Asmara Berdarah Jilid 37

MELIHAT betapa Raja dan Ratu Iblis sudah keluar, Hui Song mengeluarkan bentakan dan dia pun telah berloncatan di antara para prajurit untuk membantu mereka mengepung dan mengeroyok Raja dan Ratu Iblis.

Cia Sun juga mengenal empat orang penggotong tandu atau joli tanpa atap itu. Mereka berempat itu bukan lain adalah Hui-thian Su-kwi, empat orang Cap-sha-kui yang memang mempunyai ginkang yang luar biasa sekali. Maka dia pun cepat lari menghampiri dan ikut pula mengepung. Juga para pendekar ikut membantu sehingga kini empat orang pemikul tandu itu dikepung dari empat jurusan!

Akan tetapi gerakan Hui-thian Su-kwi sungguh luar biasa cepatnya. Mereka berloncatan ke atas kepala para prajurit, lalu dua orang kakek dan nenek di atas tandu itu menyebar maut dengan pukulan-pukulan jarak jauh mereka. Hanya para pendekar saja yang dapat menghindarkan diri atau menangkis sambaran angin dahsyat itu, akan tetapi para prajurit pengawal banyak yang roboh dan tewas.

Agaknya Raja Iblis yang lebih banyak menyebar maut sedangkan Ratu Iblis ‘mengemudi’ empat orang pemanggul tandu itu dengan teriakan-teriakannya, "Ke kanan...! Mundur...! Maju...! Ke kiri!"

Hui-thian Su-kwi mempergunakan kecepatan gerak kaki mereka untuk berloncatan sesuai dengan petunjuk Ratu Iblis. Sambil berloncatan kaki-kaki mereka pun tak pernah bergerak secara sia-sia, karena tendangan-tendangan yang mereka lakukan juga telah merobohkan banyak prajurit pengawal yang mengepung.

"Kejar! Kepung, robohkan para pemikul tandu!" Perwira pasukan memberi aba-aba,

Sekarang empat orang pemikul tandu itu berloncatan tinggi sampai ke tenda besar yang didirikan oleh para prajurit. Setiba mereka di situ, tenda itu diterjang hingga tiang-tiangnya roboh oleh tendangan empat orang pemikul tandu yang berloncatan ke atas. Sementara itu hantaman-hantaman yang dilakukan oleh telapak tangan Raja Iblis demikian hebatnya sehingga mayat-mayat para pengeroyok roboh berserakan.

"Kepung rapat!" teriak perwira pasukan pada waktu melihat empat orang pemikul tandu itu meloncat tinggi dan hinggap di atas tiang-tiang kayu bekas tenda besar. Para prajurit lalu mengepung dan menyerang dengan tombak.

"Loncat turun ke depan!" terdengar Ratu Iblis memberi komando, sementara itu Raja Iblis melancarkan pukulan ke arah tiang melintang di depannya.

"Krakkkk...!" Tiang yang besar itu patah tengahnya dan tiang-tiang itu pun roboh menimpa para prajurit sedangkan empat orang pemikul tandu meloncat jauh ke depan.

Melihat betapa Raja Iblis sedang menyebar maut, Hui Song dan Cia Sun menjadi marah sekali. Mereka tak dapat leluasa bergerak karena kesimpang-siuran para prajurit yang ikut mengeroyok.

"Kita serang berbareng dengan loncatan ke atas!" tiba-tiba Cia Sun berbisik dan Hui Song mengangguk.

Tiba-tiba saja dua orang pemuda perkasa ini melompat jauh ke atas, melampaui kepala beberapa orang prajurit dan mereka berdua langsung menerjang Raja Iblis dari kanan dan belakang! Memang mereka telah memperhitungkan agar loncatan mereka tiba di sebelah kanan dan belakang Raja Iblis, kemudian mereka menyerang dengan berbareng.

Sambil meloncat itu, dari sebelah kanan Cia Sun telah mengirimkan pukulan dengan satu jurus Hok-mo Cap-sha-ciang, sebuah ilmu pukulan tangan kosong yang mukjijat dan luar biasa ampuhnya. Pukulan itu mendatangkan angin kuat dan nampak seperti ada cahaya kemerahan menyambar dahsyat ke arah leher Raja Iblis. Pada saat yang sama pula Hui Song telah menyerang dengan pukulan Thian-te Sin-ciang yang juga merupakan pukulan amat ampuh, ditujukan ke arah punggung Raja Iblis.

Menghadapi penyerangan dua orang pemuda yang amat lihai ini, Raja Iblis mengeluarkan suara mendengus marah dan juga kaget. Cepat dia memutar tubuhnya ke kanan, tangan kirinya diputar menahan pukulan Cia Sun ada pun tangan kanannya menangkis pukulan Hui Song.

Sementara itu, Ratu Iblis tidak tinggal diam melihat suaminya menghadapi penyerangan dahsyat itu. Maka dia pun mengerahkan tenaga pada kedua tangannya lalu mendorong ke arah Cia Sun dan Hui Song dari sebelah kanan suaminya.

"Plakkk! Desss...!"

Karena tidak mempunyai tempat berpijak dan saking kuatnya tenaga Raja dan Ratu Iblis, tubuh Hui Song dan Cia Sun yang menyerang sambil melompat itu terpental ke belakang sehingga terpaksa berjungkir balik menghindarkan diri dari terbanting. Akan tetapi tenaga mereka juga begitu kuatnya sehingga Raja dan Ratu Iblis yang tadi mengerahkan tenaga, membuat empat orang Hui-thian Su-kwi terhuyung sebab tiba-tiba saja panggulan mereka menjadi berat luar biasa.

Sementara itu, perkelahian antara Sui Cin dan Gui Siang Hwa terjadi amat serunya. Akan tetapi, betapa pun juga, Siang Hwa harus mengakui keunggulan Sui Cin. Sebelum gadis ini digembleng oleh Wu-yi Lo-jin, belum tentu Sui Cin akan mampu mengalahkan Siang Hwa dengan mudah. Akan tetapi, selama tiga tahun ini Sui Cin memperoleh gemblengan yang sangat mendalam sehingga ilmu-ilmunya yang banyak macamnya, yang diwarisinya dari ayah ibunya itu, kini menjadi matang.

Oleh karena itu, biar pun Siang Hwa menggunakan pedang, bahkan telah menggunakan pula sapu tangan suteranya yang mengandung racun, dia sama sekali tidak berdaya dan semua serangannya dapat digagalkan dengan mudah oleh Sui Cin, sebaliknya desakan gadis Pulau Teratai Merah ini membuat ia repot dan terhuyung-huyung. Beberapa kali ia telah menerima tamparan Sui Cin dan hanya kekebalan dirinya saja yang membuat Siang Hwa masih dapat bertahan sampai puluhan jurus.

Akan tetapi, ketika jari tangan Sui Cin yang kecil mungil serta meruncing itu menyambar pundaknya dengan totokan yang amat cepat, Siang Hwa lalu terpelanting dan pedangnya terlepas ketika tangan kanannya ditendang oleh Sui Cin. Pada waktu itulah para prajurit menubruk dengan tombak dan golok mereka sehingga wanita cabul itu pun tewas dalam keadaan mengerikan, tubuhnya hancur oleh belasan batang golok dan tombak.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Ci Kang juga sudah merobohkan sute-nya, yaitu, Sim Thian Bu. Semenjak semula Sim Thian Bu sendiri memang sudah gentar menghadapi putera mendiang gurunya ini. Semenjak dahulu dia tak pernah dapat menang terhadap Ci Kang. Apa lagi setelah Ci Kang digembleng dengan hebatnya oleh Ciu-sian Lo-kai, tentu saja gerakan-gerakannya menjadi semakin matang dan kuat.

Namun, karena perasaan Ci Kang menjadi halus dan lembut, dia merasa tidak tega untuk membunuh bekas sute-nya. Beberapa kali dia membujuk supaya Thian Bu menyerah saja dan kalau mau bertobat, dia yang akan mintakan ampun kepada Yang Tai-ciangkun. Akan tetapi semua bujukannya malah disambut dengan ucapan-ucapan menghina oleh Thian Bu sehingga perkelahian itu menjadi lama.

Akhirnya, sebuah tendangan yang dilakukan dengan posisi miring dari Ci Kang amat tidak terduga oleh Thian Bu. Tendangan itu mengenai lambung Sim Thian Bu dan membuatnya tersungkur roboh. Pada saat itu, para prajurit juga menubruk dan menghujamkan senjata mereka. Akan tetapi, sebelum tewas Sim Thian Bu masih sempat melontarkan pedangnya membunuh seorang di antara mereka. Dia sendiri, seperti juga Siang Hwa, tewas di ujung belasan batang tombak dan golok.

Ketika Hui-thian Su-kwi terhuyung karena pertemuan tenaga antara Raja dan Ratu Iblis melawan Hui Song dan Cia Sun, tiba-tiba muncullah Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin! Dua orang kakek ini melihat kesempatan yang baik sekali. Pada saat itu Raja Iblis tidak memegang tongkat yang mereka takuti. Mereka melayang seperti yang dilakukan oleh Hui Song dan Cia Sun tadi, dan mereka sudah menerjang ke arah Raja dan Ratu Iblis yang berdiri di atas joli terbuka.

Empat orang pemikul sedang terhuyung maka tidak sempat membawa pemimpin mereka meloncat sehingga terpaksa Raja dan Ratu Iblis yang kaget melihat munculnya dua orang kakek ini, menyambut serangan mereka dengan dorongan tangan. Raja Iblis menyambut hantaman tangan Siang-kiang Lo-jin sedangkan Ratu Iblis juga menyambut pukulan Wu-yi Lo-jin dengan dorongan kedua telapak tangannya.

"Wuuuuttt...! Desss...!"

Pertemuan tenaga sinkang sekali ini lebih hebat lagi. Akibatnya, tubuh Raja dan Ratu Iblis terdorong dan condong ke belakang sedangkan tubuh dua orang kakek penyerang yang tadi meloncat terdorong ke belakang dan hampir mereka terjengkang, akan tetapi empat orang Hui-thian Su-kwi sampai jatuh berjongkok karena kaki mereka tiba-tiba tak kuat lagi menahan tenaga yang menekan dari atas!

Pada saat itu Sui Cin, Ci Kang, Hui Song dan Cia Sun sudah menerjang maju, masing-masing menyerang seorang dari Hui-thian Su-kwi. Empat orang tokoh dari Cap-sha-kui ini terkejut bukan main. Mereka baru saja jatuh berjongkok sedangkan serangan empat orang muda itu sedemikian dahsyatnya sehingga mereka terpaksa melepaskan pikulan joli dan bangkit untuk meloncat mengelak atau menangkis.

Segera terjadi perkelahian antara mereka dengan empat orang muda itu dan joli itu pun terlempar ke samping! Akan tetapi Raja dan Ratu Iblis sudah berloncatan turun dan ketika Wu-yi Lo-jin dan Siang-kang Lo-jin hendak menyerang, tiba-tiba mereka berdua terbelalak dan mundur karena Raja Iblis sudah mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya!

Para pendekar yang hadir cepat maju menyerang, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja mereka terpental roboh dan kini para prajurit pengawal mengepung lagi, mengeroyok kakek dan nenek itu. Akan tetapi para prajurit ini seperti sekelompok nyamuk menyerang api lilin saja, setiap kali kakek dan nenek itu menggerakkan tangan, tentu banyak orang yang roboh terpelanting.

Karena itu, para prajurit menjadi gentar dan Raja Iblis bersama isterinya dengan mudah berloncatan lalu melarikan diri dengan cepat sekali, tidak pernah dapat disusul oleh para pengejarnya. Apa lagi karena para pengejarnya itu sudah merasa gentar.

Bahkan dua orang kakek yang paling lihai di antara mereka, Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin, juga mengejar dari jauh saja karena mereka itu juga gentar, bukan gentar terhadap Raja dan Ratu Iblis, melainkan terhadap tongkat sakti itu! Mereka takut terhadap sumpah mereka sendiri, takut kalau melanggar sumpah. Hal ini membuat kakek dan nenek iblis itu dengan mudahnya keluar dari San-hai-koan lantas melarikan diri menuju ke padang pasir di sebelah selatan, kemudian membelok ke barat.

Sementara itu, dalam situasi panik dan juga karena tingkat kepandaiannya memang jauh kalah tinggi, empat orang dari Hui-thian Su-kwi yang menghadapi empat orang pendekar muda sudah roboh semua. Su Cin, Hui Song, Ci Kang dan Cia Sun juga melihat betapa Raja dan Ratu Iblis melarikan diri, maka tadi mereka memperhebat serangan mereka.

Kini empat orang pendekar muda itu telah berloncatan dan lari mengejar pula. Walau pun tadi mereka itu tertinggal jauh, karena kehebatan ilmu ginkang mereka, akhirnya mereka dapat juga menyusul Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin yang tidak berani terlalu cepat.

"Suhu, di mana mereka?" tanya Sui Cin.

"Wah, mereka tadi menghilang di balik bukit sana itu," kata Wu-yi Lo-jin kepada Sui Cin.

"Sayang kami berdua tidak berani mengejar terlalu cepat. Si laknat itu sudah memegang tongkatnya!" kata pula Si Dewa Kipas.

"Akan tetapi kami tidak takut pada tongkat iblisnya itu!" kata Hui Song dengan gemas dan dia pun terus berlari cepat ke depan, diikuti oleh tiga orang pendekar muda lainnya, ada pun dua orang kakek itu terpaksa mengejar pula dari belakang mereka dengan gelisah.

Dari arah jalan yang diambil oleh Raja dan Ratu Iblis, Ci Kang dan Cia Sun teringat akan tempat persembunyian Raja Iblis, yaitu di sebuah gedung tua di lereng bukit itu, di mana terdapat goa di dalam tanah dan di sana untuk pertama kali mereka bertemu dengan Hui Cu.

Tidak salah lagi, tentu ke sanalah Raja dan Ratu Iblis pergi! Maka, mereka lalu menjadi penunjuk jalan dan berlari cepat ke arah bukit itu. Kini yang melakukan pengejaran hanya tinggal mereka berenam lagi karena pasukan pengawal dari San-hai-koan bersama para pendekar sudah tidak ikut mengejar, tidak mampu mengejar secepat itu, dan pula, mereka lebih sibuk dan mementingkan untuk menolong teman-teman yang terluka dan mengurus mereka yang tewas pada saat terjadi pengeroyokan atas diri Raja dan Ratu Iblis bersama pembantu-pembantu mereka yang pandai.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Para pengejar itu mempercepat lari mereka ketika mereka melihat betapa terjadi keributan di sebelah depan, di persimpangan jalan menuju ke Ceng-tek dan ke bukit tempat gedung kuno persembunyian Raja dan Ratu Iblis. Agaknya di sana terjadi pertempuran yang seru antara banyak orang yang melakukan pengeroyokan.

"Ayah...!" Hui Song berseru kaget sekali ketika melihat bahwa yang mengeroyok Raja dan Ratu Iblis adalah ayahnya bersama sumoi-nya Tan Siang Wi, serta tiga puluh lebih orang anggota Cin-ling-pai, sisa dari para murid Cin-ling-pai.

Betapa lihainya Raja dan Ratu Iblis, tetapi mereka harus bersikap hati-hati saat dikeroyok oleh puluhan orang murid Cin-ling-pai yang dipimpin sendiri oleh ketuanya. Mereka berdua dikurung ketat sekali dan para murid Cin-ling-pai yang merasa dendam kepada Raja Iblis, berkelahi dengan semangat tinggi dan mati-matian.

Memang sudah ada lima enam orang di antara murid Cin-ling-pai yang roboh, akan tetapi mereka masih bersemangat. Juga ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, nampak terluka di pahanya, tetapi pendekar ini masih bergerak dengan gagah perkasa, mendesak Raja Iblis dibantu oleh Tan Siang Wi dan puluhan orang murid Cin-ling-pai.

Cia Kong Liang merasa girang sekali ketika melihat puteranya muncul. Sebaliknya, Raja Iblis menjadi kaget bukan kepalang. Mereka tidak merasa takut menghadapi orang-orang Cin-ling-pai dan sungguh pun harus mengerahkan kepandaian dan perlu waktu yang agak lama, tapi mereka yakin akan mampu mengalahkan puluhan orang musuh itu. Akan tetapi kemunculan empat pendekar muda beserta dua orang kakek itu membuat mereka gentar juga!

Memang benar bahwa dua orang kakek itu tidak akan berani turun tangan melihat tongkat sakti di tangan Raja Iblis, akan tetapi empat orang pendekar muda itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan! Mereka berempat itu bahkan lebih tangguh dibandingkan ketua Cin-ling-pai sendiri!

Kini tanpa banyak cakap lagi, Hui Song, Sui Cin, Cia Sun dan Ci Kang sudah menerjang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis. Para murid Cin-ling-pai bernapas lega dan mereka yang merasa bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh berada di bawah untuk dapat mengimbangi perkelahian antara orang-orang sakti itu, lalu mundur dan hanya mengurung tempat itu sambil menonton dan siap-siap membantu pihak mereka.

Perkelahian kini menjadi seru bukan kepalang setelah Sui Cin, Hui Song, Cia Sun dan Ci Kang maju mengeroyok Raja dan Ratu Iblis! Benar-benar merupakan perkelahian tingkat tinggi di mana setiap orang mengeluarkan semua kepandaian mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

Empat orang muda itu sungguh tangkas dan lihai, dengan jurus-jurus mereka yang berupa ilmu-ilmu silat pilihan. Cia Sun serta kawan-kawannya maklum akan kelihaian kakek dan nenek itu, maka mereka berempat tidak merasa sungkan untuk maju berempat melawan dua orang.

Bahkan Cia Kong Liang berdiri bengong penuh kagum. Kini puteranya itu sudah memiliki kepandaian yang sangat hebat, bahkan berani bertemu tangan beradu sinkang melawan Raja Iblis! Dia pun hanya berdiri di pinggir dan siap membantu kalau-kalau puteranya dan para pendekar muda itu terancam bahaya.

Dua orang kakek Si Dewa Arak dan Dewa Kipas hanya menonton di antara para murid Cin-ling-pai tanpa berani turun tangan. Akan tetapi Wu-yi Lo-jin lalu mendapat akal. Dia melihat betapa gerakan-gerakan muridnya, Sui Cin, walau pun sudah hebat sekali, namun ada beberapa bagian yang masih lemah. Dia kemudian berteriak-teriak memberi petunjuk kepada Sui Cin dan begitu dara ini mendengar petunjuk-petunjuk gurunya, dia menyerang makin dahsyat sehingga membuat Ratu Iblis kewalahan!

Melihat ini, segera Siang-kiang Lo-jin berteriak memberi petunjuk kepada Hui Song yang setelah mendengar petunjuk-petunjuk dari kakek gendut itu segera bisa memperbaiki dan memperhebat gerakan-gerakannya. Melihat ini, Cia Kong Liang semakin heran dan baru dia dapat menduga bahwa kakek gendut ini tentu seorang guru baru dari puteranya.

Pada saat dua orang kakek itu berlomba memberi petunjuk kepada murid masing-masing, tiba-tiba terdengar suara dua orang lain yang berseru memberi petunjuk kepada Cia Sun dan Ci Kang! Dua orang pemuda ini girang bukan main karena mengenal suara guru-guru mereka, Ciu-sian Lo--kai dan Go-bi San-jin! Kini lengkaplah sudah guru keempat pendekar muda itu.

Mereka berempat berada di situ akan tetapi karena tongkat sakti di tangan Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong, mereka berempat tidak berani berkutik dan hanya dapat memberi petunjuk kepada murid masing-masing. Akan tetapi petunjuk-petunjuk ini berharga sekali karena kini gerakan keempat orang muda itu menjadi semakin dahsyat sehingga Raja dan Ratu Iblis sendiri menjadi repot, terdesak hingga permainan silat mereka menjadi kalang kabut. Selain itu, mereka berdua sudah amat tua sehingga dalam hal daya tahan tubuh dan pernapasan, mereka kalah jauh dibandingkan empat orang lawan mereka.

Empat orang muda itu mengeroyok secara bergantian. Mereka seperti tengah membentuk barisan segi empat, membuat suami isteri iblis itu sangat kewalahan. Ketika memperoleh kesempatan yang baik, tiba-tiba Sui Cin menubruk maju lantas tamparan tangannya yang penuh dengan tenaga Thian-te Sin-ciang itu mengenai punggung Ratu Iblis.

"Uakkkk...!"

Ratu Iblis tidak roboh namun dari mulutnya muncrat darah segar, tanda bahwa tamparan itu telah melukainya. Dan pada saat yang hampir bersamaan, Cia Sun juga telah berhasil memukul lambung Raja Iblis dengan jurus Hok-mo Cap-sha-ciang yang mukjijat.

"Desss...!"

Demikian hebatnya pukulan itu, akan tetapi juga demikian lihainya Raja Iblis sehingga Cia Sun yang memukul malah terpelanting sendiri! Akan tetapi dari dalam dada Raja Iblis itu keluar suara keluhan pendek, kemudian dia dan isterinya secara tiba-tiba meloncat lantas melarikan diri ke arah bukit!

"Cepat kejar!" Hui Song berseru dan mereka berempat lalu mengejar, diikuti oleh empat orang kakek, Cia Kong Liang dan para murid Cin-ling-pai yang tertinggal jauh di belakang.

Kakek dan nenek itu berlari bagaikan terbang cepatnya menuju ke arah gedung kuno di lereng bukit. Melihat ini, Ci Kang berseru, "Cepat, kalau mereka memasuki gedung, akan sukar bagi kita karena gedung itu menyimpan banyak rahasia! Mungkin mereka bisa lolos melalui jalan rahasia!"

Mendengar ucapan ini, semua orang lalu melakukan pengejaran secepatnya. Akan tetapi mereka kalah dulu dan sekarang kakek dan nenek itu sudah tiba di depan gedung. Hal ini membuat delapan orang pengejar itu menjadi gelisah. Juga Cia Kong Liang mendengar ucapan Ci Kang tadi dan dia pun yang berada agak jauh di belakang delapan orang itu merasa gelisah.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras sekali dan gedung kuno di depan itu hancur berantakan! Kakek dan nenek itu tentu saja merasa terkejut setengah mati dan Raja Iblis terbelalak memandang pada seorang gadis yang baru saja muncul dari belakang gedung yang sudah hancur itu.

"Hui Cu...!" Ratu Iblis berseru kaget. "Apa yang telah kau lakukan?"

Gadis itu memandang pada ibunya dengan wajah muram, lalu berbalik memandang pada Raja Iblis dengan sinar mata penuh kemarahan. "Maafkan aku, ibu. Terpaksa aku harus menghancurkan gedung ini. Bagaimana pun juga aku harus menentang kejahatannya!" Ia menuding ke arah muka Raja Iblis.

"Anak keparat! Kalau begitu, engkau harus mampus!"

Raja Iblis tiba-tiba melompat ke depan dan menyerang Hui Cu dengan pukulannya yang sangat dahsyat. Pukulan itu dahsyat bukan main, datang menerjang Hui Cu laksana kilat menyambar. Dara itu cepat menggerakkan kedua tangannya menangkis untuk melindungi tubuhnya.

"Desss...!"

Tubuh gadis itu terlempar sampai beberapa meter ke belakang lantas terbanting ke atas tanah. Akan tetapi, berkat latihan-latihan yang diterima dari ibunya, gadis itu tadi sempat melindungi dirinya dengan sinkang sehingga dia hanya kesakitan saja dan tidak sampai terluka parah, maka dia hanya mengeluh dan perlahan-lahan bangkit lagi. Melihat ini, Raja Iblis menjadi penasaran dan semakin marah.

"Heh, satu kali pukulan belum cukup, ya?" katanya dan dia sudah menerjang kembali ke depan untuk menyusulkan pukulan maut kepada puterinya. Akan tetapi pada saat itu pula Ratu Iblis sudah meloncat mendahului suaminya dan menghadang di depan suaminya.

"Jangan bunuh anakku!" katanya dengan sinar mata mencorong laksana seekor harimau betina yang melindungi anaknya.

Sepasang mata Raja Iblis yang biasanya jarang bergerak itu kini terbelalak. Hampir dia tidak percaya melihat isterinya kini berdiri menghadang dan menentangnya. Selama ini, isterinya amat taat kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dengan taruhan nyawa sekali pun. Akan tetapi kali ini isterinya menghadapinya dengan sikap seorang musuh! Dia tidak tahu betapa di atas segalanya, seorang ibu selalu mencinta anak tunggalnya hingga berani menentang apa saja, berani kehilangan apa saja demi anaknya itu.

"Kau... kau berani menentang aku?" tanyanya, masih tidak dapat percaya.

"Jangan bunuh anakku!" Hanya itulah yang dapat dikatakan Ratu Iblis karena sebetulnya nenek ini amat takut dan juga cinta kepada Raja Iblis, akan tetapi kasihnya terhadap anak kandung yang tunggal itu agaknya lebih besar lagi.

"Kau membela anak keparat yang sudah menghancurkan tempat kita itu?" tanyanya lagi.

"Jangan bunuh anakku!"

"Hemmm, kalau begitu kalian harus mampus!" Dan Raja Iblis sudah menerjang isterinya dengan dahsyat.

Ratu Iblis menangkis dan dia pun terjengkang, sungguh pun tidak sehebat puterinya tadi. Dia meloncat bangun dan kini Hui Cu juga sudah meloncat dekat ibunya. Ketika Raja Iblis menyerang lagi, dia disambut oleh isterinya dan puterinya!

Terjadilah perkelahian yang seru hingga membuat para pendekar yang sudah tiba di situ memandang bengong dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mengejar Raja dan Ratu Iblis, akan tetapi sekarang musuh-musuh yang dikejar itu bahkan saling hantam sendiri. Hal ini membuat mereka bingung, tidak tahu harus membantu siapa!

Betapa pun lihainya Ratu Iblis, tapi menghadapi suaminya sama saja dengan menghadapi gurunya. Dan kepandaian Hui Cu belum ada artinya kalau dibandingkan dengan ayahnya itu. Oleh karena itu, dalam waktu tiga puluh jurus saja, pukulan tangan kiri Raja Iblis telah menyambar dengan tepat mengenai dada isterinya sendiri.

"Dukkk...!" Tubuh nenek itu terjengkang dan terbanting keras.

"Ibuuu...!" Hui Cu menubruk ibunya.

Pada saat itu, dengan kemarahan meluap Raja Iblis menyerang anaknya. Akan tetapi, Sui Cin, Hui Song, Ci Kang dan Cia Sun seperti dikomando telah menerjang maju, menyerang Raja Iblis yang sedang hendak membunuh puterinya itu.

Serangan empat orang muda yang perkasa itu dahsyat bukan main, membuat Raja Iblis terpaksa menarik kembali serangannya terhadap Hui Cu lantas berloncatan ke belakang untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang berbahaya itu.

Kini gedung kuno yang menjadi harapannya untuk dapat menyembunyikan atau melarikan diri telah dihancurkan puterinya sendiri, dan pembantunya yang paling dapat diandalkan, yaitu Ratu Iblis, sudah tewas atau setidaknya sudah tidak mampu membantunya lagi. Ada pun melarikan diri dari empat orang muda perkasa ini juga percuma karena dia sendiri sudah sangat lelah dan kalau disuruh berlomba lari, tentu dia akan kehabisan napas dan akhirnya tersusul juga.

Dia lalu mengeluarkan suara pekik melengking dan selagi tenaganya masih ada, tiada lain jalan bagi Pangeran Toan Jit Ong atau Raja Iblis kecuali terus melawan dan berusaha mengamuk, menjatuhkan semua lawan yang empat orang ini karena empat orang kakek itu tidak ada yang berani maju melanggar sumpah mereka sendiri. Oleh karena itu, Raja Iblis segera mengeluarkan suara pekik melengking dan membalas serangan empat orang pengeroyoknya yang cepat menghindar pula.

Kini terjadilah perkelahian yang hebat dan mati-matian antara Raja Iblis yang dikeroyok oleh empat orang pendekar muda perkasa itu. Dan kini, empat orang kakek sakti tak perlu lagi memberi petunjuk kepada murid masing-masing. Dengan hilangnya Ratu Iblis, maka kekuatan Raja Iblis banyak berkurang sehingga empat orang muda itu mulai mendesak dan memperketat pengepungan mereka. Bahkan Ci Kang dan Hui Song sudah berhasil menyarangkan pukulan masing-masing ke tubuh Raja Iblis.

Akan tetapi kakek ini mempunyai kekebalan yang amat kuat sehingga pukulan dua orang muda itu nampaknya tidak berbekas. Tapi betapa pun juga, bukan berarti bahwa pukulan itu sama sekali tidak ada artinya. Biar pun kulit kebal dapat membuat pukulan-pukulan itu membalik, namun Raja Iblis mengalami getaran hebat di sebelah dalam tubuhnya, dan dia pun sudah mengerahkan terlampau banyak tenaga untuk menahan pukulan-pukulan tadi. Gerakannya jelas nampak semakin lemah dan semakin lambat.

Hal ini membuat empat orang pengeroyoknya bertambah semangat hingga kembali tubuh kakek itu terkena pukulan, sekali ini Sui Cin yang menampar lambungnya, disusul Cia Sun mendaratkan pukulannya ke arah pundak. Kakek itu terhuyung ke belakang dan pada saat Hui Song menyusulkan sebuah tendangan keras yang mengenai perutnya, kakek itu mencelat ke belakang dan dari mulutnya tersembur darah segar.

Namun dia memekik lantas menubruk maju. Hampir saja Sui Cin kena dicengkeram kalau saja Hui Song tidak cepat menolongnya dengan tangkisan yang membuat tubuh pemuda itu terjengkang, akan tetapi Sui Cin luput dari cengkeraman maut! Ci Kang menampar pula dari belakang, tamparan yang sangat keras mengenai tengkuk Raja Iblis. Tubuh kakek itu terputar dan kembali dia terhuyung-huyung. Dan tiba-tiba saja kakek itu terpelanting lalu jatuh menelungkup tak bergerak lagi.

Empat orang pendekar muda itu tidak berani mendekat, khawatir kalau-kalau Raja Iblis hanya pura-pura roboh dan kalau mereka mendekat dengan gegabah, mereka mungkin celaka oleh serangan mendadak. Akan tetapi, beberapa menit mereka menunggu, tubuh kakek itu tetap tidak bergerak dan tiba-tiba terdengar Ciu-sian Lo-kai terkekeh.

"Ha-ha-ha, akhirnya Raja Iblis mati juga!"

Mendengar ucapan suhu-nya ini, barulah Ci Kang berani menghampiri dan membalikkan tubuh yang menelungkup itu. Nampak darah memenuhi tanah di bawah tubuh dan kiranya sebatang pedang sudah menancap di dada kakek itu. Pedangnya sendiri! Setelah melihat bahwa dia tak akan menang, kakek itu lalu membunuh diri, memilih mati di tangan sendiri dari pada di tangan empat orang muda itu!

Kini mereka semua menujukan perhatian kepada Hui Cu yang masih menangisi ibunya. Nenek itu masih belum tewas walau pun napasnya sudah empas-empis. Tiba-tiba saja dia berkata, "Yang mana yang bernama Cia Sun...?"

Mendengar pertanyaan ini, Cia Sun mendekat dan berlutut di sebelah Hui Cu yang masih menangis terisak-isak. Melihat Cia Sun, nenek itu mengangguk lemah. Ia telah mengenal pemuda ini, sudah pernah jumpa di dalam goa bawah tanah.

"Engkau seorang pemuda yang gagah, dan aku gembira Hui Cu mencintamu. Cia Sun, maukah kau berjanji untuk melindungi anakku Hui Cu dan menjadi suaminya? Ia sungguh mencintamu..." suaranya sangat lemah dan agaknya nenek ini telah mengerahkan tenaga terakhir untuk bicara itu.

Thanks for reading Asmara Berdarah Jilid 37 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »