Utusan Dari Andalas

UTUSAN DARI ANDALAS

SATU

“Brengsek kau, Kakang Rangga! Brengsek...! Pemuda sialan...!”

Terdengar umpatan berkali-kali dari mulut seorang gadis cantik. Sejak tadi, dia sudah cukup jauh berlari, menembus kegelapan malam. Kelihatannya, dia merasa kecewa sekali. Untuk melampiaskannya, kakinya menendang-nendang tak karuan ke tanah.

Entah, berapa butir batu yang menjadi sasaran kemarahannya. Dan entah, berapa batang ranting pohon berpatahan. Tapi semua belum juga meredakan rasa kekesalannya di dalam dada.

“Huh! Ingin rasanya dia kubunuh! Ku lumatkan sampai tidak tersisa!” dengus gadis cantik berbaju merah ini.

Entah berapa lama gadis itu berlari, memaki, menghajar apa saja yang menghalangi langkahnya. Dan malam pun telah berganti pagi. Hutan telah jauh dilewati sejak tadi. Kini, dia tiba di pantai landai dengan tebaran nyiur melambai.

Gadis itu menghampiri sebuah karang yang berada di tepi pantai, dan menghenyakkan pantatnya di situ. Matanya memandang laut lepas. Tak dipedulikannya tatapan liar nelayan-nelayan muda di dekat pantai itu yang terpesona, seperti menelanjangi tubuhnya yang terbungkus baju ketat berwarna merah.

“Kakang Rangga.... Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa, Kakang? Tidak tahukah kau, bahwa aku amat mencintaimu? Tidak bisakah kau merasakan getaran hatiku? Tak bisakah kau dengar setiap detak jantungku yang selalu menyebut namamu?"

Senandung lirih gadis berbaju merah ini bergaung sebentar di telinganya, lalu hilang terbawa debur ombak. Dia mematung lesu, memandang laut lepas di depan dengan ombak yang berkejar-kejaran.

“Oh, laut! Bisakah kau rasakan getaran hatiku yang mendamba, Kakang Rangga? Tolonglah diriku, wahai laut...! Sampaikan padanya kalau Ratmi tengah merindukannya...!”

“Kenapa mesti kepada laut menumpahkan perasaan, sedangkan aku bersedia mendengarnya? Bahkan kalau kau berkenan, aku suka sekali merasakannya!”

“Heh?!” Gadis yang ternyata Ratmi tersentak kaget begitu mendengar suara dari belakangnya. Kepalanya menoleh dan langsung mendelik liar, melihat seorang pemuda bertubuh kurus berdiri tegak di belakang agak ke samping kiri, pada jarak lima langkah.

Entah, dari mana datangnya pemuda berbaju hitam berikat kepala kuning itu muncul. Dan entah, berapa lama dia berada di situ. Tapi jelas kehadirannya bukanlah obat pelipur lara bagi Ratmi.

“Enyahlah kau dari sini! Kau tak kuperlukan!” bentak gadis ini, garang.

“Hei? Baru sekali ini Kertapati diusir dari tempatnya!” tukas pemuda yang mengaku bernama Kertapati.

“Apa maksudmu?”

“Nisanak! Ini adalah wilayahku. Lautan luas di depanmu adalah wilayah kekuasaanku. Mestinya, kau izin dulu untuk datang ke sini. Tapi, kini malah mengusirku!”

Ratmi agaknya enggan beradu mulut dengan pemuda itu. Kalau hatinya sedang tenang, mungkin akan dilabraknya. Tapi kali ini dia lebih memilih angkat kaki dan meninggalkan pemuda itu.

“Eee, mau ke mana kau?” tanya Kertapati.

“Maaf, aku datang tanpa izin. Karena itu, lebih baik aku pergi...,” sahut Ratmi, sambil tenis melangkah.

“Eit, tidak semudah itu!” Kertapati melompat ringan. Dan tahu-tahu dia telah berdiri tegak menghadang langkah Ratmi.

“Kisanak! Aku sedang tak ingin main-main. Harap menyingkir dan jangan mengganggu!” bentak Ratmi, melotot.

“Setelah datang tanpa izin, kini angkat kaki tanpa izin pula. Mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja?” tukas Kertapati, kalem.

“Apa maumu?” bentak Ratmi lagi, mulai kesal.

“Ikut aku!”

“Brengsek!” Ratmi tidak dapat menguasai diri lagi. Kaki kanannya tiba-tiba melayang ke perut Kertapati.

Wuk!

“Uts!” Dengan memiringkan tubuhnya, Kertapati berhasil menghindari tendangan yang hanya beberapa rambut saja di sisinya.

“Rupanya kau ingin dikasari, Nisanak. Baiklah. Kertapati bisa bersikap lembut pada wanita. Tapi, bukan berarti tidak bisa mengasarinya!”

Seketika Ratmi kembali mengirim tendangan susulan. Tapi kali ini Kertapati mengibaskan tangan kanannya untuk menangkis.

Plak!

“Yeaaat!”

Begitu terjadi benturan, tangan Kertapati bergerak lentur seperti karet. Tiba-tiba ditangkapnya pergelangan kaki gadis itu. Ratmi mendengus geram. Dan kaki kirinya pun kembali melesat ke dada Kertapati.

Plak! Tap!

Seperti tindakan pertama, Kertapati menahan lewat telapak kiri. Kemudian tangannya bergerak menangkap pergelangan kaki gadis itu laksana seekor ular memagut mangsa.

“Nah, mau apa lagi kau?!” ejek Kertapati sambil tersenyum-senyum.

“Kurang ajar!” Ratmi menggeram. Dengan kedua kaki di cekal seperti itu, mau tak mau beban tubuhnya mesti ditahan agar tak jatuh. Tapi, gadis keras kepala itu tidak mau menyerah begitu saja. Dengan kedua tangan yang masih bebas dihajarnya batok kepala pemuda itu.

“Hiih!”

“Hup!” Kertapati menjatuhkan diri, sekaligus membawa tubuh Ratmi dengan menarik kakinya.

“Aaah...!”

Brakkk...!

Karuan saja, gadis itu kehilangan keseimbangan dan kontan jatuh tengkurap di atas tubuh Kertapati.

“Sekarang kau jadi milikku!” seru Kertapati. Kertapati tak menyia-nyiakan kesempatan. Bibirnya menyosor seperti bebek. Langsung diciumnya pipi Ratmi.

Cup!

“Kurang ajar! Kubunuh kau! Kubunuh kau, Keparat...!” teriak gadis itu kalap, seraya menghantamkan kedua tangan ke wajah pemuda itu.

Tap! Tap!

Dengan tangkas Kertapati menangkap kedua tangan Ratmi.

“Nah, kini kau tak bisa berkutik lagi! He he he...!” leceh Kertapati seraya menjepit kaki gadis itu.

Tapi meski begitu agaknya Ratmi tidak mau menyerah. Dengan sekuat tenaga tubuhnya digulingkan.

“Hiaaa...!”

Kertapati kehilangan keseimbangan, dan ikut berguling. Tapi keadaan tak berubah. Bahkan kini gadis itu yang berada di bawah tubuhnya. Dan Ratmi cuma bisa merutuk tak karuan.

“Bedebah jahanam! Lepaskan aku atau kubunuh kau...?!”

“Kau bahkan tak mampu melepaskan diri dariku. Mana mungkin mampu membunuhku?”

“Setan alas! Kupecahkan batok kepalamu jahanam!”

“Ha ha ha...! Lebih baik kau menuruti kemauanku. Cuma sekali saja. Dan setelah itu, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Phuihhh...!”. Ratmi meludah, tepat menyemprot muka pemuda itu.

Tapi dasar iblis telah merasuk dalam benaknya. Kertapati bukannya terhina, malah nafsunya telah sampai ke ubun-ubun. “Kau telah menghina Kertapati. Tapi, aku tak marah. Tapi kau tetap harus membayar penghinaan ini. Sebab, Kertapati belum pernah dihina sebelumnya.”

“Pergilah ke neraka dengan penghinaan ku itu, Jahanam!”

“Hmm!” Pemuda itu menahan geram. Dan tiba-tiba saja tangannya bergerak cepat, menyambar pakaian Ratmi. Lalu...

Bret!

“Aaaouwww...!” Karuan saja Ratmi berteriak-teriak geram bercampur amarah ketika pakaiannya robek, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang mulus menantang. Bahkan payudaranya berusaha dipagut pula Kertapati.

“Bedebah terkutuk! Kubunuh kau! Kubunuh kau...!” maki Ratmi, tak sudi benda kebanggaannya dijamah seperti itu.

“He he he...! Percuma saja. Tak seorang pun yang sudi menolongmu di sini!” ejek Kertapati sambil terkekeh penuh nafsu.

Bola mata pemuda ini bergerak-gerak melebar. Mulutnya komat-kamit seperti tengah membaca mantera. Air liurnya seperti menetes, melihat pemandangan indah di depan mata. Dengan sekuat tenaga dia memaksakan keinginan untuk menikmati sepasang bukit menantang kebanggaan kaum wanita milik Ratmi.

Sementara, gadis itu sekuat tenaga menghindarinya. Meski harus berguling-gulingan dan mengerahkan segenap tenaga untuk melepaskan diri. Pada saat yang gawat bagi pertahanannya, mendadak berkelebat sebuah bayangan dengan sebuah juluran benda berwarna merah.

Rrrtt! Wut!

“Aaakh...!” Kertapati terkejut ketika lehernya terlilit benda merah yang ternyata selendang berwarna merah. Belum sempat keterkejutannya habis, tubuhnya tahu-tahu telah terangkat ke atas. Demikian pula tubuh Ratmi. Tapi tak lama tubuh gadis itu meluruk jatuh, ketika jepitan kaki Kertapati mengendor. Dengan ringan tubuhnya berputar dan mendarat mulus di atas tanah.

“Hup!” Demikian pula halnya Kertapati. Setelah mampu melepas lilitan selendang merah, tubuhnya berputar beberapa kali lalu mendarat dengan gerakan gesit. Dengan wajah geram matanya mencari-cari orang yang telah merusak acaranya.

“Kau...?!” seru Kertapati seperti tak percaya, begitu melihat seorang gadis cantik berusia lebih kurang dua puluh tahun.

Gadis itu memakai pakaian serba hitam. Pada ujung lengan baju dan celananya terlihat hiasan melingkar berwarna kuning dan merah. Kepalanya memakai ikat memanjang ke atas berwarna-warni. Kedua tangannya memegang selendang panjang berwarna kuning dan merah.

“Jangan menghina perempuan seperti itu, karena aku tidak suka melihatnya!” desis gadis berpakaian serba hitam itu dengan sorot mata tajam.

“Jangan ikut campur urusanku. Dia istriku yang belum lama kabur!” bantah Kertapati, berdusta.

“Bohong! Aku bukan siapa-siapanya! Jahanam ini bahkan tidak kukenal!” sergah Ratmi, lantang. Dan setelah membereskan baju di bagian dadanya, gadis berbaju merah melompat menyerang Kertapati.

“Tahan!” seru gadis berbaju hitam itu, seraya mengibaskan selendang. Ratmi terkejut. Sementara, Kertapati terkesiap. Ujung selendang gadis itu berkelebat persis berada di antara mereka berdua.

Wuuut!

Gadis itu menarik selendangnya kembali. Lalu matanya menghujam ke arah Kertapati dengan tatapan dingin. “Kisanak! Kuharap kau tak menggangunya lagi!” ujar gadis itu, tegas.

“Jangan mencampuri urusanku! Selama ini, kalian kuhormati karena kalian juga menghormatiku. Tapi kalau ikut campur dalam urusanku, jangan salahkan kalau aku akan bertindak kasar.”

“Hmm...!”

“Pergilah kau!” dengus Kertapati, galak.

“Hiih!” Sebagai jawabannya, gadis itu melepaskan ujung selendangnya tepat ke arah Kertapati.

Wuuut!

“Uts! Apa-apaan ini?! Kau mau cari gara-gara denganku?!” bentak Kertapati, seraya mencelat ke samping.

“Itulah jawabanku!”

“Huh! Kalau begitu, jangan salahkan aku!” dengus pemuda ini.

Secepat kilat, Kertapati menerjang. Sebaliknya gadis berbaju serba hitam itu berkelit ke samping, seraya melepas satu hantaman telak kepalan kanan. Dengan cepat, Kertapati memapaknya.

Plak!

“Uts...!” Tapi Kertapati terpaksa mencelat ke belakang, karena gadis itu melanjutkan serangan lewat sodokan kaki kiri ke arah perut. Tepat ketika Kertapati mencelat ke belakang, ujung selendang gadis itu menyambar dengan telak.

Jderrr...!

“Aaakh...!” Dengan tubuh terpental, Kertapati menjerit kesakitan. Pedih sekali rasanya tersambar selendang yang telah dialiri tenaga dalam tinggi.

“Itu baru permulaan, Kertapati. Selanjutnya kau akan merasakan yang lebih keras!” desis gadis berbaju serba hitam.

“Huh! Kau mulai kurang ajar! Tidak tahukah kau, anak buahku bertebaran di seluruh tempat ini?! Sekali kuperintahkan, maka kalian akan binasa dalam sekejap!” dengus Kertapati.

“Kalau begitu, lebih baik kubunuh saja kau sekarang!” desis gadis ini, seraya mencelat ke arah Kertapati. Sambil mencelat dengan gerakan gesit laksana seekor walet, gadis itu menyambar selendangnya ke pinggang Kertapati.

Sret!

Kertapati mendengus. Sambil melompat menghindari terjangan selendang, pedang yang terselip di punggungnya dicabut.

Sring!

Seketika pedang pemuda ini membabat selendang.

Wuuuttt...!”

Tapi gadis berbaju serba hitam lebih cepat lagi menarik selendangnya. Bahkan kepalan kirinya tahu-tahu telah menyambar ke arah perut. Secepat kilat, Kertapati menahan lewat telapak tangan kanan.

Plak!

“Uhh...!” Pemuda itu meringis kesakitan merasakan tulang-tulang telapak tangannya seperti mau patah, begitu terjadi benturan tangan. Belum lagi mampu menghilangkan rasa sakitnya, gadis berbaju serba hitam telah berputar seraya melepaskan tendangan setengah melingkar.

Buk!

“Aaakh!” Kembali Kertapati menjerit kesakitan, ketika ujung kaki kanan gadis itu menyodok ke perutnya. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sambil mengibaskan pedang untuk menjaga segala kemungkinan yang bakal terjadi.

“Hiih...!” Sambil mendengus, ujung selendang gadis itu telah bergerak laksana kilat, menghantam tangan Kertapati yang memegang pedang.

Plak!

“Aaakh...!” Pemuda itu mengeluh tertahan merasakan hantaman kuat pada pedangnya. Telapak tangannya perih. Dan pedangnya terlepas dari genggaman. Belum lagi dia sempat berbuat apa-apa, mendadak selendang gadis itu telah berkelebat, langsung membelit pinggang.

Rrrt!

“Heup!” Kertapati tak mau kalah. Seketika dicengkeramnya selendang itu, lalu sekuat tenaga ditariknya. Dia berharap gadis itu akan terjerembab di depan kakinya.

“Hiih! Aaah...!”

Tapi yang terjadi justru di luar dugaan. Bukan tubuh gadis itu yang terjerembab, malah Kertapati sendiri yang tersentak ke atas. Lalu tubuhnya jatuh tersungkur di depan gadis itu.

“Masih ingin kuberi pelajaran lain?” ejek gadis berbaju hitam ini dengan kaki kanan langsung menekan bahu kiri Kertapati.

Ketika Kertapati hendak bangkit, terasa bahu kirinya seperti dihimpit sebongkah batu besar. Sadarlah dia, kalau gadis ini tak bisa dianggap main-main. Kepandaiannya demikian hebat. Demikian pula tenaga dalamnya.

“Apa maumu?!” dengus Kertapati geram, tapi tak berdaya.

“Jangan ganggu gadis itu!”

“Baiklah. Lepaskan aku!”

“Satu lagi. Kalau anak buahmu dikerahkan untuk menyerang kami, aku bersumpah kaulah yang terlebih dulu akan mati! Ingat itu!”

“Baik! Baik! Lepaskan aku...!”

“Huh!” Kertapati langsung angkat kaki. Ditinggalkannya tempat itu dengan langkah tergopoh-gopoh. Sesekali kepalanya menoleh dan memandang penuh kebencian pada gadis berbaju serba hitam yang telah mencundanginya.

DUA

“Kau tidak apa-apa, Nisanak?” tanya gadis berbaju serba hitam ini pada Ratmi.

“Eh, tidak. Terima kasih atas pertolonganmu...,” sahut Ratmi.

“Namaku Upik Sibirantulang...,” serobot gadis berbaju hitam, memperkenalkan namanya.

Nama itu agak aneh terdengar di telinga Ratmi. Sehingga untuk sesaat gadis itu tertegun.

“Aku memang bukan orang sini. Kami datang bersama yang lain dari tempat yang cukup jauh,” di seberang tanah Jawa ini....”

“O...,” Ratmi mengangguk. “Namaku Ratmi....”

“Kalau kau suka, aku ada beberapa potong pakaian sebagai pengganti pakaianmu yang rusak,” kata Upik Sibirantulang, menawarkan.

“Jauhkah tempatmu dari sini?” Ratmi malah bertanya.

“Coba lihat perahu besar di sana? Sementara ini, kami menginap di situ!” tunjuk Upik Sibirantulang.

“Perahu? Kalian ke sini dengan perahu?”

Upik Sibirantulang mengangguk dengan senyum manis. “Bagaimana? Kau suka mengganti pakaianmu dengan yang baik?” lanjut gadis dari tanah seberang itu, kembali menawarkan.

“Terima kasih.”

“Kenapa kau bisa berurusan dengannya?” tanya Upik Sibirantulang saat mereka berjalan menuju perahu.

“Dia datang begitu saja dan menggangguku.... Eh! Apakah kau kenal dengannya?” tanya Ratmi.

“Dia bajak laut dan memiliki anak buah cukup banyak. Perkampungan nelayan ini adalah dalam kekuasaannya. Perahu kami merapat dan membayar upeti padanya,” jelas Upik Sibirantulang.

“Kalian tidak berusaha menolak? Dia tidak layak menerima upeti!” desis Ratmi.

“Kami datang ke sini bukan mencari keributan. Itulah sebabnya, kami mengalah dan memenuhi tuntutannya.”

“Tapi dengan kejadian tadi mau tidak mau akan terjadi keributan....”

“Mungkin begitu....”

“Lalu apa yang akan kalian lakukan?”

“Kalau Kertapati mengusik, maka tak ada jalan lain. Kami terpaksa melawannya.”

“Kau katakan anak buahnya banyak. Apakah..., kalian mampu menghadapinya?”

Upik Sibirantulang tersenyum. “Jumlah kami memang sedikit. Tapi kami merantau bukan dengan tangan kosong, Ratmi,” jelas gadis berpakaian serba hitam ini.

Dahi Ratmi berkernyit. Dia tak begitu mengerti, apa yang dimaksud ‘bukan dengan tangan kosong’. Tapi melihat kepandaian gadis itu, Ratmi menduga kalau orang-orang yang bersama Upik Sibirantulang pun pasti berilmu tinggi pula.

“Sebenarnya apa yang kalian cari di tanah Jawa ini?” tanya Ratmi setelah mereka berdiam diri beberapa saat.

“Aku bermaksud mengunjungi Kerajaan Swarna Pura...,” jawab Upik Sibirantulang.

“Kerajaan Swarna Pura?” ulang Ratmi.

“Ya. Tahukah kau, di mana tempat itu?”

“Upik! Aku bisa mengantarkanmu ke sana!” tegas Ratmi, mantap.

“Benarkah?!” Ratmi mengangguk sambil tersenyum cerah.

“Siapa yang hendak kau temui di sana?” Tanya Ratmi, langsung.

“Prabu Arya Dwipa,” jawab Upik Sibirantulang.

“Hmm! Kalau aku boleh tahu, ada urusan apa dengan beliau?”

“Ng..., maaf. Bukan aku tidak mau mengatakannya. Tapi ini termasuk rahasia antar dua negeri,” ucap Upik Sibirantulang, sedikit merasa tak enak.

“Oh, maaf! Aku akan antarkan kalian pada beliau,” Ratmi juga merasa tak enak sekali.

“Sungguh kau bisa antar kami ke sana?” tanya Upik Sibirantulang, seperti mendapat durian runtuh. Karena tanpa susah-payah mencari, ada orang yang bersedia mengantarkan ke Kerajaan Swarna Pura.

Ratmi kembali mengangguk, meyakinkan. “Kebetulan ayahku bekerja di sana. Beliau punya hubungan dekat dengan Gusti Prabu Arya Dwipa."

“Hm, sungguh kebetulan!”

“Kapan kita berangkat?”

“Hari ini juga setelah aku menitipkan tanggung jawab kepada Datuk Mangkuto Alam.”

“Siapa dia?”

“Dia salah seorang kepercayaanku. Aku mesti menitipkan yang lainnya, serta bersiap-siap menjaga segala kemungkinan bila Kertapati menyerang,” jelas Upik Sibirantulang, sambil tersenyum senang.

“Apakah..., apakah dia pun sehebatmu?”

“Datuk Mangkuto Alam bisa dipercaya. Dia punya banyak kepandaian,” sahut Upik Sibirantulang, tersenyum lebar.

Lagi-lagi Ratmi tak mengerti apa yang dimaksud Upik Sibirantulang dengan ‘punya banyak kepandaian’. Gadis ini hanya bisa menduga-duga kalau orang yang bernama Datuk Mangkuto Alam mungkin hebat juga. Kalau tidak, tak mungkin jawaban Upik Sibirantulang seenteng itu.

“Nanti akan kukenalkan kau padanya. Juga yang lainnya!” lanjut Upik Sibirantulang.

“Terima kasih.”

********************

Dua ekor kuda berjalan lambat. Masing-masing penunggang seperti terguncang-guncang di punggung kuda. Yang menunggang kuda hitam berkilatan adalah seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung. Sementara yang menunggang kuda putih adalah seorang gadis berpakaian ketat berwarna biru.

“Aku yakin Kakang merahasiakan sesuatu padaku...,” kata gadis berbaju biru itu menggerendeng.

“Kenapa kau menuduhku begitu, Pandan?” tanya pemuda tampan ini.

“Aku bisa melihatnya dari matamu, Kakang...!” sahut gadis berbaju biru yang tak lain Pandan Wangi.

“Kenapa rupanya dengan mataku? Apakah ada tertulis kata rahasia?” tukas pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

Pandan Wangi sama sekali tak tersenyum. Lelucon itu tidak dianggapnya sebagai suatu hal yang lucu. Malah wajahnya semakin cemberut.

“Maaf....”

“Kenapa tidak Kakang katakan saja, siapa kedua gadis itu?” potong Pandan Wangi mencibir.

“Gadis yang mana?” tukas Pendekar Rajawali Sakti pura-pura pilon.

“Jangan berlagak bodoh! Tentu saja yang bernama Ambar dan Anjani! Kakang mengenal mereka, bukan?” sambar Pandan Wangi, makin sengit. (Untuk mengetahui nama Ambar dan Anjani silakan baca Dendam Berkubang Darah).

“Pandan! Mereka bukan gadis lagi, Ambar sudah berapa kali kawin. Dan Anjani mungkin juga sama.”

“Aku tak peduli! Apakah mereka sudah seratus kali kawin atau seribu kali! Yang kuinginkan adalah, jawaban jujurmu, Kakang!”

“Hm, jawaban jujur yang bagaimana?”

“Apa hubungan kalian?”

“Pandan.... Aku sama sekali tidak punya hubungan apa-apa! Bahkan kenal pun tidak!” elak Rangga.

“Bohong!” sentak Pandan Wangi.

“Kenapa kau tak percaya?” tukas pemuda kekasih Pandan Wangi ini.

“Hati seorang perempuan tidak bisa dibohongi, Kakang! Hatiku mengatakan kalau kau menyimpan sesuatu. Ceritakanlah padaku yang sejujurnya! Meskipun itu pahit, aku akan coba menerimanya!” desak gadis berjuluk si Kipas Maut ini.

“Pandan, aku...”

“Ceritakanlah, Kakang! Atau....” Pandan Wangi tak melanjutkan kata-katanya. Dipandanginya pemuda itu dengan sorot mata tajam seperti menyiratkan ancaman.

“Kau terlalu berprasangka...!” desah Rangga.

“Heaaa...!” Saat itu juga Pandan Wangi menggebah kudanya sekencang mungkin.

“Pandan! Mau ke mana kau?!” teriak Rangga, mencegah.

Tapi gadis itu tidak mempedulikannya. Terus saja kudanya digebah semakin cepat. Mau tidak mau, terpaksa Rangga mengejar dengan menggebah Dewa Bayu secepat-cepatnya. “Heaaa...!”

Tapi baru saja Dewa Bayu hendak mengejar....

“Hei, Bocah Gendeng!”

Mendadak terdengar bentakan keras, ketika seseorang hampir saja dihajar kedua kaki depan Dewa Bayu. Untung saja, orang itu cepat berkelit, dengan membuang tubuhnya ke samping.

“Bocah gendeng! Apa matamu buta, he?!” bentak orang itu, begitu bangkit berdiri. Orang yang hampir tertabrak adalah seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba merah. Wajahnya dipenuhi brewok. Matanya besar, melotot garang pada Rangga. Hidungnya lebar, kembang-kempis menahan kegeraman.

“Maaf, Kisanak! Aku kurang hati-hati. Aku terburu-buru. Sekali lagi, maaf!” ucap Rangga, setelah menarik tali kekang agar Dewa Bayu berhenti. Pendekar Rajawali Sakti menggebah kudanya kembali. “Heaaa...!”

Tapi Dewa Bayu tak bergerak. Apalagi berlari kencang. Rangga menggebah lagi, namun binatang itu tetap tak bergerak.

“Dewa Bayu ada apa denganmu?” tanya Rangga dengan kening berkerut. Rangga meneliti dengan seksama. Dan baru disadari kalau Dewa Bayu tidak bergerak seperti patung. Rangga langsung menoleh pada laki-laki setengah baya yang hampir saja ditabraknya dengan raut wajah kesal. Dia yakin, Dewa Bayu telah tertotok tanpa disadarinya.

“Kisanak, kenapa kau lakukan itu pada kudaku?” tanya Rangga dengan nada datar.

“Huh! Kudamu hampir saja menabrakku. Dan dia mesti diajar sopan santun!” sahut laki-laki itu tenang sambil tersenyum-senyum.

“Kisanak.... Aku telah meminta maaf. Apakah itu belum cukup?” tukas Rangga.

“Kau memang sudah. Tapi kudamu belum.”

“Hm.... Pada dasarnya, kudaku hanya menurut kehendakku.”

“Ha ha ha...! Kau mau mengakal-akaliku, Bocah?”

“Maaf, aku tak bisa berlama-lama. Dan kudaku tak betah terus-menerus begini!” ucap Rangga, seraya menggerakkan tangannya.

Plak!

Pendekar Rajawali Sakti berhasil membebaskan totokan pada tubuh Dewa Bayu yang dilakukan orang tua itu.

“Bocah! Kau sangat lancang! Berani betul kau membebaskan tawananku?!” sentak laki-laki setengah baya ini marah melihat kuda tunggangan pemuda itu telah mampu bergerak seperti sedia kala Padahal, apa yang dilakukannya tadi adalah totokan amat hebat. Tidak sembarang orang bisa membebaskannya. Tapi dengan sekali tepuk, Rangga telah membebaskan Dewa Bayu dari totokan.

“Kuda ini milikku, Ki. Dia bukan tawanan siapa-siapa. Maaf, aku tidak punya waktu meladenimu. Kuharap pertemuan kita sudah cukup. Permisi.”

“Tidak seorang pun boleh menghina Ki Jagat Awang! Tidak seorang pun! Hiih...!”

Rangga baru akan menggebah kudanya, tapi laki-laki setengah baya itu menghentakkan telapak tangan kirinya.

Wuusss!

“Heh?!” Rangga terkejut. Serangkum angin panas bertenaga dalam kuat meluruk ke arahnya. Seketika tubuhnya melenting seraya jungkir balik dari atas pelana kuda, setelah menepuk Dewa Bayu agar menyingkir.

“Yeaaa...!”

Belum juga Pendekar Rajawali Sakti mendarat, laki-laki setengah baya yang mengaku bernama Ki Jagat Awang sudah langsung mencelat, mengirim serangan susulan. Mau tak mau, terpaksa Rangga meladeninya kalau tidak ingin celaka.

Plak! Plak!

Dua kali hantaman telapak tangan Ki Jagat Awang berhasil ditepis Rangga. Dan Pendekar Rajawali Sakti harus mencelat ke belakang, menghindari sodokan tendangan kaki kanan laki-laki ini yang mengincar ulu hati disertai pengerahan tenaga dalam hebat.

“Apa-apaan ini, Ki?! Kau hendak membunuhku, he?! Padahal persoalan kita cuma sepele!” bentak Rangga sambil menghindar dengan melompat ke belakang.

“Cuma sepele katamu? Binatang celaka itu hampir menabrakku. Kalau aku mati, bagaimana?! Apa kau bisa mengganti nyawaku yang melayang? Tidak, kan? Nah, itulah persoalan yang kau anggap sepele?” tukas Ki Jagat Awang.

“Aku telah minta maaf. Apakah itu tidak cukup?” kilah Pendekar Rajawali Sakti.

“Huh! Permintaan maafmu saja belum cukup untuk menebusnya!” dengus laki-laki setengah baya ini.

“Lalu, apa maumu?”

“Potong leher kudamu! Kuliti dagingnya dan berikan padaku!”

“Edan...!” rutuk Rangga.

“Kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya.”

“Maaf, Ki. Dia bukan sekadar tungganganku. Tapi, juga sahabatku. Mintalah yang lain sebagai gantinya. Mungkin aku nanti bisa mengabulkannya....”

“Hm, baiklah. Aku minta ganti..., lehermu!”

Rangga mendesah kesal. Dia sadar, laki-laki ini memang sengaja mau cari gara-gara. Maka, dipandangnya Ki Jagat Awang dengan sorot mata tajam. Sebaliknya yang dipandang malah cengengesan.

“Bagaimana? Kau mau mengabulkannya?” tanya Ki Jagat Awang.

“Itu sama artinya kau menginginkan kematianku.”

“Lho? Kok lama sekali mengertinya?!” seru Ki Jagat Awang dengan wajah berseri. Sepasang alisnya naik ke atas dan bibirnya tersenyum cerah.

“Kalau itu yang kau inginkan, silakan ambil sendiri kepalaku!” sahut pemuda itu, dingin.

“He he he...! Tentu saja. Kenapa tidak?" Setelah berkata begitu, Ki Jagat Awang tidak buang-buang waktu dan langsung lompat menyerang. “Awas kepalamu!” bentak laki-laki ini.

Tangan kiri Ki Jagat Awang menghantam lurus ke batok kepala Pendekar Rajawali Sakti. Sementara tangan kanannya yang terkepal menghantam dada. Rangga menahan serangan yang mengarah ke dada dengan telapak tangan kiri. Sementara tangan kanannya menepis sambaran tangan kiri Ki Jagat Awang.

Plak! Plak!

Mendadak laki-laki setengah baya ini berputar, seketika kaki kirinya melepaskan tendangan setengah lingkaran menyambar batok kepala pemuda itu.

“Heup!” Pendekar Rajawali Sakti merendah, hingga tendangan itu menyambar angin. Tetapi tanpa diduga, kaki kanan Ki Jagat Awang melunak ke perut Rangga.

“Uts!” Pendekar Rajawali Sakti berkelit ke samping. Namun tendangan kaki kiri laki-laki setengah baya ini terus mengejar. Sehingga, terpaksa Rangga melenting ke atas. Setelah berputaran beberapa kali, Pendekar Rajawali Sakti mendarat. Kedua tangannya menyilang di depan dada, siap menahan gempuran berikut.

“He he he...! Kau mulai bersemangat. Inilah yang kuharapkan!” teriak Ki Jagat Awang kegirangan.

“Bukankah kau mengharapkan kepalaku, Ki? Kenapa tidak mengambilnya sejak tadi? Padahal aku telah memberikannya.”

“Jangan mengejek ku, Bocah. Aku hanya memberi kesempatan padamu untuk melakukan perlawanan. Dan setelah aku bosan, maka saat itulah kau mesti bersiap-siap.” Pendekar Rajawali Sakti tersenyum dingin.

“Huh! Kalau kau sudah bosan hidup, tentu saja dengan senang hati kucabut batok kepalamu!” dengus Ki Jagat Awang.

Laki-laki ini memandang Rangga dengan geraham berkerotokan. Sorot matanya tajam. Kedua tangannya terkepal, menyilang ke dada. Kedua kakinya mantap memapak tanah. Sesaat terdengar dengusan geramnya. Tubuhnya pun bergetar.

Rangga menyadari kalau Ki Jagat Awang akan mengerahkan salah satu kesaktian yang dimiliki. Dia tidak boleh gegabah dan harus siap menandinginya. Tapi sebelum keduanya kembali bentrok...

“Paman Jagat Awang...!” Mendadak terdengar seseorang berseru girang.

Ki Jagat Awang menoleh. Tampak seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun dan bertubuh gemuk menghampiri dengan wajah girang di atas punggung kudanya. Di belakang laki-laki gemuk itu terlihat dua penunggang kuda serta belasan prajurit berseragam kerajaan. Rangga tersenyum kecil, ketika mengenali kedua penunggang kuda itu.

“Rangga! Selamat bertemu kembali! Kukira kau telah pergi jauh!” sapa salah seorang penunggang kuda yang bertubuh agak tinggi. Di punggungnya tersandang sebilah pedang.

“Ki Pranajaya. Apa kabar? Baik-baik saja bukan? Juga kau, Ki Lola Abang!” sahut Rangga seraya melirik laki-laki setengah baya yang berkuda di samping laki-laki bertubuh tinggi yang dipanggil Ki Pranajaya.

(Untuk mengetahui nama Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang baca Dendam Berkubang Darah).

“Sahabatku, Rangga! Senang sekali bertemu kembali denganmu!” seru Ki Lola Abang dengan muka berseri-seri. Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang lantas menjura pada Ki Jagat Awang. Lalu perhatian mereka beralih pada Pendekar Rajawali Sakti. “Apa yang terjadi, Rangga?” tanya Ki Pranajaya setelah turun dari kuda, diikuti Ki Lola Abang.

Rangga menceritakan secara singkat peristiwa yang terjadi sehingga pertarungannya dengan laki-laki setengah baya bernama Ki Jagat Awang. “Begitulah, Ki. Aku telah meminta maaf, tapi dia agaknya tidak bisa terima....”

TIGA

“Paman Jagat Awang, Rangga bukan orang jahat. Dia malah pernah membantu kerajaan, meski tidak langsung. Oleh sebab itu, ku mohon lupakanlah persoalan tadi. Dan, maafkanlah dia...,” ujar laki-laki gemuk yang datang bersama Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang.

Memang, laki-laki gemuk itu merasa tak enak ketika Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang terdiam mendengar pengaduan Rangga. Apalagi kedua orang itu memandangnya penuh harap, untuk menyelesaikan persoalan. Sebab bagaimanapun, dia punya hubungan dekat dengan Ki Jagat Awang.

“Tidak bisa!” sentak Ki Jagat Awang. “Aku memberi pilihan padanya. Tapi, tidak satu pun yang diambil. Maka, aku terpaksa harus membunuhnya.”

“Tapi permintaan Paman tidak masuk akal....”

“Kau ingin mengatakan kalau aku tak waras, Kebo Bangah?” desis laki-laki itu dengan mata melotot lebar.

“Tentu saja tidak, Paman,” kilah laki-laki gemuk yang dipanggil Kebo Bangah.

“Jadi, kenapa kau katakan tindakanku tidak masuk di akal?!” tukas Ki Jagat Awang.<

“Paman, Rangga telah minta maaf. Mengapa Paman tidak memaafkannya?” desah Kebo Bangah.

“Benar, Ki Jagat Awang! Bukankah lebih mulia kalau Ki Jagat Awang memaafkannya?” timpal Ki Pranajaya.

“Dia harus memenggal kepala kuda brengsek itu, atau memotong lehernya sendiri!” geram Ki Jagat Awang.

“Paman, itu tidak mungkin!” sergah Kebo Bangah.

“Bagiku segalanya mungkin!” tegas Ki Jagat Awang.

Kebo Bangah menghela napas sesak. Tidak tahu lagi harus berkata apa untuk membujuk pamannya. Matanya memandang lesu pada Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang.

“Bagaimana ini, Kakang?” bisik Ki Lola Abang.

Ki Pranajaya terdiam barang sebentar, lalu tersenyum. “Persoalan ini mungkin pelik. Karena bila tidak bisa menyelesaikannya, maka lebih baik dibawa ke hadapan Gusti Prabu. Di sana, akan kita dapatkan keputusan yang lebih baik. Bagaimana? Setuju?” usul Ki Pranajaya.

“Hei? Apa urusannya persoalan ini dengan Gusti Prabu? Tidak! Bocah ini harus menerima ganjarannya sekarang juga!” tukas Ki Jagat Awang cepat.

Semua yang ada di sini memandang heran pada Ki Pranajaya. Seperti yang dikatakan lelaki itu, persoalan ini memang tidak ada urusannya dengan kerajaan. Juga, bukan hal penting. Sehingga Gusti Prabu tak harus menyelesaikannya. Tapi ketika Ki Pranajaya mengedipkan mata, maka yang lain mengerti kalau laki-laki itu tengah bersiasat.

“Benar, Paman!” timpal Kebo Bangah lebih dulu. “Di depan Gusti Prabu, segala persoalan akan diselesaikan seadil-adilnya. Sehingga, kedua belah pihak tidak merasa dirugikan.”

“Ya, aku mendukungnya! Lagi pula, bukankah selalu ditekankan kalau Gusti Prabu bersedia membantu segala permasalahan yang menimpa rakyat?” tambah Ki Lola Abang.

Wajah Ki Jagat Awang berkerut. Matanya merayapi mereka bertiga, lalu berpindah pada Rangga. Kemudian, berpaling pada Ki Pranajaya. “Baiklah. Kurasa usulmu baik juga...,” desah Ki Jagat Awang. “Kita berangkat sekarang juga!”

“Tidak bisa sekarang, Paman?” sergah Kebo Bangah.

“Kenapa?” tanya Ki Jagat Awang.

“Gusti Prabu tengah menitahkan kami untuk membereskan satu persoalan. Setelah ini, baru kita bisa ke istana. Tidak lama. Kuharap Paman bisa bersabar,” sahut Kebo Bangah, berkilah.

“Kurang ajar! Kau coba mengakaliku, Kebo Bangah?!” dengus Ki Jagat Awang geram.

“Bukan begitu, Paman....”

“Setan!” Ki Jagat Awang langsung mengulurkan kepalan kiri ke dada Kebo Bangah.

“Paman! Kau hendak membunuhku?!” desis Kebo Bangah kaget ketika melihat angin serangan Ki Jagat Awang yang kencang dan kuat. Secepatnya dia menggeser tubuhnya ke kanan.

“Kalau perlu!” dengus Ki Jagat Awang, seraya melanjutkan serangan ketika Kebo Bangah berhasil menghindar.

Melihat itu mau tak mau terpaksa Kebo Bangah terus menghindar, kalau tidak mau celaka. Kejadian itu sebenarnya di luar rencana Ki Pranajaya. Tapi intinya sama saja. Yakni, membuat Ki Jagat Awang lengah. Dan saat ini, orang tua itu lengah. Maka dia memberi isyarat agar Pendekar Rajawali Sakti cepat pergi sambil menempelkan telunjuknya ke kening.

“Tidak waras?”

“Ya! Pergilah cepat. Dia tidak akan membunuh keponakannya sendiri!” bisik Ki Pranajaya.

“Baiklah!” Rangga cepat berkelebat ke arah kudanya yang menyingkir tak jauh. Seketika, dia melompat ke punggung Dewa Bayu dan cepat menggebahnya. “Heaaa...!”

“Heh?!” Mendengar suara itu, Ki Jagat Awang tersentak. Cepat serangannya pada Kebo Bangah dihentikan. “Bocah setan! Kau kira bisa kabur, he?!” dengus laki-laki ini. Dengan serta-merta, Ki Jagat Awang melompat mengejar Pendekar Rajawali Sakti.

“Paman, jangaaan...!” seru Kebo Bangah.

Tapi mana mau Ki Jagat Awang peduli. Sebentar saja, bayangannya telah lenyap seperti ditelan bumi. Kebo Bangah hanya bisa menghela napas pendek sambil mengangkat bahu, memandang Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang.

“Mudah-mudahan dia tidak dapat mengejar pemuda itu...,” gumam Ki Lola Abang.

“Kalaupun dapat, kurasa Rangga punya akal untuk menghindarinya...,” sambung Ki Pranajaya.

“Kalau tidak, habislah riwayat pemuda itu!” keluh Kebo Bangah.

“Kau terlalu memandang rendah, Kebo Bangah,” gumam Ki Pranajaya.

“Kakang Pranajaya kenal baik dengannya?” tanya Kebo Bangah.

“Pernahkah kau mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti?” tukas Ki Pranajaya.

“Tentu saja! Siapa yang tidak kenal pendekar besar itu.”

“Nah, pemuda itulah orangnya.”

“Pemuda itu?!” Mata Kebo Bangah terbelalak seperti tak percaya. Tapi Ki Pranajaya bukan sejenis manusia yang suka mengobral cerita bohong, maka mana mungkin dia tak percaya.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Rangga bukan tidak menyadari kalau Ki Jagat Awang mengejarnya. Dia tahu, orang seperti dia berwatak aneh dan mau menang sendiri. Bahkan tidak akan menyerah begitu saja. Bisa saja Pendekar Rajawali Sakti menandingi, tapi dia tidak berminat untuk meladeninya.

“Hmm! Aku mesti mengecoh orang tua itu. Sebenarnya, bukan Dewa Bayu yang diinginkannya. Tapi, aku. Jadi kalau Dewa Bayu berlari sendiri, dia tentu akan kecewa...,” gumam Rangga.

Berpikir begitu Rangga langsung mengusap-usap leher kudanya. “Dewa Bayu, Sahabatku. Kita berpisah sebentar. Kau lari terus agar orang tua itu mengejarmu,” ujar Rangga. Setelah berkata begitu Pendekar Rajawali Sakti melompat dari punggung Dewa Bayu.

“Hup!” Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti hinggap di atas sebatang cabang pohon di atasnya. Lalu tubuhnya melenting, berpindah ke cabang pohon lain. Jalan yang ditempuhnya berputar, dan tetap mengawasi Dewa Bayu dari jarak jauh. Apa yang diduga Pendekar Rajawali Sakti ternyata benar. Ki Jagat Awang mengejarnya. Dan itu bisa dilihatnya dari kejauhan. Orang tua itu mengejar kudanya yang berlari ke timur.

“Orang tua brengsek! Gara-gara dia, aku jadi tak tahu harus ke mana mencari Pandan Wangi!” rutuk Pendekar Rajawali Sakti.

Setelah merasa yakin Ki Jagat Awang telah jauh, Rangga turun dari atas pohon dengan gerakan indah. Segera dia melanjutkan perjalanan. Pendekar Rajawali Sakti tidak mengambil arah ke timur, melainkan ke utara. Arah terakhir yang diketahuinya, sebelum Pandan Wangi menghilang.

Belum lama Pendekar Rajawali Sakti berjalan, dari kejauhan terlihat empat orang tengah menuju ke arahnya. Dua perempuan dan dua laki-laki. Rangga menajamkan pandangan. Dan ketika mengenali salah seorang dari wanita itu, Rangga berusaha menghindar dengan mengambil jalan lain.

“Berhenti...!”

Rangga menghentikan langkahnya, ketika terdengar bentakan keras. Tak lama, empat sosok tubuh telah menghampirinya. Rangga mendesah pendek, tegak berdiri mengawasi mereka.

“Ratmi..., ada apa ini? Siapa orang-orang ini?” tanya Pendekar Rajawali Sakti pada gadis yang tadi menyuruhnya berhenti.

“Aku tidak kenal siapa yang kau panggil Ratmi!” dengus gadis berbaju merah yang dipanggil Ratmi.

“Kenapa kau ini? Tentu saja kau Ratmi. Mana mungkin aku salah mengenali orang,” tukas Rangga.

“Sudah kukatakan, aku tidak kenal nama yang kau sebutkan itu!” dengus gadis itu dengan wajah garang.

“Baiklah, aku minta maaf. Mungkin kau memang bukan Ratmi yang kukenal. Wajahmu mirip sekali dengannya. Nah! Apa maksud kalian mencegah perjalananku?” tanya Rangga.

“Tingkahmu mencurigakan, Kisanak! Kenapa tiba-tiba saja kau menghindar dari kami? Kau mata-mata kerajaan?” tuding wanita yang berbaju serba hitam.

“Nisanak, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak menghindar dari kalian. Kenapa menuduh begitu?” kilah Rangga.

“Jangan berpura-pura!” dengus gadis yang dipanggil Ratmi.

“Aku sama sekali tidak kenal kalian. Maka kenapa mesti menghindar? Tujuanku memang ke arah ini,” tangkis Rangga.

“Dusta! Aku sama sekali tak percaya!” tukas Ratmi, yang merasa dikenali Rangga.

“Dengar, Nisanak! Aku tidak kenal dan tidak ada urusan dengan kalian. Oleh sebab itu, tidak ada gunanya bagiku mencampuri urusan kalian! Tidak perlu mencurigaiku atau menuduhku macam-macam. Silakan lanjutkan perjalanan. Dan aku pun akan melanjutkan perjalananku!” tegas Pendekar Rajawali Sakti.

“Adik Ratmi.... Kau yakin pemuda ini memata-matai kita?” tanya seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, sambil mendekat. Suaranya halus, berbisik.

“Tentu saja! Aku pernah melihatnya. Dia orang culas. Lebih baik beri pelajaran dulu padanya supaya kapok!” dengus Ratmi.

“Kalau demikian, serahkan saja padaku!”

“Sutan Pamenan! Apa yang hendak kau lakukan?” tanya seorang laki-laki tua yang sejak tadi diam, namun tetap mengawasi Rangga.

“Tidak apa-apa, Datuk Pamuncak! Aku sekadar hendak memberi pelajaran pada anak ini, supaya tidak macam-macam pada kita,” sahut laki-laki berusia tiga puluh tahun yang dipanggil Sutan Pamenan.

“Aku tidak melihat kalau dia macam-macam. Karena itu, jangan sembarangan menurunkan tangan keras!” ujar laki-laki tua bernama Datuk Pamuncak.

“Tak apa, Datuk. Sekali-sekali untuk melemaskan otot-ototku yang kaku!” Sutan Pamenan tersenyum-senyum. “Kurasa Tuan ku Upik tidak keberatan... Sutan Pamenan lantas melirik pada wanita berbaju serba hitam yang memakai ikat kepala tinggi. Wanita itu tidak memberi tanggapan apa-apa, sehingga membuat Sutan Pamenan merasa perbuatannya direstui. “Hei, Pemuda Tolol! Mengaku saja kalau kau mata-mata!” bentak Sutan Pamenan, sambil berkacak pinggang.

“Kisanak.... Alangkah lebih baik bila kau jaga lidahmu untuk tidak sembarangan bicara!” ujar Rangga, nada datar.

“Kurang ajar! Kau coba mengguruiku? Huh! Rasakan ini!”

Sutan Pamenan langsung ayunkan kaki kanan. Tapi, Rangga telah melompat mundur. Sementara Sutan Pamenan terus mengejar dengan tendangan kaki kiri.

“Hup !” Dengan gerakan ringan sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas, membuat tendangan Sutan Pamenan hanya menyambar angin.

“Pintar juga kau mengelak!” ejek Sutan Pamenan. Seketika laki-laki ini berbalik, dan meluruk deras. Tepat ketika Rangga mendarat, dikirimnya serangan selanjutnya lewat kepalan kanan yang menyodok ke dada.

“Haiiit!" Pendekar Rajawali Sakti menangkis dengan lincah.

Plak!

Sutan Pamenan jadi penasaran. Langsung dikirimnya tendangan lagi. Tapi Rangga telah melenting ke belakang dengan gerakan indah. Kini, dia berdiri tegak memandang Sutan Pamenan dengan muka masam.

“Kisanak, jangan memaksaku! Setiap orang punya kesabaran. Jadi jangan tunggu sampai kesabaranku habis...!” bentak Pendekar Rajawali Sakti, keras menggelegar.

“Kau mengancamku? Ayo, perlihatkan kepandaianmu!” dengus Sutan Pamenan.

“Kau terlalu memaksa!” Rangga seketika membuat kuda-kuda kokoh. Matanya nyalang mengawasi setiap gerakan sekecil apa pun yang dilakukan Sutan Pamenan.

Demikian pula halnya Sutan Pamenan. Hatinya geram bukan main. Niatnya untuk menjatuhkan pemuda itu sesingkat mungkin tidak tercapai! Bukan saja dia malu pada diri sendiri, tapi juga pada ketiga kawan seperjalanannya. Maka kali ini, dia bertekad menghajar pemuda itu habis-habisan.

“Yeaaa...!”

Sementara Rangga tiba-tiba berkelebat disertai bentakan keras. Kepalan tangan kanannya lurus menghantam ke dada. Dan Sutan Pamenan agaknya telah siap menangkis. Tapi dua jengkal lagi serangan itu tertangkis, Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas dengan berputar. Dalam keadaan begini Pendekar Rajawali Sakti langsung menggunakan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’ yang dipadu jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Maka ketika mencelat kepalan tangannya yang membentuk paruh langsung dikibaskan.

Wut!

Meski terkejut melihat Rangga mampu bergerak secepat itu, tapi Sutan Pamenan masih mampu menangkis.

Plak!

Tiba-tiba laki-laki itu melompat ke samping ketika kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti bergerak silih berganti melakukan tendangan beruntun. Tapi gerakannya terlambat karena....

Des!

“Hugkh!” Sutan Pamenan kontan terhuyung-huyung ke belakang sambil mengeluh tertahan. Sebelah tangannya mendekap dada, merasakan tendangan Pendekar Rajawali Sakti yang keras bukan main.

“Maaf, Kisanak. Aku tidak bermaksud melukaimu. Tapi, kau kelewat memaksa,” ucap Pendekar Rajawali Sakti, begitu mendarat.

“Huh! Aku belum kalah!” dengus Sutan Pamenan. Laki-laki ini menggeram dan kembali membuka jurus. Sikapnya siap menyerang Rangga untuk melampiaskan kemarahan.

“Cukup, Sutan!” bentak laki-laki tua bernama Datuk Pamuncak sejak tadi lebih banyak berdiam diri.

“Tidak, Datuk! Ini harus diselesaikan atau dia menyerahkan diri pada kita,” sergah Sutan Pamenan.

“Ini perintah, Sutan! Tidak perlu mencari gara-gara dengan orang yang tidak bersangkut-paut dengan urusan kita!” bentak Datuk Pamuncak.

“Tapi dia mata-mata, Datuk!

“Kau tidak tahu!”

“Ratmi mengatakannya!”

“Hmm!” Datuk Pamuncak itu menggumam. Matanya tajam memandang pada Ratmi.

Sementara, gadis itu coba menentang tatapannya. Tapi laksana sebilah pisau tajam, pandangan itu menusuk sampai ke jantung. Membuatnya sakit dan tak berdaya. Gadis itu jadi menunduk.

“Benarkah pemuda ini seorang mata-mata?” tanya Datuk Pamuncak dengan nada datar. Ratmi tak menjawab. “Aku merasa ada yang kau sembunyikan. Semacam dendam pada pemuda ini. Kemudian, kau menuduhnya mata-mata. Bahkan memperalat kami untuk kesenanganmu!” tuding Datuk Pamuncak tajam.

“Paman Datuk Pamuncak! Biarlah awa bicara padanya...,” ujar Upik Sibirantulang.

Suara gadis ini halus dan tutur katanya lembut. Tanpa meminta persetujuan Sang Datuk, dihampirinya Ratmi. “Ratmi. Benarkah tuduhan Datuk tadi? Pemuda ini bukan mata-mata, tapi kau mengenalnya serta punya dendam padanya. Itulah sebabnya, kau katakan pada kami kalau pemuda ini mata-mata?” tanya gadis itu, lembut.

Ratmi tak langsung menjawab, diam seribu bahasa. Kepalanya pun tertunduk dalam-dalam.

“Katakanlah, Ratmi. Aku tidak marah meskipun kau membohongi kami...."

Ratmi mendongak. Dipandanginya Upik Sibirantulang sekejap, lalu berganti kepada Rangga. Tiba-tiba saja, Ratmi kabur dari tempat itu secepatnya. Terdengar isak tangisnya yang membuat Rangga terkejut.

“Ratmi!” Pendekar Rajawali Sakti bermaksud mengejar. Tapi, agaknya Sutan Pamenan telah lebih dulu bertindak. Pemuda itu angkat bahu, dan tak mau ikut-ikutan.

“Kisanak, Nisanak.... Aku tidak punya urusan dengan kalian. Oleh sebab itu, aku mohon diri,” ucap Rangga.

“Sebentar!” tahan Datuk Pamuncak.

“Hmm.”

“Ilmu silatmu tidak rendah, Anak Muda. Bolehkah aku tahu apa gelarmu?”

“Namaku Rangga. Dan mereka memanggilku Pendekar Rajawali Sakti...,” sahut Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm! Akan kuingat itu. Aku Datuk Pamuncak. Dan ini..., Upik Sibirantulang.”

“Kelihatannya kalian bukan penduduk negeri ini?” duga Rangga dengan dahi berkerut.

“Benar! Kami datang dari seberang....”

“Hmm! Jauh sekali. Adakah yang bisa kubantu untuk kalian?”

“Tidak. Terima kasih. Kami sekadar berkelana untuk melihat-lihat negeri-negeri di tanah Jawa ini.”

“Kalau begitu selamat bersenang-senang! Permisi.... Aku tidak bisa berlama-lama di sini!” Rangga menghaturkan hormat, kemudian bergegas meninggalkan mereka.

EMPAT

“Ada apa, Paman Datuk?” tanya Upik Sibirantulang ketika melihat Datuk Pamuncak masih memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti sampai hilang dari pandangan.

“Pemuda itu hebat...,” desah Datuk Pamuncak.

“Dia tak ada hubungannya dengan kita....”

“Benar. Tapi, di pihak manakah dia berdiri?”

“Kenapa Paman mengkhawatirkannya?” tanya Upik Sibirantulang.

“Pekerjaan kita ini tidak mudah, Tuan ku. Rasanya akan mendatangkan rintangan yang cukup sulit.”

“Kita meminta hak kita, Paman. Bukan meminta barang orang lain secara paksa!” tandas gadis berbaju serba hitam ini.

“Benar. Tapi sayangnya, orang akan lupa barang siapa yang diperolehnya. Sehingga dia merasa seperti barang sendiri. Lalu, dia akan mempertaruhkan segalanya demi barang itu.”

“Mudah-mudahan firasat Paman tidak benar.”

“Ya. Aku juga berharap begitu....”

Tak berapa lama, Sutan Pamenan kembali bersama Ratmi. Gadis itu melangkah pelan, dengan kepala tertunduk.

“Kau tidak apa-apa, Ratmi?” tanya Datuk Pamuncak.

Gadis berbaju merah ini menggeleng pelan.

“Kalau begitu kita bisa lanjutkan perjalanan, bukan?”

Gadis itu mengangguk.

“Kau benar-benar tidak kenal padanya? Pemuda itu menitip salam...,” pancing Upik Sibirantulang, seraya tersenyum.

Ratmi tersenyum getir.

“Sebenarnya kau tak menginginkan dia celaka atau terluka. Lalu, kenapa kau mengatakannya mata-mata?”

“Maaf, Tuan ku. Mungkin Ratmi tidak suka membicarakan pemuda itu...,” serobot Sutan Pamenan, sebelum Ratmi menyahut.

“Hm.... Rupanya kau tahu banyak soal perasaan perempuan, Sutan,” kata Upik Sibirantulang.

Maksud kata-kata Upik Sibirantulang sebenarnya menyindir Sutan Pamenan. Laki-laki itu memang pantang melihat perempuan cantik dan selalu saja menginginkannya. Sedangkan Upik Sibirantulang tahu, apa yang dirasakan Ratmi. Sebuah perasaan yang juga dimiliki kaum wanita. Tentang kebencian yang tidak sesungguhnya kepada laki-laki yang..., disukai!

Dan dugaan Upik Sibirantulang seperti itu. Ratmi memang menyukai Rangga. Tapi, ada sesuatu yang menyebabkan gadis ini mencintainya. Entah apa. Yang jelas, kebencian itu tentu saja beda dengan dendam kesumat. Sementara Sutan Pamenan tersenyum-senyum mendengar kata-kata Upik Sibirantulang yang menurutnya sebuah pujian itu.

“Sudahlah. Mari kita lanjutkan perjalanan...!” ajak Upik Sibirantulang.

Baru saja mereka berjalan kurang dari dua puluh langkah, tak lama berpapasan dengan tiga penunggang kuda yang diikuti belasan prajurit berseragam.

“Ratmi...!” panggil salah seorang penunggang kuda. Orang yang memanggil berusia sekitar empat puluh tahun lebih. Di punggungnya tersandang sebilah pedang.

Melihat orang tua itu Ratmi tertunduk, tidak menjawab apa-apa. Laki-laki setengah baya ini turun dari punggung kuda, lalu menghampiri Ratmi.

“Kau tak apa-apa...?” tanya laki-laki ini.

“Kenapa mesti peduli?” tukas Ratmi.

“Jangan begitu, Ratmi. Bagaimanapun kau adalah anakku...,” ujar laki-laki yang tak lain Ki Pranajaya.

“Tapi aku tak merasa sebagai anakmu!” sergah Ratmi.

“Kau masih marah?” tanya Ki Pranajaya.

Ratmi diam tak menjawab. Ki Pranajaya memandang wanita di dekat Ratmi, kemudian dua laki-laki yang menyertainya.

“Kisanak, maaf. Aku telah mengganggu perjalanan kalian. Aku Pranajaya, orangtua Ratmi!” ucap laki-laki ini seraya memberi salam hormat.

“Kami kawan Ratmi...!” sahut Datuk Pamuncak mewakili yang lain.

Meski Ki Pranajaya memperkenalkan diri, tapi orang tua itu seperti enggan menyebutkan gelar. “Ratmi.... Kau tidak ingin memperkenalkan kawan-kawanmu?” sindir Ki Pranajaya.

Agaknya, laki-laki ini sedikit curiga melihat penampilan ketiga orang itu. Cara mereka berpakaian tidak seperti kebanyakan orang-orang di tanah Jawa ini.

Ratmi tidak langsung menjawab. Kepalanya menoleh pada Upik Sibirantulang. “Mereka sebagian orang-orang kerajaan. Kalian bisa mengutarakan maksud pada mereka...,” jelas Ratmi.

“Hmm....” Upik Sibirantulang bergumam tak jelas, lalu memperhatikan Ki Pranajaya sesaat. “Aku Upik Sibirantulang. Dan dua orang ini adalah penasihatku. Yang ini, Datuk Pamuncak. Dan ini Sutan Pamenan,” jelas Upik Sibirantulang.

“Menilik nama dan cara berpakaian, tentulah kalian bukan orang sini...,” duga Ki Pranajaya.

“Benar. Kami datang dari tanah Andalas atau Pulau Swarnadwipa. Dan kami hendak bertemu Penguasa Kerajaan Swarna Pura.”

“Sungguh kebetulan, Upik Sibirantulang! Kedatangan kami sebenarnya hendak menyelidiki kehadiran sebuah perahu asing yang merapat di wilayah kerajaan ini. Tapi kalian telah memperkenalkan diri serta mengutarakan maksud. Maka, tidak bisa lain kami mesti mengantarkan kalian pada Gusti Prabu,” kata Ki Pranajaya.

“Terima kasih, Ki Pranajaya. Kalau tidak ada urusan lain, bisakah kita berangkat sekarang?”

“Tentu saja! Tapi.... Hm.... Mungkin kalian letih berjalan kaki. Nanti di desa terdekat kita akan membeli beberapa ekor kuda terlebih dulu.”

“Kami sengaja tidak berkuda untuk tidak menarik perhatian orang-orang.”

“O, begitu! Pasti ada urusan yang amat penting, sehingga tidak ingin diketahui banyak orang?”

“Begitulah...,” sahut Upik Sibirantulang, pendek seperti tidak ingin banyak bicara.

Dan Ki Pranajaya pun tahu diri untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Maka tanpa banyak bicara lagi, mereka segera meninggalkan tempat ini.

********************

“Hormati kami Tuan ku Prabu Arya Dwipa! Hamba, Upik Sibirantulang, putri Ratu Mudo dari Nagari Nan Ampek di Andalas. Kedua orang yang bersama hamba adalah pembantu dekat hamba!” ucap Upik Sibirantulang, begitu menghadap Gusti Prabu Arya Dwipa dengan sikap menghormat.

Gadis berbaju hitam ini selain ditemani Datuk Pamuncak dan Sutan Pamenan, juga ditemani Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang.

“Kuterima hormat kalian! Bagaimana kabarnya Ratu Mudo saat ini? Mudah-mudahan selalu sehat dan panjang umur. Telah lama sekali aku tidak bertemu beliau sejak mengadakan lawatan ke tanah Andalas,” sambut Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Beliau ada dan sehat-sehat saja. Terima kasih atas doa Tuan ku Prabu. Ada sedikit hadiah yang diamanatkan untuk Tuan ku dari Ibu hamba.”

Upik Sibirantulang memberi isyarat dengan anggukkan kepala pada laki-laki tua bersamanya. Dan Datuk Pamuncak langsung ke depan. Sejenak dia menghaturkan hormat, lalu mengangsurkan sebuah kotak kayu kecil yang berukir indah ke hadapan Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Tuanku Prabu, terimalah persembahan dari Ratu Mudo Nagari Nan Ampek!” kata Datuk Pamuncak.

“Hmm! Ini hadiah yang tiada ternilai harganya. Terima kasih atas perhatian Ratu kalian padaku,” ucap Gusti Prabu Arya Dwipa. Gusti Prabu ingin mengambil sendiri kotak yang diberikan itu. Tapi sebelum hal itu dilakukannya....

“Tuanku Prabu, kenapa mesti repot-repot? Tuan ku bisa memerintahkan punggawa kerajaan untuk menerima kotak ini!” cegah Datuk Pamuncak.

“Itu tidak perlu! Aku ingin menerima hadiah dari Ratu kalian dengan tanganku sendiri,” sergah Gusti Prabu.

“Kalau begitu, tidakkah Tuan ku ingin melihat lebih dulu isi kotak ini?”

“Kalau saja kalian tidak keberatan, tentu saja aku akan senang.”

“Mana mungkin kami keberatan, Tuan ku!”

“Kalau begitu, biarlah kubuka sendiri.”

“Tidakkah sebaiknya Tuan ku menyuruh salah seorang punggawa untuk membukanya? Kotak ini dibuat oleh salah seorang ahli dari negeri kami. Beliau amat trampil. Dan barang buatannya sangat kuat, meski bentuknya kecil.”

Mendengar itu Gusti Prabu Arya Dwipa mulai mengerti maksud kata-kata Datuk Pamuncak. Maka disuruhnya salah seorang punggawa kerajaan untuk membuka kotak hadiah itu.

“Biar hamba yang membukanya, Gusti!” kata seorang laki-laki berusia kurang dari lima puluh tahun.

“Hm.... Kau, Sedopati? Baiklah. Silakan buka kotak itu...,” ujar Gusti Prabu Arya Dwipa.

Orang yang dipanggil Sedopati berpakaian hijau. Rambutnya panjang terurai. Tubuhnya besar dengan kedua tangan kokoh. Langkahnya lebar dan panjang. Setelah menjura hormat, dia langsung berdiri di hadapan Datuk Pamuncak.

“Datuk! Perkenankan aku membuka isi kotak kayu ini!” pinta Ki Sedopati.

“Silakan, Kisanak!”

“Heup!”

Krap!

Dengan satu tangan, Ki Sedopati menyambar tutup kotak. Dia bermaksud merampasnya dari tangan Datuk Pamuncak.

“Hmm!”

Tapi, kotak itu tidak bergeser dari tempatnya. Dasarnya tetap melekat di telapak tangan Datuk Pamuncak seperti tertanam kuat. Ki Sedopati berusaha membuka penutupnya, tapi kotak itu seperti sebuah batu yang melekat jadi satu. Meski tenaganya ditambah tetap saja kotak itu tak berhasil dibuka. Apalagi diangkat dari tempatnya.

“Hiih!” Ki Sedopati mengerahkan seluruh tenaga untuk merampas kotak, tapi tidak juga berhasil. Sementara, keringatnya sudah mulai mengucur dengan wajah berkerut. Tapi, kotak itu tidak juga berhasil dirampasnya. Selintas terpikir olehnya untuk meremukkan kotak itu saja. Tapi, hal itu tentunya tidak pantas dalam kesempatan seperti sekarang.

“Yeaaa...!” Ki Sedopati melakukan cara lain. Kaki kirinya segera diayunkan ke dada Datuk Pamuncak. Tapi orang tua itu cuma sedikit bergeser ke kiri. Sehingga, tendangan itu luput dari sasaran. Ki Sedopati semakin penasaran. Segera tendangan kaki kanannya menderu.

“Hiih!”

Tapi Datuk Pamuncak cepat mengangkat kaki kiri untuk menangkis.

Plak!

Lalu tiba-tiba orang tua ini menyodok perut Ki Sedopati dengan keras.

Duk!

“Aaakh...!” Tanpa bisa dihindarkan, Ki Sedopati terjungkal ke belakang menghantam beberapa buah kursi di dekat Gusti Prabu.

“Maaf, Tuan ku. Hamba tidak bermaksud membuat keonaran!” ucap Datuk Pamuncak. “Hamba adalah penjaga kotak ini. Maka, hamba tidak memperkenankan orang lain mengambilnya. Kecuali, dia yang berhak.”

“Lalu mengapa kau menyuruh punggawaku untuk mengambilnya?” tukas Prabu Arya Dwipa dengan dahi berkerut.

“Itu sebuah pesan dari Ratu kami, Tuan ku. Barang ini amat berharga. Oleh karena itu, hanya yang berhak yang boleh menerimanya. Begitu pula tujuan kami datang ke sini.”

Gusti Prabu Arya Dwipa mengangguk kecil. “Katakanlah.... Apa tujuan kalian datang ke sini?”

“Sebelum kami mengutarakannya, maka terimalah kotak ini, Tuan ku. Dan, lihatlah isinya!”

Prabu Arya Dwipa tidak langsung menerimanya. Dia berpikir sebentar. Kalau saja nasibnya seperti Ki Sedopati, maka tak baik dilihat yang lain. Dia seperti orang bodoh di hadapan para punggawanya. Tapi, hadiah ini untuknya. Dia berhak menerimanya. Dan seperti kata Datuk Pamuncak, hanya orang yang berhak menerima kotak ini yang membukanya. Maka, dia tidak akan mendapat kesulitan.

“Bukalah Tuan ku. Tak perlu ragu...!” lanjut Datuk Pamuncak memberi semangat.

Perlahan tangan Prabu Arya Dwipa terjulur meraih kotak, dan membuka isinya tanpa rintangan apa pun. “Hm.... Sebuah benda yang bagus sekali!” puji Prabu Arya Dwipa seraya memperlihatkan isi kotak ini kepada semua orang yang hadir di balairung.

Sebuah patung manusia setinggi setengah jengkal terbuat dari emas berada di tangan Gusti Prabu Arya Dwipa. Kedua kaki patung berbentuk akar tunjang. Sedang kedua telapak tangan berbentuk daun. Sementara rambutnya berbentuk awan berarak.

“Patung itu kami namakan Datuk Nan Tongga. Di negeri kami, ini adalah lambang penguasa alam semesta tempat kami bergantung. Jadi tidak sekadar dihormati tapi amat keramat. Maka bila benda itu hilang, seluruh rakyat akan cemas. Akan timbul kekacauan!”

“Bila benda ini amat berharga, lalu mengapa diberikan padaku?” tanya Gusti Prabu Arya Dwipa, heran.

“Benda itu tiruan, Tuan ku! Sedangkan yang aslinya hilang dicuri orang,” jelas Datuk Pamuncak.

“Hei? Kenapa bisa begitu?!” seru Prabu Arya Dwipa. “Bukankah mestinya benda keramat dijaga dengan ketat?”

“Di tempat kami, benda itu tak perlu dijaga, Tuan ku. Karena, tidak akan ada rakyat yang berani mengambilnya. Mereka semua memujanya. Mengambilnya adalah dosa yang amat besar. Lagi pula. mereka takut kena kutuk. Sebab telah keluar kutukan dari pertama kali benda itu diciptakan, yaitu barang siapa mencurinya maka akan menemui ajal!” jelas Datuk Pamuncak lagi.

“Begitukah?!” tanya Prabu Arya Dwipa dengan wajah sungguh-sungguh. “Apa yang bisa kami bantu untuk kalian, Datuk?”

“Kami meminta kerelaan Tuan ku Prabu Arya Dwipa untuk mengizinkan memeriksa para punggawa kerajaan ini...,” kata Datuk Pamuncak tenang.

“Hei, apa maksudmu?!” seru Prabu Arya Dwipa dengan wajah kaget.

“Datuk! Apakah kau kira kami mencuri barang milik kalian itu?!” timpal Kebo Bangah menukas. Dia kaget betul atas permintaan Datuk Pamuncak.

“Gusti Prabu! Hal ini tidak bisa dibenarkan!” timpal Ki Sedopati, sinis. “Kalau orang ini dibiarkan memeriksa, maka sama artinya menuduh kita sebagai pencuri! Dan itu suatu penghinaan!”

Semua orang di dalam balairung ini mengangguk-angguk menyetujui pendapat itu. Rata-rata, mereka seperti terhina dan ditampar oleh Datuk Pamuncak.

Melihat keadaan ini Datuk Pamuncak tenang-tenang saja seperti tak ada kejadian apa-apa. “Tuanku, Prabu Arya Dwipa. Sekali lagi, maafkan kelancangan hamba. Datuk Nan Tongga adalah jiwa kami. Dia dekat dengan kami. Maka siapa pun yang mengambilnya, kami akan mengetahuinya meski dibawa sejauh jutaan tombak jaraknya!”

“Datuk Pamuncak! Dari mana kau yakin kalau Datuk Nan Tongga ada di sini?” tanya Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Ada dua hal, Tuan ku! Yang pertama, ketika Lawatan Pamalayu tempo hari. Saat Tuan ku dan para pembantu dekat berkunjung ke negeri kami. Lalu sepulang rombongan, Datuk Nan Tongga telah lenyap dari tempatnya. Yang kedua, hamba adalah pelayan Datuk Nan Tongga. Maka hamba tahu, ke mana patung itu pergi,” jelas Datuk Pamuncak, panjang lebar.

“Lalu kau mengetahui kalau Datuk Nan Tongga ada di sini?”

“Benar, Tuan ku!”

Prabu Arya Dwipa tercenung beberapa saat. Sementara itu, beberapa orang mulai berbisik-bisik tak senang melihat tujuan ketiga tamu dari tanah seberang itu.

“Kami menunggu keputusan Tuan ku!” kata Datuk Pamuncak.

“Gusti Prabu! Kami tidak rela dituduh pencuri!” sentak Kebo Bangah, lantang.

“Benar, Gusti Prabu! Kita bukan bangsa pencuri. Jangan izinkan mereka memeriksa kita!” timpal Ki Sedopati.

“Kurasa hal itu tidak bisa dibenarkan, Gusti Prabu,” lanjut Ki Lola Abang yang dikenal berjuluk si Tombak Maut.

Berbeda dengan kedua orang sebelumnya, suara si Tombak Maut tidak lantang namun datar. Tapi tetap saja menyiratkan perasaan tak suka atas permintaan Datuk Pamuncak.

“Tuanku Prabu Arya Dwipa! Segala keputusan ada di tangan Tuan ku. Silakan memutuskan!” tegas Datuk Pamuncak.

“Datuk Pamuncak! Persoalan ini tidak mudah. Aku tahu kesulitan kalian. Tapi kami pun mengalami kesulitan, jika mengabulkannya begitu saja. Oleh sebab itu, biarlah kupertimbangkan dalam beberapa hari ini. Mudah-mudahan kalian bisa mengerti. Untuk amannya, maka kalian boleh menginap di istana,” ujar Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Kalau itu sudah keputusan Tuan ku, maka kami tak bisa menolak. Tapi, harap Tuan ku pertimbangkan bahwa kami akan melakukan apa saja asal Datuk Nan Tongga kembali!” tandas Datuk Pamuncak.

“Tidak perlu berkata begitu, Datuk!” dengus Ki Sedopati. “Kami tahu, apa yang mesti kami kerjakan.”

“Yang jelas kami bukan bangsa pencuri!” timpal Kebo Bangah.

“Aku harap begitu, Tuan-tuan! Maka berdoalah, mudah-mudahan aku salah menuduh!” sahut Datuk Pamuncak, tenang.

Prabu Arya Dwipa lantas memerintahkan beberapa orang punggawa untuk mengantarkan ketiga tamunya ke penginapan yang disediakan.

********************

LIMA

Malam telah semakin larut. Namun di sekitar Istana Kerajaan Swarna Pura masih terlihat ramai. Beberapa orang berjaga-jaga. Sedang lainnya bercakap-cakap di satu tempat. Di beranda samping istana kerajaan, terdapat beberapa buah kamar yang biasa dipergunakan bagi tamu-tamu kerajaan. Kini, tiga buah kamar terisi tiga orang tamu dari tanah Andalas.

Penerangan di tiga kamar itu telah padam. Mungkin semua penghuninya terlelap. Namun, ternyata kamar yang paling kanan masih terlihat kegiatan meski tak banyak. Penghuninya, Datuk Pamuncak. Orang tua itu duduk bersila di lantai. Kedua matanya tertutup, namun telinganya dibuka lebar-lebar. Entah berapa lama dia melakukan semadi. Namun, agaknya hal itu akan terus dilakukan sampai pagi.

Datuk Pamuncak bukan saja sebagai pembantu Upik Sibirantulang, tapi juga pengawal pribadinya. Dan Ratu Mudo Nagari Nan Ampek, orang tua Upik Sibirantulang menitipkan keselamatan putrinya pada orang tua itu. Maka tidak heran kalau dia terus menjaganya. Baik siang maupun malam, serta meski terlelap atau terjaga.

“Hmm...,” gumam orang tua itu, pelan.

Wuuuttt...!

Tiba-tiba tangan kiri Datuk Pamuncak bergerak bagai seekor ular menyengat.

Tap!

Tahu-tahu sebilah pisau kecil melekat erat di antara jari telunjuk dan tengah orang tua ini.

“Keluarlah! Kau inginkan patung mu, bukan? Ambil dari tanganku!” Mendadak terdengar sebuah suara halus bagai lebah berdengung menyambar telinga Datuk Pamuncak.

“Hup!”

Dengan satu gerakan indah, Datuk Pamuncak berkelebat cepat bagai kilat, melompati jendela yang bagai membuka sendiri, sebelum dilewati. Sebuah pertunjukan tenaga dalam yang luar biasa.

Begitu mendarat, Datuk Pamuncak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seketika, dia melihat sesosok bayangan mencelat menjauh. Saat itu juga Datuk Pamuncak berkelebat mengejar secepat kilat.

Kejar-mengejar di antara mereka berlangsung singkat. Gerakan orang tua dari negeri Andalas itu tiba-tiba meliuk-liuk bagai sambaran angin topan. Dan tahu-tahu telah berdiri menghadang sosok tubuh dengan kedua tangan bersedekap di dada.

“Hei...?!”Sosok yang dikejar terpaksa menghentikan lari dengan seruan kaget memandang Datuk Pamuncak.

“Hmm...! Apa maksudmu mengaku sebagai pencuri patung? Kau belum pernah datang ke Andalas!"

Suara yang keluar dari kerongkongan Datuk Pamuncak seperti berputar-putar di dalam rongga mulut. Tak terlihat ada gerakan di bibirnya sedikit pun.

“Ternyata kau hebat juga, he?!” dengus sosok yang dihadang. Dia adalah seorang laki-laki setengah baya bertubuh agak kurus terbungkus pakaian merah. Wajahnya dipenuhi brewok.

“Terima kasih atas pujian mu, Kisanak. Dan kehadiranku ke sini bukan sekadar menerima pujian, tapi menanyakan patung yang tadi kau bicarakan!” sahut Datuk Pamuncak.

“Patung apa?” tanya laki-laki brewok ini.

“Datuk Nan Tongga....”

“Ha ha ha...! Aku ke sini untuk membuat contoh patung dirimu, sebagai kenang-kenangan setelah kematianmu sebentar lagi!”

“Hmm!”

“Kau akan mati, hei orang asing! Sebelum mati, biar kuingat-ingat bentuk wajahmu agar bisa dibuat patung untuk dipulangkan ke negerimu!” dengus laki-laki setengah baya ini dengan suara serak tak enak didengar.

Tiba-tiba saja laki-laki setengah baya ini memandang Datuk Pamuncak sambil menggeram. Kedua tangannya terangkat. Dan....

Slap!

Tubuh laki-laki berbaju serba merah ini bergerak cepat menyerang Datuk Pamuncak. Dengan gerakan cepat Datuk Pamuncak mengibaskan sebelah tangannya sambil berkelit ke samping.

Plak!

Benturan antara kedua tangan terjadi. Suaranya seperti dua batang kayu keras yang saling beradu. Selanjutnya terlihat keduanya bergerak gesit, saling serang. Sosok berpakaian serba merah ini kelihatan begitu bersemangat untuk menghabisi nyawa Datuk Pamuncak.

Serangannya terasa berat, penuh tenaga dalam kuat. Beberapa batang kayu yang terkena pukulannya hancur berantakan. Begitu juga batu-batu yang terkena pukulan nyasar. Tapi sejauh lima jurus berlalu, Datuk Pamuncak belum kelihatan ingin membalas.

“Cukup, Kisanak! Kini rasakan balasanku!” dengus Datuk Pamuncak seraya menangkap telapak tangan kiri orang itu yang coba menggedor dadanya.

Paaar!

Terdengar suara benturan keras ketika telapak tangan mereka saling beradu.

“Hup!” Sosok berbaju merah melompat ke belakang. Sementara Datuk Pamuncak terus mengejar. Namun Datuk Pamuncak harus membatalkan serangannya ketika....

Siut! Siut!

“Hmm!”

Mendadak, dari arah depan beberapa batang anak panah melesat ke arah Datuk Pamuncak. Orang tua ini mendengus geram sambil mengibaskan sebelah tangan.

Wuusss...!

Tak! Tak!

Belasan batang anak panah yang datang dari arah depan itu kontan rontok terhempas badai topan ciptaan Datuk Pamuncak.

“Yeaaa...!” Pada saat yang sama, orang berbaju merah tadi telah kembali menyerang dari samping. Secepat kilat, Datuk Pamuncak berbalik dan menangkis.

Plak!

Set! Set!

Baru saja tubuh satu sama lain terjajar, meluncur puluhan anak panah dari segala penjuru. Kini Datuk Pamuncak mendapat gempuran puluhan batang anak panah. Belum lagi, dia harus memusatkan perhatian terhadap serangan gencar sosok berbaju merah yang berniat melenyapkannya secepat mungkin.

“Huh! Kedot juga rupanya kau! Tapi jangan kira aku tak bisa membunuhmu!” dengus sosok itu. Setelah berkata demikian, orang berbaju merah itu mencelat ke belakang sambil merangkapkan kedua tangan.

“Hiyaaa...!” Dengan satu bentakan keras orang ini kembali melompat menyerang Datuk Pamuncak. Maka secepat kilat, laki-laki tua ini menggeser kakinya ke samping seraya menangkis.

Plak!

“Heh?!” Datuk Pamuncak terkejut. Baru saja menepis kepalan tangan sosok itu, terjadi keanehan. Lawannya kini berubah menjadi dua yang serupa baik wajah maupun pakaian. Matanya langsung diusap-usap beberapa kali seperti hendak meyakinkan pandangan.

“Hiyaaa...!” Dua orang yang sama persis ini menyerang bersamaan. Dan dengan gesit, Datuk Pamuncak menangkis dengan tangan dan kaki.

Plak! Plak!

Tapi setiap benturan yang terjadi, masing-masing sosok berbaju merah ini seperti terpecah dan membentuk kembaran baru dalam waktu singkat. Kini, lawan Datuk Pamuncak telah menjadi empat orang. Bukan saja bentuk serta wajah yang sama, tapi kepandaiannya pun sama.

“Gila! Ilmu apa yang dipakai jahanam ini!” desis Datuk Pamuncak geram.

“Ha ha ha...! Kini kau rasakan aji ‘Pecah Raga’ milikku ini. Kalau kau kira hanya ada satu yang asli, maka rasakan saja kematianmu oleh kami semua. Ha ha ha...!”

“Hup!” Datuk Pamuncak melompat ke belakang ketika keempat lawannya mengejar. Tubuhnya terpaksa jungkir balik menghindari setiap serangan berhawa murni. Orang tua itu merutuk habis-habisan. Namun begitu, tidak satu serangan pun yang mampu melukainya.

“Kenapa? Mulai takut mati? Ayo, serang aku lagi seperti tadi! Atau barangkali kau takut melihat keampuhan ajianku ini?!” ejek sosok berbaju merah ini sambil terkekeh.

“Huh! Apa hebatnya ajian busukmu itu! Aku bahkan punya yang lebih hebat ketimbang itu!” dengus Datuk Pamuncak. Saat itu juga laki-laki berbaju merah yang kini memiliki ‘kembaran empat’ langsung menyerbu dengan kecepatan serta kekuatan penuh.

“Hiih!”

Tapi.... “Heh...?!” Datuk Pamuncak tetap di tempatnya dan tidak berusaha mengelak, membuat lawannya terkesiap kaget. Namun laki-laki berbaju merah ini terus melanjutkan serangan dengan hantaman bertubi-tubi.

Pias! Pias!

Tapi pukulan yang dilakukan keempat orang kembar itu tidak mampu melukainya. Bahkan mereka seperti memukul angin. Berulang-ulang hal itu dilakukan, hasilnya tetap sama.

“Ha ha ha...! Kini kau baru tahu rasa, Setan Keparat! Jangan dikira hanya kau saja punya kehebatan!” ejek Datuk Pamuncak.

“Brengsek! Seumur hidup belum pernah Jagat Awang dipermainkan begini!” dengus keempat orang kembar itu, bersamaan.

“Ha ha ha...! Ayo, kenapa diam? Seranglah aku! Pukul dengan seluruh kekuatanmu!” Mendadak, terdengar suara lain dari belakang.

“Hei?!” Betapa terkejutnya orang itu. Tadi dia sempat melihat Datuk Pamuncak. Namun bibir laki-laki tua dari tanah Andalas itu tak bergerak sama sekali. Jadi, siapa yang bicara?

“Ayo, pukul aku! Serang...! Atau, kau yang akan kubunuh?!” teriak suara dari arah lain.

Kembali laki-laki berbaju merah kembar empat yang mengerahkan aji ‘Pecah Raga’ dan tidak lain dari Ki Jagat Awang terkejut. Apalagi ketika melihat seolah-olah pohon-pohon di sekeliling bergerak-gerak dan bicara padanya. Begitu pula batu-batuan besar. Benda-benda di sekitarnya pun turut pula mempengaruhi pandangannya. Berkali-kali matanya dipejamkan lalu dibukanya lagi, melihat ke sekelilingnya. Namun hasilnya sama. Mereka semua bergerak mengurung diiringi suara tawa Datuk Pamuncak.

“Ha ha ha...! Kenapa diam? Kau ingin mampus sekarang? Baiklah!”

Pohon-pohon di sekelilingnya terus bergerak. Cabang serta ranting-ranting bergerak-gerak seperti ular meliuk, bermaksud melilit tubuh Ki Jagat Awang beserta kembarannya.

“Heaaa...!” Disertai teriakan keras Ki Jagat Awang menghentakkan tangannya, melepaskan pukulan jarak jauh.

Pias!

“Hei?!” Ki Jagat Awang lagi-lagi terkejut. Ternyata pukulannya seperti menerabas angin. Pohon-pohon dan batu-batu tetap bergerak mengurung. Dia juga menyerang Datuk Pamuncak lewat pukulan jarak jauh, tapi hasilnya nihil. Pukulannya seperti menghantam tempat kosong.

“Keparat!” desis laki-laki ini geram. Belum lagi Ki Jagat Awang sempat berbuat apa-apa, mendadak beberapa ranting pohon melilit tangan dan kakinya.

Krap! Tap!

“Hiih!” Keempat orang kembaran Ki Jagat Awang menggeram dan menyentak keras-keras. Tapi, tidak satu pun dari ranting-ranting itu yang berhasil diputuskannya. Dia seperti menyapu angin. Namun, ranting-ranting itu terasa betul membelit kedua tangan dan kaki. Bahkan yang lain mulai bergerak membelit pinggang dan leher, serta membelenggu anggota tubuhnya yang lain.

“Aaakh!” Ki Jagat Awang mengeluh tertahan. Akalnya buntu, tak tahu harus berbuat apa. Segala tenaga telah dikerahkannya untuk menghantam pohon-pohon serta batu-batu menghimpit. Namun sia-sia saja. Benda-benda itu seperti mimpi, namun mampu menyiksanya. Ki Jagat Awang seperti melawan hantu-hantu yang mampu mencekiknya, tapi tak mampu dibalas.

“Aku tidak bermaksud membunuh. Tapi kalau terpaksa, tentu akan kulakukan!” kata Datuk Pamuncak, datar. “Kami datang ke sini hanya menginginkan patung Datuk Nan Tongga. Jangan permainkan kami. Kalau kau tahu, katakanlah!”

“Huh! Aku tak tahu menahu soal patung yang kau bicarakan!” dengus Ki Jagat Awang.

“Kalau begitu, kenapa mengajakku keluar?” tukas Datuk Pamuncak.

“Karena..., aku tidak suka dengan kehadiranmu!”

“Kami tak mengganggu. Juga, tidak ingin membuat keributan. Kami datang hanya meminta hak kami!”

“Apa peduliku tentang hak kalian?! Aku tak tahu menahu soal patung yang kau sebutkan!”

“Kalau begitu, jangan salahkan kalau aku bertindak keras padamu!” Setelah Datuk Pamuncak selesai dengan kata-katanya, mendadak ranting-ranting pohon yang membelit tubuh Ki Jagat Awang semakin beringas.

“Aaakh...!” Satu persatu, ketiga kembaran laki-laki berbaju merah ini menghilang. Kini yang tinggal adalah Ki Jagat Awang yang asli. Dia masih berusaha membebaskan diri, tapi sia-sia saja. Ranting-ranting yang membelitnya tidak juga mau terlepas.

“Aaakh...!”

“Katakan, di mana patung itu berada! Atau, kau mati sekarang juga?!”

Ki Jagat Awang tak peduli. Sifatnya memang keras kepala. Mana sudi dia tunduk? Kalau mengatakan di mana patung itu berada, sudah barang tentu artinya menyerah. Sedangkan dia tak mau menyerah.

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan! Kau boleh mati sekarang!” dengus Datuk Pamuncak.

Tapi sebelum menghabisi Ki Jagat Awang dengan caranya yang aneh mendadak Datuk Pamuncak terkesiap. Kepalanya menoleh ke belakang. Lalu, tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat secepat kilat dari tempat itu.

“Hup!”

“Hmm!”

Bersamaan dengan perginya Datuk Pamuncak, maka keadaan kembali seperti semula. Pohon-pohon dan batu-batuan yang tadi mengurung Ki Jagat Awang, menyingkir. Ranting-ranting yang membelenggunya melepaskan diri. Ki Jagat Awang mengusap-usap lehernya. Baru saja dia selamat dari maut. Entah kenapa, Datuk Pamuncak tidak meneruskan niatnya. Tapi dia tidak banyak berpikir. Sesaat kemudian, kakinya melangkah meninggalkan tempat itu, mengikuti arah yang tadi ditempuh Datuk Pamuncak.

ENAM

Kalau saja tidak terjadi sesuatu yang penting, tidak mungkin Datuk Pamuncak meninggalkan lawannya begitu saja. Nalurinya mengatakan, ada bahaya yang tengah mengancam junjungannya. Dan ketika tiba di istana, ternyata hal itu benar. Di istana terjadi keributan dan para prajurit ramai berkumpul!

“Itu dia satu lagi! Tangkap...!” teriak seseorang, ketika melihat kehadiran Datuk Pamuncak.

“Hmm!” Datuk Pamuncak terkesiap.

Puluhan prajurit istana tahu-tahu telah mengejar ke arahnya dengan senjata terhunus. Mereka membuat pengepungan yang rapi dengan barisan pelempar tombak, pemanah, maupun barisan penyerbu. Dalam sekejap, orang tua itu terkurung rapat.

“Menyerahlah, Orang Asing! Kau tidak akan bisa lari lagi!” bentak seorang prajurit.

“Tunggu dulu! Apa maksud kalian ini?” tanya Datuk Pamuncak, bingung.

“Kedua kawanmu mencuri benda-benda kerajaan. Kalian kami tangkap!” tuding prajurit itu, langsung.

“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!” bantah laki-laki dari tanah Andalas itu.

“Kau boleh berkata apa saja. Tapi nyatanya memang begitu. Banyak saksi mata yang melihat. Dan bukti yang paling penting, benda-benda pusaka kerajaan yang dicuri ada di kamar kalian!” tegas prajurit berbadan kekar ini.

“Itu bukan berarti mereka yang melakukannya!” sanggah Datuk Pamuncak.

“Bukti telah bicara dan tidak bisa dipungkiri. Mereka telah mencuri benda-benda pusaka kerajaan!”

“Aku harus bicara pada mereka!”

“Kalau begitu jangan melawan. Ikutlah dengan kami ke penjara. Di sana, kau bisa bebas bicara dengan mereka!”

“Kalian tidak bisa memenjarakan aku. Juga, kedua kawanku!” dengus Datuk Pamuncak.

Kebo Bangah, Ki Lola Abang, dan Ki Pranajaya yang ada di tempat ini. Mereka saling berhadapan dengan Datuk Pamuncak.

“Datuk! Kami kecewa sekali melihat sikap kalian...,” desis Kebo Bangah sinis.

“Apa maksudmu?” tanya Datuk Pamuncak, minta penjelasan.

“Jauh-jauh kalian datang ke sini, lalu menuduh kami mencuri barang berharga milik negeri kalian. Ternyata kini kita tahu, siapa pun sesungguhnya yang menjadi pencuri. Diam-diam, kedua kawanmu mengumpulkan benda-benda pusaka kerajaan. Sedangkan kau telah menyiapkan perahu. Sehingga bila esok pagi kalian pamit meninggalkan istana, maka seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi untung saja, kebusukanmu dapat kami ketahui. Kini menyerahlah. Dan, terima hukuman!” tuduh Kebo Bangah.

“Pencuri terkutuk! Apakah kau hendak membela diri?!” bentak Ki Sedopati yang tiba-tiba sudah muncul dengan wajah garang.

“Datuk! Sebaiknya kau tidak memperkeruh suasana. Menyerahlah, dan jangan melawan...,” himbau Ki Lola Abang yang berjuluk si Tombak Maut dengan suara lebih lunak.

“Kami bukan bangsa pencuri. Sesuatu telah terjadi. Dan ada seorang yang tidak ingin kedoknya terbongkar, sehingga memfitnah kami!” kilah Datuk Pamuncak.

“Huh! Banyak alasan! Setelah kedokmu terbongkar, kau mau cari kambing hitam?!” dengus Kebo Bangah.

“Apa kau kira kami bisa dikibuli, he?!” bentak Ki Sedopati.

“Aku ingin bicara dengan Tuan ku Prabu Arya Dwipa!” pinta Datuk Pamuncak, lantang.

“Beliau tak ada waktu mengurusi pencuri-pencuri seperti kalian!” sahut Kebo Bangah dengan suara tidak kalah lantang.

“Kenapa mesti banyak bicara padanya?! Tangkap saja pencuri busuk ini!” bentak Ki Sedopati.

“Tangkaaap...!” perintah Kebo Bangah.

“Heaaa...!”

Seketika para prajurit penyerbu bergerak cepat, hendak meringkus Datuk Pamuncak. Namun laki-laki dari tanah Andalas ini mencelat ke belakang. Seketika tubuhnya berputar di udara beberapa kali.

“Awas! Dia mau kabur!”

“Panaaah!” teriak Kebo Bangah.

Siut! Siut!

Puluhan anak panah langsung melesat begitu pasukan pemanah melepaskannya. Namun Datuk Pamuncak mengibaskan sebelah tangan begitu mendarat di tanah.

Wesss...!

Tak! Tak!

Serangkum angin kencang dari kibasan tangan Datuk Pamuncak langsung merontokkan anak panah itu. Sementara, tubuh Datuk Pamuncak langsung telah bersiap kembali.

“Menyerahlah, Datuk! Jangan paksa kami bertindak keras padamu!” teriak si Tombak Maut seraya memburu dengan senjata tombak terhunus.

“Aku bukan pencuri! Dan aku tidak sudi dituduh sebagai pencuri!”

“Yeaaa...!”

Kebo Bangah dan Ki Sedopati agaknya tidak mau berbasa-basi. Serentak mereka menyerang Datuk Pamuncak dengan ganas. Tapi, Datuk Pamuncak tetap tidak menyerah begitu saja. Meski terkepung, sikapnya tetap tenang. Dan dia berusaha mencari celah untuk meloloskan diri.

“Maaf, Datuk! Kami terpaksa ikut menangkapmu!” seru Dewa Api, ditemani seorang laki-laki berusia empat puluh enam tahun. Kulitnya hitam dengan rambut keriting. Namanya Ki Jayawane.

Kini ada lima tokoh silat kerajaan yang menyerang Datuk Pamuncak. Kalau Kebo Bangah dan Ki Sedopati menyerang dengan bermaksud menghabisi, maka lain halnya dengan tiga tokoh lainnya. Mereka hanya bermaksud melumpuhkan Datuk Pamuncak. Tapi kedua pekerjaan itu bukan hal yang mudah. Karena sejauh ini lelaki dari tanah Andalas itu tetap mampu menahan serangan.

“Heaaa...!”

Dalam pada itu, mendadak satu sosok bayangan merah bergerak cepat ke arahnya. Dari angin serangannya, meskipun masih jauh, bisa diketahui kalau sosok merah itu memiliki tenaga dalam kuat. Maka secepat kilat Datuk Pamuncak mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis.

Plak!

Sosok berbaju merah yang tak lain Ki Jagat Awang terhuyung-huyung ke belakang sambil mengeluh tertahan. Sementara Datuk Pamuncak terjajar dua langkah ke belakang. Tapi bersamaan dengan itu Ki Sedopati telah berkelebat seraya menghantam punggung Datuk Pamuncak disertai tenaga dalam tinggi.

Duk!

Aaakh...!” Datuk Pamuncak mengeluh kesakitan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke samping.

Kebo Bangah tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pedang di tangannya langsung menyambar perut.

“Uts!”

Sret!

Datuk Pamuncak kembali mengeluh kesakitan. Meski berusaha menghindar, tapi tak urung kulit perutnya masih tersambar ujung pedang Kebo Bangah.

“Yeaaa...!” Dengan sisa tenaga yang ada, Datuk Pamuncak mencelat ke atas seraya berputaran di udara. Seketika tubuhnya meluruk, berusaha melewati tembok pagar istana setinggi tiga tombak.

“Heaaa...!”

Kebo Bangah dan Ki Sedopati agaknya tidak mau membiarkan buruannya lepas begitu saja. Seketika keduanya mengejar penuh bersemangat. “Paman, kejar dia! Bunuh pencuri itu...!” teriak Kebo Bangah pada Ki Jagat Awang yang tiba-tiba tadi menyerang Datuk Pamuncak.

“Sudah! Diamlah kau! Jangan cerewet!” bentak Ki Jagat Awang sambil ikut mengejar Datuk Pamuncak.

Bersamaan dengan itu yang lain pun tidak mau ketinggalan. Sehingga malam yang tadi sepi, kini ramai oleh teriakan-teriakan para pengejar. Meski darah terus menetes dari luka di perutnya, namun Datuk Pamuncak terus memaksakan diri menjauhi tempat itu secepatnya.

“Itu dia! Kejar ke sana...!” teriak Ki Jagat Awang, yang berada paling depan.

“Jangan biarkan pencuri itu lolos...!” lanjut Kebo Bangah.

“Yeaaa...!” Bukan hanya Kebo Bangah saja yang agaknya bernafsu untuk membunuh Datuk Pamuncak. Demikian pula Ki Sedopati, dan Ki Jagat Awang. Mereka berdua merasa dipecundangi dan tidak mau terima karena pernah dikalahkan orang tua perkasa dari negeri Andalas itu.

“Kau tidak bisa kabur lagi sekarang!” desis Ki Jagat Awang ketika jaraknya dengan Datuk Pamuncak mulai dekat.

“Hemm! Menyesal aku tidak lebih dulu membunuhmu!” dengus Datuk Pamuncak.

“Sesal kemudian tiada guna!”

Isi dada Datuk Pamuncak penuh amarah. Namun dia berusaha menahan diri, dan terus berlari. Yang berhasil mengejar Datuk Pamuncak hanya kelima tokoh silat kerajaan. Dan yang paling dekat jaraknya hanyalah Ki Jagat Awang. Kalau mereka menyerang bersamaan, mungkin sulit baginya untuk bertahan lama. Tapi kalau hanya Ki Jagat Awang, laki-laki ini yakin mampu menahannya. Maka, Datuk Pamuncak sengaja mempercepat larinya agar yang tinggal hanya dia dan Ki Jagat Awang.

Ki Jagat Awang sendiri bukannya tidak terpikir tentang kemungkinan itu. Tapi dia yakin, mampu menghabisi lawannya yang dalam keadaan terluka. Tentunya dengan sedikit perjuangan. Itulah sebabnya dia tidak merasa terlalu khawatir.

“Sekarang tinggal kita berdua! Kau boleh mampus sekarang juga!” dengus Datuk Pamuncak, langsung berhenti berlari.

Setelah keadaan memungkinkan seperti yang direncanakannya, tiba-tiba Datuk Pamuncak berbalik. Langsung diserangnya Ki Jagat Awang.

“Hup!” Ki Jagat Awang ternyata tidak kalah sigap. Tangannya seketika mengibas, menangkis.

Plak!

Bahkan kemudian, Ki Jagat Awang membuat serangan balik. Kaki-kakinya silih berganti menyodok ke perut dan dada.

“Hup!” Datuk Pamuncak melompat ke atas saat itu juga, telapak tangannya dihantamkan ke batok kepala. Sebaliknya, Ki Jagat Awang cepat merendahkan tubuh, lalu bergerak ke samping sambil memapak.

Plak! Plak!

“Uhhh...!” Kedua tokoh persilatan ini sama-sama terhuyung-huyung ke belakang ketika benturan terjadi. Ki Jagat Awang yang mengetahui kalau laki-laki dari negeri Andalas itu berilmu tinggi, tidak mau gegabah. Itulah sebabnya tenaga dalamnya dikerahkan pada tingkat tertinggi.

“Heaaa...!” Ki Jagat Awang kembali menyerang. Tak tanggung-tanggung, segera dilepaskannya pukulan ‘Samber Nyawa’. Sebuah pukulan yang mengeluarkan cahaya keperakan. Hawa panas yang ditimbulkannya terasa menyengat, membuat kering rerumputan serta daun-daun di sekitarnya.

“Uhh...!” Datuk Pamuncak menjatuhkan diri, lalu bergulingan menjauhi. Namun, malang bagi orang tua itu karena para pengejar yang lainnya segera muncul.

Ki Sedopati langsung mengayunkan tendangan, namun berhasil dihindari Datuk Pamuncak dengan melenting ke belakang. Sementara itu Kebo Bangah telah menunggu. Pedangnya bergerak cepat, menebas ke leher.

“Hup!” Datuk Pamuncak langsung melenting ke atas. Pada saat yang sama Ki Jagat Awang memang telah menunggu kesempatan ini. Seketika tubuhnya melesat sambil melepas tendangan terbang. Dan....

Desss...!

“Aaakh...!” Telak sekali tendangan geledek Ki Jagat Awang menghantam dada Datuk Pamuncak. Orang tua itu mengeluh kesakitan. Tubuhnya terlempar beberapa langkah ke belakang. Sementara itu Ki Sedopati sudah menunggu dengan kepalan maut yang akan menghabisi.

“Mampus...!”

Di saat yang gawat bagi Datuk Pamuncak, berkelebat satu bayangan putih yang langsung memapak sambil menyambar tubuh laki-laki tua itu.

Plak!

“Setan! Siapa kau?!” bentak Ki Sedopati. Wajah laki-laki ini tampak geram ketika menyadari serangannya gagal. Tapi sebelum dia sempat mengenali, sosok itu telah berkelebat pergi membawa tubuh Datuk Pamuncak.

Dengan bernafsu, Kebo Bangah dan Ki Sedopati mengejar. Demikian pula Ki Jagat Awang yang seperti mengenali penyerang gelap itu.

“Aku tahu siapa dia!” dengus Ki Jagat Awang.

“Siapa, Paman?” tanya Kebo Bangah.

“Bocah brengsek itu! Kali ini dia tidak akan lepas dariku!” dengus Ki Jagat Awang lagi.

“Pendekar Rajawali Sakti?!” seru Kebo Bangah agak kaget.

Tapi melihat Ki Jagat Awang dan Ki Sedopati tak peduli lawan yang dikejar, semangatnya pun naik lagi. Segera dia mengejar penuh semangat.

“Ayo, Kakang! Kenapa tidak mengejarnya?!” tanya Ki Lola Abang alias si Tombak Maut, pada di Dewa Api. Tapi, Ki Pranajaya agak ragu.

“Kenapa, Kakang? Kau tak mau mengejar pencuri itu? Dia akan kabur kalau tak dikejar. Apalagi ada seseorang yang menyelamatkannya. Aku yakin itu kawannya. Sekalian saja kita ringkus mereka!” timpal Ki Jayawane.

“Aku tidak ingin terlihat bentrokan dengannya...,” desah Ki Pranajaya.

“Apa maksud Kakang?” tanya Ki Lola Abang dengan dahi berkerut.

“Tidak tahukah kau apa yang ku maksud?” Ki Pranajaya malah bertanya.

Ki Lola Abang dan Ki Jayawane memandang si Dewa Api dengan kening berkerut.

“Yang menolongnya adalah pemuda itu....”

“Pemuda mana?” tanya Ki Jayawane, bingung.

“Si Pendekar Rajawali Sakti....”

“Hmm!” Mendengar itu, Ki Lola Abang maklum. Ki Pranajaya bukan takut pada pemuda itu. Demikian pula si Tombak Maut. Mereka memiliki perasaan sama, yaitu sungkan. Bagaimanapun, mereka pernah bekerja sama dalam memerangi musuh yang sama. Dan kini, pemuda itu menyelamatkan Datuk Pamuncak. Kalau mereka berkeras menghalangi, pasti akan terjadi bentrokan.

“Lalu apa yang mesti kita lakukan?” tanya si Tombak Maut.

Ki Pranajaya alias si Dewa Api terdiam.

Kita menerima tugas dari Gusti Prabu, Kang...,” ingat Ki Jayawane.

“Ya, aku mengerti.”

“Kalau kita tidak membantu Kebo Bangah dan yang lain, bisa-bisa kita dituduh bersekutu dengan musuh,” timpal Ki Lola Abang.

“Aku tidak yakin mereka musuh kita...,” sahut Ki Pranajaya.

“Tapi nyatanya, kedua kawan mereka telah mencuri benda-benda pusaka kerajaan!” tukas Ki Jayawane.

“Apa kau yakin?”

“Lepas dari persoalan yakin atau tidak, nyatanya bukti-bukti ada di kamar mereka.”

“Benar, Kang. Kita tidak bisa membela orang yang berpihak pada musuh kerajaan. Apalagi, seorang pencuri!” kata Ki Lola Abang.

Ki Pranajaya terdiam sebentar. Otaknya menerawang, berpikir.

“Apa lagi yang kita tunggu, Kang? Ayo, bantu mereka!” desak Ki Jayawane.

“Kenapa Kebo Bangah begitu bernafsu hendak membunuh orang tua itu?” gumam Ki Pranajaya.

“Jangan pikirkan soal itu, Kang. Kebo Bangah sangat setia pada kerajaan. Musuh kerajaan adalah musuhnya juga. Tak heran kalau dia jadi beringas."

“Bukan! Bukan begitu maksudku, Jayawane. Tapi ketika pertama kali Datuk Pamuncak mengutarakan maksudnya di hadapan Gusti Prabu, justru dia yang paling menentang...,” sergah Ki Pranajaya, tegas.

“Apa yang membuat Kakang heran? Bukankah itu wajar? Seseorang menuduh kita mencuri barang miliknya. Apa kita ini bangsa pencuri? Siapa yang tak tersinggung mendengar tuduhan itu?” tukas Jayawane.

“Mereka tidak menuduh, Jayawane. Beda antara menuduh dengan meminta....”

“Sama saja, Kang! Meminta bahkan melebihi tuduhan. Sudah langsung merasa yakin kalau kita mencuri milik mereka!”

Ki Pranajaya terdiam. Di hela napas panjang.

“Aku tidak mengerti soal-soal itu...,” gumam si Tombak Maut. “Tapi kita punya tugas dan harus dilaksanakan apa pun hambatannya. Kalau tidak, maka kita akan dituduh bersekongkol."

“Benar, Kakang! Ayolah!”

“Hmm! Sebenarnya aku mulai tidak yakin. Tahukah kalian, siapa yang menjaga kamar tempat pusaka-pusaka ditempatkan?” tanya Ki Pranajaya.

“Pasukan Kebo Bangah tentunya!” sahut Jayawane.

“Nah! Itulah maksudku, Jayawane!”

“Aku tak mengerti maksudmu, Kakang?”

“Mereka pasti mengetahui keluar dan masuknya pusaka-pusaka kerajaan. Kalau pusaka-pusaka itu dibawa mereka, kenapa tidak ditangkap saja ketika mereka masuk ke dalam kamar itu? Tapi mengapa justru Kebo Bangah dan pasukannya menangkap mereka di kamarnya? Padahal, kedua orang itu tertidur pulas. Aku yakin ini perbuatan Kebo Bangah!”

“Kalau Kakang bicara pada Ki Sedopati atau yang lain, mungkin akan terjadi keributan. Kakang mencurigai Kebo Bangah. Dia salah seorang kepercayaan Gusti Prabu. Sangat berbahaya, Kakang!” ingat Ki Jayawane.

“Benar, Kakang. Jangan pikirkan soal itu! Sudah.... Mari kita susul yang lain.”

“Ayo, Kakang! Lupakan saja kecurigaan yang tidak beralasan itu!” desak Jayawane, seraya angkat kaki dari tempat itu.

Ki Lola Abang mengikuti. Sehingga mau tidak mau, Ki Pranajaya pun terpaksa ikut mesti dengan hati berat.

TUJUH

Sosok bayangan putih yang membawa Datuk Pamuncak terus melesat cepat bersama kuda hitamnya. Tiba di sebuah jalan bercabang, sosok itu turun dari kuda hitamnya, diikuti Datuk Pamuncak. Sementara kuda hitam itu terus berlari, mereka berbelok ke kiri menuju sebuah tanah lapang yang agak luas. Ternyata di tempat itu telah menunggu seekor burung rajawali raksasa.

Sosok yang membawa Datuk Pamuncak memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. Tadi setelah menyambar Datuk Pamuncak Rangga langsung menaiki Dewa Bayu. Di tengah perjalanan, pemuda ini menjelaskan pada Datuk Pamuncak, agar jangan banyak bertanya. Yang penting, dirinya selamat lebih dahulu.

Pendekar Rajawali Sakti sebelumnya juga telah memanggil Rajawali Putih tunggangannya, untuk mencari keberadaan Pandan Wangi. Namun setelah berputar-putar si Kipas Maut tak ditemukan, Rangga dari angkasa melihat sebuah pertarungan di depan Istana Kerajaan Swama Pura. Maka bergegas dia menurunkan Rajawali Putih di luar kotaraja.

Setelah Rajawali Putih disuruh menunggu, Rangga memanggil Dewa Bayu yang terus mengikutinya dari darat. Segera dia melesat bersama Dewa Bayu menuju tempat terjadinya pertarungan. Untung saja, kedatangannya tak terlambat.

“Rajawali Putih! Bantu kami dari kejaran orang-orang itu!” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara Datuk Pamuncak hanya tertegun, tak melanjutkan langkahnya. Dia memperhatikan Rangga menepuk-nepuk leher burung raksasa itu dengan tenangnya. Bahkan dinaikinya burung itu.

“Ayo, Datuk ! Kenapa malah bengong? Jangan takut. Ini sahabatku...!” ujar Rangga.

Dengan langkah ragu-ragu dan takut-takut, Datuk Pamuncak menghampiri Rajawali Putih. Dan ketika burung raksasa itu tak menunjukkan tanda-tanda liar, laki-laki tua ini segera naik ke punggungnya.

“Kraaagkh...!” Rajawali Putih berteriak parau seperti memberi isyarat agar Datuk Pamuncak jangan takut. Kedua sayapnya lantas melebar. Dan sekali kepak rajawali raksasa ini telah melambung ke atas menimbulkan angin menderu kencang.

“Hebat kau, Rangga! Belum pernah seumur hidupku melihat rajawali sebesar ini!” puji Datuk Pamuncak dengan suara keras untuk mengalahkan deru angin di angkasa.

“Ini terpaksa sekali, Datuk...,” jelas Rangga, juga dengan suara keras.

“Kenapa kau katakan terpaksa?” tanya Datuk Pamuncak.

“Biasanya sahabatku jarang kuperlihatkan pada orang lain. Tapi kalau kita terus berlari atau berkuda, aku khawatir mereka bisa menyusul...,” jelas Rangga.

“Berarti aku termasuk istimewa bisa melihat kawanmu ini.”

Rangga tersenyum ketika merasakan kalau orang tua di belakangnya itu ikut tersenyum. “Kenapa mereka menyerangmu, Datuk?” tanya Rangga.

“Mereka menuduh kami pencuri...,” sahut Datuk Pamuncak.

“Mencuri? Apa yang dicuri?”

“Aku sendiri tidak tahu! Katanya, pusaka-pusaka kerajaan...,” sahut Datuk Pamuncak. Lalu diceritakannya peristiwa yang tadi terjadi secara singkat dan jelas.

“Betul-betul telengas orang tua itu!” dengus Rangga geram setelah mendengar penuturan Datuk Pamuncak.

“Siapa namanya?” tanya Datuk Pamuncak.

“Ki Jagat Awang. Aku pernah berseteru dengannya,” kata Rangga lalu menceritakan perselisihannya dengan Ki Jagat Awang.

“Jadi kau..., kawan-kawan mereka juga?”

“Datuk! Dengan Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang, aku kenal. Mereka bukan orang jahat. Sedangkan Kebo Bangah dan yang lainnya, aku tidak terlalu mengenalnya. Ini petunjuk penting agar kau tidak mencurigaiku. Tapi kalaupun kau curiga dan was-was, tidak apa.”

“Aku selalu menilai orang dengan naluri serta akal. Aku percaya padamu, Rangga.”

“Terima kasih, Datuk. Percayalah. Kalau benar kau tidak bersalah, maka sampai kapanpun aku tetap membelamu.”

“Terima kasih juga, Rangga.”

“Jadi, siapa di antara mereka yang kau curigai?” tanya Pendekar Rajawali Sakti.

“Setelah mendengar ceritamu dengan Jagat Awang, aku semakin yakin kalau dialah orangnya,” sahut Datuk Pamuncak.

“Siapa?”

“Kebo Bangah.”

“Dari mana kau begitu yakin?” tanya Pendekar Rajawali Sakti dengan kening berkerut.

“Ingat ceritaku tadi? Jagat Awang memancingku keluar. Sementara aku bertarung, dari balik semak-semak melesat hujan anak panah yang persis sama dengan yang dipakai prajurit kerajaan. Tidak berhasil membunuhku, maka dia memfitnah dengan menuduh kami sebagai pencuri,” urai Datuk Pamuncak dengan wajah geram.

“Lalu, bagaimana pusaka-pusaka kerajaan bisa berada di kamar kalian?” cecar Rangga.

“Kalau di kamarku, mungkin mudah dimasukkan, karena aku tidak di dalam. Namun yang kuherankan, kenapa mereka bisa memasuki kamar Upik Sibirantulang dan Sutan Pamenan? Mereka bukan anak kemarin sore yang bisa dipecundangi begitu saja?” papar laki-laki dari tanah Andalas.

“Untuk yang satu ini, kita tak bisa memecahkannya. Tapi nanti aku akan cari tahu. Sekarang, apa yang akan Datuk lakukan?”

“Aku mesti ke perahu.”

“Untuk apa?”

“Menyiapkan anak buah serta memperingatkan Datuk Mangkuto Alam. Aku khawatir, mereka diserbu prajurit-prajurit kerajaan. Bisakah kau antar aku ke sana?” tanya Datuk Pamuncak, bernada memohon.

“Tentu saja, Datuk. Tapi, maaf. Aku tidak bisa turunkan tepat di dekat perahumu,” ucap Rangga.

“Ya. Aku mengerti. Kau tentu tak ingin sahabatmu ini jadi pusat perhatian, kan?” duga laki-laki itu.

"Syukurlah....”

“Ke arah sana!” tunjuk Datuk Pamuncak.

Rangga mengangguk, lalu memberi isyarat pada Rajawali Putih. Dengan kecepatan terbang yang dahsyat, sebentar saja mereka tiba di pesisir. Dari ketinggian terlihat sebuah perahu besar yang ramai oleh teriakan serta orang-orang hilir-mudik. Datuk Pamuncak terkejut dan coba menajamkan pandangan.

“Itukah perahumu, Datuk?” tanya Rangga.

“Ya!” sahut Datuk Pamuncak, pendek.

“Kelihatannya ada yang tak beres. Mereka sedang bertempur.”

“Kurang ajar! Ini pasti perbuatan Kertapati!”

“Siapa?”

“Kertapati, bajak laut yang pernah dihajar Upik Sibirantulang. Cepat turunkan aku, Rangga! Mereka mesti dihajar adat!”

“Tapi, Datuk! Kau tengah terluka....”

“Jangan khawatirkan! Aku masih sanggup menghajar mereka semua!”

“Baiklah. Akan kubantu kau menghajar mereka!”

Begitu turun dari leher Rajawali Putih, Datuk Pamuncak berlari cepat mendekati perahu. Rangga menyusul, setelah menyuruh rajawali raksasa itu melesat kembali ke angkasa.

Pertarungan antara kedua belah pihak di perahu itu berlangsung alot dan seru. Banyak korban yang jatuh di pihak bajak laut Kertapati. Tapi anak buah perahu besar itu pun mengalami korban yang banyak pula.

Rangga dan Datuk Pamuncak cepat mengayuh perahu kecil. Tapi, laki-laki dari tanah Andalas ini agaknya tidak sabaran. Tiba-tiba dia meloncat dan..., berlari-lari di atas air!

“Hm! Alangkah hebatnya ilmu meringankan tubuh Datuk ini!” puji Rangga, bergumam dalam hati.

Sebentar saja Datuk Pamuncak sudah menghajar beberapa orang bajak laut. Rangga jadi bersemangat. Maka perahunya dikayuh lebih kencang.

“Hup! Yeaaa...!” Begitu dalam jarak jangkauan, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara. Dia berputaran di udara, lalu mendarat di bibir perahu. Seketika tubuhnya meluruk, melepas serangan.

Duk!

“Aaakh...!”Beberapa orang bajak laut anak buah Kertapati menjadi korban. Menghadapi dua pendatang yang berilmu tinggi, membuat para bajak laut itu mulai kewalahan.

“Datuk! Tangkap si jahanam Kertapati itu!” terdengar teriakan seseorang.

“Hmm!” Datuk Pamuncak menggeram. Matanya liar memandang ke sekeliling. Dan ketika melihat beberapa anak buahnya tengah mengeroyok seseorang, secepat kilat dia beranjak ke sana.

“Jahanam Kertapati! Hadapi aku!” dengus Datuk Pamuncak.

“Eeeh...!” Melihat gerakan Datuk Pamuncak yang cepat, Kertapati gelagapan dan cepat melompat ke belakang, berusaha menghindar.

Tapi, laki-laki dari tanah Andalas itu terus mengejar. Kaki kanannya seketika melayang ke dada. Dengan sigap Kertapati menangkis, menggunakan tangan kanannya.

Plak!

Meski serangan berhasil ditangkis, tapi Datuk Pamuncak tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya langsung berputar. Sedangkan kaki kirinya bergerak menyambar pangkal leher.

Duk!

“Aaakh...!” Kertapati tersedak disertai jerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang dan tertahan bibir perahu.

“Yeaaa...!” Datuk Pamuncak tak memberi kesempatan lagi. Dengan wajah geram kaki kanannya bergerak kembali sambil berputar.

“Uts...!" Kertapati berusaha menghindar dengan menunduk, lalu melompat ke samping. Tendangan itu memang luput. Tapi mendadak, Datuk Pamuncak meliukkan tubuhnya seraya melepas hantaman ke dada.

Desss...!

“Aaakh...!” Kertapati menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal membentur sisi perahu kembali, lalu terpuruk di hadapan Datuk Pamuncak.

“Kau boleh mampus sekarang, Jahanam!” bentak Datuk Pamuncak seraya mengangkat kakinya hendak menginjak.

“Ampun Datuk! Ampuuunnn...!” ratap Kertapati, langsung mencium kaki Datuk Pamuncak.

“Setelah itu apa yang akan kau lakukan pada kami?!” dengus Datuk Pamuncak.

“Ampunkanlah aku, Datuk! Aku mengaku bersalah....”

“Suruh anak buahmu menyerah!”

“Ba..., baik, Datuk!” Kertapati berteriak pada anak buahnya. Maka, mereka langsung meletakkan senjata. Anak buah Datuk Pamuncak langsung meringkus mereka.

“Tahukah kau, Kertapati? Kau membuat kesalahan besar dengan menyerang kami? Mestinya orang sepertimu lebih baik mati!” dengus Datuk Pamuncak geram.

“Datuk.... Apakah kau tak mengampuni aku...?” keluh Kertapati dengan suara lirih. “Aku hanya kesal karena gadis itu menghajarku. Tapi kini kusadari kekeliruanku....”

“Apa lagi yang ditunggu, Datuk? Orang ini mesti dihukum. Kematian adalah hukuman yang pantas baginya!” sahut Datuk Mangkuto Alam yang telah berdiri di dekatnya.

Tapi sebelum Datuk Pamuncak melakukan sesuatu, Rangga mendekatinya.

“Datuk! Mengampuni musuh yang telah menyerah, kurasa lebih bijaksana. Lagi pula, kau bisa memanfaatkan mereka...,” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau benar, Rangga. Tapi, apa maksudmu memanfaatkan mereka?” tanya Datuk Pamuncak dengan kening berkerut.

“Anak buah Kertapati kurasa cukup banyak. Kalau mereka mau berjanji membantumu, ampunilah mereka. Bukankah saat ini kita membutuhkan banyak orang untuk....”

“Aku mengerti, Rangga!” sambar Datuk Pamuncak, seraya tersenyum. “Kau benar.”

“Apa maksudmu, Datuk? Kau hendak mengampuni mereka?!” seru Datuk Mangkuto Alam dengan wajah bingung bercampur kesal

“Akan kujelaskan padamu, Datuk Mangkuto Alam! Ayo, mari kita ke dalam!” ajak Datuk Pamuncak. “Kau juga, Rangga!”

“Ada apa sebenarnya, Datuk? Ke mana Upik dan Sutan Pamenan?” tanya Datuk Mangkuto Alam tak sabar, setelah berada di dalam sebuah kamar yang berada di dalam perahu.

“Ini yang hendak kuceritakan padamu. Tapi sebelumnya, kenalkan dulu temanku. Namanya, Rangga. Anak muda ini telah menyelamatkanku,” ujar Datuk Pamuncak.

“Aku Rangga...,” Rangga tersenyum hormat.

“Datuk Mangkuto Alam,” sahut laki-laki setengah baya itu dengan sikap acuh tak acuh. Agaknya Datuk Mangkuto Alam tidak terlalu percaya dengan ucapan Datuk Pamuncak. Pemuda ini kelihatan biasa saja. Kalaupun membawa-bawa pedang, belum tentu bisa berbuat banyak. Ilmu silatnya pun pasti rendah. Tak mungkin orang sepertinya menyelamatkan Datuk Pamuncak. Tapi, dia agak kaget melihat luka di perut Datuk Pamuncak.

“Datuk, kau terluka?!”

“Ini yang hendak kuceritakan padamu....” Dan Datuk Pamuncak pun menceritakan kejadian yang menimpa secara singkat.

Wajah Datuk Mangkuto Alam langsung berkerut geram. Kedua tangannya terkepal. Hela nafasnya pun terasa kasar. “Kurang ajar! Kita bukan pencuri. Seenaknya saja mereka memfitnah kita!” dengus Datuk Mangkuto Alam seraya menarik napas dalam-dalam. “Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut! Mereka harus mencabut tuduhan itu, dan membebaskan Upik Sibirantulang dan Sutan Pamenan. Serta, mengembalikan patung Datuk Nan Tongga!”

“Saat ini mereka tengah mencariku. Dan kita tak bisa gegabah. Esok, atau mungkin sebelum subuh, mereka pasti ke sini. Kita akan bersiap menyambutnya. Bagaimana menurutmu, Rangga?” tanya Datuk Pamuncak, menatap Pendekar Rajawali Sakti penuh harap.

“Kita jangan bertahan, Datuk. Tapi menyerang!” sahut Rangga, tegas.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tak paham. Dengan kekuatan sedikit, mana mungkin menyerang?” tanya Datuk Pamuncak lagi, heran.

“Kekuatan kita tidak sedikit. Dengan bantuan Kertapati, kita mampu menghadapi prajurit-prajurit kerajaan.” Kemudian Rangga membeberkan rencananya.

Datuk Pamuncak langsung setuju. Demikian pula Datuk Mangkuto Alam. Mereka segera menyusun rencana lebih lanjut, dan bergerak secepatnya.

********************

Kebo Bangah yang didukung Ki Sedopati tidak bertindak setengah-setengah. Melihat Datuk Pamuncak berhasil melarikan diri, maka dia segera kembali ke istana untuk mengumpulkan para prajurit guna mengadakan serangan mendadak ke pesisir. Tujuannya, tidak lain untuk merampas perahu asing berikut isinya.

Kebo Bangah dan Ki Sedopati semakin girang saja ketika Gusti Prabu Arya Dwipa memberi izin. Maka dengan membawa pasukan dalam jumlah cukup besar, mereka segera bergerak ke pantai saat itu juga. Keadaan istana sepi. Namun, para prajurit jaga tetap bertugas seperti biasa. Mereka tidak menyadari kalau pada saat itu sesosok bayangan merah bergerak dari dalam sebuah kamar yang masih berada dalam lingkungan istana kerajaan. Bayangan itu bergerak ke ruang belakang yang dijaga beberapa orang prajurit.

“Berhenti...!” Beberapa prajurit jaga segera mengacungkan tombak ketika mengenali sosok berbaju merah itu mendekat.

“Ah! Rupanya putri Ki Pranajaya...!” seru salah seorang prajurit yang mengenali sosok yang ternyata seorang gadis.

“Ternyata kalian sigap sekali. Bagaimana keadaan para tawanan kita?” tanya gadis cantik berbaju merah ketat yang memang Ratmi.

“Mereka baik-baik saja,” sahut salah seorang prajurit.

“Boleh aku melihatnya?” pinta Ratmi.

“Maaf. Tidak seorang pun yang boleh menjenguk mereka selain Ki Kebo Bangah.”

Gadis itu tersenyum kecut, “Kalian memang pantas menjadi prajurit-prajurit setia. Kebo Bangah tentu akan senang. Tapi, beliau akan lebih senang lagi kalau kalian mematuhi perintahnya,” kata Ratmi, mulai menyudutkan.

“Tentu saja! Kami selalu patuh pada perintahnya!"

“Kalau begitu, bukakan pintu! Aku akan melihat kedua tawanan itu!” sentak Ratmi.

“Tidak bisa! Dan ini perintah Kebo Bangah!” sahut prajurit penjaga itu berkeras.

“Kebo Bangah memberi perintah padaku! Apakah kau tak mengerti?! Berani benar kau melanggar perintahnya?!” bentak Ratmi.

“Benarkah? Tapi..., tapi Kebo Bangah tidak pesan apa-apa pada kami...,” tukas prajurit penjaga itu kaget.

“Jadi kau tak percaya? Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau kalian mendapat hukuman!”

“Eh, baiklah. Baiklah, kami percaya....”

“Kalau begitu cepat buka pintu!”

Para penjaga itu mengangguk. Lalu salah seorang dari mereka buru-buru membuka kunci kerangkeng. Di dalam terlihat Upik Sibirantulang dan Sutan Pamenan tengah diborgol kedua tangan dan kakinya dengan rantai besi. Ujung rantai besi dipaku ke tembok.

“Ratmi...!” seru Upik Sibirantulang dengan wajah berseri.

Ratmi hanya mendengus sinis, lalu berpaling pada para penjaga. “Buka borgol mereka!” perintah Ratmi.

“Tapi...”

“Kau berani membantah perintah Kebo Bangah?!” bentak gadis itu dengan mata melotot garang.

“Eh, baik. Baik...,” sahut penjaga itu terbata-bata. “Tapi, untuk apa borgol mereka dibuka?”

“Mereka harus dihukum mati sekarang juga!” desis Ratmi. “Berikan senjatamu!”

Prajurit itu menyerahkan pedangnya, yang langsung disambar Ratmi. Gadis ini lantas menimang-nimang sebentar pedang di tangannya, kemudian memandang sinis pada Upik Sibirantulang dan Sutan Pamenan.

“Hari ini adalah kematian kalian, Pencuri Terkutuk!” desis Ratmi.

“Ratmi! Apakah kau pun percaya kalau kami mencuri pusaka-pusaka kerajaan!” tanya Upik Sibirantulang, heran. Selama ini, dia menganggap Ratmi adalah gadis baik. Bahkan pernah ditolongnya. Tapi sekarang?”

“Kenapa tidak! Pusaka-pusaka itu berada di kamar kalian. Orang bodoh sekali pun akan tahu apa artinya itu!”

“Tapi, kami tidak tahu mengapa pusaka-pusaka itu berada di kamar...,” timpal Sutan Pamenan, membela diri.

“Tidak usah membela diri. Tidak ada gunanya!”

“Sudah selesai...,” kata penjaga yang melepaskan borgol kedua tawanan itu.

“Bagus! Kemari kalian semua. Aku khawatir, mereka akan mengadakan perlawanan.”

Kelima prajurit penjaga itu segera berkumpul di dekat Ratmi dengan senjata terhunus. Tapi tanpa disangka-sangka, gadis itu menyerang para prajurit dengan cepat dan ganas.

“Hiih!”

Des! Des...!

“Aaakh...!” Dua orang prajurit langsung jatuh tersungkur. Tiga lainnya terkesima. Dan Ratmi tidak mau berlama-lama. Kakinya cepat menyodok ke ulu hati serta ke perut dua orang prajurit.

Bugkh! Desss...!

“Aaakh...!” Dua prajurit itu mengikuti jejak kawan-kawannya. Jatuh tersungkur menghajar dinding tembok, lalu terkulai tak sadarkan diri.

“Kau..., kau...!” Prajurit terakhir terkejut. Dipandangnya gadis itu dengan sorot mata tak yakin. Tapi sesaat kemudian, ujung tombaknya bergerak ke jantung Ratmi.

Gadis itu menggeser tubuhnya ke samping. Sehingga tombak itu lewat di sisinya. Seketika ditangkapnya pangkal tombak.

Tap!

“Hiih!” Dengan satu sentakan kuat, Ratmi menarik tombak, membuat prajurit itu terpuruk maju. Seketika, sikut kanan Ratmi menyodok ulu hati.

Desss!

“Ugkh...!” Prajurit itu terjajar mundur beberapa langkah. Kesempatan ini tidak disia-siakan Ratmi. Langsung tangannya mengibas ke leher.

Digkh!

“Aaakh...!” Saat itu juga, prajurit ini ambruk tak berdaya disertai keluhan tertahan.

DELAPAN

“Ratmi, kau...?!” seru Upik Sibirantulang dengan wajah cerah. Dia tahu, Ratmi berpihak padanya. Hampir saja gadis itu salah sangka melihat sikap Ratmi tadi.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya Ratmi.

Upik Sibirantulang menggeleng. “Kenapa kau menolong kami?”

“Karena aku tahu, kalian tidak bersalah,” sahut Ratmi, mantap.

“Dari mana kau bisa yakin?”

“Aku lihat sendiri anak buah Kebo Bangah membawa pusaka-pusaka itu ke kamar kalian....”

“Keparat!” desis Sutan Pamenan, menggeram marah.

“Bagaimana mungkin...? Ah! Mestinya kami terjaga...,” desah Upik Sibirantulang, menggeleng lemah.

“Kebo Bangah punya aji ‘Sirep’ yang ampuh. Apalagi kalian berdua sangat nyenyak. Maka aji Sirepnya bekerja sempurna.”

“Setan!” Sutan Pamenan mengepalkan kedua tangan.

“Sudah. Jangan buang waktu lagi. Saat ini, keadaan istana sepi. Mereka telah berangkat bersama pasukan besar untuk menaklukkan perahu kalian serta isinya.”

“Apa?! Astaga! Agaknya mereka tidak puas sekadar menahan kami di sini!” sentak Upik Sibirantulang.

“Mereka mengejar Datuk Pamuncak. Ketika kalian ditahan, Datuk Pamuncak sempat meloloskan diri,” jelas Ratmi.

“Hm.... Pantas kami tak melihat Datuk Pamuncak...,” gumam Sutan Pamenan.

“Sudahlah. Mari kita tinggalkan tempat ini secepatnya!” ajak Ratmi.

“Tunggu dulu! Suara apa itu?!” desis Upik Sibirantulang.

Ketiga orang ini segera menajamkan pendengaran. Lalu, serentak mereka keluar dari tempat itu dengan terburu-buru. Begitu di luar, terlihat sisa-sisa pertarungan yang baru saja selesai. Tanpa pertumpahan darah, tanpa korban yang berarti. Beberapa prajurit istana tampak berkumpul di satu tempat dijaga prajurit-prajurit tak bersenjata. Upik Sibirantulang dan Sutan Pamenan langsung mengenali dua orang tua yang ikut berada di tengah-tengah keramaian itu.

“Datuk Pamuncak...! Datuk Mangkuto Alam!” panggil Sutan Pamenan.

“Hei, kalian rupanya!” Datuk Pamuncak dan Datuk Mangkuto Alam buru-buru menghampiri.

“Kami ditolong Ratmi...,” kata Upik Sibirantulang.

“Ratmi.... Kami mengucapkan beribu terima kasih atas pertolonganmu!” ucap orang tua itu dengan nada menghormat.

“Ah, sudahlah! Aku hanya tak ingin melihat kecurangan yang ada di depan mataku.”

“Paman.... Pasukan dari mana yang kau bawa?” tanya Upik Sibirantulang.

“Ceritanya begini....”.Lalu Datuk Pamuncak menceritakan secara singkat kejadian yang menimpa dirinya sampai berada di sini lagi.

“Jadi, begitulah. Saat ini terlihat pasukan yang dipimpin Kebo Bangah menuju pesisir, maka kami buru-buru ke sini,” tutur Datuk Pamuncak.

“Lalu, ke mana sekarang pemuda itu?” tanya Ratmi.

“Pemuda yang mana?” Datuk Pamuncak balik bertanya. Dahinya berkerut untuk coba menebak maksud Ratmi.

“Rangga...!”

“O, dia sedang di dalam menemui Tuan ku Prabu Arya Dwipa....”

“Apa yang dilakukannya?”

“Entahlah. Mungkin coba meyakinkan beliau bahwa kami tidak bersalah....”

“Hmm...!” Ratmi bergumam pendek.

Tak lama kemudian, mereka melihat beberapa orang keluar dari balairung utama. Rangga bersama Gusti Prabu Arya Dwipa, diiringi beberapa prajurit kerajaan. Salah seorang di antara mereka membawa sebuah patung setinggi kurang lebih lima jengkal yang seluruhnya terbuat dari emas.

“Bagaimana?” tanya Datuk Pamuncak, ketika mereka telah mendekat.

“Syukurlah beliau mengerti...,” sahut Rangga sambil tersenyum. Pemuda itu melirik sekilas pada Ratmi serta yang lainnya.

Prabu Arya Dwipa pun melirik ke arah gadis itu lalu berpindah pada kedua tawanannya.

“Aku yang membebaskan mereka...,” sahut Ratmi lirih, karena merasa tidak enak melihat tatapan Prabu Arya Dwipa. “Maafkan hamba, Gusti. Hamba merasa yakin mereka tak bersalah.”

“Bagaimana caramu membebaskan mereka?”

“Hamba.... Hamba tidak sampai membunuh para prajurit, Gusti...,” jelas Ratmi terbata-bata.

“Kau pasti menipu mereka?” duga Prabu Gusti Arya Dwipa.

Gadis ini mengangguk lemah.

“Sudahlah, kumaafkan kelakuanmu itu.”

“Terima kasih, Gusti.”

“Tapi dia punya berita yang mungkin akan semakin membuat terang persoalan ini,” timpal Upik Sibirantulang seraya melirik Ratmi.

“Hm.... Soal apa itu, Ratmi?” tanya Gusti Prabu Arya Dwipa, menatap tajam gadis berbaju merah.

“Eh, ng...,” Ratmi tergagap, tak tahu harus berkata apa.

“Ayo, Ratmi! Katakanlah. Bukankah kau tahu kalau kami bukan pencuri pusaka kerajaan?” desak Upik Sibirantulang.

“O, soal itu! Benar, Gusti!”

“Ceritakanlah. Apa yang kau ketahui!”

“Hamba melihat sendiri ketika saat itu Kebo Bangah menggunakan aji ‘Sirep’ untuk membuat mereka pulas. Lalu setelah itu, dia menyuruh anak buahnya membawa pusaka-pusaka kerajaan ke kamar mereka,” jelas Ratmi.

“Kenapa tidak kau laporkan kecurangan itu?” tukas Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Mana hamba berani, Gusti? Saat itu langsung terjadi keramaian yang digerakkan anak buah Kebo Bangah. Mereka pura-pura kehilangan pusaka-pusaka kerajaan, lalu menggeledah tiap kamar. Namun sesungguhnya kamar pertama yang digeledah adalah kamar para tamu. Kalau hamba melapor, jangan-jangan hamba dituduh bersekutu. Dan hamba pun bisa ditangkapnya,” papar Ratmi membela diri.

“Hm.... Aku mengerti alasanmu. Dan aku juga mengerti alasan Kebo Bangah berbuat demikian...,” gumam Gusti Prabu Arya Dwipa.

Lalu Gusti Prabu Arya Dwipa memberi isyarat. Maka prajuritnya maju ke depan, menyerahkan patung emas yang dibawanya pada Upik Sibirantulang. “Aku sama sekali tak tahu-menahu soal patung itu, sampai hari ini. Terimalah. Dan, maafkan kebodohanku!” ucap Gusti Prabu Arya Dwipa. “Setelah Prabu..., eh! Setelah Rangga mengatakan kalau dia mencurigai Kebo Bangah, maka aku langsung menggeledah rumahnya. Dan, patung itu ternyata memang kami temukan di sana....”

“Terima kasih, Tuan ku Prabu Arya Dwipa...!” ucap Upik Sibirantulang berseru girang mendapatkan patung itu kembali.

“Sampaikan maafku pada Ratu Mudo Nan Ampek! Pencuri itu tidak akan luput dari hukuman. Dia akan dihukum mati!” desis Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Maaf, Tuan ku...,” sambar Upik Sibirantulang.

“Ada apa?” tanya Gusti Prabu Arya Dwipa.

Upik Sibirantulang terdiam sebentar. “Kebo Bangah memang bersalah. Tapi orang bersalah masih bisa bertobat. Alangkah baiknya bila dia tidak dihukum mati. Kita tidak berhak atas nyawa manusia. Mungkin, Kebo Bangah khilaf atau silau matanya melihat harta dunia. Tapi bukan berarti dia jahat. Karena itu ampunilah dia, Tuan ku...,” ujar Upik Sibirantulang, bijaksana.

“Kau memohon maaf atas orang yang telah memfitnah dan menjebloskanmu ke penjara?!” tukas Gusti Prabu Arya Dwipa, tersentak kaget.

“Benar, Tuan ku.”

“Bagaimana mungkin? Mestinya kau yang patut kuberi kesempatan sebagai algojonya.”

“Kalau begitu, maafkanlah dia, Tuan ku. Tuan ku boleh menghukumnya. Tapi, harap jangan membunuhnya.”

“Hmm...! Ini berat sekali. Kebo Bangah telah merusak citra negeri ini. Mestinya, dia tidak bisa dibiarkan hidup!” gumam Penguasa Kerajaan Swarna Pura itu.

“Tuanku Prabu! Kami pun berpendapat demikian. Nyawa manusia bukan di tangan seseorang. Demikian pula nasib manusia, tak seorang pun yang tahu. Kebo Bangah telah mencuri, itu karena kekhilafannya. Tapi belum tentu dia jahat. Dia hanya tak ingin perbuatan buruknya diketahui, sehingga membuatnya bertambah jahat. Berilah dia kesempatan, Tuan ku...,” timpal Datuk Pamuncak.

Gusti Prabu Arya Dwipa merenung beberapa saat kemudian, sebelum menyetujui permintaan itu. “Terserah kalian saja. Meski ini terasa berat, tapi aku berusaha untuk tidak mengecewakan kalian lagi...,” desah laki-laki berusia lima puluh lima tahun ini.

“Lalu, bagaimana menangkap Kebo Bangah?” tanya Ratmi pada Datuk Pamuncak.

“Mereka akan kembali. Saat itu, dia kita tangkap,” sahut Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Kalau begitu kita bersiap sekarang. Sebentar lagi fajar tiba. Mereka tentu akan kembali,” kata Rangga.

Maka Rangga dan Datuk Pamuncak segera menyiapkan pasukan yang dibawa. Sedangkan prajurit-prajurit kerajaan yang tadi sempat ditangkap, dibebaskan dan berjaga seperti semula. Kini keadaan kerajaan telah kembali seperti semula sebelum terjadi kekacauan kecil tadi. Mereka membagi pasukan menjadi dua. Satu bersembunyi di dalam istana, dan pasukan lain bersembunyi di sekeliling istana.

Tepat ketika matahari muncul di ufuk timur, Kebo Bangah dan pasukannya telah kembali. Wajah mereka semua tampak muram.

“Buka pintuuu...!” teriak Kebo Bangah lantang.

Dua prajurit tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang. Kebo Bangah serta pasukannya segera masuk ke dalam dengan langkah tegap meski memaksakan diri.

“Hmm...!” Namun laki-laki ini jadi tersentak, dan tertegun barang beberapa saat melihat Gusti Prabu Arya Dwipa telah berdiri di halaman depan bersama beberapa prajurit. Dengan serta-merta, Kebo Bangah dan yang lain turun dari kuda dan menjura hormat.

“Gusti Prabu, terimalah hormat hamba!” ucap Kebo Bangah.

Yang lainnya pun berbuat sama. Mereka adalah Ki Pranajaya, Ki Lola Abang, Ki Jayawane, dan Ki Sedopati, serta para prajurit.

“Kuterima hormat kalian! Kemarilah!” ujar Gusti Prabu Arya Dwipa. Kelima orang itu segera mendekat. “Kebo Bangah, bagaimana tugasmu?”

“Perahu itu telah kosong, Gusti. Tapi, di sana terdapat banyak mayat bergelimpangan. Sepertinya habis terjadi pertempuran seru. Mudah-mudahan saja mereka semua mati. Perahu itu hamba sita untuk kerajaan. Dua puluh prajurit hamba tinggalkan untuk menjaganya...,” lapor Kebo Bangah.

“Hm, bagus! Aku terkesan dengan tugasmu. Dan selama ini, aku memang terkesan pada setiap hasil kerjamu!” sambut Gusti Prabu.

“Terima kasih, Gusti!”

“He, ke mana Ki Jagat Awang? Bukankah dia berangkat bersamamu?”

“Beliau pergi mencari Pendekar Rajawali Sakti, Gusti...,” sahut Kebo Bangah. “Mungkin ada sedikit urusan.”

Gusti Prabu Arya Dwipa mengangguk perlahan. Didekatinya Kebo Bangah lalu ditepuknya sebelah pundaknya. “Kebo Bangah! Selama ini, aku selalu percaya padamu. Bahkan tak jarang aku bertanya padamu. Demikian pula kali ini. Maukah kau menjawab beberapa pertanyaanku?” tanya Gusti Prabu Arya Dwipa.

“Dengan senang hati, Gusti! Pertanyaan apa gerangan?” sambut Kebo Bangah.

“Hukuman apa yang pantas bagi seorang pencuri?”

Mendengar pertanyaan itu, Kebo Bangah langsung berpikir ke mana tujuan kata-kata Gusti Prabu Arya Dwipa. Dengan adanya tawanan yang dijebloskan ke penjara, maka dia berpikir mungkin Gusti Prabu Arya Dwipa meminta pendapatnya tentang hukuman yang pantas bagi tawanannya.

“Pencuri barang-barang berharga mestinya dihukum gantung, Gusti Prabu! Itu sama artinya mempermainkan kita!” sahut Kebo Bangah, mantap.

“Aku setuju dengan usulmu itu! Nah, bila mereka merusak nama negaranya sendiri, apakah hukuman gantung itu tidak terlalu ringan?”

“Mestinya mereka dicambuk seratus kali. Lalu, potong kedua tangannya. Baru setelah itu digantung!”

“Bagus! Kau telah memilih hukumanmu sendiri!” sambut Gusti Prabu Arya Dwipa kalem.

“Gusti Prabu, apa ini...?!” sentak Kebo Bangah, terkejut setengah mati.

“Tangkap Kebo Bangah!” perintah Gusti Prabu Arya Dwipa.

Meski ragu-ragu, tapi para prajurit tetap meringkusnya juga. Hal ini bukan saja mengagetkan Kebo Bangah, tapi juga yang lainnya.

“Gusti Prabu! Hamba tidak mengerti! Mengapa Gusti menangkap hamba?!” tuntut Kebo Bangah.

“Gusti Prabu, apa yang telah terjadi? Kenapa Gusti menangkap Kebo Bangah?!” tambah Ki Sedopati.

Gusti Prabu Arya Dwipa menepuk beberapa kali. Seketika dari dalam dan luar istana muncul dua pasukan bersenjata lengkap. Juga, Rangga, Upik Sibirantulang, Datuk Pamuncak, Sutan Pamenan, dan Datuk Mangkuto Alam yang segera mendekati mereka.

“Tenanglah! Tidak perlu curiga. Mereka tidak menyerang kita!” teriak Gusti Prabu Arya Dwipa ketika melihat para prajurit yang bersama Kebo Bangah siap menghalau. Keadaan kembali tenang.

“Orang-orang ini justru akan menyingkap kedok busuk Kebo Bangah!” lanjut Gusti Prabu Arya Dwipa. “Kebo Bangah mencuri patung pusaka milik kerajaan mereka. Dan ketika mereka ke sini meminta haknya, Kebo Bangah malah berusaha menutupi diri. Bahkan berusaha mencelakakan mereka dengan segala cara. Tapi, Yang Maha Kuasa agaknya berkehendak lain. Untunglah niat busuknya tidak tercapai.”

“Kebo Bangah, benarkah itu?” tanya Ki Pranajaya tak percaya.

Bahkan Ki Sedopati, sekutu dekatnya, ikut terkejut mendengar penjelasan itu. Apalagi, ketika Rangga tampil di depan dan membeberkan apa yang diperbuat Kebo Bangah.

“Yah.... Hal itu memang benar...,” desah Kebo Bangah, lirih sambil mengangguk.

Mendengar pengakuan Kebo Bangah maka yang lain berteriak-teriak marah karena merasa diperalat. Gusti Prabu Arya Dwipa cepat mendiamkan mereka sebelum timbul kekacauan.

“Kebo Bangah telah menentukan hukumannya. Bawa dia dan cambuk seratus kali. Lalu, potong kedua tangannya!”

“Gusti...!” Kebo Bangah terkesiap mendengar hukuman itu.

“Kebo Bangah! Tahukah kau bahwa aku tidak pernah memaafkan pengkhianat? Tapi, para utusan Ratu Mudo Nan Ampek telah meminta agar kau tidak dihukum mati. Padahal, aku ingin sekali menghukummu. Mereka berharap, suatu saat akan berubah dan tidak melakukan perbuatan seperti itu lagi.”

“Gusti, ampuni hamba! Ampuni hamba, Gusti! Hamba berjanji tidak akan melakukannya lagi...!” ratap Kebo Bangah.

Tapi Gusti Prabu Arya Dwipa tak mempedulikannya. Dia segera memberi isyarat. Maka para prajurit segera membawa Kebo Bangah ke penjara.

“Kalian lihat, bukan? Aku tidak pilih bulu untuk menghukum orang. Bahkan bila anakku sendiri yang bersalah, tetap mendapatkan hukuman!” tandas Gusti Prabu Arya Dwipa dengan penuh wibawa.

“Terima kasih, Tuan ku Prabu! Mudah-mudahan Tuan ku akan terus dikenang sebagai raja yang adil lagi bijaksana!” ucap Upik Sibirantulang.

“Tinggallah kalian beberapa hari lagi di sini. Aku telah memperlakukan kalian kurang baik. Maka, aku akan merasa bersalah bila belum menjamu kalian dengan baik.”

“Baiklah kalau demikian kehendak Tuan ku....”

“Juga kau..., eh! Ke mana dia?” Gusti Prabu Arya Dwipa mencari-cari ke sekeliling tempat. Namun yang dicari tidak kelihatan batang hidungnya.

“Pendekar Rajawali Sakti telah pergi diam-diam. Agaknya, dia merasa tugasnya telah selesai...,” kata Datuk Pamuncak.

“Hm.... Padahal, aku hendak berbincang-bincang tentang banyak hal dengannya,” desah Gusti Prabu Arya Dwipa, menyesalkan.

Agaknya bukan hanya Gusti Prabu Arya Dwipa yang kecewa. Yang lain pun merasakan pula. Terlebih-lebih, Ratmi...!

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PETAKA GELANG KENCANA
Thanks for reading Utusan Dari Andalas I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »