Social Items

DARA Cin-ling-pai itu dipersilakan duduk dan gadis itu kelihatan lega karena memperoleh teman duduk yang cukup sopan dan yang usianya sekitar tiga puluhan, belum tua benar. Dia memperkenalkan diri sebagai Tan Siang Wi dan segera bercakap-cakap dengan tiga orang semeja itu.

Tidak jauh dari meja di mana Tan Siang Wi duduk, terdapat pula tiga orang pria sedang duduk bercakap-cakap. Sukar dikatakan apakah mereka itu dari golongan bersih ataukah golongan sesat. Pakaian mereka cukup rapi, dan jelas menunjukkan pakaian ahli-ahli silat karena ringkas dan sikap mereka pun gagah.

Salah seorang di antara mereka sudah tua, jenggot kumis dan alisnya sudah putih namun tubuhnya masih tegap dan nampak kuat. Dua orang lainnya yang duduk di kanan kirinya berusia empat puluh tahun lebih, rambut mereka dikuncir tebal dan wajah mereka nampak gagah dengan jenggot terpelihara rapi.

Akan tetapi, sikap tiga orang ini agak congkak dan hal ini dapat nampak pada pandang mata mereka yang ditujukan kepada para tamu yang hadir. Bahkan setiap kali ada tamu datang, terutama tamu yang menunjukkan bahwa mereka ini datang dari golongan hitam, mereka bertiga bicara sambil tertawa-tawa. Pandang mata mereka yang ditujukan kepada tamu baru itu ketika tertawa-tawa menunjukkan bahwa tentu tamu baru itu yang menjadi bahan tertawaan mereka.

Demikian pula ketika Tan Siang Wi muncul, mereka berbisik-bisik sambil melirik ke arah gadis itu, tersenyum-senyum menyeringai dengan sikap kurang ajar sekali. Karena Siang Wi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, gadis ini pun tidak peduli. Akan tetapi setelah dia duduk bersama tiga orang tamu dan kebetulan duduknya menghadap ke arah meja tiga orang itu, mulailah Siang Wi mengerutkan alisnya.

Dia melihat betapa tiga orang itu, terutama dua orang yang termuda, selalu memandang padanya dan sengaja mainkan mata mereka seperti lagak lelaki yang hendak menggoda wanita. Tentu saja Siang Wi menjadi mendongkol.

Pada mulanya dia memang membuang muka saja dan tak mau balas memandang. Akan tetapi telinganya mulai bisa menangkap percakapan mereka itu di antara berisiknya suara para tamu lain. Maka marahlah gadis ini.

Tan Siang Wi adalah murid tunggal dari Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai. Seperti sudah kita ketahui, Bin Biauw atau nyonya Cia Kong Liang ini adalah puteri bekas datuk sesat Tung-hai-sian, seorang bangsa Jepang. Sesudah dia berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, Tung-hai-sian mencuci tangan dan tidak lagi berkecimpung di dalam dunia sesat.

Puterinya, Bin Biauw, walau pun puteri seorang datuk sesat, adalah seorang gadis yang baik sehingga dapat menjatuhkan hati Cia Kong Liang. Akan tetapi sesudah kini memiliki seorang murid, ternyata muridnya ini sedikit banyak sudah mewarisi watak Tung-hai-sian. Tan Siang Wi ini berwatak keras sekali, tidak pernah mau mengalah, agak tinggi hati dan angkuh walau pun dia selalu bertindak gagah dan menentang kejahatan.

Selain sudah mewarisi ilmu dari Bin Biauw, dia juga menerima petunjuk-petunjuk dan ilmu silat dari ketua Cin-ling-pai sendiri, maka dapatlah dibayangkan betapa lihainya Siang Wi. Kelihaiannya itu membuat dara ini semakin tinggi hati, terutama terhadap golongan sesat yang dianggap musuhnya. Tangannya berubah ganas kalau dia berurusan dengan kaum sesat dan sedikit pun dia tidak mau mengalah atau memberi hati.

Maka, baru selama satu dua tahun saja memasuki dunia kang-ouw, gadis ini telah dijuluki orang Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa) karena keganasannya terhadap musuh-musuhnya. Agaknya karena kenyataan yang sudah didengarnya bahwa sukong-nya, yaitu Bin Mo To di Ceng-to, adalah seorang bekas datuk sesat, gadis ini hendak membuktikan kepada semua orang di dunia bahwa dia adalah murid isteri ketua Cin-ling-pai, jadi dia adalah seorang pendekar, bukan orang sesat!

Ada kecondongan di dalam hati kita untuk selalu menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan kita. Kita selalu ingin dianggap baik. Keinginan seperti ini selalu timbul karena kenyataan yang kita lihat bahwa keadaan kita adalah sebaliknya dari pada baik. Hanya orang yang berkulit hitam saja yang selalu ingin disebut putih. Hanya orang yang bodoh sajalah yang selalu ingin dianggap pintar, dan hanya orang yang melihat alangkah kotor dirinya sajalah yang selalu ingin dianggap bersih dan baik.

Kita lupa bahwa justru keinginan-keinginan untuk dianggap lain dari pada kenyataan ini yang sering kali mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang buruk dan bodoh. Kalau kita sadar dengan kekotoran kita, maka kita harus berusaha membersihkannya, bukan dengan cara menyembunyikan atau menutupinya. Apa bila kita sadar bahwa kita bersih, maka kita harus menjaga agar kebersihan itu tak ternoda kekotoran, bukan lalu menjadi tinggi hati dan merasa bersih dan baik sendiri karena perasaan demikian itu justru akan menodai kebersihan itu sendiri.

Kenapa kita kadang-kadang merasa ngeri untuk menghadapi dan melihat kenyataan apa adanya, walau betapa buruk dan kotor sekali pun kenyataan itu? Menutupi kenyataan, melarikan diri dari kenyataan, jelas tidak akan dapat merubah keadaan itu!


"Ha-ha-ha!" Seorang di antara tiga pria itu tertawa lagi sambil menyumpit dan makan kue yang mulai dihidangkan. Kini wajah mereka mulai merah oleh arak. "Agaknya Cin-ling-pai sudah kehabisan jago jantan maka mengeluarkan jago betina, heh-heh-heh!"

Kata-kata itu sebenarnya lebih berupa kelakar di antara mereka sendiri karena diucapkan perlahan dan dimaksudkan untuk mereka dengar sendiri, lalu ketiganya tertawa bergelak sambil melontarkan pandang ke arah meja Siang Wi.

Akan tetapi karena mencurahkan perhatian ke arah mereka, Siang Wi dapat menangkap kata-kata itu sehingga marahlah gadis ini. Dia tak mampu lagi mengendalikan dirinya dan sekali melompat, dia sudah meloncati mejanya dan tahu-tahu, seperti seekor burung saja dia sudah hinggap di atas lantai dekat meja tiga orang itu!

"Kalian tadi bilang apa?!" bentaknya sambil berdiri dengan dua tangan bertolak pinggang dan mata tajam penuh kemarahan menatap mereka.

Tiga orang itu terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa gadis itu akan dapat mendengar ucapan yang menghina Cin-ling-pai tadi, juga mereka terkejut melihat gadis itu demikian gesitnya meloncati meja dan kini berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam.

"Ehh, kami bilang apa? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" seorang di antara mereka menjawab dan melanjutkan jepitan sumpitnya pada kue di atas piring.

"Bagus! Kalian menghina Cin-ling-pai dan masih berani bilang tidak ada sangkut-pautnya denganku? Biar pun Cin-ling-pai diwakili seorang wanita setidaknya jauh lebih gagah dari pada kalian ini banci-banci pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya!"

Para tamu yang duduk di sekitar tempat itu menjadi kaget sehingga mereka pun menoleh dengan penuh perhatian dan wajah mereka tertarik sekali. Dalam pertemuan antara para orang-orang kang-ouw sudah lumrah apa bila terjadi keributan dan perkelahian. Bahkan sebagian besar dari mereka mengharapkan terjadinya hal ini, karena dalam pertemuan para ahli persilatan, terasa kurang sedap dan kurang bumbu kalau tidak terjadi keributan dan perkelahian.

Ketiga orang itu sesungguhnya bukan orang-orang sembarangan. Kakek yang berjenggot putih itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Huang-ho Lo-eng (Pendekar Tua Sungai Kuning) bernama Pui Tek. Ada pun dua orang laki-laki gagah yang duduk di sampingnya adalah dua orang muridnya, juga amat terkenal sebagai Huang-ho Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Kuning).

Mereka bukan penjahat dalam arti kata mempunyai pekerjaan jahat seperti perampok atau bajak, akan tetapi karena orang-orang takut kepada mereka, maka dengan mudah mereka memperoleh hasil dari hadiah yang mereka terima dari para pedagang demi keselamatan dan keamanan. Mereka adalah semacam tukang-tukang pukul yang disegani.

Guru mereka, Huang-ho Lo-eng Pui Tek, dalam suatu perkelahian pernah dikalahkan oleh Cia Kong Liang ketua Cin-ling-pai. Walau pun bukan merupakan permusuhan pribadi dan tak ada dendam secara terbuka, akan tetapi kekalahan itu membuat Pui Tek mendongkol dan tidak suka terhadap Cin-ling-pai, menganggap ketua Cin-ling-pai yang memang keras wataknya itu terlalu sombong. Dengan sendirinya, kedua orang muridnya juga tidak suka kepada Cin-ling-pai, maka tidak heranlah kalau mereka tadi mengeluarkan kata-kata yang nadanya tak bersahabat terhadap Cin-ling-pai sehingga membuat Siang Wi menjadi amat marah.

Kini, di depan meja mereka berdiri seorang gadis Cin-ling-pai yang bertolak pinggang dan memaki mereka banci pengecut di hadapan begitu banyak orang. Tentu saja wajah ketiga orang itu menjadi merah sekali dan kemarahan mulai memenuhi hati mereka.

Akan tetapi, bagaimana pun juga mengingat akan julukan Pui Tek yang masih memakai Lo-eng (Pendekar Tua), dua orang harimau itu tentu saja lebih condong merasa bahwa diri mereka pendekar dari golongan bersih dari pada sebagai golongan hitam, maka ada rasa harga diri pada mereka yang membuat mereka merasa malu kalau harus ribut-ribut dan berkelahi melawan seorang gadis yang masih remaja, yang usianya tentu belum ada dua puluh tahun. Mereka adalah jagoan-jagoan di sepanjang Sungai Kuning, tentu sangat memalukan kalau harus berkelahi melawan seorang dara remaja. Akan tetapi didiamkan saja pun tidak mungkin setelah gadis itu memaki mereka sebagai banci pengecut.

"Bocah perempuan kurang ajar, makanlah ini!" Bentak orang yang menyumpit kue itu dan sekali tangan kanan yang memegang sumpit bergerak, kue sepotong yang disumpitnya itu meluncur ke arah muka Siang Wi dengan kecepatan kilat!

"Cappp...!"

Dara itu menggerakkan tangan kanan dan menjepit ke arah kue itu. Dengan tepat sekali telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menjepit kue itu dan dia melakukan ini sambil tersenyum mengejek.

"Makanlah sendiri!" Dara itu membentak dan tiba-tiba tangannya bergerak.

Kue itu segera meluncur cepat ke arah muka orang yang menyambit tadi. Orang itu cepat menggerakkan sumpit untuk menjepit kembali, akan tetapi begitu bertemu sumpit, kue itu hancur dan tentu saja hancuran kue itu menyambar dan mengenai muka orang itu.

Ternyata sebelum membalas dengan timpukan, Siang Wi sudah lebih dulu menggunakan tenaga jari tangan membikin kue itu remuk di bagian dalamnya. Hancuran kue menyerang mata, hidung dan mulut, membuat orang itu repot membersihkan wajahnya sambil terus memaki-maki!

Melihat saudaranya mendapat malu, orang kedua sudah bangkit dan membentak marah, "Bocah perempuan, berani kau menghina orang?"

Sekali kepalanya bergerak, rambut yang dikuncir tebal itu langsung menyambar ke depan, mengeluarkan suara bersuitan dan memukul ke arah leher Siang Wi. Sungguh merupakan serangan yang sangat aneh akan tetapi juga berbahaya karena thouw-cang (kuncir) yang digerakkan dengan tenaga sinkang ini tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata keras.

Orang itu sungguh terlalu memandang rendah pada Siang Wi maka dia berani selancang itu menyerang dengan kuncirnya. Kalau tidak begitu tentu dia tidak akan berani bergerak secara sembrono seperti itu.

"Wuuuuttt...!"

Kuncir itu meluncur lewat pada saat Siang Wi merendahkan tubuh mengelak dan begitu kuncir menyambar lewat, tangan kiri Siang Wi mencuat lantas tahu-tahu kuncir itu sudah dapat dicengkeramnya! Dengan sekali sentakan, terpaksa kepala orang itu tertunduk dan Siang Wi sudah mengangkat lutut untuk menghajar muka orang! Tentu sedikitnya hidung orang itu akan berdarah kalau saja saudaranya tidak segera menubruk dengan pukulan tangan ke arah punggung Siang Wi.

"Huh, pengecut curang!" bentak Siang Wi. Dia terpaksa harus melepaskan orang pertama dengan mendorongnya mundur, lalu sambil meloncat gadis itu membalik dan menangkis pukulan orang kedua.

"Dukkk!"

Dua tenaga besar bertemu dan akibatnya, orang berjenggot itu menyeringai kesakitan lalu meloncat ke belakang. Tak disangkanya pertemuan lengan itu sudah membuat lengannya kesakitan dan seperti lumpuh saking kuatnya lengan kecil milik nona itu. Kini tahulah dua orang Harimau Sungai Kuning itu bahwa lawannya, biar pun wanita, biar pun masih muda sekali, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Kini para tamu menjadi semakin gembira, dan tuan rumah, yaitu Ang-kauwsu yang juga melihat pertikaian itu diam saja karena dia pun ingin melihat kesudahannya. Guru silat ini juga mempunyai penyakit yang sama dengan orang-orang dari kalangan persilatan, yaitu suka melihat adu silat.

Pula, diam-diam dia pun merasa tidak senang melihat sikap para jagoan Huang-ho yang terkenal kasar dan banyak lagak itu tadi menghina utusan Cin-ling-pai. Dia mengharapkan jagoan-jagoan sombong itu menemui batunya walau pun hatinya khawatir melihat bahwa di situ terdapat pula Huang-ho Lo-eng yang dia tahu amat lihai sekali.

"Budak perempuan kurang ajar! Berani engkau menghina kami di tempat umum? Hayo cepat berlutut minta maaf apa bila tidak ingin menerima hajaran kami!" bentak seorang di antara dua jagoan yang mukanya terkena hancuran kue tadi.

Betapa pun juga, dia dan kawannya masih sungkan melawan seorang gadis, apa lagi kini mereka berdua sudah memegang senjata andalan mereka, yaitu sebatang tombak besar gagang panjang. Kalau dara itu mau minta maaf, berarti muka mereka telah tercuci, atau kalau dara itu tetap hendak melawan, berarti mereka sudah memberi kesempatan kepada wakil Cin-lin-pai itu untuk minta maaf.

Seorang seperti Siang Wi, mana mengenal minta maaf? Hatinya terlalu keras untuk mau mengalah, apa lagi terhadap orang-orang yang sudah berani menghinanya dan menghina Cin-ling-pai. Dia tersenyum mengejek lantas mukanya menjadi semakin dingin, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat.

"Dua monyet busuk, dengarlah baik-baik. Kalian yang telah menghina Cin-ling-pai dan jika kini kalian mau berlutut minta ampun, barulah nonamu akan mempertimbangkan apakah kalian dapat diampunkan. Kalau tidak, aku akan menghajar kalian!"

Kata-kata ini sungguh hebat sekali. Bukan hanya menantang terang-terangan di hadapan orang banyak itu, bahkan menghina. Mana bisa Huang-ho Siang-houw, dua jagoan itu mau menerima begitu saja?

"Bocah setan, engkau bosan hidup!" teriak seorang di antara mereka lantas golok besar bergagang panjang itu menyambar dahsyat ke leher Siang Wi.

Tentu saja dara perkasa itu tidak sudi lehernya dibabat begitu saja. Dia cepat mengelak sambil membalikkan tubuh menendang meja di depannya. Kakek Huang-ho Lo-eng yang duduk di belakang meja itu cepat menghindar dengan lompatan gesit ke kanan sehingga dia tidak sampai terkena tumpahan makanan dan arak.

Akan tetapi dia bukan hanya melompat begitu saja, melainkan cepat meraih dan dia telah berhasil menangkap kaki meja lalu menaruh meja itu di samping. Gerakan ini saja sudah membuktikan kecepatan dan kelihaian jago tua ini.

Kini terdapat ruang agak luas bagi Siang Wi yang menghadapi dua orang lawannya. Dua orang harimau itu mulai menyerang dengan golok gagang panjang mereka. Semua orang memandang dengan hati tegang dan juga agak khawatir karena Siang Wi tetap tidak mau mempergunakan pedangnya.

Dara ini tadi memang meloloskan sepasang pedangnya, akan tetapi bukan dicabut untuk melawan, melainkan dia letakkan di atas mejanya sendiri agar sepasang senjata itu tidak mengganggu gerakannya, kemudian dia kembali ke hadapan dua orang lawannya, hanya melawan dengan tangan kosong saja.

"Anak itu terlalu sembrono!"

"Terlalu sombong bisa merugikannya."

"Tapi dia kelihatan lihai sekali."

Demikianlah para penonton saling berbisik melihat betapa dara itu menghadapi Huang-ho Siang-houw hanya dengan tangan kosong, padahal kedua orang lawan itu menggunakan senjata tajam yang bergagang panjang. Dua orang jagoan itu sendiri merasa sangat kikuk dan sungkan.

"Bocah gila, hayo pergunakan pedangmu!" bentak mereka.

"Melawan dua ekor monyet tua macam kalian tidak perlu pakai pedang!" jawab Siang Wi yang memang tinggi hati.

Dua orang itu tak dapat lagi menahan kemarahan hati mereka. Keduanya lalu menyerang dengan golok mereka. Senjata itu mengeluarkan suara bercuitan dan berdesing-desing, lalu membentuk dua gulungan sinar lebar yang menyambar-nyambar.

Tetapi para tamu menjadi bengong ketika mereka melihat betapa dara itu menggerakkan tubuhnya dan seperti seekor burung walet saja gesitnya beterbangan di antara sambaran kedua golok itu! Bukan main indahnya gerakan dara itu dan tak terasa lagi keluar pujian dari mulut para tamu yang ilmunya sudah tinggi.

Hui Song dan Sui Cin baru saja menyelinap ke dalam rombongan tamu, memilih tempat di sudut. Mereka mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau karena terjadi perkelahian itu, di mana semua tamu mencurahkan pandang mata dan perhatiannya ke arah perkelahian. Mereka lalu menyelinap masuk dan tanpa menemui tuan rumah mereka telah mengambil tempat duduk di sudut yang agak tersembunyi oleh salah satu di antara tiang-tiang penyangga bangunan darurat itu. Mereka juga tertarik dan menonton ke arah perkelahian.

"Hemm, berani benar gadis itu menghadapi keroyokan dua orang lawan yang bersenjata panjang dengan tangan kosong saja." Sui Cin berkata sesudah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa dua orang bersenjata golok panjang itu tak boleh dipandang ringan.

"Sumoi tak akan kalah," kata Hui Song lirih dan Sui Cin terkejut.

"Sumoi-mu...?"

Dia memandang lebih teliti dan kini dia pun bisa mengenal gerakan kaki dan tangan gadis itu, walau pun kadang-kadang gerakan itu berubah aneh. Masih ada dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai dalam gerakan silat gadis itu, akan tetapi sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang tidak dikenalnya.

Memang demikianlah. Sesudah menikah dengan Cia Kong Liang, Bin Biauw memperoleh banyak petunjuk dari suaminya dan dia pun mempelajari dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai yang kokoh kuat. Maka, ketika dia melatih Siang Wi, tentu saja dasar-dasar ilmu silat dari Cin-ling-pai juga diajarkan, bahkan Siang Wi juga telah menerima gemblengan dari ketua Cin-ling-pai sendiri.

"Ya, namanya Tan Siang Wi," jawab Hui Song sederhana.

Hui Song tidak merasa girang bertemu dengan sumoi-nya. Pemuda ini tahu benar bahwa sumoi-nya itu sudah sejak lama sekali menaruh perhatian kepadanya. Di dalam sikap dan gerak-gerik gadis yang pendiam itu terdapat tanda-tanda bahwa Siang Wi mencintanya. Hal inilah yang membuat dia merasa tidak enak kalau bertemu dengan sumoi-nya.

Dia pun menyayang sumoi-nya ini, akan tetapi sumoi-nya berwatak keras, terlalu berani dan agak angkuh. Tetapi dia tidak mencinta sumoi-nya, maka merasa semakin tidak enak setelah tahu bahwa sumoi-nya itu jatuh cinta kepadanya.

"Hemm, dia cantik dan gagah!" Sui Cin memuji. Memang gadis itu manis sekali, terutama pinggangnya amat ramping.

"Ya, tapi keras hati dan galak sekali."

Sui Cin menahan senyum sambil mengerling ke arah wajah pemuda itu, akan tetapi Hui Song tidak sedang bergurau melainkan memandang ke arah perkelahian dengan wajah serius dan hati tegang. Bagaimana pun juga, memang Sui Cin benar. Terlalu sembrono menghadapi dua lawan tangguh yang bersenjata panjang itu dengan tangan kosong.

"Haaaiiiittt...!" Tiba-tiba Siang Wi memekik, tangan kanan memukul gagang tombak lawan yang menyerang dari kanan sedangkan kaki kiri mendahului lawan kedua, menendang ke arah dada.

"Bukk...! Plakkk!"

Lawan pertama terpental goloknya sedangkan lawan kedua tak mampu menghindar lagi. Serangan atau gerakan Siang Wi memang sangat hebat, laksana seekor burung rajawali mementang sayap, kedua lengannya berkembang dan kaki kirinya menendang ke depan selagi tubuhnya masih melayang. Orang yang kena tendang dadanya itu terbanting roboh dan sebelum orang kedua hilang kagetnya, kaki kanan menggantikan kaki kiri yang turun untuk menyambar ke depan.

"Desss...!" Orang kedua juga terbanting karena perutnya dicium ujung sepatu Siang Wi.

Dua orang itu meringis kesakitan dan merayap bangun, sementara itu Huang-ho Lo-eng yang melihat betapa dua orang muridnya dirobohkan oleh seorang gadis muda, mukanya berubah merah sekali. Dia sudah bangkit berdiri, lantas mengebutkan ujung jubahnya dan melangkah maju menghampiri Siang Wi. Akan tetapi sebelum guru beserta kedua orang muridnya ini sempat bicara atau bergerak, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang segera menghadapi tiga orang itu sambil menjura.

"Sam-wi-eng-hiong, saya mewakili tuan rumah menyampaikan permohonan maaf, harap sam-wi suka menyudahi urusan ini sampai di sini agar tidak mengganggu jalannya pesta." Kemudian pemuda itu membalik dan menghadapi Siang Wi sambil menjura pula, "Nona, harap suka mundur dan mengakhiri keributan ini." Dan tanpa setahu orang, pemuda itu berkedip.

Sejenak Siang Wi terbelalak. Tentu saja dia mengenal suheng-nya! Akan tetapi sebeium dia menegur, Hui Song telah mengedipkan mata. Siang Wi yang cukup cerdik itu maklum bahwa suheng-nya tidak ingin dikenal orang. Maka dia pun mengangguk dan kembali ke mejanya, menggantung kembali siang-kiamnya di punggung lalu duduk tenang, bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentu saja Huang-ho Lo-eng masih penasaran. Dua orang muridnya dirobohkan seorang anak perempuan di tempat pesta yang ramai, hal ini sungguh amat menyakitkan hati dan menjatuhkan martabat serta nama besarnya, maka dia harus turun tangan membersihkan noda itu. Akan tetapi kini muncul pemuda yang mewakili tuan rumah minta agar keributan jangan dilanjutkan. Selagi kakek ini merasa serba salah, tiba-tiba terdengar seruan di luar.

"Paduka Jenderal Ciang telah tiba...!"

Mendengar seruan ini, semua orang menengok keluar dan Ang-kauwsu sendiri bersama beberapa orang penyambut bergegas lari keluar untuk menyambut datangnya tamu agung ini. Seorang jenderal adalah seorang perwira yang berpangkat tinggi, apa lagi datang dari kota raja, maka tentu saja merupakan seorang tamu agung yang paling terhormat.

Hui Song dan Sui Cin sudah duduk lagi dan mereka berdua memandang dengan penuh kewaspadaan. Seperti telah mereka rencanakan pada waktu keduanya pergi menghadap Jenderal Ciang, mereka berdua bersama belasan orang pengawal pilihan menyelundup ke tempat pesta dan akan berjaga-jaga kalau-kalau ada orang melakukan serangan gelap.

Sementara itu, sang jenderal sendiri datang dikawal enam orang pengawal pilihan yang dipercayanya. Agaknya belum puas dengan semua ini, Jenderal Ciang juga mengenakan lapisan baja di balik baju kebesarannya sehingga tubuhnya akan kebal terhadap serangan senjata tajam.

Tibalah saat yang sudah dinanti-nantikan banyak orang ini! Tentu saja terjadi ketegangan hebat di dalam dada mereka yang memiliki kepentingan dengan kedatangan jenderal ini. Seperti telah mereka sepakati, Sui Cin memasang mata memandang ke kiri dan Hui Song ke kanan, siap untuk turun tangan kalau melihat orang yang hendak melakukan serangan gelap kepada jenderal itu.

Tadi pun mereka sudah memasang mata mencari-cari, akan tetapi mereka tidak melihat adanya tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang mereka kenal, biar pun mereka sudah melihat ada beberapa orang dari Hwa-i Kai-pang yang sedang menyelinap dalam pakaian biasa atau menyamar sebagai orang biasa, bukan sebagai pengemis. Mereka merasa yakin bahwa di antara banyak tamu itu terdapat tokoh-tokoh kaum sesat yang lihai.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu ketika jenderal itu datang sampai diantar oleh tuan rumah menuju ke kursi kehormatan di panggung yang agak tinggi. Sementara itu, Siang Wi yang tadi memandang ke arah suheng-nya, merasa heran dan alisnya segera berkerut ketika dia melihat suheng-nya berbisik-bisik dengan seorang gadis yang cantik jelita!

Mereka berbisik-bisik demikian akrabnya dan perasaan tidak senang memenuhi hati gadis yang jatuh cinta ini. Perasaan cemburu membakar dadanya dan biar pun tadi dia mengerti akan isyarat suheng-nya maka dia pun berdiam diri, kini perasaan cemburu membuat dia cepat bangkit berdiri, meninggalkan teman-teman semeja dan langsung saja menghampiri Hui Song dan Sui Cin yang duduk di sudut, di belakang sebuah tiang.

"Suheng, siapakah dia ini?" tanyanya sambil menuding ke arah muka Sui Cin dengan alis berkerut, mulut cemberut dan mata menantang.

"Sstttt... diamlah, sumoi..." Hui Song berbisik kaget, lalu cepat menarik tangan sumoi-nya sehingga gadis itu terduduk di kursi kosong di dekatnya. "Kau ikut menjaga keselamatan jenderal itu, jangan banyak tanya..."

"Tapi... tapi siapa perempuan ini...?" Siang Wi masih berbisik dan matanya mengerling ke arah Sui Cin dengan wajah membayangkan ketidak puasan.

"Diam kau, cerewet!" Sui Cin balas menghardik dengan suara berbisik.

Siang Wi terkejut setengah mati dan mukanya menjadi pucat lalu merah laksana dibakar. Hatinya panas mendengar ada orang berani bersikap seperti itu, menghardiknya dengan kasar. Tentu saja dia hendak membalas akan tetapi pada saat itu pula terdengar ledakan-ledakan keras dan api pun mulai berkobar!

"Kebakaran! Kebakaran...!"

Para tamu menjadi panik. Semua orang bangkit berdiri, ada yang mulai lari ke sana-sini, berdesak-desakan dan keadaan menjadi semakin kacau-balau setelah terjadi perkelahian di sana-sini.

Sui Cin dan Hui Song sudah melompat ke tengah, mendekati Jenderal Ciang. Ternyata para pengawal sudah mulai berkelahi melawan beberapa orang di antara para tamu dan kini dari luar bermunculan tokoh-tokoh Cap-sha-kui! Sui Cin mengenal Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kui-bo, Kiu-bwee Coa-li, Kui-kok Lo-mo, Kui-kok Lo-bo dan Tho-tee-kwi.

Tadi mereka ini menerjang maju bagaikan berlomba hendak membunuh Jenderal Ciang. Akan tetapi para pengawal, baik yang enam orang mau pun belasan orang lainnya yang menyamar, segera menyambut mereka. Betapa pun juga, saking lihainya para penyerang, masih ada senjata rahasia menyambar hingga mengenai dada sang jenderal, akan tetapi karena pembesar itu memakai perisai di balik bajunya, senjata itu mental kembali.

Sebelum para penyerang yang jumlahnya ada dua puluh orang itu dapat mengepung sang jenderal, Hui Song, Sui Cin dan diikuti pula oleh Siang Wi sudah tiba di situ. Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong mengamuk melindungi Jenderal Ciang yang juga sudah mencabut pedang panjangnya.

"Goanswe, mari kita keluar!" Hui Song berteriak sambil menggandeng tangan jenderal itu dengan tangan kirinya. "Sui Cin, engkau jaga di sebelah kirinya." Dara itu pun menggamit tangan kiri jenderal itu dengan tangan kanannya.

"Sumoi, kau lindungi kami keluar!" teriak pula Hui Song kepada sumoi-nya.

Siang Wi tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun dengan patuh dia mentaati perintah suheng-nya. Dia cepat mencabut sepasang pedangnya, lantas melindungi mereka berdua yang berusaha untuk membawa Jenderal Ciang keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, Huang-ho Lo-eng sudah meloncat dan menghadapi Siang Wi. "Hemm, bocah sombong, sekarang tibalah saatnya aku membalas kekalahan dua muridku!" katanya dan kakek ini menerjang ke depan.

Melihat hal ini, Hui Song menjadi marah. Kakek ini tidak peduli akan keributan dan hanya mengingat keperluan sendiri saja, keperluan dendam! Demikian pula Sui Cin juga marah melihat lagak kakek ini. Mereka berdua seperti telah bersepakat saja, tiba-tiba menerjang maju dan menampar ke arah Huang-ho Lo-eng. Kakek itu kaget sekali ketika merasa ada angin menyambar dari kanan kiri, maklum bahwa dia sedang diserang oleh dua orang secara hebat sekali.

"Uhhhhh...!" Dia mengerahkan tenaga ke dalam dua lengannya lantas menangkis sambil mendorong.

"Dessss...!"

Akibatnya, tubuh kakek itu terjengkang dan menimpa meja kursi. Dia memandang dengan bengong, melongo melihat bahwa yang merobohkan dia tadi adalah seorang pemuda dan seorang gadis lain yang kini kembali menggamit Jenderal Ciang untuk keluar, dilindungi oleh Siang Wi yang memutar sepasang pedangnya.

Beberapa orang penjahat, agaknya anggota Hek-i Kai-pang karena di antaranya terdapat Bhe Hok si gendut, hendak mencegah Hui Song membawa jenderal itu keluar. Siang Wi menyerang mereka dan dara ini pun segera dikeroyok.

Maklum akan besarnya bahaya bagi sang jenderal apa bila tidak cepat-cepat ke luar, Hui Song dan Sui Cin cepat menarik tangan jenderal itu menyelinap di antara banyak orang, menangkis semua serangan hingga akhirnya mereka pun berhasil keluar. Sesudah tiba di luar, Jenderal Ciang mengeluarkan terompet kemudian ditiupnya terompet itu berkali-kali. Bagaikan datangnya air bah, bermunculanlah barisan pendam yang memang sudah sejak tadi dipasang oleh jenderal yang berpengalaman itu di sekeliling tempat itu dan tempat itu pun sudah terkurung rapat!

Jenderal Ciang dengan dikawal oleh Hui Song dan Sui Cin, kini berdiri di atas batu besar, berteriak dengan suara lantang, "Hentikan semua perkelahian di dalam! Semua penyerbu agar menyerah!"

Akan tetapi, para penjahat yang tadi menyerbu dan hendak membunuh jenderal itu, malah semakin mengamuk karena mereka merasa penasaran sekali bahwa rencana yang sudah mereka atur dengan rapi itu menemui kegagalan. Oleh karena tempat itu penuh dengan orang-orang dari dunia persilatan, maka begitu terjadi pertempuran, orang-orang itu pun banyak pula yang terseret dan berkelahi sendiri!

Tentu saja orang-orang dari golongan sesat membantu rekan-rekan mereka tanpa mereka ketahui sebab-sebab perkelahian itu, dan orang-orang yang merasa dirinya pendekar atau yang menentang kaum sesat segera pula melawan mereka. Hal ini membuat tokoh-tokoh lihai seperti rombongan Cap-sha-kui itu mendapat banyak kesempatan untuk merobohkan dan membunuh orang.

"Kalian telah dikepung ratusan orang pasukan! Kalau tidak mau menyerah dan melempar senjata, maka akan diambil tindakan kekerasan!" Kembali terdengar suara jenderal itu.

Ketika para tokoh sesat yang mengamuk di dalam itu tak mau juga mentaati perintahnya, Jenderal Ciang kemudian mengeluarkan aba-aba memerintahkan pasukannya menyerbu ke dalam. Hui Song, Sui Cin, dan Siang Wi juga ikut menyerbu bersama pasukan karena Hui Song ingin menangkap hidup-hidup beberapa orang tokoh sesat untuk dijadikan saksi tentang pengkhianatan Liu Kim atau Liu-thaikam.

Ketika para prajurit menyerbu, suasana menjadi semakin kacau dan geger. Pada saat itu pula terdengar suara melengking panjang dari luar tempat pesta yang berubah menjadi tempat pertempuran itu. Suara lengkingan panjang dari luar ini disusul dengan ledakan-ledakan benda yang dilempar dari luar. Begitu meledak, benda-benda yang dilempar dari luar itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sehingga suasana menjadi semakin kacau.

"Cepat loloskan diri dari atas...!" Terdengar teriakan suara yang nyaring, mengatasi suara kegaduhan itu. Mendengar seruan ini, enam orang tokoh Cap-sha-kui berloncatan naik ke atas atap yang sudah dibuka dari atas.

Hui Song, Sui Cin serta Siang Wi melihat pula hal ini dan melihat bahwa di atas berdiri bayangan dua orang, seorang kakek tinggi kurus bertongkat dan seorang pemuda tinggi tegap. Pemuda itulah yang membantu enam orang Cap-sha-kui lolos dengan menyambar tangan mereka dan menariknya ke atas setelah mereka itu berloncatan dan hampir tidak mencapai tempat yang amat tinggi itu. Apa lagi atap itu adalah atap darurat yang terbuat dari bambu sehingga tidak begitu kuat dan ada bahayanya mereka akan terjeblos lagi ke bawah. Untung ada pemuda itu yang menyambut mereka dan menarik mereka keluar.

"Kejar...!" Hui Song yang merasa sangat penasaran itu lalu berlompatan keluar diiringkan sumoi-nya dan Sui Cin dan dari luar mereka lalu berloncatan naik ke atas atap. Hui Song tidak begitu bodoh untuk menyusul naik dari lubang atap itu selagi musuh-musuh yang lihai itu berada di luar lubang karena tentu mereka itu akan mudah menyambutnya dengan serangan berbahaya.

Pada saat ketiga orang muda perkasa itu sampai di atas atap, sebagian dari tokoh-tokoh Cap-sha-kui berloncatan ke atas genteng rumah-rumah lainnya, ada pun di atas atap itu masih terdapat kekek kurus, pemuda itu dan Kiu-bwe Coa-li bersama ketua Kui-san-kok dan isterinya.

"Penjahat-penjahat keji, kalian hendak lari ke mana?" Hui Song membentak dan segera menyerang ke arah pemuda tinggi tegap itu.

"Kau...?! Kau seorang tokoh sesat...?" Sui Cin juga berseru ketika dia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang dulu pernah menyelamatkannya dari mala petaka saat dia akan diperkosa oleh Sim Thian Bu. Akan tetapi dia hanya meloncat mendekat dan tidak berani menyerang seperti yang dilakukan Hui Song.

Sementara itu Siang Wi juga sudah kembali mencabut sepasang pedangnya dan segera menyerang Kiu-bwe Coa-li.

"Singgg...! Singgg...! Tarrrrr...!" Sepasang pedang yang menyambar-nyambar itu tertahan oleh ledakan pecut ekor sembilan di tangan nenek ular yang lihai itu.

Sementara itu, pemuda yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang, menyambut serangan Hui Song dengan tenang, menangkisnya dari samping.

"Dukkkk!" Tangkisan itu tepat menyambut pukulan Hui Song dan akibatnya, dua pemuda itu terjeblos ke dalam atap yang menjadi jebol di bawah kaki mereka!

Hui Song kaget bukan kepalang dan cepat melempar tubuh ke belakang lantas berjungkir balik beberapa kali baru dia dapat mencegah tubuhnya tidak terjatuh ke bawah, ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran. Dan ketika Siangkoan Ci Kang terjeblos lalu tubuhnya jatuh ke bawah, tiba-tiba saja kakek tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya dan tongkat itu dapat mengait kaki pemuda itu lantas menempelnya sehingga pemuda itu terhindar dari jatuh ke bawah.

Bukan main cepatnya gerakan kakek tinggi kurus itu ketika tiba-tiba dia menggerakkan tongkat lagi. Tongkatnya menyelonong di antara Kiu-bwe Coa-li dan Siang Wi dan ketika sebatang pedang di tangan kiri Siang Wi bertemu tongkat, gadis ini berteriak kaget karena ada getaran hebat yang membuat tangannya hampir saja melepaskan pedang. Terpaksa dia pun melangkah mundur dan kesempatan ini digunakan oleh kakek itu untuk berseru,

"Kita pergi!"

Hui Song menahan napas. Dia tidak mau mengejar pada saat melihat kakek tinggi kurus, pemuda perkasa, Kiu-bwe Coa-li dan sepasang suami isteri Kui-san-kok itu berloncatan pergi. Dia tahu alangkah lihainya mereka itu, terutama pemuda dan kakek tinggi kurus. Mereka berdua itu dan ditambah tiga orang tokoh Cap-sha-kui sungguh merupakan lawan yang terlalu berat bagi dia, Sui Cin dan Siang Wi.

Juga Sui Cin diam saja karena dia masih tertegun melihat betapa pemuda yang pernah menyelamatkannya itu kiranya merupakan seorang tokoh sesat dan agaknya tepat seperti yang pernah diceritakan Hui Song kepadanya. Kakek tinggi kurus yang matanya terbuka tanpa berkedip itu tentulah yang bernama Siangkoan Lo-jin alias Si Iblis Buta dan pemuda itu tentulah puteranya.

Akan tetapi Siang Wi yang sudah hilang kagetnya, melihat mereka melarikan diri, segera berseru, "Iblis-iblis busuk, kalian hendak lari ke mana?" Dia pun meloncat ke depan untuk melakukan pengejaran.

"Sumoi, jangan dikejar...!" Hui Song berseru sambil meloncat ke depan untuk mencegah sumoi-nya.

Mendengar suara suheng-nya yang setengah membentak, Siang Wi merasa terkejut dan segera menahan kakinya. Pada saat itu pula, serombongan prajurit yang berada di bawah melepaskan anak panah ke arah para penjahat yang melarikan diri. Akan tetapi, mereka itu hanya mengebutkan tangan dan semua anak panah runtuh ke bawah!

Sebentar saja, para penjahat itu sudah berhasil meloloskan diri. Dengan bantuan pemuda itu bersama ayahnya yang buta, kembali enam orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos dari kepungan pasukan yang amat kuat!

Hui Song merasa kecewa, akan tetapi dia teringat bahwa di bawah masih terdapat banyak penjahat, terutama orang-orang Hwa-i Kai-pang yang menyamar. Mereka pun dapat juga dijadikan saksi, pikirnya, maka dia lalu mengajak Sui Cin dan Siang Wi untuk kembali ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran hebat.....

Akan tetapi tanpa adanya para tokoh Cap-sha-kui di situ, akhirnya para penjahat itu dapat dirobohkan kemudian ditangkap. Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi masing-masing berhasil menangkap seorang penjahat anggota Hwa-i Kai-pang, bahkan Hui Song menotok roboh Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang gendut yang bertongkat dan cukup lihai itu. Sui Cin juga menampar seorang anggota Hwa-i Kai-pang sehingga roboh pingsan sementara Siang Wi yang berpedang itu merobohkan seorang tokoh sesat dengan membacok pahanya hingga hampir buntung.

Jenderal Ciang memerintahkan supaya semua tawanan itu dikumpulkan untuk dibawa ke kota raja. Gerobak-gerobak tawanan dipersiapkan dan semua tawanan, kecuali Bhe Hok si gendut, dijebloskan ke dalam gerobak-gerobak kerangkeng dengan kaki tangan mereka dibelenggu.

Hui Song sudah menemui Jenderal Ciang dan minta supaya tawanan yang satu ini tidak dimasukkan gerobak kerangkeng, melainkan hendak dikawalnya sendiri ke kota raja. Usul ini timbul di dalam hati Hui Song ketika membayangkan kemungkinan tokoh sesat akan berusaha membebaskan para tawanan. Padahal, para tawanan itu merupakan saksi-saksi penting sekali, terutama Bhe Hok yang tahu tentang semua persekutuan busuk di istana, seperti yang pernah dia dengar bersama Sui Cin ketika di gedung Hwa-i Kai-pang sedang diadakan pertemuan dan percakapan di antara para tokohnya, termasuk Bhe Hok itu.

"Sumoi, kalau engkau lebih dahulu pergi ke Cin-ling-san, tolong beri tahukan ayah bahwa sesudah selesai urusan di kota raja, aku akan pergi berkunjung ke Pulau Teratai Merah, baru akan pulang ke Cin-ling-san." Hui Song berkata kepada sumoi-nya.

Wajah yang manis itu tampak semakin keruh dan matanya mengerling ke arah Sui Cin. Ia belum tahu siapa adanya dara yang bersama suheng-nya ini, akan tetapi dari pertempuran tadi ia melihat bahwa Sui Cin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.

"Akan tetapi, aku..." Ia merasa sungkan dan malu untuk menyatakan keinginannya agar dapat selalu bersama suheng-nya.

"Engkau pergilah lebih dulu dan aku akan menyelesaikan tugas kami berdua yang sudah melibatkan diri kami sejak lama."

Kembali Siang Wi memandang kepada Sui Cin dengan alis berkerut. Hui Song sangat mengenal watak sumoi-nya maka dia kini tahu pula betapa hati sumoi-nya tidak senang karena dia melakukan perjalanan berdua dengan seorang gadis lain.

"Sumoi, engkau belum berkenalan. Nona ini adalah nona Ceng Sui Cin, yaitu puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin."

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi lalu menyipit kembali dan dua alisnya berkerut lebih dalam, wajahnya dibayangi kekhawatiran yang lebih besar. Kiranya dara cantik yang lihai sekali ini adalah puteri pendekar yang namanya sudah amat dikenalnya itu. Sungguh merupakan saingan yang sangat kuat! Akan tetapi, sebagai murid isteri ketua Cin-ling-pai dia pun cukup tahu akan peraturan, maka cepat dia menjura ke arah Sui Cin.

"Ternyata enci adalah puteri Ceng-locianpwe yang terkenal itu. Maaf kalau aku bersikap kurang hormat karena tadi belum mengenalmu."

Sui Cin tertawa geli dan mengibaskan tangannya. "Wah, sudahlah, di antara kita tak perlu banyak memakai sungkan-sungkan lagi."

Hui Song juga tersenyum, lega melihat sikap Siang Wi yang menghormat dan geli melihat sikap wajar Sui Cin. Dia pun lalu tertawa. "Sumoi, nona Ceng ini baru berusia enam belas tahun, jadi, sebaiknya kalau engkau menyebutnya adik, bukan enci."

Setelah berpamit dari sumoi-nya dan juga dari Jenderal Ciang yang sibuk sekali mengatur sendiri pasukannya untuk membawa para tawanan, Hui Song lalu mengajak Sui Cin pergi sambil menggiring si gendut Bhe Hok, pergi ke kota raja melalui jalan memotong. Sui Cin tetap menunggang kudanya, Bhe Hok berjalan di belakang kuda dan Hui Song berjalan di belakangnya.

Sui Cin dan Hui Song tidak merasa khawatir kalau-kalau tawanan itu akan lari atau akan memberontak karena Hui Song sudah monotok jalan darah pada kedua pundaknya yang membuat kedua lengan si gendut itu tak dapat digerakkan lagi, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuhnya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Begitu mereka tiba di kota raja dengan selamat, Hui Song dan Sui Cin membawa tawanan itu ke markas Jenderal Ciang. Para perwira di markas itu telah mengenal Hui Song, maka mereka menyambut pemuda itu dan dengan gembira mendengarkan penuturan Hui Song tentang peristiwa pertempuran di rumah Ang-kauwsu.

Si gendut Bhe Hok dimasukkan ke dalam kamar tahanan dan dijaga dengan ketat. Sesuai dengan permintaan Hui Song, si gendut yang menjadi tawanan penting ini diperlakukan dengan baik. Hui Song sendiri mengancam bahwa kalau si gendut ini tidak mau membuat pengakuan di depan kaisar nanti apa bila dibutuhkan, maka dia akan disiksa.

"Terutama engkau akan dibiarkan kelaparan sampai satu bulan lamanya. Akan tetapi jika engkau mengaku, aku akan mintakan ampun untukmu, dan engkau akan mendapatkan makanan enak, bahkan mungkin juga dibebaskan."

Tak ada siksaan lain yang lebih menakutkan bagi si gendut Bhe Hok dari pada kelaparan! Baginya, makan enak sekenyangnya merupakan kenikmatan nomor satu di dunia ini, dan tanpa itu, hidup tidak ada artinya lagi. Maka, mendengar ancaman Hui Song itu, dia sudah mengangguk-angguk seperti burung kakak tua diberi hidangan.

Kemudian, tepat seperti yang sudah dikhawatirkan Hui Song, datang berita mengagetkan bahwa pada senja hari itu pasukan Jenderal Ciang yang membawa rombongan tawanan menuju ke kota raja, di tengah perjalanan sudah dihadang dan diserang oleh gerombolan penjahat, dan sebagian besar para tawanan dapat dibebaskan oleh para penyerang, ada pun yang tidak dapat dibebaskan, telah kedapatan mati di dalam gerobak masing-masing! Tidak ada sisa seorang pun!

Ternyata para penjahat yang lihai itu telah membunuh teman-teman sendiri yang tertawan, tentu saja dengan maksud agar tawanan-tawanan itu tidak sampai membocorkan rahasia. Rahasia besar bahwa Liu-thaikam yang berada di balik semua kejahatan ini!

Begitu memasuki benteng dengan wajah muram, Jenderal Ciang lalu menemui Hui Song dan hatinya menjadi sangat lega mendengar bahwa Bhe Hok, satu-satunya tawanan yang tersisa, kini sudah aman berada di dalam kamar tahanan.

"Harus dijaga keras agar dia jangan sampai mendengar bahwa tidak ada tawanan lainnya kecuali dia, bahwa dialah satu-satunya saksi di depan sri baginda kaisar," kata jenderal itu kepada Hui Song. "Bila dia mendengar tentang nasib para tawanan yang tidak sempat dibebaskan, tentu dia akan ketakutan dan tidak mau mengaku."

Hui Song lalu mendatangi Bhe Hok. Dengan sikap tenang dan wajar dia pun menanyakan bagaimana perlakuan para penjaga tahanan terhadap dirinya. "Engkau adalah tawananku, karena itu akulah yang akan bertanggung jawab atas dirimu. Tawanan-tawanan lain yang ditawan oleh pasukan dipisahkan, namun keadaan mereka tidaklah begitu menyenangkan dibandingkan dengan keadaanmu."

"Apakah... apakah Hwa-i Lo-eng juga... ikut tertangkap?" Bhe Hok bertanya dengan penuh keinginan tahu.

Hui Song telah mendengar berita mengejutkan lainnya, yaitu bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu ternyata sudah kedapatan tewas di dalam gedung perkumpulan itu, tidak lama setelah rombongan Jenderal Ciang tiba. Dan dia tahu apa artinya itu. Agaknya para tokoh jahat, tentu saja atas perintah Liu-thaikam, telah melakukan persiapan supaya rahasianya tidak terbuka, dengan jalan membunuhi semua tawanan, dan ketua Hwa-i Kai-pang juga harus dibunuh agar pemerintah tidak akan menangkap dan memaksanya mengaku!

"Dia? Tentu saja dia pun ditangkap sebab anak buahnya banyak yang terlibat. Akan tetapi pemeriksaan akan dilakukan secara terpisah dan satu demi satu. Maka engkau tak perlu khawatir, mengakulah saja seperti apa adanya. Jika engkau menyesali pengkhianatanmu dan mengaku terus terang tentang persekongkolan di bawah pimpinan Liu-thaikam, tentu engkau akan mendapat keringanan."

"Apa? Apa... Liu-thaikam...? Aku tidak... tidak mengerti..."

Hui Song tersenyum. "Ahh, tidak perlu engkau berpura-pura lagi. Kami sudah mendengar semua mengenai persekutuan itu, tentang bagaimana Hwa-i Kai-pang dipergunakan oleh Liu-thaikam, juga tentang Cap-sha-kui sudah menjadi antek-antek pembesar itu di bawah pimpinan seorang datuk yang bernama Siangkoan Lo-jin berjuluk Iblis Buta. Kami sudah tahu semua, dan engkau hanya tinggal membuat pengakuan sejujurnya saja. Ingat, kalau engkau membohong dan tidak mau mengaku, kami pun sudah mengetahui persoalannya dan akibatnya engkau akan disiksa."

Bhe Hok mengangguk-angguk meyakinkan sehingga legalah hati Hui Song. Pengakuan si gendut ini di depan sri baginda kaisar berarti berhasilnya tugas membongkar persekutuan jahat di dalam istana yang dikepalai oleh Liu-thaikam.

Sementara itu, Jenderal Ciang segera mengadakan hubungan dengan dua orang menteri lain yang pandai dan termasuk sebagai menteri-menteri setia yang juga dianggap sebagai saingan sehingga ditentang oleh Liu-thaikam. Mereka adalah Menteri Ting Hoo dan Cang Ku Ceng.

Di dalam sejarah tercatat bahwa kedua orang menteri ini kelak akan menjadi pembantu-pembantu yang sangat setia dan pandai dari Kaisar Cia Ceng pengganti Kaisar Ceng Tek. Jenderal Ciang mengadakan perundingan dengan dua orang menteri ini, kemudian pada keesokan harinya, berkat usaha dari kedua orang menteri ini, sri baginda kaisar berkenan menerima Jenderal Ciang yang diikuti pula oleh Menteri Liang serta kedua orang menteri Ting dan Cang itu.

Tentu saja sri baginda kaisar menjadi terkejut sekali ketika mendengar laporan Jenderal Ciang mengenai persekutuan yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang, terlebih lagi sesudah dengan terus terang jenderal itu mengatakan bahwa persekutuan itu dipimpin oleh Liu-thaikam sendiri!

"Mustahil!" Sri baginda kaisar berseru sambil menepuk lengan kursi. "Dia adalah seorang pembantuku yang paling setia. Dan apa sebabnya dia hendak membunuh kalian berdua? Tentu ada permusuhan pribadi!"

Pada saat mendengar betapa kaisar agaknya malah berpihak kepada thaikam itu, wajah Jenderal Ciang menjadi pucat. Menteri Liang yang berlutut itu lalu berkata, "Mohon beribu ampun, sri baginda. Sesungguhnya tidak terdapat permusuhan apa pun antara hamba dan Liu-thaikam, akan tetapi dia menganggap hamba dan Jenderal Ciang serta banyak hamba paduka yang lain sebagai saingannya karena hamba sekalian tak mau tunduk kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dia hendak membunuh hamba."

"Sudah banyak pembesar dibunuhnya, sri baginda. Dia tidak segan-segan menggunakan para penjahat sebagai antek-anteknya. Pada waktu hendak membunuh Menteri Liang dan hamba, dia malah memperalat datuk-datuk sesat seperti Cap-sha-kui, juga menggunakan orang-orang Hwa-i Kai-pang yang ikut pula bersekongkol dan menjadi anteknya."

Alis Sri Baginda Kaisar Ceng Tek berkerut, hatinya merasa tidak senang. "Jenderal Ciang, kami tahu bahwa engkau adalah seorang jenderal yang gagah dan setia, dan juga Menteri Liang adalah seorang menteri lama yang sangat setia. Tahukah kalian betapa hebat dan berbahayanya semua cerita kalian ini? Kalau tidak benar, ini merupakan fitnah yang akan dapat membuat kalian terpaksa harus dihukum seberat-beratnya!"

"Hamba bersedia dihukum kalau pelaporan hamba tidak benar, sri baginda!" kata sang jenderal.

"Hamba juga bersedia menyerahkan nyawa jika hamba menjatuhkan fitnah kepada siapa pun juga," sambung Menteri Liang dengan suara tegas.

Mulailah Kaisar Ceng Tek merasa bimbang. Sebenarnya sudah lama banyak pembesar yang mencoba untuk menyadarkannya akan kepalsuan Liu-thaikam, akan tetapi karena thaikam itu selalu bersikap baik dan menyenangkan hatinya, juga karena tidak pernah ada bukti penyelewengannya, maka kaisar merasa terlalu sayang kepada pembantu itu untuk melakukan penyelidikan secara mendalam.

Lagi pula, kaisar yang masih amat muda itu, baru sembilan belas tahun usianya, merasa banyak dibantu oleh Liu-thaikam. Pada waktu dia melakukan perjalanan keluar dari istana secara diam-diam, thaikam itulah yang selalu membantunya, dan semua urusan di dalam istana dapat diselesaikan dengan baik oleh thaikam itu.

"Bagaimana kalian dapat memastikan bahwa laporan kalian ini bukannya fitnah belaka?" kaisar mendesak.

"Penyerangan terhadap Menteri Liang di telaga disaksikan oleh banyak orang, sedangkan penyerangan terhadap hamba di dalam pesta Ang-kauwsu lebih banyak saksinya," jawab Jenderal Ciang.

"Kalian adalah pejabat-pejabat pemerintah, maka tidaklah aneh kalau dimusuhi oleh kaum penjahat. Akan tetapi apa buktinya bahwa Liu-thaikam yang berdiri di belakang semua itu?"

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Jenderal Ciang. Dengan suara lantang tetapi tetap hormat dia menjawab. "Sri baginda, hamba sudah menangkapi sebagian dari para penjahat, akan tetapi ketika hamba menggiring para penjahat itu ke kota raja, di tengah perjalanan para datuk sesat menghadang, merampas tawanan dan membunuh mereka yang tidak dapat mereka rampas. Akan tetapi masih ada seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang berhasil hamba bawa sebagai saksi. Jika paduka berkenan, hamba dapat menyuruh dia membuat pengakuan di hadapan paduka." Jenderal itu berhenti sebentar, kemudian menyambung, "Selain itu, juga hamba dibantu oleh seorang pendekar muda yang pernah menyelamatkan paduka pada saat paduka diserang oleh orang-orang Kang-jiu-pang, yaitu putera ketua Cin-ling-pai bersama seorang temannya, pendekar wanita Ceng Sui Cin."

"Hemm, bawa mereka semua menghadap!" Kaisar memerintah.

Jenderal Ciang lalu memberi isyarat kepada para penjaga di luar dan tak lama kemudian muncullah Hui Song dan Sui Cin mengiringkan Bhe Hok sebagai tawanan. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan tubuh Bhe Hok gemetar ketakutan.

Jenderal Ciang memperkenalkan dua orang muda pendekar itu, tetapi kaisar masih ingat kepada Hui Song yang gagah. "Hai, engkau orang muda yang gagah perkasa itu! Urusan apa lagi yang membawamu terlibat sehingga kini dihadapkan di istana?" Kaisar menegur dengan suara ramah.

"Ampun, sri baginda. Hamba melihat ada persekutuan busuk mengancam para pembesar setia. Dan karena persekutuan itu dapat pula membahayakan keselamatan paduka, maka hamba berdua nona Ceng berusaha membantu Jenderal Ciang untuk membuka rahasia ini dan menghaturkannya kepada paduka."

Kaisar teringat lagi akan tuduhan terhadap thaikam yang amat disayangnya, maka alisnya berkerut lagi, hatinya kesal dan dia pun berkata kepada Jenderal Ciang. "Nah, suruhlah saksi bercerita. Awas, kalau dia berbohong, kalian semua takkan bebas dari hukuman!"

Sebenarnya ucapan kaisar itu ditujukan untuk mengancam mereka yang telah memusuhi Liu-thaikam, akan tetapi malah membuat si gendut Bhe Hok semakin ketakutan dan tidak berani berbohong. Dia terus berlutut dan tak berani berkutik sampai dihardik oleh Jenderal Ciang.

"Penjahat Bhe, lekas membuat pengakuan apa adanya dan jangan berbohong!"

"Hamba... hamba bernama Bhe Hok dan hamba menjadi seorang di antara para pembantu Hwa-i Lo-eng ketua Hwa-i Kai-pang. Bersama rekan-rekan Cap-sha-kui, hamba menjadi anggota kelompok yang dipimpin oleh Siangkoan Lo-jin, dan hamba semua bekerja untuk Liu-taijin. Hamba menerima tugas untuk membantu para tokoh Cap-sha-kui, pertama-tama untuk membunuh Menteri Liang, kemudian membunuh Jenderal Ciang. Hamba membuat pengakuan yang sesungguhnya, berani disumpah juga berani mempertanggung jawabkan kebenaran pengakuan hamba."

Wajah kaisar telah menjadi merah sekali. Haruskah dia mempercayai pengakuan seorang penjahat macam ini?

"Tangkap dan seret ketua Hwa-i Kai-pang ke sini!" bentaknya.

"Ampun sri baginda. Hwa-i Lo-eng telah dibunuh oleh tokoh-tokoh sesat, mungkin karena mereka merasa takut kalau-kalau ketua Hwa-i Kai-pang itu akan membuat pengakuan dan membuka rahasia kejahatan Liu-thaikam."

"Hemm, kalau begitu tangkap dan bawa Liu-thaikam ke sini!" perintah kaisar.

"Hamba akan melaksanakan perintah paduka. Akan tetapi tanpa adanya leng-ki (bendera tanda utusan kaisar), tentu dia tidak akan percaya dan akan melawan."

"Nih, bawa tanda dari kami!" Berkata demikian kaisar muda itu melepaskan pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Jenderal Ciang.

Benda itu adalah pusaka tanda kekuasaan kaisar, maka tentu saja telah merupakan bukti kekuasaan yang cukup. Dengan gembira sekali Jenderal Ciang menerima pedang, lantas membawa pasukan pengawal pergi menuju ke gedung tempat tinggal Liu-thaikam dan menangkapnya. Melihat pedang di tangan jenderal itu, Liu-thaikam tidak berkutik lagi dan dengan muka pucat tak lama kemudian dia sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki kaisar.

"Mohon paduka sudi mengampuni semua kesalahan hamba, akan tetapi sungguh hamba merasa terkejut sekali menerima panggilan paduka seperti ini. Apakah yang telah terjadi? Apakah yang dapat hamba lakukan untuk paduka?" Tentu thaikam itu hanya berpura-pura saja.

Dia sudah mendengar akan semua yang telah terjadi, tentang kegagalan-kegagalan para anteknya dan dialah yang memerintahkan supaya semua tokoh Hwa-i Kai-pang dibunuh, juga para tawanan yang tidak sempat dibebaskan agar dibunuh. Sungguh pun demikian, hatinya masih selalu dalam keadaan was-was maka dia telah bersiap untuk melarikan diri, walau pun dia masih percaya akan pengaruhnya terhadap kaisar. Kedatangan Jenderal Ciang yang menangkapnya sama sekali tidak disangkanya.

"Orang she Liu, apakah yang telah kau lakukan selama ini? Mengapa engkau memperalat orang-orang jahat dan menyuruh orang-orang jahat itu mencoba untuk membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang?!" Kaisar membentak.

Dengan mimik muka yang pandai, thaikam itu terbelalak lantas memprotes dengan sikap wajar orang yang merasa difitnah. "Ampun, sri baginda! Hal itu sama sekali tidak benar! Hamba telah difitnah orang! Banyak sekali orang yang merasa iri dan ingin menjatuhkan hamba karena paduka sudah melimpahkan kepercayaan yang besar kepada hamba. Ini adalah fitnah penasaran! Hamba berani bersumpah bahwa hamba selalu setia terhadap paduka sampai mati!"

"Hemm, setia dan memelihara penjahat-penjahat sebagai kaki tanganmu?"

"Tidak, sama sekali tidak benar. Hamba bersumpah..."

"Apakah persekutuan penjahat-penjahat Hwa-i Kai-pang dan Cap-sha-kui yang dipimpin oleh datuk bernama Siangkoan Lo-jin itu bukan antek-antekmu?"

"Tidak, hamba sama sekali tidak pernah mendengar nama-nama itu, hamba bahkan tidak mengenalnya. Memang hamba merasa tidak suka pada Menteri Liang dan Jenderal Ciang karena hamba melihat bahwa mereka itu menentang paduka, tidak taat..."

Kaisar menghardiknya kemudian berkata kepada Bhe Hok. "Hai, kamu! Katakan apakah ini orangnya yang memimpin seluruh persekutuan busuk itu?!"

Bhe Hok memandang pada Liu-thaikam dengan muka pucat. Tadi dia mendengar betapa Hwa-i Lo-eng telah dibunuh dan sekarang agaknya tinggal dia yang harus berani menjadi saksi. Akan tetapi dia tadi telah mengucapkan pengakuannya, tidak mungkin mengingkari kembali, maka dia pun berkata dengan suara gemetar,

"Benar, sri baginda. Dia adalah Liu-taijin yang dibantu oleh kelompok hamba semua..."

Liu-thaikam menengok dan begitu melihat wajah Bhe Hok, dia terkejut dan marah bukan main. "Kau... kau...!" Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya. "Engkau pengkhianat busuk! Berani engkau membawa-bawa namaku di sini? Akan kusuruh mencincang hancur kepalamu..."

"Cukup!" Kaisar membentak. "Tangkap pengkhianat ini dan seret ke pengadilan tinggi!"

Para pengawal lalu maju dan menangkap Liu-thaikam yang berteriak-teriak dan meronta-ronta, memaki-maki Bhe Hok, Menteri Liang, Jenderal Ciang dan akhirnya memaki-maki kaisar pula sehingga para pengawal membungkam mulutnya dan menyeretnya keluar.

Dengan wajah murung kaisar lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Jenderal Ciang, Menteri Liang, juga kepada Hui Song dan Sui Cin, lalu kaisar membubarkan persidangan darurat itu.

Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Liu-thaikam. Saat diadakan pemeriksaan dan penggeledahan, kaisar sendiri sampai tertegun melihat tumpukan harta hasil korupsi dan penindasan yang dilakukan bekas pembantunya yang tadinya sangat disayang serta dipercayanya itu. Harta benda yang ditumpuk oleh Liu Kim atau Liu-thaikam itu sungguh amat besar jumlahnya.

Menurut catatan sejarah, emas dan perak yang diperoleh sebanyak 251.583.600 tail, batu permata sebanyak lebih dari sepuluh kilo, dua stel pakaian perang dari emas, 500 piring emas, 300 pasang gelang dan cincin emas, 4000 ikat pinggang emas permata. Istananya di kota raja bahkan melebihi kemewahan istana kaisar sendiri!

Penumpukan harta yang dilakukan oleh Liu-thaikam melalui korupsi dan penindasannya itu memang sungguh luar biasa. Tiada keduanya dalam sejarah. Kerakusannya dalam hal menumpuk harta sukar dicari bandingannya sehingga menjadi buah bibir rakyat sampai sepanjang sejarah. Padahal, sebelum menjadi thaikam, Liu Kim adalah seorang anak dari keluarga yang miskin dan rendah.

Sesudah komplotan itu berhasil dibongkar, Kaisar Ceng Tek baru menjadi panik sehingga kaisar ini cepat-cepat melakukan pembersihan di kalangan para pejabat tinggi. Juga dia segera memerintahkan Jenderal Ciang agar mengerahkan pasukan untuk membasmi para penjahat yang tadinya menjadi antek Liu-thaikam.

Hwa-i Kai-pang diserbu, semua anggotanya ditangkap dan dihukum, gedungnya dirampas pemerintah. Akan tetapi tak mudah bagi Jenderal Ciang untuk dapat mencari tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang selalu bergerak laksana setan. Dengan tertangkapnya Liu-thaikam dan hancurnya komplotan itu, barulah pemerintahan Kaisar Ceng Tek yang muda itu menjadi bersih dan barulah kaisar muda itu mulai memperhatikan roda pemerintahan.

********************

Asmara Berdarah Jilid 10

DARA Cin-ling-pai itu dipersilakan duduk dan gadis itu kelihatan lega karena memperoleh teman duduk yang cukup sopan dan yang usianya sekitar tiga puluhan, belum tua benar. Dia memperkenalkan diri sebagai Tan Siang Wi dan segera bercakap-cakap dengan tiga orang semeja itu.

Tidak jauh dari meja di mana Tan Siang Wi duduk, terdapat pula tiga orang pria sedang duduk bercakap-cakap. Sukar dikatakan apakah mereka itu dari golongan bersih ataukah golongan sesat. Pakaian mereka cukup rapi, dan jelas menunjukkan pakaian ahli-ahli silat karena ringkas dan sikap mereka pun gagah.

Salah seorang di antara mereka sudah tua, jenggot kumis dan alisnya sudah putih namun tubuhnya masih tegap dan nampak kuat. Dua orang lainnya yang duduk di kanan kirinya berusia empat puluh tahun lebih, rambut mereka dikuncir tebal dan wajah mereka nampak gagah dengan jenggot terpelihara rapi.

Akan tetapi, sikap tiga orang ini agak congkak dan hal ini dapat nampak pada pandang mata mereka yang ditujukan kepada para tamu yang hadir. Bahkan setiap kali ada tamu datang, terutama tamu yang menunjukkan bahwa mereka ini datang dari golongan hitam, mereka bertiga bicara sambil tertawa-tawa. Pandang mata mereka yang ditujukan kepada tamu baru itu ketika tertawa-tawa menunjukkan bahwa tentu tamu baru itu yang menjadi bahan tertawaan mereka.

Demikian pula ketika Tan Siang Wi muncul, mereka berbisik-bisik sambil melirik ke arah gadis itu, tersenyum-senyum menyeringai dengan sikap kurang ajar sekali. Karena Siang Wi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, gadis ini pun tidak peduli. Akan tetapi setelah dia duduk bersama tiga orang tamu dan kebetulan duduknya menghadap ke arah meja tiga orang itu, mulailah Siang Wi mengerutkan alisnya.

Dia melihat betapa tiga orang itu, terutama dua orang yang termuda, selalu memandang padanya dan sengaja mainkan mata mereka seperti lagak lelaki yang hendak menggoda wanita. Tentu saja Siang Wi menjadi mendongkol.

Pada mulanya dia memang membuang muka saja dan tak mau balas memandang. Akan tetapi telinganya mulai bisa menangkap percakapan mereka itu di antara berisiknya suara para tamu lain. Maka marahlah gadis ini.

Tan Siang Wi adalah murid tunggal dari Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai. Seperti sudah kita ketahui, Bin Biauw atau nyonya Cia Kong Liang ini adalah puteri bekas datuk sesat Tung-hai-sian, seorang bangsa Jepang. Sesudah dia berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, Tung-hai-sian mencuci tangan dan tidak lagi berkecimpung di dalam dunia sesat.

Puterinya, Bin Biauw, walau pun puteri seorang datuk sesat, adalah seorang gadis yang baik sehingga dapat menjatuhkan hati Cia Kong Liang. Akan tetapi sesudah kini memiliki seorang murid, ternyata muridnya ini sedikit banyak sudah mewarisi watak Tung-hai-sian. Tan Siang Wi ini berwatak keras sekali, tidak pernah mau mengalah, agak tinggi hati dan angkuh walau pun dia selalu bertindak gagah dan menentang kejahatan.

Selain sudah mewarisi ilmu dari Bin Biauw, dia juga menerima petunjuk-petunjuk dan ilmu silat dari ketua Cin-ling-pai sendiri, maka dapatlah dibayangkan betapa lihainya Siang Wi. Kelihaiannya itu membuat dara ini semakin tinggi hati, terutama terhadap golongan sesat yang dianggap musuhnya. Tangannya berubah ganas kalau dia berurusan dengan kaum sesat dan sedikit pun dia tidak mau mengalah atau memberi hati.

Maka, baru selama satu dua tahun saja memasuki dunia kang-ouw, gadis ini telah dijuluki orang Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa) karena keganasannya terhadap musuh-musuhnya. Agaknya karena kenyataan yang sudah didengarnya bahwa sukong-nya, yaitu Bin Mo To di Ceng-to, adalah seorang bekas datuk sesat, gadis ini hendak membuktikan kepada semua orang di dunia bahwa dia adalah murid isteri ketua Cin-ling-pai, jadi dia adalah seorang pendekar, bukan orang sesat!

Ada kecondongan di dalam hati kita untuk selalu menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan kita. Kita selalu ingin dianggap baik. Keinginan seperti ini selalu timbul karena kenyataan yang kita lihat bahwa keadaan kita adalah sebaliknya dari pada baik. Hanya orang yang berkulit hitam saja yang selalu ingin disebut putih. Hanya orang yang bodoh sajalah yang selalu ingin dianggap pintar, dan hanya orang yang melihat alangkah kotor dirinya sajalah yang selalu ingin dianggap bersih dan baik.

Kita lupa bahwa justru keinginan-keinginan untuk dianggap lain dari pada kenyataan ini yang sering kali mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang buruk dan bodoh. Kalau kita sadar dengan kekotoran kita, maka kita harus berusaha membersihkannya, bukan dengan cara menyembunyikan atau menutupinya. Apa bila kita sadar bahwa kita bersih, maka kita harus menjaga agar kebersihan itu tak ternoda kekotoran, bukan lalu menjadi tinggi hati dan merasa bersih dan baik sendiri karena perasaan demikian itu justru akan menodai kebersihan itu sendiri.

Kenapa kita kadang-kadang merasa ngeri untuk menghadapi dan melihat kenyataan apa adanya, walau betapa buruk dan kotor sekali pun kenyataan itu? Menutupi kenyataan, melarikan diri dari kenyataan, jelas tidak akan dapat merubah keadaan itu!


"Ha-ha-ha!" Seorang di antara tiga pria itu tertawa lagi sambil menyumpit dan makan kue yang mulai dihidangkan. Kini wajah mereka mulai merah oleh arak. "Agaknya Cin-ling-pai sudah kehabisan jago jantan maka mengeluarkan jago betina, heh-heh-heh!"

Kata-kata itu sebenarnya lebih berupa kelakar di antara mereka sendiri karena diucapkan perlahan dan dimaksudkan untuk mereka dengar sendiri, lalu ketiganya tertawa bergelak sambil melontarkan pandang ke arah meja Siang Wi.

Akan tetapi karena mencurahkan perhatian ke arah mereka, Siang Wi dapat menangkap kata-kata itu sehingga marahlah gadis ini. Dia tak mampu lagi mengendalikan dirinya dan sekali melompat, dia sudah meloncati mejanya dan tahu-tahu, seperti seekor burung saja dia sudah hinggap di atas lantai dekat meja tiga orang itu!

"Kalian tadi bilang apa?!" bentaknya sambil berdiri dengan dua tangan bertolak pinggang dan mata tajam penuh kemarahan menatap mereka.

Tiga orang itu terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa gadis itu akan dapat mendengar ucapan yang menghina Cin-ling-pai tadi, juga mereka terkejut melihat gadis itu demikian gesitnya meloncati meja dan kini berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam.

"Ehh, kami bilang apa? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" seorang di antara mereka menjawab dan melanjutkan jepitan sumpitnya pada kue di atas piring.

"Bagus! Kalian menghina Cin-ling-pai dan masih berani bilang tidak ada sangkut-pautnya denganku? Biar pun Cin-ling-pai diwakili seorang wanita setidaknya jauh lebih gagah dari pada kalian ini banci-banci pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya!"

Para tamu yang duduk di sekitar tempat itu menjadi kaget sehingga mereka pun menoleh dengan penuh perhatian dan wajah mereka tertarik sekali. Dalam pertemuan antara para orang-orang kang-ouw sudah lumrah apa bila terjadi keributan dan perkelahian. Bahkan sebagian besar dari mereka mengharapkan terjadinya hal ini, karena dalam pertemuan para ahli persilatan, terasa kurang sedap dan kurang bumbu kalau tidak terjadi keributan dan perkelahian.

Ketiga orang itu sesungguhnya bukan orang-orang sembarangan. Kakek yang berjenggot putih itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Huang-ho Lo-eng (Pendekar Tua Sungai Kuning) bernama Pui Tek. Ada pun dua orang laki-laki gagah yang duduk di sampingnya adalah dua orang muridnya, juga amat terkenal sebagai Huang-ho Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Kuning).

Mereka bukan penjahat dalam arti kata mempunyai pekerjaan jahat seperti perampok atau bajak, akan tetapi karena orang-orang takut kepada mereka, maka dengan mudah mereka memperoleh hasil dari hadiah yang mereka terima dari para pedagang demi keselamatan dan keamanan. Mereka adalah semacam tukang-tukang pukul yang disegani.

Guru mereka, Huang-ho Lo-eng Pui Tek, dalam suatu perkelahian pernah dikalahkan oleh Cia Kong Liang ketua Cin-ling-pai. Walau pun bukan merupakan permusuhan pribadi dan tak ada dendam secara terbuka, akan tetapi kekalahan itu membuat Pui Tek mendongkol dan tidak suka terhadap Cin-ling-pai, menganggap ketua Cin-ling-pai yang memang keras wataknya itu terlalu sombong. Dengan sendirinya, kedua orang muridnya juga tidak suka kepada Cin-ling-pai, maka tidak heranlah kalau mereka tadi mengeluarkan kata-kata yang nadanya tak bersahabat terhadap Cin-ling-pai sehingga membuat Siang Wi menjadi amat marah.

Kini, di depan meja mereka berdiri seorang gadis Cin-ling-pai yang bertolak pinggang dan memaki mereka banci pengecut di hadapan begitu banyak orang. Tentu saja wajah ketiga orang itu menjadi merah sekali dan kemarahan mulai memenuhi hati mereka.

Akan tetapi, bagaimana pun juga mengingat akan julukan Pui Tek yang masih memakai Lo-eng (Pendekar Tua), dua orang harimau itu tentu saja lebih condong merasa bahwa diri mereka pendekar dari golongan bersih dari pada sebagai golongan hitam, maka ada rasa harga diri pada mereka yang membuat mereka merasa malu kalau harus ribut-ribut dan berkelahi melawan seorang gadis yang masih remaja, yang usianya tentu belum ada dua puluh tahun. Mereka adalah jagoan-jagoan di sepanjang Sungai Kuning, tentu sangat memalukan kalau harus berkelahi melawan seorang dara remaja. Akan tetapi didiamkan saja pun tidak mungkin setelah gadis itu memaki mereka sebagai banci pengecut.

"Bocah perempuan kurang ajar, makanlah ini!" Bentak orang yang menyumpit kue itu dan sekali tangan kanan yang memegang sumpit bergerak, kue sepotong yang disumpitnya itu meluncur ke arah muka Siang Wi dengan kecepatan kilat!

"Cappp...!"

Dara itu menggerakkan tangan kanan dan menjepit ke arah kue itu. Dengan tepat sekali telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menjepit kue itu dan dia melakukan ini sambil tersenyum mengejek.

"Makanlah sendiri!" Dara itu membentak dan tiba-tiba tangannya bergerak.

Kue itu segera meluncur cepat ke arah muka orang yang menyambit tadi. Orang itu cepat menggerakkan sumpit untuk menjepit kembali, akan tetapi begitu bertemu sumpit, kue itu hancur dan tentu saja hancuran kue itu menyambar dan mengenai muka orang itu.

Ternyata sebelum membalas dengan timpukan, Siang Wi sudah lebih dulu menggunakan tenaga jari tangan membikin kue itu remuk di bagian dalamnya. Hancuran kue menyerang mata, hidung dan mulut, membuat orang itu repot membersihkan wajahnya sambil terus memaki-maki!

Melihat saudaranya mendapat malu, orang kedua sudah bangkit dan membentak marah, "Bocah perempuan, berani kau menghina orang?"

Sekali kepalanya bergerak, rambut yang dikuncir tebal itu langsung menyambar ke depan, mengeluarkan suara bersuitan dan memukul ke arah leher Siang Wi. Sungguh merupakan serangan yang sangat aneh akan tetapi juga berbahaya karena thouw-cang (kuncir) yang digerakkan dengan tenaga sinkang ini tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata keras.

Orang itu sungguh terlalu memandang rendah pada Siang Wi maka dia berani selancang itu menyerang dengan kuncirnya. Kalau tidak begitu tentu dia tidak akan berani bergerak secara sembrono seperti itu.

"Wuuuuttt...!"

Kuncir itu meluncur lewat pada saat Siang Wi merendahkan tubuh mengelak dan begitu kuncir menyambar lewat, tangan kiri Siang Wi mencuat lantas tahu-tahu kuncir itu sudah dapat dicengkeramnya! Dengan sekali sentakan, terpaksa kepala orang itu tertunduk dan Siang Wi sudah mengangkat lutut untuk menghajar muka orang! Tentu sedikitnya hidung orang itu akan berdarah kalau saja saudaranya tidak segera menubruk dengan pukulan tangan ke arah punggung Siang Wi.

"Huh, pengecut curang!" bentak Siang Wi. Dia terpaksa harus melepaskan orang pertama dengan mendorongnya mundur, lalu sambil meloncat gadis itu membalik dan menangkis pukulan orang kedua.

"Dukkk!"

Dua tenaga besar bertemu dan akibatnya, orang berjenggot itu menyeringai kesakitan lalu meloncat ke belakang. Tak disangkanya pertemuan lengan itu sudah membuat lengannya kesakitan dan seperti lumpuh saking kuatnya lengan kecil milik nona itu. Kini tahulah dua orang Harimau Sungai Kuning itu bahwa lawannya, biar pun wanita, biar pun masih muda sekali, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Kini para tamu menjadi semakin gembira, dan tuan rumah, yaitu Ang-kauwsu yang juga melihat pertikaian itu diam saja karena dia pun ingin melihat kesudahannya. Guru silat ini juga mempunyai penyakit yang sama dengan orang-orang dari kalangan persilatan, yaitu suka melihat adu silat.

Pula, diam-diam dia pun merasa tidak senang melihat sikap para jagoan Huang-ho yang terkenal kasar dan banyak lagak itu tadi menghina utusan Cin-ling-pai. Dia mengharapkan jagoan-jagoan sombong itu menemui batunya walau pun hatinya khawatir melihat bahwa di situ terdapat pula Huang-ho Lo-eng yang dia tahu amat lihai sekali.

"Budak perempuan kurang ajar! Berani engkau menghina kami di tempat umum? Hayo cepat berlutut minta maaf apa bila tidak ingin menerima hajaran kami!" bentak seorang di antara dua jagoan yang mukanya terkena hancuran kue tadi.

Betapa pun juga, dia dan kawannya masih sungkan melawan seorang gadis, apa lagi kini mereka berdua sudah memegang senjata andalan mereka, yaitu sebatang tombak besar gagang panjang. Kalau dara itu mau minta maaf, berarti muka mereka telah tercuci, atau kalau dara itu tetap hendak melawan, berarti mereka sudah memberi kesempatan kepada wakil Cin-lin-pai itu untuk minta maaf.

Seorang seperti Siang Wi, mana mengenal minta maaf? Hatinya terlalu keras untuk mau mengalah, apa lagi terhadap orang-orang yang sudah berani menghinanya dan menghina Cin-ling-pai. Dia tersenyum mengejek lantas mukanya menjadi semakin dingin, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat.

"Dua monyet busuk, dengarlah baik-baik. Kalian yang telah menghina Cin-ling-pai dan jika kini kalian mau berlutut minta ampun, barulah nonamu akan mempertimbangkan apakah kalian dapat diampunkan. Kalau tidak, aku akan menghajar kalian!"

Kata-kata ini sungguh hebat sekali. Bukan hanya menantang terang-terangan di hadapan orang banyak itu, bahkan menghina. Mana bisa Huang-ho Siang-houw, dua jagoan itu mau menerima begitu saja?

"Bocah setan, engkau bosan hidup!" teriak seorang di antara mereka lantas golok besar bergagang panjang itu menyambar dahsyat ke leher Siang Wi.

Tentu saja dara perkasa itu tidak sudi lehernya dibabat begitu saja. Dia cepat mengelak sambil membalikkan tubuh menendang meja di depannya. Kakek Huang-ho Lo-eng yang duduk di belakang meja itu cepat menghindar dengan lompatan gesit ke kanan sehingga dia tidak sampai terkena tumpahan makanan dan arak.

Akan tetapi dia bukan hanya melompat begitu saja, melainkan cepat meraih dan dia telah berhasil menangkap kaki meja lalu menaruh meja itu di samping. Gerakan ini saja sudah membuktikan kecepatan dan kelihaian jago tua ini.

Kini terdapat ruang agak luas bagi Siang Wi yang menghadapi dua orang lawannya. Dua orang harimau itu mulai menyerang dengan golok gagang panjang mereka. Semua orang memandang dengan hati tegang dan juga agak khawatir karena Siang Wi tetap tidak mau mempergunakan pedangnya.

Dara ini tadi memang meloloskan sepasang pedangnya, akan tetapi bukan dicabut untuk melawan, melainkan dia letakkan di atas mejanya sendiri agar sepasang senjata itu tidak mengganggu gerakannya, kemudian dia kembali ke hadapan dua orang lawannya, hanya melawan dengan tangan kosong saja.

"Anak itu terlalu sembrono!"

"Terlalu sombong bisa merugikannya."

"Tapi dia kelihatan lihai sekali."

Demikianlah para penonton saling berbisik melihat betapa dara itu menghadapi Huang-ho Siang-houw hanya dengan tangan kosong, padahal kedua orang lawan itu menggunakan senjata tajam yang bergagang panjang. Dua orang jagoan itu sendiri merasa sangat kikuk dan sungkan.

"Bocah gila, hayo pergunakan pedangmu!" bentak mereka.

"Melawan dua ekor monyet tua macam kalian tidak perlu pakai pedang!" jawab Siang Wi yang memang tinggi hati.

Dua orang itu tak dapat lagi menahan kemarahan hati mereka. Keduanya lalu menyerang dengan golok mereka. Senjata itu mengeluarkan suara bercuitan dan berdesing-desing, lalu membentuk dua gulungan sinar lebar yang menyambar-nyambar.

Tetapi para tamu menjadi bengong ketika mereka melihat betapa dara itu menggerakkan tubuhnya dan seperti seekor burung walet saja gesitnya beterbangan di antara sambaran kedua golok itu! Bukan main indahnya gerakan dara itu dan tak terasa lagi keluar pujian dari mulut para tamu yang ilmunya sudah tinggi.

Hui Song dan Sui Cin baru saja menyelinap ke dalam rombongan tamu, memilih tempat di sudut. Mereka mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau karena terjadi perkelahian itu, di mana semua tamu mencurahkan pandang mata dan perhatiannya ke arah perkelahian. Mereka lalu menyelinap masuk dan tanpa menemui tuan rumah mereka telah mengambil tempat duduk di sudut yang agak tersembunyi oleh salah satu di antara tiang-tiang penyangga bangunan darurat itu. Mereka juga tertarik dan menonton ke arah perkelahian.

"Hemm, berani benar gadis itu menghadapi keroyokan dua orang lawan yang bersenjata panjang dengan tangan kosong saja." Sui Cin berkata sesudah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa dua orang bersenjata golok panjang itu tak boleh dipandang ringan.

"Sumoi tak akan kalah," kata Hui Song lirih dan Sui Cin terkejut.

"Sumoi-mu...?"

Dia memandang lebih teliti dan kini dia pun bisa mengenal gerakan kaki dan tangan gadis itu, walau pun kadang-kadang gerakan itu berubah aneh. Masih ada dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai dalam gerakan silat gadis itu, akan tetapi sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang tidak dikenalnya.

Memang demikianlah. Sesudah menikah dengan Cia Kong Liang, Bin Biauw memperoleh banyak petunjuk dari suaminya dan dia pun mempelajari dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai yang kokoh kuat. Maka, ketika dia melatih Siang Wi, tentu saja dasar-dasar ilmu silat dari Cin-ling-pai juga diajarkan, bahkan Siang Wi juga telah menerima gemblengan dari ketua Cin-ling-pai sendiri.

"Ya, namanya Tan Siang Wi," jawab Hui Song sederhana.

Hui Song tidak merasa girang bertemu dengan sumoi-nya. Pemuda ini tahu benar bahwa sumoi-nya itu sudah sejak lama sekali menaruh perhatian kepadanya. Di dalam sikap dan gerak-gerik gadis yang pendiam itu terdapat tanda-tanda bahwa Siang Wi mencintanya. Hal inilah yang membuat dia merasa tidak enak kalau bertemu dengan sumoi-nya.

Dia pun menyayang sumoi-nya ini, akan tetapi sumoi-nya berwatak keras, terlalu berani dan agak angkuh. Tetapi dia tidak mencinta sumoi-nya, maka merasa semakin tidak enak setelah tahu bahwa sumoi-nya itu jatuh cinta kepadanya.

"Hemm, dia cantik dan gagah!" Sui Cin memuji. Memang gadis itu manis sekali, terutama pinggangnya amat ramping.

"Ya, tapi keras hati dan galak sekali."

Sui Cin menahan senyum sambil mengerling ke arah wajah pemuda itu, akan tetapi Hui Song tidak sedang bergurau melainkan memandang ke arah perkelahian dengan wajah serius dan hati tegang. Bagaimana pun juga, memang Sui Cin benar. Terlalu sembrono menghadapi dua lawan tangguh yang bersenjata panjang itu dengan tangan kosong.

"Haaaiiiittt...!" Tiba-tiba Siang Wi memekik, tangan kanan memukul gagang tombak lawan yang menyerang dari kanan sedangkan kaki kiri mendahului lawan kedua, menendang ke arah dada.

"Bukk...! Plakkk!"

Lawan pertama terpental goloknya sedangkan lawan kedua tak mampu menghindar lagi. Serangan atau gerakan Siang Wi memang sangat hebat, laksana seekor burung rajawali mementang sayap, kedua lengannya berkembang dan kaki kirinya menendang ke depan selagi tubuhnya masih melayang. Orang yang kena tendang dadanya itu terbanting roboh dan sebelum orang kedua hilang kagetnya, kaki kanan menggantikan kaki kiri yang turun untuk menyambar ke depan.

"Desss...!" Orang kedua juga terbanting karena perutnya dicium ujung sepatu Siang Wi.

Dua orang itu meringis kesakitan dan merayap bangun, sementara itu Huang-ho Lo-eng yang melihat betapa dua orang muridnya dirobohkan oleh seorang gadis muda, mukanya berubah merah sekali. Dia sudah bangkit berdiri, lantas mengebutkan ujung jubahnya dan melangkah maju menghampiri Siang Wi. Akan tetapi sebelum guru beserta kedua orang muridnya ini sempat bicara atau bergerak, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang segera menghadapi tiga orang itu sambil menjura.

"Sam-wi-eng-hiong, saya mewakili tuan rumah menyampaikan permohonan maaf, harap sam-wi suka menyudahi urusan ini sampai di sini agar tidak mengganggu jalannya pesta." Kemudian pemuda itu membalik dan menghadapi Siang Wi sambil menjura pula, "Nona, harap suka mundur dan mengakhiri keributan ini." Dan tanpa setahu orang, pemuda itu berkedip.

Sejenak Siang Wi terbelalak. Tentu saja dia mengenal suheng-nya! Akan tetapi sebeium dia menegur, Hui Song telah mengedipkan mata. Siang Wi yang cukup cerdik itu maklum bahwa suheng-nya tidak ingin dikenal orang. Maka dia pun mengangguk dan kembali ke mejanya, menggantung kembali siang-kiamnya di punggung lalu duduk tenang, bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentu saja Huang-ho Lo-eng masih penasaran. Dua orang muridnya dirobohkan seorang anak perempuan di tempat pesta yang ramai, hal ini sungguh amat menyakitkan hati dan menjatuhkan martabat serta nama besarnya, maka dia harus turun tangan membersihkan noda itu. Akan tetapi kini muncul pemuda yang mewakili tuan rumah minta agar keributan jangan dilanjutkan. Selagi kakek ini merasa serba salah, tiba-tiba terdengar seruan di luar.

"Paduka Jenderal Ciang telah tiba...!"

Mendengar seruan ini, semua orang menengok keluar dan Ang-kauwsu sendiri bersama beberapa orang penyambut bergegas lari keluar untuk menyambut datangnya tamu agung ini. Seorang jenderal adalah seorang perwira yang berpangkat tinggi, apa lagi datang dari kota raja, maka tentu saja merupakan seorang tamu agung yang paling terhormat.

Hui Song dan Sui Cin sudah duduk lagi dan mereka berdua memandang dengan penuh kewaspadaan. Seperti telah mereka rencanakan pada waktu keduanya pergi menghadap Jenderal Ciang, mereka berdua bersama belasan orang pengawal pilihan menyelundup ke tempat pesta dan akan berjaga-jaga kalau-kalau ada orang melakukan serangan gelap.

Sementara itu, sang jenderal sendiri datang dikawal enam orang pengawal pilihan yang dipercayanya. Agaknya belum puas dengan semua ini, Jenderal Ciang juga mengenakan lapisan baja di balik baju kebesarannya sehingga tubuhnya akan kebal terhadap serangan senjata tajam.

Tibalah saat yang sudah dinanti-nantikan banyak orang ini! Tentu saja terjadi ketegangan hebat di dalam dada mereka yang memiliki kepentingan dengan kedatangan jenderal ini. Seperti telah mereka sepakati, Sui Cin memasang mata memandang ke kiri dan Hui Song ke kanan, siap untuk turun tangan kalau melihat orang yang hendak melakukan serangan gelap kepada jenderal itu.

Tadi pun mereka sudah memasang mata mencari-cari, akan tetapi mereka tidak melihat adanya tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang mereka kenal, biar pun mereka sudah melihat ada beberapa orang dari Hwa-i Kai-pang yang sedang menyelinap dalam pakaian biasa atau menyamar sebagai orang biasa, bukan sebagai pengemis. Mereka merasa yakin bahwa di antara banyak tamu itu terdapat tokoh-tokoh kaum sesat yang lihai.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu ketika jenderal itu datang sampai diantar oleh tuan rumah menuju ke kursi kehormatan di panggung yang agak tinggi. Sementara itu, Siang Wi yang tadi memandang ke arah suheng-nya, merasa heran dan alisnya segera berkerut ketika dia melihat suheng-nya berbisik-bisik dengan seorang gadis yang cantik jelita!

Mereka berbisik-bisik demikian akrabnya dan perasaan tidak senang memenuhi hati gadis yang jatuh cinta ini. Perasaan cemburu membakar dadanya dan biar pun tadi dia mengerti akan isyarat suheng-nya maka dia pun berdiam diri, kini perasaan cemburu membuat dia cepat bangkit berdiri, meninggalkan teman-teman semeja dan langsung saja menghampiri Hui Song dan Sui Cin yang duduk di sudut, di belakang sebuah tiang.

"Suheng, siapakah dia ini?" tanyanya sambil menuding ke arah muka Sui Cin dengan alis berkerut, mulut cemberut dan mata menantang.

"Sstttt... diamlah, sumoi..." Hui Song berbisik kaget, lalu cepat menarik tangan sumoi-nya sehingga gadis itu terduduk di kursi kosong di dekatnya. "Kau ikut menjaga keselamatan jenderal itu, jangan banyak tanya..."

"Tapi... tapi siapa perempuan ini...?" Siang Wi masih berbisik dan matanya mengerling ke arah Sui Cin dengan wajah membayangkan ketidak puasan.

"Diam kau, cerewet!" Sui Cin balas menghardik dengan suara berbisik.

Siang Wi terkejut setengah mati dan mukanya menjadi pucat lalu merah laksana dibakar. Hatinya panas mendengar ada orang berani bersikap seperti itu, menghardiknya dengan kasar. Tentu saja dia hendak membalas akan tetapi pada saat itu pula terdengar ledakan-ledakan keras dan api pun mulai berkobar!

"Kebakaran! Kebakaran...!"

Para tamu menjadi panik. Semua orang bangkit berdiri, ada yang mulai lari ke sana-sini, berdesak-desakan dan keadaan menjadi semakin kacau-balau setelah terjadi perkelahian di sana-sini.

Sui Cin dan Hui Song sudah melompat ke tengah, mendekati Jenderal Ciang. Ternyata para pengawal sudah mulai berkelahi melawan beberapa orang di antara para tamu dan kini dari luar bermunculan tokoh-tokoh Cap-sha-kui! Sui Cin mengenal Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kui-bo, Kiu-bwee Coa-li, Kui-kok Lo-mo, Kui-kok Lo-bo dan Tho-tee-kwi.

Tadi mereka ini menerjang maju bagaikan berlomba hendak membunuh Jenderal Ciang. Akan tetapi para pengawal, baik yang enam orang mau pun belasan orang lainnya yang menyamar, segera menyambut mereka. Betapa pun juga, saking lihainya para penyerang, masih ada senjata rahasia menyambar hingga mengenai dada sang jenderal, akan tetapi karena pembesar itu memakai perisai di balik bajunya, senjata itu mental kembali.

Sebelum para penyerang yang jumlahnya ada dua puluh orang itu dapat mengepung sang jenderal, Hui Song, Sui Cin dan diikuti pula oleh Siang Wi sudah tiba di situ. Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong mengamuk melindungi Jenderal Ciang yang juga sudah mencabut pedang panjangnya.

"Goanswe, mari kita keluar!" Hui Song berteriak sambil menggandeng tangan jenderal itu dengan tangan kirinya. "Sui Cin, engkau jaga di sebelah kirinya." Dara itu pun menggamit tangan kiri jenderal itu dengan tangan kanannya.

"Sumoi, kau lindungi kami keluar!" teriak pula Hui Song kepada sumoi-nya.

Siang Wi tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun dengan patuh dia mentaati perintah suheng-nya. Dia cepat mencabut sepasang pedangnya, lantas melindungi mereka berdua yang berusaha untuk membawa Jenderal Ciang keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, Huang-ho Lo-eng sudah meloncat dan menghadapi Siang Wi. "Hemm, bocah sombong, sekarang tibalah saatnya aku membalas kekalahan dua muridku!" katanya dan kakek ini menerjang ke depan.

Melihat hal ini, Hui Song menjadi marah. Kakek ini tidak peduli akan keributan dan hanya mengingat keperluan sendiri saja, keperluan dendam! Demikian pula Sui Cin juga marah melihat lagak kakek ini. Mereka berdua seperti telah bersepakat saja, tiba-tiba menerjang maju dan menampar ke arah Huang-ho Lo-eng. Kakek itu kaget sekali ketika merasa ada angin menyambar dari kanan kiri, maklum bahwa dia sedang diserang oleh dua orang secara hebat sekali.

"Uhhhhh...!" Dia mengerahkan tenaga ke dalam dua lengannya lantas menangkis sambil mendorong.

"Dessss...!"

Akibatnya, tubuh kakek itu terjengkang dan menimpa meja kursi. Dia memandang dengan bengong, melongo melihat bahwa yang merobohkan dia tadi adalah seorang pemuda dan seorang gadis lain yang kini kembali menggamit Jenderal Ciang untuk keluar, dilindungi oleh Siang Wi yang memutar sepasang pedangnya.

Beberapa orang penjahat, agaknya anggota Hek-i Kai-pang karena di antaranya terdapat Bhe Hok si gendut, hendak mencegah Hui Song membawa jenderal itu keluar. Siang Wi menyerang mereka dan dara ini pun segera dikeroyok.

Maklum akan besarnya bahaya bagi sang jenderal apa bila tidak cepat-cepat ke luar, Hui Song dan Sui Cin cepat menarik tangan jenderal itu menyelinap di antara banyak orang, menangkis semua serangan hingga akhirnya mereka pun berhasil keluar. Sesudah tiba di luar, Jenderal Ciang mengeluarkan terompet kemudian ditiupnya terompet itu berkali-kali. Bagaikan datangnya air bah, bermunculanlah barisan pendam yang memang sudah sejak tadi dipasang oleh jenderal yang berpengalaman itu di sekeliling tempat itu dan tempat itu pun sudah terkurung rapat!

Jenderal Ciang dengan dikawal oleh Hui Song dan Sui Cin, kini berdiri di atas batu besar, berteriak dengan suara lantang, "Hentikan semua perkelahian di dalam! Semua penyerbu agar menyerah!"

Akan tetapi, para penjahat yang tadi menyerbu dan hendak membunuh jenderal itu, malah semakin mengamuk karena mereka merasa penasaran sekali bahwa rencana yang sudah mereka atur dengan rapi itu menemui kegagalan. Oleh karena tempat itu penuh dengan orang-orang dari dunia persilatan, maka begitu terjadi pertempuran, orang-orang itu pun banyak pula yang terseret dan berkelahi sendiri!

Tentu saja orang-orang dari golongan sesat membantu rekan-rekan mereka tanpa mereka ketahui sebab-sebab perkelahian itu, dan orang-orang yang merasa dirinya pendekar atau yang menentang kaum sesat segera pula melawan mereka. Hal ini membuat tokoh-tokoh lihai seperti rombongan Cap-sha-kui itu mendapat banyak kesempatan untuk merobohkan dan membunuh orang.

"Kalian telah dikepung ratusan orang pasukan! Kalau tidak mau menyerah dan melempar senjata, maka akan diambil tindakan kekerasan!" Kembali terdengar suara jenderal itu.

Ketika para tokoh sesat yang mengamuk di dalam itu tak mau juga mentaati perintahnya, Jenderal Ciang kemudian mengeluarkan aba-aba memerintahkan pasukannya menyerbu ke dalam. Hui Song, Sui Cin, dan Siang Wi juga ikut menyerbu bersama pasukan karena Hui Song ingin menangkap hidup-hidup beberapa orang tokoh sesat untuk dijadikan saksi tentang pengkhianatan Liu Kim atau Liu-thaikam.

Ketika para prajurit menyerbu, suasana menjadi semakin kacau dan geger. Pada saat itu pula terdengar suara melengking panjang dari luar tempat pesta yang berubah menjadi tempat pertempuran itu. Suara lengkingan panjang dari luar ini disusul dengan ledakan-ledakan benda yang dilempar dari luar. Begitu meledak, benda-benda yang dilempar dari luar itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sehingga suasana menjadi semakin kacau.

"Cepat loloskan diri dari atas...!" Terdengar teriakan suara yang nyaring, mengatasi suara kegaduhan itu. Mendengar seruan ini, enam orang tokoh Cap-sha-kui berloncatan naik ke atas atap yang sudah dibuka dari atas.

Hui Song, Sui Cin serta Siang Wi melihat pula hal ini dan melihat bahwa di atas berdiri bayangan dua orang, seorang kakek tinggi kurus bertongkat dan seorang pemuda tinggi tegap. Pemuda itulah yang membantu enam orang Cap-sha-kui lolos dengan menyambar tangan mereka dan menariknya ke atas setelah mereka itu berloncatan dan hampir tidak mencapai tempat yang amat tinggi itu. Apa lagi atap itu adalah atap darurat yang terbuat dari bambu sehingga tidak begitu kuat dan ada bahayanya mereka akan terjeblos lagi ke bawah. Untung ada pemuda itu yang menyambut mereka dan menarik mereka keluar.

"Kejar...!" Hui Song yang merasa sangat penasaran itu lalu berlompatan keluar diiringkan sumoi-nya dan Sui Cin dan dari luar mereka lalu berloncatan naik ke atas atap. Hui Song tidak begitu bodoh untuk menyusul naik dari lubang atap itu selagi musuh-musuh yang lihai itu berada di luar lubang karena tentu mereka itu akan mudah menyambutnya dengan serangan berbahaya.

Pada saat ketiga orang muda perkasa itu sampai di atas atap, sebagian dari tokoh-tokoh Cap-sha-kui berloncatan ke atas genteng rumah-rumah lainnya, ada pun di atas atap itu masih terdapat kekek kurus, pemuda itu dan Kiu-bwe Coa-li bersama ketua Kui-san-kok dan isterinya.

"Penjahat-penjahat keji, kalian hendak lari ke mana?" Hui Song membentak dan segera menyerang ke arah pemuda tinggi tegap itu.

"Kau...?! Kau seorang tokoh sesat...?" Sui Cin juga berseru ketika dia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang dulu pernah menyelamatkannya dari mala petaka saat dia akan diperkosa oleh Sim Thian Bu. Akan tetapi dia hanya meloncat mendekat dan tidak berani menyerang seperti yang dilakukan Hui Song.

Sementara itu Siang Wi juga sudah kembali mencabut sepasang pedangnya dan segera menyerang Kiu-bwe Coa-li.

"Singgg...! Singgg...! Tarrrrr...!" Sepasang pedang yang menyambar-nyambar itu tertahan oleh ledakan pecut ekor sembilan di tangan nenek ular yang lihai itu.

Sementara itu, pemuda yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang, menyambut serangan Hui Song dengan tenang, menangkisnya dari samping.

"Dukkkk!" Tangkisan itu tepat menyambut pukulan Hui Song dan akibatnya, dua pemuda itu terjeblos ke dalam atap yang menjadi jebol di bawah kaki mereka!

Hui Song kaget bukan kepalang dan cepat melempar tubuh ke belakang lantas berjungkir balik beberapa kali baru dia dapat mencegah tubuhnya tidak terjatuh ke bawah, ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran. Dan ketika Siangkoan Ci Kang terjeblos lalu tubuhnya jatuh ke bawah, tiba-tiba saja kakek tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya dan tongkat itu dapat mengait kaki pemuda itu lantas menempelnya sehingga pemuda itu terhindar dari jatuh ke bawah.

Bukan main cepatnya gerakan kakek tinggi kurus itu ketika tiba-tiba dia menggerakkan tongkat lagi. Tongkatnya menyelonong di antara Kiu-bwe Coa-li dan Siang Wi dan ketika sebatang pedang di tangan kiri Siang Wi bertemu tongkat, gadis ini berteriak kaget karena ada getaran hebat yang membuat tangannya hampir saja melepaskan pedang. Terpaksa dia pun melangkah mundur dan kesempatan ini digunakan oleh kakek itu untuk berseru,

"Kita pergi!"

Hui Song menahan napas. Dia tidak mau mengejar pada saat melihat kakek tinggi kurus, pemuda perkasa, Kiu-bwe Coa-li dan sepasang suami isteri Kui-san-kok itu berloncatan pergi. Dia tahu alangkah lihainya mereka itu, terutama pemuda dan kakek tinggi kurus. Mereka berdua itu dan ditambah tiga orang tokoh Cap-sha-kui sungguh merupakan lawan yang terlalu berat bagi dia, Sui Cin dan Siang Wi.

Juga Sui Cin diam saja karena dia masih tertegun melihat betapa pemuda yang pernah menyelamatkannya itu kiranya merupakan seorang tokoh sesat dan agaknya tepat seperti yang pernah diceritakan Hui Song kepadanya. Kakek tinggi kurus yang matanya terbuka tanpa berkedip itu tentulah yang bernama Siangkoan Lo-jin alias Si Iblis Buta dan pemuda itu tentulah puteranya.

Akan tetapi Siang Wi yang sudah hilang kagetnya, melihat mereka melarikan diri, segera berseru, "Iblis-iblis busuk, kalian hendak lari ke mana?" Dia pun meloncat ke depan untuk melakukan pengejaran.

"Sumoi, jangan dikejar...!" Hui Song berseru sambil meloncat ke depan untuk mencegah sumoi-nya.

Mendengar suara suheng-nya yang setengah membentak, Siang Wi merasa terkejut dan segera menahan kakinya. Pada saat itu pula, serombongan prajurit yang berada di bawah melepaskan anak panah ke arah para penjahat yang melarikan diri. Akan tetapi, mereka itu hanya mengebutkan tangan dan semua anak panah runtuh ke bawah!

Sebentar saja, para penjahat itu sudah berhasil meloloskan diri. Dengan bantuan pemuda itu bersama ayahnya yang buta, kembali enam orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos dari kepungan pasukan yang amat kuat!

Hui Song merasa kecewa, akan tetapi dia teringat bahwa di bawah masih terdapat banyak penjahat, terutama orang-orang Hwa-i Kai-pang yang menyamar. Mereka pun dapat juga dijadikan saksi, pikirnya, maka dia lalu mengajak Sui Cin dan Siang Wi untuk kembali ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran hebat.....

Akan tetapi tanpa adanya para tokoh Cap-sha-kui di situ, akhirnya para penjahat itu dapat dirobohkan kemudian ditangkap. Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi masing-masing berhasil menangkap seorang penjahat anggota Hwa-i Kai-pang, bahkan Hui Song menotok roboh Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang gendut yang bertongkat dan cukup lihai itu. Sui Cin juga menampar seorang anggota Hwa-i Kai-pang sehingga roboh pingsan sementara Siang Wi yang berpedang itu merobohkan seorang tokoh sesat dengan membacok pahanya hingga hampir buntung.

Jenderal Ciang memerintahkan supaya semua tawanan itu dikumpulkan untuk dibawa ke kota raja. Gerobak-gerobak tawanan dipersiapkan dan semua tawanan, kecuali Bhe Hok si gendut, dijebloskan ke dalam gerobak-gerobak kerangkeng dengan kaki tangan mereka dibelenggu.

Hui Song sudah menemui Jenderal Ciang dan minta supaya tawanan yang satu ini tidak dimasukkan gerobak kerangkeng, melainkan hendak dikawalnya sendiri ke kota raja. Usul ini timbul di dalam hati Hui Song ketika membayangkan kemungkinan tokoh sesat akan berusaha membebaskan para tawanan. Padahal, para tawanan itu merupakan saksi-saksi penting sekali, terutama Bhe Hok yang tahu tentang semua persekutuan busuk di istana, seperti yang pernah dia dengar bersama Sui Cin ketika di gedung Hwa-i Kai-pang sedang diadakan pertemuan dan percakapan di antara para tokohnya, termasuk Bhe Hok itu.

"Sumoi, kalau engkau lebih dahulu pergi ke Cin-ling-san, tolong beri tahukan ayah bahwa sesudah selesai urusan di kota raja, aku akan pergi berkunjung ke Pulau Teratai Merah, baru akan pulang ke Cin-ling-san." Hui Song berkata kepada sumoi-nya.

Wajah yang manis itu tampak semakin keruh dan matanya mengerling ke arah Sui Cin. Ia belum tahu siapa adanya dara yang bersama suheng-nya ini, akan tetapi dari pertempuran tadi ia melihat bahwa Sui Cin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.

"Akan tetapi, aku..." Ia merasa sungkan dan malu untuk menyatakan keinginannya agar dapat selalu bersama suheng-nya.

"Engkau pergilah lebih dulu dan aku akan menyelesaikan tugas kami berdua yang sudah melibatkan diri kami sejak lama."

Kembali Siang Wi memandang kepada Sui Cin dengan alis berkerut. Hui Song sangat mengenal watak sumoi-nya maka dia kini tahu pula betapa hati sumoi-nya tidak senang karena dia melakukan perjalanan berdua dengan seorang gadis lain.

"Sumoi, engkau belum berkenalan. Nona ini adalah nona Ceng Sui Cin, yaitu puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin."

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi lalu menyipit kembali dan dua alisnya berkerut lebih dalam, wajahnya dibayangi kekhawatiran yang lebih besar. Kiranya dara cantik yang lihai sekali ini adalah puteri pendekar yang namanya sudah amat dikenalnya itu. Sungguh merupakan saingan yang sangat kuat! Akan tetapi, sebagai murid isteri ketua Cin-ling-pai dia pun cukup tahu akan peraturan, maka cepat dia menjura ke arah Sui Cin.

"Ternyata enci adalah puteri Ceng-locianpwe yang terkenal itu. Maaf kalau aku bersikap kurang hormat karena tadi belum mengenalmu."

Sui Cin tertawa geli dan mengibaskan tangannya. "Wah, sudahlah, di antara kita tak perlu banyak memakai sungkan-sungkan lagi."

Hui Song juga tersenyum, lega melihat sikap Siang Wi yang menghormat dan geli melihat sikap wajar Sui Cin. Dia pun lalu tertawa. "Sumoi, nona Ceng ini baru berusia enam belas tahun, jadi, sebaiknya kalau engkau menyebutnya adik, bukan enci."

Setelah berpamit dari sumoi-nya dan juga dari Jenderal Ciang yang sibuk sekali mengatur sendiri pasukannya untuk membawa para tawanan, Hui Song lalu mengajak Sui Cin pergi sambil menggiring si gendut Bhe Hok, pergi ke kota raja melalui jalan memotong. Sui Cin tetap menunggang kudanya, Bhe Hok berjalan di belakang kuda dan Hui Song berjalan di belakangnya.

Sui Cin dan Hui Song tidak merasa khawatir kalau-kalau tawanan itu akan lari atau akan memberontak karena Hui Song sudah monotok jalan darah pada kedua pundaknya yang membuat kedua lengan si gendut itu tak dapat digerakkan lagi, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuhnya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Begitu mereka tiba di kota raja dengan selamat, Hui Song dan Sui Cin membawa tawanan itu ke markas Jenderal Ciang. Para perwira di markas itu telah mengenal Hui Song, maka mereka menyambut pemuda itu dan dengan gembira mendengarkan penuturan Hui Song tentang peristiwa pertempuran di rumah Ang-kauwsu.

Si gendut Bhe Hok dimasukkan ke dalam kamar tahanan dan dijaga dengan ketat. Sesuai dengan permintaan Hui Song, si gendut yang menjadi tawanan penting ini diperlakukan dengan baik. Hui Song sendiri mengancam bahwa kalau si gendut ini tidak mau membuat pengakuan di depan kaisar nanti apa bila dibutuhkan, maka dia akan disiksa.

"Terutama engkau akan dibiarkan kelaparan sampai satu bulan lamanya. Akan tetapi jika engkau mengaku, aku akan mintakan ampun untukmu, dan engkau akan mendapatkan makanan enak, bahkan mungkin juga dibebaskan."

Tak ada siksaan lain yang lebih menakutkan bagi si gendut Bhe Hok dari pada kelaparan! Baginya, makan enak sekenyangnya merupakan kenikmatan nomor satu di dunia ini, dan tanpa itu, hidup tidak ada artinya lagi. Maka, mendengar ancaman Hui Song itu, dia sudah mengangguk-angguk seperti burung kakak tua diberi hidangan.

Kemudian, tepat seperti yang sudah dikhawatirkan Hui Song, datang berita mengagetkan bahwa pada senja hari itu pasukan Jenderal Ciang yang membawa rombongan tawanan menuju ke kota raja, di tengah perjalanan sudah dihadang dan diserang oleh gerombolan penjahat, dan sebagian besar para tawanan dapat dibebaskan oleh para penyerang, ada pun yang tidak dapat dibebaskan, telah kedapatan mati di dalam gerobak masing-masing! Tidak ada sisa seorang pun!

Ternyata para penjahat yang lihai itu telah membunuh teman-teman sendiri yang tertawan, tentu saja dengan maksud agar tawanan-tawanan itu tidak sampai membocorkan rahasia. Rahasia besar bahwa Liu-thaikam yang berada di balik semua kejahatan ini!

Begitu memasuki benteng dengan wajah muram, Jenderal Ciang lalu menemui Hui Song dan hatinya menjadi sangat lega mendengar bahwa Bhe Hok, satu-satunya tawanan yang tersisa, kini sudah aman berada di dalam kamar tahanan.

"Harus dijaga keras agar dia jangan sampai mendengar bahwa tidak ada tawanan lainnya kecuali dia, bahwa dialah satu-satunya saksi di depan sri baginda kaisar," kata jenderal itu kepada Hui Song. "Bila dia mendengar tentang nasib para tawanan yang tidak sempat dibebaskan, tentu dia akan ketakutan dan tidak mau mengaku."

Hui Song lalu mendatangi Bhe Hok. Dengan sikap tenang dan wajar dia pun menanyakan bagaimana perlakuan para penjaga tahanan terhadap dirinya. "Engkau adalah tawananku, karena itu akulah yang akan bertanggung jawab atas dirimu. Tawanan-tawanan lain yang ditawan oleh pasukan dipisahkan, namun keadaan mereka tidaklah begitu menyenangkan dibandingkan dengan keadaanmu."

"Apakah... apakah Hwa-i Lo-eng juga... ikut tertangkap?" Bhe Hok bertanya dengan penuh keinginan tahu.

Hui Song telah mendengar berita mengejutkan lainnya, yaitu bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu ternyata sudah kedapatan tewas di dalam gedung perkumpulan itu, tidak lama setelah rombongan Jenderal Ciang tiba. Dan dia tahu apa artinya itu. Agaknya para tokoh jahat, tentu saja atas perintah Liu-thaikam, telah melakukan persiapan supaya rahasianya tidak terbuka, dengan jalan membunuhi semua tawanan, dan ketua Hwa-i Kai-pang juga harus dibunuh agar pemerintah tidak akan menangkap dan memaksanya mengaku!

"Dia? Tentu saja dia pun ditangkap sebab anak buahnya banyak yang terlibat. Akan tetapi pemeriksaan akan dilakukan secara terpisah dan satu demi satu. Maka engkau tak perlu khawatir, mengakulah saja seperti apa adanya. Jika engkau menyesali pengkhianatanmu dan mengaku terus terang tentang persekongkolan di bawah pimpinan Liu-thaikam, tentu engkau akan mendapat keringanan."

"Apa? Apa... Liu-thaikam...? Aku tidak... tidak mengerti..."

Hui Song tersenyum. "Ahh, tidak perlu engkau berpura-pura lagi. Kami sudah mendengar semua mengenai persekutuan itu, tentang bagaimana Hwa-i Kai-pang dipergunakan oleh Liu-thaikam, juga tentang Cap-sha-kui sudah menjadi antek-antek pembesar itu di bawah pimpinan seorang datuk yang bernama Siangkoan Lo-jin berjuluk Iblis Buta. Kami sudah tahu semua, dan engkau hanya tinggal membuat pengakuan sejujurnya saja. Ingat, kalau engkau membohong dan tidak mau mengaku, kami pun sudah mengetahui persoalannya dan akibatnya engkau akan disiksa."

Bhe Hok mengangguk-angguk meyakinkan sehingga legalah hati Hui Song. Pengakuan si gendut ini di depan sri baginda kaisar berarti berhasilnya tugas membongkar persekutuan jahat di dalam istana yang dikepalai oleh Liu-thaikam.

Sementara itu, Jenderal Ciang segera mengadakan hubungan dengan dua orang menteri lain yang pandai dan termasuk sebagai menteri-menteri setia yang juga dianggap sebagai saingan sehingga ditentang oleh Liu-thaikam. Mereka adalah Menteri Ting Hoo dan Cang Ku Ceng.

Di dalam sejarah tercatat bahwa kedua orang menteri ini kelak akan menjadi pembantu-pembantu yang sangat setia dan pandai dari Kaisar Cia Ceng pengganti Kaisar Ceng Tek. Jenderal Ciang mengadakan perundingan dengan dua orang menteri ini, kemudian pada keesokan harinya, berkat usaha dari kedua orang menteri ini, sri baginda kaisar berkenan menerima Jenderal Ciang yang diikuti pula oleh Menteri Liang serta kedua orang menteri Ting dan Cang itu.

Tentu saja sri baginda kaisar menjadi terkejut sekali ketika mendengar laporan Jenderal Ciang mengenai persekutuan yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang, terlebih lagi sesudah dengan terus terang jenderal itu mengatakan bahwa persekutuan itu dipimpin oleh Liu-thaikam sendiri!

"Mustahil!" Sri baginda kaisar berseru sambil menepuk lengan kursi. "Dia adalah seorang pembantuku yang paling setia. Dan apa sebabnya dia hendak membunuh kalian berdua? Tentu ada permusuhan pribadi!"

Pada saat mendengar betapa kaisar agaknya malah berpihak kepada thaikam itu, wajah Jenderal Ciang menjadi pucat. Menteri Liang yang berlutut itu lalu berkata, "Mohon beribu ampun, sri baginda. Sesungguhnya tidak terdapat permusuhan apa pun antara hamba dan Liu-thaikam, akan tetapi dia menganggap hamba dan Jenderal Ciang serta banyak hamba paduka yang lain sebagai saingannya karena hamba sekalian tak mau tunduk kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dia hendak membunuh hamba."

"Sudah banyak pembesar dibunuhnya, sri baginda. Dia tidak segan-segan menggunakan para penjahat sebagai antek-anteknya. Pada waktu hendak membunuh Menteri Liang dan hamba, dia malah memperalat datuk-datuk sesat seperti Cap-sha-kui, juga menggunakan orang-orang Hwa-i Kai-pang yang ikut pula bersekongkol dan menjadi anteknya."

Alis Sri Baginda Kaisar Ceng Tek berkerut, hatinya merasa tidak senang. "Jenderal Ciang, kami tahu bahwa engkau adalah seorang jenderal yang gagah dan setia, dan juga Menteri Liang adalah seorang menteri lama yang sangat setia. Tahukah kalian betapa hebat dan berbahayanya semua cerita kalian ini? Kalau tidak benar, ini merupakan fitnah yang akan dapat membuat kalian terpaksa harus dihukum seberat-beratnya!"

"Hamba bersedia dihukum kalau pelaporan hamba tidak benar, sri baginda!" kata sang jenderal.

"Hamba juga bersedia menyerahkan nyawa jika hamba menjatuhkan fitnah kepada siapa pun juga," sambung Menteri Liang dengan suara tegas.

Mulailah Kaisar Ceng Tek merasa bimbang. Sebenarnya sudah lama banyak pembesar yang mencoba untuk menyadarkannya akan kepalsuan Liu-thaikam, akan tetapi karena thaikam itu selalu bersikap baik dan menyenangkan hatinya, juga karena tidak pernah ada bukti penyelewengannya, maka kaisar merasa terlalu sayang kepada pembantu itu untuk melakukan penyelidikan secara mendalam.

Lagi pula, kaisar yang masih amat muda itu, baru sembilan belas tahun usianya, merasa banyak dibantu oleh Liu-thaikam. Pada waktu dia melakukan perjalanan keluar dari istana secara diam-diam, thaikam itulah yang selalu membantunya, dan semua urusan di dalam istana dapat diselesaikan dengan baik oleh thaikam itu.

"Bagaimana kalian dapat memastikan bahwa laporan kalian ini bukannya fitnah belaka?" kaisar mendesak.

"Penyerangan terhadap Menteri Liang di telaga disaksikan oleh banyak orang, sedangkan penyerangan terhadap hamba di dalam pesta Ang-kauwsu lebih banyak saksinya," jawab Jenderal Ciang.

"Kalian adalah pejabat-pejabat pemerintah, maka tidaklah aneh kalau dimusuhi oleh kaum penjahat. Akan tetapi apa buktinya bahwa Liu-thaikam yang berdiri di belakang semua itu?"

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Jenderal Ciang. Dengan suara lantang tetapi tetap hormat dia menjawab. "Sri baginda, hamba sudah menangkapi sebagian dari para penjahat, akan tetapi ketika hamba menggiring para penjahat itu ke kota raja, di tengah perjalanan para datuk sesat menghadang, merampas tawanan dan membunuh mereka yang tidak dapat mereka rampas. Akan tetapi masih ada seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang berhasil hamba bawa sebagai saksi. Jika paduka berkenan, hamba dapat menyuruh dia membuat pengakuan di hadapan paduka." Jenderal itu berhenti sebentar, kemudian menyambung, "Selain itu, juga hamba dibantu oleh seorang pendekar muda yang pernah menyelamatkan paduka pada saat paduka diserang oleh orang-orang Kang-jiu-pang, yaitu putera ketua Cin-ling-pai bersama seorang temannya, pendekar wanita Ceng Sui Cin."

"Hemm, bawa mereka semua menghadap!" Kaisar memerintah.

Jenderal Ciang lalu memberi isyarat kepada para penjaga di luar dan tak lama kemudian muncullah Hui Song dan Sui Cin mengiringkan Bhe Hok sebagai tawanan. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan tubuh Bhe Hok gemetar ketakutan.

Jenderal Ciang memperkenalkan dua orang muda pendekar itu, tetapi kaisar masih ingat kepada Hui Song yang gagah. "Hai, engkau orang muda yang gagah perkasa itu! Urusan apa lagi yang membawamu terlibat sehingga kini dihadapkan di istana?" Kaisar menegur dengan suara ramah.

"Ampun, sri baginda. Hamba melihat ada persekutuan busuk mengancam para pembesar setia. Dan karena persekutuan itu dapat pula membahayakan keselamatan paduka, maka hamba berdua nona Ceng berusaha membantu Jenderal Ciang untuk membuka rahasia ini dan menghaturkannya kepada paduka."

Kaisar teringat lagi akan tuduhan terhadap thaikam yang amat disayangnya, maka alisnya berkerut lagi, hatinya kesal dan dia pun berkata kepada Jenderal Ciang. "Nah, suruhlah saksi bercerita. Awas, kalau dia berbohong, kalian semua takkan bebas dari hukuman!"

Sebenarnya ucapan kaisar itu ditujukan untuk mengancam mereka yang telah memusuhi Liu-thaikam, akan tetapi malah membuat si gendut Bhe Hok semakin ketakutan dan tidak berani berbohong. Dia terus berlutut dan tak berani berkutik sampai dihardik oleh Jenderal Ciang.

"Penjahat Bhe, lekas membuat pengakuan apa adanya dan jangan berbohong!"

"Hamba... hamba bernama Bhe Hok dan hamba menjadi seorang di antara para pembantu Hwa-i Lo-eng ketua Hwa-i Kai-pang. Bersama rekan-rekan Cap-sha-kui, hamba menjadi anggota kelompok yang dipimpin oleh Siangkoan Lo-jin, dan hamba semua bekerja untuk Liu-taijin. Hamba menerima tugas untuk membantu para tokoh Cap-sha-kui, pertama-tama untuk membunuh Menteri Liang, kemudian membunuh Jenderal Ciang. Hamba membuat pengakuan yang sesungguhnya, berani disumpah juga berani mempertanggung jawabkan kebenaran pengakuan hamba."

Wajah kaisar telah menjadi merah sekali. Haruskah dia mempercayai pengakuan seorang penjahat macam ini?

"Tangkap dan seret ketua Hwa-i Kai-pang ke sini!" bentaknya.

"Ampun sri baginda. Hwa-i Lo-eng telah dibunuh oleh tokoh-tokoh sesat, mungkin karena mereka merasa takut kalau-kalau ketua Hwa-i Kai-pang itu akan membuat pengakuan dan membuka rahasia kejahatan Liu-thaikam."

"Hemm, kalau begitu tangkap dan bawa Liu-thaikam ke sini!" perintah kaisar.

"Hamba akan melaksanakan perintah paduka. Akan tetapi tanpa adanya leng-ki (bendera tanda utusan kaisar), tentu dia tidak akan percaya dan akan melawan."

"Nih, bawa tanda dari kami!" Berkata demikian kaisar muda itu melepaskan pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Jenderal Ciang.

Benda itu adalah pusaka tanda kekuasaan kaisar, maka tentu saja telah merupakan bukti kekuasaan yang cukup. Dengan gembira sekali Jenderal Ciang menerima pedang, lantas membawa pasukan pengawal pergi menuju ke gedung tempat tinggal Liu-thaikam dan menangkapnya. Melihat pedang di tangan jenderal itu, Liu-thaikam tidak berkutik lagi dan dengan muka pucat tak lama kemudian dia sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki kaisar.

"Mohon paduka sudi mengampuni semua kesalahan hamba, akan tetapi sungguh hamba merasa terkejut sekali menerima panggilan paduka seperti ini. Apakah yang telah terjadi? Apakah yang dapat hamba lakukan untuk paduka?" Tentu thaikam itu hanya berpura-pura saja.

Dia sudah mendengar akan semua yang telah terjadi, tentang kegagalan-kegagalan para anteknya dan dialah yang memerintahkan supaya semua tokoh Hwa-i Kai-pang dibunuh, juga para tawanan yang tidak sempat dibebaskan agar dibunuh. Sungguh pun demikian, hatinya masih selalu dalam keadaan was-was maka dia telah bersiap untuk melarikan diri, walau pun dia masih percaya akan pengaruhnya terhadap kaisar. Kedatangan Jenderal Ciang yang menangkapnya sama sekali tidak disangkanya.

"Orang she Liu, apakah yang telah kau lakukan selama ini? Mengapa engkau memperalat orang-orang jahat dan menyuruh orang-orang jahat itu mencoba untuk membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang?!" Kaisar membentak.

Dengan mimik muka yang pandai, thaikam itu terbelalak lantas memprotes dengan sikap wajar orang yang merasa difitnah. "Ampun, sri baginda! Hal itu sama sekali tidak benar! Hamba telah difitnah orang! Banyak sekali orang yang merasa iri dan ingin menjatuhkan hamba karena paduka sudah melimpahkan kepercayaan yang besar kepada hamba. Ini adalah fitnah penasaran! Hamba berani bersumpah bahwa hamba selalu setia terhadap paduka sampai mati!"

"Hemm, setia dan memelihara penjahat-penjahat sebagai kaki tanganmu?"

"Tidak, sama sekali tidak benar. Hamba bersumpah..."

"Apakah persekutuan penjahat-penjahat Hwa-i Kai-pang dan Cap-sha-kui yang dipimpin oleh datuk bernama Siangkoan Lo-jin itu bukan antek-antekmu?"

"Tidak, hamba sama sekali tidak pernah mendengar nama-nama itu, hamba bahkan tidak mengenalnya. Memang hamba merasa tidak suka pada Menteri Liang dan Jenderal Ciang karena hamba melihat bahwa mereka itu menentang paduka, tidak taat..."

Kaisar menghardiknya kemudian berkata kepada Bhe Hok. "Hai, kamu! Katakan apakah ini orangnya yang memimpin seluruh persekutuan busuk itu?!"

Bhe Hok memandang pada Liu-thaikam dengan muka pucat. Tadi dia mendengar betapa Hwa-i Lo-eng telah dibunuh dan sekarang agaknya tinggal dia yang harus berani menjadi saksi. Akan tetapi dia tadi telah mengucapkan pengakuannya, tidak mungkin mengingkari kembali, maka dia pun berkata dengan suara gemetar,

"Benar, sri baginda. Dia adalah Liu-taijin yang dibantu oleh kelompok hamba semua..."

Liu-thaikam menengok dan begitu melihat wajah Bhe Hok, dia terkejut dan marah bukan main. "Kau... kau...!" Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya. "Engkau pengkhianat busuk! Berani engkau membawa-bawa namaku di sini? Akan kusuruh mencincang hancur kepalamu..."

"Cukup!" Kaisar membentak. "Tangkap pengkhianat ini dan seret ke pengadilan tinggi!"

Para pengawal lalu maju dan menangkap Liu-thaikam yang berteriak-teriak dan meronta-ronta, memaki-maki Bhe Hok, Menteri Liang, Jenderal Ciang dan akhirnya memaki-maki kaisar pula sehingga para pengawal membungkam mulutnya dan menyeretnya keluar.

Dengan wajah murung kaisar lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Jenderal Ciang, Menteri Liang, juga kepada Hui Song dan Sui Cin, lalu kaisar membubarkan persidangan darurat itu.

Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Liu-thaikam. Saat diadakan pemeriksaan dan penggeledahan, kaisar sendiri sampai tertegun melihat tumpukan harta hasil korupsi dan penindasan yang dilakukan bekas pembantunya yang tadinya sangat disayang serta dipercayanya itu. Harta benda yang ditumpuk oleh Liu Kim atau Liu-thaikam itu sungguh amat besar jumlahnya.

Menurut catatan sejarah, emas dan perak yang diperoleh sebanyak 251.583.600 tail, batu permata sebanyak lebih dari sepuluh kilo, dua stel pakaian perang dari emas, 500 piring emas, 300 pasang gelang dan cincin emas, 4000 ikat pinggang emas permata. Istananya di kota raja bahkan melebihi kemewahan istana kaisar sendiri!

Penumpukan harta yang dilakukan oleh Liu-thaikam melalui korupsi dan penindasannya itu memang sungguh luar biasa. Tiada keduanya dalam sejarah. Kerakusannya dalam hal menumpuk harta sukar dicari bandingannya sehingga menjadi buah bibir rakyat sampai sepanjang sejarah. Padahal, sebelum menjadi thaikam, Liu Kim adalah seorang anak dari keluarga yang miskin dan rendah.

Sesudah komplotan itu berhasil dibongkar, Kaisar Ceng Tek baru menjadi panik sehingga kaisar ini cepat-cepat melakukan pembersihan di kalangan para pejabat tinggi. Juga dia segera memerintahkan Jenderal Ciang agar mengerahkan pasukan untuk membasmi para penjahat yang tadinya menjadi antek Liu-thaikam.

Hwa-i Kai-pang diserbu, semua anggotanya ditangkap dan dihukum, gedungnya dirampas pemerintah. Akan tetapi tak mudah bagi Jenderal Ciang untuk dapat mencari tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang selalu bergerak laksana setan. Dengan tertangkapnya Liu-thaikam dan hancurnya komplotan itu, barulah pemerintahan Kaisar Ceng Tek yang muda itu menjadi bersih dan barulah kaisar muda itu mulai memperhatikan roda pemerintahan.

********************