Harta Karun Jenghis Khan Jilid 02

ORANG yang mereka cari itu, Su Tong Hak, yaitu adik ipar dari mendiang petani Ciang Gun, ternyata sudah berhasil dalam usahanya dan kini menjadi seorang saudagar hasil bumi yang cukup kaya di kota raja. Tokonya cukup besar dan ketika pegawai toko melihat tamu suami isteri yang tampan dan cantik jelita, juga yang berpakaian rapi dan mewah, dengan mudahnya tamu yang dianggap penting dan hendak berdagang ini dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu kemudian diterima sendiri oleh majikan toko.

Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi tegap dan walau pun pada wajahnya masih terbayang bekas kekerasan yang berupa garis-garis mendalam seorang petani yang biasa hidup sukar, namun pakaian serta sikapnya menyelimuti bekas ini dan dia lebih patut menjadi tuan Su Tong Hak saudagar yang cukup berhasil di kota raja. Di wajahnya masih nampak keterbukaan seorang petani, akan tetapi cahaya matanya sudah penuh kecerdikan seperti sinar mata para pedagang yang pandai bersandiwara.

Setelah saling memberi hormat, pedagang itu berkata, "Saya Su Tong Hak, dan siapakah ji-wi serta datang dari mana? Kabar baik apakah yang ji-wi bawa untuk kami?" Sikapnya ramah seperti biasa seorang pedagang.

"Paman Su Tong Hak, kami datang untuk mencari seorang bernama Ciang Kim Su dari dusun Ciu-bun-tang yang setahun yang lalu datang ke sini mencari paman. Di manakah adanya Ciang Kim Su sekarang?" Pertanyaan ini diajukan oleh Thian Sin dengan tiba-tiba dan dia bersama Kim Hong lantas menatap wajah tuan rumah dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Akan tetapi pedagang itu ternyata adalah seorang yang mampu menguasai perasaannya. Kekagetan hatinya mendengar kata-kata tamunya itu hanya nampak pada sinar matanya yang agak terbelalak, akan tetapi sikapnya tetap tenang, bahkan kini dia pun memandang tamunya dengan alis berkerut dan pandang mata curiga.

"Hemm, siapakah ji-wi sebetulnya? Ciang Kim Su adalah keponakanku, anak dari kakak perempuanku. Memang dia pernah datang ke sini, akan tetapi... sebelum aku ceritakan tentang dia, harap ji-wi suka memberi tahu apa keperluan ji-wi mencari keponakanku itu?"

"Kami berdua adalah utusan dari Ciang Gun, ayah Ciang Kim Su, untuk mencari dia di sini."

Pedagang itu masih mengerutkan alisnya. "Nama ji-wi?"

"Aku Ceng Thian Sin dan dia adalah Toan Kim Hong."

"Hemm, aku tidak pernah mendengar nama itu dan tidak pernah mengenal ji-wi. Mustahil bila kakak iparku Ciang Gun menyuruh ji-wi, karena ji-wi jelas bukanlah orang-orang dusun sedangkan kakakku..."

"Masih tidak percayakah paman jika melihat ini?" Thian Sin sengaja mengeluarkan kunci emasnya, tentu saja yang palsu.

"Apa... apa itu...?" Su Tong Hak bertanya, akan tetapi jelas bahwa dia terkejut sekali dan pura-pura tidak tahu karena matanya terbelalak dan wajahnya berubah ketika dia melihat kunci emas itu.

"Tentu paman pernah mendengar tentang ini. Kunci emas yang ada hubungannya dengan peta yang dibawa Ciang Kim Su itu. Nah, percayakah paman sekarang bahwa kami diutus oleh paman Ciang Gun? Ceritakanlah di mana adanya Ciang Kim Su."

"Baik, baik... akan tetapi aku tidak tahu ke mana perginya anak itu. Baiklah kuceritakan dari awal, setahun yang lalu..."

Sesudah melihat kunci emas, lenyap keangkuhan pedagang ini dan agaknya ingin sekali bekerja sama, maka dia pun langsung menceritakan penuturannya yang lain lagi dengan penuturan yang pernah didengar oleh kedua orang pendekar itu dari mendiang Ban Lok. Cerita dari pedagang she Su ini lebih lengkap.

Menurut cerita itu, setahun lebih yang lalu Ciang Kim Su memang datang ke kota raja dan berhasil bertemu dengan pamannya, adik ibunya, yang sudah menjadi seorang saudagar hasil bumi yang cukup berhasil. Setelah Kim Su menceritakan kepada pamannya tentang dia dan ayahnya menemukan peta rahasia dan hendak mencari orang pandai yang dapat menerangkan isi peta itu, Su Tong Hak menjadi tertarik sekali.

"Untuk dapat menterjemahkan tulisan kuno itu, kita harus mendapat bantuan dari seorang sasterawan yang pandai," kata Su Tong Hak. "Kebetulan sekali aku tahu akan seorang sasterawan tua yang kabarnya ahli dalam huruf-huruf kuno. Mari kita mengunjungi Louw Siucai."

Louw Siucai adalah seorang siucai (gelar lulusan ujian negeri) yang miskin dan usianya telah enam puluh tahun. Dia hidup menyendiri di tepi kota raja yang sunyi, tanpa keluarga karena isterinya telah meninggal dunia tanpa anak. Hidupnya amat sederhana dan setiap hari dia hanya termenung, membaca kitab, menulis sajak dan mabuk-mabukan.

Ketika Su Tong Hak dan keponakannya datang berkunjung dan memperlihatkan peta itu sambil memohon pertolongan si sasterawan untuk menterjemahkan, Louw siucai meneliti peta itu dengan penuh perhatian. Wajahnya yang kurus itu berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Ya Tuhan...!" Dia berseru. "Kalian sudah menemukan sebuah benda yang harganya tak ternilai! Peta ini sudah ada seribu tahun usianya dan di sini terdapat tulisan tangan Sang Raja Besar Jenghis Khan!"

Bagi sasterawan tua itu, yang dianggap tidak ternilai harganya adalah kekunoan peta dan terutama sekali tulisan tangan Raja Besar Mongol yang pertama itu, pendiri dari dinasti Goan-tiauw.

Akan tetapi Su Tong Hak tidak tertarik akan kekunoan benda itu. "Apa isinya? Bagaimana bunyinya dan apa artinya peta ini?"

Mendengar pertanyaan yang membayangkan kehausan akan keuntungan besar ini, maka si sasterawan tua mengerutkan alisnya, memandang tajam dan menarik napas panjang, kemudian menjawab dengan sebuah pertanyaan pula,

"Dari manakah ji-wi bisa memperoleh benda yang amat langka ini?"

"Louw siucai, kedatangan kami ini adalah untuk minta bantuanmu membaca isi peta, dan untuk itu kami sanggup membayarmu. Tak perlu kau hiraukan dari mana kami mendapat peta ini, yang penting bacalah dan apa isinya?" Suara saudagar itu terdengar tidak sabar dan marah.

Kembali sasterawan itu menarik napas panjang, kemudian baru menjawab dengan suara perlahan, didengarkan dengan penuh perhatian oleh paman dan keponakan itu. "Tulisan tangan Raja Jenghis Khan ini dapat dengan mudah kubaca. Bunyinya begini: Harta karun ini milik Jenghis Khan yang maha besar, yang mengutus Yelu Kim untuk menyelidikinya. Nah, hanya tulisan inilah yang dapat kubaca. Untuk dapat membaca huruf-huruf di peta itu sendiri, membutuhkan waktu sedikitnya sehari semalam."

Su Tong Hak sudah kegirangan luar biasa mendengar kata harta karun tadi, maka dia meragu untuk meninggalkan peta itu. Akan tetapi keponakannya yang berasal dari dusun sehingga kepercayaannya kepada sesama manusia jauh lebih tebal dari pada orang kota yang sudah terlalu sering mengenal kepalsuan manusia, berkata,

"Kalau memang membutuhkan waktu, biarlah kita tinggalkan peta itu di sini untuk sehari semalam. Besok kita datang lagi untuk mengambilnya."

"Tapi...," pamannya mencela.

"Biarlah, paman. Apa artinya peta ini kalau kita tidak tahu bagaimana bunyinya?"

Akhirnya Su Tong Hak mengalah dan sambil menatap tajam kepada sasterawan itu dia berkata, "Louw siucai, ingat! Peta ini milik kami dan amat berharga. Kami menitipkannya kepadamu untuk sehari semalam, agar dapat kau terjemahkan. Akan kubayar berapa saja uang lelahmu. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai dilihat atau terdengar oleh orang lain. Apa lagi kalau sampai hilang, nyawamu gantinya!"

Sasterawan tua itu mengangguk-angguk sambil memandang kepada Ciang Kim Su, lalu berkata lirih seperti kepada diri sendiri, "Orang muda dari dusun membawa benda seperti ini, betapa bahayanya..."

Diam-diam sasterawan itu agaknya maklum bahwa peta itu adalah milik si pemuda, jelas nampak dari sikap paman dan keponakan tadi. Maka ditinggalkanlah peta itu oleh mereka kepada si sasterawan yang akan mempelajarinya selama sehari semalam.

********************

Pada keesokan harinya, paman dan keponakan itu datang lagi ke rumah Louw siucai dan dengan girang mereka menerima kembali peta bersama terjemahannya. Dan ternyatalah bahwa peta itu adalah peta yang menunjukkan tempat disimpannya harta karun Jenghis Khan atau harta karun kuno yang umurnya telah seribu tahun lebih dan yang oleh Jenghis Khan ditemukan petanya. Kemudian kaisar itu mengutus seorang pembantunya bernama Yelu Kim untuk menyelidiki tempat rahasia itu.

"Agaknya, Yelu Kim itu gagal dalam usahanya dan mungkin peta itu terampas orang lain, kemudian lenyap dan sekarang tahu-tahu ditemukan oleh ji-wi." kata si sasterawan. "Akan tetapi peta ini tidak lengkap kalau tidak ada kuncinya."

"Kuncinya? Apa maksudmu?" Su Tong Hak bertanya.

"Kunci emas. Ada disebutkan di situ dan sudah kuterjemahkan, bahwa untuk menemukan tempat rahasia itu harus dengan bantuan peta ini, akan tetapi untuk dapat masuk, harus menggunakan kunci emas. Tidak tahu apakah kunci emas itu juga ji-wi temukan?"

Su Tong Hak menoleh dan memandang kepada keponakannya. Tentu saja Ciang Kim Su mengerti apa yang dimaksudkan dengan kunci emas itu, yaitu benda yang ditemukannya bersama dengan peta ini dan yang kini disimpan oleh ayahnya. Akan tetapi pemuda ini menggelengkan kepala, tanda bahwa dia pun tidak tahu.

Su Tong Hak kemudian meninggalkan uang yang cukup sebagai pembayaran jerih payah sasterawan Louw dan mengajak keponakannya pulang. Sampai di rumah, mereka berdua segera memeriksa terjemahan peta itu dan keduanya merasa girang sekali.

Dengan jelas ditunjukkan pada peta itu bahwa tempat harta karun itu berada pada suatu tempat, di salah satu di antara puncak-puncak Pegunungan Beng-san. Memang sangat sukar didatangi dan kiranya tidak akan mungkin dapat ditemukan tanpa bantuan peta itu!

"Kim Su, apakah benar engkau dan ayahmu tidak menemukan kunci emasnya?" paman itu bertanya sambil memandang tajam kepada wajah keponakannya.

"Setahuku tidak, paman. Akan tetapi aku akan bertanya kepada ayah tentang itu."

"Baiklah, sekarang sebaiknya engkau pulang dulu ke dusun dan membuat laporan kepada ayahmu tentang peta ini, dan sekalian kalian mencari kunci emas itu. Kalau belum kalian temukan, mungkin masih terpendam di tempat di mana kalian menemukan peta."

"Akan tetapi peta itu..."

"Sebaiknya kita bagi dua saja, Kim Su. Ingat, benda ini amat berharga sehingga jika kau bawa semua, sungguh amat berbahaya bagimu. Biarlah kita potong menjadi dua bagian, dan masing-masing kita membawa sepotong. Kau bawa yang sepotong pulang ke dusun, kemudian bersama ayahmu mencari kunci emas itu. Kalau sudah ketemu, engkau, ayah dan ibumu datanglah ke sini dan kita bersama akan pergi mencari harta karun itu. Semua biaya perjalanan mencarinya akan kutanggung."

Ciang Kim Su menyetujui pendapat ini. Maka demikianlah, peta itu dipotong menjadi dua dan mereka masing-masing menyimpan sepotong. Kemudian, pemuda dusun itu pulang ke dusun naik kuda pemberian pamannya dan membawa bekal secukupnya, jauh berbeda dengan keadaannya pada waktu dia datang ke kota raja.

********************

"Demikianlah apa yang sudah terjadi," Su Tong Hak mengakhiri ceritanya yang sejak tadi terus didengarkan dengan penuh perhatian oleh Thian Sin dan Kim Hong.

"Lalu ke manakah perginya Ciang Kim Su?" tanya Kini Hung. "Kenapa dia tidak pernah pulang ke dusun sehingga ayahnya mencarinya?"

Pedagang itu menggeleng kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku sendiri pun menanti-nantinya dan tidak pernah ada berita darinya."

"Hemm, sungguh aneh sekali." kata Thian Sin sambil mengerutkan alisnya.

Diam-diam dia mengkhawatirkan nasib pemuda dusun itu. Paman pemuda itu, yang kini duduk di hadapannya, mempunyai sikap yang palsu dan patut dicurigai, maka di dalam hatinya, dia tidak mau percaya begitu saja akan apa yang diceritakan oleh pedagang itu.

"Dan paman masih memegang sepotong dari peta yang dibagi dua itu?" tanyanya.

Pedagang itu memandang tajam, alisnya berkerut. Lalu dia menggelengkan kepala keras-keras. "Tidak lagi! Peta harta karun itu membawa mala petaka! Baru sebulan setelah Kim Su pergi, rumahku kemalingan dan selain uang dan barang berharga, juga potongan peta itu dicurinya."

"Bohong...!" Kim Hong berseru dengan marah. "Mungkin kau bunuh keponakanmu itu dan kau rampas potongan peta yang ada padanya!"

Thian Sin hendak mencegah namun sudah tidak keburu dan anehnya, pedagang itu tidak merasa takut, bahkan tampak marah dan bangkit dari duduknya sambil bertolak pinggang. "Apa kau bilang?! Kalian datang membawa kunci emas dan mengaku utusan dari kakak iparku, datang-datang berani engkau menuduhku yang bukan-bukan? Ahh, jangan-jangan kalian inilah penjahat-penjahat yang telah membunuh keponakanku dan selain merampas kunci emas dari ayahnya, juga sudah merampas sebagian peta itu dan kini datang untuk mendapatkan potongan lainnya dariku!"

Thian Sin bangkit menyabarkan kekasihnya, lalu berkata kepada pedagang itu, "Paman Su, kami sungguh diutus oleh mendiang paman Ciang Gun..."

"Mendiang?"

"Ya, dia terbunuh oleh Liong-kut-pian Ban Lok dan kaki tangannya..."

"Ban Lok? Si keparat! Berani dia...!" Saudagar itu segera menahan kata-katanya seperti baru sadar bahwa sikapnya itu menunjukkan bahwa dia mengenal baik kepala penjahat itu. "Lalu... apa yang terjadi?" tanyanya, menahan rasa kagetnya.

"Sebelum meninggal, paman Ciang Gun menyerahkan kunci emas ini kepada kami dan memesan agar kami mencari puteranya di sini."

"Tapi peta itu..."

"Kami akan cari sampai dapat."

"Kalau sudah dapat?"

"Akan kami cari harta karun itu untuk kami serahkan kepada yang berhak."

"Akulah yang berhak. Akulah keluarga terdekat dari keluarga Ciang."

"Bukan engkau, akan tetapi Ciang Kim Su," kata Kim Hong yang masih marah.

"Akan tetapi dia... dia telah mati!"

Mendadak Thian Sin memegang lengan tangan pedagang itu. Pedagang itu meronta dan agaknya dia juga cukup kuat dan menguasai ilmu silat sehingga dia berhasil melepaskan pegangan itu karena Thian Sin juga memegang secara biasa saja.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa Kim Su telah mati?" bentak Thian Sin yang belum mau memperlihatkan kepandaiannya.

"Ku... kurasa memang demikian, karena kalau dia masih hidup, di mana dia? Mengapa tidak memberi kabar kepadaku? Orang muda, marilah kita bekerja sama. Serahkan kunci emas itu kepadaku dan aku akan mengusahakan kembalinya peta dan..."

"Tidak! Kami akan mencari sendiri dan memenuhi pesan mendiang Ciang Gun yang telah menjadi korban, bersama isterinya pula, sementara putera tunggalnya juga masih belum ketahuan bagaimana nasibnya."

"Tapi... tanpa peta, apa gunanya kunci emas itu?"

"Kami akan mencarinya."

"Ke mana? Peta itu telah hilang."

"Bagaimana nanti sajalah. Akan tetapi, mungkin saja kita masih akan saling berjumpa!" Setelah berkata denlikian, Thian Sin dan Kim Hong lalu meninggalkan pedagang itu yang masih memandang dengan bengong.

Setelah tiba di luar gedung itu, Thian Sin dan Kim Hong tentu saja tahu bahwa tak lama kemudian, ada tiga bayangan orang yang mengikuti mereka dari jauh. Mereka tak merasa heran karena memang mereka sudah menyangka bahwa Su Tong Hak bukanlah orang baik-baik, dan ketiga bayangan orang itu tentulah kaki tangan pedagang itu yang hendak memata-matai mereka. Mereka berpura-pura tidak tahu dan langsung kembali ke rumah penginapan mereka.

Memang kunjungan mereka kepada Su Tong Hak itu pun sebenarnya hanya merupakan gerakan pancingan belaka untuk memancing keluar kakap-kakap yang ada hubungannya dengan rahasia peta harta karun. Bagaimana pun juga, dua orang pendekar ini masih merasa ragu-ragu di mana adanya peta itu sekarang. Benarkah yang sepotong masih berada di tangan Kim Su yang lenyap tanpa meninggalkan jejak itu? Dan di mana adanya yang sepotong lagi?

Mereka tahu bahwa tanpa peta itu, memang kunci emas tidak ada gunanya, sebaliknya, si pemegang peta pun tidak akan berhasil tanpa mempunyai kunci emas. Inilah sebabnya mengapa mereka menanti. Mereka merasa yakin bahwa dengan memegang kunci emas, akhirnya mereka pasti akan dicari oleh pemilik peta!

********************

Mereka tidak usah menanti terlalu lama. Malam itu juga para penjahat telah mulai beraksi. Pada malam hari itu, oleh karena maklum bahwa mereka menghadapi urusan besar dan ancaman bahaya, Thian Sin dengan Kim Hong tidak tidur seranjang seperti biasanya. Di dalam kamar itu terdapat dua buah tempat tidur berdampingan, hanya terhalang sebuah meja kecil dan keduanya duduk bersila di atas pembaringan masing-masing. Menjelang tengah malam, tanpa mengeluarkan suara, Kim Hong meniup padam lampu penerangan yang terletak di atas meja dan kamar itu pun menjadi gelap.

Lima bayangan orang berkelebat di atas genteng rumah penginapan itu. Gerakan mereka amat gesit, tanda bahwa mereka berlima telah memiliki ginkang yang cukup tinggi. Bagai lima ekor kucing saja, mereka bergerak di atas genteng dan kemudian satu demi satu mereka melayang turun dari atas genteng. Tidak terdengar suara sedikit pun pada waktu kaki mereka menginjak tanah,.

Mereka adalah lima orang lelaki bertubuh kuat yang dipimpin oleh seorang yang tubuhnya jangkung. Pada punggung mereka kelihatan terselip sepasang golok tipis yang kadang-kadang mengeluarkan cahaya berkilauan kalau tertimpa sinar lampu. Mereka tidak pernah mengeluarkan suara, karena Si Jangkung hanya memberi aba-aba dengan isyarat tangan saja. Tak lama kemudian mereka telah berada di luar jendela dan pintu kamar yang dihuni oleh Thian Sin dan Kim Hong.

Tanpa mengeluarkan suara, mereka berlima lantas mengeluarkan sapu tangan hitam dan memasang sapu tangan itu di depan hidung dan mulut sebagai kedok. Kemudian mereka menyalakan hio dan bau harum yang aneh langsung berhamburan dari asap hio. Melalui celah-celah daun pintu di bawah, juga dari celah-celah jendela, mereka lalu memasukkan hio-hio yang terbakar itu ke dalam kamar sehingga mulailah asap-asap harum memenuhi kamar.

Beberapa menit kemudian, terdengarlah gerakan di dalam kamar itu disertai suara orang terbatuk-batuk kecil kemudian disusul suara orang menguap. Suara itu jelas menunjukkan bahwa yang berada di dalam kamar adalah seorang pria dan seorang wanita.

Tentu saja lima orang berkedok sapu tangan hitam itu menjadi girang dan mereka saling pandang dengan sinar mata berkilat dan berseri. Batuk-batuk dan menguap? Tanda-tanda itu membuktikan bahwa asap hio mereka yang mengandung obat bius kuat itu sudah mengenai sasaran dan berhasil. Memang orang akan lebih dulu terbatuk-batuk, kemudian setelah menguap tak akan dapat tertahan lagi, pasti jatuh pulas seperti pingsan saja!

Mereka menanti hingga kurang lebih sepuluh menit dan pada saat itu, kamar telah penuh dengan asap hio. Mereka juga mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa agak kecewa akibat tak mendengar suara orang mendengkur yang menjadi tanda mutlak bahwa orang-orang di dalam kamar itu telah tidur pulas. Akan tetapi, tidak semua orang tidur mendengkur. Biasanya, hanya orang-orang yang gendut sajalah yang tidur mendengkur dan mereka tahu bahwa pria dan wanita yang berada di dalam kamar itu sama sekali tidak gendut.

Setelah hio-hio itu terbakar habis dan padam, dan asap harum mulai melayang keluar dari celah-celah jendela, si jangkung memberi isarat dengan tangan. Mereka lalu membongkar daun jendela dengan amat mudahnya karena mereka memiliki tenaga yang kuat.

Nampak sinar-sinar berkilau ketika lima orang itu menghunus golok-golok mereka dengan kedua tangan dan dengan sepasang golok di tangan mereka pun berloncatan memasuki kamar melalui jendela, muka mereka terlindung oleh sapu tangan hitam yang sudah diberi penawar obat bius.

Melihat ada tubuh terselimut yang membujur di atas dua buah pembaringan itu, lima orang pendatang ini menjadi ganas. Dengan isyarat si jangkung, mereka lalu menyerbu dengan golok terangkat dan dalam sekejap mata saja sepuluh batang golok di tangan mereka itu sudah membacok dan menusuk ke arah dua batang tubuh terseilmut yang nampak agak remang-remang di atas dua buah pembaringan.

Terdengar suara crak-crok-crak-crok disusul seruan-seruan kaget dan heran ketika lima orang itu merasa betapa golok-golok mereka bertemu dengan tubuh yang lunak, yaitu guling dan bantal yang ditutupi seilmut!

"Celaka, kita terjebak. Cepat keluar!" kata Si Jangkung dengan suara mendesis karena marah. Dan pada saat itu pula terdengarlah suara ketawa dari atas genteng, suara ketawa yang merdu dari seorang wanita dan suara ketawa mengejek seorang pria!

Lima orang itu menjadi marah dan dengan gerakan cepat mereka berlima sudah meloncat keluar dari dalam kamar yang masih penuh dengan asap itu, kemudian mereka langsung berloncatan ke atas wuwungan rumah dengan sepasang golok masih berada di tangan masing-masing.

Dan di situ, di atas wuwungan itu, diterangi oleh bulan muda dan bintang-bintang, nampak seorang pemuda dan seorang gadis berdiri dengan dua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum mentertawakan mereka. Si Jangkung merenggut sapu tangan hitam dari mukanya, diturut oleh keempat orang kawannya ketika mereka mengejar ke depan.

Melihat gerakan kelima orang itu yang cukup gesit, menandakan bahwa mereka itu bukan penjahat-penjahat sembarangan melainkan orang-orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi, Thian Sin lalu mengacungkan sebuah kunci emas ke atas kepala sambil berkata,

"Kalau kalian datang untuk mencari ini, ikutilah kami!"

Dan dia pun meloncat turun bersama Kim Hong, lalu melarikan diri menjauhi tempat ramai itu menuju ke pinggir kota yang sunyi, di bagian yang dipergunakan orang untuk bercocok tanam. Di sana sunyi sekali dan cuaca hanya remang-remang diterangi bulan muda dan bintang-bintang.

Tentu saja lima orang itu menjadi penasaran dan agaknya melihat berkilaunya kunci emas tadi, semangat mereka menjadi bertambah dan mereka pun melakukan pengejaran. Kejar mengejar ini digunakan oleh Thian Sin dan Kim Hong untuk mengukur ilmu berlari cepat lima orang itu dan mereka berdua harus mengakui bahwa lima orang itu betul-betul cukup lihai. Mereka menjadi girang karena semakin lihainya lawan yang datang mencari mereka, hal itu dapat diartikan bahwa makin dekatlah mereka dengan orang yang menguasai peta yang mereka cari!

Thian Sin dan Kim Hong berdiri tegak menanti lima orang calon lawan yang kini pun mulai mengerti bahwa dua orang muda mudi yang dikejarnya itu bukanlah orang sembarangan. Dan melihat cara mereka menipu di dalam kamar, kemudian melihat cara mereka berdua lari, lima orang ini maklum bahwa ternyata pemilik kunci emas itu adalah dua orang muda yang lihai. Maka, sambil mengejar tadi, si jangkung memberi peringatan kepada kawan-kawannya agar berhati-hati.

Setelah saling berhadapan, Thian Sin dan Kim Hong sekarang bisa melihat wajah mereka dengan jelas, walau pun di dalam cuaca remang-remang. Dan mereka berdua itu merasa heran karena wajah mereka itu bukanlah wajah penjahat yang kasar. Wajah orang-orang yang bersikap tenang, pantasnya wajah para jagoan yang merasa yakin akan kepandaian sendiri. Akan tetapi melihat sepak terjang mereka saat menyebarkan obat asap bius dan saat mereka menyerang guling dan bantal yang diseilmuti, sungguh-sungguh merupakan perbuatan kejam sekali.

"Hemm, kalian lima orang maling kecil ini, tentunya hendak merampas kunci emasku ini, bukan?" Thian Sin kembali mengacungkan kunci emas itu di tangan kanannya.

Si Jangkung menghardik, suaranya nyaring dan penuh kepercayaan terhadap diri sendiri, "Jika sudah tahu begitu, orang muda, lebih baik kau serahkan kunci itu kepada kami dan kalian boleh pergi dengan selamat."

"Wah, wah, lima ekor tikus sawah yang hanya merupakan maling-maling kecil ini ternyata sombong sekali!" kata Kim Hong.

"Kalian hanyalah pesuruh-pesuruh rendah," kata Thian Sin. "Kalau memang menghendaki kunci, suruhlah kepala kalian, atau orang yang memegang peta rahasia itu agar menemui kami. Kami sudah bosan berurusan dengan anak buah rendahan!"

Lima orang itu jelas kelihatan marah sekali dan golok-golok di tangan mereka itu tergetar. "Orang muda yang sombong!" bentak si jangkung, "Kalian berdua tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan! Kami adalah Siang-to Ngo-houw (Lima Harimau Bergolok Pasangan) dan bukan sekedar golongan rendahan!"

Thian Sin dan Kim Hong belum pernah mendengar nama julukan Siang-to Ngo-houw ini karena memang sudah bertahun-tahun mereka tak lagi berkecimpung di dalam kalangan kang-ouw. Tentu saja nama ini tidak berarti apa-apa bagi mereka.

"Siang-to Ngo-houw, kami hanya mau berbicara tentang kunci emas kepada orang yang memiliki peta rahasia itu. Apakah kalian menguasai peta itu? Kalau benar, keluarkanlah dan mari kita bicara!" kata pula Thian Sin.

"Tidak perlu banyak cakap lagi. Lekas serahkan kunci emas itu atau terpaksa kita harus menggunakan kekerasan untuk merampasnya!" teriak pula Si Jangkung.

"Hi-hik-hik, masih mengancam lagi. Padahal, bisanya hanya menggunakan asap bius dan membacoki bantal guling seperti maling-maling kecil." Kim Hong berkata mengejek lantas berpaling kepada kekasihnya. "Perlu apa melayani segala maling-maling kecil? Mereka ini tentu hanya kaum rendahan saja!"

"Serbu!" Si Jangkung sudah memberi komando karena tidak sabar lagi melihat sikap dua orang yang jelas memandang rendah kepada mereka itu.

Thian Sin menyimpan kunci emasnya dan hendak bergerak, akan tetapi Kim Hong sudah berkata kepadanya, "Biarkan aku menghadapi mereka sendiri!"

"Ahh, bukan waktunya untuk main-main, Kim Hong!" Thian Sin membantah.

Dia melihat bahwa lima orang ini tidak boleh dipandang ringan dan sungguh pun dia tahu betapa lihainya kekasihnya itu, dan kalau menghadapi mereka ini satu lawan satu tentu tidak sukar bagi Kim Hong untuk merobohkan mereka semua, akan tetapi bila mereka itu maju berlima, kiranya bukan tidak berbahaya bagi kekasihnya.

"Siapa yang main-main? Justru sudah lama aku tidak latihan menghadapi lawan tangguh. Biarkan aku, Thian Sin, sekali ini saja ya...?" Kalimat terakhir ini terdengar begitu manja dan penuh keinginan sehingga Thian Sin terpaksa tersenyum sambil melangkah mundur.

"Bandel! Sesukamulah, namun jangan salahkan aku kalau kau tergores golok!" Meski pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tentu saja dia pun siap waspada, tak mungkin dia membiarkan kulit halus kekasihnya itu tergores golok orang.

Kim Hong tersenyum manis. Kalau saja gadis itu tidak sedang menghadapi perkelahian, tentu Thian Sin akan merangkul dan menciumnya karena senyuman itu adalah senyuman khas dari kekasihnya kalau hatinya lagi senang dan sedang mencumbu. Tentu senyum itu sebagai tanda terima kasih yang akan dibayar kalau kesempatan memungkinkan nanti.

Gadis itu melompat ke depan, dengan gaya yang menantang sekali dia lalu menggulung kedua lengan bajunya sehingga nampaklah lengannya yang bulat dan berkulit putih halus. Demikian tipis serta halusnya kulit lengan Kim Hong ini sehingga kalau saja cuaca tidak segelap itu maka akan nampak urat-urat halus membayang di balik kulitnya. Nampaknya demikian halus dan lunak, akan tetapi jangan sekali-kali mengira demikian karena kedua lengan itu dapat terisi tenaga yang amat hebat dan sedemikian kuatnya sehingga mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka!

"Tahan...!" Tiba-tiba Si Jangkung berseru kepada teman-temannya.

Bagaimana pun juga, julukan Siang-to Ngo-houw terlampau besar untuk dikotori dengan pengeroyokan terhadap seorang gadis muda yang bertangan kosong. Di kota raja, nama Siang-to Ngo-houw sudah terkenal sekali.

Mereka ini adalah bekas tokoh-tokoh besar di perkumpulan Hwa-i Kai-pang yang bertugas di luar kota raja. Baru sesudah Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) mengalami musibah, yaitu sesudah terbunuhnya kedua orang pimpinannya, yaitu Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai sehingga perkumpulan itu menjadi berantakan, maka kelima orang ini datang ke kota raja.

Dua orang pemimpin Hwa-i Kai-pang ini terbunuh oleh Pendekar Sadis dan hanya itulah yang diketahui oleh Siang-to Ngo-houw. Mereka sama sekali tidak pernah mengira bahwa Pendekar Sadis pembunuh dua orang suheng mereka itu adalah pemuda yang sekarang berhadapan dengan mereka inilah!

Seperti yang telah diceritakan di dalam cerita Pendekar Sadis, dua orang pimpinan Hwa-i Kai-pang itu dibunuh oleh Pendekar Sadis Ceng Thian Sin karena mereka berdua pernah membantu pengeroyokan sehingga akhirnya menewaskan ayah bunda pendekar itu. Dan karena hanya sedikit saja orang yang mengenal muka Pendekar Sadis, maka lima orang jagoan ini pun hanya mendengar namanya saja akan tetapi tidak mengenal Thian Sin.

Siang-to Ngo-houw adalah sute dari Lo-thian Sin-kai, dan mempunyai tingkat kepandaian yang tidak banyak selisihnya dengan bekas tokoh Hwa-i Kai-pang itu. Tentu saja mereka itu lihai bukan main, apa lagi jika mereka maju berlima karena mereka telah menciptakan bersama suatu ilmu silat gabungan yang amat dahsyat.

Mereka kembali ke kota raja sesudah dua orang pimpinan Hwa-i Kai-pang tewas. Melihat bahwa perkumpulan itu sudah tidak begitu baik lagi namanya, maka kelima orang ini pun tak mau membangunnya kembali, bahkan mereka lalu membantu tokoh sesat yang pada waktu itu paling terkenal di kota raja, yaitu Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng.

Inilah sebabnya, maka sebagai tokoh-tokoh besar yang terkenal serta memiliki ilmu tinggi yang mereka andalkan, si jangkung yang memimpin adik-adiknya itu merasa malu untuk mengeroyok seorang gadis yang bertangan kosong, sehingga dia berteriak dan menahan adik-adiknya sebelum mereka itu sempat menggerakkan golok mereka.

Empat orang adiknya menatap pada Si Jangkung dengan sinar mata penuh pertanyaan. Akan tetapi Si Jangkung telah menghadapi Kim Hong kemudian mengangkat dada untuk menunjukkan kegagahan.

"Nona, Siang-to Ngo-houw memang sudah biasa maju bersama, akan tetapi belum pernah mengganggu wanita yang bertangan kosong. Karena itu kami minta supaya kalian berdua menyerahkan kunci atau maju bersama dengan menggunakan senjata."

Melihat sikap ini, Kim Hong malah mentertawakan. "Hik-hik-hik, lagaknya! Apa sudah lupa betapa tadi yang berjuluk Siang-to Ngo-houw tidak bersikap jantan, sama sekali tak mirip seperti Lima Ekor Harimau akan tetapi lebih pantas menjadi Lima Ekor Tikus yang curang dan pengecut, mempergunakan obat bius dan menyerang orang-orang yang sedang tidur pulas? Hi-hik, kini berlagak lagi! Sungguh tidak lucu, malah menjemukan. Hayo tidak perlu cerewet lagi, ingin kulihat apakah ilmu kalian juga sebesar kecurangan kalian!"

"Perempuan sombong!" Teriakan ini dilakukan oleh dua orang di antara lima tokoh sesat itu dan mereka pun sudah menerjang maju dengan sambaran sepasang golok mereka.

Terdengar bunyi berdesingan ketika empat batang golok itu menyambar dengan dahsyat dan menghujankan serangan maut ke arah tubuh Kim Hong. Akan tetapi, hanya dengan sedikit gerakan tubuh saja, sambaran golok-golok itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Kim Hong dan hanya mengenai tempat kosong saja.

Sekarang tiga orang lainnya tidak ragu-ragu lagi, apa lagi mereka juga sangat marah dan merasa terhina oleh ejekan Kim Hong tadi. Mereka lantas mengeluarkan suara bentakan dan mulailah lima orang itu mengurung Kim Hong sambil membuat langkah-langkah lebar memutari gadis itu.

Mereka yang sudah dapat menduga bahwa seorang gadis muda yang demikian tabahnya menantang mereka pasti memiliki kelihaian, kini segera menggerakkan ilmu yang mereka andalkan, yaitu Ngo-lian To-tin (Barisan Golok Lima Teratai). Langkah-langkah mereka sangat teratur dan mereka itu merupakan rangkaian yang bekerja sama secara otomatis. Kadang kala sambil melangkah mengitari lawan, terdengar suara golok mereka bersiutan, digerakkan menembus udara, kadang-kadang berdencing karena saling sentuh sehingga suasana menjadi menegangkan.

Akan tetapi Kim Hong berdiri dengan tenang saja, sama sekali tidak bergerak dan hanya sepasang matanya yang bergerak-gerak mengikuti gerakan lima orang pengepungnya dan tentu saja pendengarannya juga mengikuti setiap gerakan orang yang berada di sebelah belakangnya. Seluruh urat syarafnya telah siap siaga dan menegang, meski pun tubuhnya nampak tenang-tenang seenaknya saja.

Gadis ini maklum bahwa kelima orang pengepungnya itu bukanlah lawan yang ringan dan sama sekali tak boleh dipandang rendah. Akan tetapi dia masih belum merasa perlu untuk menghunus sepasang pedangnya, yakni Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penaluk Iblis) yang berwarna hitam dan yang selalu disimpannya di balik baju itu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak amat terpaksa, Kim Hong tidak akan mau menggunakan pedang.

"Hiaaattt...!"

Tiba-tiba saja Si Jangkung mengeluarkan teriakan nyaring dan sepasang goloknya sudah cepat menyambar dengan gerak tipu Hong-cui Pai-hio (Angin Meniup Runtuh Dedaunan), sepasang golok itu berkelebat saling susul, yang kiri menyambar ke leher dan yang kanan menusuk lambung. Serangan ini dilakukan ketika dia berada di sebelah kanan dari tubuh Kim Hong.

"Hemmm...!" Kim Hong menggeser kaki mengelak. Cara mengelaknya memang istimewa sekali, kakinya tidak diangkat, melainkan menggeser atau meluncur seolah-olah di bawah sepatunya terdapat roda yang membuat tubuhnya dapat meluncur, akan tetapi cepatnya bukan main sehingga serangan sepasang golok itu gagal total.

Akan tetapi, kiranya serangan pertama dari Si Jangkung ini merupakan pembukaan atau aba-aba, sebab mereka berlima kini seluruhnya mulai menggerakkan Ngo-lian To-tin atau Barisan Golok Lima Teratai itu dan memang hebat bukan main gerakan mereka. Sepuluh batang golok itu bekerja sama dengan demikian rapi dan cekatan, susul menyusul serta bertubi-tubi, seolah-olah digerakkan oleh satu otak saja, saling bantu hingga ke mana pun tubuh Kim Hong mengelak, tentu dia langsung dipapaki oleh golok lainnya. Dan susunan serangan mereka itu pun makin lama semakin kuat dan berbahaya!

"Ciaaattt...!"

Seorang di antara mereka yang berada di depan Kim Hong, menggunakan jurus Sin-eng Hoan-sin (Garuda Sakti Memutar Tubuh), sepasang goloknya itu tiba-tiba saja meluncur dengan gerakan membalik, amat berbahaya sekali dan saking cepatnya, sepasang golok itu lenyap bentuknya berubah menjadi dua berkas sinar yang menyilaukan mata.

Kim Hong cepat mengelak dan kali ini dengan loncatan ringan ke kiri, di mana dia segera disambut oleh sepasang golok yang dimainkan dengan jurus Kim-liong Hian-jiauw (Naga Emas Mengulurkan Cakar) dengan sepasang golok itu menusuk secara berantai. Kembali Kim Hong mengelak ke belakang di mana dia disambut pula dengan serangan golok yang lebih berbahaya karena penyerangnya telah menggunakan jurus Giok-tai Wi-yauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang), sebuah gerakan yang indah sekali hingga golok itu seolah-olah melengkung melalui belakang pinggang dan langsung menuju ke pinggang lawan.

Untuk kesekian kalinya Kim Hong mengelak dan lawan ke lima yang berada di belakang tubuhnya sudah menyambut dengan sebuah tendangan kilat yang disusul oleh sambaran golok ke leher. Sepasang golok itu sekaligus membuat gerakan menggunting dari kanan dan kiri. Itulah jurus yang dinamakan Ji-liong Jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mustika).

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan secara gencar, cepat dan kuat, serta saling membantu ini, yang maksudnya untuk menutup jalan keluarnya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk balas menyerang melainkan dipaksa agar mengelak terus, Kim Hong lantas mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia pun sudah memainkan ilmu silat tangan kosong yang dinamakan Kong-jiu Jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok) dan tubuhnya berkelebatan secara cepat bukan main!

Lima orang jagoan itu terkejut sekali melihat betapa tubuh lawan mereka itu kadang kala lenyap dan demikian cepatnya gerakan gadis itu hingga membuat mata mereka menjadi silau dan kabur pandangannya. Hebatnya lagi, gadis itu kadang kala berani menyampok golok dengan tangan kosong dan tangan itu terasa demikian lunak bagai kapas sehingga tidak terluka oleh golok, namun di bawah kelunakan itu terkandung tenaga yang luar biasa kuatnya!

Kini maklumlah Siang-to Ngo-houw bahwa mereka ini sedang menghadapi seorang gadis yang benar-benar lihai sekali, maka mereka bergerak dengan hati-hati sekali. Kerja sama mereka yang amat rapi itu tetap saja bisa mengimbangi ilmu silat istimewa dari Kim Hong sehingga membuat gadis itu masih sulit untuk dapat merobohkan salah seorang di antara mereka karena mereka itu selalu dalam posisi saling bantu dan saling melindungi.

Memang kelima orang itu sudah mempunyai ilmu silat yang sangat kuat. Seperti juga ilmu kepandaian mendiang suheng mereka, yaitu Lo-thian Sin-kai tokoh nomor satu dari Hwa-i Kai-pang, mereka memiliki dua macam ilmu silat yang menjadi andalan mereka.

Pertama adalah ilmu silat tangan kosong yang disebut Ta-houw Sin-ciang-hoat (Ilmu Silat Sakti Pemukul Harimau) yang dapat membuat tangan mereka menjadi demikian kerasnya hingga kepalan tangan mereka itu dapat mengalahkan harimau dan memecahkan kepala binatang itu. Dan yang ke dua adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Silat Tongkat Lima Teratai). Ilmu ini mereka rubah menjadi Ngo-lian To-hoat (Silat Golok Lima Teratai) dan dengan ilmu golok ini, mereka berlima sudah menciptakan Ngo-lian To-tin (Barisan Go. lok Lima Teratai) yang amat tangguh itu.

Kalau dibandingkan satu lawan satu, tentu saja tingkat kepandaian Kim Hong masih jauh lebih tinggi, baik dalam hal ilmu silat mau pun tenaga sinkang, terutama sekali dalam hal ginkang karena memang gadis ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi karena mereka itu maju berlima dan membentuk barisan golok yang amat tangguh itu, Kim Hong yang bertangan kosong mengalami kesulitan juga untuk menundukkan mereka. Kim Hong tetap tak mau mengeluarkan pedangnya, sebab merasa bahwa dia belum terdesak, hanya belum mampu merobohkan mereka.

"Heh, bandel, kenapa tidak menggunakan siang-kiammu itu?" sudah berkali-kali Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong hanya tersenyum saja.

"Darah lima ekor tikus ini terlalu busuk untuk mengotori pedang-pedangku!" akhirnya dia menjawab dan jawaban ini membuat Siang-to Ngo-houw menjadi semakin marah.

"Perempuan sombong!" Si Jangkung berteriak marah sekali, kemudian kembali memimpin adik-adik seperguruannya untuk mendesak semakin ganas.

Akan tetapi tiba-tiba teriakannya itu yang disusul dengan tusukan golok ke arah dada Kim Hong, berubah menjadi teriakan kesakitan ketika tiba-tiba ada sinar hitam berkelebat dan terdengar bunyi meledak kecil yang disebabkan oleh lecutan ujung rambut Kim Hong yang menotok pergelangan tangan yang memegang golok.

"Aduhhh...!" Golok itu segera terlepas dari pegangan tangan yang tiba-tiba terasa lumpuh dan sebelum Si Jangkung dapat memperbaiki posisinya, sebuah tendangan kaki kiri Kim Hong mengenai pahanya.

"Dessss...!"

Si Jangkung terlempar sambil menyeringai kesakitan, berusaha bangkit, akan tetapi jatuh terduduk lagi karena bekas tendangan pada pahanya itu telah membuat pahanya memar, matang biru dan rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke jantung!

Empat orang yang lain menjadi terkejut dan marah. Mereka bergerak cepat dan memang ilmu barisan Lima Teratai mereka itu telah terlatih amat baik, bahkan sudah terlatih kalau-kalau ada di antara mereka yang terluka. Barisan itu memang berlima, akan tetapi mereka telah melatihnya sedemikian rupa sehingga bisa juga mereka mainkan berempat, bertiga, atau bahkan berdua saja tanpa menjadi kaku dan canggung. Sekarang empat orang itu berkelebatan dan gerakan mereka berbeda dari gerakan ketika mereka berlima tadi, akan tetapi tidak mengurangi ketangguhan mereka.

Bagaimana pun juga, kini Kim Hong tidak hanya menghadapi mereka dengan kaki tangan kosong, melainkan dia sudah mempergunakan senjatanya yang ampuh, yaitu rambutnya! Senjata ini bahkan lebih ampuh dari pada senjata lainnya, karena selain tak terduga-duga datangnya, digerakkan oleh kepala, juga senjata ini dapat dijadikan kaku mau pun lemas tergantung penggunaan tenaga sinkang yang dikerahkan oleh gadis perkasa itu.

Empat orang itu biar pun telah lama berkecimpung di dunia persilatan dan sudah banyak menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru sekaranglah mereka bertemu lawan seperti itu, dan melihat betapa suheng mereka telah roboh, maka mereka pun menjadi panik. Hal ini dapat terasa oleh Kim Hong, terasa dalam gerakan kerja sama yang tidak serapi tadi. Sekarang banyak terdapat lowongan-lowongan dan gadis perkasa itu pun segera hendak mempergunakannya.

"Hiaaaaattt...!"

Dia melengking lantas tubuhnya menerjang ke depan, melompat ke atas dan kaki kirinya menendang ke arah sepasang golok yang menyambutnya. Pemegang golok itu berteriak kesakitan dan sepasang goloknya terlempar, akan tetapi kaki kanan Kim Hong sudah tiba sebelum dia dapat mengelak.

"Bukkk!"

Orang itu terlempar ke belakang dan terbanting keras, terjengkang dan napasnya terasa sesak, dadanya terasa jebol. Sampai cukup lama dia hanya dapat terengah-engah sambil menekan dadanya.

"Haiiitttt...!"

Kim Hong kembali melengking, rambutnya menyambar bagaikan seekor ular hitam, tepat menotok pundak salah seorang pengeroyok yang tiba-tiba saja berubah menjadi patung, tak mampu bergerak dengan tangan kanan mengacungkan golok ke atas dan tangan kiri menusukkan golok ke depan. Kim Hong yang sudah berhasil menotoknya dengan ujung rambutnya, segera menggerakkan tangan kiri menampar.

"Plakkk!"

Tubuh orang ke tiga ini langsung terpelanting dan sepasang goloknya terlempar, matanya menjadi juling dan dia cepat-cepat duduk dengan kepala bergoyang-goyang karena bumi terasa berpusing di depannya.

"Hyaaaaattt...!" Kembali Kim Hong mengeluarkan suara lengkingan panjang, tubuhnya telah melayang ke atas. Dua orang sisa lawannya yang telah menjadi gentar sekali itu menyambut tubuhnya dengan tusukan dan bacokan golok.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuh yang ramping itu membuat gerakan salto di angkasa dan tahu-tahu dua orang itu kehilangan lawan mereka! Sebelum mereka sadar bahwa lawan yang amat lincah bagaikan burung walet itu berada di belakang mereka, tahu-tahu rambut kepala mereka sudah dijambak oleh sepasang lengan yang kecil halus namun kuat.

"Dukkkk...!" Keduanya mengeluh dan roboh, di kepala mereka tumbuh sebutir telur angsa dan kepala mereka terasa nanar dan pandang mata terasa berkunang!

Terdengar suara tepuk tangan. Kim Hong menoleh sambil tersenyum memandang kepada kekasihnya yang bertepuk tangan memujinya. Bulan telah naik tinggi dan sinarnya makin cerah. Langit bersih sekali sehingga cuaca menjadi semakin terang.

"Bagus sekali cara engkau menjatuhkan mereka, Kim Hong," kata Thian Sin memuji.

Yang dipuji amat girang dan bangga sekali. "Ahh, latihan yang menyenangkan. Kini tubuh terasa enak sekali!" kata Kim Hong sambil menggeliat seperti seekor kucing malas, muka diangkat seperti memandangi bulan, dada yang telah membusung itu makin dibusungkan, pinggang ditekuk, sepasang lengan yang masih tersingsing lengan bajunya itu diangkat ke atas dan ke belakang, menyanggul rambut yang tadi terlepas.

Di antara semua keindahan dalam gerakan wanita, salah satu di antaranya yang paling mempesonakan hati pria adalah kalau wanita itu membereskan rambut kepalanya dengan mengangkat dua lengan ke atas dan ke belakang! Gerakan ini mengandung kelembutan, keindahan dan kehalusan wanita sepenuhnya, bahkan di saat itu tampak seperti gerakan yang penuh gairah yang menantang. Hemmm...

Thian Sin merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan ini tandanya bahwa dia telah terangsang memandang kekasihnya seperti itu. Dia pun melangkah maju dan dipeluknya pinggang yang ramping dan sedang meliuk itu, ditariknya tubuh itu kemudian didekapnya kuat-kuat, lalu diciumnya mulut yang agak terbuka itu.

Terdengar Kim Hong mengeluarkan suara seperti seekor kucing dan kedua lengan yang sedang menyanggul rambut itu pun melingkar di leher Thian Sin, membuat rambut yang belum selesai disanggul itu terlepas dan terurai lagi.

Mereka berdua tak mempedulikan lagi lima orang yang telah dirobohkan tadi, tenggelam dalam buaian asmara, saling berangkulan, saling berciuman. Bahkan kesempatan itu lalu dipergunakan oleh lima orang Siang-to Ngo-houw untuk bangkit perlahan-lahan, menahan keluhan sambil menyeringai, kemudian perlahan-lahan mereka pun segera melarikan diri dari tempat itu.

"Ehh, kita harus menangkap seorang!" Tiba-tiba Thian Sin melepaskan ciumannya. Akan tetapi Kim Hong menahan dengan rangkulannya, lalu gadis itu menggunakan tangan kiri melepas sebuah tusuk konde di atas telinga, kemudian mengayunkan tangannya.

Terdengar jerit kesakitan dan seorang di antara Siang-to Ngo-houw terjungkal roboh dan tidak mampu bangkit lagi. Empat orang temannya melarikan diri dan agaknya melupakan seorang kawan mereka yang roboh. Sedangkan Kim Hong telah menarik muka Thian Sin lagi, melanjutkan permainan mereka yang tertunda tadi, tenggelam dalam kemesraan dan pencurahan kasih sayang.

Bagi yang belum mengenal pasangan muda-mudi ini pastilah akan merasa heran melihat keadaan mereka. Akan tetapi bagi pembaca yang sudah mengikuti perjalanan hidup dua orang ini dalam cerita Pendekar Sadis, tentu tidak akan merasa heran lagi. Latar belakang kehidupan mereka begitu suram dan gelapnya, pengalaman-pengalaman pahit getir telah membuat hati kedua orang muda ini terasa hambar dengan segala peraturan yang dibuat oleh manusia, termasuk pernikahan.

Mereka berdua saling mencinta, cinta yang tidak dibuat-buat, cinta yang memang timbul dari dalam hati mereka, bebas dari ikatan peraturan-peraturan umum. Mereka mengenal sifat dan cacat pasangan masing-masing. Mereka saling mencinta dengan mata terbuka. Mereka tidak mau mengikatkan diri dengan pernikahan, walau pun di dalam hati mereka terdapat kasih sayang mendalam yang agaknya tak memungkinkan mereka tertarik pada orang lain.

Kemesraan bisa saja timbul di antara mereka, di mana pun juga, di saat apa pun juga dan mereka tidak akan menyembunyikan perasaan mesra itu. Mereka berani bermesraan di mana pun karena mereka berdua sudah tidak begitu mau mempedulikan lagi soal-soal peraturan dan hukum yang mereka anggap palsu dan pura-pura. Apa bila mereka saling menyayang lantas timbul gairah untuk saling memperlihatkan kasih sayang, untuk saling meraba memeluk dan mencium, mengapa harus disembunyi-sembunyikan?

Mereka menganggap hal itu wajar dan tidak merugikan orang lain! Inilah sebabnya, maka sungguh pun sudah beberapa tahun hidup bersama di pulau kosong, sebagai suami isteri, mereka belum pernah menikah dalam arti kata disaksikan upacaranya oleh orang-orang lain, baik berdasarkan hukum agama, tradisi atau umum.

Tentu banyak pula orang yang akan mengernyitkan hidung dan mencibirkan bibir melihat keadaan mereka itu. Tentu banyak yang memberi komentar: tak tahu malu, tidak sopan, jorok dan cabul, kotor dan sebagainya. Namun sebaliknya, di samping itu, mungkin ada pula yang membenarkan.

Akan tetapi, bukan di situlah letaknya kebenaran. Bukan di dalam sehelai surat nikah, di dalam upacara agama, di dalam upacara tradisi, atau pun di dalam kesaksian para handai taulan letaknya kebahagiaan perjodohan. Melainkan di dalam cinta kasih!

Apa artinya memiliki surat-surat lengkap, dengan upacara yang megah, dengan perayaan yang meriah, dengan penghormatan yang berlebihan, kalau di dalam sebuah pernikahan tidak terdapat cinta kasih? Bahkan banyak sekali suami isteri yang saling tidak merasa cocok, namun memaksa diri untuk hidup bersama karena adanya ikatan berupa surat atau upacara atau hukum-hukum itu. Akibatnya, biar pun pada lahirnya, oleh orang-orang lain, mereka nampak sebagai suami isteri yang hidup serumah dan rukun sampai kakek nenek, tapi pada hakekatnya batin keduanya menderita hebat! Mau terbang menghindar, kaki sudah terikat oleh segala hukum dan pendapat umum.

Karena itu, tidak begitu penting mempertimbangkan benar tidaknya orang menjadi suami isteri dengan surat, dengan upacara, dan sebagainya. Yang paling penting adalah bahwa suatu perjodohan merupakan pendekatan antara dua orang, pria dan wanita, untuk hidup bersama dan hal ini baru benar kalau dilakukan dengan dasar saling mencinta! Hanya ini syarat utamanya, yang lain-lain itu hanyalah embel-embel yang tidak begitu penting bagi kebahagiaan bersuami-isteri. Syarat paling utama itu, yaitu cinta kasih dua fihak, harus dipenuhi lebih dahulu, baru orang boleh memikirkan syarat-syarat lain yang umum.


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Antara Thian Sin dan Kim Hong kadang-kadang terdapat ketidak cocokan sebab memang keduanya memiliki kekerasan hati yang membuat mereka kadang-kadang tak mau saling mengalah sehingga terjadi bentrokan. Namun, pada hakekatnya, di dasar atau lubuk hati mereka, kedua orang ini saling mencinta dengan amat mendalam sehingga pertentangan-pertentangan yang ada selalu dapat dikalahkan oleh perasaan saling menyayang itu. Dan selain cinta kasih kedua pihak, juga di antara keduanya sudah terdapat suatu kepekaan bersama sehingga hanya dengan saling pandang saja mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.

Setelah mencurahkan kasih sayang yang tiba-tiba timbul pada saat itu, keduanya menjadi lebih tenang. Kim Hong segera melepaskan diri dari pelukan kekasihnya lalu menengok, memandang ke arah salah seorang di antara Siang-to Ngo-houw yang tadi dirobohkannya dengan tusuk konde tadi.

"Akan kita apakan dia itu?"

"Dia penting sekali untuk membawa kita kepada pimpinannya, kepada yang mengutusnya atau kepada pemegang peta itu," kata Thian Sin dan keduanya lalu menghampiri orang itu.

Sambitan tusuk konde tadi menembus paha hingga orang itu tidak mampu bangkit berdiri, hanya duduk sambil memijit-mijit pahanya, menggigit bibir menahan rasa nyeri. Berulang kali dia menyumpah-nyumpahi keempat orang saudaranya yang meninggalkannya begitu saja.

"Bedebah! Pengkhianat mereka itu! Tidak mempunyai setia kawan sama sekali, keparat!" demikian dia menyumpah-nyumpah akan tetapi dia memandang dengan cemas pada saat melihat Thian Sin dan Kim Hong menghampirinya.

Baru sekarang dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian hebat sekali. Baru gadis itu saja sudah mampu merobohkan mereka berlima, belum lagi pemuda itu! Mulailah dia menduga-duga siapa gerangan pasangan muda mudi yang demikian lihainya ini.

"Nah, engkau sudah membuktikan kelihaian kami?" Kim Hong mengejek. "Sekarang lebih baik engkau mengaku terus terang!"

"Aku telah kalah dan telah ditinggalkan teman-temanku, kalian mau bunuh, terserah. Aku harus mengaku apa lagi?" Orang itu mencoba untuk menutupi rasa takutnya dengan sikap gagah. Siang-to Ngo-houw terkenal sebagai orang-orang gagah, karena itu dia pun harus bersikap gagah.

"Sobat, kalian Siang-to Ngo-houw datang dan berusaha membunuh kami, juga berusaha merampas kunci emas yang ada padaku," kata Thian Sin. "Namun kami masih menaruh kasihan, tak mau membunuh kalian. Maka ceritakanlah, siapakah yang mengutus kalian? Siapa yang telah menguasai peta rahasia itu? Katakan dan kami akan membebaskanmu."

Wajah yang sudah pucat itu nampak semakin ketakutan. Orang itu menoleh ke kanan kiri, sikapnya ngeri dan ketakutan, lalu dia menggelengkan kepala keras-keras. "Tidak! Tidak ada yang mengutus kami. Aku tidak tahu!"

Thian Sin dan Kim Hong sudah cukup berpengalaman untuk dapat mengerti bahwa orang ini amat takut pada yang mengutusnya. Lalu Thian Sin berkata kembali, "Sobat, engkau tentu tidak asing dengan Hwa-i Kai-pang, bukan?"

Orang itu nampak terkejut dan memandang kepada wajah Thian Sin dengan kedua mata terbelalak. "Bagaimana engkau tahu?" dia balas bertanya.

"Aku mengenal dasar-dasar gerakan Ngo-lian Pang-hoat dalam ilmu golok kalian. Tentu kalian masih mempunyai hubungan dengan Hwa-i Kai-pang, atau lebih tepat lagi dengan Lo-thian Sin-kai tokoh utama Hwa-i Kai-pang itu."

"Dia adalah mendiang suheng kami! Siapa... siapakah engkau?"

Thian Sin maklum bahwa orang yang amat takut kepada kepalanya ini perlu dibuat gentar agar suka mengaku. "Aku adalah kenalan lama Hwa-i Kai-pang, dulu aku dikenal sebagai Pendekar Sadis..."

"Ahhhh...!" Orang itu terbelalak dan berusaha menjauh seperti mendadak melihat seekor ular yang amat berbabaya. "Pendekar... Sadis...?"

Diam-diam Thian Sin merasa girang melihat ketakutan terbayang di wajah itu. "Benar, dan engkau mengerti bahwa sebaiknya mengaku dari pada harus merasakan tanganku!" Dia sengaja mengancam.

"Tapi... tapi... aku takut..."

"Dan tidak takut kepada Pendekar Sadis?" kembali Thian Sin menghardik.

"Ahh... ampunkan nyawaku... kami... kami disuruh..." Tiba-tiba terdengar suara berdesing-desing.

Dua orang pendekar itu langsung meloncat untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panah kecil yang meluncur dengan kecepatan kilat ke arah dada mereka tadi. Namun, pada saat itu terdengar pekik mengerikan dan orang yang mereka tanyai tadi terjengkang, berkelojotan dengan anak panah menembus dadanya!

"Setan...!" Kim Hong yang memiliki gerakan cepat itu sudah melayang ke arah dari mana datangnya anak panah tadi, akan tetapi ia tidak dapat menemukan orang. Selain cuaca remang-remang yang menjadi penghalang, juga agaknya pelepas anak panah itu memiliki kecepatan yang hebat pula, maka secepat itu telah menghilang. Ketika Kim Hong kembali lagi, dia melihat Thian Sin melepaskan tubuh yang tadi diperiksanya itu. Tubuh itu terkulai lemas tanda tidak bernyawa lagi.

"Orangnya telah pergi, terlampau gelap untuk dapat mengejarnya. Kau kira siapakah yang melakukannya? Teman-temannya tadi?"

Thian Sin menggelengkan kepala. "Tentu orang lain. Anak panah itu menembus jantung, bahkan mematahkan tulang iga. Jelas bahwa tenaga orang yang melepaskannya sangat kuat, lebih kuat dari pada tenaga bekas-bekas lawanmu tadi. Dan ini membuktikan bahwa orang yang mengutus Siang-to Ngo-houw tadi, atau orang yang menguasai peta rahasia itu, bukanlah orang sembarangan. Kita berhadapan dengan penjahat besar yang memiliki banyak pembantu lihai, maka kita harus berhati-hati."

Kim Hong menarik napas panjang, menyesal. "Akan tetapi ke mana kita harus mencari dia? Satu-satunya orang yang dapat menghubungkan kita kepadanya telah dibunuh."

"Tak ada jalan lain kecuali menunggu. Dia telah mengirim Siang-to Ngo-houw dan gagal, kurasa seorang penjahat besar seperti dia tentu tak mudah putus asa dan akan mengutus pembantu lain yang lebih cakap dan lebih kuat. Kita menunggu saja. Umpan kunci emas masih ada pada kita dan tentu kakap-kakap besar akan berdatangan. Kita hanya tinggal waspada saja melihat ikan macam apa yang akan menyambar umpan."

Thian Sin dan Kim Hong meninggalkan mayat itu, segera kembali ke rumah penginapan mereka. Karena tahu akan lihai dan berbahayanya musuh, ada sedikit ketegangan dalam hati mereka. Akan tetapi ketegangan ini membuat mereka menjadi makin akrab, merasa semakin dekat dan harus saling melindungi.

Semuanya ini membuat mereka akhirnya menumpahkan perasaan masing-masing dalam keadaan amat mesra, sehingga malam itu mereka sama sekali sudah melupakan seluruh ketegangan dan ancaman bahaya, hanyut dalam kemesraan.

********************

Selama dua hari berikutnya tidak terjadi sesuatu dan hal ini membuat Thian Sin dan Kim Hong merasa kecewa dan tidak sabar. Ikan yang dinanti-nanti tak kunjung muncul! Thian Sin tidak percaya bahwa kepala penjahat itu menjadi jeri. Perbuatannya membunuh salah seorang di antara Siang-to Ngo-houw itu saja sudah membuktikan bahwa kepala penjahat itu tidak menjadi jera dan jeri. Pasti akan muncul, pikirnya penuh keyakinan.

Malam itu mereka berdua pergi ke rumah makan terbesar di kota raja. Rumah makan ini terkenal sekali dengan masakan ikan-ikan laut. Rumah makan besar itu sudah setengah penuh pada saat Thian Sin dan Kim Hong memasukinya, disambut oleh seorang pelayan dengan ramahnya dan pelayan itu segera menyodorkan daftar masakan.

Thian Sin dan Kim Hong tersenyum-senyum gembira membaca daftar masakan itu. Daftar yang sungguh luar biasa dan sangat berbeda dengan yang terdapat di restoran-restoran lainnya. Selain terbuat dari kain yang indah, juga tulisannya amat indah, daftar itu memuat nama-nama masakan yang aneh-aneh.

"Jantung ular laut?" Kim Hong membaca sambil terbelalak. "Benarkah itu?"

"Ahh, paling-paling itu hanya daging belut laut. Coba lihat ini. Masak Burung Hong Merah! Bukan main! Aku berani bertaruh bahwa ini tentu hanya masak ayam saus tomat, tentu saja kemerahan."

"Wah, ini ada Ca Kaki Biruang, ada Otak Ki-lin goreng, Sup Naga Hitam, dan Panggang Daging Srigala!" teriak Kim Hong.

"Ha-ha, biruangnya tentu hanya babi, ki-lin itu tak salah lagi tentu babi hutan, naga hitam itu boleh jadi hanya daging ular hitam saja, dan srigala itu, apa lagi kalau bukan anjing?"

Mereka tertawa-tawa dan ketika pelayan datang, mereka bertanya dan memang sebagian besar dugaan Thian Sin tadi benar adanya.

"Di samping sebagai penambah selera, juga untuk menguji kecerdasan tamu yang suka menduga-duga." kata si pelayan sambil tersenyum ramah.

Maka sibuklah Kim Hong memillh masakan yang namanya seram-seram dan aneh-aneh itu. Ada yang disebut siluman laut bongkok yang ternyata hanyalah udang besar saja! Rajawali leher panjang ternyata hanya bebek! Betapa pun juga, sesudah semua hidangan dikeluarkan, sepasang muda mudi ini harus mengakui bahwa masakan di rumah makan itu memang istimewa lezatnya.

Ketika mereka berkelakar tentang nama-nama hebat dari masakan-masakan itu, seorang pemuda yang telah lebih dahulu duduk tidak jauh dari meja mereka, memandang kepada mereka dengan wajah ramah. Thian Sin melihat ini dan diam-diam dia memuji wajah yang tampan dan sepasang mata yang kelihatan cerdas itu.

Akan tetapi, ketika pernah satu kali Kim Hong bertemu pandang mata dengan pemuda itu, dia tersenyum dan kedua pipinya menjadi agak merah. Sebagai wanita, ia segera merasa betapa sinar mata yang ditujukan padanya itu penuh dengan kekaguman dan kegairahan yang tidak disembunyikan.

Kalau saja si pemandang tidak berkenan di hatinya, tentu Kim Hong sudah marah. Akan tetapi ada sesuatu di wajah pemuda itu yang menarik hatinya, wajah tampan dan halus, sinar mata tajam dan dagu yang membayangkan kegagahan. Seorang pemuda yang tentu bukan orang sembarangan, pikirnya.

Pula, melihat betapa pemuda itu diam-diam memperhatikan mereka dan tersenyum serta bersikap ramah bersahabat terhadap mereka, diam-diam di dalam hati Thian Sin dan Kim Hong sudah timbul kecurigaan. Mereka saling pandang dan tahu akan isi hati masing-masing yang menaruh curiga terhadap pemuda tampan itu. Siapa tahu, dialah ikan kakap yang mereka nanti-nanti selama dua hari ini!

Secara sambil lalu, mereka mulai memperhatikan pemuda itu. Dan seperti juga mereka, pemuda itu memesan beberapa macam masakan dan kelihatannya cukup royal, sungguh pun tidak sangat gembul karena masakan-masakan itu hanya dicicipi sedikit-sedikit saja.

Akan tetapi pemuda itu sungguh kuat sekali minum arak. Sudah ada sepuluh cawan yang diminumnya, tetapi mukanya masih nampak berseri, sama sekali tidak menjadi pucat atau merah seperti biasanya kalau orang mulai terpengaruh arak.

Usia pemuda itu kurang lebih dua puluh tiga tahun, pakaiannya seperti pelajar, sederhana biar pun terbuat dari sutera yang cukup halus. Ketika itu, guci kecil araknya telah kosong dan dia pun menggapai kepada seorang pelayan yang lewat didekatnya. Setelah pelayan mendekat, dengan suara yang cukup lantang sehingga bisa terdengar oleh Thian Sin dan Kim Hong, pemuda itu bertanya, sambil memandang catatan pada daftar makanan,

"Bung, selain Arak Bunga Surga seperti yang kau suguhkan tadi, apakah ada juga Arak Dewa Panjang Usia yang disimpan dalam kamar pusaka dengan kunci emas?" Suaranya berlagu, terdengar lucu bagai orang membaca sajak sehingga beberapa orang menengok dan tersenyum. Pelayan itu sendiri tertawa.

"Ha-ha-ha, kongcu pandai sekali membuat nama yang bagus. Biar saya usulkan kepada majikan supaya menambahkan nama itu. Arak Dewa Panjang Usia! Bagus sekali!" kata si pelayan. "Akan tetapi sayang, arak yang ada di sini, yang terbaik hanyalah Arak Bunga Sorga tadi."

"Baiklah, tambah satu guci lagi." kata si pemuda yang wajahnya bulat itu. Alisnya yang hitam tebal itu bergerak-gerak, matanya berkilat dan senyumnya berseri. "Awas, jangan keliru mengambilkan Arak Bunga Neraka, ya?"

Beberapa orang tertawa keras atas kelakar pemuda ini. Thian Sin dan Kim Hong saling pandang. Bagi mereka, yang paling penting adalah disebutnya kunci emas tadi oleh si pemuda. Tidak salah lagi, tentu pemuda ini mempunyai hubungan dengan urusan yang sedang mereka selidiki.

Seorang utusan lainkah? Apa bila memang demikian, sungguh luar biasa sekali kepala penjahat itu. Bermacam-macam saja pembantunya. Ataukah pemuda ini tak sengaja dan hanya kebetulan saja menyebut kunci emas tadi? Kelihatannya begitu tenang saja, tidak memperlihatkan tanda-tanda hendak menghubungi mereka.

Pemuda itu minum lagi sambil menyumpit hidangan di depannya, kemudian dengan lagak orang mabok, menggoyang-goyangkan kepala sedikit padahal matanya masih bening, dia pun bernyanyi.

Mengganyang kaki biruang melahap sup naga mengunyah daging srigala minum arak bunga sorga! betapa enak tak terkira akan tetapi biruang naga dan srigala mengepung diri kita! betapa mengerikan jadinya! Hiiiiiihh!

Kembali terdengar orang tertawa di sana sini mendengar sajak yang lucu ini. Kim Hong juga memandang dan memang pemuda tampan itu nampak lucu pada saat menggoyang-goyangkan kepala sambil membaca sajak itu. Apa lagi kata terakhir yang membayangkan ketakutan itu, diucapkan dengan mata terbelalak dan muka membayangkan kengerian.

Thian Sin berbisik, "Dia inikah...?"

Kim Hong menggeleng. "Entah, tapi dia lucu."

Pada saat itu nampak seorang gadis muda memasuki rumah makan, langsung disambut dengan penuh kehormatan oleh kepala pelayan sendiri. "Selamat sore, nona. Silakan duduk. Apakah nona sudah pesan seperti biasa? Untuk beberapa orangkah?"

Gadis itu tersenyum dan jantung Thian Sin berdebar. Gadis yang manis dan mempunyai daya pesona yang kuat! Terutama sekali lesung pipit pada pipi kiri dan tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu. Sungguh menyegarkan mata!

Usia gadis itu kurang lebih dua puluh satu tahun dan melihat dandanannya, tentu seorang nona yang kaya raya. Pinggangnya tak seramping pinggang Kim Hong, akan tetapi dada dan pinggul yang membusung itu mendatangkan gairah.

"Kali ini aku sendirian saja, Kwa-lopek. Sediakan masakan kesukaanku, cepatan sedikit karena aku tidak akan lama di sini." jawab gadis itu dan dari percakapan antara gadis itu dan si kepala pelayan, mudah diduga bahwa tentu gadis ini amat dikenal dan merupakan seorang langganan yang amat baik dari restoran besar ini. Thian Sin juga melihat betapa beberapa orang yang berada di situ, mengangguk dengan hormat kepada si nona manis.

"Lopek, aku ingin duduk di meja ini, tidak begitu panas di sini, memperoleh angin dari luar. Malam ini panas sekali!" katanya sambil mengipasi leher dengan kipasnya. Wangi harum menyambar ke arah meja Thian Sin dari gerakan kipas itu.

Meja yang dipilih adalah meja yang berdekatan dengan meja Thian Sin, di antara meja pendekar itu dan meja pemuda yang bersajak tadi. Akan tetapi meja itu dipakai oleh dua orang laki-laki bersama isteri mereka. Sesudah mendengar bahwa nona itu memilih meja mereka, empat orang itu cepat-cepat bangkit berdiri dan berkata kepada kepala pelayan,

"Biarlah hidangan kami dipindahkan ke meja lain agar meja ini dapat dipakai oleh nona..."

Gadis manis itu hanya memandang pada mereka dengan sedikit menganggukkan kepala sebagai pernyataan terima kasih. Mendongkol juga rasa hati Kim Hong melihat ini.

"Ini namanya tak mengenal budi!" katanya agak keras sehingga tentu saja terdengar oleh nona itu, akan tetapi karena dia bicara bukan sebagai penyerang langsung, nona itu pun hanya melirik saja.

Setelah dua pasangan itu pindah dan meja dibersihkan, nona itu kemudian duduk sambil mengipasi lehernya. Dia mengambil sebuah tas kecil yang lalu dibukanya, dan dibereskan rambutnya sambil memandang sebuah cermin kecil yang berada di dalam tas.

Akan tetapi, Thian Sin yang berada di belakang gadis itu tetapi agak ke samping, sempat melihat cermin itu dan melihat sepasang mata jeli yang memandang langsung kepadanya, kemudian sebuah di antara dua mata jeli itu berkedip kepadanya! Kedipan yang memang disengaja, kedipan yang ada maksudnya! Dan sekarang nampak sepasang bibir merah di cermin itu tersenyum kepadanya, memperlihatkan deretan gigi putih mengintai dari balik daging merah mulut itu! Sebuah tantangan yang manis!

Akan tetapi, kalau Thian Sin tertarik memandang kepada gadis manis itu melalui cermin di dalam tas yang sengaja diarahkan kepadanya, sebaliknya dengan diam-diam Kim Hong memperhatikan pemuda yang bersajak tadi. Pemuda itu pun jelas kelihatan tertarik sekali kepada gadis ini, dan wajah yang tadinya mengandung seri jenaka itu kini berubah serius, akan tetapi tetap saja kekaguman terbuka terpancar dari matanya pada saat memandang gadis itu, seperti ketika memandang kepadanya.

Diam-diam ada rasa tidak enak di hati Kim Hong, seolah-olah dia merasa bahwa dia telah memperoleh seorang saingan yang cukup berat! Maka dia mengerling ke arah gadis itu dan matanya yang tajam sempat melihat wanita itu mempermainkan cermin kecil di dalam tasnya. Akan tetapi, biar pun ia tahu bahwa melalui cemin itu si gadis manis tentu sedang menyelidiki sesuatu, Kim Hong tidak tahu bahwa wajah Thian Sin-lah yang terpantul di dalam cermin yang dipermainkan oleh jari-jari tangan gadis itu.

Sebagai seorang langganan yang baik, tentu saja pesanan nona itu mendapat pelayanan yang cepat sekali. Sebentar saja, semua hidangan yang dipesannya sudah datang, diatur di atas meja depan nona itu, mengepulkan uap panas. Karena ia hanya seorang diri saja, maka yang dipesannya hanya empat macam masakan sehingga meja itu terlampau besar baginya, sebab sebagian besar meja itu masih kosong.

Nona itu pun mulai makan dengan sikap tenang, sedikit pun tidak merasa canggung biar pun dia tahu bahwa banyak pasang mata lelaki memandang kepadanya, sebagian besar secara melirik sembunyi-sembunyi, kecuali mata beberapa orang laki-laki, termasuk mata pemuda sastrawan tadi yang duduk berhadapan dengannya, serta mata Thian Sin yang duduk di arah belakangnya.

Thian Sin melihat pula betapa pemuda sastrawan itu menatap wajah orang yang sedang makan dengan asyik sekali. Hemm, agaknya dia akan membuat sajak dari gerakan mulut gadis yang tengah makan itu, pikirnya mendongkol karena tempat duduk pemuda itu lebih trategis apa bila dibandingkan dengan tempat duduknya yang hanya memungkinkan dia memandang wajah itu dari samping agak belakang saja.

"Huh, jalangmu kumat pula!" Mendadak terdengar bisikan Kim Hong dan sebuah cubitan pada pahanya hampir membuat Thian Sin menjerit.

"Hushhh..." Bisiknya membalas. "Siapa tahu dia adalah kakap pula..."

"Memang kakap untuk kejalanganmu!" hati Kim Hong masih panas akibat melihat pemuda sastrawan itu agaknya mengalihkan perhatian, tertarik kepada si gadis yang baru datang saja sudah membuat hatinya panas, merasa tersaing. Apa lagi dia melihat Thian Sin juga longak longok!

Dia mengenal watak Thian Sin yang romantis, yang senang akan kecantikan wanita dan hatinya mudah jatuh pada wajah cantik, akan tetapi dia pun tahu bahwa di lubuk hatinya, Thian Sin hanya mencinta dia seorang. Dan ia pun tahu bahwa ia tak dapat menyalahkan Thian Sin, karena dia sendiri selalu tertarik dan kagum apa bila melihat pria tampan dan gagah, walau pun cintanya hanya untuk Thian Sin seorang.

Thanks for reading Harta Karun Jenghis Khan Jilid 02 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »