Sepasang Pendekar Bertopeng

SEPASANG PENDEKAR BERTOPENG

SATU
DUA bocah kecil tengah berlari tersuruk-suruk menembus lebatnya ilalang dan ranting-ranting pohon yang sering menghambat jalan. Sesekali mereka tampak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah telah aman. Bocah perempuan yang berlari di belakang sudah terengah-engah dengan napas hampir putus. Sesekali tubuhnya terjungkal namun bocah laki-laki yang berlari didepannya tak mempedulikan. Meski di belakang tak terlihat apa-apa dia terus berlari sekuat tenaga. Sementara bocah perempuan itu sudah bangkit kembali dengan susah payah. Lututnya terlihat berdarah. Sedang kulit bahunya luka-luka kecil akibat tergores ranting-ranting pohon.

"Kakang Panjalu, berhentilah sejenak. Aku sudah tak kuat lagi. Napasku sesak...!" teriak bocah perempuan itu.

Namun agaknya bocah laki laki yang dipanggil Panjalu tak hendak menghentikan larinya. Bahkan tak menoleh ke belakang sama sekali.

"Aduh...!" Bocah perempuan itu mengaduh kesakitan ketika kembali terjerembab. Barulah bocah laki-laki itu menoleh dan menghampirinya.

"Ismi...! Ayo, cepat! Kau tak ingin mereka mengejar dan membunuh kita, bukan?!"

"Aku tak kuat lagi, Kang...," keluh bocah perempuan yang dipanggil Ismi.

Panjalu tampak kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Bola matanya, liar menatap ke belakang berkali kali dengan wajah cemas.

"Ayo, naik!" ujarnya sambil berjongkok, bermaksud menggendong adiknya.

"Kang! Kita istirahat dulu. Aku lapar dan haus...," keluh Ismi.

"Aduuuh! Coba tahan dulu rasa lapar dan hausmu itu. Mereka akan terus memburu dan membunuh kita. Bahkan...," Panjalu tak meneruskan kata-katanya.

Panjalu menatap wajah adiknya lekat-lekat. Sementara Ismi sama sekali tidak bergerak, dan hanya menunduk. "Baiklah.... Kita bersembunyi di tempat yang aman dan mencari buah-buahan yang bisa dimakan...," lanjut bocah laki-laki berusia sekitar empat belas tahun itu, seraya menggandeng tangan adiknya.

Mereka terus melangkah, memasuki semak belukar yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan. Sambil mencari tempat berlindung, Panjala mulai mencari buah yang banyak tumbuh di sekitarnya.

Sementara, Ismi duduk pada akar pohon yang cukup besar ketika melihat kakaknya memanjat sebatang pohon. Wajah bocah perempuan itu tampak pucat bagai tak berdarah. Sekujur badannya kotor dan penuh bercak-bercak hitam yang tak berdarah ditambah koreng-koreng yang belum sembuh. Demikian pula kakaknya. Kedua bocah itu memang mengidap penyakit kusta.

Ismi begitu asyik memperhatikan kakaknya yang sudah berada di atas pohon, memetik buah jambu air yang ranum-ranum. Namun belum lagi buah itu dilemparkan ke arahnya, mendadak...

"Ha ha ha...! Mau lari ke mana lagi kalian sekarang?!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras bercampur tawa kegirangan dari belakang bocah perempuan berusia dua belas tahun itu. Kemudian berlompatan lima sosok laki-laki berwajah seram, mengelilinginya.

"Kakang Panjalu!" Ismi tersentak kaget. Dan sambil menjerit memanggil kakaknya, dia bangkit dan bermaksud melarikan diri.

"Tangkap bocah itu!" Salah seorang dari kelima pengepung telah mencegat sambil menyodorkan golok, begitu mendengar perintah.

"Ayo! Jangan coba-coba melarikan diri! Diam di tempat!" bentak orang itu pada jarak satu tombak.

Laki laki berkumis melintang itu memang tak mau berdekatan dengan bocah bernama Ismi, karena takut ketularan penyakitnya. Sementara bola mata bocah perempuan itu menatap tajam dengan perasaan takut, namun penuh kebencian.

"Mana kakakmu?!" gertak laki-laki berkumis melintang itu lagi.

Ismi hanya diam seribu bahasa.

"Sial! Hei?! Apa telingamu tuli?! Mana kakakmu?! Ayo, jawab! Kalau tidak kupancung kepalamu!"

"Aku di sini!" sahut Panjalu, tiba-tiba melompat turun dari atas pohon.

Sebenarnya, Panjalu bisa saja bersembunyi dan menyelamatkan diri dari incaran kelima orang yang seluruhnya mengenakan seragam hitam itu. Namun bocah ini tahu betul kalau mereka sangat kejam. Mereka tak segan-segan untuk membunuh, walaupun yang dihadapi hanya bocah kecil. Itulah sebabnya, dia lebih memilih turun dan menghampiri adiknya. Perasaan sebagai kakak, tak rela adiknya bakal menjadi bulan-bulanan nanti.

"Bagus! Rupanya kau sayang pada adikmu, ya? Nah, ayo tunjukan pada kami. Di mana kitab itu!" bentak laki-laki yang berkepala botak.

Panjalu memeluk adiknya, seraya menatap kelima orang itu satu persatu. Telinganya memang merasa tidak asing lagi mendengar pertanyaan itu. Sehingga, tak ada alasan baginya untuk mengatakan tak tahu. Percuma saja. Memang, semua orang merasa yakin kalau bocah itulah yang mengetahui, di mana kitab ilmu silat yang amat langka dan banyak dicari tokoh persilatan.

"Ayo, katakan cepat!" bentak laki-laki berkepala botak itu lagi. Keempat kawannya menatap garang kedua bocah itu.

"Baiklah. Mari ikut kami...," sahut Panjalu sambil melangkah pelan.

"Tunggu! Mau ke mana kau?!" bentak laki-laki berkumis melintang seraya mengacungkan golok dengan tatapan curiga.

"Bukankah kalian menginginkan kitab itu?" sahut Panjalu, enteng.

"Hm... Jangan coba-coba mengakali kami. Tunjukkan saja, di mana tempatnya!" desis laki-laki yang berwajah penuh bopeng.

"Apakah kalau kutunjukkan tempatnya, lantas kalian percaya dan mau melepaskan kami?"

Mendengar pertanyaan itu, laki-laki berwajah bopeng ini menoleh kepada kawan-kawannya. Mereka berpikir sesaat. "Baiklah. Tapi, awas! Kalau sampai berani menipu kami, kalian berdua akan mampus, tahu?!" kata laki-laki yang berkumis melintang, memberi keputusan.

"Tentu...,!" sahut Panjalu sambil tetap merangkul pundak adiknya. Kini kakak beradik itu melangkah paling depan di antara kelima orang berpakaian serba hitam yang berada di belakang.

********************

Sepanjang perjalanan, Panjalu tak henti-hentinya memutar otak agar bisa lepas dari kelima orang ini. Namun semua jalan yang dipikirkan buntu. Sedang kelima orang itu terus mendesak, sehingga pikirannya jadi kacau.

"Bagaimana nasib kita sekarang, Kang...?" lirih suara Ismi.

"Entahlah...," desah Panjalu.

"Kenapa Kakang mengatakan kalau kita mengetahui kitab itu...?"

"Ssst...! Jangan keras-keras! Nanti terdengar mereka."

"Lama-kelamaan mereka akan tahu kalau Kakang berbohong. Bahkan sebenarnya tak tahu apa-apa soal kitab yang dicari itu...," keluh Ismi.

"Aku tak tahu harus mengatakan apa kepada mereka," balas Panjalu.

"Katakan saja, Kakang tak tahu-menahu soal kitab yang mereka cari-cari."

"Hush! Kau mau mereka membunuh kita? Coba saja lihat, apa yang kita alami sekarang? Semua itu karena kebencian mereka terhadap keluarga kita. Orang-orang membakar kedua orang tua kita hidup-hidup. Sementara, kita dikejar-kejar karena mengidap penyakit kusta yang dianggap berbahaya. Kita tak ubahnya seperti anjing kurap yang bisa dibunuh kapan saja dan oleh siapa saja. Masih untung mereka percaya kalau kita mengetahui tempat kitab yang dicari-cari itu. Jadi apa salahnya bila kita berbohong agar bisa selamat," jelas Panjalu berbisik-bisik.

"Tapi kalau mereka mengetahuinya...?" tanya bocah perempuan itu, tampak masih cemas.

Tenang sajalah dulu. Aku sedang mencari akal, bagaimana caranya agar bisa lepas dari mereka..."

"Hei?! Apa yang kalian bisik-bisikan?!" bentak salah seorang kawanan itu, yang memakai ikat kepala kuning dengan suara keras dan wajah beringas.

"Eh! Ti..., tidak. Aku sedang membujuk adikku agar jangan menangis. Di..., dia lapar dan haus...," sahut Panjalu terbata-bata.

"Huh! Biar sekalian saja mampus!" dengus yang memakai anting-anting di telinga sebelah kiri.

"Enak saja kau bicara, Patingga bocah-bocah ini tak boleh mampus, sebelum kitab itu berada di tangan kita!" bentak laki laki yang berkumis melintang.

"Lalu bagaimana Kurawa. Apakah kita harus memberi mereka makan?" tanya laki-laki yang memakai anting-anting dan bernama Patingga.

Ya, kita harus memberi mereka makan...," sahut laki-laki yang dipanggil Kurawa.

"Kurawa! Kau hanya diperbudak bocah buduk itu saja! Untuk apa meladeni mereka? Anak-anak itu masih kuat berjalan. Dan kalau sudah sampai tujuan, biarkan mereka mampus!" sahut yang berkepala botak dan bertubuh pendek. Namanya, Kunto.

"Betul, Kurawa. Kalau sampai adiknya mampus, biarkan saja. Toh yang dibutuhkan hanya abangnya," timpal Patingga.

Kurawa yang berkumis melintang, menatap ke arah laki-laki yang berikat kepala kuning. Dia bernama Goro. Kemudian tatapannya berpindah pada kawannya yang bertubuh kurus dan berwajah bopeng. Dia sering dipanggil dengan nama Durga. Meskipun Kurawa yang menjadi pimpinan dalam kawanan ini, tapi masih meminta pendapat pada dua orang kawannya.

"Sebaiknya dia memberi makan adiknya," sahut Goro, yang akhirnya tak setuju juga.

"Benar! Kalau adiknya sampai mampus, dia akan macam-macam. Dan dia ini, aku tahu ingin kitab itu lenyap begitu saja. Telah bertahun-tahun kita mencari dan menantinya. Apakah untuk waktu yang sesaat saja kita tak bisa bersabar?" tambah Durga. Seperti ikut menyokong Goro.

Dan ketika Kurawa mengambil sikap tegas, Patingga dan Kunto yang mulanya tak setuju, akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Kurawa memandang kepada Panjalu.

"Hei, Bocah! Kau lihat pohon itu? Nah, buahnya banyak bergelantungan. Panjatlah sendiri dan beri makan adikmu," ujar laki-laki berkumis melintang itu.

"I..., iya! Terima kasih...," sahut Panjalu sambil bergerak cepat, dan memanjat pohon yang ditunjuk Kurawa.

Sebentar saja Panjalu telah turun, lalu berjalan sambil membawa banyak buah-buahan yang dapat dimakan berdua adiknya. Kelima orang itu hanya mengawasi pada jarak satu tombak. Sejak tadi, tak seorang pun dari mereka yang mau mendekat. Alasannya sudah jelas. Takut ketularan penyakit kusta yang diderita kakak beradik itu.

"Sudah! Ayo, cepat! Kalian bisa makan sambil jalan!" bentak Kunto garang.

Kakak beradik itu cepat bangkit dengan wajah takut-takut.

"Berapa lama lagi perjalanan kita?" tanya Kurawa, agaknya sudah tak sabaran.

"Eh! Ng..., tak lama lagi. Di balik bukit itu...," tunjuk Panjalu.

Kelima orang itu memandang ke arah yang ditunjuk Panjalu, lalu mereka saling pandang dengan wajah curiga. Sebentar kemudian, tatapan mata mereka tertuju pada bocah itu.

"Eh, Bocah! Jangan main-main kau. Tahukah kau, apa yang ada di sana? Di balik bukit itu hanya ada sebuah kampong. Dan rasanya mustahil kalau kitab langka itu disembunyikan di tempat ramai begitu!" bentak Kunto menggelegak.

Panjalu tersentak mendengar bentakan itu. Bukan saja merasa kalau kebohongannya akan terungkap. Tapi juga sungguh tak tahu kalau di balik bukit sana terdapat sebuah kampung. Memang ketika melihat bukit itu, dia hanya sembarang tunjuk.

"Aku hanya mengatakan apa yang kuketahui. Kalian percaya atau tidak, ya! Terserah!" kilah Panjalu enteng, seraya mengangkat kedua bahunya. Bocah itu memang cukup cerdik. Sehingga, dia tak pernah kehilangan akal.

"Di mana kitab itu berada?! Setiap sudut di wilayah itu, aku mengetahuinya dengan jelas!" desak Patingga.

"Eh! Di..., di suatu tempat yang tersembunyi...," sahut Panjalu semakin gelagapan.

"Setan! Kau dengar kataku, heh?! Sebap sudut desa itu kuketahui pasti! Karena, aku lahir dan dibesarkan di sana!" bentak Patingga semakin geram.

Keempat kawan Patingga yang lain kini menatap kepada dua bocah itu dengan wajah geram. Panjalu tampak ketakutan. Sedangkan adiknya mulai menangis dengan sekujur tubuh gemetar.

"Kau hendak mempermainkan kami, Bocah?! Kau akan terima kematianmu!" dengus Kunto dingin, sambil mengacungkan golok tinggi tinggi.

Sejak tadi Kunto memang sudah tak sabar melihat dua orang bocah itu. Dan hanya karena ke hadiran kawan-kawannya saja yang membuatnya bisa sabar. Dan kali ini, terlihat keempat kawannya tak memberi tanggapan melihat tindakannya.

Kunto memang dikenal sangat bengis dan tak mengenal kasihan. Maka bisa dipastikan kedua bocah itu akan menjadi korban goloknya yang tajam berkilat sesaat lagi. Namun sebelum hal itu ter jadi...

"Ha ha ha...! Baru kali ini kutahu bahwa Lima Iblis Maut punya kebiasaan menyiksa bocah tak berdaya!"

Mendadak terdengar suara nyaring yang menusuk telinga mereka, karena disertai pengerahan tenaga dalam.

"Heh!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang demikian cepat. Dan tahu-tahu di depan mereka berdiri tegak seorang pemuda tampan memakai baju putih bersenjatakan pedang. Alisnya tebal, dan matanya tampak juling. Rambutnya yang gondrong, diikat sehelai pita merah.

"Kaliambar! Apa mau mu menghadang perjalanan kami?" tanya Kurawa dingin, ketika mengenali pemuda itu.

"Ha ha ha...! Pertanyaanmu tak bersahabat Sobat. Kenapa? Apakah urusan kalian takut kuganggu?"

"Siapa yang peduli denganmu!" dengus Kurawa menunjukkan ketidaksenangannya secara terang-terangan.

"Ha ha ha...! Begitukah sikapmu? Kalau demikian, aku juga tak peduli pada kalian. Aku hanya menginginkan kitab itu," kata Kaliambar, sinis.

"Hm.... Kau boleh mencarinya sampai akhir umurmu!" sahut Kunto cepat.

"Ha ha ha...! Kalian pikir, aku dungu dan tak tahu siapa kedua bocah itu, heh?! Mereka adalah anak Ki Dewoko dan Nyi Kuniasi yang sudah mampus itu. Orang-orang tolol itu malah membakar mereka hidup-hidup, sebelum kitab itu ditemukan. Phuih! Serahkan kedua bocah itu padaku, atau kalian akan berurusan denganku!"

Kali ini agaknya pemuda yang bernama Kaliambar tak mau lagi berbasa-basi. Wajahnya terlihat sangat angker. Sepertinya dia ingin menunjukkan pada kelima orang ini, kalau niatnya untuk mengambil kedua bocah itu tak akan bisa dihalangi.

Sementara Kurawa sudah mengetahui kalau pemuda itu memiliki ilmu silat tinggi. Jika berhadapan satu lawan satu, bisa dipastikan mereka tak akan memang. Tapi cara keroyokan, apa yang musti ditakutkan? Dan Kurawa pun mendengus sinis dengan sikap menantang.

"Kau boleh mengambilnya, setelah melangkahi mayat Lima lblis Maut!" tantang Kurawa dingin.

"Hm, bagus! Nyalimu semakin besar, karena kalian kini berlima. Tapi ingin kulihat, sampai di mana kesombongan Lima lblis Maut," sahut Kaliambar.

Seketika itu pula tubuh pemuda juling ini melesat menyerang kelima lawannya. Pedangnya yang sudah dicabut dari warangka, segera dibabatkan ke masing-masing orang itu.

"Yeaaa...!"
"Uhhh...!"
"Setan..!"

Kelima orang yang ternyata berjuluk Lima lblis Maut memaki kesal sambil jungkir balik menyelamatkan diri.

"Yeaaa...!"

Begitu telah berdiri tegak kembali, Kurawa dan Kunto berteriak berbarengan. Dan mereka segera meluruk, berusaha menyergap lawan dari belakang. Kurawa membabatkan goloknya ke kepala, sedangkan Kunto membabat pinggang.

Melihat hal itu, Kaliambar melompat tinggi sambil berputar beberapa kali laksana gasing. Kemudian tubuhnya melesat turun bagaikan elang menyambar anak ayam. Begitu mendarat di tanah, kelima lawannya telah menyambut dengan tebasan golok. Terpaksa pemuda itu memapak dengan pedangnya.

Trangi Trang!
"Heh?!"

Dua benturan terjadi ketika pedang milik Kaliambar membabat dua golok Kurawa dan Patingga. Kedua orang itu terkejut setengah mati, begitu merasakan tenaga dalam Kaliambar yang sudah demikian tinggi. Dan lebih terkejut lagi, ketika pedang itu terus meluncur dan menusuk ke arah Durga yang tak sempat berkelit, sehingga...

Cras!
"Aaa...!"

Durga berteriak menyayat begitu lehernya terbabat pedang milik Kaliambar. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung, dengan tangan memegangi leher yang telah mengucurkan darah. Sebentar kemudian tubuhnya ambruk dan langsung menggelepar tak berdaya. Dia tewas beberapa saat kemudian, dengan leher masih bunting.

Sementara di lain tempat kedua bocah itu terlihat ketakutan melihat pertarungan itu. Terlebih-lebih Ismi, meski belakangan ini sering melihat, namun darahnya masih tersirap menyaksikan orang terluka menyemburkan darah dan menggelepar seperti ayam dipotong. Tubuhnya kontan menggigil. Namun, Panjalu cepat menenangkannya. Dan bocah laki-laki itu melihat peluang untuk melarikan diri dari tempat itu.

"Ayo, cepat! Mereka sedang sibuk ini kesempatan untuk kabur!"

Panjalu segera menarik tangan adiknya. Langsung diajaknya Ismi berlari meninggalkan tempat itu, disaat pertarungan antara Lima lblis Maut yang kini berjumlah empat orang melawan Kaliambar. Maka dengan langkah tersaruk-saruk, Ismi mengikuti kakaknya yang berlari sekencang kencangnya.

"Pelan-pelan saja, Kang! Kakiku sakit..." keluh bocah perempuan itu.

"Ayo! Kau harus menguatkan semangatmu. Jangan mengeluh. Kalau kita tertangkap lagi, habislah riwayat kita. Siapa pun yang menang, sama saja. Mereka tetap akan membunuh kita!"

Ismi tak membantah. Air matanya kini meleleh menahan perih di kakinya. Persendian lututnya seperti mau lepas ketika dibawa lari sedemikian kencang dan dalam keadaan terpaksa begini. Tapi hatinya berusaha dikuatkan. Benaknya terus membayangkan, kalau saja mereka sampai tertangkap, maka golok atau pedang yang tajam akan segera menggorok leher. Dan membayangkan hal itu, langkahnya semakin cepat.

Mereka terus berlari menelusuri kaki bukit, dan mendaki gunung tinggi yang tampak di depan. Tidak dipedulikan lagi onak duri dan batu-batu gunung sebesar kerbau, serta jurang yang menganga di kanan dan kiri. Mereka terus berlari seperti tak mau berhenti.

"Kakang, berhenti dulu. Napasku mau putus rasanya...!" keluh Ismi terengah-engah.

"Iya, iya.. Aku pun capek sekali...," sahut Panjalu sambil menghentikan langkah.

Bocah laki-laki itu melihat adiknya terduduk di bawah sebuah batu besar dengan napas kembang kempis. Segera dihampirinya Ismi, lalu berusaha untuk duduk bersandar di sebelah adiknya. Kedua bocah itu memandang jauh ke depan, sambil sesekali melirik ke arah yang tadi dilalui dengan hati was-was. Di depan mereka, terbentang jurang lebar dan dalam. Dari atas terlihat kehijauan gerumbulan dedaunan lebat di bawah sana. Sementara di dekat mereka, terdapat jalur dua arah yang harus dilalui. Dan, entah menuju ke mana.

"Kang, kira-kira siapa yang menang di antara mereka...?" tanya Ismi.

"Siapa? Orang yang berkelahi itu?" Panjalu malah balik bertanya.

Bocah perempuan itu mengangguk.

"Entah. Orang berbaju putih itu hebat. Meski dikeroyok lima orang, tapi tak takut. Bahkan berhasil membunuh seorang musuhnya..."

"Dia jahat juga, Kang?"

"Orang-orang itu semuanya jahat pada kita, Ismi! Mereka tak boleh dipercaya."

"Aku dendam pada mereka, Kang! Apalagi, pada orang-orang yang telah membunuh kedua orangtua kita!" dengus bocah perempuan itu tiba-tiba dengan mata berkilat tajam.

"Aku juga. Kalau sudah besar nanti, aku akan mencari guru yang hebat dan berlatih ilmu olah kanuragan. Akan kuhajar mereka semuanya!" sahut Panjalu geram.

"Aku ikut, Kang!

"Tentu. Kau akan kuajak juga!"

Mendadak, saat itu muncul di hadapan kedua bocah itu seorang pemuda berbaju putih. Kedatangannya bagai hantu saja, sehingga kedua kakak beradik itu terkejut kaget, dan buru-buru bangkit sambil berjalan mundur menjauh.

"Heh?!" "Kakang...," desah Ismi lirih dengan wajah pucat ketakutan.

"Tenanglah, Ismi..."

"Laki-laki ini yang tadi..."

"Iya, aku tahu. Kelima Orang tadi barangkali telah mati di tangannya," sahut Panjalu.

"Hua ha ha...! Hei, Bocah! Mau ke mana kalian? Ke sini lebih dekat padaku. Jangan takut. Aku tak akan menyakiti kalian!"

Pemuda berbaju putih yang tak lain Kaliambar itu tertawa keras. Kemudian dengan muka manis, dia berusaha membujuk kedua bocah itu sambil mengulurkan tangan. Sedangkan Panjalu dan Ismi tak bergeming. Wajah mereka ditekuk sedemikian rupa, dengan sorot mata tajam tak percaya.

"Ayo, ke sini. Aku ingin minta tolong sesuatu pada kalian," bujuk Kaliambar.

"Tidak! Kau jahat sama seperti mereka!" sahut Panjalu tegas, sambil terus mundur kebelakang.

"Eee...! Siapa yang mengajarimu berkata begitu? Ayo, ke sini kataku!" bentak Kaliambar, mulai hilang kesabarannya melihat sikap bocah itu.

"Tidak! Kau jahat, dan pasti akan membunuh kami!"

"He he he...! Siapa yang mengatakan begitu? Untuk apa aku meski membunuh kalian? Dan kalau aku ingin membunuh, maka sudah sejak tadi kulakukan. Tapi buktinya aku tidak melakukannya, kan? Nah! Itu berarti aku memang tak berminat membunuh kalian," bujuk Kaliambar lagi.

Panjalu diam mendengar kata-kata itu. Namun, otaknya terus berputar. Pengalaman yang didapat pada hari-hari belakangan ini sangat menjadi pelajaran baginya untuk tidak mempercayai siapa pun di dunia ini.

"Nah! Sekarang kalian percaya, bukan? Aku hanya ingin minta tolong saja lanjut Kaliambar sambil tersenyum kecil.

"Menolong apa?" tanya Panjalu. Sebenarnya bocah itu sudah menduga, apa yang diiinginkan pemuda ini. Tadi pun ketika bertarung, sudah jelas terdengar kalau keinginan pemuda ini pasti adalah kitab yang sama sekali tidak diketahuinya.

"Bagus. Kalau bisa menolongku, kalian akan kubebaskan. Bahkan akan kulindungi. Siapa pun yang berani mengganggu kalian akan kutebas lehernya," lanjut Kaliambar.

Mendengar kata-kata itu, Ismi tampak gembira. Kecemasan di hatinya berangsur-angsur hilang. Perlahan-lahan dilepaskannya pelukan pada kakaknya. Tapi, tidak demikian halnya Panjalu. Rasanya semanis apapun yang keluar dari mulut laki-laki itu, tak akan mengubah pendapatnya kalau semua orang jahat dan memusuhi mereka.

"Apa yang bisa kami tolong?" Panjalu mengulangi pertanyaannya.

"Singkat saja. Semua orang tahu, orang tua kalian menyimpan sebuah kitab berisi pelajaran ilmu silat tingkat tinggi dari seorang tokoh terkenal yang dititipkan padanya. Nah! Tahukah kalian, di mana kitab itu disembunyikan?" tanya Kaliambar sambil tersenyum lebar.

"Kitab itu tak ada padaku. Juga, kedua orang tua kami tak bercerita apa-apa tentang hal itu...," sahut Panjalu pelan.

"Hm.... Jangan membohongiku."

"Tuan! Kakangku berkata yang sebenarnya. Kami tak tahu-menahu soal kitab itu. Sekarang, tolong lepaskan kami...," sahut bocah perempuan itu cepat.

Wajah Kaliambar tampak berubah. Senyum seketika hilang. "Katakan, di mana kitab itu berada! Atau, kalian akan kusiksa," ancam Kaliambar, datar.

Ismi kembali memeluk tubuh kakaknya mendengar ancaman itu. Ketenangan hatinya kembali berkecamuk. Dan kepercayaannya pada laki-laki itu hilang seketika.

"Ayo, katakan! Di mana kitab itu berada!" bentak Kaliambar garang dengan mata melotot.

"Kami sungguh-sungguh tak tahu di mana kitab itu berada...," sahut Panjalu.

"Setan!"
Sring!

"Kakang, aku takut..." Ismi merinding ketakutan sambil menyembunyikan wajahnya ke balik punggung Panjalu, ketika melihat pemuda itu mencabut pedangnya dan diacungkan ke arah mereka.

"Ayo, katakan cepat! Atau, kalian akan mampus sekarang juga?! Cepat jangan sampai kesabaranku hilang!"

Panjalu tergagap mendengar bentakan itu, namun sebisa mungkin berusaha menenangkan diri. Matanya sekilas kebelakang. Dan memang, jalan telah buntu, karena jurang menganga lebar. Diam-diam, dia mengeluh dalam hati.

Sementara Ismi sudah menangis sesegukan menahan rasa takut yang amat sangat. Saat itu pula tubuh Panjalu bergetar hebat, seperti kehilangan akal. Memang tak ada lagi jalan keluar bagi mereka di tempat ini. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja melintas pikiran nekat di hati bocah laki-laki itu. Seketika tubuh adiknya dipeluk erat-erat. Kemudian sambil mendengus garang ditatap pemuda berbaju putih itu tajam-tajam.

"Kau boleh berkata sesukamu. Tapi, jangan harap bisa memaksaku!"

"He, Bocah Setan! Kau pikir aku tidak berani membunuhmu!" gertak Kaliambar, berang.

Mata pemuda itu melotot lebar dan gerahamnya bergemeretak. Agaknya, dia bukan sekadar menggertak. Nyatanya perlahan-lahan kakinya melangkah mendekati kedua bocah kecil itu. Namun....

"Hup!"
"Heh?!"

Tak disangka-sangka, Panjalu melompat kedalam jurang di belakangnya, sambil memeluk adiknya. Kaliambar tercekat kaget, dan tak keburu menangkap mereka.

"Aaa...!"

Pemuda itu hanya bisa mendengar jeritan panjang kedua bocah yang diincarnya. Sambil menggerutu kesal, kembali pedangnya disarungkan sambil melongok ke dalam jurang. "Bocah goblok! Mampuslah kau di bawah sana!" dengus Kaliambar geram, sambil berlalu dari tempat itu.

********************

Sebelas tahun telah berlalu, ketika orang-orang persilatan meributkan sebuah kitab pusaka, sehingga mengakibatkan dua bocah yang tak tahu apa-apa hilang tak tentu rimbanya. Tak banyak yang tahu kejadiannya. Kaliambar sendiri yang menyebabkan kedua bocah bernama Panjalu dan Ismi terperosok dalam jurang, tak banyak bicara. Memang sesudah kejadian itu, Kaliambar masih berusaha mencari-cari kitab itu. Namun hasilnya nihil. Akhirnya, orang tak pernah lagi mendengar namanya. Banyak yang menduga kalau Kaliambar mengasingkan diri sambil memperdalam ilmu silatnya.

Sementara kedua bocah itu pun banyak dicari tokoh persilatan untuk mendapatkan keterangan tentang kitab itu. Namun tak seorang pun berhasil menemukan. Banyak yang menduga mereka telah tewas. Bisa karena sakit kusta yang diderita, dimakan binatang buas, atau paling tidak dibunuh beberapa tokoh persilatan. Dan sampai sejauh ini tak terdengar berita kalau kitab itu telah diketemukan. Dan kini benda itu masih menjadi teka-teki yang belum terungkap.

Siang itu udara tak terlalu kering. Dan matahari yang bersinar cerah, terhalangi oleh awan-awan kelabu. Di kaki langit sebelah selatan, mendung mulai tebal. Barangkali sudah turun hujan di sana. Sementara di jalan yang membentang lurus ini dari kejauhan terlihat dua ekor kuda berlari kencang. Setelah dekat, terlihat jelas kalau penunggangnya adalah sepasang anak muda. Pemuda berbaju rompi putih dengan sebuah pedang berhulu kepala rajawali tesembul di balik punggung itu memacu kudanya sedang-sedang saja.

Sementara, gadis berbaju biru muda dengan kipas baja berwarna keperakan yang terselip di pinggang itu juga seperti tak ingin meninggalkan pemuda yang berkuda di sampingnya.

"Berhenti, Pandan!" ujar pemuda itu sambil mengangkat sebelah tangannya.

"Ada apa, Kakang?" tanya gadis yang ternyata memang Pandan Wangi.

Memang, pemuda berbaju rompi putih itu adalah Rangga. Dan dia dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Agaknya gadis itu tak perlu bertanya lebih lanjut, ketika Rangga menatap tajam ke depan. Tampak pada jarak lima tombak di depan, bergelimpangan mayat-mayat yang sudah menyebarkan bau anyir. Setelah Pandan Wangi menghitung mayat yang berjumlah lima orang, matanya memandang sekilas pada Rangga. Sedangkan pemuda itu turun dari punggung kuda hitamnya. Dan Pandan Wangi segera mengikuti, lalu berjalan di sebelahnya.

"Hati-hati, Kakang...!" ujar gadis itu memperingatkan, ketika Rangga memeriksa mayat itu satu persatu.

"Rupanya ada yang masih hidup...," sahut Rangga, ketika melihat salah seorang masih bernapas lemah.

Pandan Wangi mendekat, begitu Rangga mengangkat tubuh kekar berotot dari seorang pemuda yang berpakaian lusuh itu. Luka-luka di tubuhnya tak terlalu parah. Hanya sedikit goresan-goresan kecil di kulitnya yang sawo matang. Bisa jadi, dia hanya pingsan tadi. Buktinya setelah Rangga mengurut-urut bagian tertentu di tubuhnya, pemuda berhidung kecil mancung itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya dengan pandangan heran.

"Ohhh...! Di mana aku...? Apa..., apakah aku sudah berada di akherat...?" desah pemuda berwajah persegi dan berambut pendek ini.

Rangga menatap pemuda itu sambil tersenyum manis. Baju pemuda itu lusuh. Pendekar Rajawali Sakti sedikit heran, mengapa pemuda itu bisa pingsan. Padahal, tak terlihat tanda-tanda luka di tubuhnya. Bisa jadi dia memang anak petani dan sama sekali tak mengerti ilmu silat, kemudian dihadang perampok yang mahir ilmu silat. Sehingga, pemuda ini dibuat tak berdaya.

"Kisanak! Namaku Rangga. Dan ini kawanku, Pandan Wangi. Kau masih berada di dunia. Apa yang terjadi di sini?" tanya Rangga setelah memperkenalkan diri.

"Aku... eh! Kami diserang perampok ganas. Semua kawanku tewas. Sedangkan aku terkena pukulan hingga tak sadarkan diri. Kisanak terima kasih atas pertolonganmu...," sahut pemuda itu memberi hormat.

"Kapan peristiwa itu terjadi?" tanya Rangga.

"Kira-kira, pagi tadi...," sahut pemuda itu.

"Kau tahu, ke mana kira-kira perampok itu pergi?"

Pemuda itu menggelengkan kepala. "Aku tak sadarkan diri ketika itu...."

"Hm... Iya, ya.... Kulihat lukamu tak parah, jadi bisa pulang ke desamu. Eh, siapa namamu...?"

"Namaku Soreang. Oh, ya. Kalau boleh tahu, siapakah kalian? Maksudku, julukan kalian. Kulihat, kalian membawa senjata. Aku yakin kalian adalah pendekar-pendekar hebat. Jadi hanya sekadar untuk kuingat, bahwa kalian telah menyelamatkan nyawaku...," ujar laki-laki bernama Soreang itu.

"Dia dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti." Pandan Wangi lebih dulu membuka suara. Padahal, tadinya Rangga tak akan menyebutkan siapa dirinya. Dia mengharap, Soreang cukup hanya mengenal nama saja.

"Pendekar Rajawali Sakti? Oh! Julukanmu sering kudengar, Pendekar Rajawali Sakti. Tak sangka, aku bisa bertemu pendekar besar di sini. Sekali lagi, terima kasih atas pertolonganmu, Pendekar Rajawali Sakti. Terima kasih...!" ucap Soreang, sambil membungkukkan badan berkali-kali.

"Soreang! Aku tak membantu apa-apa padamu. Tanpa kubantu pun, kau akan sadarkan diri beberapa saat kemudian. Nah, jangan terlalu berlebihan seperti itu," ujar Rangga, seraya membangunkan pemuda itu.

"Tidak! Walau bagaimanapun, kau adalah penolongku. Perampok itu pasti ketakutan ketika melihat kalian datang!" sahut Soreang yakin.

Rangga tersenyum kecil. Dia bangkit sambil menoleh sekilas pada Pandan Wangi. Dan gadis itu hanya mengangguk seperti memberi isyarat. Kemudian kembali ditatapnya Soreang.

"Kisanak! Kukira, kami tak bisa berlama-lama di sini karena akan melanjutkan perjalanan," kata Rangga sambil naik ke punggung kudanya, diikuti Pandan Wangi.

Soreang membungkuk hormat. "Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas pertolongan, Kisanak."

"Sudahlah. Nah, hati-hati di jalan!" sahut Pandan Wangi sambil menghela kudanya.

Kedua anak muda itu beberapa saat telah berlalu dari hadapan Soreang. Sementara, pemuda bernama Soreang itu segera menoleh ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan, lalu tersenyum kecil. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi sudah cukup jauh dari tempat ini Mereka terus menjalankan kudanya perlahan-lahan, sambil berbincang-bincang.

"Kakang, kenapa kau diam saja sejak di sana tadi...?" tanya Pandan Wangi melihat pemuda itu diam saja sepeti termenung.

"Aku sedang berpikir...," sahut Rangga.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Orang tadi. Kenapa dia merasa tak sedih melihat kawan-kawannya binasa? Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kesedihan..," duga Rangga.

"Aku juga sudah curiga. Kurasa, dia berpura-pura."

"Apa maksudmu?"

"Jangan-jangan, malah dia pembunuhnya!" tuduh Pandan Wangi.

Rangga tersenyum kecil. "Entah... Tapi kalau ternyata kelak terbukti, toh dia tak akan selamat dari hukuman," sahut Rangga dan segera menghela Dewa Bayu lebih kencang.

Kuda putih yang ditunggangi Pandan Wangi terkejut dan berusaha sekuat tenaga mengimbangi derap langkah kuda hitam yang bernama Dewa Bayu. Kedua binatang tunggangan itu berlari seperti berpacu, meninggalkan debu yang membubung tinggi di sepanjang jalan yang dilalui.

********************

Desa Gudang Banyu terletak di antara dua gunung yang menjulang tinggi. Suasananya tak begitu ramai. Desa itu pada mulanya adalah jalan penghubung antara mereka yang berada di barat, dan timur. Namun sejak ada jalan lain yang lebih singkat maka desa ini jarang disinggahi. Bukan saja karena jaraknya yang jauh dan berliku-liku, namun karena masih banyak perampok berkeliaran.

Di beranda sebuah rumah yang paling besar dan mewah di Desa Gudang Banyu seorang laki-laki setengah baya tampak tengah bersiul-siul menggoda burung perkututnya. Dia memang mempunyai banyak perkutut yang setiap hari digantung pada tonggak kayu di halaman depan rumahnya. Tak heran kalau di halaman rumahnya terdapat tonggak kayu untuk menggerek sangkar berisi perkutut. Biasanya, pembantunyalah yang mengurusi burung-burungnya itu. Namun sesekali, dia pun suka pula ikut mengurusi. Kesibukannya sebagai kepala desa agaknya tak menjadi halangan baginya untuk sesekali ikut mengurusi perkutut-perkututnya.

"Ayo, Tukong. Kau harus pandai manggung yang merdu. Jangan seperti burung hantu begitu!" teriak Kepala Desa Gudang Banyu itu pada seekor perkutut yang baru saja dikerek turun.

Perkutut yang dipanggil Tukong itu diam membisu, dengan mata menatap tajam ke arahnya. Kemudian kedua sayapnya digoyang-goyangkan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkar seperti gelisah.

"Warso...!"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara pelan, namun membuat kepala desa itu tersentak kaget. Tak jelas dari mana datangnya tahu tahu saja di dekatnya telah berdiri tegak dua sosok tubuh berpakaian coklat dan kuning. Wajah mereka tak jelas, karena seluruh kepalanya terbungkus kain warna merah. Hanya ada dua lubang pada bagian mata mereka yang menatap tajam ke arah kepala desa itu. Sementara dengan cepat laki-laki berusia lima puluh tahun itu melompat berbalik, dan surut ke belakang dengan siaga.

"Kenapa? Kau kelihatannya ketakutan sekali, Warso? Ayo, panggillah tukang-tukang pukul dan jagoan-jagoan silat bayaranmu itu untuk melindungi dirimu," ejek salah seorang dari kedua sosok bertopeng itu.

"Siapa kau?!" bentak Warso.

"Hm.... Apakah kau sungguh-sungguh ingin tahu? Ingatlah peristiwa sebelas tahun yang lalu, ketika dua orang bocah berpenyakit kusta yang dikejar-kejar untuk dibunuh. Orang tuanya difitnah, dengan mengatakan kalau mereka memiliki kitab ilmu silat yang menghebohkan. Sehingga banyak tokoh silat yang ikut tertarik dengan fitnah itu. Lalu kau, anak buahmu, dan tokoh-tokoh silat akhirnya membakar mereka hidup-hidup. Kau ingat itu, Warso? Dan hari ini, adalah hari pembalasan atas semua perbuatan-perbuatan yang terkutuk itu," sahut orang bertopeng itu dingin.

"Ka.., kau Panjalu dan Ismi, putra-putri Ki Dewoko dan Nyai Kumiasih...?" tanya Warso, seperti ingin meyakinkan.

"Itu bukan urusanmu!"

Mendengar jawaban itu, Warso tersentak. Mendadak dia seperti ingat terhadap harga dirinya. Mana mungkin dia menunjukkan rasa keterkejutannya di depan kedua orang bertopeng ini? Apapun yang terjadi, mereka tak bisa begitu saja menggertaknya. Maka dengan sikap jumawa dan suara yang dibuat sedemikian rupa, keberaniannya berusaha ditunjukkan.

"Huh! Kalian pikir dengan menceritakan peristiwa itu, akan membuatku takut? Phuih! Biarpun Ki Dewoko hidup lagi, tak bakal aku akan lari. Mereka memang sudah selayaknya mampus, karena akan membawa malapetaka saja!" dengus Warso, sambil berkacak pinggang.

Bersamaan dengan itu, kepala desa itu bersuit nyaring. Maka dalam beberapa saat saja, terlihat beberapa orang laki-laki berwajah kasar telah berkumpul ditempat itu, siap dengan senjata masing-masing. Kesombongan Warso semakin bertambah saja melihat anak buahnya telah mengepung kedua orang bertopeng itu.

"Ha ha ha...! Warso! Apakah jumlah ini tak bisa diperbanyak lagi? Ayo, panggil semua tukang pukulmu. Tapi, jangan harap nyawamu akan kulepaskan begitu saja. Kau akan mampus, Warso!"

Kedua orang itu malah tertawa ketika dikurung sedemikian rupa. Dari nada bicara mereka, jelas kalau kedua orang bertopeng itu sama sekali tidak takut. Bahkan malah menganggap enteng para tukang pukul Kepala Desa Gudang Banyu itu.

"Keparat! Menyerahlah. Kalian sudah terkepung!" dengus Warso.

"He he he...! Kesombonganmu mulai terlihat, Warso! Apakah kau pikir sudah yakin akan mampu menangkapku?" ejek yang berbaju coklat.

"Hm, kenapa tidak? Pengacau busuk seperti kalian tak akan kuampuni. Kalian akan dihukum berat!" balas Warso.

"Sepertinya kau bicara tentang keadilan. Tapi, kau sendiri lupa kalau telah bertindak tak adil sebelas tahun lalu. Kedua bocah itu hidup sengsara, dan mereka tak mengerti apa-apa. Tapi dengan kekejamanmu yang seperti binatang kau mengejar mereka seperti anjing buduk. Apa salah mereka, Warso? Dan, mana keadilan untuk mereka?" sindir yang berbaju kuning.

"Huh! Kau menginginkan keadilan? Inilah keadilan untukmu!" sahut Warso. Seketika diberinya isyarat pada anak buahnya untuk menangkap kedua orang bertopeng itu.

Maka seketika anak buah kepala desa itu bergerak ke arah kedua orang bertopeng ini, dengan senjata terhunus. Kelihatannya, mereka tak akan memberi ampun bila kedua orang itu tertangkap.

"Ha ha ha...! Kau tak akan sempat menyesal atas semua ini, Warso! Kau tak akan sempat menyesal!" teriak orang bertopeng yang memakai baju coklat sambil tertawa-tawa. Kedua orang bertopeng itu segera melompat ke sana kemari menghindari tebasan senjata tajam yang melesat gencar.

"Yeaaa...!" Orang bertopeng yang menggunakan baju coklat itu melompat tinggi menghindari sabetan golok yang menghajar pinggang. Dan seketika kaki kanannya mengayun ke depan, langsung menghajar dagu salah seorang pengeroyok.

Duk!

"Argkh!" Orang itu kontan terpukul sambil menjerit kesakitan. Tulang dadanya seketika patah akibat tendangan orang berbaju coklat. Tubuh pengeroyok itu terhuyung-huyung, kemudian ambruk ke tanah. Setelah menggelepar-gelepar seperti ayam dipotong, dia diam tak bergerak lagi.

Orang bertopeng yang bertubuh tegap itu tak sempat memperhatikan lawannya yang terjungkal, ketika dua orang pengeroyok yang lain kembali menyerang ganas. Yang seorang menusuk tepat ke arah jantungnya, sedangkan yang seorang lagi menyambar perut.

"Hup!" Untung saja orang bertopeng dan berpakaian coklat itu lebih cepat bertindak. Tubuhnya segera bergerak ke kanan, menghindari tusukan yang mengarah ke jantung. Dan seketika tangannya menangkap pergelangan tangan pengeroyok yang mengarah ke perut, sambil menarik tangan itu dengan keras untuk diadu dengan lutut kirinya, seketika dilepaskan tendangannya kaki kirinya ke perut lawan yang akan menusuk jantungnya tadi. Begitu cepat gerakan orang bertopeng itu, sehingga...

Krak!
Begkh!
"Aaakh...!"

Kedua orang itu kontan menjerit kesakitan tanpa dapat meneruskan pertarungan. Yang seorang tangannya patah, dan seorang lagi terjungkal ke tanah tak bangun-bangun lagi.

Sementara itu orang bertopeng berbaju kuning yang sejak tadi tak banyak bicara, tampak meliuk-liukkan tubuhnya. Gerakannya begitu gesit, seperti burung walet. Bahkan ilmu silatnya amat tinggi, tak kalah dengan pasangannya. Dalam beberapa saat saja dua orang lawan telah dijatuhkannya.

Bahkan orang bertopeng yang bertubuh ramping itu kelihatannya lebih kejam. Lawan yang mendekat, tak kepalang tanggung dihajar sampai mati. Kedua telapak tangannya sangat berbahaya. Sehingga akan menimbulkan luka hangus yang berbau busuk bila menyentuh lawan.

"lblis pengacau, mampuslah kau! Hiyaaat...!" teriak seorang lawan pengeroyok sambil mengayunkan golok di tangan. Sementara, kedua kawannya membantu dari belakang dan samping.

"Hup!"

Sosok ramping berpakaian kuning itu menggeser tubuhnya ke kiri, ketika salah seorang pengeroyok berusaha memapak punggung kanan dari belakang. Tubuh rampingnya berputar cepat ke atas, sementara ketiga lawannya terus mengejar. Dan dengan satu gerakan bersalto yang indah, kakinya mendarat empuk di tanah.

"Yeaaa...!"

Seorang pengeroyok meluruk deras dengan golok menyambar kepala orang bertopeng yang berbaju kuning itu. Namun serangan itu mudah sekali dielakkan. Bahkan orang bertopeng dengan pakaian kuning itu berhasil menangkap tangannya, seraya menghantamkan pukulan ke arah dada kiri. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Plak! Plakkk...!

"Aaa...!" Si pengeroyok itu terpekik dan terjengkang ke tanah beberapa tombak ketika sebuah pukulan mendarat di dada. Tampak tanda lima jari yang hitam seperti terbakar tergambar di dadanya. Tubuhnya kelojotan sambil berguling-gulingan sejenak. Beberapa saat kemudian diam tak bergerak. Bahkan bau busuk langsung menyeruak, dan menyengat hidung akibat pukulan itu.

Seorang pengeroyok lain mencoba mencuri kesempatan dengan menebaskan golok ke punggung, ketika orang berpakaian kuning itu melihat akibat pukulannya pada lawannya tadi. Namun serangan itu kandas, karena orang berpakaian kuning itu cepat membungkuk. Kemudian tubuhnya berbalik, seraya menghantamkan pukulan ke jantung pembokongnya.

Begkh!

"Aaakh!" Kembali terdengar pekikan kesakitan, begitu pembokong ini dadanya terhantam pukulan. Seketika dadanya hangus terbakar dan menimbulkan bau busuk menyengat. Orang itu langsung ambruk, dan tak berkutik lagi.

Warso terperangah kaget melihat para anak buahnya sama sekali tak berdaya meringkus kedua orang bertopeng merah darah itu. Bahkan satu persatu mereka tewas di tangan kedua lawannya. Diam-diam, hatinya ciut juga dan bermaksud melarikan diri.

Sebagai kepala desa, Warso memang cukup punya kepandaian lumayan. Namun justru dari situlah bisa dinilai, kalau kepandaiannya kalah jauh dibandingkan dua orang bertopeng itu. Maka diam-diam, saat anak buahnya sibuk melawan dua manusia bertopeng, Warso menyelinap ke dalam rumahnya. Begitu sampai di dalam rumahnya, istri dan kedua anaknya yang sejak tadi ketakutan melihat keributan di luar segera diajak untuk cepat angkat kaki.

"Mau ke mana kita, Kang?" tanya istri kepala desa itu dengan tubuh gemetar, ketika mereka berada di kamar.

"Sudah. Pokoknya jangan banyak tanya. Ayo, beresi cepat barang-barang berharga milikmu!" dengus Warso membentak.

Laki-laki setengah baya itu tak peduli lagi pada kedua anaknya yang masih muda. Mereka tampak gemetar ketakutan dan tak berdaya melakukan apa-apa. Warso segera menarik salah seorang, seraya berjalan dengan langkah lebar. Sementara istrinya menarik anaknya yang lain.

"Ayo, Laksi! Cepat!"

"Iya, iya...!" Dengan tergopoh-gopoh mereka bergegas keluar kamar, dan menuju pintu belakang. Namun begitu menyelinap keluar, alangkah kagetnya Warso ketika melihat salah seorang dari manusia bertopeng itu telah berdiri tegak menghadang mereka. Maka buru-buru istri dan kedua anaknya diajak berbalik, hendak lari. Namun niatnya pupus begitu manusia bertopeng yang seorang lagi telah menghadang. Wajah Warso tampak pucat. Malah istrinya terduduk lemas di tanah. Sementara kedua anaknya bersembunyi di pinggang kanan dan kiri perempuan berusia kurang dari empat puluh tahun itu.

"Hm.... Mau mencoba melarikan diri, heh?!" dengus manusia bertopeng yang berbaju coklat, dingin.

"Jangan harap kau bisa lolos dari kami," sahut manusia bertopeng yang bertubuh ramping terbungkus pakaian kuning.

"Kau lihat, Warso? Anak buahmu tak berarti apa-apa. Mereka hanya kantung-kantung nasi yang tak berguna. Sekarang kau sendiri dan tak seorang pun yang bisa menyelamatkan diri dari cengkeraman kami," lanjut orang bertopeng berbaju coklat.

"Eh! Ng..., lepaskanlah kami. Dan, ambillah semua harta benda ini, asal kalian mau mengampuni kami...," ratap Warso terbata-bata, sambil menoleh ke arah dua manusia bertopeng itu bergantian. Emas permata miliknya yang berada dalam sebuah kantung lain diangsurkannya.

"Nyawa Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih yang diperlakukan secara kejam dan tak berperikemanusiaan, tak sepadan dengan harta benda sebanyak apa pun. Demikian pula nasib Panjalu dan Ismi yang sengsara dan dikejar-kejar bagai anjing kudisan. Semuanya tak akan bisa kau bayar dengan apa pun, kecuali nyawamu, Warso!" desis orang bertopeng yang berbaju coklat.

Darah Warso tersirap. Wajahnya seketika pucat bagai mayat, mendengar kata-kata itu. Tak ada jalan lagi baginya, selain pasrah atau..., melawan! Melawan?

"Bersiaplah menerima kematianmu!" dengus manusia bertopeng yang berbaju coklat sambil melangkah pelan mendekatinya.

"Tuan, tolonglah kami. Jangan bunuh suamiku. Ampunilah kami..." Istri Warso merangkak sambil bersujud di depan manusia bertopeng itu. Tapi....

Plak!

"Aaa...!" Perempuan itu terpekik! Sungguh tak disangka-sangka manusia bertopeng berbaju coklat itu mengebutkan tangannya, dan mendarat telak di batok kepala istri kepala desa itu. Kulit kepalanya hangus terbakar dan darah kental kehitaman mengucur deras. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah dengan nyawa melayang.

"Bedebah! Kubunuh kalian! Kubunuh kalian...!" teriak Warso kalap.

Dengan nekat kepala desa itu meluruk, langsung menyerang manusia bertopeng yang telah membunuh istrinya. Kepalan tangannya diarahkan ke wajah! Namun mudah sekali orang bertopeng berbaju coklat itu mengelak ke kanan. Seketika kaki kanannya diayunkan menghajar ke arah dada

Wuttt!

"Hup!" Warso berhasil menghindar dengan menjatuhkan diri ke lantai. Seketika kakinya menyapu lutut belakang lawan dengan keras. Namun mudah sekali manusia bertopeng yang bertubuh kekar itu melenting ke atas. Bahkan cepat sekali kakinya terayun kembali ke dada kepala desa itu.

Namun tentu saja Warso tidak sudi dadanya terhantam kaki lawan. Sambil mundur selangkah ke belakang, tangan kanannya segera bergerak cepat, memapak serangan. Warso berhasil menangkis dengan tangannya. Namun mulutnya jadi meringis kesakitan. Disadari kalau pergelangan tangannya telah patah. Dan dia tak ingin mempedulikannya. Bahkan kepala desa itu menjatuhkan diri ke tanah, langsung bergulingan mendekati lawan, sambil menghantamkan pukulan ke bawah perut. Namun manusia bertopeng berpakaian coklat itu terdengar mendengus pelan. Tubuhnya seketika bersalto, dengan kepalan tangan kanannya langsung ke arah punggung kiri kepala desa yang tengah bergulingan itu.

"Hiyaaa...!"
Begkh!
"Aaakh...!"

Warso kontan terjerembab ke tanah, disertai jeritan kesakitan begitu punggung kirinya terhantam pukulan yang dilepaskan sambil bersalto dari orang bertopeng itu.

"Bapaaak...! Kedua anak kepala desa itu menjerit mendapatkan ayahnya menggelepar-gelepar kesakitan. Dan ketakutan mereka pun sirna. Wajah mereka berubah merah membara, membawa api dendam. Dan begitu mengetahui ayahnya telah tewas, ditatapnya kedua orang bertopeng yang sudah berdiri berdampingan. Kedua pemuda tanggung itu tampak berdiri tegak dengan sikap menantang.

"Setan keparat! Kalian harus membayar nyawa kedua orang tuaku!" dengus salah seorang.

"Yeaaa...!"

Dengan gerakan nyaris bersamaan mereka menerjang, namun kedua manusia.bertopeng itu mudah sekali menghindari. Apalagi, kedua pemuda tanggung itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Pukulan yang dilakukan hanya disertai pengerahan tenaga kasar belaka. Sedangkan manusia bertopeng itu agaknya sedikit pun tak mau memberi hati. Begitu pukulan dua anak muda itu luput, sekali menggerakkan tangan saja kedua orang bertopeng itu sudah unggul di atas segala-galanya. Sehingga....

Prak! Prak!
"Aaakh...!"

Kedua anak muda tanggung itu kontan terjengkang dengan kepala pecah, begitu satu pukulan keras mendarat di sasaran. Mereka ambruk di tanah, bermandikan darah.

"Mampus!" dengus manusia bertopeng yang bertubuh kekar sambil sinis.

"Habislah sudah keluarga mereka. Kakang, siapa lagi yang akan didatangi?" sahut orang bertopeng yang bertubuh ramping.

"Banyak lagi, Ismi. Mereka semua harus mendapatkan balasan yang setimpal. Bahkan lebih menyakitkan dari apa yang pernah dilakukan terhadap kita!" sahut manusia bertopeng yang berbaju coklat. Memang, dia sebenarnya Panjalu. Sedangkan yang bertubuh ramping adalah Ismi.

"Ya, Kakang. Rasanya aku pun sudah tak sabar ingin menghajar mereka semua!" tambah Ismi dengan geram.

"Kalau begitu mari kita berangkat!"

"Baiklah!"

Kakak beradik itu segera berlalu dari tampat kediaman Kepala Desa Gudang Banyu ini. Tatkala angin berhembus, bau anyir darah dan bau busuk menyeruak dari mayat-mayat itu.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Hari ini, di Perguruan Kijang Kencana tak seperti biasanya. Perguruan yang diketuai Ki Ajar Ningrat ini agaknya banyak didatangi beberapa tokoh persilatan. Mereka berkumpul dan duduk bersila di ruang utama padepokan yang cukup besar dan luas. Ki Ajar Ningrat sendiri tak mau banyak berbasa-basi dalam pertemuan itu.

"Kisanak semua. Seperti diketahui belakangan ini, kita mendengar kabar kalau Ki Kaliambar ternyata telah menemukan kitab pusaka yang banyak dicari berbagai kalangan persilatan. Menurut apa yang kudengar kitab itu berisi ilmu silat tingkat tinggi yang belum ada tandingannya. Namun konon pula, bisa mempengaruhi orang yang mempelajarinya menjadi liar dan beringas. Bahkan nafsu membunuh dalam diri orang yang mempelajari kian menggelegak. Hal ini tentu saja amat membahayakan bagi kita semua. Ki Kaliambar adalah tokoh golongan hitam. Dan kalau betul kitab itu jatuh ke tangannya, maka celakalah dunia persilatan nantinya. Tentu dia akan membuat gelisah orang di mana-mana. Ada pun maksud dari pertemuan ini adalah untuk mencari jalan keluar dan mengatasi masalah itu," jelas Ki Ajar Ningrat.

"Ki Ajar! Dari mana kau tahu kalau Ki Kaliambar telah mendapatkan kitab itu?" tanya seorang bertubuh gemuk dan pendek, dengan kepala besar serta dahi lebar. Dia bernama Paluh Dugan, salah seorang tokoh persilatan yang cukup disegani di kawasan sebelah barat.

"Tentu saja dari orang-orang yang bisa kupercaya. Kesimpulan itu diambil, ketika terakhir kali Ki Kaliambar mengejar putra-putri Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih. Setelah itu kedua bocah tersebut lenyap tiada berita. Jadi, apalagi kalau bukan tewas dibunuh olehnya? Mustahil Ki Kaliambar membunuh kedua bocah itu, kalau belum mendapatkan kitab pusaka yang dimaksud. Dan hal ini perlu kubicarakan lagi, sebab belakangan mulai terungkap adanya kematian beberapa tokoh persilatan, yang berawal dari Kepala Desa Gudang Banyu beserta seluruh keluarganya dalam keadaan mengenaskan. Bukankah itu dilakukan orang yang menganut ilmu iblis?" sahut Ki Ajar Ningrat panjang lebar.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Menghukum Ki Kaliambar?" tanya salah seorang dengan suara datar. Orang itu memakai baju hijau dan berdada bidang. Namanya, Ki Mangsa Totok.

"Apa yang bisa kita lakukan selain itu?" timpal yang lain, bertanya.

"Itu tidak mudah. Kepandaian Ki Kaliambar cukup hebat. Dan setelah mempelajari isi kitab pusaka itu, sudah pasti kepandaiannya bertambah hebat lagi," sahut Ki Paluh Dugan.

"Bagaimana, Ki Ajar?" tanya seorang tokoh bertubuh kecil dan berkumis tipis. Namanya Ki Pandanaran.

"Yah.... Kita memang tak punya jalan lain...," sahut Ki Ajar Ningrat lemah.

"Tunggu dulu!"

Mendadak seorang memotong pembicaraan. Orang itu bermuka lonjong. Sorot matanya tajam, dengan kumis tebal yang telah memutih, seperti rambut kepalanya. Tubuhnya agak tinggi dan kurus.

"Apakah Ki Cokorda punya usul?" tanya Ki Ajar Ningrat datar. Agaknya orang tua itu sedikit tak senang mendengar bicaranya diputus begitu saja.

"Beginikah keputusan yang diambil tokoh-tokoh yang menyatakan dirinya sebagai kaum lurus? Rupanya kalian lebih suka mengambil keputusan sepihak, tanpa bukti jelas? Kita tidak bisa menghukum manusia seenaknya saja. Kaliambar belum tentu bersalah, sebelum diketemukan bukti yang jelas. Jangan sampai kita membunuh orang yang tak bersalah," sahut orang yang dipanggil Ki Cokorda.

"Hm.... Alasan Ki Cokorda memang benar. Tapi jangan lupa, Ki Kaliambar adalah tokoh golongan hitam yang selalu berbuat semaunya. Ada atau tidak kitab itu, tetap saja merupakan kewajiban kita untuk memberi pelajaran padanya. Bukankah begitu, Kisanak semua?" sahut Ki Ajar Ningrat seraya mengedar pandang kepada yang lain.

Sebagian membenarkan pendapat Ki Ajar Ningrat, tapi sebagian lagi membenarkan apa yang dituturkan Ki Cokorda. Ki Ajar Ningrat agaknya tak puas dengan hasil itu. Dipandangnya Ki Cokorda.

"Ki Cokorda! Bagaimana kalau aku dapat membuktikan kalau Ki Kaliambar memang bersalah?" tantang Ki Ajar Ningrat, agak ketus.

"Akan kulihat, apakah bukti itu benar," balas Ki Cokorda.

"Kalau ternyata benar?"

"Kau tak perlu memaksaku. Tanpa diminta pun, aku akan turun tangan menghukum orang itu!" tegas Ki Cokorda.

"Hm, baiklah. Kalau demikian, beri aku waktu tiga hari untuk membuktikan kebenaran pendapatku, bahwa Ki Kaliambar memang suatu ancaman. Bukan saja bagi tokoh-tokoh persilatan, tapi juga bagi semua orang!"

Ki Cokorda hanya tersenyum kecil. Dia tak tahu, kenapa Ki Ajar Ningrat begitu bernafsu untuk memburuk-burukkan Kaliambar. Yang jelas, ketika heboh tentang kitab pusaka yang banyak diperebutkan orang, Ki Ajar Ningrat termasuk tokoh yang menginginkannya. Namun, ternyata Kaliambar yang beruntung bertemu kedua bocah itu.

"Bagaimana kalau ternyata tuduhanmu tak benar?" tanya Ki Cokorda, balik bertanya.

Ki Ajar Ningrat tersenyum kecil. "Ki Cokorda! Apakah kini kau telah berubah dan membela orang yang sebenarnya tak patut dibela?"

"Aku tak berpikir begitu. Tapi hanya meluruskan, bagaimana menilai seseorang dengan cara benar. Meskipun, orang itu selalu berbuat onar," sahut Ki Cokorda singkat, namun cukup mengena. "Lagi pula..."

"Awas!" Teriak seseorang, sehingga memutuskan ucapan Ki Cokorda, memang mendadak saat itu melesat sesuatu dari luar. Maka begitu mendengar teriakan itu, seketika mereka semua berusaha menghindar.

Bahkan kening Ki Ajar Ningrat nyaris tertancap kalau saja tak cepat-cepat bergeser ke samping. Mereka benar-benar tersentak kaget, ketika menoleh dan melihat sebuah ranting kayu yang tertancap papan di belakang Ki Ajar Ningrat. Di situ terlilit selembar kulit kambing berukuran kecil dan tipis. Ki Ajar Ningrat segera mengambil benda itu, dan membukanya. Tampak beberapa baris tulisan tertera di dalamnya.

Ada yang menuduhku berbuat keji dan hendak memburuk-burukan namaku. Dan dia akan mampus sesaat lagi!
Kaliambar


"Huh! Dikira aku takut dengan ancamannya ini! Phuih!" geram Ki Ajar Ningrat, kesal.

Ditunjukkannya isi tulisan itu kepada yang lain. Dan mereka segera membaca dan cepat mengetahui isinya. Ki Ajar Ningrat memanggil beberapa orang muridnya yang memerintahkan untuk mencari orang yang telah melemparkan ranting tadi. Setelah memberikan perintah, kembali dia memandang tamu-tamunya satu persatu. Dan terakhir dia memandang ke arah Ki Cokorda.

"Apa yang akan Ki Cokorda katakan setelah membaca tulisan ini?" tanya Ki Ajar Ningrat, dingin. Ki Cokorda diam beberapa saat seperti sedang berpikir. Dia memang tak tahu, sampai di mana kemampuan orang yang bernama Kaliambar. Tapi dari ranting kayu yang mampu menembus dinding papan tepat di belakang Ki Ajar Ningrat, bisa dipastikan orang yang melakukannya memiliki tenaga dalam hebat.

Apa betul kitab yang banyak dicari-cari tokoh persilatan itu telah jatuh ke tangan Kaliambar? Dan, apakah semua isinya telah dipelajari selama sebelas tahun, sehingga mampu berbuat seperti ini? Kemudian terbayang dalam benak Ki Cokorda, apa yang dikatakan Ki Ajar Ningrat tadi. Bisa jadi, memang demikian. Buktinya Kaliambar bukanlah tokoh golongan lurus. Bukan saja akan menjadi ancaman tokoh-tokoh persilatan golongan lurus, tapi akan membuat keonaran bagi orang yang tak tahu apa-apa.

"Bagaimana, Ki Cokorda?" Ki Ajar Ningrat mengulangi pertanyaannya dengan suara datar.

"Baiklah. Siapa yang bersedia bergabung denganku?" sahut Ki Cokorda sambil bangkit berdiri.

"Apakah Ki Cokorda akan mendatangi tempat Ki Kaliambar dan menghukumnya?" tanya salah seorang. Namanya Kertosono.

"Ya!" sahut Ki Cokorda mantap.

"Kalau begitu, aku ikut!" sahut Kertosono.

"Aku juga!" sahut Ki Paluh Dugan, diikub" yang lain.

Jumlah yang ingin membuat perhitungan pada Kaliambar kini berempat. Sementara, sisanya diam tak bicara. Mungkin ada yang tak setuju dengan rencana itu. Tapi, Ki Cokorda tak menyinggung lebih lanjut. Padahal, pada mulanya mereka tadi begitu menggebu-gebu ingin membunuh dan menghukum Kaliambar.

"Kami akan mencari cara lain, meski tujuan kita sama...," sahut Ki Ajar Ningrat pelan seperti mewakili yang lain.

"Baiklah. Kalau demikian, kami permisi dulu!" sahut Ki Cokorda, seraya bangkit berdiri.

Dan bersama ketiga orang kawannya, Ki Cokorda meninggalkan ruangan utama padepokan itu dengan langkah tergesa-gesa. Ki Ajar Ningrat sendiri tampaknya tak berusaha menghalang-halangi. Sejak tadi, kelihatannya memang sudah timbul perang dingin di antara mereka. Hal itu memang tak heran, karena sejak dulu telah tertanam rasa persaingan di antara mereka. Dan tentu saja persaingan dalam hal kedigdayaan.

"Eyang Guru! Eyang Guru...!"

Salah seorang murid Ki Ajar Ningrat tergopoh-gopoh mendatangi ruang utama itu. Setelah menjura hormat, wajahnya diangkat dengan napas tersengal. Ki Ajar Ningrat yang saat itu sedang tersenyum kecil, seketika kaget melihat kedatangan seorang muridnya.

"Ada apa?!"

"Kakang Prawiro dan empat orang murid lain yang tadi disuruh berkeliling, kedapatan telah tewas dengan luka mengerikan," lapor murid itu, terbata.

"Apa?!" Sepasang alis Ki Ajar Ningrat terangkat tinggi. Orang tua itu langsung bangkit dengan wajah kaget. Begitu pula ketiga orang tamunya yang masih berada diruangan itu.

"Siapa yang melakukan semua itu?" bentak Ki Ajar Ningrat.

"Eh! Ti..., tidak tahu, Eyang. Me..., mereka tewas dengan tubuh hampir membusuk dan menyebarkan bau yang menyengat hidung ," sahut murid itu.

"Bedebah!" Ki Ajar Ningrat menggeram.

Ketiga tamunya saling berpandangan dengan wajah heran.

"Apakah itu bukan perbuatan Ki Kaliambar?" tanya Ki Mangsa Totok.

"Pasti dia! Siapa lagi yang memiliki ilmu iblis itu kalau bukan dia!" dengus Ki Ajar Ningrat, dengan wajah geram dan kemarahan meluap.

"Apa yang kita lakukan sekarang terhadapnya, Ki?" tanya Ki Pandanaran.

"Sebaiknya, kita bergabung dengan Ki Cokorda dan yang lain. Dengan begitu, akan lebih mudah membinasakannya!" usul Ki Mangsa Totok

"Tidak! Kita harus bersabar sampai menunggu hasil kerja mereka. Setelah itu, baru kita pikirkan langkah yang tepat!" tegas Ki Ajar Ningrat.

"Tapi untuk apa lagi bersabar, Ki? Semua sudah jelas. Dan kesabaran kita toh, tak akan membuat Ki Kaliambar surut atau menghenbkan sepak-terjangnya. Lebih baik, kita bergabung saja dengan Ki Cokorda dan kawan-kawannya!" sambung Ki Pandanaran.

Dan baru saja Ki Ajar Ningrat akan bersuara....

"Aaa...!" Tiba-tiba dari luar terdengar jeritan melengking tinggi.

"Heh?!" Mereka semua terhentak kaget. Tapi, Ki Ajar Ningrat telah lebih dulu melompat keluar.

"Keparat! Tikus itu rupanya mau bermain-main denganku, huh!"

Begitu tubuh Ki Ajar Ningrat keluar, ketiga orang tamunya ikut melesat untuk melihat apa yang telah terjadi. Dan begitu mereka tiba di halaman depan, tampak banyak murid Ki Ajar Ningrat tengah mengerubungi tujuh orang murid lain yang berada di pagar depan, yang kedapatan tewas. Tampak dada kiri mereka hangus seperti terbakar, serta mengeluarkan bau busuk yang menusuk hidung. Ki Ajar Ningrat memandang ke sekeliling murid-muridnya yang berada di situ.

"Siapa yang melakukan semua ini?!" dengus orang tua itu, garang.

Namun tak satu pun dari muridnya yang menjawab. Wajah mereka tertunduk lesu dan takut-takut.

"Tolol! Apa mata kalian buta tak bisa melihat, siapa yang melakukannya, hah?!" bentak Ki Ajar Ningrat garang.

"Ha ha ha...! Orang tua dungu! Kaulah sebenarnya yang tolol!"

"Heh?!" Ki Ajar Ningrat dan beberapa orang yang berada di tempat itu tersentak kaget, ketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang diiringi ejekan. Tampaknya suara itu disertai tenaga dalam, sehingga menggema ke seluruh sudut-sudut tempat itu.

"Orang tolol memang patut mampus dan tiada gunanya hidup!" Kembali terdengar suara bernada ejekan, yang belum diketahui jelas asalnya.

"Pengecut hina! Tunjukkan dirimu! Kaukah yang melakukan ini terhadap murid muridku?!" bentak Ki Ajar Ningrat disertai tenaga dalam, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Sementara ketiga tamu Ki Ajar Ningrat juga sama belum bisa mengetahui, di mana orang yang mengirimkan suara itu bersembunyi. Padahal dalam dunia persilatan, mereka bukanlah orang sembarangan. Namun suara tadi seperti dikeluarkan dari arah yang berbeda!

"Ha ha ha...! Tua bangka busuk! Kaulah yang pengecut! Dan bagi seorang pengecut hanya ada satu jalan keluar. Mati!"

Kembali terdengar suara yang seperti bergaung di tempat itu. Hal ini tentu saja membuat Ki Ajar Ningrat semakin geram, karena merasa dipermainkan.

"Kalau memang merasa berani, tunjukan dirimu! Ingin kulihat, bagaimana muka orang sombong sepertimu!" bentak Ki Ajar Ningrat semakin geram.

"Baiklah. Nah! Ikutlah denganku. Dan urusan kita diselesaikan berdua. Kau tentu tak akan menolak, bukan? Aku yakin, kau seorang tokoh pemberani dan tak mengenal takut! Ha ha ha...!"

Brusss!

"Heh?!" Ki Ajar Ningrat sempat melihat sekelebatan bayangan dari sebatang pohon berdaun rimbun di depan pondoknya yang melesat cepat ke arah selatan. Ki Ajar Ningrat mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk mengejar. Bersamaan dengan itu pula, terlihat beberapa orang murid utamanya menyertai dari belakang, karena merasa khawatir akan keselamatan gurunya.

Baru saja Ki Ajar Ningrat lenyap bersama murid-muridnya, sekonyong konyong melesat satu bayangan coklat mengenakan selubung kepala warna merah darah. Sebentar saja, sosok berpakaian coklat itu mendarat di depan ketiga tamu Ki Ajar Ningrat. Badannya tegap, dan sorot matanya yang terlihat dari dua belah lubang di topeng begitu tajam menusuk.

"Ha ha ha...! Pucuk dicinta ulam tiba. Siapa sangka hari ini pekerjaanku akan sedemikian mudah dilakukan? Dalam sekali tepuk, banyak nyawa melayang!" kata orang berbaju coklat dan bertopeng itu tertawa lebar.

"Siapa kau?!" bentak Ki Mangsa Totok garang.

"Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawamu!" sahut orang bertopeng merah itu, mendengus sinis.

"Kurang ajar! Jangan sembarangan kau bicara!"

Sret!

Dengan wajah berang Ki Mangsa Totok langsung mencabut golok dan bersiap akan menyerang orang bertopeng itu. Namun yang akan diserang terlihat tenang-tenang saja, seperti tak takut sedikit pun.

"Tahan, Ki Mangsa! Bersabarlah, jangan gampang terpancing," cegah Ki Pandanaran. Orang tua berusia empat puluh tahun yang bertubuh kecil dan berkumis tipis itu agaknya menangkap gejala aneh dan kemunculan manusia bertopeng ini.

"Untuk apa? Sudah jelas tujuannya ingin mengacau di sini," ujar Ki Mangsa Totok, sedikit kecewa.

Ki Pandanaran tak menghiraukan kata-kata sobatnya. Di pandangnya orang bertopeng itu dengan sorot mata curiga.

"Hm.... Kau sengaja memancing Ki Ajar Ningrat bukan? Apa maksudmu? Siapa sebenarnya yang kau inginkan. Kami, atau Ki Ajar Ningrat? Aku tak tahu, bagaimana cara kau melakukannya. Namun, kupuji kepandaianmu," kata Ki Pandaran, datar.

"Kau sungguh cerdik, Kisanak. Tapi itu bukan berarti kau akan luput dari tanganku. Aku tak memilih-milih korban. Yang jelas, siapa pun orangnya yang ikut dalam pembantaian terhadap Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih, akan mampus di tanganku!" sahut orang bertopeng itu dingin.

Ketiga orang itu tercekat kaget. Ki Pandanaran berusaha menaha keterkejutannya, dan menarik napas dalam-dalam dengan tenang.

"Siapa kau sebenarnya. Dan, apa hubunganmu dengan Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih?" tanya Ki Pandaran, agak tercekat suaranya.

"Kau tak perlu tahu. Sekarang, bersiaplah untuk menerima kematian kalian, Anjing-anjing Geladak!" dengus orang bertopeng yang sebenarnya Panjalu itu.

"Kurang ajar! Kau pikir, siapa dirimu berani berkata begitu!" maki Ki Mangsa Totok.

Dengan geram, orang tua itu langsung mengayunkan goloknya ke arah Panjalu dengan cepat dan bertenaga dalam tinggi, disadari kalau orang bertopeng itni bukanlah orang sembarangan. Itulah sebabnya, dia tak mau gegabah dengan meladeninya secara sembarangan. Dalam serangan awal saja Ki Mangsa Totok telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Namun sampai sejauh ini, orang tua itu belum bisa menjatuhkan lawannya. Manusia bertopeng itu bergerak amat lincah dalam menghindari setiap serangan-serangan berbahaya.

"Keparat! Kali ini kau tak akan lolos dari golokku. Yeaaa...!"

Golok di tangan Ki Mangsa Totok menyambar ke arah leher. Namun Panjalu cepat bergerak mundur sambil mengayunkan kaki kanannya ke lambung.

"Hiyaaa...!" Ki Mangsa Totok cepat menyabetkan goloknya, hendak membabat buntung kaki orang bertopeng yang hendak terayun. Namun di luar dugaan, Panjalu cepat melenting ke atas melewati kepala orang tua itu. Begitu cepat gerakannya, ketika Panjalu melepaskan satu pukulan ke arah kepala, saat tubuhnya berada di udara. Sehingga....

Prak!

"Aaa...!" Ki Mangsa Totok menjerit melengking tinggi ketika kepalanya remuk terhantam pukulan Panjalu. Tangannya yang memegangi kepala telah berlumuran darah. Sebentar saja tubuhnya ambruk, dan tak bangun-bangun lagi.

Melihat keadaan ini, Ki Pandanaran dan rekannya yang bernama Ki Rampak terkejut setengah mati. Namun, mereka tidak menampakkan pada raut wajah.

"Huh! Kau memang tak bisa dikasih hati. Tapi jangan harap kami takut ancamanmu!" dengus Ki Pandanaran, siap memasang kuda kuda untuk menyerang lawan. Demikian pula Ki Rampak, yang telah siap menggunakan pedangnya. Sementara Ki Pandanaran hanya mengandalkan tangan kosong.

"Tak usah berbasa-basi, Orang Tua. Kehadiranku ke sini memang untuk mencabut nyawa busukmu!" sahut Panjalu dingin.

"Sombong! Lihat serangan!" bentak Ki Rampak.

"Yeaaa...!" Pada saat yang sama Ki Pandanaran juga menyerang.

Orang bertopeng yang di dalamnya tersembunyi wajah Panjalu tersenyum dingin. Tubuhnya bergerak ke samping, menghindari tebasan pedang Ki Rampak sambil menangkis pukulan Ki Pandanaran dengan tangan kanan.

Wut!
Plak!
"Ukh...!"

Ki Pandanaran seketika terjajar mundur beberapa langkah. Mulutnya meringis, karena tangannya terasa kesemutan akibat benturan tadi. Dan dari situ bisa diketahui kalau tenaga dalam lawan berada di atasnya. Diam-diam hatinya mengeluh. Dia tak tahu, bagaimana kalau lawan mengerahkan tenaga sekuatnya? Rasanya sulit membayangkan hal itu.

Sementara itu Ki Rampak tampak mulai terdesak hebat. Serangan gencar Panjalu yang menuju arah jantung dan ulu hati membuatnya jungkir balik. Dan begitu telah mempunyai jarak yang cukup, Ki Rampak kembali melesat dengan sambaran pedang ke leher. Namun, agaknya orang bertopeng itu telah memperhitungkannya. Maka dengan gesit tubuhnya bergerak ke belakang sambil merendahkan kepala. Lalu dia cepat melompat ke samping kanan disertai satu ayunan kaki bertenaga dalam menuju ke rahang Ki Rampak.

"Yeaaa...!"

"Eh, hup!" Ki Rampak tersentak kaget. Buru-buru pedangnya diayunkan untuk menebas kaki Panjalu. Namun manusia bertopeng itu cepat menarik kakinya. Dan tanpa disangka-sangka, kepalan tangan kirinya diayunkan ke arah dada. Begitu cepat gerakannya, sehingga tak sempat lagi dihindari Ki Rampak Maka....

"Hihhh!"
Begkh!
"Aaa...!"

Ki Rampak memekik nyaring sambil mendekap dadanya. Tubuhnya terhuyung-huyung, lalu ambruk dan berkelojotan. Tak lama kemudian, nyawanya melayang. Maka seketika bau busuk menyeruak dari tubuhnya ke sekitarnya.

"Keparat! Kau harus membayar kematiannya! Yeaaa...!" bentak Ki Pandanaran garang.

Orang tua itu segera melompat mengerahkan satu pukulan mautnya yang bernama 'Pikul Kematian'. Dari telapak tangannya menderu seberkas cahaya berwarna keperakan menerpa orang bertopeng itu.

"Hup!"
"Mampus!"

"Belum, Sobat. Kaulah yang akan menerimanya sebentar lagi," sahut Panjalu kalem, sambil melompat menghindar. Langsung dibalasnya serangan itu dengan menghantamkan pukulan mautnya

"Rasakan pukulan 'Angin Sesat' ini!" dengus orang bertopeng itu geram. "Yeaaa...!"

Begitu tangan Panjalu terhentak, seberkas cahaya kelabu agak kehitaman melesat, bagai ujung cambuk yang menderu ke arah Ki Pandanaran. Bahkan serangan itu menimbulkan angin kencang berhawa panas.

"Heh?!" Ki Pandanaran terkejut setengah mati, melihat serangan orang bertopeng itu. Seketika tubuhnya melenting tinggi, menghindari ancaman maut itu.

Werrr...!
Brukkk!

Tepat ketika cahaya kelabu agak kehitaman itu menghantam sebuah pohon hingga hancur, kakinya mendarat di tanah.

"Uhhh...!"

Jantung Ki Pandanaran berdegup kencang, setelah baru saja terlepas dari serangan maut yang dilancarkan orang bertopeng itu. Hal itu tentu saja membuat Ki Pandanaran bergidik ngeri. Bagaimana mungkin? Padahal pukulan orang bertopeng itu kelihatan tidak begitu keras.

Dan belum lagi keterkejutannya lenyap, orang bertopeng itu sudah bergerak cepat ke arah Ki Pandanaran. Orang tua itu baru menyadari, ketika kepalan tangan lawan hampir menghantam batok kepalannya. Maka buru-buru kepalanya ditundukkan. Namun...

Des!

"Aaakh...!" Tak urung pelipis Ki Pandanaran terkena hajaran dengan telak. Orang tua itu memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal ke belakang. Namun, orang bertopeng itu agaknya tak mau menyia-nyiakannya. Tubuhnya langsung mencelat sambil mengayunkan kaki kanan. sebelum Ki Pandanaran menyentuh tanah.

Begkh!

"Ekh...!" Ki Pandanaran hanya bisa mengeluh kecil, ketika tubuhnya kembali terjungkal terkena tendangan orang bertopeng itu. Tulang dadanya yang sebelah kiri melesak ke dalam, dan membuat jantungnya pecah. Setelah menggelepar, tubuhnya diam tak berkutik lagi. Mati!

"Huh! Mampuslah kalian semua! Tak ada seorang pun yang akan tersisa dari tanganku, atas apa yang pernah kalian lakukan pada kedua orang tuaku!" dengus orang bertopeng dingin.

Setelah berkata demikian Panjalu pun melesat meninggalkan tempat itu. Gerakannya gesit dan cepat bukan main. Sehingga dalam waktu singkat, tubuhnya lenyap di balik tikungan jalan. Ki Ajar Ningrat geram bukan main, karena merasa dipermainkan orang yang tak jelas rupanya. Telah cukup lama mengejar, namun belum juga bisa dipastikan siapa sebenarnya bayangan kuning itu. Gerakannya cepat luar biasa. Agaknya itu memang disengaja, untuk menunjukkan kalau ingin meninggalkan pengejarnya, maka bukan persoalan susah.

Ki Ajar Ningrat bertambah penasaran saja, sebab meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja tidak dapat mengejar. Sementara, padepokannya sendiri sudah tertinggal jauh. Dan kini orang tua itu mulai sadar kalau telah terpancing. Sebenarnya tadi pun sudah disadarinya. Namun, dia merasa malu kalau sampai berhenti dan membiarkan orang yang dikejar mempermainkan dirinya. Namun setelah sekian lama berlan napasnya mulai tak beraturan. Bahkan tenaganya sudah banyak terkuras. Kalau begini terus-menerus tentu tenaganya akan habis. Sementara, orang yang diburunya itu tak menunjukkan keletihan sama sekali.

"Setan! Agaknya dia memang sengaja membuatku letih dan memancingku jauh ke sini!" maki orang tua itu, seraya menghentikan langkah dan mengatur napasnya.

"Hi hi hi...! Orang tua busuk, apakah kau akan memilih tempat kematianmu di sini?!" Tiba-tiba terdengar tawa mengikik, yang disertai suara meledek terhadap Ki Ajar Ningrat.

"Heh?!" Ki Ajar Ningrat terperanjat kaget. Dan belum habis kekagetannya, mendadak di depannya melesat turun sesosok tubuh ramping, mengenakan topeng berwarna merah darah. Orang inikah yang tadi dikejarnya?

"Siapa kau?!" bentak Ki Ajar Ningrat mengancam.

"Kau tak perlu tahu. Namun kalau ingin tahu tujuanku, aku menghendaki nyawamu," sahut orang bertopeng itu datar.

"Siapa kau sebenarnya?! Tak ada angin tak ada hujan, akan mencari urusan dengan orang lain. Kalau bukan sinting, kau pastilah orang sok jago!" dengus Ki Ajar Ningrat gemas.

"Hi hi hi...! Apa pedulimu dengan urusanku? Mau sinting atau tidak, itu bukan urusanmu. Tapi kaulah yang terlalu usil. Bahkan kejam tak berperikemanusiaan, saat membunuh Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih. Kalian telah membakarnya hidup-hidup. Padahal, dia tak bersalah dan tak tahu menahu soal kitab itu. Atas nama mereka, aku menuntut balas padamu. Bersiaplah, Orang Tua Hina," kata orang bertopeng itu.

"Phuih! Siapa pun kau, majulah. Aku tak takut padamu!" sahut Ki Ajar Ningrat garang sambil bersiap membuka jurus.

"Hiyaaat..!"

Orang bertopeng yang sebenarnya adalah Ismi itu memulai serangannya sambil membentak nyaring. Kepalan tangan kanannya menghantam ke arah dada. Namun sigap sekali Ki Ajar Ningrat menggeser tubuhnya ke samping, dan seraya mengayunkan satu tendangan ke arah perut. Sayang bersamaan dengan itu tubuh Ismi telah melenting tinggi sambil membuat putaran. Maksudnya, hendak menghantam rahang lawan dengan tendangan kaki kanannya.

Wut!

"Uts...!" Ki Ajar Ningrat cepat membuat salto dengan kedua kaki mengincar perut Ismi. Tapi gadis itu tak peduli. Kakinya tetap dihantamkan, membawa dua buah serangan yang masing-masing hendak menginjak dada, dan sekaligus menyapu tendangan orang tua itu.

Plak!

"Hiiih!" Orang tua itu kontan meringis menahan ngilu akibat benturan barusan. Dari situ bisa diketahui kalau tenaga dalam orang bertopeng itu lebih kuat. Itulah sebabnya, dia cepat bergulingan untuk menghindari diri dari pijakan.

"Yeaaa...!" Namun dengan cepat tubuh orang bertopeng itu melayang mengikuti gerakannya. Bahkan lebih dulu berada di depan, mencegat tubuh Ki Ajar Ningrat yang masih bergulingan. Sambil berputar, dilepaskannya satu sapuan ke arah perut.

"Hih!"

"Uts!" Untung saja orang tua itu cepat mengetahui, seketika tubuhnya melenting menghindari dan melompat ke belakang. Namun. orang bertopeng itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Tubuhnya langsung melesat mengejar, sambil mengayunkan ke palan tangan kanan yang berisi tenaga dalam kuat. Begitu cepat serangannya. sehingga Ki Ajar Ningrat tak mungkin mampu menghindar. Dan..

Begkh!

"Aaakh...!" Ki Ajar Ningrat menjerit setinggi langit ketika tulang rusuk bagian kanannya terdengar patah terhantam pukulan orang bertopeng itu. Tubuhnya kontan terpental disertai rasa nyeri yang tak tertahankan.

Mendadak, pada saat tubuh Ki Ajar Ningrat sedang melayang. Dari arah berlawanan melesat sosok bayangan coklat seperti menyambutnya. Sekilas, bayangan coklat itu bermaksud menolongnya. Namun tak disangka-sangka, ternyata sosok berpakaian coklat itu, melepaskan satu pukulan maut yang membuat Ki Ajar Ningrat tak sempat menjerit. Tubuhnya kontan melayang berbalik sejauh satu tombak dengan kepala remuk. Nyawanya langsung melayang, sebelum tubuhnya jatuh tersungkur ditanah.

"Kakang! Ternyata kau cepat juga menyelesaikan tugasmu...!" seru orang bertopeng berpakaian kuning yang tadi menjadi lawan Ki Ajar Ningrat.

Sosok bayangan coklat yang baru datang itu berperawakan tegap dan juga memakai topeng berwarna merah darah. Kedua orang bertopeng ini memandang sekilas kepada mayat orang yang mulai menyebarkan bau busuk itu. Mereka lalu membuka tutup kepalanya, dan menyimpan kain merah darah itu di balik baju. Maka kini terlihat wajah sebenarnya di balik topeng itu!

Yang berbadan tegap terbungkus pakaian coklat adalah seorang pemuda gagah berusia sekitar dua puluh lima tahun. Bentuk mukanya segi empat dengan rahang menonjol, dan dihiasi kumis tipis. Sorot matanya jernih dan tajam, menandakan ke cerdasan otaknya. Namun dari wataknya, terpancar kekejaman hatinya.

Sedangkan yang bertubuh ramping terbungkus pakaian kuning adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya manis dan berkulit kuning. Rambutnya sebatas bahu. Dengan celana pangsi warna hijau dan ikat pinggang dari kain merah, terlihat pas dengan kulitnya.

Mereka memang Panjalu dan Ismi, yang sebelas tahun lalu dikejar-kejar tokoh persilatan. Dan ketika dikejar tokoh hitam yang bernama Kaliambar, keduanya terjatuh di jurang. Untung saat itu mereka tersangkut di sebuah pohon yang tumbuh di tebing jurang. Sehingga, nyawa mereka selamat. Dan dengan merayapi tebing jurang, mereka terus turun ke dasarnya.

Ketika menemukan sebuah goa, mereka memasukinya. Ternyata di sana mereka menemukan kitab berisi jurus-jurus silat dan ilmu kesaktian. Setelah dipelajari selama sebelas tahun, kini mereka jadi ancaman tokoh-tokoh persilatan yang pernah mengejar-ngejar mereka dan membunuh orangtua mereka.

"Kakang! Apakah sudah kau bereskan mereka semua?" tanya Ismi.

"Sudah. Bahkan tak kusisakan seorang pun juga!" sahut Panjalu, dengan dengusan.

Mendengar itu, Ismi tertawa girang. Matanya yang berkilat tajam, sekilas terlihat indah dan menawan. Namun kalau diperhatikan lebih seksama, akan tersirat hawa kebengisan dan dendam membara yang bergejolak hebat di hatinya.

"Apakah kita akan langsung menuju ke tempat kediaman Ki Kaliambar itu, Kakang?" tanya Ismi kembali.

"Bagaimana menurutmu? Apakah kita biarkan dulu mereka saling berbaku hantam atau tangan kita sendiri yang menghabisi?" Panjalu malah balik bertanya.

"Bagiku, keduanya sama saja. Mereka mati di tangan kita atau bukan, yang penting dendam kita sudah terbalas bukan?"

"He he he...! Kau memang cerdik, Ismi. Tapi aku belum puas kalau belum menyaksikan sendiri kematian mereka."

"Maksud, Kakang?"

"Bagaimana kalau kita ke sana, dan memastikan kematian mereka."

"Hm.... Usul yang baik, meskipun masih banyak lagi yang harus dikerjakan...."

"Aku mengerti, Ismi. Masih banyak lagi orang-orang yang harus merasakan dendam kita. Tapi, yakinlah. Kita akan membereskan mereka satu persatu. Nah, mari kita kerjakan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu!" ujar Panjalu.

"Baiklah...," sahut gadis itu.

Panjalu dan Ismi telah berlari cepat menuju ke satu arah. Namun, mendadak langkah mereka terhenti ketika melihat dua ekor kuda berlari kencang dari arah yang berlawanan. Pemuda itu terkejut ketika melihat dua ekor kuda berbulu hitam dan putih yang telah dikenalnya. Tak salah lagi, dua orang penunggang kuda itu pernah bertemu dengannya. Mendadak ditarik lengan adiknya untuk berhenti.

"Kenapa?" tanya Ismi, bingung.

"Ssst....! Bersikaplah seperti orang desa yang bodoh dan tak mengerti apa-apa...," ujar pemuda itu.

"Kakang, apa maksudmu? Aku tak mengerti?" tanya gadis itu bingung.

"Sudahlah. Turuti apa kata-kataku saja!"

Meskipun gadis itu terlihat bingung, namun menurut saja apa yang dikatakan kakaknya. Dan benar saja dugaan anak muda itu.

Ternyata kedua penunggang kuda yang baru berhenti persis di depan kakak beradik itu adalah sepasang anak muda. Yang seorang adalah pemuda tampan memakai baju rompi putih. Sedangkan yang berkuda di sebelahnya adalah seorang gadis memakai baju biru muda. Tampak sebuah kipas berwarna keperakan terselip di pinggang, dan sebilah pedang bergagang kepala naga tersampir di punggung.

"Tuan Pendekar Rajawali Sakti! Oh, senang sekali bisa bertemu denganmu kembali!" sapa pemuda berbaju coklat itu sambil memberi hormat. Demikian juga adiknya.

Pemuda berbaju rompi putih itu memang Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti. Dan gadis di sebelahnya adalah Pandan Wangi. Tampak bibirnya tersenyum lebar, melihat pemuda yang beberapa hari lalu pernah ditolongnya saat tengah pingsan.

"Hm.... Kau Soreang, bukan?"

"Betul, Tuan Pendekar!" sahut orang yang mengaku Soreang, dan sebenarnya Panjalu.

"Ah! Jangan menyebutku Tuan Pendekar. Panggil saja aku Rangga... "

"Oh! Rasanya kurang pantas. Tuan adalah seorang pendekar besar. Dan lebih dari itu, aku berhutang budi padamu. Bagaimana mungkin aku bisa menyebut nama begitu saja," kata Soreang.

"Hm.... Ternyata bantuan sepele saja masih kau ingat. Sudahlah.. Yang penting kalau kau berniat menghormatiku, kenapa tak menyebutkan namaku? Dan itu berarti kau menganggapku sebagai kawan. Nah, bagaimana?" ujar Rangga, tersenyum manis.

"Eh, baiklah kalau memang demikian..."

"Begitukan lebih baik. Apa yang sedang kalian lakukan di sini. Dan, siapa gadis itu?"

"Oh.... Ini Dewi, adikku. Kami..., kami...," pemuda itu tak meneruskan kata-katanya. Kepalanya tertunduk.

Sekilas, Rangga bisa menangkap kesedihan di wajah mereka. "Kenapa, Soreang? Apa yang telah terjadi pada kalian?"

"Se. , sejak peristiwa beberapa hari yang lalu, aku merasa perlu untuk belajar ilmu silat untuk membela diri. Maka, aku dan adikku pun pergi ke Padepokan Muria yang diketuai Ki Ajar Ningrat. Namun baru saja menjadi muridnya malapetaka telah terjadi. Dua orang manusia bertopeng datang tiba-tiba dan mengacau. Ki Ajar Ningrat binasa di tangan mereka. Begitu juga beberapa orang tamunya yang hari itu berkunjung. Beberapa muridnya banyak yang tewas. Sementara yang lainnya menyelamatkan diri, termasuk kami. Tuan eh! Rangga, tolonglah kami! Kedua manusia bertopeng itu barangkali masih mengamuk di sana!" jelas pemuda yang bernama Soreang sambil menjura hormat.

"Hm Kedua manusia bertopeng merah darah?"

"Betul! Dari mana kau tahu?!"

"Sepanjang perjalanan, aku mendengar berita itu. Jauhkah padepokan itu dari sini?!"

"Cukup jauh juga. Namun bila berkuda, mungkin tak akan terasa..."

"Kalau demikian, naiklah di belakangku. Dan adikmu suruh naik di belakang kawanku ini!"

"A..., apakah kau akan mengajak kami kembali ke padepokan?"

"Aku ingin bertemu kedua orang bertopeng itu!"

"Eh! Ng..., baiklah. Mari, Dewi!" ajak Soreang, seraya melompat ke belakang punggung kuda Rangga. Demikian pula gadis yang dipanggil Dewi. Dia melompat ke belakang Pandan Wangi.

Dan tak berapa lama kemudian, mereka kembali memutar arah menuju Padepokan Muria!

Menjelang senja, Rangga, Pandan Wangi, dan kakak beradik itu tiba di Padepokan Muria. Dalam perjalanan tadi, mereka menemukan beberapa sosok mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu tak lain murid-murid Padepokan Muria, seperti yang dikatakan Soreang pada Rangga. Kini di halaman depan padepokan, sambil berjalan perlahan-lahan mereka menemukan tiga sosok mayat dengan tubuh nyaris membusuk, menebarkan aroma menusuk hidung. Ketiganya tidak bisa dikenali lagi wajahnya. Rangga menggeleng dengan wajah geram. Padepokan itu pun terlihat berantakan. Bahkan beberapa pohon tumbang. Agaknya, tadi memang telah terjadi pertarungan cukup seru.

"Apakah salah satu di antara tiga mayat itu guru kalian?" tanya Rangga, menunjuk kebga mayat itu.

"Entalah, kami tak yakin. Tapi kalau melihat dari baju yang dikenakan rasanya bukan...," sahut Soreang, dengan wajah sedih.

"Lalu, ke mana kira-kira gurumu itu? Apakah dia melarikan diri?"

"Tidak! Guru kami tak sepengecut itu. Mungkin mengejar manusia bertopeng yang kabur, setelah melakukan pembunuhan keji ini," jelas Soreang.

Ketika mereka tadi menuju ke sini. memang tidak melewati tempat mayat Ki Ajar Ningrat terbujur. Mereka, memang mencari jalan lain yang lebih singkat, sehingga menemukan mayat para murid utama padepokan ini.

"Tahukah kalian, ke mana kira-kira perginya orang bertopeng itu?" tanya Pandan Wangi yang sejak tadi lebih banyak berdiam diri.

Gadis itu agaknya merasa kurang menyukai kedua kakak beradik ini. Ada sesuatu dan mereka yang membuatnya curiga. Dari pertama kali bertemu Soreang, Pandan Wangi pun sudah merasa curiga. Mereka sama sekali tak memberi kesan sebagai orang desa. Atau barangkali hanya karena naluri kewanitaannya belaka. Mungkin ada hal lain yang membuatnya menduga demikian. Soreang menggeleng lemah.

"Mereka membunuh sembarang orang?" tanya Rangga.

"Kami sama sekali tak tahu-menahu soal mereka. Juga, kami tak tahu apa yang menyebabkan mereka berbuat demikian...." sahut Soreang lemah.

Rangga hanya mengangguk. "Sekarang kalian akan ke mana?" tanya Rangga.

"Entalah... Barangkali kami akan mengunjungi seorang sanak keluarga di Desa Wuwungan," jawab Soreang.

"Kalian akan menetap di sana?"

"Mungkin begitu. Rasanya, tempat itu cukup aman dibandingkan daerah lain..."

"Baiklah. Kalau demikian, kami akan pergi dulu. Mudah-mudahan di jalan bisa bertemu manusia bertopeng itu. Sekalian mencari tahu, apa yang menyebabkan mereka berbuat demikian," kata Rangga.

"Ya itu bagus sekali, Rangga. Semoga kau berhasil!"

Rangga dan Pandan Wangi langsung naik ke punggung kuda masing masing Setelah menggebah pelan. Kuda-kuda itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat ini.

"Mampirlah kalian bila berada di desa itu. Kami tentu akan menyambut dengan gembira ujar Dewi agak keras, ketika sepasang pendekar dari Karang Setra itu sudah cukup jauh.

Sebenarnya, Pandan Wangi kesal bukan main melihat tingkah gadis tadi. Apalagi ketika tersenyum-senyum kepada Rangga, dan tak mempedulikan dirinya. "Huh! Memuakkan...!" gerutu Pandan Wangi. Rangga menoleh dan tersenyum kecil.

"Kenapa?"

"Jangan berpura-pura!" sahut Pandan Wangi, mendengus kesal.

"Kau cemburu?" tanya Rangga pelan. Memang bisa diduga apa yang membuat kekasihnya bersikap demikian.

"Kau tentu senang bukan?!

"Jangan berpikir begitu, Pandan. Mungkin mereka hanya menunjukkan keramahannya. Kalaupun dia tersenyum, barangkali hanya sekadar suka denganku...," ledek Rangga.

"Huh!" Pandan Wangi hanya mendengus, mendengar ledekan Rangga.

Dan Rangga tersenyum melihat kelakuan kekasihnya. "Pandan.... Apakah kau tak curiga kepada mereka?" tanya Rangga pelan.

"Hm... Kukira kau sudah terpikat oleh senyum maut gadis itu, sehingga tak memiliki prasangka apa-apa terhadap mereka!"

"Sudahlah, Pandan. Ada hal lain yang lebih penting yang harus kita kerjakan. Yakni kakak beradik itu. Dan aku tak menangkap dendam dan kesedihan pada sorot mata mereka, atas kematian kawan-kawan seperguruan. Bahkan tak berusaha mencari guru mereka..."

Pandan Wangi masih berdiam, dan belum menyahuti ucapan Rangga.

"Padahal, mereka bisa meminta tolong pada kita untuk mencari kedua manusia bertopeng itu. Tapi, itu tak dilakukan. Mereka juga tak merasa cemas melihat kawan-kawannya tewas dengan tubuh mengerikan," tambah Rangga.

"Hm... Tidakkah Kakang memperhatikan cara mereka naik ke punggung kuda kita? Ringan dan enteng sekali. Itu menandakan kalau mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna? Dan bagi murid yang baru belajar ilmu silat, mana mungkin mampu melakukannya...," gumam Pandan Wangi.

"Itu memang lepas dari perhatianku. Tapi, aku merasa kalau sorot mata mereka mempunyai tenaga batin kuat. Dan itu hanya dimiliki orang yang mempunyai kepandaian hebat..."

"Kita harus menyingkap teka-teki ini, Kakang. Sudah banyak yang menjadi korban. Dan mungkin akan bertambah terus selama mereka masih berkeliaran," tegas Pandan Wangi.

"Ya.... Kita harus mencari tahu, apa yang diinginkan mereka sebenarnya!"

Sepasang pendekar dari Karang Setra itu menggebah kudanya. Maka kedua hewan itu langsung berlari kencang! Setelah beristirahat semalaman di pinggir sebuah hutan, Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi kini tiba di sebuah desa yang tak terlalu besar. Penduduknya yang tidak terlalu padat, hidup sebagai petani. Jarak mereka satu rumah dengan yang lain pun cukup jauh. Sehingga, kesunyian selalu mewarnai kehidupan desa itu. Terlebih-lebih, pada pagi hari. Biasanya pada waktu seperti itu, sebagian besar pemuda dan laki-laki penduduk desa pergi ke sawah.

Namun, pagi ini suasana tak seperti biasanya. Tampak penduduk desa berkumpul di sebuah halaman yang cukup luas, di depan sebuah pondok yang terpisah dari pondok-pondok lainnya. Rangga dan Pandan Wangi yang merasa tertarik, segera memacu kudanya perlahan ke sana. Sebentar saja, sepasang pendekar dari Karang Setra itu telah tiba di depan pondok yang telah dipenuhi penduduk desa. Mereka segera turun dari kuda masing-masing, dan bergerak mendekati seorang penduduk.

"Maaf, Paman. Apa yang telah terjadi dirumah ini?" tanya Rangga ramah, pada laki-laki yang bertubuh kurus dan berkulit gelap.

Orang tua itu memandang curiga Rangga dan Pandan Wangi. "Kalian siapa? Apakah kawan-kawan mereka?" orang tua itu balik bertanya.

"Mereka! Mereka siapa yang Paman maksudkan?" tanya Rangga, bingung.

"Orang-orang yang telah mengeroyok Ki Kaliambar."

"Ki Kaliambar? Siapa dia...?"

Orang tua bertubuh kecil itu tak langsung menjawab. Rasanya memang sedikit aneh, bila dua anak muda yang berpakaian seperti pendekar itu tak mengenal Kaliambar. Bukankah dia tokoh yang cukup disegani. Mungkin saja, setelah sebelas tahun mengasingkan diri di tempat ini, kedua anak muda itu baru saja turun ke dunia luar. Sehingga, wajar saja kalau tak mengenalnya.

"Kami tak tahu, apa penyebabnya. Tapi tiba-tiba saja, mereka datang berempat, kemudian terjadi pertarungan. Mereka behasil mengalahkan Ki Kaliambar, dan membuatnya tewas. Namun, dua orang dari mereka pun telah tewas juga dihajar Ki Kaliambar. Dan pada saat yang bersamaan, entah dari mana datangnya tahu tahu muncul dua orang bertopeng. Mereka langsung menghabisi kedua orang yang tersisa, sehingga tewas dengan tubuh membusuk," jelas orang tua itu singkat.

"Orang bertopeng?" tanya Rangga meyakinkan.

"Betul. Mereka dua orang, mengenakan topeng berwarna merah darah. Yang seorang bertubuh besar dan tegap. Dan seorang lagi bertubuh ramping seperti perempuan. Ilmu silat mereka sangat tinggi, tapi sangat sadis. Buktinya, kedua orang musuh Ki Kaliambar itu tewas dengan tubuh membusuk, mengeluarkan bau menusuk hidung," lanjut orang tua itu.

"Hm... Kapan peristiwa itu terjadi?"

"Tadi malam. Beberapa orang yang kebetulan lewat di dekat sini, menyaksikan peristiwa itu."

"Ke mana kira-kira orang-orang bertopeng itu melarikan diri?"

"Ke arah selatan...."

"Ada yang mengetahui, siapa kira-kira mereka? Tahukah Paman, kira-kira siapa yang menaruh dendam kepada Ki Kaliambar?"

Orang tua itu menggeleng lemah. "Tidak. Tak ada seorang pun di desa ini yang tahu banyak tentang Ki Kaliambar. Dia jarang bergaul dan jarang bertemu penduduk desa ini. Kadang-kadang, bahkan tak keluar dari rumahnya sampai berhari-hari. Kami hanya tahu dari beberapa orang penduduk yang sering berdagang keluar desa ini. Mereka mendengar, kalau Ki Kaliambar adalah seorang pendekar tersohor...."

Rangga menganggukkan kepala. "Terima kasih...," ucap Rangga sambil mengajak Pandan Wangi kembali menaiki kudanya masing-masing.

"Kisanak, tunggu dulu! Bolehkah aku tahu, siapa kalian sebenarnya. Dan, apakah punya kepentingan dengan Ki Kaliambar hingga datang ke desa ini?"

Rangga tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Tidak. Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat di desa ini, namaku Rangga. Dan ini kawanku, Pandan Wangi...," kata Rangga, segera menggebah kudanya.

Orang tua itu menganggukkan kepala. Wajahnya biasa saja sebab tak mengenal nama-nama itu sebelumnya. Kalaupun ada keheranan dan rasa takjub di wajahnya, karena kedua anak muda itu sangat serasi. Yang pemuda tampan dan yang perempuan cantik. Dia betul-betul tak percaya kalau mereka hanya sekadar berkawan. Paling tidak, di antara mereka ada jalinan asmara. Atau bahkan merupakan sepasang suami istri!

"Kita ke selatan, Kakang?" tanya Pandan Wangi ketika mereka baru saja keluar dari perbatasan desa itu.

"Tentu saja. Kedua orang bertopeng itu membuatku penasaran. Aku mendapat kesimpulan, mereka tak sembarangan membunuh. Tokoh-tokoh yan dibunuhnya hanya tertentu saja."

"Kenapa Kakang berpendapat demikian?"

"Desa ini terpencil. Tapi, mereka menyempatkan datang ke sini hanya untuk mencampuri urusan orang. Demikian pula Ki Ajar Ningrat dan orang-orang padepokannya. Setahuku, tak jauh dari situ ada sebuah perguruan silat yang cukup terkenal dan diketuai seorang tokoh yang berkepandaian tinggi. Tapi Soreang dan Dewi mengatakan, tokoh itu tak diundang dalam pertemuan yang diadakan dikediaman Ki Ajar Ningrat. Ada apa ini? Lalu, Kepala Desa Gudang Banyu beserta anak buahnya yang tewas. Padahal, di kampung masih banyak tokoh persilatan yang cukup tangguh. Kalau orang-orang bertopeng itu ingin membuat kekacauan mereka tentu membakar atau merampok serta membunuh sembarangan orang. Dan kalau mereka mencari pendekar tak terkalahkan, tentu sudah banyak korban yang berjatuhan. Tapi sejauh iru, masih orang-orang tertentu saja...," kata Rangga menjelaskan panjang lebar.

Pandan Wangi hanya mengangguk-angguk mendengarkan. "Kalau demikian, untuk apa berlama-lama, Kakang? Mari cepat kita ke sana?!" ajak gadis itu sambil menghela kuda berbulu putihnya.

Rangga menghela kudanya, agar berlari kencang bagai tiupan angin. Dalam wakru sekejap saja, Pandan Wangi telah tersusul. Bahkan Rangga terus memacu Dewa Bayu, meninggalkan gadis itu jauh di belakangnya. Disadari kuda yang ditunggangi Rangga bukan kuda sembarangan. Kuda hitam bernama Dewa Bayu itu mampu bergerak cepat, tak mampu dikejar oleh kuda tangguh manapun. Itulah sebabnya dia tenang-tenang saja dan tak bermaksud mengejar. Namun di satu tikungan jalan gadis itu berhenti, karena tiba-tiba terdengar suara pertarungan. Pandan Wangi segera memacu kudanya ke arah yang berbelok itu. Padahal, Rangga memacu kudanya lurus saja.

Kini Pandan Wangi tiba di suatu tempat yang agak tinggi. Dugaannya betul. Di bawah sana tampak terjadi suatu pertarungan yang seru. Dua orang laki-laki tak dikenal. Yang masing-masing telah berusia lanjut dan masih muda. Sementara lawan mereka adalah orang yang sedang mereka cari. Sepasang manusia bertopeng.

"Berhenti...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, yang disusul meluruknya sosok bayangan biru. Sebentar saja, di depan seorang manusia bertopeng telah berdiri satu sosok gadis cantik berpakaian biru. Dia tak lain dari Pandan Wangi. Setelah memperhatikan pertarungan sejenak, gadis itu memang memutuskan untuk meluruk turun.

Kedua orang bertopeng itu menghentjkan serangan dan memandang Pandan Wangi dengan sorot mata tajam.

"Hm Kukira siapa nyatanya si Kipas Maut yang terkenal itu...," sahut salah seorang bertopeng yang bertubuh tegap terbungkus pakaian coklat. Di balik topengnya memang tersembunyi wajah Panjalu. Sementara sosok yang satu lagi jelas Ismi, adik Panjalu.

"Hm, kau mengenaliku rupanya. Siapa kalian?! Dan apa yang kau lakukan terhadap kedua orang ini," desis Pandan Wangi curiga, sambil menunjuk laki-laki tua dan pemuda yang kini beristirahat di bawah pohon.

"Kau tak perlu tahu. Ini urusan kami. Menyingkirlah sebelum mencampuri urusan ini lebih jauh!" sahut orang bertopeng yang berbaju kuning dengan suara dingin.

"Sudah banyak yang menjadi korban kekejaman kalian. Jadi mana bisa aku berdiam diri begitu saja?!" sahut Pandan Wangi tegas.

"Hm.... Kau akan menyesal nantinya. Kuperingatkan sekali lagi, pergilah. Dan, jangan mencampuri urusan kami!" Ada nada mengancam yang dikeluarkan orang bertopeng dari kata-katanya.

"Jangan mengancamku. Tapi, kalianlah yang sebaliknya pergi. Dan jangan lagi membuat korban di mana-mana. Kalau tidak terpaksa aku akan menghentikannya!"

"Ha ha ha...! Kata-katamu sungguh berani, Kipas Maut! Tapi kalau aku berkata seperti tadi, bukan berarti takut denganmu. Tapi demi keselamatanmu sendiri. Tapi kalau tetap keras kepala, kau akan menyesal sendiri. Dan sekarang, meskipun kau akan menyingkir, tak ada jalan bagimu. Kau terlalu lancang mencampuri urusan orang! Dan untuk itu, kematianlah bagianmu!" dengus orang bertopeng memakai baju coklat.

"Hm.... Ingin kubuktikan kata-katamu!" sahut Pandan Wangi dingin sambil mencabut kipas mautnya.

"Hup!"

Kedua orang bertopeng itu bersiap. Dari sorot matanya terlihat rasa tak senangnya, disertai nafsu membunuh. Terlebih-lebih yang bertubuh ramping. Dia melompat lebih dulu, dengan sebuah serangan berbahaya.

"Mampuslah kau, Perempuan Lancang! Yeaaa...!"

Bet!

Si Kipas Maut menyambut serangan dengan kelebatan kipasnya yang cepat ke berbagai jurusan di tubuh orang bertopeng itu. Namun, tubuh terbungkus pakaian kuning itu lincah sekali maliuk bagai orang menari, menghindari setiap serangan lawan. Bahkan Pandan Wangi nyaris dibuat terkejut, ketika tiba-tiba saja serangkum angin berhawa panas menyambar muka.

"Hiyaaa...!"

"Uts...!" Buru-buru gadis berpakaian biru itu bersalto ke belakang. Namun pada saat yang bersamaan, orang bertopeng yang berpakaian coklat telah mencelat sambil mengayunkan kepalan tangannya ke dada Kipas Maut.

Pandan Wangi tidak kehilangan akal. Dengan cepat kipasnya dikibaskan ke atas membentuk pusaran angin kencang. Sosok berpakaian coklat itu terkejut, tidak buru-buru menarik serangannya. Sementara orang bertopeng yang bertubuh ramping telah mengejar dengan pukulan maut, tatkala kedua kaki Pandan Wangi baru saja menyentuh tanah.

"Hiyaaat..!"

Uts! Sial...!" Dengan jungkir balik Pandan Wangi membuat lompatan ke samping. Akibatnya, sebuah pohon yang berbatang cukup besar hangus terbakar, karena menjadi sasaran serangan. Bukan main terkejutnya Pandan Wangi melihat hal itu. Namun belum lagi habis rasa keterkejutnya, orang bertopeng yang berbaju coklat telah kembali melesat menyerang disertai tenaga dalam kekuatan penuh. Seketika terdengar desir angin kencang, seperti topan yang menghantam ke arahnya.

"Yeaaa...!" Pandan Wangi cepat bagai kilat melenting ke udara, kemudian menukik sambil memutar kipas baja putih di tangannya dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Serangan yang demikian cepat ini tertuju ke arah dua orang lawannya secara bersamaan.

Werrr...!

"Heh?!" Serangan Pandan Wangi sama sekali tak diduga oleh kedua manusia bertopeng itu. Meskipun secara serabutan, mereka berhasil menghindarkan diri. Bahkan kembali balas menyerang dengan sengit. Kini pertarungan pun kembali berlangsung secara cepat dan alot.

Terlihat sekali kalau kedua orang bertopeng itu tak ingin memberi sedikit pun peluang bagi Pandan Wangi. Mereka terus mendesak, dan bermaksud menghabisi Kipas Maut secepatnya. Sementara Pandan Wangi bukannya tak merasakannya. Dia berusaha bertahan mati-matian dari serangan yang semakin bertubi-tubi. Namun jelas, terlihat, perlahan-lahan pertahanannya mulai terdesak hebat. Meskipun permainan ilmu kipas Pandan Wangi tergolong hebat, namun gerakan dan kerja sama kedua orang bertopeng itu luar biasa. Lebih dari itu, mereka memiliki tenaga dalam kuat. Itu terlihat dari setiap serangan mereka yang selalu menimbulkan desir angin kencang. Sehingga mampu membuat Pandan Wangi bergetar!

Dalam kedudukan yang sudah sangat terancam, mendadak melesat sosok bayangan putih yang langsung menyerang salah seorang manusia bertopeng itu.

"Hiyaaa...!"

"Heh?" Sepasang manusia bertopeng itu begitu terkejut, melihat sosok bayangan putih yang melesat demikian cepat. Bahkan begitu muncul, langsung memapak serangan orang bertopeng yang bertubuh lebih besar.

Kini Pandan Wangi sendiri telah lebih leluasa menghadapi seorang lawannya. Bahkan perlahan-lahan terlihat mulai mampu menekan manusia bertopeng yang berbaju kuning.

"Huh! Pendekar Rajawali Sakti yang kudengar, ternyata memang suka mencampuri urusan orang lain! Bahkan merasa dirinya hebat tak terkalahkan!" dengus orang bertopeng dan berpakaian coklat itu geram, karena serangannya digagalkan.

"Tak bisa kubiarkan perbuatan kalian yang sewenang-wenang!" sahut sosok bayangan putih yang memang Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti, dengan nada tegas.

"Huh! Kau tahu, kenapa semua ini kami lakukan?!" dengus orang bertopeng yang sebenarnya adalah Panjalu itu dengan nada suara dingin.

"Rasanya aku memang tak perlu tahu. Yang jelas mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana karena ulah kalian yang kejam."

"Kau tak mengerti apa-apa Pendekar Rajawali Sakti. Yang kau tahu, hanya kulit luarnya saja. Tapi karena kau telah mencampuri urusanku, maka aku tak akan mengampunimu!" kata Panjalu.

"Siapa sudi menerima ampunanmu!" balas Rangga, enteng.

"Keparat! Mampuslah kau...!" Panjalu seketika membentak sambil menyorongkan telapak tangan kanannya ke depan. Maka dari telapak tangannya keluar serangkum angin kencang yang menderu-deru, membawa hawa panas dan meliuk-liuk seperti cambuk

Werrr...!

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti melompat ke kiri dan kanan untuk menghindari pukulan maut yang dilancarkan Panjalu. Dan setiap kali pukulan itu tak mengenai sasaran, maka benda yang terkena langsung terbakar dan hangus menjadi arang. Rangga mendecak kagum menyaksikan kehebatan pukulan maut yang dilancarkan orang bertopeng itu. Pada suatu kesempatan, Panjalu bermaksud mencuri kesempatan, saat Pendekar Rajawali Sakti sedang kerepotan.

Melihat hal ini rahangnya bergemeletuk. Orang bertopeng itu seperti berpacu melawan kecepatan geraknya. Bahkan kepalan tangan kanannya dihantamkan ke dada Pendekar Rajawali Sakti Pemuda berbaju rompi putih itu cepat mundur ke belakang, seraya mengebutkan tangannya untuk menangkis kepalan yang mengarah kedadanya.

Plak!

Dengan gerakan mengagumkan, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan tendangan berputar yang mengincar leher. Tak ada waktu lagi bagi Panjalu, selain menangkis tendangan yang dilepaskan demikian cepat. Maka....

Plak!

"Uh...!" Panjalu mengeluh kesakitan, ketika tangannya menangkis tendangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun dia cepat menguasai diri dengan pukulan mautnya, yang terarah ke dada Pendekar Rajawali Sakti pada jarak cukup dekat.

Namun Rangga telah menyadarinya. Maka dipapaknya serangan itu, dengan pengerahan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' pada tingkat yang cukup tinggi. Sehingga....

Glarrr...!

Satu ledakan dahsyat, begitu dua tangan beradu yang sama-sama berisi ilmu kedigdayaan hebat. Bahkan tubuh Panjalu sampai terlontar ke belakang. Untungnya, dia cepat membuat gerakan salto beberapa kali, sehingga dapat mematahkan daya lontaran, walaupun agak terhuyung ketika menjejakkan kakinya.

Sementara pada saat yang sama, terdengar keluh kesakitan dari pertarungan lain. Rangga yang hanya terjajar beberapa langkah terkejut karena menyangka kalau Pandan Wangi berada dalam bahaya. Buru buru perhatiannya dialihkan. Namun saat itu juga manusia bertopeng yang berbaju coklat cepat melesat kabur. Sedangkan yang berbaju kuning, sudah lebih dulu kabur, setelah mendapat perlawanan sengit dari Pandan Wangi.

"Pandan. kau tak apa-apa?" tanya Rangga cemas.

Gadis itu menggeleng sambil menyelipkan kipas mautnya di pinggang. "Kenapa lawan Kakang dibiarkan kabur?"

"Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Pandan. Biarlah lain kali mereka akan kita bereskan. Kau sungguh tak apa-apa?" tanya Rangga kembali.

"Huh! Kalau saja dia tak keburu kabur, mungkin aku akan berhasil memenggal kepalanya!" desis Pandan Wangi geram.

"Kau berhasil melukainya?"

"Bahunya terserempet ujung kipasku..."

"Sudahlah. Kurasa mereka pun tak akan bisa bergerak jauh. Kalau nanti bertemu kembali, kita akan menangkap dan melihat siapa yang ada di balik topeng itu."

Pada saat itu, terlihat dua orang yang semula didesak habis-habisan oleh kedua orang bertopeng tadi, mendekati.

"Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut, aku Kalimaya. Dan ini muridku, Tarmuji. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pertolongan kalian berdua...," ucap laki-laki tua itu, seraya memberi salam penghormatan.

Rangga dan Pandan Wangi membalas, dan memandang sekilas pada mereka. Yang paling tua berusia sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya kurus dan memiliki janggut seperti kambing. Sedangkan yang satunya lagi berusia sekitar tiga puluh tahun dan bertubuh kurus.

"Kisanak. Apakah kalian mempunyai persoalan dengan orang-orang bertopeng itu, sehingga ingin membunuh kalian?" tanya Rangga datar.

"Ceritanya panjang...," tutur Ki Kalimaya, lirih.

"Sudikah kalian menceritakannya kepada kami...?" pinta Rangga.

"Lebih kurang sebelas tahun yang lalu, aku mendengar kabar kalau suami istri yang bernama Ki Dewoko dan Nyi Kurniasih mengetahui tempat sebuah kitab pusaka berisi ilmu silat tingkat tinggi. Kitab itu banyak dicari tokoh persilatan, sehingga mereka berebut ke sana. Aku pun ke sana, dan melihat kejadian yang sama sekali tak kuduga. Karena diamuk amarah, para tokoh persilatan itu membakar suami istri itu hidup-hidup. Mereka menuduh kalau Ki Dewoko dan istrinya telah membunuh dua orang tokoh persilatan yang datang secara baik-baik untuk meminjam kitab itu," Ki Kalimaya memulai ceritanya.

Mata orang tua itu menerawang jauh, seperti berusaha mengumpulkan ingatannya. Sementara Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi mendengarkan penuh perhatian.

"Kejadian itu pun dikarenakan pihak kepala desa telah menyulut kemarahan para tokoh persilatan, dengan memfitnah suami istri itu. Katanya, Ki Dewoko dan istrinya adalah sepasang tokoh sesat yang sangat kejam. Namun sebelum mereka ditangkap, ternyata kedua anaknya yang berpenyakit kusta sempat melarikan diri. Akhirnya, kedua anak itulah yang menjadi sasaran tokoh-tokoh persilatan, dalam usaha menemukan kitab pusaka itu...," jelas Ki Kalimaya panjang lebar.

Rangga dan Pandan Wangi mengangguk angguk mengerti. "Lalu, apa hubungannya dengan kedua orang bertopeng tadi?" tanya Rangga kembali.

"Mereka mengaku bernama Panjalu dan Ismi, putra-putri Ki Dewoko dan Nyi Kumiasih yang tewas dibakar hidup-hidup oleh para tokoh persilatan itu," sahut Ki Kalimaya.

"Hm... Pantas mereka berbuat kejam begitu. Tapi, dari mana mereka mempelajari ilmu silat yang tangguh itu...?"

"Entalah. Menurutku, mereka mungkin selamat dari kejaran Kaliambar. Lalu mencari kitab pusaka itu dan mempelajarinya. Kemudian setelah sebelas tahun ini, mereka membalas dendam kepada tokoh-tokoh yang ikut dalam pembantaian kedua orangtuanya..."

"Kira-kira di mana, mereka berada saat ini. Atau, ke mana kira-kira tujuan mereka selanjutnya, Ki?" tanya Rangga.

"Tentu saja mencari tokoh-tokoh yang terlibat dalam pembunuhan kedua orangtua mereka..."

"Hm.... Bisakah kau menyebutkan satu persatu, siapa-siapa saja yang akan jadi korbannya?" kali ini Pandan Wangi yang bertanya.

"Yang tersisa memang tak banyak. Dan sebagian besar sudah tewas di tangan mereka. Selain kami berdua, masih tersisa kira-kira lima orang tokoh lagi...," jelas Ki Kalimaya, sambil menyebutkan kelima tokoh yang dimaksud.

"Siapa di antara tokoh-tokoh itu yang tempatnya agak dekat dari sini..?"

"Ki Sambung Beni. Dia menetap di Desa Wuwungan, sebelah utara desa ini."

"Desa Wuwungan?" Rangga dan Pandan Wangi sama-sama terkejut mendengarnya.

"Kenapa, Rangga, Pandan? Apakah ada sesuatu yang khusus tentang desa itu?" tanya Ki Kalimaya heran.

"Eh, tidak. Hanya kami mempunyai kenalan di desa itu. Barangkali, kalian mau bergabung dan mengawani kami ke sana?" tanya Rangga menawarkan.

"Memang kami berniat ke sana, sekaligus menjumpai Ki Sambung Beni untuk membicarakan persoalan ini. Kebetulan sekali kalau kalian berkenan mengajak kami bersama-sama Aku akan senang sekali menerimanya," sahut Ki Kalimaya.

"Pandan, berikan kudamu pada mereka berdua," ujar Rangga.

"Baik, Kakang," sahut gadis itu seraya melompat ringan.

"Kau naik kudaku," ujar Pendekar Rajawali Sakti lagi.

Gadis itu segera bergerak, dan melompat ke punggung Dewa Bayu. Indah sekali gerakannya, membuat Ki Kalimaya berdecak kagum.

"Tadi kau bilang punya rencana? Rencana apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi. Gadis itu menanyakan alasan kenapa Rangga menolak tawaran menginap Ki Sambung Beni saat mereka mampir di rumah orang tua itu. Sepasang pendekar dari Karang Setra itu tadi memang sempat mampir di rumah Ki Sambung Beni, sekaligus mengantarkan Ki Kalimaya dan Tarmuji. Namun karena ada sesuatu rencana yang akan dijalankan, Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat memohon pamit. Sementara, Ki Kalimaya dan Tarmuji ditinggal di sana.

"Apakah kau tak bisa melihatnya?"

Pandan Wangi menggeleng.

"Ki Sambung Beni dan Ki Kalimaya adalah orang yang dicari kedua manusia bertopeng itu..."

"Lalu?" tanya Pandan Wangi masih bingung.

"Hm.... Tentu saja ini kesempatan baik bagi kedua orang bertopeng itu, untuk menghabisi mereka secara bersamaan. Kita akan mengintai tempat itu malam nanti. Mereka tentu akan melaksanakan pembunuhan itu saat keadaan sepi. Maka, saat itulah kesempatan untuk membekuk kedua orang bertopeng itu," jelas Rangga singkat.

Pandan Wangi tersenyum kecil mendengar rencana itu. "Bagus sekali, Kakang," puji gadis itu.

Rangga hanya tersenyum kecil mendengar pujian itu. "Nah! Sekarang, kita coba mencari kedua kakak beradik itu di desa ini. Kalau tak ketemu, kita menginap saja di rumah penginapan," usul Pendekar Rajawali Sakti, sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan.

Pandan Wangi diam tak menyahut ketika Rangga menyebut kedua kakak beradik itu, Hatinya memang tak suka kalau harus sering-sering bertemu. Terutama sekali, dengan gadis yang bernama Dewi. Sorot matanya genit dan sering melirik Rangga. Mereka terus memacu kudanya dengan pelan, melewati jalan desa yang kecil dan berdebu. Dan ketika melewati kelokan jalan...

"Rangga...!" Terdengar suara panggilan, membuat Rangga dan Pandan Wangi segera berbalik.

"Hei?!" Cepat Rangga turun dari kudanya diikuti Pandan Wangi. Sambil menuntun kuda masing-masing, mereka melangkah menghampiri Soreang.

Rangga mengenali orang yang memanggilnya. Tentu saja, karena dia tak lain dari Sorenag. Kelihatannya, pemuda itu berjalan tergesa-gesa sekali menghampirinya.

"Aku tak melihat adikmu? Di mana dia?" tanya Rangga, ketika dekat.

"Dia sedang sakit. Dan sekarang sudah agak lebih baik setelah diobati oleh seorang tabib," jawab Soreang.

"Syukurlah," ucap Rangga.

"Kapan tiba?" lanjut Soreang bertanya.

"Baru saja. Kami kebetulan melewati desa ini, dan teringat pada kalian...," Rangga terpaksa berdusta.

"Oh, ya.... Silakan kalau kalian berdua ingin mampir. Tapi jangan kaget, sebab tempat kami sangat sempit dan jelek," kata Soreang ramah.

"Tak mengapa..." Mereka berjalan perlahan-lahan sambil bercakap-cakap menuju kediaman Soreang. Tak terlalu jauh tempat tinggal Soreang. Sehingga sebentar saja mereka sudah tiba di depan rumah kecilnya yang sederhana itu.

"lnilah tempat tinggal kami!" kata Soreang.

Rangga dan Pandan Wangi memperhatikan sekilas rumah itu. Memang betul apa yang dikatakan Soreang. Rumah itu kecil. Bahkan di sana-sini terlihat banyak yang rusak, sehingga mengesankan bagai rumah tua yang telah lama tak ditempati.

"Silakan...!" ucap Soreang, mempersilakan kedua tamunya masuk.

Soreang memang tak berdusta tentang adiknya. Begitu mereka masuk, Dewi tampak berbaring di atas sebuah dipan yang telah reot. Tubuhnya panas. Bahu kirinya terbalut kain putih yang masih terlihat noda darah merembes keluar. Dia sedikit terkejut melihat kedatangan kedua orang tamunya, namun berusaha bersikap ramah.

"Tidur saja dahulu kalau memang kau masih lemah...," ujar Pandan Wangi sambil tersenyum kecil, ketika Dewi berusaha bangkit.

Seketika benak Pandan Wangi menggayut sebuah pertanyaan. Jangan-jangan gadis itulah yang dilukainya dengan kipas maut, waktu bertarung kemarin.

"Ohhh..., tidak. Tubuhku sudah sedikit lebih baik. Nanti setelah Kakang Soreang membuat obat, aku akan sembuh kembali," sahut Dewi lemah.

"Ke mana sanak keluarga kalian?" tanya Rangga, ketika Soreang berada di dapur membuat ramuan jamu dari akar-akar yang dibawanya dalam keranjang kecil tadi.

"Eh! Mereka telah tak ada, saat kami tiba disini...," sahut Dewi gugup.

"Ke mana?"

"Entalah. Menurut penduduk desa ini, mereka telah lama pergi...."

"Paman, atau...?"

"Ya, Paman. Adik ibu kami?" sahut gadis itu cepat.

"Hm.... Sungguh aneh. Rupanya dia seorang yang senang mengasingkan diri dari keramaian. Dan tempat ini pun terpisah agak jauh dari keramaian desa...." gumam Rangga, seperti berkata-kata sendiri.

"Ya Dia memang seorang aneh... "

Rangga tersenyum kecil. kemudian memandang luka di bahu gadis itu. "Lukamu itu kenapa?" tanya Rangga.

"Eh! Ini..., ng.... Semalam kami terburu-buru. Dan bahuku, tersangkut ranting kayu patah yang tajam," sahut gadis itu tergagap.

Rangga mengangguk-angguk.

Sementara itu Soreang telah kembali membawa secangkir ramuan obat yang dibuatnya sendiri. Ramuan itu segera diangsurkan pada Dewi, untuk diminum. Tak lama Dewi telah mengangsurkan cangkir dari tempurung kelapa yang telah tandas isinya, pada kakaknya.

"Sebentar lagi panas tubuhmu akan turun...," kata Soreang lirih, sambil mengambil cangkir tempurung kelapak dari adiknya.

Dewi menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Rangga dan Pandan Wangi tahu diri, kalau gadis itu hendak beristirahat. Apalagi ketika Soreang mengajak mereka untuk ke beranda depan. Di situ, ada sebuah dipan bambu yang sudah reot, namun masih cukup kokoh untuk diduduki.

Di beranda, Soreang banyak bercerita mengenai apa yang pernah didengarnya tentang kehebatan Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut. Dan ini membuat kedua tamunya jadi jengah. Sepertinya, cerita Soreang itu berlebih-lebihan. Dan Rangga paling tidak suka mendengarnya.

********************

Ki Sambung Beni telah mendengar semua yang diceritakan Ki Kalimaya mengenai orang-orang bertopeng itu. Mungkin itu pula yang menyebabkan dirinya berjaga-jaga malam ini. Demikian juga Ki Kalimaya beserta muridnya. Agaknya, mereka sepakat untuk menghadapi orang-orang bertopeng itu.

"Apakah Ki Kalimaya yakin kalau mereka akan menyatroni kita?" tanya Ki Sambung Beni ragu.

"Hm... Kuat dugaanku begitu. Semua tokoh yang terbunuh adalah yang sebelas tahun lalu ikut dalam pembantaian di Desa Gudang Banyu itu," jelas Ki Kalimaya.

"Ya! Aku pun mendengar pula dari para pedagang yang sering melewati desa ini. Cepat atau lambat, dia akan ke sini juga...," sahut Ki Sambung Beni.

"Kepandaian mereka sangat hebat, Ki. Kau mesti berhati-hati dan harus selalu waspada...," desah Ki Kalimaya, seperti tercekat di tenggorokan.

Ki Sambung Beni memandang tamunya dalam-dalam. "Menurutmu, apakah Pendekar Rajawali Sakti tak bermaksud campur tangan dalam urusan ini...?" tanya Ki Sambung Beni ragu.

"Entahlah. Tapi, dia memang banyak bertanya soal mereka...," sahut Ki Kalimaya.

"Seandainya saja dia berada di sini...," desah Ki Sambung Beni.

"Ki! Kita tak bisa mengandalkan bantuan pada seseorang. Kesalahan ini, secara tak langsung adalah beban kita. Maka kita harus memikulnya tanpa mengandalkan bantuan orang lain....''

"Ya, aku mengerti. Meskipun dilakukan, karena kita dikelabui kepala desa itu."

"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Tiada guna lagi disesali."

Ketiga orang itu terdiam beberapa saat. Sementara, di luar keadaan semakin gelap. Udara dingin mulai merayap masuk ke ruang tamu ini. Ketika cahaya kilat menerangi tampat itu untuk sesaat, maka bisa diduga kalau sebentar lagi akan turun hujan. Dan kegelisahan pun seperti merayapi mereka. Menunggu sesuatu yang tak pasti namun seolah ada di depan mata. Bahkan selalu mengancam keselamatan mereka.

Slap!

"Heh?!" Ketiga orang itu tersentak kaget, ketika sekelebat bayangan bergerak cepat melewati jendela depan. Mereka segera bersiaga dengan senjata masing-masing. Ki Sambung Beni meraih tombaknya dan menggenggam erat-erat. Sementara, Ki Kalimaya beserta muridnya menggenggam sebilah pedang.

"Siapa?!" bentak Ki Sambung Beni. Orang tua itu segera bergerak ke depan dan membuka pintu lebar-lebar. Sorot matanya tajam mengawasi keadaan di luar. Namun sedikit pun tak terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Orang tua itu mulai berpikir, apakah matanya yang mulai rabun? Tapi...

Bruakkk!
"Yeaaa...!"

"Hei!" Bukan main terkejutnya ketiga orang itu, ketika tiba-tiba dari atap menerobos dua sosok tubuh berpakain kuning dan coklat, langsung bergerak menyerang Ki Kalimaya dan muridnya.

"Hiyaaat..!" Ki Kalimaya melompat untuk menghindari serangan. Pedangnya langsung terhunus menghajar bagian kepala sosok yang baru menginjakkan kakinya di tanah.

Wuttt!

Namun sosok berpakaian coklat dengan topeng merah darah itu sigap sekali menundukkan kepala, sekaligus mengayunkan sebelah kaki. Cepat dilepaskannya satu tendangan ke arah dada.

Zet!

"Uts!" Ki Kalimaya melompat ke belakang. Namun sosok tubuh yang bertopeng itu terus mengejar, melepaskan satu kepalan tangan bertenaga kuat yang menyambar perut.

"Hih!"
Bet! Bet!

Pada saat yang gawat itu Ki Sambung Beni melompat sambil mengayunkan tombaknya yang berputar-putar cepat, ke arah orang bertopeng dan berpakaian coklat yang memang Panjalu itu. Namun, Panjalu lebih cepat melompat ke atas, langsung membuat beberapa putaran. Kemudian bagai sebuah anak panah, tubuhnya meluruk deras menghantam lurus ke kening orang tua itu.

"Yeaaa!"

"Uts!" Ki Sambung Beni cepat-cepat menjatuhkan diri ke lantai hingga kepalan tangan Panjalu yang diiringi tenaga dalam tinggi lewat setengah jengkal dari kepalanya. Sementara Ki Kalimaya cepat bertindak. Kembali pedangnya dibabatkan ke tubuh laki-laki bertopeng coklat itu dalam beberapa gerakan memotong yang cepat. Namun belum lagi melanjutkan serangannya....

"Aaa..!"

Ki Sambung Beni dan Ki Kalimaya dikejutkan teriakan Tarmuji yang sendirian menghadapi orang bertopeng satunya lagi. Tubuh Tarmuji terjungkal disertai semburan darah segar dari mulut lalu membentur dinding dengan keras. Namun orang bertopeng yang bertubuh ramping dan tak lain dari Ismi itu tak memberi kesempatan sedikit pun. Sebelum tubuh Tarmuji roboh, dia melompat dan bermaksud menghabisi secepatnya.

Saat itulah, Ki Kalimaya langsung menghentikan serangannya pada Panjalu, dan langsung begerak cepat menghadang orang bertopeng yang bernama Ismi. Dengan kecepatan dahsyat, pedangnya diayunkan ke tubuh ramping milik manusia bertopeng yang berbaju kuning itu.

Wut! Wut!
"Hup!"

Ismi cepat menundukkan kepala, menghindari sambaran pedang Ki Kalimaya. Dan dengan kecepatan kilat, kepalan tangan kanan beralih mengancam perut Ki Kalimaya.

Wut!
"Uts!"

Namun tanpa memberi kesempatan sedikitpun, Ismi terus mencecarnya. Tubuhnya cepat berputar, seraya melepaskan tendangan kaki kiri ke arah dada. Serangan yang demikian cepat ini membuat Ki Kalimaya terkejut. Sebisanya dicobanya untuk menangkis.

Plak!

"Uhhh...!" Ki Kalimaya jadi meringis sendiri ketika merasakan tangannya terasa nyeri akibat benturan dengan kaki manusia bertopeng itu. Maka buru-buru pedangnya diayunkan sekuat tenaga, ketika Ismi akan melanjutkan serangan. Tapi, manusia bertopeng berpakaian kuning ini telah melenting ke atas. Begitu telah berada di udara, dia mengincar batok kepala orang tua itu.

"Uts...!" Ki Kalimaya cepat menjatuhkan diri, sehingga kepalan tangan Ismi luput menghantamnya.

Sementara itu dari pertarungan lain, terdengar suara berdentang nyaring. Tombak yang tadi digenggam Ki Sambung Beni tampak terlempar menghantam dinding. Orang tua itu sendiri menjerit kesakitan, ketika tubuhnya terlempar. Namun dalam keadaan begitu dia masih sempat menguasai diri dan berpijak kokoh di atas kedua kakinya.

"Yeaaa...!" Panjalu sudah melompat menyergap ketika orang tua itu baru saja menyentuh lantai. Terpaksa Ki Sambung Beni melenting cepat, menghindari injakan kaki Panjalu yang kuat luar biasa.

Bresss!

Lantai dekat Ki Sambung Beni jebol sedalam satu jengkal, begitu Panjalu tak menemukan sasaran. Kedua orang bertopeng itu terus menyerang gencar lawan masing-masing. Sementara Ki Kalimaya dan Ki Sambung Beni hanya bisa bertahan mati-matian. Agaknya kematian mereka hanya menunggu waktu saja. Namun tiba-tiba...

"Berhenti...!"
"Heh?!"

Terdengar bentakan nyaring yang disertai tenaga dalam tinggi. Kemudian disusul meluruknya dua sosok tubuh dari atas atap, dan mendarat manis di antara mereka. Sepasang orang bertopeng itu terkejut. Mereka cepat melarikan diri lewat dinding yang telah jebol berantakan ketika melihat siapa yang datang. Namun dua sosok yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut itu tak membiarkan mereka lolos begitu saja. Rangga dan Pandan Wangi cepat melesat disertai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna, menghadang mereka di halaman rumah Ki Sambung Beni. Kini Pendekar Rajawali Sakti berhadapan dengan Panjalu, sedangkan Pandan Wangi berhadapan dengan Ismi.

"Sudah kuperingatkan, agar kalian tak lagi membuat kekacauan di mana-mana. Cukuplah sudah, apa yang kalian lakukan selama ini. Tapi, nyatanya kalian keras kepala dan telah dirasuki iblis!" desis Pendekar Rajawali Sakti.

"Pendekar Rajawali Sakti! Di antara kita tak ada persoalan. Kenapa selalu usil dan ikut campur urusan kami?!" kata Panjalu, tak senang.

"Sebenarnya aku tak bermaksud ikut campur, kalau saja perbuatan kalian benar dan bijaksana. Tapi apa yang kalian lakukan selama ini, semata-mata menuruti nafsu iblis dan dendam belaka. Apakah kalian tak bisa memaafkan dan membiarkan apa yang telah terjadi untuk diambil hikmahnya?" sahut Pendekar Rajawali Sakti kalem.

"Ha ha ha...! Bicaramu seperti seorang pendekat saja! Kau bicara tentang pembunuhan yang kami lakukan? Padahal tanganmu sendiri kotor berlumur darah. Orang sepertimu tak layak bicara seperti itu!" sindir Panjalu yang bertopeng merah darah ini.

"Aku memang tak mengingkarinya. Tanganku memang berlumuran darah dan kotor. Tapi, kau harus tahu orang-orang yang terbunuh di tanganku sebagian besar adalah para pengacau dan pembuat keonaran," kilah Rangga.

"Sudah, jangan banyak bicara! Lebih baik, kalian menyingkir. Persoalan itu sudah jelas, dan mereka telah mengakuinya. Lantas kau tahu apa tentang penderitaan yang kami alami?" sinis nada suara Panjalu.

"Kenapa tidak? Aku tahu persoalan kalian. Makanya aku mengingatkan kalian, agar tak menuruti nafsu setan dan dendam yang akan menyulitkan diri sendiri. Sorot matamu tak akan bisa menipuku. Bahkan aku tahu wajah di balik topengmu itu!" ucap Rangga dingin.

Kata-kata Rangga membuat orang bertopeng itu terdiam beberapa saat lamanya. Mulai diduga-duga, benarkah apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti itu? Rangga telah mengetahui wajah di balik topeng ini?

"Huh! Kau jangan asal bicara, Pendekar Rajawali Sakti!" dengus orang bertopeng berpakaian coklat itu.

"Kau boleh coba. Tapi, tak usah kukatakan. Aku mengingatkanmu sebagai seorang sahabat. Maka, urungkanlah dendam itu. Dan, hiduplah kalian secara baik dan benar. Lupakan semua masa lalu yang pahit itu."

"Phuih! Tutup mulutmu!" Panjalu tiba-tiba menyentak. Dan pada saat itu juga tubuhnya tiba-tiba mencelat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

Pendekar Rajawali Sakti menangkis kepalan tangan Panjalu, sehingga tangan mereka saling beradu. "Yeaaa...!"

Plak!

Laki-laki bertopeng itu menahan nyeri pada tangannya akibat benturan dengan tangan Pendekar Rajawali Sakti tadi. Namun dia seperti tak peduli. Bahkan tiba-tiba saja tubuhnya berbalik, lalu dengan tenaga dalam kuat tangannya kembali bergerak ke arah dada. Rangga cepat memiring ke kiri sambil mengayunkan kaki kananannya ke dagu.

"Uts!" Panjalu melompat ke belakang. Namun Pendekar Rajawali Sakti tak membiarkan begitu saja. Tubuhnya langsung meleting membawa jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Hiyaaat..!"

Melihat serangan dahsyat ini, Panjalu berniat mengadu nyawa. Seketika pukulan mautnya disiapkan untuk menghadang serangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun Rangga malah menarik pulang pukulannya, dan melanjutkan lentingannya menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sejenak tubuhnya melayang di udara, bagai kapas saja.

Wer!
Brakkk!

Sedangkan pukulan maut Panjalu yang tidak menemui sasaran itu menghantam sebuah pohon hingga hancur berantakan, tepat ketika Pendekar Rajawali Sakti mendarat di tanah. Pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan Panjalu kembali berlangsung sengit. Sehingga yang tampak hanya bayangan merah yang saling berkelebat.

Sementara itu Pandan Wangi telah bertarung melawan Ismi. Bahkan tempat pertarungan di sekitarnya telah porak-poranda. Sebenarnya Pandan Wangi yang bertarung dengan tangan kosong, tak terlalu terdesak oleh serangan-serangan Ismi. Namun hatinya sudah kesal dan naik darah, karena diremehkan lawannya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, langsung dicabutnya Kipas Baja Putih yang terselip di pinggang.

Sret!

"Hi hi hi...! Hm.... Agaknya kepandaian si Kipas Maut hanya begitu saja. Karena tak mampu melawan, kini hendak menggunakan senjata. Ayo! Kenapa tak dicabut saja pedangmu sekalian? Bukankah dengan begitu akan semakin seru?" ejek wanita bertopeng berpakaian kuning ini.

"Hm... Aku menggunakan kipas ini, karena akan lebih lama mencabut nyawa busukmu. Kalau pedangku tercabut, kau tak akan mampu bertahan lebih dari tiga jurus!"

"Ingin kulihat, sampai di mana kemampuanmu!" desis Ismi menantang.

"Lihat serangan!" Pandan Wangi membentak sambil mengembangkan kipas mautnya. Pandan Wangi mengamuk sejadi-jadinya. Namun bukan berarti jurus-jurusnya semakin ngawur. Justru serangannya malah membuat wanita bertopeng itu terkejut setengah mati. Bahkan dia terpaksa jungkir balik menyelamatkan diri dari sambaran kipas maut Pandan Wangi yang tak dapat dipandang enteng, karena disertai pengerahan tenaga dalam kuat. Sekali terkembang, maka terdengar deru angin sambaran kipas yang sangat dahyat, lalu cepat mengatup kembali dan menusuk bagaikan mata pedang. Belum lagi serangan kepalan tangan Pandan Wangi yang kadang menyodok ke dada, serta tendangan kaki kanan yang menghajar ke arah lambung.

"Hiyaaat..!"

Dalam satu kesempatan, Pandan Wangi mengayunkan kepalan tangan ke arah dada. Namun, wanita bertopeng itu cepat mencelat ke belakang. Pandan Wangi memang telah membaca gerakan lawan. Maka disiapkannya serangan berikut. Tubuhnya laksana terbang, menyusul ke arah Ismi disertai tendangan lurus ke arah perut.

Wanita bertopeng itu terkesiap, maka buru-buru membuang diri ke kiri. Tapi tanpa diduga-duga, Pandan Wangi menarik pulang serangannya. Begitu kakinya menginjak tanah, tubuhnya langsung berputar seraya membabatkan kipasnya yang terkembang ke perut. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Cras!

"Aaakh...!" Wanita bertopeng itu menjerit kesakitan sambil mendekap perutnya yang robek mengucurkan darah segar akibat tersambar kipas baja Pandan Wangi. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Namun Pandan Wangi tak memberi kesempatan sedikit pun pada lawannya. Tubuhnya langsung melesat dan bersalto beberapa kali di udara, sebelum hinggap di hadapan Ismi.

Sementara itu mendengar teriakan Ismi orang bertopeng yang tengah bertarung melawan Pendekar Rajawali Sakti terkejut. Perhatiannya kontan jadi terpecah. Dan pada saat itu, Rangga telah mengirimkan serangan dahsyat. Panjalu terkesiap saat serangan hampir menghantam perutnya. Buru-buru tubuhnya dimiringkan namun tak urung angin pukulan lawan membuat berdirinya goyah. Rasanya, Panjalu tak sempat berkelit lagi. Sehingga..

Begkh!

"Aaakh...!" Tubuh Panjalu kontan terjungkal, begitu pukulan Pendekar Rajawali Sakti telak menghantam dadanya. Dari mulutnya menetes darah segar akibat pukulan yang disertai tenaga dalam lumayan itu. Namun, laki-laki bertopeng itu berusaha bangkit berdiri, walapun terhuyung-huyung. Sorot matanya tajam menusuk penuh dendam ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Keparat! Kubunuh kau!" dengus Panjalu sambil memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang kembali.

"Sadarlah, Sobat. Kau belum terlambat untuk menyadari kekeliruanmu selama ini. Jangan menambah dosa yang telah ada...," Rangga berusaha menyadarkan.

"Tutup mulutmu! Hari ini kita tentukan, siapa yang akan mampus! Kau atau aku! Hiyaaat..!"

Bersamaan dengan itu, tubuh Panjalu melompat disertai hantaman maut ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Seketika Rangga merasakan tekanan hebat dan angin berhawa panas luar biasa saat melompat ke atas, untuk menghindari serangan. Kemudian, tubuhnya melenting ke arah orang bertopeng itu.

Tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti menghantam ke depan dalam pengerahan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Sedangkan sebelumnya, telapak kiri Pendekar Rajawali Sakti menghentak mengerahkan aji 'Bayu Bajra'. Serangan angin kencang bagai badai topan itu membuat Panjalu gelagapan. Namun, dia terus memaksakan diri sambil melepaskan pukulan mautnya. Dan pada saat yang bersamaan, melesat seberkas sinar merah dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti yang mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Glarrr!

Terdengar ledakan keras menggelegar, ketika kedua pukulan itu saling beradu. Laki-laki bertopeng itu terpental ke belakang disertai jerit kesakitan. Bahkan dari mulutnya memuntahkan darah kental kehitaman

Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti masih tetap berdiri tegak sambil mengatur jalan napasnya perlahan-tahan. Wajahnya yang tegang, berubah seperti semula. Ada rona kesedihan ketika memperhatikan sosok bertopeng yang menjadi lawannya. Panjlu berusaha bangkit, namun berkali kali terguling dan memuntahkan darah kental.

Sedangkan perempuan bertopeng yang menjadi lawan Pandan Wangi pun nasibnya tak lebih baik, Pandan Wangi berhasil melukainya, membuat luka wanita itu bertambah parah. Luka di perut wanita bertopeng yang bernama Ismi itu melebar dan cukup dalam akibat sambaran kipas mautnya tadi. Bahkan kemudian belakangan disusul tendangan di dada. Akibatnya, Ismi terjungkal sambil memuntahkan darah segar. Dia berusaha bangkit, namun kedua kakinya seperti tak kuat menopang berat tubuhnya. Akibatnya dia kembali ambruk.

"Adikku...!" Orang bertopeng yang bertubuh tegap itu mendesis lirih, sambil menjulurkan tangan memanggil adiknya.

"Kakang...!"
"Oh...!"

Mereka berusaha saling mendekat, dengan beringsut perlahan-lahan. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi hanya memperhatikan penuh keharuan. Kini keduanya telah mendekat, dan saling merengkuhkan kedua telapak tangan.

"Kakang.... Kita..., kita gagal...," kata Ismi lirih.

"Eh...! Ekh...! Ti..., tidak, adikku. Ki..., kita telah berusaha sekuat kemampuan kita...."

Rangga dan Pandan Wangi segera menghampiri dan berjongkok di dekat mereka.

"Maafkan aku, Sobat...," ucap Pendekar Rajawali Sakti lirih.

Sepasang manusia bertopeng itu memandang ke arah Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi dengan sorot mata sayu.

"Ka..., kau betul tahu, si..., siapa ka..., kami...?" tanya Panjalu terbata-bata.

Rangga mengangguk lesu. "Aku hanya tak tahu, atau mungkin juga kalian tak ingin diketahui. Sehingga, kalian mengganti nama menjadi Soreang dan Dewi. Padahal, anak Ki Sadewo dan Nyi Kumiasih setahuku adalah Panjalu dan Ismi...," lanjut Pendekar Rajawali Sakti lirih.

"Eh, akh! To..., tolong buka penutup wajah kami...," ujar Panjalu kemudian.

Rangga membuka penutup topeng mereka, maka terlihatlah jelas, siapa mereka sesungguhnya! Memang kedua orang itu tak lain dari kedua kakak beradik yang pernah dikenal Rangga dan Pandan Wangi. Dan Sepasang Pendekar dari Karang Setra itu sama sekali tak terkejut melihatnya.

"Kami sudah menduganya...," kata Pendekar Rajawali Sakti pelan.

"Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Panjalu, orang bertopeng yang bertubuh lebih besar.

"Kau tak meyakinkan kami sebagai seorang anak petani. Dan pada saat mengantarkan kami ke Padepokan Muria, kalian sama sekali tak mengesankan sebagai murid yang ketakutan terhadap sepasang manusia bertopeng juga tentang luka yang diderita adikmu itu.... Hm..., mana mungkin Pandan Wangi lupa pada luka adikmu akibat goresan kipasnya?" jelas Pendekar Rajawali Sakti.

"Oh...," Soreang mengeluh.

"Kenapa kalian sampai begini? Bukankah aku telah memperingatkannya?"

"Tak ada yang perlu disesali, Sobat. Garis kehidupan kami telah begini. Sejak kecil kami sengsara. Dan telah dewasa pun harus mati muda. Tapi, kami puas. Sebagian mereka yang telah membunuh kedua orangtua kami, telah tewas. Termasuk, si Penghasut Keparat, Kepala Desa Gudang Banyu itu...!"

"Kalian mempelajari kitab pusaka itu, bukan?"

"Ekh...! Ce... ceritanya panjang. Mula-mula kami sama sekali tak mengetahuinya. Sampai suatu ketika aku nekat membawa adikku menceburkan diri ke dalam jurang. Namun kami ternyata tersangkut di sebatang pohon, dan berhasil merayap ke dinding jurang. Secara tak sengaja kami menemukan sebuah goa yang amat menakutkan dan penuh bisikan iblis. Tapi kami nekat memasukinya. Dan di sanalah kami menemukan kitab yang berisi jurus-jurus silat serta ilmu kesaktian. Dan..., dan kitab itu pun ternyata berisi ilmu pengobatan, sehingga penyakit kusta yang kami derita sembuh sama sekali.... Setelah kami merasa mampu, kami berikrar untuk membalas dendam..."

Sampai di situ, Panjalu kembali memuntahkan darah kental. Digenggam tangan adiknya itu erat-erat. Terasa dingin dan tak ada getaran sama sekali. Air matanya terlihat mengalir perlahan membasahi pipi. "Dia telah tiada...," gumam Panjalu kecil.

Rangga dan Pandan Wangi diam membisu dengan kepala tertunduk.

"Na..., namaku sebenarnya Panjalu Soreang. Dan..., dan adikku Ismi Dewi..., aaakh!" Panjalu menjerit sambil merasakan sakit di dadanya. Dia meregang nyawa sesaat, kemudian terlihat kepalanya terkulai. Jantungnya berhenti berdenyut. Mati!

Sepasang Pendekar dari Karang Setra itu menghela napas sesak. Ada sesuatu yarg hilang dalam diri mereka. Entah apa, rasanya sulit dijelaskan. Namun dalam hati mereka selalu bertanya, apakah yang dilakukan kakak beradik itu salah?

"Kisanak, terima kasih atas pertolonganmu pada kami...."

Rangga dan Pandan Wangi menoleh. Ki Kalimaya, Tarmuji, dan Ki Sambung Beni berdiri di belakang. Mereka segera menundukkan kepala. Tampak suasana sedih membayang di wajah mereka.

"Sudahlah...."

"Eh! Apa kalian memang telah mengenal mereka sebelumnya?" tanya Ki Sambung Beni datar.

Pendekar Rajawali Sakti menggeleng lemah. Dia sengaja berbohong, agar mereka tak mempunyai dugaan yang bukan-bukan.

"Kelihatannya mereka percaya pada kalian...," lanjut Ki Sambung Beni dengan suara mengambang.

Pendekar Rajawali Sakti memandang tajam ke arah tiga orang itu. "Kisanak semua, mereka menatap kami dengan mata hatinya. Bukan dengan mata lahirnya. Mereka memang bersalah. Namun, masih mampu melihat orang yang bisa dipercaya. Itu lebih baik, ketimbang orang yang benar namun buta mata hatinya. Sehingga, selalu berprasangka buruk yang kemudian berlanjut kepada malapetaka. ltulah pelajaran yang berharga bagi kita semua," sindir Pendekar Rajawali Sakti.

Semuanya terdiam, mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut Rangga. Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut menghampiri kuda masing-masing, dan menaikinya. Sebentar saja kuda-kuda itu telah melangkah. Namun mereka berhenti sesaat ketika melewati mayat Panjalu dan Ismi. Kemudian kepala mereka berpaling kepada tiga orang yang masih berdiri mematung ditempat itu.

"Bolehkah kami minta pertolongan kalian...?" tanya Rangga halus.

"Tentu saja. Apa yang bisa kami lakukan?" sahut Ki Sambung Beni.

Rangga menghela napasnya sesat, sebelum menjawab pertanyaan, "Tolong kebumikan mereka selayaknya. Bagaimanapun jahatnya mereka, namun tetaplah manusia yang wajib dihormati sesuai kodratnya...."

"Ya.... Akan kami kerjakan permintaan itu," sahut Ki Sambung Beni, pelan.

"Terima kasih. Kalau demikian, kami pergi dulu," sahut Rangga sambil memacu kudanya perlahan, diikuti Pandan Wangi dari samping.

Udara semakin gelap dan dingin menyapu bumi. Halilintar mulai terdengar sesekali. Gerimis mulai turun menyapu pekatnya malam. Sementara Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi seakan berpacu, mencari tempat berteduh sebelum hujan deras mengamuk mendera bumi!"

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: MISTERI HANTU BERKABUNG
Thanks for reading Sepasang Pendekar Bertopeng I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »