Dewa Sesat

DEWA SESAT

SATU

PASAR di kota Jatibarang selalu ramai sepanjang hari. Antara pedagang dan pembeli membaur menjadi satu. Sehingga, suasana tampak sibuk. Di tengah-tengah kesibukan berjual beli itu....

“Tangkap! Jangan biarkan pencopet itu meloloskan diri!”

Terdengar teriakan-teriakan memerintah dari mulut seorang laki-laki berbadan tegap berbaju hitam. Seketika suasana pasar yang sudah ramai, makin hiruk-pikuk saja. Sambil berteriak-teriak, laki-laki itu mengejar seorang pemuda berpakaian penuh tambalan yang berlari kencang, sekitar sepuluh batang tombak di depan.

Lari pemuda tegap yang sesungguhnya tampan ini cepat bukan main. Namun baru beberapa puluh tombak pemuda itu menghentikan larinya, ketika seorang laki-laki menghadang di depannya dengan sebuah bentakan menggelegar. Laki-laki berkumis tebal yang menghadang juga berpakaian serba hitam. Dan dia langsung membabatkan golok besarnya penuh kegeraman ke arah pemuda berbaju tambal-tambalan.

“Uts...!” Namun dengan gesit pemuda berpakaian tambalan menghindari tebasan golok dengan memiringkan tubuh ke kiri, sehingga serangan itu hanya menyambar angin kosong. Dan seketika tubuhnya melesat sekencang-kencangnya.

Tetapi para pengejar semakin bertambah banyak. Selain kedua laki-laki berbaju hitam, para pedagang dan pembeli di pasar bahu-membahu ikut membantu.

“Bunuh! Bunuh...!”

Kembali terdengar teriakan-teriakan membahana. Sehingga di sekitar pasar berubah hiruk-pikuk. Pemuda berpakaian putih penuh tambal-tambalan ini tentu tidak sudi dirinya tertangkap, lalu dicincang menjadi serpihan daging. Maka dengan cepat, dia terus berlari mencari jalan selamat.

Para pengejar semakin dekat saja. Bahkan kedua laki-laki berbaju hitam dan bersenjata golok telah hampir mendekat. Tanpa perasaan salah seorang langsung menebaskan golok.

Bret!

“Aaagkh...!” Pemuda berpakaian penuh tambalan itu langsung menjerit keras. Sambaran golok yang cukup keras membuat larinya jadi terhuyung-huyung. Masih untung tubuhnya tidak terjungkal, walaupun bahunya telah mengucurkan darah.

“Kau tidak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan kami!” dengus kedua laki-laki berpakaian hitam. Kembali golok di tangan salah seorang meluncur deras ke bagian leher.

Tampaknya, kali ini pemuda berpakaian tambal-tambalan itu tidak mungkin dapat meloloskan diri. Walaupun tetap berlari, tetapi jaraknya sudah terlalu dekat. Namun pada saat-saat yang sangat mengkhawatirkannya, tiba-tiba berkelebat satu bayangan merah ke arah pemuda itu. Dengan cepat tangannya menyambar. Di lain waktu, pemuda berbaju tambal-tambalan itu telah lenyap dari pandangan para pengejarnya.

“Heh?!” Kedua laki-laki berpakaian hitam ini terkejut bukan main. Wajah mereka berubah gusar. Berarti, untuk yang kesekian kalinya buruannya berhasil meloloskan diri. Padahal tadi mereka sudah hampir berhasil meringkusnya.

“Sial betul! Semestinya sudah kucincang dia sejak tadi!” dengus laki-laki yang memiliki kumis melintang.

“Sudahlah, Pancaka. Sebaiknya kita kembali ke pasar. Keamanan di sana menjadi tanggung jawab kita,” ujar laki-laki satunya mencoba bersikap lebih sabar.

“Benar, Garda. Tapi, pencopet tengik itu benar-benar membuatku tidak bisa tidur dan tidak dapat makan sepanjang hari!” gerutu laki-laki berkumis melintang yang dipanggil Pancaka, bersungut-sungut.

“Mungkin nasibnya kali ini lagi mujur. Lain kali kalau tertangkap, kita habisi dia,” sahut laki-laki yang dipanggil Garda.

“Tetapi, siapa bayangan merah tadi?” tanya Pancaka.

“Aku tidak tahu, Pancaka. Nanti saja kita selidiki. Mari kita ke sana!” ajak Garda sambil menarik tangan kanannya.

Para pedagang dan pembeli yang ikut melakukan pengejaran, sekarang sudah membubarkan diri. Dan dengan hati kesal, Pancaka terpaksa mengikuti Garda menuju ke tengah keramaian pasar. Para pedagang lainnya yang melihat penjaga keamanan ini kembali tanpa hasil, tampak mencibirkan mulut.

********************

Sosok bayangan merah segera menghentikan lesatan tubuhnya ketika tidak ada lagi orang yang mengejarnya. Kemudian, diturunkannya pemuda yang dipanggulnya sejak dari pasar tadi.

“Uhhh...!” Pemuda berpakaian tambal-tambalan itu merintih kesakitan.

Untung sambil berlari tadi, sosok bayangan merah yang ternyata seorang laki-laki tua berpakaian merah ini sempat menotok jalan darahnya. Sehingga pendarahan di tubuh pemuda itu tidak sempat terjadi.

“Aduh.... Apakah aku sekarang masih hidup? Atau sudah sampai di surga?” rintih pemuda berpakaian tambal-tambalan sambil meringis kesakitan. Dia bangkit dari berbaringnya, dan duduk berselonjor.

“Hmm...,”gumam laki-laki tua berjenggot putih itu tidak jelas. “Lukamu tidak begitu parah. Mengapa kau merintih-rintih seperti orang mau mati?” tanya laki-laki tua berpakaian serba merah.

“Oh...! Jadi aku belum mati? Puji syukur pada Tuhan. Siapa pun kau, aku telah berhutang nyawa padamu. Terima kasih banyak...!” ucap pemuda itu, seraya membungkukkan badannya dalam-dalam.

Ternyata pemuda tampan ini cukup lucu. Sehingga laki-laki tua berbaju merah dapat menarik kesimpulan kalau pemuda tukang copet ini sesungguhnya seorang pemuda berwatak baik.

“Siapa namamu?” tanya laki-laki tua berbaju merah.

“Aradea. Kau sendiri siapa?” jawab pemuda berpakaian tambalan seraya bertanya.

“Ha ha ha...! Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya padamu. Apalagi, mengingat kau adalah pencopet,” sahut laki-laki tua baju merah, seenaknya. Segera dibalut luka di bahu Aradea dengan sobekan kain baju pemuda itu sendiri.

“Karena aku seorang pencopet? Begitu berartikah namamu?” tanya Aradea, mencibir.

“Namaku tidak berarti bagimu. Tapi mungkin, cukup punya arti bagi orang yang mengutusku. Ah...,sudahlah! Aku sebenarnya heran. Anggota badanmu lengkap. Tetapi, mengapa kau mencopet? Apakah kau tidak merasa dirimu begitu hina?” sindir laki-laki tua berbaju merah.

“Sebutkan dulu namamu, baru kujawab pertanyaan itu!” sergah Aradea.

“Heh?! Rupanya kau tetap ngotot juga? Baiklah.... Aku bisa dipanggil Ki Rimbang, dari Padepokan Welut Perak,” jelas laki-laki tua berbaju merah yang mengaku bernama Ki Rimbang.

“Padepokan Welut Perak? Aku pernah mendengar padepokan itu. Kalau tidak salah, Padepokan Welut Perak terkenal dengan murid-muridnya yang hampir semuanya wanita cantik,” tebak Aradea.

“Kau tahu. Tetapi, kukira itu tidak penting. Sekarang kau coba katakan, mengapa kedua laki-laki di pasar tadi mengejarmu?”

“Mereka adalah orang-orangnya Pendeta Rabangsa. Pasar itu berada dalam pengawasan Pendeta Rabangsa. Siapa pun tidak boleh membuat keributan di sana. Sebab, upeti-upeti yang terkumpul di pasar disumbangkan untuk pengembangan agama. Pengikut pendeta itu cukup banyak. Menurut yang kudengar, pendeta itu melindungi kaum lemah dan suka menolong siapa saja. Hanya terkadang, pengikut-pengikut kepercayaannya mendapat gangguan dari satu kelompok yang paling berkuasa di daerah Jatibarang.”

“Lalu kau sendiri, kalau sudah tahu dua orang tadi adalah anggota keamanan di situ, mengapa mencopet?” tanya Ki Rimbang, merasa tertarik.

Aradea tersenyum. Betapa senyumannya sulit diartikan. Matanya menerawang jauh ke depan, seakan mencoba menepis bayang-bayang masa lalu keluarganya yang kelam.

“Hidup ini terus berlalu, Ki. Banyak hal yang kuperjuangkan di sini. Aku harus menghidupi lebih dari lima puluh kepala. Sedangkan mereka sudah tidak punya daya apa-apa. Tidak ada pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan uang, terkecuali mencopet.”

“Aku tidak mengerti ucapanmu?” tukas Ki Rimbang.

“Maksudku...,aku ini pimpinan pencopet. Hasil pekerjaanku dan beberapa orang kawan, bukan untuk kepentinganku. Melainkan, kepentingan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Mereka adalah orang-orang cacat dan terlunta-lunta. Juga anak-anak kecil yang orangtuanya yang tidak bertanggung jawab, dan kupungut di pinggir jalan. Mereka perlu makan dan pakaian. Itu alasanku, mengapa aku melakukan pekerjaan hina,” jelas Aradea dengan wajah tertunduk.

“Lalu, ke mana perginya orangtua bayi-bayi yang kau pungut itu? Mengapa mereka tidak bertanggung jawab atas anaknya sendiri?” kejar Ki Rimbang, penuh rasa heran.

“Orangtuanya aku tidak tahu. Anak-anak itu adalah hasil hubungan gelap atau menjual diri, karena terdesak kebutuhan sesuatu yang sangat memabukkan,” sahut Aradea.

“Kalau kau mau tinggal di Jatibarang ini untuk beberapa waktu lamanya, maka akan terlihat bagaimana kehidupan yang mengerikan itu.”

“Eeeh.... Menurutmu tadi, Pendeta Rabangsa adalah orang yang bijaksana dan suka menolong siapa saja. Mengapa kau tidak minta bantuannya untuk membesarkan anak-anak yang tidak berdosa itu?” tukas Ki Rimbang.

“Percuma, Ki,” sahut Aradea. “Kehidupan ini, menurutku hanyalah untuk kalangan orang-orang kaya dan terhormat. Sedangkan orang sengsara dan tidak jelas asal usulnya, tidak usah ditolong. Paling tidak, begitulah menurut penglihatanku. Terhadap pendeta itu. Ah...! Sudahlah, Ki. Lebih baik kau ikut bersamaku. Di Pondok Kaum Nestapa nanti, kita bisa bertukar pikiran. Aku ingin menjamumu kecil-kecilan sebagai rasa terima kasihku, karena kau telah menolongku.”

“Baiklah. Mari kita pergi!” ajak Ki Rimbang.

Aradea segera membawa Ki Rimbang menelusuri jalan pintas. Sementara saat itu matahari telah berada tepat di atas kepala.

********************

Tempat tinggal Aradea jauh terpencil di sudut kota. Tidak setiap orang dapat menemukan tempat itu. Karena selain tempatnya tersembunyi, juga harus melalui jalan rahasia. Begitu sampai di depan pintu, Ki Rimbang langsung disambut dua orang gadis manis berumur sekitar sembilan belas tahun.

Sementara belasan anak-anak berumur lebih kurang enam tahun menyerbu Aradea. Bocah-bocah itu memanggil Aradea dengan sebutan Ayah. Dan ini membuat Ki Rimbang sempat tercengang. Sekarang barulah dipercayainya kata-kata pemuda itu.

Ternyata memang banyak anak-anak kecil yang berada di rumah itu. Tidak terhitung ayunan bayi yang terpasang pada setiap penyangga rumah. Sehingga dilihat sepintas, rumah ini tidak beda dengan sarang burung walet. Kini tatapan Ki Rimbang beralih pada dua gadis yang menyambutnya.

“Ningsih dan Sakawuni,” jelas Aradea tanpa diminta. Rupanya Aradea melihat Ki Rimbang terus memperhatikan kedua gadis cantik di depannya.

“Mereka berdua adik-adikku. Dan mereka yang bertanggung jawab di rumah ini mengurus anak-anak telantar yang puluhan jumlahnya. Tentu mereka repot. Tetapi, sudah terbiasa,” jelas Aradea lagi.

“Mengapa anak-anak ini semuanya memanggilmu ayah?”

Pemuda tampan berpakaian tambal-tambalan ini pun tersenyum. “Aku yang membiasakannya begitu. Kepada adik-adikku, mereka juga memanggil ibu. Mereka masih polos. Terlahir ke dunia ini bukan atas kehendak mereka. Orang tua mereka yang jahanam, karena tidak bertanggung jawab atas bayi yang dilahirkan. Tahukah kau, Ki? Jika ada yang sakit, aku tidak dapat tidur. Untung, aku punya dua sahabat yang selalu menyusukan mereka. Jika tidak, mungkin jarang yang dapat bertahan hidup...!” jelas Aradea apa adanya.

Ternyata sahabat yang dimaksudkan Aradea adalah empat ekor harimau besar yang baru saja muncul dari dalam rumah. Ki Rimbang tampak takjub, karena keempat harimau itu bersama dua anaknya begitu akrab dengan anak-anak yang sedang bermain di sekeliling Aradea.

“Jika aku dan adik-adikku tidak di rumah, keempat sahabatku ini yang menjaga keselamatan anak-anak di sini. Paman belang cukup terlatih dan mengerti beberapa jenis jurus-jurus silat!”

Ki Rimbang tampak terharu mendengar penjelasan Aradea. Pemuda itu masih sangat muda. Tetapi, punya tanggung jawab besar dalam membesarkan anak-anak malang yang ditinggalkan orangtuanya. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana jika siang tadi tidak menolong Aradea. Jika pemuda itu tewas di tangan centeng di pasar, tentu anak-anak kecil itu akan sangat menderita!

Dibandingkan urusannya di Jatibarang ini, tentu persoalan yang dihadapi Aradea cukup rumit dan sangat berbahaya. Entah, bagaimana caranya dia menghidupi anak-anak malang itu selanjutnya.

“Siapakah sebenarnya orangtua bayi anak-anak ini, Aradea?” tanya Ki Rimbang akhirnya.

“Semua ini akibat pekerjaan Dewa Sesat, Ki. Dia dan anak buahnya telah bekerja sama dengan orang dari tanah seberang, memperjual-belikan barang yang dapat meracuni pikiran gadis dan pemuda di kota ini. Sehingga, mereka kehilangan harga diri,” sahut Aradea, menjelaskan.

“Aku semakin tidak mengerti...,” desah Ki Rimbang, menggelengkan kepala.

“Sulit aku menjelaskannya padamu. Tapi, nanti akan kubawa kau ke tempat-tempat yang memalukan!”

“Maksudmu?”

“Bila malam tiba, Jatibarang berubah menjadi surga memabukkan. Banyak gadis menjajakan diri. Mereka ketagihan madat. Sehingga, apa pun dilakukan mereka. Termasuk, menjual kehormatannya pada laki-laki hidung belang!” jawab Aradea.

Ki Rimbang terkejut mendengar penjelasan Aradea. Wajahnya berubah pucat. Rasa khawatir akan sesuatu, semakin bertambah jelas. Perubahan wajah Ki Rimbang ini tentu dilihat Aradea.

“Ada apa, Ki? Kau seperti mencemaskan sesuatu?” tanya Aradea.

“Ah..., tidak...! Tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut dan tidak menyangka ulah manusia serendah itu,” sahut Ki Rimbang, gelagapan.

Sementara itu salah satu adik Aradea sudah menyediakan makanan untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian, Aradea segera mengajak Ki Rimbang makan bersama-sama. Banyak persoalan yang dibicarakan Aradea. Termasuk, mengenai pendatang dari tanah seberang yang telah bekerja sama dengan Dewa Sesat.

********************

Senja temaram jatuh di kota Jatibarang. Seorang pemuda berbaju rompi putih dengan pedang berhulu kepala burung rajawali tergantung di punggung, melangkah menekuri jalan utama kota ini. Wajahnya yang tampan diselimuti debu, pertanda baru saja melakukan perjalanan sangat jauh.

Pemuda ini selanjutnya membelok ke sebuah kedai makan. Ternyata suasana di dalam warung tidak sebagaimana yang diharapkannya. Selain para langganan, di dalamnya ternyata terdapat pula beberapa orang gadis berparas lumayan, memakai pakaian cukup merangsang. Gadis-gadis ini dengan genit menghampiri pemuda berbaju rompi putih yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

“Apakah tuan ingin memesan makanan, atau cukup ditemani saja? Bayarannya cukup murah. Dan kami bersedia dibawa ke mana saja,” kata salah seorang gadis dengan sikap genit.

Rangga tentu saja terkejut mendengar ucapan gadis itu. Tiba-tiba pandangan matanya mengedar ke segenap ruangan yang cukup luas. Di sana sini terlihat pasangan berlainan jenis sedang berbincang-bincang. Bahkan ada yang sedang berpelukan. Sadarlah Rangga kalau kedai ini selain menjual makanan, juga menyediakan perempuan-perempuan penghibur. Rasanya seumur hidup Rangga belum pernah menjumpai pemandangan seperti ini.

“Aku ingin pemilik kedai menyediakan makanan untukku!” tegas Pendekar Rajawali Sakti.

“Biasanya kami yang menyediakannya, Tuan. Lagi pula pemandangan seperti ini sudah biasa di setiap kedai yang ada,” jelas seorang gadis itu.

“Bagiku ini tidak biasa!” dengus Rangga.

“Rupanya Tuan orang baru di sini,” kata gadis yang berbaju biru.

“Tetapi, baiklah. Kalau Tuan tidak ingin dilayani, akan kupanggilkan pemilik kedai. Namun jangan lupa. Kalau membutuhkan kehangatan, kami selalu bersedia menemani!” ucapnya disertai senyum genit.

Rangga menjadi muak. Kalau tidak mengingat sudah kelaparan sejak tadi, tentu Pendekar Rajawali Sakti sudah meninggalkan kedai ini. Tidak lama, seorang laki-laki berbadan kurus dan berbaju putih menghampiri Rangga. Laki-laki berusia setengah baya ini langsung membungkukkan badannya begitu sampai di depan Rangga.

“Tuan mau pesan apa?” tanya laki-laki itu.

“Nasi, lauk-pauk, dan air putih,” ucap Rangga, menyebutkan pesanan.

“Tunggu sebentar!” ujar pemilik warung. Laki-laki itu kemudian tergesa-gesa menyediakan apa yang diinginkan Rangga.

“Silakan dinikmati, Tuan Muda,” ucap pemilik warung.

Dengan cekatan laki-laki ini meletakkan pesanan Rangga di atas meja. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti sendiri diam-diam mengawasi keadaan sekelilingnya yang dianggap kurang aman.

DUA

Rangga membayar makanan yang dipesannya, lalu bergegas keluar. Suasana di kota Jatibarang pada malam hari memang lebih ramai. Kebanyakan mereka yang berkeliaran terdiri dari laki-laki dan perempuan yang rata-rata masih sangat muda. Yang membuat Rangga tidak habis pikir, sejak berada di dalam kedai tadi hidungnya mengendus bau harum yang aneh.

Bau itu berasal dari pipa-pipa rokok, atau sesuatu yang dimakan oleh mereka secara langsung. Mungkinkah benda-benda berwarna hitam itu mengandung kekuatan yang membuat seseorang menjadi lupa siapa dirinya? Lalu, dari mana asal benda itu?

Tadi pun, Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat beberapa orang berpakaian kuning memasuki kedai. Mereka langsung disambut pemilik kedai. Sebentar mereka bicara, lalu keluar lagi. Entah, apa yang dibicarakan. Rangga sendiri tak sempat mengerahkan ilmu ‘Pembeda Gerak dan Suara’.

Semua ini menimbulkan berbagai pertanyaan yang bergayut di hatinya. Rangga kini tiba pada jalan membelok, yang menuju sebuah lorong gelap. Dengan sikap tenang tanpa meninggalkan kewaspadaan, dimasukinya lorong itu. Namun baru beberapa tombak berjalan....

Werrr...!

Tiba-tiba terdengar desir halus dari belakang. Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat melompat, seraya membalikkan tubuhnya. Tangan kanannya segera menangkis beberapa sinar putih keperakan.

Trak! Trak!

Sinar-sinar keperakan yang ternyata berupa pisau terbang langsung rontok berjatuhan di tanah. Pemuda berbaju rompi putih ini bermaksud memungut salah satu di antaranya. Namun sebelum niatnya terlaksana, tiga bayangan berkelebat ke arahnya.

“Apa maksud kalian membokongku?” tanya Rangga kalem, begitu tiga bayangan kuning mendarat di depannya.

“Kami telah mengawasi gerak-gerikmu sejak sore tadi. Sekarang, kau harus menyerahkan diri untuk dihadapkan pada ketua kami!” sahut sosok berpakaian kuning yang bertubuh jangkung.

“Aku tidak melakukan apa-apa di daerah ini. Aku tidak mengganggu kotamu, jika betul Jatibarang ini kotamu? Jadi, kau tidak punya hak untuk menahanku!” tukas Rangga, tetap tenang.

“Kau orang asing. Setiap orang asing harus kami tahan!” bentak sosok berpakaian kuning yang bertubuh paling pendek.

“O, begitu? Kalau itu kemauan kalian, silakan tahan jika mampu!” tantang Rangga.

Tantangan ini tentu membuat merah telinga ketiga sosok yang ternyata laki-laki muda berpakaian serba kuning ini. Yang berbadan jangkung tanpa banyak cakap lagi langsung menerjang Rangga.

“Uts...” Pemuda berbaju rompi putih yang memang telah bersiaga sejak tadi segera menghindari dengan menggeser tubuhnya sedikit ke kiri. Saat itu lawan meluncur deras, Rangga cepat menyampok dengan tangan kanan.

Plak!

“Uhh...!” Sambil melompat mundur, pemuda jangkung itu memekik kesakitan. Tangannya yang terhantam seperti membentur batu karang saja. Bahkan tampak bengkak membiru. Melihat kenyataan ini, tentu pemuda jangkung berbaju kuning ini tidak mau bersikap gegabah lagi. Dengan cepat pedangnya yang selalu tergantung di pinggang dicabut.

“Kau harus mati di tanganku!” dengus pemuda ini penuh kegeraman.

“Kalian terlalu memaksa, Kisanak!” Rangga mendesah lirih, menyesalkan sikap-sikap telengas dari orang-orang yang dihadapinya.

Namun ketiga laki-laki berpakaian kuning itu seperti tak mempedulikan. Bahkan pemuda yang bertubuh jangkung telah kembali melompat sambil mengayunkan pedang di bagian kepala.

“Hup!”

Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas, seraya berputaran beberapa kali. Dan mendadak tubuhnya meluncur deras dengan tangan terjulur ke arah pedang pemuda jangkung. Dua laki-laki berbaju kuning lain mengira Rangga melakukan kesalahan. Mereka menduga, tangan pemuda itu sebentar lagi terbabat putus oleh pedang lawannya. Ternyata, dugaan itu meleset sama sekali. Mendadak Rangga melakukan gerakan memutar yang sangat cepat dan sulit dilihat. Dan...

Trep!

“Lepas!” teriak Rangga, seraya menghentakkan tangannya.

Benar saja. Ketika Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di tanah, tahu-tahu pedang, pemuda jangkung telah berpindah ke tangan Rangga. Baik lawan yang berbadan jangkung maupun dua orang lainnya sama-sama terkejut.

Melihat kesempatan saat lawan lengah. Rangga tidak menyia-nyiakan waktu lagi. “Terimalah pedangmu! Heaaa...!”

Sambil berteriak menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melempar pedang ke arah pemuda jangkung. Begitu cepatnya, sehingga...

Blesss!

“Aaa...!” Pemuda jangkung itu menjerit keras begitu perutnya tertembus pedang miliknya sendiri.

Tubuhnya tersungkur tiga tombak di hadapan Pendekar Rajawali Sakti. Sementara dua orang pemuda berpakaian kuning lainnya jelas sangat terkejut melihat kematian lawannya. Selama ini, mereka adalah orang-orang yang sangat disegani di Jatibarang. Bahkan, ketua mereka sangat yakin dengan kemampuan mereka. Namun, kini sebuah kenyataan telah membuka mata mereka lebih lebar lagi.

“Heaaa...!”

Dengan serentak, kedua orang berpakaian serba kuning menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Serangan-serangan yang dilancarkan menimbulkan desir angin halus. Rangga harus mengakui, betapa kompaknya mereka dalam melakukan serangan. Bahkan....

Set! Set!

Mendadak saja enam buah sinar keperakan dari pisau terbang yang dilepaskan pemuda bertubuh gemuk dan pemuda bertubuh pendek meluncur deras menuju enam jalan kematian di tubuh Rangga.

“Hmm...!” Sambil menggumam tak jelas, Pendekar Rajawali Sakti membuat gerakan berputar. Seketika dikerahkannya jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’. Tubuhnya meliuk-liuk cepat bagai orang mabuk. Sedangkan langkah kakinya lincah bergeser.

Dan mendadak, Rangga melenting ke udara. Sehingga pisau-pisau terbang itu hanya lewat di bawah kakinya. Saat meluncur ke bawah, Pendekar Rajawali Sakti, mempergunakan jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’ dengan kaki bergerak menghantam kepala.

“Uts...!” Pemuda yang bertubuh gemuk berusaha menghindari dengan menundukkan kepala. Tetapi gerakannya kalah cepat. Maka....

Prakkk!

“Aaakh...!” Pemuda gemuk itu menjerit keras. Kepalanya remuk berdarah, dan otaknya berhamburan. Seketika dia tersungkur tanpa bangkit lagi selama-lamanya. Rangga melompat ke belakang sejauh dua tombak. Sisa lawannya yang berbadan pendek terkesiap dengan mata melotot. Seakan, dia tidak percaya dengan kejadian yang menimpa kawannya. Baru disadari sekarang kalau lawannya cukup berbahaya.

“Sadarlah, Kisanak. Tak ada gunanya bertarung, sementara kita tak punya masalah apa-apa...,” cegah Rangga, berusaha menyadarkan lawannya. Saat itu juga Rangga berbalik dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi tanpa diduga, pemuda pendek itu mengebutkan tangannya.

Wesss...!

Rangga cepat berbalik. Dia terkesiap melihat luncuran beberapa pisau terbang ke arahnya. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri dan berguling-guling menghindari, sehingga pisau-pisau itu menancap pada dinding rumah yang terdapat di belakangnya. Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Dipandanginya pemuda pendek itu dengan tatapan dingin menusuk.

“Kau terlalu telengas kalau dibiarkan!” desis Rangga dingin.

“Aku tidak mungkin kembali sebelum memenggal kepalamu!” sahut pemuda pendek tidak kalah dinginnya.

Tampaknya Rangga memang tidak punya pilihan lain lagi. Sementara, pemuda pendek itu langsung saja mencabut pedangnya. Sing! Begitu tercabut, ia langsung menebas ke dada Rangga. Tetapi dengan gesit Pendekar Rajawali Sakti merunduk. Sehingga serangan itu hanya menebas angin kosong.

Pemuda pendek berbaju kuning ini penasaran sekali melihat serangannya dapat dihindari. Maka secepat kilat tubuhnya diputar. Seketika dia menerjang kembali dengan kecepatan berlipat ganda. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi. Tiba-tiba kedua tangannya dihentakkan ke depan.

“Aji ‘Guntur Geni’! Hiyaaa..!” teriak Rangga.

Seketika angin kencang disertai hawa panas membakar menderu ke arah pemuda pendek. Tidak dapat dihindari lagi, pukulan itu menghantam telak tubuhnya.

Glarrr!

“Aaa...!” Disertai jeritan keras, tubuh pemuda pendek berpakaian kuning itu terpelanting roboh. Badannya hangus. Jiwanya melayang saat itu juga. Rangga tidak ingin berada di situ lebih lama lagi.

Tanpa menghiraukan mayat lawan-lawannya, tubuhnya segera berkelebat. Kiranya, tanpa sepengetahuan Pendekar Rajawali Sakti ada sepasang mata yang sejak tadi terus memperhatikan. Pemilik sepasang mata itu tampak terkejut, karena tidak menyangka kalau pemuda berbaju rompi putih itu mampu merobohkan lawan-lawannya.

********************

Malam pekat menyelimuti kota Jatibarang. Suara binatang malam mengalunkan tetembangan, membangkitkan gairah. Suasana yang nyaris membuat orang untuk pergi tidur, tak membuat mata beberapa penjaga bangunan bertingkat dua terpengaruh. Di sekeliling bangunan tampak terang benderang oleh begitu banyak lampu yang dipasang.

Para pengawal berjaga-jaga, sehingga tidak mungkin ada orang yang berani bertingkah. Di sebuah ruangan bangunan besar itu terdengar rintihan yang datangnya dari mulut seorang gadis. Di depan gadis ini, seorang pemuda berwajah tampan hanya memperhatikan dengan tatapan penuh gairah. Mata gadis itu sayu. Wajahnya sedikit pucat. Sedangkan kedua tangannya mendekap tubuhnya sendiri. Dia menghiba-hiba meminta sesuatu.

Namun pemuda berbaju serba kuning ini tampaknya sengaja mempermainkannya. Pipa rokoknya dihisap dalam-dalam. Lalu perlahan-lahan asapnya dihembuskan. Tak lama, tercium baru harum namun aneh.

“Kau tahu, Manisku. Surga itu letaknya di sini. Di tempat kediamanku ini. Tadi siang, aku mengajakmu melihat-lihat penjara di tempatku. Kau sudah melihat kalau mereka semuanya perempuan. Mereka menjadi sangat tergantung padaku. Sehingga, mereka tidak menolak bila kuperintahkan apa saja. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan demi mendapatkan barang surga. Barang itu hanya aku yang punya. Kalau aku menyuruh mereka menjual diri, gadis-gadis dalam kurungan itu tidak akan menolak. Bahkan dengan senang hati melakukannya. Sudah dua minggu kau berada di sini. Dan baru hari ini kau menunjukkan tanda-tanda menurut!” kata pemuda tampan sambil tersenyum licik.

“Tolonglah aku.... Sekarang aku mengaku takluk padamu. Berikan makanan surga itu padaku,” rintih gadis itu, lirih dan bergetar.

“Ha ha ha...! Tidak percuma kawanku membawamu jauh-jauh dari Padepokan Welut Perak, Arum Kenanga. Wajahmu cantik. Pinggulmu bagus. Dan sekarang, untuk memperoleh makanan surga, sebaiknya kau ikuti aku!” ujar pemuda berpakaian kuning.

Tanpa ada pilihan lain lagi, gadis bernama Arum Kenanga yang sebelumnya dipaksa memakan candu hingga membuatnya ketagihan ini terpaksa mengikuti. Mereka menuju ke sebuah kamar. Setelah kedua-duanya masuk ke dalam, pemuda tampan itu menutup pintu kembali.

“Mana barang itu?” tuntut Arum Kenanga, yang ternyata dari Padepokan Welut Perak.

“Aku akan memberikannya padamu. Tentu sebelumnya, kau harus mengikuti apa yang aku mau, Arum Kenanga!” tegas pemuda tampan itu. Segera diambilnya kotak berwarna hitam, kemudian diletakkannya di atas meja.

“Apa yang kau butuhkan ada di dalam kotak ini, Manis,” jelas pemuda itu.

“Kumohon berikan padaku!” pinta Arum Kenanga. Tubuh gadis ini tampak menggigil. Tampak jelas kalau dia begitu ketagihan.

“Tuntutanmu akan kuberikan, murid Padepokan Welut Perak. Sekarang, buka pakaianmu!” perintah pemuda itu.

“Buka pakaian? Siapa kau ini sebenarnya?” tanya gadis itu seperti orang linglung.

“Ha ha ha...! Aku adalah Dewa Sesat. Aku suka menolong siapa saja yang menderita. Aku menciptakan surga untuk mereka. Sekarang, kalau mau mendapatkan makanan surga, kau harus membuka pakaianmu!” tegas pemuda yang menjuluki diri Dewa Sesat disertai senyum.

Dalam keadaan setengah sadar karena ketagihan candu, gadis ini hanya mengikuti perintah pemuda tampan berjuluk Dewa Sesat. Mulai kancing-kancing bajunya dibuka. Pemuda berbaju kuning memperhatikan dengan mata terpentang lebar. Sudah puluhan gadis yang menyerahkan kehormatannya pada pemuda ini. Tetapi di matanya, Arum Kenanga tampak lain. Tubuhnya yang terlatih berbagai ilmu silat, tampak padat dan menantang.

“Kuperintahkan padamu untuk membuka pakaian semuanya! Jangan satu pun yang tersisa!” tegas Dewa Sesat lagi sambil menelan ludahnya sendiri, membasahi kerongkongan yang mendadak kering. Jakunnya turun naik.

“Tetapi...!” Arum Kenanga tersipu-sipu.

“Lupakan rasa malu. Karena sekarang ini, kau bersama Dewa Sesat. Aku dapat memberikan apa saja padamu!”

Arum Kenanga dalam keadaan setengah sadar segera menanggalkan pakaian terakhir yang menutupi dada. Saat itu juga, pemuda tampan berbaju kuning ini dengan leluasa segera memeluk tubuhnya. Ciuman bertubi-tubi membangkitkan birahi menjalar dari leher hingga ke puncak dua buah bukit kembar. Tangan yang kokoh bergerak liar, menjamah apa saja yang dimiliki gadis ini. Sampai akhirnya, Dewa Sesat membopong Arum Kenanga yang dalam keadaan polos ke atas ranjang. Selanjutnya, hanya seekor cicak yang menjadi saksi tingkah laku dua anak manusia berlainan jenis itu.

********************

Dua ekor kuda berlari kencang menuju kota Jatibarang. Penunggangnya adalah dua pemuda bermata sipit. Di punggung mereka masing-masing tersampir sebuah pedang. Melihat wajahnya, pasti mereka ini dari negeri seberang. Sementara itu semakin mendekati kota Jatibarang, lari kuda-kuda bertambah cepat laksana terbang. Padahal, selain penunggangnya, masih ada beban lain yang membebani punggung kuda itu.

“Sebentar lagi kita sudah sampai tujuan, Tai Lee. Aku sudah rindu dengan gadis-gadis timur yang hangat dan memabukan,” kata salah seorang pemuda bermata sipit dengan logat Thai.

“Kau tidak sudah takut, Saudara Tai Ceng. Semua kesukaanmu ada di rumah Durudana juragan kita. Dia pasti menyediakan semua keperluan kita. Kau tahu, mengapa dia memperlakukan kita seperti anak emas?” tanya pemuda sipit yang bernama Tia Lee.

“Tentu karena bagi dia, kita tidak beda dengan ladang emas,” sahut pemuda yang dipanggil Tai Ceng.

“Betul! Kita yang membawa makanan surga kepadanya. Karena kita, dia menjadi kaya. Wajar saja bila Durudana menyediakan semua yang kita minta,” tandas Tai Lee bangga.

“Negeri yang subur ini memang ladang yang cocok untuk dagangan kita. Dua tahun lagi, jika usaha kita tidak ada hambatan, tentu sudah dapat membangun sebuah kerajaan di Thai,” sambung Tai Ceng berangan-angan.

“Keamanan tidak perlu dirisaukan. Juragan Durudana pasti dapat mengatasi masalah yang sepele ini,” tegas Tia Lee meyakinkan.

Begitu asyiknya mereka bicara, tanpa terasa telah sampai di tempat kediaman sebuah rumah paling besar di kota Jatibarang. Beberapa orang tukang pukul yang sudah mengenal mereka langsung menyambut. Salah satu di antaranya segera menambatkan kuda. Sedangkan dua orang lagi langsung mengangkat barang bawaan.

“Cepat bawa masuk barang-barang itu. Oh,ya.... Apakah ketua kalian ada?” tanya Tai Ceng pada salah satu tukang pukul yang mengantarkan.

“Kebetulan sekali ketua ada. Silakan menunggu. Hamba akan menghubunginya!”

“Cepatlah! Jangan biarkan kami menunggu terlalu lama!” perintah Tai Lee tidak sabar.

Tukang pukul berbadan tegap itu bergegas menuju ke sebuah ruangan lain. Tubuhnya seketika menghilang dari pandangan. Tidak sampai sepemakan sirih, laki-laki berseragam kuning ini telah kembali lagi disertai seorang pemuda tampan berambut panjang sepinggang. Melihat kedua laki-laki bermata sipit ini, pemuda yang tak lain Dewa Sesat mengembangkan tangannya.

“Selamat datang kembali ke negeri kami, Saudaraku. Kalian tentu kelelahan. Sebaiknya istirahat saja dulu!” sambut Dewa Sesat.

“Kelelahan kami tentu segera hilang bila kau menyediakan bunga yang baru mekar dan wangi untuk kami, Durudana!” sahut Tai Lee sambil melirik pada kawannya.

“Mengenai masalah itu sudah tersedia. Yang penting, kalian datang dengan bekal surga,” sahut Dewa Sesat yang bernama asli Durudana.

“Beres. Semuanya beres! Jual beli adalah tujuan utama kami!” tegas Tai Ceng.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera dibawa menuju ke kamar-kamar yang telah disediakan. Pada setiap kamar, telah menunggu gadis-gadis cantik seperti yang diinginkan.

********************

TIGA

Ki Rimbang, di siang yang terik itu secara diam-diam meninggalkan tempat kediaman Aradea. Sekarang paling tidak mulai dimengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi di Jatibarang. Penduduk setempat sudah ketagihan madat. Sekarang, laki-laki tua Ketua Padepokan Welut Perak hanya tinggal mencari siapa yang bertanggung jawab mengedarkan barang terkutuk itu.

Sekaligus juga ingin mencari jejak beberapa orang muridnya yang telah hilang beberapa bulan lalu. Laki-laki tua berpakaian serba merah ini memang sengaja tidak ingin melibatkan Aradea. Sebab, pemuda itu sudah cukup dibuat repot mengurus lima puluh anak-anak telantar. Anak-anak telantar itu memang hasil hubungan gelap, akibat ibunya memerlukan madat yang memabukkan.

Sekarang Ki Rimbang mulai dapat mengambil keputusan. Apa yang harus dilakukannya adalah menghancurkan orang yang mengedarkan barang-barang tersebut. Namun menurut Aradea, mereka terlalu kuat. Selain itu, mereka mempunyai mata-mata yang tersebar di seluruh Jatibarang. Jadi mustahil setiap geriknya tidak diketahui orang yang dicarinya. Aradea sendiri hingga sampai saat ini, belum mampu membalas kematian orangtuanya.

Padahal menurut kabar yang bisa dipercaya, manusia yang berjuluk Dewa Sesat itulah yang telah membunuh kedua orangtuanya. Ini merupakan pertanda kalau musuh-musuh yang dihadapi terlalu kuat.

“Mungkinkah Arum Kenanga, Prabu Sari, dan Ratna Gumilar juga telah berada di tangan musuh Aradea?” gumam Ki Rimbang.

Ki Rimbang tidak sanggup membayangkan kejadian yang menimpa ketiga muridnya bila benar-benar telah terjatuh di tangan Dewa Sesat. Namun dia berdoa semoga hal seperti itu tak pernah terjadi.

Lebih kurang sepenanakan nasi melakukan perjalanan, akhirnya Ki Rimbang tiba di depan sebuah bangunan mirip sebuah tempat ibadah. Laki-laki tua ini dapat memastikan bahwa tempat itu bukan tempat yang ditujunya. Dan, perjalanannya pun dilanjutkan. Akan tetapi baru saja beberapa langkah Ki Rimbang melewati bangunan beratap genteng itu, terdengar suara tangis dari dalamnya.

Laki-laki tua ini jadi bertanya dalam hati, bagaimana di tempat ibadah ada orang yang menangis? Merasa penasaran, maka dimasukinya halaman rumah ibadah ini. Namun baru saja melangkah beberapa tindak tiba di halaman.

“Berhenti...!” Ki Rimbang tersentak, begitu mendengar bentakan keras. Kepalanya langsung menoleh ke arah datangnya suara. Tampak dua orang laki-laki berbaju biru tengah mendekatinya. Melihat penampilannya, jelas kedua laki-laki ini bukan pendeta.

“Berani-beraninya kau memasuki daerah ini, Orang Tua?! Tidak tahukah kau kalau ini adalah daerah terlarang, terkecuali bagi orang-orang yang hendak beribadah?” tegur orang berbaju biru yang berbadan tegap.

“Jika aku ingin ibadah, apakah boleh masuk ke dalamnya?” pancing Ki Rimbang.

“Kalau memang itu maumu, tentu bukan alasan. Pendeta akan senang sekali menerima kehadiranmu,” sahut laki-laki berbaju biru yang satu lagi.

“Sebenarnya aku punya keperluan penting di suatu tempat. Mungkin lain kali aku akan singgah di tempat ibadah itu?” jawab, Ki Rimbang.

Jawaban Ki Rimbang jelas membuat curiga kedua laki-laki berbaju biru. Salah seorang segera memberi isyarat.

“Aku tahu, kau pasti sedang melakukan penyelidikan! Tindak tandukmu membuat kami curiga. Untuk itu, kau tidak mungkin dibiarkan pergi begitu saja!” tuding laki-laki yang berbadan tegap.

“Enak saja kau bicara! Persoalannya tidak sederhana yang kalian bayangkan!” dengus Ki Rimbang.

“Banyak mulut! Heaaa...!” teriak laki-laki berbaju biru yang berdiri di samping kanan.

Tanpa mendapat aba-aba lagi, keduanya segera menerjang Ki Rimbang, dengan tinju masing-masing ke arah wajah dan perutnya. Ki Rimbang mengegos ke kiri, sehingga kedua serangan itu luput. Kedua laki-laki berbaju biru kembali berputar. Selanjutnya disertai teriakan keras, mereka menghentakkan kedua tangan.

Ser! Ser!

Saat itu juga meluncur senjata yang menyerupai clurit namun dihubungkan dengan tali. Sehingga ketika clurit itu meluncur dapat ditarik kembali sesuai keinginan pemiliknya.

Wuk! Wuk!

Ki Rimbang terpaksa berjumpalitan untuk menghindari sambaran clurit bertali. Tetapi serangan-serangan itu semakin lama semakin bertambah gencar. Sambil terus menghindari sesekali laki-laki tua berbaju merah ini melepaskan serangan balasan. Bahkan kini jurus-jurus silatnya segera dirubah. Dikerahkannya jurus ‘Welut Cadas Putih’ yang merupakan salah satu jurus andalan dari Padepokan Welut Perak.

“Hiyaaa...!” Ki Rimbang melakukan serangkaian gerak yang sungguh mengagumkan pada saat dua senjata clurit bertali menyambar deras ke arah tubuhnya. Sejengkal lagi kedua senjata itu mencapai sasaran, tubuhnya kembali meliuk-liuk sambil menggeser langkah ke samping.

Wuuus!

“Heh...?!” Kedua laki-laki berbaju biru ini terkejut saat senjata clurit bertali tidak mengenai sasaran. Padahal, mereka telah mempergunakan jurus ampuh. Malah kini sebaliknya, Ki Rimbang melakukan serangan balasan yang tidak kalah berbahaya. Kedua tangannya tiba-tiba mengepal. Kakinya membentuk kuda-kuda kokoh. Seketika kedua tangannya dihentakkan ke arah lawan-lawannya.

Wuuut!

Segulung udara panas disertai angin dingin menusuk langsung meluruk dari hentakan kedua tangan Ki Rimbang. Namun, kedua laki-laki berbaju serba biru itu segera memutar senjata clurit bertali untuk melindungi diri. Sehingga, membentuk gulungan angin yang membentengi. Tapi akibatnya....

Blar! Blanr!

“Hugkh...!”

Benturan keras tak dapat dihindari lagi. Tampak kedua laki-laki berbaju biru terpental jauh. Ketika terbanting di tanah, dari sudut-sudut bibir masing-masing meneteskan darah kental.

Sementara Ki Rimbang berdiri tegak di tempatnya. Didekatinya kedua laki-laki berbaju biru yang tengah terluka dalam. “Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian menyerangku?! Untuk siapa kalian bekerja?! Untuk Dewa Sesat, atau untuk pendeta?!” cecar Ki Rimbang.

“Huh...! Kami lebih baik bertarung denganmu sampai mati daripada harus menjawab pertanyaanmu!” dengus salah seorang. Dengan tertatih-tatih mereka bangkit berdiri, dan kembali dalam keadaan siap menyerang.

“Kuhargai kesetiaan kalian pada majikan. Tetapi keputusan yang diambil, hanya mempercepat kematian kalian sendiri!” geram Ki Rimbang.

Tanpa menghiraukan ucapan orang tua berbaju serba merah ini, kedua laki-laki berbaju biru itu langsung memutar clurit bertali kembali. Seketika, terdengar suara mendesing menyakitkan gendang telinga. Kedua mata clurit itu langsung meluruk ke arah Ki Rimbang.

Set! Set!

“Hup!” Namun kakek berjenggot putih ini langsung berjumpalitan menghindar. Tapi....

Rrrttt...!

Salah satu clurit bertali lawan sempat membelit kaki Ki Rimbang. Ketika senjata itu disentakkan, Ki Rimbang tanpa dapat menahan lagi. Tubuhnya langsung jatuh terguling-guling. Namun dengan gesit dia cepat membebaskan kakinya yang terbelit tali. Pada waktu yang bersamaan, clurit bertali yang satunya lagi menderu ke arah dada.

“Uts...!”

Crap!

Ki Rimbang cepat menghindar dengan menggulingkan tubuhnya ke samping. Sehingga ujung clurit itu hanya menghantam bagian bawah sebuah pohon, hingga menancap dalam. Sementara itu Ki Rimbang sudah berhasil membebaskan diri dari belitan tali yang dihubungkan dengan clurit. Secepat kilat dia bangkit berdiri. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi, tubuhnya meluruk deras dengan tangan terjulur ke arah laki-laki berbaju biru yang tengah membebaskan senjatanya setelah menancap di pohon. Begitu cepat luncuran tubuhnya, sehingga....

Desss...!

“Aaa...!” Disertai jerit kesakitan, sosok berbaju biru itu jatuh terpelanting tanpa bisa menghindari lagi. Dadanya remuk. Nyawanya lepas saat itu juga. Melihat kawannya tewas secara mengenaskan, yang satunya lagi jadi lumer semangatnya. Maka tanpa membuang waktu lagi tubuhnya berbalik. Seketika dia lari terbirit-birit meninggalkan Ki Rimbang.

“Kau telah berani membuat urusan besar dengan Laskar Malam, Orang Tua! Kelak kau akan berurusan dengan Dewa Sesat...!”

Terdengar suara bernada mengancam dari mulut laki-laki tadi. Dan suara tersebut kemudian lenyap. Sedangkan Ki Rimbang tanpa membuang-buang waktu lagi segera melanjutkan langkahnya menuju tempat peribadatan tadi. Sesampainya di dalamnya, suasana dalam keadaan sepi. Tidak ada siapa-siapa di situ, kecuali deretan bangku yang memanjang.

“Mungkinkah mereka pergi saat aku sibuk bertarung tadi? Seharusnya aku melihat mereka keluar,” pikir Ki Rimbang. “Tempat ibadah apa ini namanya? Mengapa harus ada tangis di sini? Dan suara yang sempat kudengar tadi, pasti suara perempuan!”

Beberapa saat Ki Rimbang tampak berdiri mematung. Dan tiba-tiba pandangannya yang tajam menangkap suara bergemerisik di luar. Laksana kilat, Ki Rimbang berkelebat ke luar. Yang dituju, langsung ke samping luar bangunan. Begitu tiba, laki-laki tua ini melihat seorang pemuda berbaju rompi putih tengah berdiri di tempat itu. Di punggungnya tergantung sebilah pedang berhulu kepala burung rajawali.

Matanya kontan terbelalak, Ki Rimbang seakan tidak percaya dengan yang dilihat Kalau tak salah, Ki Rimbang pernah melihat pemuda dengan ciri-ciri seperti yang dilihatnya sekarang ini. Bahkan sepak terjang pemuda itu pernah didengarnya. Untuk itu beberapa saat dia hanya terpana tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun!

“Eh...? Kau.... Bukankah kau pendekar yang sangat terkenal itu?” desis Ki Rimbang, sambil menunjuk pemuda yang berada dua tombak di depannya.

“Namaku Rangga, Ki!” sambar pemuda berbaju rompi putih yang memang Pendekar Rajawali Sakti, disertai senyum. “Mengapa kelihatan seperti orang bingung? Ada apa, Ki?”

“Jawab dulu pertanyaanku. Benarkah kau yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti?” desak Ki Rimbang penasaran.

“Itu hanya julukan kosong, Ki. Ada apa rupanya? Kulihat tadi kau berkelahi dengan dua laki-laki berbaju biru? Apakah kau bermusuhan dengan mereka?” tanya Rangga ingin tahu dengan sikap ramah.

“Sebenarnya tidak,” bantah Ki Rimbang. “Mungkin mereka hanya salah paham.” Laki-laki tua ini kemudian menceritakan segala sesuatu yang dialami. Sementara Pendekar Rajawali Sakti mendengarkannya dengan seksama. “Begitulah duduk persoalan yang sebenarnya, Rangga. Tetapi seperti yang kulihat baru saja, aku tidak melihat apa-apa di dalam tempat peribadatan ini,” desah Ki Rimbang kecewa.

“Aku belum lama berada di sini. Sejak tadi, aku tidak melihat dan mendengar suara apa-apa. Kecuali, perkelahianmu!”

“Mungkinkah aku salah dengar? Tapi, rasanya mustahil. Kupingku ini dua-duanya masih bagus, walaupun usiaku sudah tua.”

“Sudahlah.... Masalah itu bisa diselidiki nanti. Sekarang, bagaimana murid-muridmu bisa hilang begitu saja?” tanya Rangga.

“Aku kurang tahu. Menurut murid yang lain, ketiga muridku itu bertemu seorang pemuda tampan berambut panjang. Kurasa, di Jatibarang inilah tempat tinggal pemuda itu,” jelas Ki Rimbang sambil mendengus kesal.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan para pemadat itu, Ki. Kita harus memulainya dari bawah kalau memang ingin membekuk juragannya penyebar malapetaka!” tegas Rangga, penuh semangat.

“Maksudmu?” tanya Ki Rimbang tidak mengerti.

“Kita buat kekacauan pada kedai-kedai pengedarnya. Kalau ini dilakukan, aku yakin orang yang kita cari-cari dapat ditemukan.”

Gagasan yang diajukan Rangga memang masuk akal. Maka Ki Rimbang langsung menyetujuinya.
********************

Kehidupan warung remang-remang setiap malam memang terasa marak di kota Jatibarang. Para lelaki hidung belang, gadis-gadis berbedak tebal, bukan pemandangan baru lagi. Mereka bebas berbuat apa saja, tanpa batas-batas kesusilaan. Bagi si perempuan yang terpenting dibayar. Tidak heran bila anak dari hasil hubungan gelap hampir setiap pagi ditemukan di pinggir jalan.

Sementara, kehidupan rakyat dan umumnya semakin memprihatinkan. Banyak pemuda yang telah kecanduan madat menjadi malas bekerja. Tidak heran jika pencurian dan perampokan merajalela di mana-mana. Sedangkan kegiatan tuna susila terus berlangsung demi mendapatkan madat itu.

Malam ini Rangga dan Ki Rimbang memasuki sebuah kedai remang-remang. Tidak sebagaimana biasanya, sekarang pada setiap kedai terdapat paling sedikit dua orang penjaga berpakaian serba kuning. Mereka langsung berbisik-bisik sambil memperhatikan ke arah Ki Rimbang dan Pendekar Rajawali Sakti.

Ketika Rangga dan Ki Rimbang masuk ke dalam kedai, beberapa orang gadis berpakaian merangsang langsung datang menghampiri. Bibir-bibir yang kemerahan itu mengembangkan senyum memikat, bercampur kemaksiatan.

“Apa yang ingin kau pesan, Rangga? Makanan atau perempuan?” tanya Ki Rimbang, setengah bercanda.

“Aku paling tidak suka perempuan yang mengumbar dada dan paha. Lebih baik kita pesan makanan enak. Setelah itu, kita lakukan apa yang seharusnya dikerjakan!” saran Pendekar Rajawali Sakti.

Ki Rimbang mengangguk setuju. Dia berjalan menghampiri pelayan. Sementara gadis-gadis yang mengobral senyum tadi sekarang sudah mengerubuti Rangga. Di antaranya, bahkan ada yang berani memeluk pemuda berbaju rompi putih ini. Sehingga dadanya yang membusung indah, menekan ketat punggung Pendekar Rajawali Sakti. Berdesir darah Rangga seketika. Tetapi, itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Setelah mengosongkan pikiran, segera ditolaknya perempuan itu secara halus.

“Mengapa tuan malu-malu? Kami tidak minta dibayar mahal. Cukup untuk membeli makanan surga saja,” tukas salah seorang dari keempat perempuan, mengajukan tawaran.

“Maaf, Nisanak semua. Pergilah kalian dari hadapanku,” ujar Rangga halus. “Saat ini aku tidak mau diganggu siapa pun!”

“Tetapi...!”

“Diam dan pergi dari hadapanku!” bentak Rangga, yang memang sengaja untuk mengundang perkelahian.

Benar saja. Suara teriakan Pendekar Rajawali Sakti mengundang perhatian semua orang yang berada di dalam kedai. Empat wanita di dekat Rangga kontan terbirit-birit. Bahkan dua penjaga keamanan segera menghampiri dan langsung mencengkeram Rangga. Dia seketika bermaksud membanting. Tetapi pemuda berbaju rompi putih ini mendadak menangkap tangannya, dan memelintirnya ke belakang.

Trak!

“Aaa...!” Laki-laki berbaju kuning ini terhuyung-huyung sambil memegangi tangan kirinya yang patah ketika Pendekar Rajawali Sakti melepaskannya. Melihat kawannya dapat dicederai, yang satunya lagi langsung mencabut pedang.

“O..., jadi ini pengacau busuk yang cari penyakit dengan membuat kerusuhan? Heaaa...!” teriak laki-laki itu, menggetarkan.

Pedang di tangan penjaga keamanan itu menderu menghantam kepala Rangga. Tetapi, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti mengegos, sehingga pedang itu hanya menebas meja hingga hancur berantakan.

Suasana di dalam kedai yang semula diwarnai tawa dan canda perempuan, sekarang berganti jerit ketakutan. Para gadis penghibur segera berlarian keluar. Sedangkan yang laki-laki tetap bertahan menyaksikan semua yang terjadi. Sementara itu kedua penjaga tadi telah kembali menyerang Rangga silih berganti.

Sedang Ki Rimbang yang tidak ingin melihat keroyokan itu langsung menerjang salah seorang. Kedua penjaga itu tentu bukan lawan yang seimbang bagi Rangga maupun Ki Rimbang. Hanya dalam waktu singkat keduanya dapat dilumpuhkan. Rangga dan Ki Rimbang segera cepat bergerak. Mereka keluar dari kedai tersebut. Tetapi para pelanggan tidak membiarkan begitu saja. Serentak, mereka melakukan pengejaran.

“Kalian telah merusak rumah surga. Tinggalkan kepala kalian jika pergi dari sini!” teriak para pelanggan, serentak.

“Lebih baik kita bakar saja kedai itu, Rangga!” teriak Ki Rimbang.

Laki-laki tua ini segera mengambil salah satu pelita yang terdapat di dinding. Dengan cepat, pelita minyak ini dilemparkan, sehingga menimbulkan kobaran api yang cepat menjalar ke mana-mana.

Pendekar Rajawali Sakti tidak sempat mencegah tindakan Ki Rimbang karena tengah sibuk menghadapi serangan pelanggan kedai yang cukup banyak. Tetapi rata-rata orang-orang itu hanya mengandalkan tenaga kasar yang tak mengetahui ilmu olah kanuragan sama sekali. Sehingga, Rangga dengan mudah dapat menjatuhkan tanpa bermaksud membunuh.

“Hiyaa...!” Salah seorang pelanggan dengan nekat menghantamkan potongan kayu ke kepala Rangga.

“Uts...!” Pendekar Rajawali Sakti sempat merasakan adanya desiran halus di belakang, maka laksana kilat tubuhnya meliuk sambil membungkuk serendah mungkin. Dan tiba-tiba tubuhnya bergerak berputar. Sedangkan tangannya cepat terjulur.

Trep! Buk!

“Huaagkh!”

Dengan cepat, Rangga menghantamkan perut orang itu dengan tenaga kasar, hingga jatuh pingsan. Melihat hal ini beberapa orang pelanggan lain langsung bergerak mundur.

“Buat siapa saja yang ingin selamat dan sayang pada masa depan keluarga, jangan sekali-kali lagi datang ke setiap kedai yang ada! Kalian telah menjadi budak. Dan kalian telah dirugikan segala-galanya. Berhentilah dari kebiasaan yang sangat buruk ini!” seru Rangga.

Wajah-wajah kuyu dengan tatapan mata kuyu tanpa gairah hidup ini tampak bergerak mundur, meninggalkan Rangga dan Ki Rimbang yang terus mengawasi.

********************

EMPAT

Sejak saat itu, hampir setiap malam terjadi pembakaran pada kedai-kedai yang ada di kota Jatibarang. Maka tidak sampai sepekan, hampir semua kedai yang terdapat di kota Jatibarang telah berubah menjadi arang.

Beberapa anggota Laskar Malam yang bertugas menjaga keamanan setiap kedai juga binasa di tangan Rangga dan Ki Rimbang. Bahkan tidak segan-segan Aradea yang juga menyimpan dendam kesumat pada Dewa Sesat, ikut membantu.

Kejadian ini tentu membuat Durudana geram bukan main. Bagaimanapun, dialah yang selama ini melindungi kegiatan jual beli madat. Dan, dia pula orang yang bertanggung jawab mengirimkan barang-barang terkutuk itu pada setiap kedainya. Pekerjaan ini berlangsung lancar selama bertahun-tahun, tanpa gangguan apa pun.

Tetapi kini usahanya terancam musnah. Semua itu karena ulah Ki Rimbang dan Pendekar Rajawali Sakti. Apa pun yang akan terjadi, Durudana yang berjuluk Dewa Sesat bertekad menangkap kedua pengacau ini hidup atau mati. Untuk melaksanakan semua itu, segera dilakukannya pertemuan dengan jago-jago bayarannya.

Siang ini, tempat kediaman Dewa Sesat tampak dijaga ketat beberapa pengawal. Di dalam sebuah ruangan sangat luas, Durudana berjalan mondar mandir dengan sikap gelisah. Di kursi jati, tampak hadir pula dua orang asing yang tidak lain sekutu Durudana, yaitu Tai Lee dan Tai Ceng. Selain kedua pendatang ini, masih ada lagi salah seorang tangan kanan Dewa Sesat yang kerap dipanggil dengan nama Pati Kama.

“Kita semua tidak dapat berpangku tangan,” kata Durudana, memulai. “Pembakaran-pembakaran kedai membuat kita mengalami kerugian cukup besar. Aku mau, kedua pengacau itu ditangkap hidup atau mati secepatnya!”

“Menurut anak buahku, kedua orang itu cukup cerdik selain memiliki kepandaian sangat tinggi!” lapor Pati Kama.

“Bagaimana menurut kalian, Saudara-saudaraku?” tanya Dewa Sesat pada kedua laki-laki asing bermata sipit.

“Menurut kami, siapa pun yang merusak usaha kita, maka hukuman yang paling ringan adalah penggal kepala!” sahut Tai Lee mantap.

“Aku sependapat,” timpal Dewa Sesat disertai tawa. Selanjutnya tatapannya beralih pada Pati Karna. “Apakah kau sanggup melakukanya, Pati Karna?”

“Aku bersedia melakukan apa saja demi membantu Ketua,” jawab Pati Kama, mantap.

“Kami berdua juga tidak dapat tinggal diam, Sahabatku. Kesulitanmu, adalah kesulitan kami juga. Untuk itu, kami berjanji akan membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi!” tandas Tai Lee.

Pernyataan kedua orang itu tentu sangat melegakan hati Dewa Sesat. Dia tidak mungkin membiarkan usahanya dihancurkan orang lain. Apalagi mengingat orang yang melakukan kekacauan adalah pendatang dari luar yang tidak dikenal sama sekali.

“Sebaiknya aku berangkat sekarang, Ketua. Aku sangat bernafsu sekali membawa kepala kedua pengacau itu ke hadapan Ketua!” tegas Pati Karna.

“Silakan! Kuharap kau tidak mengecewakanku, Pati Karna,” sambut Dewa Sesat sambil tersenyum.

Pati Kama segera meninggalkan ruangan ini. Sementara Tai Lee dan Tai Ceng juga ikut mohon diri. Kini tinggallah Durudana termangu-mangu seorang diri. Sejak terjadi peristiwa pembakara terhadap kedai-kedai yang dibangunnya, pikiran Dewa Sesat memang sudah tidak tenang lagi.

“Hmm.... Sebaiknya aku sekarang ke tempat peribadatan, mengunjungi Pendeta Rabangsa...,” putus Durudana, pada akhirnya.

********************

“Ah..., Sahabatku! Ada keperluan apa malam-malam begini datang kemari? Silakan masuk!”

Seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba hitam ini mempersilakan Durudana masuk. Bergegas dia masuk ke dalam kamarnya, dan tidak lama keluar lagi dengan membawa sebuah pelita yang tidak begitu terang cahayanya.

“Tidak biasanya rumah dalam keadaan gelap seperti ini, Pendeta Rabangsa?” tanya Durudana bernada menyelidik.

Laki-laki berkulit hitam yang juga terbungkus pakaian serba hitam ini tertawa. Sehingga dalam kegelapan ruangan ini yang kelihatan hanya giginya saja.

“Kukira kau sudah mendengar apa yang terjadi akhir-akhir ini, Durudana. Dua orangku tewas di depan mataku. Dan kami bisa saja terbunuh, jika tidak ada ruangan di bawah tempat peribadatanku!” jelas laki-laki berpakaian serba hitam yang dipanggil Pendeta Rabangsa.

“Kedatanganku kemari juga sehubungan dengan itu, Pendeta Rabargsa. Usahaku di kota telah porak-poranda. Kau adalah sahabat dekat yang membantu melancarkan usahaku. Apa pandanganmu tentang kejadian ini?” tanya Dewa Sesat.

“Jika kau rugi, aku juga menderita kerugian. Semua pemadat itu mau menikmati makan surga, karena aku, bukan? Tetapi jika usahamu dihancurkan, maka usahaku dalam membantumu hanya akan sia-sia. Sebagai orang yang dihormati di mata penduduk, tentu aku tidak dapat campur tangan atau membantumu secara terang-terangan,” jelas Pendeta Rabangsa.

“Lalu...?”

“Aku tetap membantumu, selama kerjasama ini masih menguntungkan kedua belah pihak,” tegas laki-laki setengah baya ini.

Dewa Sesat mengangguk setuju. Bagaimanapun dia cukup lama menjalin kerjasama dengan pendeta ini. Dia tahu kecerdikannya, dan tahu pula akal liciknya.

“Apakah Pendeta merasa tidak untung selama ini?” tanya Durudana.

Pendeta berumur sekitar lima puluh tahun itu tersenyum. “Jika tidak untung, mana mungkin aku mau bekerja sama? Sebagaimana yang kau ketahui, aku adalah pendeta. Aku pribadi, sebenarnya ingin membekuk laki-laki berbaju merah yang telah membunuh kedua penjagaku. Tampaknya, dia bekerja sama dengan pemuda berbaju rompi putih. Tapi aku terjun secara terang-terangan, aku tidak ingin orang mengatakan bahwa aku membantu pihak yang salah!”

“Aku tahu, kau hanya pendeta gadungan. Lalu, mengapa kau takut? Bukankah aku selalu berdiri di belakangmu, Surokolo?” desis Durudana, langsung menyebut nama asli laki-laki setengah baya itu.

“Aku tahu. Kau tahu sejarah hidupku, Bocah! Aku adalah manusia sesat. Tetapi, aku telah menanamkan budi yang tidak sedikit padamu. Ingat..! Dulu, aku terpaksa membunuh Pendeta Rabangsa yang sebenarnya, untuk menggantikan kedudukannya sebagai pendeta. Kurasa, semua orang di Jatibarang ini tidak ada yang tahu, selain aku. Lalu, sekarang haruskah aku secara terang-terangan menghancurkan kedua manusia yang telah menghancurkan usahamu itu?” tanya Pendeta Rabangsa yang ternyata gadungan.

“Hm.... Kau mempunyai beberapa orang anak buah. Jika kau menanggalkan topeng Pendeta Rabangsa, tentu wajahmu yang sebenarnya tidak ada yang mengenali. Surokolo...! Tidak seorang pun yang menyangka kalau kau adalah Pendeta Rabangsa gadungan!” tandas Dewa Sesat.

“Lalu apa yang kau inginkan, Durudana?” tanya Pendeta Rabangsa gadungan alias Surokolo.

“Sebagaimana hari-hari yang lalu, aku ingin kita bekerja sama untuk membekuk kedua pengacau itu!” tegas Dewa Sesat.

“Kalau itu yang kau inginkan, aku akan mempertimbangkannya!” sahut Surokolo.

“Jangan banyak pertimbangan! Keadaan sekarang ini sudah sangat mendesak. Kau harus memberikan jawaban sekarang juga!” tegas Dewa Sesat.

“Baiklah. Mengingat kerjasama yang baik selama ini, besok aku akan membawa orang-orangku. Aku tahu, ke mana harus mencari mereka. Dia pasti membantu kedua pengacau itu,” kata Pendeta Rabangsa gadungan.

“Dia siapa?” tanya Dewa Sesat, tidak mengerti.

“Raja Copet. Namanya Aradea. Selama ini, pemuda itu terkenal sebagai pemuda yang suka memungut bayi-bayi telantar di jalanan!”

“Kalau dia terlibat dalam masalah ini, sebaiknya singkirkan saja dia!” perintah Dewa Sesat.

“Serahkan urusan ini padaku!” sahut pendeta gadungan ini disertai senyum licik.

Sementara di luar sepengetahuan Dewa Sesat dan Pendeta Rabangsa gadungan, di balik tembok rumah ada sesosok tubuh yang terus mencuri dengar pembicaraan. Memang sejak Durudana datang ke tempat ini, sosok itu telah mengikutinya sejak tadi. Orang ini sangat geram mendengar pengakuan Pendeta Rabangsa. Sama sekali tidak disangka kalau pendeta yang sesungguhnya telah terbunuh! Berarti kedua orang berbaju biru yang menyerang Ki Rimbang tidak lain anak buah Surokolo ini!

“Apakah kau tidak melihat Rangga, Ningsih?” tanya Aradea pada salah seorang adiknya.

“Sore tadi, katanya dia mau ke kota melihat keadaan,” sahut Ningsih.

“Kalau begitu, kami harus jalan sendiri bersama Ki Rimbang dan Paman Belang!” desah Aradea.

“Kakang mau ke mana?” tanya kedua adik Aradea, hampir bersamaan.

“Ada tugas yang harus diselesaikan malam ini juga. Kalian di rumah saja!” ujar Aradea.

Pemuda itu kemudian membangunkan Ki Rimbang yang sedang tidur nyenyak.

“Kau tidak pernah berhenti mengganggu orang lain!” tegur Ki Rimbang, sedikit sewot.

“Aku tidak sempat menjelaskannya, Ki. Nanti saja di jalanan. Kalau ada umur panjang, tentu kau bisa tidur lagi besok,” sahut Aradea, seenaknya.

Mereka segera meninggalkan tempat rahasia itu bersama dua ekor harimau berbadan besar. Sedangkan dua lainnya ditinggalkan di rumah, untuk melindungi kedua adik pemuda ini dan juga bayi asuhan mereka.

********************

Ki Rimbang, Aradea, dan kedua ekor harimu yang menyertainya hampir sampai di tempat kediaman Pendeta Rabangsa. Namun mereka menahan gerakan ketika melihat di pagi dini hari tampak tidak kurang dua puluh orang bersenjata lengkap dan berpakaian warna biru telah berbaris di halaman. Di tengah-tengah tampak pula Pendeta Rabangsa gadungan sedang memberi beberapa petunjuk.

Tidak perlu berpikir lama, Aradea sudah tahu ke mana tujuan mereka. Satu hal yang dianggap cukup menguntungkan, saat itu tidak terlihat Dewa Sesat di antara mereka. Berarti, pemuda berbaju kuning itu telah pergi setelah berbincang-bincang dengan Pendeta Rabangsa tadi.

“Itukah pendeta keparat yang kau ceritakan, Aradea?” tanya Ki Rimbang geram.

“Ya.... Pendeta gadungan itu bukan membuat rakyat makmur, tetapi malah menyengsarakannya. Dialah yang telah mengirimkan gadis-gadis yang berhasil dipengaruhinya pada Dewa Sesat. Dan Dewa Sesat pun memanfaatkannya luar dalam,” dengus Aradea.

“Sekarang, sudah waktunya bagi kita untuk mengambil tindakan!”

Ki Rimbang mengangguk sambil menepuk bahu Aradea. Saat itu juga mereka bergerak mendekati halaman rumah Pendeta Rabangsa.

“Sekaranglah saatnya untuk bergerak, Paman Belang!” bisik Aradea di telinga kedua binatang buas peliharaannya.

“Grauung!” Disertai raungan panjang menggetarkan, kedua binatang buas yang sudah sangat terlatih ini pun menyeruak ke tengah-tengah pasukan Pendeta Rabangsa yang sedang mendengar pengarahan dari pendeta palsu itu.

Serangan kedua binatang buas yang tidak disangka-sangka ini tentu membuat terkejut Surokolo dan pengikutnya. Apalagi, kedua harimau itu langsung menyerang dan mencabik-cabik siapa saja yang berada di sekelilingnya.

Cras! Cras!

“Graunghrr...!”

“Aaa...!”

Hanya dalam waktu singkat, darah menggenangi halaman rumah pendeta gadungan tersebut. Mereka yang terhindar dari amukan kedua harimau langsung mencabut senjata masing-masing. Ternyata, anak buah Surokolo rata-rata memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi. Sehingga secara serentak, mereka menerjang kedua harimau milik Aradea dengan serangan-serangan gencar dan berbahaya.

“Cincang binatang keparat itu!” teriak Pendeta Rabangsa. “Hiyaaa...!”

“Graung!” Disertai raungan keras, kedua harimau itu menghindari hujan senjata yang menyerang. Setiap ada kesempatan, binatang-binatang yang sudah sangat terlatih ini membalas serangan. Sehingga, tidak dapat dihindari lagi, pertempuran pun menjadi semakin sengit.

“Habisi mereka, Paman Belang!” teriak Aradea, sambil melompat dari tempat persembunyiannya.

“Huh...! Rupanya kau yang membuat kekacauan di sini, Raja Copet?” geram Surokolo ketika melihat kemunculan Aradea bersama kakek berbaju serba merah.

“Aku tahu semua rencanamu, Pendeta Palsu! Bukankah kau mau menyerbu tempat tinggalku besok?” ejek Aradea.

Apa yang dikatakan Aradea ini tentu membuat Surokolo terkejut. Dia tidak mengerti, bagaimana Aradea mengenali dirinya. Bahkan mengetahui semua rencananya.

“Tidak usaha bingung-bingung, Pendeta Gila! Aku tadi sudah mendengar semuanya ketika kau bicara dengan Dewa Sesat! Betapa busuknya dirimu!” geram Aradea.

“Bangsat licik. Dengan mengandalkan harimau dan orang tua itu kau ingin melawan kekuasaan kami?! Hiyaaa...!” teriak Surokolo.

Pendeta palsu ini kemudian menerjang Aradea dengan jurus-jurus andalannya. Serangan ini tentu saja berbahaya. Apalagi mengingat Surokolo adalah bekas tokoh persilatan.

Sementara Ki Rimbang dengan senjata tongkat membantu kedua harimau yang tampak mulai kewalahan. Sedangkan Aradea sibuk menghindari serangan tangan kosong Surokolo. Ternyata, Aradea juga memiliki jurus-jurus cukup hebat. Terbukti, beberapa kali serangan gencar Surokolo berhasil dihindari atau ditangkisnya. Terlebih-lebih ketika Aradea mengerahkan jurus simpanannya.

Maka pertarungan pun berlangsung seru.Tampaknya, mereka memang ingin menyudahi pertempuran secepat-cepatnya. Terbukti serangan satu sama lain semakin ditingkatkan.

“Hari ini berakhirlah riwayatmu, Pendeta Gendeng! Heaaa...!” Aradea melenting ke udara. Setelah berputaran beberapa kali, tubuhnya melesat deras ke bawah. Seketika, tangannya dihentakkan ke arah Surokolo.

Werrr...!

Merasa ada hawa panas menyengat wajahnya, pendeta palsu ini langsung melompat ke samping. Tangannya seketika dikibaskan ke arah gundukan angin yang menerjang ke arahnya.

Wusss...!

Segulung sinar hitam meluncur dari telapak tangan Surokolo. Tidak dapat dihindari lagi, kedua kekuatan itu bertemu pada satu titik. Dan....

Glarrr!

“Aaagkh...!”

Baik Surokolo maupun Aradea sama-sama terlempar sejauh dua tombak. Dari sudut-sudut bibir masing-masing meneteskan darah, pertanda sama-sama memiliki tenaga dalam yang seimbang. Namun secepatnya mereka bangkit berdiri, lalu melakukan serangan kembali dalam waktu hampir bersamaan.

Sementara itu Ki Rimbang mulai dapat menjatuhkan lawan-lawannya. Anak buah Surokolo ini tanpa mengenal rasa takut terus melakukan serangan-serangan dahsyat dengan senjata terhunus. Ki Rimbang sadar betul kalau kedua ekor harimau milik Aradea sudah terluka terkena pukulan jarak jauh para pengeroyok. Untuk itu, segera diputuskan untuk menghadapi sisa-sisa lawan yang tinggal empat orang ini seorang diri.

“Paman Belang! Mundurlah kalian...!” teriak Ki Rimbang, memberi aba-aba.

Tampaknya kedua binatang ini memang memahami isyarat yang diberikan Ki Rimbang. Terbukti, mereka melompat mundur secara serentak, dan terus berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.

“Huh! Kau pasti mampus di tangan kami, Pengacau Laknat!” dengus salah seorang penyerang merasa begitu yakin.

Ucapan itu sama sekali tidak dihiraukan Ki Rimbang. Tongkat di tangannya segera diputar. Dengan mempergunakan jurus tongkatnya, hanya dalam waktu singkat tongkat itu telah menderu-deru, menotok, memukul, bahkan menghantam wajah lawan-lawannya. Tetapi, keempat anak buah Surokolo langsung menahan serangan sambil mengibaskan pedang.

Trak! Trak!

“Heh...?!”

Keempat penyerang itu terkejut sekali. Ternyata selain tongkat laki-laki tua itu tidak putus terhantam pedang, juga membuat keempat laki-laki muda ini terhuyung-huyung. Tangan mereka yang memegang senjata terasa kesemutan. Ini membuktikan kalau tenaga dalam Ki Rimbang beberapa tingkat berada di atas keempat lawannya.

LIMA

Setelah menyadari kelebihan yang dimiliki Ki Rimbang, keempat anak buah Surokolo menyerang kembali dengan serentak. Tubuh mereka meluruk deras ke depan dengan pedang meluncur sekaligus ke arah empat sasaran mematikan. Melihat empat mata pedang meluncur deras ke arahnya, Ki Rimbang langsung memutar tongkat di tangannya.

Trak! Trak! Trak!

“Uts...!” Tiga orang berbaju serba biru terdorong mundur. Sedangkan yang satunya lagi terus mengibaskan tangan ke dada Ki Rimbang. Namun kakek berbaju merah ini membuat gerakan berputar, seraya menangkis.

Trak!

Pedang milik laki-laki itu terpental. Pada saat yang sama, Ki Rimbang telah mengayunkan tongkatnya yang tanpa sempat dihindari lagi.

Prak!

“Aaa...! Seorang anak buah Surokolo kontan terpelanting roboh disertai jerit mengerikan. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Sedangkan kepalanya pecah dengan otak berhamburan.

Melihat kematian kawannya, tiga orang laki-laki berpakaian serba biru menjadi marah. Kini, serangan mereka semakin membabi buta dan tidak terkendali. Sekejap Ki Rimbang kerepotan, namun segera melenting ke udara. Tepat ketika dua orang lawannya memburu, senjata di tangan Ki Rimbang telah berputar. Dan....

Prak! Prak!

“Huaaagkh...!” Kedua laki-laki yang menyerang Ki Rimbang kontan menjerit kesakitan. Mereka langsung terjungkal, terkena hantaman tongkat kakek berbaju merah itu. Tubuhnya berkelojotan sebentar, kemudian terdiam untuk selama-lamanya.

Melihat kawan-kawannya binasa, sisa anak buah Surokolo ini jadi ciut nyalinya. Dia bermaksud melarikan diri. Tetapi, di depannya dua ekor harimau telah menghadang dan langsung menerkam.

“Graunghrrr...!”

“Aaa...!” Jerit kematian pun terdengar untuk yang kesekian kalinya. Tidak dapat dicegah lagi, kedua harimau itu langsung mencabik-cabik anak buah Pendeta Rabangsa.

Sementara, perkelahian antara Aradea dan Surokolo sudah mencapai puncaknya. Tampak masing-masing menderita luka dalam yang tidak ringan. Surokolo yang menghadapi kenyataan pahit ini langsung mencabut kerisnya. Sementara Aradea mengimbangi dengan mengeluarkan trisula.

“Kau tidak bakal lolos dari kematian, Aradea!” desis Surokolo.

“Hm.... Sebetulnya aku yang akan mengirimmu ke liang kubur, Pendeta Palsu...!” teriak Aradea tidak mau kalah.

“Heaaa...!” Surokolo tiba-tiba meluruk ke depan. Keris di tangannya meliuk-liuk mencari sasaran. Senjata berkeluk tujuh itu menusuk, mematuk, dan berkelebat cepat tidak beda ular yang sedang menyerang mangsa.

Aradea langsung merunduk sambil melakukan beberapa tangkisan. Tetapi apa yang dilakukan Aradea rupanya telah terbaca. Mendadak Surokolo membelokkan senjatanya, dan sekarang meluncur ke punggung Aradea. Pemuda itu sudah tidak sempat menghindarinya lagi. Maka....

Bret!

“Augkh...!” Aradea kontan terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang mengeluarkan darah dengan tangan kiri. Melihat lawannya terluka, Surokolo semakin bersemangat. Dia kembali menerjang. Sedangkan keris di tangannya terus menderu.

“Uts...!” Secepat kilat Aradea menjatuhkan diri, dan terus berguling-guling. Namun begitu bangkit berdiri, keris Surokolo terus menghujaninya. Secepat kilat, pemuda ini berputar seraya melepas sapuan kaki ke mata kaki lawannya. Sebenarnya, serangan ini hanya tipuan saja. Karena begitu pendeta gadungan itu menghindarinya, trisula di tangan Aradea meluncur cepat. Dan....

Blesss!

“Aaa...!” Pendeta palsu itu langsung mendekap dadanya yang tertembus trisula. Matanya melotot seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ketika Aradea menarik senjatanya, tidak ampun lagi Surokolo jatuh terduduk dengan darah mengucur deras membasahi pakaian. Sebelum badan Surokolo menyentuh tanah, jiwanya telah melayang.

“Pekerjaan yang sangat melelahkan, bukan?” tegur Ki Rimbang sambil menghampiri Aradea.

“Untung kita cepat datang ke sini. Terlambat sedikit saja, tempat tinggalku jadi porak-poranda!” sahut Aradea, menggeram.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Ki Rimbang.

“Sebaiknya kita cepat kembali, Ki. Aku takut terjadi apa-apa dengan adikku!” cetus Aradea.

“Marilah! Sekarang keadaan semakin tidak menentu. Mereka bisa saja muncul sewaktu-waktu di tempat kediamanmu!” ajak Ki Rimbang.

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, kedua orang ini segera berlalu meninggalkan mayat-mayat yang berserakan.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Apa yang ditakutkan Aradea dan Ki Rimbang memang cukup beralasan. Saat ini tampak beberapa penunggang kuda bersenjata lengkap menuju tempat tinggal Aradea yang tersembunyi di sudut kota. Mereka tampaknya hafal benar dengan jalan di sekitar tempat itu.

“Kita harus membereskan harimau milik Raja Pencopet itu lebih dulu. Dengan demikian, untuk membereskan Aradea dan kawan-kawannya jadi lebih mudah,” ujar penunggang kuda yang berada paling depan.

Dia tidak lain dari Pati Karna, tangan kanan Dewa Sesat. Tepat berada di depan tempat tinggal Aradea, Pati Karna memberi isyarat pada pasukannya untuk berhenti. Sementara dia sendiri mempersiapkan panah yang dibawanya. Diambilnya dua buah anak panah, dan dipasangnya di busur. Dan kini dia siap membidik.

Twang!

Dua buah anak panah sekaligus meluncur dengan arah yang berbeda! Sungguh suatu pertunjukan yang mengagumkan. Sasarannya adalah dua harimau yang berada di kiri dan kanan pintu masuk rumah Aradea.

Crap! Crap!

Graunghrrr...!” Dua ekor harimau itu kontan tertancap anak panah beracun, sehingga menimbulkan raungan menggetarkan. Ternyata Pati Kama memang sangat ahli dalam menggunakan panah. Kedua ekor harimau itu pun kontan tidak berkutik.

“Mestinya masih ada dua ekor lagi,” kata Pati Karna.

“Mungkin tidak berada di tempat, Kakang,” jawab pemuda di sebelah Pati Kama.

“Mudah-mudahan binatang keparat itu tidak mengganggu usaha kita!” dengus laki-laki berkulit hitam legam ini ketus.

Tanpa berpikir panjang lagi, sambil tetap meningkatkan kewaspadaannya mereka segera menerjang pintu pondok. Setelah sampai di dalam, mereka terkesima. Di dalam pondok, terdapat tidak kurang lima puluh anak-anak kecil. Bahkan di antaranya ada yang masih bayi. Namun, Pati Kama dan kawan-kawannya tidak melihat Aradea dan kakek berbaju merah, terkecuali dua gadis cantik yang tidak lain adik Aradea.

“Siapa kalian?” tanya Ningsih terkejut.

“Di mana kakangmu?” tanya Pati Kama.

“Mereka pergi. Jangan ganggu kami,” ujar Sakawuni, penuh ketakutan.

Pati Kama tersenyum penuh nafsu. Dia berpikir, jika musuh yang dicari tidak ada di tempat, apa salahnya jika mencicipi kehangatan kedua gadis itu? Maka segera dihampirinya Ningsih dan Sakawuni.

Dengan ketakutan kedua gadis ini melangkah mundur ke arah kamar. Justru memang inilah yang dikehendaki Pati Kama. Segera diberinya isyarat pada keempat anak buahnya. Sedangkan Pati Karna sendiri langsung menyerbu ke dalam kamar.

“Kalau saudaramu dan pengacau-pengacau itu tidak berada di tempat, kalian harus mempertanggungjawabkan dosa-dosa mereka!” dengus Pati Kama. Mendadak, laki-laki ini berkelebat sambil melepaskan totokan.

Tuk! Tuk!

“Oh...!” Hampir bersamaan, Ningsih dan Sakawuni melenguh pendek. Tubuh mereka kontan terasa lemas, tak bisa digerakkan setelah terkena totokan Pati Kama. Sebelum kedua gadis ini ambruk, Pati Kama telah menahan dengan kedua tangannya.

“Lep..., lepaskan bangsat!” maki Ningsih, namun tak mampu berbuat apa-apa.

“Kalian harus bersedia menemaniku!” desis Pati Kama. Seketika, laki-laki ini menghempaskan tubuh kedua gadis itu ke atas tempat tidur.

Dengan penuh nafsu, Pati Kama naik ke tempat tidur seraya mencabik-cabik pakaian Ningsih dan Sakawuni. Maka hanya dalam waktu sekejap, kedua gadis berkulit kuning langsat ini telah dalam keadaan polos. Jakun Pati Kama turun naik melihat kemulusan tubuh kedua gadis ini. Napasnya memburu. Nafsunya menggelegak, saat melihat kedua bukit kembar milik Ningsih dan Sakawuni.

Tanpa berpikir panjang lagi, segera digelutinya Ningsih. Di dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih dari jendela kamar ini, ke arah Pati Kama. Sekali cekal, laki-laki bejat ini sudah berada dalam cengkeramannya. Lalu dengan sekuat tenaga, sosok yang ternyata berbaju rompi putih itu melemparkan Pati Kama keluar.

Wuuttt! Brak!

Tubuh Pati Karna kontan melabrak dinding hingga hancur, menimbulkan suara berisik. Suara ribut-ribut seketika membangunkan bayi-bayi yang sedang tertidur. Sehingga, suara tangisan terdengar di sana-sini meresahkan hati. Ningsih tahu, sosok yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti telah menolongnya. Untuk itu, mereka segera mengenakan pakaian yang ada dan kembali mengurus bayi-bayi.

Setelah terlebih dahulu dengan cepat Rangga membebaskan pengaruh tatokan pada tubuhnya masing-masing. Di luar pondok, Pati Karna yang dilemparkan Rangga ternyata hanya menderita luka ringan. Dia cepat berdiri. Sementara, empat orang anggotanya telah datang menghampirinya. Tak lama pula di depan Pati Kama telah mendarat seorang pemuda berbaju rompi putih.

“Bangsat...!” bentak Pati Kama. “Bukankah kau yang telah membakar kedai-kedai di Jatibarang?”

“Memang benar,” sahut Rangga. Suaranya terasa dingin menusuk. “Aku juga yang telah melemparkanmu dari dalam pondok!”

Merah padam wajah Pati Karna mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Apalagi di depan empat orang anak buahnya ada di sekelilingnya. Hal ini tentu saja membuat wibawanya jatuh.

“Kau datang tidak diundang. Kau korbankan amarah orang lain. Tahukah kau, apa yang akan kami lakukan kepadamu?” tanya Pati Kama.

“Lebih baik pikirkan apa yang akan terjadi pada kalian,” sahut Pendekar Rajawali Sakti disertai senyum dingin. “Aku bukan saja ingin menghancurkanmu, tapi juga melenyapkan juragan madat yang berjuluk Dewa Sesat!” tegas Rangga.

Pati Kama dan empat orang anak buahnya dibuat terkejut. Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju rompi putih ini begitu berani bicara!

“Kami baru bisa mempercayai ucapanmu jika kau mampu mengalahkan kami, Keparat!” desis Pati Kama.

“Hmm...,” gumam Rangga tidak jelas. Rangga yang begitu geram melihat perbuatan Pati Kama terhadap adik Aradea, tanpa banyak bicara lagi langsung menerjang. “Heaaa...!”

Pati Kama dengan gesit menghindari dengan melompat ke belakang. Sedangkan empat orang anak buahnya langsung mencabut golok besar yang tergantung di pinggang. Rangga yang mengarahkan kakinya ke bagian ulu hati Pati Kama terpaksa menariknya kembali. Dia melakukan gerakan berputar untuk menghindari luncuran empat buah senjata anak buah Pati Kama. Kemudian tubuhnya melenting ke udara.

Trak!

Senjata para pengeroyok saling berbentur satu sama lain. Sedangkan saat ini Pendekar Rajawali Sakti terus melakukan putaran beberapa kali di udara. Saat tubuhnya meluruk deras ke bawah, dia telah mempergunakan jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’. Sementara kakinya yang berisi tenaga dalam meluncur deras ke bagian kepala salah seorang lawannya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Prak!

“Aaa...!” Salah seorang anak buah Pati Kama langsung terjengkang. Kepalanya remuk, sehingga darah dan otaknya berhamburan membasahi pakaiannya. Pati Kama terkejut sekali melihat kecepatan yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. Di sisi lain, hatinya menjadi sangat marah, karena salah satu anak buahnya tewas di tangan pemuda itu. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, dia memberi aba-aba pada ketiga anak buahnya.

“Cepat bunuh pemuda keparat itu...!” teriak Pati Kama.

Ketiga orang itu serentak menerjang. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung mempergunakan jurus simpanan, yang dibarengi permainan golok yang menawan. Hanya dalam waktu singkat, sambaran golok tajam menimbulkan suara berdesingan menyakitkan telinga telah mengurung Pendekar Rajawali Sakti dengan rapat. Jelas sudah bagi Rangga kalau lawan-lawannya memiliki tenaga dalam cukup tinggi.

“Hup...!” Pendekar Rajawali Sakti secepatnya melenting ke udara keluar dari kepungan lawan-lawannya. Begitu mendarat, dia langsung mengerahkan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’.

“Heaaa...!”

Serangan gencar kembali menderu. Rangga gesit sekali menghindarinya. Tubuhnya meliuk-liuk cepat, diimbangi gerakan kaki yang lincah. Sehingga tidak satu serangan pun yang menyentuh tubuhnya.

“Mampuslah kau! Heaaa...!” teriak salah seorang pengeroyok yang berada di belakangnya Pendekar Rajawali Sakti. Rupanya orang ini bermaksud membokong.

Namun Pendekar Rajawali Sakti sempat merasakan sambaran angin di atas kepalanya. Maka segera tubuhnya diputar, lalu bergeser secepatnya ke arah kiri sambil melepaskan satu hantaman keras ke arah lawan lainnya.

Wuut!

Begitu tebasan golok mengincar kepala berhasil dihindari, saat itu juga hantaman Pendekar Rajawali Sakti tidak sempat dihindari lawannya yang menjadi sasaran.

Buk!

“Aaagkh...!” Kembali, seorang anak buah Pati Karna terlempar dan jatuh ke tanah. Dua buah tulang rusuknya patah. Tampak darah menyembur dari sudut-sudut bibirnya. Hebatnya, dia masih dapat bangkit berdiri dan ikut bergabung dengan kawan-kawannya dalam membangun serangan. Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin menguras tenaga lebih lama. Tiba-tiba dia membuat kuda-kuda kokoh dengan telapak tangan berada di sisi pinggang. Lalu...

“Aji ‘Bayu Bajra’! Heaaa...!” teriak Rangga sambil menghentakkan kedua tangannya ke arah empat penjuru.

Wusss...!

Ketiga orang tampak terkesiap begitu tiba-tiba bertiup angin keras bagai topan. Mereka mencoba memantek kaki dengan pengerahan tenaga dalam. Tapi....

“Aaa...!” Saat itu juga mereka semua tersapu angin topan dari ajian ‘Bayu Bajra’. Tubuh mereka berpentalan jauh, dan baru berhenti ketika menabrak pohon serta batu-batu cadas yang banyak di tempat ini. Tak ada seorang pun yang bisa bangkit berdiri lagi!

Pendekar Rajawali Sakti berbalik, menghadap Pati Kama yang tampak meringis setelah mengerahkan tenaga dalam sampai puncaknya. Tubuhnya tadi hanya bergeser beberapa tombak, ketika Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan aji ‘Bayu Bajra’!

“Heaaa...!” Tubuh Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba saja melesat ke arah Pati Kama dengan tangan terkepal siap dihantamkan.

“Uts...!” Laki-laki berkulit hitam legam ini mencoba menghindari dengan membuang tubuhnya ke kanan. Namun, ternyata itu hanya tipuan Rangga. Karena mendadak saja tubuhnya berputar, seraya melepaskan tendangan berputar.

Desss...!

“Aaa...!” Disertai jerit kesakitan, Pati Kama terpental walau tak sampai terpuruk. Namun tubuhnya sempat terhuyung-huyung. Seketika dicabutnya clurit berwarna hitam dari balik bajunya.

“Aku tidak akan puas sebelum memenggal kepalamu! Heaaa...!” bentak Pati Karna.

Tubuh laki-laki berkulit hitam itu meluruk deras ke arah Rangga. Akan tetapi sambil meliukkan tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti menangkap tangan Pati Karna.

Tap!

Pati Kama terkejut bukan main ketika tangannya yang memegang clurit tertangkap. Dan dia sendiri terkejut ketika tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti membawa tangannya yang memegang clurit ke perutnya.

Crap...!

“Aaa...!” Jeritan Pati Kama yang tertembus mata cluritnya sendiri terdengar menggiriskan. Darah mengucur deras dari lukanya. Terlebih-lebih pada saat Rangga menggeser clurit itu, hingga usus Pati Kama terburai. Saat Rangga melepas tangan Pati Kama, laki-laki berkulit hitam itu ambruk dengan mata melotot.

ENAM

Aradea dan Ki Rimbang terkejut sekali ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di halaman rumah bagian depan. Mereka lebih terkejut lagi, setelah melihat dua ekor harimau tergeletak tanpa nyawa. Aradea yang merasa curiga segera bergegas masuk ke dalam pondoknya. Sampai di dalam, tampak Rangga sedang menimang-nimpang salah satu bayi yang baru saja diambil dari ayunan. Sementara, Ningsih yang melihat saudara tuanya datang langsung menghampiri.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Aradea alias si Raja Copet.

“Hampir saja kami celaka di tangan orang-orang itu!” jawab Ningsih. “Untung Pendekar Rajawali Sakti datang. Kalau tidak, rasanya kami lebih baik mati daripada hidup menanggung malu!”

“Apa yang terjadi, Rangga?” tanya Ki Rimbang.

Rangga tidak segera menjawab. Melainkan, meletakkan bayi yang berada dalam pondongannya. Baru kemudian matanya menatap cerah pada Aradea.

“Kurasa mereka anak buah Dewa Sesat. Mereka mencarimu. Karena kau tidak ada, mereka hampir memperkosa kedua adikmu. Aku datang hampir terlambat. Tetapi, sudahlah. Kejadian buruk tidak sempat menimpa adik-adikmu,” jelas Rangga.

“Salah satu korban yang kau bunuh, kalau tidak salah adalah Pati Kama. Dia salah satu orang yang sering membayang-bayangi hidupku. Kurasa, sebentar lagi Dewa Sesat akan mencari kita. Dan biasanya dia akan membawa seluruh anak buahnya,” kata Aradea, menggumam.

“Apakah mereka cukup banyak?” tanya Ki Rimbang.

“Mungkin sebanyak bayi yang berada di dalam pondokku ini. Tetapi terus terang, anak buah Dewa Sesat lebih terlatih bila di bandingkan anak buah Pati Kama. Aku khawatir, kita bertiga tidak dapat menahan mereka!” keluh Aradea, seakan putus asa.

“Besarkan semangatmu! Kalah dan menang dalam perjuangan adalah persoalan biasa. Aku dan Ki Rimbang akan mencari mereka. Dan kalau perlu bertindak lebih dulu sebelum mereka mendahului!” tegas Rangga.

“Kalau begitu aku ikut!” serobot Aradea menimpali. Rangga menggeleng tegas.

“Tidak cukupkah gambaran yang hampir terjadi pada adik-adikmu? Jika sekali lagi orang-orang Dewa Sesat menyerbu kemari, tidak seorang pun yang menahan mereka untuk berbuat keji. Kau tetap tinggal di sini, Aradea! Jaga keselamatan adik-adikmu. Juga, anak-anak yang tidak berdosa itu!” ujar Pendekar Rajawali Sakti, tegas.

Aradea memang tidak punya pilihan lain, walaupun hasrat di hatinya sangat menggebu untuk membunuh orang yang telah membinasakan orang tuanya. Tetapi, apa yang dikatakan Rangga memang tidak dapat dibantah.

“Baiklah.... Aku percaya padamu, Rangga. Dan juga, aku percaya sepenuhnya pada Pendekar Rajawali Sakti. Aku hanya dapat mendoakan kalian berdua agar berhasil menghancurkan mereka!” desah Aradea akhirnya.

“Serahkan semuanya pada kami!” sahut Ki Rimbang.

“Aku harus pergi sekarang juga!” kata Rangga.

Kedua orang ini segera meninggalkan pondok milik Aradea. Sedangkan pemuda itu sendiri disertai kedua adiknya mengantarkan kepergian mereka sampai di halaman depan. Setelah Pendekar Rajawali Sakti dan Ki Rimbang sudah tidak terlihat lagi di depan mata, Aradea memandangi kedua adiknya.

“Kalian pantas bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kalian,” desah si Raja Copet.

“Ya.... Dan ternyata, Pendekar Rajawali Sakti adalah seorang pendekar hebat Kakang,” puji Ningsih. “Pati Kama dilemparkannya keluar pondok ini. Bahkan dalam waktu yang tidak lama binasa di tangannya!”

“Sudahlah. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus kita selesaikan. Mayat-mayat ini harus dikuburkan secepatnya, sebelum menjadi busuk dan mengotori halaman!” sergah Aradea. Tanpa banyak bicara lagi, Ningsih dan Sakawuni keluar rumah ini untuk membuat lubang kuburan. Sementara Aradea segera mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan di halaman menjadi satu.

“Kuharap, inilah untuk pertama dan terakhir kalinya kita menguburkan sampah masyarakat!” desis Aradea.

********************

Durudana rupanya tahu kalau salah satu musuhnya yang bernama Ki Rimbang, ternyata sedang mencari tiga orang muridnya yang hilang beberapa waktu lalu. Dan pemuda berambut panjang ini yakin, pasti Ki Rimbang berasal dari Padepokan Welut Perak. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi Dewa Sesat. Arum Kenanga, Praba Sari, dan Ratna Gumilar adalah gadis-gadis yang telah menyerahkan segalanya pada Dewa Sesat. Mereka telah berada dalam kekuasaannya. Mereka bersedia melakukan apa saja, asal tetap diberi makanan surga.

Memang akibat ulah Dewa Sesat, kini ketiga gadis ini sepenuhnya benar-benar telah tergantung pada madat. Durudana pandai sekali memanfaatkan kesempatan ini. Tidak heran bila kemudian ketiga gadis itu diutus mencari Ki Rimbang untuk membunuhnya. Akal licik ini benar-benar dianggap tepat oleh Durudana. Walaupun ketiganya adalah murid-murid Ki Rimbang, namun bukan sesuatu yang mustahil jika mereka mampu membunuh gurunya. Ataupun sebaliknya. Bagi Dewa Sesat, tidak ada bedanya. Menurutnya, adalah suatu pemandangan yang sangat menarik bila guru dan murid saling bunuh.

Pagi-pagi sekali di pinggiran kota Jatibarang tiga ekor kuda berbulu putih dipacu cepat menuju ke arah selatan. Penunggangnya tiga orang gadis berpakaian kuning gading. Melihat cara menggebah kudanya, tentulah mereka sangat terlatih dalam ilmu olah kanuragan. Apalagi, di punggung masing-masing tersampir sebilah pedang. Sehingga, menambah keangkeran mereka saja. Satu hal yang cukup menyolok. Walaupun berwajah cukup cantik, namun tatapan mata mereka tampak kuyu seperti orang mengantuk dan kehilangan pancaran hidup.

Sementara itu dari arah berlawanan, tampak dua sosok tubuh berkelebat cepat bagaikan setan. Jelas mereka tengah mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. Dua sosok yang saling kejar-kejaran ini, yang satu berbaju rompi putih. Sedangkan yang lain berpakaian merah. Sampai akhirnya, mereka sama-sama menghentikan lesatan tubuhnya saat melihat tiga orang penunggang kuda putih.

“Berhenti...!” teriak laki-laki berbaju merah yang tidak lain Ki Rimbang.

Serentak ketiga gadis ini menghentikan lari kudanya. Sementara Ki Rimbang sendiri terkejut, karena orang yang dihadang sudah sangat dikenalnya. Bahkan kini sedang dicari-carinya. Tapi mereka menukar pakaian? Bukankah pakaian yang seperti dilihatnya adalah seragam anak buah Dewa Sesat?

“Sudah lama kalian menghilang. Kini muncul dengan kejutan yang sama sekali tidak kuharap. Ada apakah Praba Sari? Arum Kenanga, dan kau Ratna Gumilar?”

Ketiga gadis yang tak lain murid-murid Ki Rimbang sendiri ini tak langsung menyembah. Bahkan malah saling berpandangan. Dan kini, tatapan mata mereka menerawang kosong ke arah Rangga dan Ki Rimbang.

“Lihatlah, Ki,” bisik Rangga. “Tatapan mata mereka seperti orang-orang yang kita lihat di Jatibarang. Firasatku mengatakan, murid-muridmu telah kecanduan madat. Hm.... Aku yakin mereka mempunyai maksud-maksud tidak baik padamu....”

“Ya..., aku melihat tanda-tanda ini. Tetapi aku harus mengingatkan mereka sekali lagi. Kalau mereka tidak tanggap, maka aku akan mengambil tindakan tegas!” tegas Ki Rimbang, namun dengan suara pelan.

“Inikah orang yang harus kita bunuh?” tanya Praba Sari pada Arum Kenanga dan Ratna Gumilar yang berada di sebelahnya.

“Kalau melihat ciri-cirinya memang betul,” sahut Ratna Gumilar seperti tak mengenali bekas gurunya sendiri.

“Hei.... Kalian bertiga! Apakah kalian sudah tidak waras, sehingga tidak mengenal guru sendiri?” teriak Ki Rimbang merasa kecewa. Hati orang tua ini sebenarnya begitu terpukul, karena ternyata kedatangannya terlambat. Murid-muridnya kini telanjur jatuh di tangan Dewa Sesat. Pastilah manusia keji itu telah meracuni murid-muridnya dengan madat, sehingga tak mengenal gunanya sendiri.

“Kau bicara dengan siapa, Ki? Menurut Dewa Sesat, kalian berdua adalah orang yang telah membuat kekacauan dan pantas dibunuh!” tegas Arum Kenanga.

“Keparat! Kalian adalah murid-muridku! Mengapa sekarang malah berpihak pada orang salah?!” bentak Ki Rimbang gusar.

“Percuma kau bicara, Ki. Murid-muridmu seperti yang telah kukatakan tadi, sudah telanjur terpengaruh madat. Sulit menyadarkannya, terkecuali kau dapat bersikap sabar.” saran Rangga, perlahan.

Kemudian Pendekar Rajawali Sakti menatap ketiga gadis itu. “Kalian sebaiknya ikut aku kembali ke Padepokan Welut Perak. Guru kalian ini akan mengobati kegilaan yang kalian alami...!” kata Rangga.

“Hi hi hi...! Kalian berdua jangan mimpi. Kami sama sekali tidak kenal kakek tua itu!” desis Ratna Gumilar. “Dan kami datang untuk membunuh kalian! Heaaa...!” teriak Arum Kenanga.

Tanpa pikir panjang lagi, ketiga gadis ini melompat dari punggung kuda masing-masing. Mereka, langsung menerjang Ki Rimbang dengan segenap kemampuan. Pendekar Rajawali Sakti yang melihat serangan kilat hanya tertegun. Rupanya dia merasa serba salah jika turut membantu. Sebab, yang menjadi persoalannya adalah antara guru dan murid.

Sementara, itu, pertempuran dalam sekejap saja sudah berlangsung seru. Ki Rimbang dikeroyok ketiga muridnya sendiri. Pada dasarnya, jurus-jurus yang dimainkan ketiga gadis itu berasal dari sumber yang sama. Sehingga, rasanya sulit bagi ketiga gadis yang menyerang untuk menjatuhkan Ki Rimbang.

“Sejak kecil kalian dibesarkan. Setelah besar, malah menjadi penyakit!” dengus Ki Rimbang dalam kekesalannya.

“Banyak mulut! Heaaa...!” teriak Praba Sari. Tubuh gadis ini langsung menerjang ke depan dengan pedang meluncur deras ke bagian tenggorokan Ki Rimbang. Gerakannya diikuti dua gadis lainnya.

Melihat serangan datang dari tiga penjuru secara bersamaan, Ki Rimbang cepat memutar langkahnya. Dan tiba-tiba tongkat di tangannya dikibaskan secara berturut-turut.

Trak! Trak! Trak!

“Heh...?!”

Benturan keras terjadi. Arum Kenanga, Praba Sari, dan Ratna Gumilar sama-sama terhuyung ke belakang. Sedangkan Ki Rimbang hanya tergetar saja. Namun tampaknya gadis-gadis ini sudah sulit diajak bicara. Padahal jika Ki Rimbang tadi mau, pasti salah satu bisa dijatuhkannya.

“Kurung dia!” teriak Praba Sari. “Heaaa...!”

“Uts!” Sinar pedang berkelebatan menyambar Ki Rimbang. Kakek ini tahu betul kalau murid-muridnya mengerahkan jurus ‘Welut Cadas Putih’. Dan ini merupakan salah satu jurus yang sangat berbahaya!

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna, Ki Rimbang melenting ke udara. Dengan demikian, serangan murid-muridnya hanya menyambar tempat kosong. Secara serentak ketiga gadis itu berbalik. Mereka membuat beberapa kali gerakan tangan. Setelah itu....

Wut! Wut!

Sungguh cepat bukan main ketiga gadis itu melepas serangan. Ki Rimbang segera berkelit, selanjutnya hendak bergerak menjauh. Tetapi, serangan salah satu muridnya datang lebih cepat. Sehingga....

Cras!

“Hugkh...!” Ki Rimbang mengeluh tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung ketika bagian tubuhnya robek terkena sambaran pedang. Dari lukanya langsung mengucurkan darah.

Melihat Ki Rimbang dapat dilukai, maka gadis-gadis ini tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Seakan saling berebut, mereka sama-sama membabatkan pedang ke bagian kepala, dada, dan leher Ki Rimbang. Apa yang akan terjadi tentu tidak dibiarkan Pendekar Rajawali Sakti yang turut menyaksikan pertempuran.

“Heaaa...!” Disertai teriakan menggelegar, Rangga melesat cepat ke arah ketiga gadis itu. Dalam keadaan melayang tangannya dijulurkan ke tiga arah.

Plak! Plak! Plak!

“Aaakh...!” Ketiga gadis itu jatuh terjajar beberapa langkah, begitu Pendekar Rajawali Sakti memapak serangan. Semuanya mengeluh tertahan, merasakan sakit pada tangan masing-masing.

“Kurasa tidak ada gunanya memberi peringatan pada mereka, Ki. Murid-murid bahkan sudah tidak dapat mengenal gurunya sendiri! Biarkan kubereskan semuanya!” teriak Rangga, menegaskan.

Inilah saat-saat yang paling berat bagi Ki Rimbang untuk menentukan pilihan. Bagaimanapun, Arum Kenanga, Praba Sari, maupun Ratna Gumilar pernah bersama-sama dengannya sejak kecil hingga menjadi gadis remaja. Dia sadar betul ketiga gadis ini pada dasarnya sangat baik.

Namun setelah terpisah hampir tiga purnama, Dewa Sesat secara keji telah merubah mereka menjadi orang yang lupa diri sendiri. Juga, pada gurunya. Mereka pasti sulit disembuhkan lagi. Untuk itu, Ki Rimbang terpaksa melupakan semua kenangan manis bersama murid-muridnya yang pernah dilalui dulu.

Kini setelah melompat mundur, laki-laki tua ini menyerahkan segala sesuatunya pada Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau terlalu mencampuri urusan orang lain, Kisanak! Maka sekarang saatnya bagi kami untuk mengirimmu ke neraka!” teriak ketiga gadis itu dalam waktu bersamaan.

Praba Sari, Arum Kenanga, dan Ratna Gumilar secara bersama-sama menerjang Rangga. Pedang di tangan mereka menderu, menimbulkan desir angin halus memedihkan kulit Rangga.

Tetapi pemuda berbaju rompi putih ini segera meliuk-liukkan tubuhnya. Diiringi gerakan kaki cepat dan lincah. Rupanya Rangga telah mempergunakan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’, satu jurus yang digunakan untuk menghindar dan sesekali melepaskan serangan. Ternyata ketiga gadis ini tidak merasa putus asa, kendati beberapa kali serangan mereka tidak mengenai sasaran. Bahkan salah seorang tiba-tiba membelokkan senjatanya.

“Heh?!” Rangga terkesiap. Namun cepat tubuhnya segera melenting ke udara. Beberapa kali Rangga berjumpalitan di udara, membuat serangan itu luput. Begitu tubuh Pendekar Rajawali Sakti meluncur deras ke bawah, sudah tercipta jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’.

“Heaaa...!” Secepat kilat, kaki Rangga melakukan serangkaian tendangan beruntun. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Prak!

“Aaa...!” Arum Kenanga berteriak menyayat dengan kedua tangan memegangi kepala yang retak tertekan tendangan Pendekar Rajawali Sakti. Darah menyembur dari lukanya. Tubuh Arum Kenanga dalam waktu sebentar saja roboh, tanpa mampu bangkit kembali.

Sementara Rangga sudah menjejakkan kedua kakinya di atas tanah dengan satu gerakan indah. “Kuperingatkan pada kalian berdua untuk kembali pada guru kalian. Kalau kalian tetap bersikeras, maka jangan salahkan jika aku terpaksa mengambil tindakan tegas!” perintah Rangga.

“Huh...! Siapa sudi mendengar ucapanmu?! Kematian kawan kami sudah merupakan suatu bukti kalau kami harus cepat-cepat membunuhmu seperti yang diperintahkan Dewa kami!” dengus Praba Sari geram.

“Tidak ada Dewa. Yang kutahu hanyalah Dewa Sesat. Dan menurut kabar, Durudanalah orangnya!” sahut Rangga.

“Kurang ajar! Kau memang pemuda usilan yang pantas mati! Heaaa...!” Laksana kilat Praba Sari kembali menerjang Rangga. Pedangnya meluncur deras membelah udara dan terus menerjang Rangga. Pedangnya meluncur deras membelah udara dan terus tertuju ke bagian dada.

“Awas, Rangga!” teriak Ki Rimbang. Ki Rimbang tahu, Praba Sari mempergunakan jurus ‘Welut Melibas Langit’. Salah satu jurus yang paling mematikan dari seluruh rangkaian jurus Padepokan Welut Perak.

Pendekar Rajawali Sakti secepatnya menghindar ke samping. Maka serangan yang dilancarkan Praba Sari tidak mengenai sasaran. Akan tetapi secara aneh pedang itu membalik, melepas babatan menyilang. Sedapat-dapatnya Rangga berusaha menghindar. Namun, terlambat karena....

Cras!

“Hugkh...!” Rangga terhuyung-huyung. Rompi putihnya robek. Pada bagian yang robek di rusuknya mengucurkan darah. Melihat hal ini, Ki Rimbang dengan geram bermaksud membantu Rangga. Tetapi terlambat karena, Rangga sudah menghentakkan kedua tangannya.

“Aji ‘Bayu Bajra’! Hiyaaa...!”

Wuusss...!

Segulung angin topan menderu ke arah Praba Sari. Gadis yang sudah bagai kesurupan ini masih sempat menyadari datangnya pukulan dahsyat tersebut. Namun, untuk menghindar sudah tidak sempat lagi. Dan....

“Aaa...!” Jeritan Praba Sari berbaur disertai luncuran tubuhnya yang terbawa angin topan dahsyat. Gadis itu terpelanting, begitu menghantam sebuah pohon yang cukup besar. Agaknya dia menderita luka dalam yang sangat parah, ketika berusaha bangkit berdiri.

“Beri dia kesempatan untuk hidup, Rangga...!” seru Ki Rimbang.

Rangga yang tak bermaksud membunuh Praba Sari menoleh ke arah Ratna Gumilar. Tapi hatinya jadi heran ketika gadis itu sudah menjatuhkan pedangnya dan menangis sesenggukan.

“Oh.... Tuhan! Apa dosaku? Sesungguhnya aku ini siapa?” rintih gadis itu, bersimpuh di tanah.

Ki Rimbang merasa terharu melihat Ratna Gumilar mulai sadar. Rupanya, pengaruh madat yang menguasai hati dan pikirannya mulai hilang.

“Ki..., sebaiknya selamatkan kedua muridmu itu ke tempat Aradea. Aku akan mencari Dewa Sesat secepatnya!” tegas Rangga.

“Aku tidak mungkin membiarkanmu seorang diri menyongsong bahaya!” jawab Ki Rimbang.

“Kau bisa menyusulku, Ki...!” sahut Rangga. Saat itu juga, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat, tanpa bisa dicegah lagi.

TUJUH

Rangga terus berkelebat menuju tempat tinggal Durudana alias Dewa Sesat. Di kejauhan bangunan megah bertingkat dua mulai kelihatan. Tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat terlihat sesosok bayangan merah berkelebat di antara pohon-pohon. Pendekar Rajawali Sakti menyangka bayangan tadi tidak lain Ki Rimbang yang juga memakai baju serba merah. Merasa penasaran, Rangga segera berkelebat mengejar ke arah menghilangnya sosok bayangan tadi. Namun setelah sekian jauh mengejar, Rangga tidak menemukan apa-apa.

“Ki Rimbang...! Jangan coba-coba mempermainkan aku. Mengapa malah menyusulku? Bukan mengurusi mudir-murid yang membutuhkan uluran tanganmu...!” teriak Rangga. Setelah gema suara Pendekar Rajawali Sakti lenyap, suasana berubah sunyi kembali. Rangga mengedarkan pandangan. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan.

Namun beberapa saat kemudian, kembali terlihat kelebatan sosok tubuh berbaju merah yang menjauhinya. Merasa dipermainkan, tanpa menunggu lebih lama Pendekar Rajawali Sakti melakukan pengejaran. Namun tanpa diduga-duga, kaki Rangga menginjak sesuatu. Dan....

Sret!

“Eeeh...!” Rangga terkejut sekali, karena begitu tali yang tidak sempat terlihat olehnya terinjak. Seketika dari bawah kakinya bergerak sebuah jaring yang langsung menyergapnya. Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tidak menduga datangnya perangkap secepat ini. Dia berusaha membebaskan diri dengan pengerahan tenaga dalam. Namun tak seutas jaring pun yang putus.

“Ha ha ha...!” Pada saat itulah terdengar suara tawa berkepanjangan saling tindih menyakitkan gendang telinga. “Hanya beginikah kehebatan seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?! Hari ini kami dua bersahabat dari Thai berhasil menangkapmu! Kau segera akan berhadapan dengan Dewa Sesat!”

Saat itu juga, berlompatan dua sosok tubuh dari balik pepohonan. Begitu mendarat dua tombak di hadapan Pendekar Rajawali Sakti, tampak kalau mata mereka sipit.

“Manusia pengecut! Hm.... Rupanya kalian hanya begundal Dewa Sesat! Sungguh anjing penjilat yang sangat rendah!” desis Rangga. Pendekar Rajawali Sakti berusaha mengerahkan tenaga dalamnya kembali. Tapi, tampaknya apa yang dilakukan hanya sia-sia saja. “Sialan! Terbuat dari apa jaring ini?!” batin Rangga menggerutu.

Tai Lee dan Tai Ceng hendak meringkus Pendekar Rajawali Sakti di dalam jaring. Tapi baru beberapa langkah....

Sring!

Di luar dugaan, Pendekar Rajawali Sakti berhasil mencabut pedangnya yang langsung dibabatkan ke jaring-jaring yang menjeratnya.

Tes! Tes!

“Huup...!” Begitu mendapat lubang yang cukup, Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat setelah memasukkan pedangnya kembali.

Sementara kedua laki-laki bermata sipit ini terkejut bukan main. Bagaimanapun, tali jaring milik mereka dibuat dari otot kayu yang cukup kuat. Dan kalau pemuda berbaju rompi putih ini mampu memutuskannya, berarti pedangnya adalah sebuah pusaka yang cukup hebat!

“Jelaskan siapa kalian yang sebenarnya...!” desis Rangga dengan tatapan dingin menusuk.

“Siapa kami, tak penting artinya bagimu, Pendekar Rajawali Sakti?” sahut Tai Ceng tidak kalah sinis.

“Kalian adalah orang asing yang datang ke negeri ini. Aku yakin, kalian pasti ada hubungannya dengan pengiriman madat, bukan?” tuding Rangga, langsung.

Tai Lee dan Tai Ceng sama-sama terkejut. Tetapi itu hanya berlangsung hanya sebentar saja. Tidak lama, paras mereka telah berubah seperti biasa kembali. “Kau telah mengetahui apa yang kami lakukan! Rasanya, mustahil, kalau kami membiarkan hidup lebih lama lagi! Hiyaaa...!” teriak Tai Lee, seraya menerjang keras.

Gerakan laki-laki bermata sipit ini cepat bukan main. Belum pernah Rangga melihat serangan yang secepat itu. Namun Pendekar Rajawali Sakti segera mengegos cepat ke samping, sehingga serangan kilat itu lewat beberapa rambut di sisinya. Tai Lee yang menyadari serangannya luput. Jadi geram bukan main. Segera dia berbalik seraya mengirimkan jotosan ke dada.

Wuuttt!

“Hup...!” Pendekar Rajawali Sakti melompat ke belakang sejauh satu batang tombak.

Sementara Tai Lee terus memburunya. Jurus-jurus yang dipergunakan orang asing ini termasuk sangat aneh. Apalagi dia mempergunakan dua buah jurus yang mempunyai sifat berbeda. Yang satu mengandalkan kecepatan dan tenaga dalam tinggi, sedangkan yang lain banyak mempergunakan kelembutan.

Sampai perkelahian berlangsung puluhan jurus, Pendekar Rajawali Sakti hanya mampu menghindar dan menangkis. Kenyataan ini saja sudah membuat Tai Lee menjadi sangat marah. Maka serangannya pun diperhebat. Tubuh orang asing ini meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Sementara tangannya yang membentuk cakar meluncur deras ke bagian dada Rangga.

Pemuda berompi putih ini meliukkan tubuhnya disertai gerakan kaki yang tampak cepat dan lincah. Namun saat Rangga berusaha menangkis, tiba-tiba Tai Lee membelokkan tangannya ke bagian perut yang tidak sempat lagi dihindari. Maka....

Buk!

“Hugkh...!” Rangga kontan terdorong mundur dengan badan terbungkuk-bungkuk menahan sakit. Napasnya langsung terasa sesak. Sedangkan dari sudut-sudut bibirnya mengalir darah kental. Jelas, Pendekar Rajawali Sakti menderita luka dalam.

Melihat lawan dapat dilukai, Tai Lee semakin bersemangat. Segera pedangnya yang cukup panjang dicabut. Sementara Rangga sendiri segera mengerahkan hawa murni untuk mengobati luka dalam yang diderita.

“Hari ini aku akan mengirimmu ke neraka...!” dengus Tai Lee. Dengan mempergunakan rangkaian jurus pedang andalan, Tai Lee segera memutar pedangnya yang memancarkan putih berkeredep karena ketajamannya.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti mendadak melakukan gerakan berputar. Dan tanpa diduga-duga, diterobosnya pertahanan lawan dengan tangan yang terkepal mengibas. Dan....

Buk! Buk!

“Aaa...!” Tai Lee langsung terhuyung-huyung. Salah satu tulang rusuknya remuk, terhantam pukulan Rangga. Tapi tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera, Tai Lee bagaikan banteng terluka melesat ke depan sambil mengibaskan pedangnya. Gerakan cepat ini sama sekali tidak diduga. Walaupun begitu, Rangga masih sempat berkelit ke kiri. Tapi....

Bret!

“Aaakh...!” Rangga terhuyung-huyung ke belakang. Bagian tubuhnya yang terbabat pedang mengucurkan darah. Pemuda berompi putih ini mulai memancarkan kemarahannya. Matanya memandang dingin pada lawan yang berdiri tegak di depannya.

“Hmm.... Sekarang saatnya bagimu untuk menebus kesalahan dari sekian banyak jiwa yang menderita karena madat-madat yang kaukirimkan pada Dewa Sesat! Heaaa...!”

Rupanya, Tai Lee yang telah berhasil melukai punggung Pendekar Rajawali Sakti tetap menganggap remeh. Sehingga saat Rangga menerjang, langkahnya cukup menggeser sambil menusukkan pedang ke bagian dada. Rupanya, serangan Rangga hanya tipuan saja. Karena mendadak tubuhnya melenting ke udara. Setelah berputaran beberapa kali, tubuhnya meluruk deras ke arah Tai Lee dengan kaki cepat menghantam dada.

Prak!

“Aaakh...!”

Rangga yang mengerahkan tenaga dalam penuh ke bagian kaki memang mempergunakan jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’ yang begitu cepat tadi. Akibatnya, dada Tai Lee melesak ke dalam dan hancur seketika. Dengan wajah seperti tidak percaya, mata Tai Lee melotot lebar. Darah mengucur deras dari mulut dan hidungnya.

Bruk!

Tai Lee jatuh tersungkur tanpa mampu bangkit lagi untuk selama-lamanya. Melihat kematian sahabatnya. Tai Ceng menjadi sangat marah.

“Keparat! Kau harus tebus nyawa temanku dengan nyawamu!” desis Tai Ceng geram seraya melompat ke depan.

“Akan kutebus nyawa temanmu dengan nyawamu!” sahut Rangga, enteng.

“Setan! Heaaa...!” Tai Ceng menerjang dengan mengandalkan jurus-jurus tangan kosong yang cukup berbahaya!

Rangga melompat mundur ke belakang. Ternyata gerakannya sudah terbaca. Maka secepatnya Tai Ceng merubah gerakan tangannya, langsung menderu ke bagian perut, menimbulkan angin mendesir. Rangga tidak membiarkan serangan itu menghantam tubuhnya. Maka dengan nekat ditangkisnya serangan dengan telapak tangan.

Plak!

Tai Ceng terhuyung ke belakang. Sementara Rangga sendiri sempat tergetar tubuhnya. Bagian telapak tangannya terasa dingin, seperti diselimuti salju. Pendekar Rajawali Sakti segera mengerahkan hawa murni ke bagian tangannya. Maka hawa dingin perlahan menghilang dengan sendirinya. Kemudian secepat kilat. Tubuhnya balas menerjang dengan tendangan kaki kanan. Serangan kilat ini masih berusaha dihindari Tai Ceng dengan menggeser tubuhnya ke samping. Tetapi kaki Rangga seperti punya mata saja, terus bergerak mengikuti. Dan...

Buk!

“Hegkh...!” Tendangan Pendekar Rajawali Sakti membuat tubuh Tai Ceng terpental ke belakang disertai semburan darah dari mulutnya.

Rangga tanpa memberi ampun lagi segera memburu. Satu pukulan mematikan hendak dilepaskannya. Akan tetapi Pendekar Rajawali Sakti terpaksa membatalkan, karena lawan yang telah dalam keadaan terluka ternyata masih sempat mengebutkan tangannya.

Set! Set!

Seketika meluruk beberapa sinar putih keperakan yang ternyata senjata rahasia berbentuk bintang segi empat dari tangan Tai Ceng. Sedapatnya Rangga menghindarinya dengan melenting tinggi ke udara. Selagi pemuda berompi putih ini dibuat repot oleh incaran senjata rahasianya, Tai Ceng tiba-tiba menghentakkan tangannya melepaskan pukulan jarak jauh.

Wuuttt...!

Pukulan yang menimbulkan gelombang hawa dingin menusuk tulang, meluruk mengancam keselamatan Pendekar Rajawali Sakti. Pendekar Rajawali Sakti tercekat melihat datangnya serangan yang sangat cepat ini. Tak ada waktu baginya untuk menghindar. Apalagi tubuhnya saat ini berada di udara. Satu-satunya jalan hanya memapak.

“Hih...!” Seketika, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya memapak hawa dingin bergulung-gulung sambil mengerahkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’.

Wuttt...!

Seleret sinar merah seketika meluruk deras ke arah gundukan hawa dingin tidak jauh di depan Rangga. Lalu...

Blarrr!

“Aaa...!”

Dua sosok tubuh tampak sama-sama terlempar ke belakang. Walau begitu, Rangga masih mampu mematahkan luncuran tubuhnya dengan membuat putaran beberapa kali. Dan mantap sekali kedua kakinya mendarat. Tai Ceng sendiri walau sebagian tubuhnya tampak hangus, tetapi hebatnya masih mampu bertahan hidup.

Pendekar Rajawali Sakti merasa kagum juga dengan daya tahan yang dimiliki lawannya. Jika orang biasa yang kurang memiliki tenaga dalam dapat dipastikan tubuhnya hangus dan binasa. Ini merupakan suatu bukti Tai Ceng tidak dapat dianggap enteng.

Tai Ceng menyeka darah yang menetes-netes di sudut bibirnya. Sebagian wajahnya yang utuh tampak pucat. Rangga sendiri sempat melihat semua ini sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.

Cring!

Tiba-tiba saja Tai Ceng mencabut pedangnya yang mirip samurai. Tanpa warangka, senjata itu jadi berkilat menyilaukan karena ketajamannya.

“Pendekar Rajawali Sakti! Kuakui kau memang hebat, jika dapat mengalahkan jurus ‘Duka Singa Nanking’. Untuk mati sendiri, rasanya terlalu sepi di alam kubur. Dengan pedang ini, aku menawarkan kematian bersamamu!” desis Tai Ceng, menggetarkan.

“Hmm...!” Rangga hanya menggumam tidak jelas. Melihat hal ini, Rangga segera menyadari kalau Tai Ceng bermaksud mengadu jiwa dengan mengerahkan semua tenaga dalam yang dimiliki. Dan Rangga tidak punya pilihan lain lagi. Maka....

Sring!

Pemuda berompi putih ini langsung mencabut pedangnya yang bersinar biru berkilauan. Seketika dikerahkannya jurus ‘Pedang Pemecah Sukma’. Tepat ketika Tai Ceng menerjang, Rangga pun meluruk ke arahnya.

Seketika sinar putih dan sinar biru saling berkelebat mencari sasaran. Namun, tiap kelebatan Pedang Pusaka Rajawali Sakti, membuat Tai Ceng terkesiap. Seketika jiwanya seperti luluh dengan semangat bertarung hilang entah ke mana. Gerakan-gerakan jurus laki-laki asing ini jadi kacau. Dan Tai Ceng makin terkesiap ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti berkelebat ke arah lehernya. Dengan sebisanya, pedangnya yang seperti samurai menahan.

Trang!

Tai Ceng kontan terhuyung-huyung. Pedang di tangannya tahu-tahu telah terpapak buntung. Sebelum Tai Ceng sempat menghilangkan keterkejutannya, Rangga sudah melompat ke depan sambil menusukkan pedangnya.

Blesss!

“Aaa...!” Tidak ampun lagi, pedang Rangga menembus dada Tai Ceng sampai ke punggung. Darah kontan mengucur deras dari luka akibat tusukan pedang. Mata Tai Ceng terbelalak lebar, seperti tidak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya. Ketika Rangga menarik pedangnya, maka tidak dapat ditahan lagi tubuh Tai Ceng ambruk ke tanah dengan nyawa melayang.

********************

Setelah melihat nasib yang dialami murid-murid Ki Rimbang, ternyata Aradea tidak dapat diam. Dia menjadi sangat marah, karena begitu banyak korban yang berjatuhan akibat ulah Dewa Sesat. Dan akibat dari pengaruh madat, bukan saja dapat merusak jiwa, tapi juga merusak tingkah laku korbannya. Aradea merasa sekarang saatnya turun tangan, membantu Pendekar Rajawali Sakti.

“Menurut pesan Rangga, bukankah kau dilarang meninggalkan pondokmu ini?” tanya Ki Rimbang mengingatkan.

“Ki.... Haruskah aku berdiam diri melihat Rangga berjuang mati-matian demi rakyat Jatibarang? Sementara, aku sebagai orang asli daerah ini hanya berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu?” tukas Aradea.

“Aradea.... Aku tahu niatmu sangat baik. Coba kau pikir jika kau tewas di tangan Dewa Sesat. Siapa yang akan memberi makan bayi dan anak-anak telantar ini? Coba siapa?” Ki Rimbang balik bertanya.

“Lalu, bagaimana jika Rangga yang tewas, Ki? Apa menurutmu Dewa Sesat lantas bertaubat dan tidak mengedarkan madat lagi?” Aradea menukas kembali. “Aku sudah bosan melihat bayi-bayi tidak berdosa menangis di pinggiran jalan, Ki. Aku muak melihat bayi-bayi dilahirkan tanpa tahu ke mana harus memanggil ayah. Bagiku, bayi-bayi di sini sudah kuanggap cukup sebagai gambaran kebobrokan rakyat di daerah ini. Sepak terjang Dewa Sesat sudah waktunya dihentikan. Aku tidak ingin melihat Pendekar Rajawali Sakti tewas karena membantu kepentingan kami.”

“Kurasa Rangga pandai menjaga diri, dan tahu apa yang harus dilakukannya,” tegas Ki Rimbang.

“Anak buah Dewa Sesat cukup banyak jumlahnya. Mereka terlatih baik dan siap menghadapi segala kemungkinan,” kilah Aradea.

“Kalau kita pergi bersama-sama, lalu siapa yang menjaga pondokmu ini? Siapa pula yang bisa menjamin keselamatan adik-adikmu dan juga anak-anak itu?” tegur Ki Rimbang.

Aradea langsung terdiam. Apa yang dikhawatirkan Ki Rimbang adalah sesuatu yang wajar-wajar saja. Namun, Aradea sendiri harus dapat memberi ketegasan.

“Kurasa Paman Belang dapat melakukannya. Mereka lebih terlatih dari dua ekor yang mati beberapa hari yang lalu. Sebaiknya, kita pergi sekarang, Ki...!” ajak Aradea sudah tidak sabar lagi.

Ki Rimbang merasa tidak punya pilihan lain atas sikap keras hati Aradea.

Aradea yang baru mengetahui tempat tinggal Durudana alias Dewa Sesat baru-baru ini, segera memotong jalan pintas. Dan kini dia dan Ki Rimbang telah sampai di tempat yang dituju. Sebuah bangunan berlantai dua berdiri dengan angkuhnya tidak jauh di depan mereka.

“Seperti yang kukatakan, tempat itu dijaga ketat anak buah Dewa Sesat!” bisik Aradea sambil bersungut-sungut.

“Ya.... Kita tampaknya harus membuka jalan darah untuk menemui Dewa Sesat,” sahut Ki Rimbang.

Tanpa berkata-kata lagi mereka segera berkelebat mendekati bangunan. Namun baru sampai di depan gerbang....

“Siapa kalian?” tegur salah seorang anak buah Dewa Sesat yang agaknya tak mengenali mereka. Ki Rimbang dan Aradea saling berpandangan. Ki Rimbang kemudian menganggukkan kepala memberi isyarat.

“Mengenai siapa kami, rasanya tidak penting! Sekarang kalian panggil Dewa Sesat untuk menjumpai kami!” ujar Aradea tegas.

“Ketua kami tidak bisa menjumpai tamu sekarang ini. Dia sangat sibuk!” kata anak buah Durudana.

“Begitu...?!” dengus Aradea dingin.

Sementara pengawal itu segera memberi isyarat pada Ki Rimbang dan Aradea agar segera meninggalkan pintu gerbang penjagaan.

DELAPAN

Jawaban yang diberikan oleh Ki Rimbang maupun Aradea, ternyata cukup mengejutkan bagi empat orang penjaga yang berada di pintu gerbang utama ini. Karena tanpa diduga-duga, Ki Rimbang mengibaskan tongkatnya yang berwarna hitam ke arah kepala salah seorang penjaga.

Prak!

“Aaakh...!” Seketika terdengar suara berderak, ketika kepala salah satu penjaga hancur. Disertai lolong kesakitan pengawal yang bernasib naas ini langsung tersungkur roboh.

“Heaaa...!” Pada saat yang sama pula, Aradea tidak tinggal diam. Setelah mencabut trisula dari pinggangnya, pemuda ini langsung meluruk deras. Sedangkan trisula di tangannya berkelebat mencari sasaran ke perut salah seorang pengawal yang berada di dekatnya.

Cres!

“Wuaaakh...!” Penjaga ini pun tersungkur roboh dengan tubuh bersimbah darah.

Suara jeritan dari para penjaga yang menemui ajal ini langsung mengejutkan penjaga-penjaga lain yang berada di dalam. Mereka secara serentak segera berhamburan keluar, memburu ke arah pintu gerbang. Melihat dua penjaga roboh dengan tubuh berlumuran darah, maka tidak kurang dari empat puluh penjaga lain langsung mencabut pedang dan mengurung Aradea dan Ki Rimbang.

“Seperti yang kukatakan, mereka tidak sedikit, bukan?” kata Aradea, pelan suaranya.

“Kurasa kepandaian mereka sama dengan pengawal yang kita bunuh barusan tadi,” sahut Ki Rimbang, menduga.

“Pengacau tengik! Kalian telah membunuh kawan-kawan kami. Huh! Kalian harus menebus dengan nyawa busuk kalian!” dengus salah seorang penjaga yang berbadan tinggi besar.

“Serbu...!” teriak orang yang berada di sebelah laki-laki tinggi besar.

Lima orang penjaga dengan pedang terhunus langsung menerjang ke arah Ki Rimbang dan Aradea. Pedang mereka berkelebat, menyambar ganas.

Menghadapi serangan ini, Ki Rimbang segera mempergunakan jurus ‘Welut Liar Mengusir Nyamuk’. Tampaknya yang dikeluarkan memang jurus andalannya, mengingat begitu banyak pengawal yang harus dihadapinya.

Sementara itu, Aradea dengan mengandalkan kelincahannya berusaha menghindari setiap serangan yang cukup berbahaya. Bahkan trisula di tangannya berkelebat, menyambut setiap luncuran senjata. Atau terkadang melakukan serangan balik yang cukup ganas.

Nyatanya, dugaan Ki Rimbang meleset. Para penjaga yang puluhan ini ternyata memiliki kepandaian lumayan yang didukung tenaga dalam lumayan pula. Sehingga, baik Ki Rimbang maupun Aradea terpaksa mempergunakan kecerdikan untuk mengatasinya.

Saat senjata salah seorang lawan menghantam wajah, Ki Rimbang cepat menarik tubuhnya ke belakang. Dan tiba-tiba tongkat di tangannya pun menghantam kepala.

Prak!

“Aaa...!” Terdengar suara berderak dari tulang kepala yang hancur. Penjaga itu terhuyung-huyung disertai pekik kesakitan. Tidak lama, tubuhnya ambruk dan tidak bangun lagi.

Pada saat yang sama pula, Aradea melompat ke udara ketika tusukan lawan mengancam perut. Sambil berjumpalitan beberapa kali, trisulanya meluncur ke arah dua orang lawan sekaligus.

Crap! Crap!

“Huaagkh...!” Kedua orang yang menjadi sasaran menjerit tertahan. Masing-masing perut mereka berlubang, tertembus senjata Aradea. Dari setiap lubang, mengucur darah segar. Tidak lama, kedua orang ini pun ambruk dengan mata mendelik.

Ki Rimbang dan Aradea tampaknya memang saling berlomba untuk membinasakan lawan-lawannya secepat mungkin. Walau patut diakui, tidak jarang tinju atau pun pukulan lawan menghantam tubuh mereka.

“Kita harus cepat membantai mereka, Ki. Kalau tidak, kita bisa mati konyol di sini!” bisik Aradea.

“Jangan banyak bicara! Ayo kita bahu membahu mengirim mereka ke kubur dan..., aaakh...!”

Ki Rimbang tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika dari arah samping tidak terduga-duga datang tusukan senjata. Untung tadi sempat dirasakannya sambaran angin serangan. Sehingga, dia masih sempat melompat walau iganya tidak luput dari goresan ujung pedang.

Tanpa menghiraukan rasa perih pada bagian luka, Ki Rimbang memutar tubuhnya. Dia melihat orang yang tadi menusukkan senjata, menyerangnya lagi. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, laki-laki tua ini bertindak cepat. Tongkat hitam di tangannya seketika menusuk lambung. Dan....

Crak!

“Wuaaa...!” Penjaga itu kontan terguling-guling dengan lambung tertembus tongkat Ki Rimbang.

Melihat kematian seorang kawannya lagi, puluhan penjaga itu serentak menyerang Aradea dan Ki Rimbang. Seketika puluhan senjata dari berbagai jenis menghujani mereka.

Pada saat yang sama, Ki Rimbang dan Aradea segera meningkatkan serangan. Mereka benar-benar membuka jalan darah. Hanya sebentar saja, jerit kematian pun terdengar susul-menyusul. Setiap senjata Ki Rimbang maupun Aradea berkelebat, langsung terdengar teriakan.

Sementara itu pada saat yang sama, Pendekar Rajawali Sakti telah sampai pula di tempat kediaman Dewa Sesat. Hanya saja, Rangga tidak turun langsung membantu kedua kawannya yang sedang dikeroyok puluhan anak buah Durudana. Dan Rangga yakin, kedua kawannya pasti dapat mengatasi rintangan yang dihadapi.

Untuk memastikan Dewa Sesat tidak melarikan diri, Pendekar Rajawali Sakti segera melakukan pemeriksaan ke setiap kamar. Karena di seluruh ruangan bawah tidak ditemukan orang yang dicari-cari, selain perempuan-perempuan yang terkurung dalam tahanan, maka Rangga segera menaiki anak tangga menuju lantai atas. Pemeriksaan yang sama pun dilakukan di sini. Sampai kemudian, Rangga menemukan sebuah ruangan yang pintunya terkunci.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti bermaksud mendobrak, tidak disangka-sangka pintu terbuka tiba-tiba. Seketika, muncul seorang pemuda tampan berambut panjang. Pemuda itu tampak terkejut melihat kehadiran Rangga. Di pundaknya, tampak sebuah buntalan yang mungkin berisi emas dan harta kekayaan lain.

“Siapa kau?!” tanya Dewa Sesat curiga, seraya mundur sejauh dua tindak.

“Aku adalah orang yang ingin memberantas racun masyarakat di Jatibarang!” sahut Rangga dingin.

Tampak perubahan pada wajah Dewa Sesat. Jelas sekali dia sedang berusaha menahan amarahnya. “Oho..., jadi kau orang yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti? Begitu besar keberanianmu menghancurkan tempat usahaku. Hari ini kau harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu!” dengus Durudana geram.

“Seharusnya, kaulah yang harus menebus dosa-dosamu. Karena ulahmu menyebarkan madat, banyak orang yang harus menderita. Banyak pula perempuan-perempuan melahirkan tanpa suami. Mereka menjual diri, karena ketagihan obat terkutukmu...!” bentak Rangga, lantang.

“Persetan dengan ocehanmu! Mampuslah kau. Hiyaaa...!” Disertai teriakan menggelegar, Dewa Sesat menerjang Rangga dengan hantaman tangan. Serangannya cepat dan cukup terarah.

Namun Pendekar Rajawali Sakti langsung menyongsong dengan telapak tangan terkembang.

Duk!

“Heh...?!” Benturan yang sangat keras pun tidak dapat dihindari lagi. Namun Dewa Sesat sangat terkejut, karena tidak menyangka lawannya memiliki tenaga dalam sangat tinggi. Seketika, kakinya tersurut mundur. Tangannya yang membentur tadi terasa nyeri.

Kini Dewa Sesat tidak dapat menganggap remeh lagi. Segera dikerahkannya jurus-jurus serangan dahsyat dan cukup berbahaya. Tubuhnya saat itu juga meluruk deras ke arah Rangga. Rangga yang memang telah bersikap waspada, segera mempergunakan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’. Ketika melompat ke depan, kedua tangannya meluncur deras ke arah sasaran.

Durudana yang sempat melancarkan serangan segera menarik diri dengan melompat mundur ketika merasakan adanya sambaran angin deras ke bagian wajahnya. Wuuut! Serangan yang dilakukan Rangga luput. Selagi tubuh Pendekar Rajawali Sakti mengikuti luncuran tangannya, Dewa Sesat melihat peluang baik. Seketika tangannya secepat kilat meluncur ke dada. Maka tidak ampun lagi....

Buk!

“Aaakh...!” Rangga mengeluh tertahan begitu satu hantaman telak mendarat di dadanya. Tubuhnya terhempas, dan jatuh terguling-guling.

“Heaaa...!” Dewa Sesat yang merasa di atas angin tidak membiarkan kesempatan kedua. Disertai teriakan keras, Dewa Sesat menerjang kembali. Kakinya terarah pada bagian leher.

Pendekar Rajawali Sakti walau bibirnya tampak mengalirkan darah, tidak ingin mati konyol. Dalam keadaan rebah begitu, tubuhnya diputar. Sedangkan kakinya menyambut serangan.

Duk!

“Hugkh...!” Dewa Sesat yang terhantam kaki mengenai perutnya kontan jatuh terduduk. Perutnya terasa mulas, dan seperti remuk di dalam. Ketika ia mencoba menarik napas, darah kentallah yang keluar dari hidungnya. Dengan terhuyung-huyung, Dewa Sesat bangkit berdiri. Wajahnya tampak berubah merah menahan marah. Langsung dikerahkannya jurus andalan yang cukup berbahaya.

“Hari ini, berakhirlah kebesaran Pendekar Rajawali Sakti di tanganku. Heaaa...!”

Tubuh Dewa Sesat tiba-tiba berkelebat mengitari Rangga. Gerakannya begitu cepat, sehingga tampak berubah seperti bayang-bayang saja. Rangga hanya menatap setiap gerakan Dewa Sesat Dia berusaha mencari celah ruang pertahanan yang lowong.

“Heaaa...!” Diawali jeritan tinggi melengking menyakitkan gendang telinga, tiba-tiba Rangga tampak melenting ke udara. Masih dalam keadaan berjumpalitan pemuda berbaju rompi putih ini langsung menghentakkan tangannya disertai tenaga dalam tinggi.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’...!” Tidak dapat ditahan lagi, seketika melesat sinar biru berkilauan ke arah Dewa Sesat.

Pemuda berbaju serba kuning ini mencoba menyelamatkan diri dengan membanting tubuhnya ke samping. Tetapi....

Glarrr!

“Huaagkh...!” Di tengah ledakan dahsyat itu terdengar jerit kesakitan disertai terlemparnya sosok berbaju kuning. Untung saja Dewa Sesat hanya terkena sambaran angin serangan itu. Sehingga walau menderita luka dalam cukup parah, tetapi tidak binasa. Entah bila sinar biru itu menghantam telak tubuhnya. Kini dia sudah bangkit berdiri, seraya mencabut senjatanya yang berbentuk melengkung seperti clurit. Dewa Sesat sekarang berdiri tegak di depan Rangga dengan tatapan begitu dingin menusuk.

“Kau memang hebat. Tetapi sampai titik darah yang terakhir, aku tidak akan menyerah...!” dengus pemuda berbaju kuning ini dengan sikap menantang.

Rangga tersenyum mendengar ucapan Dewa Sesat. Diam-diam memang harus diakui bahwa Dewa Sesat memang mempunyai daya tahan sangat luar biasa. Tetapi untuk seorang pemuda seperti Durudana, mustahil Rangga memberi kesempatan untuk hidup lebih lama, mengingat dosa-dosanya yang sudah demikian besar. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, Pendekar Rajawali Sakti langsung bersiap siaga.

“Heaaa...! Mampuslah kau Pendekar Rajawali, Sakti...!” teriak Durudana seraya berkelebat cepat. Senjata melengkung di tangan Dewa Sesat yang mempunyai ketajaman pada kedua sisinya menebas tubuh Rangga.

Dan Pendekar Rajawali Sakti yang mendengar desiran angin halus dari sisi kanannya, langsung menghindari dengan meliukkan tubuhnya secara sempurna dan indah sekali. Serangan pertama tidak mengenai sasaran. Dan Dewa Sesat semakin penasaran. Sementara Rangga terus menggerakkan kakinya lincah sekali, mengerahkan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’.

Dewa Sesat rupanya kehilangan kendali diri. Serangan-serangan selanjutnya semakin menggila. Sudah hampir enam puluh jurus terlewati, tapi tampaknya Dewa Sesat hanya menyerempet beberapa bagian tubuh Rangga. Sampai kemudian, Durudana melompat mundur.

“Pendekar Rajawali Sakti! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu!” Teriakan Dewa Sesat disertai lesatan tubuhnya yang berbaju kuning ke arah Rangga. Senjata di tangannya menebas dan menusuk bagian-bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang mematikan. Rangga cepat berjumpalitan ke belakang. Tetapi pada saat melakukan gerakan menyelamatkan diri seperti ini, clurit Dewa Sesat menggores pahanya.

Bret!

“Aaakh...!” Rangga menjerit tertahan. Celananya robek memanjang. Sabetan senjata lawan ternyata menggores daging pahanya. Darah pun menetes dari lukanya. Sambil meringis kesakitan untuk menghindari serangan susulan yang tidak ada habis-habisnya, Rangga terpaksa berguling-guling.

Sementara melihat lawannya dalam keadaan terluka, Durudana semakin bertambah kalap dan dipenuhi nafsu membunuh. “Tamatlah riwayatmu! Heaaa...!”

Teriakan Dewa Sesat ini dibarengi lesatan tubuhnya. Clurit di tangannya meluncur deras hendak membelah perut Pendekar Rajawali Sakti. Dalam keadaan yang menegangkan seperti itu, Rangga tiba-tiba menghentakkan kedua tangannya.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’! Hiyaaa...!” Karena jaraknya begitu dekat, maka saat sinar biru meluncur. Dewa Sesat tak mampu menghindar lagi.

Glarrr!

“Aaa...!” Teriakan menyayat disertai terdengarnya ledakan dahsyat terdengar seketika. Tubuh Dewa Sesat terhantam telak sinar biru dari aji ‘Cakra Buana Sukma’. Tubuhnya seketika menghangus dan hancur berantakan menjadi serpihan-serpihan daging kecil berbau sangit. Pemuda berambut panjang ini tewas meninggalkan dendam.

Dengan tertatih-tatih Rangga bangkit berdiri. Segera ditotoknya beberapa urat untuk menghentikan keluarnya darah dari luka di pahanya. Setelah darah berhenti, Rangga menatap sayu pada mayat lawannya yang telah menjadi serpihan-serpihan daging.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan yang cukup berarti bagiku. Kekuatan yang dimilikinya cukup hebat. Sayang hidupnya telanjur menempuh jalan sesat!” gumam Rangga dengan suara pelan.

Setelah menyeka darah kental di sudut-sudut bibirnya, Pendekar Rajawali Sakti menuruni anak tangga, menuju keluar. Sampai di depan pintu, Rangga melihat Aradea dan Ki Rimbang yang juga luput dari luka-luka di tubuhnya sedang menghajar beberapa orang pengawal Dewa Sesat yang tersisa.

Mayat-mayat tampak bergelimpangan di halaman. Darah menggenang membasahi sekitarnya. Sehingga, suasana di sekitar tempat itu berbau anyir darah. Rangga rasanya tidak perlu turun tangan lagi. Karena kedua lawannya pasti mampu mengatasi lima orang pengawal yang tampaknya hanya mampu bertahan, walau tak juga menyerah.

“Cepat habisi mereka, Aradea...!” teriak Ki Rimbang. Rupanya walaupun hampir kehabisan tenaga, Aradea tetap bersemangat untuk menghancurkan lawan-lawannya.

“Kau lihatlah, Ki. Hiyaaa...!” Aradea tiba-tiba saja menerobos pertahanan lawan-lawannya.

Sisa-sisa anak buah Dewa Sesat seketika mengibaskan pedangnya untuk menghalau luncuran trisula. Tapi secara tidak terduga-duga, Aradea menarik balik senjatanya. Tiba-tiba tubuhnya melenting ke udara, seraya menusukkan trisula ke kepala. Akibatnya....

Crap! Crap!

Kepala dua orang lawannya yang berada dekat Aradea tertembus senjata bermata tiga ini. Mereka menjerit keras, dan langsung roboh bermandikan darah. Dalam waktu yang hampir bersamaan pula, Ki Rimbang berhasil menghantam pecah kepala lawannya.

Prak!

“Aaa...!” Jerit kematian terdengar kembali disertai bergelimpangannya tubuh orang bemasib naas itu. Dua orang sisanya yang belum mendapat bagian kontan berbalik dan melarikan diri. Sedangkan Aradea dan Ki Rimbang tidak berusaha mengejarnya.

“Kita berhasil, Ki...!” sorak Aradea.

“Ya...! Eeeh, lihat itu Pendekar Rajawali Sakti! Mau ke mana dia?” tanya Ki Rimbang.

“Hei..., tunggu...! Mau ke mana Pendekar Rajawali Sakti. Apakah kau telah menemukan Dewa Sesat!” cegah Aradea berteriak.

“Sudah.... Mereka telah musnah semuanya, kau tak perlu bersusah payah lagi!” jawab Pendekar Rajawali Sakti dengan mengerahkan suara jarak jauh.

“Kita harus merayakan kemenangan dulu!” Teriakan Aradea sudah terlambat. Karena Rangga sudah tidak kelihatan lagi dari pandangan.

“Pendekar besar itu ternyata tidak ingin menonjolkan diri...,” desah Ki Rimbang.

“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya, Ki! Bagaimana ini?!” sahut Aradea, agak kecewa.

“Sudahlah.... Kantongi dulu rasa terima kasihmu. Nanti kalau bertemu dia, baru kau berikan!” sergah Ki Rimbang berkelakar.

Aradea hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya, melihat ulah konyol Ki Rimbang.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: UTUSAN DARI ANDALAS
Thanks for reading Dewa Sesat I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »