Asmara Berdarah Jilid 15

WANITA berambut putih itu mengelak dengan satu loncatan tinggi. Ketika tongkat lewat di bawah kakinya, nenek itu membalas serangan dengan tamparan tangan dari atas. Akan tetapi Siangkoan Lo-jin juga telah melanjutkan babatan tongkat tadi dengan membalikkan tongkatnya dan kini gagang tongkat yang berbentuk kepala ular atau naga itu menyambut serangan nenek itu dengan dorongan kuat!

Hampir saja Ratu Iblis itu celaka ketika gagang tongkat itu menyambut dadanya langsung dari depan. Namun dia lihai bukan main. Dalam keadaan meloncat tadi, selagi tubuhnya melayang di udara dan didorong tongkat, tiba-tiba rambutnya menyambar ke depan ketika dia menggerakkan kepalanya dan ribuan helai rambut membelit ujung tongkat. Tubuhnya lantas terbawa oleh gerakan tongkat sehingga tubuh itu terpelanting, akan tetapi berkat rambutnya yang bertahan pada tongkat, maka dia tidak sampai terkena dorongan, juga tidak sampai terbanting ke atas batu.

Siangkoan Lo-jin terkejut sekali ketika tubuh lawan menempel seperti lintah di tongkatnya. Dia tidak dapat melihat, juga tidak dapat mengikuti gerakan rambut yang halus itu, hanya mengira bahwa lawannya tentu menggunakan semacam senjata lemas untuk menangkap ujung atau gagang tongkatnya. Maka dia segera memutar tongkatnya agar tubuh itu ikut terputar dengan cepat.

Untung bagi Ratu Iblis bahwa dia dapat menduga maksud lawan. Jika dia sampai terbawa berputar oleh tongkat pada rambutnya, dia dapat celaka, terbanting keras atau rambutnya tercabut dari kepala! Namun nenek ini cerdik sekali. Dia dapat menduga siasat lawannya, maka cepat ia melepaskan rambutnya pada satu kali putaran, dan dengan berjungkir balik di udara sampai lima kali ia dapat mematahkan tenaga putaran itu lalu melayang turun ke atas batu.

Namun Iblis Buta sudah menyambutnya lagi dengan hantaman-hantaman dahsyat hingga membuat nenek itu terpaksa berloncatan ke sana-sini dengan sigapnya, bagaikan seekor lalat saja.

"Dinda, jangan main-main, cepat bereskan dia!" terdengar kakek yang duduk bersila itu berkata. Dan tiba-tiba saja terdengar suara getaran lembut, seperti suara nyamuk yang beterbangan di dekat telinga. Akan tetapi suara mendengung itu makin lama semakin kuat sehingga menusuk telinga.

Sui Cin terkejut sekali. Suara mendengung yang tadinya lembut seperti suara nyamuk itu kini benar-benar merupakan suara yang amat menyiksa dan tahulah dia bahwa suara itu dikeluarkan oleh Raja Iblis, suara mengandung khikang yang sangat kuat, semakin lama semakin kuat. Terpaksa dia harus mengerahkan sinkang untuk bertahan, karena dia tahu bahwa apa bila dibiarkan saja, kekuatan yang tersembunyi dalam suara itu akan merusak jantungnya dan akan merusak telinganya.

Pada saat dia melirik ke arah Hui Song, dia pun melihat betapa pemuda itu juga sedang mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan suara yang sangat menyiksa itu. Demikian juga dua orang kakek sakti. Maka tahulah Sui Cin bahwa memang suara mendengung itu amat kuat.

Dan sekarang terjadi perubahan pada perkelahian di atas batu besar. Jika tadi Siangkoan Lo-jin menggerakkan tongkatnya dengan ganas sehingga Ratu Iblis sibuk mengandalkan ginkang-nya untuk mengelak terus menerus, kini dia nampak seperti orang kebingungan. Jelas bahwa dia terserang suara itu dan hal ini sungguh membuat dia bingung. Biar pun dengan sinkang-nya yang kuat dia mampu bertahan sehingga suara mendengung itu tak sampai melukainya, namun tetap saja pendengarannya terganggu.

Untuk berkelahi dia sepenuhnya hanya mengandalkan pendengaran saja. Akan tetapi kini pendengarannya terganggu suara berdengung yang semakin kuat itu, menggetarkan anak telinga sehingga tak mungkin lagi dia bisa mengikuti gerakan Ratu Iblis dengan seksama. Maka kini dia hanya memutar tongkatnya secara ngawur saja, bagaikan sebuah perahu tanpa kemudi dan tanpa kompas. Sudah tentu saja menghadapi seorang lawan selihai Ratu Iblis, tidak mungkin dilawan dengan pemutaran tongkat secara ngawur.

"Plakkk!"

Sebuah tamparan yang sangat keras dari tangan kiri Ratu Iblis mengenai telinga kanan Siangkoan Lo-jin. Tamparan itu masuk menyelinap melewati putaran tongkat dan sama sekali tidak mampu dielakkan atau ditangkis oleh Siangkoan Lo-jin yang kini benar-benar menjadi seperti buta-tuli itu.

"Ahhh...!" Tubuh kakek itu terpelanting.

Tamparan itu sangat keras, bukan hanya mengandung tenaga sinkang akan tetapi juga mengandung hawa beracun. Seketika muka kakek buta itu yang sebelah kanan menjadi kehijauan dan telinga kanannya menjadi rusak. Darah segar mengalir keluar dari telinga itu!

Akan tetapi kakek buta itu memang hebat bukan main. Setua itu dia masih memiliki daya tahan yang mengagumkan. Padahal, apa bila orang lain yang terkena pukulan seperti itu, tentu akan roboh dan tewas, atau setidaknya terluka parah dan tak mampu melawan lagi. Namun begitu terpelanting, kakek ini mempergunakan tongkatnya melindungi tubuh agar tidak menerima serangan susulan, lantas sekali menggerakkan tubuh dia sudah meloncat bangkit lagi dan memutar tongkatnya.

Kini bagaikan orang gila dia mengamuk, memutar tongkatnya sambil kakinya meraba-raba dan melangkah ke kanan kiri dengan tegapnya! Darah yang bercucuran keluar dari telinga kanannya tidak mengurangi kegesitannya.

Akan tetapi sekarang dia sungguh tidak berdaya, seperti seekor tikus menghadapi seekor kucing yang mempermainkan dirinya. Telinga kanannya sudah rusak, sedangkan telinga kirinya seperti tuli saja karena dipenuhi suara berdengung-dengung yang keluar dari dalam kerongkongan Raja Iblis.

Kini tahulah Sui Cin bahwa Raja Iblis itu secara lihai sekali menyerang dengan suara dan membuat Iblis Buta menjadi tidak berdaya sama sekali. Sungguh cerdik dan licik! Pantas saja dia tak mau melawan Siangkoan Lo-jin yang dianggapnya terlalu rendah atau terlalu lemah. Kiranya sekali berhadapan saja, Raja Iblis itu telah tahu apa yang harus dilakukan untuk melumpuhkan lawan dan isterinya saja sudah lebih dari cukup untuk menghadapi lawan ini.

"Desss...!"

Kembali Ratu Iblis memukul dan sekali ini pukulannya mengenai telinga kiri kakek buta itu. Kini darah juga mengucur keluar dari telinga kiri yang rusak dan tubuhnya terhuyung-huyung. Akan tetapi dia masih sanggup bertahan dan tidak roboh! Kembali dia memutar tongkatnya.

Sui Cin mengerutkan alisnya. Dia melihat betapa nenek berambut putih itu tersenyum dingin, senyum yang amat keji dan sinar mata yang mencorong itu kini berkilauan seperti mata seekor binaang buas yang haus darah. Penuh kesadisan! Tahulah dia bahwa nenek itu sengaja tidak mau merobohkan lawan, melainkan hendak mempermainkannya terlebih dahulu.

Tiba-tiba suara mendengung itu lenyap dan hal ini benar-benar mendatangkan perasaan yang amat tidak enak dalam hati. Kalau tadi ada suara mendengung-dengung sehingga dia terpaksa harus mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan, kini suara itu mendadak lenyap akan tetapi telinganya masih saja mendengar suara dengungan itu, seakan-akan selamanya tidak akan mau meninggalkan telinga.

Dan perasaan tidak enak ini dapat nampak pada wajah semua orang yang berada di situ, yang tadi pun semua mengerahkan sinkang melawan suara yang menyiksa itu. Sungguh hebat sekali serangan suara Raja Iblis.

Agaknya memang benar dugaan Sui Cin. Kini Ratu Iblis itu mempermainkan Siangkoan Lo-jin yang sudah tidak dapat menggunakan pendengarannya lagi. Wanita itu berloncatan ke sana sini dan begitu tiba di belakang kakek yang mengamuk ke depan, dia mengirim tamparan. Tidak cukup keras untuk dapat mematikan lawan, akan tetapi juga tidak terlalu perlahan karena setiap kali terkena tamparan, tubuh kakek itu segera terputar-putar dan terhuyung-huyung.

Muka kakek itu telah berlumuran darah. Darah bercucuran dari mulut, hidung dan telinga, bahkan kedua matanya menjadi sasaran-sasaran pukulan ringan yang cukup membuat biji mata yang tak dapat melihat itu pecah-pecah dan berdarah. Namun kakek itu dengan semangat pantang mundur melawan terus dengan napas terengah-engah!

Yang mengerikan, di antara para tokoh yang berada di kelompok yang menakluk kepada Raja dan Ratu Ibils, terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan. Mereka itu nampak beringas, bagai harimau-harimau mencium darah, dan semakin tersiksa Si Iblis Buta maka semakin gembira pula suara mereka bersorak-sorak.

"Dinda, hentikan main-main itu. Bereskan dia!" Kembali terdengar Raja Iblis berkata.

"Dukkk...! Aughhhh...!"

Tubuh Siangkoan Lo-jin terjengkang dan terbanting jatuh ke bawah batu. Di atas tanah, tubuh itu berkelojotan akan tetapi tongkat hitam kayu cendana masih saja dipegangnya erat-erat. Kakek itu tewas dengan dada pecah dan dengan senjata masih di tangan!

Sui Cin menahan napas menahan isak. Dia tahu bahwa kakek buta itu juga seorang datuk sesat yang kejam seperti iblis. Akan tetapi melihat kakek ini tersiksa seperti itu, hatinya menjadi panas dan dia membenci Raja dan Ratu Iblis itu.

Akan tetapi dia masih ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan menuruti perasaan hati terhadap dua orang yang benar-benar memiliki kepandaian amat hebat itu. Maka dia pun segera menahan diri, sejenak menundukkan muka dan mengumpulkan hawa murni untuk menenangkan batinnya yang terguncang.

Ketika dia mengangkat muka lagi, dia melihat betapa para iblis Cap-sha-kui dan semua datuk yang tadinya berdiri dengan sikap menentang di belakang Si Iblis Buta, kini telah menjatuhkan diri berlutut. Agaknya sekarang mereka maklum bahwa setelah suami isteri Kui-kok-pang dan Siangkoan Lo-jin sendiri tewas di tangan pangeran dan isterinya yang mengangkat diri menjadi Raja dan Ratu Iblis, tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk dapat menang. Menentang suami isteri yang amat lihai itu berarti mencari kematian yang mengerikan.

Ratu Iblis tersenyum dingin melihat sebelas orang Cap-sha-kui dan dua orang tokoh sesat lainnya berlutut tanda menakluk. "Kalian tadi berani menentang kami, untuk hal itu saja sudah cukup bagi kami untuk membunuh kalian! Akan tetapi karena kalian sudah insyaf dan menyerah, kalian harus bersumpah untuk selamanya tak akan menentang kami lagi. Bersediakah kalian disumpah?"

Cap-sha-kui kini tinggal sebelas orang lagi karena suami isteri Kui-kok-pang telah tewas. Mereka adalah datuk-datuk sesat yang sangat lihai dan ditakuti, akan tetapi mereka juga maklum bahwa kini berhadapan dengan dua orang yang memiliki kepandaian amat tinggi. Dan mereka tahu pula bahwa nenek berambut putih itu tidak mengancam kosong belaka. Kalau mereka menolak untuk takluk dan bersumpah, tentu nenek itu tidak akan ragu-ragu turun tangan membunuh mereka semua!

"Kami bersedia!" Serentak mereka menjawab!

Nenek itu kemudian menghadap ke arah suaminya yang masih duduk bersila dan sambil menjura dia pun berkata, "Pangeran, silakan. Saya akan menyumpah mereka."

Pangeran Toan Jit Ong membuka matanya dan bangkit berdiri. Tubuhnya yang jangkung nampak semakin tinggi dan Sui Cin memandang penuh perhatian kepada kakek berambut putih ini. Tadi dia mendengar bahwa kakek ini bernama Pangeran Toan Jit Ong. Hal ini mengingatkan dia dengan sesuatu yang membuat dara ini diam-diam merasa jantungnya berdebar dan dia bergidik.

Ibunya, yang selama ini dianggapnya sebagai seorang wanita gagah perkasa, seorang pendekar wanita yang hebat, kabarnya pernah menjadi seorang datuk sesat di selatan! Dan ibunya itu pun she Toan! Kakeknya, yaitu ayah dari ibunya yang sudah meninggal, bernama Pangeran Toan Su Ong! Jangan-jangan masih ada hubungan keluarga di antara kakeknya, Toan Su Ong itu dengan Raja Iblis yang mengaku bernama Pangeran Toan Jit Ong ini. Apa bila benar demikian, berarti Raja Iblis masih kakeknya juga! Kakek paman! Sungguh mengerikan, pikirnya.

Dengan gerakan perlahan dan tenang sekali, kakek berambut putih itu lalu mengeluarkan sebuah tongkat pendek hitam dari pinggangnya, yaitu sebatang tongkat yang panjangnya hanya dua kaki dan dari jauh hanya nampak kehitaman. Kakek itu mengangkat tongkat ke atas kepalanya dengan sikap menghormat sekali.

Dengan perasaan heran bukan main, Sui Cin melihat betapa Dewa Arak dan Dewa Kipas bersikap hormat pula dan menundukkan muka menghadap ke arah tongkat hitam itu!

"Kalian semua lihatlah baik-baik. Tongkat di tangan Raja kalian itu adalah Tongkat Suci, tongkat keramat pegangan para kaisar jaman dahulu, yang sampai sekarang pun masih dianggap suci dan dapat membuka semua pintu di istana kaisar! Pemegang tongkat suci ini berhak menasehati bahkan menegur kaisar yang mana pun juga. Tongkat suci ini pun mengandung kekuasaan untuk menghukum siapa saja yang bersalah, termasuk kaisar! Oleh karena itu kalian harus menganggap tongkat ini sebagai tongkat suci dan disaksikan oleh tongkat suci ini kalian diminta bersumpah. Bersediakah kalian?"

"Kami bersedia!" Jawab belasan orang itu yang sudah terpengaruh oleh keterangan Ratu Iblis mengenai tongkat hitam itu.

"Nah, ikuti kata-kataku!" kata nenek itu, kemudian dengan suara lantang ia mengucapkan kata-kata sumpah sekalimat demi sekalimat yang ditirukan oleh belasan orang itu dengan serempak.

"Kami bersumpah bahwa semenjak saat ini kami mengangkat Pangeran Toan Jit Ong dan isterinya menjadi Raja serta Ratu kami. Kami bersumpah akan mentaati semua perintah mereka dan kami siap mengorbankan nyawa untuk membela Tongkat Suci! Kami bersama seluruh murid serta keturunan kami akan selalu menjunjung Tongkat Sakti atau Tongkat Suci, dan akan taat kepada pemilik atau pemegangnya. Kalau kami melanggar, kami rela mati di ujung Tongkat Suci! Sumpah kami ini disaksikan oleh tongkat suci dan kesaktian tongkat suci akan menghukum kami, biarlah Bumi dan Langit akan mengutuk kami hingga tujuh turunan kalau kami melanggar sumpah!"

Sui Cin meleletkan lidahnya. Sungguh merupakan sumpah yang sangat berat, dan secara diam-diam dia memikirkan keadaan dua kakek sakti yang datang bersamanya ke tempat itu. Seperti itu pulakah sumpah kedua orang sakti ini maka kini mereka begitu ketakutan?

Kebetulan pada saat itu kakek katai memandang kepadanya dan agaknya kakek itu dapat menangkap pertanyaan di dalam hati Sui Cin itu melalui pandang matanya, karena kakek itu seakan-akan memberi jawaban dengan mengangguk-angguk!

Nampak Raja Iblis itu menyimpan kembali tongkat hitamnya dan berdiri tegak menghadapi semua datuk sesat yang kini berlutut semua. Di sudut nampak mayat tiga orang yang tadi dikalahkan Ratu Iblis.

"Kawan-kawan semua, bangkitlah dan dengarkan baik-baik!" kata Ratu Iblis yang agaknya memang menjadi juru bicara suaminya karena mungkin merasa terlalu tinggi untuk bicara sendiri kepada para datuk yang baru saja tunduk kepadanya itu.

"Toan Ong-ya sudah puluhan tahun meninggalkan istana, tetapi selama ini kaisar-kaisar yang memimpin kerajaan tak ada yang becus, bahkan kaisar yang sekarang terlalu muda dan tolol, hanya menjadi permainan pembesar-pembesar korup. Karena itu Toan Ong-ya telah mengambil keputusan untuk pulang ke istana dan memimpin sendiri pemerintahan!"

"Pemberontakan...?" terdengar suara kasar dari tengah rombongan orang-orang yang kini telah berdiri semua itu.

"Bukan pemberontakan, melainkan perbaikan! Dengan menggunakan Tongkat Suci, Toan Ong-ya hendak menggunakan kekuasaannya untuk menyalahkan dan menurunkan kaisar, kemudian mengangkat penggantinya yang cakap. Akan tetapi karena mungkin kelak akan timbul perlawanan dan pertentangan, kita perlu membina pasukan yang kuat. Untuk itulah teman-teman semua dikumpulkan malam ini. Kalian semua diwajibkan untuk menghimpun pasukan-pasukan dan membawa pasukan-pasukan itu untuk dilatih bersama oleh Ong-ya sendiri."

"Mengumpulkan pasukan-pasukan tentu akan diketahui pemerintah dan sebelum berhasil dihimpun, tentu pemerintah akan mengirim bala tentara untuk menghancurkan kita!" kata pula seorang datuk.

"Kita harus dapat bekerja secara rahasia. Pasukan itu dikirim satu rombongan demi satu rombongan kecil, menuju ke benteng yang telah disediakan. Dan Ong-ya memilih benteng di luar tembok besar, di utara. Kalian tentu dapat mencari benteng itu. Tempat itu dahulu merupakan markas dari perkumpulan Jeng-hwa-pang..."

"Ahh, aku tahu..."

"Aku tahu tempat itu!"

"Akan tetapi tempat itu telah terbakar dan orang-orang Jeng-hwa-pai telah terbasmi!"

Mendengar suara-suara itu, nenek berambut putih mengangkat tangan kanan ke atas dan suasana menjadi tenang kembali. "Kami tahu. Tempat itu kosong dan sunyi, bangunan-bangunannya sudah rusak. Akan tetapi tempat itu amat baik, berada di puncak bukit dan kalau kita membangun kembali benteng itu, maka akan menjadi markas yang amat baik. Tempatnya di luar tembok besar, jadi pemerintah tentu tidak akan mencampuri. Kita akan gembleng pasukan yang kita kumpulkan di situ, kemudian pada saat yang tepat, pasukan kita turunkan melalui tembok besar ke selatan, menuju ke kota raja, bertepatan dengan munculnya Toan Ong-ya di istana. Pasukan kita itu mungkin tidak usah bergerak, hanya untuk memperkuat wibawa saja."

Nenek itu berhenti bicara dan semua tokoh sesat yang berada di bawah kembali berbicara sendiri-sendiri hingga keadaannya menjadi berisik seperti tawon diganggu dari sarangnya. Sementara itu Sui Cin melihat betapa Dewa Arak dan Dewa Kipas saling pandang dengan mata terbelalak dan wajah mereka yang biasanya gembira itu nampak gelisah sekali.

"Kawan-kawan harap tenang! Apakah kalian sudah mengerti dan dapat mentaati perintah pertama tadi?"

"Akan tetapi, mengumpulkan pasukan membutuhkan waktu..."

"Kawan-kawan, dengarkan baik-baik! Toan Ong-ya sudah memikirkan hal itu pula. Maka, beliau memberi waktu selama tiga tahun. Tiga tahun lagi, tepat pada permulaan musim semi, pada hari Tahun Baru, semua pasukan harus dikumpulkan di luar tembok besar, di benteng kita untuk segera memulai dengan pembangunan benteng dan melatih pasukan. Mengertikah kalian?"

Semua orang mengangguk dan menjawab bahwa mereka mengerti dan dapat menerima perintah itu. Kalau diberi waktu selama tiga tahun, tentu saja mereka akan sanggup untuk mengumpulkan teman-teman. Bagaimana pun juga mereka telah bosan menjadi golongan hitam yang selalu dimusuhi para pendekar dan selalu dikejar pasukan pemerintah. Kini, di bawah pimpinan suami isteri yang sangat sakti itu, mereka ditawari kehidupan lain yang lebih mulia.

Jika sampai perjuangan Pangeran Twa Jit-ong itu berhasil, tentu mereka akan mendapat kedudukan tinggi lantas mereka dapat hidup mulia dan terhormat seperti para pembesar, bukan seperti sekarang ini. Dan mereka yakin bahwa pemimpin mereka sekarang ini tentu akan berhasil, tidak seperti Liu-thaikam yang hanya seorang pembesar korup saja. Kalau pemimpin sekarang ini berhasil merebut tahta kerajaan, tentu kelak mereka semua akan menjadi pejabat tinggi!

Akan tetapi, mendadak terdengar suara keras, "Tidak! Tidak boleh begitu! Pangeran Toan tidak boleh memberontak terhadap kerajaan dan menimbulkan perang saudara, sehingga menghancurkan kehidupan rakyat!" yang berseru demikian adalah Siang-kiang Lo-jin atau San-sian Si Dewa Kipas.

Agaknya kakek ini tidak dapat menahan dirinya lagi. Melihat dan mendengar semua yang terjadi di situ, dia merasa khawatir dan penasaran. Hal ini tidak aneh karena pada waktu mudanya, kakek ini adalah seorang yang berjiwa patriot, yang selalu condong membela pemerintah dan dia paling anti pemberontakan. Oleh karena itu, walau pun dia sendiri tidak berani menentang Toan Jit Ong dan isterinya, namun rasa penasaran mendengar persekutuan yang hendak melakukan pemberontakan itu, dia segera melompat keluar dan menegur.

Melihat hal ini, maka tahulah Wu-yi Lo-jin bahwa tempat persembunyian mereka tak dapat dipertahankan lagi sehingga tidak ada lain jalan baginya kecuali keluar dan mendukung pendapat temannya.

"Benar, Ong-ya. Tidak baik merencanakan pemberontakan karena setiap pemberontakan pada akhirnya hanya akan mendatangkan kehancuran bagi diri sendiri dan perang amat menyengsarakan rakyat!"

Melihat kemunculan kedua orang ini, Pangeran Toan Jit Ong memandang dengan mata mencorong marah. Juga Ratu Iblis menjadi marah sekali ketika mengenal dua orang itu. Dia tidak turun tangan sendiri karena ingin menguji kesetiaan para anak buah baru yang baru saja mengucapkan sumpah. Maka dia menudingkan telunjuknya kepada dua orang kakek yang baru muncul itu sambil berteriak,

"Kawan-kawan, tangkap dan bunuh dua orang tua bangka tak tahu diri ini!"

Kebetulan yang paling dekat dengan San-sian Si Dewa Kipas adalah raksasa pemakan anak kecil yang tadi mereka lihat. Raksasa ini hendak memperlihatkan kesetiaannya dan juga kelihaiannya, maka begitu membalik dia mengeluarkan suara mengggereng laksana seekor binatang buas, lantas mulutnya menyeringai, nampaklah giginya yang besar-besar dan ada taring di ujung mulutnya.

"Grrrrr... mampuslah!" bentak raksasa itu.

Dengan gerakan seperti seekor beruang dia sudah menubruk ke depan dan yang menjadi sasaran kedua tangannya yang besar-besar berbulu adalah perut gendut San-sian yang tidak tertutup baju itu. Agaknya sang pemakan daging manusia ini sudah mengilar melihat gumpalan di perut San-sian yang putih halus itu, maka langsung saja dia menghantam dengan tangan kanan, lalu mencengkeram dengan tangan kiri ke arah perut itu!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak, maklum akan kehebatan raksasa ini. Akan tetapi San-sian hanya menyeringai saja, mulutnya tersenyum lebar dan sama sekali tidak mengelak atau pun membalas, bahkan dia menonjolkan perutnya sehingga perut itu mengembung seperti balon ditiup!

"Bukkk! Bunggg...!" Suara yang terdengar itu nyaring sekali, keluar dari perut gendut itu bagaikan sebuah tambur besar ditabuhi. Akan tetapi hebatnya, raksasa pemakan daging manusia itu terpental ke belakang dan hampir saja terbanting!

Tentu saja dia menjadi marah bukan main. Kekuatannya amat besar dan jarang ada orang yang mampu menahan pukulan atau cengkeramannya. Akan tetapi cengkeramannya tadi seperti mengenai bola baja saja, licin dan keras, sedangkan pukulannya malah membuat tubuhnya terpental, seperti orang memukul bola karet yang besar.

Kembali dia mengeluarkan gerengan marah dan kini dia tahu bahwa lawannya lihai sekali, maka dia sudah kembali menerjang ke depan, tidak ngawur macam binatang buas seperti tadi, melainkan dengan gerakan-gerakan silat tinggi yang amat berbahaya!

Sementara itu, kakek raksasa ke dua yang tadi mereka lihat membunuhi penduduk dusun dengan tongkat kepala harimau, kini pun sudah menerjang Ciu-sian dengan tongkatnya. Agaknya, tidak seperti raksasa pemakan daging manusia, kakek ini sudah bisa menduga bahwa lawannya amat lihai, maka begitu menyerang dia sudah menggunakan tongkatnya. Gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang amat besar.

Akan tetapi tiba-tiba dia melongo, karena kakek katai kecil yang dihantam tongkatnya itu mendadak hilang begitu saja! Pada saat dia masih kebingungan, telinganya yang sebesar telinga gajah itu tahu-tahu disentil orang dari belakang, dibarengi suara orang terkekeh.

"Heh-heh-heh, aku di sini!"

Kakek raksasa itu segera membalik dan memutar tubuhnya, lantas menyerang lagi. Akan tetapi kembali Ciu-sian sudah lenyap. Kakek katai ini mempermainkan lawannya dengan menggunakan ginkang-nya yang memang luar biasa hebatnya itu. Kakek tinggi besar itu bagaikan seorang anak kecil yang berusaha memukul seekor capung dengan tongkatnya saja, memukul terus ke sana ke mari akan tetapi tidak pernah mampu mengenai Ciu-sian. Jangankan mengenai tubuhnya, sedangkan menyentuh ujung jubahnya pun tidak mampu. Demikian cepat gerakan kakek katai itu ketika mengelak.

"Wah, mulutmu bau darah dan mayat, bau bangkai, tidak kuat aku!" Berkali-kali San-sian mengeluh dan mengejek, membuat raksasa pemakan bangkai itu semakin marah.

Dia adalah seorang di antara Cap-sha-kui, seorang yang tadinya memiliki ilmu silat tinggi, akan tetapi karena menjadi buronan kemudian menyembunyikan diri di dalam hutan dan akhirnya dia berubah seperti seorang sinting atau seekor binatang buas yang suka makan daging mentah, termasuk daging manusia! Akan tetapi, walau pun dia sinting atau buas seperti binatang, dia tidak melupakan ilmu silatnya dan karenanya, dia amat berbahaya.

Dengan sebuah lompatan tinggi, kini raksasa itu menerjang San-sian yang semenjak tadi hanya mengelak atau membiarkan perut dan tubuhnya dipukuli. Akan tetapi, tiba-tiba saja sekarang San-sian membalikkan tongkat kipasnya, lalu gagang tongkat itu dia sodokkan, menyambut tubuh lawan, menotok ke arah muka di antara alis. Itulah serangan yang amat hebat dan berbahaya sekali bagi lawan.

Namun raksasa buas itu menggunakan kedua tangannya, mencengkeram dan menangkis ke arah ujung tongkat, berusaha menangkapnya. Karena itu, terpaksa San-sian menarik kembali tongkatnya sambil mengelak sebab tubuh lawan telah menubruknya bagai seekor singa menubruk domba. Dan kini, pada saat lawannya membalik, dia juga membalikkan senjatanya dan kipas besar itu bergerak meniup ke arah muka si raksasa.

Tiupan kipas ini hebat sekali. Datang angin laksana badai yang kekuatannya dipusatkan dan menyambar ke arah muka si raksasa. Tentu saja raksasa itu terkejut sekali, menarik kepala ke belakang dan terpaksa memejamkan matanya karena angin yang menyambar itu amat dahsyat. Saat itu, tongkat membalik lagi dan ujungnya menotok ke arah dada.

"Dukkk...!"

Kakek raksasa mengeluarkan pekik menyeramkan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada sendiri. Akan tetapi tiba-tiba dia muntah-muntah dan darah segar yang berbau busuk muncrat-muncrat dari mulutnya.

Totokan pada ulu hatinya itu ternyata sudah membuat jantungnya pecah. Walau pun dia berusaha untuk menyerang lagi, akan tetapi matanya terbelalak dan kini dia terpelanting roboh lantas berkelojotan. Kakek raksasa yang suka membunuh dan makan daging anak itu akhirnya tewas dalam keadaan yang amat mengerikan!

Sementara itu, raksasa kedua yang menyerang Ciu-sian juga mulai terengah sebab sejak tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang secara bertubi-tubi tanpa hasil sedikit pun juga. Ketika Ciu-sian yang selalu mempermainkan lawan itu melihat betapa temannya sudah merobohkan musuh, dia pun segera menyemburkan arak dari mulutnya. Semburan arak itu menyerang wajah si raksasa yang menjadi bingung menghindar, dan kesempatan itu segera digunakan oleh Ciu-sian untuk menendang ujung tongkat lawan ke samping, lalu menyusulkan pukulan dengan ciu-ouw (guci arak) yang besar itu.

"Krakk!" Robohlah raksasa yang menjadi lawannya itu dengan kepala retak-retak.

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan sembilan orang Cap-sha-kui yang lain. Tidak mereka sangka bahwa dua orang rekan mereka akan roboh dalam waktu yang sesingkat itu, tidak sampai dua puluh jurus! Dan dalam waktu singkat mereka telah kehilangan empat orang rekan!

Pertama-tama adalah suami isteri Kui-kok-pang yang tadi dibunuh oleh Ratu Iblis sendiri, kemudian dua orang rekan ini tewas pula di tangan dua orang kakek aneh yang agaknya menentang Toan Jit Ong! Sekarang Cap-sha-kui (Tiga Belas Iblis) hanya tinggal menjadi Kiu-lo-kwi (Sembilan Iblis Tua) saja!

"Ciu-sian dan San-sian! Berani kalian membunuh para pembantu Toan Jit Ong ya?" bentak Ratu Iblis dengan nada marah dan penasaran sekali.

"Maaf, aku melihat si pemakan bangkai ini tadi membunuh seorang anak kecil dan makan dagingnya. Dia bukan manusia lagi, tetapi iblis busuk yang sudah selayaknya dienyahkan dari muka bumi!" Siang-kiang Lo-jin berkata sambil mengipasi perutnya yang gendut dan berkeringat dengan kipasnya.

"Dan raksasa buas ini pun bukan manusia karena tadi aku melihat dia membunuhi banyak orang dusun yang sama sekali tidak berdosa, bahkan dia membunuh anak-anak dengan tongkatnya itu. Karena itu, terpaksa aku membunuhnya ketika dia menyerangku dan aku teringat akan kekejiannya!"

"Tua bangka-tua bangka gila, berani kalian melawan Toan Ong-ya?!" kembali Ratu Iblis membentak lagi, menoleh kepada suaminya yang kini berdiri tegak memandang pada dua orang kakek itu dengan mata mencorong seperti mengeluarkan api.

"Ha-ha, kami tak pernah menentang siapa saja, melainkan menentang kejahatan. Seperti belum tahu saja!" jawab Ciu-sian sambil menenggak arak dari gucinya, sikapnya acuh tak acuh walau pun Sui Cin dan Hui Song yang kini mengintai dengan khawatir itu maklum betapa sebetulnya dua orang kakek itu merasa ketakutan dan jeri terhadap suami isteri di atas batu itu.

Melihat sikap dua orang kakek yang jelas-jelas menentang itu, tiba-tiba saja Toan Jit Ong mengeluarkan tongkat hitamnya kemudian mengangkatnya ke atas kepala, lalu terdengar bentakannya yang halus tapi berwibawa, "Berlututlah kalian semua menghormati Tongkat Suci!"

Para datuk yang tadinya mengambil sikap bermusuh dan telah siap menerjang dua orang kakek itu, kini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Toan Jit Ong yang mengangkat tongkat itu, sehingga hanya tinggal Ciu-sian dan San-sian yang masih tetap berdiri, akan tetapi wajah dua orang kakek ini berubah pucat dan sikap mereka bingung.

"Ciu-sian dan San-sian, apakah kalian berani menentang Tongkat Suci dan melanggar sumpah kalian sendiri?" terdengar Raja Iblis atau Pangeran Toan Jit Ong berkata kepada mereka.

Kedua orang kakek itu saling pandang, kemudian menghadap ke arah tongkat dan kakek katai yang menjadi wakil mereka itu berkata dengan lirih, "Kami tidak berani..."

Kini Sui Cin melihat betapa wajah yang dingin seperti topeng itu agak tersenyum sehingga bertambah seram. "Ciu-sian dan San-sian, kalian berdua sudah berdosa karena berani memperlihatkan sikap menentang kepada kami, malah kalian telah membunuh dua orang pembantu kami. Kalian berdosa kepada Tongkat Suci, sudah melanggar janji dan karena itu, kami menjatuhkan hukuman mati kepada kalian. Adinda, segera laksanakan hukuman itu sekarang juga!"

Ratu Iblis mengangguk dan nampak girang sekali. Sui Cin dan Hui Song melihat dengan mata terbelalak, apa lagi melihat betapa dua orang kakek itu agaknya tidak akan melawan sama sekali, berlutut dengan muka tunduk, agaknya sudah pasrah!

Sui Cin yang cerdik itu tadi telah mencari sepotong kayu dan di dalam keremangan cuaca, kayu yang ukurannya persis sama dengan tongkat suci di tangan Toan Jit Ong itu nampak kehitaman. Dia berbisik ke dekat telinga Hui Song.

"Kita harus bertindak menolong mereka. Biar kupergunakan akal untuk merampas tongkat iblis itu dari tangannya." Setelah membisikkan kata-kata ini, Sui Cin segera menyelipkan tongkatnya di balik jubah, lalu bergegas meloncat keluar, diikuti Hui Song.

"Tahan dulu...!" Dengan gerakan yang amat gesit karena memang ginkang dara ini cukup hebat, tahu-tahu tubuh Sui Cin telah berada di atas batu besar, berhadapan dengan Raja dan Ratu Iblis. Hui Song juga meloncat dan tiba di belakang dara itu.

"Hemm, bocah-bocah yang bosan hidup! Siapa kalian berani mencampuri urusan kami?!" bentak Ratu Iblis marah.

Hui Song tidak dapat menjawab. Dia tidak tahu apa yang menjadi siasat Sui Cin. Karena tindakan Sui Cin itu secara mendadak dan dia belum tahu apa yang akan dilakukan oleh dara itu selanjutnya, maka dia diam saja, hanya bersikap waspada sambil menyerahkan jawabannya kepada dara itu.

"Aku ingin mengatakan bahwa tongkat suci yang berada di tangan Pangeran Jit-ong ini adalah tongkat palsu!"

Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan ini, maka semua muka diangkat lalu semua mata memandang ke arah gadis yang berani mengeluarkan tuduhan seperti itu. Bahkan Ciu-sian dan San-sian yang tadinya menunduk dan pasrah, kini juga mengangkat muka memandang dengan mata terbalalak. Apakah gadis itu sudah menjadi gila karena gelisahnya?

Tentu saja Pangeran Toan Jit Ong marah bukan main. Dengan tongkat masih diangkat tinggi di atas kepalanya, dia melirik ke arah tongkatnya itu, lalu berkata, suaranya agak keras dan tidak sehalus tadi, "Anak perempuan gila, apa yang kau katakan itu? Siapakah kamu?"

"Ibuku adalah she Toan, dan ayah dari ibuku adalah Pangeran Toan Su Ong...!" Sui Cin memperkenalkan diri.

"Gadis itu adalah puteri Pendekar Sadis! Dan pemuda itu putera ketua Cin-ling-pai! Bunuh mereka!" Kini orang-orang dari Cap-sha-kui mengenal Sui Cin dan Hui Song dan mereka berteriak-teriak.

"Tenang!" Tiba-tiba Pangeran Toan Jit Ong berseru sambil mengangkat tongkat ke atas kepalanya. Suasana menjadi tenang dan pangeran itu memandang tajam kepada Sui Cin. "Mendiang Toan Su Ong adalah kakakku! Jadi engkau ini cucunya? Apa hubungannya kakekmu itu dengan tongkat suci ini?"

Sui Cin merasa mendapat hati dan dia pun berkata dengan suara lantang. "Tongkat Suci adalah sebuah tongkat keramat hadiah yang sangat mulia dari kaisar sendiri. Tongkat itu diberi nama Ceng-thian Hek-liong (Naga Hitam Naik ke Langit) dan merupakan semacam tek-pai atau tanda kekuasaan seseorang di istana. Orang yang dulu menerima tongkat itu adalah mendiang kakekku, lalu benda keramat itu diwariskan kepadaku. Maka, kalau kini muncul tongkat yang lain, benda itu adalah palsu! Yang asli berada bersamaku!"

Tentu saja semua ucapan Sui Cin ini hanya ngawur saja, walau pun pada saat itu sempat membikin kaget dan bingung semua orang, juga termasuk Hui Song, Siang-kiang Lo-jin dan Wu-yi Lo-jin. Sikap gadis itu sedemikian meyakinkan sehingga Pargeran Toan Jit Ong sendiri mengerutkan alisnya dan matanya terbelalak. Demikian pula isterinya.

"Tongkat ini adalah Tongkat Suci yang asli! Tongkat Sakti yang asli dan selamanya berada di tanganku. Mana mungkin palsu?" kata pangeran itu sambil memandangi tongkatnya.

"Sebagai cucu tunggal mendiang kakek Pangeran Toan Su Ong, tentu saja aku dapat mengenal mana palsu mana asli. Yang asli berada di tanganku," kata Sui Cin pula dengan suara lantang.

Pangeran Toan Jit Ong mengerutkan alisnya dan semua orang yang hadir saling pandang dengan bingung. "Bocah lancang, lekas kau perlihatkan tongkatmu agar kuperiksa apakah omonganmu itu benar!" bentaknya.

"Boleh, akan tetapi aku pun ingin melihat tongkatmu apakah bukan palsu seperti kuduga! Tidak boleh orang menggunakan tongkat palsu untuk mengelabui begini banyak orang!"

Tadinya pangeran tua itu ragu-ragu, akan tetapi lalu teringat bahwa seorang dara seperti Sui Cin ini akan dapat berbuat apakah terhadap dirinya? Sekali serang saja dara itu akan roboh tewas.

"Baik, mari kita saling memeriksa tongkat masing-masing!" katanya mengulurkan tongkat hitam itu.

Sui Cin juga mencabut tongkat kayu dari pinggangnya. Sambil menerima sodoran tongkat pangeran itu dengan tangan kiri, dia pun menyerahkan tongkatnya sendiri. Dengan sikap pura-pura sedang memeriksa lebih teliti tongkat hitam yang ternyata berat itu, mundur dua langkah, lalu tiba-tiba dara itu meloncat jauh!

"Hei, kembalikan tongkatku!" Pangeran Toan Jit Ong terkejut sekaii dan marah, tangannya bergerak hendak mengejar.

Akan tetapi kini Hui Song baru mengerti siasat apakah yang dipergunakan oleh temannya yang bengal itu dan langsung saja dia membantu. Melihat pangeran itu hendak mengejar, dia lalu membentak.

"Perlahan dulu!"

Dan tangannya telah menusuk ke arah perut orang itu. Bukan sembarang tusukan karena jari-jari tangannya sudah berisi tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya dan dia menusuk dengan jurus San-in Kun-hoat yang cepat dan halus.

Melihat serangan yang tenaga sinkang-nya bisa dia rasakan kehebatannya ini, Pangeran Toan Jit Ong langsung menggerakkan tongkat yang diambilnya dari tangan Sui Cin tadi untuk menangkis.

"Krekkk...!"

Tongkat yang sesungguhnya hanya sepotong dahan yang diambil Sui Cin tentu saja tidak dapat bertahan pada saat bertemu dengan tangan Hui Song. Tongkat pendek itu hancur berkeping-keping sehingga tahulah Pangeran Toan Jit Ong bahwa dia telah ditipu mentah-mentah oleh gadis yang agaknya memang hendak merampas tongkat suci itu.

"Plakkk...!"

Sebuah tamparan yang aneh dan tiba-tiba datangnya mengenai pundak Hui Song. Untung pemuda ini masih dapat membuang tubuh ke belakang sehingga yang terkena tamparan hanya pundaknya. Akan tetapi ini cukup membuatnya terpelanting. Sementara itu, Ratu Iblis yang juga baru tahu bahwa suaminya diakali orang, kini mengejar Sui Cin dengan kemarahan memuncak.

"Berikan tongkat itu!" Teriaknya dan tangannya diulur ke depan, mencengkeram ke arah tengkuk Sui Cin.

"Hihhhh...!" Sui Cin bergidik ketika merasa betapa tengkuknya diserang hawa dingin. Dia mempercepat gerakannya, berjungkir balik ke samping hingga serangan itu luput. Sui Cin sudah meloncat ke atas cabang pohon lantas mengangkat tongkat hitam itu tinggi di atas kepalanya.

"Berani kau melawan tongkat suci ini?!" bentaknya kepada Ratu Iblis pada waktu wanita itu hendak menyerangnya kembali. Aneh, tiba-tiba saja nenek itu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Sui Cin yang berdiri di atas cabang pohon, tidak berani berkutik.

"Hayo kalian semua berlutut!" bentak Sui Cin lagi. "Beri hormat kepada Tongkat Suci!"

Pada mulanya para datuk sesat itu menjadi bingung. Akan tetapi mereka segera teringat dengan sumpah mereka dan karena kini tongkat itu berada di tangan gadis itu, terpaksa mereka lalu menjatuhkan diri berlutut, walau pun hati mereka meragu dan bingung.

Sementara itu, Pangeran Toan Jit Ong masih hendak mengejar Sui Cin, akan tetapi Hui Song selalu menghalangi dan menyerangnya, membuat Raja Iblis itu menjadi semakin marah. Melihat ini Sui Cin berseru, "Hayo berlutut! Kau juga, Pangeran Toan Jit Ong...!"

Akan tetapi pangeran itu sama sekali tak mau mentaatinya, bahkan kini sambil mendesak Hui Song, dia berkata, "Dinda, bangkit dan bantu aku menangkap bocah itu, merampas kembali tongkatku!"

Nenek itu mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya mencelat ke arah Sui Cin. Kaget bukan main gadis itu.

"Krakkk...!"

Batang yang tadi dijadikan tempat dia berdiri patah-patah, akan tetapi untung dia sudah meloncat turun lebih dulu sehingga terhindar dari bahaya maut. Kini dia harus berloncatan menjauh karena nenek itu terus-menerus mengejarnya dengan rambutnya yang putih itu riap-riapan seperti ular-ular hidup. Sungguh mengerikan sekali!

"Wu-yi Lo-jin dan Siang-kiang Lo-jin, apakah kalian akan berlutut sampai tua? Tongkat sudah berada di tanganku, kalian tidak perlu berlutut lagi kepada Toan Jit Ong! Bantulah aku dan Hui Song!"

Ketika mendengar teriakan Sui Cin ini, baru kedua orang kakek itu tahu mengapa dara itu melakukan hal yang demikian berani dan aneh. Barulah mereka sadar bahwa kini mereka bukan berarti melanggar sumpah apa bila melawan Raja dan Ratu Iblis, karena bukankah Tongkat Suci sudah pindah tangan? Akan tetapi mereka berdua maklum bahwa sampai kini pun, mereka bukanlah lawan Raja Iblis. Maka mereka segera meloncat dan San-sian sudah menerjang Raja Iblis membantu Hui Song yang kewalahan. Kipasnya mengebut dengan serangan dahsyat.

"Hemmm...!"

Pangeran Toan Jit Ong menghardik dan kedua tangannya mendorong. Dari kedua tangan itu keluar hawa pukulan yang dahsyat bukan main, bahkan ketika kedua telapak tangan pangeran itu saling bersentuhan, nampak cahaya berkilat seperti ada api yang bernyala! Akibatnya, Hui Song dan San-sian terdorong kemudian terpelanting! Bukan main kagetnya kakek gendut itu.

"Mari...!" serunya kepada Hui Song.

Sementara itu, Sui Cin menjerit ketika tiba-tiba lengan kirinya terlibat rambut putih yang panjang! Akan tetapi, pada saat itu pula Ciu-sian langsung menyemburkan arak ke arah muka nenek berambut putih dan sekali tangannya mengebut selagi nenek itu mengelak, rambut-rambut itu putus sehingga lengan Sui Cin bebas.

"Lari...!" teriak pula Ciu-sian kepada Sui Cin.

Sui Cin dan Hui Song cepat melompat dan melarikan diri, disusul oleh dua orang kakek yang menjaga di belakang dengan senjata masing-masing, yaitu tongkat kipas dan guci arak. Tentu saja Pangeran Toan Jit Ong bersama isterinya tidak mau membiarkan mereka melarikan diri begitu saja maka mereka berdua cepat mengejar!

Gerakan Toan Jit Ong dan isterinya sungguh sangat cepat dan yang dapat mengimbangi kecepatan lari mereka hanyalah Sui Cin dan tentu saja kakek katai, maka Sui Cin cepat memegang tangan Hui Song untuk dibantunya agar larinya lebih cepat, sedangkan kakek katai memegang ujung tongkat kipas kakek gendut untuk ditariknya. Namun, biar pun kini mereka dapat berlari lebih cepat, akhirnya tetap saja mereka dapat disusul!

"Sui Cin, cepat buang tongkat itu ke dalam jurang di kiri sana!" Teriak Ciu-sian kepada Sui Cin. Gadis yang sangat cerdik ini langsung maklum akan maksud kakek itu, maka sambil mengangkat tongkat hitam itu tinggi-tinggi, dara itu berteriak ke belakang.

"Toan Jit Ong, lihat tongkatmu melayang ke jurang dan lenyap di sana!" Ia melemparkan tongkat itu tinggi-tinggi ke arah jurang. Tongkat itu melayang di bawah sinar bulan.

"Tongkatku...!" Kakek berambut putih itu menjerit dan dia pun segera meloncat ke arah jurang, agaknya hendak mencari tongkatnya.

Melihat ini, Ratu Iblis tidak berani melakukan pengejaran sendirian saja. Dua orang kakek itu terlampau lihai, apa lagi dibantu dua orang muda yang tidak boleh dipandang ringan. Selain itu, dia pun harus membantu suaminya mencari Tongkat Suci karena tongkat itu sangat penting bagi mereka, untuk menundukkan serta menguasai semua datuk sesat. Maka wanita itu pun menghentikan pergejaran dan ikut turun ke dalam jurang.

Empat orang itu lalu mempercepat lari mereka, dan kini dipimpin oleh Wu-yi Lo-jin atau Ciu-sian yang sengaja mengambil jalan berlika-liku agar tidak dapat disusul oleh musuh. Biar pun tidak kelihatan ada yang mengejar mereka, namun mereka tidak berani berhenti sebelum pagi. Raja dan Ratu Iblis itu terlalu berbahaya, apa lagi sesudah mereka dibantu oleh para datuk sesat.

Setelah malam berganti pagi, barulah kakek katai itu berhenti di sebuah lereng bukit. Pagi itu di lereng bukit hawanya amat dingin, akan tetapi tetap saja San-sian sibuk mengipasi perutnya yang basah oleh peluh. Kakek gendut ini mengomel panjang pendek.

"Wah, wah, untunglah aku tidak mempunyai anak cucu. Jika punya, malam tadi sungguh menjadi bagian riwayat hidupku yang akan memalukan anak cucu. Lari terbirit-birit seperti anjing tua yang diancam cambuk. Ha-ha-ha!"

Ciu-sian juga tertawa. "Masih mending dari pada mati konyol disiksa Ratu Iblis. Aku si tua bangka ini sudah tidak berdaya dan sudah pasrah menanti maut. Eh, gendut, apa kau kira kita masih akan dapat menikmati sinar matahari pagi mengusir kabut ini kalau dua orang muda ini tidak turun tangan menyelamatkan kita dengan akal mereka?"

"Ha-ha-ha, memang mereka ini mengagumkan sekali! Dan ilmu silat mereka pun hebat. Aku ingin sekali mengambil mereka ini sebagai murid-muridku. Bagaimana pendapatmu, katai?"

"Enak saja kau ngomong! Aku yang terkena getahnya dan engkau yang mau menikmati hasilnya! Aku yang susah payah menemukan mereka tetapi kamu yang enak-enakan saja mengambil mereka sebagai murid? Mana ada aturan macam ini?"

Kakek gendut menghentikan senyumnya, menyeringai sambil alisnya berkerut. "Hai, katai! Kau berani menghalangi kehendakku?"

"Tentu saja, habis kau mau merampas muridku! Kemarin kau sudah mencuri arakku, itu bisa dimaafkan antara teman. Akan tetapi mencari murid? Nanti dulu, ya!"

"Wah, kalau aku tetap mengambil mereka menjadi murid, lalu engkau mau apa?" bentak si kakek gendut, kini melotot.

"Boleh, asal engkau dapat mengalahkan aku terlebih dahulu!" Si kakek katai membantah, ngotot.

Keduanya kini berdiri berhadapan dengan mata sama-sama melotot, dengan pasangan kuda-kuda. Si gendut hendak membusungkan dada, akan tetapi apa daya perutnya yang terlalu gendut itu mendahului dada sehingga yang membusung bahkan perutnya.

Sebaliknya, si katai yang ingin membusungkan dada pun tidak mungkin karena dadanya kerempeng, makin dibusungkan semakin kempis! Keduanya seperti dua ekor ayam aduan berlagak, siap untuk saling serang.

Sui Cin tersenyum geli melihat hal ini, akan tetapi Hui Song mengerutkan alisnya karena pemuda ini khawatir kalau-kalau dua orang kakek itu saling gempur dan akibatnya bisa hebat. Hanya Sui Cin yang agaknya sudah dapat menangkap watak kedua orang kakek sakti itu, yang kelihatan ayem saja, bahkan gembira karena dia tahu bahwa dia hendak diberi suguhan tontonan yang hebat kalau sampai kedua orang kakek sakti itu mengadu ilmu.

"Kau mau apa?" bentak si gendut.

"Kau mau apa?" bentak si katai.

"Heiii! Kalian punya apa? Aku sih apa-apa mau!" mendadak Sui Cin berseru sambil maju menghampiri kedua orang kakek itu.

Tentu saja ucapan dara ini membuat dua orang kakek yang sudah saling tantang seperti dua orang anak kecil memperebutkan kembang gula itu menjadi bingung, saling pandang dan seperti lupa bahwa mereka tadi sudah saling tantang.

"Punya apa? Kau mau apa?" kata kakek katai bingung.

"Aku tidak punya apa-apa!" kakek gendut juga menjawab ragu.

Sui Cin terkekeh menutupi mulutnya dengan punggung tangan. "Hi-hik, kalian ini kulihat seperti dua orang badut wayang sedang melawak!"

"Aku ingin mengambil kalian menjadi murid!" kata si gendut.

"Tidak bisa, aku yang lebih dulu!" kata si kakek katai.

"Aku dulu!"

"Aku dulu!" Kembali mereka melangkah maju, mulut dicemberutkan sampai meruncing, mata melotot, muka dijulurkan ke depan seolah-olah keduanya hendak berciuman dengan mulut.

"Eiitt, eiittt... harap diingat, ji-wi adalah dua orang sahabat. Kalau memang ingin adu ilmu, harus dilakukan tanpa emosi, tanpa kebencian agar tidak sampai saling bunuh!" kata Sui Cin.

"Eh, siapa yang mau saling bunuh?" kakek gendut bertanya heran.

"Heh-heh-heh! Sui Cin, kau kira kami ini orang-orang apa, mau saling bunuh? Kami hanya memperebutkan kebenaran. Nah, gendut, kau sudah mendengar nasehat nonamu. Kalau kau mampu menerima pukulan guci arakku sebanyak tiga kali, baru aku mau mengaku kalah."

"Baik! Dan kalau engkau mampu menerima kebutan kipasku tiga kali, aku pun mengaku kalah."

"Bagus! Nah, bersiaplah, aku akan memukulmu lebih dulu," kata Wu-yi Lo-jin.

"Enaknya! Tidak, aku yang mulai dulu dengan kebutan kipasku," bantah Siangkoan Lo-jin.

"Aku dulu!"

"Aku dulu!" Kembali mereka bersitegang seperti dua orang anak kecil, tidak mau saling mengalah.

Diam-diam Sui Cin dan Hui Song merasa heran. Mereka itu adalah dua orang kakek yang memiliki kesaktian, akan tetapi mengapa kedang-kadang sikap mereka seperti anak kecil? Apakah betul kata orang bahwa yang sudah terlampau tua berubah seperti kanak-kanak? Dan ada pula yang bilang bahwa orang yang terlalu pintar itu pun kadang-kadang sifatnya seperti kanak-kanak?

Betapa pun juga, Sui Cin yang telah mendapatkan janji kakek katai untuk belajar ginkang diam-diam berpihak kepada kakek ini. Maka, melihat mereka bersitegang kembali, dia pun maju lagi dan berkata, "Di dalam dunia ini, apa yang lebih baik dari pada keadilan? Biar pun gagah perkasa, kalau tidak adil apa gunanya?"

"Benar sekali!" kata Ciu-sian.

"Tidak salah itu!" kata San-sian.

"Demi kebenaran dan keadilan, sudah sepantasnya kalau Wu-yi Lo-jin yang memulai lebih dulu dalam adu ilmu ini. Pertama, melihat bentuk tubuhnya, dia jauh lebih kecil ketimbang Siang-kiang Lo-jin, dan kedua, memang sebenarnya kami berdua lebih dulu kenal dengan Ciu-sian sebelum bertemu dengan San-sian. Nah, kalau kalian berdua memang adil, tentu Ciu-sian yang memperoleh kesempatan lebih dahulu. Kecuali kalau kalian memang tidak adil."

Wajah si gendut menjadi merah. "Hah, siapa yang tidak adil dan siapa yang takut? Katai, kau pukulilah dulu, nih, perutku sudah siap menerima pukulanmu yang kau banggakan itu. Mulailah!" Berkata demikian, si gendut itu lalu berdiri memasang kuda-kuda, kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang, tangan kiri memegang tongkatnya, tangan kanan dikepal di pinggang, perutnya dikembungkan ke depan!

"Bagus! Aku memang tahu bahwa engkau adalah seorang gagah yang adil!" seru kakek katai dengan girang sekali sambil menurunkan guci araknya. Dia membuka tutupnya, lalu minum sisa arak yang tinggal sedikit sampai kosong, menutup mulut guci lagi kemudian memegang leher guci yang kecil dengan kedua tangannya.

"Nah, kau bersiaplah baik-baik, aku akan mulai menghantam!" katanya sambil memasang kuda-kuda dengan kedua kakinya yang kecil tetapi kokoh kuat. Kemudian, diayunkannya guci itu dari belakang ke depan, menghantam ke arah perut gendut itu.

"Bunggg...!" Guci menghantam perut sehingga terdengar laksana gentong dipukul. Tubuh gendut itu tidak bergeming dan guci arak itu hanya terpental sedikit seperti menghantam karet yang amat kuat.

"Bukkkk...!" Hantaman kedua lebih kuat lagi, namun tetap saja tubuh kakek gendut tidak bergoyang malah kakek gendut itu selalu tersenyum lebar, mulutnya sedikit terbuka dan senyum itu membuat kedua matanya semakin sipit.

Kakek katai menjadi penasaran. Dua kali pukulan gucinya itu hebat sekali. Batu karang sekali pun akan ambrol dan pecah terkena pukulannya, akan tetapi pukulan guci araknya itu sungguh kehilangan daya kekuatannya ketika mengenai perut gendut yang terisi penuh hawa sinkang itu.

Diam-diam dia merasa kagum karena dua puluh tahun yang lalu. San-sian ini tidak akan mungkin kuat untuk menerima hantamannya itu. Hal ini membuktikan bahwa selama ini si gendut memang telah memperoleh banyak kemajuan.....

"Awas, ini sekali lagi!" teriaknya.

Dua orang muda yang berdiri menonton di pinggir memandang dengan penuh perhatian dan kekaguman. Mereka berdua dapat merasakan kedahsyatan pukulan ciu-ouw itu. Dari tempat mereka berdiri saja mereka dapat merasakan getaran hawa pukulan yang sangat hebat dari guci arak, dan ketika guci arak tadi bertemu dengan perut, terjadi getaran yang lebih dahsyat lagi, terasa benar oleh mereka.

"Siuuuttt...! Bunggg...!"

Pukulan ketiga ini hebat bukan kepalang, getarannya sampai membuat daun-daun pohon bergerak dan bumi yang diinjak Hui Song dan Sui Cin turut tergetar. Akan tetapi San-sian menerima pukulan ketiga itu sambil tersenyum lebar dan tubuhnya tak tergoncang sedikit pun!

"Heh-heh-heh-ha-ha-ha!" Kakek gendut tertawa.

Sui Cin dan Hui Song maklum bahwa kakek itu bukan sembarang tertawa saja, melainkan mengeluarkan hawa yang tadi dipergunakan untuk melindungi isi perutnya. Pada saat dia tertawa, hawa itu keluar sehingga nampak uap putih keluar dari mulutnya.

"Tiga kali gucimu yang butut itu menghantamku, namun aku tidak merasa apa-apa! Kau kalah, Ciu-sian!"

Ciu-sian mengerutkan alisnya dan mengamati gucinya, seolah-olah hendak menyalahkan gucinya dalam kegagalannya itu. Dia mengikatkan guci pada punggungnya kembali, dan berkata, "Gendut! Engkau memang kuat. Akan tetapi sekarang cobalah kau menyerangku tiga kali dengan kipas lalatmu itu. Jika aku tak kuat bertahan, maka kekalahanku menjadi lengkap dan baru aku mau mengakui kekalahan."

"Ha-ha-ha-ha, Ciu-sian, hati-hati kau dengan kebutan kipasku. Pohon besar itu pun akan roboh dilanda kebutanku!" kata kakek gendut. "Apa lagi tubuhmu yang kecil kerempeng ini!"

"Tidak perlu memperlebar mulutmu yang sudah besar, San-sian. Mulailah!" Kakek katai itu memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lalu ditekuk seperti orang menunggang kuda, dan kedua lengan disilangkan, dipasang di depan dada.

"Sini, agak jauh dari pohon itu!" kata San-sian sambil melangkah mundur menjauhi pohon.

"Srrrttttt...!" Kakek katai itu mengikuti maju, akan tetapi kedua kakinya sama sekali tidak melangkah. Tubuhnya maju dalam keadaan masih memasang kuda-kuda seperti tadi. Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya Kakek Dewa Arak ini. Dengan diam-diam kakek gendut harus mengakuinya juga.

"Awas, Cui-sian, aku akan mulai! Jangan salahkan aku jika kipasku mengebutmu sampai terlempar dan terbang ke langit!"

Sesudah memasang kuda-kuda, kakek gendut menggerakkan tongkatnya, diputarnya ke atas kepala dan tiba-tiba kipas itu menyambar dari belakang tubuhnya, membawa angin besar mengebut ke arah kakek katai dengan kekuatan kebutan yang amat hebat.

Angin kebutan menyambar dahsyat, membuat jenggot panjang dan jubah kakek katai itu berkibar, bahkan Sui Cin dan Hui Song yang berada agak jauh merasakan kebutan angin yang membuat pakaian dan rambut mereka berkibar. Namun tubuh kakek katai itu sendiri sama sekali tidak bergeming, seperti angin keras yang biar pun mampu menumbangkan pohon, tetapi sama sekali tidak berdaya terhadap sebongkah pilar baja yang kokoh kuat dan tertanam dalam-dalam di tanah!

San-sian menjadi penasaran dan kebutannya yang kedua kalinya lebih kuat lagi, sampai mengeluarkan angin yang suaranya bersiutan. Akan tetapi, seperti juga tadi, kakek katai itu tetap berdiri tegak dan tidak bergeming, hanya memejamkan mata karena angin keras membuat matanya perih. Kedua kakinya yang berukuran kecil seolah-olah sudah berakar dalam-dalam di tanah di mana dia berpijak.

"He-he-heh-heh, satu kali lagi dan awas, hati-hati kau!" bentak kakek gendut itu.

Sekarang dia memutar tongkatnya, kemudian kipasnya membuat gerakan berputar yang aneh. Dan akibatnya hebat sekali. Debu beterbangan, bukan hanya debu, melainkan juga pasir dan batu kerikil yang beterbangan lalu berpusingan.

Ternyata gerakan kipas itu mendatangkan angin berpusing yang kuat sekali dan melanda tubuh kakek katai, seakan-akan angin puyuh yang hendak mencabut kakek katai itu dari atas tanah! Akan tetapi, kakek katai itu nampak mengerahkan kekuatannya, kedua kainya sedikit tergetar, akan tetapi kekuatan dahsyat yang timbul dari gerakan kebutan kipas itu pun sekali ini tidak mampu mengangkat kedua kakinya!

"Wah, wah, Ciu-sian, engkau ini ternyata tua-tua keladi, makin tua makin jadi! Hebat dan kita masih belum ada yang kalah atau menang!"

"Kurasa jalan satu-satunya hanya mengadu ilmu silat, San-sian," kata kakek katai sambil melepaskan guci araknya dari punggung.

"Boleh, boleh, memang sejak tadi aku ingin sekali melihat kemampuanmu!" kata San-sian sambil melintangkan tongkat kipasnya.

Melihat betapa dua orang kakek katai itu sudah bersiap untuk saling gebuk, Sui Cin cepat melangkah maju melerai. "Harap kalian bersabar dulu," katanya.

"Mana bisa bersabar kalau kehendakku ditentang?" kata kakek gendut.

"Mana bisa bersabar kalau muridku hendak dirampas?" bantah kakek katai.

Sui Cin tersenyum. "Ji-wi berdua, dan kami pun berdua, mengapa harus ribut-ribut untuk saling berebut? Bagi rata saja kan beres? Tadi Ciu-sian sudah berjanji akan mengajarkan ginkang kepadaku, jadi kalau kakek San-sian mengajarkan ilmunya kepada Song-twako, bukankah itu sudah tepat sekali?"

Dua orang kakek itu bingung, lalu keduanya menggeleng kepala. "Mengapa kita jadi tolol begini?" kata si gendut.

"Kenapa hal begini sepele saja tidak mampu kita pecahkan tadi?" gumam si katai.

"Nah, pemecahannya sangat mudah, bukan? Mulai sekarang, Song-twako menjadi murid Siang-kiang Lo-jin dan..."

"Tidak ada murid! Tidak ada murid!" Dua orang kakek itu berkali-kali segera membantah, dan ketika dua orang muda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka, keduanya membalikkan tubuhnya tidak mau menerima penghormatan murid terhadap guru itu.

"Eh, bukankah ji-wi tadi sampai mau berkelahi akibat memperebutkan kami untuk menjadi murid? Kenapa sekarang malah menolak? Apa maksud ji-wi ini?" Hui Song mengerutkan alisnya dan bertanya. Tadinya dia sudah merasa gembira sekali karena kalau dia dapat mempelajari ilmu dari kakek gendut itu, alangkah senang hatinya.

"Bangun dan duduklah, mari bicara," kata Wu-yi Lo-jin. Kedua orang muda itu lalu bangkit dari berlutut dan mereka duduk di atas batu-batu di bawah pohon.

"Seperti pernah kuceritakan kepada kalian, kami sudah terikat oleh sumpah kami kepada tongkat laknat... eh, Tongkat Suci itu bahwa kami seketurunan juga termasuk murid-murid harus tunduk dan taat, tidak boleh melawan mereka yang memiliki tongkat itu. Kami tidak ingin kalian menjadi murid kami hingga terseret ke dalam ikatan itu. Kalian sudah melihat sendiri betapa Pangeran Toan Jit Ong mempengaruhi dan mengikat mereka yang kalah dengan sumpah. Nah, kami yang pernah dijuluki Delapan Dewa juga sudah diikat dengan sumpah."

"Akan tetapi, kek. Kalau melihat ilmu kepandaian Ratu Iblis itu, agaknya kalian tidak akan kalah..."

Kakek katai menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. "Engkau tidak tahu... kepandaian mereka itu hebat sekali. Ketika Ratu Iblis itu mengalahkan lawan-lawannya, ia belum mengeluarkan semua ilmunya, hanya mempermainkan mereka saja. Dan pangeran itu sendiri, hanya dengan mengeluarkan suara saja telah mampu menaklukkan Iblis Buta! Agaknya aku sendiri hanya dapat mengimbanginya dalam hal ginkang, sedangkan dalam ilmu-ilmu lain, jelas aku masih tidak sanggup menandinginya."

"Benar Itu! Ilmu iblis itu hebat bukan kepalang. Aku sendiri pun mungkin hanya sanggup menandingi dalam hal kekuatan, akan tetapi dalam ilmu silat, aku kalah jauh," sambung kakek gendut dengan suara sungguh-sungguh.

"Karena kami sendiri tidak berdaya dan tidak mau melanggar atau mengkhianati sumpah sendiri, maka satu-satunya jalan bagi kami adalah menurunkan semua ilmu kami kepada orang-orang muda yang berbakat bagus dan berjiwa bersih. Merekalah yang kelak harus menghadapi dan membasmi Raja dan Ratu Iblis bersama para pembantunya."

"Orang muda, maukah engkau belajar ilmu dariku?" tanya San-sian sambil menatap wajah pemuda yang ganteng dan gagah itu.

Hui Song mengangguk-angguk dan menjura dengan wajah girang. "Tentu saja aku mau, kek," katanya meniru Sui Cin karena kini dia tahu benar bahwa kakek ini pun tidak mau dianggap guru olehnya.

"Akan tetapi tidak mudah belajar dariku. Di samping harus tekun, juga harus tahan uji dan sekali bilang mau, maka harus belajar hingga berhasil. Latihan-latihannya berat sekali dan engkau tak boleh meninggalkannya setengah jalan, karena kalau demikian, terpaksa aku akan membunuhmu dari pada engkau membawa pergi ilmuku yang masih mentah."

Hui Song mengangguk-angguk. Dia adalah putera ketua Cin-ling-pai, seorang yang sejak kecil telah digembleng untuk menjadi pendekar tulen. Karena itu tentu saja dia selalu siap menghadapi segala macam kesukaran dalam belajar ilmu.

"Dan engkau ikutlah denganku, Sui Cin. Aku akan mengajarkan ilmu ginkang, akan tetapi jangan dikira latihan-latihan dariku tidak berat! Selama belajar, kalau engkau kurang tekun dan sembarangan, maka nyawalah taruhannya!" kata Ciu-sian.

Sui Cin tersenyum. "Kesukaran dan bahaya adalah makananku sejak kecil, kek, jangan khawatir aku akan mundur karenanya. Akan tetapi, berapa lamakah kiranya kami masing-masing harus belajar dari kalian?"

"Ilmu silat kalian sudah cukup tinggi, apa bila dilatih sampai matang kiranya sudah cukup untuk menghadapi lawan seperti Raja Iblis sekali pun. Akan tetapi iblis-iblis itu memiliki sinkang dan ginkang yang amat hebat. Kalian jauh kalah cepat dan kalah kuat, maka kami akan memperkuat kalian dalam hal itu, di samping mematangkan ilmu silat kalian. Karena kita diburu waktu, dan kalian sendiri sudah mendengar bahwa dalam waktu tiga tahun lagi mereka akan menyiapkan pemberontakan mereka, maka sebelum waktu itu kalian harus sudah selesai mematangkan ilmu-ilmu kalian," kata Ciu-sian dan mendengar ini, San-sian mengangguk-angguk.

"Memang benar sekali. Orang muda, dengan bekal ilmu silatmu yang tinggi dan murni dari Cin-ling-pai itu, jika dimatangkan selama tiga tahun, tentu engkau akan cukup kuat untuk menentang mereka."

Hati kedua orang muda itu merasa gembira sekali. Akan tetapi wajah Hui Song menjadi muram dan hatinya berduka sesudah dia mendengar bahwa kedua orang kakek itu akan berpisah sehingga terpaksa dia pun akan berpisah dari Sui Cin! Dan perpisahan itu untuk waktu tiga tahun!

"Cin-moi...," katanya ketika mereka diberi kesempatan untuk berbicara empat mata sebab dua orang kakek itu pun sedang bercakap-cakap dan berunding berdua di bawah pohon, agaknya tidak mempedulikan dua orang muda itu.

"Bagaimana Song-twako? Tidak girangkah hatimu memperoleh guru yang demikian lihai?" Dara itu menatap wajah yang tampan itu, lantas menyambung cepat. "Mengapa wajahmu muram seperti orang berduka, twako?"

"Cin-moi, bagaimana hatiku tidak akan berduka? Kita akan saling berpisah!"

Dara itu tersenyum. "Aih, tentu saja! Bukankah kita masing-masing akan mengikuti pelatih kita ke tempat masing-masing? Tiga tahun lagi kita akan saling berjumpa, twako."

"Tiga tahun... alangkah lamanya. Aku akan merasa rindu sekali kepadamu, Cin-moi."

"Tentu saja, aku pun akan merasa rindu kepadamu, twako," kata Sui Cin yang berhati polos dan jujur. Mendengar ini, sepasang mata Hui Song bersinar penuh harapan.

"Benarkah itu, Cin-moi? Engkau akan rindu kepadaku?"

Sui Cin memandang heran. Kenapa yang begitu saja Hui Song bertanya dan seperti tidak percaya?

"Tentu saja! Kenapa tidak?"

"Ahh, setiap malam aku akan memimpikan engkau, Cin-moi...!"

Sui Cin tertawa, "Ya, aku pun akan memimpikan engkau, twako. Akan tetapi tidak saban malam. Wah, bisa capek kalau setiap malam memimpikan engkau saja."

Hui Song mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah yang cantik manis itu. "Cin-moi, jangan main-main, engkau... engkau tidak tahu apa artinya semua ini begiku... Aku akan menderita, Cin-moi... selama tiga tahun tidak melihatmu. Ahh, rasanya belum tentu kuat aku menahan kerinduan hatiku..."

"Ahh, apa-apaan sih engkau ini twako? Omonganmu tidak seperti biasa dan aku menjadi bingung."

"Cin-moi, benarkah engkau tidak tahu atau tak dapat menduganya? Baiklah, sebelum kita saling berpisah, aku harus memberi tahu kepadamu. Cin-moi, semenjak kita berjumpa, semenjak kita berkenalan, bahkan selagi aku mengenalmu sebagai pemuda, aku... aku telah jatuh cinta padamu! Nah, lega hati ini setelah mengaku. Aku cinta padamu, Cin-moi, aku cinta padamu!"

Sepasang pipi gadis itu memang berubah menjadi merah, namun dia tidak menundukkan mukanya seperti lajimnya gadis yang menghadapi pengakuan cinta seorang pemuda dan menjadi malu. Tidak, Sui Cin tidak merasa malu, bahkan merasa geli dan dia tidak dapat menahan ketawanya. Dia tertawa bebas, seperti biasanya kalau dia tertawa di depan Hui Song, tanpa malu-malu dan mulutnya tidak ditutup-tutupinya lagi seperti kalau dia tertawa di depan orang lain.

"Ehh, kenapa kau tertawa, Cin-moi?"

"Habis, engkau lucu sih!"

"Cin-moi, aku tidak main-main. Aku tadi bicara sungguh-sungguh dan semua kata-kataku keluar langsung dari lubuk hatiku. Aku sungguh telah jatuh cinta padamu, Cin-moi!"

"Ihh, twako, engkau ini aneh-aneh saja. Aku tidak tahu apa dan bagaimana cinta itu. Aku suka padamu, twako, suka bersahabat denganmu. Akan tetapi cinta? Entahlah, aku tidak tahu apakah aku mencintamu atau mencinta seseorang ataukah tidak?"

"Cin-moi, aku... aku ingin agar kelak kita menjadi jodoh, menjadi suami isteri..."

"Ihhh! Kau membikin aku bingung dan canggung, twako. Aku belum memikirkan hal yang tidak-tidak. Kita masih mempunyai banyak tugas, pertama belajar yang tekun dan kedua menghadapi persekutuan Raja Iblis itu, bukan? Lagi pula, urusan perjodohan selayaknya dibicarakan orang tua, bukan kita."

Sui Cin teringat akan usul orang tuanya yang ingin menjodohkan dia dengan Can Koan Ti, putera Pangeran Can Seng Ong yang menjadi gubernur Propinsi Ce-kiang di kota Ning-po itu. Tentu saja dia akan memilih Hui Song dari pada Koan Ti, akan tetapi dia tidak tahu apakah dia ingin menjadi isteri Hui Song atau isteri siapa saja.

"Memang betul, Cin-moi. Akan tetapi hatiku akan tenteram bila mengetahui bahwa engkau pun setuju, bahwa engkau sudi menerima cintaku, bahwa engkau pun cinta padaku..."

Kembali Sui Cin tertawa dan kembali suara ketawa itu seperti ujung pedang menusuk hati Hui Song. "Ehh, kenapa engkau tertawa lagi, Cin-moi?" tanyanya dengan alis berkerut.

"Ucapanmu tadi mengingatkan aku akan pertunjukan wayang yang pernah kutonton... jika tidak salah, pada saat Pangeran Can Seng Ong gubernur di Ning-po, mengadakan pesta ulang tahunnya. Ada sandiwara wayang di situ, dan di dalam pertunjukan itu ada seorang pemain pria mengucapkan kata-kata sama persis dengan ucapanmu tadi kepada seorang pemain wanita..."

"Cin-moi, agaknya ucapan pengakuan cinta di bagian dunia mana pun sama saja. Ucapan itu suci dan mulia, Cin-moi, jangan ditertawai karena aku sungguh-sungguh cinta padamu. Sudikah engkau menerima cintaku Cin-moi?"

"Aih, sudahlah twako, jangan bicara tentang hal itu sekarang. Aku belum mau memikirkan hal itu dan aku tidak tahu!"

Itulah kata-kata terakhir Sui Cin, karena Hui Song tidak berani mendesak lagi. Dia cukup mengenal watak dara itu dan kalau dia terus mendesak, tentu Sui Cin akan marah. Dara itu baru berusia lima belas atau enam belas tahun, mungkin belum cukup dewasa untuk bicara tentang cinta. Dia harus bersabar.

Bagaimana pun juga, hatinya terasa berat, tertekan dan sedih ketika pada siang hari itu dia berpisah dari Sui Cin yang mengikuti kakek katai dengan wajah gembira. Dia sendiri mengikuti kakek gendut yang menjadi gurunya tanpa mau disebut guru.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Teriakan-teriakan yang menyelingi desir angin pukulan itu tidak terdengar lagi dari luar air terjun, karena selain goa yang berada di belakang air terjun itu amat dalam, juga suara air terjun yang gemuruh itu menyelimuti suara di sebelah dalam. Goa itu memang lebar dan dalam, luas sekali. Dasarnya berupa anak sungai yang mengalir jernih di antara batu-batu besar yang menonjol di sana-sini.

Di tepi anak sungai itu terdapat lantai goa dari batu. Melihat betapa di sana-sini terdapat pilar-pilar batu, dapat diketahui bahwa goa ini, yang tercipta oleh alam, telah dibantu oleh manusia yang membuat pilar-pilar batu untuk menyangga. Sebuah tempat persembunyian yang amat luas dan enak. Inilah tempat pertapaan Siang-kiang Lo-jin. Sebuah goa di balik air terjun yang terdapat di lembah Sungai Siang-kiang.

Kalau orang memasuki goa itu, yang tidak nampak dari luar sehingga merupakan tempat tersembunyi, maka dia akan melihat bahwa teriakan-teriakan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sedang berlatih silat. Akan tetapi cara pemuda ini bermain silat pasti akan membuat orang merasa heran dan kagum bukan main.

Pemuda itu bertubuh sedang dan tegap, hanya memakai celana panjang saja tanpa baju. Nampak tubuh yang sedang itu penuh dengan otot-otot yang melingkar-lingkar, membuat tubuh itu kelihatan kokoh kuat penuh tenaga. Rambutnya agak awut-awutan, digelung ke atas dan sisanya berjuntai ke bawah, ikut bergerak-gerak bersama kepalanya ketika dia bermain silat.

Anehnya, pemuda itu memakai beban besi yang besar pada kedua kaki dan tangannya. Beban di kakinya itu masing-masing tentu tak kurang dari empat puluh kati dan di tangan masing-masing melingkari lengan, tentu ada dua puluh lima kati. Selain dibebani besi di kedua kaki dan lengannya, juga pemuda ini bersilat di atas batu-batu yang menonjol di permukaan anak sungai itu, batu-batu yang amat licin.

Dapat dibayangkan beratnya latihan ini. Namun, pemuda yang usianya sekitar dua puluh empat tahun itu terus berlatih dengan tekun, mengatur napas dalam setiap gerakan, dan mengeluarkan bentakan-bentakan untuk setiap pukulan atau tangkisan. Orang biasa saja tentu sudah akan merasa tersiksa kalau harus bergerak dengan beban pada kaki tangan itu, apa lagi harus bermain silat, di atas batu-batu licin lagi! Namun, pemuda itu bersilat dengan gaya yang indah, dengan gerakan yang cepat dan amat keras. Setiap gerakannya menimbulkan desiran angin.

Di tepi anak sungai itu berdiri seorang kakek yang perutnya gendut sekali, berdiri sambil tersenyum lebar dan memegang sebatang tongkat yang ujungnya ada kipasnya. Dengan suara ramah dia memberi petunjuk-petunjuk dan mengangguk-angguk dengan wajah puas sekali.

Memang tidak ada alasan bagi Siang-kiang Lo-jin untuk merasa tidak puas dengan semua kemajuan yang dicapai oleh Hui Song, pemuda itu. Selama hampir tiga tahun ini, pemuda itu berlatih dengan sangat tekunnya. Dia digembleng keras oleh kakek gendut itu, berlatih memperkuat sinkang dengan bertapa di dalam air setinggi leher. Air dingin itu menyelimuti tubuhnya, sampai tiga hari tiga malam dan dia hanya boleh meneguk air di hadapannya setiap kali kelaparan atau kehausan menyiksanya.

Kemudian, latihan dengan beban-beban berat pada kaki dan lengannya. Mula-mula beban itu memang tidak seberapa berat, akan tetapi lambat laun ditambah sampai akhirnya dia berlatih silat dengan beban seberat itu. Akan tetapi hasilnya memang hebat bukan main. Tubuh pemuda itu menjadi kuat sekali, gerakannya lincah dan tenaganya besar. Kini Hui Song mampu memainkan semua ilmu silat Cin-ling-pai jauh lebih sempurna dari pada tiga tahun yang lalu!

"Hentikan sebentar dan buka beban kaki tanganmu. Aku ingin melihat untuk yang terakhir kali apakah selama tiga tahun ini aku tidak mengajar secara sia-sia belaka!" tiba-tiba saja kakek itu berkata.

"Yang terakhir kali? Apa maksud locianpwe?" tanya Hui Song sambil membuat gerakan melompat ke pinggir. Gerakannya demikian sigapnya seolah-olah dia tidak dibebani besi yang berat itu. Sambil melepaskan beban kaki tangannya, pemuda itu memandang wajah kakek gendut dengan penuh perhatian.

"Tentu saja! Apakah engkau ingin selama hidupmu tinggal di sini?" tanya kakek gendut.

"Tapi, locianpwe, rasanya belum lama saya berada di sini..."

"Ha-ha-ha! Itu adalah berkat ketekunanmu. Memang demikianlah rahasia waktu. Jika tidak pernah kita pikirkan, dia berlalu sangat cepatnya melebihi anak panah. Akan tetapi kalau diingat selalu, dia merayap seperti siput. Tidak tahukah engkau bahwa kita sudah berada di sini hampir tiga tahun lamanya? Nah, kau bersilatlah, kini tanpa beban itu."

Hui Song yang kini sudah melepaskan beban besi dari kaki dan lengannya, lalu meloncat lagi ke tengah sungai, di atas batu-batu licin itu dan dia bersilat dengan amat cepatnya. Berkali-kali dia berseru kaget karena tubuhnya bergerak luar biasa ringan dan cepatnya, lebih ringan dan lebih cepat dari pada yang dikehendakinya.

Hal ini adalah karena dia belum biasa terbebas dari beban-beban besi di kaki tangannya itu. Selama bertahun-tahun kaki tangannya selalu dibebani sehingga begitu dibuka, tentu saja dia merasa gerakannya sangat cepat dan ringan sehingga mengejutkan. Akan tetapi, begitu dia sudah dapat menyesuaikan diri, maka gerakannya mulai teratur dan sekarang tubuhnya berkelebatan di atas batu-batu licin itu dengan amat mudahnya.

Kakek gendut itu mengangguk-angguk dan wajahnya berseri-seri gembira. "Cukuplah, Hui Song, ke sinilah aku mau bicara."

Tubuh Hui Song mencelat ke tepi anak sungai itu, lantas dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Baru sekarang dia dapat merasakan benar kemajuan yang diperolehnya selama tiga tahun digembleng kakek itu.

"Saya menghaturkan terima kasih atas semua bimbingan locianpwe selama ini," katanya dengan hati terharu.

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha-ha, akulah yang bergembira, Hui Song. Engkau benar-benar memenuhi harapanku. Siapa lagi kalau bukan orang-orang muda seperti engkau ini yang dapat menyelamatkan dunia dari bencana. Walau pun aku masih sangsi apakah engkau seorang diri saja akan sanggup menentang mereka, akan tetapi setidaknya engkau akan mampu mengimbangi kelihaian Ratu Iblis. Mudah-mudahan saja temanmu itu pun sudah mendapat kemajuan pesat di bawah pimpinan Wu-yi Lo-jin sehingga dapat bekerja sama denganmu, bersama para pendekar muda lainnya."

Mendengar kata-kata ini, Hui Song merasa seperti diingatkan. Segera terbayanglah wajah manis dari Sui Cin di depan matanya. Wajahnya berseri dan sinar matanya berkilat ketika dia teringat kepada gadis itu. Selama ini dia sudah memaksa batinnya untuk tidak selalu mengenangkan Sui Cin dan dia mencurahkan seluruh perhatian dan ketekunannya untuk mempelajari ilmu dari kakek gendut.

Dia mendapat kenyataan bahwa kakek itu memang lihai bukan main, memiliki kesaktian yang jauh melampaui tingkat ayah ibunya sendiri. Maka dia pun belajar dengan giat dan mentaati semua petunjuk gurunya yang tidak mau disebut guru itu.

"Apakah dia juga telah menamatkan pelajarannya dari Wu-yi Lo-jin, locianpwe?" tanyanya dengan penuh gairah.

Kakek gendut itu tersenyum lebar dan mengangguk-angguk. "Kami berdua memang telah saling bersepakat untuk menggembleng kalian berdua selama kurang lebih tiga tahun dan sebelum tiba waktunya pemberontakan terjadi, penggemblengan itu harus sudah selesai. Aku yakin temanmu itu sudah selesai belajar pula sekarang."

"Kalau begitu, locianpwe tahu di mana Wu-yi Lo-jin membawanya dan di mana saya dapat menjumpai Sui Cin?"

"Tentu saja dia membawa gadis itu ke Wu-yi-san, ke tempat pertapaannya. Kami hanya berjanji akan menggembleng kalian sampai tahun ini dan sebelum Tahun Baru, kami akan menyuruh kalian masing-masing pergi keluar Tembok Besar di utara untuk mencari bekas benteng Jeng-hwa-pang itu. Jadi, kalian bersiap-siap saja di sana dan kita semua akan bertemu di sana untuk bersama-sama menghadapi gerombolan pemberontak itu."

"Karena saya tak pernah lagi mengikuti hari dan bulan, kapankah kiranya hari Tahun Baru itu, locianpwe? Masih berapa lamakah?"

"Sekarang pertengahan bulan sembilan. Masih ada tiga setengah bulan lagi bagimu untuk melakukan perjalanan sebelum Tahun Baru tiba."

Hui Song menjadi girang bukan main. "Kalau begitu masih banyak waktu bagi saya untuk singgah ke Cin-ling-san. Orang tua saya tentu merasa gelisah karena selama tiga tahun ini saya tidak pernah pulang."

"Terserah, dan alangkah baiknya apa bila Cin-ling-pai juga mau turun tangan membantu dalam usaha kita menentang ancaman mala petaka dari Pangeran Toan Jit Ong dan para sekutunya."

"Baik, locianpwe, akan saya bicarakan hal itu dengan ayah dan ibu dan semua saudara pimpinan Cin-ling-pai."

Sesudah menghaturkan terima kasih lagi dan menerima doa restu dari kakek gendut itu, Hui Song lalu meninggalkan goa di balik air terjun itu dan melakukan perjalanan dengan cepat ke utara. Hatinya gembira bukan main dan dia merasa seperti seekor burung yang bebas terbang ke udara.

Alangkah nikmatnya, alangkah senangnya dapat melakukan perjalanan bebas seperti itu setelah hampir tiga tahun dapat dibilang selalu berada di dalam goa, atau paling jauh juga ketika keluar dari situ dan mencari sayur-sayuran ke sekitar air terjun di lembah sungai itu. Dan yang lebih menggembirakan hatinya lagi adalah bayangan Sui Cin yang segera akan dapat dijumpainya lagi. Juga membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan ayah dan ibunya, sungguh amat menggembirakan hati pemuda ini.

Tanpa dia sadari sendiri, Hui Song kini jauh berbeda dengan keadaan dirinya tiga tahun yang lalu. Kini tubuhnya lebih tegap dan gerak-geriknya lebih gesit berisi, bahkan ketika dia melakukan perjalanan cepat sambil berlari, larinya jauh lebih ringan dan cepat apa bila dibandingkan dengan dulu sebelum dia digembleng oleh Siang-kiang Lo-jin atau Si Dewa Kipas.

********************

Thanks for reading Asmara Berdarah Jilid 15 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »