Social Items

KINI, melihat In Bwee melawan, cepat dia pun turun tangan dan tentu saja gadis itu bukan lawannya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, dia telah berhasil merobohkan In Bwee dengan dua kali totokan, membuat gadis itu roboh dengan tubuh lemas dan tidak mampu bangkit kembali, rebah miring dengan kaki dan tangan seperti lumpuh rasanya.

"Murid murtad! Kalau begitu biar kekasihmu melihat engkau diperkosa di depan matanya!"

Tiat-ciang Lai Cai Ko yang perutnya gendut dan matanya juling, rambutnya riap-riapan itu segera maju dan menyeringai. "Heh-heh-heh-heh, twako, kalau memang gadis ini hendak diperkosa, serahkan saja kepadaku untuk melaksanakannya. Sudah lama aku tergila-gila padanya, hanya karena mengingat dia itu muridmu maka aku tidak berani mengganggu. Sekarang dia berkhianat dan berpihak kepada musuh, kalau memang mau diperkosa, biar aku yang..."

"Boleh, lakukanlah! Akan tetapi harus di sini dan sekarang juga, supaya kekasihnya dapat melihatnya!" kata kakek tinggi besar berkulit hitam itu.

Tiat-ciang Lui Cai Ko adalah seorang begal tunggal yang usianya sudah empat puluh lima tahun, kejam dan sudah terbiasa dengan kekerasan. Perasaannya sudah kebal sehingga tak mengenal malu lagi. Maka, biar pun di situ terdapat banyak orang yang menyaksikan, tanpa malu-malu dan sambil tertawa bergelak dia maju menghampiri tubuh In Bwee yang menggeletak di atas lantai dengan lemas itu.

"Mo-ko, manusia iblis! Tega engkau terhadap murid dan keponakan sendiri?" Kok Siang berteriak-teriak.

"Brettttt...!" Sebagian dari baju In Bwee terkoyak dalam genggaman tangan Tiat-ciang Lui Cai Ko.

Semua mata mereka yang hadir, juga para penjaga, langsung terbelalak ada pun jantung mereka berdebar tegang membayangkan peristiwa yang akan mereka saksikan di dalam ruangan itu. In Bwee sendiri tidak lagi mampu bergerak, hanya matanya terbelalak seperti seekor kelinci yang berada dalam cengkeraman kuku harimau.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh manis sekali. Aha, malam ini untungku benar-benar besar!" Tiat-ciang Lui Cai Ko langsung merangkul, meremas dan menciumi muka gadis itu yang hanya dapat mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak untuk melawan.

Semua orang yang hadir terbelalak melihat adegan ini, ada yang menelan ludah, ada yang membuang muka, ada yang tertawa-tawa dengan mata melotot hampir keluar dari rongga matanya. Si Tangan Besi Lui Cai Ko adalah orang yang sudah kebal, sama sekali tidak mengenal malu dan dia beraksi seolah-olah di tempat itu tidak ada orang lain. Tangannya meraih dan hendak menanggalkan sisa pakaian In Bwee.

"Tahan...!" Mendadak Kok Siang berteriak, matanya terbelalak, mukanya pucat. "Mo-ko, aku mau mengaku...!"

Akan tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko bagaikan tidak mendengar seruan ini dan hendak terus melanjutkan perbuatannya. Baru sesudah Mo-ko sendiri melangkah maju lantas menepuk pundaknya, dia berhenti dan memandang kecewa, akan tetapi tidak berani membantah.

"Tiat-ciang, kau mundurlah." kata Pat-pi Mo-ko.

Tiat-ciang Lui Cai Ko bangkit dan mundur, matanya melotot ke arah Kok Siang, kelihatan kecewa, mendongkol dan sangat marah. Daging yang sudah tersentuh bibir itu, sebelum dapat digigit dan dikunyah lalu ditelannya, telah direnggut orang dan terlepas!

Kim Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya dapat memandang kepada sastrawan muda itu. Habislah harapannya. Dia tahu bahwa Kok Siang dan In Bwee hanyalah orang biasa yang jalan pikiran serta perasaannya sudah tercetak semenjak kecil sehingga sama dengan jalan pikiran dan perasaan umum pada waktu itu.

Wanita diperkosa merupakan hal yang paling hebat bagi mereka, merupakan mala petaka yang tidak dapat diperbaiki lagi, seperti kematian, bahkan dianggap lebih hebat dari pada kematian. Karena inilah maka Kok Siang tak mampu bertahan ketika melihat kekasihnya hendak diperkosa di depan matanya. Alangkah bodohnya. Apakah kalau pemuda itu telah mengaku lalu In Bwee terbebas dari pada ancaman pemerkosaan atau pembunuhan?

"Mo-ko, aku mau mengaku tentang peta yang asli, akan tetapi engkau harus berjanji lebih dulu bahwa engkau tak akan membiarkan nona Toan dan In Bwee diperkosa orang. Kalau engkau tidak mau berjanji, meski apa pun yang terjadi, maka jangan harap aku akan mau mengaku," kata Kok Siang dengan suara lantang.

"Baiklah, aku berjanji bahwa mereka berdua tidak akan diperkosa," kata Pat-pi Mo-ko dan wajahnya nampak berseri gembira sekali.

"Ingat, Mo-ko. Bagi seorang yang berkedudukan tinggi seperti engkau, biar hanya sebagai seorang datuk sesat, janji merupakan sumpah yang lebih berharga dari pada nyawa. Aku percaya bahwa engkau tidak akan melanggar janjimu tadi, disaksikan oleh semua orang yang mendengarnya."

Wajah hitam itu semakin hitam dan sepasang mata itu mendelik. "Bu-siucai. Kau kira aku ini orang macam apa maka akan melanggar janji sendiri?"

"Bagus, kalau begitu aku akan mengaku dengan hati lapang. Engkau dengarlah baik-baik. Aku adalah keponakan dari mendiang Louw Siucai."

Semua orang sangat terkejut, terutama sekali Su Tong Hak dan Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi pelaksana dari pembunuhan terhadap Louw siucai.

"Hemm, kiranya begitukah?" kata Pat-pi Mo-ko sambil mengangguk-angguk dan dia dapat menduga apa yang telah terjadi. "Lanjutkan ceritamu."

"Paman Louw melihat gelagat yang tidak baik ketika Su Tong Hak beserta keponakannya datang untuk minta peta itu diterjemahkan. Paman sama sekali tidak menginginkan benda orang lain, akan tetapi dia tahu bahwa Su Tong Hak bukan manusia baik-baik dan bahwa keponakannya, pemuda dusun itu akan tertipu. Karena itu diam-diam paman minta waktu satu hari untuk menterjemahkannya lantas menukar peta yang asli itu dengan peta palsu. Ada pun peta yang asli lalu disembunyikannya dengan maksud kelak akan dikembalikan kepada yang berhak. Akan tetapi pemuda dusun itu akhirnya lenyap. Paman lalu menulis surat kepadaku dan memberi tahu tentang tempat peta asli disembunyikan. Ternyata aku terlambat dan paman telah terbunuh oleh kaki tanganmu."

"Dan peta itu? Di mana...?" Pat-pi Mo-ko seakan-akan tidak mendengar cerita itu karena pikirannya segera terpusat kepada peta yang asli.

"Di suatu tempat, di kebun rumah mendiang paman Louw."

"Katakan di mana agar kami dapat membuktikan kebenaran omonganmu! Kalau engkau membohong, tentu janjiku tak akan berlaku dan aku akan menyuruh dua orang wanita ini diperkosa di depan matamu sampai keduanya mampus, sebelum engkau disiksa sampai mati pula!"

"Di kebun itu ada sebatang pohon tua di dekat rumpun bambu, pada cabang yang ke tiga dari bawah terdapat lubang. Di situlah disimpannya peta itu, di dalam peti kecil."

Mendengar ini, Pat-pi Mo-ko segera memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pengajaan ketat. "Langsung bunuh saja mereka ini kalau ada tanda-tanda mereka hendak memberontak. Juga kalau Pendekar Sadis berani muncul, bunuh mereka ini dengan alat rahasia dalam kamar!" Pesannya dengan suara lantang.

Kemudian, dengan membawa pasukan penjaga yang lima puluh orang banyaknya, Pat-pi Mo-ko sendiri berangkat menuju ke rumah Louw siucai di pinggir kota raja untuk mencari peta seperti yang diceritakan oleh Bu Kok Siang itu.

Malam hari itu juga, Pat-pi Mo-ko datang kembali dengan kegirangan yang meluap-luap. Peta itu telah ditemukan! Dengan wajah berseri dia pun memasuki ruangan tempat ketiga orang muda itu ditahan. Dia mengeluarkan peta yang asli itu dan membebernya di depan Kok Siang dan Kim Hong yang memandang dengan mata berapi-api.

"Ha-ha-ha, sudah dapat olehku. Ha-ha-ha! Akhirnya harta pusaka itu, harta karun Jenghis Khan, terjatuh ke dalam tanganku!" Kakek hitam itu menyimpan kembali gulungan peta ke dalam tubuh, lantas tiba-tiba dia berkata kepada dua orang pembantunya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, "Sekarang, kalian bunuh bocah she Bu dan gadis she Toan ini! Kalau tidak, mereka itu akan menjadi perintang saja!"

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini dan In Bwee yang sudah dapat bergerak itu menjerit dan menubruk kaki pamannya sambil menangis. "Paman, jangan bunuh dia... ah, jangan bunuh dia...!"

Pat-pi Mo-ko menggerakkan kakinya hingga tubuh keponakan dan muridnya itu terlempar. "Huh, murid durhaka. Masih baik aku tidak menyuruh membunuh engkau sekalian!"

"Paman, jangan bunuh dia... atau bunuh saja aku sekalian bersama dengannya!" In Bwee menangis.

"Engkau tidak percaya padaku, Bu-twako! Omongan orang semacam dia itu mana dapat dipercaya? Begitu peta dikuasainya, tentu kita langsung dibunuh!" kata Kim Hong, sama sekali tidak menyesal karena gadis perkasa ini yakin bahwa pada saat itu, Thian Sin tentu sudah bersiap-siap untuk menolongnya.

Tadi, lapat-lapat dia bisa mendengar suara burung ekor merah. Burung itu hanya terdapat di sekitar kepulauan yang berada di Laut Timur, terutama di Pulau Teratai Merah di mana mereka tinggal. Karena suara burung itu tidak dikenal oleh semua orang yang berada di situ ketika berbunyi, maka ialah satu-satunya orang yang mengenalnya dan tahu bahwa itu adalah tanda rahasia dari Thian Sin yang tentu berada di sekitar tempat penahanan itu. Maka dia pun merasa lega dan tenang saja. Kekasihnya itu tak mungkin membiarkan dia celaka tanpa turun tangan.

Kok Siang marah sekali. Dengan mata mendelik dia memandang kepada Pat-pi Mo-ko, lalu berkata dengan suara nyaring. "Pat-pi Mo-ko, kiranya selain jahat dan kejam, engkau juga seorang pengecut yang suka menjilat ludah sendiri! Engkau telah berjanji..."

"Ha-ha-ha, bagaimana janjiku, kutu buku? Semua orang tadi telah mendengar akan bunyi janjiku itu! Aku berjanji bahwa apa bila engkau memberi tahu tentang peta, aku tidak akan membiarkan dua orang gadis ini diperkosa, bukan? Nah, siapa yang hendak memperkosa mereka? Aku tidak pernah berjanji bahwa aku tidak akan membunuh engkau dan sahabat Pendekar Sadis ini! Jadi, bila sekarang aku menyuruh membunuh kalian, maka aku tidak menyalahi janji! Ha-ha-ha!"

Kok Siang hanya dapat memandang dengan dua mata mendelik. Tak disangkanya bahwa datuk sesat itu sedemikian curangnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu membantah lagi. Dia pun bukan pengecut yang takut mati, maka melihat sikap Kim Hong yang tenang, dia pun merasa malu kalau harus banyak ribut untuk mempertahankan nyawanya.

Pada saat itu, Su Tong Hak melangkah maju mendekati Pat-pi Mo-ko. "Kurasa tidak benar kalau membunuh mereka sekarang."

"Su Tong Hak! Engkau tadi telah memberi nasehat baik sekali untuk memaksa pemuda itu mengaku. Akan tetapi sekarang kenapa engkau melarang aku untuk membunuh mereka? Mereka itu berbahaya sekali!"

Su Tong Hak tersenyum sambil meraba-raba kumisnya yang kecil panjang. "Pat-pi Mo-ko, aku melarangmu dengan perhitungan yang amat matang. Coba kau dengarkan baik-baik pendapatku. Pemuda itu sama sekali belum waktunya untuk dibunuh. Meski pun kita telah mendapatkan peta itu, akan tetapi siapa berani menanggung kalau peta itu benar-benar asli? Siapa tahu kalau itu pun hanya palsu saja dan yang asli masih dia sembunyikan di tempat lain?"

Pat-pi Mo-ko nampak kaget dan cepat menoleh, memandang kepada pemuda sastrawan itu yang hanya tersenyum mengejek. Kakek tinggi besar hitam ini mengangguk-angguk, dapat melihat kebenaran pendapat pedagang yang cerdik itu.

"Maka, membunuhnya sekarang sungguh tidak menguntungkan. Kita selidiki dulu apakah peta ini benar, baru kita boleh membunuhnya. Demikian pula dengan nona itu. Bukankah dia itu sahabat baik Pendekar Sadis? Kalau dia masih berada di tangan kita, setidaknya dia akan berguna untuk dijadikan sandera, untuk mencegah Pendekar Sadis mengganggu kita sampai usaha kita berhasil. Bagaimana pendapat ini, tepatkah?"

Untuk sejenak Pat-pi Mo-ko menunduk sambil mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Su Tong Hak dan tertawa lebar. "Ha-ha-ha, engkau sungguh berbakat untuk menjadi penasehat. Bagus sekali, aku setuju! Malah kita harus membawa mereka itu bersama ke tempat harta karun seperti yang ditunjukkan oleh peta ini, dan di sanalah nasib mereka itu ditentukan! Ha-ha-ha!"

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Thian Sin yang menyamar sebagai prajurit penjaga dan menyaksikan, mendengar semua itu, tentu saja mengalami ketegangan dan kegelisahan yang sangat hebat. Beberapa kali tubuhnya menegang dan beberapa kali hampir saja dia tidak mampu lagi menahan gelora hatinya yang seolah-olah mendorongnya untuk cepat-cepat turun tangan.

Ketika dia melihat pakaian luar Kim Hong dirobek, dia hanya mengepal tinju saja. Dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko hanya menggertak. Akan tetapi pada saat dia melihat In Bwee hampir saja diperkosa, dia harus menggigit bibirnya untuk menahan hatinya. Dia maklum bahwa dia harus kuat menghadapi semua itu. Keadaan masih tidak menguntungkan baginya.

Kalau dia menyerbu, mungkin saja dia mampu menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi amatlah berbahaya bagi keselamatan tiga orang itu. Dia takkan mampu melindungi mereka karena di situ terlalu banyak terdapat orang-orang pandai yang tak mungkin dapat dirobohkan dalam waktu singkat sehingga selagi dia dikeroyok, Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee tentu mudah sekali terbunuh lawan. Dan dia tidak menghendaki hal itu terjadi. Terutama sekali dia tidak ingin kehilangan Kim Hong! Maka dia menanti sampai saat yang paling memuncak dan yang akan memaksanya turun tangan. Kalau masih ada harapan, dia akan sabar menanti.

Dia pun kaget bukan main ketika mendengar pengakuan Kok Siang tentang peta asli itu. Ahh, tidak disangkanya bahwa pengakuan Kok Siang ketika mereka berdua itu terjatuh ke dalam air, ternyata bukan hanya siasat pemuda itu, melainkan memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri mereka.

Kini mengertilah dia mengapa Kim Hong bertahan mati-matian. Kiranya kunci rahasia itu berada di tangan Kok Siang yang menyimpan peta rahasia yang asli. Dan kunci emasnya yang asli ada padanya! Kini Kok Siang sudah mengaku, tempat itu tentu akan ditemukan oleh Mo-ko. Akan tetapi Thian Sin masih dapat tersenyum geli karena dia tahu bahwa usaha Mo-ko yang sudah mendapatkan peta asli itu tetap saja akan sia-sia karena kunci emas yang asli berada padanya!

Ketika melihat Kim Hong dan Kok Siang hendak dibunuh, dia sudah hampir meloncat ke depan. Akan tetapi hatinya lega pada saat dia mendengar Su Tong Hak yang membujuk datuk sesat itu dengan alasan yang amat kuat. Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa Su Tong Hak memang merupakan orang yang amat cerdik.

Pedagang itu kini menginjak dua perahu, keduanya memungkinkan dia untuk memperoleh keuntungan. Di satu pihak, pedagang itu menyelundupkan dia sehingga menganggap dia sekutunya, tentu dengan harapan untuk selain ada kawan menghadapi ancaman Mo-ko yang serakah, juga kalau sampai pihak Mo-ko gagal dan Pendekar Sadis yang menang, setidaknya pedagang itu dapat mengharapkan bagian.

Sebaliknya, bila Pat-pi Mo-ko yang menang, saudagar ini pun masih bisa mengharapkan bagian. Maka dia menyelundupkan dan tidak membuka rahasia Thian Sin, akan tetapi di lain pihak ia pun membantu Mo-ko, salah satu di antaranya melalui nasehat kejinya untuk memperkosa In Bwee dalam usaha memaksa pengakuan Kok Siang.

Ketika melihat Pat-pi Mo-ko membawa pasukan pergi untuk mengambil peta asli seperti yang ditunjukkan oleh Kok Siang, Thian Sin tidak ikut membayangi. Sebenarnya dia telah memperoleh kesempatan baik untuk membayangi datuk itu ke tempat penyimpanan peta asli lalu merampasnya, dan bila perlu membunuh kakek tinggi besar hitam itu. Akan tetapi kalau Kim Hong, Kok Siang dan juga In Bwee masih menjadi tawanan, apa artinya itu? Yang penting adalah melindungi mereka.

Oleh karena itu, Thian Sin hanya menanti dalam persembunyiannya. Biarlah Pat-pi yang mengambilkan peta itu untuknya, bahkan biarkan saja datuk itu bersama anak buahnya mencarikan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan itu untuknya!

Maka, ketika pada keesokan harinya rombongan besar Pat-pi Mo-ko berangkat menuju ke tempat penyimpanan harta karun, diam-diam Thian Sin juga membayangi rombongan itu. Tiga orang tawanan muda itu pun dibawa dengan kereta dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri mengepalai pasukan ini dengan menunggang kereta bersama tiga orang tawanannya. Para pembantu utamanya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, naik kuda dan mengawal di kanan kiri kereta. Su Tong Hak tidak ketinggalan, juga duduk di atas kereta di dekat kusir.

Kereta ke dua berjalan di belakang dan di dalam kereta ini duduk Phang-taijin, pembesar yang menjadi sekutu Pat-pi Mo-ko! Setelah mendengar bahwa peta asli sudah terjatuh ke tangan sekutunya, jaksa ini tak dapat menahan keinginan hatinya untuk ikut menyaksikan pengambilan harta pusaka atau harta karun Jenghis Khan!

Seratus orang prajurit pengawal turut memperkuat rombongan itu, sebagian mengawal di depan dan sebagian di belakang. Mereka itu bukan hanya mengawal untuk menjaga agar jangan ada pihak lawan, terutama sekali Pendekar Sadis yang masih mendatangkan rasa gentar di dalam hati Pat-pi Mo-ko, akan tetapi juga dipersiapkan untuk bekerja di tempat penyimpanan harta karun, kalau-kalau untuk mengambil harta karun itu diperlukan banyak tenaga untuk menggali dan sebagainya.

Perjalanan itu cukup jauh dan merupakan perjalanan yang sangat menarik karena tempat itu ternyata berada di luar Tembok Besar! Mula-mula jantung Thian Sin berdebar tegang ketika rombongan itu menyeberang Tembok Besar di sebelah utara kota raja karena jalan itu menuju ke Lembah Naga! Akan tetapi ternyata rombongan itu membelok ke timur.

Kalau dari luar Tembok Besar itu kemudian dilanjutkan ke utara sampai kaki Pegunungan Khing-an-san di tepi Sungai Huang-ho, di sanalah letaknya Lembah Naga tempat tinggal ayah angkatnya, Si Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong! Namun ternyata perjalanan ini tidak sejauh itu dan sesudah menunda perjalanan semalam di sebuah dusun, pada esok harinya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu di kota Ying-kouw, sebuah kota pelabuhan yang letaknya di Teluk Cili atau Teluk Po-hai sebelah utara!

Setelah mereka tiba di kota Ying-kouw, kehadiran Jaksa Phang ternyata amat berjasa dan berguna. Pembesar setempat menyambutnya dengan penuh hormat dan memberi tempat menginap yang layak, bahkan juga menjamu mereka dengan makan minum. Kepada para pembesar setempat Jaksa Phang menjelaskan bahwa dia sebagai jaksa kota raja sedang menyelidiki sebuah perkara pencurian dan menurut penyelidikan harta yang dicuri itu telah dilarikan menuju ke tempat ini.

Tentu saja para pembesar di kota Ying-kouw amat terkejut dan bersedia untuk membantu sedapat mungkin. Akan tetapi Jaksa Phang langsung menolak, mengatakan bahwa untuk menemukan harta curian itu dia sudah mempersiapkan para pembantunya, juga pasukan. Sementara itu, tiga orang muda yang menjadi tawanan, yang oleh Jaksa Phang dikatakan sebagai orang-orang yang tersangkut di dalam pencurian besar-besaran itu, dimasukkan tahanan dan dijaga ketat sekali.

Pada malam itu, diam-diam Pat-pi Mo-ko bersama Jaksa Phang, juga para pembantunya, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, mempelajari peta asli yang sudah diterjemahkan itu. Ternyata menurut catatan dalam peta kuno itu, harta karun yang dimaksudkan itu berada di dalam sebuah di antara goa-goa yang banyak terdapat di tepi pantai yang curam, di luar kota Ying-kouw sebelah timur. Semalam itu mereka tidak dapat tidur, dengan hati tegang mereka menunggu datangnya pagi karena mereka ingin segera dapat menemukan harta karun Jenghis Khan itu.

Pagi itu cerah sekali. Langit bersih, tiada segumpal pun awan yang menghalangi cahaya matahari pagi yang muncul dari permukaan laut, kemudian makin meninggi merubah sinar kemerahan menjadi keemasan, kemudian semakin meninggi dan sinar itu berubah pula menjadi keperakan. Dan matahari pagi itu agaknya menenangkan lautan yang semalam menggelora dan menyerbu jauh ke pantai. Sekarang ombak mulai kembali ke lautan dan permukaan laut menjadi tenang, hanya ada keriput-keriput kecil yang membuat bayangan jalan putih matahari itu bergoyang-goyang lucu.

Dari atas tebing, rombongan itu memandang ke bawah. Dari tempat setinggi kurang lebih tiga ratus meter itu, lautan tampaknya semakin lembut dan tenang, seperti permukaannya tertutup beludru biru yang terhampar luas hingga ke ujung kaki langit. Menjenguk dari atas tebing itu mendatangkan rasa ngeri, membuat bulu tengkuk meremang dan menimbulkan rasa takut.

Rasa takut melihat tempat tinggi, seperti juga perassan takut akan apa pun juga, timbul oleh bayangan pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan. Kalau kita berdiri di atas tebing lantas melihat ke bawah, tidak akan timbul rasa takut kalau saja kita tidak membayangkan sesuatu. Akan tetapi begitu pikiran membayangkan bagaimana ngerinya jika sampai tergelincir dan terjatuh dari tempat yang demikian tingginya, maka otomatis bulu tengkuk meremang dan muncullah rasa takut yang membuat jantung berdebar dan kaki gemetar.

Tiga orang muda yang menjadi tawanan dikurung oleh satu pasukan yang dipimpin oleh komandan pasukan, juga oleh Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, sedangkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri melakukan pemeriksaan dan dengan hati-hati sekali dia menuruni tebing yang curam itu, bergantungan pada batu-batu dan akar-akar pohon. Sementara itu, dengan kaki dan tangan terikat rantai panjang, tiga orang muda itu duduk berkumpul.

Seperti biasa pada beberapa hari selama menjadi tawanan ini, Kim Hong nampak tenang saja, memandang kepada Kok Siang yang duduk bersandar pada batu dan In Bwee yang duduk menyandarkan kepalanya pada dada kekasihnya. Sejak In Bwee dijadikan tawanan pula bersama kekasihnya, gadis ini selalu mendekati Kok Siang dan nampak sudah begitu pasrah, ingin sehidup semati dengan pemuda itu yang dari pandang matanya juga amat menyayangnya.

Malam tadi, pada saat dua orang muda yang saling berkasihan itu menyatakan ingin mati bersama, Kim Hong menghibur mereka. "Jangan putus asa lebih dahulu, harapan masih banyak bagi kita untuk meloloskan diri," katanya berbisik sehingga tidak terdengar jelas oleh para penjaga di luar kamar tahanan mereka yang agaknya sudah jemu menjaga.

"Hemmm, kematian kita sudah berada di depan mata, aku tidak pernah putus asa, akan tetapi aku pun tahu apa bila keadaan kita sudah tidak ada kemungkinan untuk lolos pula," kata Kok Siang.

"Aku tidak takut mati selama bersamamu, koko," kata In Bwee sambil merebahkan diri di atas pangkuan kekasihnya.

Kim Hong tersenyum. "Kalian lupa bahwa di luaran masih ada kekasihku yang tak akan mungkin membiarkan kita mati."

"Pendekar Sadis?" In Bwee berkata penasaran. "Kalau memang dia mempedulikan kita, kenapa tidak sejak tadi dia turun tangan?"

"Dia bukan anak kecil yang ceroboh. Dia menanti saat baik. Percayalah kepadanya. Dia akan berusaha dengan taruhan nyawanya untuk menyelamatkan kita. Bahaya masih jauh sekali. Kalau tidak, apa kalian kira aku akan enak-enak saja begini?" Berkata demikian, Kim Hong memandang kepada rantai di kaki tangannya.

Memang, jika saja dia menghendaki, dengan sinkang-nya dia akan mampu mematahkan belenggu ini dan mengamuk. Pat-pi Mo-ko terlalu memandang rendah kepadanya dan hal ini baik sekali. Memang inilah yang dia kehendaki maka ketika diadu melawan Kok Siang, dia sengaja mengalah.

Karena memandang rendah, maka tentu Mo-ko menjadi lengah, bahkan kini memasang rantai belenggu sembarangan saja, tidak melumpuhkannya dengan totokan. Mungkin Kok Siang dan In Bwee tidak akan sanggup mematahkan belenggu mereka, akan tetapi dia merasa yakin bahwa dia akan dapat melakukannya bila mana memang tiba saatnya yang baik.

Kedua tangan mereka diikat belenggu di pergelangan tangan dan kedua lengan itu berada di belakang tubuh. Jarak antara dua lengan itu hanya kurang lebih tiga puluh sentimeter, namun cukup untuk melalui kepala.

Ia pernah mempelajari ilmu Sia-kut-hoat, yaitu sejenis ilmu melemaskan diri melepaskan tulang dan dengan ilmu ini, yang membuat tubuhnya menjadl lemas seperti tubuh ular, dia akan dapat menarik kedua lengan itu dari belakang ke atas kepala, kemudian diturunkan ke depan dengan menekuk sambil melemaskan tulang pangkal lengan hingga sepasang lengannya itu akan berpindah ke depan!

Dengan kedua tangan di depan, ia akan mengerahkan sinkang mematahkan belenggu itu, atau setidaknya, ia sudah akan dapat mempergunakan kedua tangannya untuk membuat para penjaga tidak berdaya lantas merampas kunci-kunci belenggu mereka. Akan tetapi saatnya belum tiba dan bila ia melakukannya sebelum waktunya, tentu ia akan dikeroyok sedangkan sebelum dia mampu meloloskan Kok Siang dan In Bwee, dia tidak akan mau mencobanya. Saat yang ditunggu-tunggu itu adalah saat kemunculan Thian Sin, maka dia tetap bersabar karena merasa yakin bahwa belum munculnya kekasihnya itu tentu atas dasar perhitungan yang matang.

Setelah menyelidiki sampai ke bawah, Pat-pi Mo-ko lalu naik lagi. Dia sudah mempelajari tebing itu dan maklum bahwa hanya para pembantunya yang pandai ilmu silat sajalah yang akan mampu menuruni tebing itu. Padahal, menurut peta, goa di mana harta karun itu disimpan, tertutup oleh batu-batu karang yang berguguran dari atas selama ratusan tahun dan untuk menyingkirkan batu-batu besar ini dibutuhkan tenaga para prajurit. Maka mereka semua harus dapat turun ke bawah, ke tepi pantai di mana terdapat goa-goa itu.

Sesudah tiba di atas tebing, Pat-pi Mo-ko lalu berunding dengan jaksa Phang dan para pembantunya, kemudian mengambil keputusan hendak mengerahkan anak buah mereka untuk membuat jalan darurat ke bawah tebing. Mereka memang sudah bersiap membawa alat-alat, dan mulailah seratus orang prajurit itu bekerja, membuat jalan dari atas tebing ke bawah.

Lewat tengah hari, mereka semua sudah berhasil menuruni tebing itu dan berkumpul di pantai yang luas di bawah tebing, di mana terdapat goa-goa batu karang yang sebagian besar tertutup dengan batu-batu karang sebesar perut kerbau yang berguguran dari atas. Mulailah mereka bekerja keras membongkari batu-batu karang di depan dan atas sebuah goa menurut petunjuk Mo-ko yang telah mengukur sesuai dengan petunjuk peta. Menurut peta itu, apa bila dari bawah ini orang melihat ke atas, maka akan terdapat tonjolan tebing yang bentuknya seperti kepala naga. Goa itu terletak persis di bawah kepala naga itu.

Tenaga seratus orang yang dikerahkan tentu saja segera dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat. Setelah matahari mulai condong ke barat sehingga tempat itu tak panas lagi karena sinar matahari tertutup oleh puncak tebing, para prajurit yang bekerja tiba-tiba bersorak ketika mereka melihat goa besar yang tertutup batu-batu tadi.

Pat-pi Mo-ko lalu menyuruh mereka semua mundur. Dia sendiri segera mengajak jaksa Phang, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, beserta dua orang pembantunya yang menarik rantai yang membelenggu ketiga orang muda itu, memasuki goa. Para prajurit disuruh menanti di luar.

Dengan wajah berseri serta jantung berdebar mereka semua memasuki mulut goa yang cukup lebar itu. Juga Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee merasakan ketegangan di dalam hati mereka. Kim Hong dan Kok Siang merasa tegang karena mereka pun ingin melihat harta karun itu, ada pun In Bwee merasa tegang karena dia merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya akan dibunuh setelah harta karun itu terdapat oleh pamannya.

Goa yang lebar itu ternyata di bagian dalamnya menyempit dan akhirnya mereka berhenti pada sebuah pintu batu. Dari bentuknya, dapat diduga bahwa daun pintu ini tentu buatan manusia, merupakan batu tebal berbentuk persegi empat dan di tengah-tengah daun pintu batu itu terdapat sebuah lubang kecil. Itulah lubang kuncinya!

"Ahh, di sinilah tempatnya! Tak salah lagi!" kata Pat-pi Mo-ko dan suaranya gemetar, juga tangannya ketika dia mengeluarkan sebuah kunci emas dari dalam saku bajunya. Kunci emas yang sudah diterimanya dari In Bwee yang telah berhasil mengambilnya dari tangan Pendekar Sadis!

Semua mata para pembantu Pat-pi Mo-ko memandang dengan penuh ketegangan serta kegembiraan, akan tetapi pandang mata Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee yang sudah tahu bahwa kunci emas itu palsu, adalah kegembiraan yang bercampur dengan kegelian hati, akan tetapi juga tegang karena mereka tidak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya nanti setelah datuk sesat itu tidak berhasil membuka dengan kunci palsu.

Seperti juga kuncinya, lubang kunci itu terbuat dari pada emas, akan tetapi ketika Pat-pi Mo-ko memasukkan kunci itu ke lubangnya, ternyata ukurannya tidak cocok dan kunci itu sama sekali tidak dapat masuk!

"Ehh...?!" Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya dan menusuk-nusukkan kunci itu, memutar-mutar, akan tetapi tetap saja kunci emas itu tidak dapat memasuki lubang kecil itu karena memang bukan ukurannya.

Lubang itu kecil memanjang dan berlika-liku, harus menggunakan kunci yang pas ukuran serta cetakannya. Akhirnya Pat-pi Mo-ko menjadi marah karena dia mulai sadar bahwa kunci emas itu adalah palsu!

"Keparat!" bentaknya sambil mencabut kembali kunci itu, memandang kepada kunci itu kemudian menoleh kepada keponakannya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"In Bwee! Keparat kau! Kunci apa yang kau berikan kepadaku ini?"

"Katanya itu kunci emas..."

"Bohong! Ini kunci palsu!"

"Paman, aku hanya menerima dari dia yang mengatakan bahwa itulah kuncinya. Mana aku bisa tahu apakah kunci itu palsu ataukah tulen?" bantah Im Bwee.

"Hi-hik, orangnya berhati jahat dan palsu, mendapatkan peta palsu dan sesudah akhirnya menemukan peta asli dengan cara yang keji, masih juga tidak berhasil karena kuncinya pun palsu!" Kim Hong mentertawakan.

"Jahanam!" Pat-pi Mo-ko membentak marah. "Kalau engkau tidak memberikan kuncinya yang tulen, akan kusiksa kau sampai mampus!"

"Hi-hik, lucunya! Jangan-jangan sesudah kau dapatkan harta karun itu, ternyata harta itu pun palsu, Mo-ko! Alangkah lucunya! Ingin sekali aku melihat mukamu!" Kim Hong tidak mempedulikan ancaman orang.

Mendengar ini, Mo-ko menoleh ke arah pintu yang tidak dapat dibukanya itu. Ucapan itu sungguh terasa menusuk perasaannya. Bagaimana jika betul demikian? Bagaimana kalau sesudah semua jerih payah, semua harapan muluk ini, ternyata harta karun itu palsu dan hanya merupakan permainan orong gila di jaman dahulu belaka? Dia bukan hanya akan kecewa setengah mati, akan tetapi juga amat malu karena namanya tentu akan menjadi buah tertawan orang sedunia kang-ouw bahkan dia akan dianggap seperti seorang badut! Bayangan ini membuatnya menjadi marah dan penasaran sekali.

Sementara itu, ketika melihat betapa Pat-pi Mo-ko tak mampu membuka pintu itu dengan kunci emasnya, tahulah Su Tong Hak bahwa kunci emas yang katanya diterima oleh In Bwee dari Pendekar Sadis itu adalah palsu. Tentu kunci aslinya masih berada di tangan pendekar itu, pikirnya. Maka bekerjalah otak yang bercabang itu.

Kini tidak menguntungkan jika menempel kepada Pat-pi Mo-ko. Lebih baik sekarang juga berusaha mendekati Pendekar Sadis dan dia merasa yakin bahwa pendekar itu berada di antara para prajurit yang berjaga di luar. Berpikir demikian, diam-diam, mempergunakan kesempatan selagi semua orang dicekam ketegangan melihat betapa kunci itu tidak dapat membuka pintu, Su Tong Hak cepat meninggalkan goa itu dan keluar, menghampiri para prajurit yang sedang beristirahat di luar goa sambil mencari-cari. Para prajurit itu sedang berkumpul di depan goa, di luar sambil mencoba untuk melihat ke dalam karena mereka pun ingin sekali melihat apakah harta karun itu dapat ditemukan.

Pat-pi Mo-ko sudah menjadi marah bukan kepalang, marah karena kecewa dan merasa dipermainkan. Dia menggulung lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang berotot, kekar dan kelihatan kuat sekali. Dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang besar, dia mengerahkan tenaga sinkang-nya hingga terdengar suara berkerotokan dari kedua lengan itu, bahkan nampak uap mengepul dari kedua telapak tangannya.

Melihat ini, diam-diam Kim Hong terkejut dan kagum. Ternyata bahwa datuk ini memang sudah mempunyai tingkat kepandaian yang tinggi dan memiliki sinkang yang sangat kuat. Teringatlah dia ketika pertama kali terjebak dalam kompleks tahanan kantor kejaksaan, ia pernah melompat untuk mendobrak pintu tetapi disambut oleh pukulan kakek itu sehingga dia terlempar kembali ke bawah.

"Hyaattttt...!" Tiba-tiba Pat-pi Mo-ko menerjang ke depan, ke arah pintu, kedua tangannya menghantam ke arah pintu batu itu dengan niat untuk menghantam pecah pintu rahasia itu, membukanya tanpa bantuan kunci lagi.

Hebat bukan main pukulan kedua telapak tangannya ini. Tiba-tiba saja seluruh ruangan goa itu tergetar keras, disusul oleh gemuruh dari atas goa. Suara bergemuruh itu semakin hebat, pintu batu itu retak akan tetapi tidak pecah dan tidak runtuh, malah kini terdengar suara yang amat berisik dari luar goa, disusul oleh teriakan-teriakan mengerikan dari para prajurit yang tadi berkumpul di luar goa.

Mendengar suara itu, Pat-pi Mo-ko dan semua orang yang berada di dalam goa itu cepat memutar tubuh dan memandang. Ketika mereka melihat apa yang tejadi di luar goa, mata mereka terbelalak dan pucat.

Ternyata dari atas tebing sedang berjatuhan ratusan batu-batu besar, menggelinding ke bawah kemudian menghantam para prajurit yang berada di luar goa itu bagaikan hujan lebatnya! Ketika akhirnya suara gemuruh berhenti dan tidak ada lagi batu yang melayang turun, semua orang keluar dan penglihatan di luar goa sungguh amat mengerikan.

Hampir seluruh prajurit yang jumlahnya seratus orang itu tewas tertimbun atau terhimpit batu-batu besar. Darah mengalir ke mana-mana dan suara erangan-erangan orang yang terhimpit batu sangat mengerikan. Paling banyak tinggal belasan orang saja yang selamat secara ajaib dan hanya mengalami luka-luka kecil. Dan di antara mereka yang tewas itu terdapat pula Su Tong Hak yang terhimpit batu dengan kepala remuk dan lenyap menjadi berkeping-keping!

Melihat hal ini, pucatlah wajah Jaksa Phang. "Celaka...!" serunya dengan tubuh menggigil melihat betapa pasukannya terbinasa.

"Keparat! Harus kubunuh bedebah-bedebah itu!" Dan dia pun lari kembali memasuki goa teringat kepada tiga orang tawanannya.

Akan tetapi matanya terbelalak melihat betapa Toan Kim Hong dan dua orang yang lain itu sudah bebas dari belenggu dan di situ telah berdiri pula seorang pemuda tampan yang berpakaian sebagai seorang prajurit. Mula-mula dia mengira bahwa tentu dia seorang di antara prajurit yang lolos dari hujan batu. Namun melihat sikap prajurit itu yang merangkul Kim Hong, jantungnya segera berdebar tegang, ada pun matanya memandang terbelalak kepada prajurit muda yang tampan dan gagah itu. Prajurit itu bukan lain adalah Thian Sin, Si Pendekar Sadis!

Seperti sudah kita ketahui, pendekar ini menanti saat baik dan membiarkan pihak musuh mencarikan tempat harta karun itu untuknya. Dia melihat bahwa keselamatan kekasihnya, Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee masih terancam. Maka dia mengikuti semua persiapan Pat-pi Mo-ko yang hendak memimpin rombongan untuk mencari harta karun Jenghis Khan menurut petunjuk di peta asli, kemudian diam-diam dia pun membayangi rombongan itu, kadang-kadang menyamar sebagai prajurit, kadang-kadang pula membayangi dari jauh.

Sesudah rombongan itu tiba di tempat tujuan dan membongkari batu-batu besar, dia pun menyamar sebagai prajurit dan turut pula membantu! Pada waktu Pat-pi Mo-ko serta para pembantunya memasuki goa untuk membuka pintu rahasia, dia pun melihat dari luar, di barisan terdepan sehingga dengan ketajaman matanya dia dapat menyaksikan apa yang terjadi di dalam goa.

Thian Sin sendiri terkejut bukan main ketika Pat-pi Mo-ko menggunakan tenaga sinkang yang amat kuat untuk menghantam pintu rahasia di dalam goa, yang lalu mengakibatkan hujan batu dari atas. Dia tahu bahwa pukulan itu menggetarkan tebing sehingga batu-batu karang yang berada di atas goa menjadi terguncang kemudian longsor. Untung bahwa dia masih sempat bertindak cepat, dan dengan cekatan sekali dia melompat ke depan lantas berlindung di dalam goa kecil di samping goa besar itu.

Pada saat hujan batu sudah mereda dan semua orang yang berada di dalam goa besar itu keluar, dia lalu menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk. Mula-mula dia menggabungkan diri dengan tenaga Kim Hong untuk mematahkan belenggu dari lengan dan kaki kekasihnya itu. Setelah menciumnya sekali tanpa mengeluarkan kata-kata, Thian Sin dibantu oleh Kim Hong lalu melepaskan belenggu yang merantai tangan dan kaki Kok Siang dan In Bwee. Itulah sebabnya ketika Pat-pi Mo-ko kembali ke dalam goa, mereka telah bebas semua dari belenggu mereka!

Thian Sin tersenyun memandang kepada musuh yang baru pertama kali ini dihadapinya dan dia berkata, "Selamat bertemu, Pat-pi Mo-ko! Bagaimana dengan kiriman kunci emas dariku itu? Cukup menyenangkan?"

"Pendekar Sadis! Engkau telah menipuku dengan kunci palsu!" Bentak Pat-pi Mo-ko yang dengan mudah bisa menduga siapa adanya pemuda tampan dan gagah yang menyamar sebagai seorang prajurit ini.

"Kuncinya yang asli juga ada, Mo-ko, ada padaku. Akan tetapi tidak akan mudah engkau bisa mendapatkannya dariku!" Sambil berkata demikian, Thian Sin mengeluarkan sebuah kunci emas dari saku bajunya dan mengacungkannya ke atas, memamerkannya kepada datuk jahat itu. Hal ini membuat muka Pat-pi Mo-ko menjadi semakin hitam.

Pada saat itu, Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko serta Phang-taijin sudah masuk pula ke dalam goa. Mereka pun terheran dan terkejut melihat betapa tiga orang tawanan itu telah bebas dan sekarang memandang kepada pemuda yang berpakaian prajurit, yang tahu-tahu telah muncul di dalam goa itu.

Hai-pa-cu Can Hoa segera mengenal pemuda itu sebagai pemuda teman Kim Hong yang pernah dijumpainya di dalam rumah makan ketika dia dikalahkan oleh Kok Siang. Akari tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko memandang dengan heran. Dia pun sudah mendengar dari Mo-ko tentang Pendekar Sadis dan berpesan supaya berhati-hati karena Pendekar Sadis di samping terlibat dalam urusan harta karun, juga tentu tidak akan tinggal diam karena kekasihnya, Toan Kim Hong, menjadi tawanan mereka.

Dan kini, tahu-tahu pada saat-saat terakhir yang menegangkan, ada pemuda menyamar prajurit yang berada di dalam goa dan agaknya telah membebaskan para tawanan. Siapa lagi pemuda ini kalau bukan Pendekar Sadis? Betapa pun juga, agak lega hati Tiat-ciang Lui Cai Ko karena pendekar itu ternyata sama sekali tidak membayangkan kesan yang menyeramkan, bahkan membuat dia agak memandang rendah kepada seorang pemuda tampan seperti itu.

"Berikan kunci itu kepadaku, Pendekar Sadis!" bentak Pat-pi Mo-ko dengan suara penuh geram. "Atau, engkau akan mati di tanganku!"

"Ha-ha-ha, suaramu tinggi amat! Padahal, kalau aku menghendaki, sudah semenjak lama namamu tinggal menjadi kenangan saja. Akan tetapi aku menanti sampai engkau selesai membantuku menemukan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan. Engkau ingin minta kunci? Marilah kita putuskan hal itu di luar, tempat yang lebih luas."

"Baik! Aku pun sudah lama mendengar nama Pendekar Sadis dan sekarang ingin sekali melihat apakah kepandaianmu juga sehebat namamu!" Sesudah berkata demikian, Pat-pi Mo-ko lalu keluar, diikuti oleh Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko, dan juga Phang-taijin yang memandang khawatir.

Sesudah tiba di luar, Phang-taijin segera memberi isyarat kepada sisa pasukannya untuk melindunginya. Enam belas orang prajurit yang sudah payah lahir batin, lahirnya sudah penuh luka-luka dan lemah, batinnya sudah penuh oleh rasa ngeri dan takut, lalu datang mengerumuninya dan entah siapa yang mengharapkan perlindungan siapa! Mereka semua berkumpul, bagaikan sekumpulan kanak-kanak yang ketakutan dan saling membutuhkan hiburan.

Thian Sin bersama tiga orang muda itu pun melangkah keluar dari dalam goa. Di luar, tiga orang tokoh sesat itu sudah berdiri dengan sikap galak dan siap sedia. Dan seperti sikap jagoan-jagoan besar, mereka bertiga tidak mengeluarkan senjata masing-masing. Seorang jagoan besar cukup mengandalkan keampuhan kaki tangannya, dan baru dalam keadaan terpaksa dan terdesak saja dia akan menggunakan senjatanya!

Pada saat melangkah keluar, Kok Siang sudah berkata kepada Thian Sin, "Ceng-taihiap, Hai-pa-cu Can Hoa itu bagianku, serahkan saja kepadaku!"

"Dan Pat-pi Mo-ko itu bagianku!" kata pula Kim Hong.

"Tidak, Kim Hong. Biar aku yang menghadapi Mo-ko, engkau bereskan saja si mata juling Tiat-ciang Lui Cai Ko itu."

"Ahh, si gendut itu tidak ada harganya untuk dilawan!" kata Kim Hong.

Thian Sin tersenyum. "Bagianmu sudah cukup, Kim Hong. Selama ini aku yang banyak menganggur, maka biarlah kuhadapi Mo-ko itu. Tidak adil kalau dalam perkara ini, engkau saja yang banyak mengeluarkan keringat dan aku enak-enakan saja!"

Kim Hong tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Akan tetapi mereka adalah orang-orang jahat semua, patut untuk dibasmi habis."

"Bagaimana dengan jaksa korup itu?" tanya Thian Sin.

"Serahkan saja kepadaku!" kata Kok Siang yang tersenyum nakal. "Dia pun perlu dihajar dengan cara lain."

Maka sesudah mereka bertiga sampai di luar, diikuti oleh In Bwee yang tentu saja hanya menonton karena dia tidak berani menentang pamannya atau gurunya, mereka telah siap siaga dan menghampiri lawan masing-masing yang sudah dipilihnya.

"Nah, Pat-pi Mo-ko. Kita tiga lawan tiga. Adil, bukan? Di tempat sunyi dan para prajurit itu agaknya sudah tidak mampu lagi untuk membantumu mengeroyok kami," kata Than Sin tersenyum.

In Bwee yang merasa tidak kebagian pekerjaan itu tiba-tiba saja berkata, "Kalau mereka berani bergerak, biarlah aku yang akan menghajar mereka!"

Pat-pi Mo-ko yang biasanya sangat pemberani dan tidak pernah mengenal takut itu, kini memandang ke kanan kiri dan mukanya yang hitam itu agak pucat. Penglihatan di sana memang sungguh mengerikan. Para prajurit yang terhimpit batu, ada yang tertimbun dan hanya nampak kakinya, ada yang masih merintih, ada pula yang berkelojotan dan darah di mana-mana! Semua itu merupakan tanda mala petaka hebat di pihaknya.

Dan dia tahu bahwa Hai-pa-cu Can Hoa pernah kalah oleh Kok Siang dan kini terpaksa harus menghadapinya kembali. Sedangkan Tiat-ciang Lui Cai Ko juga tak bisa terlampau diharapkan akan dapat mengatasi Toan Kim Hong. Meski dia sendiri tidak takut melawan Pendekar Sadis, akan tetapi setelah dia mendengar segala kehebatan Pendekar Sadis di masa lalu, diam-diam dia merasa gentar juga.

"Pendekar Sadis, jika kita saling gempur, tentu satu di antara kita akan tewas sedangkan yang lain besar kemungkinan akan menderita luka-luka pula. Harta karun itu tentu banyak sekali dan tidak akan habis oleh satu pihak saja. Bagaimana kalau aku menawarkan kerja sama sekali lagi dan yang terakhir! Kita bersama temukan harta karun itu dan kita bagi rata!"

Thian Sin tersenyum sambil bertolak pinggang. "Pat-pi Mo-ko, kalau kami ini merupakan orang-orang hamba nafsu dan pengejar kekayaan macam kalian, mungkin saja usulmu itu akan kami pertimbangkan. Akan tetapi sayang untukmu, kami adalah orang-orang yang menentang kejahatan dan kalau kami bertanya kepada arwah kakek petani Ciang Gun dan isterinya, lalu arwah Louw siucai yang terbunuh tanpa dosa, akan nasib Ciang Kim Su yang malang, apa engkau bisa mengharapkan kami sudi bekerja sama dengan kalian?"

"Benar-benarkah engkau tidak mau bekerja sama dengan aku?" Sekali lagi Pat-pi Mo-ko membentak.

"Sayang sekali..."

Baru sampai di situ Thian Sin bicara, tiba-tiba lawannya sudah menubruk ke depan dan mengirim serangan dahsyat sekali. Agaknya Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang sudah maklum akan kehebatan Thian Sin itu ingin merobohkan lawan secepatnya, maka begitu menyerang dia sudah mengerahkan sinkang-nya yang tadi mampu mengguncangkan goa dan membuat batu-batu terbongkar dan longsor. Tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dan tangan kanannya menghantam dengan jari tangan terbuka ke arah dada lawan. Dari kedua tangan itu keluar uap putih dan didahului oleh angin pukulan yang mengeluarkan suara bercuitan.

Thian Sin tidak berani memandang rendah karena dia sudah tahu akan kelihaian lawan, maka dengan tenang dia pun menggerakkan tubuhnya mengelak dan balas menampar. Memang tamparannya kelihatannya sembarangan dan tidak keras, tetapi membuat kakek tinggi besar itu terkejut karena sebelum tamparan itu tiba, dia telah merasakan sambaran hawa pukulan panas yang luar biasa kuatnya. Kakek ini cepat mengerahkan tenaga pada lengannya kemudian menangkis, sengaja hendak mengadu tenaga dengan pendekar yang masih muda itu.

"Dukkk...!"

Dua tenaga raksasa bertemu sehingga batu-batu yang bertebaran di sekeliling tempat itu seperti tergetar. Akibat benturan dua tenaga raksasa melalui dua lengan itu, tubuh Thian Sin masih kokoh dan tidak tergoyang sedikit pun juga, akan tetapi Pat-pi Mo-ko terpaksa melangkah ke belakang sampai tiga langkah dan tubuhnya agak menggigil kedinginan!

Kedua matanya terbelalak dan dia terkejut setengah mati. Tadi, sambaran hawa pukulan itu terasa panas, akan tetapi setelah beradu lengan, bagaimana ada hawa yang demikian dinginnya menyelinap ke dalam tubuh melalui lengan? Dan kekuatan itu! Bukan kepalang dahsyatnya dan harus diakuinya bahwa tadi dia telah mengerahkan seluruh tenaga.

Akan tetapi, kalau Pendekar Sadis sama sekali tidak goyah, dia sendiri terdorong sampai tiga langkah. Dari sini saja dapat dia mengerti bahwa dalam hal kekuatan sinkang, dia tak mampu menandingi pendekar yang aneh dan hebat itu. Dia pun lalu mencabut sepasang senjatanya, yaitu sepasang pedang dan begitu dia menggerakkan tubuh dan tangannya, maka nampaklah dua gulungan sinar membungkus dan menyelimuti bayangan tubuhnya dan terdengar suara mengaung-ngaung seperti suara lebah-lebah mengamuk.

Itulah ilmu pedang pasangan Pek-hong Siang-kiam (Sepasang Pedang Seratus Lebah) yang menjadi ilmu andalan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng. Datuk ini dijuluki Pat-pi Mo-ko (Iblis Berlengan Delapan) karena dia mempunyai kecepatan gerak tangan yang membuat lengannya seperti nampak menjadi banyak. Akan tetapi menghadapi Pendekar Sadis, dia tak berani hanya mengandalkan kedua lengannya dan sekarang mengandalkan sepasang pedangnya yang memang hebat itu.

Akan tetapi, sudah lama Thian Sin seperti telah melupakan senjata di luar kaki tangannya sendiri. Meski pun dia maklum bahwa lawan ini merupakan lawan yang berat, tidak kalah berat dibandingkan dengan para datuk yang pernah dilawannya, namun dia tidak merasa khawatir dan mengandalkan ginkang-nya untuk menghadapi amukan sepasang pedang itu.

Tubuhnya berkelebatan dan kadang-kadang bagaikan kapas ringannya sehingga sebelum pedang menyambar, tubuhnya seperti telah terdorong oleh angin pedang sehingga dapat menghindar dengan cepatnya, lantas kedua kaki tangannya tidak tinggal diam dan segera membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan serangan sepasang pedang lawan.

Hai-pa-cu Can Hoa sudah pernah dikalahkan oleh Kok Siang. Kini, menghadapi pemuda itu, dadanya penuh dengan nafsu membalas dendam atas kekalahannya. Dia tak merasa gentar karena kini dia sudah memegang sebatang golok gergaji yang kelihatannya sangat mengerikan. Can Hoa maklum akan kelihaian lawan, maka walau pun tadi dia bertangan kosong, sekarang melihat Kok Siang sudah menghadapinya, dia pun tidak ragu-ragu lagi mencabut goloknya.

Bukan saja golok besar ini yang membuat hatinya tabah, akan tetapi dia pun tahu bahwa pemuda ini sudah mengalami siksaan dan dibelenggu selama beberapa hari, kurang tidur dan kurang makan. Hal ini tentu melemahkan pemuda sastrawan ini. Selain itu, pemuda ini telah kehilangan senjatanya yang diandalkan, yaitu siangkoan pit dari emas dan perak itu. Senjatanya itu terjatuh saat pemuda ini terjebak ke dalam air dan seperti juga senjata milik Kim Hong, siangkoan pit itu sudah dirampas dan tidak pernah dikembalikan kepada pemuda ini. Maka, jika dibandingkan dengan pertemuannya pertama, kini pihaknya lebih banyak memperoleh keuntungan dan dia merasa yakin bahwa sekali ini dia akan menang dan akan dapat membalas kekalahannya tempo hari.

"Kutu buku, bersiaplah untuk mampus! Darahmu akan diminum oleh golokku ini!" Berkata demikian, Hai-pa-cu Can Hoa sudah menerjang ke depan sambil memutar goloknya dan menyerang kalang kabut.

Tiba-tiba saja nampak sinar emas dan perak berkelebat, bersilang dan menangkis golok itu dengan gerakan menggunting dari kanan kiri.

"Cringggg...!"

Hai-pa-cu Can Hoa terkejut setengah mati ketika merasa betapa goloknya tergetar hebat dan cepat dia mencabut golok itu dari jepitan sepasang siangkoan pit emas dan perak.

"Ehhh...!" Teriaknya kaget dan heran ketika melihat betapa pemuda itu sudah memegang sepasang senjatanya!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa senjata itu, juga sepasang pedang hitam milik Kim Hong, sudah diambil oleh Thian Sin dari tempat penyimpanan senjata di gudang dekat tahanan. Ketika pemuda itu membayangi rombongan, kedua macam senjata itu dibawanya dan tadi di dalam goa, dia telah mengembalikan senjata itu kepada pemiliknya masing-masing.

Kok Siang tersenyum mengejek. "Hai-pa-cu Can Hoa, arwah pamanku Louw siucai telah menanti di sana untuk membuat perhitungan denganmu!"

Hai-pa-cu Can Hoa mengeluarkan bentakan nyaring, dan dia pun sudah menyerang lagi, goloknya menyambar-nyambar dengan ganasnya, namun di balik keganasan sikapnya ini, tersembunyi rasa gentar yang amat hebat, membuat mukanya pucat dan kedua matanya terbelalak. Di lain pihak, Kok Siang bergerak dengan cekatan dan tenang, merasa yakin bahwa akhirnya dia pasti akan mampu mengalahkan penjahat yang hanya besar gertak dan kekasarannya ini.

Kim Hong tadinya menghadapi Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan tenang, bertangan kosong dan dengan senyum mengejek. "Nah, gendut, sekarang kita berhadapan satu lawan satu! Keluarkanlah semua kepandaianmu!"

Tiat-ciang Lui Cai Ko masih hendak berlagak karena dia melawan seorang gadis cantik. Dia masih merasa malu apa bila harus mengeluarkan senjata, maka dia pun tertawa dan berkata. "Nona yang manis, kalau sekali ini aku dapat meringkusmu, maka engkau akan kutelanjangi dan kuperkosa di sini juga!"

Sebelum kata-katanya habis, dia telah menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar ke arah dada ada pun tangan kanan menyusul kaki kanan yang menendang, mencengkeram ke arah pundak. Serangan yang sangat hebat dan sekaligus sudah menggunakan kedua tangan dan sebelah kaki.

Akan tetapi, Kim Hong yang mempunyai tingkat kepandaian jauh lebih tinggi itu, dengan mudahnya berloncatan mengelak lantas ketika tubuhnya turun, kakinya mencuat dengan gerakan kilat yang sama sekali tidak dapat diikuti oleh pandang mata lawan.

"Wuuuuttt...! Plakk!"

Dan sepatunya yang kecil dan terkena lumpur itu telah mengenai dagu lawan, membuat tubuh Tiat-ciang Lui Cai Ko terjengkang dan bahkan nyaris jatuh terbanting kalau saja dia tidak cepat menggulingkan tubuhnya! Setelah bergulingan, dia meloncat bangun kembali. Wajahnya merah, matanya berapi-api dan mulutnya menyeringai, seperti orang tertawa!

Dia merasa malu dan marah bukan main. Dalam satu gebrakan saja dia telah dirobohkan lawan! Sekarang dia pun tahu bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia mengerti bahwa Kim Hong ini adalah seorang yang memiliki ginkang luar biasa hebatnya, membuat gerakannya cepat sekali, tak dapat diikuti dengan pandang mata, maka tentu merupakan lawan yang berbahaya sekali, walau pun agaknya tenaga wanita ini tidak begitu besar dan tendangannya tadi pun tidak begitu kuat.

Benar-benar pendapat yang didasari kesombongan kosong belaka sehingga membuat dia kurang waspada. Dia tidak melihat bahwa jika Kim Hong menghendaki, sekali tendangan tadi saja sudah akan dapat meremukkan tulang gerahamnya! Gadis itu memang sengaja hendak mempemainkan, maka belum menurunkan tenaga dalamnya.

"Wuuut...! Wuuut...!"

Tiat-ciang Lui Cai Ko menggunakan kedua tangan meraba pinggangnya dan ternyata kini tangan kirinya telah memegang sebatang pisau yang panjangnya sekitar tiga puluh senti, ujungnya berkarat dan berwarna kehijauan, tanda bahwa pisau itu direndam dalam cairan beracun! Dan tangan kanannya memegang sebatang sabuk atau cambuk baja yang pada ujungnya dipasang kaitan seperti mata kail!

Sungguh senjata-senjata yang sangat berbahaya dan hebat, pikir Kim Hong. Akan tetapi karena ia sudah dapat mengukur sampai di mana kepandaian lawan, ia pun tidak merasa perlu untuk mengeluarkan sepasang pedangnya melainkan hanya menanti dengan sikap tenang, dengan kedua kaki ditekuk di bagian lutut dan kedua lengan tergantung lepas di kanan kiri, akan tetapi biar pun nampaknya santai saja, sebenarnya seluruh urat syaraf di tubuhnya telah siap siaga dan tubuh itu telah dipenuhi dengan tenaga sinkang yang tinggi dan kuat.

"Hi-hik, itu senjatamu? Pisau penyembelih babi cocok dengan perutmu yang gendut, dan matamu menjadi juling itu tentu karena terlampau sering memutar cambuk itu. Hati-hati, jangan-jangan kaitan cambukmu akan mengenai matamu sendiri, lalu dari juling menjadi buta!" Kim Hong mengejek tanpa mempedulikan serangan lawan yang sudah menyambar sebelum kata-katanya habis itu.

Dengan hanya sedikit menggerakkan leher, mukanya ditarik ke belakang maka sambaran pisau pada lehernya itu lewat beberapa senti di depan lehernya. Dan ketika pada detik berikutnya cambuk baja itu melecut dari atas, ke arah ubun-ubun kepalanya, Kim Hong menggeser kakinya, melangkah sambil memutar dan cambuk itu hanya menyambar lewat ada pun ujungnya yang dipasangi kaitan itu mengenai tanah yang tertutup batu karang. Terdengar suara keras dan debu mengepul, batu karang hancur pinggirnya kena hantem ujung cambuk.

Tentu saja Tiat-ciang Lui Cai Ko menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang kalang kabut dan seperti biasanya, kewaspadaan orang yang sedang dihimpit kemarahan akan berkurang dan dia hanya menuruti nafsu amarah, menyerang tanpa menggunakan perhitungan lagi. Cambuknya meledak-ledak menyambar dari atas dan bawah, pisaunya juga berkilauan menyambar-nyambar.

Akan tetapi dengan amat mudahnya Kim Hong selalu dapat menghindarkan diri. Dara ini belum juga balas menyerang karena dia ingin mempermainkan lawan sampai sepuasnya sebelum turun tangan.

Sementara itu, melihat betapa ketiga orang itu sudah berkelahi, Phang-taijin yang hampir kehabisan prajurit sekaligus juga kehabisan nyali itu, dengan diam-diam memerintahkan sisa pasukannya yang tinggal enam belas orang itu supaya mengawalnya naik ke tebing dan melarikan diri. Akan tetapi, baru saja dia maju beberapa langkah diiringkan oleh para prajurit, menuju ke jalan darurat menuju naik ke tebing, tiba-tiba tubuh In Bwee berkelebat dan gadis ini sudah mendahuluinya dan menghadangnya sambil bertolak pinggang.

"Orang she Phang, engkau hendak lari ke mana? Siapa pun tidak boleh pergi dari sini!" kata In Bwee dengan sikap kereng. Melihat ini, Phang-taijin membelalakkan matanya.

"Nona Bouw, apa engkau tidak tahu siapa aku maka berani melarangku pergi? Ingat, aku boleh menangkapmu dan menuduhmu pemberontak yang melawan pejabat!" Phang-taijin menggertak dan bersikap galak.

In Bwee tersenyum manis. Sekarang dara ini mulai berbesar hati. Biar pun dibandingkan dengan tiga orang teman lain ilmu silatnya masih terlampau rendah, akan tetapi sebagai seorang murid Pat-pi Mo-ko, pandangannya sudah cukup tajam untuk bisa menilai bahwa keadaan teman-temannya berada di atas angin.

Dia lalu teringat akan ucapan Kok Siang tadi yang menyanggupi untuk membereskan dan memberi hukuman yang keras untuk pembesar yang bersekongkol dengan penjahat ini, maka ketika melihat pembesar itu hendak melarikan diri, dia pun segera menghadang dan mencegahnya untuk membantu kekasihnya.

"Orang she Phang, pada saat sekarang, engkau masih ingin mengandalkan kedudukan? Siapa pun tahu bahwa engkau bukanlah pejabat lagi melainkan penjahat atau kaki tangan penjahat, dan urusan di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah."

Karena yang menghadang hanya seorang gadis, Phang-taijin lalu menyuruh enam belas orang perajutit itu maju. "Hajar gadis lancang ini!" katanya.

Enam belas orang prajurit itu sebenarnya sudah kehabisan semangat seperti bola kempis, dan menurut kehendak hati mereka, satu-satunya keinginan mereka adalah melarikan diri dari tempat yang telah berubah menjadi seperti neraka ini. Akan tetapi mereka takut untuk membangkang perintah, terlebih lagi melihat bahwa gadis itu hendak menghalangi mereka melarikan diri. Maka mereka lalu menjadi nekat dan menyerbu.

In Bwee menyambut mereka dengan gerakan kaki tangannya dan terdengar para prajurit itu mengaduh-aduh ketika tubuh mereka terbanting ke sana sini.

Ketika Kok Siang melihat kekasihnya dikeroyok oleh para prajurit, dia menjadi marah dan khawatir. Dia segera mengeluarkan teriakan melengking lantas sepasang siangkoan-pit di tangannya bergerak cepat. Nampak sinar perak berkelebat di depan mulut Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi silau dan pada lain waktu, sebuah tendangan dengan keras mengenai pergelangan tangan kanannya, membuat goloknya terlempar jauh dan sebelum Si Macan Tutul Laut itu sempat memperbaiki posisinya, ada sinar emas berkelebat dan menyambar tenggorokannya.

"Aughhhhh...!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Hai-pa-cu Can Hoa roboh lalu tewas tidak lama kemudian karena pit emas di tangan kanan Kok Siang telah menembus tenggorokan dan menotok jalan darah maut.

Kok Siang tidak melihat lagi keadaan lawan yang sudah roboh itu dan cepat dia meloncat ke arah kekasihnya. Akan tetapi kekhawatirannya tadi sama sekali tidak beralasan karena belasan orang itu sekarang telah dirobohkan semua oleh In Bwee, bahkan belum terkena pukulan atau tendangannya telah menjatuhkan diri dan pura-pura luka sehingga tak dapat melawan lagi. Kini tinggal Phang-taijin yang berdiri dengan wajah pucat dan kedua kaki menggigil lemas, tanpa mampu mengeluarkan suara.

Melihat betapa Kok Siang sudah merobohkan lawannya, Kim Hong merasa bahwa sudah terlampau lama ia mempemainkan lawan. Ketika cabuk atau cambuk baja itu menyambar lagi ke arah kepalanya, tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara melengking dan sinar hitam menyambar, menyambut cambuk itu dan tahu-tahu ujung cambuk itu sudah terbelit oleh ujung rambutnya. Pisau yang menyambar dari arah kanannya hanya dielakkannya saja, sambil tangan kirinya dari bawah menghantam ke atas dan tepat mengenai dada lawan.

"Ngukkk!"

Tiba-tiba saja tubuh yang perutnya gendut sekali itu menjadi lemas, napasnya terengah, kedua tangan melepaskan senjata dan mendekap ke arah atas perut gendutnya, matanya semakin juling menatap ke arah perut dan akhirnya dia pun roboh terkulai. Sekali pukulan dari jari tangan halus Kim Hong tadi sudah menyalurkan kekuatan sinkang dan merusak jantung lawan sehingga pukulan itu sudah cukup untuk merenggut nyawa Tiat-ciang Lui Cai Ko yang sebenarnya masih kalah jauh dibandingkan dengan Toan Kim Hong.

Sekarang mereka bertiga menonton perkelahian antara Thian Sin dan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan memang pertandingan ini sajalah yang nampak paling seru dan seimbang. Memang pada waktu itu, Thian Sin sedang berada dalam puncak kelihaiannya. Biar pun dia bertangan kosong dan lawannya yang berilmu tinggi itu mempergunakan sepasang pedangnya dengan amat hebatnya, namun Thian Sin sama sekali tidak pernah terdesak.

Tubuhnya bagai menyelinap dan beterbangan di antara dua sinar pedang yang bergulung-gulung itu. Amat mengerikan dipandang jika diingat betapa sedikit saja tergores sinar itu, tubuh bisa koyak-koyak! Akan tetapi juga amat indahnya!

Sesudah lewat puluhan jurus dan sepasang pedang yang sangat diandalkannya itu tidak mampu mendesak lawan, Pat-pi Mo-ko mulai merasa gentar dan juga takjub sekali. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan yang sehebat ini. Kini mengertilah dia mengapa datuk-datuk kaum sesat di empat penjuru dunia beberapa tahun yang lalu kalah semua melawan Pendekar Sadis. Ternyata ilmu kepandaian pemuda ini memang hebat bukan main, hebat dan juga aneh, hampir semua gerakan pemuda ini tidak dikenalnya.

Karena merasa kewalahan untuk bisa mendesak lawan, akhirnya Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri saja. Sepasang pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga andai kata ada hujan lebat dari atas menimpa dirinya sekali pun, tidak akan ada setetes air yang mampu mengenai tubuhnya. Demikian rapat sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti tubuhnya, seolah-olah telah berubah menjadi benteng baja yang menutupi tubuhnya dan yang melindunginya dari ancaman apa pun dari luar.

Melihat siasat lawan ini, Thian Sin maklum bahwa jika dia tidak cepat mengeluarkan ilmu simpanannya, maka akan makan waktu terlalu lama menjatuhkan lawan tangguh ini. Dia lalu diam-diam mengerahkan tenaganya, dan pada saat lawan mundur, dia merendahkan dirinya dan mendadak dari mulutnya keluar suara melengking nyaring yang menggetarkan jantung lawan, disusul dengan tubuhnya yang tadi merendah itu kini tiba-tiba meluncur ke depan dengan kecepatan kilat dan dengan kekuatan dahsyat sekali.

Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng terkejut ketika merasa ada angin hebat melanda dirinya. Dia berusaha untuk secepatnya menggerakkan sepasang pedangnya menyambut ke depan, ke arah bayangan lawan yang meluncur itu.

"Bressss...!"

Terjadinya benturan itu sukar diikuti dengan pandangan mata, akan tetapi tahu-tahu tubuh Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang tinggi besar itu terpelanting dan terjengkang kemudian terguling-guling, menabrak batu karang besar dan berhenti. tidak bergerak lagi. Sebatang pedang, pedangnya sendiri, menembus lehernya sampai ke tengkuk, ada pun pedang ke dua masih terkepal di tangan kiri.

Kiranya dalam benturan tadi, saking hebatnya daya serang Thian Sin, pedang kanan itu membalik lalu menembus leher sendiri. Maka tewaslah Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan habislah sudah komplotan jahat yang berlindung di balik kedudukan Jaksa Phang di kota raja itu!

********************

Kota raja lantas geger ketika pada suatu pagi, tubuh Jaksa Phang tergantung tinggi-tinggi di depan kantornya dengan kaki tangan terikat dan ikatan tangannya itu digantungkan di atas wuwungan bagian depan sehingga nampak dari jalan. Hal ini segera menarik banyak perhatian, apa lagi karena ada sehelai kain putih lebar yang tergantung dan tubuh jaksa Phang itu penuh dengan tulisan yang rapi dan indah.

Ketika orang-orang menolongnya dan membaca tulisan itu, keadaan menjadi makin geger dan berita itu segera menjalar luas di kota raja. Isi tulisan itu membuka rahasia jaksa itu tentang perbuatan-perbuatannya yang korup dan jahat, tentang persekutuannya dengan penjahat-penjahat dan betapa kantor kejaksaan dijadikan tempat persembunyian penjahat besar Pat-pi Mo-ko!

Berita ini sampai ke dalam istana sehingga kaisar sendiri menjadi marah dan malu, lalu memerintahkan untuk menangkap jaksa Phang itu, dipecat dan dijatuhi hukuman berat. Mudah kita duga bahwa yang melakukan perbuatan itu tentulah Bu Kok Siang orangnya!

Sesudah Thian Sin muncul lantas membebaskan dia, Kim Hong dan In Bwee, kemudian mereka berhasil membasmi para datuk sesat berikut anak-anak buahnya, maka Thian Sin lalu mengajak mereka bertiga, sambil membawa Phang-taijin sebagai tawanan, pergi ke goa di mana terdapat pintu tadi. Kok Siang menotok roboh jaksa itu dan melemparnya ke sudut, kemudian Thian Sin mengeluarkan kunci emas yang asli dari sakunya dan ternyata kunci itu tepat sekali memasuki lubang kunci dari emas di tengah-tengah daun pintu baja. Thian Sin memasukkan kuncinya kemudian memutar-mutar.

Tiba-tiba terdengar suara keras hingga semua orang menjadi kaget dan berhati-hati, takut kalau-kalau terjadi longsor batu-batu karang lagi seperti tadi. Akan tetapi sesudah suara keras itu berhenti, ternyata lantai di sebelah kanan daun pintu itu amblong dan berlubang.

Kiranya kunci itu hanya menggerakkan alat rahasia yang sudah dipasang di situ di mana terdapat batu besar yang digerakkan oleh alat baja bergeser dan menurun. Di balik batu besar itu terdapat lubang dan inilah tempat rahasia penyimpanan harta karun. Bukan di belakang daun pintu, karena belakang pintu itu tidak ada apa-apanya, hanya ada dinding tebing batu karang. Sesudah rasa kagetnya hilang, Thin Sin lalu memeriksa lubang dan di sini mereka menemukan empat buah peti kuno berukir.

"Ah, inilah harta karun itu!" Thian Sin berseru.

Empat orang itu merasa girang bukan main, seperti sekumpulan anak-anak yang berhasil menemukan sesuatu yang menarik. Mereka lalu mengeluarkan empat buah peti kuno itu dan sesudah empat buah peti itu dibuka, ternyata berisi emas dan permata intan berlian ratna mutu manikam, logam mulia dan batu mulia berkilau-kilauan menyilaukan mata!

Bagaikan anak-anak kecil yang melihat mainan bagus, mereka merakup benda-benda itu, dipermainkan di antara jari-jari tangan dengan sepasang mata bersinar-sinar serta wajah berseri-seri.

"Bukan main! Kalau saja benda sebanyak ini sampai terjatuh ke tangan mereka, sungguh sayang!" akhirnya Kok Siang berkata.

"Harta karun Jenghis Khan ini rahasianya ditemukan oleh keluarga Ciang, maka kita harus menyerahkan kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su," Kim Hong berkata dengan suara tegas. Mendengar ini, tiba-tiba Kok Siang menjura kepada wanita itu.

"Nona Toan, sungguh bijaksana sekali ucapan itu dan aku merasa takluk. Seorang seperti nona ini dan juga Ceng-taihiap, barulah pantas disebut pendekar!"

"Sayang, orang yang berhak sudah tidak ada lagi!" kata Thian Sin.

"Apa maksudmu, Thian Sin?" Kim Hong bertanya dan Kok Siang bersama In Bwee juga memandang heran.

"Aku sudah melihat pemuda petani itu. Dia disiksa untuk dipaksa mengaku tentang peta asli. Tentu saja dia sendiri tidak tahu dan penyiksaan itu membuat dia terluka parah maka ketika aku mengunjunginya di dalam sel tahanannya di kompleks kejaksaan itu, dia pun meninggal dunia tanpa dapat ditolong lagi."

"Ahhh...!" In Bwee berseru dan merasa kasihan sekali.

Karena menemukan harta karun Jenghis Khan, keluarga petani yang terdiri dari ayah ibu dan anak itu semua telah tewas! Agaknya jalan pikiran In Bwee ini terasa juga oleh tiga orang pendekar itu. Kok Siang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jenghis Khan terkenal dengan kekerasan dan kekejamannya, dan harta karunnya ini pun ternyata membawa kutukan bagi para penemunya. Untung sekali sekarang telah jatuh ke tangan kalian, sepasang pendekar budiman. Mudah-mudahan saja harta karun itu akan dapat bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang melalui tangan kalian berdua."

"Sekarang harta karun ini milik kita bersama, Bu-twako," kata Kim Hong. "Kita bersama yang sudah mendapatkannya, oleh karena itu kita semua pula yang berhak memilikinya. Kita akan bagi rata..."

"Tidak, aku tidak mau! Sejak kecil aku menjadi anak orang kaya, dan aku bahkan sering kali melihat betapa kekayaan tak selalu mendatangkan kebahagiaan. Tidak, kini aku ingin hidup seadanya dan miskin... di samping Siang-koko..." Dan gadis itu segera memegang lengan pemuda pujaannya itu sambil memandang mesra.

Kok Siang tersenyum. "Baik, Bwee-moi atau pun aku tidak berhak sama sekali, juga tidak membutuhkan. Aku sendiri bukan orang miskin. Aku menerimanya dari paman Louw, dan paman Louw sama sekali tidak berhak. Lagi pula, mendiang pamanku itu memalsu peta, bukan karena ingin menguasai yang asli, melainkan karena curiga kepada Su Tong Hak dan ingin menolong dan kelak menyerahkannya kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su. Maka, sesudah sekarang jatuh ke tangan kalian yang memang berjasa dan hanya karena adanya kalian maka harta ini dapat ditemukan, maka hanya kalian berdualah yang berhak memilikinya, Ceng-taihiap dan Nona Toan."

Thian Sin menghela napas kemudian memandang kagum pada Kok Siang dan In Bwee. "Ahh, dalam dunia ini sungguh jarang dapat ditemukan orang-orang seperti kalian berdua. Biasanya, di mana terdapat harta, tentu terjadi perebutan. Untuk memiliki harta, manusia tak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman. Akan tetapi kalian malah menolaknya. Kami sendiri juga tidak membutuhkan harta. Akan tetapi karena harta karun ini telah terjatuh ke tangan kita, sudah seharusnya kalau kita pergunakan untuk kebaikan. Memerangi kejahatan bukan merupakan suatu hal yang mudah dan ringan, juga kadang-kadang membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, harta karun Jenghis Khan yang aku yakin tentu sudah bergelimang darah ini, yang sekarang saja sudah membunuh puluhan orang di luar goa, akan dapat kita pakai untuk menebus dosa-dosanya, untuk bermanfaat bagi banyak orang dan untuk biaya memerangi kejahatan. Engkau pun berhak mendapat bagianmu, Bu-siucai."

Akan tetapi Kok Siang menggeleng kepalanya sambil tersenyum lalu merangkul leher In Bwee yang memegang lengannya. "Tidak, taihiap. Dalam peristiwa perebutan harta karun Jenghis Khan ini, aku telah memperoleh bagianku sendiri, telah memperoleh harta karun yang tiada keduanya di dunia ini, yang jauh lebih berharga dari pada semua harta dalam empat peti itu, yaitu Bwee-moi!"

Thian Sin dan Kim Hong tersenyum saling pandang, sedangkan In Bwee menjadi merah mukanya dan tersenyum bangga dan bahagia. Pendekar Sadis dan kekasihnya tidak mau memaksa lagi dan mereka pun lalu meninggalkan tempat itu, membawa empat peti harta karun dan juga membawa Phang-taijin sebagai tawanan.

Mereka menggunakan kereta yang tertinggal di atas tebing dan pada malam itu juga, Kok Siang membereskan Phang-taijin, menulis surat pembeberan rahasia busuk pembesar itu dan menggantungkan pembesar korup serta suratnya ke wuwungan depan rumah gedung pembesar itu. Ketika Kok Siang melakukan hal ini, dia ditemani oleh In Bwee, Thian Sin dan Kim Hong. Akan tetapi Pendekar Sadis beserta kekasihnya tidak mau mengganggu dan membiarkan saja sastrawan perkasa itu bisa memuaskan hatinya dengan melakukan hukuman itu sendiri.

Sesudah selesai melakukan tugas terakhir dalam urusan harta karun Jenghis Khan itu, mereka berkumpul di tempat sunyi di luar kota raja, di mana telah menanti sebuah kereta yang akan membawa Pendekar Sadis bersama kekasihnya meninggalkan kota raja pada malam hari itu juga. Empat buah peti harta karun itu sudah disusun rapi di dalam kereta, ditutupi dan tidak nampak dari luar.

Dua pasang orang muda itu kini saling berhadapan di bawah sinar bulan purnama. Cuaca dan pemandangan indah sekali, mendatangkan rasa kegembiraan luar biasa walau pun ada sedikit rasa haru karena mereka hendak saling berpisahan.

"Kami harap saja kalian akan dapat menjadi pasangan yang baik dan berbahagia," kata Kim Hong sambil memeluk In Bwee dan gadis hartawan ini mengusap air matanya karena selama beberapa hari menjadi kenalan Kim Hong dia merasa sangat kagum dan sayang kepada pendekar wanita itu.

"Mudah-mudahan saja kami akan dapat menjadi pasangan berbahagia seperti ji-wi," kata In Bwee.

"Bagaimana rencanamu selanjutnya dengan nona Bouw, Bu-siucai?" Thian Sin bertanya.

"Kami akan minta persetujuan dari orang tua Bwee-moi secara terang-terangan. Dan kami sudah bersepakat bahwa andai kata orang tuanya tidak menyetujui, maka kami berdua akan pergi begitu saja!"

Kim Hong dan Thian Sin tertawa. "Aih, mudah-mudahan tidak. Kami kira, orang tua adik Bwee akan cukup bijaksana untuk dapat melihat bahwa mereka sudah memiliki seorang calon mantu yang hebat!" kata Kim Hong.

"Dan bagaimana dengan ji-wi (kalian berdua)?" tanya Bu Kok Siang.

"Kami akan pulang dan beristirahat," jawab Thian Sin.

"Di mana... ahh, ji-wi sudah menjelaskan bahwa ji-wi tak akan memberi tahukan tempat tinggal ji-wi kepada siapa pun juga. Biarlah, kami hanya berdoa semoga kelak kita masih akan dapat saling bertemu pula," kata Kok Siang.

Setelah bersalaman kemudian saling memberi hormat, akhirnya Thian Sin dan Kim Hong memasuki kereta dan Thian Sin melarikan kuda-kuda penarik kereta, diikuti oleh pandang mata Kok Siang dan In Bwee, sampai kereta itu lenyap ditelan kegelapan di sudut sana. Mereka merasa terharu dan kehilangan, akan tetapi ketika mereka teringat bahwa mereka kini bersama, lenyaplah rasa kehilangan itu maka sambil bergandeng tangan mereka pun pulang kembali ke kamar mereka di rumah penginapan di mana mereka menyewa dua buah kamar untuk mereka.

Dan dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka ketika melihat bahwa di kamar Kok Siang terdapat sebuah di antara empat peti harta karun itu, dengan isi yang masih penuh dan utuh! Dan di atas peti itu terdapat tulisan

SEMOGA KALIAN BERBAHAGIA.

Kedua orang itu saling pandang dan akhirnya In Bwee menubruk calon suaminya sambil menangis, terharu akan kebaikan hati Pendekar Sadis dan kekasihnya.

********************

Sementara itu, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dua sosok tubuh berada di dalam sebuah perahu layar, dan perahu itu dengan perlahan meninggalkan pantai menuju ke laut bebas. Sebuah perahu layar yang berukuran sedang saja, tidak ada anak perahunya kecuali mereka berdua.

Di atas dek perahu terdapat tiga buah peti kuno berukir indah. Mereka itu adalah Thian Sin dan Kim Hong yang sedang berlayar menuju pulang, ke tempat tinggal mereka yaitu di Pulau Teratai Merah, membawa hasil petualangan mereka, yaitu tiga peti berisikan harta karun Jenghis Khan!

T A M A T

Bagian Ke Tujuh Serial Pedang Kayu Harum SILUMAN GOA TENGKORAK

Harta Karun Jenghis Khan Jilid 06

KINI, melihat In Bwee melawan, cepat dia pun turun tangan dan tentu saja gadis itu bukan lawannya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, dia telah berhasil merobohkan In Bwee dengan dua kali totokan, membuat gadis itu roboh dengan tubuh lemas dan tidak mampu bangkit kembali, rebah miring dengan kaki dan tangan seperti lumpuh rasanya.

"Murid murtad! Kalau begitu biar kekasihmu melihat engkau diperkosa di depan matanya!"

Tiat-ciang Lai Cai Ko yang perutnya gendut dan matanya juling, rambutnya riap-riapan itu segera maju dan menyeringai. "Heh-heh-heh-heh, twako, kalau memang gadis ini hendak diperkosa, serahkan saja kepadaku untuk melaksanakannya. Sudah lama aku tergila-gila padanya, hanya karena mengingat dia itu muridmu maka aku tidak berani mengganggu. Sekarang dia berkhianat dan berpihak kepada musuh, kalau memang mau diperkosa, biar aku yang..."

"Boleh, lakukanlah! Akan tetapi harus di sini dan sekarang juga, supaya kekasihnya dapat melihatnya!" kata kakek tinggi besar berkulit hitam itu.

Tiat-ciang Lui Cai Ko adalah seorang begal tunggal yang usianya sudah empat puluh lima tahun, kejam dan sudah terbiasa dengan kekerasan. Perasaannya sudah kebal sehingga tak mengenal malu lagi. Maka, biar pun di situ terdapat banyak orang yang menyaksikan, tanpa malu-malu dan sambil tertawa bergelak dia maju menghampiri tubuh In Bwee yang menggeletak di atas lantai dengan lemas itu.

"Mo-ko, manusia iblis! Tega engkau terhadap murid dan keponakan sendiri?" Kok Siang berteriak-teriak.

"Brettttt...!" Sebagian dari baju In Bwee terkoyak dalam genggaman tangan Tiat-ciang Lui Cai Ko.

Semua mata mereka yang hadir, juga para penjaga, langsung terbelalak ada pun jantung mereka berdebar tegang membayangkan peristiwa yang akan mereka saksikan di dalam ruangan itu. In Bwee sendiri tidak lagi mampu bergerak, hanya matanya terbelalak seperti seekor kelinci yang berada dalam cengkeraman kuku harimau.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh manis sekali. Aha, malam ini untungku benar-benar besar!" Tiat-ciang Lui Cai Ko langsung merangkul, meremas dan menciumi muka gadis itu yang hanya dapat mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak untuk melawan.

Semua orang yang hadir terbelalak melihat adegan ini, ada yang menelan ludah, ada yang membuang muka, ada yang tertawa-tawa dengan mata melotot hampir keluar dari rongga matanya. Si Tangan Besi Lui Cai Ko adalah orang yang sudah kebal, sama sekali tidak mengenal malu dan dia beraksi seolah-olah di tempat itu tidak ada orang lain. Tangannya meraih dan hendak menanggalkan sisa pakaian In Bwee.

"Tahan...!" Mendadak Kok Siang berteriak, matanya terbelalak, mukanya pucat. "Mo-ko, aku mau mengaku...!"

Akan tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko bagaikan tidak mendengar seruan ini dan hendak terus melanjutkan perbuatannya. Baru sesudah Mo-ko sendiri melangkah maju lantas menepuk pundaknya, dia berhenti dan memandang kecewa, akan tetapi tidak berani membantah.

"Tiat-ciang, kau mundurlah." kata Pat-pi Mo-ko.

Tiat-ciang Lui Cai Ko bangkit dan mundur, matanya melotot ke arah Kok Siang, kelihatan kecewa, mendongkol dan sangat marah. Daging yang sudah tersentuh bibir itu, sebelum dapat digigit dan dikunyah lalu ditelannya, telah direnggut orang dan terlepas!

Kim Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya dapat memandang kepada sastrawan muda itu. Habislah harapannya. Dia tahu bahwa Kok Siang dan In Bwee hanyalah orang biasa yang jalan pikiran serta perasaannya sudah tercetak semenjak kecil sehingga sama dengan jalan pikiran dan perasaan umum pada waktu itu.

Wanita diperkosa merupakan hal yang paling hebat bagi mereka, merupakan mala petaka yang tidak dapat diperbaiki lagi, seperti kematian, bahkan dianggap lebih hebat dari pada kematian. Karena inilah maka Kok Siang tak mampu bertahan ketika melihat kekasihnya hendak diperkosa di depan matanya. Alangkah bodohnya. Apakah kalau pemuda itu telah mengaku lalu In Bwee terbebas dari pada ancaman pemerkosaan atau pembunuhan?

"Mo-ko, aku mau mengaku tentang peta yang asli, akan tetapi engkau harus berjanji lebih dulu bahwa engkau tak akan membiarkan nona Toan dan In Bwee diperkosa orang. Kalau engkau tidak mau berjanji, meski apa pun yang terjadi, maka jangan harap aku akan mau mengaku," kata Kok Siang dengan suara lantang.

"Baiklah, aku berjanji bahwa mereka berdua tidak akan diperkosa," kata Pat-pi Mo-ko dan wajahnya nampak berseri gembira sekali.

"Ingat, Mo-ko. Bagi seorang yang berkedudukan tinggi seperti engkau, biar hanya sebagai seorang datuk sesat, janji merupakan sumpah yang lebih berharga dari pada nyawa. Aku percaya bahwa engkau tidak akan melanggar janjimu tadi, disaksikan oleh semua orang yang mendengarnya."

Wajah hitam itu semakin hitam dan sepasang mata itu mendelik. "Bu-siucai. Kau kira aku ini orang macam apa maka akan melanggar janji sendiri?"

"Bagus, kalau begitu aku akan mengaku dengan hati lapang. Engkau dengarlah baik-baik. Aku adalah keponakan dari mendiang Louw Siucai."

Semua orang sangat terkejut, terutama sekali Su Tong Hak dan Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi pelaksana dari pembunuhan terhadap Louw siucai.

"Hemm, kiranya begitukah?" kata Pat-pi Mo-ko sambil mengangguk-angguk dan dia dapat menduga apa yang telah terjadi. "Lanjutkan ceritamu."

"Paman Louw melihat gelagat yang tidak baik ketika Su Tong Hak beserta keponakannya datang untuk minta peta itu diterjemahkan. Paman sama sekali tidak menginginkan benda orang lain, akan tetapi dia tahu bahwa Su Tong Hak bukan manusia baik-baik dan bahwa keponakannya, pemuda dusun itu akan tertipu. Karena itu diam-diam paman minta waktu satu hari untuk menterjemahkannya lantas menukar peta yang asli itu dengan peta palsu. Ada pun peta yang asli lalu disembunyikannya dengan maksud kelak akan dikembalikan kepada yang berhak. Akan tetapi pemuda dusun itu akhirnya lenyap. Paman lalu menulis surat kepadaku dan memberi tahu tentang tempat peta asli disembunyikan. Ternyata aku terlambat dan paman telah terbunuh oleh kaki tanganmu."

"Dan peta itu? Di mana...?" Pat-pi Mo-ko seakan-akan tidak mendengar cerita itu karena pikirannya segera terpusat kepada peta yang asli.

"Di suatu tempat, di kebun rumah mendiang paman Louw."

"Katakan di mana agar kami dapat membuktikan kebenaran omonganmu! Kalau engkau membohong, tentu janjiku tak akan berlaku dan aku akan menyuruh dua orang wanita ini diperkosa di depan matamu sampai keduanya mampus, sebelum engkau disiksa sampai mati pula!"

"Di kebun itu ada sebatang pohon tua di dekat rumpun bambu, pada cabang yang ke tiga dari bawah terdapat lubang. Di situlah disimpannya peta itu, di dalam peti kecil."

Mendengar ini, Pat-pi Mo-ko segera memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pengajaan ketat. "Langsung bunuh saja mereka ini kalau ada tanda-tanda mereka hendak memberontak. Juga kalau Pendekar Sadis berani muncul, bunuh mereka ini dengan alat rahasia dalam kamar!" Pesannya dengan suara lantang.

Kemudian, dengan membawa pasukan penjaga yang lima puluh orang banyaknya, Pat-pi Mo-ko sendiri berangkat menuju ke rumah Louw siucai di pinggir kota raja untuk mencari peta seperti yang diceritakan oleh Bu Kok Siang itu.

Malam hari itu juga, Pat-pi Mo-ko datang kembali dengan kegirangan yang meluap-luap. Peta itu telah ditemukan! Dengan wajah berseri dia pun memasuki ruangan tempat ketiga orang muda itu ditahan. Dia mengeluarkan peta yang asli itu dan membebernya di depan Kok Siang dan Kim Hong yang memandang dengan mata berapi-api.

"Ha-ha-ha, sudah dapat olehku. Ha-ha-ha! Akhirnya harta pusaka itu, harta karun Jenghis Khan, terjatuh ke dalam tanganku!" Kakek hitam itu menyimpan kembali gulungan peta ke dalam tubuh, lantas tiba-tiba dia berkata kepada dua orang pembantunya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, "Sekarang, kalian bunuh bocah she Bu dan gadis she Toan ini! Kalau tidak, mereka itu akan menjadi perintang saja!"

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini dan In Bwee yang sudah dapat bergerak itu menjerit dan menubruk kaki pamannya sambil menangis. "Paman, jangan bunuh dia... ah, jangan bunuh dia...!"

Pat-pi Mo-ko menggerakkan kakinya hingga tubuh keponakan dan muridnya itu terlempar. "Huh, murid durhaka. Masih baik aku tidak menyuruh membunuh engkau sekalian!"

"Paman, jangan bunuh dia... atau bunuh saja aku sekalian bersama dengannya!" In Bwee menangis.

"Engkau tidak percaya padaku, Bu-twako! Omongan orang semacam dia itu mana dapat dipercaya? Begitu peta dikuasainya, tentu kita langsung dibunuh!" kata Kim Hong, sama sekali tidak menyesal karena gadis perkasa ini yakin bahwa pada saat itu, Thian Sin tentu sudah bersiap-siap untuk menolongnya.

Tadi, lapat-lapat dia bisa mendengar suara burung ekor merah. Burung itu hanya terdapat di sekitar kepulauan yang berada di Laut Timur, terutama di Pulau Teratai Merah di mana mereka tinggal. Karena suara burung itu tidak dikenal oleh semua orang yang berada di situ ketika berbunyi, maka ialah satu-satunya orang yang mengenalnya dan tahu bahwa itu adalah tanda rahasia dari Thian Sin yang tentu berada di sekitar tempat penahanan itu. Maka dia pun merasa lega dan tenang saja. Kekasihnya itu tak mungkin membiarkan dia celaka tanpa turun tangan.

Kok Siang marah sekali. Dengan mata mendelik dia memandang kepada Pat-pi Mo-ko, lalu berkata dengan suara nyaring. "Pat-pi Mo-ko, kiranya selain jahat dan kejam, engkau juga seorang pengecut yang suka menjilat ludah sendiri! Engkau telah berjanji..."

"Ha-ha-ha, bagaimana janjiku, kutu buku? Semua orang tadi telah mendengar akan bunyi janjiku itu! Aku berjanji bahwa apa bila engkau memberi tahu tentang peta, aku tidak akan membiarkan dua orang gadis ini diperkosa, bukan? Nah, siapa yang hendak memperkosa mereka? Aku tidak pernah berjanji bahwa aku tidak akan membunuh engkau dan sahabat Pendekar Sadis ini! Jadi, bila sekarang aku menyuruh membunuh kalian, maka aku tidak menyalahi janji! Ha-ha-ha!"

Kok Siang hanya dapat memandang dengan dua mata mendelik. Tak disangkanya bahwa datuk sesat itu sedemikian curangnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu membantah lagi. Dia pun bukan pengecut yang takut mati, maka melihat sikap Kim Hong yang tenang, dia pun merasa malu kalau harus banyak ribut untuk mempertahankan nyawanya.

Pada saat itu, Su Tong Hak melangkah maju mendekati Pat-pi Mo-ko. "Kurasa tidak benar kalau membunuh mereka sekarang."

"Su Tong Hak! Engkau tadi telah memberi nasehat baik sekali untuk memaksa pemuda itu mengaku. Akan tetapi sekarang kenapa engkau melarang aku untuk membunuh mereka? Mereka itu berbahaya sekali!"

Su Tong Hak tersenyum sambil meraba-raba kumisnya yang kecil panjang. "Pat-pi Mo-ko, aku melarangmu dengan perhitungan yang amat matang. Coba kau dengarkan baik-baik pendapatku. Pemuda itu sama sekali belum waktunya untuk dibunuh. Meski pun kita telah mendapatkan peta itu, akan tetapi siapa berani menanggung kalau peta itu benar-benar asli? Siapa tahu kalau itu pun hanya palsu saja dan yang asli masih dia sembunyikan di tempat lain?"

Pat-pi Mo-ko nampak kaget dan cepat menoleh, memandang kepada pemuda sastrawan itu yang hanya tersenyum mengejek. Kakek tinggi besar hitam ini mengangguk-angguk, dapat melihat kebenaran pendapat pedagang yang cerdik itu.

"Maka, membunuhnya sekarang sungguh tidak menguntungkan. Kita selidiki dulu apakah peta ini benar, baru kita boleh membunuhnya. Demikian pula dengan nona itu. Bukankah dia itu sahabat baik Pendekar Sadis? Kalau dia masih berada di tangan kita, setidaknya dia akan berguna untuk dijadikan sandera, untuk mencegah Pendekar Sadis mengganggu kita sampai usaha kita berhasil. Bagaimana pendapat ini, tepatkah?"

Untuk sejenak Pat-pi Mo-ko menunduk sambil mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Su Tong Hak dan tertawa lebar. "Ha-ha-ha, engkau sungguh berbakat untuk menjadi penasehat. Bagus sekali, aku setuju! Malah kita harus membawa mereka itu bersama ke tempat harta karun seperti yang ditunjukkan oleh peta ini, dan di sanalah nasib mereka itu ditentukan! Ha-ha-ha!"

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Thian Sin yang menyamar sebagai prajurit penjaga dan menyaksikan, mendengar semua itu, tentu saja mengalami ketegangan dan kegelisahan yang sangat hebat. Beberapa kali tubuhnya menegang dan beberapa kali hampir saja dia tidak mampu lagi menahan gelora hatinya yang seolah-olah mendorongnya untuk cepat-cepat turun tangan.

Ketika dia melihat pakaian luar Kim Hong dirobek, dia hanya mengepal tinju saja. Dia tahu bahwa Pat-pi Mo-ko hanya menggertak. Akan tetapi pada saat dia melihat In Bwee hampir saja diperkosa, dia harus menggigit bibirnya untuk menahan hatinya. Dia maklum bahwa dia harus kuat menghadapi semua itu. Keadaan masih tidak menguntungkan baginya.

Kalau dia menyerbu, mungkin saja dia mampu menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi amatlah berbahaya bagi keselamatan tiga orang itu. Dia takkan mampu melindungi mereka karena di situ terlalu banyak terdapat orang-orang pandai yang tak mungkin dapat dirobohkan dalam waktu singkat sehingga selagi dia dikeroyok, Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee tentu mudah sekali terbunuh lawan. Dan dia tidak menghendaki hal itu terjadi. Terutama sekali dia tidak ingin kehilangan Kim Hong! Maka dia menanti sampai saat yang paling memuncak dan yang akan memaksanya turun tangan. Kalau masih ada harapan, dia akan sabar menanti.

Dia pun kaget bukan main ketika mendengar pengakuan Kok Siang tentang peta asli itu. Ahh, tidak disangkanya bahwa pengakuan Kok Siang ketika mereka berdua itu terjatuh ke dalam air, ternyata bukan hanya siasat pemuda itu, melainkan memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri mereka.

Kini mengertilah dia mengapa Kim Hong bertahan mati-matian. Kiranya kunci rahasia itu berada di tangan Kok Siang yang menyimpan peta rahasia yang asli. Dan kunci emasnya yang asli ada padanya! Kini Kok Siang sudah mengaku, tempat itu tentu akan ditemukan oleh Mo-ko. Akan tetapi Thian Sin masih dapat tersenyum geli karena dia tahu bahwa usaha Mo-ko yang sudah mendapatkan peta asli itu tetap saja akan sia-sia karena kunci emas yang asli berada padanya!

Ketika melihat Kim Hong dan Kok Siang hendak dibunuh, dia sudah hampir meloncat ke depan. Akan tetapi hatinya lega pada saat dia mendengar Su Tong Hak yang membujuk datuk sesat itu dengan alasan yang amat kuat. Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa Su Tong Hak memang merupakan orang yang amat cerdik.

Pedagang itu kini menginjak dua perahu, keduanya memungkinkan dia untuk memperoleh keuntungan. Di satu pihak, pedagang itu menyelundupkan dia sehingga menganggap dia sekutunya, tentu dengan harapan untuk selain ada kawan menghadapi ancaman Mo-ko yang serakah, juga kalau sampai pihak Mo-ko gagal dan Pendekar Sadis yang menang, setidaknya pedagang itu dapat mengharapkan bagian.

Sebaliknya, bila Pat-pi Mo-ko yang menang, saudagar ini pun masih bisa mengharapkan bagian. Maka dia menyelundupkan dan tidak membuka rahasia Thian Sin, akan tetapi di lain pihak ia pun membantu Mo-ko, salah satu di antaranya melalui nasehat kejinya untuk memperkosa In Bwee dalam usaha memaksa pengakuan Kok Siang.

Ketika melihat Pat-pi Mo-ko membawa pasukan pergi untuk mengambil peta asli seperti yang ditunjukkan oleh Kok Siang, Thian Sin tidak ikut membayangi. Sebenarnya dia telah memperoleh kesempatan baik untuk membayangi datuk itu ke tempat penyimpanan peta asli lalu merampasnya, dan bila perlu membunuh kakek tinggi besar hitam itu. Akan tetapi kalau Kim Hong, Kok Siang dan juga In Bwee masih menjadi tawanan, apa artinya itu? Yang penting adalah melindungi mereka.

Oleh karena itu, Thian Sin hanya menanti dalam persembunyiannya. Biarlah Pat-pi yang mengambilkan peta itu untuknya, bahkan biarkan saja datuk itu bersama anak buahnya mencarikan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan itu untuknya!

Maka, ketika pada keesokan harinya rombongan besar Pat-pi Mo-ko berangkat menuju ke tempat penyimpanan harta karun, diam-diam Thian Sin juga membayangi rombongan itu. Tiga orang tawanan muda itu pun dibawa dengan kereta dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri mengepalai pasukan ini dengan menunggang kereta bersama tiga orang tawanannya. Para pembantu utamanya, yaitu Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, naik kuda dan mengawal di kanan kiri kereta. Su Tong Hak tidak ketinggalan, juga duduk di atas kereta di dekat kusir.

Kereta ke dua berjalan di belakang dan di dalam kereta ini duduk Phang-taijin, pembesar yang menjadi sekutu Pat-pi Mo-ko! Setelah mendengar bahwa peta asli sudah terjatuh ke tangan sekutunya, jaksa ini tak dapat menahan keinginan hatinya untuk ikut menyaksikan pengambilan harta pusaka atau harta karun Jenghis Khan!

Seratus orang prajurit pengawal turut memperkuat rombongan itu, sebagian mengawal di depan dan sebagian di belakang. Mereka itu bukan hanya mengawal untuk menjaga agar jangan ada pihak lawan, terutama sekali Pendekar Sadis yang masih mendatangkan rasa gentar di dalam hati Pat-pi Mo-ko, akan tetapi juga dipersiapkan untuk bekerja di tempat penyimpanan harta karun, kalau-kalau untuk mengambil harta karun itu diperlukan banyak tenaga untuk menggali dan sebagainya.

Perjalanan itu cukup jauh dan merupakan perjalanan yang sangat menarik karena tempat itu ternyata berada di luar Tembok Besar! Mula-mula jantung Thian Sin berdebar tegang ketika rombongan itu menyeberang Tembok Besar di sebelah utara kota raja karena jalan itu menuju ke Lembah Naga! Akan tetapi ternyata rombongan itu membelok ke timur.

Kalau dari luar Tembok Besar itu kemudian dilanjutkan ke utara sampai kaki Pegunungan Khing-an-san di tepi Sungai Huang-ho, di sanalah letaknya Lembah Naga tempat tinggal ayah angkatnya, Si Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong! Namun ternyata perjalanan ini tidak sejauh itu dan sesudah menunda perjalanan semalam di sebuah dusun, pada esok harinya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu di kota Ying-kouw, sebuah kota pelabuhan yang letaknya di Teluk Cili atau Teluk Po-hai sebelah utara!

Setelah mereka tiba di kota Ying-kouw, kehadiran Jaksa Phang ternyata amat berjasa dan berguna. Pembesar setempat menyambutnya dengan penuh hormat dan memberi tempat menginap yang layak, bahkan juga menjamu mereka dengan makan minum. Kepada para pembesar setempat Jaksa Phang menjelaskan bahwa dia sebagai jaksa kota raja sedang menyelidiki sebuah perkara pencurian dan menurut penyelidikan harta yang dicuri itu telah dilarikan menuju ke tempat ini.

Tentu saja para pembesar di kota Ying-kouw amat terkejut dan bersedia untuk membantu sedapat mungkin. Akan tetapi Jaksa Phang langsung menolak, mengatakan bahwa untuk menemukan harta curian itu dia sudah mempersiapkan para pembantunya, juga pasukan. Sementara itu, tiga orang muda yang menjadi tawanan, yang oleh Jaksa Phang dikatakan sebagai orang-orang yang tersangkut di dalam pencurian besar-besaran itu, dimasukkan tahanan dan dijaga ketat sekali.

Pada malam itu, diam-diam Pat-pi Mo-ko bersama Jaksa Phang, juga para pembantunya, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, mempelajari peta asli yang sudah diterjemahkan itu. Ternyata menurut catatan dalam peta kuno itu, harta karun yang dimaksudkan itu berada di dalam sebuah di antara goa-goa yang banyak terdapat di tepi pantai yang curam, di luar kota Ying-kouw sebelah timur. Semalam itu mereka tidak dapat tidur, dengan hati tegang mereka menunggu datangnya pagi karena mereka ingin segera dapat menemukan harta karun Jenghis Khan itu.

Pagi itu cerah sekali. Langit bersih, tiada segumpal pun awan yang menghalangi cahaya matahari pagi yang muncul dari permukaan laut, kemudian makin meninggi merubah sinar kemerahan menjadi keemasan, kemudian semakin meninggi dan sinar itu berubah pula menjadi keperakan. Dan matahari pagi itu agaknya menenangkan lautan yang semalam menggelora dan menyerbu jauh ke pantai. Sekarang ombak mulai kembali ke lautan dan permukaan laut menjadi tenang, hanya ada keriput-keriput kecil yang membuat bayangan jalan putih matahari itu bergoyang-goyang lucu.

Dari atas tebing, rombongan itu memandang ke bawah. Dari tempat setinggi kurang lebih tiga ratus meter itu, lautan tampaknya semakin lembut dan tenang, seperti permukaannya tertutup beludru biru yang terhampar luas hingga ke ujung kaki langit. Menjenguk dari atas tebing itu mendatangkan rasa ngeri, membuat bulu tengkuk meremang dan menimbulkan rasa takut.

Rasa takut melihat tempat tinggi, seperti juga perassan takut akan apa pun juga, timbul oleh bayangan pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan. Kalau kita berdiri di atas tebing lantas melihat ke bawah, tidak akan timbul rasa takut kalau saja kita tidak membayangkan sesuatu. Akan tetapi begitu pikiran membayangkan bagaimana ngerinya jika sampai tergelincir dan terjatuh dari tempat yang demikian tingginya, maka otomatis bulu tengkuk meremang dan muncullah rasa takut yang membuat jantung berdebar dan kaki gemetar.

Tiga orang muda yang menjadi tawanan dikurung oleh satu pasukan yang dipimpin oleh komandan pasukan, juga oleh Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Liu Cai Ko, sedangkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng sendiri melakukan pemeriksaan dan dengan hati-hati sekali dia menuruni tebing yang curam itu, bergantungan pada batu-batu dan akar-akar pohon. Sementara itu, dengan kaki dan tangan terikat rantai panjang, tiga orang muda itu duduk berkumpul.

Seperti biasa pada beberapa hari selama menjadi tawanan ini, Kim Hong nampak tenang saja, memandang kepada Kok Siang yang duduk bersandar pada batu dan In Bwee yang duduk menyandarkan kepalanya pada dada kekasihnya. Sejak In Bwee dijadikan tawanan pula bersama kekasihnya, gadis ini selalu mendekati Kok Siang dan nampak sudah begitu pasrah, ingin sehidup semati dengan pemuda itu yang dari pandang matanya juga amat menyayangnya.

Malam tadi, pada saat dua orang muda yang saling berkasihan itu menyatakan ingin mati bersama, Kim Hong menghibur mereka. "Jangan putus asa lebih dahulu, harapan masih banyak bagi kita untuk meloloskan diri," katanya berbisik sehingga tidak terdengar jelas oleh para penjaga di luar kamar tahanan mereka yang agaknya sudah jemu menjaga.

"Hemmm, kematian kita sudah berada di depan mata, aku tidak pernah putus asa, akan tetapi aku pun tahu apa bila keadaan kita sudah tidak ada kemungkinan untuk lolos pula," kata Kok Siang.

"Aku tidak takut mati selama bersamamu, koko," kata In Bwee sambil merebahkan diri di atas pangkuan kekasihnya.

Kim Hong tersenyum. "Kalian lupa bahwa di luaran masih ada kekasihku yang tak akan mungkin membiarkan kita mati."

"Pendekar Sadis?" In Bwee berkata penasaran. "Kalau memang dia mempedulikan kita, kenapa tidak sejak tadi dia turun tangan?"

"Dia bukan anak kecil yang ceroboh. Dia menanti saat baik. Percayalah kepadanya. Dia akan berusaha dengan taruhan nyawanya untuk menyelamatkan kita. Bahaya masih jauh sekali. Kalau tidak, apa kalian kira aku akan enak-enak saja begini?" Berkata demikian, Kim Hong memandang kepada rantai di kaki tangannya.

Memang, jika saja dia menghendaki, dengan sinkang-nya dia akan mampu mematahkan belenggu ini dan mengamuk. Pat-pi Mo-ko terlalu memandang rendah kepadanya dan hal ini baik sekali. Memang inilah yang dia kehendaki maka ketika diadu melawan Kok Siang, dia sengaja mengalah.

Karena memandang rendah, maka tentu Mo-ko menjadi lengah, bahkan kini memasang rantai belenggu sembarangan saja, tidak melumpuhkannya dengan totokan. Mungkin Kok Siang dan In Bwee tidak akan sanggup mematahkan belenggu mereka, akan tetapi dia merasa yakin bahwa dia akan dapat melakukannya bila mana memang tiba saatnya yang baik.

Kedua tangan mereka diikat belenggu di pergelangan tangan dan kedua lengan itu berada di belakang tubuh. Jarak antara dua lengan itu hanya kurang lebih tiga puluh sentimeter, namun cukup untuk melalui kepala.

Ia pernah mempelajari ilmu Sia-kut-hoat, yaitu sejenis ilmu melemaskan diri melepaskan tulang dan dengan ilmu ini, yang membuat tubuhnya menjadl lemas seperti tubuh ular, dia akan dapat menarik kedua lengan itu dari belakang ke atas kepala, kemudian diturunkan ke depan dengan menekuk sambil melemaskan tulang pangkal lengan hingga sepasang lengannya itu akan berpindah ke depan!

Dengan kedua tangan di depan, ia akan mengerahkan sinkang mematahkan belenggu itu, atau setidaknya, ia sudah akan dapat mempergunakan kedua tangannya untuk membuat para penjaga tidak berdaya lantas merampas kunci-kunci belenggu mereka. Akan tetapi saatnya belum tiba dan bila ia melakukannya sebelum waktunya, tentu ia akan dikeroyok sedangkan sebelum dia mampu meloloskan Kok Siang dan In Bwee, dia tidak akan mau mencobanya. Saat yang ditunggu-tunggu itu adalah saat kemunculan Thian Sin, maka dia tetap bersabar karena merasa yakin bahwa belum munculnya kekasihnya itu tentu atas dasar perhitungan yang matang.

Setelah menyelidiki sampai ke bawah, Pat-pi Mo-ko lalu naik lagi. Dia sudah mempelajari tebing itu dan maklum bahwa hanya para pembantunya yang pandai ilmu silat sajalah yang akan mampu menuruni tebing itu. Padahal, menurut peta, goa di mana harta karun itu disimpan, tertutup oleh batu-batu karang yang berguguran dari atas selama ratusan tahun dan untuk menyingkirkan batu-batu besar ini dibutuhkan tenaga para prajurit. Maka mereka semua harus dapat turun ke bawah, ke tepi pantai di mana terdapat goa-goa itu.

Sesudah tiba di atas tebing, Pat-pi Mo-ko lalu berunding dengan jaksa Phang dan para pembantunya, kemudian mengambil keputusan hendak mengerahkan anak buah mereka untuk membuat jalan darurat ke bawah tebing. Mereka memang sudah bersiap membawa alat-alat, dan mulailah seratus orang prajurit itu bekerja, membuat jalan dari atas tebing ke bawah.

Lewat tengah hari, mereka semua sudah berhasil menuruni tebing itu dan berkumpul di pantai yang luas di bawah tebing, di mana terdapat goa-goa batu karang yang sebagian besar tertutup dengan batu-batu karang sebesar perut kerbau yang berguguran dari atas. Mulailah mereka bekerja keras membongkari batu-batu karang di depan dan atas sebuah goa menurut petunjuk Mo-ko yang telah mengukur sesuai dengan petunjuk peta. Menurut peta itu, apa bila dari bawah ini orang melihat ke atas, maka akan terdapat tonjolan tebing yang bentuknya seperti kepala naga. Goa itu terletak persis di bawah kepala naga itu.

Tenaga seratus orang yang dikerahkan tentu saja segera dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat. Setelah matahari mulai condong ke barat sehingga tempat itu tak panas lagi karena sinar matahari tertutup oleh puncak tebing, para prajurit yang bekerja tiba-tiba bersorak ketika mereka melihat goa besar yang tertutup batu-batu tadi.

Pat-pi Mo-ko lalu menyuruh mereka semua mundur. Dia sendiri segera mengajak jaksa Phang, Su Tong Hak, Hai-pa-cu Can Hoa dan Tiat-ciang Lui Cai Ko, beserta dua orang pembantunya yang menarik rantai yang membelenggu ketiga orang muda itu, memasuki goa. Para prajurit disuruh menanti di luar.

Dengan wajah berseri serta jantung berdebar mereka semua memasuki mulut goa yang cukup lebar itu. Juga Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee merasakan ketegangan di dalam hati mereka. Kim Hong dan Kok Siang merasa tegang karena mereka pun ingin melihat harta karun itu, ada pun In Bwee merasa tegang karena dia merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya akan dibunuh setelah harta karun itu terdapat oleh pamannya.

Goa yang lebar itu ternyata di bagian dalamnya menyempit dan akhirnya mereka berhenti pada sebuah pintu batu. Dari bentuknya, dapat diduga bahwa daun pintu ini tentu buatan manusia, merupakan batu tebal berbentuk persegi empat dan di tengah-tengah daun pintu batu itu terdapat sebuah lubang kecil. Itulah lubang kuncinya!

"Ahh, di sinilah tempatnya! Tak salah lagi!" kata Pat-pi Mo-ko dan suaranya gemetar, juga tangannya ketika dia mengeluarkan sebuah kunci emas dari dalam saku bajunya. Kunci emas yang sudah diterimanya dari In Bwee yang telah berhasil mengambilnya dari tangan Pendekar Sadis!

Semua mata para pembantu Pat-pi Mo-ko memandang dengan penuh ketegangan serta kegembiraan, akan tetapi pandang mata Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee yang sudah tahu bahwa kunci emas itu palsu, adalah kegembiraan yang bercampur dengan kegelian hati, akan tetapi juga tegang karena mereka tidak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya nanti setelah datuk sesat itu tidak berhasil membuka dengan kunci palsu.

Seperti juga kuncinya, lubang kunci itu terbuat dari pada emas, akan tetapi ketika Pat-pi Mo-ko memasukkan kunci itu ke lubangnya, ternyata ukurannya tidak cocok dan kunci itu sama sekali tidak dapat masuk!

"Ehh...?!" Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya dan menusuk-nusukkan kunci itu, memutar-mutar, akan tetapi tetap saja kunci emas itu tidak dapat memasuki lubang kecil itu karena memang bukan ukurannya.

Lubang itu kecil memanjang dan berlika-liku, harus menggunakan kunci yang pas ukuran serta cetakannya. Akhirnya Pat-pi Mo-ko menjadi marah karena dia mulai sadar bahwa kunci emas itu adalah palsu!

"Keparat!" bentaknya sambil mencabut kembali kunci itu, memandang kepada kunci itu kemudian menoleh kepada keponakannya yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"In Bwee! Keparat kau! Kunci apa yang kau berikan kepadaku ini?"

"Katanya itu kunci emas..."

"Bohong! Ini kunci palsu!"

"Paman, aku hanya menerima dari dia yang mengatakan bahwa itulah kuncinya. Mana aku bisa tahu apakah kunci itu palsu ataukah tulen?" bantah Im Bwee.

"Hi-hik, orangnya berhati jahat dan palsu, mendapatkan peta palsu dan sesudah akhirnya menemukan peta asli dengan cara yang keji, masih juga tidak berhasil karena kuncinya pun palsu!" Kim Hong mentertawakan.

"Jahanam!" Pat-pi Mo-ko membentak marah. "Kalau engkau tidak memberikan kuncinya yang tulen, akan kusiksa kau sampai mampus!"

"Hi-hik, lucunya! Jangan-jangan sesudah kau dapatkan harta karun itu, ternyata harta itu pun palsu, Mo-ko! Alangkah lucunya! Ingin sekali aku melihat mukamu!" Kim Hong tidak mempedulikan ancaman orang.

Mendengar ini, Mo-ko menoleh ke arah pintu yang tidak dapat dibukanya itu. Ucapan itu sungguh terasa menusuk perasaannya. Bagaimana jika betul demikian? Bagaimana kalau sesudah semua jerih payah, semua harapan muluk ini, ternyata harta karun itu palsu dan hanya merupakan permainan orong gila di jaman dahulu belaka? Dia bukan hanya akan kecewa setengah mati, akan tetapi juga amat malu karena namanya tentu akan menjadi buah tertawan orang sedunia kang-ouw bahkan dia akan dianggap seperti seorang badut! Bayangan ini membuatnya menjadi marah dan penasaran sekali.

Sementara itu, ketika melihat betapa Pat-pi Mo-ko tak mampu membuka pintu itu dengan kunci emasnya, tahulah Su Tong Hak bahwa kunci emas yang katanya diterima oleh In Bwee dari Pendekar Sadis itu adalah palsu. Tentu kunci aslinya masih berada di tangan pendekar itu, pikirnya. Maka bekerjalah otak yang bercabang itu.

Kini tidak menguntungkan jika menempel kepada Pat-pi Mo-ko. Lebih baik sekarang juga berusaha mendekati Pendekar Sadis dan dia merasa yakin bahwa pendekar itu berada di antara para prajurit yang berjaga di luar. Berpikir demikian, diam-diam, mempergunakan kesempatan selagi semua orang dicekam ketegangan melihat betapa kunci itu tidak dapat membuka pintu, Su Tong Hak cepat meninggalkan goa itu dan keluar, menghampiri para prajurit yang sedang beristirahat di luar goa sambil mencari-cari. Para prajurit itu sedang berkumpul di depan goa, di luar sambil mencoba untuk melihat ke dalam karena mereka pun ingin sekali melihat apakah harta karun itu dapat ditemukan.

Pat-pi Mo-ko sudah menjadi marah bukan kepalang, marah karena kecewa dan merasa dipermainkan. Dia menggulung lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang berotot, kekar dan kelihatan kuat sekali. Dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang besar, dia mengerahkan tenaga sinkang-nya hingga terdengar suara berkerotokan dari kedua lengan itu, bahkan nampak uap mengepul dari kedua telapak tangannya.

Melihat ini, diam-diam Kim Hong terkejut dan kagum. Ternyata bahwa datuk ini memang sudah mempunyai tingkat kepandaian yang tinggi dan memiliki sinkang yang sangat kuat. Teringatlah dia ketika pertama kali terjebak dalam kompleks tahanan kantor kejaksaan, ia pernah melompat untuk mendobrak pintu tetapi disambut oleh pukulan kakek itu sehingga dia terlempar kembali ke bawah.

"Hyaattttt...!" Tiba-tiba Pat-pi Mo-ko menerjang ke depan, ke arah pintu, kedua tangannya menghantam ke arah pintu batu itu dengan niat untuk menghantam pecah pintu rahasia itu, membukanya tanpa bantuan kunci lagi.

Hebat bukan main pukulan kedua telapak tangannya ini. Tiba-tiba saja seluruh ruangan goa itu tergetar keras, disusul oleh gemuruh dari atas goa. Suara bergemuruh itu semakin hebat, pintu batu itu retak akan tetapi tidak pecah dan tidak runtuh, malah kini terdengar suara yang amat berisik dari luar goa, disusul oleh teriakan-teriakan mengerikan dari para prajurit yang tadi berkumpul di luar goa.

Mendengar suara itu, Pat-pi Mo-ko dan semua orang yang berada di dalam goa itu cepat memutar tubuh dan memandang. Ketika mereka melihat apa yang tejadi di luar goa, mata mereka terbelalak dan pucat.

Ternyata dari atas tebing sedang berjatuhan ratusan batu-batu besar, menggelinding ke bawah kemudian menghantam para prajurit yang berada di luar goa itu bagaikan hujan lebatnya! Ketika akhirnya suara gemuruh berhenti dan tidak ada lagi batu yang melayang turun, semua orang keluar dan penglihatan di luar goa sungguh amat mengerikan.

Hampir seluruh prajurit yang jumlahnya seratus orang itu tewas tertimbun atau terhimpit batu-batu besar. Darah mengalir ke mana-mana dan suara erangan-erangan orang yang terhimpit batu sangat mengerikan. Paling banyak tinggal belasan orang saja yang selamat secara ajaib dan hanya mengalami luka-luka kecil. Dan di antara mereka yang tewas itu terdapat pula Su Tong Hak yang terhimpit batu dengan kepala remuk dan lenyap menjadi berkeping-keping!

Melihat hal ini, pucatlah wajah Jaksa Phang. "Celaka...!" serunya dengan tubuh menggigil melihat betapa pasukannya terbinasa.

"Keparat! Harus kubunuh bedebah-bedebah itu!" Dan dia pun lari kembali memasuki goa teringat kepada tiga orang tawanannya.

Akan tetapi matanya terbelalak melihat betapa Toan Kim Hong dan dua orang yang lain itu sudah bebas dari belenggu dan di situ telah berdiri pula seorang pemuda tampan yang berpakaian sebagai seorang prajurit. Mula-mula dia mengira bahwa tentu dia seorang di antara prajurit yang lolos dari hujan batu. Namun melihat sikap prajurit itu yang merangkul Kim Hong, jantungnya segera berdebar tegang, ada pun matanya memandang terbelalak kepada prajurit muda yang tampan dan gagah itu. Prajurit itu bukan lain adalah Thian Sin, Si Pendekar Sadis!

Seperti sudah kita ketahui, pendekar ini menanti saat baik dan membiarkan pihak musuh mencarikan tempat harta karun itu untuknya. Dia melihat bahwa keselamatan kekasihnya, Kim Hong, Kok Siang dan In Bwee masih terancam. Maka dia mengikuti semua persiapan Pat-pi Mo-ko yang hendak memimpin rombongan untuk mencari harta karun Jenghis Khan menurut petunjuk di peta asli, kemudian diam-diam dia pun membayangi rombongan itu, kadang-kadang menyamar sebagai prajurit, kadang-kadang pula membayangi dari jauh.

Sesudah rombongan itu tiba di tempat tujuan dan membongkari batu-batu besar, dia pun menyamar sebagai prajurit dan turut pula membantu! Pada waktu Pat-pi Mo-ko serta para pembantunya memasuki goa untuk membuka pintu rahasia, dia pun melihat dari luar, di barisan terdepan sehingga dengan ketajaman matanya dia dapat menyaksikan apa yang terjadi di dalam goa.

Thian Sin sendiri terkejut bukan main ketika Pat-pi Mo-ko menggunakan tenaga sinkang yang amat kuat untuk menghantam pintu rahasia di dalam goa, yang lalu mengakibatkan hujan batu dari atas. Dia tahu bahwa pukulan itu menggetarkan tebing sehingga batu-batu karang yang berada di atas goa menjadi terguncang kemudian longsor. Untung bahwa dia masih sempat bertindak cepat, dan dengan cekatan sekali dia melompat ke depan lantas berlindung di dalam goa kecil di samping goa besar itu.

Pada saat hujan batu sudah mereda dan semua orang yang berada di dalam goa besar itu keluar, dia lalu menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk. Mula-mula dia menggabungkan diri dengan tenaga Kim Hong untuk mematahkan belenggu dari lengan dan kaki kekasihnya itu. Setelah menciumnya sekali tanpa mengeluarkan kata-kata, Thian Sin dibantu oleh Kim Hong lalu melepaskan belenggu yang merantai tangan dan kaki Kok Siang dan In Bwee. Itulah sebabnya ketika Pat-pi Mo-ko kembali ke dalam goa, mereka telah bebas semua dari belenggu mereka!

Thian Sin tersenyun memandang kepada musuh yang baru pertama kali ini dihadapinya dan dia berkata, "Selamat bertemu, Pat-pi Mo-ko! Bagaimana dengan kiriman kunci emas dariku itu? Cukup menyenangkan?"

"Pendekar Sadis! Engkau telah menipuku dengan kunci palsu!" Bentak Pat-pi Mo-ko yang dengan mudah bisa menduga siapa adanya pemuda tampan dan gagah yang menyamar sebagai seorang prajurit ini.

"Kuncinya yang asli juga ada, Mo-ko, ada padaku. Akan tetapi tidak akan mudah engkau bisa mendapatkannya dariku!" Sambil berkata demikian, Thian Sin mengeluarkan sebuah kunci emas dari saku bajunya dan mengacungkannya ke atas, memamerkannya kepada datuk jahat itu. Hal ini membuat muka Pat-pi Mo-ko menjadi semakin hitam.

Pada saat itu, Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko serta Phang-taijin sudah masuk pula ke dalam goa. Mereka pun terheran dan terkejut melihat betapa tiga orang tawanan itu telah bebas dan sekarang memandang kepada pemuda yang berpakaian prajurit, yang tahu-tahu telah muncul di dalam goa itu.

Hai-pa-cu Can Hoa segera mengenal pemuda itu sebagai pemuda teman Kim Hong yang pernah dijumpainya di dalam rumah makan ketika dia dikalahkan oleh Kok Siang. Akari tetapi Tiat-ciang Lui Cai Ko memandang dengan heran. Dia pun sudah mendengar dari Mo-ko tentang Pendekar Sadis dan berpesan supaya berhati-hati karena Pendekar Sadis di samping terlibat dalam urusan harta karun, juga tentu tidak akan tinggal diam karena kekasihnya, Toan Kim Hong, menjadi tawanan mereka.

Dan kini, tahu-tahu pada saat-saat terakhir yang menegangkan, ada pemuda menyamar prajurit yang berada di dalam goa dan agaknya telah membebaskan para tawanan. Siapa lagi pemuda ini kalau bukan Pendekar Sadis? Betapa pun juga, agak lega hati Tiat-ciang Lui Cai Ko karena pendekar itu ternyata sama sekali tidak membayangkan kesan yang menyeramkan, bahkan membuat dia agak memandang rendah kepada seorang pemuda tampan seperti itu.

"Berikan kunci itu kepadaku, Pendekar Sadis!" bentak Pat-pi Mo-ko dengan suara penuh geram. "Atau, engkau akan mati di tanganku!"

"Ha-ha-ha, suaramu tinggi amat! Padahal, kalau aku menghendaki, sudah semenjak lama namamu tinggal menjadi kenangan saja. Akan tetapi aku menanti sampai engkau selesai membantuku menemukan tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan. Engkau ingin minta kunci? Marilah kita putuskan hal itu di luar, tempat yang lebih luas."

"Baik! Aku pun sudah lama mendengar nama Pendekar Sadis dan sekarang ingin sekali melihat apakah kepandaianmu juga sehebat namamu!" Sesudah berkata demikian, Pat-pi Mo-ko lalu keluar, diikuti oleh Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko, dan juga Phang-taijin yang memandang khawatir.

Sesudah tiba di luar, Phang-taijin segera memberi isyarat kepada sisa pasukannya untuk melindunginya. Enam belas orang prajurit yang sudah payah lahir batin, lahirnya sudah penuh luka-luka dan lemah, batinnya sudah penuh oleh rasa ngeri dan takut, lalu datang mengerumuninya dan entah siapa yang mengharapkan perlindungan siapa! Mereka semua berkumpul, bagaikan sekumpulan kanak-kanak yang ketakutan dan saling membutuhkan hiburan.

Thian Sin bersama tiga orang muda itu pun melangkah keluar dari dalam goa. Di luar, tiga orang tokoh sesat itu sudah berdiri dengan sikap galak dan siap sedia. Dan seperti sikap jagoan-jagoan besar, mereka bertiga tidak mengeluarkan senjata masing-masing. Seorang jagoan besar cukup mengandalkan keampuhan kaki tangannya, dan baru dalam keadaan terpaksa dan terdesak saja dia akan menggunakan senjatanya!

Pada saat melangkah keluar, Kok Siang sudah berkata kepada Thian Sin, "Ceng-taihiap, Hai-pa-cu Can Hoa itu bagianku, serahkan saja kepadaku!"

"Dan Pat-pi Mo-ko itu bagianku!" kata pula Kim Hong.

"Tidak, Kim Hong. Biar aku yang menghadapi Mo-ko, engkau bereskan saja si mata juling Tiat-ciang Lui Cai Ko itu."

"Ahh, si gendut itu tidak ada harganya untuk dilawan!" kata Kim Hong.

Thian Sin tersenyum. "Bagianmu sudah cukup, Kim Hong. Selama ini aku yang banyak menganggur, maka biarlah kuhadapi Mo-ko itu. Tidak adil kalau dalam perkara ini, engkau saja yang banyak mengeluarkan keringat dan aku enak-enakan saja!"

Kim Hong tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Akan tetapi mereka adalah orang-orang jahat semua, patut untuk dibasmi habis."

"Bagaimana dengan jaksa korup itu?" tanya Thian Sin.

"Serahkan saja kepadaku!" kata Kok Siang yang tersenyum nakal. "Dia pun perlu dihajar dengan cara lain."

Maka sesudah mereka bertiga sampai di luar, diikuti oleh In Bwee yang tentu saja hanya menonton karena dia tidak berani menentang pamannya atau gurunya, mereka telah siap siaga dan menghampiri lawan masing-masing yang sudah dipilihnya.

"Nah, Pat-pi Mo-ko. Kita tiga lawan tiga. Adil, bukan? Di tempat sunyi dan para prajurit itu agaknya sudah tidak mampu lagi untuk membantumu mengeroyok kami," kata Than Sin tersenyum.

In Bwee yang merasa tidak kebagian pekerjaan itu tiba-tiba saja berkata, "Kalau mereka berani bergerak, biarlah aku yang akan menghajar mereka!"

Pat-pi Mo-ko yang biasanya sangat pemberani dan tidak pernah mengenal takut itu, kini memandang ke kanan kiri dan mukanya yang hitam itu agak pucat. Penglihatan di sana memang sungguh mengerikan. Para prajurit yang terhimpit batu, ada yang tertimbun dan hanya nampak kakinya, ada yang masih merintih, ada pula yang berkelojotan dan darah di mana-mana! Semua itu merupakan tanda mala petaka hebat di pihaknya.

Dan dia tahu bahwa Hai-pa-cu Can Hoa pernah kalah oleh Kok Siang dan kini terpaksa harus menghadapinya kembali. Sedangkan Tiat-ciang Lui Cai Ko juga tak bisa terlampau diharapkan akan dapat mengatasi Toan Kim Hong. Meski dia sendiri tidak takut melawan Pendekar Sadis, akan tetapi setelah dia mendengar segala kehebatan Pendekar Sadis di masa lalu, diam-diam dia merasa gentar juga.

"Pendekar Sadis, jika kita saling gempur, tentu satu di antara kita akan tewas sedangkan yang lain besar kemungkinan akan menderita luka-luka pula. Harta karun itu tentu banyak sekali dan tidak akan habis oleh satu pihak saja. Bagaimana kalau aku menawarkan kerja sama sekali lagi dan yang terakhir! Kita bersama temukan harta karun itu dan kita bagi rata!"

Thian Sin tersenyum sambil bertolak pinggang. "Pat-pi Mo-ko, kalau kami ini merupakan orang-orang hamba nafsu dan pengejar kekayaan macam kalian, mungkin saja usulmu itu akan kami pertimbangkan. Akan tetapi sayang untukmu, kami adalah orang-orang yang menentang kejahatan dan kalau kami bertanya kepada arwah kakek petani Ciang Gun dan isterinya, lalu arwah Louw siucai yang terbunuh tanpa dosa, akan nasib Ciang Kim Su yang malang, apa engkau bisa mengharapkan kami sudi bekerja sama dengan kalian?"

"Benar-benarkah engkau tidak mau bekerja sama dengan aku?" Sekali lagi Pat-pi Mo-ko membentak.

"Sayang sekali..."

Baru sampai di situ Thian Sin bicara, tiba-tiba lawannya sudah menubruk ke depan dan mengirim serangan dahsyat sekali. Agaknya Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang sudah maklum akan kehebatan Thian Sin itu ingin merobohkan lawan secepatnya, maka begitu menyerang dia sudah mengerahkan sinkang-nya yang tadi mampu mengguncangkan goa dan membuat batu-batu terbongkar dan longsor. Tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dan tangan kanannya menghantam dengan jari tangan terbuka ke arah dada lawan. Dari kedua tangan itu keluar uap putih dan didahului oleh angin pukulan yang mengeluarkan suara bercuitan.

Thian Sin tidak berani memandang rendah karena dia sudah tahu akan kelihaian lawan, maka dengan tenang dia pun menggerakkan tubuhnya mengelak dan balas menampar. Memang tamparannya kelihatannya sembarangan dan tidak keras, tetapi membuat kakek tinggi besar itu terkejut karena sebelum tamparan itu tiba, dia telah merasakan sambaran hawa pukulan panas yang luar biasa kuatnya. Kakek ini cepat mengerahkan tenaga pada lengannya kemudian menangkis, sengaja hendak mengadu tenaga dengan pendekar yang masih muda itu.

"Dukkk...!"

Dua tenaga raksasa bertemu sehingga batu-batu yang bertebaran di sekeliling tempat itu seperti tergetar. Akibat benturan dua tenaga raksasa melalui dua lengan itu, tubuh Thian Sin masih kokoh dan tidak tergoyang sedikit pun juga, akan tetapi Pat-pi Mo-ko terpaksa melangkah ke belakang sampai tiga langkah dan tubuhnya agak menggigil kedinginan!

Kedua matanya terbelalak dan dia terkejut setengah mati. Tadi, sambaran hawa pukulan itu terasa panas, akan tetapi setelah beradu lengan, bagaimana ada hawa yang demikian dinginnya menyelinap ke dalam tubuh melalui lengan? Dan kekuatan itu! Bukan kepalang dahsyatnya dan harus diakuinya bahwa tadi dia telah mengerahkan seluruh tenaga.

Akan tetapi, kalau Pendekar Sadis sama sekali tidak goyah, dia sendiri terdorong sampai tiga langkah. Dari sini saja dapat dia mengerti bahwa dalam hal kekuatan sinkang, dia tak mampu menandingi pendekar yang aneh dan hebat itu. Dia pun lalu mencabut sepasang senjatanya, yaitu sepasang pedang dan begitu dia menggerakkan tubuh dan tangannya, maka nampaklah dua gulungan sinar membungkus dan menyelimuti bayangan tubuhnya dan terdengar suara mengaung-ngaung seperti suara lebah-lebah mengamuk.

Itulah ilmu pedang pasangan Pek-hong Siang-kiam (Sepasang Pedang Seratus Lebah) yang menjadi ilmu andalan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng. Datuk ini dijuluki Pat-pi Mo-ko (Iblis Berlengan Delapan) karena dia mempunyai kecepatan gerak tangan yang membuat lengannya seperti nampak menjadi banyak. Akan tetapi menghadapi Pendekar Sadis, dia tak berani hanya mengandalkan kedua lengannya dan sekarang mengandalkan sepasang pedangnya yang memang hebat itu.

Akan tetapi, sudah lama Thian Sin seperti telah melupakan senjata di luar kaki tangannya sendiri. Meski pun dia maklum bahwa lawan ini merupakan lawan yang berat, tidak kalah berat dibandingkan dengan para datuk yang pernah dilawannya, namun dia tidak merasa khawatir dan mengandalkan ginkang-nya untuk menghadapi amukan sepasang pedang itu.

Tubuhnya berkelebatan dan kadang-kadang bagaikan kapas ringannya sehingga sebelum pedang menyambar, tubuhnya seperti telah terdorong oleh angin pedang sehingga dapat menghindar dengan cepatnya, lantas kedua kaki tangannya tidak tinggal diam dan segera membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan serangan sepasang pedang lawan.

Hai-pa-cu Can Hoa sudah pernah dikalahkan oleh Kok Siang. Kini, menghadapi pemuda itu, dadanya penuh dengan nafsu membalas dendam atas kekalahannya. Dia tak merasa gentar karena kini dia sudah memegang sebatang golok gergaji yang kelihatannya sangat mengerikan. Can Hoa maklum akan kelihaian lawan, maka walau pun tadi dia bertangan kosong, sekarang melihat Kok Siang sudah menghadapinya, dia pun tidak ragu-ragu lagi mencabut goloknya.

Bukan saja golok besar ini yang membuat hatinya tabah, akan tetapi dia pun tahu bahwa pemuda ini sudah mengalami siksaan dan dibelenggu selama beberapa hari, kurang tidur dan kurang makan. Hal ini tentu melemahkan pemuda sastrawan ini. Selain itu, pemuda ini telah kehilangan senjatanya yang diandalkan, yaitu siangkoan pit dari emas dan perak itu. Senjatanya itu terjatuh saat pemuda ini terjebak ke dalam air dan seperti juga senjata milik Kim Hong, siangkoan pit itu sudah dirampas dan tidak pernah dikembalikan kepada pemuda ini. Maka, jika dibandingkan dengan pertemuannya pertama, kini pihaknya lebih banyak memperoleh keuntungan dan dia merasa yakin bahwa sekali ini dia akan menang dan akan dapat membalas kekalahannya tempo hari.

"Kutu buku, bersiaplah untuk mampus! Darahmu akan diminum oleh golokku ini!" Berkata demikian, Hai-pa-cu Can Hoa sudah menerjang ke depan sambil memutar goloknya dan menyerang kalang kabut.

Tiba-tiba saja nampak sinar emas dan perak berkelebat, bersilang dan menangkis golok itu dengan gerakan menggunting dari kanan kiri.

"Cringggg...!"

Hai-pa-cu Can Hoa terkejut setengah mati ketika merasa betapa goloknya tergetar hebat dan cepat dia mencabut golok itu dari jepitan sepasang siangkoan pit emas dan perak.

"Ehhh...!" Teriaknya kaget dan heran ketika melihat betapa pemuda itu sudah memegang sepasang senjatanya!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa senjata itu, juga sepasang pedang hitam milik Kim Hong, sudah diambil oleh Thian Sin dari tempat penyimpanan senjata di gudang dekat tahanan. Ketika pemuda itu membayangi rombongan, kedua macam senjata itu dibawanya dan tadi di dalam goa, dia telah mengembalikan senjata itu kepada pemiliknya masing-masing.

Kok Siang tersenyum mengejek. "Hai-pa-cu Can Hoa, arwah pamanku Louw siucai telah menanti di sana untuk membuat perhitungan denganmu!"

Hai-pa-cu Can Hoa mengeluarkan bentakan nyaring, dan dia pun sudah menyerang lagi, goloknya menyambar-nyambar dengan ganasnya, namun di balik keganasan sikapnya ini, tersembunyi rasa gentar yang amat hebat, membuat mukanya pucat dan kedua matanya terbelalak. Di lain pihak, Kok Siang bergerak dengan cekatan dan tenang, merasa yakin bahwa akhirnya dia pasti akan mampu mengalahkan penjahat yang hanya besar gertak dan kekasarannya ini.

Kim Hong tadinya menghadapi Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan tenang, bertangan kosong dan dengan senyum mengejek. "Nah, gendut, sekarang kita berhadapan satu lawan satu! Keluarkanlah semua kepandaianmu!"

Tiat-ciang Lui Cai Ko masih hendak berlagak karena dia melawan seorang gadis cantik. Dia masih merasa malu apa bila harus mengeluarkan senjata, maka dia pun tertawa dan berkata. "Nona yang manis, kalau sekali ini aku dapat meringkusmu, maka engkau akan kutelanjangi dan kuperkosa di sini juga!"

Sebelum kata-katanya habis, dia telah menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar ke arah dada ada pun tangan kanan menyusul kaki kanan yang menendang, mencengkeram ke arah pundak. Serangan yang sangat hebat dan sekaligus sudah menggunakan kedua tangan dan sebelah kaki.

Akan tetapi, Kim Hong yang mempunyai tingkat kepandaian jauh lebih tinggi itu, dengan mudahnya berloncatan mengelak lantas ketika tubuhnya turun, kakinya mencuat dengan gerakan kilat yang sama sekali tidak dapat diikuti oleh pandang mata lawan.

"Wuuuuttt...! Plakk!"

Dan sepatunya yang kecil dan terkena lumpur itu telah mengenai dagu lawan, membuat tubuh Tiat-ciang Lui Cai Ko terjengkang dan bahkan nyaris jatuh terbanting kalau saja dia tidak cepat menggulingkan tubuhnya! Setelah bergulingan, dia meloncat bangun kembali. Wajahnya merah, matanya berapi-api dan mulutnya menyeringai, seperti orang tertawa!

Dia merasa malu dan marah bukan main. Dalam satu gebrakan saja dia telah dirobohkan lawan! Sekarang dia pun tahu bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia mengerti bahwa Kim Hong ini adalah seorang yang memiliki ginkang luar biasa hebatnya, membuat gerakannya cepat sekali, tak dapat diikuti dengan pandang mata, maka tentu merupakan lawan yang berbahaya sekali, walau pun agaknya tenaga wanita ini tidak begitu besar dan tendangannya tadi pun tidak begitu kuat.

Benar-benar pendapat yang didasari kesombongan kosong belaka sehingga membuat dia kurang waspada. Dia tidak melihat bahwa jika Kim Hong menghendaki, sekali tendangan tadi saja sudah akan dapat meremukkan tulang gerahamnya! Gadis itu memang sengaja hendak mempemainkan, maka belum menurunkan tenaga dalamnya.

"Wuuut...! Wuuut...!"

Tiat-ciang Lui Cai Ko menggunakan kedua tangan meraba pinggangnya dan ternyata kini tangan kirinya telah memegang sebatang pisau yang panjangnya sekitar tiga puluh senti, ujungnya berkarat dan berwarna kehijauan, tanda bahwa pisau itu direndam dalam cairan beracun! Dan tangan kanannya memegang sebatang sabuk atau cambuk baja yang pada ujungnya dipasang kaitan seperti mata kail!

Sungguh senjata-senjata yang sangat berbahaya dan hebat, pikir Kim Hong. Akan tetapi karena ia sudah dapat mengukur sampai di mana kepandaian lawan, ia pun tidak merasa perlu untuk mengeluarkan sepasang pedangnya melainkan hanya menanti dengan sikap tenang, dengan kedua kaki ditekuk di bagian lutut dan kedua lengan tergantung lepas di kanan kiri, akan tetapi biar pun nampaknya santai saja, sebenarnya seluruh urat syaraf di tubuhnya telah siap siaga dan tubuh itu telah dipenuhi dengan tenaga sinkang yang tinggi dan kuat.

"Hi-hik, itu senjatamu? Pisau penyembelih babi cocok dengan perutmu yang gendut, dan matamu menjadi juling itu tentu karena terlampau sering memutar cambuk itu. Hati-hati, jangan-jangan kaitan cambukmu akan mengenai matamu sendiri, lalu dari juling menjadi buta!" Kim Hong mengejek tanpa mempedulikan serangan lawan yang sudah menyambar sebelum kata-katanya habis itu.

Dengan hanya sedikit menggerakkan leher, mukanya ditarik ke belakang maka sambaran pisau pada lehernya itu lewat beberapa senti di depan lehernya. Dan ketika pada detik berikutnya cambuk baja itu melecut dari atas, ke arah ubun-ubun kepalanya, Kim Hong menggeser kakinya, melangkah sambil memutar dan cambuk itu hanya menyambar lewat ada pun ujungnya yang dipasangi kaitan itu mengenai tanah yang tertutup batu karang. Terdengar suara keras dan debu mengepul, batu karang hancur pinggirnya kena hantem ujung cambuk.

Tentu saja Tiat-ciang Lui Cai Ko menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang kalang kabut dan seperti biasanya, kewaspadaan orang yang sedang dihimpit kemarahan akan berkurang dan dia hanya menuruti nafsu amarah, menyerang tanpa menggunakan perhitungan lagi. Cambuknya meledak-ledak menyambar dari atas dan bawah, pisaunya juga berkilauan menyambar-nyambar.

Akan tetapi dengan amat mudahnya Kim Hong selalu dapat menghindarkan diri. Dara ini belum juga balas menyerang karena dia ingin mempermainkan lawan sampai sepuasnya sebelum turun tangan.

Sementara itu, melihat betapa ketiga orang itu sudah berkelahi, Phang-taijin yang hampir kehabisan prajurit sekaligus juga kehabisan nyali itu, dengan diam-diam memerintahkan sisa pasukannya yang tinggal enam belas orang itu supaya mengawalnya naik ke tebing dan melarikan diri. Akan tetapi, baru saja dia maju beberapa langkah diiringkan oleh para prajurit, menuju ke jalan darurat menuju naik ke tebing, tiba-tiba tubuh In Bwee berkelebat dan gadis ini sudah mendahuluinya dan menghadangnya sambil bertolak pinggang.

"Orang she Phang, engkau hendak lari ke mana? Siapa pun tidak boleh pergi dari sini!" kata In Bwee dengan sikap kereng. Melihat ini, Phang-taijin membelalakkan matanya.

"Nona Bouw, apa engkau tidak tahu siapa aku maka berani melarangku pergi? Ingat, aku boleh menangkapmu dan menuduhmu pemberontak yang melawan pejabat!" Phang-taijin menggertak dan bersikap galak.

In Bwee tersenyum manis. Sekarang dara ini mulai berbesar hati. Biar pun dibandingkan dengan tiga orang teman lain ilmu silatnya masih terlampau rendah, akan tetapi sebagai seorang murid Pat-pi Mo-ko, pandangannya sudah cukup tajam untuk bisa menilai bahwa keadaan teman-temannya berada di atas angin.

Dia lalu teringat akan ucapan Kok Siang tadi yang menyanggupi untuk membereskan dan memberi hukuman yang keras untuk pembesar yang bersekongkol dengan penjahat ini, maka ketika melihat pembesar itu hendak melarikan diri, dia pun segera menghadang dan mencegahnya untuk membantu kekasihnya.

"Orang she Phang, pada saat sekarang, engkau masih ingin mengandalkan kedudukan? Siapa pun tahu bahwa engkau bukanlah pejabat lagi melainkan penjahat atau kaki tangan penjahat, dan urusan di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah."

Karena yang menghadang hanya seorang gadis, Phang-taijin lalu menyuruh enam belas orang perajutit itu maju. "Hajar gadis lancang ini!" katanya.

Enam belas orang prajurit itu sebenarnya sudah kehabisan semangat seperti bola kempis, dan menurut kehendak hati mereka, satu-satunya keinginan mereka adalah melarikan diri dari tempat yang telah berubah menjadi seperti neraka ini. Akan tetapi mereka takut untuk membangkang perintah, terlebih lagi melihat bahwa gadis itu hendak menghalangi mereka melarikan diri. Maka mereka lalu menjadi nekat dan menyerbu.

In Bwee menyambut mereka dengan gerakan kaki tangannya dan terdengar para prajurit itu mengaduh-aduh ketika tubuh mereka terbanting ke sana sini.

Ketika Kok Siang melihat kekasihnya dikeroyok oleh para prajurit, dia menjadi marah dan khawatir. Dia segera mengeluarkan teriakan melengking lantas sepasang siangkoan-pit di tangannya bergerak cepat. Nampak sinar perak berkelebat di depan mulut Hai-pa-cu Can Hoa yang menjadi silau dan pada lain waktu, sebuah tendangan dengan keras mengenai pergelangan tangan kanannya, membuat goloknya terlempar jauh dan sebelum Si Macan Tutul Laut itu sempat memperbaiki posisinya, ada sinar emas berkelebat dan menyambar tenggorokannya.

"Aughhhhh...!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Hai-pa-cu Can Hoa roboh lalu tewas tidak lama kemudian karena pit emas di tangan kanan Kok Siang telah menembus tenggorokan dan menotok jalan darah maut.

Kok Siang tidak melihat lagi keadaan lawan yang sudah roboh itu dan cepat dia meloncat ke arah kekasihnya. Akan tetapi kekhawatirannya tadi sama sekali tidak beralasan karena belasan orang itu sekarang telah dirobohkan semua oleh In Bwee, bahkan belum terkena pukulan atau tendangannya telah menjatuhkan diri dan pura-pura luka sehingga tak dapat melawan lagi. Kini tinggal Phang-taijin yang berdiri dengan wajah pucat dan kedua kaki menggigil lemas, tanpa mampu mengeluarkan suara.

Melihat betapa Kok Siang sudah merobohkan lawannya, Kim Hong merasa bahwa sudah terlampau lama ia mempemainkan lawan. Ketika cabuk atau cambuk baja itu menyambar lagi ke arah kepalanya, tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara melengking dan sinar hitam menyambar, menyambut cambuk itu dan tahu-tahu ujung cambuk itu sudah terbelit oleh ujung rambutnya. Pisau yang menyambar dari arah kanannya hanya dielakkannya saja, sambil tangan kirinya dari bawah menghantam ke atas dan tepat mengenai dada lawan.

"Ngukkk!"

Tiba-tiba saja tubuh yang perutnya gendut sekali itu menjadi lemas, napasnya terengah, kedua tangan melepaskan senjata dan mendekap ke arah atas perut gendutnya, matanya semakin juling menatap ke arah perut dan akhirnya dia pun roboh terkulai. Sekali pukulan dari jari tangan halus Kim Hong tadi sudah menyalurkan kekuatan sinkang dan merusak jantung lawan sehingga pukulan itu sudah cukup untuk merenggut nyawa Tiat-ciang Lui Cai Ko yang sebenarnya masih kalah jauh dibandingkan dengan Toan Kim Hong.

Sekarang mereka bertiga menonton perkelahian antara Thian Sin dan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan memang pertandingan ini sajalah yang nampak paling seru dan seimbang. Memang pada waktu itu, Thian Sin sedang berada dalam puncak kelihaiannya. Biar pun dia bertangan kosong dan lawannya yang berilmu tinggi itu mempergunakan sepasang pedangnya dengan amat hebatnya, namun Thian Sin sama sekali tidak pernah terdesak.

Tubuhnya bagai menyelinap dan beterbangan di antara dua sinar pedang yang bergulung-gulung itu. Amat mengerikan dipandang jika diingat betapa sedikit saja tergores sinar itu, tubuh bisa koyak-koyak! Akan tetapi juga amat indahnya!

Sesudah lewat puluhan jurus dan sepasang pedang yang sangat diandalkannya itu tidak mampu mendesak lawan, Pat-pi Mo-ko mulai merasa gentar dan juga takjub sekali. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan yang sehebat ini. Kini mengertilah dia mengapa datuk-datuk kaum sesat di empat penjuru dunia beberapa tahun yang lalu kalah semua melawan Pendekar Sadis. Ternyata ilmu kepandaian pemuda ini memang hebat bukan main, hebat dan juga aneh, hampir semua gerakan pemuda ini tidak dikenalnya.

Karena merasa kewalahan untuk bisa mendesak lawan, akhirnya Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri saja. Sepasang pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga andai kata ada hujan lebat dari atas menimpa dirinya sekali pun, tidak akan ada setetes air yang mampu mengenai tubuhnya. Demikian rapat sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti tubuhnya, seolah-olah telah berubah menjadi benteng baja yang menutupi tubuhnya dan yang melindunginya dari ancaman apa pun dari luar.

Melihat siasat lawan ini, Thian Sin maklum bahwa jika dia tidak cepat mengeluarkan ilmu simpanannya, maka akan makan waktu terlalu lama menjatuhkan lawan tangguh ini. Dia lalu diam-diam mengerahkan tenaganya, dan pada saat lawan mundur, dia merendahkan dirinya dan mendadak dari mulutnya keluar suara melengking nyaring yang menggetarkan jantung lawan, disusul dengan tubuhnya yang tadi merendah itu kini tiba-tiba meluncur ke depan dengan kecepatan kilat dan dengan kekuatan dahsyat sekali.

Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng terkejut ketika merasa ada angin hebat melanda dirinya. Dia berusaha untuk secepatnya menggerakkan sepasang pedangnya menyambut ke depan, ke arah bayangan lawan yang meluncur itu.

"Bressss...!"

Terjadinya benturan itu sukar diikuti dengan pandangan mata, akan tetapi tahu-tahu tubuh Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang tinggi besar itu terpelanting dan terjengkang kemudian terguling-guling, menabrak batu karang besar dan berhenti. tidak bergerak lagi. Sebatang pedang, pedangnya sendiri, menembus lehernya sampai ke tengkuk, ada pun pedang ke dua masih terkepal di tangan kiri.

Kiranya dalam benturan tadi, saking hebatnya daya serang Thian Sin, pedang kanan itu membalik lalu menembus leher sendiri. Maka tewaslah Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng dan habislah sudah komplotan jahat yang berlindung di balik kedudukan Jaksa Phang di kota raja itu!

********************

Kota raja lantas geger ketika pada suatu pagi, tubuh Jaksa Phang tergantung tinggi-tinggi di depan kantornya dengan kaki tangan terikat dan ikatan tangannya itu digantungkan di atas wuwungan bagian depan sehingga nampak dari jalan. Hal ini segera menarik banyak perhatian, apa lagi karena ada sehelai kain putih lebar yang tergantung dan tubuh jaksa Phang itu penuh dengan tulisan yang rapi dan indah.

Ketika orang-orang menolongnya dan membaca tulisan itu, keadaan menjadi makin geger dan berita itu segera menjalar luas di kota raja. Isi tulisan itu membuka rahasia jaksa itu tentang perbuatan-perbuatannya yang korup dan jahat, tentang persekutuannya dengan penjahat-penjahat dan betapa kantor kejaksaan dijadikan tempat persembunyian penjahat besar Pat-pi Mo-ko!

Berita ini sampai ke dalam istana sehingga kaisar sendiri menjadi marah dan malu, lalu memerintahkan untuk menangkap jaksa Phang itu, dipecat dan dijatuhi hukuman berat. Mudah kita duga bahwa yang melakukan perbuatan itu tentulah Bu Kok Siang orangnya!

Sesudah Thian Sin muncul lantas membebaskan dia, Kim Hong dan In Bwee, kemudian mereka berhasil membasmi para datuk sesat berikut anak-anak buahnya, maka Thian Sin lalu mengajak mereka bertiga, sambil membawa Phang-taijin sebagai tawanan, pergi ke goa di mana terdapat pintu tadi. Kok Siang menotok roboh jaksa itu dan melemparnya ke sudut, kemudian Thian Sin mengeluarkan kunci emas yang asli dari sakunya dan ternyata kunci itu tepat sekali memasuki lubang kunci dari emas di tengah-tengah daun pintu baja. Thian Sin memasukkan kuncinya kemudian memutar-mutar.

Tiba-tiba terdengar suara keras hingga semua orang menjadi kaget dan berhati-hati, takut kalau-kalau terjadi longsor batu-batu karang lagi seperti tadi. Akan tetapi sesudah suara keras itu berhenti, ternyata lantai di sebelah kanan daun pintu itu amblong dan berlubang.

Kiranya kunci itu hanya menggerakkan alat rahasia yang sudah dipasang di situ di mana terdapat batu besar yang digerakkan oleh alat baja bergeser dan menurun. Di balik batu besar itu terdapat lubang dan inilah tempat rahasia penyimpanan harta karun. Bukan di belakang daun pintu, karena belakang pintu itu tidak ada apa-apanya, hanya ada dinding tebing batu karang. Sesudah rasa kagetnya hilang, Thin Sin lalu memeriksa lubang dan di sini mereka menemukan empat buah peti kuno berukir.

"Ah, inilah harta karun itu!" Thian Sin berseru.

Empat orang itu merasa girang bukan main, seperti sekumpulan anak-anak yang berhasil menemukan sesuatu yang menarik. Mereka lalu mengeluarkan empat buah peti kuno itu dan sesudah empat buah peti itu dibuka, ternyata berisi emas dan permata intan berlian ratna mutu manikam, logam mulia dan batu mulia berkilau-kilauan menyilaukan mata!

Bagaikan anak-anak kecil yang melihat mainan bagus, mereka merakup benda-benda itu, dipermainkan di antara jari-jari tangan dengan sepasang mata bersinar-sinar serta wajah berseri-seri.

"Bukan main! Kalau saja benda sebanyak ini sampai terjatuh ke tangan mereka, sungguh sayang!" akhirnya Kok Siang berkata.

"Harta karun Jenghis Khan ini rahasianya ditemukan oleh keluarga Ciang, maka kita harus menyerahkan kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su," Kim Hong berkata dengan suara tegas. Mendengar ini, tiba-tiba Kok Siang menjura kepada wanita itu.

"Nona Toan, sungguh bijaksana sekali ucapan itu dan aku merasa takluk. Seorang seperti nona ini dan juga Ceng-taihiap, barulah pantas disebut pendekar!"

"Sayang, orang yang berhak sudah tidak ada lagi!" kata Thian Sin.

"Apa maksudmu, Thian Sin?" Kim Hong bertanya dan Kok Siang bersama In Bwee juga memandang heran.

"Aku sudah melihat pemuda petani itu. Dia disiksa untuk dipaksa mengaku tentang peta asli. Tentu saja dia sendiri tidak tahu dan penyiksaan itu membuat dia terluka parah maka ketika aku mengunjunginya di dalam sel tahanannya di kompleks kejaksaan itu, dia pun meninggal dunia tanpa dapat ditolong lagi."

"Ahhh...!" In Bwee berseru dan merasa kasihan sekali.

Karena menemukan harta karun Jenghis Khan, keluarga petani yang terdiri dari ayah ibu dan anak itu semua telah tewas! Agaknya jalan pikiran In Bwee ini terasa juga oleh tiga orang pendekar itu. Kok Siang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jenghis Khan terkenal dengan kekerasan dan kekejamannya, dan harta karunnya ini pun ternyata membawa kutukan bagi para penemunya. Untung sekali sekarang telah jatuh ke tangan kalian, sepasang pendekar budiman. Mudah-mudahan saja harta karun itu akan dapat bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang melalui tangan kalian berdua."

"Sekarang harta karun ini milik kita bersama, Bu-twako," kata Kim Hong. "Kita bersama yang sudah mendapatkannya, oleh karena itu kita semua pula yang berhak memilikinya. Kita akan bagi rata..."

"Tidak, aku tidak mau! Sejak kecil aku menjadi anak orang kaya, dan aku bahkan sering kali melihat betapa kekayaan tak selalu mendatangkan kebahagiaan. Tidak, kini aku ingin hidup seadanya dan miskin... di samping Siang-koko..." Dan gadis itu segera memegang lengan pemuda pujaannya itu sambil memandang mesra.

Kok Siang tersenyum. "Baik, Bwee-moi atau pun aku tidak berhak sama sekali, juga tidak membutuhkan. Aku sendiri bukan orang miskin. Aku menerimanya dari paman Louw, dan paman Louw sama sekali tidak berhak. Lagi pula, mendiang pamanku itu memalsu peta, bukan karena ingin menguasai yang asli, melainkan karena curiga kepada Su Tong Hak dan ingin menolong dan kelak menyerahkannya kepada yang berhak, yaitu Ciang Kim Su. Maka, sesudah sekarang jatuh ke tangan kalian yang memang berjasa dan hanya karena adanya kalian maka harta ini dapat ditemukan, maka hanya kalian berdualah yang berhak memilikinya, Ceng-taihiap dan Nona Toan."

Thian Sin menghela napas kemudian memandang kagum pada Kok Siang dan In Bwee. "Ahh, dalam dunia ini sungguh jarang dapat ditemukan orang-orang seperti kalian berdua. Biasanya, di mana terdapat harta, tentu terjadi perebutan. Untuk memiliki harta, manusia tak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman. Akan tetapi kalian malah menolaknya. Kami sendiri juga tidak membutuhkan harta. Akan tetapi karena harta karun ini telah terjatuh ke tangan kita, sudah seharusnya kalau kita pergunakan untuk kebaikan. Memerangi kejahatan bukan merupakan suatu hal yang mudah dan ringan, juga kadang-kadang membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, harta karun Jenghis Khan yang aku yakin tentu sudah bergelimang darah ini, yang sekarang saja sudah membunuh puluhan orang di luar goa, akan dapat kita pakai untuk menebus dosa-dosanya, untuk bermanfaat bagi banyak orang dan untuk biaya memerangi kejahatan. Engkau pun berhak mendapat bagianmu, Bu-siucai."

Akan tetapi Kok Siang menggeleng kepalanya sambil tersenyum lalu merangkul leher In Bwee yang memegang lengannya. "Tidak, taihiap. Dalam peristiwa perebutan harta karun Jenghis Khan ini, aku telah memperoleh bagianku sendiri, telah memperoleh harta karun yang tiada keduanya di dunia ini, yang jauh lebih berharga dari pada semua harta dalam empat peti itu, yaitu Bwee-moi!"

Thian Sin dan Kim Hong tersenyum saling pandang, sedangkan In Bwee menjadi merah mukanya dan tersenyum bangga dan bahagia. Pendekar Sadis dan kekasihnya tidak mau memaksa lagi dan mereka pun lalu meninggalkan tempat itu, membawa empat peti harta karun dan juga membawa Phang-taijin sebagai tawanan.

Mereka menggunakan kereta yang tertinggal di atas tebing dan pada malam itu juga, Kok Siang membereskan Phang-taijin, menulis surat pembeberan rahasia busuk pembesar itu dan menggantungkan pembesar korup serta suratnya ke wuwungan depan rumah gedung pembesar itu. Ketika Kok Siang melakukan hal ini, dia ditemani oleh In Bwee, Thian Sin dan Kim Hong. Akan tetapi Pendekar Sadis beserta kekasihnya tidak mau mengganggu dan membiarkan saja sastrawan perkasa itu bisa memuaskan hatinya dengan melakukan hukuman itu sendiri.

Sesudah selesai melakukan tugas terakhir dalam urusan harta karun Jenghis Khan itu, mereka berkumpul di tempat sunyi di luar kota raja, di mana telah menanti sebuah kereta yang akan membawa Pendekar Sadis bersama kekasihnya meninggalkan kota raja pada malam hari itu juga. Empat buah peti harta karun itu sudah disusun rapi di dalam kereta, ditutupi dan tidak nampak dari luar.

Dua pasang orang muda itu kini saling berhadapan di bawah sinar bulan purnama. Cuaca dan pemandangan indah sekali, mendatangkan rasa kegembiraan luar biasa walau pun ada sedikit rasa haru karena mereka hendak saling berpisahan.

"Kami harap saja kalian akan dapat menjadi pasangan yang baik dan berbahagia," kata Kim Hong sambil memeluk In Bwee dan gadis hartawan ini mengusap air matanya karena selama beberapa hari menjadi kenalan Kim Hong dia merasa sangat kagum dan sayang kepada pendekar wanita itu.

"Mudah-mudahan saja kami akan dapat menjadi pasangan berbahagia seperti ji-wi," kata In Bwee.

"Bagaimana rencanamu selanjutnya dengan nona Bouw, Bu-siucai?" Thian Sin bertanya.

"Kami akan minta persetujuan dari orang tua Bwee-moi secara terang-terangan. Dan kami sudah bersepakat bahwa andai kata orang tuanya tidak menyetujui, maka kami berdua akan pergi begitu saja!"

Kim Hong dan Thian Sin tertawa. "Aih, mudah-mudahan tidak. Kami kira, orang tua adik Bwee akan cukup bijaksana untuk dapat melihat bahwa mereka sudah memiliki seorang calon mantu yang hebat!" kata Kim Hong.

"Dan bagaimana dengan ji-wi (kalian berdua)?" tanya Bu Kok Siang.

"Kami akan pulang dan beristirahat," jawab Thian Sin.

"Di mana... ahh, ji-wi sudah menjelaskan bahwa ji-wi tak akan memberi tahukan tempat tinggal ji-wi kepada siapa pun juga. Biarlah, kami hanya berdoa semoga kelak kita masih akan dapat saling bertemu pula," kata Kok Siang.

Setelah bersalaman kemudian saling memberi hormat, akhirnya Thian Sin dan Kim Hong memasuki kereta dan Thian Sin melarikan kuda-kuda penarik kereta, diikuti oleh pandang mata Kok Siang dan In Bwee, sampai kereta itu lenyap ditelan kegelapan di sudut sana. Mereka merasa terharu dan kehilangan, akan tetapi ketika mereka teringat bahwa mereka kini bersama, lenyaplah rasa kehilangan itu maka sambil bergandeng tangan mereka pun pulang kembali ke kamar mereka di rumah penginapan di mana mereka menyewa dua buah kamar untuk mereka.

Dan dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka ketika melihat bahwa di kamar Kok Siang terdapat sebuah di antara empat peti harta karun itu, dengan isi yang masih penuh dan utuh! Dan di atas peti itu terdapat tulisan

SEMOGA KALIAN BERBAHAGIA.

Kedua orang itu saling pandang dan akhirnya In Bwee menubruk calon suaminya sambil menangis, terharu akan kebaikan hati Pendekar Sadis dan kekasihnya.

********************

Sementara itu, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dua sosok tubuh berada di dalam sebuah perahu layar, dan perahu itu dengan perlahan meninggalkan pantai menuju ke laut bebas. Sebuah perahu layar yang berukuran sedang saja, tidak ada anak perahunya kecuali mereka berdua.

Di atas dek perahu terdapat tiga buah peti kuno berukir indah. Mereka itu adalah Thian Sin dan Kim Hong yang sedang berlayar menuju pulang, ke tempat tinggal mereka yaitu di Pulau Teratai Merah, membawa hasil petualangan mereka, yaitu tiga peti berisikan harta karun Jenghis Khan!

T A M A T

Bagian Ke Tujuh Serial Pedang Kayu Harum SILUMAN GOA TENGKORAK