Peri Peminum Darah

PERI PEMINUM DARAH

SATU
Pagi hening dan berkabut saat ini menyelimuti Desa Karang Asem. Orang-orang sepertinya enggan keluar rumah. Jalanan terlihat lengang sepi. Sesekali terdengar lenguh pendek seekor sapi. Udara dingin yang menerpa begitu menggigit tulang sum-sum. Sehingga hewan ternak itu beberapa kali berputar-putaran di dalam kandangnya, kemudian merungkut di tumpukan jerami yang paling tebal.

Seorang laki-laki setengah baya bertubuh kurus tampak keluar dari pintu belakang rumah biliknya sambil membawa obor pendek di tangan. Diperhatikannya keadaan disekitar kandang. Diperiksanya tiga ekor sapinya, berikut beberapa ekor kambing, dan belasan ekor ayam. Kepalanya menggeleng lemah. Disertai dengusan kesal, dia kembali masuk ke dalam, lewat pintu dapur.

"Kasihan, mereka kedinginan," gumam laki-laki setengah baya itu pelan, begitu berada di dapur.

"Kenapa tidak dibuat perapian di sekitarnya...?" kata istrinya yang sedang merebus air di dapur.

"Oaaah...!" Orang tua berjenggot putih dan pendek ini menguap panjang seraya menggeliatkan tubuhnya. "Aku masih ngantuk..."

"Dasar pemalas!" gerutu istrinya.

Orang tua itu tidak peduli. Dia segera mendekati ranjang dan berbaring disitu. Diselimuti tubuhnya dengan sarung.

"Lasmi...!" teriak wanita itu.

Dari kamar depan, seorang gadis belia berkulit sawo matang buru-buru menghampiri.

"Ada apa, Bu!" sahut gadis berparas cantik itu seraya menggelung rambutnya yang panjang terburai.

"Coba bakar sampah di dekat kandang kambing dan kerbau itu."

"Bikin kopi Ayah dulu!" potong laki-laki setengah baya itu.

Gadis belia berwajah manis itu terdiam sesaat dengan wajah bingung.

"Sudah! Bakar sampah sana. Biar kopi ayahmu Ibu yang buatkan," kata ibunya menengahi.

Gadis itu mengangguk. Kemudian dia berlalu lewat pintu belakang setelah menyambar lampu dinding.

"Apa-apa harus si Lasmi yang mengerjakan. Lalu, apa yang bisa kau kerjakan, Kang?" gerutu wanita itu sambil mengomel dan menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi kopi.

Sementara itu, sang Suami duduk di tepi ranjang sambil membetulkan letak sarungnya. Tubuhnya menggeliat sebentar, kemudian tersenyum kecut.

"Badanku pegal-pegal sehabis menggarap ladang kemarin siang..."

"Baru kerja begitu Kakang sudah mengeluh...."

Laki-laki setengah baya itu tersenyum kecil, kemudian beranjak meraih kopinya. "Singkongnya belum direbus?" tanya sang Suami.

"Sebentar lagi matang...."

Laki-laki itu menyeruput kopinya, kemudian bangkit berdiri. Segera dia beranjak ke belakang. "Biar aku membantu si Lasmi...," kata laki-laki setengah baya itu seperti pada diri sendiri.

Istrinya menoleh sekilas, kemudian beranjak ke kamarnya. Laki-laki setengah baya yang dikenal dengan nama Kusno ini baru saja berada di ambang pintu ketika serangkum angin dingin menerpa. Subuh terasa masih gelap dengan kabut semakin tebal. Pada jarak lima langkah, yang terlihat hanya lampu yang dibawa Lasmi. Tapi, tampak bergoyang-goyang!

"Ayaaah...!" mendadak Lasmi menjerit tertahan.

Ki Kusno terkesiap. Seketika dia melompat seraya menyambar cangkul yang berada di dekatnya.

"Ayaaah...!" Sekali lagi gadis belia itu menjerit. Lalu, terlihat lampu di tangannya terlempar.

"Kurang ajar! Siapa kau?! He, tunggu...! Tunggu! Apa yang kau lakukan pada anakku?!" teriak Ki Kusno kalap ketika melihat sekelebat bayangan yang membuat tubuh anaknya seperti melayang tertiup angin.

"Lasmi! Lasmiii...!" Ki Kusno berteriak, langsung berlari kesana kemari mencari anaknya yang telah lenyap entah kemana.

Angin dingin berhembus menimbulkan bunyi desau menyayat. Kini Ki Kusno hanya tertunduk lesu sambil melangkah pelan. Dipungutnya lampu yang tergeletak ditanah. Nyala apinya mulai mengecil, lalu padam. Langkah laki-laki setengah baya itu gontai menuju pintu belakang.

"Kang, ada apa? Apa yang telah terjadi?! Mana Lasmi? Mana anak kita...?!" teriak Nyi Kusno sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri.

Ki Kusno hanya diam membisu. Sedikit pun tak ada suaranya. Tubuhnya berguncang ketika istrinya mulai kalap dengan mencengkeram bajunya.

"Mana Lasmi?! Mana dia...?! Lasmi! Lasmi...!"

Wanita setengah baya itu berteriak nyaring. Dia langsung berlarian ke sekitar halaman belakang rumahnya. Sementara, Ki Kusno masih diam mematung tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Istrinya tampak menghampiri dengan wajah pucat dan bibir bergetar. Sepasang matanya telah dibasahi air mata yang menetes jatuh membasahi pipinya yang mulai terlihat keriput.

"Anak kita, Kang...! Anak kita...," kata Nyi Kusno, lirih seraya mendekap wajahnya. Lalu dia duduk bersimpuh menumpahkan kesedihan.

Laki-laki setengah baya itu tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Dia juga tidak tahu, apa yang harus dikatakannya untuk menghibur hati istrinya. Hatinya bagai hancur berkeping-keping atas kejadian yang menimpa dirinya. Anaknya telah hilang dicuri orang!

********************

Belakangan ini di Desa Karang Asem sering terjadi penculikan terhadap gadis-gadis belia. Dan kebanyakan, yang diculik adalah perawan berusia sekitar lima belas sampai tujuh belas tahun. Tidak ada seorang pun yang diculik itu selamat. Mereka tewas dengan tubuh pucat bagai mayat, karena darahnya terisap habis. Dan mayat mereka dibiarkan tergeletak begitu saja di sembarang tempat oleh penculiknya. Di bagian lehernya. terdapat dua buah luka kecil yang agak dalam, seperti tertusuk benda tajam runcing. Dan masyarakat Desa Karang Asem menyebut penculik itu sebagai si Peminum Darah!

Hal ini tentu saja amat menggelisahkan penduduk desa itu. Tidak jarang mereka yang memiliki anak gadis perawan, menjaganya dengan ketat. Para gadis dilarang untuk pergi jauh dari rumah. Selama ini, belum ada yang bisa bertindak untuk mencegah, sebab si Penculik bertindak demikian cepat bagai bayangan hantu.

Tak heran kalau penculik itu juga dinamakan Peri Peminum Darah. Namun, tidak semua orang percaya kalau yang melakukan adalah makhluk halus. Sementara kalangan rimba persilatan yang tahu betul soal keanehan tokoh-tokoh silat, merasa yakin kalau hal itu perbuatan seorang bajingan yang berhati keji dan biadab. Maka mereka menyebut Peri Peminum Darah!

Para korban Peri Peminum Darah ternyata tidak hanya dari rakyat jelata, tapi juga dari kalangan lain. Tidak peduli gadis anak seorang adipati, putri seorang tokoh silat ternama atau juga dari kalangan hartawan. Maka tentu saja ini amat menjengkelkan semua pihak.

Dan kejadian yang sama juga telah menimpa seorang laki-laki bertubuh gemuk berusia sekitar lima puluh tahun. Dia adalah seorang hartawan ternama di Desa Parang Kesuma. Bahkan orang paling kaya di dua belas desa yang termasuk wilayah Kadipaten Beringin Wetu. Rumahnya besar dan selalu dijaga para tukang pukul yang bersenjata lengkap.

Malam ini di rumah hartawan yang bernama Ki Dawang Rejo itu terlihat ramai. Hanya saja keramaian itu tidak seperti biasanya. Betapa tidak? Rumah Ki Dawang Rejo kian ramai oleh tangis istrinya yang tidak kunjung usai sejak pagi tadi. Sejak putrinya yang bernama Rukmini tidak pulang ke rumah, setelah bepergian ke ibukota kadipaten.

Sementara Ki Dawang Rejo tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali menggeram habis-habisan. Padahal, Rukmini tidak pernah bepergian seorang diri. Hari itu dia dikawal lima orang tukang pukul Ki Dawang Rejo. Tapi pada malam harinya, hanya dua orang yang kembali. Dan kedua tukang pukul itu menceritakan kalau seseorang telah menculik Rukmini. Bahkan menewaskan tiga orang lainnya, ketika mereka berusaha membantu.

"Tidakkah kalian tahu siapa penculik itu...?" tanya orang tua itu lirih, seraya menghenyakkan pantatnya di kursi ruang depan.

Kedua tukang pukul yang menceritakan peristiwa itu menggeleng lemah dengan wajah tertunduk.

"Dia berkerudung hitam. Sehingga hanya sepasang matanya saja yang terlihat. Namun itu pun hanya sebentar. Gerakannya cepat sekali, Ki...," jelas salah seorang.

"Mungkinkah Rukmini diculik Peri Peminum Darah...."

"Ki Dawang Rejo! Sebaiknya jangan berpikir jauh dulu. Mungkin Rukmini diculik penjahat kelas teri yang hanya menginginkan sedikit kepingan emas untuk ditukar dengan putrimu...," sahut tukang pukul yang bernama Ki Warso.

Ki Dawang Rejo menghela napas panjang. Memang biasanya kata-kata Ki Warso amat diperhatikannya. Apalagi, orang tua itu bukan satu atau dua tahun saja ikut bersamanya. Bahkan telah mengabdi sejak masih muda. Tapi kali ini, kata-kata Ki Warso dianggapnya sebagai penghibur belaka. Malah keresahan hatinya tidak juga sirna.

"Ki Warso! Tahukah kau, siapa saat ini yang paling bisa diandalkan...?"

"Maksud, Ki Dawang?"

"Maksudku, siapa saat ini yang paling bisa diandalkan untuk mencari dan menemukan putriku kembali?" ulang Ki Dawang Rejo, dengan mata menatap tajam Ki Warso.

"Ki Dawang Rejo memiliki anak buah yang banyak. Dan di antara mereka, tidak sedikit memiliki ilmu olah kanuragan tinggi. Kenapa tidak diperintahkan mereka untuk mencarinya?"

"Sudah. Aku telah mengirim sepuluh orang yang dipimpin Ki Sukaya...."

"Ki Sukaya? Hm ... Aku tahu, dia memang memiliki kemampuan hebat!"

Ki Dawang Rejo menghela napas seraya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Tampak bahwa sebenarnya, laki-laki itu tidak merasa puas akan usaha anak buahnya.

"Ki Dawang Rejo tampaknya tidak yakin...?" tanya Ki Warso menduga.

"Ki Sukaya memang hebat. Namun, apakah dia mampu bergerak secepat angin seperti yang dilakukan penculik putriku? Kalau dia tidak mampu berbuat seperti itu, mana mungkin akan menemukan putriku kembali...," keluh Ki Dawang Rejo dengan wajah muram.

"Jangan dulu berkecil hati, Ki Dawang Rejo. Cerita orang mengenai si Peri Peminum Darah bisa saja terlalu dilebih-lebihkan. Ki Sukaya adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Dia hebat. Dan ilmu olah kanuragannya bisa diandalkan!"

Ki Dawang Rejo terdiam. Bukan menyetujui kata-kata Ki Warso, tapi memang kata-katanya seperti sudah kering.

"Siapa sebaiknya orang itu, Ki Warso...?"

"Maksud, Ki Dawang Rejo..?"

"Orang yang pantas mencari anakku. Dan kalau memungkinkan, dari kalangan para pendekar?"

"Kita tidak bisa menentukan. Karena di kalangan persilatan, banyak sekali orang hebat"

"Aku hanya ingin seorang yang bisa diandalkan! Apa pun yang diminta pasti segera akan kukabulkan!"

Ki Warso terdiam beberapa saat. Benaknya menerka mengingat-ingat, pendekar mana yang bisa melakukan tugas ini. "Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki Warso, seperti berkata pada diri sendiri.

"Siapa?!"

"Pendekar Rajawali Sakti...," ulang Ki Warso.

Ki Dawang Rejo mengangguk pelan. Meskipun hanya sebagai pedagang yang sering bepergian dari satu tempat ke tempat lain, namun orang tua ini sering pula mendengar berita yang terjadi di rimba persilatan. Dan nama tokoh yang disebutkan Ki Warso memang tidak asing lagi ditelinganya.

"Di mana kita bisa menemuinya?" desak Ki Dawang Rejo. Wajahnya sedikit cerah, seolah ada harapan di hatinya kalau tokoh yang disebutkan Ki Warso mampu mengembalikan putrinya.

"Itulah yang agak merepotkan, Ki Dawang Rejo. Pendekar Rajawali Sakti bukanlah tokoh yang menetap di satu tempat. Dia adalah pendekar pengembara. Dan yang lebih penting, dia tidak pernah menerima upah atas pertolongan yang diberikan pada orang lain," jelas Ki Warso.

"Jadi menurutmu, dia tidak mau membantu kita?"

"Bukan begitu, Ki Dawang Rejo. Tapi yang pasti, memang agak sulit mencarinya "

"Aku tidak peduli. Pokoknya, sekarang juga perintahkanlah lima orang untuk mencari pendekar itu. Katakan padanya, bahwa aku memerlukan pertolongannya!"

"Baiklah kalau itu keinginan, Ki Dawang. Akan kuperintahkan lima orang untuk mencarinya...," sahut Ki Warso.

********************

Matahari tepat berada di tengah-tengah. Sinarnya yang begitu garang, menjilati atap sebuah padepokan yang berpagar tembok setinggi setengah tombak. Di beranda bangunan utama padepokan, tampak seorang yang telah lanjut usia, duduk bersila berhadapan dengan lima orang laki-laki berbadan kekar.

"Hm. Ada apa guru kalian mengundangku...?" tanya orang tua berusia sekitar enam puluh enam tahun itu tersenyum kecil.

"Kami tidak tahu, Ki Ageng Sela," sahut salah satu dari lima orang berbadan kekar yang bertindak sebagai juru bicara.

"Kelihatannya ada sesuatu yang penting. Hm, berapa orang yang beliau undang?" tanya orang tua yang ternyata bernama Ki Ageng Sela.

Ki Ageng Sela memang terkenal sebagai Pemimpin Padepokan Teratai Putih. Sementara kelima tamunya saat ini bermaksud mengundangnya, karena memang ada sesuatu yang penting dalam dunia persilatan.

"Pada saat kami berangkat, empat kelompok dari teman-teman kami mendapat tugas yang sama. Hanya saja, kami tidak tahu ke mana mereka pergi"

"Oh, begitu. Baiklah. Katakan pada guru kalian, aku akan datang memenuhi undangannya..."

"Baiklah. Kalau demikian, kami pamit dulu, Ki," sahut si Juru Bicara itu seraya bangkit berdiri, diikuti keempat kawannya.

Mereka segera menjura memberi hormat. Dan orang tua itu hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Ketika kelima orang itu keluar, Ki Ageng Sela mengantarkan sampai ke pintu depan. Di depan sana, kuda-kuda telah menunggu. Begitu naik ke punggung kuda masing-masing. kelimanya segera menggebah. Baru ketika mereka hilang dari pandangan, orang tua itu beranjak masuk ke dalam bangunan utama padepokan lagi.

"Sumaji...!" teriak Ki Ageng Sela, begitu berada di dalam.

Tak lama, seorang pemuda berusia tiga puluh tahu bertubuh tegap menghampiri dari arah belakang dan dia langsung memberi salam hormat. "Guru memanggilku?" kata pemuda yang dipanggil Sumaji.

Orang tua itu mengangguk. "Ke mana Nila Dewi..?" tanya Ki Ageng Sela.

"Adik Nila Dewi masih berada di taman belakang..."

"Hm...!" Orang tua itu bergumam sesaat"

"Perlukah kupanggilkan, Guru. .?" tanya Sumaji.

"Tidak usah. Biar aku yang ke sana...." kata Ki Ageng Sela seraya melangkah pelan ke arah pintu belakang.

Halaman belakang rumah ini memang luas. Apalagi di sebelah kiri pada jarak lima belas tombak dari bangunan belakang, terdapat sebuah kebun bunga yang cukup luas dan tertata asri. Di tengah-tengah, terdapat sebuah kolam ikan yang dipenuhi berbagai macam ikan hias warna-warni. Begitu indah dilihatnya. Walaupun hanya beberapa pohon saja yang berbunga, sementara yang lainnya masih kuncup, tapi tidak mengurangi keindahan taman ini. Dari beberapa bagian yang belum teratur, agaknya taman bunga ini baru saja dibuat.

Dan sejak cucu satu-satunya yang belakangan ini sering murung dan mengurung diri di kamarnya, Ki Ageng Sela menemukan cara untuk menghibur Nila Dewi. Kebetulan, gadis itu senang akan keindahan. Maka dibuatkan taman bunga untuk Nila Dewi. Orang tua itu berharap, gadis belia ini akan terhibur. Dan nyatanya, Nila Dewi memang menyukainya. Namun, ternyata itu pun tidak menghilangkan kemurungannya. Taman bunga itu malah dijadikan sebagai pelarian yang lain, di samping mengurung diri di kamar.

Kini Nila Dewi yang berbaju biru dengan rambut panjang terurai itu tengah menjulurkan kaki kirinya, mempermainkan air kolam. Sementara dagunya bersandarkan di lutut kanan yang ditekuk di bibir kolam. Sejak tadi dia berbuat begitu tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya.

"Ehem..."

Gadis itu menoleh sekilas, tampak Ki Ageng Sela yang mendehem tadi telah berada di belakangnya. Namun kembali kakinya mempermainkan air kolam, tanpa peduli pada orang tua itu sedikit pun.

Ki Ageng Sela segera mendekat dan duduk di sampingnya. Kepalanya lantas mendongak ke atas, melihat langit berwarna cerah. Awan putih berkelompok kecil-kecil, berusaha menghalangi bias biru di langit yang bersih. Sesekali terlihat sekawanan burung kecil melintas. Orang tua itu menghela napas pendek. Kemudian pandangannya beralih ke dalam kolam. Tampak tujuh ekor ikan mas sebesar telapak tangan berenang ke sana kemari, seolah ketakutan karena merasakan air kolam sejak tadi berguncang terus. Sementara, seekor ikan mas berbadan paling besar yang berwarna merah belang-belang hitam, dengan tenang berenang di sudut lain yang agak jauh dari riak air akibat ayunan kaki gadis itu.

"Ketujuh ekor ikan mas ini sebenarnya dari induk yang berbeda. Ketika ditangkap, mereka telah kehilangan induknya. Entah ke mana. Mungkin ditangkap orang lain, kemudian dimasak. Siapa yang tahu...," kata Ki Ageng Sela membuka pembicaraan.

Nila Dewi sama sekali tidak mempedulikan. Bahkan sedikit pun tidak meliriknya.

"Tiba di kolam ini, mereka menjadi kompak dan bersatu serta menganggap yang lainnya adalah saudara. Juga ikan mas yang besar itu. Sama sekali bukan induk atau saudaranya. Namun mereka menganggap induk pada ikan yang paling besar. Coba lihat. Mereka berenang mendekatinya, dan merasa tenteram berada didekatnya...," lanjut orang tua itu.

Tetap saja Nila Dewi sama sekali tidak terusik deh kata-kata Ki Ageng Sela itu.

"Kehilangan dan merasa hidup tidak berguna, adalah hal yang salah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Mungkin ada seorang kelaparan yang kebetulan lewat sini, ikan itu lantas ditangkapnya. Kemudian, dibakar lalu disantapnya. Namun ikan-ikan ini tetap merasa kalau mereka harus mengisi hidupnya dengan penuh kegembiraan, tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi kemudian. Sebab, segala sesuatunya bukan kuasa mereka..."

"Eyang.... Aku perlu waktu untuk melupakan Kakang Bayu...," sahut gadis itu, seperti mengerti ke mana tujuan perkataan orang tua itu.

Ki Ageng Sela menghela napas. Kemudian dielus-elusnya rambut cucunya itu. "Kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan. Namun tidak berarti kalau kita harus menyakiti diri terus. Segala sesuatu alam semesta ini telah diatur Hyang Widhi. Kita harus tabah menerima segala sesuatu, meskipun terasa menyakitkan...."

"Kematian Kakang Bayu amat menyakitkan, Eyang..."

"Aku tahu, Cucuku. Tapi bukankah dia telah menemukan ganjaran atas perbuatannya...?"

Nila Dewi terdiam beberapa saat.

"Sudahlah. Kau harus melupakan peristiwa yang menyakitkan ini perlahan-lahan dan jangan menyiksa diri dengan terus bersedih..."

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Eyang...."

"Bukankah kau tidak hidup sendiri? Ada Eyang yang selalu menjagamu? Tidakkah kau merasakannya?"

Gadis belia itu mengangguk pelan. Langsung menatap wajah Ki Ageng Sela. "Maafkan kalau aku telah banyak menyusahkan, Eyang..."

"Kau tidak menyusahkanku, Cucuku. Nah, cobalah perlahan-lahan menghapus rasa sedih di hatimu...," ujar orang tua itu, lembut.

Nila Dewi kembali mengangguk lemah.

"Tiga hari lagi, Eyang akan ke Padepokan Merak Emas memenuhi undangan mereka. Di sana banyak murid wanitanya. Kau boleh ikut, kalau suka. Karena di sana kau bisa memperoleh banyak kawan...," ajak Ki Ageng Sela seraya tersenyum.

"Eyang inginkan aku ikut?"

"Pilihan itu terserah padamu..."

Nila dewi tersenyum. "Baiklah... Aku akan ikut," ujar gadis itu sambil mengangguk pelan.

"Begitu lebih baik. Nah, ayo kita makan siang bersama," ajak orang tua itu seraya bangkit berdiri.

Nila Dewi bangkit berdiri. mengikuti Ki Ageng Sela yang telah lebih dulu melangkah.

DUA

Sebenarnya, Ki Ageng Sela bukanlah tokoh silat papan atas. Namun demikian kepandaiannya cukup tinggi sehingga dia juga cukup disegani. Hanya saja, dia lebih suka hidup menyendiri, menjauhi urusan dunia luar. Dan belakangan ini, Ki Ageng Sela malah lebih suka mengurus padepokannya. Dan karena Ki Bagong Udeg yang kini menjadi Ketua Padepokan Merak Emas adalah sahabatnya, maka undangan itu tidak kuasa ditolaknya. Meski mengetahui apa maksudnya, namun sudah bisa diduga kalau urusan tidak jauh dari persoalan rimba persilatan.

Kini Ki Ageng Sela telah berada di dalam kereta yang ditarik seorang kusir bersama Nila Dewi. Di kiri dan kanan kereta, tampak dua orang ikut mengiringi dengan kuda yang selama ini sudah dianggap sebagai anak sendiri. Mereka adalah Sumaji dan Wibowo yang usianya tidak terpaut jauh. Sejak kecil, mereka memang telah ikut bersama orang tua itu.

"Kalau Eyang kurang berkenan mencampuri urusan rimba persilatan, kenapa harus memenuhi undangannya...?" tanya Nila Dewi, memecah keheningan.

"Seorang sahabat tetaplah sahabat. Bahkan bisa menjadi seperti saudara. Kesulitannya adalah kesulitanku juga, Nila," sahut Ki Ageng Sela dengan suara pelan.

"Apakah menurut Eyang, Ki Bagong Udeg mengalami kesulitan?"

"Entahlah. Mungkin dia sekadar ingin mencari jalan keluar yang terbaik. Atau juga, sekadar ingin beramah-tamah karena kami sudah lama tidak bertemu," kilah Ki Ageng Sela.

"Tapi kalau beliau ingin beramah-tamah, tidak semestinya mengundang Eyang. Beliau tentu bisa datang sendiri. Kecuali kalau memang ada acara besar atau istimewa yang sedang dilakukannya," pancing gadis itu.

"Kau benar. Mungkin juga ada sesuatu yang lebih dari sekadar istimewa, sehingga beliau tidak datang sendiri... "

"Maksud, Eyang?"

"Mungkin ada keadaan genting yang dialami...," sahut Ki Ageng Sela menduga.

"Keadaan genting bagaimana, Eyang?" tanya Nila Dewi ingin tahu.

"Yang pasti, menyangkut urusan dunia persilatan."

"Apa tidak merisaukan Eyang? Karena yang kutahu, Eyang telah lama tidak ikut campur dalam rimba persilatan.?" tanya Nila Dewi khawatir.

Ki Ageng Sela tersenyum seraya memeluk cucunya. "Yang kukhawatirkan di dunia ini adalah kehilanganmu. Jika kau sedih, maka akan sedih pula hatiku. Jika pergi atau menghilang, maka itu bagai kematian bagiku..."

"Eyang...." Nila Dewi tersenyum seraya menyandarkan kepala di pundak orang tua itu.

Dan baru saja Nila Dewi melepaskan rasa kasihnya pada Ki Ageng Sela, mendadak kusir kereta menghentikan laju kudanya. Cepat Ki Ageng Sela membuka tirai jendela kereta. Sementara Sumaji pun mendekah jendela kereta.

"Ada apa?" tanya orang tua itu.

"Seseorang menghadang perjalanan kita, Guru," sahut Sumaji.

"Siapa?"

"Entahlah. Kami tidak tahu. Guru. Tampaknya orang bertopeng hitam itu bermaksud tidak baik terhadap kita," duga Sumaji sambil melayangkan matanya ke arah depan.

"Hm, biar kulihat...," kata orang tua itu seraya membuka pintu kereta.

"Guru, biar kami selesaikan. Guru dan Adik Nila Dewi diam saja di dalam kereta ," ujar Sumaji, langsung menggebah kudanya ke depan.

Sementara di depan pada jarak lima belas langkah, berdiri tegak seseorang bertubuh tegap terselimut kain hitam sampai ke kepalanya. Yang terlihat hanya sepasang mata yang menyorot tajam dari dua buah lubang pada bagian wajah. Dari caranya berdiri di tengah jalan sudah pasti kalau orang bertopeng itu memang sengaja mencegat.

"Kisanak, menepilah! Kami sedang terburu-buru...!" ujar Sumaji lantang.

"Hm..." Orang bertopeng itu hanya mendengus sinis, dengan mata tetap menatap tajam pada Sumaji.

"Kisanak! Apa yang kau inginkan, sehingga mencegat perjalanan kami?"

"Berikan gadis yang dalam kereta itu padaku!" sahut orang bertopeng itu, dingin.

"Apa?!" tanya Sumaji dengan wajah berang.

"Berikan orang itu!" ujar orang bertopeng itu, kini suaranya terdengar lantang.

"Kurang ajar! Agaknya kau sejenis hidung belang yang tidak tahu diri. Enyahlah! Dan, jangan sampai kami bertindak keras kepadamu!" gertak Sumaji, mulai kesal.

"Hi hi hi..! Keledai dungu! Kau kira bisa berbuat apa padaku? Berikan apa yang kumau kalau kalian tidak ingin celaka!" sahut si Orang Bertopeng seraya tertawa nyaring.

"Setaaan! Kau kira bisa berbuat seenaknya, heh?! Rupanya orang sepertimu memang perlu dihajar!" Sumaji agaknya tidak bisa menahan diri. Dan dia sudah langsung melompat menyerang orang bertopeng hitam itu.

"Huh, cari penyakit!" Begitu serangan mendekat. Orang bertopeng itu hanya mengibaskan tangan kirinya, menangkis kepalan Sumaji.

Plak!

Bahkan dengan gerakan tak terdengar, kepalan tangan kanan orang itu cepat bagai kilat menyodok ke arah dada Sumaji.

Duk! Krak!

"Aaakh...!"

Terdengar suara berderak dari tulang dada Sumaji yang patah. Pemuda itu sendiri kontan memekik setinggi langit. Tubuhnya terjungkal ke tanah persis di depan kereta kuda, dan tewas beberapa saat setelah meregang nyawa. Tulang dadanya remuk, melesak ke dalam sehingga jantungnya pecah. Tampak darah meleleh dari mulutnya.

"Sumaji...?!" seru Wibowo kaget. Demikian juga kusir kereta itu.

Sementara Ki Ageng Sela dan Nila Dewi buru-buru keluar begitu mendengar suara ribut-ribut. Ki Ageng Sela dan Nila Dewi berseru kaget, ketika melihat mayat Sumaji tergeletak dengan keadaan menyedihkan. Mereka segera menghampiri dan memeriksa tubuh kaku yang tidak berdaya itu. Kemudian dengan wajah berang orang tua itu memandang ke arah orang bertopeng yang berdiri angkuh delapan tombak di depannya.

"Kisanak! Kau telah bertindak telengas pada orangku. Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

Orang bertopeng itu tidak langsung menjawab, pandangannya yang tajam malah di arahkan ke Nila Dewi. "Kau ikut aku!" ujar orang itu dingin tanpa menoleh pada Ki Ageng Sela.

"Aku? Apa yang kau inginkan?" dengus Nila Dewi garang.

"Jangan banyak tanya! Kalau tidak, akan jatuh korban lagi!"

"Aku tidak suka diancam! Dan jangan coba-coba berbuat seenakmu sendiri!" sahut Nila Dewi tegas.

"Gadis dungu! Jangan coba-coba bertingkah di hadapanku. Setahun lalu, kepandaianmu hanya seujung kuku. Dan apa kira kini telah maju pesat? Huh! Lebih baik menurut saja!"

Mendengar itu Nila Dewi tersentak. Setahun lalu? Apakah dia pernah bertemu orang bertopeng ini? Siapa dia sebenarnya? "Siapa kau?" tanya Nila Dewi dingin.

"Kau tidak perlu tahu, siapa aku. Tapi yang perlu kau ketahui, aku cukup berbaik hati pada kalian dengan memberi kesempatan bicara banyak. Biasanya aku tidak pernah berbasa-basi mendapatkan korbanku. Nah, jangan berpanjang urusan. Ikut denganku, atau kalian semua celaka!"

"Iblis keji! Kau tidak bisa berbuat sesuka hatimu!" Wibowo yang sejak tadi tidak bisa menahan amarahnya, sudah melangkah lebar. Dia bermaksud menghajar orang bertopeng itu.

"Sabar, Wibowo...," cegah Ki Ageng Sela, seraya merentangkan sebelah tangan menahannya.

"Tapi, Guru. Orang ini sungguh keterlaluan. Dia telah membunuh Kakang Sumaji. Dan kini, hendak meminta Adik Nila Dewi. Bukankah itu sangat keterlaluan?!" sergah Wibowo. Agaknya, darah mudanya telah telanjur menggelegak ke kepala.

Ki Ageng Sela kembali menahan ketika Wibowo telah menghunus pedang dipunggungnya. Orang tua itu maju dua langkah langsung memandang tajam orang bertopeng di depan.

"Kisanak! Kau sungguh keterlaluan. Aku tidak bisa memenuhi keinginan gilamu itu. Dan karena kau telah membunuh muridku, maka terpaksa aku harus menghukum setimpal atas perbuatanmu!" kata Ki Ageng Sela dingin.

"Huh! Orang tua tidak tahu diri! Kau kira dirimu sudah hebat, heh?! Sepuluh orang sepertimu, belum tentu mampu menghadapiku!" dengus orang bertopeng itu bernada sombong.

"Kau boleh mencobanya...!" sahut Ki Ageng Sela tenang, seraya mencabut pedang dipinggang.

Sring!

"Huh! Orang bertopeng itu hanya mendengus dingin. Langsung dia bersiap, menerima serangan.

"Bersiaplah kau, Kisanak... Yeaaat!"

Wuk! Wuk!

Pedang Ki Ageng Sela berkelebat cepat bagai kilat menyambar pinggang dan leher lawannya.

"Yeaaa!"

Namun dengan gerakan mengagumkan, orang bertopeng itu langsung melenting dan berjumpalitan, menghindari kelebatan pedang Ki Ageng Sela. Bahkan mendadak tubuhnya melesat gesit, bagai seekor walet menyambar orang tua itu. Kaki kanannya menghantam ke muka. Dan bersamaan dengan itu, kepalan kirinya siap menyodok ke arah perut.

Wukkk!

Ki Ageng Sela cepat mengibaskan pedangnya. Namun cepat sekali orang bertopeng itu menarik tendangannya. Bahkan langsung menyodokkan kepalan tangannya keperut. Orang tua itu terkesiap. Dan dia berusaha menangkis dengan tangan kiri.

Plak! Des!

"Akh!" Ki Ageng Sela terpekik dengan tubuh terhuyung-huyung. Sungguh tak diduga kalau tenaga dalam orang itu demikian tinggi.

"Eyaaang...!" Nila Dewi berseru kaget. Buru-buru gadis itu menghampiri kakeknya yang terhuyung-huyung ke belakang, begitu tangannya habis berbenturan

"Yeaaa!" Dan belum lagi Ki Ageng Sela siap, orang bertopeng itu sudah kembali menyerang.

"Huh!" Nila Dewi mendengus. Cepat disadari kalau orang itu sudah melanjutkan serangan ke arah kakeknya. Cepat pedangnya dicabut hendak dipapas serangan itu.

Sring!

"Bangsat terkutuk! Lihat serangan... Yeaaat!" Nila Dewi langsung meluruk bagai panah lepas dari busur, sambil mengibaskan pedangnya dengan gerakan laksana kilat.

Wat Wut! Bet!

Pedang di tangan gadis itu seperti hendak mengurung gerak tubuh lawannya. Namun orang bertopeng itu terlihat mampu menghindari dengan meliukkan tubuhnya ke sana kemari. Cerakannya terlihat indah.

"Nila Dewi! Jangan membuatku kesal. Menyerahlah! Atau, aku akan bertindak keras padamu?!" hardik orang bertopeng itu mulai kesal. Agaknya, dia telah mengenal betul dengan gadis itu.

"Huh! Siapa kau ini sebenarnya?! Kau tahu namaku, dan aku tak mengenalmu. Tapi, jangan harap aku akan menyerah begitu saja!" dengus Nila Dewi tegas.

"Adik Nila Dewi, jangan khawatir! Biar kita hadapi si Keparat ini bersama-sama!" teriak Wibowo seraya melompat menyerang sambil mencabut pedangnya yang tadi sudah tersimpan di pinggang.

Sret! Bet! Bet!

Pedang Wibowo menyambar cepat ke arah lawan. Namun seperti tadi, orang bertopeng itu sama sekali tidak merasa terdesak dikeroyok seperti ini.

"Huh! Hanya buang-buang waktu saja!" dengus orang bertopeng itu geram seraya merubah gerak jurusnya.

Kali ini orang bertopeng itu mulai melompat ke belakang. Lalu dia kembali melayang ke muka, menyambut kedua lawannya yang terus mengejar. Gerakannya begitu gesit. Bahkan nyaris Wibowo dan Nila Dewi tidak mampu melihat, apa yang dilakukan orang bertopeng itu. Dan mendadak saja....

"Heaaat..!" Orang bertopeng itu cepat bagai kilat meluruk deras ke arah Wibowo dan Nila Dewi. Tangan kanannya tertuju ke dada murid Ki Ageng Sela ini. Sementara, tangan kirinya melayang ke bahu Nila Dewi. Begitu cepat gerakannya sehingga...

Des! Tuk!
"Aaa...!"
"Oh...!"

Wibowo memekik kesakitan begitu pukulan orang bertopeng itu mendarat di dadanya. Tubuhnya kontan terjungkal ke samping dengan pedang terpental entah kemana. Begitu ambruk di tanah tubuhnya menggelepar sesaat, kemudian tak bangun-bangun lagi. Mati. Apa yang dialaminya tidak jauh berbeda dengan Sumaji. Tulang dada di bagian kirinya melesak ke dalam, dan jantungnya langsung pecah.

Sementara Nila Dewi merasakan tahu-tahu saja pedangnya terlepas dari genggaman. Dan tubuhnya mendadak lemas karena tertotok. Orang bertopeng itu segera menghampiri Nila Dewi yang terbaring lemas. Langsung dibopongnya gadis itu, dengan sebelah tangan.

"Bangsat! Lepaskan aku!" teriak Nila Dewi.

Dan baru saja orang bertopeng itu hendak membawa lari Nila Dewi, mendadak....

"Lepaskan wanita itu!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, yang disusul oleh kelebatan sebuah bayangan putih yang cepat bagai kilat kearah orang bertopeng itu.

"Heh?!" Orang bertopeng itu terkesiap kaget. Cepat dia berbalik sambil mengebutkan tangan kirinya.

Namun bayangan putih itu agaknya sudah menduga. Maka tubuhnya langsung meliuk, seraya menyorongkan kaki kanannya ke wajah.

"Hih!" Orang bertopeng itu berusaha mengayunkan tubuh Nila Dewi dalam kepitannya, untuk dijadikan perisai. Namun bayangan putih itu cepat menarik pulang serangannya. Kakinya langsung ditekuk, dan seketika dilayangkan ke pinggang dengan gerakan tidak terduga. Gerakan ini membuat orang bertopeng itu terkejut bukan main. Terpaksa kepitan pada tubuh Nila Dewi dilepaskan, dan tangan kanannya bergerak menangkis.

Plak! "Ukh...!"

Orang bertopeng itu mengeluh tertahan, begitu tangannya menangkis tendangan bayangan putih yang menjadi lawannya ini. Tubuhnya sempat terjajar beberapa langkah. Sungguh tak disangka kalau tenaga dalam lawannya sangat tinggi.

Sementara itu Nila Dewi yang sudah tergolek di tanah langsung disambar bayangan putih tadi, setelah gadis itu berada di tempat aman, dia langsung berbalik menghadap ke arah lawannya.

"Huh! Kau rupanya ..!" desis orang bertopeng itu ketika mengetahui, siapa orang yang telah mencampuri urusannya.

Sedangkan Nila Dewi hanya terpana untuk sesaat, ketika menyadari kejadian yang demikian cepat. Bahkan dia sendiri baru sadar telah berada di tempat yang aman, dan melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih yang telah menolongnya.

"Oh! Kau... Bukankah kau Pendekar Rajawali Sakti...?!" seru gadis itu.

Pemuda berbaju rompi putih yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu memandang Nila Dewi beberapa saat. Kemudian bibirnya tersenyum kecil. "Hm... Nisanak! Rasanya kita pernah berjumpa. Di manakah itu?" Rangga malah balik bertanya sambil berusaha mengingat-ingat. Namun baru saja kata-kata Rangga kering, kesempatan itu digunakan si Orang Bertopeng untuk berkelebat cepat.

"Kisanak! Orang itu melarikan diri...!" kusir kereta langsung berteriak memberitahu.

"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti jadi terkejut. Dan dia hanya sempat melihat sekelebatan bayangan hitam yang mencelat bagaikan kilat. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh orang itu. Sehingga Rangga tak sempat mengejar.

"Pendekar Rajawali Sakti! Belum saatnya kita berhadapan. Suatu saat, aku akan mencarimu untuk menyelesaikan hutang lama... !" Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara orang bertopeng itu.

Pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu tercekat. Memang percuma Pendekar Rajawali Sakti mengejar, karena orang bertopeng itu telah hilang dari pandangan. Dia hanya tidak habis pikir, siapa orang itu sebenarnya? Dan, hutang apa yang disebutkannya tadi?

"Pendekar Rajawali Sakti, kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kalau tidak, entah bagaimana nasib cucuku ini...," ucap Ki Ageng Sela yang telah sehat kembali. Dihampirinya pemuda itu bersama Nila Dewi.

"Tahukah kalian, siapa sebenarnya orang bertopeng itu?" tanya Rangga.

"Entahlah. Dia tiba-tiba saja datang menghadang, lalu membunuh kedua muridku...."

"Apakah dia hendak merampok?"
"Dia menginginkan cucuku...
"Cucumu? Untuk apa?"

"Sudah pasti bisa ditebak, bajingan pemetik bunga sepertinya pasti sudah jelas maksudnya. Untuk apa dia menculik, Cucuku!" desis Ki Ajeng Sela masih terselip nada gusar dalam ucapannya.

"Siapa yang kau maksud bajingan pemetik bunga itu, Kisanak?" tanya Rangga bdak mengerti.

"Siapa lagi kalau bukan orang bertopeng itu!"

"Orang bertopeng itu? Mungkinkah seorang wanita melampiaskan nafsu setannya pada wanita pula? Hm. Barangkali mengidap kelainan jiwa," sahut Rangga, menjawab sendiri pertanyaannya.

"Wanita? Siapa yang kau maksud wanita itu?" Kali ini Ki Ageng Sela yang tampak bingung.

"Orang bertopeng itu. Dia seorang wanita. Apakah kalian tidak tahu?"

Ki Ageng Sela dan Nila Dewi terdiam dan saling pandang sejenak. Lalu, terlihat orang tua itu mengangguk pelan. "Mataku memang telah lamur...," gumam Ki Ageng Sela seraya tersenyum kecut.

"Aku tidak tahu siapa dia. Namun, agaknya orang itu mengenalku...," kata Pendekar Rajawali Sakti.

Pendekar Rajawali Sakti lalu berbalik. Sebentar dia terdiam, kemudian bersuit pendek. Tak lama, dari kejauhan terlihat seekor kuda berbulu hitam berlari menghampiri. Begitu tiba di dekatnya, dia melompat ke atas punggung Dewa Bayu.

"Eh, Nisanak. Maafkan aku. Namun, tolong beritahu di mana kita pernah ketemu..!" lanjut Rangga seraya tersenyum.

"Ingatkah peristiwa setahun lalu. Kau dulu pernah menolongku dan Roro Intan...?" tanya Nila Dewi seraya tersipu malu.

Rangga berpikir sejenak. Kemudian bibirnya tersenyum lebar seraya mengangguk kecil. "Ah, aku baru ingat! Ya, kaulah orangnya!" seru Pendekar Rajawali Sakti.

Nila Dewi tersenyum seraya menundukkan wajah.

"Nah, Kisanak dan kau juga Nisanak. Aku tidak bisa lama. Kudengar Peri Peminum Darah berkeliaran di sekitar daerah ini. Aku ada sedikit urusan dengannya!" lanjut Rangga seraya menggebah kudanya. Sebentar saja dia berlalu dari tempat itu, meninggalkan kepulan debu di jalan.

"Peri Peminum Darah? Siapa yang dimaksudkannya?" gumam Ki Ageng Sela bingung.

Tapi Nila Dewi dan kusir kereta mereka tidak kalah bingung. Untuk sesaat mereka membisu, sebelum akhirnya mengurus jenazah Sumaji dan Wibowo.

TIGA

Sesosok tubuh terus berkelebat cepat dengan gerakan ringan, memasuki sebuah hutan lebat. Tanpa menoleh ke sekeliling, sosok terbungkus pakaian serba hitam dan mengenakan topeng hitam pula, melesat ke dekat salah satu pohon yang berukuran besar. Begitu sampai, dia berdiri agak lama seperti memasang pendengarannya baik-baik. Setelah merasa yakin kalau tidak ada seorang pun yang mengikuti, ditariknya salah satu akar pohon itu. Sehingga terbukalah sebuah pintu rahasia di batang pohon yang besarnya tiga kali pelukan orang dewasa. Orang bertopeng itu segera masuk ke dalamnya. Dan begitu dia masuk, pintu rahasia itu menutup kembali tanpa bekas.

Orang bertopeng itu langsung menuruni beberapa buah anak tangga menuju ke bawah, yang terdapat tiga buah pintu. Dia segera menerobos lewat pintu kiri memasuki sebuah lorong sempit yang agak panjang. Dan akhirnya lorong itu menjadi buntu ketika sebuah pintu menghadangnya. Tanpa ragu-ragu, dibukanya pintu itu. Lalu, ditutupnya dengan cepat

Di dalam, terdapat sebuah ruangan mirip goa yang dinding-dindingnya terasa pengap dan lembab. Di tengah-tengah, terlihat sebuah kolam yang airnya seperti mendidih, lengkap dengan uap yang mengepul ke atas. Persis di seberang kolam yang berbentuk lingkaran, terdapat sebuah altar batu pualam agak tinggi. Sehingga, perlu dibuat beberapa undakan anak tangga untuk naik ke atasnya. Altar batu itu bersambung dengan sebuah patung wanita telanjang yang sedang menari. Di bawah patung, suasana tampak suram. Namun jelas terlihat ada sebuah kursi agak lebar yang di atasnya duduk seseorang dengan sikap menekur. Wajahnya tertekuk ke bawah. Sehingga sulit dikenali. Dan yang lebih menakjubkan..., orang itu sama sekali tidak berpakaian! Kulitnya pucat bagai tidak dialiri darah sedikit pun. Sedangkan rambut yang menutupi wajahnya berwarna keemasan.

Sementara itu orang bertopeng ini membuka selubung wajahnya. Demikian juga kain hitam yang melibat tubuhnya, sehingga yang melekat hanya baju tipis tembus pandang. Rambutnya yang panjang sepunggung, dibiarkan begitu saja. Sehingga apabila berjalan, sempurnalah orang ini sebagai seorang gadis jelita laksana bidadari!

"Guru... Hari ini aku gagal mendapatkan persyaratan itu...," desah gadis itu lirih, seraya bersimpuh di depan wanita berambut keemasan

"Tahukah kau bahwa darah itu sangat diperlukan bagi kesaktianmu. Semakin banyak kau mengirup darah, maka tenaga dalammu akan semakin bertambah...," sahut suara parau yang keluar bagai dari kerongkongan orang tengah tercekik.

"Aku tahu, Guru...," kata gadis itu.

"Lalu, kenapa bisa gagal?!" desah wanita yang duduk di kursi lebar itu.

"Aku berhadapan dengan pemuda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti."

Wanita di hadapan gadis itu terdiam beberapa saat, tanpa memperlihatkan wajahnya. "Roro Inten! Aku merasakan kalau hatimu diliputi rasa kasih terhadap pemuda itu...."

"Bukan begitu maksudku, Guru!" tukas gadis itu cepat. "Aku hanya merasa, belum waktunya membalas dendam itu."

"Hm.... Hati-hatilah kau dalam soal ini. Ibumu menemui ajal di tangannya. Dan kau harus balas kematiannya, agar roh ibumu merasa tenang. Jangan campurkan masalah pribadi dengan soal ini!"

Gadis yang ternyata bernama Roro Inten itu terdiam. Kepalanya tetap tertunduk, seperti menekuri altar.

"Sanggupkah kau menghukum pemuda itu?!"

"Dengan seizin Guru, tentu saja sanggup!" sahut Roro Inten mantap.

"Bagus! Bagus, Roro Inten. Kau bisa balaskan kematian ibumu. Tapi, ingat! Jangan bertindak gegabah. Musuhmu bukanlah orang sembarangan. Dan untuk itu, kau harus menambah bekal yang lainnya...."

"Terima kasih. Guru."

"Berendamlah kau ke dalam kolam itu selama tiga hari tiga malam. Di situ ada tantangan serta ujian yang harus dihadapi. Pada hari pertama, kau akan merasakan hawa dingin yang amat menyengat. Lalu pada hari kedua, kau akan merasa tubuhmu seperti terbakar api. Keduanya akan meresap ke dalam tubuhmu dan mengendap menjadi pukulan dahsyat. Lalu pada hari ketiga, kau harus menahan pusaran air kolam yang bergerak ke bawah. Kau tidak boleh terhanyut. Dan bila hal itu terjadi, maka kau akan binasa. Mengerti, Roro Inten?!" jelas wanita yang ternyata guru Roro Inten.

"Mengerti, Guru!"

"Bagus! Ingatlah baik-baik, karena ujian ini tergantung dari hatimu. Bukan dari kekuatanmu. Jika hatimu keras dan semangatmu menyala-nyala, maka dengan sendirinya ujian itu akan kau jalani dengan mudah. Tapi jika semangatmu lemah, maka yang kau rasakan hanya penderitaan," jelas wanita berambut keemasan itu lagi.

Roro Inten kembali mengangguk cepat.

"Kau boleh saja berhenti mencari korban. Namun dengan begitu, kau harus siap menerima kematian di tangan pemuda itu. Karena tenaga dalammu akan kalah tinggi. Darah perawan suci yang kau minum, sesungguhnya menambah tenaga dalammu. Maka makin banyak yang kau hirup, akan semakin bertambah tenaga dalammu. Itulah ciri khas aji 'Gandar Wesi' yang kuajarkan padamu."

"Guru, aku akan selalu mengingat pesanmu. Dan akan kujalankan dengan sebaik-baiknya!"

"Berhati-hatilah jika berhadapan dengannya. Jangan merasa bahwa kau mampu menaklukannya dengan mudah. Kesombongan akan mencelakakan diri sendiri, seperti yang dialami ibumu. Dia terlalu yakin mampu mengalahkan lawan. Dan akibatnya, dia harus menerima kematian!" kata wanita itu memberi pesan.

Roro Inten mengangguk.

"Nah! Tengah malam nanti, kau sudah boleh mulai merendam dirimu ke dalam kolam itu!"

Kembali gadis itu mengangguk, seraya bersujud memberi hormat. Kemudian perlahan-lahan ditinggalkannya altar, dan berlalu dari ruangan ini.

********************

Padepokan Merah Emas yang dipimpin Ki Bagong Udeg terlihat sedikit ramai daripada biasanya. Di halaman depan, beberapa ekor kuda tengah ditambatkan. Sementara lebih dari dua puluh orang murid-muridnya berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Hari ini, orang tua berusia sekitar enam puluh delapan tahun itu tengah mengumpulkan beberapa orang sahabatnya, untuk bermusyawarah.

Semula, tidak ada seorang pun yang tahu, apa sebenarnya yang hendak dibicarakannya. Namun mereka semua menduga kalau Ki Bagong Udeg sedikit banyak pasti ingin membicarakan masalah perkembangan dunia persilatan yang terjadi belakangan ini. Beberapa tahun lalu, hal ini pernah dibahas, meski salah seorang sahabat dekatnya yang bernama Ki Ageng Sena tidak hadir.

Mereka berkumpul di dalam sebuah ruangan istana yang berukuran besar. Di tengah-tengahnya terdapat meja persegi panjang yang agak besar, lengkap dengan enam buah kursi. Dan kini lima tokoh persilatan yang merupakan kawan baik Ki Bagong Udeg telah mengambil tempat masing-masing. Dan sisanya, untuk Ki Bagong Udeg sendiri.

"Sahabat-sahabatku semua. Maafkan kalau aku tidak memberitahu, apa sebenarnya maksud tujuan undanganku yang disampaikan murid-muridku," kata Ki Bagong Udeg.

"Benar, Ki Bagong. Kami sendiri bertanya-tanya, apa sebenarnya yang kau inginkan dari pertemuan ini?" tanya laki-laki tinggi kurus terbungkus pakaian hijau. Dipunggungnya tampak sebilah pedang. Di kalangan persilatan dia dikenal dengan nama Ki Panjaran.

"Apakah kalian mendengar apa yang terjadi belakangan ini? Seorang tokoh yang disebut Peri Peminum Darah, telah merajalela dengan menculik dan membunuh gadis-gadis perawan," kata Ki Bagong Udeg menjelaskan.

"Ya, aku pernah mendengarnya...." sahut laki-laki bertubuh pendek gemuk. Dia dikenal nama Ki Tabong. Sementara seorang laki-laki yang wajahnya tampak lebih muda daripada usianya yang sebenarnya, hanya mengangguk-angguk. Sedangkan laki-laki yang seluruh rambutnya telah memutih seperti tenang-tenang saja. Mereka masing-masing bernama Ki Waskita dan Ki Panaka.

"Peri Peminum Darah? Hm... Tadi pun Pendekar Rajawali Sakti menyebut nama itu. Siapa sebenarnya Peri Peminum Darah?!" gumam Ki Ageng Sela sambil memandang sahabat-sahabatnya dengan wajah bingung.

"Apakah Ki Ageng Sela pernah bertemu dengan orang itu?" tanya Ki Bagong Udeg.

Ki Ageng Sela kemudian menceritakan peristiwa yang dialami ketika mengadakan perjalanan ke tempat ini.

"Astaga! Sesungguhnya orang itulah si Peri Peminum Darah!" seru Ki Bagong Udeg kaget.

"Dari mana kau tahu kalau orang itu Peri Peminum Darah?" tanya Ki Ageng Sela.

"Aku pernah melihatnya dari dekat ketika dia menculik dua orang muridku. Gerakannya cepat sekali, bagai angin. Sehingga aku kehilangan jejak, ketika mencoba mengejarnya," jelas Ki Bagong Udeg.

"Apakah Peri Peminum Darah tidak tahu kalau sesungguhnya tengah berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Ki Panaka dengan wajah heran.

"Rasanya. Pendekar Rajawali Sakti tidak mengenal Peri Peminum Darah. Kalau tidak, mana mungkin dibiarkan lolos begitu saja," sahut Ki Ageng Sela.

Ki Bagong Udeg menghela napas sesak. Ditatapnya kawan-kawannya satu persatu. "Karena persoalan inilah, maka aku mengundang kalian. Dan aku mengharapkan bantuan kalian untuk mengatasinya..."

"Orang itu memang memiliki kepandaian hebat. Buktinya dalam waktu singkat, aku dapat di jatuhkannya dengan mudah..." desah Ki Ageng Sela pelan.

"Aku juga merasakannya, Ki Ageng. Ilmu meringankan tubuhnya luar biasa. Dan lebih dari itu, gerakannya gesit sekali sahut Ki Bagong Udeg putus asa.

Mereka terdiam sesaat. Dan suasana pun jadi hening.

"Padahal menurut Pendekar Rajawali Sakti, orang itu adalah wanita...," kata Ki Ageng Sela pelan, namun cukup untuk mencegah kebisuan.

"Wanita? Hm, hebat sekali! Ini mengingatkanku pada peristiwa setahun lalu ." sahut Ki Bagong Udeg dengan wajah berkerut.

"Maksud Ki Bagong?" tanya Ki Waskita.

"Ingatkah kalian ketika si Hantu Putih Mata Elang membuat kerusuhan?"

Seketika yang diberi pertanyaan mengangguk serempak.

"Kita tidak tahu, apakah keduanya memiliki hubungan satu sama lain atau tidak. Namun, kejadian kali ini menimpa di wilayah yang sama. Dan hal ini membuatku curiga...," cetus Ki Bagong Udeg.

"Maksudmu, si Peri Peminum Darah memiliki hubungan erat dengan Hantu Putih Mata Elang?" tanya Ki Tabong, ingin menegaskan.

"Hm.... Mungkin muridnya, anaknya, atau saudara dekatnya...." sambung Ki Panjaran.

"Mungkin juga bisa begitu. Sebab ketika kabur, orang bertopeng itu mengancam Pendekar Rajawali Sakti," jelas Ki Ageng Sela.

"Hantu Putih Mata Elang tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Kalau si Peri Peminum Darah memiliki hubungan erat dengan Hantu Putih Mata Elang, bisa memang mempunyai dendam kesumat," kata Ki Bagong Udeg menduga.

"Dan rasanya, Pendekar Rajawali Sakti mungkin merasakannya. Sehingga, dia harus mencari si Peri Peminum Darah," timpal Ki Panaka.

"Betul, Ki Panaka," sahut Ki Ageng Sela. "Perlukah kita beritahukan pemuda itu agar tidak kehilangan arah mencari lawannya? Padahal, dia telah bertemu dan bertarung sejenak dengan Peri Peminum Darah?"

"Tapi, di mana kita harus mencarinya?" tanya Ki Waskita.

"Ki Waskita dan juga yang lain, memiliki jumlah murid yang cukup banyak. Kulihat, Pendekar Rajawali Sakti mencari ke arah barat. Bagaimana kalau kalian sebar murid-murid kita, untuk menyampaikan pesan padanya agar sudi bergabung dengan kita dalam menghadapi si Peri Peminum Darah?" kata Ki Ageng Sela memberi usul.

"Itu usul yang bagus!" seru Ki Bagong Udeg dengan wajah cerah. Yang lain pun segera menyambut baik usul Ki Ageng Sela, seraya mengangguk.

"Tidak usah ditunda lagi, Ki Bagong. Saat ini juga, kau boleh memberi perintah pada murid-muridmu untuk mencari pemuda itu!" kata Ki Tabong.

"Baiklah," kata Ki Bagong Udeg, seraya menepuk tangan dua kali.

Tak lama seorang murid Ki Bagong Udeg masuk ke dalam ruangan. Orang tua itu lantas memberi perintah sesuai apa yang disepakati bersama.

"Ajak sepuluh orang di bawah pimpinan Soma Manggala...!" ujar Ki Bagong Udeg mengakhiri perintahnya.

"Baik, Guru!" sahut murid itu cepat, seraya berlalu dari ruangan setelah memberi hormat.

"Nah! Kurasa tidak ada yang dibicarakan lagi. Sepulang dari sini, murid-muridku akan kuperintahkan untuk ikut mencari Pendekar Rajawali Sakti," kata Ki Panjaran.

"Ya, kami juga begitu," kata yang lain hampir bersamaan.

"Setelah berhasil menemukan Pendekar Rajawali Sakti, kita akan berkumpul lagi di sini untuk membicarakan langkah selanjutnya!" kata Ki Bagong Udeg mengakhiri pertemuan.

********************

Seorang pemuda tampan berbaju rompi putih tengah menggebah kuda hitamnya perlahan-lahan, memasuki sebuah desa yang tidak begitu ramai. Suasana tampak sepi. Hanya satu dua orang saja yang lalu lalang di jalan. Mereka melirik pemuda dengan pedang bergagang kepala burung itu sekilas, kemudian buru-buru menyingkir ke dalam rumah. Sepertinya, mereka takut dengan pemuda yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan beberapa anak kecil yang tengah bermain di jalan, buru-buru ditarik orangtuanya ke dalam rumah.

"Hm.... Kenapa mereka tampaknya takut denganku? Apakah wajahku menyeramkan?" gumam Rangga seraya tersenyum pahit.

Sementara itu seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun bertelanjang dada, tampak berdiri tegak, memandangi pemuda itu tanpa berkedip. Tubuhnya kurus dan perutnya sedikit buncit. Kedua tangannya berada di belakang. Rangga tersenyum, lalu menghampiri. Begitu tiba di dekat bocah itu, dia turun dari punggung Dewa Bayu.

"Siapa namamu...?" sapa Pendekar Rajawali Sakti ramah.

"Jatmika...," sahut si Bocah tanpa takut sedikitpun.

"Kau tidak takut padaku...?" tanya Rangga lagi.

Bocah itu tersenyum lebar. "Apakah kau setan pemakan anak sepertiku.?" sahut bocah itu balik bertanya.

Pendekar Rajawali Sakti menggeleng lemah.

"Kalau begitu, aku tidak takut padamu," sahut si Bocah Jatmika polos, bernada mantap.

"Lalu, kenapa orang-orang itu takut melihatku...?"

"Mereka mengira kau adalah Peri Peminum Darah...."

"Peri Peminum Darah?"
Jatmika mengangguk yakin
"Apakah kau pernah melihatnya?"
Bocah itu menggeleng.
"Apakah mereka juga pernah melihatnya?"
Bocah itu kembali menggeleng.

"Lalu, kenapa musti takut padaku. Bahkan menyangka aku ini Peri Peminum Darah?"

"Tadi pagi ada yang diculik..."
"Diculik? Siapa yang diculik!"
"Nyi Surti, anak Ki Dirja...."
"Siapa yang menculiknya?"
"Kata orang-orang..., Peri Peminum Darah itu."
"Lalu?"

Bocah itu terdiam seraya memandang wajah Rangga. Wajahnya yang tadi cerah, kini terlihat curiga. Pendekar Rajawali Sakti memang banyak bertanya. Dan itu justru membuat Jatmika sedikit takut. Namun sebentar kemudian. Rangga tersenyum ketika telah menemukan akal. Dikeluarkannya dua keping uang perak, langsung diangsurkannya pada bocah itu.

"Ambillah...!"

Jatmika memandang Rangga dengan wajah berseri. Seumur hidup belum pernah dia melihat uang sebanyak itu.

"Ambillah... Ini untukmu!" ujar Rangga ketika melihat bocah itu masih ragu-ragu mengambilnya.

"Jatmika...!" Pada saat itu terdengar bentakan keras. Tak lama seorang wanita muda tergopoh-gopoh menghampiri bocah bernama Jatmika ini.

Bocah itu melirik. Dan seketika wajahnya kelihatan takut. Dipandangnya beberapa saat ke arah Rangga.

"Apakah dia ibumu?"

Jatmika mengangguk.

"Anak nakal! Apa yang kau lakukan di sini, heh?! Bisa-bisa kau diculik nanti. Ayo, masuk! Masuk...!" teriak wanita itu seraya mencengkeram pergelangan tangan anaknya. Segera diseretnya Jatmika dari tempat itu.

"Nisanak! Anakmu tidak berbuat apa-apa padaku...!" ujar Rangga.

"Huh! Dia memang tidak berbuat apa-apa. Tapi, kaulah yang nanti akan menculik dan mengisap darahnya!" desis wanita itu garang.

"Menculik dan mengisap darah anakmu? Apa maksudmu?" tanya Rangga bingung.

"Huh! Pura-pura bodoh! Kau kira kami tidak tahu tipu muslihatmu? Kau berpura-pura baik, tapi diam diam nanti menculik semua anak-anak dan gadis di desa ini untuk diisap darahnya! Dasar iblis keparat!" maki wanita itu tidak karuan, segera menyeret anaknya buru-buru ke dalam rumah.

EMPAT

Pendekar Rajawali Sakti jadi tercenung. Dan belum juga rasa bingungnya hilang, tampak beberapa orang perlahan-lahan mulai mendekatinya dengan senjata terhunus. Rupanya laki-laki dewasa di desa itu sudah sejak tadi memperhatikan Rangga. Dan mereka siap menghajarnya dengan wajah sinis penuh dendam. Rangga menghitung dalam hati. Dan jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh orang.

"Kisanak! Ada apa ini? Mengapa aku dikurung seperti ini?" tanya Rangga ramah dengan sikap tenang.

"Jangan berpura-pura! Kedatanganmu ke sini pasti hendak menculik beberapa gadis desa ini lagi. Tapi, jangan harap kami akan tinggal diam begitu saja!" sahut salah seorang, mendengus sinis.

"Rupanya kalian menduga kalau aku adalah si Peri Peminum Darah. Padahal, justru aku sedang mencari orang itu," sahut Rangga.

"Huh! Bisa saja kau berpura-pura baik. Padahal, di hatimu tersimpan niat busuk!" desis orang itu lagi.

"Sudah, jangan banyak bicara! Tangkap saja dia. Dan, kita gantung ramai-ramai...!" teriak beberapa pemuda. Agaknya, dia sudah tidak sabar lagi, ingin buru-buru meringkus pemuda berbaju rompi putih itu.

"Betul! Jangan tunggu lama-lama lagi. Nanti dia keburu kabur!" umpal yang lain.

Dan secara serentak. Lima orang pemuda dengan golok terhunus langsung melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Yaaat!"

Rangga hanya mampu menggeleng lemah melihat kenekatan penduduk desa ini. Agaknya mereka begitu dendam pada Peri Peminum Darah yang telah menculik beberapa gadis desa ini. Sehingga kemunculannya di sini, dianggap orang asing yang akan mendatangkan bencana. Dan lebih gila lagi, mereka menuduhnya sebagai Peri Peminum Darah!

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas. Dan tahu-tahu, tubuhnya meluruk deras sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Begitu cepat gerakannya, dan tahu-tahu...

Plak! Wuuut!
Tap!
"Heh?!"

Kelima pemuda desa yang mengeroyok kontan terkejut setengah mati karena tahu-tahu saja, pergelangan tangan mereka masing-masing terasa kesemutan. Dan ketika menyadari apa yang terjadi, golok-golok itu telah berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak pada jarak tiga langkah di belakang mereka.

"Sedikit pun tidak ada maksud jahat di hatiku. Tapi kalau aku mau, mudah saja menebas leher kalian," Rangga menggertak, berusaha menyadarkan kelima pemuda itu.

"Lihat! Dia benar-benar penculik keparat itu! Gerakannya cepat, seperti tadi pagi saat menculik putri Ki Dirja. Tunggu apa lagi? Ayo, ringkus dan jangan biarkan dia lolos!" teriak seseorang dengan wajah semakin geram.

"Sial!" rutuk Rangga, kesal.

Pada saat itu juga, beberapa pemuda segera maju menyerang tanpa mengenal rasa takut.

"Yaaat!"

"Bunuh dia...! Bunuh penculik keparat itu!"

"Cincang dia!"

Rangga cepat bagai kilat melompat ke belakang, sambil melempar kelima golok di tangannya satu persatu ke arah orang-orang yang menyerbu.

Wut!

Beberapa orang jadi terkesiap. Dan mereka merasa kalau sebentar lagi akan jatuh korban ketika golok-golok itu melesat kencang. Namun....

Trak! Tak!

Ternyata golok-golok yang dilemparkan Pendekar Rajawali Sakti sengaja diarahkan pada senjata-senjata di tangan para pengeroyok hingga berpentalan. Namun tindakan itu sama sekali tidak membuat mereka terkejut. Justru sebaliknya, mereka malah menyerang pemuda itu dengan kalap.

"Yeaaa!"

"Hhh...!" Pendekar Rajawali Sakti jadi mendengus kesal. Dan dengan gerakan mengagumkan, dia melompat ke samping sambil menangkis kelebatan senjata yang terdekat dengan tangan kanan. Lalu tanpa diduga sama sekali ujung kakinya menyodok ke dada.

Plak! Begkh!

"Akh!" Seorang pengeroyok langsung mengeluh tertahan begitu dadanya terkena tendangan Rangga tanpa pengerahan tenaga dalam. Tubuhnya kontan terjerembab ke belakang, menimpa dua orang kawannya. Sedang, golok di tangannya terpental jauh. Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali bergerak gesit, melepaskan dua pukulan tanpa tenaga dalam ke arah dua orang pengeroyok. Kembali, dua orang roboh seperti kawannya tadi.

"Setan! Serang terus! Lama-lama dia pasti akan kehabisan tenaga!" teriak seseorang memberi semangat.

Rangga mendengus dingin, seraya melirik ke arah orang yang berteriak tadi. Sejak tadi, agaknya orang itu yang banyak bicara. Dan kawan-kawannya pun selalu mematuhinya. Maka setelah menghalau dua orang yang menyerang ganas, Pendekar Rajawali Sakti melompat mendekati orang yang berteriak tadi.

"Hiiih!"

Orang yang berteriak tadi agaknya memiliki sedikit kepandaian. Buktinya dia mampu berkelit, meski agak terkesiap. Dia memang kaget luar biasa, melihat kelebatan pemuda itu yang cepat bukan main.

Wuuut!

Namun belum juga rasa kaget itu hilang, tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti telah kembali berkelebat cepat. Dan Rangga langsung mencengkeram leher bajunya, dan langsung melipat kedua tangannya kebelakang.

Krep!

"Uhhh...!" Orang itu jadi mengeluh kesakitan.

"Kalau kalian memaksa juga, aku tidak akan segan-segan mematahkan leher orang ini!" teriak Pendekar Rajawali Sakti mengancam.

Kali ini ancaman Rangga berhasil. Tampak para pengeroyoknya jadi ragu-ragu bertindak.

"Apa yang kalian tunggu?! Jangan pedulikan aku. Tangkap pemuda ini. Dan, bunuh dia! Ayo, lakukan...!" teriak laki-laki berusia empat puluh tahun yang tengah dicengkeram Pendekar Rajawali Sakti.

"Tapi, Ki Garba! Kau akan celaka...." sahut salah seorang dengan sikap ragu-ragu.

"Jangan pedulikan aku! Bunuh! Atau dia akan terus mengacau desa kita ini!" teriak laki-laki setengah baya yang dikenal dengan nama Ki Garba itu garang.

Namun sebelum mereka berbuat sesuatu....

"Dengar kalian semua! Aku hanya kebetulan lewat di tempat ini. Tapi kalian telah menuduhku yang bukan-bukan. Maka bila kalian memaksa, maka aku tidak punya pilihan lagi selain membela diri! teriak Rangga, lantang.

Para pengepung untuk beberapa saat terdiam, saling melempar pandang. Demikian juga Ki Garba yang masih dalam cengkeraman Pendekar Rajawali Sakti.

"Kalau begitu, siapa kau sebenarnya?" tanya salah seorang dengan suara lebih lunak.

Belum juga Rangga sempat menjawab, saat itu juga terdengar derap beberapa ekor kuda mendekati. Tampak lima penunggang kuda yang masing-masing berusia sekitar dua puluh tahun dengan pedang di punggung mulai memperlambat kuda-kudanya. Kelima orang itu persis berhenti di tempat Rangga terkurung, kemudian turun dari punggung kuda. Dan mereka langsung menjura dengan merapatkan kedua tangan ke dada, ketika berada di depan pemuda berbaju rompi putih itu.

"Kisanak! Bukankah kau Pendekar Rajawali Sakti? Terimalah salam hormat kami," kata salah seorang penunggang kuda

"Pendekar Rajawali Sakti...?"

Beberapa orang penduduk desa yang ikut menyerang Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget. Seketika mereka memandang Rangga dengan wajah tidak percaya.

Rangga segera melepaskan cengkeraman pada Ki Garba. Lalu dibalasnya salam penghormatan itu dengan menjura pula. "Kisanak! Ada keperluan apa, sehingga kalian seperti sengaja menemuiku?"

"Ah! Sungguh kebetulan! Kami adalah murid Ki Bagong Udeg, dari Padepokan Merah Emas. Guru kami menyampaikan salam hormat padamu, serta sangat berharap agar Kisanak sudi menemui undangannya, untuk datang ke padepokan kami..."

"Hm, ya... Aku kenal padepokan kalian. Tapi aku belum pernah mengenal guru kalian. Ada apakah sehingga beliau berkenan mengundangku ke tempatnya?" tanya Rangga.

"Beliau hendak bermusyawarah dengan Kisanak, soal si Peri Peminum Darah " jelas orang itu.

"Peri Peminum Darah? Apakah gurumu tahu, di mana orang itu bersembunyi?"

"Kami tidak mengetahuinya. Namun jika Kisanak hendak mengetahui lebih banyak, sudilah memenuhi undangan guru kami."

Rangga berpikir sejenak matanya menyapu mereka satu persatu. Kemudian, kepalanya mengangguk pelan. "Baiklah.... Kita berangkat bersama-sama...," desah Pendekar Rajawali Sakti.

Penduduk desa yang tadi menyerang Rangga kini berkumpul di dekatnya. Sementara Pendekar Rajawali Sakti bersuit nyaring, memanggil kudanya. Tak lama, Dewa Bayu muncul. Pemuda itu pun segera melompat ke punggung kudanya. Sedangkan wajah para penduduk desa tampak tertunduk. Dan Rangga belum juga menggebah kudanya. Matanya masih merayapi para penduduk, lalu tersenyum.

"Terima kasih. Pada akhirnya, kalian mengerti kalau aku tidak bermaksud jahat"

Baru saja kata-kata Rangga selesai, Ki Garba maju ke depan. Kemudian dia menjura hormat. "Pendekar Rajawali Sakti, aku atas nama penduduk Desa Kuripan memohon maaf atas segala kekeliruan yang telah kami lakukan terhadapmu... " kata laki-laki setengah baya itu lirih.

"Sudahlah... Yang penting kalian telah menyadari kekeliruan itu. Lain kali, hendaknya periksa dulu orang asing yang memasuki wilayah kalian. Dan, jangan main hantam saja."

"Baik, Tuan Pendekar. Oh, ya. Apakah Tuan Pendekar hendak mencari si Penculik itu? Tolonglah kami. Orang itu telah kelewat batas. Bukan hanya kami yang menjadi korbannya. Namun di banyak tempat, dia telah membuat kekacauan yang amat meresahkan. Terutama, penduduk yang memiliki anak gadis yang mulai dewasa. Pendekar Rajawali Sakti, nama harummu telah sering terdengar. Kau adalah pendekar besar. Dan untuk itu, tolonglah kami dalam menangkap si Penculik!" pinta Ki Gorba.

"Kisanak! Aku hanya manusia biasa yang punya batas kemampuan. Namun begitu, aku memang berniat hendak menangkap si Peri Peminum Darah. Nah! Aku pergi dulu," pamit Pendekar Rajawali Sakti, segera menggebah kudanya. Sementara, kelima orang penjemputnya yang berasal dari Padepokan Merak Emas telah sejak tadi berlalu.

Sedangkan orang-orang Desa Kuripan memandangnya sampai mereka menghilang dari pandangan.

********************

Rangga dan kelima murid Padepokan Merak Emas belum jauh berjalan menelusuri tepian Hutan Lawangan yang cukup lebat. Begitu tiba di perempatan jalan, dari arah samping terlihat tiga pengendara kuda yang melaju kencang ke arah mereka. Tapi karena tidak mempunyai urusan, Rangga dan kelima orang penjemputnya tidak mempedulikan. Dan ketika telah berada pada jarak pandang, ketiga penunggang kuda itu berhenti. Untuk sesaat mereka memperhatikan. Kemudian, salah seorang memberi perintah untuk mengejar Rangga dan kelima orang itu.

"Hiya! Kisanak semua, tunggu dulu...!" Salah seorang dari ketiga penunggang kuda itu berteriak memanggil. Maka, seketika keenam pemuda yang berada di depan menghentikan laju kuda. Mereka segera berbalik, menghadap ke arah orang yang segera mendatangi.

"Maaf mengganggu perjalanan kalian. Kami hendak bertanya padamu, Kisanak," tanya orang yang berteriak tadi pada Rangga.

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Rangga.

"Apakah kau Pendekar Rajawali Sakti?"

"Betul. Dialah Pendekar Rajawali Sakti. Ada urusan apa kalian dengannya?" sahut salah seorang murid Padepokan Merak Emas, balik bertanya.

"Ah, kebetulan sekali! Telah lama kami mencari-cari. Dan terakhir kami mendapat berita kau menuju ke arah sini. Pendekar Rajawali Sakti, kami adalah utusan Ki Dawang Rejo. Beliau ingin sekali bertemu denganmu."

"Ki Dawang Rejo? Siapakah beliau? Baru kali ini aku mendengar namanya," sahut Rangga dengan wajah bingung.

"Ah, ya... Maaf. Kisanak tentu bisa mengenalnya. Beliau adalah seorang pedagang dan hartawan ternama. Ada sesuatu yang beliau ingin bicarakan dengan Kisanak. Jika Kisanak berkenan, beliau ingin bertemu di mana saja, yang Kisanak sukai," kata orang itu.

Rangga tersenyum. "Kisanak! Aku bukanlah seorang pedagang. Dan tidak ada sesuatu yang ingin kubeli atau ingin kujual pada beliau...."

"Maaf, Pendekar Rajawali Sakti. Ki Dawang Rejo tidak bermaksud berdagang padamu."

"Lalu?"

"Beliau memohon pertolonganmu, mengenai putrinya yang diculik seseorang. Dan sampai kini, putrinya belum kembali..."

"Kenapa tidak meminta bantuan ke kadipaten?"

"Beliau tidak yakin prajurit kadipaten mampu menangkap si Penculik..."

"Hm, siapa sebenarnya si Penculik itu?"

"Peri Peminum Darah."

Rangga berpandangan sejenak dengan murid-murid Padepokan Merak Emas. Lalu matanya beralih memandang kepada lawan bicaranya. "Kisanak, sampaikan pada majikanmu. Saat ini aku memang tengah mengejar orang itu."

"Tapi beliau ingin bertemu dengan, Kisanak. Katanya ingin memohon pertolonganmu secara langsung, untuk menemukan putrinya."

"Aku tidak bisa menolongnya secara khusus. Dan kalau dia ingin bertemu denganku, temui aku di Padepokan Merak Emas," kata Rangga.

"Baiklah. Terima kasih, Kisanak. Kami akan sampaikan hal ini pada beliau," sahut salah seorang utusan Ki Dawang Rejo. Kemudian mereka menggebah kuda masing-masing, setelah memberi salam penghormatan.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Pada masa ini siapa pun orangnya akan beranggapan kalau Padepokan Kilat Buana memiliki murid-murid hebat. Karena tidak seorang pun yang tidak mengenalnya. Ketenarannya tidak hanya meliputi wilayah selatan, namun juga menjalar ke berbagai tempat. Hal ini tidak mengherankan, sebab padepokan ini dipimpin seorang tokoh sakti yang namanya amat dikenal di kalangan rimba persilatan. Namanya, Ki Pagut Geni.

Usia Ki Pagut Geni sekitar empat puluh tahun lebih. Namun, tubuhnya masih terlihat kekar dan besar. Kemahirannya dalam menggunakan senjata pedang, tombak, serta panah, juga ditunjang dengan tenaga dalamnya yang hebat. Sehingga tidak mustahil murid-muridnya amat trampil menggunakan berbagai senjata, di samping memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi.

Ki Pagut Geni memang begitu memperhatikan perkembangan tiap-tiap muridnya. Agaknya, dia lebih menonjolkan ilmu-ilmu olah kanuragan, ketimbang yang lainnya. Bahkan setiap beberapa waktu, Padepokan Kilat Buana mengadakan adu tanding antar murid-murid seangkatan. Kemudian, dia memilih murid terbaik untuk digembleng, langsung di bawah bimbingannya. Murid-murid inilah yang akhirnya menjadi murid utamanya. Sedang bagi mereka yang kurang trampil, tindak pengawasan dilakukan olah murid-murid utama. Bahkan bagi murid-murid yang kurang berbakat, orang tua itu tidak segan-segan mengeluarkannya dari padepokan.

Ki Pagut Geni sendiri sering turun ke dunia luar bersama murid-muridnya untuk melihat pertarungan nyata. Paling tidak untuk memberi pengalaman bertarung dengan cara amat aneh. Sering mereka menyerang para perampok atau menghajar kawanan begal yang berjumlah banyak. Maka tindakan ini membuat padepokan mereka menjadi semakin dikenal serta amat dihargai rakyat jelata.

Namun, Ki Pagut Geni hanyalah manusia biasa. Sekeras-kerasnya dia menggembleng, tetap saja ada beberapa muridnya yang bersifat telengas. Bahkan beberapa murid ada yang mulai gagah-gagahan dengan mencari urusan menghajar orang-orang yang tidak disukai. Yang lebih menyedihkan, mereka sering ringan tangan pada orang lain meski urusannya sangat sepele. Hal itu sering teriadi, acapkali murid-murid padepokan itu keluar dari sarangnya.

Seorang gadis berambut panjang tampak tengah berjalan pelan memasuki Desa Alas Rumput. Tempat ini terhitung paling dekat dari kawasan Padepokan Kilat Buana. Sehingga tidak heran bila murid padepokan itu yang bersifat telengas, banyak berkeliaran di sini.

Gadis itu begitu cantik, dan amat memikat. Sepasang alisnya tebal dan bibirnya merah merekah. Baju hitam yang dikenakannya tipis, sehingga, bagian dadanya yang sedikit tertutup pakaian dalam terlihat. Beberapa orang murid Padepokan Kilat Buana yang kebetulan berkeliaran mulai bersuit menggoda. Bahkan lainnya malah berani berteriak-teriak sambil tertawa lebar. Namun, gadis itu sama sekali tidak peduli. Kakinya terus melangkah tenang. Dan tiba-tiba....

"He he he...! Gadis secantik ini berjalan seorang diri pasti akan mendapat banyak bahaya!" kata salah satu dari tiga murid padepokan itu seraya cengar-cengir.

Bahkan salah seorang dengan nakal mencengkeram pergelangan tangan. Tapi gadis itu kelihatannya diam saja, tidak berusaha menepis.

"He he he...! Kalian lihat? Dia suka padaku. Maka dia menjadi milikku. Kalian tidak berhak mengganggunya!" kata pemuda itu, seraya tertawa kegirangan.

"Enak saja kau, Sugriwa! Kita melihatnya bertiga. Maka, dia harus memilih kita bertiga!" sahut kawannya yang bernama Dungkul, sambil mencoba memeluk pinggang gadis itu. Dan ketika melihat gadis itu ternyata diam saja, Dungkul makin tertawa kegirangan.

"Ha ha ha...! Kau lihat, bukan? Ternyata dia lebih menyukaiku!"

Sementara yang seorang lagi merasa iri. Dan dia tidak mau ketinggalan, berusaha memeluk gadis itu dari belakang. Dan sekali lagi, gadis itu diam saja sambil memperhatikan diiringi senyum kecil.

"Amboi! Dia pun suka padaku!" teriak pemuda bernama Parmin kegirangan.

"Hm, ini tidak betul!" Sugriwa tak suka.

"Kenapa kau ini? Dia menyukai kita bertiga, maka kita berhak memilikinya!" bantah Dungkul.

"Dungkul benar. Kita berhak memilikinya!" dukung Parmin.

"Kenapa pakai ribut segala? Aku sebenarnya tidak keberatan menjadi milik kalian bertiga asal..."

Suara gadis itu terdengar merdu dengan senyum manisnya. Dan perlahan-lahan, dia melepaskan tangan-tangan pemuda yang mulai nakal merayapi tubuhnya.

"Kau dengar itu? Dia tidak keberatan?!" seru Dungkul kegirangan.

"He he he...! Pasti karena dia tahu kalau kita murid-murid Padepokan Kilat Buana!" timpal Parmin.

"Hm.... Jadi, kalian murid-murid Padepokan Kilat Buana?" tanya gadis itu, kagum.

"Betul!" sahut ketiganya serempak.

Gadis cantik ini tertawa pelan. "Hm, sungguh kebetulan. Kudengar murid-murid Padepokan Kilat Buana hebat dan tangkas. Maukah kalian mempertunjukkan padaku? Siapa di antara kalian yang lebih unggul, maka dialah yang berhak memilikiku...," kata gadis itu dengan suara merayu.

"Hua ha ha...! Pasti aku yang hebat!" kata Sugriwa jumawa. "Minggir kalian! Gadis ini milikku!"

Sugriwa menepis kedua kawannya dan hendak menggandeng gadis itu. Namun secara bersamaan, Dungkul dan Parmin langsung mencekal kedua tangan Sugriwa. Wajah mereka tampak kesal, menunjukkan rasa tidak senang.

"Kau jangan terlalu jumawa, Sugriwa! Dan jangan sekali-sekali berani berkata begitu di hadapanku!" desis Dungkul garang.

"He?! Kau berani padaku?" hardik Sugriwa. Seketika, tangannya bergerak cepat.

Desss!

"Uhhh...!"

Dungkul terhuyung-huyung ke belakang sambil mengeluh kesakitan, begitu pukulan Sugriwa mendarat di dadanya. Sementara Parmin berusaha menyodokkan lutut kanannya ke lambung Sugriwa. Namun dengan cepat, Sugriwa memutar tubuh. Langsung disikutnya tengkuk kawan Parmin dengan keras.

Duk!

"Akh!" Nyaris Parmin tersungkur ke depan kalau saja keseimbangan tubuhnya tidak tenaga.

"Setan!" Dungkul dan Parmin memaki berbarengan. Cepat mereka memasang kuda-kuda untuk menyerang Sugriwa.

"Huh! Masih coba unjuk gigi di hadapanku, heh?! Lebih baik kalian mengaku kalah, maka persoalan akan selesai!"

"Dikira kau telah menang! Phuih! Kau akan merasakan balasanku, Sugriwa!" desis Dungkul geram, seraya melompat menyerang.

"Sekali-kali dia harus merasakan hajaran! Kubantu kau, Dungkul!" seru Parmin ikut melompat menyerang Sugriwa.

"Huh!" Sugriwa hanya mencibir sinis. Cepat bagai kilat, dia melompat ke samping menghindari tendangan Dungkul. Sementara, tangannya menangkis kepalan tangan Parmin yang mengarah ke dada.

Plak!

Begitu habis menangkis, Sugriwa melompat ke atas dan langsung membuat putaran beberapa kali. Kemudian, tubuhnya meluruk deras, bermaksud melepaskan tendangan. Namun, Parmin tidak kalah gesit. Dia menghindar menundukkan kepala, dan langsung menjatuhkan diri ke tanah. Dan seketika itu juga kedua kakinya dihantamkan ke selangkangan Sugriwa.

LIMA

Namun, Sugriwa telah melompat ke belakang, sehingga serangan itu luput. Sementara pada saat yang sama, Dungkul telah mengancamnya dengan satu tendangan keras menyapu ke arah pinggang. Cepat Sugriwa menangkisnya dengan kibasan tangan kiri. Tapi, Dungkul segera menarik pulang serangannya. Tubuhnya langsung berputar dengan kaki kiri melayang ke arah dada Sugriwa. Begitu cepat gerakannya, sehingga Sugriwa tak sempat menghindarinya.

Begkh!

"Akh!" Telak sekali dada Sugriwa terhantam tendangan Dungkul hingga mengeluh kesakitan. Tubuhnya langsung bergulingan di tanah, karena serangan Dungkul kembali datang dengan cepat. Tapi di sisi lain, Parmin segera menggunakan kesempatan itu untuk menghantam Sugriwa dengan satu tendangan keras.

Duk!

"Hugkh!" Kembali Sugriwa menjerit kesakitan, ketika perutnya terhantam tendangan Parmin. Tangannya langsung memegangi perutnya yang terasa akan pecah. Tubuhnya melengkung di tanah seperti udang. Wajahnya tampak meringis menahan sakit. Sementara Dungkul dan Parmin telah berdiri di dekat Sugriwa sambil menatap tajam.

"Huh! Kau kira dirimu sudah hebat? Sekarang, rasakan akibat kesombonganmu!" desis Dungkul.

Plok! Plok! Terdengar tepukan menyambut kekalahan Sugriwa.

"Hebat! Kalian semua hebat. Tapi aku hanya memilih seseorang. Lalu siapa yang harus kupilih?" tanya gadis itu.

"Parmin! Aku lebih berhak ketimbang kau!" kata Dungul dengan wajah garang.

"Hm... Jangan meremehkan aku, Dungkul!" desis Parmin dengan wajah tidak kalah garangnya.

"Jangan sampai pikiranku berubah, Parmin. Lebih baik menyingkirlah!" tandas Dungkul, mulai mengancam.

"Huh! Langkahi mayatku jika kau merasa lebih unggul!"

"Bedebah!" Dungkul menggeram. Dan dia siap hendak menghajar kawannya. Namun saat itu, muncul dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Di punggung mereka masing-masing, tersandang sebilah pedang. Dan melihat kehadiran mereka, ketiga murid Padepokan Kilat Buana itu segera menunduk dengan wajah takut.

"Apa yang kalian rebutkan sehingga saling baku hantam antar kawan sendiri? Jawab!" hardik salah satu dari dua orang murid utama Padepokan Kilat Buana yang baru datang.

"Eh! Kami..., kami...," sahut Dungkul. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.

Namun saat itu juga, Dungkul tertolong. Karena tiba-tiba, gadis yang tadi diperebutkan menghampiri kedua pemuda murid utama itu, seraya tersenyum memikat.

"Hm.... Agaknya kalian berdua lebih gagah ketimbang ketiga cecunguk ini...."

Kedua pemuda itu terpaku sesaat. Wajah mereka yang tadi garang, kini tampak lucu. Lekuk-lekuk indah dari tubuh gadis ini terbayang nyata, lewat pakaian tipis yang dikenakannya. Dan ini sempat membuat nafsu kelelakian kedua pemuda itu terguncang.

"Mereka bertiga ingin memiliki diriku. Namun, tak mungkin aku meladeni ketiganya. Lalu mereka kuuji adu kepandaian. Dan pemenangnya berhak memilihku. Kalian boleh ikut kalau suka..," kata gadis itu menawarkan.

"Eh, apa maksudmu...?" tanya salah seorang dengan suara bergetar.

"Apakah otakmu dungu? Atau, belaagak pilon?" gadis itu balik bertanya disertai senyum memikat. "Salah seorang dari kalian boleh memiliki diriku. Dan aku tidak akan menolak bila diperlakukan bagaimanapun. Tapi aku hanya memilih orang yang terunggul di antara kalian. Sebab aku hanya suka pada mereka yang hebat."

Kedua pemuda itu saling berpandang dengan wajah bingung. Dan ketika melirik sekilas ke arah gadis yang tengah menunggu keputusan, wajah mereka mulai berubah. Dan masing-masing mulai menunjukkan sikap permusuhan.

"Layong! Kau tahu, aku lebih tua darimu. Maka, akulah yang berhak!" cetus seorang dari ke duanya.

"Fiwung! Usiamu memang lebih tua dariku. Namun tidak berarti kau lebih hebat! Gadis ini hanya mencari terhebat. Bukan yang usianya tua!" sahut orang yang bernama Layong, mendengus geram.

"Kurang ajar! Kau berani bertingkah padaku, heh?!" sentak orang yang dipanggil Piwung.

Mendengar itu, Layong tidak mau kalah. Segera tangannya berkacak pinggang. "Apa pangkatmu, sehingga aku mesti takut, he?!" balas Layong.

Kedua pemuda itu nyaris baku hantam, seperti ketiga murid Padepokan Kilat Buana sebelumnya. Namun...

"Layong! Piwung...!" Terdengar bentakan nyaring, yang membuat kelima orang murid Padepokan Kilat Buana tersentak kaget. Dan mereka langsung berpaling ke arah sumber suara.

Orang yang membentak adalah pemuda berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Tubuhnya tegap. Rambutnya panjang dengan ikat kepala warna merah. Tahu-tahu saja dia telah berada di dekat mereka. Melihat kehadirannya yang laksana hantu, menunjukkan kalau tingkat kepandaiannya jauh di atas kelima pemuda murid Padepokan Kilat Buana. Buktinya, mereka menunduk kepala dalam-dalam, begitu melihat kehadiran pemuda yang baru muncul ini.

Plak! Plak! "Akh!"

Cepat sekali telapak tangan pemuda berambut panjang itu menghajar wajah Layong dan Piwung. Sehingga, keduanya kontan mengeluh tertahan. Dari sudut bibir masing-masing terlihat beberapa tetes darah meleleh. Tubuh mereka terhuyung-huyung. Namun tetap saja mereka tidak berani melawan, dan tetap menunduk.

Begitu habis menghajar Layong dan Piwung, pemuda berambut panjang itu kembali berkelebat. Gerakannya cepat bukan main, ke arah Sugriwa, Dungkul, dan Parmin.

"Heh?!" Sugriwa, Dungkul, dan Parmin tercekat. Namun secepat itu pula mereka menjerit tertahan, dengan tangan mendekap perut masing-masing. Seketika tubuh mereka tersungkur mencium tanah.

"Dasar keledai-keledai dungu! Apa yang kalian perebutkan, he?! Hanya karena perempuan jalang ini kalian saling baku hantam?! Keparat! Meskinya kalian mampus saja...!" bentak pemuda berambut panjang itu.

Kelima murid Padepokan Kilat Buana itu sama sekali tidak berkutik. Mereka cepat bangkit sambil menunduk dalam. Sementara itu, gadis yang diperebutkan melangkah ke arah pemuda yang tengah mengamuk.

"Hm... Agaknya, kaulah yang paling gagah di antara mereka kata gadis itu disertai senyum genit dan dengan tangan terjulur hendak menyentuh pundak pemuda ini.

"Perempuan busuk! Enyah kau...!" sentak pemuda itu garang. Langsung ditangkapnya pergelangan tangan wanita itu, siap hendak dibantingnya.

Tapi dengan gerakan yang sulit dilihat mata biasa, gadis itu mendadak mencelat ke atas. Begitu mendarat, tahu-tahu...

Wut! Des!
"Akh!"

"Kakang Turangga Weton...?!"

Kelima pemuda yang tengah menundukkan wajah mendadak terkejut. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja pemuda yang tadi terlihat garang, kini mengeluh tertahan. Tubuhnya kontan terjajar beberapa langkah. Sementara wanita cantik itu bertolak pinggang di depannya seraya tersenyum kecil.

"Setan! Agaknya kau sengaja memperdaya mereka, he?! Kuremukkan batok kepalamu, Betina Jalang!" desis pemuda yang dipanggil Turangga Weton. Turangga Weton langsung siap dengan kuda-kudanya, lantas menerjang gadis itu.

Wuuut!

Gadis itu hanya bergeser sedikit, sehingga pukulan Turangga Weton luput dari sasaran. Namun, pemuda itu cepat berbalik gesit. Dan seketika sebelah kakinya berputar menghantam pinggang. Namun sekali lagi, gadis itu berkelit lincah dengan melompat cepat ke atas. Melihat hal ini Turangga Weton semakin gusar saja. Maka sambil menggeram hebat, serangannya dilipat gandakan.

"Yaaat!"

Gerakan Turangga Weton cepat bukan main. Dan bersamaan dengan itu, terasa angin bersiut kencang menandakan kalau serangannya diiringi tenaga dalam tinggi. Tapi meski begitu, gadis itu sama sekali tidak merasa kesulitan menghindarinya. Malah dia seperti sengaja mempermainkan Turangga Weton dengan melompat ke sana kemari bagai seekor kijang.

Kelima pemuda murid Padepokan Kilat Buana memandang pertarungan dengan wajah takjub. Mereka tahu betul, siapa Turangga Weton. Dia adalah murid paling utama Padepokan Kilat Buana. Dan kepandaiannya, beberapa tingkat di bawah mereka. Sementara gadis itu sama sekali tidak memandang sebelah mata. Tapi untungnya dia mampu menghindar, sambil tersenyum-senyum. Jelas, kepandaian gadis ini cukup hebat pula.

"Cukup...!" bentak gadis itu nyaring seraya melompat ke belakang pada jarak sepuluh langkah. Sepasang mata gadis itu menatap tajam ke arah Turangga Weton. Dan sambil berkacak pinggang, dia menuding sinis. "Katakan pada guru si Tua Bangka Busuk itu! Ingin mampus di tanganku, atau hidup menjadi budak Peri Peminum Darah!"

"Peri Peminum Darah?'

Turangga Weton terkejut. Sementara yang lain tersentak kaget mendengar julukan itu. Namun ketika mereka hendak menegaskan wajahnya, gadis itu telah lenyap entah ke mana!

"Kurang ajar! Dia kira bisa mempermainkan kita? Huh! Aku sendiri nantinya yang akan memecahkan batok kepalanya!" desis Turangga Weton bersungut-sungut seraya meninggalkan tempat itu.

********************

Di Padepokan Merak Emas, Ki Bagong Udeg senang sekali dengan hadirnya Pendekar Rajawali Sakti. Dia beserta seluruh muridnya menyambut penuh suka cita. Kebetulan sekali, di tempatnya tengah berkunjung Ki Ageng Sela beserta cucunya Nila Dewi, Ki Tabong dan Ki Waskita. Dan kali ini, Ki Bagong Udeg cukup mengirim beberapa muridnya untuk mengundang Ki Panjaran dan Ki Panaka. Kebetulan sekali, tempat tinggal kedua tokoh itu tidak jauh. Dan hanya dapat ditempuh dengan perjalanan pergi pulang selama kurang dari setengah hari dengan berkuda.

"Rangga... Kuharap kau bisa bersabar menunggu kedua kawanku, sebelum memulai pembicaraan kita. Aku telah berjanji akan mengundang mereka, begitu kau datang. Silakan cicipi hidangan kami yang ala kadarnya...!" ujar Ki Bagong Udeg.

"Terima kasih, Ki Bagong Udeg. Pelayananmu sungguh luar biasa. Dan aku merasa seperti berada di rumah sendiri," ucap Pendekar Rajawali Sakti.

"Ah! Kau memang pandai sekali memuji, Rangga"

"Apakah kau telah tahu kalau orang bertopeng yang tempo hari bertarung denganmu adalah si Peri Peminum Darah?" tanya Ki Ageng Sela.

"Peri Peminum Darah?"

Wajah Rangga tampak kaget. Dipandangnya orang tua itu dengan seksama.

"Dari mana kau tahu, Ki?" tanya Rangga.

"Dari Ki Bagong Udeg, dan dari cerita-cerita orang lain, kami tahu kalau ciri-ciri si Peri Peminum Darah seperti itu...," sahut Ki Ageng Sela.

"Hm... Jadi Peri Peminum Darah itu seorang wanita?" kata Rangga seperti berkata sendiri.

"Kami menduga, dia ada hubungannya dengan si Hantu Putih Mata Elang yang tewas di tanganmu setahun lalu," tambah Ki Ageng Sela.

"Dari mana kau bisa menduga begitu?" tanya Rangga lagi.

"Dia mendendam padamu, bukan?"

Rangga mengangguk.

"Tahukah kau, apa alasannya?"

Pendekar Rajawali Sakti menggeleng.

"Tidakkah terpikir olehmu, salah seorang keluarga si Hantu Putih Mata Elang yang ingin menuntut balas padamu?"

Rangga berpikir sesaat. Wajahnya kelihatan tegang, seperti memikirkan sesuatu "Apakah dia orangnya...?" gumam Rangga ragu.

"Siapa yang kau maksud?" kali ini Ki Bagong Udeg yang bertanya.

"Roro Inten."
"Siapa Roro Inten?"
"Putri si Hantu Putih Mata Elang."

"Hm... Jadi Hantu Putih Mata Elang mempunyai seorang anak?" kata Ki Waskita, seperti ingin meyakinkan.

"Begitulah yang kutahu.. , sahut Rangga. Wajahnya masih menyiratkan keraguan. Dan tiba-tiba dia teringat seseorang.

"Ke mana cucumu, Ki Ageng?" tanya Rangga pada Ki Ageng Sela.

"Nila Dewi maksudmu?" tandas Ki Ageng Sela.

Rangga mengangguk

"Dia tengah bermain dengan kawan barunya, murid perempuan Ki Bagong Udeg. Kasihan... Sejak kematian Bayu Permana, dia terus mengurung diri. Itulah sebabnya, dia kuajak ke sini karena banyak mendapat kawan baru..."

"Tidak heran Peri Peminum Darah mengenal Nila Dewi," desah Rangga.

Wajah Ki Ageng Sela tampak terkejut mendengar kata-kata Rangga.

"Kalau memang benar si Peri Peminum Darah itu Roro Inten, berarti memang pernah mengenal Nila Dewi. Itu tidak heran. Sebab, mereka pernah kenal untuk beberapa saat." jelas Pendekar Rajawali Sakti.

Ki Ageng Sela mengangguk. Kini bisa dimengerti, mengapa Peri Peminum Darah mengenali Nila Dewi.

"Kisanak semua, kurasa aku tidak perlu ikut dalam pertemuan ini...," kata Pendekar Rajawali Sakti seraya bangkit berdiri.

"Lho, kenapa?" tanya Ki Bagong Udeg, ikut berdiri.

"Aku harus membuktikan kebenaran dugaanku."

"Bagaimana caranya kau membuktikan hal itu?" tanya Ki Ageng Sela.

"Ke Hutan Lengkeng."

"Hutan Lengkeng?"

"Ya! Aku yakin, di sanalah sarang Hantu Putih Mata Elang. Kalau benar Peri Peminum Darah itu putrinya, maka dia tidak akan pergi jauh. Aku harus ke sana untuk mencarinya!"

Pemuda itu bermaksud melangkah. Namun saat itu masuk tiga orang. Ki Bagong Udeg menyambut segera seorang laki-laki setengah baya berpakaian bagus, didampingi dua orang pemuda. Orang itu memberi salam hormat, kemudian menatap dengan wajah sendu.

"Maafkan kami, Kisanak semua. Bisakah kami bertemu Ki Bagong Udeg, Ketua Padepokan Merak Emas...?" tanya Ielaki setengah baya itu.

"Aku sendiri orangnya. Adakah sesuatu yang bisa kubantu?"

"Sungguh kebetulan. Aku Ki Dawang Rejo. Dan kedua orang ini adalah muridku. Ada pun keperluanku yang utama adalah hendak bertemu Pendekar Rajawali Sakti yang konon kudengar berada di tempat ini jelas orang tua itu.

"Oh, Pendekar Rajawali Sakti? Kebetulan orangnya ada di sampingku." Ki Bagong Udeg segera memperkenalkan Pendekar Rajawali Sakti. Kini terlihat wajah Ki Dawang Rejo cerah ketika melihat senyum ramah pemuda itu.

"Pendekar Rajawali Sakti... Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu denganmu."

"Ki Dawang Rejo. Begitu pun denganku. Anak buahmu telah menceritakan sedikit persoalan yang kau hadapi. Dan maaf, karena waktu itu aku harus buru-buru. Tapi yang jelas, aku tidak bisa membantumu secara khusus. Apalagi mengembalikan putrimu dalam keadaan hidup. Aku tidak bisa menjamin. Namun untuk membereskan si Peri Peminum Darah, itu memang harus kulakukan!" jelas Pendekar Rajawali Sakti.

"Jadi..., apakah putriku telah tewas...?" tanya Ki Dawang Rejo dengan wajah kecewa bercampur sedih mendalam.

"Kisanak, jangan berpikir seperti itu dulu. Kita masih punya harapan. Kalau saja putrimu kutemukan dalam keadaan selamat, tentu saja akan kubawa padamu. Begitu pula bila kutemukan mayatnya. Maka akan kuantar, agar bisa dikuburkan secara layak. Tapi aku hanyalah seorang manusia yang mempunyai keterbatasan. Dugaanku hanya berdasar pada kebiasaan si Peri Peminum Darah yang tidak pernah membiarkan korbannya hidup...," hibur pemuda itu seraya menepuk-nepuk pundak Ki Dawang Rejo.

"Ki Bagong Udeg.... Maaf, aku harus pergi dan tidak bisa menunggu kedua kawanmu. Mungkin aku sendiri tahu di mana harus mencari Peri Peminum Darah...," lanjut Rangga, segera berpamitan pada Ketua Padepokan Merak Emas.

"Oh! Kau tahu di mana Peri Peminum Darah itu, Rangga? Kalau begitu kami akan ikut menyertaimu!" seru Ki Bagong Udeg.

Rangga sebenarnya bermaksud hendak pergi sendiri. Namun kata-kata Ki Bagong Udeg didukung oleh ketiga kawannya. Sehingga mau tidak mau pemuda itu mengajak mereka.

"O, jadi kalian pun akan ke sana?" tanya Ki Dawang Rejo, dengan wajah sedikit cerah.

"Ya! Kami akan menyelidiki sarangnya," sahut Rangga.

"Sarangnya? Jadi bukan ke Padepokan Kilat Buana?" tanya orang tua itu heran.

"Padepokan Kilat Buana? Ada apa di sana?" Kali ini Ki Bagong Udeg serta yang lain menunjukkan wajah bingung.

"Kami mendapat kabar dari murid Padepokan Kilat Buana kalau Peri Peminum Darah akan mengobrak-abrik padepokan itu," jelas Ki Dawang Rejo.

"Hm... Ada baiknya kita menyelidiki ke sana," sahut Rangga, seraya melangkah keluar.

Ki Bagong Udeg dan yang lain segera mengikuti langkah pemuda itu.

ENAM

Seorang pemuda murid Padepokan Kilat Buana melaporkan pada gurunya yang bernama Ki Pagut Geni tentang kehadiran beberapa orang tokoh persilatan dan seorang yang berpakaian indah seperti seorang saudagar. Mereka tak lain dari, Pendekar Rajawali Sakti, Ki Bagong Udeg, Ki Tabong, Ki Ageng Sela, Ki Waskita, dan Ki Dawang Rejo. Dan kini, Ki Pagut Geni menerima mereka di ruang utama padepokan itu.

"Akulah Ki Pagut Geni. Ada kabar apa kalian menemuiku?" kata Ki Pagut Geni, memperkenalkan diri dan sekaligus bertanya-tanya.

Sebenarnya, Ki Pagut Geni bukanlah keturunan orang yang terpelajar. Sejak muda, wataknya terkenal berangasan. Sehingga tidak heran kalau tidak mengenal sopan-santun. Dalam pembicaraan pun terlihat kalau dia tak suka berbasa-basi. Begitu juga saat ini. Tanpa mempersilakan tamunya duduk, dia sudah langsung menanyakan tujuan mereka sambil berdiri.

Rangga hanya tersenyum kecut, sambil melirik ke arah rekan-rekanya. Meski merasakan kalau sambutan Ki Pagut Geni terkesan kurang sopan, namun pemuda itu berusaha untuk memahaminya.

"Ki Pagut Geni, kedatangan kami di sini sekadar hendak bergabung denganmu, untuk menghadapi si Peri Peminum Darah," jelas Rangga.

"Hm, Peri Peminum Darah? Ya! Aku juga baru saja mendapat laporan dari muridku. Tapi, ada apa dengannya sehingga kalian perlu repot-repot ke sini?" tanya orang itu, seperti tidak merasa mendapat masalah oleh berita ini.

"Orang itu berbahaya, dan..."

"Tunggu dulu!" Potong Ki Pagut Geni langsung.

Orang tua itu memandang Rangga dengan tajam. Sementara, Rangga jadi terdiam dan juga langsung memandang tajam pada Ki Pagut Geni. "Hm, aku tahu. Kalian meremehkan kemampuanku, bukan?"

"Kami tidak mengerti maksudmu, Ki?" tanya Rangga dengan wajah heran.

"Kalian kira si Peri Peminum Darah sedemikian hebat, sehingga kalian pikir aku tidak mampu mengatasinya? Lalu, kalian datang bermaksud mengulurkan bantuan?!" kata Ki Pagut Geni, mulai tersinggung.

"Jangan berpikir begitu, Ki. Tentu saja kami tahu kehebatanmu Tapi...

"Cukup! Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa kau, sehingga berani merendahkanku?! Aku tahu dan memang kenal keempat kawanmu. Demikian pada hartawan ini, serta kedua pengawalnya. Tapi, aku tidak mengenalmu! Lantas, orang-orang seperti kaliankah yang akan membantuku?!"

"Ki Pagut Geni! Pemuda inilah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti," jelas Ki Bagong Udeg. Sejak tadi, Ketua Padepokan Merak Emas ini diam menahan kesal melihat sikap Ketua Padepokan Kilat Buana yang terlihat sombong. Dia berharap, dengan begitu sikap Ki Pagut Geni bisa sedikit lunak. Sebab untuk saat ini, siapa yang tidak kenal si Pendekar Rajawali Sakti?

Tapi apa yang diharapkan Ki Bagong Udeg, agaknya bertolak belakang. Begitu mendengar siapa pemuda itu sebenamya, dia malah tertawa lebar. "He he he...! Benar, saat ini aku tengah berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi apa kau mesti memandang rendah padaku, sehingga berpikir aku butuh pertolonganmu? Apakah kau sudah sedemikian hebat menyandang nama kosong itu?" kata orang tua ini sinis.

Rangga yang sejak tadi berusaha sabar, kini mulai kesal. "Aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu, Ki. Tapi urusan si Peri Peminum Darah adalah urusan semua orang. Paling tidak, harus ada yang berbuat sesuatu untuk menghentikan perbuatannya yang keji. Jadi jangan hanya persoalan harga diri yang ada di benakmu! Ini masalah keselamatan banyak orang!" kata Pendekar Rajawali Sakti, tenang.

"Jangan mengguruiku, Bocah! Kau tahu, sebelum kepalamu keluar melihat isi dunia ini, aku telah malang melintang dalam dunia persilatan. Jadi jangan menganggap remeh kalau hanya menghadapi bajingan busuk yang kau takutkan. Hanya keledai keledai dungu yang takut dengan perempuan!" desis Ki Pagut Geni menyindir.

Mendengar ejekan itu, rasanya darah dalam dada Ki Tabong mulai mendidih telah naik ke ubun-ubun. Dia hendak maju untuk balas memaki Ketua Padepokan Kilat Buana itu, namun keburu ditahan Ki Bagong Udeg. Sementara Ki Pagut Geni hanya menatap tajam ketika melihat gerakan Ki Tabong. Seakan, hendak ditelannya bulat-bulat tubuh Ki Tabong lewat sorot matanya yang menggiriskan.

"Ki Tabong! Rupanya kau punya harga diri juga, heh?! Kau boleh tunjukkan kejantanan di sini. Jangan berhadapan denganku dulu. Karena banyak muridku yang siap meladenimu sendiri!" dengus Ki Pagut Geni geram.

Dengan kata-katanya itu, jelas sekali kalau sebenarnya Ki Pagut Geni menganggap remeh Ki Tabong. Sehingga membuat orang tua bertubuh gemuk pendek itu semakin geram saja. Meski Ki Bagong Udeg dan yang lain berusaha menahan, namun dengan kasar ditepisnya tangan mereka. Langsung ditudingnya Ki Pagut Geni dengan sikap garang.

"Pagut Geni. Kau boleh tunjukkan kehebatanmu padaku!"

"Ki Tabong, sudahlah. Kedatangan kita ke sini bukan hendak mencari permusuhan. Kita harus mencari si Peri Peminum Darah. Kalau memang Ki Pagut Geni tidak bersedia bekerja sama, bukan suatu persoalan. Kita cari si Peri Peminum Darah itu di tempat lain," ujar Rangga, berusaha menyabarkan Ki Tabong.

"Tidak! Orang ini sudah keterlaluan! Dia merendahkan kita, dan sama sekali tidak memandang sebelah mata. Dikira dirinya siapa?! Kalau dibiarkan terus, dia akan besar kepala!" sergah Ki Tabong.

"Tidak usah banyak bicara! Lawan dulu muridku. Kalau kau mampu mengalahkannya, aku mengaku kalah padamu!" desis Ki Pagut Geni garang.

"Phuih! Tidak perlu muridmu. Majulah kau sendiri!" sentak Ki Tabong.

"Ha ha ha...! Kau kira dirimu siapa? Menghadapi muridku saja, kau masih belum pantas. Apalagi mesti menghadapiku"

"Setan!" Ki Tabong menggeram. Langsung dia melompat menerkam Ketua Padepokan Kilat Buana. Sia-sia saja Rangga dan yang lain menahan amarah Ki Tabong yang agaknya tidak bisa disurutkan lagi.

"Yeaaat!" Mendadak seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun bertubuh kekar tadi kebetulan tak jauh dari situ langsung memapak serangan Ki Tabong.

"Ha ha ha...! Bagus, Satria! Meski dia tidak pantas menjadi lawanmu, tapi kau tidak perlu memberi hati. Tunjukkan, kalau dia sebenarnya bukan tandinganmu!" seru Ki Pagut Geni, sambil terkekeh lebar.

Pertarungan antara Ki Tabong dengan Satria Waksa murid utama Ki Pagut Geni itu memang tidak bisa terelakkan lagi. Ki Tabong memang panas betul mendengar kata-kata Ketua Padepokan Kilat Buana tadi. Sehingga tidak tanggung-tanggung lagi segenap kemampuannya dikerahkan untuk menjatuhkan Satria Waksa. Ingin segera dibuktikannya kalau dirinya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun apa yang dibayangkan ternyata tidak sesuai keadaan. Ternyata kepandaian Satria Waksa tidak bisa dipandang ringan. Hal ini tidak mengherankan, sebab Ki Pagut Geni mempertaruhkan harga dirinya.

Plak!

"Hiiih!" Beberapa kali Ki Tabong mengeluh tertahan, setiap kedua tangan mereka beradu. Tenaga pemuda itu kuat luar biasa. Dan kegesitannya dalam bergerak amat mengagumkan. Bahkan orang tua itu pelan-pelan terlihat mulai terdesak hebat.

"Yeaaa!" Satria Waksa berteriak lantang menggelegar. Kemudian kaki kanannya dikibaskan ke arah pinggang Ki Tabong. Namun orang tua itu cepat melompat ke belakang menghindarinya. Maka dengan berpijak pada sebelah kakinya, murid utama Ki Pagut Geni itu mencelat mengejar. Langsung dihantamnya perut Ki Tabong dengan satu tendangan keras. Ki Tabong berusaha menangkis, karena untuk berkelit sudah tak mungkin.

Plak!

Benturan keras terjadi, membuat Ki Tabong meringis kesakitan. Sekujur tangannya yang digunakan untuk menangkis terasa nyeri bukan main. Dan belum juga dia bersiap, kaki Satria Waksa yang sebelah lagi cepat menghantam pinggangnya.

Des!

"Aaakh...!" Orang tua itu mengeluh tertahan. Tubuhnya nyaris terjungkal ke kanan, namun cepat menguasai keseimbangan. Namun Satria Waksa seperti tidak memberi kesempatan. Belum juga Ki Tabong bersiap kembali, pemuda itu telah berputar dengan satu tendangan susulan. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Duk!

"Hugkh!" Ki Tabong kontan mengeluh tertahan, seraya mendekap perutnya yang terasa mual bukan main. Tubuhnya langsung terjungkal tiga langkah ke belakang, tepat di depan Ki Bagong Udeg. Tampak mulutnya meringis merasakan sakit yang hebat.

"Ha ha ha...! Ternyata dugaanku benar! Kalian memang hanya keledai-keledai dungu yang bertingkah hendak menjadi pahlawan!" ejek Ki pagut Geni.

Sementara itu Ki Waskita sudah hendak turun tangan menghajar Satria Waksa, namun Ki Bagong Udeg mencegahnya. "Sudahlah. Apa yang dikatakan Rangga memang benar. Kita jangan mencari keributan di sini," ujar Ki Bagong Udeg seraya mengangkat tubuh Ki Tabong.

"Tapi orang ini sudah kelewat menghina kita?!" kilah Ki Waskita.

"Biarlah. Tidak usah dibesar-besarkan...," sahut Ki Bagong Udeg, masih berusaha menyabarkan sahabatnya.

"Ha ha ha...! Kata-kata itu memang sepatutnya keluar dari mulut orang-orang pengecut!" sindir Ki Pagut Geni sambil ketawa lebar.

Mau tidak mau, kata-kata penuh penghinaan ini membangkitkan kembali amarah Ki Waskita yang mulai surut. Dan bukan hanya orang tua itu saja yang tersinggung. Tapi, Ki Ageng Sela, Ki Bagong Udeg, Rangga yang sejak tadi diam, langsung menatap tajam pada Ki Pagut Geni.

"Kisanak! Sikapmu sudah di luar batas. Kau telah dengar, kedatangan kami ke sini bukan mencari keributan. Namun kau terus memancing kesabaran kami. Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Rangga, dengan suara bergetar berusaha menahan kemarahan.

"O, rupanya masih ada keberanian juga kau, Anak Muda! Hm.... Kau pun boleh tunjukkan, kalau bukan pengecut dengan melawan muridku ini," sahut Ki Pagut Geni enteng sambil menepuk-nepuk pundak muridnya yang tadi baru saja menjatuhkan Ki Tabong.

"Rangga! Biar dia kuberi pelajaran agar tidak besar kepala!" dengus Ki Waskita semakin geram.

Namun pemuda itu memberi isyarat dengan tangannya. Kemudian bibirnya tersenyum kecil. "Jangan mengotori tangan hanya untuk memuaskan orang sombong ini, Ki. Biarlah kau kuwakili untuk menghadapinya," kata Rangga, berusaha setenang mungkin.

"Nah, Satria. Kau dengar itu? Kali ini Pendekar Rajawali Sakti yang akan menjajalmu. Apakah kau. takut mendengar nama besarnya?" tanya gurunya.

"Aku tidak pernah takut pada siapa pun, Guru. Walau dedemit yang berada di mukaku!" sahut murid Ki Pagut Geni tegas, disertai senyum sinis.

Rangga tersenyum seraya melangkah tiga langkah ke kiri. Sedang Satria Waksa mengikutinya sambil memandang dengan sorot mata tajam. Kini dia mulai memasang kuda-kuda. "Kepandaianmu hebat, Sobat. Dan gurumu pun konon kata orang juga hebat. Maka jangan permalukan dia di depan orang banyak...." sindir Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau tidak perlu mengajariku, Kisanak!" dengus Satria Waksa geram.

"Hm, mungkin saja. Tapi, agaknya kau masih perlu belajar banyak untuk mengendalikan kesombonganmu..."

"Tutup mulutmu! Yeaaa...!" Secepat kilat Satria Waksa melompat disertai bentakan nyaring melengking. Dia melakukan tendangan tipuan dengan kaki kanan untuk mengecoh. Dan Rangga cepat menundukkan kepala. Maka sekonyong-konyong, Satria Waksa menarik tendangan. Dan dengan tubuh berputar, dilepaskannya tendangan dengan kaki kiri ke arah dada.

Wuuut!

Tapi Pendekar Rajawali Sakti menyadari. Segera tubuhnya melenting cepat bagai kilat, sehingga tendangan Satria Waksa hanya mengenai tempat kosong. Begitu habis berputaran, tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti meluruk deras dengan satu kepalan tangan menyodok ke arah muka. Satria Waksa terkesiap. Serta merta, dia mendoyongkan tubuhnya ke samping sambil menangkis.

Sehabis menangkis, kaki kanan Satria Waksa hendak melayang ke arah perut Pendekar Rajawali Sakti, namun belum lagi dilakukannya, tubuh Rangga telah merapat dekat disertai pukulan keras ke perut.

Begkh!

"Ugkh" Satria Waksa kontan mengeluh tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, untung masih bisa menguasai keseimbangan tubuhnya.

"Hati-hati! Dan, jaga setiap pertahananmu...!" kata si Pendekar Rajawali Sake disertai senyum manis. Matanya tak lepas mengawasi lawannya.

"Keparat! Satria Waksa menggeram. Tanpa mempedulikan sakit yang diderita, dia kembali melompat menerkam Rangga. "Yaaat!"

TUJUH

Dengan pengerahan jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang disertai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagai lenyap dari pandangan. Satria Waksa jadi terkesiap. Dan untuk sekejap, pemuda itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan mendadak saja, dia merasakan angin sambaran keras menuju ke arahnya. Cepat Satria Waksa menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan disertai bentakan nyaring. Sementara tangan kirinya bersiaga di dada.

"Yeaaat!" Wuuut!

Seketika serangkum angin kencang menyambar ke depan ke arah bayangan yang bergerak cepat ke arahnya. Namun, kelebatan bayangan yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakfi itu, tiba-tiba berputaran di udara. Lalu seketika Pendekar Rajawali Sakti meluruk, mengincar batok kepala Satria Waksa. Karena untuk menghindar jelas tidak mungkin, maka Satria Waksa menangkis dengan sebelah tangannya.

Plak!

Satria Waksa merasakan sakit bukan main pada tangannya ketika menangkis serangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan belum juga rasa sakit itu hilang, Rangga telah kembali berputaran. Dan dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' Pendekar Rajawali Sakti melepaskan dua tendangan beruntun yang menghantam dada dan perut Satria Waksa.

Dugkh!

"Aaakh...!" Murid Ki Pagut Geni memekik tertahan. Tubuhnya tenungkal ke tanah beberapa langkah, dan tidak bangkit lagi!

"Heh?!" Bukan main terkejutnya Ki Pagut Geni melihat keadaan muridnya. Dikira, Pendekar Rajawali Sakti bertindak kejam, sehingga menewaskan muridnya. Maka buru-buru diperiksanya keadaan Satria Waksa.

Pikiran yang sama juga terlintas di benak Ki Bagong Udeg dan kawan-kawannya. Bahkan murid-murid Padepokan Kilat Buana lainnya telah siap mengurung.

Sementara Rangga hanya tersenyum. "Tidak perlu khawatir. Aku hanya sekadar meruntuhkan keangkuhannya saja...," kata Rangga dingin, setelah memperhatikan keadaan lawannya.

Ki Pagut Geni mendengus geram. Matanya disipitkan ketika memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan tajam. Satria Waksa memang belum tewas. Hanya sekadar tidak sadarkan diri. Namun dengan caranya itu dan ditambah kata-kata terakhir Pendekar Rajawali Sakti, jelas membuatnya tersinggung. Orang tua ini merasa kalau harga dirinya tengah diinjak-injak Pendekar Rajawali Sakti.

Begitu bangkit berdiri, Ki Pagut Geni memberi isyarat pada dua orang muridnya, untuk segera membawa Satria Waksa ke dalam. Sementara, seorang murid lainnya mengangsurkan sebilah pedang berhulu kepala naga. Orang tua itu lantas maju dua langkah, hingga jaraknya kini hanya dua tombak di hadapan Pendekar Rajawali Sakti. Sorot matanya tajam, membayangkan dendam serta kebencian pada pemuda itu.

Semua murid Padepokan Kilat Buana kini membentuk lingkaran agak lebar. Mereka mengerti, apa yang akan dilakukan gurunya. Dan agaknya, Ki Bagong Udeg pun bisa menangkap gejala tidak enak. Ki Pagut Geni pasti akan menantang Pendekar Rajawali Sakti untuk bertarung. Memang, Satria Waksa adalah muridnya yang terpandai dan bisa diandalkan. Sehingga, kekalahannya di tangan Pendekar Rajawali Sakti membuat wajahnya betul-betul bagai dicoreng oleh kotoran korbau.

"Cabutlah pedangmu dan hadapi aku, Pendekar Rajawali Sakti. Ingin kulihat, sampai di mana kehebatanmu yang selama ini digembar-gemborkan orang!" dengus Ki Pagut Geni dingin.

"Ki Pagut Geni! Kenapa kau menyalahi aturan dan memperpanjang urusan?" tanya Ki Bagong Udeg. "Saat berhadapan dengan Ki Tabong, kau mengatakan kalau cukup diwakili muridmu. Dan kini ketika Pendekar Rajawali Sakti, mampu menjatuhkan muridmu kenapa kau tidak terima? Kedatangan kami ke sini bukan untuk mengacau. Namun, kau terus merusak keadaan."

"Urusan muridku dengan kawanmu. Tapi urusan si Pendekar Rajawali Sakti adalah denganku. Atau, barangkali nyali Pendekar Rajawali Sakti mulai ciut bila berhadapan denganku?" sindir orang tua itu sinis.

Rangga tersenyum kecut. Kakinya maju dua langkah, sehingga jaraknya dengan Ki Pagut Geni semakin dekat. "Kedatanganku ke sini bukan mencari keributan, Ki. Namun dengan kesombonganmu, kau membuatku tidak punya pilihan Iain lagi. Maka silakan kalau memang kau memaksa," sahut Pendekar Rajawali Sakti singkat.

"Cabutlah pedangmu!" dengus Ki Pagut Geni, langsung mencabut pedang dan melintangkannya di depan dada.

Sret!

"Pedangku belum waktunya digunakan. Karena aku menganggap belum perlu," sahut Rangga.

"Terserah saja. Tapi jangan katakan aku curang. Atau mungkin pedangmu hanya sekadar untuk menakut-nakuti?!" dengus orang tua itu menyindir. Ki Pagut Geni langsung berputar dua langkah ke kiri. Lalu sambil berputar, dia mencelat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. "Yeaaa!"

"Hup!" Gesit sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat ke kanan menghindari serangan orang tua itu. Namun, kelebatan pedang Ki Pagut Geni terus mengurung tubuhnya dengan ketat. Permainan pedang Ki Pagut Geni memang tak bisa dipandang enteng. Sedikit saja salah melangkah, maka ujung pedang orang tua itu akan menyambar tubuhnya.

Untuk sesaat Rangga terkejut. Namun tubuhnya cepat meliuk-liuk indah, dengan gerakan kaki lincah menghindari setiap serangan. Pemuda itu sengaja memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk mengetahui, sampai sejauh mana kehebatan serangan Ki Pagut Geni. Memang, jurus itu sengaja digunakan untuk menghindar, di samping menjajaki kemungkinan mencari kelemahan lawan.

"Yaaat!"

Bukan main gemasnya Ki Pagut Geni. Tiga jurus telah berlalu tapi belum juga bisa mendesak Pendekar Rajawali Sakti. Dan yang lebih membuatnya kesal, pemuda itu sama sekali belum membalas serangannya.

"Pendekar Rajawali Sakti! Apakah kepandaianmu hanya menghindar saja? Ayo, balas seranganku?!" teriak orang tua itu lantang sambil memperhebat serangan.

Dengan tangan kanan menggenggam pedang, tangan kiri Ki Pagut Geni menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan jarak jauh yang bertenaga dalam tinggi kuat. Gerakannya pun terasa lebih mantap. Dan Rangga bukannya tidak menyadari. Beberapa kali tubuhnya diterpa angin kencang. Namun sejauh itu, Pendekar Rajawali Sakti masih mampu bertahan.

Ki Pagut Geni kini tampak mengerahkan jurus 'Angin Mencipta Badai yang merupakan jurus andalan untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Tidak heran bila gerakannya semakin cepat dan ganas saja. Bahkan orang-orang yang berada di sekitar tempat itu semakin mundur agak jauh.

"Yeaaa!" Kini Pendekar Rajawali Sakti terlihat melompat ke belakang, dan langsung membuat beberapa kali putaran. Sementara, Ki Pagut Geni cepat mengejar dengan pedang terhunus. Melihat dahsyat serangan orang tua itu, Pendekar Rajawali Sakti merasa kalau pedangnya harus dicabut.

Sring!

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan pedangnya yang memancarkan cahaya biru berkilauan, pedang Ki Pagut Geni sudah berkelebat cepat mengincar lehernya. Cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti mengangkat Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke depan lehernya.

Trang!

Seketika percikan bunga api berterbangan ke segala arah, ketika dua senjata yang amat dahsyat beradu. Begitu kerasnya, sampai-sampai Ki Pagut Genit terjajar beberapa langkah. Sedangkan Rangga tidak bergeming sedikit pun.

Belum juga Ki Pagut Geni bersiap, Pendekar Rajawali Sakti sudah mendesaknya dengan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Dan ini membuat orang tua itu kelabakan. Dia berusaha mengimbangi permainan pedang Pendekar Rajawali Sakti, tapi gerakannya semakin kacau saja. Seakan-akan, dia telah kehilangan kendali. Bahkan setiap kali senjatanya berbenturan, terasa hawa panas menjalar ke jantungnya. Telapak tangannya sendiri seperti kesemutan. Dan berkali-kali, mengeluh kesakitan.

"Heaaa!" Disertai teriakan keras menggelegar, pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti mengurung tubuh Ki Pagut Geni. Dan tiba-tiba saja, ujung kaki kiri Rangga menghantam ke arah muka. Orang tua itu terkesiap, dan cepat melompat ke belakang. Namun dengan gerakan tidak terduga, Pendekar Rajawali Sakti bergulingan, menyerang lawan dari bawah.

Ki Pagut Geni terkesiap, sama sekali tidak diduga kalau pemuda ini bergerak demikian cepat. Cepat-cepat pedangnya dikibaskan ke bawah.

Trang!

Ki Pagut Geni berhasil menangkis sambaran pedang Rangga. Namun mendadak saja kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti meluncur cepat kedepan.

Begkh!

"Aaakh!" Orang tua itu menjerit tertahan begitu dadanya telak terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan terjungkal ke tanah beberapa langkah.

"Kurang ajar!" Ki Pagut Geni menggeram sambil menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya.

Hantaman Pendekar Rajawali Sakti yang diiringi tenaga dalam tinggi membuat isi dadanya seperti akan pecah. Tapi, mana mau dia menyerah begitu saja? Maka sambil menahan rasa sakit hebat, Ki Pagut Geni cepat bangkit dan bersiap hendak menyerang kembali.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti hanya berdiri tegak. Matanya memandang orang tua itu dengan tajam. "Apakah kau tidak ingin menyudahi permainan ini, Ki?" tanya Rangga dingin.

"Huh! Apa kau kira sudah menang, karena bisa menjatuhkan aku sekali? Kau akan merasakan balasannya dariku!" dengus Ki Pagut Geni garang.

Namun belum sempat orang tua itu menyerang, tiba-tiba...

"Aaa...!" Terdengar pekikan nyaring melengking tinggi, yang mengejutkan semua orang.

"Heh?!" Mereka kontan mencari-cari sumber suara. Dan mereka segera berlarian ke luar bangunan utama padepokan ini. Tampak di halaman padepokan ini berdiri seorang wanita cantik berpakaian tipis. Rambutnya panjang terurai, berkibar- kibar tertiup angin. Di sekitarnya terlihat beberapa orang murid Kilat Buana tergeletak tidak bernyawa. Rupanya, teriakan menyayat itu, berasal dari murid-murid Ki Pagut Geni yang terbantai oleh wanita itu.

"Siapa kau...?!" hardik Ki Pagut Geni, melihat murid-muridnya tewas dengan kepala remuk.

"Aku telah beritahukan kedatanganku kesini. Dan kukira, kau akan menyambutku dengan baik!"

"Hm... Jadi kau yang berjuluk si Peri Peminum Darah?" tanya Ki Pagut Geni, ingin meyakinkan.

Orang-orang yang berada di tempat itu terkejut menyaksikan kehadiran gadis berbaju serba hitam itu. Namun apa yang mereka pikirkan, agaknya berbeda dengan apa yang sedang dipikirkan Rangga.

"Roro Inten?!" desis Rangga pelan ketika memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.

Roro Inten yang ditemuinya setahun lalu, sedikit berbeda dengan sekarang. Kulitnya halus dan wajahnya bertambah cantik. Namun sikap genitnya dulu, kini tetap tidak berubah. Meski, mengandung hawa menggiriskan lewat pancaran matanya.

"Kurang ajar! Kau kira bisa berbuat seenaknya saja di tempatku?! Kau harus mati karena perbuatanmu!" geram Ki Pagut Geni seraya melompat menerjang dengan amarah meluap-luap.

Untuk sesaat orang tua itu melupakan pertarungannya dengan Pendekar Rajawali Sakti. Dan perhatiannya dialihkan pada gadis berjuluk Peri Peminum Darah.

Peri Peminum Darah mendengus sinis. Dan dia betul-betul memandang rendah Ki Pagut Geni. "Tua bangka tidak tahu diri! Memang aku ingin menjajalmu?"

Dengan sedikit berkelit, tebasan pedang Ki Pagut Geni mudah sekali dihindar. Dan tubuhnya terus mencelat ke atas. Sementara, Ki Pagut Geni mengejar dengan amarah meluap.

"Jahanam terkutuk! Kau harus bayar kematian murid-muridku dengan nyawa busukmu! Heaaa!"

"Huh! Nyawa busukmulah yang akan menyusul ke neraka!" desis Peri Peminum Darah sambil tersenyum mengejek.

Tubuh Peri Peminum Darah langsung berputar bagai gasing, lalu meluncur ke arah Ki Pagut Geni yang belum sempat melakukan serangan. Bahkan kini gadis itu telah membawa serangan dengan satu pukulan maut bertenaga dalam kuat.

"Yeaaa!"
Werrr!
"Uhhh...!"

Bukan main terkejutnya Ki Pagut Geni merasakan sambaran angin kencang laksana badai topan. Bahkan tubuhnya jadi terhuyung-huyung ke belakang berusaha menjaga keseimbangan. Padahal, pukulan gadis itu berjarak tiga jengkal darinya. Yang lebih menggiriskan beberapa murid Padepokan Kilat Buana yang terkena hantaman, kontan terjungkal sambil menjerit roboh. Sementara Pendekar Rajawali Sakti dan kawan-kawannya berusaha menghindar sambil bertahan. Sedangkan Ki Dawang Rejo dan kedua pengawalnya meski terkena sambaran, sempat tenungkal juga.

"Gila!" desis Rangga memaki. "Tenaga dalamnya lebih hebat dari ibunya sendiri..."

Pada saat itu juga, tubuh si Peri Peminum Darah mencelat ke arah Ki Pagut Geni dengan gerakan kilat.

"Yaaa...!"

"Uhhh...!" Orang tua itu berusaha menghindar sambil mengibaskan pedang. Namun, tubuh Peri Peminum Darah lenyap dari pandangan. Dan tahu-tahu, satu depakan keras menghantam dadanya.

Duk!

"Aaa...!" Ki Pagut Geni menjerit menyayat. Tubuhnya terjungkal tujuh langkah dengan dada remuk! Begitu mencium tanah, nyawanya melayang dari raga. Sekujur tubuhnya berlumur darah.

Sementara itu si Peri Peminum Darah berdiri tegak dengan wajah sinis. Sedangkan murid-murid Padepokan Kilat Buana hanya tersentak kaget.

"Heh?!"

"Guru...!" Beberapa murid langsung menghampiri mayat gurunya. Sementara, yang lain mengurung Peri Peminum Darah dan langsung menyerang hebat.

"Iblis terkutuk! Kau harus membayar nyawa guru kami, yeaaa..!"

Wut! Bet!

Peri Peminum Darah hanya mendengus sinis sambil mengibaskan telapak tangannya. "Kecoa-kecoa busuk! Mampuslah kalian!

Heaaa...!" Peri Peminum Darah langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Weeer!

Seketika, sekelebatan cahaya merah kekuningan menyambar murid-murid Padepokan Kilat Buana laksana badai topan.

"Aaa...!"

Tanpa ampun lagi, mereka terjungkal dan tewas dengan tubuh hampir menghitam seperti terbakar. Pekik kematian saling susul-menyusul terdengar dalam waktu singkat. Sementara, Peri Peminum Darah terus mengumbar pukulan jarak jauhnya.

"Rangga. Apakah kita hanya berdiam diri saja menunggu nasib?" tanya Ki Bagong Udeg mulai cemas.

Tanpa menjawab pertanyaan Ki Bagong Udeg, Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat menghadang Peri Peminum Darah. "Peri Peminum Darah, hentikan perbuatanmu. Kaulah lawanku...!" teriak Pendekar Rajawali Sakt begitu mendarat di tanah. Bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti menyerang Peri Peminum Darah.

"Hup!" Namun sungguh di luar dugaan, si Peri Peminum Darah melenting tinggi ke atas, lalu hinggap di atas genteng bangunan Padepokan Kilat Buana. Sehingga serangan Pendekar Rajawali Sakti hanya menemui tempat kosong.

"Pendekar Rajawali Sakti! Aku mengundangmu ke Hutan Lengkeng, tempat kau membinasakan ibuku. Di sanalah kematianmu akan menunggu!" kata Peri Peminum Darah lantang. Baru saja kata-katanya selesai, tubuhnya mencelat dengan gerakan cepat sekali.

"Kejar...!" teriak seorang murid utama padepokan ini.

"Tidak perlu! Kalian tidak akan mampu mengejarnya. Dia hanya memerlukanku. Maka biar aku yang akan menghadapinya!" cegah Rangga lantang.

"Huh! Tahu apa kau soal kematian guru kami?! Dia harus mampus di tangan kami!" dengus murid itu, tetap pada pendiriannya.

Sepuluh orang murid Padepokan Kilat Buana segera menyiapkan kuda untuk mengejar si Peri Peminum Darah. Sementara yang lain mengurus mayat Ki Pagut Geni dan mayat beberapa murid yang mati di tangan Peri Peminum Darah.

DELAPAN

Peri Peminum Darah agaknya telah menunggu di tempat yang diperhitungkan si Pendekar Rajawali Sakti. Sebuah tepi sungai yang menjorok ke bawah, dan berada tidak jauh dari sebuah pohon beringin besar yang batangnya mungkin bisa dipeluk dua orang dewasa, di dalam Hutan Lengkeng. Tempat itu memang persembunyian si Hantu Putih Mata Elang yang merupakan ibu Roro Inten alias si Peri Peminum Darah. Meskipun sampai saat ini Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu pasti di mana sebenarnya persembunyian Peri Peminum Darah.

"Hm... Agaknya kau membawa kawan juga, Pendekar Rajawali Sakti...!" sindir gadis itu dengan wajah sinis.

"Roro Inten! Mereka juga mempunyai kepentingan sendiri denganmu." sahut Rangga cepat.

"Wanita iblis! Kau telah membunuh beberapa orang murid wanitaku. Maka sebagai guru mereka, aku datang meminta pertanggungjawabanmu!" dengus Ki Bagong Udeg geram.

"Bagus. Nah, silakan. Kau minta pertanggungjawabanku yang bagaimana?" sahut Peri Peminum Darah seraya tersenyum mengejek.

"Aku menginginkan nyawamu!" sahut Ki Bagong Udeg dingin. Orang tua itu segera melompat menyerang Peri Peminum Darah, mendahului Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh!" Si Peri Peminum Darah mendengus pelan tanpa merubah sikap berdirinya.

Plak! Wuuut!

Telapak tangan kiri Peri Peminun Darah menangkap kepalan Ki Bagong Udeg. Namun, orang tua itu langsung menghantamnya dengan tendangan kaki kanan ke arah kepala. Cepat bagai kilat, gadis itu memiringkan kepala untuk menghindari. Sementara cengkeramnya pada kepalan Ki Bagong Udeg makin dipererat. Kemudian dibanting orang tua itu ke kanan.

"Hiiih!"
Bruk!
"Uhhh..!"

Tubuh orang tua itu kontan tersungkur lima langkah mencium tanah. Untung saja Peri Peminum Darah tidak langsung mengirim serangan susulan.

"Kuperingatkan pada kalian! Pergilah dari sini. Dan jangan campuri urusanku dengan Pendekar Rajawali Sakti!" desis Peri Peminum Darah garang.

"Phuih! Perempuan celaka! Kau kira kami takut denganmu?!" sentak Ki Waskita dan Ki Tebong berbareng. Dan serentak, mereka langsung menyerang garang.

Ki Ageng Sela sendiri sebenarnya bingung. Karena secara pribadi, dia tidak bermusuhan dengan wanita ini. Kedatangannya ke sini sekadar membela Ki Bagong Udeg sahabatnya. Sehingga dia tidak begitu bernafsu menyerang. Apalagi di sadari kalau kemampuannya tidak berarti dibanding Peri Peminum Darah.

"Yeaaa!"

"Tolol!" umpat si Peri Peminum Darah geram menangkis dua serangan sekaligus.

Plak! Wuuut!

Meski Ki Tebong dan Ki Waskita menyerangnya dengan pedang di tangan, namun seperti tidak berarti bagi Peri Peminum Darah. Demikian juga ketika Ki Bagong Udeg kembali membantu dengan suatu kibasan pedang. Gadis itu tampak mampu bergerak gesit. Dan terlihat, kali ini tidak sedang main-main menghadapi lawan-lawannya. Tubuhnya berputar sesaat bagai angina. Lalu...

Begkh! Des! "Wuaaa...!"

Ketiga orang itu langsung terjungkal beberapa langkah dengan dada seperti akan pecah begitu terkena pukulan dan tendangan keras bukan main dari Peri Peminum Darah. Bahkan senjata di tangan mereka terpental entah kemana.

"Kalian boleh mampus sekarang juga!" desis si Peri Peminum Darah, siap akan menghabisi mereka. Namun sebelum gadis itu bertindak lebih lanjut...

"Cukup!"

Terdengar bentakan menggelegar dari Pendekar Rajawali Sakti, membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Seketika dipandangnya Rangga sambil tersenyum mengejek.

"Bagus! Kau tidak inginkan kematian mereka, tapi mengajaknya ke sini!"

"Mereka memang keras kepala. Tapi lebih keras hatimu yang diselimuti hawa iblis!" balas Rangga.

"Hm, sudahlah. Kalau saja kau tidak mencegahnya, maka nasib mereka akan sama seperti murid-murid Padepokan Kilat Buana yang tadi coba menyusulku!"

Rangga paham maksud kata-kata Peri Peminum Darah. Seketika dadanya terasa seperti terbakar, menahan amarah. "Roro Inten! Tindakanmu sudah kelewat batas. Rupanya iblis telah benar-benar menyusup di relung hatimu."

"Ya! Tapi, ini karena ulahmu! Kau penyebabnya!" desis Roro Inten seraya menuding.

"Apakah menyangkut soal ibumu?"

"Ya!"

"Tidakkah kau sadari, kalau perbuatan ibumu sesat? Dan aku tidak bisa membiarkan begitu saja. Aku telah mencoba menasihati, namun dia terlalu angkuh!" kilah Pendekar Rajawali Sakti.

"Persetan dengan segala alasanmu! Kau tidak merasakan, bagaimana sakitnya kehilangan satu-satunya orang yang menyayangimu!"

"Kehilangan orang yang dicintai bukanlah hal yang luar biasa, Roro Inten. Aku juga pernah mengalaminya. Ibuku tewas di tangan orang lain secara mengenaskan. Hanya orang yang kau cintai banyak membuat malapetaka bagi orang lain. Jadi, apakah masih harus dibela?"

"Persetan! Kubunuh kau! Kau harus balas kematian ibuku dengan nyawa busukmu! Yeaaa!"

Peri Peminum Darah langsung menggeram marah. Kemudian dia melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti sambil membentak nyaring.

Wuuut! Bruak!

Rangga terkejut bukan main. Demikian juga yang lainnya. Dan mereka segera beringsut-ingsut, menjauhi arena pertarungan, ketika sebatang pohon langsung hancur berantakan terkena pukulan gadis itu.

"Yeaaa...!" Peri Peminum Darah kembali mengamuk. Telapak tangannya dihentakkan ke depan. Maka seketika meluncur deras selarik cahaya kemerahan bercampur kuning ke arah.Pendekar Rajawali Sakti.

"Gila...!" desis Rangga takjub. Jantung Pendekar Rajawali Sakti jadi berdetak lebih kencang. Seketika dia bergeser ke kanan, menghindari sambaran pukulan Peri Peminum Darah. Meski mampu menghindar, namun pada jarak lima jengkal kulit Rangga terasa seperti terbakar. Dan...

Bruak!

Beberapa buah pohon kembali ambruk tidak karuan terhantam pukulan Peri Peminum Darah. Dan kini tubuh gadis itu telah mencelat bagai kilat menyerang Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak kalah sigap. Kedua tangannya segera dihentakkan dengan pengerahan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Sehingga, kedua tangannya menjadi merah bagai terbakar.

Plak! Plak!

"Uhhh...!" Rangga jadi mengeluh tertahan, sehabis mencoba menahan pukulan kedua tangan Peri Peminum Darah. Bahkan tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah.

Dan belum lagi Pendekar Rajawali Sakti menguasai diri, kembali gadis itu berkelebat cepat. Seketika dilepaskannya satu tendangan keras bertenaga dalam tinggi ke arah perut Rangga. Begitu cepat gerakannya. Sehingga....

Begkh!

"Aaakh!" Pemuda itu menjerit tertahan, ketika satu tendangan kilat telak menghantam perutnya. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Dan belum lagi dia bersiap Peri Peminum Darah telah mencelat kembali menyerang.

Wut! Wut!

"Hup!" Empat kali tendangan dalam waktu nyaris bersamaan adalah suatu gerakan yang sulit dilakukan oleh tokoh silat mana pun. Dan ini membuat Rangga terkejut setengah mati. Cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti menghindari dengan menjatuhkan diri dan terus bergulingan.

"Gila! Dari mana dia memperoleh kemajuan begitu pesat? Anak ini bahkan lebih hebat dari ibunya sendiri!" gumam Rangga tidak habis pikir, begitu bangkit berdiri.

"Heaaa!" Roro Inten agaknya tidak sudi memberi kesempatan sedikit pun pada Pendekar Rajawali Sakti untuk bernapas. Kedua tangan dan kakinya sudah bergerak cepat, menyerang Rangga.

"Mampus kau!" Peri Peminum Darah langsung melepaskan pukulan maut dengan menghentakkan kedua tangannya.

Jder!

"Uhhh...!" Masih untung, Rangga cepat melesat ke atas. Tubuh Rangga langsung berputaran ke belakang, namun gadis itu cepat mengejar dengan satu tendangan keras.

"Yeaaa!" Karena untuk menghindar tidak mungkin, Pendekar Rajawali Sakti harus memapak dengan tangannya. Tapi di luar dugaan sama sekali, gadis itu menarik kakinya. Lalu tubuhnya direndahkan dalam-dalam untuk menyerang dari bawah.

"Hiyaaa!"

Sementara Rangga masih mempergunakan lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang digabung-gabungkan. Tubuhnya berkelebat cepat, menyambar Peri Peminum Darah. Sehingga Peri Peminum Darah seperti terkurung oleh serangan Pendekar Rajawali Sakti.

Tapi pemuda itu tidak habis pikir, karena Roro Inten mudah sekali menghindar dari setiap serangannya. Seolah-olah, gadis itu sama sekali tidak memandang Pendekar Rajawali Sakti.

"Yeaaa!" Kini Rangga mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Namun, tubuh Peri Peminum Darah cepat meliuk indah menghindarinya.

"Ayo! Keluarkan segala kemampuan yang kau miliki! Keluarkan semuanya, sebelum kau mampus di tanganku!" teriak Peri Peminum Darah seperti memancing kemarahan Pendekar Rajawali Sakti.

"Heaaa!" Peri Peminum Darah ganti melepaskan pukulan mautnya yang terasa lebih dahsyat daripada sebelumnya. Nyaris tubuh Rangga hancur berantakan kalau tidak buru-buru menjatuhkan diri. Namun belum lagi bangkit, satu tendangan keras telah meluncur ke arah Rangga.

Duk!

"Akh...!" Pendekar Rajawali Sakti mengeluh kesakitan, begitu tendangan Peri Peminum Darah telah mendarat di dadanya. Dan kini gadis itu berdiri tegak, sambil memandang tajam Pendekar Rajawali Sakti. Tatapan matanya terlihat sinis disertai senyum mengejek.

Rangga mendengus. Tangannya segera menghapus darah yang meleleh deras dari mulutnya. Isi dadanya seperti remuk menerima tendangan yang keras bukan main. Tenaga dalam gadis itu memang dahsyat. Dan Rangga segera duduk bersila untuk bersemadi sebentar. Begitu dadanya terasa ringan, Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas, memegang gagang pedangnya.

Cring!

Seketika sinar biru berkilauan memendar ketika Pendekar Rajawali Sakti mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Cepat pedang disilangkan ke depan dada. Lalu kakinya merentang lebar, dengan tangan ini mengusap batang pedang. Kini matanya menatap tajam pada Peri Peminum Darah, setelah cahaya biru menyelimuti kedua tangannya dan pedangnya tersimpan kembali ke balik punggung.

"Hm.... Kini kau tidak berdaya, Rangga. Nyawamu berada di tanganku. Kalau saja kuteruskan serangan, kau akan mampus tanpa bisa duduk lagi!" desis Peri Peminum Darah.

"Aku tak pernah takut mati, Roro Inten...," sahut Rangga berusaha tenang.

"Hm... Kuakui keperkasaanmu. Namun sayang, kau tetap saja harus mati di tanganku...," kata Roto Inten.

"Aku justru menyayangkan sikapmu. Kau seorang gadis cantik yang berkepandaian tinggi. Namun, perbuatanmu seperti iblis. Sungguh sayang..."

"Tutup mulutmu! Aku tidak sudi mendengar nasihatmu!" hardik Peri Peminum Darah geram.

"Percayalah, kau masih butuh seseorang. Khususnya, orang yang harus kau percayai...," bujuk Pendekar Rajawali Sakti kembali.

"Tidak! Aku tidak percaya padamu! Kau sama sekali tidak mempedulikanku! Apa yang kau lakukan padaku dulu? Kau terlalu angkuh dan merasa dirimu hebat! Kau akan kubunuh! Kau akan kubunuh...! Yeaaa!"

Mendadak saja, Peri Peminum Darah terlihat berang. Wajahnya telah memerah membara. Dengan suara melengking tinggi, dia menghantam Pendekar Rajawali Sakti disertai tenaga dalam tinggi.

Rangga jadi berkerut keningnya. Tidak dikira kalau gadis itu akan berbuat demikian. Semula, dia berharap Roro Inten bisa dilunakkan. Namun kenyataannya? Untung saja Rangga telah siap menghadapi segala kemungkinan. Maka...

"Aji Cakra Buana Sukma!" Disertai hentakan keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti langsung memapak serangan dari kedua tangan Peri Peminum Darah dengan kedua tangannya yang telah terselimut cahaya biru berkilauan. "Yeaaat!"

Glarrr....!

Satu ledakan dahsyat terdengar, ketika kedua pasang telapak tangan beradu. Sementara, Roro Inten terlihat terjajar beberapa langkah. Seluruh kekuatannya sudah dikempos untuk membinasakan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga sendiri terlihat bergetar walau tidak terjajar. Darah kental perlahan-lahan tampak menetes dari sudut bibirnya. Pergelangan tangan si Peri Peminum Darah perlahan-lahan mulai dijalari cahaya biru yang bergulung-gulung dari tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hmmm..."

Peri Peminum Darah menggeram ketika tenaga dalamnya terasa seperti tersedot keluar. Dan gadis itu tak mampu mencegahnya. Semakin berusaha melepaskan diri, semakin banyak tenaganya terkuras. Tubuhnya terasa panas bagai dibakar api. Dan perlahan-lahan, cahaya biru bergulun-gulung dari tangan Pendekar Rajawali Sakti membelit tubuhnya.

"Hiyaaa!" Rangga kembali berteriak keras, kemudian tubuhnya bergerak cepat sambil menghentakkan kedua tangannya.

Glarrr...!

"Aaa...!" Terdengar jerit melengking, namun cepat lenyap ketika cahaya biru meledakkan tubuh Peri Peminum Darah. Tak ada lagi jasad gadis itu, kecuali pecahan daging-daging kering seperti terbakar dari tubuh Roro Inten. Terasa bau daging terbakar menyergap hidung orang-orang yang ada disekitarnya.

"Hhh...!" Rangga menghela napas melihat keadaan Roro Inten yang tak berbentuk lagi.

"Rangga! Kau tidak apa-apa...?" tanya Ki Ageng Sela, khawatir. Dihampirinya pemuda itu bersama yang lain.

Pendekar Rajawali Sakti menggeleng lemah. Dan ketika kakinya melangkah, tubuhnya terhuyung-huyung.

"Rangga, sebaiknya kau beristirahat dulu. Biar kami yang akan mengurusmu...." sambung Ki Bagong Udeg.

Pemuda itu kembali menggeleng. Tanpa berkata apa-apa dia menghampiri kuda Dewa Bayu. Begitu naik ke atas punggung kuda, tangannya melambai lemah. Kemudian digebahnya Dewa Bayu, dan berlalu dari tempat itu.

Sementara itu Ki Ageng Sela dan yang lain memperhatikan dengan cemas. Dari kejauhan, mereka melihat tubuh Pendekar Rajawali Sakti tertelungkup di punggung kudanya. Namun, Dewa Bayu terus berlari kencang.

"Hm.... Dia terlalu keras hati untuk ditolong...," gumam Ki Ageng Sela, seraya menggeleng lemah disertai helaan napas pendek.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: SINGA GURUN
Thanks for reading Peri Peminum Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »