Mustika Bernoda Darah

MUSTIKA BERNODA DARAH

SATU
SUATU rombongan orang berkuda tampak tengah melewati pinggiran sebuah hutan yang cukup lebat, dengan kecepatan bagai dikejar setan. Jumlah penunggang kuda itu sekitar lima belas orang. Dari cara berpakaian, bisa ditebak kalau mereka adalah orang-orang persilatan. Begitu kencangnya mereka mengendalikan kudanya sehingga debu mengepul di udara tersepak kaki-kaki kuda.

Tiga orang tampak berkuda paling depan. Yang tengah bertubuh kekar, terbungkus baju putih. Di punggungnya tersandang sebilah pedang. Sementara di bagian perutnya terlihat sebuah buntalan yang dikebatkan ke pinggang. Sedangkan dua orang yang mengapitnya berwajah garang. Masing-masing bersenjatakan sebilah golok dan sebuah tombak bermata golok.

"Heaaa...!" Penunggang kuda yang di tengah menghela tunggangannya dengan wajah berkerut cemas. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Tidak terlihat apa-apa selain kedua belas anak buahnya. Namun jelas, kalau dia mengkhawatirkan sesuatu.

"Hooop...!" Orang yang berkuda di kiri laki-laki berbaju putih itu berteriak memberi isyarat kepada di depan jalan bersimpang dua.

"Ki Jengger Manuk! Jalan mana yang akan kita tempuh?" Tanya laki-laki bersenjata golok.

Laki-laki yang berada di tengah dan dipanggil dengan nama Ki Jengger Manuk mengangkat sebelah tangan, sehingga orang-orang yang berkuda di belakang menghentikan laju kuda. Mata Ki Jengger Manuk segera beredar ke sekeliling tempat itu. Jalan ini masih asing baginya. Sehingga dia harus menentukan pilihan ke kiri atau ke kanan. Padahal, mereka harus segera sampai di tujuan, dan tidak boleh terlambat meski barang sekejap.

Tapi bukan hanya itu yang membuat Jengger Manuk sedikit curiga. Tapi, suasana di sekitarnya yang membuatnya harus bersikap waspada. Suasana tampak sunyi. Bahkan burung pun seperti enggan melintas di atasnya. Sebagian orang yang telah kenyang makan asam garam dalam dunia persilatan, detak jantungnya yang mulai bergemuruh menjadi tanda kalau ada sesuatu yang tidak dnnginkan bakal terjadi.

"Semua bersiaga! Siapkan senjata kalian...!" desis Ki Jengger Manuk, dingin.

Seketika seluruh anak buah laki-laki berbaju putih itu segera menggenggam senjata masing-masing. Pandangan mata mereka langsung berkeliaran, mengawasi sekitarnya.

Ki Jengger Manuk segera memberi isyarat dengan lambaian tangan. Maka anak buahnya bergerak pelan, mengikuti laki-laki berusia empat puluh tahun itu ke arah kiri. Betul saja. Karena mendadak...

Set! Set!

"Awaaas...!" teriak Ki Jengger Manuk memperingatkan, ketika beberapa batang panah melesat kencang ke arah mereka. Dengan sigap laki-laki berbaju putih itu mencabut pedangnya. Dan seketika tubuhnya mencelat dari punggung kuda, langsung memapak beberapa anak panah yang meluncur ke arahnya.

Sring! Tras! Tras!

Demikian juga anak buahnya. Dengan tangkas mereka menghalau anak panah yang berhamburan mengancam nyawa.

"Hua ha ha...! Jengger Manuk keparat! Kau kira sedemikian mudah melarikan diri dariku, he?!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggeledek. Dan bersamaan dengan itu, beberapa sosok berseragam hijau berkelebat dari balik semak belukar.

“Yeaaa...!" Tanpa basa-basi lagi, sosok-sosok berbaju hijau itu langsung mengepung rombongan Ki Jengger Manuk dan anak buahnya.

"Jangan takut! Hadapi mereka. Dan, hajar semua...!" teriak Ki Jengger Manuk memberi semangat.

Jumlah para penyerang hanya tujuh orang. Namun kecepatan gerak mereka amat mengagumkan. Bisa diduga kalau kepandaian mereka cukup tinggi. Tak heran kalau tak lama kemudian terdengar jeritan dua orang anak buah Ki Jengger Manuk dengan leher robek tertebas senjata tajam.

"Keparat!" Laki-laki pemimpin rombongan berkuda ini mendesis geram. Pedangnya segera diayunkan ke arah para penyerang.

"He he he...! Kau adalah bagianku, Setan!" teriak satu suara, yang diikuti berkelebatnya sesosok tubuh.

Trang! Wuuut!

Dengan gerakan dahsyat Ki Jengger Manuk menangkis serangan yang datang ke arahnya.

Trang!

"Uhhh...!" Tangan laki-laki berbaju putih itu seketika terasa kesemutan ketika pedangnya membentur senjata lawannya. Dan belum lagi bisa disadari apa yang terjadi, mendadak serangkum angin kencang melesat ke arah leher. Cepat tubuh Ki Jengger Manuk melenting ke belakang.

"Hup!" Kedua kaki Ki Jengger Manuk menjejak tanah dengan manis, karena lawannya tidak meneruskan serangan. Kini jelas terlihat, siapa orang itu yang sebenarnya.

"Walatikta, Maling Hiram Tombak Sakti! Hm..., Sudah kuduga kaulah orangnya!" dengus Ki Jengger Manuk ketika melihat seorang laki-laki bertubuh kekar bersenjatakan tombak.

Laki-laki berkulit hitam yang dipanggil Walatikta itu tersenyum sinis mendengar kata-kata Ki Jengger Manuk. "Kau kira bisa lari seenaknya setelah mencuri mustika milikku itu, he?!" dengus Ki Walatikta, yang berdahi lebar dengan mata sipit.

"Mustika milikmu? Ha ha ha...! Mudah sekali bagi maling sepertimu, mengatakan milik orang lain sebagai milikmu!" sahut Ki Jengger Manuk bernada mengejek.

"Apa pun yang telah berada di tanganku, maka itu menjadi milikku! Itulah hukum yang berlaku bagi Maling Hitam Tombak Sakti. Dan siapa pun yang coba merebutnya, boleh mampus di tanganku!" balas Ki Walatikta.

"He he he...! Mustika itu milik kerajaan. Dan, tak ada seorang pun yang berhak memilikinya. Apalagi, orang sepertimu!" desis Ki Jengger Manuk.

"Jengger Manuk, apa yang kuinginkan harus kudapatkan. Kau telah merebut mustika itu, saat aku tidak berada di tempat. Lalu, membunuh beberapa orang anak buahku. Maka, kau harus mati!" Laki-laki setengah baya bernama Ki Walatikta ini tampak geram sekali. Wajahnya berkerut dan gerahamnya berkerotokan. Tanpa basa-basi lagi, dia melompat menyerang sambil mengayunkan tombak di tangan.

"Huh!" Ki Jengger Manuk mendengus dingin. Segera disambutnya serangan Maling Hitam Tombak Sakti.

Trang! Bet! Bet!

"Uhhh...!" Beberapa kali pedang Ki Jengger Manuk menghantam senjata lawan. Dan saat itu juga tangannya terasa kesemutan. Disadari betul kalau tenaga Maling Hitam Tombak Sakti berada satu tingkat di atasnya. Bahkan gerakannya lebih cepat dari yang diduga semula. Tidak heran bila beberapa kali ujung tombak Maling Hitam Tombak Sakti mengancam keselamatannya. Dan itu membuat nyalinya perlahan-lahan mulai ciut dengan pikiran tidak tenang. Apalagi ketika mendengar pekik kesakitan yang saling sambung menyambung dari anak buahnya yang tewas satu persatu.

"Aaa...!" "Hokhhh...!"

"Hhh...!" Ki Jengger Manuk menghela napas sesak. Wajahnya tampak berduka. Namun dengan cepat berubah geram, ketika mengingat bahwa dia mempunyai tanggung jawab besar untuk mengembalikan mustika yang kini berada di tangannya.

"Kau masih punya satu kesempatan lagi untuk mengembalikan mustika itu. Atau..., nyawamu melayang di tanganku!" dengus Ki Walatikta.

"Huh! Kau boleh melangkahi mayatku dulu!" sahut Ki Jengger Manuk dengan sorot mata garang.

"Cacing busuk! Kau akan mampus di tanganku!" desis Maling Hitam Tombak Sakti seraya melompat menyerang lawan.

Bet!

Tombak Ki Walatikta alias Maling Hitam Tombak Sakti bergemuruh tajam ketika angin sambarannya nyaris menggetarkan dada lawan. Agaknya, kemarahannya telah begitu menggelegak. Sehingga, dia bertekad hendak menghabisi si Jengger Manuk secepat mungkin.

Trang!

"Hiiih!" Ki Jengger Manuk menangkis dengan sigap. Namun pedangnya nyaris terlepas dari genggaman. Bahkan tangannya terasa bergetar hebat. Belum juga getaran pada tangannya hilang, Ki Walatikta telah menyusuli dengan tendangan menggeledek berisi tenaga dalam tinggi. Untung cepat bagai kilat Ki Jengger Manuk memiringkan tubuhnya ke kiri. Sehingga tendangan itu hanya menyambar angin kosong.

"Mampuuus...!" geram si Maling Hitam Tombak Sakti. Seketika Ki Walatikta mengayunkan tombak nya menyilang ke dada kiri dan kanan lawannya. Sedang Ki Jengger Manuk jadi terkejut. Dan dia cepat melompat ke belakang untuk menghindar. Namun tubuh Maling Hitam Tombak Sakti berputar cepat. Kemudian, melompat ke atas melakukan tendangan menggeledek.

"Uhhh...!" Ki Jengger Manuk masih sempat mengibaskan pedang. Namun cepat sekali Ki Walatikta melejit ke samping dengan kepalan tangan menghantam ke arah dada.

Buk!

"Aaakh...!" Ki Jengger Manuk melenguh tertahan dengan tubuh terjajar ke belakang. Dadanya telak sekali terhajar kepalan tangan Maling Hitam Tombak Sakti. Dan belum lagi dia bersiap, ujung tombak Ki Walatikta telah berkelebat menyambar ke arah perutnya. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Jengger Manuk tak mungkin menghindarinya. Maka...

Crasss!

"Aaakh...!" Kembali Ki Jengger Manuk terhuyung-huyung ke belakang. Tangannya langsung membekap perut yang robek tersambar tombak. Tampak darah merembes keluar, lewat sela-sela jari tangannya.

"Sekarang kau harus mampus, Keparat!" desis Ki Walatikta. Maling Hitam Tombak Sakti segera mengayunkan tombaknya, siap menghabisi Ki Jengger Manuk. Namun.

"Ki Jengger, lari! Selamatkan dirimu! Biar kuhadapi bangsat ini!" teriak bayangan yang berkelebat tadi, dan ternyata adalah salah seorang anak buahnya.

Tring!

Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, dan langsung memapak serangan Maling Hitam Tombak Sakti.

"Bedebah! Kau boleh menyusulnya sekarang juga!" desis Ki Walatikta geram ketika melihat serangannya berhasil digagalkan. Kemarahannya segera berpaling pada orang itu.

"Ki Jengger! Jangan pedulikan aku! Lari dan selamatkan mustika itu teriak anak buah Ki Jengger Manuk kembali, ketika melihat pemimpinnya masih terpaku ditempat.

Ki Jengger Manuk tersentak kaget. Lalu, buru-buru dia melenting ke arah kudanya. Walaupun dalam keadaan terluka, Ki Jengger Manuk berhasil melompat ke punggung kudanya, dan melarikannya dari tempat itu secepatnya.

"Heaaa...!"

"Setan! Kau kira bisa lolos dariku begitu saja, he?!" geram Ki Walatikta penuh kemarahan. Dia bermaksud melompat ke punggung kudanya untuk mengejar Ki Jengger Manuk.

"Walatikta jahanam! Kau boleh langkahi mayatku dulu, sebelum pergi dari sini!" teriak laki-laki bersenjata golok, tangan kanan Ki Jengger Manuk. Dan goloknya langsung diayunkan ke arah Ki Walatikta.

"Bangsat!" Ki Walatikta menggeram, dan langsung menangkis senjata golok yang mengancam dadanya.

Tring!

Lalu dengan gerakan mengagumkan, Maling Hitam Tombak Sakti memutar tombaknya, menyambar laki-laki tangan kanan Ki Jengger Manuk. Di luar dugaan, orang itu masih mampu menyabetkan goloknya, memapak tombak Maling Hitam Tombak Sakti. Tapi...

Trak!

Laki-laki bertampang garang itu terkejut ketika goloknya patah jadi dua bagian. Dan belum juga keterkejutannya hilang, ujung kaki kiri Maling Hitam Tombak Sakti cepat menyodok ke arah dada. Untung saja, dia masih mampu menghindar dengan melompat ke belakang. Tapi, Ki Walatikta sudah lebih cepat berputar. Bahkan langsung mengirimkan tendangan susulan lewat kaki kanannya. Bersamaan dengan itu ujung tombaknya menyambar ke arah leher. Dua serangannya yang hampir bersamaan ini, hanya ditanggapi orang itu dengan mata terbeliak. Sehingga....

Begkh! Brosss!

"Aaa...! Orang itu memekik setinggi langit, dada dan lehernya terkena dua serangan. Tubuhnya kontan terjungkal ke tanah, dengan leher tersayat hampir buntung. Sementara, dadanya hampir melesak ke dalam dengan tulang dada berpatahan. Setelah menggelepar orang itu tewas.

Sebentar Maling Hitam Tombak Sakti memandangi mayat lawannya, kemudian pandangannya menyapu ke sekeliling. "Yang lain ikut aku! Dan bereskan sisanya!" teriak Ki Walatikta memberi perintah pada anak buahnya seraya melompat ke punggung kuda.

"Heaaa...!" Lima orang anak buah Maling Hitam Tombak Sakti segera melompat ke punggung kuda masing-masing, mengikuti pemimpinnya. Sedangkan dua orang yang tersisa, menghadapi anak buah Ki Jengger Manuk yang saat ini tinggal empat orang lagi saja.

“Yeaaa...!" Dua anak buah Ki Walatikta mengamuk hebat. Senjata golok di tangan mereka seperti malaikat pencabut nyawa yang tidak tertahankan. Berkelebat-kelebat, menyambar lawan-lawannya. Empat orang anak buah Ki Jengger Manuk membagi serangan. Sehingga tiap dua orang, menghadapi seorang anak buah Ki Walatikta. Kelihatannya memang tidak seimbang. Namun sesungguhnya, kepandaian anak buah Ki Walatikta jauh di atas mereka. Tidak heran kalau kini anak buah Ki Jengger Manuk terdesak.

Bret!

"Aaakh!" Seorang anak buah Ki Jengger Manuk memekik keras ketika perutnya robek terkena tebasan golok. Tubuhnya langsung terjungkal ke tanah dan tewas setelah menggelepar-gelepar untuk beberapa saat.

"Sadiki...!" teriak salah seorang anak buah Ki Jengger Manuk terkejut. Wajahnya yang pucat segera berpaling sekilas pada dua orang kawannya yang masih tersisa. Salah seorang mengedipkan mata sebagai isyarat.

"Huh! Jangan dikira bisa lolos begitu saja! Kalian akan mampus seperti pemimpin kalian!" desis salah seorang anak buah Ki Walatikta seperti megerti apa yang hendak dilakukan lawannya.

"Gangga Dira, pergilah kau! Kami akan melindungi...!" teriak salah seorang anak buah Ki Jengger Manuk lagi pada kawannya.

Orang yang dipanggil Gangga Dira tersentak kaget. Dan kepalanya segera berpaling pada kedua kawannya dengan wajah bingung.

"Ayo cepat...!" hardik orang itu setengah kesal.

"Huuup!" Gangga Dira segera melenting ke arah kudanya. Namun salah seorang anak buah Ki Walatikta melompat mengejarnya. Sementara kedua kawan Gangga Dira tidak tinggal diam. Dan mereka langsung menghadang.

"Yeaaa...!" Anak buah Ki Walatikta itu mendengus geram. Langsung goloknya dikibaskan ke arah lawan-lawannya.

Tring! Trang! Bret!

Salah seorang anak buah Ki Jengger Manuk menjerit keras. Golok lawan berhasil melukai dadanya. Belum lagi sempat bersiap, satu tendangan keras telah menghantam dadanya. Seketika tubuhnya terjungkal lima langkah disertai muntahan darah segar.

"Hiaaa...!" Anak buah Ki Jengger Manuk yang seorang lagi menggeram penuh amarah. Langsung goloknya terayun untuk membalas. Namun, anak buah Ki Walatikta menghadapinya dengan tangkas. Sementara, kawannya terus mencoba mengejar Gangga Dira.

Gangga Dira kini dalam keadaan terpojok. Orang yang tadi mengejar telah berhasil menghalanginya dengan sebuah serangan mendadak berupa tendangan ke punggung. Gangga Dira sempat tersungkur. Namun, dia masih sigap melompat dan berdiri dengan mantap. Matanya mengawasi penghadangnya dengan sorot mata tajam. Belum juga Gangga Dira berbuat apa-apa...

"Aaa...!" Terdengar jeritan anak buah Ki Jengger Manuk yang lain. Ketika Gangga Dira melirik, tubuh kawannya itu tampak bergetar. Sepasang matanya melotot hendak keluar, ketika golok anak buah Ki Walatikta menembus jantungnya!

"Kau kira bisa lari, he?! Kau lihat tadi kawanmu? Hm... Nasibmu tidak jauh beda dengan dia!" desis anak buah Ki Walatikta yang menghadang.

"Huh! Tanganku sudah gatal ingin memenggal lehernya!" sahut anak buah Ki Walatikta yang baru saja membantai lawannya, sambil memutar-mutar golok.

Gangga Dira surut ke belakang dengan tubuh gemetar. Dia yakin, tidak akan mampu melawan kedua lawannya. Tangan kirinya mendekap ke arah perut yang menggelembung. Sementara, tangan kanannya menggenggam batang golok dan siap menghadapi segala kemungkinan.

"He?! Apa yang kau pegang itu? Jangan-jangan ada yang hendak kau sembunyikan dari kami. Ayo, keluarkan! Kalau betul barang berharga, kau akan kami ampuni!" hardik salah seorang anak buah Ki Walatikta.

"Persetan!" dengus Gangga Dira garang.

"Keparat!" Kedua anak buah Ki Walatikta menggeram.

"Sudah, habisi saja dia!" lanjut seorang yang mengenakan ikat kepala hitam, langsung melompat menerjang.

"Hup!" Gangga Dira mendengus geram. Langsung dia melompat memapaki serangan Goloknya menyambar cepat ke perut salah seorang lawan sambil menunduk.

"Yaaa...!" Trang!

Golok Gangga Dira terpental ketika berhasil dipapak senjata lawannya. Dan pada saat yang bersamaan, seorang lawan yang lain melepaskan sodokan keras lewat kepalan tangan kanannya. Begitu cepat gerakannya, sehingga anak buah Ki Jengger Manuk itu tak bisa menghindari.

Buk!

"Aaakh!" Gangga Dira menjerit tertahan. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung ke belakang.

“Yeaaa...!" Sementara lawan yang seorang lagi terus melompat mengayunkan golok ke leher, Gangga Dira hanya mampu mendelik, menanti maut. Dan....

Crasss!

"Aaakh!" Kembali Gangga Dira menjerit keras, ketika senjata salah seorang lawannya menyambar dada. Bahkan selagi tubuhnya terhuyung-huyung, satu tendangan keras mendarat di dadanya. Seketika, dia terjerembab tanpa daya.

"Mampus kau, Setan...!" desis lawan yang seorang lagi, sambil melompat. Goloknya yang terhunus, tepat diarahkan ke jantung, siap menghabisi Gangga Dira.

Gangga Dira terkejut dengan bola mata terbelalak. Napasnya seperti terhenti. Kali ini, tidak ada jalan hidup lagi baginya. Tubuhnya sakit sekali untuk digerakkan. Sementara, darah tak hentinya mengalir dari luka di dada dan dari bibirnya. Dan sekian rambut lagi senjata lawan mendarat di tubuhnya... Mendadak sebuah bayangan berkelebat, langsung menangkis golok anak buah Ki Walatikta.

Trang!

Anak buah Ki Walatikta terkejut ketika goloknya terpental. Dan belum lagi dia berbuat apa-apa....

Bret!

"Aaa...!" Anak buah Ki Walatikta itu kontan menjerit kesakitan, ketika perutnya terkena tebasan senjata tajam. Tubuhnya langsung tersungkur ke tanah, dengan nyawa melayang setelah berkelojotan sesaat.

"Jahanam! Siapa kau?!" hardik anak buah Ki Walatikta yang satu lagi ketika melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih, telah berdiri tegak dengan sorot mata tajam. Tangan kanannya menggenggam sebilah golok yang mungkin dipungutnya dari tempat itu. Sebab pemuda itu sendiri memiliki pedang bergagang kepala burung yang tersandang di punggungnya.

"Aku malaikat mautmu!" sahut pemuda berbaju rompi putih itu dengan nada dingin.

"Keparat! Kau kira tengah bicara dengan siapa, he?!" dengus orang itu semakin geram dan penuh amarah. Dan dia langsung melompat sambil mengayunkan golok ke arah pemuda itu.

"Heaa.... Yeaaa...!"

Pemuda berbaju rompi putih itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri, ketika anak buah Maling Hitam Tombak Sakti telah melompat menyerangnya. Bahkan dia tersenyum seperti menganggap enteng. Sorot matanya tajam mengawasi. Dan begitu sedikit lagi ujung golok hendak menebas leher, saat itu juga tubuhnya melenting cepat Dan tahu-tahu hilang dari pandangan.

Orang itu terkejut. Namun hanya sekilas. Karena mendadak saja sesuatu yang tajam menyambar pinggang dan terasa nyeri sekali. Tubuhnya langsung ambruk tidak berdaya dengan pinggang robek mengeluarkan darah.

"Maling-maling busuk seperti kalian tidak sepantasnya hidup!" desis pemuda itu dingin seraya mengawasi lawan yang tengah meregang nyawa.

Kemudian pemuda itu melangkah tenang, mendekati anak buah Ki Jengger Manuk yang saat itu tengah mencoba duduk bersila dengan napas megap-megap. Namun, kemudian dia ambruk kembali. Tangannya menggapai-gapai ke arah pemuda itu. Sementara, tangan kirinya me-ngeluarkan sebuah golok yang tersimpan di balik baju pada bagian perut.

"A., anak muda! To... tolong selamatkan mustika ini...." Suara orang itu terdengar amat lemah.

"Kau tidak apa-apa, Ki?" Tanya pemuda itu tanpa mempedulikan orang itu. Segera dia memeriksa luka-luka anak buah Ki Jengger Manuk ini.

"Ja... jangan, hi... hiraukan aku. Mus... tika ini diperlukan oleh kerajaan. Se... selamatkan...." Orang itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Napasnya terhenti dan kepalanya langsung terkulai lemah.

Pemuda berbaju rompi putih yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu menghela napas. Lalu diraihnya kotak kehitaman yang setiap sisinya berukir indah. Dia memperhatikan sejenak. lalu kembali berpaling pada orang itu.

DUA
Wajah Pendekar Rajawali Sakti tampak bingung dan tidak mengerti. Kehadirannya di sini tadi, karena mendengar keributan. Dan kini, dia memiliki tanggung jawab besar.

"Mustika apa ini? Kenapa bisa jatuh ke tangan mereka...?" gumam Rangga tidak mengerti. Pendekar Rajawali Sakti memandang peti kecil di tangannya untuk beberapa saat. Lalu, perlahan lahan dibukanya peti kecil. Tampak di dalamnya terdapat sebuah belati yang langsung berkilauan begitu tertimpa cahaya matahari. Pandangannya sempat dipalingkan karena silau. Kemudian pandangannya kembali ditegaskan. Dan kini Rangga terkejut, ketika melihat batang belati itu terbuat dari intan. Gagangnya amat sederhana, terbuat dari emas yang ujungnya terdapat lambang mahkota kecil bertahtakan permata. Jelas, benda itu amat langka dijumpai.

"Hm.... Benda ini amat langka. Pantas mereka memperebutkannya dengan taruhan nyawa...," Lanjut Rangga bergumam. Segera ditutupnya kembali kotak kecil berukir itu.

Pendekar Rajawali Sakti lantas bangkit, dan melangkah mendekati seekor kuda hitam berbadan besar tidak jauh dari situ. Seekor kuda yang diberi nama Dewa Bayu. Namun baru saja melompat ke punggung Dewa Bayu, mendadak lima orang laki-laki bertampang kasar mencegat dari arah yang berlawanan. Dan mereka persis berhenti di depannya.

"Heaaa...!"

"Berhenti...!" Seorang yang berada paling depan membentak nyaring. Matanya memandang tajam ke arah Rangga. Kelopaknya yang menyipit, kini tampak kian menjadi segaris. Wajahnya berkerut sinis dan mengawasi Rangga dengan seksama.

"Hm.... Kalau tidak salah, kau pasti Pendekar Rajawali Sakti?" duga orang itu menyelidik dengan nada datar.

"Tidak salah, Kisanak. Ada perlu apa kalian mencegatku?" Tanya Rangga tenang.

"Ha ha ha...! Terima kasih atas pujianmu. Sudah lama sekali aku mendengar nama besarmu yang amat kesohor itu. Namun sungguh sayang, hatiku saat ini sedang tidak suka beramah tamah. Kecuali..."

"Tidak usah bicara berbelit-belit, Kisanak Apa maksudmu...?" ulang Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm...." Orang itu kembali menunjukkan wajah dingin. Senyumnya yang hanya sekejap, sirna tanpa bekas. "Berikan kotak yang ada di tanganmu itu!" ujar orang itu, tanpa tedeng aling-aling.

Rangga memandang kotak di tangannya. Lalu pandangannya kembali berpaling pada orang itu sambil tersenyum dingin. "Hm.... Agaknya dugaanku tidak salah...."

"Pendekar Rajawali Sakti! Aku tidak peduli segala nama besarmu itu. Mungkin orang lain akan takut. Tapi, Walatikta, si Maling Hitam Tombak Sakti, tidak pernah mengenal rasa takut pada siapa pun. Berikan kotak itu!" dengus laki-laki berkulit hitam yang tak lain Ki Walatikta alias Maling Hitam Tombak Sakti.

"Hm... Jadi kau ini Walatikta atau Maling Hitam Tombak Sakti?! Hm.... Walatikta, tahukah kau apa isi kotak di tanganku ini?" Tanya Rangga tanpa mempedulikan kata-kata Maling Hitam Tombak Sakti.

"Ha ha ha...! Kau kira untuk urusan apa aku mengejar-ngejarnya kalau tidak mengetahui isinya? Baru saja pemimpin mereka kami bunuh, karena telah berhasil menipu kami dengan melarikan diri. Kami menduga, isi kotak itu berada di tangannya. Padahal, sebenarnya kotak yang asli dipegang salah seorang anak buahnya, yang saat ini berada di tanganmu. Ketahuilah! Sesungguhnya mereka yang mencuri dari kami. Dan aku berhak mengambil barangku kembali!"

"Maling Hitam Tombak Sakti! Apakah kau kira aku bisa tertipu? Namamu menyiratkan perbuatan rendah. Dan kini, kau hendak memutarbalikkan kenyataan. Aku yakin, sesungguhnya kaulah pencurinya. Kau mencuri mustika ini dari kerajaan, lalu mereka berhasil merampasnya darimu!" sahut Rangga lantang.

"Ha ha ha...! Agaknya percuma saja aku bicara baik-baik denganmu. Memang orang sepertimu tidak bisa diajak beramah-tamah. Sekali lagi kuperingatkan kembalikan kotak itu padaku kalau tidak ingin mendapat kesulitan!"

Rangga tertawa enteng mendengar ancaman itu. Kemudian tawanya hilang. Kini yang ada hanya seraut wajah sinis dengan sorot mata tajam menantang. "Kisanak, ketahuilah. Kotak ini berada di tanganku. Dan saat ini, tidak seorang pun boleh mengambilnya sebelum melangkahi mayatku!" sahut Pendekar Rajawab Sakti.

"Huh!" Ki Walatikta mendengus tajam seraya memandang Rangga dengan penuh kebencian. "Sebenarnya aku menaruh hormat terhadap nama besarmu. Tapi kau melangkahi hakku. Dan kalau aku tidak unjuk gigi, maka kau akan semakin besar kepala. Kau boleh rasakan akibatnya dengan keangkuhanmu itu!" balas Mabng Hitam Tombak Sakti.

Ki Walatikta segera memberi isyarat pada anak buahnya dengan kibasan tombak. Seketika anak buahnya langsung melompat turun dari kudanya. langsung mencabut senjata masing-masing. Dan seketika mereka mengurung pemuda itu.

"Yeaaa...!" Ki Walatikta langsung melompat dari kudanya Tubuhnya melayang ringan ke arah Rangga. Tombaknya segera diputar sehingga menimbulkan suara mendengung dan angin bersiur kencang.

"Hup!" Rangga cepat bagai kilat melenting ringan dari punggung Dewa Bayu. Setelah berputaran dua kali, kaki kanannya menghantam ke arah dada Ki Walatikta. Namun, Maling Hitam Tombak Sakti cepat menangkis dengan mantap.

Plak!

"Uhhh...!" Ki Walatikta tersentak kaget. Tenaga dalam pemuda itu sungguh dahsyat. Bahkan gerakannya demikian cepat. Dan kalau saja dia tidak melompat ke belakang, serangan susulan Pendekar Rajawali Sakti akan menghantam dadanya dengan telak.

Kedua kaki Maling Hitam Tombak Sakti menjejak ringan di tanah. Dan saat itu juga, anak buahnya langsung menyerang Rangga yang baru saja mendarat di tanah. "Heaaat...!"

Wuuut!

"Yeaaat!" Rangga cepat melompat ke atas sambil menekuk tubuhnya untuk menghindari tebasan senjata pengeroyoknya. Lalu dengan pengerahan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', tubuhnya meluncur, dengan kedua kaki berputaran cepat menghantam ke arah lawan-lawannya.

Duk! Krak!

"Aaakh...!" Ujung-ujung kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam berturut-turut ke leher lawan-lawannya. Seketika terdengar tulang yang berderak patah, diiringi pekik kesakitan. Rangga terus berkelebat cepat, menyambar golok yang terlepas dari seorang lawannya. Seketika, golok di tangan Pendekar Rajawali Sakti menyambar leher lawan-lawannya yang lain.

Bret! Bret!

"Aaa...!" Kembali terdengar jeritan menyayat dari dua anak buah Ki Walatikta. Begitu ambruk di tanah, mereka tewas bermandikan darah.

"Bedebah...!" Ki Walatikta menggeram dan melompat ke arah Rangga.

Wuuut!

Tombak di tangan Maling Hitam Tombak Sakti menderu dahsyat seperti badai topan yang melindas apa saja yang berada di dekatnya. Debu berterbangan bersama dengan dedaunan kering. Dan ranting-ranting pohon pun bergoyang-goyang keras.

"Hiyaaat...!" Trang! Bet!

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti berkelebat lincah, menerobos pertahanan Maling Hitam Tombak Sakti. Golok di tangan Rangga tiba-tiba menghantam sekali senjata Ki Walatikta. Terlihat bunga api terpercik. Dan ini sudah membuat pemuda itu tersenyum kecil. Tombak laki-laki hitam itu agaknya lebih dahsyat ketimbang golok yang berada di tangannya. Namun itu tidak membuatnya berkecil hati. Karena disadari kalau tenaga dalam Maling Hitam Tombak Sakti masih berada dibawahnya. Juga terlihat sepintas kalau Ki Walatikta memiliki gerakan yang amat gesit. Namun hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesulitan baginya. Begitu habis mengadu senjata, secara tak terduga Pendekar Rajawali Sakti melepaskan tendangan menggeledek. Begitu cepat gerakannya sehingga Maling Hitam Tombak Sakti tak mampu mengelak lagi. Dan....

Duk!

"Aaakh!" Ki Walatikta menjerit keras. Satu tendangan telak menyodok perutnya. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke belakang.

"Yeaaat!" "Heaaat!"

Pendekar Rajawali Sakti tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung diberikannya serangan susulan. Tubuhnya melompat ringan dengan senjata terhunus. Namun, anak buah Ki Walatikta agaknya tidak tinggal diam begitu saja melihat pemimpinnya terancam. Serentak mereka memapaki serangan Pendekar Rajawali Sakti. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti menghentikan serangannya. Tubuhnya langsung berbalik, dan membabatkan golok di tangannya.

Bret!

"Wuaaa...!" Golok di tangan Rangga berkelebat, menyambar leher salah seorang lawan hingga memekik kesakitan. Begitu ambruk di tanah, orang itu tewas bermandikan darah. Dan kembali golok di tangan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat. Namun dua orang lagi berhasil menangkisnya.

Trang! Trang!

Belum juga mereka bersiap, Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan tendangan ke arah kedua lawannya yang tak mampu mengelak.

Duk! Begkh!

"Aaakh...! Uhhh...!" Kedua orang itu kontan terjungkal sambil mendekap dadanya yang terasa remuk.

"Hiaaa...!" Disertai teriakan lantang menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti terus mencelat ke arah Ki Walatikta yang kali ini telah bersiaga penuh.

Maling Hitam Tombak Sakti menggeram hebat Dari pancaran matanya, terlihat amarah yang meluap-luap. Dan seketika tubuhnya melenting menghadang kelebatan golok di tangan Pendekar Rajawali Sakti dengan kebutan tongkatnya.

“Yeaaa...!"

Trak!

Golok di tangan Pendekar Rajawali Sakti patah dihantam tombak Maling Hitam Tombak Sakti. Namun, pemuda itu sama sekali tidak terkejut. Dan dia juga tidak bermaksud membuang sisanya. Bibirnya tersenyum tipis. Pada saat itu, datang sambaran ujung tombak Ki Walatikta ke dada dan perutnya. Cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti kembali mencelat ke atas. Begitu berada di atas, Rangga mengayunkan satu tendangan. Sementara, Ki Walatikta menyambutnya dengan kibasan senjata. Namun Rangga menarik pulang tendangannya. Lalu tubuhnya berputar gesit di udara. Dan seketika itu pula ujung kakinya yang lain menghantam rahang kanan Ki Walatikta dengan telak.

Prak!

"Aaakh!" Ki Walatikta menjerit keras begitu kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti mendarat di rahangnya hingga retak. Tampak dari mulutnya mengeluarkan darah. Tubuhnya nyaris terjerembab mencium tanah kalau saja kaki kirinya tidak berpijak erat.

Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak memberi kesempatan sedikit pun. Begitu menjejak tanah, Pendekar Rajawali Sakti melemparkan potongan golok di tangannya. Seketika, potongan senjata itu melesat menyambar kearah Maling Hitam Sakti.

Crab!

"Aaa...! Ki Walatikta memekik rertahan. Sepasang matanya melotot lebar dengan mulutnya ternganga. Patahan golok yang dilemparkan Pendekar Rajawali Sakti melesak ke jantungnya, hingga yang terlihat hanya gagangnya saja. Maling Hitam Tombak Sakti tetjungkal roboh, dan tewas sesaaat dengan meninggalkan sorot kebencian.

"Hm..." Gumam Rangga pelan Lalu kepalanya berpaling ketika melihat sisa anak buah Ki Walatikta yang masih bernapas melarikan diri. Dia sama sekali tidak bermaksud mengejar.

Tanpa berkata apa-apa Pendekar Rajawali Sakti melangkah tenang menghampiri kudanya. Dan dia terdiam sejenak. sambil memandang mayat yang banyak berserakan di tempat ini. Lalu, kepalanya berpaling pada kotak yang berada dalam genggamannya.

"Biarlah akan kukembalikan kotak ini ke kerajaan. Mungkin besar artinya bagi mereka. Kalau tidak salah, pastilah ini lambang kerajaan itu. Kalau hilang, berarti hilang pula kepercayaan rakyat terhadap junjungannya, "gumam Pendekar Rajawali Sakti pelan.

Tanpa sepengetahuan Pendekar Rajawali Sakti, diam-diam ada sepasang mata mengawasi tindakannya. Dan sebelum Rangga menghampiri kudanya, orang yang mengawasi itu berkelebat cepat meninggalkan tempatnya.

********************

Seorang pemuda gagah memakai ikat kepala kuning dan berbaju ungu tengah menunggang kudanya memasuki sebuah desa. Di punggungnya tersandang sebilah pedang berhulu kepala tengkorak. Ketika melewati persimpangan jalan, dia menoleh ke kiri dan kanan. Dan ketika merasa yakin kalau keadaan di sekelilingnya aman, kudanya dibelokkan ke kiri dan terus dipacu kencang. Lalu, kudanya dihentikan di dekat sebuah pondok kecil, persis di bawah sebatang pohon beringin besar.

“Buka pintu..," ujar pemuda berbaju ungu itu pelan.

"Siapa di luar?” tanya sebuah suara dari dalam.

"Anak Dewa!"

Krieeet!

Sebentar kemudian pintu berderak pelan ketika terkuak. Dari dalam, menyembul sebuah kepala botak dengan kumis tebal. Dipandangnya sekilas ke arah pemuda berbaju ungu itu. Lalu kepalanya menganggguk kecil.

"Berita apa yang kau bawa ? "Tanya si Botak.

"Itu bukan urusanmu! Katakan, kalau aku membawa berita yang diinginkan Gusti Ayu!" sahut pemuda itu tegas.

“Hm..." Si Botak mendengus dingin. Wajahnya tampak tidak senang. Dan matanya melotot garang.

“Masuk dan tunggu di sini! Akan kukabarkan pada Gusti Ayu apakah kau boleh menemuinya atau tidak. Kalau kau berdusta, maka lehermu akan copot dari tempatnya!” ancam si Botak, begitu pemuda itu masuk ke dalam. Lalu ditutupnya pintu gubuk ini.

Pemuda itu melirik sekilas. Pondok ini memiliki dua ruangan yang disekat bilik bambu. Dan dihubungkan oleh sebuah pintu kecil. Sementara, si Botak telah menghilang ke dalam ruangan yang satu lagi. Pemuda itu menungggu beberapa saat. Dan tak lama kemudian, si Botak kembali.

"Syukur, Gusti Ayu menyuruhmu masuk!" ujar si Botak, nampak kesal. Lalu dikeluarkannya sehelai kain hitam. "Tapi, matamu harus ditutup. Tidak seorang pun diperkenankan mengetahui tempat ini!"

Si Botak segera menutup mata pemuda itu, dan menuntunnya ke dalam. Pemuda berbaju ungu itu diam saja. Dia tidak mampu melihat, apa yang menyebabkan tiba-tiba saja terdapat ruangan yang terus menjurus ke bawah. Beberapa belas anak tangga dituruninya, sebelum mereka tiba di ruangan lain. Lalu, perasaannya mengatakan kalau tengah melalui sebuah lorong yang sempit dan berliku. Beberapa kali tubuhnya membentur dinding tanah yang agak dingin. Lalu ketika menghirup udara segar, dia merasa yakin kalau saat ini berada di tempat terbuka.

Si Botak terus mengajaknya ke satu bangunan yang memiliki beberapa buah undakan anak tangga. Telinganya mendengar beberapa percakapan yang menandakan kalau di tempat ini terdapat banyak orang. Lalu, tiba-tiba saja terdengar si Botak berseru hormat.

"Gusti Ayu, hamba membawa pemuda ini...."

"Buka matanya!"

"Baik, Gusti Ayu!"

Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian memandang ke sekeliling. Yang pertama dilihat adalah seorang wanita setengah baya berwajah cantik. Pakaiannya mewah, lengkap dengan perhiasan yang bernilai amat tinggi. Dan duduk pada sebuah kursi besar yang agak lebar. Di kanan-kirinya berdiri tegak dua orang laki-laki bertubuh tegap yang masing-masing bersenjata sebilah pedang. Lalu, terlihat berkumpul beberapa orang tokoh silat bersenjata lengkap. Dia menghitung dalam hati. Dan ternyata semuanya berjumlah sepuluh orang. Pemuda itu tersenyum seraya menjura hormat.

"Gusti Ayu... Terimalah hormat hamba, Anak Dewa putra Ki Tunggul Bayu Saksana..."

"Kuterima hormatmu. Nah! Katakan, apa yang kau bawa untukku?" Tanya wanita itu.

Pemuda berbaju ungu itu yang bernama Anak Dewa menoleh pada yang lainnya dengan sikap curiga. "Mereka adalah pembantu setiaku. Dan apa yang menjadi rahasiaku, juga rahasia mereka. Katakanlah, Tidak usah ragu!" lanjut wanita itu seperti tahu apa yang dipikirkan pemuda ini.

"Baiklah kalau demikian. Hamba ingin memberitahukan soal mustika kerajaan itu..."

"Hm.... Lanjutkan!"

"Beberapa prajurit kerajaan yang dipimpin Ki Jengger Manuk berhasil merebutnya dari tangan Ki Walatikta, saat dia tidak ada di tempat. Namun Ki Walatikta bertindak cepat. Dia mengejar rombongan Ki Jengger Manuk. Kalau saja saat itu tidak ada pengacau, maka mustika itu telah diperoleh kembali oleh mereka..."

"Pengacau? Siapa orang itu?!" Tanya wanita setengah baya yang dipanggil Gusti Ayu itu seraya mengerutkan dahi.

"Pendekar Rajawali Sakti, Gusti Ayu!" sahut Anak Dewa.

"Hm, Pendekar Fajawali Sakti? Ya, pernah kudengar nama itu. Lalu, apa yang terjadi dengan Ki Walatikta?"

"Dia tewas…"

"Kurang ajar!" dengus wanita itu dengan wajah garang.

"Dua orang anak buahnya yang berhasil lolos, telah memberitahukan hal ini pada ayahanda. Lalu, beliau menyuruhku untuk mengabarkan persoalan ini pada Gusti Ayu," lanjut Anak Dewa.

Beberapa saat lamanya wanita setengah baya itu terdiam. Wajahnya jelas menyiratkan kekesalan. Matanya segera memandang pada orang-orang yang berada di ruangan itu.

"Siapakah di antara kalian yang mampu membawa mustika itu dengan merebutnya dari Pendekar Rajawali Sakti?" Tanya Gusti Ayu, pelan.

"Gusti Ayu, kenapa mesti sungkan? Aku mampu merebutnya dari tangan pemuda itu!" sahut salah seorang yang berusia sekitar empat puluh tahun. Dia bersenjata golok terselip di pinggangnya.

Wanita setengah baya itu tersenyum kecil. "Klabang Geni, benarkah kata-katamu itu?" Tanya Gusti Ayu.

"Gusti Ayu tinggal perintahkan, maka hari ini juga aku akan berangkat untuk menghabisi keparat itu!" sahut laki-laki yang dipanggil Klabang Geni, mantap.

"Bagus! Nah! Kau boleh pergi sekarang juga Bawa mustika itu padaku sekarang juga!"

"Baik, Gusti Ayu!" sahut Klabang Geni cepat, segera dia berdiri dan menjura hormat sebelum berlalu dari ruangan ini.

Wanita setengah baya itu menghela napas pendek dengan wajah sedikit lega. Ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Seluruh tokoh silat di ruangan ini tahu kalau Pendekar Rajawali Sakti memiliki kepandaian hebat. Dan belakangan ini, namanya amat menggemparkan kalangan persilatan. Namun, Klabang Geni bukanlah anak kemarin sore. Selain ilmu silatnya hebat, dia pun memiliki golok pusaka yang kemampuannya telah dibuktikan berkali-kali dalam menghadapi lawan-lawannya. Tidak ada seorang pun yang pernah hidup jika berhadapan dengannya!

TIGA

Klabang Geni menunggu di persimpangan jalan yang biasa dilalui orang-orang bila hendak menuju ke kotaraja dari arah utara. Dengan berlindung di bawah topi caping agak lebar, dia berdiri tegak di bawah sebuah pohon yang agak rindang. Menurut kabar dari Anak Dewa, bernama Pendekar Rajawali Sakti orang yang akan muncul menjelang tengah hari ini. Dan baru saja Klabang Geni menoleh ke arah selatan, dari kejauhan terlihat seorang penunggang kuda yang berlari kencang menuju ke arahnya. Baru ketika penunggang kuda hitam yang ternyata seorang pemuda berbaju rompi putih itu semakin dekat, Klabang Geni melenting ringan dan mendarat di tengah jalan.

"Berhenti...!"

Pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan kudanya dengan tiba-tiba ketika Klabang Geni menghadang perjalanannya. Seketika, kuda hitam itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. "Kisanak! Aku sedang ada keperluan penting. Harap sudi memberi jalan...," ujar pemuda itu, ketika kudanya telah tenang kembali.

Klabang Geni mendengus dingin di balik topi capingnya. "Kaukah Pendekar Rajawali Sakti...?" Tanya laki-laki bercaping itu dengan nada dingin.

"Kalau ya, kenapa? Dan kalau bukan, kenapa?" pemuda itu malah balik bertanya dengan nada enteng.

"Persetan dengan jawabanmu Aku yakin, kau pasti Pendekar Rajawali Sakti!"

"Nah! Kalau itu maumu, ya sudah. Maaf, aku ada keperluan lain. Aku tidak bisa berlama-lama karena ada urusan yang amat penting!" jawab pemuda berbaju rompi putih yang memang Pendekar Rajawali Sakti.

"Urusan penting? Ha ha ha...! Apakah tentang mustika itu...?!"

Rangga jadi terkejut. Hatinya agak heran juga, mengapa orang itu tahu kalau Rangga membawa sesuatu. Matanya seketika memandang tajam ke arah penghadangnya. Lalu bibirnya tersenyum kecil. "Agaknya mustika ini begitu berarti, karena banyak orang yang menginginkannya…" gumam Rangga, seperti untuk dirinya sendiri.

"Berikan padaku. Dan kau boleh melanjutkan perjalanan!” dengus orang bertopi caping itu lantang.

"Kisanak! Mustika yang kau inginkan, ada padaku. Dan tidak akan kuberikan pada siapa pun sampai ke tangan orang yang berhak. Jika kau memaksa, terserah!" sahut Rangga, tenang.

"Ha ha ha....! Pendekar Rajawali Sakti yang amat termashur! Jangan coba-coba menggertak si Klabang Geni? Kau boleh mampus di tanganku jika itu yang diinginkan!"

"Yeaaa...!"

Sring!

Mendadak Klabang Geni melempar topi capingnya, hingga melesat kencang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan cepat Rangga melompat gesit dari punggung kudanya. Maka dia sempat menepuk pantat kudanya hingga meringkik keras, langsung berlari kencang. Dan dalam keadaan masih di udara, Rangga menghantam caping yang melayang ke arahnya.

Bros!

Kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti menembus topi caping itu yang dihantamnya. Lalu dengan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat sempurna. Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat. Dan tahu-tahu dia telah duduk kembali di punggung kudanya yang belum berlari jauh.

"Kurang ajar...!" Klabang Geni menggeram penuh amarah. Tubuhnya langsung berkelebat cepat, mengejar Rangga yang masih berada dalam jarak jangkauannya. Sehingga Klabang Geni mencabut golok, menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh! Yeaaa...!" Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti melompat tinggi, langsung berputaran di udara menghindari serangan. Dan begitu kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya langsung berkelebat mengelilingi Klabang Geni dalam pengerahan jurus 'Rajawali Seribu'. Untuk sesaat, Klabang Geni dibuat terkejut, karena melihat seolah-olah Pendekar Rajawali Sakti jadi berjumlah banyak Setan.

Klabang Geni memaki Langsung dilepaskannya satu pukulan jarak jauh ke arah salah satu bayangan Pendekar Rajawali Sakti.

Glar!

"Hup! Hiyaaat...!"

Pukulan Klabang Geni hanya menghantam tempat kosong, sehingga membuat tanah yang terhantam berlubang. Dan bumi pun bergetar seperti dilanda gempa. Karena yang dihantam Klabang Geni hanyalah bayangan semu Pendekar Rajawali Sakti. Dan tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara, mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Dan ketika tubuhnya meluruk turun, Rangga merubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Heh!" Klabang Geni tersentak kaget ketika melihat perubahan jurus yang dilakukan pemuda itu. Untuk sesaat hatinya bergetar. Namun dengan menguatkan diri, dia menggeram. Langsung dipapaknya tangan Pendekar Rajawali Sakti yang mengarah ke kepalanya.

Plak!

"Akh!” Klabang Geni makin tersentak, ketika tangannya membentur tangan Pendekar Rajawali Sakti yang telah berubah merah bagai bara, akibat pengerahan jurus 'Paruh Rajawali Membelah Mega' yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah dengan tangan terasa panas bagai terbakar. Dan belum juga hilang keterkejutannya, Pendekar Rajawali Sakti telah kembali berkelebat ke arahnya dengan pukulan mautnya. Begitu cepat gerakannya. Sehingga…

Plak!

"Aaa…!” Klabang Geni hanya mampu menjerit tertahan begitu pukulan Pendekar Rajawali Sakti mendarat di kepalanya. Tubuhnya kontan terjungkal di tanah dengan kepala retak, setelah menggelepar sesaat, nyawanya lepas dari raga. Darah tampak terus mengucur menggenangi wajahnya.

Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak, mengawasi lawannya yang kini terbujur kaku Kemudian, dia melompat ke punggung kudanya dan berlalu dari tempat ini.

********************

Malam ini terasa hening. Namun, di luar sana serangga seperti tak henti hentinya bernyanyi, mengiringi satu atau dua orang yang lalu lalang. Desa Kali Gawe ini memang tidak begitu ramai. Paling-paling penduduknya hanya sekitar puluhan orang.

Sementara di dalam salah satu kamar di sebuah rumah desa ini, seorang pemuda tampak tengah berbaring sambil menghela napas panjang Dipan yang ditidurinya berderak-derak. Dinding ruangan ini pun tidak begitu bagus, karena di sana sini terlihat bolong-bolong. Udara terasa pengap berhawa lembab. Namun hanya itulah satu-satunya yang bisa digunakan untuk melewati malam ini. karena sebenarnya penginapan desa ini memang sudah penuh. Untung saja tadi si Pemilik Rumah berbaik hati padanya.

Belum lama pemuda berbaju rompi putih itu rebah, tiba-tiba tersentak bangun. Pendengarannya seketika dipertajam. Dia memang mendengar jejak langkah yang amat ringan, mendekati ruangan dari arah luar. Langsung tubuhnya dirapatkan ke dinding, persis dekat pintu masuk.

"Hieee..." Ringkik kuda yang tertambat di luar terdengar keras. Lalu...

"Hiiih!"

Bros!

Mendadak saja dua bayangan hitam menerobos dinding ruangan dengan keras. Untung saja pemuda tampan berbaju rompi putih yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti itu bertindak cepat. Dia segera melompat keluar mene-robos dinding bilik. Dan belum juga dia bersiap dua sosok tubuh berpakaian serba hitam telah meluruk ke arahnya dengan senjata terhunus.

"Yeaaa...!"

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti cepat menundukkan kepala sambil meliukkan tubuhnya sedikit untuk menghindari dua tebasan senjata yang melesat ke arahnya.

“Yeaaat!" Sementara dua bayangan hitam yang tadi gagal menyergapnya di dalam ruangan, kini telah muncul kembali. Mereka terus menyerang saat Rangga baru saja menghindari serangan. Dengan gerakan cepat Rangga memiringkan tubuhnya, dan terus berputar. Dan seketika itu pula tangannya menghantam pergelangan tangan salah seorang lawannya. Bersamaan dengan itu pula kaki kirinya menyambar ke dada lawannya yang satu.

Plak! Dukk!

"Aaakh!" Senjata salah seorang kontan terlepas dari genggaman. Malah pergelangan tangannya yang memegang senjata tadi langsung remuk. Sementara yang seorang lagi terjungkal mencium tanah.

"Heaaat...!" Sementara dua orang berseragam hitam yang lain terus merangsek Pendekar Rajawali Sakti tanpa mempedulikan kawan-kawannya yang merintih kesakitan. Seketika Rangga melenting mendahului dengan gerakan amat gesit.

Wuuut!

Senjata golok salah seorang laki-laki berpakaian serba hitam hanya menyambar angin kosong di bawah telapak kaki Pendekar Rajawali Sakti. Setelah berputaran dua kali, tubuh Rangga meluruk deras, melepaskan pukulan ke dada lawannya yang terdekat.

Begkh!

"Aaakh!" Kembali terdengar pekik kesakitan ketika pukulan Rangga telak bersarang di dada satu lawannya. Tubuh orang itu kontan ambruk di tanah dengan tulang dada remuk. Dan begitu mendarat di tanah, kaki kanannya pada saat yang bersamaan menghajar lawannya yang seorang lagi.

Begkh!

"Ugkh!" Kontan saja orang itu terjungkal ke tanah, ambruk tak bangun-bangun lagi. Begitu kerasnya tendangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga tulang leher orang itu patah.

"Ha ha ha...! Siapa sangka kalau berita kehebatan Pendekar Rajawali Sakti ternyata bukan isapan jempol belaka!"

Terdengar suara tawa terbahak, ketika Rangga tengah berdiri tegap memperhatikan lawan-lawannya yang terkapar. Pendekar Rajawali Sakti segera berbalik. Matanya langsung disipitkan ketika melihat seseorang berdiri pada jarak sepuluh langkah, membelakangi cahaya bulan yang mulai tampak samar-samar terhalang awan. Tubuh sosok itu kurus. Rambutnya panjang riap-riapan. Sementara di pinggang kiri dan kanannya masing-masing terselip sebilah pedang dan tongkat pendek. Agaknya, orang ini yang tadi mengeluarkan suara tawa keras.

"Siapa kau? Apakah kau yang menyuruh mereka mengacau di tempat ini?!" Tanya Pendekar Rajawali Sakti.

Orang itu melangkah mendekati. Kemudian dia berhenti pada jarak lima langkah, sehingga kali ini Rangga bisa jelas melihat wajahnya yang sedikit pucat dengan kelopak mata cekung

"Namaku Ganda Seta. Namun orang-orang memanggilku dengan sebutan Hantu Kematian!" sahut laki-laki yang menamakan diri Hantu Kematian dingin dengan senyum menggiriskan.

"Hm, Hantu Kematian… Namamu amat menyeramkan, sesuai sepak terjangmu...," gumam Rangga, datar.

"Ha ha ha...! Bisa jadi sangat tidak berarti dibanding Pendekar Rajawali Sakti yang amat kesohor. Tapi, apakah arti sebuah nama? Buatku segala urusan harus selesai dengan kematian. Itulah sebabnya, tidak ada seorang pun yang boleh hidup saat berurusan denganku!" tandas si Hantu Kematian sambil menyeringai lebar.

"Lalu apa urusanmu denganku, sehingga malam-malam begini mengganggu orang?" Tanya Rangga, tetap tenang.

"Ha ha ha...! Hantu Kematian tidak pernah mengenal waktu saat berurusan. Dan aku tidak ingin berbasa-basi denganmu, Pendekar Rajawali Sakti! Serahkan mustika itu. Dan, urusan kira akan selesai!"

"Sudah kuduga...," sahut Rangga, disertai senyum kecil.

Hantu Kematian mendengus dingin. Matanya mendelik garang, memandang Pendekar Rajawali Sakti. "Bila kau memberikannya padaku dengan jalan baik, maka kau adalah satu-satunya orang yang kubiarkan hidup setelah berurusan denganku!" lanjut Ganda Seta alias Hantu Kematian.

"Soal kematianku bukanlah urusanmu. Dan soal mustika ini juga bukan urusanmu, Hantu Kematian! Benda di tanganku ini harus berada di tangan orang yang benar. Bukan di tangan orang-orang sepertimu!" desis Rangga tajam.

"Phuih! Kurang ajar...! Heh! Orang lain boleh takut dengan namamu. Tapi si Hantu Kematian akan membuatmu tidak sempat menyesali kesalahan, karena sebentar lagi kau akan menjadi penghuni akherat!" geram Ganda Seta.

Langsung saja si Hantu Kematian melompat menyerang Rangga dengan pukulan mautnya.

"Uh! Sial...!"

Werrr!

Pendekar Rajawali Sakti terkejut ketika melihat sambaran lidah api yang melesat kencang ke arahnya. Hawa panas menyengat langsung terasa, seperti hendak membakar dirinya. Dari sini Pendekar Rajawali Sakti menyadari kalau lawannya tak bisa dianggap main-main. Tanpa basa-basi lagi langsung dimainkannya jurus-jurus dari lima rangkaian jurus Rajawali Sakti. Dan seketika tubuhnya melenting ke atas menghindari. Namun. Ganda Seta langsung menyusul disertai kibasan senjata di tangannya.

Sring!

Yeaaat...!"

"Sial!" dengus Rangga kesal.

Hantu Kematian memang bukan hanya nama kosong belaka. Apa yang didengar Pendekar Rajawali Sakti tentang kehebatannya, kini terbukti. Maka Rangga tidak bisa bertindak gegabah dengan berusaha menghindar. Bila hal itu dilakukan bukan tidak mungkin dirinya akan celaka!

Kini pedang pendek di tangan Hantu Kematian berkelebatan menyambar leher Rangga. Namun sebagai pendekar papan atas, Pendekar Rajawali Sakti dengan mudah mendoyongkan tubuhnya ke belakang dan langsung melepaskan tendangan berputar menggunakan kaki kiri.

"Uhhh!" Cepat bagai kilat, Hantu Kematian terus menjatuhkan diri. Sehingga, tendangan Pendekar Rajawali Sakti luput. Dan tanpa diduga sama sekali, bersamaan dengan itu Ganda Seta mencabut tongkat pendek yang terselip di pinggang. Begitu menjatuhkan diri, Hantu Kematian langsung memecut bulatan kecil pada tongkatnya. Seketika, melesat logam runcing yang dihubungkan rantai kecil. Cepat sekali senjata itu menyambar ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti. Rangga cepat berusaha memiringkan tubuhnya, menghindar. Namun.

Crasss!

"Aaakh!" Rangga memiringkan tubuh, berusaha menghindari logam runcing yang melesat cepat. Tapi.... Terlambat! Pendekar Rajawali Sakti yang berusaha memiringkan tubuhnya, terlambat menghindar ketika senjata itu menyambar pinggangnya. Luka itu hanya sedikit saja. Namun, rasanya sakit bukan main disertai hawa panas yang menyengat.

"Ha ha ha...! Umurmu tidak seberapa lagi, Pendekar Rajawali Sakti. Racun yang berada di ujung senjataku itu sangat ampuh dan mematikan. Dan kini racun itu telah mengendap di tubuhmu!" ejek Hantu Kematian disertai tawa meleceh, selah melenking bangkit berdiri.

"Huh!" Pendekar Rajawali Sakti mendengus geram. Seketika tangan kanannya bergerak ke punggungnya.

Sring!

"Heaaat!" Kini Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang bersinar biru berkilauan telah tergenggam di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan disertai teriakan mengguntur, Rangga meluruk menyerang lawannya.

Hantu Kematian tersentak kaget melihat pamor dahsyat pedang Pendekar Rajawali Sakti. Namun dia cepat menghindar ke sana kemari dengan gerakan gesit. Sama sekali tidak terlihat dia berusaha membalas serangan. Apalagi dia terlalu yakin kalau tidak lama lagi Pendekar Rajawali Sakti akan kehabisan tenaga akibat racun yang telah mengendap di tubuh.

Namun kalau saja benar si Hantu Kematian menunggu habisnya tenaga Pendekar Rajawali Sakti, maka salah besar. Buktinya serangan Pendekar Rajawali Sakti seperti makin berlipat ganda. Bahkan keadaan Hantu Kematian saat ini betul-betul terjepit dan sama sekali tidak mampu berkutik. Pedang Pendekar Rajawali Sakti terus ketat mengurungnya. Kematiannya hanya menunggu waktu saja, saat kulitnya yang pucat semakin pucat saja. Malah sekujur tubuhnya jadi menggigil kedinginan.

"Yeaaa...!"

Wuuut!

Ketika pedang Rangga berkelebat menyambar leher, Hantu Kematian cepat bagai kilat menjatuhkan diri ke belakang sambil bergulingan. Namun belum juga tubuhnya sempat menyentuh tanah, ujung kaki kanan Rangga telah menghantam tulang dadanya.

Krek!

"Aaakh...!" Ganda Seta melenguh tertahan, begitu kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti menghantam dadanya hingga remuk. Tidak sampai di situ serangan Rangga. Begitu tubuh Hantu Kematian melayang akibat hantaman kakinya, ujung pedangnya telah berkelebat ke perut.

Crasss!

"Aaa...!" Tubuh Ganda Seta kontan jatuh berdebuk di tanah tanpa daya, begitu perutnya tersambar Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Tanpa ada gerakan sedikit pun, tubuh si Hantu Kematian langsung hangus menghitam. Mati mengenaskan!

"Uhhh...!" Rangga mengeluh tertahan. Kepalanya terasa sakit luar biasa. Dan pandangannya berkunang-kunang ketika mendekati kudanya yang tertambat. Tubuhnya panas bukan main seperti terbakar.

"Dewa Bayu... Kira pergi dari sini secepatnya. Larilah kau sekuat tenaga ke mana saja...," ucap Rangga lemah, seraya melompat ke punggung kudanya.

"Hieee...!" Hewan itu meringkik kecil seperti mengerti apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti. Terlihat keempat kakinya disentak-sentakkan ke tanah untuk menunjukkan kegelisahannya.

"Aku tidak apa-apa. Ayo, mari kita pergi. Akan banyak lagi bahaya yang datang kalau kita berlama-lama di sini...," sahut Rangga sambil menepuk-nepuk leher kuda hitam tunggangannya.

"Hieee...! Dewa Bayu kembali meringkik pelan, kemudian berlari cepat meninggalkan tempat itu. Angin malam yang dingin sedikit menyejukkan tubuh Rangga. Namun, itu tidak mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Pandangannya semakin mengabur dan tubuhnya lemah seperti tidak bertenaga.

EMPAT

Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti membuka kelopak matanya, setelah sekian lama bersemadi untuk memusnahkan racun yang mengendap di tubuhnya. Apalagi, dalam tubuhnya, juga telah bersemayam sejenis jamur yang dimakannya di Lembah Bangkai. Dan jamur itu memang mampu memunahkan segala jenis racun yang masuk ke tubuhnya.

"Eyang, dia telah selesai bersemadi..." Terdengar suara halus yang masuk ke telinga Rangga. Tak lama terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya.

Memang, ketika terluka parah akibat bertarung dengan Hantu Kematian, Pendekar Rajawali Sakti terus melarikan kudanya. Dan karena sudah tak tahan lagi, dia segera menghenyikan kudanya, di sebuah rumah penduduk di Desa Banjar Sari. Di situ, Rangga memohon untuk sudi memberi tempat bersemadi pada si Pemilik Rumah. Untungnya, dengan senang hati si Pemilik Rumah mempersilakan. Dan belum juga orang itu mendekat, mendadak Rangga merasakan perutnya mual seperti hendak muntah. Lalu...

"Hoeeekh...! Darah kental kehitaman hitaman seketika ke luar dari mulutnya. Dan beberapa kali itu terjadi, sampai darah yang keluar berwarna merah segar. Tampak keringat sebesar butir-butir jagung menitik di keningnya. Dan Rangga langsung merasakan segar pada tubuhnya.

"Minumlah air hangat ini, Anak Muda...!" ucap sebuah suara.

Pendekar Rajawali Sakti segera mengulurkan tangannya, mengambil air hangat yang disodorkan oleh seorang perempuan tua berwajah putih bersih. Di samping perempuan tua itu, duduk seorang gadis cantik yang terus memperhatikan Rangga.

"Hm... Sejak kedatanganku, aku tak mengenal kalian... Siapakah nama kalian? Mudah-mudahan aku bisa membalas budi baik kalian," kata Rangga.

"Ah! Jangan kau berpikir soal budi baik, Kisanak. Sudah sepatutnya kita saling menolong. Oh, ya. Namaku Waraningrum," gadis itu yang menyahut.

"Waraningrum? Hm nama yang bagus sekali," puji Pendekar Rajawali Sakti.

Kini mata Pendekar Rajawali Sakti beralih pada seorang wanita kurus berusia lanjut yang tadi memberi air hangat. Manakala wanita tua itu tersenyum, maka terlihat sederetan giginya yang sebagian besar telah tanggal. Rambutnya yang panjang dan sebagian telah memutih, disanggul pendek. Terlihat beberapa tusuk konde menghiasinya.

"Aku Nyai Sampit, Anak Muda," kata perempuan tua itu, seperti mengerti tatapan Rangga.

Dan baru saja Rangga mengangguk-angguk... "Heh?!"

"Maaf, apakah kalian menyimpan pedang dan peti kecil yang kubawa?" Tanya Rangga disertai rasa terkejut yang amat sangat, ketika teringat kalau pedang pusakanya dan peti kecil yang dibawa tadi telah diletakkan di sisinya.

"lnikah yang kau cari-cari...?" Tanya Waraningrum seraya menyerahkan kedua benda yang dikhawatirkan pemuda itu.

"Oh, terima kasih. Maaf, pedangku ini seperti bagian dari tubuhku sendiri...," ucap Rangga seraya menerima kedua benda itu.

"Dan kotak kayu ini...?" tanya Nyai Sampit.

Rangga segera membuka peti keci itu. Dan ternyata mustika di dalamnya masih utuh. Dia menghela napas lega. "Benda inilah yang membuatku bertarung dengan orang-orang yang mengincarnya. Sehingga, aku terluka parah dan merepotkan kalian," jelas Rangga.

"Apa kotak itu milikmu?" tanya Waraningrum.

Rangga mengangguk pelan. "Aku harus secepatnya pergi dari sini. Maaf. telah merepotkan kalian...," lanjut Pendekar Rajawali Sakti seraya bangkit dari balai-balai bambu yang digunakan untuk semadi. "Jasamu tak akan kulupakan, Nyai Sampit. Terima kasih, aku mohon pamit."

Nyai Sampit hanya tersenyum manis. Walau senyumnya sebenarnya lebih mirip sebuah seringai. Waraningrum tersenyum kecil pada Rangga. Segera diikutinya Rangga ke depan. Sementara Nyai Sampit tetap duduk menyirih di atas balai-balai bambu itu.

********************

"Gusti Ayu Diah Kameshwari, terimalah hormat hamba...!" ucap seorang gadis, langsung duduk bersimpuh di dekat wanita setengah baya berpakaian bagus yang dipanggil Gush Ayu Diah Kameshwari.

"Kuterima hormatmu, Srikatan. Duduklah di dekatku...," sahut wanita setengah baya itu, halus.

"Terima kasih, Kanjeng Gusti...," sahut gadis yang dipanggil Srikatan.

"Lelahkah perjalananmu? Apakah kau telah beristirahat..?" Tanya Gusti Ayu Diah Kameshwari.

"Ampun, Gusti Ayu. Lelah dan penat tidak hamba hiraukan, sebelum menyampaikan berita yang Gusti Ayu inginkan...."

"Hm... Kau tidak boleh begitu. Seyogyanya kau harus memperhatikan kesehatanmu...."

"Ampun, Gusti Ayu. Saat ini, hamba belum lagi begitu lelah. Jadi, hamba bisa langsung menghadap," ucap Srikatan.

"Begitu? Baiklah. Coba, sekarang ceritakan, adakah sesuatu yang kau bawa untukku?"

"Gusti Ayu, mustika itu kini berada di tangan seseorang!" sahut gadis bernama Srikatan, perlahan.

"Siapakah orang itu?"

"Pendekar Rajawali Sakti!"

"Pendekar Rajawali Sakti? Apakah dia orang jahat yang telah mencuri mustika Kerajaan Banyuasin?!" Tanya wanita setengah baya itu menduga dengan wajah curiga.

"Ampun, Gusti Ayu. Dia adalah pendekar hebat. Selama ini, hamba selalu mendengar kalau dia seorang pendekar lurus," sahut Srikatan.

"Lalu, bagaimana sehingga mustika itu berada di tangannya?"

"Hamba mendengar kalau mustika itu didapatkannya dari salah seorang pengawal yang berada di bawah pimpinan Ki Jengger Manuk. Saat itu mereka tengah diserang, Walatikta alias Maling Hitam Tombak Sakti yang diduga pencuri mustika itu dari Kerajaan Banyuasin ini.

Wanita setengah baya itu terdiam sesaat. Direnunginya kata-kata Srikatan. Kemudian dipandanginya gadis berbaju serba hitam ini berambut panjang yang dikuncir ke atas itu, untuk beberapa saat.

"Srikatan! Apakah menurutmu Pendekar Rajawali Sakti akan mengembalikan mustika itu pada kita?"

"Gusti Ayu... Sepengetahuan hamba, Pendekar Rajawali Sakti adalah pendekar yang tidak serakah dengan harta. Mungkin saja dia akan mengembalikan mustika itu. Namun...”

"Namun apa, Srikatan?"

"Maafkan kelancangan hamba, Gusti Ayu...," sahut gadis itu dengan wajah bingung dan nada suara ragu.

Wanita setengah baya itu tersenyum kecil, "Srikatan, katakanlah. Apa yang hendak kau sampaikan padaku…"

"Hamba mendengar kalau Pendekar Rajawali Sakti dihadang oleh tokoh-tokoh silat yang menginginkan mustika itu...," lanjut Srikatan.

"Lalu?"

"Apakah Gusti Ayu tidak menaruh curiga?"

"Curiga? Pada siapa?"

Gadis itu terdiam beberapa saat.

"Katakanlah, Srikatan. Curiga pada siapa yang kau maksudkan?"

"Gusti Ayu Bre Bendari...."

Wanita setengah baya itu terdiam sesaat, mendengar kata-kata Srikatan yang terdengar pelan dan lirih. Bola matanya memandang kosong ke depan, kemudian kembali memalingkan perhatian ke arah Srikatan.

"Maafkan kelancangan hamba, Gusti Ayu...," lanjut gadis itu menundukkan kepala.

Gusti Ayu Diah Kameshwari menggeleng kepala. "Aku mengerti, Srikatan. Bre Bendari memang berniat hendak menggantikan kedudukanku sebagai permaisuri kerajaan. Dengan mendapatkan mustika itu, maka jalannya akan semakin mulus. Kau mengkhawatirkan aku, bukan?"

Gadis itu mengangguk lemah.

"Terima kasih, Anakku...."

"Gusti Ayu, Gusti telah hamba anggap sebagai ibunda hamba sendiri. Maka kesusahanmu adalah kesusahanku pula. Adakah sesuatu yang bisa hamba perbuat untuk meringankan beban hatimu...?" Tanya Srikatan.

"Maukah kau mengerjakannya untukku?" Tanya wanita setengah baya itu tersenyum kecil.

"Gusti Ayu.... Seluruh jiwa raga hamba persembahkan untuk menjalankan titahmu!"

"Terima kasih, Anakku. Nah, pergilah temui Pendekar Rajawali Sakti. Mintalah mustika itu secara baik-baik. Dan hati-hatilah kau terhadap mata-mata Bre Bendari yang tersebar di mana-mana. Karena mereka selalu memata-matai setiap gerakanku. Bila mereka tahu kalau kau berhubungan denganku, maka mereka akan berusaha melenyapkanmu," kata Gusti Ayu Diah Kameshwari memperingatkan.

"Akan selalu kuingat hal itu, Kanjeng Gusti Ayu!"

"Pergilah sekarang, Anakku. Restuku menyertaimu!”

"Terima kasih, Kanjeng Gusti Ayu. Hamba mohon pamit!" sahut Srikatan seraya membungkuk hormat. Kemudian dia berlalu dari ruangan ini.

LIMA

Bre Bendari menggeram kesal. Tangannya yang terkepal dihantamkan pada guci besar di dekatnya hingga hancur berantakan. Wanita itu berdiri tegak dengan mata melotot lebar, memandang orang-orang di depannya yang berada di ruangan ini.

"Apa yang bisa kalian lakukan untukku?! Tidakkah kalian malu?!" sentak wanita berusia bga puluh lima tahun ini keras.

Tokoh-tokoh golongan hitam yang berada di tempat itu terdiam sambil menundukkan kepala. Wajar saja kalau malu, karena mereka sebenarnya sudah dibayar untuk mencuri mustika yang diperebutkan.

"Dua orang yang sangat mengagungkan kepandaiannya hanya kembali nama saja. Apakah kalian hendak mengatakan kalau tiada seorang pun yang mampu mengalahkan bocah keparat berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu?!" lanjut Bre Bendari, mendesis garang.

Salah seorang mengangkat kepala Lalu kedua tangannya dirangkapkan memberi hormat. "Kanjeng Gusti Ayu, sesungguhnya Pendekar Rajawali Sakti bukanlah tokoh sembarangan.

"Tutup mulutmu, Wisanggeni...!" hardik wanita itu garang.

Laki laki bernama Wisanggeni tersentak. Lalu buru-buru kepalanya ditundukkan.

Bre Bendari memandang mereka dengan sikap sinis! "Phuih! Kalian semua hanya kantong nasi tidak berguna. Menghadapi maling kecil kalian bisa berlagak. Tapi berhadapan dengan seorang yang sedikit punya kepandaian, kalian sudah menganggapnya tinggi!" lanjut wanita ini penuh amarah.

Tak ada seorang pun dari mereka yang berani buka mulut, setelah apa yang dilakukan Wisanggeni tadi. Semuanya membisu seperti patung.

"Wisanggeni..!"

"Hamba. Kanjeng Gusti Ayu...!" sahut laki laki bercambang bawuk itu buru-buru menghormat.

"Bawa seluruh orang yang kau percaya. Dan rebut mustika itu dari tangan Pendekar Rajawali Sakti! Bila gagal, kalian tidak usah kembali. Sebab, aku sendiri yang akan mencabut nyawa kalian!" dengus wanita itu memberikan ancamannya.

"Kanjeng Gusti Ayu, segala jiwa raga hamba menjadi taruhan atas tugas ini!" sahut Wisanggeni mantap.

"Pergilah secepatnya dari sini!"

"Baik, Gusti Ayu...!" sahut Wisanggeni seraya menghaturkan hormat. Kemudian dia bangkit dan berlalu dari tempat ini. Langsung diajaknya beberapa orang kawannya.

Sementara Bre Bendari mendengus kecil, kemudian menepuk tiga kali setelah mereka keluar dari ruangan ini. Seorang gadis belia muncul di tempat itu seraya menghaturkan sembah.

"Siapkan pakaian khususku!" perintah wanita itu.

"Baik, Gusti Ayu!" sahut gadis belia itu, seraya beringsut dan beranjak ke ruangan lain. Ketika kembali, gadis itu telah membawa seperangkat pakaian beserta sebilah keris dalam sebuah baki.

Bre Bendari menerimanya, lalu masuk ke kamar pribadinya. Beberapa saat kemudian, dia telah keluar. Kini pakaian yang dikenakan sebagaimana layaknya tokoh persilatan. Lengkap dengan senjata keris di pinggangnya. Dalam keadaan begitu, nyata terlihat kecantikannya. Meski, sesungguhnya usianya telah lewat dari kepala tiga.

"Hm Pendekar Rajawali Sakti! Tunggulah pembalasanku. Kau tidak akan mampu membawa mustika itu ke tangan orang-orang kerajaan!" dengus wanita itu sambil tersenyum dingin.

"Kanjeng Gusti Ayu, hendak ke mana? Dan, kenapa berpakaian seperti ini?" Tanya abdinya.

"Itu bukan urusanmu. Jagalah tempat ini baik-baik sepeninggalku!"

"Tentu saja, Gusti Ayu!" sahut gadis belia ini, menunduk hormat.

"Katakan pada Ki Somad agar menyiapkan kudaku!"

"Baik, Kanjeng Gust Ayu!" sahut gadis belia itu, segera beranjak dari ruangan setelah menjura hormat.

Bre Bendari kembali tersenyum-senyum sendiri. Lalu dia duduk di kursi, membayangkan apa yang hendak dilakukannya nanti terhadap Pendekar Rajawali Sakti.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Rangga duduk bersandar di bawah sebatang pohon, melepaskan rasa lelah dan penat. Tidak jauh dari situ, kudanya tengah merumput tenang. Sesekali matanya melirik ke arah Dewa Bayu, lalu tersenyum kecil. Sebentar kemudian, dikeluarkannya isi buntalan kain kecoklatan. Sejenak diperhatikannya sebuah kotak berukir di dalamnya.

"Hm... Apa yang harus kuperbuat dengan kotak ini? Keadaan tampaknya semakin rumit. Bagai mana bila kuserahkan pada orang yang salah?" gumam Rangga, untuk diri sendiri. Namun baru saja selesai gumaman Rangga, terdengar suara langkah kaki dari depannya.

"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti tersentak, dan buru-buru menyembunyikan kotak itu ke dalam buntalannya. Segera dia bangkit dan langsung memandang ke sekeliling. Rupanya beberapa orang berseragam telah mengurungnya sambil melangkah perlahan menghampiri. Rata-rata wajah mereka bertampang seram, apalagi dengan senjata di tangan.

Jarak mereka semakin lama semakin dekat. Dan manakala telah terpaut sepuluh langkah, orang-orang itu berhenti. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti berdiri tenang, langsung mengawasi mereka satu persatu. Dengan tatapan matanya, Rangga menghitung. Jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh orang. Dan melihat gelagat yang kurang baik ini. Pendekar Rajawali Sakti segera bersiaga penuh.

Salah seorang yang berada paling depan, bertubuh besar. Wajahnya bercambang bawuk tebal. Sepasang matanya garang, dan agak memerah Dua bilah golok besar tampak terselip di pinggang kiri. Orang itu memandang Rangga dengan tajam Lalu kakinya melangkah mendekati. Pada jarak lima langkah, dan dia berhenti.

"Bocah! Kulihat kotak yang kau bawa indah sekali. Bolehkan kutahu, apa isinya?!" Tanya laki-laki bercambang bawuk itu dengan suara serak.

Rangga tersenyum sambil menggeleng kecil. "Kisanak, sayang sekali. Benda ini milik keluarga sehingga aku tidak bisa memperlihatkannya padamu," sahut Pendekar Rajawali Sakti tegas.

"Milik keluarga siapa yang kau maksudkan?!" Tanya suara laki-laki itu terdengar mulai agak keras.

"Tentu saja keluarga yang memilikinya." sahut pemuda itu enteng.

"Tidak usah berbelit-belit! Tahukah kau, bahwa sesungguhnya kau tengah berhadapan dengan keluarga pemilik benda itu!" sahut laki-laki bercambang bauk itu mulai hilang kesabarannya.

"Begitukah? Bila benda ini berada di tanganku, sudah barang tentu aku tahu siapa yang memilikinya. Dan kau mengaku-aku sebagai pemiliknya. Padahal, aku sama sekali tidak mengenalmu, juga orang-orangmu ini?" sahut Rangga seperti bertanya pada diri sendiri.

"Wisanggeni! Untuk apa banyak mulut segala?!" teriak salah seorang dengan suara keras pada laki-laki bercambang bauk itu.

"Betul! Langsung rebut saja benda itu! Huh! tanganku sudah gatal mendengar ocehannya!" timpal kawannya yang lain, sambil mendengus geram.

Laki-laki yang dipanggil Wisanggeni tidak langsung menyahuti. Kembali ditatapnya, Pendekar Rajawali Sakti tajam-tajam. "Jadi, kaukah Pendekar Rajawali Sakti?" Tanya Wisanggeni dingin. Nadanya jelas menunjukkan perasaan sinis.

"Begitulah orang memanggilku. Dan, kau pasti menginginkan benda di dalam kotak di tanganku?" sahut Rangga balik bertanya.

"Ha ha ha...! Ternyata kau pintar menebak orang, Pendekar Rajawali Sakti. Namaku Wisanggeni. Dan orang orang menyebutku Kelelawar Setan Bertangan Darah," kata Wisanggeni, bermaksud menakuti-nakuti dengan menyebutkan julukannya.

"Hm... Sebuah nama yang amat menyeramkan, sehingga selalu membuat bulu kuduk berdiri. Tapi maaf, Kisanak. Aku tetap tidak bisa menyerahkan benda di tanganku ini padamu!" sahut Pendekar Rajawali Sakti mantap.

"Pendekar Rajawali Sakti! Walau julukanmu telah tersohor ke delapan penjuru angin, tapi jangan dikira aku takut! Sebaiknya, berhati-hatilah. Karena, saat ini kau telah terkepung. Kami tidak akan segan-segan melenyapkan nama besarmu kalau kau bersikeras!" kata Wisanggeni memperingatkan.

Rangga tersenyum, sambil memperhatikan para pengepungnya satu persatu. "Kisanak! Aku telah dipesan agar tidak memberikan benda ini pada sembarang orang. Dan amanat itu akan kupegang teguh dengan taruhan nyawa. Maka sebaiknya lupakan saja. Itulah jawabanku!" randas Rangga.

"Banyak mulut!" Salah seorang dari mereka menggeram. Dan agaknya orang itu sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Segera dia melompat dan menyerang Pendekar Rajawali Sakti. "Yeaaa...!"

Bersamaan dengan itu, yang lain segera mengikuti. Dengan kemarahan mekiap luap mereka menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti tersenyum sinis. Tubuhnya langsung bergerak lincah ke sana kemari, menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Beberapa orang dibuatnya kebingungan, karena serangan mereka mudah sekali dihindari. Bahkan serangan balik dari pemuda itu terkadang membuat mereka terkejut, serta tidak mampu menghindar. Karena, datangnya tiba-tiba sekali.

"Hiyaaat !" Wuuut! Duk!

Dua orang menyabetkan pedang ke arah Rangga. Namun, pemuda itu cepat bagai kilat berkelebat ke bawah. Dan tiba-tiba, kepalan tangannya menyodok ke atas disertai tendangan kaki kanannya.

"Aaakh!" Dua orang kontan terjungkal ke tanah sambil memuntahkan darah segar.

"Yeaaa...!" Pendekar Rajawali Sakti tidak menunggu lagi. Tubuhnya sudah langsung melompat menyerang tiga orang yang berada di samping. Dua orang mengayunkan golok ke leher dan pinggang Pendekar Rajawali Sakti. Sementara yang seorang lagi menyerang dengan tombak tepat ke arah jantung. Namun dengan gerakan mengagumkan, Rangga melenting ke atas. Dan pada saat yang bersamaan, kedua kakinya menghantam kepala lawan-lawan yang terdekat.

Duk! Duk!

"Wuaaa...!" Dua orang kembali memekik kesakitan, ketika dua tendangan Pendekar Rajawali Sakti yang berturut-turut mendarat di kepala mereka. Kontan mereka ambruk ditanah sambil memegangi batok kepala yang retak mengeluarkan darah.

Dan baru saja Pendekar Rajawali Sakti mendarat mantap di tanah, datang serangan beberapa tusukan tombak ke dadanya. Namun dengan tenangnya, Pendekar Rajawali Sakti menggerakkan tangan kirinya.

Tap!

Tangan kiri Rangga berhasil menangkap ujung tombak yang mengarah ke dadanya. Lalu ditariknya tombak itu dengan keras sehingga terlepas dan genggaman penyerangnya. Akibatnya, orang itu nyaris terjungkal ke depan. Dan Rangga tidak menyia-nyiakan kesempatan, Maka tiba-tiba, ujung belakang tombak itu didorongkan ke perut penyerangnya.

Bresss!

"Aaakh...!" Orang itu memekik setinggi langit begitu ujung tumpul bagian belakang tombak itu menembus perutnya hingga ke pinggang. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi tombaknya. Lalu, dia ambruk di tanah tak berkutik lagi.

"Haram jadah! Kau rasakan golokku ini. Keparat!" maki Wisanggeni. Laki-laki bercambang bawuk itu segera mencabut dua goloknya. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan geram.

"Yeaaat...!" Wuuut! Wut!

Pendekar Rajawali Sakti sempat terkesiap ketika melihat kelebatan kedua golok laki-laki bercambang bawuk itu. Begitu hebatnya, sehingga mengeluarkan bunyi.kebutan dahsyat. Untuk sesaat Rangga agak kewalahan menyelamatkan diri. Kelebatan dua golok itu memang seperti membungkus sekujur tubuh. Lengah sedikit saja, maka lawan-lawannya yang lain telah siap merencahnya.

"Heaaat!"

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti segera melenting ke belakang sambil berputaran beberapa kali, untuk mengambil jarak. Namun, dua orang anak buah Wisanggeni telah menunggunya.

Namun dengan mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' Pendekar Rajawali Sakti kembali melenting ringan, menghindari sabetan dua golok yang mengancam. Sehingga kedua senjata itu hanya menyambar angin. Dan tiba tiba saja, Rangga meluruk cepat sambil melepaskan tendangan ke arah salah seorang lawannya.

Duk!

"Ugkh!" Orang itu kontan terjajar beberapa langkah. Dan pada saat yang sama sepasang golok Wisanggeni yang semula tertuju ke arah Rangga tak bisa terhindarkan lagi. Orang itu terkejut. Dan

Cras! Bres!

"Aaakh..!"

"Dawang Ampu...?!" Wisanggeni kaget bukan main melihat kawannya menjadi korban goloknya sendiri. Untuk sesaat dia seperti tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Laki-laki bernama Dawang Ampu memekik keras dengan tubuh berlumur darah. Begitu ambruk di tanah, nyawanya melayang beberapa saat kemudian. Tapi kemudian, Wisanggeni memalingkan muka ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan mata melotot garang.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kau harus mampus di tanganku!" lanjut laki-laki bercambang bawuk itu mendesis garang. Wisanggeni segera menyelipkan dua goloknya ke pinggang. Langsung kedua kakinya membuat kuda-kuda sambil merangkapkan kedua tangan di dada. Melihat apa yang dilakukannya, kawan-kawannya yang lain tidak meneruskan serangan. Mereka segera menjaga jarak tertentu. Sepertinya, mereka mengeri bahwa kali ini Wisanggeni akan mengeluarkan ajian pamungkasnya untuk mengakhiri pertarungan secepatnya.

"Heaaa...!" Disertai bentakan keras, Wisanggeni segera mencabut sepasang goloknya yang tadi diselipkan ke pinggang untuk beberapa saat. Sementara Pendekar Rajawali.Sakti menatap tajam ke arah kedua tangan laki-laki bercambang bawuk yang berwarna merah bagai bara sampai sebatas siku. Warna merah itu agaknya menjalar pada sepasang golok di tangannya Lalu, Wisanggeni mundur dua langkah, siap melenyapkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aji 'Tangan Darah' tidak pernah gagal kupergunakan pada semua lawan-lawanku. Kau akan mampus, Bedebah!" desis Wisanggeni garang. Begitu habis kata-katanya, Wisanggeni tiba-tiba melompat menyerang Rangga.

Wuk! Wuk!

"Uhhh...!" Pendekar Rajawali Sakti langsung terkejut bukan main. Hawa panas menyengat terasa membakar kulitnya, ketika merasakan angin sambaran senjata laki-laki bercambang bawuk itu pada jarak dua langkah. Sedangkan pada saat itu Wisanggeni terus mendesaknya dengan mengerahkan seluruh kemampuan.

"Yeaaat..!" Pemuda berbaju rompi putih itu cepat bagai kilat mencelat ke belakang untuk menjaga jarak Sementara Wisanggeni terus mengejarnya. Padahal pada saat yang bersamaan, tiga orang lain telah siap menebas Pendekar Rajawali Sakti dengan senjata masing-masing.

Tidak ada pilihan lain bagi Rangga. Segera Pedang Pusaka Rajawali Sakti dicabut, sehingga terlihat cahaya biru terang dari batang pedangnya.

Sriiing!

Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang bersinar biru berkilauan berkelebat dan menyambar ketiga orang yang menunggunya sekaligus. Mereka tersentak kaget. Bahkan mereka tidak mampu menghindar, ketika ujung pedang itu memapak semua senjata yang tergenggam dan terus menyambar ke arah dada.

Bruesss!

"Aaa...!" Ketiga orang itu kontan memekik tertahan dan ambruk di tanah Mati dengan tubuh hangus!

Begitu mendarat di tanah, pedang si Pendekar Rajawali Sakti terus berkelebat memapak kedua golok di tangan Wisanggeni yang terus mengejar.

Trak! Tras!

Lelaki bercambang bawuk itu terkejut melihat kedua senjata andalannya hancur dihantam pedang Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan kalau saja tidak buru-buru melompat ke samping ujung pedang pemuda itu akan menyambar tubuhnya.

"Yeaaat" Namun Wisanggeni tidak tinggal diam. Langsung kedua tangannya menghentak ke depan, melepaskan pukulan jarak jauh. Seketika dari kedua telapak tangannya melesat dua buah sinar merah ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas. Dan akibatnya sungguh parah. Sebab dua orang kawan Wisanggeni langsung tewas tersambar pukulan jarak jauh itu. Keduanya terjungkal dengan tubuh retak bermandikan darah.

"Kurang ajar! maki Wisanggeni Namun tiga orang kawannya yang tersisa telah menjadi mata gelap. Dan mereka segera menyerang Pendekar Rajawali Sakti bersamaan.

"Heaaat ..!"

Dan tentu saja Pendekar Rajawali Sakti tidak tinggal diam. Tubuhnya langsung berkelebat, disertai sambaran pedangnya. Dan...

Bras! Crat!

"Aaakh!" Ketiga orang itu kontan memekik tertahan dan terjungkal dengan tubuh hangus terkena sambaran pedang Pendekar Rajawali Sakti.

"Keparaaat..!" Wisanggeni kembali memaki dengan urat-urat di pelipisnya yang menegang menandakan amarahnya yang tidak terkendali. Tapi baru saja Wisanggeni hendak melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti, mendadak melesat cepat satu sosok tubuh ke arahnya dari belakang. Dan

Bros!

"Aaakh..." Laki-laki bercambang bauk itu menjerit keras dengan bola mata seperti hendak keluar dari ke lopaknya. Ketika berbalik, dia melihat seorang wanita berusia kira-kira tiga puluh lima tahun berwajah cantik tengah tersenyum sinis. Keris di tangannya menancap ke punggung kiri Wisanggeni dan terus menembus ke depan sehingga merobek jantung.

"Nyai Kau... kau...?!" Nada suara Wisanggeni terputus-putus dengan wajah heran, seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Pembunuh keparat! Pergilah ke neraka sekarang juga!" desis wanita itu. Begitu selesai kata-katanya, wanita itu menarik kerisnya ke atas membelah tulang dada hingga menyambar leher bagian kanan. Kembali Wisanggeni memekik setinggi langit. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke depan dalam keadaan berlumuran darah. Begitu ambruk di tanah dia menggelepar gelepar beberapa saat sebelum akhirnya diam tidak bergerak. Sementara, wanita itu segera jongkok melihat keadaan Wisanggeni.

Wanita itu mendengus sinis sambil membersihkan kerisnya di baju lelaki bercambang bawuk itu. Ketika bangkit berdiri, kerisnya langsung disarungkan ke pinggang. Setelah itu, matanya memandang ke arah si Pendekar Rajawali Sakti dan melangkah mendekatinya.

"Kisanak, terima kasih Karena bantuanmu, maka aku telah menemukan pembunuh kedua orangtuaku. Mudah-mudahan, kini mereka bisa tenang di alam baka sana...," kata wanita itu dengan wajah puas bercampur lega.

ENAM

Pendekar Rajawali Sakti tidak langsung menjawab. Dipandangnya wanita cantik ini seksama. Lalu bibirnya melepaskan senyum kecil. Dan perlahan-lahan pedangnya disarungkan kembali di balik punggung. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rangga melangkah, menghampiri kudanya. Sedangkan wanita itu mengikuti dengan langkah terburu-buru.

"Eh, Kisanak! Hendak ke mana kau? Tidakkah kau punya sopan-santun barang sedikit? Aku bicara padamu. Dan kau meninggalkanku begitu saja?!" dengus wanita itu.

Rangga berhenti. Kembali dipandangnya wanita itu disertai senyum kecil. "Apakah yang bisa kukatakan? Bukankah kini kau telah lega karena pembunuh kedua orang tuamu binasa di tanganmu sendiri?" Rangga balik bertanya.

"Semua ini karena bantuanmu. Kalau saja berhadapan secara langsung, mana mungkin aku bisa melakukannya. Sudah lama sekali aku menunggu-nunggu saat seperti ini.

"Kulihat, kepandaianmu hebat. Dan rasanya. Tidak kalah dengannya...," kata Rangga.

Wanita itu tertawa kecil. Dipandangnya pemuda itu dengan wajah lucu. "Begitu menurutmu? Seorang pengecut yang hanya bisa membokong dari belakang kau katakan hebat?"

"Bukan. Kau berani. Dan..., perbuatan itu bukan pengecut. Tapi, cerdik!" sahut Rangga.

"Kau hanya sekadar menyenangkan hatiku saja, bukan?" Tanya wanita itu tak suka.

"Apakah kau anak kecil yang bisa disenangkan hatinya dengan cara seperti itu...?" kembali Rangga balik bertanya.

Wanita itu kembali tertawa. "Kau pintar. Dan rasanya kepandaianmu pun sangat hebat. Aku suka bila bisa berkenalan denganmu. Namaku Saraswati," kata wanita cantik yang mengaku bernama Saraswati seraya mengulurkan tangan.

"Rangga. Pendekar Rajawali Sakti menyebutkan namanya menyambut uluran tangan itu.

Rangga. Hei?! Di mana pernah kudengar nama itu?" tanya Wanita yang mengaku bernama Saraswati sambil berpikir sesaat.

"Barangkali memang ada orang yang namanya sama denganku sahut Pendekar Rajawali Sakti.

"Bisa jadi. Tapi, ah aku ingat!" seru wanita itu dengan wajah girang.

"Apa yang kau ingat?

"Bukankah kau si Pendekar Rajawali Sakti yang telah menggemparkan dunia persilatan itu...?!" tebak Saraswati yakin. Wajahnya tampak berseri.

"Apakah itu ada artinya bagimu?"

"Hei?! Telah lama sekali aku ingin melihat dan bertemu langsung denganmu. Kau seorang pendekar ternama yang amat mengagumkan!" puji Saraswati cerah.

"Simpan saja pujianmu itu. Kurasa, aku tidak seperti apa yang kau bayangkan...," sahut Rangga, kembali melangkah mendekati kudanya.

Namun, wanita itu mengiringi langkah Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh.

"Bahkan aku pernah punya niat untuk meminta bantuanmu untuk menghabisi si Keparat Wisanggeni itu. Dan ternyata impianku terlaksana dengan cara kebetulan yang amat menakjubkan!"

Rangga tersenyum, dan kini telah menuntun kudanya. "Aku bukan membunuh. kata Rangga pelan.

"Tapi bukankah kau..."

"Aku hanya akan membunuh kalau terpaksa, Saraswati!" potong pemuda itu cepat, ketika mengerti apa yang hendak diucapkan Saraswati.

Rangga langsung melompat ke punggung kudanya. Lalu dipandangnya wanita beberapa saat. "Saraswati, maaf. Aku akan melanjutkan perjalanan. Ada sesuatu urusan yang harus kukerjakan secepatnya," ucap Pendekar Rajawali Sakti.

"Akan ke mana tujuanmu, Rangga?"

"Aku akan ke kotaraja."

"Ah, sungguh kebetulan!" sahut Saraswati dengan wajah berseri. "Kebetulan aku ada sedikit keperluan di sana. Keberatankah bila kita berjalan bersama?"

Rangga sebenarnya sedikit jengah. Lalu ditepuk-tepuknya leher kudanya. "Tidak baik rasanya bila kau berkuda berduaan denganku, Saraswati. Apa kata orang nanti?"

"Tentu saja tidak! Aku tidak akan merepotkanmu. Aku punya tunggangan sendiri!" sahut wanita itu cepat. Kemudian Saraswati bersuit nyaring. Dan tidak berapa lama, terlihat seekor kuda berbulu coklat berlari kencang ke arah mereka dari semak belukar.

"Hieee...!" Kuda berbulu coklat itu meringkik keras ketika berhenti tepat di dekat Saraswati. Bersamaan dengan itu Dewa Bayu terdengar mendengus-dengus agak keras sambil menendang kaki-kakinya ke tanah.

"Hm, kuda bagus! Tidak sembarang orang bisa memiliki kuda seperti ini!" puji Rangga.

"Aku merawatnya sejak Tapak Jalak masih bayi. Induknya memang keturunan kuda-kuda unggul," sahut Saraswati seraya melompat ke punggung kudanya.

"Kuda-kuda bagus hanya dimiliki oleh orang berpangkat atau hartawan. Sebab selain harganya mahal, juga perawatannya sulit. Kalau tidak salah, kau satu dari dua dugaanku itu."

Saraswati hanya tersenyum lebar. "Aku hanya rakyat biasa. Kebetulan, almarhum ayahku punya kenalan seorang peternak kuda. Dia memberi Tapak Jalak, ketika masih bayi padaku sebagai hadiah," jelas Saraswati.

"Oh, begitu... "

"Nah, kita siap berangkat, bukan?"

Rangga tersenyum. Lalu Dewa Bayu dihela. Wanita itu mengikuti. Keduanya segera meninggalkan tempat ini dengan cepat.

Wajah Saraswati selalu berseri-seri sepanjang perjalanan yang ditempuh. Sebaliknya, Rangga malah jadi jengah. Sikap Saraswati agaknya genit dan menunjukkan kalau dia bukan wanita baik-baik. Hal itu membuat Rangga menjadi kesal sendiri. Namun untuk menghindar, memang tidak mudah. Apalagi mereka memang satu tujuan.

"Hm, memang kenapa? Bukankah tidak ada yang tahu kita bukan suami istri?" Tanya Saraswati meyakinkan, ketika mereka telah berada di sebuah rumah penginapan.

"Orang-orang memang tidak tahu, Saraswati. Tapi kita tahu kalau hal ini tidak baik. Berada satu kamar dengan lawan jenis yang bukan suami istri, adalah perbuatan yang tidak terpuji," sahut Rangga tenang.

"Yah, terserahmu sajalah."

Rangga segera memesan dua kamar. Namun, agaknya Saraswati menambahkan, agar kamar mereka bersebelahan. Dan pemuda itu hanya tersenyum.

"Aku takut seorang diri berada di kamar. Dengan adanya kau di sebelah, maka perasaanku sedikit aman..," kata Saraswati sebelum memasuki kamar.

Pendekar Rajawali Sakti hanya menggeleng lalu buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintu. Segera tubuhnya direbahkan disertai helaan napas panjang. Pikirannya menerawang jauh ke belakang, pada apa yang menimpanya belakangan ini. Bahaya apa lagi yang akan meng-intainya? Kembali dia menghela napas. Lalu diperhatikannya buntalan berisikan peti kecil berukir yang selama ini tidak pernah lepas dari sisinya.

Rangga tersenyum kecil mengingat betapa kejadian ini sama sekali tidak diduga. Telah banyak nyawa melayang hanya karena menginginkan isi peti ini. Dan, entah berapa orang lagi akan menyusul. Atau juga nyawanya? Belum habis Rangga berpikir lebih jauh mendadak saja.

Pras!

Tiba-tiba sebuah benda bersinar keperakan melesat, melalui jendela kamarnya yang sengaja dibuka. Benda itu terus meluncur. Dan

Crep!

"Heh?!" Pemuda itu terkejut. Tampak sebilah pisau telah menancap di dinding. Buru-buru Rangga bertiarap untuk menjaga segala kemungkinan adanya penyerang gelap. Namun, tidak ada kelanjutannya. Segera diperhatikannya gagang pisau yang terdapat kulit tipis diikat tali kecil. Dengan hati-hati, dibukanya ikatan itu. Dugaannya benar. Kulit itu berisi tulisan singkat yang ditujukan padanya.

Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Temui aku di ujung desa di dekat pohon asem yang besar dan tua.
Srikatan.


"Srikatan?" gumam pemuda itu. "Siapa orang ini...?" Pendekar Rajawali Sakti melirik ke jendela. Kemudian matanya mengintip keadaan di luar. Tidak terlihat suatu apa pun, selain kegelapan malam. Untuk sesaat hatinya merasa ragu. Namun rasa ingin tahunya begitu menggebu. Maka dengan hati-hati, dia melompat keluar melalui jendela.

Wuuut!

"Yeaaat!" Namun baru saja kedua kaki Rangga menjejak tanah, mendadak sebuah benda berkelebat cepat ke arahnya. Cepat bagai kilat, pemuda itu melompat ke atas.

Tap! Tap!

Dengan ekor matanya, Pendekar Rajawali Sakti melirik ke dinding luar penginapan. Tampak beberapa buah senjata rahasia. Dan baru saja Rangga mengarahkan pandangannya ke depan, dua sosok bertopeng hitam berkelebat ke arahnya dengan satu serangan kilat berupa kibasan tajam.

Wuuut!

Dengan tangkas Pendekar Rajawali Sakti bergerak menangkis.

Plak! Plakk!

Lalu tiba-tiba saja, Rangga balas menyerang. Tubuhnya berputaran, sambil melepaskan tendangan keras.

Degkh!

"Aaakh!" Salah seorang terjungkal terkena tendangan Rangga. Namun yang seorang lagi berhasil menghindar Pendekar Rajawali Sakti tidak memberi kesempatan. Dan kepalan tangannya terus mengejar.

"Hiiih!"

"Uhhh...!" Orang bertopeng itu melenguh. Tubuhnya cepat melompat ke samping, menghindari terjangan Rangga sambil melepaskan senjata rahasianya.

Get! Ciet!

Lima buah senjata rahasia berbentuk bintang menderu kencang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun cepat bagai kilat, tubuh pemuda itu berputar bagai gasing. Sementara seorang laki-laki bertopeng yang tadi terjungkal, telah siap menghadangnya dengan satu pukulan keras. Namun di luar dugaan. Pendekar Rajawali Sakti langsung melepaskan pukulan yang sertai pengerahan tenaga dalam, untuk memapak pukulan yang mengancamnya.

Duk!

"Aaakh...!" Orang itu kontan menjerit keras. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung ke belakang ketika kepalannya beradu dengan kepalan Pendekar Rajawali Sakti.

"Yeaaa...!"

"Heup!" Sementara itu, laki-laki bertopeng yang satu lagi, terus melesat ke arah Rangga dengan satu tendangan berisi tenaga dalam tinggi. Cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti menundukkan kepala. Kemudian ditangkisnya serangan itu dengan tangan kiri. Bersamaan dengan itu. kaki kanannya menyodok keras ke arah dada.

Plak! Begkh!

"Aaakh...!" Orang itu kontan menjerit keras. Tubuhnya langsung terjungkal menghantam dinding kamar bagian luar. Namun sebelum Pendekar Rajawali Sakti melepaskan serangan susulan...

"Rangga! Oh, apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi...?" Tanya seorang wanita yang tak lain Saraswati. Wajah wanita itu tampak khawatir, terjulur lewat jendela.

Rangga berpaling. Dan kesempatan itu digunakan kedua lawannya untuk melarikan diri. "Kurang ajar...!" geram Rangga, segera melompat mengejar.

"Rangga, tunggu ..!" teriak Saraswati, langsung melompat mengikuti.

Pendekar Rajawali Sakti tidak mempedulikan teriakan Saraswati. Namun kali ini Rangga dibuat bingung, karena kedua lawannya berpencar ke arah yang berlawanan. Untuk sesaat, dia terpaku. Namun segera menentukan pilihan dengan mengejarnya salah seorang, sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh pada saat melesat.

"Yeaaat...!" Sambil berteriak keras, tubuh Pendekar Rajawali Sakti mencelat bagai sapuan angin kencang.

"Hup...!" Sekali melenting dan berputaran di udara, Pendekar Rajawali Sakti telah mendarat di hadapan orang bertopeng yang kontan tercekat dan mundur dua langkah dengan sikap ragu.

"Kau kira bisa lolos begitu saja dariku, he...?!" dengus Rangga bernada gusar.

Orang bertopeng itu agaknya hendak berbuat nekat. Dan dia bermaksud menyerang. Namun belum lagi berbuat sesuatu. mendadak melesat sebuah benda ke arah punggung kirinya.

Crab!

"Aaa...!" Orang bertopeng hitam itu menjerit keras begitu punggung tertancap sebuah keris. Tubuhnya langsung tersungkur ke depan dia tewas berlumur darah. Setelah menggelepar-gelepar beberapa saat. Sementara, tahu-tahu sesosok tubuh ramping telah berada di dekatnya. Sosok itu segera mencabut keris yang menancap dipunggung bertopeng orang ini.

"Saraswati! Kenapa kau membunuhnya?!" Tanya Rangga dengan perasaan sedikit kesal.

Saraswati hanya tersenyum sinis, sambil membersihkan kerisnya. Lalu kerisnya diselipkan ke pinggangnya. "Orang seperti dia tidak perlu dikasih hati," jawab Saraswati, enteng.

"Aku ingin tahu, apa yang mereka inginkan dariku... "

"Tentu saja isi kotak yang kau bawa!" sahut wanita itu.

Rangga jadi tersentak. "Dari mana kau tahu kalau aku memiliki kotak kecil? Bukankah aku tidak pernah memberitahukannya padamu?" Tanya Rangga, penuh tatapan selidik.

"Eh! Aku sempat mendengarnya ketika kau bertarung dengan Wisanggeni," sahut wanita itu sedikit kikuk.

Rangga langsung memandang tajam pada wanita itu. Wajahnya seketika tersaput curiga. "Entah kenapa, aku merasa kau tahu lebih banyak tentang kotak yang kubawa...," lanjut Rangga.

"Rangga! Apakah kau mencurigaiku?" Tanya Saraswati, membalas tatapan Rangga dengan wajah tidak percaya.

Rangga menghela napas pendek. "Belakangan ini, banyak sekali orang yang ingin merampas kotak itu dariku. Bahkan tidak segan-segan ingin melenyapkanku..."

"Apakah isi kotak yang kau bawa itu...?" Tanya Saraswati.

"Sebuah mustika milik kerajaan. Aku harus menyerahkannya pada orang yang berhak..." jawab Rangga.

"Hm... Tentu sebuah benda yang amat berharga. Boleh aku melihatnya?"

Rangga tidak menyahut. Namun kakinya segera melangkah memasuki penginapan kembali. Sedangkan Saraswati mengikuti dari belakang. Ketika Pendekar Rajawali Sakti telah memasuki kamarnya, Saraswati masih mengikutinya. Dan Rangga segera mencari-cari di kolong tempat tidur. Seketika wajahnya tampak pucat dan terkejut.

"Ada apa...?!" Tanya Saraswati.

Namun pertanyaan itu agaknya bisa terjawab sendiri, ketika melihat Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tutupnya telah terbuka. Sehelai kain hitam tampak tergeletak di dekatnya Ternyata isi kotak itu telah kosong!

"Seseorang telah masuk ke kamar ini dan mengambilnya...," desah Rangga dengan wajah geram.

"Pasti mereka!" seru Saraswati yakin.

"Tidak salah lagi. Pasti mereka tidak hanya berdua. Salah seorang masuk ke dalam dan mencuri mustika itu, sesaat mereka berdua memancingku keluar...," lanjut Rangga menduga.

"Rangga! Kau tidak bisa membiarkan begitu saja!"

"Maksudmu?"

"Kita harus mengejar mereka!" sahut Saraswati bersemangat.

"Kita?"

"Ya. kita! Kau dan aku. Apakah kau tidak suka aku membantumu?"

"Hm, baiklah. Tapi, aku tidak tahu harus mencari ke mana.

"Kira berpencar saja. Kau menuju ke arah salah seorang yang lolos tadi, sementara aku mencari arah lain. Atau... yah... Terserahmu saja!"

"Biar aku yang menuju ke arah orang yang lolos itu. Dan kau, meneruskan ke arah yang dituju orang yang tewas tadi," sahut Rangga.

"Baik Begitu juga bagus. Kita berangkat sekarang!" sambut Saraswati.

Rangga segera mengangguk. Dan keduanya bergegas keluar dari kamar menuju ke kandang kuda.

TUJUH

Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti mengendalikan kuda hitamnya. Dan kini, dia telah tiba di ujung Desa Pasir Putih. Lalu kudanya berbelok ke kiri dan berhenti di bawah sebuah pohon asem besar yang telah berumur puluhan tahun. Ditunggunya beberapa saat.

"Kisanak! Keluarlah dari persembunyianmu ..," kata Rangga, tiba-tiba.

Pada saat itu juga melayang sesosok tubuh dari balik semak-semak di hadapan Rangga. Gerakannya ringan dan gesit. Pemuda itu terpesona melihat orang yang baru muncul itu. Seorang gadis belia berbaju serba hitam menyandang pedang di punggung. Rambutnya yang panjang dikuncir ke atas. Wajahnya cantik. Bola matanya bening dan tajam menatap ke arahnya.

"Hm Dugaanku ternyata salah. Kukira seorang kakek berwajah buruk. Tapi siapa sangka ternyata seorang gadis cantik yang berkeliaran di malam bulan bersinar terang begini. Nisanak... Kaukah yang bernama Srikatan?" Tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Berita yang kudengar tentang kehebatanmu, ternyata benar. Aku memang Srikatan, murid Ki Arya Wangku." sahut gadis yang baru muncul itu, memperkenalkan diri sambil menjura hormat.

Rangga segera turun dari kudanya. Dibalasnya salam hormat gadis itu. "Hm, Ki Arya Wangku? Pantas bila muridnya demikian hebat, dengan ilmu meringankan tubuhnya. Sampai-sampai aku sedikit kesulitan membedakanmu dengan yang lain. Tapi, ada urusan apa sehingga murid si Malaikat Angin yang kesohor itu ingin bertemu denganku?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Pendekar Rajawali Sakti ketahuilah. Sesungguhnya aku pun adalah abdi Kanjeng Gusti Ayu Diah Kameshwari, permaisuri Kanjeng Gusti Prabu..."

"Benarkah? Lalu, ada urusan apa sehingga abdi Gusti Ayu Diah Kameshwari menemuiku tengah malam begini? Tanya Pendekar Rajawali Sakti lagi.

Srikatan menghela napas sesak. Dipandangnya pemuda itu dengan wajah sedikit kesal. Kata-kata pemuda ini meski terdengar ramah, namun sesungguhnya seperti merasa tersindir. "Beliau menginginkan, agar kau menyerahkan mustika yang kau bawa." sahut Srikatan tanpa basa-basi lagi.

"Oh, begitu? Sayang sekali Mustika itu tidak berada di tanganku lagi. Seseorang telah mencurinya tadi...," jawab Pendekar Rajawali Sakti.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kenapa kau seperti mencurigaiku?" Tanya Srikatan bernada kesal.

Rangga tersenyum lebar. "Begitukah menurutmu...?"

"Aku menyadari setelah apa yang menimpamu belakangan ini. Maka, kau tentu sulit percaya pada setiap orang yang mendekatimu. Tapi, kenapa kau bisa percaya begitu saja dengan wanita tadi?"

"Wanita mana yang kau maksud?"

"Tidakkah kau tahu, siapa sesungguhnya wanita yang bersamamu tadi? Dialah Gusti Ayu Bre Bendari, selir Gusti Prabu Banyuasin yang amat menginginkan menjadi permaisuri dengan menghalalkan segala cara!" jelas gadis itu tandas.

"Oh, sungguhkah?! Jadi, selama ini aku berjalan dengan selir terkasih Gusti Prabu Banyuasin. Itu merupakan suatu kehormatan tiada tara bagiku!" kata Rangga dengan wajah dibuat gembira.

"Apa kau kira dia begitu saja bersamamu, tanpa maksud tertentu?"

"Mana kutahu? Aku tidak pernah menanyakannya?"

"Hm, tidak kusangka Pendekar Rajawali Sakti yang terkenal hebat, ternyata amat tolol dan mudah tertipu oleh wajah cantik!" sindir Srikatan.

Rangga tertawa mendengar perkataan gadis itu. "Aku memang tolol, Srikatan. Sehingga, aku tidak bisa menjaga amanat. Mustika itu jelas hilang. Dan aku tidak tahu harus mencari ke mana. Kalau kau menginginkannya, carilah sendiri sesukamu!" jawab Rangga, enteng.

"Jangan berdusta! Mustika itu milik kerajaan. Dan kau tidak berhak menyerakahinya begitu saja!" desis Srikatan, mulai kesal.

"Betul katamu Mustika itu milik kerajaan. Dan hanya berguna bagi kerajaan. Mana mungkin berguna bagi orang sepertimu. Maka hilangnya mustika itu bukanlah satu hal yang musti kupusingkan. Lagi pula, untuk apa menyimpan benda yang membawa malapetaka bagiku?" sahut Pendekar Rajawali Sakti tenang.

Srikatan mendengus kesal pada Rangga, kata-kata dan sikap pemuda itu sama sekali tidak mau ambil pusing.

"Pulanglah, Srikatan Aku tidak mau mengurusi benda celaka itu lagi...," lanjut Rangga, seraya melangkah mendekati kudanya.

"Pendekar Rajawali Sakti! Aku diperintahkan membawa mustika itu dengan cara halus. Tapi kalau kau tidak menyerahkannya, maka terpaksa aku harus menggunakan kekerasan!" teriak Srikatan, langsung mencelat menyerang pemuda itu dengan satu tendangan keras.

"Yeaaat...!" Seketika itu pula, Rangga menyambutnya dengan tangkisan tangan kanan.

Plak!

Kemudian tubuh Pendekar Rajawali Sakti terus bergerak ke kiri, langsung menjatuhkan diri. Maka serangan susulan gadis itu hanya menerpa angin.

Tidak percuma gadis itu sebagai murid si Malaikat Angin. Gerakannya hebat bukan main, ketika mengejar Pendekar Rajawali Sakti. Dan ini membuat Rangga terkejut. Karena baru saja kedua kakinya menjejak tanah, serangan Srikatan telah tiba.

Seketika Pendekar Rajawali Sakti menangkis sodokan kepalan tangan kanan Srikatan dengan tangan kiri. Namun, tubuh gadis itu terus mencelat ke atas, melepaskan tendangan kaki kanan ke wajah. Cepat-cepat Rangga merendahkan tubuhnya, sehingga tendangan itu hanya menyambar angin. Pendekar Rajawali Sakti terus melompat ke belakang. Sementara Srikatan segera mengikuti irama gerakannya. Bahkan langsung melepaskan tendangan berputar, bermaksud menghajar pinggang.

Pendekar Rajawali Sakti melompat ke kanan. Kemudian tubuhnya berkelebat cepat, mengerahkan jurus 'Rajawali Seribu'. Untuk sesaat gadis itu dibuat bingung, karena melihat jumlah pemuda itu seolah-olah menjadi banyak.

Srikatan benar-benar bingung, ketika bayangan Pendekar Rajawali Sakti kesemuanya menyerbu bersamaan. Apalagi dia harus menentukan pilihan, mana lawan yang asli. Namun hanya sekali dia mampu menangkis. Karena, selanjutnya terasa ada sesuatu yang keras menghantam perutnya.

Duk!

"Aaakh...!" Gadis itu menjerit tertahan. Tubuhnya terjungkal beberapa langkah meski mampu menjejakkan kedua kakinya dengan mantap.

"Srikatan! Aku percaya bahwa kau murid si Malaikat Angin. Dan aku sangat menaruh hormat padanya. Oleh sebab itu, aku tidak ingin bertindak keras padamu. Maka jangan terlalu memaksa. Sebab, aku pun memiliki batas kesabaran!" dengus Pendekar Rajawali Sakti. Seketika, Rangga melompat ke punggung kudanya, dan berlalu dari situ secepatnya.

Srikatan mendengus geram. Dia mampu mengejar pemuda itu. Namun, entah kenapa gerakannya langsung dihentikan? Gadis itu hanya memandang kepergian Pendekar Rajawali Sakti dengan sorot mata tajam. Kemudian dengan gerakan cepat, tubuhnya berkelebat ke arah lenyapnya Pendekar Rajawali Sakti.

********************

Di dekat sebuah hutan kecil, seorang wanita tengah berdiri, seperti menunggu sesuatu. Dan untuk kemudian terlihat tiga sosok bayangan bertopeng hitam berkelebat ke arahnya. Begitu tiba, ketiga sosok tubuh itu menjura hormat.

"Hormat kami, Kanjeng Gusti Ayu...!" ucap mereka serentak.

"Hm.... Mana hasil kerja kalian!" sahut wanita berusia tiga puluh lima tahun itu dengan nada girang dan wajah berseri.

"Ampun, Gusti Ayu. Kami tidak menemukan mustika itu di kamarnya," sahut salah seorang.

"Tidak menemukannya?!" dengus wanita itu, mendelik garang. "Apa maksud kalian!"

"Gusti Ayu, mustika itu tidak berada di dalam peti itu."

"Kurang ajar! Jangan main-main denganku, he?! Kalian tahu akibatnya?! Aku tidak akan segan-segan memancung kepala kalian bertiga!" dengus wanita itu garang.

"Ampun, Gusti Ayu. Ketika kami masuk ke dalam, peti berhasil kami temukan. Namun, isinya telah kosong"

"Betul, Kanjeng Gusti Ayu. Mana berani kami membohongimu," timpal yang lain. "Ketika kami tiba, peti itu tergeletak begitu saja. Dan, isinya telah kosong."

"Hm." Wanita itu berpikir sejurus lamanya "Mungkinkah dia telah mengetahui tipu muslihatku. Sehingga mustika itu diamankan lebih dulu untuk mengecohku?"

"Maksud, Gusti Ayu...?" kata salah seorang bertopeng itu. "Pendekar Rajawali Sakti telah mengeluarkan isi peti?"

"Ya. Hm, aku terlalu meremehkannya. Ternyata, dia lebih cerdik dari yang kuduga!" dengus wanita yang tak lain Bre Bendari geram.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya salah seorang bertopeng itu.

"Besok pagi kami janji bertemu. Kalian siapkan penjagaan di setiap jalan keluar. Pemuda itu tidak akan lolos dari tanganku!" desis Bre Bendari sambil mengepalkan tangan menahan geram.

"Apa yang hendak Gusti Ayu lakukan terhadapnya?" Tanya orang itu lagi

Wanita itu memandangnya sesaat, kemudian tersenyum kecil penuh arti. "Apa yang kulakukan? He he he..! Tentu saja merebut mustika itu dari tangannya!"

"Gusti Ayu akan merebutnya dengan paksa?" Tanya yang lain, dengan wajah cemas.

"Gusti Ayu, pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia telah banyak menewaskan orang terbaik yang kita miliki!" timpal yang lain dengan wajah cemas.

"Kalian meragukan kemampuanku, he?!" Ketiganya terdiam untuk beberapa saat.

"Gusti Ayu, kami tidak meragukan kemampuanmu. Namun kita semua tahu kalau Pendekar Rajawali Sakti bukanlah pendekar sembarangan. Sepanjang pengetahuan kami, selama ini belum ada seorang tokoh pun yang berhasil mengalahkannya. Telah banyak tokoh berkepandaian tinggi yang binasa di tangannya," sahut salah seorang ketiga lelaki bertopeng itu

"Apakah seorang tokoh sakti seperti dirinya mampu lari dari kepungan prajurit kerajaan yang terpilih?" Tanya Bre Bendari sambil tersenyum kecil.

"Gusti Ayu hendak menggunakan tangan prajurit-prajurit kerajaan?"

"Kau kira, apa yang hendak kulakukan?"

"Tapi, bukankah amat berbahaya bila sampai diketahui Kanjeng Gusti Prabu? Lagi pula, dengan alasan apa kita bisa menggunakan prajurit kerajaan untuk menangkap pemuda itu?"

"Aku selir terkasih Gusti Prabu. Beliau selalu menuruti, apa yang kuinginkan. Dan itu bukan persoalan sulit. Lagi pula pemuda itu telah mencuri mustika kerajaan. Maka itu sudah cukup alasan baginya untuk ditangkap!" jelas Bre Bendari.

Ketiga orang bertopeng itu terdiam. Kemudian mereka mengangguk sambil tersenyum lebar. "Hm, Gusti Ayu memang pintar!" puji salah seorang.

"Ha ha ha..! Setelah mustika itu kudapatkan, maka si Keparat Diah Kameshwari itu akan tersingkir. Dia akan hidup terhina!" kata wanita itu penuh kegirangan.

"Dan kami tentu tidak dilupakan, bukan?"

"Kalian akan kuangkat menjadi panglima kerajaan!"

"Ah! Terima kasih, Gusti Ayu!" sahut mereka serentak, langsung menghaturkan hormat.

"Nah! Sekarang, kalian kumpulkan yang lainnya. Awasi pemuda itu. Dan bila dia berusaha melepaskan diri dari kejaran prajurit kerajaan, maka saat itulah bagi kalian untuk meringkusnya!" ujar Bre Bendari.

"Semua titah Gusti Ayu akan kami kerjakan sebaik-baiknya!" sahut mereka cepat.

"Bagus! Pergilah sekarang. Jangan sampai ada yang melihat sehingga akan menimbulkan curiga pihak kerajaan.

"Apakah Gusti Ayu akan kembali seorang diri?"

"Ya..."

"Baiklah. Kami berangkat lebih dulu!" sahut ketiga orang bertopeng itu. Setelah berkata demikian, mereka berkelebat cepat dari tempat itu. Dalam waktu singkat, mereka telah menghilang dari pandangan mata.

********************

Langkah Pendekar Rajawali Sakti tampak ragu memasuki wilayah kotaraja. Suasana kotaraja terlihat ramai oleh lalu lalang orang dengan kesibukan masing-masing. Langkah kudanya dipacu perlahan-lahan. Mata kini memperhatikan keadaan sekitarnya dengan pandangan mata tajam. Pagi ini Rangga seharusnya berada di suatu tempat untuk bertemu Saraswati. Namun sengaja dia melewati saja tempat pertemuan yang telah dijanjikan. Dan Rangga sempat melihat belum ada tanda-tanda kalau wanita itu berada di sana. Kemudian pemuda itu menghela kudanya agak kencang.

Setelah agak jauh, Rangga kembali memperlambat laju kuda. Begitu berada di muka sebuah kedai, kudanya dihentikan. Segera dia melompat turun dan menambatkan tali kekang kudanya di depan kedai. Dengan langkah perlahan, dimasukinya sebuah kedai yang cukup besar ini. Di dalam hanya terlihat dua orang yang tengah bersantap. Yang seorang, laki-laki bertubuh gemuk. Kepalanya memakai ikat merah berkembang-kembang. Sedangkan di sudut lain, seorang gadis berbaju serba hitam. Wajahnya cantik, menyandang pedang di punggung. Rangga tersenyum, lalu mengambil tempat tidak jauh dari gadis itu.

"Hm.... Agaknya kau begitu bersemangat mengikuti, Srikatan..,"' kata Rangga sambil lalu, tanpa menoleh ke arah gadis yang memang telah dikenalnya.

Gadis itu sama sekali tidak menoleh. Diteguknya minuman di depannya. Sementara setelah memesan makanan, Pendekar Rajawali Sakti memutar pandangan keluar melalui jendela-jendela yang terbuka.

"Kalau kau memang tidak percaya padaku, setidaknya aku harus tetap menunjukkan padamu, kepada siapa benda itu berhak diberikan," kata Srikatan, juga tanpa menoleh ke arah Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum kecil. "Hm... Agaknya kau begitu yakin kalau benda itu masih berada di tanganku...."

"Kau terlalu cerdik untuk bisa dikelabui mereka!"

Rangga kembali tersenyum. "Apa kau yakin telah tahu, kepada siapa benda itu harus diserahkan?" lanjut Srikatan berusaha meyakinkan.

"Sudah tentu kepada yang berhak. Itu pun kalau benda itu masih ada padaku," sahut Rangga, acuh tak acuh.

"Siapa maksudmu?"

"Tahukah kau, milik siapa benda itu?"

"Sudah tentu milik Kerajaan Banyuasin.

"Hm.... Kalau demikian, aku akan menyerahkannya pada Gusti Prabu... Tapi benda itu telah hilang dicuri orang," lanjut Rangga.

"Kau masih saja terus berpura-pura. Apa kau kira aku mudah ditipu seperti wanita itu?" desak Srikatan.

"Siapa yang hendak menipumu? Aku tidak kenal denganmu. Juga, tidak ada urusan. Tidak ada untungnya menipumu," sahut Rangga, mulai menyantap hidangan yang telah disediakan pemilik kedai.

Gadis itu terdiam. Kemudian ketika pemilik kedai itu telah berlalu, dia memandang Rangga. "Pendekar Rajawali Sakti! Apakah bila aku mampu mengajakmu menghadap Kanjeng Gusti Prabu, maka kau akan percaya padaku?"

"Mungkin. Tapi, apa untungnya bagimu?"

Srikatan tersenyum kecil. "Aku tidak pernah bicara untung rugi padamu. Kau telah mendengar ceritaku. Dan itulah hal yang sesungguhnya. Aku hanya sekadar mengemban amanat yang harus kujalankan. Selesaikan sarapanmu. Dan setelah itu, ikutlah denganku ke istana kerajaan!" sahut Srikatan lirih, namun bernada amat meyakinkan.

Rangga menghentikan suapannya, dan menoleh ke arah Srikatan. "Apa susahnya ke istana kerajaan Banyuasin? Aku tahu jalan menuju ke sana."

"Semua orang di wilayah kerajaan ini tahu. Namun bisakah mereka membawamu kepada Kanjeng Gusti Prabu?" sindir gadis itu.

"Apakah rajamu sulit dikunjungi?" Rangga tersenyum kecil, seperti mengejek.

"Pendekar Rajawali Sakti! Aku tidak ada waktu untuk mendengar ejekanmu. Selesaikan makananmu. Dan kau akan kubawa menghadap beliau!" lanjut gadis itu menegaskan.

Rangga tersenyum-senyum. "Untuk apa kau mengajakku menghadap beliau?"

"Bukankah kau ingin menyerahkan mustika itu pada orang yang berhak? Sebentar lagi, keinginanmu akan terpenuhi!" sahut gadis ini mulai gemas.

"Mustika? Mustika apa? Aku tidak memiliki mustika yang kau katakan itu."

"Pendekar Rajawali Sakti, jangan bermain-main!" Nada bicara gadis itu mulai meninggi, memperlihatkan kekesalan hatinya yang mulai memuncak.

"Siapa yang hendak bermain-main denganmu? Apakah telingamu tuli? Kau ada di situ dan tahu kalau benda itu telah dicuri orang."

"Gila! Seenaknya saja kau bicara begitu."

"Murid si Malaikat Angin tentu mampu mengendap-endap dengan gerakan yang sulit didengar orang lain," sahut Rangga tersenyum penuh arti.

Srikatan menarik napas panjang. Lalu wajahnya dipalingkan ke arah Rangga. "Hm, bagus. Kalau begitu, kau tahu kalau aku menyaksikan tindakanmu yang cerdik, bukan? Ketika keluar dari rumah penginapan, kau sempat mengeluarkan benda itu. Karena, kau menduga bahwa kawan-kawan orang bertopeng yang lain akan menggeledah kamarmu saat kau keluar!"

Rangga hanya tersenyum saja mendengar dakwaan Srikatan. Dia menyelesaikan santapannya, kemudian bangkit berdiri menghampiri pemilik kedai. Setelah membayar harga makanannya, Pendekar Rajawali Sakti berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Srikatan.

Namun baru saja mencapai dua langkah dari pintu, mendadak lima orang prajurit berseragam menghadangnya. Pemuda itu merayapi sekitarnya dengan sepasang matanya. Ternyata lebih dari tiga puluh prajurit bersenjata telah mengepung tempat ini.

"Hm..."

"Kisanak! Kau ditangkap karena mencuri benda kerajaan yang amat berharga. Menyerahlah. Dan, jangan mencoba melawan!" kata salah seorang prajurit kerajaan dengan wajah garang.

"Siapa kalian'" Tanya Pendekar Rajawali Sakti, tenang.

"Kami prajurit prajurit kerajaan!"

"Atas dasar apa kalian menuduhku mencuri benda kerajaan?"

"Jangan banyak mulut!" teriak prajurit itu. Kemudian diperintahkannya empat orang prajurit lain. "Geledah seluruh tubuhnya!"

"Aku bukan maling!" bentak Rangga, kesal.

"Kisanak! Kau hanya menyulitkan dirimu sendiri. Kuperingatkan sekali lagi, jangan coba melawan. Karena, kau akan susah sendiri!" sahut prajurit kerajaan itu, yang agaknya bertindak sebagai kepala pasukan.

Pemuda itu tersenyum kecil. "Bila kalian menyebutkan alasannya, kenapa aku dituduh sebagai pencuri, mungkin aku bersedia kalian geledah seperti seorang pencuri. Tapi aku tidak mencuri apa-apa. Dan aku tidak sudi digeledah!" sahut Rangga tegas.

"Hm... Kalau begitu, kau mencari kesulitan sendiri!" desis kepala pasukan itu. Langsung dia memberi perintah pada anak buahnya untuk menghajar Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiiih!" Seorang prajurit Kerajaan Banyuasin langsung mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan mudah, Rangga menangkapnya. Tapi, prajurit kerajaan itu segera mengayunkan tendangan keras ke arah dada. Dengan gerakan cepat Pendekar Rajawali Sakti menangkis.

Plak!

Dan seketika Rangga mendorong prajurit itu hingga tersungkur ke belakang.

DELAPAN

"Kurang ajar! Kau berani melawan prajurit kerajaan, he?!" bentak kepala pasukan itu dengan mata melotot lebar.

"Hajar dia!"

"Yeaaat!" Tiga orang prajurit yang berada paling dekat langsung bergerak menyerang si Pendekar Rajawali Sakti. Salah seorang prajurit membabatkan tombak ke leher Rangga.

Namun, Rangga cepat menundukkan kepala bergerak ke samping. Dan seketika tubuhnya mencelat ke atas dengan lutut kanan bergerak menghantam dada.

Begkh!

Satu orang menjadi sasaran lutut Rangga. Dan baru saja Rangga mendarat, datang serangan dari samping kiri. Cepat tubuhnya bergeser ke kanan dan langsung melepaskan sodokan ke arah dada prajurit yang seorang lagi. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua orang prajurit menjerit kesakitan dan tersungkur kebelakang. Baru saja Rangga akan menyerang kembali...

"Kisanak! Menyerahlah. Dan, jangan lagi menyulitkan diri!" Terdengar teriakan kepala pasukan tadi.

Pendekar Rajawali Sakti segera menghentikan gerakannya dan memandang dengan sorot mata tajam. "Siapakah kau sebenarnya! Dan, apa pangkatmu dalam pasukan ini?" Tanya Rangga datar.

"Aku Sadewa, panglima kelima dari Istana Kerajaan Banyuasin!"

"Kalau aku menyerah, apakah kau bisa langsung membawaku pada Kanjeng Gusti Prabu...?"

"Kisanak! Kau telah melukai beberapa prajurit kerajaan. Dan itu merupakan pelanggaran berat. Kau akan dihukum karenanya!" tegas panglima kerajaan yang ternyata bernama Sadewa.

"Hm. Kalau begitu, betulkah kebijaksanaan beliau yang terkenal arif itu? Pihak kalian yang menyerangku lebih dulu. Kalian yang membuat gara-gara. Kemudian kesalahan ditimpakan pada rakyat sepertiku. Apakah itu suatu keputusan bijaksana? Aku hanya sekadar membela diri!"

"Kisanak! Kau adalah pencuri! Seorang pencuri tidak berhak membela diri, dan harus dihukum. Bahkan kau telah membangkang!" sahut sang Panglima Sadewa.

"Kau tidak menunjukkan alasan menuduhku pencuri? Apakah pada setiap orang yang baru dikenal langsung dituduh pencuri? Aku tidak mencuri apa pun. Dan untuk itu, jelas aku tidak mau digeledah!" kilah Rangga.

"Cukup! Itu sudah menjadi alasan bagi kami untuk menangkapmu. Kau tidak mau digeledah, karena sebetulnya kau menyembunyikan sesuatu sebagai barang curian!" balas Panglima Sadewa.

"Kalian hanya mendapat laporan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang yang ingin mencelakakanku, sehingga dengan seenaknya menuduhku pencuri agar mudah menangkapku!"

"Kisanak! Tidak usah banyak mulut! Kuperingatkan sekali lagi, menyerahlah. Atau kami akan membunuhmu di tempat!" teriak sang Panglima mengancam.

"Kisanak! Aku bukan pencuri. Dan aku tidak akan menyerah begitu saja!" tegas Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm. Kalau begitu, jangan salahkan kalau kami bertindak keras padamu!" desis sang Panglima dengan wajah geram.

"Panglima Sadewa! Kau harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah ini. Sebab, kaulah yang memulainya!" kata pemuda itu mengingatkan.

Panglima Sadewa sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Dan...

"Seraaang...!"

Set! Set!

Seketika itu pula, puluhan anak buah Panglima Sadewa yang telah mengepung langsung melesat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menggeram. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan keselamatan kuda kesayangannya, tentu akan mudah baginya untuk menghindari serbuan anak panah. Namun saat ini, tidak ada pilihan baginya selain mencabut pedang. Dan

Sring!

"Hiyaaat..!" Seberkas sinar biru langsung berpendar dari batang pedang pusaka di tangannya. Para prajurit makin terkejut ketika anak-anak panah yang dilepaskan rontok ditebas Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

"Hieee...!" Dewa Bayu tunggangan Pendekar Rajawali Sakti meringkik keras dengan mengangkat kedua kaki tinggi-tinggi.

"Dewa Bayu! Ayo lari dari sini...!" teriak Rangga memberi perintah seraya menunjuk ke satu arah.

"Heh?!" Para prajurit kerajaan yang tadi sempat terkesima, tersentak kaget dan segera menyerang pemuda itu dengan amarah meluap.

"Ayo kita ke sana!" tunjuk Rangga, langsung melompat ke punggung kuda. Seketika kudanya di hela kencang, dan langsung bergerak secepat kilat.

Pendekar Rajawali Sakti terus berkelebat bersama Dewa Bayu. Sementara pedang di tangannya menyambar apa saja yang menghalanginya.

Tras! Bruesss!

"Aaakh...!" Beberapa prajurit kontan menjerit tertahan. Kemudian tubuh mereka terjungkal hangus tersambar Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Tombak-tombak serta pedang-pedang yang mencoba menebas leher kuda dan pinggangnya, putus dipapas pedang Rangga yang bergerak secepat kilat.

"Heaaa...!" Pendekar Rajawali Sakti menyentak kudanya yang terus bergerak cepat, melompati beberapa orang prajurit kerajaan yang mencoba menghalangi.

"Pendekar Rajawali Sakti, jangan khawatir! Aku membantumu...!"

Terdengar sebuah teriakan yang diikuti berkelebatnya sesosok tubuh. Dan sosok itu langsung menghajar para prajurit kerajaan yang mencoba menghalangi niat si Pendekar Rajawali Sakti.

Bret! Trang! Gras!

"Aaa...!" Beberapa orang prajurit kerajaan langsung terjungkal disertai pekik kesakitan dalam keadaan bermandikan darah. Sesosok tubuh itu bergerak cepat sekali, dan tidak mampu diimbangi para prajurit kerajaan. Sehingga untuk sesaat mereka mengalihkan perhatian padanya. Sementara Pendekar Rajawali Sakti akhirnya lolos dari kepungan.

Kuda yang mampu bergerak secepat angin itu terus meninggalkan kotaraja. Bahkan telah jauh dari para prajurit Kerajaan Banyuasin yang tadi mengepungnya. Begitu merasa aman, Rangga menghentikan laju kudanya. Dan dia segera menunggu beberapa saat. Kemudian terlihat sekelebat bayangan hitam mendekat ke arahnya, lalu menjejakkan kedua kaki di hadapan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm, sekarang ikuti aku! Kanjeng Gusti Ayu Diah Kameshwari telah menunggu kehadiranmu!" kata sosok bayangan hitam itu.

"Srikatan, aku berterima kasih atas pertolonganmu. Tapi bukan berarti aku mempercayaimu..."

"Pendekar Rajawali Sakti! Aku tidak punya waktu untuk menunggu kepercayaanmu padaku. Bre Bendari akan terus mengejar kita. Dia berhasil mempengaruhi sebagian prajurit kerajaan. Kau tidak akan pernah aman berada di kotaraja!" sahut sosok bayangan hitam yang ternyata Srikatan seraya mencabut pedang, dan menyerahkannya pada Pendekar Rajawali Sakti. "Pegang pedangku ini sebagai jaminan. Kau boleh membunuhku, begitu tahu kalau aku seorang pengkhianat!"

Rangga tertegun sesaat mendengar penegasan Srikatan. Kemudian dia menghela napas pendek. "Baiklah, aku percaya padamu. Simpan pedangmu. Dia lebih berguna bagi pemiliknya sendiri."

"Terima kasih. Ayo, kita harus bergerak cepat. Kanjeng Gusti Ayu telah menunggumu!" ajak Srikatan, langsung berlari lebih dulu.

"Heaaa...!" Rangga segera menghela kudanya, mengikuti Srikatan dan belakang. Mereka menuju kotaraja bagian selatan. Tak lama mereka bergerak, terlihat iring-iringan yang tengah berhenti seperti melepas lelah. Di tengahnya, terdapat sebuah kereta kuda yang amat indah. Dan di sekelilingnya, dijaga pasukan kerajaan bersenjata lengkap. Rangga agak ragu mendekat. Dan dia langsung curiga kalau hal itu hanya pancingan belaka.

"Kenapa berhenti? Bukankah kau telah percaya padaku...?" Tanya Srikatan.

"Srikatan! Kalau kau menipuku, maka akan kukejar ke mana pun kau menyembunyikan diri!" kata Pendekar Rajawali Sakti mengingatkan.

"Kau mulai tidak percaya?" gadis itu tersenyum. "Aku akan berada di dekatmu, sehingga akan mudah menggorok leherku kalau ternyata aku membohongimu!" lanjut Srikatan menegaskan kembali.

Dengan langkah ragu, Pendekar Rajawali Sakti mengikuti. Belum jauh mereka melangkah, di depan telah menyambut seorang laki-laki berbadan kekar bersenjatakan pedang di pinggang.

"Beliau adalah Panglima Keempat, bernama Ki Bandawasa!" ujar Srikatan, memperkenalkan pada Rangga yang saat ini telah turun dan kudanya.

Laki-laki bernama Ki Bandawasa memberi hormat yang dalam, ketika Srikatan memperkenalkan Pendekar Rajawali Sakti. Srikatan kemudian membungkuk hormat di samping kereta kuda yang tertutup rapat dengan tirai besi berjeruji, berlapiskan kain sutera berwama kuning.

"Kanjeng Gusti Ayu, hamba membawa Pendekar Rajawali Sakti kehadapan, Kanjeng"

"Hm..."

Tirai kain itu terbuka. Dan dari dalam, terlihat seraut wajah cantik yang tersenyum sambil mengangguk kecil.

"Gusti Ayu, terimalah hormat hamba!" ujar Rangga langsung merangkapkan kedua tangan dengan tubuh membungkuk sedikit.

"Kaukah Pendekar Rajawali Sakti...?" Tanya wanita cantik yang tak lain Gusti Ayu Diah Kameshwari dengan suara halus.

"Benar.... Hambalah orangnya."

"Kisanak... Kudengar kau telah menyelamatkan mustika kerajaan yang amat berharga. Sudikah kau memperlihatkannya padaku?"

Rangga terdiam sesaat. Kemudian, dikeluarkan sebuah pisau bergagang mahkota dan balik baju di bagian pinggang. Lalu diangsurkannya pada Gusti Ayu Diah Kameshwari yang mengamatinya dengan seksama.

"Benar. Ini adalah benda kerajaan yang amat berharga..." kata Gusti Ayu Diah Kameshwari lirih. Lalu, wanita itu memandangi Pendekar Rajawali Sakti. "Kisanak, apakah yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikan hatimu menyelamatkan benda kerajaan ini?" Tanya Gusti Ayu Diah Kameshwari.

Belum juga Pendekar Rajawali Sakti sempat menjawab...

"Diah Kameshwari! Kau tidak berhak atas mustika itu! Akulah yang sesungguhnya paling berhak menyerahkannya pada Kanjeng Gusti Prabu!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Bre Bendari...?" Wanita di dalam kereta kuda itu terkejut, melihat kehadiran seorang wanita yang tak lain Bre Bendari, tengah berkacak pinggang tidak jauh dari situ.

Seluruh prajurit kerajaan yang mengiringi rombongan Gusti Ayu Diah Kameshwari segera bersiaga, ketika melihat kemunculan prajurit-prajurit kerajaan lain yang mengiringi kehadiran Bre Bendari.

Rangga tersenyum kecil. "Hm Ternyata dugaanku tidak salah. Saraswati sesungguhnya adalah Bre Bendari, selir Kanjeng Gusti Prabu yang berhati licik!" Kemudian Pendekar Rajawali Sakti memalingkan wajah pada Gusti Ayu Diah Kameshwari, dan langsung mengangsurkan mustika di tangannya. "Gusti Ayu terimalah mustika ini. Kau berhak memberikannya langsung pada Kanjeng Gusti Prabu. Sampaikan salamku pada beliau...," ucap Pendekar Rajawali Sakti.

"Terima kasih, Kisanak..," sahut wanita itu. "Aku akan menyampaikan salammu pada Kanjeng Gusti Prabu."

"Keparat! Berikan mustika itu padaku...!" teriak Bre Bendari.

Seketika wanita selir Kanjeng Gusti Prabu Banyuasin itu, memberi perintah pada prajurit kerajaan yang datang besertanya, untuk merampas mustika. Namun, para prajurit kerajaan yang dipimpin Ki Bandawasa tidak tinggal diam. Dan mereka segera menghadang.

Maka pertempuran di antara kedua belah pihak tidak dapat dihindari lagi. Denting senjata dan teriak kesakitan segera memenuhi tempat itu, bersama darah segar yang membanjir dari tubuh-tubuh yang naas.

"Yeaaa...!" Bre Bendari langsung melompat ke arah kereta kuda yang dihuni Gusti Ayu Diah Kameshwari.

"Kanjeng Gusti Ayu! Biar yang satu ini hamba hadapi!" seru Srikatan, langsung melompat memapak serangan Bre Bendari.

Rangga hanya menggeleng lemah. Diperhatikannya barang sejenak pertempuran hebat itu. Jumlah mereka kelihatan seimbang dan sama kuat. Sadewa yang datang bersama Bre Bendari, dihadapi Ki Bandawasa. Sementara Bre Bendari sendiri rasanya sulit untuk menjatuhkan Srikatan yang bergerak secepat angin.

Namun, mendadak saat itu juga berkelebat beberapa sosok tubuh berselubung kain hitam yang langsung menghajar pasukan kerajaan yang dipimpin Ki Bandawasa. Gerakan mereka ringan sekali. Dan dengan pedang di tangan, prajurit-prajurit kerajaan yang dipimpin Ki Bandawasa banyak yang tewas.

Bret! Cras!

"Aaa...!"

"Hm...!" Rangga menggumam, kemudian meraih sebatang tombak yang tergeletak di tanah. Seketika Pendekar Rajawali Sakti langsung menyerang mereka.

Trang! Bres!

"Aaa...!"

"Heh?!" Orang-orang berselubung kain hitam itu terkejut. Seorang dari mereka tewas di ujung tombak pemuda berbaju rompi putih itu. Rangga bergerak cepat menghajar dua orang terdekat. Kedua orang itu bermaksud menangkis. Namun, ayunan tombak Pendekar Rajawali Sakti demikian kuatnya.

Trang!

Pedang di tangan orang bertopeng itu terpental. Dan seketika itu pula ujung tombak di tangan si Pendekar Rajawali Sakti langsung menghujam ke dada mereka.

Bres!

"Wuaaa...!" Kedua orang itu kontan memekik kesakitan Mereka terjungkal ke tanah dengan tubuh bermandikan darah.

"Yeaaat...!" Tiga orang laki-laki bertopeng hitam langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti bersamaan. Namun dengan cepat Rangga mengibaskan tombak di tangannya.

Kedua pedang orang-orang bertopeng hitam itu berhasil dipapak Pendekar Rajawali Sakti. Namun seorang lagi dengan cerdik menghindarkan diri dari hantaman tombak Rangga. Dia bermaksud mencuri kesempatan. Namun sebelum bergerak menyerang, satu tendangan menggeledek dari Rangga menghantam dadanya.

Dukh!

"Aaakh...!" Bersamaan dengan itu, si Pemuda berputar. Ujung tombaknya langsung menyambar ke arah leher lawan yang lain.

Bret!

"Aaa...!" Orang itu memekik setinggi langit. Begitu ambruk di tanah, dia tewas seketika. Sementara seorang laki-laki bertopeng hitam yang tersisa melenting dengan nekat ke arah si Pendekar Rajawali Sakti.

"Yeaaat...!"

"Hiiih!" Cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti melempar tombaknya ke arah tubuh orang bertopeng hitam itu yang tengah mengapung di udara.

Blesss!

"Aaa...!" Orang itu memekik menyayat. Tombak itu menembus dada kirinya, melesak hingga ke pangkal. Tubuhnya langsung ambruk dan tewas setelah menggelepar-gelepar sesaat. Mati!

Kini Pendekar Rajawali Sakti memperhatikan pertempuran lainnya. Panglima Sadewa tidak tampak. Mungkin sudah tewas. Karena yang terlihat saat ini, Panglima Bandawasa tengah mengamuk hebat menyerang prajurit-prajurit kerajaan yang dibawa Bre Bendari. Sedangkan Srikatan tengah mendesak lawannya dengan hebat. Dan, tinggal menunggu waktu saja untuk menghabisinya, atau menangkap hidup-hidup.

"Mereka akan bisa mengatasi keadaan ini...," gumam Pendekar Rajawali Sakti pelan segera melompat ke punggung kudanya dan berlalu dari tempat ini.

Semua tindakan Pendekar Rajawali Sakti agaknya tidak lepas dari perhatian wanita di dalam kereta kuda yang memang Kanjeng Gusti Ayu Diah Kameshwari, permaisuri Kanjeng Gusti Prabu!

"Terima kasih atas bantuanmu. Kisanak. Terima kasih. gumam wanita itu lirih. "Kau telah menyelamatkan Kerajaan Banyuasin ini....!"

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: DENDAM GADIS PERTAPA
Thanks for reading Mustika Bernoda Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »