Social Items

SUDAH berbulan-bulan dia tersiksa oleh rahasia harta karun Jenghis Khan ini. Ketika dia mula-mula dihubungi oleh Su Tong Hak, dia tidak percaya sehingga tidak begitu menaruh perhatian. Dia mengenal saudagar ini melalui Phang-taijin, yakni jaksa di kota raja yang kini menjadi sahabat baik dan pelindungnya.

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang berilmu tinggi dan baru dua tahun dia tinggal dl kota raja setelah meninggalkan goa pertapaannya di sebuah gunung di barat. Begitu terjun ke dunia kang-ouw, dia mengalahkan serta menundukkan semua tokoh sesat sehingga dia pun akhirnya diakui sebagai raja tanpa mahkota di antara tokoh sesat di kota raja dan daerah sekitarnya. Banyak tokoh-tokoh dari luar kota yang merasa penasaran dan datang untuk menentang jagoan baru ini, akan tetapi satu demi satu roboh di tangan Pat-pi Mo-ko sehingga akhirnya tak seorang pun lagi yang berani menantangnya.

Akan tetapi, kota raja bukanlah merupakan tempat di mana seorang tokoh sesat dapat bersimaharajalela seenaknya saja sebab selain di kota raja terdapat banyak orang pandai dan pendekar-pendekar, juga jagoan-jagoan dari istana banyak yang memiliki kepandaian tinggi, di samping adanya para penjaga keamanan yang sangat kuat dan terlampau kuat bagi para penjahat. Oleh karena itu, Pat-pi Mo-ko juga tidak berani menonjolkan dirinya.

Iblis tinggi besar berkulit hitam ini memang memiliki seorang saudara, seorang adik yang kaya raya dan terkenal dengan sebutan Bouw Wan-gwe (hartawan Bouw), yang tinggal di kota raja. Akan tetapi, adiknya ini sejak muda tidak suka kepada kakaknya yang memiliki kebiasaan dan kesukaan yang lain dari pada dia. Jika sejak kecil dia tekun berdagang dan mencari uang, maka kakaknya itu lebih suka berkeliaran, belajar ilmu silat, dan bergulang-gulung dengan orang-orang jahat. Maka Bouw wan-gwe ini pun diam-diam merasa tidak suka kepada Pat-pi Mo-ko!

Biar pun dengan terpaksa karena takut, akhirnya Bouw Wan-gwe memberi juga uang dan bahkan membelikan sebuah rumah untuk kakaknya itu. Kemudian, pada suatu hari Bouw Wan-gwe memperkenalkan kakaknya itu kepada Phang-taijin, yakni seorang jaksa di kota raja yang pada waktu itu sedang membutuhkan bantuan orang yang memiliki kepandaian tinggi, yaitu untuk menyingkirkan beberapa orang musuhnya.

Sebagai seorang jaksa, Phang-taijin mempunyai tiga orang musuh, dan dua di antaranya adalah sesama rekannya yang menentangnya karena urusan sogokan orang yang terlibat dalam perkara dan dua orang itu mengancam untuk melaporkan kecurangannya di dalam menangani perkara itu kepada atasan. Dan seorang lainnya adalah seorang penjahat yang merasa dilakukan dan diadili secara sewenang-wenang oleh Phang-taijin.

Melihat bahwa kedudukan jaksa Phang-taijin akan dapat melindungi dirinya, maka dengan senang hati Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng memenuhi permintaan ini lantas dengan mudah dia dapat membunuh tiga orang musuh yang membahayakan keselamatan Phang-taijin itu tanpa ada yang mengetahui dan menyangkanya. Mulai saat itulah Pat-pi Mo-ko menjadi orang kepercayaan Phang-taijin.

Pat-pi Mo-ko lalu melindungi pembesar itu dari para saingannya, sebaliknya pembesar itu melindungi si penjahat untuk bersembunyi di kejaksaan. Bahkan dengan mudahnya Pat-pi Mo-ko menghubungi banyak tokoh penjahat di ibu kota, menguasai mereka dan menekan mereka supaya mereka semua melakukan operasinya di luar kota raja. Dengan demikian, mereka tak akan bentrok dengan kedudukan dan tugas Phang-taijin, sebaliknya pembesar ini pun menutupkan matanya terhadap pembantunya yang menjadi raja tanpa mahkota di antara para tokoh penjahat di kota raja.

Ketika Pat-pi Mo-ko berhubungan dengan Su Tong Hak, dia berhasil menguasai dua peta yang ada di tangan Su Tong Hak dan Ciang Kim Su dan dengan perjanjian akan bekerja sama kemudian memperoleh bagian masing-masing, mereka berdua lalu mencari tempat rahasia menurut petunjuk peta itu. Namun, hasilnya selalu nihil dan gagal!

Sampai berbulan-bulan mereka mencari-cari, akan tetapi ternyata peta itu tidak membawa mereka ke tempat penyimpanan harta karun yang diidam-idamkan itu. Terlebih lagi kunci emas belum juga dapat ditemukan.

Baru belakangan ini mereka mendengar mengenai kunci emas ini dan ketika Pat-pi Mo-ko mengutus orangnya menuju ke dusun Cin-bun-tang di daerah An-keng, utusan itu kembali dengan tangan kosong dan mengatakan bahwa kakek petani itu dan isterinya telah tidak ada lagi di dusun. Isterinya terbunuh oleh orang jahat dan kakek itu sendiri lenyap tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya!

Tentu saja Pat-pi Mo-ko amat menjadi penasaran, marah dan kecewa. Sampai akhirnya dia mendengar dari sisa-sisa anak buah Liong-kut-pian Ban Lok yang dilaporkan oleh para pembantunya bahwa Ban Lok serta kawan-kawannya yang telah membunuh suami isteri petani itu, juga betapa Ban Lok terbunuh oleh seorang pemuda dan seorang gadis yang lihai sekali, juga bahwa diduga, kunci emas itu berada di tangan pemuda dan dara itu. Maka mulailah anak buahnya melakukan pengejaran dan pencarian, juga dia mengutus muridnya untuk mendekati mereka sesudah dia mendengar bahwa pemuda itu ternyata adalah Pendekar Sadis!

Sesudah berhasil menerima kunci emas dari muridnya sebagai hasil bujuk rayu muridnya atau keponakannya yang cantik itu terhadap Pendekar Sadis, hatinya menjadi semakin kecewa dan penasaran lagi. Kunci emas sudah didapatkan, akan tetapi peta itu ternyata palsu dan tidak mampu membawanya ke tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan. Inilah yang membuat dia semakin kecewa dan penasaran.

Kini, dalam keadaan hampir putus asa mendengar ucapan Kim Hong yang mengatakan bahwa tidak sukar untuk menyelidiki di mana adanya peta yang tulen, tentu saja serentak semangatnya tergugah dan harapannya timbul kembali. Wajahnya telah berseri ketika dia mendekati dipan di mana Kim Hong terbelenggu.

"Nona Toan, maukah engkau bekerja sama dengan kami?"

Kim Hong mengerutkan alisnya, mengambil sikap seperti orang berpikir. Padahal gadis ini memang sengaja mencari kesempatan untuk membuat penjahat ini membutuhkan dirinya. Melihat kunci emas itu sudah berada di tangan penjahat ini, sungguh pun dia tidak melihat tanda-tanda bahwa kekasihnya mengalami bencana, namun hatinya merasa gelisah dan ragu.

Betapa pun juga, kenyataan membuktikan bahwa kekasihnya telah menyerahkan kunci itu atau dipaksa menyerahkan dan tentu telah terjadi sesuatu dengan Thian Sin. Kalau hal ini benar, maka sebaiknyalah kalau dia mendekati dan berbaik dengan Pat-pi Mo-ko, bukan karena harta karun itu sebab dia tahu bahwa kepala penjahat ini hanya memiliki peta dan kunci palsu belaka.

Akan tetapi dia harus lebih dulu tahu bagaimana keadaan Thian Sin. Lagi pula, dia harus pula melindungi Kok Siang yang masih tertawan, sebab dia berkeyakinan bahwa pemuda inilah yang menguasai peta aslinya, sedangkan kunci emas yang asli ada pada dia dan Thian Sin.

"Pat-pi Mo-ko, kita sama-sama adalah petualang-petualang dan di mana ada kesempatan untuk mendapat keuntungan besar, tentu saja kami mau bekerja sama denganmu. Akan tetapi, bekerja sama yang bagaimana maksudmu?"

"Terlebih dahulu engkau harus mmbantuku mencari peta asli dan menemukan harta karun Jenghis Khan."

"Imbalannya?"

"Engkau mendapatkan seperempat bagian."

"Aku tidak mau menyerahkan sebagian dari hakku yang setengahnya atas harta karun itu kepadanya!" Tiba-tiba Su Tong Hak berkata.

"Diam dan jangan mencampuri urusan kami!" Bouw Kim Seng membentak dan pedagang itu undur kembali dengan alis berkerut.

"Pat-pi Mo-ko, engkau berkali-kaii mengajak aku untuk bekerja sama, akan tetapi engkau memperlakukan aku sebagai tawanan. Mana mungkin ini?"

"Maukah engkau? Berjanjilah lebih dahulu dan aku akan membebaskanmu."

"Aku berjanji akan bekerja sama denganmu!" kata Kim Hong dengan suara bersungguh-sungguh.

"Toan Kim Hong!" Tiba-tiba Kok Siang berteriak dan nampak marah bukan main. "Kiranya sebegitu saja keteguhan hatimu! Setelah terjepit, nampak belangmu dan engkau mau saja bekerja sama dengan kalangan sesat? Huh, ternyata engkau hanya petualang yang haus akan harta kekayaan!"

"Bu Kok Siang! Tutup mulutmu dan jangan mencampuri urusanku!" Kim Hong juga turut membentak dengan nada marah.

"Engkau tidak tahu malu! Engkau pengecut! Huh, kalau aku bebas, sebelum menggempur para penjahat ini, engkau akan kuhancurkan lebih dulu!" Kok Siang berteriak marah.

"Kutu buku yang pura-pura menjadi orang gagah! Siapa takut akan ancamanmu? Engkau takkan lolos dari tempat ini dengan hidup!" Kim Hong memaki dan kedua orang itu saling mencela dan memaki.

Melihat hal ini, Pat-pi Mo-ko diam-diam memandang dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri. Dia menghampiri Kim Hong dan dengan kedua tangannya sendiri dia melepaskan belenggu besi dari kaki serta tangan gadis itu dengan kunci, kemudian memulihkan jalan darah gadis itu yang masih tertotok.

Kim Hong mengurut pergelangan kaki serta tangannya yang terasa nyeri bekas belenggu besi. Pat-pi Mo-ko dan para pembantunya bersiap menghadapi kalau-kalau gadis itu akan melanggar janjinya dan mengamuk. Akan tetapi Kim Hong sama sekali tidak mengamuk, melainkan membereskan pakaiannya, kemudian memandang kepada Pat-pi Mo-ko sambil tersenyum.

"Mana siang-kiamku, apakah tidak dikembalikan kepadaku setelah kita menjadi rekan?"

"Nanti dulu, nona Toan, jangan tergesa-gesa. Pedang pasangan itu berada padaku dan bila engkau membutuhkan, tentu akan kuberikan kepadamu. Sekarang katakan lebih dulu, apa maksudmu tadi mengatakan bahwa tidak sulit untuk menyelidiki di mana adanya peta yang tulen?"

Kim Hong duduk di atas dipan bekas tempat dia dibelenggu, melonjorkan kedua kakinya sambil menarik otot-ototnya yang tegang sebelum menjawab. Ia menatap wajah penjahat besar itu dan tahu bahwa ia harus berhati-hati.

Sikap Pat-pi Mo-ko dan para pembantunya jelas menaruh kecurigaan besar terhadapnya. Ia harus berdaya upaya menarik kepercayaan mereka. Hanya dengan demikianlah maka dia akan bisa memperoleh kesempatan untuk meloloskan diri dari tempat itu, juga untuk menyelamatkan Kok Siang, dan kalau perlu menolong Thian Sin, kalau benar seperti yang dikhawatirkannya bahwa kekasihnya itu mungkin saja terjebak pula seperti dia dan Kok Siang.

"Pat-pi Mo-ko, apa sih sukarnya untuk menyelidiki hal itu? Pertama-tama, pembawa peta itu adalah Ciang Kim Su maka dialah orang pertama yang mungkin saja menyembunyikan peta asli karena dia penemunya sehingga memiliki kesempatan menggantikannya dengan peta palsu untuk melindungi yang tulen kalau terjadi sesuatu. Maka kepadanyalah harus ditanyakan di mana adanya peta yang tulen, yakni kalau dia masih hidup."

Pat-pi Mo-ko mengangguk. "Sudah kami lakukan itu akan tetapi tanpa hasil."

"Hemmm, apa sukarnya menyiksanya sampai dia mengaku? Dia hanya seorang pemuda petani lemah, disiksa sedikit saja tentu akan mengaku," Kim Hong berkata dengan sikap kejam. "Aku tahu mengenai beberapa cara penyiksaan yang akan membuat orang lemah mengaku. Misalnya, mencabuti kuku jari kaki dan tangan satu demi satu, menusukkan jarum ke bawah kuku jari tangan, merobek kulit pelipis melalui tarikan rambut pelipis ke atas. Biarkan aku yang menyiksanya, tentu dia mengaku."

"Tidak, jangan siksa lagi dia! Dia sudah hampir... hampir mati..."

"Plakkk!" Tubuh pedagang itu terpelanting ketika terkena sambaran tangan Pat-pi Mo-ko yang menamparnya.

"Sudah beberapa kali kuperingatkan. Jangan engkau lancang mulut dan ikut mencampuri urusan ini! Sekali lagi melanggar, aku akan lupa diri dan akan membunuhmu pula!"

Su Tong Hak yang tadinya merasa menjadi sekutu tokoh sesat itu, sekarang hanya dapat berdiri dengan muka pucat dan barulah dia menyadari bahwa dia sendiri berada di dalam bahaya, bahwa nyawanya bagai telor di ujung tanduk. Mulailah dia merasa ketakutan dan bingung, hanya mengangguk-angguk dan mundur sampai ke sudut ruangan.

Tentu saja semua ucapan dan sikap ini tidak terlepas dari pandang mata Kim Hong yang tajam. Dia menduga bahwa agaknya pemuda petani itu masih hidup, akan tetapi dalam keadaan parah karena disiksa. Mulailah dia bisa mengerti dan menggambarkan keadaan.

Agaknya pemuda petani itu sudah datang ke kota raja dan diantar oleh pamannya yang berhati busuk itu kepada Louw siucai. Dan siucai tua itu telah menterjemahkan peta, akan tetapi mungkin sekali siucai itu telah menukarnya dengan peta yang palsu. Sesudah peta itu diterjemahkan lalu diterima oleh Kim Su dan dibagi dengan pamannya.

Akan tetapi agaknya Su Tong Hak bersekongkol dengan Pat-pi Mo-ko dan pemuda petani yang sedang menuju pulang itu lantas diculik serta dirampas bagian petanya. Kemudian, setelah gagal menemukan tempat rahasia harta karun melalui peta, barulah Pat-pi Mo-ko sadar bahwa peta itu palsu dan mereka lalu menyiksa Ciang Kim Su yang mereka kira mengetahui di mana adanya peta yang asli.

"Nona Toan, perkiraanmu itu pun telah menjadi perkiraan kami. Akan tetapi agaknya peta tulen tidak berada di tangan pemuda petani itu."

"Kalau begitu, masih ada beberapa kemungkinan lain. Peta tulen itu bisa saja berada di tangan sastrawan yang menterjemahkan itu, yang menukarnya dengan yang palsu. Akan tetapi, sastrawan itu kabarnya sudah mati terbunuh, jadi tentu peta itu berada di tangan pembunuhnya." Berkata demikian, Kim Hong menanti dan memandang penuh perhatian.

"Tidak...! Tidak...!" Tiba-tiba saja Su Tong Hak berteriak saat melihat betapa Pat-pi Mo-ko menoleh dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong ganas. "Kami sudah memeriksa dengan teliti dan tidak menemukan apa-apa di rumahnya. Tanya saja kepada Hai-pa-cu Can Hoa kalau tidak percaya!"

"Sesungguhnyalah, kami berdua tidak menemukan apa-apa di sana." Kata Hai-pa-cu Can Hoa dengan suara tenang.

Tentu saja jawaban kedua orang ini langsung menjelaskan kepada Kim Hong dan juga kepada Kok Siang siapa orangnya yang membunuh Louw siucai. Bukan lain adalah Su Tong Hak yang mungkin menjadi penunjuk jalan, sedangkan yang melaksanakan adalah Hai-pa-cu Can Hoa! Akan tetapi Kok Siang sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa pun pada wajahnya yang masih memandang kepada Kim Hong dengan marah.

"Hemm, dalam urusan ini banyak orang tersangkut dan kita tidak tahu siapa yang palsu. Akan tetapi, kalau kita bekerja sama, aku pasti akan menemukan peta itu, Pat-pi Mo-ko! Aku berjanji akan menemukannya sekaligus menemukan orangnya yang bertindak curang kepadamu!"

Pat-pi Mo-ko tersenyum, "Bagaimana pun juga, engkau yang tadi masih menjadi musuh kami, mana mungkin dapat kupercaya kalau tidak ada bukti tentang kesetia kawananmu lebih dulu?"

"Engkau hendak mencoba? Cobalah!" kata Kim Hong.

"Memang kami harus menguji kesetiaanmu dulu. Malam ini juga, engkau harus membantu kami menundukkan saingan kita. Engkau sudah membunuh Liong-kut-pian Ban Lok. Nah, gerombolannya itulah saingan kita dan hampir saja mereka dapat merampas kunci emas dari kakek Ciang Gun. Liong-kut-pian Ban Lok masih memiliki seorang suheng yang jauh lebih lihai dari padanya, dan suheng-nya itulah yang kini memimpin gerombolan mereka untuk menyaingi kita. Siapa tahu, mereka sudah berhasil mendapatkan peta yang tulen! Maka, sebelum mereka bergerak mendapatkan kunci emasnya yang sudah ada padaku, kita harus mendahului mereka dan menghancurkan mereka. Membasmi musuh-musuh yang akan mendatangkan kerepotan harus sampai ke akar-akarnya. Nah, apakah engkau sanggup membantuku?"

"Baik, aku akan membantumu, Mo-ko. Akan tetapi kutu buku itu tak ada sangkut pautnya dengan urusan kita. Lebih baik tendang dia keluar saja!"

Pat-pi Mo-ko memandang tajam. "Apakah engkau tidak ingin melihat dia tersiksa atau pun terbunuh dan malah menghendaki dia bebas, nona?"

Kim Hong tersenyum mengejek. "Apa peduliku dengan dia? Kami bukan apa-apa, hanya secara kebetulan saja berkenalan!"

"Kalau begitu, biarlah sementara dia menjadi tahanan kita di sini hingga selesai urusan ini. Kalau sekarang dia dibiarkan bebas, tentu dia hanya akan mendatangkan kerepotan saja. Dia telah berani menentangku, karena itu dia harus dihukum!"

Pat-pi Mo-ko lalu memerintahkan anak buahnya untak menjaga baik-baik pemuda itu agar jangan sampai lolos, akan tetapi juga melarang pemuda itu diganggu atau dibunuh. Dan setelah itu, dia pun mengajak Kim Hong pergi meninggalkan Kok Siang.

Ketika Kim Hong melihat bahwa pasukan yang hendak dibawa oleh tokoh sesat itu sama sekali bukan anak buahnya atau orang-orang biasa, melainkan pasukan pemerintah, dia merasa heran sekali. Ditanyakannya hal ini kepada Bouw Kim Seng dan orang ini tertawa.

"Memang sebaiknya kita berlindung di balik pasukan pemerintah yang kebetulan hendak mengadakan pembersihan terhadap sarang-sarang penjahat, bukan? Ha-ha, nona Toan. Orang harus mempergunakan kecerdikan otak, bukan hanya mengandalkan kekuatan otot belaka."

"Di mana pedangku?"

"Jangan khawatir, pedangmu sudah dibawa dan sewaktu-waktu kau membutuhkan tentu akan kuserahkan kepadamu."

"Mo-ko, engkau masih tidak percaya kepadaku! Hemm, andai kata aku melanggar janjiku, sekarang pun aku dapat berbalik melawanmu, tidak perlu mempergunakan pedang!" kata Kim Hong mendongkol.

Kakek hitam itu tertawa. "Engkau tak akan menentangku, nona. Engkau terlampau cerdik untuk melakukan kebodohan itu. Pertama, engkau telah mengeluarkan janji membantuku. Ke dua, kalau engkau memberontak, engkau akan berhadapan langsung dengan aku dan pasukan pemerintah. Ke tiga, pemuda sastrawan itu juga akan kami bunuh lebih dulu. Ke empat, engkau tidak akan mendapatkan bagian harta karun Jenghis Khan. Ha-ha-ha-ha, tidak, engkau tidak sebodoh itu."

Kim Hong merasa lega. Setidaknya, dia merasa yakin bahwa untuk sementara waktu Kok Siang berada dalam keadaan aman. Ia tadi memang sengaja telah memperlihatkan sikap mengejek dan menghina pada Kok Siang yang lantas ditanggapi secara baik sekali oleh pemuda sastrawan yang cerdas itu. Mereka memperlihatkan sikap yang saling mengejek dan bermusuhan sehingga dengan demikian pemuda itu dijauhkan dari prasangka buruk. Kalau sampai diketahui atau terduga oleh Mo-ko bahwa peta aslinya berada pada tangan pemuda itu, tentu keselamatan Kok Siang takkan dapat dijamin lagi.

Untuk sementara ini, dia harus berpura-pura menurut dan bekerja sama dengan iblis ini. Kalau tidak, selain nyawa Kok Siang terancam, juga dia sendiri dapat terancam bahaya besar. Ia harus menyelamatkan Kok Siang dulu, baru dia akan meloloskan diri sendiri dan hal ini agaknya tidak akan mudah, harus menanti saat yang baik.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Penyerbuan ke sarang penjahat bekas pimpinan Liong-kut-pian Ban Lok berjalan dengan sangat lancar. Anak buah penjahat yang jumlahnya hanya kurang lebih dua puluh lima orang itu tidak sanggup mengadakan perlawanan yang berarti terhadap serbuan seratus orang pasukan keamanan. Mereka dirobohkan atau ditangkap dengan alasan melakukan kejahatan dan kekacauan di kota raja.

Tentu saja mereka melakukan perlawanan, namun segera mereka itu tertangkap semua karena kalah banyak. Hanya seorang saja yang masih terus mengamuk dan dia ini adalah Sin-siang-to Tang Kin.

Sesuai dengan julukannya, Sin-siang-to (Sepasang Golok Sakti) dengan gencar memutar sepasang goloknya sehingga tidak ada anggota pasukan yang mampu mendekatinya, apa lagi menangkapnya. Sepasang goloknya membentuk sinar bergulung-gulung yang sangat dahsyat dan setiap ada senjata prajurit yang mendekat, tentu terpental atau patah-patah.

Tiba-tiba saja Pat-pi Mo-ko berteriak menyuruh komandan pasukan menarik mundur para prajurit yang mengeroyok Sin-siang-to Tang Kin. Dia sendiri bersama Kim Hong kemudian menghampiri kepala gerombolan itu. Kim Hong memandang dengan penuh perhatian.

Kepala gerombolan itu adalah seorang kakek yang usianya sekitar lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus. Suheng dari mendiang Liong-kut-pian Ban Lok ini memang jauh lebih lihai dari pada sute-nya. Dari permainan sepasang golok tadi Kim Hong telah melihat betapa lihainya sepasang golok itu. Dia sendiri tadi membantu Mo-ko, dan dengan mudah merobohkan beberapa orang anak buah gerombolan musuh.

Sin-siang-to Tang Kin melintangkan sepasang goloknya di depan dada, lalu memandang kepada Pat-pi Mo-ko dan Kim Hong dengan kedua mata mendelik marah. Tadi dia sudah mendengar dari laporan para anak buahnya sebelum mereka itu ditangkap semua bahwa penyerbuan pasukan pemerintah ini dipimpin oleh Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng, tokoh jahat di kota raja yang seolah-olah menjadi raja di antara para penjahat, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri itu.

Dan dia pun mendengar bahwa wanita cantik yang membunuh sute-nya juga ikut datang bersama Pat-pi Mo-ko. Kini, biar pun dia belum pernah bertemu dengan mereka berdua, begitu berhadapan, dia tahu bahwa inilah dua orang itu.

"Hemm, sekarang nampak semua belangmu, Pat-pi Mo-ko!" katanya mengejek. "Kiranya engkau berlindung di bawah naungan pasukan pemerintah. Huh, tokoh kang-ouw macam apa engkau ini?"

Pat-pi Mo-ko hanya tertawa saja dan tidak menjadi marah. "Sin-siang-to, sudah lama aku mendengar namamu yang menggempartan di pantai timur dan baru karena kebetulan kita dapat saling bertemu di sini. Engkau melanjutkan gerakan sute-mu, memimpin anak buah mengacau di kota raja. Kalau kini pasukan kami datang membasmi gorombolanmu, hal itu sudah jamak dan jangan kau menyalahkan aku. Aku menentang sute-mu karena dia telah berani menyaingi aku. Sekarang semua anak buahnya telah diringkus. Kalau engkau mau membantuku dan bekerja untukku, biarlah aku ampuni engkau dan kita bekerja sama!"

"Lebih baik mampus! Siapa takut kepadamu?" bentak Sin-siang-to sambil mengelebatkan goloknya.

"Ha-ha, sudah kuduga bahwa engkau akan keras seperti itu, aku sengaja mengajak nona Toan ini untuk membunuhmu seperti yang telah dilakukannya terhadap sute-mu."

Kini Sin-siang-to Tang Kin menatap tajam kepada Kim Hong. Sambil menudingkan golok kanannya ke arah muka Kim Hong, dia lalu berkata, "Aku telah mendengar bahwa sute-ku tewas di tanganmu. Hal ini kuanggap lumrah karena memang sute-ku bermain api. Akan tetapi, sekarang ternyata bahwa engkau hanyalah kaki tangan Pat-pi Mo-ko, maka mari kita membuat perhitungan atas kematian sute!" Sesudah berkata demikian, Sin-siang-to lantas menerjang ke depan dan dua sinar berkelebat menyambar dari kanan kiri, ke arah leher dan pinggang Kim Hong.

Kim Hong dapat menduga orang macam apa adanya ahli golok ini. Seorang tokoh sesat juga, maka dia pun tidak ragu-ragu untuk menghadapinya. Menyingkirkan seorang seperti ini bukan hanya perlu untuk menumbuhkan kepercayaan Pat-pi Mo-ko kepadanya, akan tetapi juga berarti menyingkirkan sebuah sumber penyakit dari rakyat jelata.

Karena dia memperoleh kenyataan bahwa Pat-pi Mo-ko tidak juga memberikan sepasang pedangnya kepadanya, maka dia pun bergerak cepat mengelak dari dua serangan yang cukup berbahaya itu. Gerakannya memang gesit luar biasa, karena ginkang dari nona ini sudah mencapai tingkat yang amat tinggi sehingga Sin-siang-to Tang Kin terkejut bukan main ketika tiba-tiba melihat nona itu menghilang!

Akan tetapi dia dapat menangkap gerakan di sebelah belakangnya, maka dia cepat-cepat membalikkan tubuh dan kembali sepasang dari goloknya bersilang lantas berkelebat dari atas dan bawah! Memang hebat permainan golok pasangan dari kakek ini sehingga Kim Hong terpaksa harus menggunakan kecepatan gerakannya lagi untuk menghindarkan diri dari sambaran golok.

Terjadilah perkelahian yang nampak berat sebelah karena kakek itu selalu menghujankan serangan sedangkan Kim Hong hanya mengelak ke sana sini dengan sangat cepatnya. Hanya kadang-kadang saja gadis ini menyerang, yaitu kalau ada kesempatan membalas dengan tendangan atau pukulan tangannya. Akan tetapi kesempatan itu terlampau sedikit karena gerakan sepasang golok itu membentuk sinar bergulung-gulung yang amat cepat dan luas.

Di samping tinggi ilmu silatnya, Kim Hong adalah seorang wanita yang juga sangat cerdik. Sekarang dia sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan dan untuk dapat membebaskan Kok Siang. Dan untuk mendapatkan kepercayaan itu, sementara ini dia harus menyembunyikan kepandaiannya, agar iblis itu tidak merasa khawatir dan akan menganggapnya tidak berbahaya. Karena itu, dia harus melayani Sin-siang-to ini dengan sebisa mungkin menyembunyikan kepandaian aslinya, hanya memainkan ilmu-ilmu yang sederhana saja.

Akan tetapi, celakanya, Sin-siang-to Tang Kin bukanlah lawan sembarangan yang boleh dihadapi dengan ilmu yang rendah. Sepasang goloknya sedemikian lihainya sehingga Kim Hong harus mengerahkan ginkang-nya jika dia ingin selamat. Apa lagi untuk merobohkan kakek itu. Tentu ia harus menggunakan ilmunya yang tinggi.

Hal ini membuat Kim Hong kerepotan juga. Pada satu pihak dia ingin menyembunyikan kepandaiannya dari mata Mo-ko yang dia tahu membiarkan dia menghadapi Sin-siang-to untuk mencobanya, mencoba kepandaiannya dan mencoba kesetiaannya. Namun, di lain pihak dia harus mengerahkan kepandaian untuk dapat mengimbangi kelihaian lawan ini. Maka dia menjadi serba salah dan ragu-ragu sehingga terdesak hebat!

Pat-pi Mo-ko melihat perkelahian itu dengan penuh perhatian. Dia membiarkan gadis itu terdesak sampai puluhan jurus, tetapi diam-diam dia mengagumi ginkang yang hebat dari gadis itu, mengaku bahwa dia sendiri pun tak akan dapat menandingi gadis itu jika harus bertanding dalam hal ginkang. Dari gerakan-gerakannya saja dia dapat menduga bahwa jika gadis itu memperoleh kembali sepasang pedangnya, tentu akan mampu menandingi Sin-siang-to walau pun belum tentu akan dapat menang. Ilmu sepasang golok dari Tang Kin memang istimewa dan lihai sekali.

"Tahan...!" Bentaknya dan nampak dua gulungan sinar hitam ketika kakek tinggi besar ini menerjang ke depan. "Sin-siang-to, perlihatkan kepandaianmu kepadaku!" dan sepasang pedang bersinar hitam di tangan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng telah bergerak menyerang dengan gerakan dahsyat sekali.

Kim Hong yang sudah meloncat ke belakang itu terkejut dan mendongkol. Ternyata yang dipergunakan oleh Pat-pi Mo-ko adalah sepasang pedang Hok-mo Siang-kiam, sepasang pedangnya yang dirampas ketika dia pingsan. Akan tetapi dia segera dapat mengusir rasa gemas ini dan diam-diam dia memperhatikan permainan pedang itu.

Kiranya iblis ini pun merupakan seorang ahli ilmu silat pedang pasangan! Dan dia segera mendapat kenyataan betapa ganas dan dahsyatnya sepasang pedangnya itu pada waktu dimainkan oleh Pat-pi Mo-ko. Benar-benar merupakan seorang lawan yang amat tangguh, yang harus dihadapi dengan amat hati-hati. Agaknya tingkat kepandaian kakek iblis hitam ini tak berada di bawah tingkat para datuk kaum sesat yang pernah dilawannya beberapa tahun yang lalu!

Agaknya memang Pat-pi Mo-ko sengaja hendak memamerkan kepandaiannya. Dia lantas mengeluarkan jurus-jurus terampuh dan menekan sepasang golok di tangan Sin-siang-to yang berusaha keras untuk menandingi sepasang pedang hitam itu. Akan tetapi semua hasilnya sia-sia belaka. Sinar goloknya menjadi semakin sempit terhimpit.

Dan belum ada tiga puluh jurus semenjak ia melayani terjangan Pat-pi Mo-ko, tiba-tiba dia menjerit lantas tubuhnya terjengkang, sepasang goloknya terlepas dan ada darah mancur dari tenggorokannya! Tubuh Sin-siang-to berkelojotan bagai ayam yang disembelih sebab lehernya memang telah tertembus pedang hingga dia mirip seekor ayam yang disembelih.

Kini dengan tersenyum Pat-pi Mo-ko mengembalikan sepasang pedang hitam itu kepada pemiliknya sambil meloloskan sarung pedang itu yang tadinya dia sembunyikan di bawah jubahnya. Tanpa bicara Kim Hong menerima pedang itu dan menyarungkannya kembali, memasangnya di pinggang. Pat-pi Mo-ko mengeluarkan sepasang pedang lain, yang putih seperti perak dan berkata,

"Pedang hitammu amat hebat, nona. Akan tetapi jika tadi aku mempergunakan sepasang pek-kong siang-kiam (Sepasang Pedang Sinar Putih) milikku ini, aku pasti akan sanggup merobohkan dia dalam waktu yang jauh lebih singkat."

Kim Hong menjura dan berkata, "Ilmu pedangmu sungguh hebat, Pat-pi Mo-ko."

Iblis hitam tinggi besar itu tertawa dan menjawab untuk merendahkan diri akan tetapi ada kebanggaan terkandung dalam suaranya, "Ah, ilmu silatmu juga luar biasa, nona. Engkau memang patut sekali menjadi pembantuku yang terutama!"

"Jadi aku sudah lulus ujian?" tanya Kim Hong tersenyum.

"Belum, masih ada satu lagi ujian."

"Hemm, apa itu?"

"Mari kita pulang dan engkau akan tahu."

Kakek itu segera mengajaknya untuk melakukan penggeledahan bersama pasukan. Akan tetapi ternyata di sarang gerombolan itu mereka tidak menemukan apa yang dicari oleh Pat-pi Mo-ko, yaitu peta harta karun atau tanda-tanda tentang peta itu.

Pat-pi Mo-ko memang tidak terlalu mengharapkan akan menemukan apa yang dicarinya di situ. Dia sudah merasa puas telah dapat membasmi saingan yang dianggapnya hanya mendatangkan kesulitan saja baginya itu dan dia pun mengajak Kim Hong untuk kembali ke rumah Phang-taijin.

Di kompleks perumahan pembesar Phang, jaksa kota raja ini, Pat-pi Mo-ko memperoleh kebebasan dan menempati bagian belakang di mana selain dipergunakan untuk kantor dan tempat tahanan, juga terpasang banyak kamar-kamar rahasia. Karena mereka tiba di gedung itu sudah malam, Bouw Kim Seng mempersilakan Kim Hong untuk beristirahat.

Gadis itu memperoleh sebuah kamar tidur di bagian tengah dan Kim Hong maklum bahwa semua gerak geriknya diawasi dan juga tempatnya mengaso itu pun dijaga ketat sehingga tidak mungkin dia dapat meninggalkan kamar tanpa diketahui orang. Akan tetapi, gadis ini memang tidak berniat untuk meloloskan diri sebelum dia dapat membebaskan Kok Siang. Ia tidak tahu di mana pemuda itu ditahan, maka dia pun bersabar menanti sampai besok karena tubuhnya juga terasa lelah dan dia perlu beristirahat mengumpulkan tenaga.

Satu-satunya hal yang menggelisahkan hatinya adalah Thian Sin. Apa yang telah terjadi dengan kekasihnya itu dan bagaimana kunci emas palsu itu sampai dapat jatuh ke tangan Pat-pi Mo-ko? Ia tidak berani bertanya dengan terus terang kepada penjahat itu, khawatir kalau-kalau menimbulkan kecurigaan dan hal itu bahkan akan menambah kewaspadaan pihak lawan saja.

Pada sore hari berikutnya, barulah Pat-pi Mo-ko mengatakan apa adanya ujian ke dua itu. Kim Hong dibawa ke sebuah ruangan yang luas, ruangan yang agaknya menjadi tempat berlatih silat atau mungkin menjadi tempat penyiksaan di kompleks perumahan kejaksaan bagian penjara itu. Sebuah ruangan yang tertutup oleh jendela-jendela besi baja dan pintu baja pula, yang terjaga ketat oleh pasukan penjaga dan para pembantu iblis itu.

Kim Hong melihat Kok Siang duduk di atas bangku besi dengan kaki dirantai! Pemuda itu agak pucat, akan tetapi tersenyum mengejek pda saat melihatnya masuk bersama Pat-pi Mo-ko. Di dalam ruangan itu sudah hadir para pembantu iblis itu, yaitu keempat Siang-to Ngo-houw, Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko dan tidak ketinggalan terdapat pula Su Tong Hak yang wajahnya agak pucat dan sikapnya tidak segembira ketika Kim Hong melihatnya kemarin.

"Nona Toan," kata Pat-pi Mo-ko kepada Kim Hong yang sedang menduga-duga apa yang harus dilakukannya kali ini. "Engkau tahu sendiri bahwa Bu Kok Siang itu adalah seorang jagoan dari Thian-cin dan dia sudah berani menentangku. Lebih dari itu, dia juga berani menghina engkau yang membantuku, berarti dia sudah menghinaku juga. Untuk itu saja dia sudah pantas kubunuh! Akan tetapi, mengingat bahwa engkau yang paling dihinanya dengan makian-makiannya, maka aku serahkan dia padamu. Kalau dia bisa mengalahkan engkau, biarlah dia boleh pergi dengan bebas. Sebaliknya, tentu saja aku percaya penuh bahwa engkau akan dapat merobohkannya dan biar pun tidak sampai membunuhnya, tapi setidaknya dapat memberi hajaran yang layak kepadanya."

Tentu saja Kim Hong merasa kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa dia akan diadu dengan Kok Siang! Dan kemarin dia bersama Kok Siang sudah terlanjur memperlihatkan sikap bermusuhan, maka alasan untuk menolak tidak ada sama sekali. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menolak tidak mungkin, dan tentu akan menimbulkan kecurigaan dan hal itu dapat membahayakan dia dan juga Kok Siang. Sementara itu, diam-diam Kok Siang juga terkejut.

Pat-pi Mo-ko memberi isyarat kepada Siang-to Ngo-houw yang tinggal empat orang itu dan mereka segera membuka belenggu pada kaki Kok Siang, kemudian bersama Pat-pi Mo-ko, mereka semua itu cepat meninggalkan ruangan itu yang pintunya segera ditutup dari luar. Mereka semua menonton dari luar, seperti nonton adu ayam atau lebih tepat lagi mengadu dua ekor singa berbahaya sehingga para penonton berdiri di luar kerangkeng.

Memang tadinya Kim Hong bermaksud hendak mengajak Kok Siang untuk memberontak dan bersama-sama menerjang begitu kakinya dibebaskan. Akan tetapi, pemuda itu tidak memberi reaksi apa-apa sehingga dia pun mengeluh.

Kalau Thian Sin yang menjadi Kok Siang pada saat itu, dengan pandang mata saja dia dapat memberi isyarat sambil menerima isyarat pula. Akan tetapi Kok Siang agaknya tidak mengerti akan isyarat pandang matanya dan pemuda itu tentu akan terlambat kalau harus diteriakinya lebih dahulu. Jika sampai pemuda itu dirobohkan lebih dulu oleh mereka dan tertawan kembali, apa artinya dia memberontak?

Saat yang baik belum tiba, maka Kim Hong hanya dapat memandang dengan menyesal ketika melihat Pat-pi Mo-ko beserta para pembantunya keluar dari ruangan itu dan berdiri di luar pintu, menonton dari balik jeruji pintu dan jendela. Terpaksa dia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Kok Siang.

Karena ia berdiri membelakangi mereka, ia berani mengedipkan mata kepada Kok Siang, tanda bahwa ia mengajak pemuda itu agar bersandiwara. Kok Siang tidak memperlihatkan tanda bahwa dia mengerti, tetapi dia malah tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, pendekar wanita yang berubah menjadi penjahat wanita kaki tangan para iblis jahat kini datang hendak membunuh bekas teman sendiri! Bagus, majulah. Aku memang ingin memberi beberapa kali tamparan padamu. Kim Hong!"

"Kok Siang manusia sombong! Siapa takut kepadamu? Lihat, aku akan menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja!"

Dengan sikap memandang rendah Kim Hong segera melepaskan sarung pedangnya dan melempar sarung berikut sepasang pedang hitamnya itu ke atas lantai, di sebelah dalam, jauh dari pintu dan jendela. Sesudah membuat gerakan ini, tanpa menanti reaksi dari Kok Siang yang tidak mengerti maksudnya, dia telah menerjang ke depan dan menyerang Kok Siang dengan pukulan cepat dan dahsyat.

"Hemm...!" Kok Siang cepat mengelak.

Kim Hong menyerang terus bertubi-tubi, sengaja mendesak pemuda itu hingga Kok Siang terus berloncatan mundur menjauhi pintu. Agaknya pemuda ini pun cerdik untuk melihat keinginan Kim Hong mendesaknya agar mereka dapat menjauhi mereka dan pada waktu Kim Hong menyerang dengan tubuh membelakangi mereka, gadis itu lalu berbisik lembut sekali sambil mengerahkan sinkang sehingga gerakan kedua tangannya mendatangkan suara bersuitan menutupi suara bisikannya.

"Aku mengalah, kau robohkan dengan totokan..."

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini. Dia mengalahkan Toan Kim Hong? Tentu saja kalau hanya bersandiwara bisa saja dia menang, akan tetapi apa maksudnya? Apa baiknya kalau dia menang dan dapat menotok roboh gadis ini?

"Kita siap memberontak...," Kim Hong menambahkan. "Totok kin-ceng-hiat..."

Kim Hong kembali mendesak dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi karena tahu betapa bahayanya hal itu. Orang selihai Mo-ko pasti akan dapat melihatnya atau menduganya, dan para pembantu iblis itu pun bukan orang lemah. Akan tetapi ia merasa girang melihat pemuda itu akhirnya mengangguk ketika mengelak, tanda bahwa pemuda itu kini sudah maklum akan siasatnya.

Kim Hong memang sengaja memainkan ilmu silat Hok-mo-kun (Ilmu Silat Penakluk Iblis) untuk mendesak Kok Siang. Pemuda ini kagum bukan main dan dia pun berusaha untuk menahan serangan-serangan itu dengan seluruh kepandaiannya, akan tetapi sia-sia saja karena tingkatnya memang kalah jauh. Ia terdesak terus dan dua kali dia terpelanting oleh sapuan kaki serta dorongan tangan kiri Kim Hong.

Terdengar suara memuji girang dari luar pintu pada saat pemuda itu dua kali terpelanting. Memang hal ini disengaja oleh Kim Hong sehingga saat Kok Siang mengambil sepasang senjata Siang-koan-pit yang memang sudah dikembalikan kepadanya dan diletakkan di dekat dia duduk tadi, maka hal ini sudahlah sewajarnya.

Kini Kok Siang mainkan senjatanya itu dengan dahsyat. Memang hebat sekali kim-pit dan gin-pit itu, dua batang alat tulis dari emas dan perak. Nampak gulungan cahaya emas dan perak saling kejar dan bersilang-silang menyilaukan mata. Dua cahaya itu semakin ganas saja dan kini Kim Hong nampak terdesak!

Mereka yang menonton di luar memandang dengan penuh perhatian. Beberapa kali Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya yang tebal sambil menggeleng kepala, seakan-akan merasa kecewa bahwa jagonya terdesak.

Sesungguhnya dia sedang merasa keheranan sekali. Dia pernah menyaksikan gadis itu ketika melawan Sin-siang-to Tang Kin dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian gadis itu tidak berada sebelah bawah tingkat Sin-siang-to. Padahal pemuda sastrawan itu, melihat gerakan-gerakannya, tidak mungkin lebih lihai dari pada Sin-siang-to. Apakah pemuda itu mempunyai kepandaian simpanan yang kedahsyatannya tak nampak oleh mata? Apakah di dalam gerakan sepasang pit itu terkandung suatu kekuatan yang amat hehat?

"Nona Toan, cepat kau pergunakan pedangmu!" Bouw Kim Seng berteriak ketika melihat betapa hampir saja pelipis kanan nona itu terkena sambaran pit emas yang mematuk dari atas seperti paruh seekor rajawali. Sungguh berbahaya sekali serangan-serangan kedua pit itu.

Akan tetapi Kim Hong tidak mau mengambil sepasang pedangnya, biar pun dia semakin terdesak dengan hebatnya.

"Nona, pergunakan pedangmu! Apa engkau sengaja hendak membiarkan dirimu kalah?" Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng kini berteriak nyaring.

Sekali ini agaknya Kim Hong menurut karena dia sudah mengirim pukulan yang dahsyat, membuat lawannya terpaksa mundur sehingga kesempatan ini digunakan oleh Kim Hong untuk meloncat ke arah sepasang pedangnya. Akan tetapi karena letak pedang itu agak di belakang Kok Siang, terpaksa loncatannya itu pun lewat dekat pemuda itu dan pada saat itu, secepat kilat pemuda itu mengirim serangan yang tiba-tiba.

Kim Hong masih berusaha untuk menggulingkan tubuhnya yang sedang meloncat, akan tetapi sebuah totokan yang cepat sekali tepat mengenai pundak kirinya dan jalan darah kin-ceng-hiat telah tertotok. Terdengar gadis itu mengeluh lantas tubuhnya terguling roboh dan lemas tak mampu bergerak pula!

Mereka yang nonton di luar memandang dengan mata terbelalak. Pat-pi Mo-ko kemudian berkata kepada ke empat Siang-to Ngo-houw, "Tangkap bocah itu!"

Empat orang bekas tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang ini segera memasuki ruangan itu setelah daun pintunya dibuka. Begitu mereka masuk, daun pintu ruangan itu ditutup kembali dari luar. Dengan dua tangan masih memegang sepasang senjata pit, Kok Siang menghadapi empat orang itu.

Empat orang itu masih merasa sakit hati karena salah seorang saudara mereka tewas. Biar pun tewasnya itu di tangan Mo-ko sendiri, akan tetapi yang menjadi sebabnya adalah Kim Hong. Gadis inilah yang merobohkan saudara mereka itu, kemudian Mo-ko terpaksa membunuhnya agar dia tidak sampai membocorkan rahasia.

Kini, begitu menerima perintah untuk menangkap Kok Siang, mereka maju dengan penuh semangat. Begitu menerjang, mereka berempat telah mainkan ilmu andalan mereka, yaitu Ngo-lian to-hoat (Ilmu Golok Lima Teratai).

Tingkat kepandaian empat orang pengeroyok ini rata-rata hanya sedikit di bawah tingkat Bu Kok Sing. Andai kata mereka maju satu demi satu, tentu saja Kok Siang akan dapat mengalahkan mereka semua. Akan tetapi karena kini mereka maju bersama, dan dengan kerja sama yang amat baik, tentu saja mereka itu merupakan lawan yang terlampau berat bagi Kok Siang.

Sebentar saja Kok Siang telah terdesak hebat dan hanya bisa melindungi dirinya dengan putaran kedua senjatanya yang terlampau kecil dan pendek, juga terlampau ringan untuk menghadapi pengeroyokan delapan buah golok itu. Agaknya, keempat anggota Siang-to Ngo-houw itu bernafsu sekali untuk merobohkan Kok Siang, kalau perlu dengan melukai berat atau membunuh sekali pun.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Kim Hong yang tadinya menggeletak di atas tanah itu mencelat ke atas lantas sekali bergerak, dia sudah menyambar sepasang pedangnya hingga nampaklah sinar hitam berkelebatan dan dua orang di antara Siang-to Ngo-houw roboh mandi darah dan tewas seketika karena dada mereka sudah tertembus pedang!

Kok Siang yang sudah tahu atau telah dapat menduga akan hal ini menjadi bersemangat, kemudian sepasang pitnya juga bergerak cepat merobohkan seorang pengeroyok. Tinggal seorang lagi yang tidak dapat menahan serangan berikutnya dari Kim Hong. Robohlah dia dan empat orang itu kini menggeletak dan tewas!

Tentu saja semua orang yang berada di luar ruangan itu terkejut, kecuali Pat-pi Mo-ko yang agaknya memang sudah setengah menduga tentang hal ini. Karena itulah maka tadi dia sengaja hanya menyuruh empat orang Siang-to Ngo-houw saja untuk menangkap Kok Siang, membiarkan mereka lalu menutupkan kembali pintu ruangan.

Ia telah mengorbankan empat orang pembantunya itu untuk membuka rahasia Kim Hong. Dan hal ini bukan tanpa sebab. Mo-ko sadar bahwa setelah dia membunuh salah seorang di antara Siang-to Ngo-houw, membunuh secara terpaksa untuk menutup mulutnya, tentu empat orang yang lain diam-diam merasa menyesal dan tidak suka kepadanya. Maka, dia lalu mengorbankan empat orang itu dan sekaligus dia pun berhasil membuka rahasia Kim Hong yang tadi berpura-pura roboh oleh Kok Siang!

Kekalahan Kim Hong oleh Kok Siang itu tidak dapat diterima begitu saja oleh kakek iblis yang amat cerdik ini, maka dia tidak mau bersikap lengah. Dan melihat betapa Kok Siang memperoleh kemenangan itu, biar pun ada kemungkinan kecil bahwa memang Kim Hong yang lengah sehingga roboh tertotok, Mo-ko lalu menyuruh empat orang pembantunya itu untuk mengeroyoknya.

Apa bila Kim Hong tidak berpura-pura, berarti memang Kok Siang merupakan lawan yang tangguh dan perlu dilenyapkan seketika. Sedangkan kalau Kim Hong berpura-pura, tentu gadis sakti itu akan turun tangan dan tidak membiarkan Kok Siang celaka dan jika hal ini terjadi, paling-paling dia hanya akan kehilangan empat orang pembantunya yang sudah tidak dipercayanya lagi itu karena dugaan bahwa mereka mendendam kepadanya akibat kematian seorang saudara mereka. Dengan demikian dapatlah diketahui betapa licik serta matangnya siasat Mo-ko yang sudah memperhitungkan dengan cermat mengenai segala tindakannya.

Memang benar kecurigaannya itu terhadap Kim Hong. Gadis ini memang bersandiwara, dibantu oleh Kok Siang yang dapat menangkap keinginan gadis yang luar biasa ini. Ketika melihat kesempatan terbuka, Kok Siang menotok jalan darah di pundak gadis itu seperti yang dimintanya tadi.

Dia tahu bahwa totokannya itu cukup hebat dan akan membuat lawan pingsan dan lemas tanpa mampu bergerak sampai sedikitnya setengah jam. Akan tetapi dia pun sudah dapat menduga bahwa kalau Kim Hong menyuruh dia menotok jalan darah itu, tentu gadis yang lihai itu sudah mempunyai akal untuk menahan totokan ini.

Akan tetapi, sungguh sama sekali di luar perhitungan Kim Hong bahwa Mo-ko tidak maju sendiri memasuki ruangan itu, bahkan menyuruh empat orang Siang-to Ngo-houw yang masuk lantas pintu ruangan itu ditutup kembali. Tidak disangkanya bahwa Mo-ko secerdik itu.

Tadinya Kim Hong ingin melanjutkan sandiwaranya dan terus pura-pura pingsan, menanti hingga terbuka kesempatan agar bisa meloloskan diri dari situ bersama-sama Kok Siang. Akan tetapi, ternyata Kok Siang tidak mampu menandingi keempat orang pengeroyoknya dan melihat bahaya mengancam diri Kok Siang, tentu saja Kim Hong tidak dapat tinggal diam saja membiarkan pemuda itu tewas dalam pengeroyokan. Maka secara terpaksa ia pun menghentikan permainan sandiwaranya, lantas meloncat sambil menyambar Hok-mo Siang-kiam dan segera merobohkan tiga di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang seorang lagi dirobohkan oleh Kok Siang.

"Bu-twako, mari serbu keluar!" Kim Hong berteriak sesudah mereka berhasil merobohkan empat orang lawan itu.

Akan tetapi terlambat sudah. Dari luar, Mo-ko sudah menggerakkan alat rahasia dan itu pula menunjukkan betapa cerdiknya penjahat besar ini. Dia memang sudah sejak pertama kalinya mengatur sehingga peristiwa diadunya Kok Siang dengan Kim Hong itu terjadi di dalam sebuah ruangan yang mengandung alat rahasia jebakan berbahaya!

Pada waktu Kim Hong dan Kok Siang hendak menyerbu ke pintu yang sudah tertutup itu, tiba-tiba saja terdengar angin menyambar dari empat penjuru lalu anak-anak panah yang banyak sekali jumlahnya menyambar-nyambar ke arah mereka. Tentu saja Kim Hong dan Kok Siang cepat menggunakan senjata mereka untuk melindungi tubuh.

Akan tetapi, mendadak lantai yang mereka injak itu bergeser dengan cepatnya, terpisah menjadi dua dan dengan cepat tertarik ke kanan kiri memasuki dinding ruangan. Tentu saja tubuh kedua orang itu langsung terjatuh ke bawah!

Kiranya, penyerangan anak panah yang banyak tadi pun hanya merupakan siasat untuk mengalihkan perhatian mereka yang terjebak sehingga pada saat lantai bergeser, mereka kurang perhatian dan baru sadar setelah semuanya terlambat. Betapa pun pandainya Kim Hong, sekali ini dia pun tidak berdaya dan bersama dengan Kok Siang, tubuhnya terjatuh ke bawah.

"Byuurrr...! Byuuurrrr...!" Dan mereka berdua terjatuh ke dalam air yang dingin dan dalam!

"Mo-ko...! Peta asli itu berada pada kami...!"

Itulah suara Kok Siang yang kemudian ditelan oleh suara air karena ternyata pemuda ini tidak pandai renang. Kim Hong dapat renang walau pun tidak begitu pandai, maka ketika dalam kegelapan itu dia berusaha menolong Kok Siang, pemuda ini dalam kepanikannya memeluknya sehingga keduanya tak dapat dihindarkan lagi tenggelam ke dalam air yang dalam itu!

********************

Ketika Thian Sin mendengar berita dari In Bwee tentang tertawannya Kim Hong dan Kok Siang oleh Pat-pi Mo-ko yang mempergunakan pasukan pemerintah dan agaknya dibantu oleh Jaksa Phang, diam-diam dia merasa tekejut bukan main. Kalau sampai Pat-pi Mo-ko mampu menjebak dan menawan Kim Hong dan Kok Siang, hal itu berarti bahwa Pat-pi Mo-ko merupakan lawan yang jauh lebih tangguh dan berbahaya dari pada yang dikiranya semula. Apa lagi sesudah dia tahu bahwa kepala penjahat itu bersekongkol dan dibantu oleh jaksa yang memimpin pasukan penjaga keamanan yang kuat! Sungguh merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan.

Dia pun cepat menghilang ke dalam kegelapan malam dan sebentar saja dia telah berada di halaman sebelah belakang kompleks gedung Phang-taijin. Kumpulan gedung besar itu merupakan tempat tinggal, juga kantor dan tempat-tempat tahanan. Meski pun tidak jelas benar, dia sudah memperoleh gambaran tentang kompleks perumahan jaksa ini.

In Bwee sendiri tidak hafal dan tidak mengenal betul tempat ini, akan tetapi mengetahui di mana kekasihnya itu ditawan, maka keterangan ini sudah cukup bagi Thian Sin. Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja baginya untuk menyelidiki. Demikianlah pikirnya.

Akan tetapi ketika sampai di tempat itu, diam-diam dia terkejut. Tempat itu dijaga dengan ketat sekali! Bahkan di atas genteng-genteng juga ditaruh para penjaga sehingga seekor kucing sekali pun yang memasuki kompleks itu tentu akan ketahuan oleh para penjaga!

Thian Sin maklum bahwa kalau sampai dia sendiri gagal kemudian tertawan, maka akan habislah riwayat mereka berdua! Dia harus berlaku hati-hati sekali. Ketika dia melihat ada sebuah kereta memasuki halaman depan dan ternyata yang keluar dari kereta itu adalah Su Tong Hak, dia memperoleh akal yang baik sekali. Kiranya Su Tong Hak, paman dari petani Ciang Kim Su, adalah seorang yang curang dan sudah mengkhianati keluarganya sendiri.

Kehadiran Su Tong Hak di sana menjelaskan banyak hal baginya. Tentu pencurian peta dan lenyapnya Ciang Kim Su, merupakan akibat dari pada persekongkolan pedagang itu dengan Pat-pi Mo-ko! Karena ini tahulah dia bahwa dari orang ini dia dapat memperoleh banyak keterangan.

Maka sebelum orang itu memasuki pintu gerbang, dengan kecepatan kilat dia menyelinap lantas dengan gerakan kilat, dia sudah dapat menyambar tubuh pedagang itu yang tidak sempat berteriak karena urat gagunya telah dicengkeram oleh Thian Sin. Pendekar Sadis ini membawanya agak menjauh, ke tempat gelap dan membawanya loncat ke atas pohon yang tinggi.

Tentu saja Su Tong Hak terkejut setengah mati, apa lagi ketika dia dapat melihat wajah orang yang menangkapnya itu, yang dikenalnya sebagai pemuda yang diutus oleh kakak iparnya, Ciang Gun, dan yang sudah didengarnya dari Pat-pi Mo-ko sebagai Pendekar Sadis! Tubuhnya menggigil dan dia hampir pingsan saking takutnya, apa lagi ketika dia dibawa ke atas pohon yang tinggi itu. Akan tetapi, di dalam pikiran pedagang yang cerdik ini, di samping rasa takutnya, muncul pula sebuah harapan baru.

Dalam beberapa hari terakhir ini dia selalu gelisah, makan tak enak dan tidur pun tidak nyenyak, memikirkan perubahan sikap Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng terhadap dirinya. Dia bahkan mempunyai perasaan yang amat mengerikan, yaitu bahwa kalau semua ini telah selesai, bukan saja dia tidak akan diberi apa-apa oleh penjahat itu, bahkan mungkin untuk menutup rahasia, dia akan dibunuh, seperti yang telah dilakukan terhadap Louw siucai!

Kini, melihat munculnya Pendekar Sadis, satu-satunya lawan yang tangguh dan agaknya ditakuti oleh Mo-ko, timbul pikiran yang amat baik. Mengapa dia tidak bekerja sama dan berlindung kepada yang kuat? Yang penting adalah menyelamatkan diri, dan tentu saja mendapatkan harta karun Jenghis Khan itu.

"Su Tong Hak, ternyata engkau adalah komplotan Pat-pi Mo-ko. Nah, sekarang engkau harus menjelaskan segala-galanya kalau tak ingin kucekik mampus dan kulemparkan dari atas pohon ini!" Thian Sin mengancam dengan suara mendesis.

"Taihiap... ampunkan saya, kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini. Kita dapat saling membantu, taihiap. Jangan mengira bahwa saya komplotan mereka, bahkan nyawa saya juga sedang terancam..."

"Huh, siapa yang percaya omonganmu? Jangan mencoba untuk membujuk atau menipu, karena sebelum kubasmi mereka, engkau akan kubunuh lebih dahulu dengan penyiksaan yang akan membuat engkau menyesal telah dilahirkan di dunia ini."

"Taihiap... sungguh, percayalah padaku. Memang tadinya aku adalah sekutu Mo-ko. Akan tetapi sekarang dia telah berubah, dia tentu akan menguasai seluruh harta dan kemudian membunuhku. Taihiap, aku tahu bahwa pendekar wanita sahabatmu itu sudah tertawan. Marilah kita bekerja sama. Aku akan membantumu agar engkau dapat menolong sahabat-sahabatmu itu. Dan sebagai gantinya..."

"Sebagai gantinya apa? Orang she Su, ingat, kini engkaulah yang menjadi tawananku dan kalau aku menghendaki, sekali lempar engkau akan jatuh dan remuk. Bukan engkau yang mengajukan syarat, melainkan aku!"

"Ampun... ah, tentu saja, taihiap... akan tetapi, saya hanya minta agar dilindungi terhadap ancaman mereka itu. Saya mau membantumu dan... dan memperoleh bagian atas harta pusaka itu..."

Kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin sekali Thian Sin melemparkan pedagang yang loba ini ke bawah. Akan tetapi, dia membutuhkannya, maka segera ditekannya perasaan muak dan marahnya.

"Nah, baiklah. Aku hendak menolong mereka yang tertawan. Bagaimana caranya engkau dapat menyelundupkan aku ke dalam?"

"Dengan menyamar sebagai prajurit penjaga atau sebagai pengawalku," jawab pedagang yang cukup cerdik itu.

Akhirnya, dengan sedikit penyamaran pada wajahnya, Thian Sin pun berhasil memasuki kompleks kejaksaan itu bersama dengan Su Tong Hak dan setelah mendapat keterangan lengkap dari pedagang itu tentang keadaan di dalam, juga tentang jalan-jalan rahasianya, Thian Sin lalu membekuk seorang penjaga, menelikungnya dan menyumbat mulutnya lalu menyembunyikannya di tempat gelap, kemudian melucuti pakaiannya. Dia lalu menyamar sebagai seorang prajurit dan dengan mudahnya dia lalu menggunakan pengetahuannya tentang keadaan di tempat itu untuk melakukan penyelidikan ke dalam.

Ketika Thian Sin berhasil mencampurkan diri dengan para penjaga di tempat gelap dan ikut mengurung ruangan tahanan di mana kekasihnya ditawan, kedatangannya tepat pada saat Kim Hong berkelahi dengan Kok Siang. Tentu saja dia terkejut sekali melihat mereka itu saling serang sendiri.

Akan tetapi, begitu dia melihat para penjahat di luar pintu dan jendela berjeruji sebagai penonton, serta melihat gerakan-gerakan kekasihnya yang membuat dia maklum bahwa Kim Hong sengaja mengalah terhadap Kok Siang, maka tahulah pendekar yang cerdik ini bahwa dua orang itu sengaja diadu oleh pihak penjahat dengah maksud menguji.

Tadi dia sudah mendapat keterangan dari Su Tong Hak bahwa Kim Hong telah menyerah dan takluk, bahkan telah membantu Pat-pi Mo-ko untuk membasmi Sin-siang-to Tang Kin dan para anak buahnya yang menjadi saingan. Mendengar ini, pendekar itu tidak merasa heran dan dapat menduga bahwa tentu di balik penyerahan diri dari kekasihnya ini ada suatu pamrih yang merupakan siasat tertentu. Entah karena terpaksa atau tentu ada hal lain. Dan kini, melihat betapa kekasihnya mengalah terhadap Kok Siang, maka dia pun dapat menduga bahwa mereka berdua itu tentu sedang bersandiwara.

Tentu saja kedua tangannya telah gatal-gatal untuk menyerbu para tokoh penjahat ini dan monolong mereka berdua yang diadu seperti binatang. Akan tetapi dia pun cukup cerdik untuk melihat kenyataan bahwa kalau dia menyerbu, keadaan dua orang kawannya itu malah terancam bahaya. Selain para tokoh sesat yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama Pat-pi Mo-ko, juga tempat itu dikurung oleh pasukan pemerintah dan anak buah penjahat. Maka dia pun hanya ikut menonton dan mencari kesempatan.

Dia tahu bahwa kalau Kim Hong dan Kok Siang masih ditahan, bahkan diadu, tentu ada maksud-maksud tertentu dari Pat-pi Mo-ko. Kalau kedua orang itu tidak dibutuhkan, tentu sudah dibunuh oleh pihak penjahat. Keyakinan akan hal ini membuat Thian Sin bersabar menanti, walau pun hatinya terasa tegang dan khawatir sekali.

Ketika dia melihat Kim Hong roboh tertotok oleh pit di tangan Kok Siang, Thian Sin lantas mengepal tinju. Dia maklum bahwa Kim Hong mempunyai ilmu memindahkan jalan darah sehingga totokan yang tampaknya tepat sekali itu tentu dapat diterimanya tanpa membuat tubuhnya menjadi lemas atau lumpuh. Karena itu dia tahu jelas bahwa semua itu hanya merupakan gerakan pura-pura belaka.

Bagi orang lain mungkin akan tertipu, akan tetapi mungkinkah seorang tokoh jahat seperti Pat-pi Mo-ko dapat ditipu sedemikian mudahnya? Dan permainan apakah yang sedang dimainkan oleh Kim Hong dan Kok Siang? Dia tidak berani lancang turun tangan, khawatir kalau-kalau nantinya malah akan mengacaukan rencana kedua orang itu yang agaknya sudah diatur lebih dulu dan dilaksanakan dengan baiknya.

Pada waktu kakek tinggi besar muka hitam itu memerintahkan empat orang sisa Siang-to Ngo-houw supaya menangkap Kok Siang, kemudian melihat mereka memasuki ruangan lantas pintunya ditutupkan kembali, Thian Sin mengerutkan alisnya. Kalau perhitungannya tidak keliru, agaknya kekasihnya itu merencanakan pemberontakan bersama Kok Siang, dengan pura-pura berkelahi sungguh-sungguh dan membiarkan dia kelihatan kalah.

Akan tetapi dia merasa sangsi apakah akal itu akan berhasil ketika melihat betapa empat orang Siang-to Ngo-houw saja yang disuruh masuk dan pintu besi itu ditutup kembali. Dia melihat kebenaran dugaannya ketika Kim Hong bangkit dari keadaan tertotok tadi lantas bersama dengan Kok Siang merobohkan empat orang lawannya.

Thian Sin kini merasa yakin bahwa dugaannya benar, bahwa kekasihnya bersama Kok Siang hendak melakukan penyerbuan keluar untuk meloloskan diri. Akan tetapi, baru saja dia ingin turun tangan membantu, tiba-tiba kakek hitam tinggi besar sudah menggerakkan alat rahasia, dan Thian Sin sempat melihat kekasihnya dan Kok Siang terjatuh ke bawah karena lantai ruangan itu bergeser cepat ke kanan kiri. Dia hendak meloncat, akan tetapi tiba-tiba didengarnya teriakan Kok Siang.

"Mo-ko! Peta asli itu berada pada kami!"

Thian Sin cepat menahan gerakannya. Dia tahu bahwa jika dia mengamuk sekali pun, dia tidak keburu menolong kedua orang itu lagi, yang agaknya terjatuh ke dalam air di bawah ruangan rahasia itu. Dan teriakan Kok Siang itu ternyata amat berpengaruh. Dia melihat kakek hitam tinggi besar yang kini diduganya tentu Pat-pi Mo-ko adanya nampak gugup.

"Cepat...! Selamatkan mereka. Tawan mereka, jangan sampai mereka itu tewas di dalam air!"

Perintah dari tokoh jahat ini membuat hati Thian Sin terasa lega maka dia pun tidak mau lancang turun tangan, yang tidak banyak artinya untuk dapat menyelamatkan kekasihnya dan Kok Siang. Maka dia pun hanya berjaga-jaga karena melihat para prajurit lain juga melakukan penjagaan ketat menerima perintah dari komandan mereka.

Ketika komandan pasukan mengumpulkan pasukannya untuk melakukan pemeriksaan, dengan menggunakan kepandaiannya Thian Sin menyelinap pergi dan dia pun berhasil mendapatkan sebuah tempat persembunyian di dalam gudang barang lapuk di belakang. Tempat ini pun adalah tempat sembunyi yang ditunjukkan oleh Su Tong Hak baginya, di mana dia dapat menyembunyikan dirinya.

Sementara itu, dalam keadaan lemas dan setengah pingsan, kembali Kim Hong dan Kok Siang tertawan lagi. Pada saat mereka sadar, keduanya mendapatkan diri mereka sudah terbelenggu lagi di atas dipan, dalam keadaan terlentang dan semua kaki tangan mereka dibelenggu dengan rantai baja yang sangat kuat. Pakaian mereka masih basah, demikian juga rambut mereka. Di dalam ruangan itu nampak Pat-pi Mo-ko duduk bersama dengan Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko, Su Tong Hak dan di luar kamar itu nampak penjagaan yang ketat, oleh pasukan penjaga.

Wajah kakek berkulit hitam itu nampak berseri dan sepasang matanya berkilat-kilat ketika dia memandang kepada dua orang tawanan yang sudah mulai siuman itu. Kemudian dia menghampiri Kok Siang dan melihat pemuda itu membuka matanya, mengejap-ngejapkan matanya kemudian memandangnya dan wajah yang tampan itu nampak pucat akan tetapi sadar sepenuhnya.

"Selamat hidup kembali, Im-yang Siang-pit Bu Siucai!" kata Pat-pi Mo-ko dengan suara lantang. "Engkau tahu, apa yang menyebabkan kami menyelamatkan kalian dari bahaya tewas tenggelam dalam air. Nah, Bu Siucai, sekarang ceriterakanlah kepada kami tentang peta asli itu!"

"Kalau aku menceriterakannya, engkau akan membebaskan kami berdua, Mo-ko?" tanya Kok Siang, suaranya meragu karena sesungguhnya dia tidak percaya kalau penjahat ini mau membebaskan mereka.

"Tentu saja! Bukankah baru saja kami juga telah menyelamatkan kalian dari kematian ini? Ceritakan dengan sesungguhnya mengenai peta itu dan kami akan membebaskan kalian. Sebenarnya kami tidak bermaksud memusuhi kalian. Bukankah kami sudah menawarkan kerja sama dengan sebaiknya kepada nona Toan? Sayang, dia mengkhianati kami. Akan tetapi, kami akan melupakan semua itu apa bila kalian suka menceritakan mengenai peta sehingga kami dapat memperoleh peta asli itu."

"Dia bohong, Bu-twako. Jangan percaya omongannya!" tiba-tiba Kim Hong berkata.

"Hemmm, yang membohong adalah engkau, nona Toan. Kami dengan sungguh-sungguh menarikmu sebagai kawan, akan tetapi engkau malah mengkhianati kami dan membunuh empat orang sisa Siong-te Ngo-houw yang menjadi pembantu-pembantu kami. Lagi pula engkau pura-pura kalah ketika melawan Bu Siucai, apa disangka kami tidak tahu?"

"Mo-ko, engkau pun menipuku. Pura-pura mengulurkan tangan bekerja sama, akan tetapi begitu aku memasuki ruangan itu dan pintu dikunci dan kalian menonton di luar, aku tahu bahwa kalian hanya menipuku. Apa kau sangka aku juga begitu bodoh untuk tidak dapat melihat siasatmu itu? Bu-twako, jangan ceritakan apa-apa!"

Wajah Pat-pi Mo-ko yang hitam itu menjadi semakin hitam karena darah sudah naik ke mukanya karena marah. "Bocah she Bu! Kalau engkau menuruti kata-kata perempuan ini, apakah engkau lebih sayang peta dari pada nyawamu? Aku tidak akan ragu-ragu untuk membunuhmu!"

"Bu-twako, jangan percaya omongannya! Dia tidak akan membunuh kita karena peta itu masih ada pada kita! Peta itulah satu-satunya gantungan hidup kita saat ini!" kata pula Kim Hong.

Kok Siang tertawa. "Ha-ha-ha, engkau benar juga, nona Toan. Heii, Mo-ko, apa kau kira kami begitu bodoh? Kalau aku menyerahkan peta, tentu engkau akan segera membunuh kami! Tidak, aku tidak tahu apa-apa tentang peta, aku sudah lupa lagi, ha-ha-ha!"

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang sudah kenyang akan asam garam di dunia kang-ouw, maka dia pun tahulah bahwa tidak ada gunanya untuk menggertak kedua orang muda ini lagi.

"Bagus, katakanlah bahwa pendapat kalian benar. Aku tidak bisa membunuh kalian, akan tetapi jangan mengira bahwa aku tidak dapat memaksa kalian bicara. Ada hal-hal lainnya yang bahkan lebih hebat dari kematian!" Dia lalu menghampiri dipan di mana Kim Hong menggeletak terlentang dengan kedua kaki dan tangan dibelenggu rantai besi. "Bu-siucai, hendak kulihat apakah engkau tetap hendak menutup mulutmu apa bila melihat gadis ini diperkosa dan dihina di depan matamu!" Lalu jari-jari tangannya bergerak ke depan.

"Breeetttt...!"

Terdengar kain robek akibat pakaian luar yang menutup tubuh Kim Hong terkoyak-koyak oleh jari-jari tangan yang hitam besar dan kuat itu. Kini nampaklah kulit tubuh yang putih mulus di balik pakaian dalam yang tipis!

Akan tetapi, demikian hebatnya kekuatan dalam yang dikuasai oleh Kim Hong sehingga tidak ada segaris pun uratnya bergerak. Dia hanya memejamkan matanya dan wajahnya tidak memperlihatkan perubahan apa pun!

Namun tidak demikian dengan Kok Siang yang langsung menoleh dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia melihat tubuh pendekar wanita itu, yang sekarang sedang terancam bahaya yang amat hebat.

"Siapa di antara kalian yang mau menikmati tubuh wanita ini?" teriak Pat-pi Mo-ko keluar, ke arah para penjaga.

Tidak ada yang menjawab, akan tetapi belasan orang penjaga itu mendekat dengan mulut menyeringai dan muka merah. Mereka memandang ke arah tubuh itu dengan mata penuh gairah dan nafsu birahi!

Thian Sin yang telah berada di antara para penjaga itu mengepalkan tinjunya, akan tetapi wajahnya pun tidak memperlihatkan tanda sesuatu.

"Masih belum mau bicara, Bu-siucai? Bagaimana kalau kubuka sedikit lagi?"

Tangan itu kembali bergerak, terdengar kain robek dan kini penutup dada Kim Hong telah terbuka sama sekali. Nampak bagian depan tubuhnya dari perut ke atas! Gadis itu tetap memejamkan matanya dan wajahnya tetap biasa saja! Demikian hebat gadis ini sehingga dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat bersikap tenang dan seolah-olah ia telah dapat mematikan rasa.

Kok Siang langsung membuang muka sambil mengeluarkan suara kutukan. "Demi Tuhan, Mo-ko, engkau bukan manusia! Jangan lanjutkan!"

"Ha-ha-ha, kalau engkau tetap tidak mau mengaku tentang peta itu, aku akan menyuruh dua orang prajurit untuk memperkosanya di depan matamu, Bu-siucai!"

"Bu-toako, jangan dengarkan dia! Dia hanya mampu menghina tubuhku, akan tetapi tidak mampu menjamah hatiku. Paling-palling aku mati, atau kalau tidak, maka hinaan ini tentu akan dibayarnya dengan bunga berlipat ganda! Jangan mengaku, karena sekali engkau mengaku, maka nyawa kita akan tidak ada harganya lagi!" demikian Kim Hong berkata, suaranya tetap tenang, sama sekali tidak gemetar.

"Hemm, biar pun hatiku berat sekali rasanya, agaknya engkau benar, nona," jawab Kok Siang.

Pat-pi Mo-ko menjadi semakin marah. Kakek ini sudah menggerakkan tangan lagi untuk merenggut penutup tubuh terakhir, akan tetapi tiba-tiba Su Tong Hak mendekatinya dan berbisik, "Pemuda itu tentu akan menyerah kalau melihat kekasihnya yang terancam!"

Mendengar ini, tiba-tiba Pat-pi Mo-ko tertawa. "Ha-ha-ha, engkau benar juga!" dan sambil tertawa-tawa kakek hitam tinggi besar itu lalu berlari keluar dari dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian dia sudah kembali sambil menarik tangan seorang gadis, atau lebih tepat lagi setengah menyeretnya. Gadis itu bermuka pucat, sedangkan matanya merah bekas menangis, rambutnya dan pakaiannya kusut.

"Murid durhaka, lihat siapa itu, dan selamatkan nyawanya! Dia akan kubebaskan kalau dia mau mengaku tentang peta asli!" kata Pat-pi Mo-ku sambil mendorong gadis itu ke depan, ke arah dipan di mana Kok Siang rebah terlentang.

"Siang-koko...!" Gadis itu menubruk, berlutut dan menangis di dekat dipan.

"Bwee-moi... engkaukah ini? Hemmm, akhirnya engkau juga merasakan kekejaman iblis yang menjadi guru dan pamanmu sendiri?" kata Kok Siang sambil mengerutkan alisnya. In Bwee merangkulnya dan menangis di dada pemuda itu.

"Siang-koko... demi keselamatanmu, menyerah sajalah, katakan kepadanya tentang peta itu... ahh, koko, kalau engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi... berikanlah peta itu dan mari kita pergi berdua, tidak mencampuri urusan ini dan aku rela hidup melarat asal selalu bersamamu, koko..."

Gadis itu menangis sehingga Kim Hong mengerutkan alisnya. Dia tidak mencela gadis itu bahkan kagum akan cinta gadis itu terhadap Kok Siang. Akan tetapi gadis itu juga telah memperlihatkan kelemahannya dan hal ini merusak siasat mereka berdua yang hendak mempertahankan peta. Siapa tahu, demi cintanya terhadap gadis itu, Kok Siang akhirnya mau menyerah dan kalau sudah begitu, maka percuma sajalah semua siasat mereka dan akhirnya mereka semua akan celaka!

"Huh, tolol!" Dia membentak. "Apakah kalau peta itu diberikan, iblis itu mau melepaskan kita bertiga? Jangan kira begitu enak, ya? Bahkan dia akan segera membunuh kita semua untuk menutup mulut kita seperti yang dilakukannya terhadap diri Ciang Kim Su dan juga Louw siucai!" Dia sengaja menyebut nama Louw siucai untuk membakar semangat Kok Siang. Dan dia berhasil. Kok Siang yang tadinya ragu-ragu ketika melihat dan mendengar tangis kekasihnya, kini nampak bersinar-sinar matanya.

"Mo-ko, muslihat apa pun yang kau lakukan, peta itu takkan kuberikan kepadamu!" teriak Kok Siang. "Bwee-moi, jangan kecil hati. Marilah kita lawan iblis itu, kalau perlu dengan pengorbanan nyawa dari pada dia berhasil dan akhirnya kita dibunuhnya juga!"

"Keparat!" Pat-pi Mo-ko marah sekali, kemudian dengan langkah lebar dia menghampiri muridnya dengan tangan kanan menyambar.

Akan tetapi, dibangkitkan oleh kata-kata kekasihnya, In Bwee meloncat sambil mengelak, lantas menyerang guru dan pamannya sendiri yang biasanya amat ditakutinya itu. Tentu saja kakek itu menjadi kaget dan marah bukan main. Jelaslah baginya bahwa muridnya ini sekarang telah berpihak kepada musuh secara berterang.

Dia telah menangkap muridnya, ketika mendengar laporan bahwa muridnya itu diam-diam pada malam buta mengunjungi Pendekar Sadis. Dia membayangi dan melihat muridnya bicara dengan Pendekar Sadis, maka pada waktu pulang murid itu lalu ditangkapnya dan dijadikan tawanan.

Harta Karun Jenghis Khan Jilid 05

SUDAH berbulan-bulan dia tersiksa oleh rahasia harta karun Jenghis Khan ini. Ketika dia mula-mula dihubungi oleh Su Tong Hak, dia tidak percaya sehingga tidak begitu menaruh perhatian. Dia mengenal saudagar ini melalui Phang-taijin, yakni jaksa di kota raja yang kini menjadi sahabat baik dan pelindungnya.

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang berilmu tinggi dan baru dua tahun dia tinggal dl kota raja setelah meninggalkan goa pertapaannya di sebuah gunung di barat. Begitu terjun ke dunia kang-ouw, dia mengalahkan serta menundukkan semua tokoh sesat sehingga dia pun akhirnya diakui sebagai raja tanpa mahkota di antara tokoh sesat di kota raja dan daerah sekitarnya. Banyak tokoh-tokoh dari luar kota yang merasa penasaran dan datang untuk menentang jagoan baru ini, akan tetapi satu demi satu roboh di tangan Pat-pi Mo-ko sehingga akhirnya tak seorang pun lagi yang berani menantangnya.

Akan tetapi, kota raja bukanlah merupakan tempat di mana seorang tokoh sesat dapat bersimaharajalela seenaknya saja sebab selain di kota raja terdapat banyak orang pandai dan pendekar-pendekar, juga jagoan-jagoan dari istana banyak yang memiliki kepandaian tinggi, di samping adanya para penjaga keamanan yang sangat kuat dan terlampau kuat bagi para penjahat. Oleh karena itu, Pat-pi Mo-ko juga tidak berani menonjolkan dirinya.

Iblis tinggi besar berkulit hitam ini memang memiliki seorang saudara, seorang adik yang kaya raya dan terkenal dengan sebutan Bouw Wan-gwe (hartawan Bouw), yang tinggal di kota raja. Akan tetapi, adiknya ini sejak muda tidak suka kepada kakaknya yang memiliki kebiasaan dan kesukaan yang lain dari pada dia. Jika sejak kecil dia tekun berdagang dan mencari uang, maka kakaknya itu lebih suka berkeliaran, belajar ilmu silat, dan bergulang-gulung dengan orang-orang jahat. Maka Bouw wan-gwe ini pun diam-diam merasa tidak suka kepada Pat-pi Mo-ko!

Biar pun dengan terpaksa karena takut, akhirnya Bouw Wan-gwe memberi juga uang dan bahkan membelikan sebuah rumah untuk kakaknya itu. Kemudian, pada suatu hari Bouw Wan-gwe memperkenalkan kakaknya itu kepada Phang-taijin, yakni seorang jaksa di kota raja yang pada waktu itu sedang membutuhkan bantuan orang yang memiliki kepandaian tinggi, yaitu untuk menyingkirkan beberapa orang musuhnya.

Sebagai seorang jaksa, Phang-taijin mempunyai tiga orang musuh, dan dua di antaranya adalah sesama rekannya yang menentangnya karena urusan sogokan orang yang terlibat dalam perkara dan dua orang itu mengancam untuk melaporkan kecurangannya di dalam menangani perkara itu kepada atasan. Dan seorang lainnya adalah seorang penjahat yang merasa dilakukan dan diadili secara sewenang-wenang oleh Phang-taijin.

Melihat bahwa kedudukan jaksa Phang-taijin akan dapat melindungi dirinya, maka dengan senang hati Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng memenuhi permintaan ini lantas dengan mudah dia dapat membunuh tiga orang musuh yang membahayakan keselamatan Phang-taijin itu tanpa ada yang mengetahui dan menyangkanya. Mulai saat itulah Pat-pi Mo-ko menjadi orang kepercayaan Phang-taijin.

Pat-pi Mo-ko lalu melindungi pembesar itu dari para saingannya, sebaliknya pembesar itu melindungi si penjahat untuk bersembunyi di kejaksaan. Bahkan dengan mudahnya Pat-pi Mo-ko menghubungi banyak tokoh penjahat di ibu kota, menguasai mereka dan menekan mereka supaya mereka semua melakukan operasinya di luar kota raja. Dengan demikian, mereka tak akan bentrok dengan kedudukan dan tugas Phang-taijin, sebaliknya pembesar ini pun menutupkan matanya terhadap pembantunya yang menjadi raja tanpa mahkota di antara para tokoh penjahat di kota raja.

Ketika Pat-pi Mo-ko berhubungan dengan Su Tong Hak, dia berhasil menguasai dua peta yang ada di tangan Su Tong Hak dan Ciang Kim Su dan dengan perjanjian akan bekerja sama kemudian memperoleh bagian masing-masing, mereka berdua lalu mencari tempat rahasia menurut petunjuk peta itu. Namun, hasilnya selalu nihil dan gagal!

Sampai berbulan-bulan mereka mencari-cari, akan tetapi ternyata peta itu tidak membawa mereka ke tempat penyimpanan harta karun yang diidam-idamkan itu. Terlebih lagi kunci emas belum juga dapat ditemukan.

Baru belakangan ini mereka mendengar mengenai kunci emas ini dan ketika Pat-pi Mo-ko mengutus orangnya menuju ke dusun Cin-bun-tang di daerah An-keng, utusan itu kembali dengan tangan kosong dan mengatakan bahwa kakek petani itu dan isterinya telah tidak ada lagi di dusun. Isterinya terbunuh oleh orang jahat dan kakek itu sendiri lenyap tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya!

Tentu saja Pat-pi Mo-ko amat menjadi penasaran, marah dan kecewa. Sampai akhirnya dia mendengar dari sisa-sisa anak buah Liong-kut-pian Ban Lok yang dilaporkan oleh para pembantunya bahwa Ban Lok serta kawan-kawannya yang telah membunuh suami isteri petani itu, juga betapa Ban Lok terbunuh oleh seorang pemuda dan seorang gadis yang lihai sekali, juga bahwa diduga, kunci emas itu berada di tangan pemuda dan dara itu. Maka mulailah anak buahnya melakukan pengejaran dan pencarian, juga dia mengutus muridnya untuk mendekati mereka sesudah dia mendengar bahwa pemuda itu ternyata adalah Pendekar Sadis!

Sesudah berhasil menerima kunci emas dari muridnya sebagai hasil bujuk rayu muridnya atau keponakannya yang cantik itu terhadap Pendekar Sadis, hatinya menjadi semakin kecewa dan penasaran lagi. Kunci emas sudah didapatkan, akan tetapi peta itu ternyata palsu dan tidak mampu membawanya ke tempat penyimpanan harta karun Jenghis Khan. Inilah yang membuat dia semakin kecewa dan penasaran.

Kini, dalam keadaan hampir putus asa mendengar ucapan Kim Hong yang mengatakan bahwa tidak sukar untuk menyelidiki di mana adanya peta yang tulen, tentu saja serentak semangatnya tergugah dan harapannya timbul kembali. Wajahnya telah berseri ketika dia mendekati dipan di mana Kim Hong terbelenggu.

"Nona Toan, maukah engkau bekerja sama dengan kami?"

Kim Hong mengerutkan alisnya, mengambil sikap seperti orang berpikir. Padahal gadis ini memang sengaja mencari kesempatan untuk membuat penjahat ini membutuhkan dirinya. Melihat kunci emas itu sudah berada di tangan penjahat ini, sungguh pun dia tidak melihat tanda-tanda bahwa kekasihnya mengalami bencana, namun hatinya merasa gelisah dan ragu.

Betapa pun juga, kenyataan membuktikan bahwa kekasihnya telah menyerahkan kunci itu atau dipaksa menyerahkan dan tentu telah terjadi sesuatu dengan Thian Sin. Kalau hal ini benar, maka sebaiknyalah kalau dia mendekati dan berbaik dengan Pat-pi Mo-ko, bukan karena harta karun itu sebab dia tahu bahwa kepala penjahat ini hanya memiliki peta dan kunci palsu belaka.

Akan tetapi dia harus lebih dulu tahu bagaimana keadaan Thian Sin. Lagi pula, dia harus pula melindungi Kok Siang yang masih tertawan, sebab dia berkeyakinan bahwa pemuda inilah yang menguasai peta aslinya, sedangkan kunci emas yang asli ada pada dia dan Thian Sin.

"Pat-pi Mo-ko, kita sama-sama adalah petualang-petualang dan di mana ada kesempatan untuk mendapat keuntungan besar, tentu saja kami mau bekerja sama denganmu. Akan tetapi, bekerja sama yang bagaimana maksudmu?"

"Terlebih dahulu engkau harus mmbantuku mencari peta asli dan menemukan harta karun Jenghis Khan."

"Imbalannya?"

"Engkau mendapatkan seperempat bagian."

"Aku tidak mau menyerahkan sebagian dari hakku yang setengahnya atas harta karun itu kepadanya!" Tiba-tiba Su Tong Hak berkata.

"Diam dan jangan mencampuri urusan kami!" Bouw Kim Seng membentak dan pedagang itu undur kembali dengan alis berkerut.

"Pat-pi Mo-ko, engkau berkali-kaii mengajak aku untuk bekerja sama, akan tetapi engkau memperlakukan aku sebagai tawanan. Mana mungkin ini?"

"Maukah engkau? Berjanjilah lebih dahulu dan aku akan membebaskanmu."

"Aku berjanji akan bekerja sama denganmu!" kata Kim Hong dengan suara bersungguh-sungguh.

"Toan Kim Hong!" Tiba-tiba Kok Siang berteriak dan nampak marah bukan main. "Kiranya sebegitu saja keteguhan hatimu! Setelah terjepit, nampak belangmu dan engkau mau saja bekerja sama dengan kalangan sesat? Huh, ternyata engkau hanya petualang yang haus akan harta kekayaan!"

"Bu Kok Siang! Tutup mulutmu dan jangan mencampuri urusanku!" Kim Hong juga turut membentak dengan nada marah.

"Engkau tidak tahu malu! Engkau pengecut! Huh, kalau aku bebas, sebelum menggempur para penjahat ini, engkau akan kuhancurkan lebih dulu!" Kok Siang berteriak marah.

"Kutu buku yang pura-pura menjadi orang gagah! Siapa takut akan ancamanmu? Engkau takkan lolos dari tempat ini dengan hidup!" Kim Hong memaki dan kedua orang itu saling mencela dan memaki.

Melihat hal ini, Pat-pi Mo-ko diam-diam memandang dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri. Dia menghampiri Kim Hong dan dengan kedua tangannya sendiri dia melepaskan belenggu besi dari kaki serta tangan gadis itu dengan kunci, kemudian memulihkan jalan darah gadis itu yang masih tertotok.

Kim Hong mengurut pergelangan kaki serta tangannya yang terasa nyeri bekas belenggu besi. Pat-pi Mo-ko dan para pembantunya bersiap menghadapi kalau-kalau gadis itu akan melanggar janjinya dan mengamuk. Akan tetapi Kim Hong sama sekali tidak mengamuk, melainkan membereskan pakaiannya, kemudian memandang kepada Pat-pi Mo-ko sambil tersenyum.

"Mana siang-kiamku, apakah tidak dikembalikan kepadaku setelah kita menjadi rekan?"

"Nanti dulu, nona Toan, jangan tergesa-gesa. Pedang pasangan itu berada padaku dan bila engkau membutuhkan, tentu akan kuberikan kepadamu. Sekarang katakan lebih dulu, apa maksudmu tadi mengatakan bahwa tidak sulit untuk menyelidiki di mana adanya peta yang tulen?"

Kim Hong duduk di atas dipan bekas tempat dia dibelenggu, melonjorkan kedua kakinya sambil menarik otot-ototnya yang tegang sebelum menjawab. Ia menatap wajah penjahat besar itu dan tahu bahwa ia harus berhati-hati.

Sikap Pat-pi Mo-ko dan para pembantunya jelas menaruh kecurigaan besar terhadapnya. Ia harus berdaya upaya menarik kepercayaan mereka. Hanya dengan demikianlah maka dia akan bisa memperoleh kesempatan untuk meloloskan diri dari tempat itu, juga untuk menyelamatkan Kok Siang, dan kalau perlu menolong Thian Sin, kalau benar seperti yang dikhawatirkannya bahwa kekasihnya itu mungkin saja terjebak pula seperti dia dan Kok Siang.

"Pat-pi Mo-ko, apa sih sukarnya untuk menyelidiki hal itu? Pertama-tama, pembawa peta itu adalah Ciang Kim Su maka dialah orang pertama yang mungkin saja menyembunyikan peta asli karena dia penemunya sehingga memiliki kesempatan menggantikannya dengan peta palsu untuk melindungi yang tulen kalau terjadi sesuatu. Maka kepadanyalah harus ditanyakan di mana adanya peta yang tulen, yakni kalau dia masih hidup."

Pat-pi Mo-ko mengangguk. "Sudah kami lakukan itu akan tetapi tanpa hasil."

"Hemmm, apa sukarnya menyiksanya sampai dia mengaku? Dia hanya seorang pemuda petani lemah, disiksa sedikit saja tentu akan mengaku," Kim Hong berkata dengan sikap kejam. "Aku tahu mengenai beberapa cara penyiksaan yang akan membuat orang lemah mengaku. Misalnya, mencabuti kuku jari kaki dan tangan satu demi satu, menusukkan jarum ke bawah kuku jari tangan, merobek kulit pelipis melalui tarikan rambut pelipis ke atas. Biarkan aku yang menyiksanya, tentu dia mengaku."

"Tidak, jangan siksa lagi dia! Dia sudah hampir... hampir mati..."

"Plakkk!" Tubuh pedagang itu terpelanting ketika terkena sambaran tangan Pat-pi Mo-ko yang menamparnya.

"Sudah beberapa kali kuperingatkan. Jangan engkau lancang mulut dan ikut mencampuri urusan ini! Sekali lagi melanggar, aku akan lupa diri dan akan membunuhmu pula!"

Su Tong Hak yang tadinya merasa menjadi sekutu tokoh sesat itu, sekarang hanya dapat berdiri dengan muka pucat dan barulah dia menyadari bahwa dia sendiri berada di dalam bahaya, bahwa nyawanya bagai telor di ujung tanduk. Mulailah dia merasa ketakutan dan bingung, hanya mengangguk-angguk dan mundur sampai ke sudut ruangan.

Tentu saja semua ucapan dan sikap ini tidak terlepas dari pandang mata Kim Hong yang tajam. Dia menduga bahwa agaknya pemuda petani itu masih hidup, akan tetapi dalam keadaan parah karena disiksa. Mulailah dia bisa mengerti dan menggambarkan keadaan.

Agaknya pemuda petani itu sudah datang ke kota raja dan diantar oleh pamannya yang berhati busuk itu kepada Louw siucai. Dan siucai tua itu telah menterjemahkan peta, akan tetapi mungkin sekali siucai itu telah menukarnya dengan peta yang palsu. Sesudah peta itu diterjemahkan lalu diterima oleh Kim Su dan dibagi dengan pamannya.

Akan tetapi agaknya Su Tong Hak bersekongkol dengan Pat-pi Mo-ko dan pemuda petani yang sedang menuju pulang itu lantas diculik serta dirampas bagian petanya. Kemudian, setelah gagal menemukan tempat rahasia harta karun melalui peta, barulah Pat-pi Mo-ko sadar bahwa peta itu palsu dan mereka lalu menyiksa Ciang Kim Su yang mereka kira mengetahui di mana adanya peta yang asli.

"Nona Toan, perkiraanmu itu pun telah menjadi perkiraan kami. Akan tetapi agaknya peta tulen tidak berada di tangan pemuda petani itu."

"Kalau begitu, masih ada beberapa kemungkinan lain. Peta tulen itu bisa saja berada di tangan sastrawan yang menterjemahkan itu, yang menukarnya dengan yang palsu. Akan tetapi, sastrawan itu kabarnya sudah mati terbunuh, jadi tentu peta itu berada di tangan pembunuhnya." Berkata demikian, Kim Hong menanti dan memandang penuh perhatian.

"Tidak...! Tidak...!" Tiba-tiba saja Su Tong Hak berteriak saat melihat betapa Pat-pi Mo-ko menoleh dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong ganas. "Kami sudah memeriksa dengan teliti dan tidak menemukan apa-apa di rumahnya. Tanya saja kepada Hai-pa-cu Can Hoa kalau tidak percaya!"

"Sesungguhnyalah, kami berdua tidak menemukan apa-apa di sana." Kata Hai-pa-cu Can Hoa dengan suara tenang.

Tentu saja jawaban kedua orang ini langsung menjelaskan kepada Kim Hong dan juga kepada Kok Siang siapa orangnya yang membunuh Louw siucai. Bukan lain adalah Su Tong Hak yang mungkin menjadi penunjuk jalan, sedangkan yang melaksanakan adalah Hai-pa-cu Can Hoa! Akan tetapi Kok Siang sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa pun pada wajahnya yang masih memandang kepada Kim Hong dengan marah.

"Hemm, dalam urusan ini banyak orang tersangkut dan kita tidak tahu siapa yang palsu. Akan tetapi, kalau kita bekerja sama, aku pasti akan menemukan peta itu, Pat-pi Mo-ko! Aku berjanji akan menemukannya sekaligus menemukan orangnya yang bertindak curang kepadamu!"

Pat-pi Mo-ko tersenyum, "Bagaimana pun juga, engkau yang tadi masih menjadi musuh kami, mana mungkin dapat kupercaya kalau tidak ada bukti tentang kesetia kawananmu lebih dulu?"

"Engkau hendak mencoba? Cobalah!" kata Kim Hong.

"Memang kami harus menguji kesetiaanmu dulu. Malam ini juga, engkau harus membantu kami menundukkan saingan kita. Engkau sudah membunuh Liong-kut-pian Ban Lok. Nah, gerombolannya itulah saingan kita dan hampir saja mereka dapat merampas kunci emas dari kakek Ciang Gun. Liong-kut-pian Ban Lok masih memiliki seorang suheng yang jauh lebih lihai dari padanya, dan suheng-nya itulah yang kini memimpin gerombolan mereka untuk menyaingi kita. Siapa tahu, mereka sudah berhasil mendapatkan peta yang tulen! Maka, sebelum mereka bergerak mendapatkan kunci emasnya yang sudah ada padaku, kita harus mendahului mereka dan menghancurkan mereka. Membasmi musuh-musuh yang akan mendatangkan kerepotan harus sampai ke akar-akarnya. Nah, apakah engkau sanggup membantuku?"

"Baik, aku akan membantumu, Mo-ko. Akan tetapi kutu buku itu tak ada sangkut pautnya dengan urusan kita. Lebih baik tendang dia keluar saja!"

Pat-pi Mo-ko memandang tajam. "Apakah engkau tidak ingin melihat dia tersiksa atau pun terbunuh dan malah menghendaki dia bebas, nona?"

Kim Hong tersenyum mengejek. "Apa peduliku dengan dia? Kami bukan apa-apa, hanya secara kebetulan saja berkenalan!"

"Kalau begitu, biarlah sementara dia menjadi tahanan kita di sini hingga selesai urusan ini. Kalau sekarang dia dibiarkan bebas, tentu dia hanya akan mendatangkan kerepotan saja. Dia telah berani menentangku, karena itu dia harus dihukum!"

Pat-pi Mo-ko lalu memerintahkan anak buahnya untak menjaga baik-baik pemuda itu agar jangan sampai lolos, akan tetapi juga melarang pemuda itu diganggu atau dibunuh. Dan setelah itu, dia pun mengajak Kim Hong pergi meninggalkan Kok Siang.

Ketika Kim Hong melihat bahwa pasukan yang hendak dibawa oleh tokoh sesat itu sama sekali bukan anak buahnya atau orang-orang biasa, melainkan pasukan pemerintah, dia merasa heran sekali. Ditanyakannya hal ini kepada Bouw Kim Seng dan orang ini tertawa.

"Memang sebaiknya kita berlindung di balik pasukan pemerintah yang kebetulan hendak mengadakan pembersihan terhadap sarang-sarang penjahat, bukan? Ha-ha, nona Toan. Orang harus mempergunakan kecerdikan otak, bukan hanya mengandalkan kekuatan otot belaka."

"Di mana pedangku?"

"Jangan khawatir, pedangmu sudah dibawa dan sewaktu-waktu kau membutuhkan tentu akan kuserahkan kepadamu."

"Mo-ko, engkau masih tidak percaya kepadaku! Hemm, andai kata aku melanggar janjiku, sekarang pun aku dapat berbalik melawanmu, tidak perlu mempergunakan pedang!" kata Kim Hong mendongkol.

Kakek hitam itu tertawa. "Engkau tak akan menentangku, nona. Engkau terlampau cerdik untuk melakukan kebodohan itu. Pertama, engkau telah mengeluarkan janji membantuku. Ke dua, kalau engkau memberontak, engkau akan berhadapan langsung dengan aku dan pasukan pemerintah. Ke tiga, pemuda sastrawan itu juga akan kami bunuh lebih dulu. Ke empat, engkau tidak akan mendapatkan bagian harta karun Jenghis Khan. Ha-ha-ha-ha, tidak, engkau tidak sebodoh itu."

Kim Hong merasa lega. Setidaknya, dia merasa yakin bahwa untuk sementara waktu Kok Siang berada dalam keadaan aman. Ia tadi memang sengaja telah memperlihatkan sikap mengejek dan menghina pada Kok Siang yang lantas ditanggapi secara baik sekali oleh pemuda sastrawan yang cerdas itu. Mereka memperlihatkan sikap yang saling mengejek dan bermusuhan sehingga dengan demikian pemuda itu dijauhkan dari prasangka buruk. Kalau sampai diketahui atau terduga oleh Mo-ko bahwa peta aslinya berada pada tangan pemuda itu, tentu keselamatan Kok Siang takkan dapat dijamin lagi.

Untuk sementara ini, dia harus berpura-pura menurut dan bekerja sama dengan iblis ini. Kalau tidak, selain nyawa Kok Siang terancam, juga dia sendiri dapat terancam bahaya besar. Ia harus menyelamatkan Kok Siang dulu, baru dia akan meloloskan diri sendiri dan hal ini agaknya tidak akan mudah, harus menanti saat yang baik.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Penyerbuan ke sarang penjahat bekas pimpinan Liong-kut-pian Ban Lok berjalan dengan sangat lancar. Anak buah penjahat yang jumlahnya hanya kurang lebih dua puluh lima orang itu tidak sanggup mengadakan perlawanan yang berarti terhadap serbuan seratus orang pasukan keamanan. Mereka dirobohkan atau ditangkap dengan alasan melakukan kejahatan dan kekacauan di kota raja.

Tentu saja mereka melakukan perlawanan, namun segera mereka itu tertangkap semua karena kalah banyak. Hanya seorang saja yang masih terus mengamuk dan dia ini adalah Sin-siang-to Tang Kin.

Sesuai dengan julukannya, Sin-siang-to (Sepasang Golok Sakti) dengan gencar memutar sepasang goloknya sehingga tidak ada anggota pasukan yang mampu mendekatinya, apa lagi menangkapnya. Sepasang goloknya membentuk sinar bergulung-gulung yang sangat dahsyat dan setiap ada senjata prajurit yang mendekat, tentu terpental atau patah-patah.

Tiba-tiba saja Pat-pi Mo-ko berteriak menyuruh komandan pasukan menarik mundur para prajurit yang mengeroyok Sin-siang-to Tang Kin. Dia sendiri bersama Kim Hong kemudian menghampiri kepala gerombolan itu. Kim Hong memandang dengan penuh perhatian.

Kepala gerombolan itu adalah seorang kakek yang usianya sekitar lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus. Suheng dari mendiang Liong-kut-pian Ban Lok ini memang jauh lebih lihai dari pada sute-nya. Dari permainan sepasang golok tadi Kim Hong telah melihat betapa lihainya sepasang golok itu. Dia sendiri tadi membantu Mo-ko, dan dengan mudah merobohkan beberapa orang anak buah gerombolan musuh.

Sin-siang-to Tang Kin melintangkan sepasang goloknya di depan dada, lalu memandang kepada Pat-pi Mo-ko dan Kim Hong dengan kedua mata mendelik marah. Tadi dia sudah mendengar dari laporan para anak buahnya sebelum mereka itu ditangkap semua bahwa penyerbuan pasukan pemerintah ini dipimpin oleh Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng, tokoh jahat di kota raja yang seolah-olah menjadi raja di antara para penjahat, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri itu.

Dan dia pun mendengar bahwa wanita cantik yang membunuh sute-nya juga ikut datang bersama Pat-pi Mo-ko. Kini, biar pun dia belum pernah bertemu dengan mereka berdua, begitu berhadapan, dia tahu bahwa inilah dua orang itu.

"Hemm, sekarang nampak semua belangmu, Pat-pi Mo-ko!" katanya mengejek. "Kiranya engkau berlindung di bawah naungan pasukan pemerintah. Huh, tokoh kang-ouw macam apa engkau ini?"

Pat-pi Mo-ko hanya tertawa saja dan tidak menjadi marah. "Sin-siang-to, sudah lama aku mendengar namamu yang menggempartan di pantai timur dan baru karena kebetulan kita dapat saling bertemu di sini. Engkau melanjutkan gerakan sute-mu, memimpin anak buah mengacau di kota raja. Kalau kini pasukan kami datang membasmi gorombolanmu, hal itu sudah jamak dan jangan kau menyalahkan aku. Aku menentang sute-mu karena dia telah berani menyaingi aku. Sekarang semua anak buahnya telah diringkus. Kalau engkau mau membantuku dan bekerja untukku, biarlah aku ampuni engkau dan kita bekerja sama!"

"Lebih baik mampus! Siapa takut kepadamu?" bentak Sin-siang-to sambil mengelebatkan goloknya.

"Ha-ha, sudah kuduga bahwa engkau akan keras seperti itu, aku sengaja mengajak nona Toan ini untuk membunuhmu seperti yang telah dilakukannya terhadap sute-mu."

Kini Sin-siang-to Tang Kin menatap tajam kepada Kim Hong. Sambil menudingkan golok kanannya ke arah muka Kim Hong, dia lalu berkata, "Aku telah mendengar bahwa sute-ku tewas di tanganmu. Hal ini kuanggap lumrah karena memang sute-ku bermain api. Akan tetapi, sekarang ternyata bahwa engkau hanyalah kaki tangan Pat-pi Mo-ko, maka mari kita membuat perhitungan atas kematian sute!" Sesudah berkata demikian, Sin-siang-to lantas menerjang ke depan dan dua sinar berkelebat menyambar dari kanan kiri, ke arah leher dan pinggang Kim Hong.

Kim Hong dapat menduga orang macam apa adanya ahli golok ini. Seorang tokoh sesat juga, maka dia pun tidak ragu-ragu untuk menghadapinya. Menyingkirkan seorang seperti ini bukan hanya perlu untuk menumbuhkan kepercayaan Pat-pi Mo-ko kepadanya, akan tetapi juga berarti menyingkirkan sebuah sumber penyakit dari rakyat jelata.

Karena dia memperoleh kenyataan bahwa Pat-pi Mo-ko tidak juga memberikan sepasang pedangnya kepadanya, maka dia pun bergerak cepat mengelak dari dua serangan yang cukup berbahaya itu. Gerakannya memang gesit luar biasa, karena ginkang dari nona ini sudah mencapai tingkat yang amat tinggi sehingga Sin-siang-to Tang Kin terkejut bukan main ketika tiba-tiba melihat nona itu menghilang!

Akan tetapi dia dapat menangkap gerakan di sebelah belakangnya, maka dia cepat-cepat membalikkan tubuh dan kembali sepasang dari goloknya bersilang lantas berkelebat dari atas dan bawah! Memang hebat permainan golok pasangan dari kakek ini sehingga Kim Hong terpaksa harus menggunakan kecepatan gerakannya lagi untuk menghindarkan diri dari sambaran golok.

Terjadilah perkelahian yang nampak berat sebelah karena kakek itu selalu menghujankan serangan sedangkan Kim Hong hanya mengelak ke sana sini dengan sangat cepatnya. Hanya kadang-kadang saja gadis ini menyerang, yaitu kalau ada kesempatan membalas dengan tendangan atau pukulan tangannya. Akan tetapi kesempatan itu terlampau sedikit karena gerakan sepasang golok itu membentuk sinar bergulung-gulung yang amat cepat dan luas.

Di samping tinggi ilmu silatnya, Kim Hong adalah seorang wanita yang juga sangat cerdik. Sekarang dia sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan dan untuk dapat membebaskan Kok Siang. Dan untuk mendapatkan kepercayaan itu, sementara ini dia harus menyembunyikan kepandaiannya, agar iblis itu tidak merasa khawatir dan akan menganggapnya tidak berbahaya. Karena itu, dia harus melayani Sin-siang-to ini dengan sebisa mungkin menyembunyikan kepandaian aslinya, hanya memainkan ilmu-ilmu yang sederhana saja.

Akan tetapi, celakanya, Sin-siang-to Tang Kin bukanlah lawan sembarangan yang boleh dihadapi dengan ilmu yang rendah. Sepasang goloknya sedemikian lihainya sehingga Kim Hong harus mengerahkan ginkang-nya jika dia ingin selamat. Apa lagi untuk merobohkan kakek itu. Tentu ia harus menggunakan ilmunya yang tinggi.

Hal ini membuat Kim Hong kerepotan juga. Pada satu pihak dia ingin menyembunyikan kepandaiannya dari mata Mo-ko yang dia tahu membiarkan dia menghadapi Sin-siang-to untuk mencobanya, mencoba kepandaiannya dan mencoba kesetiaannya. Namun, di lain pihak dia harus mengerahkan kepandaian untuk dapat mengimbangi kelihaian lawan ini. Maka dia menjadi serba salah dan ragu-ragu sehingga terdesak hebat!

Pat-pi Mo-ko melihat perkelahian itu dengan penuh perhatian. Dia membiarkan gadis itu terdesak sampai puluhan jurus, tetapi diam-diam dia mengagumi ginkang yang hebat dari gadis itu, mengaku bahwa dia sendiri pun tak akan dapat menandingi gadis itu jika harus bertanding dalam hal ginkang. Dari gerakan-gerakannya saja dia dapat menduga bahwa jika gadis itu memperoleh kembali sepasang pedangnya, tentu akan mampu menandingi Sin-siang-to walau pun belum tentu akan dapat menang. Ilmu sepasang golok dari Tang Kin memang istimewa dan lihai sekali.

"Tahan...!" Bentaknya dan nampak dua gulungan sinar hitam ketika kakek tinggi besar ini menerjang ke depan. "Sin-siang-to, perlihatkan kepandaianmu kepadaku!" dan sepasang pedang bersinar hitam di tangan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng telah bergerak menyerang dengan gerakan dahsyat sekali.

Kim Hong yang sudah meloncat ke belakang itu terkejut dan mendongkol. Ternyata yang dipergunakan oleh Pat-pi Mo-ko adalah sepasang pedang Hok-mo Siang-kiam, sepasang pedangnya yang dirampas ketika dia pingsan. Akan tetapi dia segera dapat mengusir rasa gemas ini dan diam-diam dia memperhatikan permainan pedang itu.

Kiranya iblis ini pun merupakan seorang ahli ilmu silat pedang pasangan! Dan dia segera mendapat kenyataan betapa ganas dan dahsyatnya sepasang pedangnya itu pada waktu dimainkan oleh Pat-pi Mo-ko. Benar-benar merupakan seorang lawan yang amat tangguh, yang harus dihadapi dengan amat hati-hati. Agaknya tingkat kepandaian kakek iblis hitam ini tak berada di bawah tingkat para datuk kaum sesat yang pernah dilawannya beberapa tahun yang lalu!

Agaknya memang Pat-pi Mo-ko sengaja hendak memamerkan kepandaiannya. Dia lantas mengeluarkan jurus-jurus terampuh dan menekan sepasang golok di tangan Sin-siang-to yang berusaha keras untuk menandingi sepasang pedang hitam itu. Akan tetapi semua hasilnya sia-sia belaka. Sinar goloknya menjadi semakin sempit terhimpit.

Dan belum ada tiga puluh jurus semenjak ia melayani terjangan Pat-pi Mo-ko, tiba-tiba dia menjerit lantas tubuhnya terjengkang, sepasang goloknya terlepas dan ada darah mancur dari tenggorokannya! Tubuh Sin-siang-to berkelojotan bagai ayam yang disembelih sebab lehernya memang telah tertembus pedang hingga dia mirip seekor ayam yang disembelih.

Kini dengan tersenyum Pat-pi Mo-ko mengembalikan sepasang pedang hitam itu kepada pemiliknya sambil meloloskan sarung pedang itu yang tadinya dia sembunyikan di bawah jubahnya. Tanpa bicara Kim Hong menerima pedang itu dan menyarungkannya kembali, memasangnya di pinggang. Pat-pi Mo-ko mengeluarkan sepasang pedang lain, yang putih seperti perak dan berkata,

"Pedang hitammu amat hebat, nona. Akan tetapi jika tadi aku mempergunakan sepasang pek-kong siang-kiam (Sepasang Pedang Sinar Putih) milikku ini, aku pasti akan sanggup merobohkan dia dalam waktu yang jauh lebih singkat."

Kim Hong menjura dan berkata, "Ilmu pedangmu sungguh hebat, Pat-pi Mo-ko."

Iblis hitam tinggi besar itu tertawa dan menjawab untuk merendahkan diri akan tetapi ada kebanggaan terkandung dalam suaranya, "Ah, ilmu silatmu juga luar biasa, nona. Engkau memang patut sekali menjadi pembantuku yang terutama!"

"Jadi aku sudah lulus ujian?" tanya Kim Hong tersenyum.

"Belum, masih ada satu lagi ujian."

"Hemm, apa itu?"

"Mari kita pulang dan engkau akan tahu."

Kakek itu segera mengajaknya untuk melakukan penggeledahan bersama pasukan. Akan tetapi ternyata di sarang gerombolan itu mereka tidak menemukan apa yang dicari oleh Pat-pi Mo-ko, yaitu peta harta karun atau tanda-tanda tentang peta itu.

Pat-pi Mo-ko memang tidak terlalu mengharapkan akan menemukan apa yang dicarinya di situ. Dia sudah merasa puas telah dapat membasmi saingan yang dianggapnya hanya mendatangkan kesulitan saja baginya itu dan dia pun mengajak Kim Hong untuk kembali ke rumah Phang-taijin.

Di kompleks perumahan pembesar Phang, jaksa kota raja ini, Pat-pi Mo-ko memperoleh kebebasan dan menempati bagian belakang di mana selain dipergunakan untuk kantor dan tempat tahanan, juga terpasang banyak kamar-kamar rahasia. Karena mereka tiba di gedung itu sudah malam, Bouw Kim Seng mempersilakan Kim Hong untuk beristirahat.

Gadis itu memperoleh sebuah kamar tidur di bagian tengah dan Kim Hong maklum bahwa semua gerak geriknya diawasi dan juga tempatnya mengaso itu pun dijaga ketat sehingga tidak mungkin dia dapat meninggalkan kamar tanpa diketahui orang. Akan tetapi, gadis ini memang tidak berniat untuk meloloskan diri sebelum dia dapat membebaskan Kok Siang. Ia tidak tahu di mana pemuda itu ditahan, maka dia pun bersabar menanti sampai besok karena tubuhnya juga terasa lelah dan dia perlu beristirahat mengumpulkan tenaga.

Satu-satunya hal yang menggelisahkan hatinya adalah Thian Sin. Apa yang telah terjadi dengan kekasihnya itu dan bagaimana kunci emas palsu itu sampai dapat jatuh ke tangan Pat-pi Mo-ko? Ia tidak berani bertanya dengan terus terang kepada penjahat itu, khawatir kalau-kalau menimbulkan kecurigaan dan hal itu bahkan akan menambah kewaspadaan pihak lawan saja.

Pada sore hari berikutnya, barulah Pat-pi Mo-ko mengatakan apa adanya ujian ke dua itu. Kim Hong dibawa ke sebuah ruangan yang luas, ruangan yang agaknya menjadi tempat berlatih silat atau mungkin menjadi tempat penyiksaan di kompleks perumahan kejaksaan bagian penjara itu. Sebuah ruangan yang tertutup oleh jendela-jendela besi baja dan pintu baja pula, yang terjaga ketat oleh pasukan penjaga dan para pembantu iblis itu.

Kim Hong melihat Kok Siang duduk di atas bangku besi dengan kaki dirantai! Pemuda itu agak pucat, akan tetapi tersenyum mengejek pda saat melihatnya masuk bersama Pat-pi Mo-ko. Di dalam ruangan itu sudah hadir para pembantu iblis itu, yaitu keempat Siang-to Ngo-houw, Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko dan tidak ketinggalan terdapat pula Su Tong Hak yang wajahnya agak pucat dan sikapnya tidak segembira ketika Kim Hong melihatnya kemarin.

"Nona Toan," kata Pat-pi Mo-ko kepada Kim Hong yang sedang menduga-duga apa yang harus dilakukannya kali ini. "Engkau tahu sendiri bahwa Bu Kok Siang itu adalah seorang jagoan dari Thian-cin dan dia sudah berani menentangku. Lebih dari itu, dia juga berani menghina engkau yang membantuku, berarti dia sudah menghinaku juga. Untuk itu saja dia sudah pantas kubunuh! Akan tetapi, mengingat bahwa engkau yang paling dihinanya dengan makian-makiannya, maka aku serahkan dia padamu. Kalau dia bisa mengalahkan engkau, biarlah dia boleh pergi dengan bebas. Sebaliknya, tentu saja aku percaya penuh bahwa engkau akan dapat merobohkannya dan biar pun tidak sampai membunuhnya, tapi setidaknya dapat memberi hajaran yang layak kepadanya."

Tentu saja Kim Hong merasa kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa dia akan diadu dengan Kok Siang! Dan kemarin dia bersama Kok Siang sudah terlanjur memperlihatkan sikap bermusuhan, maka alasan untuk menolak tidak ada sama sekali. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menolak tidak mungkin, dan tentu akan menimbulkan kecurigaan dan hal itu dapat membahayakan dia dan juga Kok Siang. Sementara itu, diam-diam Kok Siang juga terkejut.

Pat-pi Mo-ko memberi isyarat kepada Siang-to Ngo-houw yang tinggal empat orang itu dan mereka segera membuka belenggu pada kaki Kok Siang, kemudian bersama Pat-pi Mo-ko, mereka semua itu cepat meninggalkan ruangan itu yang pintunya segera ditutup dari luar. Mereka semua menonton dari luar, seperti nonton adu ayam atau lebih tepat lagi mengadu dua ekor singa berbahaya sehingga para penonton berdiri di luar kerangkeng.

Memang tadinya Kim Hong bermaksud hendak mengajak Kok Siang untuk memberontak dan bersama-sama menerjang begitu kakinya dibebaskan. Akan tetapi, pemuda itu tidak memberi reaksi apa-apa sehingga dia pun mengeluh.

Kalau Thian Sin yang menjadi Kok Siang pada saat itu, dengan pandang mata saja dia dapat memberi isyarat sambil menerima isyarat pula. Akan tetapi Kok Siang agaknya tidak mengerti akan isyarat pandang matanya dan pemuda itu tentu akan terlambat kalau harus diteriakinya lebih dahulu. Jika sampai pemuda itu dirobohkan lebih dulu oleh mereka dan tertawan kembali, apa artinya dia memberontak?

Saat yang baik belum tiba, maka Kim Hong hanya dapat memandang dengan menyesal ketika melihat Pat-pi Mo-ko beserta para pembantunya keluar dari ruangan itu dan berdiri di luar pintu, menonton dari balik jeruji pintu dan jendela. Terpaksa dia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Kok Siang.

Karena ia berdiri membelakangi mereka, ia berani mengedipkan mata kepada Kok Siang, tanda bahwa ia mengajak pemuda itu agar bersandiwara. Kok Siang tidak memperlihatkan tanda bahwa dia mengerti, tetapi dia malah tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, pendekar wanita yang berubah menjadi penjahat wanita kaki tangan para iblis jahat kini datang hendak membunuh bekas teman sendiri! Bagus, majulah. Aku memang ingin memberi beberapa kali tamparan padamu. Kim Hong!"

"Kok Siang manusia sombong! Siapa takut kepadamu? Lihat, aku akan menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja!"

Dengan sikap memandang rendah Kim Hong segera melepaskan sarung pedangnya dan melempar sarung berikut sepasang pedang hitamnya itu ke atas lantai, di sebelah dalam, jauh dari pintu dan jendela. Sesudah membuat gerakan ini, tanpa menanti reaksi dari Kok Siang yang tidak mengerti maksudnya, dia telah menerjang ke depan dan menyerang Kok Siang dengan pukulan cepat dan dahsyat.

"Hemm...!" Kok Siang cepat mengelak.

Kim Hong menyerang terus bertubi-tubi, sengaja mendesak pemuda itu hingga Kok Siang terus berloncatan mundur menjauhi pintu. Agaknya pemuda ini pun cerdik untuk melihat keinginan Kim Hong mendesaknya agar mereka dapat menjauhi mereka dan pada waktu Kim Hong menyerang dengan tubuh membelakangi mereka, gadis itu lalu berbisik lembut sekali sambil mengerahkan sinkang sehingga gerakan kedua tangannya mendatangkan suara bersuitan menutupi suara bisikannya.

"Aku mengalah, kau robohkan dengan totokan..."

Tentu saja Kok Siang terkejut mendengar ini. Dia mengalahkan Toan Kim Hong? Tentu saja kalau hanya bersandiwara bisa saja dia menang, akan tetapi apa maksudnya? Apa baiknya kalau dia menang dan dapat menotok roboh gadis ini?

"Kita siap memberontak...," Kim Hong menambahkan. "Totok kin-ceng-hiat..."

Kim Hong kembali mendesak dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi karena tahu betapa bahayanya hal itu. Orang selihai Mo-ko pasti akan dapat melihatnya atau menduganya, dan para pembantu iblis itu pun bukan orang lemah. Akan tetapi ia merasa girang melihat pemuda itu akhirnya mengangguk ketika mengelak, tanda bahwa pemuda itu kini sudah maklum akan siasatnya.

Kim Hong memang sengaja memainkan ilmu silat Hok-mo-kun (Ilmu Silat Penakluk Iblis) untuk mendesak Kok Siang. Pemuda ini kagum bukan main dan dia pun berusaha untuk menahan serangan-serangan itu dengan seluruh kepandaiannya, akan tetapi sia-sia saja karena tingkatnya memang kalah jauh. Ia terdesak terus dan dua kali dia terpelanting oleh sapuan kaki serta dorongan tangan kiri Kim Hong.

Terdengar suara memuji girang dari luar pintu pada saat pemuda itu dua kali terpelanting. Memang hal ini disengaja oleh Kim Hong sehingga saat Kok Siang mengambil sepasang senjata Siang-koan-pit yang memang sudah dikembalikan kepadanya dan diletakkan di dekat dia duduk tadi, maka hal ini sudahlah sewajarnya.

Kini Kok Siang mainkan senjatanya itu dengan dahsyat. Memang hebat sekali kim-pit dan gin-pit itu, dua batang alat tulis dari emas dan perak. Nampak gulungan cahaya emas dan perak saling kejar dan bersilang-silang menyilaukan mata. Dua cahaya itu semakin ganas saja dan kini Kim Hong nampak terdesak!

Mereka yang menonton di luar memandang dengan penuh perhatian. Beberapa kali Pat-pi Mo-ko mengerutkan alisnya yang tebal sambil menggeleng kepala, seakan-akan merasa kecewa bahwa jagonya terdesak.

Sesungguhnya dia sedang merasa keheranan sekali. Dia pernah menyaksikan gadis itu ketika melawan Sin-siang-to Tang Kin dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian gadis itu tidak berada sebelah bawah tingkat Sin-siang-to. Padahal pemuda sastrawan itu, melihat gerakan-gerakannya, tidak mungkin lebih lihai dari pada Sin-siang-to. Apakah pemuda itu mempunyai kepandaian simpanan yang kedahsyatannya tak nampak oleh mata? Apakah di dalam gerakan sepasang pit itu terkandung suatu kekuatan yang amat hehat?

"Nona Toan, cepat kau pergunakan pedangmu!" Bouw Kim Seng berteriak ketika melihat betapa hampir saja pelipis kanan nona itu terkena sambaran pit emas yang mematuk dari atas seperti paruh seekor rajawali. Sungguh berbahaya sekali serangan-serangan kedua pit itu.

Akan tetapi Kim Hong tidak mau mengambil sepasang pedangnya, biar pun dia semakin terdesak dengan hebatnya.

"Nona, pergunakan pedangmu! Apa engkau sengaja hendak membiarkan dirimu kalah?" Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng kini berteriak nyaring.

Sekali ini agaknya Kim Hong menurut karena dia sudah mengirim pukulan yang dahsyat, membuat lawannya terpaksa mundur sehingga kesempatan ini digunakan oleh Kim Hong untuk meloncat ke arah sepasang pedangnya. Akan tetapi karena letak pedang itu agak di belakang Kok Siang, terpaksa loncatannya itu pun lewat dekat pemuda itu dan pada saat itu, secepat kilat pemuda itu mengirim serangan yang tiba-tiba.

Kim Hong masih berusaha untuk menggulingkan tubuhnya yang sedang meloncat, akan tetapi sebuah totokan yang cepat sekali tepat mengenai pundak kirinya dan jalan darah kin-ceng-hiat telah tertotok. Terdengar gadis itu mengeluh lantas tubuhnya terguling roboh dan lemas tak mampu bergerak pula!

Mereka yang nonton di luar memandang dengan mata terbelalak. Pat-pi Mo-ko kemudian berkata kepada ke empat Siang-to Ngo-houw, "Tangkap bocah itu!"

Empat orang bekas tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang ini segera memasuki ruangan itu setelah daun pintunya dibuka. Begitu mereka masuk, daun pintu ruangan itu ditutup kembali dari luar. Dengan dua tangan masih memegang sepasang senjata pit, Kok Siang menghadapi empat orang itu.

Empat orang itu masih merasa sakit hati karena salah seorang saudara mereka tewas. Biar pun tewasnya itu di tangan Mo-ko sendiri, akan tetapi yang menjadi sebabnya adalah Kim Hong. Gadis inilah yang merobohkan saudara mereka itu, kemudian Mo-ko terpaksa membunuhnya agar dia tidak sampai membocorkan rahasia.

Kini, begitu menerima perintah untuk menangkap Kok Siang, mereka maju dengan penuh semangat. Begitu menerjang, mereka berempat telah mainkan ilmu andalan mereka, yaitu Ngo-lian to-hoat (Ilmu Golok Lima Teratai).

Tingkat kepandaian empat orang pengeroyok ini rata-rata hanya sedikit di bawah tingkat Bu Kok Sing. Andai kata mereka maju satu demi satu, tentu saja Kok Siang akan dapat mengalahkan mereka semua. Akan tetapi karena kini mereka maju bersama, dan dengan kerja sama yang amat baik, tentu saja mereka itu merupakan lawan yang terlampau berat bagi Kok Siang.

Sebentar saja Kok Siang telah terdesak hebat dan hanya bisa melindungi dirinya dengan putaran kedua senjatanya yang terlampau kecil dan pendek, juga terlampau ringan untuk menghadapi pengeroyokan delapan buah golok itu. Agaknya, keempat anggota Siang-to Ngo-houw itu bernafsu sekali untuk merobohkan Kok Siang, kalau perlu dengan melukai berat atau membunuh sekali pun.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Kim Hong yang tadinya menggeletak di atas tanah itu mencelat ke atas lantas sekali bergerak, dia sudah menyambar sepasang pedangnya hingga nampaklah sinar hitam berkelebatan dan dua orang di antara Siang-to Ngo-houw roboh mandi darah dan tewas seketika karena dada mereka sudah tertembus pedang!

Kok Siang yang sudah tahu atau telah dapat menduga akan hal ini menjadi bersemangat, kemudian sepasang pitnya juga bergerak cepat merobohkan seorang pengeroyok. Tinggal seorang lagi yang tidak dapat menahan serangan berikutnya dari Kim Hong. Robohlah dia dan empat orang itu kini menggeletak dan tewas!

Tentu saja semua orang yang berada di luar ruangan itu terkejut, kecuali Pat-pi Mo-ko yang agaknya memang sudah setengah menduga tentang hal ini. Karena itulah maka tadi dia sengaja hanya menyuruh empat orang Siang-to Ngo-houw saja untuk menangkap Kok Siang, membiarkan mereka lalu menutupkan kembali pintu ruangan.

Ia telah mengorbankan empat orang pembantunya itu untuk membuka rahasia Kim Hong. Dan hal ini bukan tanpa sebab. Mo-ko sadar bahwa setelah dia membunuh salah seorang di antara Siang-to Ngo-houw, membunuh secara terpaksa untuk menutup mulutnya, tentu empat orang yang lain diam-diam merasa menyesal dan tidak suka kepadanya. Maka, dia lalu mengorbankan empat orang itu dan sekaligus dia pun berhasil membuka rahasia Kim Hong yang tadi berpura-pura roboh oleh Kok Siang!

Kekalahan Kim Hong oleh Kok Siang itu tidak dapat diterima begitu saja oleh kakek iblis yang amat cerdik ini, maka dia tidak mau bersikap lengah. Dan melihat betapa Kok Siang memperoleh kemenangan itu, biar pun ada kemungkinan kecil bahwa memang Kim Hong yang lengah sehingga roboh tertotok, Mo-ko lalu menyuruh empat orang pembantunya itu untuk mengeroyoknya.

Apa bila Kim Hong tidak berpura-pura, berarti memang Kok Siang merupakan lawan yang tangguh dan perlu dilenyapkan seketika. Sedangkan kalau Kim Hong berpura-pura, tentu gadis sakti itu akan turun tangan dan tidak membiarkan Kok Siang celaka dan jika hal ini terjadi, paling-paling dia hanya akan kehilangan empat orang pembantunya yang sudah tidak dipercayanya lagi itu karena dugaan bahwa mereka mendendam kepadanya akibat kematian seorang saudara mereka. Dengan demikian dapatlah diketahui betapa licik serta matangnya siasat Mo-ko yang sudah memperhitungkan dengan cermat mengenai segala tindakannya.

Memang benar kecurigaannya itu terhadap Kim Hong. Gadis ini memang bersandiwara, dibantu oleh Kok Siang yang dapat menangkap keinginan gadis yang luar biasa ini. Ketika melihat kesempatan terbuka, Kok Siang menotok jalan darah di pundak gadis itu seperti yang dimintanya tadi.

Dia tahu bahwa totokannya itu cukup hebat dan akan membuat lawan pingsan dan lemas tanpa mampu bergerak sampai sedikitnya setengah jam. Akan tetapi dia pun sudah dapat menduga bahwa kalau Kim Hong menyuruh dia menotok jalan darah itu, tentu gadis yang lihai itu sudah mempunyai akal untuk menahan totokan ini.

Akan tetapi, sungguh sama sekali di luar perhitungan Kim Hong bahwa Mo-ko tidak maju sendiri memasuki ruangan itu, bahkan menyuruh empat orang Siang-to Ngo-houw yang masuk lantas pintu ruangan itu ditutup kembali. Tidak disangkanya bahwa Mo-ko secerdik itu.

Tadinya Kim Hong ingin melanjutkan sandiwaranya dan terus pura-pura pingsan, menanti hingga terbuka kesempatan agar bisa meloloskan diri dari situ bersama-sama Kok Siang. Akan tetapi, ternyata Kok Siang tidak mampu menandingi keempat orang pengeroyoknya dan melihat bahaya mengancam diri Kok Siang, tentu saja Kim Hong tidak dapat tinggal diam saja membiarkan pemuda itu tewas dalam pengeroyokan. Maka secara terpaksa ia pun menghentikan permainan sandiwaranya, lantas meloncat sambil menyambar Hok-mo Siang-kiam dan segera merobohkan tiga di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang seorang lagi dirobohkan oleh Kok Siang.

"Bu-twako, mari serbu keluar!" Kim Hong berteriak sesudah mereka berhasil merobohkan empat orang lawan itu.

Akan tetapi terlambat sudah. Dari luar, Mo-ko sudah menggerakkan alat rahasia dan itu pula menunjukkan betapa cerdiknya penjahat besar ini. Dia memang sudah sejak pertama kalinya mengatur sehingga peristiwa diadunya Kok Siang dengan Kim Hong itu terjadi di dalam sebuah ruangan yang mengandung alat rahasia jebakan berbahaya!

Pada waktu Kim Hong dan Kok Siang hendak menyerbu ke pintu yang sudah tertutup itu, tiba-tiba saja terdengar angin menyambar dari empat penjuru lalu anak-anak panah yang banyak sekali jumlahnya menyambar-nyambar ke arah mereka. Tentu saja Kim Hong dan Kok Siang cepat menggunakan senjata mereka untuk melindungi tubuh.

Akan tetapi, mendadak lantai yang mereka injak itu bergeser dengan cepatnya, terpisah menjadi dua dan dengan cepat tertarik ke kanan kiri memasuki dinding ruangan. Tentu saja tubuh kedua orang itu langsung terjatuh ke bawah!

Kiranya, penyerangan anak panah yang banyak tadi pun hanya merupakan siasat untuk mengalihkan perhatian mereka yang terjebak sehingga pada saat lantai bergeser, mereka kurang perhatian dan baru sadar setelah semuanya terlambat. Betapa pun pandainya Kim Hong, sekali ini dia pun tidak berdaya dan bersama dengan Kok Siang, tubuhnya terjatuh ke bawah.

"Byuurrr...! Byuuurrrr...!" Dan mereka berdua terjatuh ke dalam air yang dingin dan dalam!

"Mo-ko...! Peta asli itu berada pada kami...!"

Itulah suara Kok Siang yang kemudian ditelan oleh suara air karena ternyata pemuda ini tidak pandai renang. Kim Hong dapat renang walau pun tidak begitu pandai, maka ketika dalam kegelapan itu dia berusaha menolong Kok Siang, pemuda ini dalam kepanikannya memeluknya sehingga keduanya tak dapat dihindarkan lagi tenggelam ke dalam air yang dalam itu!

********************

Ketika Thian Sin mendengar berita dari In Bwee tentang tertawannya Kim Hong dan Kok Siang oleh Pat-pi Mo-ko yang mempergunakan pasukan pemerintah dan agaknya dibantu oleh Jaksa Phang, diam-diam dia merasa tekejut bukan main. Kalau sampai Pat-pi Mo-ko mampu menjebak dan menawan Kim Hong dan Kok Siang, hal itu berarti bahwa Pat-pi Mo-ko merupakan lawan yang jauh lebih tangguh dan berbahaya dari pada yang dikiranya semula. Apa lagi sesudah dia tahu bahwa kepala penjahat itu bersekongkol dan dibantu oleh jaksa yang memimpin pasukan penjaga keamanan yang kuat! Sungguh merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan.

Dia pun cepat menghilang ke dalam kegelapan malam dan sebentar saja dia telah berada di halaman sebelah belakang kompleks gedung Phang-taijin. Kumpulan gedung besar itu merupakan tempat tinggal, juga kantor dan tempat-tempat tahanan. Meski pun tidak jelas benar, dia sudah memperoleh gambaran tentang kompleks perumahan jaksa ini.

In Bwee sendiri tidak hafal dan tidak mengenal betul tempat ini, akan tetapi mengetahui di mana kekasihnya itu ditawan, maka keterangan ini sudah cukup bagi Thian Sin. Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja baginya untuk menyelidiki. Demikianlah pikirnya.

Akan tetapi ketika sampai di tempat itu, diam-diam dia terkejut. Tempat itu dijaga dengan ketat sekali! Bahkan di atas genteng-genteng juga ditaruh para penjaga sehingga seekor kucing sekali pun yang memasuki kompleks itu tentu akan ketahuan oleh para penjaga!

Thian Sin maklum bahwa kalau sampai dia sendiri gagal kemudian tertawan, maka akan habislah riwayat mereka berdua! Dia harus berlaku hati-hati sekali. Ketika dia melihat ada sebuah kereta memasuki halaman depan dan ternyata yang keluar dari kereta itu adalah Su Tong Hak, dia memperoleh akal yang baik sekali. Kiranya Su Tong Hak, paman dari petani Ciang Kim Su, adalah seorang yang curang dan sudah mengkhianati keluarganya sendiri.

Kehadiran Su Tong Hak di sana menjelaskan banyak hal baginya. Tentu pencurian peta dan lenyapnya Ciang Kim Su, merupakan akibat dari pada persekongkolan pedagang itu dengan Pat-pi Mo-ko! Karena ini tahulah dia bahwa dari orang ini dia dapat memperoleh banyak keterangan.

Maka sebelum orang itu memasuki pintu gerbang, dengan kecepatan kilat dia menyelinap lantas dengan gerakan kilat, dia sudah dapat menyambar tubuh pedagang itu yang tidak sempat berteriak karena urat gagunya telah dicengkeram oleh Thian Sin. Pendekar Sadis ini membawanya agak menjauh, ke tempat gelap dan membawanya loncat ke atas pohon yang tinggi.

Tentu saja Su Tong Hak terkejut setengah mati, apa lagi ketika dia dapat melihat wajah orang yang menangkapnya itu, yang dikenalnya sebagai pemuda yang diutus oleh kakak iparnya, Ciang Gun, dan yang sudah didengarnya dari Pat-pi Mo-ko sebagai Pendekar Sadis! Tubuhnya menggigil dan dia hampir pingsan saking takutnya, apa lagi ketika dia dibawa ke atas pohon yang tinggi itu. Akan tetapi, di dalam pikiran pedagang yang cerdik ini, di samping rasa takutnya, muncul pula sebuah harapan baru.

Dalam beberapa hari terakhir ini dia selalu gelisah, makan tak enak dan tidur pun tidak nyenyak, memikirkan perubahan sikap Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng terhadap dirinya. Dia bahkan mempunyai perasaan yang amat mengerikan, yaitu bahwa kalau semua ini telah selesai, bukan saja dia tidak akan diberi apa-apa oleh penjahat itu, bahkan mungkin untuk menutup rahasia, dia akan dibunuh, seperti yang telah dilakukan terhadap Louw siucai!

Kini, melihat munculnya Pendekar Sadis, satu-satunya lawan yang tangguh dan agaknya ditakuti oleh Mo-ko, timbul pikiran yang amat baik. Mengapa dia tidak bekerja sama dan berlindung kepada yang kuat? Yang penting adalah menyelamatkan diri, dan tentu saja mendapatkan harta karun Jenghis Khan itu.

"Su Tong Hak, ternyata engkau adalah komplotan Pat-pi Mo-ko. Nah, sekarang engkau harus menjelaskan segala-galanya kalau tak ingin kucekik mampus dan kulemparkan dari atas pohon ini!" Thian Sin mengancam dengan suara mendesis.

"Taihiap... ampunkan saya, kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini. Kita dapat saling membantu, taihiap. Jangan mengira bahwa saya komplotan mereka, bahkan nyawa saya juga sedang terancam..."

"Huh, siapa yang percaya omonganmu? Jangan mencoba untuk membujuk atau menipu, karena sebelum kubasmi mereka, engkau akan kubunuh lebih dahulu dengan penyiksaan yang akan membuat engkau menyesal telah dilahirkan di dunia ini."

"Taihiap... sungguh, percayalah padaku. Memang tadinya aku adalah sekutu Mo-ko. Akan tetapi sekarang dia telah berubah, dia tentu akan menguasai seluruh harta dan kemudian membunuhku. Taihiap, aku tahu bahwa pendekar wanita sahabatmu itu sudah tertawan. Marilah kita bekerja sama. Aku akan membantumu agar engkau dapat menolong sahabat-sahabatmu itu. Dan sebagai gantinya..."

"Sebagai gantinya apa? Orang she Su, ingat, kini engkaulah yang menjadi tawananku dan kalau aku menghendaki, sekali lempar engkau akan jatuh dan remuk. Bukan engkau yang mengajukan syarat, melainkan aku!"

"Ampun... ah, tentu saja, taihiap... akan tetapi, saya hanya minta agar dilindungi terhadap ancaman mereka itu. Saya mau membantumu dan... dan memperoleh bagian atas harta pusaka itu..."

Kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin sekali Thian Sin melemparkan pedagang yang loba ini ke bawah. Akan tetapi, dia membutuhkannya, maka segera ditekannya perasaan muak dan marahnya.

"Nah, baiklah. Aku hendak menolong mereka yang tertawan. Bagaimana caranya engkau dapat menyelundupkan aku ke dalam?"

"Dengan menyamar sebagai prajurit penjaga atau sebagai pengawalku," jawab pedagang yang cukup cerdik itu.

Akhirnya, dengan sedikit penyamaran pada wajahnya, Thian Sin pun berhasil memasuki kompleks kejaksaan itu bersama dengan Su Tong Hak dan setelah mendapat keterangan lengkap dari pedagang itu tentang keadaan di dalam, juga tentang jalan-jalan rahasianya, Thian Sin lalu membekuk seorang penjaga, menelikungnya dan menyumbat mulutnya lalu menyembunyikannya di tempat gelap, kemudian melucuti pakaiannya. Dia lalu menyamar sebagai seorang prajurit dan dengan mudahnya dia lalu menggunakan pengetahuannya tentang keadaan di tempat itu untuk melakukan penyelidikan ke dalam.

Ketika Thian Sin berhasil mencampurkan diri dengan para penjaga di tempat gelap dan ikut mengurung ruangan tahanan di mana kekasihnya ditawan, kedatangannya tepat pada saat Kim Hong berkelahi dengan Kok Siang. Tentu saja dia terkejut sekali melihat mereka itu saling serang sendiri.

Akan tetapi, begitu dia melihat para penjahat di luar pintu dan jendela berjeruji sebagai penonton, serta melihat gerakan-gerakan kekasihnya yang membuat dia maklum bahwa Kim Hong sengaja mengalah terhadap Kok Siang, maka tahulah pendekar yang cerdik ini bahwa dua orang itu sengaja diadu oleh pihak penjahat dengah maksud menguji.

Tadi dia sudah mendapat keterangan dari Su Tong Hak bahwa Kim Hong telah menyerah dan takluk, bahkan telah membantu Pat-pi Mo-ko untuk membasmi Sin-siang-to Tang Kin dan para anak buahnya yang menjadi saingan. Mendengar ini, pendekar itu tidak merasa heran dan dapat menduga bahwa tentu di balik penyerahan diri dari kekasihnya ini ada suatu pamrih yang merupakan siasat tertentu. Entah karena terpaksa atau tentu ada hal lain. Dan kini, melihat betapa kekasihnya mengalah terhadap Kok Siang, maka dia pun dapat menduga bahwa mereka berdua itu tentu sedang bersandiwara.

Tentu saja kedua tangannya telah gatal-gatal untuk menyerbu para tokoh penjahat ini dan monolong mereka berdua yang diadu seperti binatang. Akan tetapi dia pun cukup cerdik untuk melihat kenyataan bahwa kalau dia menyerbu, keadaan dua orang kawannya itu malah terancam bahaya. Selain para tokoh sesat yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama Pat-pi Mo-ko, juga tempat itu dikurung oleh pasukan pemerintah dan anak buah penjahat. Maka dia pun hanya ikut menonton dan mencari kesempatan.

Dia tahu bahwa kalau Kim Hong dan Kok Siang masih ditahan, bahkan diadu, tentu ada maksud-maksud tertentu dari Pat-pi Mo-ko. Kalau kedua orang itu tidak dibutuhkan, tentu sudah dibunuh oleh pihak penjahat. Keyakinan akan hal ini membuat Thian Sin bersabar menanti, walau pun hatinya terasa tegang dan khawatir sekali.

Ketika dia melihat Kim Hong roboh tertotok oleh pit di tangan Kok Siang, Thian Sin lantas mengepal tinju. Dia maklum bahwa Kim Hong mempunyai ilmu memindahkan jalan darah sehingga totokan yang tampaknya tepat sekali itu tentu dapat diterimanya tanpa membuat tubuhnya menjadi lemas atau lumpuh. Karena itu dia tahu jelas bahwa semua itu hanya merupakan gerakan pura-pura belaka.

Bagi orang lain mungkin akan tertipu, akan tetapi mungkinkah seorang tokoh jahat seperti Pat-pi Mo-ko dapat ditipu sedemikian mudahnya? Dan permainan apakah yang sedang dimainkan oleh Kim Hong dan Kok Siang? Dia tidak berani lancang turun tangan, khawatir kalau-kalau nantinya malah akan mengacaukan rencana kedua orang itu yang agaknya sudah diatur lebih dulu dan dilaksanakan dengan baiknya.

Pada waktu kakek tinggi besar muka hitam itu memerintahkan empat orang sisa Siang-to Ngo-houw supaya menangkap Kok Siang, kemudian melihat mereka memasuki ruangan lantas pintunya ditutupkan kembali, Thian Sin mengerutkan alisnya. Kalau perhitungannya tidak keliru, agaknya kekasihnya itu merencanakan pemberontakan bersama Kok Siang, dengan pura-pura berkelahi sungguh-sungguh dan membiarkan dia kelihatan kalah.

Akan tetapi dia merasa sangsi apakah akal itu akan berhasil ketika melihat betapa empat orang Siang-to Ngo-houw saja yang disuruh masuk dan pintu besi itu ditutup kembali. Dia melihat kebenaran dugaannya ketika Kim Hong bangkit dari keadaan tertotok tadi lantas bersama dengan Kok Siang merobohkan empat orang lawannya.

Thian Sin kini merasa yakin bahwa dugaannya benar, bahwa kekasihnya bersama Kok Siang hendak melakukan penyerbuan keluar untuk meloloskan diri. Akan tetapi, baru saja dia ingin turun tangan membantu, tiba-tiba kakek hitam tinggi besar sudah menggerakkan alat rahasia, dan Thian Sin sempat melihat kekasihnya dan Kok Siang terjatuh ke bawah karena lantai ruangan itu bergeser cepat ke kanan kiri. Dia hendak meloncat, akan tetapi tiba-tiba didengarnya teriakan Kok Siang.

"Mo-ko! Peta asli itu berada pada kami!"

Thian Sin cepat menahan gerakannya. Dia tahu bahwa jika dia mengamuk sekali pun, dia tidak keburu menolong kedua orang itu lagi, yang agaknya terjatuh ke dalam air di bawah ruangan rahasia itu. Dan teriakan Kok Siang itu ternyata amat berpengaruh. Dia melihat kakek hitam tinggi besar yang kini diduganya tentu Pat-pi Mo-ko adanya nampak gugup.

"Cepat...! Selamatkan mereka. Tawan mereka, jangan sampai mereka itu tewas di dalam air!"

Perintah dari tokoh jahat ini membuat hati Thian Sin terasa lega maka dia pun tidak mau lancang turun tangan, yang tidak banyak artinya untuk dapat menyelamatkan kekasihnya dan Kok Siang. Maka dia pun hanya berjaga-jaga karena melihat para prajurit lain juga melakukan penjagaan ketat menerima perintah dari komandan mereka.

Ketika komandan pasukan mengumpulkan pasukannya untuk melakukan pemeriksaan, dengan menggunakan kepandaiannya Thian Sin menyelinap pergi dan dia pun berhasil mendapatkan sebuah tempat persembunyian di dalam gudang barang lapuk di belakang. Tempat ini pun adalah tempat sembunyi yang ditunjukkan oleh Su Tong Hak baginya, di mana dia dapat menyembunyikan dirinya.

Sementara itu, dalam keadaan lemas dan setengah pingsan, kembali Kim Hong dan Kok Siang tertawan lagi. Pada saat mereka sadar, keduanya mendapatkan diri mereka sudah terbelenggu lagi di atas dipan, dalam keadaan terlentang dan semua kaki tangan mereka dibelenggu dengan rantai baja yang sangat kuat. Pakaian mereka masih basah, demikian juga rambut mereka. Di dalam ruangan itu nampak Pat-pi Mo-ko duduk bersama dengan Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko, Su Tong Hak dan di luar kamar itu nampak penjagaan yang ketat, oleh pasukan penjaga.

Wajah kakek berkulit hitam itu nampak berseri dan sepasang matanya berkilat-kilat ketika dia memandang kepada dua orang tawanan yang sudah mulai siuman itu. Kemudian dia menghampiri Kok Siang dan melihat pemuda itu membuka matanya, mengejap-ngejapkan matanya kemudian memandangnya dan wajah yang tampan itu nampak pucat akan tetapi sadar sepenuhnya.

"Selamat hidup kembali, Im-yang Siang-pit Bu Siucai!" kata Pat-pi Mo-ko dengan suara lantang. "Engkau tahu, apa yang menyebabkan kami menyelamatkan kalian dari bahaya tewas tenggelam dalam air. Nah, Bu Siucai, sekarang ceriterakanlah kepada kami tentang peta asli itu!"

"Kalau aku menceriterakannya, engkau akan membebaskan kami berdua, Mo-ko?" tanya Kok Siang, suaranya meragu karena sesungguhnya dia tidak percaya kalau penjahat ini mau membebaskan mereka.

"Tentu saja! Bukankah baru saja kami juga telah menyelamatkan kalian dari kematian ini? Ceritakan dengan sesungguhnya mengenai peta itu dan kami akan membebaskan kalian. Sebenarnya kami tidak bermaksud memusuhi kalian. Bukankah kami sudah menawarkan kerja sama dengan sebaiknya kepada nona Toan? Sayang, dia mengkhianati kami. Akan tetapi, kami akan melupakan semua itu apa bila kalian suka menceritakan mengenai peta sehingga kami dapat memperoleh peta asli itu."

"Dia bohong, Bu-twako. Jangan percaya omongannya!" tiba-tiba Kim Hong berkata.

"Hemmm, yang membohong adalah engkau, nona Toan. Kami dengan sungguh-sungguh menarikmu sebagai kawan, akan tetapi engkau malah mengkhianati kami dan membunuh empat orang sisa Siong-te Ngo-houw yang menjadi pembantu-pembantu kami. Lagi pula engkau pura-pura kalah ketika melawan Bu Siucai, apa disangka kami tidak tahu?"

"Mo-ko, engkau pun menipuku. Pura-pura mengulurkan tangan bekerja sama, akan tetapi begitu aku memasuki ruangan itu dan pintu dikunci dan kalian menonton di luar, aku tahu bahwa kalian hanya menipuku. Apa kau sangka aku juga begitu bodoh untuk tidak dapat melihat siasatmu itu? Bu-twako, jangan ceritakan apa-apa!"

Wajah Pat-pi Mo-ko yang hitam itu menjadi semakin hitam karena darah sudah naik ke mukanya karena marah. "Bocah she Bu! Kalau engkau menuruti kata-kata perempuan ini, apakah engkau lebih sayang peta dari pada nyawamu? Aku tidak akan ragu-ragu untuk membunuhmu!"

"Bu-twako, jangan percaya omongannya! Dia tidak akan membunuh kita karena peta itu masih ada pada kita! Peta itulah satu-satunya gantungan hidup kita saat ini!" kata pula Kim Hong.

Kok Siang tertawa. "Ha-ha-ha, engkau benar juga, nona Toan. Heii, Mo-ko, apa kau kira kami begitu bodoh? Kalau aku menyerahkan peta, tentu engkau akan segera membunuh kami! Tidak, aku tidak tahu apa-apa tentang peta, aku sudah lupa lagi, ha-ha-ha!"

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang sudah kenyang akan asam garam di dunia kang-ouw, maka dia pun tahulah bahwa tidak ada gunanya untuk menggertak kedua orang muda ini lagi.

"Bagus, katakanlah bahwa pendapat kalian benar. Aku tidak bisa membunuh kalian, akan tetapi jangan mengira bahwa aku tidak dapat memaksa kalian bicara. Ada hal-hal lainnya yang bahkan lebih hebat dari kematian!" Dia lalu menghampiri dipan di mana Kim Hong menggeletak terlentang dengan kedua kaki dan tangan dibelenggu rantai besi. "Bu-siucai, hendak kulihat apakah engkau tetap hendak menutup mulutmu apa bila melihat gadis ini diperkosa dan dihina di depan matamu!" Lalu jari-jari tangannya bergerak ke depan.

"Breeetttt...!"

Terdengar kain robek akibat pakaian luar yang menutup tubuh Kim Hong terkoyak-koyak oleh jari-jari tangan yang hitam besar dan kuat itu. Kini nampaklah kulit tubuh yang putih mulus di balik pakaian dalam yang tipis!

Akan tetapi, demikian hebatnya kekuatan dalam yang dikuasai oleh Kim Hong sehingga tidak ada segaris pun uratnya bergerak. Dia hanya memejamkan matanya dan wajahnya tidak memperlihatkan perubahan apa pun!

Namun tidak demikian dengan Kok Siang yang langsung menoleh dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia melihat tubuh pendekar wanita itu, yang sekarang sedang terancam bahaya yang amat hebat.

"Siapa di antara kalian yang mau menikmati tubuh wanita ini?" teriak Pat-pi Mo-ko keluar, ke arah para penjaga.

Tidak ada yang menjawab, akan tetapi belasan orang penjaga itu mendekat dengan mulut menyeringai dan muka merah. Mereka memandang ke arah tubuh itu dengan mata penuh gairah dan nafsu birahi!

Thian Sin yang telah berada di antara para penjaga itu mengepalkan tinjunya, akan tetapi wajahnya pun tidak memperlihatkan tanda sesuatu.

"Masih belum mau bicara, Bu-siucai? Bagaimana kalau kubuka sedikit lagi?"

Tangan itu kembali bergerak, terdengar kain robek dan kini penutup dada Kim Hong telah terbuka sama sekali. Nampak bagian depan tubuhnya dari perut ke atas! Gadis itu tetap memejamkan matanya dan wajahnya tetap biasa saja! Demikian hebat gadis ini sehingga dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat bersikap tenang dan seolah-olah ia telah dapat mematikan rasa.

Kok Siang langsung membuang muka sambil mengeluarkan suara kutukan. "Demi Tuhan, Mo-ko, engkau bukan manusia! Jangan lanjutkan!"

"Ha-ha-ha, kalau engkau tetap tidak mau mengaku tentang peta itu, aku akan menyuruh dua orang prajurit untuk memperkosanya di depan matamu, Bu-siucai!"

"Bu-toako, jangan dengarkan dia! Dia hanya mampu menghina tubuhku, akan tetapi tidak mampu menjamah hatiku. Paling-palling aku mati, atau kalau tidak, maka hinaan ini tentu akan dibayarnya dengan bunga berlipat ganda! Jangan mengaku, karena sekali engkau mengaku, maka nyawa kita akan tidak ada harganya lagi!" demikian Kim Hong berkata, suaranya tetap tenang, sama sekali tidak gemetar.

"Hemm, biar pun hatiku berat sekali rasanya, agaknya engkau benar, nona," jawab Kok Siang.

Pat-pi Mo-ko menjadi semakin marah. Kakek ini sudah menggerakkan tangan lagi untuk merenggut penutup tubuh terakhir, akan tetapi tiba-tiba Su Tong Hak mendekatinya dan berbisik, "Pemuda itu tentu akan menyerah kalau melihat kekasihnya yang terancam!"

Mendengar ini, tiba-tiba Pat-pi Mo-ko tertawa. "Ha-ha-ha, engkau benar juga!" dan sambil tertawa-tawa kakek hitam tinggi besar itu lalu berlari keluar dari dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian dia sudah kembali sambil menarik tangan seorang gadis, atau lebih tepat lagi setengah menyeretnya. Gadis itu bermuka pucat, sedangkan matanya merah bekas menangis, rambutnya dan pakaiannya kusut.

"Murid durhaka, lihat siapa itu, dan selamatkan nyawanya! Dia akan kubebaskan kalau dia mau mengaku tentang peta asli!" kata Pat-pi Mo-ku sambil mendorong gadis itu ke depan, ke arah dipan di mana Kok Siang rebah terlentang.

"Siang-koko...!" Gadis itu menubruk, berlutut dan menangis di dekat dipan.

"Bwee-moi... engkaukah ini? Hemmm, akhirnya engkau juga merasakan kekejaman iblis yang menjadi guru dan pamanmu sendiri?" kata Kok Siang sambil mengerutkan alisnya. In Bwee merangkulnya dan menangis di dada pemuda itu.

"Siang-koko... demi keselamatanmu, menyerah sajalah, katakan kepadanya tentang peta itu... ahh, koko, kalau engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi... berikanlah peta itu dan mari kita pergi berdua, tidak mencampuri urusan ini dan aku rela hidup melarat asal selalu bersamamu, koko..."

Gadis itu menangis sehingga Kim Hong mengerutkan alisnya. Dia tidak mencela gadis itu bahkan kagum akan cinta gadis itu terhadap Kok Siang. Akan tetapi gadis itu juga telah memperlihatkan kelemahannya dan hal ini merusak siasat mereka berdua yang hendak mempertahankan peta. Siapa tahu, demi cintanya terhadap gadis itu, Kok Siang akhirnya mau menyerah dan kalau sudah begitu, maka percuma sajalah semua siasat mereka dan akhirnya mereka semua akan celaka!

"Huh, tolol!" Dia membentak. "Apakah kalau peta itu diberikan, iblis itu mau melepaskan kita bertiga? Jangan kira begitu enak, ya? Bahkan dia akan segera membunuh kita semua untuk menutup mulut kita seperti yang dilakukannya terhadap diri Ciang Kim Su dan juga Louw siucai!" Dia sengaja menyebut nama Louw siucai untuk membakar semangat Kok Siang. Dan dia berhasil. Kok Siang yang tadinya ragu-ragu ketika melihat dan mendengar tangis kekasihnya, kini nampak bersinar-sinar matanya.

"Mo-ko, muslihat apa pun yang kau lakukan, peta itu takkan kuberikan kepadamu!" teriak Kok Siang. "Bwee-moi, jangan kecil hati. Marilah kita lawan iblis itu, kalau perlu dengan pengorbanan nyawa dari pada dia berhasil dan akhirnya kita dibunuhnya juga!"

"Keparat!" Pat-pi Mo-ko marah sekali, kemudian dengan langkah lebar dia menghampiri muridnya dengan tangan kanan menyambar.

Akan tetapi, dibangkitkan oleh kata-kata kekasihnya, In Bwee meloncat sambil mengelak, lantas menyerang guru dan pamannya sendiri yang biasanya amat ditakutinya itu. Tentu saja kakek itu menjadi kaget dan marah bukan main. Jelaslah baginya bahwa muridnya ini sekarang telah berpihak kepada musuh secara berterang.

Dia telah menangkap muridnya, ketika mendengar laporan bahwa muridnya itu diam-diam pada malam buta mengunjungi Pendekar Sadis. Dia membayangi dan melihat muridnya bicara dengan Pendekar Sadis, maka pada waktu pulang murid itu lalu ditangkapnya dan dijadikan tawanan.