Satria Pondok Ungu

SATRIA PONDOK UNGU

SATU

PAGI ini cuaca sangat cerah. Embun tampak berkilauan di ujung dedaunan, kemudian lenyap di tanah. Sebagian menguap di udara yang masih terasa dingn. Jalan setapak yang menuju Perguman Pondok Ungu di puncak Bukit Renggawas masih sepi dan lengang.

Sementara, kegiatan di perguruan itu sendiri telah berlangsung sejak pagi buta tadi. Sebagian murid bekerja bercocok tanam di ladang dan sawah. Sebagian lagi mencari kayu bakar. Tidak sebrang pun yang kelihatan berpangku tangan. Namun, kegiatan mereka mendadak berhenti, ketika.....

"Aaa...!"

Pagi yang cerah dipecahkan teriakan panjang bernada kematian yang berasal dari bawah, tak jauh dari tempat mereka bekerja. Semua yang tengah bekerja kontan menoleh ke arah datangnya suara barusan.

"Wuaaa!"

Kembali terdengar teriakan yang cukup menggiriskan. Tiga orang murid Perguruan Pondok Ungu segera berlari ke arah datangnya suara teriakan tadi. Dan sebentar saja, mereka telah tiba di tempat kejadian. Di tempat itu, mereka mendapati seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk. Sedang tepat di bawah telapak kakinya, tergeletak dua sosok tubuh yang telah binasa dalam keadaan menyedihkan. Wajah dan tubuh mereka hancur seperti habis dicakar binatang buas.

Mendengar ada suara langkah kaki mendekati, laki-laki bungkuk itu menoleh. Baru jelas kalau wajah kakek itu ternyata sangat mengerikan dengan bekas luka yang telah mengering di wajah tuanya.

Sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang runcing kakek bungkuk itu mengawasi tiga orang murid Perguruan Pondok Ungu yang baru datang. Namun begitu melihat tatapan mata merah dan liar milik kakek ini, ketiga murid itu tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang.

"Siapa kau, Kisanak? Mengapa seenaknya main bunuh di daerah kami...?!" tanya seorang murid yang bertubuh gagah.

"Kalian belum pantas mengetahui namaku! Ki Sangka Lelana sendiri tidak akan berani lancang...!" sahut kakek bungkuk itu, pongah. Ucapannya hambar, dan memandang rendah.

"Hei! Sopanlah sedikit kalau menyebut nama guru kami!" bentak murid lainnya yang bertubuh kurus.

"Ha... ha... ha...! Apa kehebatan Sangka Lelana?! Orang lain boleh menghormatinya. Tetapi, aku tidak akan sudi! Kalau tidak percaya, coba saja kalian panggil dia untuk menemui aku di sini!" ujar laki-laki bungkuk itu, bernada mengejek.

"Keparat! Hadapilah aku dahulu, baru boleh menghadapi beliau!" bentak murid Perguruan Pondok Ungu yang bertubuh kekar.

"Hua... ha... ha...! Dasar bodoh masih bau kencur! Baru punya kepandaian seujung kuku saja mau berlagak di depanku!" ejek laki-laki bungkuk itu lagi. "Malahl kalau perlu, sekalian gurumu panggil ke sini"

Para murid Perguruan Pondok Ungu marah bukan main mendengar guru mereka diejek sedemikian rupa. Maka....

"Sheaaat!"

Cangkul di tangan murid yang bertubuh tegap dengan cepat terayun pada pundak laki-laki tua bungkuk ini. Maksudnya hanya hendak memberi peringatan saja, agar si bungkuk itu tidak terlalu menghina orang. Tetapi, hanya sekali tangkis dengan tongkat cangkul itu terpental, karena terlepas dari genggaman pemiliknya.

Sementara itu dua murid lainnya segera menerjang menggunakan golok yang telah terhunus sejak tadi. Mereka tidak ragu-ragu lagi, karena telah menyaksikan sendiri kehebatan laki-laki tua itu. Sebenarnya mereka tidak punya urusan dengan manusia bungkuk yang berilmu tinggi itu. Tetapi karena pembunuhan tadi dilakukan di wilayah mereka, maka terpaksa harus membuat perhitungan. Sambil tertawa terbahak-bahak, manusia bungkuk itu memutarkan tongkatnya untuk memapak sambaran golok.

Trak! Trak!

Terdengarlah suara bentrokan keras. Kembali golok di tangan murid Perguruan Pondok Ungu terlepas dari tangan yang kontan terasa sakit. Sementara kulit mereka juga bagaikan hendak terkelupas.

"Gila! Tenaga orang tua ini bagaikan gajah!" dengus murid yang bertubuh kurus.

Murid berbadan kekar yang cangkulnya terlempar tadi segera mencabut pedangnya yang terselip di pinggang. Langsung dibabatnya pinggang lelaki bungkuk itu. Namun sambil mengegos ke kanan, dua jari tangan kiri laki-laki bungkuk ini berhasil menjepit mata pedang yang tajam. Dan sambil berputar, kakinya menendang persis mendarat di sambungan lutut.

Tug!

"Aaakh!" Pemuda berbadan kekar itu kontan jatuh terduduk. Pedangnya terlepas dari tangannya. Sementara dua orang segera mencengkeram dari belakang. Namun dengan gerakan memutar, kaki laki-laki bungkuk itu melepaskan tendangan beruntun yang bertenaga dalam tinggi. Akibatnya....

Jdug! Dugkh!

"Aaakh...! Aaakh...!"

Kedua orang murid Perguruan Pondok Ungu kontan tersentak kembali ke belakang, dengan kepala puyeng bukan main. Sebelum tubuh mereka menyentuh tanah, tongkat di tangan laki-laki bungkuk itu telah bergerak cepat.

Crok! Crok!

"Aaa...!"

Tidak ampun lagi, kedua murid itu ambruk dengan jiwa melayang, begitu ujung tongkat laki-laki bungkuk ini mendarat di tenggorokan mereka. Sementara murid-murid bertubuh kekar ini sudah bangkit lagi. Segera dia bersiul nyaring. Namun sebelum siulan selesai, laki-laki bungkuk itu telah berkelebat dengan ujung tongkat mengarah ke ulu hati. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Crap!

"Aaa...!" Dengan teriakan menyayat, pemuda kekar itu roboh dengan darah menyembur begitu ujung tongkat mendarat di ulu hatinya.

Sebentar laki-laki bungkuk itu memandangi sambil tertawa terbahak-bahak. Dan mendadak tubuhnya berkelebat lenyap.

Ketua Perguruan Pondok Ungu yang bernama Ki Sangka Lelana benar-benar terpukul mendengar laporan kalau tiga muridnya telah tewas di tangan seorang tokoh persilatan. Dari ciri-ciri luka para murid yang tewas, Ketua Perguruan Pondok Ungu itu bisa menebak kalau semua ini adalah ulah seorang tokoh berjuluk Setan Bungkuk.

Ki Sangka Lelana tahu betul, siapa Setan Bungkuk itu. Dia adalah tokoh sesat yang beberapa puluh tahun yang lalu pernah malang melintang dalam dunia persilatan. Namun sepak terjangnya bisa dihentikan oleh tokoh-tokoh aliran putih, yang di antaranya adalah Ki Sangka Lelana. Dan sejak itu, Setan Bungkuk tak muncul-muncul lagi dengan membawa dendam dan luka yang dalam, di samping cacat pada tubuhnya. Bagian wajahnya yang hancur adalah akibat senjata-senjata tajam para pendekar.

Kini Setan Bungkuk muncul kembali. Dan kemunculannya langsung membunuh dua orang pencari kayu bakar di Bukit Ranggawas. Rupanya tindakan ini hanya untuk memancing keluar para murid Perguruan Pondok Ungu yang terletak di puncak bukit itu. Dan begitu pancingannya mengena, para murid perguruan itu dibantai dengan luka-luka yang dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah untuk di kenali. Maka tak heran kalau Ki Sangka Lalana langsung dapat mengenali.

Di perguruannya, laki-laki berusia tujuhpuluh lima tahun itu memberi banyak petunjuk, agar murid-muridnya selalu berhati-hati dan memperketat penjagaan. Bahkan sejak saat itu, murid-muridnya dilatih lebih giat lagi. Penjagaan di sekitar perguruan pun lebih diperketat. Dan di tempat-tempat yang tersembunyi penjaga.

Tetapi, Setan Bungkuk ternyata tidak pernah muncul lagi di tempat itu. Sehingga dua purnama kemudian, Perguruan Pondok Ungu telah melupakan peristiwa itu.

********************

Desa Sabrang Lor hari ini tampak tidak teralu ramai. Di jalan utama desa, tampak seorang laki-laki tua berwajah buruk dengan tubuh bungkuk berjalan tertatih-tatih, dengan bertumpu pada tongkatnya yang berwarna hitam legam.

Tongkat itu melingkar-lingkar bagaikan ular melilit sebuah batang kayu. Sedangkan tengahnya terdapat lubang yang tembus sampai ke ujungnya. Dengan tongkat itu, pemiliknya tampak semakin menyeramkan. Malah orang yang berpapasan selalu menyingkir dan memberinya jalan, dengan berbagai pembahan di wajah.

"Ihhh! Wajahnya sangat menyeramkan! Sudah cacat, wajahnya hancur pula!" ejek seorang pemuda yang sedang berjalan dengan temannya.

Saat itu, kedua orang muda ini memang tengah berpapasan dengan laki-laki bertubuh bungkuk yang tak lain dari Setan Bungkuk.

"Wajahnya mirip hantu kubur!" timpal pemuda satunya.

Setan Bungkuk sendiri melirik. Lalu dengan gerakan tidak terduga tubuhnya melenting ke belakang. Begitu mendarat, tongkatnya cepat berkelebat. Kedua pemuda itu berhenti mendadak. Dan....

Crok! Crok!

"Aaa...!"

Kedua pemuda itu kontan ambruk dengan darah menyembur dari tenggorokan yang berlubang. Sedangkan orang bungkuk itu terus berjalan dengan bertumpu pada tongkatnya.

Para penduduk Desa Sabrang Lor yang mendengar jeritan barusan kontan terkejut. Begitu yakin kalau laki-laki bungkuk itu yang berbuat, mereka segera mengejar. Karena Setan Bungkuk berjalan santai, beberapa orang berhasil mengejarnya dan langsung mengurung dengan senjata terhunus. Dengan pandangan tajam mereka mengawasi Setan Bungkuk dari atas sampai ke bawah.

"Hei, Orang Tua! Tindakanmu begitu kejam. Kau memang orang tidak berperikemanusiaan sama sekali...!" bentak seorang laki-laki setengah baya, penduduk desa ini.

"Huh! Segala kutu busuk, mau banyak tingkah di hadapanku! Aku paling benci dengan orang-orang usil. Jangan lari kalian semua kalau nanti kubuat berhenti jadi orang!" gertak Setan Bungkuk.

"Sombong sekali kau, Orang Tua Busuk!" seru penduduk lainnya.

Kemudian dengan serentak, empat orang penduduk segera menerjang. Namun sekali Setan Bungkuk menggerakkan tongkat, senjata mereka menempel pada tongkat. Lalu dengan sekali sentak, senjata-senjata itu terlepas dari tangan.

Sebelum para penduduk sadar apa yang terjadi, Setan Bungkuk telah menggerakkan tongkatnya ke sana kemari. Beberapa teriakan kematian segera terdengar, disusul robohnya tubuh-tubuh tanpa nyawa. Salah seorang menerjang dari belakang, sambil menusukkan pedangnya pada punggung Setan Bungkuk.

"Heaaat!"

Namun tanpa berbalik lagi, tongkat di tangan Setan Bungkuk bergerak cepat menusuk ke belakang.

Crap!

"Aaa...!" Dan tongkat itu persis menancap di perut si pombohong sampai menembus punggung. Ketika dicabut, orang itu berkelejetan sejenak, lalu diam untuk selamanya.

Melihat betapa ganas dan saktinya laki-laki bungkuk itu, membuat para penduduk yang belum menyerang malah mundur ke belakang beberapa langkah. Tepat ketika lawan terakhir Setan Bungkuk ambruk, para penduduk telah berlarian kabur dari tempat ini. Sedangkan Setan Bungkuk dengan santainya melanjutkan perjalanannya.

********************

Seorang laki-laki tua berwajah buruk dengan tubuh bungkuk berjalan tertatih-tatih menuruni sebuah lembah yang dikenal dengan nama Lembah Jagad Pangeran. Agaknya sosok yang tak lain Setan Bungkuk itu sudah hafal dengan jalan di sekitar. Itu terlihat dari langkahnya yang tanpa berhenti. Namun dia tampak berhati-hati, jalanan menuju tempat ini benar-benar terjal.

Kini dengan enaknya, Setan Bungkuk berloncatan ringan, dari batu yang satu ke batu yang lain. Jelas, dia mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Hingga tak lama kemudian, sampailah dia di Lembah Jagad Pangeran.

"Hoi! Sakurang, keluarlah! Ini aku Kuntarawang datang berkunjung!" teriak Setan Bungkuk keras, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Tidak terdengar jawaban. Kembali Setan Bungkuk yang bernama asli Kuntarawang berteriak. Namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Dengan penuh keheranan kepalanya celingukan ke sana kemari. Tiba-tiba....

Wuuut!

Mendadak sebuah batu sebesar anak kerbau meluncur ke arah Setan Bungkuk. Namun sebagai tokoh berkepandaian tinggi, laki-laki tua ini hanya menggumam pelan. Baru ketika batu itu satu tombak lagi menghantam tubuhnya, tangan kirinya bergerak mengibas.

Blam...!

Hantaman tangan kiri Setan Bungkuk yang berisi tenaga dalam kuat luar biasa, membuat batu sebesar kerbau itu hancur. Bersamaan dengan itu, entah dari mana datangnya melesat sesosok bayangan hitam.

Begitu berdiri berhadapan sosok bayangan itu yang ternyata manusia berkulit hitam itu menerjang dengan kekuatan penuh. Begitu kedua tangannya menghentak, angin pukulan berbau amis yang beracun jahat langsung menderu tajam.

"Hait!"

Bagai kilat Setan Bungkuk melenting ke atas. Dan begitu tubuhnya meluruk, ujung tongkatnya sudah cepat menusuk ke arah pergelangan tangan laki-laki berkulit hitam dan juga berwajah hitam itu.

Namun tak kalah sigap, laki-laki hitam ini memutarkan telapak tangannya, berusaha mencengkeram tongkat di tangan Kuntarawang. Dengan cepat Setan Bungkuk menarik tongkatnya. Sementara tangan yang satu lagi menghantam.

Plak!

Dua tangan yang berisi tenaga kuat bertemu. Terdengar suara nyaring, disertai terdorongnya kedua tubuh tangguh itu.

"He he he...! Tenagamu bertambah maju, Sakurang!" puji Setan Bungkuk, setelah melenting ke belakang, dan mendarat manis di tanah.

"Kau sendiri tidak kalah hebatnya, Kuntarawang!" balas laki-laki berkulit hitam yang dipanggil Sakurang, setelah dapat menguasai keseimbangannya.

"Sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana ka-barmu, Sakurang?" tanya Kuntarawang, bernada bersahabat.

"Aku baik-baik saja," sahut Sakurang seraya maju beberapa tindak. Demikian pula Setan Bungkuk.

Sebentar kemudian, kedua laki-laki ini saling berpelukan, seperti dua sahabat yang lama telah berpisah. Setelah puas melepas rasa rindu, Setan Bungkuk segera menceritakan maksud kedatangannya ke Lembah Jagad Pangeran ini.

"Jadi maksudmu ingin membalas dendam pada Sangka Lelana?!" tanya Sakurang, setelah Setan Bungkuk menyelesaikan ceritanya.

"Benar! Tetapi yang kukhawatirkan adalah Aria Pamuji, tua bangka yang menjadi guru Sangka Lelana. Dan dia merupakan sesepuh Perguruan Pondok Ungu!" tegas Kuntarawang.

"Jangan khawatir! Kita adalah dua orang sahabat! Lagi pula, kita punya persoalan yang sama dengan Sangka Lelana. Dulu, aku pun pernah berurusan dengannya. Sayang, aku tak mampu menghadapinya. Hm.... aku akan ikut membantu sekuat tenaga dan jiwaku sebagai taruhannya!" tandas Sakurang. Suaranya terdengar datar. Kepalan tangannya bergetar mengingat dulu pemah dipecundangi Sangka Lelana.

********************

DUA

Dunia persilatan agaknya mulai digerogoti oleh dendam-dendam manusia yang penuh angkara murka. Manusia-manusia telengas yang tak puas oleh keadaan.

Dua purnama setelah pembantaian tiga orang murid Perguruan Pondok Ungu di puncak Bukit Ranggawas, kembali perguman itu diguncang oleh huru-hara yang diciptakan manusia-manusia telengas yang ingin melampiskan dendam. Mereka tak lain adalah Setan Bungkuk dan Sakurang.

Memang, setelah kedua tokoh sesat ini berlatih penuh selama dua purnama, mereka mulai melancarkan sepak terjangnya. Mulai menebar kematian di mana-mana. Kini sasaran utama adalah Perguruan Pondok Ungu.

Telah puluhan murid perguruan itu menjadi korban. Mayat bergelimpangan tak tentu arah. Bau anyir darah mulai menusuk hidung. Sementara sepak terjang Setan Bungkuk dan Sakurang terus berlangsung.

"He he he...! Bagus! Ayo suruh turun lebih banyak lagi!" seru Setan Bungkuk, mengejek sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Kini murid Perguman Pondok Ungu tinggal beberapa orang lagi. Dan mereka agaknya mulai jatuh nyalinya. Sementara itu, Setan Bungkuk sudah berniat menghabisi para murid perguruan itu. Namun sebelum niatnya terlaksana....

"Tahan...!"

Sebuah teriakan menggelegar, membuat Setan Bungkuk berpaling. Ternyata yang muncul adalah seorang laki-laki tua berjubah ungu.

"Akhirnya kau muncul juga, Sangka Lelana," desis Setan Bungkuk.

"Maaf, aku sedang bersemadi tadi. Hm.... Sudah lama kita tidak berjumpa! Apa kabarmu selama ini, Setan Bungkuk?!" tanya laki-laki tua berjubah ungu yang ternyata Ki Sangka Lelana perlahan.

"Tidak perlu basa basi lagi, Tua Bangka! Hari ini aku akan membereskan hutan nyawa!" bentak Kuntarawang, langsung.

"Apakah kau masih belum juga jera...?!" tanya Ki Sangka Lelana.

Baru saja selesai ucapan Ketua Perguruan Pondok Ungu itu, dari depan melayang sesosok bayangan hitam. Begitu mendarat di samping Setan Bungkuk, baru jelas, siapa yang muncul. Dia tak lain adalah Sakurang, seorang tokoh sesat yang memiliki pukulan beracun. Dengan pandangan menghina, dia mengawasi Ki Sangka Lelana.

Ki Sangka Lelana terkejut melihat kemunculan manusia tinggi besar berkulit hitam legam bernama Sakurang. Disadari kalau kedua orang di hadapannya adalah tokoh-tokoh sesat berkepandaian tinggi yang sangat ditakuti saat ini. Tetapi, sebagai seorang ketua, Ki Sangka Lelana tidak menampakkan kegentaran di wajahnya.

"Kalau tidak salah, kau adalah Sakurang yang berjuluk Setan Hitam. Hm.... Agaknya kalian mendendam atas peristiwa lama. Kalau ingin membalas silakan mulai. Tidak perlu banyak cakap lagi!" tantang Ki Sangka Lelana.

"Hua ha ha...! Semakin tua ucapanmu jadi semakin besar saja. Baiklah kalau kau sudah tidak sabar untuk berangkat ke neraka. Bersiaplah!" balas Sakurang, mengejek.

Baru saja satu sama lain siap menggebrak, sisa murid Perguruan Pondok Ungu yang berjumlah sepuluh orang segera bergerak kembali. Mereka langsung mengepung dua tokoh sesat itu.

"Guru! Biar kami yang menghadapi mereka!" seru salah seorang murid.

Tanpa menunggu jawaban dari Ki Sangka Lelana, mereka bergerak menerjang dengan pedang terhunus. Menghadapi kesepuluh orang yang rata-rata mampu bergerak cepat, kedua tokoh sesat itu hanya menyeringai ganas.

"Heaaa...!"

Trang! Tring!

Tongkat di tangan Kuntarawang, bersiutan melakukan gerakan melingkar untuk melindungi tubuhnya dari ancaman senjata pedang. Sedangkan tangan kirinya menyabet dengan sisi telapak tangan. Bahkan mencengkeram siapa saja yang berada terialu dekat dengannya. Kakinya pun tidak tinggal diam, selalu mengancam daerah kematian di tubuh lawan.

Sementara manusia berkulit hitam legam yang berjuluk Setan Hitam tidak kalah hebat. Begitu para penyerangnya mendekat, kedua tangannya yang mengandung racun langsung menghentak.

Melihat keselamatan muridnya terancam, Ki Sangka Lelana berkelebat cepat. Langsung dipapaknya serangan Setan Hitam.

Plak!

"Mundur kalian! Biar yang satu ini kuhadapi. Kalian membantu yang lain saja! Cepat!" teriak Ki Sangka Lelana.

Saat itu juga, para murid Ki Sangka Lelana berhamburan, ikut membantu murid lainnya yang menghadapi Setan Bungkuk.

Dengan menutup pernapasannya, Ketua Perguruan Pondok Ungu itu terus mendesak Sakurang alias Setan Hitam. Pedangnya membabat ke atas dan ke bawah, mencari lubang kelemahan. Bahkan gerakannya begitu cepat, bagaikan petir menyambar.

Walaupun demikian, Sakurang masih dapat menghindari serangan dengan melompat-lompat ringan bagaikan kera. Dan Ki Sangka Lelana mengenalinya sebagai jurus 'Kera Mabuk'.

Kadang kala, Setan Hitam harus bergulingan, sehingga membingungkan Ki Sangka Lelana. Lalu dengan gerakan cepat, dikeluarkannya kipas berwarna merah darah dari balik bajunya.

Sret!

Dengan kipas di tangan, Setan Hitam berhasil menghalau senjata di tangan Ki Sangka Lelana. Bahkan tiba-tiba tokoh sesat ini berkelebat sambil melancarkan totokan membahayakan, karena yang ditujunya adalah urat kematian. Belum lagi uap beracun yang dikeluarkan dari kibasan kipas merah. Jangankan terluka. Bila menghisap uap itu terlalu banyak pun dapat menimbulkan kematian!

"Sheat!"

Tang! Trang!

Beberapa kali Setan Hitam dan Ki Sangka Lelana terjajar mundur ketika senjata satu sama lain beradu. Dari sini bisa terlihat kalau tenaga dalam keduanya tidak berselisih banyak. Sehingga pertarungan jadi berlangsung seru. Lengah sedikit, kematian akan menjemput. Tak heran kalau jurus-jurus andalan telah banyak dihamburkan. Tetapi sampai sejauh itu belum ada seorang pun yang terluka.

Lain halnya Setan Bungkuk. Walaupun kepandaiannya cukup tinggi, tapi bila seorang diri ternyata kewalahan juga menghadapi sepuluh murid Perguruan Pondok Ungu yang menyerang bagaikan gelombang laut. Untung saja tenaga dalamnya lebih tinggi. Sehingga untuk sementara, dia masih dapat bertahan.

"Chiaaat!"

Wuk! Wuk!

Tongkat di tangan tokoh sesat itu berkelebat-an, melancarkan sebuah serangan mematikan. Putarannya demikian cepat sehingga desir anginnya terasa menyengat kulit. Dari tiap putaran, terkadang ujung tongkat itu mematuk-matuk ke jalan darah lawannya.

Pada saat para pengeroyok terkejut dan terdesak, Setan Bungkuk menempelkan bibir pada ujung tongkatnya.

"Phuhhh...!"

Wusss...!

Begitu Kuntarawang meniup ujung tongkatnya, seketika meluncur uap beracun ke arah salah seorang pengeroyok yang tak menduga, hingga terhirup. Saat itu juga murid Perguruan Pondok Ungu ini merasa pandangannya gelap. Kepalanya kontan berdenyut-denyut.

"He he he...! Racunku itu tidak ada obatnya, bersiaplah untuk mampus!" seru Setan Bungkuk. Sambil berkata tubuh Kuntarawang melesat ke muka. Tongkatnya cepat menyodok dengan tenaga penuh.

Crok!

"Aaa...!"

Tepat sekali ujung tongkat Kuntarawang mengenai dada lawannya. Tubuh murid ini kontan terguncang dan terdorong mundur. Sambil menekap dada, dia terbatuk-batuk. Setelah memuntahkan darah berwarna kehitaman, murid Ki Sangka Lelana ini ambruk. Kejadian itu hanya berlangsung sekejap. Sehingga yang lainnya tidak sempat mencegah.

Dua orang murid lain, segera menolong dengan jalan menyalurkan tenaga dalam pada punggung dan bekas luka tersodok tongkat. Tetapi, semua usaha itu sia-sia belaka. Setelah memuntahkan darah kembali, tubuh murid yang terluka ini kelojotan sejenak, lalu diam untuk selama-lamanya.

Melihat kematian salah seorang temannya bisa dibayangkan betapa marahnya murid-murid Perguruan Pondok Ungu. Sambil berteriak garang mereka menerjang Setan Bungkuk. Keduanya mengamuk tanpa mempedulikan keselamatan diri lagi.

"Heaaa...!" "Haaa...!"

Menghadapi amukan kesembilan murid itu, kembali Setan Bungkuk dibuat sibuk. Dia bertahan sambil sesekali melepas serangan.

"Baiklah...! Kalian terlalu mendesak untuk mati secepatnya. Aku terpaksa harus menuruti keinginan kalian," desis Setan Bungkuk.

Sehabis berkata, tubuh Kuntarawang bergetar keras. Tongkatnya seketika jadi puluhan jumlahnya. Ketika diputar tampak ujungnya jadi tak terhitung jumlahnya. Dari seluruh tubuhnya terdengar suara berkerotokan. Itu pertanda Setan Bungkuk telah mengerahkan tenaga dalam sampai ke puncaknya.

"Heaaat!" Sambil berteriak keras, Setan Bungkuk menerjang para pengeroyoknya.

Begitu tangan kiri Setan Bungkuk disorongkan ke depan dua kali, maka dua rangkum angin pukulan keras bagaikan prahara segera menerjang. Dengan serentak para murid Ki Sangka Lelana menggabungkan tenaga, lalu menyorongkannya kemuka menyambuti serangan.

Blarrr!

"Uaarhgk!"

Empat orang murid langsung jatuh bergulingan ketanah. Sedangkan Setan Bungkuk hanya tergetar mundur dengan wajah pucat. Kemudian alisnya dikerutkan. Lalu....

"Huahgk!"

Dari mulut Kuntarawang menetes darah segar. Tampaknya Setan Bungkuk sendiri mendapat luka lumayan. Namun laki-laki berwajah buruk itu cepat menggunakan kesempatan. Segera ujung tongkatnya ditiup kembali.

"Phuhhh...!"

Terpaksa para murid Perguruan Pondok Ungu itu berloncatan menjauhi semburan zat beracun yang keluar dari ujung tongkat Setan Bungkuk.

Pada saat yang sama Sakurang melihat kesempatan baik. Manusia berkulit hitam itu bagai kilat meloncat menjauhi Ki Sangka Lelana. Begitu dekat, tangannya menyebarkan racun ke arah para murid Ki Sangka Lelana.

Tidak menyangka akan mendapat serangan licik tersebut, kesembilan murid itu hanya mampu menjerit. Seluruh kulit tubuh mereka bagaikan terbakar dan bagai ditusuki ribuan jarum begitu terkena sambaran racun Setan Hitam.

Akibatnya, sembilan orang tampak bergulingan bagaikan ayam habis disembelih. Tak lama, mereka mengejang kaku dan tewas dalam keadaan kulit melepuh.

Ki Sangka Lelana yang menyaksikan perbuatan licik itu jadi kalap. Dengan seluruh kemampuan yang dimiliki diterjangnya Setan Hitam. Pedang di tangannya berkelebatan, bagaikan kunang-kunang mengitari api.

Sambil berloncatan, Sakurang berkali-kali mengebutkan kipas merahnya. Asap tipis berbau amis berwarna kemerahan segera menerjang Ki Sangka Lelana. Jelas, asap tipis itu mengandung racun jahat.

"Aiiit!"

Untuk menghindari serangan, Ki Sangka Lelana melenting ke udara seraya berjumpalitan beberapa kali. Begitu sampai di tanah dia sudah dalam keadaan siap kembali membuka jurus baru yang merupakan andalan Perguruan Pondok Ungu. Jurus 'Ular Mematuk Mangsa' yang disertai tenaga dalam penuh!

Suara pedang Ki Sangka Lelana mengaung dahsyat. Yang diincarnya adalah ulu hati Setan Hitam. Tetapi sambil memiringkan tubuh, Sakurang berhasil mengelakkan serangan. Bahkan kipas merahnya yang dirapatkan, mendadak menotok ke arah tenggorokan. Sedangkan kakinya melepas tendangan beruntun ke arah kepala.

"Chiaaat!"

Sambil membuang diri ke belakang, Ki Sangka Lelana menangkis serangan dengan gerakan sulit dan manis.

Plak! Plak!

Begitu terjadi benturan, Ketua Perguruan Pondok Ungu ini mengempos tubuhnya, melenting ke atas. Dan sambil berjumpalitan, pedangnya menyambar ke arah kepala Setan Hitam.

Sakurang cepat mengelak dengan membuangdiri ke belakang. Namun baru saja menjejak tanah Ki Sangka Lelana telah melesat sambil membabat pinggang dengan kakinya.

"Sheat!"

Whuuut!

Bagai kilat, Setan Hitam melompat ke atas. Tetapi serangan tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Ke mana pun Sakurang mengelak Ki Sangka Lelana selalu membuntutinya. Merasa kalau menghindar terus bakal kedodoran, Setan Hitam segera mengembangkan kipasnya.

Wuuut...!

Kipas Merah itu segera dikebutkan berkali-kali. Angin keras berhawa racun jahat dari kebutan kipas itu menerjang Ketua Perguruan Pondok Ungu bagaikan angin raksasa. Ki Sangka Lelana terpaksa menghentikan serangannya. Tubuhnya cepat melenting ke belakang, kalau tak mau menghirup asap beracun. Sekitar lima tombak dia mendarat manis di tanah.

"He he he...! Sangka Lelana! Jangan harap kau dapat mengalahkan aku! Lebih baik habisilah dirimu sendiri...! Atau biar aku sendiri yang melakukannya...!" ejek Setan Hitam.

"Huh...! Jangan harap akan semudah itu dapat mengalahkan aku! Manusia keparat! Bersiaplah untuk mampus...!" dengus Ki Sangka Lelana dengan mata merah membara.

Bentakan Ketua Perguruan Pondok Ungu disusul oleh tubuhnya yang berkelebatan sambil melepas serangan pedang yang laksana gelombang laut.

Setan Bungkuk yang sejak tadi memperhatikan pertarungan, kini ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya. Begitu melihat Ki Sangka Lelana menerjang Setan Hitam, pada saat yang sama dia berkelebat masuk dalam kancah pertarungan.

Mendapat keroyokan dua manusia sesat yang berilmu tinggi, Ketua Perguruan Pondok Ungu jadi terdesak. Terutama menghadapi racun dari manusia berkulit hitam berjuluk Setan Hitam.

Tanpa setahu orang-orang yang bertarung, dari balik sebuah batu besar dua pasang mata tengah memperhatikan semua kejadian itu dengan pandangan geram. Yang seorang adalah pemuda tanggung berwajah tampan. Sedangkan yang seorang lagi juga gadis tanggung berwajah cantik. Rambutnya dikuncir dua ke belakang.

Gadis cantik itu tampak meronta. Dia berusaha untuk ikut dalam kancah pertarungan. Bahkan pedang pendeknya sudah dicabut. Sementara, sejak tadi air matanya sudah tak terbendung lagi.

"Uuu.... Uuh!" Gadis muda itu melenguh, mengeluarkan suara di hidung.

"Tenanglah, Puspita Dewi...! Jangan berbuat yang tidak-tidak. Semua tindakan sembrono akan menimbulkan pengorbanan sia-sia. Tenanglah! Aku juga bukan orang yang takut mati! Tetapi, kalau kita semua mati, siapa yang akan menuntut balas kelak...? Saat ini, kita bukan tandingan mereka. Kita tunggu saja beberapa tahun lagi! Ingatlah. Ayahmu, adalah guruku pula. Jadi sudah kewajibanku pula untuk menuntut balas!" cegah pemuda tanggung ini sambil berbisik perlahan.

"Auuh.... Uuukh...!" Kembali gadis itu memperdengarkan suara di hidung.

"Bangsat! Kau memang seorang gadis pintar! Mari kita perhatikan lagi jalannya perkelahian ayahmu. Ingat, walau apa pun yang terjadi, kita jangan menampakkan diri!" tegas pemuda itu.

"Shat!"

Sementara itu sambil berteriak keras, Setan Hitam merangsek maju, hendak mencengkeram dada Ketua Perguruan Pondok Ungu. Namun serangannya berhasil dielakkan Ki Sangka Lelana dengan mengegos ke kiri. Sambil menggeram marah, tokoh sesat itu menyambar kipas merah di tangan kanannya, hendak menotok pelipis disertai tenaga dalam penuh. Namun sambil merendahkan tubuhnya, Ki Sangka Lelana cepat menusukkan pedangnya ke perut Sakurang.

"Huaet!"

Sebelum serangan Ketua Perguruan Pondok Ungu mengenai sasaran, pada saat itu Setan Bungkuk telah menyerang punggung dengan tongkat. Terpaksa Ki Sangka Lelana berbalik, seraya menangkis dengan pedangnya. Setelah berhasil menangkis, pedang Ki Sangka Lelana diputar sambil membabat kaki.

"Hup!"

Bagai udang, tubuh Setan Bungkuk melenting ke udara sambil mengirimkan tendangan ke arah kepala. Namun dengan gerakan cepat pedang di tangan Ketua Perguruan Pondok Ungu membabat kaki Setan Bungkuk. Mau tak mau, laki-laki ber-nama Kuntarawang itu menarik kakinya kalau tidak ingin terbabat buntung.

"Yeaaat!"

Pada saat yang bersamaan Setan Hitam telah mencelat melepas tendangan terbang berisi tenaga dalam penuh. Gerakannya cepat bukan main. Sehingga...

Duk!

"Aaakh...!"

Telak sekali pundak Ki Sangka Lelana kena hajar tendangan Sakurang. Bahkan ketika tubuh Ketua Perguruan Pondok Ungu itu terjajar maju, Setan Hitam telah mengebutkan kipas merahnya yang beracun ke punggung.

Dess...!

"Aaakh...!"

Tanpa dapat ditahan lagi, tubuh Ki Sangka Lelana kembali terlempar ke muka dan mencium tanah. Namun secepat itu pula, dia berjumpalitan ke muka untuk menghindari serangan susulan. Tetapi kedua tokoh sesat itu tidak mau melepaskannya begitu saja. Dengan cepat mereka memburu.

"Heaaat!"

"Wuaeee!"

Sebelum Ki Sangka Lelana berbalik, sebuah kebutan kipas merah milik Setan Hitam berhasil menghajar telak iganya.

Desss...!

Belum sempat Ketua Perguruan Pondok Ungu mempersiapkan diri, sebuah tendangan geledek Setan Bungkuk menghantam dada.

Desss...!

"Aaakh...!"

Ki Sangka Lelana jatuh bergulingan di tanah. Darah segar menggelogok keluar dari mulutnya. Wajahnya tampak pucat. Jelas, dia mendapat luka dalam yang tidak ringan. Namun dengan semangat membara, laki-laki tua ini berusaha bangkit berdiri.

"Sheat!"

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga, Ki Sangka Lelana meluruk ke depan sambil melepas tendangan. Namun, tendangannya cepat ditangkis dengan tongkat Setan Bungkuk.

Digkh!

Sementara Setan Hitam membarengi dengan pukulan jarak jauh yang dahsyat.

Wuttt!

Desss...!

"Aaa...!"

Ki Sangka Lelana kontan ambruk dengan punggung tertera gambar telapak tangan berwarna hitam legam. Orang tua itu berusaha bangkit dengan napas terengah-engah. Tetapi sebelum maksudnya tercapai, tubuhnya ambruk kembali dengan jiwa melayang.

"Ha ha ha...! Hutangku telah terbayar lunas! Tua bangka itu telah mampus di tanganku!" teriak Setan Bungkuk sambil tertawa kegirangan. Sedangkan Setan Hitam, turut tertawa keras.

Sementara gadis bernama Puspita Dewi yang bersembunyi tampak meronta dengan sekuat tenaga. Dia berusaha menerjang kedua tokoh sesat itu.

"Uuu.... Ugkh...!"

"Hei...! Mau ke mana kau...?! Diamlah! Jangan gila-gilaan, Puspita! Kita dapat terbunuh sia-sia semuanya...!" seru pemuda di sampingnya sambil menarik tangan gadis itu.

"Heh?!"

Tetapi ternyata suara yang perlahan dapat terdengar kedua tokoh sesat yang berhati kejam itu. Dengan serentak, mereka menoleh dan menghampiri ke arah datangnya suara.

Tentu saja, hati kedua anak muda itu jadi bergetar. Keduanya bingung, apa yang hendak dilakukan sekarang? Sementara, kedua tokoh sesat itu semakin dekat saja!

TIGA

Karena tidak ada jalan lain, Puspita Dewi dan pemuda di sampingnya segera meloncat dan melarikan diri.

"Heh?!"

"Berhenti...!"

Kuntarawang dan Sakurang terkejut, melihat yang melarikan diri ternyata sepasang anak muda tanggung. Mereka berteriak menyuruh berhenti, tapi kedua anak muda itu tak menggubrisnya.

"Kejar...! Jangan sampai lolos.... Mereka dapat membahayakan kita kelak di kemudian hari...!" seru Setan Bungkuk, seraya mengejar mendahului temannya.

"Itu dia.... Mereka menuju daerah pekuburan...!" teriak Setan Hitam sambil melesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menyusul Setan Bungkuk.

Melihat kedua tokoh hitam yang kejam itu tidak mau melepaskan, kedua anak muda yang sudah kalap itu semakin menambah kecepatan larinya. Yang ditujunya sebenarnya daerah terlarang pada Perguruan Pondok Ungu.

"Hei...! Ini daerah terlarang bagi perguruan itu!" seru Setan Bungkuk sambil menghentikan larinya, diikuti Setan Hitam.

"Apa yang ditakuti...? Ayo kejar terus. Atau, kita menyimpan penyakit yang dapat membunuh kita kelak...!" sergah Sakurang.

Mereka segera mengejar kembali. Tetapi, yang dikejar sudah tidak tampak lagi. Sakurang segera melompat ke atas pohon yang cukup tinggi. Dari sana, pandangannya diarahkan ke empat penjuru. Dan usahanya tidak sia-sia. Tampak olehnya dua sosok tubuh kecil berlari cepat ke arah pekuburan yang paling besar, menempel pada dinding gunung.

"Mereka berlari ke arah kuburan yang palingtua...! Cepat kita kejar, jangan sampai kehilangan jejak!" seru Setan Hitam sambil turun dari pohon, dan melesat mengejar. Tindakannya diikuti Setan Bungkuk.

"Ayo percepat larimu, Puspita. Jangan sampai terkejar mereka...! Karena, kitalah kelak yang harus membalaskan sakit hati ini!"

Pemuda yang berlari bersama Puspita Dewi memberi semangat sambil menarik tangan gadis itu. Begitu sampai di pintu kuburan paling besar yang berupa mulut gua, kedua anak muda itu langsung masuk. Keduanya tidak peduli apa yang akan terjadi. Yang penting saat ini, dapat meloloskan diri dari kejaran kedua manusia kejam di belakang.

"Keparat! Setan cilik itu masuk ke dalam gua kuburan itu! Sepanjang yang kutahu, kuburan ini sangat terlarang bagi umum! Bahkan bagi murid Perguruan Pondok Ungu sendiri!" rutuk Setan Bungkuk.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan...? Apakah kita harus kembali dengan tangan hampa. Bahkan membiarkan mereka tumbuh dewasa untuk membalas dendam pada kita...?" tukas Setan Hitam.

"Baiklah! Mari kejar sampai ke dalam. Aku mau lihat, apa yang akan terjadi nanti!" ujar Setan Bungkuk.

Seraya mempersiapkan tenaga dalamnya, Setan Bungkuk menerjang ke dalam. Perbuatannya diikuti Sakurang. Tetapi begitu tubuh mereka masuk ke dalam....

Wuesss...! "

Mendadak serangkum angin dahsyat meluruk, menghajar kedua tokoh sesat itu.

"Wuaaa...!"

"Aaakh...!"

Bagaikan layangan putus, kedua tokoh sesat ini melayang keluar dari dalam gua. Dengan keheranan mereka merayap bangkit dengan pandangan menatap ke dalam gua. Lalu satu sama lain saling pandang dan mengangguk. Secepat itu pula, mereka menerjang kembali dengan tenaga dalam penuh.

Wuesss!

Kembali sebuah tenaga tidak terlihat menerpa dari dalam. Tanpa dapat ditahan lagi, kedua tokoh sesat yang ditakuti di kalangan persilatan itu terpelanting keluar, dan jatuh bergelindingan di atas tanah berdebu. Napas mereka terasa sesak dengan dada terasa sakit sekali.

"Hei! Apakah di dalam sana ada hantu...?!" tanya Setan Bungkuk penasaran, seperti untuk diri sendiri.

"Tidak masuk akal! Tenaga gabungan kita berdua, seakan-akan amblas ke dalam bumi!" sahut Sakurang.

"Mari kita tinggalkan tempat ini untuk sementara. Biar kelak kita kembali lagi!" ajak Setan Bungkuk sambil berbalik. Lalu tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu diikuti Setan Hitam. Dalam waktu singkat saja, tempat itu telah sepi dan hening kembali.

Sementara itu, Puspita Dewi dan pemuda yang menemaninya telah memasuki gua kuburan yang dingin dan menyeramkan. Namun mereka tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting selamat.

Lorong pekuburan itu gelap sekali. Tempat ini memang lebih tepat disebut gua, karena tidak tampak kuburan sama sekali. Namun kedua anak muda itu terus merayap maju, sambil berpegangan tangan. Semakin ke dalam ruangan semakin luas.

Sesaat kemudian, mereka melewati sebuah ruangan besar, tetapi gelap gulita. Dari dalam ruangan terasa ada angin dingin yang menebar keluar. Tanpa terasa tubuh mereka jadi gemetar sambil menatap ke dalam ruangan. Tetapi, semuanya gelap. Tidak tampak adanya suatu kehidupan dalam ruangan ini.

"Uuu.... Aaah.... Uaaah...!" Puspita Dewi memperdengarkan suara di hidung sambil berpegangan erat pada pemuda di sampingnya.

"Kau takut, Puspita...? Aku juga takut. Tetapi selama ada aku tidak akan ada yang kubiarkan mencelakaimu... Percayalah!" tegas pemuda itu meyakinkan Puspita Dewi.

Sambil berkata, keduanya bermaksud melanjutkan perjalanan. Tetapi, dari dalam gua kembali berdesir angin dingin. Tanpa terasa, tubuh mereka jadi gemetar.

Ketika mereka memaksa hendak maju ke dalam, hawa dingin yang berasal dari dalam lorong lain di sebelah, seolah-olah ada daya hisap kasat mata yang menarik mereka ke dalam. Keduanya berusaha menahan tarikan, tetapi sia-sia. Bahkan tenaga keduanya seakan amblas. Sehingga, mereka tidak berdaya menahan tarikan berhawa dingin itu.

"Uuu.... Uuuh...!" lenguh gadis itu sambil mempererat pegangannya pada lengan pemuda di sampingnya.

"Aaakh! Angin apa ini...? Mengapa daya tariknya begitu kuat. Dan, aku tidak berdaya menahannya...!" keluh pemuda itu.

Mereka berdua terus tertarik dan terseret ke dalam. Semakin ke dalam, ruangan itu jadi semakin luas. Puspita Dewi dan pemuda itu, terbanting ke sana kemari. Kulit tubuh mereka banyak yang luka. Tetapi mereka berdua tidak melepaskan pegangan.

Blug!

Kedua anak muda itu terbanting keras pada ruangan yang bersih dan terang. Cahaya itu berasal dari lubang yang menembus ke samping gunung di belakang.

Dengan tubuh terasa sakit, mereka merayap bangkit dari atas tanah dengan pandangan mengawasi ke sekeliling ruangan. Dan pandangan itu terhenti pada sesosok tubuh tua renta berwajah bersih. Rambutnya putih menjuntai sampai ke pundaknya. Pakaiannya sudah compang-camping. Usianya juga sulit diterka. Hanya pandangan matanya bersinar tajam, menusuk bagi siapa saja yang memandangnya.

"Siapakah kalian ini...? Mengapa berani memasuki tempat terlarang ini...?!" tanya sosok tua itu dengan suara berat.

"Namaku Bima Sena. Dan temanku ini adalah Puspita Dewi, putri guruku yang bernama Ki Sangka Lelana!" jawab pemuda tanggung itu seraya menjura hormat.

"Uuuh.... Auuu...!" Puspita Dewi mencoba memberi penjelasan.

"Hm! Agaknya temanmu tidak dapat berbicara. Apakah terjadi sejak kecil...?!" tanya orang tua berpakaian compang-camping.

"Benar, Eyang.... Aku teman bermainnya sejak kecil!" sahut pemuda tanggung bernama Bima Sena, lugu.

"Jadi kau murid Perguruan Pondok Ungu...? Dan gadis ini putri Sangka Lelana? Mengapa Sangka Lelana tidak mengatakan kalau tempat ini terlarang bagi umum. Bahkan bagi murid Perguruan Pondok Ungu sendiri...?!" tanya orang tua itu kembali bertanya dengan pandangan mata tajam.

Bima Sena segera menceritakan apa yang telah terjadi pada Perguruan Pondok Ungu. Mendengar kejadian itu, alis orang tua ini tampak bertautan. Pada matanya terlihat sinar berapi. Tetapi, itu hanya sejenak. Kemudian berubah seperti biasa lagi.

"Jadi dua orang tadi yang telah memporak-porandakan Perguruan Pondok Ungu...?" tanya orang tua itu ingin meyakinkan sambil mengepalkan tinjunya.

"Benar, Eyang!" sahut Bima Sena, pendek.

"Hm.... Aku sudah tua. Dan, tidak mungkin berkeliaran lagi dalam dunia persilatan! Biarlah tugas ini kalian berdua yang memikulnya. Dan kalian berkewajiban mengamankan dunia persilatan dari setiap angkara murka. Tugas kalian berat sekali. Kelak, kalian harus mengangkat kembali nama baik Perguruan Pondok Ungu. Soal dendam, itu tanggung jawab kalian, asal jangan membabi buta...," papar orang tua itu memberi penerangan.

"Semua petunjuk Eyang, akan kami perhatikan dengan baik," jawab Bima Sena sambil menundukkan kepala.

"Bagus! Oleh karena itu, kalian harus belajar dan berlatih keras di sini! Aku ini masih terhitung kakek gurumu sendiri! Namaku Aria Pamuji. Hampir tujuh belas tahun aku mundur dari dunia persilatan, sampai akhirnya membuat larangan untuk tidak memasuki tanah pekuburan ini. Larangan itu kusampaikan pada guru kalian, Sangka Lelana untuk ditujukan pada umum, sampai murid Perguruan Pondok Ungu. Maksud tujuanku hanyalah, agar pengasinganku ke sini tidak terganggu oleh pengaruh dunia luar. Sejak itu tidak ada yang berani masuk ke tempat ini. Dan baru kalian berdualah yang kuizinkan masuk ke sini dalam keadaan hidup. Inilah juga karena kalian masih kecil. Maka mulai saat ini kalian tinggal di tempatku. Namun kalian tidak kuizinkan keluar sebelum memenuhi syarat dalam hal kepandaian maupun ilmu olah kanuragan."

"Baik, Eyang. Kami akan belajar sepenuh hati...!" tandas Bima Sena! Sementara, Puspita Dewi menyetujui dengan mengeluarkan suara yang hanya dapat dimengerti Bima Sena seorang. Mulai saat itu juga kedua anak muda ini tinggal dalam gua kuburan untuk dididik berbagai ilmu olah kanuragan.

Sekian lama Bima Sena dan Puspita Dewi tinggal, baru tahu kalau gua dalam kuburan itu tembus ke lamping gunung di belakangnya. Pada lamping gunung itu terdapat dataran luas yang banyak ditumbuhi pohon buah segar dan enak dimakan. Maka walaupun tidak keluar dari gua, mereka tidak takut kekurangan makanan.

Di tempat itulah Bima Sena dan putti Ki Sangka Lelana dilatih secara keras. Dan Eyang Aria Pamuji memang termasuk sesepuh Perguruan Pondok Ungu yang terkenal keras dalam melatih murid-muridnya. Kepandaiannya sudah sulit dicari tandingannya lagi. Usianya lebih dari sembilan puluh tahun. Tak heran kalau orang harus berpikir seratus kali bila ingin berurusan dengannya.

Bima Sena dilatih tenaga dalam yang dibarengi dengan pengolahan pernapasan. Pada mulanya pemuda itu merasa kepalanya pening dan berdenyut keras. Darah ditubuhnya seakan mengalir ke arah kepala. Pandangannya gelap dan ribuan bintang seakan-akan menari di sekelilingnya. Pada puncak daya tahannya, Bima Sena jatuh pingsan.

Aria Pamuji kemudian segera merawat pemuda itu. Dijejalinya obat pulung ke dalam mulut Bima Sena. Tidak memakan waktu lama, pemuda itu telah sadar dari pingsannya. Napasnya tampak terengah-engah dan memburu.

"Atur napasmu perlahan-lahan. Jangan seperti kerbau habis membajak sawah...!" ujar orang tua itu.

Latihan selanjutnya adalah memukul tulang kering kaki Bima Sena dengan dahan kering. Pemuda itu hanya dapat meringis, sambil menahan sakit. Aria Pamuji memang sangat keras dalam melatih. Bila terjadi kesalahan, pukulanlah yang akan didapat Bima Sena.

Begitu juga yang dialami Puspita Dewi. Dalam berlatih ilmu meringankan tubuh, gadis ini ditempa dengan keras. Untungnya selain memiliki tenaga kuat, gadis gagu yang cantik ini mempunyai semangat tinggi. Pelajaran ilmu pedang yang hampir lenyap dari dunia persilatan, dengan suka rela dan kesadaran penuh dia telah berlatih.

Ki Aria Pamuji mengawasi mereka berlatih dengan senyum bangga. Diam-diam dia mengakui kekerasan hati kedua anak muda mudi itu.

********************

EMPAT

Dua orang yang masing-masing bertubuh bungkuk dan berkulit hitam legam, berjalan dalam lorong batu yang panjang dan lembab. Hawa dalam lorong itu sangat dingin dan menusuk tulang. Bahkan sampai terasa ke dalam sumsum. Namun kedua orang tua yang tak lain Setan Bungkuk dan Setan Hitam terus berjalan seakan tidak merasakan hal itu.

"Sakurang! Sesaat lagi kita akan sampai!" kata Setan Bungkuk.

"Benar! Kita harus berlatih bersama untuk dapat mengalahkan manusia dalam lubang kuburan di daerah terlarang Perguruan Pondok Ungu!" sahut Sakurang.

Kedua tokoh sesat itu terus berjalan menuju ujung lorong batu yang berhawa dingin. Sesampainya di ujung lorong, terdapat jalan yang bercabang dua. Mereka berdua mengambil jalan ke arah kiri. Sesaat kemudian, keduanya sampai di ujung lorong yang ternyata merupakan sebuah lapangan luas, lengkap dengan daun dan lebatnya pohon buah-buahan yang dapat dimakan.

Ternyata, kedua tokoh itu kini berada dalam jurang yang cukup menyulitkan kalau ditempuh dari atas. Selain tebingnya terlalu curam, juga khawatir akan ular-ular berbisa.

Di tempat itu, kedua manusia sesat ini berlatih keras. Setelah menyatroni gua di pekuburan Pondok Ungu, orang yang tidak tampak dalam lorong gua itu. Betapa tidak? Orang tak nampak itu berhasil melemparkan mereka sampai dua kali!

Kuntarawang yang bertubuh bungkuk, berlatih ilmu tongkat dan ilmu racun merah yang menjadi andalannya. Sedangkan Sakurang memperdalam ilmu tangan kosong dan racun yang dikuasainya. Setan Hitam tidak takut kekurangan racun, karena dalam lorong yang sebelah kanan pada jalan yang dilaluinya, terdapat berbagai jenis binatang berbisa yang mematikan.

Tanpa terasa, sudah tiga tahun Setan bungkuk dan Setan Hitam berlatih di tempat itu. Sehingga tenaga dalam maupun ilmu racun mereka jadi bertambah kuat.

Bila merasa lapar, mereka dapat mengambil ikan dari dalam danau. Atau, buah segar yang banyak tumbuh di pohon. Kadang kala, keduanya berlatih tanding bersama. Hasilnya sangat mengagumkan. Banyak pohon tumbang dan batu gunung yang keras hancur terhajar pukulan maupun tendangan kedua tokoh sesat itu.

"Hait!"

"Yeaaat!"

Blarrr!

Akibat benturan tenaga yang kuat, satu sama lain terlempar mundur. Dengan terkejut, Sakurang bersalto beberapa kali di udara. Lalu sampai di atas tanah ternyata keadaannya tak kurang suatu apa. Demikian pula halnya Setan Bungkuk.

Melihat hasil yang mengagumkan, kedua tokoh sesat ini tertawa jumawa. Suara tawa mereka menggema dalam jurang ini.

"Ha ha ha...! Kurasa sekarang kita tidak perlu khawatir lagi pada manusia penghuni kuburan tua itu...!" seru Kuntarawang.

"Benar! Mana mungkin dia melatih bocah cilik itu jadi pendekar yang melebihi kita...? Walaupun kepandaiannya setinggi langit, tidak masuk akal kalau mampu menyulap bocah itu jadi pendekar yang mampu menandingi kita yang telah berusia lanjut ini...?!" tukas Sakurang santai, sambil tersenyum penuh kebanggaan.

"Tangan racun merah dan ilmu tongkatku sudah mencapai taraf sempurna. Aku tidak gentar lagi menghadapi mereka!" tandas Setan Bungkuk, sombong.

"Aku juga telah berhasil mengumpulkan dua mangkuk cairan beracun yang terdiri dari berbagai jenis binatang berbisa. Tengah malam nanti, cairan itu akan kesedot kedalam kedua tanganku. Setelah itu, kita akan keluar membuat perhitungan pada manusia dalam lorong kuburan tua itu! Lagi pula, aku telah berhasil mengumpulkan berbagai jenis binatang berbisa dalam kantungku!" jelas Setan Hitam.

Malam telah tiba tanpa terasa. Purnama bersinar penuh, hingga di tengah lapangan tempat kedua tokoh sesat itu berlatih, tampak terang benderang. Sakurang yang berkulit hitam legam tampak berkilat dalam cahaya rembulan yang bersinar penuh.

Tiba-tiba, awan hitam bergulung-gulung dan menutupi rembulan. Dalam cuaca yang seperti itu, tempat mereka berlatih berubah jadi gelap gulita. Tetapi, semua itu tidak membuat Sakurang menghentikan latihannya. Dua mangkuk tanah tampak di hadapannya.

Dalam kegelapan yang mencekam, tampak manusia berkulit hitam itu menggerakkan tangan dengan jurus-jurus tertentu. Lalu tubuhnya berjumpalitan, dan jatuh duduk tepat di hadapan mangkuk yang terisi cairan beracun. Perlahan-lahan, kedua tangannya dimasukkan kedalam mangkuk.

Cairan dalam mangkuk nampak bergerak-gerak. Tak lama berbusa dan kemudian mendidih, sehingga warnanya berubah jadi merah kehitaman. Dan perlahan-lahan, cairan itu tersedot habis ke dalam kedua tangannya. Setelah kejadian itu, wajah Setan Hitam berubah gelap. Dan dahinya tampak berkerut-kerut seperti menahan sakit.

Kemudian, manusia hitam itu mengeluarkan obat cairan berwarna merah. Segera dibalurkannya obat itu pada kedua tangan. Kemudian, Sakurang mengambil sikap semadi sambil mengatur jalan napas dan tenaga dalam untuk menguasai racun yang terserap dalam tangannya. Lambat laun, Sakurang berhasil mengumpulkan semua racun dalam tangannya.

"Kuntarawang! Sekarang kita telah berhasil menyempurnakan kepandaian kita! Sangka Lelana telah berhasil kita binasakan. Kini, muncul persoalan baru, kita harus melenyapkan kedua bocah ingusan itu dulu!" kata Setan Hitam, ketika telah selesai dengan latihannya dan menghampiri Setan Bungkuk yang duduk memperhatikan.

"Ya...! Hampir empat tahun kita mengurung diri sambil berlatih. Maka, berarti bocah itu bukan seperti dulu lagi. Keduanya pasti telah berubah jadi seorang pemuda dan pemudi yang telah dewasa. Dan walau bagaimana, kita jangan terlalu memandang ringan padanya. Buktinya dua kali kita menggabungkan tenaga, tetap saja tidak berhasil menerobos masuk! Itu suatu pertanda manusia yang berada dalam lorong kuburan, tidak bisa dianggap sembarangan. Dia pasti seorang tokoh sakti yang telah mengasingkan diri. Atau jangan-jangan, si Aria Pamuji yang mempakan sesepuh Perguruan Pondok Ungu yang telah mengasingkan diri...," kata Kuntarawang, memberi penjelasan sambil menduga-duga.

"Bisa jadi.... Siapa tahu bocah itu juga telah mendapat pelajaran yang tinggi dari tua bangka itu...," sahut Sakurang agak menggeram.

********************

Di pagi yang masih terbalut kabut, terdengar derap langkah kaki-kaki kuda. Tampak enam ekor yang dipacu kencang oleh penunggangnya. Dari pakaian, terlihat jelas kalau keenam penunggang kuda itu adalah para perwira Kerajaan Sekar Kuning. Di pinggang masing-masing tergantung pedang tajam yang warangkanya dihias indah.

Mendadak kuda-kuda tinggi besar itu terhalang oleh dua sosok tubuh yang enak-enakan berjalan berlawanan di tengah, pada jarak sekitar dua puluh tombak. Anehnya, kedua sosok itu tidak menepi atau menyingkir. Mereka malah berjalan terus ke arah kuda yang berlari bagaikan dikejar setan.

"Heya!" "Heyaaa!"

Ctar! Ctar!

"Hei.... Minggir kalian...! Apakah kalian sudah bosan hidup, berani menghalangi jalan kami...?!" bentak salah seorang perwira kerajaan, seraya menghentikan lari kuda diikuti yang lain, setelah berada pada jarak dua tombak.

"Eh.... Bukankah mereka Kuntarawang dan Sakurang...?!" seru seorang prajurit lainnya.

Baru saja kata-kata mereka terhenti, mendadak salah satu sosok yang memang Sakurang alias Setan Hitam melemparkan sesuatu. Benda merah itu tepat menempel pada salah satu kuda tunggangan perwira. Ternyata, benda itu adalah seekor kelabang merah yang sangat beracun. Maka kontan kelabang merah itu menyengat kuda ini.

Ctot!

"Hieee...! leee...!"

Saat itu juga, kuda ini jadi berjingkrakan. Walau penunggangnya berusaha menahan, tetap saja terlempar dari punggung kuda yang besar dan kuat. Untung saja, dia masih dapat berjumpalitan dari atas kudanya, dan mendarat manis di tanah.

Begitu kuda itu jatuh, langsung kelojotan sejenak. Baru kemudian, diam dan mati kaku dengan kulit berwarna kehitaman. Dapat dibayangkan, betapa jahatnya racun yang digunakan Sakurang. Sementara disebelahnya, sosok satunya yang tidak lain Kuntarawang hanya tersenyum dingin.

"Heaaat!"

Ctar!

Salah seorang perwira Kerajaan Sekar Kuning yang menyaksikan kekejaman Setan Hitam itu segera mengayunkan cambuk ke arah Sakurang. Tetapi, sambil tertawa mengejek Setan Hitam melompat ke samping. Bersamaan dengan itu, tangannya kembali mengayunkan beberapa benda ke arah kuda tunggangan mereka.

Ser! Ser! Ser!

Saat itu juga beberapa kelabang merah melekat di tubuh kuda tunggangan para perwira. Kembali kuda tunggangan itu meringkik keras setelah tersengat. Tanpa memakan waktu lama, kuda-kuda itu berjatuhan dalam keadaan binasa. Sementara semua penunggangnya telah berlompatan turun.

"Hait!"

"Yeat!"

Kini enam perwira Kerajaan Sekar Kuning memandang tajam ke arah kedua tokoh sesat yang sering membuat onar. Bukan saja terhadap dunia persilatan. Bahkan terhadap Gusti Prabu Jayasena, Penguasa Kerajaan Sekar Kuning. Sehingga, mereka jadi buronan yang dicari pihak kerajaan untuk menerima hukuman.

Tetapi, kepandaian kedua tokoh sesat ini sudah begitu tinggi. Sehingga para prajurit kerajaan banyak yang celaka dan binasa di tangan mereka. Bahkan saat ini, menghadapi para perwira kerajaan yang rata-rata memiliki ilmu olah kanuragan tinggi, keduanya hanya tertawa-tawa penuh ejekan dan memandang rendah.

"Huh...! Ternyata setelah sekian tahun tidak muncul, keganasan kalian tidak pernah berubah! Bahkan semakin menjadi-jadi! Sekarang, terimalah kebinasaan kalian...!" bentak salah seorang perwira.

"He he he...! Dengan jumlah kalian yang berenam, mau melawan kami...? Coba sajalah! Kalian akan segera kami berangkatkan ke neraka menyusul teman-teman kalian yang telah mendahului...!" ejek Kuntarawang, sambil mencibirkan bibirnya.

"Keparat... Kubunuh kau...!" bentak seorang perwira kerajaan.

Sring!

Suutt...!

Pedang-pedang berkilat yang saking tajamnya berkelebatan ke arah leher Kuntarawang. Tetapi, Setan Bungkuk seolah tidak mengacuhkan serangan. Barulah setelah dekat benar, serangan itu dielakkan dengan jalan memiringkan kepala. Lalu dengan gerakan cepat, dicengkeramnya dada salah seorang perwira. Sebelum perwira itu berontak, telapak tangan kiri Setan Bungkuk menghantam perut sambil mengerahkan ilmu 'Racun Merah'.

Desss...!

"Aaa...!"

Terdengar teriakan menyayat dari mulut perwira kerajaan itu. Tubuhnya kontan terlempar. Begitu jatuh di tanah jiwanya melayang dengan perut tertera gambar telapak tangan berwarna merah darah.

"He he he...! Ayo mana lagi yang lainnya...?!" ejek Kuntarawang, pongah.

"Bangsat! Mari kita adu jiwa!" teriak salah seorang perwira.

Saat itu juga kelima perwira itu mencabut pedang masing-masing. Sementara Sakurang dan Kuntarawang tertawa tergelak-gelak dengan pandangan menghina.

"Heaaa...!"

Diiringi teriakan membahana bagai hendak membelah langit, kelima prajurit itu serentak menerjang sambil menyabetkan pedang masing-masing.

Trang! Trang!

Serangan pedang mereka ditangkis tongkat Kuntarawang, sehingga membuat tangan jadi bergetar keras. Hampir saja pedang para perwira itu terlepas dari tangan.

Walaupun demikian tidak mudah bagi Kuntarawang untuk mengalahkan para perwira yang berkepandaian tinggi itu. Apalagi, kerja sama mereka sangat kompak dan rapi sekali. Sehingga untuk sementara Setan Bungkuk sulit mencari lubang kelemahan mereka.

Setan Hitam kini mulai bergerak kembali, hendak membantu Setan Bungkuk yang tampak kerepotan. Kedua tangannya terdengar berkerotokan dan mengeluarkan asap biru kehitaman. Bau asap yang keluar dari tangannya sangat amis sehingga membuat sesak pernapasan. Seketika, tubuh manusia berkulit hitam itu berkelebat sambil mengirimkan serangan tangan beracun yang mematikan.

Para perwira yang tengah mengeroyok Setan Bungkuk segera sadar kalau tangan Setan Hitam mengandung racun jahat. Maka mereka cepat menghentikan serangan dan melenting menjauh.

Namun, kedua tokoh sesat itu tidak sudi membiarkan mereka begitu saja. Saat itu juga, Sakurang dan Kuntarawang meluruk. Lewat sepuluh jurus, kelima perwira kerajaan itu mulai terdesak di bawah angin. Mereka mulai bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga, lambat laun mereka hanya dapat menangkis dan main mundur saja.

Dalam bergerak mundur, pedang kelima perwira itu bergerak bagaikan kilat. Namun, tetap saja serangan kedua tokoh sesat itu tidak mampu dibendung. Bahkan tiba-tiba Setan Bungkuk menghentakkan telapak tangannya, melepas pukulan dari ilmu 'Racun Merah' yang menjadi andalannya.

"Hih...!"

"Bug!"

"Aaakh!"

Telak sekali pukulan beracun itu mendarat didada salah seorang perwira, yang kontan terpental dengan jiwa melayang. Begitu menggeletak di tanah, di dadanya tampak tertera tanda telapak tangan berwarna merah.

Empat sisa perwira tampak terkejut setengah mati. Pada saat yang demikian, Setan Hitam memanfaatkan kesempatan. Cepat tangannya bergerak ke saku, lalu mengibaskan ke depan.

Srat! Srat!

Saat itu juga, melesat beberapa benda yang ternyata berbagai jenis binatang berbisa. Dengan gerakan cepat, para perwira ini mengibaskan pedangnya. Tetapi tidak urung beberapa binatang berbisa mengenai dua orang prajurit.

Cras! Cras...!

"Wuahhh...!"

"Huuukh!"

Terdengar teriakan menyayat ketika binatang-binatang berbisa itu menyengat dua orang prajurit ini. Mereka kontan berjatuhan dengan tubuh membiru. Yang lebih menyedihkan, mereka binasa dalam waktu singkat tanpa dapat berbuat apa-apa.

"Ha Ha ha..." Sementara, kedua tokoh sesat itu tertawa kegirangan. Namun....

"Khraaagkh...!"

"Heh...!" Mendadak dari angkasa terdengar suara menggelegar, membuat Kuntarawang dan Sakurang terjingkat kaget. Kedua tokoh sesat ini langsung mendongak. Dan mereka makin tambah terkejut ketika di angkasa melayang seekor burung rajawali berwarna putih.

"Hei! Apakah itu...? Dari suara kepak sayapnya, sepertinya itu burung rajawali...?!" kata Sakurang sambil mengawasi.

Belum sempat kata-kata Sakurang terjawab, sosok putih yang memang burung rajawali berwarna putih itu menukik ke bawah dengan kecepatan dahsyat. Makin kebawah, makin jelas kalau burung itu ternyata bukan burung sembarangan. Dari bentuk dan gerakannya, membuat jantung bergetar.

Sebelum burung rajawali raksasa itu mendarat, dari punggungnya melompat dengan gerakan indah satu sosok bayangan putih. Begitu mendarat kokoh, baru jelas siapa penunggang burung rajawali putih ini.

Dia adalah seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Rambutnya panjang sebahu. Di balik punggungnya, tersembul pedang bergagang kepala burung rajawali. Siapa lagi pemuda ini kalau bukan pendekar digdaya yang sangat terkenal dalam rimba persilatan. Dialah Rangga, yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm.... Agaknya kalian telah mengadakan pembantaian di sini. Sayang, aku datang terlambat. Siapa kalian? Dan mengapa bertindak kejam pada orang-orang Kerajaan Sekar Kuning?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm.... Agaknya kau masih buta dengan tokoh persilatan. Baiklah. Aku Sakurang, berjuluk Setan Hitam sedangkan kawanku Kuntarawang, berjuluk Setan Bungkuk. Nah, cepatlah menyingkir. Tak perlulah kau ikut campur urusan kami...!" kata Sakurang, dengan nada menggertak.

"Aku tidak akan ikut campur kalau kalian tidak bertindak kejam. Tindakan kalian sudah melampaui batas!" sahut Rangga, tegas.

"Hm...! Kalau tidak salah, kau Pendekar Rajawali Sakti...!" timpal Setan Bungkuk dengan kening berkerut, seperti mengingat-ingat.

"Begitulah orang menjuluki aku. Dan orang-orang pun tahu, aku paling benci pada orang telengas. Maka pergilah kalian, sebelum kesabaranku habis...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti, setengah mengancam.

Sementara itu, dua orang perwira kerajaan yang masih selamat, segera mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga dalam yang banyak terbuang, setelah bertarung dengan Setan Hitam dan Setan Bungkuk yang selalu menebar racun. Tampak keduanya sudah terlelap dalam alunan napas teratur, sehingga wajahnya jadi bersemu merah kembali.

LIMA

"He he he...! Sombong benar kau, Bocah! Boleh jadi orang lain gentar dan silau dengan kepandaianmu! Namun, bagiku kau tidak kupandang sebelah mata...!" balas Kuntarawang menggertak sambil memainkan tongkat ular di tangannya.

"Aku tahu nama Pendekar Rajawali Sakti cukup disegani dalam dunia persilatan.... Tetapi, Setan Hitam tidak percaya sebelum menjajalnya sendiri. Maka, bersiaplah menerima seranganku ini...!" timpal Sakurang sambil mengejangkan tangan sampai terdengar suara berkerotokan dari tulang belulangnya.

Ketika ucapan Setan Hitam selesai, Kuntarawang menyodokkan tongkatnya kearah perut Rangga. Namun cepat bagai kilat, Rangga memiringkan tubuhnya. Sehingga tongkat ular itu hanya lewat beberapa jari saja dari tubuhnya. Tetapi sekarang Setan Bungkuk tidak berhenti sampai di situ saja. Dengan memutar, tongkat ditangannya berbalik menghantam kaki. Berbarengan dengan datangnya serangan, Setan Hitam mengirimkan serangan tangan kosong yang berisi racun hitam sangat ganas.

Rangga merasakan tekanan kuat dari kedua orang sesat tersebut. Dengan cepat, digunakannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya langsung meliuk-liuk ke sana kemari bagaikan orang mabuk. Dan nyatanya kedua serangan itu luput dari sasaran walau Rangga terlihat terdesak.

Melihat Rangga terdesak, Rajawali Putih segera menerjang sambil mengepakkan sayap. Angin keras menderu tajam langsung menyambar tokoh sesat itu. Maka segera Sakurang dan Kuntarawang menggabungkan tenaga dalam, untuk menahan serangan dahsyat Rajawali Putih.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata tenaga gabungan mereka berdua tidak sanggup menahan dorongan tenaga hewan raksasa yang memiliki tenaga luar biasa itu. Kedua tokoh sesat itu terpelanting ke belakang sampai beberapa tombak. Sambil merambat bangun, keduanya mengawasi Rajawali Putih dengan raut wajah penuh kemarahan.

Sekali mengepakkan sayapnya, rajawali raksasa itu terbang tinggi ke udara dengan kecepatan luar biasa. Namun tiba-tiba tubuhnya menukik, menerjang ke bawah.

"Heaaat...!"

Sambil berteriak keras, kedua tokoh sesat itu menyambuti serangan Rajawali Putih. Kedua tangan mereka segera menghentak. Maka saat itu juga meluncur dua rangkum angin berbau amis.

Rangga yang cepat menyadari ketidakberesan, serangan itu segera menghentakkan tangannya dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' untuk memapak. Maka saat itu juga dari kedua tangannya, meluncur dua sinar merah. Lalu....

Blam...! Blam...!

Dua ledakan keras menggelegar terdengar ketika pukulan-pukulan mengandung tenaga dalam tinggi bertemu. Batu dan daun-daun kering beterbangan kesana kemari. Sementara kedua tokoh sesat itu terpental kebelakang beberapa langkah. Tangan mereka terasa sakit dengan dada sesak. Darah segar terasa akan tumpah dari mulut.

"Khraaagkh...!" Sedangkan rajawali raksasa itu sendiri begitu terjadi benturan, cepat membelokkan arah terjangannya. Dan tubuhnya langsung melayang ke atas.

"Menjauhlah, Rajawali.... Jangan ikut campur dalam urusan ini. Biarlah mereka aku yang menghadapi...!" teriak Rangga sambil memandang ke angkasa. Lalu tatapannya beralih pada dua tokoh sesat itu.

Sementara itu kedua perwira Kerajaan Sekar Kuning setelah selesai bersemadi segera menghampiri Rangga. Mereka menyatakan terima kasih pada Pendekar Rajawali Sakti. Ketika mereka menyatakan diri untuk ikut membantu, Rangga mencegah dengan halus.

"Paman berdua, menepilah.... Biar setan-setan ini aku yang menghadapi...! Lagi pula mereka terlalu berbahaya. Biar aku akan coba menangkapnya...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti, tanpa maksud merendahkan.

Menyadari kalau kepandaiannya terpaut jauh di bawah kedua tokoh sesat itu kedua perwira Kerajaan Sekar Kuning ini tanpa sungkan lagi menepi sambil menyaksikan apa yang akan dilakukan Pendekar Rajawali Sakti.

Pada dasarnya Sakurang dan Kuntarawang sedang berang. Maka tanpa membuang waktu lagi mereka berkelebat menyerang Pendekar Rajawali Sakti secara berbarengan.

"Chiaaat!"

"Yeaaah!"

Tongkat di tangan Kuntarawang bergulung-gulung mengincar tempat yang mematikan. Sedangkan pukulan beracun Sakurang yang mengandung racun mematikan, berseliweran membendung jalan keluar Pendekar Rajawali Sakti. Kemana pun Rangga bergerak mengelak, serangan mereka selalu memburu.

Untuk menghindari serangan susulan berikutnya, Rangga berjumpalitan beberapa kali. Dan begitu mendarat Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' kembali. Tubuhnya tampak terhuyung-huyung ke sana kemari bagaikan orang mabuk. Anehnya tak satu serangan pun yang berhasil menemui sasaran. Hal itu membuat kedua lawannya penasaran setengah mati.

"Yeaaah...!"

"Saaat...!"

Dengan rasa geram, kedua tokoh itu mulai mengerahkan jurus-jurus yang dipelajari dalam lorong. Serangan mereka dahsyat bukan main. Suara babatan tongkat milik Kuntarawang terdengar menderu-deru. Tangan kirinya yang berisi pukulan ilmu 'Racun Merah' turut mengancam keselamatan Rangga.

Zeb! Zeb! Zeb!

Sementara itu, angin pukulan dan suara jurus, tangan kosong Sakurang terasa menyakitkan telinga. Bahkan sempat mengacaukan jalan pikiran Rangga. Untuk sementara, Pendekar Rajawali Sakti hanya mampu mengelak ke sana kemari dengan mengandalkan jurus mengelaknya yang aneh. Kadang kala tubuhnya roboh ke depan, lalu terjengkang ke belakang bagaikan hendak jatuh.

Pertarungan berlangsung semakin seru dan mencekam. Memang, jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', masih terlihat tangguh bagi Sakurang dan Kuntarawang. Terbukti semua serangan mereka tidak berhasil menyentuh tubuhnya.

Dengan menggeram gusar, Setan Hitam melenting ke belakang beberapa langkah. Begitu mendarat, tiba-tiba tangannya bergerak cepat melemparkan binatang-binatang berbisa dari kantung bajunya ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

Set! Set!

"Awas...! Itu binatang beracun.... Jangan tangkap benda itu. Sangat berbahaya bagi keselamatan dirimu...!" seru salah seorang perwira yang terus memperhatikan jalannya pertarungan.

"Terima kasih...! Heaaa...!"

Tap! Tap!

Rangga yang sesungguhnya sudah tahu benda apa yang sedang meluncur dari Kuntarawang ke arahnya, segera mengerahkan tenaga dalam serta jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' pada kedua tangannya. Sinar merah membara tampak membaluri kedua tangannya.

Bressst...!

Dengan tangkapan Pendekar Rajawali Sakti, membuat binatang-binatang berbisa itu hangus dan berjatuhan ke tanah setelah meremasnya.

Pada saat yang sama, Setan Bungkuk berkelebat membokong sambil membabatkan tongkat ularnya.

Pendekar Rajawali Sakti yang merasakan angin sambaran dari belakang cepat berbalik. Seketika tangan kirinya bergerak menyentil dengan kecepatan luar biasa, dan dengan tenaga dalam tinggi.

Tik!

"Heh?!"

Tongkat Kuntarawang langsung terpental. Bahkan tangannya sampai terasa kesemutan. Belum juga Setan Bungkuk bisa menghilangkan keterkejutannya, Pendekar Rajawali Sakti telah berkelebat sambil melepas tendangan berisi tenaga dalam penuh. Sementara kedua tangannya menghentak, dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Diegkh...!

"Wuaaakh...!"

Tepat ketika tendangan Pendekar Rajawali Sakti mendarat di wajah Setan Bungkuk, selarik sinar kemerahan melesat ke arah Setan Hitam. Begitu cepatnya, sehingga tak sempat dielakkan lagi oleh Sakurang.

Desss!

"Aaakh...!"

Tak ampun lagi kedua tokoh sesat itu terpental deras ke belakang. Dari sela-sela bibir, tampak menetes darah segar. Sambil merangkak bangkit, mereka menatap Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata penuh dendam. Dan bagai diberi aba-aba mereka berbalik, lalu melangkah pergi dari tempat ini.

Sementara, Rangga tidak berusaha mengejar. Malah dia menghampiri dua perwira Kerajaan Sekar Kuning.

"Kisanak tentu yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Hmm.... Kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu, Pendekar Rajawali Sakti! Kalau tidak ada pendekar, entah apa yang akan terjadi dengan kami...?!" ucap salah seorang perwira sambil membungkukkan tubuhnya.

"Sudahlah, tak perlu paman berdua memanggilku demikian. Panggil saja aku Rangga. Hm.... Tentang mereka, biarlah mendapat kesempatan hidup beberapa saat lagi. Namun yang jelas, aku tak akan membiarkan sepak terjang mereka selanjutnya...," ujar Rangga.

"Kau kurang paham tentang mereka, Tu, eh! Rangga. Mereka terlalu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Sudah banyak prajurit kerajaan yang binasa di tangan kedua iblis itu! Pokoknya, pihak kerajaan telah dibuat pusing. Mereka sudah sepantasnya mati...!" timpal perwira kerajaan satunya.

"Kalau begitu, maafkan. Hm... berarti aku telah membuat mereka lolos dari tempat ini. Tapi seperti yang kukatakan, aku berjanji kelak akan menangkap mereka untuk kalian nanti...!" tegas Pendekar Rajawali Sakti.

"Tapi, kau tidak bersalah Rangga...!" tukas perwira itu.

"Sudahlah..., jangan diributkan lagi. Sekarang, aku hendak minta diri, karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan.,.!" ujar Rangga, sambil tersenyum.

Setelah saling memberi hormat, mereka berpisah. Dalam sekali berkelebat saja, Pendekar Rajawali Sakti telah jauh dari tempat itu. Sementara kedua perwira kerajaan itu menggeleng-geleng dan berdecak kagum melihat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti yang sudah sangat tinggi.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Beberapa purnama berikutnya, keadaan dunia persilatan mulai tenang dan tidak terjadi apa-apa. Kedua tokoh sesat yang selama ini menggegerkan seolah-olah lenyap ditelan bumi. Padahal, mereka berdua sedang mengobati luka dalam yang diderita, akibat bertempur dengan Pendekar Rajawali Sakti.

"Gila.... Kepandaian pendekar itu benar-benar di luar dugaan! Sampai-sampai kita berdua tidak sanggup menghadapinya...!" kata Kuntarawang sambil mendengus gusar.

"Benar...! Ilmu yang dimiliki sangat luar biasa...! Kita harus berhati-hati menghadapinya. Kalau bisa, jangan sampai berbenturan dengan pendekar sakti itu.... Hal itu dapat mengacaukan keadaan kita!" sahut Sakurang.

"Iya.... Lebih baik perhatian kita dipusatkan pada kedua bocah yang berada dalam lorong ku-buran terlarang tempo hari. Kedua bocah itu pasti mendatangkan bahaya pada kita kelak...!" kata Kuntarawang lagi.

"Itu tidak dapat dipungkiri lagi, karena mereka pasti akan membalaskan dendam bagi Sangka Lelana.... Lalu, apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu...?!" tanya Sakurang.

"Kita tunggu keadaan saja. Kalau memungkinkan, kita serbu lorong kuburan itu...! Kalau berbahaya, kita tunggu sampai mereka berada di luar!" tandas Setan Bungkuk sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya.

"Bagaimana kalau kita minta bantuan paman guruku yang bermukim di Gunung Merapi...?" usul Setan Hitam.

"Paman gurumu? Apakah dia yang bernama Cakra Dana dan bergelar si Tangan Api...?!" Kuntarawang balik bertanya.

"Benar.... Kurasa, bila dia bersedia turun tangan, segala pendekar murahan seperti Pendekar Rajawali Sakti itu tidak akan ada gunanya lagi! Mereka bagaikan sekumpulan serangga yang hendak menerjang api unggun...!"

"Ha ha ha...! Kenapa kita masih membuang-buang waktu? Mari kita pergi ke sana untuk minta bantuan...!" ajak Kuntarawang dengan pandangan mata cerah.

Tanpa membuang waktu lagi mereka berdua segera mengalihkan perjalanannya menuju ke Gunung Merapi. Di sanalah tokoh yang menjadi datuk kaum sesat bermukim. Siapa pun akan menyingkir bila mendengar nama Cakra Dana disebutkan.

********************

ENAM

Matahari baru saja bersinar cerah, menerangi mayapada. Namun, sinarnya seolah-olah tak mampu menembus kabut di Puncak Gunung Merapi. Dalam keremangan pagi, dua sosok tampak berdiri di depan sebuah gubuk yang hanya satu-satunya di puncak gunung itu.

Tok! Tok! TokK!

Pintu rumah gubuk itu diketuk perlahan. Tetapi, tetap tenang tak ada jawaban dari dalam. Kembali ketukan terdengar berkali-kali.

"Masuklah, Sakurang! Pintu tidak dikunci...!"

Terdengar sahutan bernada perintah dari dalam. Dan ini membuat dua sosok yang tak lain Setan Hitam dan Setan Bungkuk terperangah. Sebab, suara dari dalam itu seolah-olah tahu siapa yang datang. Padahal, keduanya belum bersuara apa-apa. Jelas, hal ini menunjukkan betapa tingginya kepandaian sosok yang berada di dalam gubuk ini.

Dengan hati-hati, Setan Hitam membuka pintu, hingga menimbulkan suara berderit. Begitu pintu terbuka, dari dalam menyambar angin panas yang kuat luar biasa. Bagaikan dihempas badai, Sakurang dan Kuntarawang terlempar keluar.

Blug! Blug!

Sambil merayap bangun mereka memandang ke arah pintu gubuk. Dengan tertatih-tatih Sakurang dan Kuntarawang kembali masuk ke dalam gubuk. Begitu masuk, kedua tokoh sesat itu melihat seorang laki-laki tua berkulit hitam. Rambutnya sebagian telah rontok dan berwarna putih tak terurus.

"Keponakan tolol...! Semakin tua, semakin geblek saja! Mau apa kau datang kemari, Sakurang?!" tanya penghuni gubuk yang tak lain Cakra Dana.

"Aku sedang dalam kesusahan, Paman. Aku ingin minta tolong...," jawab Sakurang sambil menundukkan kepala, begitu telah berada satu tombak di depan laki-laki tua itu.

"Sudah kuduga...!"

"Menduga apa, Paman...?!" tanya Sakurang kembali.

"Kalau kau muncul kemari, pasti mau minta tolong...! Coba kalau lagi senang, mana mau ingat padaku...!" gerutu Cakra Dana yang dikenal sebagai datuk sesat yang sangat ditakuti.

"Maafkan aku, Paman. Nanti kalau sudah selesai urusanku, pasti aku datang kemari dengan membawa hadiah kesukaanmu...!" ucap Sakurang sambil tetap menundukkan kepala.

"Katakan, apa tujuanmu datang kesini...?" tanya Cakra Dana kembali. "Dan, siapa temanmu itu?"

Dengan singkat, Sakurang memperkenalkan Kuntarawang, sekaligus menceritakan segala yang telah terjadi pada dirinya. Sementara datuk sesat yang berjuluk Tangan Api itu hanya mendengarkan dengan pandangan mata berubah tajam. Dan tiba-tiba tangannya bergerak cepat ke arah meja. Lalu....

Brak!

Meja dari kayu jati itu hancur berantakan terkena hantaman tangan kurus kering milik si Tangan Api. Bahkan kayu jati itu hangus bagaikan terbakar.

"Hm.... Sebaiknya sekarang juga kita berangkat! Kalau sampai membuat malu, akan kupecahkan kepala kalian...!" ajak Cakra Dana sambil mengancam, setelah mendengar cerita keponakannya.

********************

Kembali, dunia persilatan seperti ditantang untuk menuntaskan keangkaramurkaan. Petaka seolah tak mau tuntas dari mayapada. Telah terdengar kabar kalau desa-desa yang terdapat disepanjang jalur Gunung Merapi dan Bukit Renggawas terjangkit penyakit aneh yang tak dapat diobali. Para penduduk binasa dalam keadaan menyedihkan.

Di tubuh penduduk yang tewas, penuh bisul dan nanah. Lalu tubuh mereka mencair sedikit demi sedikit. Akhirnya, yang tersisa hanya tinggal tulang-belulang saja. Dari hasil penyelidikan, diketahui kalau kematian para penduduk diakibatkan racun-racun yang ditebar di sumber-sumber air. Dan racun sejenis itu, hanya seorang yang memiliki.

Beberapa tokoh persilatan aliran putih segera mengetahui kalau semua itu hasil perbuatan Setan Hitam dan paman gurunya yang bernama Cakra Dana, serta seorang tokoh yang dikenal bernama Kuntarawang alias Setan Bungkuk. Seperti sepakat, para tokoh putih segera mencari manusia kejam yang tidak berperikemanusiaan itu.

Petaka itu cepat tersebar luas dari mulut ke mulut. Maka tak heran kalau sekarang di tiap desa berkumpul beberapa tokoh persilatan golongan putih yang hendak menangkap biang keladi petaka itu. Sementara itu di Desa Selagah, para tokoh persilatan berhasil memergoki tiga biang perusuh yang meresahkan selama ini.

"Ha ha ha...! Kiranya kemunculan kita telah disambut para tokoh persilatan! Ini merupakan suatu kehormatan besar bagi diriku yang sudah tua bangka ini...!" kata Cakra Dana tenang. Sementara cambuk merah di tangannya dilecutkan, menimbulkan suara meledak-ledak memecah kesunyian.

"Huh...! Dasar manusia iblis! Di mana-mana selalu haus darah!" dengus salah seorang tokoh persilatan yang ikut mengepung.

Dia adalah seorang laki-laki tua dengan guci arak di tangan. Mulutnya yang keriput tertawa-tawa lebar. Para tokoh persilatan tahu, kalau kakek itu bernama Ki Demong, seorang tokoh yang telah membuat nama besar sebagai Pamabuk dari Gunung Kidul.

Melihat kalau orang itu tak lain adalah Ki Demong yang selama ini menghilang entah ke mana, dan kini muncul menghadang, Sakurang dan Kuntarawang jadi berang dan marah bukan main. Jari-jemari mereka mengepal sampai terdengar suara berkerotokan keras.

"Hei, Demong.... Pemabuk Gila! Agaknya kau sudah bosan hidup! Biar kepala jelekmu itu kuremukkan pakai tongkatku ini!" seru Kuntarawang.

"Ha ha ha...! Biar jelek, aku masih sayang. Kepalaku ini selalu berpikir, bagaimana melenyapkan nyawamu...!" sahut Ki Demong menggertak.

Saat itu juga, Setan Bungkuk mengebutkan tongkatnya. Namun dengan sigap, Pemabuk dari Gunung Kidul mengebutkan tongkatnya. Namun dengan sigap, Pemabuk dari Gunung Kidul mengangkat gucinya.

Trang!

Tongkat itu mental kembali. Sementara dari dalam guci, muncrat tuak merah yang langsung meluncur ke muka Kuntarawang. Setan Bungkuk sadar tuak itu dapat melukai mukanya. Maka dengan cepat dia melompat mundur, sehingga serangan itu lewat di bawah kakinya. Begitu menjejak tanah, Setan Bungkuk kembali meluruk sambil mengebutkan tongkat ularnya.

"Sheaat!"

Berkali-kali tongkat di tangan Kuntarawang menyerang Ki Demong. Tetapi Pemabuk dari Gunung Kidul selalu dapat menangkis dengan guci yang penuh berisi tuak merah itu. Bahkan dengan seenaknya Ki Demong menenggak tuak merah itu berkali-kali.

Tidak lama, Ki Demong telah mabuk. Tubuhnya terhuyung-huyung ke sana kemari. Tetapi semakin mabuk, jurus silatnya jadi semakin ampuh. Bahkan mulutnya berkali-kali menyemburkan tuak ke arah muka Kuntarawang. Kelihatannya sepele. Padahal, pada waktu cipratan tuak mengenai pundak Setan Bungkuk sakitnya bukan main. Bahkan bajunya sampai banyak berlubang.

Tentu saja Setan Bungkuk jadi bertambah beringas. Tongkatnya dimainkan sedemikian rupa, sampai menimbulkan angin menderu-deru. Lewat beberapa jurus, pertempuran mereka jadi berlangsung seru dan sengit. Lengah sedikit, berarti kematian akan menjemput.

Ketika Sakurang hendak membantu, langkahnya tertahan oleh seorang wanita tua dengan senjata setangkai bunga merah yang terbuat dari besi baja yang berukir indah sekali.

"Aha...! Kiranya aku berhadapan dengan Nyai Dayang Sumbi, seorang tokoh terkenal yang telah lama tidak muncul dalam dunia persilatan ini! Selamat jumpa, Nyai...!" kata Setan Hitam, pongah.

"Huh...! Tidak perlu berbasa-basi! Kalian terialu banyak berbuat kejahatan! Maka, aku terpaksa turun gunung lagi, bersiaplah untuk mampus...!" hardik wanita tua yang bernama Dayang Sumbi.

Sehabis berkata, Nyai Dayang Sumbi menggerakkan tangan kanannya. Maka tangkai bunga merah itu bergerak-gerak, bagaikan setangkai bunga di atas pohon yang bergerak tertiup angin.

"Heyaaat...!"

Tiba-tiba senjata aneh itu meluncur ke depan. Kembang dan daun-daun sekaligus menyerang tujuh jalan darah di tubuh Sakurang secara bertubi-tubi. Namun dengan tidak kalah cepatnya, tokoh sesat itu berkelit sambil mengibaskan tangannya untuk merampas senjata Nyai Dayang Sumbi.

"Hebat...!" puji Sakurang sambil terpaksa mengeluarkan jums menghindar yang dimilikinya.

"Bagus...! Mari kita mengadu jiwa! Aku sudah muak melihat kau hidup dalam dunia ini!" tantang Nyai Dayang Sumbi.

Setelah melenting membuat jarak, Setan Hitam segera mengirimkan serangan jarak jauh. Angin pukulan yang mengandung racun dan berbau amis segera meluruk ke arah tubuh Nyai Dayang Sumbi. Namun dengan memutar senjatanya yang berbentuk bunga, wanita tua itu berhasil menghalau serangan.

Sementara itu, Cakra Dana hanya mengawasi jalannya pertarungan dengan pandangan dingin. Namun kewaspadaan tak lepas dari sikapnya. Dalam hati, Cakra Dana mengakui kehebatan orang yang menjadi lawan keponakannya.

Di pihak penghadang ternyata masih ada sembilan orang yang belum turun tangan. Mereka semua mengawasi Cakra Dana dengan pandangan tajam dan mengancam. Mendapat pandangan seperti itu, si Tangan Api mengerutkan keningnya.

"Hei, Monyet-monyet Buduk...! Mau apa kalian mengawasi aku seperti itu.... Sudah bosan melihat dunia rupanya...?!" tegur Cakra Dana, mengejek.

"Kalau melihat usiamu, kau tidak lama lagi akan mati...! Tetapi, lagakmu pongah sekali...! Kalau sudah ingin mati, biar kuturuti keinginanmu itu!" hardik seorang tokoh persilatan itu.

Sambil memperdengarkan suara gerengan bagai harimau luka, Cakra Dana menghentakkan tangannya, mengirimkan serangan jarak jauh. Hawa panas bagaikan angin prahara seketika bergulung-gulung menerpa ke arah tokoh persilatan itu.

"Haiiit!"

Namun dengan kewaspadaan penuh, tokoh persilatan ini cepat menghentakkan tangannya, memapaki.

Blarrr!

"Aaakh...!"

Terdengar ledakan dahsyat yang disusul jeritan kesakitan begitu dua pukulan beradu. Tampak tubuh pendekar yang memapak terlempar dengan tangan patah-patah. Belum sempat dia jatuh ke tanah Cakra Dana telah berkelebat ke arahnya. Lalu....

Desss...!

"Aaa...!"

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dada pendekar itu telah terpukul dengan telak. Tubuhnya terpelanting kembali dengan dada hangus dan tertera cap telapak tangan berwarna hitam.

Melihat seorang kawannya mati, lima orang pendekar lain segera menerjang dengan geram. Lima buah senjata tajam langsung mengurung dan mengancam daerah berbahaya di tubuh si Tangan Api.

Sambil tertawa-tawa pongah, Cakra Dana berkelebat di antara senjata tajam para pendekar. Tangannya dengan gerakan aneh bergerak bagaikan ular, menutuk kesana kemari. Siapa kurang cepat, berarti akan menerima nasib naas. Karena dalam setiap gerakannya, si Tangan Api selalu menggunakan tenaga dalam yang tinggi, dan sanggup menghancurkan siapa saja.

Dalam waktu singkat, datuk sesat itu telah berada di atas angin. Sementara itu ketiga orang pendekar yang belum bertarung segera mengeroyok Setan Hitam.

"Yeaaat!"

Trang! Trang!

Sakurang memusatkan perhatian pada Nyai Dayang Sumbi. Senjata Bunga Merah di tangan kanan wanita tua itu sangat berbahaya dan selalu mengancam. Untuk menghadapi mereka semua, Setan Hitam merogoh sakunya. Dan begitu tangannya keluar, langsung disentakkan dengan cepat.

Ser! Ser!

Para pendekar itu segera memutar senjata bagai baling-baling untuk memapak benda-benda yang meluruk. Beberapa benda yang tak Iain binatang-binatang berbisa berhasil dipukul jatuh. Tapi dua binatang berbisa berhasil mengenai leher dua orang pendekar. Sambil menjerit keras, kedua pendekar itu jatuh berkelojotan, lalu mati kaku dengan lehernya terdapat dua ekor kalajengking merah.

Sementara, yang menuju ke arah Nyai Dayang Sumbi berhasil dihantam senjata Bunga Merah yang selalu bergerak aneh. Sedangkan pendekar yang seorang lagi jadi nekat. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan, pedangnya membabat kaki Sakurang.

"Yeaaa...!"

Dengan gerak cepat Setan Hitam melompat ke atas. Dan tiba-tiba kakinya melepas tendangan melingkar, menendang ke arah kepala. Dengan cepat pendekar itu berhasil menghindar dengan mengegoskan, tubuhnya. Namun tangan Setan Hitam yang beracun mendadak berkelebat menghantam muka.

Diegkh!

"Aaa...!"

Tidak ampun lagi, pendekar itu meraung keras sambil menutupi mukanya yang hancur dan hangus. Bagai nangka busuk tubuhnya jatuh dalam keadaan binasa.

Melihat kejadian mengenaskan, Nyai Dayang Sumbi meluruk sambil mengirim gelombang serangan dengan senjatanya sampai tujuh kali secara beruntun. Setiap serangannya mempunyai tujuh tikaman, mengurung tubuh Sakurang dari semua jurusan.

Maka Setan Hitam seakan dikeroyok belasan orang yang berpedang hebat. Tak tanggung-tanggung lagi jurus yang dimainkan Nyai Dayang Sumbi. Orang-orang persilatan mengenalnya sebagai jurus 'Pedang Bunga Merah' yang paling tinggi. Jarang ada orang yang sanggup menahan serangan itu.

Warna merah segera mengurung tubuh Sakurang yang berkulit hitam. Sehingga warna hitam dan merah jadi saling libat dengan kecepatan luar biasa. Pukulan beracun tokoh sesat itu selalu kandas dalam gulungan sinar senjata bunga merah milik Nyai Dayang Sumbi.

Sementara itu Ki Demong, selalu berhasil membendung serangan tongkat Kuntarawang dengan gucinya. Bahkan sesekali tuaknya disemburkan ke wajah lawannya.

"Ciaaat...!"

Menghadapi serangan, Setan Bungkuk jadi kelabakan. Maka dengan cepat jurusnya dirubah. Dan kini kaki dan tangannya ikut bergerak menyerang. Sehingga serangannya kali ini datang bagaikan hujan angin.

Namun, pendekar yang gemar mabuk dan sedikit urakan itu, masih dapat mengimbangi Kuntarawang dengan jurus anehnya. Tubuhnya selalu terhuyung-huyung. Kadangkala berjongkok dengan kaki bergerak mundur dan maju. Lalu tubuhnya rebah hampir mencium tanah, kemudian melompat-lompat dengan lutut melayang-layang bagaikan sakit ayan.

"Sheaaat...!"

Tiba-tiba dengan gerakan tidak terduga, tubuh Pemabuk dari Gunung Kidul melenting ke udara. Ki Demong telak menghajar punggungnya dengan keras.

Derrr...! "

"Aaakh...!" Sambil mengeluarkan suara melenguh, tubuh Setan Bungkuk terlempar sambil memuntahkan darah segar.

Melihat rekannya dalam bahaya, Sakurang yang sempat melirik melemparkan beberapa binatang-binatang berbisa yang sangat berbahaya.

Namun sambil tertawa-tawa, Ki Demong malah menenggak tuak merahnya. Dan dengan cepat bagai kilat, tuak merah itu disemburkan pada binatang berbisa yang meluncur ke arahnya. Tidak ampun lagi binatang berbisa itu terbakar, dan hangus sebelum sampai pada tujuan. Bagaikan barang rongsokan, binatang berbisa itu berjatuhan ke tanah.

Menggunakan kesempatan yang sedikit, Nyai Dayang Sumbi menghantamkan senjata Bunga Merahnya ke perut Sakurang. Tetapi, sambil berteriak keras Setan Hitam melompat ke samping. Sayang, kali ini dia salah langkah. Memang, serangan itu hanya pancingan belaka! Karena serangan yang sesungguhnya adalah tendangan berputar ke arah pundak.

Dagkh!

"Aaakh...!"

Tubuh Setan Hitam terhuyung-huyung terkena tendangan Nyai Dayang Sumbi. Dia berusaha berjumpalitan, menjauhi. Dia khawatir wanita itu akan melepaskan serangan berbahaya.

"Yeaaat!"

Begitu mendarat di tanah, Setan Hitam melemparkan binatang-binatang beracun ke arah Nyai Dayang Sumbi. Serangan ini sangat berbahaya, karena dilancarkan dalam jarak dekat.

Karena tidak menyangka ada kalajengking dan kelabang yang berhasil menempel di tubuhnya, Nyai Dayang Sumbi terperangah. Apalagi, binatang berbisa itu langsung saja menyengat. Tetapi karena tenaga dalam wanita sakti ini tinggi, tak heran kalau masih dapat bertahan.

Melihat kesempatan baik Sakurang segera memanfaatkannya. Diberondongnya Nyai Dayang Sumbi dengan serangan jarak jauh yang mematikan.

"Baiklah.... Manusia keparat...! Aku akan adu jiwa denganmu!" desis wanita tua itu sambil menerjang, tanpa mempedulikan keselamatan dirinya lagi.

"Ha ha ha...! Tidak perlu diadu-adu lagi, Nenek Jelek! Sesaat lagi, kau akan mati dengan sendirinya. Karena tidak ada seorang pun yang tahu terhadap racun binatang peliharaanku...!" ejek Sakurang sambil terus mempermainkan lawannya yang sudah termakan racun jahat.

"Aaakh...!"

Benar saja! Karena tidak diberi kesempatan untuk mengobati bekas gigitan binatang beracun, Nyai Dayang Sumbi mulai limbung dengan pandangan jadi gelap. Tangan yang memegang senjata Bunga Merah mulai gemetar. Dan yang lebih celaka lagi, tenaga dalamnya seakan-akan lenyap tiada bekas.

Brukkk!

Tubuh perempuan tua itu ambruk dengan kulit berubah warna menjadi hitam legam.

"He he he...! Segala wanita tua mau banyak tingkah di hadapanku! Tahu rasa kau sekarang...!" ejek Sakurang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Aaa...!"

Dipertarungan lain, terdengar beberapa teriakan kematian. Tampak semua lawan Cakra Dana terpental dengan tubuh hangus. Itulah akibat pukulan 'Tangan Api' yang dahsyat. Bahkan jarang ada yang sanggup menahannya.

TUJUH

Si Tangan Api yang sudah bosan bermain-main telah menghabisi lawan-lawannya. Kini yang tertinggal hanyalah si Pemabuk dari Gunung Kidul yang sedang bertarung sengit dengan Setan Bungkuk. Sementara Sakurang yang tidak mempunyai lawan, segera turut mengeroyok Ki Demong.

Walaupun memiliki kepandaian tinggi, Pemabuk dari Gunung Kidul jadi terdesak keras. Dia hanya mampu mengelak dan bermain mundur saja. Sehingga keadaannya jadi semakin berbahaya. Pada saat yang semakin gawat tiba-tiba meluruk sebuah bayangan ungu yang langsung menerjang Sakurang.

"Hei.... Gadis gila dari mana ini?! Datang-datang sudah berani mengacau!" sentak Sakurang, seraya langsung meladeni serangan.

Gadis cantik berbaju ungu itu tidak menjawab. Mulutnya hanya memperdengarkan suara tidak jelas. Melihat hal ini, Setan Hitam segera mengingatingat peristiwa beberapa tahun yang lalu.

"Kebetulan...! Ada ular mencari penggebuk," ujar Sakurang setelah mengenali gadis itu.

"Uuu.... Uuuh...!" Sambil berteriak seperti itu gadis yang ternyata gagu ini menyerang dengan pedangnya. Gerakannya begitu mantap dan berbahaya. Bahkan kecepatan geraknya mengagumkan. Sakurang sendiri sampai terkejut. Cepat tangannya ditarik, kalau tak ingin terbabat putus.

"Gila...! Gadis gagu ini sekarang telah memiliki ilmu olah kanuragan yang tidak dapat dibuat main-main! Aku harus hati-hati menghadapinya...," pilar Setan Hitam dalam hati.

"Ciaaat...!"

Beberapa pukulan beracun segera dilancarkan Setan Hitam dengan cepat. Tetapi dengan ilmu meringankan tubuhnya, gadis yang tak lain Puspita Dewi itu mampu menghindari dengan melenting ringan ke sana kemari.

Sementara, Setan Hitam semakin geram saja. Dan itu makin membuatnya penasaran saja. Seketika, tangannya merogoh saku. Begitu tangannya menghentak....

Set! Set!

Saat itu juga berbagai jenis binatang beracun dilemparkan Setan Hitam. Puspita Dewi bergerak sigap. Cepat pedangnya yang tajam luar biasa berputar membabat.

Tas! Tas!

Pedang Puspita Dewi bergerak ke arah Setan Hitam. Begitu membabat habis, binatang-binatang berbisa itu....

"Hup!" Cepat-cepat Setan Hitam menggulingkan diri ke tanah, sehingga berhasil menghindari serangan.

"Bangsat... Mampuslah kau, Gagu Jelek...!"

Diejek demikian membuat gadis ini jadi mata gelap. Dengan seluruh kepandaiannya, diterjangnya Setan Hitam dengan kalang kabut. Tubuhnya yang memiliki meringankan tubuh hebat, berkelebatan bagaikan kupu-kupu bermain-main di antara bunga. Tiba-tiba....

Bret!

"Aaakh...!" Setan Hitam memekik tertahan, ketika tergores pedang Puspita Dewi. Walaupun tidak mematikan, pedihnya sampai terasa ke hati. Darah pun mengucur deras dari lukanya. Terpaksa tubuhnya berjumpalitan beberapa kali di udara untuk menjauhi lawannya.

Namun Puspita Dewi terus memburu tanpa kenal ampun. Dengan gerakan begitu cepat, membuat gadis ini mampu menghindari serangan balasan.

Sementara, Cakra Dana merasa heran melihat gadis muda itu berhasil mendesak keponakannya yang jarang menemui tandingan dalam dunia persilatan.

Pada saat yang sama, Kuntarawang sendiri sedang terdesak oleh serangan Pemabuk dari Gunung Kidul yang menerjang bertubi-tubi bagaikan angin topan. Semburan tuak yang seperti mata pisau telah merepotkan Setan Bungkuk.

"Pruh!"

"Hait!"

Dengan cepat Setan Bungkuk meloncat keatas. Begitu tubuhnya meluruk, tongkatnya diayunkan ke arah kepala Ki Demong. Namun sambil memiringkan kepala, Pemabuk dari Gunung Kidul mengangkat gucinya ke atas.

Trang!

Bentrokan keras tidak terhindari lagi. Dan sambil berteriak keras, keduanya terjajar ke belakang satu tombak. Tetapi sambil berputar, kaki Ki Demong menghantam kaki Setan Bungkuk.

"Hup!"

Dengan gerakan bagai udang, Kuntarawang melentik keudara, sehingga berhasil mengelakkan serangan. Namun tanpa diduga, Ki Demong mengejar sambil menghantamkan gucinya.

Begkh!

"Ugkh...!" Dengan teriakan tertahan, Setan Bungkuk terpental makin tinggi ke udara.

Melihat Setan Bungkuk terdesak, Cakra Dana menggerang murka. Dan tiba-tiba kedua tangannya menghentak, mengirimkan serangan jarak jauh yang menimbulkan angin panas membara.

Merasakan adanya angin sambaran sebelum serangan sesungguhnya tiba, Pemabuk Dari Gunung Kidul cepat tersadar. Cepat diminumnya tuak dalam guci, dan langsung disemburkannya ke arah datangnya serangan.

"Pruhhhh!"

"Heh?!"

Tetapi, ketika semburan itu beradu dengan angin pukulan Cakra Dana, tuak itu tertolak balik ke arah pemiliknya. Ki Demong tersentak kaget, dan untung segera membuang diri ke belakang. Tubuhnya cepat bergulingan di tanah menjauhi.

Baru saja Ki Demong melompat bangun, Setan Bungkuk memburunya. Tongkat ularnya berkelebatan mengancam seluruh tubuh pemabuk itu. Namun dengan gerakan cepat luar biasa, Pemabuk dari Gunung Kidul segera memutar-mutar gucinya.

"Trang...!"

Dua tenaga dalam beradu keras. Akibatnya Pemabuk dari Gunung Kidul terlempar dengan telapak tangan terasa panas. Tubuhnya lantas bergulingan di tanah. Namun, Setan Bungkuk terus mengejarnya. Bahkan baru saja hendak melenting bangun, Setan Bungkuk telah menghantamkan tongkatnya.

Wuttt...!

Diegkh...!

"Aaakh...!" Telak sekali punggung Ki Demong terhajar tongkat. Kembali tubuhnya terjengkang disertai pekik kesakitan.

"He he he...! Orang usil! Mampuslah kau...!" dengus Setan Bungkuk sambil menghantamkan kembali tongkatnya ke kepala Ki Demong.

"Celakalah aku kali ini...," desah Pemabuk dari Gunung Kidul dalam hati.

Pada saat yang berbahaya bagi keselamatan Ki Demong, mendadak berkelebat satu bayangan ungu yang langsung memapak tongkat Setan Bungkuk. Serangan itu begitu tiba-tiba, sehingga benturan keras tidak terhindari lagi.

Trak...!

Tangan Setan Bungkuk kontan bergetar keras. Bahkan senjatanya hampir terlepas dari tangan. Betapa terkejutnya Kuntarawang ketika melihat yang menangkisnya adalah seorang pemuda. Bahkan setelah menangkis, pemuda itu langsung menghadapi Cakra Dana tanpa rasa takut sedikit pun.

"Heh...? Mengapa kau yang sudah setua ini masih ikut campur dalam urusan ini...?!" tanya pemuda berbaju ungu yang baru datang.

"He he he...! Dasar anak kambing yang tidak takut pada harimau! Pergilah sebelum kesabaranku hilang...!" ujar Cakra Dana.

"Pendekar muda! Jangan layani dia...! Sebaiknya pergi dari tempat ini. Dan, bawa serta juga gadis pemberani itu.... Biar mereka bertiga aku yang menghadapi! Larilah lekas! Mereka sangat berbahaya! Orang yang kau hadapi adalah seorang datuk sesat yang kejam dan sangat berbahaya!" seru Pemabuk dari Gunung Kidul.

Tetapi seruan itu tidak mungkin dilayani pemuda yang baru datang itu. Karena, pemuda itu adalah Bima Sena saudara seperguruan Puspita Dewi. Tentu saja, kedatangannya karena dendam lama. Maka tanpa banyak kata lagi, diterjangnya Cakra Dana.

"Chiaaat!"

Pedang di tangan kanan Bima Sena, meliuk-liuk mengancam tenggorokan Cakra Dana. Namun sambil tertawa besar, datuk sesat itu menyentil badan pedang dengan jarinya.

Tuk!

Bima Sena merasa tangannya bergetar hebat. Malah tubuhnya sampai terjajar dua tombak ke belakang. Tahulah dia kalau lawannya memiliki kepandaian tinggi. Terutama, tenaga dalamnya.

"Hem.... Boleh juga tenaga dalam yang kau miliki, Anak Muda! Pasti gurumu sangat sakti. Karena, jarang ada yang sanggup menahan serangan 'Jari Sakti Api' yang kumiliki...," puji Cakra Dana. "Tapi, coba dulu yang satu ini...!" Begitu kata-katanya habis, si Tangan Api cepat menarik tangannya. Dan tiba-tiba dihentakkannya....

"Hiyaaat!"

Bima Sena cepat menyadari, betapa berbahayanya serangan ini. Maka tak tanggung-tanggung lagi tenaga dalamnya cepat disalurkan ke tangan. Dan secepat itu pula dipapaknya serangan.

Blarrr...!

Tenaga dalam mereka bertemu. Tampak Bima Sena tergetar mundur beberapa langkah. Menyadari kalau tenaga dalam lawannya satu tingkat di atasnya, Bima Sena merubah jurusnya. Mulai ilmu meringankan tubuhnya digunakan untuk mengulur waktu dan menguras napas Cakra Dana.

Namun kali ini, Bima Sena yang baru turun gunung bertemu lawan tangguh dan sakti. Terutama, tangannya yang sepertinya berapi, sehingga dapat menghanguskan lawan. Sehingga segala usahanya menemui jalan buntu. Ternyata, Cakra Dana memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa pula!

Semakin lama, Bima Sena semakin terdesak. Kalau diteruskan bisa dipastikan, dalam tempo beberapa jurus lagi akan mengalami celaka. Sementara Ki Demong terus sibuk menghadapi Setan Bungkuk yang memainkan tongkatnya secara habis-habisan. Bahkan semua ilmu yang dipelajari belakangan ini, telah dipakai Kuntarawang untuk menghadapi pemabuk tua itu. Keadaan mereka sampai saat ini masih tetap seimbang. Walaupun semakin mabuk, Ki Demong tetap tangguh. Bahkan semakin sulit diterka gerakannya.

Sementara itu, lain halnya Setan Hitam. Sambil bertarung, dia terus melempar binatang beracun yang sangat berbahaya. Untung saja Puspita Dewi memiliki gerakan yang jarang terlihat dalam dunia persilatan. Sehingga agak sulit bagi Sakurang untuk mengalahkannya secara cepat.

"Setan.... Keparat...! Gadis gagu kurang ajar! mampuslah kau!" dengus Setan Hitam, sambil mempercepat serangan dan melipatgandakan tenaganya.

Keadaan Puspita Dewi memang kelihatan terjepit. Dan itu tak lepas dari perhatian Ki Demong yang masih sempat melirik sambil bertarung.

"Nisanak, sebaiknya cepat pergi dari tempat ini. Rasanya, kita tak akan mampu menandingi orang-orang telengas ini...!"

Sambil berusaha menghindari serangan, Puspita Dewi melirik ke arah si Pemabuk dari Gunung Kidul. Dia yakin, laki-laki tua itu yang mengirimi suara jarak jauh. Buktinya ketika melirik tadi, Ki Demong sempat menganggukkan kepala.

Kemudian dengan cepat gadis bisu itu melirik Bima Sena yang juga terdesak. Nyatanya, kepala pemuda ini mengangguk. Berarti, Bima Sena juga mendapat kiriman suara jarak jauh. Juga, pemuda itu tampaknya menyetujui usul si Pemabuk dari Gunung Kidul.

Maka mendadak saja, seperti mendapat aba-aba mereka melenting ke arah yang sama. Lalu secepat itu pula mereka berkelebat cepat, mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi. Sebentar saja, mereka telah lenyap dari pandangan.

"Bangsat... Mereka akhirnya dapat lolos juga...!" maki Kuntarawang sambil memukul-mukulkan tongkatnya.

"Bocah-bocah itu kelak akan menjadi batu sandungan bagi kita!" potong Sakurang sambil mengepalkan tinjunya.

"Biarkan sajalah.... Bukankah kalian juga mendapat luka dalam? Lebih baik sembuhkan luka kalian dulu!" ujar Cakra Dana sambil mengambil obat pulung dari balik bajunya.

********************

Rupanya, kedatangan Cakra Dana, Sakurang, dan Kuritarawang telah ditunggu beberapa orang murid Perguruan Pondok Ungu yang kembali dibangun oleh Bima Sena.

"Berhenti...! Mau apa kalian datang kemari?!" bentak seorang murid.

"Ha ha ha....! Segala kutu busuk mau banyak tingkah didepanku. Mampuslah kau...!" hardik Sakurang sambil melemparkan binatang-binatang beracun yang mematikan.

Ser! Ser!

Tap! Tap!

Binatang berbisa mematikan itu berhasil menempel pada leher dan tubuh murid-murid Perguruan Pondok Ungu yang masih tersisa, dan kebetulan pulang kampung sewaktu pembantaian dulu. Jumlah mereka sekarang hanya sekitar dua puluhan.

Mendapat serangan tidak terduga, para murid tidak berdaya. Bagai daun kering, mereka berja-tuhan terkena racun binatang berbisa. Yang lainnya segera mencabut senjata, sambil membunyikan kentongan tanda bahaya. Maka dalam waktu singkat, halaman perguruan telah ramai oleh para murid.

Sementara itu, tiba-tiba Cakra Dana menghentakkan tangannya. Langsung digunakannya ilmu 'Tangan Api'. Maka saat itu juga meluncur beberapa bola api ke arah atap perguruan yang kebetulan terbuat dari rumbia. Tak ayal lagi, atap itu kontan terbakar.

Tidak lama kemudian, api pun berkobar dengan jilatannya yang melalap seluruh bangunan perguruan. Malam yang semula gelap jadi terang benderang oleh nyala api.

"Api.... Api.... Lekas padamkan api celaka itu...! Para pengacau keparat itu telah membakar perguruan kita. Lekas ambil air!" teriak murid-murid Perguruan Pondok Ungu.

Ketika mereka sibuk, para tokoh sesat itu sibuk pula menyebar maut ke sana kemari. Murid-murid berkepandaian rendah, berjatuhan dengan jiwa melayang. Teriakan kematian menggema berkali-kali. Sedangkan api semakin membesar saja dan melalap bangunan di sekitarnya.

"Ha ha ha...! Ayo bikin habis mereka!" seru Kuntarawang.

Namun pada saat yang sama melesat satu bayangan ke arah Setan Bungkuk. Begitu cepat gerakannya, sehingga dia tak dapat menghindari lagi. Dan....

Des!

"Waakh...!"

"Heh?!"

Betapa murkanya Setan Bungkuk menyadari dirinya terlontar dan jatuh berdebuk di tanah, ketika sebuah tendangan menghantam punggungnya. Begitu bersalto bangkit, dia menatap tajam sosok penyerangnya yang tak lain si Pemabuk dari Gunung Kidul.

DELAPAN

Disertai teriakan membahana, Kuntarawang menerjang orang tua pemabukan yang berkepandaian tinggi itu. Maka pertarungan sengit terjadi kembali. Kini dalam keadaan sama-sama segar dan mempunyai tenaga penuh. Dan mereka kelihatan tetap seimbang dan sulit ditentukan siapa yang bakal keluar sebagai pemenang.

"Chiaaat!"

Sementara itu, Sakurang kembali dihadang gadis gagu bernama Puspita Dewi yang memiliki ilmu pedang luar biasa. Kini gadis itu mengamuk bagaikan orang kemasukan setan. Pedangnya bergulung-gulung laksana gelombang lautan yang selalu datang tak ada henti.

Dan yang paling seru adalah pertarungan antara Bima Sena melawan Cakra Dana. Kedua orang ini saling serang, menggunakan ilmu silat tingkat tinggi. Namun di pihak Bima Sena, keadaannya malah mencemaskan. Jurus-jurus andalan telah terkuras habis. Dan lambat laun tetapi pasti, Bima Sena mulai jatuh di bawah angin.

Zeb! Zeb!

"Haiiit!"

Bima Sena melompat ke atas ketika secara bertubi-tubi Cakra Dana menyentakkan tangannya. Dia memang tidak berani mengambil bahaya atas serangan itu.

Blam...!

Dan benar saja. Pohon besar yang berada di belakang pemuda berbaju ungu itu kontan hangus terkena serangan tangan api Cakra Dana. Bagaikan disambar petir, pohon itu tumbang dan terbakar habis.

"Hm...! Tidak salah lagi! Kepandaian yang kau miliki adalah warisan Aria Pamuji yang menjadi sesepuh Perguruan Pondok Ungu...! Tetapi, menghadapi aku, tua bangka itu tidak ada artinya...! Suruh dia keluar kalau berani...!" ejek Cakra Dana.

"Yeaaa!"

Mendengar gurunya diejek, Bima Sena jadi kalap. Tindakannya jadi sembrono. Tanpa memperhitungkan pertahanannya, pemuda itu meluruk maju sambil melepaskan pukulan bertubi-tubi.

Sebentar Cakra Dana memperhatikan gerak pemuda ini. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergerak ke samping seraya melepaskan hantaman telak ke dada, dengan badan merunduk sedikit. Dan....

Desss...!

"Aaakh...!"

Tidak ampun lagi, Bima Sena tersentak ke belakang terkena hantaman telak. Dia menjerit tertahan, lalu memuntahkan darah. Tubuhnya terhuyung-huyung, lalu ambruk ketanah. Pingsan.

Cakra Dana tak bermaksud membunuh langsung pemuda itu. Tokoh sesat ini bermaksud menyandera pemuda itu, untuk memancing kemunculan Aria Pamuji, yang sejak dulu adalah musuh besarnya.

Sementara itu, guci Ki Demong tengah menangkis tongkat ular Kuntarawang yang mengarah ke kepalanya.

Trang!

Kedua orang itu sama-sama tergetar mundur. Dari sini, Cakra Dana melihat kesempatan baik. Maka cepat dikirimkannya serangan jarak jauh dengan menghentakkan tangannya.

Serangkum sinar merah memburu melesat, langsung mengantam Ki Demong hingga terlempar dan jatuh berdebuk keras di tanah. Agaknya dia mendapat luka dalam yang lumayan. Karena tidak dapat bangkit lagi, Kuntarawang tertawa terbahak-bahak sambil memuji kelicikan Cakra Dana.

Kini yang tertinggal hanyalah Puspita Dewi. Tetapi gadis itu tidak memperlihatkan rasa gentar sedikit pun. Dengan teriakan yang tidak dimengerti, tubuhnya terus menerjang Setan Hitam. Melihat kawannya terdesak, Setan Bungkuk cepat meluruk membantu. Akibatnya, kini ganti Puspita Dewi yang terdesak.

Gadis itu kini hanya dapat menangkis dan main mundur saja. Melihat keadaan ini, jelas beberapa saat lagi dia akan mendapat celaka. Pada saat yang gawat ini, mendadak saja....

"Kraaagkh...!"

"Heh?!"

Sebuah suara keras menggelegar di angkasa, memaksa Setan Hitam dan Setan Bungkuk menghentikan serangan dengan wajah terkejut. Tak urung, Cakra Dana pun terjingkat kaget. Seperti mendapat kata sepakat, mereka semua menatap ke atas.

Dan mereka makin terkejut, ketika di angkasa terlihat seekor rajawali raksasa melayang-layang. Agaknya, kebakaran yang melanda Perguruan Pondok Ungu sempat menarik perhatian burung rajawali itu.

Sebelum keterkejutan para tokoh sesat ini hilang, burung raksasa itu telah meluruk ke bawah. Sekitar sepuluh tombak di atas permukaan tanah, dari punggung burung itu melompat ringan seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung.

"Paman guru! Dia Pendekar Rajawali Sakti yang telah kuceritakan itu! Hati-hati, Paman. Kepandaiannya sangat tinggi!" teriak Setan Hitam, sambil menunjuk kearah pemuda yang memang Pendekar Rajawali Sakti, setelah berdiri lima tombak di hadapan mereka.

"Bangsat...! Jadi, ini bocah yang mempunyai sedikit nama, tapi berani jual lagak di depanku?! Kalau sudah bosan hidup, biar kuturuti kehendakmu...!" bentak Cakra Dana seraya, mempersiapkan pukulan 'Tangan Api' ilmu andalannya.

"Sabar, Kisanak! Bukankah persoalan ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin...?" cegah Rangga, kalem.

"Jangan banyak bacot! Bersiaplah! Terima pukulanku.... Hih...!"

Begitu selesai dengan bentakannya, Cakra Dana langsung menghentakkan kedua tangannya. Maka seketika meluncur dua sinar merah membara ke arah Rangga yang agaknya telah membaca gelagat tak baik. Tadi pun, bicaranya pada Cakra Dana hanya sekadar basa basi saja.

Begitu kedua sinar merah itu sedikit lagi menghantam, Pendekar Rajawali Sakti mengempos tenaganya. Saat itu juga kedua tangannya juga menghentak.

"Aji Guntur Geni! Yeaaah...!"

Wusss...!

Blarrr...!

Terdengar ledakan dahsyat. Tampak Cakra Dana dan Rangga tergetar mundur. Sementara, tokoh sesat itu terkejut ketika mengetahui tenaga pemuda itu begitu dahsyat. Namun sgcepat itu pula tubuhnya meluruk, menyerang Rangga dengan Tangan Apinya.

Cepat Rangga memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya meliuk-liuk bagaikan dahan pohon ditiup angin. Kadang kala terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk, lalu roboh rebah hampir mencium tanah. Tetapi anehnya, semua serangan Cakra Dana tidak ada yang mengenai sasaran.

"Ayo, serang aku, Kunyuk! Jangan bisanya hanya menghindar!" teriak Cakra Dana. Dia merasa marah, melihat Pendekar Rajawali Sakti hanya menghindar saja. Dan itu baginya adalah penghinaan!

"Hm.... Agaknya kau tidak bisa diajak berpikir dingin, Kisanak. Baiklah.... Akan kuturuti permintaanmu. Bersiaplah," ujar Rangga.

Saat itu juga, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke belakang, membuat jarak. Dan begitu kakinya mendarat, dibuatnya gerakan sedemikian rupa. Sebentar tubuhnya miring ke kiri, lalu ke kanan. Begitu tubuhnya tegak kembali, kedua tangannya sudah menangkap di depan dada. Lalu....

"Aji Cakra Buana Sukma..., Heaaa...!"

Disertai teriakan keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke depan. Saat itu juga, meluncur sinar biru ke arah Cakra Dana.

Tokoh sesat itu berusaha memapak dengan kedua tangannya. Namun, sinar merah yang meluruk dari kedua tangannya tertahan oleh sinar biru dari tangan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan perlahan-lahan, sinar biru itu terus merangsek, dan akhirnya menyelubungi tangan Cakra Dana.

Perlahan tapi pasti, sinar biru itu mulai merayap ke jubah Cakra Dana. Bahkan kini, seluruh tubuhnya terselubung sinar biru. Di saat yang demikian, Cakra Dana merasa kekuatannya bagai tersedot keluar.

Tokoh sesat ini berusaha melepaskan diri dari selubung sinar biru itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi justru, semakin tenaga dalamnya dipaksa keluar, tubuhnya makin lemas saja.

Sementara itu, melihat Cakra Dana dalam keadaan mengkhawatirkan, Setan Hitam dan Setan Bungkuk berniat membokong.

"Hiaaat...!"

Disertai teriakan keras, mereka meluruk sambil melepaskan serangan jarak jauh. Namun....

Darrr...! Darrr...!

"Aaakh...!"

Kedua tokoh sesat itu kontan terpental dengan dada terasa sesak. Begitu jatuh di tanah, pandangan mereka terasa berkunang-kunang dengan perut mual. Lalu....

"Hoekhhh...!"

Hampir bersamaan, Setan Hitam dan Setan Bungkuk memuntahkan darah segar. Mereka tak tahu, kalau Pendekar Rajawali Sakti tengah mengerahkan tenaga dalamnya yang paling tinggi. Sehingga tanpa melepas serangan pun, tubuhnya telah terlindungi. Maka akibatnya seperti yang terjadi barusan. Saat itu tingkat tenaga dalam Rangga terus bertambah, terarah pada Cakra Dana. Hingga pada akhirnya....

"Hiaaa...!"

Blarrr...!

Tanpa dapat berteriak lagi, tubuh Cakra Dana hancur berantakan. Serpihan-serpihan dagingnya beterbangan ke segala arah. Tamat sudah riwayat tokoh hitam ini.

Rangga menarik napas lega, sambil memperhatikan tubuh lawannya yang berceceran dalam keadaan hangus. Perlahan-lahan tubuhnya berbalik. Segera dihampirinya kedua anak muda itu.

Tampak Bima Sena yang telah tersadar dari pingsannya, ditemani Puspita Dewi. Sedangkan si Pemabuk dari Gunung Kidul juga telah tersadar. Kini dia tengah bersemadi.

Pada saat yang sama, Setan Hitam dan Setan Bungkuk telah merambat bangun. Mereka berusaha menyalurkan hawa murni untuk memulihkan luka dalam dan jalan pernapasannya yang terasa sesak.

"Maaf, Pendekar Rajawali Sakti.... Kali ini biarkanlah kami yang membereskan mereka...!" ucap Bima Sena dengan mata merah.

"Uuuh.... Aaah.... Uaaah...!" Puspita Dewi ikut menyelak dengan mengacungkan pedangnya.

Sementara, Rangga hanya mengangkat bahu saja. Dia yakin kedua anak muda ini mampu menghadapi kedua tokoh sesat itu. Sewaktu berada di angkasa tadi, Rangga sempat memperhatikan jalannya pertarungan. Dan dia mengambil kesimpulan kalau yang paling berbahaya adalah Cakra Dana. Maka, segera dihadapinya tokoh sesat itu lebih dulu.

Melihat Puspita Dewi sudah bergerak, Bima Sena segera ikut mengeroyok Sakurang. Pukulan-pukulan tangan yang berisi tenaga dalam kuat telah berhasil mengimbangi pukulan beracun Sakurang.

Sedangkan Kuntarawang telah dihadapi si Pemabuk dari Gunung Kidul yang sudah menyelesaikan semadinya. Keduanya mati-matian untuk menjatuhkan satu sama lain secepat mungkin. Seperti biasa, sambil bertarung Ki Demong selalu menenggak tuaknya yang sesekali disemburkan.

Ketika pertarungan memasuki jurus ke lima puluh dua, senjata di tangan Puspita Dewi dan Bima Sena telah berhasil melukai tangan dan perut Setan Hitam. Ini semua akibat perhatian Setan Hitam terganggu akibat binasanya Cakra Dana yang dianggap dapat dijadikan pelindungnya.

"Bedebah kalian...! Waspadalah! Aku akan mengadu jiwa dengan kalian...!" dengus Sakurang.

"Hih...!" Begitu Setan Hitam menghentakkan kedua tangannya, seketika meluncur angin berkesiutan yang berbau amis. Bisa dibayangkan, betapa beracunnya pukulan itu.

Namun Bima Sena juga tak ingin ayal-ayalan lagi. Disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, kedua tangannya menghentak.

"Heaaah...!"

Blarrr...!

Terdengar ledakan dahsyat ketika dua pukulan bertenaga dalam tinggi beradu. Tubuh masing-masing terlempar beberapa tombak dengan dada terasa sesak. Namun sayang, tubuh Setan Hitam justru terlontar ke arah Puspita Dewi. Melihat kesempatan baik ini, gadis itu segera mengelebatkan pedangnya. Dan....

Crasss...!

Tak ada suara ketika kepala Setan Hitam menggelinding putus terbabat pedang Puspita Dewi. Tubuhnya kontan ambruk di tanah, menggelepar meregang nyawa. Darah merah pun menggenangi sekitar tubuhnya.

Tepat ketika Puspita Dewi membersihkan pedangnya dari noda darah di baju tokoh sesat itu, tubuh Setan Hitam telah kaku. Mati membawa dendam.

Sedangkan Puspita Dewi segera melangkah menghampiri Bima Sena yang masih terduduk lemah, setelah mengadu tenaga dalam dengan Setan Hitam barusan. Dibantunya pemuda itu bangkit berdiri.

Sementara itu melihat kedua rekannya binasa, gerakan silat Kuntarawang tampak mulai kacau. Apalagi, Pemabuk dari Gunung Kidul terus mendesak dengan guci dan semburan tuaknya.

Pada satu kesempatan, tepat ketika Kuntarawang melenting untuk menghindari luncuran tuaknya, Ki Demong melesat ke atas memburu. Saat itu juga, gucinya langsung dihantamkan ke dada Setan Bungkuk.

Diegkh...!

"Aaakh...!" Setan Bungkuk terpental disertai teriakan keras. Sementara tongkatnya terpental, dan jatuh ke arah tempat Pendekar Rajawali Sakti berdiri.

"Hih...!" Dengan sekali tendang, Pendekar Rajawali Sakti berhasil membuat tongkat itu meluncur ke arah tubuh Setan Bungkuk yang meluncur turun. Dan...

Crep!

Tubuh Setan Bungkuk kontan tertancap tongkatnya sendiri hingga tembus ke punggung. Seketika itu juga tubuhnya terbawa luncuran tongkat yang ditendang Rangga dengan tenaga dalam tinggi.

Clap!

Ujung tongkat itu menancap pada sebuah pohon yang cukup besar dengan membawa tubuh Setan Bungkuk. Setelah berkelojotan sejenak, tokoh tua itu tewas dengan mata melotot.

Bima Sena dan Puspita Dewi, menarik napas lega melihat kematian pembunuh guru mereka. Sedangkan Pemabuk dari Gunung Kidul yang baru saja mendarat di tanah hanya terlongong bengong, karena tahu-tahu Setan Bungkuk sudah tertancap tongkatnya sendiri. Sementara kobaran api yang melalap Perguruan Pondok Ungu mulai mengecil dan hampir padam. Pembakaran perguruan memang berhasil. Tetapi para muridnya tidak dapat dilenyapkan begitu saja.

Para murid itu pasti akan melanjutkan perjuangan dengan mendirikan kembali Perguruan Pondok Ungu yang sudah terkenal dan termashyur.

Puspita Dewi dan Bima Sena saling berpelukan. Mereka sama-sama mengucapkan terima kasih pada Ki Demong yang berjuluk si Pemabuk dari Gunung Kidul. Namun orang tua pemabuk itu hanya tersenyum haru.

Ketika mereka hendak mengucapkan terima kasih pada Pendekar Rajawali Sakti ternyata pendekar itu telah tidak ada di tempatnya. Memang setelah mengirim Setan Bungkuk ke neraka, Rangga langsung berkelebat sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa. Memang masih banyak tugas lain yang harus diembannya dalam menumpas keangkaramurkaan.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PATUNG DEWI RATIH
Thanks for reading Satria Pondok Ungu I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »