Kitab Naga Jonggrang

KITAB NAGA JONGRANG

SATU

“Kebakaraaannn...!”

“Cepat padamkan api...!”

Teriakan membahana bernada perintah terdengar, ketika si jago merah meliuk-liuk, melahap salah satu sudut sebuah bangunan kuil yang terletak di pinggiran Kadipaten Pacitan. Bangunan kuil yang dikenal bernama Kuil Kiambang Lima tampak diselubungi asap hitam dengan lidah api sekali-kali menguak.

Para penduduk yang tinggal di sekitar kuil berlarian ketakutan. Namun ada pula yang ikut bahu-membahu membantu penghuni kuil untuk memadamkan api yang terus berusaha melahap apa saja yang mudah terbakar. Belum juga beres mereka memadamkan api, mendadak....

“Kejar...!”

“Jangan biarkan lolos...!”

Kembali terdengar teriakan dari belakang kuil yang disusul dengan berlariannya dua puluh lima orang berpakaian pendeta, yang mengejar seorang pemuda berpakaian pendeta pula.

Pemuda berkepala gundul berusia lima belas tahun itu terus berlari dengan napas terengah-engah, berusaha meninggalkan bangunan Kuil Kiambang Lima ini.

Sebelah tangannya mendekap buntalan kain yang dirapatkannya ke dada. Sebentar-sebentar kepalanya menoleh ke belakang. Wajahnya yang pucat telah dibanjiri keringat. Teriakan-teriakan itu membuat jantungnya berdegup kencang, menggambarkan ketakutan semakin dalam yang menyeruak dari hatinya.

“Heaaa...!”

Salah seorang pendeta yang mengejar melompat gesit ketika pemuda gundul itu sudah berlari lima puluh tombak jauhnya dari Kuil Kiambang Lima. Tubuhnya berputar beberapa kali, lalu mendarat ringan tiga tombak di depan pemuda berkepala gundul.

“Berhenti kau, Sancaka...!” bentak pendeta itu. “Hih!” Bahkan seketika sebelah telapak tangan pendeta itu menghentak ke depan.

Wusss...!

Saat itu juga meluncur serangkum angin kencang ke arah pemuda yang dipanggil Sancaka. Cepat bagai kilat Sancaka bergerak ke samping, sehingga pukulan itu luput beberapa rambut di sisinya.

Pada waktu yang bersamaan, para pendeta yang lain telah sampai di tempat ini. Mereka langsung bergerak melingkar, membuat kepungan. Wajah Sancaka tampak semakin pucat. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, ketika menyadari kalau tidak ada celah sedikit pun untuk lolos.

“Celaka! Mana mungkin aku mampu menghadapi mereka semua...!” desis pemuda gundul ini pelan.

“Mau lari ke mana lagi kau sekarang. Murid Durhaka? Serahkan kitab itu. Dan, jangan coba-coba melawan!” hardik pendeta yang menghadang Sancaka tadi.

“Guru! Aku justru tidak tahu, kenapa tiba-tiba dikejar dan dituduh pencuri...?” sanggah pemuda itu.

Orang yang dipanggil Sancaka dengan sebutan Guru adalah laki-laki berusia empat puluh empat tahun. Dan pemuda itu tahu kalau nama laki-laki di depannya ini adalah Binareksa.

Kedudukan pendeta Binareksa di Kuil Kiambang Lima, memang sebagai wakil Wiku Dharmapala dalam memberikan ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan lain. Selain kepandaiannya cukup tinggi, Pendeta Binareksa memang cukup disegani.

Sedangkan Wiku Dharmapala sendiri sudah berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Kepandaiannya sangat tinggi, namun sangat arif dan bijaksana. Sudah dua puluh lima tahun dia memimpin Kuil Kiambang Lima ini, sejak menggantikan ayahnya.

“Celaka kau, Sancaka! Apakah kau tidak mau mengaku juga?!” desak Pendeta Binareksa.

“Guru.... Aku tidak merasa mencuri apa-apa...,” desah Sancaka.

“Tangkap dan geledah seluruh tubuhnya!” perintah pendeta bertubuh tinggi.

Saat itu juga para pendeta yang rata-rata masih muda melompat menyergap Sancaka. Mereka segera merampas buntalan yang berada di tangan pemuda ini. Sementara yang lain memeriksa sekujur tubuhnya.

“Guru, dia tidak membawa apa-apa. Isi buntalan ini hanya pakaian kotor...,” lapor salah seorang pemuda pendeta, yang juga asuhan Pendeta Binareksa.

“Mustahil! Kalian pasti salah periksa...!” sergah pendeta itu.

Segera Binareksa bergerak menghampiri Sancaka. Diperiksanya sendiri Sancaka dengan rasa penasaran. Tapi apa yang dikatakan murid-muridnya memang benar. Isi buntalan itu hanya berisi pakaian kotor. Diperiksanya tubuh Sancaka dengan lebih cermat Dan ketika benda yang dicari tidak kunjung ditemukan, maka dicengkeramnya leher baju pemuda ini.

“Sancaka! Di mana kau sembunyikan kitab itu?! Jangan main-main! Kau bisa dihukum berat karenanya!” desis Pendeta Binareksa dengan wajah menyeringai geram.

“Guru! Aku tidak tahu, apa yang kalian maksudkan? Kitab apa? Aku sama sekali tidak mencuri apa-apa!” tandas Sancaka, meyakinkan.

“Kurang ajar! Kau masih mau mungkir, he?! Lalu, siapa yang membakar kuil. Dan kenapa kau begitu ketakutan, sehingga perlu menyelamatkan diri keluar kuil?” cecar Pendeta Binareksa.

“Itu karena murid-murid lain menuduhku membakar kuil. Mereka mendesak dan bermaksud memukuliku. Dan ketika mencoba menyelamatkan diri, mereka malah berteriak menuduhku maling. Aku tidak mencuri apa-apa! Dan Guru telah melihatnya pula. Lalu, apa yang harus kuakui?” tangkis pemuda itu.

Pendeta itu terdiam. Dipandanginya Sancaka seperti hendak meneliti kejujuran pemuda tanggung itu.

“Dia berdusta, Guru!” tuding salah seorang pendeta berusia dua puluh tahun. “Aku lihat sendiri, dia mengendap-endap keruang perpustakaan dan mencuri sebuah kitab. Dan setelah itu, membakar salah satu gedung untuk menarik perhatian. Sementara, dia berusaha kabur!”

“Balaga! Bagaimana kau bisa menuduhku demikian?! Apa buktinya? Mana buku yang kucuri itu?!” bantah Sancaka.

“Sekarang mungkin tidak ada padamu, tapi bisa jadi kau sembunyikan di suatu tempat!” tukas pemuda berusia dua puluh tahun yang dipanggil Balaga.

“Kalau memang kau yakin, kau cari saja! Sesuai hukum yang pernah kita pelajari, maka menuduh seseorang tanpa bukti sama artinya memfitnah. Dan..., hukuman fitnah, tanyakan sendiri pada Guru!” dengus Sancaka, seraya menoleh pada Pendeta Binareksa.

Sejenak suasana sunyi, seketika belum ada yang angkat bicara.

“Apa yang kau katakan benar. Namun kau lupa..., hukuman bagi seorang pembohong pun tidak kalah beratnya ketimbang hukum memfitnah,” tambah Pendeta Binareksa, memecah keheningan.

“Apakah Guru hendak mengatakan bahwa aku pembohong? Aku membohongi kawan-kawan serta guruku sendiri? Oh, Jagad Dewa Batara! Betapa tercelanya perbuatan itu. Dan aku tidak ingin menjadi orang tercela!” desah Sancaka seraya menggeleng.

“Aku tidak menuduhmu pembohong. Tapi, nantilah para guru akan menanyaimu. Nah, sekarang kembalilah ke kuil. Kau harus menjelaskan semua kejadian ini. Kalau kau memang tidak melakukannya, tidak usah takut.”

“Aku tidak takut, Guru! Kalian telah mengajarkan hal-hal yang benar. Dan lagi pula, aku memang tidak berbuat kesalahan apa-apa!” sahut pemuda itu mantap.

********************

Usul Pendeta Binareksa agar Sancaka diperiksa dan diadili di depan dewan guru, tidak disetujui Wiku Dharmapala. Orang tua arif berusia lebih dari tujuh puluh tahun yang mengepalai Kuil Kiambang Lima ini ingin menyelesaikan persoalan ini berdua saja dengan Sancaka. Dan tempatnya pun tidak di ruangan khusus, tapi di taman belakang.

Melihat Sancaka bukan seperti diadili, para dewan guru dan para pendeta pelajar merasa iri dan cemburu. Mereka melihat Sancaka malah seperti mendapat pengampunan dari maha guru Wiku Dharmapala.

Kini Wiku Dharmapala duduk di bawah sebatang pohon rindang di belakang kuil. Sementara Sancaka duduk di sebelahnya.

“Sancaka.... Tahukah kau, kenapa kuajak ke sini?” tanya maha guru Kuil Kiambang Lima ini.

Pemuda itu menggeleng lemah.

“Atau barangkali, kau bisa menduga? Katakanlah...,” ujar Wiku Dharmapala.

“Ng..., soal kemarin sore, Guru?” tanya Sancaka.

“Kenapa kau menduga begitu?” Wiku Dharmapala balik bertanya, sekaligus memancing.

“Biasanya Guru jarang turun tangan sendiri, bila persoalannya tidak begitu penting.”

“Jadi, kau setuju kalau kejadian kemarin sore itu suatu hal yang penting?”

“Semua membicarakannya. Dan mereka resah, cemas, serta geram, ini kejadian langka, dan jelas amat penting.”

Wiku Dharmapala tersenyum. “Kau pintar, Sancaka. Tahukah kau, bahwa salah satu yang kusukai darimu adalah kepintaranmu? Dalam segala hal, kau punya kelebihan. Kemauanmu kuat. Dan kau pun sangat rajin,” puji maha guru ini.

“Terima kasih. Guru...,” ucap Sancaka.

“Karena kepintaranmu itulah aku ingin meminta pertolonganmu. Apakah kau bersedia melakukannya?”

“Pertolongan apa yang bisa kulakukan. Guru?”

“Carilah pencuri itu. Dan kembalikan kitab Naga Jonggrang ke kuil ini!”

Sancaka terkesiap.. Dipandanginya orang tua itu sekilas. Lalu kepalanya kembali menunduk, ketika mata Wiku Dharmapala menatap tajam. Seakan-akan sang maha guru itu hendak menelan bulat-bulat tubuhnya, melalui sorot matanya.

“Kenapa Sancaka? Kau menolak?” tanya Wiku Dharmapala.

“Eh! Ti.., tidak. Guru. Hanya..., apakah kitab itu demikian penting bagi kuil kita?” Sancaka malah balik bertanya, dengan suara tergagap.

“Kitab Naga Jonggrang ditulis oleh buyutku yang bernama Sangkakala Naga yang juga pendiri kuil ini. Kitab itu berisi pengetahuan tentang segala ilmu silat yang dimilikinya. Juga terdapat pengetahuan tentang obat-obatan dan ilmu perang. Kalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah, maka akan sangat berbahaya,” jelas Wiku Dharmapala, memberi alasan.

“Tapi, Guru.... Kalau ada yang mencurinya, pastilah dia orang hebat karena mampu lolos dari pengawasan kita semua,” tukas Sancaka.

“Ya, mungkin saja. Tapi..., mungkin juga pencuri itu tidak hebat melainkan cerdik. Dia mengerti keadaan kuil ini, sehingga tahu persis kapan harus mencuri kitab ini,” kilah Wiku Dharmapala.

“Tapi..., kalau benar dia berilmu tinggi, bagaimana mungkin aku bisa merebut kitab itu darinya, Guru?”

“Pikirkanlah, Sancaka. Aku hanya ingin mendengar jawaban darimu sekarang juga. Bisakah kau membawa kitab itu kembali ke kuil ini?”

“Kalau memang demikian titah Guru, aku akan berusaha mendapatkannya kembali...,” desah Sancaka.

“Bagus!” sambut Wiku Dharmapala.

Sebelum Sancaka terdiam. Sepertinya dia ragu-ragu untuk mengatakannya. “Tapi, aku perlu waktu, Guru...,” desah Sancaka, akhirnya.

“Berapa lama waktu yang kau minta?” tanya sang maha guru.

“Entahlah. Pekerjaan ini berat. Sehingga waktu yang kuperlukan mungkin cukup lama,” sahut Sancaka.

“Kalau begitu kau kuberi kelonggaran waktu yang cukup lama,” ujar Wiku Dharmapala.

“Terima kasih, Guru.”

“Dan waktu itu akan semakin lama, Sancaka....”

“Maksud, Guru?”

“Carilah kitab itu. Dan bila belum juga menemukannya, jangan kembali lagi ke sini.”

“Guru...!” Sancaka tercekat. Kata-kata Wiku Dharmapala jelas bernada pengusiran terhadapnya secara halus. Dipandangnya orang tua itu sesaat. Namun Wiku Dharmapala telah bangkit berdiri dan berbalik.

“Cepatlah kemasi barang-barangmu. Kau akan berangkat sebelum tengah hari!” ujar orang tua itu, sambil melangkah pergi.

Sementara itu Sancaka masih termangu. Tak percaya dengan keputusan maha gurunya.

********************

Pagi baru saja beranjak menuju siang. Sinarnya menyorot, menembus celah-celah pepohonan di tepian Hutan Tiga Dewa. Seorang pemuda berpakaian pendeta dengan kepala gundul terlihat berjalan santai menyusuri jalan setapak ini.

Pemuda yang tak lain Sancaka ini merasa seperti ada tiga sosok yang berkelebat mengikutinya dari tempat tersembunyi. Sesekali pemuda itu menoleh kebelakang seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun keadaan tetap sunyi, kecuali nyanyian burung-burung hutan. Padahal nalurinya yang tajam mengatakan bahwa perjalanannya belum aman. Sampai Sancaka tiba di tepian sungai kecil, di kaki Gunung Mahameru, belum terlihat sosok-sosok yang mengikutinya.

Pemuda itu lantas berhenti istirahat untuk membuka bekalnya. Perlahan-lahan dia mulai bersantap sambil menikmati hembusan angin sejuk. Meski matahari telah bersinar garang, namun hawa di kaki gunung ini masih terasa sejuk.

“Suit...! Suit...!”

Sancaka bersiul perlahan-lahan beberapa kali seperti menikmati indahnya alam. Sementara itu matanya tidak pernah berhenti mengawasi seluruh tempat ini.

Baru saja gema siulan itu menghilang, sebuah bayangan hitam berkelebat ke arah Sancaka. Semakin dekat semakin jelas kalau yang berkelebat itu adalah seekor monyet yang bergelantungan dari satu dahan pohon ke pohon lain. Kemudian dengan sigap binatang itu melompat ke pangkuannya.

“Bagaimana, Sobat? Sudah kau sembunyikan titipanku semalam?” tanya Sancaka pada monyet kecil itu.

“Nguk! Nguk...!” Monyet berbulu hitam itu mengangguk seperti mengerti ucapan Sancaka. Mulutnya menyeringai lebar, sehingga dahinya berkerut-kerut, Matanya berkedip-kedip sebentar sebelum berpindah ke pundak kiri pemuda itu.

“Bagus! Kerjamu memang hebat, Cakil! Nah, sekarang mari kita pergi. Nanti sewaktu-waktu bila kuperlukan, maka ambilkan barang titipanku itu padaku, ya?”

“Nguk! Nguk!” Monyet itu mengangguk, lalu pindah ke pundak kanan pemuda itu. Dan Sancaka segera bangkit.

“Ayo, mari kita pergi, Cakil...!” ajak pemuda itu seraya melangkah. Namun baru beberapa tindak Sancaka melangkah....

“Berhenti...!”

Tiba-tiba terdengar bentakan lantang menggelegar, membuat Sancaka terjingkat kaget Seketika tubuhnya berbalik. Kini, tampak dua sosok tubuh bergerak cepat ke arahnya. Gerakan mereka cepat dan gesit, sehingga sebentar saja sudah tiba di depan pemuda itu berjarak lima tombak.

Sancaka menatap tajam, memperhatikan dua laki-laki bermuka seram yang tegak berdiri juga menatapnya. Yang seorang berbaju hijau. Di pinggangnya tampak sebilah tongkat kecil. Sementara yang seorang lagi berbaju kuning. Di punggungnya tersampir sebilah pedang. Sikap mereka jelas tidak bersahabat Namun begitu, Sancaka berusaha tenang.

“Kisanak berdua siapa? Dan mengapa kalian menghadang perjalananku?” sapa Sancaka ramah disertai tersenyum kecil.

“Aku Rupaksa! Dan saudaraku Rupaksi. Sebaiknya, kau tak usah banyak tanya! Serahkan saja Kitab Naga Jonggrang pada kami!” bentak laki-laki berbaju hijau yang bernama Rupaksa.

“Perlu kutambahkan, kau saat ini tengah berhadapan dengan Iblis Kembar Selatan. Jadi, tak perlu macam-macam. Sedikit saja buat kesalahan, maka nyawamu akan kucabut!”

Sesuai nama dan gelar yang disandang, mereka memang bersaudara. Kepandaian mereka cukup tinggi, namun memiliki watak kejam. Tidak peduli siapa yang dihadapi. Bila maksud belum tercapai, maka mereka akan menghalalkan segala cara. Meski, harus membuat orang kehilangan nyawanya.

“Aah! Kitab Naga Jonggrang? Hm..., baru sekali ini aku mendengarnya! Kenapa kalian berdua mengira kalau kitab itu ada padaku?” tanya Sancaka, polos.

“Kurang ajar! Sudah kukatakan, jangan main-main dengan kami. Kau akan menyesal nanti! Ayo, berikan kitab itu!” dengus Rupaksi.

“Kisanak! Aku sungguh tidak tahu tentang kitab yang kalian maksudkan. Bahkan melihatnya pun belum. Bagaimana aku bisa memberikannya pada kalian?” tukas Sancaka, mulai ikut keras nada suaranya.

“Kalau begitu kau mesti mati!” desis Rupaksi.

“Eee, tunggu dulu! Barangkali aku bisa sedikit membantu. Umpamanya, mencarikan kitab itu untuk kalian!” seru Sancaka, seraya mengangkat tangannya.

Iblis Kembar Selatan itu saling berpandangan. Lalu, Rupaksi terlihat menggeleng kecil. Dan Sancaka segera mengerti, kata-katanya tidak mempengaruhi niat mereka.

“Aku sendiri sebenarnya memang tengah diperintah mencari kitab itu! Dan kalau kalian mau membiarkan aku pergi, maka setelah kitab itu kudapatkan, akan kuberikan pada kalian!” tambah pemuda itu belum berputus asa.

Rupaksa yang telah mencabut tongkat kecil di pinggangnya terdiam sesaat. Dipandanginya pemuda itu dengan seksama.

“Di mana kau akan mencari kitab itu?” tanya Rupaksa, kemudian.

“Aku sendiri tidak tahu...,” sahut Sancaka, polos.

“Kalau begitu kau tidak berguna. Dan, lebih baik mati!” desis Rupaksa, hendak mengayunkan tongkat kecilnya.

“Eee, tunggu! Meski tidak tahu pasti, namun aku mengenali wajah pencuri kitab itu...!” tukas Sancaka, menahan gerakan Rupaksa.

“Apa maksudmu? Jangan coba-coba menipu! Bukankah kau sendiri yang mencuri kitab itu?!” hardik Rupaksi.

“He, apa maksudmu? Aku pencurinya?! Gila! Ini fitnah. Aku murid yang baik di Kuil Kiambang Lima. Dan semua guruku memuji demikian. Aku tidak pernah mencuri. Bahkan kalau menemukan sesuatu, pasti akan segera kuberikan pada dewan guru. Lagi pula, untuk apa aku mencuri kitab itu? Dan apa gunanya bagiku?”

Kembali Rupaksa dan Rupaksi saling berpandangan untuk sesaat. Mereka mulai bingung mendengar keterangan pemuda ini.

“Nah! Karena hanya aku yang melihat wajah pencuri itu, maka guru menyuruhku untuk menguntit ke mana larinya. Sekaligus, mencari tahu siapa dia sebenarnya. Dan kalau bisa, membawa pulang kitab itu. Jika kalian tidak percaya, datang saja ke kuil. Tanyakanlah pada semua pendeta yang berada di sana,” lanjut pemuda itu mulai mempengaruhi.

“Kalau begitu, tunjukkan pada kami ke mana pencuri itu pergi!” ujar Rupaksa.

“Inilah yang sulit. Aku hanya tahu wajahnya. Dan, sama sekali tidak tahu siapa dia. Menurut guru, pencuri itu sangat lihai dan cerdik. Dia pasti bersekutu dengan orang dalam. Dan siapa pun orang dalam itu, pasti mencari kambing hitam. Dan kambing hitam yang empuk untuk disalahkan adalah aku. Sebab, selama ini aku menjadi kesayangan guru-guru,” jelas Sancaka, meyakinkan.

Kembali Iblis Kembar Selatan saling pandang. Wajah mereka yang garang, pelan-pelan berubah bingung.

“Siapa pun orangnya yang jelas dia sengaja memfitnahku. Dan kalian lantas menduga kalau akulah pencurinya. Sementara, orang yang mencuri tenang-tenang menyembunyikan kitab itu,” lanjut Sancaka.

Rupaksa dan Rupaksi masih belum begitu percaya dengan ocehan pemuda ini. Namun begitu, mereka tidak terlalu menuduh seperti tadi.

“Kalau kau tak tahu pencuri itu, bagaimana mencarinya? Lalu kalau kau memang yakin bahwa pencurinya bekerja sama dengan orang dalam, kenapa kau yang harus sibuk? Bukankah kau bisa bicara dengan guru-gurumu, agar mereka mencari orang dalam itu. Lalu, memaksanya untuk mengatakan, siapa pencuri Kitab Naga Jonggrang!”

“Hal itupun sudah kupikirkan. Tapi, aku terikat pada peraturan. Kami tidak boleh menuduh sembarangan tanpa bukti jelas. Kalau aku menuduh salah seorang murid, maka bisa saja mereka kembali menuduhku memfitnah. Dan hukuman fitnah sangat berat. Maka bagaimanapun juga, aku terpaksa harus mencari sendiri pencuri itu. Kalau kalian memang kenal salah seorang murid di kuil itu yang mengatakan bahwa aku pencurinya, maka bukan tidak mungkin dialah orang dalam yang kumaksudkan tadi. Tangkap dan paksa saja untuk mengaku, siapa pencurinya. Dengan begitu, kalian akan lebih jelas mengetahui pencurinya,” papar Sancaka panjang lebar.

“Betul juga katanya...,” gumam Rupaksa.

Rupaksi tidak menjawab. Dia masih belum percaya sepenuhnya pada cerita pemuda berkepala gundul itu.

DUA

Belum ada yang membuka suara lagi, mendadak berkelebat tiga sosok bayangan ke arah Sancaka dan Iblis Kembar Selatan.

“Sancaka! Apa yang kau katakan kepada mereka?!” Terdengar bentakan nyaring, begitu tiga sosok bayangan itu berhenti tiga tombak di samping Sancaka.

Iblis Kembar Selatan, dan terutama Sancaka, begitu terkejut melihat tiga sosok yang baru datang. Mereka ternyata tiga laki-laki setengah baya berpakaian pendeta dengan kepala gundul. Memang, tiga sosok pendeta inilah yang tadi mengikuti Sancaka. Dan pemuda itu mengenal mereka dengan nama Setiawangsa, Logawa, dan Wisnupati.

“Ampun, Guru! Aku tidak mengatakan apa-apa...!” sahut Sancaka seraya menjura hormat.

“Kau berani berdusta, he?! Kami tadi mendengar semua yang kau bicarakan!” bentak pendeta yang bernama Logawa.

Sancaka diam saja tidak menjawab.

“Katakan pada kami, siapa orang dalam yang kau maksudkan itu?!” timpal Setiawangsa.

“Guru, aku tidak tahu...,” sahut Sancaka, gusar.

“Kau berdusta lagi! Kepada orang luar kau beberkan semua mengenai keadaan kuil kita. Sedang kepada gurumu sendiri, malah main sembunyi-sembunyi!” tambah Wisnupati, sambil melangkah menghampiri.

“Guru.... Aku sama sekali tidak menceritakan apa-apa. Mereka sendirilah yang tahu soal kitab itu. Dan aku hanya menjawab sejujurnya,” kilah Sancaka.

“Siapa orang dalam yang berkomplot dengan pencuri itu?” desah Wisnupati.

“Guru, aku tidak bisa menuduh sembarangan, sebab sama saja fitnah. Lagi pula aku tidak tahu pasti, siapa orangnya. Kalau guru ingin tahu juga, sebaiknya tanya saja kepada kedua orang ini!” tunjuk Sancaka kepada dua lelaki bertampang seram itu. “Mereka menuduhku pencuri. Dan hal ini hanya diketahui penghuni kuil. Kalau mereka berdua tahu, pastilah ada orang dalam yang membocorkannya. Dan orang dalam itu pasti mengetahui, siapa saja yang berkomplot dengan pencuri kitab itu!”

“Apakah kata-katamu bisa dipertanggungjawabkan?” tanya Logawa dengan bibir tersenyum sinis.

“Aku berusaha untuk tidak berbohong, Guru. Lagi pula, mana mungkin aku berbohong pada guruku sendiri,” tandas Sancaka.

Ketiga pendeta itu terdiam. Lalu mereka menoleh kepada dua orang berwajah kembar.

“Kisanak! Aku kenal siapa kalian. Dan persoalan kami adalah persoalan antara penghuni kuil Jadi, kuharap jangan ikut campur. Dan sebaiknya katakan, siapa penghuni Kuil Kiambang Lima yang mengatakan bahwa Sancaka telah mencuri Kitab Naga Jonggrang?”

Logawa yang paling tua di antara ketiga pendeta itu mengarahkan tatapan pada Rupaksi dan Rupaksa berganti-ganti.

“Kami tidak berurusan denganmu!” sahut Rupaksi, mendengus sinis.

“Pergilah kalian. Dan jangan coba-coba mendikte kami!” timpal Rupaksa.

“Kisanak! Kami berusaha bersikap hormat. Ini masih wilayah Kuil Kiambang Lima. Jadi cobalah bersikap sopan kepada penghuninya!” ujar Wisnupati bernada lunak.

“Huh! Peduli apa? Wilayah ini bukan milik Kiambang Lima. Hanya kalian saja yang mengaku-aku. Lagi pula, kenapa kami mesti bersikap sopan segala?” dengus Rupaksi.

“Baiklah, kalau memang begitu anggapan kalian. Dan jika tidak bersedia membantu..., kami permisi dulu!” ucap Wisnupati mengalah.

Ketiga pendeta itu hendak berbalik, setelah memberi hormat Namun baru saja berjalan dua langkah....

“Hei?! Siapa suruh kalian meninggalkan tempat ini!” Bentakan yang meluncur dari mulut Rupaksa, membuat ketiga pendeta ini menghentikan langkah. Dan secara hampir berbarengan mereka berbalik.

“Apa mau kalian sebenarnya, Kisanak?” tanya Logawa dengan kening berkerut.

“Huh! Sudah lama sekali tanganku gatal ingin menjajal kemampuan penghuni Kuil Kiambang Lima. Menurut kabar, berkepandaian hebat sekali!” kata Rupaksa, bernada menantang.

“Kami tidak bermaksud cari gara-gara, Kisanak. Maaf.... Kami tidak bisa meladeni keinginan kalian...,” timpal Wisnupati.

“Pendeta sombong! Kau kira bisa begitu saja menghindar dari kami?!” desis Rupaksi. “Yeaaa...!”

Begitu kata-katanya selesai, Rupaksi langsung meluruk ke arah Wisnupati dengan satu hantaman telapak tangan.

“Uts!” Melihat serangan cepat itu, Wisnupati cepat pula menggeser tubuhnya kekanan sambil mengibaskan tangan kiri untuk memapak.

Plak!

Dan bersamaan dengan itu, Rupaksi melepaskan tendangan menggeledek. Dengan sebisanya, Wisnupati mencelat ke belakang. Namun, Rupaksi terus mengejarnya seperti tak ingin memberi kesempatan.

“Mau lari ke mana kau, Botak?” ejek Rupaksi sambil terus melancarkan serangan gencar secara bertubi-tubi dengan kedua tangannya.

“Kisanak, jangan keterlaluan dan memaksaku!” seru Wisnupati mengingatkan, sambil terus menghindar.

“He he he...! Hanya segini saja kemampuan penghuni Kuil Kiambang Lima. Ayo, keluarkan seluruh kemampuanmu. Lawan aku! Atau, kupecahkan kepalamu yang botak itu!”

Saat Rupaksi berhadapan dengan lawannya, rupanya tangan Rupaksa pun ikut-ikutan gatal. Seketika diserangnya Logawa dan Setiawangsa. Maka pertarungan pun tidak dapat dielakkan lagi. Meski ketiga pendeta itu berusaha untuk tidak melakukan perlawanan, namun Iblis Kembar Selatan betul-betul membuat jengkel. Bukan saja berusaha menghajar, tapi juga disertai ejekan yang membuat telinga panas.

“Hm..., mereka saling baku hantam! Aku tidak boleh lama-lama di sini...!” gumam Sancaka.

Secara diam-diam pemuda itu meninggalkan tempat ini sambil menyambar monyet kesayangannya. Mula-mula dia melangkah mundur secara perlahan-lahan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi begitu jarak telah jauh, dia langsung lari sekencang-kencangnya.

********************

Di ruangan khusus Kuil Kiambang Lima, Wiku Dharmapala kelihatan gundah sekali. Padahal belum pernah hatinya merasa serisau hari ini. Hilangnya Kitab Naga Jonggrang, membuatnya tidak bisa tenang. Orang tua itu berusaha bersemadi di tempat yang gelap ini. Sementara di depannya terpasang lebih dari selusin lilin.

“Guru...!”

Wiku Dharmapala membuka pejaman matanya ketika terdengar sebuah suara memanggilnya. Seketika semadinya disudahi, kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan ini. Ternyata di depan pintu telah berdiri beberapa orang murid dengan kepala menunduk dalam.

“Ada apa?” tanya Wiku Dharmapala.

“Ampun, Guru., Tiga paderi yang diperintahkan menguntit Sancaka telah kembali!” sahut salah seorang murid.

“Secepat itukah?”

“Mereka..., mereka terluka.”

Wiku Dharmapala menghela napas panjang. Dipandanginya murid-murid yang berada di depannya. “Kenapa mereka terluka?”

“Mereka bentrok dengan Iblis Kembar Selatan.”

“Apa...?!” Maha guru Kuil Kiambang Lima ini tersentak kaget bukan main. Betapa tidak? Dengan ikut campurnya pihak lain, berarti hilangnya Kitab Naga Jonggrang telah tersebar di luaran dan sampai ke telinga tokoh-tokoh sesat macam Iblis Kembar Selatan.

********************

Setelah mengobati luka tiga murid utama yang tak lain Logawa, Setiawangsa, dan Wisnupati, Wiku Dharmapala memerintahkan dewan guru dan murid-murid kuil untuk berkumpul di ruang utama.

Semua murid dan para dewan guru telah menunggu, apa yang hendak dibicarakan maha guru mereka. Sementara wajah sang Wiku Dharmapala tampak keruh. Beberapa kali orang tua itu menghela napas panjang. Sepertinya ada beban yang menghimpit hatinya.

“Aku mendapat firasat, dengan hilangnya Kitab Naga Jonggrang, malapetaka akan datang bagi kita semua. Orang-orang luar mungkin akan berdatangan ke sini, bermaksud mencari tahu soal kitab itu. Aku menduga, secara langsung maupun tidak, ada di antara kita yang membocorkan kejadian kemarin kepada mereka...,” kata Wiku Dharmapala, membuka pembicaraan.

“Guru.... Siapa pun yang mencoba mengusik harus kita hadapi!” sahut salah seorang murid dengan suara lantang.

“Betul, Guru! Kalau mereka berani mengusik ketenangan, maka kami akan melawan meski harus mengorbankan nyawa!” timpal yang lain, dan disetujui oleh mereka yang hadir di sini.

“Terima kasih! Kalian memang murid-murid yang berbakti. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud mengajarkan kalian untuk berbuat kasar. Kita harus menghadapi mereka dengan kebaikan serta keramahan...,” ucap maha guru itu dengan penuh kebijakan.

“Guru.... Untuk apa kita memperlakukan dengan baik, kalau nyatanya mereka hendak menimbulkan kekacauan di sini?” tanya seorang murid, dengan sedikit tersaput kekecewaan.

Wiku Dharmapala tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Kuil ini didirikan atas dasar cinta kasih. Itu adalah ketentuan yang berlaku di sini. Adalah suatu keharusan bagi kita untuk memberi pelajaran yang baik kepada mereka yang bodoh. Juga mengupayakan kesembuhan bagi orang-orang yang sakit. Demikian pula bagi orang-orang yang tidak mengerti. Mereka harus kita sadarkan dengan lemah lembut. Mereka adalah api. Penuh amarah serta hawa nafsu. Itulah sebabnya, kita tidak boleh melawan dengan api pula,” papar Wiku Dharmapala penuh kearifan.

Semua yang hadir di ruangan ini terdiam mendengar wejangan dari maha guru mereka.

“Namun begitu, apa yang terlalu besar akan membakar kita. Dan pada saat itu, kita tidak bisa berdiam diri. Artinya ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan. Memadamkan api sebisanya, serta menyelamatkan diri dengan membawa barang-barang berharga. Apakah barang berharga yang kalian miliki? Itu tidak lain dari iman di dada!” lanjut Wiku Dharmapala.

“Tapi..., apakah Guru yakin mereka akan datang ke sini?” tanya seorang murid.

“Aku tidak berhak menjawabnya. Keyakinan yang pasti, bukan milik manusia...,” sahut orang tua ini, lembut.

“Tapi mereka akan ke sini, bukan?” tanya murid yang lain masih penasaran.

“Begitulah kira-kira. Kitab Naga Jonggrang pernah dikenal selama beberapa ratus tahun. Lalu, tiba-tiba saja hilang dari pemberitaan. Mereka hanya tahu, bahwa kitab itu ditulis Sangkakala Naga. Namun mereka tidak tahu, kalau sebenarnya Sangkakala Naga adalah pendiri Kuil Kiambang Lima. Sampai kejadian kemarin, mereka jadi tahu dan yakin kalau kita mempunyai Kitab Naga Jonggrang.”

Wiku Dharmapala terdiam beberapa saat sebelum kembali meneruskan bicara.

“Setelah berkumpul di sini, maka kita semua harus bersiap-siap menyambut tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka yang datang ke sini adalah orang-orang tamak, yang akan mencari apa yang diinginkan dengan menghalalkan segala cara!”

“Guru memiliki kepandaian hebat. Dan semua kalangan persilatan mengakuinya. Apakah mereka tidak memandang sebelah mata sedikit pun untuk menyatroni kita?” tanya seorang murid dengan nada heran.

“Apa yang paling menakutkan di dunia ini selain hawa nafsu? Hawa nafsu yang berlebihan, akan mengacaukan segalanya bila tidak terkendali. Akan membuat si penakut menjadi pemberani. Dan akan membuat si lemah menjadi kuat. Bahkan mereka yang baik menjadi jahat. Sehingga bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, maka meski sepuluh harimau menghadang, akan terlihat seperti sepuluh ekor kambing saja.” Baru saja Wiku Dharmapala selesai bicara mendadak....

“Hua ha ha...! Benar apa yang kau bicarakan, Dharmapala! Apa yang mesti ditakutkan dari seekor harimau ompong yang tulang-tulangnya telah rapuh?”

Terdengar sebuah gelak tawa yang disusuli dengan kata-kata bernada menghina dari arah luar. Begitu kuatnya tenaga dalam yang terkandung, membuat para murid dan dewan guru yang memiliki tenaga dalam rendah sampai ambruk lemas. Walaupun tak sampai pingsan.

Bahkan Wiku Dharmapala sendiri sampai merasa bergetar dadanya. Namun sebagai tokoh tingkat tinggi, dia cepat menguasai keadaan. Cepat disalurkannya hawa murni untuk memunahkan kekuatan yang merasuk dadanya.

“Resi Jagadni...!” desis sang Wiku Dharmapala, mengenali suara tawa itu.

Belum sempat para penghuni Kuil Kiambang Lima berbuat apa-apa, sudah berkelebat bayangan hitam ke dalam ruangan utama ini. Begitu mendarat, tampak wujud sosok itu. Ternyata yang muncul adalah seorang laki-laki berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Bajunya hitam. Lehernya dihiasi kalung kepala tengkorak yang dikenakan. Mukanya bersih dan kulitnya sedikit putih pucat. Rambutnya digelung rapi. Dan dia tidak membawa senjata apa-apa. Namun begitu, Wiku Dharmapala kelihatan khawatir.

Para murid dan para dewan guru yang sudah bisa menguasai keadaan, langsung bangkit berdiri dan membuat kepungan. Mereka hendak bertindak, melihat sosok yang begitu tak sopan di hadapan maha guru mereka. Namun, Wiku Dharmapala langsung mencegah dengan mengangkat tangannya sebagai isyarat.

“Telah lama kita tidak bertemu, Resi. Apa gerangan yang membuatmu berkunjung ke tempatku ini?” sapa Wiku Dharmapala, bernada bersahabat.

“He he he...! Tidak usah berbasa-basi, Dharmapala. Kedatanganku ke sini karena tertarik pada Kitab Naga Jonggrang...!” sahut laki-laki tua yang bernama Resi Jagadni tanpa tedeng aling-aling, setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Amitabha...! Hanya untuk benda tidak berharga itukah kau jauh-jauh melakukan perjalanan ke Kuil Kiambang Lima?” tanya Wiku Dharmapala bernada terkejut.

“Menurutmu benda itu tidak berharga?” Resi Jagadni malah balik bertanya.

“Nafsu keduniawian adalah musuh utama kesucian. Dan kami di sini berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat seperti itu,” sahut maha guru di Kuil Kiambang Lima ini.

“Aku tidak peduli segala khotbahmu. Kalau memang kitab itu tidak berharga, maukah kau memberikannya kepadaku?”

“Resi.... Kepandaianmu sangat tinggi. Dan semua orang mengetahuinya. Apakah kau hendak merendahkan martabatmu dengan menginginkan kitab yang tidak berharga?”

“Kenapa kau begitu peduli tentang diriku? Serahkan saja kitab itu padaku, kalau memang tidak berharga untuk kalian!” desak Resi Jagadni, mulai meninggi.

“Hm.... Agaknya kau hendak memaksakan kehendak. Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Tapi, sayang sekali. Kitab itu tidak ada di sini. Seseorang telah mencurinya kemarin sore...,” jelas Wiku Dharmapala.

“Kau kira aku percaya dengan segala omong kosong itu?!” dengus Resi Jagadni.

“Hm. Aku tidak menyuruhmu untuk percaya, Resi. Tapi begitulah kejadiannya.”

“Jangan menipuku, Dharmapala! Berikan kitab itu. Dan aku akan segera pergi secepatnya. Kalau tidak, kau akan tahu apa akibatnya!” dengus Resi Jagadni lagi. Setelah berkata begitu, laki-laki tua berbaju hitam ini bersuit nyaring.

“Suiiit...!”

Belum juga gema suara suitan itu hilang, berkelebat tiga sosok memasuki ruangan utama ini. Begitu cepat gerakan mereka, tahu-tahu sudah mendarat ringan di samping Resi Jagadni. Dua di antara mereka, tidak lain dari Iblis Kembar Selatan. Sedang yang seorang lagi adalah seorang wanita tua. Tubuhnya kecil dan agak bongkok. Orang persilatan mengenalnya sebagai si Nenek Bongkok Sakti.

“Hm.... Apa maksudmu dengan semua ini, Resi Jagadni?” tanya Wiku Dharmapala dengan suara demikian tenang disertai senyum.

“Aku terpaksa bertindak bila kau coba menyembunyikan kitab itu. Dan bila aku bertindak, maka mereka pun akan turun tangan!” sahut Resi Jagadni lantang, sambil melirik tiga orang yang baru datang.

Sementara itu para murid dan dewan guru belum ada yang bertindak sebelum mendapat perintah dari Wiku Dharmapala.

“Amitabhaaa...! Apakah kalian tetap memaksa kehendak? Bukankah aku telah menceritakan yang sesungguhnya?” seru Wiku Dharmapala agak gusar.

“Siapa yang peduli segala omong kosong itu?! Meski kau seorang maha guru, tapi suka berbohong! Aku tidak pernah percaya padamu!” desis Resi Jagadni.

“Amitabha...! Kehadiran kami di kuil ini untuk membersihkan diri. Dan satu di antaranya adalah menghindari perbuatan bohong. Kisanak semua.... Bila kalian menghendaki Kitab Naga Jonggrang, sesungguhnya tidak ada pada kami,” jelas Wiku Dharmapala masih bernada rendah.

“Dharmapala...!” hardik Resi Jagadni. “Sekali lagi kuminta baik-baik padamu! Jangan memaksaku untuk bertindak keras. Apakah kau mau memberikan kitab itu atau tidak?!”

“Resi Jagadni.... Meski kau berusaha dengan segala cara, tetap tidak bisa kupenuhi permintaanmu. Kitab Naga Jonggrang tidak ada di sini. Kitab itu telah dicuri orang kemarin sore. Itulah kejadian yang sebenarnya.”

“Kalau begitu, kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Maka, jangan salahkan kalau aku bertindak keras!” dengus Resi Jagadni. Begitu selesai kata-katanya, telapak tangan kiri Resi Jagadni menghentak ke samping.

“Hih!”

Wusss...!

Saat itu juga meluncur serangkum angin keras berkekuatan tenaga dalam tinggi. Dan....

Jderrr...!

Terdengar bunyi ledakan dahsyat ketika tembok ruangan utama di kuil ini hancur berantakan, begitu pukulan jarak jauh Resi Jagadni menghantamnya.

“Heaaa...!”

Mendadak para murid dan dewan guru yang tak bisa lagi menahan kemarahan segera menyerang pada tamu tak diundang itu.

“Amitabhaaa...! Kejam sekali perbuatanmu, Resi Jagadni! Apakah kau hendak merusak tempat ibadah ini untuk memuaskan hawa nafsumu?” desis Wiku Dharmapala.

“Bukan cuma kuil ini. Tapi, juga semua penghuninya!” dengus Resi Jagadni.

Bersamaan dengan itu. Resi Jagadni langsung menyerang Wiku Dharmapala. Maka pertarungan pun tak bisa dicegah lagi. Para murid dan dewan guru Kuil Kiambang Lima yang sudah bertekad membela maha gurunya langsung mengeroyok Iblis Kembar Selatan dan Nenek Bongkok Sakti.

TIGA

Di dalam kancah rimba persilatan. Iblis Kembar Selatan bukanlah tokoh sembarangan. Demikian pula si Nenek Bongkok Sakti. Mereka semua termasuk dalam jajaran tokoh-tokoh golongan hitam yang amat ditakuti. Bagi mereka, membunuh suatu hal yang biasa. Mereka tidak pernah memandang, apakah korban itu orang baik atau jahat. Begitu pula halnya ketika mulai menghajar para pendeta penghuni Kuil Kiambang Lima ini. Satu persatu para pendeta tewas di tangan mereka.

“Ha ha ha...! Kau lihat, Orang Tua Botak? Seperti kataku, seluruh penghuni isi kuil ini akan kubinasakan karena sikap keras kepala yang kau tunjukkan. Tapi, masih belum terlambat untuk mencegahnya, kalau kau bersedia memberi kitab itu padaku!” ujar Resi Jagadni sambil tertawa lebar.

“Percuma saja kau menginginkan kitab itu. Aku telah berkata yang sebenarnya. Dan ternyata kau mendengarnya bukan dengan hati nurani, tapi dengan nafsu angkara murka,” sahut Wiku Dharmapala.

“Sial! Kalau begitu, kau akan mampus di tanganku, Dharmapala!” dengus Resi Jagadni.

“Apakah yang kutakuti dari kematian? Semua orang kelak akan mengalaminya. Cepat atau lambat.”

“Jangan berkhotbah di depanku! Terima ini, yeaaa...!”

Resi Jagadni kembali menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Wesss...!

Saat itu juga meluncur serangkum angin berkecepatan dahsyat mengandung tenaga dalam tinggi. Namun dengan gerakan mengagumkan, Wiku Dharmapala melompat ke kanan. Sehingga, angin keras yang menderu tajam itu hanya lewat di sisinya.

“He he he...! Hebat kau, Dharmapala. Tapi, itu belum seberapa. Dan kau jangan girang dulu!”

“Resi Jagadni! Lebih baik kalian pergi meninggalkan tempat ini. Sebab bila hanya Kitab Naga Jonggrang yang kalian inginkan, akan percuma saja...,” ujar maha guru Kuil Kiambang Lima itu.

“Tutup mulutmu! Huh! Aku tidak pernah percaya ocehanmu. Kau harus serahkan kitab itu, atau mampus!” sentak Resi Jagadni!

“Heaaa...!”

Gerakan Resi Jagadni cepat dan berbau maut ketika tubuhnya meluruk melepaskan sambaran-sambaran tajam lewat tangan dan kakinya.

“Amitabhaaa...! Kau terlalu memaksa dan membuatku harus mempertahankan diri....”

Wiku Dharmapala menyadari bahwa tidak mungkin harus terus menghindar. Maka dengan sangat terpaksa dia mulai memapak setiap serangan dengan gerakan amat cepat pula.

Plak! Plak!

Namun dengan gerakan tak terduga, Resi Jagadni membuat lentingan ke atas dengan meminjam tenaga papakan tadi. Gerakannya gesit sekali. Dan begitu tubuhnya meluruk kembali ke bawah, tahu-tahu kedua telapak tangannya silih berganti melepaskan pukulan berganti-ganti ke punggung Wiku Dharmapala. Begitu cepat gerakannya sehingga....

Des! Des!

“Uhhh...!” Wiku Dharmapala kontan terjajar ke depan disertai keluhan tertahan begitu telak sekali hantaman Resi Jagadni mendarat di punggung dan tengkuknya. Orang tua itu seperti mendapat hantaman yang beratnya puluhan kati. Baru saja Wiku Dharmapala memperbaiki keseimbangannya, seraya berbalik....

“Heaaa...!”

Resi Jagadni meluruk disertai bentakan keras dengan kedua tangan sudah berwarna merah membara. Dari serangan ini jelas kalau Resi Jagadni tidak ingin berlama-lama lagi. Tangan yang meluncur deras dengan kekuatan tenaga dalam sangat tinggi, menandakan kalau dia menghendaki kematian Wiku Dharmapala.

Begitu cepatnya serangan laki-laki tua berpakaian serba hitam, membuat Wiku Dharmapala tak mungkin untuk menghindar. Tak ada kesempatan lagi baginya, kecuali memapak serangan dengan menyiapkan pukulan bertenaga dalam tinggi dalam waktu singkat. Dan...

“Hiaaa...!”

Jderrr...!

“Aaakh...!”

Terdengar ledakan dahsyat, ketika dua pukulan yang sama-sama berisi kekuatan penuh beradu di tengah-tengah. Namun nasib naas menimpa Wiku Dharmapala. Tubuhnya langsung terlempar ke belakang sambil menjerit kesakitan. Dari mulutnya menyembur darah segar.

“Yeaaa...!”

Baru saja maha guru dari Kuil Kiambang Lima itu mencium tanah. Resi Jagadni sudah kembali melesat, memburu ke arahnya. Keadaan Wiku Dharmapala sangat memprihatinkan. Dan dia hanya bisa melotot melihat Resi Jagadni meluncur cepat. Lalu....

Krek!

“Aaa...!” Wiku Dharmapala kontan menjerit tertahan begitu telapak kaki Resi Jagadni tepat mendarat di lehernya. Tanpa ada rasa kasihan sedikit pun, Resi Jagadni langsung mengerahkan tenaga dalam pada kakinya, membuat tulang leher maha guru Kuil Kiambang Lima itu berpatahan.

Setelah menggelepar sesaat, tubuh Wiku Dharmapala meregang kaku, diam tak berkutik lagi. Lidahnya agak menjulur keluar dengan mata melotot. Dari hidung, telinga, dan mulut mengalir darah segar.

Begitu puas memandangi mayat lawannya Resi Jagadni menoleh. Tampak semua pendeta telah bergeletakan tak berdaya. Iblis Kembar Selatan dan si Nenek Bongkok Sakti rupanya baru saja menyelesaikan korban yang terakhir.

“Yang lainnya kabur...,” ujar Rupaksa.

“Tidak apa. Periksa semua isi kuil. Cari Kitab Naga Jonggrang! Kumpulkan semua benda berharga, lalu bakar semua yang tersisa!”

“Beres, Resi...!”

“Benar, Jengkara! Resi Jagadni tidak main-main dengan ucapannya! Dia akan terus mencari pemuda bekas murid Kuil Kiambang Lima yang bernama Sancaka. Diduga, dialah yang membawa Kitab Naga Jonggrang.”

Seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun tampak berapi-api bercerita di depan tiga orang temannya di dalam kedai. Sedangkan di sudut ruangan kedai, tampak seorang pemuda terkesiap. Nyaris makanan yang bernada di mulutnya muncrat keluar ketika mendengar ocehan barusan. Tanpa sadar, ditekannya caping lebar yang dikenakan untuk menyembunyikan wajah dan sekaligus kepalanya yang botak.

“Jangan ribut! Tenang-tenang saja, Cakil! Cepatlah kau dulu pergi dari tempat ini!” bisik pemuda itu pada monyet yang berada di dekatnya. Seketika, monyet itu melompat dan terus berlari keluar kedai.

Sementara itu, empat orang laki-laki tadi terus bercerita penuh semangat.

“Kalau pemuda itu ketemu, pasti akan mati! Resi Jagadni tidak akan pikir panjang lagi!” lanjut laki-laki tadi. Tubuhnya kurus, sehingga tulang-tulang pipinya tampak menonjol keluar.

“Tapi apa mereka yakin, kalau Kitab Naga Jonggrang ada di tangan pemuda itu, Kurawa?” tanya laki-laki yang dipanggil Jengkara.

“Entah. Tapi setelah mengacak-acak seluruh isi kuil, mereka tidak menemukannya. Lalu, Resi Jagadni merasa yakin kalau pemuda itu telah menyembunyikannya,” sahut laki-laki yang dipanggil Kurawa.

“Lalu ke mana pemuda itu sekarang?” tanya seorang laki-laki bertubuh pendek.

“Tidak seorang pun yang tahu, Gandung!” sahut Kurawa, pada temannya yang bernama Gandung.

“Tapi kudengar bukan hanya Resi Jagadni yang mencari pemuda itu?” timpal laki-laki yang berkumis lebat.

“Benar, Pamitra. Saat ini hampir semua tokoh persilatan berniat memiliki kitab pusaka itu,” sahut Kurawa.

“Kasihan sekali pemuda itu...,” desah Pamitra, lirih.

Belum tuntas pembicaraan mereka, mendadak muncul seorang laki-laki berambut panjang terurai di ambang pintu kedai. Sebelah matanya picak. Tangan kanannya dalam sikap siap mencabut golok panjang yang terselip di pinggang. Pada saat yang sama, pemuda bertudung lebar telah berjalan hendak ke luar kedai, dengan kepala menunduk. Sehingga....

“Oh, maaf...!” ucap pemuda itu buru-buru, ketika hampir menabrak lelaki bertampang seram di depannya. Segera pemuda itu bergeser ke kiri. Namun....

Bret!

“Ohhh...!” Pemuda bercaping itu terkejut ketika punggung bajunya tiba-tiba saja dicengkeram laki-laki seram di depannya. Bahkan dengan kuat laki-laki itu menyentakkannya ke luar kedai.

Sambil melindungi tudungnya agar jangan terjatuh, pemuda itu melenting dan berjumpalitan dua kali. Kemudian kakinya hinggap beberapa tombak di luar kedai.

“He he he...! Punya kepandaian juga rupanya. Aku ingin lihat wajah di balik tudungmu itu!” desis laki-laki picak itu, setelah berbalik.

Begitu kata-katanya selesai, sebelah tangan laki-laki picak ini mendadak menyerang pemuda bercaping sambil melepaskan cengkeraman bertubi-tubi.

Namun dengan gesit sekali, pemuda itu menggeser kakinya ke samping kanan. Dengan begitu dia lolos dari sergapan. Bahkan seketika, tubuhnya berbalik hendak melesat pergi. Namun....

“Hup!” Baru saja pemuda bercaping mengempos tenaganya, mendadak laki-laki picak itu telah melenting ringan dan mendarat di depannya.

“He he he...! Kau semakin membuatku penasaran. Ingin kulihat, siapa kau sebenarnya!”

Kembali laki-laki picak itu menerjang, namun kali ini melepaskan tendangan ke arah dagu pemuda bercaping di depannya. Namun hanya dengan mengegos ke samping kiri, pemuda bercaping ini berhasil menghindarinya.

Mendapati serangannya gagal, cepat bagai kilat laki-laki bermata picak itu memutar balik sebelah kakinya yang sudah berada di udara. Inilah serangan yang tak terduga. Pemuda bercaping itu hanya terkesiap, melihat kecepatan serangan laki-laki bermata picak yang cepat bukan main. Sehingga....

Duk!

Prak!

“Aaakh...!” Pemuda itu terjungkal ke belakang disertai jerit kesakitan. Tudung di kepalanya hancur berantakan terkena sabetan kaki yang cepat tak terkira. Dari mulutnya muncrat darah segar. Dan dengan susah payah dia berusaha bangkit.

“Hm.... Kepalamu gundul. Kau pasti pendeta muda yang tengah dicari-cari!” dengus laki-laki picak itu.

“Siapa yang kau maksudkan? Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kenapa kau bertindak kasar padaku?” tanya pemuda yang ternyata Sancaka.

“Kau tidak perlu bertanya begitu padaku, Bocah! Jengger Ireng selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!” dengus laki-laki picak yang mengaku berjuluk Jengger Ireng.

“Hei?! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan...?!” sergah Sancaka.

“Tidak usah berpura-pura! Kau saat ini sedang diburu lebih dari dua puluh tokoh persilatan. Di mana kau sembunyikan kitab pusaka itu?! Lekas berikan padaku! Atau, kupecahkan batok kepalamu!” hardik Jengger Ireng.

“Kitab pusaka? Kitab yang mana? Mungkin kau salah alamat, Kisanak. Aku sama sekali bukan pendeta. Kalaupun kepalaku gundul, itu karena penyakit panas yang telah merontokkan rambut di kepalaku...,” kilah Sancaka.

“Wueeeh, sial! Kau mencoba menipuku, he?!” dengus Jengger Ireng disertai seringai lebar.

“Untuk apa aku membohongimu? Kau bisa tanyakan pada kedua orang tuaku. Rumahku tidak jauh. Ayo, kuantarkan kau ke sana!” ajak Sancaka.

Jengger Ireng terdiam. Dipandanginya pemuda itu dengan seksama. Pandangannya tampak curiga. Tapi, juga menyiratkan kebingungan.

“Jangan coba-coba membohongiku, Bocah! Kau akan menyesal sendiri nantinya!”

“Untuk apa aku membohongimu? Kedua orangtuaku orang terpandang di desaku.”

“Hm.... Tampaknya kepandaianmu tidak rendah. Siapa yang mengajarkanmu?” tanya Jengger Ireng, memancing.

“Tentu saja ayahku!” sahut Sancaka cepat.

“Siapa nama ayahmu? Dan julukannya?”

“Eh?! Ayahku tidak dikenal kalangan persilatan...!”

“Hm, jangan berdusta! Aku seperti mengenali jurus-jurus yang kau mainkan.”

“Tentu saja! Sebab bocah ini dari Kuil Kiambang Lima!”

Mendadak saja terdengar suara menyahuti, membuat Jengger ireng dan Sancaka menoleh ke arah suara.

“Heh?!”

“Ohhh...!”

Jengger Ireng terkesiap. Sedangkan Sancaka terkejut, ketika melihat siapa yang tiba-tiba saja muncul di tempat ini.

“He he he...! Selamat bertemu kembali, Bocah!” seru salah seorang dari dua laki-laki yang muncul.

“Iblis Kembar Selatan...!” desis Sancaka.

“Bagus! Rupanya kau masih ingat kami, ya?” ujar laki-laki berbaju hijau yang bernama Rupaksa sambil tersenyum kecil.

“Kali ini kau tidak akan lolos lagi, Bocah!” dengus Rupaksi.

“Iblis Kembar Selatan! Hm..., jadi benar bocah ini murid dari Kuil Kiambang Lima?” tanya Jengger Ireng.

“Tentu saja! Bocah ini licik. Dia pernah mengecoh kami!” jawab Rupaksa.

“Kurang ajar! Kau berani membohongi Jengger Ireng, Keparat! Akan kubeset dadamu!” dengus Jengger Ireng, menyeringai lebar.

Laki-laki bermata picak itu baru saja hendak melompat untuk membuktikan kata-katanya, tapi dengan sigap Rupaksi menyilangkan sebelah tangan untuk menghadang.

“Jangan campuri urusan ini. Dia jadi urusan kami!” dengus Rupaksi.

“Bocah ini telah berdusta padaku. Dan dia harus mendapat ganjaran!” bantah Jengger Ireng.

Rupaksi kelihatan tidak senang mendengar ucapan Jengger Ireng. Dipandanginya orang itu sambil menyipitkan mata.

“Kau mau cari urusan dengan kami?!” desis Rupaksi dingin.

Jengger Ireng terdiam. Agaknya, dia tidak bisa memandang remeh terhadap dua orang ini. Mungkin disadari kalau kemampuannya tidak setimpal dibanding Iblis Kembar Selatan.

“Bagus kalau kau tahu gelagat...,” ujar Rupaksi pendek, seperti bisa membaca jalan pikiran Jengger Ireng.

“Kini giliranmu, Bocah! Serahkan kitab pusaka itu. Atau, kau akan mampus sekarang juga?!” dengus Rupaksa, begitu menatap Sancaka.

“Kenapa kalian mengira bahwa kitab pusaka itu ada padaku?” kilah Sancaka.

“Jangan coba-coba mengelabui kami!” bentak Rupaksi.

“Hei?! Mana berani aku mengelabui orang gagah seperti kalian! Aku bicara apa adanya,” sahut Sancaka lagi.

“Kurang ajar! Berikan kitab itu. Atau, kau akan mampus sekarang juga!” dengus Rupaksi yang sudah tidak sabar lagi.

Dibanding saudaranya, Rupaksi memang lebih pemarah. Maka dengan sekali menggenjot, tahu-tahu tubuhnya telah berada di depan Sancaka. Langsung dicengkeramnya leher baju pemuda itu.

Sancaka bukan tidak bisa menghindar. Tapi kalau sekali hal itu dilakukannya, maka Rupaksi pasti akan semakin geram.

“Eee..., eh! Baiklah. Akan kuberikan kitab itu. Tapi, lepaskan dulu cengkeramanmu...!” ujar Sancaka, tergagap.

“Jangan macam-macam kau!” desis Rupaksi seraya mendekatkan mukanya ke wajah Sancaka dengan seringai lebar. “Katakan sekarang, atau kupecahkan kepalamu!”

“Kitab itu telah kuberikan padanya...!” tunjuk Sancaka pada Jengger Ireng.

“Heh?!”

Jengger Ireng yang belum beranjak dari tempatnya, terkejut mendengar ucapan Sancaka.

“Keparat! Bocah busuk! Jangan mengada-ada kau!” gertak Jengger Ireng.

“Lihat! Dia marah, bukan? Itu karena takut ketahuan oleh kalian. Sebenarnya, sejak tadi aku sudah mau mengatakannya. Tapi, diancam oleh si Jengger Ireng...!” lanjut Sancaka semakin ditambah-tambah.

“He, yang benar bicaramu?” dengus Rupaksa ikut-ikutan geram.

“Untuk apa berdusta? Dia menyembunyikannya di dalam kedai itu!” tunjuk Sancaka, ke arah kedai yang tadi dimasukinya.

Iblis Kembar Selatan sedikit bingung. Sedangkan Jengger Ireng memandang pemuda itu penuh dendam. Kalau tidak ingat peringatan Iblis Kembar Selatan tadi, mungkin batok kepala Sancaka akan dipecahkannya. Atau barangkali akan dirobeknya mulut pemuda itu lebih dulu.

Sementara itu, penduduk Desa Klari ini yang sejak tadi berkerumun ketika menyaksikan pertarungan antara si Jengger Ireng melawan Sancaka, semakin ramai saja berdatangan. Mereka kenal si Jengger Ireng yang berangasan. Namun, tidak kenal dengan kedua orang tokoh kembar itu. Kalau Jengger Ireng yang berangasan saja takut, pasti kedua tokoh yang belakangan muncul itu mempunyai tingkatan kepandaian lebih tinggi.

“Jengger Ireng! Benarkah kata-kata bocah ini?” tanya Rupaksi.

“Celakalah dia! Bocah ini sungguh licik dan pandai memutar balikkan keadaan. Dia hendak mengadu domba kita berdua. Aku tidak pandai bersiasat. Tapi kalau kitab itu sudah kudapatkan, mana mungkin mau berlama-lama di sini?” sahut Jengger Ireng, lantang.

Rupaksi memandang laki-laki bermata picak itu beberapa saat. Dia tidak begitu kenal Jengger Ireng. Tapi, dia tahu bagaimana watak orang-orang sepertinya. Orang ini memang kasar dan berangasan. Apa yang diucapkannya biasanya juga tersirat di hati.

“Kalau begitu, kau pasti mendendam pada bocah ini?” tanya Rupaksi.

“Huh! Akan kurobek mulutnya terlebih dulu!” dengus Jengger Ireng.

“Kenapa tidak sekarang saja kau lakukan?”

“Hei?!”

Jengger Ireng terkesiap. Dia seperti mendapat peluang. Benarkah kedua tokoh ini menyerahkan urusan membereskan bocah ini padanya? Rasanya sulit dipercaya.

“Apa lagi yang kau tunggu?” desah Rupaksi.

Seketika wajah Jengger Ireng berseri-seri. Dipandanginya Sancaka disertai seringai lebar.

“Hari ini kau tidak akan selamat, Bocah. Pertama-tama, akan kurobek mulutmu yang kurang ajar itu. Lalu kubeset-beset tubuhmu!” dengus laki-laki bermata picak itu geram.

Sancaka terkejut, lalu memandang Iblis Kembar Selatan.

“Kenapa kalian ini? Inikah balasan yang kalian berikan, setelah aku memberitahu di mana kitab pusaka itu berada?” tanya Sancaka.

“Aku akan menanyaimu lagi nanti di akherat!” sahut Rupaksi dingin.

EMPAT

Sancaka merutuk habis-habisan di dalam hati. Percuma saja coba berdalih, sebab kedua Iblis Kembar Selatan itu kelihatan tidak mau percaya lagi dengan ocehannya. Dan kini, Jengger Ireng yang menahan geram akibat ucapannya tadi, pasti akan menghajar habis-habisan.

“Kalau aku mati, kalian pasti yang paling menyesal. Sebab tak seorang pun yang tahu, di mana kitab pusaka itu berada. Tapi kalau kalian bisa diajak kerjasama, tentu akan senang hati kuberikan kitab itu...!” ujar Sancaka, coba menggugah hati kedua tokoh yang bersaudara kembar itu.

“Kau hanya berusaha menipu kami. Bocah...!” sahut Rupaksa.

“Aku bicara yang sesungguhnya!”

“Tahan dulu. Jengger Ireng!” tukas Rupaksi.

“He, kenapa? Apakah kalian berubah pikiran?” tanya Jengger Ireng.

“Aku akan memberi kesempatan sekali lagi padanya,” sahut Rupaksi.

Jengger Ireng tampak kecewa mendengar keputusan itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu kesempatan kedua untuk membereskan pemuda ini.

“Katakan, apa yang bisa kau beri pada kami? Tapi kalau kau hendak mengulur-ulur waktu, lebih baik kau mampus saja!” dengus Rupaksa.

“Aku akan menyerahkan kitab pusaka itu dengan satu syarat...,” kata Sancaka, enteng.

“Apa syaratmu?” tanya Rupaksa, tak sabar.

“Kalian harus menyerahkan batok kepala Jengger ireng padaku,” sahut Sancaka semakin berani.

“Heh, Keparat!” desis Jengger ireng semakin geram.

Permintaan bocah itu bukan hal sulit. Tapi bukan itu yang membuat kedua Iblis Kembar Selatan ini tersenyum sinis mendengarnya.

“Kau tidak berhak mengajukan syarat...,” ujar Rupaksa.

“Karena, nyawamu masih untung tidak kami cabut!” timpal Rupaksi. “Jangan coba macam-macam. Berikan kitab pusaka itu. Dan, akan kuampuni nyawamu sebagai imbalannya!”

“Aku hanya mengajukan syarat mudah. Dan orang seperti kalian tidak mampu melakukannya? Huh, sungguh memalukan! Apa kata orang nanti, kalau Iblis Kembar Selatan ternyata tidak berdaya menghadapi Jengger ireng!” cibir Sancaka, merendahkan.

“Kurang ajar kau, Bocah! Tutup mulutmu yang lancang itu!” hardik Jengger Ireng dengan amarah menggelegak dalam dada.

“Huh! Kau hanya berani denganku yang tidak berdaya! Kalau memang merasa hebat, coba lawan si Iblis Kembar Selatan!” balas Sancaka.

“Hhhmmmhhh...!”

Jengger Ireng mendengus geram, lalu menoleh ke arah si Iblis Kembar Selatan.

“Iblis Kembar! Biar kubereskan bocah ini secepatnya!”

Iblis Kembar Selatan tidak langsung menjawab. Rupaksa melirik dulu pada saudaranya. Tampak Rupaksi mengangguk pelan.

“Silakan saja...!”

Wajah Jengger Ireng kembali berseri mendengar jawaban itu.

“Tapi dengan satu syarat. Jangan sampai kau buat dia mati!” lanjut Rupaksa. “Baginya, mati terlalu enak. Aku akan menyiksanya. Dan mungkin, dia akan mati perlahan-lahan penuh penderitaan.”

“Kalian tidak bisa berbuat begitu padaku! Atau, kitab pusaka itu tidak akan kuberikan?!” teriak Sancaka mengancam.

“Aku bisa berbuat apa saja kepadamu. Bocah. Dan untuk saat ini, yang perlu bagiku hanya ingin melihat penderitaanmu agar kau tidak bisa menipu lagi!” dengus Rupaksi.

“Kalian salah! Aku tidak pernah menipu siapa pun....”

Percuma saja Sancaka berdalih, sebab saat itu juga Jengger Ireng telah melompat menyerang.

“Simpan saja ocehanmu, Bocah!”

“Ups!” Terpaksa Sancaka melompat ke belakang, lalu terus bergeser ke samping untuk menghindari serangan. Tapi, Jengger Ireng yang begitu mendendam, sangat bernafsu menghajarnya. Maka tidak heran langsung dikerahkannya segenap kemampuan yang dimiliki.

Wut!

Sancaka melompat ke atas, tatkala Jengger Ireng menyodok dadanya. Namun ketika pemuda ini melompat turun, laki-laki bermata picak itu berputar. Sebelah kakinya cepat menghajar pinggang Sancaka.

Begkh!

“Aaakh...!” Sancaka menjerit kesakitan begitu tendangan Jengger Ireng tepat mendarat di pinggangnya. Tubuhnya kontan terjerembab ke depan.

“Heaaa...!”

Belum sempat Sancaka bangkit berdiri. Jengger Ireng telah melompat menyerang kembali.

“Hup!”

Sancaka terpaksa bergulingan untuk menghindarinya. Kemudian secepat itu pula bangkit berdiri.

“Modar kau!”

Disertai bentakan keras, Jengger Ireng telah mengayunkan tendangan. Secepat kilat, Sancaka mengayunkan tangannya untuk menangkis.

Plak!

Akibat tangkisan itu, tubuh Sancaka sempat terhuyung. Pada saat itu pula Jengger Ireng berputar. Kakinya yang sebelah lagi cepat menghantam dadanya.

Des!

“Aaakh...!”

Kembali Sancaka memekik kesakitan begitu tendangan itu mendarat telak. Tubuhnya terjerembab tak berdaya.

Sementara itu, Jengger Ireng telah bersiap kembali, hendak menghabisinya.

“Yeaaa...!”

Disertai teriakan keras. Jengger Ireng mencabut goloknya. Dia bermaksud mematahkan kedua kaki pemuda itu. Sedangkan saat ini Sancaka tidak kuasa menghindar. Begitu serangan beberapa rambut lagi sampai di kakinya, mendadak berkelebat satu sosok bayangan putih yang langsung menyambar tubuh Sancaka.

“Heh?!” Jengger Ireng terkejut. Juga Iblis Kembar Selatan.

“Kurang ajar...!”

Saat itu juga Iblis Kembar Selatan mengejar sesosok bayangan putih yang telah menyelamatkan Sancaka. Sedangkan Jengger Ireng mengikuti dari belakang.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Sancaka kini merasakan kalau degup jantungnya biasa kembali, setelah sebelumnya berdegup kencang saat melihat ancaman Jengger Ireng. Dia bersyukur bisa selamat. Namun hatinya merasa bingung. Siapa tokoh yang telah menyelamatkannya? Tubuh Sancaka yang diletakkan di pundak, membuatnya tak bisa mengamati wajah penolongnya.

Di pinggiran Sungai Camal yang berair jernih, sosok bayangan putih itu berhenti. Diturunkannya Sancaka dari pundaknya. Dan saat itu, Sancaka merasakan sakit kembali di tubuhnya.

“Aduuuh...!” desah pemuda itu.

“Duduk bersila. Dan kosongkan pikiranmu. Pejamkan mata!” ujar sosok bayangan putih yang ternyata seorang pemuda berbaju rompi putih. Pedangnya yang bergagang kepala burung tampak bertengger di punggungnya.

Sancaka segera menuruti kata-kata pemuda berbaju rompi putih ini. Disadari, pemuda di depannya tidak bermaksud mencelakai. Buktinya, buat apa susah-susah menolongnya pada saat nyawanya berada di ujung tanduk sewaktu Jengger Ireng menghajarnya. Hanya saja masih belum bisa ditebak, apa maksud pemuda berbaju rompi putih itu menolongnya. Apakah juga mengincar Kitab Naga Jonggrang?

Belum sempat Sancaka berpikir lebih jauh, tiba-tiba tubuhnya terasa hangat, lalu panas. Dan dia merasakan sebentuk tenaga halus bergerak kencang dari arah punggung menuju pusarnya. Berputar-putar sebentar pada bagian bawah perut, lalu menyebar ke segala arah.

Tubuh Sancaka terasa segar, peredaran darahnya pun seperti mengalir kencang. Tenaga halus yang diyakini adalah sebentuk hawa mumi kembali meluncur deras ke bawah perut dan kembali berputar-putar. Pada saat itulah perutnya terasa dikocok-kocok. Lalu, sesuatu yang kuat bergerak ke atas seperti sebuah gunung yang memuntahkan lahar.

“Hoekh...!”

Sancaka memuntahkan darah segar berkali-kali. Dan saat ini tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Tapi, peredaran darahnya mengalir lancar. Sedangkan rasa sakit di dada dan perutnya, berangsur-angsur hilang. Tanpa disuruh pun matanya membuka.

“Terima kasih atas pertolonganmu, Kisanak!” ucap Sancaka.

“Lupakanlah.... Sekarang beristirahatlah saja, untuk mengembalikan kesegaranmu,” ujar pemuda itu.

“Hm.... Kalau boleh tahu, siapakah Kisanak?” tanya Sancaka.

“Aku Rangga,” sahut pemuda berbaju rompi putih itu, pendek.

“Eng.... Aku Sancaka. Oh, ya. Bolehkah aku memanggilmu Kakang Rangga?” tanya Sancaka.

Pemuda berbaju rompi putih yang ternyata Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu menatap Sancaka. Lalu bibirnya tersenyum manis, sambil mengangguk.

“Hm.... Ada urusan apa kau sampai bentrok dengan mereka, Sancaka?” tanya Rangga.

“Mereka memang orang-orang jahat, Kakang Rangga! Mereka mencegat, dan ingin merampas barang-barang yang kumiliki. Tidak puas dengan itu, mereka malah menginginkan nyawaku pula!” sahut Sancaka bersungut-sungut.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum. “Apakah kau yakin mereka kawanan perampok?” pancing Rangga.

“Kenapa tidak, Kakang Rangga? Mereka telah merampas semua harta yang kubawa!” sahut Sancaka, keras.

“Kau adalah seorang pendeta, Sancaka. Dan bila kau berjalan tanpa tudung, semua akan tahu. Apakah seorang pendeta membawa benda berharga?” tanya Rangga, menyudutkan.

“Kau salah sangka, Kakang! Kepalaku memang gundul. Tapi, aku bukan pendeta. Sewaktu kecil, aku mengidap penyakit panas. Sehingga rambutku rontok. Entah kenapa sampai sekarang tidak mau tumbuh-tumbuh lagi...!” tukas Sancaka, berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.

“Kau tidak keberatan kalau aku memeriksanya, Sancaka? Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Siapa tahu, penyakitmu bisa kusembuhkan. Dan, rambutmu bisa tumbuh lagi,” kata Rangga menawarkan diri.

“Ah! Tidak usah merepotkan, Kakang! Kau telah terlalu banyak membantuku...!”

“Kau tidak ingin rambutmu tumbuh kembali, Sancaka?”

“Aku telah merasa bersyukur dengan keadaan begini.”

“Hm, ya. Terserahmu saja....”

“Boleh aku pergi sekarang, Kakang? Orang-tuaku pasti sedang kebingungan mencari-cariku!” pinta Sancaka.

“Silakan...,” sahut Rangga sambil tersenyum.

Sancaka tersenyum lalu bangkit berdiri. Setelah menoleh sebentar kepada Pendekar Rajawali Sakti, kakinya melangkah lebar pergi dari tempat ini. Tapi....

“Apakah kau akan pergi sendiri tanpa mengajak monyetmu ikut serta?” tanya Rangga, membuat langkah Sancaka berhenti.

“Eh, iya!” Sancaka seperti tersentak, lalu bersuit nyaring dengan irama panjang. Dia menunggu beberapa saat, dan kembali bersuit. Namun monyetnya tidak juga muncul.

“Mungkin dia tidak mendengarnya, Sancaka...!” gumam Rangga.

“Tidak, kakang. Cakil sangat peka dengan siulanku. Walaupun sayup-sayup, dia pasti mendengar!” sergah Sancaka.

“Hm... Jadi, nama monyetmu Cakil?” tanya Rangga.

“Eh, iya...! Eh, bukan. Maksudku, aku selalu memanggilnya apa saja. Tapi, dia hanya mengerti dengan suaraku. Dan, tidak mau diperintah orang lain!” kilah Sancaka, agak tergagap.

“Hm, hebat sekali! Dia pasti amat berharga bagimu, Sancaka”

“Benar, Kakang. Dia sahabatku sejak kecil. Lebih berharga ketimbang harta benda seperti emas dan berlian.”

“Kalau begitu, anggap saja dia sebagai bayaran untukku,” sahut Rangga pendek.

“Eh?! Apa maksudmu, Kakang...?!” sentak Sancaka, terkejut.

“Aku telah menolongmu, Sancaka. Maka kau harus membayarnya. Karena, harta bendamu telah dirampas ketiga orang tadi, maka monyetmu kuambil sebagai gantinya,” kata Rangga, seraya berbalik dan meninggalkan tempat ini.

“Eh, tunggu! Tunggu...!” Sancaka terperanjat. Buru-buru disejajarinya Pendekar Rajawali Sakti dan berdiri menghadap di depannya.

“Ada apa, Sancaka?” tanya Rangga pendek, setelah menghentikan langkahnya.

“Kau tidak boleh mengambil monyet itu dariku, kakang. Akan kuberikan apa saja yang kau minta. Uang, emas, berlian...? Atau, apa saja yang kau inginkan. Asal, kembalikan monyet itu padaku!” pinta Sancaka, penuh harap.

“Dari mana kau bisa memberiku benda-benda berharga sebagai gantinya?” pancing Rangga lagi.

“Orangtuaku kaya-raya! Aku anak tunggal. Dan mereka amat sayang padaku. Apa saja yang kuminta, pasti akan dikabulkan!” jelas Sancaka berapi-api.

Rangga tertawa mendengar penuturan Sancaka. “Seberapa kaya orangtuamu? Bila aku menginginkan emas segunung, apakah bisa dikabulkan? Bila aku menginginkan kedudukan sebagai raja, apakah mampu diluluskannya?”

Sancaka terdiam. Suaranya terdengar mulai merendah. “Kau memang telah menyelamatkanku, Kakang. Tapi kukira imbalannya tidak mesti sebesar itu...,” desah pemuda gundul itu.

“Mereka hendak membunuhmu. Dan aku menyelamatkanmu. Itu berarti aku menyelamatkan nyawamu. Kuhargai nyawamu dengan imbalan tinggi. Dan itu berarti aku amat menghargaimu,” kilah Rangga.

Setelah berkata begitu. Rangga berkelebat cepat pergi dari tempat ini. Sancaka terkesiap dan coba menyusulnya.

“Kisanak, tunggu...!” teriak pemuda gundul ini.

Tapi percuma saja. Pendekar Rajawali Sakti telah menghilang secepat kilat.

“Sial!” dengus Sancaka geram. Pemuda gundul itu menghentak-hentakkan kaki. Wajahnya tampak kusut. Dan sambil melangkah, dia memukul apa saja yang ditemui di jalan.

“Siapa dia? Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Huh! Betapa bodohnya aku!” umpat Sancaka berkali-kali. Baru saja umpatannya habis, mendadak....

“Hi hi hi...!”

“Hei?!” Sancaka terkesiap ketika tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan yang berkumandang ke seluruh tempat ini. Pemuda itu memandang ke segala arah, namun tidak seorang pun terlihat.

“Hup!” Tanpa pikir panjang, Sancaka melompat dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat ini.

“Hi hi hi...! Kau coba-coba kabur dariku, Bocah? Ayo, lakukanlah kalau kau mampu!” Kembali terdengar suara, membuat Sancaka makin dibaluri rasa takut.

“Ohhh...!” Sancaka terkesiap. Suara tawa itu tetap tidak jauh darinya. Kepalanya tidak berani menoleh dan terus berlari sekencang-kencangnya.

“Ayo lari! Lari sekencang-kencangnya...! Hi hi hi...!”

“Sial!” Sancaka mengumpat geram ketika suara tawa itu belum juga jauh. Dia telah berusaha sekuat tenaga. Namun suara tawa itu masih mampu mengikuti tanpa diketahuinya. Itu menandakan kalau pemilik suara berkepandaian tinggi. Dan..., kecurigaannya cuma satu. Yaitu, tentang kitab pusaka yang diperebutkan banyak orang! Orang ini pasti mengincarnya juga!

“Hi hi hi...!”

“Hei?!” Sancaka terkesiap dan langsung menghentikan larinya ketika tiga tombak di depannya tahu-tahu telah berdiri seorang wanita tua berbaju putih. Rambutnya panjang digelung ke atas. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang berlekuk-lekuk seperti seekor ular yang tengah membelit batang kayu. Pemuda itu menarik napas panjang berusaha bersikap wajar.

“Hi hi hi...! Kau tidak berusaha kabur lagi, Bocah?” ejek perempuan tua itu.

“Kau salah duga, Nenek. Aku sama sekali tidak bermaksud kabur. Kebetulan saja, aku ingin melemaskan otot-otot kakiku,” kilah Sancaka.

“Hi hi hi...! Lucu juga. Tapi, siapa yang peduli dengan segala alasanmu? Kau tentu tahu, apa keperluanku denganmu!” kata perempuan tua ini.

“Apakah kau ingin mengangkatku sebagai cucumu?” Sancaka malah berkelakar.

“Brengsek!” dengus nenek itu mulai geram.

Sancaka tersenyum. “Nek, aku sama sekali tidak keberatan menjadi cucumu. Aku akan berusaha menjadi cucu yang baik dan penurut....”

“Bedebah! Siapa sudi mengangkatmu jadi cucu? Aku ingin kau menyerahkan Kitab Naga Jonggrang!” desis nenek ini.

“Ah, lagi-lagi kitab itu...!” keluh Sancaka, mendesah. “Tidakkah mereka mengerti kitab itu tidak ada padaku? Aku hanya korban fitnah belaka....”

“Tidak usah banyak mulut! Berikan kitab pusaka itu padaku!” bentak nenek itu lagi.

“Nenek! Apa yang harus kukatakan? Aku tidak tahu-menahu soal kitab itu...!”

“Brengsek! Berikan padaku, atau kupecahkan kepalamu?!”

“Meski kau robek isi hatiku, tetap saja kitab pusaka itu tidak akan ketemu. Sebab, aku tidak tahu-menahu sedikit pun!”

“Kalau begitu biar kurobek saja hatimu untuk makanan anjing-anjing kampung budukan!” Nenek itu telah bersiap melompat menyerangnya. Tapi tiba-tiba....

“Nek! Ke mana kau! Neneeek...!” Terdengar sebuah suara memanggil-manggil.

“Hm!” Nenek itu melirik ke satu arah. Sedangkan Sancaka bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri. Tapi baru beberapa langkah, dia dibuat terkejut. Ternyata nenek itu telah berada di depannya. Entah, kapan berkelebatnya.

“Mau coba-coba kabur, he?!”

“Eh, tidak. Aku..., aku hanya ingin kencing, Nek!”

“Huh...!” Nenek ini mendengus kecil. Dan tahu-tahu, dia telah mencengkeram baju Sancaka.

“Eee...!” Sancaka tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa diikutinya kemauan perempuan tua itu.

LIMA

“Nek, ah...! Rupanya Nenek di sini. Apa yang kau kerjakan di sini, Nek?”

Baru saja Sancaka terseret beberapa langkah, terdengar sebuah suara. Sancaka dan perempuan tua yang menyeretnya kontan terkejut, melihat seorang gadis yang telah berada di tempat itu. Bajunya hijau terbuat dari sutera. Di punggungnya, tersampir sebilah pedang.

“Bukan urusanmu!” dengus nenek itu.

Gadis itu memandang Sancaka. Begitu berpaling kearah si nenek, bibirnya tersenyum dengan bola mata mengerling genit. “Aku tahu! Nenek sedang jatuh hati dengan pemuda ini,” ledek gadis berbaju hijau itu.

“Intan Sari! Tutup mulutmu! Kau kira aku gila?!” bentak perempuan tua itu, seraya melepaskan cengkeraman pada. Sancaka.

“Hi hi hi...! Kok, sewot? Julukan nenek saja si Gila Muka Bidadari. Jadi tak heran kalau sering bertingkah gila,” leceh gadis yang dipanggil Intan Sari, makin keterlaluan.

“Dasar anak kuntilanak! Kalau aku mau main gila, bukan dengan bocah pendeta ini. Tapi dengan yang pantas. Kurasa dia lebih pantas untukmu!” semprot nenek yang ternyata berjuluk si Gila Muka Bidadari.

“Dengannya?!” cibir Intan Sari. “Yang benar saja, Nek. Aku bahkan mampu mencari pemuda sepertinya, lebih dari seratus orang dalam waktu singkat!”

“Tidak usah susah-susah. Kau telah mendapatkannya sekarang. Kalau kau bisa membujuknya untuk menyerahkan Kitab Naga Jonggrang, kuacungi jempol!” tantang si Gila Muka Bidadari.

“Hm.... Jadi dia yang dihebohkan memiliki kitab pusaka itu?”

“Siapa lagi!”

“Tapi..., ah! Aku tidak terlalu kemaruk dengan kitab itu. Apa kehebatannya? Apakah orang yang mempelajari kitab pusaka itu mampu mengalahkanku?”

“Dasar anak tolol! Apa kau kira tokoh-tokoh kelas satu memburu kitab itu seperti memburu pepesan kosong?! Bila kau tidak menyukainya terserah. Tapi kalau kau bisa menemukannya, maka berikan padaku!” maki si Gila Muka Bidadari.

“Nenek selalu mengajarkan, kalau mau sesuatu, ya usaha saja sendiri. Nah, sekarang usahakan saja sendiri!” sahut Intan Sari seenaknya.

“Anak kuntilanak...!” semprot si Gila Muka Bidadari.

Intan Sari tertawa renyah. Sementara nenek itu kembali mengalihkan perhatian pada Sancaka.

“Terakhir kali kuminta padamu. Serahkan kitab itu padaku atau tidak?” desak si Gila Muka Bidadari.

“Kitab itu tidak ada padaku, Nek!” tegas Sancaka.

“Kau jangan menipuku, Bocah! Katakan, kau bersedia memberikan kitab pusaka itu atau tidak?!” desak nenek itu lagi.

“Apa yang harus kukatakan, kalau ternyata kitab itu tidak....”

Belum juga kata-kata Sancaka tuntas, si Gila Muka Bidadari telah menggerakkan tongkatnya cepat bukan main. Dan....

Begkh!

“Aaakh...!” Sancaka kontan menjerit kesakitan begitu perutnya tersodok tongkat. Tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan mendekap perut. Wajahnya meringis kesakitan. Dan belum juga Sancaka menegakkan tubuhnya, kaki si Gila Muka Bidadari telah meluncur cepat bagai kilat.

Duk!

“Aduuuh...!” Kali ini pantat pemuda itu yang menjadi sasaran tendangan. Sancaka langsung tersungkur ke depan.

“Ayo, bangun...!” bentak nenek ini.

“Orang tua tak tahu diri! Apakah kau beraninya hanya pada diriku yang tidak berdaya?!” dengus Sancaka, tanpa berusaha berdiri.

“Hei?! Apa kau kira aku takut dengan kakek moyangmu?! Panggil dia ke sini. Dan, akan kutendang pantatnya sepertimu juga!” damprat si Gila Muka Bidadari.

“Kau tidak akan berani melawan kakekku!” cibir Sancaka sinis.

“He he he...! Jika kau akan mengadukan aku dengan kakekmu, Bocah? Boleh saja, asal kakekmu masih tampan. Tentu dengan senang hati akan kuladeni!” balas nenek yang masih tampak genit ini.

“Kakekku sangat tampan sepertiku...!” cetus Sancaka, berbohong.

“He he he...! Kunyuk kecil, kau ternyata sombong juga. Siapa kakekmu, he?!” tanya si Gila Muka Bidadari.

“Resi Jagadni...!” sahut Sancaka menyebutkan satu julukan.

“Hi hi hi...!” Mendengar itu si Gila Muka Bidadari tertawa terpingkal-pingkal.

“Kenapa kau tertawa? Kau pasti takut dengan kakekku?!” tanya Sancaka, heran.

“Hi hi hi...! Bocah dungu! Kau kurang jeli dalam berbohong!” seru Intan Sari, ikut-ikutan tertawa mendengar ocehan Sancaka.

“Kenapa? Apakah kalian tidak percaya? Huh! Kalau kakekku ada di sini, kalian akan mampus dibuatnya!” kata Sancaka semakin menjadi-jadi kebohongannya.

“He, bocah dungu, jelek, botak, pembohong...! Apakah kau mau tahu, siapa Resi Jagadni itu?!” cibir Intan Sari.

“Jelas dia kakekku!” sahut Sancaka, sok yakin.

“He, ketahuilah! Resi Jagadni adalah suami perempuan tua di sampingku. Yaitu nenekku ini!” tunjuk Intan Sari kepada si Gila Muka Bidadari. “Jadi kau adalah pembohong besar!”

“Hei?!” Sancaka terkejut mendengarnya. Sungguh Sancaka tidak pernah menyangka akan begini. Dengan membawa nama Resi Jagadni, dia bermaksud menakut-nakuti. Tapi kenyataannya saat ini? Saat itu juga hatinya mulai kebat-kebit. Jantungnya berdetak lebih kencang. Bagaimana kalau ternyata Resi Jagadni tiba-tiba berada di sini? Tapi..., siapa tahu mereka pun membual?!

Berpikir begitu, Sancaka mencoba untuk bersikap sewajar mungkin. Tapi belum lagi bicara sepatah kata pun, mendadak....

“He he he...! Kita ketemu lagi di sini, Bocah Penipu!”

“Jengger Ireng dan Iblis Kembar Selatan? Ohhh...!”

Betapa lemasnya tubuh Sancaka saat ini begitu menoleh ke arah sumber suara. Tulang-tulangnya serasa dilolosi. Bahkan sepertinya dia tak mampu berdiri lagi, melihat kehadiran tiga tokoh sesat yang memburunya.

“Habislah aku kali ini...!” keluh Sancaka.

“Nenek Gila Muka Bidadari! Kaupun ternyata ada di sini!” sapa satu dari Iblis Kembar Selatan yang bernama Rupaksa.

“Bocah ini ada padaku. Dan dia akan memberikan kitab itu padaku!” sahut si Gila Muka Bidadari seraya mendengus kecil.

“Tapi..., Resi Jagadni telah berjanji akan membagi kitab itu pada kita semua....”

“Aku tidak peduli peraturannya! Dia ada padaku, maka kitab itu akan menjadi milikku!” sahut perempuan tua ini ketus.

“Kalian tidak perlu repot-repot mencari kitab itu, sebab telah kuberikan pada seseorang!” ujar Sancaka, coba mengalihkan perhatian mereka.

“Jangan percaya ocehannya. Dia pembohong!” dengus Rupaksi.

“Hi hi hi...! Baru saja, sebelum kalian datang, dia coba membohongiku. Bocah ini benar-benar menjengkelkan. Ingin rasanya kusobek mulutnya yang lancang itu,” timpal si Gila Muka Bidadari.

“Kalau kau suka, biar aku saja yang melakukannya!” Jengger Ireng menawarkan diri.

“Siapa kau?!” desis perempuan tua ini sambil menyipitkan mata.

“Namaku Jengger Ireng. Kita telah bernasib sama, menjadi bulan-bulanan kebohongan bocah itu,” sahut Jengger Ireng.

“Hi hi hi...! Kasihan. Tapi, jangan buru-buru mengatakan begitu. Mungkin kau kena dikibuli. Tapi, aku tidak. Aku malah menikmatinya dan ingin membalasnya. Mula-mula kurobek dulu mulutnya. Lalu..., perutnya. Eh, tidak! Akan kucekik dulu sampai gelagapan. Lalu setelah lemas, akan kupatahkan jari-jarinya. Dan..., hi hi hi...! Nanti akan ada pertunjukan hebat di sini!” ancam si Gila Muka Bidadari.

Sancaka bergidik ngeri mendengar ancaman itu. Diam-diam hatinya mulai kecut. Jangan-jangan nenek ini betul-betul akan membuktikan ancamannya. Dan kalau terbukti..., iiih!

“Ayo bocah, ke sini kau!” ujar si Gila Muka Bidadari seraya menjulurkan tangan.

Sancaka terdiam, mematung di tempatnya.

“Ke sini kau! Atau, perlu kubetot lehermu?!” hardik si Gila Muka Bidadari.

“Kalian akan rugi kalau aku mati. Sebab selain aku, tidak ada lagi yang tahu di mana kitab pusaka itu berada...,” gumam Sancaka, mencoba menggugah hati perempuan tua di depannya.

“Dan kau akan mengatakan bahwa kitab pusaka itu akan kau berikan padaku?”

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

“Hi hi hi...! Dan kau kira aku percaya, bukan? Hi hi hi...! Bocah sial! Aku muak dengan segala ocehanmu.”

“Aku bersungguh-sungguh! Kitab itu telah kuberikan pada..., orang yang tadi menyelamatkanku!” teriak Sancaka ketika si Gila Muka Bidadari bersiap hendak menghajarnya.

“Heh, apa maksudmu?” sentak si Gila Muka Bidadari dengan kening berkerut.

“Iblis Kembar Selatan pasti tahu duduk persoalannya,” sahut Sancaka, enteng. Tampak sebaris senyum menghias di wajahnya.

“Ada apa?” tanya si Gila Muka Bidadari pada si Iblis Kembar Selatan.

“Sebenarnya tadi kami telah memaksanya, tapi keburu seseorang menyelamatkannya,” jelas Rupaksa.

“Siapa orang itu?” desak perempuan tua ini.

“Kami tidak tahu....”

“Memalukan!” dengus si Gila Muka Bidadari mencibir sinis.

“Orang itu memiliki ilmu tinggi....” Rupaksa coba membela diri. Tapi nenek itu tidak mengacuhkannya. Malah perhatiannya beralih kepada Sancaka.

“Siapa orang yang telah menyelamatkanmu itu?” tanya si Gila Muka Bidadari.

“Eh! Aku sendiri tidak tahu...,” sahut Sancaka tergagap.

“Kau tidak tahu?!” desak nenek itu sambil menyeringai buas.

Sancaka jadi gelagapan. “Dia memang tidak menyebutkan nama. Tapi, aku bisa menyebutkan ciri-cirinya...!” tukas Sancaka.

“Lekas ceritakan!” desak si Gila Muka Bidadari.

“Ba..., baik...!” Sancaka pun lalu menceritakan ciri-ciri pemuda yang tadi menyelamatkannya.

“Hm.... Sepertinya aku kenal...,” gumam Rupaksa sambil mengingat-ingat ketika Sancaka selesai bercerita.

“Pendekar Rajawali Sakti!” sebut Rupaksi.

“Ya, Pendekar Rajawali Sakti!” timpal Rupaksa.

“Siapa dia? Apakah hanya cecurut yang bisa hidup di comberan?” ujar si Gila Muka Bidadari mencibir.

“Dia patut diperhitungkan. Kepandaiannya hebat. Telah banyak tokoh yang binasa di tangannya,” lanjut Rupaksa.

“Ya! Aku pun pernah mendengar. Bahkan menyaksikannya sendiri beberapa kali,” timpal Jengger Ireng.

“Tutup mulut kalian! Kalian ingin mengatakan kalau dia lebih hebat ketimbang aku?!” bentak nenek itu dengan mata melotot lebar dan mulut menyeringai. Kelihatan dia tidak senang bila ada yang memuji-muji kepandaian orang lain di depan batang hidungnya.

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu...!” ucap si Jengger Ireng.

Baru saja si Gila Muka Bidadari hendak buka suara lagi, mendadak....

“Awaaas...!”

Tiba-tiba Intan Sari berteriak memperingatkan, ketika satu sosok bayangan putih berkelebat secepat kilat ke arah mereka. Begitu cepatnya, sehingga ketika bayangan itu menyambar tubuh Sancaka, belum sempat ada yang menyadarinya. Sebentar saja bayangan putih tadi lenyap bersama Sancaka.

“Terkutuk! Siapa orang itu?!” maki si Gila Muka Bidadari geram sambil menghentak-hentakkan kaki. Wajahnya geram sambil bersungut-sungut. Tak tahu, harus kepada siapa kejengkelannya dilampiaskan.

“Mungkin Pendekar Rajawali Sakti...,” gumam Jengger Ireng.

“Jahanam kau! Jangan sebut-sebut lagi nama itu!” bentak nenek itu.

“Eh! Ma..., maaf.”

“Lebih baik hal ini kita bicarakan kepada Resi Jagadni saja,” usul Rupaksa.

“Huh! Ini urusanku! Si tua bangka itu jangan dibawa-bawa!” semprot si Gila Muka Bidadari.

Setelah berkata begitu, si Gila Muka Bidadari segera mengajak Intan Sari untuk angkat kaki dari sini. Kemudian disusul Jengger Ireng dan Iblis Kembar Selatan yang juga meninggalkan tempat ini.

********************

Bruk!

“Aduuuh...!” Sancaka meringis kesakitan ketika tubuhnya dilemparkan begitu saja seperti sebatang kayu oleh pemuda berbaju rompi putih yang telah membawanya lari dari kepungan tokoh-tokoh sesat tadi.

“Kau berhutang nyawa kembali padaku...,” gumam pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

“Aku tidak pernah minta pertolonganmu...!” sahut Sancaka ketus.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum. Dalam benaknya terbersit satu rencana untuk memberi pelajaran pada Sancaka. Kebetulan saat ini Pendekar Rajawali Sakti membawanya ke pinggir telaga yang dikenal bernama Telaga Sarangan. Jadi Rangga cukup jauh juga membawa Sancaka dari kepungan tokoh-tokoh sesat tadi.

“Jadi kau memang lebih suka mati?” leceh Rangga, enteng.

“Itu bukan urusanmu!” dengus Sancaka.

Kembali Rangga tersenyum. “Kalau kau memang ingin mati, aku telah menyiapkannya...,” lanjut Rangga enteng.

Sancaka tak bergeming. Wajahnya yang menggambarkan rasa kesal, dibuang jauh-jauh.

“Kau lihat batu itu?” tanya Rangga.

Namun Sancaka tidak bergeming. Sama sekali dia tidak peduli meski pemuda berbaju rompi putih itu menunjuk ke satu arah. Tapi tiba-tiba....

Tuk! Tuk!

“Oh...!” Sancaka hanya dapat mendesah lirih ketika tubuhnya tertotok oleh Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan tanpa banyak bicara lagi Rangga mengikat kedua tangan dan kedua kaki Sancaka dengan akar-akaran pohon yang cukup alot. Meski pemuda gundul itu berteriak-teriak, tapi Rangga tak peduli.

Rangga kemudian menghampiri sebuah batu sebesar anak kerbau. Segera batu itu pun diikat dengan akar. Lalu, ikatan itu dihubungkan dengan tali yang mengikat Sancaka.

“Apa yang mau kau lakukan padaku?!” tanya Sancaka bingung.

“Bukankah kau ingin mati?” Rangga balik bertanya. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti menghampiri Sancaka, untuk melepaskan totokan.

“Sial! Aku tidak mengerti maksudmu...!” kata Sancaka, setelah tubuhnya bisa digerakkan lagi, setelah totokan di tubuhnya terlepas.

“Maksudku sederhana. Begini....” Kaki Pendekar Rajawali Sakti secepat kilat menendang batu itu hingga bergulir ke telaga. Karuan saja, tubuh Sancaka pun ikut bergulir.

Byur! Byur!

Sancaka mulai mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu terhadapnya, ketika batu dan tubuhnya tercebur dalam telaga.

“Kau tidak bisa melakukan ini! Keparat! Hep! Hep! Phuh! Lepaskan aku! Lepaskan..,!” teriak Sancaka berulang-ulang.

Namun Rangga tidak peduli. Dengan kedua kaki terikat serta dibanduli batu besar, Sancaka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebentar-sebentar dia megap-megap, berusaha untuk mengambil napas. Lalu, kembali dia harus berjuang agar tubuhnya jangan tenggelam.

Pendekar Rajawali Sakti tenang-tenang saja memperhatikan sambil duduk di pinggiran telaga. “Ingin kulihat sampai, di mana daya tahan tubuhmu terperangkap di sini....”

“Hep! Hep!”

“Kau tidak bisa berbuat begini padaku! Phuh...! Lepaskan! Lepaskan aku!” teriak Sancaka.

“Aku bisa berbuat apa saja terhadapmu! Kau orang yang tidak tahu diri, Sancaka. Kau pembohong. Dan gara-garamu, Kuil Kiambang Lima hancur! Bahkan semua guru disana binasa!” desis Rangga geram.

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku! Kau hanya mengarang cerita bohong!”

“Kaulah yang suka mengarang cerita bohong! Kau penipu, Sancaka! Sepanjang hidupmu hanya kau habiskan untuk menipu siapa saja demi keuntungan dirimu sendiri!” sahut Rangga, tetap kalem.

“Phuih! Kau kira aku percaya dengan segala omong kosongmu?!”

“Seorang pendeta yang selamat dari pembantaian di Kuil Kiambang Lima menceritakannya padaku. Hampir saja dia menjadi sasaran tokoh jahat yang menginginkan Kitab Naga Jonggrang. Padahal, dia tidak tahu-menahu. Dia cerita banyak tentangmu. Jadi, masihkah kau anggap ceritaku omong kosong belaka? Orang sepertimu tidak layak hidup. Kau boleh mati di dasar telaga ini!” ujar Rangga dingin.

Setelah itu, Pendekar Rajawali Sakti beranjak berdiri. Lalu tubuhnya berkelebat berlalu dari tempat ini secepatnya.

“Eh, ke mana kau? Jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Hei...! Kembali! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini...!” teriak Sancaka berkali-kali sambil berusaha bergerak-gerak agar tidak tenggelam.

Tapi percuma saja. Sebab Pendekar Rajawali Sakti tidak mempedulikannya. Bahkan tidak menoleh sedikit pun!

********************

ENAM

Tiba di kaki Gunung Mahameru yang menjulang tinggi, Pendekar Rajawali Sakti berhenti. Matanya beredar ke sekeliling memperhatikan keadaan di sekitarnya. Lalu dilepaskannya ikatan pada kedua tangan dan kaki seekor monyet yang tadi berada dalam pangkuannya.

“Dengar, Sobat. Mungkin saja kau hanya mengerti dengan isyarat tuanmu. Tapi kau pasti mengerti apa yang kuinginkan. Kau tahu, ini adalah wilayah Kuil Kiambang Lima yang tinggal puing-puing. Beberapa waktu yang lalu, kau telah membantu majikanmu untuk menyembunyikan sebuah kitab. Nah, tunjukkan padaku di mana kau sembunyikan kitab itu?” ujar Pendekar Rajawali Sakti, tak peduli apakah monyet kecil itu mengerti.

“Nguk! Nguk...!” Monyet itu memandang Rangga sekilas, lalu menaikkan sepasang alisnya sambil menyeringai lebar.

“Tahukah kau, nasib apa yang menimpamu kalau membantah keinginanku?” kata Rangga, mengancam.

“Nguk! Nguk!” Monyet yang bernama Cakil tidak beranjak dari tempatnya. Rangga hanya tersenyum.

“Kau betul-betul tidak mau mengambilkan kitab itu untukku?”

Dan kali ini jawaban dari monyet itu betul-betul membuatnya kesal. Sebab Cakil sama sekali tak menyahut. Bahkan malah membuang muka.

“Kalau begitu kau memang tidak berguna. Maka lebih baik mati saja!” dengus pemuda itu seraya mencengkeram gagang pedang.

Sring!

Seketika Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedang. Saat itu juga, memancar sinar biru berkilauan dari batang Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dan begitu pedang ini siap diluruskan ke leher....

“Kaaakh...!” Cakil menjerit panjang dengan wajah ketakutan melihat cahaya biru berkilauan di tangan pemuda itu.

“Kalau kau masih takut mati, tunjukkan padaku di mana kitab pusaka itu berada!” ancam Rangga, dingin.

“Nguk! Nguuuk...!” Seperti layaknya manusia, monyet itu mengangguk.

“Tunjukkan dan jangan macam-macam!”

“Nguk...!”

Rangga lalu melangkah mendaki lereng gunung ini. Tiba di tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, monyet itu memberi isyarat dengan menunjuk ke pohon yang paling besar.

“Kalau kau merasa lebih leluasa berjalan sendiri, pergilah! Aku akan mengikutimu. Tapi jangan dikira aku tidak bisa menangkapmu. Telah kau saksikan bahwa aku bisa menangkapmu dalam keadaan apa pun!” ancam pemuda itu seraya melepaskan Cakil.

“Nguk! Nguk...!”

Set!

Begitu dilepaskan, monyet itu berlari ke sebuah pohon paling besar yang batangnya tidak bisa dipeluk tiga orang dewasa. Dengan tangkas Cakil naik ke atas pohon yang berdaun lebat dan bercabang-cabang. Sementara Rangga yang mengikutinya kini menunggu di bawah. Tak lama, monyet itu sudah kembali dengan sebuah kitab di tangannya.

“Bagus! Kau memang monyet pintar!” puji Pendekar Rajawali Sakti, setelah monyet itu menyerahkan kitab kepadanya. Rangga menyelipkan kitab itu di balik ikat pinggangnya.

“Tidak usah khawatir. Aku tidak bermaksud melenyapkan atau merampas kitab ini dari majikanmu!” ujar pemuda itu ketika Cakil memperhatikan gerak-geriknya.

Pendekar Rajawali Sakti dan Cakil kini bergerak meninggalkan tempat ini. Dituruninya lereng Gunung Mahameru ini perlahan-lahan. Namun baru saja beberapa tombak menuruni lereng, langkah Rangga terhenti. Di depannya, tahu-tahu telah berdiri dua orang laki-laki setengah baya.

“Serahkan kitab itu pada kami!” bentak salah seorang penghadang.

Rangga tersenyum. Diperhatikannya kedua penghadang itu dengan seksama. Yang seorang bertubuh pendek, dengan rompi hitam. Senjatanya berupa golok di pinggang. Sementara yang seorang lagi bertubuh besar. Kepalanya memakai ikat berwarna merah, senjatanya berupa pedang besar dalam genggaman tangan kanan yang bersender di pundak. Kulitnya hitam legam. Raut mukanya tampak beringas.

“Siapa Kisanak berdua? Dan kitab apa yang kalian maksudkan?” tanya Rangga kalem.

“Hm.... Rupanya kau belum mengenal kami. Aku Somanggala dan temanku yang kerdil itu, Dewangga. Maka sekarang kau tak perlu berpura-pura! Kami menginginkan kitab yang barusan kau peroleh!” sahut laki-laki bertubuh besar berikat kepala merah, bermaksud menakut-nakuti Rangga.

“Oh, kitab itu? Maaf, Kisanak. Itu bukan milikku. Dan tentu juga bukan milik kalian berdua!” sahut Pendekar Rajawali Sakti tetap tenang.

“Kau tidak akan sempat menyesal, Bocah! Berikan kitab itu. Atau, kupenggal kepalamu!” ancam laki-laki bertubuh besar yang bernama Somanggala.

“Wah, sayang sekali. Kepalaku hanya satu. Mungkin kalau dua, dengan senang hati aku mengizinkanmu memenggal salah satu,” sahut Rangga, berusaha memancing kemarahan.

“Kurang ajar! Kau membuatku naik pitam?!” dengus Somanggala langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan babatan pedang besarnya.

“Jangan main-main dengan senjata tajam, Kisanak! Berbahaya! Uts!” Rangga gesit sekali memiringkan tubuhnya, sehingga babatan laki-laki itu luput dari sasaran. Namun Somanggala cepat mengayunkan tendangan.

“Hup!” Sayang, Pendekar Rajawali Sakti telah melejit ke atas. Sehingga, tendangan itu sia-sia saja. Melihat hal ini, bukan main geramnya Somanggala. Bibirnya terkatup rapat. Rahangnya bergemeletukan menahan kesal dan amarah.

“Keparat! Kau berani mempermainkanku, he?!” dengus Somanggala marah.

“Yeaaa...!”

“Soma! Aku pun ingin menghajar orang sombong ini! Biar kurobek mulutnya!” teriak laki-laki cebol berompi hitam yang bernama Dewangga.

Somanggala sama sekali tidak melarang. Bahkan dia tidak merasa keberatan. Hal ini bukan karena telah kewalahan, tapi memang mereka telah terbiasa main keroyokan.

Srang!

“Yeaaa...!” Dewangga langsung mencabut goloknya, lalu meluruk hendak menebas leher Rangga.

Sementara monyet yang tadi bersama Pendekar Rajawali Sakti menjerit panjang sambil menutup matanya melihat keadaan dari tempat yang agak jauh. Padahal sikap Rangga tenang-tenang saja. Baru ketika serangan hampir menyambar, tubuhnya membungkuk. Sehingga, tebasan itu mengenai tempat kosong. Lalu Rangga melompat kebelakang, membuat dua kali gerakan jungkir balik.

“Ayo, cabut pedangmu! Atau barangkali itu hanya sekadar hiasan untuk menakut-nakuti perempuan dan anak-anak!” teriak Dewangga.

“Maaf, Kisanak! Pedangku belum saatnya kukeluarkan!” tolak Rangga.

“Huh! Kalau begitu, kau bukan orang yang kuduga selama ini!” dengus Somanggala.

“Apa maksudmu, Kisanak?”

“Melihat ciri-cirimu, semula aku yakin kalau kau Pendekar Rajawali Sakti. Tapi aku jadi tak yakin, bila kau tak membuktikannya.”

Rangga menghela napas panjang. Baginya memang terasa berat bila harus memamerkan pedangnya. Dia takut hal ini akan membawanya ke arah kesombongan. Namun disisi lain, bisa saja bila Rangga memamerkan pedangnya akan menghentikan pertarungan, sehingga tidak menimbulkan pertumpahan darah.

“Hm.... Baiklah...,” desah Pendekar Rajawali Sakti, akhirnya.

Sring!

“Heh?!” Begitu Rangga mencabut pedangnya, Somanggala dan Dewangga terjingkat kaget Apalagi melihat perbawa pedang yang memancarkan sinar biru berkilauan itu.

“Jelas dia Pendekar Rajawali Sakti!” kali ini Dewangga yang membuka suara.

“Benarkah?” desah Somanggala berusaha meyakinkan. “Ah! Kalau begitu maafkan kelancangan kami...!” laki-laki bertubuh besar itu langsung menjura memberi hormat.

“Kau adalah pendekar besar. Dan tidak pantas rasanya kalau kami merendahkanmu!” ujar Dewangga, langsung menjura pula.

“Ya! Apa yang kami lakukan tadi, amat memalukan!” timpal Somanggala.

“Sudahlah. Kalau kalian bermaksud melupakannya, itu lebih baik,” ujar Rangga.

“Eh! Ng..., kami tadi sempat melihat kau mendapatkan kitab itu dan mencegatmu di sini. Kalau boleh tahu, apakah kau pun hendak memiliki kitab itu?” tanya Dewangga, hati-hati.

“Apa kehebatan kitab ini aku sendiri tidak tahu....”

“Kepandaianmu telah cukup tinggi. Rasanya, untuk saat ini sulit dicari tandingannya. Dan..., kurasa kau tidak memerlukan kitab itu lagi, bukan?” cecar Dewangga.

“Kudengar kitab ini berisi pelajaran ilmu silat tinggi...,” kata Pendekar Rajawali Sakti.

“Ng.... Begitulah yang kudengar...!” sahut Dewangga malu-malu.

“Aku sama sekali tidak bermaksud mempelajarinya, Kisanak....”

“Tidak?!” Bola mata Dewangga melotot lebar. Wajahnya tampak cerah.

Sementara Rangga mengangguk.

“Kalau begitu kitab itu sama sekali tidak berguna bagimu?” timpal Somanggala.

“Tidak,” sahut Rangga, pendek.

“Oh! Ng..., sudikah kau memberikannya kepada kami?” pinta Somanggala, takut-takut.

Rangga tersenyum. “Sayang sekali, Kisanak. Aku bermaksud menyerahkan kitab ini kepada ahli warisnya.”

“Siapa yang kau maksudkan?”

“Lagi-lagi beribu maaf. Sebab, aku tidak bisa mengatakan, siapa ahli waris yang kumaksudkan. Kitab ini masih menjadi rebutan, sehingga kalau kusebutkan ahli waris itu, tentu keselamatannya tidak terjamin. Karena, banyak tokoh yang akan merebut darinya,” jelas Rangga.

“Kami bisa menyimpan rahasia, Pendekar Rajawali Sakti. Sekadar ingin tahu saja. Apakah kau tidak percaya pada kami?”

Rangga kembali tersenyum. Pendekar Rajawali Sakti bukan tidak mengerti keinginan mereka. Kedua orang ini jelas menginginkan kitab yang ada padanya. Tapi jelas, hal itu tidak bisa diberikan. Kedua orang ini bukan termasuk jajaran tokoh aliran lurus. Dan kalau kitab ini diberikan, maka sama artinya akan membuat kekacauan. Rangga tengah mencari cara untuk menolak keinginan mereka dengan halus. Tapi belum lagi hal itu ditemukan....

“Pendekar Rajawali Sakti...!” Tiba-tiba terdengar suara panggilan yang keras menggelegar.

“Hm...!” Rangga menggumam tak jelas, begitu melihat kehadiran beberapa sosok tubuh yang mendekati tempat ini.

Begitu dekat makin jelas kalau yang datang adalah seorang berusia lanjut dengan rambut panjang awut-awutan tak terurus. Bajunya hitam. Di lehernya dipenuhi kalung tengkorak kepala manusia. Di dekatnya tegak berdiri dua erang yang memiliki wajah hampir sama.

Laki-laki tua itu dikenal sebagai Resi Jagadni. Sedang dua orang yang mendampinginya, tak lain Iblis Kembar Selatan.

“Kalau tidak salah aku tengah berhadapan dengan Resi Jagadni, bukan?” tebak Rangga, begitu laki-laki tua itu telah berhenti melangkah dua tombak di depannya.

“Bagus! Agaknya kau mengenalku. Dan kuharap kau juga kenal watakku?” sambut Resi Jagadni.

“Tentu saja. Bukankah kau orang yang baik budi dan welas asih?” sahut Rangga, agak menyindir.

“Kurang ajar! Jangan main-main denganku, Bocah!” dengus Resi Jagadni dengan wajah geram.

“Lupakan tentang itu. Dan, maafkan kalau tebakanku salah. Nah di antara kita tidak ada urusan apa-apa. Kalau kau tidak keberatan, aku akan melanjutkan perjalanan,” ujar Rangga, kalem.

“Kau boleh pergi setelah menyerahkan kitab itu!” sahut Resi Jagadni, dingin.

“Jadi kau pun menginginkan kitab itu?” tanya Rangga, walaupun sudah bisa menduga sebelumnya.

“Itu bukan urusanmu!”

“Kalau begitu kitab ini pun bukan urusanmu!” sahut Rangga tenang.

“Pendekar Rajawali Sakti! Kau telah kuperingatkan agar jangan main-main padaku! Kau akan celaka di tanganku!” dengus Resi Jagadni kembali mengancam.

“Resi! Tidak usah mengancamku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Hm.... Agaknya kau memang harus dikasari!”

“Orang tua! Aku menghormatimu. Resi. Tapi kalau kau coba mengasariku, aku pun terpaksa membela diri.”

“Ingin kulihat bagaimana caramu membela diri. Hih...!”

Setelah berkata begitu, Resi Jagadni langsung melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan kibasan tangannya yang berisi tenaga dalam penuh.

“Uts!” Pendekar Rajawali Sakti langsung melenting ke atas. Namun secepat itu pula Resi Jagadni mengejar.

“Yeaaa...!” Namun di luar dugaan, tubuh Pendekar Rajawali Sakti berbalik. Tubuhnya langsung meluruk memapak cecaran kepalan Resi Jagadni.

Plak! Plak!

Tubuh Resi Jagadni cepat berputaran, untuk mematahkan daya dorong akibat benturan tadi. Lalu manis sekali kakinya mendarat di tanah, tepat ketika Rangga juga telah mendarat ringan.

“Keparat! Kupecahkan kepalamu...!” desis Resi Jagadni geram.

“Kau terlalu memaksaku, Orang tua. Dan aku tak ada pilihan lain lagi!” Pendekar Rajawali Sakti langsung memasang kuda-kudanya, bersiap mengerahkan jurus-jurus dari lima rangkaian jurus ‘Rajawali Sakti’.

“Yeaaa...!” Pada saat yang sama Resi Jagadni telah menghentakkan kedua tangannya ke depan disertai bentakan nyaring.

Wesss!

Seketika seberkas cahaya putih keperakan meluncur ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan melesat ke atas dengan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’ Pendekar Rajawali Sakti mampu menghindarinya. Akibatnya batang pohon di belakangnya hancur berantakan dihantam pukulan dahsyat itu.

“Setan...!” Resi Jagadni menggeram melihat pukulannya luput dari sasaran.

Tepat ketika Rangga menjejak tanah, tubuh Resi Jagadni mencelat kembali menerjang, melepaskan pukulan bertubi-tubi berisi tenaga dalam tinggi.

Rangga tidak berusaha menghindar. Ditunggunya hingga serangan itu dekat. Baru ketika serangan itu hampir menghantam tubuhnya. Pendekar Rajawali Sakti cepat mengibaskan tangannya dengan tenaga dalam tinggi pula.

Plak! Plak!

Terjadi benturan dahsyat, membuat tubuh Resi Jagadni terjajar beberapa langkah.

“Heaaa...!” Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti mengayunkan tendangan ke ulu hati Resi Jagadni yang belum sempat memperbaiki keseimbangannya. Dengan sebisanya laki-laki itu menangkis. Namun di luar dugaan, Rangga menarik pulang tendangan. Tubuhnya langsung berputar, melepaskan sodokan kuat bertubi-tubi ke dada dan perut Resi Jagadni.

Des! Begkh!

“Aaakh...!” Orang tua itu kontan menjerit kesakitan, ketika serangan Rangga mendarat telak di tubuhnya. Resi Jagadni terjungkal ke belakang beberapa tombak.

“Bedebah...!” maki Resi Jagadni geram, seraya bangkit berdiri.

Orang tua itu menyeringai lebar, lalu membuat kuda-kuda. Dia bersiap menyerang Rangga kembali. Kedua tangannya berada di pinggang, lalu bergerak cepat kedada. Dan tiba-tiba, kedua telapak tangannya dihantamkan ke depan.

Wesss...!

Kembali dari telapak tangan Resi Jagadni melesat cahaya putih keperakan dengan kekuatan lebih dahsyat.

“Hih...!” Rangga yang telah bersiap, juga menghentakkan kedua tangannya melepaskan pukulan jarak jauh dari jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’, tingkat menengah.

Wesss...!

Saat itu juga dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti meluncur dua sinar merah membara, memapak sinar putih keperakan yang meluruk ke arahnya. Dan....

Blar! Blarrr...!

“Aaakh...!” Terdengar ledakan dahsyat ketika sinar-sinar itu beradu di tengah-tengah. Sementara tubuh Resi Jagadni terpental deras ke belakang.

Sedangkan tubuh Pendekar Rajawali Sakti hanya terjajar beberapa langkah. Matanya tampak memandang tajam pada Resi Jagadni yang berusaha bangkit berdiri, walaupun tertatih-tatih.

“Keparat! Cabut pedangmu. Aku akan adu jiwa denganmu, Pendekar Rajawali Sakti!” dengus Resi Jagadni sambil menyeka darah yang meleleh di sudut bibirnya.

“Resi! Kuharap kau mengerti, dan tidak memperpanjang urusan. Jangan terus memaksaku!” cegah Pendekar Rajawali Sakti, berusaha mengingatkan.

“Phuih! Kau kira sudah merasa mengalahkanku, he?!” bentak orang tua itu geram, tanpa sadar kalau kekuatannya sudah berkurang.

“Tidak perlu kukatakan! Tapi, kuharap kau mau menghentikan persoalan ini.”

“Serahkan kitab itu. Dan, goroklah lehermu! Dengan begitu persoalan selesai!”

TUJUH

Rangga menggeleng-geleng gusar. Dia tidak ingin menjatuhkan tangan kejam, namun Resi Jagadni agaknya keras kepala. Padahal seharusnya dia mengerti, kalau dari pertarungan tadi Rangga mampu menjatuhkannya. Dan itu berarti Pendekar Rajawali Sakti pun mampu membunuhnya. Untung saja sebelum Resi Jagadni bertindak...

“Hi hi hi...! Dasar tua bangka tak tahu diri. Kau berani mendahuluiku, ya?!”

Mendadak terdengar suara nyaring yang disusul berkelebatnya tiga sosok wanita. Begitu berhenti pada jarak empat tombak baru jelas kalau mereka ternyata si Nenek Bongkok Sakti, si Gila Muka Bidadari, dan Intan Sari.

“Supini! Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Resi Jagadni, tak suka.

“Kau kira apa, he?!” tukas si Gila Muka Bidadari sambil melotot garang.

“Untuk urusan kitab itu?”

“Tentu saja!”

Resi Jagadni mendesah kesal. Lalu tatapannya beralih pada si Nenek Bongkok Sakti dengan sinar mata menyorot tajam.

“Eee, awas kalau kau marah pada si Nenek Bongkok Sakti! Dia betul. Kau mengajak kedua orang kembar itu, tapi tidak mengajaknya pula. Tidak heran kalau dia datang kepadaku, dan memberitahukan tujuanmu,” jelas si Gila Muka Bidadari yang bernama asli Nyai Supini itu.

“Dasar wanita tak tahu diri!” umpat Resi Jagadni.

“Eee, apa kau bilang? Kau memakiku...?!” hardik Nyai Supini geram seraya menjulurkan tongkat.

“Tidak! Telingamu mungkin salah dengar...,” kilah Resi Jagadni.

“Hik hik hik...! Pintar kau mengelak, Lanang. Tapi, tak apa. He, aku mau lihat sampai di mana usahamu sekarang?” sahut Nyai Supini sambil tertawa.

Si Gila Muka Bidadari menoleh kepada Pendekar Rajawali Sakti sambil mengangguk dan tertawa kecil. “Hik hik hik...! Jadi, kaukah Pendekar Rajawali Sakti itu, Cah Bagus?! Nyalimu sungguh besar berani mempermainkan, meski aku tidak suka caramu. Padahal, bukankah kau bisa terang-terangan menunjukkan batang hidungmu padaku?” tanya si Gila Muka Bidadari.

“Aku tidak mengerti bicaramu. Nyai. Bukankah saat ini kita sudah saling menunjukkan batang hidung masing-masing?” kilah Rangga kalem.

“Bukan sekarang yang kumaksudkan. Tadi-tadi, tolol! Saat kau menyelamatkan bocah itu. Dan, jangan sekali-sekali berani menyebutku Nyai, mengerti?!” maki Nyai Supini, berapi-api.

Rangga tertawa geli mendengar ocehan nenek di depannya.

“Kenapa kau tertawa?!” hardik si Gila Muka Bidadari dengan mata melotot lebar.

“Aku harus panggil apa padamu?”

“Namaku Supini. Panggil saja begitu.”

“Baiklah.”

“Nah, begitu lebih baik.”

“Sekarang kau telah berkumpul dengan kawan-kawanmu. Maka aku harus pergi dulu,” kata Rangga.

“Eee, tunggu dulu! Enak saja pergi begitu saja...!” tukas si Gila Muka Bidadari.

“Ada apa lagi?” tanya Rangga dengan kening berkerut.

“Tinggalkan kitab pusaka yang kau bawa itu!” tunjuk Nyai Supini ke pinggang Rangga.

“Hm, kau pun menginginkan kitab ini?”

“Bukan urusanmu! Pokoknya, tinggalkan kitab itu kalau mau selamat!” ancam nenek ini lagi.

“Kalau aku menolak?”

“Dasar manusia tidak tahu penyakit! Kau lihat di sekelilingmu? Mereka semua ada di pihakku. Sedang kau seorang diri. Kalau kau macam-macam, mereka bisa menghajarmu. Tapi, aku bukan pengecut. Aku masih mampu menghajarmu seorang diri,” ancam Nyai Supini, menggetarkan.

“Syukurlah. Tapi aku sama sekali tidak mau berurusan denganmu. Maka tidak ada yang perlu diributkan...,” sahut Rangga, kalem.

“Kurang ajar! Kau merendahkanku, he?!” dengus si Gila Muka Bidadari dengan wajah geram. Tanpa pikir panjang lagi, nenek itu menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan ayunan tongkatnya.

“Mampus kau...!”

Rangga cepat melompat ke samping kanan. Namun akibatnya....

Jder!

Tongkat di tangan si Gila Muka Bidadari menghantam sebatang pohon di samping tempat Rangga berdiri tadi. Pohon dua pelukan orang dewasa ini kontan hancur berantakan. Rangga bisa merasakan angin sambaran tongkat nenek itu yang kuat. Jelas tenaga dalam wanita tua ini cukup hebat.

“Jangan terlalu memaksaku, Nek Supini...!”

“Kurang ajar! Kau kira aku nenekmu, he? Rasakan hantaman tongkatku ini! Heaaa...!” Kemarahan si Gila Muka Bidadari semakin menjadi-jadi saja. Rangga langsung diserang dengan gencar. Tongkatnya berkelebat tiada henti. Dan sepertinya, pemuda ini ingin dilumatkan dalam waktu singkat.

“Kenapa kalian diam saja?! Dia telah menghinaku. Ayo, hajar dia!” teriak si Gila Muka Bidadari semakin geram ketika melihat yang lain hanya diam terpaku memperhatikan.

“Eh, apa? Oh, baiklah...,” ujar Resi Jagadni, langsung melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

“Jangan khawatir, Supini! Aku akan membantumu...!” teriak si Nenek Bongkok Sakti, langsung melompat membantu si Gila Muka Bidadari.

“Yeaaa...!”

Untuk sesaat Rangga sedikit kerepotan menghadapi serangan tiga lawannya. Dia harus pontang-panting menyelamatkan diri, sebab mereka seperti ingin melenyapkan nyawanya. Bahkan seperti tidak peduli, kalau kitab pusaka yang dicari-cari ada padanya.

“Kalian terlalu memaksa. Dan, tidak memberi pilihan lain kepadaku...,” desah Rangga menyesali sikap mereka.

“Tidak usah banyak mulut, Pendekar Rajawali Sakti. Kau akan mampus! Dan, tidak seorang pun yang bisa menolongmu!” dengus si Gila Muka Bidadari.

Tongkat perempuan tua itu berputar cepat menyambar sekujur tubuh Rangga. Namun dengan jurus-jurus dari lima rangkaian jurus ‘Rajawali Sakti’, Pendekar Rajawali Sakti mampu menghindari serangan-serangan.

Melihat gencarnya serangan, Rangga merasa tak ada pilihan lagi. Begitu mempunyai kesempatan, tangannya cepat bergerak memegang gagang pedangnya. Dan....

Sriiing!

“Hiyaaa...!” Disertai bentakan nyaring, Pendekar Rajawali Sakti mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti dari warangkanya. Seketika selarik cahaya biru memancar dan berkelebatan.

“Uhhh...!” Begitu Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan pedangnya, lawan-lawannya langsung berlompatan mundur, tak kuasa melihat perbawa pedang ditangan Pendekar Rajawali Sakti.

“Hei, kurang-ajar!” Nyai Supini geram, ketika tanpa disadari kalau tongkatnya telah putus tersambar pedang. Dengan geram, si Gila Muka Bidadari membuang tongkatnya.

“Aku tidak peduli lagi. Kalau kalian terus memaksa, maka pedangku yang akan bicara!” desis Pendekar Rajawali Sakti, dingin penuh perbawa.

“Kurang ajar! Apa kau kira aku takut dengan pedang bututmu itu? Huh! Dengan tangan kosong sekali pun, aku masih mampu mematahkan lehermu!” dengus si Gila Muka Bidadari. Perempuan tua itu lantas menoleh kepada yang lain sambil memberi isyarat. “Ayo kita serang lagi bocah busuk ini!”

Resi Jagadni dan si Nenek Bongkok Sakti tidak langsung bergerak. Apa yang dirasakan tadi sungguh luar biasa. Senjata pemuda itu tidak bisa dipandang enteng. Dan firasatnya mengatakan kalau sangat berbahaya bila terus ngotot ingin melawan pemuda itu.

“Kenapa bengong? Ayo kita hajar dia!” sentak si Gila Muka Bidadari.

“Supini! Sebaiknya urungkan saja niatmu...,” ujar si Nenek Bongkok Sakti.

“He, apa maksudmu?!” sentak si Gila Muka Bidadari.

“Kitab Naga Jonggrang mungkin berjodoh dengannya...,” jelas Resi Jagadni.

“Kurang ajar! Kau hendak membelanya, he?!” hardik si Gila Muka Bidadari.

“Eh, jangan salah sangka, Supini! Bukan begitu maksudku,” kilah laki-laki tua berbaju hitam ini.

“Jadi, apa? Atau barangkali kau takut menghadapinya?!”

“Supini, jangan menuduhku begitu....”

“Huh! Kalian boleh menonton kalau takut. Tapi aku, huh! Jangan harap akan menyerah begitu saja, sebelum bocah ini mampus. Setelah itu Kitab Naga Jonggrang akan menjadi milikku!” tandas si Gila Muka Bidadari.

Sebelum si Nenek Bongkok Sakti atau Resi Jagadni memberi jawaban....

“Kudengar seseorang menyebut-nyebut Kitab Naga Jonggrang?!”

Terdengar sebuah suara, membuat semua mata memandang ke asalnya. Dan mereka kini melihat kehadiran seorang laki-laki berusia lanjut berbaju kembang-kembang. Wajahnya bersih dengan kulit putih. Rambutnya putih semua, dan dibiarkan lepas begitu saja sampai ke pinggang.

Tapi bukan hanya itu yang menarik perhatian Rangga, serta yang lainnya. Sebab orang tua itu datang bersama seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun.

“Sancaka...,” gumam Rangga pendek, seraya tersenyum.

Entah apa hubungan antara mereka berdua. Rangga tidak sempat berpikir sebab saat itu melihat monyet yang tadi bersamanya buru-buru menghampiri Sancaka sambil mencerecet ribut.

“Eyang! Pemuda itu yang telah mencuri kitabmu!” tunjuk Sancaka kepada Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm....” Orang tua itu memandang pada Pendekar Rajawali Sakti dengan gumaman tak jelas. Sikapnya tenang sekali sambil melipat kedua tangan di dada. Sepasang matanya tajam menusuk dan bibirnya kelihatan menyungging senyum.

“Anak muda. Kaukah yang telah mendapatkan Kitab Naga Jonggrang?” tanya orang tua berwajah bersih ini.

“Betul,” sahut Rangga, pendek.

“Ah! Aku amat berterima kasih sekali atas bantuanmu,” ucap orang tua ini.

“Siapakah kau sebenarnya. Dan, apa hubunganmu dengan Sancaka?” tanya Rangga.

“Apakah kau tidak tahu? Akulah pewaris sah kitab itu?! Aku keturunan langsung dari Sangkakala Naga. Dan orang menyebutku sebagai Topan Prahara,” jelas laki-laki tua yang mengaku bernama Topan Prahara, pewaris sah Kitab Naga Jonggrang.

“Hei? Benarkah kau Topan Prahara?!” seru Resi Jagadni, tampak kaget mendengar nama itu.

Topan Prahara hanya mengangguk dan melempar senyum.

“Dan Sancaka, apamu?” tanya Rangga, menyela.

“Dia adalah calon muridku,” sahut Topan Prahara enteng.

“Kaukah yang menyuruh Sancaka mengambil kitab itu?” cecar Rangga.

“Si tua Dharmapala terlalu keras kepala. Dia tidak mau mengerti kalau kitab itu seharusnya menjadi milikku. Dan dia tidak berhak mengangkanginya seorang diri,” jelas Topan Prahara.

“Setahuku, beliau bukan orang serakah. Mungkin ada maksud lain, sehingga kitab ini tidak diberikannya kepadamu,” duga Rangga.

“Ah! Beliau memang pintar memutarbalikkan keadaan. Tapi begitulah yang sebenarnya. Berikanlah kitab itu. Anak Muda. Kau telah tahu bahwa aku pewaris sah kitab itu, bukan?” ujar Topan Prahara.

Rangga terdiam beberapa saat. Pikirannya mulai mencema kata-kata orang tua itu. Dipertimbangkannya, apakah kitab ini akan diserahkan atau tidak? Dia sama sekali tidak keberatan, sebab memang tidak berniat memilikinya. Tapi melihat gerak-gerik Topan Prahara, hatinya sedikit curiga. Orang tua itu kelihatan licik dan pandai berpura-pura. Cocok betul dengan calon muridnya yang bernama Sancaka itu. Dalam keadaan begitu, mendadak....

“Rangga! Jangan serahkan kitab itu! Dia penipu dan hendak mengecohmu...!” Terdengar suara seseorang yang sambil tergopoh-gopoh mendekati tempat ini.

“Heh?!”

Semua mata langsung berpaling ke arah asal suara. Ternyata yang muncul seorang pendeta berusia sekitar empat puluh tahun. Mungkin dia salah satu pendeta yang selamat dari pembantaian sadis yang dilakukan tokoh-tokoh hitam beberapa waktu lalu.

“Ki Sembada! Kau ke sini...? Ada apa gerangan?” tanya Rangga setelah pendeta itu mendekat.

“Kau tidak boleh menyerahkan kitab itu pada mereka!” ujar pendeta yang bernama Sembada ini.

“Kenapa? Bukankah kau yang mengatakan, bahwa aku harus menyerahkannya kepada Sancaka?” pancing Rangga.

“Ya! Tapi itu sebelum kutahu, bahwa Sancaka punya hubungan dekat dengan orang tua ini,” jelas Ki Sembada.

“Siapa sebenarnya orang tua ini? Benarkah dia keturunan Sangkakala Naga?” tanya Rangga, sambil melirik ke arah orang tua yang datang bersama Sancaka tadi.

“Tidak! Dia hanya pembohong busuk! Orang ini sama sekali tidak mempunyai sangkut-paut dengan Sangkakala Naga!” tegas Ki Sembada.

“Ki Sembada! Apa yang kau katakan? Kenapa kau membenciku? Dan, mengatakan hal-hal dusta? Kau tahu, aku keturunan Sangkakala Naga. Tapi, malah mendustainya!” ujar Topan Prahara dengan dahi berkerut dan raut wajah kurang senang.

“Tidak usah berdalih. Kau telah lama berusaha mencuri kitab itu, namun selalu digagalkan Wiku Dharmapala. Kemudian kau bujuk Sancaka. Kau rayu dia dengan kata-kata manis yang berbisa!” tukas Ki Sembada.

Orang tua itu tersenyum. “Ingin kulihat, siapa sesungguhnya yang berdusta. Kau atau aku,” ujar Topan Prahara pendek seraya terpaling pada Sancaka. “Sancaka! Katakan pada pendeta itu, bahwa kau ikut denganku karena sukarela dan tidak dibujuk!”

“Wahai pendeta, ketahuilah! Apa yang kau tuduhkan itu tidak benar! Kau berdusta, karena sesungguhnya aku sendiri yang datang kepada Ki Topan Prahara!” sahut Sancaka lantang.

Ki Sembada terpaku dengan wajah tidak percaya mendengar kata-kata pemuda tanggung itu.

“Sancaka! Kau memang nakal dan bandel sejak kecil. Tapi tidak seharusnya berdusta pada saat-saat yang penting...,” kata Ki Sembada keras.

“Kau hanya mengada-ada! Aku sama sekali tidak berdusta!” tegas Sancaka.

Rangga menghela napas mendengar ucapan lantang anak itu. Sancaka seperti bangga, atau karena merasa ada yang melindungi, yaitu Topan Prahara. Sambil berkacak pinggang dan wajah mendengus sinis, lagaknya betul-betul menganggap rendah semua tokoh yang ada di sini.

“Rangga! Kau harus percaya padaku. Topan Prahara bukanlah keturunan Sangkakala Naga. Kau tidak boleh menyerahkan kitab itu padanya. Aku mohon, Rangga...!” desah Ki Sembada.

“Lalu harus kuapakan kitab ini?” tanya Rangga.

“Hancurkan saja!” sahut Ki Sembada, mantap.

“Hancurkan?”

“Ya! Itu perintah Wiku Dharmapala bila keadaan betul-betul gawat,” jelas Ki Sembada.

Rangga berpikir beberapa saat.

“Kisanak! Tolong berikan kitab itu padaku...!” selak Topan Prahara, terus mendesak.

“Maaf, aku tidak bisa memberikannya kepadamu!” sahut Rangga, mantap.

“He, apa maksudmu?!” tanya Topan Prahara dengan dahi berkerut heran.

“Aku tidak akan memberikan kitab ini pada siapa pun!” tegas Rangga.

“Jadi kau ingin menyerakahinya sendiri?”

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum. “Kitab ini tidak berguna bagiku. Dan aku tidak berniat memilikinya. Sebab, akan kuhancurkan...,” sahut Pendekar Rajawali Sakti, enteng.

Topan Prahara memandang tajam kepada Pendekar Rajawali Sakti. Senyumnya hilang dan keramahannya pun sirna. “Anak muda! Serahkan kitab itu padaku! Itu bukan milikmu. Dan oleh karenanya, jangan paksa aku untuk bertindak keras kepadamu!” dengus Topan Prahara.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum. Dia tahu, apa akibatnya jika kitab itu tidak diserahkannya. Namun, sikapnya tetap bertahan untuk tidak menyerahkannya.

“Mungkin saja kau pewaris sah dari pemilik kitab ini. Tapi, jangan harap bisa memilikinya!” kata Rangga.

Topan Prahara mulai menunjukkan sikap garang. Dipandang sekalian tokoh yang ada di situ. “Hei, kalian semua! Tangkap pemuda ini. Dan, serahkan padaku. Kalian berhutang, karena telah coba mencelakai calon muridku. Kalau kalian berani membantah, jangan harap lolos dari tanganku!” perintah Topan Prahara.

“Phuih! Aku bukan budakmu! Kau kira aku takut dengan ancaman busukmu itu, he?!” bantah si Gila Muka Bidadari.

Namun sebelum Topan Prahara menjawab....

“Jangan khawatir, Ki! Kami akan bereskan pemuda ini!” seru Resi Jagadni seraya mengajak yang lain.

“Kisanak semua! Kalau kalian memang mau diperlakukan demikian maka jangan salahkan bila aku bertindak keras!” bentak Pendekar Rajawali Sakti seraya mengangkat kitab itu tinggi-tinggi. Dan....

“Heh?!”

Kresss...!

Semua orang terkejut melihat apa yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Kitab itu ternyata diremas dengan tangan kanan yang perlahan-lahan diselubungi cahaya kemerahan.

“Jangan! Oh, jangaaan...!” teriak Topan Prahara sambil melompat hendak merebut kitab itu dari tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Bersamaan dengan itu Resi Jagadni, si Nenek Bongkok Sakti, dan Iblis Kembar Selatan melompat pula hendak menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

“Hiyaaa...!”

DELAPAN

Rangga tidak mau menanggung bahaya terlalu besar. Sebelum para penyerangnya mendekat tangan kirinya langsung menghentak disertai jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ yang berisi tenaga dalam penuh.

Wesss!

Saat itu juga, meluncur sinar merah membara dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Beberapa orang berhasil menghindar dengan membuang diri. Namun malang bagi Rupaksa karena....

Blarrr!

“Aaakh...!” Tubuh Rupaksa kontan terpental ke belakang dihantam sinar merah dari tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dia tewas seketika dengan tubuh nyaris remuk.

“Rupaksa...!” jerit Rupaksi memilukan melihat keadaan saudaranya. Untuk sesaat Rupaksi terpaku memandangi jenazah saudara kembarnya. Namun tiba-tiba tubuhnya berbalik. Langsung ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dengan garang.

“Bedebah! Kubunuh kau! Kubunuh kau...!” bentak Rupaksi lantang sambil mencabut pedangnya.

Sring!

Kitab di tangan Pendekar Rajawali Sakti hancur berantakan menjadi serpihan kecil sebelum ada yang merebutnya.

Topan Prahara dan yang lain hanya terpaku tidak percaya setelah bangkit berdiri. Namun tidak demikian halnya Rupaksi. Dan Rangga pun tidak mau bertindak setengah-setengah.

“Fruhhh!” Sisa-sisa serpihan kitab itu mendadak dihembus oleh Pendekar Rajawali Sakti ke arah Rupaksi.

“Yeaaa...!” Tepat ketika Rupaksi gelagapan, Rangga melompat menerjang. Dengan sebisanya Rupaksi coba memapas lewat ayunan pedang. Namun, gesit sekali Pendekar Rajawali Sakti mencelat menghindar. Begitu berada di udara, tubuh Rangga meluruk sambil melepaskan tendangan keras. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Rupaksi tak sempat menghindar. Akibatnya....

Prak!

“Aaakh...!” Rupaksi memekik setinggi langit begitu kepalanya terhantam tendangan Pendekar Rajawali Sakti yang berisi tenaga dalam tinggi. Tubuhnya terjungkal sepuluh tombak ke belakang dengan kepala retak. Nyawanya melayang saat itu juga setelah menggelepar.

“Huh!”

Sementara Topan Prahara diam-diam hendak menyerang Pendekar Rajawali Sakti dari belakang. Namun sebagai pendekar yang telah banyak makan asam garam, Rangga sudah merasakan adanya desir angin halus di belakangnya. Secepat itu pula Pendekar Rajawali Sakti berbalik sambil menangkis.

Plak! Plak!

Begitu kuat tenaga benturan itu membuat Topan Prahara terjajar mundur beberapa langkah.

“Hiyaaa...!”

Bahkan belum sempat orang tua itu memperbaiki kuda-kudanya, bagai seekor rajawali melayang, Rangga meluruk ke arah Topan Prahara. Topan Prahara terkesiap, pontang-panting menyelamatkan diri. Namun Rangga tidak memberinya kesempatan. Pada saat itu, si Nenek Bongkok Sakti coba membokong dari belakang dengan satu hantaman tongkat.

“Heaaa...!”

Dengan nalurinya yang tajam, Pendekar Rajawali Sakti cepat mencelat ke samping hingga hantaman itu luput dari sasaran. Bahkan begitu mendarat di tanah, Rangga cepat meraih gagang pedangnya. Dan....

Sriiing!

“Heaaa...!” Begitu pedangnya tercabut, Pendekar Rajawali Sakti langsung mengelebatkannya ke arah si Nenek Bongkok Sakti. Maka cepat-cepat perempuan tua itu memapaknya.

Tras!

“Heh?!” Betapa terkejutnya si Nenek Bongkok Sakti melihat tongkatnya patah jadi dua. Bahkan lebih terkejut lagi ketika pedang bersinar biru itu terus berkelebat ke dadanya. Dan...

Cras!

“Aaa...!” Terdengar teriakan menyayat si Nenek Bongkok Sakti ketika dadanya tersambar pedang. Tubuhnya langsung ambruk dengan dada hampir terbelah mengeluarkan darah.

“Heaaa...!” Pada saat yang sama Resi Jagadni membentak nyaring dengan kedua tangan menghentak ke depan.

Wes! Wes!

Saat itu juga selarik cahaya putih yang diikuti desir angin kencang melesat dari telapak tangan laki-laki tua itu ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga yang memang telah menjaga segala kemungkinan, cepat membuat beberapa gerakan tangan. Dan begitu sinar biru dari pedang mengalir ke tangan kiri, Rangga menghentakkannya ke depan.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’...!” bentak Rangga. Selarik cahaya biru dari telapak kiri Pendekar Rajawali Sakti pun melesat, memapak cahaya putih.

Blarrr!

“Aaa...!” Resi Jagadni kontan terpekik, begitu kekuatan yang membentur, berbalik ke arahnya. Tubuh laki-laki tua itu langsung terjungkal sampai belasan langkah. Lalu ketika terhenti, tubuhnya diam tak berkutik. Perlahan-lahan tubuhnya hitam menghangus.

“Hhh...!” Sementara Topan Prahara terkesiap melihat kehebatan pemuda itu. Namun dia berusaha menguatkan hatinya.

“Yeaaa...!” Topan Prahara kembali meluruk menyerang. Namun, kali ini si Pendekar Rajawali Sakti telah waspada. Tubuhnya melejit tinggi ke atas, lalu menukik tajam, menyambar ke arah laki-laki tua ini.

Wut! Wut!

Pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat menyapu ke segala arah, seperti mengurung ruang gerak Topan Prahara, sehingga harus pontang-panting menyelamatkan diri.

Topan Prahara berusaha bergulingan menghadapi sambaran pedang Pendekar Rajawali Sakti yang bertubi-tubi. Begitu ada kesempatan, dia coba mencelat ke atas. Tapi pada saat itu, justru Pendekar Rajawali Sakti mengejarnya dengan hujaman pedangnya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

“Hiyaaa...!”

Blesss!

“Aaa...!” Tubuh Topan Prahara yang tengah melayang di atas, memang sulit untuk menghindar. Akibatnya, tanpa dapat dicegah lagi pedang Pendekar Rajawali Sakti yang bergerak cepat langsung menembus bagian tengah selangkangannya hingga ke perut. Topan Prahara memekik menyayat. Begitu tubuhnya jatuh kembali ke tanah, langsung menggelepar. Dan diam tak bergerak. Mati!

“Guru...!” Sancaka langsung menghambur menubruk tubuh calon gurunya yang bersimbah darah dengan wajah tak percaya. Disaksikannya calon gurunya tewas ditangan Pendekar Rajawali Sakti.

Trek!

Rangga menyarungkan pedang seraya memandang kepada si Gila Muka Bidadari. Sementara, Ki Sembada berjalan mendekatinya.

“Kenapa kau memandangiku? Apa kau juga hendak membunuhku?!” hardik nenek itu.

Rangga diam tak menjawab. Diliriknya sekilas Intan Sari. Tampak gadis itu duduk termangu di depan mayat Resi Jagadni. Gadis itu datang bersama si Gila Muka Bidadari. Jelas, mereka punya hubungan dekat.

“Resi Jagadni memang suamiku. Tapi, aku tidak peduli dia mati atau tidak!” ujar si Gila Muka Bidadari acuh tak acuh.

Rangga mengernyitkan dahi, ketika mengerti jalan pikiran wanita tua ini. Resi Jagadni suaminya? Dan orang tua itu mati di tangannya. Namun, nenek ini seperti tidak terjadi apa-apa saja.

Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak mau lama-lama memikirkannya. Pandangannya diedarkan ke seluruh tempat itu. Kelihatan Somanggala dan Dewangga masih belum angkat kaki. Rupanya mereka juga menyaksikan pertarungan seru tadi sampai tuntas.

“Apakah kalian masih menuntut kitab itu padaku?” tanya Pendekar Rajawali Sakti lantang.

Tak seorang pun yang menjawab. Semua diam membisu.

“Jangan kalian salah mengira tentang apa yang kulakukan. Aku sama sekali tidak kemaruk dengan kitab itu. Kalaupun aku ikut campur, itu karena permintaan Ki Sembada. Beberapa waktu lalu, aku sempat menyelamatkannya dari kejaran tokoh-tokoh yang menginginkan kitab itu. Dia memintaku untuk merebutnya dan mengamankannya untuk diberikan kepada pewaris sah. Yaitu, keturunan Sangkakala Naga...,” jelas Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti terdiam sejenak. Lalu matanya melirik sekilas kepada Sancaka. “Dan tahukah, kepada siapa sebenarnya kitab itu akan kuberikan? Yaitu kepada Sancaka,” lanjut Pendekar Rajawali Sakti, mengejutkan.

“Heh?!” Sancaka mendongak tak percaya mendengar kata-kata pemuda itu.

“Ya! Kitab itu semula akan kuberikan kepadamu, agar kau tidak dikejar-kejar tokoh persilatan lainnya,” tambah Rangga.

“Kenapa tidak kau serahkan tadi?” tanya Sancaka, masih dengan nada gusar.

“Aku akan menyerahkan kepadamu, sebelum mengetahui bahwa kau akan diangkat menjadi murid Topan Prahara,” jelas Rangga lagi.

“Apa bedanya?!”

“Bedanya banyak, kalau kau mengerti.”

“Kau cuma mengada-ada dan memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya!” dengus Sancaka.

Rangga tersenyum mendengar tuduhan itu. “Mungkin saja aku mengada-ada. Tapi, tolong tanyakan pada semua orang yang ada di sini. Siapakah sebenarnya Topan Prahara? Beliau adalah seorang penipu licik. Siapapun tahu, kalau dia adalah tokoh hitam yang menghalalkan segala cara, untuk mencapai maksudnya. Tidak peduli harus mengorbankan kawan sendiri!” jelas Pendekar Rajawali Sakti, meyakinkan.

“Huh! Aku tidak percaya ceritamu!” dengus Sancaka.

“Kalau demikian, maka keputusanku benar.”

“Apa maksudmu?!” sentak Sancaka.

“Kau tidak pantas memiliki kitab itu!” sahut Rangga enteng. “Hatimu busuk. Dan akalmu penuh kelicikan. Lidahmu pun selalu berdusta. Jika kelak kau menguasai kitab itu, hanya akan menimbulkan malapetaka saja!” Setelah berkata demikian. Pendekar Rajawali Sakti melangkah pergi.

“Aku berterima kasih atas bantuan yang kau berikan, Rangga...!” ujar Ki Sembada, tiba-tiba. Langsung dikejarnya Pendekar Rajawali Sakti.

“Tidak usah dipikirkan. Aku ikhlas membantu...,” sahut Rangga.

“Walau begitu, budi baikmu tidak akan mudah kulupakan!”

Rangga tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, Ki. Sancaka mungkin akan berusaha membalas dendam padamu suatu hari kelak...,” ingat Rangga seraya memegang kedua bahu Ki Sembada.

Pendeta itu melirik sekilas. Tampak sorot mata Sancaka penuh dendam kepada mereka. “Ya! Aku bisa melihatnya. Hatinya penuh dendam kesumat...,” sahut Ki Sembada lirih.

“Aku pergi dulu, Ki.”

Ki Sembada mengangguk. Rangga kembali melangkah pergi. Namun baru saja beberapa langkah, si Gila Muka Bidadari menghampiri.

“Ada apa, Supini?” tanya Pendekar Rajawali Sakti sambil tersenyum kecil. Rangga tidak mau salah lagi memanggil.

“Aku mau tanya, apakah kau sudah beristri?” tanya Nyai Supini ini.

“Belum,” jawab Pendekar Rajawali Sakti pendek.

“Sudah ingin beristri?”

Rangga tersenyum. “Aku tidak mengerti maksudmu...?”

“Kau cukup gagah dan tampan, Cah Bagus. Kalau kau berniat, aku ingin menjodohkanmu dengan cucuku Intan Sari,” jelas nenek ini seraya menunjuk gadis yang tak jauh dari situ.

Rangga memandang Intan Sari sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Cantik, bukan?” goda si Gila Muka Bidadari.

“Ya, cantik juga...,” sahut Rangga.

“Kau mau?”

“Hm, bagaimana ya? Aku harus tanya dulu pada orangtuaku!”

“Kau sudah besar dan pantas memutuskan sendiri.”

“Memang. Tapi aku anak manja! Aku tidak mau dimarahi orangtuaku. Tapi, biasanya mereka selalu mengabulkan keinginanku.”

“Tapi kau suka cucuku?”

“Mungkin. Nah! Sekarang, biar kutanya dulu pada orangtuaku. Lalu setelah itu, aku akan menemuimu...!”

“Baiklah....”

Rangga langsung berkelebat cepat sambil tersenyum-senyum sendiri. Kalau ada umur panjang dan Yang Maha Kuasa mempertemukan mereka kembali, mungkin itu sudah takdir. Tapi kalau menuruti langkah kakinya sendiri, tentu saja Rangga tidak mau. Dan yang membuatnya tersenyum adalah, dia mulai pandai mengecoh seperti... Sancaka!

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: DEWA MATA MAUT
Thanks for reading Kitab Naga Jonggrang I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »