Social Items

THIAN SIN segera sadar lalu melepaskan cengkeramannya dan ternyata baju pada lengan Lam-nong sudah hancur lebur! Kepala suku itu memandang dengan wajah pucat, namun dia tersenyum.

"Aku tahu, pendekar-pendekar selatan memang mempunyai kepandaian tinggi akan tetapi hatinya palsu dan busuk. Nah, kau bunuhlah aku!" tantangnya.

"Nanti dulu, saudara Lam-nong. Tentu ada kesalah pahaman di sini. Kalau memang benar dia itu pendekar Cia Hui Song putera ketua Cin-ling-pai, tidak mungkin dia melakukan hal yang kotor itu. Dan andai kata benar dia melakukannya, tentu dia bukanlah putera ketua Cin-ling-pai atau semua itu hanya fitnah belaka."

"Fitnah? Orangku ini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan masih dianggap fitnah? Kalian pendekar-pendekar selatan tentu saja saling membela!" kata Lam-nong dan dia lalu menyuruh pembantunya menceritakan kembali semua yang telah terjadi.

Kakek Mancu itu menceritakan sejak terjadinya penyerbuan pasukan pemberontak hingga ketika dia tertawan kemudian dilepas karena mirip ayah pemimpin pasukan pemberontak, dan betapa dia juga menyaksikan Hui Song berjinah dengan empat orang isteri Lam-nong yang tertawan, betapa wanita-wanita lainnya menjadi korban perkosaan yang biadab.

Mendengar penuturan ini, Thian Sin dan isterinya saling pandang, kemudian pendekar ini menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sungguh sukar untuk dipercaya!" serunya.

"Sungguh membingungkan!" kata pula Toan Kim Hong.

Mereka sudah mendengar dari puteri mereka mengenai nama Cia Hui Song itu yang oleh puterinya dipuji-puji sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi menurut penuturan dua orang Mancu ini, ternyata Hui Song adalah seorang mata keranjang yang cabul dan berwatak busuk dan palsu.

Tentu saja mereka belum mau percaya sepenuhnya hanya dengan mendengar penuturan dua orang ini walau pun jelas bahwa dua orang yang keadaannya seperti itu, kehilangan semua kawan yang terbunuh habis, kiranya tidak mungkin sempat lagi untuk berbohong-bohong. Tak mungkin mereka ini menceritakan fitnah, akan tetapi besar kemungkinannya pendekar yang menjadi sahabat mereka itu bukan putera Cin-ling-pai yang sebenarnya, melainkan akuan saja. Bagaimana pun juga, di dalam lubuk hatinya suami istri ini kurang begitu suka kepada ketua Cin-ling-pai yang mereka anggap berwatak angkuh.

"Kami akan menyelidiki kebenaran keterangan kalian tadi," akhirnya Thian Sin berkata. "Jika benar orang itu melakukan hal yang demikian jahat, maka kami akan menghajarnya. Akan tetapi, dapatkah kalian menolong kami menceritakan di mana adanya nenek yang bernama Yelu Kim?"

Mendengar pertanyaan ini, sepasang alis Lam-nong berkerut lantas dia pun memandang penuh kecurigaan dan ejekan. "Hemm, kiranya kalian ini pendekar-pendekar dari selatan yang hendak mengabdi kepada nenek Yelu Kim untuk memberontak terhadap pemerintah kalian di selatan?"

"Tutup mulutmu dan jangan menduga yang bukan-bukan!" Toan Kim Hong membentak marah.

Akan tetapi Thian Sin tersenyum. Dia maklum mengapa kepala suku ini demikian penuh dendam dan benci kepada para pendekar dari selatan. "Sobat Lam-nong, mengapa kau menduga demikian?"

"Oleh karena petualang-petualang dari selatan itu berkeliaran di sini hanya untuk mencari kedudukan atau kekayaan saja. Nenek Yelu Kim sendiri pun sekarang sudah dibantu oleh seorang pendekar wanita dari selatan..."

"Ahh, pendekar wanita itulah yang sedang kami cari!" Toan Kim Hong berseru. "Bukankah dia masih muda sekali, cantik dan lihai, dan namanya Ceng Sui Cin?"

Lam-nong menggeleng kepala. "Aku tidak mengenal namanya, akan tetapi memang dia muda, cantik dan lihai bukan main. Aku hanya mendengar bahwa dia menjadi murid dan pembantu nenek Yelu Kim, malah dialah yang telah memenangkan sayembara pemilihan jagoan sehingga kemenangannya membuat nenek Yelu Kim diangkat menjadi pimpinan para kepala suku."

"Ah, tentu dia itu puteri kami Ceng Sui Cin!" Toan Kim Hong berseru dan suaranya agak gemetar.

"Puteri kalian? Ahh, menarik sekali!" kata Lam-nong.

"Saudara Lam-nong, berlakulah baik pada kami dan tolonglah tunjukkan di mana adanya nenek Yelu Kim supaya kami dapat mencari puteri kami," kata Thian Sin, suaranya halus membujuk.

"Hemmm, kalau mengingat betapa kalian tadi baru saja menyelamatkan kami dari tangan pasukan pemberontak, sudah cukup untuk kubalas dengan pertolongan apa pun. Namun apakah arti pertolonganmu tadi sebagai pendekar dari selatan kalau dibandingkan dengan kekejian yang dilakukan oleh pendekar selatan lainnya kepada kami? Oleh karena itu, aku mau membantumu, bahkan bukan hanya menunjukkan melainkan mengantarmu ke sana bila engkau mau berjanji bahwa engkau akan membantuku pula menangkap dan menyeret si jahanam Cia Hui Song ke depan kakiku! Bagaimana?"

Thian Sin saling pandang dengan isterinya. Sungguh janji yang berat. Bagaimana kalau ternyata bahwa pendekar itu benar-benar putera ketua Cin-ling-pai? Bukankah itu berarti bahwa mereka akan berhadapan sebagai lawan dan musuh dengan keluarga Cin-ling-pai? Demikian Thian Sin berpikir.

"Baik, kami setuju!" Tiba-tiba Toan Kim Hong berseru. "Siapa pun juga adanya pendekar itu, kalau benar dia melakukan kekejian seperti itu, tentu akan kami hadapi sebagai lawan dan musuh!"

Kata-kata ini segera menyadarkan Thian Sin akan kewajibannya sebagai seorang gagah, yaitu harus menentang siapa saja tanpa pilih bulu, menentang siapa saja yang melakukan perbuatan jahat.

"Benar, kami setuju. Mari antar kami kepada tempat kediaman nenek Yelu Kim!" katanya.

Lam-nong nampak gembira. Janji ini merupakan sinar terang di dalam kegelapan hatinya. Dia baru akan merasa puas kalau sudah dapat membalas dendam kepada Cia Hui Song, atas perbuatannya yang biadab kepada isteri-isterinya!

Memang sikap Lam-nong ini kelihatannya aneh, akan tetapi memang sudah demikianlah sifat dendam yang mengotori batin kita semua. Perbuatan merugikan kita yang dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita akan terasa jauh lebih menyakitkan dari pada kalau dilakukan oleh orang lain yang asing bagi kita. Inilah sebabnya mengapa kebencian yang menyelinap di dalam batin terhadap seorang bekas kawan baik atau keluarga jauh lebih mendalam dari pada kebencian terhadap orang asing.

Lam-nong seakan-akan melupakan perbuatan para pemberontak yang sudah membasmi keluarga dan rombongannya, juga seperti lupa dengan cerita kakek pembantunya betapa selir-selirnya yang lain juga sudah diperkosa secara biadab oleh mereka. Yang diingatnya dengan penuh rasa sakit hati hanyalah perbuatan Hui Song yang berjinah dengan empat orang isterinya!

"Baiklah, aku akan mengantar ji-wi sampai ke depan nenek Yelu Kim. Bahkan aku akan minta pertanggungan jawabnya atas kejadian yang menimpa rombonganku. Bukankah dia sudah menamakan dirinya pemimpin para kepala suku? Mari, mari kita pergi. Akan tetapi, siapakah ji-wi? Aku belum mengenal nama ji-wi."

Thian Sin tersenyum. "Namaku Ceng Thian Sin dan ini adalah isteriku."

Lam-nong mengangguk-angguk, baru sekarang dia teringat betapa lihainya suami isteri ini ketika tadi membubarkan pasukan pemberontak. "Mari, taihiap dan toanio, marilah kita berangkat."

Empat orang itu kemudian berangkat, kembali menuju ke barat untuk mencari nenek Yelu Kim. Lam-nong berjalan paling depan, diikuti oleh kakek pembantunya, kemudian barulah suami isteri Pendekar Sadis yang berjalan berdampingan paling belakang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagaimana dengan Hui Song? Pemuda ini merasa marah dan mendongkol sekali ketika dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya itu, dia melihat empat orang isteri sahabatnya memasuki kamarnya dalam keadaan hampir telanjang bulat. Dia melihat betapa wajah mereka pucat, rambut mereka kusut dan pandang mata mereka penuh takut dan duka.

Dia tahu bahwa mereka itu ketakutan dan menangis ketika mereka memeluknya seperti hendak minta perlindungan, bahwa mereka itu dipaksa oleh Sim Thian Bu untuk merayu dirinya. Dia tidak marah kepada wanita-wanita ini melainkan merasa kasihan, akan tetapi apa yang dapat dilakukannya? Dia tidak berdaya sama sekali.

Untung baginya, hanya sebentar saja wanita-wanita itu disuruh merayu atau menemani dirinya. Dan dia melihat wajah orang Mancu itu ketika pintu dibuka, melihat betapa orang Mancu tua itu terbelalak lalu menyumpah dan pintu ditutup kembali. Agaknya hanya untuk keperluan memperlihatkan adegan itu kepada orang Mancu tua tadilah maka empat orang wanita itu disuruh naik tempat tidurnya. Tidak lama kemudian mereka disuruh keluar lagi, entah dibawa ke mana oleh Thian Bu.

Pada keesokan harinya, Sim Thian Bu muncul pula di dalam kamarnya. Totokan pada tubuhnya sudah bebas, akan tetapi malam tadi Thian Bu mengikat tangannya dengan tali sutera yang amat kuat sehingga percuma saja ketika Hui Song berusaha melepaskan diri dengan cara menariknya putus.

"Aha, Cia-taihiap. Engkau nampak segar pagi ini. Bagaimana, apakah usulku semalam sudah kau pertimbangkan?"

"Aku tak sudi bersekutu dengan pemberontak. Biar akan kau bunuh sekali pun, aku tidak peduli. Akan tetapi ingat, kalau aku sampai dapat lolos dari sini, aku akan mengejar dan mencarimu, dan akan kupaksa engkau bertanding sampai mampus!"

"Aihh, mengapa galak amat? Bukankah aku sudah memperlakukanmu dengan amat baik? Bahkan sudah kusuguhkan wanita-wanita cantik. Sayang engkau yang bodoh tidak mau menerimanya. Cia-taihiap, ketahuilah bahwa aku bersikap baik terhadapmu bukan tanpa sebab. Tahukah engkau bahwa ayah dan ibumu, juga kakekmu, sekarang sudah berada bersama kami dan bekerja sama dengan kami, bahkan ayahmu kini mengepalai pasukan keamanan di Ceng-tek?"

"Bohong! Siapa sudi percaya dengan omongan busukmu?" bentak Hui Song. "Sim Thian Bu, aku tidak tahu mengapa engkau memusuhiku, akan tetapi yang jelas engkau adalah tokoh pemberontak rendah. Jangan mencoba-coba untuk membujukku. Perbuatanmu tadi malam dengan memaksa empat orang isteri Lam-nong dalam keadaan tidak tahu malu itu ke sini saja sudah melewati batas dan untuk itu, mau rasanya aku membunuhmu sampai tujuh kali! Sekarang, kau apakan mereka itu?"

"Ha-ha-ha, karena mereka tak berhasil membujukmu, maka mereka kuhadiahkan kepada orang-orangku dan kau dapat membayangkan apa jadinya kalau empat orang wanita itu harus melayani ratusan orang prajurit..."

"Jahanam keparat kau!" bentak Hui Song dan wajahnya berubah merah sekali, hatinya perih membayangkan nasib para isteri Lam-nong.

Sim Thian Bu sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapannya dengan Hui Song itu ada yang mendengarkan. Seorang lelaki yang berpakaian seragam prajurit berdiri di luar kamar itu, dengan sikap bertugas jaga akan tetapi sebenarnya dia sedang mendengarkan dengan teliti semua yang sedang dibicarakan di dalam kamar. Prajurit ini bertubuh tinggi tegap dan memiliki sepasang mata yang mencorong tajam. Prajurit ini adalah Siangkoan Ci Kang!

Seperti telah kita ketahui, Ci Kang terancam bahaya maut di tangan Raja Iblis Pangeran Toan Jit Ong, akan tetapi secara kebetulan dan tiba-tiba muncul Pendekar Sadis beserta isterinya yang menyelamatkannya dan setelah dia memberi tahu kepada mereka tentang Sui Cin, suami isteri yang sakti itu lalu meninggalkannya untuk mencari puteri mereka.

Setelah berpisah dari suami isteri yang sakti itu, yang membuat Ci Kang merasa semakin nelangsa karena mereka adalah ayah bunda Sui Cin yang dicintanya sehingga membuat dia merasa semakin kecil dan rendah, pemuda ini kemudian mengambil keputusan untuk mencari Raja Iblis yang melarikan Hui Cu. Dia harus dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan ayah kandungnya sendiri yang jahatnya melebihi iblis.

Gadis itu sudah dua kali menyelamatkannya. Pertama kali ketika dia bersama Cia Sun terjeblos ke dalam goa bawah tanah dan kedua kalinya ketika dia hampir celaka di tangan murid Raja Iblis, Gui Siang Hwa. Kini dia tahu bahwa dara itu berada dalam cengkeraman iblis yang membahayakan keselamatannya, maka dia harus berusaha untuk menolong gadis itu, biar pun untuk itu keselamatan nyawanya sendiri akan terancam.

Dalam perjalanannya mencari Hui Cu inilah secara kebetulan Ci Kang tiba di dusun itu. Dia hanya melihat bekas-bekas kejahatan pasukan pemberontak yang dipimpin Sim Thian Bu itu, yang sudah membasmi puluhan orang anak buah suku Mancu Timur di bawah pimpinan Lam-nong. Hatinya menjadi panas oleh kemarahan ketika dia mendengar dari penyelidikannya betapa sute-nya itu sudah sedemikian jahatnya membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menganiaya dan memperkosa wanita-wanitanya.

Namun kedatangannya sudah terlambat dan dia tidak sempat lagi mencegah perbuatan sute-nya. Lagi pula Ci Kang tidaklah demikian bodoh untuk langsung menemui Thian Bu dan menegurnya. Bagaimana pun juga, jalan hidup antara mereka telah terpisah, mereka telah bersimpang jalan, bahkan saling menentang.

Sesudah sekarang memimpin ratusan orang prajurit, mana mungkin sute-nya itu masih mau mentaatinya? Tentu tidak takut kepadanya, bahkan dia akan dianggap musuh dan dikeroyok. Karena itulah secara diam-diam Ci Kang lalu menculik seorang prajurit yang perawakannya seperti dia, membawa prajurit itu ke dalam sebuah hutan yang cukup jauh, mengikat kaki tangannya setelah melucuti pakalannya, dan dengan berpakaian prajurit dia kembali ke dalam dusun.

Dengan mudah dia menyelinap di antara prajurit yang seribu orang banyaknya itu dan dia berhasil masuk ke dalam pondok di mana Sim Thian Bu sedang mengunjungi Hui Song yang tertawan. Dengan muka geram dia mendengarkan semua percakapan, dan tahulah dia bahwa pendekar putera ketua Cin-ling-pai itu sedang dibujuk oleh sute-nya agar mau membantu pemberontak.

Sute-nya, Sim Thian Bu, telah membantu Raja Iblis. Padahal, ayahnya, Siangkoan Lo-jin, guru sute-nya itu tewas di tangan Raja Iblis. Sungguh seorang murid murtad. Dia sendiri memang tidak mendendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya tewas karena ulah sendiri, akan tetapi dia tidak akan sudi diperalat oleh pemberontak.

Dan meski pun Hui Song pernah memperlihatkan sikap bermusuh dengannya, ketika dia muncul di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan ketika dia berada di dalam kamar bersama Sui Cin, tetapi dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar sejati. Dia pun sudah mendengar tentang ketua Cin-ling-pai yang membantu gerakan para pemberontak, maka diam-diam dia merasa kasihan kepada Hui Song.

Sedikit banyak ada persamaan antara dia dan pemuda ini. Walau pun ayah pemuda ini adalah seorang pendekar besar, ketua Cin-ling-pai, akan tetapi kini sudah menyeleweng karena membantu pemberontak, padahal puteranya mati-matian menentang pemberontak dan lebih memilih mati dari pada harus menjadi kaki tangan kaum pemberontak seperti yang diperlihatkan ketika dibujuk oleh Sim Thian Bu itu. Dan agaknya Hui Song belum tahu akan penyelewengan ayahnya.

"Hui Song, engkau sungguh orang yang tidak tahu akan kebaikan orang!" Akhirnya Sim Thian Bu menjadi marah dan tidak menyebutnya taihiap lagi. "Melihat muka orang tuamu yang kini menjadi rekanku, aku bersikap baik kepadamu dan tidak membunuhmu walau pun engkau sudah membantu suku bangsa liar. Bahkan aku sudah menyuguhkan empat orang wanita tawanan untuk menghiburmu akan tetapi engkau menolak. Baiklah, agaknya engkau baru akan mau percaya kalau sudah kubawa ke Ceng-tek dan bertemu dengan ayah ibumu." Dia mendengus marah. "Karena engkau masih tidak mau tunduk, terpaksa harus kubelenggu terus sampai ke Ceng-tek. Hari ini juga kita berangkat ke sana!"

Dengan uring-uringan Thian Bu meninggalkan Hui Song dalam kamar itu. Tadinya dia berniat untuk membujuk Hui Song agar dapat membantu dan ikut dengannya secara suka rela agar dia dapat berbangga memamerkan jasanya di Ceng-tek. Tidak disangkanya Hui Song demikian keras hati sehingga terpaksa dia akan membawanya sebagai tawanan, hal yang amat tidak enak terhadap ketua Cin-ling-pai.

"Jaga dia, awasi terus jangan sampai dia dapat meloloskan diri!" perintah Sim Thian Bu kepada dua orang pengawal yang berada di luar pintu kamar. Kedua orang pengawal itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar, berdiri dekat pembaringan dengan tombak di tangan.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah Sim Thian Bu meninggalkan kamar itu, sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar itu. Hui Song yang masih rebah tak mampu berkutik itu melihat betapa dengan gerakan yang sangat ringan, bayangan ini menyergap ke arah dua orang penjaga yang tidak sempat berteriak atau mempertahankan diri.

Dua kali totokan membuat mereka itu roboh pingsan. Dengan cekatan Ci Kang, bayangan itu, menyambar dua batang tombak agar tidak mengeluarkan bunyi keras saat terbanting ke atas lantai.

Hui Song terbelalak ketika mengenal siapa adanya prajurit tinggi tegap yang merobohkan dua orang pengawal itu.

"Hemmm...kau...?" gumamnya, sama sekali tidak gembira melihat kedatangan penolong ini, bahkan matanya memancarkan sinar kemarahan. Andai kata dia tidak dalam keadaan terbelenggu, tentu dia sudah bergerak menerjang Ci Kang!

Ci Kang dapat melihat kebencian terpancar dari mata putera ketua Cin-ling-pai itu dan dia pun memaklumi. "Sobat Cia Hui Song, sebaiknya engkau tahan kemarahanmu dan kita simpan dulu urusan pribadi. Yang jelas engkau tertawan..."

"Benar, dan yang menawan adalah murid ayahmu!" Hui Song mengejek.

"Simpan ejekanmu itu, sobat! Walau pun dia adalah sute-ku, akan tetapi jalan hidup kami tidak sejalur. Biar pun mendiang ayahku seorang datuk sesat, akan tetapi kau tidak dapat menyamakan aku dengan mereka, seperti juga berbedanya jalur hidupmu dengan ayahmu yang kini mengabdi pemberontak..."

"Tutup mulutmu! Kalian pembohong...!" Hui Song membentak.

"Sstttt... kita tunda dulu perselisihan ini. Yang penting kita harus bisa lari dari tempat ini," berkata demikian Ci Kang cepat melepaskan ikatan kaki tangan Hui Song.

Walau pun bekas ikatan pada kaki dan tangan itu masih membuat kaki tangannya terasa kesemutan dan setengah lumpuh, akan tetapi Hui Song memaksa diri meloncat turun dari pembaringan dan langsung dia menyerang Ci Kang!

"Jahanam busuk, aku harus membunuhmu untuk membalaskan penghinaanmu terhadap Sui Cin!" Serangan Hui Song tentu saja hebat sekali dan Ci Kang yang sudah mengenal kelihalan lawan ini cepat mengelak.

"Sabar dulu, sobat. Masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kita untuk bertanding. Sekarang yang penting kita harus meloloskan diri dari dusun ini!" Ci Kang berseru, akan tetapi semua seruannya percuma saja karena Hui Song yang sudah marah sekali teringat akan perbuatan pemuda ini memeluk dan mencium Sui Cin, sudah menerjang lagi kalang kabut.

Tentu saja Ci Kang menjadi bingung sekali. Sikap Hui Song ini membuat dia naik darah juga, maka setelah mengelak dan menangkis, dia pun mulai balas menyerang! Terjadilah perkelahian yang amat hebat di dalam kamar itu dan tentu saja, hal ini menarik perhatian para pengawal yang cepat datang melihat.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka melihat tawanan itu sudah bebas dan sekarang sedang berkelahi melawan seorang rekan prajurit, sedangkan dua orang prajurit pengawal lainnya telah roboh tak bergerak di atas lantai. Melihat ini, para prajurit itu yang mengira bahwa Ci Kang adalah salah seorang di antara kawan mereka cepat menerjang dan membantu Ci Kang sehingga Hui Song kini dikeroyok!

Pemuda yang sudah mempunyai perasaan benci terhadap Ci Kang ini, rasa benci yang bukan hanya karena Ci Kang putera datuk sesat Iblis Buta, akan tetapi terutama sekali karena rasa cemburu yang hebat, kini menjadi semakin marah dan semakin yakin bahwa Ci Kang tentu bekerja sama dengan sute-nya, Sim Thian Bu yang licik itu.

"Huh, Siangkoan Ci Kang, majulah bersama semua antekmu! Aku tidak takut!" Dan dia pun mengamuk merobohkan empat orang prajurit dengan sekali serang!

Pada saat itu, Sim Thian Bu yang sudah diberi tahu oleh anak buahnya datang dan dia pun terkejut bukan main sesudah mengenal prajurit tinggi tegap itu yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang! Sebaliknya, melihat Sim Thian Bu, Ci Kang juga marah sekali. Kalau tadi pada saat dia mendengar Thian Bu membujuk Hui Song dia masih mampu menahan kemarahannya karena perlu membebaskan Hui Song lebih dahulu, kini sesudah ketahuan dan dikeroyok, kemarahannya terhadap sute-nya itu makin berkobar.

"Sim Thian Bu, engkau semakin gila dan jahat saja!" bentaknya dan tiba-tiba saja dia menyerang Sim Thian Bu!

Thian Bu maklum akan kelihaian putera suhu-nya ini. Maka cepat dia menangkis dengan lengan kanannya.

"Dukkk...!"

Dan tubuh Thian Bu pun terlempar sampai bergulingan. Terkejutlah dia dan baru dia tahu bahwa suheng-nya itu ternyata sudah menjadi semakin lihai saja. Maka dia pun berteriak kepada para prajuritnya.

"Dia prajurit palsu! Kepung dan bunuh dia juga!"

Tadi para prajurit bingung melihat pimpinan mereka berkelahi melawan prajurit itu, bahkan mereka kaget melihat betapa dalam satu gebrakan saja komandan mereka yang biasanya amat lihai itu terlempar sampai bergulingan. Akan tetapi begitu mendengar teriakan Thian Bu mengertilah mereka bahwa prajurit itu adalah seorang musuh yang menyamar, maka tentu saja mereka segera mengeroyok Ci Kang!

Hui Song sendiri juga dihujani senjata dan kini melihat betapa Ci Kang dikeroyok, tadinya dia masih bingung dan ragu, mengira bahwa Ci Kang bersandiwara. Akan tetapi melihat betapa Ci Kang mengamuk dan merobohkan banyak prajurit seperti juga dia, dan betapa para pengeroyoknya itu juga menyerang dengan sungguh-sungguh, barulah dia percaya bahwa Ci Kang benar-benar dimusuhi oleh Sim Thian Bu dan pasukannya!

Dia masih bingung, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih lama lagi. Para pengeroyok terlalu banyak dan melihat betapa Ci Kang mendesak para pengeroyok dan berhasil keluar dari dalam kamar yang sempit, dia pun menerjang dan membuka jalan darah.

Segera dua orang pemuda perkasa ini dikeroyok di luar pondok yang lebih luas sehingga terjadilah pertempuran yang sangat seru. Akan tetapi, baik Ci Kang mau pun Hui Song maklum bahwa mereka berdua saja tidak akan mungkin dapat menandingi pengeroyokan prajurit yang jumlahnya hampir seribu orang itu. Mereka tentu akan kehabisan tenaga.

Oleh karena itu, seperti sudah berunding lebih dulu saja, keduanya menyerang ke depan dan menyelinap kemudian meloncat jauh dan melarikan diri. Beberapa orang prajurit yang berusaha mengejar, mereka robohkan dengan pukulan jarak jauh. Melihat ini, para prajurit lainnya menjadi gentar dan ragu-ragu untuk mengejar.

Thian Bu yang marah sekali melihat dua orang itu lolos, cepat berteriak memerintahkan semua anak buahnya untuk mengejar, hendak mengandalkan jumlah banyak pasukan itu melakukan pengejaran. Akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu telah lari jauh dan tak nampak lagi bayangannya sehingga terpaksa para prajurit mencari ke sana-sini di bawah pimpinan Sim Thian Bu yang menyumpah-nyumpahi mereka karena pengejaran itu gagal sama sekali.

Sebenarnya Sim Thian Bu cukup maklum bahwa prajurit-prajurit itu tidak dapat disalahkan karena dua orang pemuda itu memang amat lihai, akan tetapi karena kegagalan ini amat menjengkelkan hatinya, maka untuk melampiaskan kemarahannya itu dia memaki-maki para prajuritnya.

Biar pun tidak berjanji lebih dulu, akan tetapi kenyataannya Ci Kang dan Hui Song lari ke satu jurusan. Agaknya mereka berdua tidak mau mengambil jalan lain atau memisahkan diri, khawatir jika disangka takut atau sengaja hendak melarikan diri untuk menghindarkan perkelahian.

Dan setelah mereka lari jauh dan pasukan pemberontak tidak mengejar lagi, pada sebuah tanah datar di lereng sebuah bukit, keduanya berhenti tanpa kencan lantas berdiri saling berhadapan.

"Cia Hui Song, masih belum percayakah engkau kepadaku? Aku juga menentang kaum pemberontak!"

"Boleh jadi engkau memang menentang pemberontak, akan tetapi tak mungkin aku dapat mengampunimu atas kebiadabanmu menghina Sui Cin!" bentak Hui Song lantas dia pun sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Ci Kang merasa betapa pemuda ini sudah keterlaluan sekali mendesaknya. Biar pun ada dorongan aneh dalam dirinya ketika dia menjadi terangsang dan timbul birahinya hingga dia melakukan hal yang tidak patut terhadap Sui Cin, akan tetapi dia tidak mau mencari alasan untuk membela diri. Dia diam saja dan menangkis, bahkan lalu membalas.

Dua orang pemuda itu terlibat dalam suatu perkelahian yang amat seru dan mati-matian, biar pun Hui Song lebih banyak menyerang karena Ci Kang masih merasa enggan untuk menyerang. Dia tidak membenci Hui Song, tidak ada alasan baginya untuk membenci pemuda ini, maka dia pun hanya membela diri saja.

Sungguh berbahaya sekali dan tidak cukup aman bila mana hanya membela diri dengan menangkis atau mengelak saja pada waktu menghadapi seorang lawan selihai Hui Song. Serangan balasan yang dilakukannya, yang tak kalah dahsyatnya, hanya dilakukan untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan Hui Song terhadap dirinya.

Dua orang ini memang sama mudanya, sama gemblengan orang-orang pandai, bahkan pada akhir-akhir ini selama tiga tahun keduanya sudah digembleng oleh orang-orang sakti yang segolongan. Oleh karena itu sulit dikatakan siapa yang lebih kuat di antara mereka.

Hui Song adalah putera tunggal ketua Cin-ling-pai yang tentu saja telah mewarisi semua ilmu Cin-ling-pai yang sangat tinggi, dan gemblengan selama tiga tahun yang diterimanya dari Siang-kiang Lo-jin membuat ilmu-ilmunya menjadi matang. Akan tetapi di lain pihak, Ci Kang juga telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah kandungnya, Siangkoan Lo-jin atau Iblis Buta, dan gemblengan selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lo-kai juga sudah mematangkan ilmu-ilmunya. Karena itu pertandingan antara mereka ini sedemikian dahsyatnya bagaikan perkelahian dua ekor naga sakti yang tidak mau saling mengalah.

Sesudah perkelahian itu berlangsung seratus jurus tanpa ada yang terdesak, keduanya semakin maklum bahwa lawan masing-masing itu ternyata lebih sukar dikalahkan seperti yang mereka sangka semula. Oleh karena itu kini mereka bergerak dengan amat hati-hati sambil mengeluarkan seluruh ilmu silat mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

"Dukkk...!"

Kembali terjadi adu tenaga yang sangat dahsyat, yang mengakibatkan kedua orang muda itu terhuyung ke belakang hingga keduanya harus mengatur pernapasan beberapa detik lamanya untuk menghimpun hawa murni melindungi tubuh bagian dalam supaya jangan sampai terluka akibat guncangan pertemuan tenaga dahsyat itu.

Dan pada saat itu, selagi keduanya siap untuk saling terjang lagi, nampak dua bayangan orang berkelebat. Seorang gadis cantik menghadang di hadapan Hui Song, dan seorang pemuda perkasa menghadang di depan Ci Kang.

"Suheng, harap jangan berkelahi...!" Gadis itu berteriak.

"Ci Kang, tahan dulu...!" Pemuda itu berseru pula.

Melihat gadis yang menghadangnya itu, Hui Song terpaksa menghentikan serangannya, juga Ci Kang segera menghentikan semua gerakannya sesudah dia mengenal siapa yang menghadang di depannya. Gadis dan pemuda itu adalah Tan Siang Wi dan Cia Sun!

Bagaimanakah dua orang muda ini dapat saling berkenalan dan dapat datang bersama di tempat itu? Seperti kita ketahui, Cia Sun hadir pula dalam pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan seperti juga yang lain, dia terpaksa melawan sambil berpencar dan akhirnya menyelamatkan diri karena jumlah lawan yang terlampau banyak.

Ketika dia sedang melarikan diri, tiba-tiba saja dia melihat seorang gadis yang dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali prajurit yang agaknya hendak menangkap gadis cantik itu hidup-hidup. Akan tetapi gadis cantik itu memainkan sepasang pedang secara hebat sehingga dua puluh lebih orang prajurit itu sulit dapat menangkapnya, dan mereka hanya dapat mengepung dan menyerang dari jauh dengan tombak mereka untuk menghabiskan tenaga gadis itu agar akhirnya dapat disergap. Gadis itu adalah Tan Siang Wi.

Sejak muda Tan Siang Wi sudah terbiasa hidup dalam kekerasan sebagai seorang gadis kang-ouw yang disegani. Dia murid Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai, bahkan menerima petunjuk pula dari ketua Cin-ling-pai sehingga tentu saja dia sangat lihai, terutama sekali Ilmu Silat Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang hebat itu. Dan karena sifatnya yang keras dan berani, juga karena ia tidak pernah memberi ampun kepada para penjahat, maka di dunia kang-ouw dia dijuluki Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa)! Maka, meski pun kini dikepung dan dikeroyok dua puluh orang lebih, dia mengamuk dan sedikit pun tidak menjadi gentar.

Gadis ini mendengar tentang adanya pertemuan di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang. Selama tiga tahun ini dia merantau dengan hati penuh duka, mencari-cari Hui Song, pemuda yang menjadi pujaan hatinya. Dan seperti telah kita ketahui, ia melihat betapa suheng yang dicintanya itu dirayu di dalam kamar oleh Siang Hwa, membuat dia cemburu dan marah sekali.

Akan tetapi akhirnya ia tertawan dan yang amat menyedihkan hatinya, suheng-nya malah bersekutu dengan wanita iblis itu dan ia disuruh pergi! Sakit sekali rasa hatinya walau pun ia tahu bahwa Hui Song melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman Gui Siang Hwa. Akan tetapi bagi dia rasanya lebih suka mati di tangan wanita itu dari pada melihat suheng-nya berkawan dengan iblis betina itu dan dia disuruh pergi. Akan tetapi, suheng-nya yang menyuruhnya sehingga dia tidak dapat membantah.

Dengan hati dirundung duka, gadis yang usianya sudah dua puluh dua tahun ini lalu pergi ke utara, hendak menghadiri pertemuan antara pendekar di benteng Jeng-hwa-pang. Hal ini dilakukannya bukan hanya untuk memperluas pengalaman, akan tetapi terutama sekali karena dia mengharapkan akan bertemu dengan suheng-nya. Ia percaya bahwa seorang pendekar besar seperti suheng-nya itu pasti akan hadir pula di sana.

Demikianlah, dia tiba di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang, kemudian menyelinap di antara mereka, namun tak berani muncul secara berterang sebab dia tidak mewakili siapa-siapa dan dia pun tidak datang atas nama perguruan Cin-ling-pai. Hatinya merasa girang sekali ketika dia melihat Hui Song berada di situ pula, bahkan membuat pelaporan. Dia merasa ikut bangga akan tetapi dia tetap bersembunyi dengan keputusan akan menemui suheng-nya itu setelah pertemuan selesai.

Hatinya lega sebab dia tidak melihat adanya iblis betina yang merayu suheng-nya dahulu. Akan tetapi, ada perasaan kecut dan cemburu di dalam hatinya apa bila mengingat akan sikap suheng-nya yang amat dingin kepada dirinya, sikap yang tidak membalas cintanya, teringat pula betapa manis sikap suheng-nya terhadap Ceng Sui Cin, kemudian terhadap wanita iblis itu.

Dan ketika pasukan pemberontak yang sangat besar jumlahnya datang menyergap, Siang Wi ikut pula bertempur dan membela diri sambil mencari jalan keluar. Akan tetapi, belum jauh dia berlari meninggalkan bekas benteng itu, dia dikepung oleh dua puluh orang lebih prajurit pemberontak. Kembali dia mengamuk membela diri dan sama sekali tidak merasa gentar walau pun pihak lawan terlampau banyak baginya.

Dalam keadaan terancam inilah muncul Cia Sun yang segera turun tangan membantu. Sungguh pun dia belum mengenal gadis itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa gadis yang dikeroyok para prajurit pemberontak itu tentulah seorang di antara para pendekar yang tadi hadir dalam pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Serbuan Cia Sun mengubah keadaan dan dengan kerja sama mereka, dua puluh orang prajurit pemberontak itu kocar kacir dan banyak di antara mereka yang roboh tidak dapat bangkit kembali. Selebihnya, hanya beberapa orang saja, kemudian melarikan diri.

"Saudara yang gagah, terima kasih atas bantuanmu," Siang Wi berkata sambil menjura setelah semua pengeroyok roboh dan pergi.

"Lebih baik kita pergi secepatnya sebelum pasukan lainnya datang!" jawab Cia Sun tidak mempedulikan ucapan terima kasih orang dan dia pun segera berlari dengan cepat, diikuti oleh Siang Wi.

Gadis ini tadi merasa kagum sekali melihat kelihaian Cia Sun ketika membantunya, dan kini menjadi semakin kagum karena pemuda itu mempunyai ilmu berlari cepat yang hebat sehingga dia tidak akan mampu menyusulnya kalau saja pemuda itu tidak memperlambat larinya.

Demikianlah, sesudah berhasil menyelamatkan diri, mereka saling berkenalan. Keduanya terkejut dan girang setelah mendengar tentang diri masing-masing. Sudah lama Siang Wi mendengar tentang keluarga Cia yang gagah perkasa di Lembah Naga, maka cepat dia memberi hormat ketika mendengar bahwa sekarang dia sedang berhadapan dengan Cia Sun, putera Lembah Naga.

"Sungguh beruntung aku dapat bertemu dengan pendekar gagah perkasa dari Lembah Naga! Pantas tadi aku seperti mengenal gerakan silatmu. Bukankah menurut keterangan suhu, ilmu silat keluarga Cia di Lembah Naga masih dekat sekali kaitannya dengan ilmu dari Cin-ling-pai?"

"Benar, nona. Ilmu-ilmu silat keluarga kami memang satu sumber dengan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Aku pun girang bahwa engkau adalah murid dari ketua Cin-ling-pai. Apakah nona hadir di pertemuan itu bersama dengan putera ketua Cin-ling-pai yang kulihat tadi hadir pula? Ataukah sebagai wakil Cin-ling-pai?"

"Cia-toako, pertama-tama kuharap engkau tidak memanggil nona padaku. Bukankah jika diselidiki benar, di antara kita ini masih ada ikatan saudara dalam perguruan? Aku tidak datang bersama suheng, juga bukan utusan suhu. Aku datang untuk... mencari suheng yang sudah lama pergi dan untuk meluaskan pengalaman. Toako, apakah engkau melihat ke mana larinya suheng tadi?"

"Maksudmu Cia Hui Song? Entahlah, nona... eh, Wi-moi. Aku pun tidak melihatnya. Mana mungkin bisa melihatnya di antara serbuan ribuan orang pasukan pemberontak itu?"

Siang Wi mengepal tinju. "Aku benci pemberontak-pemberontak itu! Apa lagi iblis betina yang memimpinnya itu! Sekali waktu aku harus membunuhnya!"

Diam-diam Cia Sun tersenyum. Tidak begitu mudah, nona cilik, betapa pun lihaimu. Murid Raja Iblis itu terlalu lihai bagimu, demikian pikirnya.

"Siauw-moi, apakah engkau mengenal wanita iblis itu?"

"Tentu saja! Dia adalah Gui Siang Hwa, murid Raja Iblis! Dan dialah wanita cabul yang pernah merayu... suheng-ku. Aku benci sekali padanya! Dan sekarang, dia mengerahkan pasukan pemberontak untuk menyerang sehingga banyak kawan kita yang tewas. Dan kini aku terpisah lagi dari suheng yang kucari-cari, tidak tahu ke mana harus mencarinya sekarang?"

Cia Sun memandang wajah gadis itu. Malam telah terganti pagi dan sinar matahari pagi yang keemasan menyiram wajah yang cantik itu. Wajah yang manis sekali dan sepasang mata yang jeli dan penuh sinar berapi, penuh semangat hidup dan keberanian.

"Wi-moi, benarkah engkau membenci para pemberontak dan engkau hendak menentang mereka?"

"Eh, eh, kenapa engkau masih bertanya? Bukankah aku hampir celaka oleh mereka dan mungkin sekarang aku sudah tewas kalau tidak ada engkau yang menolongku, toako?"

"Begini, Wi-moi. Adanya aku bertanya kepadamu adalah... ehhh, apakah engkau belum mendengar atau mengerti bahwa suhu dan subo-mu juga berada di utara sini?"

Siang Wi kaget akan tetapi juga girang. "Aihh! Benarkah itu? Di mana mereka sekarang? Apakah toako sudah berjumpa dengan suhu dan subo? Mengapa mereka tidak nampak hadir dalam pertemuan antara pendekar?"

Cia Sun menggeleng kepala dan memandang tajam penuh selidik. "Siauw-moi, agaknya engkau belum tahu atau mendengar tentang suhu dan subo-mu. Tahukah engkau kenapa mereka berada di daerah ini dan sekarang berada di Ceng-tek?"

Siang Wi memandang bingung. "Aku tidak tahu, toako. Mereka di Ceng-tek? Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Mereka... membantu para pemberontak menyerbu Ceng-tek dan kini telah menjadi tokoh pemberontak di Ceng-tek..."

"Ahh...! Tidak mungkin!" seru gadis itu.

"Ketika mendengar berita itu untuk pertama kalinya, aku sendiri tidak percaya dan merasa penasaran bukan main. Aku memang mendengar bahwa gurumu, paman Cia Kong Liang adalah seorang yang keras hati, akan tetapi menurut penuturan ayah, paman Cia Kong Liang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan agaknya tak mungkin kalau sampai beliau begitu rendah menjadi kaki tangan pemberontak. Akan tetapi berita itu sudah kuselidiki kebenarannya dan temyata memang paman Cia Kong Liang bersama isterinya dan ayah mertuanya kini membantu Raja Iblis dan Panglima Ji Sun Ki yang memberontak. Aku tak dapat menyelidiki mengapa terjadi hal yang mustahil itu."

Siang Wi termenung dengan wajah pucat. Dia dapat menduga. Tentu ini gara-gara kakek Jepang yang menjadi mertua suhu-nya itu. Bagaimana juga, sebagai murid subo-nya dia tahu bahwa kakek itu dahulu pernah menjadi datuk sesat di timur. Bukan tidak mungkin kakek itu mempunyai hubungan dengan Raja Iblis dan para datuk sesat yang sekarang memberontak, dan berhasil membujuk suhu-nya untuk membantu pemberontak!

"Aku harus cepat mencari mereka... harus menyadarkan mereka...!" Ia berkata berkali-kali seperti kepada dirinya sendiri.

Cia Sun merasa kasihan, juga kagum akan kegagahan gadis ini. Walau pun mendengar betapa suhu dan subo-nya membantu pemberontak, gadis ini tetap dengan pendiriannya berpihak kepada para pendekar yang menentang pemberontak, bahkan kini dia hendak menyadarkan suhu dan subo-nya dari kesesatan itu.

"Wi-moi, telah menjadi keputusan rapat tadi bahwa kita terpaksa harus bertindak sendiri-sendiri, dengan cara sendiri menentang para kaum sesat yang ternyata sudah bersekutu dengan pasukan pemberontak. Dan kita tidak akan berhasil menghadapi mereka apa bila tidak bergabung dengan pasukan pula. Oleh karena itu, mari kita melakukan penyelidikan ke kota Ceng-tek, dan kita membantu gerakan pasukan pemerintah, sekalian menyelidiki paman Cia Kong Liang dan alangkah baiknya jika sampai berhasil menyadarkan mereka sehingga mereka membantu kita dari dalam untuk menghancurkan pemberontak."

Siang Wi yang kini merasa suka dan kagum kepada pendekar muda Lembah Naga ini, merasa setuju dan berangkatlah mereka bersama. Dan secara kebetulan sekali mereka sampai di tempat sunyi di lereng bukit di mana mereka melihat Ci Kang sedang berkelahi mati-matian melawan Cia Hui Song. Melihat ini, tentu saja mereka menjadi terkejut sekali.

"Suheng-ku melawan putera Iblis Buta, aku harus membantunya!" kata Siang Wi, dan dia sudah siap menerjang. Akan tetapi lengannya disentuh Cia Sun.

"Jangan tergesa-gesa! Putera Iblis Buta itu adalah orang yang gagah perkasa yang juga menentang kaum sesat. Kita hentikan perkelahian itu dan bicara dengan baik!" Sesudah berkata demikian, mereka segera meloncat ke dalam gelanggang perkelahian. Siang Wi menghentikan suheng-nya dan Cia Sun menahan Ci Kang.

Baik Ci Kang mau pun Hui Song terpaksa menghentikan gerakan perkelahian mereka ketika Siang Wi dan Cia Sun melerai, walau pun hati Hui Song masih merasa penasaran sekali.

Cia Sun segera memberi hormat kepada Hui Song. Walau pun usia mereka sebaya, dia hanya satu tahun lebih tua dari Hui Song, akan tetapi menurut ibu dia jauh lebih muda sebab Hui Song masih terhitung pamannya. Kalau pendekar sakti Cia Bun Houw adalah kakek Hui Song, maka baginya kakek sakti itu adalah kakek buyutnya.

Kakek Cia Bun Houw adalah ayah kandung Cia Kong Liang dari ibu Yap In Hong, ada pun kakeknya sendiri, yakni Cia Sin Liong adalah anak kandung Cia Bun Houw dari ibu Liong Si Kwi. Kakeknya itu dengan Cia Kong Liang adalah saudara seayah berlainan ibu.

"Harap paman Cia Hui Song suka bersabar dan maafkan saya yang berani melerai dan menghentikan perkelahian ini," katanya.

Cia Hui Song sudah tahu bahwa pemuda perkasa ini adalah Cia Sun, keturunan Lembah Naga yang masih keluarga Cia juga. Dan walau pun dia terhitung paman dari pemuda itu, karena mereka sebaya, dia pun cepat membalas penghormatan itu.

"Engkau tentu Cia Sun, bukan? Sebetulnya aku senang sekali dapat berkenalan dengan anggota keluarga sendiri, dan aku pun telah melihatmu di bekas benteng Jeng-hwa-pang. Akan tetapi Cia Sun, apakah engkau tidak tahu siapakah jahanam ini?" Dia menuding ke arah Ci Kang. "Bila mana engkau sudah tahu dia siapa tentu engkau tidak akan melerai melainkan membantuku membunuhnya. Dan kau juga sumoi, apakah engkau sudah lupa siapa adanya penjahat ini?"

"Aku tidak lupa, suheng, dan tadi pun aku sudah hendak membantumu, tetapi Sun-toako mencegah."

"Paman Hui Song, aku pun tahu siapa adanya Siangkoan Ci Kang. Aku tahu benar bahwa dia adalah putera mendiang Siangkoan Lo-jin..."

"Putera Si Iblis Buta, datuk sesat yang amat jahat itu!" Hui Song menambahkan.

"Benar, akan tetapi dia tidak boleh disamakan dengan mendiang ayahnya. Saudara Ci Kang ini kukenal benar karena kami sudah sama-sama menentang Raja Iblis dan kami berdua bahkan hampir tewas oleh Raja Iblis dan muridnya yang jahat, Gui Siang Hwa. Saudara Ci Kang ini adalah murid locianpwe Ciu-sian Lo-kai dan dia selalu menentang kejahatan sampai dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan oleh para tokoh sesat. Dia adalah seorang gagah dan berjiwa pendekar..."

"Hemm, engkau sudah kena ditipunya, Cia Sun! Engkau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Karena dia berkedok domba, engkau tidak tahu bahwa di balik kedok itu adalah seekor harimau yang liar dan buas! Aku dapat membuktikannya sendiri kejahatannya! Ketahuilah bahwa kalau tidak ada aku yang mencegahnya, mungkin dia sudah... memperkosa Sui Cin!"

"Ahhh...!" Cia Sun terbelalak dan memandang wajah Ci Kang dengan penuh selidik. Dia sudah tahu sendiri betapa pemuda itu tak mau menyerah dan memilih mati ketika dirayu Siang Hwa. Pemuda ini bukan orang yang lemah terhadap nafsu birahi dan agaknya tidak mungkin akan melakukan hal terkutuk itu terhadap Sui Cin!

"Ci Kang, benarkah itu...?" tanyanya, masih terkejut dan tidak percaya.

Ci Kang menghela napas panjang. "Pendekar Cia Hui Song terlalu membenciku, terlalu bernafsu memusuhiku sehingga tak memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri. Cia Sun, engkau sudah mengenalku, kita bersama telah menghadapi ancaman-ancaman maut dan sudah saling mengenal watak masing-masing. Tidak kusangkal bahwa memang aku pernah bersikap kurang ajar terhadap nona Ceng Sui Cin, akan tetapi apa yang aku lakukan itu terjadi di luar kehendakku, di luar kekuasaanku untuk menahan. Pada waktu itu aku sedang dikuasai nafsu dan gairah yang tidak wajar, dan aku yakin bahwa aku telah keracunan sehingga melakukan hal-hal di luar kesadaranku. Ketika itu aku sedang terluka dan menerima obat dari nona Ceng Sui Cin. Aku diobati dan dirawat, mana mungkin aku melakukan hal keji? Akan tetapi hal itu terjadi dan aku yakin bahwa racun itu terdapat justru dalam obat itu!"

"Alasan yang dicari-cari!" Hui Song membentak marah.

"Terserah, akan tetapi kenyataannya memang demikian. Bukan aku mencari alasan untuk membela diri. Tidak, aku cukup tersiksa dan merasa menyesal dan kalau nona Ceng Sui Cin sendiri yang menghukumku, aku akan menyerahkan diri tanpa melawan. Akan tetapi, jangan orang lain yang hendak menghukumku!" kata Ci Kang dengan sikap dingin.

Asmara Berdarah Jilid 30

THIAN SIN segera sadar lalu melepaskan cengkeramannya dan ternyata baju pada lengan Lam-nong sudah hancur lebur! Kepala suku itu memandang dengan wajah pucat, namun dia tersenyum.

"Aku tahu, pendekar-pendekar selatan memang mempunyai kepandaian tinggi akan tetapi hatinya palsu dan busuk. Nah, kau bunuhlah aku!" tantangnya.

"Nanti dulu, saudara Lam-nong. Tentu ada kesalah pahaman di sini. Kalau memang benar dia itu pendekar Cia Hui Song putera ketua Cin-ling-pai, tidak mungkin dia melakukan hal yang kotor itu. Dan andai kata benar dia melakukannya, tentu dia bukanlah putera ketua Cin-ling-pai atau semua itu hanya fitnah belaka."

"Fitnah? Orangku ini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan masih dianggap fitnah? Kalian pendekar-pendekar selatan tentu saja saling membela!" kata Lam-nong dan dia lalu menyuruh pembantunya menceritakan kembali semua yang telah terjadi.

Kakek Mancu itu menceritakan sejak terjadinya penyerbuan pasukan pemberontak hingga ketika dia tertawan kemudian dilepas karena mirip ayah pemimpin pasukan pemberontak, dan betapa dia juga menyaksikan Hui Song berjinah dengan empat orang isteri Lam-nong yang tertawan, betapa wanita-wanita lainnya menjadi korban perkosaan yang biadab.

Mendengar penuturan ini, Thian Sin dan isterinya saling pandang, kemudian pendekar ini menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sungguh sukar untuk dipercaya!" serunya.

"Sungguh membingungkan!" kata pula Toan Kim Hong.

Mereka sudah mendengar dari puteri mereka mengenai nama Cia Hui Song itu yang oleh puterinya dipuji-puji sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi menurut penuturan dua orang Mancu ini, ternyata Hui Song adalah seorang mata keranjang yang cabul dan berwatak busuk dan palsu.

Tentu saja mereka belum mau percaya sepenuhnya hanya dengan mendengar penuturan dua orang ini walau pun jelas bahwa dua orang yang keadaannya seperti itu, kehilangan semua kawan yang terbunuh habis, kiranya tidak mungkin sempat lagi untuk berbohong-bohong. Tak mungkin mereka ini menceritakan fitnah, akan tetapi besar kemungkinannya pendekar yang menjadi sahabat mereka itu bukan putera Cin-ling-pai yang sebenarnya, melainkan akuan saja. Bagaimana pun juga, di dalam lubuk hatinya suami istri ini kurang begitu suka kepada ketua Cin-ling-pai yang mereka anggap berwatak angkuh.

"Kami akan menyelidiki kebenaran keterangan kalian tadi," akhirnya Thian Sin berkata. "Jika benar orang itu melakukan hal yang demikian jahat, maka kami akan menghajarnya. Akan tetapi, dapatkah kalian menolong kami menceritakan di mana adanya nenek yang bernama Yelu Kim?"

Mendengar pertanyaan ini, sepasang alis Lam-nong berkerut lantas dia pun memandang penuh kecurigaan dan ejekan. "Hemm, kiranya kalian ini pendekar-pendekar dari selatan yang hendak mengabdi kepada nenek Yelu Kim untuk memberontak terhadap pemerintah kalian di selatan?"

"Tutup mulutmu dan jangan menduga yang bukan-bukan!" Toan Kim Hong membentak marah.

Akan tetapi Thian Sin tersenyum. Dia maklum mengapa kepala suku ini demikian penuh dendam dan benci kepada para pendekar dari selatan. "Sobat Lam-nong, mengapa kau menduga demikian?"

"Oleh karena petualang-petualang dari selatan itu berkeliaran di sini hanya untuk mencari kedudukan atau kekayaan saja. Nenek Yelu Kim sendiri pun sekarang sudah dibantu oleh seorang pendekar wanita dari selatan..."

"Ahh, pendekar wanita itulah yang sedang kami cari!" Toan Kim Hong berseru. "Bukankah dia masih muda sekali, cantik dan lihai, dan namanya Ceng Sui Cin?"

Lam-nong menggeleng kepala. "Aku tidak mengenal namanya, akan tetapi memang dia muda, cantik dan lihai bukan main. Aku hanya mendengar bahwa dia menjadi murid dan pembantu nenek Yelu Kim, malah dialah yang telah memenangkan sayembara pemilihan jagoan sehingga kemenangannya membuat nenek Yelu Kim diangkat menjadi pimpinan para kepala suku."

"Ah, tentu dia itu puteri kami Ceng Sui Cin!" Toan Kim Hong berseru dan suaranya agak gemetar.

"Puteri kalian? Ahh, menarik sekali!" kata Lam-nong.

"Saudara Lam-nong, berlakulah baik pada kami dan tolonglah tunjukkan di mana adanya nenek Yelu Kim supaya kami dapat mencari puteri kami," kata Thian Sin, suaranya halus membujuk.

"Hemmm, kalau mengingat betapa kalian tadi baru saja menyelamatkan kami dari tangan pasukan pemberontak, sudah cukup untuk kubalas dengan pertolongan apa pun. Namun apakah arti pertolonganmu tadi sebagai pendekar dari selatan kalau dibandingkan dengan kekejian yang dilakukan oleh pendekar selatan lainnya kepada kami? Oleh karena itu, aku mau membantumu, bahkan bukan hanya menunjukkan melainkan mengantarmu ke sana bila engkau mau berjanji bahwa engkau akan membantuku pula menangkap dan menyeret si jahanam Cia Hui Song ke depan kakiku! Bagaimana?"

Thian Sin saling pandang dengan isterinya. Sungguh janji yang berat. Bagaimana kalau ternyata bahwa pendekar itu benar-benar putera ketua Cin-ling-pai? Bukankah itu berarti bahwa mereka akan berhadapan sebagai lawan dan musuh dengan keluarga Cin-ling-pai? Demikian Thian Sin berpikir.

"Baik, kami setuju!" Tiba-tiba Toan Kim Hong berseru. "Siapa pun juga adanya pendekar itu, kalau benar dia melakukan kekejian seperti itu, tentu akan kami hadapi sebagai lawan dan musuh!"

Kata-kata ini segera menyadarkan Thian Sin akan kewajibannya sebagai seorang gagah, yaitu harus menentang siapa saja tanpa pilih bulu, menentang siapa saja yang melakukan perbuatan jahat.

"Benar, kami setuju. Mari antar kami kepada tempat kediaman nenek Yelu Kim!" katanya.

Lam-nong nampak gembira. Janji ini merupakan sinar terang di dalam kegelapan hatinya. Dia baru akan merasa puas kalau sudah dapat membalas dendam kepada Cia Hui Song, atas perbuatannya yang biadab kepada isteri-isterinya!

Memang sikap Lam-nong ini kelihatannya aneh, akan tetapi memang sudah demikianlah sifat dendam yang mengotori batin kita semua. Perbuatan merugikan kita yang dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita akan terasa jauh lebih menyakitkan dari pada kalau dilakukan oleh orang lain yang asing bagi kita. Inilah sebabnya mengapa kebencian yang menyelinap di dalam batin terhadap seorang bekas kawan baik atau keluarga jauh lebih mendalam dari pada kebencian terhadap orang asing.

Lam-nong seakan-akan melupakan perbuatan para pemberontak yang sudah membasmi keluarga dan rombongannya, juga seperti lupa dengan cerita kakek pembantunya betapa selir-selirnya yang lain juga sudah diperkosa secara biadab oleh mereka. Yang diingatnya dengan penuh rasa sakit hati hanyalah perbuatan Hui Song yang berjinah dengan empat orang isterinya!

"Baiklah, aku akan mengantar ji-wi sampai ke depan nenek Yelu Kim. Bahkan aku akan minta pertanggungan jawabnya atas kejadian yang menimpa rombonganku. Bukankah dia sudah menamakan dirinya pemimpin para kepala suku? Mari, mari kita pergi. Akan tetapi, siapakah ji-wi? Aku belum mengenal nama ji-wi."

Thian Sin tersenyum. "Namaku Ceng Thian Sin dan ini adalah isteriku."

Lam-nong mengangguk-angguk, baru sekarang dia teringat betapa lihainya suami isteri ini ketika tadi membubarkan pasukan pemberontak. "Mari, taihiap dan toanio, marilah kita berangkat."

Empat orang itu kemudian berangkat, kembali menuju ke barat untuk mencari nenek Yelu Kim. Lam-nong berjalan paling depan, diikuti oleh kakek pembantunya, kemudian barulah suami isteri Pendekar Sadis yang berjalan berdampingan paling belakang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagaimana dengan Hui Song? Pemuda ini merasa marah dan mendongkol sekali ketika dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya itu, dia melihat empat orang isteri sahabatnya memasuki kamarnya dalam keadaan hampir telanjang bulat. Dia melihat betapa wajah mereka pucat, rambut mereka kusut dan pandang mata mereka penuh takut dan duka.

Dia tahu bahwa mereka itu ketakutan dan menangis ketika mereka memeluknya seperti hendak minta perlindungan, bahwa mereka itu dipaksa oleh Sim Thian Bu untuk merayu dirinya. Dia tidak marah kepada wanita-wanita ini melainkan merasa kasihan, akan tetapi apa yang dapat dilakukannya? Dia tidak berdaya sama sekali.

Untung baginya, hanya sebentar saja wanita-wanita itu disuruh merayu atau menemani dirinya. Dan dia melihat wajah orang Mancu itu ketika pintu dibuka, melihat betapa orang Mancu tua itu terbelalak lalu menyumpah dan pintu ditutup kembali. Agaknya hanya untuk keperluan memperlihatkan adegan itu kepada orang Mancu tua tadilah maka empat orang wanita itu disuruh naik tempat tidurnya. Tidak lama kemudian mereka disuruh keluar lagi, entah dibawa ke mana oleh Thian Bu.

Pada keesokan harinya, Sim Thian Bu muncul pula di dalam kamarnya. Totokan pada tubuhnya sudah bebas, akan tetapi malam tadi Thian Bu mengikat tangannya dengan tali sutera yang amat kuat sehingga percuma saja ketika Hui Song berusaha melepaskan diri dengan cara menariknya putus.

"Aha, Cia-taihiap. Engkau nampak segar pagi ini. Bagaimana, apakah usulku semalam sudah kau pertimbangkan?"

"Aku tak sudi bersekutu dengan pemberontak. Biar akan kau bunuh sekali pun, aku tidak peduli. Akan tetapi ingat, kalau aku sampai dapat lolos dari sini, aku akan mengejar dan mencarimu, dan akan kupaksa engkau bertanding sampai mampus!"

"Aihh, mengapa galak amat? Bukankah aku sudah memperlakukanmu dengan amat baik? Bahkan sudah kusuguhkan wanita-wanita cantik. Sayang engkau yang bodoh tidak mau menerimanya. Cia-taihiap, ketahuilah bahwa aku bersikap baik terhadapmu bukan tanpa sebab. Tahukah engkau bahwa ayah dan ibumu, juga kakekmu, sekarang sudah berada bersama kami dan bekerja sama dengan kami, bahkan ayahmu kini mengepalai pasukan keamanan di Ceng-tek?"

"Bohong! Siapa sudi percaya dengan omongan busukmu?" bentak Hui Song. "Sim Thian Bu, aku tidak tahu mengapa engkau memusuhiku, akan tetapi yang jelas engkau adalah tokoh pemberontak rendah. Jangan mencoba-coba untuk membujukku. Perbuatanmu tadi malam dengan memaksa empat orang isteri Lam-nong dalam keadaan tidak tahu malu itu ke sini saja sudah melewati batas dan untuk itu, mau rasanya aku membunuhmu sampai tujuh kali! Sekarang, kau apakan mereka itu?"

"Ha-ha-ha, karena mereka tak berhasil membujukmu, maka mereka kuhadiahkan kepada orang-orangku dan kau dapat membayangkan apa jadinya kalau empat orang wanita itu harus melayani ratusan orang prajurit..."

"Jahanam keparat kau!" bentak Hui Song dan wajahnya berubah merah sekali, hatinya perih membayangkan nasib para isteri Lam-nong.

Sim Thian Bu sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapannya dengan Hui Song itu ada yang mendengarkan. Seorang lelaki yang berpakaian seragam prajurit berdiri di luar kamar itu, dengan sikap bertugas jaga akan tetapi sebenarnya dia sedang mendengarkan dengan teliti semua yang sedang dibicarakan di dalam kamar. Prajurit ini bertubuh tinggi tegap dan memiliki sepasang mata yang mencorong tajam. Prajurit ini adalah Siangkoan Ci Kang!

Seperti telah kita ketahui, Ci Kang terancam bahaya maut di tangan Raja Iblis Pangeran Toan Jit Ong, akan tetapi secara kebetulan dan tiba-tiba muncul Pendekar Sadis beserta isterinya yang menyelamatkannya dan setelah dia memberi tahu kepada mereka tentang Sui Cin, suami isteri yang sakti itu lalu meninggalkannya untuk mencari puteri mereka.

Setelah berpisah dari suami isteri yang sakti itu, yang membuat Ci Kang merasa semakin nelangsa karena mereka adalah ayah bunda Sui Cin yang dicintanya sehingga membuat dia merasa semakin kecil dan rendah, pemuda ini kemudian mengambil keputusan untuk mencari Raja Iblis yang melarikan Hui Cu. Dia harus dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan ayah kandungnya sendiri yang jahatnya melebihi iblis.

Gadis itu sudah dua kali menyelamatkannya. Pertama kali ketika dia bersama Cia Sun terjeblos ke dalam goa bawah tanah dan kedua kalinya ketika dia hampir celaka di tangan murid Raja Iblis, Gui Siang Hwa. Kini dia tahu bahwa dara itu berada dalam cengkeraman iblis yang membahayakan keselamatannya, maka dia harus berusaha untuk menolong gadis itu, biar pun untuk itu keselamatan nyawanya sendiri akan terancam.

Dalam perjalanannya mencari Hui Cu inilah secara kebetulan Ci Kang tiba di dusun itu. Dia hanya melihat bekas-bekas kejahatan pasukan pemberontak yang dipimpin Sim Thian Bu itu, yang sudah membasmi puluhan orang anak buah suku Mancu Timur di bawah pimpinan Lam-nong. Hatinya menjadi panas oleh kemarahan ketika dia mendengar dari penyelidikannya betapa sute-nya itu sudah sedemikian jahatnya membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menganiaya dan memperkosa wanita-wanitanya.

Namun kedatangannya sudah terlambat dan dia tidak sempat lagi mencegah perbuatan sute-nya. Lagi pula Ci Kang tidaklah demikian bodoh untuk langsung menemui Thian Bu dan menegurnya. Bagaimana pun juga, jalan hidup antara mereka telah terpisah, mereka telah bersimpang jalan, bahkan saling menentang.

Sesudah sekarang memimpin ratusan orang prajurit, mana mungkin sute-nya itu masih mau mentaatinya? Tentu tidak takut kepadanya, bahkan dia akan dianggap musuh dan dikeroyok. Karena itulah secara diam-diam Ci Kang lalu menculik seorang prajurit yang perawakannya seperti dia, membawa prajurit itu ke dalam sebuah hutan yang cukup jauh, mengikat kaki tangannya setelah melucuti pakalannya, dan dengan berpakaian prajurit dia kembali ke dalam dusun.

Dengan mudah dia menyelinap di antara prajurit yang seribu orang banyaknya itu dan dia berhasil masuk ke dalam pondok di mana Sim Thian Bu sedang mengunjungi Hui Song yang tertawan. Dengan muka geram dia mendengarkan semua percakapan, dan tahulah dia bahwa pendekar putera ketua Cin-ling-pai itu sedang dibujuk oleh sute-nya agar mau membantu pemberontak.

Sute-nya, Sim Thian Bu, telah membantu Raja Iblis. Padahal, ayahnya, Siangkoan Lo-jin, guru sute-nya itu tewas di tangan Raja Iblis. Sungguh seorang murid murtad. Dia sendiri memang tidak mendendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya tewas karena ulah sendiri, akan tetapi dia tidak akan sudi diperalat oleh pemberontak.

Dan meski pun Hui Song pernah memperlihatkan sikap bermusuh dengannya, ketika dia muncul di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan ketika dia berada di dalam kamar bersama Sui Cin, tetapi dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar sejati. Dia pun sudah mendengar tentang ketua Cin-ling-pai yang membantu gerakan para pemberontak, maka diam-diam dia merasa kasihan kepada Hui Song.

Sedikit banyak ada persamaan antara dia dan pemuda ini. Walau pun ayah pemuda ini adalah seorang pendekar besar, ketua Cin-ling-pai, akan tetapi kini sudah menyeleweng karena membantu pemberontak, padahal puteranya mati-matian menentang pemberontak dan lebih memilih mati dari pada harus menjadi kaki tangan kaum pemberontak seperti yang diperlihatkan ketika dibujuk oleh Sim Thian Bu itu. Dan agaknya Hui Song belum tahu akan penyelewengan ayahnya.

"Hui Song, engkau sungguh orang yang tidak tahu akan kebaikan orang!" Akhirnya Sim Thian Bu menjadi marah dan tidak menyebutnya taihiap lagi. "Melihat muka orang tuamu yang kini menjadi rekanku, aku bersikap baik kepadamu dan tidak membunuhmu walau pun engkau sudah membantu suku bangsa liar. Bahkan aku sudah menyuguhkan empat orang wanita tawanan untuk menghiburmu akan tetapi engkau menolak. Baiklah, agaknya engkau baru akan mau percaya kalau sudah kubawa ke Ceng-tek dan bertemu dengan ayah ibumu." Dia mendengus marah. "Karena engkau masih tidak mau tunduk, terpaksa harus kubelenggu terus sampai ke Ceng-tek. Hari ini juga kita berangkat ke sana!"

Dengan uring-uringan Thian Bu meninggalkan Hui Song dalam kamar itu. Tadinya dia berniat untuk membujuk Hui Song agar dapat membantu dan ikut dengannya secara suka rela agar dia dapat berbangga memamerkan jasanya di Ceng-tek. Tidak disangkanya Hui Song demikian keras hati sehingga terpaksa dia akan membawanya sebagai tawanan, hal yang amat tidak enak terhadap ketua Cin-ling-pai.

"Jaga dia, awasi terus jangan sampai dia dapat meloloskan diri!" perintah Sim Thian Bu kepada dua orang pengawal yang berada di luar pintu kamar. Kedua orang pengawal itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar, berdiri dekat pembaringan dengan tombak di tangan.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah Sim Thian Bu meninggalkan kamar itu, sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar itu. Hui Song yang masih rebah tak mampu berkutik itu melihat betapa dengan gerakan yang sangat ringan, bayangan ini menyergap ke arah dua orang penjaga yang tidak sempat berteriak atau mempertahankan diri.

Dua kali totokan membuat mereka itu roboh pingsan. Dengan cekatan Ci Kang, bayangan itu, menyambar dua batang tombak agar tidak mengeluarkan bunyi keras saat terbanting ke atas lantai.

Hui Song terbelalak ketika mengenal siapa adanya prajurit tinggi tegap yang merobohkan dua orang pengawal itu.

"Hemmm...kau...?" gumamnya, sama sekali tidak gembira melihat kedatangan penolong ini, bahkan matanya memancarkan sinar kemarahan. Andai kata dia tidak dalam keadaan terbelenggu, tentu dia sudah bergerak menerjang Ci Kang!

Ci Kang dapat melihat kebencian terpancar dari mata putera ketua Cin-ling-pai itu dan dia pun memaklumi. "Sobat Cia Hui Song, sebaiknya engkau tahan kemarahanmu dan kita simpan dulu urusan pribadi. Yang jelas engkau tertawan..."

"Benar, dan yang menawan adalah murid ayahmu!" Hui Song mengejek.

"Simpan ejekanmu itu, sobat! Walau pun dia adalah sute-ku, akan tetapi jalan hidup kami tidak sejalur. Biar pun mendiang ayahku seorang datuk sesat, akan tetapi kau tidak dapat menyamakan aku dengan mereka, seperti juga berbedanya jalur hidupmu dengan ayahmu yang kini mengabdi pemberontak..."

"Tutup mulutmu! Kalian pembohong...!" Hui Song membentak.

"Sstttt... kita tunda dulu perselisihan ini. Yang penting kita harus bisa lari dari tempat ini," berkata demikian Ci Kang cepat melepaskan ikatan kaki tangan Hui Song.

Walau pun bekas ikatan pada kaki dan tangan itu masih membuat kaki tangannya terasa kesemutan dan setengah lumpuh, akan tetapi Hui Song memaksa diri meloncat turun dari pembaringan dan langsung dia menyerang Ci Kang!

"Jahanam busuk, aku harus membunuhmu untuk membalaskan penghinaanmu terhadap Sui Cin!" Serangan Hui Song tentu saja hebat sekali dan Ci Kang yang sudah mengenal kelihalan lawan ini cepat mengelak.

"Sabar dulu, sobat. Masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi kita untuk bertanding. Sekarang yang penting kita harus meloloskan diri dari dusun ini!" Ci Kang berseru, akan tetapi semua seruannya percuma saja karena Hui Song yang sudah marah sekali teringat akan perbuatan pemuda ini memeluk dan mencium Sui Cin, sudah menerjang lagi kalang kabut.

Tentu saja Ci Kang menjadi bingung sekali. Sikap Hui Song ini membuat dia naik darah juga, maka setelah mengelak dan menangkis, dia pun mulai balas menyerang! Terjadilah perkelahian yang amat hebat di dalam kamar itu dan tentu saja, hal ini menarik perhatian para pengawal yang cepat datang melihat.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka melihat tawanan itu sudah bebas dan sekarang sedang berkelahi melawan seorang rekan prajurit, sedangkan dua orang prajurit pengawal lainnya telah roboh tak bergerak di atas lantai. Melihat ini, para prajurit itu yang mengira bahwa Ci Kang adalah salah seorang di antara kawan mereka cepat menerjang dan membantu Ci Kang sehingga Hui Song kini dikeroyok!

Pemuda yang sudah mempunyai perasaan benci terhadap Ci Kang ini, rasa benci yang bukan hanya karena Ci Kang putera datuk sesat Iblis Buta, akan tetapi terutama sekali karena rasa cemburu yang hebat, kini menjadi semakin marah dan semakin yakin bahwa Ci Kang tentu bekerja sama dengan sute-nya, Sim Thian Bu yang licik itu.

"Huh, Siangkoan Ci Kang, majulah bersama semua antekmu! Aku tidak takut!" Dan dia pun mengamuk merobohkan empat orang prajurit dengan sekali serang!

Pada saat itu, Sim Thian Bu yang sudah diberi tahu oleh anak buahnya datang dan dia pun terkejut bukan main sesudah mengenal prajurit tinggi tegap itu yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang! Sebaliknya, melihat Sim Thian Bu, Ci Kang juga marah sekali. Kalau tadi pada saat dia mendengar Thian Bu membujuk Hui Song dia masih mampu menahan kemarahannya karena perlu membebaskan Hui Song lebih dahulu, kini sesudah ketahuan dan dikeroyok, kemarahannya terhadap sute-nya itu makin berkobar.

"Sim Thian Bu, engkau semakin gila dan jahat saja!" bentaknya dan tiba-tiba saja dia menyerang Sim Thian Bu!

Thian Bu maklum akan kelihaian putera suhu-nya ini. Maka cepat dia menangkis dengan lengan kanannya.

"Dukkk...!"

Dan tubuh Thian Bu pun terlempar sampai bergulingan. Terkejutlah dia dan baru dia tahu bahwa suheng-nya itu ternyata sudah menjadi semakin lihai saja. Maka dia pun berteriak kepada para prajuritnya.

"Dia prajurit palsu! Kepung dan bunuh dia juga!"

Tadi para prajurit bingung melihat pimpinan mereka berkelahi melawan prajurit itu, bahkan mereka kaget melihat betapa dalam satu gebrakan saja komandan mereka yang biasanya amat lihai itu terlempar sampai bergulingan. Akan tetapi begitu mendengar teriakan Thian Bu mengertilah mereka bahwa prajurit itu adalah seorang musuh yang menyamar, maka tentu saja mereka segera mengeroyok Ci Kang!

Hui Song sendiri juga dihujani senjata dan kini melihat betapa Ci Kang dikeroyok, tadinya dia masih bingung dan ragu, mengira bahwa Ci Kang bersandiwara. Akan tetapi melihat betapa Ci Kang mengamuk dan merobohkan banyak prajurit seperti juga dia, dan betapa para pengeroyoknya itu juga menyerang dengan sungguh-sungguh, barulah dia percaya bahwa Ci Kang benar-benar dimusuhi oleh Sim Thian Bu dan pasukannya!

Dia masih bingung, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih lama lagi. Para pengeroyok terlalu banyak dan melihat betapa Ci Kang mendesak para pengeroyok dan berhasil keluar dari dalam kamar yang sempit, dia pun menerjang dan membuka jalan darah.

Segera dua orang pemuda perkasa ini dikeroyok di luar pondok yang lebih luas sehingga terjadilah pertempuran yang sangat seru. Akan tetapi, baik Ci Kang mau pun Hui Song maklum bahwa mereka berdua saja tidak akan mungkin dapat menandingi pengeroyokan prajurit yang jumlahnya hampir seribu orang itu. Mereka tentu akan kehabisan tenaga.

Oleh karena itu, seperti sudah berunding lebih dulu saja, keduanya menyerang ke depan dan menyelinap kemudian meloncat jauh dan melarikan diri. Beberapa orang prajurit yang berusaha mengejar, mereka robohkan dengan pukulan jarak jauh. Melihat ini, para prajurit lainnya menjadi gentar dan ragu-ragu untuk mengejar.

Thian Bu yang marah sekali melihat dua orang itu lolos, cepat berteriak memerintahkan semua anak buahnya untuk mengejar, hendak mengandalkan jumlah banyak pasukan itu melakukan pengejaran. Akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu telah lari jauh dan tak nampak lagi bayangannya sehingga terpaksa para prajurit mencari ke sana-sini di bawah pimpinan Sim Thian Bu yang menyumpah-nyumpahi mereka karena pengejaran itu gagal sama sekali.

Sebenarnya Sim Thian Bu cukup maklum bahwa prajurit-prajurit itu tidak dapat disalahkan karena dua orang pemuda itu memang amat lihai, akan tetapi karena kegagalan ini amat menjengkelkan hatinya, maka untuk melampiaskan kemarahannya itu dia memaki-maki para prajuritnya.

Biar pun tidak berjanji lebih dulu, akan tetapi kenyataannya Ci Kang dan Hui Song lari ke satu jurusan. Agaknya mereka berdua tidak mau mengambil jalan lain atau memisahkan diri, khawatir jika disangka takut atau sengaja hendak melarikan diri untuk menghindarkan perkelahian.

Dan setelah mereka lari jauh dan pasukan pemberontak tidak mengejar lagi, pada sebuah tanah datar di lereng sebuah bukit, keduanya berhenti tanpa kencan lantas berdiri saling berhadapan.

"Cia Hui Song, masih belum percayakah engkau kepadaku? Aku juga menentang kaum pemberontak!"

"Boleh jadi engkau memang menentang pemberontak, akan tetapi tak mungkin aku dapat mengampunimu atas kebiadabanmu menghina Sui Cin!" bentak Hui Song lantas dia pun sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Ci Kang merasa betapa pemuda ini sudah keterlaluan sekali mendesaknya. Biar pun ada dorongan aneh dalam dirinya ketika dia menjadi terangsang dan timbul birahinya hingga dia melakukan hal yang tidak patut terhadap Sui Cin, akan tetapi dia tidak mau mencari alasan untuk membela diri. Dia diam saja dan menangkis, bahkan lalu membalas.

Dua orang pemuda itu terlibat dalam suatu perkelahian yang amat seru dan mati-matian, biar pun Hui Song lebih banyak menyerang karena Ci Kang masih merasa enggan untuk menyerang. Dia tidak membenci Hui Song, tidak ada alasan baginya untuk membenci pemuda ini, maka dia pun hanya membela diri saja.

Sungguh berbahaya sekali dan tidak cukup aman bila mana hanya membela diri dengan menangkis atau mengelak saja pada waktu menghadapi seorang lawan selihai Hui Song. Serangan balasan yang dilakukannya, yang tak kalah dahsyatnya, hanya dilakukan untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan Hui Song terhadap dirinya.

Dua orang ini memang sama mudanya, sama gemblengan orang-orang pandai, bahkan pada akhir-akhir ini selama tiga tahun keduanya sudah digembleng oleh orang-orang sakti yang segolongan. Oleh karena itu sulit dikatakan siapa yang lebih kuat di antara mereka.

Hui Song adalah putera tunggal ketua Cin-ling-pai yang tentu saja telah mewarisi semua ilmu Cin-ling-pai yang sangat tinggi, dan gemblengan selama tiga tahun yang diterimanya dari Siang-kiang Lo-jin membuat ilmu-ilmunya menjadi matang. Akan tetapi di lain pihak, Ci Kang juga telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah kandungnya, Siangkoan Lo-jin atau Iblis Buta, dan gemblengan selama tiga tahun oleh Ciu-sian Lo-kai juga sudah mematangkan ilmu-ilmunya. Karena itu pertandingan antara mereka ini sedemikian dahsyatnya bagaikan perkelahian dua ekor naga sakti yang tidak mau saling mengalah.

Sesudah perkelahian itu berlangsung seratus jurus tanpa ada yang terdesak, keduanya semakin maklum bahwa lawan masing-masing itu ternyata lebih sukar dikalahkan seperti yang mereka sangka semula. Oleh karena itu kini mereka bergerak dengan amat hati-hati sambil mengeluarkan seluruh ilmu silat mereka dan mengerahkan seluruh tenaga.

"Dukkk...!"

Kembali terjadi adu tenaga yang sangat dahsyat, yang mengakibatkan kedua orang muda itu terhuyung ke belakang hingga keduanya harus mengatur pernapasan beberapa detik lamanya untuk menghimpun hawa murni melindungi tubuh bagian dalam supaya jangan sampai terluka akibat guncangan pertemuan tenaga dahsyat itu.

Dan pada saat itu, selagi keduanya siap untuk saling terjang lagi, nampak dua bayangan orang berkelebat. Seorang gadis cantik menghadang di hadapan Hui Song, dan seorang pemuda perkasa menghadang di depan Ci Kang.

"Suheng, harap jangan berkelahi...!" Gadis itu berteriak.

"Ci Kang, tahan dulu...!" Pemuda itu berseru pula.

Melihat gadis yang menghadangnya itu, Hui Song terpaksa menghentikan serangannya, juga Ci Kang segera menghentikan semua gerakannya sesudah dia mengenal siapa yang menghadang di depannya. Gadis dan pemuda itu adalah Tan Siang Wi dan Cia Sun!

Bagaimanakah dua orang muda ini dapat saling berkenalan dan dapat datang bersama di tempat itu? Seperti kita ketahui, Cia Sun hadir pula dalam pertemuan para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang dan seperti juga yang lain, dia terpaksa melawan sambil berpencar dan akhirnya menyelamatkan diri karena jumlah lawan yang terlampau banyak.

Ketika dia sedang melarikan diri, tiba-tiba saja dia melihat seorang gadis yang dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali prajurit yang agaknya hendak menangkap gadis cantik itu hidup-hidup. Akan tetapi gadis cantik itu memainkan sepasang pedang secara hebat sehingga dua puluh lebih orang prajurit itu sulit dapat menangkapnya, dan mereka hanya dapat mengepung dan menyerang dari jauh dengan tombak mereka untuk menghabiskan tenaga gadis itu agar akhirnya dapat disergap. Gadis itu adalah Tan Siang Wi.

Sejak muda Tan Siang Wi sudah terbiasa hidup dalam kekerasan sebagai seorang gadis kang-ouw yang disegani. Dia murid Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai, bahkan menerima petunjuk pula dari ketua Cin-ling-pai sehingga tentu saja dia sangat lihai, terutama sekali Ilmu Silat Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang hebat itu. Dan karena sifatnya yang keras dan berani, juga karena ia tidak pernah memberi ampun kepada para penjahat, maka di dunia kang-ouw dia dijuluki Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa)! Maka, meski pun kini dikepung dan dikeroyok dua puluh orang lebih, dia mengamuk dan sedikit pun tidak menjadi gentar.

Gadis ini mendengar tentang adanya pertemuan di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang. Selama tiga tahun ini dia merantau dengan hati penuh duka, mencari-cari Hui Song, pemuda yang menjadi pujaan hatinya. Dan seperti telah kita ketahui, ia melihat betapa suheng yang dicintanya itu dirayu di dalam kamar oleh Siang Hwa, membuat dia cemburu dan marah sekali.

Akan tetapi akhirnya ia tertawan dan yang amat menyedihkan hatinya, suheng-nya malah bersekutu dengan wanita iblis itu dan ia disuruh pergi! Sakit sekali rasa hatinya walau pun ia tahu bahwa Hui Song melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman Gui Siang Hwa. Akan tetapi bagi dia rasanya lebih suka mati di tangan wanita itu dari pada melihat suheng-nya berkawan dengan iblis betina itu dan dia disuruh pergi. Akan tetapi, suheng-nya yang menyuruhnya sehingga dia tidak dapat membantah.

Dengan hati dirundung duka, gadis yang usianya sudah dua puluh dua tahun ini lalu pergi ke utara, hendak menghadiri pertemuan antara pendekar di benteng Jeng-hwa-pang. Hal ini dilakukannya bukan hanya untuk memperluas pengalaman, akan tetapi terutama sekali karena dia mengharapkan akan bertemu dengan suheng-nya. Ia percaya bahwa seorang pendekar besar seperti suheng-nya itu pasti akan hadir pula di sana.

Demikianlah, dia tiba di antara para pendekar di bekas sarang Jeng-hwa-pang, kemudian menyelinap di antara mereka, namun tak berani muncul secara berterang sebab dia tidak mewakili siapa-siapa dan dia pun tidak datang atas nama perguruan Cin-ling-pai. Hatinya merasa girang sekali ketika dia melihat Hui Song berada di situ pula, bahkan membuat pelaporan. Dia merasa ikut bangga akan tetapi dia tetap bersembunyi dengan keputusan akan menemui suheng-nya itu setelah pertemuan selesai.

Hatinya lega sebab dia tidak melihat adanya iblis betina yang merayu suheng-nya dahulu. Akan tetapi, ada perasaan kecut dan cemburu di dalam hatinya apa bila mengingat akan sikap suheng-nya yang amat dingin kepada dirinya, sikap yang tidak membalas cintanya, teringat pula betapa manis sikap suheng-nya terhadap Ceng Sui Cin, kemudian terhadap wanita iblis itu.

Dan ketika pasukan pemberontak yang sangat besar jumlahnya datang menyergap, Siang Wi ikut pula bertempur dan membela diri sambil mencari jalan keluar. Akan tetapi, belum jauh dia berlari meninggalkan bekas benteng itu, dia dikepung oleh dua puluh orang lebih prajurit pemberontak. Kembali dia mengamuk membela diri dan sama sekali tidak merasa gentar walau pun pihak lawan terlampau banyak baginya.

Dalam keadaan terancam inilah muncul Cia Sun yang segera turun tangan membantu. Sungguh pun dia belum mengenal gadis itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa gadis yang dikeroyok para prajurit pemberontak itu tentulah seorang di antara para pendekar yang tadi hadir dalam pertemuan di bekas benteng Jeng-hwa-pang.

Serbuan Cia Sun mengubah keadaan dan dengan kerja sama mereka, dua puluh orang prajurit pemberontak itu kocar kacir dan banyak di antara mereka yang roboh tidak dapat bangkit kembali. Selebihnya, hanya beberapa orang saja, kemudian melarikan diri.

"Saudara yang gagah, terima kasih atas bantuanmu," Siang Wi berkata sambil menjura setelah semua pengeroyok roboh dan pergi.

"Lebih baik kita pergi secepatnya sebelum pasukan lainnya datang!" jawab Cia Sun tidak mempedulikan ucapan terima kasih orang dan dia pun segera berlari dengan cepat, diikuti oleh Siang Wi.

Gadis ini tadi merasa kagum sekali melihat kelihaian Cia Sun ketika membantunya, dan kini menjadi semakin kagum karena pemuda itu mempunyai ilmu berlari cepat yang hebat sehingga dia tidak akan mampu menyusulnya kalau saja pemuda itu tidak memperlambat larinya.

Demikianlah, sesudah berhasil menyelamatkan diri, mereka saling berkenalan. Keduanya terkejut dan girang setelah mendengar tentang diri masing-masing. Sudah lama Siang Wi mendengar tentang keluarga Cia yang gagah perkasa di Lembah Naga, maka cepat dia memberi hormat ketika mendengar bahwa sekarang dia sedang berhadapan dengan Cia Sun, putera Lembah Naga.

"Sungguh beruntung aku dapat bertemu dengan pendekar gagah perkasa dari Lembah Naga! Pantas tadi aku seperti mengenal gerakan silatmu. Bukankah menurut keterangan suhu, ilmu silat keluarga Cia di Lembah Naga masih dekat sekali kaitannya dengan ilmu dari Cin-ling-pai?"

"Benar, nona. Ilmu-ilmu silat keluarga kami memang satu sumber dengan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Aku pun girang bahwa engkau adalah murid dari ketua Cin-ling-pai. Apakah nona hadir di pertemuan itu bersama dengan putera ketua Cin-ling-pai yang kulihat tadi hadir pula? Ataukah sebagai wakil Cin-ling-pai?"

"Cia-toako, pertama-tama kuharap engkau tidak memanggil nona padaku. Bukankah jika diselidiki benar, di antara kita ini masih ada ikatan saudara dalam perguruan? Aku tidak datang bersama suheng, juga bukan utusan suhu. Aku datang untuk... mencari suheng yang sudah lama pergi dan untuk meluaskan pengalaman. Toako, apakah engkau melihat ke mana larinya suheng tadi?"

"Maksudmu Cia Hui Song? Entahlah, nona... eh, Wi-moi. Aku pun tidak melihatnya. Mana mungkin bisa melihatnya di antara serbuan ribuan orang pasukan pemberontak itu?"

Siang Wi mengepal tinju. "Aku benci pemberontak-pemberontak itu! Apa lagi iblis betina yang memimpinnya itu! Sekali waktu aku harus membunuhnya!"

Diam-diam Cia Sun tersenyum. Tidak begitu mudah, nona cilik, betapa pun lihaimu. Murid Raja Iblis itu terlalu lihai bagimu, demikian pikirnya.

"Siauw-moi, apakah engkau mengenal wanita iblis itu?"

"Tentu saja! Dia adalah Gui Siang Hwa, murid Raja Iblis! Dan dialah wanita cabul yang pernah merayu... suheng-ku. Aku benci sekali padanya! Dan sekarang, dia mengerahkan pasukan pemberontak untuk menyerang sehingga banyak kawan kita yang tewas. Dan kini aku terpisah lagi dari suheng yang kucari-cari, tidak tahu ke mana harus mencarinya sekarang?"

Cia Sun memandang wajah gadis itu. Malam telah terganti pagi dan sinar matahari pagi yang keemasan menyiram wajah yang cantik itu. Wajah yang manis sekali dan sepasang mata yang jeli dan penuh sinar berapi, penuh semangat hidup dan keberanian.

"Wi-moi, benarkah engkau membenci para pemberontak dan engkau hendak menentang mereka?"

"Eh, eh, kenapa engkau masih bertanya? Bukankah aku hampir celaka oleh mereka dan mungkin sekarang aku sudah tewas kalau tidak ada engkau yang menolongku, toako?"

"Begini, Wi-moi. Adanya aku bertanya kepadamu adalah... ehhh, apakah engkau belum mendengar atau mengerti bahwa suhu dan subo-mu juga berada di utara sini?"

Siang Wi kaget akan tetapi juga girang. "Aihh! Benarkah itu? Di mana mereka sekarang? Apakah toako sudah berjumpa dengan suhu dan subo? Mengapa mereka tidak nampak hadir dalam pertemuan antara pendekar?"

Cia Sun menggeleng kepala dan memandang tajam penuh selidik. "Siauw-moi, agaknya engkau belum tahu atau mendengar tentang suhu dan subo-mu. Tahukah engkau kenapa mereka berada di daerah ini dan sekarang berada di Ceng-tek?"

Siang Wi memandang bingung. "Aku tidak tahu, toako. Mereka di Ceng-tek? Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Mereka... membantu para pemberontak menyerbu Ceng-tek dan kini telah menjadi tokoh pemberontak di Ceng-tek..."

"Ahh...! Tidak mungkin!" seru gadis itu.

"Ketika mendengar berita itu untuk pertama kalinya, aku sendiri tidak percaya dan merasa penasaran bukan main. Aku memang mendengar bahwa gurumu, paman Cia Kong Liang adalah seorang yang keras hati, akan tetapi menurut penuturan ayah, paman Cia Kong Liang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan agaknya tak mungkin kalau sampai beliau begitu rendah menjadi kaki tangan pemberontak. Akan tetapi berita itu sudah kuselidiki kebenarannya dan temyata memang paman Cia Kong Liang bersama isterinya dan ayah mertuanya kini membantu Raja Iblis dan Panglima Ji Sun Ki yang memberontak. Aku tak dapat menyelidiki mengapa terjadi hal yang mustahil itu."

Siang Wi termenung dengan wajah pucat. Dia dapat menduga. Tentu ini gara-gara kakek Jepang yang menjadi mertua suhu-nya itu. Bagaimana juga, sebagai murid subo-nya dia tahu bahwa kakek itu dahulu pernah menjadi datuk sesat di timur. Bukan tidak mungkin kakek itu mempunyai hubungan dengan Raja Iblis dan para datuk sesat yang sekarang memberontak, dan berhasil membujuk suhu-nya untuk membantu pemberontak!

"Aku harus cepat mencari mereka... harus menyadarkan mereka...!" Ia berkata berkali-kali seperti kepada dirinya sendiri.

Cia Sun merasa kasihan, juga kagum akan kegagahan gadis ini. Walau pun mendengar betapa suhu dan subo-nya membantu pemberontak, gadis ini tetap dengan pendiriannya berpihak kepada para pendekar yang menentang pemberontak, bahkan kini dia hendak menyadarkan suhu dan subo-nya dari kesesatan itu.

"Wi-moi, telah menjadi keputusan rapat tadi bahwa kita terpaksa harus bertindak sendiri-sendiri, dengan cara sendiri menentang para kaum sesat yang ternyata sudah bersekutu dengan pasukan pemberontak. Dan kita tidak akan berhasil menghadapi mereka apa bila tidak bergabung dengan pasukan pula. Oleh karena itu, mari kita melakukan penyelidikan ke kota Ceng-tek, dan kita membantu gerakan pasukan pemerintah, sekalian menyelidiki paman Cia Kong Liang dan alangkah baiknya jika sampai berhasil menyadarkan mereka sehingga mereka membantu kita dari dalam untuk menghancurkan pemberontak."

Siang Wi yang kini merasa suka dan kagum kepada pendekar muda Lembah Naga ini, merasa setuju dan berangkatlah mereka bersama. Dan secara kebetulan sekali mereka sampai di tempat sunyi di lereng bukit di mana mereka melihat Ci Kang sedang berkelahi mati-matian melawan Cia Hui Song. Melihat ini, tentu saja mereka menjadi terkejut sekali.

"Suheng-ku melawan putera Iblis Buta, aku harus membantunya!" kata Siang Wi, dan dia sudah siap menerjang. Akan tetapi lengannya disentuh Cia Sun.

"Jangan tergesa-gesa! Putera Iblis Buta itu adalah orang yang gagah perkasa yang juga menentang kaum sesat. Kita hentikan perkelahian itu dan bicara dengan baik!" Sesudah berkata demikian, mereka segera meloncat ke dalam gelanggang perkelahian. Siang Wi menghentikan suheng-nya dan Cia Sun menahan Ci Kang.

Baik Ci Kang mau pun Hui Song terpaksa menghentikan gerakan perkelahian mereka ketika Siang Wi dan Cia Sun melerai, walau pun hati Hui Song masih merasa penasaran sekali.

Cia Sun segera memberi hormat kepada Hui Song. Walau pun usia mereka sebaya, dia hanya satu tahun lebih tua dari Hui Song, akan tetapi menurut ibu dia jauh lebih muda sebab Hui Song masih terhitung pamannya. Kalau pendekar sakti Cia Bun Houw adalah kakek Hui Song, maka baginya kakek sakti itu adalah kakek buyutnya.

Kakek Cia Bun Houw adalah ayah kandung Cia Kong Liang dari ibu Yap In Hong, ada pun kakeknya sendiri, yakni Cia Sin Liong adalah anak kandung Cia Bun Houw dari ibu Liong Si Kwi. Kakeknya itu dengan Cia Kong Liang adalah saudara seayah berlainan ibu.

"Harap paman Cia Hui Song suka bersabar dan maafkan saya yang berani melerai dan menghentikan perkelahian ini," katanya.

Cia Hui Song sudah tahu bahwa pemuda perkasa ini adalah Cia Sun, keturunan Lembah Naga yang masih keluarga Cia juga. Dan walau pun dia terhitung paman dari pemuda itu, karena mereka sebaya, dia pun cepat membalas penghormatan itu.

"Engkau tentu Cia Sun, bukan? Sebetulnya aku senang sekali dapat berkenalan dengan anggota keluarga sendiri, dan aku pun telah melihatmu di bekas benteng Jeng-hwa-pang. Akan tetapi Cia Sun, apakah engkau tidak tahu siapakah jahanam ini?" Dia menuding ke arah Ci Kang. "Bila mana engkau sudah tahu dia siapa tentu engkau tidak akan melerai melainkan membantuku membunuhnya. Dan kau juga sumoi, apakah engkau sudah lupa siapa adanya penjahat ini?"

"Aku tidak lupa, suheng, dan tadi pun aku sudah hendak membantumu, tetapi Sun-toako mencegah."

"Paman Hui Song, aku pun tahu siapa adanya Siangkoan Ci Kang. Aku tahu benar bahwa dia adalah putera mendiang Siangkoan Lo-jin..."

"Putera Si Iblis Buta, datuk sesat yang amat jahat itu!" Hui Song menambahkan.

"Benar, akan tetapi dia tidak boleh disamakan dengan mendiang ayahnya. Saudara Ci Kang ini kukenal benar karena kami sudah sama-sama menentang Raja Iblis dan kami berdua bahkan hampir tewas oleh Raja Iblis dan muridnya yang jahat, Gui Siang Hwa. Saudara Ci Kang ini adalah murid locianpwe Ciu-sian Lo-kai dan dia selalu menentang kejahatan sampai dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan oleh para tokoh sesat. Dia adalah seorang gagah dan berjiwa pendekar..."

"Hemm, engkau sudah kena ditipunya, Cia Sun! Engkau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Karena dia berkedok domba, engkau tidak tahu bahwa di balik kedok itu adalah seekor harimau yang liar dan buas! Aku dapat membuktikannya sendiri kejahatannya! Ketahuilah bahwa kalau tidak ada aku yang mencegahnya, mungkin dia sudah... memperkosa Sui Cin!"

"Ahhh...!" Cia Sun terbelalak dan memandang wajah Ci Kang dengan penuh selidik. Dia sudah tahu sendiri betapa pemuda itu tak mau menyerah dan memilih mati ketika dirayu Siang Hwa. Pemuda ini bukan orang yang lemah terhadap nafsu birahi dan agaknya tidak mungkin akan melakukan hal terkutuk itu terhadap Sui Cin!

"Ci Kang, benarkah itu...?" tanyanya, masih terkejut dan tidak percaya.

Ci Kang menghela napas panjang. "Pendekar Cia Hui Song terlalu membenciku, terlalu bernafsu memusuhiku sehingga tak memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri. Cia Sun, engkau sudah mengenalku, kita bersama telah menghadapi ancaman-ancaman maut dan sudah saling mengenal watak masing-masing. Tidak kusangkal bahwa memang aku pernah bersikap kurang ajar terhadap nona Ceng Sui Cin, akan tetapi apa yang aku lakukan itu terjadi di luar kehendakku, di luar kekuasaanku untuk menahan. Pada waktu itu aku sedang dikuasai nafsu dan gairah yang tidak wajar, dan aku yakin bahwa aku telah keracunan sehingga melakukan hal-hal di luar kesadaranku. Ketika itu aku sedang terluka dan menerima obat dari nona Ceng Sui Cin. Aku diobati dan dirawat, mana mungkin aku melakukan hal keji? Akan tetapi hal itu terjadi dan aku yakin bahwa racun itu terdapat justru dalam obat itu!"

"Alasan yang dicari-cari!" Hui Song membentak marah.

"Terserah, akan tetapi kenyataannya memang demikian. Bukan aku mencari alasan untuk membela diri. Tidak, aku cukup tersiksa dan merasa menyesal dan kalau nona Ceng Sui Cin sendiri yang menghukumku, aku akan menyerahkan diri tanpa melawan. Akan tetapi, jangan orang lain yang hendak menghukumku!" kata Ci Kang dengan sikap dingin.