Patung Dewi Ratih

PATUNG DEWI RATIH

SATU

"Ki sudah sampai, Ki Balero."

"Inikah Gua Griwa itu, Janasi, Kober?"

Pertanyaan bernada ingin meminta penegasan itu meluncur dari mulut seorang laki-laki setengah baya berpakaian jubah sutera warna kuning. Kepalanya diikat dengah kain berwarna kuning juga. Tadi, dia dipanggil dengan nama Ki Balero.

Sebentar Ki Balero menjulurkan kepalanya, seraya mencoba menembuskan penglihatannya pada rongga gua yang nampak gelap itu.

"Sesuai, perjanjian, maka kami cukup mengantar sampai di sini!" tambah laki-laki berusia tiga puluh dua tahun yang dipanggil Janasi.

"Upah kalian akan kutambah bila mengantarkan aku sampai ke dalam," jelas Ki Balero, menawarkan.

Janasi dan temannya yang bernama Kober saling berpandangan beberapa saat. Agaknya mereka mulai tergiur tawaran Ki Balero.

"Berapa?" tanya Janasi.

"Bagaimana kalau masing-masing kalian mendapat lima kepeng emas?"

"Lima Kepeng emas?!" sentak Janasi, melotot.

Sambil tetap melotot, mata Janasi memandang Kober yang dari tadi sudah jengkel. Kalau tidak karena lima kepeng emas yang disebutkan Ki Balero, rasanya Kober sudah muak sekali berlama-lama dengan orang tua cerewet itu.

Akhirnya, Kober mengangguk. "Baiklah. Kami setuju," sahut Janasi, setelah melihat persetujuan Kober yang menganggukkan kepalanya.

"Kami tidak ikut!" cetus seorang pemandu lain yang berada di belakang Ki Balero.

Hampir berbarengan, Janasi, Kober, dan Ki Balero menoleh ke arah tujuh orang pemuda yang juga menjadi pemandu jalan menuju Gua Griwa ini.

"Berapa Ki Balero berani bayar untuk mereka?" lanjut Janasi. Janasi menduga, mereka menuntut uang yang dijanjikan Ki Balero.

"Mereka adalah urusan kalian!" kata Ki Balero, menegaskan.

"Tapi mereka adalah kawan-kawan kami," tukas Janasi.

"Aku hanya menyewa kalian. Bukan berikut mereka!" sahut Ki Balero, menegaskan kembali.

"Selama ini orang-orang menyewa kami juga berikut mereka. Dan kami telah jelaskan sebelumnya padamu. Sekarang, kita telah tiba di sini. Maka suka atau tidak, Ki Belero mesti membayar mereka pula!" timpal Kober.

Ki Balero menggeram kesal. Dipandangnya kedua orang itu dengan geraham bergemelutuk, "Bagaimana?"

"Kalau mereka tidak diikutsertakan, maka kami pun hanya mengantar sampai di sini!" lanjut Janasi, bernada mengancam.

Ki Balero berpikir sebentar, sebelum mengangguk. "Baiklah... Aku setuju," desah laki-laki setengah baya itu.

"Berapa bagian mereka?" tukas Kober.

"Masing-masing akan mendapat sekepeng uang emas."

"Tidak. Kami tidak akan mau masuk ke dalam!" teriak salah seorang pemuda.

"Kau dengar? Mereka merasa upahnya kurang!" sergah Janasi.

"Jadi berapa?"

"Derajat mereka tidak berada di bawah kami. Maka bila Ki Balero memberi sekepeng uang emas sedangkan kami lima kepeng, berarti mereka merasa direndahkan," jelas Janasi.

"Jadi, bagaimana maksudmu? Apakah aku mesti juga memberi mereka lima kepeng emas tiap orang?!" tanya Ki Balero.

"Ya, begitulah mestinya," sahut Janasi kalem.

"Brengek! Itu bukan jumlah yang sedikit!" rutuk Ki Balero. "Kawan-kawanmu ada tujuh. Sehingga untuk mereka aku mesti mengeluarkan tiga puluh lima kepeng emas. Jumlah yang lebih banyak ketimbang kalian berdua!"

"Tidak mengapa. Selama ini, kami memang selalu mendapat bagian yang sama. Tidak ada yang iri satu sama lain!" sahut Kober.

Ki Balero mendelik. Perasaan kesalnya masih ada. Apalagi ditambah urusan ini. "Ini pemerasan!" lanjut Ki Balero geram.

"Bukan! Jangan salah, Ki. Ini sesuai tingkat bahaya yang mesti dihadapi. Kalau tidak bersedia, maka bayar upah kami sampai di sini. Lalu, Ki Balero silahkan lanjutkan sendiri menelusuri isi gua ini!"

Sebenarnya apa yang dikatakan Janasi memang benar. Gua Griwa terkenal angker dan banyak terdapat jebakan. Jalan menuju ke sini saja, sudah cukup sulit. Tapi, belum ada apa-apanya jika telah sampai di dalam. Menurut cerita yang menggulir di dunia persilatan, belum pernah ada seorang pun yang berhasil keluar setelah memasuki Gua Griwa!

"Bagaimana? Kami tidak akan memaksa orang...," desah Janasi.

"Baiklah...," sahut Ki Balero lemah.

Laki-laki setengah baya ini menyadari tidak ada gunanya menawar, kalau mereka sudah menetapkan harga. Mencari pemandu jalan menuju gua ini saja, sudah sulit. Apalagi semua penduduk desa terdekat tak ada yang berani mengantarkan. Mereka semua takut ancaman maut yang membayangi siapa saja yang berani mendekati daerah sekitar gua ini.

Janasi dan Kober serta tujuh kawan mereka adalah sekelompok pemuda berandal yang tidak punya pekerjaan. Maka ketika mendapatkan pekerjaan dengan imbalan memuaskan, langsung saja disetujui. Hanya mengantarkan. Dan itu pekerjaan enteng, pikir mereka.

"Tidak! Kami tidak akan mau mesti dibayar berapa pun!" sahut beberapa orang pemuda pemandu.

"Hm.... Bagaimana ini?!" tanya Ki Balero kesal.

"Jangan khawatir. Biar kuurus mereka!"

Janasi melangkah menghampiri tujuh pemandu diikuti Kober. Mereka bicara sebentar. Namun kelihatannya hanya dua orang yang mengangguk. Sedang lima lainnya menggeleng. Wajah mereka tampak pucat ketakutan.

"Jangan paksa kami! Meski berapa pun imbalannya, kami tidak akan sudi mati konyol!" sahut salah seorang.

"Ya! Gua Griwa tidak bisa dianggap sembarangan! Di dalamnya banyak jebakan dan hantu-hantu!" jelas yang seorang lagi.

"Aha, omong kosong!" tepis Janasi. "Terserah! Kalau kalian tidak mau ikut, maka bagian kalian untukku!"

"Tidak bisa begitu, Janasi. Bukankah kami telah mengantar sampai di sini?" sergah seorang pemandu.

"Diam kau, Jalaksewu! Apa kau akan melawanku?!" dengus Janasi sambil melotot dan berkacak pinggang.

Janasi sebenarnya berbohong pada Ki Balero jika mengatakan kalau ketujuh orang itu adalah kawan-kawannya. Padahal, yang sebenarnya mereka tidak hanya sekadar kawan. Bahkan lebih dari itu. Mereka adalah anak buahnya. Mereka semua takut pada Janasi yang berbadan paling kekar dan memiliki kepandaian. Meski belum tergolong tinggi, tapi untuk ukuran desa tidak ada yang mampu mengalahkannya. Sehingga begitu mendengar bentakannya, pemuda yang dipanggil Jalaksewu tak berani membantah.

"Kalau kau ikut, maka bagianmu akan kuberikan. Juga tambahan yang dikatakan Ki Balero tadi. Semua untukmu!" tambah Janasi.

Jalaksewu belum menjawab. Dia berpikir sebentar. Jumlah yang diterimanya memang banyak kalau setuju. Tapi..., bahaya yang dibayangkannya dari cerita orang-orang pun tidak kalah banyak! Uang bisa diganti kalau hilang. Tapi nyawa? Sekali melayang tidak akan bisa diganti lagi, meski dengan juragan yang lebih kaya dibanding Ki Balero.

"Terima kasih. Ambil sajalah buatmu. Aku lebih sayang nyawaku, Janasi...," desah Jalaksewu.

"Begitu juga aku...," sahut seorang pemuda lagi.

Sementara, tiga pemuda yang lain pun setuju dengan pendapat Jalaksewu.

"Pengecut!" umpat Janasi kesal. "Sudah, pulang sana! Meneteklah kalian pada ibu masing-masing!"

Jalaksewu dan keempat kawannya bergegas meninggalkan Janasi dan yang lainnya. Setelah jauh, baru mereka berani memaki.

"Mudah-mudahan kau dicekik hantu penunggu gua itu, Janasi!" desis Jalaksewu.

"Mampuslah kau di sana!" umpat yang lain, sambil terus mengikut langkah Jalaksewu.

Memang sudah sewajarnya mereka memaki-maki, meski tidak di depan Janasi. Karena setelah bersusah-payah, toh mereka tidak memperoleh sepeser pun uang yang dijanjikan Ki Belero. Tentu saja, karena semua bakal diambil Janasi. Percuma saja menentang. Karena itu sama saja cari penyakit sendiri. Janasi pasti akan mengamuk dan menghajar sampai babak belur.

"Sial! Pengecut brengsek! Rasain kalian!" dengus Janasi sambil memandangi kelima kawannya yang semakin jauh.

"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Justru kita untung. Bagian mereka untuk kita," ujar Kober, menerangkan.

Meski apa yang dikatakan Kober benar, tapi tetap saja Janasi masih kesal. Selama ini, apa kata Janasi selalu dipatuhi mereka. Tidak ada seorang pun yang berani membantah. Hitam yang dikatakan maka hitam pula yang dikerjakan mereka. Maka ketika terdengar mereka menolak keinginannya, kekesalannya cepat memuncak. Masih untung kelimanya cepat angkat kaki. Kalau tidak, mungkin akan dihajar sampai hati Janasi puas.

Sementara itu, Ki Balero semakin kesal saja mendengar pertikaian kecil itu. Lebih kesal lagi hatinya, karena Janasi tetap memberlakukan upah kelima kawannya meski tidak ikut menemani.

"Kita sudah sepakat. Dan itu tidak boleh di langgar!" tegas Janasi.

"Baiklah, baiklah...! Aku tetap akan membayar jatah mereka berlima!" kata Ki Balero mengalah. "Sekarang, ayo kita masuk ke dalam!"

Setelah perjanjian memuaskan, maka Janasi memerintahkan dua kawannya untuk berjalan paling depan.

"Kenapa kami? Kita masuk bersama-sama saja?" tukas seorang anak buah Janasi dengan wajah ngeri.

"Jangan membantah, Patra! Kali ini aku akan betul-betul marah! Kau tahu akibatnya kalau aku marah, bukan?!" dengus Janasi.

"Eh, iya! Baiklah...," sahut pemuda bernama Patra ketakutan.

Patra lantas menggamit lengan kawannya. Dan mereka pun melangkah ragu ke dalam seraya menyalakan obor yang sudah dipersiapkan. Meski di luar matahari bercahaya terang-benderang, tapi di dalam gua kelihatan gelap. Bahkan mereka tidak bisa melihat apa yang ada di depan pada jarak tujuh langkah.

"Tidak ada apa-apa...," ujar Patra lirih.

"Goblok! Kita harus berjalan lima langkah. Ayo, terus maju!" hardik Janasi, mengikuti dari belakang.

Sementara urutan di belakang Janasi adalah Kober. Kemudian baru Ki Balero. Laki-laki setengah baya itu tidak mau menanggung akibat buruk, setelah kehilangan uang untuk membayar mereka.

"Aaakh!" Mendadak saja, pemuda yang berada didepan menjerit ketakutan dan langsung memeluk Patra.

Patra pun tidak kalah kaget, sehingga tidak sempat bersiaga. Maka seketika keduanya jatuh terjerembab kebelakang.

Cieeet!

"Brengsek! Apa-apaan kalian ini?!" bentak Janasi geram.

"Ada bayangan hitam kecil menyambar kami..." jelas Patra dengan suara gemetar.

"Iya.... Bayangan kecil berwarna hitam...," timpal pemuda satunya yang dikenal bernama Sawung.

"Diam kalian! Brengsek! Dasar pengecut! Itu hanya kalong yang kaget karena kehadiran kita!" maki Janasi

"Eh?! Ka..., kalong?!" Patra dan Sawung saling berpandangan. Lalu mereka tersenyum malu.

"Ayo, Jalan lagi!" bentak Janasi.

"Iy... iya! Iya!"

Dengan sedikit keberanian Sawung dan Patra kembali melangkah. Ruangan terasa semakin lebar ketika mereka maju beberapa langkah. Dua pasang mata yang berada paling depan tampak nyalang mengamati keadaan sekitarnya. Namun tiba-tiba....

Bros!

"Heh?!"

Sesaat Patra dan Sawung terkejut. Mendadak saja, tanah yang mereka injak amblas. Mereka kontan terperosok masuk ke dalam lubang. Lalu....

Creb! Creb!

"Aaa...!" "Aaa...!"

Terdengar jeritan menyayat ketika tubuh Patra dan Sawung tak terlihat lagi, tertelan lubang.

"Ya, ampun!" Janasi kaget bukan main ketika melihat kedua kawannya yang terjeblos ke dalam lubang, telah tertancap bambu-bambu runcing di dasarnya. Kedua anak muda itu telah terkulai lemah, bermandikan darah.

"Ohhh...!" Kober menarik napas panjang melihat kematian Patra dan Sawung.

"Ada apa?" tanya Ki Balero, yang belum melihat ke lubang. Segera dia melangkah ke tepi lubang. Janasi dari Kober memberi jalan.

"Mereka terperosok ke dalam lubang perangkap...," jelas Janasi getir.

"Astaga!" sentak Ki Balero dengan mata terbelalak memandangi kedua mayat di bawah lubang sana.

"Bagaimana?" tanya Janasi seraya menyalakan obor yang dipegang karena obor yang dibawa Sawung dan Patra ikut terperosok ke dalam lubang. Namun obor itu tetap menyala.

"Bagaimana? Apa maksudmu bagaimana?!" sentak Ki Balero.

"Maksudku, apakah Ki Balero berani melanjutkan perjalanan?"

"Tentu saja!"

"Baiklah." Janasi menyolek.

"Tidak. Kita maju bersama!" tolak Kober cepat, seperti mengerti isyarat Janasi barusan.

"Kurang ajar! Kau mau membantahku?!" dengus Janasi geram.

"Jangan menantangku di sini, Sobat. Kau tahu, aku tidak takut padamu! Jadi, jangan samakan aku dengan mereka!" balas Kober tak kalah sengit.

"Brengsek!" umpat Janasi.

"Sudahlah.... Kalian ini malah bertengkar. Ayo jalan bersamaan di depan!" teriak Ki Balero semakin kesal.

"Huh!"

Mereka mendengar sinis pada laki-laki setengah baya itu. Meski mereka hendak bertengkar, tapi rasanya tak rela dibentak orang seperti Ki Balero. Namun karena sudah terikat perjanjian, maka suka atau tidak, mereka terpaksa harus jalan di muka.

Sementara setelah melangkahi lubang di depan, mereka bertiga tiba di sebuah tempat yang cukup luas. Di sini tidak ada cahaya dari luar. Namun, keadaannya cukup terang oleh cahaya dari sebuah lubang. Di dalamnya, terdapat cairan merah bergolak.

"Uhh, panas!" desis Janasi dan Kober bersamaan, ketika coba mendekati permukaan lubang.

"Hem.... Isi gua ini dekat dengan perut gunung!" gumam Ki Balero, menduga.

"Kau boleh cari apa yang kau inginkan, Ki Balero," ujar Janasi.

"Tentu saja!" sahut laki-laki setengah baya itu kegirangan.

Ki Balero lantas menelusuri semua dinding ruangan yang berada di tempat ini. Sementara itu Janasi dan Kober bermaksud meninggalkannya, ketika Ki Balero telah memberi upah.

Grek... grek... grek!

"Hei?!"

Janasi dan Kober terkejut. Mendadak pintu yang menghubungkan antara ruangan itu dengan terowongan yang menuju mulut gua tertutup batu besar yang tadi berada di dekatnya!

Get! Set!

Belum lagi habis rasa kaget mereka, mendadak melesat puluhan anak panah dari berbagai arah di dinding ruangan ini. Janasi dan Kober berusaha berkelit. Tapi malang, tindakan mereka terlambat, akibatnya....

Cras! Crab!

"Aaa...!"

Dua anak panah lebih cepat menancap di perut mereka. Keduanya kontan tersuruk. Dan sebelum menyentuh lantai, tiga anak panah kembali menancap di jidat dan dada. Saat itu juga, keduanya meregang nyawa!

Keadaan yang sama juga dialami Ki Balero. Laki-laki setengah baya itu sibuk menghalau hujan anak panah. Namun hanya dua yang berhasil ditangkisnya. Selanjutnya....

Crep!

"Akh!"

Sebatang anak panah menancap di betis kiri Ki Balero. Dan baru saja dia berusaha hendak mencabutnya, dua anak panah menghajar perut di pinggangnya.

Cras! Cras!

"Aaakh...!" Ki Balero kembali terpekik dengan tubuh sempoyongan. Ketiga anak panah yang lain menghabisi nyawa orang tua itu hingga jatuh tersungkur.

Dan tiba-tiba saja hujan panah itu berhenti ketika semua orang yang ada di situ telah jadi mayat. Kemudian, pintu yang menutup ruangan ini dengan terowongan yang menuju ke mulut gua terbuka kembali!

********************

DUA

Sudah dua minggu ini Desa Kedu ramai dikunjungi orang. Melihat dari cara berpakaian, kebanyakan mereka adalah kaum persilatan. Namun kedatangan mereka sedikit banyak membuat penduduk desa khawatir dan sekaligus gembira. Khawatir karena tujuan mereka adalah ke Gua Griwa. Dan gembira karena kedatangan mereka sedikit banyak membawa rejeki bagi kedai makan dan penginapan yang betebaran di sana. Demikian pula para pemandu jalan, meskipun jarang ada yang mau sampai ke mulut gua. Biasanya mereka hanya mengantarkan dalam jarak yang cukup jauh. Sekadar menunjukkan arah yang benar menuju Gua Griwa.

Seperti hari ini. Tampak beberapa tokoh persilatan datang berkunjung. Kabar tentang keangkeran gua itu sama sekali tidak menyurutkan niat mereka ke sana. Meski begitu, ada juga yang hanya sekadar ingin tahu.

"Apa sebenarnya yang menarik dari gua itu, Teja Rukmana?" tanya seorang pemuda tampan berbaju serba putih berusia sekitar dua puluh tahun di salah satu kedai.

"Apakah kau tidak tahu, Badrawata," pemuda yang dipanggil Teja Rukmana malah balik bertanya.

Pemuda berbaju serba putih itu bernama Badrawata menggeleng. Lalu ditenggaknya tuak yang terhidang di depannya.

"Di Sana konon kabarnya terdapat warisan Dewi Ratih!" Jelas Teja Rukmana.

"Hm, Dewi Ratih? Rasa-rasanya pernah kudengar nama itu!" gumam Badrawata, sambil membetulkan letak pedang pendeknya di pinggang kiri.

"Dia adalah putri seorang selir Prabu Airlangga yang memilih hidup sebagai seorang pertapa, lebih kurang seratus tahun lalu," jelas Teja Rukmana. "Oh, jadi Dewi Ratih yang itu?!" Teja Rukmana tersenyum seraya menyantap hidangan di depannya. Dia tahu, keterkejutan Badrawata bukan karena juga berpikiran sama dengannya. Melainkan, sekadar pura-pura mengerti saja.

"Kau pasti tidak tahu Dewi Ratih yang sama dimasudkan!" sambar Teja Rukmana, setelah mengunyah makanan di mulutnya.

"Aku tahu!" kata Badrawata, sok yakin.

"Katakan!"

"Ya, pokoknya tahu saja! Dan tidak perlu kuberitahu, Dewi Ratih yang mana yang kumaksudkan!" tangkis Badrawata.

Teja Rukmana menyeringai lebar. "Dasar tak mau kalah!"

Badrawata hanya tertawa kecil. "Lantas, apa hebatnya warisan Dewi Ratih yang kau maksudkan itu?" tanya Badrawata kemudian setelah menyantap hidangan terakhir di piringnya.

"Semasa hidupnya, dia memiliki ilmu olah kanuragan hebat dan mempunyai kesaktian laksana dewa. Dan konon, kabarnya dia menuliskan semua kehebatannya dalam bentuk..., entahlah! Orang-orang banyak menduga soal itu. Entah melalui kitab, pahatan di batu, atau di dinding gua. Tak seorang pun yang tahu pasti!" jelas Teja Rukmana.

"Hm, begitu. Lalu, apa hubungannya dengan Gua Griwa?"

"Bukankah sudah kukatakan?"

"Maksudku, bagaimana orang-orang yakin kalau warisan Dewi Ratih ada di sana?"

Teja Rukmana angkat bahu. "Mana kutahu? Pengetahuanku tidak sampai ke situ," sahut Teja Rukmana datar.

"Bagaimana kalau kita kesana? Sekadar memuaskan keingintahuanku saja!" sambung Badrawata buru-buru, ketika melihat Teja Rukmana tersenyum lebar.

"Kita mesti buru-buru sampai ke perguruan, Badra," ingat Teja Rukmana. "Lagi pula, uang kita tak cukup membayar pemandu untuk ke sana."

"Kita tidak perlu pemandu!" tegas Badrawata.

Teja Rukmana tersenyum. "Aku bahkan tak tahu daerah ini. Bagaimana mungkin kita bisa ke sana?" kata Teja Rukmana.

"Semua orang di desa ini tahu, arah mana yang mesti dituju untuk tiba di gua itu!" sahut Badrawata berkilah.

"Terserah katamu. Tapi kalau mau dengar kataku, sebaiknya urungkan saja niatmu. Kita tidak punya waktu mengurusi soal itu."

"Sayang sekali. Siapa tahu kita bisa memperoleh warisan itu...," gumam Badrawata.

"Hei? Kau bersungguh-sungguh?!" sentak Teja Rukmana, seperti tak percaya.

"Kalau memang nasib bahwa warisan itu bakal milik kita, kenapa tidak?" sahut Badrawata, enteng.

"Badra! Lupakan soal itu! Ayo, kita mesti bergegas pulang!" ajak Teja Rukmana, yang mulai khawatir mendengar kemauan kawannya.

"Eh, tunggu dulu! Kau sungguh-sungguh tidak berminat soal ini?!" cepat Badrawata.

"Tidak! Dan sekarang kita mesti tiba di perguruan secepat mungkin!" sergah Teja Rukmana.

"Pergilah lebih dulu. Nanti aku akan menyusul?" sahut Badrawata menegaskan.

"Badra! Apa-apaan kau ini?" sentak Teja Rukmana.

"Anak muda! Kalau kawanmu ingin sekali kesana, biar saja ikut denganku!" timpal seorang laki-laki setengah baya yang sejak tadi agaknya mendengar percakapan mereka.

Karuan saja, kedua anak muda ini berpaling pada laki-laki bertubuh kecil berambut panjang awut-awutan yang tenang-tenang saja menenggak arak di depannya.

"Apa maksudmu, Ki? Kami sama sekali tidak kenal denganmu!" kata Teja Rukmana.

"Namaku Ki Darta Rawon...," sahut orang tua itu tenang, seraya kembali menenggak isi guci di depannya.

"Ki Darta Rawon?" gumam Badrawata dan Teja Rukmana.

Mereka coba mengingat-ingat, di mana pernah mendengar nama itu. Namun sejauh ini belum juga terlihat. Mungkin juga mereka belum pernah dengar sebelumnya.

"Siapa namamu?" tunjuk laki-laki setengah baya bernama Ki Darta Rawon.

"Badrawata...!"

"Badrawata? Hm, bagus! Maukah kau ikut denganku? Aku akan ke gua itu!" tanya Ki Darta Rawon.

"Eh! Kalau Kisanak tidak keberatan, tentu saja dengan senang hati!" sahut Badrawata cepat.

"Badra, apa-apaan ini?!" tukas Teja Rukmana, cepat.

"Jangan halangi aku, Sobat! Pulanglah kau lebih dulu. Nanti akan menyusul. Katakan pada guru, aku jalan-jalan dulu!" ujar Badrawata tenang.

"Kau..., kau bersungguh-sungguh?" Badrawata mengangguk cepat. "Baiklah kalau itu maumu. Aku memang tidak bisa menghalangi. Selamat jalan. Dan, jaga dirimu baik-baik! Aku pergi dulu!" kata Teja Rukmana, seraya bangkit berdiri. Dihampirinya pemilik kedai untuk membayar harga makanan. Lalu dengan langkah lebar dia meninggalkan kedai ini.

"Dia mencemaskanmu. Apakah kau saudaranya?" tanya Ki Darta Rawon, setelah Teja Rukmana tak terlihat lagi.

"Bukan. Dia hanya kawan seperguruanku," sahut Badrawata, seraya berdiri dan menghampiri Ki Darta Rawon. Pemuda itu lantas duduk di depan Ki Darta Rawon.

Ki Darta Rawon mengangguk kecil.

"Eh! Ngg..., apakah kau seorang diri hendak ke gua itu, Ki?" tanya Badrawata.

Laki-laki itu mengangguk.

"Tidak membawa pemandu jalan?" tanya Badrawata lagi.

"Aku tahu tempat itu. Bahkan lebih tahu ketimbang semua orang di sini!" jawab Ki Darta Rawon, enteng.

"Bagaimana mungkin? Apakah kau penduduk desa ini?"

"Tidak"

"Lalu?"

Ki Darta Rawon tak menjawab. Bahkan malah tersenyum, lalu kembali menenggak isi gucinya.

"Katakanlah padaku, apakah benar di dalam gua itu terdapat warisan Dewi Ratih yang hebat itu?" tanya Badrawata.

"Tentu saja!" sahut Ki Darta Rawon mantap.

"Oh, pasti hebat sekali! Seberapa hebat Dewi Ratih itu, sehingga warisannya diperebutkan banyak orang?!"

"Dia hebat sekali! Tidak bisa disamakan dengan tokoh hebat mana pun."

"Betulkah?! Ah! Kalau saja dia hidup di zaman ini, tentu orang-orang akan menjulukinya sebagai tokoh nomor satu yang tak terkalahkan!"

Ki Darta Rawon tak menjawab.

"Hm.... Apakah..., apakah kau ingin mengambil warisannya itu, Ki?"

"Tentu saja."

"Eh! Ka..., kalau sudah berada di tanganmu, bolehkah aku melihatnya barang sebentar?"

"Kau boleh melihatnya sepuasmu!"

"Oh, benarkah?! Kau baik sekali, Ki!" sahut Badrawata girang.

"He he he...! Kau kira semudah itu mendapatkannya, Bocah?"

Mendadak terdengar suara bernada mengejek disertai kekehan dari sebelah kanan meja mereka. Badrawata langsung melirik, dan melihat seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun tengah duduk di meja sebelahnya. Tubuhnya pendek Rambutnya yang sepanjang bahu telah memutih semuanya. Jubahnya panjang sampai ke mata kaki berwarna kelabu. Dia sama sekali tak menoleh dan kelihatan tengah menikmati santapannya. Sehingga, Badrawata merasa tidak yakin apakah orang tua itu bicara padanya.

"Aku bicara padamu tentunya!" sambung kakek itu seperti mengetahui isi pikiran Badrawata yang sudah berpaling.

Dan kata-kata itu membuat Badrawata kembali menoleh. "Eh! Ma..., maaf. Kau bicara padaku?" tanya Badrawata.

"Tentu saja. Apakah telingamu tuli?" sahut kakek ini tanpa menoleh.

"Maaf, aku tak tahu. Kukira kau bicara pada makananmu itu!" ucap Badrawata seenaknya, karena hatinya mendongkol.

Kakek berjubah kelabu itu baru menoleh dan memandang tajam sekali. Lalu kepalanya berpaling pada Ki Darta Rawon yang sama sekali tidak peduli atas ikut campurnya kakek ini.

"He he he...! Kau sungguh berani mempermainkan aku, Bocah. Ingin kutahu, apa yang bisa kau andalkan!" kata kakek ini, enteng.

Setelah berkata begitu, kakek bertubuh pendek ini menjentikkan kedua jari-jarinya. Seketika dari situ melesat angin kecil yang cukup kuat, menyambar kearah Badrawata.

Badrawata tidak tahu, apa kehebatan jentikan kakek ini. Tapi, Ki Darta Rawon tiba-tiba saja menariknya secepat kilat, sehingga angin kecil tadi luput dari sasaran, namun menghantam kursi di belakang Badrawata.

Prak!

"Hei?!"

Barulah mata Badrawata terbelalak ketika menyaksikan sandaran kursi yang didudukinya hancur berantakan. Kalau saja mengenai batok kepalanya, entah apa jadinya.

Kejadian itu mengundang perhatian orang-orang yang berada di dalam kedai. Tapi kakek berjubah kelabu itu tenang-tenang saja, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Kalau saja Badrawata tidak bangkit berdiri seraya menudingnya, niscaya tidak ada yang mengetahui kalau kakek itu yang telah menghancurkan sandaran kursi barusan.

"Orang tua brengsek! Apa maksudmu? Kau hendak membunuhku, padahal antara kita tidak ada urusan apa pun!" maki Badrawata.

Si kakek diam saja. Bahkan malah enak-enakan menyantap makanannya. Seolah-olah pemuda itu dianggapnya tidak bicara padanya.

"Orang tua busuk! Aku bicara padamu!" bentak Badrawata dengan suara menggelegar.

Hampir saja pemuda ini akan menghajar orang tua itu. Untung saja Ki Darta Rawon cepat menarik dan mengajaknya agar kembali duduk.

"Lepaskan! Biar kuhajar orang tua tidak tahu diri itu!" teriak Badrawata, berusaha melepaskan diri.

"Kau akan menghajarnya? Apakah kau tak tahu siapa dia?" tanya Ki Darta Rawon kalem.

"Apa peduliku?!" tukas pemuda itu.

"Apakah kau tak akan peduli kalau ternyata dia adalah si Siluman Api?"

"Apa?! Jadi..., jadi dia si Siluman Api?!" desis Badrawata seperti tak percaya dengan pendengarannya.

Secepat kilat Badrawata menatap tajam kakek itu beberapa kali untuk meyakinkan apa yang dikatakan Ki Darta Rawon. Nama Siluman Api pemah didengar dari gurunya. Tokoh itu merupakan salah satu datuk sesat yang berilmu tinggi. Jangankan gurunya. Bahkan lima orang berkepandaian seperti gurunya pun, tidak akan mampu mengalahkannya. Apalagi dirinya. Kalau tadi Ki Darta Rawon tak mencegah, entah apa yang akan terjadi padanya.

"Apakah kau akan menghajarnya setelah lahu siapa dia?" tanya Ki Darta Rawon sambil tersenyum kecil.

Badrawata jadi salah tingkah. Seketika dia diam tak menjawab. Sementara itu, kakek yang disebut Ki Darta Rawon sebagai Siluman Api telah selesai menyantap hidangannya. Kini matanya melirik Badrawata seraya menenggak arak dalam guci.

"Huaaah! Enak sekali! Kau ingin mencobanya, Bocah? Cobalah! Arak ini pilihan dan bukan sembarang arak!" ujar Siluman Api seraya menyodorkan guci dalam genggamannya.

"Tidak, terima kasih!" tolak pemuda itu, berusaha sopan.

"Ayo coba! Kau akan ketagihan setelah mencicipi arak buatanku ini!" paksa kakek ini seraya bangkit dari kursinya.

Bandrawata memandang Ki Darta Rawon. Laki-laki setengah baya itu seperti tak peduli dengan kejadian itu. Bahkan malah asyik menikmati araknya.

"Cobalah barang seteguk!" ulang Siluman Api.

Wut!

Baru saja kembali menoleh, isi guci di tangan kakek itu telah dituangkan ke mulut Badrawata. Buru-buru Badrawata mengelak. Tapi sebelah tangan Siluman Api telah menangkap batok kepalanya.

Tap!

Saat itu juga dua buah jari Siluman Api dengan cepat membuka mulut Badrawata. Dan pemuda itu sendiri tak kuasa menolak dari kekuatan yang lebih besar dari tenaganya. Sehingga tanpa bisa dicegah, sebagian isi arak muncrat ke tenggorokannya.

Glek! Glek!

"Huaaah!"

Badrawata menjerit ketika arak itu masuk ke lambungnya, isi perutnya terasa panas bukan main, seperti menenggak air yang baru mendidih.

"He he he.... Enak, bukan? Nah! Kau akan ketagihan. Cobalah cicipi lagi!? ujar Siluman Api seraya menuangkan isi gucinya lagi.

Tapi kali ini Ki Darta Rawon agaknya tidak mau tinggal diam.

"Pfuuh!"

Secepat kilat, laki-laki setengah baya ini meniup cairan arak yang hendak tumpah ke mulut Badrawata, sehingga melenceng dari sasaran. Bersamaan dengan itu, sebelah kakinya menyodok perut Siluman Api.

Wut!

"Uts!" Melihat itu, si Siluman Api segera mengegoskan pinggangnya. Sehingga tendangan Ki Darta Rawon hanya menghantam tempat kosong. Tapi, ternyata kaki laki-laki setengah baya itu berbalik, menyapu ke batok kepala.

Cepat , Siluman Api menunduk. Namun saat itu juga tangan kiri Ki Darta Rawon yang membentuk cakar menyambar dada.

"Uhh!" Dalam keadaan begitu, mau tidak mau terpaksa Siluman Api melompat ke belakang kalau tak mau celaka. Sehingga, cekalannya pada Badrawata terlepas.

Di luar dugaan, Ki Darta Rawon malah menghantam perut Badrawata dengan tangan kanan.

Pokkk..!

"Hoekh...!" Badrawata langsung terhuyung-huyung ke samping. Dan dari mulutnya muncrat cairan arak yang tadi terminum olehnya.

"Hiih!"

Wusss!

Secepat kilat, telapak tangan kiri Ki Darta Rawon menghantam cairan arak itu sebelum jatuh ke lantai. Maka, seketika arak itu melesat cepat menyambar si Siluman Api.

"Uts!" Siluman Api terkesiap, melihat pameran kehebatan cairan arak itu sebelum jatuh ke lantai. Maka, seketika arak itu melesat cepat menyambar si Siluman Api.

"Uts!" Siluman Api terkesiap, melihat pameran kehebatan yang dipertunjukkan laki-laki setengah baya itu. Tubuhnya cepat berkelit ke samping, sehingga arak yang melesat kearahnya menyambar kayu penyangga kedai ini.

Krakkk!

"Hei?!"

Tongkat kayu sebesar paha laki-laki dewasa itu kontan berderak patah, membuat kaget mereka yang berada di dalam kedai. Bukan saja karena kehebatan Ki Darta Rawon, tapi juga karena atap kedai itu bergerak-gerak seperti hendak runtuh!

"Hup!"

"Yeaaah!"

Beberapa orang yang tengah makan secepatnya melompat keluar menyelamatkan diri. Dan yang lainnya menyusul dari belakang. Tinggal pemilik kedai yang sejak tadi berteriak-teriak kalap melihat kedainya yang mau ambruk.

"Aduh kedaiku! Dasar orang-orang tak tahu diri! Bagaimana nasib kedaiku?! Kalian harus mengganti kerusakannya! Kalian harus mengganti semua kerusakan ini!" teriak pemilik kedai.

"Mari kita tinggalkan tempat ini, Badra!" ajak Ki Darta Rawon, seraya menyambar salah satu pergelangan tangan pemuda itu.

"Eh, tapi...,"

"Jangan pikirkan apa pun!" potong laki-laki setengah baya itu, seraya secepatnya menyeret pemuda itu keluar lewat jalan belakang.

"Ohhh!" Kembali Badrawata dibuat terkejut ketika Ki Darta Rawon mencelat cepat. Dan sepertinya, dia dibawa terbang oleh laki-laki itu.

"Kisanak! Persoalan kita belum lagi selesai...!" Terdengar sebuah suara dari belakang. Jelas itu suara si Siluman Api.

"He he he...! Agaknya tua bangka itu suka padamu, Badra!" kata Ki Darta Rawon tanpa menghentikan larinya.

"Apa...?!"

"Tapi jangan khawatir. Biar kita beri pelajaran dia!" hibur Ki Darta Rawon enteng.

********************

TIGA

Seekor kuda berbulu hitam melangkah lambat, seperti enggan berpacu dengan desir angin yang bertiup kencang. Di langit terlihat awan hitam bergulung-gulung. Keletihan menahan titik air yang sebentar lagi akan tumpah.

"Ayo, Dewa Bayu. Kita harus cepat tiba di desa terdekat!" ujar pemuda tampan berbaju rompi putih, penunggang kuda hitam ini. Di Punggung pemuda itu tampak sebilah pedang bergagang kepala burung.

"Hieee!"

Kuda hitam yang dipanggil Dewa Bayu meringkik halus, kemudian melompat cepat lima kali lebih cepat dari larinya semula. Diterobosnya gerimis yang mulai turun satu persatu.

"Hei?!"

Nyaris pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti terjungkal dari punggung kudanya, ketika tiba-tiba dari samping kiri memotong seorang penunggang kuda lainnya. Saat itu juga tali kekang Dewa Bayu ditarik untuk menghentikan larinya.

"Edan! Siapa orang itu? Nekat benar dia!" rutuk Rangga geram seraya menggebah kudanya kembali.

"Hieee!"

Maka kuda berbulu hitam itu melesat kencang bagai anak panah lepas dari busur. Tak heran kalau dalam waktu singkat, penunggang kuda putih berbelang coklat di depannya berhasil dikejarnya, hingga jarak tiga tombak di belakangnya. Namun baru saja Rangga selesai bergumam....

"Hiih!"

Set! Set!

"Hei?!" Rangga terkejut bukan main ketika penunggang kuda di depan tiba-tiba mengibaskan tangannya ke belakang. Saat itu juga melesat dua benda bersinar keperakan ke arahnya.

"Hup!"

Pendekar Rajawali Sakti segera mencelat ke atas, sehingga dua buah sinar keperakan yang berupa senjata rahasia itu hanya menyapu angin. Kemudian setelah berputaran di udara beberapa kali, Pendekar Rajawali Sakti meluruk ke arahnya. Semua itu dilakukan tanpa menghentikan derap langkah Dewa Bayu yang terus berlari kencang.

"Sial! Orang ini mesti diberi pelajaran!" dengus Rangga, begitu mendarat kembali di atas punggung Dewa Bayu. "Heaaa?!"

Pendekar Rajawali Sakti mendadak menghentakkan tangannya, dengan Jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ke arah sebuah pohon yang berada di depan penunggang kuda putih berbelang coklat. Sinar merah membara tampak melesat cepat sekali. Dan...

Bruak!

Krak.. krak! Bruk!

Karuan saja penunggang kuda berpakaian kuning gading di depan terkejut ketika sebatang pohon ambruk dl depannya. Buru-buru tali kekang ditarik untuk menghentikan laju kuda. Dan seketika tubuhnya melenting gesit dari punggung hewan itu. Setelah berputaran beberapa kali, dia mendarat empuk di tanah sambil berkacak pinggang menghadang.

Rangga yang telah bersiap menghentikan kudanya tidak kalah sigap. Secepat kilat dia ikut melompat untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang mungkin menimpa.

"Hei?!" Tapi Pendekar Rajawali Sakti dibuat tertegun ketika mengetahui buruannya hanya seorang gadis belia berusia sekitar enam belas tahun. Rambutnya panjang dikuncir dua. Kiri dan kanan. Di punggungnya tersandang sebilah pedang panjang. Wajahnya cantik, tapi berkesan galak.

"Kenapa kau bersikap seperti hendak membunuhku?" tanya Rangga pura-pura gusar.

"Kurang ajar! Mestinya aku yang bertanya padamu, kenapa menguntitku?!" balas gadis berpakaian ketat warna kuning gading itu, membentak.

"Aku menguntitmu karena kau hampir menabrak kudaku yang tengah melaju kencang!" jelas pemuda itu.

"Huh! Justru kudamu yang hendak menabrakku! Seenaknya saja kau menimpakan kesalahan padaku!" dengus gadis ini berkilah.

"Hhh!" Rangga hanya bisa mendengus kesal seraya menghela napas kasar.

"Apa?! Mau memukulku? Ayo pukul kalau berani!" bentak gadis ini lantang.

"Untung saja kau gadis yang masih bau kencur...," sungut Rangga, bergumam.

"Kurang ajar! Apa dikira aku takut menghadapimu?! Sepuluh orang sepertimu tidak akan membuat Sakaweni mundur!" hardik gadis yang mengaku bernama Sakaweni tak mau kalah. Seolah dia hendak menantang Pendekar Rajawali Sakti.

"Sudahlah! Dasar bocah galak! Maunya menang sendiri!" gemtu Rangga.

Setelah berkata begitu, Rangga berbalik melangkah menghampiri Dewa Bayu. Sementara Sakaweni tetap mendengus sinis. Sikapnya masih tetap berkacak pinggang.

"Pengecut-pengecut sepertimu memang paling sering kutemui! Menyebalkan! Pura-pura mengganggu wanita. Dan setelah tahu wanita yang dihadapinya lebih kuat, maka tiba-tiba saja mencari alasan untuk mengurungkan niat busuknya!" sindir gadis itu.

"Hei?!" Rangga terkesiap mendengarnya, Bagaimana mungkin gadis itu bisa bicara demikian lancang? Secepat itu pula, tubuhnya berbalik.

"Nisanak! Kau masih muda. Maka tak heran kalau pikiranmu begitu sempit, sehingga bicaramu demikian tajam. Apakah orangtuamu yang mengajarkanmu begitu?" balas Pendekar Rajawali Sakti, menatap tajam Sakaweni.

"Itu bukan urusanmu! Sebaiknya, cabut pedangmu. Dan, hadapi aku!" dengus Sakaweni menantang.

"Aku tidak mungkin menurunkan tangan padamu...," desah Rangga, berusaha menahan gejolak amarah.

"Kau telah buat salah. Kemudian, kau merendahkanku. Aku merasa terhina. Dan untuk menebus perasaan itu, maka kubutuhkan kepalamu!" tandas Sakaweni.

"Maaf, aku tidak bisa meladenimu...," ucap Rangga, kembali membelakangi gadis itu.

"Setan!" hardik Sakaweni geram. "Hih...!" Secepat kilat Sakaweni menghentakkan kedua tangannya yang terbuka ke arah Pendekar Rajawab Sakti, melepaskan pukulan jarak jauh.

Wusss...!

"Hei?!" Rangga terkesiap. Secepat kilat tubuhnya mengegos, sehingga angin pukulan yang menyambar hanya mengenai tempat kosong. Dan pukulan jarak jauh itu terus menabrak semak dan bateng pohon sampai hancur berantakan.

Bruak!

"Kau...!" desis Rangga kaget.

"Masih menganggap enteng padaku?" kata gadis itu, enteng.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Nisanak?!" tanya Rangga, geram.

"Jangan menggertakku! Aku tidak takut padamu!" hardik Sakaweni dengan mata melotot. "Telingamu mungkin tuli. Tapi, tak apa biar kuulangi lagi. Aku ingin kepalamu!"

Cring!

Setelah berkata begitu, gadis ini mencabut pedang, Seketika diserangnya Pendekar Rajawali Sakti,

"Heaaat!"

"Uts!" Dan lagi-lagi Rangga dibuat jengkel melihat ulah gadis ini. Pedang di tangan gadis itu berkelebat dahsyat, menyambar ke arahnya. Kata-katanya seperti ingin dibuktikan secepatnya. Dan kalau saja Rangga tidak cepat menarik tubuhnya ke samping, niscaya bukan tidak mungkin kepalanya akan terpenggal.

"Hiyaaat!"

Dengan menggunakan jurus 'Sembilan Lang-kah Ajaib, Pendekar Rajawali Sakti berusaha mempartahankan diri sambil mengamat-amati setiap gerakan gadis itu. Tubuhnya meliuk-liuk bagai orang mabuk. Bahkan kadang terhuyung-huyung hampir jatuh.

"Gila! Hebat sekali perrmainan pedangnya!" puji Rangga dalam hati.

Tapi, tentu saja pujian Rangga tidak diperlihatkan. Sementara Sakaweni makin liar saja, membuat Pendekar Rajawali Sakti tak bisa berbuat banyak. Dalam dua jurus di muka, kalau Rangga tidak balas menyerang rasanya pedang gadis itu akan mengenai sasaran. Maka dengan secepatnya Rangga mulai balas menggebrak.

"Hiyaaa!"

Rangga mendadak mencelat ke belakang sambil membuat putaran dua kali. Dan tatkala gadis itu mengejar, Pendekar Rajawali Sakti telah mendarat manis di tanah. Seketika telapak kirinya cepat bergerak menghantam.

Gadis itu terkesiap, namun cepat mengegoskan tubuhnya. Dan kesempatan itu dipergunakan Pendekar Rajawali Sakti untuk memutar tubuhnya sambil melepas tendangan kilat.

"Hiiih!"

"Hei?! Uts!"

Sakaweni terkejut. Dia benar-benar tak menyangka pemuda itu mampu bergerak secepat kilat. Dengan gelagapan gadis ini melompat mundur. Tapi dengan gerakan dahsyat telapak tangan kiri Rangga yang tak dialiri tenaga dalam telah menyusuli. Dan....

Begkh!

"Uhh!" Gadis itu mengeluh tertahan. Tubuhnya terjajar beberapa langkah. Pukulan itu memang tidak kencang, tapi gadis itu merasa terhina sekali. Dan dia tahu, pemuda itu sebenarnya mampu melepaskan pukulan yang lebih kuat.

"Kenapa kau tidak bersungguh-sungguh memukulku?!" bentak gadis itu kesal.

"Aku memang tidak bermaksud membunuhmu, Nisanak," sahut Rangga, kalem.

"Tapi aku ingin sekali membunuhmu!" tukas Sakaweni.

Dan secepat itu pula kembali gadis ini memutar-mujar pedangnya, hingga seperti kitiran. Dipermainkannya pedang itu barang sesaat seraya mendekat ke arah Rangga. Lalu secepat kilat pedangnya dibabatkan ke bawah.

Wuuut!

"Uts!" Serangan itu kelihatannya remeh. Dan mudah sekali bagi Rangga untuk mengelakkan dengan meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Tapi mata Pendekar Rajawali Sakti mendadak terbelalak tatkala ujung pedang itu terus meliuk-liuk bagai seekor ular yang siap mematuk tubuhnya.

"Hiyaaa!"

Rangga cepat melompat ke belakang. Sementara Sakaweni cepat mengejarnya dengan lompatan tinggi. Sepertinya dia mengetahui kalau pemuda itu akan mencelat ke atas. Dan Rangga seperti masuk dalam perangkap. Maka mendadak saja ujung pedang Sakaweni cepat sekali menggores dadanya.

Sret!

"Uhh...!"

"Hebat!? puji Pendekar Rajawali Sakti melihat goresan halus yang dibuat pedang gadis itu, begitu mendarat di tanah.

"Aku bisa membunuhmu tadi!" dengus Sakaweni ketika menjejakkan kakinya di tanah pula.

"Kenapa tidak kau lakukan?" tanya Rangga, seperti menantang.

"Huh!" Gadis itu tak menjawab selain mendengus. Lalu ditinggalkannya pemuda itu sendirian untuk melanjutkan perjalanannya.

"Hei, tunggu dulu! Kemana tujuanmu?!" teriak Rangga mencegah.

"Bukan urusanmu!" sahut gadis itu dengan suara ketus, seraya melompat ke atas punggung kudanya.

"Kita akan bertemu lagi nanti!" kata Rangga.

"Jangan berharap!" dengus gadis itu.

"Kenapa tidak?!" tanya Rangga.

"Sekali lagi bertemu denganmu, maka aku betul-betul akan membunuhmu!" ancam gadis itu.

Rangga hanya tersenyum mendengar ancaman itu. Diperhatikannya Sakaweni yang telah menggebah kudanya kencang-kencang.

"Heaaa!"

"Hm, Gadis Galak. Sebenarnya dia hebat sekali untuk gadis seusianya. Sayang, gerakannya masih terkesan kaku dan kurang pengalaman. Hm.... Apa yang dicarinya di sini?" gumam Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga menarik napas panjang, lalu kembali menghampiri dan menaiki kudanya setelah gadis tadi hilang dari pandangan. Entah kenapa, langkah kudanya ternyata seperti mengikuti jejak Sakaweni ketika meninggalkan tempat ini.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Kehadiran Ki Darta Rawon dan Badrawata di Gua Griwa ternyata tidak sendiri. Karena begitu tiba di dekat mulut gua, lebih dari sepuluh tokoh persilatan telah bercokol di sana. Badrawata jadi bingung sendiri. Sedangkan Ki Darta Rawon kelihatan tenang-tenang saja.

"Kelihatannya akan jadi ramai, Ki," keluh Badrawata.

"Sekarang pun sudah ramai," sahut Ki Darta Rawon antang,

"Meraka semua menginginkan warisan Dewi Ratih?"

"Apa kau kira mereka menunggu manusia purbakala?" tukas laki-laki setengah baya ini, balik bertanya sambil tersenyum lebar.

Badrawata tersenyum pahit. Orang-orang yang dilihatnya rata-rata berwajah seram dan menunjukkan sikap tidak bersahabat.

"Apakah Ki Darta kenal mereka semua?" usik Badrawata.

"Sebagian...," jawab Ki Darta Rawon, pendek.

"Hm...."

"Sebaiknya kau jangan memperhatikan mereka. Nanti urusan bisa runyam!" ujar laki-laki setengah baya ini menasihati.

"Eh, iya. Iya, Ki!" sahut Badrawata patuh.

Pemuda ini telah mempunyai pengalaman buruk pada Siluman Api. Dan dia beranggapan tokoh-tokoh silat itu aneh dan suka cari gara-gara. Mudah membunuh seperti membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, nasihat Ki Darta Rawon cepat dimengerti.

"Kita akan masuk ke dalam sekarang," ujar Ki Darta Rawon.

"Sekarang, Ki?"

"Ya. Kapan lagi? Menunggu mereka semua membusuk?"

Pemuda itu tersenyum getir dengan hati cemas dan jantung berdetak tiga kali lebih cepat. Sesekali masih juga matanya melirik tokoh-tokoh silat yang berada di tempat ini. Mereka berdiri mematung dengan tatapan tajam ke arah mulut gua.

"Ki, mereka mengikuti kita...!" bisik Badrawata lirih."

"Percepat langkahmu!" desis Ki Darta Rawon.

"Iy..., iya, Ki!"

"Heiit!" Mendadak saja berkelebat satu bayangan, dan langsung mendarat menghadang kedua orang ini.

"Ohh!" Badrawata terkejut kaget, ketika di depannya berdiri seorang laki-laki berambut panjang dan pirang, tapi awut-awutan seperti tak pernah terurus bertahun-tahun. Matanya bulat dan bibirnya tebal. Hidungnya lebar besar dibandingkan hidung rata-rata yang dimiliki orang lain. Jubahnya ungu, tangannya menggenggam membawa sebatang tongkat yang agak besar.

"Ha ha ha...! Kalian mau mendahuluiku masuk ke dalam gua ini?!" bentak laki-laki berambut awul-awutan itu dengan memperdengarkan suaranya yang kuras.

"Kau Serigala Bukit Keduk, bukan?" sapa Ki Darta Rawon, nada datar.

"Hua ha ha?! Ternyata kau kenal juga dengan nama besarku. Nah, menyingkirlah. Dan, tunggu giliranmu. Aku akan masuk ke dalam lebih dulu!" ujar laki-laki berjuluk Serigala Bukit Keduk.

"Tentu saja, Serigala Bukit Keduk! Siapa yang tidak kenal nama besarmu? Tapi jangan salah. Meski kami menghormati, tapi bukan berarti akan menyingkir," tandas Ki Darta Rawon.

"Hem! Apa katamu?!" dengus Serigala Bukit Keduk sambil menggeram marah.

"Kami akan masuk lebih dulu. Dan kalian silakan menunggu di luar," sahut Ki Darta Rawon tenang.

"Kurang ajar! Kau kira dirimu siapa, he?!" dengus Serigala Bukit Keduk semakin geram.

"Apakah kau tidak mengenalku?!" balas Ki Darta Rawon, mulai galak.

Serigala Bukit Keduk tertegun barang sesaat. Mungkin memikirkan kalau-kalau pernah kenal laki-laki yang jadi lawan bicaranya.

"Aku adalah majikanmu. Dan kau mesti menurut padaku!" sambung Ki Darta Rawon.

Sampai di situ, meledaklah kemarahan Serigala Bukit Keduk. Seumur hidup mana pernah dia mengabdi pada orang lain? Jelas kata-kata Ki Darta Rawon sangat melecehkan dan menganggapnya rendah. Oleh sebab itu, secepat kilat tongkatnya melayang menghajar batok kepala Ki Darta Rawon.

"Bangsat celaka! Modar kau...!"

Wuuut!

"Menunduk, Badra!" seru Ki Darta Rawon seraya membungkuk dan menekan punggung pe-muda di dekatnya untuk ikut membungkuk. Sehingga, tongkat laki-laki angker itu luput dari sasasaran.

"Heaaa!?

Saat itu juga, Ki Darta Rawon balas menyerang. Kaki kanannya cepat menyodok ke perut. Namun, Serigala Bukit Keduk cepat mengegos ke kiri, sehingga serangan itu luput dari sasaran.

"Hiih!"

Dan ternyata, serangan Ki Darta Rawon tidak berhenti sampai di situ. Karena selanjutnya, tubuhnya berputar sambil melepas tendangan beruntun. Maka terpaksa Serigala Bukit Keduk hengkang ke belakang sambil memutar tongkat.

"Kurang ajar!" maki Serigala Bukit Keduk geram.

Betapa tidak? Bahkan Serigala Bukit Keduk tidak sempat menggunakan tongkatnya untuk menghalau serangan. Maka dengan tubuh meng-gigil menahan amarah yang meluap, dia kembali melompat unluk menghabisi Ki Darta Rawon secepatnya.

"Haaat!"

"Hm!" Ki Darta Rawon bergumam pendek seraya memberi isyarat pada pemuda di dekatnya untuk menjauh.

EMPAT

Tapi, tak ada tempat lagi bagi Badrawata untuk menyingkir selain merapat ke dinding dekat mulut gua. Sebenarnya, dia pun takut dekat-dekat dengan tempat pertempuran keduanya. Tapi untuk masuk ke dalam gua, dia lebih takut lagi. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain merapatkan tubuh ke dinding bukit yang ada di dekatnya.

"Hup!"

Sementara itu ketika Serigala Bukit Keduk tengah melompat menerkam, Ki Darta Rawon pun melompat sambil bergulingan di tanah. Kedua kakinya bergerak cepat, menendang perut. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Des! Begkh!

"Aaakh...!"

Serigala Bukit Keduk terjungkal ke belakang disertai jerit kesakitan. Namun karena ilmu meringankan tubuhnya telah cukup tinggi, luncuran tubuhnya bisa dipatahkan dengan berjungkir balik di udara. Dan dengan mantap sekali kakinya menjejak tanah. Wajahnya kelihatan semakin seram saja. Sepertinya, segala amarah dan rasa geram telah naik ke kepala. Dan hanya kematian Ki Darta Rawon saja yang bisa menghentikan amarahnya.

"Hhh! Kau akan mati, Keparat!" desis Serigala Bukit Kaduk dengan mata terbelalak lebar.

"Ha ha ha...! Apakah kau yang menentukan kamatianku? Kau tidak lebih dari seekor hewan buduk yang tidak punya arti apa-apa," ejek Ki Darta Rawon.

"Keparat! Yeaaa?!" Serigala Bukit Keduk menggeram buas, sehingga garahamnya terdengar bergemeretak. Lalu mendadak tubuhnya berkelebat sambil menyam-barkan tongkatnya.

"Uts! Belum berhasil, Sobat!"

Ki Darta Rawon merendahkan tubuhnya, menghindari sambaran tongkat. Dan baru saja hendak menegakkan tubuhnya, tangan kiri Serigala Bukit Keduk yang membentuk cakar langsung menyusuli ke arah tenggorokan. Cepat bagai kilat, Ki Darta Rawon menangkis dengan tangan kiri.

Plak!

Dan laki-laki setengah baya itu terus mencelat ke samping tatkala Serigala Bukit Keduk meng-hujamkan tongkatnya ke ulu hati. Saat itu juga, kakinya menghantam dada sebelum Serigala Buldt Keduk berbuat sesuatu.

"Hup!" Dengan sebisanya, Serigala Bukit Keduk melompat ke belakang untuk menghindarinya.

"Heaaat!"

Namun Ki Darta Rawon tidak memberi kesempatan. Dia terus mengejar sambil menyodokkan kepalan kanan ke dada Serigala Bukit Keduk yang baru saja mendarat. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Duk!

"Aaakh!"

Untuk kedua kalinya, Serigala Bukit Keduk menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjajar ke belakang dengan terhuyung-huyung. Pukulan Ki Darta Rawon ini terasa lebih keras dibanding yang tadi. Bisa Jadi karena laki-laki setengah baya itu merasa kesal. Dan dia merasa perlu memberi pelajaran pada laki-laki tua lawannya untuk tidak gegabah.

Tapi, hal itu agaknya bukan membuat Serigala Bukit Keduk sadar. Hatinya, malah semakin berang dan mendengus geram. Ingin rasanya Ki Darta Rawon saat itu juga dilumatkannya.

"Hhh! Aku bersumpah akan membunuhmu!" desis Serigala Bukit Keduk geram. Tapi belum lagi laki-laki tua ini melompat menyerang, mendadak....

"Aaa...!"

"Hei?!"

Semua tokoh yang tadi memusatkan perhatian pada perkelahian antara Serigala Bukit Keduk dan Ki Darta Rawon berpaling begitu dari dalam gua terdengar jeritan menyayat. Tak lama, menyusul dua sosok tubuh terlempar dari dalam gua dalam keadaan mengenaskan. Dada remuk dan nyawa telah malayang sejak tadi.

"Meraka mati!" desis seorang tokoh persilatan yang lebih dulu mendekat.

"Tujuh Beruang Hitam telah gagal!" timpal yang lain.

"Kurang ajar! Apa sebenarnya yang ada di dalam?!" dengus seorang perempuan tua bertubuh bungkuk. Sebuah tongkat dari bambu kuning tampak menyangga tubuhnya.

Dalam rimba persilatan nenek dengan bambu kuning itu dikenal sebagai Ular Bambu Kuning. Padahal, nama sebenarnya adalah Nini Pemah. Dan kaum rimba persilatan juga tahu, kalau Ular Bambu Kuning mempunyai seorang cucu perempuan berwajah cantik. Usianya sekitar dua puluh tahun. Namanya Sekar Kedasih. Dan kini gadis itu ada di sampingnya.

"Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang. Nek...," usik Sekar Kedasih.

"Apa maksudmu?" tanya Ular Bambu Kuning dengan kening berkerut tajam.

"Di dalamnya banyak hantu."

"Tutup mulutmu, Sekar! Aku tidak percaya dengan segala jenis hantu. Selama dia menguasai benda itu, bukan hantu namanya!" tukas Nini Pemah.

"Jangan marah. Nek. Aku hanya menduga juga...!"

"Huh!" dengus Ular Bambu Kuning.

Sementara itu, Serigala Bukit Keduk agak ragu untuk melanjutkan pertarungan. Perhatiannya tersita oleh peristiwa yang baru saja terjadi di depan matanya.

"Tujuh Beruang Hitam mati?!" gumam Serigala Bukit Keduk seperti tidak percaya.

Meski mayat Tujuh Bemang Hitam cuma dua, tapi semua yakin lima orang lainnya tertinggal di dalam, Buktinya, mereka mendengar jeritan lain yang menyusul tak lama setelah terlemparnya kedua mayat tadi.

Padahal, kemampuan mereka sungguh hebat. Malah semua tokoh yang berada di sini tidak akan mampu mengalahkan Tujuh Beruang Hitam dalam dua puluh jurus jika maju bersamaan.

"Apa mungkin aku bisa mendapatkan warisan itu?" gumam Serigala Bukit Keduk di hati dengan paraaaan ragu.

"Ha ha ha...! Kenapa? Kau tidak jadi masuk dalam, Sobat? Biarlah aku mengalah. Silakan masuk lebih dulu!" seru Ki Darta Rawon, bernada mengejek.

"Huh!" dengus Serigala Bukit Keduk sinis. "Masuklah lebih dulu! Mudah-mudahan kau menyusul ketujuh beruang celaka itu!"

"Ha ha ha?! Menangkap ular di dalam lubang sama artinya dengan bunuh diri! Aku punya cara yang lebih baik. Ayo, Badra! Bantu aku mengumpulkan ranting kering!" ujar Ki Darta Rawon seraya berkelebat dari tempat itu.

"Baik, Ki!"

Mula-mula para tokoh persilatan tidak mengerti, apa yang akan dilakukan Ki Darta Rawon bersama pemuda berbaju serba putih itu. Tapi lama kelamaan baru disadari kalau tumpukan ranting-ranting kering diletakkan di mulut gua.

"Dia akan membuat api! Bagus sekali!" cetus Nini Pemah.

"Dengan begitu, siapa pun yang berada di dalam akan keluar setelah isi gua dipenuhi asap. Kecuali, kalau dia memang berniat mampus di dalam sana!" timpal seorang laki-laki berusia empat puluh tahun dengan kumis tebal.

Nini Pemah melirik sinis. Tapi, laki-laki itu malah tersenyum lebar.

"Kau sudah tua, Ular Bambu Kuning. Sebentar lagi masuk liang kubur. Buat apa mengurus soal-soal seperti ini!" celetuk laki-laki berkumis tebal itu.

"Diam kau, Sidarta! Sekali lagi mengoceh, kusumpal mulutmu!" hardik Nini Pemah.

Laki-laki bernama Sidarta itu tersenyum semakin lebar, tapi tak bicara apa-apa lagi. Dia memang tidak takut menghadapi kemarahan Ular Bambu Kuning. Tapi, ada hal lain yang dirasa masih perlu. Yaitu, seseorang atau apa pun yang berada di dalam gua, pasti akan keluar membawa benda yang diinginkan. Dan di saat itu, tentu terjadi perebutan di antara mereka. Maka saat demikianlah diperlukan tenaga penuh. Karena kalau Sidarta bertarung dengan Ular Bambu Kuning saat ini, tentu tenaganya sedikit banyak akan terkuras.

"Nenek! Dalam keadaan begini, ada baiknya kita menahan diri!" ujar Sekar Kedasih memperingati.

"Diam kau, Sekar! Tak perlu mengajariku!" hardik Nini Pemah.

Sekar Kedasih buru-buru tutup mulut. Agaknya gadis ini berpikiran sama dengan Sidarta. Tapi, Nini Pemah mana peduli akan hal itu. Adatnya memang keras dan pantang dihina. Dia mau mempertaruhkan segalanya demi harga diri.

Sementara itu, ranting-ranting yang dikumpulkan Ki Darta Rawon telah bertumpuk dan mulai dibakar. Api perlahan-lahan melahapnya, karena ranting-ranting basah oleh hujan semalam. Tapi memang itu yang diinginkan. Karena membakar kayu basah, akan menimbulkan asap yang lebih banyak.

Mereka menunggu beberapa saat ketika sebagian asap masuk kedalam gua. Tapi belum terlihat tanda-tanda kalau ada seorang akan keluar dari dalam, Bahkan ketika beberapa tokoh menambahkan ranting kedalam kobaran api, belum juga memperoleh hasil.

"Huh! Sia-sia saja!" umpat salah seorang tokoh.

"Mungkin di dalamnya memang tak ada manusia. Yang ada hanya hantu!" timpal yang lain.

"Mustahil bila manusia mampu bertahan begitu lama dalam kubangan asap yang menyesakkan napas!" kata Sidarta seraya menggeleng lemah.

Ki Darta Rawon masih menunggu penuh harap. Meski dua kali penanakan nasi telah berlalu, dan sekian banyak ranting dihabiskan, belum juga terlihat tanda-tanda yang diharapkan.

"Apakah di dalamnya memang tidak ada siapa-siapa, Ki?" tanya Badrawata.

"Mustahil!" desis Ki Darta Rawon dengan wajah tak percaya.

"Bisa saja, Ki...," sergah Badrawata.

"Kau tidak tahu, Anak Muda. Mustahil benda berharga yang direbutkan banyak pihak itu tidak dijaga. Lagi pula, aku tahu kalau benda itu memang dijaga," sahut laki-laki setengah baya itu.

"Dijaga oleh siapa?" tanya Badrawata penasaran.

"Oleh penjaganya!" sahut Ki Darta Rawon asal jadi.

Saat itu laki-laki setengah baya ini mulai mengais sisa-sisa bara ranting kayu yang masih menyala. Sementara, Badrawata secepatnya membantu.

"Kita akan masuk, Ki?" tanya Badrawata.

"Ya," sahut Ki Darta Rawon, pendek.

"Lalu bagaimana dengan mereka?" lanjut Badrawata, seraya menunjuk tokoh-tokoh yang berada di luar, yang saat itu mengikuti mereka.

"Kalau kau ingin berhasil mencapai tujuan, maka jangan pedulikan orang lain," jawab Ki Darta Rawon, gamblang.

"Eh, iya, Ki...!"

Beberapa kali Badratawa melihat Ki Darta Rawon mengibaskan tangan untuk menghalau asap yang memenuhi mulut gua, ketika mulai masuk ke dalam.

"Perlu kubawakan ranting yang masih menyala sebagai obor, Ki?" tanya Badrawata, ketika melihat laki-laki setengah baya itu tertegun memandang lorong gelap di depan mereka.

"Tidak perlu."

"Kita perlu berjaga-jaga. Siapa tahu ada perangkap di depan sana yang tak terlihat."

Ki Darta Rawon tersenyum. "Oleh matamu mungkin tak terlihat. Tapi, aku bisa melihat jelas keadaan di sana," sahut Ki Darta Rawon, menjelaskan.

Badrawata menegaskan pandangan. Tapi tetap saja tak melihat apa-apa, selain ujung lorong yang gelap, Letak mulut gua itu sendiri terhindar dari cahaya matahari dan agak menekuk ke bawah.

"Awas!" Mendadak Ki Darta Rawon memperingatkan seraya menarik lengan pemuda itu. Diberinya isyarat pada Badrawata agar kedua kakinya merapat ke dinding terowongan.

"Ada apa?" tanya Badrawata lega, setelah mereka melewatinya.

"Di situ ada jebakan!"

"Jebakan?" ulang pemuda itu, mengerutkan dahi karena tidak mengerti.

Tapi sesaat kemudian Badrawata baru tahu ketika beberapa orang yang berada di belakang berseru kaget. Salah seorang tampak terperosok ke dalam lubang yang tadi dilalui. Seketika terdengar jeritan yang memilukan hati.

"Apa itu?" tanya Badrawata penasaran.

"Perangkap. Dibawahnya siap menghujam bambu-bambu runcing," jelas Ki Darta Rawon ketika telah berada di ujung lorong. "Ayo!" Ki Darta Rawon segera mengajak pemuda itu memasuki sebuah ruangan yang cukup luas dalam perut gua ini.

Grek..., grek!

"Hei? Pintu tertutup!" seru Badrawata kaget.

"Tenanglah. Jangan khawatir!" ujar Ki Darta Rawon.

"Tapi kita terkurung di sini?!" seru pemuda itu cemas.

"Tidak! Percayalah. Aku tahu apa yang akan kulakukan," sahut Ki Darta Rawon, melegakan.

Meskipun merasa cemas, namun Badrawata percaya kalau langkah yang diambil Ki Darta Rawon benar. Sementara dari luar terdengar maki-makian dan sumpah serampah. Mereka pun berusaha menghancurkan pintu batu yang bergeser menutupi mulut terowongan.

"Jangan hiraukan! Mereka tak akan mampu menghancurkan batu itu. Kita bisa leluasa mencari benda itu dalam ruangan ini," ujar Ki Darta Rawon lagi.

"Ya...." Badrawata mengangguk. Namun tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu. Dan setelah agak lama berada dalam gelap, matanya mulai menyesuaikan diri. Sehingga, samar-samar matanya bisa melihat benda apa yang menyentuh kakinya.

"Mayat!" desis Badrawata kaget.

"Ya! Seluruh ruangan ini dipenuhi mayat. Perhatikan saja keadaan sekelilingnya!" tegas KiDarta Rawon.

Apa yang dikatakan Ki Darta Rawon memang benar. Ruangan ini memang dipenuhi mayat-mayat berserakan. Badrawata sampai terpaku memperhatikan. Ada yang tertancap beberapa batang anak panah, kepala remuk, atau ada juga yang tersayat senjata tajam.

"Berarti mereka berkelahi.

"Tidak mungkin sesama teman. Dan..., pasti ada penghuninya di ruangan ini!" duga pemuda itu yakin.

Tapi sementara Badrawata menduga-duga, mendadak terdengar sesuatu bergerak-gerak. Dia mendecah kagum ketika melihat salah satu sisi dinding ruangan bergeser ke atas. Dan..., terlihatlah sebuah ruangan lain yang lebih kecil. Di situ, tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah altar batu.

"Sial! Pasti telah dibawa lari!" umpat Ki Darta Rawon, sambil mencak-mencak tak karuan.

"Dibawa lari? Apa yang dibawa lari?" tanya Badrawata bingung.

"Benda itu! Memangnya apa lagi?!" rutuk Ki Darta Rawon, dia sebenarnya kesal juga dengan kebodohan pemuda itu.

"Siapa yang membawa lari?"

"Seseorang. Penunggu gua ini!"

"Penunggu gua ini?" Badrawata termangu.

"Ayo, kita keluar!" ajak Ki Darta Rawon seraya menarik sebuah tonjolan batu pada salah satu sisi dinding yang ada di dekatnya.

"Tapi, mereka menunggu di luar, Ki?" tukas Badrawata.

Grek? grek!

Pertanyaan Badrawata agaknya tak perlu dijawab. Karena saat itu juga, permukaan tanah di dekat Ki Darta Rawon bergeser ke samping, membuat sebuah lubang persegi empat yang di bawahnya terdapat anak tangga.

"Ayo cepat!" ajak laki-laki setengah baya itu, seraya bergerak lebih dulu.

"Eh, iya! Iya, Ki!" sahut Badrawata buru-buru mengikuti. Namun....

Brosss!

"Aaa...!"

"Hei?!" Ki Darta Rawon terkesiap ketika mendengar teriakan Badrawata. Buru-buru dia melompat ke atas lagi, dan melihat sebuah lubang lain yang berada di dekat lubang yang memiliki anak tangga tadi. Permukaannya agak bulat, seperti sebuah sumur. Namun terlihat amat dalam dan gelap. Bahkan laki-laki selengah baya itu tak mampu melihat dasarnya, Agaknya, Badrawata telah terperosok ke dalamnya,

"Ki Darta Rawon, tolong aku...!" teriak Badrawata sayup-sayup.

"Hm, maaf! Aku tidak bisa menolongmu, Anak Muda. Aku mesti buru-buru!" teriak laki-laki itu seraya berlalu.

"Ki Darta, tolong aku! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!"

Tapi laki-laki setengah baya itu tidak mempedulikan dan terus saja menuruni anak tangga. Tak berapa lama setelah ke bawah, permukaan tanah tertutup kembali. Demikian pula lubang sumur tempat Badrawata terkurung di situ.

Anak tangga yang terbuat dari bebatuan itu agak panjang dan berliku-liku serta terus turun ke bawah. Sampai kira-kira dua puluh anak tangga terakhir, baru terasa mendatar. Dan akhirnya, buntu dihadang dinding batu.

"Hm!" Ki Darta Rawon menggumam tak jelas. Sikapnya tampak tenang-tenang saja. Dia lantas mencari sesuatu di permukaan tanah. Ketika melihat sebuah batu bulat kecil di dekat ujung anak tangga, diinjaknya batu itu. Perlahan-lahan dinding batu di depannya bergeser ke bawah. Tak lama, cahaya matahari menyemak masuk.

"Hup!"

Grek... grek!

Ki Darta Rawon buru-buru melompat keluar, karena pintu itu kembali menutup. Di depan laki-laki setengah baya itu kini ter-bentang sebuah telaga bening. Dan jauh ke depan tampak sebuah pegunungan yang melingkar wilayah disekitar tempat ini. Kepalanya lantas berpaling ke belakang, sambil tersenyum memandangi punggung bukit. Dari sebelah sana tadi dia masuk. Dan pintu keluar gua tadi ada di sini. Namun bila ada yang mencoba masuk dari sini, akan sia-sia saja. Karena, tidak akan ditemukan apa-apa kecuali air telaga dan dinding bukit.

"Hm... Kalian hanya memperebutkan pepesan kosong di tempat itu!" gumam Ki Darta Rawon sambil tersenyum. Kemudian laki-laki ini mengambil jalan melalui pinggiran telaga, menuju pegunungan di depan matanya

"Lihat! itu dia di sana!"

"Hei?!" Ki Darta Rawon terkesiap ketika mendengar seruan dari atas bukit. Ternyata, dua orang tengah mengawasinya dari atas sana dengan seksama. Keduanya menunjuk ke arahnya. Tidak sampai tiga kedipan mata, beberapa orang telah mengejar dengan bersemangat.

"Setan!" umpat Ki Darta Rawon geram.

Pada saat itu bisa saja laki-laki ini melarikan diri meski mereka pasti akan mengejarnya. Dan, bisa jadi mereka akan terus mengejarnya ke mana saja pergi. Hidupnya tidak akan tenang diburu-buru. Maka lebih baik ditunggunya mereka untuk menjelaskan segala sesuatu. Mudah-mudahan saja mereka percaya dengan ceritanya.

"Bagus! Kukira kau akan menyerakahi benda itu seorang diri!" dengus perempuan yang tak lain Nini Pemah. Dia tiba lebih dulu bersama dua orang tokoh tua lainnya.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Sobat."

"Kami bukan sobatmu!" dengus seorang tokoh berbaju biru lusuh dengan warna hampir pudar. Namanya, Ki Gandanaran.

"Serahkan benda itu padaku!" bentak seorang lagi.

"Benda apa, Ki Katamba?"

"Jangan pura-pura bodoh! Tentu saja kitab ilmu silat peninggalan Dewi Ratih!" hardik Ular Bambu Kuning.

LIMA

"Ah! Benda itu rupanya yang kalian inginkan!" desah Ki Darta Rawon sambil tersenyum lebar. Laki-laki ini melirik sekilas pada tokoh-tokoh lain yang mulai berdatangan mengelilinginya.

"Dengarlah! Dan, biarkan aku bercerita...? ujar Ki Darta Rawon.

"Kami tidak butuh ceritamu!" dengus Sidarta.

"Ini menyangkut soal benda yang kita inginkan bersama," kilah Ki Darta Rawon, tenang.

Para tokoh persilatan itu mendengus, tapi tidak berkata apa-apa. Pertanda bahwa mereka siap mendengarkan.

"Aku beruntung bisa masuk ke dalam dan mencari pusaka itu. Namun, tidak ada satu pun yang kutamui selain mayat-mayat yang mulai membusuk. Agaknya, seseorang telah mendahului kita melarikan benda itu," Jelas Ki Darta Rawon.

"Kau kira kami kawanan bocah yang bisa dikelabui?!" dengus Ki Katamba, dingin.

"Berikan benda itu, Kisanak. Atau, barangkali kami mesti memaksamu?!" timpal Ki Gandanaran bernada penuh ancaman.

"Aku telah menceritakan yang sebenarnya pada kalian. Dan tidak ada yang harus kusembunyikan."

"Kami tidak begitu mengenalmu. Lalu, kenapa mesti percaya?" tukas Nini Pemah.

"Aku juga tidak!" sambung yang lain.

Dan semua pun memberi jawaban sama. Mereka memang belum pernah bertemu Ki Darta Rawon sebelumnya. Padahal sebagai seorang tokoh-tokoh silat mestinya, mereka kenal tokoh lain. Entah rupa atau namanya.

"Meski namaku tidak terkenal, tapi bukan berarti aku berbohong pada kalian. Kalau benda itu ada padaku, mana mungkin aku menunggu ketika kalian mengejarku. Tentu lebih baik kabur saja selagi ada kesempatan," jelas Ki Darta Rawon.

"Bukan itu yang jadi masalah!" tukas Ki Katamba ketika yang lain terdiam.

"Lalu, apa?" kejar Ki Darta Rawon.

"Kenapa kami mesti mempercayai cerita orang yang tidak dikenal? Kalau kau tidak menginginkan pusaka itu, bisa jadi kami percaya. Tapi, kau juga menginginkan pusaka itu. Sehingga, berat rasanya untuk mempercayai ceritamu," kata Ki Katamba, menyudutkan.

"Aku tidak bisa menceritakan apa-apa lagi. Segalanya telah kujelaskan dengan jujur...," sahut Ki Darta Rawon, pasrah.

"Kau tak perlu bercerita banyak. Serahkan saja benda itu. Dan kau boleh pergi sesukamu!" serobot Nini Pernah.

"Serahkan padaku!" bentak Ki Gandanaran.

"Telah kukatakan, pusaka itu tak ada padaku! Kenapa kalian masih tak percaya juga?!" Ki Darta Rawon agaknya sudah kehabisan kesabaran, sehingga balas membentak.

"Hm.... Kalau begitu, kau cari mati!" dengus Ki Katamba.

"Terserah apa yang kalian inginkan!"

"Baik kalau itu maumu!" Ki Katamba sudah langsung melompat menyerang. Senjatanya yang berupa sebilah pedang berujungnya melengkung seperti clurit langsung kibaskan.

"Haaaat!"

Bat! Wut!

Senjata itu menebas leher, lalu ke pinggang, dan terus membokong punggung. Sementara Ki Darta Rawon segera menghindar dengan jungkir balik ke belakang. Namun Ki Katamba terus mengejar, tak memberi kesempatan sedikit pun.

"Kau akan mampus di tanganku, Manusia Celaka !" dengus Ki Katamba.

"He he he...! Kau tidak akan mampu membuktikannya, Sobat"

"Aku bukan sobatmu! Jangan coba-coba sebut itu lagi!" hardik Ki Katamba.

"Baiklah, Sobat!"

"Setan!"

"He he he...!" Ki Darta Rawon betul-betul mempermainkan Ki Katamba. Meski laki-laki bersenjata pedang berbentuk aneh itu, mengerahkan segala kemampuan, tapi gerakan Ki Darta Rawon demikian gesit dan lincah. Sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak membawa hasil. Bahkan serangan balasan yang dilakukan Ki Darta Rawon sempat mengejutkannya.

"Hiih!" Telapak kanan Ki Darta Rawon tiba-tiba saja menyusup di antara kelebatan senjata Ki Katamba, lalu meluncur menghantam dada.

"Uts!" Ki Katamba terkesiap. Cepat tubuhnya mengegos ke samping. Tapi secepat itu pula, Ki Darta Rawon menyambar pinggang dengan tendangan kaki kanan.

Begkh!

"Aaakh!"

Tak ampun lagi, Ki Katamba terjajar ke samping. Tubuhnya terhuyung-huyung berusaha mempertahankan keseimbangan.

"He he he.... Masih penasaran denganku?" ejek Ki Darta Rawon seraya tersenyum tipis.

"Keparat! Kubunuh kau, Bangsat!" maki Ki Katamba, geram.

"Cobalah kalau mampu!" sahut Ki Darta Rawon, tenang.

"Yeaaat...!"

Sekali lagi Ki Katamba menyerang. Dan kali ini, dia tidak mau menganggap enteng lawannya setelah apa yang dialami tadi. Serangannya penuh perhitungan. Dan setiap gerakan yang dilakukan telah dipertimbangkan baik-baik.

Wuuut!

"Uhh!" Senjata pedang berbentuk aneh menyambar kaki, memaksa Ki Darta Rawon harus mencelat ke atas. Dan memang ini yang diharapkan. Karena secepat kilat senjata Ki Katamba meliuk-liuk menebas tubuh lawan.

Tapi, lompatan Ki Darta Rawon cukup tinggi. Sehingga, Ki Katamba harus menelan kekecewaan. Serangan tadi tidak membuahkan hasil. Meski dia terus mengejar, tapi Ki Darta Rawon telah mencelat ke belakang.

"Setan!" dengus Kl Katamba geram.

"Ha ha ha...!" Ki Darta Rawon tertawa mengejek. Kemudian secepat kilat tubuhnya meluruk membuka serangan kembali.

"Hiih! Hiih!"

Ki Katamba terus mengibas-ngibaskan senjatanya untuk bertahan, sekaligus menghalau serangan. Tapi seketika Ki Darta Rawon menghentakkan tangannya. Dan....

Werrr...!

"Heh?!" Mendadak terasa angin kencang menerpa yang bahkan disertai pasir-pasir halus menggangu pandangan. Sehingga mau tak mau, Ki Katamba terpaksa menutup matanya barang sejenak.

"Heaaat!" Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Ki Darta Rawon. Seketika dia menyergap.

Wut!

Ki Katamba coba mengibaskan senjatanya. Tapi, tiba-tiba saja pergelangan tangannya sudah tercekal. Dia bermaksud menyentak. Namun, tahu-tahu satu pukulan keras menghantam dadanya.

Begkh!

"Aaakh!" Ki Katamba terjungkal ke betakang, senjatanya lepas dari genggaman. Dan secepat itu pula Ki Darta Rawon langsung mengibaskan senjata yang berpindah tangan padanya.

Cras!

"Akh!" Ki Katamba menjerit pendek. Kepalanya kontan menggelinding ke tanah tatkala senjatanya sendiri menebas tanpa ampun.

Bruk!

Beberapa saat tubuh Ki Katamba yang tanpa leher itu mengucurkan darah segar. Lalu, ambruk ke tanah tanpa daya.

Ki Darta Rawon mendengus dingin seraya memandang yang lain dengan sorot mata tajam. "Aku tak ingin mencari permusuhan dengan kalian, Tapi kalau ada yang memaksa, maka boleh menemui nasibnya seperti orang ini!"

Tokoh-tokoh yang mengelilingi memang terkejut atau kematian Ki Katamba. Tapi, bukan karena mereka takut pada Ki Darta Rawon. Melainkan karena seperti terbangun dari mimpi.

Ki Katamba bukanlah orang kemarin sore yang baru belajar ilmu silat. Kehebatannya sudah teruji. Dan kini, berhadapan dengan seorang tokoh tidak terkenal, dia mesti kehilangan kepala. Bahkan sekaligus nyawanya. Itu pasti keteledoran, karena menganggap enteng lawan!

"Keparat! Kau kira dirimu siapa, he?!" bentak Nini Pemah, geram.

"Anjing geladak! Kau akan terima kematianmu!" timpal Sidarta.

Dalam keadaan begitu, sepertinya Sidarta berdiri di belakang Nini Pemah. Tapi sebenarnya tidak begitu. Ki Katamba adalah salah seorang kawannya. Demikian pula yang lain, sama-sama mengenal Ki Katamba. Sebagian lain marah, karena merasa dianggap enteng oleh Ki Darta Rawon. Maka tanpa banyak bicara, mereka menyerang laki-laki setengah baya itu berbarengan.

"Yeaaat!"

"Heaaat...!"

"Kurang ajar!" dengus Ki Darta Rawon, geram. Dengan senjata Ki Katamba yang masih di tangan, laki-laki setengah baya ini memapaki serangan-serangan dengan sengit.

Trang!

Wuk!

"Uhh...!"

Beberapa pengeroyok terkesiap, ketika benturan senjata terjadi. Terasa dorongan tenaga kuat yang dilancarkan Ki Darta Rawon yang berisikan tenaga dalam di atas rata-rata. Meski begitu, tidak membuat mereka surut. Malah menyerang semakin beringas.

"Kurang ajar! Mana mungkin aku menghadapi mereka semuanya!" dengus Ki Darta Rawon kesal.

Tapi, mana mau Ki Darta Rawon menunjukkan perasaannya di hadapan mereka. Dia sadar kalau keadaan terus begini, maka cepat atau lambat mereka akan berhasil menjatuhkannya. Maka dia mesti cari jalan untuk menyelamatkan diri.

Dan berpikir begitu, Ki Darta Rawon mendadak mencelat ke belakang. Ketika lawan-lawannya mengejar, saat itu juga kedua tangannya menghentak ke depan melepaskan pukulan dahsyat.

"Heaaat..!"

"Hei?!"

Bukan main terkejutnya para tokoh persilatan ketika melihat dua larik cahaya merah menerpa dahsyat, diiringi desir angin kencang. Dengan kalang kabut, mereka berusaha menghindarkan diri.

Blarrr!

Terdertgar ledakan dahsyat ketika hantaman itu hanya mengenai tanah kosong yang kontan berlubang agak lebar.

"Hup!"

Kesempatan itu dipergunakan Ki Darta Rawon untuk melarikan diri secepatnya.

"Hei, dia berusaha kabur!" teriak seseorang.

"Bangsat! Jangan biarkan dia pergi seenaknya!" timpal yang lain bernada geram.

Maka seketika itu mereka langsung mengejar Ki Darta Rawon. Para tokoh itu bukanlah orang sembarangan. Meski rata-rata bukan tandingan Ki Darta Rawon, tapi paling tidak kepandaian mereka satu tingkat di bawah Ki Darta Rawon. Sehingga meski laki-laki setengah baya itu kabur secepat mungkin, jelas tidak akan bisa menghilang begitu saja.

"Hieee...!"

"Hei?!" Mendadak langkah Ki Darta Rawon terhenti ketika di depannya menghadang seorang penunggang kuda putih. Ki Darta Rawon sempat terkejut Demikian pula penunggang kuda itu. Terlebih, tatkala Ki Darta Rawon mengibaskan tangan. Sehingga, terpaksa penunggang kuda itu melompat sambil jungkir balik di udara.

"Bangsat!" maki penunggang kuda yang ternyata seorang gadis, begitu mendarat di tanah.

"Hei? Kau..., kau! Bukankah kau Sakaweni?!" tunjuk Ki Darta Rawon kaget.

Dan penunggang kuda yang ternyata Sakaweni tak kalah kagetnya melihat orang yang dimaki. "Paman Darta Rawon?!" sebut Sakaweni.

"Eh. maaf. Paman mesti buru-buru!" ucap laki-laki setengah baya itu, seraya bergegas meninggalkan gadis itu.

"Paman, tunggu!" cegah Sakaweni.

Tapi Ki Darta Rawon sudah berkelebat cepat meninggalkan gadis itu yang masih termangu tak mengerti. Sementara ketika melihat beberapa orang berlari ke arahnya, Sakaweni mulai mengerti kenapa pamannya kelihatan buru-buru. Tapi tetap saja ada hal yang tidak dimengertinya. Yaitu, kenapa pamannya mesti melarikan diri dari kejaran tokoh-tokoh itu?

"Bajingan keparat! Dia telah menghilang!" gerutu salah seorang tokoh ketika tiba dua tombak di depan Sakaweni.

"Jangan khawatir. Tadi sempat kudengar, gadis ini memanggil paman padanya. Kita tangkap saja dia sebagai tebusan!" usul Ki Gandanaran.

"Ya! itu usul yang bagus!" sambut Nini Pemah.

"Tunggu apa lagi? Ayo kita tangkap dia!" teriak seorang laki-laki berkepala botak berusia sekitar empat puluh delapan tahun.

"Ayo!" sambut yang lain.

"Heaaa...!"

"Eh, apa-apaan ini?!" sentak gadis itu kaget, ketika melihat orang-orang itu menyerangnya bersamaan.

"Jangan banyak tingkah! Kau memanggil paman pada orang tadi. Sedangkan dia mestinya kami tangkap! Tapi karena dia kabur, maka kau yang akan menggantikannya!" dengus Ki Sidarta.

"Brengsek! Aku tak tahu-menahu apa yang dilakukannya? Kalian tidak bisa seenaknya saja menangkapku!" sergah Sakaweni.

"Terserah apa yang kau katakan. Tapi sebaiknya, menyerah saja agar kulitmu yang mulus tidak tergores luka!"

"Cuih! Jangan harap aku akan menyerah! Kalian yang buat gara-gara, maka kalian harus terima akibatnya!" dengus Sakaweni berang, langsung mencabut pedangnya.

Sring!

Pada saat yang sama, para tokoh persilatan itu sudah bergerak merangsek Sakaweni.

"Heaat!"

Dengan gerakan indah sekali, Sakaweni berkelebat memapaki berbagai macam senjata ikut berkelebat menyambarnya.

Trang! Trang!

"Uhhh!" Gadis itu mengeluh tertahan ketika terjadi benturan senjata. Dia merasakan tenaga dalam para pengeroyoknya seperti menghimpit dengan kuat. Nyata kalau tenaga dalamnya berada di bawah mereka satu atau dua tingkat.

"Hi hi hi...! Lebih baik kau menyerah saja, Bocah!" ejek Nini Pemah alias Ular Bambu Kuning sambil tertawa mengikik.

"Tua bangka! Aku pantang menyerah, sebelum kalian pun mampus bersamaku!" ujar gadis ini lantang.

"Hm, rupanya kau keras kepala juga!" dengus Ki Gandanaran.

Senjata Ki Gandanaran berupa tongkat baja yang berjumlah tiga. Dan masing-masing, dihubungkan dengan rantai pendek. Kedua ujung tongkat itu berbentuk runcing, menyapu seluruh pertahanan Sakaweni. Sesekali terdengar senjatanya beradu dengan pedang gadis itu. Dan setiap kali pula, Sakaweni mengeluh tertahan.

Dan belum lagi Sakaweni sempat menguasai diri, serangan yang lain telah muncul pula. Mau tak mau, gadis ini memang terdesak hebat. Dia bahkan tak sempat melancarkan serangan terhadap lawan-lawannya.

"Lebih baik kau menyerah saja, Anak Manis!" seru Sidarta.

"Tutup mulutmu!" bentak Sakaweni. Tapi baru saja gadis itu melompat ke samping, satu tendangan cepat dari arah belakang menyambar pinggangnya. Sakaweni cepat melompat ke samping.

"Hiih!"

Belum lagi kedua kaki gadis ini menyentuh tanah, ujung bambu kuning Ninl Pemah telah mengancam tenggorokannya. Dengan sekuat tenaga Sakaweni menangkis dengan pedangnya.

Trak!

"Aaakh...!" Sakaweni harus mengeluh kesakitan, karena telapak tangannya mulai terkelupas setiap menahan benturan senjata-senjata lawannya.

Wut!

Ki Gandanaran menggunakan kesempatan itu. Senjatanya cepat melibat pedang Sakaweni kemudian menariknya dengan kuat. Saat itu juga senjata gadis itu terlepas dari genggaman.

"Hup!"

Sakaweni mengeluh tertahan. Namun dia sempat melompat ke belakang, tatkala Ki Gandanaran melanjutkan serangan dengan menyodokkan salah satu ujung tongkatnya.

"Hiih!"

Tapi naas bagi gadis itu. Karena pada saat yang bersamaan, Sidarta melompat sambil melayangkan tendangan cepat bagai kilat

Des!

"Aaakh" Tepat sekali tendangan itu menghantam perut Sakaweni. Tak ayal lagi, gadis itu terjungkal roboh disertai jerit kesakitan. Dan kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh yang lain untuk meringkus.

eaaat!"

"Tahan...!"

"Heh?!"

Mendadak terdengar bentakan nyaring, membuat para tokoh persilatan tersentak kaget. Saat itu juga mereka menghentikan serangan terhadap Sakaweni. Dan semua berpaling ketika seorang pemuda tampan berbaju rompi putih tahu-tahu telah berdiri di dekat mereka pada jarak tujuh langkah. Di belakangnya terlihat seekor kuda berbulu hitam.

ENAM

"Hm.... Dari mana bocah ini muncul?" gumam Nini Pemah alias Ular Bambu Kuning penasaran karena tadi tidak merasakan kehadiran pemuda itu di sini.

"Siapa kau, Bocah? Berani-beraninya ikut campur persoalan kami?!" bentak Sidarta.

Namun pemuda berbaju rompi putih ini tak perlu menjawab pertanyaan itu karena....

"Aku tahu! Dia si Pendekar Rajawali Sakti!" celetuk seorang tokoh.

"Apa...? Pendekar Rajawali Sakti?!"

Sebagian tokoh tampak terdengar berseru kaget.

"Huh! Kau rupanya!" dengus Ular Bambu Kuning, dingin.

"Sangat tidak pantas bagi pendekar-pendekar terhormat seperti kalian mengeroyok seorang gadis yang tak berdaya!" kata pemuda itu lantang.

"Pendekar Rajawali Sakti! Sebaiknya jangan mencampuri urusan ini! Pergilah! Tempatmu bukan di sini!" bentak Ki Gandanaran.

"Pergilah cepat, sebelum kami melibatkanmu dalam urusan ini!" dengus Sidarta mulai berani. Padahal, tadi nyalinya sempat ciut melihat kehadiran Pendekar Rajawali Sakti di tempat ini.

"Maaf.... Aku tidak bisa pergi melihat tindak ketidakadilan di depan mataku."

"Huh! Kau mencari penyakit sendiri!" dengus Ular Bambu Kuning.

"Sudah! Bereskan dia juga!" timpal Ki Gandanaran.

"Kalau itu yang kalian inginkan, jangan salahkan kalau aku akan bertindak," sahut Rangga tenang.

"Sombong!" desis seorang tokoh bersenjata tombak.

Wut!

Tokoh itu langsung mengebutkan senjatanya. Ujung tombaknya menyambar ke muka.

"Uts!" Rangga cepat memiringkan kepalanya sedikit, sehingga senjata itu luput dari sasaran. Tapi tokoh ini sudah langsung berbalik. Cepat dilayangkannya tendangan keras ke dada. Bersamaan dengan itu senjatanya kembali bergerak menyambar leher.

"Huh!" "Hup!"

Rangga cepat menjatuhkan diri, sehingga dadanya bersentuhan dengan permukaan tanah. Tubuhnya bergulingan sebentar dan tiba-tiba kakinya menyambar ke perut.

Tokoh itu kaget bukan main. Cepat dia melompat ke belakang sambil mengibaskan tongkatnya. Tapi, secepat itu pula tubuh si Pendekar Rajawati Sakti melenting dengan gerakan menakjubkan. Tubuhnya berputar bagai gasing. Sementara dua kakinya cepat menyodok kedada tanpa bisa dielakkan.

Duk! Des!

"Aaakh...!" Tak ayal lagi, tokoh berusia enam puluh lima tahun itu terjungkal ke belakang sambil menjerit kesakitan.

"Hei, kurang ajar! Dia telah mencelakakan Ki Gringsing!" dengus Sidarta. Laki-laki itu langsung menyerang, diikuti Ki Gandanaran dan Nini Pemah serta yang lainnya.

"Yeaaat!"

"Hup!"

Mau tidak mau tarpaksa Rangga mengatur jarak agar tidak berada terlalu dekat. Tubuhnya cepat melenting ke belakang beberapa tombak. Menghadapi keroyokan begini, kalau jarak terlalu dekat, maka kemungkinan untuk kecolongan selalu besar. Dan sekali terkena hajaran, maka yang lain akan menyusuli dengan cepat.

"He he he...! Mau kabur, ya? Jangan harap semudah itu, Bocah!" ejek Nini Pemah alias Ular Bambu Kuning.

"Apakah kelihatannya aku akan kabur?" sahut Rangga tenang, begitu kedua kakinya menjejak tanah.

Ular Bambu Kuning dan Ki Gandanaran berada paling dekat dengan Rangga ketimbang yang lain. Masing-masing bersenjata bambu kuning dan bertongkat patah tiga. Sementara kedua orang ini berkelebatanan, merangsek Pendekar Rajawali Sakti.

Pada saat yang sama, Pendekar Rajawali Sakti talah membuat kuda-kuda kokoh. Kedua tangannya terkepal, dengan otot-otot bertonjolan. Lalu....

"Aji 'Bayu Bajra...!"

Mendadak pemuda itu membentak keras. Kedua telapak tangannya cepat menghantamkan kedepan, mengerahkan aji 'Bayu Bajra' seperempat bagian.

Wusss...!

Seketika, dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti meluncur angin keras bagai topan menerjang para tokoh itu.

"Hei?!"

"Uhh!"

Nini Pemah serta Ki Gandanaran dan yang lain terkejut merasakan angin kencang bertenaga kuat menghantam. Untuk sesaat orang-orang itu gelagapan. Tapi kesempatan itu sudah cukup bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk melenting, dan melompati mereka. Seketika disambarnya Sakaweni.

"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Pendekar Rajawali Sakti.

"Hei, apa-apaan kau ini?!" tepis gadis itu galak.

Tanpa banyak bicara lagi, Rangga cepat menggerakkan tangannya. Dan....

Tuk!

"Ohh...!"

Rangga memang tidak punya waktu untuk berdebat. Seketika ditotoknya gadis itu hingga lemas tak berdaya. Kemudian dengan sigap ditangkap dan dibopongnya untuk segera kabur dari tempat ini.

"Hei, itu dia!" teriak seseorang.

"Dia membawa gadis itu! Kejaaar...!" teriak laki-laki yang pertama kali dikalahkan Rangga. Namanya, Ki Gringsing.

Namun percuma saja mereka mengejar. Sebab arah kelebatan Pendekar Rajawali Sakti menuju kuda hitam yang langsung membawanya lari dengan cepat.

"Maafkan, aku tidak bermaksud begini padamu," ucap Pendekar Rajawali Sakti seraya berjongkok di depan Sakaweni, ketika mereka telah cukup jauh dari para pengejar.

"Jangan coba berbuat macam-macam padaku! Kalau kau lakukan itu, maka ke mana pun kau bersembunyi, akan kukejar dan kuambil kepalamu!" dangus Sakaweni berang.

"Hm... Kalau begitu, aku tentu tidak boleh melepskan totokanmu?" tukas Rangga.

"Kurang ajar! Apa maumu sebenarnya?!" maki Sikaweni.

"Akan kulepaskan totokanmu. Tapi, nanti kau salah paham dan mengira aku akan berbuat macam-macam."

"Brengsek! Lepaskan totokanmu!"

"Kenapa? Apa dikira aku kacungmu?"

"Karena semua ini ulahmu. Dan kau pantas menerima!"

"Salahku? Kalau aku tidak membawa kabur, bayangkan apa yang akan mereka perbuat terhadapmu?" cecar Rangga.

"Apa kau kira aku bayi yang tidak bisa melawan, he?!" tukas gadis itu, mendengus.

"Kau dalam keadaan terdesak."

"Siapa bilang?! Aku bahkan masih mampu bertarung seribu jurus, untuk menghadapi sepuluh kali jumlah mereka!" sahut Sakaweni sengit.

"Lalu, kenapa kau diam saja ketika aku bertarung dengan mereka?"

"Kenapa aku mesti membantumu? Saudara bukan, kawan juga bukan!"

"Ya, mungkin aku memang salah. Maaf" desah Rangga mengalah seraya menggerakkan tangannya untuk melepaskan totokan.

Tuk!

"Memang! Gara-garamu, aku kehilangan pedang! Juga kudaku!" sentak gads ini seraya cepat bangkit berdiri dan melotot garang.

"Ya, mungkin juga. Dan aku tahu, kau bukan termasuk orang yang tahu berterima kasih...," sahut Rangga, kalem.

"Aku tidak minta pertolonganmu! Kenapa aku mesti berterima kasih segala?!" sentak gadis ini.

"Aku tak mengharapkan terima kasih. Dan aku berbuat tanpa pamrih. Baiklah. Persoalan di antara kita selesai. Kau boleh pergi sesukamu!" ujar Rangga.

"Huh! Memang! Apa kau kira aku akan di sini menemanimu, lalu kau akan berbuat seenaknya padaku?!" dengus Sakaweni tetap garang.

Rangga hanya menghela napas panjang. Dibiarkannya saja gadis itu berlalu secepatnya dari tempat ini. Sementara, dilangit mulai gelap. Hewan-hewan mulai pulang ke sarang masing-masing. Udara mulai terasa dingin. Sebentar lagi, malam akan tiba. Ingin rasanya Rangga menahan gadis itu untuk tidak pergi. Tapi, mana mungkin!

"Hhh, dasar gadis liar!" desah Rangga pendek.

Pendekar Rajawali Sakti lantas bangkit. Kakinya melangkah sambil mengumpulkan ranting-ranting kering untuk dibuat perapian. Rangga lantas menghampiri DewalBayu. Diusap-usapnya leher kuda hitam perkasa itu beberapa saat sebelum menyalakan api.

"Kau tunggu di sini. Aku akan cari makanan sebentar" Ujar pemuda itu seraya meninggalkan kudanya yang menunggui perapian.

Ketika kembali Rangga sudah menjinjing dua ekor ayam hutan. Tapi, Rangga dibuat terkejut tatkala melihat seorang lelaki tua duduk di dekat perapiannya sambil menggerogoti daging bakar. Sementara kudanya masih tetap berada di tempatnya, dan sama sekali tidak terusik. Ini sangat aneh, karena Dewa Bayu akan segera ribut mengetahui orang asing di dekatnya.

"Maaf, Kisanak. Aku mengganggu selera makanmu," sapa Rangga, ramah.

"Ah, tidak apa. Silakan duduk!" sahut laki-laki tua ini berambut panjang dan telah memutih semua itu.

Rangga menggerutu di dalam hati. Lagaknya, seperti dia saja yang bertamu.

"Dari mana kau? Ah! Menangkap dua ekor ayam hutan gemuk! Untuk santap malam? Kenapa tidak minta padaku? Aku punya cukup persediaan," kata laki-laki tua ini menunjukkan beberapa potong daging bakar yang telah matang.

"Terima kasih." Rangga tidak banyak bicara, dan mulai memanggang hewan buruannya.

"Dari jauh kulihat ada perapian, lalu kudekati. Ternyata, tak ada orangnya. Maka kutunggu di sini. Siapa tahu orangnya tengah berburu. Dan ternyata benar saja, ketika kutanyakan pada kuda ini. Dia tunggangan yang hebat dan cerdas," cerocos kakek ini, seperti berkata sendiri.

Rangga hanya tersenyum. Selama ini yang mengerti isyarat kudanya hanya dirinya. Demikian pula sebaliknya. Orang tua ini pasti mengada-ada, pikirnya.

"Kau kira aku berbohong?" tanya kakek ini tiba-tiba, seperti bisa menebak jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga tercekat sebentar. Diperhatikannya wajah orang tua itu kemudian membalik-balikkan daging panggangnya.

"Aku belum mengenalmu, Ki. Bagaimana mungkin kau punya perasaan kalau aku meng-anggapmu berbohong...," sahut Rangga, datar.

"Oh, ya. Namaku Wangsa Kelana. Hm.... Soal itu, aku bisa merasakannya. Seperti juga aku bisa merasakan isyarat-isyarat yang dilakukan kudamu," kata kakek yang mengaku bernama Wangsa Kelana

"Begitukah?" tukas Rangga.

"He he he...! Lagi-lagi kau tidak percaya padaku, bukan?" kata kakek ini sambil tertawa kecil. api kalau kukatakan sesuatu, kau mungkin akan percaya,"

"Hm, apa itu?" tanya Rangga, acuh tak acuh seraya mencicipi daging panggangnya.

"Gadis itu.... Kurasa, dia tertarik padamu," duga Ki Wangsa Kelana.

"Aku tidak mengerti gadis mana yang kau maksudkan, Ki?" kata Rangga.

"Gadis mana? Tentu saja gadis yang marah-marah padamu tadi!"

Rangga menghentikan kunyahannya. Dipandangnya Ki Wangsa Kelana sesaat. Lalu bibirnya tersenyum manis dan kembali menggigit daging panggangnya yang telah matang.

"Aku kenal dia. Namanya Sakaweni...," lanjut kakek ini.

"Kau mengikuti kami sejak tadi?" tanya Rangga.

"Bahkan sejak kalian hampir bertabrakan!" jelas Ki Wangsa Kelana.

"Hm, sungguh rajin!" sindir Rangga.

"Tentunya secara tidak sengaja. Karena, ternyata tujuan kita sama arahnya."

"Sebenarnya ke mana tujuanmu, Ki?"

"Ke Gua Griwa. Dan kau, tentunya akan ke sana pula, bukan?"

"Aku tidak tahu...."

"Aku tahu! Kau hanya mengikuti gadis itu, karena sebenarnya kau pun naksir padanya."

"Bagaimana kau bisa menduga begitu?" tanya Rangga sambil tersenyum.

"Aku pernah muda. Dan aku mengalami saat-saat seorang pemuda menyukai lawan jenisnya...."

"Kau salah, Ki!"

"Coba jelaskan!"

"Karena aku sudah punya kekasih!"

"Lalu, apa urusanya kau mengikutinya? Padahal, kau pun tidak punya urusan ke Gua Griwa?" tanya Ki Wangsa Kelana, agak penasaran.

"Aku seorang pengelana. Dan sebisa mungkin, aku berusaha mengamalkan sedikit kepandaian untuk membantu orang banyak. Dalam bertindak, kadang aku mengikuti naluri. Dan melihat gadis itu kurasa naluriku mengatakan bahwa akan ada masalah, Ternyata, dugaanku salah. Dia sama sekali tidak punya masalah. Setidaknya, begitu yang dikatakannya," jelas Rangga singkat.

"Kau salah kalau menilai begitu. Gadis ini sebenarnya punya masalah. Dia akan dikejar banyak orang, Dalam waktu singkat, akan banyak tersebar cerita bohong bahwa dia memiliki benda pusaka itu," sergah laki-laki tua ini seraya menjelaskan.

"Benda pusaka? Aku tidak mengerti ke mana bicaramu!" tanya Rangga.

"Apakah kau sungguh-sungguh tak tahu apa yang ada dalam Gua Griwa?!" tanya Ki Wangsa Kelana heran.

Pemuda itu menggeleng lemah. "Memangnya ada apa?"

"Saat itu heboh berita mengenai Patung Dewi Ratih, sehingga banyak direbutkan kalangan persilatan," jelas kakek itu.

"Kenapa mereka saling berebut untuk sebuah patung yang tidak berguna?"

Ki Wangsa Kelana tertawa renyah. "Entah kau ini tolol, atau pura-pura tak tahu!"

"Tidak! Aku betul-betul tak tahu! Apa sebenarnya yang mereka harapkan dari patung itu?"

"Baiklah.... Mungkin benar kalau kau tak tahu apa-apa soal rahasia yang telah menjadi pemberitaan umum. Di dalam patung itu, terdapat kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi, dan beberapa butir obat pulung ynag mampu meningkatkan tenaga dalam sampai dua kali lipat dari yang dimiliki," jelas kakek itu.

"Hm, pantas! Tapi, apa hubungannya dengan gadis itu?"

"Dia bertemu Ki Darta Rawon, ketika laki-laki itu tengah dikejar para tokoh persilatan. Mereka saling menyapa, sebelum Ki Darta Rawon meninggalkannya. Akhirnya, gadis itu yang menjadi sasaran kemarahan mereka. Bahkan ada yang menduga gadis itu dititipkan benda pusaka itu," jelas Ki Wangsa Kelana.

"Siapa Ki Darta Rawon itu?"

"Tokoh yang diduga memiliki patung itu,"

"Kenapa mereka mengira begitu?"

"Karena dia yang berhasil masuk gua. Sedang, yang lain tidak,"

"Apa susahnya masuk gua itu?"

Laki-laki tua itu tersenyum. "Di dalam gua penuh perangkap yang tidak terduga. Dan di dalamnya pun, dijaga seorang tokoh sakti. Tidak sembarang orang mampu mengalahkannya."

"Dan Ki Darta Rawon itu mengalahkannya?" cecar Rangga.

"Belum tentu juga!" sahut Ki Wangsa Kelana.

"Lho? Kenapa bisa begitu?"

"Dia hanya beruntung bisa keluar dari gua dengan selamat. Mungkin mengetahui seluk-beluk gua itu, Tapi aku sendiri tidak yakin kalau patung itu ada di tangannya."

"Lalu di tangan siapa kalau begitu?"

"Di tangan si penjaga gua tentunya!"

"Siapa penjaga gua itu?"

"Kenapa kau tanya-tanya terus? Apakah kau tertarik dengan patung itu?" kakek ini malah balik bertanya.

"Ah, tidak! Maaf kalau kelihatannya begitu," ucap Rangga

"He he he...! Tidak apa. Rasanya tidak ada seorang pun yang tidak tertarik setelah mengetahui rahasia patung itu."

"Aku sungguh-sungguh tidak tertarik!" sergah Rangga berusaha meyakinkan.

"Eee, jangan dipermasalahkan! Meski kau tertarik, itu bukan urusanku. Apalagi, setelah kau katakan kalau tidak tertarik. Nah, lebih baik habiskan daging panggangmu!"

Rangga tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dan untuk melampiaskan perasaan tidak enak dihatinya, buru-buru digigitinya sepotong daging bakar bagiannya. Dan cepat-cepat dikunyahnya sampai tandas.

TUJUH

Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tak mengerti, apa sebenarnya yang diinginkan orang tua ini darinya. Setelah makanannya ludes, dengan seenaknya Ki Wangsa Kelana merebahkan diri di bawah sebatang pohon dan mulai mendengkur halus.

"Hm, apa yang diinginkannya dariku?" gumam Rangga curiga.

Ki Wangsa Kelana agaknya telah berprasangka kalau Pendekar Rajawali Sakti pun menginginkan patung yang sama sekali tidak dimengerti. Dan laki-laki tua ini tentu punya tujuan berdekatan dengannya. Dan itu membuat Rangga merasa tidak tenang. Padahal, matanya mulai ngantuk. Dan kalau sampai terlelap, kemudian orang tua ini bangun dan berbuat macam-macam padanya, tidak ada yang bisa dilakukannya, mungkin bisa saja dia terbunuh.

Berpikir begitu, Rangga merasa tidak aman berdekatan dengan orang tua yang baru dikenalnya. Maka ditunggunya beberapa saat. Dan setelah yakin Ki Wangsa Kelana benar-benar tertidur pulas, maka dengan diam-diam Rangga pergi meninggalkannya sambil menuntun kudanya.

"Tidak terlihat tanda-tanda kalau dia mengetahui kepergianku," gumam pemuda itu lagi ketika telah jauh dari perapian dan sempat melirik.

Ki Wangsa Kelana terus tidur seperti bangkai. Sehingga, Rangga bisa bergerak leluasa. Dihelanya napas panjang, dan buru-buru melompat ke punggung Dewa Bayu.

"Ayo, Dewa Bayu! Kita pergi dari tempat ini!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Kuda berbulu hitam itu meringkik halus, kemudian berlari kencang menembus kegelapan malam. Sebentar saja, mereka telah menghilang dalam kegelapan.

Setelah Dewa Bayu berlari kencang beberapa saat, Pendekar Rajawali Sakti tiba di sebuah lembah yang cukup subur. Malam telah semakin larut. Dan kantuk yang menyerangnya begitu hebat. Sehingga Rangga memutuskan untuk beristirahat.

Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari kudanya. Dewa Bayu lantas ditambatkan. Baru setelah itu Rangga mencari tempat yang terlindung. Dalam sekejap saja pemuda itu telah menghenyakkan tubuhnya di balik semak dan tertidur pulas.

Trang! Trang!

"Ohh.... Sekian lama Rangga tertidur, mendadak terdengar suara ribut-ribut tidak jauh dari tempatnya berada. Begitu Rangga terjaga, matanya sudah disambut oleh sinar matahari pagi. Dan tatapannya langsung ke arah pada asal suara ribut-ribut barusan. Suara ribut itu ternyata berasal dari sebuah pertarungan. Rangga melihat tiga orang tengah bertempur sengit di pagi hari ini.

"Hm.... Dia rupanya!" gumam Rangga ketika melihat seorang gadis tengah dikeroyok dua orang laki-laki tua.

Gadis itu tak lain Sakaweni, yang kemarin sore diselamatkannya. Sementara dua laki-laki tua yang mengerubutinya kelihatan bernafsu untu menjatuhkannya. Salah satu di antaranya agak dikenal sebagai orang yang ikut mengeroyok gadis itu kemarin sore. Sedangkan seorang lagi yang bersenjata sabit. Dan Rangga belum pernah mengenalnya.

Pendekar Rajawali Sakti menggerak-gerakkan tubuhnya sebentar, lalu bangkit berdiri. Dihampirinya Dewa Bayu, untuk melepas tambatannya. Kemudian dengan tenang Rangga melompat naik. Segera dihampirinya pertarungan itu.

Salah seorang pengeroyok tampak mendengus dingin tatkala mengetahui siapa gerangan yang muncul di tempat itu.

"Hm, Pendekar Rajawali Sakti! Bagus! Kau datang pada waktu yang tepat! Apakah kau hendak membantu gendakmu ini?!" dengus salah satu laki-laki tua itu.

"Jangan salah sangka, Ki. Aku hanya ingin melihat-lihat pertarungan kalian. Silakan dilanjutkan. Dan aku akan menjadi penonton yang baik," kilah Rangga, kalem.

Laki-laki bersenjata rantai besi panjang yang ujungnya runcing itu tak lain dari Sidarta. Sedang yang bersenjata sabit, Sidarta sering memanggilnya dengan nama Ki Wulung.

Meskipun pemuda itu telah mengatakan kalau tidak akan ikut campur, tapi Sidarta dan kawannya kecut juga. Mereka jadi tidak tenang menghadapi lawannya.

Sebaliknya, Sakaweni merasa mendapat angin. Sekaligus ingin menunjukkan pada pemuda itu kalau mampu melindungi diri dan tidak perlu bantuannya. Maka permainan pedangnya jadi kelihatan hebat.

Trang!

Gadis itu berhasil menangkis serangan sabit Ki Wulung. Lalu tubuhnya melompat tinggi menghindari rantai besi Sidarta yang hendak membelitnya.

"Hiyaaa!" Mendadak, tubuh gadis ini melompat tinggi seraya melepaskan tendangan ke arah Ki Wulung.

Cepat bagai kilat laki-laki bersenjata sabit ini mengibaskan tangan untuk menangkis.

Plak!

Dan gadis itu menggunakan tenaga benturan untuk jungkir balik, begitu mendarat, dihantamnya dada Ki Wulung dengan tendangan keras yang tak mampu dielakkan.

Desss...!

"Aaakh!" Ki Wulung menjerit kesakitan. Tubuhnya terhuyung huyung ke belakang.

"Terimalah balasan dariku!" dengus Sidarta geram, seraya melepaskan salah satu ujung rantainya yang runcing bagai anak panah.

Wuk!

"Hup!" Sakaweni melenjit ke atas. Dan ketika ujung senjata laki-laki itu mengikuti, dia meluncur mendekati Sidarta.

"Yeaaat!"

"Heh?!" Sidarta jadi gelagapan sendiri. Senjatanya yang panjang tak mampu menghalangi serangan gadis ini yang dilakukan dalam jarak dekat. Sehingga mau tidak mau terpaksa dia menjatuhkan diri, ketika gadis itu membabatkan pedang dengan bertubi-tubi.

Bet! Wut!

"Uhh!" Sambil menarik senjata rantainya, Sidarta berusaha mencelat ke belakang. Tapi sebelum hal itu dilakukannya Sakaweni telah melepas satu tendangan keras kearah perut.

Duk!

"Aaakh!" Sidarta menjerit tertahan ketika tendangan gadis itu mendarat telak di perutnya. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke belakang.

"Masih penasaran? Ayo, maju lagi!" bentak Sakaweni sambil berkacak pinggang.

"Kurang ajar! Kau kira bisa berbuat seenaknya terhadap kami?!" dengus Sidarta, geram.

"Buktinya memang begitu!"

"Keparat!" Dengan satu bentakan keras, Sidarta kembali menyerang dengan gencar. Demikian pula Ki Wulung.

"Yeaaat!"

Bet! Bet!

Serangan mereka kelihatan semakin gencar dan hebat saja. Dalam keadaan marah seperti sekarang karena dipecundangi, mereka tidak lagi mempedulikan kehadiran Pendekar Rajawali Sakti di tempat ini. Sehingga bisa dirasakan kedahsyatan serangan-serangan yang dilancarkan.

Sehenarnya kedua tokoh itu bukanlah orang sembarangan. Kepandaian mereka cukup hebat. Kalau tadi kena dipecundangi, itu karena masih merasa khawatir kalau Pendekar Rajawali Sakti akan turun tangan. Karena, bisa-bisa mereka akan dihajar babak belur. Dan itu hal yang amat memalukan.

"Hiyaaat...!"

Sakaweni berusaha bertahan mati-matian dengan mengerahkan seluruh kemampuan. Untuk satu atau dua Jurus, mungkin dia bisa bertahan. tapi memasuki jurus keempat, kelihatan gadis ini mulai kawalahan menerima gempuran.

"Hiih!" Ki Wulung mengirim tendangan kilat, tatkala gadis ini melompat ke belakang.

"Heaaat!" Secepatnya Sakaweni mengibaskan pedang, sehingga Ki Wulung terpaksa menarik pulang tendangannya. Tapi, itu memberi peluang bagi Sidarta untuk melepaskan senjatanya.

Cring!

"Hei?!" Gadis itu terkejut setengah mati karena tiba-tiba saja senjata Sidarta telah bergerak cepat membelit pinggang. Sia-sia saja dia berusaha memapas rantai besi itu. Karena bukan saja senjata itu amat keras, tapi saat itu juga Sidarta tidak memberi kesempatan. Segera disentakkannya rantai besi itu kuat-kuat.

"Hiyaaa!"

"Hup!" Tentu saja Sakaweni tidak mau mati konyol. Kalau berdiam diri saja, bukan tidak mungkin pinggangnya akan patah ditarik senjata itu. Maka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia ikut melompat mengikuti sentakan. Dan bersamaan dengan itu, dikirimkannya tendangan bertenaga dalam tinggi.

"Yeaaat!"

"Gadis liar! Lihat seranganku!" teriak Ki Wulung memberi peringatan sebelum bantu menyerang dari samping.

"Hm, brengsek!" dengus gadis ini.

Mau tidak mau terpaksa Sakaweni menangkis serangan Ki Wulung dengan pedangnya kalau tak ingin tertebas senjata sabit. Dengan demikian dia melupakan serangannya pada Sidarta.

Trang!

"Hiih!" Kesempatan itu dipergunakan Sidarta untuk melakukan serangan mendadak. Segera dilepas-kannya satu tendangan menggeledek yang tak mungkin dapat dihindari.

Des!

"Aaakh...!"

Satu tendangan telak menghantam perut Sakaweni. Gadis ini terjungkal ke belakang sambil mengeluh kesakitan. Dan bersamaan dengan itu, Sidarta tetap mengikutinya agar gadis itu tidak terlepas dalam cengkeraman senjatanya.

"Heaaa!" Sidarta memutar senjatanya, berusaha melibat kedua tangan Sakaweni, Tapi gadis itu berusaha menghindar. Dan kalau bisa, melepaskan diri dari belenggu senjata Sidarta. Cepat tubuhnya bergulingan beberapa kali sambil mengibaskan pedang menghantam senjata rantai itu.

"Hup!"

Cring! Cring!

Namun rantai itu tetap tidak putus oleh tebasan pedang Sakaweni. Dan dia pun tidak terbebas dari belenggu. Rantai besi itu seperti mengunci pinggangnya dengan ketat. Malah dalam satu kesempatan, sebelah kakinya berhasil dilibat rantai.

Mendadak saja, Sidarta mcnyentakkannya dengan keras hingga gadis itu terseret. Sakaweni mengeluh kesakitan. Keadaannya betul-betul tidak berdaya. Terlebih setelah sabit di tangan Ki Wulung telah mengancam keselamatan lehernya.

"Kau telah membunuh salah seorang kawan kami. Dan untuk itu, kau patut mati!" dengus Ki Wulung geram.

"Tapi sebelum mati, katakan lebih dulu. Dimana benda pusaka itu kau sembunyikan?!" hardik Sidarta.

"Huh! Kalian bicara apa? Aku tidak tahu-menahu soal benda yang kalian inginkan! Kalau kawanmu mati, itu salahnya sendiri. Dia terlalu memaksakan kehendaknya padaku!" dengus Sakaweni, garang.

"Kurang ajar! Kau masih mau mengelak, heh?!" hardik Ki Wulung.

"Kenapa aku mesti takut?!" balas gadis itu dengan sikap tidak kalah garang.

"Bangsat! Kalau begitu, kau boleh mampus sekarang juga!"

Ki Wulung sudah siap akan menekan senjatanya. Namun mendadak Sidarta menahan dengan mencekal tangannya. Dia memberi isyarat kalau Pendekar Rajawali Sakti masih berada di situ.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kau telah berjanji tidak akan mencampuri urusan kami, bukan?!" teriak Sidarta, untuk meyakinkan.

Pemuda itu yang sejak tadi masih tetap tenang-tenang saja di punggung kuda sambil tersenyum-senyum. "Kenapa? Kalian kira aku akan menolongnya, sedangkan dia sendiri tidak butuh pertolonganku?" sahut Pendekar Rajawali Sakti, kalem.

Tapi sebelum Sidarta menjawab.... "Kalau dia tidak mau, maka sebaliknya aku mau menolong gadis itu!"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, yang membuat semua orang berpaling. Tampak seorang laki-laki tua melangkah tenang, menghampiri Sakaweni. Rambutnya yang panjang berwarna putih berkibaran ditiup angin pagi.

"Hm, ia lagi!" gumam Rangga ketika mengenali laki-laki tua berambut panjang yang semuanya telah memutih itu.

"Paman Wangsa Kelana!" seru Sakaweni, girang. Kelihatannya gadis ini kenal betul dengan orang tua aneh dan sedikit agak lucu yang memang Ki Wangsa Kelana.

"Syukurlah kau kutemui di sini, Weni! Apa yang kau lakukan sehingga kedua kecoa ini hendak membunuhmu?" tanya Ki Wangsa Kelana.

"Ceritanya panjang, Paman. Nanti aku ceritakan padamu. Tapi..., sebaiknya mereka kau singkirkan dulu. Aku muak melihat tingkah mereka," sahut Sakaweni.

"He he he...! Itu urusan mudah."

"Orang tua! Kuharap jangan ikut campur dalam urusan ini! Atau, kau akan mendapat nasib yang sama dengan gadis ini!" hardik Ki Wulung garang.

"He he he...! Nasib seperti apa yang kau maksudkan?" tanya Ki Wangsa Kelana menganggap enteng ancaman barusan. Kemudian secepat kilat laki-laki tua ini menjentikkan sebelah tangan. Seketika selarik angin kencang melesat menerpa Ki Wulung.

Pak!

"Ahhh...!" Saat itu juga, Ki Wulung merasa sebelah pipi-nya ditampar dengan keras. Dan belum lagi bersiaga, serangan Ki Wangsa Kelana telah berada dekat sekali dengannya. Dan Ki Wulung hanya mampu mengibaskan tangan kiri.

Plak!

"Aaakh!" Ki Wulung kontan menjerit kesakitan, ketikatangan kirinya terasa linu berbenturan dengan tangan Ki Wangsa Kelana. Dan pada saat yang hampir bersamaan, kaki kiri paman dari Sakaweni menghantam perutnya dengan telak.

Desss...!

"Aaakh...!" Tak ampun lagi, Ki Wulung langsung terjungkal ke belakang.

"Heh?!"

"Apa?! Kau ingin mendapat bagian yang sama dengan kawanmu itu?!" hardik Ki Wangsa Kelana ketika Sidarta terkejut melihat gerakan barusan.

"Kurang ajar!" Sidarta menggeram marah. Dan kemarahannya segera di lampiaskannya dengan menyentakkan tubuh Sakaweni yang masih terbelenggu senjatanya.

"Hiiih!"

Namun Sidarta tidak menyadari kalau Ki Wangsa Kelana telah berada di dekatnya. Dan dengan tenang laki-laki tua itu menangkap rantai besi.

"Hup!"

Tap!

Seketika Ki Wangsa Kelana menahan sentakan rantai.

"Uhhh!" Sidarta berusaha membetotnya. Namun KiWangsa Kelana tetap tenang-tenang saja. Sedikitpun tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ketika Sidarta telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki, tetap saja kedudukan Ki Wangsa Kelana tidak berubah.

"Ohhh!" Sidarta terkejut sendiri. Rantai besinya mulai terasa panas dan mengepulkan asap.

"Heaaat!" Sidarta membentak keras. Dia berharap tubuh Ki Wangsa Kelana itu kena dibetotnya. Tapi yang terjadi....

Cring!

"Aaakh...!" Justru rantai besi Sidarta yang putus. Dia sendiri terhuyung-huyung ke belakang.

"Bangsat!" Sidarta menggeram marah. Dengan membentak keras diserangnya Ki Wangsa Kelana seraya mengibaskan sisa rantai besi yang berada di tangan.

"Hih!"

Namun serangan itu dihadapi dengan tenang oleh Ki Wangsa Kelana. Bahkan laki-laki tua ini mengibaskan sisa rantai besi yang ada dalam genggamannya.

Cring!

Kedua senjata itu tampak saling melibat. Lalu tiba-tiba Ki Wangsa Kelana menyentakkannya dengan keras.

"Ahhh...!" Sidarta terkejut merasakan sentakan dahsyat. Kalau saja tidak melepaskan rantai besi itu, maka bukan tidak mungkin lengannya akan putus.

"Heaaa...!" Ki Wangsa Kelana tidak berhenti sampai disitu. Tubuhnya terus mencelat menyerang lewat tendangan kilat.

"Hup!" Dengan sebisanya Sidarta mengangkat tangan kirinya untuk menahan tendangan.

Plak!

Dan belum sempat Sidarta berbuat apa-apa, mendadak rantai besi di tangan Ki Wangsa Kelana telah menggebuk perutnya.

Bret...!

"Aaakh...!" Sidarta menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang, sejauh beberapa langkah.

"He he he...! Kalau masih penasaran, kau boleh maju dan bertarung lagi denganku!" kata Ki Wangsa Kelana.

Sidarta mendengus dingin. Dia tahu, kalau orang tua itu bukan tandingannya. Dan, bukan pula tandingan Ki Wulung. Sia-sia saja melawan, karena akan jatuh bangun dihajar paman dari Sakaweni ini. Maka dengan satu isyarat, diajaknya Ki Wulung untuk angkat kaki dari tempat itu.

"Orang tua! Persoalan ini belum selesai. Suatu saat, kau akan menerima pembalasan kami!" ancam Sidarta sebelum meninggalkan tempat ini.

"He he he...!" Ki Wangsa Kelana hanya terkekeh mendengar ancaman.

"Paman! Kenapa kau biarkan saja mereka pergi? Habisi saja sekalian!" tanya Sakaweni, tak puas.

DELAPAN

"Kenapa terburu-buru? Mereka akan kembali sewaktu-waktu. Dan saat tanganku gatal, maka sudah tentu akan kuhabisi mereka," sahut Ki Wangsa Kelana, tenang.

"Iya kalau mereka bertemu denganmu. Bagaimana kalau mereka bertemu denganku?!" cibir Sakaweni.

"Untuk itu, kau mesti giat berlatih agar tidak dikalahkan mereka."

"Huh!" Sakaweni hanya memberengut kesal, tidak bisa berbuat apa-apa selain memandangi kedua pecundang tadi yang semakin jauh saja. Tapi ketika pandangannya membentur Pendekar Rajawali Sakti yang masih berada di situ, maka keusilannya timbul lagi.

"Baiklah.... Kalau memang Paman enggan membunuh mereka, aku minta gantinya saja," cetus gadis itu.

"Apa maksudmu?" tanya Ki Wangsa Kelana.

"Pemuda itu pernah menangkap dan menotokku. Maka sebagai ganti mereka, aku ingin agar Paman menangkapnya untukku!" jelas Sakaweni sengit.

"Kau ingin agar aku menangkapnya untukmu? Padahal, itu persoalanmu. Kenapa tidak kau lakukan sendiri?" sahut Ki Wangsa Kelana sambil tersenyum-senyum.

"Huh, baik! Lihat saja. Akan kulakukan sendiri!" dengus Sakaweni kesal.

Maka secepat kilat gadis itu berbalik ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan kedua tangan terpentang lebar, siap melepaskan serangan.

"Nisanak! Kau terlalu menuruti hawa nafsumu saja, sehingga perbuatanmu menjadi aneh! Aku berbuat baik, kau salahkan. Dan kini, aku tidak ikut campur dalam urusanmu, juga hendak disalahkan," kata Pendekar Rajawali Sakti seraya melompat dari punggung kudanya.

"Tutup mulutmu! Aku telah berjanji untuk membunuhmu. Maka, hari ini akan kulakukan!" teriak Sakaweni.

"Hm.... Kau benar-benar liar!"

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau berkata liar padaku! Kubunuh kau, Keparat! Kupenggal lehermu, Pemuda Lancang!" bentak gadis itu geram dengan amarah meluap.

Sring!

Dalam keadaan begitu, Sakaweni tidak lagi memikirkan baik dan buruk tindakannya. Bahkan pedangnya cepat diloloskan dari warangkanya. Seketika digebrak Pendekar Rajawali Sakti lewat jurus-jurus ilmu pedang yang tampak dahsyat.

Dari gerakannya, jurus itu tampak berbahaya. Tidak heran kalau setiap serangannya berbau maut. Beberapa kali Rangga terpaksa mengeluh tertahan, ketika ujung pedang gadis itu nyaris memapas kulitnya. Namun sejauh ini, dengan menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', Rangga masih mampu menghindari setiap serangan.

"Hm, hebat sekali! Kalau saja gerakan-gerakan gadis ini tidak kaku, mungkin sulit bagiku untuk mengimbanginya," puji Rangga, jujur.

"He he he...! Pertarungan ini tidak adil. Kau bersenjata, sedangkan dia tidak. Anak muda, gunakan ini!" teriak Ki Wangsa Kelana seraya melemparkan potongan rantai besi yang tadi tidak sempat dibawa Sidarta.

Tap!

Rangga cepat menangkap sambil melompat indah. Dia melihat, hal itu sebagai penghormatan padanya. Kalau diam saja, bukan tidak mungkin kakek itu akan merasa terhina. Seketika langsung dipapakinya sabetan pedang Sakaweni yang telah datang menyerangnya.

Cring!

"Hiih!" Sakaweni mendengus kesal. Langsung sebelah kakinya diayunkan untuk menyodok perut Rangga. Namun pemuda ini sudah mengegoskan tubuh, sehingga tendangan Sakaweni mengenai tempat kosong. Lalu dengan ringan Pendekar Rajawati Sakti melompat ke belakang menjauhi.

"Kurang ajar! Kau kira bisa melecehkanku, he?!" dengus Sakaweni geram.

"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu, Nisanak. Kaulah yang sebenarnya bermaksud melecehkanku," kilah Rangga.

"Huh!" Sakaweni mendengus geram. Kepalanya lantas berpaling pada pamannya yang kelihatan tersenyum-senyum.

"Paman! Kenapa malah membantu dia?!" hardik Sakaweni garang.

"Kenapa kau malah marah-marah? Aku hanya ingin melihat keadilan. Kau bersenjata, sedangkan dia tidak. Oleh sebab itu, agar adil maka kuberi dia senjata," sahut Ki Wangsa Kelana enteng.

Sakaweni kembali mendengus geram. Dan kiini perhatiannya dipusatkan kembali pada Pendekar, Rajawali Sakti.

"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja! Kau akan mati di tanganku!" desis gadis itu.

"Nisanak, tingkahmu aneh. Aku merasa tidak berbuat salah. Dan kau malah menginginkan kematianku. Ini betul-betul pikiran orang kurang waras."

"Kurang ajar! Kau sebut aku kurang waras?! Keparat! Mampus kau!" maki gadis ini seraya mencelat mengejar sambil mengayunkan pedang.

Rangga pun tidak kalah sigap. Langsung disambutnya serangan dengan rantai besi di tangannya.

Cring!

"Heaaa!"

Pertarungan tidak dapat dielakkan lagi. Gadis itu telah semakin kalap. Dan serangannya pun terlihat makin ganas. Agaknya, dia ingin membuktikan kata-kata ancamannya tadi, dalam waktu singkat. Tapi hal itu tidak mudah. Sebab yang dihadapinya bukanlah tokoh kemarin sore. Beberapa kali serangannya dapat dipatahkan. Dan hal itu semakin membuatnya geram saja.

Tapi pertarungan mereka sedikit terusik, karena beberapa saat kemudian dari kejauhan beberapa orang muncul di berbagai arah. Kemudian muncul pula kawanan lain di belakang mereka. Akibatnya, saat ini tempat itu dikepung dari segala jurusan oleh orang-orang bersenjata lengkap.

"Sebaiknya kalian hentikan pertarungan. Kita kedatangan tamu tidak diundang!" seru Ki Wangsa Kelana.

"Hei?!"

"Hm!"

Pendekar Rajawali Sakti dan Sakaweni melompat mundur, mereka langsung melihat kawanan yang tengah mengepung berjumlah kurang lebih lima puluh orang.

"Aku kenal beberapa orang dari mereka yang menyerangku kemarin!" kata Sakaweni bernada geram.

"Bukan hanya itu. Coba perhatikan baik-baik! Agaknya, diantara mereka terdapat dua orang tadi yang hendak meringkusmu," ujar Ki Wangsa Kelana sambil tersenyum-senyum.

"Hm... Rupanya mereka masih penasaran. Cepat sekali membawa kawan-kawannya kesini," gumam Rangga ketika melihat Sidarta dan Ki Wulung ada di antara orang-orang itu.

"Ada lagi yang menarik, Anak Muda. Mereka ternyata bukan sekadar kawanan keroco-keroco!" " cetus Ki Wangsa Kelana.

Rangga mengangguk. Apa yang dikatakan laki-laki tua ini benar. Orang-orang itu terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang cukup punya nama dalam dunia persilatan. Dan kepandaian mereka rata-rata cukup hebat.

"Kebetulan sekali!" dengus Sakaweni dengan wajah berseri girang.

"Jangan gegabah, Weni!" mereka bukan sembarang orang. Entah apa yang mereka inginkan sebenarnya," ujar Ki Wangsa Kelana memperingatkan.

"Huh, persetan!"

"Hm.... Dasar anak muda," gumam Ki Wangsa Kelana seraya menggeleng lemah.

"Hei! Apa mau kalian semua?!" bentak gadis itu sambil berkacak pinggang.

"Gadis liar! Kebetulan sekali kau ada di sini. Serahkan benda pusaka itu pada kami!" bentak seorang perempuan tua yang tak lain Nini Pemah alias Ular Bambu Kuning.

"Benda pusaka apa yang kau maksudkan?" tanya Sakaweni.

"Huh! Pura-pura tidak tahu! Tentu saja Patung Dewi Ratih!"

"Kau salah alamat, Nenek Peot!"

"Kurang ajar! Berani betul kau menghinaku!" dengus Ular Bambu Kuning, geram.

Tanpa basa-basi lagi, nenek itu sudah langsung melompat menyerang Sakaweni.

"Yeaaat!"

Namun, gadis ini pun tidak kalah sigap. Lanung pedangnya disabetkan ke arah Ular Bambu Kuning.

Sring!

Bet! Wut!

"Hih!"

Nini Pemah meladeni dengan permainan bambu kuningnya yang bukan bambu sembarangan. Cepat dan tidak terduga gerakannya, membuat Sakaweni gelagapan. Dan juga agaknya betul-betul tidak mau memberi kesempatan sedikit pun bagi gadis itu untuk memperbaiki jurus-jurusnya.

Trak!

"Uhhh...!" Sakaweni mengeluh tertahan ketika harus menangkis sambaran bambu kuning Nini Pemah yang berisi tenaga dalam tinggi untuk kesekian kalinya. Bersamaan dengan itu, kepalan kiri Ular Bambu Kuning menyodok ke dada.

Sesaat gadis itu tercekat, namun segera melompat ke belakang. Tapi sebelum itu dilakukan, sebelah kaki Nini Pemah telah bergerak lebih dulu ke perut.

Des!

"Aaakh...!" Sakaweni kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang beberapa langkah. Sementera Ular Bambu Kuning tidak memberi kesempatan. Nenek itu sudah langsung menyerangnya kembali.

"Huh! Kalau kau tidak mau memberi benda pusaka itu, lebih baik mampus saja!" desis Ular Bambu Kuning.

"Hih...!"

Tapi sebelum bambu kuning itu menembus ke jantung Sakaweni, Ki Wangsa Kelana telah mengirimkan pukulan jarak jauh untuk menggagalkan niat Ular Bambu Kuning.

"Hup!"

Namun sebagai orang yang telah kenyang makan asam garam dunia persilatan, tentu saja Nini Pemah tidak semudah itu dikelabui. Tubuhnya mencelat ke samping, sambil memaki-maki tidak karuan,

"Keparat busuk! Kau hendak membokongku dari belakang, he?!"

"Bukan membokong, Nyi. Aku hanya memperingatkan kalau kau bukan tandingan gadis itu. Carilah lawan yang sepadan denganmu," kilah Ki Wangsa Kelana.

Kalau tidak ingat urusan semula, mau rasanya Nini Pemah menghajar kakek-kakek itu. Tapi, dia telah punya rencana lain. Maka kepalanya menoleh pada kawannya.

"Apalagi yang kalian tunggu?! Benda pusaka itu ada pada salah seorang di antara mereka. Tangkap dan ringkus mereka! Nanti kita periksa satu persatu!" teriak Ular Bambu Kuning, lantang.

"Ayo, seraaang...!"

"Serbuuu...!"

Dengan serta merta, orang-orang persilatan yang mengepung, bergerak bersamaan.

"Yeaaat!"

"Hiiih!"

Keadaan ini benar-benar membuat Rangga, Ki Wangsa Kelana, dan Sakaweni terjepit hebat. Masing-masing menghadapi kurang lebih lima belas orang lawan. Kalau saja yang dihadapi tokoh-tokoh biasa, mungkin sedikit lebih enak. Tapi orang-orang ini bukan tokoh sembarangan. sehingga meskipun memiliki ilmu tinggi, dalam waktu singkat mereka terdesak hebat.

"Kisanak! Selamatkanlah dirimu! Aku dan Sakaweni akan berusaha mencari jalan keluar!" bisik Ki Wangsa Kelana ketika berada dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti.

"Terserahmu saja. Aku tidak punya urusan dengan mereka, juga kalian. Tapi aku telah menjadi korban."

"Maaf, aku sendiri tidak bermaksud melibatkanmu!" ucap Ki Wangsa Kelana seraya melompat, berusaha menghalau tokoh-tokoh yang tengah menghajar Sakaweni.

Keadaan gadis itu memang memprihatinkan. Beberapa kali tubuhnya terkena hajaran. Bahkan mulai dipenuhi luka-luka akibat senjata tajam. Meski begitu, dia berusaha terus melawan. Tapi, agaknya sia-sia saja. Satu lawan menangkis, maka lawan yang lain menghajar dari belakang atau samping kiri dan kanan.

Sementara itu Ki Wangsa Kelana pun agaknya tidak mudah untuk menyelamatkan Sakaweni. Setiap usaha yang dilakukannya selalu dihalang-halangi lawan-lawannya. Meski berhasil menghajar satu atau dua lawan, tapi yang lain telah menyerang dengan ganas. Sehingga, ruang geraknya betul-betul terjepit.

"Aji Bayu Bajra...! Heaaa...!"

Rangga mulai mengerahkan aji 'Bayu Bajra' ketika melihat Ki Wangsa Kelana mulai mengerahkan Ilmu saktinya. Kedua tangannya menghentak ke depan, Seketika bertiup angin kencang bagai topan, langsung membuat beberapa orang terpental.

Sementara pertempuran berjalan semakin kacau-balau saja. Rangga, Ki Wangsa Kelana, dan Sakaweni mulai mengeluarkan pukulan andalan. Namun para pengeroyok pun tidak man ketinggalan. Tadi, mereka sekadar ingin meringkus hidup-hidup. Tapi ketika korban pihak mereka mulai berjatuhan, maka orang-orang persilatan itu tidak segan-segan lagi menghabisi ketiga lawannya.

"Yeaaa!"

Sesaat terdengar jeritan kesakitan. Pedang di tangan Sakaweni tampak terlepas dari genggaman. Dan satu pukulan keras menyodok ke perutnya.

Duk!

"Aaakh...!"'

Kemudian pada saat yang hampir bersamaan, dua orang menyarangkan pukulan kedada dan punggung Sakaweni.

Des! Duk!

"Aaakh...!" Kembali gadis itu terpekik, dan ambruk tak berdaya.

"Weni...!" teriak Ki Wangsa Kelana mulai beringas melihat keadaan keponakannya.

"Jangan biarkan dia lolos! Bunuh orang tua ini!" teriak seseorang.

"Yeaaa...!"

Maka meski Ki Wangsa Kelana mengumbar segala kesaktiannya, tetap saja tidak mampu mendekati Sakaweni untuk menolongnya. Karena, orang-orang yang berada di sekelilingnya tidak memberi ruang gerak sedikit pun.

"Orang tua! Selamatkan dirimu. Biar gadis itu kuselamatkan!" teriak Rangga lantang. Tanpa meminta persetujuan Ki Wangsa Kelana, Rangga segera mencabut pedangnya.

Sring!

Seketika sinar biru berkilauan memancar dari mata Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

"Hiyaaa...!" Sambil membentak keras, Pendekar Rajawali Sakti melompat mendekati Sakaweni yang tengah tak berdaya. Beberapa orang berusaha menghalangi, tapi Rangga benar-benar tidak memberi ampun lagi. Pedangnya berkelebat menebas.

Bruesss!

"Aaa...!"

Tiga orang langsung terjungkal roboh bermandikan darah. Bukan saja senjata mereka yang putus, tapi nyawa pun ikut melayang tatkala ujung pedang Rangga memutuskan batang leher.

Cras!

"Aaa...!"

Dua orang lagi terpekik, tatkala Pendekar Rajawali Sakti menerobos para penghadang untuk mengambil tubuh Sakaweni. Kemudian dengan sigap dibopongnya tubuh gadis yang penuh luka dan tak berdaya itu, sambil memutar-mutar pedang.

"Uhhh...!"

Beberapa orang yang mengetahui kedahsyatan pedang yang bersinar biru berkilauan itu, tidak berani sembarangan mendekat. Mereka hanya menyerang dengan pukulan jarak jauh.

"Hiaaat! Mampus kau...!"

"Uts!" Rangga tidak meladeni mereka lagi. Begitu ada kesempatan untuk kabur, maka secepatnya dilakukan sambil menghindar dari pukulan-pukulan para pengeroyok.

"Kurang ajar! Jangan biarkan dia kabur!" teriak seseorang.

Para tokoh persilatan itu berusaha mengejarnya. Namun Rangga yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tinggi sudah cepat melesat bagai kilat ke arah kudanya. Dan dengan gerakan indah sekali, tubuhnya melompat ke atas kuda, dan langsung menggebahnya.

"Hieee...!" Seketika Dewa Bayu melesat kencang meninggalkan para pengejarnya. Meski mereka terus mengejar sampai beberapa jauh, tapi sia-sia saja.

"Kurang ajar! Dia telah menghilang!" dengus salah seorang pengejar.

"Hm, Pendekar Rajawali Sakti! Dia tidak luput dari kejaran kita nantinya!" timpal yang lain.

"Biarkan saja dia kabur. Kita bantu yang lain untuk meringkus orang tua itu."

"Ayo, jangan lama-lama di sini!" ajak seseorang.

Maka dengan serta merta, mereka kembali ke tempat semula untuk membantu yang lain dalam meringkus Ki Wangsa Kelana...

Thanks for reading Patung Dewi Ratih I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »