Social Items

SEMUA orang kini mendaki anak tangga menuju ke atas yang bertilam permadani merah dan diam-diam Thian Sin memperhatikan kanan kiri. Dindingnya masih terbuat dari pada batu, akan tetapi kini dihiasi dengan kain-kain sutera, bahkan ada lukisan-lukisan kuno yang indah. Anak tangga itu memutar beberapa kali, seperti anak tangga yang menuju ke menara sebuah istana kuno. Akan tetapi setelah tiba di bagian teratas, Thian Sin segera terbelalak penuh kagum.

Kalau tadi di kanan kiri anak tangga itu dihiasi dan diterangi dengan lampu-lampu yang beraneka warna, kini langit-langit terbuka dan yang menghias langit-langit adalah bintang-bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan yang sudah naik tinggi! Bulan sepotong, akan tetapi karena langit bersih, maka cuaca cukup terang.

Kiranya tempat upacara itu berada di atas puncak bukit yang dikelilingi puncak-puncak lain sehingga tidak akan nampak dari jauh, dan puncak itu merupakan tempat datar yang cukup luas, yang dikurung oleh jurang-jurang amat dalamnya sehingga orang tidak akan mungkin menuruni atau naik ke puncak lewat jurang-jurang itu, kecuali lewat jalan rahasia terowongan!

Luas puncak bukit datar itu tidak kurang dari dua puluh lima kaki tombak persegi, kurang lebih seribu lima ratus meter persegi dan karena terbuka, maka sinar bulan bintang atau matahari dari angkasa dapat menerangi seluruh tempat itu tanpa terhalang apa pun juga. Tempat itu dihiasi pohon, akan tetapi di sekeliling tepinya terdapat tanaman bunga-bunga indah, kemudian rumput-rumput hijau seperti permadani, dan di bagian tengahnya diberi rantai tembok yang halus mengkilap.

Kursi-kursi berjajar pada sebelah kiri, dan ke tempat inilah Siluman Tengkorak membawa para tamu. Semua orang lalu dipersilakan duduk dan Thian Sin sendiri mendapat tempat duduk kehormatan di sebelah kiri sang ketua namun mungkin juga sang pendeta karena sebutannya Sian-su.

Thian Sin memperhatikan sekeliling. Sungguh merupakan tempat yang tersembunyi dan indah sekali. Tidak kelihatan dari dunia luar, terlindung dan tersembunyi. Di dekat tempat duduk sang pemimpin terdapat sebuah meja sembahyang. Di samping kiri terdapat satu kelompok pemain musik yang pada saat itu memainkan alat musik mereka dengan lembut sehingga membuat suasana menjadi romantis dan syahdu. Di hadapan mereka terdapat lantai tembok yang amat halus itu dan di sana-sini, bahkan sampai ke lapangan-lapangan rumput, terdapat kasur-kasur kecil yang beraneka warna dengan selubung bersulam.

Di tempat-tempat yang dibuat secara nyeni terdapat lampu-lampu dengan penutup warna warni dan di sana-sini mengepul asap dupa wangi yang mendatangkan rasa nyaman dan menyenangkan. Di sebelah kanan, di tepi tempat itu, terdapat bangunan-bangunan kecil yang agaknya belum selesai dibangun.

Thian Sin bisa menduga bahwa bangunan-bangunan kecil itu adalah bangunan-bangunan yang dibangun untuk para ‘dewa’ seperti yang biasa dipergunakan untuk tempat arca atau patung yang dipuja orang di dalam kuil-kuil. Akan tetapi yang hebat bukan main adalah kenyataan bahwa pondok-pondok kecil seperti pondok boneka itu terbuat dari pada emas dan terukir indah. Sulit dibayangkan betapa mahalnya membuat pondok-pondok pemujaan dewa-dewa seperti itu.

Tiba-tiba suara musik yang tadinya lembut itu mulai berubah. Sang pemimpin mengangkat tangan kiri ke atas, kemudian suara musik itu berubah menjadi semakin keras dan penuh semangat. Dan bersama dengan perubahan suara musik ini, dari sebuah anak tangga kiri, agaknya menembus ke tempat yang lain lagi dari pada ruangan di mana tadi Thian Sin diterima oleh siluman itu, nampak belasan orang wanita berlari-larian naik.

Mereka itu semuanya terdiri dari wanita-wanita yang muda dan cantik-cantik, dan mereka memakai gaun panjang tipis yang membuat tubuh mereka nampak terbayang. Gaun dari kain sutera putih yang tembus pandang itu tertimpa sinar bulan dan lampu-lampu hingga menciptakan lekuk lengkung tubuh ditimpa bayangan-bayangan yang menggairahkan.

Karena mereka adalah wanita-wanita muda, tentu saja tubuh mereka itu padat dan indah. Kaki mereka yang tak bersepatu itu berlari-larian dan membuat gerakan berjungkit dalam langkah-langkah tarian. Rambut mereka yang hitam dan panjang terurai lepas ke belakang punggung dan kedua pundak, dihias bunga-bunga putih. Dua tangan mereka menyangga baki-baki yang agaknya terbuat dari pada emas pula!

Dengan gerakan yang lemah gemulai dan menggairahkan, lima belas orang penari wanita ini menari dan membuat gerakan berlarian kecil berputaran secara teratur menurut irama music, dan sambil menari mereka menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan cara-cara yang menimbulkan pesona dan gairah, gerakan pinggul yang memikat dan penuh nafsu, makin lama makin liar ketika musik itu makin nyaring dibunyikan oleh para penabuhnya.

Sejenak Thian Sin sendiri tertarik dan terpesona. Memang indah bukan main. Suasananya amat romantis, sinar bulan dan cahaya lampu-lampu beraneka warna itu, di udara terbuka yang demikian sejuk, dengan keharuman kembang-kembang bercampur wanginya dupa. Dan gadis-gadis itu menjadi semakin cantik menarik karena tertimpa cahaya warna-warni yang redup, dengan lekuk lengkung tubuh gempal di balik pakaian yang tembus pandang, dan diiringi suara musik yang merangsang pula!

Akan tetapi pemuda ini segera dapat menguasai perasaannya dan secara diam-diam dia pun mengerling ke arah para tamu. Dia tidak merasa heran melihat betapa para tamu pria itu semakin terangsang, pandang mata mereka itu berseri-seri penuh nafsu birahi, wajah mereka kemerahan, hidung kembang-kempis dan mulut tersenyum-senyum penuh gairah.

Dari samping nampak betapa sering kalamenjing mereka naik turun saat mereka menelan ludah. Bahkan ada pula yang memandang dengan mata melotot, seakan-akan tubuh yang menggairahkan itu hendak ditelan bulat-bulat dengan pandangan matanya. Ada pula yang berpakaian sebagai ahli silat, tampak tenang saja akan tetapi tangannya mengepal keras, tanda bahwa dia pun terpesona dan berusaha untuk menekan perasaannya.

Semua ini nampak oleh Thian Sin dan dia menemukan sebab yang merupakan daya tarik bagi mereka itu, yaitu pemuasan birahi dan rangsangan yang agaknya sengaja disajikan oleh wanita-wanita cantik itu kepada mereka. Dan ketika dia mengerling ke arah siluman yang dipanggil Sian-su itu, dia melihat bahwa orang bertopeng ini pun seperti dia, sedikit juga tidak memperhatikan lagi kepada para penari, melainkan memandang ke kanan kiri, memperhatikan satu demi satu wajah para tamu dengan senyum puas yang membayang pada topeng tengkoraknya.

Setelah menari-nari beberapa kali putaran dan setiap berputar di dekat tempat duduk para tamu tercium bau harum winyak wangi dari tubuh mereka, kembali Sian-su mengangkat tangan kirinya dan ini pun merupakan isyarat karena suara musik tiba-tiba menurun. Para wanita yang menari itu pun memperhalus tarian mereka dan akhirnya mereka berkumpul menjadi suatu kelompok lalu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sian-su!

Siluman ini mengangguk-angguk dan tangannya bergerak seperti menebarkan sesuatu di udara dan... kelopak-kelopak bunga beterbangan lalu melayang turun ke atas kepala lima belas orang penari yang ditundukkan dalam penghormatan mereka itu. Kelopak-kelopak bunga itu hinggap di atas rambut-rambut hitam itu, indah seperti kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga mekar.

Thian Sin mengerutkan alisnya. Secara diam-diam dia tahu bahwa orang itu sangat lihai, bukan saja ahli ilmu silat tinggi seperti yang sudah disangkanya, akan tetapi juga pandai mempergunakan kekuatan sihir untuk bermain sulap! Dia pun cepat membuat tanggapan dengan sinar mata penuh kagum dan heran seperti yang diperlihatkan oleh wajah semua orang yang hadir.

Kebetulan sekali siluman itu memandang kepadanya dan Thian Sin melihat dengan jelas betapa muka tengkorak itu tersenyum simpul, jelas kelihatan gembira serta bangga sekali dengan ilmu kepandaiannya, terutama sekali karena ilmu sihirnya dikagumi oleh seorang pendekar seperti Pendekar Sadis!

Sekarang lima belas orang penari itu bangkit berdiri. Dengan gerakan lemah gemulai dan memikat mereka pun berjalan menghampiri para tamu dengan baki pada kedua tangan. Sambil tersenyum Si Muka Tengkorak itu berkata kepada Thian Sin,

"Maaf, taihiap, bukan kami mata duitan, akan tetapi karena kebutuhan untuk membangun perkumpulan agama kami membutuhkan banyak biaya, dan para anggota serta pengikut kami bermurah hati, maka acara sekarang ini adalah acara pemberian sumbangan suka rela yang dipungut oleh para gadis penari. Akan tetapi sebagai tamu kehormatan, tentu saja taihiap tidak diharapkan untuk menyumbang..."

"Ahh, jangan sungkan, Sian-su. Aku pun bersedia menyumbang, jangan khawatir!" Thian Sin langsung merogoh saku dalam bajunya dan mengeluarkan sebongkah kecil emas dan ketika ada seorang penari lewat di depannya, dia segera menaruh bongkahan emas yang besarnya sekepal itu di atas baki.

Tentu saja penari itu terkejut bukan kepalang, terbelalak melihat emas yang berat itu lalu melempar senyum manis dan kerling mata yang penuh daya memikat. Semua tamu juga memandang heran dan mereka maklum betapa besarnya harga sumbangan yang sudah diberikan oleh Pendekar Sadis. Akan tetapi tentu saja mereka tidak tahu bahwa Pendekar Sadis adalah seorang yang kaya raya sehingga sebongkah emas itu tak ada artinya sama sekali baginya!

Melihat ini, siluman itu lalu tertawa. "Siancai... taihiap sungguh dermawan. Terima kasih, taihiap. Abwee, kau simpan kerlingmu itu dan jangan khawatir, malam nanti engkau boleh melayani Ceng-kongcu!"

Gadis penari yang disebut A-bwee itu menahan senyum lalu berlari-lari ke arah tamu lain. Thian Sin memperhatikan ke sekelilingnya dan dia melihat betapa royalnya para tamu itu saat menyerahkan sumbangan kepada para gadis penari, meletakkan sumbangan mereka di atas baki-baki yang disodorkan oleh para gadis itu. Di antara mereka bahkan ada yang mengajak para gadis itu bersenda-gurau dan berbisik-bisik lirih.

Sesudah selesai upacara sumbangan itu, para gadis itu lalu mengundurkan diri sambil berlari-larian menuju anak tangga yang letaknya di belakang, yaitu tempat dari mana tadi mereka naik. Musik masih dimainkan dengan lembut, dan tidak lama kemudian, nampak para gadis manis itu sudah kembali lagi namun kini baki-baki itu sudah berganti isi, yaitu cawan-cawan dan guci arak dan ada pula yang membawa piring-piring berisi makanan.

Sambil tersenyum-senyum para gadis itu menghidangkan arak dan makanan di atas meja para tamu, kemudian dengan sikap lemah gemulai dan tersenyum-senyum ramah mereka lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan para tamu. Begitu arak dituangkan ke dalam cawan, segera tercium bau sedap arak yang baik dan tua. Kini bukan hanya lima belas orang gadis penari tadi yang menjadi pelayan, namun ditambah lagi oleh beberapa orang lain yang sama muda dan cantiknya sehingga jumlah mereka ada dua puluh lima orang.

Setelah melihat betapa semua tamu menerima suguhan arak dan cawan mereka sudah dipenuhi arak harum, Siluman Tengkorak yang juga sudah menerima suguhan secawan arak lantas mengangkat cawan araknya ke atas dan berkata dengan suara ramah, "Cu-wi, silakan minum untuk persahabatan kita yang kekal!"

Semua orang mengangkat cawan araknya masing-masing dan Thian Sin juga mengangkat cawan araknya, tetapi tidak memperlihatkan sikap curiga walau pun dia menduga bahwa tentu ada apa-apanya di dalam suguhan arak ini. Akan tetapi dia mengandalkan kekuatan sinkang-nya untuk melindungi tubuhnya apa bila arak itu dicampuri racun. Lagi pula, dia melihat sendiri bahwa arak untuknya itu dari satu guci dengan arak untuk para tamu lain, maka dia ikut minum tanpa curiga sama sekali.

Begitu arak itu melewati mulut dan kerongkongannya, Thian Sin merasa bahwa arak itu memang lezat sekali dan mengandung sesuatu yang merupakan obat keras namun halus. Dia merasa yakin bahwa itu bukanlah racun, meski pun dia juga tahu bahwa tentu arak itu telah dicampuri semacam obat yang cukup keras. Beberapa lama kemudian setelah arak memasuki perutnya, Thian Sin baru tahu bahwa arak itu mengandung obat perangsang yang membuat tubuhnya hangat dan pikirannya gembira.

Sesudah merasa yakin bahwa arak itu tidak mengandung racun, Thian Sin berani minum dengan hati tenang. Sekarang dia melihat betapa para tamu itu sudah mulai terpengaruh arak, mereka tertawa-tawa gembira. Hidangan pun dikeluarkan dan musik kini mengiringi gadis-gadis yang datang dan menari-nari.

Pakaian mereka merupakan gaun-gaun tipis warna-warni sehingga selain indah, juga amat menggairahkan karena pakaian mereka tembus pandang. Gerakan-gerakan mereka yang erotis membuat suasana menjadi semakin panas, ditambah pula pengaruh arak sehingga di antara para tamu itu sudah ada yang mulai nakal dengan kata-kata dan tangan mereka, menggoda dan menowel para pelayan wanita yang muda dan cantik.

Thian Sin melihat bahwa pelayan-pelayan itu agaknya juga sudah mulai terpengaruh oleh sesuatu yang membuat mereka itu bersikap genit-genit dan berani, padahal melihat sikap mereka, gadis-gadis itu tentu dari golongan baik-baik.

Makin larut malam, suasana menjadi semakin panas. Thian Sin melihat betapa sudah ada beberapa orang di antara para tamu itu yang berani menarik lengan seorang pelayan dan mendudukkannya di atas pangkuan lalu menciuminya begitu saja di depan orang banyak!

Agaknya siluman yang jadi ketua perkumpulan itu dapat melihat pula hal ini, maka ia pun memberi isyarat dengan tangan diacungkan ke atas dan seorang di antara para anggota siluman itu lalu membunyikan canang bertalu-talu. Mendengar ini, gadis-gadis pelayan itu melepaskan diri dan mundur, bahkan lalu menghilang bersama-sama para gadis penari. Siluman Tengkorak itu bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang namun lembut dan ramah.

"Cu-wi yang terhormat, seperti diketahui malam hari yang suci ini akan dilakukan upacara pengangkatan seorang anggota baru. Oleh karena itu, sebelum kita memulai acara tarian bebas gembira untuk memuja dewa, terlebih dulu akan dilakukan upacara pengangkatan murid atau anggota baru itu. Harap cu-wi suka menjadi saksi."

Semua tamu yang sudah makan kenyang itu kini duduk tenang dan Thian Sin sendiri pun mengikuti perkembangan berikutnya dengan penuh perhatian. Dia belum lagi tahu di mana adanya ibu dari dua orang anak itu, akan tetapi dia sabar menanti sampai semua upacara selesai, baru dia akan mendesak siluman itu.

Dia harus berhati-hati karena tempat ini sungguh sangat berbahaya. Jumlah anak buah siluman ini kiranya tidak kurang dari dua puluh lima orang, belum dihitung gadis-gadis itu dan siapa tahu bahwa di antara para tamu itu terdapat orang-orang pandai yang agaknya tentu akan membantu siluman itu pula.

Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia kini berada di dalam sarang musuh yang sangat berbahaya dan yang agaknya penuh dengan perangkap-perangkap rahasia sehingga andai kata dia akan dapat menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya orang, belum tentu dia mampu mengatasi semua alat-alat jebakan di tempat itu. Biarlah bersabar sambil mencari kesempatan baik untuk turun tangan sambil mengukur sampai di mana kekuatan pihak lawan.

Siluman Tengkorak itu kemudian mengangkat tangannya memberi isyarat dan musik pun dimainkan lagi dengan lagu yang lembut akan tetapi sekaligus mengandung kekerasan di dalamnya, seperti dalam lagu puja-puji. Asap dupa pun mengepul makin tinggi, semerbak wanginya, sedangkan seluruh lampu diganti dengan lampu yang warnanya hijau sehingga cuaca menjadi redup.

Kini nampaklah tujuh orang gadis naik ke tempat itu, bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian yang begitu tipisnya sehingga pakaian itu seperti kabut saja yang menutupi tubuh mereka, membuat tubuh di balik pakaian itu nampak jelas membayang. Mereka berjalan perlahan-lahan, penuh khidmat sambil membawa bermacam-macam benda.

Ada yang membawa seekor kelinci putih yang gemuk, ada yang membawa sebuah bokor emas, ada yang membawa guci arak dan ada pula yang membawa sebatang pedang kecil. Hebatnya, bokor, guci dan bahkan pedang kecil itu semua terbuat dari pada emas tulen!

Tujuh orang gadis ini melangkah perlahan, dengan kepala tunduk, ke arah tempat duduk Siluman Tengkorak, lalu mereka berlutut dengan sikap menanti. Siluman itu lantas bangkit berdiri, melangkah maju dan gadis-gadis itu berlutut di sekitarnya. Siluman itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dengan lengan dikembangkan, lantas muka tengkorak itu menengadah dan terdengarlah suaranya lantang dan mengandung getaran yang amat kuat sehingga diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Itulah tenaga khikang yang kuat bercampur dengan kekuatan mukjijat ilmu sihir!

"Yang Mulia Dewa Kematian, silakan menjelma agar hamba sekalian dapat mengesahkan pengangkatan seorang pemuja baru bagi paduka...!" Suara itu bergema membuat semua hadirin memandang dengan sikap hormat dan juga dengan hati tegang.

Biar pun mereka yang hadir itu sudah beberapa kali menyaksikan peristiwa ini, namun selalu mereka merasakan ketegangan luar biasa karena pada saat itu mereka merasakan getaran aneh yang seolah-olah mengguncang jantung. Bahkan para pendekar yang hadir secara diam-diam harus mengakui bahwa sinkang yang mereka kerahkan untuk menekan getaran itu jauh kalah kuat, membuat mereka merasa semakin kagum terhadap Sian-su!

Thian Sin bersikap tenang, tetapi dengan mengerahkan tenaga dalam dan juga kekuatan sihirnya, dia dapat memandang lebih terang sehingga tahulah dia bahwa dengan kekuatan sihir yang kuat, orang itu telah mempengaruhi semua orang dengan halus tanpa mereka sadar bahwa mereka telah disihir melalui suara itu.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan nampak asap putih kebiruan mengepul tebal di tempat Siluman Tengkorak itu berdiri. Tubuh siluman itu lenyap terbungkus asap tebal sedangkan musik masih dimainkan dengan lagu yang amat aneh tadi. Selagi asap masih mengepul tebal, nampaklah dua puluh orang lebih penari yang tadi, tapi kini telah berganti pakaian gaun tipis berwarna-warni.

Mereka berlari-lari ringan dan menari-nari, membuat lingkaran mengelilingi Sian-su yang masih terbungkus asap di tengah-tengah lingkaran tujuh orang gadis yang masih berlutut. Perlahan-lahan asap itu membuyar kemudian tubuh orang itu mulai nampak lagi, dan kini semua orang memandang dengan hormat, bahkan ada di antara para hadirin yang cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.

Thian Sin memandang tajam dan dia pun terkejut melihat betapa wajah tengkorak itu kini mengeluarkan cahaya cemerlang! Orangnya masih yang tadi, tidak ada perubahan, yang berubah hanya wajah tengkorak itu yang mengeluarkan sinar, sedangkan sepasang mata itu pun kini bersinar-sinar mencorong lebih terang dari pada tadi.

Thian Sin maklum bahwa ledakan dan asap tadi hanya merupakan hasil dari pada bahan peledak saja, dan bahwa orang itu telah mempengaruhi pikiran dan semangat para hadirin dengan getaran suaranya. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu apa yang membuat wajah tengkorak atau topeng tipis itu menjadi cemerlang seperti itu.

Dia tahu pula bahwa tentu semua yang hadir percaya bahwa kini Dewa Kematian telah menjelma dan memasuki tubuh Sian-su! Tentu saja kepercayaan semacam ini membuat mereka itu semua tunduk dan kagum. Seorang anggota siluman mendekati Thian Sin dan dari kepalanya yang miring ke kiri itu Thian Sin dapat menduga bahwa orang ini tentulah tosu yang pertama kali memancingnya masuk ke tempat ini.

"Taihiap, saya bertugas untuk memberi keterangan kepadamu seandainya taihiap ingin mengetahui sesuatu."

Thian Sin tersenyum dan merasa bahwa pertunjukan ini, selain untuk mempengaruhi para hadirin dan menarik kepercayaan mereka, juga sengaja dipamerkan kepadanya! Maka dia pun mengikuti permainan ini dan bertanya dengan suara dibuat bernada penuh dengan keheranan, "Aku ingin tahu mengapa wajah Sian-su menjadi bercahaya seperti itu?"

Dengan suara yang serius dan penuh hormat, siluman itu berbisik, "Taihiap, yang berdiri di situ hanyalah tubuh Sian-su, akan tetapi sesungguhnya adalah Dewa Kematian yang memasuki dirinya."

"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura heran dan mengangguk-angguk.

Kini dia melihat ada dua orang anggota siluman naik dan menghampiri Sian-su. Siluman Tengkorak ini menggerakkan tangan kirinya ke udara dan tahu-tahu dia telah memegang secawan arak! Lalu dipercikkan arak dari cawan itu kepada dua orang anggota yang telah belutut, mengenai kepala dan sebagian lehernya.

Percikan arak ini seakan-akan menjadi isyarat bagi mereka berdua, maka mereka segera mencabut sebatang pedang pendek dari pinggang, kemudian mulai menggurat leher serta pipinya dengan pedang itu. Darah pun muncrat dari luka-luka itu, akan tetapi kedua orang ini seperti tak merasakan sesuatu, lalu menari-nari dengan aneh diiringi suara musik dan ditanggapi oleh para penari yang mengelilingi tempat itu dengan gerakan-gerakan pinggul yang memutar-mutar erotis. Dua orang itu lalu sibuk menuliskan huruf-huruf dengan darah mereka di atas potongan-potongan kain putih.

Anggota siluman yang duduk di dekat Thian Sin menerangkan tanpa diminta, "Itu adalah hui-hu yang ditulis dengan darah mereka dan dapat menjadi jimat penolak iblis yang nanti akan dibagi-bagikan kepada para tamu. Sekarang akan diadakan upacara injak bara api dan mandi minyak mendidih."

Ternyata persiapan untuk itu sudah dikerjakan dengan amat cepatnya oleh para anggota siluman dan sebentar saja telah terhampar bara api dari arang yang membara sepanjang tiga meter, dan tidak jauh dari sana terdapat kuali besar penuh minyak yang dipanaskan sampai mendidih. Semua tamu yang duduknya cukup jauh dari tempat itu masih dapat merasakan panasnya bara api itu.

Setelah persiapannya selesai dan semua kain putih telah ditulisi dengan darah, dua orang anggota perkumpulan siluman itu bangkit, menari-nari, masih menggores-goreskan pisau atau pedang kecil itu pada dada mereka yang telanjang, kemudian mereka menghampiri bara api dan berjalan dengan kaki telanjang di atas arang membara!

Dua kali mereka berjalan melintasi arang membara itu, kemudian keduanya menghampiri kuali yang penuh dengan minyak mendidih dan mengoles-oleskan minyak mendidih itu di tubuh mereka. Sungguh luar biasa sekali. Asap mengepul dari tubuh mereka, akan tetapi kulit mereka sama sekali tidak melepuh atau pun terbakar, malah luka-luka goresan yang tadinya berdarah itu menjadi sembuh dan pulih kembali, bahkan bekas goresan luka saja tidak ada lagi!

Tontonan seperti ini bukanlah tontonan baru bagi orang-orang yang hadir, juga bagi Thian Sin, namun selalu masih amat menarik perhatian dan mendatangkan kengerian, membuat kepercayaan orang akan hal-hal yang aneh dan tidak mereka mengerti menjadi semakin tebal menyelinap di dalam hati dan membuat mereka lebih condong menerima ketahyulan dan membiarkan diri terpengaruh.

Thian Sin pernah beberapa kali menonton pertunjukan dari para tangsin seperti itu, yang dilakukan di kuil-kuil pada waktu ada upacara atau pesta. Maka dia tidak merasa heran sungguh pun dia tahu bahwa peristiwa itu sama sekali bukan hasil main sulap, melainkan akibat dari penyihiran diri sendiri melalui kepercayaan yang mutlak.

Sudah menjadi kelemahan kita manusia pada umumnya untuk merasa tertarik terhadap hal-hal yang aneh-aneh, peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal serta penuh rahasia, keajaiban-keajaiban dan kemukjijatan-kemukjijatan. Manusia selalu merasa haus dengan hal-hal yang baru, yang aneh, yang tidak kita mengerti.

Kita begitu mendambakan hal-hal baru sehingga kita telah melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekitar kita, yang kita anggap telah lapuk dan lama, tidak menarik lagi. Padahal segala macam keajaiban serta kemukjijatan terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita sendiri.

Tumbuhnya setiap helai rambut di kepala dan bulu di kulit kita merupakan keajaiban dan kemukjijatan yang besar, detak jantung kita yang mengatur peredaran darah di seluruh tubuh kita, kembang-kempisnya paru-paru kita yang menghidupkan, bekerjanya seluruh anggota tubuh kita, panca indera kita, bekerjanya otak kita yang membuat kita dapat bicara, mendengar, melihat dan berpikir. Bukankah semua itu merupakan sesuatu yang amat indah, sesuatu yang amat ajaib dan mukjijat, di mana sepenuhnya terdapat suatu kekuatan gaib yang sungguh maha kuasa?

Kemudian, segala benda yang tampak di luar diri kita. Gunung-gunung raksasa, tumbuh-tumbuhan dengan aneka warna, bunga, dan aneka rasa buahnya, segala makhluk hidup yang bergerak dengan segala macam bentuk, corak dan sifatnya, lalu awan berarak di angkasa, menciptakan hujan, hawa udara yang menghidupkan, sinar matahari, air, bumi, langit dan segala isi alam ini.

Bukankah semua itu merupakan keajaiban yang sangat hebat? Namun kita sudah tidak menghargai semua itu lagi, kita sudah buta akan keajaiban itu, kita menggapnya biasa saja hingga melihat orang menginjak bara api saja kita kagum setengah mati! Padahal, apa sih anehnya menginjak bara api itu apa bila dibandingkan dengan tumbuhnya sehelai rambut kepala atau kuku jari kita?

Keajaiban atau sesuatu yang kita anggap aneh adalah disebabkan kita belum mengerti. Karena masih belum mengerti, tidak tahu bagaimana proses terjadinya, maka kita lalu menganggapnya aneh, ajaib dan menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Akan tetapi, sekali orang sudah mengerti, hal yang tadinya dianggap ajaib itu pun menjadi biasa dan terlupakan, tidak menarik lagi, seperti tidak menariknya melihat segala keajaiban yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Kita memandang selalu jauh ke depan, mencari-cari yang baru.

Kita ini mahkluk pembosan. Tertarik akan hal-hal baru memang merupakan suatu sifat yang baik, seperti anak-anak yang selalu ingin tahu. Akan tetapi sifat ini harus menjadi dorongan untuk menyelidiki sesuatu bukan menerima segala sesuatu begitu saja hingga menciptakan watak tahyul.

Ketahyulan adalah suatu kebodohan, menerima sesuatu dengan keyakinan padahal kita tidak mengerti, dan hal ini terjadi karena kita senang akan sensasi. Menerima sesuatu dengan kata ‘percaya’ mau pun dengan kata ‘tidak percaya’ adalah perbuatan bodoh dan tidak bijaksana, karena menerima sesuatu dengan kata seperti itu berarti bahwa kita belum atau tidak mengerti.

Sebaiknya kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti itu dengan waspada, membuka mata serta telinga, dan menyelami sendiri, menyelidiki sendiri sehingga kita mengerti. Karena apa bila kita sudah mengerti, maka tidak ada lagi istilah percaya atau tidak percaya.....

"Taihiap, sekarang upacara pengangkatan murid wanita yang baru akan segera dimulai," kata pula anggota siluman itu kepada Thian Sin ketika pertunjukan itu selesai dan tempat itu sudah dibersihkan kembali.

Tiba-tiba musik berbunyi semakin nyaring, kemudian nampaklah seorang wanita berjalan perlahan-lahan menaiki panggung atau puncak datar itu. Thian Sin memandang seksama. Dia melihat bahwa wanita itu sangat cantik dan biar pun mukanya agak pucat, akan tetapi muka itu sungguh mempunyai daya tarik yang kuat.

Wajah dan tubuhnya menunjukkan bahwa wanita ini sudah masak, usianya tentu ada dua puluh tujuh tahun. Rambutnya yang hitam terurai lepas itu sangat tebal dan panjangnya sampai ke pinggul. Kedua kakinya yang kecil telanjang dan dia memakai gaun yang sama tipisnya dengan gadis-gadis penari, gaun panjang menutupi kaki sehingga terseret di atas lantai, warnanya putih bersih. Apa bila dipandang sepintas lalu wanita ini seperti seorang mempelai yang akan dipertemukan dengan pengantin pria.

Wanita itu berjalan perlahan, kemudian berhenti di hadapan Sian-su yang masih berdiri tegak dengan wajah bercahaya. Sejenak wanita itu memandang wajah itu, lalu mengeluh lirih dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sian-su!

"Itukah anggota baru?" Thian Sin bertanya.

"Benar, taihiap. Dia itulah wanita yang taihiap sebut-sebut ketika menghadap Sian-su."

Thian Sin benar-benar terkejut sekali. "Apa? Kau maksudkan dia ini adalah ibu muda dari kedua orang anak itu? Ibu dari keluarga Cia yang terculik?" Thian Sin bangkit berdiri. "Jadi benarkah bahwa kalian telah menculiknya dan membawanya ke sini?"

"Sabar dan tenanglah, taihiap," kata orang itu.

Dengan sudut matanya, Thian Sin dapat melihat betapa beberapa anggota perkumpulan itu agaknya selalu memperhatikannya dan mereka telah siap untuk turun tangan apa bila nampak gejala bahwa dia akan memberontak.

"Jangan menuduh yang bukan-bukan. Nanti setelah diadakan upacara sembahyang, para tamu selalu diberi kesempatan untuk mengajukan sendiri pertanyaan-pertanyaan kepada calon anggota atau murid baru."

"Hemm, jadi aku pun boleh mengajukan pertanyaan langsung kepada wanita itu?"

"Tentu saja boleh, akan tetapi nanti setelah upacara sembahyang."

Thian Sin menahan dorongan hatinya yang membuatnya penasaran. Jadi benar, wanita itu, ibu dari dua orang bocah she Cia itu, sudah berada di sini! Dan memakai gaun yang demikian tidak sopan sama sekali, gaun tipis tembus pandang tanpa ada sehelai kain penutup tubuh di balik itu! Padahal, suami wanita ini terbunuh, demikian pula enam orang pendekar lain. Ada apakah di balik semua ini?

Tentu wanita itu berada dalam pengaruh sihir, pikirnya. Akan tetapi, apa bila ada peristiwa yang amat keji dan jahat seperti itu, kalau dugaannya memang benar, kenapa para tamu yang terdiri dari orang-orang berpangkat beserta para pendekar itu suka menjadi pengikut atau peminat? Apakah mereka itu pun sudah tersihir oleh Sian-su itu?

Dia harus menyelidikinya dan kalau memang benar seperti apa yang diduganya itu, maka dia harus menentang dan membasminya! Akan tetapi, dia pun bukan tidak tahu bahwa pihak lawan ini amat berbahaya dan kuat, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Kini Sian-su mengulurkan tangannya ke arah wanita itu yang segera menyambut uluran tangan ini dan wanita itu pun bangkit berdiri, kemudian tangannya digandeng oleh Sian-su, berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu lalu menerima sebongkok hio yang sudah dinyalakan dari salah seorang anggota perkumpulan yang bertugas di sana. Dia segera mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh.

Sekarang wanita itu bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, dan setiap kali selesai sembahyang, sambil berlutut lalu menaruh hio di depan pondok, di tempat abu hio yang telah tersedia. Sesudah selesai, dia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya.

Tujuh orang gadis yang tadi membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga berlutut mengelilingi Sian-su. Orang itu lantas mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan mengeluarkan suara aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan itu sudah memegang sebatang bunga yang diberikannya kepada wanita itu.

Wanita itu menerima bunga, mencium bunga dengan khidmat, lalu menancapkan bunga itu pada rambutnya yang tebal. Kemudian, kembali Sian-su mengangkat kedua tangan ke atas dan mengembangkan kedua lengannya.

Terdengar suara ledakan kemudian disusul asap seperti tadi. Seperti juga tadi, asap itu menyelubungi dirinya dan juga wanita itu sehingga tidak nampak, kemudian setelah asap membuyar, Sian-su masih nampak berdiri seperti tadi, hanya kini cahaya pada wajahnya sudah lenyap.

"Sang Dewa Kematian telah kembali ke tempat asalnya," demikianlah si muka tengkorak yang menemani Thian Sin menerangkan hal yang memang telah dapat diduga oleh Thian Sin.

Siluman Tengkorak atau Sian-su itu kini menghadapi para tamunya dan berkata dengan suara biasa saja, "Cu-wi yang mulia, seperti biasa, apa bila ada yang ingin tahu, silakan mengajukan pertanyaan kepada murid baru ini."

Mendapatkan kesempatan ini, Thian Sin tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sian-su yang menyambutnya dengan sikap ramah.

"Ahh, Ceng taihiap suka memberi kehormatan kepada murid baru kami untuk mengajukan pertanyaan? Silakan, silakan, taihiap!"

Thian Sin mengangguk dan semua tamu memandang dengan hati tertarik. Mereka semua adalah pengikut-pengikut yang setia dan penuh kepercayaan, dan kini mendengar bahwa Pendekar Sadis hendak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja maksudnya untuk menguji, maka mereka merasa tertarik sekali. Mereka sendiri pun tadinya ragu-ragu terhadap perkumpulan agama pemuja Dewa Kematian ini. Tetapi setelah mereka menguji dan melihat hasil-hasil baiknya, mereka kemudian menaruh kepercayaan sepenuhnya.

Siapa yang tidak suka menjadi pengikut? Selagi hidup dapat menikmati kesenangan yang sangat luar biasa di tempat ini, dan selain itu, mereka semua telah menjadi pemuja Dewa Kematian sehingga telah menjadi ‘sahabat’ baik dewa itu. Dengan demikian, mereka akan terjamin kelak kalau terpaksa harus menghadapi kematian karena dewanya telah menjadi sahabat baik mereka. Dan menurut wejangan Sian-su, karena telah menjadi sahabat baik, maka Dewa Kematian akan berlaku murah pada mereka dan akan dapat ‘memperpanjang’ kehidupan mereka dan tidak cepat-cepat mencabut nyawa mereka.

Janji-janji muluk yang selalu dipamerkan memang merupakan umpan yang amat menarik bagi manusia pada umumnya yang selalu mengejar kesenangan dan keenakan, di mana pun dan kapan pun juga. Bahkan untuk mendapatkan janji-janji muluk ini, manusia tidak segan-segan untuk melakukan apa saja, bahkan kalau perlu menyiksa diri.

Alangkah banyaknya orang menyiksa diri dengan berpuasa dan bertapa di tempat sunyi, penyiksaan diri karena di sana terdapat harapan atau janji bahwa mereka akan mendapat ganjaran batin yang tentu saja menyenangkan! Bahkan untuk keadaan mereka sesudah mati sekali pun, selagi masih hidup manusia sudah hendak mengaturnya, semua itu demi mendapat kepastian bahwa keadaannya ‘di sana’ nanti akan enak, keenakan yang diukur dengan keadaan di waktu masih hidup.

Wanita itu masih berlutut dan Thian Sin terpaksa juga berjongkok ketika menghampirinya dan hendak mengajukan pertanyaan.

"Nyonya, bolehkah saya mengetahui namamu?"

Wanita itu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin dan diam-diam Thian Sin harus mengakui bahwa isteri Cia Kok Heng ini adalah seorang wanita yang cantik menarik dan manis sekali. Ketika dia memandang matanya, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang benar wanita itu berada dalam keadaan tersihir atau setidaknya dalam keadaan tidak begitu sadar! Tentu saja dia menjadi marah.

"Namaku Lu Sui Hwa...," jawab wanita itu dengan sikap yang ramah dan senyum manis menghias bibirnya.

Thian Sin segera mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan kekuatan sihir untuk menyadarkan wanita itu sambil berkata, "Lu Sui Hwa, sadarlah engkau dan mulai saat ini pergunakan pikiranmu sendiri!" Dengan gerakan tangan, Thian Sin membuat gerakan jari tangan kiri di depan wajah wanita itu.

Wanita itu segera terbelalak dan mengeluarkan seruan tertahan. "Ihhh...!"

"Sui Hwa, tenanglah dan jawab semua pertanyaan Pendekar Sadis. Ingat, engkau berada dalam keadaan aman!" Tiba-tiba terdengar suara Sian-su yang lemah lembut.

Ucapan itu membuat sepasang mata yang terbelalak itu menjadi suram lantas wanita itu memandang kepada Thian Sin dengan penuh kecurigaan! Akan tetapi, Thian Sin melihat bahwa usahanya berhasil dan wanita itu kini benar-benar telah sadar.

"Nyonya, kenalkah engkau pada orang yang bernama Cia Kok Heng?" tanyanya dengan lantang.

Akan tetapi, betapa heran hatinya ketika wanita itu menjawab dengan wajar, "Dia adalah suamiku."

"Dan dua orang anak kecil, seorang anak laki-laki dan seorang wanita bernama Cia Liong dan Cia Ling?"

Wajah itu menjadi pucat sekali, akan tetapi suaranya masih terdengar tenang dan lantang ketika menjawab, "Mereka adalah anak-anakku!"

Thian Sin lalu bangkit berdiri dan suaranya lantang dan penuh wibawa ketika dia berkata lagi, "Nyonya Cia, engkau yang memiliki suami dan dua orang anak, kenapa bisa berada di sini?"

Suasana menjadi tegang. Semua tamu maklum bahwa Pendekar Sadis ini mencari-cari permusuhan, dan semua telinga ditujukan kepada wanita itu, menanti jawabannya. Thian Sin sudah bersiap siaga karena dia merasa yakin bahwa wanita ini tentu akan membuka rahasia Siluman Goa Tengkorak, bahwa dia telah diculik oleh mereka.

"Aku memang meninggalkan mereka untuk menjadi pengikut Sian-su!"

Jawaban ini tentu saja tidak disangka sama sekali oleh Thian Sin dan mukanya menjadi merah ketika dia mendengar suara ketawa tertahan di sana-sini. Dia cepat menggunakan kekuatan sihirnya untuk ‘mencuci’ wanita yang masih berlutut itu dari hawa atau pengaruh sihir yang mempengaruhi, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak dalam pengaruh sihir lagi, melainkan menjawab dalam keadaan sadar!

"Engkau sebagai seorang nyonya terhormat rela merendahkan diri, mengenakan pakaian seperti ini dan meninggalkan suami serta anak-anakmu?" Suara Thian Sin mengandung penasaran dan dia tahu bahwa pertanyaannya itu tentu akan menikam perasaan seorang ibu dan isteri yang terhormat.

"Taihiap, pertanyaanmu itu sudah menyimpang dan merupakan penghinaan!" Terdengar Sian-su berkata halus.

Thian Sin menoleh. Dia melihat betapa pandangan mata para tamu ditujukan kepadanya dengan penuh penasaran, dan wanita itu pun menunduk dan menangis!

"Sui Hwa, jawablah, apakah ada yang memaksamu menjadi pengikut kami dan menjadi pemuja Dewa Kematian?" tanya Sian-su dengan suara lantang.

"Tidak ada, aku masuk atas kehendakku sendiri," jawab nyonya itu.

"Dan engkau rela mengikuti semua upacara dan peraturan seperti yang sudah berlaku di sini?"

"Aku rela."

Sian-su berpaling kepada Thian Sin. "Ceng-taihiap sudah mendengar cukup, maka harap silakan duduk dan menyaksikan upacara selanjutnya. Boleh saja orang luar merasa tidak setuju dengan cara-cara kami, tetapi jelas bahwa orang luar tidak berhak mencampuri."

"Aku tidak ingin mencampuri, hanya ingin tahu keadaan yang sebenarnya," bantah Thian Sin.

Akan tetapi, para anggota perkumpulan itu sudah datang mengurung dan para tamu juga memandang marah. Melihat ini, Thian Sin menggerakkan pundaknya lantas kembali ke tempat duduknya, mulai meragukan kebenaran tindakannya memasuki sarang berbahaya ini.

Bagaimana kalau memang wanita itu adalah wanita tak bermalu yang rela meninggalkan suami serta anak-anak untuk menjadi pengikut perkumpulan yang cabul ini? Mungkin saja suaminya tidak rela melepaskan lantas bersama kawan-kawannya yang merupakan Tujuh Pendekar Tai-goan mereka memusuhi perkumpulan ini akan tetapi mereka lalu dikalahkan sehingga semua jatuh tewas.

Kalau memang benar demikian keadaannya, maka persoalannya tentu saja menjadi lain sama sekali! Dengan wajah termangu-mangu Thian Sin menyaksikan upacara yang mulai dilakukan oleh Sian-su.

Siluman atau pendeta siluman ini mengambil kelinci putih dari tangan seorang di antara tujuh orang gadis, lalu mengambil pedang emas. Dia mengangkat kelinci itu di depannya, tepat di atas kepala Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, kemudian pisau atau pedang kecil dari emas itu dihujamkan ke leher kelinci putih!

Darah mengucur keluar dari luka leher itu pada waktu pisau dicabut, nampak jelas sekali menodai bulu putih bersih, lalu darah itu mengucur jatuh ke atas kepala nyonya muda itu! Dari atas kepala, darah kelinci itu kemudian mengalir dan membasahi mukanya. Wanita itu menengadah dan nampak tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya.

Dari kejauhan Thian Sin dapat melihat bahwa wanita itu sudah kembali berada di dalam cengkeraman sihir. Akan tetapi karena tadi malam dalam keadaan sadar wanita itu sudah mengaku bahwa dia melakukan semua itu atas kehendak hatinya sendiri dan secara suka rela, apa yang dapat dilakukannya? Dia hanya dapat memandang.

Kini pendeta siluman itu membiarkan darah kelinci memasuki bokor emas yang dipegang oleh salah seorang gadis, sampai darah itu tak menetes lagi dari leher kelinci. Tentu saja kelinci itu mati kehabisan darah. Akan tetapi, ketika pendeta siluman itu dengan bentakan keras melemparkan kelinci ke bawah, kelinci yang bermandikan darah itu menggerakkan tubuhnya dan lari cepat ke tebing dan menghilang di balik jurang!

Thian Sin mengangguk-angguk. Memang pendeta ini adalah seorang lawan yang tangguh, juga dalam ilmu sihir! Sang pendeta kemudian menuangkan arak atau anggur dari dalam guci-guci emas ke dalam bokor, mencampurkan arak itu dengan darah kelinci. Kemudian musik pun dipukul dengan gencar penuh semangat, dan makin lama semakin panas saat pendeta itu, diwakili oleh tujuh orang penari, membagi-bagikan isi bokor ke dalam cawan arak para tamu!

Thian Sin yang hendak diberi, menolak keras dengan menggeleng kepala dan mukanya menyatakan jijik. Kini semua penari, berikut tujuh orang gadis yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang, menari semua, menurutkan irama musik yang makin lama semakin panas merangsang.

Dan perlahan-lahan Lu Sui Hwa juga menggerak-gerakkan tubuhnya lantas bangkit berdiri sambil menari. Agaknya dia tak pernah belajar menari, akan tetapi dia hanya menggerak-gerakkan sepasang lengan serta pinggulnya, dan karena dia seorang wanita cantik yang memiliki bentuk tubuh yang indah, biar pun begitu tetap saja dia nampak amat menarik!

Seorang pemuda yang tadinya duduk di bagian tamu, nampaknya telah mulai mabok atau terseret oleh keadaan itu. Sambil tersenyum lebar dia maju menghampiri Sian-su yang memegang tangannya dan menariknya mendekati Sui Hwa. Mereka agaknya berkenalan dan Sui Hwa menyambutnya dengan senyuman manis, kemudian pemuda yang kelihatan sudah mabok itu lantas merangkul dan menjilati darah yang menodai wajah Sui Hwa, dan keduanya lalu menari-nari sambil berpelukan!

Para tamu mulai gembira, bersorak dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Agaknya mereka semua menjadi mabok birahi sesudah minum anggur yang bercampur darah tadi! Serentak mereka berdiri lantas menari-nari, masing-masing memilih pasangannya sendiri-sendiri di antara para penari kemudian terjadilah pemandangan yang hampir tidak dapat dipercaya oleh Thian Sin kalau dia tidak menyaksikannya sendiri!

Orang-orang itu mungkin telah menjadi gila semua, pikirnya. Mereka menari berpasang-pasangan, saling rangkul, saling belai dan saling cium, sedikit pun tidak merasa malu dan musik pun semakin riuh rendah, keranjingan dan mereka semua seperti sudah kerasukan iblis!

Pendeta siluman itu sendiri langsung meraih pinggang seorang wanita yang masih sangat muda, yang cantik manis dan yang agaknya memang menjadi kekasihnya. Thian Sin tidak tahu bahwa wanita muda ini adalah Thio Siang Ci, mempelai wanita dari dusun Ban-ceng yang sudah diculik pada malam pengantin! Dia diculik karena pendeta siluman itu sendiri yang tertarik dan tergila-gila kepada kembang dusun Ban-ceng ini.

Juga Pendekar Sadis tidak tahu bahwa orang muda yang kini sedang bergumul sambil menari-nari itu adalah seorang pemuda bangsawan she Phang dari Taigoan yang sudah lama tergila-gila kepada isteri Cia Kok Heng yang kini telah berada dalam pelukannya dan melayani hasrat hatinya dengan nafsu birahi bernyala-nyala itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Sesungguhnya, perkumpulan yang menamakan dirinya perkumpulan agama Jit-sian-kauw ini secara diam-diam sudah lama bersarang di tempat itu. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang yang hanya dikenal dengan sebutan Sian-su dan secara diam-diam sudah diakui pula oleh banyak anggota yang terdiri dari orang-orang penting di sekitar Tai-goan, malah ada pula yang dari kota raja.

Secara resmi agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, juga dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yang-kauw dan lain-lainnya yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka adalah Dewa Kematian.

Di bawah pimpinan Sian-su, para anggota dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak sesudah mereka mati. Pemimpin yang disebut Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang melihat atau mengenal wajah aslinya.

Akan tetapi semua anggota dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena orang ini memang mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, bukan hanya dalam hal ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu.

Bukan itu saja, bahkan dalam upacara-upacara diadakan pesta yang oleh Sian-su disebut pesta pembebasan nafsu badaniah! Di dalam pesta seperti ini, mereka membiarkan diri hanyut ke dalam seretan gelombang nafsu birahi yang melanda mereka di mana mereka boleh melampiaskan nafsu birahi mereka sepuasnya dengan siapa pun juga asal tidak ada unsur pemaksaan.

Menurut ajaran Sian-su itu, nafsu itu akan meliar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya tanpa ada perbuatan paksa, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya dan tidak lagi mencengkeram jasmani kita sehingga jasmani kita menjadi cukup memenuhi syarat untuk menjadi jasmani yang bersih dan dihuni oleh jiwa yang bersih pula dan yang kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian. Tentu saja pelajaran yang diberikan ini merupakan pelajaran palsu yang amat berbahaya dan sama sekali tak bisa dibuktikan kebenarannya.

Yang jelas dapat dinyatakan adalah bahwa nafsu keinginan dalam bentuk apa pun juga timbul dari pada si aku yang ingin senang, dan nafsu ini bersifat seperti api yang apa bila diberi hati, apa bila dituruti akan seperti api yang diberi bahan bakar. Semakin banyak diberi bahan bakar, makin bernyala dan makin menjadi, makin membesar dan tidak akan padam lagi.

Mengendalikan nafsu pun tidak akan ada gunanya. Mematikan nafsu dengan kekerasan kemauan pun percuma karena yang mematikan dengan kekerasan itu adalah kemauan si aku pula yang ingin senang, yang menganggap bahwa kalau dapat mematikan nafsu itu akan lebih senang dari pada kalau dikuasai nafsu.

Sering kali terjadi konflik di dalam batin sendiri. Pada satu pihak keinginan atau nafsu itu timbul, pada lain pihak keinginan untuk mematikan pun timbul. Konflik ini merupakan api dalam sekam yang nampaknya saja padam, namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat berkobar lagi kalau penutupnya kurang kuat atau terbuka.

Nafsu itu sendiri merupakan energi yang amat hebat. Nafsu itu sendiri amat penting bagi kehidupan. Hanya cara penggunaannya yang menentukan apakah dia merusak ataukah mendatangkan manfaat. Dan cara yang baik dan benar ini timbul dengan sendiri melalui kewaspadaan dan kesadaran dari pengamatan diri pribadi.

Pengamatan diri pribadi akan menimbulkan kebijaksanaan dan dengan sendirinya timbul ketertiban yang tidak diatur lagi oleh si aku yang ingin senang. Pengamatan diri pibadi ini dapat terjadi setiap saat, yang berarti ada perhatian dan waspada sepenuhnya terhadap gerak-gerik kita, baik gerak-gerik hati, pikiran, kata-kata mau pun perbuatan.

Bukan mengamati sambil menilai karena penilaian itu juga merupakan hasil pekerjaan si aku! Jadi, kita harus benar-benar waspada dengan segala kepalsuan yang terjadi setiap saat, bukan hanya kepalsuan yang terjadi di luar diri, namun terutama sekali kepalsuan-kepalsuan yang terjadi di dalam batin kita sendiri.

Dengan umpan kesenangan di dalam pemuasan nafsu birahi ini, Sian-su berhasil menarik minat banyak orang untuk menjadi pengikut dari perkumpulan agamanya. Tentu saja dia pun memilih-milih orang, terutama sekali dipilihnya orang-orang yang berkedudukan, yaitu para bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi atau yang menamakan diri mereka pendekar-pendekar.

Dan kerena sifat dari pesta-pesta agama ini, para pengikut itu sendiri merahasiakannya dari orang luar karena bagaimana pun juga, setiap orang manusia itu mempunyai naluri akan penyelewengan dirinya sendiri dan merasa malu kalau penyelewengannya diketahui orang. Demi kesenangan yang telah mencandu, mereka itu dengan sendirinya memerangi perasaan salah ini dengan berbagai alasan pelajaran keagamaan seperti yang diajarkan oleh Sian-su.

Hanya pada hari-hari tertentu saja mereka berdatangan ke tempat itu, dan hanya para anggota inilah yang tahu jalannya, melalui jalan rahasia yang hanya terbuka bagi mereka, yaitu tempat pemujaan di tengah-tengah pegunungan yang tidak kelihatan dari luar dan hanya dapat dicapai melalui jalan terowongan rahasia itu.

Sudah lebih dari dua tahun perkumpulan agama itu bersarang di sana, akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali para anggota atau pengikutnya. Para pengikut ini sudah banyak menyerahkan uang sumbangan kepada perkumpulan ini, akan tetapi mereka tahu pula bahwa uang itu digunakan untuk memajukan perkumpulan dan terutama sekali untuk menyenangkan mereka.

Pesta-pesta dengan hidangan-hidangan yang lezat itu tentu memerlukan uang. Juga untuk memelihara para anggota atau murid-murid wanita yang cantik-cantik, muda dan pandai menari itu pun membutuhkan uang. Terlebih lagi untuk membangun ‘istana’ mereka yang berada di puncak bukit tersembunyi itu serta membuat pondok-pondok untuk tujuh dewa, semua membutuhkan uang yang amat banyak. Karena itu mereka tidak merasa sayang untuk menyumbangkan harta benda.

Tentu saja mereka yang sudah percaya penuh kepada kebijaksanaan Sian-su itu sama sekali tidak mau percaya dengan desas-desus bahwa akhir-akhir ini perkumpulan mereka itu melakukan kejahatan-kejahatan. Mereka menganggapnya sebagai kabar bohong serta fitnah belaka.

Mereka tidak tahu bahwa nafsu ketamakan orang yang mereka sebut Sian-su itu semakin lama semakin menjadi dan untuk membuat pondok-pondok serta benda-benda dari emas tulen itu memerlukan banyak sekali uang. Dan untuk memenuhinya, orang-orang itu telah mempergunakan kepandaiannya sendiri dan kepandaian anak buahnya untuk melakukan pencurian-pencurian. Juga untuk memperlengkapi persediaan mereka akan wanita-wanita cantik, maka perkumpulan ini mulai pula melakukan penculikan-penculikan terhadap para wanita muda dan cantik.

Tindakan Sian-su telah sedemikian beraninya untuk memenuhi ‘pesanan’ dari pemujanya, bahkan pada malam hari itu dia telah memenuhi pesanan dari pemuda bangsawan Phang yang tergila-gila kepada nyonya Cia Kok Heng! Akan tetapi yang mengetahui akan hal ini hanya pemuda Phang itu dengan Sian-su sendiri, dan untuk jasa ini tentu saja pemuda Phang yang kaya raya itu tidak merasa sayang untuk memberi hadiah sumbangan yang sangat besar!

Perkumpulan agama ini mempunyai anak buah yang tidak terlalu banyak, hanya kurang lebih empat puluh orang yang terdiri dari berbagai golongan, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang lumayan. Mereka adalah anak buah sekaligus juga murid-murid Sian-su yang memiliki dasar ilmu silat berbagai aliran.

Tidak semua dari mereka berasal dari golongan penjahat, bahkan banyak pula yang terdiri dari orang baik-baik yang tertarik dengan agama itu dan kemudian menjadi pengikut lalu diangkat menjadi murid dan anak buah. Seperti juga Sian-su, sesudah menjadi anak buah perkumpulan agama itu mereka semua menggunakan pakaian seragam dan juga topeng tengkorak dalam melaksanakan tugas.

Kenapa mereka selalu menggunakan pakaian dan topeng tengkorak? Hal ini adalah untuk menyatakan pemujaan mereka terhadap Dewa Kematian. Tengkorak merupakan lambang kematian, dan kebetulan sekali mereka juga memperoleh sarang di Goa Tengkorak yang sungguh merupakan tempat yang amat cocok untuk perkumpulan agama mereka.

Anak buah perkumpulan itu sudah disumpah setia terhadap Sian-su. Di samping sumpah ini yang diperkuat oleh kepercayaan mereka terhadap Dewa Kematian, juga mereka takut sekali terhadap Sian-su yang mereka tahu mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, mereka sadar bahwa berkhianat atau melanggar pantangan berarti kematian yang mengerikan bagi mereka, baik di tangan Sian-su atau pun juga di tangan Dewa Kematian yang tentu akan menyiksa mereka di alam baka!

Sian-su yang berilmu tinggi itu dapat mencengkeram serta menguasai semua anak buah atau muridnya, juga menguasai semua wanita pelayan dan penari, menguasai pengikut-pengikutnya dengan mempergunakan ilmu sihirnya serta ramu-ramuan obat pembius dan perangsang yang dicampurkan dalam minuman. Perlahan-lahan tetapi pasti, pengaruhnya meluas dan anggotanya bertambah, para pengikutnya juga bertambah.

Melihat betapa pesta itu berubah menjadi tempat pemuasan nafsu tanpa mengenal batas kesopanan lagi, bahkan di antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada yang sambil tertawa-tawa sudah bergandengan tangan menuju ke sudut-sudut di mana terdapat kasur-kasur kecil dengan pakaian si wanita sudah tidak karuan lagi, Thian Sin menjadi muak.

Dia sendiri adalah seorang pemuda yang romantis. Akan tetapi dia memandang hubungan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang merupakan pencurahan dari pada kasih sayang, bukan hanya merupakan pemuasan nafsu birahi belaka. Apa lagi kalau dilakukan secara demikian kasar, di hadapan orang banyak, tanpa mempedulikan kesusilaan dan sopan santun sedikit pun, tentu saja perasaannya menjadi tersingung dan dia menjadi tidak senang.

"Taihiap, marilah... apakah taihiap tidak ingin bersenang-senang? Mari kulayani, taihiap... aku sengaja mengelak dari siapa pun juga untuk melayanimu..."

Tiba-tiba ada lengan kecil berkulit halus merangkulnya, lantas hidungnya mencium aroma semerbak harum. Thian Sin menengok dan melihat bahwa yang merangkul dirinya adalah gadis yang tadi menerima sumbangannya. Pada saat itu hati Thian Sin sedang kesal dan murung, marah yang ditahan-tahan. Maka, sikap gadis ini membuatnya marah, lebih lagi ketika gadis itu tanpa malu-malu lagi lalu menciumnya dan menarik-narik lengannya.

"Pergilah!" bentaknya dan sekali dorong, gadis itu terpelanting dan jatuh sampai beberapa meter jauhnya.

Dia pun melihat betapa para anggota perkumpulan itu, yang sejak tadi tidak turut pesta melainkan hanya berdiri dan berjaga, memandang kepadanya penuh perhatian dan begitu dia mendorong jatuh gadis itu, lima orang di antara mereka segera berloncatan dan sudah mengurungnya. Thian Sin berdiri tegak dan bersikap tenang, maklum bahwa bagaimana pun juga akhirnya dia tidak akan dapat lolos dari pertempuran.

"Ceng-taihiap, sebagai tamu taihiap telah melangqar peraturan dan melakukan penghinaan terhadap murid-murid kami yang terkasih," terdengar suara Sian-su yang ternyata sudah berada pula di sana. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang tadi jatuh, yang kini sudah berdiri dan memegangi siku tangan kirinya yang berdarah, kemudian gadis itu melangkah pergi dengan kepala menunduk.

"Sian-su, aku memang muak melihat semua ini dan aku sudah menolaknya, habis kalian mau apa?" tanyanya sambil memandang kepada lima orang yang mengurung dirinya dan mengambil sikap menyerangnya itu. Dia melihat bahwa di antara kelima orang ini terdapat tosu penghuni kuil itu yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan kepala.

"Siancai... agaknya taihiap hendak mengandalkan kepandaian menentang kami. Ataukah taihiap hendak meramaikan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silat?"

"Terserah apa yang hendak diartikan, akan tetapi yang jelas, aku akan pergi dari tempat kotor ini!" kata Thian Sin.

Dia telah membalikkan tubuhnya hendak pergi melalui anak tangga dari mana dia datang tadi. Akan tetapi lima orang itu dengan sekali loncatan telah menghadang di depannya.

"Ah, nanti dulu, taihiap. Tak semudah itu untuk pergi meninggalkan tempat ini tanpa seijin kami. Apa bila taihiap hendak memperlihatkan ilmu silat, baiklah. Biar aku melihat sendiri sampai mana kehebatan ilmu Pendekar Sadis yang terkenal itu." Lalu dia memberi isyarat kepada lima orang itu dan berkata, "Tangkap dia!"

Lima orang itu adalah lima orang pembantu utama dari Sian-su, merupakan murid-murid kepala yang paling lihai di antara semua anggota atau murid dan di antara lima orang ini memang terdapat tosu penghuni kuil yang tentu saja bukan bertapa di kuil itu melainkan bertugas sebagai penjaga dan pengintai.

Walau pun ketua mereka memberi perintah lisan untuk menangkap Pendekar Sadis, akan tetapi dari isyarat dengan tangan itu mereka maklum bahwa mereka disuruh membunuh musuh yang berbahaya ini. Maka, begitu tangan mereka bergerak, lima orang bertopeng siluman tengkorak itu sudah mencabut pedang mereka dari balik jubah di mana senjata mereka itu disembunyikan. Melihat ini, Thian Sin tersenyum.

"Majulah jika kalian memang menghendaki demikian!" Dia masih berdiri tegak, tidak mau mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam yang tersembunyi di balik bajunya.

Lima orang bertopeng tengkorak itu tiba-tiba menggerakkan pedang mereka dan mulailah mereka menyerang bergantian secara bertubi-tubi dan teratur. Pedang mereka berkelebat menyilaukan mata tertimpa sinar lampu-lampu di sekeliling tempat itu dan setiap gerakan mereka itu selain cepat juga amat kuat. Hal ini tentu saja diketahui Thian Sin dan pemuda ini pun langsung bersikap waspada, menggunakan kecepatan tubuhnya untuk mengelak dan kadang-kadang dia menggunakan tangannya untuk menangkis.

"Plakk! Plakk!"

Ketika tangan kirinya dengan gerakan cepat menangkis dua batang pedang, si pemegang pedang terhuyung mundur dan mereka terkejut sekali. Dengan tangan telanjang pemuda itu sanggup menangkis pedang dengan kekuatan sedemikian dahsyat, maka hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya Pendekar Sadis.

Sedangkan Sian-su sejak tadi menonton di pinggiran sambil merangkul pinggang ramping gadis yang tadi melayaninya. Beberapa kali dia mengangguk-angguk, sementara pandang matanya menjadi semakin kagum. Dari beberapa jurus saja tahulah dia bahwa Pendekar Sadis ini benar-benar sangat lihai sekali. Alangkah baiknya dan betapa menguntungkan apa bila dia bisa menariknya sebagai pembantu utamanya!

Kini yang menjadi pembantu utamanya adalah lima orang murid kepala ini. Akan tetapi agaknya mereka ini tak akan dapat menang melawan Pendekar Sadis, walau pun mereka semua memegang pedang dan Pendekar Sadis hanya bertangan kosong saja.

Pertandingan itu menarik perhatian mereka yang sedang berpesta. Akan tetapi, mereka yang tidak mengenal ilmu silat, para bangsawan dan hartawan yang sedang mabok birahi, tidak mempedulikan pertandingan itu dan melanjutkan kesenangan mereka, berpasang-pasangan dan tetap melanjutkan permainan mereka di sudut-sudut ruangan yang luas itu menyendiri berduaan saja. Mereka yang mengenal ilmu silat, terutama para pengikut yang berasal dari golongan pendekar, menjadi tertarik dan meski pun mereka masih merangkul pinggang pasangan masing-masing, tapi mereka mendekat dan menonton dengan penuh perhatian.

Para anak buah perkumpulan itu sudah mengurung tempat itu dan bersiap-siaga, bahkan ada sepuluh orang yang berderet dengan busur dan anak panah siap diluncurkan. Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Sin. Dia maklum bahwa dia akan menghadapi pengeroyokan dan karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian Sian-su, juga para pendekar yang mabok birahi itu, maka keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi dia berada di pusat tempat rahasia itu yang banyak mengandung perangkap-perangkap. Karena itu dia pun tidak mau menjatuhkan tangan maut.

Tepat seperti yang diduga oleh Sian-su, kini Thian Sin memperlihatkan kepandaiannya. Walau pun semuanya bersenjata, lima orang itu segera terdesak hebat. Setiap tangkisan itu membuat mereka terhuyung sehingga semua serangan mereka tak ada gunanya sama sekali, jika tidak terpental oleh tangan pemuda itu, tentu hanya mengenai tempat kosong saja. Namun sebaliknya, setiap tamparan tangan pemuda itu, baru angin pukulannya saja sudah membuat mereka kewalahan.

Tiba-tiba Thian Sin berteriak, "Pergilah kalian!"

Dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdengar suara berkerontangan dan nampak lima batang pedang terlempar ke sana-sini sedangkan lima orang itu pun terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri!

Mereka tidak terluka parah, tetapi senjata mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terpelanting, ini telah merupakan bukti cukup bahwa mereka telah kalah! Sian-su, pendeta siluman itu, kini melepaskan rangkulan dari pinggang ramping kekasihnya, lantas dengan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Thian Sin.

"Siancai, siancai...! Pendekar Sadis memang benar tangguh, cukup pantas untuk menjadi lawanku! Mari kita main-main sebentar, taihiap!"

Thian Sin melihat perubahan sikap para pengikut agama yang datang mendekat. Melihat betapa Sian-su sendiri yang maju, agaknya mereka pun merasa penasaran dan di antara mereka bahkan ada yang sudah melepaskan rangkulan mereka terhadap gadis pasangan mereka masing-masing dan mereka bersikap mengancam.

Akan tetapi pada saat itu, pendeta siluman itu sudah menerjangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat. Sebelum tangannya tiba, sudah ada angin pukulan yang sangat dahsyat menyambar dan ini saja menunjukkan bahwa pendeta siluman itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali.

Thian Sin juga tidak mau main-main lagi dan dia langsung mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkis. Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit dan Bumi) ini adalah penghimpunan sinkang yang luar biasa kuatnya, yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka, merupakan satu di antara sekian banyak ilmu luar biasa yang dikuasainya. Sekarang, menghadapi lawan yang diketahuinya amat tangguh, Thian Sin tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmunya ini untuk menandingi tenaga dalam lawannya.

"Dukkk!"

Pertemuan dua tenaga sakti yang amat hebat itu terasa oleh semua orang yang menjadi penonton. Ada getaran hebat menyambar ke sekitar tempat itu. Thian Sin sendiri merasa betapa tubuhnya terguncang sehingga memaksa dia melangkah mundur dua tindak, akan tetapi Siansu itu sendiri juga terhuyung ke belakang.

"Hebat...!" Sian-su memuji, bukan pujian kosong karena dia benar-benar merasa kagum dan makin besar keinginannya untuk bisa menarik pemuda sehebat ini sebagai sekutunya atau pembantunya. Tentu kedudukannya akan menjadi makin kuat jika dia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutunya.

Kini dia menyerang lagi dan dia mengerahkan ginkang-nya. Diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Kiranya siluman ini adalah seorang ahli ginkang yang hebat! Kim Hong tentu tertarik sekali melihat ini, karena Kim Hong sendiri adalah orang ahli ginkang yang sukar dicari bandingnya. Dan agaknya ilmu meringankan tubuh pendeta siluman ini betul-betul hebat sekali sehingga tubuhnya berkelebatan seperti terbang saja.

Thian Sin harus mengakui bahwa biar pun belum tentu siluman ini dapat menandingi Kim Hong dalam hal ilmu meringankan tubuh, namun dia sendiri masih kalah setingkat oleh pendeta siluman ini! Maka dia pun lalu mainkan Ilmu Thai-kek Sin-kun, ilmu yang memiliki dasar sangat kuat sehingga meski pun diserang dari jurusan mana pun dengan kecepatan yang bagaimana pun, dengan ilmu ini dia dapat menjaga diri dan bahkan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya. Dengan ilmu silat ini, maka keunggulan pendeta siluman itu dalam hal kecepatan boleh dibilang dapat dipunahkan.

Setelah lewat dari lima puluh jurus, agaknya pendeta siluman itu sudah puas dan kagum sekali. Dalam lima puluh jurus dia tidak sanggup mengalahkan pemuda ini bahkan kalau dilanjutkan, belum tentu dia akan menang. Maka mendadak dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangannya menampar ke arah kepala Thian Sin. Pemuda itu menangkisnya.

"Plakk! Brettt...!"

Ujung lengan baju Thian Sin terobek karena begitu tertangkis, pendeta siluman itu cepat merubah tangannya menjadi cengkeraman yang bergerak ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan kanan Thian Sin. Akan tetapi berkat tenaga Sin-ciang, cengkeraman itu meleset dan hanya merobek ujung lengan baju.

"Ha-ha-ha, lengan bajumu robek, taihiap!" Sian-su berkata sambil mengangkat robekan itu ke atas dan memandang penuh rasa puas karena robekan lengan baju itu dapat dijadikan bukti bahwa dia telah menang setingkat.

Akan tetapi, pandang mata Thian Sin ke arah jubahnya membuat dia segera menunduk lantas melihat ke arah dadanya dan terkejutlah dia melihat betapa kain jubah pada bagian dadanya berlubang dan kini robekan kain putih itu berada di tangan Thian Sin! Kalau saja tidak ada topeng tengkorak yang menutupi, tentu akan nampak wajah itu merah sekali.

Saking merasa malu, pendeta siluman itu menjadi marah dan dia pun sudah menyerang lagi dengan ganasnya. Thian Sin menyambutnya dengan tenang dan untuk kedua kalinya, ketika lengan mereka beradu, tubuh pendeta siluman itu langsung terhuyung ke belakang sedangkan Thian Sin hanya terdorong mundur dua langkah saja.

Hal ini membuat pendeta siluman itu mengambil keputusan hendak mempergunakan ilmu sihirnya. Dia berdiri tegak dan menggerakkan kedua tangannya ke atas kepala, bertepuk tangan di atas kepalanya. Pada waktu kedua telapak tangan itu bertemu, terdengar suara seperti ledakan nyaring dan nampak asap mengepul dari kedua tangan itu.

"Ceng Thian Sin, berani engkau melawanku? Lihatlah, siapakah sesungguhnya aku? Aku adalah Thian-liong-ong (Raja Naga Langit) yang menjelma!"

Memang hebat kekuatan sihir pendeta siluman itu. Walau pun sihirnya ditujukan kepada Thian Sin, akan tetapi semua orang yang berada di sana melihat betapa bentuk Sian-su kini sudah berubah. Tubuhnya menjadi tinggi besar dan pakaiannya seperti pakaian raja. Yang hebat adalah kepalanya, karena kepala yang biasanya memakai topeng tengkorak itu kini sudah berubah menjadi kepala naga! Benar-benar mirip gambar atau patung. Raja Naga Langit!

Di antara mereka yang melihat ini segera menjatuhkan diri berlutut saking takutnya. Akan tetapi, Thian Sin yang tadi merasakan adanya kekuatan mukjijat yang menyerang panca inderanya, cepat menguatkan batin lantas mempergunakan tenaga batin untuk melawan. Sesudah dia mengerahkan tenaga batinnya, sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu sihir di Himalaya tentu saja dia tak terpengaruh lagi dan bagi pandang matanya, pendeta siluman itu tetap sama saja dengan tadi!

Ingin dia mentertawakan lawan dan menghinanya, mengatakan bahwa ilmu main sulap itu hanya dapat mengelabui kanak-kanak saja. Akan tetapi Thian Sin adalah seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa banyak orang yang tak berdosa d tempat ini, yang menurut semua kehendak pendeta siluman ini karena kekuatan sihir atau mungkin juga obat dalam minuman.

Mereka ini tak berdosa dan sepatutnya kalau dibebaskan dari pengaruh pendeta siluman ini. Akan tetapi, kalau dia mempergunakan kekerasan, mungkin dia akan gagal. Dia telah mengukur ilmu silat lawan itu yang benar-benar tangguh. Dia yakin tidak akan kalah dari Sian-su, akan tetapi jika para pembantunya maju mengeroyok, juga kalau para pendekar yang menjadi pengikut agama itu ikut pula turun tangan, mungkin sekali dia akan celaka. Apa lagi kalau diingat bahwa dia belum berhasil membebaskan orang-orang yang tidak berdosa, juga bahwa dia masih berada di pusat sarang musuh yang berbahaya, maka kekerasan bukanlah jalan untuk mencapai kemenangan.

Thian Sin lalu menunduk dan menjura seolah-olah memberi hormat kepada ‘dewa’ itu, lalu berkata dengan ucapan membela diri, "Terpaksa saya harus melawan menghadapi siapa pun juga kalau keselamatan dan nyawa saya terancam."

"Ceng Thian Sin, siapa bilang bahwa nyawamu terancam? Sian-su berniat baik padamu, berniat hendak mengajakmu untuk bekerja sama!" berkata ‘Raja Naga Langit’ itu dan bagi pendengaran semua orang kecuali Thian Sin, suaranya itu pun berbeda dengan suara asli Sian-su.

Kembali Thian Sin menjura dengan hormat. "Kalau memang benar demikian, tentu saja saya bersedia untuk berdamai dan bicara."

"Bagus! Bagus sekali!" Manusia berkepala naga itu lalu bertepuk tangan hingga terdengar ledakan keras disusul asap mengepul dan ketika asap itu menghilang, di situ telah berdiri Sian-su dengan sikapnya yang tenang.

”Ceng-taihiap, kami sudah mendengar ucapanmu tadi dan kami merasa gembira sekali. Mari, silakan duduk dan kita bicara dengan baik-baik." Dia mempersilakan dan mengajak Thian Sin duduk kembali.

Pesta dilanjutkan dan melihat betapa pemuda itu tidak suka menyaksikan adegan-adegan cabul di situ, Sian-su lalu mengajaknya menuruni anak tangga untuk berbicara di sebuah ruangan lain. Belasan orang anak buah Sian-su turut pula mengawal, tentu saja dengan maksud untuk mengeroyok apa bila pemuda itu memberontak.

Setelah mereka duduk, Sian-su lalu memberi ‘kuliah’ kepada Thian Sin tentang pelajaran di dalam agamanya yang baru, yang bendak membebaskan manusia dari pada rasa takut akan kematian, dan menjanjikannya kesenangan sesudah mati nanti, juga menceritakan bahwa semua kecabulan yang dilihat pemuda itu adalah suatu cara untuk menundukkan nafsu dengan jalan membiarkan nafsu-nafsu itu menggelora dan kemudian mati sendiri. Thian Sin mendengarkan dengan setengah hati saja, akan tetapi dia berpura-pura merasa tertarik sekali dan menanggapinya sambil mengangguk-angguk.

"Kami ingin memberikan kesenangan dunia akhirat kepada para pengikut kami," demikian pemimpin agama itu mengakhiri kuliah dan penjelasannya tentang agamanya.

"Dan imbalan apakah yang harus diberikan oleh para pengikut?" tanya Thian Sin dengan sikap seolah-olah dia tertarik sekali untuk menjadi pengikut pula.

"Siancai...! Untuk pekerjaan suci, kami tidak memiliki pamrih bagi kepentingan diri sendiri. Kami tidak menuntut imbalan, kecuali kesetiaan. Jika para pengikut hendak menyumbang demi kemajuan agama kita, dan untuk membuat pembangunan-pembangunan, maka hal itu adalah suka rela. Akan tetapi biar pun kami tahu bahwa Ceng-taihiap adalah seorang yang kaya raya, buktinya melihat sumbanganmu tadi, namun kami bukan mengharapkan bantuan harta darimu."

"Habis, bantuan apa?"

"Bantuan kerja sama yang berupa tenaga dan kepandaian silat taihiap. Hendaknya taihiap ketahui bahwa usaha kami ini banyak mendapat tentangan dari agama-agama lain, malah sudah sering kali kami mereka cari dan mereka bermaksud membasmi kami. Oleh karena itu, taihiap bukan kami anggap sebagai pengikut biasa, akan tetapi sekutu kami, sebagai seorang di antara kami dan kalau taihiap dapat memenuhi harapan kami ini, percayalah bahwa dengan segala kemampuanku, taihiap akan menjadi orang pertama sesudah aku untuk berkenalan secara langsung dengan Dewa Kematian."

"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura merasa girang sekali. "Aku akan girang sekali!"

"Akan tetapi, untuk itu lebih dulu kami harus benar-benar dapat percaya kepadamu, dan ini ada syaratnya."

"Syaratnya?"

"Menurut laporan anak buah kita, ada lima orang pendekar dari agama lain yang sedang menyelidiki tempat kita ini. Mereka merupakan bahaya bagi kita, maka aku minta padamu untuk menghadapi mereka dan membasmi mereka. Sanggupkah engkau, Ceng-taihiap?"

Thian Sin mengangkat muka dan menatap tajam, bertemu dengan pandang mata lawan yang penuh selidik. Dia berhadapan dengan orang yang cerdik pula. "Sian-su, aku masih dalam taraf percobaan, bagaimana engkau sudah demikian percaya kepadaku? Apakah engkau tidak khawatir kalau aku berkhianat setelah aku tiba di luar tempat ini?"

Wajah di belakang topeng tengkorak itu tertawa. "Apa boleh buat, kami harus menghadapi resiko itu! Kalau taihiap sungguh-sungguh mau bekerja sama dengan kami, kami merasa beruntung sekali. Sebaliknya, andai kata taihiap berbalik pikir, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi belum tentu taihiap akan dapat menemukan kembali tempat rahasia kami, apa lagi di sini juga terdapat banyak perangkap-perangkap rahasia yang akan dapat membendung serbuan ratusan orang. Di samping itu, andai kata mereka dapat menyerbu masuk, maka kami pun dapat saja setiap waktu meloloskan diri, pindah mencari tempat lain, membawa semua barang suci dan berharga, dan terpaksa kami harus meninggalkan para wanita itu dalam keadaan sempurna."

Karena ada penekanan kata-kata aneh dalam kalimat terakhir, Thian Sin menjadi curiga. "Dalam keadaan sempurna bagaimana maksudmu?"

Pendeta siluman itu menggerakkan pundak. "Yaahh, menyerahkan mereka kepada Dewa Kematian sebagai korban, apa lagi? Kami terpaksa, sebab tidak mungkin kami membawa mereka yang lemah untuk melarikan diri, tapi juga amat berbahaya bagi kami membiarkan mereka hidup-hidup tertawan musuh."

"Engkau akan membunuh puluhan orang gadis itu?" Hampir Thian Sin berteriak.

"Ahhhh, nanti dulu, taihiap. Bukan membunuh, melainkan mengorbankan mereka kepada Dewa Kematian. Mereka akan memperoleh kesenangan di sana, dan Dewa Kematian juga akan berterima kasih sekali kepada kami..."

Thian Sin tidak bertanya lagi. Dia maklum apa artinya itu. Wanita-wanita itu merupakan sandera! Dengan lain kata-kata, pendeta siluman ini hendak menyatakan padanya bahwa apa bila dia berbalik pikir dan kelak mengakibatkan perkumpulan agama itu diserbu, maka wanita-wanita itu akan dibunuhnya. Tentu saja ini merupakan ancaman kepadanya agar dia tidak mengkhianati Sian-su, dan dia tahu bahwa ancaman itu bukan hanya ancaman kosong belaka!

"Baiklah, Sian-su, aku akan membuktikan bahwa aku memang ingin bekerja sama karena aku mulai tertarik oleh agama baru ini."

Thian Sin menjadi tamu kehormatan di sarang perkumpulan agama Jit-sian-kauw itu, dan mendapat sebuah kamar yang indah dan mewah. Dia menolak ketika ditawari gadis untuk menemaninya, dan malam itu dia tidur nyenyak untuk melepas lelah dan mengumpulkan tenaga. Dia tahu bahwa semua gerak-geriknya selalu diamati dan diintai, oleh karena itu dia pun tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Pada keesokan harinya dia pun sama kali tidak tahu bahwa Kim Hong telah menyusulnya dan mencarinya, bahkan dara itu kemudian terjebak dan tertawan di dalam sarang rahasia Jit-sian-kauw itu. Pada sore harinya dia diberi tahu oleh Sian-su bahwa lima orang yang memusuhi Jit-sian-kauw itu telah tiba di dekat puncak bukit.

Mereka itu tidak menyelidiki dari bagian depan tebing Goa Tengkorak, namun dari bagian belakang dan karena sarang Jit-sian-kauw itu terkurung jurang yang dalam, maka kelima orang pendekar itu tidak tahu bahwa tempat yang mereka cari-cari itu sebenarnya sudah amat dekat, hanya terhalang oleh jurang, yaitu di puncak yang dikelilingi jurang itu. Tidak mungkin menyeberangi jurang itu, dan tidak mungkin pula menuruni jurang yang demikian dalam dan curamnya. Mereka lalu berkeliaran di daerah itu, memeriksa dan mencari-cari.

Thian Sin melakukan pengintaian. Dia sendirian saja, namun dia kini sudah mengenakan pakaian dan topeng sebagai anggota Jit-sian-kauw! Walau pun dia sendirian saja, namun dia mengerti bahwa Sian-su dan kaki tangannya tentu membayanginya dan mungkin kini sedang mengintai pula dari tempat-tempat tersembunyi untuk mengikuti sepak terjangnya yang bertugas mengusir lima orang musuh perkumpulan ini.

Akan tetapi jantung di dalam dada Thian Sin segera berdebar tegang ketika dia mengenal siapa adanya tosu tua yang memimpin rombongan itu. Tosu berusia kurang lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian jubah kuning, dengan pedang di punggung, wajahnya putih itu, bukan lain adalah Liang Hi Tojin, seorang tokoh tingkat dua dari partai persilatan Bu-tong-pai!

Liang Hi Tojin ini adalah orang ke dua di Bu-tong-pai, terkenal sebagai seorang pendekar yang sejak mudanya menjadi pembela keadilan dan kebenaran, seorang ahli pedang yang amat lihai. Dan agaknya, empat orang lainnya itu, yang nampak gagah perkasa, tentulah murid-murid keponakannya.

Kedatangan rombongan dari Bu-tong-pai untuk menyelidiki Jit-sian-kauw ini tentu bukan semata-mata karena perbedaan paham keagamaan, melainkan tentu karena orang-orang Bu-tong-pai itu mendengar tentang kejahatan yang dilakukan Siluman Goa Tengkorak dan kini didorong oleh jiwa kependekaran mereka datang untuk menentang Jit-sian-kauw.

Tentu saja Thian Sin merasa serba salah. Bagaimana mungkin dia memusuhi Liang Hi Tojin, seorang pendekar tua Bu-tong-pai yang telah dikenalnya dengan baik? Akan tetapi, jika dia mengkhianati Sian-su, lalu bagaimana nasib kurang lebih tiga puluh orang wanita yang berada di dalam cengkeraman siluman-siluman itu di luar kehendak mereka, karena mereka telah dikuasai oleh sihir dan obat bius?

Apa bila dia memperkenalkan diri kemudian mengajak lima orang pendekar Bu-tong-pai ini membalik dan memberontak, apakah dia akan mampu? Untuk memasuki terowongan itu saja sudah merupakan bahaya yang besar dan sebelum mereka berhasil, siluman-siluman itu dapat melarikan diri dari jalan rahasia tersendiri dan meninggalkan puluhan wanita itu dalam keadaan tewas. Tidak, dia harus bersandiwara, menuruti kehendak Sian-su sambil menanti saatnya yang baik dan tepat untuk memberi pukulan besar-besaran.

Tosu tua tinggi kurus itu memang Liang Hi Tojin dari Bu-tong-pai, dan empat orang pria yang berusia antara tiga puluh hingga empat puluh tahun, yang tampak gagah perkasa itu adalah murid-murid keponakannya, yaitu murid Bu-tong-pai yang termasuk sebagai murid kepala. Biar pun tingkat kepandaian mereka masih dua tingkat di bawah tingkat Liang Hi Tojin, tapi pada masa itu mereka itu sudah bisa digolongkan sebagai pendekar-pendekar yang lihai.

Mereka itu turun gunung untuk mengunjungi Louw Ciang Su di kota Tai-goan, akan tetapi mereka hanya sempat melihat peti matinya saja! Tentu saja para tokoh Bu-tong-pai ini menjadi terkejut dan marah ketika mendengar bahwa Louw Ciang Su, sebagai seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas oleh Siluman Goa Tengkorak.

Itulah sebabnya mereka langsung melakukan penyelidikan ke daerah Goa Tengkorak dan karena mereka sudah mendengar bahwa pasukan keamanan dari Tai-goan bersama para pendekar telah gagal ketika mencari siluman itu dari depan tebing Goa Tengkorak, maka mereka lalu melakukan penyelidikan dan pencarian dari belakang tebing.

"Bagaimana mungkin ada manusia dapat bersembunyi di tempat seperti ini?" terdengar Liang Hi Tojin berkata kepada empat orang murid keponakannya setelah mereka melihat keadaan di belakang tebing Goa Tengkorak itu.

"Bukit di depan itu merupakan puncak yang dikelilingi jurang yang tidak mungkin didatangi manusia."

"Akan tetapi, susiok, teecu kira justru karena sulitnya dicapai orang inilah maka tempat ini merupakan tempat yang amat baik bagi para penjahat untuk menyembunyikan diri," kata seorang murid keponakannya.

"Tentu ada suatu rahasia yang dapat membawa orang menyeberang ke puncak bukit itu," kata murid kedua.

"Siancai, siancai, siancai...! Kalau memang ada, tentu tidak akan mudah mencarinya di tempat yang seluas ini."

Thian Sin memuji ketelitian mereka. Memang tidak akan mudah. Dia sendiri dapat tiba di belakang tebing ini melalui jalan rahasia yang rumit, yang merupakan ‘lubang tikus’ dan menembus di lereng jurang, tertutup pohon-pohon dan semak-semak, di dekat tepi jurang. Dia tadi merayap di lereng jurang itu melalui akar-akar pohon dan kini mengintai di balik pohon besar.

Karena merasa sudah waktunya untuk turun tangan dan agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada Sian-su yang dia tahu tentu sedang mengamatinya, dia lalu keluar dari tempat sembunyinya dan berlompatan ke depan lima orang itu!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang gagah dari Bu-tong-pai itu ketika mereka melihat munculnya seorang berjubah putih dengan gambar tengkorak merah darah di dada dan memakai topeng tengkorak yang menyeramkan.

"Siancai! Siancai! Inikah Siluman Goa Tengkorak yang telah membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu?" Liang Hi Tojin bertanya sementara empat orang murid Bu-tong-pai itu telah mencabut pedang masing-masing dari punggung mereka dengan gerakan yang cepat dan indah.

Thian Sin tidak mengeluarkan suara. Apa yang dapat diucapkannya? Tugasnya hanyalah mengusir mereka, maka dia pun segera menerjang ke depan dan menyerang tosu tua itu dengan pukulan dari samping mengarah pelipisnya. Melihat pukulan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, tahulah tokoh Bu-tong-pai ini bahwa siluman itu memang lihai sekali.

"Siancai…, sungguh siluman yang jahat sekali!" Dan ia pun cepat meloncat mundur untuk mengelak sambil mencabut pedangnya.

Empat orang muridnya telah menerjang dengan pedangnya masing-masing dan Thian Sin segera dikurung dan dikeroyok. Permainan pedang Bu-tong Kiam-sut memang hebat dan berbahaya sekali. Sinar pedang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar dari pelbagai jurusan menggulung dirinya, dan kalau Thian Sin tidak memiliki ginkang yang hebat serta langkah-langkah ajaib dari Thai-kek Sin-kun, tentu dia akan terancam bahaya dikeroyok oleh mereka. Terutama sekali pedang di tangan Liang Hi Tojin yang amat lihainya. Pedang itu mengeluarkan suara berdesing-desing dan sinarnya berkilauan menyambar-nyambar.

Thian Sin tak berani mencabut Gin-hwa-kiam-nya sebab pedang itu mungkin akan dikenal oleh Liang Hi Tojin. Maka terpaksa ia pun mengerahkan Thian-te Sin-ciang untuk kadang kala menangkis jika elakan-elakannya kurang cukup untuk dapat menyelamatkan diri dari sambaran lima batang pedang itu.

Liang Hi Tojin dan empat orang muridnya terkejut bukan main melihat betapa siluman itu menangkis pedang mereka dengan tangan kosong saja! Padahal, pedang mereka adalah pedang pilihan, terbuat dari baja yang amat keras dan baik. Maka tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar sangat lihai sekali dan mereka pun sekarang tidak merasa heran bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini.

Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat dapat terbebas dari pada ancaman mala petaka yang ganas dan jahat.

Thian Sin merasa kewalahan juga. Bila dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thi-khi I-beng misalnya, sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau pun Thian-te Sin-ciang dan Thai-kek Sin-kun, tentu kakek Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu.

Apa bila dia menggunakan ilmu peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya. Padahal, tentu saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini.

Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu. Dia menunggu saat yang baik dan tepat untuk melakukan serangan terakhir seperti yang sudah direncanakannya ketika dia mengintai mereka tadi.

Perlahan-lahan dia mundur ke belakang menuju ke bawah sebatang pohon yang daunnya lebar, selebar tangan dengan ujung runcing dan daun itu kaku pula, cukup baik dijadikan senjata. Tiba-tiba dia meloncat, mencabut beberapa helai daun dari ranting yang terendah dan begitu tubuhnya turun, dia menyambitkan daun-daun itu ke depan sambil membentak dengan suara nyaring,

"Pergilah!"

Berturut-turut tangannya lalu bergerak. Dengan pengerahan sinkang yang amat kuat lima helai daun itu seperti anak panah saja meluncur secepat kilat menuju ke arah lima orang lawannya.

Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang murid Bu-tong-pai itu melepaskan pedang mereka ketika sebatang daun menyambar dan menancap di pergelangan tangan kanan mereka bagai anak panah atau senjata piauw (pisau terbang) dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi.

Ada pun Liang Hi Tojin masih dapat menggunakan lengan kirinya menangkap daun yang menyambar pergelangan tangan kanannya itu. Berbeda dengan empat daun yang lainnya, daun yang menyambar ke arah pergelangan tangan Liang Hi Tojin itu tak begitu kuat dan cepat sehingga dengan mudah dapat ditangkap oleh tosu ini. Liang Hi Tojin memandang sekilas kepada daun di tangannya kemudian dia berkata,

"Ambil pedang, mari kita pergi!"

Empat orang murid itu segera mengambil pedang mereka masing-masing dengan tangan kiri, kemudian bersama tosu itu mereka berloncatan meninggalkan tempat itu. Thian Sin tertawa dan memandang sampai mereka lenyap di balik semak-semak.

"Bagus, taihiap. Sungguh senang hatiku melihat engkau menghajar mereka, sayang tidak membunuh saja mereka itu agar kelak tidak mendatangkan penyakit."

Thian Sin menoleh dan melihat pendeta siluman ketua Jit-sian-kauw telah berada di situ. Tentu saja dia tadi mendengar gerakannya ketika orang ini muncul dengan ringan sekali, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu untuk membiarkan orang itu merasa bangga bahwa ginkang-nya demikian hebatnya sehingga terlalu hebat bagi Pendekar Sadis untuk dapat mengetahui kedatangannya. Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata,

"Sian-su, kalau mereka itu memusuhi kita, sudah cukup kalau kita hajar dan mereka akan jera untuk mengganggu kita lagi. Membunuh mereka, berarti hanya akan memperdalam permusuhan belaka, dan membuat kita semakin repot menghadapi usaha mereka untuk membalas dendam kelak."

"Ha-ha-ha, engkau benar, taihiap. Ahh, sungguh beruntung mempunyai seorang sahabat seperti engkau untuk bekerja sama," kata pula Sian-su dengan girang. Mereka kemudian kembali ke sarang Jit-sian-kauw.

Thian Sin merasa girang sekali bahwa dia dapat mengelabui pendeta siluman itu. Dia tadi sudah melakukan siasatnya dengan baik sekali. Dia tahu bahwa biar pun di sana terdapat sekutunya yang paling baik, yaitu Kim Hong, akan tetapi belum tahu apakah dara itu bisa mencari tempat rahasia ini. Sebab itu dia membutuhkan bantuan dan melihat lima orang Bu-tong-pai itu, dia melihat bantuan yang amat baik dan cukup kuat.

Maka ketika dia mengintai tadi, diam-diam dia menggunakan sehelai daun untuk digurat-guratnya dengan duri, membuat beberapa buah huruf di atas daun. Daun itu disimpannya di dalam saku jubahnya dan ketika dia menyerang lima orang itu, daun yang ada huruf-hurufnya itu dia sambitkan ke arah Liang Hi Tojin dengan pengerahan tenaga yang sedikit saja.

Untung bahwa tokoh Bu-tong-pai itu cukup cerdik untuk dapat melihat kejanggalan ini dan menerima daun itu lantas mengajak empat orang murid keponakannya yang telah terluka pergelangan tangannya. Tulisan di atas daun itu berbunyi demikian:

SIAP MENYERBU BERSAMA, TUNGGU BERITA. ANG LIAN TO (PULAU TERATAI MERAH).

Dia sengaja memakai nama Ang-lian-to yang tentu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin yang sudah mengenalnya dan tahu bahwa dia dan Kim Hong tinggal di sebuah pulau kosong yang bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah). Dan agaknya tosu itu memang sudah mengenalnya, buktinya tosu itu mengajak empat orang muridnya untuk mundur. Padahal, sesuai dengan watak pendekarnya, sebelum dia sendiri roboh, maka tidak mungkin tosu itu akan melarikan diri dari pertempuran.

Siluman Goa Tengkorak Jilid 03

SEMUA orang kini mendaki anak tangga menuju ke atas yang bertilam permadani merah dan diam-diam Thian Sin memperhatikan kanan kiri. Dindingnya masih terbuat dari pada batu, akan tetapi kini dihiasi dengan kain-kain sutera, bahkan ada lukisan-lukisan kuno yang indah. Anak tangga itu memutar beberapa kali, seperti anak tangga yang menuju ke menara sebuah istana kuno. Akan tetapi setelah tiba di bagian teratas, Thian Sin segera terbelalak penuh kagum.

Kalau tadi di kanan kiri anak tangga itu dihiasi dan diterangi dengan lampu-lampu yang beraneka warna, kini langit-langit terbuka dan yang menghias langit-langit adalah bintang-bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan yang sudah naik tinggi! Bulan sepotong, akan tetapi karena langit bersih, maka cuaca cukup terang.

Kiranya tempat upacara itu berada di atas puncak bukit yang dikelilingi puncak-puncak lain sehingga tidak akan nampak dari jauh, dan puncak itu merupakan tempat datar yang cukup luas, yang dikurung oleh jurang-jurang amat dalamnya sehingga orang tidak akan mungkin menuruni atau naik ke puncak lewat jurang-jurang itu, kecuali lewat jalan rahasia terowongan!

Luas puncak bukit datar itu tidak kurang dari dua puluh lima kaki tombak persegi, kurang lebih seribu lima ratus meter persegi dan karena terbuka, maka sinar bulan bintang atau matahari dari angkasa dapat menerangi seluruh tempat itu tanpa terhalang apa pun juga. Tempat itu dihiasi pohon, akan tetapi di sekeliling tepinya terdapat tanaman bunga-bunga indah, kemudian rumput-rumput hijau seperti permadani, dan di bagian tengahnya diberi rantai tembok yang halus mengkilap.

Kursi-kursi berjajar pada sebelah kiri, dan ke tempat inilah Siluman Tengkorak membawa para tamu. Semua orang lalu dipersilakan duduk dan Thian Sin sendiri mendapat tempat duduk kehormatan di sebelah kiri sang ketua namun mungkin juga sang pendeta karena sebutannya Sian-su.

Thian Sin memperhatikan sekeliling. Sungguh merupakan tempat yang tersembunyi dan indah sekali. Tidak kelihatan dari dunia luar, terlindung dan tersembunyi. Di dekat tempat duduk sang pemimpin terdapat sebuah meja sembahyang. Di samping kiri terdapat satu kelompok pemain musik yang pada saat itu memainkan alat musik mereka dengan lembut sehingga membuat suasana menjadi romantis dan syahdu. Di hadapan mereka terdapat lantai tembok yang amat halus itu dan di sana-sini, bahkan sampai ke lapangan-lapangan rumput, terdapat kasur-kasur kecil yang beraneka warna dengan selubung bersulam.

Di tempat-tempat yang dibuat secara nyeni terdapat lampu-lampu dengan penutup warna warni dan di sana-sini mengepul asap dupa wangi yang mendatangkan rasa nyaman dan menyenangkan. Di sebelah kanan, di tepi tempat itu, terdapat bangunan-bangunan kecil yang agaknya belum selesai dibangun.

Thian Sin bisa menduga bahwa bangunan-bangunan kecil itu adalah bangunan-bangunan yang dibangun untuk para ‘dewa’ seperti yang biasa dipergunakan untuk tempat arca atau patung yang dipuja orang di dalam kuil-kuil. Akan tetapi yang hebat bukan main adalah kenyataan bahwa pondok-pondok kecil seperti pondok boneka itu terbuat dari pada emas dan terukir indah. Sulit dibayangkan betapa mahalnya membuat pondok-pondok pemujaan dewa-dewa seperti itu.

Tiba-tiba suara musik yang tadinya lembut itu mulai berubah. Sang pemimpin mengangkat tangan kiri ke atas, kemudian suara musik itu berubah menjadi semakin keras dan penuh semangat. Dan bersama dengan perubahan suara musik ini, dari sebuah anak tangga kiri, agaknya menembus ke tempat yang lain lagi dari pada ruangan di mana tadi Thian Sin diterima oleh siluman itu, nampak belasan orang wanita berlari-larian naik.

Mereka itu semuanya terdiri dari wanita-wanita yang muda dan cantik-cantik, dan mereka memakai gaun panjang tipis yang membuat tubuh mereka nampak terbayang. Gaun dari kain sutera putih yang tembus pandang itu tertimpa sinar bulan dan lampu-lampu hingga menciptakan lekuk lengkung tubuh ditimpa bayangan-bayangan yang menggairahkan.

Karena mereka adalah wanita-wanita muda, tentu saja tubuh mereka itu padat dan indah. Kaki mereka yang tak bersepatu itu berlari-larian dan membuat gerakan berjungkit dalam langkah-langkah tarian. Rambut mereka yang hitam dan panjang terurai lepas ke belakang punggung dan kedua pundak, dihias bunga-bunga putih. Dua tangan mereka menyangga baki-baki yang agaknya terbuat dari pada emas pula!

Dengan gerakan yang lemah gemulai dan menggairahkan, lima belas orang penari wanita ini menari dan membuat gerakan berlarian kecil berputaran secara teratur menurut irama music, dan sambil menari mereka menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan cara-cara yang menimbulkan pesona dan gairah, gerakan pinggul yang memikat dan penuh nafsu, makin lama makin liar ketika musik itu makin nyaring dibunyikan oleh para penabuhnya.

Sejenak Thian Sin sendiri tertarik dan terpesona. Memang indah bukan main. Suasananya amat romantis, sinar bulan dan cahaya lampu-lampu beraneka warna itu, di udara terbuka yang demikian sejuk, dengan keharuman kembang-kembang bercampur wanginya dupa. Dan gadis-gadis itu menjadi semakin cantik menarik karena tertimpa cahaya warna-warni yang redup, dengan lekuk lengkung tubuh gempal di balik pakaian yang tembus pandang, dan diiringi suara musik yang merangsang pula!

Akan tetapi pemuda ini segera dapat menguasai perasaannya dan secara diam-diam dia pun mengerling ke arah para tamu. Dia tidak merasa heran melihat betapa para tamu pria itu semakin terangsang, pandang mata mereka itu berseri-seri penuh nafsu birahi, wajah mereka kemerahan, hidung kembang-kempis dan mulut tersenyum-senyum penuh gairah.

Dari samping nampak betapa sering kalamenjing mereka naik turun saat mereka menelan ludah. Bahkan ada pula yang memandang dengan mata melotot, seakan-akan tubuh yang menggairahkan itu hendak ditelan bulat-bulat dengan pandangan matanya. Ada pula yang berpakaian sebagai ahli silat, tampak tenang saja akan tetapi tangannya mengepal keras, tanda bahwa dia pun terpesona dan berusaha untuk menekan perasaannya.

Semua ini nampak oleh Thian Sin dan dia menemukan sebab yang merupakan daya tarik bagi mereka itu, yaitu pemuasan birahi dan rangsangan yang agaknya sengaja disajikan oleh wanita-wanita cantik itu kepada mereka. Dan ketika dia mengerling ke arah siluman yang dipanggil Sian-su itu, dia melihat bahwa orang bertopeng ini pun seperti dia, sedikit juga tidak memperhatikan lagi kepada para penari, melainkan memandang ke kanan kiri, memperhatikan satu demi satu wajah para tamu dengan senyum puas yang membayang pada topeng tengkoraknya.

Setelah menari-nari beberapa kali putaran dan setiap berputar di dekat tempat duduk para tamu tercium bau harum winyak wangi dari tubuh mereka, kembali Sian-su mengangkat tangan kirinya dan ini pun merupakan isyarat karena suara musik tiba-tiba menurun. Para wanita yang menari itu pun memperhalus tarian mereka dan akhirnya mereka berkumpul menjadi suatu kelompok lalu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sian-su!

Siluman ini mengangguk-angguk dan tangannya bergerak seperti menebarkan sesuatu di udara dan... kelopak-kelopak bunga beterbangan lalu melayang turun ke atas kepala lima belas orang penari yang ditundukkan dalam penghormatan mereka itu. Kelopak-kelopak bunga itu hinggap di atas rambut-rambut hitam itu, indah seperti kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga mekar.

Thian Sin mengerutkan alisnya. Secara diam-diam dia tahu bahwa orang itu sangat lihai, bukan saja ahli ilmu silat tinggi seperti yang sudah disangkanya, akan tetapi juga pandai mempergunakan kekuatan sihir untuk bermain sulap! Dia pun cepat membuat tanggapan dengan sinar mata penuh kagum dan heran seperti yang diperlihatkan oleh wajah semua orang yang hadir.

Kebetulan sekali siluman itu memandang kepadanya dan Thian Sin melihat dengan jelas betapa muka tengkorak itu tersenyum simpul, jelas kelihatan gembira serta bangga sekali dengan ilmu kepandaiannya, terutama sekali karena ilmu sihirnya dikagumi oleh seorang pendekar seperti Pendekar Sadis!

Sekarang lima belas orang penari itu bangkit berdiri. Dengan gerakan lemah gemulai dan memikat mereka pun berjalan menghampiri para tamu dengan baki pada kedua tangan. Sambil tersenyum Si Muka Tengkorak itu berkata kepada Thian Sin,

"Maaf, taihiap, bukan kami mata duitan, akan tetapi karena kebutuhan untuk membangun perkumpulan agama kami membutuhkan banyak biaya, dan para anggota serta pengikut kami bermurah hati, maka acara sekarang ini adalah acara pemberian sumbangan suka rela yang dipungut oleh para gadis penari. Akan tetapi sebagai tamu kehormatan, tentu saja taihiap tidak diharapkan untuk menyumbang..."

"Ahh, jangan sungkan, Sian-su. Aku pun bersedia menyumbang, jangan khawatir!" Thian Sin langsung merogoh saku dalam bajunya dan mengeluarkan sebongkah kecil emas dan ketika ada seorang penari lewat di depannya, dia segera menaruh bongkahan emas yang besarnya sekepal itu di atas baki.

Tentu saja penari itu terkejut bukan kepalang, terbelalak melihat emas yang berat itu lalu melempar senyum manis dan kerling mata yang penuh daya memikat. Semua tamu juga memandang heran dan mereka maklum betapa besarnya harga sumbangan yang sudah diberikan oleh Pendekar Sadis. Akan tetapi tentu saja mereka tidak tahu bahwa Pendekar Sadis adalah seorang yang kaya raya sehingga sebongkah emas itu tak ada artinya sama sekali baginya!

Melihat ini, siluman itu lalu tertawa. "Siancai... taihiap sungguh dermawan. Terima kasih, taihiap. Abwee, kau simpan kerlingmu itu dan jangan khawatir, malam nanti engkau boleh melayani Ceng-kongcu!"

Gadis penari yang disebut A-bwee itu menahan senyum lalu berlari-lari ke arah tamu lain. Thian Sin memperhatikan ke sekelilingnya dan dia melihat betapa royalnya para tamu itu saat menyerahkan sumbangan kepada para gadis penari, meletakkan sumbangan mereka di atas baki-baki yang disodorkan oleh para gadis itu. Di antara mereka bahkan ada yang mengajak para gadis itu bersenda-gurau dan berbisik-bisik lirih.

Sesudah selesai upacara sumbangan itu, para gadis itu lalu mengundurkan diri sambil berlari-larian menuju anak tangga yang letaknya di belakang, yaitu tempat dari mana tadi mereka naik. Musik masih dimainkan dengan lembut, dan tidak lama kemudian, nampak para gadis manis itu sudah kembali lagi namun kini baki-baki itu sudah berganti isi, yaitu cawan-cawan dan guci arak dan ada pula yang membawa piring-piring berisi makanan.

Sambil tersenyum-senyum para gadis itu menghidangkan arak dan makanan di atas meja para tamu, kemudian dengan sikap lemah gemulai dan tersenyum-senyum ramah mereka lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan para tamu. Begitu arak dituangkan ke dalam cawan, segera tercium bau sedap arak yang baik dan tua. Kini bukan hanya lima belas orang gadis penari tadi yang menjadi pelayan, namun ditambah lagi oleh beberapa orang lain yang sama muda dan cantiknya sehingga jumlah mereka ada dua puluh lima orang.

Setelah melihat betapa semua tamu menerima suguhan arak dan cawan mereka sudah dipenuhi arak harum, Siluman Tengkorak yang juga sudah menerima suguhan secawan arak lantas mengangkat cawan araknya ke atas dan berkata dengan suara ramah, "Cu-wi, silakan minum untuk persahabatan kita yang kekal!"

Semua orang mengangkat cawan araknya masing-masing dan Thian Sin juga mengangkat cawan araknya, tetapi tidak memperlihatkan sikap curiga walau pun dia menduga bahwa tentu ada apa-apanya di dalam suguhan arak ini. Akan tetapi dia mengandalkan kekuatan sinkang-nya untuk melindungi tubuhnya apa bila arak itu dicampuri racun. Lagi pula, dia melihat sendiri bahwa arak untuknya itu dari satu guci dengan arak untuk para tamu lain, maka dia ikut minum tanpa curiga sama sekali.

Begitu arak itu melewati mulut dan kerongkongannya, Thian Sin merasa bahwa arak itu memang lezat sekali dan mengandung sesuatu yang merupakan obat keras namun halus. Dia merasa yakin bahwa itu bukanlah racun, meski pun dia juga tahu bahwa tentu arak itu telah dicampuri semacam obat yang cukup keras. Beberapa lama kemudian setelah arak memasuki perutnya, Thian Sin baru tahu bahwa arak itu mengandung obat perangsang yang membuat tubuhnya hangat dan pikirannya gembira.

Sesudah merasa yakin bahwa arak itu tidak mengandung racun, Thian Sin berani minum dengan hati tenang. Sekarang dia melihat betapa para tamu itu sudah mulai terpengaruh arak, mereka tertawa-tawa gembira. Hidangan pun dikeluarkan dan musik kini mengiringi gadis-gadis yang datang dan menari-nari.

Pakaian mereka merupakan gaun-gaun tipis warna-warni sehingga selain indah, juga amat menggairahkan karena pakaian mereka tembus pandang. Gerakan-gerakan mereka yang erotis membuat suasana menjadi semakin panas, ditambah pula pengaruh arak sehingga di antara para tamu itu sudah ada yang mulai nakal dengan kata-kata dan tangan mereka, menggoda dan menowel para pelayan wanita yang muda dan cantik.

Thian Sin melihat bahwa pelayan-pelayan itu agaknya juga sudah mulai terpengaruh oleh sesuatu yang membuat mereka itu bersikap genit-genit dan berani, padahal melihat sikap mereka, gadis-gadis itu tentu dari golongan baik-baik.

Makin larut malam, suasana menjadi semakin panas. Thian Sin melihat betapa sudah ada beberapa orang di antara para tamu itu yang berani menarik lengan seorang pelayan dan mendudukkannya di atas pangkuan lalu menciuminya begitu saja di depan orang banyak!

Agaknya siluman yang jadi ketua perkumpulan itu dapat melihat pula hal ini, maka ia pun memberi isyarat dengan tangan diacungkan ke atas dan seorang di antara para anggota siluman itu lalu membunyikan canang bertalu-talu. Mendengar ini, gadis-gadis pelayan itu melepaskan diri dan mundur, bahkan lalu menghilang bersama-sama para gadis penari. Siluman Tengkorak itu bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang namun lembut dan ramah.

"Cu-wi yang terhormat, seperti diketahui malam hari yang suci ini akan dilakukan upacara pengangkatan seorang anggota baru. Oleh karena itu, sebelum kita memulai acara tarian bebas gembira untuk memuja dewa, terlebih dulu akan dilakukan upacara pengangkatan murid atau anggota baru itu. Harap cu-wi suka menjadi saksi."

Semua tamu yang sudah makan kenyang itu kini duduk tenang dan Thian Sin sendiri pun mengikuti perkembangan berikutnya dengan penuh perhatian. Dia belum lagi tahu di mana adanya ibu dari dua orang anak itu, akan tetapi dia sabar menanti sampai semua upacara selesai, baru dia akan mendesak siluman itu.

Dia harus berhati-hati karena tempat ini sungguh sangat berbahaya. Jumlah anak buah siluman ini kiranya tidak kurang dari dua puluh lima orang, belum dihitung gadis-gadis itu dan siapa tahu bahwa di antara para tamu itu terdapat orang-orang pandai yang agaknya tentu akan membantu siluman itu pula.

Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia kini berada di dalam sarang musuh yang sangat berbahaya dan yang agaknya penuh dengan perangkap-perangkap rahasia sehingga andai kata dia akan dapat menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya orang, belum tentu dia mampu mengatasi semua alat-alat jebakan di tempat itu. Biarlah bersabar sambil mencari kesempatan baik untuk turun tangan sambil mengukur sampai di mana kekuatan pihak lawan.

Siluman Tengkorak itu kemudian mengangkat tangannya memberi isyarat dan musik pun dimainkan lagi dengan lagu yang lembut akan tetapi sekaligus mengandung kekerasan di dalamnya, seperti dalam lagu puja-puji. Asap dupa pun mengepul makin tinggi, semerbak wanginya, sedangkan seluruh lampu diganti dengan lampu yang warnanya hijau sehingga cuaca menjadi redup.

Kini nampaklah tujuh orang gadis naik ke tempat itu, bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian yang begitu tipisnya sehingga pakaian itu seperti kabut saja yang menutupi tubuh mereka, membuat tubuh di balik pakaian itu nampak jelas membayang. Mereka berjalan perlahan-lahan, penuh khidmat sambil membawa bermacam-macam benda.

Ada yang membawa seekor kelinci putih yang gemuk, ada yang membawa sebuah bokor emas, ada yang membawa guci arak dan ada pula yang membawa sebatang pedang kecil. Hebatnya, bokor, guci dan bahkan pedang kecil itu semua terbuat dari pada emas tulen!

Tujuh orang gadis ini melangkah perlahan, dengan kepala tunduk, ke arah tempat duduk Siluman Tengkorak, lalu mereka berlutut dengan sikap menanti. Siluman itu lantas bangkit berdiri, melangkah maju dan gadis-gadis itu berlutut di sekitarnya. Siluman itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dengan lengan dikembangkan, lantas muka tengkorak itu menengadah dan terdengarlah suaranya lantang dan mengandung getaran yang amat kuat sehingga diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Itulah tenaga khikang yang kuat bercampur dengan kekuatan mukjijat ilmu sihir!

"Yang Mulia Dewa Kematian, silakan menjelma agar hamba sekalian dapat mengesahkan pengangkatan seorang pemuja baru bagi paduka...!" Suara itu bergema membuat semua hadirin memandang dengan sikap hormat dan juga dengan hati tegang.

Biar pun mereka yang hadir itu sudah beberapa kali menyaksikan peristiwa ini, namun selalu mereka merasakan ketegangan luar biasa karena pada saat itu mereka merasakan getaran aneh yang seolah-olah mengguncang jantung. Bahkan para pendekar yang hadir secara diam-diam harus mengakui bahwa sinkang yang mereka kerahkan untuk menekan getaran itu jauh kalah kuat, membuat mereka merasa semakin kagum terhadap Sian-su!

Thian Sin bersikap tenang, tetapi dengan mengerahkan tenaga dalam dan juga kekuatan sihirnya, dia dapat memandang lebih terang sehingga tahulah dia bahwa dengan kekuatan sihir yang kuat, orang itu telah mempengaruhi semua orang dengan halus tanpa mereka sadar bahwa mereka telah disihir melalui suara itu.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan nampak asap putih kebiruan mengepul tebal di tempat Siluman Tengkorak itu berdiri. Tubuh siluman itu lenyap terbungkus asap tebal sedangkan musik masih dimainkan dengan lagu yang amat aneh tadi. Selagi asap masih mengepul tebal, nampaklah dua puluh orang lebih penari yang tadi, tapi kini telah berganti pakaian gaun tipis berwarna-warni.

Mereka berlari-lari ringan dan menari-nari, membuat lingkaran mengelilingi Sian-su yang masih terbungkus asap di tengah-tengah lingkaran tujuh orang gadis yang masih berlutut. Perlahan-lahan asap itu membuyar kemudian tubuh orang itu mulai nampak lagi, dan kini semua orang memandang dengan hormat, bahkan ada di antara para hadirin yang cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.

Thian Sin memandang tajam dan dia pun terkejut melihat betapa wajah tengkorak itu kini mengeluarkan cahaya cemerlang! Orangnya masih yang tadi, tidak ada perubahan, yang berubah hanya wajah tengkorak itu yang mengeluarkan sinar, sedangkan sepasang mata itu pun kini bersinar-sinar mencorong lebih terang dari pada tadi.

Thian Sin maklum bahwa ledakan dan asap tadi hanya merupakan hasil dari pada bahan peledak saja, dan bahwa orang itu telah mempengaruhi pikiran dan semangat para hadirin dengan getaran suaranya. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu apa yang membuat wajah tengkorak atau topeng tipis itu menjadi cemerlang seperti itu.

Dia tahu pula bahwa tentu semua yang hadir percaya bahwa kini Dewa Kematian telah menjelma dan memasuki tubuh Sian-su! Tentu saja kepercayaan semacam ini membuat mereka itu semua tunduk dan kagum. Seorang anggota siluman mendekati Thian Sin dan dari kepalanya yang miring ke kiri itu Thian Sin dapat menduga bahwa orang ini tentulah tosu yang pertama kali memancingnya masuk ke tempat ini.

"Taihiap, saya bertugas untuk memberi keterangan kepadamu seandainya taihiap ingin mengetahui sesuatu."

Thian Sin tersenyum dan merasa bahwa pertunjukan ini, selain untuk mempengaruhi para hadirin dan menarik kepercayaan mereka, juga sengaja dipamerkan kepadanya! Maka dia pun mengikuti permainan ini dan bertanya dengan suara dibuat bernada penuh dengan keheranan, "Aku ingin tahu mengapa wajah Sian-su menjadi bercahaya seperti itu?"

Dengan suara yang serius dan penuh hormat, siluman itu berbisik, "Taihiap, yang berdiri di situ hanyalah tubuh Sian-su, akan tetapi sesungguhnya adalah Dewa Kematian yang memasuki dirinya."

"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura heran dan mengangguk-angguk.

Kini dia melihat ada dua orang anggota siluman naik dan menghampiri Sian-su. Siluman Tengkorak ini menggerakkan tangan kirinya ke udara dan tahu-tahu dia telah memegang secawan arak! Lalu dipercikkan arak dari cawan itu kepada dua orang anggota yang telah belutut, mengenai kepala dan sebagian lehernya.

Percikan arak ini seakan-akan menjadi isyarat bagi mereka berdua, maka mereka segera mencabut sebatang pedang pendek dari pinggang, kemudian mulai menggurat leher serta pipinya dengan pedang itu. Darah pun muncrat dari luka-luka itu, akan tetapi kedua orang ini seperti tak merasakan sesuatu, lalu menari-nari dengan aneh diiringi suara musik dan ditanggapi oleh para penari yang mengelilingi tempat itu dengan gerakan-gerakan pinggul yang memutar-mutar erotis. Dua orang itu lalu sibuk menuliskan huruf-huruf dengan darah mereka di atas potongan-potongan kain putih.

Anggota siluman yang duduk di dekat Thian Sin menerangkan tanpa diminta, "Itu adalah hui-hu yang ditulis dengan darah mereka dan dapat menjadi jimat penolak iblis yang nanti akan dibagi-bagikan kepada para tamu. Sekarang akan diadakan upacara injak bara api dan mandi minyak mendidih."

Ternyata persiapan untuk itu sudah dikerjakan dengan amat cepatnya oleh para anggota siluman dan sebentar saja telah terhampar bara api dari arang yang membara sepanjang tiga meter, dan tidak jauh dari sana terdapat kuali besar penuh minyak yang dipanaskan sampai mendidih. Semua tamu yang duduknya cukup jauh dari tempat itu masih dapat merasakan panasnya bara api itu.

Setelah persiapannya selesai dan semua kain putih telah ditulisi dengan darah, dua orang anggota perkumpulan siluman itu bangkit, menari-nari, masih menggores-goreskan pisau atau pedang kecil itu pada dada mereka yang telanjang, kemudian mereka menghampiri bara api dan berjalan dengan kaki telanjang di atas arang membara!

Dua kali mereka berjalan melintasi arang membara itu, kemudian keduanya menghampiri kuali yang penuh dengan minyak mendidih dan mengoles-oleskan minyak mendidih itu di tubuh mereka. Sungguh luar biasa sekali. Asap mengepul dari tubuh mereka, akan tetapi kulit mereka sama sekali tidak melepuh atau pun terbakar, malah luka-luka goresan yang tadinya berdarah itu menjadi sembuh dan pulih kembali, bahkan bekas goresan luka saja tidak ada lagi!

Tontonan seperti ini bukanlah tontonan baru bagi orang-orang yang hadir, juga bagi Thian Sin, namun selalu masih amat menarik perhatian dan mendatangkan kengerian, membuat kepercayaan orang akan hal-hal yang aneh dan tidak mereka mengerti menjadi semakin tebal menyelinap di dalam hati dan membuat mereka lebih condong menerima ketahyulan dan membiarkan diri terpengaruh.

Thian Sin pernah beberapa kali menonton pertunjukan dari para tangsin seperti itu, yang dilakukan di kuil-kuil pada waktu ada upacara atau pesta. Maka dia tidak merasa heran sungguh pun dia tahu bahwa peristiwa itu sama sekali bukan hasil main sulap, melainkan akibat dari penyihiran diri sendiri melalui kepercayaan yang mutlak.

Sudah menjadi kelemahan kita manusia pada umumnya untuk merasa tertarik terhadap hal-hal yang aneh-aneh, peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal serta penuh rahasia, keajaiban-keajaiban dan kemukjijatan-kemukjijatan. Manusia selalu merasa haus dengan hal-hal yang baru, yang aneh, yang tidak kita mengerti.

Kita begitu mendambakan hal-hal baru sehingga kita telah melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekitar kita, yang kita anggap telah lapuk dan lama, tidak menarik lagi. Padahal segala macam keajaiban serta kemukjijatan terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita sendiri.

Tumbuhnya setiap helai rambut di kepala dan bulu di kulit kita merupakan keajaiban dan kemukjijatan yang besar, detak jantung kita yang mengatur peredaran darah di seluruh tubuh kita, kembang-kempisnya paru-paru kita yang menghidupkan, bekerjanya seluruh anggota tubuh kita, panca indera kita, bekerjanya otak kita yang membuat kita dapat bicara, mendengar, melihat dan berpikir. Bukankah semua itu merupakan sesuatu yang amat indah, sesuatu yang amat ajaib dan mukjijat, di mana sepenuhnya terdapat suatu kekuatan gaib yang sungguh maha kuasa?

Kemudian, segala benda yang tampak di luar diri kita. Gunung-gunung raksasa, tumbuh-tumbuhan dengan aneka warna, bunga, dan aneka rasa buahnya, segala makhluk hidup yang bergerak dengan segala macam bentuk, corak dan sifatnya, lalu awan berarak di angkasa, menciptakan hujan, hawa udara yang menghidupkan, sinar matahari, air, bumi, langit dan segala isi alam ini.

Bukankah semua itu merupakan keajaiban yang sangat hebat? Namun kita sudah tidak menghargai semua itu lagi, kita sudah buta akan keajaiban itu, kita menggapnya biasa saja hingga melihat orang menginjak bara api saja kita kagum setengah mati! Padahal, apa sih anehnya menginjak bara api itu apa bila dibandingkan dengan tumbuhnya sehelai rambut kepala atau kuku jari kita?

Keajaiban atau sesuatu yang kita anggap aneh adalah disebabkan kita belum mengerti. Karena masih belum mengerti, tidak tahu bagaimana proses terjadinya, maka kita lalu menganggapnya aneh, ajaib dan menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Akan tetapi, sekali orang sudah mengerti, hal yang tadinya dianggap ajaib itu pun menjadi biasa dan terlupakan, tidak menarik lagi, seperti tidak menariknya melihat segala keajaiban yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Kita memandang selalu jauh ke depan, mencari-cari yang baru.

Kita ini mahkluk pembosan. Tertarik akan hal-hal baru memang merupakan suatu sifat yang baik, seperti anak-anak yang selalu ingin tahu. Akan tetapi sifat ini harus menjadi dorongan untuk menyelidiki sesuatu bukan menerima segala sesuatu begitu saja hingga menciptakan watak tahyul.

Ketahyulan adalah suatu kebodohan, menerima sesuatu dengan keyakinan padahal kita tidak mengerti, dan hal ini terjadi karena kita senang akan sensasi. Menerima sesuatu dengan kata ‘percaya’ mau pun dengan kata ‘tidak percaya’ adalah perbuatan bodoh dan tidak bijaksana, karena menerima sesuatu dengan kata seperti itu berarti bahwa kita belum atau tidak mengerti.

Sebaiknya kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti itu dengan waspada, membuka mata serta telinga, dan menyelami sendiri, menyelidiki sendiri sehingga kita mengerti. Karena apa bila kita sudah mengerti, maka tidak ada lagi istilah percaya atau tidak percaya.....

"Taihiap, sekarang upacara pengangkatan murid wanita yang baru akan segera dimulai," kata pula anggota siluman itu kepada Thian Sin ketika pertunjukan itu selesai dan tempat itu sudah dibersihkan kembali.

Tiba-tiba musik berbunyi semakin nyaring, kemudian nampaklah seorang wanita berjalan perlahan-lahan menaiki panggung atau puncak datar itu. Thian Sin memandang seksama. Dia melihat bahwa wanita itu sangat cantik dan biar pun mukanya agak pucat, akan tetapi muka itu sungguh mempunyai daya tarik yang kuat.

Wajah dan tubuhnya menunjukkan bahwa wanita ini sudah masak, usianya tentu ada dua puluh tujuh tahun. Rambutnya yang hitam terurai lepas itu sangat tebal dan panjangnya sampai ke pinggul. Kedua kakinya yang kecil telanjang dan dia memakai gaun yang sama tipisnya dengan gadis-gadis penari, gaun panjang menutupi kaki sehingga terseret di atas lantai, warnanya putih bersih. Apa bila dipandang sepintas lalu wanita ini seperti seorang mempelai yang akan dipertemukan dengan pengantin pria.

Wanita itu berjalan perlahan, kemudian berhenti di hadapan Sian-su yang masih berdiri tegak dengan wajah bercahaya. Sejenak wanita itu memandang wajah itu, lalu mengeluh lirih dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sian-su!

"Itukah anggota baru?" Thian Sin bertanya.

"Benar, taihiap. Dia itulah wanita yang taihiap sebut-sebut ketika menghadap Sian-su."

Thian Sin benar-benar terkejut sekali. "Apa? Kau maksudkan dia ini adalah ibu muda dari kedua orang anak itu? Ibu dari keluarga Cia yang terculik?" Thian Sin bangkit berdiri. "Jadi benarkah bahwa kalian telah menculiknya dan membawanya ke sini?"

"Sabar dan tenanglah, taihiap," kata orang itu.

Dengan sudut matanya, Thian Sin dapat melihat betapa beberapa anggota perkumpulan itu agaknya selalu memperhatikannya dan mereka telah siap untuk turun tangan apa bila nampak gejala bahwa dia akan memberontak.

"Jangan menuduh yang bukan-bukan. Nanti setelah diadakan upacara sembahyang, para tamu selalu diberi kesempatan untuk mengajukan sendiri pertanyaan-pertanyaan kepada calon anggota atau murid baru."

"Hemm, jadi aku pun boleh mengajukan pertanyaan langsung kepada wanita itu?"

"Tentu saja boleh, akan tetapi nanti setelah upacara sembahyang."

Thian Sin menahan dorongan hatinya yang membuatnya penasaran. Jadi benar, wanita itu, ibu dari dua orang bocah she Cia itu, sudah berada di sini! Dan memakai gaun yang demikian tidak sopan sama sekali, gaun tipis tembus pandang tanpa ada sehelai kain penutup tubuh di balik itu! Padahal, suami wanita ini terbunuh, demikian pula enam orang pendekar lain. Ada apakah di balik semua ini?

Tentu wanita itu berada dalam pengaruh sihir, pikirnya. Akan tetapi, apa bila ada peristiwa yang amat keji dan jahat seperti itu, kalau dugaannya memang benar, kenapa para tamu yang terdiri dari orang-orang berpangkat beserta para pendekar itu suka menjadi pengikut atau peminat? Apakah mereka itu pun sudah tersihir oleh Sian-su itu?

Dia harus menyelidikinya dan kalau memang benar seperti apa yang diduganya itu, maka dia harus menentang dan membasminya! Akan tetapi, dia pun bukan tidak tahu bahwa pihak lawan ini amat berbahaya dan kuat, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Kini Sian-su mengulurkan tangannya ke arah wanita itu yang segera menyambut uluran tangan ini dan wanita itu pun bangkit berdiri, kemudian tangannya digandeng oleh Sian-su, berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu lalu menerima sebongkok hio yang sudah dinyalakan dari salah seorang anggota perkumpulan yang bertugas di sana. Dia segera mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh.

Sekarang wanita itu bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, dan setiap kali selesai sembahyang, sambil berlutut lalu menaruh hio di depan pondok, di tempat abu hio yang telah tersedia. Sesudah selesai, dia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya.

Tujuh orang gadis yang tadi membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga berlutut mengelilingi Sian-su. Orang itu lantas mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan mengeluarkan suara aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan itu sudah memegang sebatang bunga yang diberikannya kepada wanita itu.

Wanita itu menerima bunga, mencium bunga dengan khidmat, lalu menancapkan bunga itu pada rambutnya yang tebal. Kemudian, kembali Sian-su mengangkat kedua tangan ke atas dan mengembangkan kedua lengannya.

Terdengar suara ledakan kemudian disusul asap seperti tadi. Seperti juga tadi, asap itu menyelubungi dirinya dan juga wanita itu sehingga tidak nampak, kemudian setelah asap membuyar, Sian-su masih nampak berdiri seperti tadi, hanya kini cahaya pada wajahnya sudah lenyap.

"Sang Dewa Kematian telah kembali ke tempat asalnya," demikianlah si muka tengkorak yang menemani Thian Sin menerangkan hal yang memang telah dapat diduga oleh Thian Sin.

Siluman Tengkorak atau Sian-su itu kini menghadapi para tamunya dan berkata dengan suara biasa saja, "Cu-wi yang mulia, seperti biasa, apa bila ada yang ingin tahu, silakan mengajukan pertanyaan kepada murid baru ini."

Mendapatkan kesempatan ini, Thian Sin tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sian-su yang menyambutnya dengan sikap ramah.

"Ahh, Ceng taihiap suka memberi kehormatan kepada murid baru kami untuk mengajukan pertanyaan? Silakan, silakan, taihiap!"

Thian Sin mengangguk dan semua tamu memandang dengan hati tertarik. Mereka semua adalah pengikut-pengikut yang setia dan penuh kepercayaan, dan kini mendengar bahwa Pendekar Sadis hendak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja maksudnya untuk menguji, maka mereka merasa tertarik sekali. Mereka sendiri pun tadinya ragu-ragu terhadap perkumpulan agama pemuja Dewa Kematian ini. Tetapi setelah mereka menguji dan melihat hasil-hasil baiknya, mereka kemudian menaruh kepercayaan sepenuhnya.

Siapa yang tidak suka menjadi pengikut? Selagi hidup dapat menikmati kesenangan yang sangat luar biasa di tempat ini, dan selain itu, mereka semua telah menjadi pemuja Dewa Kematian sehingga telah menjadi ‘sahabat’ baik dewa itu. Dengan demikian, mereka akan terjamin kelak kalau terpaksa harus menghadapi kematian karena dewanya telah menjadi sahabat baik mereka. Dan menurut wejangan Sian-su, karena telah menjadi sahabat baik, maka Dewa Kematian akan berlaku murah pada mereka dan akan dapat ‘memperpanjang’ kehidupan mereka dan tidak cepat-cepat mencabut nyawa mereka.

Janji-janji muluk yang selalu dipamerkan memang merupakan umpan yang amat menarik bagi manusia pada umumnya yang selalu mengejar kesenangan dan keenakan, di mana pun dan kapan pun juga. Bahkan untuk mendapatkan janji-janji muluk ini, manusia tidak segan-segan untuk melakukan apa saja, bahkan kalau perlu menyiksa diri.

Alangkah banyaknya orang menyiksa diri dengan berpuasa dan bertapa di tempat sunyi, penyiksaan diri karena di sana terdapat harapan atau janji bahwa mereka akan mendapat ganjaran batin yang tentu saja menyenangkan! Bahkan untuk keadaan mereka sesudah mati sekali pun, selagi masih hidup manusia sudah hendak mengaturnya, semua itu demi mendapat kepastian bahwa keadaannya ‘di sana’ nanti akan enak, keenakan yang diukur dengan keadaan di waktu masih hidup.

Wanita itu masih berlutut dan Thian Sin terpaksa juga berjongkok ketika menghampirinya dan hendak mengajukan pertanyaan.

"Nyonya, bolehkah saya mengetahui namamu?"

Wanita itu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin dan diam-diam Thian Sin harus mengakui bahwa isteri Cia Kok Heng ini adalah seorang wanita yang cantik menarik dan manis sekali. Ketika dia memandang matanya, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang benar wanita itu berada dalam keadaan tersihir atau setidaknya dalam keadaan tidak begitu sadar! Tentu saja dia menjadi marah.

"Namaku Lu Sui Hwa...," jawab wanita itu dengan sikap yang ramah dan senyum manis menghias bibirnya.

Thian Sin segera mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan kekuatan sihir untuk menyadarkan wanita itu sambil berkata, "Lu Sui Hwa, sadarlah engkau dan mulai saat ini pergunakan pikiranmu sendiri!" Dengan gerakan tangan, Thian Sin membuat gerakan jari tangan kiri di depan wajah wanita itu.

Wanita itu segera terbelalak dan mengeluarkan seruan tertahan. "Ihhh...!"

"Sui Hwa, tenanglah dan jawab semua pertanyaan Pendekar Sadis. Ingat, engkau berada dalam keadaan aman!" Tiba-tiba terdengar suara Sian-su yang lemah lembut.

Ucapan itu membuat sepasang mata yang terbelalak itu menjadi suram lantas wanita itu memandang kepada Thian Sin dengan penuh kecurigaan! Akan tetapi, Thian Sin melihat bahwa usahanya berhasil dan wanita itu kini benar-benar telah sadar.

"Nyonya, kenalkah engkau pada orang yang bernama Cia Kok Heng?" tanyanya dengan lantang.

Akan tetapi, betapa heran hatinya ketika wanita itu menjawab dengan wajar, "Dia adalah suamiku."

"Dan dua orang anak kecil, seorang anak laki-laki dan seorang wanita bernama Cia Liong dan Cia Ling?"

Wajah itu menjadi pucat sekali, akan tetapi suaranya masih terdengar tenang dan lantang ketika menjawab, "Mereka adalah anak-anakku!"

Thian Sin lalu bangkit berdiri dan suaranya lantang dan penuh wibawa ketika dia berkata lagi, "Nyonya Cia, engkau yang memiliki suami dan dua orang anak, kenapa bisa berada di sini?"

Suasana menjadi tegang. Semua tamu maklum bahwa Pendekar Sadis ini mencari-cari permusuhan, dan semua telinga ditujukan kepada wanita itu, menanti jawabannya. Thian Sin sudah bersiap siaga karena dia merasa yakin bahwa wanita ini tentu akan membuka rahasia Siluman Goa Tengkorak, bahwa dia telah diculik oleh mereka.

"Aku memang meninggalkan mereka untuk menjadi pengikut Sian-su!"

Jawaban ini tentu saja tidak disangka sama sekali oleh Thian Sin dan mukanya menjadi merah ketika dia mendengar suara ketawa tertahan di sana-sini. Dia cepat menggunakan kekuatan sihirnya untuk ‘mencuci’ wanita yang masih berlutut itu dari hawa atau pengaruh sihir yang mempengaruhi, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak dalam pengaruh sihir lagi, melainkan menjawab dalam keadaan sadar!

"Engkau sebagai seorang nyonya terhormat rela merendahkan diri, mengenakan pakaian seperti ini dan meninggalkan suami serta anak-anakmu?" Suara Thian Sin mengandung penasaran dan dia tahu bahwa pertanyaannya itu tentu akan menikam perasaan seorang ibu dan isteri yang terhormat.

"Taihiap, pertanyaanmu itu sudah menyimpang dan merupakan penghinaan!" Terdengar Sian-su berkata halus.

Thian Sin menoleh. Dia melihat betapa pandangan mata para tamu ditujukan kepadanya dengan penuh penasaran, dan wanita itu pun menunduk dan menangis!

"Sui Hwa, jawablah, apakah ada yang memaksamu menjadi pengikut kami dan menjadi pemuja Dewa Kematian?" tanya Sian-su dengan suara lantang.

"Tidak ada, aku masuk atas kehendakku sendiri," jawab nyonya itu.

"Dan engkau rela mengikuti semua upacara dan peraturan seperti yang sudah berlaku di sini?"

"Aku rela."

Sian-su berpaling kepada Thian Sin. "Ceng-taihiap sudah mendengar cukup, maka harap silakan duduk dan menyaksikan upacara selanjutnya. Boleh saja orang luar merasa tidak setuju dengan cara-cara kami, tetapi jelas bahwa orang luar tidak berhak mencampuri."

"Aku tidak ingin mencampuri, hanya ingin tahu keadaan yang sebenarnya," bantah Thian Sin.

Akan tetapi, para anggota perkumpulan itu sudah datang mengurung dan para tamu juga memandang marah. Melihat ini, Thian Sin menggerakkan pundaknya lantas kembali ke tempat duduknya, mulai meragukan kebenaran tindakannya memasuki sarang berbahaya ini.

Bagaimana kalau memang wanita itu adalah wanita tak bermalu yang rela meninggalkan suami serta anak-anak untuk menjadi pengikut perkumpulan yang cabul ini? Mungkin saja suaminya tidak rela melepaskan lantas bersama kawan-kawannya yang merupakan Tujuh Pendekar Tai-goan mereka memusuhi perkumpulan ini akan tetapi mereka lalu dikalahkan sehingga semua jatuh tewas.

Kalau memang benar demikian keadaannya, maka persoalannya tentu saja menjadi lain sama sekali! Dengan wajah termangu-mangu Thian Sin menyaksikan upacara yang mulai dilakukan oleh Sian-su.

Siluman atau pendeta siluman ini mengambil kelinci putih dari tangan seorang di antara tujuh orang gadis, lalu mengambil pedang emas. Dia mengangkat kelinci itu di depannya, tepat di atas kepala Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, kemudian pisau atau pedang kecil dari emas itu dihujamkan ke leher kelinci putih!

Darah mengucur keluar dari luka leher itu pada waktu pisau dicabut, nampak jelas sekali menodai bulu putih bersih, lalu darah itu mengucur jatuh ke atas kepala nyonya muda itu! Dari atas kepala, darah kelinci itu kemudian mengalir dan membasahi mukanya. Wanita itu menengadah dan nampak tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya.

Dari kejauhan Thian Sin dapat melihat bahwa wanita itu sudah kembali berada di dalam cengkeraman sihir. Akan tetapi karena tadi malam dalam keadaan sadar wanita itu sudah mengaku bahwa dia melakukan semua itu atas kehendak hatinya sendiri dan secara suka rela, apa yang dapat dilakukannya? Dia hanya dapat memandang.

Kini pendeta siluman itu membiarkan darah kelinci memasuki bokor emas yang dipegang oleh salah seorang gadis, sampai darah itu tak menetes lagi dari leher kelinci. Tentu saja kelinci itu mati kehabisan darah. Akan tetapi, ketika pendeta siluman itu dengan bentakan keras melemparkan kelinci ke bawah, kelinci yang bermandikan darah itu menggerakkan tubuhnya dan lari cepat ke tebing dan menghilang di balik jurang!

Thian Sin mengangguk-angguk. Memang pendeta ini adalah seorang lawan yang tangguh, juga dalam ilmu sihir! Sang pendeta kemudian menuangkan arak atau anggur dari dalam guci-guci emas ke dalam bokor, mencampurkan arak itu dengan darah kelinci. Kemudian musik pun dipukul dengan gencar penuh semangat, dan makin lama semakin panas saat pendeta itu, diwakili oleh tujuh orang penari, membagi-bagikan isi bokor ke dalam cawan arak para tamu!

Thian Sin yang hendak diberi, menolak keras dengan menggeleng kepala dan mukanya menyatakan jijik. Kini semua penari, berikut tujuh orang gadis yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang, menari semua, menurutkan irama musik yang makin lama semakin panas merangsang.

Dan perlahan-lahan Lu Sui Hwa juga menggerak-gerakkan tubuhnya lantas bangkit berdiri sambil menari. Agaknya dia tak pernah belajar menari, akan tetapi dia hanya menggerak-gerakkan sepasang lengan serta pinggulnya, dan karena dia seorang wanita cantik yang memiliki bentuk tubuh yang indah, biar pun begitu tetap saja dia nampak amat menarik!

Seorang pemuda yang tadinya duduk di bagian tamu, nampaknya telah mulai mabok atau terseret oleh keadaan itu. Sambil tersenyum lebar dia maju menghampiri Sian-su yang memegang tangannya dan menariknya mendekati Sui Hwa. Mereka agaknya berkenalan dan Sui Hwa menyambutnya dengan senyuman manis, kemudian pemuda yang kelihatan sudah mabok itu lantas merangkul dan menjilati darah yang menodai wajah Sui Hwa, dan keduanya lalu menari-nari sambil berpelukan!

Para tamu mulai gembira, bersorak dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Agaknya mereka semua menjadi mabok birahi sesudah minum anggur yang bercampur darah tadi! Serentak mereka berdiri lantas menari-nari, masing-masing memilih pasangannya sendiri-sendiri di antara para penari kemudian terjadilah pemandangan yang hampir tidak dapat dipercaya oleh Thian Sin kalau dia tidak menyaksikannya sendiri!

Orang-orang itu mungkin telah menjadi gila semua, pikirnya. Mereka menari berpasang-pasangan, saling rangkul, saling belai dan saling cium, sedikit pun tidak merasa malu dan musik pun semakin riuh rendah, keranjingan dan mereka semua seperti sudah kerasukan iblis!

Pendeta siluman itu sendiri langsung meraih pinggang seorang wanita yang masih sangat muda, yang cantik manis dan yang agaknya memang menjadi kekasihnya. Thian Sin tidak tahu bahwa wanita muda ini adalah Thio Siang Ci, mempelai wanita dari dusun Ban-ceng yang sudah diculik pada malam pengantin! Dia diculik karena pendeta siluman itu sendiri yang tertarik dan tergila-gila kepada kembang dusun Ban-ceng ini.

Juga Pendekar Sadis tidak tahu bahwa orang muda yang kini sedang bergumul sambil menari-nari itu adalah seorang pemuda bangsawan she Phang dari Taigoan yang sudah lama tergila-gila kepada isteri Cia Kok Heng yang kini telah berada dalam pelukannya dan melayani hasrat hatinya dengan nafsu birahi bernyala-nyala itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Sesungguhnya, perkumpulan yang menamakan dirinya perkumpulan agama Jit-sian-kauw ini secara diam-diam sudah lama bersarang di tempat itu. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang yang hanya dikenal dengan sebutan Sian-su dan secara diam-diam sudah diakui pula oleh banyak anggota yang terdiri dari orang-orang penting di sekitar Tai-goan, malah ada pula yang dari kota raja.

Secara resmi agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, juga dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yang-kauw dan lain-lainnya yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka adalah Dewa Kematian.

Di bawah pimpinan Sian-su, para anggota dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak sesudah mereka mati. Pemimpin yang disebut Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang melihat atau mengenal wajah aslinya.

Akan tetapi semua anggota dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena orang ini memang mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, bukan hanya dalam hal ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu.

Bukan itu saja, bahkan dalam upacara-upacara diadakan pesta yang oleh Sian-su disebut pesta pembebasan nafsu badaniah! Di dalam pesta seperti ini, mereka membiarkan diri hanyut ke dalam seretan gelombang nafsu birahi yang melanda mereka di mana mereka boleh melampiaskan nafsu birahi mereka sepuasnya dengan siapa pun juga asal tidak ada unsur pemaksaan.

Menurut ajaran Sian-su itu, nafsu itu akan meliar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya tanpa ada perbuatan paksa, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya dan tidak lagi mencengkeram jasmani kita sehingga jasmani kita menjadi cukup memenuhi syarat untuk menjadi jasmani yang bersih dan dihuni oleh jiwa yang bersih pula dan yang kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian. Tentu saja pelajaran yang diberikan ini merupakan pelajaran palsu yang amat berbahaya dan sama sekali tak bisa dibuktikan kebenarannya.

Yang jelas dapat dinyatakan adalah bahwa nafsu keinginan dalam bentuk apa pun juga timbul dari pada si aku yang ingin senang, dan nafsu ini bersifat seperti api yang apa bila diberi hati, apa bila dituruti akan seperti api yang diberi bahan bakar. Semakin banyak diberi bahan bakar, makin bernyala dan makin menjadi, makin membesar dan tidak akan padam lagi.

Mengendalikan nafsu pun tidak akan ada gunanya. Mematikan nafsu dengan kekerasan kemauan pun percuma karena yang mematikan dengan kekerasan itu adalah kemauan si aku pula yang ingin senang, yang menganggap bahwa kalau dapat mematikan nafsu itu akan lebih senang dari pada kalau dikuasai nafsu.

Sering kali terjadi konflik di dalam batin sendiri. Pada satu pihak keinginan atau nafsu itu timbul, pada lain pihak keinginan untuk mematikan pun timbul. Konflik ini merupakan api dalam sekam yang nampaknya saja padam, namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat berkobar lagi kalau penutupnya kurang kuat atau terbuka.

Nafsu itu sendiri merupakan energi yang amat hebat. Nafsu itu sendiri amat penting bagi kehidupan. Hanya cara penggunaannya yang menentukan apakah dia merusak ataukah mendatangkan manfaat. Dan cara yang baik dan benar ini timbul dengan sendiri melalui kewaspadaan dan kesadaran dari pengamatan diri pribadi.

Pengamatan diri pribadi akan menimbulkan kebijaksanaan dan dengan sendirinya timbul ketertiban yang tidak diatur lagi oleh si aku yang ingin senang. Pengamatan diri pibadi ini dapat terjadi setiap saat, yang berarti ada perhatian dan waspada sepenuhnya terhadap gerak-gerik kita, baik gerak-gerik hati, pikiran, kata-kata mau pun perbuatan.

Bukan mengamati sambil menilai karena penilaian itu juga merupakan hasil pekerjaan si aku! Jadi, kita harus benar-benar waspada dengan segala kepalsuan yang terjadi setiap saat, bukan hanya kepalsuan yang terjadi di luar diri, namun terutama sekali kepalsuan-kepalsuan yang terjadi di dalam batin kita sendiri.

Dengan umpan kesenangan di dalam pemuasan nafsu birahi ini, Sian-su berhasil menarik minat banyak orang untuk menjadi pengikut dari perkumpulan agamanya. Tentu saja dia pun memilih-milih orang, terutama sekali dipilihnya orang-orang yang berkedudukan, yaitu para bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi atau yang menamakan diri mereka pendekar-pendekar.

Dan kerena sifat dari pesta-pesta agama ini, para pengikut itu sendiri merahasiakannya dari orang luar karena bagaimana pun juga, setiap orang manusia itu mempunyai naluri akan penyelewengan dirinya sendiri dan merasa malu kalau penyelewengannya diketahui orang. Demi kesenangan yang telah mencandu, mereka itu dengan sendirinya memerangi perasaan salah ini dengan berbagai alasan pelajaran keagamaan seperti yang diajarkan oleh Sian-su.

Hanya pada hari-hari tertentu saja mereka berdatangan ke tempat itu, dan hanya para anggota inilah yang tahu jalannya, melalui jalan rahasia yang hanya terbuka bagi mereka, yaitu tempat pemujaan di tengah-tengah pegunungan yang tidak kelihatan dari luar dan hanya dapat dicapai melalui jalan terowongan rahasia itu.

Sudah lebih dari dua tahun perkumpulan agama itu bersarang di sana, akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali para anggota atau pengikutnya. Para pengikut ini sudah banyak menyerahkan uang sumbangan kepada perkumpulan ini, akan tetapi mereka tahu pula bahwa uang itu digunakan untuk memajukan perkumpulan dan terutama sekali untuk menyenangkan mereka.

Pesta-pesta dengan hidangan-hidangan yang lezat itu tentu memerlukan uang. Juga untuk memelihara para anggota atau murid-murid wanita yang cantik-cantik, muda dan pandai menari itu pun membutuhkan uang. Terlebih lagi untuk membangun ‘istana’ mereka yang berada di puncak bukit tersembunyi itu serta membuat pondok-pondok untuk tujuh dewa, semua membutuhkan uang yang amat banyak. Karena itu mereka tidak merasa sayang untuk menyumbangkan harta benda.

Tentu saja mereka yang sudah percaya penuh kepada kebijaksanaan Sian-su itu sama sekali tidak mau percaya dengan desas-desus bahwa akhir-akhir ini perkumpulan mereka itu melakukan kejahatan-kejahatan. Mereka menganggapnya sebagai kabar bohong serta fitnah belaka.

Mereka tidak tahu bahwa nafsu ketamakan orang yang mereka sebut Sian-su itu semakin lama semakin menjadi dan untuk membuat pondok-pondok serta benda-benda dari emas tulen itu memerlukan banyak sekali uang. Dan untuk memenuhinya, orang-orang itu telah mempergunakan kepandaiannya sendiri dan kepandaian anak buahnya untuk melakukan pencurian-pencurian. Juga untuk memperlengkapi persediaan mereka akan wanita-wanita cantik, maka perkumpulan ini mulai pula melakukan penculikan-penculikan terhadap para wanita muda dan cantik.

Tindakan Sian-su telah sedemikian beraninya untuk memenuhi ‘pesanan’ dari pemujanya, bahkan pada malam hari itu dia telah memenuhi pesanan dari pemuda bangsawan Phang yang tergila-gila kepada nyonya Cia Kok Heng! Akan tetapi yang mengetahui akan hal ini hanya pemuda Phang itu dengan Sian-su sendiri, dan untuk jasa ini tentu saja pemuda Phang yang kaya raya itu tidak merasa sayang untuk memberi hadiah sumbangan yang sangat besar!

Perkumpulan agama ini mempunyai anak buah yang tidak terlalu banyak, hanya kurang lebih empat puluh orang yang terdiri dari berbagai golongan, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang lumayan. Mereka adalah anak buah sekaligus juga murid-murid Sian-su yang memiliki dasar ilmu silat berbagai aliran.

Tidak semua dari mereka berasal dari golongan penjahat, bahkan banyak pula yang terdiri dari orang baik-baik yang tertarik dengan agama itu dan kemudian menjadi pengikut lalu diangkat menjadi murid dan anak buah. Seperti juga Sian-su, sesudah menjadi anak buah perkumpulan agama itu mereka semua menggunakan pakaian seragam dan juga topeng tengkorak dalam melaksanakan tugas.

Kenapa mereka selalu menggunakan pakaian dan topeng tengkorak? Hal ini adalah untuk menyatakan pemujaan mereka terhadap Dewa Kematian. Tengkorak merupakan lambang kematian, dan kebetulan sekali mereka juga memperoleh sarang di Goa Tengkorak yang sungguh merupakan tempat yang amat cocok untuk perkumpulan agama mereka.

Anak buah perkumpulan itu sudah disumpah setia terhadap Sian-su. Di samping sumpah ini yang diperkuat oleh kepercayaan mereka terhadap Dewa Kematian, juga mereka takut sekali terhadap Sian-su yang mereka tahu mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, mereka sadar bahwa berkhianat atau melanggar pantangan berarti kematian yang mengerikan bagi mereka, baik di tangan Sian-su atau pun juga di tangan Dewa Kematian yang tentu akan menyiksa mereka di alam baka!

Sian-su yang berilmu tinggi itu dapat mencengkeram serta menguasai semua anak buah atau muridnya, juga menguasai semua wanita pelayan dan penari, menguasai pengikut-pengikutnya dengan mempergunakan ilmu sihirnya serta ramu-ramuan obat pembius dan perangsang yang dicampurkan dalam minuman. Perlahan-lahan tetapi pasti, pengaruhnya meluas dan anggotanya bertambah, para pengikutnya juga bertambah.

Melihat betapa pesta itu berubah menjadi tempat pemuasan nafsu tanpa mengenal batas kesopanan lagi, bahkan di antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada yang sambil tertawa-tawa sudah bergandengan tangan menuju ke sudut-sudut di mana terdapat kasur-kasur kecil dengan pakaian si wanita sudah tidak karuan lagi, Thian Sin menjadi muak.

Dia sendiri adalah seorang pemuda yang romantis. Akan tetapi dia memandang hubungan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang merupakan pencurahan dari pada kasih sayang, bukan hanya merupakan pemuasan nafsu birahi belaka. Apa lagi kalau dilakukan secara demikian kasar, di hadapan orang banyak, tanpa mempedulikan kesusilaan dan sopan santun sedikit pun, tentu saja perasaannya menjadi tersingung dan dia menjadi tidak senang.

"Taihiap, marilah... apakah taihiap tidak ingin bersenang-senang? Mari kulayani, taihiap... aku sengaja mengelak dari siapa pun juga untuk melayanimu..."

Tiba-tiba ada lengan kecil berkulit halus merangkulnya, lantas hidungnya mencium aroma semerbak harum. Thian Sin menengok dan melihat bahwa yang merangkul dirinya adalah gadis yang tadi menerima sumbangannya. Pada saat itu hati Thian Sin sedang kesal dan murung, marah yang ditahan-tahan. Maka, sikap gadis ini membuatnya marah, lebih lagi ketika gadis itu tanpa malu-malu lagi lalu menciumnya dan menarik-narik lengannya.

"Pergilah!" bentaknya dan sekali dorong, gadis itu terpelanting dan jatuh sampai beberapa meter jauhnya.

Dia pun melihat betapa para anggota perkumpulan itu, yang sejak tadi tidak turut pesta melainkan hanya berdiri dan berjaga, memandang kepadanya penuh perhatian dan begitu dia mendorong jatuh gadis itu, lima orang di antara mereka segera berloncatan dan sudah mengurungnya. Thian Sin berdiri tegak dan bersikap tenang, maklum bahwa bagaimana pun juga akhirnya dia tidak akan dapat lolos dari pertempuran.

"Ceng-taihiap, sebagai tamu taihiap telah melangqar peraturan dan melakukan penghinaan terhadap murid-murid kami yang terkasih," terdengar suara Sian-su yang ternyata sudah berada pula di sana. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang tadi jatuh, yang kini sudah berdiri dan memegangi siku tangan kirinya yang berdarah, kemudian gadis itu melangkah pergi dengan kepala menunduk.

"Sian-su, aku memang muak melihat semua ini dan aku sudah menolaknya, habis kalian mau apa?" tanyanya sambil memandang kepada lima orang yang mengurung dirinya dan mengambil sikap menyerangnya itu. Dia melihat bahwa di antara kelima orang ini terdapat tosu penghuni kuil itu yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan kepala.

"Siancai... agaknya taihiap hendak mengandalkan kepandaian menentang kami. Ataukah taihiap hendak meramaikan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silat?"

"Terserah apa yang hendak diartikan, akan tetapi yang jelas, aku akan pergi dari tempat kotor ini!" kata Thian Sin.

Dia telah membalikkan tubuhnya hendak pergi melalui anak tangga dari mana dia datang tadi. Akan tetapi lima orang itu dengan sekali loncatan telah menghadang di depannya.

"Ah, nanti dulu, taihiap. Tak semudah itu untuk pergi meninggalkan tempat ini tanpa seijin kami. Apa bila taihiap hendak memperlihatkan ilmu silat, baiklah. Biar aku melihat sendiri sampai mana kehebatan ilmu Pendekar Sadis yang terkenal itu." Lalu dia memberi isyarat kepada lima orang itu dan berkata, "Tangkap dia!"

Lima orang itu adalah lima orang pembantu utama dari Sian-su, merupakan murid-murid kepala yang paling lihai di antara semua anggota atau murid dan di antara lima orang ini memang terdapat tosu penghuni kuil yang tentu saja bukan bertapa di kuil itu melainkan bertugas sebagai penjaga dan pengintai.

Walau pun ketua mereka memberi perintah lisan untuk menangkap Pendekar Sadis, akan tetapi dari isyarat dengan tangan itu mereka maklum bahwa mereka disuruh membunuh musuh yang berbahaya ini. Maka, begitu tangan mereka bergerak, lima orang bertopeng siluman tengkorak itu sudah mencabut pedang mereka dari balik jubah di mana senjata mereka itu disembunyikan. Melihat ini, Thian Sin tersenyum.

"Majulah jika kalian memang menghendaki demikian!" Dia masih berdiri tegak, tidak mau mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam yang tersembunyi di balik bajunya.

Lima orang bertopeng tengkorak itu tiba-tiba menggerakkan pedang mereka dan mulailah mereka menyerang bergantian secara bertubi-tubi dan teratur. Pedang mereka berkelebat menyilaukan mata tertimpa sinar lampu-lampu di sekeliling tempat itu dan setiap gerakan mereka itu selain cepat juga amat kuat. Hal ini tentu saja diketahui Thian Sin dan pemuda ini pun langsung bersikap waspada, menggunakan kecepatan tubuhnya untuk mengelak dan kadang-kadang dia menggunakan tangannya untuk menangkis.

"Plakk! Plakk!"

Ketika tangan kirinya dengan gerakan cepat menangkis dua batang pedang, si pemegang pedang terhuyung mundur dan mereka terkejut sekali. Dengan tangan telanjang pemuda itu sanggup menangkis pedang dengan kekuatan sedemikian dahsyat, maka hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya Pendekar Sadis.

Sedangkan Sian-su sejak tadi menonton di pinggiran sambil merangkul pinggang ramping gadis yang tadi melayaninya. Beberapa kali dia mengangguk-angguk, sementara pandang matanya menjadi semakin kagum. Dari beberapa jurus saja tahulah dia bahwa Pendekar Sadis ini benar-benar sangat lihai sekali. Alangkah baiknya dan betapa menguntungkan apa bila dia bisa menariknya sebagai pembantu utamanya!

Kini yang menjadi pembantu utamanya adalah lima orang murid kepala ini. Akan tetapi agaknya mereka ini tak akan dapat menang melawan Pendekar Sadis, walau pun mereka semua memegang pedang dan Pendekar Sadis hanya bertangan kosong saja.

Pertandingan itu menarik perhatian mereka yang sedang berpesta. Akan tetapi, mereka yang tidak mengenal ilmu silat, para bangsawan dan hartawan yang sedang mabok birahi, tidak mempedulikan pertandingan itu dan melanjutkan kesenangan mereka, berpasang-pasangan dan tetap melanjutkan permainan mereka di sudut-sudut ruangan yang luas itu menyendiri berduaan saja. Mereka yang mengenal ilmu silat, terutama para pengikut yang berasal dari golongan pendekar, menjadi tertarik dan meski pun mereka masih merangkul pinggang pasangan masing-masing, tapi mereka mendekat dan menonton dengan penuh perhatian.

Para anak buah perkumpulan itu sudah mengurung tempat itu dan bersiap-siaga, bahkan ada sepuluh orang yang berderet dengan busur dan anak panah siap diluncurkan. Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Sin. Dia maklum bahwa dia akan menghadapi pengeroyokan dan karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian Sian-su, juga para pendekar yang mabok birahi itu, maka keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi dia berada di pusat tempat rahasia itu yang banyak mengandung perangkap-perangkap. Karena itu dia pun tidak mau menjatuhkan tangan maut.

Tepat seperti yang diduga oleh Sian-su, kini Thian Sin memperlihatkan kepandaiannya. Walau pun semuanya bersenjata, lima orang itu segera terdesak hebat. Setiap tangkisan itu membuat mereka terhuyung sehingga semua serangan mereka tak ada gunanya sama sekali, jika tidak terpental oleh tangan pemuda itu, tentu hanya mengenai tempat kosong saja. Namun sebaliknya, setiap tamparan tangan pemuda itu, baru angin pukulannya saja sudah membuat mereka kewalahan.

Tiba-tiba Thian Sin berteriak, "Pergilah kalian!"

Dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdengar suara berkerontangan dan nampak lima batang pedang terlempar ke sana-sini sedangkan lima orang itu pun terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri!

Mereka tidak terluka parah, tetapi senjata mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terpelanting, ini telah merupakan bukti cukup bahwa mereka telah kalah! Sian-su, pendeta siluman itu, kini melepaskan rangkulan dari pinggang ramping kekasihnya, lantas dengan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Thian Sin.

"Siancai, siancai...! Pendekar Sadis memang benar tangguh, cukup pantas untuk menjadi lawanku! Mari kita main-main sebentar, taihiap!"

Thian Sin melihat perubahan sikap para pengikut agama yang datang mendekat. Melihat betapa Sian-su sendiri yang maju, agaknya mereka pun merasa penasaran dan di antara mereka bahkan ada yang sudah melepaskan rangkulan mereka terhadap gadis pasangan mereka masing-masing dan mereka bersikap mengancam.

Akan tetapi pada saat itu, pendeta siluman itu sudah menerjangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat. Sebelum tangannya tiba, sudah ada angin pukulan yang sangat dahsyat menyambar dan ini saja menunjukkan bahwa pendeta siluman itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali.

Thian Sin juga tidak mau main-main lagi dan dia langsung mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkis. Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit dan Bumi) ini adalah penghimpunan sinkang yang luar biasa kuatnya, yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka, merupakan satu di antara sekian banyak ilmu luar biasa yang dikuasainya. Sekarang, menghadapi lawan yang diketahuinya amat tangguh, Thian Sin tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmunya ini untuk menandingi tenaga dalam lawannya.

"Dukkk!"

Pertemuan dua tenaga sakti yang amat hebat itu terasa oleh semua orang yang menjadi penonton. Ada getaran hebat menyambar ke sekitar tempat itu. Thian Sin sendiri merasa betapa tubuhnya terguncang sehingga memaksa dia melangkah mundur dua tindak, akan tetapi Siansu itu sendiri juga terhuyung ke belakang.

"Hebat...!" Sian-su memuji, bukan pujian kosong karena dia benar-benar merasa kagum dan makin besar keinginannya untuk bisa menarik pemuda sehebat ini sebagai sekutunya atau pembantunya. Tentu kedudukannya akan menjadi makin kuat jika dia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutunya.

Kini dia menyerang lagi dan dia mengerahkan ginkang-nya. Diam-diam Thian Sin terkejut bukan main. Kiranya siluman ini adalah seorang ahli ginkang yang hebat! Kim Hong tentu tertarik sekali melihat ini, karena Kim Hong sendiri adalah orang ahli ginkang yang sukar dicari bandingnya. Dan agaknya ilmu meringankan tubuh pendeta siluman ini betul-betul hebat sekali sehingga tubuhnya berkelebatan seperti terbang saja.

Thian Sin harus mengakui bahwa biar pun belum tentu siluman ini dapat menandingi Kim Hong dalam hal ilmu meringankan tubuh, namun dia sendiri masih kalah setingkat oleh pendeta siluman ini! Maka dia pun lalu mainkan Ilmu Thai-kek Sin-kun, ilmu yang memiliki dasar sangat kuat sehingga meski pun diserang dari jurusan mana pun dengan kecepatan yang bagaimana pun, dengan ilmu ini dia dapat menjaga diri dan bahkan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya. Dengan ilmu silat ini, maka keunggulan pendeta siluman itu dalam hal kecepatan boleh dibilang dapat dipunahkan.

Setelah lewat dari lima puluh jurus, agaknya pendeta siluman itu sudah puas dan kagum sekali. Dalam lima puluh jurus dia tidak sanggup mengalahkan pemuda ini bahkan kalau dilanjutkan, belum tentu dia akan menang. Maka mendadak dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangannya menampar ke arah kepala Thian Sin. Pemuda itu menangkisnya.

"Plakk! Brettt...!"

Ujung lengan baju Thian Sin terobek karena begitu tertangkis, pendeta siluman itu cepat merubah tangannya menjadi cengkeraman yang bergerak ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan kanan Thian Sin. Akan tetapi berkat tenaga Sin-ciang, cengkeraman itu meleset dan hanya merobek ujung lengan baju.

"Ha-ha-ha, lengan bajumu robek, taihiap!" Sian-su berkata sambil mengangkat robekan itu ke atas dan memandang penuh rasa puas karena robekan lengan baju itu dapat dijadikan bukti bahwa dia telah menang setingkat.

Akan tetapi, pandang mata Thian Sin ke arah jubahnya membuat dia segera menunduk lantas melihat ke arah dadanya dan terkejutlah dia melihat betapa kain jubah pada bagian dadanya berlubang dan kini robekan kain putih itu berada di tangan Thian Sin! Kalau saja tidak ada topeng tengkorak yang menutupi, tentu akan nampak wajah itu merah sekali.

Saking merasa malu, pendeta siluman itu menjadi marah dan dia pun sudah menyerang lagi dengan ganasnya. Thian Sin menyambutnya dengan tenang dan untuk kedua kalinya, ketika lengan mereka beradu, tubuh pendeta siluman itu langsung terhuyung ke belakang sedangkan Thian Sin hanya terdorong mundur dua langkah saja.

Hal ini membuat pendeta siluman itu mengambil keputusan hendak mempergunakan ilmu sihirnya. Dia berdiri tegak dan menggerakkan kedua tangannya ke atas kepala, bertepuk tangan di atas kepalanya. Pada waktu kedua telapak tangan itu bertemu, terdengar suara seperti ledakan nyaring dan nampak asap mengepul dari kedua tangan itu.

"Ceng Thian Sin, berani engkau melawanku? Lihatlah, siapakah sesungguhnya aku? Aku adalah Thian-liong-ong (Raja Naga Langit) yang menjelma!"

Memang hebat kekuatan sihir pendeta siluman itu. Walau pun sihirnya ditujukan kepada Thian Sin, akan tetapi semua orang yang berada di sana melihat betapa bentuk Sian-su kini sudah berubah. Tubuhnya menjadi tinggi besar dan pakaiannya seperti pakaian raja. Yang hebat adalah kepalanya, karena kepala yang biasanya memakai topeng tengkorak itu kini sudah berubah menjadi kepala naga! Benar-benar mirip gambar atau patung. Raja Naga Langit!

Di antara mereka yang melihat ini segera menjatuhkan diri berlutut saking takutnya. Akan tetapi, Thian Sin yang tadi merasakan adanya kekuatan mukjijat yang menyerang panca inderanya, cepat menguatkan batin lantas mempergunakan tenaga batin untuk melawan. Sesudah dia mengerahkan tenaga batinnya, sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu sihir di Himalaya tentu saja dia tak terpengaruh lagi dan bagi pandang matanya, pendeta siluman itu tetap sama saja dengan tadi!

Ingin dia mentertawakan lawan dan menghinanya, mengatakan bahwa ilmu main sulap itu hanya dapat mengelabui kanak-kanak saja. Akan tetapi Thian Sin adalah seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa banyak orang yang tak berdosa d tempat ini, yang menurut semua kehendak pendeta siluman ini karena kekuatan sihir atau mungkin juga obat dalam minuman.

Mereka ini tak berdosa dan sepatutnya kalau dibebaskan dari pengaruh pendeta siluman ini. Akan tetapi, kalau dia mempergunakan kekerasan, mungkin dia akan gagal. Dia telah mengukur ilmu silat lawan itu yang benar-benar tangguh. Dia yakin tidak akan kalah dari Sian-su, akan tetapi jika para pembantunya maju mengeroyok, juga kalau para pendekar yang menjadi pengikut agama itu ikut pula turun tangan, mungkin sekali dia akan celaka. Apa lagi kalau diingat bahwa dia belum berhasil membebaskan orang-orang yang tidak berdosa, juga bahwa dia masih berada di pusat sarang musuh yang berbahaya, maka kekerasan bukanlah jalan untuk mencapai kemenangan.

Thian Sin lalu menunduk dan menjura seolah-olah memberi hormat kepada ‘dewa’ itu, lalu berkata dengan ucapan membela diri, "Terpaksa saya harus melawan menghadapi siapa pun juga kalau keselamatan dan nyawa saya terancam."

"Ceng Thian Sin, siapa bilang bahwa nyawamu terancam? Sian-su berniat baik padamu, berniat hendak mengajakmu untuk bekerja sama!" berkata ‘Raja Naga Langit’ itu dan bagi pendengaran semua orang kecuali Thian Sin, suaranya itu pun berbeda dengan suara asli Sian-su.

Kembali Thian Sin menjura dengan hormat. "Kalau memang benar demikian, tentu saja saya bersedia untuk berdamai dan bicara."

"Bagus! Bagus sekali!" Manusia berkepala naga itu lalu bertepuk tangan hingga terdengar ledakan keras disusul asap mengepul dan ketika asap itu menghilang, di situ telah berdiri Sian-su dengan sikapnya yang tenang.

”Ceng-taihiap, kami sudah mendengar ucapanmu tadi dan kami merasa gembira sekali. Mari, silakan duduk dan kita bicara dengan baik-baik." Dia mempersilakan dan mengajak Thian Sin duduk kembali.

Pesta dilanjutkan dan melihat betapa pemuda itu tidak suka menyaksikan adegan-adegan cabul di situ, Sian-su lalu mengajaknya menuruni anak tangga untuk berbicara di sebuah ruangan lain. Belasan orang anak buah Sian-su turut pula mengawal, tentu saja dengan maksud untuk mengeroyok apa bila pemuda itu memberontak.

Setelah mereka duduk, Sian-su lalu memberi ‘kuliah’ kepada Thian Sin tentang pelajaran di dalam agamanya yang baru, yang bendak membebaskan manusia dari pada rasa takut akan kematian, dan menjanjikannya kesenangan sesudah mati nanti, juga menceritakan bahwa semua kecabulan yang dilihat pemuda itu adalah suatu cara untuk menundukkan nafsu dengan jalan membiarkan nafsu-nafsu itu menggelora dan kemudian mati sendiri. Thian Sin mendengarkan dengan setengah hati saja, akan tetapi dia berpura-pura merasa tertarik sekali dan menanggapinya sambil mengangguk-angguk.

"Kami ingin memberikan kesenangan dunia akhirat kepada para pengikut kami," demikian pemimpin agama itu mengakhiri kuliah dan penjelasannya tentang agamanya.

"Dan imbalan apakah yang harus diberikan oleh para pengikut?" tanya Thian Sin dengan sikap seolah-olah dia tertarik sekali untuk menjadi pengikut pula.

"Siancai...! Untuk pekerjaan suci, kami tidak memiliki pamrih bagi kepentingan diri sendiri. Kami tidak menuntut imbalan, kecuali kesetiaan. Jika para pengikut hendak menyumbang demi kemajuan agama kita, dan untuk membuat pembangunan-pembangunan, maka hal itu adalah suka rela. Akan tetapi biar pun kami tahu bahwa Ceng-taihiap adalah seorang yang kaya raya, buktinya melihat sumbanganmu tadi, namun kami bukan mengharapkan bantuan harta darimu."

"Habis, bantuan apa?"

"Bantuan kerja sama yang berupa tenaga dan kepandaian silat taihiap. Hendaknya taihiap ketahui bahwa usaha kami ini banyak mendapat tentangan dari agama-agama lain, malah sudah sering kali kami mereka cari dan mereka bermaksud membasmi kami. Oleh karena itu, taihiap bukan kami anggap sebagai pengikut biasa, akan tetapi sekutu kami, sebagai seorang di antara kami dan kalau taihiap dapat memenuhi harapan kami ini, percayalah bahwa dengan segala kemampuanku, taihiap akan menjadi orang pertama sesudah aku untuk berkenalan secara langsung dengan Dewa Kematian."

"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura merasa girang sekali. "Aku akan girang sekali!"

"Akan tetapi, untuk itu lebih dulu kami harus benar-benar dapat percaya kepadamu, dan ini ada syaratnya."

"Syaratnya?"

"Menurut laporan anak buah kita, ada lima orang pendekar dari agama lain yang sedang menyelidiki tempat kita ini. Mereka merupakan bahaya bagi kita, maka aku minta padamu untuk menghadapi mereka dan membasmi mereka. Sanggupkah engkau, Ceng-taihiap?"

Thian Sin mengangkat muka dan menatap tajam, bertemu dengan pandang mata lawan yang penuh selidik. Dia berhadapan dengan orang yang cerdik pula. "Sian-su, aku masih dalam taraf percobaan, bagaimana engkau sudah demikian percaya kepadaku? Apakah engkau tidak khawatir kalau aku berkhianat setelah aku tiba di luar tempat ini?"

Wajah di belakang topeng tengkorak itu tertawa. "Apa boleh buat, kami harus menghadapi resiko itu! Kalau taihiap sungguh-sungguh mau bekerja sama dengan kami, kami merasa beruntung sekali. Sebaliknya, andai kata taihiap berbalik pikir, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi belum tentu taihiap akan dapat menemukan kembali tempat rahasia kami, apa lagi di sini juga terdapat banyak perangkap-perangkap rahasia yang akan dapat membendung serbuan ratusan orang. Di samping itu, andai kata mereka dapat menyerbu masuk, maka kami pun dapat saja setiap waktu meloloskan diri, pindah mencari tempat lain, membawa semua barang suci dan berharga, dan terpaksa kami harus meninggalkan para wanita itu dalam keadaan sempurna."

Karena ada penekanan kata-kata aneh dalam kalimat terakhir, Thian Sin menjadi curiga. "Dalam keadaan sempurna bagaimana maksudmu?"

Pendeta siluman itu menggerakkan pundak. "Yaahh, menyerahkan mereka kepada Dewa Kematian sebagai korban, apa lagi? Kami terpaksa, sebab tidak mungkin kami membawa mereka yang lemah untuk melarikan diri, tapi juga amat berbahaya bagi kami membiarkan mereka hidup-hidup tertawan musuh."

"Engkau akan membunuh puluhan orang gadis itu?" Hampir Thian Sin berteriak.

"Ahhhh, nanti dulu, taihiap. Bukan membunuh, melainkan mengorbankan mereka kepada Dewa Kematian. Mereka akan memperoleh kesenangan di sana, dan Dewa Kematian juga akan berterima kasih sekali kepada kami..."

Thian Sin tidak bertanya lagi. Dia maklum apa artinya itu. Wanita-wanita itu merupakan sandera! Dengan lain kata-kata, pendeta siluman ini hendak menyatakan padanya bahwa apa bila dia berbalik pikir dan kelak mengakibatkan perkumpulan agama itu diserbu, maka wanita-wanita itu akan dibunuhnya. Tentu saja ini merupakan ancaman kepadanya agar dia tidak mengkhianati Sian-su, dan dia tahu bahwa ancaman itu bukan hanya ancaman kosong belaka!

"Baiklah, Sian-su, aku akan membuktikan bahwa aku memang ingin bekerja sama karena aku mulai tertarik oleh agama baru ini."

Thian Sin menjadi tamu kehormatan di sarang perkumpulan agama Jit-sian-kauw itu, dan mendapat sebuah kamar yang indah dan mewah. Dia menolak ketika ditawari gadis untuk menemaninya, dan malam itu dia tidur nyenyak untuk melepas lelah dan mengumpulkan tenaga. Dia tahu bahwa semua gerak-geriknya selalu diamati dan diintai, oleh karena itu dia pun tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Pada keesokan harinya dia pun sama kali tidak tahu bahwa Kim Hong telah menyusulnya dan mencarinya, bahkan dara itu kemudian terjebak dan tertawan di dalam sarang rahasia Jit-sian-kauw itu. Pada sore harinya dia diberi tahu oleh Sian-su bahwa lima orang yang memusuhi Jit-sian-kauw itu telah tiba di dekat puncak bukit.

Mereka itu tidak menyelidiki dari bagian depan tebing Goa Tengkorak, namun dari bagian belakang dan karena sarang Jit-sian-kauw itu terkurung jurang yang dalam, maka kelima orang pendekar itu tidak tahu bahwa tempat yang mereka cari-cari itu sebenarnya sudah amat dekat, hanya terhalang oleh jurang, yaitu di puncak yang dikelilingi jurang itu. Tidak mungkin menyeberangi jurang itu, dan tidak mungkin pula menuruni jurang yang demikian dalam dan curamnya. Mereka lalu berkeliaran di daerah itu, memeriksa dan mencari-cari.

Thian Sin melakukan pengintaian. Dia sendirian saja, namun dia kini sudah mengenakan pakaian dan topeng sebagai anggota Jit-sian-kauw! Walau pun dia sendirian saja, namun dia mengerti bahwa Sian-su dan kaki tangannya tentu membayanginya dan mungkin kini sedang mengintai pula dari tempat-tempat tersembunyi untuk mengikuti sepak terjangnya yang bertugas mengusir lima orang musuh perkumpulan ini.

Akan tetapi jantung di dalam dada Thian Sin segera berdebar tegang ketika dia mengenal siapa adanya tosu tua yang memimpin rombongan itu. Tosu berusia kurang lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian jubah kuning, dengan pedang di punggung, wajahnya putih itu, bukan lain adalah Liang Hi Tojin, seorang tokoh tingkat dua dari partai persilatan Bu-tong-pai!

Liang Hi Tojin ini adalah orang ke dua di Bu-tong-pai, terkenal sebagai seorang pendekar yang sejak mudanya menjadi pembela keadilan dan kebenaran, seorang ahli pedang yang amat lihai. Dan agaknya, empat orang lainnya itu, yang nampak gagah perkasa, tentulah murid-murid keponakannya.

Kedatangan rombongan dari Bu-tong-pai untuk menyelidiki Jit-sian-kauw ini tentu bukan semata-mata karena perbedaan paham keagamaan, melainkan tentu karena orang-orang Bu-tong-pai itu mendengar tentang kejahatan yang dilakukan Siluman Goa Tengkorak dan kini didorong oleh jiwa kependekaran mereka datang untuk menentang Jit-sian-kauw.

Tentu saja Thian Sin merasa serba salah. Bagaimana mungkin dia memusuhi Liang Hi Tojin, seorang pendekar tua Bu-tong-pai yang telah dikenalnya dengan baik? Akan tetapi, jika dia mengkhianati Sian-su, lalu bagaimana nasib kurang lebih tiga puluh orang wanita yang berada di dalam cengkeraman siluman-siluman itu di luar kehendak mereka, karena mereka telah dikuasai oleh sihir dan obat bius?

Apa bila dia memperkenalkan diri kemudian mengajak lima orang pendekar Bu-tong-pai ini membalik dan memberontak, apakah dia akan mampu? Untuk memasuki terowongan itu saja sudah merupakan bahaya yang besar dan sebelum mereka berhasil, siluman-siluman itu dapat melarikan diri dari jalan rahasia tersendiri dan meninggalkan puluhan wanita itu dalam keadaan tewas. Tidak, dia harus bersandiwara, menuruti kehendak Sian-su sambil menanti saatnya yang baik dan tepat untuk memberi pukulan besar-besaran.

Tosu tua tinggi kurus itu memang Liang Hi Tojin dari Bu-tong-pai, dan empat orang pria yang berusia antara tiga puluh hingga empat puluh tahun, yang tampak gagah perkasa itu adalah murid-murid keponakannya, yaitu murid Bu-tong-pai yang termasuk sebagai murid kepala. Biar pun tingkat kepandaian mereka masih dua tingkat di bawah tingkat Liang Hi Tojin, tapi pada masa itu mereka itu sudah bisa digolongkan sebagai pendekar-pendekar yang lihai.

Mereka itu turun gunung untuk mengunjungi Louw Ciang Su di kota Tai-goan, akan tetapi mereka hanya sempat melihat peti matinya saja! Tentu saja para tokoh Bu-tong-pai ini menjadi terkejut dan marah ketika mendengar bahwa Louw Ciang Su, sebagai seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas oleh Siluman Goa Tengkorak.

Itulah sebabnya mereka langsung melakukan penyelidikan ke daerah Goa Tengkorak dan karena mereka sudah mendengar bahwa pasukan keamanan dari Tai-goan bersama para pendekar telah gagal ketika mencari siluman itu dari depan tebing Goa Tengkorak, maka mereka lalu melakukan penyelidikan dan pencarian dari belakang tebing.

"Bagaimana mungkin ada manusia dapat bersembunyi di tempat seperti ini?" terdengar Liang Hi Tojin berkata kepada empat orang murid keponakannya setelah mereka melihat keadaan di belakang tebing Goa Tengkorak itu.

"Bukit di depan itu merupakan puncak yang dikelilingi jurang yang tidak mungkin didatangi manusia."

"Akan tetapi, susiok, teecu kira justru karena sulitnya dicapai orang inilah maka tempat ini merupakan tempat yang amat baik bagi para penjahat untuk menyembunyikan diri," kata seorang murid keponakannya.

"Tentu ada suatu rahasia yang dapat membawa orang menyeberang ke puncak bukit itu," kata murid kedua.

"Siancai, siancai, siancai...! Kalau memang ada, tentu tidak akan mudah mencarinya di tempat yang seluas ini."

Thian Sin memuji ketelitian mereka. Memang tidak akan mudah. Dia sendiri dapat tiba di belakang tebing ini melalui jalan rahasia yang rumit, yang merupakan ‘lubang tikus’ dan menembus di lereng jurang, tertutup pohon-pohon dan semak-semak, di dekat tepi jurang. Dia tadi merayap di lereng jurang itu melalui akar-akar pohon dan kini mengintai di balik pohon besar.

Karena merasa sudah waktunya untuk turun tangan dan agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada Sian-su yang dia tahu tentu sedang mengamatinya, dia lalu keluar dari tempat sembunyinya dan berlompatan ke depan lima orang itu!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang gagah dari Bu-tong-pai itu ketika mereka melihat munculnya seorang berjubah putih dengan gambar tengkorak merah darah di dada dan memakai topeng tengkorak yang menyeramkan.

"Siancai! Siancai! Inikah Siluman Goa Tengkorak yang telah membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu?" Liang Hi Tojin bertanya sementara empat orang murid Bu-tong-pai itu telah mencabut pedang masing-masing dari punggung mereka dengan gerakan yang cepat dan indah.

Thian Sin tidak mengeluarkan suara. Apa yang dapat diucapkannya? Tugasnya hanyalah mengusir mereka, maka dia pun segera menerjang ke depan dan menyerang tosu tua itu dengan pukulan dari samping mengarah pelipisnya. Melihat pukulan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, tahulah tokoh Bu-tong-pai ini bahwa siluman itu memang lihai sekali.

"Siancai…, sungguh siluman yang jahat sekali!" Dan ia pun cepat meloncat mundur untuk mengelak sambil mencabut pedangnya.

Empat orang muridnya telah menerjang dengan pedangnya masing-masing dan Thian Sin segera dikurung dan dikeroyok. Permainan pedang Bu-tong Kiam-sut memang hebat dan berbahaya sekali. Sinar pedang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar dari pelbagai jurusan menggulung dirinya, dan kalau Thian Sin tidak memiliki ginkang yang hebat serta langkah-langkah ajaib dari Thai-kek Sin-kun, tentu dia akan terancam bahaya dikeroyok oleh mereka. Terutama sekali pedang di tangan Liang Hi Tojin yang amat lihainya. Pedang itu mengeluarkan suara berdesing-desing dan sinarnya berkilauan menyambar-nyambar.

Thian Sin tak berani mencabut Gin-hwa-kiam-nya sebab pedang itu mungkin akan dikenal oleh Liang Hi Tojin. Maka terpaksa ia pun mengerahkan Thian-te Sin-ciang untuk kadang kala menangkis jika elakan-elakannya kurang cukup untuk dapat menyelamatkan diri dari sambaran lima batang pedang itu.

Liang Hi Tojin dan empat orang muridnya terkejut bukan main melihat betapa siluman itu menangkis pedang mereka dengan tangan kosong saja! Padahal, pedang mereka adalah pedang pilihan, terbuat dari baja yang amat keras dan baik. Maka tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar sangat lihai sekali dan mereka pun sekarang tidak merasa heran bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini.

Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat dapat terbebas dari pada ancaman mala petaka yang ganas dan jahat.

Thian Sin merasa kewalahan juga. Bila dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thi-khi I-beng misalnya, sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau pun Thian-te Sin-ciang dan Thai-kek Sin-kun, tentu kakek Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu.

Apa bila dia menggunakan ilmu peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya. Padahal, tentu saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini.

Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu. Dia menunggu saat yang baik dan tepat untuk melakukan serangan terakhir seperti yang sudah direncanakannya ketika dia mengintai mereka tadi.

Perlahan-lahan dia mundur ke belakang menuju ke bawah sebatang pohon yang daunnya lebar, selebar tangan dengan ujung runcing dan daun itu kaku pula, cukup baik dijadikan senjata. Tiba-tiba dia meloncat, mencabut beberapa helai daun dari ranting yang terendah dan begitu tubuhnya turun, dia menyambitkan daun-daun itu ke depan sambil membentak dengan suara nyaring,

"Pergilah!"

Berturut-turut tangannya lalu bergerak. Dengan pengerahan sinkang yang amat kuat lima helai daun itu seperti anak panah saja meluncur secepat kilat menuju ke arah lima orang lawannya.

Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang murid Bu-tong-pai itu melepaskan pedang mereka ketika sebatang daun menyambar dan menancap di pergelangan tangan kanan mereka bagai anak panah atau senjata piauw (pisau terbang) dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi.

Ada pun Liang Hi Tojin masih dapat menggunakan lengan kirinya menangkap daun yang menyambar pergelangan tangan kanannya itu. Berbeda dengan empat daun yang lainnya, daun yang menyambar ke arah pergelangan tangan Liang Hi Tojin itu tak begitu kuat dan cepat sehingga dengan mudah dapat ditangkap oleh tosu ini. Liang Hi Tojin memandang sekilas kepada daun di tangannya kemudian dia berkata,

"Ambil pedang, mari kita pergi!"

Empat orang murid itu segera mengambil pedang mereka masing-masing dengan tangan kiri, kemudian bersama tosu itu mereka berloncatan meninggalkan tempat itu. Thian Sin tertawa dan memandang sampai mereka lenyap di balik semak-semak.

"Bagus, taihiap. Sungguh senang hatiku melihat engkau menghajar mereka, sayang tidak membunuh saja mereka itu agar kelak tidak mendatangkan penyakit."

Thian Sin menoleh dan melihat pendeta siluman ketua Jit-sian-kauw telah berada di situ. Tentu saja dia tadi mendengar gerakannya ketika orang ini muncul dengan ringan sekali, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu untuk membiarkan orang itu merasa bangga bahwa ginkang-nya demikian hebatnya sehingga terlalu hebat bagi Pendekar Sadis untuk dapat mengetahui kedatangannya. Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata,

"Sian-su, kalau mereka itu memusuhi kita, sudah cukup kalau kita hajar dan mereka akan jera untuk mengganggu kita lagi. Membunuh mereka, berarti hanya akan memperdalam permusuhan belaka, dan membuat kita semakin repot menghadapi usaha mereka untuk membalas dendam kelak."

"Ha-ha-ha, engkau benar, taihiap. Ahh, sungguh beruntung mempunyai seorang sahabat seperti engkau untuk bekerja sama," kata pula Sian-su dengan girang. Mereka kemudian kembali ke sarang Jit-sian-kauw.

Thian Sin merasa girang sekali bahwa dia dapat mengelabui pendeta siluman itu. Dia tadi sudah melakukan siasatnya dengan baik sekali. Dia tahu bahwa biar pun di sana terdapat sekutunya yang paling baik, yaitu Kim Hong, akan tetapi belum tahu apakah dara itu bisa mencari tempat rahasia ini. Sebab itu dia membutuhkan bantuan dan melihat lima orang Bu-tong-pai itu, dia melihat bantuan yang amat baik dan cukup kuat.

Maka ketika dia mengintai tadi, diam-diam dia menggunakan sehelai daun untuk digurat-guratnya dengan duri, membuat beberapa buah huruf di atas daun. Daun itu disimpannya di dalam saku jubahnya dan ketika dia menyerang lima orang itu, daun yang ada huruf-hurufnya itu dia sambitkan ke arah Liang Hi Tojin dengan pengerahan tenaga yang sedikit saja.

Untung bahwa tokoh Bu-tong-pai itu cukup cerdik untuk dapat melihat kejanggalan ini dan menerima daun itu lantas mengajak empat orang murid keponakannya yang telah terluka pergelangan tangannya. Tulisan di atas daun itu berbunyi demikian:

SIAP MENYERBU BERSAMA, TUNGGU BERITA. ANG LIAN TO (PULAU TERATAI MERAH).

Dia sengaja memakai nama Ang-lian-to yang tentu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin yang sudah mengenalnya dan tahu bahwa dia dan Kim Hong tinggal di sebuah pulau kosong yang bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah). Dan agaknya tosu itu memang sudah mengenalnya, buktinya tosu itu mengajak empat orang muridnya untuk mundur. Padahal, sesuai dengan watak pendekarnya, sebelum dia sendiri roboh, maka tidak mungkin tosu itu akan melarikan diri dari pertempuran.