Sengketa Tiga Potong Peta

SENGKETA TIGA POTONG PETA

SATU
UDARA pagi ini terasa cerah, meski di ujung mata memandang kabut masih terlihat menyelimuti. Dinginnya hari bercampur sinar matahari, membuat angin menggeliat seperti kegelian. Sesekali hawa dingin berhembus, kemudian kembali senyap. Kicau burung bersahutan ketika melintasi cakrawala mbil menunjukkan keahlian terbangnya.

Seorang gadis berambut panjang dan bermata indah tampak betul-betul menikmati suasana hari ini di atas punggung kuda putihnya. Sesekali lari kuda dipercepat, lalu kembali berhenti. Bibirnya langsung tersenyum cerah melihat pemuda yang tadi bersamanya tertinggal jauh.

"Apakah Dewa Bayu kini menjadi pemalas, Kakang? Coba lihat! Dia seperti habis berlari mengitari separo jagad!" ejek gadis berbaju biru sambil tertawa kecil, begitu seorang pemuda berbaju rompi putih sampai di dekatnya.

Pemuda berwajah tampan berambut panjang itu hanya tersenyum kecil. "Apakah kudamu hendak mengadu lari dengan Dewa Bayu, Pandan?"

"Jangan, main-main, Kakang! Melawan kudamu, sama saja bohong!" kata gadis berbaju biru yang memang Pandan Wangi.

Sedangkan pemuda yang menaiki kuda berbaju hitam mengkilat itu sudah pasti Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. "Mungkin kau malu...," kata Rangga.

"Malu pada siapa?" tanya Panda Wangi.

"Malu pada Dewa Bayu."

"Huuu, enak saja!" rungut Pandan Wangi.

Pemuda itu masih tersenyum lebar.

"Kakang Rangga...?" panggil Pandan Wangi.

"Hm...."

"Kudengar berita burung itu...." Pandan Wangi sengaja tidak melanjutkan kata-katanya dan menunggu perubahan sikap Rangga.

"Kabar burung apa...?" tanya Rangga, menanggapi.

"Ketika Kakang berada di selatan beberapa waktu yang lalu...."

"Oh, ya. Lalu, kenapa?" tanya Rangga sama sekali, tidak menunjukkan keterkejutannya.

Dan agaknya, Itu membuat Pandan Wangi sedikit kesal. "Aku tidak suka!" rungut Pandan Wangi terdengar ketus dan agak marah.

Seketika, Rangga memalingkan muka seraya menatapnya heran. "Pandan! Kau bicara tentang apa? Aku hanya sekadar membereskan persoalan biasa...," kata Rangga.

"Tapi tidak harus bersama-sama gadis itu, bukan?"

Rangga terpaku sejenak, lalu tersenyum dan Idul baru dimengerti, apa yang membuat perubahan sikap kekasihnya.

"Tertawa! Senang, ya?!" dengus Pandan Wangi, dengan wajah ditekuk terbakar api cemburu.

"Baiklah. Kalau aku salah, maafkan...."

"Memang Kakang salah!"

"Ya, ya...."

"Nanti pasti akan diulang lagi!"

"Tidak. Aku janji. Tidak..., ketika itu kau sendiri salah juga. Kenapa saat kuajak, tidak mau. Padahal selama di perjalanan aku selalu memikirkanmu...," Rangga mencoba berkilah, sambil berusaha menyenangkan hati Pandan Wangi.

"Huh...!" Pandan Wangi hanya mencibir mendengar kata-kata Rangga yang bernada merayu.

Rangga jadi tersenyum lebar. "Lagi pula, mana mungkin aku terpikat gadis lain. Selama ini, belum pernah aku bertemu gadis secantikmu...," lanjut Rangga, merayu.

Pandan Wangi kembali mencibir, tapi hatinya berbunga-bunga.

"Betul! Entah juga kalau aku bertemu bidadari dari Swargaloka, mungkin...."

"Mungkin langsung kepincut! Betul, kan?!" Wajah Pandan Wangi semakin kesal saja.

"Yaaah, mungkin saja...!" sahut Rangga enteng.

"Dasar mata keranjang!" umpat gadis itu.

Lagi-lagi Rangga tersenyum lebar. Namun... "Heh?!" Mendadak senyum pemuda itu hilang ketika pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu. "Ada pertarungan di depan sana! Kudengar suara anak kecil yang berteriak ketakutan. Hm. Mari kita cepat ke sana!" kata Pendekar Rajawali Sakti.

Langsung saja Rangga menghela kudanya dengan cepat, meninggalkan Pandan Wangi yang masih terselimut cemburu. Sementara meskipun kesal, tapi gadis itu agaknya tak ingin tertinggal. Segera saja kuda putihnya dihela.

Seorang lanjut usia bertubuh kurus terbungkus pakaian compang-camping tengah berhadapan dengan beberapa orang berpakaian serba merah. Tubuh laki-laki itu penuh luka bacokan, pertanda sudah bertarung selama puluhan jurus. Sepasang matanya menatap tajam dan garang penuh kemarahan ke arah para pengeroyoknya. Gerahamnya bergemeletuk dan tubuhnya bergetar hebat Tangan kanannya yang sudah menggenggam tongkat kayu, ragu-ragu diayunkan ketika salah seorang dari pengeroyok menyandera bocah perempuan berusia tujuh tahun dengan golok menempel di leher.

"Cepat berikan peta itu! Atau, kepala bocah ini menggelinding!" ancam salah seorang pengeroyok, seorang laki-laki berhidung besar dan berkulit hitam. Mulutnya tampak menyeringai lebar.

"Keparat kau, Tunggul Ijo! Lepaskan dia. Bocah itu tidak tahu apa-apa dengan urusan ini!" desis orang tua itu geram.

"He he he...! Wiranata! Kau kira aku bodoh, heh? Aku tahu, kau berniat hendak mewariskan pusaka itu padanya!" sahut laki-laki bernama Tunggul Ijo sambil menyeringai lebar.

"Sudah! Babat saja leher tua bangka itu, kalau tidak menyerahkan peta?" teriak salah seorang kawan Tunggul Ijo menggenggam sebilah parang.

Wajah laki-laki itu tampak geram, penuh nafsu membunuh. Sementara tiga orang lainnya mulai tidak sabar, ingin menghabisi orang tua itu. Senjata mereka sudah diayun-ayunkan dengan sikap mengancam dan wajah menyeringai lebar.

"Kakek, tolong aku...! Tolong, Kek. Aku takut..," rintih bocah itu dengan suara pilu dan ketakutan.

"He he he...! Kau dengar itu, Tua Bangka Peot?! Sekali gorok saja, maka lehernya akan putus. Dan kau akan kehilangan dia! He he he.... Ayo, serahkan peta itu!" hardik Tunggul Ijo disertai tawa mengejek.

"Tunggul Ijo! Kau benar-benar Manusia Keparat! Apakah kebisaanmu hanya mengancam anak kecil? Ayo, hadapilah aku kalau kau memang benar tidak takut!" geram kakek yang dipanggil Wiranata.

"Phuiih! Jangan mengalihkan perhatian, Wiranata! Siapa yang takut pada manusia semacam kau?! Dengan sekali hantam, kau akan hancur berkeping-keping!" dengus Tunggul Ijo.

"Lalu kenapa tidak kau lakukan?"

"He he he...! Dasar Tua Bangka Goblok. Aku masih membutuhkan peta yang ada padamu itu. Kalaupun kau katakan hilang, berarti pernah ada padamu. Dan kau boleh mengingatnya, lalu menggambarnya kembali untukku. Cepat, Tua Bangka! Aku tidak banyak waktu untuk mendengar ocehan-mu!" ancam Tunggul Ijo.

"Tunggul Ijo! Berapa kali harus kukatakan, aku sama sekali belum pernah...."

"Setan!" Kata-kata Wiranata mendadak terhenti ketika Tunggul Ijo membentak garang. Sepasang biji matanya seperti hendak mencelat keluar dari sarangnya. "Kau mau mengulur-ulur waktu, heh?! Ayo, berikan peta itu! Atau anak ini bakal mampus! Kuhitung sampai tiga!" lanjut laki-laki berhidung besar ini. Mata golok langsung ditempelkan lebih dekat di leher si bocah itu.

"Kakek..." Anak perempuan itu merintih lirih dengan tubuh gemetar. Keringatnya mengucur deras dan wajahnya sepucat mayat.

"Satu...!"

Ki Wiranata kebingungan dengan hati geram.

"Dua...!" Tunggul Ijo agaknya mulai tidak sabar ketika belum juga melihat tanggapan orang tua itu. Dan....

"Kisanak! Hanya pengecut yang bisanya menakut-nakuti bocah tidak berdaya...!" Mendadak terdengar suara sahutan. Nadanya pelan, namun cukup menusuk telinga Tunggul Ijo.

"Heh?!" Tunggul Ijo berpaling. Demikian juga keempat kawannya. Dan tahu-tahu sepasang anak muda-mudi telah berada di tempat itu di atas punggung kuda masing-masing. Yang pemuda menunggang kuda hitam, sedang gadis berbaju biru menunggang kuda putih.

"Siapa kalian?!" hardik Tunggul Ijo geram.

"Malaikat dari langit yang akan menghukum perbuatanmu!" sahut gadis berbaju biru itu dengan wajah bersungguh-sungguh, seraya melompat dari punggung kudanya. Tindakannya diikuti oleh pemuda yang menunggang kuda hitam.

"Setan! Kau kira bisa menakut-nakuti kami, heh? Sebaiknya lekas pergi. Dan, jangan mencampuri urusan orang!"

"Kalau tidak, kenapa rupanya...?" ejek gadis itu, seperti menantang.

"Kepala kalian akan menggelinding!" ancam Tunggul Ijo dengan wajah dibuat seram.

"Hi hi hl..! Lucu sekali. Ada beberapa ekor kambing dungu yang hendak berlagak dihadapan dua ekor harimau!"

"Keparat!" Bukan main geramnya Tunggul Ijo mendengar kata-kata gadis berbaju biru ini. Dia sudah hendak melompat dan menerjang, namun seorang kawannya mencegah.

"Tenang, Tunggul. Biar gadis ini bagianku. Ingin kulihat sampai di mana kehebatannya...," kata laki-laki tinggi kurus itu seraya melangkah mendekati disertai senyum kecil. Lalu laki-laki itu berhenti saat berada dua langkah di depan gadis berbaju biru ini. Bibirnya menyeringai lebar, sambil mengusap-usap dagunya. "Hm.... Belum pernah kutemukan gadis secantikmu. Pasti kau bidadari dari Kahyangan yang turun khusus menjemputku. Mari, Cah Ayu...!" lanjut laki-laki tinggi kurus ini sambil menjulurkan tangan hendak menggapai.

Uluran itu kelihatannya biasa saja. Namun gerakannya cepat sekali disertai tenaga dalam kuat. Agaknya orang ini tidak ingin coba-coba. Dan dalam perkiraannya, kedua anak muda itu baru turun gunung yang terlalu yakin dengan kepandaiannya. Sehingga, laki-laki itu perlu memberi pelajaran pada mereka. Tapi hasilnya, ternyata gadis itu bertindak tak kalah cepat Tahu-tahu saja, tangan gadis itu bergerak menepis.

Plakkk!

Dan belum sempat disadari apa yang terjadi...

Desss!

"Aaakh...!"

Bukan main kagetnya laki-laki itu manakala kaki gadis berbaju biru ini cepat terayun dan menghantam dadanya. Seketika tubuhnya terpental beberapa langkah ke belakang sambil menjerit kesakitan.

"Betul! Kedatanganku ke sini untuk menjemput nyawa busukmu!" seru gadis itu langsung menyerang ganas ke arah laki-laki tinggi kurus yang mencoba menyusutnya. Melihat pertarungan telah dimulai, segera yang lainnya bergerak cepat, untuk membantu laki-laki tinggi kurus itu. Dan mereka langsung memapaki serangan gadis itu.

"Pandan Wangi, hati-hati kau!" teriak pemuda berbaju rompi putih mengingatkan.

"Jangan khawatir, Kakang! Mereka hanya kecoa-kecoa busuk yang sok jual lagak!" sahut gadis yang ternyata Pandan Wangi alias si Kipas Maut.

Pemuda berbaju rompi putih yang memang Pendekar Rajawali Sakti tersenyum kecil, segera didekatinya Tunggul Ijo.

"Berhenti! Kalau tidak, bocah ini akan mampus!" ancam Tunggul Ijo membentak garang. Rupanya setelah melihat sepak terjang gadis berbaju biru itu, Tunggul Ijo sempat dibuat sedikit kaget. Dan dia tidak menyangka gadis itu mampu berbuat demikian. Maka tentu saja laki-laki berhidung besar itu punya dugaan bahwa pemuda ini dapat berbuat lebih hebat.

Rangga tersenyum. Dan saat itu terdengar jeritan kesakitan dari dua orang lawan Pandan Wangi. Keduanya terjungkal muntah darah dengan senjata terpental. Sebuah golok nyaris mengenai Rangga, namun cepat ditangkap dengan dua buah jari tangan kanannya.

"Pandan! Jangan terlalu galak!" teriak Pendekar Rajawali Sakti. "Paling tidak, kau boleh robek mulut mereka agar tidak banyak bicara!"

"Kakang! Kalau itu yang kau kehendaki, tentu saja akan kuturuti!" sahut Pandan Wangi sambil tersenyum lebar. Tubuh si Kipas Maut meliuk bagai tengah menari, menghindari senjata lawan-lawannya yang berkelebat cepat menyambar.

Wuttt!

"Mampus kau, Gadis Liar!" geram salah seorang lawan disertai babatan golok ke pinggang.

Pandan Wangi hanya tertawa dingin. Tubuhnya lantas jungkir balik ke belakang. Namun, seorang lawannya lagi telah menyambut dengan tebasan golok ke tubuhnya. Cepat bagai kilat, Pandan Wangi mencabut kipas mautnya yang terselip di pinggang. Lalu ditangkisnya golok itu hingga terpental.

Trakkk!

Belum juga orang itu berbuat banyak, ujung kipas Pandan Wangi langsung menyambar dada lawannya.

Brettt!

"Aaakh...!" Orang itu menjerit kesakitan dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang. Sebelum orang itu jatuh ke tanah, Pandan Wangi telah kembali berkelebat dengan sambaran kipasnya ke arah satu orang lawannya lagi.

Brettt!

"Ugh...!" Kembali terdengar jerit kesakitan, ketika satu orang lawan tersambar kipas maut Pandan Wangi pada dadanya. Keduanya langsung membekap luka masing-masing.

"Siapa yang mau mampus? Ayo cepat ke sini!" hardik Pandan Wangi sambil menggerak-gerakkan kipasnya.

Kedua orang yang baru saja dijatuhkan Pandan Wangi pucat ketakutan, ketika gadis itu melangkah mendekati. Sementara dua lawan yang pertama sama sekali tidak berani berkutik.

"Hm.... Kalau begitu, biarlah kutebas leher kalian semua...," gumam si Kipas Maut, enteng.

Empat orang itu terkejut dengan wajah semakin pucat. Telah nyata kalau gadis ini bukanlah orang sembarangan yang bisa mudah dijatuhkan. Dalam waktu singkat saja, mereka sudah dibuat tidak berkutik. Apalagi, mereka amat mengenal senjata yang dikeluarkan gadis itu.

"Hei! Bukankah dia, Ki..., Kipas Maut! Kau..., kau si Kipas Maut yang terkenal itu?" tanya salah seorang, tergagap.

"Baru terbuka matamu, heh?!"

"Eh! Kami..., kami...." Orang itu tergagap dan tidak mampu bicara lagi. Namun...

"Persetan dengan si Kipas Maut segala! Berani kau melangkah, maka bocah ini akan kugorok lehernya!" bentak Tunggul Ijo mengancam.

Mendengar itu Rangga memberi isyarat pada Pandan Wangi untuk menahan diri. Padahal, si Kipas Maut hendak melompat dan menghajar Tunggul Ijo.

"Kisanak! Apakah kau masih sayang jiwamu? Aku tidak menakut-nakuti. Tapi, kau boleh menguji kecepatan golok yang kupegang ini. Belum sempat tanganmu bergerak menggorok leher bocah itu, maka golok ini akan lebih cepat menembus batok kepalamu...," ancam Pendekar Rajawali Sakti sambil menimang-nimang golok yang masih berada di tangannya.

"Huh! Kita lihat saja...!" tantang Tunggul Ijo.

"Tunggul Ijo, hentikan...! Kau tidak tahu, siapa pemuda ini?!" teriak kawannya mencegah.

"Huh! Apa peduliku dengannya?!"

"Gadis itu adalah si Kipas Maut. Dan berarti, pemuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti! Dia tidak main-main dengan kata-katanya!" teriak kawan Tunggul Ijo mengingatkan.

"Pendekar Rajawali Sakti...?!" Bukan main terkejutnya Tunggul Ijo mendengarnya. Langsung dipandanginya pemuda itu dengan seksama. Dia mencoba meyakinkan diri, apakah pemuda itu memang benar Pendekar Rajawali Sakti.

"Lepaskan bocah itu, Kisanak! Dan kalian boleh pergi dengan tenteram...," ujar Rangga dengan nada datar.

"Eh...!" Wajah Tunggul Ijo tampak gelisah dan mulai ragu. Matanya langsung memandang Ki Wiranata yang sejak tadi terdiam, dan berharap bocah perempuan itu selamat. Lalu perhatiannya kembali dialihkan pada Rangga.

"Tunggul Ijo, turuti kata-katanya! Kau tidak akan selamat bila berbuat nekat!" teriak kawan Tunggul Ijo kembali memperingatkan, ketika goloknya belum lagi dilepaskan di leher gadis itu.

Tunggul Ijo memang berwatak keras dan tidak suka dipandang enteng. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Kalau menyerah maka harga dirinya akan ambruk. Lagi pula, mana mungkin pemuda itu mampu menghalangi niatnya. Maka....

"Ingin kulihat, apa yang bisa kau perbuat padaku...!" dengus Tunggul Ijo. Langsung laki-laki itu bergerak hendak menggorok leher bocah perempuan itu... Tapi....

Wuttt!

Cepat bagai kilat Rangga mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Pendekar Rajawali Sakti memang tidak mau menanggung akibat buruk, kalau kalah cepat dengan gerakan Tunggul Ijo. Maka golok di tangannya sudah melesat bagaikan kilat. Lalu....

Crasss!

"Aaakh...!"

Sebelum Tunggul Ijo sempat menggorok leher anak itu, golok yang dilemparkan Rangga melesat cepat dan menebas pangkal lengannya. Laki-laki berhidung lebar ini menjerit kesakitan. Darah mengucur deras dari pangkal lengannya. Rangga terus melompat. Langsung dikirimnya tendangan keras, karena Pendekar Rajawali Sakti takut Tunggul Ijo masih mampu berbuat sesuatu untuk mencelakakan anak itu.

Dukkk!

"Aaakh...!" Tunggul Ijo kembali memekik tertahan. Tubuhnya kontan terjengkang dua tombak disertai muntahan darah segar. Rasa sakit yang diderita akibat lengannya putus, kini ditambah tendangan keras yang membuat isi dadanya terasa remuk. Agaknya, Tunggul Ijo tidak mampu lagi. Orang itu langsung tidak sadarkan diri!

Begitu terbebas dari cengkeraman Tunggul Ijo, bocah perempuan itu langsung memburu Ki Wiranata dengan perasaan haru. Orang tua itu sendiri menyambutnya dengan senyum lega.

"Kau tidak apa-apa, Diah...?"

"Aku... aku takut, Kek...," keluh bocah yang dipanggil Diah dengan suara masih tersendat bercampur isak tangis.

"Sudahlah. Mereka telah mendapat balasannya kini...," bujuk Ki Wiranata seraya memeluk Diah Kumitir dan mengusap-usap rambutnya.

Sementara itu, Rangga mendekati salah seorang anak buah Tunggul Ijo. "Kisanak, bawalah kawanmu itu. Dan, pergilah dari sini...," ujar Pendekar Rajawali Sakti.

"Eh, iya. Ba..., baik...," sahut orang itu cepat sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera memanggul tubuh Tunggul Ijo dan segera berlalu dari tempat itu. Rangga dan Pandan Wangi memandang sekilas, lalu mendekati Ki Wiranata.

"Kisanak, kau tidak apa-apa...?" tanya Pendekar Rajawali Sakti lembut.

Orang tua itu membungkukkan tubuh, sambil memeluk bocah perempuan didekatnya. "Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut... Aku, Wiranata, menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan kalian Kalau tidak, entah apa yang terjadi pada kami...."

"Jangan berkata begitu Ki, Sudah selayaknya sebagai manusia kita harus saling tolong-menolong...," kata Rangga, merendah.

"Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari kalian...?" tanya Pandan Wangi heran Pertanyaan itu amat beralasan.

Sebab melihat penampilannya, Ki Wiranata itu, pastilah bukan orang berharta yang bisa dirampok. Dan kalau untuk menculik si bocah, sungguh keterlaluan dan tidak masuk akal. Mereka menyandera bocah dan mengancam kakek ini, pasti ada sesuatu yang diinginkan. Begitu kesimpulan Pandan Wangi!

"Eh! Itu karena...."

"Ki Wiranata! Jangan diceritakan kalau itu memang rahasia...," sahut Rangga, cepat menimpali ketika melihat nada bicara Ki Wiranata terdengar ragu.

"Bukan begitu, Kisanak. Aku percaya kalau kalian bukanlah orang tamak. Tapi justru karena aku ingin...."

"Ingin apa, Ki?" desak Pandan Wangi.

"Aku jadi malu hati..."

"Ki Wiranata! Katakanlah, jika ada sesuatu yang ingin kau katakan pada kami," kata Rangga.

"Kalian telah menolong kami Dan..., aku ingin mengharapkan pertolongan kalian kembali..."

"Hm. Pertolongan apa yang bisa kami berikan?" tanya Rangga.

Ki Wiranata terdiam sesaat. "Tentang sebuah pusaka...," sahut orang tua itu.

"Pusaka? Pusaka apa, Ki?" tanya Rangga dengan dahi berkerut.

DUA

"Pada zamannya, Ki Sendang Bodas adalah seorang tokoh persilatan berkepandaian tinggi. Karena ada suatu masalah, dia kemudian berkelana meninggalkan istri dan putranya, hingga sekian tahun tidak pernah terdengar lagi beritanya. Hanya saja, kini orang tahu kalau Ki Sentanu yang menjadi Ketua Perguruan Naga Jenar serta Ki Mugeni, Ketua Perguruan Arghaloka, memiliki beberapa jurus ilmu silat yang konon merupakan bagian dari ilmu silat milik Ki Sendang Bodas. Orang pun mulai menduga, kalau keduanya mempunyai kaitan erat dengan keluarga tokoh itu," tutur Ki Wiranata, membuka ceritanya.

Sementara Rangga dan Pandan Wangi mulai mendengarkan dengan penuh perhatian. Sedikit pun mereka tak ingin menyelak.

"Sesungguhnya Ki Sendang Bodas pernah memiliki seorang anak angkat yang selalu mengikuti ke mana saja pergi. Dan dia juga bukan orang pelit dalam menurunkan kepandaiannya pada anak angkatnya. Tapi dia terlalu jemu dalam menunggu anak angkatnya berlatih. Sehingga lama kelamaan, anak angkatnya menjadi bosan dan berhenti mengikutinya," lanjut laki-laki tua itu.

Sebentar Ki Wiranata menarik napas, sekaligus mencari kata-kata yang tepat untuk meneruskan ceritanya. "Lama sekali baru Ki Sendang Bodas menyadari kekeliruannya selama ini. Dan dia hanya mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan keluarganya. Kehidupannya selama ini hanya untuk ilmu silat dan kesaktian, serba sibuk mencari tokoh-tokoh sakti untuk menguji kepandaian. Dan ketika kembali ke rumah menemui anak istrinya, mereka telah tiada. Kampung itu telah hancur berantakan, tanpa ada seorang pun yang tersisa. Konon Ki Sendang Bodas betul-betul merasakan kepedihan. Dan, menurut dugaannya anak istrinya telah tewas. Namun di lain saat, dia berharap keduanya masih hidup. Mereka sudah dicari ke mana-mana, tapi setelah sekian lama tetap belum ditemukan. Maka Ki Sendang Bodas menetap di suatu tempat yang tidak ada seorang pun tahu. Di sana, dia menulis sebuah kitab pelajaran ilmu silat, yang konon akan diwariskan pada keturunannya jika memang masih ada." Ki Wiranata menghentikan ceritanya.

Matanya langsung memandang kedua anak muda di depannya sambil menghela napas lega. Dia yakin, kedua anak muda ini telah mengerti jalan cerita yang diuraikan barusan. Tapi, rupanya Rangga dan Pandan Wangi masih belum mengerti. Dahi keduanya berkerut dengan wajah bingung.

"Apa hubungan ceritamu itu dengan bantuan yang kau harapkan dari kami, Ki?" tanya Rangga, akhirnya.

"Apakah kalian belum mengerti?"

Rangga menggeleng. Sementara Pandan Wangi tersenyum geli memandang orang tua ini Ki Wiranata sendiri seperti mengingat-ingat, lalu menepuk-nepuk keningnya sendiri.

"Ah! Tentu saja kalian tidak mengerti, karena aku belum mengatakannya!"

"Apa itu, Ki?" tanya Rangga.

"Diah Kumitir ini adalah cucuku. Sedang kakekku adalah putra satu-satunya dari Ki Sendang Bodas!" jelas Ki Wiranata.

"Lalu...?"

"Rangga, tidak enak rasanya menjadi orang lemah di zaman yang kacau begini. Aku hanya menanggung derita dan duka yang berkepanjangan. Kedua orangtua cucuku ini telah tewas dibunuh tiga orang perampok ketika Diah Kumitir baru lahir. Dan aku berhasil menyelamatkan dan membesarkannya dengan kasih sayang. Namun, kusadari kalau itu tidak cukup sebagai bekal hidupnya. Diah Kumitir harus mampu menjaga dirinya sendiri dari bahaya. Tapi aku tidak mungkin mampu mengajarkannya. Saat itulah, aku teringat potongan peta yang diberikan seorang pengemis yang pernah kutolong. Di situ, terdapat denah jalan menuju tempat kediaman Ki Sendang Bodas. Barang siapa mengetahui tempat itu maka sudah jelas akan mewarisi pusaka kakek buyutku itu," jelas Ki Wiranata.

"Lalu...?"

"Itulah yang menjadi masalah. Sebab, peta itu tidak lengkap. Menurut pengemis itu, masih ada dua peta lainnya yang harus digabungkan menjadi satu. Barulah peta itu bisa terbaca...," jelas Ki Wiranata.

"Lalu, di mana kedua sobekan lainnya?" tanya Rangga, sambil manggut-manggut.

"Aku tidak tahu pasti. Namun bukan mustahil kalau Ki Sentanu dan Ki Mugeni menyimpannya."

"Hm, kenapa kau mencurigai mereka?"

"Banyak alasannya. Pertama, mereka seperti berusaha menjauhkan diri. Mereka juga membantah jika orang menuduh memiliki kaitan dengan Ki Sendang Bodas. Ini dimaksudkan agar orang lain tidak mencurigai. Sebab, konon pusaka kakek buyutku ini mulai menarik perhatian tokoh-tokoh persilatan lainnya. Dan kedua, mereka paling giat mencari sisa potongan peta yang ada di tanganku ini...."

"Ya, ya.... Kau ingin kami membantumu mencarikan kedua potongan peta itu, bukan?" tanya Rangga sambil tersenyum. Sepertinya, Pendekar Rajawali Sakti bisa menduga apa yang diinginkan orang tua itu.

Ki Wiranata tersenyum sambil mengangguk pelan. "Begitulah kira-kira...," desah orang tua itu.

"Hm, baiklah. Kami akan membantumu. Namun harus diingat, Ki. Kami belum tentu sepenuhnya percaya. Jika ternyata kau berdusta, aku akan menghukummu!" ujar Rangga, terus terang.

"Rangga, mana berani aku mendustai orang sepertimu! Kau boleh potong leherku jika ceritaku hanya mengada-ada!"

"Baiklah. Lalu, ke mana kami harus memulai?"

"Bukan kami, tapi kita. Sebab aku tidak ingin berpangku tangan saja. Kita akan coba mendatangi kedua perguruan yang kukatakan tadi. Mudah-mudahan mereka berkata jujur...."

Rangga berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju.

********************

Empat orang berkuda tampak melarikan tunggangannya perlahan-lahan. Berkuda paling depan adalah seorang gadis berwajah manis. Kulitnya bersih, agak kecoklatan. Rambutnya yang panjang sebahu diikat pita kuning. Melihat tersandang sebilah pedang di punggungnya bisa diduga kalau gadis ini tidak bisa dianggap enteng. Apalagi, melihat garis wajahnya yang sedemikian rupa. Sehingga, mengesankan seorang gadis galak dan cepat naik darah.

Tiga orang laki-laki yang berada di belakang gadis itu, agaknya tidak begitu banyak bicara. Sejak tadi mereka lebih banyak diam seperti menahan kesal, entah pada siapa. Mereka bersenjatakan sebilah pedang yang tersandang di punggung. Dengan ikat kepala warna kuning bisa dilihat kalau itu adalah ciri khas Perguruan Naga Jenar yang diketuai Ki Sentanu. Dan memang ketiganya adalah murid perguruan itu. Sedangkan si gadis adalah putri Ki Sentanu, Ketua Perguruan Naga Jenar.

Mereka kini berhenti ketika berada tidak jauh di depan berdiri tegak seorang pemuda berpakaian rapi sambil mengembangkan sebuah kipas yang terbuat dari baja di tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang sebilah tombak pendek sepanjang lengan. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu mengipas-ngipasi tubuhnya.

"He he he...! Agaknya Perguruan Naga Jenar betul-betul penasaran soal peta itu, sehingga mesti mencarinya terus setiap hari...," oceh pemuda itu seperti pada diri sendiri.

Gadis berambut panjang itu agaknya mengerti, apa yang dibicarakan pemuda ini. Melihat paras wajahnya yang langsung berubah garang, jelas hatinya merasa tidak senang. "Setiaji, menepilah. Jangan ganggu perjalanan kami kalau tidak ingin celaka!" ujar gadis berambut panjang.

"Tuan putriku yang cantik, silakan berlalu! Siapakah yang hendak menghalangimu...?" sahut pemuda bernama Setiaji sambil membungkukkan tubuhnya. Sebelah tangannya diayunkan seperti seorang hamba kepada tuannya. Tapi meski pun begitu, pemuda bernama Setiaji tetap tidak beranjak dari tempatnya berpijak.

Dan itu membuat gadis ini menjadi jengkel. "Huh! Sungguh bodoh, sehingga harus bicara dengan orang tuli!" bentak gadis putri Ki Sentanu kesal.

"Aduhai. Sungguh baru kuketahui sekarang, kalau tuan putri sangat bodoh!" sahut Setiaji dengan wajah terkejut dengan bibir tersenyum-senyum kecil.

Gadis itu agaknya tidak dapat lagi menahan kejengkelannya. Buktinya, pemuda ini tidak bisa diusir secara halus. Berpikir begitu, pedangnya langsung dicabut. Sring! "Setiaji, minggir kau! Atau, pedangku yang akan bicara!"

"Sri Kuning! Biar aku yang menghadapi pemuda itu!" selak salah seorang murid dari Perguruan Naga Jenar, sebelum Setiaji sempat menyahut. Langsung dia melompat dari punggung kuda dengan gerakan indah.

Semula Sri Kuning ingin menahannya. Namun murid itu mengangkat sebelah tangan, sebagai isyarat agar maksudnya jangan dihalangi. Bahkan kakinya sudah melangkah mendekati Setiaji.

"Hei, Monyet Buduk! Mau apa kau ke sini?! Ayo, pergi! Pergi!" hardik Setiaji garang.

"Setiaji! Jaga mulutmu! Kalau tidak memandang ayahmu Ki Mugeni, sudah kuhajar kau!" sahut murid Perguruan Naga Jenar dengan wajah geram.

"He he he...! Jadi kau memandang muka ayahku, he?! Nah, kalau begitu pergilah dari hadapanku! Aku muak melihat wajahmu!" balas Setiaji.

"Anak Keparat! Agaknya kau perlu diberi pelajaran agar mulutmu tidak sembarangan bicara!"" desis orang itu, semakin geram. Seketika dia melompat menyerang Setiaji.

"Huh! Kau kira bisa berbuat apa padaku? Perguruan Naga Jenar tidak ada seujung kuku dibanding kami! "dengus Setiaji seraya mengibaskan kipas di tangannya, menyambar tubuh murid Ki Sentanu.

"Uts!" Bet! Bet! "Hiiih!"

Murid itu tampak terkejut, karena gerakan Setiaji demikian cepat. Dalam perkiraannya, dia akan mampu mengecoh. Namun kenyataannya, pemuda itu tidak mudah tertipu. Tendangan dapat dielakkan Setiaji dengan mudah. Bahkan anak dari Ki Mugeni ini balas menyerang Ketua Perguruan Arghaloka menggunakan kipasnya.

Murid Perguruan Naga Jenar itu cepat melompat ke belakang. Kepalanya langsung didongakkan, dengan tubuh sedikit dimiringkan untuk menghindari sambaran senjata. Namun pemuda itu tidak berhenti sampai di situ. Tombak pendeknya langsung diayunkan ke dada. Akibatnya sungguh hebat, murid Perguruan Naga Jenar itu harus pontang-panting menyelamatkan diri.

"Hup!" Laki-laki berikat kepala warna kuning itu ke belakang, hendak membuat jarak Pada saat yang sama, Setiaji pun meluruk ke arahnya dengan sambaran tongkat pendeknya. Maka begitu laki-laki berikat kepala kuning itu sedikit bergerak menjejakkan kakinya, tongkat Setiaji lebih cepat menyambar dadanya.

Brettt! "Aaakh!"

Murid Perguruan Naga Jenar itu menjerit tertahan begitu tersambar tongkat Setiaji. Dadanya kontan tergurat sepanjang satu jengkal. Tidak banyak darah yang keluar. Lukanya pun tidak terlalu dalam, namun cukup perih. Dan yang lebih utama adalah, penghinaan baginya. Sebab disadari sendiri, jika pemuda itu bersungguh-sungguh, niscaya lukanya akan lebih parah!

"Hm. Agaknya hanya sampai di situ saja kemampuan murid-murid Perguruan Naga Jenar" ejek Setiaji sinis sambil menggerak-gerakkan kipasnya.

"Keparat! Kau kira sudah bisa menjatuhkanku, he?!" Murid Ki Sentanu itu tambah geram bukan main. Dia bermaksud hendak menyerang kembali, namun....

"Sumanta, menepilah. Biar kuhadapi anak sombong ini!" Sri Kuning langsung melompat dari punggung kudanya, setelah memberi isyarat pada laki-laki yang dipanggil Sumanta untuk mundur.

"Sri Kuning...."

"Jangan khawatir. Anak ini memang sudah sepatutnya diberi pelajaran agar tidak besar kepala...," tukas Sri Kuning cepat, langsung mencabut pedang. Sringng! "Setiaji, bersiaplah. Ingin kulihat, sampai di mana kehebatan jurus-jurusmu!" dengus Sri-Kuning dingin.

Setiaji tersenyum. "Oh! Kau hendak mempermalukan dirimu sendiri rupanya? Hm, mulailah. Dan, tunjukkan' kehebatan jurus-jurus kalian...!"

Tanpa banyak bicara, gadis itu melompat menyerang disertai ayunan pedangnya.

"Hiyaaa...!"

Seketika itu pula Setiaji meluruk sambil membabatkan kipasnya

Trakk! Wuttt!

Kipas Setiaji berhasil menangkis pedang Sri Kuning. Bahkan tombaknya langsung menyodok ke arah lambung. Cepat bagai kilat, Sri Kuning berputar ke kanan. Tapi rupanya pemuda itu tidak memberi kesempatan pada Sri Kuning. Langsung dikirimkannya serangan susulan ke arah leher gadis itu.

"Putus lehermu!" sentak Setiaji sambil mengayunkan kipasnya menyambar pangkal leher.

"Setan!" maki Sri Kuning seraya langsung menundukkan kepalanya. Dan pedangnya cepat dibabatkan ke arah perut Setiaji.

Namun, putra Ki Mugeni ini tak kalah sigap Seketika tongkat di tangan kirinya digerakkan melintang ke depan perut

Trak! Trakk! "Hiiih!"

Setiaji terkejut bukan main ilmu pedang yang dimainkan gadis ini kelihatan berubah, dan mengincar setiap kelemahannya. Meski bisa ditangkis dengan tombak kecilnya, namun ujung pedang Sri Kuning begitu terasa menyengat kulitnya. Dan ini mau tidak mau, dia semakin kerepotan saja

"Huh! Baru kau rasakan jurus 'Pedang Membelah Angin' dari perguruan kami Ingin kulihat, sampai di mana kau mampu bertahan!" dengus Sri Kuning sinis.

"Yeaaa...!" Disertai bentakan keras, Setiaji melompat ke belakang membuat jarak sejauh dua tombak. Sementara Sri Kuning cepat menyusulnya seperti tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun pada lawannya untuk mengatur napas. Namun begitu menjejak tanah, agaknya pemuda itu telah siap dengan jurus barunya. Begitu ujung pedang gadis itu menyambar tenggorokan, Setiaji cepat menangkis dengan kipasnya.

Trakkk!

Tubuh pemuda itu kemudian bergulingan, hendak menyambar kedua kaki gadis ini dengan tombaknya. Sri Kuning terkejut Cepat kakinya menjejak ke atas. Pada saat itu juga, Setiaji melenting, mengejar gadis itu dengan sambaran kipasnya. Sambil berputaran di udara, Sri Kuning berusaha memapak serangan yang mengincar perutnya. Baru saja Sri Kuning menangkis kipas, tongkat pendek di tangan Setiaji menyambar pinggangnya. Padahal, dia baru saja menjejakkan kakinya di tanah. Terpaksa gadis itu melompat ke samping kanan. Dan sebenarnya tindakan itu sangat tidak menguntungkan. Karena dengan gerakan cepat, Setiaji berbalik. Tombaknya cepat diayunkan ke arah dada gadis itu. Hingga....

Brettt! "Aouw...!"

Sri Kuning terkejut disertai jeritan kecil. Baju bagian dadanya kontan terbelah dari atas ke bawah, sepanjang dua jengkal. Sehingga dalam beberapa saat, terlihat dadanya yang membusung menyembul keluar. Buru-buru tangan kirinya mendekap dadanya yang menantang. Wajahnya kontan berubah pucat Sementara, Setiaji kembali telah melompat mengejar, ketika Sri Kuning mundur ke belakang beberapa langkah.

"Yeaaa...!"

Keadaan Sri Kuning saat ini benar-benar terjepit. Sedangkan ketiga murid Perguruan Naga Jenar agaknya tidak akan sempat menyelamatkan gadis itu. Mereka hanya terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Dan....

Trang! Trakk!

"Uuuhh...!"

Dalam keadaan yang gawat, mendadak berkelebat sesosok bayangan, langsung menangkis serangan. Setiaji terkejut ketika serangannya gagal. Perhatiannya langsung tertumpah pada sosok yang memapak serangannya. Maka saat itu pula, dia menyerang dengan tombak pendeknya.

Trakk!

"Heh?" Bukan main terkejutnya pemuda itu ketika tombaknya seperti menghantam benda keras. Bahkan senjatanya sampai terlepas dari tangan. Pemuda itu bersiap akan serangan susulan, namun orang yang baru muncul agaknya tidak melanjutkan serangan Dan ketika mengetahui siapa sesosok tubuh yang tiba-tiba menolong Sri Kuning, Setiaji jadi geram bukan main.

"Ki Sentanu, huh pantas saja...!"

"Setiaji! Jangan buat keributan. Dan, jangan menyulut permusuhan. Pulanglah! Kelakuanmu betul-betul telah kelewat batas!" ujar seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Tangannya tampak menggenggam pedang. Agaknya senjata itulah yang membuat tombak Setiaji terpental.

Pemuda itu tahu diri, siapa yang dihadapi saat ini. Disadari betul, dia tidak akan mungkin mampu menandinginya. "Huh, baiklah! Tapi, ingat! Persoalan di antara kita tidak akan pernah selesai!" dengus Setiaji. Setelah berkata demikian, pemuda itu segera berbalik dan berlalu dari tempat ini.

Sementara Sri Kuning bermaksud mencegat dengan wajah geram penuh dendam. Namun, laki-laki setengah baya yang ternyata Ki Sentanu cepat menahannya. "Ayah! Dia telah berbuat kurang ajar padaku! Orang itu mesti diberi pelajaran agar tidak berbuat seenaknya pada orang lain!" sentak gadis itu kesal.

"Sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang urusan. Mari kita pulang...," sahut Ki Sentanu menyabarkan anak gadisnya yang kesal bukan main.

Sri Kuning bersungut-sungut, meski menuruti apa yang dikatakan orangtuanya. Mereka segera berlalu meninggalkan tempat itu. Dan Sri Kuning telah menghela kudanya kencang-kencang, mendahului yang lain.

********************

TIGA

Ki Sentanu, Sri Kuning, dan tiga orang muridnya tiba di pintu gerbang Perguruan Naga Jenar. Dan di situ, mereka telah ditunggu beberapa orang yang sama sekali tidak dikenal Ki Sentanu. Yang seorang adalah pemuda berwajah tampan. Bajunya rompi putih, membawa pedang bergagang kepala di punggung. Di dekatnya terlihat seorang gadis cantik berbaju biru, bersenjatakan pedang pendek dan kipas baja yang terselip di pinggang. Lalu, seorang lagi adalah laki-laki berusia lanjut Dia didampingi seorang bocah perempuan berusia sekitar tujuh tahun.

Wajah Sri Kuning langsung geram melihat gadis berbaju biru. Melihat senjata kipas yang terselip di pinggangnya, gadis putri Ki Sentanu sudah langsung menduga kalau mereka berasal dari Perguruan Arghaloka.

"Bagus! Setelah tadi putra gurumu mengacau, kini datang lagi tiga orang dari kalian. Huh! Aku tidak akan memberi ampun lagi!" dengus Sri Kuning melompat menyerang pemuda berbaju rompi putih itu.

Sikap Sri Kuning tentu saja membuat pemuda berbaju rompi putih yang tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti jadi bingung. Namun pada saat itu juga gadis berbaju biru yang sudah pasti Pandan Wangi, sudah langsung melompat memapak serangan Sri Kuning.

"Hiyaaa...!"

Plakk!

Sri Kuning terkejut setengah mati. Kepalan tangannya ternyata ditangkap Pandan Wangi yang langsung menariknya ke bawah. Sri Kuning kontan terjerembab ke bawah karena tidak menyadari tenaga gadis berbaju biru itu begitu tinggi. Namun begitu menjejak tanah dia masih mampu mengirim tendangan keras ke arah perut. Tapi Pandan Wangi tidak kalah sigap. Tangan kanannya cepat menangkis dan cepat sekali menangkap kaki Sri Kuning. Dan tiba-tiba saja tubuh putri Ki Sentanu itu terpental jauh ke belakang

Tap!

Manis sekali Sri Kuning membuat gerakan berputar, lalu mendarat indah di tanah. "Setan! Kau boleh mampus sekarang juga!" maki Sri Kuning geram. Gadis itu langsung mencabut pedang dan siap menyerang kembali.

Sring!

"Sri Kuning, tahan seranganmu...!" bentak Ki Sentanu tiba-tiba.

Tapi gadis itu agaknya telah dibakar amarah. Maka tidak dipedulikannya bentakan ayahnya. Tubuhnya terus mencelat menyerang si Kipas Maut. "Yeaaa...! Mampus...!" desis Sri Kuning geram seraya memainkan jurus 'Pedang Membelah Angin'.

Pandan Wangi hanya mendengus dingin, lalu melompat ke samping kiri. Kepalanya cepat ditundukkan untuk menghindari sabetan pedang lawan. Kaki kanannya cepat menghantam ke arah perut. Sri Kuning terkesiap. Namun dengan geram pedangnya segera dikibaskan. Dan dia bermaksud menebas kaki Pandan Wangi.

Wutrt!

Tapi siapa sangka kalau serangan itu hanya tipuan belaka. Sebab tiba-tiba Pandan Wangi menarik pulang tendangannya. Dan dengan berpijak pada kaki kiri, tubuhnya mencelat ke atas sambil berputar bagai gasing. Lalu cepat bagai kilat Pandan Wangi meluruk, melepaskan pukulan telak ke dada.

Desk! "Ikh...!"

Disertai jeritan keras, Sri Kuning terjungkal ke belakang sambil mendekap dadanya yang terasa remuk terkena hantaman keras. Cukup keras pukulan Pandan Wangi barusan. Walau tak dialiri tenaga dalam, namun cukup membuat dada Sri Kuning terasa nyeri.

"Sri Kuning, cukup...," hardik Ki Sentanu, langsung melompat untuk mencegah anak gadisnya yang hendak menyerang kembali dengan amarah meluap-luap.

"Ayah, minggirlah. Aku masih mampu menghadapi orang-orang celaka ini!" desis Sri Kuning geram.

"Cukup Anakku! Mereka bukanlah orang-orang Arghaloka. Kau salah alamat..!" jelas Ki Sentanu dengan suara keras.

"Mustahil! Senjata kipas gadis itu telah cukup membuktikan kalau mereka dari Perguruan Arghaloka!" bantah Sri Kuning, tak mau kalah.

"Sri Kuning! Sedikit banyak aku mengerti ciri-ciri jurus mereka. Dan, gadis ini sama sekali tidak memperlihatkan jurus-jurus Perguruan Arghaloka!"

Sri Kuning terdiam, walau masih tetap memandang sinis pada gadis berbaju biru muda itu. Sementara Ki Sentanu melangkah mendekati mereka.

"Nisanak, maafkan atas sikap kasar putriku. Aku Sentanu, Ketua Perguruan Naga Jenar. Adakah sesuatu yang bisa kubantu untuk kalian?" sapa orang tua itu disertai senyum kecil.

Pandan Wangi hanya bersikap tidak acuh. Namun Rangga cepat membalas salam hormat Ki Sentanu. "Ki, namaku Rangga. Dan ini Pandan Wangi. Sedangkan orang tua ini adalah Ki Wiranata, dan cucunya bernama Diah Kumintir. Maafkan juga kesalahan kawanku tadi. Dia terlalu menuruti amarahnya saja...," ucap Rangga setelah menjura membalas penghormatan Ki Sentanu.

"Tidak apa, Rangga Silakan mampir ke gubuk kami!"

"Terima kasih...!"

Ki Sentanu kemudian mengajak mereka memasuki bangunan utama Perguruan Naga Jenar. Kecuali Sri Kuning, mereka pun segera melangkah. Ketua Perguruan Naga Jenar itu berjalan paling depan. Sementara, Sri Kuning agaknya masih tetap tidak mau bertemu mereka. Gadis itu masih merasa kesal, meski menyadari kalau dialah yang seharusnya salah dan terlalu gegabah.

"Nah, Rangga. Kalau boleh kutahu, apa yang menyebabkan kedatanganmu di tempatku ini...?" tanya Ki Sentanu, ketika mereka telah duduk di ruang penerimaan tamu.

"Sebenarnya bukan aku yang mempunyai keperluan denganmu, Ki. Tapi, Ki Wiranata yang memerlukanmu. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya padamu...," jelas Rangga.

"Oh, begitu? Ki Wiranata, apa gerangan yang ingin kau tanyakan padaku?"

"Eh! Begini, Ki Sentanu Soal..., pusaka peninggalan Ki Sendang Bodas...," sahut Ki Wiranata.

"Ki Sendang Bodas, ah iya! Aku tahu. Belakangan ini, soal itu memang santer sekali dibicarakan. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Ki Sentanu, aku adalah keturunan langsung dari Ki Sendang Bodas. Dan oleh sebab itu, aku memiliki hak atas warisannya yang berupa sebuah kitab pelajaran ilmu silat dan sebuah senjata sakti bernama Kyai Tunggul Manik. Kedua pusaka itu berada di suatu tempat tersembunyi, dan hanya bisa ditemukan lewat petunjuk sebuah peta. Yang menjadi masalah, kini peta itu dipotong menjadi tiga bagian. Aku harus mencari dua potong peta itu lagi, namun tidak tahu harus ke mana mencarinya. Mungkin Ki Sentanu bisa membantu menunjukkan, di mana kedua potongan peta itu berada...?" tutur Ki Wiranata.

Mendengar itu wajah Ki Sentanu tampak berubah sesaat. Air mukanya terlihat kaget, namun buru-buru menguasai diri dan kembali bersikap wajar. "Ki Wiranata, aku hanya ketua sebuah perguruan silat biasa dan jarang berhubungan ke dunia luar. Murid-muridku saja, sudah cukup membuat waktuku banyak tersisa. Memang pernah berita itu kudengar. Namun sayang sekali, aku tidak tahu kelanjutannya...."

"Ki Sentanu. Kudengar kau pernah punya hubungan dengan orang-orang terdekat Ki Sendang Bodas...?" pancing Rangga.

"Ah! Berita itu terlalu dilebih-lebihkan, Rangga. Mana mungkin aku mendapat kehormatan begitu besar untuk menyangkutkan nama beliau yang terhormat dengan namaku!" tampik Ki Sentanu seraya tersenyum lebar.

"Sayang sekali...," desah Rangga sambil menggeleng dan tersenyum hambar.

"Sebenarnya Ki Wiranata hendak mewariskan pusaka itu pada cucunya, namun kini mengalami jalan buntu. Sekarang, dapatkah kau memberitahukan, siapa kira-kira yang menyimpan kedua potong peta yang tersisa, Ki?"

"Hm. Bagaimana kalau kalian coba tanyakan pada Ki Mugeni? Siapa tahu dia mengetahuinya...."

"Ki Mugeni Ketua Perguruan Arghaloka...?" Rangga mencoba meyakinkan. Ki Sentanu mengangguk cepat.

"Hm.... Terima kasih, Ki. Mungkin kami akan ke tempat itu nanti...," ucap Rangga.

"Ah! Kenapa mesti buru-buru? Hari telah menjelang senja. Dan sebentar lagi malam tiba. Kalian boleh bermalam di sini kalau suka...!"

Rangga tersenyum, langsung memandang ke arah Ki Wiranata. Orang tua itu tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Hatinya telah keburu kecewa atas jawaban tuan rumah. Baginya, kata-kata Ki Sentanu seperti penuh basa-basi. Dan hari kecilnya mengatakan, Ketua Perguruan Naga Jenar itu telah berdusta. Ingin rasanya keinginan Ki Sentanu yang hanya basa-basi itu, ditolak. Namun melihat keadaan Diah Kumitir yang kelihatan letih dan terkantuk-kantuk, dia tidak tega untuk meneruskan perjalanan

"Rangga, kalian tentu lelah seperti juga Diah Kumitir. Dan tawaran Ki Sentanu rasanya sulit sekali ditolak...," kata Ki Wiranata.

"Aku pun tengah memikirkannya. Baiklah. Kalau kau pun setuju, rasanya kami tidak bisa menolak...," sahut Rangga.

Wajah Ki Sentanu tampak gembira. Bibirnya mengembangkan senyum mendengar jawaban tamu-tamunya. "Syukurlah, aku gembira sekali bisa menyambut kalian. Dan murid-muridku akan memberitahukan kamar kalian masing-masing...!" Setelah berkata begitu, Ki Sentanu menepuk tangan dua kali. Maka tak lama, tiga orang muridnya segera datang ke dalam ruangan itu. "Coba kalian tunjukkan kamar bagi tamu-tamu kita ini...."

"Baik, Guru...!"

"Nah, Rangga, Ki Wiranata, dan kau Pandan Wangi. Silakan. Anggaplah seperti di rumah sendiri...!" lanjut Ki Sentanu.

"Terima kasih," sahut Rangga dan yang lain seraya tersenyum kecil. Mereka pun segera mengikuti ketiga murid Ki Sentanu, keluar dari ruangan ini.

Ki Sentanu tersenyum kecil menatap kepergian tamu-tamunya. Lalu setelah beberapa saat, dia menepuk tangannya sekali.

Tak lama seorang muridnya segera menghadap, langsung menjura hormat.

"Kemari...!"

Orang itu mendekat. Dan Ki Sentanu segera membisikkan sesuatu di telinganya.

"Mengerti...?!"

"Mengerti, Guru!"

"Bagus. Sekarang juga, kirim dua orang kawanmu untuk mengkhabarkan ini pada mereka!"

"Baik, Guru!" sahut murid itu cepat segera berlalu dari ruangan. Dan baru saja Ki Sentanu hendak keluar ruangan, Sri Kuning muncul dengan wajah cemberut. Gadis itu segera duduk seenaknya di depan orang tua itu. Dipandanginya Ki Sentanu sekilas, lalu mendengus dingin seraya mengalihkan pandang.

"Jangan bersikap seperti itu, Sri. Kita wajib menghormati tamu...," ujar Ki Sentanu, segera melangkah mendekati putrinya dan duduk di sebelahnya.

"Huh, peduli amat dengan mereka!"

Ki Sentanu tersenyum kecil. "Bagaimanapun, kau harus menjaga sikap terhadap tamu kita. Mereka pembawa keberuntungan!" kata Ki Sentanu.

"Keberuntungan apa?" tanya Sri Kuning, seperti asal keluar saja suaranya.

"Kita tidak perlu repot-repot lagi mencari sepotong peta yang selama ini raib entah ke mana!" jelas orang tua itu.

Mendengar hal ini wajah gadis itu tampak penuh perhatian. "Benarkah?!"

Ki Sentanu mengangguk.

"Ayah bermaksud memintanya pada mereka?"

Tanpa menjawab, orang tua itu tersenyum lebar. "Ki Wiranata adalah keturunan langsung Ki Sendang Bodas. Dan kedatangan mereka ke sini justru menanyakan kedua sobekan peta yang tersisa...."

"Lalu?"

"Hei? Apa kau kira ayah akan menyerahkan yang sepotong itu pada mereka? Susah payah kita mencari sobekan peta itu ke mana-mana, lalu tiba-tiba saja datang sendiri melalui perantara. Mana mungkin akan kita biarkan begitu saja!"

"Ayah akan merebutnya?"

"Apa kau kira ada cara lain untuk mendapatkannya dari orang tua itu?"

"Ayah! Bila hal ini diketahui berbagai kalangan, maka nama perguruan kita akan cemar...," sahut Sri Kuning khawatir.

"Itulah sebabnya, kita akan buat kalau kejadian ini bukan dilakukan perguruan kita!" sahut Ki Sentanu cepat, seraya tersenyum penuh arti.

Sri Kuning menghela napas pelan, kemudian bangkit dari duduknya. "Terserah ayah saja...," desah gadis itu pendek, langsung meninggalkan ruangan ini.

Ki Sentanu tersenyum-senyum sendiri, membayangkan rencananya yang menari-nari di benaknya!

********************

Ki Wiranata memang kecewa, namun Rangga terus menghiburnya. Sejak keluar dari bangunan Perguruan Naga Jenar dia tidak banyak bicara. Kecurigaannya tentang sikap Ki Sentanu diungkapkannya pada pemuda itu di tengah perjalanan. Namun, Rangga menanggapinya sambil tersenyum.

"Kita tidak bisa menuduh orang sembarangan Ki..."

"Sikapnya sangat mencurigakan, Rangga. Dan senyumnya terasa menyimpan sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun..."

"Apa maksudnya...?"

"Belakangan ini, banyak orang yang mengincar pusaka kakekku!"

"Dan kau menduga, bahwa Ki Sentanu juga sama seperti mereka?"

"Kenapa tidak? Orang tua itu belakangan gencar sekali menyebar murid-muridnya untuk mencari tahu, dimana peta itu berada!" tandas Ki Wiranata.

Rangga terdiam memikirkan kata-kata Ki Wiranata.

"Kakang, kurasa tidak ada salahnya kita waspada...," Pandan Wangi yang menyahuti.

"Benar, aku sependapat. Kita lihat, apa yang ingin dilakukan orang tua itu terhadapmu...," sahut Rangga pendek.

"Maksudnya?" tanya Pandan Wangi.

"Kalau dia menginginkan peta itu, dia akan mengejar kita. Dan bisa jadi, merampasnya dari tangan Ki Wiranata," jelas Rangga.

"Perguruan mereka selama ini terhormat Apakah mungkin mereka melakukan perbuatan demikian?" tanya Pandan Wangi.

Rangga tersenyum, langsung memandang Ki Wiranata. "Kisanak, dari mana kau tahu kalau murid-murid Perguruan Naga Jenar berkeliaran mencari peta yang ditinggalkan Ki Sendang Bodas...?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Soal itu aku tidak tahu pasti. Namun banyak pihak yang curiga kalau perguruan mereka giat betul mencari peta itu, di samping Perguruan Arghaloka...."

"Dan kalau menurut perkiraanmu, apakah kedua sobekan peta itu berada di tangan Ki Sentanu?" tanya Rangga lagi.

"Aku yakin, dia hanya menyimpan satu...."

"Dan satunya lagi di tangan Ki Mugeni, Ketua Perguruan Arghaloka itu?"

Ki Wiranata mengangguk. "Dari mana kau bisa begitu yakin?"

"Sudah sepuluh tahun belakangan ini, kedua belah pihak tidak akur dan saling bermusuhan. Kita bisa melihat, putrinya begitu membenci pada perguruan yang memiliki senjata kipas dan tombak kecil itu. Sehingga begitu melihat senjata Pandan Wangi, sudah langsung menduga kalau kita dari Perguruan Arghaloka," sahut Ki Wiranata mantap.

"Hm.... Bisa jadi demikian...," Rangga mengangguk pelan.

Kuda-kuda mereka kini dibelokkan kesimpang jalan, menuju ke arah kanan. Sebab, jalan itu lebih dekat ke arah Perguruan Arghaloka, tempat yang akan dituju saat ini. Namun baru saja mereka berbelok, pada saat itu melayang beberapa sosok tubuh bertopeng hitam.

"Berhenti...!"

Sosok-sosok tubuh bertopeng itu langsung menghadang, membuat Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Sentanu menghentikan laju kudanya. Tujuh orang bersenjata pedang kini telah mengurung dengan senjata terhunus. Salah seorang yang bertubuh agak besar maju dua langkah, seraya menudingkan ujung pedang ke arah Ki Wiranata.

"Orang tua, berikan peta itu pada kami...!"

"Peta? Peta apa yang kau maksudkan...?" tanya Ki Wiranata, disertai senyum sinis.

"Setan! Kau kira bisa mengelabui kami, he?! Berikan peta itu, atau kutebas batang lehermu!" ancam si orang bertopeng ini.

"Perampok hina! Siapa kalian he?!" bentak Pandan Wangi garang.

"He he he...! Gadis cantik! Sebaiknya, kau tidak usah ikut campur urusan orang. Atau, kau akan celaka sendiri!" dengus orang bertopeng itu dengan ketawa sinis.

"Phuiih! Segala perampok picisan mau berlagak di depanku. Hm aku ingin lihat, pengecut mana yang bersembunyi di balik topeng itu!"

"Hm.... Agaknya kau cari penyakit sendiri!" dengus orang bertopeng itu seraya memberi isyarat pada kawan-kawannya.

"Bereskan mereka!"

"Yeaaa...!"

Empat orang bertopeng langsung mencelat menyerang. Dua orang menghadapi Pandan Wangi, dua orang lagi menyerang Rangga. Sedang dua orang yang tersisa, mencoba menculik bocah perempuan yang berada di belakang Pandan Wangi. Sementara, orang yang bertindak sebagai pimpinan, langsung melompat menyerang Ki Wiranata.

Srakkk!

Pandan Wangi cepat mencabut kipas mautnya. Tubuhnya terus melompat dari punggung kuda. Ditangkisnya senjata-senjata orang bertopeng itu sambil mendekap Diah Kumitir.

Trak! Trakk!

Bocah perempuan itu tampak ketakutan sekali. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Pandan Wangi bukannya tidak tahu hal itu.

"Diah, peluk kakak kuat-kuat, ya? Tenang saja mereka tidak akan mampu melukaimu," kata Pandan Wangi membesarkan hati bocah itu.

Diah Kumitir mengangguk. Namun, wajahnya masih tetap pucat dalam gendongan Pandan Wangi.

Plak! Duk!

"Aaakh...!"

Terdengar jeritan keras dari tempat lain. Tampak dua orang terjungkal dengan senjata terpental jauh. Keduanya berusaha bangkit, namun kembali terjungkal. Rupanya, Pendekar Rajawali Sakti baru saja menjatuhkan dua lawannya.

"Bagus, Kakang Rangga...!" puji Pandan Wangi disertai tawa girang.

Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak mempedulikan pujian Pandan Wangi. Dan dia sudah langsung menyerang dua orang lawan Pandan Wangi.

"Hati-hati! Pemuda ini lebih ganas dibanding yang perempuan..!" desis salah seorang bertopeng memperingatkannya.

Yang diperingatkan mengangguk. Mereka langsung mengibaskan pedang sedemikian rupa, sehingga terkesan tengah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menyerang Rangga.

"Yeaaa...!" Bet! Bettt!

"Uts!" Tubuh Rangga bergerak dengan kelitan-kelitan mengagumkan, menghindari tebasan kedua lawannya. Dan mendadak saja, Pendekar Rajawali Sakti mencelat setinggi satu tombak ke atas. Namun, salah seorang lawannya menyusul. Sedangkan seorang lagi menunggu di bawah. Melihat hal ini Rangga tersenyum kecil. Maka begitu tubuhnya meluruk mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', lawan-lawannya hanya mampu terkesiap. Dan...

Dukk! Tapp!

"Aaaakh...!"

Cepat sekali ujung kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam pergelangan tangan lawannya yang terdekat. Pedang di tangan orang itu teriempar ke udara. Dan dengan gerakan mengagumkan, Pendekar Rajawali Sakti kembali melenting menyambar pedang itu. Begitu pedang telah berpindah tangan, Rangga segera mengayunkannya sekaligus ke arah lawan-lawannya.

Cras! Brettt!

"Aaakh...!" Dua orang langsung menjerit kesakitan. Tubuh mereka terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap dada. Penutup wajah mereka pun tersambar ujung pedang yang berhasil dirampas Pendekar Rajawali Sakti.

"Hei?!"

"Cepat kabur...!"

Dua orang yang masih selamat terkejut. Sementara seorang dari mereka memberi isyarat pada kawan-kawannya yang lain sebelum melesat kabur lari dari tempat itu.

"Suiiitt...!"

********************

EMPAT

Pandan Wangi mendengus. Si Kipas Maut ini langsung melesat mengejar ketika ketujuh orang itu berusaha melarikan diri, setelah mendengar suitan panjang salah seorang kawannya. Setelah tubuhnya melenting dan berputaran di udara, Pandan Wangi mendaratkan kakinya di hadapan mereka.

"Huh! Mau coba-coba kabur, heh?! Kalian datang dengan mudah, namun tidak gampang pergi begitu saja!"

"Heh?!" Ketujuh orang itu terkejut, karena tahu-tahu Pandan Wangi telah menghadang di depan. Mereka hendak berbalik, namun Rangga telah menunggu dengan tangan terlipat di depan dada. Mata Pendekar Rajawali Sakti memandang tajam pada mereka.

"Hm, kukira siapa wajah-wajah di balik topeng itu, ternyata orang-orang yang pernah kukenal...!" kata Pendekar Rajawali Sakti.

Mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti, ketujuh orang bertopeng itu terkejut yang terlihat dari pancaran bola mata mereka. Sedang dua orang di antaranya kelihatan gelisah, karena wajah mereka jelas terlihat, setelah topengnya terbabat pedang yang direbut Pendekar Rajawali Sakti. Sebenarnya Rangga berkata demikian, hanya alasan belaka dari kecurigaannya. Padahal, Rangga sama sekali tidak kenal mereka.

"Kalian akan kuberi tanda mata. Beritahu ketuamu, agar tidak sembarangan bersikap licik pada orang! Dan dia sendiri akan mendapat bagiannya dariku!" dengus Pandan Wangi lebih galak.

Ketujuh orang tampak bertambah gelisah. Mereka kini tahu, bahwa sepasang anak muda itu tak bisa dianggap enteng.

"Siapa yang menyuruh kalian?!" bentak Ki Wiranata garang, ketika ketujuh orang itu terdiam di tempatnya.

Tak seorang pun yang buka mulut. Beberapa orang malah saling pandang.

"Sial! Kalau begitu mulut kalian harus kurobek dulu, heh?!" hardik Ki Wiranata garang.

Ketujuh orang ini sama sekali tidak takut dengan bentakan Ki Wiranata. Bahkan dari sorot mata si pemimpinnya, terlihat berkilatan karena hawa amarah mendengar bentakan orang tua itu. Ki Wiranata mulai geram melihat sikap mereka. Namun sebelum orang tua itu bertindak suatu apa pun....

"Orang tua busuk, serahkan peta itu padaku...!"

Mendadak terdengar bentakan nyaring, yang disusul oleh berkelebatnya dua sosok bayangan. Ki Wiranata terkejut. Sementara dua sosok bayangan itu telah bergerak cepat ke arahnya dari sisi yang berlawanan. Wajah orang tua itu pucat dan tubuhnya mulai goyah. Jelas serangan itu tidak akan mampu dielakkan. Tapi, saat itu juga Rangga bertindak cepat. Langsung dipapakinya kedua serangan itu.

Plak! Plak!

"Uhh...!" Kedua sosok kontan mengeluh pelan, ketika tangan-tangan mereka beradu dengan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Mereka langsung berjumpalitan ke belakang, lalu berdiri tegak dengan kedua bahu terangkat dan napas terengah-engah.

Sedang Rangga sendiri tidak mendapat pengaruh apa-apa dan hanya berdiri tegak sambil melipat tangannya di dada.

"Bocah! Jangan campuri urusan orang lain! Pergilah kau sebelum celaka!" hardik salah seorang.

Ternyata dia adalah seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun. Kelihatannya wanita itu hanya bertangan kosong saja. Namun melihat selendang hitam yang melilit di pinggangnya, baru diketahui kalau dia adalah Nyai Gendang Lurik, seorang tokoh wanita berkepandaian tinggi. Sementara seorang lagi adalah laki-laki bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar tiga puluh tahun. Sepasang matanya agak menyipit. Dan di pinggangnya terselip sebuah senjata kapak bergagang agak panjang.

"Hm, Nyai Gendang Lurik dan Ki Danang Anyar...!" gumam Rangga dingin ketika mengenali dua orang itu. "Angin apakah yang membawa kalian jauh-jauh datang ke sini?"

Sebaliknya kedua orang itu sedikit terkejut ketika mengetahui, siapa pemuda yang telah menahan serangan mereka. Wajah pemuda berbaju rompi putih ini tak asing lagi bagi keduanya.

"Pendekar Rajawali Sakti! Pantas ada orang yang mampu menahanku...," sahut Nyai Gendang Lurik disertai senyum kecil.

"Rangga, di antara kita tidak ada persoalan. Maka sebaiknya tak usah mencampuri urusan orang lain!" sahut Ki Danang Anyar lebih tegas, dibanding kawannya.

"Hm, begitu? Kau telah menyerang orang tua itu secara mendadak. Padahal, dia adalah kawan seperjalanan denganku. Maka sudah pasti, keselamatannya menjadi tanggung jawabku!" sahut Rangga mantap.

"Apakah kau menginginkan peta itu juga?" tanya Ki Danang Anyar, menyelidik.

"Peta apa yang kau maksudkan?" Rangga balik bertanya.

"Hi hi hi...! Danang Anyar! Kau hanya membuang-buang waktu bicara dengannya. Sudah jelas dia ingin menguasai sendiri pusaka itu. Kenapa ditanyakan segala?" sahut Nyai Gendang Lurik diiringi tawa mengejek.

"Oh! Jadi kalian menginginkan peta yang menunjukkan di mana pusaka Ki Sendang Bodas berada?!" sahut Rangga, seperti memancing.

"Tentu saja! Apa kau kira kami tolol?!"

Mendengar itu Rangga terkekeh kecil.

"Kakang, kau salah alamat. Mereka bukan mencari peta itu, tapi peta yang menunjukkan jalan ke neraka!" Kali ini Pandan Wangi yang menyahuti.

"Kau pasti si Kipas Maut! Hm.... Hati-hati bicaramu!" Wajah Nyai Gendang Lurik mulai tidak senang, namun masih mampu menahan diri. Jika saja di situ tidak ada Pendekar Rajawali Sakti, niscaya gadis itu akan dihajarnya.

Ketujuh orang bertopeng itu terkejut bukan main, begitu mengetahui siapa sebenarnya pemuda berbaju rompi putih ini. Tapi begitu melihat kehadiran dua tokoh lainnya di tempat ini, diam-diam mereka meninggalkan tempat ini. Tak ada yang memperhatikan kepergian mereka.

Sementara, mendengar kata-kata Nyai Gendang Lurik, Pandan Wangi bukannya diam malah makin melotot "He, syukur.... Ternyata kau tahu siapa aku! Pergilah kalian. Jangan bermimpi untuk memiliki peta itu. Dia akan jatuh ke tangan yang berhak!" sahut si Kipas Maut, semakin galak.

Nyai Gendang Lurik mendengus sinis. Namun Ki Danang Anyar agaknya tidak bisa menerima kata-kata gadis itu. "Kipas Maut! Apakah kau sudah merasa hebat di kolong jagat ini? Hati-hati bicaramu, karena lidah tidak bertulang. Dan kehebatan tidak ditentukan oleh bicaramu, tapi di ujung pedang!"

"Kenapa tidak kau buktikan? Cabutlah senjatamu!" tantang Pandan Wangi.

"Lebih baik pergunakan senjata kipas yang menjadi andalanmu. Ingin kulihat, sampai di mana kehebatanmu yang menghebohkan orang banyak!"

"Ki Danang Anyar! Aku tidak ingin terjadi keributan di antara kita. Tapi kau terlalu memaksa...," sentak Pendekar Rajawali Sakti.

"Kakang Rangga! Jangan coba-coba halangi aku! Orang ini perlu diberi pelajaran. Agaknya dirinya sudah merasa hebat, sehingga bisa berbuat sesuka hatinya!" desis gadis itu, seraya menyerahkan Diah Kumitir pada Ki Wiranata.

Sementara itu Nyai Gendang Lurik sebenarnya sudah sungkan untuk meneruskan niatnya merebut sobekan peta yang dimiliki Ki Wiranata. Terutama ketika mengetahui bahwa Pendekar Rajawali Sakti ada di tempat itu. Bahkan dia sudah ingin segera berlalu. "Rangga, aku pergi dulu. Kuharap, lain waktu kita bisa bertemu kembali. Urusan Ki Danang Anyar, bukanlah urusanku!"

"Nyai Gendang Lurik. Apakah kau demikian pengecutnya, sehingga perlu takut pada mereka?" ejek Ki Danang Anyar sinis.

Wanita tua itu tersenyum kecil, sebelum meninggalkan tempat itu. "Danang! Kau mungkin hebat. Nah, hadapilah mereka...!" ujar wanita tua itu singkat seraya berkelebat cepat.

Ki Danang Anyar kembali berpaling pada Pandan Wangi dengan sorot mata tajam. "Tidak usah sungkan-sungkan, ayo tunjukkan kehebatanmu padaku...!" kata Ki Danang Anyar, terasa amat merendahkan gadis itu.

Pandan Wangi tidak banyak bicara lagi. Langsung kipas mautnya dicabut dan melompat menyerang. "Hiyaaa...!"

Desir angin tajam menyambar ketika kipas maut Pandan Wangi berkelebat. Ki Danang Anyar terkejut, langsung pontang-panting menyelamatkan diri. Tapi, agaknya gadis itu memang sudah kalap. Dia telah menyerang, tanpa memberi kesempatan sedikit pun.

Wuttt!

"Hiiih!" Kaki kanan Pandan Wangi menendang ke perut, namun Ki Danang Anyar cepat bergulingan. Perkiraannya, jika melenting ke atas, kipas maut lawannya akan menunggu. Namun perhitungannya ternyata meleset. Sebab entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja gadis itu berputar sambil merendahkan tubuhnya. Langsung dilepaskannya tendangan pancingan lagi, sehingga membuat Ki Danang Anyar kelabakan. Cepat dia bangkit, dan terus melompat ke belakang. Tapi saat itu juga senjata Pandan Wangi menyambar cepat.

Brettt!

"Aaakh...!" Ki Danang Anyar menjerit kesakitan begitu dadanya tersambar kipas Pandan Wangi. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap dadanya yang mengucurkan darah. Tapi Pandan Wangi memang bertindak tidak kepalang tanggung. Begitu kena merobek dada lawannya, tubuhnya berbalik. Dan sebelum Ki Danang Anyar menyadari, satu tendangan keras telah menyusuli.

Desss...!

"Ugh...!" Laki-laki itu jatuh berdebuk keras di tanah. Dia berusaha berdiri tertatih-tatih, sambil memandang si Kipas Maut dengan sorot mata tajam penuh dendam.

"Ayo, bangkit! Tunjukkan kehebatanmu!" desis Pandan Wangi belum hilang amarahnya.

Ki Danang Anyar menyadari kesalahannya, yang terlalu menganggap rendah. Sehingga ketika serangan Pandan Wangi menghebat, dia tidak kuasa melakukan perubahan jurus. Dan pengalaman pahit ini harus ditelannya. Namun bukan hanya sekadar itu. Paling tidak, dia menyadari kalau gadis ini memang memiliki kepandaian tinggi. Kalau tidak, rasanya tidak mungkin mampu melakukan gerakan cepat yang bertenaga dalam tinggi seperti tadi.

"Kenapa diam saja? Ayo, tunjukkan kegaranganmu tadi!" bentak Pandan Wangi semakin kesal saja.

Ki Danang Anyar bangkit perlahan-lahan dengan wajah berkerut menahan sakit "Kipas Maut! Hari ini aku mengaku kalah padamu. Tapi persoalan ini tidak selesai begitu saja. Suatu saat, kita akan bertemu lagi. Dan saat itu, kau akan merasakan pembalasannya...," kata Ki Danang Anyar.

"Huh banyak omong! Pergilah kau dari hadapanku. Dan kutunggu pembalasan darimu, sampai kapan pun!" desis gadis itu geram.

Tanpa banyak bicara lagi, Ki Danang Anyar segera berkelebat cepat dari tempat itu. Begitu bayangannya lenyap, Pandan Wangi berbalik.

"Huh! Orang-orang asing! Berani benar kalian mengotori tempat ini!" Tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar.

Semua yang ada di tempat itu terkejut. Demikian juga Pandan Wangi. Gadis itu memandang ke sekeliling. Dan tahu-tahu di tempat itu telah dikurung tak kurang dari lima puluh orang bersenjata. Berdiri paling depan adalah seorang pemuda berpakaian rapi. Dia memegang sebuah kipas yang terbuat dari bala. Bibirnya tampak tersenyum sinis sambil melangkah mendekati Pandan Wangi, Rangga, dan Ki Wiranata yang menggendong cucunya.

"Hm. Suatu pertunjukan yang menarik sekali. Barusan kalian bertarung di wilayah kami. Pasti sedang memperebutkan sesuatu yang istimewa...!" kata pemuda itu sinis.

"Kisanak! Maafkan kalau kami mengganggu ketenteramanmu. Kami sekadar mempertahankan diri dari begal-begal ini. Namaku, Rangga. Dan yang ini adalah kawan-kawanku...," kata Pendekar Rajawali Sakti berusaha ramah.

"Siapakah kau. Dan, ada apa gerangan membawa sejumlah orang yang begitu banyak?"

"Kalian telah memasuki tanah Perguruan Arghaloka, dan membuat keributan. Mana mungkin kami bisa membiarkannya begitu saja? Hm.... Aku Setiaji, putra Ki Mugeni Ketua Perguruan Arghaloka. Kalian harus ikut kami, untuk menghadap ayahku untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang kalian lakukan di sini!" ujar pemuda yang tak lain Setiaji, bernada jumawa.

Kata-kata yang diucapkan Setiaji membuat Pandan Wangi menjadi muak dan sebal. Gadis itu langsung berkacak pinggang dan menuding sinis. "Hei, Bocah Bau Kencur! Lagakmu selangit dan penuh kesombongan. Seolah-olah, dirimu adalah raja yang berkuasa. Kau tidak ada hak untuk memerintah kami!" dengus Pandan Wangi geram.

"Pandan Wangi, sudahlah. Lebih baik kita turuti keinginannya. Bukankah kedatangan kita ke sini untuk bertemu guru mereka?" selak Rangga.

"Tidak, Kakang! Orang ini sombong sekali dan patut mendapat pelajaran supaya tidak besar kepala!" bantah gadis itu.

"Phuiih! Hei, Perempuan Liar! Kau kira bisa berbuat apa padaku, he?! Agaknya kau belum merasakan pahitnya dihina orang. Hem... kalau kau punya kepandaian, majulah! Biar kuajarkan padamu, bagaimana seharusnya bersikap pada orang!" dengus Setiaji garang.

Dan demi mendengar kata-kata Setiaji, Pandan Wangi tidak lagi bisa menahan amarah. Padahai, Rangga berusaha menyabarkannya. "Tidak, Kakang! Aku ingin sekali merobek mulutnya yang sombong itu!" dengus Pandan Wangi. Gadis itu langsung melangkah mendekati Setiap dengan sorot mata tajam. "Tunjukkan padaku kehebatanmu, Kisanak"

"Huh, Gadis Sombong! Kau akan menyesal nantinya!" dengus Setiaji, langsung bersiap dengan satu jurus serangan.

Setiaji memang betul-betul menganggap remeh si Kipas Maut. Meski dia tahu gadis itu tidak kosong belaka, namun hatinya terlalu yakin untuk dapat mengalahkannya dengan mudah. Berpikir begitu, Setiaji memberi isyarat pada orang-orang yang tak lain murid Perguruan Arghaloka, untuk tidak bertindak sebelum mendapat perintahnya.

Sementara itu, Rangga sendiri menjadi tidak enak hati. Urusan menjadi kacau sebelum segalanya beres. Bahkan mereka belum sempat bertemu Ki Mugeni untuk menanyakah urusan peta itu. Dan kini, tiba-tiba saja putra dan sekian banyak muridnya telah mengurung. Bahkan melihat gelagat yang tidak menguntungkan, agaknya putra Ki Mugeni ini tidak bisa diajak berpikiran dingin. Dan lebih-lebih lagi, Pandan Wangi yang sudah naik darah melihat dan mendengar kelakuan Setiaji.

"Pandan, biarkan aku bicara dengannya...!" Rangga berusaha mencegah tindakan gadis itu.

"Kakang, percuma saja...."

"Tidak!" potong pemuda itu. "Coba tahan amarahmu lebih dulu, dan biarkan aku bicara dengannya!"

Pandan Wangi hanya bisa memberengut mendengar perintah Pendekar Rajawali Sakti.

"Ketahuilah Setiaji. Kedatangaan kami ke tempat ini sebenarnya ingin bertemu ayahmu. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan...!" kata Rangga bernada datar dan suara sedikit keras.

"Biar kutebak! Pasti urusan peta itu, bukan?!" potong Setiaji.

"Hm. Agaknya semua dinding kini telah bertelinga...," gumam Rangga tersenyum kecil.

"Tidak aneh, Kisanak. Sudah banyak orang yang datang ke tempat kami, dan persoalannya tetap sama. Dan kami sudah bosan menghadapinya. Ayahku ingin tenang, tidak mau diganggu soal itu!" desis Setiaji.

"Apakah ayahmu tidak tahu-menahu soal peta itu? Dengarkan, Setiaji! Aku tidak kemaruk soal peta itu, tapi pewarisnya yang syah, wajib mendapatkannya. Dan orang itu berada di dekatku ini...."

"Tidak! Ayahku tidak tahu menahu soal itu...!"

"Baiklah. Kalau demikian, kami permisi saja...," sahut Rangga pelan.

Dan Pendekar Rajawali Sakti bermaksud mengajak Pandan Wangi serta yang lain meninggalkan tempat ini Tapi baru saja Rangga berbalik.

"Hei?! Mudah bagi kalian untuk datang ke sini, namun tidak semudah itu bisa pergi begitu saja...!" dengus Setiaji tajam bernada mengancam.

"Apa maksudmu...?" tanya Rangga kembali berbalik.

Wajah pemuda itu kelihatan mulai sedikit jengkel melihat kesombongan Setiaji. "Kalian telah membuat kerusuhan di daerah kami. Maka, kalian harus ditahan di tempat kami!" tegas Setiaji.

"Apa kataku, Kakang! Orang ini terlalu sombong dan berbuat sesuka hatinya. Dikira, dirinya raja," dengus Pandan Wangi geram.

"Tangkap mereka...!" Setiaji tidak mempedulikan. Dia sudah langsung memberi perintah pada anak buahnya untuk meringkus.

********************

LIMA

Murid-murid Perguruan Arghaloka bagai tanggul jebol, langsung menyerang Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Wiranata yang masih menggendong Diah Kumitir. Namun agaknya Setiaji mengerti betul apa yang dicarinya. Tidak heran kalau anak buahnya dikerahkan untuk mencecar Ki Wiranata. Mereka berusaha menahan Rangga dan Pandan Wangi untuk tidak melindungi orang tua itu.

"Hentikan tindakan konyol ini, Setiaji. Jangan membuat urusan menjadi susah!" teriak Rangga memperingatkan.

"Banyak mulut! Kalian yang membuat urusan ini menjadi sulit Menyerahlah, sebelum kalian dicincang sampai mampus!" bentak Setiaji.

"Keparat! Dia kira kita apa, heh?! Kakang, tidak usah banyak bicara. Lebih baik habisi saja mereka semua!" sentak Pandan Wangi, dengan amarah meluap-luap. Gadis itu memang dongkol sekali sejak tadi terhadap pemuda yang dianggapnya sangat memandang rendah. Maka ketika orang-orang itu menyerang, si Kipas Maut seperti mempunyai tempat untuk melampiaskan diri. Dengan gemas, dia melompat ke sana kemari. Sedangkan senjata kipasnya berkelebat cepat mencari mangsa.

Trak! Trak! Brettt!

"Aaaa...!"

Bunyi denting senjata dan pekik kematian langsung terdengar saling bersusulan, begitu si Kipas Maut berkelebat cepat sambil mengebutkan senjatanya. Untuk sesaat para pengeroyok itu jadi terkejut. Beberapa tewas secara mudah, dan yang lainnya akan menyusul. Namun melihat jumlah mereka, semangat orang-orang itu tidak kendor. Mereka terus menyerang tanpa mengenal takut.

Rangga sendiri tidak sampai hati untuk menurunkan tangan kejam. Namun orang-orang itu terlalu memaksa. Sehingga, sesekali pukulan mautnya terpaksa ikut berbicara. Lagi pula, pemuda itu lebih mengutamakan keselamatan Ki Wiranata dan Diah Kumitir ketimbang melampiaskan kekesalan dengan menghajar murid-murid Perguruan Arghaloka. Yang paling menderita adalah Ki Wiranata. Sambil menggendong Diah Kumitir, laki-laki tua itu terpaksa melindungi diri dari serangan murid-murid Perguruan Arghaloka yang bukan main gencarnya. Kalau saja Rangga tidak melindunginya, niscaya dalam waktu singkat mereka pasti akan tewas direncah tombak-tombak pendek para pengeroyok.

"Ki Wiranata, kita tidak bisa terus-terusan begini. Kasihan Diah Kumitir. Dia akan ketakutan sekali. Kalian harus menyelamatkan diri. Tunggu aku di ujung jalan di dekat Hutan Pagar Alam. Ayo, tidak ada waktu lagi! Pergilah. Dan aku akan membuka jalan bagimu!" bisik Rangga pelan.

"Tapi, Rangga...."

"Cepat'" Rangga tidak mempedulikan ocehan orang tua itu. Tubuhnya langsung melenting dan berputaran. Begitu kakinya mendarat, kedua tangannya langsung menyentak ke depan, melepaskan pukulan jarak jauh dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat pertama yang disertai pengerahan tenaga dalam tidak begitu tinggi.

Werrr!

"Aaaakh...!"

Lima orang yang terdekat langsung terjungkal disertai jerit kesakitan, ketika beberapa cahaya merah langsung meluruk menerpa mereka.

"Hiyaaa...!" Rangga tidak memberi kesempatan sedikit pun. Tubuhnya sudah kembali berkelebat dengan gerakan gesit disertai kebutan tangannya. Sebentar saja dua orang di sebelah kanan kontan terpekik dan tewas dengan dada remuk. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti terus berkelebat, menyambar tiga orang yang berada di barisan kiri Maka kembali terdengar pekik kesakitan. Tubuh mereka langsung ambruk dan tewas. Dengan gerakan cepat Pendekar Rajawali Sakti terus berkelebat. Dan kini, Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya menjadi 'Seribu Rajawali'.

"Hei, di mana dia? Aku tidak bisa melihatnya!" seru seorang murid perguruan itu dengan wajah heran.

"Gila! Gerakannya cepat sekali. Seolah-olah dia berjumlah seribu. Tapi.., he? Jangan-jangan dia memang tidak sendiri?!" sahut yang lain dengan mulut ternganga.

Gerakan Pendekar Rajawali Sakti yang memainkan jurus 'Seribu Rajawali" memang cepat bukan main. Sehingga, orang-orang yang mengeroyoknya mengira Pendekar Rajawali Sakti menjadi sangat banyak. Akibatnya mereka dibuat kebingungan. Sementara tanpa disadari, satu demi satu mereka ambruk tidak berdaya terkena hantaman pukulan atau tendangan. Kesempatan seperti itu yang digunakan Ki Wiranata untuk melarikan diri dari tempat ini.

"Pandan Wangi, pergilah! Lindungi mereka! Biar kubereskan orang-orang ini!" teriak Rangga.

"Tidak! Biar aku saja yang membereskan mereka. Sebaiknya, Kakang saja yang melindungi mereka!" bantah Pandan Wangi.

Penolakan itu bisa dimaklumi, karena gadis itu tengah dibakar amarah. Namun Rangga tidak bisa membiarkannya, sebab bisa mencelakakan gadis itu sendiri.

"Pandan Wangi, pergilah. Jangan membantah! Lindungi Ki Wiranata dan Diah Kumitir!" sentak Rangga, lantang.

Gadis itu memberengut. Hatinya memang marah dan kesal betul pada orang-orang itu, sehingga ingin menghajarnya sampai tidak ada yang tersisa. Namun perkataan Rangga tidak bisa dibantah. Maka mesti dengan hati kesal, perintah Rangga diturutinya juga.

"Huh! Jangan coba-coba bisa melarikan diri begitu saja!" desis Setiaji garang, seraya melompat menyerang Pandan Wangi.

"Jangan pedulikan dia! Pergilah, biar aku yang menghadapi!" Rangga langsung melompat memapak, begitu melihat gelagat Pandan Wangi akan berbalik menghajar Setiaji.

"Hiyaaa...!"

Mau tidak mau, Pandan Wangi terpaksa mengurungkan niatnya. Dia terus melompat mengejar Ki Wiranata yang tengah menggendong cucunya. Beberapa orang murid Perguruan Arghaloka mencoba menghalangi. Namun, agaknya mereka hanya menjadi tempat pelampiasan kemarahan gadis itu saja.

"Huh! Kalian boleh mampus...!"

Trak! Trakk! Brettt!

"Aaaa...!" Tiga orang murid Perguruan Arghaloka langsung terjungkal bermandikan darah, tersambar senjata si Kipas Maut Pandan Wangi sudah hendak melabrak yang lain, namun saat itu juga Rangga kembali membentak.

"Pandan Wangi, jangan membandel! Pergilah, dan selamatkan mereka!"

"Iya, iya...!" sahut gadis itu kesal seraya berlari cepat menyusul Ki Wiranata dan cucunya.

Pada saat yang bersamaan, Rangga harus memapak serangan Setiaji yang dialihkan padanya, setelah melihat Pandan Wangi berhasil meloloskan diri.

Plak!

"Uuhh...!" Setiaji terkejut bukan main begitu serangannya berhasil dipapak Pendekar Rajawali Sakti. Kepalan tangan kanannya yang berisi tenaga dalam tinggi dihantam Rangga, seenaknya saja ditangkis Rangga dengan telapak tangan kiri. Sama sekali tidak terlihat kalau pemuda berbaju rompi putih itu mengeluh kesakitan. Sebaliknya wajah Setiaji berkerut menahan sakit. Kepalan tangannya seperti menghantam dinding baja saja.

Belum juga rasa sakitnya hilang, kembali datang serangan yang begitu cepat dari Rangga berupa sapuan kaki. Masih untung Setiaji mampu menjatuhkan diri untuk menghindarinya. Rangga memang tidak berhenti sampai di situ. Begitu Setiaji bangkit berdiri, dia terus menghajar dengan gerakan cepat.

Begitu serangan Pendekar Rajawali Sakti mendekat, Setiaji cepat mengayunkan tombak pendeknya ke arah lambung. Dan bersamaan dengan itu, senjata kipasnya disambarkan ke leher. Namun, Rangga lebih cepat mencelat ke atas. Begitu berada di udara, tubuhnya meluruk dengan ujung kaki kanannya mengarah ke dada. Gerakannya cepat sekali, hingga tidak pernah diduga oleh Setiaji. Sehingga....

Desss...!

"Aaaakh...!" Setiaji menjerit kesakitan, begitu dadanya terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya terjungkal dengan napas sesak. Lalu, dia mencoba bangkit berdiri, walaupun terhuyung-huyung.

"Itu peringatan pertama bagimu, Kisanak! Ingat, aku akan datang ke tempatmu untuk menyelesaikan persoalan ini! Ingat baik-baik. Dan sampaikan salam Pendekar Rajawali Sakti pada ayahmu!" kata Rangga dingin. Begitu kata-katanya selesai, Pendekar Rajawali Sakti melompat dan berkelebat cepat dari tempat itu, sebelum anak buah Setiaji mampu berbuat apa pun.

"Pendekar Rajawali Sakti...?" Setiaji tergagap dan wajahnya tampak pucat.

"Ada apa, Setiaji...?" tanya salah seorang anak buahnya.

"Pemuda itu...."

"Kau ingin kami mengejarnya?"

"Percuma saja. Kalian tidak akan mampu mengejarnya. Dia Pendekar Rajawali Sakti...," sahut Setiaji dengan wajah berkerut menahan sakit.

"Pendekar Rajawali Sakti...?!"

Wajah murid itu menunjukkan perasaan kaget. Setiaji mengangguk lemah.

"Pantas saja dia mampu mudah menghajar kita..!" desis lainnya sambil menggeleng tidak percaya.

"Lalu bagaimana sekarang, Setiaji? Orang tua itu kabur, sedangkan peta itu tidak kita peroleh. Apa yang akan kita katakan pada guru? Lebih dua puluh orang murid perguruan kita tewas...!" tanya salah seorang dengan wajah tegang.

"Tenanglah, Atmaja. Itu urusanku...."

"Mudah kau berkata seperti itu. Tapi, nanti akulah yang akan disalahkan guru karena tidak bisa menasehatimu!" sentak Atmaja dengan wajah gusar.

"Hei? Kenapa sekarang kau jadi cerewet seperti perempuan?! Sudah kukatakan, aku yang bertanggung jawab!" kata pemuda itu mulai agak keras.

"Ya. Kau bisa bicara begitu, sementara aku ikut dalam rombongan ini. Apa yang harus kujawab jika guru menanyakannya?!" Setiaji tersenyum kecil dan wajahnya kelihatan sinis.

"Hei? Kenapa kau ini? Kenapa kau anggap ini persoalan besar? Bukankah ayahku memang tengah mencari sobekan peta itu? Apa kau kira kita salah jika berusaha membantunya? Beliau akan senang. Kau tidak perlu khawatir lagi!"

"Bukan itu yang menjadi masalah...."

"Lalu apa?"

"Kau dengar apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti...?"

Setiaji terdiam beberapa saat. Dia tahu, apa yang dipikirkan Atmaja. Kurang lebih sama dengan apa yang dipikirkannya saat ini

"Setiaji, aku tidak meragukan kehebatan guru. Tapi untuk saat ini, siapa yang bisa menghadapi si Pendekar Rajawali Sakti? Kalau benar dia akan datang, maka Perguruan Arghaloka akan celaka. Bahkan sepuluh kali kekuatan seluruh murid Perguruan Arghaloka, akan mudah disapu bersih olehnya...."

Setiaji masih membungkam dengan tatapan kosong. Atmaja mengeluh pendek. Lalu dia memberi isyarat pada yang lain untuk membawa mayat-mayat murid Perguruan Arghaloka yang tewas dalam pertarungan tadi.

"Kita pulang sekarang...," ajak Setiaji pendek.

Atmaja memandang pemuda itu seperti ingin mengetahui, apa jawaban Setiaji.

"Biarlah aku yang urus. Dan nanti, akan kukatakan pada ayah. Jangan khawatir, aku tidak akan membawa-bawamu dalam persoalan ini," kata pemuda itu berusaha meyakinkan sambil menepuk pundak Atmaja.

Atmaja hanya tersenyum hambar.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Matahari yang tadi bersinar garang, saat ini tertutup awan hitam yang bergulung-gulung membentuk suatu kumpulan yang terus membesar. Angin mulai bertiup agak kencang, menerbangkan dedaunan serta debu-debu di jalanan. Di sebuah rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya, Ki Wiranata tampak kecewa mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Karena, Rangga dan Pandan Wangi telah sepakat untuk tidak mengajaknya ikut serta dalam persoalan ini.

"Percayalah, Ki. Aku bukan tidak mengerti perasaanmu. Namun kau harus memikirkan keselamatan Diah Kumitir. Anak ini terlalu muda untuk melihat kejadian-kejadian kejam di sekelilingnya. Itu tidak baik bagi perkembangannya di masa depannya...."

"Tapi mana mungkin aku hanya berpangku tangan, sementara kalian berjuang mati-matian...?"

Rangga tersenyum seraya menepuk bahu orang tua itu. "Tidak jadi soal. Kami tidak keberatan membantumu...," tandas Pendekar Rajawali Sakti.

"Betul, Ki...!" timpal Pandan Wangi. "Kami khawatir akan keselamatan Diah Kumitir. Kalau saja kejadian seperti tadi terulang kembali, kita tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Bisa saja, dia terkena senjata nyasar. Demi kebaikan anak ini, sebaiknya Ki Wiranata dan Diah Kumitir bersembunyi di tempat yang aman...."

"Kenapa kami harus bersembunyi...?" tanya Ki Wiranata.

"Suasana semakin panas. Dan agaknya, semakin banyak yang tahu kalau kau memiliki sebuah sobekan peta itu. Mereka yang rakus sudah tentu akan mengincar sobekan peta di tanganmu. Bahkan tidak akan segan-segan membunuhmu!"

"Benar, Ki...," timpal Rangga.

"Sebaiknya, bawa Diah Kumitir ke tempat aman. Percayalah, kami akan membawa kedua sobekan peta itu padamu. Dan kami juga akan menjagamu sampai berhasil menemukan pusaka peninggalan buyutmu...."

Ki Wiranata diam untuk beberapa saat seraya menghela napas panjang. Dipandangnya Pandan Wangi, kemudian beralih pada Rangga. Lalu ditatapnya Diah Kumitir. Perlahan-lahan dihampirinya anak itu. Kemudian dielus-elusnya kepala Diah Kumitir.

"Malang betul nasibmu, Kumitir. Kedua orang-tuamu sudah tiada, dan kini kau harus mengalami nasib yang tidak menentu. Tapi, jangan khawatir. Kakek akan berusaha sekuatnya untuk memberimu sesuatu yang berharga demi masa depanmu. Paling tidak, kalau kakek telah tiada, kau bisa menjaga dirimu sendiri...," gumam Ki Wiranata pelan dengan nada haru.

"Sudahlah, Ki. Jangan membuatnya bertambah sedih. Kau harus membesarkan jiwanya...," ujar Pandan Wangi pelan.

Ki Wiranata mengangguk pelan.

"Adakah suatu tempat yang akan kau kunjungi sementara waktu?" tanya Rangga.

Ki Wiranata terdiam, seperti sedang berpikir. Kemudian kepalanya menggeleng lemah. "Aku tidak punya sanak keluarga. Dan kawan pun hanya sedikit. Kalau kukunjungi, hanya menyusahkan mereka. Bukankah itu akan mengakibatkan malapetaka bagi orang yang kutumpangi...?" sahut orang tua itu lirih.

"Hm...," Rangga hanya bergumam.

Orang tua itu memandangnya. "Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang..?" tanya Ki Wiranata.

Rangga menghela napas pendek.

"Kakang, bagaimana kalau mereka dititipkan saja di wilayah Karang Setra? Dengan begitu, keselamatannya akan terjamin. Dan Kakang bisa perintahkan beberapa orang prajurit untuk menjaga mereka?" selak Pandan Wangi sebelum Rangga buka suara.

"Prajurit? Oh! Apa maksudnya...?" tanya Ki Wiranata dengan wajah heran.

"Ah! Tidak apa-apa, Ki. Kami mendengar kalau Raja Karang Setra sangat pemurah dan tidak segan-segan melindungi kaum lemah. Pandan Wangi tahu hal itu, sehingga memberi usul demikian. Bukankah begitu, Pandan?" kata Rangga, sambil melotot sedikit pada si Kipas Maut. Rangga sebenarnya mangkel juga pada Pandan Wangi yang hampir-hampir membuka kedoknya. Karena selain sebagai Pendekar Rajawali Sakti, Rangga sendiri adalah Raja Karang Setra.

"Ya, betul. Di sana kalian akan aman..," sahut Pandan Wangi seraya tersenyum kecil.

"Hm, Karang Setra...? Tempat itu agak jauh dari sini...," kata Ki Wiranata sedikit ragu.

"Apakah kau tidak memikirkan keselamatan Diah Kumitir...?" tanya Pandan Wangi.

"Persoalan ini menyangkut keselamatan Diah Kumitir, Ki. Kalau dia celaka atau tewas, akan sia-sia saja usaha kita ini. Meski sedikit jauh, namun kalian aman di sana. Begitu Raja Karang Setra melindungi kalian, maka bukan saja para prajurit serta para panglimanya saja yang akan turun tangan. Tapi, seluruh rakyatnya pun akan turun tangan melindungi kalian!" timpal Rangga.

"Begitukah? Kenapa kalian bisa begitu yakin?"

"Karena kami adalah rakyat Karang Setra, dan tahu betul bagaimana watak raja kami!" sahut Rangga cepat, sebelum Pandan Wangi buka suara.

"Baiklah..., Kalau begitu, aku setuju saja...."

Rangga dan Pandan Wangi tersenyum. Gadis itu langsung memeluk Diah Kumitir sesaat, seraya mengelus rambutnya. "Nah, Diah. Untuk sementara waktu, kau ikut dengan kakekmu, ya?"

Bocah perempuan itu memandang Pandan Wangi dengan wajah khawatir. "Bibi hendak ke mana...?"

"Bibi hendak membawakan hadiah untukmu...."

"Bibi akan menghajar orang-orang jahat itu...?" tanya bocah itu, lugu.

"Benar! Bibi akan menghajar orang-orang jahat yang telah mengganggu kita!"

Diah Kumitir tersenyum lebar. "Kalau saja aku bisa sehebat Bibi dan Paman, tentu aku mampu melindungi kedua orangtuaku...," kata Diah Kumitir.

"Sudahlah.... Kau jangan terlalu banyak memikirkan mereka. Orang Tua mu telah tenang di surga. Kau pun bisa seperti paman dan bibi. Dan jika waktunya tiba, bahkan kau bisa melebihi kepandaian bibi," hibur Pandan Wangi.

"Oh, benarkah itu?!" Bola mata bocah perempuan itu tampak berbinar-binar.

Pandan Wangi mengangguk cepat.

"Kapan waktu itu tiba, Bi?"

"Tidak lama lagi, Anak Manis...."

"Ah! Aku sudah tidak sabar menunggunya! Aku ingin lekas-lekas bisa sehebat Bibi dan Paman...!"

"Tapi ingat, Diah!"

"Kenapa, Paman Rangga...?"

"Seseorang akan menjadi hebat, bila tekun belajar, berlatih, serta tidak kenal putus asa!"

"Baik, Paman. Aku akan selalu ingat pesan Paman dan Bibi!"

"Kalau sudah hebat, kau tidak boleh sombong serta harus membantu yang lemah," sambung Pandan Wangi.

Diah Kumitir mengangguk cepat.

"Nah, mari kita berangkat sekarang!" lanjut Rangga. Mereka segera keluar pondok itu, menuju kuda-kuda yang ditambatkan di luar. Pendekar Rajawali Sakti segera menaiki Dewa Bayu. Dan Ki Wiranata segera ikut melompat di belakangnya. Sementara Pandan Wangi menaiki si putih, setelah meletakkan Diah Kumitir dipunggung kudanya.

"Heaaa...!" Dalam waktu singkat mereka telah meninggalkan tempat itu. Yang tersisa hanya debu yang mengepul di udara, lalu terbang ditiup angin yang bergulung-gulung.

********************

ENAM

Malam begitu gelap tertutup awan yang hitam menggumpal. Hujan deras yang sejak sore tadi turun, mengakibatkan air sungai meluap. Beberapa bagian jalan yang rendah tampak tergenang air. Dalam keadaan cuaca demikian, agaknya membuat orang enggan keluar rumah. Mereka lebih merasa enak berdiam diri sambil menyeruput teh hangat.

Namun lain halnya sesosok tubuh yang menyelinap perlahan-lahan di balik pepohonan. Gerakannya ringan dan lincah sekali. Matanya tak henti-hentinya memandang ke sekeliling seperti seekor elang yang tengah mengawasi mangsanya. Manakala angin bertiup sedikit kencang, maka rambutnya terlihat berkibar-kibar. Agak panjang dan semrawut, seperti tidak terurus.

Tubuh sosok itu kecil dan agak kurus. Dia hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Baju yang dikenakannya berukuran besar dan sudah lusuh. Orang itu melompat ke cabang pohon yang tinggi dan mengawasi keadaan di bawahnya.

"He he he...! Mereka pasti telah terlelap semua. Ini akan memudahkan urusanku...!" gumam sosok itu pelan sambil menyeringai lebar.

Dengan satu lompatan kecil, tubuh orang itu melayang melewati pagar bambu setinggi dua tombak. Setelah berputaran beberapa kali, kakinya menjejak tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Matanya langsung memandang ke sekeliling, lalu berlari kecil dan merapat ke balik dinding. Rupanya, sebuah bangunan kecil yang diterangi dua buah obor menjadi perhatiannya. Tempat itu lebih tepat dikatakan sebagai pos keamanan bangunan ini. Tanpa mempedulikannya, sosok itu sudah langsung melompat ke atas genteng.

"Hup!" Begitu hinggap di atap, sosok itu segera berlari kecil mencari-cari tempat yang telah diincarnya. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara keras di suatu ruangan, tepat di bawah tempatnya berpijak Dia langsung merebahkan diri, dan mengintip lewat celah-celah genteng. Tampak di bawah sana terlihat banyak orang berkumpul.

"He he he...! Bagus! Mereka agaknya berkumpul di sini...," gumam orang itu disertai senyum kecil.

Lalu dengan gesit sosok itu bangkit dan kembali berkelebat menuju sebuah ruangan lain yang lebih besar. Kembali dia mengintip lewat celah-celah genteng, namun tidak menemukan siapa pun di sana, segera dibukanya tiga buah genteng. Lalu, tubuhnya melayang turun dengan ringan ke bawah! Begitu mendarat, matanya memandang ke kiri dan kanan, seperti mencari-cari sesuatu di seluruh ruangan ini.

"Hm.... Ini ruangan si tua Mugeni. Dia pasti menyimpannya di sini...," kata orang itu dalam hati seraya membongkar laci-laci meja dan lemari. Setiap gerakan orang itu terlihat hati-hati sekali dan nyaris tanpa menimbulkan suara. Ketika membuka laci serta lemari yang terkunci erat, jari-jari tangannya dengan mudah melepaskan engsel dan kuncinya. Nyata sekali kalau orang ini memiliki tenaga dalam tinggi.

"Setan! Di mana dia menyimpan benda itu?" gumam sosok itu kesal setelah membongkar semua benda yang ada di ruangan itu. Dia termenung sejenak sambil berpikir. Lalu jari-jarinya mulai mengetuk dinding ruangan. Bola matanya berbinar, ketika merasakan suara ketukan yang nadanya berbeda dari lainnya.

Brosss!

Cepat sekali sisi tangan kanan orang itu menghantam dinding yang dicurigai. Maka seketika tembok itu hancur, membuat sebuah lubang sebesar kepala orang dewasa. Didalamnya ada sebuah peti kecil berwarna coklat kehitaman yang langsung diambil dan buka. Begitu melihat secarik kulit kambing yang bertuliskan huruf-huruf serta gambar yang terpotong-potong, wajahnya berbinar dan senyumnya mengembang.

"He he he...! Akhirnya peta ini menjadi milikku. Tinggal dua bagian lagi, maka lengkaplah sudah...!" kata sosok ini, sambil terkekeh.

"Hei, siapa itu di dalam!"

Mendadak saja, terdengar bentakan keras dari luar ruangan. Orang itu terkejut. Dan dia langsung melompat ke atas dengan gerakan ringan. Namun, saat itu juga terdengar teriakan-teriakan nyaring. Sehingga membuat seluruh penghuni bangunan ini terkejut dan langsung bersiaga.

"Itu...! Itu dia di atas genteng...!" teriak seseorang dengan tangan menunjuk ke atas.

"Dia dari kamar guru! Pasti ada sesuatu yang dicurinya. Tangkap, dan jangan biarkan lolos...!" teriak yang lain memberi perintah.

"Yeaaa...!" Wut! Wuttt...!

Beberapa orang langsung mencelat ke atas genteng, mengejar orang itu. Sementara, yang lainnya berjaga-jaga di bawah sambil melemparkan berbagai senjata tajam.

"Hiiihh...!" Bettt!

Orang itu bergerak lincah, menghindari desingan senjata-senjata tajam yang melesat ke arahnya. Tubuhnya melayang ringan, dan beberapa kali berjumpalitan. Sementara serangan orang-orang yang memang anak buah Ki Mugeni begitu bernafsu hendak meringkusnya.

"Setan! Dia berusaha melarikan diri! Jaga semua jalan. Dan, jangan biarkan melarikan diri!" teriak orang yang tadi berteriak lantang.

Lima orang telah mengurung sosok itu dengan rapat di atas atap. Bahkan mereka langsung mengayunkan senjata. Namun gerakan sosok itu gesit sekali. Bahkan tiba-tiba saja dia telah melenting ke atas seraya melepaskan pukulan Jarak jauh yang bertenaga dalam tinggi.

"Yeaaa...!" Desss! "Aaakh...!"

Kelima orang itu terpental sambil menjerit kesakitan. Tubuh mereka bergulingan di atap, lalu jatuh berdebuk keras di tanah.

"Hup!" Begitu selesai melepaskan pukulan, sosok itu langsung berkelebat cepat. Tubuhnya cepat menerobos kelebatan pohon dan hinggap pada salah satu cabangnya. Tubuhnya terus berkelebat di antara cabang-cabang pohon dan dedaunan, lalu lenyap ditelan kegelapan malam!

Seorang laki-laki tua bertubuh kurus dan berjenggot panjang tampak tengah mendengus geram sambil mengepalkan kedua tangannya di sebuah bangunan besar. Matanya tidak lepas memandang orang yang telah lenyap tadi. Tak lama seorang pemuda menghampiri dengan wajah heran.

"Ayah, siapa orang itu. Dan, kenapa ayah tidak berusaha mengejarnya sampai dapat?"

"Percuma saja, Setiaji...," sahut orang tua yang tidak lain dari Ki Mugeni, Ketua Perguruan Arghaloka.

"Kenapa, Ayah? Dia telah membuat kekacauan di tempat kita. Bahkan mencuri sesuatu yang berharga dari kamar Ayah. Kenapa didiamkan saja?" tanya Setiaji dengan wajah heran dan tidak puas atas jawaban ayahnya.

"Kau tidak tahu siapa orang itu, Anakku. Meski aku ikut mengejar, nantinya tidak akan mampu mendapatkan peta yang berhasil dicurinya...," sahut Ki Mugeni putus asa.

"Siapa orang itu sebenarnya?" tanya Setiaji penasaran.

"Dia bergelar Iblis Gila Dari Timur...."

"Iblis Gila Dari Timur? Hm.... Belum pernah mendengar nama itu? Apa dia lebih daripada Pendekar Rajawali Sakti?"

Ki Mugeni tersenyum kecil mendengar pertanyaan putra satu-satunya. "Dia memang jarang muncul di dunia persilatan. Namun kepandaiannya cukup hebat. Orang itu sinting. Dan sampai saat ini, tidak ada satu tokoh pun yang berani mencari urusan dengannya. Masih untung kita hanya kehilangan beberapa orang murid. Agaknya, malam ini dia tidak berselera mengumbar kematian...," jelas Ki Mugeni.

"Lalu apa yang kita lakukan sekarang? Mendiamkannya saja! Susah payah Ayah mencari sobekan peta itu, dan kini tiba-tiba saja seseorang mengambilnya dengan mudah dari kita. Itu tidak adil! Kita harus mengambilnya kembali!" desis Setiaji geram.

"Apa yang bisa kita lakukan? Menyerahkan nyawa percuma? Hm, bukan aku tidak merasakan kekecewaan yang dalam. Tapi kita tidak akan mungkin melawannya. Orang itu kelewat hebat. Hmm... Aku tidak menyangka kalau dia ikut mengincar pusaka Ki Sendang Bodas...," kilah Ki Mugeni.

Untuk sesaat, mereka terdiam. Sementara lebih dari tiga puluh murid perguruan yang mengejar Iblis Gila Dari Timur, mulai kembali sia-sia. Wajah mereka tampak lusuh dan takut-takut ketika melaporkan hal itu pada Ki Mugeni.

"Sudahlah.... Aku tidak menyalahkan kalian. Orang itu memang bukan tandingan kita...," sahut Ki Mugeni menghibur.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Guru?" tanya seorang muridnya.

"Entahlah. Aku pun tidak tahu...," sahut Ki Mugeni putus asa.

Baru saja kata-kata Ki Mugeni selesai, di depan pintu gerbang kembali terdengar suara ribut-ribut Ki Mugeni dan Setiaji cepat mengarahkan pandangannya ke depan. Lalu sebentar saja mereka telah berlarian ke depan. Tampak di depan pintu gerbang telah berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih dan seorang gadis cantik berbaju biru muda.

"Kisanak, siapa kalian berdua?" tanya Ki Mugeni. Nada suaranya terdengar kesal bercampur marah.

"Ayah, pemuda itulah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...!" desis Setiaji dengan wajah kaget begitu melihat kehadiran kedua orang itu.

"Pendekar Rajawali Sakti? Mau apa dia ke sini malam-malam begini?" gumam orang tua itu lirih.

"Aku ingin bertemu guru kalian!" teriak pemuda yang memang Pendekar Rajawali Sakti lantang.

Ki Mugeni mendekati. Dan langkahnya berhenti pada jarak lima langkah dari kedua orang itu. "Kisanak, akulah Ki Mugeni. Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu sehingga tengah malam begini datang ke tempat kami...?" sahut Ki Mugeni dengan nada lunak.

"Hm, bagus. Jadi, inikah tampang guru para pengecut yang mengerahkan begitu banyak murid untuk mencelakakan kami?!" dengus gadis yang memang Pandan Wangi, sambil berkacak pinggang.

Murid-murid Perguruan Arghaloka bersiap mengepung kedua orang itu dengan senjata terhunus. Namun sebelum segalanya menjadi kacau, Ki Mugeni memerintahkan mereka untuk menyingkir. Orang tua itu menghela napas panjang.

"Pendekar Rajawali Sakti, dan juga kau Kipas Maut. Maafkan kesalahan murid-muridku. Apa yang mereka lakukan, sama sekali di luar sepengetahuanku. Malam ini kami tengah bersidang untuk memberi hukuman setimpal bagi mereka, termasuk juga putraku. Namun hal itu ternyata dimanfaatkan Iblis Gila Dari Timur untuk menyelinap masuk dan mengacau di tempatku. Sekali lagi aku mohon maaf atas kelancangan mereka...," ucap orang tua itu dengan nada rendah.

"Huh! Enak saja meminta maaf. Orang tua! Apakah kau tidak menyadari kalau murid-muridmu hampir mencelakakan seorang bocah yang sama sekali tidak mengerti apa-apa?! Mereka begitu bernafsu untuk merampas sesuatu yang bukan miliknya. Bahkan menghalalkan segala cara meski harus membunuh!" desis Pandan Wangi geram.

"Kipas Maut, percayalah. Aku sangat menyesal atas kejadian itu. Maka aku mohon kemurahan hati kalian untuk memaafkan kami. Dan aku berjanji mereka tidak akan lepas dari hukuman. Lantas, apakah itu belum cukup?"

Pandan Wangi sudah hendak kembali menghardik, kalau saja Rangga tidak mencegah dan menyambarnya. Itu pun wajahnya terlihat amat berang bercampur kesal.

"Buat apa berbaik-baik, Kakang? Sudah jelas mereka bukan orang baik-baik. Dan, kenapa kita harus terus mengalah?!" rungut Pandan Wangi.

"Sudahlah, Pandan. Memaafkan orang, lebih baik daripada mengumbar kemarahan. Lagi pula ucapan orang tua ini bersungguh-sungguh. Aku bisa merasakannya...," kilah Rangga.

"Huh...!" Pandan Wangi hanya mendengus kesal. Namun tetap saja amarahnya belum sirna meski telah berusaha melampiaskannya.

"Ki Mugeni... Tahukah kau maksud kedatangan kami ke tempatmu ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti setelah menatap Ki Mugeni dengan tajam.

"Bukan urusan kelakuan murid-muridku...?" Ki Mugeni malah balik bertanya.

"Benar. Aku ingin menuntaskannya. Namun mendengar jawabanmu, aku yakin dan percaya kalau kau tidak tahu-menahu soal ini. Biarlah urusan itu kuanggap selesai. Namun masih ada satu lagi yang mengganjal dalam benakku. Dan rasanya aku ingin mendapat jawaban jujur darimu," kata Rangga. Nada suaranya ditekan sedemikian rupa, untuk memperlihatkan pada orang tua itu kalau ucapannya bersungguh-sungguh

"Hm. Apakah gerangan itu...?"

"Apakah kau menyimpan sobekan peta yang menunjukkan tempat pusaka Ki Sendang Bodas berada?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

Mendengar pertanyaan itu Ki Mugeni tampak sama sekali tidak merasa kaget. Bahkan bibirnya tersenyum lebar dengan wajah geli. Sudah barang tentu sikap Ketua Perguruan Arghaloka membuat Rangga menjadi kesal bukan main.

"Kenapa kau tersenyum begitu, Ki? Apakah kau kira aku tengah melucu?!" sentak Pendekar Rajawali Sakti.

"Kenapa tidak? Kukira pusaka peninggalan Ki Sendang Bodas itu hanya menarik bagi orang-orang seperti kami. Tapi, heh?! Agaknya Pendekar Rajawali Sakti yang kesohor itu pun mengincarnya juga...!" sentak Ki Mugeni melecehkan.

Tahulah Rangga apa yang tengah dipikirkan orang tua itu mengenai ucapannya tadi. Dan kini, ganti Pendekar Rajawali Sakti yang tersenyum sinis... "Jadi kau kira aku kepincut dengan pusaka itu...?" tanya Rangga, sinis.

"Lalu apa gunanya kau bertanya-tanya?" Ki Mugeni balik bertanya.

"Aku mewakili Ki Wiranata, cucu Ki Sendang Bodas, untuk membawa pusaka itu padanya. Tidak lebih dari itu!" sahut Rangga menegaskan.

"Ya, ya.... Tentu saja aku percaya," sahut Ki Mugeni enteng. Jawaban orang tua itu berkesan melecehkannya.

Dan Rangga bukannya tidak menyadarinya. "Ki Mugeni, aku menghormatimu. Dan aku bisa mempercayai alasanmu tadi. Tapi sebaliknya, apa yang kau lakukan? Kau meragukan niatku. Dan mungkin dalam hati mengira aku tamak, ingin mengambil pusaka itu begitu kutemui. Orang seperti apa kau ini sebenarnya?" ucap Rangga dengan nada tajam.

Nada bicara pemuda itu tentu saja amat menyinggung perasaan Ki Mugeni, hingga sesaat jadi terdiam menyadari kesalahannya. Apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti memang tidak salah. Pemuda itu telah menghormatinya dengan mempercayai kata-katanya tadi, soal penyerangan yang dilakukan murid-muridnya. Tapi sebagai balasannya, orang tua ini malah melecehkan niat Pendekar Rajawali Sakti. Padahal selama ini belum pernah didengarnya kalau si Pendekar Rajawali Sakti memiliki watak telengas.

"Kisanak, maafkan kesalahanku. Tapi..., aku sama sekali tidak memiliki peta itu...," sahut Ki Mugeni pendek. Langsung ditatapnya pemuda itu dengan sorot mata bersungguh-sungguh.

"Ki Mugeni! Aku tidak ingin dipermainkan, seperti Ki Sentanu memperlakukan kami...!" sahut Rangga, bernada memperingatkan.

"Ki Sentanu? Apa yang telah dilakukannya terhadap kalian?"

"Dia telah memberitahukan, kalau kau menyimpan sobekan peta itu. Dan sebentar lagi, mungkin kau akan mengatakan kalau Ki Sentanulah yang memilikinya...."

"Betulkah dia berkata begitu?"

Rangga mengangguk. Tampak ada perubahan di wajah orang tua itu. Ki Mugeni tampak geram dengan wajah berkerut menahan amarah.

"Sentanu! Kurang ajar kau...!" desis Ki Mugeni geram.

"Ki Mugeni, ketahuilah. Benda itu tidak berhak menjadi milik kalian, termasuk peta itu. Maka serahkanlah padaku. Sebab, Ki Wiranata-lah yang lebih berhak memilikinya," sahut Rangga tanpa mempedulikan kekesalan hati orang tua itu.

"Aku berkata yang sebenarnya, Pendekar Rajawali Sakti. Aku memang memiliki sobekan peta itu. Namun, Iblis Gila Dari Timur telah mengambilnya, saat aku tengah memperkarakan murid-muridku yang menyerangmu. Tidakkah kau perhatikan kalau kami semua tengah berkeliaran malam-malam begini? Orang gila itu baru saja kabur. Dan saat ini, mungkin menuju tempat kediaman Ki Sentanu...."

"Iblis Gila Dari Timur? Hm.... Mau apa dia ke tempat Ki Sentanu?"

"Sudah barang tentu untuk mendapatkan sobekan peta yang kedua."

"Berarti Ki Sentanu memilikinya juga?" todong Rangga.

Ki Mugeni mengangguk pelan.

"Dan kau kira kami tahu dari mana kalau sobekan peta ketiga, berada di tangan Ki Wiranata? Merekalah yang memberitahukannya melalui murid-muridku. Ki Sentanu itu memang licik. Dia berniat hendak merebutnya dari tangan Ki Wiranata yang kalian jaga. Lalu setelah memperoleh sobekan peta itu, mereka berniat hendak menawan murid-muridku untuk ditukar sobekan peta yang kumiliki!" jelas Ki Mugeni.

"Dari mana kau tahu semua?" tanya Rangga.

"Kau kira siapa ketujuh orang bertopeng yang menyerangmu tadi? Mereka adalah murid-murid pilihan dari Perguruan Naga Jenar. Mereka tidak mengira kalau Setiaji sudah mengintai bersama kawan-kawannya sejak kau bertarung. Menurut laporan putraku, setelah pertarungan berlangsung, beberapa orang kawannya berhasil menangkap salah seorang dari mereka untuk dimintai keterangan...," jelas Ki Mugeni.

"Baru setelah kau bertarung melawan Danang Anyar yang datang bersama Nyi Gendang Lurik, Setiaji berusaha menangkapmu."

"Kurang ajar! Hm.... Ki Sentanu akan mendapat pelajaran atas perbuatannya!" desis Rangga geram.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kalau kau bersedia, aku akan turut membantumu membalaskan kelicikannya!" sambut Ki Mugeni, semangat.

Rangga berpikir sesaat sebelum menggeleng sambil tersenyum. "Terima kasih, Ki. Biar aku sendiri saja...," sahut pemuda itu tenang.

"Aku memang tidak suka dipermainkan seperti ini. Dan siapa pun orangnya, sudah barang tentu membuatku tidak senang. Dia harus mendapat pelajaran yang setimpal atas perbuatannya!"

"Huh! Orang-orang seperti Ki Sentanu memang tidak bisa dipercaya. Dia patut mendapat balasan yang lebih buruk atas kelakuannya selama ini!" dengus Ki Mugeni, menimpali.

"Nah, Ki. Karena tidak ada lagi yang akan dibicarakan, kami pamit dulu. Maaf telah menyusahkanmu...," sahut pemuda itu seraya memberi salam hormat dan segera berbalik.

"Sama-sama, Pendekar Rajawali Sakti. Kalau ada sesuatu yang kau inginkan, hubungi kami. Aku dan seluruh muridku siap membantu...!"

"Terima kasih."

Rangga tersenyum, lalu mengajak Pandan Wangi segera meninggalkan tempat itu. "Mari, Pandan. Kita harus cepat menuju ke tempat Ki Sentanu. Jangan sampai didahului si Iblis Gila Dari Timur."

"Kakang, apakah kau tidak yakin kalau mereka berbohong?" bisik Pandan Wangi curiga.

"Tidak. Tapi kalaupun mereka berbohong dan ingin mempermainkan kita, semut pun akan menggigit bila diinjak-injak gajah. Dan kita bukan semut. Aku punya batas kesabaran. Mereka akan menerima akibatnya!" sahut pemuda itu mantap.

Pandan Wangi mengangguk pelan, kemudian mengikuti Rangga melompat ke punggung kuda dan berialu dari tempat itu.

********************

TUJUH

Satu sosok bayangan mengendap-endap di sisi dinding bangunan sebelah timur Perguruan Naga Jenar. Seorang lagi berada di cabang pohon terdekat sementara seorang lagi bertiarap di atas genteng. Sulit dikenali wajah mereka, karena ditutupi topeng hitam. Hanya sepasang mata mereka yang terlihat Suasana sunyi dan lengang. Suara binatang sudah mulai terdengar. Dan gerimis betul-betul telah reda. Penghuni tempat ini pasti telah terlelap dalam mimpinya masing-masing.

"Hei...!" "Hup!" Bruaakk..!

Keheningan tiba-tiba saja dipecahkan oleh satu bentakan nyaring, membuat tiga orang bertopeng itu tersentak kaget. Dan dari dalam sebuah ruangan tiba-tiba melesat dua sosok tubuh bertopeng lainnya, setelah menjebol wuwungan dan memporak-porandakan atapnya.

"Maling Busuk! Kau kira bisa lari dariku, he...?!" teriak seorang gadis, ikut mencelat ke atas. Dan dia langsung mencabut pedangnya untuk menyerang kedua orang bertopeng yang baru saja mencelat.

Sringng!

"Sudah kudapat sobekan peta itu! Kirjo, tahan gadis itu...!" teriak orang bertopeng yang baru saja mencelat pada kawannya yang tadi bertiarap di atap.

"Pergilah kalian! Biar kubereskan gadis ini!" sahut orang bertopeng yang dipanggil Kirjo seraya mencabut pedang di punggungnya. Langsung dipapaknya serangan gadis itu.

Trang! "Uhhh...!"

Gadis itu mengeluh kesakitan, ketika senjatanya beradu dengan pedang Kirjo. Tangannya bergetar dan telapaknya nyaris terkelupas. Belum juga dia menguasai keadaan, orang bertopeng itu sudah menyodokkan satu tendangan keras ke arah perut. Untung saja, gadis itu cepat berkelit ke samping, sehingga terhindar dari sebuah tendangan dahsyat.

"Yeaaa...!"

Orang bertopeng yang dipanggil Kirjo itu berkelebat cepat. Seakan dia tidak ingin memberi kesempatan pada gadis itu untuk bernapas sedikit pun. Dengan sebisa-bisanya gadis itu menangkis serangan, lalu terus bergulingan ke bawah.

Trang!

Beberapa buah genteng kontan hancur berantakan dihantam senjata Kirjo yang mengamuk hebat Tapi baru saja kedua kaki gadis itu menjejak tanah, angin serangan laki-laki bertopeng telah begitu dekat menyerangnya.

"Sri Kuning! Minggirlah kau. Orang ini bukan lawanmu!" Mendadak saja terdengar teriakan seseorang yang disusul dengan satu hantaman pukulan jarak jauh ke arah laki-laki bertopeng.

"Huh! Ki Sentanu, orang tua busuk! Apakah kebisaanmu hanya membokong orang?!" dengus orang bertopeng itu geram, ketika tahu-tahu di atas atap telah berdiri laki-laki setengah baya yang memang Ketua Perguruan Naga Jenar.

"Tidak usah banyak bicara! Lima Setan Gunung Kelud memang maling rendah yang tidak tahu diri! Huh! Ke mana kawanmu yang empat orang lagi?!" dengus Ki Sentanu.

"Ayah! Mereka memasuki kamarmu dan mencuri sobekan peta itu!" tuding Sri Kuning gemas.

"Keparat! Kembalikan milikku!" sentak Ki Sentanu seraya melompat menyerang

"He he he...! Keempat kawanku telah membawanya kabur dari sini. Kau hanya bisa gigit jari!" ejek Kirjo, sambil terkekeh-kekeh.

"Setan! Kalau begitu kau harus mampus di tanganku!" desis Ki Sentanu garang.

Sring!

Dalam kemarahannya, Ketua Perguruan Naga Jenar itu langsung mencabut pedang dan menyerang menggunakan jurus-jurus terhebatnya. Bagaimanapun, Ki Sentanu menyadari kalau Lima Setan Gunung Kelud rata-rata ahli menggunakan senjata pedang.

Tring! Tring!

"He he he...! Tidak buruk, orang tua! Tidak buruk...! Ilmu pedangmu boleh juga. Tapi berharap dapat mengalahkanku, kau boleh mimpi atau berguru sepuluh tahun lagi!" ejek Kirjo setelah menangkis serangan-serangan Ki Sentanu dengan mudah.

"Hhh.... Tidak perlu bermimpi dan tidak periu pula berguru sepuluh tahun untuk meringkusmu! Kau lihat! Tempat ini telah dipenuhi murid-muridku. Kau tidak akan lolos dari kami!" dengus Ki Sentanu.

"Kau kira semua muridmu mampu menghalangiku untuk kabur? He he he...! Sungguh menganggap remeh!"

Baru saja Kirjo berhenti tertawa, mendadak terdengar jerit kesakitan yang berasal dari luar pekarangan perguruan itu.

"Aaaa...!"

"Heh?!" Tanpa mempedulikan lawan, orang bertopeng yang bernama Kirjo ini mencelat ke arah datangnya suara. Tentu saja tindakannya tidak bisa dibiarkan Ki Sentanu.

Orang tua itu segera mengejar. "Kepung dia! Jangan biarkan lolos...!"

"Yeaaa...!"

Bersamaan dengan melompatnya orang tua itu, maka seluruh muridnya pun mengikuti dengan amarah meluap-luap.

Kirjo agaknya mencemaskan keempat kawan-kawannya. Sebab jeritan yang terdengar tadi berasal dari arah selatan, tempat kawan-kawannya kabur. Dan kecurigaannya memang beralasan. Sebab begitu tiba di sana, dua orang kawannya telah tewas dengan kepala remuk. Sementara dua lainnya masih mencoba bertahan dari serangan seorang laki-laki tua berambut riap-riapan, bercelana pendek dan baju berukuran besar.

"Iblis Gila Dari Timur...!" seru Kirjo dengan wajah kaget.

"He he he...! Agaknya kawanmu yang seorang lagi telah muncul. Ke sinilah. Dan, bergabunglah bersama kawanmu.

Kalian akan pergi ke neraka bersama-sama!" ejek orang tua berjuluk Iblis Gila Dari Timur seraya tertawa lebar.

"Iblis Gila! Kau boleh tertawa sesuka hatimu! Tapi saat ini, adalah kematianmu!" desis Kirjo. Dan dia sudah langsung membantu kedua kawannya menyerang orang tua itu.

"Ha ha ha...! Lima Setan Gunung Kelud. Orang-orang boleh takut berhadapan dengan kalian. Tapi denganku, kalian tidak lebih dari seorang bocah yang baru belajar berjalan!" desis Iblis Gila Dari Timur, sangat menganggap rendah lawan-lawannya.

"Kurang ajar! Putus lehermu...!" geram salah seorang bertopeng sambil mengibaskan pedang ke leher Iblis Gila Dari Timur.

Iblis Gila Dari Timur mendengus kecil Lalu dengan nekat dia menangkap senjata orang bertopeng itu.

Tap!

Orang bertopeng itu terkejut Iblis Gila Dari Timur kembali memperlihatkan kehebatan ilmu yang dimilikinya. Tangannya sama sekali tidak terluka oleh tebasan pedang satu dari Lima Setan Gunung Kelud. Bahkan dengan kuat, disentaknya batang pedang dalam genggaman Dan bersamaan dengan itu, kaki kanannya menghantam dada.

Wuttt! Dukkk! "Aaaa...!"

Salah seorang bertopeng memekik kesakitan. Tubuhnya kontan terjungkal dengan dada remuk. Nyawanya langsung lepas begitu mencium tanah.

"He he he...! Kenapa diam? Ayo, cepatlah kemari. Dan, susul mereka ke neraka sana!" ejek si Iblis Gila Dari Timur sambil terkekeh-kekeh kecil.

Kedua orang bertopeng lainnya, jadi ragu-ragu menyerang. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. Namun, Iblis Gila Dari Timur agaknya tidak bisa menunggu barang sekejap. Tubuhnya langsung mencelat menyerang kedua lawannya. "Hiyaaa...!"

"Heh!"

Dua dari Lima Setan Gunung Kelud tercekat, namun tidak menghilangkan kewaspadaan. Pedang mereka cepat dikelebatkan dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Iblis Gila Dari Timur cepat merendahkan tubuh, menghindari hantaman pedang yang bersamaan. Tubuhnya lalu berputar dengan sebelah kaki berpijak di tanah. Sementara kaki yang lain melakukan tendangan keras pada salah seorang laki-laki bertopeng. Namun sebelum serangannya berhasil, pedang orang bertopeng yang satu lagi menghantam punggungnya.

Wuttt! Crak!

"He he he...!" Iblis Gila Dari Timur terkekeh kecil, karena pancingannya mengena.

Agaknya dia sengaja berlaku lengah. Dan dia yakin betul kalau ilmu kebalnya tidak akan mampu ditembus pedang dua orang lawannya. Dan itulah yang harus dihadapi salah seorang dari Lima Setan Gunung Kelud. Begitu pedang satu orang bertopeng menghantam, saat itu juga Iblis Gila Dari Timur berbalik, tubuhnya diputar secepat kilat, seraya melepaskan satu tendangan keras. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Desss! "Aaaa...!"

Kembali satu orang bertopeng menjerit kesakitan, dengan tubuh melayang deras. Nyawanya melayang begitu tubuhnya mencium tanah, dengan tulang dada remuk! Seorang dari Lima Setan Gunung Kelud tak lain Kirjo terkejut Dan sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun saat itu, terlihat Ki Sentanu beserta seluruh muridnya telah berada di tempat itu. Malam yang gelap gulita kini terang benderang oleh cahaya obor yang dibawa murid-murid Perguruan Naga Jenar.

"He he he...! Cacing-cacing kurap menyambut kematiannya sendiri!" dengus Iblis Gila Dari Timur disertai tawa sinis.

"Lima Setan Gunung Kelud atau siapa pun adanya kalian, jangan harap lepas dari kepungan kami! Serahkan sobekan peta itu. Atau, kalian akan celaka sendiri!" teriak Ki Sentanu lantang.

"He he he...! Cacing Busuk, ke sinilah kau! Peta itu ada padaku!" kata si Iblis Gila Dari Timur.

"Siapa kau?!" bentak Ki Sentanu, garang.

"Siapa aku apa pedulimu, he?! Bukankah kau menginginkan sobekan petamu yang mereka curi? Nah, ambillah dariku!" sahut si Iblis Gila Dari Timur. Segera dikeluarkannya secarik kulit kambing tipis dan dikibar-kibarkannya pada orang tua Itu sambil tersenyum mengejek.

"Berikan padaku!'.' sentak Ki Sentanu garang.

"Ambillah...," sahut Iblis Gila Dari Timur tetap tersenyum kecil seperti hendak mempermainkan Ki Sentanu.

Bukan main geramnya Ketua Perguruan Naga Jenar diperlakukan demikian. Dia tahu betul maksud laki-laki berambut riap-riapan. Maka tanpa menghiraukan kata-kata si Iblis Gila Dari Timur, Ki Sentanu segera memerintahkan murid-muridnya untuk menghajar.

"Cincang dia. Dan, rebut peta itu kembali...!"

"Baik, Guru!" Namun sebelum murid-murid perguruan itu bergerak menyerang lawan, Iblis Gila Dari Timur telah lebih dulu menghentakkan kedua tangannya, menghantamkan pukulan jarak jauh yang mengeluarkan cahaya kemerahan.

"Heaaa..!" Jdeerrr...! "Aaaa...!"

Murid-murid Perguruan Naga Jenar langsung terpekik. Sepuluh orang di antaranya kontan ambruk di tanah, dan tewas dengan tubuh hangus disambar pukulan Iblis Gila Dari Timur.

"Heh?!"

Apa yang dilakukan orang tua gila itu, tentu saja membuat mereka terkejut. Bahkan sepasang mata Ki Sentanu sendiri sempat terbelalak. Namun kesempatan seperti itu agaknya tidak disia-siakan begitu saja oleh Kirjo, seorang dari Lima Setan Gunung Kelud yang masih tersisa. Kirjo langsung melarikan diri, begitu Ki Sentanu memerintahkan murid-muridnya menyerang si Iblis Gila Dari Timur. Namun....

"Hiyaaa...!" Iblis Gila Dari Timur kembali menghentakkan kedua tangannya. Seketika seberkas sinar merah meluruk deras ke arah Kirjo. Dan....

Bruesss!

"Aaakh!"

Iblis Gila Dari Timur terkekeh, ketika terdengar pekikan kecil. Dan tampak orang bertopeng itu tersungkur di tanah, lalu tewas dengan tubuh gosong!

"He he he...!

Mau coba-coba kabur dariku, heh?! Kau kira mudah?! Sekali si Iblis Gila Dari Timur telah berhadapan denganmu, maka tidak ada seorang pun yang boleh pergi dengan selamat!"

"Iblis Gila Dari Timur...? Kau..., kau tokoh itu...?"

Ki Sentanu tergagap seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Dipandanginya orang tua berbaju lusuh itu beberapa saat.

"Kenapa? Terkejut, he?!" ejek Iblis Gila Dari Timur.

Ki Sentanu terdiam. Dan untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa. Betapa tidak? Orang di hadapannya ini bukanlah tokoh sembarangan. Namanya amat menggetarkan kaum persilatan. Kepandaiannya hebat hampir tak tertandingi. Namun yang lebih terkenal lagi adalah kelakuannya yang ugal-ugalan dan tidak menentu Dia bisa saja mencabut nyawa lawan dalam sekejap. Dan dia tidak pernah gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun.

"Ayo! Bukankah kau menginginkan sobekan peta yang dicuri mereka? Ambillah...!" ujar Iblis Gila Dari Timur.

"Iblis Gila Dari Timur! Kau seorang tokoh berkepandaian tinggi Dan rasanya sangat aneh kalau kau hendak menambah kepandaianmu lagi," kata Ki Sentanu mencoba memperpanjang waktu.

"Apa maksudmu?" tanya orang tua gila itu.

"Pusaka peninggalan Ki Sendang Bodas yang akan ditunjukkan oleh peta yang ada padamu..," jelas Ki Sentanu.

"Pusaka? He he he...! Siapa yang menginginkannya. Aku hanya dengar, begitu banyak orang yang menginginkan peta ini. Dan sejauh ini belum berhasil menemukannya. Lalu kupikir, apa kehebatannya? He, ternyata hanya pepesan kosong belaka. Benda ini sama sekali tidak menantang, karena dengan mudah aku mendapatkannya. Huh! Dan ini membuatku kesal bukan main!" dengus Iblis Gila Dari Timur.

"Kalau benda itu tidak berguna bagimu, maukah kau memberikannya padaku?" pancing Ki Sentanu.

"Memberikannya padamu! He he he...! Enak saja! Kau kira aku budakmu, he?! Ambillah ke sini. Dan, merangkaklah. Lalu, menyalaklah tiga kali. Maka kau akan memperoleh sobekan peta ini!"

"Apa?!"

"Merangkak dan menyalak tiga kali, Tolol!" maki Iblis Gila Dari Timur geram.

Ki Sentanu bukannya tidak mendengar. Namun dia sangat terkejut bercampur geram mendengar kata-kata si Iblis Gila Dari Timur. Di depan seluruh murid-muridnya, mana mungkin dia melakukannya meski sangat menginginkan peta itu. Dan ini merupakan penghinaan yang sangat keterlaluan baginya. Wajah orang tua itu memerah. Gerahamnya bergemeletuk menahan marah meluap-luap di dada. Sorot matanya nyalang penuh kebencian.

"Iblis Gila Dari Timur, kau sangat keterlaluan!" desis Ki Sentanu.

"He, kenapa kau?! Marah? Ayo, memakilah. Atau, pukullah aku sesuka hatimu! Kenapa diam saja? Kata orang, menahan amarah itu tidak baik. Bahkan hanya akan menimbulkan penyakit saja...!" sahut Iblis Gila Dari Timur seraya tertawa mengejek.

"Iblis Gila Dari Timur, kau mungkin hebat. Tapi jangan dikira aku takut menghadapimu!"

"Begitukah cara marahmu, Cacing Buduk? Tidak adakah yang lebih keras...?"

"Setan...!" Ki Sentanu mulai garang.

"Ha ha ha...! Cacing Buduk! Kau betul-betul lucu seperti monyet! Eh, salah! Bukan seperti, tapi memang kaulah monyetnya!" sahut si Iblis Gila Dari Timur.

Kemarahan Ki Sentanu agaknya tidak bisa ditahan lagi. Dadanya terasa mau meledak mendengar ejekan-ejekan orang gila itu. "Bunuh dia...!" bentak Ketua Perguruan Naga Jenar itu sengit seraya memberi perintah pada murid-muridnya.

"Tapi, Guru...."

"Bunuh dia kataku! Bunuh orang gila ini...!" hardik Ki Sentanu geram ketika melihat murid-muridnya tampak ragu-ragu.

Mendengar bentakan gurunya, mereka serentak menyerang Iblis Gila Dari Timur dengan sikap takut-takut.

"Yeaaa...!"

"He he he...! Bagus! Ke sini cepat, agar aku lebih mudah mengirim kalian ke neraka!"

Iblis Gila Dari Timur tertawa ngakak begitu melihat murid-murid perguruan itu telah mengepungnya. Bahkan telah melemparkan berbagai senjata tajam ke arahnya. Dengan sekali melompat ke atas, maka senjata-senjata itu luput dari sasaran. Dan seketika itu pula telapak tangannya dihantamkan ke depan. Maka selarik cahaya kemerahan yang berhawa panas kontan menderu laksana badai topan menyerang murid-murid perguruan itu.

Bruesss!

"Aaaa...!"

Beberapa orang langsung ambruk dan tewas dengan tubuh hangus. Sementara yang lainnya menderita luka bakar yang mengerikan.

"He he he...! Berani mampus mendekatiku, he?! Ayo, majulah kalian semua. Dan kau cacing buduk bermuka monyet kurap, kenapa diam saja?! Kau hanya bisa mengandalkan murid-muridmu yang tolol?! Ayo, maju. Dan, hadapi aku! Bukankah kau tidak takut?!"

"Keparat!"

"Monyet Buduk...!" balas Iblis Gila Dari Timur memaki.

"Yeaaa...!" Ki Sentanu membentak nyaring. Dan pedangnya sudah langsung dicabut, segera diserangnya Iblis Gila Dari Timur dengan sekuat tenaga.

Sring! Bettt!

Iblis Gila Dari Timur tidak bergeming sedikit pun melihat serangan Ki Sentanu. Namun, begitu pedang Ki Sentanu hendak menebas leher, tangan kanannya cepat menangkis, sekaligus menangkapnya.

Tap!

"Heh?" Ki Sentanu tersentak kaget Dan dia berusaha menyentaknya keras samba berharap lengan orang gila itu akan putus terbabat pedangnya. Namun, pedang itu sama sekali tidak bergeming! Malah tiba-tiba satu tendangan keras menghantam dada Ki Sentanu.

Dess!

"Aaakh!" Ki Sentanu terpekik, tubuhnya kontan terjungkal tujuh langkah.

"Ha ha ha...! Hanya segitukah kemampuanmu, Muka Monyet? He! Ayo bangun. Dan, jangan permalukan dirimu di depan murid-muridmu sendiri!"

"Jahanam...!" maki Ki Sentanu. Sambil menahan rasa nyeri di dada, orang tua itu bangkit. Ditariknya napas dalam-dalam sambil memasang kuda-kuda.

"Yeaaa...!" Ki Sentanu langsung menghantam Iblis Gila Dari Timur dengan pukulan jarak jauh yang bertenaga dalam tinggi.

Namun agaknya orang gila itu telah memperhitungkannya. Setelah membuat gerakan tangan, Iblis Gila Dari Timur merighentakkannya ke depan, memapak serangan. Terdengar ledakan keras ketika kedua pukulan mereka beradu. Dan selanjutnya, Ki Sentanu kembali terpekik sambil muntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuhnya terjungkal ditanah, lalu susah payah berdiri dibantu putrinya yang bernama Sri Kuning.

"Ha ha ha...! Monyet Buduk! Hanya segitu kemampuanmu, he?!"

Sri Kuning yang tengah memapah ayahnya, menggeram hebat. Sorot matanya tajam penuh dendam. Namun sebelum sempat berbuat apa-apa, mendadak....

"Iblis Gila Dari Timur! Hm.... Sungguh hebat apa yang telah kau lakukan...!"

Terdengar bentakan keras menggelegar yang disusul dengan munculnya dua orang penunggang kuda. Yang satu seorang pemuda berbaju rompi putih. Sedangkan yang satu lagi, seorang gadis cantik berbaju biru.

DELAPAN

Iblis Gila Dari Timur menyipitkan matanya. "Bocah! Siapa kau, he?!" dengus orang gila itu.

"Kakek! Apakah kau tidak mengenal cucu buyutmu sendiri? Berilah hormat padaku. Kalau tidak, kutendang pantatmu!" gadis berbaju biru itu mendahului, sebelum pemuda berpakaian rompi putih ini menjawab.

"Bocah Sial! Kurobek mulutmu, he?! Kau kira tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!" geram orang tua gila itu sambil menyeringai lebar.

"Kakek Sialan! Kau tidak mau hormat pada cucumu, he?!" balas gadis itu tidak kalah garang dengan mata melotot lebar.

"Hua ha ha...! Baru sekali ini aku melihat ada seorang gadis yang berani. He, bisa jadi aku suka padamu dan betul-betul akan mengangkatmu sebagai cucuku. Nah! Siapa namamu, Anak Manis...?"

"Eee, malah semakin kurang ajar saja sikapmu? Tidakkah kau mau menghormat juga? Atau pantatmu betul-betul akan kutendang, he?" sahut gadis itu tanpa mempedulikan nada suara Iblis Gila Dari Timur yang mulai ramah. Dia tetap berkacak pinggang sambil terbelalak.

"Anak Geblek! Rupanya kau lebih geblek dariku, he? Biar, akan kuberi pelajaran agar kau mau menghormatiku!" geram orang tua gila itu langsung melompat menyerang.

"Pandan Wangi, awas...!" seru pemuda berbaju rompi putih memberitahu, langsung pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti melesat dari punggung kudanya, memapak serangan Iblis Gila Dari Timur.

"Hiyaaa...!"

"Hah?!" Gadis yang memang Pandan Wangi terpana. Gerakan orang gila itu cepat bagaikan kilat. Sehingga dia tidak sempat berbuat apa-apa.

Plak! "Hup!"

Bahkan ketika Rangga memapak serangan, dia masih belum sirna dari rasa keterkejutannya. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti tampak terpental ke belakang. Demikian juga si Iblis Gila Dari Timur. Namun keduanya masih mampu menjejak tanah dengan kedua kaki.

"Hm.... Boleh juga kepandaianmu, Bocah! Jarang ada orang yang mampu menahan pukulanku. Siapa kau?!" sentak Iblis Gila Dari Timur.

"Iblis Gila Dari Timur! Kali ini kau berhadapan dengan lawan sepadan. Dialah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti," kata Ki Sentanu dengan suara terbata-bata. Dia masih bisa tersenyum puas, karena sakit hatinya bisa terlampiaskan lewat tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hua ha ha...! Jadi kaukah yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti? Hm.... Nama besarmu membuatku iri. Dan paling tidak, aku tidak sia-sia keluar dari persembunyianku setelah mencicipi sedikit kehebatanmu yang belakangan ini amat menghebohkan...!" kata Iblis Gila Dari Timur, jumawa.

"Iblis Gila Dari Timur! Apa maksud perkataanmu?"

"Kudengar orang-orang memperebutkan kedua sobekan peta ini," kata Iblis Gila Dari Timur seraya memperlihatkan kedua sobekan peta yang tengah dicari pemuda itu.

"Nah! Kau pasti menginginkannya, bukan?"

"Kisanak! Aku tidak kemaruk pada benda seperti itu. Kedua sobekan peta itu akan kuserahkan pada orang yang berhak!" tandas Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa yang peduli niatmu itu? Phuiih! Meski kau akan robek-robek atau bakar, terserah. Yang jelas, masihkah kau menginginkan kedua benda ini?!" Iblis Gila Dari Timur menegaskan dengan suara lantang.

Rangga terdiam sesaat, sambil memandang Iblis Gila Dari Timur. Sepertinya dia hendak meneliti, apa sebenarnya yang diinginkan orang tua itu. "Kisanak, apa maksudmu?" tanya Rangga pelan.

"He he he...! Bocah pintar. Nah! Kedua benda ini akan menjadi milikmu, kalau kau mampu menahan lima serangan jurus-jurusku!"

"Hm.... Kedatanganku bukan untuk berkelahi. Tapi, meminta dengan hormat padamu agar sudi memberikan kedua sobekan peta itu untuk kuserahkan pada orang yang berhak...!" tangkis Rangga.

"Setan alas! Heh! Apakah kau sudah jadi seorang pengecut?! Kata-kataku tidak bisa dibantah. Sekali aku berkata begitu, maka tidak akan berubah. Kau boleh langkahi mayatku, kalau hendak memaksa merebutnya dariku...!" tegas Iblis Gila Dari Timur. Iblis Gila Dari Timur menghentikan kata-katanya. Lalu diraihnya sebuah kerikil sebesar kepalan tangannya. "Atau kedua benda itu akan hancur seperti ini, dan kau tidak akan sempat melihatnya walau barang sekejap pun!" lanjut orang tua gila itu seraya menghancurkan batu dalam genggaman tangannya. Prakkk!

Rangga menghela napas panjang. Agaknya, dia tidak punya pilihan lain. Kata-kata orang tua ini bersungguh-sungguh. Dan yang dikhawatirkan adalah, kalau saja Iblis Gila Dari Timur melakukan ancamannya yang terakhir, yaitu memusnahkan sobekan kedua peta. Maka kalau itu dilakukan, gagallah tugasnya. Dan terbayanglah dia pada si bocah Diah Kumitir yang akan kecewa berkepanjangan.

"Kisanak! Aku terima tantanganmu!" sahut Rangga mantap.

"Hua ha ha...! Bagus! Bagus...! Nah, mulailah bersiaga...!"

"Tapi, ingat! Jika kau bohong, maka aku akan mengejarmu sampai di mana pun bersembunyi!" ancam Pendekar Rajawali Sakti.

"Ha ha ha...! Baru kali ini aku diancam orang. Tapi, tidak apa. He, bisa jadi aku berwatak jahat. Tapi menyepelekan ucapanku sendiri, tidak pernah kulakukan!" sahut Iblis Gila Dari Timur, mantap.

"Baiklah. Aku telah siap, Kisanak!"

"Ingat! Hanya lima jurus, maka kedua sobekan peta ini akan kuberikan padamu. Kau hanya perlu menangkis tanpa memberikan perlawanan. Bila kau melawan, maka kuanggap gugur!" ujar Iblis Gila Dari Timur.

"Silakan dimulai...," sahut Rangga mantap sambil mengangguk.

"Heaaa...!" Iblis Gila Dari Timur membentak nyaring. Tubuhnya sudah melompat dengan gerakan gesit bukan main.

Bukan hanya Rangga yang terkejut melihat gerakannya. Malah Pandan Wangi serta seluruh murid Perguruan Naga Jenar yang berada di tempat itu juga sampai terbelalak.

"Hup!" Rangga langsung mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', untuk menjajagi kemampuan lawannya. Tubuhnya cepat meliuk-liuk seperti hendak jatuh. Dan ketika kaki kiri Iblis Gila Dari Timur hendak mengait pinggangnya, Pendekar Rajawali Sakti cepat melenting ke atas. Namun tubuh orang tua gila itu cepat melejit ke atas mengejarnya. Begitu mendarat di tanah, Pendekar Rajawali Sakti segera melebarkan kedua kakinya, sehingga pahanya menyentuh tanah. Lalu dibuatnya gerakan memutar, sambil merendahkan kepala untuk menghindari terjangan kedua kaki Iblis Gila Dari Timur.

"Yeaaa...!"

"Hup!"

Dengan bertopang kedua tangannya, Rangga melakukan lompatan berjumpalitan ke belakang. Namun belum lagi kedua kakinya menyentuh tanah, orang gila itu telah mengejar dengan satu sodokan kaki yang keras. Cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri dan terus bertiarap ketika kedua kaki Iblis Gila Dari Timur menyambarnya dengan deras. Iblis Gila Dari Timur tidak berhenti sampai di situ saja. Kedua tangannya yang terkepal langsung dihantamkan dengan keras, menimbulkan desir angin kencang yang mampu membuat kulit seperti terbakar. Rangga menyadari kalau orang tua gila itu mulai kalap karena belum juga mampu menjatuhkannya!

"Bagus! Kau telah melewati dua jurus. Nah! Sekarang, tahan jurus ketiga dan keempat ini!" desis orang tua sinting itu sambil terus menyerang.

Kali ini Rangga tidak bisa bermain-main lagi. Terpaksa dikerahkannya jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang bisa diandalkan. "Yeaaa...!" Wusss!

"Uuhh...." Bukan main kalapnya orang tua itu ketika Pendekar Rajawali Sakti mampu mundur menghindari serangannya. Dan ini membuat amarahnya tak terkendali lagi. Maka tanpa segan-segan lagi, seluruh kekuatannya dikempos untuk menghabisi pemuda itu secepatnya. Seketika dia membuat beberapa gerakan tangan. Lalu pada puncaknya, kedua tangannya dihentakkan ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti terkejut ketika Iblis Gila Dari Timur mulai menghantamnya dengan pukulan-pukulan maut yang mematikan. Angin kencang bertiup hangat dan udara mulai panas.

Jdeerrr!

Murid-murid Perguruan Naga Jenar menyingkir agak jauh ketika bongkahan-bongkahan tanah serta pepohonan mulai melayang ke mana-mana terhantam pukulan nyasar dari laki-laki gila itu.

"Iblis Gila! Apa-apaan kau ini?! Kau tidak bertanding secara jujur!" bentak Rangga garang.

"Huh! Persetan dengan segala ocehanmu! Tidak ada seorang pun yang boleh menghinaku!" desis orang tua itu garang.

"Siapa yang menghinamu? Kau telah mengajukan syarat. Dan kini kau sendiri yang berbuat curang!" balas Rangga.

"Tidak ada yang boleh melebihiku! Kau telah menghinaku. Sebab, selama ini tidak ada yang bisa bertahan lebih dari tiga jurusku. Kau telah menghinaku! Kau telah menghinaku...! Untuk itu, kau harus mampus!" teriak Iblis Gila Dari Timur seperti kerasukan setan.

"Kakang! Kenapa kau tidak membalas?! Dia hendak membunuhmu! Dia telah berbuat curang! Kau jangan berdiam diri saja!" Pandan Wangi yang sejak tadi mengamati jalannya pertarungan, menjadi khawatir melihat keadaan Rangga yang diserang! lawannya.

"Tenanglah, Pandan! Iblis curang ini akan menerima akibatnya!" sahut Rangga geram.

"Banyak mulut! Mampus kau...!" Iblis Gila Dari Timur menggeram. Kembali orang tua gila itu menghantamkan pukulan jarak jauhnya, setelah menghentakkan kedua tangannya.

Jderrr!

"Uts!" Pukulan maut itu nyaris menghancurkan Pendekar Rajawali Sakti kalau saja tidak cepat menjatuhkan diri. Lalu dengan cepat Rangga bangkit dan berdiri tegak. Seketika dia membuat gerakan tubuh. Sebentar tubuhnya miring ke kiri, dengan tangan terkepal di pinggang. Lalu tubuhnya condong ke kanan, setelah kedua tangannya naik ke atas dada dalam keadaan merapat. Setelah tubuhnya tegak kembali, Pendekar Rajawali Sakti cepat menggosok-gosokkan kedua tangannya. Maka seketika, kedua telapak tangannya telah terselimuti cahaya biru.

"Iblis Jahanam! Kau telah mencurangiku. Maka kau akan merasakan akibatnya!" desis Pendekar Rajawali Sakti, dingin menggetarkan.

"Heh?!" Orang tua sinting itu terkejut ketika melihat cahaya kebiruan pada kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan cepat dia kembali mendengus geram. "Huh! Kau juga harus merasakan aji pamungkasku. Terimalah aji 'Pukulan Gila Topan Badai'! Hiaaa...!"

Iblis Gila Dari Timur langsung meluruk, seraya menghentakkan tangannya ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Agaknya, adu kesaktian tingkat tinggi akan berakhir sampai di sini, karena masing-masing telah mengerahkan aji pamungkasnya. Entah, siapa yang bakal keluar sebagai pemenang.

"Heaaa...!"

Begitu pukulan Iblis Gila Dari Timur hampir menghantam tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti cepat menghentakkan kedua tangannya ke depan, memapak sinar merah yang melesat dari tangan orang tua gila itu.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Hiaaa...!" Seketika dari tangan Pendekar Rajawali Sakti melesat sinar biru berkilauan, menghantam sinar merah pukulan Iblis Gila Dari Timur. Dan....

"Aaaa...!" Terdengar ledakan hebat, ketika kedua pukulan itu beradu di tengah-tengah. Iblis Gila Dari Timur terpekik, begitu tubuhnya terjungkal empat tombak ke belakang. Begitu ambruk di tanah, dia tewas seketika dalam keadaan hangus. Aji kesaktian yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti memang dikerahkan pada tingkat yang terakhir, sehingga akibatnya sangat dahsyat.

"Uuhh..." Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti hanya terjajar dua langkah, namun cukup membuat dadanya terasa sesak.

"Kakang Rangga, kau tidak apa-apa...?!" tanya Pandan Wangi cemas. Gadis itu cepat berlari kencang mendapati pemuda itu yang terduduk di tanah. Wajah Pendekar Rajawali Sakti tampak pucat dan napasnya turun naik tidak beraturan. "Kakang, bertahanlah. Aku akan membantumu...!" ujar Pandan Wangi, seraya menyalurkan hawa murni ke tubuh Rangga.

Rangga segera bersila. Dia cepat mengatur jalan napas dan peredaran darahnya yang kacau-balau akibat pengerahan tenaga dalam tinggi tadi. Sementara wajah Pandan Wangi mulai berkeringat. Namun, gadis itu tidak berusaha menghentikan penyaluran hawa murni pada Rangga.

"Pandan, sudahlah. Hentikan.... Aku tidak apa-apa. Kau bisa mati lemas nantinya...," ujar pemuda itu.

Pandan Wangi menarik napas panjang beberapa kali. Wajahnya tampak pucat, namun senyumnya terkembang ketika melihat senyum Rangga. "Betul, kau tidak apa-apa, Kakang?"

"Ya...," Rangga mengangguk.

"Kalau saja tenagamu tidak cukup kuat, kau tentu akan binasa sendiri...," keluh gadis itu cemas.

Rangga mengangguk pelan. Dipandangnya tubuh lawannya yang telah gosong terkena pukulannya. "Ah, percuma saja usaha kita Sobekan peta itu telah hancur bersama tubuhnya...."

Pandan Wangi terdiam. Gadis itu ikut merasakan kegagalan yang dialami. Dan saat itu Sri Kuning, putri Ki Sentanu perlahan-lahan menghampiri. Rangga dan Pandan Wangi memandang sekilas.

"Aku menyadari, kalau saja kalian tidak muncul, maka kami akan binasa di tangan orang sinting itu...," desak Sri Kuning.

"Apa maumu...?!" tanya Pandan Wangi dengan nada datar.

"Apakah kalian masih menginginkan peta itu...?" tanya Sri Kuning.

"Kau hendak menghina kami, bukan?" kata Pandan Wangi, dingin.

"Tidak. Aku bersungguh-sungguh. Tanpa sepengetahuan ayahku, aku telah menyalin gambar peta itu ke tempat lain. Dan tadi, kami telah bermusyawarah. Beliau ingin agar sobekan peta yang telah kusalin, diberikan saja pada kalian...," jelas gadis itu.

"Betulkah...?" tanya Rangga penuh harap. Sri Kuning mengangguk cepat. Namun wajah pemuda itu kembali berubah ketika menyadari satu hal lagi. "Percuma saja.... Sebab, sobekan peta yang satu lagi tidak bisa diketahui?"

"Kakang! Kenapa tidak kita tanyakan saja pada Ki Mugeni? Kalau pun dia tidak menyalinnya, paling tidak pasti ingat akan isi sobekan peta di tangannya, setelah disatukan lebih dulu dengan kedua sobekan peta yang ada...!" sahut Pandan Wangi.

"Ya! Kenapa tidak terpikir olehku?!" sahut Rangga dengan wajah cerah.

"Kalau begitu, mari kita ambil bersama-sama di tempat kami. Ayahku pasti akan senang sekali, bila kalian sudi singgah dan bermalam barang sehari atau dua hari...," Sri Kuning menawarkan.

Dan Rangga hanya menyambutnya dengan senyum...!

EPISODE BERIKUTNYA: BUNUH PENDEKAR RAJAWALI SAKTI
Thanks for reading Sengketa Tiga Potong Peta I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »