Social Items

HUJAN turun sejak sore tadi dan malam ini hujan masih turun rintik-rintik. Walau pun sudah tak sederas sore tadi, tapi hujan itu masih membuat orang enggan keluar rumah. Apa lagi malam itu dingin sekali. Dari pada di luar rumah, akan terasa lebih enak berada di dalam rumah sambil menghangatkan diri di dekat perapian atau di atas pembaringan menyusup ke bawah selimut.

Kota Nan-king yang biasanya sangat ramai dengan kehidupan malamnya itu kini nampak sunyi sepi seperti kota mati. Hanya satu dua orang saja nampak melangkah di atas jalan raya yang basah dan sunyi lagi gelap itu, orang-orang yang mempunyai urusan penting sekali. Mereka itu melindungi tubuh dengan jubah dan mantel, juga memegang payung.

Di sebuah rumah besar dan kuno yang terletak di pinggir jembatan di ujung timur kota itu, suasananya juga sangat sunyi. Rumah itu milik keluarga Siangkoan Leng yang terkenal sebagai keluarga jagoan, memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga dihormati orang karena mereka itu berdagang obat-obatan dan terkenal amat pandai pula mengobati orang sakit.

Karena kepandaiannya mengobati orang, maka oleh penduduk kota Nan-king Siangkoan Leng sendiri disebut Siangkoan Sinshe yang pandai mengobati orang dengan tusuk jarum. Perdagangan obatnya laris sehingga keluarga itu memiliki penghasilan cukup besar.

Akan tetapi keluarga ini pun, yang terdiri dari ayah ibu dan seorang anak, dengan dibantu oleh empat orang pelayan, semenjak sore sudah berada di kamar masing-masing, segan keluar kamar pada malam yang sunyi dan dingin itu.

Siangkoan Leng dan isterinya adalah sepasang suami isteri yang mempunyai ilmu silat tinggi. Tidak ada orang di Nan-king yang pernah mengira, apa lagi mengetahui, bahwa sebelum tinggal di Nan-king tujuh tahun yang lalu, suami isteri itu pernah dikenal sebagai penjahat-penjahat besar di sepanjang pantai selatan! Selama belasan tahun mereka merajalela di daerah selatan, merampok, membajak, membunuh dan tidak ada kejahatan yang mereka pantang.

Akan tetapi ketika isteri Siangkoan Leng yang bernama Ma Kim Li itu mengandung dalam usia hampir empat puluh tahun, peristiwa ini bagai menyadarkan mereka sehingga mereka berdua mengambil keputusan untuk memulai hidup baru bersama dengan anak yang akan dilahirkan. Mereka kemudian merantau ke utara sehingga akhirnya menetap di Nan-king meninggalkan pekerjaan jahat dan mencari uang secara halal.

Mereka telah tinggal di situ selama tujuh tahun dan anak yang terlahir laki-laki itu mereka beri nama Siangkoan Hay dan kini sudah berusia tujuh tahun. Sejak anak ini masih kecil, kedua suami isteri itu sudah menggembleng tubuh anak mereka dengan berbagai ramuan obat-obatan dan mendidiknya dengan ilmu silat.

Sebagai suami isteri yang pernah malang melintang sebagai tokoh sesat di dunia selatan, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sudah menanam bibit-bibit permusuhan dengan banyak golongan atau perorangan. Pada saat mereka masih malang-melintang di selatan, mereka selalu hidup dalam keadaan siap siaga karena setiap waktu bisa saja ada musuh datang menyerang karena setiap saat ada saja yang mengintai untuk mencelakai mereka sebagai pembalasan dendam.

Oleh karena cara hidup yang tak aman inilah maka suami isteri itu mengambil keputusan untuk melarikan diri dan meninggalkan dunia hitam. Mereka tak ingin anak mereka terlahir di tengah keluarga yang keselamatannya selalu terancam. Dan sejak tinggal di Nan-king, mereka hidup dengan tenang dan tenteram, tak pernah lagi merasa khawatir karena tidak ada yang mengenal mereka dan mereka merasa tidak punya musuh.

Biar pun demikian, karena semenjak muda suami isteri itu adalah orang-orang yang selalu berkecimpung di dunia persilatan, apa lagi kini mereka bermaksud menggembleng putera tunggal mereka menjadi seorang yang akan mewarisi ilmu-ilmu mereka, maka keduanya tidak pernah lalai berlatih, bahkan berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Malam itu pun mereka tidak tidur seperti diperkirakan orang melainkan duduk bersemedhi di dalam kamar mereka, bersila di atas tempat tidur sambil melatih ilmu baru yang sedang mereka ciptakan bersama untuk diturunkan kepada putera mereka.

Dan bagaimana dengan Siangkoan Hay? Dasar putera tunggal dari suami isteri jagoan, anak ini pun senang sekali dengan ilmu silat dan malam itu pun dia duduk bersila untuk melatih diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya, sendirian di dalam kamarnya.

Akan tetapi empat orang pelayan, dua lelaki dan dua wanita, yang tidur di kamar-kamar belakang sejak tadi sudah tidur keenakan dalam udara dingin yang menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Tidak seorang pun dari tujuh penghuni rumah besar itu yang tahu bahwa ada dua sosok tubuh manusia yang berjalan sambil berlindung di bawah sebatang payung, berhimpitan dan keduanya mengenakan mantel yang lebar, kini berhenti di depan rumah, menoleh ke kanan kiri.

Sepi di sekitar tempat itu dan kedua orang itu lalu memasuki pekarangan rumah keluarga Siangkoan. Di bawah cahaya lampu yang tergantung di luar pada pojok rumah, nampak sekelebatan wajah dua orang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki bertubuh jangkung kurus dan yang perempuan bertubuh sedang. Wajah mereka hanya nampak sekelebatan saja karena keduanya segera menyelinap ke dalam bayangan gelap sehingga hanya dua pasang mata mereka yang mencorong dalam kegelapan malam.

Dengan tenang mereka lantas menutup payung, membuka mantel, membungkus payung dalam mantel dan mengikat mantel-mantel itu di atas punggung. Kini mereka berpakaian ringkas, pakaian berwarna hitam yang membuat bayangan mereka sukar dapat dilihat.

Sesudah saling berbisik, dengan gerakan yang sangat cekatan keduanya lantas meloncat ke atas tembok pagar dan terus berloncatan ke atas genteng rumah besar itu. Gerakan mereka demikian ringan dan cepat, seperti dua ekor kucing ketika kaki mereka menginjak genteng tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan bagaikan dua ekor burung pada saat mereka meloncat.

Dua orang itu berloncatan turun di ruangan belakang rumah itu. Dengan tenang mereka lalu menghampiri dua buah kamar di mana empat orang pelayan itu tidur. Masing-masing menghampiri sebuah kamar, yang laki-laki menghampiri pintu kamar pertama sedangkan yang perempuan menghampiri pintu kamar ke dua. Mereka berdua lantas menggunakan tangan kanan mendorong daun pintu.

"Krekkk...!"

Daun pintu yang terkunci dari dalam itu jebol dan terbuka. Di dalam kamar pertama tidur dua orang pelayan pria dan laki-laki jangkung itu lalu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam menyambar ke arah pembaringan lantas dua tubuh pelayan lelaki yang sedang tidur pulas itu berkelojotan dan tewas tidak lama kemudian tanpa sempat membuka mata atau mengeluarkan suara.

Akan tetapi dua orang pelayan wanita yang berada di dalam kamar ke dua ternyata belum pulas benar. Suara jebolnya daun pintu sangat mengejutkan mereka. Keduanya bangkit duduk lantas terbelalak memandang ke arah daun pintu yang sudah jebol. Mereka terkejut dan ketakutan sesudah melihat munculnya seorang wanita yang bermuka pucat dingin di tengah ambang pintu.

Akan tetapi wanita itu pun sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam langsung menyambar ke arah dua orang pelayan wanita. Salah seorang di antara mereka sempat menjerit kecil sebelum ia kembali roboh di atas pembaringan seperti temannya, kemudian tubuh mereka berkelojotan dan akhirnya terdiam, mati.

Cahaya lampu di ruangan luar kamar itu kini menyinari dua muka pembunuh itu. Wajah seorang laki-laki yang kurus akan tetapi cukup tampan, kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah lalu bersatu dengan jenggotnya yang pendek dan telah berwarna dua. Usianya sekitar lima puluh tahun.

Wajah wanita itu pucat akan tetapi cantik, dengan hidung dan mulut yang membayangkan keangkuhan. Kini mereka saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka itu bagi orang lain tentu sangat mengerikan karena laksana senyum iblis yang mengandung kekejaman.

Kini nampak dua ekor anjing yang berlari dari belakang, datang sambil menggonggong dan hendak menyerang dua orang itu. Akan tetapi, dua orang itu menggerakkan tangan seperti orang menampar ke arah dua ekor anjing itu lantas suara anjing itu pun terhenti seketika dan mereka pun terpelanting kemudian tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah.

Dua orang itu lalu berkelebatan ke belakang rumah. Beberapa kali terdengar suara ayam berkeok diikuti jeritan pendek babi-babi yang berada di kandang belakang. Kalau saja air hujan rintik-rintik tidak membuat suara gaduh di atas genteng, agaknya dua orang suami isteri yang sedang bersemedhi itu akan dapat mengetahui datangnya dua orang penyebar maut itu.

Betapa pun tingginya ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang dimiliki tamu-tamu gelap itu, agaknya pendengaran suami isteri yang tengah bersemedhi itu akan bisa menangkapnya, karena pendengaran mereka sangat tajam dan sudah terlatih dengan baik. Suara gaduh yang ditimbulkan oleh air hujan yang merintik di atas genteng menutupi semua suara lain. Akan tetapi jerit pelayan wanita tadi masih dapat menembus celah-celah dan memasuki kamar.

"Suara apa itu?" Ma Kim Li bertanya, sadar dari semedhinya.

Suaminya juga sudah membuka mata dan memandangnya, menggelengkan kepala. Akan tetapi karena tidak terdengar suara apa-apa lagi yang mencurigakan, mereka pun merasa lega.

"Mungkin mereka mengigau dalam tidur," kata Siangkoan Leng, sama sekali tak menduga buruk karena selama bertahun-tahun ini tak pernah terjadi sesuatu menimpa keluarganya.

Akan tetapi kelegaan hati mereka itu hanya berlangsung sejenak. Kecurigaan hati mereka kembali diusik ketika terdengar gonggong kedua ekor anjing peliharaan mereka, apa lagi ketika suara menggonggong kedua ekor anjing itu tiba-tiba saja terhenti.

Hal ini tidak wajar, pikir mereka. Dari pandang mata saja pasangan suami isteri itu sudah saling sepakat untuk melakukan penyelidikan. Hampir berbareng mereka melompat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu kemudian keluar dari dalam kamar. Pertama-tama, mereka membuka daun pintu kamar putera mereka dan melihat betapa putera mereka masih duduk bersila, akan tetapi agaknya juga terganggu oleh suara gonggongan anjing-anjing itu.

"Mengapa dengan anjing-anjing itu, Ibu?" tanya Siangkoan Hay yang sangat menyayang anjing peliharaan mereka.

"Kau tetaplah di sini, kami akan melihat ke belakang." kata ibunya.

Mereka lalu keluar dari kamar itu, menutup kembali daun pintunya dan dengan langkah ringan akan tetapi cepat, suami isteri itu lalu berlari ke belakang. Dan apa yang dilihatnya pertama-tama langsung membuat mereka terbelalak dan wajah mereka berubah. Dua ekor anjing peliharaan mereka yang setia itu telah menggeletak mati dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah!

Siangkoan Leng cepat-cepat menghampiri dan sebagai seorang ahli pengobatan, begitu meraba, tahulah dia bahwa dua ekor anjing itu tewas karena pukulan yang amat ampuh, pukulan yang tidak membekas pada kulit anjing akan tetapi yang merusak bagian dalam sehingga dua ekor binatang itu tewas dengan mulut, hidung serta telinga mengeluarkan darah.

Jeritan tertahan isterinya membuat Siangkoan Leng cepat meloncat dan menghampiri dua kamar itu. Dia menahan napas melihat betapa empat orang pelayan itu pun sudah tewas dan ketika mereka berdua melakukan pemeriksaan, mereka semakin terkejut akan tetapi juga marah bukan kepalang karena empat orang itu tewas dengan leher menghitam dan membengkak, tanda bahwa mereka telah dibunuh dengan menggunakan senjata rahasia jarum yang mengandung racun jahat!

Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. "Perbuatan siapa ini...?" bisik isterinya.

Suaminya menggelengkan kepala, akan tetapi kelihatan marah. "Mari kita mencarinya!"

Mereka berloncatan ke belakang dan ketika melakukan pemeriksaan mereka menemukan semua binatang peliharaan mereka, babi, ayam, bahkan seekor kucing, telah mati semua! Tidak ada seekor pun binatang peliharaan mereka yang masih hidup!

"Cepat, anak kita...!" Ma Kim Li setengah menjerit ketika teringat anaknya.

Seperti berlomba saja kedua orang suami isteri itu lalu berlari kembali ke dalam ruangan besar dan segera menuju ke kamar anak mereka. Daun pintu masih tertutup dan dengan hati penuh ketegangan Ma Kim Li yang datang lebih dahulu dari pada suaminya itu cepat mendorong daun pintu. Legalah hatinya sesudah melihat betapa puteranya masih duduk bersila seperti tadi!

"Ehh, ada apakah Ibu?" tanya Siangkoan Hay, terkejut melihat cara masuknya ibu dan ayahnya itu dan melihat wajah mereka pucat, dibayangi ketegangan dan kegelisahan.

Ma Kim Li merangkul puteranya. "Tidak ada apa-apa, hanya ada orang jahat memasuki rumah kita," bisiknya.

"Wah, kalau begitu mari kita tangkap dan hajar dia, Ibu!" Siangkoan Hay berkata penuh semangat. Dia sudah meloncat turun dan tentu akan berlari keluar kalau tidak dipegang ibunya.

"Ssttttt...," kata ibunya.

Pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dari luar. "Ha-ha-ha, jelas nampak betapa orang tuanya sangat pengecut akan tetapi anaknya berwatak gagah berani! Hari ini kami membunuhi semua pelayan dan binatang peliharaan, satu minggu kemudian kami datang mengambil kembali anak kami dan sebulan kemudian kami akan datang untuk mengambil nyawa suami isteri Siangkoan!"

"Keparat!" Siangkoan Leng meloncat keluar melalui jendela sedangkan isterinya juga telah meloncat keluar melalui pintu setelah memesan agar puteranya tinggal saja dalam kamar.

Suami isteri itu muncul di pekarangan depan rumah mereka dari dua jurusan pada waktu yang sama dan di tengah pekarangan itu, di bawah cahaya lampu yang temaram karena walau pun hujan tinggal sedikit sekali namun cuaca masih sangat gelap, berdiri dua orang yang berpakaian serba hitam dan menggendong buntalan hitam. Yang seorang bertubuh jangkung kurus, seorang lagi bertubuh kecil ramping.

Dengan hati-hati sekali Siangkoan Leng dan Ma Kim Li mendekati dua orang itu kemudian memandang penuh perhatian. Setelah berhasil mengenal wajah dua orang itu, suami isteri ini menjadi marah bukan main.

鈥淜iranya kalian... suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan?"

Laki-laki jangkung kurus berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tertawa bergelak, ada pun isterinya yang cantik dan hanya beberapa tahun lebih muda, tersenyum, akan tetapi baik suara ketawa mau pun senyum itu mengerikan, mengandung ejekan dan kekejaman luar biasa.

Sekilas terbayanglah pengalaman kurang lebih sepuluh tahun yang lalu ketika suami isteri Siangkoan masih merajalela di selatan. Di antara banyak sekali musuh dan saingannya di dalam rimba raya persilatan dan dunia hitam, suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan ini merupakan musuh terbesar mereka. Tentu saja sebabnya hanya karena memperebutkan kekuasaan dan wilayah kekuasaan.

Beberapa kali dua pasang suami isteri ini saling bentrok. Akan tetapi dalam perkelahian-perkelahian yang berlangsung seimbang dan seru, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li selalu menang dan suami isteri Goa Iblis itu selalu melarikan diri dengan luka-luka.

Setelah melihat bahwa musuh yang datang hanya suami isteri yang beberapa kali pernah kalah oleh mereka, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li memandang rendah dan mereka menjadi marah sekali.

"Kalian datang mengantar nyawa!" bentak Siangkoan Leng.

"Ha-ha-ha-ha, yang jelas kami datang mencabut nyawa para pelayan dan semua binatang peliharaanmu. Seminggu kemudian kami akan datang mengambil kembali anak kami, dan sebulan kemudian baru kami akan mengambil nyawa kalian."

"Jahanam busuk!" Ma Kim Li memaki wanita yang menjadi musuhnya itu. "Lancang sekali kau mengatakan bahwa putera kami adalah anak kalian!"

"Tentu saja anak kami!" jawab wanita berpakaian hitam itu. "Kalian sudah merampasnya dari tangan kami, mendahului kami yang memang merencanakan untuk mengambil anak itu. Dia anak kami, maka seminggu lagi kami akan mengambilnya."

"Mulut besar, sekarang juga kami akan membunuh kalian untuk perbuatan kalian malam ini!" bentak Siangkoan Leng dan tanpa banyak cakap lagi dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring yang disusul oleh isterinya.

Dan kedua suami isteri ini lalu menubruk ke depan. Kedua lengan mereka dikembangkan, jari-jari tangan dibuka membentuk cakar dan bukan main dahsyatnya serangan itu karena mereka yang marah sekali sudah mengeluarkan ilmu baru yang sedang mereka ciptakan agar cepat-cepat dapat membunuh dua orang musuh besar itu.

Dua orang tokoh Goa Iblis Pantai Selatan itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tiba-tiba mereka bertiarap ke atas tanah, kemudian mencelat ke atas memapaki serangan lawan. Sungguh aneh sekali gerakan mereka berdua, akan tetapi ternyata mereka mampu menyambut serangan lawan dengan dorongan telapak tangan terbuka yang amat kuat.

"Desss...! Dessss...!"

Empat tangan itu saling bertemu di udara dan terjadi benturan tenaga sinkang yang amat dahsyat sehingga keadaan sekeliling tempat itu seperti tergetar.

Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sama-sama terdorong dan terhuyung ke belakang, muka mereka menjadi pucat. Sedangkan dua orang berpakaian hitam itu berdiri tegak sambil tertawa-tawa.

"Siangkoan Leng, kami tak ingin membunuh kalian sekarang. Seminggu lagi kami datang untuk mengambil anak itu, dan sebulan kemudian barulah kami akan membunuh kalian. Ha-ha-ha, selamat tinggal!" Dua orang itu tertawa-tawa lantas sekali berkelebat keduanya lenyap dari depan suami isteri yang masih tertegun itu.

Ma Kim Li teringat akan puteranya dan cepat dia berlari memasuki rumah lagi, diikuti oleh suaminya yang juga merasa khawatir sekali. Ketika mereka membuka daun pintu, dapat dibayangkan alangkah kaget dan gelisah rasa hati mereka sesudah melihat bahwa kamar putera mereka itu telah kosong dan tidak nampak bayangan Siangkoan Hay!

"Hay Hay !" Ma Kim Li menjerit dan segera keluar lagi, berlari ke sana-sini mencari-cari puteranya. Juga Siangkoan Leng mencari-cari dan memanggil-manggil nama anaknya.

Akan tetapi mereka tak dapat menemukan Siangkoan Hay yang seolah-olah telah lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas! Mereka mencari-cari sampai jauh ke luar rumah, bahkan mengejar ke sana-sini di seluruh kota, tetapi sampai pagi tetap saja mereka tidak dapat menemukan putera mereka.

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati orang tua itu sesudah mencari-cari semalam suntuk tanpa hasil dan pada pagi harinya berjalan pulang dengan tubuh lemas. Meski pun tidak sampai mengeluarkan air mata karena wanita seperti Ma Kim Li itu sudah tak dapat menangis lagi, akan tetapi wajahnya menjadi sangat pucat. Juga wajah Siangkoan Leng berubah pucat sekali.

Sesudah sampai di rumah, keduanya kembali mencari anak mereka tanpa hasil. Mereka melakukan penyelidikan di kamar Siangkoan Hay namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau sesuatu yang dapat memberi petunjuk ke mana perginya anak itu.

"Jangan-jangan mereka telah membawanya!" kata Ma Kim Li.

"Kalau memang mereka yang menculik Hay Hay, berarti mereka tentu memiliki pembantu. Mereka sendiri tidak mungkin karena mereka bentrok dengan kita dan ketika mereka pergi kita juga langsung pergi ke kamar Hay Hay. Kurasa bukan mereka berdua penculiknya. Bukankah mereka sudah mengatakan akan mengambil Hay Hay seminggu lagi?"

"Iblis-iblis macam mereka itu mana bisa dipercaya?"

"Jangan kau memandang rendah mereka! Kukira mereka itu tak boleh disamakan dengan keadaan mereka sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang silam, kepandaian mereka hanya berada sedikit di bawah tingkat kita, akan tetapi engkau tentu merasakan ketika kita beradu tenaga dengan mereka tadi. Kita menggunakan ilmu kita yang baru, dengan pengerahan seluruh tenaga, akan tetapi tangkisan mereka membuat kita hampir jatuh! Itu saja membuktikan bahwa mereka kini sudah mempunyai tingkat kepandaian yang berada di atas tingkat kita!"

"Aku tidak takut!"

"Aku juga tidak takut, akan tetapi aku hanya mengatakan keadaan sebenarnya. Dengan kepandaian yang setinggi itu, mereka tentu tidak hanya menggertak saja. Mereka bahkan sengaja menentukan waktu-waktunya untuk bertindak agar kita dapat membuat persiapan lebih dahulu. Kesombongan seperti itu tentu hanya mereka lakukan karena mereka yakin benar dengan kepandaian mereka. Mereka seolah-olah memberi kesempatan kepada kita untuk melarikan diri, atau minta bantuan orang lain, dan agaknya mereka sudah siap akan semua kemungkinan itu."

"Kalau bukan mereka, lalu siapa yang mengambil anak kita?"

"Aku tidak tahu... ahhh, begitu banyak musuh kita di selatan, mana kita dapat menduga siapa yang menculiknya?"

"Sudah tujuh tahun tidak ada seorang pun di antara mereka yang datang mengganggu..."

"Buktinya malam tadi sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan datang, siapa tahu ada pula yang lain-lain datang untuk mengganggu kita."

"Kalau begitu, bagaimana baiknya ?" Ma Kim Li nampak bingung dan putus asa.

Wajahnya yang biasanya cerah dan masih kelihatan cantik itu sekarang menjadi muram dan sepasang matanya yang biasanya bersinar-sinar penuh keramahan yang berseri-seri, kini nampak layu dan membayangkan ketajaman yang penuh kekejaman dan kemarahan. Kedua tangannya sebentar terbuka dan sebentar tertutup seperti hendak mencengkeram sesuatu, ada pun sepuluh batang jari-jari tangannya itu dimasuki tenaga dahsyat sehingga kadang-kadang mengeluarkan bunyi berkerotokan. Sungguh mengerikan sekali!

"Sudahlah, lebih baik sekarang kita mengurus mayat empat orang pelayan kita itu namun jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kita kubur mereka diam-diam di kebun kita dan semenjak hari ini kita tutup toko kita. Sesudah itu baru kita akan mencari akal bagaimana untuk menghadapi mereka dan juga ke mana kita harus mencari anak kita."

"Akan tetapi Hay Hay... bagaimana kalau anak kita itu dibunuh...?"

"Bodoh! Jika mereka memang ingin membunuhnya, kenapa harus susah-susah menculik dia? Kalau sudah mampu menculiknya, apa susahnya membunuhnya di sini juga? Jangan bodoh, penculik itu tak akan membunuhnya, hanya ingin menculiknya untuk membikin kita merasa tersiksa."

"Seperti juga dua iblis itu yang sengaja memberi waktu kepada kita agar kita gelisah dan tersiksa sebelum mereka turun tangan."

"Benar, dan mari kita bekerja membereskan mayat-mayat itu."

Suami isteri itu menutup pintu rapat-rapat dan diam-diam lantas bekerja keras, membuat lubang yang cukup besar di dalam kebun belakang mereka untuk mengubur empat mayat pelayan mereka menjadi satu. Juga bangkai-bangkai babi, anjing serta ayam itu mereka kuburkan ke dalam satu lubang yang lain!

Sebetulnya, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li bukanlah orang biasa. Ketika mereka berdua masih merajalela di selatan, mereka merupakan sepasang manusia iblis yang tak pantang melakukan perbuatan jahat apa pun. Di samping kekejaman mereka, suami isteri ini pun amat lihai. Jarang ada orang yang mampu menandingi mereka.

Nama besar Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) sebagai julukan yang sudah diberikan oleh dunia kang-ouw kepada mereka sangat terkenal dan ditakuti orang. Entah sudah berapa banyak orang yang terbunuh atau kalah oleh mereka berdua sehingga tidak mengherankan apa bila banyak orang menaruh dendam kepada mereka.

Sejak mereka pindah ke Nan-king, mereka 'mencuci tangan' dan tidak pernah melakukan kejahatan lagi, memelihara dan mendidik anak tunggal mereka dan bekerja dengan halal. Mereka tidak tahu bahwa semua perbuatan mereka yang lampau itu tak habis begitu saja, namun mengandung akibat-akibat yang agaknya baru sekarang timbul dan mengganggu kehidupan mereka yang tadinya tenteram.

Sambil bekerja mengubur mayat-mayat dan bangkai-bangkai, pekerjaan yang bagi mereka biasa saja karena menghadapi kematian sudah tidak aneh lagi bagi mereka, kedua orang suami isteri itu bercakap-cakap dan menduga-duga siapa kiranya musuh-musuh lain yang berani mengganggu mereka dan menculik Siangkoan Hay.

"Sungguh aneh sekali, apa maksudnya tikus-tikus dari Goa Iblis itu mengaku Siangkoan Hay sebagai anak mereka?" antara lain Ma Kim Li bertanya.

"Semenjak tadi aku juga telah memikirkan hal itu," jawab suaminya. "Dan aku mengambil kesimpulan bahwa agaknya mereka sudah tahu akan rahasia kita dan agaknya pula pada waktu itu mereka pun bermaksud untuk menculik anak itu. Hanya bedanya, mereka ingin menculik sedangkan kita menukarnya dengan anak yang mati. Tapi anehnya, bagaimana mereka bisa tahu? Bukankah dua orang saksi telah kita bunuh semua?"

Sesudah pekerjaan mengubur itu selesai, Siangkoan Leng dan isterinya masuk ke dalam rumah lalu keduanya termenung. Mereka membayangkan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Ketika Ma Kim Li mulai mengandung, dia dan suaminya mendengar akan adanya suami isteri pendekar yang baru tiba di selatan dari pelariannya keluar dari Tibet.

Suami isteri itu terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman. Ketika mereka merantau ke Tibet dan si isteri mengandung, muncul petunjuk kepada para pendeta Lama bahwa anak yang dikandung oleh isteri pendekar itu merupakan penitisan (reinkarnasi) dari Dalai Lama dan bahwa anak itu kelak akan menjadi Dalai Lama atau seorang yang suci. Oleh karena itu, suami isteri pendekar itu menjadi ketakutan. Petunjuk itu berarti bahwa mereka harus melepaskan anak mereka bila mana sudah terlahir, untuk dirawat dalam biara oleh para pendeta Lama.

Dengan kepandaian mereka, suami isteri itu akhirnya dapat meloloskan diri dari kepungan para pendeta Lama kemudian melarikan diri sampai ke pantai selatan. Akan tetapi berita itu ramai dibicarakan orang sehingga terdengar pula oleh Lam-hai Siang-mo. Ramai orang membicarakan bahwa anak yang akan terlahir dari isteri pendekar itu tentu seorang anak yang disebut Sin-tong (Anak Ajaib). Kebetulan sekali, kandungan dalam perut Ma Kim Li sama tua dengan kandungan isteri pendekar itu. Ketika Ma Kim Li melahirkan, ternyata bayi laki-laki itu memiliki tubuh yang lemah sekali. Suami isteri itu berusaha mengobatinya, akan tetapi sia-sia belaka bahkan setelah dua bulan pertumbuhan anak itu tidak berjalan normal dan amat terbelakang.

Tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li menjadi kecewa bukan kepalang. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mau mengalah terhadap nasib dan dengan cara apa pun juga mereka ingin mengubah nasib diri mereka.

Mereka mendengar bahwa suami isteri pendekar itu, yang untuk sementara ini mondok di dalam sebuah kuil para nikouw (pendeta wanita) yang terpencil di luar kota, juga sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang kelahirannya hanya berselisih satu dua hari dengan kelahiran anak mereka yang diberi nama Siangkoan Hay itu. Pada suatu malam, pergilah suami isteri ini membawa anak mereka yang baru berusia dua bulan, memasuki kuil dari kebun belakang.

Siangkoan Leng menyuruh isterinya bersembunyi di balik rumpun bunga dan mendekap mulut anak mereka agar tidak mengeluarkan suara, ada pun dia sendiri cepat menyelinap hendak menyelidiki keadaan di dalam kuil itu. Dia merasa sangat terheran-heran melihat betapa kuil itu sunyi senyap dan terdengar suara orang-orang tidur mendengkur di dalam kamar-kamar kuil itu, tanda bahwa para penghuninya sudah tidur lelap.

Cepat dia memberi isyarat kepada isterinya dan mereka lantas mengadakan pemeriksaan dan mengintai ke dalam setiap kamar. Akhirnya mereka pun melihat seorang wanita yang berpakaian seperti pengasuh anak-anak, bersama seorang nikouw, yaitu seorang pendeta wanita yang berkepala gundul, berada di dalam sebuah kamar dan anehnya, mereka pun agaknya tidur nyenyak. Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua bulan juga tertidur di atas pembaringan.

"Cepat...!" Bisik Siangkoan Leng kepada isterinya.

Tanpa mengeluarkan suara mereka berloncatan ke dalam kamar itu. Ma Kim Li kemudian menaruh anaknya sendiri di atas pembaringan dan cepat menyambar anak laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu, seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berkulit putih bersih. Akan tetapi anaknya sendiri menangis, maka tanpa banyak cakap lagi Siangkoan Leng segera menggerakkan tangan menampar sehingga anak itu pun terdiam dan tewas dengan muka yang tak dapat dikenal lagi karena sudah remuk!

Sementara itu, Ma Kim Li juga mempergunakan tangannya yang bergerak menyambitkan jarum-jarum hitam. Jarum-jarum itu berubah menjadi sinar hitam dan menyambar ke arah leher dua orang wanita itu yang tak sempat berteriak lagi karena langsung tewas dengan jarum-jarum itu terbenam dalam-dalam pada leher mereka! Setelah itu, kedua suami isteri itu berloncatan ke luar.

Pekerjaan terkutuk itu mereka lakukan dengan sikap tenang saja. Membunuh anak sendiri serta dua orang wanita tidur itu bagi mereka bukanlah apa-apa, karena membunuh anak sendiri dan merusak mukanya agar tidak bisa dikenali itu memang sudah termasuk dalam rencana mereka.

Setelah menukarkan anak mereka yang lemah dan tidak normal itu dengan putera suami isteri pendekar, anak yang dihebohkan sebagai seorang Sin-tong, anak yang sejak dalam kandungan sudah ditentukan oleh para pendeta Lama di Tibet sebagai calon orang besar, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merasa gembira sekali. Akan tetapi mereka pun maklum bahwa orang-orang tidak akan tinggal diam saja, maka mereka pun seperti memperoleh dorongan lebih kuat lagi untuk segera meninggalkan daerah selatan.

Semenjak Ma Kim Li mengandung memang mereka sudah ingin meninggalkan pekerjaan sebagai penjahat demi anak mereka. Sekarang setengah terpaksa mereka meninggalkan daerah selatan pada malam hari itu juga dan sesudah merantau berbulan-bulan lamanya, berusaha menghilangkan jejak mereka agar tidak bisa disusul oleh mereka yang mungkin melakukan pengejaran, akhirnya mereka tinggal di kota Nan-king sebagai pedagang dan ahli obat.

Suami isteri itu mengenangkan semua kejadian itu dan sekarang menduga-duga siapakah yang membocorkan rahasia mereka sehingga dapat diketahui oleh suami isteri Goa Iblis itu? Kenapa yang mencari mereka, yang ingin merampas anak itu adalah dua orang dari Goa Iblis itu, dan bukan orang tua anak itu, yaitu sepasang pendekar yang menjadi orang tua asli dari anak yang kini bernama Siangkoan Hay dan menjadi anak mereka selama tujuh tahun? Dan siapa pula yang sebenarnya telah menculik anak mereka?

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" berkali-kali Ma Kim Li bertanya, baik kepada suaminya mau pun kepada diri sendiri karena dia merasa bingung sekali.

Walau pun Siangkoan Hay bukan anak yang dikandungnya dan dilahirkannya, akan tetapi karena dia telah memelihara dan mendidik anak itu semenjak berusia dua bulan, dia telah merasa amat mencinta anak itu dan dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri saja.

"Kita menghadapi dua hal yang sangat gawat," kata suaminya sesudah lama berpikir-pikir mencari akal. "Pertama, dua orang itu tentu tak mau melepaskan kita begitu saja. Mereka memberi waktu, dan selama itu pula mereka tentu akan selalu mengamati gerak-gerik kita sehingga andai kata kita melarikan diri pun mereka akan tahu dan membayangi kita. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi sehingga kita harus mencari daya upaya untuk melawan mereka dan menang. Ke dua, kita pun harus cepat-cepat mencari anak kita yang diculik orang. Sungguh tidak leluasa sekali apa bila mencari anak kita dalam keadaan kita selalu dibayangi, sedangkan menghadapi mereka secara begitu saja, juga amat berbahaya. Ilmu kita yang paling baru saja tidak mampu merobohkan mereka!"

"Habis, bagaimana?" tanya isterinya yang diam-diam merasa jeri juga walau pun dia tidak menyatakan dengan mulut.

Dia pun merasa ketika menyerang wanita yang menjadi lawannya malam itu, dia sudah mengeluarkan ilmunya yang terbaru dan mengerahkan tenaga penuh. Akan tetapi dengan gerakan bertiarap lalu meloncat bangun, lawan itu sanggup menahan pukulannya, bahkan membuat dia terdorong ke belakang dan terhuyung hampir roboh!

Padahal dulu, wanita itu yang bernama Tong Ci Ki berjuluk Si Jarum Sakti, sudah pernah dikalahkannya dalam perkelahian sampai beberapa kali. Suami wanita itu, yang bernama Kwee Siong berjuluk Si Tangan Maut, juga beberapa kali kalah oleh suaminya. Ternyata mereka telah memperoleh kemajuan yang amat hebat selama sepuluh tahun ini.

"Kita harus menggunakan akal sehingga untuk sementara kita dapat lolos dari ancaman mereka dan di lain pihak kita pun dapat bebas melakukan pengintaian terhadap mereka apakah mereka itu menculik anak kita atau tidak."

"Bagaimana akalnya?" isterinya bertanya khawatir .

"Yang paling penting kita harus dapat meloloskan diri dari pengamatan mereka agar kita dapat leluasa bergerak lantas dapat berbalik membayangi mereka, dan satu-satunya akal kita adalah begini..."

Suami itu mendekati isterinya kemudian berbisik-bisik di dekat telinganya karena khawatir kalau-kalau pihak musuh tengah mengadakan pengintaian dan akan dapat mendengarkan siasatnya. Isterinya mengangguk-angguk setuju. Ya... ya... yaaa!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Berita kematian Siangkoan Sinshe dan isterinya amat menggemparkan seluruh penduduk kota Nan-king. Banyak sekali orang yang berdatangan untuk melayat. Menurut penuturan empat orang pelayan laki-laki yang baru beberapa hari bekerja di sana, karena kabarnya pelayan-pelayan lama keluar dan pulang kampung, mereka mendapatkan majikan mereka itu kedua-duanya telah mati di dalam kamar tidur mereka.

Memang agak aneh. Apa lagi sesudah para tetangga itu mendapatkan bahwa dua mayat Siangkoan Leng serta isterinya itu telah dimasukkan ke dalam dua buah peti yang sudah tertutup. Akan tetapi tidak ada yang meributkan soal ini. Tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali melayat dan ikut berkabung karena bagaimana pun juga, suami isteri itu dikenal sebagai pedagang obat yang pandai mengobati orang sakit dan sudah banyak orang sakit yang sembuh oleh pengobatan mereka.

Kepala daerah yang sudah mengenal baik Siangkoan Leng dan isterinya, datang melayat pula begitu mendengar berita itu, tetapi dia merasa curiga, maka dia pun memaksa empat orang pelayan itu, dibantu oleh orang-orangnya kepala daerah itu sendiri, untuk membuka sedikit peti-peti mati itu supaya dia dapat melihat wajah suami isteri yang dikabarkan mati mendadak itu.

Dua buah peti mati itu lalu dibuka sedikit dan digeser penutupnya. Nampaklah wajah dua orang suami isteri itu, wajah yang pucat tak mengandung darah lagi, wajah jenazah yang sudah tak bernyawa lagi! Si Kepala Daerah baru percaya dan peti itu pun ditutup kembali lalu dipaku. Dan para tetangga juga kini percaya bahwa suami isteri itu benar-benar telah mati. Hanya, tidak ada yang tahu bagaimana dua orang yang tadinya sehat-sehat saja itu tiba-tiba bisa meninggal dunia.

Selama dua hari banyak tamu berdatangan dan bersembahyang di depan dua buah peti mati itu. Asap hio mengepul dan bau dupa wangi yang dibakar memenuhi ruangan. Pada hari ke tiga, anak tunggal suami isteri yang baru mati itu, yang selama beberapa hari ini menjadi pertanyaan para tetangga dan kenalan Siangkoan Leng sekeluarga, tiba-tiba saja muncul, dan berlari-lari sambil menangis dan memanggil ayah ibunya!

Keadaan segera menjadi gempar dan mengharukan ketika Siangkoan Hay, yang menjadi buah bibir dan pertanyaan para tetangga karena tak terlihat di situ, apa lagi karena empat orang pelayan baru itu mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat putera majikan mereka itu karena sejak mereka dipekerjakan, tuan muda itu sudah tak berada di rumah, menangis tersedu-sedu di depan dua peti mati itu.

"Ayah..., Ibu... kenapa kalian mati? Kenapa... ? Apa yang telah terjadi...?" Dia menangis dan bertanya, akan tetapi tak seorang pun mampu menjawabnya.

Dari luar terdengar suara ketawa. Tentu saja semua tamu menjadi terkejut dan menengok dengan pandang mata mereka membayangkan kemarahan. Sungguh tak sopan sekali di dalam ruangan berkabung itu ada orang tertawa! Akan tetapi pandang mata mereka yang tadinya mengandung kemarahan segera berubah menjadi ketakutan dan kengerian ketika mereka melihat siapa yang tertawa tadi.

Mereka adalah seorang lelaki dan seorang wanita. Yang lelaki bertubuh jangkung kurus, wajahnya tampan akan tetapi mengerikan, dingin dan kaku bagaikan kedok saja, hanya sepasang matanya yang hidup dan mencorong menakutkan.

Yang wanita bertubuh kecil ramping. Wajahnya berbentuk bagus dan cantik, akan tetapi muka itu pucat sekali laksana muka mayat dan bibir yang pucat membiru itu tersenyum, akan tetapi senyum yang mengandung kekejaman, sedangkan sepasang matanya juga mencorong seperti mata laki-laki jangkung di sampingnya.

Ternyata yang mengeluarkan suara ketawa tadi adalah wanita itu, dan sekarang mereka berdua melangkah memasuki ruangan di mana terdapat dua buah peti mati yang berjajar. Sejenak dua orang itu memandang ke sekeliling, ke arah para tamu yang nampak terkejut dan bengong memandang kedua orang yang baru datang itu.

Tidak ada seorang pun di antara para tamu itu yang mengenal suami isteri ini. Akan tetapi di selatan, di sepanjang pantai selatan, semua orang di dunia kang-ouw, terutama di dunia hitam, mengenal sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai selatan.

Laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih itu bernama Kwee Siong akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Si Tangan Maut. Sedangkan wanita yang sedikit lebih muda dari pada dia itu adalah isterinya bernama Tong Ci Ki yang terkenal dengan julukannya Si Jarum sakti. Mereka adalah pasangan suami isteri yang terkenal ganas, kejam dan lihai seperti sepasang iblis, penghuni Goa Iblis di pantai selatan, ditakuti oleh semua orang.

Kini suami isteri yang sikapnya amat dingin dan mengerikan itu memandang ke arah anak laki-laki yang sedang menangis di antara dua buah peti mati. Si Jarum Sakti Tong Ci Ki menghampiri anak ini, kemudian bibirnya yang pucat kebiruan itu bergerak-gerak.

"Apakah engkau anak dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li?"

Anak itu memang Siangkoan Hay dan sambil mengusap air matanya, dia kini memandang kepada dua orang itu. Dia tidak mengenal mereka, akan tetapi ketika mereka menyebut nama ayah ibunya, dia mengangguk.

"Benar, aku adalah anak mereka, namaku Siangkoan Hay."

"Sin-tong...!" kata Tong Ci Ki lantas dia pun melangkah maju mendekati Siangkoan Hay sambil mengulurkan tangannya.

"Apa... ?" Hay Hay bertanya heran, akan tetapi pada saat itu tubuhnya seperti ditarik oleh tenaga yang luar biasa dan tahu-tahu pergelangan tangannya telah ditangkap oleh tangan wanita itu yang berkulit halus namun dingin.

Tubuh Hay Hay menggigil kedinginan. Ia hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi tiba-tiba saja tangan yang lain dari wanita itu mengelus kepalanya dan dia pun tak mampu menggerakkan tangannya itu, bahkan ketika hendak mengeluarkan suara, tidak ada suara keluar dari tenggorokannya. Hay Hay terkejut sekali sehingga hanya berdiri bengong, tak mampu bersuara atau bergerak, dan masih bergantungan pada tangan wanita itu yang memegang pergelangan tangannya.

Sementara itu, dengan senyum yang lebih pantas dinamakan senyum iblis karena hanya menyeringai dengan mulut saja tapi bagian lain dari mukanya sama sekali tidak bergerak, Si Tangan Maut Kwee Siong menghampiri dua buah peti mati itu.

"Heii! Siapa kalian dan mau apa?" seorang di antara para tamu, yang merasa tak senang melihat sikap suami isteri itu, menegur.

Si Tangan Maut menoleh kepada orang itu, kemudian menyeringai. "Kami adalah sahabat-sahabat baik dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, sungguh tidak disangka bahwa hari ini kami melihat mereka telah berada di dalam peti mati."

Mendengar ini, semua orang tertegun. Betapa anehnya dua orang yang berpakaian serba hitam itu, pikir mereka. Sementara itu, Si Tangan Maut Kwee Siong sudah menghampiri kedua peti mati itu lantas kedua tangannya menekan dan menepuk-nepuk kedua peti itu seperti orang menepuk-nepuk bahu sahabat baiknya

"Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, semoga kalian bisa senang di alam baka." Dan setelah menepuk beberapa kali, dia pun mundur dan menoleh kepada isterinya. "Apakah engkau tidak ingin membekali sesuatu kepada mereka melalui lubang-lubang kecil di samping peti itu?"

Wanita itu pun tersenyum. Andai kata mukanya tidak seperti mayat, tentu wajahnya yang belum tampak keriputan itu akan terlihat cantik. Ia masih menggandeng tangan Siangkoan Hay dan sekarang dia menggerakkan sebelah tangannya ke arah peti. Sinar hitam lembut menyambar ke arah kedua peti itu dan tepat sekali sinar-sinar kecil itu memasuki lubang-lubang di samping peti.

Memang aneh peti mati itu karena ada lubang-lubang kecil di kanan kiri peti, seolah-olah dua peti mati itu diberi lubang hawa! Hal ini tidak nampak oleh para tamu lainnya karena tertutup bunga-bunga, akan tetapi ternyata kelihatan oleh suami isteri luar biasa itu.

Semua orang tidak mengerti akan sikap mereka dan tidak tahu apa yang mereka lakukan tadi. Akan tetapi tiba-tiba semua orang yang berada di dekat kedua peti itu mengeluarkan seruan kaget. Dengan mata terbelalak mereka menuding ke arah bawah peti karena kini dari dua peti itu keluar darah menetes-netes dan tergenang di bawah peti!

Melihat ini, Si Tangan Maut Kwee Siong dan isterinya, Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, tertawa bergelak dan mereka lantas pergi dari ruangan itu sambil membawa Siangkoan Hay yang masih digandeng oleh Tong Ci Ki.

"Hai, apa yang telah kalian lakukan?"

"Tunggu dulu...!"

Beberapa orang tamu sudah menghadang mereka. Mereka adalah orang-orang yang ahli ilmu silat, yang mulai curiga dan menduga bahwa tentu telah terjadi peristiwa mengerikan sekali, ada pun dua orang laki-laki dan wanita pakaian hitam ini tentu bukan sahabat baik keluarga Siangkoan, apa lagi melihat mereka hendak pergi membawa Siangkoan Hay.

Akan tetapi suami isteri iblis itu dengan tenang melanjutkan langkahnya dan ketika tiba di dekat mereka yang berani menghadang, dua orang suami isteri itu hanya berseru,

"Minggir kalian!"

Keduanya menggerakkan tangan seperti orang mengusir lalat saja akan tetapi akibatnya, empat orang itu terpelanting ke kanan kiri seperti diamuk gajah! Padahal, empat orang itu termasuk orang-orang yang mempunyai ilmu silat cukup tangguh dan merupakan jagoan-jagoan di Nan-king!

Melihat betapa empat orang lihai itu sedemikian mudah dirobohkan oleh suami isteri yang berpakaian hitam ini, semua orang segera menjadi jeri sehingga tak ada lagi yang berani menghalangi mereka. Apa lagi ketika semua orang melihat betapa pria jangkung bermuka laksana topeng itu tiba-tiba saja menarik tangan Siangkoan Hay sehingga tubuh anak itu terpental ke atas lalu dipondongnya dan bersama wanita muka mayat itu kini mereka lari dengan kecepatan yang membuat mereka terbelalak. Tak seorang pun berani melakukan pengejaran.

Dalam sekejap mata saja kedua orang itu telah lenyap dan barulah semua orang menjadi panik dan bising. Mereka berlari mendekati dua peti mati dan dapat dibayangkan betapa terkejut dan ngeri hati mereka sesudah melihat bahwa selain dari dua buah peti itu masih menetes-netes darah melalui lubang-Iubang kecil yang tersembunyi itu, juga empat orang pelayan laki-Iaki yang tadi duduk di belakang peti-peti itu sekarang sudah terkapar dan tak bernyawa lagi, dengan muka berubah kehitaman!

Padahal mereka sama sekali tak melihat dua orang tamu aneh tadi turun tangan terhadap empat orang pelayan itu dan tidak salah lagi, mereka berempat itu tewas pada saat terjadi ribut-ribut penghadangan terhadap dua orang tamu yang melarikan Siangkoan Hay. Tidak ada seorang pun melihat bagaimana empat orang pelayan itu bisa tewas dan siapa yang membunuhnya.

Gegerlah tempat itu! Terlebih lagi kepala daerah Nan-king yang pernah diobati oleh suami isteri Siangkoan, yang tadinya memang telah menaruh curiga sehingga pernah menyuruh membuka tutup peti mati di hari pertama, menjadi marah sekali mendengar berita itu. Dia bersama orang-orangnya segera datang ke sana dan memerintahkan para pengawalnya untuk membuka tutup peti dengan paksa.

Kembali dua buah peti itu dibuka tutupnya dan semua orang terbelalak, bahkan ada yang mengeluarkan pekik keheranan dan kengerian. Kiranya yang berada di dalam peti mati itu bukan Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, bukan suami isteri pedagang obat itu, melainkan dua orang laki-laki dan perempuan lain lagi, yang usianya sekitar empat puluh tahun dan melihat pakaian mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah petani-petani sederhana!

Kemana perginya Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, atau lebih tepat lagi, kemana hilangnya jenazah-jenazah mereka yang tadinya telah berada di dalam peti mati? Kenapa tubuh dua orang petani itu tahu-tahu sudah berada di dalam peti dan agaknya mereka belum mati ketika berada dalam peti?

Jelas bahwa mereka mati karena serangan gelap dari kedua orang tamu aneh itu karena di sebelah dalam peti nampak bekas jari-jari tangan dan juga di lambung mereka nampak luka-luka menghitam yang kecil-kecil dan sesudah dibedah, ternyata di dalamnya terdapat jarum-jarum hitam kecil. Dan siapa pula yang membunuh empat orang pelayan itu?

Semuanya itu terjadi karena ulah suami isteri Siangkoan sediri! Seperti kita ketahui, suami isteri itu mengatur siasat untuk meloloskan diri dari pengamatan dua orang musuh mereka yang amat lihai agar mereka dapat leluasa bergerak dan berbalik melakukan pengintaian dan pengamatan. Diam-diam mereka lalu minta bantuan empat orang yang pernah belajar silat kepada Siangkoan Leng untuk menjadi pengganti pelayan, dan memberi tahu kepada mereka bahwa para pelayan di rumah itu sudah pulang ke kampung karena takut dengan ancaman musuh.

Kemudian, dibantu oleh empat orang pelayan yang juga murid mereka itu, suami isteri ini lalu menggali lubang terowongan yang menembus ke luar pagar tembok sehingga suami isteri itu dapat keluar dengan leluasa pada waktu malam. Hal ini mereka lakukan supaya tidak sampai ketahuan pihak musuh yang tentu selalu melakukan pengintaian.

Sesudah melakukan perundingan dengan keempat orang pelayan itu bahwa mereka akan melakukan siasat untuk mengelabui musuh, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li berpura-pura mati bunuh diri dengan minum racun. Pada saat kepala daerah melakukan pemeriksaan, tubuh mereka memang berada di dalam peti mati itu.

Dengan ilmu kepandaian mereka yang sangat tinggi, suami isteri itu dapat menghentikan pernapasan mereka, bahkan jalan darah mereka menjadi sedemikian lemahnya sehingga tidak dapat dilihat orang begitu saja, dan wajah mereka menjadi pucat seperti mayat, juga mereka sanggup menahan napas sampai beberapa lamanya.

Dengan kepandaian itu, mereka berhasil mengelabui kepala daerah dan orang-orangnya. Untuk keperluan pernapasan pada saat peti itu tertutup, mereka sengaja membuat lubang-lubang kecil di kanan kiri peti yang agak tersembunyi di antara bunga hiasan peti.

Malam hari sebelum terjadi kunjungan dua orang suami isteri iblis itu, secara diam-diam Siangkoan Leng bersama Ma Kim Li keluar dari peti mati dan melalui jalan terowongan di bawah tanah, mereka kemudian pergi ke dusun di luar kota. Tak sukar bagi mereka untuk menemukan sebuah rumah terpencil di pinggir dusun.

Sesudah melakukan pengintaian, mereka merasa girang sekali karena menemukan suami isteri yang mereka cari-cari, yakni sepasang suami isteri yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun. Dan yang lebih cocok lagi dengan siasat mereka adalah bahwa mereka itu hanya tinggal berdua saja di rumah kecil miskin yang sunyi terpencil itu.

Suami isteri petani itu belum tidur, dan tentu saja mereka merasa sangat terkejut melihat munculnya Siangkoan Leng beserta isterinya yang begitu saja mendorong daun pintu dari luar sampai jebol.

"Ehh...apa... siapa...?" teriak petani itu. Akan tetapi Siangkoan Leng sudah menotoknya sehingga dia tak mampu lagi bergerak atau pun berteriak, ada pun Ma Kim Li melakukan hal yang sama terhadap isteri petani.

"Itu ada pakaian anak-anak," bisik Ma Kim Li kepada suaminya.

Mereka mencari dan menggeledah rumah kecil itu, akan tetapi tidak menemukan orang lain. Walau pun mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perbuatan jahat, akan tetapi sekali ini mereka bekerja secara rahasia dan bersembunyi dari pengintaian musuh, maka keduanya tidak berani mencari lebih jauh dan cepat memanggul tubuh suami isteri petani yang sudah lemas itu, kembaIi ke kota Nan-king.

MelaIui jalan terowongan itu mereka menyeret dua tubuh petani memasuki rumah mereka kemudian cepat memasukkan tubuh suami isteri petani itu ke dalam peti-peti mati untuk menggantikan tubuh mereka sendiri. Sebelum itu, mereka menggunakan obat bius untuk membuat suami isteri petani itu pingsan selama sehari semalam.

Setelah melakukan perbuatan yang hanya disaksikan oleh empat orang pembantu mereka itu, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li lantas keluar dari pekarangan rumah mereka melalui jalan rahasia dan mulailah mereka melakukan pengintaian dari tempat tersembunyi di luar pekarangan. Kini mereka melakukan pengintaian terhadap rumah mereka sendiri!

Mereka dapat melihat kesibukan yang terjadi di pekarangan dan juga di ruangan pendapa di mana dua buah peti mati diletakkan, juga melihat orang-orang yang datang melayat dan bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah mereka.

Tentu saja mereka terkejut setengah mati melihat seorang anak laki-laki berpakaian kotor dan berambut kusut memasuki pekarangan itu, anak yang bukan lain adalah Siangkoan Hay yang mereka cari-cari. Hampir saja Ma Kim Li berteriak saat melihat puteranya, akan tetapi suaminya sudah memegang lengannya dan cepat memberi isyarat supaya jangan mengeluarkan suara atau pun bergerak. Sekali mereka keluar dan kelihatan orang, berarti terbukalah semua rahasia mereka!

Boleh jadi Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merupakan dua orang yang sudah kehilangan peri kemanusiaan. Perasaan mereka telah membeku terhadap kehalusan. Keadaan hidup mereka yang lampau sebagai dua orang sesat yang berkecimpung di dalam dunia hitam dan bergelimang dengan kejahatan membuat hati mereka mengeras dan tidak mengenal keharuan.

Akan tetapi ketika melihat Siangkoan Hay menangis di antara dua buah peti itu, menangis sambil memanggil-manggil ayah ibunya, dua orang ini nampak bengong dan termenung. Bahkan Ma Kim Li sampai mengusap kedua matanya dan Siangkoan Leng beberapa kali menelan ludah.

Bagaimana pun juga, mereka berdua telah menganggap Hay Hay sebagai anak kandung sendiri. Walau pun anak itu bukanlah anak kandung, akan tetapi mereka memeliharanya, membesarkan serta mendidiknya, sejak bayi berusia dua bulan sampai anak itu sekarang berusia tujuh tahun. Dan anak itu sangat cerdas, tabah dan lincah, selalu bergembira dan merupakan cahaya terang dalam kehidupan mereka.

Karena watak yang baik dari Siangkoan Hay itulah yang banyak mendorong suami isteri ini untuk memaksa diri melalui jalan benar, tidak pernah lagi mengulangi perbuatan jahat mereka. Demi untuk kehidupan anak mereka itu di kemudian hari maka mereka memaksa diri untuk menjadi 'orang baik-baik'. Karena paksaan dan bukan sewajarnya, maka semua kebaikan yang mereka pertahankan itu pun mudah luntur sehingga begitu ada ancaman bahaya kepada mereka, maka timbul kembali watak jahat mereka!

Hidup baik atau pun kebaikan tidak mungkin bisa dilatih! Kebaikan bukanlah suatu hasil usaha atau hasil latihan, tidak mungkin juga dilakukan karena ketaatan atau karena ingin memperoleh balas jasa. Bukanlah suatu kebaikan kalau dilakukan dengan kesengajaan untuk menjadi baik, bukan pula kebaikan kalau dilakukan dengan pamrih apa pun juga, bahkan bukan suatu kebaikan namanya bila pelakunya menyadari bahwa yang dilakukan itu adalah suatu kebaikan!

Kesadaran melakukan kebaikan ini pun jelas menyembunyikan pamrih, betapa pun halus pamrih itu, tapi sedikitnya tentu merupakan kesadaran akan kebaikan dirinya yang akan membentuk suatu gambaran mengenai diri sendiri yang penuh dengan kebaikan! Menjadi suatu kesombongan yang terselubung, dan pamrihnya ingin mengulang rasa nikmat yang timbul dalam hati karena telah 'berbuat baik'!

Kebaikan adalah suatu keadaan seseorang yang batinnya dipenuhi dengan cahaya cinta kasih. Perbuatan yang didasari cinta kasih pasti benar dan baik, dan bukan kebaikan lagi namanya, tetapi suatu perbuatan wajar penuh peri kemanusiaan yang berlandaskan cinta kasih.

Ada pun kebaikan yang dilakukan orang tanpa dasar cinta kasih, namun kebaikan yang dilakukan karena kesadaran bahwa dia 'harus' berbuat baik, maka perbuatan seperti itu, bagaimana pun baik nampaknya, tiada lain hanyalah kemunafikan, atau kepalsuan yang menyembunyikan pamrih untuk diri sendiri, betapa halus pun pamrih itu.

Kebaikan seperti ini akan mudah luntur. Sekali pamrihnya tidak didapat, maka perbuatan baiknya pun akan berhenti. Kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran seperti itu hanya merupakan suatu jalan atau cara untuk memperoleh suatu tujuan tertentu, dan kebaikan seperti itu tidak ada artinya, baik untuk diri sendiri mau pun untuk orang lain.

Tidak anehlah kalau orang-orang seperti Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, setelah selama tujuh tahun menjadi 'orang-orang baik' lantas tiba-tiba saja dapat kembali menjadi kejam. Kekejaman dalam batin mereka belum lenyap, hanya ditekan-tekan saja selama itu, 'demi sesuatu' yang mereka harapkan dalam hal ini, mungkin demi anak mereka!

Kebaikan itu seperti harum bunga. Bunganya adalah cinta kasih dan keharumannya itulah kebaikan. Cinta kasih selalu akan menyebarkan kebaikan, tanpa disengaja, karena cinta kasih itu kebaikan, keduanya tak terpisahkan, seperti matahari dengan cahayanya.


Keharuan yang menyentuh hati Siangkoan Leng dan Ma Kim Li segera buyar pada saat mereka melihat munculnya Si Tangan Maut Kwee Siong dan Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, dua musuh yang ditunggu-tunggu itu! Kembali Ma Kim Li hendak bergerak ketika melihat betapa anaknya ditotok dan ditangkap oleh Tong Ci Ki. Akan tetapi suaminya memegang tangannya.

"Jangan bergerak...," bisik Siangkoan Leng kepada isterinya.

"Tapi... bagaimana kalau mereka mencelakakan Hay Hay...?"

"Tidak. Mereka hendak merampas Hay Hay, bukan hendak membunuhnya! Apa bila kita muncul dan rahasia kita terbuka, tentu lebih repot lagi bagi kita. Biarkan saja mereka, kita dapat membayangi dan setiap waktu dapat berusaha menyelamatkan anak itu."

Mereka berdua terus mengintai dan ngeri juga rasa hati mereka pada saat melihat betapa dengan kekuatan sinkang-nya yang sangat dahsyat, iblis dari Goa Iblis Pantai Selatan itu menyerang ke dalam peti, sedangkan isterinya menyerang pula dengan jarumnya melalui lubang-lubang angin. Andai kata tubuh mereka yang berada di dalam peti, agaknya sukar bagi mereka untuk dapat menyelamatkan diri.

Ketika keadaan menjadi kacau karena suami isteri iblis itu membawa Hay Hay keluar dan merobohkan orang-orang yang berani menghadang mereka, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li cepat menggerakkan tangan dan menyerang empat orang pembantu yang juga pernah menjadi murid mereka dari jarak jauh.

Tentu saja keempat orang itu tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum maut Ma Kim Li yang dalam hal penggunaan senjata rahasia beracun ini tidak kalah oleh Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. Empat orang itu lalu roboh dan tewas seketika, dan peristiwa pembunuhan ini tidak nampak oleh orang lain karena suasana sedang kacau dan bising.

Tentu saja para tamu yang melayat di rumah keluarga Siangkoan itu menjadi geger ketika memperoleh kenyataan bahwa mayat-mayat yang berada di dalam dua buah peti mati itu bukanlah Siangkoan Leng dan isterinya dan betapa empat orang pelayan itu tiba-tiba saja mati seperti tanpa sebab. Bahkan ada yang bisik-bisik dengan muka pucat bahwa semua ini tentulah perbuatan setan.

Siangkoan Leng dan Ma Kim Li tidak mau peduli lagi akan keributan yang terjadi di rumah mereka. Mereka sudah cepat membayangi dua orang musuh mereka yang kini membawa pergi Hay Hay dengan melakukan perjalanan cepat sekali keluar dari kota Nan-king.

Akan tetapi suami isteri iblis ini sama sekali tidak pernah mengira bahwa jauh di belakang mereka ada sepasang suami isteri yang tidak kalah kejamnya melakukan pengejaran dan selalu membayangi mereka sejak mereka melarikan diri dari Nan-king sambil membawa anak laki-laki itu. Mereka ini adalah Siangkoan Leng dan Ma Kim Li.

Sesudah tiba di atas bukit kecil itu, Kwee Siong dan Tong Ci Ki menghentikan lari mereka dan membawa Hay Hay menuju ke bawah sebatang pohon besar yang berada di puncak bukit. Di bawah pohon itu nampak bersih dan agaknya mereka sudah pernah ke tempat itu, dan tempat itu memang menjadi tempat mengaso bagi mereka yang berani melewati daerah rawan ini. Tempat itu yang paling tinggi, bersih terlindung oleh pohon besar, dan rumput yang tebal itu masih bertilamkan daun-daun kering yang lunak, enak untuk duduk mau pun untuk tidur.

Kwee Siong menurunkan tubuh Hay Hay yang semenjak tadi dipondongnya, dan cara dia menurunkan tubuh itu, dengan hati-hati dan lembut sekali, menunjukkan bahwa dia tidak bersikap keras terhadap anak itu. Hal ini pun dirasakan oleh Hay Hay, apa lagi ketika pria jangkung kurus itu tiba-tiba saja mengusap tengkuknya sehingga seketika dia pun dapat bergerak mau pun mengeluarkan suara kembali, maka Hay Hay menjadi berani dan dia pun segera bangkit berdiri dari keadaan rebah miring.


Pendekar Mata Keranjang Jilid 01

HUJAN turun sejak sore tadi dan malam ini hujan masih turun rintik-rintik. Walau pun sudah tak sederas sore tadi, tapi hujan itu masih membuat orang enggan keluar rumah. Apa lagi malam itu dingin sekali. Dari pada di luar rumah, akan terasa lebih enak berada di dalam rumah sambil menghangatkan diri di dekat perapian atau di atas pembaringan menyusup ke bawah selimut.

Kota Nan-king yang biasanya sangat ramai dengan kehidupan malamnya itu kini nampak sunyi sepi seperti kota mati. Hanya satu dua orang saja nampak melangkah di atas jalan raya yang basah dan sunyi lagi gelap itu, orang-orang yang mempunyai urusan penting sekali. Mereka itu melindungi tubuh dengan jubah dan mantel, juga memegang payung.

Di sebuah rumah besar dan kuno yang terletak di pinggir jembatan di ujung timur kota itu, suasananya juga sangat sunyi. Rumah itu milik keluarga Siangkoan Leng yang terkenal sebagai keluarga jagoan, memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga dihormati orang karena mereka itu berdagang obat-obatan dan terkenal amat pandai pula mengobati orang sakit.

Karena kepandaiannya mengobati orang, maka oleh penduduk kota Nan-king Siangkoan Leng sendiri disebut Siangkoan Sinshe yang pandai mengobati orang dengan tusuk jarum. Perdagangan obatnya laris sehingga keluarga itu memiliki penghasilan cukup besar.

Akan tetapi keluarga ini pun, yang terdiri dari ayah ibu dan seorang anak, dengan dibantu oleh empat orang pelayan, semenjak sore sudah berada di kamar masing-masing, segan keluar kamar pada malam yang sunyi dan dingin itu.

Siangkoan Leng dan isterinya adalah sepasang suami isteri yang mempunyai ilmu silat tinggi. Tidak ada orang di Nan-king yang pernah mengira, apa lagi mengetahui, bahwa sebelum tinggal di Nan-king tujuh tahun yang lalu, suami isteri itu pernah dikenal sebagai penjahat-penjahat besar di sepanjang pantai selatan! Selama belasan tahun mereka merajalela di daerah selatan, merampok, membajak, membunuh dan tidak ada kejahatan yang mereka pantang.

Akan tetapi ketika isteri Siangkoan Leng yang bernama Ma Kim Li itu mengandung dalam usia hampir empat puluh tahun, peristiwa ini bagai menyadarkan mereka sehingga mereka berdua mengambil keputusan untuk memulai hidup baru bersama dengan anak yang akan dilahirkan. Mereka kemudian merantau ke utara sehingga akhirnya menetap di Nan-king meninggalkan pekerjaan jahat dan mencari uang secara halal.

Mereka telah tinggal di situ selama tujuh tahun dan anak yang terlahir laki-laki itu mereka beri nama Siangkoan Hay dan kini sudah berusia tujuh tahun. Sejak anak ini masih kecil, kedua suami isteri itu sudah menggembleng tubuh anak mereka dengan berbagai ramuan obat-obatan dan mendidiknya dengan ilmu silat.

Sebagai suami isteri yang pernah malang melintang sebagai tokoh sesat di dunia selatan, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sudah menanam bibit-bibit permusuhan dengan banyak golongan atau perorangan. Pada saat mereka masih malang-melintang di selatan, mereka selalu hidup dalam keadaan siap siaga karena setiap waktu bisa saja ada musuh datang menyerang karena setiap saat ada saja yang mengintai untuk mencelakai mereka sebagai pembalasan dendam.

Oleh karena cara hidup yang tak aman inilah maka suami isteri itu mengambil keputusan untuk melarikan diri dan meninggalkan dunia hitam. Mereka tak ingin anak mereka terlahir di tengah keluarga yang keselamatannya selalu terancam. Dan sejak tinggal di Nan-king, mereka hidup dengan tenang dan tenteram, tak pernah lagi merasa khawatir karena tidak ada yang mengenal mereka dan mereka merasa tidak punya musuh.

Biar pun demikian, karena semenjak muda suami isteri itu adalah orang-orang yang selalu berkecimpung di dunia persilatan, apa lagi kini mereka bermaksud menggembleng putera tunggal mereka menjadi seorang yang akan mewarisi ilmu-ilmu mereka, maka keduanya tidak pernah lalai berlatih, bahkan berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Malam itu pun mereka tidak tidur seperti diperkirakan orang melainkan duduk bersemedhi di dalam kamar mereka, bersila di atas tempat tidur sambil melatih ilmu baru yang sedang mereka ciptakan bersama untuk diturunkan kepada putera mereka.

Dan bagaimana dengan Siangkoan Hay? Dasar putera tunggal dari suami isteri jagoan, anak ini pun senang sekali dengan ilmu silat dan malam itu pun dia duduk bersila untuk melatih diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya, sendirian di dalam kamarnya.

Akan tetapi empat orang pelayan, dua lelaki dan dua wanita, yang tidur di kamar-kamar belakang sejak tadi sudah tidur keenakan dalam udara dingin yang menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Tidak seorang pun dari tujuh penghuni rumah besar itu yang tahu bahwa ada dua sosok tubuh manusia yang berjalan sambil berlindung di bawah sebatang payung, berhimpitan dan keduanya mengenakan mantel yang lebar, kini berhenti di depan rumah, menoleh ke kanan kiri.

Sepi di sekitar tempat itu dan kedua orang itu lalu memasuki pekarangan rumah keluarga Siangkoan. Di bawah cahaya lampu yang tergantung di luar pada pojok rumah, nampak sekelebatan wajah dua orang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki bertubuh jangkung kurus dan yang perempuan bertubuh sedang. Wajah mereka hanya nampak sekelebatan saja karena keduanya segera menyelinap ke dalam bayangan gelap sehingga hanya dua pasang mata mereka yang mencorong dalam kegelapan malam.

Dengan tenang mereka lantas menutup payung, membuka mantel, membungkus payung dalam mantel dan mengikat mantel-mantel itu di atas punggung. Kini mereka berpakaian ringkas, pakaian berwarna hitam yang membuat bayangan mereka sukar dapat dilihat.

Sesudah saling berbisik, dengan gerakan yang sangat cekatan keduanya lantas meloncat ke atas tembok pagar dan terus berloncatan ke atas genteng rumah besar itu. Gerakan mereka demikian ringan dan cepat, seperti dua ekor kucing ketika kaki mereka menginjak genteng tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan bagaikan dua ekor burung pada saat mereka meloncat.

Dua orang itu berloncatan turun di ruangan belakang rumah itu. Dengan tenang mereka lalu menghampiri dua buah kamar di mana empat orang pelayan itu tidur. Masing-masing menghampiri sebuah kamar, yang laki-laki menghampiri pintu kamar pertama sedangkan yang perempuan menghampiri pintu kamar ke dua. Mereka berdua lantas menggunakan tangan kanan mendorong daun pintu.

"Krekkk...!"

Daun pintu yang terkunci dari dalam itu jebol dan terbuka. Di dalam kamar pertama tidur dua orang pelayan pria dan laki-laki jangkung itu lalu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam menyambar ke arah pembaringan lantas dua tubuh pelayan lelaki yang sedang tidur pulas itu berkelojotan dan tewas tidak lama kemudian tanpa sempat membuka mata atau mengeluarkan suara.

Akan tetapi dua orang pelayan wanita yang berada di dalam kamar ke dua ternyata belum pulas benar. Suara jebolnya daun pintu sangat mengejutkan mereka. Keduanya bangkit duduk lantas terbelalak memandang ke arah daun pintu yang sudah jebol. Mereka terkejut dan ketakutan sesudah melihat munculnya seorang wanita yang bermuka pucat dingin di tengah ambang pintu.

Akan tetapi wanita itu pun sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam langsung menyambar ke arah dua orang pelayan wanita. Salah seorang di antara mereka sempat menjerit kecil sebelum ia kembali roboh di atas pembaringan seperti temannya, kemudian tubuh mereka berkelojotan dan akhirnya terdiam, mati.

Cahaya lampu di ruangan luar kamar itu kini menyinari dua muka pembunuh itu. Wajah seorang laki-laki yang kurus akan tetapi cukup tampan, kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah lalu bersatu dengan jenggotnya yang pendek dan telah berwarna dua. Usianya sekitar lima puluh tahun.

Wajah wanita itu pucat akan tetapi cantik, dengan hidung dan mulut yang membayangkan keangkuhan. Kini mereka saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka itu bagi orang lain tentu sangat mengerikan karena laksana senyum iblis yang mengandung kekejaman.

Kini nampak dua ekor anjing yang berlari dari belakang, datang sambil menggonggong dan hendak menyerang dua orang itu. Akan tetapi, dua orang itu menggerakkan tangan seperti orang menampar ke arah dua ekor anjing itu lantas suara anjing itu pun terhenti seketika dan mereka pun terpelanting kemudian tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah.

Dua orang itu lalu berkelebatan ke belakang rumah. Beberapa kali terdengar suara ayam berkeok diikuti jeritan pendek babi-babi yang berada di kandang belakang. Kalau saja air hujan rintik-rintik tidak membuat suara gaduh di atas genteng, agaknya dua orang suami isteri yang sedang bersemedhi itu akan dapat mengetahui datangnya dua orang penyebar maut itu.

Betapa pun tingginya ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang dimiliki tamu-tamu gelap itu, agaknya pendengaran suami isteri yang tengah bersemedhi itu akan bisa menangkapnya, karena pendengaran mereka sangat tajam dan sudah terlatih dengan baik. Suara gaduh yang ditimbulkan oleh air hujan yang merintik di atas genteng menutupi semua suara lain. Akan tetapi jerit pelayan wanita tadi masih dapat menembus celah-celah dan memasuki kamar.

"Suara apa itu?" Ma Kim Li bertanya, sadar dari semedhinya.

Suaminya juga sudah membuka mata dan memandangnya, menggelengkan kepala. Akan tetapi karena tidak terdengar suara apa-apa lagi yang mencurigakan, mereka pun merasa lega.

"Mungkin mereka mengigau dalam tidur," kata Siangkoan Leng, sama sekali tak menduga buruk karena selama bertahun-tahun ini tak pernah terjadi sesuatu menimpa keluarganya.

Akan tetapi kelegaan hati mereka itu hanya berlangsung sejenak. Kecurigaan hati mereka kembali diusik ketika terdengar gonggong kedua ekor anjing peliharaan mereka, apa lagi ketika suara menggonggong kedua ekor anjing itu tiba-tiba saja terhenti.

Hal ini tidak wajar, pikir mereka. Dari pandang mata saja pasangan suami isteri itu sudah saling sepakat untuk melakukan penyelidikan. Hampir berbareng mereka melompat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu kemudian keluar dari dalam kamar. Pertama-tama, mereka membuka daun pintu kamar putera mereka dan melihat betapa putera mereka masih duduk bersila, akan tetapi agaknya juga terganggu oleh suara gonggongan anjing-anjing itu.

"Mengapa dengan anjing-anjing itu, Ibu?" tanya Siangkoan Hay yang sangat menyayang anjing peliharaan mereka.

"Kau tetaplah di sini, kami akan melihat ke belakang." kata ibunya.

Mereka lalu keluar dari kamar itu, menutup kembali daun pintunya dan dengan langkah ringan akan tetapi cepat, suami isteri itu lalu berlari ke belakang. Dan apa yang dilihatnya pertama-tama langsung membuat mereka terbelalak dan wajah mereka berubah. Dua ekor anjing peliharaan mereka yang setia itu telah menggeletak mati dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah!

Siangkoan Leng cepat-cepat menghampiri dan sebagai seorang ahli pengobatan, begitu meraba, tahulah dia bahwa dua ekor anjing itu tewas karena pukulan yang amat ampuh, pukulan yang tidak membekas pada kulit anjing akan tetapi yang merusak bagian dalam sehingga dua ekor binatang itu tewas dengan mulut, hidung serta telinga mengeluarkan darah.

Jeritan tertahan isterinya membuat Siangkoan Leng cepat meloncat dan menghampiri dua kamar itu. Dia menahan napas melihat betapa empat orang pelayan itu pun sudah tewas dan ketika mereka berdua melakukan pemeriksaan, mereka semakin terkejut akan tetapi juga marah bukan kepalang karena empat orang itu tewas dengan leher menghitam dan membengkak, tanda bahwa mereka telah dibunuh dengan menggunakan senjata rahasia jarum yang mengandung racun jahat!

Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. "Perbuatan siapa ini...?" bisik isterinya.

Suaminya menggelengkan kepala, akan tetapi kelihatan marah. "Mari kita mencarinya!"

Mereka berloncatan ke belakang dan ketika melakukan pemeriksaan mereka menemukan semua binatang peliharaan mereka, babi, ayam, bahkan seekor kucing, telah mati semua! Tidak ada seekor pun binatang peliharaan mereka yang masih hidup!

"Cepat, anak kita...!" Ma Kim Li setengah menjerit ketika teringat anaknya.

Seperti berlomba saja kedua orang suami isteri itu lalu berlari kembali ke dalam ruangan besar dan segera menuju ke kamar anak mereka. Daun pintu masih tertutup dan dengan hati penuh ketegangan Ma Kim Li yang datang lebih dahulu dari pada suaminya itu cepat mendorong daun pintu. Legalah hatinya sesudah melihat betapa puteranya masih duduk bersila seperti tadi!

"Ehh, ada apakah Ibu?" tanya Siangkoan Hay, terkejut melihat cara masuknya ibu dan ayahnya itu dan melihat wajah mereka pucat, dibayangi ketegangan dan kegelisahan.

Ma Kim Li merangkul puteranya. "Tidak ada apa-apa, hanya ada orang jahat memasuki rumah kita," bisiknya.

"Wah, kalau begitu mari kita tangkap dan hajar dia, Ibu!" Siangkoan Hay berkata penuh semangat. Dia sudah meloncat turun dan tentu akan berlari keluar kalau tidak dipegang ibunya.

"Ssttttt...," kata ibunya.

Pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dari luar. "Ha-ha-ha, jelas nampak betapa orang tuanya sangat pengecut akan tetapi anaknya berwatak gagah berani! Hari ini kami membunuhi semua pelayan dan binatang peliharaan, satu minggu kemudian kami datang mengambil kembali anak kami dan sebulan kemudian kami akan datang untuk mengambil nyawa suami isteri Siangkoan!"

"Keparat!" Siangkoan Leng meloncat keluar melalui jendela sedangkan isterinya juga telah meloncat keluar melalui pintu setelah memesan agar puteranya tinggal saja dalam kamar.

Suami isteri itu muncul di pekarangan depan rumah mereka dari dua jurusan pada waktu yang sama dan di tengah pekarangan itu, di bawah cahaya lampu yang temaram karena walau pun hujan tinggal sedikit sekali namun cuaca masih sangat gelap, berdiri dua orang yang berpakaian serba hitam dan menggendong buntalan hitam. Yang seorang bertubuh jangkung kurus, seorang lagi bertubuh kecil ramping.

Dengan hati-hati sekali Siangkoan Leng dan Ma Kim Li mendekati dua orang itu kemudian memandang penuh perhatian. Setelah berhasil mengenal wajah dua orang itu, suami isteri ini menjadi marah bukan main.

鈥淜iranya kalian... suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan?"

Laki-laki jangkung kurus berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tertawa bergelak, ada pun isterinya yang cantik dan hanya beberapa tahun lebih muda, tersenyum, akan tetapi baik suara ketawa mau pun senyum itu mengerikan, mengandung ejekan dan kekejaman luar biasa.

Sekilas terbayanglah pengalaman kurang lebih sepuluh tahun yang lalu ketika suami isteri Siangkoan masih merajalela di selatan. Di antara banyak sekali musuh dan saingannya di dalam rimba raya persilatan dan dunia hitam, suami isteri dari Goa Iblis Pantai Selatan ini merupakan musuh terbesar mereka. Tentu saja sebabnya hanya karena memperebutkan kekuasaan dan wilayah kekuasaan.

Beberapa kali dua pasang suami isteri ini saling bentrok. Akan tetapi dalam perkelahian-perkelahian yang berlangsung seimbang dan seru, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li selalu menang dan suami isteri Goa Iblis itu selalu melarikan diri dengan luka-luka.

Setelah melihat bahwa musuh yang datang hanya suami isteri yang beberapa kali pernah kalah oleh mereka, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li memandang rendah dan mereka menjadi marah sekali.

"Kalian datang mengantar nyawa!" bentak Siangkoan Leng.

"Ha-ha-ha-ha, yang jelas kami datang mencabut nyawa para pelayan dan semua binatang peliharaanmu. Seminggu kemudian kami akan datang mengambil kembali anak kami, dan sebulan kemudian baru kami akan mengambil nyawa kalian."

"Jahanam busuk!" Ma Kim Li memaki wanita yang menjadi musuhnya itu. "Lancang sekali kau mengatakan bahwa putera kami adalah anak kalian!"

"Tentu saja anak kami!" jawab wanita berpakaian hitam itu. "Kalian sudah merampasnya dari tangan kami, mendahului kami yang memang merencanakan untuk mengambil anak itu. Dia anak kami, maka seminggu lagi kami akan mengambilnya."

"Mulut besar, sekarang juga kami akan membunuh kalian untuk perbuatan kalian malam ini!" bentak Siangkoan Leng dan tanpa banyak cakap lagi dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring yang disusul oleh isterinya.

Dan kedua suami isteri ini lalu menubruk ke depan. Kedua lengan mereka dikembangkan, jari-jari tangan dibuka membentuk cakar dan bukan main dahsyatnya serangan itu karena mereka yang marah sekali sudah mengeluarkan ilmu baru yang sedang mereka ciptakan agar cepat-cepat dapat membunuh dua orang musuh besar itu.

Dua orang tokoh Goa Iblis Pantai Selatan itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tiba-tiba mereka bertiarap ke atas tanah, kemudian mencelat ke atas memapaki serangan lawan. Sungguh aneh sekali gerakan mereka berdua, akan tetapi ternyata mereka mampu menyambut serangan lawan dengan dorongan telapak tangan terbuka yang amat kuat.

"Desss...! Dessss...!"

Empat tangan itu saling bertemu di udara dan terjadi benturan tenaga sinkang yang amat dahsyat sehingga keadaan sekeliling tempat itu seperti tergetar.

Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sama-sama terdorong dan terhuyung ke belakang, muka mereka menjadi pucat. Sedangkan dua orang berpakaian hitam itu berdiri tegak sambil tertawa-tawa.

"Siangkoan Leng, kami tak ingin membunuh kalian sekarang. Seminggu lagi kami datang untuk mengambil anak itu, dan sebulan kemudian barulah kami akan membunuh kalian. Ha-ha-ha, selamat tinggal!" Dua orang itu tertawa-tawa lantas sekali berkelebat keduanya lenyap dari depan suami isteri yang masih tertegun itu.

Ma Kim Li teringat akan puteranya dan cepat dia berlari memasuki rumah lagi, diikuti oleh suaminya yang juga merasa khawatir sekali. Ketika mereka membuka daun pintu, dapat dibayangkan alangkah kaget dan gelisah rasa hati mereka sesudah melihat bahwa kamar putera mereka itu telah kosong dan tidak nampak bayangan Siangkoan Hay!

"Hay Hay !" Ma Kim Li menjerit dan segera keluar lagi, berlari ke sana-sini mencari-cari puteranya. Juga Siangkoan Leng mencari-cari dan memanggil-manggil nama anaknya.

Akan tetapi mereka tak dapat menemukan Siangkoan Hay yang seolah-olah telah lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas! Mereka mencari-cari sampai jauh ke luar rumah, bahkan mengejar ke sana-sini di seluruh kota, tetapi sampai pagi tetap saja mereka tidak dapat menemukan putera mereka.

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati orang tua itu sesudah mencari-cari semalam suntuk tanpa hasil dan pada pagi harinya berjalan pulang dengan tubuh lemas. Meski pun tidak sampai mengeluarkan air mata karena wanita seperti Ma Kim Li itu sudah tak dapat menangis lagi, akan tetapi wajahnya menjadi sangat pucat. Juga wajah Siangkoan Leng berubah pucat sekali.

Sesudah sampai di rumah, keduanya kembali mencari anak mereka tanpa hasil. Mereka melakukan penyelidikan di kamar Siangkoan Hay namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau sesuatu yang dapat memberi petunjuk ke mana perginya anak itu.

"Jangan-jangan mereka telah membawanya!" kata Ma Kim Li.

"Kalau memang mereka yang menculik Hay Hay, berarti mereka tentu memiliki pembantu. Mereka sendiri tidak mungkin karena mereka bentrok dengan kita dan ketika mereka pergi kita juga langsung pergi ke kamar Hay Hay. Kurasa bukan mereka berdua penculiknya. Bukankah mereka sudah mengatakan akan mengambil Hay Hay seminggu lagi?"

"Iblis-iblis macam mereka itu mana bisa dipercaya?"

"Jangan kau memandang rendah mereka! Kukira mereka itu tak boleh disamakan dengan keadaan mereka sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang silam, kepandaian mereka hanya berada sedikit di bawah tingkat kita, akan tetapi engkau tentu merasakan ketika kita beradu tenaga dengan mereka tadi. Kita menggunakan ilmu kita yang baru, dengan pengerahan seluruh tenaga, akan tetapi tangkisan mereka membuat kita hampir jatuh! Itu saja membuktikan bahwa mereka kini sudah mempunyai tingkat kepandaian yang berada di atas tingkat kita!"

"Aku tidak takut!"

"Aku juga tidak takut, akan tetapi aku hanya mengatakan keadaan sebenarnya. Dengan kepandaian yang setinggi itu, mereka tentu tidak hanya menggertak saja. Mereka bahkan sengaja menentukan waktu-waktunya untuk bertindak agar kita dapat membuat persiapan lebih dahulu. Kesombongan seperti itu tentu hanya mereka lakukan karena mereka yakin benar dengan kepandaian mereka. Mereka seolah-olah memberi kesempatan kepada kita untuk melarikan diri, atau minta bantuan orang lain, dan agaknya mereka sudah siap akan semua kemungkinan itu."

"Kalau bukan mereka, lalu siapa yang mengambil anak kita?"

"Aku tidak tahu... ahhh, begitu banyak musuh kita di selatan, mana kita dapat menduga siapa yang menculiknya?"

"Sudah tujuh tahun tidak ada seorang pun di antara mereka yang datang mengganggu..."

"Buktinya malam tadi sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan datang, siapa tahu ada pula yang lain-lain datang untuk mengganggu kita."

"Kalau begitu, bagaimana baiknya ?" Ma Kim Li nampak bingung dan putus asa.

Wajahnya yang biasanya cerah dan masih kelihatan cantik itu sekarang menjadi muram dan sepasang matanya yang biasanya bersinar-sinar penuh keramahan yang berseri-seri, kini nampak layu dan membayangkan ketajaman yang penuh kekejaman dan kemarahan. Kedua tangannya sebentar terbuka dan sebentar tertutup seperti hendak mencengkeram sesuatu, ada pun sepuluh batang jari-jari tangannya itu dimasuki tenaga dahsyat sehingga kadang-kadang mengeluarkan bunyi berkerotokan. Sungguh mengerikan sekali!

"Sudahlah, lebih baik sekarang kita mengurus mayat empat orang pelayan kita itu namun jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kita kubur mereka diam-diam di kebun kita dan semenjak hari ini kita tutup toko kita. Sesudah itu baru kita akan mencari akal bagaimana untuk menghadapi mereka dan juga ke mana kita harus mencari anak kita."

"Akan tetapi Hay Hay... bagaimana kalau anak kita itu dibunuh...?"

"Bodoh! Jika mereka memang ingin membunuhnya, kenapa harus susah-susah menculik dia? Kalau sudah mampu menculiknya, apa susahnya membunuhnya di sini juga? Jangan bodoh, penculik itu tak akan membunuhnya, hanya ingin menculiknya untuk membikin kita merasa tersiksa."

"Seperti juga dua iblis itu yang sengaja memberi waktu kepada kita agar kita gelisah dan tersiksa sebelum mereka turun tangan."

"Benar, dan mari kita bekerja membereskan mayat-mayat itu."

Suami isteri itu menutup pintu rapat-rapat dan diam-diam lantas bekerja keras, membuat lubang yang cukup besar di dalam kebun belakang mereka untuk mengubur empat mayat pelayan mereka menjadi satu. Juga bangkai-bangkai babi, anjing serta ayam itu mereka kuburkan ke dalam satu lubang yang lain!

Sebetulnya, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li bukanlah orang biasa. Ketika mereka berdua masih merajalela di selatan, mereka merupakan sepasang manusia iblis yang tak pantang melakukan perbuatan jahat apa pun. Di samping kekejaman mereka, suami isteri ini pun amat lihai. Jarang ada orang yang mampu menandingi mereka.

Nama besar Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) sebagai julukan yang sudah diberikan oleh dunia kang-ouw kepada mereka sangat terkenal dan ditakuti orang. Entah sudah berapa banyak orang yang terbunuh atau kalah oleh mereka berdua sehingga tidak mengherankan apa bila banyak orang menaruh dendam kepada mereka.

Sejak mereka pindah ke Nan-king, mereka 'mencuci tangan' dan tidak pernah melakukan kejahatan lagi, memelihara dan mendidik anak tunggal mereka dan bekerja dengan halal. Mereka tidak tahu bahwa semua perbuatan mereka yang lampau itu tak habis begitu saja, namun mengandung akibat-akibat yang agaknya baru sekarang timbul dan mengganggu kehidupan mereka yang tadinya tenteram.

Sambil bekerja mengubur mayat-mayat dan bangkai-bangkai, pekerjaan yang bagi mereka biasa saja karena menghadapi kematian sudah tidak aneh lagi bagi mereka, kedua orang suami isteri itu bercakap-cakap dan menduga-duga siapa kiranya musuh-musuh lain yang berani mengganggu mereka dan menculik Siangkoan Hay.

"Sungguh aneh sekali, apa maksudnya tikus-tikus dari Goa Iblis itu mengaku Siangkoan Hay sebagai anak mereka?" antara lain Ma Kim Li bertanya.

"Semenjak tadi aku juga telah memikirkan hal itu," jawab suaminya. "Dan aku mengambil kesimpulan bahwa agaknya mereka sudah tahu akan rahasia kita dan agaknya pula pada waktu itu mereka pun bermaksud untuk menculik anak itu. Hanya bedanya, mereka ingin menculik sedangkan kita menukarnya dengan anak yang mati. Tapi anehnya, bagaimana mereka bisa tahu? Bukankah dua orang saksi telah kita bunuh semua?"

Sesudah pekerjaan mengubur itu selesai, Siangkoan Leng dan isterinya masuk ke dalam rumah lalu keduanya termenung. Mereka membayangkan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Ketika Ma Kim Li mulai mengandung, dia dan suaminya mendengar akan adanya suami isteri pendekar yang baru tiba di selatan dari pelariannya keluar dari Tibet.

Suami isteri itu terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman. Ketika mereka merantau ke Tibet dan si isteri mengandung, muncul petunjuk kepada para pendeta Lama bahwa anak yang dikandung oleh isteri pendekar itu merupakan penitisan (reinkarnasi) dari Dalai Lama dan bahwa anak itu kelak akan menjadi Dalai Lama atau seorang yang suci. Oleh karena itu, suami isteri pendekar itu menjadi ketakutan. Petunjuk itu berarti bahwa mereka harus melepaskan anak mereka bila mana sudah terlahir, untuk dirawat dalam biara oleh para pendeta Lama.

Dengan kepandaian mereka, suami isteri itu akhirnya dapat meloloskan diri dari kepungan para pendeta Lama kemudian melarikan diri sampai ke pantai selatan. Akan tetapi berita itu ramai dibicarakan orang sehingga terdengar pula oleh Lam-hai Siang-mo. Ramai orang membicarakan bahwa anak yang akan terlahir dari isteri pendekar itu tentu seorang anak yang disebut Sin-tong (Anak Ajaib). Kebetulan sekali, kandungan dalam perut Ma Kim Li sama tua dengan kandungan isteri pendekar itu. Ketika Ma Kim Li melahirkan, ternyata bayi laki-laki itu memiliki tubuh yang lemah sekali. Suami isteri itu berusaha mengobatinya, akan tetapi sia-sia belaka bahkan setelah dua bulan pertumbuhan anak itu tidak berjalan normal dan amat terbelakang.

Tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li menjadi kecewa bukan kepalang. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mau mengalah terhadap nasib dan dengan cara apa pun juga mereka ingin mengubah nasib diri mereka.

Mereka mendengar bahwa suami isteri pendekar itu, yang untuk sementara ini mondok di dalam sebuah kuil para nikouw (pendeta wanita) yang terpencil di luar kota, juga sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang kelahirannya hanya berselisih satu dua hari dengan kelahiran anak mereka yang diberi nama Siangkoan Hay itu. Pada suatu malam, pergilah suami isteri ini membawa anak mereka yang baru berusia dua bulan, memasuki kuil dari kebun belakang.

Siangkoan Leng menyuruh isterinya bersembunyi di balik rumpun bunga dan mendekap mulut anak mereka agar tidak mengeluarkan suara, ada pun dia sendiri cepat menyelinap hendak menyelidiki keadaan di dalam kuil itu. Dia merasa sangat terheran-heran melihat betapa kuil itu sunyi senyap dan terdengar suara orang-orang tidur mendengkur di dalam kamar-kamar kuil itu, tanda bahwa para penghuninya sudah tidur lelap.

Cepat dia memberi isyarat kepada isterinya dan mereka lantas mengadakan pemeriksaan dan mengintai ke dalam setiap kamar. Akhirnya mereka pun melihat seorang wanita yang berpakaian seperti pengasuh anak-anak, bersama seorang nikouw, yaitu seorang pendeta wanita yang berkepala gundul, berada di dalam sebuah kamar dan anehnya, mereka pun agaknya tidur nyenyak. Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua bulan juga tertidur di atas pembaringan.

"Cepat...!" Bisik Siangkoan Leng kepada isterinya.

Tanpa mengeluarkan suara mereka berloncatan ke dalam kamar itu. Ma Kim Li kemudian menaruh anaknya sendiri di atas pembaringan dan cepat menyambar anak laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu, seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berkulit putih bersih. Akan tetapi anaknya sendiri menangis, maka tanpa banyak cakap lagi Siangkoan Leng segera menggerakkan tangan menampar sehingga anak itu pun terdiam dan tewas dengan muka yang tak dapat dikenal lagi karena sudah remuk!

Sementara itu, Ma Kim Li juga mempergunakan tangannya yang bergerak menyambitkan jarum-jarum hitam. Jarum-jarum itu berubah menjadi sinar hitam dan menyambar ke arah leher dua orang wanita itu yang tak sempat berteriak lagi karena langsung tewas dengan jarum-jarum itu terbenam dalam-dalam pada leher mereka! Setelah itu, kedua suami isteri itu berloncatan ke luar.

Pekerjaan terkutuk itu mereka lakukan dengan sikap tenang saja. Membunuh anak sendiri serta dua orang wanita tidur itu bagi mereka bukanlah apa-apa, karena membunuh anak sendiri dan merusak mukanya agar tidak bisa dikenali itu memang sudah termasuk dalam rencana mereka.

Setelah menukarkan anak mereka yang lemah dan tidak normal itu dengan putera suami isteri pendekar, anak yang dihebohkan sebagai seorang Sin-tong, anak yang sejak dalam kandungan sudah ditentukan oleh para pendeta Lama di Tibet sebagai calon orang besar, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merasa gembira sekali. Akan tetapi mereka pun maklum bahwa orang-orang tidak akan tinggal diam saja, maka mereka pun seperti memperoleh dorongan lebih kuat lagi untuk segera meninggalkan daerah selatan.

Semenjak Ma Kim Li mengandung memang mereka sudah ingin meninggalkan pekerjaan sebagai penjahat demi anak mereka. Sekarang setengah terpaksa mereka meninggalkan daerah selatan pada malam hari itu juga dan sesudah merantau berbulan-bulan lamanya, berusaha menghilangkan jejak mereka agar tidak bisa disusul oleh mereka yang mungkin melakukan pengejaran, akhirnya mereka tinggal di kota Nan-king sebagai pedagang dan ahli obat.

Suami isteri itu mengenangkan semua kejadian itu dan sekarang menduga-duga siapakah yang membocorkan rahasia mereka sehingga dapat diketahui oleh suami isteri Goa Iblis itu? Kenapa yang mencari mereka, yang ingin merampas anak itu adalah dua orang dari Goa Iblis itu, dan bukan orang tua anak itu, yaitu sepasang pendekar yang menjadi orang tua asli dari anak yang kini bernama Siangkoan Hay dan menjadi anak mereka selama tujuh tahun? Dan siapa pula yang sebenarnya telah menculik anak mereka?

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" berkali-kali Ma Kim Li bertanya, baik kepada suaminya mau pun kepada diri sendiri karena dia merasa bingung sekali.

Walau pun Siangkoan Hay bukan anak yang dikandungnya dan dilahirkannya, akan tetapi karena dia telah memelihara dan mendidik anak itu semenjak berusia dua bulan, dia telah merasa amat mencinta anak itu dan dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri saja.

"Kita menghadapi dua hal yang sangat gawat," kata suaminya sesudah lama berpikir-pikir mencari akal. "Pertama, dua orang itu tentu tak mau melepaskan kita begitu saja. Mereka memberi waktu, dan selama itu pula mereka tentu akan selalu mengamati gerak-gerik kita sehingga andai kata kita melarikan diri pun mereka akan tahu dan membayangi kita. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi sehingga kita harus mencari daya upaya untuk melawan mereka dan menang. Ke dua, kita pun harus cepat-cepat mencari anak kita yang diculik orang. Sungguh tidak leluasa sekali apa bila mencari anak kita dalam keadaan kita selalu dibayangi, sedangkan menghadapi mereka secara begitu saja, juga amat berbahaya. Ilmu kita yang paling baru saja tidak mampu merobohkan mereka!"

"Habis, bagaimana?" tanya isterinya yang diam-diam merasa jeri juga walau pun dia tidak menyatakan dengan mulut.

Dia pun merasa ketika menyerang wanita yang menjadi lawannya malam itu, dia sudah mengeluarkan ilmunya yang terbaru dan mengerahkan tenaga penuh. Akan tetapi dengan gerakan bertiarap lalu meloncat bangun, lawan itu sanggup menahan pukulannya, bahkan membuat dia terdorong ke belakang dan terhuyung hampir roboh!

Padahal dulu, wanita itu yang bernama Tong Ci Ki berjuluk Si Jarum Sakti, sudah pernah dikalahkannya dalam perkelahian sampai beberapa kali. Suami wanita itu, yang bernama Kwee Siong berjuluk Si Tangan Maut, juga beberapa kali kalah oleh suaminya. Ternyata mereka telah memperoleh kemajuan yang amat hebat selama sepuluh tahun ini.

"Kita harus menggunakan akal sehingga untuk sementara kita dapat lolos dari ancaman mereka dan di lain pihak kita pun dapat bebas melakukan pengintaian terhadap mereka apakah mereka itu menculik anak kita atau tidak."

"Bagaimana akalnya?" isterinya bertanya khawatir .

"Yang paling penting kita harus dapat meloloskan diri dari pengamatan mereka agar kita dapat leluasa bergerak lantas dapat berbalik membayangi mereka, dan satu-satunya akal kita adalah begini..."

Suami itu mendekati isterinya kemudian berbisik-bisik di dekat telinganya karena khawatir kalau-kalau pihak musuh tengah mengadakan pengintaian dan akan dapat mendengarkan siasatnya. Isterinya mengangguk-angguk setuju. Ya... ya... yaaa!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Berita kematian Siangkoan Sinshe dan isterinya amat menggemparkan seluruh penduduk kota Nan-king. Banyak sekali orang yang berdatangan untuk melayat. Menurut penuturan empat orang pelayan laki-laki yang baru beberapa hari bekerja di sana, karena kabarnya pelayan-pelayan lama keluar dan pulang kampung, mereka mendapatkan majikan mereka itu kedua-duanya telah mati di dalam kamar tidur mereka.

Memang agak aneh. Apa lagi sesudah para tetangga itu mendapatkan bahwa dua mayat Siangkoan Leng serta isterinya itu telah dimasukkan ke dalam dua buah peti yang sudah tertutup. Akan tetapi tidak ada yang meributkan soal ini. Tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali melayat dan ikut berkabung karena bagaimana pun juga, suami isteri itu dikenal sebagai pedagang obat yang pandai mengobati orang sakit dan sudah banyak orang sakit yang sembuh oleh pengobatan mereka.

Kepala daerah yang sudah mengenal baik Siangkoan Leng dan isterinya, datang melayat pula begitu mendengar berita itu, tetapi dia merasa curiga, maka dia pun memaksa empat orang pelayan itu, dibantu oleh orang-orangnya kepala daerah itu sendiri, untuk membuka sedikit peti-peti mati itu supaya dia dapat melihat wajah suami isteri yang dikabarkan mati mendadak itu.

Dua buah peti mati itu lalu dibuka sedikit dan digeser penutupnya. Nampaklah wajah dua orang suami isteri itu, wajah yang pucat tak mengandung darah lagi, wajah jenazah yang sudah tak bernyawa lagi! Si Kepala Daerah baru percaya dan peti itu pun ditutup kembali lalu dipaku. Dan para tetangga juga kini percaya bahwa suami isteri itu benar-benar telah mati. Hanya, tidak ada yang tahu bagaimana dua orang yang tadinya sehat-sehat saja itu tiba-tiba bisa meninggal dunia.

Selama dua hari banyak tamu berdatangan dan bersembahyang di depan dua buah peti mati itu. Asap hio mengepul dan bau dupa wangi yang dibakar memenuhi ruangan. Pada hari ke tiga, anak tunggal suami isteri yang baru mati itu, yang selama beberapa hari ini menjadi pertanyaan para tetangga dan kenalan Siangkoan Leng sekeluarga, tiba-tiba saja muncul, dan berlari-lari sambil menangis dan memanggil ayah ibunya!

Keadaan segera menjadi gempar dan mengharukan ketika Siangkoan Hay, yang menjadi buah bibir dan pertanyaan para tetangga karena tak terlihat di situ, apa lagi karena empat orang pelayan baru itu mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat putera majikan mereka itu karena sejak mereka dipekerjakan, tuan muda itu sudah tak berada di rumah, menangis tersedu-sedu di depan dua peti mati itu.

"Ayah..., Ibu... kenapa kalian mati? Kenapa... ? Apa yang telah terjadi...?" Dia menangis dan bertanya, akan tetapi tak seorang pun mampu menjawabnya.

Dari luar terdengar suara ketawa. Tentu saja semua tamu menjadi terkejut dan menengok dengan pandang mata mereka membayangkan kemarahan. Sungguh tak sopan sekali di dalam ruangan berkabung itu ada orang tertawa! Akan tetapi pandang mata mereka yang tadinya mengandung kemarahan segera berubah menjadi ketakutan dan kengerian ketika mereka melihat siapa yang tertawa tadi.

Mereka adalah seorang lelaki dan seorang wanita. Yang lelaki bertubuh jangkung kurus, wajahnya tampan akan tetapi mengerikan, dingin dan kaku bagaikan kedok saja, hanya sepasang matanya yang hidup dan mencorong menakutkan.

Yang wanita bertubuh kecil ramping. Wajahnya berbentuk bagus dan cantik, akan tetapi muka itu pucat sekali laksana muka mayat dan bibir yang pucat membiru itu tersenyum, akan tetapi senyum yang mengandung kekejaman, sedangkan sepasang matanya juga mencorong seperti mata laki-laki jangkung di sampingnya.

Ternyata yang mengeluarkan suara ketawa tadi adalah wanita itu, dan sekarang mereka berdua melangkah memasuki ruangan di mana terdapat dua buah peti mati yang berjajar. Sejenak dua orang itu memandang ke sekeliling, ke arah para tamu yang nampak terkejut dan bengong memandang kedua orang yang baru datang itu.

Tidak ada seorang pun di antara para tamu itu yang mengenal suami isteri ini. Akan tetapi di selatan, di sepanjang pantai selatan, semua orang di dunia kang-ouw, terutama di dunia hitam, mengenal sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai selatan.

Laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih itu bernama Kwee Siong akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Si Tangan Maut. Sedangkan wanita yang sedikit lebih muda dari pada dia itu adalah isterinya bernama Tong Ci Ki yang terkenal dengan julukannya Si Jarum sakti. Mereka adalah pasangan suami isteri yang terkenal ganas, kejam dan lihai seperti sepasang iblis, penghuni Goa Iblis di pantai selatan, ditakuti oleh semua orang.

Kini suami isteri yang sikapnya amat dingin dan mengerikan itu memandang ke arah anak laki-laki yang sedang menangis di antara dua buah peti mati. Si Jarum Sakti Tong Ci Ki menghampiri anak ini, kemudian bibirnya yang pucat kebiruan itu bergerak-gerak.

"Apakah engkau anak dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li?"

Anak itu memang Siangkoan Hay dan sambil mengusap air matanya, dia kini memandang kepada dua orang itu. Dia tidak mengenal mereka, akan tetapi ketika mereka menyebut nama ayah ibunya, dia mengangguk.

"Benar, aku adalah anak mereka, namaku Siangkoan Hay."

"Sin-tong...!" kata Tong Ci Ki lantas dia pun melangkah maju mendekati Siangkoan Hay sambil mengulurkan tangannya.

"Apa... ?" Hay Hay bertanya heran, akan tetapi pada saat itu tubuhnya seperti ditarik oleh tenaga yang luar biasa dan tahu-tahu pergelangan tangannya telah ditangkap oleh tangan wanita itu yang berkulit halus namun dingin.

Tubuh Hay Hay menggigil kedinginan. Ia hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi tiba-tiba saja tangan yang lain dari wanita itu mengelus kepalanya dan dia pun tak mampu menggerakkan tangannya itu, bahkan ketika hendak mengeluarkan suara, tidak ada suara keluar dari tenggorokannya. Hay Hay terkejut sekali sehingga hanya berdiri bengong, tak mampu bersuara atau bergerak, dan masih bergantungan pada tangan wanita itu yang memegang pergelangan tangannya.

Sementara itu, dengan senyum yang lebih pantas dinamakan senyum iblis karena hanya menyeringai dengan mulut saja tapi bagian lain dari mukanya sama sekali tidak bergerak, Si Tangan Maut Kwee Siong menghampiri dua buah peti mati itu.

"Heii! Siapa kalian dan mau apa?" seorang di antara para tamu, yang merasa tak senang melihat sikap suami isteri itu, menegur.

Si Tangan Maut menoleh kepada orang itu, kemudian menyeringai. "Kami adalah sahabat-sahabat baik dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, sungguh tidak disangka bahwa hari ini kami melihat mereka telah berada di dalam peti mati."

Mendengar ini, semua orang tertegun. Betapa anehnya dua orang yang berpakaian serba hitam itu, pikir mereka. Sementara itu, Si Tangan Maut Kwee Siong sudah menghampiri kedua peti mati itu lantas kedua tangannya menekan dan menepuk-nepuk kedua peti itu seperti orang menepuk-nepuk bahu sahabat baiknya

"Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, semoga kalian bisa senang di alam baka." Dan setelah menepuk beberapa kali, dia pun mundur dan menoleh kepada isterinya. "Apakah engkau tidak ingin membekali sesuatu kepada mereka melalui lubang-lubang kecil di samping peti itu?"

Wanita itu pun tersenyum. Andai kata mukanya tidak seperti mayat, tentu wajahnya yang belum tampak keriputan itu akan terlihat cantik. Ia masih menggandeng tangan Siangkoan Hay dan sekarang dia menggerakkan sebelah tangannya ke arah peti. Sinar hitam lembut menyambar ke arah kedua peti itu dan tepat sekali sinar-sinar kecil itu memasuki lubang-lubang di samping peti.

Memang aneh peti mati itu karena ada lubang-lubang kecil di kanan kiri peti, seolah-olah dua peti mati itu diberi lubang hawa! Hal ini tidak nampak oleh para tamu lainnya karena tertutup bunga-bunga, akan tetapi ternyata kelihatan oleh suami isteri luar biasa itu.

Semua orang tidak mengerti akan sikap mereka dan tidak tahu apa yang mereka lakukan tadi. Akan tetapi tiba-tiba semua orang yang berada di dekat kedua peti itu mengeluarkan seruan kaget. Dengan mata terbelalak mereka menuding ke arah bawah peti karena kini dari dua peti itu keluar darah menetes-netes dan tergenang di bawah peti!

Melihat ini, Si Tangan Maut Kwee Siong dan isterinya, Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, tertawa bergelak dan mereka lantas pergi dari ruangan itu sambil membawa Siangkoan Hay yang masih digandeng oleh Tong Ci Ki.

"Hai, apa yang telah kalian lakukan?"

"Tunggu dulu...!"

Beberapa orang tamu sudah menghadang mereka. Mereka adalah orang-orang yang ahli ilmu silat, yang mulai curiga dan menduga bahwa tentu telah terjadi peristiwa mengerikan sekali, ada pun dua orang laki-laki dan wanita pakaian hitam ini tentu bukan sahabat baik keluarga Siangkoan, apa lagi melihat mereka hendak pergi membawa Siangkoan Hay.

Akan tetapi suami isteri iblis itu dengan tenang melanjutkan langkahnya dan ketika tiba di dekat mereka yang berani menghadang, dua orang suami isteri itu hanya berseru,

"Minggir kalian!"

Keduanya menggerakkan tangan seperti orang mengusir lalat saja akan tetapi akibatnya, empat orang itu terpelanting ke kanan kiri seperti diamuk gajah! Padahal, empat orang itu termasuk orang-orang yang mempunyai ilmu silat cukup tangguh dan merupakan jagoan-jagoan di Nan-king!

Melihat betapa empat orang lihai itu sedemikian mudah dirobohkan oleh suami isteri yang berpakaian hitam ini, semua orang segera menjadi jeri sehingga tak ada lagi yang berani menghalangi mereka. Apa lagi ketika semua orang melihat betapa pria jangkung bermuka laksana topeng itu tiba-tiba saja menarik tangan Siangkoan Hay sehingga tubuh anak itu terpental ke atas lalu dipondongnya dan bersama wanita muka mayat itu kini mereka lari dengan kecepatan yang membuat mereka terbelalak. Tak seorang pun berani melakukan pengejaran.

Dalam sekejap mata saja kedua orang itu telah lenyap dan barulah semua orang menjadi panik dan bising. Mereka berlari mendekati dua peti mati dan dapat dibayangkan betapa terkejut dan ngeri hati mereka sesudah melihat bahwa selain dari dua buah peti itu masih menetes-netes darah melalui lubang-Iubang kecil yang tersembunyi itu, juga empat orang pelayan laki-Iaki yang tadi duduk di belakang peti-peti itu sekarang sudah terkapar dan tak bernyawa lagi, dengan muka berubah kehitaman!

Padahal mereka sama sekali tak melihat dua orang tamu aneh tadi turun tangan terhadap empat orang pelayan itu dan tidak salah lagi, mereka berempat itu tewas pada saat terjadi ribut-ribut penghadangan terhadap dua orang tamu yang melarikan Siangkoan Hay. Tidak ada seorang pun melihat bagaimana empat orang pelayan itu bisa tewas dan siapa yang membunuhnya.

Gegerlah tempat itu! Terlebih lagi kepala daerah Nan-king yang pernah diobati oleh suami isteri Siangkoan, yang tadinya memang telah menaruh curiga sehingga pernah menyuruh membuka tutup peti mati di hari pertama, menjadi marah sekali mendengar berita itu. Dia bersama orang-orangnya segera datang ke sana dan memerintahkan para pengawalnya untuk membuka tutup peti dengan paksa.

Kembali dua buah peti itu dibuka tutupnya dan semua orang terbelalak, bahkan ada yang mengeluarkan pekik keheranan dan kengerian. Kiranya yang berada di dalam peti mati itu bukan Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, bukan suami isteri pedagang obat itu, melainkan dua orang laki-laki dan perempuan lain lagi, yang usianya sekitar empat puluh tahun dan melihat pakaian mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah petani-petani sederhana!

Kemana perginya Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, atau lebih tepat lagi, kemana hilangnya jenazah-jenazah mereka yang tadinya telah berada di dalam peti mati? Kenapa tubuh dua orang petani itu tahu-tahu sudah berada di dalam peti dan agaknya mereka belum mati ketika berada dalam peti?

Jelas bahwa mereka mati karena serangan gelap dari kedua orang tamu aneh itu karena di sebelah dalam peti nampak bekas jari-jari tangan dan juga di lambung mereka nampak luka-luka menghitam yang kecil-kecil dan sesudah dibedah, ternyata di dalamnya terdapat jarum-jarum hitam kecil. Dan siapa pula yang membunuh empat orang pelayan itu?

Semuanya itu terjadi karena ulah suami isteri Siangkoan sediri! Seperti kita ketahui, suami isteri itu mengatur siasat untuk meloloskan diri dari pengamatan dua orang musuh mereka yang amat lihai agar mereka dapat leluasa bergerak dan berbalik melakukan pengintaian dan pengamatan. Diam-diam mereka lalu minta bantuan empat orang yang pernah belajar silat kepada Siangkoan Leng untuk menjadi pengganti pelayan, dan memberi tahu kepada mereka bahwa para pelayan di rumah itu sudah pulang ke kampung karena takut dengan ancaman musuh.

Kemudian, dibantu oleh empat orang pelayan yang juga murid mereka itu, suami isteri ini lalu menggali lubang terowongan yang menembus ke luar pagar tembok sehingga suami isteri itu dapat keluar dengan leluasa pada waktu malam. Hal ini mereka lakukan supaya tidak sampai ketahuan pihak musuh yang tentu selalu melakukan pengintaian.

Sesudah melakukan perundingan dengan keempat orang pelayan itu bahwa mereka akan melakukan siasat untuk mengelabui musuh, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li berpura-pura mati bunuh diri dengan minum racun. Pada saat kepala daerah melakukan pemeriksaan, tubuh mereka memang berada di dalam peti mati itu.

Dengan ilmu kepandaian mereka yang sangat tinggi, suami isteri itu dapat menghentikan pernapasan mereka, bahkan jalan darah mereka menjadi sedemikian lemahnya sehingga tidak dapat dilihat orang begitu saja, dan wajah mereka menjadi pucat seperti mayat, juga mereka sanggup menahan napas sampai beberapa lamanya.

Dengan kepandaian itu, mereka berhasil mengelabui kepala daerah dan orang-orangnya. Untuk keperluan pernapasan pada saat peti itu tertutup, mereka sengaja membuat lubang-lubang kecil di kanan kiri peti yang agak tersembunyi di antara bunga hiasan peti.

Malam hari sebelum terjadi kunjungan dua orang suami isteri iblis itu, secara diam-diam Siangkoan Leng bersama Ma Kim Li keluar dari peti mati dan melalui jalan terowongan di bawah tanah, mereka kemudian pergi ke dusun di luar kota. Tak sukar bagi mereka untuk menemukan sebuah rumah terpencil di pinggir dusun.

Sesudah melakukan pengintaian, mereka merasa girang sekali karena menemukan suami isteri yang mereka cari-cari, yakni sepasang suami isteri yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun. Dan yang lebih cocok lagi dengan siasat mereka adalah bahwa mereka itu hanya tinggal berdua saja di rumah kecil miskin yang sunyi terpencil itu.

Suami isteri petani itu belum tidur, dan tentu saja mereka merasa sangat terkejut melihat munculnya Siangkoan Leng beserta isterinya yang begitu saja mendorong daun pintu dari luar sampai jebol.

"Ehh...apa... siapa...?" teriak petani itu. Akan tetapi Siangkoan Leng sudah menotoknya sehingga dia tak mampu lagi bergerak atau pun berteriak, ada pun Ma Kim Li melakukan hal yang sama terhadap isteri petani.

"Itu ada pakaian anak-anak," bisik Ma Kim Li kepada suaminya.

Mereka mencari dan menggeledah rumah kecil itu, akan tetapi tidak menemukan orang lain. Walau pun mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perbuatan jahat, akan tetapi sekali ini mereka bekerja secara rahasia dan bersembunyi dari pengintaian musuh, maka keduanya tidak berani mencari lebih jauh dan cepat memanggul tubuh suami isteri petani yang sudah lemas itu, kembaIi ke kota Nan-king.

MelaIui jalan terowongan itu mereka menyeret dua tubuh petani memasuki rumah mereka kemudian cepat memasukkan tubuh suami isteri petani itu ke dalam peti-peti mati untuk menggantikan tubuh mereka sendiri. Sebelum itu, mereka menggunakan obat bius untuk membuat suami isteri petani itu pingsan selama sehari semalam.

Setelah melakukan perbuatan yang hanya disaksikan oleh empat orang pembantu mereka itu, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li lantas keluar dari pekarangan rumah mereka melalui jalan rahasia dan mulailah mereka melakukan pengintaian dari tempat tersembunyi di luar pekarangan. Kini mereka melakukan pengintaian terhadap rumah mereka sendiri!

Mereka dapat melihat kesibukan yang terjadi di pekarangan dan juga di ruangan pendapa di mana dua buah peti mati diletakkan, juga melihat orang-orang yang datang melayat dan bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah mereka.

Tentu saja mereka terkejut setengah mati melihat seorang anak laki-laki berpakaian kotor dan berambut kusut memasuki pekarangan itu, anak yang bukan lain adalah Siangkoan Hay yang mereka cari-cari. Hampir saja Ma Kim Li berteriak saat melihat puteranya, akan tetapi suaminya sudah memegang lengannya dan cepat memberi isyarat supaya jangan mengeluarkan suara atau pun bergerak. Sekali mereka keluar dan kelihatan orang, berarti terbukalah semua rahasia mereka!

Boleh jadi Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merupakan dua orang yang sudah kehilangan peri kemanusiaan. Perasaan mereka telah membeku terhadap kehalusan. Keadaan hidup mereka yang lampau sebagai dua orang sesat yang berkecimpung di dalam dunia hitam dan bergelimang dengan kejahatan membuat hati mereka mengeras dan tidak mengenal keharuan.

Akan tetapi ketika melihat Siangkoan Hay menangis di antara dua buah peti itu, menangis sambil memanggil-manggil ayah ibunya, dua orang ini nampak bengong dan termenung. Bahkan Ma Kim Li sampai mengusap kedua matanya dan Siangkoan Leng beberapa kali menelan ludah.

Bagaimana pun juga, mereka berdua telah menganggap Hay Hay sebagai anak kandung sendiri. Walau pun anak itu bukanlah anak kandung, akan tetapi mereka memeliharanya, membesarkan serta mendidiknya, sejak bayi berusia dua bulan sampai anak itu sekarang berusia tujuh tahun. Dan anak itu sangat cerdas, tabah dan lincah, selalu bergembira dan merupakan cahaya terang dalam kehidupan mereka.

Karena watak yang baik dari Siangkoan Hay itulah yang banyak mendorong suami isteri ini untuk memaksa diri melalui jalan benar, tidak pernah lagi mengulangi perbuatan jahat mereka. Demi untuk kehidupan anak mereka itu di kemudian hari maka mereka memaksa diri untuk menjadi 'orang baik-baik'. Karena paksaan dan bukan sewajarnya, maka semua kebaikan yang mereka pertahankan itu pun mudah luntur sehingga begitu ada ancaman bahaya kepada mereka, maka timbul kembali watak jahat mereka!

Hidup baik atau pun kebaikan tidak mungkin bisa dilatih! Kebaikan bukanlah suatu hasil usaha atau hasil latihan, tidak mungkin juga dilakukan karena ketaatan atau karena ingin memperoleh balas jasa. Bukanlah suatu kebaikan kalau dilakukan dengan kesengajaan untuk menjadi baik, bukan pula kebaikan kalau dilakukan dengan pamrih apa pun juga, bahkan bukan suatu kebaikan namanya bila pelakunya menyadari bahwa yang dilakukan itu adalah suatu kebaikan!

Kesadaran melakukan kebaikan ini pun jelas menyembunyikan pamrih, betapa pun halus pamrih itu, tapi sedikitnya tentu merupakan kesadaran akan kebaikan dirinya yang akan membentuk suatu gambaran mengenai diri sendiri yang penuh dengan kebaikan! Menjadi suatu kesombongan yang terselubung, dan pamrihnya ingin mengulang rasa nikmat yang timbul dalam hati karena telah 'berbuat baik'!

Kebaikan adalah suatu keadaan seseorang yang batinnya dipenuhi dengan cahaya cinta kasih. Perbuatan yang didasari cinta kasih pasti benar dan baik, dan bukan kebaikan lagi namanya, tetapi suatu perbuatan wajar penuh peri kemanusiaan yang berlandaskan cinta kasih.

Ada pun kebaikan yang dilakukan orang tanpa dasar cinta kasih, namun kebaikan yang dilakukan karena kesadaran bahwa dia 'harus' berbuat baik, maka perbuatan seperti itu, bagaimana pun baik nampaknya, tiada lain hanyalah kemunafikan, atau kepalsuan yang menyembunyikan pamrih untuk diri sendiri, betapa halus pun pamrih itu.

Kebaikan seperti ini akan mudah luntur. Sekali pamrihnya tidak didapat, maka perbuatan baiknya pun akan berhenti. Kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran seperti itu hanya merupakan suatu jalan atau cara untuk memperoleh suatu tujuan tertentu, dan kebaikan seperti itu tidak ada artinya, baik untuk diri sendiri mau pun untuk orang lain.

Tidak anehlah kalau orang-orang seperti Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, setelah selama tujuh tahun menjadi 'orang-orang baik' lantas tiba-tiba saja dapat kembali menjadi kejam. Kekejaman dalam batin mereka belum lenyap, hanya ditekan-tekan saja selama itu, 'demi sesuatu' yang mereka harapkan dalam hal ini, mungkin demi anak mereka!

Kebaikan itu seperti harum bunga. Bunganya adalah cinta kasih dan keharumannya itulah kebaikan. Cinta kasih selalu akan menyebarkan kebaikan, tanpa disengaja, karena cinta kasih itu kebaikan, keduanya tak terpisahkan, seperti matahari dengan cahayanya.


Keharuan yang menyentuh hati Siangkoan Leng dan Ma Kim Li segera buyar pada saat mereka melihat munculnya Si Tangan Maut Kwee Siong dan Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, dua musuh yang ditunggu-tunggu itu! Kembali Ma Kim Li hendak bergerak ketika melihat betapa anaknya ditotok dan ditangkap oleh Tong Ci Ki. Akan tetapi suaminya memegang tangannya.

"Jangan bergerak...," bisik Siangkoan Leng kepada isterinya.

"Tapi... bagaimana kalau mereka mencelakakan Hay Hay...?"

"Tidak. Mereka hendak merampas Hay Hay, bukan hendak membunuhnya! Apa bila kita muncul dan rahasia kita terbuka, tentu lebih repot lagi bagi kita. Biarkan saja mereka, kita dapat membayangi dan setiap waktu dapat berusaha menyelamatkan anak itu."

Mereka berdua terus mengintai dan ngeri juga rasa hati mereka pada saat melihat betapa dengan kekuatan sinkang-nya yang sangat dahsyat, iblis dari Goa Iblis Pantai Selatan itu menyerang ke dalam peti, sedangkan isterinya menyerang pula dengan jarumnya melalui lubang-lubang angin. Andai kata tubuh mereka yang berada di dalam peti, agaknya sukar bagi mereka untuk dapat menyelamatkan diri.

Ketika keadaan menjadi kacau karena suami isteri iblis itu membawa Hay Hay keluar dan merobohkan orang-orang yang berani menghadang mereka, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li cepat menggerakkan tangan dan menyerang empat orang pembantu yang juga pernah menjadi murid mereka dari jarak jauh.

Tentu saja keempat orang itu tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum maut Ma Kim Li yang dalam hal penggunaan senjata rahasia beracun ini tidak kalah oleh Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. Empat orang itu lalu roboh dan tewas seketika, dan peristiwa pembunuhan ini tidak nampak oleh orang lain karena suasana sedang kacau dan bising.

Tentu saja para tamu yang melayat di rumah keluarga Siangkoan itu menjadi geger ketika memperoleh kenyataan bahwa mayat-mayat yang berada di dalam dua buah peti mati itu bukanlah Siangkoan Leng dan isterinya dan betapa empat orang pelayan itu tiba-tiba saja mati seperti tanpa sebab. Bahkan ada yang bisik-bisik dengan muka pucat bahwa semua ini tentulah perbuatan setan.

Siangkoan Leng dan Ma Kim Li tidak mau peduli lagi akan keributan yang terjadi di rumah mereka. Mereka sudah cepat membayangi dua orang musuh mereka yang kini membawa pergi Hay Hay dengan melakukan perjalanan cepat sekali keluar dari kota Nan-king.

Akan tetapi suami isteri iblis ini sama sekali tidak pernah mengira bahwa jauh di belakang mereka ada sepasang suami isteri yang tidak kalah kejamnya melakukan pengejaran dan selalu membayangi mereka sejak mereka melarikan diri dari Nan-king sambil membawa anak laki-laki itu. Mereka ini adalah Siangkoan Leng dan Ma Kim Li.

Sesudah tiba di atas bukit kecil itu, Kwee Siong dan Tong Ci Ki menghentikan lari mereka dan membawa Hay Hay menuju ke bawah sebatang pohon besar yang berada di puncak bukit. Di bawah pohon itu nampak bersih dan agaknya mereka sudah pernah ke tempat itu, dan tempat itu memang menjadi tempat mengaso bagi mereka yang berani melewati daerah rawan ini. Tempat itu yang paling tinggi, bersih terlindung oleh pohon besar, dan rumput yang tebal itu masih bertilamkan daun-daun kering yang lunak, enak untuk duduk mau pun untuk tidur.

Kwee Siong menurunkan tubuh Hay Hay yang semenjak tadi dipondongnya, dan cara dia menurunkan tubuh itu, dengan hati-hati dan lembut sekali, menunjukkan bahwa dia tidak bersikap keras terhadap anak itu. Hal ini pun dirasakan oleh Hay Hay, apa lagi ketika pria jangkung kurus itu tiba-tiba saja mengusap tengkuknya sehingga seketika dia pun dapat bergerak mau pun mengeluarkan suara kembali, maka Hay Hay menjadi berani dan dia pun segera bangkit berdiri dari keadaan rebah miring.