Misteri Hantu Berkabung

MISTERI HANTU BERKABUNG

SATU
DI DESA Lembuyung sepertinya tengah ada keramaian di salah satu rumah yang paling besar dan megah. Pemilik rumah yang dikenal dengan Juragan Sentot memang sedang melangsungkan perkawinan putrinya yang bernama Diah Kawaning, dengan seorang pemuda berwajah tampan dan dari desa seberang. Namanya, Jaka Pratama.

Wajah laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun lebih itu tampak gembira dan selalu penuh tawa, setiap kali menyambut tamu-tamunya. Tak heran, sebab Diah Kawaning adalah putri satu-satunya yang amat disayangi. Itu pula barangkali kenapa pesta ini diadakan sangat meriah dengan mengundang tamu dari segala penjuru. Bahkan terlihat beberapa orang pembesar kerajaan. Kemudian dia juga mendatangkan kelompok kesenian yang akan memberi pertunjukan tari-tarian serta hiburan lain bagi para tamu.

"Silakan, Kisanak semua! Nikmati jamuannya...!"

"Ki Sentot! Kau sungguh beruntung memiliki menantu yang gagah dan tampan. Putra siapakah dia?" tanya salah seorang tamu.

"Hm.... Dia putra seorang juragan Desa Margakaya!"

"Ini baru cocok! Putri seorang juragan ternyata mendapat jodoh putra juragan pula!" timpal tamunya yang lain.

"Ha ha ha…! Mudah-mudahan Ki Sentot lekas-lekas dikarunia banyak cucu!" tambah yang lain.

"Besanmu yang mana?" tanya seorang tamu lagi, setengah berbisik ketika tuan rumah duduk di sebelahnya.

Laki-laki setengah baya itu memang baru datang. Dia adalah salah seorang pembesar kerajaan yang selama ini sering berhubungan akrab dengan Juragan Sentot.

Juragan Sentot menunjuk dua orang suami istri berusia setengah baya yang duduk tak begitu jauh di dekat kedua mempelai. Pejabat kerajaan itu mengangguk-angguk.

"Hm... Kau beruntung, Sentot. Selamat!" ucap pembesar kerajaan itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Terima kasih...," desah Juragan Sentot, seraya menyambut uluran tangan itu.

Sementara tamu-tamu terus berdatangan ke pesta perkawinan, sehingga membuat suasana semakin semarak saja. Juragan Sentot memang seorang yang terkenal dan banyak mempunyai kawan di segala pelosok. Selain kaya, dia pun dikenal sebagai dermawan. Banyak sudah rakyat di desa ini yang pernah ditolongnya. Baik berupa harta, maupun dalam bentuk yang lainnya Sehingga tak heran kalau pada saat sedang melaksanakan keramaian seperti sekarang ini, banyak tamu yang menghadirinya.

Setelah semua tamu dirasakan telah berkumpul, Juragan Sentot naik ke atas sebuah mimbar yang agaknya telah disediakan untuk kepentingan ini.

"Para hadirin, aku sangat berterima kasih atas kedatangan kalian dalam memenuhi undanganku. Seperti diketahui, hari ini aku akan mengadakan hajat perkawinan putriku, yaitu Diah Kawaning dengan Jaka Pratama. Untuk itu, aku mohon doa restu dari para hadirin semoga perkawinan mereka berlangsung langgeng sampai akhir nanti...," kata Juragan Sentot memberikan sambutan untuk tamu-tamunya.

Para tamu menyambut dengan tepuk tangan. Juragan Sentot pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagia di hatinya. Mereka bersama-sama menyaksikan saat yang berbahagia bagi kedua mempelai itu.

"Hentikan semua ini!" Mendadak terdengar suara nyaring di tengah-tengah suasana bahagia ini.

Semua orang berpaling, mencari sumber suara. Ternyata, datangnya dari seorang gadis berambut panjang yang berdiri tegak di halaman dekat pintu pagar. Sorot matanya tajam dan liar, ketika melangkah perlahan-lahan. Orang-orang mulai bertanya-tanya dalam hati, "Siapa gadis itu?"

Tapi, Juragan Sentot agaknya tak ingin pesta perkawinan putrinya ini dikacaukan. Maka segera diperintahkannya beberapa orang tukang pukul untuk mengamankan gadis itu.

"Lepaskan aku! Lepaskaaan...! Aku ingin meludahi keparat itu! Dia telah menghancurkan hidupku! Dia telah merusak masa depanku! Pratama keparat! Binatang laknat, mana janjimu?! Mana janji sumpah setiamu padaku?! Setelah menodaiku dan berjanji akan mengawiniku, kemudian kau kabur! Dan kini, diam-diam melangsungkan perkawinanmu! He, Pratama! Mana janjimu?! Mana segala macam bujuk rayumu dahulu?!" teriak gadis itu berkali-kali sambil berusaha melepaskan diri.

"Nilam...!" Pemuda bernama Jaka Pratama yang tengah bersanding di pelaminan, tak sadar mendesis dengan wajah terkejut. Mukanya pucat dan tangannya gemetar. Sorot matanya tak lepas memperhatikan gadis yang tengah ditarik-tarik beberapa lelaki bertubuh besar untuk keluar dari halaman ini.

"Kenapa, Kakang? Kau kenal gadis itu?" tanya Diah Kawaning heran, sambil memandang pemuda di sebelahnya dengan sorot mata curiga.

"Eh, tidak! Tidak! Mana mungkin aku mengenalnya. Dia hanya orang gila yang kesasar!" kilah Jaka Pratama cepat.

"Tapi, dia mengenal namamu?"

"Hm, ya.... Gadis itu memang berasal dari kampungku. Dia memang tak waras. Dan semua orang di sana mengetahuinya. Yang membuatku heran, bagaimana dia bisa tiba di sini?"

Diah Kawaning memandang suaminya dengan sorot mata masih curiga. Sementara Jaka Pratama jadi salah tingkah sendiri. Namun sebisa mungkin ditariknya napas dalam-dalam untuk menenangkan diri agar Diah Kawaning tak mencurigainya.

"Adakah sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Kakang?"

"Hhh.... Kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu dari istriku sendiri? Tidak. Tak ada! Memang sejak dulu gadis itu amat tergila gila padaku. Namun, aku tak pernah menggubrisnya. Mana mungkin aku menyukai orang tak waras begitu," sahut Jaka Pratama menegaskan.

Diah Kawaning diam membisu. Para centeng yang tadi membawa gadis itu keluar, belum juga kembali. Bisa dibayangkannya ketika gadis itu berontak sekuat tenaga. Sorot matanya tajam dan berapi-api penuh dendam terhadap suaminya. Centeng centeng itu pasti membawanya jauh dari tempat ini.

Juragan Sentot berusaha menenteramkan keadaan, sehingga tak berapa lama suasana kembali seperti semula. Mereka semua beranggapan kalau gadis itu adalah orang tak waras yang akan mengganggu jalannya pesta perkawinan. Namun tak dipungkiri sebagian ada yang merasa curiga. Kenapa gadis berotak miring itu mengenal Jaka Pratama, suaminya Diah Kawaning? Lalu, apa tadi yang dikatakannya? Jaka Pratama telah menodainya? Hm, betulkah itu?

Wajar rasanya kalau mereka bertanya-tanya demikian. Apalagi, sebagian besar tamu yang datang di tempat itu adalah kenalan Juragan Sentot. Dan sebelum pesta ini berlangsung, tak seorang pun yang mengenal, siapa Jaka Pratama itu. Juga, siapa orangtuanya. Kalaupun ada yang mengenali, itu hanya kaum kerabat serta kawan-kawan dekat dari pihak pengantin lelaki belaka. Namun, Juragan Sentot cukup bijaksana. Setelah mendapat keterangan sekilas dari besannya, semuanya dijelaskan kepada tamu-tamu. Sehingga, mereka kini mengerti sambil mengangguk-angguk kepala.

"Lepaskan aku! Lepaskaaaa..!" seorang gadis terus berteriak-teriak kalap di atas sebuah kereta kuda yang melaju mendekati hutan.

"Dasar sunting! Kau akan kami lepaskan, setelah jauh dari tempat ini!" bentak salah seorang laki-laki yang memegangi kedua tangannya ke belakang.

"Diam! Atau, kau mau kulempar dari atas kereta ini?!" bentak salah seorang yang berusaha mengikat kedua kaki gadis itu agar tak terus berontak.

"Heaaa...!" Kusir kereta itu menghela kudanya dengan kencang. Kini mereka telah cukup jauh dari tempat kediaman Juragan Sentot. Sementara, tiga kawannya tengah mengikat kedua tangan dan kaki gadis itu erat-erat. Dan gadis itulah yang telah membuat onar di tempat hajatan Juragan Sentot. Namanya, Nilam.

Entah, apa yang merasuki pikiran mereka. Tapi mulanya, niat itu timbul dari salah seorang saja, yang bertubuh pendek dan bernama Sumtana. Ketika sedang memegang tubuh Nilam erat-erat, nafsu iblisnya seketika timbul. Apalagi begitu melihat kedua belah pahanya tersingkap. Darahnya menggelegak seketika. Dan ketika, niat jahatnya dibisikkan kepada kawan-kawannya. Dan mereka setuju sekali!

Maka ketika telah tiba di pinggir hutan, mereka segera berlompatan. Dengan keganasan bagai serigala melihat domba, mereka mulai menerkam gadis malang yang tak berdaya itu. Nilam berusaha berontak sekuat tenaga. Namun sebagian segera menyumpal mulutnya. Sebagian lagi mengikat erat-erat kedua tangan dan kakinya. Kini mulailah pakaian Nilam yang dilucuh satu persatu. Sambil menahan liur mereka merayapi tubuh mulus milik gadis yang kini terbujur tak berdaya, pingsan.

Dia memang tak kuat menahan derita. Maka dengan leluasa, satu persatu anak buah Juragan Sentot itu menggilirnya, tanpa mendapat perlawanan dari Nilam. Setelah orang terakhir puas melampiaskan nafsu bejatnya, mereka meninggalkan gadis itu begitu saja dalam keadaan terikat dan tak berdaya. Sambil membenahi pakaian, mereka tertawa-tawa senang dan melangkah ringan ke arah kereta kuda yang tak jauh ditinggalkan.

"Bagaimana kalau gadis itu melapor dan menceritakan segala yang kita lakukan? Huh! Seharusnya kita bunuh saja dia. Habis perkara!" kata salah seorang tiba-tiba merasa khawatir.

"Aaah! Kau ini penakut sekali, Pugeng! Semua orang menganggapnya tak waras. Siapa yang percaya ceritanya? Baru saja dia menuduh suami Den Ayu Diah telah menodainya. Hm.... Kalau dia kembali dan menceritakan perbuatan kita, tentu semua orang akan semakin jelas menuduhnya tak waras. Siapa yang percaya pada ocehan orang tak waras?" kata Sumtana, sinis.

Mendengar penjelasan yang masuk akal itu, mereka mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum lebar. "He! Tak kusangka otakmu encer juga!" puji seorang kawannya.

"Makanya, jangan hanya memandang tubuhnya yang kontet! Biar kecil tapi akalnya besar!" celetuk yang lain.

Sumtana terkekeh. Hidungnya kembang kempis dipuji-puji begitu! Dan mereka pun berlompatan naik ke kereta kuda. Sebentar saja. kereta kuda itu telah kembali menuju rumah Juragan Sentot.

Sepeninggal mereka, gadis itu masih terus terisak. Hidupnya terasa hina dan kotor. Dalam keadaan terikat begitu, dia pasrah dan tak berusaha lagi untuk berontak. Malah dalam hatinya berkeinginan agar dirinya segera ditemukan oleh binatang buas yang akan mencabik-cabik tubuhnya. Sehingga, dia tak perlu lagi menghadapi kenyataan yang amat berat oleh aib yang memalukan ini!

********************

Senja mulai menyapu pinggiran hutan ini. Sementara Nilam masih tak bergeming. Bola matanya kaku menatap kosong ke depan seperti tiada berkedip. Mendadak kepalanya menoleh sekilas, ketika melihat seseorang mendekati tempat itu sambil menangis sesegukan.

Dia adalah seorang gadis berambut panjang. Tubuhnya terbungkus kebaya hijau, dengan kain bagian bawah lusuh. Mukanya kusut ditutupi sebelah telapak tangannya. Tubuhnya langsung tersungkur di depan Nilam yang sedang terikat. Barulah disadari kalau di tempat sepi ini, ada orang lain. Bola mata gadis berambut panjang itu menatap seperti tak percaya. Untuk sesaat tangisnya reda. Dipandanginya gadis yang sedang terikat itu dengan seksama.

"Si..., siapakah kau...? Apa..., apakah kau kuntilanak penghuni hutan ini? Oh! Tangkaplah aku. Bunuhlah aku secepatnya...!" ratap gadis itu lirih, memohon dengan pandangan mengiba.

Nilam yang sedang terikat diam tak menyahut. Bola matanya menatap kosong kepada gadis yang baru tiba itu.

"Kenapa kau diam saja? Ayo, bunuhlah aku cepat! Aku sudah bosan hidup di dunia ini. Tak ada gunanya lagi menghadapi segala aib yang memalukan dan tak kuat kutanggung Ayo, bunuhlah aku!" teriak gadis berambut panjang itu, seraya menarik-narik kaki Nilam. Belum puas berbuat begitu, dia bangkit sambil menggocang-goncangkan tubuh Nilam.

Namun Nilam yang sedang terikat, tetap diam saja. Lama kelamaan, barulah gadis berambut panjang itu menyadari keadaan. Isak tangisnya terhenti, segera dipandanginya gadis yang sedang terikat itu.

"Kau bukan kuntilanak atau penunggu hutan ini Kedua tangan dan kakimu terikat. Dan..., dan pakaianmu penuh robekan begitu. Siapa kau sebenarnya?" tanya gadis berambut panjang itu lirih.

"Aku orang yang senasib denganmu...," sahut Nilam.

"Senasib? Bagaimana kau tahu penderitaanku?" tanya gadis berambut panjang itu.

"Karena aku mengalami aib yang barangkali sama denganmu...."

Gadis berkebaya hijau itu diam sesaat sambil memandang Nilam di depannya dengan sorot mata iba. Perlahan-lahan dia bangkit. Segera dilepaskannya ikatan yang membelenggu tangan Nilam.

"Namaku, Indrawati. Maukah kau menjadi sahabatku...?" kata gadis yang mengaku bernama Indrawati. Sementara Nilam kini duduk sambil memandang gadis bernama Indrawati itu. Kemudian terlihat bibirnya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Namaku Nilam...," kata Nilam singkat, memperkenalkan namanya.

Entah bagaimana, keduanya seperti merasa telah akrab saja. Bagai dua orang kawan yang lama sudah tak bertemu. Mungkin karena merasa senasib sependeritaan.

"Apa rencanamu selanjutrtya, Nilam...?" tanya Indrawati.

"Entahlah. Mulanya, aku berpikiran sama sepertimu. Tapi apakah kita akan membiarkan begitu saja mereka yang telah mempermainkan, bahkan memberi kita aib? Mereka harus mendapat pembalasan setimpal atas perlakuan mereka terhadap kita!" dengus Nilam geram.

"Tapi, bagaimana kita melakukannya? Aku gadis lemah dan tak berdaya apa-apa...," tanya Indrawati.

Nilam belum sempat menjelaskan rencananya, ketika tiba-tiba dikejutkan oleh isak tangis seseorang yang berlari kecil mendekati mereka. Kedua gadis itu saling berpandangan sesaat, dan serentak berdiri mencegat berbarengan.

"Nisanak, tunggu dulu! Kenapa kau menangis sambil berlari-lari begini?" tanya Indrawati sambil mencekal bahu gadis yang sedang mengenakan baju merah itu.

"Eh, siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?!" tanya gadis itu. Matanya liar dan curiga, merayapi Nilam dan Indrawati bergantian.

Tenanglah. Kami tak bermaksud menyakitimu...," bujuk Nilam sambil tersenyum kecil.

"Siapa namanu? Dan, kenapa kau berada di tempat ini...?" tanya Indrawati.

Gadis itu memandang mereka sesaat, seolah ingin meyakinkan kalau kedua wanita itu tak bermaksud jahat. Kemudian, terdengar helaan napasnya yang pendek.

"Namaku, Sukesih. Kalau memang kalian ingin membunuhku, cepatlah. Percuma saja aku hidup di dunia ini...," desah gadis yang mengaku bernama Sukesih.

"Kami sudah katakan, kalau tak bermaksud menyakitimu. Namaku Nilam. Dan ini, Indrawati," sahut Nilam cepat.

Sukesih memandang mereka kembali dengan wajah sedikit heran. "Hm.... Kalau memang tak bermaksud jahat, apa yang kalian lakukan di tempat ini berdua?"

Nilam dan Indrawati pun menceritakan sedikit peristiwa yang dialami hingga bertemu di sini. Mendengar itu, Sukesih tersenyum pahit.

"Kalau demikian, kita senasib. Pengalaman yang kualami tak jauh beda ," tutur Sukesih lirih.

"Kami telah mempunyai rencana. Maukah kau ikut?" tanya Nilam.

"Rencana apa?"

"Kita harus balas perlakuan mereka, dengan cara yang lebih menyakitkan" tandas Nilam.

"Bagaimana caranya?"

"Dalam keadaan sekarang, tak mungkin kita mampu. Maka, kita harus membekali diri dengan kepandaian ilmu olah kanuragan. Tak peduli ilmu apa pun harus kita pelajari, untuk membalas sakit hati pada mereka. Daripada mati terhina, lebih baik hidup dan membuat mereka sengsara!" tandas Nilam lagi, bersemangat.

"Aku setuju! Tapi bagaimana kita mempelajarinya?"

"Kita akan mencari seorang guru yang hebat! Tak peduli, apa dan bagaimana caranya!" kata Nilam geram.

Kedua kawan baru Nilam itu tersenyum kecil! Entah, apa arti senyum itu.

DUA

Suasana tenang di pagi hari pada Desa Banyaran Sari tampak dipecahkan oleh nyanyian tak karuan seorang pemuda bertubuh kurus yang berjalan berlenggak-lenggok. Namun dalam sekejap, wajahnya yang riang gembira berubah muram. Kemudian dia tampak terdiam, dengan tatapan mata kosong ke depan. Sebentar saja terdengar tangisnya yang terisak.

"Wuaaa...! Tolong, tolonglah aku...! Tolooong.., ada kuntilanak! Wuaaa...! Tolong...! Dia telah membunuh Kardi, Diding, dan Gino! Tolooong...!" teriak pemuda bertubuh kurus itu sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.

Beberapa orang yang berada di depan rumah masing-masing melihat dengan heran. Namun sekilas saja, mereka tak begitu peduli. Mereka menganggap pemuda itu gila. Namun ketika pemuda itu berpapasan dengan seseorang.

"Pulung, kenapa kau?! Apa yang terjadi padamu?!" teriak orang itu. Agaknya, dia mengenal pemuda tak waras itu.

"Siapa kau?! Jangan mendekat! Awas, kalau dekat-dekat akan kucekik kau!" sahut orang tak waras itu yang dipanggil Pulung sambil bangkit. Sorot matanya seketika jadi liar.

"Pulung! Apakah kau tak mengenalku lagi? Aku Sukedi, sahabatmu!" pemuda bernama Sukedi itu berusaha meyakinkan sambil tersenyum dan mendekat perlahan-lahan.

"Jangan mendekat kataku! Kucekik nanti kau!" teriak Pulung dengan wajah semakin beringas.

Sukedi menghentikan langkah. Wajahnya tampak bingung dan tak percaya. "Pulung, ingat! Ingat. Lung. Apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau jadi mengigau begini. Ayo, jangan bikin malu emakmu. Malu dilihat banyak orang begitu...," bujuk Sukedi kembali dengan suara halus.

Pulung diam tak menjawab. Namun sorot matanya yang beringas seperti hewan buas tak juga pudar. Beberapa kali mulutnya menyeringai dengan kedua tangan seperti bersiap akan menerkam Sukedi, jika berani mendekat.

"Lung, apa yang terjadi padamu? Aku sahabatmu...," tanya Sukedi lembut.

Pulung masih tetap diam dengan sorot mata beringas. Sukedi berusaha meyakinkan, sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Beberapa orang yang berada di dekat situ, mulai mengerubungi Pulung. Namun, pemuda itu tak peduli. Bahkan sama sekali tak menoleh.

"Aku sahabatmu. Aku pasti akan menolongmu, kalau kau susah. Katakanlah, apa yang telah terjadi padamu...?" tanya Sukedi kembali.

"Di mana kau saat kami perlukan...? Kuntilanak itu mencekik kawan-kawanku dan mengisap darahnya...," kata Pulung seperti mengigau.

"Kuntilanak? Kuntilanak apa maksudmu...?" Sukedi jadi keheranan sendiri.

"Perempuan berambut panjang berbaju putih. Bola matanya putih dan memiliki dua buah gigi taring...."

Sukedi menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Begitu pula orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan kini mereka semakin yakin, jelas pemuda bertubuh kurus itu memang gila. Omongannya meracau dan tak bisa dipercaya.

"Ayo, mari kuantar pulang!" ajak Sukedi. Dicobanya untuk menangkap lengan kawannya itu, dan bermaksud mengantarkannya pulang ke rumah.

"Pergi dariku! Pergiii...!" Pulung berteriak kalap sambil menepiskan tangan kawannya dengan kasar.

Tentu saja hal itu membuat Sukedi terkejut. Dia mulai percaya kalau Pulung betul-betul telah gila. Tapi apa yang menyebabkannya demikian? Kuntilanak? Mana mungkin! Selama ini desa mereka aman dan tak pernah ada keributan apa pun?

Tapi Sukedi tak sampai hati membiarkan kawannya berada di tempat ini, menjadi tontonan atau mengamuk, kembali kakinya melangkah. Segera ditangkapnya pergelangan tangan kawannya.

"Ayo, pulang! Kau tak kasihan dengan emakmu ya? Apa tak malu jadi tontonan orang begitu?!"

Namun jawaban Palung adalah ayunan kaki yang demikian cepat, tanpa dapat dicegah lagi.

Begkh!

"Aaakh...!" Sukedi mengeluh kesakitan ketika tubuhnya terjungkal ke belakang. Tiba-tiba saja kaki Pulung telah mendarat di dadanya. Malah kemudian Pulung bangkit dan bertari sekuat-kuatnya sambil berteriak-teriak.

"Tolooong, ada kuntilanak! Tolooong...!"

Sukedi berusaha bangkit. Dia bermaksud mengejar, namun niatnya diurungkan. Dadanya yang terasa masih sakit, membuat langkahnya tertahan.

"Sial! Diajak baik-baik tak mau dengar!" gerutu Sukedi kesal.

Beberapa saat ketika Sukedi sudah bangkit dan berjalan tertarih-tatih sambil memegangi dadanya, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh menghampiri, Wajahnya tampak pucat dan tegang.

"Sukedi! Syukur kau ada di sini! Mana Pulung? Kata orang dia gila? Apa betul?!" tanya perempuan tua itu.

"Tenang, Nyi. Tenang...," ujar Sukedi berusaha menyabarkan perempuan itu.

"Bagaimana bisa tenang? Mana si Pulung? Mana dia?!"

Sukedi tak punya pilihan lagi, selain menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Mendengar itu, bukan main terkejutnya perempuan tua yang ternyata ibu pemuda kurus bernama Pulung itu. Wajahnya semakin tegang. Dan bias keterkejutan terlihat jelas di wajahnya yang keriput.

"Anakku gila...? Oh, tak mungkin! Tak mungkin...! Kemana dia sekarang? Kemana?!"

"Ke arah sana...," tunjuk Sukedi lesu ke satu arah.

Tanpa banyak bicara lagi, perempuan tua itu terus berlari ke arah yang ditunjukkan Sukedi sambil berteriak-teriak.

"Pulung anakku...! Puluuung...!" Sukedi menggeleng lesu. Kemudian kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.

Jaka Pratama tersenyum lebar sambil membelai perut istrinya yang tengah berbaring di sebelahnya. Gadis cantik yang dikawininya lebih kurang lima bulan lalu, kini telah mengandung anak pertama. Sehingga tak heran bila hari-hari mereka belakangan ini diwarnai kegembiraan menyambut si jabang bayi. Mertuanya sendiri tak lagi memikirkan pekerjaan menantunya yang tak jelas karena rasa kegembiraannya.

Selama ini, masalah pekerjaan Jaka Pratama memang sedikit mengganjal di hati laki-laki setengah baya itu. Menantunya ini memang amat pemalas. Jaka Pratama mana sudi untuk turun ke sawah. Bahkan untuk sekadar mengawasi orang-orang yang bekerja pada Juragan Sentot saja, menantunya enggan. Kerja Jaka Pratama setiap hari hanya mengelus-elus ayam jagonya yang berjumlah puluhan ekor. Dan setelah itu dia pergi menyabung ayam dari satu desa, ke desa yang lain. Tentu saja dengan taruhan sehingga menghabiskan uangnya secara percuma.

Pada mulanya Juragan Sentot menyesal sekali melihat kelakuan menantunya yang jarang di rumah. Belum lagi gunjingan orang yang mengatakan kalau menantunya sering main gila dengan perempuan lain. Namun semua itu perlahan-lahan hilang dari pikirannya, ketika putrinya tengah mengandung cucu pertamanya. Bahkan diharapkan dengan kelahiran si jabang bayi sikap Jaka Pratama kelak akan berubah.

"Kang! Kau inginkan anak perempuan atau laki-laki...?" tanya Diah Kawaning pelan.

Jaka Pratama tersenyum kecil sambil membelai rambut istrinya. "Kalau kau?" Jaka Pratama malah balik bertanya.

"Aku ingin anak perempuan?"

"Kenapa?"

"Agar kelak bisa membantuku di rumah, mengurusi pekerjaan sehari-hari. Lagi pula, anak perempuan lebih betah di rumah Aku sering kesepian dan tak ada yang.mengawasi kalau kau pergi kata Diah Kawaning, memberi alasan.

Jaka Pratama diam saja mendengar kata-kata istrinya. Bukannya tak mengerti sindiran itu. Namun, laki-laki ini amat cerdik untuk tidak meladeni kata-kata istrinya. Sebab sekali diladeni, maka persoalan akan berbuntut menjadi pertengkaran, seperti yang sudah sering terjadi.

"Sebenarnya ada urusan apa Kakang sering tak ada di rumah?" tanya Diah Kawaning akhirnya.

"Ada urusan penting," sahut laki-laki itu singkat.

"Sebegitu pentingkah, sehingga Kakang sering meninggalkanku sendiri di rumah...?" tanya wanita itu masih dengan suara halus.

Jaka Pratama hanya melirik. Wajahnya tampak berubah. tak seperti tadi. Ada nuansa tak senang yang tersirat di wajahnya, mendengar desakan istrinya.

"Apakah setiap yang kukerjakan di luar, kau harus mengetahuinya?" tanya laki-laki itu dingin.

"Aku istrimu, Kang! Apakah kau ingin menyembunyikan sesuatu dariku?!" suara perempuan itu tampak meninggi.

Jaka Pratama tiba-tiba bangkit lalu duduk di tepi ranjang membelakangi istrinya. "Diah! Aku tak suka kalau kau mencampuri urusanku. Tugasmu di rumah, dan mematuhi perintah suami!" sentak Jaka Pratama tegas.

Diah Kawaning juga bangkit, lalu duduk di sudut ranjang. Bola matanya membulat dan hidungnya kembang-kempis menahan kesal. "Hm.... Bagus betul kata-katamu itu. Dulu kau rayu, dan kau bujuk aku untuk menjadi istrimu. Dan kini setelah aku menyerahkan segalanya padamu, kau mulai bertingkah macam-macam!" dengus Diah Kawaning.

"Apa maksudmu bicara begitu?!" Jaka Pratama langsung menatap tajam istrinya dengan sorot mata garang.

"Aku hanya ingin menagih janjimu! Kau pernah mengatakan, akan membahagiakanku. Tapi apa yang kau lakukan selama ini? Kau menyiksaku! Kau pergi selama berhari-hari, kemudian kembali hanya sekadar menjengukku. Kerjamu berjudi menghabiskan uang, dan main perempuan di mana-mana. Itukah yang kau maksud ingin membahagiakanku?! Kau menyiksa perasaanku, Kang. Kau menyiksa...."

Plak!
"Aouw!"

Belum habis kata-kata Diah Kawaning, Jaka Pratama sudah mendaratkan telapak tangannya di pipi istrinya. Diah Kawaning hanya menjerit kecil, sambil mengelus pipi kirinya.

Wanita itu seperti tak percaya kalau suaminya mampu bertindak kasar begitu pada dirinya. Menampar pipinya? Oh, rasanya sulit dipercaya! Bahkan selama ini belum pernah dialami perlakuan seperti itu sejak masa kanak-kanak. Tapi kini?

"Kau..., kau...?!" tunjuk Diah Kawaning dengan wajah tak percaya bercampur marah.

"Kalau kau tak mau diam, aku akan berbuat lebih dari itu!" ancam suaminya dengan wajah semakin garang. Baru saja kata-kata Jaka Pratama habis...

Brakkk!

Slappp...! Mendadak berkelebat sesosok bayangan di kamar mereka, begitu terdengar jendela yang dijebol. Dan bayangan itu memang masuk dari situ.

"Hi hi hi…! Dasar laki-laki gendeng, tetap saja gendeng! Kelakuanmu tak akan berubah sampai kapan pun juga. Tapi hari ini akan berakhir...!"

Kedua orang itu sama-sama terkejut dengan wajah berubah pucat dan bola mata terbelalak. Diah Kawaning malah gemetar. Kini di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh wanita berambut panjang terurai hingga ke pantat. Sebagian malah menutupi wajahnya, sehingga sulit dikenali. Kulitnya yang kuning langsat, tampak dekil dan kotor seperti tak pernah mandi. Pakaiannya lusuh, namun terlihat jelas berwarna putih. Dalam gelap malam yang hanya diterangi pelita kecil di kamar, penampilannya memang amat menyeramkan! Lebih lagi ketawanya yang nyaring!

"Siapa kau?!" Jaka Pratama berusaha memberanikan diri. Dia berdiri dan membentak dengan suara gemetar.

"Hi hi hi...! Kau tak mengenalku lagi, Pratama? Hm.... Seharusnya aku menyadari kalau kau saat ini tengah bersenang-senang dengan perempuan ini. Tapi, tentunya kau tak akan melupakan saat-saat kita bersenang-senang di bawah rerimbunan pohon petai, kira-kira enam bulan yang lalu, bukan? Saat itu, kau merayuku dengan kata-kata manis. Tapi akhirnya, apa yang kau lakukan padaku?"

Kata-kata terakhir yang dikeluarkan perempuan itu terdengar dingin menusuk. Seperti ada hawa amarah yang terpendam selama beribu tahun. Dan Jaka Pratama jadiberpikir sejenak. Tapi dia tak perlu banyak waktu, karena peristiwa itu memang belum lama terjadi. Dan itu masih melekat erat di benaknya.

"Ni. ., Nilam, kau..., kau..?!"

"Nilam? Kakang, kau mengenalnya? Bukankah nama itu pun pernah kau sebut ketika ada seorang perempuan mengacau di pesta perkawinan kita dahulu?" tanya Diah Kawaning di antara sela-sela ketakutannya.

"Hi hi hi. ! Jaka Pratama! Aku pernah bersumpah. Setelah apa yang kau perbuat padaku dulu, aku akan membunuhmu dan tak akan membiarkan laki-laki sepertimu hidup di muka bumi ini!" dingin suara perempuan itu.

"Oooh..!" Jaka Pratama mengeluh, seperti menyesali diri.

"Heh?!" Kedua suami istri ini terkejut setengah mati ketika perempuan itu menampakkan wajahnya. Diah Kawaning langsung jatuh lemas, pingsan. Sedang Jaka Pratama sudah gemetar dengan keringat dingin mengucur deras. Apa yang terlihat memang sungguh menyeramkan. Kulit wajah perempuan itu pucat bagai mayat dengan kedua bola mata putih. Dan dari kedua sudut bibir keluar sebuah taring. Dan ketika menyeringai buas, semangat pemuda itu seperti terbang.

"Hari ini pembalasanku telah tiba, Pratama....'" Dingin suara perempuan itu terdengar sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya yang berkuku runcing.

"Ja..., jangan. Jangaaan. !" kata Jaka Pratama bergidik ngeri. Kakinya telah mundur ke belakang, merapat dengan dinding kamar ini yang terbuat dari kayu jati. Bahkan dari sela-sela selangkangannya telah keluar cairan berbau pesing.

"Grrrrgrrr...!" Bagai hewan buas, perempuan berambut panjang itu menerkam Jaka Pratama. Sebelah tangannya yang berkuku runcing tangsung menyodok dada kiri Jaka Pratama.

Laki-laki itu melolong kesakitan ketika tangan perempuan yang dikenali sebagai Nilam itu menembus jantungnya. Tubuhnya langsung ambruk bersimbah darah. Dan sungguh gila apa yang dilakukan perempuan itu. Jantung korbannya langsung dilahap dengan rakus!

"Hi hi hi...! Tak kusangka jantungmu nikmat juga. Apalagi jantung istri dan bayimu dalam kandungan itu. Mungkin akan lebih nikmat lagi!" oceh Nilam sambil tertawa cekikikan.

Dan Nilam tanpa perikemanusiaan lagi merobek jantung Diah Kawaning yang tak sadarkan diri. Kemudian dilahapnya jantung itu dengan rakus. Mulutnya kini penuh dengan bercak-bercak darah. Begitu pula kedua belah tangannya. Namun tiba-tiba dari arah pintu kamar....

"Hei?!"

"He?" Mendadak terdengar bentakan. Perempuan itu cepat-cepat memalingkan wajah sambil menyeringai buas ke arah beberapa centeng Juragan Sentot yang telah berdiri di pintu dengan golok terhunus. Mata mereka terbelalak liar, ketika melihat dua sosok mayat tergeletak di lantai dalam keadaan mengerikan. Apalagi ketika mengenali kalau kedua mayat itu tak lain dari junjungan mereka sendiri.

"Kurang ajar! He! Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak salah seorang centeng sambil melangkah maju dengan wajah gusar.

"Hi hi hi...! Kalian datang pada saat yang tepat, ketika aku sedang lapar. Ayo, majulah semua!" sahut Nilam sambil ketawa kecil.

"Sial! Dasar orang gila. Dikira aku takut dengan segala ocehanmu!" Centeng itu langsung melangkah lebar dengan ayunan golok ke arah perempuan itu. Namun dengan sedikit bergeser ke samping, perempuan itu dapat menghindarinya. Dan seketika tangan kirinya menangkap pergelangan tangan centeng itu.

"Hih!"

Tap! Kemudian dengan sekali sentak, tubuh centeng itu tertarik tanpa mampu bertahan. Dan pada saat itulah tangan kanan Nilam menyambar dada centeng itu.

Crab!

"Aaa...!" Laki-laki berperawakan besar itu melolong setinggi langit. Tubuhnya kontan ambruk lunglai, ketika jantungnya dikorek dan langsung dilahap perempuan itu dengan rakus.

"He, bedebah! Ternyata dia tak bisa diberi hati. Orang ini pasti hantu yang tengah mencari korban dengan memakan jantung manusia. Hati-hati!" teriak salah seorang centeng yang lain. Mereka segera menyerbu secara serentak ke arah perempuan itu.

"Yeaaa...!"

"Hiyaaat..!" Nilam bergerak ringan seperti melayang, untuk menghindari sabetan-sabetan golok itu.

"Uts!"

Slap! Kemudian kedua tangan dan kakinya menghantam mereka satu persatu, dengan gerakan sulit diikuti mata biasa. Sehingga...

Prak!
Crab!

"Hi hi hi...! Kalian akan mampus semua! Kalian akan mampus...!" teriak perempuan itu, ketawa cekikikan.

Beberapa saat saja terdengar para pengeroyok menjerit kesakitan dengan tubuh ambruk terjungkal di lantai bermandikan darah. Rata-rata dada sebelah kiri mereka bolong, dengan jantung hilang, karena menjadi santapan perempuan itu.

Yang tersisa saat itu hanya dua orang saja. Dan mereka tersudut di pojok ruangan dengan tubuh gemetar. Terkencing-kencing. Golok di tangan telah jatuh tak terasa. Sementara mata mereka melotot ketakutan dengan muka pucat. Perempuan itu tersenyum sinis sambil memperlihatkan kedua taringnya, sehingga membuat keduanya semakin ketakutan saja.

"Aku tak akan melupakan wajah-wajah kalian keparat! Kalianlah yang telah menodaiku beramai-ramai di pinggir hutan. Satu kawanmu sudah mampus, maka sekarang giliran kalian!" dengus Nilam garang.

"Eh! Kau.., kaukah perempuan gila itu...?" tanya salah seorang yang bertubuh pendek, tergagap.

"Hi hi hi..! Ternyata ingatanmu masih tajam juga. Bagus! Dengan begitu, kau tak akan mati penasaran."

"Eh! Ja..., jangan...!" Laki-laki itu tampak ketakutan ketika tiba-tiba perempuan berambut panjang dengan gigi taring itu bergerak cepat ke arahnya. Laki-laki pendek itu berusaha menangkis. Namun tangan kanan perempuan itu lebih cepat menghantam dada kirinya.

Crab!
"Aaa...!"

Nilam langsung mengorek jantung, ketika tangan kirinya menembus dada laki-laki pendek itu. Dan pada saat yang bersamaan, kepalanya sedikit menunduk ketika seorang lawan lagi berusaha membokong. Tangan kiri perempuan itu bergerak cepat menyambar dada kiri lawannya yang lain.

Crab!

"Aaa..!" Kembali terdengar jeritan menyayat begitu Nilam mengorek jantung lawan terakhirnya. Sebentar saja keduanya ambruk ke lantai bersimbah darah dengan nyawa lepas. Perempuan itu terkikik sejenak, kemudian melompat keluar lewat jendela. Begitu cepat tubuhnya melesat dan hilang di telan gelapnya malam. Sementara suara ketawa mengikiknya masih bergema dikejauhan!

TIGA

Sepasang anak muda yang tengah dimabuk cinta, tampak tengah berjalan mesra sambil bergandengan tangan. Pemuda tampan berambut pendek dan berkulit sawo matang itu menggenggam erat gadis manis disebelahnya. Rambut gadis itu panjang disanggul ke belakang. Bajunya dari sutera berwarna merah muda.

Langkah mereka perlahan, menuju sebuah telaga yang sudah tak jauh di depan. Sebuah telaga yang memiliki suasana indah dan menyenangkan. Hampir di sekeliling telaga ditumbuhi pepohonan besar berdaun lebat. Air telaga pun terlihat bening, dan terasa sejuk. Pada tepiannya juga ditumbuhi rerumputan pendek yang menghijau.

Kedua insan itu berhenti di tepi telaga. Mereka lalu duduk di situ, dengan kedua kaki menjuntai menyibak air. Sesaat mata mereka saling berpandangan, namun gadis itu cepat memalingkan wajahnya membawa rona merah.

"Kenapa kau sejak tadi diam saja, Tari...?" tanya pemuda itu sambil tersenyum kecil.

Gadis yang dipanggil Tari tak berpaling. Malah kepalanya ditundukkan lebih dalam sambil tersipu malu.

"Kau masih malu...?"

"Aku baru kali ini keluar rumah bersama seorang laki-laki sepertimu Kang...," kata Tari lirih.

"Hm, benarkah...?" tanya pemuda itu pelan, seraya mengelus paha Tari.

Gadis itu tersentak. Darahnya seketika mendesir merasakan elusan pemuda itu. Apalagi ketika tangan pemuda yang dipanggil Sembada menelusup ke pinggangnya, dan memeluknya dengan berani. Tubuh Tari bergetar hebat, karena baru sekali ini ada seorang pemuda yang berani memeluk dirinya. Padahal saat tadi tangannya digandeng saja, dia sudah bergetar. Sehingga, tangannya terasa dingin membeku.

"Kakang Sembada...," panggil Tari lirih.

"Hm...," gumam Sembada pelan.

Sementara itu kedua tangan Sembada. Semakin berani menggerayangi tubuh Tari. Sedangkan gadis itu jadi bergelinjang menahan geli dan perasaan malu yang dalam.

"Kang Sembada, jangan..," suara Tari semakin nyata terdengar, ketika pemuda itu hendak mempereteli pakaiannya.

"Tak apa. Toh sebentar lagi orangtuaku akan datang melamarmu. Kau akan menjadi istriku, Tari...," rayu Sembada.

"Jangan, Kang...."

"Tenang saja, Tari. Jangan khawatir...," bujuk Sembada, semakin bernafsu saja menggerayangi tubuh gadis itu.

Meskipun gadis itu tak berusaha keras mempertahankan diri, namun masih tetap menolak niat buruk yang ada di hati Sembada.

Namun agaknya pemuda itu sudah tak sabar lagi. Nafsunya telah menggelegak, membakar hatinya. Maka dengan kasar dipeluknya tubuh gadis itu, dan direbahkannya di rerumputan. Gadis itu berusaha berontak, mempertahankan kehormatannya. Dan nalurinya pun mengatakan kalau pemuda itu tidak bermaksud baik. Jelas, yang ada di hatinya hanya nafsu iblis belaka.

"Tidak, Kang! Aku tak mau! Aku tak mau...! Lepaskaaan...! Lepaskaaan...!" teriak gadis itu.

Tari mulai keras perlawanannya. Bukan lagi sekadar menyadarkan nafsu setan pemuda itu, namun ingin melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun, Sembada seperti tak peduli. Kekasarannya semakin menjadi. Malah tenaganya seperti berlipat ganda, ketika menindih tubuh Tari dan mencabik-cabik kasar pakaiannya. Namun mendadak saja....

Begkh!

"Aaakh...!" Sembada kontan menjerit kesakitan, ketika satu tendangan menghajar pinggangnya. Tubuhnya bergulingan menahan sakit lalu bergegas bangkit. Sementara gadis yang sejak tadi hendak menjadi korban nafsu setannya cepat bangkit. Langsung bagian tubuhnya yang terlarang ditutupi. Dan kedua orang itu sama-sama terpaku, ketika melihat siapa yang muncul di tempat itu.

Sesosok tubuh yang sebagian rambut panjangnya menutupi wajah itu berdiri tegak di depan Sembada sambil berkacak pinggang. Kedua anak muda itu sama sekali tak tahu, dari mana orang itu berasal. Melihat dari bentuk tubuh dan caranya berpakaian, jelas kalau dia adalah seorang wanita. Namun wajahnya yang terhalang rambut itu belum telihat jelas.

"Siapa kau?!" bentak Sembada, garang. Pemuda itu berusaha menyembunyikan rasa takutnya terhadap perempuan berbaju hijau itu, dengan bersikap demikian.

"Hm..., kau tak mengenaliku, Sembada?" tanya perempuan itu dingin.

Mendengar sahutan itu, tentu saja Sembada terkejut. Dari mana orang itu tahu namanya! Untuk sesaat, dia tertegun dengan sorot mata bingung.

"Hi hi hi..! Kau tentu tak akan menduga kalau pertemuan kita kembali ini akan secepat ini, bukan? Kedatanganku untuk menagih janji, sekaligus nyawamu!'' Kata-kata yang diucapkan perempuan berbaju hijau itu terasa mengancam. Sehingga membuat Sembada semakin bergetar saja sekujur tubuhnya.

"Siapa kau ini sebenarnya? Dan, apa yang kau inginkan?!" tanya pemuda itu berusaha menenangkan diri.

"Kau betul-betul tak mengenalku?"

Sembada diam tak menyahut. Hanya matanya terus memperhatikan perempua itu dengan seksama.

"Apakah kau kini tak mengenalku, Sembada?" tanya perempuan itu dingin seraya menyibakkan rambut.

"Heh?!" Sembada terbelalak kaget. Dia kenal betul wajah perempuan yang berbaju merah ini.

"Indrawati, kau...?" sebut pemuda itu, tercekat di tenggorokan.

"Ya! Akulah Indrawati, kekasihmu dahulu yang pernah disia-siakan..."

Mengetahui siapa gadis itu, napas Sembada sedikit lega. Wajahnya mulai dihiasi sedikit senyum. Sambil cengar-cengir dihampirinya gadis itu.

"Eh, Indrawati kenapa kau berada di sini?"

"Karena kau ada di sini," sahut gadis berbaju hijau yang dipanggil Indrawati itu pendek.

"Hm... Apakah kau..., kau masih merindukanku...?"

"Hi hi hi...! Rindu? Justru kedatanganku kesini akan mencabut nyawamu!"

"Ha ha ha...! Indrawati! Kau masih suka bercanda juga rupanya...." Perlahan-lahan pemuda itu mendekat sambil cengar-cengir. Tak dipedulikannya kata-kata Indrawati. Namun ketika jaraknya persis berada di hadapan gadis itu, Sembada tersentak kaget Tangan kanan Indrawati tiba-tiba bergerak cepat ke arah matanya.

Crab!

"Aaa...!" Sembada kontan terpekik ketika dua buah jari Indrawati yang berkuku runcing mengorek biji matanya. Pada saat yang bersamaan, lutut kiri gadis itu menghajar bagian selangkangan Sembada.

Desss!

"Aaa...!" Sembada terpekik ketika barang keramatnya terhajar lutut gadis itu. Pemuda itu kontan ambruk dan berkelojotan di tanah sambil menjerit-jerit. Sementara, bagian wajahnya telah dibanjiri darah.

"Oh...!" Gadis yang tadi menyertai Sembada terperangah kaget melihat kejadian di depan matanya. Sekujur tubuhnya gemetar dan bola matanya terbelalak. Belum lagi habis rasa kagetnya mendadak gadis berpakaian hijau itu mengangkat sebelah kaki Sembada, setelah memakan kedua biji matanya. Dan....

Blesss!

Tanpa rasa kasihan sedikit pun, telapak kaki Indrawati dihujamkan ke dada Sembada. Akibatnya, sungguh mengerikan! Bahkan Tari nyaris pingsan, kalau saja tak berusaha menguatkan hati, dan berusaha lari dari tempat itu.

Memang, tulang rusuk Sembada remuk. Sementara kaki gadis berbaju hijau ini melesak ke dalam tubuh pemuda itu. Sembada sendiri hanya mampu menjerit sesaat, sebelum nyawanya lepas dari raga.

"Hi hi hi...! Mampuslah kau Sembada. Mampuslah kau...! Hi hi hi...!" Setelah puas tertawa, Indrawati segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Agaknya, dia tak begitu peduli terhadap gadis berbaju merah muda yang tadi sempat kabur.

********************

"Tolooong...! Tolooong..!" Tari terus berlari menuju desa tempat tinggalnya yang tak begitu jauh dari tempat itu sambil berteriak-teriak tak karuan. Tiba di mulut desa, orang-orang mulai memperhatikannya. Bahkan beberapa orang malah tersipu malu. Ternyata pakaian yang dikenakannya sedikit tak karuan. Sehingga di sana-sini terlihat bagian tubuhnya yang berkulit mulus. Namun, agaknya Tari tak mempedulikannya. Teriakannya begitu menggiriskan seperti dikejar setan.

"Astaga! ltukan Lestari, putri Pak Jangat?! Kenapa pakaiannya begitu?" tanya salah seorang gadis pada kawannya.

Agaknya kedua gadis belia yang baru saja pulang dari pasar ini mengenal, siapa gadis berbaju merah muda yang tengah berlari seperti orang gila itu. Namun belum kedua gadis itu sempat melangkah untuk mencegat Tari yang bernama lengkap Lestari itu, seorang perempuan setengah baya telah lebih dulu menghampirinya.

"Lestari, astaga! Kenapa kau, Nak? Kenapa?!" tanya perempuan setengah baya itu terkejut.

"Tolooong! Tolooong..!"

"Tenanglah, Nak. Aku emakmu. Ayo, sadarlah. Sadar! Ada apa? Apa yang telah terjadi pada dirimu?" tanya perempuan setengah baya itu lagi sambil mengguncang-guncangkan kedua bahu Lestari.

Gadis berbaju merah muda itu masih berusaha berontak dengan wajah pucat dan tubuh bergetar hebat. Padahal, yang menanyakannya adalah ibunya sendiri.

"Ayo, Lestari. Tenangkan hatimu. Aku ini emakmu. Tak perlu takut. Sadarlah, Nak. Sadar...!" perempuan setengah baya itu terus berusaha menyadarkan Lestari dengan kata-kata lembut.

Dan tampaknya gadis itu perlahan-lahan mulai sadar. Lestari tak lagi berusaha berontak. Namun bola matanya masih melotot kaku, seperti menatap kosong kedepan. Orang-orang mulai mengerumuni tempat itu. Sehingga, perempuan setengah tua itu merasa malu. Didekapnya gadis itu, hendak dibimbingnya pulang. Namun Lestari kelihatan tetap bertahan, tak mau beranjak sedikit pun dari tempat berdiri.

"Lestari! Coba lihat, Nak. Banyak orang yang berada di sini memperhatikanmu. Apakah kau tak malu?"

Gadis itu tak menjawab. Namun, pandangannya kini menatap perempuan setengah baya itu dengan seksama. "Hantu perempuan itu, Mak. Di..., dia memakai baju hijau. Rambutnya panjang, dan... Dan membunuh Kakang Sembada...."

"Apa?" Perempuan setengah baya itu terkejut mendengar penuturan putrinya. Namun, sebenarnya pertanyaannya itu asal keluar saja dari mulutnya. Telinganya sendiri masih jelas menangkap, apa yang dikatakan putrinya tadi. Demikian pula orang-orang yang mengerumuni. Jelas sekali mereka mendengar apa yang diucapkan gadis itu.

"Hantu perempuan berbaju hijau membunuh Sembada?"

"Di mana hantu itu sekarang?"

"Ayo, mari kita ke sana beramai ramai!"

Dalam sekejap, Desa Besakih dibuat heboh oleh cerita yang dibawa Lestari. Dengan tergesa-gesa, mereka pergi menuju tempat gadis itu bertemu hantu perempuan berbaju hijau yang telah membunuh Sembada.

Dan begitu sampai di sana, kegemparan semakin menjadi jadi. Mayat Sembada ditemukan dalam keadaan mengerikan sekali. Kedua kelopak matanya bolong dan tulang dadanya jebol. Sedangkan sekujur tubuhnya bersimbah darah. Keadaan itu tentu saja membuat mereka bertanya tanya, siapa kah sebenarnya hantu perempuan berbaju hijau yang dimaksud Lestari? Tapi kenapa di tepi telaga ini tak terlihat orang lain? Bahkan banyak yang menduga kalau itu hanya dilakukan para perampok belaka. Namun tak kurang yang membenarkan ucapan Lestari. Atau mungkin, juga kejadian yang menimpa Sembada dilakukan oleh salah seorang musuh yang amat membencinya?

********************

Hari belum lagi terlalu malam ketika dua orang penunggang kuda melewati Desa Besakih. Pintu-pintu rumah sepertinya terkunci rapat. Sementara beberapa pelita menyala kecil di depan rumah. Desa ini sepi bagai di pekuburan saja. Agaknya peristiwa beruntun yang menimpa siang tadi, membuat semua penduduk Desa Besakih ketakutan. Tiga orang tewas dalam waktu tak terlalu lama. Pada hal, tak seorang pun yang tahu, apa penyebab kematian mereka, selain diperkirakan telah dibunuh perempuan aneh berbaju hijau yang tak dikenal.

Kalau perempuan aneh itu mampu membuat korbannya tewas secara mengerikan, tentu mampu pula menghancurkan Desa Besakih ini dengan seluruh penduduknya. Hal itulah yang dipikirkan seluruh penduduk desa ini. Makanya, tak ada seorang pun yang berani keluar setelah senja berlalu.

"Kakang, desa apakah ini? Suasananya sepi sekali seperti di kuburan. Padahal rumah mereka rapat dan tempat ini pun luas. Bagaimana mungkin tak bertemu seorang pun di malam ini...," tanya seorang gadis berbaju biru muda pada pemuda yang berbaju rompi putih.

"Aku pun tak bisa menduga apa yang menjadi penyebabnya, Pandan,” sahut pemuda berbaju rompi putih itu pelan sambil memutar pandangannya ke kiri dan kekanan.

Kedua orang ini memang tak lain dari Pandan Wangi dan Rangga. Mereka lebih dikenal sebagai Sepasang Pendekar dari Karang Setra.

"Apakah kita akan bermalam di sini? Tapi, sejak tadi belum satu pun kulihat rumah penginapan," kata Pandan Wangi.

"Kita bisa menumpang di rumah penduduk, dengan memberi sedikit uang kepada pemiliknya...," usul Rangga.

"Kalau demikian, biarlah kuketuk pintu rumah itu. Siapa tahu mereka mau menerima kita!" sahut Pandan Wangi cepat.

Gadis itu segera melompat turun dari punggung kudanya, lalu berjalan cepat memasuki sebuah pekarangan. Sementara, Rangga masih tetap berada di punggung kudanya. Diperhatikannya gadis itu dengan seksama. Pandan Wangi sendiri terlihat mulai mengetuk pintu rumah itu sambil memanggil-manggil pelan.

"Kisanak, tolong bukakan pintu rumahmu. Kami hendak menumpang menginap!"

Tak ada sahutan dari dalam. Pandan Wangi hanya mendengar derap langkah kaki penghuninya yang berkumpul di satu ruangan. Dan ini membuat dahinya berkerut dengan wajah heran. Kemudian kembali diketuknya dengan suara yang sedikit lebih keras. Namun tak terdengar sahutan dari dalam. Setelah sekali lagi mengetuk namun tak juga terdengar jawaban, gadis itu menggeleng lesu. Seketika tubuhnya berbalik dan keluar dari pekarangan rumah itu.

"Entah kenapa, aku pun merasakan ketakutan penghuni rumah ini...," sahut gadis itu seperti bergumam sambil menuntun kudanya. Sebentar saja dia sudah sampai di dekat Rangga.

"Barangkali ada sesuatu yang telah terjadi pada mereka sehingga takut menerima tamu asing. Terlebih lagi, di malam hari," sahut Rangga.

Pandan Wangi tak menyahut. Kakinya segera melangkah ke rumah yang lain. Namun begitu tiba di depan pintu satu rumah penduduk, seperti rumah yang pertama diketuknya tadi, dia juga mengalami kejadian sama. Tak ada sahutan sedikit pun dari penghuni rumah itu.

"Bagaimana, Kakang? Agaknya apa yang kau katakan tadi mungkin benar. Mereka takut menerima tamu asing. Tapi apa yang telah terjadi di tempat ini?" Pandan Wangi menggelengkan kepala. Segera gadis itu menghampiri kudanya. Lalu segera dia naik ke atas kuda putihnya.

"Kita bisa bermalam di tempat lain...," sahut Rangga, seraya menggebah kudanya. Maka kuda hitam bernama Dewa Bayu mulai melangkah membelah jalan. Sementara Pandan Wangi mengikuti dari belakang.

Tiba di suatu tempat yang tak begitu jauh dari pinggiran Desa Besakih, Rangga dan Pandan Wangi berhenti dan segera turun dari kudanya. Tempat itu memang sejuk dan nyaman, banyak dinaungi daun-daun yang lebat dan tinggi seperti payung raksasa. Di dekatnya terdapat sebuah telaga yang cukup luas. Dan mereka sepakat untuk bermalam di tempat itu.

Rangga segera mengumpulkan ranting-ranting yang banyak bertebaran di sekitar situ. Setelah sudah cukup banyak, ranting itu ditumpuk-tumpuk dan dibakarnya. Kini di hadapan Rangga yang telah duduk bersila, api unggun mulai menghangati sekitarnya.

"Aku masih tak habis pikir, Kakang? Kenapa penduduk desa itu bersikap demikian pada kita...," tanya Pandan Wangi, memecah kebisuan.

Rangga tak langsung menjawab. Malah ditambahkannya beberapa buah ranting ke dalam api unggun yang menerangi sekitarnya. Diliriknya gadis yang duduk di sebelahnya sekilas sambil tersenyum kecil. Wajah Pandan Wangi ditekuk sedemikian rupa, menunjukkan kekesalan hatinya.

"Barangkali bukan hanya kita yang mengalami. Tapi, orang lain sebelum kita pun mungkin pernah mengalaminya. Hanya mungkin kita tak tahu, apa yang menyebabkan penduduk desa itu bersikap demikian. Jadi jangan berprasangka buruk dulu. Barangkali mereka pernah mengalami sesuatu yang mengerikan atau sesuatu yang menakutkan pernah menimpa desa itu...," sahut Rangga pelan.

Pandan Wangi diam tak bersuara lagi. Hatinya memang masih kesal, tapi kata-kata Rangga ada benarnya juga. Lagi pula, apa hak mereka untuk memaksakan kehendak pada penduduk desa? Kalau para penduduk tak mau menerima, bukankah itu memang hak mereka?

EMPAT

Sementara itu Rangga masih duduk menekur sambil memandangi api unggun. Sesekali matanya melirik Pandan Wangi. Diusirnya nyamuk-nyamuk yang hendak menggigit tubuh gadis itu. Dan pada saat itulah mendadak...

Slappp!

"Hei?!" Rangga terkejut dan langsung berdiri tegak sambil memandang ke sekeliling tempat itu. Jelas, matanya belum lamur ketika melihat sekelebatan bayangan melintas di depan matanya!

Slappp!
"Hup!"

Bayangan itu kembali berkelebat cepat bukan main. Namun, Rangga tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Maka, tubuhnya langsung berkelebat cepat mengejar, disertai pengerahan segenap ilmu peringan tubuhnya.

"Hiyaaa...!"

"Hup..." Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata orang awam, Rangga berusaha mendahului bayangan itu. Maka langsung dihadangnya bayangan itu, persis di depannya. Tapi, siapa sangka kalau ternyata bayangan itu malah berkelebat ke arah semula, dan terus menghilang.

"Sial!" pekik Rangga, seraya terus kembali mengejar.

"Yeaaa...!"

"Heh?!" Rangga terkejut bukan main ketika telinganya mendengar teriakan Pandan Wangi. Segera tubuhnya digenjot ke tempat semula. Sebentar saja dia sudah tiba ditempat semula, dan melihat Pandan Wangi tegak mematung sambil memandang ke sekeliling.

"Pandan Wangi! Kenapa kau? Apa yang terjadi padamu?" tanya Rangga, cemas.

"Tak ada apa-apa, Kakang. Hanya ada musuh yang agaknya ingin bermain main dengan kita...."

"Hm.... Kau pun agaknya mengalami kejadian serupa denganku?" tanya Rangga geram sambil memandang ke sekeliling.

"Kau tadi ke mana, Kakang?" tanya Pandan Wangi sedikit heran.

"Melihat-lihat. Hm.... Tapi, agaknya mereka tak sendiri. Untunglah aku tak meninggalkanmu jauh dari tempat ini...," geram Rangga.

"Hi hi hi...! Sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara tak sadar kalau sesaat lagi maut akan memisahkannya!"

Mendadak terdengar suara tawa nyaring yang bergema disekitarnya. Sepasang Pendekar dari Karang Setra itu diam membisu sambil menajamkan pendengaran.

"Kenapa mesti bersembunyi? Katakan saja, apa maksudmu mengganggu kami?!" sahut Rangga. Suaranya terdengar datar, namun seperti menggema di malam hening begini.

"Hi hi hi...! Punya hak apa kau menyuruh-nyuruhku?!" balas suara itu.

"Dan kau, punya hak apa mengganggu kami?!" balas Rangga sinis.

"Hi hi hi...! Aku penguasa tempat ini. Dan kalian telah berada di daerah kekuasaanku. Maka sudah sepatutnya aku menghukum kalian. Itu hakku!"

"Ha ha ha...! Lucu! Baru sekali ini aku menemui ada seorang penguasa takut menunjukkan dirinya padaku. Kalau tidak pengecut, pasti hanya kere yang memang berlagak jadi penguasa," balas Rangga, enteng.

"Kurang ajar! Huh!"

"Pandan, awas,..!" teriak Rangga memperingatkan ketika mendadak melesat sesosok tubuh dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.

"Jangan khawatir, Kakang! Aku siap menghadapi kuntilanak ini!" sahut Pandan Wangi.

"Grrrahhhrrr!"

"Yeaaa...!"

Gerakan sesosok tubuh itu cepat bukan main. Bahkan diikuti desir angin kencang dan dorongan tenaga kuat. Untuk sesaat Rangga terkesiap. Namun, cepat dipasangnya kuda-kuda. Dan dengan agak membuang tubuh ke samping kiri, sebelah kaki kanannya mencoba menyapu bagian pinggang.

Bet!
plas!

"Sial!" Pendekar Rajawali Sakti merutuk, ketika bayangan itu lebih dulu bersalto ke atas. Kemudian, tubuhnya meluncur bagai kilat menerjang Pandan Wangi.

Tapi, gadis itu memang telah bersiaga sejak tadi. Sehingga sebelum serangan datang, dia telah lebih dulu melompat sambil mengayunkan kaki kanan menendang berputar.

"Yeaaa...!"

"Uts...!" Sesosok bayangan itu cepat meliuk ke samping. Lalu cepat dilepaskannya satu pukulan keras, sehingga membuat Pandan Wangi terkejut. Masih untung gadis berbaju biru muda itu cepat melompat ke belakang. Namun, gerakan bayangan itu lebih cepat lagi saat mengikuti gerakannya. Bahkan langsung mengayunkan satu pukulan menderu.

"Hiyaaat..!"

Maka pada saat itu pula, Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil mengayunkan kepalan tangan ke arah bayangan itu.

Melihat serangan datang, bayangan itu cepat mengebutkan tangannya, menangkis pukulan Rangga.

'Uts...!"
Plak!
"Hiyaaa...!"

Pada saat yang sama, Pandan Wangi melepaskan satu tendangan menggeledek ke arah bayangan itu. Seketika bayangan itu kembali mengebutkan tangannya, menangkis tendangan Pandan Wangi.

Plak!

Tubuh bayangan itu melompat ke samping, setelah menangkis tendangan Pandan Wangi. Tapi, pada saat itulah satu tendangan Pendekar Rajawali Sakti telah mengancamnya. Begitu cepat gerakannya saat menendang, sehingga....

Begkh!

"Aaakh...!" Sosok bayangan itu mengeluh kesakitan. Tubuhnya kontan terpental, namun cepat berputaran di udara. Namun pada saat di udara, sosok bayangan itu menghentakkan tangannya ke arah Pandan Wangi. Maka seketika dari telapak tangannya, melesat selarik sinar merah yang menebar bau busuk menyengat ke arah Pandan Wangi. Padahal, gadis itu bermaksud melakukan serangan susulan.

"Pandan Wangi, awas!" teriak Pendekar Rajawali Sakti. Seketika Rangga menghentakkan tangannya, melepaskan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' untuk memapak serangan. Dan....

Glarrr!

Terdengar ledakan keras menggelegar ketika kedua pukulan itu bertemu. Asap hitam bercampur percikan bunga api, tampak mewarnai tempat itu untuk beberapa saat. Dan seketika Pendekar Rajawali Sakti kembali melesat melakukan serangan susulan.

"Hiyaaat..!"

Tapi bayangan itu telah hilang entah kemana. Pendekar Rajawali Sakti mencari-cari untuk beberapa saat, namun bayangan itu raib seperti ditelan bumi.

"Kakang, apakah dia tewas?" tanya Pandan Wangi, menghampiri pemuda itu.

Rangga menggeleng lemah seperti tak percaya. "Dia menghilang...," kata Rangga pelan.

"Menghilang? Menghilang bagaimana? Kau tentu tak akan mengatakan kalau kita tadi berhadapan dengan kuntilanak?!"

Pemuda itu tersenyum. "Apakah kau tak melihat kalau pukulanku tadi mengenai sasaran?"

"Ya, aku tahu. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menghilang secepat itu!"

"Kenapa tidak?" Rangga malah balik bertanya.

"Ah, Kakang. Aku semakin tak mengerti?" tanya Pandan Wangi bingung.

"Dia memiliki kecepatan luar biasa. Pada saat benturan pukulan tadi, justru digunakan untuk melarikan diri," sahut Rangga singkat.

"Tapi..."

"Hm.... Jangan terlalu menganggapku tinggi, Pandan. Di atas langit masih ada langit. Dan di muka bumi ini, bertaburan orang-orang sakti yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Dan yang jadi masalah, siapa perempuan itu. Dan. apa yang diinginkannya dari kita?" kata Rangga, lalu duduk di depan api ungun yang masih menyala.

Gadis itu terdiam beberapa saat sambil melangkah perlahan mendekati api unggun dan duduk di sebelah Rangga. Memang sulit diterima, kejadian barusan. Selama ini, dia yakin kalau Rangga memiliki kemampuan sulit diukur. Bahkan tak sembarangan orang mampu mengalahkannya. Tapi, kenapa mengejar bayangan tadi dia tak mampu? Mungkin juga apa yang dikatakan Rangga benar. Bahwa di atas langit, masih ada langit. Kalau begitu, bisa saja sosok bayangan tadi memiliki kepandaian di atas Rangga.

"Aku bukan tak ingin mengejarnya, Pandan. Tapi aku tak ingin membuat kesalahan dua kali seperti tadi. Aku khawatir, dia itu tidak sendiri. Dan kalau aku mengejarnya, siapa tahu kawan-kawannya menyergapmu. Dan pasti, itu dilakukan untuk memancingku agar berada jauh darimu," jelas Rangga, sepert mengetahui apa yang dirasakan kekasihnya.

Pandan Wangi menatap Rangga yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum. Betulkah apa yang dikatakan Rangga barusan itu? Dia mengkhawatirkan dirinya? Tapi, sebenarnya hal itu tak membuatnya heran. Ucapan seperti itu pernah didengarnya berkali-kali. Tapi malam ini, terasa lain. Karena dirasakannya, ucapan Rangga tadi begitu tulus. Semacam pengungkapan kasih sayang terhadapnya!

"Kakang! Menurutmu, apakah dia betul perempuan..., eh! Maksudku, manusia begitu?" tanya Pandan Wangi, mengalihkan pembicaran pada pokok persoalan, setelah pikirannya larut dalam lautan pertanyaan dalam hati.

"Hm.... Kau pun melihat dan merasakannya, bukan? Kenapa itu kau tanyakan?"

"Maksudku, apakah dia telah berusia lanjut?"

"Rasanya tidak. Pada saat menangkis pukulanku tadi, bisa kurasakan kalau kulitnya seperti kulit gadis seusiamu. Sayang wajahnya tak jelas, karena tertutup rambut panjang yang dibiarkannya lepas begitu saja...."

"Hm. Lalu, apa maksudnya dia menyerang? Apakah ada sangkut-pautnya dengan penduduk desa itu?" tanya Pandan Wangi, seperti untuk dirinya sendiri.

Rangga tak menyahut. Dan Pandan Wangi yang mungkin teralu lelah, segera menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Rangga.

********************

Sesosok tubuh ramping berbaju hijau terus berlari tersaruk-saruk menembus kepekatan malam. Beberapa kali terlihat tubuhnya hampir tersandung kayu yang melintang menghadang. Namun dengan tangkas dia melompat bagaikan melayang terbang. Sosok tubuh yang ternyata perempuan berambut panjang itu seperti tak peduli keadaan sekelilingnya. Semak belukar serta hutan lebat telah dilaluinya. Namun dia terus berlari seperti tak akan berhenti.

Jika melihat caranya berlari, jelas kalau perempuan itu memang bukan orang sembarangan. Kedua kakinya lincah sekali melompat dari satu cabang pohon, kecabang pohon yang lain, jika di depannya terbentang penghalang yang tak mampu ditembus dengan berlari cepat.

Ketika ayam jantan mulai berkokok tanda fajar akan menyingsing, perempuan itu memasuki sebuah lembah yang terlihat sunyi dan angker. Bebatuan dan batang pohon terlihat hampir sama besar dan banyaknya. Pada suatu tempat yang bertanah datar, dia berhenti berlari dan berdiri tegak. Sejenak matanya memandang ke sekelilingnya.

"Sukesih...! Nilam...!" teriak perempuan itu, nyaring.

Dia menunggu beberapa saat, sebelum dua sosok bayangan melesat cepat ke hadapannya. Mereka sama-sama wanita bertubuh ramping dan berambut panjang yang dalam keadaan awut-awutan. Masing-masing berbaju putih, dan berbaju merah.

"Indrawati! Kenapa kau berkaok-kaok seperti orang kesurupan begitu?" tanya wanita berbaju merah, sambil berkacak pinggang. Dia bernama Sukesih.

"Apa yang kalian lakukan seharian tadi?" tanya perempuan berbaju hijau, yang dipanggil Indrawati.

"Kau pikir apa yang kami lakukan?" kata wanita berbaju putih yang bernama Nilam, balik bertanya.

"Kenapa kau? Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" tanya Sukesih curiga.

"Jangan-jangan dia telah kepincut oleh pemuda tampan!" goda Nilam.

"Hi hi hi...! Benarkah itu, Indrawati?" tanya Sukesih menimpali.

"Huh! Jangan sebut lagi soal itu! Kita telah sepakat! Tapi ada hal yang membuatku heran...," dengus Indrawati.

"Apa itu?" tanya Nilam dan Sukesih hampir berbarengan.

"Aku baru saja bentrok dengan seorang pemuda..."

"Nah, coba dengar. Apa kataku tadi!" potong Nilam sambil ketawa nyaring.

"Nilam, dengar ceritaku!" bentak Indrawati dengan suara melengking tinggi.

Agaknya Nilam menyadari kalau kawannya kini tak main-main. Mendengar nada suaranya, dia pasti akan menceritakan sesuatu yang penting. Maka gadis berbaju putih itu menghentikan tawanya.

"Aku tak tahu, siapa dia. Tapi saat aku bertemu, pemuda itu bersama seorang gadis. Dugaanku, pasti dia lelaki hidung belang yang akan melakukan perbuatan terkutuk terhadap gadis itu. Namun sejauh itu, ternyata mereka hanya duduk-duduk. Aku mulai geram dan kesal. Akan kubunuh mereka berdua! Tapi, ternyata mereka bukan orang sembarangan. Mereka memiliki kemampuan hebat..!" tutur Indrawati.

"Lalu, kau kabur?" tuding Sukesih.

"Aku tak punya pilihan lain...," sahut si Indrawati lesu.

"Pengecut!" desis Sukesih geram.

"Sukesih! Kau tak merasakan sendiri kejadian itu...," kilah Indrawati mencoba memberi alasan.

"Kau masih ingat ikrar kita? Hidup ini tak berarti. Dan hanya satu keinginan kita, yaitu membalas dendam! Itukah yang kau maksudkan sebagai ikrar kita? Lari dari musuhmu sendiri?! Ayo, jawab! Untuk apa hidupmu saat ini? Apakah kau masih sempat memikirkan mati? Kita sudah mati sejak dulu! Kau harus camkan itu baik-baik!" potong Sukesih, panjang lebar.

Suara gadis berbaju merah itu melengking nyaring seperti bergaung. Dan Indrawati diam tertunduk. Demikian pula Nilam. Untuk beberapa saat suasana di tempat itu kembali hening, setelah Sukesih menghentikan ucapannya.

"Sudahlah. Lupakanlah kejadian barusan...," lanjut Sukesih dengan suara lebih lunak. Ditepuk-tepuknya bahu gadis baju hijau itu.

"Tapi, bila kau ketemu lagi dengannya, dia harus mampus di tangan kita. Tak ada seorang pun boleh luput dari tangan kita!" desis Nilam seperti memberi semangat.

Indrawati menganggukkan kepala.

"Kau masih ingat wajahnya, bukan?" tanya Sukesih lagi.

Gadis berbaju hijau itu menganggukkan kepala.

"Sudahlah. Aku berjanji, dia akan mampus di tangan kita. Nah, bagaimana tugasmu tadi!" tanya Sukesih.

"Aku bertemu dengannya. Dia sudah mampus!"

"Bagus! Nilam pun telah melakukan tugasnya dengan baik. Sekarang, mari kita pulang. Besok pagi aku harus mendapatkan orang itu. Hari ini, dia luput karena pindah entah ke mana. Tapi, besok dia bakal mampus. Meskipun ke ujung langit sekalipun, akan kukejar dia!" dengus Sukesih menggeram.

"Marilah kita pulang!" ajak Nilam sambil merangkul pundak kedua kawannya.

Mereka tertawa-tawa cekikikan. Kemudian bagai sehelai kapas, ketiganya melayang ke atas, lalu lenyap dari tempat itu secepat kilat!

LIMA

Seorang pemuda berbadan tegap dan agak tinggi tampak cengar-cengir sendiri. Dia tengah melangkah tergesa-gesa menuju ke suatu tempat yang agak jauh di atas Bukit Gandul. Dari bawah sini, terlihat sebuah rumah sederhana berdiri di atas puncak bukit itu. Agaknya, tempat itulah yang akan ditujunya.

"Hm.... Pasti Mayang telah lama menungguku di sana...," gumam pemuda itu. Hidungnya terlihat kembang-kempis, dan bibirnya menyeringai lebar.

Pemuda itu makin mempercepat langkahnya. Namun kira-kira sepuluh tombak lagi akan mencapai pondok itu, mendadak melintas sekelebatan bayangan di hadapannya.

Plas!

"Hei, apa itu?!" pemuda itu tersentak. Seketika pandangannya beredar ke sekeliling.

Slap!

Kembali terlihat sekelebatan bayangan yang menimbulkan desir angin kencang, sehingga mengibarkan rambutnya di bagian belakang. Pemuda itu cepat berbalik ke belakang. Namun tak ada apa-apa. Suasana di tempat itu tetap sepi, kecuali kicau burung pagi yang menyemaraki.

Tuk!

"Hei!"

Kembali pemuda itu terkejut, ketika sebuah kerikil menghantam pundaknya. Kali ini, dia yakin dengan apa yang dilihatnya tadi. Pasti ada seseorang... Atau, ada sesuatu yang aneh di tempat ini. Dan batu itu? Pasti bukan tak sengaja, melainkan...

Tuk!

"Heh?!"

Kerikil kedua menghantam punggungnya. Kali ini, pemuda itu terlihat marah. Mukanya garang dan kedua tangannya sudah terkepal erat-erat.

"Siapa yang hendak bermain-main dengan Pardi, ayo keluar! Tunjukkan batang hidungmu cepat!" bentak pemuda yang ternyata bernama Pardi, geram.

Tak ada sahutan, selain angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi menyapu alam. Namun tampak daun-daun bergoyang-goyang. Lalu...

"Hei?"

Hidung Pardi tiba-tiba mencium bau busuk yang dibawa hembusan angin tadi. Seperti bau bangkai yang menyengat, namun tak tahu dari mana datangnya. Sudah lama Pardi sering berada di tempat ini, namun belum pernah sekalipun mengalami kejadian aneh seperti sekarang. Pemuda itu celingukan sendiri sambil mencari, apa penyebab semua ini.

"Hi hi hi...!"

"Heh?!"

Bukan main terkejutnya pemuda itu, ketika melihat sesosok tubuh berbaju merah dan rambut panjang terurai tengah melayang-layang di atas satu pohon ke pohon lain sambil ketawa cekikikan. Dia ingin menegaskan, namun wajah sosok itu terhalang rambut panjangnya. Tanpa sadar, Pardi berdecah kagum. Namun, sekaligus bulu kuduknya merinding. Manusia atau..., hantu?

"Siapa kau?!" bentak Pardi, berusaha me nguatkan hati.

"Apakah kau tak mengenalku, Pardi?" tanya perempuan itu dingin sambil terus melayang-layang memutari pemuda itu.

"Kau..., kau tahu namaku?! Siapa kau sebenarnya?"

"Aku adalah mautmu!" sahut perempuan itu dingin.

Pardi kontan menggigil. Bukan karena ancaman itu, melainkan karena merasa geram dipermainkan begitu. Amarahnya mulai menyala.

"Huh! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?! Biar seribu hantu sepertimu ada di depan mataku, jangan harap aku lari!" dengus Pardi geram.

"Hi hi hi...! Itulah yang kuharapkan. Seandainya pun kau akan lari, tak akan ada jalan bagimu selain ke neraka," sahut perempuan berbaju merah itu enteng.

"Ayo, apa lagi yang kau tunggu?! Kau akan mencabut nyawaku sekarang? Lakukanlah!" tandas Pardi dengan sikap garang.

"Hm, kenapa tidak?"

"Huh!"

Secepat kilat bayangan putih itu melesat bagai kelebatan sinar ke arah pemuda itu. Pardi terkesiap kaget. Namun sebagai pemuda yang memiliki ilmu olah kanuragan lumayan, bahkan di desanya juga termasuk jawara, dia tak merasa takut mendengar ancaman itu. Tapi ketika melihat serangan perempuan berbaju merah itu, nyalinya seketika menciut. Gerakan seperti itu belum pernah dilihatnya. Bahkan tubuhnya seperti terpaku, sehingga tak mampu untuk bergerak menghindar! Akibatnya....

Des!

"Aaakh...!"

Pardi kontan terpekik ketika kepalan tangan perempuan berbaju merah itu menghantam telak dadanya. Tubuhnya langsung terjungkal beberapa langkah. Namun belum lagi menyentuh tanah, satu tendangan kembali menyodok perutnya.

Begkh!

"Aaakh...!"

Pemuda itu kembali menjerit kesakitan. Tubuhnya langsung tersungkur dan menjerit-jerit menahan sakit.

"Pardi! Kau lihat diriku! Lihat! Lima bulan lalu, kau telah memperdayaiku di pondok itu. Kau rayu aku, lalu kau nodai. Dan setelah itu, kau tinggalkan begitu saja. Maka hari ini, pembalasanku telah tiba!" dengus perempuan itu dingin. Kini dia sudah berdiri tegak, di hadapan pemuda yang telah tak berdaya ini.

Pardi terkejut setengah mari ketika melihat rambut perempuan itu tersibak. Wajahnya memang manis. Namun yang membuatnya seram adalah bola mata yang putih semua dan dua buah taring panjang di tiap sudut mulutnya.Tapi, rasanya Pardi memang pernah mengenal raut wajah itu, walau dalam bentuk yang berbeda. Lebih cantik dan tak menakutkan begini.

"Kau..., kaukah Sukesih...?"

"Hi hi hi...! Akhirnya kau mengenaliku juga. Tapi, terlambat. Sebentar lagi, kau akan mampus!"

"Eh, da..., dari mana kau memperoleh kepandaian hebat seperti itu?" tanya Pardi, tergagap.

"Hi hi hi...! Kau pikir, apakah manusia mampu berbuat seperti ini?" sahut perempuan yang ternyata Sukesih terkikik, sambil melayang-layang di depan Pardi.

"Jadi kau..., kau..?" tunjuk Pardi dengan bola mata melotot lebar.

Dalam bayangan Pardi, pasti perempuan di hadapannya ini adalah arwah penasaran. Kalau tidak, mana mungkin akan mampu berbuat seperti itu. Tapi, pemuda itu tak sempat berpikir lama. Karena tubuh Sukesih telah melesat ke arahnya dengan tangan kanan terjulur ke depan.

"Yeaaa...!"

Dengan sebisanya, Pardi berusaha menepis tangan yang terjulur itu. Namun tanpa diduga, perempuan berbaju merah itu malah menghantamkan tangannya ke tangan Pardi.

Plak!

"Uh!

Pardi mengeluh tertahan ketika tangannya patah dihantam Sukesih. Dan belum juga Pardi sempat menyadari, perempuan itu telah cepat menyambar lehernya. Dan seketika itu pula kedua taring Sukesih menghujam di leher Pardi.

Crab!

"Aaa...!"

Perempuan itu menyedot darah Pardi yang menggelepar-gelepar tak mampu berontak. Karena, sebelah tangan Sukesih memang mendekap tubuhnya erat-erat. Pardi hanya mampu melolong ketika perempuan itu terus menyedot darahnya. Dan belum lagi tubuh Pardi menggeloso di tanah, tiba-tiba...

"Pardi! Kau..., kau...!"

Terdengar sebuah suara tertahan.

"Hhhng..!"

Sukesih mendelik garang sambil melepaskan tubuh Pardi yang telah terkulai lesu. Bola matanya menatap tajam ke arah sumber suara. Ternyata, tak jauh dari situ seorang perempuan setengah baya tengah berdiri mematung. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Tubuhnya menggigil. Sementara di sebelahnya tergolek sesosok tubuh gadis berparas manis yang sudah tak sadarkan diri. Rupanya, gadis inilah yang berseru, tak tahan melihat kejadian di depan matanya. Kedua wanita yang berasal dari pondok itu mendengar teriakan Pardi tadi, sehingga mereka langsung mendatangi sumber suara.

"Hm... Kaukah wanita penghuni pondok ini...?" tanya Sukesih dingin.

Perempuan setengah baya itu mengangguk cepat dengan tubuh semakin gemetar. Wajahnya membayangkan ketakutan yang amat sangat. Betapa tidak? Selain rambut panjangnya yang awut-awutan seperti kuntilanak, bola mata perempuan itu tidak mempunyai titik hitam sedikit pun. Bahkan mulutnya yang memiliki dua buah taring panjang dan runcing, penuh belepotan darah segar.

"Kau akan mampus!" dengus Sukesih.

"Oooh!"

Hampir saja perempuan setengah baya itu terlonjak kaget dan jatuh pingsan mendengar kata-kata Sukesih. Namun sebisa mungkin dia berusaha menguatkan hatinya.

"Eh! Oh..., ap..., apa salahku padamu...?" tanya perempuan setengah baya itu dengan suara tergagap.

"Huh! Kau tak menyadari salahmu! Hi hi hi...! Dasar perempuan keparat! Kau memberikan keleluasaan terhadap pemuda bejat itu untuk melakukan perbuatan terkutuk di rumahmu! Dan itu hanya karena kau mengharapkan imbalan beberapa keping uang perak! Cuih! Perempuan sepertimu memang layak mampus!"

"Eh! Mana mungkin! A.., aku tak pernah berbuat seperti itu...."

"Hi hi hi...! Kau pikir aku tertarik dengan segala dustamu? Kau akan mampus, Keparat! Kau akan mampus!" Tiba-tiba Sukesih meluruk cepat ke arah perempuan setengah baya itu.

"Aaah..!" Perempuan setengah baya itu hanya mampu melenguh. Sukesih menerkamnya.

"Aaa...!" Kembali terdengar teriak kesakitan ketika leher perempuan setengah baya itu dihunjam dua buah taring Sukesih. Kemudian dengan cepat darahnya diisap melalui leher.

Dalam beberapa saat saja, perempuan setengah baya itu terkulai lemas dengan tubuh pucat bagai mayat. Darahnya disedot habis oleh Sukesih. Seketika Sukesih menghempaskan tubuh korbannya begitu saja.

"Hi hi hi...! Mampuslah kalian yang telah menghancurkan hidupku. Mampuslah kalian semua! Hi hi hi...!"

Setelah puas, perempuan itu melesat dari tempat itu seperti terbang. Tubuhnya melayang ringan. Dalam sekejap saja telah hilang dari pandangan. Entah kenapa, dia tak mengusik gadis yang tadi tak sadarkan diri di sebelah perempuan setengah baya itu.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Semalaman Rangga tak dapat memicingkan mata sama sekali. Sementara Pandan Wangi kelihatan terlelap. Namun ketika menjelang pagi, gadis itu terbangun. Dia lebih banyak termenung sambil memandangi nyala api. Sedangkan Rangga sendiri pura-pura tertidur sambil mengawasi keadaan di sekelilingnya.

"Kita akan berangkat sekarang, Kakang?" tanya gadis itu tanpa menoleh ketika mendengar Rangga menggeliat.

"Hm.... Belum lagi pagi. Untuk apa buru-buru...?"

"Ayam jantan telah berkokok, Kakang. Apakah kau akan menunggu matahari memanggang tubuhmu?"

"Justru sinar matahari pagi membuat tubuh bersemangat," sahut Rangga enteng.

Pandan Wangi tak menyahut. Kakinya melangkah pelan dan membasuh mukanya di tepi telaga. Rangga pun melangkah pelan ke tepi telaga untuk membasuh muka dan kedua tangannya. Segar rasanya setelah wajah-wajah sayu mereka tersiram air telaga.

Setelah merasakan segar, kedua pemuda itu bergegas menyiapkan segala sesuatunya untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Dewa Bayu dan si Putih tampak sudah merapat di pinggir telaga, sambil sesekali menyodorkan moncongnya pada air telaga untuk minum. Rangga lalu mengambil tali kekang kedua kuda itu. Tali kekang yang satu diberikan pada Pandan Wangi. Dia sendiri melompat ke atas Dewa Bayu.

"Kakang bermaksud akan kembali ke desa itu lagi?" tanya gadis itu ketika telah berada di punggung kuda putihnya.

"Ya. Aku merasa kalau peristiwa semalam ada hubungannya dengan sikap penduduk desa itu," sahut Rangga.

"Kecurigaan itu tak beralasan, Kakang."

"Kenapa tidak? Tempat ini tak begitu jauh dari desa itu. Dan lagi, apa alasan perempuan itu menyerang kita?"

"Yaaah. Terserahlah. Aku menurut saja... "

Sepasang Pendekar dari Karang Setra segera memacu kudanya, kembali menuju desa yang dilewati semalam. Jarak antara kedua tempat itu memang tak begitu jauh. Memang dari telaga itu sendiri, Desa Besakih sudah terlihat. Apa lagi ditempuh dengan berkuda. Maka dalam sesaat saja, mereka telah tiba di mulut Desa Besakih.

Beberapa orang desa yang hidup dari bertani telah mulai keluar dari rumah masing-masing. Kebetulan Rangga dan Pandan Wangi bertemu beberapa orang yang kebetulan hendak berangkat ke sawah.

"Kisanak, maaf mengganggumu sebentar. Apakah di desa ini telah terjadi sesuatu?" sapa Rangga pada salah seorang.

Orang itu tak langsung menjawab. Ditatapnya kedua anak muda itu dalam-dalam. Beberapa orang penduduk yang melihat kehadiran kedua penunggang kuda itu segera mendekati. Dan mereka memandang dengan sinar mata curiga.

"Kisanak! Kami berdua tak bermaksud buruk. Terus terang kamilah yang semalam bermaksud menumpang menginap pada beberapa rumah di desa ini. Namun, tak satu pun dari kalian yang sudi membukakan pintu. Kami segera berlalu dan bermalam di dekat telaga sana, karena mengira kalian merasa takut atas kehadiran kami," jelas Rangga.

"Ka..., kalian bermalam di dekat telaga sana?" tunjuk orang yang ditanya. Suaranya terdengar tergagap, dan wajahnya ketakutan.

"Betul. Memang ada apa, Kisanak? Apakah ada sesuatu yang aneh?" tanya Rangga bingung.

"Siapa kalian ini sebenarnya...?" tanya orang itu lagi

"Kami hanya dua orang pengembara biasa..." Jawaban Rangga tentu saja tak mudah dipercaya. Bahkan yang lainnya pun sependapat. Cara mereka berpakaian saja sudah seperti orang persilatan. Apalagi, pedang di punggung. Sementara gadis berbaju biru muda itu juga membawa pedang dan kipas yang terbuat dari baja putih. Paling tidak, mereka memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup hebat. Dan kalau sekadar mengaku sebagai pengembara biasa, pastilah hanya ingin merendah saja. Dan melihat paras Rangga dan Pandan Wangi, orang ini merasa yakin kalau kedua orang berkuda itu bukanlah orang jahat.

"Apakah yang ingin kalian ketahui...?"

"Apakah benar ada sesuatu yang terjadi di desa ini?" tanya Rangga kembali.

Orang itu terdiam beberapa saat. Kemudian diceritakannya apa yang terjadi kemarin di desa ini. Dari mulai kematian Sembada di dekat telaga itu, sampai kematian dua pemuda penduduk desa di pinggir hutan.

"Hm.... Jadi kalian menduga kalau pelakunya adalah perempuan berbaju hijau...?" tanya Rangga meyakinkan.

"Saat itu, Lestari bersama Sembada. Dan dialah yang menegaskan kalau perempuan berbaju hijau itulah yang melakukannya. Dia pasti hantu penghuni telaga yang meminta korban kepada penduduk desa ini," jelas orang itu.

Rangga dan Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan itu. "Tahukah kalian, siapa sebenarnya perempuan itu?" tanya Rangga kembali.

Tak ada satu pun yang tahu, siapa perempuan berbaju hijau itu. Bahkan mereka sepakat mengatakan kalau perempuan itu adalah hantu yang sedang mencari korban.

"Baiklah. Kalau demikian, kami permisi. Terima kasih atas keterangan Kisanak semua," ucap Rangga.

"Sama-sama," balas para penduduk Desa Besakih, hampir berbarengan.

Sepasang Pendekar dari Karang Setra itu segera menggebah kudanya. Sementara, para penduduk desa itu mengikuti dengan pandangan mereka.

"Kakang! Apakah kau mempercayai ucapan mereka?" tanya Pandan Wangi ketika telah cukup jauh.

"Tentang apa?"

"Apa betul perempuan itu bukan manusia?"

"Kenapa mesti percaya? Kita telah merasakan sendiri, bukan? Perempuan itu bisa menjerit kesakitan. Dengan begitu, dia pasti bisa mati. Sementara tak ada hantu yang bisa mati di tangan manusia. Karena, umumnya mereka tak bisa disentuh kita. Dan aku berhasil menghajar perempuan itu. Nah, apa menurutmu itu?"

Pandan Wangi diam membisu Gadis itu bukan tak percaya pada keterangan Rangga. Namun, dia hanya ingin meyakinkan hatinya saja.

ENAM

Dua orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun tampak memacu cepat kudanya ke arah tenggara. Laki-laki berambut panjang dengan ikat kepala warna kuning dan membawa pedang di punggung itu tampak begitu bernafsu untuk tiba di tempat tujuan. Sementara kawannya yang bertubuh gemuk dengan bola mata lebar dan hidung bulat itu berusaha menjajarkan lari kudanya. Wajah mereka tampak garang dan terbayang kecemasan. Berkali-kali mereka berteriak keras, agar kudanya berlari lebih kencang.

"Kakang Sudira, apakah kau yakin iblis betina itu berada di sana?" tanya laki-laki gemuk pendek itu kepada kawannya yang dipanggil Sudira. Suaranya sengaja dikeraskan, untuk melawan angkin yang menderu di telinga.

"Apakah kau tak mendengar apa yang dikatakan orang tadi, Kampanu? Dia mengatakan kalau ketiga iblis perempuan itu tengah membantai murid-murid Perguruan Bambu Kuning. Kita harus cepat ke sana untuk membalas kematian adik Jaya Permana!" geram orang yang dipanggil Sudira itu dengan wajah garang.

"Huh! Kalau ketemu, akan kupatahkan batang leher mereka!" dengus laki-laki gemuk pendek yang dipanggil Kampanu.

"Jangan gegabah, Kampanu. Mereka kabarnya memiliki kepandaian tinggi...," ingat Sudira.

"Meski memiliki kepandaian seperti setan sekalipun, aku tak takut!" tandas Kampanu.

"Bagus! Kalau demikian, tak sia-sia aku mengajakmu."

"Aku sendiri heran. Apa salah Jaya Permana sampai dibunuh? Setahuku, dia anak baik dan tak pernah membuat kesalahan. Kawannya banyak. Bahkan kudengar dia tak pernah memiliki musuh. Anak itu penyabar dan suka mengalah. Dia cepat meminta maaf kalau memiliki kesalahan yang tak disengaja. Hm.... Tega betul orang yang membunuhnya!" gerutu Kampanu bercampur geram.

"Kita tak bisa menduga hati manusia. Tapi yang jelas, ketiga hantu betina itu pasti tersangkut paut di dalamnya."

"Kenapa Kakang begitu yakin?" tanya Kampanu.

"Apakah kau tak mendengar berita belakangan ini?" Sudira malah balik bertanya.

Kampanu memang jarang mengikuti perkembangan dunia persilatan karena lebih banyak berada di dalam perguruan untuk melatih murid-murid tingkat pertama. "Berita apa, Kang?"

"Banyak terjadi pembunuhan mengerikan. Dan umumnya, korbannya adalah pemuda-pemuda yang masih belia. Kabar itu cepat menyebar, karena korban yang dipilih tak memandang bulu. Sebap desa atau tempat yang dilalui, maka jika para pembunuh itu bertemu seorang pemuda, bisa dipastikan akan menjadi korban," jelas Sudira.

"Kenapa Kakang bisa memasbkan kalau pelakunya adalah bga iblis bebna yang banyak disangka hantu oleh sebap orang?" tukas Kampanu.

"Ada beberapa orang yang pernah melihatnya. Jika orang awam, akan mengatakan mereka itu hantu. Karena, mampu bergerak cepat sekali. Namun bagi orang persilatan, apalagi yang pernah bentrok, mana mungkin mempercayai kalau mereka hantu. Mereka adalah manusia biasa seperti kita. Hanya saja memiliki ilmu iblis," jelas Sudira.

Kampanu menganggukkan kepala mendengar penjelasan itu. Dan mereka terus menjalankan kudanya cepat. Namun tiba-tiba....

"Coba, dengar. Ada suara pertarungan di depan sana!" tunjuk Sudira sambil menajamkan pendengaran.

Kampanu memandang ke arah yang ditunjuk Sudira. Di depan, memang terlihat sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tinggi yang berjejer rapi dari kayu jati.

"Itukah Perguruan Bambu Kuning, Kang?" tanya Kampanu.

Sudira mengangguk sambil terus memacu lari kudanya lebih cepat lagi. Kampanu pun mengikuti. Keduanya seperti berpacu menuju ke tempat itu. Begitu tiba didepan, mereka langsung menerobos pintu gerbang yang sudah terbuka.

Di dalam perguruan itu memang sedang terjadi pertarungan yang tak seimbang. Tiga sosok tubuh yang bergerak amat cepat tengah dikeroyok puluhan orang yang bersenjata lengkap. Namun ketiga sosok bayangan itu mudah sekali menghadapi lawan-lawannya. Malah jelas terlihat kalau dalam sekejap saja, para pengeroyoknya mampu dibuat kocar-kacir. Terlihat mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan mengerikan.

"Kang! Tunggu apa lagi? Mari kita bantu mereka. Aku sudah tak sabar lagi ingin menghajar kuntilanak sial itu!" geram Kampanu sambil mengepalkan tangan.

"Aku merasa tak enak hati, Kampanu. Takut mereka merasa tersinggung, karena dikecilkan kalau mendapat bantuan dari kita...."

"Aaah! Peduli amat dengan peraturan itu. Kita punya urusan sendiri dengan kuntilanak keparat itu. Siapa yang mau bantu mereka!" dengus Kampanu.

Sudira masih ragu untuk turun membantu murid-murid Perguruan Bambu Kuning. Namun, Kampanu terus mengajaknya. Maka mau tidak mau, dia tergugah juga.

"Baiklah. Mari kita gempur hantu jahanam itu!" dengus Sudira geram.

Sring!

"Hantu-hantu keparat! Terimalah ini pembalasan kami...!"

"Yeaaa...!"

Kedua laki-laki itu sudah langsung melompat sambil menghunuskan senjata masing masing. Sudira langsung memainkan ilmu pedangnya yang hebat. Sementara Kampanu sudah mengeluarkan pisau terbangnya yang banyak tersimpan di balik jubahnya yang besar.

"Uts...!"

"Hup!"

"Kurang ajar! Kalian berani mampus datang ke sini!"

Salah seorang dari tiga sosok tubuh yang sedang dikeroyok itu menggeram marah ketika tenggorokannya hampir saja tersambar pisau Kampanu. Sementara beberapa pisau lain berhasil dihindari dengan gerakan gesit oleh kedua kawannya yang lain. Dengan kedatangan Sudira dan Kampanu, ketiga sosok wanita itu bukannya kerepotan, tapi malah mengamuk kian hebat. Dalam beberapa gebrakan lagi korban sudah bertambah dua kali lipat.

"Hi hi hi...! Kalian akan mampus semua di tanganku! Kalian akan mampus...!"

"Yeaaa...!"
"Hiiih!"
Crab!
Cres!

"Aaa...!" Pekik kematian terdengar saling sambung seiring ambruknya sosok-sosok tubuh terkena hajaran ketiga perempuan iblis itu. Tentu saja Sudira dan Kampanu semakin geram saja. Mereka langsung melesat cepat memapak serangan ketiga wanita iblis itu.

"Hiyaaat..!"
"Uts...!"

"Huh! Rupanya ada juga tikus yang berlagak seperti macan. Kalau demikian terimalah ini bagian untukmu!" dengus salah seorang perempuan yang berbaju merah sambil meluncur deras ke arah Sudira.

Sementara pada saat yang bersamaan, sosok wanita yang berbaju putih melesat cepat ke arah Kampanu sambil melakukan serangan dengan tubuh berputaran bagai gasing. Sedangkan yang berbaju biru menghadapi sisa-sisa murid Perguruan Bambu Kuning yang bagai anak ayam kehilangan induk. Memang ketua mereka telah tewas sejak tadi.

Sudira terkejut bukan main melihat serangan wanita berbaju merah. Belum pernah dia melihat orang mampu bergerak secepat itu. Namun rasa gugupnya berusaha ditutupi dengan ayunan pedangnya.

Wut! Wut!

Namun entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja wanita berbaju hijau yang bernama Indrawati itu telah lenyap dari pandangan. Namun tahu-tahu Sudira merasa punggungnya dihajar palu godam yang amat keras.

Begkh!

"Aaakh!" Sudira kontan menjerit kesakitan dengan tubuh tersungkur ke depan. Masih untung dalam keadaan demikian, dia jatuh dengan kedua kaki berpijak di tanah. Namun, sebenarnya lawan tak langsung mengejar. Indrawati tampak sudah berdiri tegak memandanginya sambil tersenyum sinis.

Baru kali ini Sudira bisa melihat jelas, siapa lawannya sebenarnya. Seorang perempuan berbaju hijau dengan rambut panjang dibiarkan lepas menutupi wajahnya.

"Setan! Apa maumu sebenarnya mengacau di sini? Kau harus tunggu giliran kalau ingin mampus!" dengus perempuan itu sinis.

"Huh! Kaulah yang akan mampus di tanganku! Dosa kalian kelewat batas. Dan untuk itu, kalian berhak mendapatkan hukuman yang setimpal!" sahut Sudira garang.

"Hi hi hi...! Bicaramu seperti malaikat maut. Padahal, kau tak ebih seekor tikus got yang kotor. Kau pilar, siapa dirimu berani berkata begitu di hadapanku!" dengus Indrawati.

"Kenapa tidak? Kalian telah membunuh adik kami Jaya Permana!"

"Hm.... Banyak sudah pemuda tak berguna yang harus mampus di tanganku. Dan lagi, siapa yang sudi mengingat nama adikmu. Aku tak peduli dia siapa, dan adik siapa. Yang penting, bocah itu sudah mampus. Dan sekarang, kau akan menuntut balas? Ayo, majulah! Biar sekalian menyusul adikmu di akherat sana!" tantang gadis berbaju hijau itu.

"Keparat!" maki Sudira geram mendengar kata-kata perempuan itu sama sekali tak memandang sebelah mata padanya.

Dalam Perguruan Cakar Elang yang diketuai Ki Danu Umbara, Sudira adalah salah seorang murid yang tertua. Sekaligus, putra sulung orang tua itu. Bahkan dia pun menjadi murid terpandai. Paling tidak, kepandaiannya di bawah Ki Danu Umbara satu tingkat. Sedangkan Ki Danu Umbara sendiri memiliki kepandaian yang amat disegani kalangan persilatan. Maka mendengar dirinya diremehkan begitu saja, tentu saja harga dirinya tak terima.

Sambil mendengus geram, Sudira mengeluarkan jurus ampuhnya yang bernama 'Elang Mencakar Bukit' disertai permainan pedang yang hebat luar biasa. Namun perempuan berbaju hijau itu tampak tenang-tenang saja. Bahkan sama sekali tak terkejut, melihat sambaran ujung pedang Sudira yang mengancam leher hingga pinggang

"Hm.... Hanya sebeginikah kemampuanmu untuk membalas kematian adikmu? Kau tak akan sempat menyesal sesaat lagi!" ejek Indrawati.

Apa yang dikatakan Indrawati agaknya ingin cepat dibuktikannya, maka begitu selesai berkata, dia langsung melompat menyerang dengan kecepatan bagai kilat. Namun, Sudira yang sejak tadi telah siap segera menyambut serangan dengan tenang.

"Hiyaaa...!"

Pedang di tangan Sudira menyambar pinggang Indrawati, dan langsung kemudian meliuk cepat ke arah leher. Perempuan berbaju hijau itu memutar tubuhnya bagai gasing, kemudian meompat ke atas kepala Sudira. Namun, laki-laki itu cepat mengayunkan ujung pedangnya ke atas. Maksudnya hendak membelah tubuh perempuan berbaju hijau itu dari kepala hingga kaki.

"Hiiih!"

"Uts...!"

Tapi, kecepatan bergerak perempuan berbaju hijau itu sungguh hebat. Padahal, Sudira telah mengerahkan tenaga dalamnya sekuat mungkin agar mampu bergerak cepat. Tapi ternyata buruannya mampu meloloskan diri. Bahkan malah balas menyerang pelipis Sudira dengan satu tendangan kilat.

"Hup!"

Terpaksa Sudira membuang tubuhnya ke samping. Namun kepalan tangan perempuan itu telah menyusuli dengan kecepatan mengagumkan. Murid Ki Danu Umbara itu terkejut. Tak ada waktu lagi untuk menghindar selain mengayunkan pedangnya. Tapi tanpa persiapan matang, ayunan pedangnya sama sekali tak berarti. Tak heran kalau Indrawati berhasil menghindar ke samping sambil mengayunkan kaki pada pergelangan tangan laki-laki itu.

Tak!

"Uuuh...!"

Sudira kontan mengeluh kesakitan. Pergelangan tangannya patah, dan pedang yang tadi digenggamnya terpental jauh. Dia berusaha menyelamatkan diri dari tendangan Indrawati yang meluncur deras ke arah dada dan perut, dengan berguling-gulingan. Namun saat itu juga, terdengar Kampanu menjerit setinggi langit. Sudira terkejut sekali, dan sempat menoleh ke arah adiknya yang terlempar dalam keadaan bermandikan darah.

"Kampanu...!" Sudira menjerit dengan suara keras melihat keadaan adiknya itu. Tapi kelengahannya itu harus dibayar mahal.

"Yeaaa...!" Tiba-tiba saja Indrawati mengayunkan ujung kakinya dan persis menghantam tulang dada bagian kiri Sudira hingga melesak ke dalam.

Begkh!
"Aaa...!"

Jantung Sudira pecah seketika. Laki-laki itu meraung setinggi langit, lalu ambruk di tanah. Tubuhnya menggelepar barang sesaat.

Tapi, lawan agaknya tak sudi memberi sedikit pun kesempatan padanya. Sebelah kaki perempuan baju hijau itu meluncur deras. Langsung diinjaknya tulang leher lawannya. Tanpa dapat bersuara lagi, laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu langsung diam tak berkutik!

"Huh!" Indrawati mendengus sambil menggeram pelan. Kemudian kepalanya berpaling pada kedua kawannya. Tempat itu memang telah sepi, karena sisa-sisa murid Perguruan Bambu Kuning telah habis semua. Mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini, menebarkan bau amis darah.

"Mereka patut menerima ini semua!" dengus salah seorang yang berbaju merah.

"Hi hi hi...! Kenapa dipersoalkan segala? Ayo, mari kita tinggalkan tempat ini!" ajak wanita yang berbaju putih bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Belum juga bergerak, mendadak melesat sesosok tubuh tinggi kurus yang langsung mendarat dan menghadang mereka. Kepala orang tua itu licin dengan kumis dan jenggot panjang telah memutih. Bajunya lebar seperti jubah dengan celana berwarna putih. Kedua tangannya terlipat di dada, dengan sebuah tongkat pendek yang terselip di ketiak. Bola mata orang tua itu amat tajam menusuk, ketika memandang ketiga perempuan berambut panjang di depannya.

"Hi hi hi...! Orang tua bau tanah! Apakah kau pun ingin turut mampus seperti mereka? Ke sinilah kau, agar kami lebih cepat mengantarkanmu ke akherat!" kata perempuan berbaju hijau dengan suara melengking tinggi.

"Sebenarnya aku segan memakan jantung si tua bangka ini. Tapi sikapnya itu, membuatku menjadi geram. Dikiranya dia mampu menghentikan kita!" sahut wanita yang berbaju merah.

"Sudah, jangan cerewet! Biar kupecahkan saja kepalanya!" lanjut wanita yang berbaju putih sambil melompat dengan gerakan lincah ke arah orang tua itu. Namun serangan itu berhasil dihindari dengan melenting ke belakang.

"Hup!"

"Hei! Pantas kau berani berlagak. Agaknya kau memiliki sedikit kepandaian, Tua Bangka! Baik! Terimalah hajaranku!" geram wanita berbaju putih ketika orang tua mampu menghindari serangannya. Tubuh perempuan itu berputaran dengan kedua kaki terayun deras ke arah orang tua itu.

"Hiiih!"

"Uts...!" Namun dengan gesit orang tua itu bersalto ke depan. Sedangkan wanita berbaju putih itu terus mengejar dengan penasaran. Alangkah terkejutnya perempuan berbaju putih itu, ketika tiba-tiba orang tua lawannya melakukan serangan balik. Tongkat pendek di tangannya menghajar ke arah muka dan pinggang dengan kecepatan sulit diikuti mata. Akibatnya....

"Yeaaa...!"

Desss!

"Uuuh...!"

"Rasakan! Berani menganggapku rendah, he?!" desis orang tua itu garang setelah berhasil menyarangkan pukulan telak ke perut gadis berbaju putih.

Perempuan berbaju putih yang tak lain Nilam itu menjerit kesakitan. Tubuhnya segera meompat ke belakang, sambil bersalto indah. Mukanya tampak berang merasakan akibat pukulan lawan. Sama sekali tak diduga kalau permainan tongkat orang tua itu demikian cepat, mengandung tenaga dalam kuat. Bahkan Nilam sampai jungkir balik menghindarinya.

"Orang tua, siapa kau sebenarnya?!" bentak Nilam garang, begitu punya kesempatan.

"Untuk apa tanya-tanya segala? Kuntilanak seperti kalian sudah sepatutnya mampus. Aku akan menuntut balas atas kematian dua cucuku di tangan kalian!"

"Keparat! Kau pikir sudah hebat mampu berbuat seperti itu padaku? Huh! Rasakan seranganku!"

Pada saat itu juga Nilam langsung melompat menyerang si orang tua itu dengan gerakan gesit. Namun pada saat yang sama, dua kawannya pun ikut melompat membantunya.

"Nilam! Tanganku jadi gatal melihat kesombongan tua bangka ini! Biarlah aku pun ikut ambil bagian!" kata Sukesih yang berbaju merah.

"Hi hi hi...! Hitung-hitung, aku ikut mencicipi. Apakah biji mata si tua bangka itu masih terasa gurih!" sahut Indrawati yang berbaju hijau sambil ketawa nyaring.

"Bagus! Kenapa tak sejak tadi kalian maju berbarengan! Lebih cepat kalian maju bersama, lebih cepat mampus!" dengus orang tua itu sambil memuter tongkat dan bersiap menyambut serangan lawan.

"Shiiih...!"

"Uts!"

Bersamaan dengan tongkat di tangan orang tua itu menghajar ketiga lawannya berbarengan, tiga wanita iblis itu langsung melompat ke atas, mereka segera membuat susunan serangan yang rapi. Sukesih berada di atas, Nilam di bawah, sedangkan Indrawati menyerang bagian tengah.

Mendapat tekanan demikian berat, orang tua itu terlihat mulai kerepotan. Dalam sekejap saja, serangan-serangannya selalu kandas. Dia hanya mampu bertahan kurang dari lima jurus. Dan selanjutnya, orang tua itu menjadi bulan-bulanan serangan tiga wanita iblis yang tak memberi kesempatan sedikit pun padanya. Kedudukan orang tua itu semakin terjepit dan ruang geraknya semakin sulit. Permainan tongkatnya, kini tak terkembang sedikit pun. Sekali dia menyerang salah seorang, maka dua lawan yang lain secara bersamaan menyerang. Terpaksa perhatiannya dialihkan untuk menghalau mereka. Namun dengan begitu, dia sama saja memberi kesempatan pada seorang yang didesaknya tadi untuk menyerang.

Sukesih membentak, ketika tubuhnya melompat ke atas untuk menghindari ujung tongkat lawan. Langsung dilepaskannya pukulan yang mengeluarkan sinar putih dan berbau busuk.

"Lepas!"

Orang tua itu terkejut sambil menutup pemapasannya. Tubuhnya melompat ke samping kiri, namun Nilam telah menantinya dengan kepalan tangan yang meluncur deras. Tak ada pilihan lain, selain menangkis. Namun sebelum sempat menangkis, terjadi satu tendangan yang dilakukan perempuan berbaju merah menghantam telak tulang pinggangnya.

Begkh!

"Aaakh...!" Orang tua itu kontan mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjungkal, namun berusaha mengendalikan diri. Pada saat itulah satu hantaman telak dari Nilam yang telah menunggunya, sehingga tak bisa dielakkan.

Bresss!

Tangan kanan perempuan berbaju putih itu cepat menyambar tulang dada di bagian kiri. Sementara orang tua itu hanya menjerit sesaat. Tubuhnya ambruk dalam keadaan bermandikan darah, mati. Sedangkan perempuan berbaju putih itu dengan rakus melahap jantung orang tua itu yang sudah tercekal.

"Sudah! Mari kita tinggalkan tempat ini!" ajak Sukesih yang berbaju merah sambil melompat. Seketika tubuh mereka melayang meninggalkan tempat itu.

TUJUH

Di Desa Sukaharja, siang ini penduduk tengah melakukan kegiatan seperti biasa. Desa yang letaknya tak jauh dari ibukota kerajaan itu memang ramai. Sebagian besar penduduknya hidup berdagang. Hanya sebagian kecil saja yang hidup sebagai petani. Dan mereka tinggal di pinggiran, jauh dari keramaian. Tempat ini sendiri sebenarnya tak layak disebut desa. Sebab, keramaiannya hampir menyamai ibukota kerajaan. Dan di tempat ini pula Adipati Dungkur dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan.

Kini kegembiraan tengah melingkupi di kediaman Adipab Dungkur. Adipati yang selalu ramah itu telah mempersunting Putri Kemuning Sari dari Kerajaan Blambangan. Suasana belum lagi larut malam. Beberapa orang masih lalu-lalang di luar kediaman adipati itu. Bahkan beberapa rumah penginapan masih terus buka bersama beberapa kedai makan. Namun, di tempat kediaman Adipati Dungkur yang baru saja ada keramaian, kini tampak sepi. Tampak beberapa penjaga berdiri di depan pintu serta pekarangan rumahnya. Beberapa hari beakangan ini, memang tak ada kegiatan berarti yang mereka lakukan. Seperti ada kata sepakat kalau junjungan mereka tengah berbulan madu, meski tak pergi ke mana-mana.

usti Adipati sungguh beruntung dapat mempersunting Kanjeng Putri Kemuning. Padahal, banyak raja dan pangeran yang telah melamar. Namun, semuanya ditolak," kata seorang pengawal yang berdiri di depan pintu gerbang.

"Ya! Putri Kemuning Sari memang cantik sekali. Tetapi, beliaulah yang justru merasa beruntung karena mendapatkan Kanjeng Adipati," sahut kawannya.

"Lho? Mana bisa begitu? Coba kalau Putri Kemuning Sari yang mendapatkan dirimu, mana bisa dikatakan beruntung!" bantah kawannya.

"Heh! Yang kita bicarakan ini Kanjeng Gusti Adipati. Beliau gagah dan tampan. Kepandaiannya hebat, dan semua orang segan kepadanya. Bahkan Kanjeng Gust Prabu sendiri sungkan dengan beliau. Nah! Apa itu bukan keberuntungan bagi Kanjeng Putri Kemuning dapat dipersunting beliau? Padahal, selama ini banyak gadis yang suka, tapi ditolak secara halus oleh Kanjeng Adipati...."

"Huh! Kau ini bicara tak mau kalah. Ya, Kanjeng Adipati yang beruntung. Wong sudah jelas, kok!"

Kawannya yang memang tak mau kalah malah cekikikan. "Ya! Kalau begitu supaya adil, dua-duanya saja yang beruntung. Wong mereka pasangan yang cocok dan pantas!"

"Semprul. Dasar mau menang sendiri!"

Kawannya itu terkekeh. Tapi mendadak...

Bruakkkk!

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara keras dari balik jendela yang berada persis di luar kamar Kanjeng Adipati. Dan sebentar kemudian....

"Aaakh...!" Terdengar suara jerit kesakitan dari dalam kamar itu.

"Wah! Apa itu? Ayo, cepat kita periksa!" kata salah seorang sambil berlari kencang mendekat. Sementara kawannya menyusul dari belakang dengan celana kedodoran.

"Tunggu, Min!"
"Cepaaat..!"
"Apa itu?!"
"Apa yang terjadi?!"

"Celaka! Ada pengacau! Panggil yang lain!" seru kawannya lagi.

Dalam sekejap saja, rumah adipati itu kacau-balau diselingi teriakan-teriakan para pengawal yang berhamburan ke kamar Adipati Dungkur. Namun, alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang telah terjadi di tempat itu. Kamar Adipati Dungkur hancur berantakan dan dindingnya jebol. Sementara Putri Kemuning Sari tergeletak di atas tempat tidur dalam keadaan berlumuran darah. Sedangkan sang Adipati sendiri terlihat tengah bertarung melawan tiga orang yang mendesaknya dengan hebat.

"Kurang ajar! Tangkap ketiga pengacau itu!"

"Bunuh mereka!"
"Yeaaa...!"

Melihat apa yang terjadi, kemarahan para pengawal kadipaten tak dapat dibendung lagi. Tanpa diperintah dua kali, mereka langsung menyerbu ketiga pengeroyok Adipati Dungkur dengan amarah meluap-luap.

"Kecoa-kecoa busuk, tak ada gunanya kalian hidup! Mampuslah kalian semua. Hiiih!"

Begkh!
Des!

"Aaa...!" Terdengar teriakan menyayat ketika tiga orang yang mengeroyok adipati itu membantai para pengawal.

"Hi hi hi..! Majulah kalian semua! Ayo maju kemari. Biar lebih mudah aku memecahkan batok kepala kalian!"

Ketiga sosok yang malam-malam menyatroni kediaman Adipati Dungkur tak lain adalah tiga perempuan berambut panjang yang selama ini selalu menghantui setiap orang di berbagai tempat. Dan kini mereka menyatroni kadipaten. Padahal, selama ini daerah itu tabu diinjak penjahat mana pun. Bisa dimengerti, karena tempat itu selalu dipenuhi prajurit pilihan yang banyak jumlahnya.

Maka dengan kejadian ini adalah suatu perbuatan gegabah yang dilakukan ketiga perempuan iblis itu. Bahkan mereka berani membunuh istri sang Adipati. Tak pelak lagi, begitu mendengar keributan yang terjadi di kadipaten, kentongan berbunyi bertalu-talu. Semua penduduk keluar dari rumah masing-masing, dan bergegas menuju kediaman Adipati Dungkur.

Sementara itu, para pengawal kadipaten beramai-ramai menyerang ketiga wanita iblis itu. Maka pertarungan pun jadi berubah seru sekaligus tak seimbang. Namun ketiga perempuan itu memang tidak bisa dianggap sembarangan. ilmu silat mereka sangat sulit dicari bandingannya. Bahkan dalam sekejap saja, beberapa orang pengawal kadipaten tewas dalam keadaan mengerikan. Namun, hal itu tak membuat surut yang lain. Mereka malah mengamuk kian menjadi-jadi. Beberapa orang penduduk yang menonton kejadian, dan memiliki sedikit keberanian serta ilmu silat lumayan, sudah langsung menceburkan diri dalam kancah pertarungan. Mereka langsung menghajar ketiga pengacau itu.

Adipati Dungkur sendiri menyadari kalau ketiga lawannya bukanlah orang sembarangan. Hatinya memang menyimpan dendam dan amarah meluap-luap. Apalagi, mereka telah membinasakan istrinya. Tapi, dia bisa berpikir tenang dan menyadari ketika semakin banyak korban yang berjatuhan.

"Hei, kalian! Pergilah ke kerajaan. Kirimkan prajurit-prajurit tangguh ke sini, beserta panglima! Ketiga pengacau ini agaknya tak bisa dianggap enteng!" teriak Adipati Dungkur.

"Tapi, Kanjeng Gusti..." Salah seorang tak tega melihat adipati itu menghadapi ketiga wanita iblis ini.

"Jangan pikirkan aku! Ayo, cepat kalian pergi!"

"Baiklah...."

"Hi hi hi...! Mau coba-coba pergi dari hadapanku. Jangan harap! Kau akan mampus lebih dulu!" ancam salah seorang perempuan berbaju merah. Dia langsung melompat ringan ke arah tiga orang pengawal yang akan berlari ke arah tempat penyimpan kuda

"Iblis keparat! Jangan harap kau bisa berbuat sesuka hatimu di tempatku ini!" bentak sang Adipati melindungi para pengawalnya. Perempuan berbaju merah itu langsung diserang dengan tombaknya.

"Hiiih!"

Adipati Dungkur memang sangat ahli memainkan tombak. Dan itu terlihat saat mulai mendesak lawan. Tombak di tangannya bisa menjadi benteng yang sulit ditembus, kalau sudah diputar sedemikian rupa. Namun dalam sekejap mata, tombak itu akan menjadi senjata pembunuh yang menakutkan.

Namun sebenarnya itu tidak berarti banyak bagi perempuan yang berbaju merah itu. Wanita iblis ini mampu bergerak lebih cepat daripada putaran tombak adipati itu. Kalau saja para pengawalnya tak ikut mengeroyok perempuan bernama Sukesih ini, niscaya sejak tadi sang Adipati sendiri akan mudah dijatuhkan.

Apalagi, pertarungan itu dibantu penduduk yang berani mengorbankan nyawa demi keselamatan sang Adipatinya. Jelas hal itu semakin mempersulit gerakan Sukesih untuk secepatnya menghabisi lawannya. Sementara, kedudukan kedua kawannya yang bernama Indrawati dan Nilam juga tak kalah seru. Mereka pun harus menghadapi keroyokan yang luar biasa banyaknya.

Kenyataan seperti itulah yang membuat Adipati Dungkur terharu melihat pengorbanan mereka. Para penduduk dan prajurit bukanlah tandingan iblis iblis itu. Meski jumlah mereka terus bertambah, namun yang menjadi korban pun semakin bertambah banyak pula. Ketiga perempuan itu betul-betul berhati iblis, karena tak segan-segan lagi menggunakan pukulan mautnya. Sehingga, kebanyakan dari korbannya, tewas dalam keadaan mengerikan. Bau busuk dan anyir darah mulai mewarnai tempat itu.

"Hi hi hi...! Hari ini adalah hari pembalasan dari apa yang pernah mereka lakukan terhadap kita!" teriak Nilam sambil ketawa cekikikan.

"Mereka akan menanggung akibatnya sekarang! Hi hi hi...! Ayo, ke sinilah kalian cepat agar aku segera mengirimmu ke neraka!" sahut Indrawati tak kalah nyaring.

"Hi hi hi...! Puaskanlah hati kalian. Hari ini adalah kemenangan bagi kita. Biar mereka rasakan, bagaimana sakit dan terhinanya menjadi orang terbuang. Mereka akan merasakannya! Mereka akan merasakannya! Ha ha ha...!" sambung Sukesih sambil bergerak cepat, membuat beberapa lompatan. Kemudian diterjangnya Adipati Dungkur.

"Hup!"

Adipati itu terkejut, dan buru-buru mengayunkan tongkatnya. Namun ringan bagai sehelai daun kering, tubuh Sukesih melompat ke atas sambil mengayunkan kepalan tangan kanan ke batok kepala. Buru-buru Adipati Dungkur mengibaskan tongkatnya ke atas. Namun, ternyata itu hanya tipuan belaka. Sebab, perempuan itu cepat menarik tangannya. Dan bersamaan dengan itu, satu tendangan kuat diayunkan ke dada adipati. Bukan main terkejutnya Adipati Dungkur, dan buru-buru menjatuhkan diri sambil melompat ke belakang. Namun....

Plak!
Begkh!

Tak urung tendangan Sukesih masih mengenai dada adipati itu dengan telak. Tubuh Adipati Dungkur kontan terjungkal ke belakang sambil menjerit keras. Dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Sukesih telah melompat menyerang. Sementara para pengawal terkejut setengah mati. Gerakan perempuan itu cepat sekali. Dan rasanya, tak ada waktu untuk menyelamatkan sang Adipati. Namun pada saat-saat yang gawat itu, mendadak...

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba melesat sebuah bayangan putih yang hendak memapak serangan Sukesih pada adipati itu.

"Heh?!" Perempuan berbaju merah itu terkejut setengah mati. Buru-buru dia melompat ke atas sambil membuat gerakan bersalto. Maka, selamatlah adipati itu dari kematian. Sementara serangan bayangan putih itu juga tidak menemui sasaran. Meskipun tanpa menoleh, namun agaknya Sukesih bisa merasakan lewat angin serangah kalau bayangan yang baru datang ini bukanlah orang sembarangan. Dan baru saja Sukesih mendarat di tanah. Mendadak bayangan putih yang baru datang itu terus mengejarnya. Gerakannya cepat bukan main, sehingga membuatnya.terkejut setengah mati.

"Uuuh...!"
"Hiiih!"

Sosok yang baru datang itu terus mendesak, seolah tak memberi sedikit pun kesempatan pada perempuan iblis berbaju merah itu untuk memperbaiki keadaan. Bukan main terkejutnya Sukesih. Selama malang melintang, belum pernah dia menemukan lawan yang mampu menandingi kecepatan gerakannya. Tetapi, lawannya yang satu ini pun bukan saja mampu menandinginya. Bahkan mampu mengatasinya. Lagi pula, tenaga dalamnya sangat kuat. Dan itu terasa betul dari angin serangannya yang mendesir kencang terasa menghantam kulit tubuhnya.

"Yeaaa...!"

Sukesih yang dikenal sebagai wanita iblis itu agaknya geram betul melihat keadaan ini. Dalam satu kesempatan baik, dilepaskannya pukulan maut yang memancarkan selarik sinar putih menerpa sosok bayangan putih tadi. Seketika itu juga, tercium bau busuk yang memusingkan kepala akibat pukulan yang dilepaskannya.

"Mampus!" desis Sukesih geram.

"Hups!" Namun dengan gerakan yang tak kalah gesit, sosok bayangan putih itu berhasil menghindari diri dari pukulan maut Sukesih. Tubuhnya langsung melompat ke samping. Sementara perempuan iblis berbaju merah itu tegak berdiri untuk melihat siapa penyerang gelapnya tadi.

Di depannya pada jarak dua tombak, berdiri seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang terurai. Di balik punggungnya bertengger sebatang pedang bergagang kepala burung. Badannya yang tegap, hanya mengenakan baju rompi putih. Sementara tak jauh di dekatnya, terlihat seorang gadis berwajah cantik. Dia tampak masih tenang di atas punggung kudanya yang berbulu putih. Di sebelah gadis itu, terlihat seekor kuda hitam tanpa penunggang. Sepintas saja Sukesih bisa menduga kalau pemuda yang memakai rompi putih ini datang bersama gadis itu.

"Hm, bagus! Siapa namanu, Bocah Bagus? Hebat juga kepandaianmu. Tapi sayang, kau akan mampus sesaat lagi. Kau telah berani mencampuri urusanku!" dengus Sukesih.

Pemuda itu tersenyum dingin.

"He?! Bukankah pemuda itu Pendekar Rajawali Sakti?" tiba-tiba sebuah suara mengenali sosok pemuda tampan berbaju rompi putih itu.

"Betul! Aku pernah mengenalinya. Dia memang Pendekar Rajawali Sakti!" sahut yang lain. Kebetulan, mereka yang membicarakan Pendekar Rajawai Sakti telah lelah, sehabis ikut mengeroyok tiga wanita iblis itu.

"Huh! Kali ini hantu betina itu akan ketemu batunya!" dengus beberapa orang dengan suara geram.

Mendengar suara-suara itu, tahulah Sukesih siapa orang yang berdiri di hadapannya. Dia mendengus sinis dengan sikap memandang enteng.

"Hm. Jadi kau yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti? Bagus, tak susah payah lagi aku mencarimu!"

"Nisanak! Menyerahlah. Perbuatan kalian telah kelewat batas. Tak ada jalan keluar lagi bagi kalian dari tempat ini!" kata Pendekar Rajawah Sakti, dingin.

"Kurang ajar! Kau pikir siapa dirimu berani berkata begitu? Setan sekalipun tak akan berani bicara begitu padaku."

"Aku memang bukan setan. Tapi, malaikat maut!" dengus Rangga mulai geram.

"Keparat! Kau pikir dirimu sudah hebat tak terkalahkan, sehingga berani bicara begitu di depanku? Rasakan ini hajaranku!"

Selesai berkata demikian, tubuh Sukesih melesat ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan satu serangan bertenaga dalam tinggi.

"Pandan Wangi! Kau bantu yang lain! Biar iblis betina ini menjadi bagianku!" teriak Rangga sambil melompat cepat, menghindari serangan lawan.

"Jangan khawatir, Kakang! Akan kuhajar mereka!"

"Hi hi hi...! Kekasihmu itu boleh saja berkata sembarangan. Tapi, dia akan mampus di tangan kawan-kawanku!" ejek Sukesih.

"Siapa bilang begitu? Kalian telah terkepung, dan tak bisa ke mana-mana. Keadaan kalian telah terpojok. Maka tak ada jalan lagi selain menyerah atau mampus!" sahut Rangga balik mengejek.

"Huh, banyak mulut! Mampuslah kau!"

"Uts!

Pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti dengan satu dari tiga iblis betina itu kembali berlangsung cepat dan seru. Perempuan berbaju merah itu agaknya bernafsu sekali untuk menjatuhkan Pendekar Rajawali Sakti secepatnya. Namun, agaknya itu tak mudah dilakukan, karena yang tengah dihadapi kali ini bukanlah tokoh sembarangan.

Sukesih sendiri baru mengenal Pendekar Rajawali Sakti. Dia merasa tergelitik untuk menjajal kepandaian pemuda ini. Dan, baru sekarang inilah niatnya bisa terwujud. Dalam benaknya, pastilah ucapan setiap tokoh persilatan tentang Pendekar Rajawali Sakti hanyalah ucapan kosong belaka. Tapi setelah berhadapan langsung dengan orangnya, perempuan iblis berbaju merah itu terpaksa gigit jari. Bahkan diam-diam mengeluh di hati.

DELAPAN

Pemuda ini memang bukan orang sembarangan dan tak bisa dianggap enteng. Padahal, selama ini dia menganggap kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat sempurna. Bahkan kecepatan bergeraknya pun sudah jauh melebihi rata-rata tokoh persilatan. Tapi, siapa sangka kalau pemuda ini mampu mengimbanginya tanpa mengalami kesulitan?

"Hiyaaa...!"
Plas!
"Uuuh...!"

Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti terpaksa memindahkan pernapasannya ke perut ketika Sukesih melepaskan pukulan maut yang berupa sinar putih berbau busuk. Bahkan beberapa orang pengawal dan penduduk setempat yang tadi menyaksikan pertarungan, mulai menyingkir agak jauh.

Pukulan wanita iblis berambut putih itu bukan saja mampu membuat seseorang yang berada di dekatnya tak sadarkan diri. Namun kalau sampai terkena, pasti akan mati. Hal itu terbukti dari beberapa buah pohon serta tembok bangunan yang hancur berkeping-keping, tersambar pukulan maut itu. Dan ini semakin membuat yang lain menjadi was-was saja.

"Nisanak, pukulanmu sangat keji! Memang pantas kalau kau mendapat julukan iblis!"

"Hi hi hi...! Sekarang baru kau rasakan, bukan? Nah! Serahkan saja kepalamu, dan jangan coba-coba melawan!"

Pendekar Rajawali Sakti sedikit menarik sudut bibirnya, memberi senyum sinis. "Kau terlalu sombong! Aku belum selesai bicara. Maksudku, kau pantas mendapat julukan iblis. Tapi sayang, aku dilahirkan untuk memberantas iblis!" ejek Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh, kurang ajar!"

Pendekar Rajawali Sakti tertawa sambil melompat ke atas ketika kepalan tangan Sukesih menderu ke arah dadanya. Tapi wanita iblis itu ternyata tak berhenti sampai di situ. Ketika sebelah kakinya menyentuh tanah, saat itu pula tubuhnya melenting ke atas. Dan dia segera mendarat di belakang Pendekar Rajawali Sakti. Namun Rangga telah lebih dulu berbalik seraya mengayunkan kepalan tangan kanan ke arah wajah.

"Hiiih!"
"Uuuh...!"
"Yeaaa...!"

Perempuan iblis berbaju merah itu melenting ke belakang untuk menghindari serangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun, Rangga memang telah menduga, maka secara hampir bersamaan dengan serangan pertamanya, tubuhnya pun langsung mencelat mengikuti gerakan Sukesih. Langsung diserangnya wanita itu.

Perempuan iblis berbaju merah itu terkejut kaget. Serangan Pendekar Rajawali Sakti yang dikerahkan lewat tenaga dalam kuat, bisa saja ditangkisnya. Tapi dalam keadaan tak siap begitu, jelas akan mencelakakan dirinya. Tentu saja hal ini semakin merepotkan. Maka seketika Sukesih mencelat mundur. Namun dia jadi terdesak di sudut tembok luar bangunan kadipaten. Padahal saat itu Pendekar Rajawali Sakti kembali melancarkan serangan susulan, dan telah menutup semua jalan ke luar untuk menghindar. Maka mau tak mau ditangkisnya serangan itu.

Plak!
"Aaakh...!"

Wanita iblis berbaju merah itu menjerit kesakitan, ketika sebelah tangannya beradu dengan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan Rangga tak berhenti sampai di situ. Kepalan tangan kanannya telah dipersiapkan melakukan serangan susulan yang tak terduga sama sekali. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga....

Begkh!

"Aaakh...!" Sukesih kembali memekik kesakitan, ketika dadanya terhantam tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuh perempuan itu terlempar beberapa langkah. Cepat di bangkit dan mempersiapkan diri.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti telah melesat cepat dengan serangan berikut. Bukan main terkejutnya perempuan itu. Tak ada waktu lagi baginya untuk menangkis, selain menghindari dengan berguling-gulingan di tanah.

"Yeaaa...!" Pendekar Rajawali Sakti membentak. Dia membuat beberapa lompatan salto dengan kaki dan tangan bergantian menyentuh tanah untuk mengejar lawan. Meskipun perempuan iblis berbaju merah itu sesekali mengayunkan tendangan menyapu bagian bawah pertahanannya, namun tubuh Pendekar Rajawali Sakti cepat melenting dengan ringan.

Dan itu memang digunakan Sukesih untuk mempersiapkan diri. Begitu Pendekar Rajawali Sakti melompat menghindari serangan-serangannya, saat itu pula dilepaskannya pukulan mautnya, tepat ketika tubuh pemuda itu tengah melayang ke arahnya. Seketika melesat sinar putih dari tangan perempuan iblis itu.

Namun, ternyata perhitungannya meleset. Karena saat itu pula, Pendekar Rajawali Sakti telah menyiapkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali Sakti'. Langsung dipapaknya sinar putih itu.

"Hiyaaa...!" Seketika dari tangan Pendekar Rajawah Sakti meluncur sinar merah, ke arah sinar putih yang datang ke arahnya. Dan...

Glarrr!

"Aaakh...!" Perempuan berbaju merah itu menjerit pelan ketika tubuhnya terlempar ke belakang dalam ke adaan hangus. Nyawa telah melayang sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Memang sama sekali dia lupa kalau tenaga dalam Pendekar Rajawali Sakti lebih kuat dibanding dirinya sendiri. Dan itu berarti pukulan lawan lebih kuat dan mampu menekan pukulannya. Tak heran ketika sinar merah dari Pendekar Rajawali Sakti menderu menghantam sinar putih lawan, pukulan jarak jauh itu terus menderu menghantam Sukesih yang tak bisa mengelak lagi.

Semua yang melihat pertarungan mendecak kagum dengan mata terbelalak dan gelengan kepala. Pendekar Rajawali Sakti sendiri masih tegak berdiri sambil memandang lawannya yang telah menghitam gosong. Kemudian pandangannya dialihkan pada pertarungan lain. Pandan Wangi sendiri tampaknya tengah mendesak lawan yang berbaju hijau.

Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti juga melihat, seorang berbaju putih tengah mengamuk sejadi-jadinya pada pengeroyok. Kematian yang dialami kawannya yang berbaju merah, ternyata tak mengendurkan semangatnya. Sehingga, banyak korban yang kembali berjatuhan di tangannya. Tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Maka Rangga segera melesat untuk mencegahnya.

"Hentikan, Iblis Betina! Mereka bukan lawanmu!" bentak Pendekar Rajawali Sakti keras.

"Huh! Kalau begitu, kaulah lawanku. Nah, mampuslah kau!"

"Uts!" Pendekar Rajawali Sakti cepat menghindar ketika tiba-tiba perempuan berbaju putih yang bernama Nilam itu menyerang gencar ke arahnya. Tubuhnya meliuk-liuk mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' menghindari serangan. Sehingga, semakin membuat penasaran lawannya.

"Tak ada jalan lagi untuk meloloskan diri. Menyerahlah. Dan, bertobatlah selagi nyawa melekat di tubuh."

"Phuih! Tutup mulutmu! Aku lebih suka mati ketimbang menuruti ucapanmu itu."

"Hm... Kalau memang yang menjadi pilihanmu, baiklah...," Pendekar Rajawali Sakti menggeram.

Dalam sekejap saja Pendekar Rajawali Sakti bisa merasakan kalau ilmu silat perempuan iblis berbaju putih ini tak berada di atas kawannya yang berbaju merah tadi. Bahkan kalau diamat-amati lebih lanjut, gerakannya tak secepat kawannya. Namun ada hal yang patut diwaspadai, yaitu tenaga dalamnya yang lebih kuat. Dan, Pendekar Rajawali Sakti sendiri masih bisa merasakan kalau kekuatan tenaga dalam wanita ini masih di bawahnya.

Sementara itu, pertarungan antara Pandan Wangi dan wanita berbaju hijau yang bernama Indrawati berlangsung a lot. Beberapa para pengeroyok perempuan berambut panjang itu sudah sejak tadi menyingkir. Mereka membuat pagar betis pada jarak tiga tombak dari pertarungan kedua tokoh itu. Bahkan kadang-kadang lebih lebar lagi, jika pertarungan memerlukan ruang gerak yang lebih luas.

Pandan Wangi sedikit kaget ketika melihat wanita berbaju hijau itu telah mulai menggunakan pukulan mautnya. Terpaksa lubang hidungnya ditutup rapat-rapat untuk menghindari bau busuk yang menyengat, ketika sinar merah itu nyaris menyambar tubuhnya.

Itu memang tak diperhitungkan. Dalam keadaan yang terdesak oleh serangan Kipas Mautnya, wanita berbaju hijau itu tiba-tiba saja melepaskan pukulan maut dari jarak dekat. Masih untung Pandan Wangi mampu menghindar cepat dengan melenting ke udara.

"Sial! Kau akan merasakan hajaranku kini!" dengus Pandan Wangi begitu mendarat, seraya mencabut Pedang Naga Geni.

Sring!
"Yeaaa...!"

"Hi hi hi...." Kenapa tak kau keluarkan seluruh senjatamu untuk menghadapiku? Ayo, keluarkanlah. Jangan sampai kau mampus di tanganku!" ejek Indrawati sambil tertawa cekikikan.

"Huh! Rasakanlah ini!" dengus Pandan Wangi semakin geram.

Wut! Wut!

"Heh?!" Bukan main terkejutnya perempuan berbaju hijau itu ketika pedang di tangan Pandan Wangi menyambar-nyambar ke arahnya. Bukan sekadar serangan gencar yang dilakukan si Kipas Maut itu, melainkan pedang bergagang kepala naga itu mengeluarkan lidah api yang mampu menyambar pada jarak cukup jauh. Tentu saja hal itu membuat Indrawati sedikit kalut. Sementara Pandan Wangi seperti tak ingin memberi kesempatan sedikit pun. Lawannya terus diserang seperti tak henti-hentinya.

"Hiyaaat...!"

"Uuuh...!" Dalam keadaan terdesak begitu, perempuan berbaju hijau ini mendadak terkejut oleh ...

"Aaa...!"

Cepat Indrawati berpaling ketika mendengar jeritan kawannya. "Nilaaam! Keparat! Kubunuh kau! Kubunuh kau...! Yeaaa...!"

Perempuan berbaju putih yang tadi berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti terlempar sambil mengeluarkan pekik panjang sesaat. Tubuhnya hangus seperti terbakar, lalu jatuh ke tanah sudah tak bernyawa lagi.

Itulah yang membuat wanita iblis berbaju hijau itu terkejut dan panik. Dengan kemarahan yang meluap-luap, dia melompat hendak menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Namun kelengahan itu ternyata membawa akibat buruk. Sepertinya dia tak sadar kalau saat itu Pandan Wangi tengah melancarkan serangan. Sehingga...

Brettt!
"Aaakh...!"

Tak pelak lagi! Ujung pedang Pandan Wangi menghajar telak dada dan perut perempuan itu. Indrawati kontan memekik kesakitan, dengan tubuhnya terjungkal ketanah.

Indrawati berusaha bangkit dengan tertatih-tatih. Namun baru saja kepalanya mendongak ke atas, ujung pedang Pandan Wangi telah mengancam tenggorokannya.

"Jangan coba-coba atau kau akan mampus saat ini juga!" ancam Pandan Wangi.

Indrawati menghela napas pendek dan tersengal. Matanya melirik sekilas ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri di sebelah Pandan Wangi. Sorot matanya tampak menyiratkan penuh kebencian. Dan ketika dia berusaha meludahi pemuda itu, Pandan Wangi mendekatkan ujung pedangnya ke leher perempuan berbaju hijau itu.

"Aaakh...!" Indrawati kontan menjerit kesakitan ketika merasakan panas yang luar biasa begitu lehernya tersentuh pedang si Kipas Maut.

"Jangan berbuat macam-macam, karena aku tak akan main-main dengan ancamanku ini!" desis Pandan Wangi mengulangi ancamannya.

"Phuih! Lakukanlah Apa kau pikir aku takut mati?!"

"Kenapa kau lakukan semua ini. Padahal, kau bisa bertobat sambil menjalani hukumanmu?"

"Huh, apa urusanmu?!"

"Anggap saja aku sahabatmu. Korbanmu selalu laki-laki. Apa yang membuat kalian merasa dendam pada laki-laki?"

"Huh! Mereka makhluk keparat yang harus dimusnahkan!"

"Hm.... Kau tentu tak bisa berkata begitu. Kau bukanlah dewata yang mampu melaksanakan ke hendaknya."

"Kenapa tidak? Peduli apa dengan segala dewata. Itu hanya omong kosong. Ke mana mereka pada saat kami membutuhkannya? Ke mana mereka pada saat laki-laki itu menghancurkan hati kami? Ke mana mereka pada saat harga diri kami hancur?l"

Pandan Wangi terdiam. Dia memang tak bisa membayangkan, apa yang telah mereka alami. Namun naluri kewanitaannya bisa merasakan kepedihan yang amat sangat di hati perempuan berbaju hijau itu.

"Berbulan-bulan kami mencari seorang guru yang hebat, sampai akhirnya menemukan sebuah goa di dasar jurang yang di dalamnya berisi pelajaran ilmu silat. Akhirnya, kami mempelajari ilmu itu selama ini. Ilmu silat itu cocok sekali, dan semakin menambah semangat kami untuk menghancurkan kaum laki-laki. Tapi... lesu terdengar suara perempuan itu ketika menghentikan ceritanya.

"Ada hal yang tak kalian pikirkan, karena diatas langit masih ada langit..."

Perempuan berbaju hijau itu tak menyahut. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam.

"Dan kini hidupku semakin tak berguna...."

Pandan Wangi baru saja akan membujuk perempuan itu, ketika kepalanya terdongak ke atas. Namun mendadak...

Crab!
"Aaa...!"
"Heh?!"

Semua orang yang menyaksikan terkejut kaget. Tak disangka-sangka Indrawati mengakhiri hidupnya dengan membenamkan tenggorokannya ke dalam ujung pedang Pandan Wangi yang masih mengancam. Pandan Wangi sendiri ikut terkejut. Sungguh tak disangka kalau bekas lawannya ini mampu melakukannya. Buru-buru pedangnya dicabut. Namun, nyawa perempuan itu tak tertolong lagi. Dia masih sempat memandang Pandan Wangi sambil tersenyum kecil, kemudian diam tak bergerak! Darah kontan membasahi tanah

Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi masih diam membisu di atas punggung kuda. Semua orang yang ada di situ terpaku. Entah mereka harus bicara apa. Yang jelas, apa yang dialami ketiga wanita iblis itu memang patut diambil hikmahnya.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: PENGHUNI TELAGA IBLIS
Thanks for reading Misteri Hantu Berkabung I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »