Pulau Kematian

PULAU KEMATIAN

SATU
"Kakang...! Kakang Rangga...!"

"Aku di sini, Pandan...!"

Seorang pemuda berwajah tampan yang dipanggil Rangga menyembulkan kepalanya dari balik bongkahan batu besar di tepi sungai, tepat di saat gadis yang dipanggil Pandan Wangi melompat naik ke atas batu itu.

"Auh...!" Pandan Wangi jadi terpekik, melihat Rangga yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti tanpa pakaian di balik batu itu. Cepat gadis itu melompat turun, dan langsung berbalik membelakangi batu besar ini. Rangga juga jadi terkejut, dan langsung menenggelamkan tubuhnya kembali kedalam air. Pemuda itu benar-benar tak sadar kalau tubuhnya belum berpakaian.

"Cepat berpakaian, Kakang. Ada yang ingin kubicarakan!" seru Pandan Wangi sambil tersenyum geli, melihat Rangga tadi tidak berpakaian sama sekali.

Sementara di balik batu, Rangga bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Tak lama, dia keluar dari balik batu besar itu. Pandan Wangi tersenyum-senyum saja melihat Pendekar Rajawali Sakti masih mengencangkan tali yang mengikat pedang ke punggungnya.

"Ada apa kau tersenyum-senyum? Senang ya. mengintip orang mandi...?" rungut Rangga.

"Siapa yang ngintip...? Aku tidak sengaja tadi." dengus Pandan Wangi, membela diri.

Rangga melangkah menghampiri kudanya yang tertambat di pohon, bersama kuda Pandan Wangi. Dipasangnya pelana kuda hitam yang terbuat dari kulit berlapis perak itu. Sedangkan kuda putih tunggangan Pandan Wangi sudah berpelana. Pandan Wangi sendiri masih tetap berdiri sambil menyandarkan punggungnya di batu sebesar kerbau ini. Gadis itu hanya memperhatikan Rangga yang sedang menyiapkan kudanya.

"Kau akan mengatakan apa tadi?" tanya Rangga setelah selesai memasang pelana kudanya.

"Kau tentu ingin tahu. apa yang kutemukan ini, Kakang...," kata Pandan Wangi sambil melemparkan sebuah selongsong bambu kearah Pendekar Rajawali Sakti.

Tangkas sekali Rangga menangkap selongsong bambu itu. Tapi Pendekar Rajawali Sakti agak terkejut juga. Tangannya seketika agak bergetar, begitu selongsong bambu berhasil ditangkapnya. Langsung ditatapnya Pandan Wangi dengan bola mata mendelik lebar. Pandan Wangi jadi terkikik geli. Sengaja tadi sedikit tenaga dalamnya disalurkan pada lemparannya. Dan ini sama sekali tidak diduga Rangga, hingga terasa tangannya jadi bergetar tadi.

"Buka tutupnya, Kakang," ujar Pandan Wangi masih tersenyum geli, bisa mempermainkan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga segera membuka tutup yang terbuat dari sabut kelapa ini. Kelopak matanya jadi menyipit, melihat di dalam selongsong bambu itu terdapat segulung kulit binatang yang sudah dikerat tipis dan dikeringkan. Diambilnya gulungan kulit tipis itu, dan dibukanya lebar-lebar. Sesaat diamati lembaran kulit kering itu. Kemudian, matanya yang masih menyipit menatap Pandan Wangi.

"Dari mana kau dapatkan ini...?" tanya Rangga sambil menggulung lembaran kulit itu kembali, dan memasukkannya ke dalam selongsong bambu kembali.

Pendekar Rajawali Sakti lalu melangkah menghampiri gadis cantik berbaju ketat berwarna biru muda yang dikenal berjuluk si Kipas Maut ini. Dan diserahkannya kembali selongsong bambu itu. Pandan Wangi menerima, dan langsung diselipkan ke ikat pinggang sebelah kanan. Sementara, Rangga sudah kembali melangkah menghampiri kudanya. Dan tanpa bicara lagi, pemuda itu langsung melompat naik ke punggung kuda hitam yang bernama Dewa Bayu. Pandan Wangi bergegas melangkah menghampiri kuda putihnya. Dengan gerakan indah sekali, gadis itu melompat naik ke punggung kuda putih tunggangannya. Beberapa saat mereka terdiam, belum menggebah kuda masing-masing. Dan sejenak mereka saling bertukar pandangan.

"Tunjukkan, di mana kau temukan itu, Pandan," pinta Rangga meminta, setelah beberapa saat dia terdiam.

"Hiyaaa...!" Pandan Wangi langsung saja menggebah keras kudanya. Seketika kuda putih tunggangannya meringkik, sambil mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi ke atas. Lalu bagaikan sebatang anak panah yang dilepaskan dari busur, kuda putih itu melesat cepat meninggalkan tepian sungai ini.

"Yeaaah...!" Rangga segera menggebah kudanya, mengikuti gadis itu. Kudanya segera dipacu dalam kecepatan tidak penuh. Sehingga, dia tetap berada di belakang kuda putih yang ditunggangi Pandan Wangi.

"Hooop...!" Pandan Wangi langsung melompat turun daripunggung kudanya, begitu menarik tali kekang kuda putih yang terbuat dari perak itu. Sungguh indah dan ringan gerakannya. Sehingga, sedikit pun tidak terdengar suara saat kedua kakinya menjejak rerumputan di dalam hutan ini. Rangga yang sejak tadi mengikuti, juga melompat turun dari punggung kuda hitam tunggangannya. Dihampirinya Pandan Wangi yang tetap berdiri dekat dengan kudanya. Tanpa bicara sedikit pun juga, gadis itu menunjuk ke ujung jari kakinya.

"Di sini...?" tanya Rangga.

"Iya! Aku menemukannya di sini," sahut Pandan Wangi.

Sebentar Rangga mengamati rerumputan di ujung jari kaki si Kipas Maut itu. Kemudian pandangannya beredar ke sekeliling. Sesaat keningnya jadi berkerut, dengan kelopak mata terlihat agak menyipit. Pandan Wangi yang sejak tadi memperhatikan, keningnya jadi berkerut juga. Sementara Rangga sudah melangkah, mendekati segerumbul semak yang berada tidak jauh di sebelah kanannya.

Dengan sepotong cabang pohon yang dipu-ngutnya dari tanah, Rangga menyibak ranting itu. Pandan Wangi yang sejak tadi memperhatikan segera mendekati, begitu terlihat sesosok tubuh tergeletak dalam semak belukar dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Beberapa saat mereka terdiam, memperhatikan mayat laki-laki berusia sekitar empat puluh tujuh tahun itu. Seluruh tubuhnya berlumur darah dari luka yang menganga begitu banyak. Bahkan kepalanya hampir saja terpisah dari leher. Pandan Wangi segera membalikkan mayat itu sambil menghembuskan napas panjang.

"Aku tidak tahu kalau ada mayat di sini, Kakang," kata Pandan Wangi pelan, seraya meng-hembuskan napas panjang.

"Aku kenali pakaian yang dikenakannya, Pandan. Dia seorang utusan dari Kadipaten Balakarang. Lihatlah ikat pinggang yang dikenakannya..?" kata Rangga juga pelan suaranya.

Pandan Wangi berpaling sedikit ke belakang. Dia memang melihat kalau mayat laki-laki itu mengenakan sabuk berwarna kuning keemasan, dengan kepala bergambar lambang Kadipaten Balakarang. Gadis itu kembali berbalik.

"Apa mungkin dia hanya seorang diri saja, Kakang?" tanya Pandan Wangi pelan, setelah beberapa saat terdiam.

Aku kenal betul Adipati Krasana. Dia selalu mengirim utusan hanya seorang diri saja, tanpa pengawal sama sekali. Dan utusan yang dipilihnya, bukan orang sembarangan. Selain pandai menunggang kuda, tingkat kepandaiannya juga tidak bisa dipandang ringan," jelas Rangga.

"Kalau begitu, kemana Adipati Krasana mengirimkan utusan yang membawa peta ini, Kakang?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Tidak ada sepucuk surat pun terlampir pada peta itu," sahut Rangga agak mendesah, seakan bicara pada diri sendiri. 'Tapi, aku merasa kalau peta itu harus disampaikan pada seseorang yang sangat penting."

"Kakang! Apa sebaiknya kita ke Kadipaten Balakarang saja, dan mengembalikan peta ini pada Adipati Krasana...?" usul Pandan Wangi.

"Aku belum mengenal wataknya, Pandan. Juga aku tidak mau mengambil bahaya yang besar, hanya untuk selembar peta," kata Rangga seraya berbalik, dan melangkah menghampiri kudanya lagi.

"Lalu, apa yang akan kau perbuat?" tanya Pandan Wangi tidak mengerti kata-kata yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti barusan.

Rangga hanya diam saja. Kembali Pendekar Rajawali Sakti naik ke punggung kuda hitam Dewa Bayu. Sedangkan Pandan Wangi tetap berdiri memandangi kekasihnya yang kini sudah berada di atas punggung kudanya kembali. Rangga juga memandangi gadis itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga.

"Apa lagi yang kau tunggu, Pandan. ?" tegur Rangga seperti tidak sabar.

Pandan Wangi tidak menyahut. Kakinya malah melangkah menghampiri kudanya, dan mengambil tali kekang kuda putih yang terbuat dari perak itu. Tapi, gadis itu belum juga naik ke punggung kuda putih tunggangannya.

"Aku mau kembalikan ini pada pemiliknya, Kakang," kata Pandan Wangi, langsung melompat naik ke punggung kuda putih itu.

"Hup! Yeaaah...!"

"Pandan...!" Rangga jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba Pandan Wangi menggebah kudanya dengan cepat sekali. Sehingga dalam waktu sebentar saja, si Kipas Maut itu sudah jauh meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Pandan, apa yang kau lakukan...?" seru Rangga kuat-kuat.

Tapi Pandan Wangi sudah terlalu jauh untuk bisa mendengar seruan Pendekar Rajawali Sakti. Kudanya terus dipacu cepat, menembus pepohonan yang cukup rapat ini. Sementara Rangga masih diam, belum juga menggebah kudanya.

"Huh! Cari kesulitan saja anak itu...!" dengus Rangga. "Hus! Shyaaa...!"

Rangga cepat menggebah kudanya. "Susul Pandan Wangi, Dewa Bayu," perintah Rangga.

Kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu meringkik keras. Dan seketika itu juga, Dewa Bayu melesat bagai anak panah terlepas dari busur. Begitu cepat larinya, hingga yang terlihat hanya bayangan hitam dan tubuhnya saja yang berkelebat di antara pepohonan rapat ini.

"Hiya! Yeaaah...!" Rangga terus menggebah kudanya semakin cepat, membuat Dewa Bayu hitam itu berlari bagaikan angin saja. Seakan-akan, keempat kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Debu dan daun-daun kering pun beterbangan, tersepak kaki-kaki kuda yang bergerak begitu. Namun, tiba-tiba saja Rangga menghentikan lari kudanya.

"Hooop...!"

"Hieeegkh. !" Dewa Bayu meringkik keras, langsung mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Sigap sekali Rangga mengendalikan kuda hitamnya, hingga cepat berhenti. Langsung pandangannya beredar ke sekeliling.

"Hm... Seharusnya dia sudah terkejar...," gumam Rangga yang merasa kudanya sudah dipacu begitu jauh.

Tapi sepanjang jalan yang dilalui, Rangga tidak melihat Pandan Wangi. Bahkan bayangannya pun tidak terlihat. Entah kenapa, mendadak saja terselip rasa kecemasan dalam hati Pendekar Rajawali Sakti.

"Gegabah! Bikin susah orang saja...!" dengus Rangga menyesali tindakan Pandan Wangi yang tidak berpikir lebih dulu.

Beberapa saat Rangga masih mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tidak juga bisa melihat bayangan Pandan Wangi bersama kudanya. Hanya pepohonan saja yang terlihat di sekelilingnya.

"Ayo, Dewa Bayu. Kita langsung saja ke Kadipaten Balakarang," ujar Rangga pada kudanya.

Kuda hitam itu mendengus, dengan kepala terangguk sekali. Seakan ucapan Pendekar Rajawali Sakti bisa dimengerti.

"Yeaaah...!"

********************

Kadipaten Balakarang, bukanlah sebuah kadipaten besar. Letaknya di sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit yang berjajar bagai sebuah benteng. Meskipun tidak besar, tapi kadipaten ini begitu indah. Bahkan kehidupan rakyatnya juga terlihat diatas rata-rata dari kehidupan rakyat biasa.

Rumah-rumah penduduk kadipaten ini begitu teratur rapi, berada di kiri dan kanan jalan yang penuh simpangan. Semua jalan di kadipaten ini tidak ada yang kecil, sehingga bisa dilalui dua gerobak pedati bersimpang dengan leluasa. Dan saat itu matahari sudah condong ke arah barat. ketika Rangga bersama Dewa Bayu yang ditungganginya sampai di Kadipaten Balakarang ini.

Rangga melihat jalan di seluruh kadipaten ini masih tetap ramai, walaupun matahari sudah hampir tenggelam di balik bukit sebelah barat. Cahaya matahari yang keemasan, menambah keindahan Kota Kadipaten Balakarang ini. Namun, semua keramaian dan keindahan itu sama sekali tidak dapat dinikmati Rangga. Pikirannya selalu tertuju pada Pandan Wangi, yang belum juga diketemukan sepanjang jalan yang dilalui menuju kadipaten ini.

"Kalau dia terus memacu kudanya tanpa henti tentu sudah sampai di kadipaten ini. Hm.... Apakah aku langsung saja ke kadipaten...?" gumam Rangga, bicara sendiri dalam hati.

Rangga terus mempertimbangkan segalanya, sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan. Setiap orang yang dilintasi, selalu memandangnya sebentar. Namun mereka tidak lagi peduli pada Pendekar Rajawali Sakti. Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sementara, Rangga terus menjalankan kudanya perlahan-lahan menelusuri jalan tanah yang lebar dan bersih ini.

"Sudah hampir malam. Sebaiknya aku ke peninginapan Nyai Jumirah saja," gumam Rangga lagi dalam hati.

Setelah mengambil keputusan, Pendekar Rajawali Sakti langsung menuju sebuah rumah penginapan yang paling besar di kota ini, dan terletak tepat di depan istana kadipaten. Sebuah istana yang dikelilingi pagar tembok tinggi, dan selalu terjaga ketat oleh prajurit-prajurit kadipaten.

"Hup!" Rangga langsung melompat turun dari punggung kudanya, setelah sampai di rumah penginapan Nyai Jumirah. Kudanya dituntun memasuki halaman depan rumah penginapan yang cukup luas ini. Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun, dengan tubuh gemuk bertelanjang dada berlari-lan kecil menghampiri dari arah samping rumah penginapan itu. Rangga tersenyum, dan langsung menyerahkan tali kekang kudanya pada bocah itu.

"Beri dia makan dan minum yang kenyang, ya...," pinta Rangga.

"Baik. Den." sahut bocah itu sambil tersenyum lebar.

Rangga lantas memberi sekeping uang perak, yang membuat kedua bola mata bocah itu jadi terbeliak lebar menerimanya. Rangga hanya mengusap kepala bocah itu, dan terus saja melangkah menuju pintu depan rumah penginapan yang paling besar di Kota Kadipaten Balakarang.

Pemuda itu berhenti sebentar, begitu kakinya menginjak ambang pintu yang selalu terbuka lebar ini. Sejenak pandangannya beredar ke sekeliling. Tidak ada seorang pun yang dikenalnya. Rangga terus saja melangkah masuk, menghampiri sebuah meja panjang yang ada di sudut ruangan besar ini. Tak lama, seorang perempuan bertubuh gemuk itu, duduk di belakang meja itu membelakanginya. Rangga langsung menepuk punggung wanita bertubuh gemuk ini.

"Eh...?!" Wanita itu tersentak kaget, dan langsung terlompat turun dari kursinya. Dan saat berbalik, kedua bola matanya langsung membeliak lebar, begitu melihat seorang pemuda berbaju rompi putih sudah ada di depannya.

"Den Rangga ," desis wanita gemuk itu.

"Aku lihat penginapanmu ini semakin besar dan ramai saja. Nyai," ujar Rangga dengan senyum lebar merekah di bibir.

"Ah! Dari dulu tetap saja begini. Den," sahut wanita bertubuh gemuk yang ternyata Nyai Jumirah, pemilik rumah penginapan ini.

"Aku pesan satu kamar, Nyai," kata Rangga langsung meminta.

"Yang biasa..."

"Satu ...?!" Kening Nyai Jumirah berkerut mendengar permintaan tamu yang sudah dikenalnya ini.

"Iya. Satu... Kenapa, Nyai?"

"Biasanya yang dipesan dua kamar, Den. Kenapa sekarang hanya satu? Apa adikmu tidak ikut?"

"Tidak," sahut Rangga agak ditahan suaranya.

Dari pertanyaan Nyai Jumirah barusan, Rangga langsung sudah bisa tahu kalau Pandan Wangi tidak singgah dulu di rumah penginapan ini. Nyai Jumirah memang sudah kenal Pandan Wangi. Dan yang diketahuinya, Pandan Wangi adalah adik Pendekar Rajawali Sakti ini.

Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi sudah beberapa kali singgah di Kadipaten Balakarang ini. Dan setiap kali singgah, mereka selalu menginap di rumah penginapan Nyai Jumirah. Tidak heran kalau perempuan gemuk pemilik rumah penginapan itu sudah sangat mengenalnya.

"Sebentar aku siapkan kamarnya, Den," kata Nyai Jumirah.

"Siapkan saja, Nyai. Aku ingin makan dulu," kata Rangga.

"Tidak makan di kamar saja, Den...?"

"Tidak, Nyai. Biar di sana saja," sahut Rangga sambil menunjuk sebuah meja yang berada tepat dekat jendela besar yang terbuka lebar.

Nyai Jumirah hanya tersenyum saja. Sementara, Rangga sudah melangkah mendekati meja bundar dari kayu jari. Dan tubuhnya dihempaskan di sana, langsung menghadap ke jendela. Dari tempatnya ini, Rangga bisa langsung memandang ke jalan. Sengaja tempat ini yang dipilihnya, kalau kalau nanti melihat Pandan Wangi melintas di jalan itu.

DUA

Sampai malam menyelimuti seluruh wilayah Kadipaten Balakarang ini, Rangga belum juga bisa bertemu Pandan Wangi. Dan ini membuat kegelisahan hatinya semakin bertambah. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin menduga buruk terlebih dahulu. Dia yakin kalau kekasihnya bisa mengatasi segala masalah yang dihadapinya.

Pandan Wangi yang sekarang, bukan lagi Pandan Wangi yang dulu, ketika pertama kali mereka bertemu. Kini kepandaian yang dikuasai gadis itu semakin bertambah sempurna saja. Bahkan Pandan Wangi sudah benar-benar bisa menguasai Pedang Naga Geni yang dulu sama sekali tidak pernah bisa digunakan.

"Ke mana dia...? Apakah langsung menemui Adipati Krasana...?" Rangga jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti kelihatan gelisah sekali di dalam kamar yang disewanya. Sejak masuk ke dalam kamar itu matanya tidak pernah lepas mengawasi jalan dari jendela yang dibuka lebar-lebar. Tapi sampai gelap datang menyelimuti sekitarnya, tidak juga Pandan Wangi terlihat melintasi jalan ini. Bahkan pintu gerbang istana kadipaten tetap tertutup rapat, dan terjaga empat orang prajurit. Tidak ada seorang pun yang keluar atau masuk istana kadipaten itu.

"Sebaiknya aku lihat saja sendiri. Apa memang Pandan Wangi sudah sampai lebih dulu, dan langsung menemui Adipati Krasana...?" gumam Rangga lagi, bicara sendiri dalam hati.

Sebentar Pendekar Rajawali Sakti mengamati keadaan sekitarnya yang sudah sunyi, tanpa seorang pun terlihat lagi berada di luar. Bahkan penginapan ini juga sudah begitu sunyi.

"Hup!" Dengan gerakan yang begitu ringan, Rangga melompat keluar dari dalam kamar penginapannya. Dan dia terus melesat, berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. Begitu cepat larinya, sehingga hanya dalam waktu sekejapan mata saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah tiba di sisi pagar tembok yang membentengi istana kadipaten sebelah timur.

Suasana yang sunyi dan gelap, membuat gerakan Rangga lebih leluasa. Tapi, tubuhnya tetap dirapatkan pada dinding pagar tembok yang cukup tanggi dan tebal ini. Sesaat diamatinya keadaan sekitarnya. Kemudian...

"Hup!" Seperti segumpal kapas tertiup angin, Rangga melesat begitu ringan ke atas. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga, kakinya menjejak bibir tembok yang membentengi bangunan istana kadipaten ini. Rangga cepat merebahkan diri, hingga merapat pada bagian atas bibir pagar tembok batu ini, ketika terlihat dua orang prajurit penjaga lewat di bagian bawahnya.

Tidak lama Rangga menunggu, kedua prajurit itu sudah jauh dan hilang di bagian depan. Namun, Rangga masih tetap mengamati keadaan bagian dalam istana sejenak. Kemudian, dia melompat turun dengan gerakan cepat dan ringan sekali. Sehingga tidak terdengar suara sedikit pun juga yang ditimbulkan, saat kedua kakinya menjejak tanah.

"Hup!" Tanpa membuang-buang waktu lagi. Rangga cepat melesat ke atas, dan langsung hinggap di atas atap bangunan istana kadipaten yang sangat megah ini. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, Rangga bergerak cepat dan sangat ringan. Sehingga, dia seperti seekor kucing yang berjalan di atas atap tanpa suara sedikit pun yang ditimbulkannya.

Sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti sudah berada tepat di bagian atas dari kamar peristirahatan Adipati Krasana. Segera tubuhnya dirapatkan di atas bangunan istana ini. Dan langsung dikerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara', sebuah ilmu kesaktian yang bisa mempertajam pendengaran. Bahkan bisa memilih-milih suara yang diinginkannya. Begitu tajamnya, hingga suara semut pun akan terdengar begitu jelas.

"Hm..." Rangga menggumam dalam hati, begitu mendengar suara percakapan dari dalam kamar peristirahatan Adipati Krasana. Begitu jelas suara percakapan yang terjadi di dalam kamar itu. Dan dari suaranya, Rangga tahu kalau mereka yang sedang berbicara itu adalah Adipati Krasana sendiri, bersama Ki Balungkat. Rangga tahu, Ki Balungkat bukan hanya penasihat kadipaten, tapi juga merupakan orang kepercayaan Adipati Krasana sendiri.

"Tidak kau temukan peta itu di sana, Ki?" terdengar suara Adipati Krasana bertanya.

"Tidak..."

Rangga yang mendengar semua pembicaraan itu jadi berkerut keningnya. Dan pemuda itu semakin ingin tahu, hingga terus mendengarkan semua pembicaraan dengan mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara'

"Aku temukan jejak dua ekor kuda di sana, Gusti Adipati," kata Ki Balungkat memberi tahu.

"Hm...," Adipati Krasana hanya menggumam saja.

"Setelah kutelusuri jejak itu, ternyata menuju ke sini," sambung Ki Balungkat.

"Ke sini...?"

"Benar, Gusti "

"Lalu...?"

"Tapi anehnya, mereka berpisah setelah sampai di luar hutan. Yang satu tetap menuju kadipaten ini, sedangkan yang satunya lagi terus menuju utara," jelas Ki Balungkat.

"Kalau begitu, kau hadang dia di perbatasan, Ki."

"Tidak mungkin, Gusti."

"Kenapa tidak mungkin...?"

"Dia pasti sudah masuk ke dalam kota ini "

"Jadi...?"

"Tidak mungkin bisa mencegatnya lagi di perbatasan. "

"Kalau begitu, cari siapa saja yang baru masuk sepanjang siang sampai malam ini."

"Semua sudah kujalankan, Gusti. Bahkan puluhan prajurit telah dikerahkan. Hanya ada tiga orang yang baru datang."

"Siapa saja?"

"Anaknya Ki Somal, Nyai Wasibi, dan seorang lagi pemuda asing yang menginap di rumah penginapan Nyai Jumirah," jelas Ki Balungkat.

"Yang dua orang jelas tidak masuk dalam hitungan, Ki Balungkat. Maka sebaiknya awasi saja orang asing yang baru datang itu," kata Adipati Krasana memberi perintah.

"Aku sudah tempatkan sepuluh orang untuk mengawasi rumah penginapan itu, Ki. Dan dalam semalam, ada tiga kali pergantian," jelas Ki Balungkat.

"Bagus...! Rupanya semua permintaanku sudah kau lakukan tanpa menunggu lagi perintah dariku, Ki Balungkat. Aku senang. Kau semakin tahu saja segala isi hati dan pikiranku "

"Aku hanya menjalankan tugas, dan mempelajari semua kebiasaan Gusti Adipati. Baik dalam pikiran, maupun dalam tindakan," kata Ki Balungkat bernada bangga.

"Kalau begitu, semua persoalan ini kuserahkan padamu, Ki. Dan kuminta secepatnya peta rahasia itu didapatkan. Kalau sudah dapat, langsung bawa peta ke Pulau Kematian," perintah Andika Krasana lagi.

"Aku laksanakan semua perintah, Gusti Adipati. "

"Pergi. Aku ingin istirahat dulu."

Tidak ada lagi pembicaraan yang didengar Rangga dari atas atap ini. Yang ada hanya suara langkah kaki yang terayun begitu ringan meninggalkan kamar peristirahatan adipati itu. Sementara, Rangga masih tetap rebah di atas atap ini. Dan Pendekar Rajawali Sakti baru bangkit, setelah tidak terdengar lagi suara apa-apa.

"Hm... Pandan Wangi tidak pergi ke sini. Kemana dulu dia..?" gumam Rangga dalam hati.

Setelah menunggu beberapa saat, Rangga bergegas meninggalkan atas bangunan istana kadipaten ini. Tubuhnya bergerak begitu cepat dan ringan, hingga tidak ada seorang prajurit penjaga pun yang bisa mengetahuinya. Bahkan sampai Pendekar Rajawali Sakti kembali berada di luar benteng bangunan istana kadipaten tetap saja tidak ada yang tahu.

"Hap...!" Rangga langsung saja melesat pergi, kembali ke rumah penginapannya. Gerakannya begitu cepat dan ringan, hingga sebentar saja sudah berada kembali di dalam kamarnya. Dan jendela kamar ini baru ditutup setelah dia sampai.

"Untuk apa Pandan Wangi pergi ke utara...?" tanya Rangga dalam hati.

Memang tidak ada seorang pun yang tahu alasannya. Dan Rangga sama sekali tidak menyangka tindakan Pandan Wangi. Pergi begitu saja, tanpa pamit pada Rangga. Semua ini membuat Rangga semakin sulit untuk memejamkan matanya. Sementara, malam terus merayap semakin bertambah larut saja.

********************

Pagi-pagi sekali Rangga sudah menyiapkan kudanya di samping rumah penginapan Nyai Jumirah. Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti naik, dari pintu samping keluar Nyai Jumirah. Perempuan bertubuh gemuk bagai tong air itu menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang sudah berada di punggung Dewa Bayu.

"Jadi juga kau berangkat hari ini. Den?" tanya Nyai Jumirah.

"Benar, Nyai," sahut Rangga.

"Tapi sewa kamar sudah dibayar selama dua pekan," kata Nyai Jumirah.

Rangga hanya tersenyum saja.

"Baiklah, Den. Aku tidak akan memberi kamar itu pada orang lain selama dua pekan," kata Nyai Jumirah lagi.

Rangga hanya mengangkat bahunya saja sedikit, kemudian menggebah kudanya perlahan. Seketika Dewa Bayu benalan perlahan-Iahan, meninggalkan rumah penginapan itu. Rangga tidak menyadari kalau sejak tadi terus diawasi beberapa prajurit yang ada di sekitar jalan di depan rumah penginapan ini. Prajurit-prajurit itu terus mengawasi, sampai Rangga jauh. Kemudian salah seorang bergegas masuk ke dalam istana kadipaten.

Sementara, Rangga terus menjalankan kudanya perlahan-lahan melintasi jalan tanah berdebu yang bersih dari kotoran sampah. Masih belum disadari kalau dirinya terus diawasi prajurit prajurit kadipaten yang selalu ada di setiap persipangan jalan. Hingga akhirnya, Pendekar Rajawali Sakti sampai di perbatasan kota. Baru di sini dia dihadang sepuluh orang prajurit yang semuanya membawa senjata tombak panjang. Tampak pula satu orang punggawa yang menyandang pedang dipinggang ikut menghadang.

Punggawa itu melangkah, ketika Rangga sudah dekat dengan perbatasan sebelah utara ini. Langkah kaki kudanya segera dihentikan saat punggawa penjaga perbatasan menghampirinya. Namun Rangga tetap berada di punggung kuda hitam tunggangannya.

"Kau yang menginap di rumah penginapan Nyai Jumirah semalam...?" tegur punggawa yang masih berusia muda itu, langsung.

"Benar," sahut Rangga heran. Keningnya terlihat berkerut.

"Kalau begitu, kau harus kami tanyai lebih dulu sebelum meninggalkan kadipaten ini," tegas punggawa itu.

"Untuk apa...?" tanya Rangga tidak mengerti.

"Dengar, Kisanak. Namaku Punggawa Ajibara. Aku mendapat perintah langsung dari Gusti Adipati Krasana, untuk menanyaimu," kata punggawa bernama Ajibara dengan nada suara tegas dan berwibawa.

"Hm.... Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Rangga terdengar agak menggumam nada suaranya.

"Kejujuranmu "

"Kejujuranku...? Apa maksudmu, Punggawa?"

"Dengar, Kisanak. Kedatanganmu ke sini tentu ada maksudnya. Katakan dengan jujur. Untuk apa datang ke kadipaten ini...?" tanya Punggawa Ajibara langsung.

"Hanya kebetulan saja aku lewat. Dan kebetulan juga malam sudah datang. Jadi terpaksa menginap di sini," sahut Rangga tegas.

"Tidak ada maksud lain?" tanya Punggawa Ajibara seakan masih belum percaya.

"Dengar, Punggawa. Kalau aku punya maksud buruk di sini, sudah tentu tidak akan meninggalkan kadipaten ini. Aku sekarang ingin pergi, dan tidak akan kembali lagi ke sini. Karena bukan tujuanku datang ke sini," tegas Rangga.

"Baiklah. Aku bisa menerima alasanmu, Kisanak. Tapi kalau boleh, aku ingin tahu namamu," ujar Punggawa Ajibara.

"Rangga," sahut Rangga, menyebutkan namanya.

Punggawa Ajibara tersenyum, kemudian menggeser kakinya ke samping. Lalu dipersilakannya Pendekar Rajawali Sakti untuk melewati perbatasan kota kadipaten ini. Rangga langsung menggebah kudanya, dan menganggukkan kepala sedikit pada punggawa yang masih muda usianya. Sementara Punggawa Ajibara membalas dengan anggukan sedikit. Dan Rangga pun terus menjalankan kudanya perlahan-lahan, sampai melewati perbatasan yang dijaga sepuluh orang prajurit bersenjata tombak.

Setelah dirasakan cukup jauh, Rangga baru menggebah cepat kudanya. Sehingga, debu-debu dan daun-daun kering beterbangan menghalangi kuda hitam yang membawa Pendekar Rajawali Sakti bagai berlari di atas angin ke arah utara.

********************

Di sebuah pantai yang berpasir putih, terlihat Pandan Wangi berdiri tegak di atas gundukan batu karang di tepi pantai. Sedangkan kuda putih tunggangannya tidak terlihat di sekitar pantai ini. Entah, sudah berapa lama gadis cantik berbaju biru ketat yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu berdiri di sana memandang lurus ke tengah laut.

"Tidak ada satu perahu pun di sini. Bagaimana aku bisa menyeberang...?" gumam Pandan Wangi bicara pada diri sendiri.

Sebentar Pandan Wangi mengedarkan pan-dangan ke seluruh pantai berpasir putih ini. Memang, tidak ada satu perahu pun terlihat di sekitar pantai yang sangat indah ini. Pandan Wangi melangkah menuruni batu karang yang cukup tinggi ini. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, gadis itu terlihat ringan sekali menuruni batu karang ini. Lalu begitu manis kedua kakinya menjejak pasir putih yang menghampar di sekitar pantai ini.

Pandan Wangi terus mengayunkan kakinya mendekati garis bibir pantai. Dan gadis itu berdiri tegak mematri matanya ke tengah laut kembali, lalu beredar kesekitarnya. Sunyi sekali pantai ini. Tidak terlihat seorang pun di sekitarnya. Pandan Wangi memutar tubuhnya ke kanan lalu kakinya terayun melangkah perlahan-lahan. Namun baru saja benalan beberapa langkah mendadak saja...

Brol!
"Heh...?!"

"Hup!" Pandan Wangi jadi terbeliak dan langsung melompat berputar ke belakang, begitu tiba-tiba di depannya melesat sesosok tubuh dari dalam pasir di pantai ini. Dan begitu kedua kaki si Kipas Maut menjejak hamparan pasir putih ini, dari dalam pasir kembali bermunculan sosok-sosok tubuh yang langsung mengepung.

Sret!

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, Pandan Wangi segera mencabut senjatanya berupa kipas dari baja putih yang sudah terkenal keampuhannya. Senjata kipasnya langsung dikembangkan di depan dada. Kedua bola matanya beredar, memandangi orang-orang yang bermunculan dari dalam pasir pantai yang sudah mengepungnya.

Semua pengepung adalah laki-laki berusia rata-rata masih muda, bertubuh kekar dan berotot. Mereka semua mengenakan pakaian ketat warna hitam, sehingga memetakan bentuk tubuhnya yang kekar dan berotot. Dan mereka semua menggenggam senjata golok yang seluruhnya berwarna hitam. Golok bergagang tanduk kerbau berwarna hitam berkilat, yang bagian ujungnya dibiarkan runcing itu siap mengancam Pandan Wangi.

"Apa maksud kalian mengepungku?" tanya Pandan Wangi dengan nada suara dingin.

Tidak satu pun dari orang-orang berbaju serba hitam itu yang menjawab. Mereka semua diam, dengan tatapan tajam memancarkan nafsu membunuh yang begitu besar. Hal ini membuat Pandan Wangi jadi bergidik saat menentang tatapan mata mereka. Tapi gadis itu bisa cepat menguasai dirinya, hingga kelihatan tenang.

Perlahan Pandan Wangi berputar, dengan kaki berbentuk lingkaran pada pasir putih dipantai ini. Sementara orang-orang berbaju hitam yang jumlahnya cukup banyak ini juga sudah mulai bergerak memutari gadis ini. Dan...

"Seraaang...!"
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah .!"

Bersama terdengarnya suara memerintah yang begitu keras menggelegar, seketika orang-orang berbaju serba hitam ini serentak berlompatan menyerang. Sesaat Pandan Wangi jadi bingung juga menghadapi serangan yang bersamaan dari segala arah. Namun.

"Hup! Yeaaah...!"
Cring!
Bet!
Wut!

Sambil melenting ke atas, Pandan Wangi langsung mencabut Pedang Naga Geni. Dan bagaikan kilat pedang itu dibabatkan kedepan, sambil mengebutkan kipasnya ke samping untuk menangkis sabetan golok yang datang dari sebelah kanannya.

Tring!
"Yeaaah...!"

Tangkisan Kipas Maut berhasil menghentikan serangan golok. Tapi sambaran Pedang Naga Geni, berhasil dihindari lawannya. Saat itu juga, Pandan Wangi cepat berputar dan langsung mengebutkan kedua senjatanya sambil cepat berlompatan menyambar lawan-lawannya.

"Hiya! Yeaaah...!"

Dengan Pedang Naga Geni yang memancarkan cahaya merah bagai api dan Kipas Maut yang menjadikan gadis ini terkenal di kalangan rimba persilatan, Pandan Wangi bergerak begitu cepat menyambar setiap lawan yang mendekat. Begitu cepat gerakannya, hingga orang-orang berbaju serba hitam itu sulit untuk bisa mengimbanginya.

Dan dalam waktu tidak begitu lama, sudah terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi, disusul ambruknya beberapa orang saling menyusul dengan tubuh bersimbah darah. Dalam beberapa gebrakan saja, Pandan Wangi sudah berhasil mengurangi jumlah lawan-lawannya. Dan tubuhnya terus saja berkelebatan, membabatkan pedang pusakanya dengan kecepatan begitu tinggi, disertai kebutan Kipas Maut yang tidak dapat lagi terbendung kedahsyatannya. Sehingga jeritan-jeritan melengking mengiringi kematian semakin sering terdengar saling sambut. Dan tubuh-tubuh bersimbah darah pun terus berjatuhan di pantai yang berpasir putih ini.

"Munduuurrr...!"

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras menggelegar memberi perintah. Dan sebelum suara teriakan itu lenyap dari pendengaran, orang-orang berbaju serba hitam ini cepat berlompatan menjauhi si Kipas Maut. Namun mereka masih tetap mengepung, walaupun jumlahnya kini sudah berkurang hampir setengahnya.

Sementara Pandan Wangi sendiri tetap berdiri tegak, dengan Pedang Naga Geni tersilang di depan dada. Kipasnya lalu disimpan di balik ikat pinggangnya yang terbuat dari emas.

"Hm..." Pandan Wangi menggumam kecil, ketika dari tumpukan batu karang yang membukit tak jauh di depannya melesat seseorang berbaju hitam. Gerakannya begitu indah dan ringan. Lalu tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga kakinya menjejak, tepat sekitar lima langkah di depan si Kipas Maut. Saat itu, Pandan Wangi baru bisa melihat jelas, kalau orang berbaju serba hitam yang baru muncul itu adalah seorang lelaki berusia muda. Wajahnya tampan seperti putra mahkota. Sebilah pedang bergagang hitam seperti tanduk kerbau tergantung di pinggangnya.

TIGA

Baju warna hitam yang dikenakan pemuda itu begitu ketat, hingga membentuk lekuk tubuhnya yang tegap dan berisi. Bahkan otot-ototnya terlihat jelas dari balik bajunya. Beberapa saat Pandan Wangi memandangi, seakan hendak menilai sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki pemuda tampan berbaju serba hitam ini.

"Siapa kau, Nisanak? Untuk apa datang ke pantai ini...?!' pemuda itu langsung saja melontarkan pertanyaan.

Sesaat Pandan Wangi tidak menjawab. Dia merasa, nada suara pemuda itu demikian dingin. Sehingga sedikit pun tidak terdengar adanya tekanan pada nada suaranya. Dan tatapan matanya juga terlihat begitu tajam, lurus ke bola mata gadis cantik di depannya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nisanak," ujar pemuda itu meminta jawaban dari pertanyaannya yang belum terjawab tadi.

"Kenapa kau ingin tahu urusanku.?" Pandan Wangi malah balik bertanya dengan suara ketus.

"Setiap orang yang datang ke sini selalu membuat persoalan. Dan aku tidak ingin lagi ada manusia-manusia kotor yang membuat keonaran di sini," tegas pemuda itu dingin.

"Jaga mulutmu, Kisanak!" bentak Pandan Wangi langsung tersinggung. "Kau kira aku manusia kotor, heh...?! Sekali lagi kata-kata itu keluar, aku tidak segan-segan merobek mulutmu!"

"Hm..." Pemuda itu jadi bergumam kecil, mendengar bentakan ketus gadis cantik ini. Kedua bola matanya jadi menyipit. Sedangkan Pandan Wangi malah memasang wajah angker, dengan tatapan mata begitu tajam menusuk.

"Siapa kau sebenarnya, Nisanak?" tanya pemuda itu kali ini suaranya terdengar lembut.

"Pandan Wangi," sahut Pandan Wangi.

"Apa tujuanmu datang ke sini?"

"Hanya kebetulan lewat saja. Tapi, orang-orangmu ini langsung menyerangku. Maaf, kalau aku terpaksa membela diri," sahut Pandan Wangi tegas.

"Ke mana rujuanmu?"

"Itu urusanku, Kisanak. Tidak ada perlunya kau tahu, ke mana aku akan pergi," tegas Pandan Wangi.

"Baiklah, Nisanak. Kalau hanya sekadar lewat silakan lanjutkan perjalananmu. Tapi kalau sampai kau melakukan sesuatu yang bisa mengotori pesisir pantai ini, akan tahu endiri akibatnya "

Pandan Wangi hanya mencibirkan bibirnya saja. Dimasukkannya kembali Pedang Naga Geni ke dalam warangka di punggung. Sebentar dipandanginya orang-orang yang masih mengepungnya. Dan mereka langsung bergerak cepat ke belakang pemuda berbaju serba hitam ini.

Gadis berjuluk si Kipas Maut itu menatap pemuda tampan berbaju serba hitam ini sesaat. Kemudian tubuhnya berbalik, dan terus melangkah tanpa bicara sedikit pun juga. Sedangkan pemuda berbaju serba hitam itu terus memandangi sampai si Kipas Maut ini jauh. Pandan Wangi sendiri terus saja melangkah, tanpa berpaling lagi ke belakang.

Dan tubuhnya lenyap setelah sampai di hamparan batu-batu karang bertumpuk bagai sebuah bukit kecil di pesisir pantai ini. Sementara, pemuda berbaju serba hitam itu baru meninggalkan pantai ini, setelah Pandan Wangi benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Tapi, sebenarnya Pandan Wangi justru yang kini mengamati mereka dari balik batu karang yang cukup besar.

"Hm... Siapa mereka? Kenapa mereka seperti melindungi pantai ini...?" gumam Pandan Wangi jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Pandan Wangi memang tidak sempat menanyakan perihal orang-orang berpakaian serba hitam itu. Tapi gadis itu terus mengamatinya dari balik batu karang ini. Sampai mereka lenyap ditelan hutan yang membatasi pantai ini dengan daratan, Pandan Wangi baru keluar dari balik batu karang itu. Dan dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh yang sudah hampir sempurna, gadis itu berlari begitu cepat mengejar orang-orang berpakaian serba hitam itu. Sebentar saja, bayangan tubuh si Kipas Maut itu sudah lenyap tak berbekas lagi. Bahkan jejak tapak kakinya juga tidak terlihat di atas hamparan pasir putih sepanjang pantai ini.

********************

Malam baru saja turun menyelimuti sebagianpermukaan bumi. Rangga tampak berkuda perlahan-lahan memasuki daerah pantai berpasir putih yang sunyi ini. Terpaan angin yang begitu kuat, membuat rambut panjang Pendekar Rajawali Sakti berkibaran. Rangga menghentikan langkah kaki kudanya, begitu tiba di pantai yang berpasir putih bagian hamparan butir mutiara ini. Dengan gerakan ringan sekali, Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung kuda hitamnya

"Ada apa, Dewa Bayu?" tanya Rangga, ketika tiba-tiba saja kuda hitam tunggangannya ini meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.

Kuda hitam bernama Dewa Bayu itu mendengus-dengus sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak Rangga memandangi kuda hitam itu.

"Kau merasakan sesuatu, Dewa Bayu.'' Tunjukkan padaku," pinta Rangga.

Kuda hitam itu meringkik kecil, kemudian langsung berlari meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti. Cepat sekali kuda hitam itu berlari, mendekati hutan yang di sebelah selatan pantai ini. Sebentar Rangga masih tetap diam memandangi, kemudian cepat berlari mengejar kuda hitam tunggangannya dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. Sehingga, sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti sudah berada dekat di belakang kuda hitam tunggangannya.

"Putih...," desis Rangga, ketika di tepi hutan ini melihat seekor kuda putih yang begitu dikenalinya.

Bergegas Rangga menghampiri kuda putih yang memang tunggangan Pandan Wangi. Sedangkan Dewa Bayu sudah berada di depan kuda putih ini. Dan kedua kuda itu mendengus-dengus dengan kepala bergerak terangguk-angguk, seakan-akan sedang berbicara.

Kuda hitam Dewa Bayu langsung menyorongkan kepala pada Rangga yang baru sampai. Rangga tahu, apa maksudnya. Dan tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera melompat naik ke punggung kuda hitam tunggangannya. Saat itu juga, kuda putih tunggangan Pandan Wangi langsung berlari cepat menembus lebatnya hutan yang gelap terselimut malam.

"Hiyaaa...!" Rangga langsung menggebah kudanya, mengikuti kuda putih itu. Dia tahu, kuda tunggangan Pandan Wangi tentu akan membawanya pada gadis itu. Namun dalam hati Pendekar Rajawali Sakti, terbetik berbagai macam pertanyaan dan dugaan mengenai diri kekasihnya yang sampai saat ini belum juga diketahuinya. Rangga hanya bisa berharap, tidak terjadi sesuatu pada diri gadis itu.

********************

Sementara itu, Pandan Wangi sudah tiba di daerah yang seperti sebuah perkampungan. Tapi dia melihat keanehan, karena semua orang yang ada di perkampungan ini mengenakan baju serba hitam. Bentuk dan potongan pakaian mereka pun sama persis.

Pandan Wangi mengayunkan kakinya perlahan-lahan, memasuki perkampungan yang dirasakannya aneh ini. Dia tahu, semua orang selalu memandanginya dengan sinar mata memancarkan kecurigaan dan ketidaksenangan atas kedatangannya. Tapi, gadis itu tidak mau peduli. Namun demikian sikapnya tetap waspada, berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Namun ketika Pandan Wangi sampai di tengah-tengah perkampungan yang merupakan sebuah tanah lapang, tiba-tiba saja orang yang semuanya berpakaian serba hitam itu sudah mengepungnya dari segaia penjuru. Dan mereka langsung bergerak perlahan-lahan. mendekati gadis cantik berbaju biru ini.

Pandan Wangi jadi tersentak kaget setengah mati, begitu menyadari dirinya sudah terkepung puluhan orang berpakaian serba hitam dari segala arah. Bahkan mereka semua sudah menghunus golok masing-masing.

Saat itu muncul seorang pemuda berwajah tampan berbaju ketat warna hitam, keluar daridalam sebuah rumah yang berada tepat di depan Pandan Wangi berdiri. Pemuda itu melangkah mendekati gadis ini, didampingi enam orang laki-laki berusia setengah baya dengan golok terselip di pinggang. Hanya pemuda tampan ini saja yang menyandang pedang di pinggangnya. Dan memang mereka sudah pernah bertemu sebelumnya di pantai.

"Aku sudah menduga, kau pasti punya maksud tertentu datang ke pesisir pantai ini, Nisanak," terasa begitu dingin nada suara pemuda berbaju serba hitam ketat ini.

"Maaf. Aku tidak tahu apa perkampungan disini. Aku hanya kebetulan lewat saja," sahut Pandan Wangi mencoba mencari alasan.

"Kau bisa berkata begitu, Nisanak. Tapi, sinar matamu tidak bisa membohongiku," desis pemuda berbaju hitam itu semakin dingin nada suaranya.

Pandan Wangi jadi terdiam. Pandangannya lantas beredar ke sekeliling, merayapi orang-orang yang kini sudah mengepungnya dengan rapat. Tidak ada celah sedikit pun yang bisa dijadikan jalan keluar. Bahkan kecil sekali kemungkinannya untuk bisa lolos. Pandan Wangi jadi menggerutu sendiri. Hatinya menyesal telah berani masuk ke dalam perkampungan aneh yang tidak dikenalnya seorang diri saja.

"Baiklah. Aku berterus terang,.." kata Pandan Wangi akhirnya. "Aku memang mengikuti kalian sampai ke sini... "

Pemuda itu tidak tersenyum sedikit pun juga mendengar pengakuan gadis ini. Bahkan raut wajahnya terlihat begitu datar. Sinar matanya masih tetap menyorot tajam, menatap gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut.

Pandan Wangi jadi terdiam. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk menjelaskan pada pemuda berbaju serba hitam ini. Sementara itu, dia melihat salah seorang pengawal pemuda itu berbisik di telinganya. Tampak kepala pemuda berwajah tampan itu terangguk-angguk perlahan. Lalu kembali menatap wajah cantik di depannya.

"Kenapa kau mengikuti kami. Nisanak?" tanya pemuda itu tetap dingin dan datar nada suaranya.

"Aku penasaran." sahut Pandan Wangi kalem.

"Penasaran? Penasaran pada siapa?"

"Pada sikap kalian..." Kening pemuda itu jadi berkerut mendengar jawaban si Kipas Maut barusan.

"Sikap kalian sangat aneh. Sehingga membuatku jadi pensaran ingin tahu. Kalian tiba-tiba saja menyerangku lalu begitu mudah meninggalkanku di pantai seorang diri. Aku sudah bertemu begitu banyak tokoh persilatan di dunia ini, tapi tidak ada yang bersikap seperti kalian, ltu sebabnya, kenapa aku jadi penasaran, lantas mengikuti kalian sampai di sini," jelas Pandan Wangi.

"Lalu, apa yang kau inginkan dari kami, Nisanak?" tanya pemuda itu lagi.

Pandan Wangi tidak menjawab. Bahunya hanya diangkat saja sedikit. Tapi dalam kepalanya, dia terus berpikir dan mempertimbangkan sesuatu yang begitu sulit untuk diutarakan.

"Dengar, Nisanak. Kau sudah mengganggu ke-tenteraman kami semua di sini. Dan kami punya peraturan yang selalu ditaati. Kau tinggal pilih. Menantang salah seorang dari kami, atau harus menjalani hukuman yang akan ditentukan pada pengadilan pemuka adat kami," kata pemuda itu lagi.

"Hm...," Pandan Wangi jadi berkerut keningnya.

Gadis berjuluk si Kipas Maut itu pernah mendengar adanya peraturan seperti ini. Dan di perkampungan ini, juga berlaku peraturan yang membuat dirinya begitu sulit memilih. Apa pun pilihannya, tidak akan menguntungkan bagi dirinya sendiri.

"Apa untungnya kalau aku menantang salah satu dari kalian?" tanya Pandan Wangi.

"Kau boleh bebas, jika menang. Tapi, kau harus menjalankan satu tugas yang akan diberikan padamu. Setelah tugas itu dilaksanakan, baru kau bisa bebas pergi dari sini," jelas pemuda tampan yang rupanya adalah pemimpin dari kelompok perkampungan aneh ini.

"Baik.... Aku akan memilih yang pertama," kata Pandan Wangi tegas.

"Bagus. Pilihlah, siapa di antara kami semua ini yang kau tantang "

"Kau..." Pandan Wangi langsung menunjuk pemuda itu.

"Keparat...! Kau menghina junjungan kami...!" bentak salah seorang pengawal yang berada di sebelah kanan pemuda itu" Kau harus diberi pelajaran, Nisanak!"

Hampir saja laki-laki berusia setengah baya itu mencabut golok, kalau saja pemuda tampan berbaju hitam itu tidak segera merentang tangannya sedikit. Pilihan Pandan Wangi memang membuat mereka semua jadi tidak senang. Mereka merasa di rendahkan. Bahkan menganggap Pandan Wangi terlalu menganggap enteng, dengan menantang pemimpin mereka semua.

"Biarkan dia memilih sesukanya, Paman Kei-nginannya akan kulayani," kata pemuda itu.

"Tapi. Gusti... "

"Menyingkirlah kalian...!" perintah pemuda itu tegas, tidak mempedulikan pengikut-pengikutnya yang kelihatan tidak menyukai pilihan yang diambil Pandan Wangi.

Mendapat perintah tegas begitu, tidak ada seorang pun dari mereka yang berani membantah. Dan mereka segera menyingkir menjauh, memberi peluang pada kedua orang ini untuk saling menguji kepandaian. Dan di tengah lapangan yang cukup luas, kini berdiri saling berhadapan antara Pandan Wangi dan pemuda berbaju serba hitam.

"Kisanak! Sebelum pertarungan ini dimulai, aku ingin tahu dulu namamu," kata Pandan Wangi mengajukan permintaan.

"Arya Bangal," sahut pemuda itu, menyebutkan namanya.

"Dan aku Pandan Wangi," balas Pandan Wangi juga memperkenalkan namanya.

Entah kenapa, mereka sama-sama tersenyum. Tapi kemudian, pemuda tampan berbaju serba hitam yang bernama Arya Bangal itu langsung mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang.

Cring!

"Hm..." Pandan Wangi agak terkesiap juga, begitu melihat pedang yang dicabut Arya Bangal memiliki pamor dahsyat. Udara malam yang tadi terasa dingin mendadak saja jadi panas, bersama tercabutnya pedang yang memancarkan cahaya putih keperakan itu. Sementara, Pandan Wangi tetap tidak mencabut satu pun senjatanya. Gadis itu tetap berdiri tegak dengan mata menyorot tajam, menatap lurus ke bola mata pemuda tampan itu.

"Mulailah, Nisanak. Kupersilakan kau memulainya lebih dulu," pinta Arya Bangal.

"Baik. Bersiaplah " sambut Pandan Wangi dingin. "Hiyaaat...!"

Sambil membentak nyaring, Pandan Wangi langsung saja melompat cepat sekali. Seketika satu pukulan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi dilepaskan, tepat di kepala lawannya.

"Haiiit...!"
Bet!
"Hap!"

Tepat di saat Arya pangal mengebutkan pe-dangnya untuk mencoba menghalau serangan cepat sekali Pandan Wangi menarik pukulannya pulang. Dan dengan kecepatan bagai kilat, Pandan Wangi meliukkan tubuhnya berputar, sambil melepaskan satu tendangan menggeledek yang begitu cepat sehingga, membuat kedua bola mata Arya Bangal jadi terbeliak kaget setengah mati, tidak menyangka kalau gadis ini akan berbuat seperti itu.

"Hap! Yeaaah...!" Arya Bangal cepat memutar tubuhnya ke belakang. Maka tendangan yang dilepaskan Pandan Wangi tidak sampai menghantam tubuhnya. Namun baru saja kakinya menjejak tanah yang berpasir ini, Pandan Wangi sudah berputar. Kakinya langsung terayun begitu cepat bagai kilat, mengarah ke kaki pemuda lawannya ini. Begitu cepat serangan si Kipas Maut ini, hingga membuat Arya Bangal jadi terperanjat setengah mati.

"Hup!" Cepat-cepat Arya Bangal melenting ke atas, menghindari sepakan kaki gadis ini. Namun pada saat itu juga, tanpa diduga sama sekali Pandan Wangi mencabut kipasnya yang langsung dikebutkan ke perut pemuda tampan lawannya ini, sambil berteriak keras menggelegar.

"Yeaaah...!"

Bet!
"Heh...?!" Pemuda itu terkejut setengah mati mendapat serangan mendadak seperti ini. Namun...

Wut!

Arya Bangal cepat-cepat mengebutkan pedangnya ke depan perut. Sehingga...

Tring!

"Hup!"

"Hap!"

Mereka sama-sama berlompatan kebelakang, begitu senjata mereka beradu keras sekali, hingga menimbulkan percikan bunga api yang menyebar ke segala arah. Secara bersamaan pula mereka menjejakkan kaki dengan jarak sejauh satu batang tombak. Begitu manis dan ringan, kedua kaki mereka menjejak tanah berpasir ini tanpa suara sedikit pun.

Sementara semua orang yang menyaksikan pertarungan itu jadi menahan napas. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau gadis cantik yang kelihatannya lembut ini memiliki kepandaian yang begitu linggi. Sehingga gadis itu mampu bertahan menghadapi pemimpin mereka dalam lima jurus yang berlangsung begitu cepat.

Sementara, mereka berdua saling menatap dengan sinar mata begitu tajam menusuk. Seakan, mereka sama-sama saling mengukur tingkat kepandaian yang dimiliki. Dan secara bersamaan, kaki mereka bergeser ke samping, dengan arah berlawanan.

"Lihat pedang! Shaaa..." Tiba-tiba saja Arya Bangal membentak keras menggelegar, membuat semua orang yang ada dilapangan itu jadi tersentak kaget. Dan pada saat itu juga, tubuh pemuda itu melesat begitu cepat bagai kilat, menerjang Pandan Wangi. Dan si Kipas Maut yang memang sudah siap sejak tadi, tidak terpengaruh sedikit pun oleh bentakan lawannya.

"Hiyaaa...!"
Bet!
Wut!
Trang!

Kembali senjata mereka beradu keras sekali di udara, hingga menimbulkan percikan bunga api yang menyebar ke segala arah. Dan mereka berdua sama-sama berputaran ke belakang, menjaga jarak. Dan begitu menjejak tanah, kembali mereka berlompatan menyerang dengan kecepatan begitu tinggi. Sehingga, gerak mereka sulit diikuti pandangan mata biasa. Begitu cepatnya sampai yang terlihat hanya dua bayangan saling berkelebatan menyambar. Dan...

Trang!
Bet!
Cras!

"Aaakh...!" Semua orang yang ada dilapangan itu jadi tersentak kaget begitu tiba-tiba terdengar dua senjata beradu keras sekali, disertai berpijarnya bunga api kesegala arah. Dan saat itu juga, terdengar pekikan keras agak tertahan diiringi berkelebatnya dua sosok tubuh yang saling menjauhkan diri.

EMPAT

Mereka sama-sama menjejak kakinya dengan kokoh di atas tanah berpasir putih ini, dengan senjata tersilang di depan dada. Ada sekitar satu setengah batang tombak jarak mereka. Namun tidak lama kemudian, terlihat darah menetes di tanah berpasir, tepat di ujung kaki Arya Bangal.

"Gusti Arya Bangal terluka...!"

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras, membuat semua orang jadi tersentak kaget, bagai mendengar dentuman petir yang membelah angkasa di malam gelap tanpa bintang dan bulan menghiasi. Mendengar kata-kata itu, semua orang langsung bergerak maju mendekati Pandan Wangi. Tapi belum juga bisa mendekat, Arya Bangal sudah berteriak mencegahnya.

"Mundur kalian semua...!" Seketika itu juga, mereka berhenti melangkah dan langsung menatap pada pemimpinnya. Tampak darah terus mengalir keluar dari dada sebelah kiri pemuda itu. Cukup besar luka sayatan ujung Kipas Maut di dada pemuda itu. Dan darah pun begitu banyak mengucur keluar. Sementara Pandan Wangi tetap berdiri tegak, dengan Kipas Mautnya tetap terkembang didepan dada.

"Kau terluka, Arya Bangal...," ujar Pandan Wangi datar.

"Ya! Kau menang," sahut Arya Bangal pelan.

"Biar kuhentikan cucuran darahmu," kata Pandan Wangi, menawarkan.

Tanpa meminta persetujuan lagi, gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung saja melangkah menghampiri. Dan tanpa bicara lagi, langsung diberikannya beberapa totokan di sekitar luka yang menganga cukup lebar di dada kiri pemuda ini. Dan seketika itu juga, darah berhenti mengalir walaupun luka itu masih tetap menganga lebar. Arya Bangal melihat sebentar pada lukanya, kemudian tersenyum sambil mengangkat kepalanya. Ditatapnya Pandan Wangi yang sudah melangkah mundur beberapa tindak.

"Kau menolongku Pandan? Kau bisa saja membunuhku tadi," kata Arya Bangal.

"Tidak ada alasan untuk membunuhmu, Arya Bangal. Dan lagi, antara kita tidak ada persoalan yang membuat kita harus saling bunuh," sahut Pandan Wangi.

"Mulia sekali tutur katamu, Pandan." puji Arya Bangal tulus.

"Ah...," Pandan Wangi jadi tersipu.

"Kau tentu bukan gadis sembarangan. Aku tahu, kau pasti seorang pendekar tangguh yang berkepandaian tinggi." tebak Arya Bangal lagi.

Pandan Wangi hanya diam saja, tidak menyambut kata-kata pemuda itu. Hanya dipandangi saja Arya Bangal sambil menyimpan kembali senjata Kipas Mautnya. Sementara para pengawal Arya Bangal sudah berada kembali di belakang pemuda itu. Mereka kelihatan cemas melihat luka yang menganga di dada pemimpinnya. Sebenarnya, mereka ingin menghajar Pandan Wangi. Tapi, tidak ada yang berani sebelum mendapat izin dari pemimpinnya.

Sedangkan Pandan Wangi sendiri tahu, semua orang yang masih mengepung ini memandang dengan mata memancarkan ketidaksenangan. Bahkan sepertinya mereka ingin membunuh. Namun, Pandan Wangi bisa merasa tenang. Karena, Arya Bangal yang menjadi pemimpin tidak memerintahkan untuk menyerangnya. Dan dia percaya. pemuda itu memiliki sikap yang sangat bijaksana.

"Kau menjadi tamuku, Pandan. Mari..." kata Arya Bangal tiba-tiba.

"Gusti...!" Salah seorang pengawal yang berada di sebelah kanan Arya Bangal tersentak kaget, mendengar keputusan pemuda itu. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa, begitu melihat tangan pemuda itu terentang sedikit. Sedangkan Pandan Wangi tetap diam, tidak melangkah sedikit pun juga. Hatinya seakan masih ragu mendapat kebaikan pemuda ini. Pandan Wangi merasa, perubahan sikap pemuda itu demikian cepat. Sehingga, membuat hatinya terselip rasa curiga.

"Jangan ragukan itikad baikku ini, Pandan. Kau sekarang menjadi tamu kehormatanku. Mari, kita bicara di dalam pondokku," ajak pemuda itu lagi, seakan tahu keraguan di hati si Kipas Maut itu.

Tanpa berkata-kata lagi, Pandan Wangi melangkah mendekati, begitu melihat tangan kanan pemuda itu terentang lebar. Dan tangannya direntangkan sedikit, setelah sampai di depan pemuda ini. Mereka kemudian berjalan bersisian, menuju sebuah pondok yang tidak begitu besar ukurannya. Enam orang pengawal Arya Bangal segera mengikuti dari belakang. Sementara orang-orang yang membelakangi pondok itu segera menyingkir memberi jalan. Mereka langsung membungkukkan tubuh, memberi hormat begitu Arya Bangal melewatinya. Pandan Wangi melihat sikap orang-orang ini pada Arya Bangal, seperti hamba sahaya terhadap seorang raja saja.

Dan mereka kemudian duduk di bagian dalam pondok itu. Pandan Wangi mengamati sebentar bagian dalam pondok yang tidak begitu besar. Hanya ada satu ruangan besar, yang ditempati mereka sekarang ini. Kemudian ada sebuah kamar lagi yang tertutup rapat pintunya yang langsung menuju halaman belakang. Pintu itu terbuka sedikit, hingga Pandan Wangi bisa melihat ada dua orang penjaga di samping kiri dan kanannya.

Enam orang pengawal Arya Bangal ikut masuk ke dalam ruangan ini. Dan mereka duduk bersila di lantai yang terbuat dari belahan papan kayu. Sedangkan Arya Bangal dan Pandan Wangi duduk di kursi kayu. Sebuah meja bundar tampak sebagai pembatas antara mereka berdua.

"Tidak kau balut dulu lukamu, Arya Bangal...?" tegur Pandan Wangi, melihat Arya Bangal seperti tidak mempedulikan lukanya.

Arya Bangal tersenyum. Dipanggilnya salah seorang pengawalnya, hanya dengan lambaian tangan saja. Pengawal yang berusia sekitar empat puluh delapan tahun itu segera menghampiri dengan sikap begitu hormat. Dan dia berdiri di samping pemuda ini.

"Panggil Nini Suri. Katakan padanya, bawa pembalut dan obat-obat untuk lukaku ini," pinta Arya Bangal.

"Hamba kerjakan, Gusti," sahut pengawal itu seraya membungkuk memberi hormat.

Tanpa diperintah dua kali, pengawal itu segera meninggalkan ruangan ini melalui pintu belakang. Sementara, Pandan Wangi melirik sedikit pada lima orang pengawal yang masih tetap berada di dalam ruangan yang berukuran tidak begitu besar ini. Sedangkan Arya Bangal menuangkan arak ke dalam dua buah cangkir yang terbuat dari perak, lalu meletakkan satu cangkir di depan Pandan Wangi.

"Silakan, Pandan. Kau tentu haus setelah bertarung tadi," kata Arya Bangal mempersilakan dengan lembut.

"Terima kasih," ucap Pandan Wangi, sambil memberi senyum sedikit.

Pandan Wangi hanya meminum sedikit saja. Sedangkan Arya Bangal meneguk habis semua arak di dalam cangkirnya. Lalu diisinya cangkir yang sudah kosong itu dengan arak manis dan harum ini. Ketika beberapa saat mereka terdiam, datang pengawal yang tadi disuruh Arya Bangal. Dia diiringi seorang gadis muda berkulit agak kecoklatan dengan wajah manis, membawa sebuah keranjang kecil dari bambu. Tanpa diperintah lagi, gadis itu langsung mengobati luka di dada Arya Bangal.

Tanpa sedikit pun mengeluarkan kata-kata. Kerjanya cekatan sekali sehingga luka itu terbalut dengan rapi. Sedangkan Pandan Wangi memperhatikan dengan kagum. Rapi sekali pekerjaan gadis ini, seperti seorang tabib saja dalam mengobati luka seseorang. Arya Bangal kembali mengenakan pakaiannya, setelah luka di dadanya terbalut rapi. Dan dia kembali meneguk araknya, sampai tandas.

Pandan Wangi masih belum bisa mengerti perubahan sikap Arya Bangal yang begitu mendadak ini. Di perkampungan aneh yang semua penduduknya mengenakan baju warna hitam dengan bentuk dan potongan sama ini, sudah dua hari Pandan Wangi berada di sana. Dan dia semakin merasa aneh melihat semua keganjilan yang dijumpainya di perkampungan ini. Semua orang memperlakukan Arya Bangal seperti seorang raja saja. Tidak ada seorang pun yang menentang segala perintahnya.

Dan malam ini, Pandan Wangi tidak dapat lagi menahan rasa keingintahuannya melihat semua ke ganjilan di perkampungan ini. Dan kebetulan sekali, malam ini gadis itu bisa menemui Arya Bangal sedang duduk menyendiri di atas sebongkah batu karang, memandang ke tengah lautan lepas yang bagaikan tidak bertepi. Debur ombak yang menghantam batu-batu karang di pantai, seakan merupakan sebuah alunan tembang yang begitu indah bermain di telinga.

"Boleh aku menemanimu di sini, Arya Bangal...?"

"Oh...?!" Arya Bangal tampak terkejut, begitu tiba-tiba terdengar suara lembut dari belakang. Cepat kepalanya diputar ke belakang, dan langsung memberikan senyum begitu melihat Pandan Wangi yang menegurnya dari belakang. Tanpa diminta lagi, Pandan Wangi langsung mengambil tempat, duduk di sebelah kiri pemuda ini. Sedang Arya Bangal menggeser duduknya sedikit, hingga ada jarak antara mereka berdua.

"Sejak tadi kuperhatikan, kau selalu memandang ke tengah laut. Apa ada kenangan dengan lautan...?" ujar Pandan Wangi membuka suara lebih dulu.

"Yaaah..." panjang sekali desahan Arya Bangal dalam menyahuti dengan hembusan napasnya.

"Tentu kenangan yang tidak bisa terlupakan," kata Pandan Wangi lagi, langsung menebak.

Arya Bangal hanya diam saja. Dan pandangannya tertuju lurus ke tengah laut yang hitam. bermandikan cahaya rembulan. Riak gelombangnya membuat pantulan cahaya bulan bagai ribuan mutiara yang terhampar saja. Angin yang bertiup kencang, membuat rambut mereka berdua tergerai.

"Arya Bangal, sudah dua hari aku tinggal di sini. Dan ini malam ketiga. Tapi, kau belum juga memberiku tugas hukuman yang harus kujalani. Aku sudah mengalahkanmu. Aku ingin secepatnya meninggalkan tempat ini." kata Pandan Wangi langsung mengutarakan keinginannya.

"Terlalu berat, Pandan... Rasanya, aku tidak bisa membawamu ke sana..." desah Arya Bangal pelan, dengan nada suara terdengar begitu berat.

"Kau punya persoalan, Arya Bangal?" tanya Pandan Wangi langsung, begitu merasakan adanya ganjalan dalam hati pemuda ini.

Arya Bangal hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan si Kipas Maut barusan. Seakan hatinya begitu berat untuk mengatakannya. Sementara Pandan Wangi memandangi wajah tampan pemuda itu dalam-dalam. Hatinya begitu yakin, ada sesuatu yang mengganjal dalam dada pemuda itu. Sesuatu yang begitu berat untuk diungkapkan.

Saat itu juga Pandan Wangi langsung bisa menyadari kalau apa yang dikatakan sebagai hukuman untuk dirinya, bukanlah sebuah hukuman yang sebenarnya harus dijalankan. Dan hukuman itu sebenarnya tidak ada. Karena, memang Pandan Wangi tidak melakukan kesalahan apa-apa pada orang-orang berpakaian serba hitam yang dirasakan begitu aneh segala sikap dan perbuatannya. Dan itu sebenarnya hanya sebuah siasat saja, untuk mengirim Pandan Wangi menyelesaikan persoalan yang mengganjal dalam dada pemuda ini. Persoalan yang tampaknya begitu berat untuk ditanggungnya.

"Aku tahu, kau menyimpan satu persoalan yang tidak bisa diselesaikan, Arya Bangal. Dan aku juga tahu, apa yang terjadi pada diriku hanya karanganmu semata. Kau sebenarnya sedang mencari seseorang yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah yang kau hadapi sekarang ini...," kata Pandan Wangi langsung pada pokok persoalannya.

Arya Bangal menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Perlahan kepala-nya berpaling, dan langsung menatap wajah cantik si Kipas Maut yang duduk tepat di sebelahnya. Beberapa saat dipandanginya wajah cantik itu, kemudian terdengar desahan napasnya yang panjang. Dan kembali matanya memandang lautan lepas yang bagaikan tidak bertepi ini. Pandan Wangi sendiri terus memandanginya tanpa berkedip sedikit pun juga. Ditunggunya jawaban dari pertanyaannya tadi.

"Katakan saja, Arya Bangal. Apa yang harus kulakukan untuk mengurangi beban yang kau tanggung ini," kata Pandan Wangi setengah mendesak. Beberapa saat Arya Bangal masih terdiam.

"Hhh...!" Kembali pemuda itu menghembuskan napaspanjang, dan terasa begitu keras. Sementara Pandan Wangi masih menunggu dengan sabar.

"Kau memang tangguh, Pandan. Tapi terus terang saja, rasanya aku ragu untuk membawamu ke sana...," ujar Arya Bangal pelan.

"Ke mana kau akan mengirimku?" desak Pandan Wangi kembali.

"Ke pulau, tempat tinggalku dulu bersama seluruh rakyatku," sahut Arya Bangal tetap pelan suaranya.

"Pulau...?" Kening Pandan Wangi terlihat berkerut, dengan kelopak mata agak menyipit. Terus dipandanginya wajah tampan yang kini kelihatan terselimut mendung itu. Dan Pandan Wangi semakin yakin kalau ada sesuatu yang mengganjal dan tersimpan dalam dada pemuda ini. Maka dia pun semakin ingin tahu.

"Terus terang saja, Pandan. Sebenarnya aku dan sebagian rakyat serta beberapa pengawalku, adalah pelarian untuk menyelamatkan diri. Lalu kami membuat perkampungan di sini, sambil menyusun kekuatan untuk merebut kembali pulau yang menjadi negeri kami. Tapi kini, pulau itu kami sebut sebagai Pulau Kematian. Semua orang yang mencoba untuk ke pulau itu, tidak akan pernah kembali lagi. Bahkan namanya saja tidak pernah terdengar. Sudah beberapa orang yang kami jerat sepertimu, dan dikirim ke sana. Tapi, tidak ada seorang pun yagn bisa kembali lagi. Hm... Hanya satu yang bisa kembali, tapi itu juga tidak langsung kesini. Dan dia sudah mati, begitu sampai di pantai dengan luka-luka diseluruh tubuhnya," Arya Bangal mulai menjelaskan dengan suara pelan dan terdengar amat dipaksakan.

Sementara Pandan Wangi hanya diam saja mendengarkan. Sedikit pun dia tidak membuka suara, dan terus memandangi wajah tampan pemuda itu. Beberapa saat Arya Bangal terdiam, dengan pandangan terus tertuju ke tengah laut.

"Kau seorang raja, Arya Bangal?" tanya Pandan Wangi, setelah cukup lama terdiam.

"Begitulah...," sahut Arya Bangal pelan, dengan suara agak mendesah. Pandan Wangi kembali terdiam. "Raja kecil dengan rakyat yang tidak banyak. Bahkan aku hanya memiliki dua ratus prajurit. Tapi kini, yang tinggal hanya sekitar tiga puluh orang saja. Dan mereka semua yang ada di sini adalah sisa-sia rakyatku. Sedangkan yang lainnya.... Entah bagaimana nasib mereka disana," kata Arya Bangal masih terdengar pelan suaranya.

"Sebenarnya, apa yang terjadi terhadap kerajaanmu?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Seseorang datang ke sana dan langsung menguasainya dengan kekuatan sukar ditandingi. Dia datang membawa kekuatan yang berjumlah besar. Aku dan sedikit prajurit-prajuritku berusaha mempertahankan. Tapi, mereka terlalu besar dan kuat. Terlebih lagi pemimpinnya. Sulit untuk ditandingi kesaktiannya. Maka aku terpaksa meninggalkan pulau itu bersama tiga puluh orang prajurit dan sebagian kecil rakyatku yang bisa diselamatkan," jelas Arya Bangal lagi, masih dengan suara pelan. Dan kini, malah terdengar agak parau.

Sementara Pandan Wangi jadi terdiam. Dan tiba-tiba saja gadis itu teringat lembaran kulit yang melukiskan sebuah peta. Cepat diambilnya selongsong bambu yang berisi lembaran kulit itu. Namun mendadak saja, kedua bola mata Arya Bangal jadi terbeliak melihat selongsong bambu itu di tangan Pandan Wangi. Malah tiba-tiba saja Arya Bangal cepat merebutnya. Tindakan itu membuat Pandan Wangi jadi tersentak kaget setengah mati.

"Dari mana kau dapatkan ini?!" tanya Arya Bangal agak tinggi nada suaranya.

"Kutemukan di jalan," sahuta Pandan Wangi.

"Kau tahu apa isinya?"

"Hanya selembar kulit yang bergambar peta. Tapi, aku tidak tahu apa maksudnya. Aku hanya tahu, peta itu seperti menunjukkan laut. Hanya itu," jelas Pandan Wangi.

"Kau tahu, Pandan. Ini milikku yang paling berharga...," kata Arya Bangal agak bergatar suaranya.

"Milikmu...?" Pandan Wangi jadi tidak mengerti. Selongong bambu yang berisi selembar kulit bergambar peta itu secara tidak sengaja ditemukannya. Dan tidak jauh dari tempat di mana selongsong itu ditemukan, terdapat mayat seorang utusan khusus dari Kadipaten Balakarang. Hanya itu saja yang diketahui Pandan Wangi. Dan sama sekali tidak disangka kalau selongsong bambu yang berisi lembaran kulit peta itu milik Arya Bangal.

"Kau tahu, Pandan. Benda ini hilang ketika, kami diserang sepasukan prajurit yang tidak kukenal. Tadinya aku akan menjauhi daerah pantai ini dan akan mendirikan perkampungan sementara di balik bukit itu. Tapi sebelum sampai di sana, sepasukan prajurit sudah menyerang. Kami terpaksa kembali menyingkir sampai ke pesisir pantai ini, lalu mendirikan perkampungan di sini. Peta itu hilang di saat penyerangan terjadi," kata Arya Bangal menjelaskan.

Pandan Wangi hanya memandang barisan bukit yang memanjang dan melingkar seperti sebuah cincin raksasa itu. Dia tahu, di balik bukit itu letak Kadipaten Balakarang. Namun gadis itu langsung bisa mengetahui, kalau prajurit-prajurit yang dimaksudkan Arya Bangal tentu dari Kadipaten Balakarang. Itu terbukti dari selongsong bambu yang berada pada salah seorang utusan Adipati Krasana yang menguasai kadipaten Balakarang. Hanya saja timbul satu pertanyaan yang tidak bisa dimengerti. Kenapa Adipati Krasana justru memerintahkan utusannya membawa selongsong bambu yang berisi peta ini...? Dan ke mana utusan itu akan membawanya pergi...? Pertayaan itu terus berkecamuk dalam benak Pandan Wangi. Namun, sulit untuk bisa dijawab saat ini.

LIMA

Setelah tahu apa yang membuat semua orang di perkampungan ini begitu aneh sikapnya, Pandan Wangi langsung mendesak Arya Bangal agar mengantarkannya ke pulau kerajaannya. Semula Arya Bangal tidak ingin menuruti. Tapi karena Pandan Wangi terus mendesak, akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Bahkan dia sendiri yang akan mengantarkannya bersama enam orang pengawal setianya. Tapi karena malam sudah begitu larut, Arya Bangal meminta untuk berangkat besok pagi saja. dan Pandan Wangi menyetujui usul itu.

Namun malam ini, Pandan Wangi menyempatkan diri menemui Dayang Suri yang selalu mendampingi Arya Bangal, sampai mengurus segala sesuatunya. Gadis yang seusia dengannya itu semula agak takut. Tapi setelah Pandan Wangi menunjukkan sikap lembutnya. akhirnya gadis berkulit hitam manis ini jadi terbiasa juga. Bahkan setelah beberapa saat mereka berbicara, gadis yang selalu dipanggil Dayang Suri itu seperti sudah kenal lama dengan Pandan Wangi.

"Suri..." Kau ingin kembali ke kampung halamanmu...?" tanya Pandan Wangi, setelah cukup lama berbincang-bincang.

"Tentu... Aku sering merindukannya," sahut Dayang Suri pelan, dengan mata menerawang jauh ke depan, memandang lautan lepas. "Tapi apa mungkin...?"

"Kenapa tidak...? Aku yakin, kau pasti akan kembali pulang dan hidup seperti biasanya," kata Pandan Wangi meyakinkan.

"Ah...! Jangan menghiburku, Nini Pandan. Mana mungkin aku bisa kembali lagi ? Sedangkan Gusti Arya Bangal saja masih tetap di sini," kata Dayang Suri.

Entah kenapa, Pandan Wangi jadi tersenyum. Ditepuknya pundak gadis berkulit hitam manis ini beberapa kali. Kemudian Pandan Wangi bangkit berdiri, dan melangkah beberapa tindak ke depan. Sedangkan Dayang Suri tetap duduk memeluk lututnya diatas rerumputan, dengan punggung sedikit bersandar pada batang pohon tumbang.

"Tidak lama lagi, kau dan yang lain akan kembali ke pulau yang begitu kalian cintai. Dan bukan lagi Pulau Kematian yang selama ini kalian sebut," kata Pandan Wangi, begitu yakin nada suaranya.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin, Nini Pandan? Kau tidak tahu ada apa di sana. Kau hanya mendengar dari Gusti Arya Bangal, dari aku dan yang lain. Kau belum tahu, bagaimana keadaan disana, Nini Pandan. Tidak mudah mengusir mereka dari pulau...," kata Dayang Suri tidak percaya terhadap keyakinan si Kipas Maut.

"Aku yang akan mengusir mereka dari sana, Suri," kata Pandan Wangi mantap.

"Hanya kau sendiri...?"

Pandan Wangi hanya mengangkat bahu saja, tidak menjawab pertanyaan itu. Sedang Dayang Suri semakin tidak percaya saja, kalau Pandan Wangi bisa mengusir orang-orang yang menguasai pulau bila hanya seorang diri saja. Walaupun Pandan Wangi sudah mengalahkan Arya Bangal, tapi itu bukan satu ukuran untuk bisa membebaskan Pulau Kematian dari orang-orang yang menguasainya.

"Besok, pagi-pagi sekali aku berangkat. Per-cayalah, aku akan datang kembali lagi ke sini untuk membawa kalian semua pulang," kata Pandan Wangi tetap mantap suaranya.

Sedangkan Dayang Suri hanya bisa berdiam saja memandangi gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut. Dia masih belum percaya kalau Pandan Wangi dapat melakukan semua itu. Padahal yang diketahuinya, entah sudah berapa pendekar tangguh yang sudah dikirim ke pulau itu, tapi sampai sekarang tidak ada seorang pun yang kembali dalam keadaan hidup. Kalaupun ada orang itu langsung tewas begitu sampai di pesisir pantai ini. Dan orang itu membawa selongsong bambu dari Pulau Kematian, yang kini berada di tangan Arya Bangal. Selongsong bambu itu memang berisi lembaran kulit yang tertera sebuah peta, penujuk arah untuk bisa mencapai tempat penyimpanan harta kekayaan di Pulau Kematian. Bahkan harta kekayaan itu tidak ternilai harganya, dan tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Makanya, pulau itu jadi rebutan.

Benar apa yang dikatakan Pandan Wangi. Gadis itu kini meninggalkan perkampungan sebelum matahari menampakkan diri. Pandan Wangi diantar Arya Bangal, bersama enam orang penga-walnya sampai luar batas perkampungan ini. Gadis itu menolak diberikan kuda, karena lebih senang berjalan kaki menuju pantai, untuk kemudian menyeberang menuju Pulau Kematian.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Matahari belum lagi naik tinggi, saat Pandan Wangi tiba di tepi pantai yang landai. Bibirnya tersenyum melihat sebuah perahu sudah tertambat di sana. Sebuah perahu yang tidak besar, dan bisa digunakan hanya seorang saja. Dengan ayunan kaki mantap, Pandan Wangi melangkah mendekati perahu itu. Tapi belum juga sampai, tiba-tiba saja...

"Pandan...!"

"Oh...?!" Pandan Wangi tersentak kaget, ketika tiba-tiba terdengar panggilan. Lebih terkejut lagi, suara itu dikenalnya betul. Cepat tubuhnya berbalik. Dan mulutnya jadi ternganga, melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih, sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. Tampak dua ekor kuda berada di belakangnya. Pemuda itu berdiri tegak membelakangi gerumbulan pohon bakau yang banyak tumbuh di sekitar pantai ini.

Kakang Rangga...," desis Pandan Wangi begitu hilang rasa terkejutnya.

Pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung itu memang Rangga. Dia lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti di kalangan persilatan. Pemuda itu melangkah mantap, menghampiri gadis cantik yang sedang dicari-carinya. Sementara Pandan Wangi menunggu sampai Pendekar Rajawali Sakti dekat.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini, Kakang?" tanya Pandan Wangi langsung, begitu Rangga sudah di depannya.

"Tidak sulit untuk menemukanmu, Pandan," sahut Rangga agak datar nada suaranya.

Pandan Wangi mengangkat bahunya sedikit, kemudian berbalik. Lalu kakinya melangkah mendekati perahu yang sudah tersedia untuknya. Rangga mengikuti dari belakang, lalu mensejajarkan ayunan kakinya disamping kanan gadis ini. Sesaat mereka tidak ada yang bicara, hingga sampai kebagian sisi perahu di tepi pantai ini.

"Mau pergi ke mana kau?" tanya Rangga, begitu melihat Pandan Wangi melepaskan tali ikatan perahu itu pada tonggak kayu yang tertanam dalam di pasir.

"Ke pulau," sahut Pandan Wangi singkat.

"Hup!" Ringan sekali gadis itu melompat naik ke atas perahu yang sudah bergoyang-goyang dipermainkan ombak. Sementara Rangga masih tetap diam berdiri di tepi pantai. Sedangkan Pandan Wangi sudah berdiri tegak di sebelah tiang perahu ini.

"Kau mau ikut?" Pandan Wangi langsung menawarkan.

"Ke mana?" tanya Rangga.

"Ke pulau," sahut Pandan Wangi singkat saja.

"Pulau apa?"

"Pulau Kematian."

Kening Rangga jadi berkerut mendengar jawaban si Kipas Maut itu. Dipandanginya gadis itu dalam-dalam beberapa saat. Tapi yang dipandangi malah tersenyum-senyum saja. Saat itu, Rangga melihat tidak ada lagi selongsong bambu terselip di pinggang si Kipas Maut ini. Tapi, hal itu tidak langsung ditanyakannya. Dia ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sampai-sampai Pandan Wangi ingin menyeberangi lautan, dan menuju ke sebuah pulau yang dikatakanya tadi bernama Pulau Kematian.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Pandan?" Rangga langsung meminta penjelasan.

"Nanti kujelaskan di perjalanan. Sekarang doronglah perahu ini ke tengah, lalu cepat naiklah," sahut Pandan Wangi begitu ringan kata-katanya.

Sebentar Rangga memandangi, kemudian mendorong perahu itu hanya dengan tangan kiri saja. Perahu itu bergerak melaju. Lalu dengan ge-rakan sangat ringan dan cepat, Rangga melompat naik ke atas perahu yang sudah melaju terbawa angin. Layar perahu menggelembung tertiup angin. Dan kedua pendekar muda dari Karang Setra itu duduk saling berhadapan di atas perahu yang terus melaju semakin cepat ke tengah laut. Dan untuk beberapa saat, mereka masih terdiam membisu. Mereka hanya saling berpandangan saja, tanpa mengucapkan satu kata pun.

"Pulau apa yang kau tuju sekarang, Pandan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

"Pulau Bidadari," sahut Pandan Wangi. "Tapi, beberapa hari ini selalu disebut Pulau Kematian."

"Kau tahu letaknya?" tanya Rangga lagi. Pendekar Rajawali Sakti tahu, Pandan Wangi belum pernah pergi sampai menyebrangi lautan seperti ini.

"Tahu," sahut Pandan Wangi seraya mengangguk.

"Dari mana?"

"Dari orang yang berhak memiliki peta itu. Kakang," sahut Pandan Wangi.

"Pemilik peta...?"

"lya "

Kening Rangga jadi berkerut. Masih belum bisa dicerna kata-kata yang diucapkan Pandan Wangi barusan. Sungguh tidak dimengerti, apa yang di maksudkan Pandan Wangi dengan orang yang berhak atas peta dalam selongsong bambu itu. Dan kebingungan Rangga rupanya bisa cepat dipahami Pandan Wangi.

Sebelum Rangga meminta, Pandan Wangi sudah langsung menceritakan semua yang terjadi dan dialami dalam beberapa hari ini. Semua jelas di tuturkannya, sampai pada hal yang terkecil sekali pun. Sementara Rangga mendengarkan penuh perhatian.

Memang, sudah hampir tiga hari ini Pendekar Rajawali Sakti berada di sekitar pesisir pantai. Tapi Rangga tidak tahu, kalau ada sebuah perkampungan tidak jauh dari pantai itu. Sedangkan kuda putih tunggangan Pandan Wangi yang ditemukan, juga tidak bisa menunjukkan adanya gadis ini. Hingga akhirnya, Rangga sendiri yang melihat Pandan Wangi keluar dari dalam hutan dekat pantai tadi, dan langsung saja mendatanginya.

"Kau tahu, Kakang...," kata Pandan Wangi di akhir penuturannya.

"Tahu apa...?" tanya Rangga tidak mengerti. Peta itu sebenarnya menunjukkan letak harta kekayaan Pulau Bidadari. Arya Bangal sendiri yang mengatakannya padaku. Peta itu sudah ada sebelum dia sendiri lahir. Entah, siapa yang membuatnya. Dan yang jelas, peta itu sudah menjadi semacam benda pusaka turun-temurun yang selalu berada di tangan Penguasa Pulau Bidadari," jelas Pandan Wangi lagi.

"Dan kau ingin ke pulau itu dengan tujuan mencari harta...?" pancing Rangga.

"Harta...? Ha ha ha...!"

Pandan Wangi jadi tertawa mendengar pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti barusan. Sedangkan Rangga sendiri hanya diam saja, memandangi gadis yang duduk tepat di depannya. Sementara perahu yang ditumpangi terus melaju dengan kecepatan tinggi bagai hendak membelah lautan luas bagai tidak bertepi.

"Aku sudah berjanji pada mereka untuk mengenyahkan manusia-manusia serakah di pulau itu, Kakang. Mereka harus kembali ketanah kelahirannya. Dengan peta itu, keselamatan mereka sudah tentu terancam. Apalagi, kalau sampai ada yang tahu kalau mereka sekarang memiliki peta petunjuk penyimpanan harta yang tidak akan habis di makan tujuh turunan itu, Kakang," jelas Pandan Wangi tentang tujuannya ke Pulau Bidadari yang kini selalu disebut Pulau Kematian itu.

"Kau percaya pada mereka?" tanya Rangga kembali bemada memancing.

"Tentu saja, Kakang. Mereka tampaknya orang-orang jujur. Bahkan raja mereka sendiri mengatakan secara terbuka. Dari dia aku tahu, bagaimana keadaan di Pulau Bidadari saat ini. Kau tidak inginkan, aku mengingkari janji...? Apa pun yang akan terjadi nanti, aku harus sampai ke pulau itu. Kemudian mengusir orang-orang yang menguasai Pulau Kematian," kata Pandan Wangi tegas.

Sementara perahu yang mereka tumpangi semakin jauh meninggalkan pantai. Bahkan kini, tepian pantai sudah tidak terlihat lagi. Sejauh mata memandang, hanya riak air laut saja yang terlihat membiru. Kulit mereka pun sudah mulai terasa pedih, terbakar matahari yang siang ini bersinar begitu terik. Namun pulau itu belum juga kelihatan.

"Pandan! Kau tidak curiga kalau ini hanya jebakan saja?" tanya Rangga lagi, setelah cukup lama terdiam membisu.

"Tidak ada alasan untuk mengatakan mereka penipu, Kakang. Sikap mereka pada Arya Bangalbegitu hormat. Bahkan diperkampungan itu, bukan hanya orang-orang dewasa saja yang terlihat. Mereka orang-orang yang perlu mendapat pertologan, Kakang. Tidak pantas kalau mencurigai orang seperti mereka...," bantah Pandan Wangi tegas.

"Tampaknya kau begitu yakin, Pandan," ujar Rangga.

"Aku selalu yakin pada pendirianku, Kakang "

"Kalau begitu, kita cari pulau itu sampai dapat"

"Jadi, kau ingin membantuku...?"

Rangga tersenyum saja.

"Terima kasih, Kakang," ucap Pandan Wangi senang.

"Tapi kurasa, dengan perahu ini sulit menemukan pulau ini, Pandan," kata Rangga.

"Maksudmu?"

"Kita harus kembali ke pantai. Kurasakan akan lebih cepat kalau meminta bantuan Rajawali Putih "

"Kalau memang begitu, kenapa tidak panggil saja Rajawali Putih ke sini? Biar dia yang menunjukkan dari atas. Kita tinggal ikuti saja, ke mana arahnya, Kakang," usul Pandan Wangi.

Rangga hanya tersenyum saja mendengar usul si Kipas Maut ini. Tapi, memang tidak ada salahnya. Daripada mereka harus kembali lagi ke pantai yang sudah begitu jauh ditinggalkan. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga segera memanggil burung rajawali raksasa itu dengan siulannya yang bernada aneh.

********************

Seharian penuh, kedua pendekar dari Karang Setra itu berlayar dengan bantuan petunjuk Rajawali Sakti yang melayang di angkasa. Dan kini, mereka bisa melihat pulau yang dicarinya ketika matahari sudah hampir tenggelam. Sebuah pulau cantik yang dihiasi lengkungan pelangi, seperti sebuah gerbang untuk masuk kedalamnya. Tidak salah kalau dinamakan Pulau Bidadari. Memang, pulau itu begitu indah dan cantik. Tapi, sekarang pulau itu sangat ditakuti. Bahkan kini disebut Pulau Kematian.

Perahu kecil itu perlahan-lahan merapat kepantai yang landai dan berpasir putih. Rangga langsung melompat turun, dan menarik perahu itu hingga dasarnya menyentuh pasir di pantai. Diikatkannya tambang yang digunakan untuk menarik perahu pada sebatang pohon kelapa.

Pandan Wangi segera melompat turun dari dalam perahu ini. Saat itu, Rangga mendongakkan kepala ke atas. Tampak Rajawali Putih masih melayang terputar-putar di angkasa.

"Kemari, Rajawali.!" seru Rangga memanggil, seraya melambaikan tangan ke atas.

"Khraaagkh...!"

Mendengar seruan Rangga. Rajawali Putih segera menukik turun dengan deras sekali. Begitu cepatnya, sehingga sebentar saja sudah mendarat tidak jauh di depan pemuda berbaju rompi putih ini. Rangga segera menghampiri, diikuti Pandan Wangi. Sebentar dipeluknya leher Rajawali Putih, kemudian dipandanginya sejenak.

"Ayo, Pandan. Kita kelilingi pulau ini dari atas," ajak Rangga.

"Hup!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa yang bukan hanya menjadi tunggangannya saja, tapi juga sebagai gurunya. Sementara, Pandan Wangi masih tetap diam memandangi Rangga yang sudah berada di punggung burung rajawali raksasa itu. Walaupun sudah sering kali melihat dan menungganginya, tapi tetap saja masih ada rasa takut terselip di dalam hati gadis ini setiap kali akan menunggangi Rajawali Putih.

"Ayo, Pandan. Jangan buang-buang waktu. Sudah hampir malam !" seru Rangga tidak sabar.

Pandan Wangi masih kelihatan ragu-ragu. Tapi, tidak lama kemudian, kakinya melangkah mendekati burung rajawali raksasa itu. Cepat gadis itu melompat naik dengan lesatan yang begitu indah. Dan Pandan Wangi langsung duduk di belakang Pendekar Rajawali Sakti ini.

"Ayo, Rajawali. Selidiki pulau ini dari atas," pinta Rangga sambil menepuk leher burung rajawali raksasa.

"Khraaagkh..!" Sambil mengeluarkan suara serak dan keras menggelegar bagai guntur, Rajawali Putih mengepakkan sayapnya yang lebar dan berbulu pubh keperakan. Sekali kepak saja, burung raksasa itu sudah melesat tinggi ke angkasa, dengan kecepatan bagai kilat. Sebentar saja, tunggangan Pendekar Rajawali Sakti itu melambung tinggi di atas awan. Pandan Wangi sempat memejamkan matanya. Dan dirasakan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Sementara, Rangga harus mengerahkan aji 'Tatar Netra' untuk mengawasi ke bawah angkasa. Dengan aji kesaktiannya itu, Pendekar Rajawali Sakti bisa melihat jelas, walaupun dalam jarak yang begitu jauh.

"Kelilingi pulau ini, Rajawali. Jangan terlewat setapak pun juga," pinta Rangga dengan suara di keraskan, untuk mengalahkan deru angin yang begitu keras di atas ini.

"Khraaagkh...!"

Baru beberapa saat saja di angkasa, Rangga sudah melihat sebuah bangunan istana yang seluruhnya terbuat dari batu, berdiri di atas sebongkah bukit yang tidak begitu tinggi. Dan di sekitar bangunan itu berdiri rumah-rumah yang saling berjauhan letaknya. Bahkan rumah-rumah itu terhampar sampai jauh dari bukit ini.

"Lebih rendah lagi, Rajawali," pinta Rangga.

"Khraaagkh...!"

Rajawali merendahkan terbangnya, hingga Rangga bisa melihat lebih jelas lagi. Agak berkerut juga keningnya, ketika melihat keadaan di bawah sana begitu sunyi. Bahkan tidak terlihat seorang pun di sana. Tapi di sekitar istana yang dikelilingi benteng, banyak terdapat orang berpakaian serba merah seperti sedang berjaga-jaga. Dan mereka rata-rata memegang sebatang tombak berukuran cukup panjang.

Beberapa saat Rangga mengamati, kemudian meminta Rajawali Putih untuk kembali melambung tinggi ke angkasa. Sementara itu, matahari sudah tenggelam di balik peraduannya. Dan kegelapan pun langsung menyelimuti pulau ini.

Rangga meminta Rajawali Putih kembali ke pantai, dan turun di sana. Maka burung raksasa itu mengikuti saja keinginan pemuda ini. Dia langsung melesat cepat sekali menuju pantai yang tadi. Sementara Pandan Wangi masih belum juga membuka matanya yang terus terpejam. Tidak sanggup gadis itu membayangkan berada di angkasa, duduk di atas punggung seekor burung rajawali raksasa, bersama Pendekar Rajawali Sakti.

Sebentar saja, mereka sudah kembali ke pantai itu lagi. Rangga langsung melompat turun dengan gerakan indah dan ringan sekali. Pandan Wangi bergegas mengikuti, melompat turun dari punggung rajawali raksasa ini Dan kakinya menjejak tepat di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Kita bermalam dulu di sini, Pandan. Besok pagi baru ke istana itu," kata Rangga sambil menunjuk ke sebuah bukit yang terlihat tidak begitu jauh dari pantai ini.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Sementara Rangga terus memandangi puncak bukit yang terdapat istana. Dan kata Pandan Wangi, istana itu milik Arya Bangal dan rakyatnya, yang kini berjumlah sangat kecil.

Beberapa saat mereka terdiam membisu. Sementara Pandan Wangi membuat api unggun dari ranting kering yang banyak tersebar di pesisir pantai ini. Sementara, Rangga tetap berdiri tegak memandangi bukit yang bagai pembantas antara daerah pantai ini dengan daratan.

Sampai jauh malam, mereka tidak bicara sedikit pun juga. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Tapi perhatian mereka selalu tertuju ke puncak bukit yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai ini.

ENAM

Pagi-pagi sekali, Rangga dan Pandan Wangi baru meninggalkan pantai, menembus hutan yang cukup lebat ini. Sementara di angkasa, Rajawali Putih terus berputar-putar mengawasi kedua pendekar muda dari Karang Setra yang terus bergerak cepat menembus hutan ini. Begitu cepat dan ringan gerakan mereka. Sehingga dalam waktu tidak begitu lama, mereka sudah tiba di kaki bukit yang memanjang melingkar seperti cincin raksasa.

Rangga jadi agak tertegun juga melihat keadaan bukit ini. Begitu mirip keadaannya dengan bukit-bukit yang ada di Kadipaten Balakarang. Bukit-bukit memanjang dan melingkar, bagai sebuah benteng pertahanan yang melindungi seluruh penghuni kota itu. Tapi lingkaran bukit ini memang lebih kecil dari pada bukit yang ada di Kadipaten Balakarang.

"Hati-hati, Pandan. Keadaan yang sunyi begini, biasanya lebih berbahaya," kata Rangga memperingatkan.

Pandan Wangi hanya diam saja. Beberapa rumah sudah terlewati, dan keadaannya seperti tidak berpenghuni. Pintu dan jendela-jendelanya terbuka lebar. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu terus melangkah perlahan-lahan, mendekati bangunan istana yang tidak berpagar ini. Dari bentuk istananya saja, Rangga sudah bisa menduga kalau keadaan di pulau ini semula begitu damai dan tenteram. Sehingga, penguasanya merasa tidak perlu membentengi istananya. Tapi justru keadaan itu yang membuat mereka jadi lengah, hingga mudah diserang dari luar.

Mereka terus berjalan semakin dekat dengan bangunan istana. Kening Rangga jadi berkerut juga, melihat keadaan istana ini tidak seperti yang di lihatnya semalam. Tidak ada seorang pun terlihat. Padahal semalam, Rangga melihat cukup banyak orang berbaju merah yang berjaga-jaga di sekitar bangunan istana ini. Rangga langsung merasakan adanya satu keanehan yang membuatnya semakin meningkatkan waspada.

Namun begitu mereka dekat dengan pintu depan bangunan istana itu, tiba-tiba saja dari dalam bermunculan orang-orang berpakaian serba merah yang semuanya bersenjatakan tombak. Rangga dan Pandan Wangi langsung menghentikan langkahnya. Orang-orang berpakaian serba merah itu berdiri berjajar di ujung undakan istana ini. Rangga memperkirakan jumlah mereka ada sekitar lima puluh orang. Dan ketika kepalanya berpaling ke belakang, seketika jantungnya serasa berhenti berdetak.

Ternyata di belakang kini sudah berdiri berjajar puluhan orang berpakaian serba merah yang semuanya menggenggam tombak. Entah kapan mereka muncul, sama sekali Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu. Mereka begitu tiba-tiba saja muncul, seperti keluar dari dalam tanah.

"Sambutan yang luar biasa...," desah Rangga pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

Saat itu, dari belakang orang-orang yang ada di beranda depan istana, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Baju agak ketat berwarna merah, hingga hampir membentuk tubuhnya yang tegap, dengan otot-otot bersembulan ke luar. Dia memegang sebatang tombak panjang yang pada ujungnya mempunyai tiga buah mata. Kakinya lantas melangkah menuruni anak-anak tangga dengan ayunan begitu tegap dan mantap. Dan berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar enam langkah lagi di depan kedua pendekar muda ini.

"Kalian siapa? Dan, mau apa datang ke sini...?" tanya laki laki setengah baya itu.

Suara orang itu terdengar besar dan begitu dalam, memperlihatkan kewibawaannya yang begitu besar. Dan tatapan matanya juga sangat tajam. Benar benar sosok seorang pemimpin yang berpengaruh besar dan berwibawa tinggi. Rangga sendiri sempat tertegun memandangnya.

"Namaku Rangga. Dan ini adikku, Pandan Wangi. Kami berdua datang untuk mengusir kalian semua dari pulau ini," sahut Rangga tegas, tidak mau kalah wibawa.

"Ha ha ha...!"

Laki-laki berusia setengah baya itu jadi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Rangga yang langsung dan tegas. Tanpa basa-basi lagi, maksud tujuannya datang ke pulau ini langsung dikatakannya. Suara tawa laki-laki setengah baya itu disusul tawa yang lain. Sehingga dari segala penjuru terdengar suara tawa yang lepas bergelak. Namun Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja, tidak terpengaruh sedikit pun. Dan tidak lama kemudian, keadaan kembali sunyi tanpa seorang pun yang mengeluarkan suara lagi. Kini hanya desir angin dari pantai saja yang terasa begitu kuat menerpa tubuh mereka semua.

"Dengar, Anak-anak Muda Pemberani. Aku kagum dengan keberanian kalian datang ke sini. Kalian tahu, aku Bratasena Penguasa Pulau Bidadari ini. Tapi sekarang, aku menamakannya Pulau Kematian. Sudah banyak orang yang mencoba mengusirku dari pulau ini. Tapi, tidak seorang pun yang kubiarkan keluar hidup-hidup. Dan kalian berdua juga tidak akan selamat keluar dari sini," tegas laki-laki setengah baya yang menamakan diri Bratasena ini.

"Aku berani bertaruh. kau yang akan keluar dari pulau ini, Kisanak," tegas Rangga menantang.

"Ha ha ha!"

Merasa tidak ada cara lain lagi, Rangga langsung saja membuka tantangan. Dan ini membuat Pandan Wangi segera mencabut senjata kipas yang langsung dikembangkan. Ujung-ujung kipas yang runcing berbentuk mata anak panah itu kini terkembang di depan dada. Sedangkan Rangga masih tetap diam belum mencabut pedang pusakanya yang dahsyat dan tiada tandingannya.

Tantangan Rangga membuat Bratasena jadi tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Tapi tawanya juga membuat seluruh raut wajahnya memerah, seperti besi yang terbakar dalam tungku. Jelas sekali kalau Bratasena berusaha menahan kemarahannya yang sudah menggelegak dalam dada, akibat tantangan Rangga yang begitu terbuka dan langsung diutarakan. Perlahan Bratasena melangkah mundur, hingga meniti kembali anak-anak tangga yang langsung menuju ke beranda depan istana ini. Dan begitu sudah berada di ujung tangga istana itu...

"Seraaang...!"

Seketika itu juga, Bratasena berteriak lantang menggelegar, memberi perintah untuk menyerang kedua pendekar muda yang menantangnya. Dan belum juga teriakannya menghilang dari pende-ngaran, semua orang berpakaian serba merah yang memang sudah menunggu perintah itu sejak tadi, langsung berhamburan. Mereka berteriak-teriak keras, membuat tanah di pulau ini jadi bergetar bagai diguncang gempa.

"Cepat ke belakangku, Pandan!" seru Rangga.

Dan begitu Pandan Wangi melompat ke belakang, Rangga langsung menarik kedua tangannya terkepal ke pinggang. Kedua kakinya juga dipentang lebar ke samping. Saat itu juga...

"Aji 'Bayu Bajra'! Yeaaah...!"

Memang tidak ada lagi pilihan bagi Pendekar Rajawali Sakti, kecuali menghadap lawan yang berjumlah besar seperti ini. Tanpa membuang buang waktu lagi, langsung saja dikerahkannya aji 'Bayu Bajra'! Sebuah ajian yang bisa menimbulkan badai topan sangat dahsyat. Dan hempasan badai itu, seketika menghantam orang orang berbaju merah, begitu kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti terkembang lebar ke samping.

Hempasan angin badai yang begitu kuat, membuat orang-orang berbaju serba merah itu menjerit kaget setengah mati. Namun belum sempat disadari apa yang terjadi, angin badai ciptaan Pendekar Rajawali Sakti sudah menerbangkan tubuh-tubuh mereka bagai segumpal kapas dipermainkan angin.

Suara angin yang menderu-deru, membuat jantung Pandan Wangi jadi bergetar. Sering gadis itu melihat Rangga mengeluarkan aji 'Bayu Bajra'! Tapi, tetap saja selalu merasa ngeri melihat akibatnya.

Tidak ada seorang pun yang sanggup bertahan dari gempuran aji kesaktian yang sangat dahsyat itu. Dan hanya Bratasena saja yang masih tetap bertahan walau sedikit demi sedikit terdorong ke belakang. Bahkan bangunan istana itu juga sudah mulai berderak, seakan tidak sanggup lagi menahan gempuran badai ciptaan Pendekar Rajawali Sakti.

"Sudah, Kakang. Kau bisa menghancurkan istana itu...!" seru Pandan Wangi memperingatkan.

Rangga memang melihat bangunan istana itu sudah mulai bergetar, memperdengarkan suara berderak seperti hendak runtuh. Bahkan dinding-dindingnya sudah mulai retak. Dua buah pilar di beranda depan istana itu sudah roboh, menghantam beberapa orang yang berada di dekatnya. Dan...

"Hap!"

Rangga cepat menarik kedua tangannya, hingga tersilang di depan dada. Lalu perlahan tangannya diturunkan, bersama berhentinya badai ciptaannya. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Tidak ada lagi pengikut Bratasena yang masih bisa berdiri dengan tegak. Suara-suara rintihan terdengar lirih dari segala arah. Sementara, Bratasena sendiri terlihat seperti masih terpana mendapat kejadian yang sama sekali tidak diduganya. Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju rompi putih itu bisa menciptakan badai topan yang begitu dahsyat dan hampir tidak bisa ditahannya lagi.

Bratasena tidak dapat lagi menyembunyikan keterkejutannya, begitu mengetahui tidak ada lagi pengikutnya yang masih bisa berdiri tegak. Memang, tidak semua tewas. Tapi mereka yang masih hidup, sudah tidak bisa lagi diharapkan untuk bertarung. Untuk berdiri saja, kelihatan begitu sulit. Bratasena jadi geram, menyadari kini tinggal sendirian dan harus menghadapi sepasang pendekar muda ini.

"Aku belum kalah, Anak Muda. Tunggu pembalasanku...!" desis Bratasena dingin menggetarkan.

"Hup!" Ringan sekali gerakan laki-laki berusia setengah baya itu melompat. Dan tanpa sedikit pun menimbulkan suara, kedua kakinya mendarat tepat sekitar tiga langkah di depan Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu juga diberikannya satu sodokan yang begitu cepat ke arah perut dengan tangan kiri.

"Hap!" Namun hanya sedikit saja Rangga mengegoskan tubuh, sodokan Bratasena berhasil dihindari. Cepat Rangga menarik kakinya ke kanan. Lalu dengan tubuh sedikit berputar, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu tendangan menyamping yang begitu cepat, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi

"Hap! Yeaaah...!" Tendangan Rangga hanya mengenai angin saja. ketika Bratasena melenting ke atas. Namun pada saat yang bersamaan, Rangga juga melesat ke atas sambil melepaskan satu pukulan keras dan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Yeaaah...!" Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti, membuat Bratasena tidak sempat lagi menghindarinya. Dan...

Diegkh!

"Akh...!" Bratasena jadi terpekik. Tubuhnya kontan ter-pental jauh ke belakang, lalu keras sekali jatuh menghantam lantai beranda depan istana yang sangat megah ini. Beberapa kali tubuhnya bergulingan di lantai yang terbuat dari baru pualam putih dan licin berkilat. Namun dia cepat bangkit berdiri sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan cukup dahsyat dari Pendekar Rajawali Sakti tadi. Tampak darah menetes keluar dari sudut bibirnya

Beberapa saat Bratasena diam memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata begitu tajam menusuk. Seakan-akan hendak membakar seluruh tubuh pemuda itu dengan sorotan matanya yang bagai bola api itu. Dan tiba-tiba saja, tangan kanannya bergerak menghentak ke bawah. Seketika itu juga...

Brus!

"Heh...?!" Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu jadi terkejut, ketika tiba-tiba di depan Bratasena mengepul asap tebal berwarna kemerahan. Kepul-an asap itu seakan muncul dari dalam lantai beranda depan istana ini. Dan ketika asap yang menggumpul lenyap terbawa angin, Bratasena juga lenyap tidak berbekas lagi.

"Ke mana dia...?"

"Hup!" Sementara Pandan Wangi bertanya-tanya heran. Rangga sudah melesat cepat ke beranda ini. Pendekar Rajawali Sakti jadi celingukan, karena tidak menemukan jejak sedikit pun di sini. Bratasena benar-benar lenyap tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Kakang mereka kabur...!" teriak Pandan Wangi tiba-tiba.

Rangga langsung mengangkat kepalanya. Tampak orang-orang berpakaian serba merah itu berusaha lari dengan tertatih-tatih, meninggalkan istana ini. Pendekar Rajawali Sakti hanya diam saja melihat mereka terus belari berusaha menyelamatkan selembar nyawa.

Pandan Wangi juga tidak bertindak apa-apa. Sementara Rangga melangkah menuruni anak-anak tangga yang terbuat dari batu pualam putih ini, menghampiri Pandan Wangi yang masih tetap berada di halaman depan istana itu. Dan kini mereka berdiri berdampingan, memandangi orang orang berpakaian serba merah yang sudah hampir lenyap ditelan lebatnya hutan.

"Ayo, Pandan. Kita bersihkan pulau ini dari tangan-tangan kotor mereka," ajak Rangga.

"Apa yang akan kau lakukan, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Jangan sampai ada seorang pun dari mereka yang masih tinggal di pulau ini. Kita harus menggiring mereka ke pantai, dan mengusir keluar dari pulau ini," kata Rangga menjelaskan.

"Caranya?"

Rangga hanya tersenyum saja. Lantas kepalanya mendongak ke atas. Pandan Wangi tahu, Rangga akan menggunakan Rajawali Putih untuk menggiring orang-orang itu ke pantai. Dan entah kenapa, Pandan Wangi merasakan darahnya jadi berdesir begitu cepat.

"Suiiit...!"

Tanpa bicara lagi, Rangga memanggil Rajawali Putih yang terlihat melayang di angkasa.

"Khraaagkh...!"

Tidak terlalu sulit bagi Rangga untuk menggiring orang-orang itu ke pantai dengan bantuan Rajawali Putih. Terlebih lagi, pulau ini memang tidak besar. Sehingga dalam waktu tidak begitu lama, mereka semua sudah terkumpul di pantai, tidak jauh dari sebuah perahu besar yang tertambat di dermaga. Rangga cepat melompat turun dari punggung Rajawali Putih yang sudah mendarat di pantai berpasir putih ini.

"Dengar...! Kalian akan selamat kalau meninggalkan pulau ini. Kembalilah kalian ke asal masing-masing sekarang juga...!" seru Rangga. Suaranya keras menggelegar, bagai guntur membelah angkasa.

Tidak ada seorang pun yang berani menentang lagi. Mereka langsung berserabutan saling mendahului naik ke perahu besar itu. Sebentar saja, tidak ada seorang pun yang tertinggal lagi. Dan perahu bertiang tiga itu segera bergerak perlahan-lahan menjauhi pulau ini. Sementara, Rangga berdiri tegak di ujung dermaga, memandangi perahu yang semakin cepat melaju mengarungi lautan lepas yang bagaikan tak bertepi ini. Sedangkan Pandan Wangi tetap duduk di punggung Rajawali Putih.

Rangga tersenyum melihat perahu itu semakin jauh dan menghilang di batas cakrawala lautan lepas. Tubuhnya baru berbalik, setelah tidak terlihat lagi perahu itu di lautan. Dengan bibir tersenyum, Rangga menghampiri Rajawali Putih. Dan tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa ini

"Ayo, Rajawali. Tinggalkan pulau ini."

"Khraaagkh...!" Tapi, Rajawali Putih seperti tak mendengarkan permintaan pemuda itu. Burung raksasa itu belum juga meninggalan pulau ini, membuat Rangga jadi tidak mengerti.

"Ada apa, Rajawali?" tanya Rangga.

"Khraaagkh...!"

"Apa...?!"

Rangga memandangi wajah burung rajawali raksasa itu dengan kelopak mata agak menyipit. Sementara, Rajawali Putih memperdengarkan suara mengkirik yang begitu pelan.

"Ada apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi yang berada di belakang Rangga.

"Rajawali memberi tahu sesuatu padaku, Pandan," sahut Rangga.

"Khraaagkh...!"

"lya! Sebentar, Rajawali. Hup !"

Rangga langsung melompat turun dari punggung burung raksasa itu. Dan tepat di saat kedua telapak kaki Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah berpasir putih di sepanjang pantai ini, burung rajawali raksasa berbulu putih itu langsung mengembangkan sayapnya. Dan...

"Khraaagkh...!"

Wusss...!"

"Kakang...!"

Terdengar jeritan Pandan Wangi begitu melengking, saat Rajawali Putih melesat ke angkasa dengan kecepatan bagai kilat. Pandan Wangi memang masih berada di punggung burung raksasa ini. Sementara Rangga hanya bisa memandangi saja dari bawah. Samar-samar masih terdengar teriakan Pandan Wangi yang ketakutan berada di angkasa seorang diri, terbawa terbang Rajawali Putih.

Namun jeritan Pandan Wangi langsung menghilang dari pendengaran, bersamaan lenyapnya Rajawali Putih dari pandangan pemuda berbaju rompi putih ini. Dan untuk beberapa saat. Rangga masih tetap berdiri mematung dengan pandangan tertuju kelangit yang tampak memerah membiaskan cahaya matahari senja.

"Hm, Rajawali benar. Pulau ini memang belum bersih. Dan aku harus membersihkannya dulu, sebelum Arya Bangal dan rakyatnya kembali ke pulau ini," gumam Rangga bicara pada diri sendiri. "Mudah-mudahan Pandan Wangi mau mengerti..."

Memang hanya Rangga saja yang bisa mengerti bahasa Rajawali Putih. Rangga tadi langsung melompat turun, begitu Rajawali Putih memberi tahu kalau pulau ini harus dibersihkan dulu. Karena memang, Bratasena masih berada di pulau ini, walaupun semua pengikutnya sudah pergi meninggalkannya.

Hanya saja Rangga tidak tahu, ke mana harus mencari Bratasena di Pulau Kematian ini. Bratasena lenyap begitu saja, bersamaan munculnya asap yang berkepul tebal dari dalam lantai beranda Istana Pulau Bidadari ini. Sedikit pun tidak ada jejak yang bisa dijadikan petunjuk. Tapi, Rangga harus bisa menemukan laki-laki setengah baya itu, dan mengusirnya dan pulau ini selama-lamanya.

"Baik. Akan kuperiksa istana ini lebih dulu," gumam Rangga langsung memutuskan.

Sepasang kaki Rangga langsung melangkah mantap, kembali menuju istana yang kini sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Rangga terus berjalan dengan ayunan begitu mantap, dengan tujuan sudah tergambar jelas dalam kepalanya.

TUJUH

Sudah seluruh bagian istana ini diperiksa, tapi Rangga belum juga menemukan jejak Bratasena. Laki-laki berusia setengah baya itu benar-benar lenyap, bagai ditelan bumi saja. Bahkan sampai Rangga memeriksa keluar bangunan istana ini, tetap saja tidak bisa menemukan jejak Bratasena.

Pulau Kematian ini benar-benar tidak berpenghuni sekarang. Rangga merasakan kalau tempat ini sekarang pantas kalau disebut Pulau Kematian. Begitu sunyi, tanpa ada seorang pun terlihat. Agaknya, hanya dia sendiri yang berada di pulau ini. Dan saat ini Pendekar Rajawali Sakti berdiri di atas atap bangunan istana yang tertinggi. Dari sini seluruh daerah pulau ini bisa terlihat jelas.

"Heh...?!"

Slap!

Rangga cepat melenting ke atas dan berputaran di udara, ketika tiba-tiba saja sebuah bulatan merah bagai bola api meluncur cepat bagai kilat ke arahnya. Dan bulatan bola api itu langsung menghantam atap istana ini, hingga menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar.

Beberapa kali Rangga berputaran di udara, kemudian manis sekali menjejakkan kakinya di tanah yang berpasir ini, tepat di depan tangga beranda dengan bangunan istana itu. Namun belum juga Rangga bisa menegakkan tubuhnya, bulatan bola api itu sudah kembali terlihat meluncur deras ke arahnya.

"Hup! Yeaaah...!"

Kembali Rangga harus melenting dan berputaran di udara dengan cepat. Sehingga bulatan bola api itu hanya menghantam tanah, tempat Pendekar Rajawali Sakti itu tadi berdiri. Dan....

Glarrr...!

Kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar, membuat seluruh pulau kecil ini jadi bergetar bagai diguncang gempa. Sementara, Rangga kembali menjejakkan kakinya di tanah, agak jauh dari gumpalan debu yang membubung tinggi ke angkasa akibat terhantam bola api tadi. Tampak tanah yang terhantam bulatan bola api itu kontan terbongkar seperti sebuah sumur.

"Hm..." Rangga menggumam pelan. Matanya beredar berkeliling, memandangi sekitarnya yang masih tetap kelihatan begitu sunyi. Dan tatapan matanya langsung tertuju pada segerumbulan semak belukar yang tiba-tiba saja bergerak sedikit. Namun belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa berpikir lebih jauh lagi, mendadak saja...

Srak!

"Hap!" Cepat Rangga meliuk ke kanan sambil mengibaskan tangan kiri, ketika dari dalam semak belukar itu meluncur sebuah tombak ke arahnya. Dan tombak itu langsung terhantam tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti tepat di bagian tengahnya. Seketika tombak itu patah menjadi dua bagian, dan jatuh tidak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti berdiri.

"Hap! Yeaaah...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga segera mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna dengan tangan kanan. Maka seketika itu juga, dari kepalan tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat bagai kilat secercah cahaya merah bagai api yang meluncur ke arah semak belukar itu.

Glarrr...!

Terdengar ledakan dahsyat, bersamaan mele-satnya cahaya merah itu ke dalam semak. Tampak semak itu terbongkar ke segala arah, menimbulkan kepulan asap kemerahan yang bercampur debu keangkasa. Tepat pada saat itu, terlihat sebuah bayangan merah berkelebat begitu cepat dari dalam semak belukar yang terbongkar.

"Hup! Hiyaaa...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga langsung melenting ke angkasa, mengejar bayangan merah itu. Lalu bagaikan kilat, dilesatkannya satu pukulan keras, dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.

"Yeaaah...!"

Slap!

Secercah cahaya merah kembali meluncur deras, mengarah pada sosok tubuh tegap berbaju merah yang berputaran di angkasa. Tapi serangan Pendekar Rajawali Sakti bisa dihindarinya. Dan bayangan itu langsung meluruk turun cepat sekali. Begitu kedua telapak kaki Rangga menjejak tanah berpasir putih ini, orang berbaju serba merah itu juga menjejakkan kakinya, tepat sekitar satu batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm...!" Rangga tersenyum kecil sambil memperdengarkan gumaman pelan, begitu mengenali orang berpakaian serba merah ini. Dia memang tidak lain dari Bratasena, orang yang memang sedang dicarinya dan hendak dipaksa keluar meninggalkan pulau ini.

"Ki Bratasena! Sebaiknya tinggalkan pulau ini, selagi bisa. Aku memberi kesempatan padamu hanya satu kali saja...," desis Rangga dengan nada suara terdengar begitu dingin.

"Phuih! Tidak semudah itu kau bisa mengusirku, Anak Muda!" dengus Bratasena sambil menyemburkan ludahnya dengan sengit." Justru aku yang akan mengusirmu keluar dari pulau ini. Atau mungkin, aku akan hanyutkan tubuhmu di laut!"

"Hanya satu kali aku memberi kesempatan, Ki Bratasena Tidak ada kesempatan kedua...," desis Rangga memperingatkan.

"Ha ha ha...!"

Bratasena jadi tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga sendiri hanya diam saja. Matanya menatap dengan sinar tajam sekali, langsung menembus ke bola mata lelaki setengah baya bertubuh tegap di depannya.

"Anak muda...! Belum pernah aku dipermalukan seperti ini. Kau hancurkan semua anak buahku. Kau buat aku malu di depan mereka. Bagiku... pantang hidup menanggung malu. Aku lebih suka mati, daripada harus menanggung beban seumur hidup," tegas Bratasena lantang dan menggelegar.

Rangga hanya diam saja. Bisa dimengerti maksud kata-kata yang diucapkan Bratasena barusan. Memang tidak bisa dipungkiri lagi. Kejadian tadi membuat Bratasena tidak akan berhenti begitu saja. Apapun yang akan terjadi, Bratasena tetap akan menantang sampai pada titik darah penghabisan.

"Bersiaplah, Anak Muda. Kita bertarung sampai salah satu di antara kita ada yang mati," sambung Bratasena, langsung membuka tantangan.

Rangga tetap diam membisu. Bahunya diangkat sedikit, tidak dapat lagi menghindari tantangan itu. Dia juga tidak ingin mengecewakan penantangnya. Di dalam rimba persilatan, sebuah tantangan yang sudah diucapkan, pantang dihindari lagi. Nama besarnya akan jatuh seketika itu juga, jika menghindari tantangan yang diucapkan secara terbuka!

Sret!

Bratasena langsung mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Suara kebutan pedangnya, sempat menggetarkan dada Pendekar Rajawali Sakti. Jelas sekali kalau Rangga tidak bisa memandang ringan lawannya.

"Cabut pedangmu, Anak Muda!" bentak Bratasena lantang.

"Maaf... Aku tidak biasa menggunakan senjata tanpa alasan," sahut Rangga tanpa bermaksud merendahkan.

"Phuih! Sombong...!" dengus Bratasena, merasa diremehkan.

"Hm..."

"Jangan menyesal kalau kau mati tanpa sempat mencabut senjata, Anak Muda."

"Silakan, aku tidak akan menyesal," sambut Rangga ringan.

"Phuih...!" Kembali Bratasena menyemburkan ludahnya dengan sengit. Perlahan kakinya bergeser ke kanan, sambil mempermainkan pedangnya di depan dada. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak, mengamati setiap gerak laki-laki setengah baya itu dengan sinar mata tajam, tanpa berkedip sedikit pun juga.

"Tahan seranganku! Hiyaaa...!"

Bet!

Cepat sekali Bratasena melompat sambil mengebutkan pedangnya, tepat mengarah ke bagian kepala Pendekar Rajawali Sakti.

"Haps!" Namun hanya sedikit saja Rangga mengegos-kan kepala. tebasan pedang lawannya bisa dihin-dari. Dan cepat kakinya ditarik ke belakang, begitu Bratasena langsung melepaskan satu tendangan menggeledek dengan tubuh berputar di udara. Kembali serangan laki-laki setengah baya itu tidak mengenai sasaran.

"Phuih!" Bratasena kembali menyemburkan ludahnya dengan sengit, begitu kakinya menjejak kembali di tanah berpasir ini. Sementara. Rangga kembali berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Begitu tenang sikap Pendekar Rajawali Sakti, tanpa sedikit pun merasa dia terpancing. Bahkan Bratasena sendiri yang jadi geram melihat ketenangan pemuda lawannya.

"Hap...!" Bratasena langsung mempersiapkan jurus yang kedua, setelah jurus pertamanya tidak membawa hasil. Pedangnya berkelebat begitu cepat di depan dadanya sendiri sambil menggeser kaki yang begitu cepat dan ringan. Sementara Rangga masih tetap diam, menanti dengan mata tidak berkedip. Terus diperhatikannya setiap gerak lawannya ini.

"Hup! Yeaaah...!" Sambil membentak keras, Bratasena langsung melompat menyerang. Pedangnya berkelebatan begitu cepat dan beruntun beberapa kali. Setiap sabetannya, mengarah ke bagian tubuh lawan yang mematikan. Namun dengan gerakan gesit dan ringan, Rangga berhasil menghindari semua serangan cepat dan beruntun ini. Saat itu Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan jurus Sembilan Langkah Ajaib". Sebuah jurus yang hanya digunakan untuk menghindari serangan lawan, tanpa harus balas menyerang.

Bratasena terus menyerang gencar, mengerahkan jurus-jurus pedangnya yang sangat cepat dan berbahaya. Beberapa kali pedangnya hampir me-nebas bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Tapi dengan gerakan tubuh indah sekali, Rangga selalu bisa menghindarinya. Bahkan gerakan-gerakan tubuh Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak beraturan sama sekali, membuat Bratasena jadi tidak mengerti dan sulit memasukkan serangan.

"Hiya! Hiya! Yeaaah...!"

Jurus demi jurus berlalu cepat. Sementara Bratasena semakin meningkatkan serangannya Namun sampai enam jurus berlalu, belum juga bisa memasukkan serangannya. Bahkan semakin sulit saja untuk bisa menjamah tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan gerakan-gerakan Rangga dalam menghindari serangan-serangan memang semakin sulit dimengerti. Malah sama sekali bukan gerakan-gerakan ilmu olah kanuragan, tapi lebih mirip gerakan orang yang terlalu banyak menenggak minuman arak. Namun semakin tidak beraturannya gerakan-gerakan Pendekar Rajawali Sakti, semakin sulit saja untuk bisa menjamahnya.

"Setan...! Hup!"

Bratasena jadi putus asa. Cepat dia melompat ke belakang dan berputaran tiga kali di udara, sebelum kedua kakinya menjejak tanah berpasir putih di halaman depan Istana Pulau Bidadari ini. Hingga antara mereka, kini terjaga jarak sejauh satu batang tombak

Laki-laki setengah baya itu sudah menyilang-kan pedangnya. Tampak tarikan napasnya begitu cepat memburu. Dan titik-titik keringat mulai terlihat membasahi wajah dan lehernya. Sedangkan Rangga tetap kelihatan tenang, dengan napas tetap teratur lembut. Sedikit pun tidak terlihat titik keringat di wajahnya. Malah bibirnya mengembangkan senyum yang sangat manis.

"Kau memang tangguh, Anak Muda. Tapi itu baru permulaan saja. Hadapilah jurus-jurus pamungkasku ini...!" desis Bratasena dengan suara dingin menggetarkan.

"Hm..." Rangga hanya menggumam saja sedikit. Sementara, Bratasena sudah membuat beberapa gerak pedang, mempersiapkan jurus andalan. Setiap kebutan pedangnya kali ini, menimbulkan gemuruh topan yang mengamuk di lautan. Dan saat itu juga, Rangga merasakan adanya hempasan hawa panas dari tiupan angin yang keluar dari gerakan-gerakan pedang itu.

"Hm..." Kembali Rangga menggumam sedikit. Lalu kakinya ditarik ke belakang dua langkah. Kedua tangannya yang sudah terkepal erat, tersilang di depan dada. Sorot matanya terlihat begitu tajam memperhatikan setiap gerakan pedang yang dimainkan lawannya. Sebentar kemudian perlahan-lahan Rangga menggerakkan kedua tangannya, hingga turun sejajar pinggang. Dan saat itu juga kedua kepalan tangannya jadi berwarna merah, bagai besi terbakar dalam tungku. Jelas sekali kalau pemuda itu sudah mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Sebuah jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang dahsyat dan sukar dicari tandingannya.

"Tahan seranganku, Anak Muda! Hiyaaat...!"

Sambil membentak keras menggelegar, Brata sena melompat cepat. Langsung pedangnya dikebutkan begitu cepat seperti membuat putaran. Sehingga, hanya lingkaran putih keperakan saja yang terlihat, seperti sebuah perisai melindungi dirinya. Namun pada saat itu juga...

"Yeaaah...!"

Rangga langsung menghentakkan kedua tangannya yang sudah terkepal ke depan, sambil menarik kedua kakinya, hingga terpentang cukup lebar ke samping. Dan seketika itu juga, dari telapak tangannya yang langsung terbuka melesat dua buah sinar merah yang begitu cepat bagai kilat. Sinar itu langsung menghantam bagian tengah lingkaran putih dari putaran pedang Bratasena yang cepat itu. Dan...

Splash!
"Akh...!"
Trang!

Bratasena terpekik agak tertahan. Tubuhnya langsung terpental ke belakang. begitu cahaya merah yang melesat dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam lingkaran pedangnya. Dan terlihat pedang itu terpental jatuh ke tanah berpasir putih ini, tepat di ujung jari kaki Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Bratasena sendiri terhuyung-huyung sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah.

"Setan keparat...!" desis Bratasena geram setengah mati.

"Ini pedangmu, Ki," kata Rangga sambil menyepak pedang yang tergeletak di depan ujung jari kakinya.

Pedang itu langsung melayang deras ke arah Bratasena.

"Phuih!"
Tap!

Dengan tangan kiri, Bratasena menangkap pedang itu. Meskipun geram, tapi hatinya memuji kesatriaan pemuda yang menjadi lawannya. Belum pernah dia menemukan lawan seperti pemuda itu. Begitu jantan, dan tidak sudi mengambil keuntungan untuk memenangan sendiri, di saat lawannya sudah tidak berdaya. Bahkan memberinya kesempatan untuk kembali melanjutkan pertarungan secara ksatria.

"Kemenanganmu belum tiba, Anak Muda... Aku masih menyimpan ilmu kesaktian yang tidak bisa kau hadapi lagi," desis Bratasena dingin menggetarkan.

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedikit.

Cring! Bratasena menyarungkan kembali pedangnya di pinggang. Kemudian dia membuat beberapa gerakan dengan gerakan perlahan. Sedangkan Rangga hanya memperhatikan saja dengan kelopak mata agak menyipit. Sesaat kemudian, Pendekar Rajawali Sakti jadi terkesiap begitu melihat seluruh tubuh Bratasena memancarkan cahaya merah, seperti terbakar. Rangga langsung melangkah ke belakang beberapa tindak. Sementara, Bratasena yang seluruh tubuhnya sudah bercahaya merah, berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal erat di samping pinggang.

"Yeaaah...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bratasena langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan, sambil berteriak keras menggelegar. Maka seketika itu juga, dari kepalan kedua tangannya melesat dua cahaya merah yang langsung meluruk bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.

"Haup!"

Cepat-cepat Rangga melenting ke samping, dan langsung menjatuhkan diri ke tanah. Sehingga, serangan Bratasena tidak sampai mengenai tubuhnya. Dua cahaya merah bagai api itu menghantam tanah kosong, hingga menimbulkan ledakan sangat dahsyat menggelegar. Debu kontan beterbangan ke angkasa beberapa kali ditanah berumput ini. Dan cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat bangkit berdiri, dengan gerakan begitu indah.

Namun saat itu juga, Bratasena sudah menghentakkan kedua tangannya kembali ke arah Pendekar Rajawali Sakti sambil berteriak keras menggelegar.

"Yeaaah...!"
"Hap!"

Kembali Rangga terpaksa harus melenting ke belakang, sambil berputar dua kali di udara untuk menghindari serangan itu. Lalu manis sekali Pendekar Rajawali Sakti hinggap di atas sebatang pohon yang tidak begitu tinggi. Tapi pada saat itu juga, Bratasena sudah melancarkan serangan kembali yang sangat dahsyat. Sehingga, Rangga kembali harus melesat menghindarinya. Suara ledakan pun kembali terdengar begitu dahsyat, membuat pohon itu seketika hancur berkeping-keping terhantam cahaya merah bagai api.

"Hap!"

Manis sekali Rangga menjejakkan kakinya kembali di tanah. Dan pada saat itu, Bratasena sudah siap hendak menyerangnya kembali. Sudah tiga kali serangan yang dilancarkan, tapi tidak satu pun yang berhasil mengenai sasaran. Rangga selalu bisa menghindari serangan itu dengan gerakan manis sekali.

"Hiyaaa...!"

Tapi serangan yang dilancarkan Bratasena kali ini, Rangga sama sekali tidak berusaha menghindarinya. Ditunggunya sampai cahaya merah bagai api itu dekat dengan dirinya. Lalu...

"Yeaaah...!"
Cring!
Bet!
Clarks!

"Heh...?!" Bratasena jadi tersentak kaget setengah mati, begitu tiba-tiba Rangga mencabut pedang pusakanya, dan langsung dikebutkan ke depan untuk menangkis serangannya. Kedua cahaya merah yang dilepaskannya terpental balik, begitu menghantam Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang memancarkan cahaya biru terang berkilauan menyilaukan mata.

Untung saja Bratasena cepat melompat, hingga tidak sampai tersambar cahaya merah yang dilepaskannya sendiri. Dan dia cepat berputaran beberapa kali di udara, sebelum kedua kakinya menjejak tanah kembali. Sementara. Rangga sudah menggenggam pedang pusakanya. Senjata yang memancarkan cahaya biru terang itu kini tersilang di depan dada. Pamor pedang itu memang sangat dahsyat, membuat kedua bola mata Bratasena jadi terbeliak lebar. Belum pernah disaksikannya sebilah pedang yang berpamor begitu dahsyat. Bahkan bisa mengeluarkan cahaya terang yang begitu menyilaukan mata!

Sret!
Cring...!

Bratasena langsung mencabut pedangnya kembali, dan digenggam dengan tangan kanan. Pedang itu juga kini berwarna merah, bagai mengeluarkan api. Sementara Rangga sudah menyilangkan pedangnya di depan dada. Sementara telapak tangan kirinya menempel pada mata pedang yang memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata. Tatapan matanya begitu tajam, tertuju lurus pada bola mata lawannya yang berada sekitar satu batang tombak di depannya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam saling berdiri berhadapan dan saling berpandangan tajam. Seakan-akan, mereka sedang mengukur tingkat kapandaian masing-masing.

"Mampus kau, Anak Muda Keparat! Hiyaaat...!"

"Hap!"

Bratasena seakan tidak memberi kesempatan pada Pendekar Rajawali Sakti untuk mempersiapkan aji kesaktian juga. Begitu melihat pamor pedang pusaka pendekar muda itu demikian dahsyat, darahnya jadi berdesir cepat sekali. Maka langsung saja dilancarkannya serangan-serangan secara beruntun dan cepat sekali. Dan ini membuat Rangga terpaksa harus berjumpalitan di udara menghindarinya.

"Hih!"
Splash...!

Bahkan beberapa kali Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantam cahaya merah yang menyerang pemuda itu. Sehingga, beberapa kali pula Bratasena terpaksa harus melompat menghindari cahaya merahnya sendiri, yang terpantul balik menyerangnya. Sementara, Rangga terus berjumpalitan di udara, menghindari setiap serangan lawannya yang gencar dan beruntun.

"Hiya! Yeaaah...!"

Bratasena terus menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan gencar dan beruntun. Begitu cepat serangannya, hingga membuat Rangga begitu sulit memberi serangan balasan. Dan Pendekar Rajawali Sakti terpaksa harus terus menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindarinya. Sehingga, tidak ada satu serangan pun yang dilancarkan Bratasena tepat mengenai sasaran. Gerakan-gerakan Rangga begitu sulit diterka arahnya. Bahkan pedang yang tergenggam di tangannya beberapa kali bisa menangkis serangannya, tanpa mendapatkan pengaruh apa-apa.

DELAPAN

Menyadari akan kedahsyatan pedang Pendekar Rajawali Sakti, Bratasena kini menyerang sambil berlompatan memutari lawannya. Bahkan kini semakin memperpendek jarak saja. Dan akhirnya, Bratasena menggunakan pedang begitu jaraknya sudah demikian dekat.

"Hiya! Yeaaah !"
Bet!
Wut!

"Haiiit...!" Rangga kembali harus berjumpalitan, sambil meliuk-liukkan tubuhnya dengan pengerahan jurus Sembilan Langkah Ajaib', dalam menghindari serangan-serangan lawannya. Dan sekarang mereka bertarung dari jarak dekat. Walaupun kini Bratasena menggunakan pedangnya, tapi tetap masih saja melepaskan cahaya-cahaya merah bila memang memiliki kesempatan, dan setiap kali Rangga berusaha memperpanjang jarak.

"Gila...! Dia benar-benar tidak memberiku kesempatan!" dengus Rangga dalam hati. "Hup! Yeaaah...!"

Bratasena memang tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Pendekar Rajawali Sakti untuk bisa membalas menyerang. Dan terus dilancarkannya. Serangan-serangan dahsyat dengan gencar. Tentu saja, ini membuat Rangga tampak kewalahan juga menghadapinya. Tapi dengan pedang pusaka berada dalam genggaman tangan, Rangga masih bisa bertahan dan terus mengimbangi serangan lawan.

"Hih! Yeaaah. !"
"Hih!"
Trang!

Rangga berhasil menangkis sambaran pedang Bratasena yang berkelebat begitu cepat mengarah ke kepalanya dengan pedangnya. Begitu kerasnya, hingga menimbulkan percikan pijaran bunga api yang menyebar ke segala arah. Dan di saat pedang Bratasena terpental balik, Rangga merasa memiliki kesempatan untuk memberi serangan balasan. Dan ketika itu juga, tubuhnya berputar sambil melepaskan satu tendangan yang begitu cepat disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Hiyaaa ...!"

Begitu cepat serangan balik Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Bratasena sama sekali tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Terlebih lagi, saat itu harus menahan pedangnya agar tidak terlepas, ketika berbenturan dengan pedang pusaka pemuda lawannya. Hingga....

Bekh!
"Akh...!"
"Hup...!"

Bratasena jadi terpekik, begitu tendangan Rangga tepat menghantam dadanya. Dan pada saat yang bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti melenting dan berputaran beberapa kali ke belakang, menjauhi lawannya. Cepat sekali gerakan yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di tanah.

"Hap!"

Sementara itu Bratasena masih terhuyung-hu-yung ke belakang, sambil mendekap dada dengan tangan kanannya yang terluka, akibat terkena serangan jarak jauh jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tadi. Dan pada saat itu, Rangga sudah menyilangkan pedangnya di depan dada. Kedua kakinya sudah ditarik hingga terpentang lebar ke samping. Sedangkan telapak tangan kirinya sudah menempel pada mata pedang yang memancarkan cahaya biru terang itu.

"Hhh...!"

Sambil menghembuskan napas pendek yang terdengar berat, Rangga langsung menggosok mata pedang itu dengan telapak tangan kiri. Lalu tubuhnya bergerak meliuk beberapa kali. Dan begitu kedua kakinya kembali merapat, tampak cahaya biru yang memendar pada pedang itu kini menggumpal di ujungnya.

Sementara, Bratasena sudah bersiap kembali melakukan pertarungan yang sempat terhenti sebentar ini. Tampaknya laki-laki setengah baya itu juga sudah siap melakukan serangan dengan jurus ilmu pamungkasnya yang dahsyat.

"Mampus kau, Anak Muda! Hiyaaa...!"

Bersama terdengarnya bentakan keras yang dilanjutkan satu serangan cepat dan dahsyat, seketika itu juga Rangga berteriak keras menggelegar. Suaranya bagai guntur memecah angkasa malam gelap gulita...

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"
Bet!
Slap!

Tepat di saat Rangga menghentakkan pedangnya ke depan, seketika itu juga bulatan cahaya biru yang menggumpal di ujung pedangnya melesat bagai kilat, menyambut serangan Bratasena. Begitu cepatnya masing-masing melancarkan serangan, sehingga...

Glarrr...!

Akh...!" Kembali Bratasena menjerit melengking, begitu cahaya biru yang memancar dari ujung Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantam tubuhnya yang sedang meluncur di udara untuk melakukan serangan. Dan terjangan cahaya biru itu membuat tubuh laki-laki setengah baya itu terpental deras ke belakang. Lalu, keras sekali punggungnya menghantam sebatang pohon beringin yang begitu besar. Akibatnya pohon itu hancur berkeping-keping, memperdengarkan ledakan keras menggelegar. Bahkan sampai membuat tanah di pulau ini bergetar bagai diguncang gempa.

Bruk!

Bratasena jatuh keras sekali dan langsung bergulingan di tanah. Sampai-sampai terdengar pekikan agak tertahan dari bibirnya. Beberapa kali Bratasena bergelimpangan di tanah, di antara pecahan kayu pohon yang terlanda tubuhnya tadi.

"Hap!" Rangga langsung menarik kembali aji kesaktiannya yang sangat dahsyat, begitu melihat lawannya terpental cukup jauh ke belakang. Dan cahaya biru kembali memancar di seluruh mata pedang itu.

"Hoeeekh...!" Bratasena tampak memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Hm..."

Sementara itu, Rangga tampak berdiri tegak dengan pedang pusaka tersilang di depan dada. Saat itu, Pendekar Rajawali Sakri bagai sosok malaikat maut pencabut nyawa dengan pedang bercahaya biru tergenggam di tangan kanan. Sedangkan Bratasena tampak sedang berusaha bangkit berdiri walaupun susah payah. Tapi akhirnya dia juga berdiri, walaupun tubuhnya gontai dengan pakaian koyak dan berlumur darah.

Memang, dari mulut laki-laki setengah baya itu terus mengeluarkan darah kental berwarna agak kehitaman. Bahkan beberapa pecahan kayu pohon yang dilandanya tadi, ada yang merobek kulit tubuhnya. Sampai-sampai tubuhnya mengeluarkan darah yang mengotori pakaian. Cahaya merah tidak lagi terlihat menyelubungi tubuh laki-laki berusia setengah baya ini. Cahaya itu memang sudah lenyap, ketika kilatan cahaya biru yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantamnya tadi. Dan untuk sesaat, pertarungan kembali terhenti.

"Ini yang terakhir, Anak Muda.... Kita tentukan sekarang. Siapa di antara kita yang harus menghuni lubang kubur...," desis Bratasena dingin menggetarkan.

Rangga hanya diam saja. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan pertarungan ini. Kalau saja ada orang lain lagi yang menyaksikan, sudah barang tentu akan menilai kalau Pendekar Rajawali Sakti sudah memenangkan pertarungan. Tapi, tampaknya Bratasena tidak peduli dengan keadaan dirinya yang sudah tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan. Dan dia terus membuka tantangan pada pemuda berbaju rompi putih ini.

Cring!

Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Maka seketika cahaya biru lenyap, begitu pedang pusaka berpamor dahsyat itu tersimpan kembali di dalam warangka. Dan pada saat itu, terlihat Bratasena sudah melangkah dengan kaki terseret mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Dari bibirnya yang penuh darah, terdengar suara mendesis seperti seekor ular. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak, menanti lawannya sampai dekat.

"Mampus kau! Hiyaaat...!"

Sambil membentak geram, Bratasena kembali melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Dan pedangnya langsung dikibaskan ke kepala pemuda tampan berbaju rompi putih itu.

Bet!

"Hap!"

Cepat Rangga memiringkan kepalanya. Maka tebasan pedang itu tidak sampai mengenainya. Dan pada saat tubuh lawannya doyong ke depan, cepat sekali Rangga melepas satu tendangan kaki kanan disertai pengerahan tenaga dalam sempurna, sambil memutar tubuhnya sedikit ke kiri.

"Yeaaah...!"

Begitu cepat tendangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Bratasena tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Dan...

Begkh!
"Aaakh..!"
"Hiyaaa...!"

Tepat ketika tubuh Bratasena terbungkuk, Rangga langsung melepaskan satu pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Dan pukulan itu tepat menghantam wajah laki-laki berusia setengah baya ini.

Jder!

"Aaa...!" Seketika itu juga, terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang begitu menyayat. Tampak Bratasena terhuyung-huyung dengan tubuh berputaran kebelakang, sambil mendekap wajahnya. Tapi tak lama kemudian, laki-laki berusia setengah baya itu jatuh menggelepar ke tanah berumput di halaman depan Istana Pulau Bidadari ini. Tampak darah mengalir deras dari wajah yang remuk, terkena pukulan dahsyat Pendekar Rajawali Sakti tadi.

Hanya sebentar saja Bratasena menggelepar meregang nyawa, kemudian tubuhnya mengejang kaku disertai rintihan kecil yang tertahan. Dan sesaat kemudian, laki-laki setengah baya itu mengejang, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Nyawanya seketika melayang dengan dada melesak ke dalam dan tulang wajah remuk berlumur darah.

"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas panjang-panjang, begitu melihat lawannya sudah tidak bernyawa lagi. Dan pada saat itu, terdengar teriakan serak yang begitu keras dari angkasa. Rangga langsung mendongakkan kepala ke atas, saat mendengar suara yang begitu dikenalnya. Dan pada saat itu, dari angkasa meluruk deras seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan. Sebentar saja, burung rajawali raksasa itu sudah mendarat tidak jauh dari depan pemuda ini. Dan Rangga pun bergegas menghampiri. Dan di punggung burung raksasa itu, terlihat Pandan Wangi duduk di sana. Tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakri langsung melompat naik dan duduk di depan Pandan Wangi, tepat di bagian lekuk antara leher dan punggung burung rajawali raksasa ini.

"Tinggalkan pulau ini, Rajawali," pinta Rangga.

"Khraaagkh...!"

Hanya sekali mengepakkan sayapnya saja, Rajawali Putih sudah langsung melambung tinggi ke belakang, menembus awan. Dan dari angkasa ini, Rangga bisa melihat beberapa buah perahu merapat di pantai. Dari dalam perahu itu, keluar Arya Bangal bersama para pengawal dan rakyatnya yang tinggal sedikit. Rangga tersenyum melihat mereka sudah kembali lagi ke tanah kelahirannya aman.

"Kau yang memberi tahu mereka, Pandan?" tanya Rangga.

"Ya! Dan aku langsung ke sini menjemputmu," sahut Pandan Wangi.

"Mereka tahu tentangku?" tanya Rangga lagi.

"Tidak," sahut Pandan Wangi tegas. "Mereka juga tidak tahu tentang Rajawali Putih."

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedikit.

"Kakang! Kau tahu, kenapa peta penyimpanan harta kekayaan Pulau Bidadari berada di tangan utusan Adipati Krasana?" tanya Pandan Wangi.

"Tidak," sahut Rangga, seraya menggeleng pelan.

"Peta itu terjatuh ketika pasukan Kadipaten Balakarang menyerang mereka diperbatasan. Dan peta itu ditemukan salah seorang punggawa Adipati Krasana. Tapi, seorang prajurit utusan melihatnya dan mencurinya dari tempat penyimpanan benda berharga di istana kadipaten. Dia berusaha lari membawa peta itu, tapi prajurit Adipati Krasana mengejarnya. Utusan itu berhasil dibunuh, tapi peta terjatuh. Dan, mereka tidak menemukannya," jelas Pandan Wangi.

Rangga hanya mengangguk-angguk saja. "Tapi sekarang, tidak ada lagi persoalan, Kakang. Tidak ada yang tahu tentang pulau itu lagi. Mereka bisa hidup damai. untuk membangun bangsanya kembali," sambung Pandan Wangi.

"Ya...," Rangga hanya mendesah saja sedikit. Dan Pendekar Rajawali Sakti meminta Rajawali Putih untuk mengantarkannya kembali pulang.

"Khraaagkh...!"

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: PEMBURU DARAH
Thanks for reading Pulau Kematian I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »