kepada kakek Pek Khun, sambil berbisik. "...ini... ini dari ayahnya " Dan dia pun terkulai dan napasnya terhenti.

Kakek Pek Khun berusaha untuk menahan kematiannya, namun tidak berhasil. Pada saat itu terdengar suara anak kecil itu menangis, seakan-akan dia merasa bahwa saat itu ibu kandungnya telah meninggalkannya untuk selamanya.

Kakek Pek Khun menarik napas panjang, merebahkan tubuh wanita yang tadi kepalanya diangkat lalu dia pun segera memondong anak bayi itu dan diayun-ayunnya sampai anak itu terdiam kembali. lalu kakek Pek Khun cepat membuat lubang yang cukup dalam dan menguburkan jenazah ibu muda yang malang itu.

Niatnya untuk memberi tahu kepada keluarga wanita itu ke dusun diurungkannya. Malah dia tergesa-gesa mengubur jenazah itu, lalu dengan cepat membawa pergi bayi laki-laki itu, pulang ke kuil di mana Pek Kong dan isterinya sedang menunggu dengan hati penuh ketegangan.

Demikianlah, anak kandung Coa Si itu lantas diserahkan kepada Pek Kong dan isterinya sebagai pengganti anak kandung mereka yang akan dibawa pergi oleh kakek Pek Khun. Semua ini terjadi tanpa ada yang mengetahui kecuali mereka bertiga.

"Ibu anak ini sudah meninggal dunia, namanya Coa Si, dan ayahnya she Tang. Ibunya hanya menyerahkan benda ini kepadaku. Nah, simpanlah benda ini kemudian rawat anak ini baik-baik."

Pek Kong serta isterinya menerima anak laki-laki yang sehat itu bersama sebuah benda yang ternyata berupa sebuah perhiasan terbuat dari logam dan batu permata berwarna merah berbentuk seekor tawon. Seekor tawon merah!

"Kongkong, ke manakah Kongkong hendak membawa anakku...?" tanya isteri Pek Kong sambil mencucurkan air mata, memandang pada anak kandungnya yang sekarang sudah dipondong oleh kakek suaminya.

"Aku akan membawanya bersembunyi di Pegunungan Kun-lun di mana aku bertapa. Tak usah khawatir, kelak jika sudah tidak ada bahaya atau ancaman dari para pendeta Lama, tentu anak kalian akan kukembalikan kepada kalian. Aku akan menjaganya baik-baik dan akan mendidiknya."

Pada malam hari itu juga kakek Pek Khun kemudian pergi membawa cucu buyutnya yang dipondongnya dan dibawanya berlari cepat. Sementara itu Pek Kong sibuk merangkul dan menghibur isterinya yang menangis dengan sedih. Sungguh pun dia tahu bahwa anaknya berada di tangan orang yang akan melindunginya, dan walau pun dia sudah memperoleh penggantinya, seorang anak laki-laki yang bertubuh sehat dan montok, akan tetapi hati ibu muda ini tetap saja berduka karena harus berpisah dari anak kandungnya yang baru berusia dua bulan itu. Hanya dengan setengah hati dia suka menyusui anak yang dibawa oleh kakek Pek Khun.

Melihat keadaan isterinya itu, Pek Kong lalu minta bantuan seorang wanita pengasuh dan seorang nikouw untuk menjaga anaknya, setiap isterinya rewel dan minta diajak berlayar untuk menghibur hatinya. Mereka berdua sering naik perahu layar dan mencari ikan, suatu kesibukan yang kadang-kadang bisa mendatangkan kegembiraan di hati isteri Pek Kong dan membuat dia melupakan kedukaannya.

Ketika Lam-hai Siang-mo, yaitu Siangkoan Leng dan isterinya, Ma Kim Li, datang ke kuil itu dan menculik anak mereka, membunuh pengasuh dan nikouw kemudian meninggalkan mayat anak yang mukanya rusak, Pek Kong bersama isterinya juga sedang mencari ikan di tengah lautan. Mereka berdua sangat gembira karena pada waktu itu sedang musim udang sehingga jala mereka menghasilkan banyak udang besar.

Tentu saja mereka terkejut bukan main sesudah kembali ke kuil dan melihat betapa dua orang pengasuh anak itu telah tewas dan anak mereka telah ditukar dengan seorang anak sebaya yang sudah tewas pula dengan muka rusak! Hal ini sungguh mengejutkan hati mereka dan barulah mereka yakin benar bahwa memang anak mereka itu selalu diincar orang. Untuk memperkuat peristiwa itu, demi keselamatan anak mereka, suami isteri ini lalu menyebar-luaskan berita tentang pembunuhan anak mereka!

Benar saja! Begitu terdengar berita bahwa anak mereka yang di luaran terkenal sebagai Sin-tong itu terbunuh, seketika banyak orang aneh bermunculan dengan alasan melayat, akan tetapi yang sesungguhnya hendak membuktikan dan menyelidiki. Bahkan tiga orang pendeta Lama dari Tibet tiba-tiba muncul di ambang pintu dan mereka ini sengaja datang untuk memeriksa dan membuktikan sendiri mayat anak kecil itu!

Selain tiga orang pendeta Lama, di antara para tamu yang datang melayat terdapat pula suami isteri penghuni Goa Iblis Pantai Selatan. Sepasang iblis ini datang terlambat sebab jenazah nikouw, pengasuh dan anak kecil itu sudah dikubur.

Akan tetapi, pada malam harinya mereka membongkar tiga kuburan itu lantas memeriksa keadaan mayat yang sudah hampir membusuk itu! Dari hasil pemeriksaan inilah mereka dapat menemukan jarum-jarum yang digunakan oleh Ma Kim Li untuk membunuh nikouw dan pengasuh, dan mereka pun bisa menduga siapa yang telah melakukan pembunuhan itu.

Mereka adalah orang-orang cerdik, karena itu mereka tak percaya bahwa anak kecil yang tubuhnya penyakitan dan mukanya rusak itulah yang dikabarkan sebagai Sin-tong, anak kandung suami isteri pendekar Pek! Suami isteri yang bertubuh sehat dan hidup bersih itu tak mungkin mempunyai anak berpenyakitan seperti itu. Tentu Lam-hai Siang-mo mencuri anak ajaib itu dan menukarnya dengan anak kecil yang mereka bunuh pula.

Memang sudah lama suami isteri penghuni Goa Iblis Pantai Selatan bermusuhan dengan Lam-hai Siang-mo, juga mereka ingin sekali menemukan Sin-tong untuk dibawa kembali ke Tibet dan diserahkan kepada para pendeta Lama supaya mereka memperoleh hadiah benda-benda mukjijat. Oleh karena itu, mereka segera mulai melakukan pencarian sambil memperdalam ilmu silat mereka karena mereka maklum bahwa musuh besar mereka itu, Lam-hai Siang-mo, merupakan lawan yang tangguh.

Ketika itu Pek Kong dan isterinya merasa bahwa anak kandung mereka sudah aman dan mereka boleh kembali lagi ke Nam-co. Bukankah sesudah kini tersiar berita bahwa anak kandung mereka yang disebut Sin-tong dan diinginkan oleh para pendeta Lama itu tewas, mereka tak akan mengalami gangguan lagi? Karena itu mereka pun kemudian melakukan perjalanan kembali ke barat, menuju ke Nam-co.

Akan tetapi di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang tua mereka beserta para anggota Pek-sim-pang yang sedang berbondong-bondong menuju ke timur meninggalkan kota Nam-co! Tentu saja pertemuan itu amat mengejutkan dan apakah yang telah terjadi di Nam-co? Kiranya urusan Sin-tong menimbulkan banyak peristiwa yang menyedihkan.

Pada saat mendengar bahwa Pek Kong beserta isterinya melarikan diri dari kota Nam-co, para pendeta Lama menjadi amat marah. Mereka segera pergi mengunjungi perkumpulan Pek-sim-pang di Nam-co. Yang berangkat adalah lima orang pendeta Lama yang menjadi utusan para pimpinan Lama di kota Lha-sa.

Pek Ki Bu sudah menduga bahwa para pendeta Lama tentu tidak akan tinggal diam saja, maka dia pun sudah bersiap dan menyambut kedatangan kelima orang pendeta Lama itu dengan sikap ramah dan hormat. Para pendeta itu dipersilakan duduk, akan tetapi mereka tidak mau duduk dan sambil berdiri dengan sikap kaku mereka memandang pada Pek Ki Bu dengan alis berkerut. Seorang di antara mereka yang menjadi pimpinan lalu bertanya dengan suara lantang.

"Pek-pangcu, kami datang diutus oleh para pimpinan kami untuk menanyakan kesehatan putera pangcu dan terutama keadaan kandungan anak mantu pangcu."

Pek Ki Bu dapat menduga bahwa tentu para pendeta itu telah mendengar bahwa anaknya bersama mantunya sudah melarikan diri. Hal itu sudah lewat lima hari, maka dia merasa aman dan dengan sikap ramah dia menjawab. "Terima kasih banyak atas perhatian para suhu di Lha-sa. Keadaan mereka baik-baik saja berkat doa restu para suhu yang mulia."

"Siancai... kalau begitu bagus sekali! Harap Pangcu suka mempersilakan mantu Pangcu untuk keluar karena kami ingin menyaksikan sendiri keadaan kandungannya."

Pek Ki Bu tidak bermain sandiwara lagi. "Harap Ngo-wi Suhu ketahui bahwa Pek Kong dan isterinya tidak berada di rumah. Mereka sedang melakukan perlawatan ke timur untuk pulang ke kampung halaman karena mantu saya ingin melahirkan di sana, dekat dengan keluarga orang tuanya."

"Omitohud...!" Pendeta Lama itu membelalakkan mata, tindakan yang dibuat-buat karena sebenarnya dia pun sudah mendengar tentang kepergian mereka itu. "Bagaimana Pangcu memperbolehkan mereka pergi tanpa setahu dan seijin pimpinan kami?"

Inilah pertanyaan yang dinanti-nanti oleh ketua Pek-sim-pang. Dia mengerutkan alisnya. Memang harus diakuinya bahwa semenjak dulu, sejak ayahnya mendirikan Pek-sim-pang, keluarga Pek menjadi sahabat-sahabat baik dari para pimpinan pendeta Lama di Lha-sa. Akan tetapi sekali ini, dia menganggap bahwa pihak pendeta Lama terlalu mencampuri urusan dalam keluarganya.

"Ngo-wi Suhu harap suka mengingat bahwa Pek Kong adalah anakku dan isterinya adalah mantu kami. Jika mereka pergi mengunjungi keluarga di kampung halaman, jauh di timur, mereka cukup memperoleh ijin dari kami sebagai orang tuanya. Kenapa harus setahu dan seijin pimpinan para suhu di Lha-sa?"

"Omitohud...! Apakah Pangcu tidak tahu apakah pura-pura tidak tahu? Mantumu adalah wanita yang telah dipilih oleh Sang Buddha untuk melahirkan calon Guru Suci, calon Dalai Lama! Tentu saja selama mengandung, dia harus berada di bawah pengawasan kami dan dia tidak boleh pergi begitu saja tanpa ijin kami. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sin-tong?"

Hati Pek Ki Bu merasa amat mendongkol, akan tetapi dia menahannya karena dia pun tak ingin bermusuhan dengan para pendeta Lama. "Harap Ngo-wi jangan khawatir, mereka akan selamat. Dan pula, belum tentu menantuku akan melahirkan Anak Ajaib yang kelak akan menjadi Dalai Lama."

"Sudah pasti! Ramalan kami tak akan meleset. Yang dikandungnya adalah Sin-tong yang kelak akan menjadi pimpinan kami!"

"Ngo-wi harap jangan lupa bahwa bagaimana pun juga, yang dikandung itu adalah anak dari Pek Kong dan calon cucuku!" kata Pek Ki Bu dengan suara agak keras karena dia mulai marah.

"Omitohud, pertimbangan akal Pangcu benar-benar dangkal. Dalam hal ini keluarga Pek hanya dipinjam saja! Anak yang akan terlahir itu adalah untuk kami, untuk dunia, bukan untuk keluarga Pangcu pribadi. Sudahlah, harap Pangcu beri tahu ke mana mereka pergi, supaya kami dapat cepat menyusul dan mengajak mereka kembali ke sini atau langsung saja ke Lha-sa karena kandungannya sudah tua sehingga dia harus mendapat perawatan dan pengamatan langsung dari kami."

Marahlah Pek Ki Bu. "Para suhu sungguh keterlaluan dan tak memandang persahabatan lagi! Apa pun pendapat para suhu di Lha-sa tentang anak yang akan terlahir itu, dia tetap calon cucuku dan keluarga kami, dan kami yang paling berhak untuk menentukan tentang dirinya!"

"Siancai, sesungguhnya Pek-pangcu yang tidak memandang persahabatan. Tentu Pangcu sudah memaklumi bahwa seluruh wilayah di Tibet tunduk kepada pimpinan kami di Lha-sa dan pimpinan kami merupakan kekuasaan mutlak yang harus ditaati oleh seluruh orang yang tinggal di Tibet. Keluarga Pek sudah dipinjam serta dipilih untuk melahirkan seorang calon Dalai Lama, tapi Pangcu sekeluarga tidak bersyukur atas karunia itu, malah hendak memberontak dan hendak mengubah nasib yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, harap Pangcu cepat memberi tahu di mana kami dapat menemukan kembali anak dan mantu Pangcu."

Wajah ketua Pek-sim-pang berubah merah dan para muridnya sudah siap siaga. Mereka semua memandang pada lima orang pendeta Lama itu dengan sinar mata tajam. Mereka tahu bahwa ketua mereka sudah marah terhadap bekas kawan-kawan baik itu.

"Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa kami tak akan memberi tahukan kepada siapa pun juga!" jawab Pek Ki Bu.

"Siancai...! Berarti Pek-pangcu hendak menentang kami?!" bentak seorang di antara para pendeta Lama itu.

"Terserah penilaian Ngo-wi Suhu, akan tetapi kami tentu akan melawan mati-matian kalau kebebasan pribadi keluarga kami ditekan!"

"Bagus, agaknya Pek-sim-pang memang sudah siap untuk memberontak terhadap kami. Pek-pangcu, kini terpaksa kami harus menangkapmu dan menghadapkan Pangcu kepada pimpinan kami!"

Namun belum juga lima orang pendeta Lama itu bergerak melaksanakan ancamannya, para anak buah Pek-sim-pang telah bergerak mengurung dan menyerang mereka. Karena pertentangan itu hanya bersifat pertentangan pendapat dan didasari panasnya perasaan, bukan merupakan permusuhan, maka para murid Pek-sim-pang itu tidak ada yang berani menggunakan senjata. Mereka menyerang dengan kepalan tangan dan tendangan kaki.

"Omitohud... kalian mencari penyakit saja!" kata para pendeta Lama itu dan mereka pun bergerak berpencaran. Gerakan mereka kuat sekali, ada pun jubah mereka yang berwarna kuning dan sangat lebar itu berkibar-kibar ketika mereka bergerak menyambut serangan para murid Pek-sim-pang.

Tapi agaknya para anggota rendahan itu sama sekali bukan tandingan yang setimpal dari para pendeta Lama itu. Begitu bentrok, lima orang murid Pek-sim-pang terbanting roboh! Hal ini mengejutkan para murid kepala Pek-sim-pang. Biar pun hanya anggota rendahan, namun para murid itu rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tidak mudah dirobohkan demikian saja. Akan tetapi, serangan mereka terhadap lima orang pendeta itu ternyata dalam sekali gebrakan saja membuat mereka sendiri terbanting keras dan tidak mampu melanjutkan perkelahian!

Karena maklum bahwa para pendeta Lama ini lihai sekali, serentak sepuluh orang murid kepala Pek-sim-pang menerjang maju. Mereka disambut dengan tenang oleh lima orang pendeta itu dan sesudah berkelahi sebanyak sepuluh jurus, kembali ada lima orang murid Pek-sim-pang yang roboh.

"Para pendeta yang suka mencampuri urusan keluarga orang!" bentak Pek Ki Bu marah dan dia pun menerjang maju. Terjangan Pek Ki Bu disambut oleh seorang pendeta Lama yang melompat ke depan dan menangkis serangan ketua Pek-sim-pang itu.

"Dukkk...!"

Dua tenaga raksasa melalui saluran kedua lengan itu bertumbuk di udara dan akibatnya, Pek Ki Bu tertahan langkahnya, akan tetapi pendeta Lama itu pun terdorong mundur dua langkah! Hal ini membuktikan bahwa tenaga ketua Pek-sim-pang masih lebih besar dari pada lawannya.

"Omitohud, Pangcu sungguh kuat sekali!" Pendeta Lama itu berseru lantas dia pun maju dan menerjang lagi dengan dahsyatnya.

Pek Ki Bu mengelak dan balas menyerang dari samping yang juga berhasil ditangkis oleh lawannya. Akan tetapi, begitu Pek Ki Bu mainkan ilmu silat Pek-sim-kun (Ilmu Silat Hati Putih) yang merupakan ilmu keturunan dari keluarga Pek dan menjadi dasar dari ilmu-ilmu silat yang dilatih oleh para anggota Pek-sim-pang, pendeta itu segera terdesak hebat dan selalu main tangkis dan mundur. Dasar ilmu ini adalah dari ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi sudah disesuaikan dengan ilmu-ilmu silat lain yang digabung dan menjadi semacam ilmu silat khas dari keluarga Pek.

Melihat ini, dua orang pendeta Lama lainnya menerjang maju dan membantu kawannya. Kini Pek Ki Bu dikeroyok tiga orang pendeta yang sangat lihai dan perkelahian itu menjadi berimbang, bahkan keadaannya berbalik karena ketua Pek-sim-pang itu sekarang mulai terdesak.

Ada pun dua orang pendeta Lama yang lain, kini menghajar semua murid Pek-sim-pang yang berani melawan. Puluhan orang murid Pek-sim-pang sudah roboh terkena pukulan atau tendangan dan yang lain-lain mengeroyok dari kejauhan karena mulai merasa gentar menghadapi para pendeta Lama yang lihai itu.

Keadaan pihak Pek-sim-pang sungguh gawat. Ketuanya sendiri sudah terdesak terus dan sebentar lagi tentu akan roboh oleh tiga orang lawannya yang terlampau kuat baginya itu. Dan para anak muridnya juga sudah banyak yang roboh.

Tiba-tiba saja terdengar bentakan halus, "Omitohud...! Tidak pantas sekali antara sahabat sendiri menggunakan kekerasan seperti ini!"

Dan semua orang merasa betapa ada angin keras bertiup lalu nampak bayangan merah kuning yang melayang turun dari atas seperti seekor burung garuda raksasa. Lima orang pendeta Lama itu merasa seperti terdorong oleh kekuatan yang dahsyat luar biasa, yang membuat mereka berlima terpaksa mundur, dan pihak Pek-sim-pang juga terhuyung oleh kekuatan angin besar yang menarik mereka.