Asmara Gila Di Lokananta

ASMARA GILA DI LOKANANTA

SATU

MALAM yang teramat kelam, hanya diterangi cahaya dari api obor yang meliuk-liuk disapu angin. Sehingga membuat suasana hanya remang-remang saja, melingkupi sekitar Kerajaan Lokananta. Sebuah kerajaan di alam mayapada, yang dikuasai para siluman gaib.

Seorang gadis berpakaian hamba sahaya, berjalan perlahan-lahan menaiki undakan-undakan di bagian bangunan kerajaan. Sebentar-sebentar matanya beredar ke sekeliling Dan ketika merasa aman, kembali dia meniti anak tangga.

Tak berapa lama, gadis ini tiba di sebuah ruangan besar yang dipenuhi kamar-kamar kecil berjeruji besi. Dinding kamar setinggi kurang lebih sepuluh tombak berupa tembok kokoh terbuat dari batu hitam yang keras. Siapa pun yang berada di dalam ruangan itu tak dapat melihat orang di luar, kalau tak berjingkat. Demikian pula sebaliknya. Kecuali, yang betul-betul memiliki tinggi badan yang melebihi rata-rata.

Mata gadis ini liar mengawasi setiap jeruji, kalau-kalau ada penghuni yang mengintip kehadirannya. Jalannya pun pelan sekali, tanpa menimbulkan suara berarti. Di ujung lorong dengan ruang-ruangan berjeruji ini, gadis itu menemukan pintu besi yang bagian atasnya pun berjeruji. Perlahan kepalanya melongok. Dua penjaga tampak berdiri di masing-masing sisi pintu bagian dalam.

"Bagaimana caranya agar para penjaga itu keluar...?" gumam gadis ini bingung. Ditimang-timangnya nampan berisi makanan yang sejak tadi dibawa. "Apakah mereka percaya?" Sesaat gadis ini berpikir agak lama sebelum memberanikan diri untuk mengetuk.

Tok! Tok! Tok!

"Siapa?" Terdengar suara dari dalam. Berat

"Aku, pelayan Putri Sekartaji," sahut gadis itu.

"Apa maumu?" tanya suara dari dalam lagi.

"Paduka memerintahkan untuk memberi makan. Putri Sekartaji...."

"Kami tak mendapat perintah langsung dari Paduka."

"Beliau minta agar aku menyampaikannya pada kalian."

"Hm!" Kedua penjaga yang di dalam terdiam sejurus lamanya.

"Buka pintu! Apa kalian berani membantah titah Paduka?!"

Tak ada sahutan. Tapi tak lama terdengar derit pintu yang terbuka. Buru-buru gadis ini masuk tanpa mempedulikan sorotan tajam kedua laki-laki muda penjaga pintu.

"Kau harus diperiksa!" kata salah seorang penjaga.

"Silakan saja! Kau kira aku membawa apa selain makanan ini?" tukas gadis pelayan itu.

Tanpa peduli, penjaga ini mulai memeriksa gadis itu dengan seksama. Tak ada sesuatu yang mencurigakan yang mereka temukan selain makanan dan minuman. Bahkan setelah hidangan diendus, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Maka kedua penjaga itu memperbolehkan gadis ini mendekati kerangkeng besi.

Di dalam kerangkeng duduk seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya terlihat lesu. Bola matanya redup ketika melihat gadis pelayan itu. Lalu tanpa acuh kembali matanya memandang ke jurusan semula.

"Tuan Putri Sekartaji, hamba membawa makanan...," ucap gadis pelayan.

"Siapa kau?" tanya gadis dalam kerangkeng yang ternyata bernama Sekartaji.

"Ssst! Jangan kencang-kencang. Aku mengaku sebagai hambamu. Kalau mereka mendengar, celakalah aku!"

Sekartaji terdiam. Dipandanginya wajah pelayan itu sejurus lamanya.

"Nama hamba Ambar...," ucap pelayan yang mengaku bernama Ambar.

"Aku seperti pernah kenal namamu.... Sebentar! Hm, aku ingat. Kau kawan karib Parwi," tebak Sekartaji.

"Benar, Tuan Putri...."

"Kenapa Parwi tidak ke sini?"

"Tuan Putri Sekartaji, kalau dia yang ke sini, tentu akan berakibat buruk baginya."

"Apa maksudmu?" tanya Sekartaji, dengan kening berkerut.

"Di dalam makanan ini terdapat obat pemunah...," jelas Ambar.

"Apa maksudmu?!" Gadis dalam kerangkeng memandang Ambar dengan sinar mata menyelidik.

"Bukankah Tuan Putri telah menjalani hukuman?"

Dahi Sekartaji berkerut. Dan Ambar tidak melanjutkan bicaranya, ketika salah seorang penjaga mendekat.

"Waktumu habis. Kau boleh pergi sekarang!" usir penjaga itu.

"Eh! Bisakah aku di sini sebentar lagi?"

"Keluar kataku!" bentak penjaga itu dengan mata mendelik garang. Golok besar di tangannya siap diayunkan pada Ambar.

"Ba..., baik! Baik!" Dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, Ambar buru-buru keluar dengan terbungkuk-bungkuk.

"Huh!"

Blam! Krek!

Kedua penjaga ini mendengus sinis, dan langsung membanting pintu saat Ambar telah keluar. Kemudian mereka berdiri di sisi kiri dan kanan pintu Diawasinya gadis dalam kerangkeng untuk sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke jurusan lain dengan wajah masam.

Ruang tahanan kembali sepi. Namun lebih kurang sepeminum teh kemudian, muncul seorang gadis berbaju biru dengan paras cantik bagai dewi kahyangan. Dia ditemani dua wanita hamba sahayanya. Tangan kirinya memegang kipas kertas bergambar burung merak beraneka warna.

"Tolong bukakan pintu! Tuanku Gandasari berkenan masuk!" kata salah seorang hamba sahayanya ketika mereka telah sampai di depan pintu besi.

Salah seorang penjaga melongok keluar, lalu buru-buru membukakan pintu. "Hormat kami untuk Tuan Putri!" sahut kedua pemuda penjaga penjara itu seraya membungkuk.

"Hm...!" Gadis berbaju biru yang tak lain Gandasari melangkah pelan sambil mengangguk.

"Apa yang bisa kami bantu, Tuan Putri?" tanya seorang penjaga.

Bola mata gadis itu berbinar ketika melihat gadis dalam kerangkeng besi yang memang Sekartaji masih berada di tempatnya.

"Kalian telah membantuku dengan menjaganya baik-baik...," kata Gandasari seraya menghampiri. Sebentar Gandasari memandangi Sekartaji, lalu berjongkok di hadapan kerangkeng.

"Apa kabarmu, Adikku Sayang? Mudah-mudahan kau betah di sini? Sabarlah menanti. Karena, waktu pengadilan untukmu tinggal sebentar lagi...," sapa Gandasari dengan senyum mengejek.

Sekartaji diam membisu. Kepalanya terangkat sebentar, lalu kembali menunduk.

"Mungkin bila Paduka kembali, kau akan dijatuhi hukuman mati. Berarti kita tak akan bertemu kembali. Apakah kau tidak mau melihatku untuk yang terakhir kali, Sekartaji?" kata Gandasari lagi, membuat Sekartaji kali ini kembali mengangkat kepalanya dengan sorot mata tajam.

"Aku berharap bisa bertemu denganmu di neraka!" desis Sekartaji.

Gandasari tertawa kecil. "Kenapa kau berharap begitu? Apakah kau tak sayang pada kakakmu?"

"Kenapa?! Kenapa kau begitu kejam padaku?! Selama ini, aku tak pernah berbuat salah padamu atau pada yang lainnya. Aku selalu menuruti dan mengikuti jalan pikiran serta rencana-rencanamu. Kenapa?! Kenapa kau ingin menyingkirkanku?!" cerocos Sekartaji, garang. Suara gadis berbaju merah ini mendesis, penuh kegeraman yang keluar dari lubuk hatinya.

Gandasari tersenyum-senyum, lalu bangkit berdiri. Tubuhnya berbalik, membelakangi Sekartaji. "Alasan ini semakin kuat. Kau mulai tak waras, sehingga menuduhku yang bukan-bukan...," gumam Gandasari.

"Aku tidak gila. Kau tahu itu! Aku hanya ingin tahu alasanmu! Kenapa kau ingin menyingkirkan aku?! Jawablah! Kenapa kau ingin sekali aku dihukum mati?!" sentak Sekartaji, keras. Sorot matanya kian tajam, seakan menuntut jawaban atas ketidakpuasannya diperlakukan demikian.

Gandasari berbalik. Dibalasnya tatapan adiknya dengan sorot mata yang tak kalah garang. "Kau sudah gila, Sekartaji! Maka, hukuman mati lebih pantas. Sebab Kerajaan Lokananta tidak menerima makhluk gila!" desis Gandasari.

Setelah berkata begitu, gadis berpakaian biru ini melengos. Kakinya lantas melangkah. Tindakannya diikuti kedua gadis yang mengiringinya.

"Terkutuk kau, Gandasari! Kalau keluar dari sini, maka kaulah yang lebih dulu kuhajar!" maki Sekartaji di tengah ketidakberdayaannya, dalam penjara.

Gandasari berhenti, lalu menoleh dengan senyum dingin. "Kau tak akan sempat melakukannya. Sebab sebelum hal itu terjadi, maka kau telah...." Gadis itu menggesekkan sisi telapak kanannya ke leher sambil tersenyum mengejek.

"Setan!" Sekartaji hanya bisa memaki. Sementara Gandasari terkekeh meninggalkannya.

"Keparat! Aku mesti menahan diri agar tidak merusak rencana. Awas kau, Gandasari!" desis Sekartaji perlahan sambil memandang kakak kandungnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Blam!

Pintu tertutup, menimbulkan suara keras. Sekartaji kini tertunduk lesu. Diam-diam Sekartaji mengeluarkan sisa-sisa makanan di nampan yang tadi disembunyikan di balik baju pada bagian pinggang belakang.

"Untung dia tak melihatnya.... Kalau tidak..., urusan akan semakin runyam...," gumam gadis berpakaian serba merah itu.

Entah telah berapa hari Sekartaji terkurung di tempat ini. Tapi waktu berjalan terasa lama sekali. Ruangan ini tampak remang-remang, dengan cahaya obor yang menerangi. Tidak terlihat pergantian siang ke malam. Apalagi melihat cahaya matahari. Dan yang lebih membuatnya geram pada Gandasari adalah, kakaknya itu yang memberikan perintah untuk tidak memberinya makan!

"Hm!" Kedua penjaga itu menoleh sekilas, melihat Sekartaji duduk bersila seperti sedang bersemadi. Sudah dua hari ini mereka melihat gadis itu duduk dengan pandangan kosong. Kini, tiba-tiba saja gairah hidupnya seperti pulih. Tak heran kalau mereka sesekali melirik. Tapi, Sekartaji kelihatan tak berbuat apa-apa selain duduk bersila dengan tenang.

"Hm.... Bubuk ungu dalam hidangan tadi memang berkhasiat Tenagaku seperti pulih. Tubuhku kembali enteng...," gumam gadis itu dalam hati, setelah beberapa saat kemudian. Sekartaji mulai mengatur jalan napasnya untuk beberapa saat. Lalu dia bangkit berdiri memandangi kedua penjaga itu.

"Aku mau kencing...," kata Sekartaji, menatap berganti-ganti pada kedua penjaga itu.

"Kau boleh kencing di situ!" sahut seorang penjaga, seenaknya.

"Kalian ini benar-benar tak beradab! Mana mungkin aku kencing di hadapan kalian?!" bentak gadis itu garang.

"Dunia kita tak kenal adat? Mau kencing, silakan saja. Tapi jangan harap kami melepaskan pengawasan sedikit pun!"

"Bagus! Pengabdian kalian hebat. Orang seperti kalian, mestinya patut dipuji. Tapi, sayang. Kalian seperti binatang peliharaan. Tidak bisa membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk."

Kedua penjaga itu mendengus geram. Geraham mereka bergemeretuk menahan amarah. "Jangan bicara sembarangan, Gadis Liar! Kau karang tawanan. Dan aku bisa menghajarmu sampai babak belur!" ancam salah seorang.

"Kau tak punya nyali untuk melakukannya!" sahut Sekartaji, seperti menantang.

"Kurang ajar!" Penjaga penjara itu menggeram marah. Dan secepat kilat menghampiri. Tangannya menerobos celah kerangkeng hendak menampar. Tapi, Sekartaji cepat melompat ke tengah, jauh dari jangkauan penjaga itu.

"Kau bukan saja binatang. Tapi juga dungu!" ejek gadis itu

"Setaaan!" dengus penjaga itu.

"Hei, Dungu! Kalian dua penjaga tolol berotak kerbau! Kaupun tidak kalah dungu dengannya!" maki Sekartaji pada penjaga yang seorang lagi.

Kedua penjaga itu menggeram laksana harimau kelaparan. Serentak mereka mengguncang-guncang kerangkeng sambil menjulurkan tangan silih berganti, hendak menangkap Sekartaji. Tapi gadis itu melompat-lompat lincah menghindarinya.

"Keparat! Biar kupatahkan tulang-tulang kakinya!" geram salah seorang penjaga yang tak mampu menahan amarahnya. Penjaga yang bertubuh tinggi tegap itu merogoh kunci dari balik bajunya. Buru-buru hendak dibukanya kunci pintu kerangkeng.

"Hei, jangan! Tuan Putri Gandasari bisa marah besar nantinya!" cegah penjaga satunya, mengingatkan. Ditahannya tangan penjaga yang hendak membuka kerangkeng.

"Peduli setan! Beliau malah senang kalau gadis ini kita hajar!"

"Bagaimana kalau Paduka melihatnya? Pengadilan baginya belum lagi dimulai."

"Sang Ratu pasti berpihak pada Tuan Putri Gandasari...."

"Tapi, kau mesti ingat. Dia kesayangan Paduka!"

"Sang Ratu orang yang tegas. Siapapun yang bersalah, pasti kena hukuman. Tak peduli anaknya sendiri."

"Tapi kalau kita mematahkan tulang kakinya, berarti mendahului keputusan beliau."

"Hm...!" Pemuda tinggi tegap dan berangasan itu mencabut anak kunci dengan muka tertegun memandangi penjaga yang bertubuh sedang. Dimasukkannya anak kunci ke dalam sakunya.

"Sudahlah, sabar saja. Daripada kita kena amarah Paduka...," lanjut penjaga bertubuh sedang.

"Hi hi hi...! Kerbau tolol! Otak udang! Kalian memang dua ekor binatang yang tak berguna. Apa yang bisa dikerjakan oleh dua ekor kerbau dungu seperti kalian? Huh! Setelah menghukum aku, maka kakakku pun pasti akan membereskan kalian biar kelak tak ada saksi mata!" oceh Sekartaji melanjutkan ejekannya.

"Tutup mulutmu! Kurang ajar! Kuhajar kau!" Amarah penjaga tinggi tegap itu kembali menggelegak kembali, tangannya merogoh kunci dan membuka pintu kerangkeng. Tak dipedulikannya peringatan penjaga yang satunya.

"Kuhajar kau, Setan Betina!"

Pintu kerangkeng terbuka. Dan penjaga bertubuh tinggi tegap itu langsung menerkam Sekartaji laksana seekor harimau kelaparan.

"Hiih!" Sekartaji mengibaskan tangan kiri untuk menepis terkaman. Tubuhnya lantas bergerak sedikit ke kanan. Dan mendadak sikut tangan kanannya menghantam punggung.

Diegkh!

"Aaakh...!" Penjaga itu ambruk tak berdaya sambil melenguh pendek. Kejadian itu berlangsung cepat. Bahkan dengan gerakan cepat, ditotoknya penjaga itu. Begitu habis menotok, tahu-tahu Sekartaji telah melompat keluar kerangkeng.

"Kau..., kau...!" Penjaga bertubuh sedang nampak terkejut setengah mati. Namun secepatnya dia melompat menyerang Sekartaji.

"Hiih!" Sambil menjatuhkan diri, kedua kaki Sekartaji menghantam perut dan dada.

Dug! Begkh!

"Aaakh...!" Penjaga ini kontan terpelanting ke belakang menghajar dinding. Sementara gadis itu telah mencelat. Ditotoknya penjaga yang satu lagi sebelum sempat bangkit.

Dengan cepat pula Sekartaji memasukkan mereka ke dalam kerangkeng. Lalu, dikuncinya pintu kerangkeng. "Betul kataku, bukan? Kalian hanya dua ekor kerbau dungu yang tak berguna!" dengus Sekartaji

Kedua penjaga itu hanya memandang dengan mata melotot lebar.

"Percuma saja kalian melepaskan diri. Seandainya bebas dari totokanku, kalian tak bisa terbebas dari kerangkeng ini. Nah, selamat tinggal, Kerbau-Kerbau Dungu!"

Secepat kilat Sekartaji keluar dari ruangan itu. Dikuncinya pintu dengan hati-hati. Dia berjingkat-jingkat keluar. Pendengarannya dan penglihatannya ditajamkan, kalau-kalau ada beberapa penjaga yang sedang meronda.

"Hup!" Bagai seekor kucing liar, gadis itu lompat keluar dari jendela, dan langsung mendarat di tanah empuk. Kalau dia keluar lewat jalan dalam dengan menuruni anak tangga, maka rintangan akan lebih banyak dilaluinya. Tapi melompat keluar dari tempat itu pun bukannya tanpa rintangan.

Di bawah ini, berkeliaran buaya-buaya hitam yang terkenal ganas dan amat buas. Makanannya daging segar yang masih berdarah. Hukuman mati yang paling ringan, biasanya dilemparkan ke sini. Dan dalam sekejap si tawanan tinggal tulang-belulang.

"Graaakh!"

"Hup! Kurang ajar!"

Mendadak saja dua ekor buaya melompat dengan mulut terbuka lebar. Untung gadis itu segera melenting ke belakang. Namun sebelum kakinya menyentuh tanah, beberapa ekor buaya lainnya menerkam dengan mulut terbuka. Salah seekor bahkan mengibaskan ekornya yang panjang.

"Hiaaahhh...!" Sekartaji menghentakkan kedua tangannya beberapa kali, melepas pukulan jarak jauh.

Deb! Deb! Desss...!

Dua ekor buaya berukuran besar terpental. Namun...

Desss...!

Seekor buaya berhasil menyabetkan ekornya ke punggung gadis itu hingga melenguh kesakitan. Dengan menahan nyeri Sekartaji mencelat ke atas, mampu hinggap di atas tembok pagar setinggi kurang lebih dua tombak.

"Tangkap! Jangan biarkan dia lolos...!"'

"Hei?!" Mendadak terdengar teriakan, membuat Sekataji tercekat.

DUA

Puluhan bola api bergerak seperti mengejar Sekartaji dari berbagai arah. Gadis itu jungkir balik menghindarinya. Namun bola-bola api itu terus mengurungnya.

Set! Set!

Beberapa buah bola api berhasil dihindari. Namun, salah satu dari bola api sempat menyambar tubuhnya.

Plasss!

"Aaa...!" Sekartaji menjerit kesakitan ketika tubuhnya terbakar api yang cepat menyelubunginya.

Brukkk...

Gadis itu langsung menjatuhkan diri dan terus bergulingan. Namun nyala api tadi tetap mengejarnya, ke mana pun gadis ini pergi. Sekartaji terus menggelinding, mendekati sebuah kobakan lumpur yang tak jauh dari tempat itu.

Besss...!

Nyala api yang menyelubungi tubuh gadis itu seketika padam. Namun bola api lainnya masih mengelilingi di atas tubuhnya yang tenggelam. Menunggu, kalau-kalau dia mampu melompat ke atas. Namun setelah sekian lama ditunggu, belum juga terlihat tanda-tanda gadis itu akan melompat keluar.

Di atas dataran agak tinggi, tampak seorang gadis berdiri tengah mengawasi. Pakaiannya ketat berwarna biru. Di dekatnya berdiri beberapa orang gadis. Tidak jauh dari situ, beberapa pengawal bersenjata ikut menyaksikan peristiwa naas yang menimpa Sekartaji

"Hamba rasa, dia telah mati ditelan rawa itu, Tuan Putri Gandasari," ujar seorang gadis berwajah bulat dan pipi agak gemuk. Tubuhnya yang agak tambun, terbungkus pakaian hamba sahaya kerajaan.

"Makhluk rawa itu tak kalah ganas ketimbang buaya-buaya kelaparan itu, Wakni!" timpal gadis lain yang bertubuh kurus, seperti ingin menegaskan!

"Dia tak bakal selamat, Wide," desis hamba sahaya yang bernama Wakni.

"Salahnya sendiri. Kenapa dia coba-coba melarikan diri?!" sahut hamba sahayanya yang bertubuh kurus dan bernama Wide.

"Bagaimana sekarang, Tuan Putri?" tanya Wakni.

"Hm! Aku ingin melihat mayatnya!" sahut gadis berpakaian biru yang memang Gandasari.

"Tapi dia tidak bisa selamat dari rawa itu, Tuan putri!" tandas Wide.

"Kerjakan saja perintahku!" bentak Gandasari.

Wide langsung mengkeret melihat junjungannya melotot garang padanya. "Baik. Hamba akan perintahkan mereka menariknya...," kata hamba sahayanya itu.

"Pastikan hal itu. Kau sendiri yang melihat ke sana!"

"Baik, Tuan Putri!" Tepat ketika Wide melangkah pergi, seorang laki-laki muda berpakaian prajurit menghampirinya. Dan setelah memberi hormat, prajurit ini segera menyampaikan laporan.

"Tuan Putri, Paduka memanggil!"

"Hm.... Agaknya beliau telah menyelesaikan urusan. Ada apa gerangan?"

"Hamba tak tahu, Tuan Putri," sahut prajurit itu polos.

"Baiklah. Kau boleh pergi lebih dahulu. Aku segera menghadap beliau."

"Baik, Tuanku." Prajurit itu segera berlalu. Sementara Gandasari masih termangu dengan dahi berkerut. Tapi kemudian bibirnya tersenyum-senyum kecil. Sedangkan Wakni mengikutinya dari belakang.

Gandasari memasuki sebuah ruangan besar yang atapnya dihiasi beberapa buah kubah. Beberapa baris tiang besar terbuat dari pualam biru muda yang diukir mengkilap. Ada sebuah singgasana panjang terbuat dari pualam biru yang bercahaya redup yang diduduki seorang wanita muda dengan sikap seenaknya. Wajahnya cantik seperti bidadari. Tubuhnya hanya tertutup selembar kain tipis. Sehingga, jelas terlihat isi di dalamnya. Kalau saja rambutnya yang panjang terurai disibakkan, niscaya sepasang bukit kembarnya yang indah pada bagian dada, akan terlihat menantang.

"Ibunda, saya Gandasari datang menghadap...!" lapor Gandasari.

"O, kau telah riba rupanya! Bagaimana perjalananmu? Mudah-mudahan menyenangkan," sambut wanita cantik berpakaian tipis yang ternyata Sang Ratu

"Agaknya begitulah, Ibunda," jawab Gandasari

"Telah kudengar keberhasilan saudara-saudaramu. Bagaimana denganmu sendiri, Gandasari?" tanya Sang Ratu.

"Saya berhasil membawa seseorang, Ibunda," jawab Gandasari.

"Aku percaya kau bisa melakukannya."

"Apakah Ibunda berkenan melihatnya?"

"Tentu saja. Kau tak keberatan, bukan?" tukas Sang Ratu.

"Tentu saja tidak. Silakan, Ibunda...!" ucap Gandasari. Gadis berpakaian biru itu bangkit berdiri mengajak Sang Ratu keluar dari tempat itu.

"Kau sungguh keterlaluan, Gandasari! Pantaskah seorang calon suami kau tempatkan di sini?!" bentak Sang Ratu, ketika mereka telah tiba di sebuah ruangan bawah tanah dengan udara lembab dan berbau.

"Sebenarnya tidak, Ibunda. Tapi..., dia mungkin harus sedikit dijinakkan dulu," jelas Gandasari, sambil terus berjalan.

"Hebatkah dia?" tanya Sang Ratu, menjajari langkah Gandasari.

"Kelihatannya begitu, Ibunda."

"Aku jadi tak sabar untuk melihat, orang seperti apa dia."

"Ibunda pasti akan setuju dengan pilihan saya."

"Kuharap begitu, Gandasari.?

Mereka kini tiba di ruangan lain yang semakin lembab. Tempat itu gelap dan sunyi. Cuma ada sebuah obor, namun penuh beberapa penjaga. Di situ terdapat sebuah kerangkeng dari jeruji baja yang terapung di atas air hitam dan kotor. Di dalamnya terlihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan wajah lusuh. Tampangnya kusam seperti seorang pengemis. Kedua tangan dan kakinya di rantai.

"Inilah, Ibunda!" tunjuk Gandasari.

"Hm...!" Sang Ratu memandangi pemuda itu sejurus lamanya, lalu menggeleng lemah.

"Gandasari.... Benar kataku. Kau memang keterlaluan. Tidak semestinya calon suamimu diperlakukan seperti ini. Siapa namanya?"

"Rangga, Ibunda. Di dunianya dia dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti," sahut Gandasari. (Mengenai Rangga berada di sini baca episode Titah Sang Ratu)

"O, begitu. Apakah telah kau selidiki kalau dia memang seorang pendekar hebat?" tanya Sang Ratu lagi.

"Tidak diragukan lagi, Ibunda!" tandas Gandasari.

"Kalau begitu dia orang terhormat. Dan sungguh tak pantas diperlakukan seperti ini."

"Tapi, Ibunda...?"

"Buka belenggunya. Dan bersihkan dia!" potong Sang Ratu, tak mempedulikan kata-kata Gandasari. "Kemudian bawa menghadapku!"

"Ibunda...?!"

Wanita berbaju tipis itu menoleh, memandang dingin pada Gandasari. Dan gadis berbaju biru ini lak mampu menahan tatapan matanya, selain menunduk dan mengangguk beberapa kali.

"Baik, Ibunda...."

Sang Ratu segera meninggalkan ruangan, diiringi beberapa pembantunya. Sementara Gandasari termenung beberapa saat, sebelum memerintahkan para penjaga yang ada di situ untuk melepaskan Rangga.

"Terkutuk kau, Bocah! Kalau sampai Paduka menyukaimu, hidupmu akan berakhir!" desis gadis Ini geram. Bola matanya menyorot tajam seperti sembilu ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

Sebaliknya, pemuda itu pun memandangnya dengan sorot mata tak kalah garang. "Wanita iblis! Aku bersumpah, bila terbebas maka kepalamu lebih dulu yang akan kupancung!" desis Pendekar Rajawali Sakti.

"Dasar tolol! Apakah kau kira bisa berbuat seenaknya di sini? Ingat, ini negeri Siluman. Dan manusia sepertimu adalah makhluk hina yang tak memiliki kemampuan apa-apa!" ejek Gandasari.

"Aku tak peduli kita ada di neraka sekalipun!"

"Huh! Tapi jangan lupa, kau tak punya apa-apa untuk memenggal kepalaku."

"Uhh...!" Rangga baru sadar kalau Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang ada di punggungnya raib entah ke mana. Tapi tidak sulit untuk mencari siapa pencurinya.

"Aku tak heran, wanita sepertimu pasti merangkap jadi seorang pencuri," sindir Rangga.

"Pedang bagus! Dan kau boleh mengatakan apa saja padaku, asal senjata itu jadi milikku!" sahut Gandasari, tegas.

"Jadi benar kalau kau pencurinya?"

Gandasari tak menjawab. Suara tawanya keluar dari hidung sambil menunjukkan wajah menyebalkan.

"Bersihkan dia. Dan, jaga dengan ketat! Jangan sampai dia melarikan diri. Kalau dia coba-coba, beri pelajaran yang pantas baginya!" ujar Gandasari, seraya menoleh ke arah beberapa laki-laki berpakaian prajurit.

"Baik, Tuan Putri," sahut salah seorang prajurit

"Bawa menghadapku lebih dulu, sebelum menghadap Paduka," perintah Gandasari lagi.

"Tapi, Tuan Putri.... Sang Ratu menitahkan kita untuk membawa pemuda ini pada beliau...," sergah prajurit lain.

"Kau berani melawan perintahku?" tukas Gandasari, dengan mata melotot.

"Tentu saja tidak, Tuan Putri. Tapi hamba lebih takut melawan titah Paduka."

Gandasari tak menjawab lagi. Dan mendadak tangan kanannya mengibas.

Hak!

"Aaah...!" Prajurit penjaga itu terjungkal ke belakang dengan bibir pecah ditampar gadis itu.

"Itu hadiah pertama bagi yang berani membangkangku!" bentak Gandasari.

"Ampun, Tuan Putri...!" ratap prajurit itu. Dengan menahan sakit, prajurit bertubuh kurus ini merangkak dan bersujud di kaki Gandasari.

"Huh! Berani sekali lagi membantah perintah ku, nyawamu melayang!" dengus Gandasari.

"Ampun, Tuan Putri! Hamba..., hamba tak berani..."

"Kalau begitu kerjakan perintahku!"

"Baik, Tuan Putri!"

Gandasari bergegas meninggalkan ruangan ini Sedangkan penjaga tadi mengajak kawan-kawan nya untuk mengurus Pendekar Rajawali Sakti.

Tok! Tok!

Sang Ratu menoleh ke pintu ketika terdengar ketukan. Bibirnya tersenyum sambil bersandar d kursi dengan sikap seenaknya, di ruangan pribadinya.

"Masuklah...," ujar Sang Ratu.

Tak lama, seorang laki-laki setengah baya muncul di ambang pintu. Dahinya lebar dan licin. Rambutnya masih hitam, namun tumbuh jarang-jarang Bajunya pun lusuh. Tangannya membawa sebuah tongkat kayu.

"Oh, Paman Desta Ketu. Silakan! Ada apa gerangan?" tanya Sang Ratu.

"Kulihat wajahmu gembira sekali, Mayang Srimpi," kata laki-laki setengah baya bernama Desta Ketu.

"Begitukah? Syukurlah," desah Sang Ratu yang ternyata bernama Mayang Srimpi.

"Ada sesuatu yang hendak kutanyakan padamu...," cetus Ki Desta Ketu.

"Apa gerangan, Paman?" tanya Mayang Srimpi.

"Matamu berbinar-binar dan hatimu berbunga-bunga. Apakah kau sedang jatuh cinta?" tebak Ki Desta Ketu.

Mayang Srimpi tersenyum, manis sekali

"Benarkah dugaanku itu?" kejar Ki Desta Ketu, seraya duduk di hadapan wanita berbaju tipis ini.

"Apakah kelihatannya begitu, Paman?" Mayang Srimpi malah balik bertanya.

"Aku telah melewati masa yang panjang dalam hidup ini. Bahkan jauh sebelum kau dilahirkan. Aku tahu betul, bagaimana watakmu sejak kecil...."

Mayang Srimpi kembali tersenyum-senyum.

"Siapa dia, Mayang Srimpi?" desak Ki Desta Ketu.

"Aku sendiri tak yakin, Paman...," desah Mayang Srimpi.

"Kenapa?"

Wanita Penguasa Kerajaan Lokananta di negeri Siluman ini tak menjawab.

"Kudengar anak-anakmu membawa beberapa manusia ke sini. Apakah salah seorang dari mereka?" tanya Ki Desta Ketu, seperti mendesak terus

Mayang Srimpi tak menjawab. Hanya bibirnya yang merah merekah tersenyum-senyum.

"Jadi benar?"

"Aku belum bisa mengatakannya, Paman."

"Salah satu manusia itu menawan hatimu. Siapakah dia?"

"Namanya Rangga...."

"Seorang pendekar hebat dan ternama?"

"Sepertinya begitu...."

"Seperti si Sapta Dewa?"

Senyum Mayang Srimpi seketika sirna. Dan mendadak wajahnya berubah muram. Wanita itu bangkit, langsung membelakangi Ki Desta Ketu.

"Aku tak ingin membicarakan dia lagi, Paman...," desis Mayang Srimpi.

"Itu pelajaran yang tak boleh kau lupakan, Mayang...," sergah Ki Desta Ketu.

"Paman! Berhentilah bicara soal Sapta Dewa!" sentak Penguasa Kerajaan Lokananta.

Ki Desta Ketu terdiam. Mayang Srimpi pun demikian. Sehingga untuk sejurus lamanya, tak seorang pun yang buka mulut. Sebenarnya, Ki Desta Ketu adalah penasihat. Sekaligus, pengasuh Mayang Srimpi sejak kecil. Jadi wanita ini tak bisa mengabaikan begitu saja nasihat-nasihatnya. Dalam segala hal! Tapi, ini soal hati. Soal perasaan. Sulit sekali memberi pengertian pada hati tentang kebenaran akal yang didasari atas pengalaman.

"Manusia membawa bencana bagi kita. Itu dibuktikan oleh si Sapta Dewa. Gara-gara dia, orang-tuamu tewas. Dan lebih dari setengah prajurit Kerajaan Lokananta binasa di tangannya. Lalu, apa gunanya lagi kau mencari manusia-manusia tangguh?" tanya Ki Desta Ketu, sekaligus mengingatkan.

Mayang Srimpi menunduk, lalu berbalik Dipandanginya Ki Desta Ketu sebelum kembali duduk ke tempatnya semula.

"Mudah-mudahan kau mau memikirkannya bila hendak mengambil manusia itu sebagai pendampingmu...," gumam Ki Desta Ketu.

"Aku akan memikirkan hal itu, Paman," sahut Mayang Srimpi, tegas.

"Syukurlah. Aku percaya padamu," ucap Ki I Desta Ketu seraya berbalik dan melangkah keluar kamar.

Mayang Srimpi mengangguk. Ketika Ki Desta Ketu hilang dari pandangan, wanita itu masih termangu di tempatnya. Namun belum juga keheningan itu tercipta.

"Paduka, hamba permisi mengganggu...!" Terdengar suara seseorang disertai ketukan pada pintu.

"Kaukah itu, Ngingi? Masuklah!" ujar Mayang Srimpi.

Tak lama seorang wanita kurus berusia sekitar tujuh belas tahun muncul. Dia langsung berlutut dihadapan Mayang Srimpi. "Ngingi mengaturkan hormat pada Paduka...," ucap gadis bernama Ngingi.

"Bangunlah! Ceritakan padaku, apa yang kau bawa?" perintah Penguasa Kerajaan Lokananta.

"Sekartaji berusaha kabur, tapi tenggelam di rawa maut itu," lapor Ngingi.

"Hm! Dan kalian tak berusaha menolongnya?" tukas Mayang Srimpi.

"Ampun, Paduka. Saat itu, Tuan Putri Gandasari mengawasi. Sudah menjadi aturan kalau tawanan kabur, maka itu adalah kesalahan yang paling berat. Kita tidak berhak menolongnya."

"Ngingi! Perintahkan beberapa prajurit untuk mencarinya di sana! Hidup atau mati!" ujar Mayang Srimpi

"Baik, Paduka...!" Ngingi buru-buru keluar dengan tubuh gemetar. Suara Sang Ratu terdengar tinggi, dikeluarkan penuh kemarahan. Dan perintahnya memang tak bisa dibantah.

Kini Mayang Srimpi bangkit dari duduknya. Lalu kakinya melangkah mondar-mandir di ruangan llu Sebentar kemudian, dia keluar. Dan pengawal yang berjaga di ambang pintu mengikutinya dari belakang. Sementara, dua pengawal lainnya menggantikan tugas kedua pengawal tadi.

Dari bangunan utama, Penguasa Kerajaan Lokananta ini menuju ke samping kiri. Tak lama, dia tiba di kebun bunga yang luas. Wanita itu melangkah lebar hingga keluar dari kebun. Diambilnya jalan ke kiri, melewati sebuah lorong. Kemudian, dia masuk ke sebuah ruangan yang merupakan tempat istirahat para pekerja. Penghuni yang ada di tempat itu segera berlutut dengan wajah kaget Tak biasa-biasanya Sang Ratu menjenguk mereka.

Tapi, Mayang Srimpi sebenarnya bukan menjenguk mereka. Wanita itu terus melewati ruangan ltu. lalu kembali melalui sebuah lorong. Dan akhirnya dia bertemu sebuah tempat yang agak luas. Disana sudah tidak terlihat para prajurit yang sedang mencari Sekartaji. Tempat itu diperuntukkan bagi para tawanan yang mendapat hukuman dengan kesalahan berat Ada kandang yang berisi buaya-buaya hitam dan mampu melompat setinggi setengah tombak untuk menerkam. Lalu yang terkenal adalah sebuah kobakan lumpur yang permukaannya seperti tanah biasa saja, namun menyimpan hawa maut

"Mana Ngingi?" tanya Sang Ratu tak sabar.

"Mungkin sebentar lagi tiba, Paduka...." sahu salah seorang pengiringnya. "Hm!"

Mayang Srimpi mendengus geram beberapa kali. Tak lama kemudian muncul Ngingi dari arah yang berlawanan. Dia diiringi beberapa laki-laki bertubuh tegap berpakaian prajurit. Dua prajurit itu langsung menyeburkan diri ke dalam kobakan. Gerakan mereka cepat sambil berputar seperti gasing. Tapi tak lama kemudian.

"Aaakh...!" Kedua laki-laki tadi keluar sambil menjerit kesakitan. Tubuh mereka dipenuhi lintah sebesar ibu jari kaki dengan panjang sejengkal. Beberapa prajurit lain langsung membantu melepaskan lintah-lintah yang menempel di sekujur tubuh.

"Dua orang lagi turun!" perintah Sang Ratu.

Tanpa membantah, dua prajurit langsung menceburkan diri ke dalam kobakan. Namun seperti dua kawannya tadi, mereka pun hanya bisa bertahan kurang dari lima hitungan.

"Cari dia sampai ketemu! Kalau memang mati, aku ingin melihat bangkainya!" perintah Mayang Srimpi dengan suara keras.

"Baik, Paduka!" Beberapa prajurit lagi mencoba. Namun tak seorang pun yang mampu bertahan lama. Sementara Sang Ratu tidak juga menghentikan pencarian, sampai, seorang prajurit tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Ampun, Paduka! Hamba membawa berita penting mungkin berguna," ucap prajurit itu.

"Berdirilah! Berita apa yang kau bawa?" ujar Mayang Srimpi.

"Tentang Tuan Putri Sekartaji...."

"Lekas katakan!"

"Hamba sempat melihat, ketika Tuan Putri Sekartaji menyeburkan diri ke dalam kobakan, sesosok bayangan ikut tercelup. Lalu secepat kilat bayangan itu melayang ke atas. Hamba tidak melihat secara nyata, namun yakin kalau Tuan Putri Sekartaji diselamatkan oleh bayangan tak jelas itu..

"Hm!" Mayang Srimpi tertegun sejenak. Pada saat yang sama masih pula terdengar jeritan dua prajurit lain yang menjadi korban penghuni kobakan.

"Hentikan pencarian!" ujar Mayang Srimpi keras.

"Baik, Paduka!"

Bukan hanya Ngingi yang merasa lega mendengar perintah Sang Ratu. Namun prajurit-prajurit yang lain pun merasa lega. Bila saja Sang Ratu tidak menghentikannya, niscaya mereka semua akan mengalami nasib sama dengan kawan-kawan tadi.

TIGA

"Panggil Gandasari, Sriwangi, dan Arimbi ke kesini!" perintah Sang Ratu sambil menghempaskan diri di atas singgasananya.

Seorang prajurit pengawal langsung bergerak melaksanakan perintah, setelah memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya. Sang Ratu mengikuti kepergian prajurit dengan pandangan matanya yang tampak menyimpan kegeraman. Mayang Srimpi hanya perlu waktu sebentar karena tak lama kemudian ketiga putrinya muncul.

"Ibunda, kami datang menghadap...!" ucap Gandasari, langsung menghaturkan sembah. Tindakannya diikuti oleh kedua saudaranya.

"Gandasari, jelaskan secara tuntas perjalanan kalian di dunia manusia!" perintah Penguasa Kerajaan Lokananta itu.

"Ampun, Ibunda. Bukankah hamba telah menceritakannya?" tukas Gandasari.

"Jangan membantah! Atau kau akan mendapat hukuman?!" sentak Sang Ratu.

"Baiklah, Ibunda!" Maka Gandasari bercerita panjang lebar sampai kembali ke Lokananta ini.

"Gandasari! Kenapa kau bertikai dengan Sekartaji?!" terabas Mayang Srimpi, begitu Gandasal menyelesaikan ceritanya. Matanya langsung melotot pada Gandasari.

"Ibunda bukankah saya telah menceritakannya tadi...?!""

"Katakan saja, Gandasari!"

"Baiklah. Waktu itu Sekartaji menghalangi niat saya untuk menghukum Pendekar Rajawali Sakti. Saya tahu kalau sebenarnya dia bermaksud merebut pilihan saya," jelas Gandasari.

"Sriwangi! Apakah kau membenarkan cerita Gandasari?!" tanya Mayang Srimpi.

"Mungkin saya bisa menambahkan, Ibunda...!" sahut Sriwangi.

"Cepat ceritakan!"

"Ketika saya tiba di sana, Gandasari dan Sekartaji tengah berkelahi. Jadi, saya tidak tahu persis bagaimana persoalan di antara mereka. Tapi mengingat sikapnya, selama ini Sekartaji tidak pernah menentang Gandasari.

"Kakak Sriwangi, sebaiknya jangan membawa perasaan dalam persoalan ini. Sekartaji telah berani melawan Kakak Gandasari. Dan itu tak boleh terjadi. Dia memang patut mendapat hukuman!" seru Arimbi.

"Siapa yang lebih dulu bertemu pemuda itu?" tanya Sang Ratu.

"Harum Sari...," sahut Gandasari pelan. "Tapi ltu pengakuannya. Dan saya tak begitu percaya. Buktinya dia belum kembali karena belum menemukan calon suaminya."

"Lalu Sekartaji pun bertemu dengannya?"

"Ya."

"Apakah pemuda itu telah mengalahkanmu?"

"Agaknya begitu, Ibunda."

"Kenapa tidak kau tangkap sebelum dia berkeliaran dan akhirnya sempat bertemu Sekartaji?"

"Eh! Maksud saya..., pemuda itu belum sepenuhnya mengalahkan saya, Ibunda. Dan dia keburu bertemu Sekartaji."

"Apakah dia pun mengalahkan Sekartaji?"

"Saya tak tahu, Ibunda."

"Kalau kau tak tahu, kenapa berani meyakinkan kalau pemuda itu milikmu?!"

Gandasari terdiam dengan kepala tertunduk.

"Tahukah kau, apa akibat ulahmu itu?!"

Gandasari tak menjawab.

"Kau telah membuat bibit permusuhan dengan adikmu! Itu hal yang tidak kuinginkan."

"Bukankah Ibunda pun tak menginginkan bila adik-adik melawan pada kakaknya? Dan Sekartaji telah berani bertindak demikian...," kilah Ganda sari.

"Mana buktinya?!" tukas Sang Ratu.

"Arimbi jadi saksi...."

"Benarkah begitu Arimbi?" tanya Mayang Srimpi, langsung menoleh pada Arimbi.

"Ampun, Ibunda! Kelihatannya begitu...."

"Kau yakin?"

"Yakin, Ibunda!"

"Bagaimana bisa yakin bila kau datang bersama Sriwangi belakangan?"

"Saya melihat sendiri Sekartaji bertarung dengan Gandasari.?

"Baiklah.... Aku yang memutuskan persoalan ini!" tukas Sang Ratu.

Ketiga gadis Putri Mayang Srimpi ini lansung tutup mulut Kepala mereka menunduk diam.

"Aku belum menentukan, apakah Sekartaji bersalah atau tidak. Tapi dia telah..., mungkin tewas di dalam kobakan maut. Karena persoalan ini belum selesai, maka keberadaan Pendekar Rajawali Sakti di tanganku. Ada pertanyaan?!"

Tak ada seorang yang berani membantah, Sang Ratu segera memerintahkan mereka pergi

"Gandasari! Jangan lupa! Antarkan pemuda itu ke ruangan pribadiku sekarang juga!" ingat Sang Ratu, sebelum ketiganya beranjak.

"Baik, Ibunda!"

"Hm...!" Mayang Srimpi bergegas ke ruangan pribadinya Sementara kedua hamba sahayanya mengikuti dari belakang dan menunggu di depan pintu.

"Aku tak ingin diganggu seorang pun setelah pemuda itu diantarkan ke dalam," ujar Mayang Srimpi, tegas.

"Baik Paduka...," sahut dua gadis pengiring Sang Ratu.

Ruangan pribadi Mayang Srimpi agak suram, bernuansa biru. Banyak terdapat hiasan cantik yang berderet di setiap sisi dinding. Sementara yang ada di tengah hanya sebuah tempat tidur besar yang tertutup kelambu sutera berwarna merah jambu. Wanita itu berputar pelan memandang ke sekeliling ruangan sambil tersenyum-senyum.

"Hm...! Pemuda itu memang tampan dan gagah. Persis seperti Sapta Dewa ketika masih muda...," gumam Mayang Srimpi. Penguasa Kerajaan Lokananta tersenyum-senyum waktu melangkah ke balik kelambu, lalu merebahkan diri. Cukup lama dia melamun. Kemudian....

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan di pintu.

"Paduka.... Hamba membawa Rangga masuk...!" kata sebuah suara dari luar pintu.

"Silakan! Bawa dia masuk..!" ujar Mayang Srimpi.

Pintu terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang gadis hamba sahayanya, bersama seorang pemuda berbaju rompi putih yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti. Penampilan Rangga kini berbeda saat Sang Ratu terakhir melihatnya. Kini dia lebih rapi dilengkapi pakaian bersih.

"Hamba permisi, Paduka," ucap gadis hamba sahayanya itu.

"Hm...!" Sang Ratu mengangguk Kemudian dia bangkit menghampiri Rangga yang masih termangu di tempatnya. Bibirnya menyungging senyum ketika mengunci pintu. Lalu dia berdiri di depan pemuda itu sambil memandangi dengan seksama.

"Benar dugaanku. Kau memang tampan, Anak Muda...," puji Mayang Srimpi, mendesah.

"Kaukah penguasa di tempat ini...?" tanya Rangga, tak mempedulikan pujian itu.

"Begitulah...."

"Apa maumu? Apakah kau hendak menghukumku pula dengan hukuman lebih berat?"

"Hei, jangan berprasangka buruk dulu! Kalau aku bermaksud menghukummu, tak perlu kita saling berhadapan. Aku cuma menyaksikannya dari kejauhan."

"Lalu, apa yang kau inginkan dariku?"

"Apa yang kuinginkan? Hm...." Wanita itu tak melanjutkan bicaranya. Jarinya yang lentik halus mengelus-elus pipi Pendekor Rajawali Sakti.

"Apakah yang dinginkan dari seorang wanita dewasa pada laki-laki tampan sepertimu...?" desah Mayang Srimpi lembut.

Rangga tak menjawab. Hanya pandangannya yang menyapu wanita cantik di hadapannya. Wajah cantik itu terus mendekat dengan helaan napas terasa menerpa halus. "Maaf, Ratu..!" ucap Pendekar Rajawali Sakti sambil menggerakkan tangannya, perlahan.

Wanita itu terkesiap ketika tubuhnya didorong Pendekar Rajawali Sakti. Namun wajahnya cepat kembali seperti semula. Penuh senyum dan gerak-gerik memikat, "Kenapa, Sayang? Adakah sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya wanita ini mendayu-dayu.

"Apa yang kau inginkan?" tukas Rangga, datar.

"Ah..., jadi sungguh-sungguhkah kau tak mengerti?"

"Aku tawananmu. Dan rasanya tak pantas berada di sini."

"Jangan berkata begitu. Kau adalah tamu kehormatanku."

"Tapi nyatanya, tempatku di kamar tahanan bukan?"

"Itu hanya kesalahan saja. Dan buktinya, kau sekarang berada di sini, bukan?"

Rangga terdiam. Sementara, Sang Ratu mulai melepaskan pakaiannya yang tipis sambil tersenyum memandangi pemuda itu. Sedangkan bola mata Rangga seperti tak mampu berpaling dari lekuk-lekuk tubuh perempuan di depannya dari atas sampai ke bawah.

"Apakah akan kau lewatkan kesempatan bagus ini, Sayang...?" pancing Mayang Srimpi, terus mencoba memikat Pendekar Rajawali Sakti.

"Eh, aku..., aku...," Rangga jadi tergagap, salah tingkah.

"Sudahlah, Sayang. Jangan pikirkan hal-hal lain. Tidakkah kau ingin bersenang-senang barang sebentar?"

Pendekar Rajawali Sakti tak menjawab. Berkali-kali dia menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering melihat pemandangan indah di depan matanya. Betapa tidak? Wanita ini bukan sekadar cantik, tapi juga sempurna. Mungkin dia bukan manusia. Malah, sangat keterlaluan kalau disebut siluman. Sebab dalam bayangannya, siluman itu bermuka buruk dengan sepasang taring besar. Tubuhnya polos dengan buah dada menjuntai hingga ke lutut. Wanita ini mungkin bidadari!

"Ayo, Sayang.... Apa lagi yang kau tunggu? Apakah kau hendak berubah pikiran?"

"Eh! Aku..., aku...." Sebelum Rangga bisa menguasai keadaan, mendadak....

"Kraaagkh...!"

"Oh, Rajawali Putihkah itu...?" desah Pendekar Rajawali Sakti.

"Kraaagkh...! Kraaagkh...!"

"Oh, tidak! Tidak...!" Mendadak terdengar suara burung rajawali yang begitu keras memekakkan telinga. Rangga kontan tersentak sambil menutupi telinganya. Dia berteriak keras, seakan suara itu benar-benar menyiksanya.

Sementara, Sang Ratu jadi heran sendiri melihat pemuda ini seperti orang tersiksa. Aneh memang, dia tidak merasakan apa-apa. Tapi, kenapa pemuda itu bertingkah demikian. Belum tuntas pertanyaan di hati Mayang Srimpi, Pendekar Rajawali Sakti tampak telah terjengkang tak bergerak-gerak lagi. Pingsan!

********************

Alunan suara kecapi terdengar mengalun merdu, terbawa angin hingga entah ke mana. Suara itu terdengar dari sebuah pondok kecil di kaki Gunung Pancaloka. Letaknya tersembunyi dan jauh dari keramaian. Rasanya bila ada yang lewat di sekitarnya, tak akan tahu kalau di dalam hutan kecil di kaki gunung itu terdapat sebuah pondok.

Di beranda pondok, tampak seorang laki-laki tua bertubuh sedang dengan rambut panjang telah memutih, tengah duduk di dipan bambu di beranda Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja tanpa ikat kepala. Meski wajahnya penuh kerut-merut, namun bibirnya selalu tersenyum-senyum menandakan hatinya yang girang tanpa beban.

Orang tua itu tengah memainkan kecapi dengan jari-jarinya tampak lincah menari-nari di atas tali-tali kecapi. Iramanya terdengar sendu, dan kadang-kadang meratap. Meski begitu, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kesedihan. Hanya saja pandangannya menatap kosong ke depan.

"Ohh...!" Alunan kecapi terhenti ketika terdengar keluhan dari dalam. Buru-buru laki-laki tua itu melompat bangun dan masuk ke dalam. Dihamparinya seorang gadis yang tengah berbaring di depan. Wajahnya pucat dengan tubuh menggigil seperti diserang demam hebat.

"Air...! Air...!" desah gadis itu.

"Kau mau air?" Laki-laki tua ini segera mengambil kendi yang tergeletak di meja. Setelah mengangkat tubuh gadis itu dari permukaan dipan, dituangnya isi kendi ke bibir. "Minumlah...," ujar laki-laki ini, perlahan.

Glek! Glek!

"Hugkh!" Gadis itu menenggaknya bersemangat. Tapi, mendadak wajahnya berubah tegang. Dahinya berkerut, seraya ingin memuntahkan cairan yang tadi diteguknya. Tapi orang tua itu telah cepat bertindak dengan mengurut-urut tenggorokkan dan dadanya Gadis itu merasa lega. Dan kerut di dahinya sirna.

"He he he...! Tidurlah, Sekartaji. Istirahatlah yang tenang agar racun di tubuhmu hilang," ujar laki-laki ini lagi, seraya duduk di sisi pembaringan Lalu diusap-usapnya gadis yang ternyata Sekartaji

Sekartaji tersentak dan terjaga. Mendadak ia merasakan sesuatu yang aneh di balik selimut yang dikenakannya. Bajunya telah berganti. Dan..., siapa yang menggantikannya?

"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan padaku Orang Tua Busuk?! Apa yang kau lakukan pada ku?!" Dengan kalap Sekartaji bangkit. Langsung diserangnya laki-laki tua ini.

Des! Duk!

"Ahh...." Berkali-kali hantaman Sekartaji bersarang di tubuh laki-laki tua yang sama sekali tak melawan. Sementara Sekartaji terus saja menyerang kalap.

"Heaaat!"

Jeb! Des!

"Uhh...!" Orang tua itu diam saja menerima hajaran Sekartaji

"Ayo, Keparat! Lawan aku! Bajingan! Terkutuk! Kubunuh kau!"

Plak! Des!

"Uhh...!" Entah berapa kali gadis ini menghajar, tapi kemudian mendadak berhenti. Tubuhnya lemas dan gerakannya lambat Perlahan-lahan terlihat tubuhnya gemetar, lalu jatuh lunglai.

"Sekartaji kenapa kau?!" sentak laki-laki itu, terkejut. Segera dihampirinya Sekartaji.

"Pergi kau! Hiih!" Disertai teriakan kasar, Sekartaji mengibaskan tangan menghajar laki-laki tua ini.

Desss...!

"Silakan. Kau boleh menghajarku sepuas hatimu jika itu membuatmu senang...," ucap laki-laki tua Ini, seraya bangkit dengan mulut meringis.

"Aku tidak sekadar menghajarmu! Aku akan membunuhmu, Keparat!" teriak Sekartaji.

"Kau hendak membunuhku? Dengan apa? Tangan kosong atau dengan senjata? Silakan pilih! Di dinding ini ada bermacam-macam senjata. Kau boleh memilihnya!" sahut laki-laki tua ini.

Mata Sekartaji liar memandang bermacam senjata yang terselip di dinding. Sambil menahan nyeri di dadanya, dia melompat. Diraihnya sebilah pedang, dan hendak dikebutkannya ke leher orang tua itu.

"Tunggu dulu, Sekartaji! Sebelum kau bunuh aku, maukah mendengar permintaanku yang terakhir?" cegah laki-laki tua ini.

"Hm, bagus! Bicaralah! Aku masih bisa menunggu barang sebentar!" desis Sekartaji.

"Aku memang bersalah. Tapi, bukan seperti apa yang kau pikirkan saat ini...," desah laki-laki tua ini.

"Bangsat terkutuk! Apalagi dalihmu sekarang? Kau telah menodaiku. Dan kini kau membantahnya?!" sentak Sekartaji.

"Menodaimu? Ha ha ha...! Apa buktinya?"

"Pakaianku telah diganti. Siapa yang melakukannya kalau bukan kau?! Dalam keadaan tak sadar, kau pasti melakukan perbuatan busuk itu'

"Apakah kau merasakannya? Dengarlah, Anakku. Seburuk-buruknya aku, mana mungkin menodai anakku sendiri...?"

"Anak? Apa maksudmu?!"

"Kau adalah putriku, Sekartaji...."

"Putrimu...?" Gadis itu tertegun. Dipandanginya laki-laki tua itu dengan seksama untuk sejurus lamanya.

"Ya! Kau putriku, Sekartaji..," laki-laki tua itu mengangguk.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Aku ayahmu."

"Maksudku, siapa namamu?"

"Aku Sapta Dewa."

"Sapta Dewa? Kau..., kau adalah musuh Kerajaan Lokananta! Kau musuh besar kami! Kau pengacau! Pembunuh! Kau bunuh kakek dan nenekku! Kau bunuh sebagian besar prajurit kerajaan! Bagus! Kini aku menemukanmu di sini. Jadi, aku tidak susah-susah lagi memenggal lehermu!"

Sekartaji kembali mengacungkan pedang dengan sikap garang. Matanya liar memandang penuh kebencian. Sebaliknya laki-laki tua yang mengaku bernama Sapta Dewa tenang-tenang saja dan tak bergeming dari tempatnya.

Wut! Tak! Tak!

"Heh...??

Sekartaji jadi heran sendiri Berkali-kali mata pedang itu ditebas ke leher dan semua bagian tubuh Ki Sapta Dewa, namun sia-sia saja. Malah pedang di tangannya seperti membentur patung baja yang tak bergeming sedikit pun. Dia tetap duduk bersila dengan kedua tangan terlipat di dada dan mata tel pejam.

"Setan! Keparat...!" maki Sekartaji

"Sekartaji Sebaiknya hentikan amarahmu Akan sia-sia saja...," ujar Ki Sapta Dewa halus.

"Aku tak akan berhenti sebelum kau mampus.' desis gadis ini.

"Begitu hebat dendammu. Padahal, kau tak tahu bagaimana cerita yang sebenarnya."

"Aku tak peduli! Bagiku kau adalah musuh kerajaan. Dan aku berkewajiban menghukummu!"

"Tahukah kau, mengapa aku berbuat demikian? Atau barangkali kau tak mau tahu, karena pikiranmu telah dicekoki demikian hebat?"

Sekartaji kali ini terdiam. Namun pedangnya masih dihunuskan ke muka orang tua itu.

"Sekartaji.... Semua ini karena kehadiranmu...," desah Ki Sapta Dewa.

"Kehadiranku?! Apa maksudnya?!" sentak Sekaitaji, jadi heran sendiri.

"Kakek dan nenekmu tak menyukai kehadiranmu, karena kau punya ayah seorang manusia...," jelas Ki Sapta Dewa.

"Ayahku seorang manusia?"

"Ya. Aku seorang manusia, Sekartaji."

Gadis itu terdiam sebentar.

"Aku berusaha mempertahankanmu. Tapi, mereka menghalangi. Bahkan kemudian diumumkan kalau aku buronan Kerajaan Lokananta. Semua prajurit kerajaan memburuku, dan bermaksud menghabisi nyawaku. Waktu itu aku masih muda dan berdarah panas. Kutantang mereka. Dan..., kubunuh siapa pun yang coba-coba mengusikku," ungkap Ki Sapta Dewa.

Gadis itu makin penasaran mendengarnya. Pelan-pelan pedang dalam genggamannya terkulai. Sementara sorot matanya tidak segarang tadi.

EMPAT

Ki Sapta Dewa bangkit berdiri dan membelakanginya. "Waktu itu kau masih dalam kandungan Ibumu. Yang tak mampu menentang kedua orang tuanya. Sejak semula, mereka memang tidak menyukaiku. Tapi mereka takut mengatakannya terus terang. Namun ketika kebencian mulai memuncak mereka berniat menyingkirkanku. Maka mulailah dikumpulkan orang-orang sakti di seluruh Lokanata. Mereka diperintahkan menghabisiku secara diam-diam atau terang-terangan. Mulai saat itu, aku terusir dari kerajaan dan bersembunyi di suatu tempat untuk memperdalam kesaktianku, sambil secara sembunyi-sembunyi membunuh mereka satu persatu...," papar Ki Sapta Dewa lagi.

"Jadi.., jadi..., benarkah kau ayahku?" tanya Sekartaji dengan suara bergetar.

Laki-laki tua itu mengangguk "Bagaimana kau bisa ada di sini? Maksudku.. di Lokananta ini?"

"Di dunia manusia, aku jago tak terkalahkan. Tapi, itu tidak membuatku puas. Aku berkelana mencari jago-jago lainnya untuk menantangnya bertarung. Perjalanan itu membawaku ke sini, ketika salah satu penduduk negeri ini turun ke dunia manusia. Dia berhasil kukalahkan, dan kupaksa untuk membawaku ke dunianya. Tiba di sini pun, aku berkoar menantang siluman-siluman itu. Ini membuat ibumu tertarik dan berusaha menantangku Dan dia berhasil kukalahkan. Lalu aku diminta menjadi suaminya. Padahal saat itu, dia belum berpisah dari suaminya...," jelas Ki Sapta Dewa.

"Kalau begitu, dari mana kau yakin kalau aku anakmu? Bisa saja aku putri suaminya," Sekartaji mencoba menyanggah.

"Suaminya tewas di tanganku, sebelum kami kawin. Dan kau lahir dua tahun kemudian. Ibumu yakin, dia tidak mengandung sebelum kawin denganku. Lagi pula, aku hafal betul bau siluman dan bau manusia...."

Gadis itu tertegun. Pedang di tangannya diletakkan di meja, lalu perlahan-lahan dia mendekat. Wajahnya kelihatan penuh dengan keharuan.

"Ayaaah...," sebut Sekartaji.

"Sekartaji, Anakku.... Oh, syukurlah! Akhirnya kau mengakuiku sebagai ayahmu," desah Ki Sapta Dewa.

Ayah dan anak itu saling berpelukan untuk sesaat. Sekartaji seperti ingin menumpahkan kerinduan yang terpendam selama ini.

"Aku selalu mengamati perkembangan, Nak..," sahut Ki Sapta Dewa.

"Benarkah?!" Sekartaji melepaskan pelukan. Dipandangnya orang tua itu dengan raut wajah keheranan.

Ki Sapta Dewa mengangguk, lalu tersenyum

"Kenapa Ayah tak menemuiku sejak dulu?" nya Sekartaji, penuh tuntutan.

"Aku tak bisa, Sekar. Kami telah membuat kesepakatan...," Jawab Ki Sapta Dewa.

"Kesepakatan apa?"

"Aku tak boleh menjengukmu sedikit pun selama dua puluh lima tahun."

"Tapi kini...?"

"Ya. Aku telah melanggarnya. Usiamu belum lagi dua puluh lima tahun. Namun, aku tak peduli. Kesepakatan itu boleh saja hancur. Tapi tak kuizinkan siapa pun mencelakaimu!"

Hati Sekartaji tergetar mendengar nada bicara Ki Sapta Dewa. Dipandanginya ayahnya dengan segenap perasaan haru di benaknya. Kemudian dengan hangat dipeluknya orang tua itu.

"Ayah.... Sekian lama aku merindukanmu. Dan sepertinya aku tak percaya kalau saat ini bisa bertemu denganmu. Jangan tinggalkan aku lagi, Ayah...," desah gadis ini.

Ki Sapta Dewa tersenyum. Haru. Diusapnya dahi gadis ini hingga menyapu rambut

"Ayah, katakanlah. Kau tak akan meninggalkanku lagi, bukan?" pinta Sekartaji.

"Ibumu mungkin masih mencintaiku. Tapi, sekaligus membenciku karena kematian orangtuanya. Perjanjian itu kami buat setelah kematian kakek dan nenekmu. Sebenarnya, aku tak ingin melanggarnya. Tapi.., hem.... Seperti yang telah kukatakan, aku lebih mementingkan keselamatanmu, Sekartaji攗ngkap Ki Sapta Dewa.

"Ayah, kurasa Ibu pasti akan mengerti hal itu!"

"Mungkin...."

"Kenapa Ayah merasa tak yakin?"

"Ibumu keras pada pendiriannya. Kalau aku melanggar perjanjian itu, maka dia tak akan memperbolehkan aku untuk bertemu denganmu."

"Kalau begitu, aku tak kembali ke sana lagi!" tandas Sekartaji, mantap.

"Sekartaji! Kau tak boleh begitu!" sergah Ki Sapta Dewa.

"Untuk apa aku kembali ke tempat itu, bila di sana tidak ada yang menyayangiku?!"

"Ibumu menyayangimu, Sekartaji," kata Ki Sapta Dewa, lembut

"Beliau pasti juga tidak membiarkanku menjalani hukuman!" tambah gadis ini.

"Dia harus bersikap adil, bukan?"

"Kalau begitu, kenapa membiarkanku di penjara tanpa memeriksanya terlebih dulu?!"

"Segalanya ada waktu dan aturannya. Mungkin dia masih punya urusan lain, sehingga belum sempat memeriksa persoalanmu."

"Ayah! Aku tak bisa terima hal itu!"

Ki Sapta Dewa terdiam. Namun hela napasnja yang panjang menunjukkan hatinya yang sedikit risau. "Kenapa? Apakah Ayah tak menyetujuinya? Ayah lebih suka aku hidup di sana dalam penderitaan?!" turut Sekartaji.

"Itukah yang kau rasakan, Anakku?" tukas Ki Sapta Dewa.

"Ibunda terlalu kaku! Aku tak merasakan kalau beliau ibuku! Dia seorang ratu! Tidak kurang, dan tidak lebih! Segala sesuatu yang diinginkannya, maka itu merupakan perintah yang tak bisa dibantah!? dengus Sekartaji berapi-api.

Ki Sapta Dewa tersenyum-senyum mendengarnya.

"Kenapa Ayah tersenyum? Apakah Ayah kira lucu?!" sentak Sekartaji, tak suka.

"Kau merasakan kelainan itu. Dan ini semakin menguatkanku kalau kau memang putriku. Hanya bangsa manusia yang merasakan hal itu. Selama hidup di dunia siluman, aku bisa merasakan kepatuhan mereka terhadap penguasa. Mereka menganggap hal itu suatu yang wajar. Juga banyak hal lain yang bertentangan dengan kebiasaan hidup bangsa manusia. Kurasa, kau mulai mengerti hal Itu," jelas Ki Sapta Dewa.

Gadis itu memberengut kesal. "Walau bagaimanapun aku tak akari kembali lagi ke sana!" tegas gadis ini.

"Mereka akan mencarimu, Sekartaji..."

"Tidak! Mereka pasti mengira aku mati di dasar rawa itu!"

Ki Sapta Dewa tersenyum. "Sayang, mereka tahu kalau kau selamat," kata laki laki tua ini.

"Apakah Ayah terlibat pertarungan saat menyelamatkanku?" tanya gadis ini.

Laki-laki tua itu menggeleng.

"Lalu?" kejar Sekartaji.

"Seseorang mengetahuinya...."

"Siapa?"

"Orang kepercayaan ibumu."

"Desta Ketu?"

"Bukan. Kau tak akan mengenal orang itu. Dia bisa berada di mana saja, dan sebagai apa saja. Orang itu benar-benar lihai. Dan rasanya tak ada yang menyangka kalau dia kepercayaan ibumu," sahut Ki Sapta Dewa.

"Ayah! Aku penasaran..., siapa orang itu sebenamya? Dari mana Ayah bisa mengetahuinya?!!? tuntut Sekartaji.

"Aku lama di sana. Dan aku tahu semua seluk-beluk istana, serta orang-orangnya. Lokananata takut aku mengacau, sehingga menempatkan orang andalannya untuk melindungi negeri itu."

"Ayah, hebatkah orang itu?" tanya Sekartaji penasaran.

"Agaknya begitu," sahut Ki Sapta Dewa, tak yakin.

"Huh! Aku tak peduli. Aku tetap tak akan kembali ke sana!"

"Kalau begitu, mereka yang akan menjemput?

"Aku tetap tidak akan kembali!"

"Mereka akan memaksamu, dan menuduhku telah menghasutmu. Ini kesempatan yang ditunggu-tunggu Lokananta untuk mencari gara-gara denganku. "

"Takutkah Ayah pada mereka?" tanya Sekartaji

"Aku tak ingin mengulang peristiwa berdarah itu...," kilah Ki Sapta Dewa, seperti tak ingin membangkitkan kenangan lama.

"Aku pernah mendengar kehebatan Ayah itu dari semua penghuni istana. Ayah pasti mampu mengatasi mereka! Karena mereka semua memuji kehebatan Ayah!" seru Sekartaji dengan wajah berseri-seri penuh semangat.

Ki Sapta Dewa tersenyum-senyum. "Itu dulu, Sekartaji. Ketika aku masih muda dan penuh semangat. Tapi kini usiaku telah semakin tua...," elak Ki Sapta Dewa.

"Jadi Ayah tetap akan menyerahkanku pada mereka?!"

"Aku akan bicara pada ibumu. Untuk sementara ini, kau di sini saja sampai mereka muncul"

Gadis itu tak menjawab. Mukanya kelihatan memberengut.

"Ayolah, jangan begitu. Bagaimanapun, aku menginginkan kebaikan bagimu."

Sekartaji tak mau menjawab. Ki Satpa Dewa tersenyum. "Kenapa tidak kau ceritakan mengapa kau masuk ke dalam kobakan maut itu?" pinta Ki Sapta Dewa, bertanya.

"Ini semua gara-gara Kakak Gandasari!" dengus Sekartaji. Lalu gadis itu memuntahkan kekesalan di hatinya atas sikap Gandasari belakangan ini

"Sangat jelas ketika dia hendak memperebutkan pemuda itu dariku, sehingga perlu memenjarakanku. Dia pun telah menyusun rencana untuk melenyapkanku. Kalau Ayah tidak muncul, maka rencananya berjalan mulus!" lanjut Sekartaji.

"Apa istimewanya pemuda itu, sehingga kau pun hendak mempertahankannya?" tanya Ki Sapi Dewa.

"Aku..., aku tak tahu! Hanya kasihan dan tak tega dia diperbudak Kakak Gandasari!" Ki Sapta Dewa tersenyum.

"Apakah tak ada hal-hal yang lain?" panci Ki Sapta Dewa.

"Hal lain bagaimana?" Sekartaji malah bertanya.

"Misalnya..., kau memang betul-betul suka padanya?"

"Aku..., aku tak tahu."

"Aku bisa merasakan hatimu. Dan, bisa melihat pada sinar matamu. Kau tak rela pemuda itu dimiliki kakakmu, bukan?" tebak Ki Sapta Dewa, sediki menggoda.

"Ayah! Ah! Aku...." Sekartaji jadi salah tingkah. Wajahnya bersemu merah menahan malu. Buru-buru kepalanya melengus, dan kabur keluar diiringi derai tawa Ki Sapta

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Malam gelap dan dingin menyelimuti Istana Kerajaan Lokananta dan sekitarnya. Meski begitu, sepasukan prajurit tetap berjaga-jaga dengan siaga. Sementara yang lain tersiksa hawa dingin yang menyengat hingga ke tulang sum-sum, maka lain halnya dengan keadaan yang terjadi di salah satu kamar di istana kerajaan. Samar-samar terdengar suara berisik. Entah cekikikan, atau jeritan manja, atau mungkin juga derit ranjang yang bergerak tak beraturan.

"Aduh! Jangan keras-keras, Kakang Giri Sadaka!" Terdengar suara manja dari kamar itu. Kadang ditingkahi desahan dan erangan lembut, membangkitkan gairah.

"Habis, kau menggemaskanku, Arimbi," sahut suara satunya. Terdengar berat, namun penuh gelora

"Hi hi hi...! Kakang hebat luar biasa," puji suara yang dipanggil Arimbi

"Kau pun begitu!" sambut suara berat, yang dipanggil Giri Sadaka.

"Sungguh? Kakang puas dengan layananku?!"

"He, belum pernah kutemui sekalipun kenikmatan seperti ini!"

"Hi hi hi...! Aku pun merasakan hal yang sama Kakang."

"Kau tahu? Dalam usia setua ini, aku masih terasa muda dan menyala-nyala. Ini semua berkat..., kau!"

"Aduuuh! Sakit, ah...!"

"Kau membuatku semakin gemas saja! Dan tak pernah puas sedikit pun."

"Hi hi hi...! Kakang masih sanggup sekali lagi??

"Jangankan sekali. Sepuluh kali pun, aku masih sanggup!"

"Aku ingin buktikan ucapan Kakang!"

"Kapan? Sekarang?!"

"Kapan lagi?"

"Baik!" ?

Kemudian terdengar suara ranjang berderit kencang seperti dilanda gempa hebat. Di atasnya tengah bergumul dua sosok berlainan jenis. Yang perempuan tak lain adalah Arimbi. Sedang yang laki-laki, seorang tokoh persilatan dari dunia nyata yang dibawa Arimbi ke dunia siluman ini.

"Kakang...! Pelan-pelan sedikit! Jangan seperti orang gila! Kau menyakitiku, Kakang..!" kata Arimbi, mengeluh di tengah kegairahan.

"Kau yang membuatku gila! Hhhh...!"

"Aooouw...!"

"Hiiih!" Arimbi menggeliat-geliat dan melejang-lejang bagai kuda wanita yang binal. Sedangkan Giri Sandaka memperdengarkan dengusan serta hela nafasnya laksana pengendara kuda yang tengah menanjak bukit. Semangat dan nafsunya berkobar.

"Aaah...!"

"Oh...!" Terdengar desahan pendek, ditingkahi erangan penuh kenikmatan ketika berada di puncak gelora. Dan ranjang pun berhenti berderit. Namun hela nafas mereka masih belum teratur, kadang tersengal

"Gila!" desis Giri Sadaka.

"Hi hi hi...!" Arimbi kembali terkikik.

"Kau betul-betul membuatku gila!" desis Giri Sandaka lagi.

"Aku juga merasa demikian, Kakang."

"Hmm! Belum pernah seumur hidupku merasa hidup ini begitu indah dan nikmat."

"Kau betah di sini, Kakang?" tanya Arimbi.

"Hmm.... Bersamamu di mana pun aku merasa betah!" sahut Giri Sadaka, mantap.

"Sungguh?!" Lelaki yang cukup tua itu mengangguk cepat . "Kau tidak keberatan tinggal di sini?" tanya Arimbi lagi.

"Di mana pun kau berada, maka di situlah tempatku. Tapi..., apakah sebaliknya kau pun merasa demikian terhadapku?" sahut Giri Sadaka.

"Tentu saja, Kakang! Apakah kau tak mempercayaiku?" tukas Arimbi.

"Tapi.., di sini aku merasa tak berguna. Aku merasa kecil dan sama sekali tak ada kebanggaan..."

"Kau tetap seorang tokoh sakti, Kakang! Dan rasanya, sulit mencari tandinganmu di tempat ini

"Tapi nyatanya, aku tak berguna. Bahkan menghadapi seorang prajurit rendahan pun, aku tak mampu."

"Maukah kutunjukkan, bagaimana caranya agar mampu mengalahkannya? Bahkan mengalahkan seluruh tokoh sakti di istana kerajaan ini?" kata Arimbi menawarkan.

"Tentu saja! Bagaimana caranya?!" sahut Giri Sedaka, cepat.

"Kau mesti meminum air Dewa Langit. Dengan air itu, maka kedudukanmu sama dengan kaum siluman tanpa memusnahkan kemampuan serta kesaktianmu. Maka dengan demikian kau mampu menghajar dan melukai mereka!" jelas Arimbi

"Aku mau?! Mana air 'Dewa Langit' itu? Biar kuminum sekarang!"

"Sabar, Kakang! Jangan terburu-buru begitu. Selain air itu sulit didapat, Kakang juga harus membuat perjanjian," ujar Arimbi

"Perjanjian apa?" tanya Giri Sadaka.

"Kakang mesti berjanji untuk menolongku."

"Tentu saja! Kau istriku. Maka kesulitanmu menjadi kesulitanku pula. Aku pasti akan menolongmu dari setiap kesulitan."

"Sungguh?!"

"Aku bersumpah!"

"Baiklah. Aku percaya padamu, Kakang."

"Nah, kapan bisa kudapatkan air 'Dewa Langit' itu?" tanya Giri Sadaka seperti tak sabar.

"Kakak Gandasari yang akan mengusahakannya. Nanti kita akan bicara padanya," jelas Arimbi. Baru saja selesai bicara, mendadak....

Tok! Tok! Tok!

"Kakak Gandasari?" sebut Arimbi.

Ya," sahut suara dari luar kamar.

LIMA

"Ada apa?" bisik Arimbi ketika telah membuka pintu. Tampak seraut wajah masam berdiri di pintu

"Sial! Kalian enak-enakan sementara aku sengsara!" sosok di depan pintu yang tak lain Gandasari ketika melihat pakaian Arimbi tampak acak-acakan

"Apa yang bisa kubantu, Kak?" tanya Arimbi tak mempedulikan sorot mata tajam Gandasari.

"Ibunda mendekap pemuda itu di kamarnya!" gerutu Gandasari.

"Hm!" Arimbi menggumam tak jelas.

"Jangan diam saja! Bantu aku, bagaimana caranya mendapatkan dia kembali!" desis Gandasari.

"Kenapa mesti dipikirkan? Apakah Kakak menyukainya?"

"Bukan itu! Yang penting, dia mesti kudapatkan!"

"Kalau sekadar membantu kita, Kakang Giri Sadaka pun bersedia. Bukan begitu, Kakang?" kata Arimbi, seraya menoleh pada laki-laki tua di belakangnya.

"Tentu saja!" sahut Giri Sadaka cepat.

"Hm! Kuhargai itu. Sebentar. Ada hal yang penting yang mesti kubicarakan pada Arimbi."

Tanpa meminta persetujuan Giri Sadaka, Gandasari mengajak Arimbi keluar. Mereka masuk ke sebuah kamar, milik Gandasari sendiri.

"Sungguh-sungguh kau telah menguasainya?" tanya Gandasari dengan wajah bersungguh-sungguh, begitu pintu telah ditutup.

"Seperti kerbau dicocok hidungnya!" sahut Arimbi, menegaskan.

"Bagus!"

"Bagaimana dengan Ajiwirya?"

"Laki-laki itu mata keranjang. Dalam waktu singkat, dia pasti bisa kukuasai!"

"Bagaimana dengan air Dewa Langit'? Bisakah Kakak mengambilnya?"

"Tempat itu dijaga ketat oleh Desta Ketu. Kurang ajar! Aku coba merayunya dengan segala cara, tapi siluman satu itu tidak terpancing!" dengus Gandasari.

"Sudah coba dengan cara biasa?" tanya Arimbi, terkikik.

"Dia tidak mempan dengan cara begitu!" desis Gandasari.

"Lalu, apa akal kita?"

"Itu yang tengah kupikirkan! Kenapa kau tidak mencari akal lain?"

"Berapa lama waktu yang Kakak butuhkan untuk mengambil air itu?"

"Tidak lama. Aku hafal tempat air itu diletakan."

"Kalau begitu, katakan saja pada Desta Ketu kalau Ibunda memanggilnya. Saat itu, Kakak bisa menyelinap."

"Hei, bagus juga akalmu! Tidak sangka! Gembrot-gembrot begini, otakmu encer juga!" Arimbi tertawa renyah dipuji begitu. "Tapi kalau ternyata dia tahu diakali karena Ibunda tidak memanggil?" tanya Gandasari, tiba-tiba ingat sesuatu.

"Alaaah! Katakan saja Kakak salah dengar! Beres...!" jawab Arimbi, meyakinkan.

"Ya, ya. Boleh juga."

"Nah! Tidak ada yang sulit, bukan?"

"Aku masih penasaran pada pemuda itu! Mestinya, dia kubunuh saja sejak semula!" desis Gandasari dengan wajah geram.

"Tapi dia kini di tangan Ibunda...?"

"Itu bisa diatur. Aku akan buat seolah-olah terjadi kecelakaan. Dan..., hi hi hi...! Kau tahu, bukan?! Seperti nasib si Sekartaji, dia akan mampus di kobakan maut itu!"

"Tapi bagaimana cara memancingnya keluar? selama ini, Ibunda belum memperbolehkannya keluar kamar."

"Itulah yang tengah kupikirkan.... Paling, aku hanya menunggu kesempatan baik..."

"Kenapa tidak dipadukan saja?!" usul Arimbi denqan bola mata melebar.

"Apa maksudmu?" tanya Gandasari.

"Desa Ketu menghadap Ibunda. Dan itu berarti ibunda keluar dari kamarnya...," papar Arimbi.

"Aku mengerti rencanamu, Arimbi! Bagus sekali! Tapi..., bagaimana cara melakukannya?" tanya Gandasari lagi.

"Serahkan saja padaku! Biar kubereskan dia!"

"Kau mampu?"

"Kenapa tidak?"

Gandasari terdiam sejenak. Dicobanya ikut memikirkan rencana apa yang tengah disusun di benak adiknya.

"Bagaimana caramu menghabisinya?" Akhirnya keluar juga pertanyaan di benak Gandasari

"Apakah Kakak tak percaya padaku?" tukas Arimbi.

"Aku cuma ingin tahu!"

Arimbi tersenyum. Lalu dibisikkannya sesuatu ke telinga Gandasari. "Bagaimana?!" tanya Arimbi dengan wajah berseri seakan rencananya betul-betul hebat

"Bagus! Bagus sekali, Arimbi!" sahut Gandasari.

"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!"

"Sambil menyelam minum air!"

"Oh, iya...!"

"Hi hi hi..!" Keduanya terkikik.

"Kapan dilaksanakannya?" tanya Arimbi.

"Aku beri tahu secepatnya, begitu ada kesempatan baik!" sahut Gandasari mantap. Arimbi mengangguk. "Sudah! Pergilah kau pada laki-laki itu!"

"Hi hi hi...! Tentu saja. Kakak mengganggu acara indah kami!"

"Kau betul-betul menyukainya?" Arimbi terkekeh, lalu berjalan ke pintu. "Dia hebat! Dahsyat...!"

Gadis itu mengacungkan jempol, lalu segera menghilang di balik pintu.

********************

"Ohh...!" Dengan erangan lirih, Rangga mulai siuman. Perlahan-lahan, matanya mulai terbuka. Samar-samar otaknya mulai mengingat-ingat, apa yang terjadi di kamar ini. Terakhir yang diingatnya adalah ketika dia akan melakukan perbuatan terkutuk, mendadak terdengar suara burung yang tak asing lagi baginya. Suara Rajawali Putih yang membuat kesadarannya menghilang.

Perlahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit. Namun dia tak tahu apa yang harus dilakukannya, seakan-akan dia sudah tak punya gairah lagi. Tanpa terasa, kakinya melangkah ke jendela.

Tok! Tok! Tok!

Mendadak terdengar ketukan halus, pemuda itu mengerutkan keningnya. Dan perlahan-lahan tangannya bergerak mendorong daun jendela.

Krieeeet! Jendela berjeruji kayu yang dilapisi kerangka hesl itu terbuka sedikit demi sedikit. Dahi Rangga berkerut. Kewaspadaannya mengatakan ada sesuatu yang tak beres. Namun rasa ingin tahunya begitu kuat. Maka dia coba mengintip.

"Tak ada siapa-siapa?" Pendekar Rajawali Sakti pelan-pelan melompati jendela. Namun baru saja menjejak tanah....

Set!

Mendadak, sebatang anak panah melesat bagaikan kilat ke arah Rangga. Begitu cepat sehingga....

Crab!

"Aaakh...!" Anak panah itu kontan menembus bahu Pendekar Rajawali Sakti, hingga berteriak kesakitan. Wajahnya langsung menegang. Dahinya berkerut. Darahnya mengucur pelan membasahi sekujur tubuh. Dan ini membuat kesadarannya mengatakan kalau kepandaiannya seperti lenyap entah kemana.

Meski menahan rasa sakit hebat, Pendekar Rajawali Sakti tahu ada bahaya besar tengah mengancam. Sambil meringis kesakitan, Rangga segera berlari menyelamatkan diri. Namun baru beberapa tombak...

Siut! Crab!

Sebatang anak panah menancap lagi di pinggang belakang Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya kian berkerut menahan rasa sakit. Namun dia berusaha untuk tidak berteriak.

"Tawanan meloloskan diri! Tawanan meloloskan diri...!"

"Ohh...!" Pendekar Rajawali Sakti terkesiap mendengar suara teriakan keras. Saat itu juga, telinganya mendengar derap langkah kaki hilir mudik, dari segala arah. Itu membuatnya gugup dan tegang. Jantungnya berdetak kencang. Sementara darah segar terus meleleh dari luka-lukanya.

"Hiih!" Sambil menggigit bibir menahan sakit, Pendekar Rajawali Sakti mencabut anak panah yang menancap di pinggang dan di bahunya. Langsung dirobek bajunya yang dikenakan untuk membebat luka.

"Ssst! Lewat sini!"

"Hei...?!" Rangga tersentak kaget, ketika satu sosok tubuh ramping muncul dari arah samping. Sosok itu langsung memberi isyarat untuk menghampiri. Begitu dekat Pendekar Rajawali Sakti segera mengenali gadis itu ternyata Harum Sari.

Tapi bukankah waktu itu Harum Sari tak ikut pulang ke Kerajaan Lokananta yang terletak di negeri Siluman, karena belum mendapat jodoh. Tapi memang bisa jadi gadis ini sudah kembali secara diam-diam, karena tak tega pada Sekartaji yang telah dituduh sebagai pengkhianat. Rangga tak dapat berpikir lebih lama lagi, ketika suara-suara teriakan makin terdengar di telinganya. Maka tanpa pikir panjang lagi buru-buru disusulnya gadis itu.

"Cepat! Mereka tengah mengincarmu!" ajak gadis yang ternyata Harum Sari.

Tanpa menunggu jawaban pemuda itu, Harum Sari menggamit lengannya, lalu buru-buru memasuki sebuah kamar. Di dalam, terdapat sebuah terowongan bawah tanah yang semula dihalangi lemari besi.

"Masuklah kau ke dalam! Aku tak bisa mengantarkanmu lebih jauh. Kau harus bertahan hidup. Hati-hati! Banyak terdapat jebakan maut di dalamnya!" ujar Harum Sari. "Dan, ini pedang dan pakaianmu." Pendekar Rajawali Sakti cepat menerima benda-benda yang disodorkan gadis itu. Dan belum sempat dia berbuat apa-apa...

"Ohh...!"

Bruakkk!

Rangga melenguh, saat gadis itu telah menutup mulut terowongan dengan lemari besar tadi. "Oh, aku mesti menyelamatkan diri. Aku mesti menyelamatkan diri...," keluh Rangga membulatkan tekad.

Bruak!

"Aaakh...!" Baru saja melangkah, kaki pemuda ini membentur sebongkah batu. Tanpa ampun lagi, tubuhnya menggelinding cepat ke bawah.

Entah berapa kali tubuh Pendekar Rajawali Sakti membentur batu-batuan runcing, dan batu-batuan besar. Rasanya luluh lantak. Namun, tetap saja luncurannya tak mampu dihentikan. Dia seperti jatuh ke dalam jurang yang teramat dalam. Gelap dan pengap. Tak satu pun yang bisa dilihat kecuali hitam. Dan..., pemandangan yang hitam!

Bruak!

"Aaakh...!" Terakhir kali, tubuh Pendekar Rajawali Sakti terhempas keras. Tulang-tulangnya terasa patah, Kepalanya berkunang-kunang. Tempat ini lembab dan bau. Sunyi, seperti tak ada kehidupan sama sekali. Rangga seperti melayang-layang tak menyentuh bumi.

"Oh, Hyang Tunggal! Jika aku mesti mati, hendaklah mati secara gagah perkasa! Aku tak mau mati seperti ini! Jika aku ditakdirkan hidup, maka berikanlah pertolongan kepadaku. Jangan Kau sia-siakan aku dalam penderitaan yang sekiranya tak mampu kupikul! Berilah aku kekuatan...!" keluh Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga mendesis. Suaranya sulit tertangkap pendengaran. Entah keluar dari bibir atau hanya bergaung di tenggorokan. Namun dari kedua tangan dan kakinya yang bergerak-gerak, menandakan semangat hidupnya yang tak mau menyerah begitu saja!

"Oh...! Aku mesti bisa keluar dari tempat ini! Aku mesti bisa...!" Perlahan-lahan Rangga menggeser tubuhnya, bertopang pada kedua lengan seperti bayi yang belajar bergerak.

"Air...! Oh, haus...! Aku perlu air..." Dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimiliki, Rangga berusaha menggeser tubuhnya. Namun usahanya terhenti pada jarak sekitar tujuh langkah dari tempatnya semula. Kepalanya terkulai dan napasnya seperti mau putus.

"Ahhh...! Air.... Air...!"

Jaaas!

"Ohh...!" Pemuda itu terkesiap. Sekilas matanya tadi melihat seberkas cahaya melesat cepat. Dicobanya menegaskan pandangan. Namun, cahaya itu seperti lenyap begitu saja.

"Apa itu? Apakah hanya khayalanku saja? Oh, tidak! Tidak! Aku takboleh kehilangan kesadaran!"

Jezt! "

"Hei?!" Berkas sinar yang tadi terlihat, kembali muncul. Melesat cepat di hadapan Pendekar Rajawali Sakti pada jarak sekitar lima langkah. Kali ini. Rangga betul-betul bukan seperti melihat bayangan maya.

Siuuuts...!

Berkas cahaya yang tadi lenyap, kini kembali muncul. Kali ini tepat lurus di depan Pendekar Rajawali Sakti. Semula berupa cahaya sebesar titik yang semakin lama semakin besar. Lalu..., membentuk sesosok tubuh seorang wanita polos tanpa benang sehelai pun!

"Aaahh...!" Tubuh Rangga gemetar menahan panas dingin hebat, melihat pemandangan di depannya. Wanita itu seperti melayang-layang beberapa jengkal dari permukaan tanah. Rambutnya panjang menyapu tanah, berwarna keemasan. Tubuhnya seperti mengeluarkan cahaya yang menerangi sekitar tempat itu.

"Ohh...! Apakah aku tengah bermimpi? Oh, Jagat Dewa Bhatara! Makhluk apa ini?!" desisl Rangga dengan wajah pucat dan mata terbelalak lebar.

ENAM

Rangga tetap terpaku tanpa bisa bertindak apa-apa. Kepandaiannya kini seperti lenyap begitu saja. Bahkan ketika wanita itu mengibaskan tangannya....

Wuuusss...! Desss...!

"Aaakh...!" Mendadak Rangga merasakan hantaman kuat menghajar tubuhnya. Seperti bandul raksasa yang meluluh lantakkan tulang-tulang di tubuhnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tak sadarkan diri.

Entah berapa lama Pendekar Rajawali Sakti tak sadarkan diri. Namun ketika tubuhnya terasa basah seperti mengapung di atas air, Rangga terjaga. Dan ketika disadari, ternyata tubuhnya berada di pinggir sungai.

"Ohh...! Di mana aku kini...?" keluh Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan Rangga bangkit. Tubuhnya sedikit segar, namun terasa pegal-pegal seperti telah mencangkul belasan petak sawah. Luka di pinggangnya hilang tak berbekas. Demikian pula sisa anak panah yang masih menancap di bahu. Hilang entah ke mana.

Dengan hari-hari, Pendekar Rajawali Sakti melangkah menjelajahi tempat itu. Sebuah hutan dengan bentuk-bentuk pohon aneh. Belum pernah dia melihat sebatang pohon seperti yang dilihatnya saat ini. Batangnya besar dan jauh menjulang tinggi ke atas. Daun-daunnya hitam laksana sebuah payung raksasa.

Mendadak telinga pemuda ini mendengar siulan pendek-pendek, namun memiliki irama tertentu. Cepat dia bersembunyi di balik sebuah pohon. Tak lama, muncul seorang gadis berjalan riang sambil menenteng keranjang berisi buah-buahan.

Sepintas lalu, gadis itu tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Namun begitu jaraknya kian dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti mendadak langkahnya berhenti. Siulannya terhenti dan wajah riangnya berganti kecurigaan mendalam.

"Siapa kau?! Ayo, keluar! Jangan coba-coba main belakang denganku! Keluar...!" teriak gadis itu.

Semula Pendekar Rajawali Sakti enggan. Namun ketika mengamati secara seksama siapa gadis itu, Rangga segera keluar dari persembunyiannya.

"Aku di sini..!" kata Pendekar Rajawali Sakti, seraya melangkah mendekat.

"Kau...?! Bukankah kau manusia bernama Rangga itu?" sentak gadis ini dengan wajah terkejut.

"Ya. Kau tak salah mengenali orang, Sekartaji," sahut Pendekar Rajawali Sakti.

"Astaga! Bagaimana kau bisa tiba di sini? Atau..., hm.... Mereka menggunakanmu sebagai pancingan rupanya!" desis gadis yang memang Sekartaji. Wajah girang gadis itu mendadak berubah. Matanya liar memandang ke sekeliling dengan kewaspadaan penuh.

"Sekartaji, apa maksudmu?" tanya Rangga, heran melihat perubahan sikap gadis ini.

"Jangan berpura-pura! Mana yang lainnya?!" bentak Sekartaji.

"Yang lain? Siapa yang kau maksudkan?"

"Siapa lagi? Yang pasti kaki tangan Sang Ratu!"

"Sekartaji, aku datang sendiri. Lagi pula kehadiranku ke sini bukan kemauanku," jelas Pendekar Rajawali Sakti, meyakinkan.

"Apa maksudmu?" tanya Sekartaji.

"Tiba-tiba saja aku telah di sini."

"Jangan coba membohongiku! Atau, kuhajar kau...?!"

"Untuk apa aku membohongimu? Jika kau kira aku datang bersama mereka, kau keliru. Saat ini aku bahkan berusaha menghindari mereka," kilah Rangga.

Sekartaji memandanginya dengan sorot mata ragu. Dia bukan tak tahu kalau pemuda itu berkata benar. Namun setahunya, Rangga berada di penjara. Bahkan tak mudah keluar penjara begitu saja. Apalagi dalam keadaan segar-bugar. Paling tidak, dia sekarat atau..., tewas!

"Ceritanya panjang dan tak masuk akal...," desah Pendekar Rajawali Sakti.

"Cerita apa?" tanya Sekartaji.

"Bagaimana aku bisa keluar dari istana itu...."

"Apa maksudmu kau keluar dari istana itu?"

"Ya. Aku melarikan diri."

"Melarikan diri? Astaga! Itu mustahil!"

"Tapi begitulah kenyataannya.

"Bagaimana caramu keluar dari sana?"

Rangga baru saja akan bercerita, tapi mendadak teringat sesuatu. Seketika kakinya melangkah mundur dengan sikap waspada. "Hm! Aku tak peduli siapa pun kau! Tapi kalau coba-coba meringkusku, aku akan melawan sekuat tenagaku," gumam Rangga.

"Hei! Apa maksudmu?" tanya Sekartaji, jadi heran.

"Kau salah satu dari mereka! Kau datang untuk menangkapku lagi, bukan?" tuding Rangga.

"Gila! Aku sekarang buronan kerajaan!" kilah Sekartaji.

"Tidak usah menipuku!" sergah Rangga.

"Huh! Aku tidak menyuruhmu percaya!" dengus gadis berbaju merah itu.

"Siapa yang mau percaya padamu?!"

"Kalau begitu apa perlumu di sini? Ini tempatku! Pergilah kau dari sini!"

"Tentu saja! Tanpa kau suruh pun, aku segera angkat kaki!"

"Lekas pergi! Enyah dari hadapanku...!"

Baru saja beberapa langkah berjalan... "Sekartaji! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau begitu kasar pada tamu kita?"

Mendadak terdengar suara yang diikuti meluncurnya sosok tubuh dari atas pohon yang menjulang tinggi. Tubuhnya melayang ringan seperti sehelai bulu, dan tepat berdiri di dekat Sekartaji. Ternyata sosok itu adalah seorang laki-laki bertubuh sedang. Rambutnya panjang telah memutih semua.

"Ayah! Pemuda itu datang tiba-tiba dan menuduhku macam-macam!" gerutu Sekartaji dengan wajah memberengut.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti telah menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik, menghadap ke arah ayah dan anak itu.

"Ayah mendengar semua pembicaraan kalian. Dan pemuda ini berkata sejujurnya...," kata laki-laki tua yang tak lain Ki Sapta Dewa.

"Ayah...?! Apa maksudmu? Ayah membelanya?!" sentak Sekartaji.

"Tidak... Ayah bisa merasakan pengalaman dahsyat yang dialami pemuda ini. Dia sedikit mengalami guncangan. Dan kau tak perlu bersikap keras padanya," ujar Ki Sapta Dewa.

"Huh...!" Sekartaji mendengus. Wajahnya menyimpan kekesalan melihat pembelaan ayahnya terhadap pemuda ini.

"Kisanak... Namaku Rangga..," ucap Rangga seraya menghaturkan hormat.

"Anak muda, aku Sapta Dewa. Senang berjumpa denganmu. Kau tentu seorang pemuda hebat," puji Ki Sapta Dewa.

"Kau berlebihan memujiku, Ki," elak Rangga.

"Tapi kenyataannya begitu. Kau telah menawan hati putriku."

"Ayaaah...?!" seru Sekartaji kaget. Seketika wajah gadis ini terasa jengah. Berganti-ganti dia memandang Pendekar Rajawali Sakti dan ayahnya. Dan akhirnya, dia kabur sekencang-kencangnya dari tempat ini

"Kau lihat, bukan? Tingkah gadis yang tengah kasmaran!" kata Ki Sapta Dewa.

"Maaf, aku.... aku tak tahu hal itu, Ki," ucap Rangga, juga jadi salah ringkah.

"He he he...!" Meski Pendekar Rajawali Sakti merasa kalau orang tua ini menunjukkan sikap bersahabat, namun tidak langsung mempercayainya. Apalagi laki-laki ini ayah Sekartaji.

"Tak perlu mencurigaiku, Anak Muda," kata Ki Sapta Dewa, seperti mengetahui apa yang ada di benak Rangga.

"Tapi kau ayah Sekartaji...," desah Rangga, hati-hati.

"Ya. Kami baru bertemu setelah sekian lama."

Dahi pemuda itu berkerut. "Sang Ratu itu ibunda Sekartaji. Dan kau ayahnya. Kau bermaksud menangkapku?" tebak Rangga.

"Ha ha ha...! Jadi itukah yang sejak tadi kau pikirkan?" Rangga diam tak menjawab. "Kami telah lama berpisah...." Suara laki-laki tua itu rendah setelah tawanya reda. Kemudian diceritakannya secara singkat riwayat hidupnya.

Rangga menyimak penuh perhatian. Meski terharu dan sedikit mengerti keberadaan laki-laki tua ini, namun tetap saja belum begitu mempercayainya.

"Nah! Sekarang, bagaimana dengan kau sendiri? Maukah kau menceritakan mengapa bisa tiba di sini?" tanya Ki Sapta Dewa.

"Aku sendiri tak tahu...," sahut Rangga, mendesah lirih.

"Tak tahu? Apa maksudmu?"

"Aku terjerumus ke dalam lubang yang dalam dan gelap. Kemudian bertemu seorang wanita cantik tanpa busana. Rambutnya panjang sekali dan keemasan Tubuhnya bercahaya...."

"Astaga! Sungguh-sungguhkah kau bertemu dengannya?!"

Meski berkata yang sebenarnya, Rangga tetap menduga kalau orang tua ini akan menganggap ceritanya bohong. Namun, tak terduga wajah Ki Sapta Dewa terlihat kaget

"Ya...," sahut Rangga, pendek.

"Tahukah kau, siapa makhluk itu?!" Ki Sapta Dewa malah mengajukan pertanyaan. Pemuda itu menggeleng lemah. "Dia makhluk yang paling dikeramatkan oleh semua penghuni kaum siluman di Lokananta ini!" jelas Ki Sapta Dewa, menjawab pertanyaannya sendiri.

Kali ini Rangga yang terkejut, mesti setengah tak percaya.

"Kau beruntung bisa bertemu dengannya, Rangga! Apa yang diberikannya padamu?!" tanya laki-laki tua itu lagi.

"Dia malah menghajarku. Dan.., aku tak sadarkan diri. Lalu tiba-tiba saja telah berada di sini," jawab Rangga, menjelaskan.

"Ha ha ha...! Aku telah lama sekali hendak bertemu dengannya. Tapi rupanya tidak berjodoh. Kau betul-betul beruntung, Rangga."

"Dihajar sampai nyaris mati, itukah yang disebut keberuntungan?"

"Hei! Apakah kau tidak merasakan perubahan pada dirimu? Kudengar kesaktianmu dikunci oleh Gandasari. Tapi, bisakah kau rasakan kalau kesaktianmu telah kembali?" tukas Ki Sapta Dewa.

Rangga memang merasakannya sejak tadi Tapi, rasanya belum yakin benar jika belum mengeluarkannya. Namun mengeluarkannya di depan orang tua ini, jelas bukan sikap yang baik.

"Tidak apa! Coba kau hantam ke sana dengan seperdelapan tenaga pukulanmu! Ayo...!" ujar Ki Sapta Dewa seperti mengerti jalan pikiran pemuda itu.

Untuk sesaat Rangga ragu. Tapi pelan-pelani tenaga dalamnya dikerahkan. Begitu tangannya menghentak... "Hiih!"

Pyaarrr...!

Segulung angin kencang bertiup dahsyat, menerbangkan dedaunan dan batu-batu sebesar kepala kerbau.

"Hei?!" Rangga terkesiap. Dia tadi hanya mengerahkan! sedikit tenaga dalam. Namun yang terjadi sungguh dahsyat. Dengan termangu-mangu, dia memandangi telapak tangannya. Seolah-olah, hatinya tak percaya kalau hal tadi perbuatannya.

"Hebat! Kau sungguh hebat, Rangga," puji Ki Sapta Dewa.

"Terima kasih, Ki. Aku tak tahu, bagaimana hal itu bisa terjadi...," ucap Pendekar Rajawali Sakti.

"Itu semua berkat keberuntunganmu. Kini bukan saja kesaktianmu kembali. Tapi, tenagamu pun bertambah. Siluman-siluman itu bukan apa-apa lagi bagimu," jelas laki-laki tua itu.

"Apa maksudmu, Ki? Terakhir aku bertarung, mereka betul-betul membuatku tak berdaya. Pukulanku tak mampu melukai mereka. Dan dengan mudah, mereka mengunci ilmu-ilmuku...."

"Itu karena mereka memiliki kemampuan untuk menaklukkan manusia lewat ilmu gaib yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Tapi, kini mereka tak bisa berbuat seenaknya padamu...."

"Kalau benar ini terjadi padaku, mestinya aku amat berterima kasih. Padahal, semula aku betul-betul terluka parah. Bahkan peluang untuk hidup pun amat tipis...."

"Kini kau menjadi manusia baru, Rangga!"

"Ki Sapta Dewa, siapa gerangan makhluk itu sebenarnya?" tanya Rangga, penasaran.

"Kaum siluman menyebutnya Ning Setya Larang. Mungkin semacam Dewi Penolong bagi manusia. Aku tidak tahu banyak. Tapi, banyak cerita yang mengatakan kalau seseorang mampu bertemu dengannya, maka akan menemukan kebaikan," papar Ki Sapta Dewa.

"Ya, aku bisa merasakan kebaikannya bagi diriku...."

"Hei! Sungguh keterlaluan. Kita telah bicara panjang lebar, tapi aku sama sekali belum menawarkanmu mampir ke pondokku?" Ki Sapta Dewa tertawa renyah. "Kau tak keberatan, bukan? Ayo...!" ajak laki-laki tua ini.

"Terima kasih, Ki," ucap Rangga.

********************

Mayang Srimpi uring-uringan tak menentu. Dia mondar-mandir di kamarnya dengan kening berkerut. Sebentar-sebentar kepalanya melongok ke jendela. Dilihatnya beberapa tetes darah berceceran Lalu dia kembali mondar-mandir.

"Sial! Kurang ajar! Kenapa dia bisa melarikan diri?!" maki Sang Ratu.

Terdengar pintu diketuk dari luar. Setengah meloncat dia membuka pintu. Tampak seorang gadis berpakaian hamba sahaya berdiri di ambang pintu.

"Maaf, Paduka...!" Gadis hamba sahaya itu langsung berlutut dengan kepala tertunduk.

"Berhasilkah kalian menemuinya?!" tanya Mayang Srimpi langsung.

"Seluruh pelosok telah kami selidiki, namun jejak pemuda itu tak juga kami temui," lapor gadis itu.

"Keparat!"

"Kami telah mencarinya di luar istana, namun tak terlihat tanda-tanda kehadirannya. Bahkan jejaknya pun tak ada...."

"Dia terluka. Dan, tak mungkin lolos begitu saja. Cari sampai ketemu!" perintah Mayang Srimpi.

"Baik, Paduka!" sahut gadis itu.

Sebelum hamba sahaya itu berlalu, muncul dua orang prajurit yang langsung berlutut.

"Ampun Paduka! Kami membawa sesuatu yang mungkin penting...," lapor salah seorang prajurit.

"Lekas katakan!" ujar Sang Ratu "Anak panah berlumuran darah ini kami temukan tidak jauh dari kamar Paduka!"

Salah satu prajurit mengangsurkan anak panah pada Sang Ratu. Mayang Srimpi mengamatinya sesaat dengan dahi berkerut. Sekilas saja bisa diketahui siapa pemilik anak panah itu.

"Panggil Sriwangi ke sini!" perintah Mayang Srimpi seraya menyambar anak panah itu.

"Baik, Paduka!"

"Ibunda. Saya menghadap sesuai panggilan...," kata Sriwangi, begitu tiba di hadapan Mayang Srimpi.

"Sriwangi! Sejak kapan sikapmu mulai berubah?" tegur Mayang Srimpi langsung.

"Apa maksud, Ibunda? Saya sama sekali tidak mengerti...," kilah Sriwangi.

"Kalau begitu anak panah siapa ini?!" Sang Ratu menyodorkan anak panah yang ditemukan dua prajuritnya tadi.

"Eh?! Itu..., itu memang seperti anak panah milik saya...," Sriwangi kontan tergagap.

"Bukan seperti, tapi memang milikmu!" bentak Sang Ratu.

"Tapi..., mengapa berada di tangan Ibunda?"

"Kau masih mau berlagak bodoh?"

"Ibunda, saya..., saya tak mengerti... Ini pasti fitnah! Pasti ada orang yang sengaja memfitnah saya!" sentak Sriwangi terkejut.

"Biar kujelaskan untuk menyegarkan ingatanmu. Rangga kau pancing keluar lewat jendela. Setelah itu, kau hujani dia dengan anak panah. Begitu, kan? Apakah sudah ingat?!"

"Itu tidak benar, Ibunda. Apa untungnya saya membunuhnya? Keberadaannya di tangan Ibunda. Dan selamanya, saya tak akan berani mengusik-ngusiknya. Saya tak pernah berselisih dengan Ibunda, atau siapa saja. Apalagi hanya untuk memperebutkan pemuda itu!" sergah Sriwangi.

"Barangkali kau tidak senang dia bersamaku?"

"Ibunda! Saya bahkan tak berani berpikir begitu!" desis Sriwangi, kaget.

"Hm...!"

"Ibunda, saya betul-betul tidak mengerti, bagaimana anak panah saya bisa berada di sini. Padahal saya menyimpannya dengan rapi. Percayalah, Ibunda. Pasti ada orang yang mencurinya untuk memfitnah saya."

Sang Ratu terdiam sejurus lamanya, menimbang-nimbang apa yang dikatakan Sriwangi tadi. "Menurutmu, siapa yang kira-kira melakukan ini?" tanya Mayang Srimpi.

"Ampun, Ibunda! Saya tidak tahu apa-apa soal ini!" sahut Sriwangi.

"Brengsek...!"

Sriwangi semakin tak berani memandang wajah Penguasa Kerajaan Lokananta itu. Sang Ratu kelihatan betul-betul murka atas kehilangan Rangga.

"Pergilah kau! Tapi jangan dikira tuduhanku kepadamu selesai. Selama belum ada yang lain, maka kau tetap kucurigai. Jadi, jangan coba-coba cari alasan lain. Pengawasan terhadapmu akan diperketat!"

"Saya menerimanya, Ibunda."

"Pengawal!" teriak Mayang Srimpi.

"Ya, Paduka...!" Dua prajurit tergopoh-gopoh masuk dan berlutut.

"Perintahkan sepuluh prajurit mengawal kamar Sriwangi. Dan tak diperkenankan dia berjalan seorang diri ke mana pun tujuannya!" perintah Mayang Srimpi

"Baik, Paduka! Segala titah akan kami junjung tinggi."

"Hm...!"

Ketika kedua prajurit baru saja keluar bersama Sriwangi, Mayang Srimpi memberi isyarat pada gadis hamba sahayanya.

"Ampun, Paduka...!"

"Ambil lonceng ini. Dan bunyikan sekali-sekali sepanjang perjalananmu ke dapur!" perintah Sang Ratu, seraya menyerahkan lonceng kecil

Meski tak mengerti mengapa junjungannya memberi perintah ganjil, namun gadis itu tak berani banyak tanya. Dengan sigap diterimanya lonceng itu. Lalu dia segera keluar setelah memberi hormat.

Sang Ratu memanggil gadis hamba sahaya yang seorang lagi.

"Panggil Gandasari, Arimbi, dan Paman Desta Ketu! Aku mau mereka menghadapku di balairung sebentar lagi," perintah Sang Ratu.

"Segala titah akan hamba junjung tinggi dan kenakan segera!"

TUJUH

Sang Ratu menunggu dengan gelisah. Sengaja jendela dan pintu dibuka lebar-lebar. Benar saja. Sebentar saja, apa yang ditunggu muncul. Tiba-tiba saja, seorang laki-laki setengah baya berperawakan sedang sudah berdiri di depan pintu. Seketika tubuhnya bergerak cepat menutup pintu dan mengunci jendela. Kini, hanya mereka berdua saja dalam ruangan itu

"Jonggol Putung menghadap, Paduka!" ucap laki-laki itu sambil membungkukkan badan.

"Jadi kau terima isyarat dariku?" tanya Sang Ratu.

"Benar. Kudengar bunyi lonceng itu. Kelihatan penting, sehingga buru-buru hamba menghadap," sahut laki-laki bernama Jonggol Putung

"Jonggol Putung! Kau tak kehilangan waspada, bukan? Kuharap tak ada yang melihatmu," kata Sang Ratu.

"Hamba yakin, Paduka...."

"Baiklah, aku percaya. Kita langsung saja pada persoalan."

"Hamba mendengarkan dengan seksama, Paduka...."

"Tahukah kau, siapa yang bermaksud membunuh pemuda itu?"

"Pemuda manusia itukah?"

"Siapa lagi?!"

"Hamba tak punya bukti pasti. Tapi, Paduka patut mencurigai Gandasari...."

Mayang Srimpi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hm, sudah kuduga. Apa yang kau tahu tentangnya?" tanya Sang Ratu.

"Belakangan ini, dia kasak-kusuk dengan beberapa prajurit. Tahukah Paduka, apa yang hendak mereka rencanakan?"

"Katakan padaku!" ujar Mayang Srimpi, dengan mata melotot.

"Mereka hendak menggulingkan kekuasaan Paduka."

"Bedebah! Anak setan...!" maki Mayang Srimpi. "Kenapa tidak kau laporkan buru-buru?!"

"Paduka tidak memanggil. Lagi pula, hamba belum melihat kalau mereka sebagai ancaman. Jumlah prajurit yang termakan bujukannya masih sedikit. Dalam sekejap, mereka bisa dipatahkan. Dan yang terpenting, hukuman serta tindakan belum bisa diambil selagi bukti nyata belum ada, Paduka," jelas Jonggol Putung.

"Jangan berkotbah, Jonggol Putung! Tangkap mereka...!"

"Paduka, sadarlah! Hamba tak berwenang Dan lagi..., tugas hamba...."

"Maaf, Jonggol...!" potong Sang Ratu seraya mengatur pernapasannya. "Maksudku, aku akan perintahkan pengawal untuk meringkus mereka."

"Sudahkah dipikirkan baik-baik, Paduka?" tanya Jonggol Putung mengingatkan.

"Apa kau punya saran?" Sang Ratu balik ber tanya.

"Tugas hamba bertindak Dan hamba bukan penasihat"

"Hm...! Apa Paman Desta Ketu berpihak pada mereka?"

"Dia terlalu setia pada Paduka! Mereka tak akan berani membujuknya."

"Hm...!"

"Ada lagi yang Sang Ratu inginkan?"

"Tahukah kau, di mana pemuda itu kini berada?" tanya Sang Ratu, menggunakan kesempatan.

"Sepertinya dia berada di tempat yang aman, Paduka," sahut Jonggol Putung.

"Di mana?" kejar Mayang Srimpi.

"Hamba tak bisa mengatakannya secara tepat..."

"Katakan saja dugaanku!"

"Firasat hamba mengatakan, pemuda itu berada di dasar Sumur Neraka...."

"Sumur Neraka?! Gila! Bagaimana mungkin dia berada di sana?!" sentak Mayang Srimpi.

"Itu hanya dugaan, Paduka. Bisa saja salah...," kata Jonggol Puting mengingatkan.

"Dia tak akan selamat! Sampai saat ini belum ada yang berhasil keluar setelah tercebur ke dalam Sumur Neraka. Kenapa kau katakan kalau dia dalam keadaan aman?"

"Firasat hamba mengatakan demikian, Paduka."

"Hm...!"

"Aku akan bertindak sekarang!"

"Apa yang hendak Paduka kerjakan?"

"Akan kuperintahkan semua prajurit pilihan mencari pemuda itu di dasar Sumur Neraka!"

"Itu bukan tindakan bijaksana, Paduka...."

"Aku penguasa di sini. Dan segala perintahku harus dikerjakan!"

"Gandasari mengincar mahkota. Kalau Paduka berbuat kejam pada semua prajurit, mereka punya pilihan untuk bergabung dengan Gandasari. Itu ancaman besar bagi Paduka!"

"Kau benar, Jonggol! Apa yang mesti kulakukan?"

"Tak usah khawatirkan soal pemuda itu, Paduka. Bukankah hamba telah katakan kalau dia dalam keadaan aman? Kalau memang berjodoh, maka Paduka akan bertemu lagi dengannya. Saat ini, urusan pemuda itu dikesampingkan lebih dulu. Pusatkan persoalan kepada ulah Gandasari!"

Baru saja Mayang Srimpi akan buka suara....

Tok! Tok! Tok!

Terdengar ketukan di pintu. Jonggol Putung cepat bersembunyi. Matanya liar ketika menyingkapi jendela. Ketika tak ada orang melihat, secepat kilat tubuhnya melesat.

"Paduka, hamba pamit!"

Brak!

Jendela itu terbuka dan tertutup kembali dalam waktu singkat, sebelum Mayang Srimpi membuka pintu.

"Ada apa?" tanya Mayang Srimpi, ketika pintu terbuka. Tampak dua orang prajurit sudah berlutut di hadapannya.

"Gandasari dan Arimbi tidak kami temukan! Desta Ketu siap menghadap!" ujar seorang prajurit .

"Keparat!" dengus Sang Ratu. "Cari dan tangkap mereka!"

"Baik, Paduka!"

********************

"Kenapa kita mesti kabur seperti buronan? Kita tinggal selangkah lagi menuju cita-citamu!" tanya Arimbi pada Gandasari.

Saat ini mereka tengah berlari meninggalkan bangunan Istana Kerajaan Lokananta lewat jalan belakang. Mereka ditemani dua laki-laki tua yang tak lain Giri Sadaka dan Ajiwirya, serta beberapa prajurit yang telah terhasut. Sementara laki-laki tua yang bernama Ajiwirya sebenarnya suami Sriwangi. Namun karena sifatnya yang mata keranjang, dia mudah tergoda oleh Gandasari. Dan akhirnya, laki-laki ini menjadi abdi setia Gandasari.

"Kita memang buronan, Arimbi!" bentak Gandasari.

"Huh! Aku bukan buronan! Kuhajar siapa pun yang coba-coba menghalangi langkahku!" dengus Arimbi.

"Sadarlah, Arimbi. Ibunda memanggil karena telah mengendus rencana kita. Aku tak mau mati konyol sebelum rencana kita berhasil. Kita memang tinggal selangkah lagi menuju cita-cita. Tapi ingat, masih banyak yang belum berpihak pada kita, termasuk Desta Ketu dan Guru...," ujar Gandasari.

"Dengan bantuan Kakang Giri Sadaka dan Ajiwirya, mereka dapat kita sapu bersih. Mereka telah meminum air 'Dewa Langit', sehingga mampu menghajar bangsa siluman."

"Apa kau kira mereka bisa diharapkan menghadapi Guru dan Desta Ketu?"

"Kita belum mencobanya. Tapi, aku yakin sekali kalau mereka mampu melakukannya!"

"Dan kalau mereka tewas, kita pun celaka! Itukah maksudmu?!" desis Gandasari.

"Kakak saja yang terlalu takut!"

"Jangan berkata seperti itu, Arimbi!" bentak Gandasari.

"Kalau punya cita-cita besar harus berani menanggung segala macam rintangan apa pun. Jangan mundur sebelum mencoba!" balas Arimbi.

"Arimbi, tutup mulutmu!"

"Aku tak akan tutup mulut sebelum jiwa kepengecutanmu sirna!"

"Kurang ajar! Kau berani membantahku, he?!"

"Kakak, sadarlah. Tidak usah bertengkar. Kau tak punya kekuasaan lagi. Seperti yang kau katakan, kita buronan. Jadi, jangan bertingkah seolah mampu berbuat semaunya terhadap saudara-saudaramu!"

"Jangan kira aku tak mampu menghukummu, meski tak berada di istana!"

"Jadi apa maumu?!" Arimbi pun jadi panas hatinya melihat sikap kakaknya yang mulai garang.

"Kurang ajar! Kau semakin berani saja padaku!"

Tanpa banyak tanya lagi, Gandasari langsung melayangkan kepalan tangan menghajar adiknya. Namun, Arimbi tak kalah sigap. Dia langsung menangkis sambil mengelak.

Plak!

"Yeaaa...!"

Pertarungan antara kakak beradik itu tak dapat dihindari lagi. Sementara Giri Sadaka dan Ajiwirya serta beberapa prajurit kerajaan hanya mampu menonton tanpa bisa berbuat apa-apa. Percuma saja mereka coba berteriak, karena Arimbi dan Gandasari tak dapat dipisahkan lagi.

Pertarungan kedua wanita itu yang memiliki tingkat kepandaian sama, berjalan semakin sengit. Masing-masing ingin menjatuhkan lawan secepatnya. Namun nyatanya hal itu tak mudah. Sebab, masing-masing mengetahui secara persis kepandaian satu sama lain. Tanpa disadari sepasukan prajurit Kerajaan Lokananta telah mengepung tempat ini.

"Gandasari dan Arimbi! Kalian ditangkap atas perintah Sang Ratu!" teriak seorang laki-laki gagah berpangkat panglima.

"Hei?!" Serentak kedua wanita ini menghentikan pertarungan. Gandasari mendengus sambil berkacak pinggang.

"Panglima! Pulanglah kau. Dan, jangan cari gara-gara...!" bentak Gandasari.

"Kalianlah yang sebaiknya jangan cari gara-gara! Menyerahlah sebelum kami paksa!" balas panglima itu.

"Kurang ajar!" maki Gandasari. Gandasari melirik pada Ajiwirya. "Kakang! Bisakah kau membereskan mereka untukku?" pinta Gandasari.

"Tentu saja! Ini kesempatan baik bagiku untuk menguji khasiat air Dewa Langit" jawab Ajiwirya mantap. Begitu habis kata-katanya, Ajiwirya mencelat sambil memutar tongkat yang kedua ujungnya runcing.

"Kakang Giri Sadaka! Bantulah agar pekerjaan Kakang Ajiwirya lebih mudah..." ujar Arimbi.

"Beres!" sahut Giri Sadaka. "Heaaat...!" Senjata yang dimiliki Giri Sadaka berupa clurit besar langsung berputar-putar menimbulkan suara menderu-deru tajam.

Tanpa banyak tanya lagi mereka membagi tugas. Ajiwirya menghadapi panglima pasukan itu, sedangkan Giri Sadaka melayani serangan para prajurit yang setia pada Sang Ratu.

Cras! Bret!

"Wuaaakh...!"

"Ha ha ha...! Aku mampu membunuh mereka...!" teriak Giri Sadaka kegirangan. "Clurit ini akan menghabisi mereka! Heaaa...!" Melihat keadaan itu, nafsu angkara di hati Giri Sadaka bergolak. Kebengisan pun meledak-ledak untuk mencari korban sebanyak mungkin.

Jres! Bret!

"Aaa...!"

"Ha ha ha...!"

Agaknya, sikap Giri Sadaka membuat semangat Ajiwirya bertambah. Dia semakin yakin mampu mengatasi lawan. Dan terbukti, dalam waktu singkat senjatanya mematahkan pedang Panglima Kerajaan Lokananta.

Tak!

Begitu pedang panglima itu patah, tombak Ajiwirya menyodok ke jantung. Namun panglima itu cepat melompat ke belakang. Namun baru saja mendarat, Ajiwirya telah mencelat. Kaki kanannya langsung diayunkan ke dada.

Desss...!

"Akh...!" Tendangan itu telah menghantam Panglima Kerajaan Lokananta hingga terjajar beberapa langkah. Dan belum sempat panglima itu berbuat apa-apa, tombak Ajiwirya secepat kilat telah menghujam di dada kirinya.

Blesss!

"Aaa...!" Panglima itu menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang dengan dada kiri bolong. Di tak berkutik setelah beberapa saat menggelepar.

Melihat panglima mereka binasa, para prajurit Kerajaan Lokananta kocar-kacir. Perlawanan mereka tak berarti banyak. Ajiwirya melengkapi korban yang telah dibuat Giri Sadaka hingga tak bersisa!

"Hebat sekali, Kakang Giri Sadaka!" puji Arimbi.

"Kau juga, kakang Ajiwirya...." timpal Gandasari.

"Kau lihat, Kakak. Mereka bisa diandalkan, bukan?" tukas Arimbi.

"Memang. Tak kuragukan hal itu sedikit pun.'

"Lalu, apa yang membuatmu ragu?"

"Desta Ketu dan Guru."

"Aku yakin mereka berdua mampu mengatasinya!"

"Jangan gegabah, Arimbi!"

"Aku tidak takut pada siapa pun di istana kerajaan. Ayo, kita kembali dan habisi mereka yang coba menentangmu!" dengus Giri Sadaka.

"Benar! Tak peduli dia setan belang dari neraka sekalipun! Biar kami bereskan semuanya untuk kalian!" timpal Ajiwirya.

"Kau dengar itu, Kakak? Mereka menyanggupinya!" ujar Arimbi.

Gandasari masih terdiam. "Ayolah, beri keputusan! Hanya ada dua pulihan. Kembali ke sana dan mengambil mahkota yang kau idam-idamkan, atau selamanya menjadi buronan kerajaan?" desak Arimbi.

"Ya! Kau benar, Arimbi..," desah Gandasari.

"Jadi...?!"

"Kita ke sana!"

"Nah! Itu baru keputusan tepat!"

Arimbi baru saja hendak memberi perintah mendadak muncul sepasukan prajurit Kerajaan Lokananta lainnya ke tempat itu. Mereka langsung dipimpin panglima utama. Ikut dalam rombongan adalah Desta Ketu serta seorang laki-laki tua bersorban putih memakai baju seperti pendeta.

"Hm.... Guru pun ternyata hadir...," gumam Gandasari.

"Jangan pedulikan!" kata Arimbi, tegas.

"Gandasari! Apa yang kau perbuat di sini?! Kalian telah membunuh sekian banyak prajurit kerajaan, tegur laki-laki berpakaian pendeta, ketika melihat mayat-mayat prajurit Kerajaan Lokananta yang berserakan.

"Guru! Sebaiknya jangan campuri urusan ini ujar Gandasari, bergetar suaranya.

"Murid kurang ajar! Berani betul kau berkata begitu padaku?!" maki laki-laki bersorban itu.

"Guru! Kakak Gandasari benar. Sebaiknya jangan campuri urusan ini!" timpal Arimbi.

"Selamanya aku tak pernah mengajarkan kalian berbuat kurang ajar! Kenapa kalian ini?! Apa yang telah terjadi pada kalian?!"

"Sukang Jebar, ketahuilah. Kedua muridmu ini telah dirasuki hawa nafsu tamak akan kekuasaan. Jadi, jangan berharap mereka akan berbaik-baik padamu. Kecuali, kau berdiri di pihak mereka," kata Ki Desta Ketu.

"Aku tak percaya itu!" bentak laki-laki tua berpakaian pendeta yang bernama Sukang Jebar.

"Kau boleh tentukan pilihan. Sang Ratu memberi kebebasan padamu untuk bertindak. Tapi menyangkut nasib mereka, ada di tanganku," tegas Ki Desta Ketu.

"Desta Ketu! Beri kesempatan padaku untuk menasihati mereka," pinta Ki Sukang Jebar.

"Silakan...!"

Pendeta itu menarik napas panjang sebelum memulai bicaranya. "Gandasari dan Arimbi! Ketahuilah..., jalan yang kalian pilih ini salah. Untuk apa hal itu kalian perbuat? Sia-sia saja. Dan, tak ada gunanya...," bujuk Ki Sukang Jebar.

"Sukar Jebar!" bentak Arimbi tanpa panggilan Guru'. "Sudah kukatakan padamu, kami tak perlu nasihat serta campur tanganmu dalam soal ini! Pergilah kau!"

"Arimbi! Tahukah kau, kepada siapa tengah bicara?" tukas Ki Sukang Jebar.

"Aku tak peduli siapa kau, dan apa jabatanmu! Tapi kalau coba menentang, maka kau musuh kami...!" bentak Arimbi.

"Aku tidak bermaksud buruk pada kalian..."

"Pergi kataku! Lupakan hubungan antara murid dan Guru di antara kita!" bentak Arimbi. "Kalau kau membela mereka, menjadi lawan kami!"

"Hm..."

"Sukang Jebar! Waktumu habis. Kami akan bertindak!" ingat Ki Desta Ketu.

"Aku tahu. Namun, aku ingin kau mengabulkan satu hal, Desta Ketu," sahut Ki Sukang Jebar.

"Apa itu?"

"Mereka murid-muridku. Dan aku merasa bertanggung jawab atas kelakuan mereka. Biarkan aku yang akan menangkap mereka!" pinta pendeta itu.

"Kau dapat kesempatan pertama, Sukang Jebar!" sahut Ki Desta Ketu mantap.

"Terima kasih." Ki Sukar Jebar semakin mendekat. Sebaliknya, Gandasari dan Arimbi melangkah mundur. Mereka tahu gelagat ini, dan segera memberi isyarat.

"Gandasari, Arimbi.... Aku terpaksa harus menangkap kalian! Bersiaplah!" ujar Ki Sukang Jebar.

"Mundur kalian! Biar kuhadapi tua bangka ini" dengus Giri Sadaka

"Hm! Manusia! Sebaiknya kau tak usah ikut campur persoalan kami...," gumam laki-laki pendeta itu.

"Heaaa...!" Namun Giri Sadaka menjawabnya dengan serangan kilat bertenaga dalam kuat.

DELAPAN

Ki Desta Ketu tak tinggal diam. Bersama panglima utama, dia segera menyerbu. Namun, Ajiwirya cepat telah menghadang. Sedangkan panglima utama ditahan oleh Gandasari. Sementara Arimbi dan para prajuritnya membereskan para prajurit Kerajaan Lokananta yang jumlahnya dua kali lipat.

"Heaaat...!"

"HHh!"

Dalam waktu singkat pertarungan berlangsung seru. Melihat jumlah, mestinya pihak kerajaan akan mudah membereskan para pengkhianat itu. Namun pada kenyataannya, hal itu malah sebaliknya. Dengan adanya Arimbi, meski jumlah mereka sedikit, tapi orang-orangnya berhasil membabat para prajurit kerajaan tanpa mengalami kesulitan. Terlebih lebih Arimbi!

Sementara itu pertarungan antara panglima utama melawan Gandasari berlangsung seru. Sayang, perlahan-lahan panglima kerajaan itu terdesak hebat, dan mesti mengakui kehebatan murid Ki Sukang Jebar.

"Hiih!" Kedua tangan Gandasari bergerak cepat menepis tebasan pedang panglima utama kerajaan.

Plak!

Pedang itu kontan terlempar jauh. Sebelum panglima itu berbuat sesuatu, kaki Gandasari menyodok silih berganti ke bagian dada.

Des! Desss...!

"Aaakh...!" Panglima utama kerajaan ini terjajar ke belakang disertai keluhan tertahan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Gandasari. Kembali kakinya menyapu ke leher.

"Uts...!" Panglima itu terkejut, namun cepat merunduk. Pada saat yang sama, tendangan selanjutnya cepat dari Gandasari menyusul menghantam dada.

Desss...!

"Aaakh...!" Kembali panglima itu terhuyung-huyung. Sementara Gandasari segera mengejar secepat kilat seraya melepas pukulan bertubi-tubi.

Begkh! Des! Desss...!

"Aaa...!"

"Hei?!" Kematian panglima itu membuat kaget Ki Desta Ketu dan Ki Sukang Jebar. Bukan karena kepandaian gadis itu mampu mengatasi kelihaian sang panglima. Tapi, membunuh seorang panglima utama benar-benar mengumandang peperangan terhadap kerajaan.

"Heaaat...!"

Kelengahan Ki Sukang Jebar dimanfaatkan Giri Sadaka. Tanpa memberi kesempatan, dicecarnya guru dari Arimbi dan Gandasari dengan pukulan jarak jauh berhawa maut.

"Uts...!" Ki Sukang Jebar terkejut, namun cepat melenting ke udara.

Jderrr...!

Sebuah lubang besar terkuak terkena hantaman Giri Sadaka. Dan baru saja Ki Sukang Jebar berputaran di udara, Giri Sadaka telah menghentakkan kedua tangannya. Dan....

Jderrr!

"Aaakh!" Tubuh Ki Sukang Jebar kontan terlempar ke belakang. Begitu jatuh di tanah, darah tampak meleleh dari mulutnya.

"Heaaa...!" Sementara Giri Sadaka telah melompat siap menghabisi nyawa Ki Sukang Jebar dengan sekali hantam lagi. Tapi sebelum niatnya terlaksana...

"Manusia keparat! Lawanlah aku! Heaaat...!" Mendadak berkelebat bayangan merah yang langsung melepas pukulan jarak jauh ke arah Giri Sadaka

Wuuusss!

"Hup!" Secepat kilat Giri Sadaka menghindar dengan melompat ke belakang. Sehingga, angin yang melunak tajam itu menghantam tempat kosong.

"Guru, kau tak apa-apa...?!"

"Sekartaji! Kau..., kau...," sebut Ki Sukang Jebar, terpatah-patah.

"Ya. Ini aku, Guru...,'' sahut sosok bayangan merah yang ternyata Sekartaji.

"Kau selamat?" tanya Ki Sukang Jebar.

Gadis berbaju merah itu mengangguk dengan wajah haru.

"Hei, Sekartaji! Minggirlah kau, sebelum kuhabisi nyawamu!" bentak Giri Sadaka.

Mendengar itu darah Sekartaji mendidih. Dan secepat kilat tubuhnya berbalik, memandang tajam. Namun sebelum gadis itu melampiaskan kemarahannya, berkelebat sosok bayangan putih. Dan tahu-tahu di samping Sekartaji berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Sebuah pedang bergagang kepala burung rajawali tampak tersampir di punggung.

"Sekartaji! Biar kuhadapi manusia durjana ini."

"Kakang Rangga...."

"Kau uruslah gurumu," ujar pemuda yang ternyata Pendekar Rajawali Sakti.

"Baiklah."

"Hm.... Pendekar Rajawali Sakti...! Ternyata kau belum mampus!" dengus Giri Sadaka.

"Sayang sekali, harapanmu tidak terkabul...," sahut Rangga kalem.

"Tapi sekarang aku yakinkan kematianmu!" Giri Sadaka langsung lompat menerjang dengan senjata cluritnya.

Wut! Bet!

Rangga seketika mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', untuk menghindar di antara desingan senjata bagai orang mabuk. Tubuhnya meliuk-liuk. Lalu, secepat kilat dia bergerak mendekat.

"Hiyaaat...!"

"Hei?!" Giri Sadaka terkesiap, tak menyangka Pendekar Rajawali Sakti mampu bergerak secepat itu. Sesaat dia kelabakan. Namun, dengan lincah tangannya mengibas untuk menangkis.

Plak!

"Uhh...!" Giri Sadaka merasakan tangannya linu bukan main saat menangkis pukulan. Belum sempat dia berbuat apa-apa, tangan Rangga bergerak cepat menangkap senjata cluritnya.

"Lepas!"

"Uhh...!" Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Pendekar Rajawali Sakti menyentak senjata Giri Sadaka. Lengan laki-laki tua itu nyaris putus kalau saja dia tak melompat mengikuti arah sentakan Rangga.

"Heaaa...!" Tepat ketika tubuh Giri Sadaka tersentak, Pendekar Rajawali Sakti segera menghadiahi dua hantaman kaki kanan yang disertai tenaga dalam tinggi. Dan....

Des! Des!

"Aaa...!" Giri Sadaka memekik. Tulang dadanya kontan remuk. Nyawanya melayang ketika jasadnya terhempas di tanah.

"Ohh...!" Kematian Giri Sadaka membuat Gandasari dan Arimbi kecut. Harapan mereka kini tertumpah pada Ajiwirya yang saat itu tengah mendesah Ki Desta Ketu.

"Kisanak, hentikan perlawananmu!" bentak Rangga.

"Hm!" Mendengar itu, Ajiwirya mendelik garang. Dan tanpa basa-basi segera perhatiannya dialihkan pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Pendekar Rajawali Sakti! Rupanya kau belum mampus, he?! Sudah ditakdirkan kalau kau bakal mampus di tanganku!" dengus Ajiwirya.

Pemuda itu menggeram. Dan sebagai jawaban, senjata Giri Sadaka yang ada di tangannya diputar. Melihat itu Ajiwirya tak banyak bicara lagi. Langsung saja dia lompat menyerang.

Srak!

Senjata di tangan Rangga berkelebat membabat tombak Ajiwirya. "Putus!"

"Hei?!" Ajiwirya terkejut melihat tongkatnya putus jadi dua. Namun secepat kilat dilepaskannya pukulan maut ke arah Pendekar Rajawali Sakti. "Heaaa...!"

Wut!

"Hiih!" Rangga melompat ke atas menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Dia berputaran beberapa kali, lalu meluruk cepat bagai seekor anak panah dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'! Kedua tangannya mengebut cepat dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Hingga....

Prak!

"Aaa...!" Ajiwirya terlempar beberapa langkah ke belakang sambil menjerit kesakitan. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang retak. Dari sela-sela jarinya tampak meleleh darah segar. Begitu ambruk, nyawanya telah melayang ke neraka!

Bukan cuma Gandasari dan Arimbi yang terkejut melihat kematian Ajiwirya secara mengenaskan. Tapi, yang lainnya pun sampai tercengang. Mereka tak menyangka pemuda itu mampu bergerak cepat laksana malaikat pencabut nyawa. Namun setelah rasa kagetnya sirna, Ki Desta Ketu menghampiri.

"Rangga! Kau amat membantu kami. Sang Ratu pasti amat menghargai jasamu ini." sambut Ki Desta Ketu.

"Terima kasih. Tapi, aku tidak akan kembali ke sana sebagai tawanan...," ucap Rangga.

"Tentu saja tidak. Kau akan kembali sebagai pahlawan. Aku akan mengatakan hal ini pada Sang Ratu," tegas Ki Desta Ketu.

Rangga belum menjawab ketika terdengar keributan. Ternyata Gandasari dan Arimbi berusaha kabur, namun cepat dihadang Sekartaji serta beberapa prajurit.

"Sebentar, Kisanak Aku punya ganjalan dengan gadis-gadis itu," ujar Pendekar Rajawali Sakti. Rangga cepat berkelebat menghampiri Gandasari. Dia langsung berdiri di hadapan gadis itu. "Aku telah berjanji hendak membalasnya padamu, bukan? Bersiaplah."

Gandasari terkesiap, namun cepat menguasai diri. Segera digunakannya ilmu gaib untuk menghajar pemuda itu.

"Percuma saja, Gandasari. Itu sama sekali tak berguna saat ini...," kata Pendekar Rajawali Sakti, mengingatkan. Rangga melangkah. Ditangkapnya pergelangan tangan gadis itu yang hendak menamparnya.

Tap!

Begitu tangan kiri Rangga mencekal, maka tangan kanannya menampar pipi Gandasari beberapa kali

Plak! Plak!

Gadis itu mendelik garang. Mendadak lututnya menyentak untuk menghajar bagian bawah perut Rangga. Namun, pemuda itu cepat menghantamnya dengan telapak tangan.

Plak!

"Aaakh...!" Gadis itu kontan meringis kesakitan.

"Saat ini aku mampu menghabisi nyawamu. Namun itu, tak kulakukan. Karena, hukumanmu akan ringan. Kau harus dihukum berat Dan itu kewajiban mereka!" desis Pendekar Rajawali Sakti seraya menelikung tangan Gandasari. Lalu diserahkannya gadis itu pada Ki Desta Ketu.

Pada saat yang bersamaan, Sekartaji pun berhasil melumpuhkan Arimbi, dibantu para prajurit kerajaan.

"Kisanak! Kuserahkan kedua orang ini padamu!" kata Pendekar Rajawali Sakti.

"Terima kasih. Rangga," ucap Ki Desta Ketu.

"Aku harap kalian bisa menghukum mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya."

"Sang Ratu tahu, apa yang akan diperbuatnya."

"Terima kasih"

"Rangga! Kau pun terpaksa harus ikut ke istana, sebagai saksi atas kejahatan mereka."

"Ya, baiklah. Tapi, jangan harap aku mau ditawan. Kalau kalian menahanku, aku akan melawan!" tandas Rangga, mengingatkan.

"Tidak. Seperti yang tidak kukatakan, kau akan diperlakukan sebagai pahlawan. "

Rangga langsung berbalik. Dihampirinya Sekartaji.

"Apakah..., apakah kau akan kembali ke duniamu, Kakang Rangga?" tanya gadis itu sebelum Rangga buka suara.

"Tentu saja, Sekartaji, Dunia manusia adalah tempatku. Dan, di sanalah semestinya aku berada...,' sahut Pendekar Rajawali Sakti, lembut.

"Bolehkah aku menjengukmu...?" tanya gadis itu.

"Kau boleh menjengukku kapan saja kau suka!"

"Terima kasih, Kakang....

"Hei, satu hal! Seperti yang dipesankan ayahmu, kau tak boleh mengaku kalau beliau yang menyelamatkanmu. Buat seolah-olah mereka menduga-duga. Meski mereka menduga kalau Ki Sapta Dewa yang menyelamatkanmu, kau tetap tidak boleh mengaku!" ujar Pendekar Rajawali Sakti

"Ya, aku tahu itu...," sahut Sekartaji.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti akan membuka suara lagi....

"Sekartaji...!" Terdengar panggilan, membuat Rangga dan Sekartaji menoleh. Tampak seorang gadis berbaju putih menghampiri.

"Harum Sari! Kapan kau datang kembali ke negeri Siluman? Apakah kau akan berpihak pada para pengkhianat?!" tuding Sekartaji pada gadis yang ternyata Harum Sari.

"Kau salah paham, Sekartaji! Justru kedatanganku ingin membantumu!" sahut Harum Sari, lembut.

"Bohong!" bentak Sekartaji.

"Dia benar, Sekartaji. Harum Sari-lah yang membantuku keluar dari tahanan Sang Ratu. Dia pula yang mengembalikan pedangku ini...," bela Pendekar Rajawali Sakti.

"Benar, Sekartaji! Kau ingat seorang hamba sahaya yang bernama Ambar? Itulah aku. Aku waktu itu sedang menyamar dengan mengenakan topeng yang mirip Ambar Ini kulakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sejak kau dibawa pulang ke Kerajaan Lokananta, aku sudah curiga dengan Gandasari dan Arimbi. Makanya, kuputuskan untuk menyusul. Benar saja, ketika sampai, aku mendengar kalau kau ditahan. Kemudian kubuat topeng berwajah mirip Ambar. Ambar, sendiri kusembunyikan di kamarku. Baru setelah itu aku membantumu. Lalu aku juga membantu Kakang Rangga, aku pula yang memfitnah Kakak Sriwangi dengan meletakkan panahnya di kamar Ibunda. Lalu aku menghubungi Guru...!" papar Harum Sari.

"Oh... Maafkan aku, Harum Sari. Terima kasih...," ucap Sekartaji.

Angin pun berhembus perlahan, mengelus kedua gadis itu yang saling berpelukan. Sementara Pendekar Rajawali Sakti memandangi dengan senyum. Sulit mengartikan, apa arti senyumannya.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PANGERAN IMPIAN
Thanks for reading Asmara Gila Di Lokananta I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »