Bencana Tanah Kutukan

BENCANA TANAH KUTUKAN

SATU

PAGI berkabut menyelimuti Gunung Arjuna yang berdiri angkuh hendak menggapai langit. Udara dingin terasa menusuk sampai ke tulang sumsum. Dalam sapuan kabut pada bagian lereng di sebelah barat, tampak sesosok tubuh tengah berusaha bangkit.

Pakaiannya yang berwarna kuning telah dipenuhi percikan darah dan tampak robek di sana-sini. Ada beberapa luka di bagian dada. Tampaknya sosok yang ternyata laki-laki berumur sekitar dua puluh empat tahun ini sudah sangat lemah.

Sementara tidak jauh dari laki-laki itu, tampak tergeletak seorang laki-laki lain berumur sekitar enam puluh tahun. Bajunya yang berwarna merah, basah berlumur darah pula. Rambutnya yang berwarna putih, selain kotor oleh debu juga dibasahi darah.

Tidak lama, laki-laki berpakaian merah ini menggeliat. Dan perlahan-lahan dia bangkit. Ternyata, walaupun keadaannya sangat parah dia tidak mati. Sungguh hebat daya tahannya.

Sementara laki-laki berbaju kuning memperhatikan laki-laki tua di depannya dengan tatapan mata layu tidak bersemangat. Dan seperti tersadar dari mimpi buruk, terkejut dia melihat keadaan laki-laki tua di depannya. Sebaliknya, orang yang dipandanginya pun tampak sama kagetnya.

"Mengapa jadi begini, Guru?" tanya laki-laki berbaju kuning, memandang heran. Suaranya serak seperti dicekik, karena ada darah yang menggumpal di saluran pernapasannya.

Sedangkan kakek berbaju merah yang tidak lain guru dari laki-laki berbaju kuning tampak seperti orang linglung. Matanya lantas tertuju pada pedangnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya terkapar.

"Ya, mengapa pula jadi begini, Kesuma? Semalam kita baru sampai di daerah tidak bertuan ini. Kemudian, aku tertidur dan seperti mimpi buruk. Dalam mimpi, aku bertarung denganmu, Apakah betul?" tanya si kakek seakan ditujukan pada dirinya sendiri.

"Aku juga tertidur dan mengalami mimpi yang sama, Guru," sahut laki-laki berbaju kuning yang dipanggil Kesuma. "Aku seperti bertarung dengan Guru. Kita sama-sama ingin membunuh, seperti musuh bebuyutan!"

"Kini kenyataannya aku hampir mampus. Dan kau juga nyaris mati. Apakah yang kita rasakan ini juga hanya mimpi, Kesuma?" tukas laki-laki berbaju merah sambil meringis kesakitan.

"Tidak, Guru...! Aku merasa betapa sakitnya tertusuk pedang. Kita sama-sama hampir kehabisan darah, sehingga dunia ini seperti berputar. Kita hampir saling bunuh, Guru. Okkh..., betapa gilanya...!" desah Kesuma, membenarkan.

Wajah Kesuma yang pucat dihantui perasaan ngeri. Entah, apa yang telah terjadi pada diri mereka. Pikiran dan tingkah laku mereka waktu itu hanya bagai dalam mimpi saja.

Kemarin ketika murid dan guru ini sampai di kaki Gunung Arjuna, dalam keadaan biasa saja. Tidak ada keganjilan yang dirasakan. Namun saat hari menjadi gelap, dan perjalanan ke Siwalaya tidak mungkin diteruskan lagi, laki-laki berbaju merah itu memutuskan untuk bermalam di tempat ini.

Menjelang malam, mereka seperti terkena aji 'Sirep' hingga tertidur. Lalu seperti dalam mimpi saja, mereka mendengar bisikan gaib. Dan seperti ada kekuatan yang tidak tampak yang mempengaruhi kedua-duanya, terjadilah apa yang sama-sama tidak mereka sadari. Sebuah pertarungan antara murid dan guru!

"Kita harus mengobati luka-luka kita, Guru. Kalau tidak, mustahil bisa sampai ke Siwalaya!" ujar Kesuma khawatir.

Laki-laki tua berbaju merah yang juga dalam keadaan terluka parah akibat pertarungan di bawah sadar dengan muridnya itu tidak segera menjawab. Dia malah memeriksa buntalan yang tergeletak tidak begitu jauh darinya.

"Ya! Kurasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini! Aku akan mengobati luka-lukamu dulu. Setelah itu, secepatnya kita menyingkir dari sini!" sahut laki-laki tua itu.

Laki-laki berbaju merah ini kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari sebuah kantong berwarna hitam. Diambilnya beberapa butir obat berwarna merah, hitam, dan biru. Benda bulat sebesar jari kelingking ini segera diberikan pada Kesuma.

"Makanlah. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh," ujar guru Kesuma ini.

Kesuma segera menelan obat pemberian gurunya. Sedangkan laki-laki tua itu sendiri segera menelan obat yang sama.

Sesuatu yang cukup mengherankan terjadi. Setelah minum obat, laki-laki tua ini menyapu luka-lukanya dengan telapak tangan. Dan tiba-tiba saja luka-luka di sekujur tubuhnya lenyap tanpa bekas.

Ketika Kesuma menyapu luka-luka di badannya, maka hal yang sama terjadi atas dirinya.

"Bagaimana, Kesuma? Apakah ada bagian tubuhmu yang masih sakit?" tanya laki-laki tua ini disertai senyum.

"Tidak, Guru," sahut Kesuma kagum.

"Sekarang kita sudah bisa meneruskan perjalanan kembali!" ujar laki-laki ini kepada muridnya.

Kesuma dalam hati menjadi senang. Sebab dia sendiri merasa tidak tahan berlama-lama di lereng Gunung Arjuna. Menurutnya, ada sesuatu yang terus mengawasi kehadiran mereka di tempat itu. Namun baru saja mereka hendak meninggalkan lereng Gunung Arjuna, tiba-tiba....

"Jangan tergesa-gesa meninggalkan tempat ini!" Terdengar sebuah suara merdu dari belakang.

Kesuma dan gurunya serentak menoleh ke belakang. Ternyata entah dari mana datangnya, di belakang mereka telah berdiri seorang perempuan berbaju putih. Rambutnya panjang sepinggang. Sedangkan wajahnya tidak kelihatan, karena tertutup cadar berwarna putih. Pada bagian sisi cadar berwarna kuning keemasan.

"Siapa kau, Nisanak?" tanya laki-laki tua berbaju merah ini heran.

"Aku adalah salah satu penghuni Istana Pasai di lereng Gunung Arjuna ini," sahut wanita itu dengan suara merdu. "Dan kalian?"

"Aku Ki Londa dari Rangkas. Dan ini muridku, Kesuma namanya. Hmm.... Aku tidak melihat ada bangunan di sekitar sini?" sahut laki-laki tua bernama Ki Londa disertai gumaman keheranan.

"Bangunan itu tidak jauh dari sini. Karena Gusti Ratu kami melindunginya dengan Tabir Gaib. Maka, tidak seorang pun yang dapat melihatnya," jelas wanita bercadar ini.

"Apakah kau dan ratumu sebangsanya peri gunung atau makhluk halus lainnya?" tanya Ki Londa.

"Bukan. Kami manusia sepertimu. Hanya tingkatan kami lebih tinggi dibandingkan kalian," jawab wanita ini tanpa maksud menyinggung perasaan.

"Siapa pun adanya kau ini, aku tidak peduli. Kami hendak meneruskan perjalanan menuju Siwalaya," tegas Ki Londa.

"Sebaiknya perjalananmu ditunda dulu, Ki. Lagi pula, kalian tidak bisa melewati jalan di depan sana."

"Kenapa rupanya?" tanya Kesuma heran.

"Di depan sana adalah Tanah Kutukan. Dan, sedang terjadi sesuatu yang mengerikan di sana...."

"Mengerikan bagaimana?" tukas Ki Londa, penasaran.

"Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian. Kalau ingin jelas, marilah ikut aku. Ratu mungkin dapat menjawab pertanyaanmu, Ki!" ajak wanita bercadar itu tegas.

Atas dasar rasa ingin tahunya yang begitu besar, Ki Londa dan Kesuma akhirnya mengikuti wanita bercadar ini.

Ki Londa, Kesuma, dan wanita bercadar itu tiba di jalan kecil. Wanita bercadar yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya, kerika jalan yang ditempuh buntu terhadap sebuah tebing berdinding batu.

"Penjaga pintu utama! Buka pintu Tabir Gaib. Aku penasihat utama datang kembali," perintah wanita itu, pelan suaranya.

Ki Londa dan muridnya terheran-heran. Kecuali dinding tebing, tak ada apa-apa di situ. Demikian pula pintu yang dimaksud. Namun, wanita itu sepertinya menyuruh seseorang untuk membukakan pintu yang kasat mata.

Dan sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka pun terjadi. Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh. Lalu muncul kabut putih dari ujung jalan buntu ini. Perlahan-lahan kabut itu lenyap seperti terbawa angin. Begitu kabut benar-benar tuntas, terlihat sebuah pintu berukuran cukup besar berwarna putih. Di belakang pintu, terlihat kabut merah mengambang.

Rasa heran di hati murid dan guru ini belum juga lenyap ketika wanita berbaju putih melanjutkan langkahnya.

"Mari ikuti aku!" perintah wanita bercadar ini.

Seperti terkena sihir, kedua laki-laki ini mengikuti wanita bercadar, Mereka berjalan melewati pintu yang muncul tiba-tiba. Dan ketika mereka berada di tengah-tengah kabut merah tadi, maka pintu di belakang menutup dengan sendirinya.

Beberapa saat kemudian, barulah Ki Londa dan Kesuma dapat menyesuaikan diri dengan pemandangan di dalam. Tampak beberapa orang pengawal berbaju putih tengah menjaga pintu masuk sebuah bangunan besar nan megah bagai istana. Inikah yang dinamakan Istana Pasai? Mereka memegang tombak. Murid dan guru itu juga tak habis pikir ketika melihat bahwa semua pengawal di istana ini terdiri dari perempuan.

"Mari ikut aku!" ajak wanita bercadar itu. Wanita itu menuju ke sebuah ruangan, melewati lorong yang sangat panjang.

"Namaku Dewi Harnum. Di Kerajaan Pasai ini aku menjabat sebagai penasihat kerajaan. Panglima perang di sini bernama Mira. Sedangkan Dewi Melur adalah patih. Sengaja aku mengundang kalian, karena dalam pengamatan kami kalian bisa mengobati suatu penyakit," jelas wanita bercadar bernama Dewi Harnum.

Ki Londa merasa penasihat kerajaan itu telah menjebak mereka. Sehingga, tanpa sadar langkahnya pun terhenti.

"Ada apa?" tanya Dewi Harnum dengan kening berkerut.

"Kau menipuku?!" desis Ki Londa tidak senang.

"Tidak ada yang menipu kalian. Ratu kami terluka parah akibat perkelahian mengerikan dua hari yang lalu. Urat darah di tubuhnya banyak yang putus. Tabib istana tidak sanggup mengobatinya!" jelas Dewi Harnum, tegas.

"Perkelahian mengerikan apa?" tanya Kesuma.

"Sulit menerangkannya. Nanti saja jika keadaan ratu kami telah membaik. Aku berjanji untuk menceritakan segala sesuatunya yang terjadi di sini," sahut Dewi Harnum dengan jawaban yang mengambang.

"Aku tidak mau mengobati siapa pun, karena aku bukan seorang tabib!" bantah Ki Londa tegas.

Penasihat kerajaan itu tersenyum. Dan langkahnya diayunkan kembali, memasuki sebuah ruangan lain. Ruangan yang dimasuki ternyata sangat besar dan mewah. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berwarna putih dan berkasur tebal. Di atasnya tergolek tak berdaya sesosok tubuh ramping. Di beberapa bagian tubuhnya, terlihat luka-luka yang tertutup kapas. Walaupun wajahnya pucat, namun kecantikannya terlihat jelas.

Beberapa orang yang menunggui langsung pergi meninggalkan ruangan ketika Dewi Harnum memberi isyarat. Sekarang, di ruangan ini hanya tinggal Dewi Harnum, Kesuma, dan Ki Londa saja.

"Lihatlah, Ki. Begini menyedihkan keadaannya. Apakah kau tega melihat ratu kami binasa karena luka-lukanya?" desah Dewi Harnum, seraya melirik Ki Londa, lalu beralih pada junjungannya.

Ki Londa terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Kurasa kau salah lihat, Dewi! Percayalah, aku bukan seorang tabib yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun," elak Ki Londa lagi.

"Hm.... Aku mengerti, apa yang telah terjadi atas diri kalian, Ki Londa. Kau membawa Kitab Panca Sona. Kudengar, selain kitab itu berisi ilmu sakti yang dapat menghidupkan orang mari, di dalamnya juga terdapat cara-cara penting dalam hal ketabiban. Apakah kau begitu pelit, sehingga tidak mau memberi pertolongan pada kami?"

Ki Londa terkejut sekali. Sungguh tidak disangka Dewi Harnum mengetahui apa yang dibawanya. Bahkan sepertinya tahu kalau kitab itu telah dipelajari oleh Ki Londa.

"Kitab itu bukan milikku. Aku baru saja hendak mengantarkannya pada seseorang," kilah Ki Londa.

"Kau mau mengantarkannya pada Ki Belamparan, bukan? Ketahuilah! Ki Belamparan masih sahabat ratu kami. Dia pasti sangat kecewa bila melihat kekikiranmu!" desak Dewi Harnum.

Semakin bertambah terkejut saja Ki Londa mendengar ucapan Dewi Harnum ini. Dan baru saja laki-laki tua berbaju merah ini hendak mengatakan sesuatu pada Dewi Harnum, tiba-tiba saja pintu terbuka. Di depan pintu tampak berdiri seorang laki-laki tua renta memakai selempang putih. Di belakangnya tampak beberapa orang pengawal mengiringinya.

"Ki Belamparan?!" desis Ki Londa, seakan tidak percaya dengan pemandangannya.

Laki-laki tua yang dipanggil Ki Belamparan tidak menyahut, tapi malah berjalan mendekatinya.

"Bagaimana kau bisa sampai ke sini, Ki? Aku sendiri baru saja hendak melakukan perjalanan ke Siwalaya untuk menjumpaimu!" tanya Ki Londa heran,

"Kau ingin menyerahkan Kitab Panca Sona, bukan?" tebak laki-laki tua berselempang kain putih ini disertai senyum.

"Benar," sahut Ki Londa.

"Kau di sini. Dan aku juga sudah satu hari di sini. Kumohon kau mau membantuku untuk menyembuhkan Ratu Andilini sahabatku," pinta Ki Belamparan.

"Tapi...!"

"Janganlah membantah! Terlambat sedikit saja, jiwa Ratu Andilini tidak akan tertolong lagi," potong Ki Belamparan tegas.

Kakek berselempang kain putih ini memang orang yang cukup disegani Ki Londa. Mereka sejak dulu menjalin persahabatan cukup baik. Begitu baiknya, sehingga Ki Blamparan bersedia meminjamkan Kitab Panca Sona yang di dalamnya mengandung ilmu ketabiban dan juga ilmu kebangkitan kembali, bila seseorang telah mati.

Setelah hampir dua tahun Ki Londa mempelajari Kitab Panca Sona hingga tuntas, haruskah permintaan Ki Belamparan ditolaknya. Padahal dia tahu, Ki Belamparan yang memiliki Kitab Panca Sona tidak pernah mempelajari kitab itu. Karena sepanjang hidupnya lebih sering digunakan untuk berbuat amal kebajikan.

"Bagaimana, Ki Londa? Apakah kau bersedia membantu kesembuhan sang Ratu?" desak Ki Belamparan.

"Baiklah. Aku tidak bisa menolak keinginanmu. Tapi, kau harus berjanji padaku untuk menceritakan semua yang telah terjadi di sini. Bagaimana?"

"Jangan khawatir. Jika kesehatan Ratu telah pulih kembali, kapanpun aku bersedia menceritakan apa yang ingin kau ketahui," janji Ki Belamparan.

Kemudian Ki Londa didampingi Ki Belamparan segera mendekati ranjang Ratu Andilini. Sementara baik Kesuma maupun Dewi Hamum mengawasi jalannya pengobatan tidak jauh dari ranjang itu.

"Luka-lukanya cukup parah. Aku kurang yakin, apakah mampu menyembuhkannya atau tidak," desah Ki Londa, pelan saja suaranya.

"Semua harapanku tertumpu padamu," sahut Ki Belamparan tegas.

Ki Londa merasa maklum dengan ucapan sahabatnya. Tanpa bicara lagi, dikeluarkannya bungkusan kain hitam. Lalu diambil isinya beberapa butir. Ternyata benda-benda yang diambilnya tidak lain dari butir-butir obat pulung yang berwarna merah, hitam, dan kuning.

"Bantu aku memasukkan obat-obat ini ke dalam mulut sang Ratu!" pinta Ki Londa.

Ki Belamparan langsung melakukan apa yang dikatakan Ki Londa. Dengan dibantu sedikit air, obat-obat yang diberikan Ki Londa masuk semua ke dalam mulut Ratu Andilini. Sekejap mereka menunggu. Ki Londa sendiri segera mengeluarkan Kitab Panca Sona, dan membuka halaman terakhir untuk merapal mantra-mantra penyembuh. Dalam kesempatan yang sama pula, tiba-tiba....

"Lihat! Luka-luka sang Ratu telah mulai mengering!" seru Dewi Harnum.

Ki Belamparan menoleh ke arah Ratu Andilini. Dan apa yang dikatakan Dewi Hamum memang benar. Luka-luka yang diderita Ratu Andilini benar-benar telah mengering.

Sementara Ki Londa tidak terpengaruh dengan apa yang telah terjadi. Laki-laki tua ini terus membaca mantra. Sementara tubuhnya telah bermandikan keringat. Setelah meletakkan Kitab Panca Sona di tepi ranjang, kemudian tangan yang satu dengan yang lain digosok-gosokkan. Kedua telapak tangan yang telah berubah putih seperti perak ini disapukan pada bagian-bagian luka di badan Ratu Andilini.

Jssst! Bet!

Keanehan lain pun segera terjadi. Bekas luka-luka di tubuh ratu hilang begitu saja. Sementara Ki Belamparan tercengang melihat semua ini.

"Kita hanya tinggal menunggu saat-saat sadarnya sang Ratu," gumam Ki Londa, seraya mengambil Kitab Panca Sona kembali.

"Sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan," puji Ki Belamparan.

"Semuanya itu berkat Kitab Panca Sona," jawab Ki Londa, sambil mengangsurkan kitab itu pada Ki Belamparan. "Terimalah. Aku dan muridku telah menyerap semua ilmu yang terdapat dalam kitab ini. Dan aku merasa sangat berterima kasih atas kebaikanmu meminjamkan kitab ini kepadaku!"

"Kurasa aku tidak membutuhkannya. Kitab itu justru lebih aman bila berada di tanganmu!" tolak Ki Belamparan.

"Tetapi...?" Ki Londa ragu-ragu.

"Tidak ada tapi-tapian. Aku telah ikhlas memberikannya padamu. Asal saja, kau mau berjanji untuk mengatasi kemelut yang sedang dihadapi sang Ratu dan kerajaan ini."

"Aku tidak tahu, apa yang kau maksudkan, Sobat! Jelaskan segalanya padaku!" pinta Ki Londa.

"Aku akan menceritakannya, tapi tidak di sini!" ujar Ki Belamparan. "Mari ikuti aku!"

Tanpa membantah lagi, Ki Londa dan Kesuma mengikuti Ki Belamparan. Mereka segera menuju ke sebuah ruangan lain. Sedangkan Dewi Harnum tidak meninggalkan ruangan ratunya. Rupanya dia ingin melihat junjungannya sadar kembali seperti semula.

DUA

Setelah mencicipi hidangan apa adanya, Ki Belamparan mulai menjelaskan segala sesuatunya yang dianggap sangat perlu untuk diketahui Ki Londa dan muridnya.

"Seluruh penghuni istana ini tidak pernah makan daging atau garam. Itu sebabnya, mereka seakan antara ada dan tiada. Jelasnya, Ratu dan semua prajuritnya seperti berada di alam kedua. Tapi, bukan mati!" papar Ki Belamparan, memulai.

"Begitu? Lalu, mengapa di istana ini tidak kulihat ada laki-laki selain kita?" tanya Ki Londa heran.

"Panjang ceritanya. Namun, aku akan berusaha menjelaskannya padamu satu persatu," sahut Ki Belamparan. "Dulu..., di Kerajaan Pasai ini banyak laki-laki, sebagaimana di daerah lainnya. Pada suatu saat, seorang raja perampok bernama Parta Widura mengajukan lamaran untuk memperistri Jelita Harum, yaitu putri kerajaan yang tertua. Sahabatku, Raja La Dangga, tentu tidak setuju putrinya menikah dengan penjahat. Maka lamaran ditolaknya. Parta Widura ternyata sakit hati atas penolakan itu. Dan satu purnama kemudian, dia menyerang Kerajaan Pasai dengan seluruh kekuatannya. Perlu kalian ketahui, Raja La Dangga sahabatku adalah orang yang sangat jarang bicara...."

"Raja La Dangga tidak bedanya dengan si Pahit Lidah, begitu?" sela Ki Londa.

"Tepat! Raja La Dangga akhirnya kalah. Permaisurinya dan juga putri Jelita Harum terbunuh. Pada saat akhir hayatnya, raja menjatuhkan kutukan pada seluruh anggota Parta Widura. Mereka akan menjadi manusia yang paling menjijikkan, didera penyakit yang tidak kunjung tersembuhkan. Semua binatang ternak menjadi makhluk mengerikan. Selain itu, karena kaum lelaki dibunuh semuanya oleh Parta Widura, Raja La Dangga meminta pada Yang Maha Kuasa agar Kerajaan Pasai lenyap dari pandangan mata," jelas Ki Belamparan.

"Lalu, di mana sekarang Parta Widura tinggal?" tanya Kesuma ingin kepastian.

"Mereka tinggal di Tanah Kutukan!"

"Kudengar, Tanah Kutukan tidak jauh lagi dari sini?" timpal Ki Londa.

"Memang benar. Letaknya di sebelah selatan lereng Gunung Arjuna ini," jawab Ki Belamparan.

"Lalu, apa yang terjadi dengan kerajaan ini setelah kutukan Raja La Dangga?" tanya Kesuma.

"Seperti yang kau lihat, tidak ada laki-laki di sini. Putri bungsu almarhum Raja La Dangga yang pada masa itu, bersembunyi di dalam lorong rahasia. Dan kini, dia menjadi pimpinan. Dia lantas berguru pada seorang tokoh bernama Koswara,'' ujar Ki Belamparan.

"Lalu, apa yang menyebabkannya terluka? Kulihat luka-luka di tubuhnya seperti bekas cabikan kuku binatang?"

"Memang betul. Dua hari yang lalu, ada sepuluh ekor harimau besar datang ke sini. Aku tidak tahu, bagai-mana binatang-binatang itu dapat menembus benteng gaib yang diciptakan almarhum Raja La Dangga. Yang jelas, binatang-binatang itu sempat melakukan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit kerajaan ini."

"Apakah mereka sudah dikuburkan?" tanya Ki Londa.

"Maksudmu?"

"Prajurit-prajurit yang tewas itu apakah sudah dikubur?"

"Belum. Tidak ada mayat yang dikubur di ke rajaan ini. Mereka disimpan di suatu tempat, dan tidak akan pernah membusuk selama-lamanya," jelas Ki Belamparan.

"Aku ingin melihatnya," pinta Ki Londa.

"Hanya penasihat kerajaan yang dapat mengantarkanmu ke sana. Oh, ya! Apakah kau dapat membangkitkan orang-orang yang sudah mari, Sahabatku?"

"Tidak bisa. Panca Sona hanya dapat menghidupkan kembali bila orang itu mengamalkan ilmu tersebut. Jika tidak mengamalkan ilmu Panca Sona, bagaimana bisa hidup kembali?"

Rupanya Ki Belamparan baru ingat apa yang dikatakan Ki Londa. Memang lelaki tua itu memiliki kitab-kitab kuno, di antaranya Panca Sona yang kesohor itu. Namun ia hanya sekadar membaca, tidak berusaha menyerap isinya.

"Kalau kau ingin melihat mayat-mayat prajurit korban harimau itu. Sekarang...!"

Tok! Tok!

Belum tuntas kata-kata Ki Belamparan, tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamar yang ditempati mereka ini.

"Tunggu sebentar!" kata kakek berselendang putih sambil bangkit dari tempatnya, lahgsung menuju pintu.

Tidak lama pintu pun terbuka. Ternyata, di depan pintu telah berdiri seorang perempuan memakai baju kuning. Wajahnya tertutup cadar. Penampilannya seperti seorang panglima perang. Memang dialah yang bernama Mira, Panglima Perang Kerajaan Pasai.

"Ratu ingin bertemu kalian bertiga!" pinta Panglima Mira tegas.

"Kami segera menghadap!" jawab Ki Belamparan.

Mereka kemudian mengikuti panglima perang kerajaan yang tubuhnya menebarkan bau Wangi kembang melati. Mereka langsung menuju ruang pertemuan.

Ternyata Ratu Andilini memang telah menunggu di ruang pertemuan. Tidak seperti panglima, patih, maupun penasihat kerajaan, Ratu Andilini tidak memakai cadar. Sehingga wajah wanita cantik yang belum mempunyai pendamping ini terlihat jelas. Kepalanya memakai mahkota dengan pakaian kebesaran berwarna kuning emas. Memang seluruh pakaiannya terdiri dari emas berlapiskan permata.

"Duduklah, Paman!" perintah Ratu Andilini.

Ki Belamparan, Ki Londa, dan Kesuma segera duduk di tempat yang telah tersedia. Sementara itu, tidak jauh dari mereka bertiga, tampak hadir pula Dewi Harnum, Panglima Mira, juga Patih Dewi Melur.

"Paman Belamparan tentu sudah bercerita tentang kerajaan ini pada kalian berdua. Juga, Dewi Harnum juga telah menceritakan, bahwa kalianlah yang telah menolongku. Atas nama kerajaan, aku mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam. Kuharap, seperti halnya Paman Belamparan, kalian berdua mau tinggal di istana ini agak lama," ucap Ratu Andilini.

Ki Londa dan muridnya saling berpandangan. Mereka jadi serba salah. Saat itu juga laki-laki tua berpakaian merah ini jadi teringat pada tugasnya yang cukup banyak di daerah Rangkas.

"Bagaimana? Apakah kalian setuju?" desak Ratu Andilini.

"Apa yang dapat kami kerjakan bila berada di sini, Gusri Ratu? Lagi pula, di dalam Kerajan Pasai ini semuanya perempuan. Kami, terlebih-lebih muridku, tentu menjadi serba tidak enak," elak Ki Londa, halus.

"Memang. Dan itulah yang sangat menyedihkan. Tapi aku juga merasa sangat prihatin dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi," desah Ratu Andilini.

"Ada apa rupanya, Gusti Ratu?"

"Mungkin Paman Belamparan sudah menceritakan apa yang terjadi dengan kerajaan ini di masa lalu," kata Ratu Andilini.

Ki Londa menganggukkan kepala.

"Parta Widura memang sudah kalah. Akibat kutukan itu, dia tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya. Wajah dan sekujur tubuhnya rusak. Tubuhnya dipenuhi luka membusuk, yang tidak kunjung tersembuhkan. Walaupun begitu, entah bagaimana, akhir-akhir ini dia tahu kalau Kerajaan Pasai masih berdiri. Juga, keturunan almarhum Raja La Dangga masih hidup. Yaitu, aku sendiri. Maka dia segera mengirimkan binatang kutukan ke sini. Dan itu hampir membuatku tewas. Rasa penasaran membuatnya ingin mengulangi cerita lama. Dan dia pasti mengincar kerajaan dan seluruh perighuninya," papar Ratu Andilini, memulai kisahnya.

"Ya.... Karena, hamba rasa seluruh penghuni istana ini semuanya cantik-cantik!" Ki Londa menimpali.

"Bukan itu saja. Menurut mimpi, Parta Widura sekarang sudah memiliki kekuatan berlipat ganda. Kurasa, ada sesuatu yang diincarnya, selain ingin menguasai kerajaan ini dan seluruh penghuninya," tambah Ratu Andilini.

"Dan kerajaan kekurangan orang-orang kuat untuk mengusir mereka?" tebak Ki Londa.

"Betul! Baru binatang-binatang itu saja kami sudah kewalahan. Apalagi jika mereka menyerbu kemari?" desah Ratu Andilini, seperti bertanya pada diri sendiri.

"Bukankah tempat ini diselimuti Tabir Gaib? Bagaimana mereka bisa masuk ke sini?" tanya Kesuma heran.

"Itulah yang membuat kami heran. Mereka-tidak mungkin mengirimkan harimau-harimau itu ke sini, jika tidak tahu tabir pembuka di pintu utama!"

"Baiklah! Sekarang, kita hanya dapat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya," timpal Ki Belamparan.

"Memang! Tapi, aku akan tetap mengirimkan Dewi Harnum untuk mencari tokoh-tokoh sakti yang bersedia membantu kerajaan ini," tandas Ratu Andilini. Kemudian Ratu Kerajaan Pasai ini berpaling pada penasihat kerajaan. "Lakukanlah apa yang menjadi tugasmu, Dewi!"

"Segera, Gusti Ratu," sahut Dewi Harnum.

Gadis itu kemudian menghaturkan sembah dengan membungkukkan badannya. Lalu segera ditinggalkannya ruangan pertemuan ini. Dan Ki Belamparan, Ki Londa, serta Kesuma pun segera mengikuti Dewi Harnum meninggalkan ruangan.

Kini hanya Ratu Andilini saja yang berada di dalam ruangan pertemuan. Peristiwa hadirnya binatang-binatang buas waktu itu terlalu mengganggu pikirannya. Tidak seorang pun yang dapat menembus Tabir Gaib Kerajaan Pasai. Terkecuali, orang kerajaan sendiri atau para penghuni istana lainnya. Jelas, ada salah seorang penghuni istana yang berkhianat. Tetapi, siapa? Apakah para pembantunya? Atau, Ki Koswara yang justru guru dari Ratu Andilini?

Rasanya sangat mustahil, sejak diangkat menjadi guru oleh Ratu Andilini tidak pernah meninggalkan Kerajaan Pasai, Mustahil Ki Koswara berkhianat, mengingat Parta Widura juga sangat dibencinya.

"Kurasa aku harus membicarakan masalah ini secara pribadi pada Paman Belamparan!" pikir sang Ratu.

Ratu Andilini kemudian meninggalkan ruangan pertemuan untuk menjumpai Ki Belamparan. Namun ternyata Ratu Andilini tidak langsung menuju ke ruangan yang ditempati Ki Belamparan, melainkan segera memeriksa beberapa ekor harimau yang berhasil dibunuhnya beberapa hari yang lalu.

Ketika wanita ini membuka pintu, kontan terkejut. Ternyata, harimau-harimau yang berhasil dibunuhnya telah berubah menjadi beberapa ekor kucing belang yang tidak begitu besar!

"Kutukan yang dijatuhkan almarhum ayahanda, ternyata bukan saja merugikan Parta Widura, tapi juga menjadi bencana di kerajaan ini!" desis sang Ratu.

Diam-diam wanita ini mengeluh, karena binatang-binatang buas yang hampir membunuhnya hanyalah jelmaan beberapa ekor kucing kurapan!

********************

Desa Kartaraja terletak tidak jauh dari lereng Gunung Arjuna. Ada sebuah anak sungai yang mengalir dan bersumber dari mata air Gunung Arjuna. Sungai itu membelah Desa Kartaraja. Karena airnya yang sejuk dan sangat jernih, tidak heran bila penduduk setempat mempergunakannya untuk berbagai keperluan.

Matahari telah agak ringgi, ketika seorang gadis cantik bertubuh padat berlari-lari menuju sungai. Agaknya, dia bangun kesiangan, untuk mencuci pakaian. Karena setahunya, kawan-kawannya pasti telah berada di sungai. Dan dia tak ingin tertinggal untuk bercengkerama bersama kawan-kawannya. Namun begitu sampai, tidak jauh dari sungai....

"Heh...?!" Gadis ini benar-benar terkejut dan menghentikan larinya saat melihat air sungai berwarna merah. Perlahan-lahan dia mendekati sungai. Nyatanya warna merah dipermukaan sungai semakin bertambah jelas. Sampai akhirnya....

"Ohh...!" Gadis ini mendesah kaget saat melihat tiga sosok tubuh tergeletak di atas baru datar. Dan sosok-sosok tubuh itu dikenalinya sebagai mayat kawannya sendiri. Ada sebuah luka menganga di bagian leher mereka. Lebih menyedihkan lagi, mayat gadis-gadis itu dalam keadaan polos. Tampaknya mereka diperkosa terlebih dulu, sebelum dibunuh.

Karena sedemikian kagetnya, gadis ini untuk beberapa saat hanya terpaku di tempatnya berdiri. Baru ketika kesadarannya putih, dia berbalik sambil hendak berteriak. Namun....

"Ohh...?!" Kembali gadis ini tersentak kaget Bahkan tubuhnya sampai terjingkat saat tahu-tahu di depannya berdiri seorang laki-laki berumur tujuh puluh tahun. Wajahnya bopeng-bopeng seperti bekas terserang penyakit cacar. Badannya bungkuk. Sedangkan tangannya yang sebelah bengkok seperti bekas patah. Matanya tampak berbinar menyimpan kekejian. Bibirnya tersenyum, namun lebih mirip seringai. Sedangkan tangannya yang cacat mengelus-elus jenggotnya yang berwarna putih keperakan.

"Ah.... Sungguh tidak kusangka. Setelah sekian lama aku mendekam di Banjaran, ternyata di dunia ini semakin banyak saja gadis cantik!" desis kakek berwajah mengerikan ini.

"Siapakah kau ini, Kek? Apakah kau yang telah membunuh mereka?" tanya gadis ini dengan suara bergetar.

"Ha ha ha...! Aku yang membunuh? Oh, tentu saja bukan. Aku hanya memberi mereka kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan sejak dari kecil hingga dewasa. Tetapi, tidak disangka setelah kuberikan kenikmatan, mereka malah memilih mati. Dan dengan sangat terpaksa aku mengabulkannya!" jawab kakek ini seenaknya, disertai tawa.

"Sungguh keji sekali perbuatanmu, Manusia Busuk?!" desis gadis itu geram.

"Dadung Ampel tidak pernah keji. Setelah melihat kecantikanmu, seleraku jadi terbangkit kembali!"

"Apa maksudmu?" tanya gadis ini tampak mulai ketakutan. "Jangan main-main denganku. Aku Ismaya, putri Kepala Desa Kartaraja!"

"Maksudku? Tentu saja ingin mengajakmu bersenang-senang sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju Tanah Kutukan!" desis laki-laki tua bernama Dadung Ampel, tak mempedulikan gertakan gadis bernama Ismaya yang mengaku anak kepala desa.

"Tua bangka tidak tahu diri! Akan kulaporkan semua tindakanmu ini pada penduduk desa agar mereka merejammu!" ancam Ismaya.

Sekejap Ismaya berbalik, hendak berlari meninggalkan tepian sungai lewat jalan lain. Tetapi baru saja beberapa tombak berlari....

"Ohh...?!" Kembali gadis ini mendesah lirih, ketika tahu-tahu Dadung Ampel mendarat di depannya.

"Ha ha ha...! Mau ke mana? Kau tidak perlu takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu. Kita hanya bersenang-senang. Kau pasti akan menyukai pengalaman ini!"

"Pergi! Kau hanyalah iblis berkedok manusia!" teriak Ismaya, mulai kalap.

Laki-laki bungkuk ini kembali tertawa. Tiba-tiba saja dia melompat ke depan dengan tangan terjulur cepat, ke dada gadis itu.

"Auwww...!" Ismaya menjerit, lalu ambruk tak berdaya.

Beberapa saat kemudian, putri Kepala Kartaraja sudah tidak dapat menggerakkan sekujur tubuhnya, setelah tertotok jari Dadung Ampel. Seketika pucatlah wajah Ismaya membayangkan apa yang bakal menimpa dirinya.

Dadung Ampel tersenyum penuh kemenangan. Dipandanginya wajah Ismaya sambil mengelus-elus pipinya yang halus tanpa noda. Dan gadis ini hanya bisa berteriak ketakutan.

"Melihat kecantikanmu aku menjadi semakin tidak sabar untuk segera mencipipinya. Marilah, Sayang...!" desah Dadung Ampel sambil menelan ludah.

Segera Dadung Ampel memondong tubuh Ismaya, dan membawanya ke dalam semak-semak yang tidak jauh dari pinggiran sungai. Langsung direbahkannya tubuh gadis itu. Ismaya hanya dapat mencaci-maki dengan kata-kata yang kasar. Sebaliknya, laki-laki tua bungkuk itu menanggapinya dengan tawa. Lalu....

Bret! Bret!

Sekali sentak saja, kuku-kuku panjang milik Dadung Ampel telah membuat pakaian yang membalut ketat tubuh Ismaya tercabik-cabik. Seketika terlihat sebuah pemandangan menawan, yang membuat darah tua Dadung Ampel menggelegak!

"Ahk... Kau memang lain dari yang lainnya. Betapa beruntungnya aku ini...!" desis Dadung Ampel.

Tangan laki-laki irii dengan leluasa mulai menggerayangi tubuh mulus Ismaya. Dan gadis itu hanya. menjerit-jerit ketakutan. Namun jeritannya bagi Dadung Ampel hanya menambah gairah saja. Diciuminya gadis itu. Sedangkan kedua tangannya dengan liar terus bergerak ke tempat-tempat yang paling rawan milik Ismaya.

"Kita benar-benar segera ke surga!" desah Dadung Ampel.

Dadung Ampel kemudian mulai bersiap-siap melampiaskan nafsu iblisnya. Sementara Ismaya tentu berusaha mempertahankan harga dirinya. Tetapi dalam keadaan tertotok seperti itu, apa yang bisa diperbuatnya?

Dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti itu, tiba-tiba saja berkelebat sesosok bayangan putih ke arah Dadung Ampel yang sedang menindih tubuh polos Ismaya. Lalu....

Des! Des!

"Wuaaakh...!" Dua buah tendangan telak menghantam punggung Dadung Ampel, hingga membuatnya jatuh terguling-guling. Kesempatan yang sempit itu dipergunakan bayangan putih yang ternyata seorang pemuda berbaju rompi putih untuk membebaskan totokan di badan Ismaya.

Tapi kening pemuda itu tampak berkerut tajam saat tidak mendapati bagian tubuh Ismaya yang tertotok. Dan baru disadari, bagianmana kira-kira yang ditotok Dadung Ampel. Dengan muka merah menahan jengah terpaksa ditotoknya dada gadis itu.

"Auuh...!" Ismaya menjerit ketika dadanya ditotok pemuda berbaju rompi putih. Tetapi dalam hati dia bersyukur karena terbebas dari pengaruh totokan Dadung Ampel. Maka dengan segera pakaiannya yang tidak karuan dibenahi.

Sementara Dadung Ampel telah berdiri tegak, berhadapan dengan pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung rajawali menyembul di balik punggung.

TIGA

Tampak jelas kalau Dadung Ampel merasa tidak senang atas campur tangan pemuda tampan yang tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. Laki-laki tua ini berusaha meneliti, siapa pemuda yang telah menendangnya. Namun ternyata pemuda berbaju rompi putih ini memang tidak dikenalnya.

"Berani benar kau mencampuri urusan Dadung Ampel. Rupanya kau sudah bosan hidup!" dengus laki-laki bungkuk ini ketus.

"Aku heran, manusia sudah bau tanah sepertimu masih melalap daun muda. Lebih kusayangkan lagi, kau begitu tega membunuh gadis-gadis di sungai itu...!" sahut Rangga tidak kalah dingin.

"Itu bukan urusanmu! Lebih baik menyingkir jika tidak ingin mampus percuma!"

"Seriap kejahatan di depan mata, selalu menjadi urusanku. Lagi pula, kematianku bukan di tangan manusia busuk sepertimu!" desis Pendekar Rajawali Sakti.

"Kurang ajar! Kau segera merasakan akibatnya! Hiyaaa...!"

Disertai teriakan keras, Dadung Ampel menerjang ke arah Rangga dengan tendangan beruntun. Cepat sekali serangannya, sehingga dalam waktu sekejap kakinya sudah berada begitu dekat dengan dada Rangga.

Pemuda ini sudah tidak sempat lagi mengelak. Namun tenaga dalamnya masih sempat dikerahkan ke bagian telapak tangan. Sehingga tanpa diduga-duga, Pendekar Rajawali Sakti melakukan tangkisan. Maka....

Plak!

"Heh...?!" Benturan keras antara tangan dan kaki, membuat Dadung Ampel terkejut sehingga terdorong mundur ke belakang. Sadarlah laki-laki bungkuk ini kalau tenaga dalam lawannya ternyata sangat tinggi juga. Untuk selanjutnya, Dadung Ampel tentu tidak mau bersikap gegabah dan memandang enteng.

"Jaga jurus Hamparan Samudera ku...!" Segera laki-laki tua bungkuk ini mengerahkan jurus 'Hamparan Samudera', salah satu jurus andalannya. Sekejap tubuhnya tampak berputar-putar. Sedangkan kedua tangannya meliuk-liuk ke samping bagaikan ombak menghempas-hempas batu karang.

"Hiyaaa...!" Diseretai teriakan keras, badan Dadung Ampel yang terus berputar-putar bagaikan pusaran air tiba-tiba melesat ke arah Rangga.

"Uts...!" Pemuda berbaju rompi putih ini segera menghindar ke samping kiri. Cepat sekali gerakannya, membuat serangan laki-laki tua ini hanya menyambar angin kosong.

Namun ternyata Dadung Ampel cepat berbalik. Bahkan kembali menerjang dengan cara sama. Tangannya tiba-tiba terjulur pula, dan terus meluncur. Begitu cepat gerakannya, hingga sempat menghantam bahu Rangga.

Cresss!

"Aaakh...!" Rangga memekik ketika bahunya terkena ujung kuku-kuku Dadung Ampel yang berwarna hitam. Pendekar Rajawali Sakti segera menotok urat untuk menghentikan darah yang mengalir. Walaupun tubuh Pendekar Rajawali Sakti kebal racun, namun yakin, kuku lawannya yang berwarna hitam mengandung racun keji.

Melihat lawannya terluka, rupanya Dadung Ampel merasa berada di atas angin. Bahkan kini serangannya ditingkatkan untuk menekan sekaligus menjatuhkan Rangga.

Tiba-tiba, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara seraya mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Begitu meluruk deras, kedua tangannya yang terpentang langsung mengincar beberapa bagian mematikan di tubuh Dadung Ampel.

Dadung Ampel mendengus sambil melompat mundur. Pada saat yang sama, Pendekar Rajawali Sakti memutar tubuhnya di udara. Dan tiba-tiba kedua kakinya meluncur cepat ke dada. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Des! Des!

"Huuakh...!" Disertai keluhan tertahan, laki-laki tua bungkuk ini terbanting di tanah dengan punggung terlebih dulu. Dadung Ampel segera dapat merasakan betapa dadanya terasa nyeri. Napasnya sesak dan jalan darahnya menjadi tersendat Tetapi setelah mengerahkan tenaga dalam ke bagian dada, dia sudah dapat berdiri kembali.

"Rupanya kau punya kepandaian juga, Anak Muda? Namun, kau tidak usah bangga dulu. Karena aku punya hadiah untukmu!" dengus Dadung Ampel berapi-api.

Laki-laki tua bungkuk ini tiba-tiba menjentikkan lima jari tangannya ke arah Rangga. Dari ujung lima jarinya melesat lima leret sinar hitam.

"Uts...!" Rangga langsung mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari luncuran sinar. Dengan cepat tubuhnya meliuk-liuk, sedangkan kakinya bergeser ke samping. Ketika sebuah sinar hampir mengenai sasaran, Rangga segera melenting ke udara.

Glar! Glarr!

Serangan itu tidak mengenai sasaran dan hanya menghantam sebatang pohon sebesar sepelukan orang dewasa. Pohon itu tidak roboh, namun sekejap saja telah berubah menghitam sampai ke daun-daunnya.

Melihat serangannya gagal mengenai sasaran, rupanya Dadung Ampel jadi kecewa. Untuk yang kesekian kalinya, jemarinya kembali menjentik.

Namun sekali ini, Rangga sudah bersiap-siap memapaknya. Sambil melompat maju ke depan, Pendekar Rajawali Sakti mendorongkan kedua tangannya ke arah lesatan sinar hitam meluncur cepat dari ujung kuku-kuku Dadung Ampel.

"Aji 'Guntur Geni'! Hiyaaa...!"

Seleret sinar merah meluncur deras ke depan. Suasana di sekelilingnya kontan berubah panas bagaikan bara. Lalu kedua jenis sinar itu pun kemudian bertemu. Dan....

Blarrr!

"Augkh...!" Ledakan disertai jeritan keras terdengar. Dua sosok tubuh tampak terlempar. Dua-duanya sama menderita luka dalam, akibat pertemuan dua tenaga sakti tadi. Pada saat itu pula, tiba-tiba....

"Auuwww...!" Terdengar pekik ketakutan Ismaya yang ikut menyaksikan perkelahian.

Secepatnya, Rangga tanpa menghiraukan Dadung Ampel segera bangkit dan mengejar ke arah datangnya suara. Tetapi, Ismaya ternyata telah lenyap. Rangga hanya melihat sebuah bayangan berwujud setengah hewan setengah manusia melarikan gadis tadi.

Tanpa menunggu lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera melesat mengejar. Herannya, walau Rangga telah mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuhnya, orang yang telah melarikan Ismaya tidak dapat dikejar. Bahkan secara tiba-tiba, orang itu lenyap bagaikan ditelan bumi.

"Edan! Mustahil orang itu bisa hilang begitu saja. Apakah mungkin dia sejenis makhluk halus...?" maki Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti terus berusaha mencari Ismaya. Namun setelah sekian lamanya, tetap tidak mendapatkan petunjuk apa-apa. Merasa kesal karena orang yang ditolongnya dilarikan oleh orang lain, Pendekar Rajawali Sakti memutuskan untuk kembali lagi ke tempat perkelahian tadi.

Dengan melesat cepat, sebentar saja Rangga telah sampai di pinggir sungai tadi. Dan ternyata Dadung Ampel pun sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.

"Dia sudah pergi! Aku tidak tahu, apakah orang yang telah melarikan gadis itu ada hubungannya dengan kakek bungkuk tadi. Tapi..., eh! Ada pesan...?" gumam Rangga, seperti berkata sendiri.

Pendekar Rajawali Sakti menghampiri tulisan yang tertera di atas sehelai daun. Ketika dibaca, kedua alis matanya bertaut dalam.

Kau termasuk orang yang akan menjadi perhitungan kami. Berhubung aku punya keperluan yang tidak dapat ditunda lagi, maka persoalan kutangguhkan. Tapi, ingat! Nyawamu ditentukan nanti di Tanah Kutukan!

Dadung Ampel

Dukun Sakti


Sekarang Pendekar Rajawali Sakti baru mengerti, siapa Dadung Ampel yang sebenarnya. Dia ternyata seorang dukun. Tetapi, apa keperluannya di Tanah Kutukan? Ada apa pula di sana? Rangga memang pernah mendengar tentang daerah angker lagi tandus itu. Konon, tidak seorang pun yang berani datang ke tempat itu. Kalaupun ada, pasti tidak akan pernah kembali.

Apa pun bahayanya, mengingat Dadung Ampel juga menyebut-nyebut tentang Tanah Kutukan, maka mau tidak mau Pendekar Rajawali Sakti memutuskan untuk pergi ke tempat itu.

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda berbaju rompi putih ini segera melangkah pergi. Begitu banyak persoalan yang membebani pikirannya. Termasuk juga, mengenai hilangnya Ismaya. Belum lagi tentang Dadung Ampel. Dan ini membuat pemuda berbaju rompi putih itu tidak menyadari kalau sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengintainya. Pemilik sepasang mata itu terus mengikuti, ke mana pun kakinya melangkah.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti melesat menuju Tanah Kutukan. Sementara sosok pengintai juga tidak tinggal diam. Dia terus mengejar sambil tetap menjaga jarak.

Tetapi, lama-kelamaan rupanya Pendekar Rajawali Sakti menyadari kalau ada seseorang sedang menguntiti dirinya. Dan saat itu juga tiba-tiba lesatan tubuhnya dipercepat, kemudian menghilang di kelebatan semak belukar.

Tidak lama si penguntit telah sampai pula di tempat menghilangnya Rangga tadi. Ternyata, dia seorang perempuan bercadar yang pada setiap sisinya berwarna kuning keemasan. Wanita ini langsung mencari-cari. Namun pemuda berbaju rompi putih yang dikejarnya seperti hilang begitu saja. Sampai kemudian....

Set! Set! Set!

Mendadak tiga buah benda kecil meluncur deras ke arah wanita bercadar.

"Hup...!" Kiranya, wanita bercadar ini menyadari datangnya serangan. Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya melenting ke udara. Maka serangan benda yang ternyata tiga buah kerikil, hanya menghantam pohon di belakangnya, hingga roboh menimbulkan suara bergemuruh.

"Jangan serang!" seru perempuan bercadar itu, setelah menjejakkan kedua kakinya di atas tanah.

Tidak terdengar jawaban apa-apa. Suasana berubah sunyi kembali. Wanita bercadar ini yang tak lain Dewi Harnum mencari-cari dengan sudut matanya.

Tak lama kemudian terlihat, muncul seorang pemuda berbaju rompi putih ke arahnya. Ketika pemuda tampan itu telah berdiri di depannya, wanita bercadar ini terkesima melihat ketampanannya.

Memang harus diakui, selama berada di Kerajaan Pasai yang terselubung Tabir Gaib, Dewi Harnum memang tidak pernah bertemu lawan jenisnya. Bertahun-tahun pergaulannya hanya dengan sesama wanita. Tidak heran jika sekarang hatinya begitu kagum melihat pemuda yang memang Rangga.

"Kau mengikuti aku. Apa tujuanmu yang sebenarnya?!" tanya Rangga tidak sabar.

Dewi Harnum tampak menjadi gugup, dan tidak tahu harus berkata apa. Ditariknya napas dalam-dalam untuk mengurangi ketegangannya.

"Namaku Dewi Harnum, Penasihat Kerajaan Pasai. Aku sengaja mengikutimu untuk suatu keperluan!" jelas wanita ini.

"Orang yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik cadar, biasanya membawa maksud-maksud tidak baik," sindir Pendekar Rajawali Sakti.

Dewi Harnum menjadi bingung. Sudah menjadi kebiasaan di Kerajaan Pasai bahwa setiap perempuan harus memakai cadar, untuk menghindari perhatian dari para laki-laki. Demi tugasnya, haruskah cadarnya dibuka?

"Aku hanya mengikuti kebiasaan di istana. Tapi, tidak mengapa. Jika kau merasa penasaran juga, aku akan membuka cadar ini!" kata perempuan berbaju putih ini.

Dewi Harnum kemudian segera membuka cadarnya. Ternyata, wajahnya memang cantik sekali. Alis matanya lebar. Bibirnya kemerah-merahan meskipun tidak memakai pemerah bibir.

"Apakah kau sudah puas?" tanya gadis itu, dingin.

"Bukannya karena aku ingin memandangmu! Sudahlah.... Sebenarnya, aku banyak keperluan dan ingin ke Tanah Kutukan! Lalu, apa keperluanmu padaku?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, seperti tak sabar.

"Ratuku membutuhkan pertolonganmu. Aku tidak bisa menceritakannya. Kau boleh ikut aku sekarang!" jelas Dewi Harnum, langsung.

"Tunggu...! Apakah kau tahu, di mana Tanah Kutukan?" sergah Rangga.

Dewi Harnum tersenyum sambil mengangguk. "Justru kami sedang menghadapi persoalan dengan penghuni Tanah Kutukan, sehingga kami membutuhkan seorang pendekar sepertimu. Marilah ikuti aku!" ajak Dewi Harnum.

Mereka kemudian segera berkelebat menuju lereng Gunung Arjuna.

"Tidak kulihat ada sebuah kerajaan di sini?" tanya Rangga heran, ketika tiba di jalan buntu dengan tebing menghadang.

"Kau tidak akan melihatnya. Karena Kerajaan Pasai tertutup Tabir Gaib. Tetapi sebentar lagi, kau akan melihat kerajaan kami!" jelas Dewi Harnum.

Gadis berpakaian serba putih itu kemudian menyontakkan sebelah kakinya ke tanah. "Penjaga pintu utama! Tolong buka Tabir Gaib. Aku penasihat kerajaan bersama seorang tamu ingin masuk!"

Tidak lama, setelah Dewi Harnum selesai mengucapkan kata-kata itu, terlihatlah kabut putih di atas jalan. Lalu, terdengar pula suara bergemuruh yang disusul terlihatnya sebuah pintu benteng kerajaan.

Pendekar Rajawali Sakti sempat terkesima karenanya. "Sungguh menakjubkan," puji Rangga.

"Mari silakan masuk!" ajak Dewi Harnum.

Suara gadis ini membuat Rangga tersadar dari lamunan. Segera diikutinya Penasihat Kerajaan Pasai memasuki gerbang istana.

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan sosok tubuh yang melarikan Ismaya telah mendekati Tanah Kutukan. Gadis yang telah berhasil ditotok ini terlihat sudah tidak berdaya hingga nyaris pingsan. Apalagi, orang yang memanggulnya berwujud sangat mengerikan. Sekujur tubuhnya yang dipenuhi gelembung luka mengeluarkan lendir, menebarkan bau amat busuk. Sepanjang perjalanan, orang ini mendengus-dengus seperti seekor babi!

"Kita sudah sampai di tempat tinggal Ketua. Tanah Kutukan adalah awal dan akhir dari semua cita-cita Ketua Parta Widura. Semoga sahabat Dadung Ampel bersedia melancarkan usaha untuk memiliki Istana Kerajaan Pasai beserta seluruh penghuninya. Dan kau, tentunya juga sangat membantu. Karena, kau akan kami jadikan tumbal demi pelampiasan sakit hati Ketua," oceh laki-laki berwajah mengerikan ini.

Setelah sampai di tengah-tengah tanah gersang berlumpur dan selalu berkabut, laki-laki yang memanggul tubuh Ismaya segera mengetuk-ngetuk sebuah batu berbentuk empat persegi. Dan pada ketukan yang ketujuh, terlihat sebuah pintu gua terbuka.

Laki-laki ini langsung masuk ke dalam gua yang cukup gelap. Dan begitu dia berada di dalam gua, sebuah pelita besar yang terdapat di tengah-tengah ruangan menyala dengan sendirinya.

"Ketua..., tugas telah kujalankan. Dan calon korban kita sesuai yang kita butuhkan telah kubawa...," lapor laki-laki berwajah mengerikan ini

Di sudut ruangan gua yang luas, terdengar suara langkah-langkah kaki. Kemudian, suara itu berhenti.

"Sejak dulu, kau merupakan orang terbaikku, Ranca Praba! Calon korban sudah didapatkan. Hanya mengapa Dukun Sakti sahabatku tidak datang sampai hari ini?" sahut sebuah suara dari kegelapan.

Tak lama, dari kegelapan sudut gua terdengar suara langkah kaki lagi, mendekati sebuah pelita besar yang terdapat di tengah-tengah ruangan. Beberapa saat, tampak seorang laki-laki berbadan tinggi besar terbungkus baju hitam. Dia berdiri tegak dengan angker.

Wajah laki-laki yang tidak lain Parta Widura tampak rusak tak berbentuk lagi. Rambutnya rontok. Dari kulit kepalanya, mengeluarkan nanah. Bahkan bukan hanya bagian kepala dan wajah saja yang mengerikan. Tetapi, sekujur tubuhnya juga menderita penyakit kulit yang amat parah!

"Ketua. Aku telah melihat Dukun Sakti di pinggir sungai. Dia bertarung melawan seorang pemuda berbaju rompi putih. Kurasa sebentar lagi dia sudah sampai di sini!" jelas sosok mengerikan bernama Ranca Praba, penuh keyakinan.

Dugaan laki-laki berwujud mengerikan itu memang tidak meleset. Karena, sekejap kemudian terdengar suara tawa disertai hembusan angin begitu keras.

"Ha ha ha...! Lima belas tahun yang lalu, tempat ini begitu subur. Tidak gersang dan berbau bangkai seperti sekarang. Selama itu, baru sekarang ini kau mengundangku. Apakah kau akan mengadakan pesta besar-besaran, Sahabatku?"

"Ya.... Pesta baru saja akan dimulai, Dadung Ampel. Tetapi tanpa kehadiranmu, kemungkinan pesta besar gagal dilaksanakan...!" sahut Parta Widura dari dalam gua.

"Kalau begitu, aku merupakan orang yang paling beruntung!" ujar Dukun Sakti yang bernama asli Dadung Ampel.

Tidak lama laki-laki berbadan bungkuk ini telah masuk ke dalam gua. Dia tampak terkejut, melihat keadaan Parta Widura yang semakin bertambah mengerikan!

"Aku tidak menyangka kau akan menjadi seperti ini, Parta Widura. Apakah kutukan almarhum Raja La Dangga tidak dapat diatasi?" tanya si Dukun Sakti.

Parta Widura menggeleng keras-keras. "Dia seperti malaikat. Kata-katanya bukan saja membuat badanku hancur dan rambutku rontok, tetapi seluruh pengikutku mengalami nasib serupa denganku!" desis Parta Widura, geram..

Dadung Ampel terdiam. Beberapa tahun yang lalu ketika kutukan almarhum Raja La Dangga mulai berjalan, keadaan Parta Widura tidak seburuk sekarang ini. Dia bisa bicara begitu, karena pada masa kutukan mulai berlaku, Dadung Ampel pernah mengunjungi Parta Widura di tempat yang sama.

EMPAT

Sekarang, rupanya pengaruh kutukan semakin menggerogoti hidup Parta Widura. Sehingga, Dukun Sakti menjadi tidak tega melihatnya. Tetapi, apa yang dapat dilakukannya? Sebagai dukun pun, dia tak mampu mengobatinya.

"Sahabatku, Dukun Sakti. Aku sengaja memanggilmu dari Banjaran ke sini dengan suatu maksud...!" jelas Parta Widura.

"Aku belum tahu apa rencanamu. Tapi, tindakan anak buahmu melarikan gadisku di saat-saat aku sedang sibuk, patut kusesalkan!" desis Dadung Ampel penuh kekecewaan.

"Maafkanlah Ranca Praba. Gadismu yang telah dilarikan anak buahku akan kuganti dengan imbalan. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan gadis desa yang dungu itu," ujar Parta Widura.

"Ha ha ha...! Apakah kau berhasrat ingin menidurinya?" usik Dadung Ampel, disertai tawa keras.

"Aku tidak pernah berubah! Dan sekali-sekali tidak akan menyetubuhi gadis mana pun, kecuali keturunan Raja La Dangga," tandas Parta Widura.

"Jadi, mengapa kau mengambil anak Kepala Desa Kartaraja dari tanganku?" desak Dukun Sakti heran.

"Tentu saja sebagai tumbal untuk Iblis Merah, Sahabatku. Maaf, Dukun Sakti. Terpaksa gadismu kugunakan dulu. Waktuku benar-benar mendesak. Aku tahu, keturunan almarhum Raja La Dangga masih tinggal di Kerajaan Pasai. Sayangnya, tempat itu dilindungi Tabir Gaib. Nah, berkat bantuan Iblis Merah. Tabir Gaib bisa ditembus...."

"Mengapa kau tetap menginginkan keturunan Raja La Dangga, Sahabatku? Padahal mereka adalah musuh-musuhmu yang nyata?" tanya Dadung Ampel.

"Terus terang kuakui, mereka adalah musuh-musuhku. Tapi kalau aku dapat mempersunting keturunan Raja La Dangga, pada malam pengantin pertama itulah yang sangat penting bagiku," jelas Parta Widura.

"Maksudmu?"

"Darah perawannya dapat memunahkan seluruh kutukan Raja La Dangga. Tapi kalau darah perawan salah seorang penghuni Istana Kerajaan Pasai, hanya menghilangkan kutuk yang menimpaku saja. Tidak buat seluruh anak buahku...!"

Dadung Ampel terkejut sekali. Sungguh tidak disangka bahwa kutukan Raja La Dangga dapat dipunahkan dengan darah kesucian keturunan Raja La Dangga sendiri.

Sekarang mengertilah Dadung Ampel, apa yang diinginkan Parta Widura. Semula dia sungguh heran, mengapa sahabatnya mengejar-ngejar keturunan Raja La Dangga. Padahal kalau mau, tentu gadis mana pun yang disukai bisa didapatkan.

"Dari mana kau bisa tahu kalau keturunan Raja La Dangga masih di sana, Sahabatku? Dan siapa pula keturunan raja keparat itu. Bukankah putrinya yang dulu kau gila-gilai telah bunuh diri?"

"Jelita Harum yang tolol itu memang telah mati. Tapi, dia mempunyai adik yang tidak kalah cantiknya. Namanya Andilini. Dialah yang sekarang ini menjadi Ratu di Kerajaan Pasai. Aku mengetahui semua ini melalui semedi yang cukup lama. Lewat bantuan Iblis Merah, aku telah mengirimkan beberapa ekor kucing ke sana, yang kemudian menjadi harimau. Sayang, binatang-binatang itu tidak ada yang kembali. Dan berkat bantuan seseorang yang baik hati padaku, aku telah paham betul dengan keadaan di Kerajaan Pasai. Sahabatku, aku hanya membutuhkan Andilini. Kau harus tahu kalau seluruh penghuni istana cantik-cantik. Kau boleh memiliki mereka semuanya," jelas Parta Widura penuh semangat.

"Hik hik hik...! Perempuan sejak dulu memang selalu menarik perhatianku. Mereka adalah kesenangan yang tidak pernah membuatku puas. Lalu, sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Dadung Ampel.

Parta Widura tidak segera menjawab. Tampaknya dia sedang memikirkan apa yang harus dilakukan.

"Pertama-tama kita harus bisa memusnahkan Tabir Gaib yang membentengi Kerajaan Pasai. Kalau Iblis Merah selama ini menyusup, maka Tabir Gaib harus benar-benar musnah! Setelah itu, kita culik Ki Londa, Ki Belamparan, dan yang terakhir baru Ratu Andilini."

Dadung Ampel yang memang mengenal Ki Belamparan dan Ki Londa tentu saja terkejut. Memang sungguh tidak dikira bahwa kedua orang ini berada di Kerajaan Pasai.

"Ada apa sahabatku, Dadung Ampel? Kau tampaknya heran?" tanya Parta Widura.

"Bagaimana kedua manusia jompo itu bisa berada di Sana? Lagi pula, apa gunanya kita menculik mereka?"

"Ki Belamparan adalah sahabat almarhum Raja La Dangga. Sedangkan Ki Londa adalah karib Ki Belamparan. Aku menginginkan mereka, karena Ki Londa menyimpan Kitab Panca Sona. Jika aku berhasil mempelajarinya, berarti hidupku di dunia ini akan kekal."

"Kitab Panca Sona kuketahui cukup hebat. Tetapi, alangkah lebih baik jika kita menculik Ratu Andilini terlebih dulu, untuk mengembalikan keadaanmu seperti sediakala," sergah Dadung Ampel.

"Aku setuju. Dan kau pasti akan membantu aku sepenuhnya, bukan?" sambut Parta Widura berharap.

"Tentu saja. Sebagai sahabat, aku juga merasa ikut sakit jika sahabatku disakiti orang lain. Persyaratan sudah cukup. Nanti menjelang tengah malah setelah bulan purnama penuh, kita dapat memulai acara yang paling kusukai!"

********************

Di Tanah Kutukan, lebih kurang ada sepuluh ruangan di dalam satu gua. Ada sebuah ruangan yang sangat khusus dipergunakan pada waktu-waktu tertentu saja, Seperti, pada acara pengorbanan malam ini.

Pengikut-pengikut Parta Widura yang berjumlah kurang lebih dua belas, malam ini berkumpul di ruangan pengorbanan. Sementara Parta Widura dan juga Dukun Sakti berada di tempat yang sama.

Suasana di dalam ruangan terasa sunyi. Hanya ada beberapa buah pelita yang memancarkan cahaya redup kemerahan menerangi. Sementara sebuah pendupaan terus mengepulkan asap, berbau wangi kemenyan.

Di atas altar tampak seorang gadis yang dalam keadaan polos terikat kaki dan tangannya. Di sampingnya, terdapat sebuah kendi berisi cairan darah yang telah mengental.

"Kita sudah dapat memulai acara ini!" ujar Dadung Ampel pelan.

Parta Widura yang berdiri di samping Dukun Sakti mengangguk dengan jantung berdebar tidak menentu. Dadung Ampel mendekati altar, kemudian duduk di depan pendupaan tadi. Wajahnya perlahan-lahan merunduk dalam. Dikeluarkannya sebuah kantung ber-warna merah darah. lsi kantung yang berupa serbuk berwarna putih ditaburkan di atas bara api.

"Kepada Iblis Merah.... Kupersembahkan seorang perawan muda untuk santapanmu.... Jika korban diterima, imbalannya adalah buka Tabir Gaib yang menyelubungi Kerajaan Pasai. Iblis Merah yang datang dari seluruh penjuru dengan berbagai rupa dan bentuk. Jika Tabir Gaib telah terbuka, maka ambil Ratu Andilini dan juga laki-laki tua yang memegang Kitab Panca Sona. Datanglah, wahai kekuatan kegelapan!" desis Dadung Ampel, berkomat-kamit.

Beberapa saat mereka yang berada di dalam ruangan menunggu dengan perasaan tegang dan hati diliputi rasa cemas. Sampai kemudian, terdengar hembusan angin sangat keras, menerbangkan batu-batu kecil di dalam gua dan juga mengguncangkan dinding batu di sekeliling mereka. Lalu sayup-sayup terdengar pula suara teriakan dan lolongan panjang, disertai bermunculannya sosok bayangan merah.

Dadung Ampel tampak bergetar tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Sosok bayangan merah itu kemudian membentuk wujud setengah manusia setengah binatang. Tinggi tubuhnya menyentuh langit-langit gua.

"Hraaakh...!" Sosok merah berbentuk mengerikan menggeram. Gema suaranya seakan meruntuhkan ruangan gua ini. Kepalanya yang tadi menengadah, kini terarah pada altar. Matanya yang besar, menatap liar. Didekatinya tubuh Ismaya. Dan dengan sekali renggut, putuslah tali-tali yang mengikat. Gadis yang dalam keadaan pingsan itu kini berada dalam genggamannya.

"Kuterima persembahanmu, Dadung Ampel. Imbalannya segera kukerjakan!" kata sosok mengerikan berwarna merah itu, seraya memasukkan Ismaya ke dalam mulutnya dan langsung mengunyahnya.

"Hmm.... Nikmat sekali!" gumam sosok bernama Iblis Merah disertai seringai mengerikan.

Selanjutnya Iblis Merah mengambil kendi berisi cairan darah mengental, yang kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Hanya sebentar saja, semua yang tersedia di atas altar telah habis tidak bersisa. Iblis Merah lantas berpaling pada Dukun Sakti.

"Aku segera ke Istana Kerajaan Pasai untuk mengerjakan apa yang kau perintahkan. Sebentar lagi, keinginan kalian segera terpenuhi!" janji Iblis Merah.

Hanya beberapa saat saja, kembali terasa hembusan yang begitu kencang. Sosok merah itu seketika lenyap dari pandangan mata.

********************

Bruk! Bruk!

Setelah meletakkan Ki Londa dan gadis yang memakai mahkota di dalam sebuah ruangan gelap, Iblis Merah segera menjumpai Dukun Sakti yang tetap menunggu bersama yang lain-lainnya di dalam ruangan persembahan.

"Kau telah memberikan apa yang menjadi hak ku. Dan sekarang, aku telah memberikan apa yang kau minta, Dadung Ampel. Dengan begitu, tugasku telah selesai. Aku mohon diri!" ucap Iblis Merah.

"Tunggu...!" cegah Dadung Ampel.

"Ada apa lagi?" tanya sosok itu.

"Di mana kau bawa kedua orang yang kami inginkan itu?"

"Ha ha ha...! Tentu di salah satu ruangan yang terdapat di dalam gua ini," jawab Iblis Merah.

"Baiklah! Kuucapkan terirna kasih atas bantuanmu!" kata Dadung Ampel disertai senyum kemenangan.

Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh kembali. Langit-langit serta dinding gua bergetar, disertai guncangan keras. Iblis Merah tertawa panjang, yang kemudian berubah menjadi lolongan serigala yang haus darah. Semakin lama suaranya semakin bertambah jauh hingga akhirnya hilang sama sekali.

"Mari kita cari sahabatku, Parta Widura!" ajak Dadung Ampel sudah tidak sabar lagi.

"Ayolah! Aku pun ingin melihat bagaimana rupa Ratu Kerajaan Pasai dan juga Kitab Panca Sona!" jawab Parta Widura.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di Kerajan Pasai Pendekar Rajawali Sakti yang berjaga-jaga sejak sore tadi, kini seakan baru tersadar dari sebuah mimpi buruk. Entah bagaimana caranya dia bisa tertidur? Satu hal yang diingatnya, sebelum terlelap terdengar suara gemuruh halilintar.

Dan hembusan angin yang datang dengan tiba-tiba itulah yang kemudian membuat Pendekar Rajawali Sakti tidak ingat apa-apa. Rangga yang mengatur semua rencana sejak mendengar tentang keadaan Kerajaan Pasai dari Ratu Andilini tampak tegang.

"Tabir Gaib istana telah terbuka! Bangun..., bangun semuanya!" teriak seorang gadis sambil berlari-lari menghampiri seriap ruangan.

Gadis itu tidak lain dari Panglima Mira. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rangga segera menghampiri kamar peraduan Ratu Andilini. Ternyata ketika sampai disana, Ki Belamparan sedang bicara dengan seorang gadis berbaju putih.

"Bagaimana, Ki? Apakah tipuan kita berhasil mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan?" tanya Rangga.

"Ya.... Tapi, Ki Londa hilang. Sementara Patih Dewi Melur yang menggantikan kedudukan ratu juga tidak ada di tempat!" jelas Ki Belamparan cemas.

Rangga mengamati gadis berbaju putih yang berdiri di samping Ki Belamparan. Dan, gadis cantik yang tidak lain Ratu Andilini tersenyum. Dia tadi telah berpura-pura menjadi Patih Dewi Melur dan tidur di tempat lain.

Apa sesungguhnya yang sedang dijalankan Rangga dan Ki Belamparan di Kerajaan Pasai?

Siang harinya setelah Dewi Harnum membawanya untuk bertemu Ratu Andilini, Rangga berjumpa pula dengan Ki Londa dan muridnya Kesuma serta Ki Belamparan. Pendekar Rajawali Sakti lantas mencerita-kan tentang bentroknya dengan seorang laki-laki tua berbadan bungkuk. Setelah mendengar ciri-ciri yang disebutkan Rangga, Ki Belamparan tampak agak tegang. Sebab dia tahu, laki-laki bungkuk itu tidak lain dari si Dukun Sakti. Dadung Ampel memang sahabat baik Parta Widura. Mereka pasti mengadakan pertemuan untuk melakukan niat mereka menculik Ratu Andilini. Berarti, hari itu juga penculikan akan dilakukan.

Untuk itulah siasat segera dijalankan Ki Belamparan. Peraduan Ratu Andilini digantikan Patih Dewi Melur. Sedangkan peraduan patih kerajaan ditempati sang Ratu.

Satu hal yang tidak terduga, Dadung Ampel ternyata meminta bantuan Iblis Merah untuk memusnahkan Tabir Gaib yang membentengi Kerajaan Pasai. Juga untuk rnenculik Ki Londa serta Patih Dewi Melur yang disangkanya sebagai Ratu Andilini. Semula Ki Belamparan mengira Parta Widura akan menyerang istana ini.

Satu hal yang patut disesalkan Ki Belamparan, adalah Ki Londa diculik oleh Iblis Merah. Maka sekarang baru disadari, bahwa selain menginginkan Ratu Andilini, ternyata Parta Widura juga menginginkan Kitab Panca Sona. Dan itu sama artinya bahwa persoalan yang dihadapi semakin berat saja.

"Lebih baik kumpulkan semua orang penring di istana ini, Gusti Ratu. Sekarang Kerajaan Pasai sudah tidak memiliki pelindung apa-apa. Aku ingin melakukan pengejaran, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas diri Patih Dewi Melur dan juga Ki Londa!" tegas Pendekar Rajawali Sakti.

"Dewi Harnum! Coba katakan pada Mira untuk segera ke sini!" perintah Ratu Andilini.

"Perintah segera hamba kerjakan, Yang Mulia," jawab Dewi Harnum.

Setelah menjura hormat, Dewi Harnum meninggalkan sang Ratu dan juga orang-orang yang berkumpul di ruangan pertemuan. Namun sebentar saja Dewi Harnum telah kembali lagi dengan tergopoh-gopoh.

"Celaka Yang Mulia...!"

"Ada apa, Dewi?" tanya Ratu Andilini.

"Panglima Perang Mira memimpin beberapa orang prajurit melakukan pengejaran!" lapor Dewi Harnum.

"Mengapa mereka bertindak sendiri-sendiri? Sungguh gegabah sekali!" dengus Ratu Andilini tampak kecewa. "Coba panggil guruku!"

Ki Belamparan maju menghadap. "Maafkan aku, Ratu. Ki Koswara sejak sore kemarin tidak berada di tempat," jelas Ki Belamparan.

Ratu Andilini tampak lebih kaget lagi. Sebab, sore harinya Kerajaan Pasai masih memiliki Tabir Gaib yang membuat seseorang tidak dapat keluar dari istana tanpa seizin sang Ratu. Lalu, bagaimana Ki Koswara dapat keluar meninggalkan istana begitu saja? Dan ke mana perginya?

"Bagaimana dia bisa melakukannya?" tanya Ratu Andilini, mendesis.

"Kita tidak bisa menduga-duga saja. Perlu ada penyelidikan. Untuk itu, jika Ki Belamparan setuju, aku akan membagi-bagi tugas buat kita bertiga!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.

"Maksudmu bagaimana, Rangga?" tanya Ki Belamparan.

"Aku akan mengejar Panglima Mira untuk memberitahukan kemungkinan bahaya yang akan dihadapi. Selain itu, aku juga akan pergi ke Tanah Kutukan. Mudah-mudahan Ki Londa dan Patih Dewi Melur masih bisa diselamatkan. Sebab aku khawatir, jika Parta Widura tahu bahwa kita telah mengakalinya, dia menjadi membabi-buta. Sedangkan Kesuma kuharapkan bersama Dewi Harnum menyelidiki, ke mana perginya Ki Koswara. Ki Belamparan sendiri bersama beberapa orang prajurit kerajaan, tetap berada di sini untuk menjaga keselamatan sang Ratu."

"Sebaiknya aku ikut pergi ke Tanah Kutukan. Lagi pula, sedikit banyaknya aku mengerti ilmu olah kanuragan," sergah Ratu Andilini.

"Tidak! Jika kerajaan ini sampai kosong, sewaktu-waktu mereka dapat menduduki istana ini tanpa ada perlawanan berarti!" tolak Pendekar Rajawali Sakti, tegas.

Akhirnya tidak seorang pun yang berani membantah keputusan Rangga. Orang-orang yang telah ditetapkan untuk bergerak di luar istana, segera berangkat sesuai tugas masing-masing.

********************

LIMA

Untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, Parta Widura mengirimkan lima orang anak buahnya untuk melakukan penjagaan di perbatasan antara wilayah Kerajaan Pasai dan Tanah Kutukan. Kelima orang yang sekujur tubuhnya rusak seperti pimpinan mereka juga dikenal sangat buas. Mereka selalu bertindak mengikuti keinginan nafsu dan amarah. Bahkan juga memakan daging mentah dan menghisap darah.

Kelima laki-laki yang sekujur kulitnya membusuk ini juga ditemani tiga ekor banteng liar yang tentu lebih buas.

Sementara di siang yang terik ini dari arah Kerajaan Pasai, Panglima Mira dan sepuluh orang bawahannya yang terdiri dari empat perwira kerajaan dan enam prajurit bersenjata lengkap terus melakukan pengejaran. Mereka semua dari kaum perempuan.

Begitu mendekan perbatasan Tanah Kutukan, Panglima Mira menghentikan kudanya. Nalurinya mengatakan seperti ada orang yang mengawasi mereka. Tatapannya memperhatikan suasana di depan dengan teliti.

"Perwira dan semua prajurit harap tingkatkan kewaspadaan! Kita sudah hampir sampai di daerah tujuan!" perintah Panglima Mira pelan.

"Suasana di sini sepi sekali, Panglima. Tetapi mengapa aku seperti mencium bau busuk?" tanya salah seorang perwira, sambil berusaha menutup hidung dengan tangan.

"Ya.... Tubuh orang-orang kutukan itu menjadi busuk, setelah almarhum Raja La Dangga menjatuhkan kutukan atas mereka. Jika bau busuk itu semakin terasa, artinya musuh-musuh ada di depan mata!" jelas Panglima Mira.

"Lihat...!" Salah seorang perwira tinggi tiba-tiba berseru. Tangannya langsung menunjuk ke suatu tempat. Di sana, tampak tiga ekor banteng liar bergerak cepat ke arah mereka.

Kuda-kuda tunggangan mereka langsung meringkik keras sambil melonjak-lonjak. Sehingga, membuat para penunggangnya hampir saja terpelanting dari atas pelana.

"Bersiap-siaplah kalian menyambut kedatangan mereka!" teriak Panglima Mira, memberi aba-aba kepada seluruh bawahannya.

Enam orang prajurit wanita langsung mencabut pedang masing-masing. Sementara empat perwira tinggi kerajaan segera melepaskan anak-anak panah ke arah banteng-banteng yang bergerak menerjang.

Set! Set!

Enam batang anak panah langsung melesat cepat meninggalkan busurnya. Tiga di antaranya menghantam dua ekor banteng yang berada di depan.

Crep! Crep!

"Oeekh...!" Kedua banteng itu meringkik keras ketika bagian kaki depannya tertembus anak-anak panah yang dilepaskan-empat orang perwira tertinggi. Namun, tampaknya anak panah itu tidak membawa pengaruh yang berarti. Terbukri, binatang-binatang liar itu terus menyeruduk ke depan disertai dengusan napas keras.

Sepuluh batang tombak lagi tiga ekor banteng liar itu sampai ke arah sasaran, empat perwira tinggi dengan cepat kembali melepaskan panah-panahnya!

Set! Set! Set!

Tiba-tiba saja ketiga banteng itu mengegoskan tubuhnya, membuat serangan empat perwira tinggi tidak mengenai sasaran. Ketiga binatang itu makin mengamuk. Maka saat itu pula enam orang prajurit yang sudah sangat terlatih langsung mengurungnya.

"Hiyaaa...!"

Serentak mereka menerjang ke depan sambil mengibaskan pedang. Senjata-senjata itu berkelebat ke bagian kepala dan perut banteng-banteng liar.

Del! Del!

"Heh...?!" Keenam prajurit langsung melompat mundur ketika mata pedang tidak berhasil menembus kulit. Sebaliknya, banteng-banteng liar ini semakin mengamuk. Kedua tanduknya yang panjang dan running terus mencari sasaran. Sedangkan kaki depannya menendang ke kiri atau ke kanan, dengan gerakan tidak terduga-duga.

Tampaknya ketiga ekor banteng ini seperti bersatu untuk menghancurkan lawan-lawannya. Sementara prajurit-prajurit kerajaan yang mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya selalu berusaha menghindari setiap datangnya serangan.

Namun salah satu banteng yang tidak terluka berhasil mendesak salah seorang prajurit yang terus bergerak mundur menghindar. Di luar dugaan, prajurit wanita ini terjatuh ketika kakinya tersandung sebatang kayu. Akibatnya banteng liar itu langsung menginjak-injak. Sehingga....

Krak! Krak!

"Aaa...!" Prajurit malang itu menjerit keras ketika tulang dada dan tulang punggungnya remuk terinjak kaki depan banteng liar. Melihat kenyataan ini, Panglima Mira segera melepaskan panah beracunnya ke arah banteng.

Memang panglima perang ini sangat ahli dalam mempergunakan panah beracun. Tak heran kalau dia tidak merasa khawatir walaupun anak buahnya berada di sekeliling banteng. Yang jelas anak panahnya pasti akan menemui sasaran tanpa khawatir mengenai prajuritnya sendiri.

Set!

Dua batang anak panah dilepaskan Panglima Mira sekaligus. Karena setengah dari tenaga dalamnya dikerahkan. Maka anak panah jadi melesat bagaikan kilat. Lalu....

Crak!

"Hossh! Oeeek...!"

Serangan anak panah langsung menghantam batok kepala banteng, hingga meringkik keras dan terus menyeruduk ke depan. Binatang ini sudah kehilangan kendali, lalu roboh ke tanah sambil terus berkelojotan. Tidak lama kemudian banteng itu tak bergerak lagi akibat racun ganas yang terkandung pada bagian mata anak panah.

Melihat keberhasilan panglima perangnya, saat itu juga, empat orang perwira tinggi langsung memerintahkan lima orang prajurit segera mundur. Dan ketika lima prajurit itu berlompatan menjauh....

"Panah...!" Terdengar teriakan bernada memerintah. Seketika perwira-perwira ini segera menarik busur.

Set! Set!

Sebentar saja, beberapa anak panah melesat ke arah banteng-banteng liar itu. Namun walaupun sudah terluka, sambil tetap melakukan serangan kedua banteng. itu berusaha menghindari terjangan anak panah.

Dan karena para perwira itu melepaskan anak-anak panah secara terus-menerus, tak urung beberapa di antaranya ada yang menembus perut maupun jantung kedua banteng itu.

Jress! Bresss!

"Opuueekh...!" Kedua banteng itu langsung tersungkur. Napasnya mendengus-dengus. Lidahnya yang berlumur darah terjulur, sedangkan matanya yang kemerahan terbuka. Binatang liar itu kemudian tidak bergerak-gerak lagi, setelah banyak kehilangan darah.

Baru saja Panglima Mira hendak meluapkan rasa gembira melihat ketiga binatang liar itu dapat dibunuh, tiba-tiba muncul lima laki-laki bermuka rusak yang sekujur tubuhnya menebarkan bau bangkai. Bahkan salah seorang langsung menghampiri mayat salah seorang prajurit yang terinjak-injak banteng tadi. Pakaian mayat prajurit wanita itu segera dicabik-cabiknya. Lalu dengan rakus disantapnya mayat itu.

Melihat daging segar dan darah yang berceceran, rupanya dua orang lainnya tergiur juga. Mereka segera memperebutkan mayat prajurit wanita tadi, dan memakannya dengan rakus!

Panglima Mira dan semua bawahannya bergidik ngeri melihat pemandangan ini. Namun, mereka juga menjadi sangat marah.

"Manusia kutukan! Kiranya kalian sudah berubah menjadi buas seperti binatang!" geram Panglima Mira. "Perwira! Panah mereka!"

Begitu mendapat perintah empat perwira tinggi Kerajaan Pasai langsung melepaskan anak panah ke arah tiga laki-laki yang sedang berebut mayat.

Set! Set!

Panah-panah itu langsung meluncur deras ke arah sasaran. Namun sejengkal lagi anak-anak panah menghujam sasaran, ketiga orang berwajah mengerikan itu langsung menggerakkan tangannya.

Tak! Tak! Tak!

Anak-anak panah itu kontan berpentalan ke segala penjuru, begitu menyentuh tangan orang-orang berbau busuk itu. Dan ini membuat para perwira tampak terkejut.

"Anak panah kalian tak mungkin menembus kulit Pala Tundra dan anak buahnya! Kalian semua akan menjadi makanah yang paling lezat bagi kami!" dengus laki-laki bernama Pala Tundra yang menjadi pimpinan manusia buas itu. Tubuhnya tinggi besar dengan otot-otot kekar.

"Bangsat rendah! Jangan bermimpi kalian! Hiyaaa...!" teriak Panglima Mira. Gadis ini langsung menerjang ke arah Pala Tundra dengan jurus-jurus tangan kosong yang cukup berbahaya.

Namun laki-laki itu tentu saja tidak tinggal diam. Disambutnya serangan sambil terkekeh-kekeh. Hanya dalam waktu singkat, terjadilah pertempuran sengit di tempat itu. Prajurit dan perwira bahu-membahu mengatasi empat laki-laki berwajah buruk. Sedangkan Panglima Mira terus berusaha mendesak Pala Tundra yang menjadi pimpinan orang-orang buas itu.

Namun, ternyata Pala Tundra adalah orang Tanah Kutukan yang mempunyai kepandaian tinggi. Sehingga tidak mudah bagi Panglima Mira untuk menjatuhkannya secepat itu.

"Hiyaaa.,.!" teriak Panglima Mira seraya mengerahkan aji 'Bidadari Tangan Emas'.

Disertai teriakan keras, kedua tangan Mira yang telah berubah berwarna kuning itu mengibas ke depan. Seketika seleret sinar kuning meluncur deras ke arah Pala Tundra.

Laki-laki yang sekujur tubuhnya membusuk itu tidak tinggal diam. Saat merasakan adanya hawa panas datang menyengat, mulutnya dikembungkan lalu ditiupnya sekeras-kerasnya.

"Puuuhhh...!" Hembusan Pala Tundra yang disertai pengerahan tenaga dalam menimbulkan suara bergemuruh. Dan ketika dua kekuatan serangan bertemu di udara....

Glar! Glarrr!

"Wuakh...!" Diiringi suara keras bagai ledakan, tampak dua sosok tubuh terpelanting beberapa batang tombak ke belakang. Panglima Mira segera bangkit berdiri. Dadanya terasa sesak sekali. Sudut-sudut bibirnya meneteskan darah.

Sebaliknya Pala Tundra tidak mengalami akibat apa-apa. Laki-laki ini segera berdiri. Cepat dia bangun serangan baru dengan gerakan sangat cepat dan berbahaya.

Sementara itu, pertarungan antara perwira kerajaan dan prajurit melawan anak buah Parta Widura tampaknya memang tidak kalah sengit. Namun memasuki jurus ke enam puluh dua, keempat laki-laki itu terus berusaha mendesak para perwira tinggi dan para prajurit

"Ciaaat...!" Dua orang prajurit tiba-tiba menerjang ke depan. Tangan mereka meluncur ke arah dua sasaran sekaligus. Namun di luar dugaan, orang-orang Tanah Kutukan itu menggeser ke samping dengan tangan secepat kilat menyambar bahu.

Tep! Tep!

Sekejap saja, dua orang prajurit telah tertangkap oleh orang-orang Tanah Kutukan. Secepat kilat tangan mereka menghujam ke bagian tenggorokan.

Crep! Crep!

"Aakh...!" "Aaa...!"

Dengan sekali betot tenggorokan kedua prajurit itu pun putus menyemburkan darah. Tanpa membuang waktu lagi, darah itu langsung disedot orang-orang Tanah Kutukan dengan mulut.

"Hiaaa...!" Melihat kejadian ini, empat perwira tinggi langsung menghujamkan pedang ke bagian punggung orang-orang yang sedang menghisap darah dua prajurit."

Crak!

"Hrakh...!" Dua orang Tanah Kutukan kontan menjerit keras ketika sebuah pedang menancap di punggung masing-masing. Mau tak mau, pegangan mereka pada kedua prajurit yang hampir menjadi santapan terlepas. Namun tetap saja kedua prajurit yang tenggorokannya putus itu mati.

Sementara itu dua orang Tanah Kutukan yang tertancap pedang sudah bergelimpangan roboh dengan luka tusuk di punggung.

Melihat dua orang kawan mereka tewas di tangan perwira tinggi kerajaan, dua orang lainnya segera mencabut kapak dari pinggang. Begitu kapak itu diayunkan dengan gerakan cepat, terdengar desir angin menderu tajam menyakitkan telinga.

"Haiiit...!"

Serentak keempat perwira itu mengibaskan pedang, menyambut datangnya luncuran kapak.

Trang! "Heh...?!"

Sekejap setelah terjadi benturan senjata, empat orang perwira dengan terkejut berlompatan mundur. Mereka tadi menangkis secara bersamaan. Tapi justru mereka sendiri yang bergetar dadanya. Jelas, keempat perwira ini masih kalah dalam hal tenaga dalam.

Tiga orang prajurit yang melihat kesempatan segera menerjang ke depan sambil menusukkan pedang ke arah perut anak buah Pala Tundra. Namun, kedua laki-laki itu memutar kapaknya begitu cepat. Sehingga....

Trang! Trang!

Pedang di tangan prajurit-prajurit itu berpentalan begitu membentur kapak. Mereka terkesiap. Namun mereka juga sudah tidak sempat lagi menghindar, ketika mata kapak-kapak itu menghantam dada dan leher.

Cras!

"Aaa...!" Ketiga prajurit wanita itu kontan menjerit keras dengan tubuh terpelanting roboh. Darah mengalir dari setiap luka di tubuh mereka. Mereka kelojotan sebentar, lalu terdiam mati.

Empat perwira tinggi Kerajaan Pasai terkejut melihat keganasan orang-orang Tanah Kutukan. Namun mereka sudah tidak sempat berpikir lebih jauh lagi, karena saat itu kedua orang telah melakukan serangan secara membabi-buta. Rupanya setelah melihat darah korbannya, orang-orang Tanah Kutukan ini menjadi beringas dan bersemangat untuk menghabisi secepat mungkin.

Pada saat yang sama, Panglima Perang Kerajaan Pasai juga sedang mengalami tekanan-tekanan yang cukup berat. Terpaksa dikerahkannya ilmu meringankan tubuh untuk menghindari tendangan dan pukulan yang dilepaskan lawan.

Begitu kian terdesak, Panglima Mira segera mengerahkan jurus 'Tipuan Bidadari Di Taman Bunga'. Tubuhnya tiba-tiba meliuk-liuk melakukan gerakan-gerakan cukup merangsang.

Pala Tundra terkesiap. Apalagi sejurus kemudian setiap serangannya tidak mengenai sasaran. Namun laki-laki bertampang mengerikan ini tidak putus asa.

"Hiih...!" Tiba-tiba Pala Tundra melompat ke depan kembali sambil menghantamkan tangan kanan ke bagian perut. Seketika Panglima Mira meliukkan tubuhnya dengan gerakan gemulai.

Wuuut!

Kembali serangan Pala Tundra luput Sementara Panglima Mira secepat kilat memutar tubuhnya, dengan kaki meluncur cepat ke punggung.

Buk!

"Huaagkh...!" Pala Tundra memekik keras ketika punggungnya terhantam tendangan berputar gadis itu. Dia jatuh terguling-guling disertai pekik kesakitan.

Melihat laki-laki itu dalam keadaan tunggang langgang, Panglima Mira cepat memburu dengan tusukan pedang.

"Uts!" Tidak disangka-sangka, walaupun Pala Tundra dalam keadaan terluka sempat menghindar dengan menjatuhkan diri. Dan sambil berguling-gulingan dilemparkannya pisau kecil berwarna hitam ke arah Panglima Mira.

Serangan mendadak ini membuat Panglima Perang Kerajaan Pasai terkejut. Segera ditangkisnya pisau itu dengan pedangnya.

Tring!

Dua bilah pisau kecil itu kontan melesat ke arah lain. Dan justru luncurannya menuju perut dua perwira tinggi yang sedang bertarung melawan dua orang anak buah Pala Tundra.

Cep!

"Aaa...!" Naasnya, kedua pisau itu langsung menembus perut perwira tinggi, hingga tersungkur disertai jerit kesakitan. Hanya dalam waktu singkat tubuhnya telah membiru. Dia tewas seketika itu juga.

Panglima Mira sangat terkejut melihat kejadian yang berlangsung cepat itu. Dan keterkejutannya melahirkan kelengahan. Saat itu juga, Pala Tundra memanfaatkannya dengan lemparkan pisau kecilnya lagi.

Set! Set! Set!

Secepat kilat pisau itu meluncur ke arah sasaran. Untung Panglima Mira segera menyadari datangnya bahaya ini. Tubuhnya cepat melenting ke udara. Serangan itu memang berhasil dihindarinya. Namun serangan susulan kembali datang begitu cepat. Dan....

Crep!

"Aduuhhh...!" Panglima Mira yang berada di udara tak mungkin lagi menghindar. Dia langsung mengeluh tertahan ketika lengannya tertembus mata pisau hitam milik Pala Tundra. Bahkan kemudian, daya kerja racun yang terkandung dalam pisau ternyata sangat cepat. Begitu mendarat, Panglima Mira segera menotok jalan darahnya untuk menghindari menebarnya racun ke seluruh tubuhnya.

Melihat Panglima Perang Kerajaan Pasai terluka, Pala Tundra semakin bersemangat untuk membunuhnya. Dicabutnya clurit hitam yang tergantung di pinggangnya.

Cring!

"Sekarang saatnya bagimu untuk menjadi santapanku! Hiyaaa...!" teriak Pala Tundra keras.

Dengan clurit terhunus, laki-laki ini menerjang ke arah Panglima Mira. Senjata itu meluncur ke kiri dan kanan. Inilah saat yang sangat membahayakan jiwa gadis ini. Karena di saat itu, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Sedangkan pandangan matanya mulai mengabur, akibat pengaruh racun yang mulai bekerja dalam darahnya.

Namun pada saat-saat yang sangat gawat, mendadak berkelebat sesosok tubuh berbaju rompi putih ke arah Pala Tundra, disertai kelebatan sinar biru yang langsung menghantam clurit hitam itu.

"Heaaa...!"

Trang!

Clurit hitam di tangan Pala Tundra kontan hancur menjadi beberapa bagian, ketika terhantam sinar biru yang memancar dari senjata sosok berbaju rompi putih. Tidak sampai di situ saja. Sinar biru itu bahkan berbalik kembali, laksana kilat langsung menembus dada Pala Tundra.

Cres!

"Hegkh...!" Pekik tertahan disertai mengucurnya darah dari luka tertembus senjata, mengiringi jatuhnya Pala Tundra. Sebentar laki-laki ini meregang nyawa, lalu diam untuk selama-lamanya.

"Rangga...!" seru Panglima Mira. Baru menyebut satu kata Panglima Perang Kerajaan Pasai ini sudah keburu pingsan. Rangga segera bergerak menolong Panglima Mira yang keracunan.

Sementara perkelahian antara dua anak buah Pala Tundra yang tersisa dengan perwira tinggi kerajaan terus berlangsung semakin seru.

ENAM

Melihat kehadiran Pendekar Rajawali Sakti, rupanya semangat perwira tinggi kerajaan yang terdiri dari gadis-gadis cantik ini terbangkit kembali. Mereka bahu-membahu menerjang kedua orang Tanah Kutukan. Pedang di tangan mereka semakin ganas berkelebat, mencari sasaran.

Kedua laki-laki dari Tanah Kutukan berusaha melakukan perlawanan dengan melepaskan pukulan-pukulan dahsyat. Namun serangan mereka selalu dapat dipatahkan. Dan lambat laun kedua laki-laki yang tubuhnya menebarkan bau busuk ini menjadi putus asa. Apalagi, mengingat pimpinan mereka telah tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tiba-tiba mereka berubah nekat.

"Heaaa...!" Diseretai teriakan keras, kedua orang ini melompat ke depan dengan tangan meluncur deras ke arah lambung.

"Ciaaat...!"

"Hiyaaa...!"

Ketiga perwira itui tidak tinggal diam. Pedang mereka langsung mengibas sambil menghindari serangan dengan mengegos ke samping.

Wuuut!

Mendapat serangan balik seperti ini, kedua orang Tanah Kutukan cepat menarik serangan. Saat itu mereka bersalto ke depan untuk membuat jarak. Namun, ketiga perwira itu terus mengejar dengan pedang berkelebatan. Begitu cepat serangan ini, hingga....

Crep!

"Aaa...!" Tepat sekali ujung-ujung pedang menghujam dada dan perut kedua laki-laki dari Tanah Kutukan. Mereka menjerit keras, lalu ambruk dan berkelojotan. Mati. Darah berwarna kehitam-hitaman seketika membanjir, menggenangi mayat-mayat mereka.

Ketiga perwira ini segera menghampiri Panglima Mira. Tetapi mereka hanya bisa memandang pimpinan mereka yang sedang diobati Pendekar Rajawali Sakti lewat pengerahan tenaga dalam dan hawa murni.

"Hampir saja nyawanya tidak tertolong! Kalian terlalu gegabah berani datang ke Tanah Kutukan ini!" desah Rangga yang baru saja selesai mengeluarkan racun dari tangan Panglima Mira.

"Kami hanya mengikuti perintahnya, Pendekar Rajawali Sakti!" sahut salah seorang perwira ketakutan.

"Keberanian kalian memang patut dihargai. Tetapi melakukan penyerbuan tanpa persetujuan Ratu Andilini tetap tindakan gegabah. Apa yang kalian lakukan hampir mencelakan diri kalian sendiri!" kata Pendekar Rajawali Sakti.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya seorang perwira lainnya sungkan.

"Kalian bertiga tolong bawa panglima perang ini kembali ke kerajaan. Dan, jangan ada yang mencoba bergerak ke mana-mana kecuali ada perintah dariku!" tegas Rangga.

Tanpa berani membantah lagi, ketiga perwira Kerajaan Pasai itu segera membawa Panglima Mira kembali ke kerajaan. Sedangkan Rangga sendiri meneruskan perjalanannya menuju ke tempat kediaman Parta Widura di salah satu gua yang terdapat di Tanah Kutukan.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Parta Widura benar-benar merasa tertipu mentah-mentah. Sungguh tidak disangka kalau gadis yang memakai mahkota itu ternyata bukan Ratu Andilini, melainkan Patih Dewi Melur. Dia langsung menduga kalau orang-orang di Istana Kerajaan Pasai mengerti semua rencana yang sedang dijalankannya.

Merasa penasaran, Parta Widura segera memerintahkan Ranca Praba dan anak buahnya untuk menghancurkan Kerajaan Pasai, sekaligus Ratu Andilini yang sesungguhnya. Sedangkan dia sendiri ditemani Dadung Ampel tetap berada di Tanah Kutukan.

"Aku tidak percaya Iblis Merah bisa salah mengambil orang, Dadung Ampel? Apa jawabmu?" tanya Parta Widura sengit, di salah satu ruangan gua.

"Setiap iblis yang mengerjakan perintah, pasti selalu berpegangan bahwa yang memakai mahkota itulah Ratu atau Raja. Mana aku tahu mereka mengetahui rencana kita?" tukas Dadung Ampel, berkilah.

"Untung saja, penculikan terhadap Ki Londa berhasil. Dan dia memang membawa Kitab Panca Sona. Yang sekarang sudah selesai kupelajari. Aku menginginkan agar dia segera dibunuh!" desis Parta Widura.

"Lalu, bagaimana dengan patih kerajaan itu?" tanya Dukun Sakti.

"Ha ha ha...! Kepalang basah! Dewi Melur berani berkorban untuk melindungi ratunya. Jadi, apa salah jika aku memanfaatkan kehangatan tubuhnya untuk mengurangi penderitaannya selama bertahun-tahun ini?"

"Kau sekarang telah memiliki ilmu Panca Sona. Aku kagum melihatmu begitu cepat mempelajari kitab itu. Tetapi, aku akan lebih bangga lagi jika mendapat bayaranmu setelah nanti bersenang-senang dengan gadis itu! Sekarang, tunggu apa lagi? Kau kerjakan apa yang seharusnya kau lakukan. Sedangkan urusan Ki Londa menjadi bagianku!" ujar Dadung Ampel.

"Ternyata kau seorang sahabat yang cukup pengertian juga. Aku merasa tersanjung. Mari kita selesaikan apa yang menjadi tugas masing-masing!" sahut Parta Widura sambil tertawa-tawa.

Dadung Ampel segera menuju ke dalam ruangan tempat penyekapan Ki Londa. Sedangkan Parta Widura menuju ke kamar tempat penyekapan Dewi Melur.

Dewi Melur yang sudah dalam keadaan tertotok hanya dapat memandangi wajah Parta Widura yang rusak berlendir, mengeluarkan bau busuk. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun ini terkekeh, melihat calon korbannya dalam keadaan ketakutan!

"Aku telah membiarkanmu selama hampir setengah purnama, Patih Kerajaan Pasai! Hmm.... Bukan berarti aku tidak menyukaimu. Tapi aku terlalu sibuk dengan Kitab Panca Sona. Dan sekarang, ilmu Panca Sona telah kumiliki. Aku membutuhkan dirimu!" desis Parta Widura seraya secepat kilat tangannya bergerak menyambar baju Dewi Melur yang terbaring.

Bret! Bret!

"Auuhh...!" Gadis yang tidak tertotok pada urat bicaranya ini menjerit ketika pakaiannya dicabik-cabik Parta Widura; Laki-laki terkutuk itu tertawa-tawa, ketika melihat tubuh menggiurkan berkulit kuning langsat berpinggul padat dan berbadan kenyal itu.

"Aaii.... Keparat...! Lepaskan aku, lebih baik kita bertarung sampai mampus...!" teriak Dewi Melur tanpa pernah mampu menghindari tangan nakal Parta Widura.

"Bukan main bagusnya tubuhmu. Aku yakin kau pasti belum pernah dijamah laki-laki mana pun. Ha ha ha...!"

"Manusia keji! Bebaskan aku! Bunuh saja aku!" desis Dewi Melur dengan wajah berubah pucat.

"Mari bagimu terlalu enak. Dulu, Raja La Dangga membuat hidupku menderita sampai saat ini. Semula, kuharapkan aku akan mendapat kesembuhan dari kutukan Raja La Dangga setelah bercinta dengan putrinya. Tetapi, kau begitu bodoh dan mau menggantikan Andilini! Sekarang, mengapa kau ingin bebas? Bukankah kau telah siap segala-galanya?" desis Parta Widura sengit.

Dewi Melur hanya diam membisu. Matanya mulai merembang, membayangkan nasib buruk yang bakal menimpa. Tapi dia tidak dapat menyalahkan Ratu Andilini atau Pendekar Rajawali Sakti atau Ki Belamparan. Karena, memang dia sendirilah yang bersikeras ingin menggantikan Ratu Andilini saat mendengar rencana penculikan sang Ratu. Dan sekarang dia harus menanggung akibatnya sendiri.

"Ha ha ha...! Sekarang segala-galanya akan kita mulai!" desis Parta Widura.

Tiba-tiba saja Parta Widura mencium Dewi Melur. Sementara, gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menjerit ketakutan. Tapi, suara jeritannya bagi Parta Widura hanya menambah gairahnya. Lendir-lendir di wajahnya mulai menodai tubuh korbannya. Sedangkan kedua tangannya dengan leluasa menggerayangi bagian-bagian terlarang yang dimiliki gadis itu.

Untuk melampiaskan nafsu setannya, laki-laki penghuni gua di Tanah Kutukan itu kemudian menotok urat bicara Dewi Melur. Sementara Dewi Melur hanya dapat meneteskan air matanya ketika Parta Widura mulai mengumbar nafsu bejadnya.

Parta Widura bermandikan keringat telah terkulai di samping Dewi Melur yang bibirnya menyungging senyum puas. Pada saat itu juga dia merasa seperti ada yang berubah pada dirinya. Luka-luka di tubuhnya mendadak saja mengering. Bahkan tidak lagi merasa sakit pada setiap luka yang dideritanya.

Seketika Parta Widura beringsut bangkit Sambil berjingkrak-jingkrak, dia meneliti tubuhnya sendiri. Kini terbukti, darah perawan Patih Kerajaan Pasai itu membawa khasiat untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit kutukan. Walaupun anak buahnya belum tersembuhkan, namun hatinya merasa senang karena sekarang sudah terbebas dari penyakit kutukan.

"Aku telah bebas! Aku bebas...!" teriak Parta Widura senang.

"Benar kau benar. Tapi, jika kau bisa mendapatkan Andilini, tentu semua anak buahmu terbebas dari kutukan pula. Karena, hanya dia yang memiliki kemampuan besar untuk menghilangkan kutukan almarhum ayahnya!"

Ketika Parta Widura menoleh terdengar suara sahutan. Ternyata, di depan pintu telah berdiri seorang laki-laki tua berambut putih dan berjenggot putih pula.

"Paman Koswara! Sebaiknya Paman keluar dulu. Aku mau berpakaian!" ujar Parta Widura, pada laki-laki tua yang baru muncul.

"Ki Koswara! Tidak kusangka ternyata kau seorang pengkhianat!" desis Dewi Melur yang baru saja terbangun dari pingsannya. Matanya telah sembab, terlalu banyak merigeluarkan air mata. Suaranya bergetar, penuh kebencian.

Laki-laki yang ternyata Ki Koswara, guru dari Ratu Andilini tertawa lebar. "Seorang Paman pada akhirnya harus memilih, mana yang harus dibela walaupun keponakannya seorang iblis keji! Selama ini aku merasa telah berpihak pada orang yang salah, Patih! Jadi, kau tidak usah kaget!" dengus Ki Koswara.

"Kau...!" Ucapan Dewi Melur terhenti, tiba-tiba Parta Widura melompat seraya menghujamkan pedang pendek yang begitu cepat dicabutnya. Lalu....

Crep!

"Aaakh...!" Tepat sekali tenggorokan Dewi Melur tertembus pedang pendek. Maka, tewaslah Patih Kerajaan Pasai itu tanpa sempat melaporkan tentang pengkhianatan Ki Koswara yang rupanya masih merupakan paman dari Parta Widura sendiri!

Sementara itu Dadung Ampel yang ditugaskan untuk membunuh Ki Londa sudah memasuki ruangan tahanan Ki Londa. Saat itu, tokoh dari daerah Rangkas ini berdiri dalam keadaan terikat baik tangan maupun kakinya. Sehingga, dia tidak dapat bergerak sedikit pun.

"Selamat bertemu kembali, Manusia Bau Tanah. Aku datang kemari untuk membunuhmu! Itulah perintah yang kudapat dari sahabatku Parta Widura," desis Dukun Sakti disertai senyum kemenangan.

"Kau mau membunuhku? Apakah kau mampu melakukannya?" ejek Ki Londa. Ternyata walaupun jiwanya dalam keadaan terancam, laki-laki tua ini masih bersikap tenang-tenang saja.

"Mengapa tidak? Kau tidak bedanya dengan tikus di dalam perangkap. Hanya sekali gebuk saja, maka mampuslah kau!"

"Ha ha ha...! Bagiku kematian bukan sesuatu yang mengerikan. Sebab, kukira dosa-dosaku sangat sedikit. Tetapi sebelum kau membunuhku, aku punya satu pertanyaan untukmu," sahut Ki Londa, enteng.

"Apa pertanyaanmu? Mengingat kau akan mati, tentu aku menjawabnya dengan senang hati!"

"Apakah kau yang membuka Tabir Gaib yang melindungi Kerajan Pasai dari penglihatan orang lain?"

"Betul!" jawab Dadung Ampel.

"Melalui bantuan Iblis Mesrah, kau juga yang menculik kami ke Tanah Kutukan ini?" tanya Ki Londa.

"Juga betul!" sahut Dadung Ampel.

"Bagus! Kematianmu pasti akan sangat tersiksa sekali. Sungguh aku merasa sangat prihatin atas penderitaanmu nanti!" gumam Ki Londa.

"Bangsat! Orang yang sudah mau mati memang selalu banyak tingkah...!" dengus Dadung Ampel geram.

Sring!

Tiba-tiba laki-laki tua berbadan bungkuk berbaju hitam ini mencabut pedang pemberian Parta Widura. Bibir tersenyum dingin. Sedangkan pedang di tangan ditimangnya berulang-ulang. Tampaknya, dia sengaja membuat Ki Londa ketakutan.

Namun, siapa sangka kalau Ki Londa sama sekali tidak memperlihatkan tanggapan apa-apa?

"Aku punya ajian Panca Sona. Kau tidak akan berhasil membunuhku, Dadung Ampel!" desis Ki Londa.

"Siapa bilang? Jika kepalamu kupenggal, kau pasti segera mari!" dengus Dadung Ampel. Laki-laki tua berbadan bungkuk itu langsung mengayunkan pedang ke batang leher Ki Londa.

Wuuut! Cras!

Karena pedang itu sangat tajam, maka dengan sekali kibas tanggallah kepala Ki Londa dari badannya. Tidak terdengar keluhan atau jerit kesakitan. Kepala itu menggelinding dekat kaki Dadung Ampel. Leher tanpa kepala itu dalam pemandangan Dadung Ampel menyemburkan darah. Sehingga, baju merah yang dipakai Ki Londa semakin bertambah merah!

Begitu Dadung Ampel membuka ikatan dari oyot-oyot kuat yang membelenggu Ki Londa, tubuh laki-laki tua berbaju merah itu tersungkur ke tanah. Tubuhnya terdiam tidak bergerak-gerak lagi. Dukun Sakti tersenyum puas.

"Tidak ada orang yang dapat hidup kembali, setelah kepalanya kupisahkan dari badannya!" dengus Dadung Ampel, sambil meninggalkan ruangan tempat pembantaian.

Benarkah apa yang dikatakan Dadung Ampel untuk orang yang memiliki ajian Panca Sona yang telah mencapai tingkat paling tinggi? Ternyata, kepala Ki Londa yang terpisah dari badannya tampak bergerak. Matanya yang tertutup, sekarang terbuka kembali. Sedangkan tubuhnya bergerak-gerak. Tubuh tanpa kepala itu lantas bangkit berdiri, dan berjalan mendekati kepala yang tergeletak di atas tanah. Lalu, tangan yang berlumur darah itu menggapai kepala yang kemudian diletakkan di pangkal leher yang berlumuran darah.

Crep!

Dan kepala Ki Londa pun melekat kembali ke tempat semula. Ketika tangannya mengusap bekas tebasan di leher, maka lukanya langsung hilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun juga.

Ki Londa sambil tersenyum-senyum meninggalkan ruangan untuk menyusun rencana selanjutnya. Namun di sisi lain, hatinya merasa terpukul. Dia tadi sempat mendengar jeritan Dewi Melur, pasti jiwa gadis itu sudah tidak tertolong lagi. Begitu dugaannya.

********************

Dadung Ampel segera menjumpai Parta Widura. Dan hatinya agak terkejut ketika melihat Ki Koswara tampak sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya. Dadung Ampel memang tidak pernah bertemu orang tua yang satu ini, karena sebelumnya Parta Widura memang tidak pernah bercerita.

"Sahabatku, kemarilah! Oh, ya.... Apakah kau telah melaksanakan tugasmu?" sambut Parta Widura yang baru saja terbebas dari kutukan almarhum Raja La Dangga, setelah menyetubuhi Dewi Melur.

"Tugas yang kau berikan padaku telah kulaksanakan dengan baik. Kepala Ki Londa sudah kupenggal!" jawab Dadung Ampel, lantang.

"Sekarang perkenalkan. Ini pamanku, Paman Koswara! " ujar Parta Widura.

Dadung Ampel menjura hormat. Demikian juga Ki Koswara. "Sejak mengenalku, kau tidak pernah bercerita tentang pamanmu, Parta Widura. Ada apa rupanya?" tanya laki-laki tua bungkuk itu curiga.

Ki Koswara tersenyum. Kepalanya dianggukkan pada Parta Widura. Dari isyarat itu bisa ditebak kalau dia meminta keponakannya untuk menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya.

"Selama ini, aku tidak pernah meayinggung tentang keberadaan pamanku. Karena, beliau ini sedang menyusup ke Kerajaan Pasai. Paman mengajari Andilini dalam hal ilmu olah kanuragan sejak Raja La Dangga tewas di tanganku. Antara kami waktu itu terjadi kesalahpahaman. Tetapi setelah melihat penderitaanku, karena kutukan yang dijatuhkan almarhum Raja La Dangga, rupanya pamanku merasa prihatin. Sehingga, akhirnya dengan suka rela memilih membantu keponakannya sendiri!" jelas Parta Widura.

"Aku merasa senang. Dan perlu kutekankan, bagaimana pun kita harus membela darah daging sendiri. Apalagi dalam keadaan tidak menguntungkan seperti sekarang ini!" gumam Dadung Ampel, tanpa maksud menyinggung perasaan Ki Koswara.

"Ya..., aku baru menyadarinya kini. Jika Ratu Andilini kubela mati-matian, walau bagaimanapun mereka tetap orang lain. Rasanya sangat memalukan jika aku memusuhi keponakanku sendiri," desah Ki Koswara malu-malu.

"Aku merasa bersyukur karena ternyata Paman kini mau menyadarinya," timpal Parta Widura.

"Sudahlah, Parta Widura. Sekarang kita harus merencanakan sesuatu!" sergah Dadung Ampel.

Sejenak lamanya Parta Widura terdiam. Tampaknya dia sedang memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. "Begini saja. Jika sampai besok anak buahku yang dipimpin Ranca Praba tidak kembali, maka kita bertiga segera menyusul dan menghancurkan Istana Kerajaan Pasai!" tandas Parta Widura.

"Kalau itu rencanamu, aku akan setuju!" sambut Dadung Ampel. Laki-laki bungkuk ini memang menginginkan seluruh penghuni istana yang cantik-cantik itu, terkecuali Ratu Andilini yang memang menjadi bagian Parta Widura.

********************

TUJUH

Setelah tidak menemukan jejak Ki Koswara, Kesuma dan Dewi Harnum memutuskan untuk segera kembali ke Kerajaan Pasai. Diam-diam hati mereka khawatir akan terjadi penyerangan yang dilakukan Parta Widura. Kekhawatiran itu beralasan, mengingat Tabir Gaib telah terbuka lebar-lebar. Sehingga, memungkinkan adanya serangan dari celah-celah di segala penjuru.

Setelah hampir sehari penuh menggebah kuda, menjelang senja kedua orang ini sampai di pintu gerbang Kerajaan Pasai. Dan mereka jadi kaget, ketika melihat pertempuran sedang berlangsung sengit. Beberapa orang perwira tinggi kerajaan tersungkur roboh. Banyak prajurit istana telah menjadi mayat. Namun patut diakui, pihak penyerang pun juga ada yang tewas.

Sementara Dewi Harnum jadi berkerut keningnya, ketika tidak melihat Panglima Perang Mira yang seharusnya memimpin pertarungan. Yang kelihatan saat itu hanya Ki Belamparan dan Ratu Andilini. Itu pun mereka sudah dalam keadaan terdesak. Saat itu juga, Dewi Harnum yang dibantu Kesuma segera menerjang ke tengah-tengah pertempuran.

"Ke mana Panglima?" tanya Dewi Harnum, ditujukan pada Ki Belamparan.

"Panglima baru saja kembali. Tetapi kesehatannya tidak memungkinkan. Dia terluka terkena pisau beracun!" jelas Ki Belamparan sambil memutar toya di tangan untuk menangkis serangan.

"Jangan beri kesempatan pada mereka untuk meloloskan diri!" teriak Kesuma.

Pemuda ini dengan gagah berani langsung mencabut pedang. Lawan yang dihadapinya adalah Ranca Praba, yang menjadi pimpinan dalam penyerangan ini.

Ranca Praba, yang bersenjata clurit segera menerjang Kesuma. Jurus-jurus simpanannya dikerahkan untuk membunuh pemuda murid Ki Londa itu. Sebaliknya, Kesuma yang mempergunakan jurus Tendangan Badak Kulon langsung menahan gempuran itu. Hanya dalam waktu sebelas jurus saja pertempuran sudah berlangsung seru.

Tampaknya Ranca Praba tidak puas melihat serangannya tidak satu pun yang mengenai sasaran. Sekejap saja cluritnya sudah meluncur deras, mencari sasaran.

"Haiiit!" Disertai teriakan keras, Kesuma menggerakkan pedangnya untuk menghalau luncuran clurit. Maka, benturan keras tidak dapat dihindari lagi.

Trang!

"Heh...?!" Kesuma terkejut dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang. Benturan barusan memberi peringatan kalau tenaga dalam lawannya lebih unggul. Dan belum juga dia mampu menghilangkan keterkejutannya, pada saat itu pula tendangan Ranca Praba menghantam tulang rusuknya.

Duk!

"Hugkh...!" Kesuma terjajar hingga membentur tembok istana. Dadanya terasa sesak bukan main. Sedangkan dari sudut-sudut bibirnya meneteskan darah.

Melihat semua ini, Ranca Praba merasa berada di atas angin. Seketika cluritnya segera dikibaskan kembali. Ketika clurit itu sejengkal lagi menebas kepala, Kesuma membungkukkan tubuhnya serendah mungkin. Begitu tebasan clurit lewat di atas kepalanya, saat itu pula Kesuma menyodokkan pedang di tangan. Secepatnya Ranca Praba menggeser tubuhnya ke samping. Namun....

Cres!

"Aaakh...!" Ranca Praba mengeluh tertahan, ketika pedang itu sempat mengenai bahunya. Dengan cepat ditotoknya jalan darah dekat bagian luka. Dan seketika, kaki begundal Parta Widura ini segera membangun serangan kembali.

Sementara itu pertempuran antara Ratu Andilini, Dewi Harnum, dan Ki Belamparan melawan anak buah Ranca Praba telah mencapai tingkat yang paling membahayakan. Anak buah Ranca Praba yang hanya tinggal empat orang tampaknya telah mengerahkan segenap kemampuan. Namun tampaknya mereka tetap saja terdesak, mengingat Dewi Harnum dan Ratu Andilini telah mempergunakan jurus-jurus pedang yang paling tinggi.

"Haiiit!" Disertai teriakan keras orang-orang Tanah Kutukan itu melompat ke depan sambil menusukkan tombak. Salah satu serangan jelas ditujukan pada Ki Belamparan.

Namun laki-laki tua berselempang ini tidak tinggal diam. Tubuhnya cepat melenting ke udara. Setelah berputaran dua kali tubuhnya meluncur deras ke bawah. Dan secepat kilat dilepaskannya tendangan ke dada yang disertai tenaga dalam penuh. Lalu....

Buk! Krak!

"Aaa...!" Salah seorang anak buah Ranca Praba menjerit sekeras-kerasnya. Tulang dadanya hancur, hingga melesak ke dalam. Tubuhnya jatuh terpelanting dengan darah menyembur dari mulutnya. Orang dari Tanah Kutukan ini terkapar, tidak bangkit lagi selama-lamanya.

Bersamaan dengan itu pula Ratu Andilini juga sedang berusaha menghabisi lawan yang dihadapi. Namun kiranya lawan yang dihadapi cukup cerdik juga. Orang dari Tanah Kutukan itu terus melompat mundur sambil menggerakkan mata tombaknya.

Wut! Wut!

"Hup...!" Tepat ketika orang dari Tanah Kutukan menusukkan tombaknya, Ratu Andilini mendadak melompat. Begitu berada di udara, tubuhnya meluncur dengan tusukan pedang ke arah sasaran. Orang dari Tanah Kutukan itu rupanya tidak sempat menghindari gerakan yang sangat cepat ini. Sehingga tanpa ampun....

Cras...!

"Aaa...!" Tusukan senjata Ratu Andilini tepat mengenai dada kiri laki-laki itu hingga kontan melotot. Mulutnya menyeringai menahan rasa sakit yang tak terkira. Tangan kirinya mendekap bagian lukanya yang mengucurkan darah. Tepat ketika Ratu Andilini menarik pedangnya kembali, robohlan laki-laki berwajah penuh koreng ini. Tubuhnya berkelojotan sekejap, lalu diam membeku.

"Dewi Harnum! Ki Belamparan! Habisi lawan-lawanmu secepatnya!" teriak Ratu Andilini.

Tanpa diberi aba-aba sekalipun sebenarnya Dewi Harnum maupun Ki Belamparan yang hanya tinggal menghadapi seorang lawan sudah bermaksud menghentikan perlawanan. Terbukti, kedua orang ini kemudian tampak mendesak lawannya dari dua arah secara bersamaan.

Ki Belamparan memutar tombaknya hingga menimbulkan suara menderu-deru, membentuk pertahanan diri. Namun di lain waktu, tongkatnya dikibaskan ke bagian kepala. Namun ternyata orang yang dihadapi Ki Belamparan masih sempat menusukkan tombak setelah menahgkis tongkat yang meluncur deras ke bagian kepala.

Bret!

"Aiih...!" Ki Belamparan mengeluh tertahan. Mulutnya meringis menahan perih. Bagian dadanya sempat tergores mata tombak lawannya. Sedangkan tongkatnya hampir saja terlepas dari genggaman tangannya. Untung tadi dia sempat melompat ke belakang.

Ki Belamparan menggeram marah. Setelah menyeka darah yang menetes dari luka, laki-laki tua ini kembali melancarkan serangan gencar. Kali ini, juga dilepaskannya tendangan-tendangan berbahaya. Anak buah Ranca Praba itu tampak terdesak. Sementara Ki Belamparan tampaknya memang sudah tidak memberi kesempatan lagi. Sekuat tenaga tongkat di tangannya dikibaskan ke kepala.

Prak!

"Huaagkh...!" Teriakan keras disertai menyemburnya cairan otak bercampur darah mengiringi kematian laki-laki dari Tanah Kutukan itu. Tubuhnya terhuyung-huyung lalu jatuh terkapar.

Kini yang masih terlibat pertempuran hanya tinggal Kesuma dan Dewi Harnum saja. Namun, orang yang dihadapi Dewi Harnum ternyata memiliki ilmu olah kanuragan cukup lumayan juga. Sehingga wanita itu merasa agak kerepotan untuk menjatuhkannya. Setelah mengambil jarak dengan melompat ke belakang, gadis itu mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangannya. Tidak lama setelah itu....

"Pukulan 'Bidadari Sakti'! Hiyaaa...!" Sambil melompat ke depan Dewi Harnum berteriak keras. Dan seketika kedua tangannya didorongkan ke depan. Sekejap saja tampak melesat seleret sinar kuning berkilauan ke arah orang dari Tanah Kutukan. Namun dengan membuang diri ke samping, orang itu berhasil menghindari serangan yang menimbulkan hawa dingin tersebut. Sehingga....

Blarrr!

Serangan Dewi Harnum menghantam batu besar yang terdapat di belakang laki-laki itu. Tetapi, gadis berbaju putih ini tidak menunggu lebih lama lagi. Segera pukulannya dilepaskan kembali.

Wuuutt! Glar! Glar!

"Aaa...!" Ledakan dahsyat diiringi jeritan menyayat terdengar mengeringi kematian laki-laki dari Tanah Kutukan itu. Sosok tubuhnya terpelanring ke belakang. Ketika jatuh, nyawanya sudah lepas dari raganya.

Dewi Harnum menarik napas lega. Segera dia bergabung dengan Ratu Andilini dan Ki Belamparan. Mereka terus mengawasi jalannya pertarungan antara Kesuma dan Ranca Praba yang masih berlangsung sengit.

"Nyawamu tidak sampai tiga jurus lagi!" desis Ranca Praba.

"Hm...." Kesuma menggumam tidak jelas.

Ranca Praba tiba-tiba menerjang ke depan. Gerakannya sangat sulit dibaca, ketika mengerahkan jurus tingkat paling tinggi. Bahkan tiba-tiba clurit di tangannya menderu secara menyilang. Kesuma segera mengibaskan pedangnya untuk menangkis.

Tring!

"Heh...?!" Tanpa dapat menutupi rasa kaget, mereka sama-sama terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat Kesuma memperbaiki keseimbangannya, Ranca Praba cepat menerjang lagi dengan senjata meluncur ke bagian leher.

Semua orang yang melihat kenyataan ini hanya dapat menahan napas. Sulit dibayangkan, apa yang bakal terjadi pada Kesuma. Namun pada saat-saat yang sangat gawat, mendadak Kesuma merundukkan kepala serendah mungkin. Sedangkan pedang di tangannya meluncur deras ke bagian perut Ranca Praba.

Wesss!

Tebasan senjata Ranca Praba yang meluncur ke arah batang leher tidak mengenai sasaran. Sebaiknya, pedang Kesuma menembus perut Ranca Praba sambil ke punggung.

"Huaaagkh...!" Ranca Praba memekik tertahan. Matanya mendelik, seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Sebelum Ranca Praba roboh, secepat kilat Kesuma mencabut senjatanya, lalu mengibaskannya ke bagian kepala.

Crak!

Saat itu juga terbelahlah kepala Ranca Praba. Laki-laki ini roboh dengan kepala pecah dan perut tertembus pedang.

"Aku tidak tahu, bagaimana nasib guruku. Jika beliau sampai tewas, aku bersumpah akan membelah kepala Parta Widura!" desis Kesuma disertai suara gumaman. Lalu diikutinya Ratu Andilini dan yang lain-lain memasuki istana.

Di dalam ruangan pertemuan kerajaan, Ratu Andilini, Ki Belamparan Kesuma, dan Dewi Harnum berkumpul. Tampak baik Ratu Andilini maupun yang lain-lainnya sedang memikirkan langkah apa yang harus ditempuh.

"Apa keputusanmu, Paman Belamparan?" tanya Ratu Andilini.

Ki Belamparan tidak langsung menjawab. Dan matanya malah memandang tajam pada Kesuma. "Apa pendapatmu, Kesuma? Apakah kita tetap berdiam di sini atau menyusul Pendekar Rajawali Sakti ke Tanah Kutukan?"

"Maafkan aku, Ki. Bagiku keselamatan kerajaan memang penting. Namun keselamatan guruku dan, Dewi Melur, juga sangat penting. Lagi pula kita tidak bisa membiarkan Rangga berjuang seorang diri. Aku curiga, jangan-jangan Ki Koswara berada di sana," ucap Kesuma, lirih.

"Dugaanmu terlalu berlebihan, Kesuma! Mustahil guruku bergabung, dengan manusia sesat seperti Parta Widura. Sungguh tidak bisa kuterima!" bantah Ratu Andilini polos.

"Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada siapa pun, Ratu," sergah Ki Belamparan tanpa bermaksud membela Kesuma. "Apa yang dikatakan Kesuma rasanya memang masuk akal. Pertama, mengapa di saat Ratu menghadapi persoalan begini rumit, Ki Koswara malah menghilang begitu saja. Sedangkan yang kedua, dia datang dan pergi ketika kerajaan masih dilindungi Tabir Gaib. Lalu, ke mana perginya?"

"Benar, Gusti Ratu. Hamba pernah melihat Ki Koswara keluar secara diam-diam melalui pintu rahasia dan kembali setelah menjelang subuh!" Dewi Harnum menimpali. "Namun hamba tak menduga atau berprasangka buruk padanya. Hanya saja bila melihat kenyataan ini, hamba jadi yakin kalau Ki Koswara telah membelot. Keyakinan hamba didasari, mengingat dia masih ada hubungah paman dengan Parta Widura...."

"Lalu bagaimana pendapatmu, Panglima?" tanya Ratu Andilini ditujukan pada Mira.

Gadis yang belum sepenuhnya sembuh dari luka beracun yang diderita ini tidak segera menjawab. Dalam hati, dia tidak ingin Ratu Andilini ikut serta. Walau bagaimanapun, Parta Widura memang mengincar dirinya. Selain itu Tanah Kutukan juga sangat ber-bahaya, karena sewaktu-waktu bencana dapat saja menimpa.

"Gusti Ratu, sebenarnya masalah pertempuran ini merupakan tanggung jawabku. Jadi, hamba sarankan sebaiknya biar kami saja yang menyusul Pendekar Rajawali Sakti," tandas Panglima Mira.

Ratu Andilini tampak gusar sekali mendengar ucapan panglima perangnya. Sebagai pimpinan kerajaan, mana mungkin dia harus berdiam diri dan tinggal berpangku tangan menunggu nasib? Sementara, seluruh pembantunya berjuang mati-matian membela kerajaan?

"Aku tidak dapat menerima usulmu! Lagi pula, kau belumlah sembuh benar. Aku harus ikut ke Tanah Kutukan walau apa pun yang terjadi!" sentak Ratu Andilini.

Keputusan Ratu Andilini tentu mengejutkan semua pihak yang berada dalam ruangan pertemuan ini. Mereka semakin bertambah khawatir dengan keselamatan Penguasa Kerajaan Pasai ini. Walau bagaimanapun, mereka sama-sama tidak mengetahui seberapa hebat kekuatan Parta Widura. Adalah sesuatu yang sangat merepotkan, jika sambil bertempur mereka harus melindungi Ratu Andilini.

"Sebaiknya pertimbangkan kembali keinginan untuk ikut serta ke Tanah Kutukan, Gusti Ratu?!" ingat Ki Belamparan.

"Kalian semua meragukan aku? Aku adalah pimpinan di Kerajaan Pasai ini. Jadi, betapa malunya jika aku terus berpangku tangan di sini!"

"Tapi, Parta Widura menginginkan Gusti Ratu untuk membebaskan kutukan yang dideritanya selama bertahun-tahun!" sergah Panglima Mira.

Apa yang dikatakan Panglima Mira memang benar. Sebenarnya, Ratu Andilinilah kunci dari semua kemelut yang sedang dihadapi. Parta Widura menginginkan dirinya untuk mendapatkan kehormatanrtya. Dan ini merupakan sesuatu yang menakutkan bagi Ratu Andilini sendiri.

Namun kalau dipikir lagi, bagaimana jika seluruh pembesarnya terbunuh. Bukankah dia nantinya juga akan dijadikan korban oleh Parta Widura? Rasanya lebih baik berbuat sebelum terlambat, daripada tidak sama sekali!

"Keputusanku tetap sama. Sekarang persiapkan segala sesuatunya yang akan kita butuhkan dalam perjalanan!" tegas Ratu Andilini.

Kini tidak seorang pun yang berani membantah keputusannya. Mereka, terutama Panglima Mira, segera mempersiapkan semua keperluan.

********************

Pendekar Rajawali Sakti cukup kerepotan juga mendobrak pintu gua yang dijadikan tempat tinggal Parta Widura. Sebenarnya, bisa saja pintu baru itu dlhancurkan dengan mempergunakan pukulannya. Tetapi dia khawatir suara ledakan yang ditimbulkan hanya akan menarik perhatian Parta Widura dan kawan-kawannya. Rangga kemudian berputar untuk mencari jalan lain agar dapat memasuki gua tersebut. Tetapi tiba-tiba....

"Pendekar Rajawali Sakti!" Mendadak terdengar panggilan dari batik batu di depannya. Dengan sangat berhati-hati pemuda memakai baju rompi putih ini segera datang menghampiri. Dan dia menjadi terkejut ketika melihat Ki Londa tersenyum kepadanya.

"Ki! Bagaimana kau dapat keluar dari dalam gua itu?" tanya Rangga terheran-heran.

"Kepalaku sempat dipenggal Dadung Ampel. Tapi, aku punya aji Panca Sona. Oh, ya.... Aku keluar dari belakang gua ini. Di sana ada pintu rahasia," jelas Ki Londa.

"Bagaimana dengan Dewi Melur?" tanya Rangga.

"Sangat disayangkan, aku tidak bisa menolongnya. Dia tewas menjadi korban kebiadaban Parta Widura. Dia telah berkorban untuk Ratu Andilini. Sungguh mengenaskan nasib gadis itu," desis Ki Londa.

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku berhasil menyelinap ke kamar Parta Widura dan mendapatkan jasad Dewi Melur polos dalam keadaan tidak bernyawa.

"Hmm," gumam Rangga tidak jelas. Memang, betapa mengenaskannya nasib patih kerajaan itu. Rangga sangat menyesal karena tidak bisa mencegah perbuatan Parta Widura. Kedatangannya ke Tanah Kutukan terlambat. Dan akibatnya, sangat menyedihkan.

"Ki Londa! Apakah Parta Widura sekarang telah terbebas dari kutukan?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, menyelidik.

"Betul! Karena, dia telah meniduri Dewi Melur. Tapi kutukan yang terjadi pada diri anak buahnya tidak bisa dipunahkan, mengingat khasiat yang diperoleh dari darah perawan Dewi Melur sangat terbatas. Lain lagi jika berhasil mendapatkan darah perawan Ratu Andilini," jelas Ki Londa.

"Berapa kekuatan di dalam sana? Apakah Ki Koswara juga ada bersama Parta Widura?"

"Mereka hanya bertiga. Dan ternyata, Ki Koswara merupakan paman dari Parta Widura."

"Gila! Kita kecolongan!" desis Rangga. Terdorong rasa penasarannya, Rangga memutuskan untuk segera menyelinap ke dalam gua. Tetapi pada Saat yang bersamaan, terdengar suara bergemuruh pada bagian pintu depan gua. Mau tidak mau, Rangga memusatkan perhatiannya ke arah pintu, setelah cepat menyelinap kembali.

DELAPAN

Batu besar yang menutupi gua terbuka. Dari dalamnya muncul Parta Widura yang ditemani seorang laki-laki tua berbadan bungkuk dan seorang laki-laki tua berambut putih berbaju ungu. Ki Londa mengenali laki-laki tua berambut putih yang menyandang pedang di pinggang. Dia tidak lain dari Ki Koswara.

"Kau lihat, Rangga! Ki Koswara guru Ratu Andilini ternyata seorang pengkhianat! Dia memilih membela keponakannya yang sesat, daripada berpihak pada kebenaran," bisik Ki Londa dekat telinga Rangga.

"Hendak ke mana mereka?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Ke mana lagi, kalau bukan ke Kerajaan Pasai. Yang jelas, dia masih tetap bertekad untuk memiliki Ratu Andilini. Apalagi sekarang dibantu Dadung Ampel dan Ki Koswara. Tentu, dia semakin besar kepala," jelas Ki Londa.

"Kita harus mencegahnya!" tegas Rangga. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti berkelebat, lalu mendarat manis di depan ketiga orang ini. Gerakannya disusul oleh kelebatan tubuh Ki Londa, yang langsung mendarat di sisi Pendekar Rajawali Sakti.

"Para sekutu manusia iblis terkutuk! Kalian hendak pergi ke mana?" tegur Rangga, kalem.

Ketiga laki-lakiyang telah bersiap-siap meninggalkan gua itu tampak terkejut, melihat kehadiran Rangga. Dan Dadung Ampel pun tampak lebih terkejut lagi, melihat Ki Londa.

"Siapa kau?" dengus Parta Widura.

"Itulah pemuda keparat yang pernah kuceritakan waktu itu," tuding Dadung Ampel.

"Pendekar Rajawali Sakti!" timpal Ki Koswara.

"Dan, mengapa orang tua itu tidak mati, Dadung Ampel?" tanya Parta Widura agak kaget

"Aku yakin karena ajian Panca Sona, Sahabatku!" sahut Dukun Sakti gugup.

"Oho...! Kebetulan sekali, aku telah mengamalkan ajian 'Panca Sona'. Tidak kusangka keberangkatan kita jadi tertunda, karena kehadiran mereka ini, Paman Koswara," oceh Parta Widura.

"Kita bereskan kedua kutu busuk ini dulu. Jika semuanya sudah mampus tentu rencana kita dapat dijalankan tanpa halangan apa pun lagi!" tandas Ki Koswara, memandang rendah lawan-lawannya.

"Ki Koswara! Rupanya hatimu telah tertutup oleh rayuan iblis, sehingga tak bisa lagi membedakan mana kejahatan dan mana kebenaranl" tegur Rangga, dingin.

"Kau masih kuberi kesempatan, Ki. Bertobatlah. Tapi kalau kau membangkang, hanya sia-sia yang kau dapatkan...!"

"Betul! Hm.... Dukun kampret akan menjadi bagianku, Rangga!" tambah Ki Londa.

"Huh! Bicaramu seperti dewa saja, Anak Muda! Rupanya kalian belum tahu, siapa yang dihadapi!" dengus Ki Koswara.

"Paman dan sahabatku Dadung Ampel! Jangan banyak bicara! Bunuh mereka segera!" perintah Parta Widura tegas.

"Baiklah.... Kau tidak usah turun tangan, Parta Widura! Biarkan kami yang membereskan mereka! Hiyaaa...!"

Disertai teriakan keras, Ki Koswara segera menerjang ke depan. Melihat sekutunya sudah melakukan serangan, maka Dadung Ampel segera menyerang Ki Londa. Tidak dapat dihindari lagi, terjadilah perkelahian cukup seru. Masing-masing berusaha mengeluarkan jurus simpanannya.

Rangga segera melakukan serangan-serangan gencar. Berulang kali tangannya yang terkepal menghantam ke arah sasaran. Sedangkan kaki kanannya sesekali melepaskan tendangan ke beberapa bagian mematikan.

Namun, ternyata Ki Koswara yang pernah mendengar kehebatan Pendekar Rajawali Sakti ini segera mengerahkan jurus andalan yang dipergunakan untuk menghadapi dan melakukan serangan balik.

Jotosan-jotosan Rangga yang berisi tenaga dalam tidak mengenai sasarannya. Ketika serangan kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam ke bagian kepala, Ki Koswara menangkis dengan sikunya.

Duk!

"Uh...!" Rangga terhuyung beberapa langkah ke belakang. Sedangkan Ki Koswara merasa sikunya seperti remuk. Tubuhnya bergetar, dan rasa panas menjalar dari bagian sikunya yang berbenturan dengan kaki pemuda tadi.

"Pemuda ini ternyata mempunyai tenaga dalam dua tingkat di atasku. Jika tidak cepat kuatasi, bukan mustahil aku yang mati!" pikir Ki Koswara.

"Hup...!" Laki-laki berambut putih ini melompat ke depan. Seketika tangannya mendorong ke arah Rangga disertai tenaga dalam tinggi. "Hiyaaa...!" teriak Ki Koswara seraya mengerahkan pukulan Dewa Mayat Biru.

Wuusss...!

Seketika itu juga meluncur dua larik sinar hijau menebarkan bau busuk ke arah Rangga. Merasakan desir angin halus yang bersumber dari pukulan lawan, Pendekar Rajawali Sakti segera menyadari bahaya mengancam. Segera tenaga dalamnya disalurkan ke bagian telapak tangan. Lalu laksana kilat, tangannya dikibaskan ke arah datangnya sinar hijau itu.

"Aji 'Guntur Geni'! Hiyaaa...!" Seketika meluruk dua sinar merah membara, langsung memapas. maka benturan kedua tenaga sakti itu tidak dapat dihindari lagi....

Glar! Glar!

"Hukh...!" Di awali dua ledakan keras dua sosok tubuh tampak terlempar ke belakang. Rangga meringis menahan sakit. Jelas, dia menderita luka dalam akibat benturan kedua tenaga sakti tadi. Namun segera Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri.

Sedangkan Ki Koswara terpaksa mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalamnya. Darah kental tampak menetes dari sudut-sudut bibirnya. Segera bangkit laki-laki berambut putih ini ketika sedikit merasa segar kembali. Wajahnya yang pucat tampak menyunggingkan seulas senyum dingin. Bahkan kepalanya menggeleng ketika Parta Widura bermaksud turun tangan untuk membantu.

Set! Sring!

Ki Koswara mendadak mencabut pedang dan kebutan dari kain berwarna hitam. Begitu menerjang kembali, pedang dan kebutan itu dikibaskan secara bergantian. Atau bahkan dipergunakannya secara bersamaan.

Kenyataan ini tentu saja membuat Rangga jadi terdesak. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti melompat mundur. Apalagi kebutan itu terus melecut, meliuk, atau mematuk seperti seekor ular. Sampai kemudian salah satu senjata itu secara berbareng menghantam pundaknya.

Tes!

"Auuh...!" Rangga memekik tertahan. Tampak darah mengucur dari luka di bahunya. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat menotok urat untuk menghentikan aliran darahnya.

Pada saat itu Ki Koswara kembali mendesak dengan serangan-serangan mematikan. Dan Rangga pun tidak mau bersikap sungkan-sungkan lagi. Segera diperguna-kannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Dengan cepat tubuh Rangga meliuk-liuk menghindari serangan. Sedangkan kakinya bergerak lincah untuk menopang gerakan tubuhnya.

Perubahan jurus yang dimainkan Pendekar Rajawali Sakti membuat terkejut Ki Koswara. Dengan penasaran pedangnya ditusukkan ke bagian lambung. Sedangkan dari arah kanan senjata ke butannya dikibaskan pula.

Rangga agak kerepotan untuk mengatasi serangan yang datangnya secara bersamaan itu. Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara. Beberapa kali tubuhnya berputaran, lalu meluncur ke bawah dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' dengan kaki mengayun deras ke bagian kepala.

Ki Koswara tidak pernah menduga kalau pemuda itu mampu melakukan serangan dari atas. Dia berusaha menundukkan kepala untuk menghindar, namun gerakannya kalah cepat.

Prak!

"Aaa...!" Ki Koswara menjerit menyayat ketika kepalanya terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti. Isi kepalanya kontan berhamburan. Bahkan tubuhnya sempat berputar beberapa kali bagai orang bingung, sebelum akhirnya jatuh ke tanah tanpa bangun-bangun lagi.

"Paman Koswara!" pekik Parta Widura, begitu terkejut melihat kematian pamannya.

Laki-laki ini langsung memburu Ki Koswara. Tapi hanya bisa memeluk jazad lelaki itu dan memandangnya termangu-mangu. Satu hal yang membuatnya sangat terguncang, sungguh tidak disangka kalau pemuda memakai baju rompi putih itu mampu membuat kepala pamannya hancur! Dengan penuh kegeraman, Parta Widura bangkit berdiri dan langsung menghadap Rangga.

"Manusia keparat' Aku akan mengadu jiwa atas kematian pamanku! Heaaa...!" pekik Parta Widura.

Dengan ganas laki-laki Penguasa Tanah Kutukan itu menerjang. Tinjunya meluncur deras menghantam bagian kepala Pendekar Rajawali Sakti. Tetapi Rangga dengan gesit segera menghindar, dan langsung melancarkan serangan balasan.

Sementara itu, Ki Londa yang sedang berhadapan dengan Dadung Ampel tampaknya juga sedang mendapat tekanan cukup berat. Dukun Sakti dengan pendupaan yang mengepulkan asap serta keris pendek di tangannya tampak lebih ganas dalam melakukan serangan. Celakanya setiap keris itu diadu dengan pendupaan di tangan kiri, pasti mengeluarkan suara yang sangat menyakitkan telinga.

Tuoeng!

Ki Londa terpaksa menutupi telinganya. Tetapi, hal seperti itu tidak dapat dilakukannya secara terus-menerus. Maka terpaksa tenaga dalamnya dikerahkan untuk menutup indera pendengarannya. Terlebih-lebih ketika tusukan keris maupun kemplangan pendupaan datang menghantam secara bertubi-tubi. Ki Londa tidak disangka-sangka melompat mundur. Bibirnya menyeringai. Entah tersenyum entah kesal.

"Dukun cabul! Kau ini memang bangsat sialan! Kuperintahkan, buang pendupaan setanmu! Atau, akan kupotong hidung dan telingamu dengan pedangku...!" ancam Ki Londa.

"Ha ha ha ...! Manusia pikun tukang ngiler. Lihat! Pendupaanku segera kuserahkan padamu! Terimalah!" dengus Dadung Ampel.

Entah apa yang dibacanya, yang jelas ketika pendupaan yang mengepulkan asap tebal itu dilemparkan ke arah Ki Londa, tanpa disangka-sangka berubah menjadi besar. Semakin lama pendupaan itu semakin mendekati Ki Londa. Namun besarnya juga semakin menjadi-jadi. Laki-laki tua berbaju merah itu terkejut, Matanya melotot seperti melihat setan.

Ketika pendupaan hampir menghantam remuk mulutnya, Ki Londa segera membuang diri dan berguling-guling ke samping. Lalu dengan cepat pedangnya dicabut dan langsung dikibaskan ke arah pendupaan. Aneh...! Seperti mempunyai mata saja, pendupaan yang telah berubah dua kali lebih besar dari Ki Londa bisa mengelak.

"Masa kau dapat menghindari jurus Tendangan Badak Kulon'!" pikir Ki Londa. "Hiyaaa...!"

Tiba-tiba laki-laki tua berjubah merah ini melakukan sabetan menyilang. Dengan gerakan mengagumkan, pendupaan itu meluncur ke samping. Tetapi, secepat kilat Ki Londa memutar pedangnya dan membabatkannya ke samping pula. Akibatnya....

Plak!

Pendupaan itu kontan hancur berantakan. Sementara Dadung Ampel terkejut sekali melihat pendupaannya hancur.

"Sekarang, permainan apa lagi yang ingin kau tunjukkan padaku, Dukun Gendeng?" ejek Ki Londa.

"Huh...!" Dadung Ampel hanya mendengus saja. Kemudian keris hitam berlekuk tiga miliknya diacungkan tegak di udara. Mulutnya berkemak-kemik. Tak lama, sekujur tubuhnya pun terguncang keras. Hanya dalam sekedipan mata saja tubuh Dadung Ampel telah bertambah. Dan kini menjadi tiga orang! Rupanya dia mengeluarkan sebuah ilmu yang langka.

Ki Londa sadar betul, ada tiga Dadung Ampel. Dan di antaranya palsu. Sementara Dadung Ampel yang sesungguhnya harus dihancurkannya. Untuk itu segera diterapkan ajian Panca Sona untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Benar saja. Pada saat yang bersamaan, Dadung Ampel menghunuskan kerisnya ke bagian perut Ki Londa. Tiga Dadung Ampel menyerang secara bersamaan yang tentu saja sangat ganas karena kepandaiannya memang sangat tinggi. Namun Ki Londa cepat berusaha menghindar sambil melepaskan tendangan dan menghantamkan pedang di tangannya.

Wuuut! Besss!

Ternyata Ki Londa menghantam Dadung Ampel yang palsu. Sedangkan dari arah samping, Dadung Ampel lainnya menusukkan keris ke perut. Ki Londa makin terpojok, karena dari samping kanan Dadung Ampel lainnya menusukkan senjata yang sama. Tiba-tiba saja....

Crasss!

"Auugkh...!" Ki Londa menjerit keras ketika perutnya tertusuk keris yang beracun itu. Laki-laki tua ini jatuh berguling-guling. Melihat ini, Dadung Ampel yang telah mengembar menjadi tiga orang ini segera memburu dengan maksud menyudahi pertarungan.

Namun pada saat-saat yang sangat menentukan, dari arah belakang berkelebat bayangan kuning ke arah salah satu Dadung Ampel yang menyerang Kil Londa. Karena nafsunya untuk membunuh Ki Londa demikian besar, akibatnya Dadung AmpeI yang jadi sasaran tak menyadari datangnya bahaya. Dan....

Crak!

"Aaa...!" Sungguh suatu kebetulan bagi bayangan kuning. Saat pedangnya dihujamkan, ternyata sasaran adalah Dadung Ampel yang asli. Disertai jeritan yang sangat keras, Dukun Sakti ini terpelanting roboh dengan punggung tertembus pedang.

Kiranya bayangan kuning yang tidak lain Kesuma ini mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki ke bagian hulu pedangnya, ketika melihat gurunya dalam keadaan terancam! Sehingga, akibatnya Dadung Ampel begitu jatuh ke tanah sudah tidak dapat bangkit lagi. Dia tewas saat itu juga. Saat Dukun Sakti tewas, kembarannya pun lenyap pula.

Kesuma segera menghampiri Ki Londa yang saat itu sedang menelan beberapa butir obat pulung. "Guru bagaimana keadaanmu?" tanya Kesuma, langsung memeriksa keadaan luka gurunya.

Ternyata, luka itu cukup berbahaya. Tetapi, laki-laki tua berbaju merah ini malah tertawa. "Ha ha ha...! Mengapa kau jadi pikun? Bukankah kita punya ajian Panca Sona?" ucap Ki Londa. Saat itu juga Ki Londa mengusap bekas tusukan keris lawannya. Tiga kali usapan, luka itu lenyap tanpa menimbulkan bekas.

"Bagaimana? Bukankah aku tidak apa-apa?" tukas Ki Londa. Laki-laki tua ini mengedarkan pandangan. Tidak jauh di sebelah kanan, ternyata Rangga masih terlibat pertempuran sengit melawan Parta Widura. Sedangkan ketika melirik ke arah timur, di sana rombongan Istana Kerajaan Pasai sudah tiba. Mereka langsung berjaga-jaga dengan perasaan cemas.

"Panglima perang itu memang pantas berjodoh denganmu, Kesuma!" Tanpa sebab tiba-tiba Ki Londa bicara tentang Mira, sehingga membuat Kesuma jadi malu.

"Guru masih bisa saja bercanda. Kita sekarang harus menolong Pendekar Rajawali Sakti. Parta Widura ternyata sangat sakti!" kata Kesuma, mengalihkan pembicaraan.

"Seorang pendekar akan merasa tersinggung bila kita membantunya. Kita lihat saja dulu, apa yang bakal terjadi!" sergah Ki Londa.

Mereka kemudian bergabung dengan Ratu Andilini sambil berjaga-jaga. Apa yang dikatakan Kesuma ternyata memang benar, Parta Widura ternyata cukup alot juga. Bahkan tubuh laki-laki itu sempat terkapar roboh ketika ajian Bayu Bajra yang dilepaskan Rangga menghantam tubuhnya. Namun tidak lama kemudian, Parta Widura hidup kembali. Langsung dia melakukan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya!

"Aku tidak mungkin dapat membunuhnya jika tidak tahu cara dan di mana kelemahannya!" gumam Rangga.

Belum sempat Pendekar Rajawali Sakti berbuat apa-apa, tiba-tiba Parta Widura mendorongkan kedua tangannya ke arah Rangga. "Hiyaaa...!" teriak Parta Widura seraya mengerahkan aji 'Delapan Penjuru Neraka Dunia'nya.

Dua sinar hitam langsung meluncur deras menghantam. Pendekar Rajawali Sakti secepatnya bersalto ke udara, membuat serangan Parta Widura hanya lewat sejengkal di bawah kakinya.

Blarrr!

Batu di belakang Pendekar Rajawali Sakti hancur. Dan begitu menjejak tanah, Rangga segera membuat gerakan tangan dengan kuda-kuda kokoh. Sementara tubuhnya miring ke kiri, lalu ke kanan. Tepat ketika tegak kembali kedua telapak tangan yang telah terselimut cahaya biru sudah merangkap di depan dada.

Pada saat yang sama, Parta Widura telah menghentakkan tangannya, melepas ajian ''Delapan Penjuru Neraka Dunia' kembali. Seketika dua sinar hitam kembali meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun....

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" Disertai teriakan menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya yang terselubung sinar biru berkilau, disertai tenaga dalam tinggi. Saat itu juga, melesat sinar-sinar biru memapak datangnya serangan Parta Widura. Dan....

Blarrr...!

Terdengar ledakan dahsyat akibat pertemuan dua kekuatan bertenaga dalam tinggi. Namun, ternyata sinar biru itu terus menerobos, mengancam keselamatan Parta Widura yang terkesiap, tak mampu menghindar. Dan....

Glarrr...!

"Aaa...!" Parta Widura menjerit tertahan. Tubuhnya kontan hancur menjadi serpihan daging. Sedangkan tulang-belulangnya sudah tidak dapat dipungut lagi. Debu dan pasir serta batu-batu kecil berterbangan, memenuhi angkasa. Tanah di sekitamya terguncang. Semua orang yang ada terpana.

Aji 'Panca Sona'' mustahil dapat mengembalikan Parta Widura dalam keadaan seperti sediakala, karena jantungnya yang menjadi pusat kehidupannya ikut hancur. Itulah kelamahan aji 'Panca Sona'. Ketika debu telah menghilang dari pandangan mata, orang-orang Kerajaan Pasai tidak melihat lagi Pendekar Rajawali Sakti berada di situ.

"Maafkan aku.... Aku tidak bisa menemani kalian untuk memeriahkan pesta kemenangan. Tetapi kuharap, semoga untuk waktu yang mendatang Kerajaan Pasai mempunyai kekuatan. Kurasa, Kesuma pantas berada di tengah-tengah kalian!" Mendadak terdengar suara yang dikirimkan lewat pengerahan ilmu 'Mengirimkan Suara'. Dan, yang baru saja bicara tidak lain dari Pendekar Rajawali Sakti!

"Dia pergi secepat itu!" keluh Dewi Harnum, menyesalkan.

Siapa pun tidak menyangka kalau gadis jelita ini diam-diam jatuh hati pada Rangga. Sayangnya, dia selalu kehilangan kesempatan untuk bersama pemuda itu.

"Kesaktiannya tidak dapat diragukan. Dia pantas menjadi raja atau paling tidak panglima perang yang tangguh!" puji Ratu Andilini tanpa sadar.

"Sebaiknya, kita kembali ke kerajaan. Walaupun kita tidak dapat membalas budi baiknya, paling tidak jika kita patuhi amanatnya, itu sudah cukup sebagai penghargaan baginya," ujar Ki Londa.

"Maksudmu, Ki?" tanya Ratu Andilini.

"Maksudnya, Kesuma ini pantas berjodoh dengan salah satu di antara kalian!" kata Ki Belamparan terus terang.

Ucapan Ki Belamparan disambut tawa Ki Londa dan Ratu Andilini.

"Nanti kita putuskan!" kata Penguasa Istana Kerajaan Pasai ini.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PEDANG KILAT BUANA
Thanks for reading Bencana Tanah Kutukan I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »