Pemburu Darah

PEMBURU DARAH

SATU
"Aaa...!"
"Ha ha ha...!"

Suatu jeritan panjang melengking tinggi terdengar menyayat, memecah kesunyian malam gelap tanpa sedikit pun cahaya bintang maupun rembulan di langit. Dan jeritan itu ditingkahi tawa yang begitu keras menggelegar.

Suara-suara itu rupanya sempat pula membangunkan seluruh penduduk Desa Galibang yang sedang tertidur dibuai mimpi. Hingga seketika itu juga, desa yang semula sunyi kini jadi ramai oleh orang-orang yang keluar dari dalam rumahnya sambil membawa obor serta berbagai senjata.

Namun, tidak ada seorang pun yang bergerak meninggalkan rumahnya. Mereka hanya berdiri saja di depan rumah masing-masing, menyaksikan sesosok tubuh berjubah hitam tengah mencabik-cabik seorang laki-laki setengah baya dengan buasnya di tengah jalan. Dan saat itu juga, orang-orang yang telah berada di depan rumahnya, segera tenggelam kembali ke dalam. Tidak terlihat ada seorang pun yang berada di depan rumahnya lagi.

Sementara, sosok tubuh berjubah hitam itu terus mengoyak tubuh laki-laki setengah baya di tengah jalan dengan buas. Seakan keadaan di sekeliling tidak dipedulikannya. Dan setelah tubuh korbannya tercabik-cabik dengan lumuran darah segar, dia baru berdiri tegak sambil mendongakkan kepala ke atas. Seakan, sosok berjubah hitam itu ingin menatap rembulan yang bersembunyi dibalik awan hitam tebal menggumpal.

"Ha ha ha...!"

Kembali terdengar tawa keras menggelegar, memecah kesunyian malam di Desa Galibang ini. Sejenak orang berjubah hitam yang wajahnya tidak kelihatan ini memandangi sekitarnya yang sunyi. Kemudian tubuhnya berkelebat begitu cepat, sehingga dalam waktu sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap, tidak terlihat lagi sedikit pun juga. Hanya suara tawanya saja yang masih terdengar nyaring, semakin jauh terbawa angin yang bertiup cukup kencang malam ini.

Beberapa saat suasana masih sunyi, tanpa seorang pun terlihat di luar rumahnya. Namun setelah cukup lama keadaan sunyi itu berlangsung, sebuah pintu rumah yang paling dekat dengan sosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan itu tampak bergerak terbuka. Dan dari balik pintu yang terbuka perlahan, muncul seorang laki-laki tua berjubah putih. Sebuah obor tampak tergenggam di tangan kanannya.

Laki-laki tua itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sesaat, kemudian bergegas menghampiri sosok tubuh yang sudah hancur dan tergeletak di tengah jalan. Seketika kedua bola matanya jadi terbeliak dengan seluruh tubuh bergetar seperti terserang demam, melihat sosok tubuh yang sudah hancur tidak berbentuk lagi. Hanya bagian wajah dan kepalanya saja yang masih bisa dikenali. Sedangkan tubuh lain, sudah tidak karuan lagi. Bahkan kedua tangan dan kakinya terpisah cukup jauh.

"Hih...!"

Laki-laki tua itu jadi bergidik. Bergegas tubuhnya berbalik, dan langsung berlari-lari mendekati rumahnya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam, sambil mematikan obomya. Dengan tangan gemetaran, ditutup pintu rumahnya kembali, dan dikuncinya dengan kayu palang. Di dalam rumahnya yang tidak begitu besar ini, dua orang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun dan tiga puluh tahun sudah menanti, bersama seorang perempuan tua yang duduk memeluk lutut di sebuah balai-balai bambu beralaskan tikar busuk dari daun pandan. Mereka memandangi orang tua berjubah putih yang tubuhnya masih gemetaran ini dengan wajah memucat ketakutan.

"Hih...!"

“Ada apa, Ki? Apa yang terjadi di luar...?" tanya perempuan tua yang duduk di balai-balai bambu, ingin tahu.

"Hih! Ngeri...," desis laki-laki tua itu seraya bergidik.

"Apa yang terjadi di luar, Kek..?" tanya pemu-da yang berbaju warna merah muda.

"Iblis itu.... Dia membunuh Kohar, dengan mencabik-cabik seluruh tubuhnya...," sahut laki-laki tua ini masih ketakutan.

Tidak ada lagi yang berbicara. Dan mereka semua juga tidak ada yang berani keluar dari dalam rumah. Sementara, malam terus merayap semakin larut. Kesunyian terus menyelimuti seluruh Desa Galibang.

Kesunyian yang begitu mencekam, membuat seluruh penduduk desa itu dicekam rasa takut teramat sangat. Dan ketakutan mereka itu dikarenakan munculnya seseorang yang bertindak seperti iblis. Membunuh siapa saja yang berada di luar tanpa peduli dengan mencabik seluruh tubuh tanpa ampun, seperti iblis haus darah!

********************

Hentakan-hentakan langkah dua ekor kaki kuda seakan hendak membangunkan penduduk Desa Galibang dari mimpi buruk yang teramat panjang. Beberapa kepala terlihat menyembul keluar dari balik pintu dan jendela di setiap rumah yang berjajar di sepanjang jalan. Mereka semua memandangi dua orang penunggang kuda yang melintasi jalan tanah berdebu dan kotor oleh daun-daun dan rerumputan kering. Memang, sudah lama desa itu tidak dilintasi orang. Sehingga begitu ada dua orang penunggang kuda, para penduduk Desa Galibang seperti mendapat hiburan saja, setelah selama ini dicekam rasa ketakutan.

Kedua anak muda penunggang kuda itu berhenti tepat di dekat sesosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan dalam keadaan hancur. Hanya bagian kepalanya saja yang kelihatan masih utuh. Tampak pemuda tampan berbaju rompi putih yang menunggang kuda hitam itu melompat turun dari punggung tunggangannya, dengan gerakan yang sangat indah dan ringan. Sedikit pun tidak terdengar suara saat kedua kakinya menjejak tanah.

Tidak lama pemuda berbaju rompi putih itu mengamati sosok tubuh yang sudah hancur itu, kemudian menghampiri kudanya kembali. Tapi, dia tidak melompat naik. Sementara, penunggang kuda lainnya yang ternyata seorang gadis cantik berbaju biru muda agak ketat, memandangi dengan sinar mata begitu sulit diartikan.

"Aku rasa kita punya pekerjaan di sini, Pandan," ujar pemuda berbaju rompi putih itu.

Gadis cantik berbaju biru yang masih tetap duduk di punggung kuda putihnya hanya mengangangukkan kepala saja. Gadis dengan sebuah kipas putih keperakan terselip di balik ikat pinggangnya ini memang Pandan Wangi. Dan dia lebih dikenal sebagai si Kipas Maut. Sedangkan pemuda tampan berbaju rompi putih, dengan sebilah pedang bergagang kepala burung di punggung itu tidak lain dari Rangga. Dia lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Kedua anak muda inilah yang selalu disebut sebagai Sepasang Pendekar Muda dari Karang Setra.

"Hup!"

Pandan Wangi melompat turun dari punggung kudanya. Gerakannya begitu manis dan ringan. Hingga tidak terdengar suara sedikit pun saat kedua kakinya menjejak tanah, tepat di depan Pendekar Rajawali Sakti.

"Sepi sekali di sini, Kakang. Apa tidak ada lagi orang di sini...?" ujar Pandan Wangi pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

"Desa ini masih dihuni, Pandan. Hanya saja mereka tidak ada yang keluar," kata Rangga sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Hm...," Pandan Wangi menggumam pelan. Kepalanya juga bergerak perlahan, mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Dan sesaat mereka terdiam, tanpa ada yang bersuara sedikit pun juga. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu sama-sama mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun tidak ada seorang pun yang terlihat. Tapi mereka bisa mendengar tarikan-tarikan napas tertahan dari setiap rumah yang ada di sepanjang jalan tanah berdebu dan kotor ini.

"Kakang! Aku rasa kuda-kuda ini tidak aman kalau terus berada di sini. Kau lihat... Begitu banyak bangkai binatang di sini," ujar Pandan Wangi, agak mendesis pelan suaranya.

"Hm...." Rangga menggumam kecil. Memang, sepanjang jalan memasuki desa ini sudah terlihat begitu banyak bangkai binatang bergeletakan. Bahkan mayat orang ini bukan yang pertama ditemukan. Sudah ada delapan mayat yang didapati sepanjang perjalanan ke Desa Galibang ini. Dan mayat-mayat itu dalam keadaan rusak terkoyak, seperti terserang binatang buas saja. Rangga melangkah mendekati kuda hitam tunggangannya.

"Dewa Bayu, bawa si Putih pulang ke Karang Setra," pinta Rangga pada kuda hitam tunggangannya.

"Hieeegkh...!" Kuda hitam bernama Dewa Bayu itu meringkik keras, sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Kemudian Dewa Bayu mendengus dengan kepala terangguk beberapa kali. Sebentar kemudian, kedua ekor kuda itu sudah berpacu cepat sekali, keluar dari Desa Galibang ini. Dan kini kedua kuda tunggangan pendekar-pendekar muda ini sudah lenyap tak terlihat lagi. Hanya debu saja yang masih terlihat membubung diangkasa semakin menjauh.

Sementara, Rangga dan Pandan Wangi masih tetap berdiri ditengah-tengah jalan Desa Galibang ini. Tidak ada seorang pun yang membuka suara lebih dahulu. Hanya pandangan mereka saja yang terlihat begitu tajam, beredar ke sekeliling.

"Ayo, Pandan. Kita cari rumah kepala desa. Mungkin kita bisa memperoleh keterangan darinya," ajak Rangga.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Dan mereka kemudian melangkah menelusuri jalan tanah berdebu yang sangat kotor, penuh noda-noda darah ini. Angin yang berhembus membawa udara yang terasa tidak sedap tercium hidung. Bau busuk dari bangkai binatang dan mayat manusia begitu jelas tercium, menyeruak ke dalam hidung.

Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan, tanpa bersuara sedikit pun juga. Tidak ada yang berbicara. Namun sepasang bola mata mereka terus beredar ke sekeliling, merayapi sekitarnya. Tidak terlihat seorang pun disepanjang jalan yang dilalui. Bahkan seekor binatang pun tidak terlihat berkeliaran. Begitu sunyi bagai sebuah desa mati yang sudah tidak berpenghuni lagi.

Dan mereka baru berhenti melangkah, setelah tiba di depan sebuah rumah yang paling besar di desa ini. Halamannya yang luas, berpagar bambu. Tapi, agaknya rumah itu seperti sudah tidak berpenghuni lagi. Bahkan halamannya begitu kotor, tak terawat. Daun-daun kering berserakan hampir memenuhi halaman yang luas ini. Malah beberapa bagian sudah terlihat menyemak. Rerumputan liar tumbuh tidak teratur, hampir memenuhi seluruh halaman luas ini. Sesaat Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan.

Namun belum juga kedua pendekar muda dari Karang Setra itu bisa bersuara, tiba-tiba saja dari arah belakang sudah terdengar sebuah suara yang bernada berat.

"Apa yang kalian cari di sini, Anak-anak Muda...?"

"Heh...?!"

"Oh...?!"

Kedua pendekar itu jadi tersentak kaget, dan cepat berbalik. Saat itu, terlihat seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk terbungkus baju jubah panjang warna putih yang sudah memudar, sudah berada di depan mereka. Entah dari mana dan kapan datangnya, sama sekali kedua pendekar itu tidak tahu.

"Maaf, Ki. Apakah kedatangan kami di sini mengganggu..?" ujar Rangga sopan.

"Hm...."

Orang tua berwajah kurus yang menampakkan benyolan tulang pipinya itu hanya menggumam saja perlahan. Kedua bola matanya yang merah, menatap Rangga dengan sinar cukup tajam. Dengan pandangan matanya yang tajam, Pendekar Rajawali Sakti tengah dinilainya. Matanya terus memperhatikan dari ujung kepala hingga.ke ujung jari kaki Rangga.

"Siapa kalian?" tanya orang tua itu, masih dengan nada suara begitu datar.

"Aku Rangga. Dan ini adikku. Namanya, Pandan Wangi," sahut Rangga memperkenalkan dirinya, dan Pandan Wangi yang selalu diakui sebagai adiknya.

"Hm.... Lalu, apa tujuan kalian datang ke sini?"

"Terus terang, Ki. Aku heran melihat keadaan di desa ini. Sepanjang jalan, yang kutemui hanya bangkai binatang dan mayat-mayat manusia yang tidak terurus. Juga, keadaan di sini. Berantakan, tidak terurus sama sekali. Sepertinya sudah tidak lagi dihuni," sahut Rangga berterus terang.

"Kuperingatkan padamu, Anak Muda. Sebaik-nya jangan mengurusi persoalan yang bukan urusanmu. Pergi saja kalian dari sini. Biarkan semuanya berlangsung. Dan jangan korbankan dirimu hanya untuk orang-orang bodoh seperti mereka," ujar orang tua itu lagi.

Seketika kening Rangga jadi berkerut. Malah kelopak matanya terlihat menyipit, mendengar kata-kata orang tua aneh yang jelas bernada geram itu. Seakan ada sesuatu yang sedang dirasakannya, dan sedang dipikulnya dengan berat. Sejenak Pendekar Rajawali Sakti berpaling, menatap Pandan Wangi yang sejak tadi diam saja. Gadis itu juga tampak terkejut, mendengar kata-kata orang tua ini tadi. Dan mereka kemudian memandangi orang tua itu dengan sinar mata meminta penjelasan.

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini, Ki?" tanya Rangga, ingin tahu.

"Sebaiknya kau tidak perlu tahu, Anak Muda. Kalau kalian berdua masih sayang dengan nyawa sendiri, sebaiknya segera pergi dari sini. Dan jangan kembali lagi untuk selamanya," tegas orang tua itu.

Kening Rangga semakin terlihat berkerut. "Maaf, Ki. Kalau bolah tahu, kau ini siapa? Dan, kenapa meminta kami meninggalkan desa ini...?" selak Pandan Wangi bertanya dengan ramah.

"Aku Ki Randata. Dan dulu adalah kepala desa ini. Tapi sekarang, desa ini tidak lagi memerlukan pemimpin. Desa ini sudah mati. Hm.... Tidak perlu lagi aku banyak bicara. Sebaiknya, cepat tinggalkan desa ini sebelum malam. Selamatkan saja nyawa kalian. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama disini...," kata orang tua itu masih dengan suara berat, seraya hendak memutar tubuhnya.

"Sebentar, Ki..," cegah Rangga cepat.

Orang tua yang mengenalkan dirinya sebagai Ki Randata itu tidak jadi memutar tubuhnya. Dan kembali dipandanginya pemuda tampan berbaju rompi putih yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Pandangan mata orang tua itu dibalas Rangga dengan sinar mata lembut.

"Kami ini dua orang pendekar kelana, Ki. Kalau kau sudi memberi sedikit penjelasan tentang keadaan di desamu ini, mungkin kami berdua bisa membantu menyelesaikannya," kata Rangga mencoba memberi pengertian.

"Entah sudah berapa orang pendekar mencoba mengembalikan napas kehidupan di sini. Tapi, tidak ada seorang pun yang berhasil. Bahkan keadaan semakin bertambah parah saja. Sebaiknya, kalian jangan mencari mati di sini. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh. Biarkan kami seperti ini, sampai semuanya berakhir dengan sendirinya," desah Ki Randata, seperti enggan untuk menjelaskan.

"Jelaskan saja, Ki. Tidak perlu takut. Aku dan Kakang Rangga pasti akan membantu semua penduduk di sini, menyelesaikan persoalan yang ada," desak Pandan Wangi, mencoba meyakinkan.

Ki Randata terdiam membisu. Dipandanginya kedua pendekar muda itu bergantian. Seakan, benaknya sedang mempertimbangkan kata-kata Pandan Wangi barusan. Sebentar kemudian pandangannya beredar ke sekeliling, seakan takut ada orang lain yang melihatnya berbicara dengan kedua pendekar pengembara ini.

"Mari, kita bicara di rumahku," ajak Ki Randata kemudian.

"Ini bukan rumahmu, Ki...?" tanya Rangga, seraya berpaling sedikit ke belakang.

Ki Randata tidak menjawab, tapi malah langsung memutar tubuhnya berbalik. Kemudian kakinya melangkah dengan ayunan terlihat agak tergesa-gesa. Sementara Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan sejenak, kemudian melangkah mengikuti orang tua itu.

Tidak ada seorang pun yang berbicara. Mereka berjalan menelusuri jalan tanah berdebu yang kotor penuh noda-noda darah kering serta serpihan daging yang sudah membusuk, menyebarkan bau tidak sedap. Rangga dan Pandan Wangi terus berjalan mengikuti Ki Randata yang berjalan di depan, dengan bantuan tongkat kayunya. Walaupun usia laki-laki tua ini mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tapi ayunan kakinya masih tetap mantap. Malah, terlihat begitu ringan.

Hingga setiap hentakan langkah kakinya, tidak menimbulkan suara sedikit pun juga. Rangga yang sejak tadi terus memperhatikan, sudah bisa mengetahui kalau kepandaian orang tua ini tidak bisa dikatakan rendah. Bahkan kemunculannya tadi sampai tidak diketahuinya. Sudah barang tentu, Ki Randata memiliki ilmu meringankan tubuh yang tingkatannya sudah tinggi sekali.

"Masih jauh rumahmu, Ki?" tanya Rangga, setelah merasakan sudah cukup jauh berjalan, tapi belum juga tiba ke rumah orang tua ini.

"Sebentar lagi sampai," sahut Ki Randata tanpa berpaling sedikit pun.

Rangga tidak bertanya lagi. Kakinya terus terayun mengikuti orang tua itu. Sedangkan Pandan Wangi juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Dan ayunan tangkah kakinya disejajarkan di samping Pendekar Rajawali Sakti. Sesekali gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu berpaling ke belakang. Masih tetap sunyi, dan tidak terlihat seorang pun di belakang mereka. Suasana begitu mencekam, sehingga membuat segudang pertanyaan yang menari-nari di dalam benak kedua pendekar muda dari Karang Setra ini.

DUA

Tidak seperti yang ada dalam bayangan Rangga, Ternyata rumah Ki Randata begitu kecil. Bahkan lebih pantas bila dikatakan gubuk yang sudah hampir roboh. Tidak ada satu kamar pun di dalam gubuk kecil ini. Dan tidak ada perabotan yang dapat dilihat, kecuali sebuah balai-balai bambu yang sudah lapuk beralaskan selembar tikar yang sudah lusuh dan pudar. Lantainya juga hanya dari tanah yang sudah dikeraskan. Namun keadaannya cukup bersih. Dan mereka kini duduk di lantai tanah beralaska hanya selembar tikar, yang diambil Ki Randata dari balai-balai bambu di sudut ruangan dalam gubuk ini.

"Aku tinggal di sini sendiri. Jadi maaf, kalau tidak bisa memberi suguhan yang layak pada kalian berdua," kata Ki Randata dengan suara terdengar pelan.

"Ah! Tidak mengapa, Ki," ujar Rangga, maklum.

"Biar aku yang membuat minum," kata Pandan Wangi seraya bangkit berdiri.

"Semua yang diperlukan, ada di belakang, Nini," kata Ki Randata tersenyum senang, melihat Pandan Wangi langsung bangkit berdiri dan melangkah ke belakang.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja sedikit. Gadis itu terus berjalan ke belakang, lantas menghilang di balik pintu yang langsung menuju keluar, di belakang gubuk ini. Sementara Rangga dan Ki Randata masih tetap duduk bersila saling berhadapan, di dalam ruangan gubuk yang tidak begitu besar ini. Dan saat ini, senja sudah mulai merayap turun, membuat keadaan di luar terlihat mulai meremang.

"Kau berasal dari mana, Anak Muda?" tanya Ki Randata, setelah beberapa saat terdiam.

"Karang Setra," sahut Rangga.

Ki Randata mengangguk-angguk dengan gerakan perlahan. Saat itu Pandan Wangi kembali datang, membawa sebuah baki kayu dengan tiga buah cangkir bambu yang mengepulkan uap hangat. Pandan Wangi meletakkan baki itu di antara mereka berdua. Kemudian dia sendiri mengambil tempat di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Maaf, aku membuatmu repot, Nini," ujar Ki Randata.

"Ah.... Tidak apa, Ki," sahut Pandan Wangi, seraya tersenyum.

Mereka bertiga kini menikmati minuman hangat yang dibuat si Kipas Maut. Harum sekali baunya. Dan rasanya juga nikmat, membuat tenggorokan terasa jadi hangat. Pandan Wangi tersenyum melihat kepala Ki Randata terangguk-angguk.

"Dari mana kau dapatkan jahe ini?" tanya Ki Randata sambil meletakkan cangkir bambunya di atas baki.

"Banyak tanaman jahe di belakang rumah ini, Ki," sahut Pandan Wangi.

"Ah! Aku malah tidak pernah memperhatikannya," desah Ki Randata.

"Malah aku mencabut beberapa ubi talas. Sebentar lagi juga matang. Sedang kurebus," kata Pandan Wangi memberi tahu.

"Oh...?!" Ki Randata tampak terperangah mendengarnya.

"Di belakang rumah ini banyak sekali tanaman yang bisa dimakan, Ki. Apa kau yang menanamnya?" tanya Pandan Wangi.

Ki Randata hanya diam saja. Kepalanya jadi tertunduk, menekuri anyaman tikar lusuh, yang menjadi alas mereka duduk sekarang ini. Perubahan sikap orang tua itu langsung mendapat perhatian Rangga. Matanya lantas melirik sedikit pada Papdan Wangi yang juga memperhatikan orang tua itu dengan kelopak mata agak menyipit.

"Maaf, Ki. Aku tidak bermaksud menyinggungmu tadi...," ucap Pandan Wangi, takut kata-katanya salah, sehingga menyinggung perasaan hati orang tua ini.

"Ah," Ki Randata hanya mendesah saja, seraya mengangkat kepala.

Tampak jelas kemurungan tergambar pada wajah yang sudah keriput ini. Sejenak Ki Randata memandangi Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Lalu sedikit dia menarik napas, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sedangkan pendekar muda dari Karang Setra itu hanya diam saja memperhatikan. Mereka merasakan kalau ada suatu ganjalan yang begitu berat menghimpit rongga dada orang tua ini. Sebuah ganjalan yang terasa begitu sulit untuk diutarakan.

Rangga sendiri sebenarnya ingin mengetahui, tapi tidak ingin membuat kemurungan yang menyelimuti wajah orang tua itu semakin mendalam. Hingga diputuskannya untuk tetap diam, dan menunggu sampai Ki Randata sendiri yang mengatakannya. Sedangkan Pandan Wangi juga tetap diam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Hanya dipandanginya saja wajah penuh keriput yang terlihat berselimut mendung itu.

********************

Malam sudah datang menyelimuti seluruh wilayah di Desa Galibang. Malam yang begitu pekat, tanpa diterangi secercah cahaya bintang maupun bulan di langit. Kegelapan yang menyelimuti desa ini semakin bertambah pekat, dengan turunnya kabut tebal.

Sementara, Rangga dan Pandan Wangi masih belum juga memejamkan mata di beranda depan gubuk Ki Randata. Sedangkan orang tua itu sudah sejak tadi mendengkur, melingkar di atas dipan bambu di sudut ruangan gubuk kecil ini. Hanya selembar tikar lusuh saja yang menjadi alas tidurnya. Dan kedua pendekar muda dari Karang Setra itu duduk pada kursi panjang dari bambu di beranda depan gubuk ini.

Mereka berdua merasakan kesunyian yang begitu mendalam, hingga nyanyian serangga malam pun nyaris tidak terdengar di telinga. Hanya tarikan napas mereka saja yang terdengar saling mendahului. Entah, sudah berapa lama mereka terdiam membisu, tanpa berbicara sedikit pun.

"Sunyi sekali di sini...," desah Pandan Wangi, mengisi kebisuan yang cukup lama menyelimuti mereka berdua.

"Ya.... Aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi...," desah Rangga, juga pelan suaranya. Dan belum juga kata-kata Pendekar Rajawali Sakti hilang dari pendengaran, tiba-tiba saja....

"Aaa...!"
"Heh...?!"
"Apa itu...?"

Rangga langsung melesat bangkit berdiri, begitu tiba-tiba terdengar jeritan begitu panjang melengking tinggi, memecah kesunyian malam ini. Jeritan itu terdengar begitu dekat, seakan-akan datang tidak begitu jauh dari gubuk ini. Sejenak kedua pendekar muda itu saling berpandangan. Kemudian....

"Kau tunggu di sini, Pandan," ujar Rangga. "Hup...!"

"Heh...?! Tunggu...!"

Tapi Rangga sudah lenyap, begitu Pandan Wangi akan mencegahnya. Bergegas gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu melompat bangkit berdiri. Tapi baru saja akan melesat mengejar Pendekar Rajawali Sakti, mendadak saja pergelangan tangannya sudah dicekal seseorang dari belakang. Cepat Pandan Wangi berbalik.

"Oh, Ki...?!" desah Pandan Wangi, langsung hilang keterkejutannya.

Memang Ki Randatalah yang mencekal pergelangan tangan si Kipas Maut itu. Rupanya orang tua ini langsung terbangun, begitu terdengar jeritan melengking tadi. Dan dia sempat mencegah Pandan Wangi yang hampir saja pergi mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.

"Mana kakakmu?" tanya Ki Randata langsung.

"Pergi," sahut Pandan Wangi.

"Ke mana?"

Pandan Wangi hanya menggeleng saja. Ki Randata melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan gadis ini. Dan Pandan Wangi mengurut sedikit pergelangannya. Dirasakannya cekalan orang tua itu demikian keras, hingga pergelangan tangannya jadi terasa nyeri.

"Kenapa tidak dicegah, Pandan?" Jelas sekali kalau nada suara Ki Randata seperti menyesali kepergian Rangga yang terpengaruh jeritan tadi. Sedangkan Pandan Wangi hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Ke arah mana perginya?" tanya Ki Randatalagi.

"Ke sana," sahut Pandan Wangi seraya menunjuk arah kepergian Rangga tadi.

"Ayo! Kita harus selamatkan dia," ajak Ki Randata langsung.

"Memangnya kenapa, Ki...?" tanya Pandan Wangi, seraya bergegas melangkah mengikuti Ki Randata yang sudah berjalan lebih dulu dengan ayunan kaki cepat-cepat.

Ki Randata seperti tidak mendengar pertanyaan si Kipas Maut tadi. Kakinya terus saja melangkah cepat. Sementara Pandan Wangi sudah mensejajarkan langkahnya di samping kiri orang tua ini. Tapi belum juga mereka jauh berjalan meninggalkan gubuk orang tua ini, sudah terlihat seseorang berjalan dari depan.

"Itu Kakang Rangga, Ki..!" seru Pandan Wangi, langsung mengenali. Padahal, kabut yang menyelimuti desa ini begitu tebal.

Dari pakaian yang dikenakan, Pandan Wangi sudah bisa mengenali Pendekar Rajawali Sakti walaupun dalam keadaan berkabut dan jarak yang masih cukup jauh. Bergegas gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu menghampiri. Dan memang benar. Orang yang terlihat adalah Rangga. Pemuda berbaju rompi putih itu berhenti melangkah, menunggu Pandan Wangi dan Ki Randata dekat.

"Ada apa, Kakang? Apa yang terjadi...?" Pandan Wangi langsung bertanya, begitu berada dekat Pendekar Rajawali Sakti.

Namun Rangga tidak langsung menjawab. Malah ditatapnya Ki Randata yang baru saja datang di belakang si Kipas Maut ini. Tatapan matanya begitu tajam, seakan meminta penjelasan dari apa yang baru saja terjadi malam ini. Sedangkan yang dipandangi hanya tertunduk saja, seakan tidak kuasa menentang sorot mata yang begitu tajam dari Pendekar Rajawali Sakti.

Suasana yang tiba-tiba saja menjadi kaku ini, membuat Pandan Wangi jadi kebingungan tidak mengerti. Dipandanginya kedua laki-laki itu secara bergantian dengan kelopak mata agak menyipit dan kening sedikit berkerut.

"Ada apa, Kakang? Apa yang terjadi...?" Tanya Pandan Wangi lagi, semakin penasaran.

"Kau tanyakan saja pada Ki Randata, Pandan," ujar Rangga seraya melangkah meninggalkan gadis itu.

Pandan Wangi jadi tidak mengerti. Sebentar dipandangnya punggung Pendekar Rajawali Sakti, dan sebentar kemudian menatap Ki Randata yang kelihatannya begitu gundah dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan pemuda berbaju rompi putih itu. Entah sudah berapa kali orang tua itu menarik napas panjang, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sedangkan Pandan Wangi sendiri seakan sulit mengeluarkan kata-kata.

"Ada apa, Ki? Kenapa Kakang Rangga jadi begitu...?" tanya Pandan Wangi, setelah cukup lama saling berdiam diri membisu.

"Hhh...!" Ki Randata menjawab pertanyaan gadis itu hanya dengan hembusan napas panjang saja. Malah tubuhnya berbalik, dan langsung saja melangkah kembali ke gubuknya. Sedangkan Pandan Wangi jadi termangu beberapa saat, berdiri diam memandangi punggung orang tua itu. Dan saat itu Rangga sudah sejak tadi tidak terlihat lagi.

"Ada apa ini...? Kenapa sikap mereka jadi aneh begitu...?" desis Pandan Wangi bertanya-tanya pada diri sendiri.

********************

Sejak semalam, sampai matahari sekarang sudah berada di atas kepala, Pandan Wangi tidak juga melihat Rangga di gubuk ini. Sedangkan Ki Randata sendiri kelihatan tidak ingin bicara padanya sejak kejadian malam itu. Dan ini membuat Pandan Wangi jadi semakin tidak mengerti, Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, tapi tidak satu pun yang bisa terjawab. Dan Pandan Wangi sendiri tidak tahu, ke mana harus mencari tahu semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlintas memenuhi benaknya.

Sejak pagi tadi, Pandan Wangi terus mencari Rangga. Bahkan seluruh pelosok Desa Galibang ini sudah dikelilingi, tapi Pendekar Rajawali Sakti tidak juga ditemukannya. Dan sampai matahari berada tepat di atas kepala, Pandan Wangi belum juga bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Pendekar Rajawali Sakti. Seakan-akan, Rangga lenyap begitu saja tertelan bumi.

Dan kecemasan mulai menghinggapi gadis itu. Sampai dia kembali ke gubuk yang ditempati Ki Randata, tidak juga melihat Rangga di sana. Hanya orang tua itu saja yang didapatinya sedang duduk bersila di balai-balai bambu, yang hanya satu-satunya di dalam ruangan kecil gubuk ini.

Ki Randata mengangkat kepala, ketika pintu gubuknya terbuka dari luar. Pandangannya langsung menangkap tubuh ramping si Kipas Maut yang muncul dari balik pintu. Gadis cantik berbaju ketat warna biru itu berdiri saja di ambang pintu dengan wajah memerah terbakar matahari.

"Kakang Rangga sudah pulang, Ki?" tanya Pandan Wangi langsung.

Ki Randata hanya menggeleng saja.

"Hhh...!" Berat sekali Pandan Wangi menghembuskan napasnya. Gadis ini sudah mengelilingi desa, tapi tidak juga menemukan Pendekar Rajawali Sakti. Sejak semalam, Rangga memang tidak kelihatan setelah mencoba mencari asal jeritan melengking, namun gagal. Mereka memang sempat bertemu, namun Pendekar Rajawali Sakti langsung pergi lagi. Pandan Wangi menyandarkan tubuhnya di tiang pintu. Sedangkan Ki Randata hanya memandangi saja, tidak dapat berbuat sesuatu untuk menghiburnya.

"Kalian berdua sudah kuperingatkan. Tapi kau dan kakakmu itu tidak mau mendengarkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, Pandan Wangi...," kata Ki Randata dengan suara terdengar begitu pelan.

"Apa sebenarnya yang terjadi, Ki?" tanya Pandan Wangi pelan, meminta penjelasan.

"Neraka...," sahut Ki Randata pelan.

"Apa maksudmu, Ki...?" desak Pandan Wangi, minta penjelasan.

"Desa ini, Pandan Wangi.... Desa ini sudah jadi neraka. Semua orang di sini tinggal menunggu saat datangnya kematian saja... Dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Aku yakin, kakakmu sudah menjadi korbannya..," terasa begitu berat saat Ki Randata mencoba menjelaskan.

"Tidak...!" sentak Pandan Wangi keras. "Tidak semudah itu Kakang Rangga bisa mati...!"

"Kau harus bisa menerima semua kenyataan ini, Pandan. Sejak semalam, kakakmu sudah tidak terlihat lagi. Bahkan sampai sekarang juga tidak jelas, di mana adanya. Sudah pasti dia menjadi korban iblis itu," kata Ki Randata lagi.

"Tidak... Aku tidak percaya...," desis Pandan Wangi seraya menggeleng-geleng kepala.

"Untuk keselamatanmu, sebaiknya turuti saja kata-kataku, Pandan Wangi. Pergilah dari desa ini, selagi ada kesempatan," ujar Ki Randata menasihati. "Aku tidak ingin dirimu menjadi korban iblis itu, seperti kakakmu..."

"Tidak, Ki...!" sentak Pandan Wangi lantang. "Aku tidak percaya Kakang Rangga sudah mati. Aku kenal betul, siapa dia. Kakang Rangga tidak semudah itu bisa dikalahkan. Kepandaiannya terlalu tinggi untuk bisa dikalahkan begitu saja. Aku yakin, Kakang Rangga belum mati!"

Ki Randata menggeleng-gelengkan kepala dengan gerakan perlahan. Sementara, Pandan Wangi kelihatan lemas seluruh tubuhnya. Walaupun hati kecilnya masih belum bisa menerima semua penjelasan Ki Randata barusan, tapi dia memang harus bisa melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Sejak semalam Rangga memang tidak kelihatan lagi. Bahkan sudah dicari sampai ke pelosok Desa Galibang ini, tapi tetap nihil.

Pandan Wangi juga tidak peraya kalau sampai begitu tega Rangga pergi meninggalkannya seorang diri di desa ini. Gadis ini tahu betul watak Pendekar Rajawali Sakti. Dan dia berusaha keras untuk meyakinkan diri, kalau Rangga sedang mengerjakan sesuatu seorang diri. Sesuatu yang dianggap sangat berbahaya bila Pandan Wangi menyertainya.

"Aku akan menunggunya di sini, Ki," kata Pandan Wangi mantap.

"Jangan, Pandan...!" sentak Ki Randata.

"Kenapa...? Kau tidak ingin aku menunggu Kakang Rangga di sini?"

"Bukannya tidak mau, Pandan. Tapi aku tidak ingin melihatmu jadi korban iblis itu lagi, Sedangkan kakakmu sudah menjadi korbannya semalam. Sebaiknya kembali saja pulang ke tanah kelahiranmu, di Karang Setra...," ujar Ki Randata, terus membujuk si Kipas Maut itu untuk pergi meninggalkan desa ini.

"Tidak, Ki. Apa pun yang terjadi, aku tetap tinggal di desa ini sampai Kakang Rangga kembali," tolak Pandan Wangi tegas.

Ki Randata jadi tertegun. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan Pandan Wangi kalau desa ini sangat berbahaya. Apalagi, untuk pendatang seperti dirinya yang tidak tahu apa-apa atas semua yang tengah terjadi di desa ini. Sesuatu yang sudah meminta korban nyawa manusia begitu banyak. Bahkan tidak ada seorang pendekar pun yang sanggup mengembalikan kehidupan desa ini kembali seperti semula.

Sementara, Pandan Wangi sudah kembali keluar dan duduk di kursi kayu yang berada di beranda depan gubuk ini. Ki Randata bergegas turun dari balai-balai bambu itu. Dengan bantuan tongkat kayunya, laki-laki tua itu berjalan keluar. Di situ dia mendapati Pandan Wangi sedang duduk sendiri di kursi kayu. Ki Randata berdiri di ambang pintu sebentar, kemudian menghampiri gadis itu dan duduk di sebelah kirinya. Pandan Wangi hanya melirik sedikit saja pada orang tua ini.

"Kau ingin tahu, apa yang sedang terjadi di desa ini, Pandan...?" ujar Ki Randata. Suaranya terdengar pelan, setelah beberapa saat terdiam membisu.

Pandan Wangi tidak menjawab. Kepalanya berpaling sedikit, dan menatap wajah keriput di sebelahnya. Kemudian pandangannya kembali menerawang jauh ke depan, seolah tidak mempedulikan orang tua itu lagi. Pikirannya terus tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti yang sampai saat ini belum juga kembali.

"Aku akan menceritakan keadaan yang sebe-narnya. Tapi, setelah itu kau harus pergi dari sini, Pandan," kata Ki Randata lagi.

"Ceritakan saja, Ki," pinta Pandan Wangi, seperti tidak bersemangat nada suaranya.

"Kau harus berjanji dulu untuk pergi, setelah kuceritakan, Pandan," kata Ki Randata meminta dengan tegas.

"Kalau aku tetap tidak mau pergi...?" Pandan Wangi menawarkan pilihan.

Ki Randata tidak menjawab. Dan orang tua itu jadi terdiam memandangi wajah cantik gadis ini. Sedangkan yang dipandangi terus menatap lurus ke depan.

"Hhh...!" Terasa berat sekali hembusan napas Ki Randata.

"Baik, aku akan pergi dari sini," kata Pandan Wangi akhirnya mengalah juga.

Kembali Ki Randata menghembuskan napas panjang-panjang. Kali ini rongga dadanya terasakan longgar, setelah mendengar kesediaan Pandan Wangi untuk meninggalkan desa ini demi keselamatannya sendiri.

"Aku janji, Ki...," kata Pandan Wangi meyakinkan. "Sekarang ceritakan, apa yang terjadi pada desa ini."

Sebentar Ki Randata terdiam, lalu kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Sementara, Pandan Wangi menunggu dengan sabar. Tapi pandangannya tetap tertuju lurus ke depan, dengan kelopak mata tidak berkedip sedikit pun.

Memang tidak terlihat ada seorang pun yang keluar dari rumah-rumah yang ada di depan gubuk ini. Semua rumah di desa ini dalam keadaan tertutup pintu dan jendelanya. Sepertinya tidak ada lagi yang menghuni rumah-rumah itu. Dan angin yang bertiup menyebarkan bau tidak sedap, memualkan perut. Sementara, Ki Randata masih juga belum memulai ceritanya. Pandan Wangi melirik sedikit pada orang tua itu. Keningnya kelihatan sedikit berkerut, melihat Ki Randata masih saja tetap membisu.

"Ceritakan saja, Ki," pinta Pandan Wangi mulai tidak sabar.

"Pandan.... Kau pernah mendengar ada manusia iblis yang senang membunuh...?" Ki Randata masih melontarkan pertanyaan.

"Sering," sahut Pandan Wangi.

"Nah! Desa ini sekarang dikuasai manusia iblis seperti itu. Setiap malam dia keluar mencari korban. Satu persatu penduduk desa ini menjadi korban kebiadabannya. Bahkan sudah beberapa pendekar datang ke desa ini, mencoba menghadapi manusia iblis itu. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Malah mereka semua yang menjadi korban iblis itu...," Ki Randata memulai menceritakan keadaan di Desa Galibang ini.

"Siapa manusia iblis itu, Ki?" tanya Pandan Wangi.

"Entah siapa dia dan dari mana datangnya, aku sendiri tidak tahu. Tapi keadaan seperti ini sudah berlangsung lebih dari tiga purnama," sahut Ki Randata dengan suara pelan.

Pandan Wangi terdiam, memikirkan kata-kata orang tua itu. Sedangkan Ki Randata terus menceritakan keadaan Desa Galibang ini dengan suara pelan dan sesekali terputus. Sepertinya, dia berusaha menghimpun kekuatan untuk mengatakan semua yang tengah terjadi di sekitarnya. Sedangkan Pandan Wangi terus mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

TIGA

Pandan Wangi terpaksa harus menepati janji-nya pada Ki Randata. Ditinggalkannya gubuk orang tua itu, setelah tahu apa yang sedang terjadi di Desa Galibang ini. Dengan ayunan kaki perlahan, gadis itu berjalan menelusuri jalan tanah berdebu yang penuh bercak-bercak darah yang sudah mengering. Bau busuk dari mayat-mayat manusia dan bangkai binatang yang ditemui di sepanjang jalan ini, semakin memualkan perutnya. Tapi dia terus berjalan semakin jauh, meninggalkan gubuk kecil yang dihuni Ki Randata.

Tapi setelah sampai di perbatasan desa itu, Pandan Wangi menghentikan langkah kakinya. Dan tubuhnya langsung berbalik, kembali memandang desa yang seperti sudah tidak berpenghuni lagi itu. Sementara, matahari mulai terlihat condong ke arah barat. Cahayanya tidak lagi terik membakar seperti tadi. Dan kini terasa begitu lembut menyapu kulit. Entah, apa yang ada dalam benak gadis itu saat ini. Tapi, dia tetap tidak beranjak pergi dari sana. Terus di pandanginya desa itu, seperti ada yang sedang ditunggunya.

"Aku yakin, Kakang Rangga masih ada disana.

Tidak mungkin Kakang Rangga bisa dikalahkan begitu saja. Hhh! Aku jadi penasaran. Seperti apa rupa iblis itu..," desah Pandan Wangi, bicara pada diri sendiri.

Rasa penasaran yang timbul dalam hatinya, membuat Pandan Wangi tidak ingin meninggalkan Desa Galibang. Dia ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana. Terlebih lagi saat ini belum bisa bertemu Rangga yang sejak semalam pergi entah ke mana.

Sementara senja terus merayap semakin turun. Matahari hampir tenggelam di balik bukit sebelah timur. Cahayanya terlihat begitu indah, memercik dari puncak pepohonan yang merapat di belakang Desa Galibang. Namun semua keindahan alam sore ini sama sekali tidak bisa dinikmati Pandan Wangi, karena seluruh perhatiannya terus terpusat pada kesunyian Desa Galibang.

Dan ketika Pandan Wangi mengarahkan pandangan pada sebuah rumah yang terletak paling dekat dengan tempatnya berada saat ini, mendadak saja kedua bola matanya jadi terbeliak lebar dengan mulut ternganga....

"Oh...?!"

Dan bersamaan dengan itu, terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi, memecah kesunyian senja ini. Seketika Pandan Wangi semakin terperangah. Maka tanpa berpikir panjang lagi, gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung melesat. Seluruh ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna langsung dikerahkannya.

"Hiyaaa...!"

Begitu cepat lesatan gadis cantik ini, hingga bentuk tubuhnya lenyap. Dan yang terlihat kini hanya bayangan biru berkelebat begitu cepat bagai kilat menuju rumah kecil yang sudah hampir roboh itu.

"Hup!"

Sekali dia melesat, kedua kakinya langsung menjejak tanah, tepat di depan pintu rumah yang terbuka lebar dalam keadaan hancur itu. Dan pada saat itu juga....

Slap!

"Heh...?! Hup!" Cepat-cepat Pandan Wangi melenting dan berputaran ke samping kanan, ketika tiba-tiba saja dari dalam rumah itu melesat sebuah bayangan hitam yahg hampir saja menerjangnya. Dua kali si Kipas Maut itu berputaran di udara, lalu dengan gerakan indah sekali kakinya menjejak tanah kembali. Cepat tubuhnya berbalik.

Dan saat itu juga di depan Pandan Wangi kini sudah berdiri seorang laki-laki tua berbaju jubah panjang warna hitam pekat yang sudah lusuh dan kotor berlumur darah. Seluruh wajahnya yang berkeriput, kelihatan merah penuh bintik-bintik seperti bisul yang pecah mengeluarkan cairan kental berbau amis. Rambutnya panjang tidak beraturan. Bahkan pada bagian tengah kepalanya tidak berambut. Tidak ada satu senjata pun terlihat tersandang di tubuhnya. Jari-jari tangannya kelihatan merah berlumur darah yang masih segar menetes. Mulutnya juga penuh gumpalan darah segar. Dia menyeringai, melihat Pandan Wangi berdiri sekitar satu batang tombak di depannya.

"He he he...!"

Sedikit Pandan Wangi bergidik, mendengar orang tua aneh ini. Tengkuknya juga meremang melihat wajah yang seperti sosok mayat baru bangkit dari dalam kubur itu. Dari dengus napasnya, tersebar bau busuk seperti bangkai. Dan ini membuat semua isi perut si Kipas Maut itu jadi bergolak bagai hendak muntah. Pandan Wangi menggeser kakinya beberapa langkah ke belakang, sambil menghembuskan napas kencang. Dia berusaha menahan bau busuk yang begitu menyengat menyeruak ke dalam hidungnya.

"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di rumah ini...?!" tanya Pandan Wangi, tidak bisa lagi menghilangkan getaran suaranya.

Tapi orang tua aneh itu tidak menjawab. Kedua bola matanya yang merah menatap dengan sinar begitu tajam menusuk, membuat Pandan Wangi jadi bergidik. Tapi, bukanlah si Kipas Maut namanya kalau tidak bisa cepat mengendalikan diri.

Pandan Wangi langsung bisa menyadari, siapa yang sedang dihadapinya sekarang. Dialah orang tua yang diceritakan Ki Randata, dan selama ini disebut manusia iblis yang meminta begitu banyak korban. Bahkan baru saja tadi mengambil korban penghuni rumah itu.

"Kau berhadapan dengan Kipas Maut, Iblis...," desis Pandan Wangi dingin menggetarkan.

Bet!

Cepat sekali kipas Pandan Wangi tercabut, dan langsung dikembangkan di depan dada. Lalu perlahan kakinya bergeser ke kanan. Namun pada saat itu juga, tiba-tiba....

"Iblis keparat! Kubunuh kau! Hiyaaat..!"

"Hey...?!" Pandan Wangi jadi terpekik kaget, ketika tiba-tiba saja dari dalam rumah kecil yang sudah hampir roboh itu berlari seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun, bersenjatakan sebuah parang yang cukup panjang. Anak perempuan berbaju kumal itu langsung menghambur, dan mengibaskan parangnya ke tubuh orang tua ini. Tapi....

Begkh!
"Hah...?!"
"He he he...!"

Kedua bola mata Pandan Wangi jadi terbeliak lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Jelas sekali parang di tangan anak perempuan itu menebas pinggang. Tapi orang tua berwajah buruk dan aneh itu hanya terkekeh saja. Dan dengan parang masih menancap di pinggangnya, tangan kirinya cepat dikebutkan, sambil mendengus berat. Dan....

Plak!

"Akh...!" Anak perempuan itu terpekik dan langsung jatuh bergulingan ke tanah, ketika tamparan tangan kiri orang tua ini menghantam kepalanya. Sambil mengeluarkan tawa terkekah kering, orang tua itu mengambil parang yang menancap di pinggangnya. Dan ternyata sedikit pun dari pinggangnya tidak mengeluarkan darah. Bahkan tidak ada luka yang terlihat. Parang itu digenggam kuat di tangan kanannya. Sorot matanya terlihat begitu liar, penuh nafsu membunuh pada anak perempuan yang masih menggeletak di tanah dengan wajah merah ketakutan.

"Mampus kau! Yeaaackh...!"

Bet!

Sambil menggereng dingin, orang tua berjubah hitam itu melangkah cepat sambil mengayunkan parang di tangan kanannya. Tapi ketika parang hampir menebas tubuh anak perempuan yang sudah tidak berdaya ini, cepat sekali Pandan Wangi melompat sambil mengibaskan senjata kipasnya. Langsung dihantamnya parang di tangan kanan orang tua ini.

Trang!

"Phuaaah...?!" Orang tua itu tampak tersentak kaget, ketika parang di tangannya terpetal ke atas. Kejadian itu berlangsung, bersamaan dengan terlihatnya bayangan biru dari baju yang dikenakan Pandan Wangi yang berkelebat tepat di depannya. Saat itu juga, Pandan Wangi menyambar anak perempuan itu. Dan tubuhnya langsung melesat dengan kecepatan kilat, membawa anak perempuan itu jauh dari orang tua ini.

"Kau di sini saja," kata Pandan Wangi setelah menurunkan anak perempuan itu dari gendongannya.

Anak perempuan itu hanya menganggukkan kepala saja. Namun wajahnya tetap memancarkan kebingungan, melihat Pandan Wangi tahu-tahu sudah membawanya pergi menjauhi orang tua berjubah hitam yang sangat buruk wajahnya. Hanya dipandanginya Pandan Wangi yang sudah melangkah mendekati kembali orang tua berjubah hitam ini. Senjatanya yang berbentuk kipas terkembang di depan dada. Pandan Wangi kini menatap lurus ke bola mata yang memerah bagai darah menggumpal itu.

"Kau iblis pengecut...! Beraninya hanya pada orang-orang lemah. Kipas Maut lawanmu sekarang, Iblis Jelek...!" desis Pandan Wangi memanasi.

"Ghrrr…!"

Orang tua berjubah hitam yang wajahnya merah penuh benjolan bernanah itu hanya menggereng saja, mendengar umpatan yang membuat hati panas ini. Sorot matanya semakin tajam berapi-api, penuh nafsu membunuh yang meluap-luap. Seakan, seluruh tubuh si Kipas Maut itu hendak dibakar hangus hanya dengan sorotan matanya saja. Namun, semua dibalas Pandan Wangi dengan tatapan yang tidak kalah tajam.

"Yeaaackh...!"

Tiba-tiba saja orang tua itu membentak keras menggelegar. Dan dengan kecepatan kilat dia melompat menerjang gadis cantik berbaju biru yang sudah menggenggam senjata kipasnya. Tapi serangan yang memang sudah dinantikan Pandan Wangi, dapat dihindari dengan mengegoskan tubuh begitu indah.

"Hap!"

Pandan Wangi cepat melompat ke kanan. Langsung tubuhnya berputar sambil mengebutkan senjata kipas maut andalannya.

Bet!

Tapi gerakan tubuh orang tua itu demikian cepat, hingga kibasan kipas gadis itu tidak sampai mengenainya. Lalu begitu cepat tubuhnya berbalik, dan langsung melompat menyerang kembali dengan kecepatan sukar sekali diikuti pandangan mata biasa.

"Hap!"

Cepat-cepat Pandan Wangi membanting tubuhnya ke tanah. Lalu di saat tubuh orang tua itu tepat berada di atasnya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya yang sudah hampir sempurna tingkatannya dikerahkan. Langsung dilepaskannya satu tendangan kaki kanan ke atas.

"Yeaaah...!"
Begkh!
"Argkh...!"

Begitu cepat tendangan gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu, sehingga orang tua berjubah hitam ini tidak dapat lagi menghindarinya. Dan tendangan itu tepat menghantam dada, membuatnya meraung keras seperti seekor binatang buas yang terkena tombak.

Tampak tubuh tua berjubah hitam itu terpental tinggi ke atas. Namun dengan gerakan berputar yang begitu indah, keseimbangan tubuhnya bisa terkuasai kembali.

Sementara Pandan Wangi sudah cepat melompat bangkit dengan gerakan indah sekali. Dan tepat di saat kedua kakinya menjejak tanah, dari atas meluruk deras sosok tubuh tua berjubah hitam itu dengan raungan begitu keras menggetarkan jantung, seperti seekor binatang buas yang sedang marah.

"Ghraaaugkh...!"
"Haiiit..!"
Bet!

Kembali Pandan Wangi meliukkan tubuhnya, menghindari terjangan orang tua ini. Dan dengan cepat senjata kipasnya dikebutkan agak ke atas. Begitu cepat kebutannya, sehingga orang tua berjubah hitam itu tidak bisa lagi menghindarinya. Dan....

Bret!

"Heh...?!" Tapi Pandan Wangi jadi terbeliak lebar. Cepat si Kipas Maut ini melompat ke belakang sambil memutar tubuhnya beberapa kali, hingga berjarak sekitar satu setengah batang tombak dengan orang tua berwajah buruk itu. Pandan Wangi hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jelas sekali kalau kebutan kipasnya tadi mengenai sasaran. Tapi, sedikit pun tidak terlihat luka di tubuh orang tua ini. Bahkan tidak ada setetes darah pun yang terlihat mengalir.

"Gila...! Iblis dari mana dia...?" dengus Pandan Wangi tidak percaya dengan penglihatannya.

"Ha ha ha...!"

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak, melihat gadis cantik yang menjadi lawannya ini terlongong bengong. Sedangkan Pandan Wangi perlahan menarik kakinya beberapa langkah ke belakang. Seakan masih belum dipercayai kalau tubuh orang tua ini kebal senjata Kipas Mautnya!

Sedikit Pandan Wangi melirik anak perempuan yang tadi diselamatkan nyawanya dari iblis tua yang kebal senjata ini. Anak perempuan itu tampak menggeletar seluruh tubuhnya. Dan wajahnya terlihat pucat ketakutan, melihat laki-laki tua itu mulai melangkah maju mendekati Pandan Wangi sambil terkekeh mengerikan.

"Keluarkan semua kepandaianmu, Bocah. Kau tidak akan mampu membunuhku...," desis orang tua itu, dingin menggetarkan.

Pandan Wangi hanya diam saja. Dibuatnya beberapa gerakan pelan dengan Kipas Mautnya yang masih terkembang di tangan kanan. Walaupun masih dihinggapi ketidakpercayaan akan kekebalan tubuh lawannya, tapi di dalam hatinya justru tumbuh rasa penasaran yang begitu kuat. Dan memang, sudah menjadi watak si Kipas Maut yang tidak mudah menyerah begitu saja! Si Kipas Maut tidak akan mundur setapak pun, meski harus berhadapan dengan lawan yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi.

"Ayo...! Maju kau, Iblis...!" desis Pandan Wangi memanasi.

Pandan Wangi sengaja memasang sikap me-nantang, untuk memancing kemarahan lawannya. Gadis ini ingin mencari kelemahan lawan dengan cara demikian. Dan ini sering dilakukannya pada lawan-lawannya yang dianggap lebih tangguh. Hasilnya memang terbukti, hingga setiap lawan tangguhnya bisa diperdayai. Kendati demikian, dia juga harus memeras seluruh kemampuan yang dimilikinya.

Tapi, tampaknya orang tua berwajah menyeramkan ini tidak terpancing. Bahkan malah tertawa terkekeh, memandang rendah pada gadis cantik yang terus memanasi dan menantangnya. Kini, kakinya malah melangkah menghampiri dengan ayunan begitu ringan. Dan Pandan Wangi jadi tertegun sesaat, melihat ketenangan orang tua berjubah hitam itu.

Sementara malam sudah menyelimuti Desa Galibang ini. Kegelapan begitu terasa, tanpa sedikit pun ada cahaya yang menerangi ajang pertarungan. Bahkan langit terlihat gelap, tersaput awan hitam yang tebal berguhmg-gulung. Angin bertiup cukup kencang, menebarkan udara dingin yang membuat tubuh menggigil. Namun semua keadaan alam yang tampaknya tidak ramah ini, sama sekali tidak mengusik dua orang yang saling berhadapan dengan sorot mata tajam memancarkan permusuhan.

"Yeaaackh...!"
Der!

Tiba-tiba saja orang tua berjubah hitam itu menghentakkan kaki kanannya ke tanah keras sekali, membuat bumi jadi bergetar bagai diguncang gempa. Dan saat itu tanah di depannya jadi merekah terbelah memanjang dengan cepat ke arah Pandan Wangi.

"Hup!"

Namun cepat gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu melenting ke atas. Dan tubuhnya langsung berputaran beberapa kali di udara ke arah kanan. Lalu, manis sekali kakinya menjejak di tanah kembali. Hampir Pandan Wangi tidak percaya melihat tak jauh di sebelahnya, tanah terbelah membentuk sebuah jurang yang dalam, akibat gedoran kaki kanan orang tua bermuka buruk itu. Walaupun panjangnya hanya sekitar satu setengah batang tombak, tapi dalamnya sukar diukur. Namun Pandan Wangi tidak ingin terpaku lama. Cepat ditatapnya orang tua berjubah hitam yang wajahnya memerah penuh benjolan bemanah itu.

"Kau memang hebat, Iblis Tua. Tapi kau belum mampu menghadapiku...," desis Pandan Wangi kembali memanasi.

"Phuih...!" Orang tua itu menyemburkan ludahnya dengan sengit. Sorot matanya semakin terlihat memerah dan berapi-api, memandangi Pandan Wangi yang berada sekitar satu batang tombak di depannya. Dia berdiri tegak dengan jari-jari tangan terkembang, meregang kaku seperti cakar burung elang yang siap menerkam mangsa.

"Yaaackh...!"

Kembali orang tua berwajah buruk itu berteriak keras menggelegar. Dan saat itu juga, tubuhnya melesat cepat bagai kilat, menerjang Pandan Wangi yang sudah siap menerima serangan. Kedua tangannya menjulur ke depan dengan jari-jari terkembang kaku, seperti hendak mengoyak seluruh tubuh si Kipas Maut!

"Hup! Hiyaaa...!"

Cepat sekali Pandan Wangi melesat ke atas. Sehingga, serangan orang tua berjubah hitam itu tidak menemui sasaran. Dan pada saat tubuh orang tua itu berada di bawahnya, Pandan Wangi langsung berputar dengan kecepatan tinggi. Lalu secepat kilat, senjata kipasnya dikebutkan, tepat mengarah ke bagian atas kepala orang tua yang botak itu.

Bet!
Pletak!

"Ikh...!" Pandan Wangi jadi terpekik kaget setengah mati, begitu ujung-ujung kipasnya yang runcing seperti mata anak panah menyabet batok kepala orang tua ini. Namun tangannya terasa jadi bergetar dan panas, hingga kipasnya hampir saja terlepas. Untung saja kipasnya cepat dipindahkan ke tangan kiri.

"Hup!"

Cepat-cepat Pandan Wangi melenting ke atas, dan berputaran beberapa kali sebelum kedua kakinya kembali menjejak tanah. Dipandanginya ujung kipasnya sebentar. Lalu terdengar tarikan napasnya yang panjang, begitu mengetahui tidak ada yang gompal pada senjata kesayangannya. Sementara, orang tua berjubah hitam itu terkekeh, semakin memandang rendah gadis yang menjadi lawannya.

"He he he...!"

"Huh!" Pandan Wangi mendengus sedikit. Kakinya digeser perlahan ke kanan. Titik-titik keringat mulai terlihat merembes membasahi kening dan lehernya yang putih jenjang. Getaran dan hawa panas di tangan kanannya sudah hilang, setelah menyalurkan hawa murni. Perlahan tangan kanan si Kipas Maut terangkat naik, lalu menggenggam gagang pedang berbentuk kepala naga berwarna hitam pekat yang tersampir di punggungnya.

"Hhh! Terpaksa Pedang Naga Geni kugunakan…" desah Pandan Wangi dalam hati.

Sret!
Cring...!

Entah kenapa, mendadak saja kedua bola mata orang tua berjubah hitam itu jadi terbeliak lebar, ketika Pandan Wangi mencabut Pedang Naga Geni yang memancarkan api pada seluruh mata pedang itu. Keadaan yang gelap, jadi agak terang oleh cahaya api yang memancar dari pedang di tangan si Kipas Maut. Tampak orang tua berjubah hitam dengan wajah buruk penuh benjolan bernanah itu menarik kakinya ke belakang beberapa langkah.

Sementara, Pandan Wangi sudah membuat beberapa gerakan dengan pedangnya yang berpamor dahsyat. Gerakannya halus, namun mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi. Pedang yang memancarkan api itu membuat wajah Pandan Wangi jadi memerah seperti terbakar. Seakan-akan gadis itu berubah menjadi sosok malaikat maut yang hendak mencabut nyawa. Begitu angker dan mengerikan....

"Kita lanjutkan pertarungan ini sampai mati, Iblis...!" desis Pandan Wangi dingin menggetarkan.

Tapi orang tua itu hanya diam saja. Dan wajah yang memerah berangsur memudar, seakan terserap cahaya api yang memancar dari Pedang Naga Geni yang tergenggam di tangan kanan si Kipas Maut. Dan ketika Pandan Wangi mengebutkan pedangnya ke depan, tiba-tiba saja....

"Hup! Hiyaaa...!"

"Hey...?!" Pandan Wangi jadi memekik kaget! Karena tiba-tiba saja orang tua berjubah hitam itu cepat memutar tubuhnya, dan langsung melesat cepat bagai kilat meninggalkan ajang pertarungan. Begitu cepatnya, sehingga belum juga Pandan Wangi bisa berbuat sesuatu, bayangan orang tua berjubah hitam itu sudah lenyap dari pandangan.

"Setan...! Iblis pengecut..!" geram Pandan Wangi kesal.

Cring!

Sambil mendengus kesal, Pandan Wangi memasukkan kembali Pedang Naga Geni ke dalam warangka di punggung. Sebentar gadis itu masih berdiri tegak memandang ke arah perginya orang tua aneh berjubah hitam tadi. Kemudian tubuhnya berbalik, dan melangkah menghampiri anak perempuan yang sejak tadi terduduk diam menyaksikan semua pertarungan di depan rumahnya. Dipandangnya Pandan Wangi yang menghampiri seperti melihat sosok malaikat pelindung dirinya.

"Kau terluka...?" tanya Pandan Wangi lembut, begitu dekat di depan gadis ini.

Gadis kecil itu hanya menggeleng saja.

"Siapa namamu?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Samirah," sahut gadis tanggung itu, menyebutkan namanya.

"Apa yang dilakukan orang tadi di dalam rumahmu?" tanya Pandan Wangi lagi, masih bernada lembut.

"Dia..., dia membunuh ibuku...," sahut Samirah, langsung menangis sesenggukan.

Pandan Wangi tidak dapat lagi menahan perasaannya. Cepat direngkuhnya gadis ini dan dibawanya ke dalam pelukan. Tangis Samirah semakin keras, begitu berada dalam pelukan hangat si Kipas Maut yang seperti melindunginya.

Lama juga mereka berpelukan. Perlahan-lahan Pandan Wangi melepaskan pelukan, dan mengajak gadis tanggung itu masuk ke dalam rumahnya. Di sana, Pandan Wangi sampai menggeletar tubuhnya, melihat mayat seorang perempuan tua tergeletak di lantai. Tubuhnya hancur, seperti tercabik binatang buas. Tampak darah menggenang di sekitar tubuhnya yang sudah hampir tidak berbentuk lagi. Sementara, Samirah hanya dapat menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan Pandan Wangi sendiri hanya bisa terpaku diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan gadis tanggung ini.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Malam itu juga, Pandan Wangi menguburkan jasad ibunya Samirah yang mati terbunuh oleh iblis tua yang belakangan dijuluki Iblis Pemburu Darah di belakang rumahnya. Sedangkan Samirah sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk membantu. Gadis ini hanya bisa menangis, sampai Pandan Wangi selesai menguburkan jasad ibunya.

Pandan Wangi kembali membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya yang gelap, tanpa satu pelita pun yang dinyalakan. Dengan pemantik api, dinyalakannya lampu pelita, dan ditaruhnya di tengah-tengah ruangan gubuk kecil yang sudah reyot dan hampir roboh ini. Kemudian kembali didekatinya Samirah yang duduk memeluk lutut di balai-balai bambu yang beralaskan selembar tikar lusuh. Sesekali masih terdengar isak tangisnya yang tertahan.

"Kau hanya tinggal dengan ibumu saja, Samirah?" tanya Pandan Wangi.

Samirah hanya mengangguk saja.

"Lalu, ayahmu di mana?"

"Sudah meninggal. Dibunuh iblis itu...," sahut Samirah tersendat.

"Kau tidak punya saudara?"

"Semua sudah mati."

Pandan Wangi menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Bisa dirasakannya begitu berat beban yang diderita gadis berusia tiga belas tahun ini. Ayah Ibu, serta semua saudaranya sudah mati dibunuh si Iblis Pemburu Darah itu. Dan entah, berapa anak lagi di desa ini yang mengalami nasib serupa dengan Samirah.

"Oh, ya.... Namaku, Pandan Wangi. Kau boleh memanggilku Kak Pandan," ujar Pandan Wangi memperkenalkan diri, setelah beberapa saat terdiam membisu.

Samirah tersenyum sedikit, tapi terasa begitu hambar dan amat dipaksakan. Dan Pandan Wangi membalasnya dengan senyum kecil, tapi terasa begitu lembut dan manis dalam pandangan mata Samirah. Dan untuk beberapa saat mereka kembali terdiam.

Sementara, malam terus merayap semakin bertambah larut. Kesunyian begitu terasa. Sedikit pun tidak terdengar suara di luar. Begitu sunyinya, hingga jerit serangga malam pun tidak terdengar. Hanya hembusan angin saja yang terdengar meng-usik telinga, menyebarkan udara begitu dingin menusuk kulit.

"Sudah malam. Tidurlah...," ujar Pandan Wangi sambil mengusap lembut kepala gadis itu.

"Kak Pandan tidak tidur...?"

"Aku akan menjagamu, agar tidak diganggu orang tua itu lagi," sahut Pandan Wangi, seraya tersenyum.

"Dia bukan manusia, Kak. Dia setan yang bangkit dari kuburnya," kata Samirah, dengan suara agak ditahan.

Kening Pandan Wangi langsung berkerut. Sungguh si Kipas Maut jadi terkejut mendengar kata-kata Samirah barusan. Dipandanginya gadis tanggung itu dengan kelopak mata agak menyipit. Sedangkan Samirah mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan kanan. Dan kembali, kebisuan menyelimuti mereka untuk beberapa saat.

"Kau tahu siapa dia, Samirah...?" tanya Pandan Wangi jadi penasaran.

"Semua orang di desa ini tahu, Kak. Dia dulunya seorang dukun yang ditakuti. Ilmu-ilmunya sangat jahat, dan sering digunakan untuk mencelakakan orang lain. Kira-kira tiga purnama yang lalu, dia membuat anak kepala desa ini jadi gila. Bahkan sampai mati gantung diri...."

"Ki Randata...?" potong Pandan Wangi.

"Benar, Kak," sahut Samirah.

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Pandan Wangi semakin ingin tahu.

"Kepala desa ini marah. Lalu dibawanya semua penduduk untuk menghukum orang itu. Rumahnya dibakar. Dan seluruh penduduk mencincangnya sampai mati. Mayatnya dibuang ke dalam hutan. Tapi sehari setelah kejadian itu, dia muncul lagi. Dan...," Samirah tidak meneruskan.

Sepertinya Samirah tidak sanggup melanjutkan ceritanya, Tapi, Pandan Wangi sudah bisa mengerti semua yang diceritakan Samirah barusan. Dan kini dia sudah tahu, orang yang selama ini meresahkan seluruh penduduk Desa Galibang sebenarnya adalah orang yang sudah mati. Dan orang itu bangkit kembali untuk membalas dendam, dengan membantai penduduk desa ini tanpa ampun. Pandan Wangi langsung menyadari, perbuatan orang tua itu tidak akan berhenti. Walaupun, semua penduduk Desa Galibang sudah dibunuh habis tanpa sisa. Dia pasti akan terus mencari korban ke desa-desa lain.

"Siapa namanya, Samirah?" tanya Pandan Wangi.

"Ki Lawung."

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Entah, apa arti anggukan kepalanya. Dan dia juga tidak bersuara lagi. Sedangkan Samirah juga tidak berbicara lagi. Dipandanginya si Kipas Maut itu beberapa saat, kemudian merebahkan diri di samping gadis pendekar dari Karang Setra ini. Pandan Wangi melirik sedikit, dan tersenyum kecil pada gadis tanggung ini. Senyuman si Kipas Maut itu dibalas Samirah, namun terasa begitu hambar.

"Tidurlah.... Kau aman bersamaku," ujar Pandan Wangi lembut.

Samirah tersenyum dan menganggukkan kepala. Sedangkan Pandan Wangi hanya menarik napas saja dalam-dalam. Walaupun penderitaan beruntun datang menimpa, tapi pada wajah Samirah masih terlihat ada semangat dan kecerahan hidup. Penderitaan membuat gadis tanggung ini jadi tabah. Malah begitu cepat bisa melupakan semua yang telah terjadi pada dirinya. Kembali Pandan Wangi menghembuskan napas panjang, melihat Samirah sudah jatuh tertidur di sampingnya.

Sementara, malam terus merayap semakin larut. Dan kesunyian semakin terus menyelimuti seluruh wilayah Desa Galibang ini. Tidak ada lagi suara yang terdengar. Hanya tiupan angin saja mengusik gendang telinga, menerobos dari lubang-lubang di dinding bilik rumah gubuk ini.

Sementara Samirah tertidur lelap, Pandan Wangi perlahan-lahan beranjak turun dari balai-balai bambu. Terus dipandanginya wajah polos dan kelihatan tenang dalam tidurnya itu. Perlahan Pandan Wangi melangkah keluar dari dalam gubuk reyot yang sudah hampir roboh ini. Hati-hati sekali pintu dibuka dan ditutupnya kembali setelah berada di luar.

Perlahan-lahan Pandan Wangi mengayunkan kakinya, meninggalkan gubuk kecil yang dihuni gadis tanggung itu. Angin malam yang terasa begitu dingin, menyebarkan bau busuk yang tidak sedap menusuk lubang hidung. Bau dari mayat-mayat dan bangkai binatang yang terlalu lama tidak dikuburkan. Memang, semua penduduk Desa Galibang ini tidak ada yang sempat menguburkan mayat-mayat. Padahal di antara mayat-mayat itu ada sanak saudaranya, bahkan orangtuanya. Mereka semua memang terlalu takut oleh si Iblis Pemburu Darah.

Pandan Wangi terus melangkah perlahan-lahan, kembali memasuki Desa Galibang yang begitu sunyi, seperti sebuah perkampungan hantu yang tidak lagi berpenghuni. Tidak ada satu rumah pun yang terlihat menyalakan lampu. Keadaan di desa ini begitu gelap. Terlebih lagi, langit malam ini terselimut awan hitam sangat tebal. Sehingga, sang Dewi Malam tidak mampu meneroboskan cahayanya menerangi desa ini.

Tanpa terasa, Pandan Wangi tiba di depan gubuk yang ditempati Ki Randata. Ayunan langkahnya langsung terhenti, melihat gubuk itu tampak gelap, tanpa sedikit pun ada cahaya yang meneranginya. Keadaan itu membuat kening Pandan Wangi jadi berkerut. Namun belum juga bisa berpikir lebih jauh lagi, tiba-tiba saja....

Bruk!

"Heh...?!"

Pandan Wangi jadi terlonjak kaget, begitu tiba-tiba dari dalam gubuk itu meluncur sesosok tubuh menjebol dinding bilik yang sudah rapuh itu. Sosok tubuh itu jatuh keras sekali menghantam tanah, dan bergulingan beberapa kali mendekati si Kipas Maut ini.

"Ki Randata...," desis Pandan Wangi terkejut, begitu mengenali orang yang terlempar keluar dari dalam gubuk.

Laki-laki tua yang terlempar keluar dari dalam gubuk itu memang Ki Randata. Seluruh tubuhnya sudah berlumur darah, tapi masih bergerak. Dia berusaha merayap mendekati Pandan Wangi yang masih diam berdiri memandangi seperti tersihir. Begitu tersadar dari keterpanaannya, bergegas gadis itu menghampiri kepala desa ini.

"Apa yang terjadi denganmu, Ki?" tanya Pandan Wangi langsung.

"Pandan...," desis Ki Randata bergetar pelan.

"Ya.... Aku Pandan Wangi, Ki...."

"Cepat pergi, Pandan. Selamatkan dirimu... Iblis itu ada di sini...," pelan sekali suara Ki Randata.

"Ki...." Suara Pandan Wangi langsung terputus, begitu dari dalam gubuk itu tiba-tiba melesat keluar sebuah bayangan hitam dengan gerakan begitu cepat bagai kilat. Dan tahu-tahu, didepan mereka sudah berdiri seorang laki-laki tua berjubah hitam. Wajahnya merah penuh benjolan mengeluarkan cairan kental berbau busuk seperti bangkai.

Tampak jelas dari raut wajahnya yang merah, kalau laki-laki tua itu terkejut sekali melihat Pandan Wangi ada di tempat ini. Tangannya yang sudah terangkat, perlahan bergerak turun. Dan tatapan matanya begitu tajam menyorot langsung ke wajah cantik gadis ini.

Sementara, Ki Randata terus merayap, berusaha mencari perlindungan di belakang si Kipas Maut. Sedangkan Pandan Wangi sendiri sudah menggenggam gagang pedangnya di punggung, walaupun belum mencabutnya,

"Kau lagi...," desis Pandan Wangi dingin menggetarkan.

"Phuih!" Laki-laki tua aneh yang sudah diketahui Pandan Wangi bernama Ki Lawung dan berjuluk si Iblis Pemburu Darah itu menyemburkan ludah dengan sengit. Tapi entah kenapa, dia tidak juga mau menyerang. Seakan, ada yang ditakuti pada diri si Kipas Maut ini. Dan perlahan kakinya ditarik ke belakang beberapa langkah. Sementara, Ki Randata sudah berada di belakang Pandan Wangi. Kini dia terduduk di tanah dengan napas tersengal, seperti ada yang mengganjal dalam dadanya.

"Urusan kita belum selesai, Iblis...! Kau tinggalkan desa ini, atau akan terus berurusan denganku," desis Pandan Wangi dingin menggetarkan, bernada mengancam.

"Phuih!" Lagi-lagi Ki Lawung menyemburkan ludahnya. Hatinya begitu geram melihat gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut itu. Tapi, tetap saja dia tidak mau melakukan serangan. Hanya tatapan matanya saja yang menyorot tajam, penuh kebencian dan nafsu membunuh.

"Suatu saat kau akan menyesal mencampuri urusanku, Bocah...!" dengus Ki Lawung dingin menggetarkan.

Setelah berkata demikian, Iblis Pemburu Darah berbalik cepat. Dan saat itu juga tubuhnya melesat pergi dengan kecepatan bagai kilat. Sehingga dalam waktu sekejapan mata saja, bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata si Kipas Maut.

Sebentar Pandan Wangi masih berdiri memandang ke arah perginya si Iblis Pemburu Darah itu, kemudian berbalik. Bergegas dihampirinya Ki Randata yang masih tetap terduduk di tanah, dengan punggung bersandar pada sebatang kayu pohon yang sudah mati. Tarikan napasnya begitu lemah, seakan sedang menunggu malaikat maut yang akan mencabut selembar nyawanya.

"Kenapa kau kembali lagi, Pandan? Untuk apa menyerahkan nyawa di sini...?" pelan sekali suara Ki Randata.

"Sudah, Ki. Jangan banyak bicara dulu. Biar kurawat dulu lukamu," kata Pandan Wangi.

Gadis itu langsung membantu Ki Randata berdiri, kemudian memapahnya masuk ke dalam gubuk reyot yang gelap ini. Dibaringkannya orang tua ini di atas balai-balai bambu. Pandan Wangi menyalakan pelita, hingga keadaan gubuk itu jadi terang benderang. Lalu. bergegas dia keluar. Tapi baru saja sampai di ambang pintu....

"Kau mau, ke mana, Pandan...?" tegur Ki Randata.

"Aku akan membawa Samirah ke sini, Ki. Dia kutinggalkan di rumahnya sendirian," sahut Pandan Wangi seraya berpaling sedikit.

"Siapa Samirah?" tanya Ki Randata.

"Nanti kau akan tahu, Ki. Sebaiknya kau isti-rahat saja. Jangan banyak bergerak dulu," ujar Pandan Wangi.

Dan sebelum orang tua itu banyak bicara lagi, Pandan Wangi sudah cepat melesat meninggalkannya. Gadis itu langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatannya. Dia kembali menuju gubuk kecil, tempat Samirah ditinggalkan seorang diri di sana.

Begitu cepatnya Pandan Wangi berlari, hingga dalam waktu sebentar saja sudah tiba di gubuk kecil yang sudah reyot dan hampir roboh itu. Langsung dia menarik napas lega, begitu melihat Samirah masih terlelap tidur. Tanpa membangunkan gadis kecil itu, Pandan Wangi langsung memondongnya. Langsung dibawanya Samirah keluar, dan kembali berlari cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang tingkatannya sudah tinggi. Dan Samirah yang masih tidur lelap langsung dibawa ke gubuk tempat tinggal Ki Randata.

Malam ini Pandan Wangi terpaksa tidak tidur, dan terus mengelilingi Desa Galibang. Dia menjaga kalau-kalau si Iblis Pemburu Darah itu kembali mengambil korban, Tapi sampai matahari terbit di ufuk timur, orang tua berwajah buruk itu tidak berkeliaran lagi di desa ini.

Pandan Wangi kembali ke gubuk yang ditempati Ki Randata. Dan Samirah yang sedang berbincang-bincang dengan kepala desa tua itu langsung menyambutnya. Pandan Wangi langsung menghempaskan diri disamping Ki Randata yang duduk bersila di atas balai-balai bambu beralaskan selembar tikar pandan ini. Sementara, Samirah menyediakan makanan dan minuman untuk gadis pendekar yang digdaya ini.

"Kau tidak tidur semalam, Pandan. Ke manasaja kau...?" tegur Ki Randata yang kesehatannya kelihatan sudah mulai membaik lagi.

"Mengejar iblis itu, Ki," sahut Pandan Wangi.

"Mengejar...?!"

Ki Randata jadi terbeliak mendengarnya. Rasa keterkejutannya tidak dapat lagi disembunyikan mendengar Pandan Wangi semalam mengejar si Iblis Pemburu Darah. Padahal, semua orang di desa ini tidak ada yang berani dengannya. Melihat saja, orang akan langsung mengambil langkah seribu. Tapi, Pandan Wangi malah mengejarnya!

"Untuk apa kau mengejar iblis itu, Pandan? Sebaiknya selamatkan saja dirimu! Jangan sampai kau menjadi korbannya, seperti yang dialami kakakmu," kata Ki Randata, mencoba menasihati.

"Kakang Rangga belum mati, Ki. Aku yakin, Kakang Rangga juga sedang mencari tahu, siapa sebenarnya pembunuh biadab di desa ini," sangkal Pandan Wangi tegas.

Ki Randata tidak dapat lagi berkata-kata, dan hanya bisa menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala perlahan. Memang sulit menasihati gadis pendekar yang berkepandaian tinggi seperti si Kipas Maut ini. Semakin dilarang, rasa keingintahuannya semakin berkobar dalam dada. Terlebih, Pandan Wangi tidak yakin bila Rangga sudah menjadi korban si Iblis Pemburu Darah ini dengan mudah sekali. Sedangkan Pandan Wangi sendiri, malah bisa membuat pembunuh keji itu seperti tidak berani lagi berhadapan dengannya.

"Sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi, kalau semua penduduk desa ini bersatu dan mempunyai tekad, Ki," kata Pandan Wangi.

"Untuk apa...?" terdengar malas suara Ki Randata.

"Menghadapi iblis itu, Ki," sahut Pandan Wangi mantap.

"Kau hanya bermimpi bila ingin menyatukan penduduk desa ini, Pandan. Mereka hanya petani yang sehari-hari kerjanya menggarap sawah. Jadi mana ada keberanian untuk menghadapi manusia iblis yang tangguh seperti itu...? Lihat saja sendiri, begitu mudahnya aku dilemparkan. Padahal, semalam aku sudah setengah mati berusaha melawan. Dia terlalu kuat dan sulit dibunuh, Pandan. Sadarlah kalau dia sebenarnya sudah mati. Dia bukan lagi manusia yang bisa dibunuh begitu saja...," sergah Ki Randata.

Pandan Wangi jadi terdiam. Sulit bagi dia membantah kata-kata yang diucapkan Ki Randata barusan. Memang, semua penduduk Desa Galibang ini tidak ada yang memiliki kepandaian sedikit pun juga. Jadi, tidak mungkin kalau mereka dikerahkan untuk menghadapi si Iblis Pemburu Darah.

"Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, Pandan. Dan sudah begitu banyak jatuh korban. Bahkan tidak sedikit para pendekar yang datang ke sini hanya menyerahkan nyawanya saja. Bahkan kakakmu sendiri, sampai sekarang belum jelas nasibnya. Aku hanya minta padamu, Pandan. Pergilah dari desa ini selagi ada waktu. Jangan korbankan dirimu hanya untuk pekerjaan sia-sia. Dia bukan manusia lagi," ujar Ki Randata, kembali meminta Pandan Wangi untuk pergi dari desa ini.

"Sudah kepalang basah, Ki. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berusaha menghancurkan iblis itu," tegas Pandan Wangi.

Ki Randata mengangkat bahunya sedikit. Direngkuhnya bahu Samirah, dan dibawa ke dalam pelukannya. Gadis tanggung itu lantas menyembunyikan kepalanya didada laki-laki tua ini, seakan ingin mencari perlindungan di dalamnya.

"Aku ingin istirahat dulu, Ki. Malam nanti aku akan menghadang iblis itu lagi. Mudah-mudahan saja semua perbuatannya bisa kuhentikan di sini," kata Pandan Wangi.

"Tidurlah di sini, Pandan," kata Ki Randata seraya beringsut memberi gadis itu tempat beristirahat.

"Terima kasih."

LIMA

Saat matahari sudah tenggelam di balik peraduannya, Pandan Wangi baru keluar dari gubuk yang ditempati Ki Randata. Sengaja si Kipas Maut tidak mau jauh-jauh dari gubuk itu. Dia berharap, Iblis Pemburu Darah kembali datang untuk membunuh Kepala Desa Galibang itu. Tapi perhatiannya juga tidak lepas pada setiap rumah yang ada di sekitar gubuk ini.

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini angin bertiup kencang, menyebarkan hawa dingin yang menggigilkan tubuh. Dan langit masih tetap tertutup awan hitam tebal yang bergulung-gulung menghalangi pancaran cahaya rembulan. Setiap malam keadaan di Desa Galibang seperti ini, Langit gelap tertutup awan, seperti akan turun hujan. Tapi, tidak ada setitik air pun yang jatuh menyiraminya.

"Sepi sekali.... Apakah iblis itu tidak muncul malam ini...?" gumam Pandan Wangi dalam hati. Ah! Sebaiknya aku ke utara saja."

Pandan Wangi mengayunkan kakinya menuju arah utara Desa Galibang ini. Sepanjang jalan yang dilalui, tidak satu orang pun dijumpai. Kedua tangannya sudah terlipat di depan dada, mencoba mengusir udara dingin yang semakin menggigit. Kakinya terus terayun perlahan-lahan menelusuri jalan tanah yang lembab dan berbau tidak sedap. Beberapa hari berada didesa ini, Pandan Wangi jadi terbiasa juga dengan bau busuk yang selalu menyengat.

"Hm..., seperti ada suara pertarungan disana...," gumam Pandan Wangi lagi dalam hati.

Telinganya yang tajam dan terlatih baik, cepat menangkap suara yang datang dari sebelah utara desa ini. Sejenak Pandan Wangi berhenti melangkah, langsung menajamkan pendengarannya. Suara itu semakin jelas terdengar. Dan dia yakin, itu suara pertarungan.

"Hup...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, gadis cantik berbaju biru yang dikenal berjuluk si Kipas Maut ini langsung melesat, dengan kecepatan tinggi. Ilmu meringankan tubuhnya yang sudah hampir mencapai tingkat kesempurnaan langsung dipergunakannya.

Demikian cepatnya Pandan Wangi berlari, hingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan biru dari baju yang dikenakan. Gadis itu terus berlari, dan semakin dekat dengan perbatasan di sebelah utara ini. Sehingga suara pertarungan itu semakin jelas terdengar di telinganya. Dan ketika sudah melewati perbatasan desa ini, ayunan kakinya langsung terhenti.

"Kakang Rangga...," desis Pandan Wangi agak tersekat suaranya.

Tidak jauh dari perbatasan desa ini, terlihat dua orang sedang bertarung begitu sengit. Dan Pandan Wangi langsung mengenali salah seorang, yakni yang mengenakan baju rompi putih. Sebilah pedang bergagang kepala burung tampak bertengger dipunggungnya. Pemuda itu memang Rangga, yang di kalangan rimba persilatan lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

Saat itu, Pandan Wangi melangkah semakin mendekati dua orang yang sedang bertarung sengit itu. Kening gadis itu jadi berkerut, ketika. melihat lawan bertarung Pendekar Rajawali Sakti ternyata seorang anak muda berwajah cukup tampan dan berkulit putih seperti seorang putra bangsawan. Dia bersenjatakan sebilah pedang. Jurus-jurusnya begitu cepat, mencoba menjatuhkan Pendekar Rajawali Sakti. Dan Pandan Wangi belum pernah melihat lawan bertarung Pendekar Rajawali Sakti itu, selama berada di Desa Galibang ini.

"Hm, siapa dia...?" gumam Pandan Wangi dalam hati.

Pandan Wangi memang tidak bisa menjawab pertanyaannya saat ini. Sementara, pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan pemuda tampan berbaju hitam pekat itu semakin sengit saja. Tampaknya, pemuda berbaju hitam itu sudah mengeluarkan jurus-jurus dahsyatnya. Gerakan-gerakannya begitu cepat, hingga sulit diikuti pandangan mata biasa. Sedangkan Rangga sendiri masih tetap melayani dengan tangan kosong saja dalam penggunaan gabungan jurus-jurus dari Lima Rangkaian Jurus Rajawali Sakti.

Dan walaupun Rangga hanya mengerahkan lima jurus saja, tapi terlihat begitu sulit bagi lawannya untuk mendesak. Bahkan beberapa kali lawannya terpaksa harus berjumpalitan dan membanting tubuh ke tanah, setiap kali Rangga melancarkan serangan balasan yang begitu cepat dan dahsyat luar biasa. Entah sudah berapa jurus yang digelar, tapi tampaknya belum ada tanda-tanda kalau pertarungan bakal berakhir. Sementara Pandan Wangi hanya bisa menyaksikan dari jarak yang tidak begitu jauh, tanpa dapat berbuat sesuatu.

Dan setelah berjalan beberapa jurus lagi, sudah terlihat kalau Rangga mulai menguasai jalannya pertarungan. Bahkan sudah tiga kali pukulan yang dilancarkannya mendarat tepat di tubuh lawannya. Dan ketika satu tendangan yang begitu keras dari jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' dari Pendekar Rajawali Sakti mendarat telak di kepala, pemuda berbaju hitam itu tampak terpelanting ke belakang. Tubuhnya langsung bergulingan beberapa kali diiringi jeritannya yang panjang dan melengking tinggi. Sementara Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri tegak kembali di atas kedua kakinya yang kokoh.

"Phuih! Hiyaaa...!"

Begitu bisa bangkit berdiri lagi, pemuda berbaju hitam itu langsung saja melompat menyerang. Dan dengan kecepatan bagai kilat, pedangnya dibabatkan tepat mengarah ke batang leher Pendekar Rajawali Sakti.

Bet!

"Hapts...!" Sedikit saja Rangga mengegoskan kepala, membuat ujung pedang yang berkelebat cepat itu lewat sedikit di depan tenggorokannya. Dan pada saat itu juga, Rangga memutar tubuhnya ke kanan. Lalu....

"Shyaaa...!"

Bagaikan geledek, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu tendangan dengan pengerahan tenaga dalam sempurna. Kecepatannya begitu sukar diikuti pandangan mata biasa, sehingga lawannya tidak dapat lagi berkelit menghindar. Dan....

Begkh!

"Aaakh...!" Satu jeritan panjang yang tinggi dan melengking kembali terdengar, bersama terpentalnya tubuh pemuda berbaju hitam itu ke belakang. Lalu deras sekali tubuh pemuda itu terpental, langsung menabrak sebatang pohon hingga hancur seketika, menimbulkan suara gemuruh.

Sementara Rangga sudah kembali berdiri te-gak. Kedua tangannya sudah terlipat di depan dada. Sorot matanya terlihat begitu tajam, memandangi lawannya yang masih berusaha bangkit berdiri, walaupun terhuyung-huyung. Tampak darah mengalir deras dari mulut dan hidungnya. Sebentar tangannya memegangi dada. Kemudian dibuatnya beberapa gerakan lemah sambil menghembuskan napas kuat-kuat.

"Hhh...!" Sambil mendengus berat, pemuda berbaju hitam itu kembali melakukan gerakan-gerakan pelan. Namun setiap kebutan tangannya menimbulkan suara gemuruh seperti gunung hendak memuntahkan laharnya. Dan tiba-tiba saja, seluruh tubuhnya jadi memerah seperti terbakar, ketika kedua tangannya yang terkepal erat di depan dada disilangkan.

"Hm...." Rangga menggumam sedikit, saat menyadari lawannya sudah mengerahkan ilmu kesaktiannya. Dua langkah kakinya ditarik ke belakang. Kemudian kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada. Lalu perlahan-lahan tubuhnya bergerak miring ke kanan, lalu bergerak lagi ke kiri. Dan ketika tubuhnya kembali tegak dengan kaki masih terpentang lebar ke samping, seketika di antara kedua telapak tangannya yang merapat di depan dada memancar seberkas cahaya biru begitu terang. Bahkan hampir membuat kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti tidak terlihat lagi.

Beberapa saat kedua pemuda yang berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang dari satu batang tombak itu saling berpandangan tajam. Seakan, mereka tengah mengukur tingkat ilmu kesaktian satu sama lain yang sudah disiapkan. Dan....

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja pemuda berbaju hitam itu berte-riak keras menggelegar, bagai guntur membelah angkasa. Dan cepat sekali kedua tangannya yang terkepal erat dihentakkan ke depan. Dan pada saat yang bersamaan....

"Aji 'Cakra Buana Sukma! Yeaaah...!"

Rangga juga membentak nyaring. Kedua tangannya langsung dihentakkan ke depan. Tepat ketika dari kedua tangan lawannya meluncur cahaya, merah bagai api, dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti juga melesat secercah cahaya biru terang yang menyilaukan mata. Cahaya biru itu langsung menyambut serangan, hingga kedua cahaya itu bertemu tepat di tengah-tengah.

Glarrr...!

Sebuah ledakan dahsyat seketika itu juga terdengar mengguncangkah bumi ini, tepat ketika dua cahaya beradu. Begitu kerasnya, hingga cahaya itu sampai berpendar ke segala arah dan menyambar beberapa pohon yang ada di dekat ajang pertarungan. Pohon-pohon seketika hancur berkeping-keping, menimbulkan ledakan keras yang beruntun memekakkan telinga.

"Oh...?!"

Pandan Wangi yang menyaksikan pertarungan jadi terperangah, ketika melihat kedua pemuda yang bertarung ilmu kesaktian sama-sama terpental ke belakang, dan jatuh bergulingan di tanah. Tapi Rangga cepat melompat bangkit berdiri tegak lagi. Sedangkan lawannya tetap menggeletak di tanah, tidak bergerak sedikit pun juga.

Beberapa saat Rangga diam memandangi lawannya yang masih tetap tergeletak tidak bergerak-gerak sedikit pun juga. Jelas sekali kalau rongga dada pemuda berbaju hitam itu terbongkar, hingga seluruh isinya terlihat jelas menghitam seperti hangus terbakar. Sementara, Rangga sudah melangkah perlahan mendekati. Dan langkahnya berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar lima depa lagi.

"Hhh...!"

Terasa begitu berat hembusan napas Pendekar Rajawali Sakti. Sementara dari belakangnya, tampak Pandan Wangi melangkah menghampiri. Dan Rangga seperti tidak mengetahui kehadiran gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut itu. Pendekar Rajawali Sakti terus berdiri mematung memandangi lawannya yang sudah terbujur kaku tidak bernyawa lagi. Dan kepalanya, baru berpaling sedikit, setelah Pandan Wangi berada di sebelah kanannya.

"Siapa dia, Kakang?" tanya Pandan Wangi langsung. Sementara matanya terus memandangi lawan Pendekar Rajawali Sakti yang sudah terbujur kaku tidak bernyawa lagi di depannya.

"Anak sulung Ki Lawung," sahut Rangga pelan, sambil menyeka keringat yang membasahi lehernya.

Pandan Wangi tersentak kaget, mendengar jawaban Rangga barusan. Sungguh tidak disangka kalau pemuda itu adalah anak sulung Ki Lawung, yang selama ini dijuluki si Iblis Pemburu Darah. Dan lebih terkejut lagi, sepertinya Rangga sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya di Desa Galibang ini. Bahkan seperti sudah tahu juga tentang orang yang menyebarkan neraka di desa ini. Begitu terkejutnya, sampai Pandan Wangi tidak dapat lagi bersuara. Dan hanya dipandanginya saja wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti, dengan sinar mata begitu sulit diartikan.

Sementara, Rangga seperti tidak mengetahui keterkejutan si Kipas Maut. Tubuhnya segera berbalik, dan melangkah pergi tanpa menghiraukan Pandan Wangi yang masih terpana. Setelah Rangga berada cukup jauh, baru Pandan Wangi tersadar. Dan cepat dikejarnya Pendekar Rajawali Sakti, lalu langkahnya disejajarkan di sampingnya. Kini mereka berjalan memasuki Desa Galibang tanpa berbicara sedikit pun juga. Entah, apa yang ada dalam kepala mereka masing-masing saat ini.

"Ke mana saja kau selama ini, Kakang? Hatiku cemas memikirkanmu. Aku khawatir kau jadi korban iblis itu," kata Pandan Wangi, memecah kebisuan yang terjadi diantara mereka.

"Maaf, aku terpaksa meninggalkanmu. Bukannya tidak percaya dengan kemampuanmu, Pandan. Tapi aku merasa, persoalan ini dapat membahayakan dirimu," kata Rangga mencoba menjelaskan.

"Tapi seharusnya kau pamit dulu, Kakang. Jadi aku tidak mencemaskanmu. Kau tahu, setiap malam aku keliling desa sambil berharap bisa bertemu denganmu. Apalagi, Ki Randata selalu mengatakan kalau kau sudah menjadi korban iblis itu," kata Pandan Wangi tetap menyesalkan sikap Rangga yang meninggalkannya begitu saja.

"Maaf..." ujar Rangga seraya tersenyum.

Mereka tidak bicara lagi, dan terus melangkah menelusuri jalan tanah berdebu yang lembab dan anyir oleh darah kering. Sementara malam terus merayap semakin larut. Dan udara juga terasa semakin dingin membekukan tubuh. Namun kedua pendekar muda dari Karang Setra itu terus berjalan, tidak mempedulikan dinginnya udara dan bau yang menyengat tercium hidung.

"Kau masih tinggal bersama Ki Randata, Pandan?" tanya Rangga.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja.

"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja...?" tanya Rangga lagi.

Kali ini Pandan Wangi langsung berhenti melangkah. Seketika dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti dengan kening agak berkerut. Rangga juga jadi berhenti melangkah, dan menatap gadis itu dengan bibir menyunggingkan senyum.

"Aku tahu, semua yang terjadi, Pandan," kata Rangga.

"Dia tidak apa-apa...?"

"Kau tahu, tapi tidak mau membantu!" dengus Pandan Wangi, jadi kesal.

"Aku akan menolong, tapi kau keburu datang. Dan kulihat, semuanya bisa kau atasi," kata Rangga kalem.

"Ki Randata hanya menderita luka luar yang tidak seberapa," kata Pandan Wangi memberi tahu.

"Syukurlah...," desah Rangga lega. Dan mereka kembali melangkah tanpa bicara lagi.

Ki Randata terkejut setengah mati, melihat Pandan Wangi datang bersama Rangga. Dia heran, Juga senang melihat Pendekar Rajawali Sakti masih hidup, tidak menjadi korban si Iblis Pemburu Darah.

Apalagi, setelah Rangga menceritakan semua yang dilakukannya selama beberapa hari ini. Dan kini dia sudah tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di Desa Galibang ini. Ki Randata hampir-hampir tidak percaya dengan semua yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Sebenarnya semua ini tidak perlu terjadi, kalau mereka tidak membangkitkan Ki Lawung dari kuburnya," kata Rangga di akhir ceritanya.

"Jadi benar Iblis Pemburu Darah itu sebenarnya sudah mati, Kakang...?" selak Pandan Wangi, ingin meyakinkan diri.

"Benar, Pandan. Ki Lawung sebenarnya sudah mati. Istri dan kedua anaknyalah yang membangkitkannya dari kematian. Mereka dendam, dan ingin membalas perbuatan penduduk desa ini pada Ki Lawung," jelas Rangga lagi.

"Tapi memang tindakan penduduk desa ini tidak bisa disalahkan, Kakang. Ki Lawung itu dukun jahat. Konon dia memang punya ilmu-ilmu hitam yang bisa digunakan untuk mencelakakan orang lain. Malah anak Ki Randata diguna-gunai, sampai mati gantung diri. Jadi sudah pantas kalau penduduk desa ini marah dan menghukumnya dengan kematian," sentak Pandan Wangi, membela perbuatan penduduk Desa Galibang.

"Sama sekali aku tidak menyalahkan penduduk desa ini, Pandan. Tapi coba lihat akibatnya.Tidak mudah berurusan dengan orang yang memiliki ilmu hitam seperti Ki Lawung. Ilmunya tidak akan pernah lenyap, walaupun sudah mati," kata Rangga.

Sementara Ki Randata sendiri hanya diam saja, mendengarkan pembicaraan kedua pendekar muda itu. Orang tua itu duduk di tepi balai-balai bambu sambil merangkul pundak Samirah. Gadis kecil itu juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga.

"Sebaiknya kita tidak perlu berselisih pendapat, Kakang. Korban sudah terlalu banyak. Dan kita berdua harus mengembalikan keadaan desa ini seperti semula. Kita harus kembalikan Ki Lawung ke dalam kuburnya, biarkan dia istirahat di sana, dan jangan sampai mengganggu ketenteraman penduduk desa ini lagi," kata Pandan Wangi mencari jalan tengah.

"Untuk mengembalikan Ki Lawung, tidak sulit dilakukan, Pandan. Yang menjadi beban pikiranku, justru istri dan anaknya yang satu lagi. Merekalah yang sekarang menguasai mayat itu," kata Rangga.

Pandan Wangi jadi terdiam. Entah apa yang ada dalam benak gadis ini. Sedangkan Rangga juga tidak mengeluarkan suara lagi. Pandangan mereka tertuju lurus ke luar, merayapi kabut tebal yang turun menyelimuti seluruh Desa Galibang. Sepanjang mata memandang, hanya kegelapan saja yang terlihat terselimut kabut tebal yang bergerak tertiup angin. Perlahan kepala Pandan Wangi bergerak berpaling, dan kembali menatap wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti di sebelahnya. Sebentar kemudian pandangannya beralih pada Ki Randata dan Samirah yang masih tetap duduk di tepi balai-balai dari bambu yang sudah lapuk itu.

"Kau tahu, di mana mereka tinggal, Kakang...?" tanya Pandan Wangi, terdengar begitu pelan suaranya. Hingga Ki Randata tidak dapat mendengarnya.

"Ya," sahut Rangga pelan, agak mendesah panjang.

"Bagaimana kalau malam ini kita datangi mereka, Kakang...?" usul Pandan Wangi, masih dengan suara begitu pelan.

Rangga tidak langsung menjawab. Malah dipandanginya kedua bola mata gadis itu dengan sinar mata begitu sulit diartikan. Pandan Wangi membalas pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata cukup tajam. Beberapa saat lamanya mereka hanya saling berpandangan, kemudian Rangga kembali mengarahkan pandangan ke luar. Langsung dihembuskannya napas panjang yang terasa begitu berat.

"Hhh...!"

"Bagaimana, Kakang...?" desak Pandan Wangi.

"Hhh...!"

Kembali Rangga hanya menghembuskan napas panjang saja. Sedikit matanya melirik ke wajah cantik di sebelahnya. Kemudian dia bangkit berdiri, dan melangkah ke ambang pintu. Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak di sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara, Pandan Wangi hanya bisa memandangi saja. Dan tidak lama kemudian dia bangkit berdiri, lalu melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Ka...." Baru saja Pandan Wangi membuka mulutnya hendak mendesak Pendekar Rajawali Sakti lagi, tiba-tiba saja terlihat sebuah bola api meluncur deras di angkasa menuju gubuk ini. Dan....

"Bawa mereka keluar, Pandan...!" seru Rangga.

"Hup...!"

Bersamaan dengan melesatnya Pendekar Rajawali Sakti keluar dari gubuk ini, Pandan Wangi langsung melesat menyambar Samirah. Dan dengan kecepatan bagai kilat dia melompat keluar, diikuti Ki Randata. Dan pada saat itu juga....

Glarrr...!

ENAM

Bola api langsung menghantam atap gubuk kecil itu, hingga terdengar ledakan begitu dahsyat. Seketika gubuk tempat tinggal Ki Randata hancur terbakar. Api menyembur ke angkasa, membawa kepingan kayu gubuk yang berhamburan bagai diamuk tangan raksasa. Sementara, Pandan Wangi yang membawa Samirah sudah berada cukup jauh dari gubuk itu bersama Ki Randata. Dan saat itu, mereka tidak lagi melihat Rangga di sini. Entah, ke mana perginya Pendekar Rajawali Sakti.

"Rumah itu ada orangnya, Ki?" tanya Pandan Wangi sambil menunjuk sebuah rumah, tidak jauh dari tempat mereka berada.

"Tidak," sahut Ki Randata. "Semua penghuninya sudah mati dibunuh iblis itu."

"Tolong bawa Samirah ke sana," kata Pandan Wangi.

"Kau sendiri...?"

"Aku akan menyusul Kakang Rangga."

Ki Randata ingin mencegah, tapi Pandan Wangi sudah mendesaknya untuk masuk ke dalam rumah itu. Tidak ada pilihan lain lagi bagi orang tua itu. Segera dibawanya Samirah masuk ke dalam rumah kecil yang gelap dan tidak berpenghuni itu. Sementara, Pandan Wangi masih tetap berdiri di tengah jalan, memandangi gubuk Ki Randata yang sudah hancur berkeping-keping. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Kemudian....

"Hup...!"

Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat hampir sempurna, Pandan Wangi langsung melesat cepat sekali. Gadis itu berlari bagai kilat ke arah Rangga tadi pergi, sehingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan baju birunya saja dalam gelap yang berselimut kabut tebal ini. Namun belum juga jauh si Kipas Maut itu berlari...

"Khraaakh...!"

"Heh...?!" Pandan Wangi tidak sempat lagi berbuat sesuatu, ketika tiba-tiba saja sebuah bayangan putih keperakan melesat dari atas dengan kecepatan bagai kilat, langsung menyambar tubuhnya diikuti suara keras dan serak. Dan saat itu juga, tubuh gadis cantik itu sudah melambung tinggi ke angkasa, terjepit cakar seekor burung rajawali raksasa yang berbulu putih keperakan.

"Rajawali, apa yang kau lakukan...?!" seru Pandan Wangi, begitu sadar apa yang terjadi pada dirinya.

"Khraaagkh...!"

"Turunkan aku, Rajawali...!" pinta Pandan Wangi.

Tapi, Rajawali Putih itu tidak mau menghiraukan permintaan si Kipas Maut. Malah gadis itu dibawa lebih tinggi, hingga menembus awan. Pandan Wangi jadi kelabakan setengah mati, dan tidak lagi berani membuka matanya. Bahkan menggerakkan tubuhnya saja tidak, ada keinginan. Dia tidak tahu, ke mana Rajawali Putih membawanya pergi. Apalagi untuk mengukur sudah setinggi apa rajawali raksasa ini membawanya terbang. Pandan Wangi hanya merasakan tubuhnya terayun-ayun, tidak tahu kalau Rajawali Putih mulai merendah terbangnya.

"Khraaagkh...!"
"Oh...?!"

Pandan Wangi jadi tersentak kaget, ketika tiba-tiba telapak kakinya terasa menyentuh sesuatu yang lembab dan dingin. Dan ketika kelopak matanya terbuka, langsung terbeliak kaget setengah mati. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu Rajawali Putih sudah menurunkannya di sebuah padang rumput yang sangat luas bagai tidak bertepi. Gadis itu terguling, ketika Rajawali Putih melepaskan cengkeramannya. Dan dengan gerakan sangat indah, Pandan Wangi melompat bangkit berdiri.

Sementara Rajawali Putih sudah mendarat tidak jauh di depannya. Kepalanya merunduk, hingga Pandan Wangi tidak perlu mendongak untuk melihat wajah burung rajawali raksasa ini.

"Siapa yang memerintahmu membawaku kesini, Rajawali?" tanya Pandan Wangi langsung.

"Aku...."
"Oh...?!"

Pandan Wangi jadi tersentak, ketika tiba-tiba terdengar jawaban atas pertanyaanya tadi, dari arah belakangnya. Cepat tubuhnya berbalik. Dan mulutnya langsung ternganga, begitu melihat Rangga tahu-tahu ada di padang rumput ini. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti sudah ada.

"Kakang...," desis Pandan Wangi pelan, hampir tidak percaya.

"Aku yang meminta Rajawali Putih membawamu ke sini, Pandan," kata Rangga.

"Untuk apa...? Kenapa kau lakukan itu...?" tanya Pandan Wangi langsung meminta penjelasan.

"Kau ingin tahu, di mana anak dan istri Ki Lawung tinggal, kan...?" Rangga malah balik bertanya.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja.

"Mereka tinggal tidak jauh dari sini," kata Rangga memberi tahu.

"Di mana ini?" tanya Pandan Wangi, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Lembah Setan," sahut Rangga.

"Apa...?!" Pandan Wangi begitu terkejut begitu nama tempat ini disebutkan. Sering kali nama Lembah Setan didengarnya. Sebuah lembah yang hanya terdiri dari padang rumput, dikelilingi bukit yang lebat oleh pepohonan. Tidak ada seorang pun yang sudi menginjakkan kakinya di lembah ini. Dan Pandan Wangi sering mendengar cerita, lembah ini dihuni makhluk aneh yang bentuknya setengah binatang, setengah lagi manusia. Entah seperti apa bentuk makhluk itu. Tapi dari kabar yang pernah didengarnya, makhluk itu sangat buas dan pemakan daging manusia. Itu sebabnya, kenapa lembah ini dinamakan Lembah Setan. Setiap orang selalu mengatakan kalau lembah ini adalah tempat berkumpulnya setan. Dan lembah ini juga letaknya tidak begitu jauh dari Desa Galibang.

"Di sekitar lembah ini mereka tinggal sekarang, Pandan," kata Rangga memberi tahu lagi, tanpa mempedulikan keterkejutan gadis itu.

"Di lembah ini...?" Pandan Wangi seperti tidak percaya.

"Ya, di lembah ini," tegas Rangga.

Pandan Wangi seperti masih belum percaya. Kembali pandangannya beredar ke sekeliling. Sunyi sekali sekitar lembah ini. Dan keadaannya juga begitu gelap. Kepalanya lantas mendongak ke atas, menatap langit pekat terselimut awan hitam. Kemudian kembali ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti yang masih berdiri dekat di depannya.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau mereka seka-rang tinggal di sini, Kakang?" tanya Pandan Wangi seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri.

"Aku sempat membuntuti anak sulung Ki Lawung sampai ke sini," jelas Rangga.

"Yang bertarung denganmu...?"

Rangga mengangguk, membenarkan pertanyaan Pandan Wangi barusan.

"Lalu, di mana mereka tinggal?"

"Di dalam hutan ini," sahut Rangga sambil menunjuk sebelah kirinya.

Pandan Wangi melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti. Tak ada yang dapat dilihat, selain kegelapan dan pepohonan yang menghitam terbungkus kabut tebal.

"Kalau begitu, kenapa harus menunggu lagi...? Kita ke sana saja sekarang, Kakang," ajak Pandan Wangi langsung.

"Tidak semudah itu, Pandan."

"Maksudmu...?"

"Mereka sudah menguasai lembah ini dan semua isinya."

"Aku tidak mengerti maksudmu, Kakang...."

"Kau pernah dengar cerita tentang Lembah Setan ini, Pandan...?"

Pandan Wangi mengangguk.

"Mereka sekarang menguasai makhluk itu."

"Mereka...?!" Untuk kedua kalinya Pandan Wangi jadi terbeliak kaget setengah mati. Hampir tidak dipercayainya apa yang baru saja didengarnya. Makhluk setengah binatang yang kabarnya sangat buas dan pemakan daging manusia itu, kini dikuasai anak dan istri Ki Lawung. Rasanya sulit dipercaya. Tapi, Pandan Wangi tidak bisa mengabaikan begitu saja ucapan Pendekar Rajawali Sakti. Dia tahu, apa yang dikatakan Rangga tidak bisa dibantah lagi. Dan Rangga tidak pernah berbohong. Apalagi menakut-nakutinya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Aku tahu semua yang mereka lakukan dan mereka rencanakan pada Desa Galibang, Pandan. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa di dalam lembah ini. Jadi kita tunggu saja mereka di Desa Galibang," kata Rangga.

Pandan Wangi kembali terdiam. Dan Rangga juga tidak bicara lagi. Pendekar Rajawali Sakti kini melangkah mendekati burung rajawali raksasa yang masih tenang menunggu. Rangga memeluk sebentar leher burung tunggangannya itu, kemudian menepuknya beberapa kali dengan lembut Rajawali Putih hanya mengkirik perlahan.

"Ayo, kita kembali ke Desa Galibang," ajak Rangga.

Tanpa menunggu jawaban lagi, Rangga langsung melompat naik ke punggung Rajawali Putih. Dan Pandan Wangi juga tidak mau membuang-buang waktu lagi. Sejak tadi, dia sudah tidak suka berada di lembah yang angker dan mengerikan ini. Gadis itu langsung melompat naik ke punggung Rajawali Putih, dan duduk di belakang Rangga.

"Ayo, Rajawali. Antarkan aku kembali ke Desa Galibang," pinta Rangga sambil menepuk leher burung rajawali raksasa tunggangannya.

"Khraaagkh...!"

Baru saja Rajawali Putih mengembangkan sayapnya, tiba-tiba saja tanah di lembah ini bergetar seperti diguncang gempa. Dan ini membuat burung rajawali raksasa itu jadi tersentak kaget, dan berteriak keras dengan kepala menengadah ke atas.

"Ada apa, Rajawali...?" tanya Rangga yang juga tarkejut.

"Khraaagkh...!" "

Hup!" Cepat dan ringan sekali, Rangga langsung melompat turun dari punggung Rajawali Putih. Dua kali tubuhnya berputaran di udara sebelum kedua kakinya menjejak tanah dengan indahnya. Sementara Pandan Wangi masih tetap berada di punggung burung rajawali raksasa itu.

"Hey..., tunggu...!"

Pandan Wangi jadi berteriak kaget, ketika tiba-tiba Rajawali Putih melesat ke angkasa, meninggalkan Rangga seorang diri di padang rumput yang merupakan lembah ini. Gadis itu berteriak-teriak meminta Rajawali Putih turun. Tapi, burung rajawali raksasa itu malah semakin melambung tinggi ke atas dan berputar-putar di atas lembah yang luas ini. Sementara Rangga tampak berdiri tegak di tengah-tengah padang rumput ini, seperti sedang menunggu sesuatu. Sedang dari angkasa, Pandan Wangi terus memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti.

"Rajawali, cepat ambil Kakang Rangga. Kita pergi dari sini...!" seru Pandan Wangi meminta.

"Khraaagkh...!"

Pandan Wangi benar-benar tidak mengerti sikap Rajawali Putih yang meninggalkan Rangga seorang diri dalam Lembah Setan itu. Berulang kali burung rajawali raksasa ini dimintanya turun dan mengambil Rangga. Tapi, tampaknya permintaan si Kipas Maut ini tidak mau didengarkannya. Dan dia terus berputar-putar di angkasa, tepat di atas kepala Rangga yang masih tetap berdiri tegak seperti menanti sesuatu.

Sementara itu, Rangga merasakan getaran seperti gempa yang mengguncang lembah ini perlahan-lahan berhenti. Dan baru saja keadaan kembali tenang, tiba-tiba saja tanah yang dipijaknya terbelah disertai suara menggemuruh.

"Hup...!"

Cepat-cepat Rangga melenting ke atas dan berputaran beberapa kali di udara. Lalu manis sekali kakinya kembali mendarat tidak jauh dari tanah yang terbelah membentuk jurang itu.

"Phuuuh...!"

Baru saja Rangga menghembuskan napas lega, tiba-tiba dari dalam tanah yang terbelah itu melesat tubuh begitu cepat ke atas. Lalu....

"Heh...?!" Rangga jadi tersentak kaget setengah mati, hingga terlompat ke belakang sejauh lima langkah. Dan begitu kakinya menjejak tanah, di depannya sudah berdiri sesosok makhluk yang bentuknya sangat aneh dan mengerikan sekali. Hampir Rangga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Bentuk tubuh makhluk itu benar-benar sukar dipercaya keberadaannya di dunia ini. Kepalanya berbentuk seekor singa, memiliki sepasang tanduk seperti kerbau. Sedangkan tubuhnya seperti manusia, namun memiliki ekor seperti kera. Anehnya..., kedua kakinya begitu sama dengan kaki kuda. Dia mengenakan cawat dari kulit kayu yang menutupi bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah. Sebuah gada berukuran besar dan berduri tampak tergenggam di tangan kanannya.

"Jagat Dewat Batara.... Makhluk apa ini...?" desis Rangga bernada tidak percaya pada penglihatannya sendiri.

"Ghrrr...!" Sambil menggereng kecil, makhluk yang bentuknya mengerikan itu melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Kedua bola matanya yang bulat dan merah seperti mata kerbau, menatap tajam pada Rangga. Seakan, dia ingin melumat tubuh Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar matanya yang seperti api.

"Ghraaagkh...!"

Tiba-tiba saja makhluk aneh mengerikan itu menggerung dahsyat, membuat lembah ini jadi bergetar seperti diguncang gempa. Dan saat itu juga, bagaikan kilat tubuhnya yang kekar melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup...!"

Cepat-cepat Rangga melenting ke belakang sambil berputaran beberapa kali, menghindari serangan makhluk aneh ini. Tapi begitu kakinya menjejak tanah, gada berukuran besar dan berduri sudah melayang deras sekali mengarah ke kepala.

"Upths...!"

Hampir saja gada berduri itu menghantam kepala, kalau saja Rangga tidak cepat menarik kakinya ke belakang satu langkah. Dan ujung. gada yang bulat berduri tajam itu hanya lewat sedikit saja di depan Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu, juga Rangga merasakan hempasan angin yang begitu kuat, membuat tubuhnya jadi terhuyung sedikit ke belakang. Tapi keseimbangan tubuhnya cepat bisa dikuasai kembali, sebelum makhluk aneh setengah binatang itu melancarkan serangan lagi.

"Ghrrr...!"

Sambil menggereng seperti harimau kelaparan, makhluk aneh berkepala singa dan bertubuh manusia itu kembali melompat cepat sambil mengayunkan gada berdurinya ke kepala Pendekar Rajawali Sakti.

Wut!

"Haiiit..!"

Kali ini Rangga cepat melompat ke belakang, dan langsung membungkukkan tubuhnya sedikit. Dan begitu gada berduri itu lewat di atas kepala, cepat sekali tubuhnya berputar. Lalu bagaikan kilat dilepaskannya satu tendangan menggeledek, disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan.

"Yeaaah...!"

Begitu cepatnya tendangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga makhluk aneh ini tidak dapat lagi berkelit. Maka tendangan bertenaga dalam sempurna itu tepat menghantam perut makhluk aneh berkepala singa ini.

Begkh!

"Ghraaaugkh...!"

Makhluk setengah binatang itu menggerungkeras. Tubuhnya kontan terbungkuk dan terhuyung-huyung kebelakang. Sementara, Rangga sudah cepat sekali melompat ke atas sambil berteriak keras menggelegar. Dan saat itu juga, tubuhnya menukik begitu deras dengan kedua kaki berputar cepat mengarah ke kepala makhluk aneh ini.

"Hiyaaa...!"

Cepat sekali serangan Pendekar Rajawali Sakti, hingga....

Plak!
"Aaargkh...!"

Makhluk aneh itu sama sekali tidak dapat menghindari serangan Pendekar Rajawali Sakti. Begitu kerasnya tendangan lewat jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' ini, membuat makhluk aneh itu meraung keras. Tubuhnya kontan berputaran sambil memegangi kepala. Tampak darah merembes keluar dari sela-sela jari tangan yang memegangi kepala berbentuk seekor singa itu. Sementara, Rangga sudah kembali berdiri tegak sekitar satu batang tombak jauhnya di depan lawannya yang aneh ini.

Walaupun dengan kepala retak berlumur darah, tapi makhluk aneh mengerikan itu masih kelihatan kuat. Bahkan kembali melangkah dengan hentakan kaki begitu berat, menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Sambil menggerung keras, makhluk aneh berkepala singa itu langsung menghantamkan gada berdurinya, tepat mengarah ke kepala pemuda berbaju rompi putih ini.

Bet!
"Haiiit..!"

Namun dengan gerakan meliuk begitu indah, Rangga bisa menghindarinya. Dan kembali tubuhnya melesat ke atas. Lalu cepat sekali kedua tangannya bergerak mengibas, menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Cepat sekali gerakan tangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga makhluk aneh berkepala singa ini kembali tidak dapat menghindarinya. Dan...

Plak!
Des!
"Aaargkh...!"

Kembali terdengar raungan keras, begitu kedua tangan Rangga keras sekali menghantam batang leher dan dada makhluk itu. Karena disertai pengerahan tenaga dalam sempurna, maka makhluk aneh berkepala singa itu kembali terhuyung-huyung ke belakang.

"Hiyaaa...!"

Dan begitu kakinya menjejak tanah, saat itu juga Rangga sudah melesat lagi. Dan kali ini tangan kanannya terlihat memerah seperti mengeluarkan api. Jelas, saat ini Rangga mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.

Begkh!
"Aaargkh...!"

Makhluk aneh berkepala singa itu kembali meraung dahsyat, begitu pukulan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dadanya. Dan Rangga kembali melesat berputaran ke belakang, setelah pukulan mautnya menghantan dada lawannya. Sementara, makhluk aneh berkepala singa itu terus menggerung-gerung merasakan sakit yang amat sangat di dadanya, akibat terkena pukulan dahsyat Pendekar Rajawali Sakti tadi.

Sementara, Rangga berdiri tegak memandangi makhluk itu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Makhluk aneh berkepala singa itu terus menggerung-gerung kesakitan. Suaranya yang keras, membuat lembah ini jadi bergetar!

"Hhh! Alot sekali dia...," dengus Rangga dalam hati, menilai lawannya yang memang sangat kuat.

Walau dengan kepala retak dan dada melesak masuk ke dalam, makhluk aneh berkepala singa itu ternyata kembali melangkah dengan ayunan kaki begitu berat, menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Dan begitu jaraknya tinggal beberapa langkah lagi, cepat gada berdurinya diayunkan.

Wut!
"Haiiit..!"

Rangga cepat-cepat melompat ke belakang, menghindari sambaran gada berduri. Dan tubuhnya terpaksa harus berjumpalitan, menghindari serangan-serangan yang kali ini datang begitu cepat dan beruntun. Namun dengan menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', Rangga jadi begitu sulit ditaklukkan. Malah tidak ada satu serangan pun yang bisa mendarat di tubuh Pendekar Rajawali Sakti

"Hup! Hiyaaat...!"

Tiba-tiba saja Rangga melenting ke atas, tepat ketika gada berduri lawannya berkelebat mengarah ke kaki. Dan saat itu juga....

Cring!

Lembah yang semula gelap gulita mendadak saja jadi terang benderang, begitu Rangga mencabut pedang pusakanya dari warangka di punggung. Dan bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu menukik. Seketika pedangnya dibabatkan begitu cepat, hingga bentuknya lenyap dari pandangan. Yang terlihat kini hanya kelebatan cahaya biru yang memancar dari mata pedang itu. Demikian cepat serangan balik Pendekar Rajawali Sakti, sehingga makhluk aneh berkepala singa itu tidak dapat lagi menghindarinya. Dan....

Cras! Bres...!
"Aaargkh...!"

Kembali terdengar raungan yang begitu keras memekakkan telinga, dan kali ini lebih keras dan panjang sekali. Tampak darah mengalir begitu deras dari dada dan leher makhluk aneh berkepala singa ini. Rupanya, sambaran pedang Pendekar Rajawali Sakti tepat menyambar dada dan leher lawannya.

Sementara, Rangga sendiri sudah berdiri tegak dengan pedang yang bercahaya biru terang itu melintang di dada. Sorot matanya tidak lepas memperhatikan makhluk berkepala singa itu. Beberapa kali makhluk aneh berkepala singa itu masih bisa berdiri, walaupun sudah terhuyung-huyung. Bahkan gadanya tidak dapat lagi diangkat, hingga langsung jatuh tidak jauh dari ujung kakinya yang seperti kaki kuda itu. Lalu tidak lama kemudian....

Bruk!

Keras sekali makhluk aneh berkepala singa itu jatuh menggelepar di tanah. Dia menggerung-gerung, membuat darah dari luka di lehernya yang menganga lebar, semakin deras mengalir membasahi rerumputan ini. Dan tidak lama kemudian, makhluk aneh berkepala singa itu tak berkutik lagi.

Cring!

Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka dipunggung. Kemudian kakinya melangkah menghampiri makhluk aneh berkepala singa yang sudah diam tidak bergerak-gerak lagi itu. Sejenak Rangga memastikan kalau makhluk aneh mengerikan itu sudah tidak bernyawa lagi.

"Hhh...!"
Khraaagkh...!"

Rangga mendongak melihat Rajawali Putih meluruk turun dari angkasa dengan cepat sekali. Di punggung burung rajawali raksasa itu terlihat Pandan Wangi. Sebentar saja, Rajawali Putih sudah mendarat tidak jauh dari pemuda berbaju rompi putih ini. Dan saat itu Pandan Wangi melompat turun, langsung berlari menghampiri Rangga. Begitu telah berdiri di sebelah kanan Rangga, sejenak gadis itu memandangi makhluk aneh yang terbujur kaku tidak bernyawa lagi di depannya.

TUJUH

Dari angkasa tadi, Pandan Wangi melihat semua pertarungan Pendekar Rajawali Sakti melawan makhluk aneh mengerikan berkepala singa ini. Pertarungan yang membuatnya harus menahan napas, khawatir kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa menghadapi makhluk buas mengerikan ini. Pandan Wangi berpaling perlahan, menatap Rangga yang masih terus memandangi makhluk aneh setengah binatang itu.

"Inikah makhluk yang ditakuti itu, Kakang...?" tanya Pandan Wangi, agak bergetar suaranya.

"Mungkin...," sahut Rangga agak mendesah.

"Apa masih ada yang lain?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Entahlah...."

Mereka kembali terdiam membisu beberapa saat, memandangi makhluk aneh berkepala singa yang sudah tidak bernyawa lagi. Perlahan Rangga menarik napas dalam-dalam, dan menghembus-kannya kuat-kuat.

"Kau kembali saja ke Desa Galibang, Pandan," kata Rangga, terdengar begitu pelan suaranya.

"Kau sendiri...?"

"Aku akan menghentikan mereka. Terlalu berbahaya kalau dibiarkan saja," kata Rangga tegas.

"Kita hadapi mereka bersama-sama, Kakang," kata Pandan Wangi, tegas-tegas menolak permintaan Pendekar Rajawali Sakti.

Sebentar Rangga berpaling menatap gadis itu. Dia tahu, bila Pandan Wangi sudah berkata seperti itu, sulit disanggah lagi. Tidak mungkin bisa membujuknya lagi untuk kembali ke Desa Galibang. Sedikit Rangga menghembuskan napas, namun terasa begitu berat hembusannya. Sedangkan Pandan Wangi hanya diam saja, menatap lurus ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu dengan sinar mata tajam.

"Ayolah...," akhirnya Rangga menyerah juga. Pandan Wangi langsung mengembangkan senyum. Dia sudah tahu, Rangga pasti akan menyerah juga, sehingga tidak akan mungkin mendesaknya kembali ke Desa Galibang. Sementara itu Rangga sudah melangkah menghampiri Rajawali Putih.

"Kau ikuti dari atas, Rajawali. Perhatikan sekitar lembah ini. Beritahu aku kalau melihat sesuatu yang mencurigakan," kata Rangga meminta.

"Khrrrkh...!"

Rajawali Putih mengangguk sambil mengeluarkan suara mengkirik yang begitu pelan. Seakan, semua yang diucapkan Rangga padanya bisa dimengerti. Dan Rangga kembali menghampiri Pandan Wangi. Sementara itu, Rajawali Putih sudah melambung tinggi ke angkasa, tanpa memperdengarkan suara sedikit pun.

"Ayo, Pandan...," ajak Rangga.

Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu tidak mau lagi membuang-buang waktu. Mereka langsung berjalan cepat melintasi padang rumput luas, yang merupakan sebuah lembah ini. Tidak ada seorang pun yang bersuara lagi. Mereka berjalan cepat, mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi. Sehingga dalam waktu sebentar saja, mereka sudah tiba di tepi padang rumput yang langsung berbatasan dengan hutan lebat. Saat itu Rangga menghentikan ayunan kakinya. Pandan Wangi mengikuti, dan berhenti tepat di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti. Sebentar mereka terdiam, memandangi pepohonan yang sangat rapat didepannya. Yang seperti menghadang langkah mereka.

"Di atas sana mereka tinggal, kata Rangga sambil memandangi ke puncak bukit yang tidak begitu tinggi.

"Ayo kita ke sana, Kakang. Jangan sampai mereka mengambil korban lagi," ajak Pandan Wangi tidak sabar.

Tanpa bicara lagi, kedua pendekar muda itu langsung saja mengayunkan kaki, menembus hutan yang sangat lebat dan tidak pernah terjamah kaki manusia. Mereka terus mengerahkan ilmu meringankan tubuh, hingga pepohonan yang sangat rapat ini sia-sia bila menghalangi kedua pendekar muda itu.

Sementara malam terus merayap semakin la-rut. Dan udara pun semakin terasa dingin menggigilkan. Tapi kedua pendekar muda dari Karang Setra itu tidak lagi menghiraukan gelapnya malam dan dinginnya udara yang menyelimuti seluruh bukit di Lembah Setan ini.

"Itu gubuk mereka," tunjuk Rangga sambil menuding sebuah gubuk kecil yang sudah terlihat tidak berapa jauh lagi dari tempat mereka berdiri di puncak bukit ini.

Pepohonan tidak begitu rapat lagi dan puncak bukit ini. Bahkan terlihat agak lapang. Sehingga gubuk kecil yang berdiri di tengah-tengah bukit ini dapat terlihat jelas, walaupun kabut yang menyelimuti cukup tebal. Sedikit Rangga mendongak ke atas. Tampak bibirnya tersenyum melihat Rajawali Putih masih terlihat di angkasa. Hatinya jadi lebih tenang, melihat burung rajawali raksasa tunggangannya masih mengikutinya.

"Kau tunggu dulu di sini, Pandan. Aku akan melihat keadaan di sekitar gubuk itu," kata Rangga.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja sedikit. Sementara, Rangga sudah melangkah mendekati gubuk kecil yang semua dindingnya terbuat dari belahan kayu pohon jati. Atapnya pun terbuat dari anyaman daun jerami kering. Dan, Pandan Wangi yang disuruh menunggu hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sedangkan Rangga terus melangkah perlahan-lahan, semakin dekat dengan gubuk yang kelihatannya seperti tidak berpenghuni itu. Namun ketika jaraknya tinggal sekitar satu batang tombak lagi, tiba-tiba saja....

Slap!
"Hup...!"

Cepat Rangga melenting ke atas, ketika tiba-tiba dari dalam gubuk itu melesat sebuah bulatan sebesar kepala yang mengeluarkan api. Begitu cepat bola api itu meluncur, hingga hampir saja menghantam tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Untung saja tubuhnya cepat melompat ke atas menghindarinya. Maka bola api itu hanya lewat sedikit di bawah telapak kaki Pendekar Rajawali Sakti, dan terus melesat cepat bagai kilat menghantam sebatang pohon yang sangat besar, tidak jauh di belakang Rangga.

Glarrr...!

Satu ledakan dahsyat seketika terdengar, dari pohon yang hancur terhantam bola api. Sementara Rangga sendiri sudah kembali menjejakkan kakinya di tanah. Namun belum juga bisa menegakkan tubuhnya kembali, dari dalam gubuk itu kembali melesat sebuah bola api.

Wusss!
Hap!"

Cepat Rangga menarik tubuhnya ke kanan, hingga terjangan bola api itu dapat dihindarinya. Maka kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar, saat bola api itu menghantam pohon lagi, hingga hancur berkeping-keping.

"Hap! Yeaaah...!"

Rangga tidak ingin lagi membuang-buang waktu dan tenaga. Cepat kedua tangannya yang terkepal menjadi satu dihentakkan ke depan. Dan saat itu juga, dari kedua kepalan tangannya yang menjadi satu melesat secercah cahaya merah membara seperti api. Namun belum juga cahaya merah itu bisa menghantam gubuk ini, sudah melesat sebuah bola api yang langsung menyambutnya. Hingga....

Glarrr...!

Satu ledakan dahsyat seketika itu juga terjadi, ketika cahaya merah yang memancar dari kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti berbenturan dengan bola api yang keluar dari dalam gubuk ini. Tampak kilatan bunga api menyebar ke segala arah, disertai kepulan asap merah membubung tinggi di angkasa.

Dan belum juga gumpalan asap merah itu le-nyap terbawa angin, sudah terlihat sebuah bayangan hitam berkelebat begitu cepat keluar dari dalam gubuk itu. Dan tahu-tahu, di depan Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri tegak seorang laki-laki tua yang wajahnya sudah hancur penuh benjolan-benjolan merah mengeluarkan cairan kental berbau busuk. Jubah hitam yang dikenakannya sangat longgar. Membuat sosok orang tua itu kelihatan lebih mengerikan lagi.

"Ki Lawung...," desis Rangga langsung bisa mengenali orang tua berjubah hitam itu.

"Yeaaah...!"

Tanpa bicara lagi, Ki Lawung langsung melompat bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Namun Rangga yang sudah siap sejak tadi, langsung menarik kakinya hingga merentang ke samping. Dan kedua tangannya yang sudah terkepal di samping pinggang, seketika juga dihentakkan ke depan, tepat mengarah ke tubuh Ki Lawung yang sedang melesat cepat menerjang. Saat itu juga, meluncur secercah cahaya merah dari kepalan tangan Pandan Wangi dengan kecepatan bagai kilat, menyongsong serangan orang tua berjubah hitam itu.

Begitu cepat serangan Pendekar Rajawali Sakti, hingga orang tua berjubah hitam yang sebenarnya sudah mati ini tidak sempat lagi menghindarinya. Dan....

Blegkh!
"Aaargkh...!"

Ki Lawung jadi menggerung keras, seperti binatang buas begitu cahaya merah yang memancar dari kedua kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam tepat dadanya. Seketika tubuh orang tua yang sebenarnya sudah mati itu jadi terpental deras ke belakang, lalu keras sekali menghantam tanah berumput lembab oleh embun ini. Dan beberapa kali tubuhnya bergulingan. Dan dengan gerakan indah sekali, dia melompat bangkit berdiri. Tampak dadanya seperti hangus terbakar, dengan asap kemerahan mengepul di sekitar dadanya yang terhantam pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir yang dilepaskan Rangga tadi.

Tapi orang tua itu masih saja tetap berdiri tegak. Seakan, pukulan yang dilepaskan Rangga tadi, tidak membuat dirinya terpengaruh sedikit pun juga. Bahkan kelihatannya malah semakin buas saja.

"Ghrrr...!"

Sambil menggereng dingin seperti binatang buas, makhluk aneh ini melangkah perlahan-lahan menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang menjadi lawannya. Sementara itu, Pandan Wangi hanya bisa mengawasi dari jarak yang cukup jauh. Jelas sekali terlihat dari raut wajahnya, kalau gadis itu mengkhawatirkan Rangga yang kini sedang berhadapan dengan si Iblis Pemburu Darah. Entah apa, tindakan Rangga untuk menghadapi iblis itu. Sedangkan Pandan Wangi sendiri masih belum bisa mengerti, kenapa Iblis Pemburu Darah itu seperti takut melihat Pedang Naga Geni yang tersampir di punggungnya.

"Hati-hati, Kakang...! Dia kebal senjata...!" seru Pandan Wangi memperingatkan.

Sebenarnya Rangga sudah tahu, walaupun Pandan Wangi tidak memperingatkannya. Dan Pendekar Rajawali Sakti juga tidak ingin lagi membuang-buang waktu dan tenaga untuk menghadapi mayat hidup ini. Maka langsung pedang pusakanya yang tersampir di punggung dicabut

Cring...!

Malam yang semula begitu gelap, seketika jadi terang benderang oleh cahaya yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang kini sudah berada dalam genggaman tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan saat itu juga, Ki Lawung yang selama ini disebut Iblis Pemburu Darah langsung menghentikan langkahnya.

Wajah mayat hidup yang semula merah seperti terbakar ini seketika itu juga memucat begitu melihat pedang yang berada dalam genggaman Pendekar Rajawali Sakti. Pedang yang berpamor dahsyat, memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan mata. Bahkan Ki Lawung menarik kakinya ke belakang.

"Hm.... Kenapa dia takut melihat pedangku...?" gumam Rangga jadi heran sendiri dalam hati.

Sementara Pandan Wangi yang menyaksikan dari jarak yang cukup jauh, juga jadi heran melihat mayat hidup itu sepertinya takut terhadap pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan sikapnya sama seperti ketika melihat Pedang Naga Geni yang mengeluarkan cahaya merah seperti api.

"Iblis itu pasti takut melihat cahaya. Pantas..., dia selalu muncul malam hari. Sehingga korban yang dipilih adalah yang tidak menyalakan lampu. Hhh...! Kesempatan untuk memusnahkannya. Aku tahu, bagian mana yang bisa membuatnya kembali masuk ke lubang kubur...," dengus Pandan Wangi dalam hati.

Dan tanpa berpikir panjang lagi, gadis cantik yang dijuluki si Kipas Maut itu langsung melompat cepat sekali. Dan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah hampir sempurna langsung dipergunakan. "Hiyaaat...!"

"Pandan...!" sentak Rangga terkejut, melihat Pandan Wangi tiba-tiba saja melesat cepat sekali sambil mencabut Pedang Naga Geni.

Bet!

Bagaikan kilat, Pandan Wangi mengebutkan pedang ke arah leher si Iblis Pemburu Darah Ini. Tapi, tebasannya mudah dapat dihindari Ki Lawung, dengan hanya mengegoskan kepala sedikit saja. Dan saat itu juga tangan kanannya mengibas cepat, mencoba menghujamkan kuku-kukunya yang runcing dan hitam ke tubuh si Kipas Maut ini.

"Haiiit...!"
Wut!

Tapi cepat sekali Pandan Wangi memutar pedangnya, dan langsung menyabetkannya ke arah tangan yang hendak menyambar tubuhnya. Begitu cepat tebasannya, hingga membuat Ki Lawung tak sempat lagi menarik tangannya kembali. Dan...

Cras!
"Aaargkh...!"

Ki Lawung jadi menggerung keras, begitu Pedang Naga Geni menebas tangannya. Dan pada saat itu juga, Pandan Wangi sudah melenting ke atas. Lalu dengan kecepatan kilat, tubuhnya menukik deras sambil menghujamkan ujung pedangnya, tepat ke bagian tengah atas kepala si Iblis Pemburu Darah itu.

"Mampus kau, Iblis! Hiyaaat..!"

Sungguh luar biasa gerakan Pandan Wangi. Sehingga, Iblis Pemburu Darah itu tidak dapat lagi menghindarinya. Maka pedang bercahaya merah seperti api itu langsung menembus batok kepala laki-laki tua yang sebenarnya sudah mati ini.

Bres...!
"Aaargkh...!"

Kembali Ki Lawung menggerung keras, begitu ubun-ubun kepalanya tertembus Pedang Naga Geni yang dihujamkan Pandan Wangi. Dan ketika pedang itu dicabut, seketika menyembur darah berwarna hitam pekat yang berbau busuk dari Ujung kepala mayat hidup itu.

"Hup!"

Pandan Wangi cepat-cepat melenting ke belakang, sambil berputaran beberapa kali di udara. Lalu manis sekali kakinya kembali menjejak tanah, tidak jauh dari tempat Rangga berdiri. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti masih menggenggam pedangnya di depan dada.

Sementara Ki Lawung terhuyung-huyung sambil meraung keras bagai seekor binatang buas terluka. Seluruh wajahnya sudah berlumuran darah hitam berbau busuk, yang terus menyembur dari ubun-ubunnya.

Beberapa saat Ki Lawung masih bisa berdiri, kemudian tubuhnya limbung dan ambruk menggelepar ke tanah. Dia terus menggerung-gerung dan menggelepar seperti ayam disembelih. Tapi tidak lama kemudian, tubuhnya mengejang kaku dan diam tidak bergerak-gerak lagi. Darah terus berhamburan dari ubun-ubun batok kepalanya yang berlubang, akibat tertembus Pedang Naga Geni tadi.

"Sekarang tinggal cari anak dan istrinya, Kakang," kata Pandan Wangi.

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedikit.

Pendekar Rajawali Sakti memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung, sehingga membuat keadaan sekitarnya kembali terselimut kegelapan. Cahaya terang yang memancar dari pedang itu memang langsung lenyap, begitu Pedang Pusaka Rajawali Sakti tenggelam dalam warangkanya. Pandan Wangi juga menyarungkan kembali pedangnya di punggung. Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka sama-sama melangkah mendekati gubuk kecil itu.

DELAPAN

Baru saja Rangga dan Pandan Wangi berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja gubuk kecil itu meledak memperdengarkan suara keras dan dahsyat. Seketika bukit ini jadi bergetar hebat, begai diguncang gempa dahsyat. Dan kedua pendekar itu langsung berlompatan ke belakang, sambil berputaran di udara untuk menghindari pecahan kayu gubuk itu.

Bersamaan Pandan Wangi dan Rangga menjejakkan kembali di tanah. Dan mereka jadi saling berpandangan, melihat gubuk itu tiba-tiba saja meledak, hancur berkeping-keping sebelum didekati. Api langsung berkobar, membakar reruntuhan gubuk yang meledak hancur berkeping-keping.

"Kenapa gubuk itu bisa meledak sendiri?" desis Pandan Wangi bernada bertanya pada diri sendiri.

Rangga sendiri tidak tahu, apa yang menyebabkan gubuk itu meledak begitu dahsyat. Tapi dari pecahan kayu gubuk yang disertai semburan api membubung tinggi ke angkasa, Rangga melihat adanya beberapa potongan tubuh manusia melambung tinggi ke angkasa.

Sulit dipastikan, potongan tubuh siapa itu. Namun Rangga menduga, itu potongan tubuh istri dan anak Ki Liwung. Mereka bunuh diri bersama ledakan gubuk itu saat Ki Lawung yang dibangkitkan kembali dari dalam kubur bisa dimusnahkan. Rupanya mereka lebih memilih mati, daripada harus berhadapan dengan kedua pendekar tangguh dan digdaya ini. Dan mereka juga tidak ingin dibawa kembali ke Desa Galibang, untuk diadili. Mereka tahu, tentu akan mendapatkan hukuman mati di Desa Galibang. Makanya mereka lebih memilih mati dengan menghancurkan diri sendiri, daripada harus mati di tiang gantungan.

"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas berat. Sama sekali tidak diduga kalau akan seperti ini jadinya. Semula maksudnya memang ingin membawa anak dan istri Ki Lawung kembali ke Desa Galibang untuk diadili. Tapi semua keinginan itu tidak bisa terlaksana, karena ibu dan anak itu diduga menghancurkan diri sendiri, setelah tahu Ki Lawung bisa dibinasakan.

"Ayo, Pandan. Kita kembali ke Desa Galibang," ajak Rangga.

Kedua pendekar itu berbalik secara bersamaan. Tapi saat itu juga, kedua bola mata mereka jadi terbeliak lebar. Tubuh Ki Lawung yang tadi tergeletak di tanah, kini sudah tidak ada lagi. Dan yang terlihat hanya tumpukan daging busuk yang menyebarkan bau tidak sedap.

"Ayo, Pandan. Tinggalkan tempat ini..," ajak Rangga bergegas.

Pandan Wangi cepat-cepat mengayunkan kakinya, mengikuti Pendekar Rajawali Sakti yang sudah melangkah lebih dahulu. Mereka berjalan cepat, mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi menuruni puncak bukit ini. Cepat sekali mereka bergerak. Sehingga dalam waktu tidak begitu lama, sudah sampai di kaki bukit ini yang langsung berbatasan dengan padang rumput Lembah Setan. Namun ketika mereka baru saja memasuki lembah itu, mendadak saja....

"Pandan, awas...!"

"Heh...?! Hap!"

Untung saja Pandan Wangi cepat melompat ke belakang, hingga terhindar dari terjangan bayangan hitam yang berkelebat begitu cepat di depannya. Sementara, Rangga sudah lebih dulu melompat ke belakang, sambil berputar dua kali di udara. Dan saat mereka sudah kembali menegakkan tubuh, sekitar satu batang tombak di depan telah berdiri seorang perempuan tua yang rambutnya sudah memutih semua.

Perempuan tua itu mengenakan baju jubah hitam yang longgar. Sebatang tongkat kayu yang tidak beraturan tampak tergenggam erat di tangan kanannya. Sorot matanya terlihat begitu tajam, langsung menatap Pandan Wangi yang berdiri di samping kiri Pendekar Rajawali Sakti. Seakan-akan dia hendak melumatkan tubuh si Kipas Maut ini dengan sorot matanya.

"Jangan harap kalian bisa pergi begitu saja, setelah membunuh suami dan kedua anakku...!" dengus perempuan tua itu dingin menggetarkan.

"Hmmm...," Rangga menggumam pelan.

Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerti, tentu perempuan tua ini adalah Nyai Lawung, istri Ki Lawung si Iblis Pemburu Darah. Rupanya, dia tidak ikut hancur bersama gubuknya yang meledak tadi. Jadi, potongan tubuh mereka yang terlihat bersama hancurnya gubuk di puncak bukit tadi, adalah anaknya yang bungsu saja. Dan sekarang, Nyai Lawung akan membalas kematian keluarganya pada kedua pendekar dari Karang Setra ini.

"Siapa kau...?!" tanya Pandan Wangi membentak.

"Aku istri Ki Lawung yang akan menuntut balas pada kalian berdua, karena telah mencampuri urusanku!" sahut Nyai Lawung juga membentak ketus.

"Oh..., jadi kau iblis perempuannya...," sinis sekali nada suara Pandan Wangi.

Nyai Lawung jadi menggereng, mendengar kata-kata sinis itu. Sorot matanya semakin tajam memerah menatap Pandan Wangi. Kemudian kakinya terayun beberapa langkah ke depan.

Sret!

Pandan Wangi cepat mencabut senjata kipas mautnya, dan langsung dikembangkan di depan dada. Sementara, Rangga hanya diam saja memperhatikan. Seakan Pendekar Rajawali Sakti ingin memberi kesempatan pada Pandan Wangi untuk menghadapi perempuan tua itu. Malah, perlahan kakinya ditarik ke belakang.

"Mampus kau, Bocah! Hiyaaat...!"

Tiba-tiba saja perempuan tua berjubah hitam itu membentak nyaring. Dan seketika itu juga, tubuhnya melesat cepat sambil mengebutkan tongkatnya ke arah kepala Pandan Wangi.

Bet!
"Haiiit...!"

Namun si Kipas Maut yang sudah siap sejak tadi, mudah sekali menghindari sabetan tongkat itu hanya dengan menarik kepala sedikit ke belakang. Tapi pada saat itu juga, Nyai Lawung melepaskan satu tendangan keras, sambil berputar.

"Hap!" Cepat-cepat Pandan Wangi melompat ke belakang dua langkah, menghindari tendangan kaki kiri perempuan tua itu. Dan hanya menjejakkan sedikit ujung jari kakinya saja, Pandan Wangi langsung melesat ke atas. Langsung dilewatinya kepala Nyai Lawung. Lalu bagaikan kilat, senjata kipasnya yang sejak tadi sudah terkembang langsung dikebutkan, tepat mengarah ke bagian atas kepala perempuan tua ini.

"Hih...!"
Wut!

Nyai Lawung langsung memutar tongkatnya ke atas kepala, hingga Pandan Wangi terpaksa harus menarik kembali serangannya. Dua kali gadis itu berputaran diudara, kemudian manis sekali kembali menjejakkan kaki di tanah. Jaraknya hanya sekitar lima langkah di depan perempuan tua berjubah hitam ini.

"Hap!"

Pandan Wangi langsung mengembangkan Kipas Mautnya di depan dada. Sementara, Nyai Lawung menggenggam tongkatnya dengan kedua tangan. yang menjulur lurus ke depan. Lalu perlahan tongkat itu diangkat ke atas kepala, sambil merentangkan kedua kakinya ke samping.

"Hiyaaat...!" Sambil berteriak nyaring melengking tinggi, Nyai Lawung melompat cepat sekali. Langung tongkatnya diputar menyambar beberapa bagian tubuh yang mematikan dari lawannya. Namun saat itu juga, Pandan Wangi melentingkan tubuhnya yang kemudian meliuk-liuk di udara, menghindari setiap sabetan tongkat perempuan tua ini.

Entah berapa kali tongkat Nyai Lawung hampir menghantam tubuh si Kipas Maut ini. Namun dengan gerakan begitu indah sekali, Pandan Wangi bisa menghindarinya. Tapi setelah beberapa serangan berlalu, Pandan Wangi jadi kelabakan juga. Terpaksa tubuhnya harus jungkir balik, menghindari serangan yang datang begitu gencar, dengan kecepatan sukar diikuti pandangan mata biasa. Begitu tinggi pengerahan tenaga dalam yang disalurkan pada tongkat perempuan tua itu. Sehingga setiap kali kebutan tongkat kayu hitamnya menimbulkan angin menderu bagai badai topan.

"Yeaaah...!" Tiba-tiba saja Nyai Lawung berteriak nyaring. Lalu bagaikan kilat, tubuhnya melesat sambil menghantamkan tongkatnya ke kepala si Kipas Maut ini.

Bet!

"Haiiit..!" Cepat-cepat Pandan Wangi merunduk, hingga tebasan tongkat itu tidak sampai menghantamnya. Namun pada saat yang hampir bersamaan, tangan kiri Nyai Lawung bergerak begitu cepat menyodok ke arah dada si Kipas Maut ini. Begitu cepat sodokannya, hingga membuat kedua bola mata Pandan Wangi jadi terbeliak lebar. Namun dengan cepat senjata kipasnya ditarik ke depan dada, hingga....

Plak!

"Ikh...?!" Nyai Lawung jadi terpekik kaget setengah mati, begitu sodokan tangan kirinya menghantam kipas putih keperakan yang terkembang di depan dada gadis ini. Cepat tubuhnya melenting berputaran beberapa kali ke belakang. Bibirnya tampak meringis, merasakan nyeri pada tulang-tulang jari tangan kirinya yang menghantam senjata kipas gadis cantik lawannya. Hampir tidak dipercaya kalau kipas yang kelihatan biasa itu ternyata memiliki kekuatan dahsyat!

"Keparat..! Kubunuh kau, Bocah Edan! Hiyaaat..!"

Nyai Lawung jadi marah setengah mati. Tanpa menghiraukan jari-jari tangannya yang nyeri, perempuan tua itu kembali melompat menyerang si Kipas Maut. Tongkatnya diputar cepat sekali, hingga menimbulkan suara angin menderu-deru menggetarkan jantung. Dan Pandan Wangi terpaksa harus berjumpalitan kembali, menghindari serangan-serangan cepat dan beruntun.

Entah berapa jurus sudah berlalu, tapi tampaknya pertarungan belum juga ada tanda-tanda bakal berakhir. Namun serangan-serangan Nyai Lawung semakin dahsyat dan berbahaya saja. Kebutan tongkatnya juga begitu cepat, hingga sulit diikuti mata biasa. Namun, tampaknya Pandan Wangi masih bisa menghadapinya dengan sikap sangat tenang.

Bahkan sesekali Pandan Wangi melancarkan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Sehingga membuat Nyai Lawung jadi kelabakan juga menghadapinya. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti yang hanya bisa menyaksikan pertarungan, jadi tersenyum-senyum. Entah apa arti senyumannya.

"Hiyaaat...!" Saat itu, terlihat Pandan Wangi melompat ke atas, tepat di saat tongkat Nyai Lawung mengibas ke kaki. Dan di saat tongkat itu lewat di bawah telapak kaki, tanpa diduga sama sekali Pandan Wangi cepat memutar tubuhnya. Dan saat itu juga, dilepaskannya satu tendangan menggeledek yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hiyaaa...!" Begitu cepat tendangan si Kipas Maut itu, hingga Nyai Lawung tidak sempat lagi menyadari. Bahkan juga tidak mungkin lagi bisa menghindari tendangan cepat menggeledek ini. Hingga....

Begkh!

"Aaakh...!" Nyai Lawung jadi memekik keras, begitu tendangan Pandan Wangi mendarat telak di dadanya. Seketika tubuh perempuan tua itu jadi terpental deras ke belakang.

"Hup! Hiyaaat..!" Pandan Wangi tidak sudi lagi memberi kesem-patan pada perempuan tua itu. Saat tubuh lawannya sedang meluncur deras ke belakang, segenap ilmu meringankan tubuhnya langsung dikempos, si Kipas Maut kini melesat cepat mengejar perempuan tua itu.

"Mampus kau, Iblis! Hiyaaat..!"

Bet!

Pandan Wangi langsung mengebutkan kipasnya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Cras!

"Aaa...!" Kembali Nyai Lawung menjerit melengking tinggi, ketika ujung kipas putih yang runcing seperti mata anak panah itu merobek dadanya. Seketika itu juga, darah mengucur keluar deras sekali, tepat di saat tubuh perempuan tua itu terbanting keras sekali ke tanah berumput. Sementara itu, Pandan Wangi sudah berdiri tegak sekitar enam langkah di depan perempuan tua ini.

Tampak Nyai Lawung berusaha bangkit berdiri, dengan tangan kanan memegangi dadanya yang robek. Namun pada saat itu juga, Pandan Wangi sudah melompat sambil mengebutkan senjata kipasnya kembali. Dan...

Bet!
Cras!

Kali ini Nyai Lawung tidak mengeluarkan suara sedikit pun, ketika senjata kipas Pandan Wangi menghantam batang lehernya. Sementara, Pandan Wangi sendiri sudah melompat ke belakang, sambil berputaran beberapa kali. Lalu manis sekali kakinya menjejak tanah.

Saat itu, Nyai Lawung hanya berdiri diam dengan bola mata terbuka lebar. Namun tidak berapa lama kemudian, tampak tubuhnya jatuh terguling, dan kepalanya langsung terpisah dari leher. Seketika itu juga, darah menyembur keluar deras sekali dari leher yang buntung tidak berkepala lagi. Tanpa bergerak sedikit pun, nyawa Nyai Lawung langsung melayang dari tubuhnya.

Beberapa saat Pandan Wangi memandangi lawannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa lagi, kemudian memutar tubuhnya berbalik. Lantas kakinya melangkah menghampiri Rangga yang masih tetap menunggu dengan senyum tersungging dibibir.

"Ayo, Kakang. Kita kembali ke Desa Galibang. Beri tahu Ki Randata kalau desanya sekarang sudah aman," ajak Pandan Wangi.

Rangga hanya tersenyum saja, kemudian mendongakkan kepalanya ke atas. Dan.... "Suiiit..!"

"Khraaagkh...!'

"Kenapa harus pakai Rajawali Putih, Kakang? Kita bisa jalan kaki ke sana," kata Pandan Wangi, langsung menyatakan keberatannya kalau harus menunggang burung rajawali raksasa ke Desa Galibang.

"Sulit mencari jalan keluar dari lembah ini, Pandan. Kau lihat saja sendiri.... Lembah ini dikelilingi bukit berhutan lebat yang sulit ditembus," kata Rangga mengingatkan.

Pandan Wangi hanya diam saja. Sementara itu, Rajawali Putih sudah berada di depan mereka. Dan Rangga langsung melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan ini. Sedangkan Pandan Wangi memandangi beberapa saat. Entah kenapa, hatinya selalu ragu-ragu untuk menunggangi Rajawali Putih, walaupun sudah beberapa kali ikut mengarungi angkasa luas yang tidak bertepi ini.

"Ayo, Pandan. Tunggu apa lagi...?" ajak Rangga tidak sabar.

Sesaat Pandan Wangi masih terdiam. Kemudian....

"Hup!" Rangga menepuk leher Rajawali Putih tiga kali, setelah Pandan Wangi berada di belakangnya. Dan saat itu juga, Rajawali Putih melesat tinggi ke angkasa, membawa dua orang pendekar muda dari Karang Setra di punggungnya. Burung raksasa itu langsung melesat menuju Desa Galibang, tanpa diminta lagi.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: SRIGALA BUKIT MAUT
Thanks for reading Pemburu Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »