Istana Gerbang Neraka

Pendekar Rajawali Sakti

ISTANA GERBANG NERAKA


SATU
SENJA SUDAH mulai turun menyelimuti permukaan bumi. Sinar matahari sudah tidak lagi menyengat, namun masih cukup untuk menerangi mayapada ini. Di tengah pancaran matahari senja ini, tampak serombongan orang berkuda tengah meniti jalan tanah berdebu di pinggiran jurang. Sebuah jurang yang tidak begitu dalam, namun terlihat cukup besar.

Dinding-dindingnya terdiri dari batu-batu cadas yang keras dan runcing. Sekitar dua puluh orang berkuda bergerak perlahan-lahan, mengawal sebuah pedati berukuran cukup besar yang dikendalikan oleh seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Kendati telah berumur, namun masih kelihatan cekatan dalam mengendalikan empat ekor kuda yang menarik pedati ini.

Para pengawal dibagi menjadi dua bagian. Sepuluh orang berkuda di depan, dan sepuluh orang lagi berkuda di belakang pedati. Mereka bergerak hati-hati sekali, karena jalan yang dilalui cukup licin dan sempit. Di sebelah kanan, terdapai jurang yang menganga. Sedangkan di sebelah kiri, dinding bukit yang sangat terjal dan tinggi. Apalagi, jalan yang dilalui ini masih kelihatan cukup jauh. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berbicara. Mereka seperti harus memusatkan seluruh perhatian pada jalan yang dilalui. Sedikit saja tergelincir, jurang yang menganga sudah menanti.

Namun kenyataannya, jalan seperti itu tidak terlalu panjang. Belum juga matahari benar-benar tenggelam di balik peraduannya, jalan yang cukup berbahaya itu sudah terlewati. Dan kini rombongan berkuda itu memasuki tepian sebuah hutan yang tampaknya tidak begitu lebat. Bahkan terlihat banyak pohon yang sudah ditebang. Salah seorang penunggang kuda yang paling depan mengangkat tangannya ke atas kepala, maka rombongan berkuda itu langsung berhenti.

"Istirahat di sini! Dirikan tenda...!" teriak penunggang kuda yang berada paling depan, memberi perintah.

Mereka semua segera berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing. Tiga orang bergegas menghampiri pedati, dan masuk ke dalamnya. Tidak berapa lama, terlempar beberapa gulungan kain berwarna putih. Kemudian satu orang melompat keluar dari dalam pedati. Sementara yang lain segera mengambil barang-barang yang dilemparkan ke luar dari dalam pedati itu. Tanpa ada yang memerintah lagi, mereka langsung bekerja mendirikan tiga buah tenda berukuran cukup besar ditepian hutan ini.

Sementara, penunggang kuda terdepan yang tampaknya adalah pemimpin rombongan, masih tetap duduk di atas punggung kudanya. Tak lama dia dihampiri oleh laki-laki tua yang menjadi kusir pedati dengan tubuh terbungkuk-bungkuk. Laki-laki tua itu langsung merapatkan kedua telapak tangan di depan dada. Tubuhnya sedikit dibungkukkan setelah berada dekat dengan laki-laki berusia setengah baya yang masih tetap berada di atas punggung kuda putihnya.

"Gusti... Tempat ini kurang baik untuk bermalam, sebab masih berada di wilayah Kerajaan Jenggala," ujar orang tua itu dengan sikap sangat hormat.

"Mereka tidak akan mungkin mengejar sampai sejauh ini, Ki Manik. Kalaupun tetap mengejar, tidak akan sampai ke sini. Dan beberapa orang akan kuperintahkan untuk menjaga ujung jalan itu. Kalau mereka kelihatan, hujani saja dengan anak panah," sahut laki-laki setengah baya yang dipanggil gusti.

"Tapi, Gusti. Bukan hanya itu saja jalan satu-satunya. Mereka bisa memutari bukit di sebelah sana untuk menuju ke sini," sergah orang tua yang dipanggil Ki Manik, sambil menunjuk sebuah bukit yang tidak begitu tinggi.

Namun belum juga ada jawaban, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah jalan yang dilalui tadi. Tak lama, terlihat kepulan debu membubung tinggi ke angkasa. Dan bumi terasa bergetar bagai diguncang gempa.

"Celaka, Gusti Panglima. Mereka benar-benar mengejar...," desis Ki Manik.

"Cepat ambil kuda kalian, dan hadang mereka di ujung jalan...!" seru orang berkuda yang dipanggil panglima ini.

Dan memang, laki-laki setengah baya itu adalah seorang panglima. Walaupun sekarang tidak mengenakan baju panglima perang. Di Kerajaan Jenggala, dia dikenal sebagai Panglima Gagak Sewu. Sementara itu mereka yang tengah bekerja mendirikan tenda, bergegas berlompatan ke kuda masing-masing.

Lima orang di antaranya langsung menyambar busur dan beberapa kantung anak panah. Tanpa diperintah dua kali, mereka langsung bergerak cepat menggebah kudanya ke jalan yang dilalui tadi. Sedangkan Panglima Gagak Sewu sudah sejak tadi memacu cepat kudanya sambil menyambar sebuah busur dan sekantung anak panah.

"Hup!"

Dengan gerakan ringan dan tangkas sekali, panglima berusia setengah baya itu melompat turun dari punggung kudanya, tepat di ujung jalan yang diapit jurang dan bukit batu. Sementara di depan sana, tampak berpacu puluhan orang berkuda yang berpakaian seragam prajurit. Batu-batu jalan itu langsung berguguran tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat.

Panglima Gagak Sewu berdiri tegak di tengah ujung jalan ini. Busurnya sudah terentang, siap melepaskan anak panah. Saat itu, lima orang yang juga membawa panah sudah siap di sampingnya. Mereka menanti sampai para prajurit itu dekat.

"Serbuuu...!" teriak Panglima Gagak Sewu lantang menggelegar.

Seketika itu juga, anak anak panah berhamburan cepat sekali, begitu orang-orang berkuda itu mulai dekat. Dan seketika itu juga, terdengar jeritan-jeritan panjang dan melengking tinggi, disertai ringkikan kuda. Tampak para prajurit yang berkuda paling depan terjungkal ambruk ke tanah tertembus anak panah. Panglima Gagak Sewu dan lima orang lainnya terus menghujani panah ke arah para prajurit yang baru datang. Jeritan-jeritan menyayat melengking tinggi pun terus terdengar semakin sering dan saling susul.

Tubuh-tubuh berpakaian seragam prajurit terus bergelimpangan di antara kuda-kuda yang mulai sulit dikendalikan lagi. Bahkan tidak sedikit yang terlempar masuk ke dalam jurang. Sementara, Panglima Gagak Sewu terus berteriak memberi perintah untuk terus memanah. Memang hebat serangannya. Hanya dia dan lima orang pengikutnya, sudah mampu menghambat arus prajurit prajurit berkuda itu.

"Munduuur..!"

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras menggelegar. Maka prajurit-prajurit berkuda itu segera memutar, lalu memacu cepat kudanya menjauhi ujung jalan. Melihat hal ini Panglima Gagak Sewu segera mengangkat tangannya ke atas kepala..Maka, lima orang pengikutnya segera menghentikan serangan panahnya. Sementara, prajurit-prajurit berkuda itu terus bergerak semakin menjauh, hingga akhirnya lenyap tak terlihat lagi.

"Kalian tetap di sini. Jaga jangan sampai ada seorang pun yang lolos," kata Panglima Gagak Sewu.

"Baik, Gusti," sahut lima orang yang kelihatannya masih berusia muda itu, serentak.

Panglima Gagak Sewu kembali naik ke punggung kudanya, dan cepat berpacu kembali ke perkemahan. Begitu sampai di depan sebuah tenda yang paling besar, panglima itu langsung melompat turun dari kudanya. Tampak Ki Manik yang diapit dua orang prajurit sudah menunggu di depan tenda. Laki-laki tua yang berbaju jubah panjang warna putih itu bergegas menghampiri.

"Bagaimana keadaan Gusti Putri, Ki Manik?" tanya Panglima Gagak Sewu langsung.

"Sudah mulai membaik, Gusti Panglima," sahut Ki Manik dengan sikap hormat.

"Lukanya...?"

"Tidak mengkhawatirkan lagi. Emban Girika sudah membalut lukanya dengan kain. Dan darahnya juga sudah tidak keluar lagi. Tapi, keadaannya masih lemas. Hhh..., kasihan Gusti Putri. Mengapa dia harus menderita begitu...?" desah Ki Manik.

"Inilah kehidupan, Ki. Kita semua tidak akan menyangka bakal seperti ini jadinya," Panglima Gagak Sewu juga mendesah, seraya menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas rerumputan.

Ki Manik juga ikut duduk bersila di depan panglima yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun ini. Sesaat mereka terdiam membisu.

"Aku heran, Ki. Kita semua sudah menyamar, dan tidak ada yang berseragam prajurit lagi. Tapi, masih saja bisa dikenali? Bahkan mereka terus mengejar. Jadi, bagaimana mereka bisa tahu, Ki...?" tanya Panglima Gagak Sewu seperti bicara pada diri sendiri.

"Sudah barang tentu mereka akan terus mengejar, Gusti. Mereka sudah pasti tahu tujuan kita. Dan ini yang kukhawatirkan, Gusti "

"Apa yang kau cemaskan. Ki?"

"Karena tujuan kita sudah diketahui, aku khawatir mereka mengambil jalan lain dan mencegat di depan. Kalau sudah begitu, rasanya dua puluh orang prajurit tidak akan mampu menghadapi lagi. Kita sudah terlalu banyak kehilangan prajurit, Gusti Panglima."

"Yaaah... Memang tinggal hanya dua puluh orang prajuritku yang masih hidup. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja, Ki. Gusti Putri Arum Winasih akan tetap kubawa sampai ke tujuan. Apapun yang terjadi, akan tetap kuhadapi. Nyawaku taruhannya, Ki," tegas Panglima Gagak Sewu.

Kembali mereka terdiam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara dari dalam tenda, keluar seorang wanita bertubuh gemuk terbungkus baju kemben warna biru. Dia langsung berlutut di depan Panglima Gagak Sewu, dengan merapatkan telapak tangan di depan hidung.

"Ada apa, Emban Girika?" tanya Panglima Gagak Sewu langsung.

"Ampun, Gusti Panglima. Gusti Putri memanggil," sahut perempuan gemuk yang dipanggil Emban Girika.

Panglima Gagak Sewu bergegas bangkit berdiri. Langsung kakinya melangkah cepat mendekati tenda yang berdiri paling besar, di antara tiga tenda yang lain. Segera dibukanya penutup tenda itu, dan masuk ke dalam. Sementara, Ki Manik dan Emban Girika tetap duduk menunggu di luar.

Di dalam tenda yang cukup besar ini. terlihat seorang wanita muda dan cantik. Tapi wajahnya kelihatan pucat, tengah berbaring beralaskan beberapa lembar kain dan kulit yang lembut. Kepalanya dipalingkan sedikit, begitu Panglima Gagak Sewu masuk. Panglima Gagak Sewu bergegas mendekati, saat tangan gadis cantik itu bergerak lemah memanggilnya.

"Ada apa, Gusti Putri?" tanya Panglima Gagak Sewu setelah duduk dekat di samping gadis ini.

揚aman, berapa jauh lagi perjalanan ini?" tanya Putri Arum Winasih dengan suara terdengar sangat lemah.

"Tidak jauh lagi, Gusti Putri. Tinggal setengah hari saja. Besok pagi, kita lanjutkan perjalanan ini," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Paman, kudengar mereka terus mengejar. Benar...?"

"Benar, Gusti Putri. Tapi, mereka sudah dihalau di ujung jalan dekat jurang. Dan kini, lima orang prajurit sudah menjaga di sana. Jadi tidak mungkin mereka bisa sampai ke sini, Gusti. Tempat ini sangat terlindung, dan sulit dijangkau. Lagi pula, perbatasan tidak jauh lagi. Besok, pasti kita semua sudah aman, berada di luar Kerajaan Jenggala."

"Aku menjadi bebanmu saja, Paman."

"Ah.... Jangan berkata begitu, Gusti Putri. Semua yang hamba lakukan hanya sekadar pengabdian."

"Mereka hanya menginginkan aku, Paman. Kalau aku menyerahkan diri, kau dan yang lain bisa bebas pergi. Sebaiknya, tinggalkan saja aku di sini, Paman," kata Putri Arum Winasih lirih.

"Apa pun yang terjadi, hamba tetap akan melindungi Gusti Putri. Ah... sudahlah, Gusti Putri. Jangan terlalu banyak bicara dulu. Hamba akan keluar mengatur penjagaan," kata Panglima Gagak Sewu.

Setelah memberi hormat, Panglima Gagak Sewu keluar dari dalam tenda ini. Sementara, Putri Arum Winasih tetap berbaring dengan tubuh lemah. Dan tidak lama Panglima Gagak Sewu keluar, Emban Girika masuk ke dalam tenda ini, dan segera duduk di samping gadis itu.

********************

Semalaman penuh Panglima Gagak Sewu tidak memicingkan matanya sekejap pun. Dia terus berjaga-jaga bersama dua puluh orang prajuritnya. Dan pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan diri, mereka sudah berangkat meninggalkan tepian hutan ini. Mereka kini harus menerobos masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat. Panglima Gagak Sewu yang berkuda paling depan sesekali berpaling ke belakang.

Kenyataannya, hutan yang dilalui memang tidak terlalu luas. Hingga ketika matahari berada di atas kepala, mereka sudah berada di tepi hutan. Panglima Gagak Sewu mengangkat tangan kanannya ke atas kepala, maka rombongan itu berhenti. Kini di depan mereka tampak berdiri sebuah bangunan batu berbentuk sebuah puri kecil. Inilah yang menandakan perbatasan Kerajaan Jenggala dengan Kerajaan Karang Setra. Setelah memasuki perbatasan itu, mereka berada di dalam Kerajaan Karang Setra.

Panglima Gagak Sewu memutar kudanya, lalu menghampiri pedati yang dikendalikan Ki Manik. Disibakkannya tirai kain penutup pedati itu. Tampak Putri Arum Winasih terbaring ditunggui Emban Girika.

"Gusti Putri, perbatasan sudah terlihat. Tidak lama lagi, kita berada di wilayah Kerajaan Karang Setra. Mereka pasti tidak akan mungkin mengejar sampai ke Karang Setra," lapor Panglima Gagak Sewu.

Putri Arum Winasih tersenyum saja. Meskipun wajahnya kelihatan pucat, tapi sinar matanya memancarkan kegembiraan mendengar laporan panglimanya.

"Teruskan, Paman. Langsung saja ke istana. Kita harus segera menemui Kakang Prabu Rangga di Karang Setra," ujar Putri Arum Winasih.

"Baik, Gusti Putri."

Setelah memberi hormat, Panglima Gagak Sewu bergegas ke depan lagi. Segera diberinya isyarat tangan kanan untuk terus berjalan. Maka rombongan itu pun kembali bergerak, tidak terlalu tergesa-gesa menuju perbatasan Kerajaan Karang Setra. Namun belum juga sampai di perbatasan, tiba-tiba saja...

"Aaa...!"

"Heh...?! Apa itu...?!" Panglima Gagak Sewu jadi tersentak begitu tiba-tiba terdengar jeritan dari belakang.

Begitu berpaling ke belakang, tampak seorang prajuritnya tersungkur ke tanah, tertancap sebatang anak panah. Dan yang lebih mengagetkan lagi, di belakang sana, dalam jarak jangkauan anak panah, tampak serombongan prajurit berkuda berpacu cepat mengejar rombongan yang dipimpin Panglima Gagak Sewu ini. Satu pasukan prajurit Kerajaan Jenggala yang berjumlah cukup besar!

"Ki Manik! Bawa Gusti Putri ke perbatasan. Aku akan menghadang mereka. Cepat...!" perintah Panglima Gagak Sewu.

"Baik, Gusti Panglima," sahut Ki Manik yang mengendarai pedati "Hiya! Hiyaaa...!"

Ki Manik langsung saja menghentakkan tali kendali, sehingga pedati yang cukup besar ukurannya ini segera berpacu cepat dan berguncang-guncang memperdengarkan suara berderak. Sementara, Panglima Gagak Sewu sudah memutar kudanya untuk kembali ke belakang. Sedangkan lima orang prajurit yang membawa busur dan panah sudah siap menunggu perintah.

"Kalian sepuluh orang, cepat mengawal Gusti Putri!" perintah Panglima Gagak Sewu.

Sepuluh orang yang berada di belakang Panglima Gagak Sewu, segera memutar kudanya dan mengejar pedati yang dipacu cepat menuju perbatasan Karang Setra. Sementara, Panglima Gagak Sewu dan delapan orang prajuritnya tetap berada di punggung kuda menanti prajurit Kerajaan Jenggala yang berjumlah cukup besar. Tampak di depan mereka, seorang prajurit menggeletak tidak bernyawa lagi dengan panah menembus punggungnya.

"Panah...!" seru Panglima Gagak Sewu memberi perintah.

Wus!
Slap!

Lima orang prajurit yang memegang busur langsung melepaskan anak-anak panahnya, begitu prajurit prajurit Kerajaan Jenggala sudah cukup dekat. Panah-panah itu langsung menerjang, menembus prajurit yang berada di depan. Saat itu juga, terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi, disusul ambruknya beberapa prajurit berkuda. Sementara, Panglima Gagak Sewu juga cepat melepaskan anak-anak panahnya, membuat arus para prajurit Jenggala itu jadi terhambat.

"Munduuur...!" teriak Panglima Gagak Sewu memberi perintah lagi.

Semua prajurit yang berada di belakang Panglima Gagak Sewu segera menghentakkan tali kekang kudanya. Langsung kuda mereka dipacu cepat menyusul pedati yang ditumpangi Putri Arum Winasih, tepat di saat para prajurit dari Kerajaan Jenggala sudah memasang panahnya.

"Hiyaaa...!"

Panglima Gagak Sewu cepat-cepat menggebah kudanya, begitu melepaskan anak panahnya yang terakhir. Sementara di belakang dengan jarak beberapa tombak, para prajurit Kerajaan Jenggala langsung menggebah cepat kudanya. Bahkan beberapa prajurit melepaskan panahnya. Panglima Gagak Sewu cepat-cepat merunduk, hingga dua batang anak panah lewat di atas kepalanya. Tapi...

Jleb!
"Aaakh...!"

Satu orang prajurit yang berada di samping Panglima Gagak Sewu tiba-tiba menjerit, begitu sebatang anak panah menembus punggungnya. Dan keseimbangan tubuhnya tidak bisa lagi dikendalikan. Seketika itu juga dia jatuh terbanting dari kudanya. Tubuhnya bergelimpangan beberapa kali, lalu mengejang kaku dan diam tak bernyawa lagi.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Panglima Gagak Sewu terus cepat menggebah kudanya. Sementara, tampak pedati dan sepuluh orang prajuritnya sudah melewati perbatasan yang ditandai oleh sebuah bangunan batu berbentuk sebuah puri yang tidak besar ukurannya. Saat itu, kembali terdengar jeritan panjang yang disusul ambruknya seorang prajurit lagi yang berada di sebelah kanan Panglima Gagak Sewu.

Sudah tiga orang prajurit Panglima Gagak Sewu terjungkal dari kudanya, dengan sebatang anak panah menembus punggung. Sementara perbatasan Karang Setra sudah semakin dekat, tapi prajurit-prajurit Kerajaan Jenggala yang mengejar juga semakin dekat.

"Cepat, Gusti Panglima. Cepat...!" teriak Ki Manik dari atas pedati memberi semangat.

Sementara Panglima Gagak Sewu dan enam orang prajuritnya yang tersisa terus menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan prajurit-prajurit Kerajaan Jenggala juga semakin dekat saja. Namun Panglima Gagak Sewu dan enam orang prajuritnya ternyata berhasil juga melewati gerbang perbatasan.

Mereka segera menghentikan lari kudanya setelah dekat dengan pedati yang dikendalikan Ki Manik. Saat itu juga, para prajurit dari Kerajaan Jenggala menghentikan pengejaran. Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya yang berpakaian panglima, kelihatan kesal melihat buruannya sudah berhasil melewati perbatasan.

"Phuuuh...!" Panglima Gagak Sewu menghembuskan napas panjang.

Panglima setengah baya itu tetap duduk di punggung kudanya, menatap tajam pada panglima dari Kerajaan Jenggala yang juga memandangnya dengan sorot mata memerah tajam.

"Ayo, tinggalkan mereka," ajak Panglima Gagak Sewu.

Kini rombongan yang sudah berkurang empat orang itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan perbatasan dan para prajurit dari Kerajaan Jenggala yang terus memandangi dengan sorot mata kesal. Sementara, Panglima Gagak Sewu memalingkan mukanya sedikit ke belakang. Bibirnya tampak tersenyum, karena sudah berhasil lolos dari kejaran prajurit-prajurit itu. Tapi, hatinya juga belum bisa tenang.

Meskipun sudah berada di wilayah Kerajaan Karang Setra, bukan berarti bahaya sudah lewat begitu saja. Di dalam hatinya, Panglima Gagak Sewu khawatir juga kalau-kalau orang-orang dari Kerajaan Jenggala menyelusup ke Karang Setra dengan cara menyamar untuk mencari mereka. Terutama, Putri Arum Winasih. Mereka tentu tidak akan tinggal diam begitu saja, sebelum bisa melenyapkan putri cantik itu.

"Hhh...!" Panglima Gagak Sewu menghembuskan napas panjang-panjang.

DUA

Tepat di saat matahari hampir tenggelam di ufuk barat, rombongan kecil yang dipimpin Panglima Gagak Sewu tiba di depan bangunan Istana Karang Setra. Sebuah bangunan yang sangat megah, tapi kelihatan begitu terbuka, hingga bentuk istana itu terlihat jelas dari jalan yang cukup besar dan selalu ramai ini. Mereka langsung menuju pintu gerbang yang dijaga empat orang prajurit berusia muda bersenjatakan sebatang tombak berukuran dua kali panjang tubuh mereka, masing-masing di tangan kanan.

Seorang prajurit penjaga menghampiri Panglima Gagak Sewu yang masih tetap duduk di punggung kudanya. Panglima berusia setengah baya itu melompat turun, begitu prajurit yang masih berusia muda ini dekat di depannya.

"Siapa kalian? Dan, ada perlu apa datang ke sini?" tanya prajurit itu, ramah.

"Kami dari Kerajaan Jenggala. ingin bertemu Gusti Prabu Rangga," sahut Panglima Gagak Sewu

"Kau seorang utusan?"

Panglima Gagak Sewu tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja.

"Ayo, ikuti aku," ajak prajurit itu.

Panglima Gagak Sewu menuntun kudanya, mengikuti prajurit penjaga itu. Sedangkan yang lain cepat turun dari punggung kudanya. Dan mereka berjalan mengikuti prajurit yang berada paling depan. Sedangkan Ki Manik tetap berada di atas pedatinya, sambil menjalankan perlahan-lahan di belakang yang lain.

"Kalian tetap di sini dulu," ujar Panglima Gagak Sewu setelah sampai di depan tangga masuk ke istana.

Tidak ada yang menjawab. Mereka semua hanya menganggukkan kepala saja. Panglima Gagak Sewu menatap sebentar ke arah pedati, tepat ketika Emban Girika sedikit menjulurkan kepala ke luar. Kemudian, panglima itu melangkah meniti anak-anak tangga mengikuti prajurit penjaga yang terus berjalan di depan.

"Tunggu dulu di sini," kata prajurit itu, setelah tiba di ruangan yang sangat luas dan megah.

Panglima Gagak Sewu hanya mengangguk saja. Sementara prajurit muda itu terus berjalan menyeberangi ruangan ini, dan menghilang di balik pintu yang berukuran sangat besar. Tapi tidak lama dia muncul lagi bersama seorang pemuda tampan, berbaju merah muda dari bahan sutera halus.

"Panglima Gagak Sewu...!" seru pemuda itu begitu melihat Panglima Gagak Sewu.

"Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Danupaksi," ujar Panglima Gagak Sewu seraya tersenyum.

Pemuda tampan itu memang Danupaksi, adik tiri Rangga yang dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti, yang juga raja di Karang Setra ini. Danupaksi bergegas menyongsong Panglima Gagak Sewu. Dan mereka berpelukan dengan hangat, membuat prajurit penjaga yang mengantarkan Panglima Gagak Sewu tadi jadi terlongong bengong tidak mengerti.

"Prajurit, kembali ke tempatmu," perintah Danupaksi.

"Hamba, Gusti," sahut prajurit itu seraya memberi sembah hormat.

"Mari, Paman," ajak Danupaksi ramah.

"Sebentar, Danupaksi," ujar Panglima Gagak Sewu.

"Ada apa?"
"Aku datang tidak sendiri, Danupaksi."
"Oh..."
"Ada Gusti Putri Arum Winasih."
"Oh, ya...?! Kenapa tidak masuk saja?"
"Gusti Putri sedang sakit."
"Oh...?!"

Danupaksi terperanjat bukan main mendengar kedatangan Putri Arum Winasih. Dan lebih terkejut lagi, begitu mendengar Putri Arum Winasih sedang sakit. Bergegas pemuda itu keluar dari ruangan ini, diikuti Panglima Gagak Sewu. Danupaksi jadi tertegun begitu melihat mereka yang datang bersama Panglima Gagak Sewu.

Saat itu juga, Danupaksi baru menyadari kalau Panglima Gagak Sewu tidak mengenakan pakaian seorang panglima, tapi memakai pakaian biasa seperti orang kebanyakan. Dan mereka semua juga tidak mengenakan pakaian prajurit. Tapi yang membuat Danupaksi jadi tertegun, jumlah mereka hanya enam belas orang saja, selain Ki Manik dan Putri Arum Winasih yang berada di atas pedati.

"Paman...," ujar Danupaksi terputus, seraya menatap Panglima Gagak Sewu yang berdiri di sampingnya.

"Nanti akan kujelaskan, Danupaksi. Sekarang tolong beri perawatan dulu pada Gusti Putri," kata Panglima Gagak Sewu cepat-cepat.

Panglima Gagak Sewu memang sudah dikenal baik dalam lingkungan keluarga besar Istana Karang Setra. Bahkan sebenarnya dia sendiri kelahiran Karang Setra. Tapi begitu menginjak remaja, panglima itu pergi ke Kerajaan Jenggala, karena ayahnya memang dari kerajaan itu dan menjadi panglima di sana. Hingga akhirnya, dia menggantikan kedudukan ayahnya, untuk mengabdi di Kerajaan Jenggala. Memang, antara Panglima Gagak Sewu dengan keluarga Istana Karang Setra terjalin persahabatan yang sangat erat. Bahkan antara Kerajaan Karang Setra dengan Kerajaan Jenggala juga menjalin hubungan persahabatan yang erat. Maka tidak heran kalau mereka semua diterima dengan baik.

Tapi yang membuat Danupaksi jadi heran, kedatangan mereka tidak seperti layaknya seorang pembesar kerajaan. Bahkan Putri Arum Winasih sendiri berpakaian tidak sebagaimana layaknya seorang putri raja. Bukan hanya Danupaksi saja yang heran. Cempaka, Ki Lintuk, Paman Wirapati, dan seluruh pembesar Kerajaan Karang Setra juga tidak mengerti melihat keadaan tamu-tamunya ini.

Sementara, Putri Arum Winasih sudah mendapat perawatan dan kamar yang baik. Sedangkan Panglima Gagak Sewu dan semua prajuritnya berkumpul di ruangan Balai Sema Agung, bersama Danupaksi serta seluruh pembesar utama Kerajaan Karang Setra. Saat itu, malam sudah datang menyelimuti seluruh wilayah Kerajaan Karang Setra ini. Dan kegelapan begitu jelas terlihat di luar, dari jendela yang seluruhnya terbuka lebar.

"Aku yakin, kedatangan Paman ke sini bukan karena diutus Prabu Gandaraka," ujar Danupaksi memecah kesunyian di dalam ruangan Balai Sema Agung ini "Ceritakan, Paman. Apa sebenarnya yang terjadi...?"

"Hhh...!"

Panglima Gagak Sewu menghela napas dalam-dalam. Terasa begitu berat tarikan napasnya. Dan raut wajahnya kelihatan berselimut mendung, membuat Danupaksi yang duduk tepat di depannya jadi mengerutkan kening. Adik tiri Raja Karang Setra ini semakin yakin kalau ada sesuatu yang telah terjadi di Kerajaan Jenggala, sehingga membuat Putri Arum Winasih, Panglima Gagak Sewu, dan beberapa orang prajurit yang datang ke Karang Setra ini berpakaian seperti orang kebanyakan.

"Ceritakan, Paman. Apa yang terjadi...?" desak Danupaksi.

"Aku malu untuk mengatakannya, Danupaksi. Aku merasa seperti tidak ada gunanya lagi...," terdengar lirih sekali suara Panglima Gagak Sewu.

"Kenapa kau berkata begitu, Paman...?"

"Hhh...!"

Entah sudah berapa kali Panglima Gagak Sewu menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, seakan-akan tengah mencari kekuatan untuk mengatakan peristiwa yang telah terjadi di Kerajaan Jenggala.

"Terjadi pemberontakan di Jenggala, Paman...?" tebak Danupaksi, langsung.

"Yaaah.... Telah terjadi pemberontakan di Sana. Dan mereka sekarang berhasil menggulingkan takhta," desah Panglima Gagak Sewu lirih.

Danupaksi menghembuskan napas panjang-panjang. Memang sudah diduga sejak pertama kali Panglima Gagak Sewu datang bersama Putri Arum Winasih dan beberapa orang prajurit berpakaian biasa. Ternyata, dugaannya tepat. Memang tidak mungkin seorang putri raja keluar dari wilayahnya tanpa pengawalan cukup. Terlebih lagi, panglima dan prajurit-prajurit yang mengawalnya tidak berpakaian prajurit yang lengkap.

Kerajaan Jenggala memang bukanlah kerajaan besar. Bahkan tidak memiliki prajurit tangguh. Luas wilayahnya sendiri hanya sepertiga dari luas wilayah Kerajaan Karang Setra. Tak heran kalau pertahanannya sangat rapuh, hingga mudah diserang musuh. Dari beberapa panglima yang ada di Kerajaan Jenggala, Danupaksi tahu kalau hanya Panglima Gagak Sewu saja yang memiliki kepandaian tinggi. Sedangkan yang lain, bisa disamakan dengan para punggawa di Karang Setra ini.

"Paman, kapan itu terjadi?" tanya Danupaksi setelah terdiam beberapa saat.

"Lima hari yang lalu," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Lalu, bagaimana keadaan Gusti Prabu Gandaraka?" tanya Danupaksi lagi.

"Aku tidak tahu, bagaimana keadaannya sekarang. Gusti Prabu Gandaraka memerintahkan aku untuk menyelamatkan Gusti Putri Arum Winasih. Dan aku hanya bisa membawa tiga puluh prajurit pilihanku. Tapi yaaah..., hanya tinggal mereka saja yang masih hidup. Sebagian prajuritku telah gugur menghadang pengejaran prajurit-prajurit yang memberontak," pelan sekali suara Panglima Gagak Sewu.

Panglima setengah baya itu memandangi para prajuritnya yang duduk di belakangnya. Sedangkan para pembesar Karang Setra sepertinya tidak ada yang membuka suara. Mereka merasa begitu prihatin atas keadaan yang terjadi di Kerajaan Jenggala.

"Siapa yang mendalangi makar itu, Adi Gagak Sewu?" tanya Ki Lintuk yang sejak tadi diam saja.

"Raden Banyugara," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Siapa...?!"

Danupaksi sampai terlonjak, begitu mendengar dalang pemberontakan di Kerajaan Jenggala. Bahkan semua pembesar Karang Setra yang ada di dalam ruangan ini juga kaget setengah mati. Mereka seperti tidak percaya pada apa yang didengar barusan. Mereka semua tahu, siapa Raden Banyugara itu. Jelas sulit dipercaya kalau yang mendalangi itu justru kakak sepupu Putri Arum Winasih sendiri, yang berarti keponakan Prabu Gandaraka.

Dan mereka semua tahu, bagaimana Raden Banyugara itu. Dia adalah seorang pemuda pendiam dan tidak banyak bicara kalau tidak ditanya. Bahkan banyak yang tahu kalau Raden Banyugara tidak suka mempelajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Yang disukainya adalah menekuni ilmu-ilmu sastra dan ketatanegaraan. Bahkan Raden Banyugara bisa dikatakan sebagai pemuda lemah. Jadi memang sulit bisa dipercaya kalau pemuda yang kelihatan lemah dan tidak memiliki kepandaian ilmu olah kanuragan sedikit pun, bisa memimpin sebuah pemberontakan.

"Raden Banyugara.... Kenapa hal itu dilakukannya...? Apa yang diinginkannya dari pemberontakan...?" desah Paman Wirapati, seperti bicara pada diri sendiri.

"Kenapa dia melakukan pemberontakan itu, Adi Gagak Sewu?" tanya Ki Lintuk setelah hilang rasa keterkejutannya.

"Inilah yang membuatku tidak mengerti, Kakang Lintuk, Waktu itu sedikit pun tidak ada tanda-tanda akan terjadi pemberontakan. Semua itu terjadi tiba-tiba saja. Dan yang lebih mengherankan lagi, sebagian besar prajurit dan seluruh panglima memihak padanya. Hanya sedikit saja prajurit yang setia pada Gusti Prabu Gandaraka. Bahkan sebagian besar prajuritku sendiri, ikut bergabung dengan mereka. Aku benar-benar tidak tahu, mengapa semua itu dilakukan...," sahut Panglima Gagak Sewu masih terdengar pelan suaranya.

Dan mereka semua terdiam, tanpa ada yang bicara sedikit pun juga. Hingga keadaan begitu sunyi, sampai-sampai suara tarikan napas dan detak jantung hampir terdengar.

"Danupaksi! Kedatanganku ke sini bukannya hendak meminta bantuan prajurit, tapi hanya ingin agar Gusti Putri Arum Winasih mendapatkan perlindungan. Aku merasa, hanya di sinilah tempat yang aman bagi Gusti Putri. Aku mohon pada kalian semua, sampai aku dapat mengumpulkan kembali kekuatan dan merebut lagi takhta yang sudah terguling," kata Panglima Gagak Sewu, setelah cukup lama berdiam diri.

"Karang Setra selalu terbuka untuk para sahabat, Paman Gagak Sewu," sambut Danupaksi, sambil merentangkan tangannya.

"Terima kasih," ucap Panglima Gagak Sewu, merasa lega.

Danupaksi memberi senyuman persahabatan yang manis sekali.

"Tapi sayang...." desah Panglima Gagak Sewu.

"Ada apa, Paman?" tanya Danupaksi.

"Aku tidak bisa bertemu langsung dengan Gusti Prabu Rangga."

"Aku sudah memerintahkan Paman Wirapati agar menyebar telik sandi untuk mencari Kakang Rangga. Aku yakin, tidak lama lagi Kakang Rangga pasti datang," jelas Danupaksi.

"Ah! Semoga saja cepat datangnya," harap Panglima Gagak Sewu.

"Memang sudah terlalu lama Kakang Rangga dan Kak Pandan meninggalkan istana. Aku merasa, mereka tidak lama lagi datang ke sini," ujar Danupaksi, bernada menghibur.

Panglima Gagak Sewu hanya tersenyum saja. Dia tahu, Danupaksi hanya memberi ketenangan pada hatinya saja. Masalahnya, Rangga yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti dan sekaligus Raja Karang Setra sering bepergian meninggalkan istananya. Dan memang sudah pasti, sebagai seorang pendekar kelana, dia tidak akan mungkin bisa hidup di dalam lingkungan istana.

Hanya sesekali saja Rangga berada di istana ini. Itu pun tidak bertahan lama. Paling lama hanya lima hari. Dan seterusnya, Pendekar Rajawali Sakti akan mengembara lagi. Akan dijelajahinya alam yang luas dan ganas ini, untuk mengabdikan diri sebagai pendekar penegak keadilan.

********************

Tiga hari sudah Panglima Gagak Sewu, Putri Arum Winasih, dan beberapa prajurit berada di Istana Karang Setra. Kesehatan Putri Arum Winasih juga semakin membaik. Untung saja panah yang menembus punggungnya tidak begitu dalam, hingga tidak sampai membahayakannya.

Cempaka yang selalu menjenguk Putri Arum Winasih setiap saat, sore ini juga sudah berada di dalam kamar tamu Kerajaan Karang Setra itu. Kelihatan cantik sekali Putri Arum Winasih sore ini. Pipinya sudah kelihatan memerah. Dan matanya juga sudah kelihatan cerah, bagai telaga bertaburkan butir-butir mutiara. Putri Arum Winasih menyambut kedatangan Cempaka dengan senyum tersungging di bibir. Begitu manis senyumnya.

"Kau kelihatan cantik sekali, Putri," puji adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu, tulus.

"Ah! Jangan memanggilku begitu, Kak Cempaka. Aku lebih muda darimu. Panggil saja aku Arum," pinta Putri Arum Winasih tersipu.

"Tapi, bagaimanapun juga kau tetap seorang putri raja. Jadi tidak pantas kalau aku memanggilmu begitu," balas Cempaka, merasa sungkan.

"Kak Cempaka juga."

"Aku...?"

Cempaka jadi tertawa. Entah kenapa, ucapan Putri Arum Winasih jadi menggelitik hatinya. Tapi tawanya yang merdu itu tidak berlangsung lama. Adik tiri Rangga itu melangkah menghampiri Putri Arum Winasih yang duduk dekat jendela. Diambilnya tempat di samping putri dari Kerajaan Jenggala itu. Pandangannya diarahkan ke depan, merayapi taman belakang istana yang tertata indah. Tampak beberapa gadis bermain-main di dalam taman itu. Begitu riang, seakan tidak ada beban sedikit pun pada diri mereka.

Dan kedua gadis itu jadi terdiam. Sama-sama memandang ke luar, menikmati indahnya suasana senja. Matahari tampak memerah anggun, membias di balik puncak bukit yang melatari istana ini. Angin pun berhembus lembut, menyebarkan udara sejuk, membuat suasana senja semakin bertambah indah.

"Hhh...!" Cempaka menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat.

Putri Arum Winasih berpaling sedikit, melirik adik tiri Pendekar Rajawali Sakti ini. Tapi sebentar kemudian pandangannya sudah diarahkan ke puncak gunung yang mulai diselimuti kabut. Rona merah masih membias begitu indah di sana.

"Indah sekali sore ini. Kau mau berjalan-jalan bersamaku, Arum...?" ujar Cempaka lembut, seraya melirik sedikit pada gadis cantik di sebelahnya.

"Aku menunggu tawaranmu sejak tadi, Kak Cempaka," sambut Putri Arum Winasih tersenyum.

"Kenapa tidak bilang dari tadi...?"

"Aku tidak ingin merepotkanmu, Kak. Kau sudah terlalu repot mengurusku. Aku tidak ingin menambah bebanmu lagi. Tapi, aku senang kalau berjalan-jalan bersamamu. Ada rasa aman...," ujar Putri Arum Winasih.

"Ah, kau...," Cempaka jadi tersipu.

Mereka kemudian melangkah ke luar dari dalam kamar ini, langsung menuju ke taman belakang istana yang megah. Dua orang penjaga pintu taman membungkuk memberi hormat. Dan beberapa gadis yang ada di taman itu segera berlutut, memberi sembah hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

Kedua gadis berparas cantik itu terus saja melangkah perlahan-lahan seakan tidak peduli pada mereka yang ada di sekelilingnya ini. Udara senja yang sejuk ini memang sangat menyegarkan. Tanpa terasa, mereka berjalan sudah cukup jauh ke tengah taman yang luas ini. Kini, tidak terlihat seorang pun lagi di tempat ini. Mereka berhenti di pinggir sebuah kolam yang cukup besar, dengan bunga-bunga teratai bermekaran di tengah-tengah kolam yang berair jernih ini. Kedua gadis itu lalu duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari batu.

"Kalau ingat kejadian yang kualami, rasanya aku ingin belajar ilmu olah kanuragan. Supaya kuat sepertimu, Kak Cempaka," ujar Putri Arum Wina sih.

"Tapi ada ruginya juga, Arum," kata Cempaka.

"Apa ruginya, Kak?"

"Sulit mendapat jodoh."

Kedua gadis itu jadi tertawa renyah. Mereka terus bercengkerama, dan sesekali diseling tawa lepas berderai. Sampai keadaan mulai temaram, mereka masih tetap duduk di bangku taman itu. Entah apa yang dibicarakan. Tapi, tampaknya seringkali terdengar gurauan yang membuat mereka tertawa lepas berderai. Sementara, matahari terus merayap semakin tenggelam ke dalam peraduannya. Kedua gadis itu baru meninggalkan taman ini, setelah keadaan benar-benar gelap.

TIGA

Malam terus merayap semakin larut. Kini kegelapan menyelimuti seluruh wilayah Kerajaan Karang Setra. Namun di dalam kota, tampak begitu gemerlap oleh lampu-lampu yang terpasang di rumah-rumah dan pada hampir seluruh sudut jalan. Orang-orang pun seakan tidak peduli kalau langit sudah menjadi gelap. Mereka masih saja terlihat hilir mudik di jalan-jalan Kotaraja Karang Setra.

Di antara hilir mudiknya orang-orang di jalan ini, tampak dua orang anak muda tengah melangkah tidak tergesa-gesa di pinggiran jalan. Mereka seakan-akan tengah menikmati indahnya Kotaraja Karang Setra. Dan bila dilihat dari pakaian yang rapi dan terbuat dari bahan sutera halus, jelas sekali kalau mereka bukan orang sembarangan. Terlebih lagi, di pinggang masing-masing tersandang sebilah pedang.

"Ramai sekali di sini, Kakang Rasik." ujar salah seorang yang berbaju biru agak ketat, hingga membentuk tubuhnya yang kekar dan berotot. Wajahnya juga sangat tampan, namun sorot matanya terlihat begitu tajam.

"Ya," sahut seorang lagi yang dipanggil Rasik tadi.

Rasik juga bertubuh tegap dan berotot, terbungkus baju merah muda yang juga ketat. Wajahnya pun terlihat tampan, dengan kumis tipis menghiasi bagian atas bibirnya. Selembar kain berwarna putih mengikat kepalanya. Tampak tangan kanannya tidak henti-hentinya memainkan dua buah benda bulat berwarna putih keperakan.

"Sayang, kita punya tugas yang sangat penting di sini," keluh Rasik lagi. "Kau tahu, Wirya. Kabarnya gadis di Karang Setra ini cantik-cantik."

"Masih banyak waktu Kakang. Kenapa tidak mencari hiburan saja dulu...? Urusan tugas, bisa ditunda. Toh, tidak ada yang tahu, Kakang," kata pemuda yang bernama Wirya seraya tersenyum.

"Tugas kita tidak ringan, Wirya."

"Aku tahu, Kakang. Tapi tidak ada salahnya kalau mencari sedikit hiburan. Sayang kalau dilewatkan begitu saja."

Rasik hanya tersenyum saja. Dia tahu, Wirya memang gemar sekali mencari hiburan berupa gadis-gadis cantik. Di dalam hatinya, ada sedikit penyesalan juga memulai bicara tentang gadis-gadis Karang Setra yang kecantikannya memang sudah terkenal. Tapi, mereka juga tahu kalau tidak mudah mencari gadis-gadis penghibur di kota ini. Kalaupun ada, tempatnya sangat tersembunyi dan sulit dicari. Terutama, yang baru datang ke kota ini. Bahkan penduduk kota ini sendiri tidak semuanya yang tahu.

Segala macam hiburan yang menyediakan gadis-gadis penghibur memang dilarang di kota ini. Apalagi ancaman hukumannya sangat berat. Maka tak heran akan kesulitan mencari hiburan yang menyediakan gadis cantik di sini. Tapi memang, kota ini jadi aman. Hingga, hampir tidak terdengar adanya keributan.

"Itu ada kedai, Kakang," tunjuk Wirya.

"Kau sudah lapar?" tanya Rasik.

"Sejak tadi, Kakang."

Rasik kembali tersenyum. Mereka kemudian menuju kedai yang kelihatannya sangat ramai. Seorang laki-laki setengah baya yang merupakan pemilik kedai menyambut mereka dengan senyum ramah tersungging di bibir. Ditunjukkannya sebuah meja dengan dua kursi yang terletak agak ke sudut. Cukup besar juga kedai ini. Dan pengunjungnya juga cukup banyak.

"Mau pesan apa, Den?" tanya pelayan itu ramah.

"Arak dan makanan yang paling enak di sini," sahut Rasik.

"Sebentar, Den," ujar pelayan itu.

Laki-laki setengah baya yang masih kelihatan tegap itu meninggalkan kedua pemuda ini. Sementara, Rasik merayapi keadaan sekelilingnya. Demikian pula Wirya, yang tidak mau ketinggalan. Bibirnya tersenyum-senyum melihat pelayan kedai ini ternyata terdiri dari gadis-gadis muda berparas cantik. Tapi tingkah mereka tidak kelihatan genit dan mengundang dalam melayani pengunjung kedai ini.

Laki-laki setengah baya tadi kini datang lagi bersama dua gadis muda berparas cantik, sambil membawa dua baki berisi dua guci arak dan makanan yang dipesan. Dengan sikap ramah dan senyum manis mereka meletakkan pesanan itu di atas meja. Sementara, Wirya tidak henti-hentinya merayapi salah seorang gadis pelayan yang berada di sebelahnya. Bau harum tubuh gadis itu membuat cuping hidung Wirya jadi kembang-kempis.

"Cantik sekali kau. Siapa namamu...?" tanya Wirya tidak dapat lagi menahan diri.

"Narti, Den," sahut gadis pelayan itu lembut.

"Nama yang cantik. Secantik orangnya," puji Wirya menggoda.

Gadis itu hanya tersenyum tersipu saja. Bergegas ditinggalkannya tempat itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sementara laki-laki setengah baya yang menjadi pemilik kedai ini masih tetap berdiri di dekat meja itu.

"Silakan, Den," ujar laki-laki itu mempersilakan tamunya.

"Terima kasih, Ki," sahut Rasik.

Pemilik kedai itu hendak beranjak pergi, tapi Wirya sudah keburu mencegah dengan mencekal tangannya.

"Ada apa. Den?"

"Apa di sini juga menyediakan penginapan, Ki?" tanya Wirya.

"Raden berdua ini pendatang?" pemilik kedai itu malah balik bertanya.

"Benar, Ki. Kami berdua datang dari jauh," sahut Rasik.

"Kedai ini memang menyediakan tempat untuk menginap, Den. Tapi, tidak terlalu bagus. Dan biasanya, para pendatang seperti Raden berdua ini selalu mencari tempat menginap yang bagus. Kalau mau, Raden bisa ke rumah penginapan yang ada di ujung jalan ini. Di sana tempatnya bagus, Den," tunjuk pemilik kedai itu memberi tahu.

"Ada teman wanita tidak, Ki?" tanya Wirya setengah berbisik.

"Wah, kalau itu tidak tahu, Den. Tapi..."

"Tapi kenapa, Ki?"

"Kalau Raden mau, pemilik rumah penginapan itu bisa mencarikannya. Hanya saja, harus diam-diam. Karena pekerjaan seperti itu sangat dilarang di kota ini, Den. Bahkan hukumannya juga sangat berat kalau ketahuan. Jadi, harus hati-hati saja, Den."

"Terima kasih, Ki," ucap Wirya seraya tersenyum.

"Permisi, Den."

"Ya...."

Laki-laki setengah baya pemilik kedai itu bergegas berlalu dengan tergopoh-gopoh.

"Kau terlalu, Wirya. Seharusnya caranya jangan begitu," tegur Rasik.

"Kepalang basah, Kakang. Kalau tidak begitu, mana bisa kita mencari tahu di kota yang besar begini...," sahut Wirya seenaknya.

"Hhh.... Terserah kau sajalah. Kalau ada apa-apa, tanggung sendiri akibatnya."

"Jangan khawatir, Kakang. Aku sudah banyak tahu tentang keadaan di Karang Setra ini," sahut Wirya, kalem.

Rasik tidak bicara lagi. Dituangnya arak dari dalam kendi ke gelas bambu dan diteguknya hingga tandas tak bersisa dalam sekali tenggak saja. Sementara Wirya sudah mulai menikmati makanannya. Sesekali matanya melirik gadis pelayan yang tadi melayani dan memperkenalkan diri sebagai Narti. Dan rupanya, gadis itu juga sudah beberapa kali melirik Wirya. Hingga satu saat, lirikan mata mereka bertemu. Wirya langsung memberi senyumannya yang teramat manis. Tapi, Narti cepat-cepat menyembunyikan wajahnya, dan berlalu dari ruangan kedai ini. Sementara Wirya hanya dapat tertawa saja di dalam hati, melihat tingkah gadis pelayan yang cukup cantik itu.

********************

Penginapan yang ditunjukkan oleh pemilik kedai itu memang bagus sekali. Tempatnya bersih, dan kamar-kamarnya juga cukup besar. Mereka mendapatkan dua kamar terpisah. Wirya yang sejak di kedai tadi sudah mengincar gadis pelayan yang bernama Narti, segera keluar dari kamarnya, setelah Rasik sudah mendengkur dalam kamarnya sendiri. Bergegas pemuda itu beranjak dari kamarnya, lalu pergi keluar. Dia langsung menuju tempat Narti bekerja menjadi pelayan kedai. Sengaja Wirya menunggu tidak jauh di depan kedai, mengamati keadaan yang semakin sepi.

Hingga menjelang tengah malam, kedai itu baru tutup, setelah semua pengunjungnya pergi. Wirya terus menunggu dengan sabar. Kelopak matanya seperti tak pernah berkedip, mengamati kedai yang semakin gelap. Kini kedai itu hanya diterangi satu pelita saja di beranda depan. Tampak dari samping kedai, serombongan gadis yang bekerja menjadi pelayan di sana meninggalkan tempat pekerjaannya.

"Hm, mana dia...?"

Wirya mengamati satu persatu gadis-gadis yang keluar dari kedai itu, tapi Narti tidak terlihat di antara mereka. Hatinya mulai tidak sabar. Padahal, semua gadis pelayan kedai itu sudah pulang dan tidak kelihatan lagi seorang pun. Saat Wirya mulai tidak sabar, terlihat seorang gadis keluar dari dalam kedai, melalui pintu depan. Sedangkan laki-laki setengah baya pemilik kedai itu tampak mengantarkan sampai ke pintu depan. Entah apa yang mereka percakapkan, karena terlalu jauh bagi Wirya untuk mendengar. Tapi, tidak lama gadis itu melangkah pergi. Sedangkan pemilik kedai itu menutup pintunya. Wirya menunggu dengan sabar di bawah pohon yang cukup gelap. Begitu gadis pelayan kedai yang dikenalinya bernama Narti sudah dekat, barulah dia menampakkan diri.

"Oh...?!"

Narti nampak terkejut, begitu tiba-tiba Wirya muncul tepat di depannya. Tapi begitu mengenali wajah Wirya yang tadi makan di kedai, gadis itu langsung memberi senyuman yang manis sekali. Melihat hal ini, jakun Wirya jadi turun naik.

"Malam sekali pulangnya, Narti," tegur Wirya dibuat lembut suaranya.

"Ah! Sudah biasa pulang tengah malam, Den," sahut Narti seraya menunduk.

"Jangan panggil aku raden. Panggil saja Kang Wirya," kata Wirya meminta.

Narti hanya tersenyum tersipu saja.

"Mau pulang?" tanya Wirya berbasa-basi.

"Iya."

"Boleh kuantar?" Wirya langsung menawarkan.

"Ah, jangan. Nanti merepotkan saja"

"Tidak. Aku senang bisa berkenalan denganmu, Narti. Bolehkah kuantar...?"

Narti hanya mengangguk sedikit saja. Dan mereka kemudian mulai melangkah menyusuri jalan yang sudah sunyi. Tidak terlihat seorang pun di jalan ini. Mereka terus berjalan sambil berbicara ringan. Tanpa terasa, mereka sudah berjalan cukup jauh. Dan kini depan Istana Karang Setra yang megah dan terang benderang oleh cahaya lampu sudah terlewati.

Terlihat enam orang prajurit menjaga pintu gerbang istana yang tertutup rapat itu. Wirya menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu gerbang istana. Matanya terus memandang ke arah istana yang berdiri megah dan terlihat jelas dari jalan ini. Narti juga ikut berhenti. Sekilas dipandangnya wajah Wirya yang kelihatan begitu seksama memandangi bangunan istana yang megah itu.

"Ada apa, Kakang? Kenapa memandangi istana?" tegur Narti.

"Ah, tidak...," sahut Wirya buru-buru, dan terus melangkah lagi.

Narti mengikuti di samping kanan pemuda ini. Mereka terus berjalan semakin jauh, menuju arah barat. Sementara dua kali Wirya berpaling ke belakang, memandang enam prajurit yang menjaga pintu gerbang istana itu. Sedangkan Narti sempat memperhatikan dengan kelopak mata agak menyipit.

"Kau mengagumi keindahan Istana itu, Kakang?" tegur Narti lagi.

"Ya," hanya desahan saja yang keluar dari bibir Wirya.

"Memang semua pendatang selalu mengagumi keindahan istana. Aku juga selalu kagum melihatnya. Sering kubayangkan, bagaimana seandainya masuk dan tinggal di dalam istana beberapa hari. Pasti lebih enak tinggal di istana ya, Kakang...?" ujar Narti seperti bicara pada diri sendiri.

"Tapi lebih enak hidup bebas tanpa harus dikekang oleh segala macam aturan dan dikelilingi pengawal, Narti," kata Wirya.

"Mungkin juga begitu, Kakang. Lihat saja Gusti Prabu Rangga. Sehari-harinya, beliau selalu mengembara bersama Gusti Ayu Pandan Wangi. Mereka jarang berada di istana. Dan yang menjadi kepala pemerintahannya saja, adik tirinya. Namanya Raden Danupaksi."

"Hm...," Wirya hanya menggumam perlahan saja.

"Kata orang, Gusti Prabu Rangga adalah seorang pendekar yang sangat sakti, Kakang. Makanya sering bepergian jauh. Sekarang saja, beliau tidak sedang berada di istana. Padahal, sekarang ini ada tamu penting dari kerajaan lain," tutur Narti, tanpa diminta.

"Tamu penting...?"

"lya, itu juga kata orang. Tapi, aku hanya mendengar saja, Kakang. Kalau siang hari. banyak prajurit yang makan di kedai. Mereka sering bercerita tentang keadaan di dalam istana. Prajurit-prajurit itu yang bercerita, kalau sekarang ada tamu penting di istana. Tapi, sekarang ini Gusti Prabu Rangga sendiri tidak ada. Maka pihak kerajaan segera mengirimkan utusan untuk memberi tahu Gusti Prabu."

"Kau tahu siapa tamunya?" tanya Wirya.

"Kalau tidak salah, Putri Arum Winasih dari Kerajaan Jenggala, Kakang. Kau tahu, di mana Kerajaan Jenggala...?"

Wirya hanya diam saja.

"Tidak jauh, Kakang. Hanya melewati Hutan Rangkas saja. Kalau dari sini, hanya tiga hari perjalanan saja."

Wirya hanya tetap diam. Sementara, mereka terus berjalan menyusuri jalan yang cukup besar membelah kota ini. Sedangkan Narti tidak bicara lagi. Dan kini, mereka berhenti setelah di ujung jalan, tepat di depan sebuah rumah penginapan. Di rumah penginapan itulah Wirya malam ini tinggal. Ditatapnya ke arah sebuah jendela yang tertutup rapat. Dan di balik jendela itu, adalah kamar yang ditempati Rasik.

"Aku menginap di sini," kata Wirya. "Mau mampir dulu...?"

"Sudah malam, Kakang."
"Sebentar saja."
Narti kelihatan ragu-ragu.
"Kau takut...?"

Narti diam saja, masih kelihatan ragu-ragu. Sementara Wirya sudah mulai kelihatan tidak sabar. Diambilnya tangan gadis itu dan digenggamnya dengan hangat. Narti mengangkat kepalanya sedikit, hingga pandangannya langsung bertemu pandangan mata pemuda itu.

"Mampir dulu, ya...."

Narti tidak bisa menjawab. Entah kenapa, dia menurut saja saat Wirya membimbingnya memasuki halaman rumah penginapan itu. Seorang laki-laki tua yang menjaga rumah penginapan hanya melirik sedikit saja. Dia kelihatan tidak peduli, dan terus merebahkan kepalanya di atas meja.

"Nah, ini kamarku," tunjuk Wirya sambil membuka pintu kamar yang disewanya.

Narti hanya diam saja diambang pintu. Dipandanginya bagian dalam kamar yang cukup luas dan indah ini. Seperti tidak sadar, gadis itu melangkah masuk. Wirya hanya tersenyum-senyum saja mengikuti dari belakang. Tapi, bola matanya terus berputar liar memandangi bentuk tubuh yang ramping dan indah ini.

Narti memang gadis cantik, walaupun hanya seorang pelayan di rumah makan. Kulitnya putih dan halus. Bentuk tubuhnya begitu indah dan ramping. Rambutnya juga hitam bergelombang, berkilatan tertimpa cahaya lampu pelita yang tergantung di tengah tengah ruangan kamar sewaan ini. Sementara, diam-diam Wirya menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Sedangkan Narti seperti masih terpesona melihat keadaan kamar ini, seakan-akan baru pertama kali melihat kamar yang begitu indah.

"Kau suka di sini, Narti...?" ujar Wirya lembut, masih berdiri di belakang gadis itu.

Perlahan Narti memutar tubuhnya, hingga berhadapan langsung dengan pemuda ini. Kepalanya jadi tertunduk begitu melihat senyuman lebar terkembang di bibir Wirya. Lalu tubuhnya diputar sedikit ke kanan, dan melangkah menghampiri pembaringan yang berukuran cukup besar beralaskan kain sutera halus berwarna merah muda. Perlahan-lahan gadis itu duduk di tepi pembaringan ini.

"Tentu mahal sekali sewanya, Kakang," kata Narti perlahan.

"Ah, tidak...," sahut Wirya seraya menghampiri.

Wirya kemudian duduk di sebelah gadis ini. Begitu dekat, hingga bau harum gadis itu tercium hidungnya. Perlahan Wirya mengambil tangan gadis itu, dan menggenggamnya erat-erat. Lalu, sebelah tangan lagi melingkar di pundak yang ramping ini. Sedangkan Narti hanya diam saja dengan kepala tertunduk.

"Kau suka kamar ini, Narti?" lembut sekali suara itu terdengar di telinga Narti.

Narti hanya diam saja, dan masih menundukkan kepalanya.

"Kalau suka, kau boleh tidur di sini malam ini," kata Wirya lagi.

Narti mengangkat kepalanya perlahan, dan langsung menatap bola mata pemuda itu. Dan ketika Wirya membalasnya dengan lembut, disertai senyum yang terus terkembang manis di bibirnya. Beberapa saat mereka saling berpandangan.

"Kau cantik sekali, Narti...."

Wirya mulai melancarkan rayuannya. Sedangkan Narti hanya diam saja. Bahkan masih tetap diam, saat Wirya mulai mendekatkan wajahnya. Dan begitu dekat, hingga dengus napas mereka terasa begitu hangat menerpa kulit wajah masing-masing. Tampak belahan bibir Narti yang merah mulai bergetar saat Wirya mendekatkan bibirnya.

"Hp."
"Hm..."

Saat itu juga, bibir mereka sudah menyatu rapat. Wirya mengulum dan melumatnya dengan gairah menggelora dalam dada. Kedua tangannya sudah melingkar, memeluk tubuh ramping ini erat-erat. Sementara Narti seperti pasrah, tidak bergeming sedikit pun. Bahkan tangannya juga dilingkarkan ke leher pemuda ini, membuat gairah Wirya semakin menggelora saja.

"Ahhh...."

Narti mendesah lirih, saat Wirya melepaskan pagutannya. Dan perlahan-lahan, gadis ini direbahkan di pembaringan. Dipandanginya wajah Narti yang cantik, dengan belahan pipi yang kemerahan seperti bayi. Narti memalingkan wajahnya, seakan tidak sanggup membalas tatapan lembut penuh gairah mata pemuda ini.

"Hpsss..."

Narti mulai merintih dan menggelinjang, saat jari-jari tangan Wirya menjelajahi tubuhnya dan menyelinap ke dalam pakaiannya. Kedua bola mata gadis itu terpejam sambil menggigit-gigit bibirnya sendiri. Sementara, Wirya semakin menggelegak gairahnya. Dengus napasnya mulai terdengar memburu. Gerakan tangannya yang cepat, mulai melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan gadis ini.

"Oh..."

Dan malam terus berlalu, berpacu dengan dengus napas dua insan dalam gejolak birahi. Malam yang seharusnya dingin, justru semakin panas di kamar ini. Seekor cicak remaja tampak malu-malu mengintip dua manusia berlainan jenis tengah bergumul di tengah gelombang asmara dari balik sebuah cermin di dinding.

********************

EMPAT

Pagi-pagi sekali Wirya dan Rasik meninggalkan rumah penginapan. Mereka keluar sebelum matahari benar-benar penuh menampakkan diri. Hanya rona merah saja yang masih terlihat menyemburat di kaki langit sebelah timur. Langkah mereka terlihat cepat, meninggalkan penginapan itu menuju tengah Kotaraja Karang Setra. Dan mereka baru berhenti setelah berada tidak jauh di bagian samping sebelah barat Istana Karang Setra.

"Aku rasa bukan sekarang saatnya yang tepat, Wirya. Kau lihat. Penjagaan begitu ketat. Rasanya sukar bagi kita untuk menembus langsung ke dalam. Apalagi, siang hari begini," kata Rasik tanpa berpaling sedikit pun.

"Tapi aku tahu, Putri Arum Winasih ada di dalam sana, Kakang," kata Wirya pasti.

"Bagaimana kau bisa yakin, Wirya? Sedangkan kita hanya menduga-duga saja," kata Rasik.

Wirya tidak menjawab, tapi malah tersenyum-senyum saja. Tanpa disadari, Rasik memperhatikannya dengan kelopak mata agak menyipit. Dan Wirya baru tahu kalau sedang diperhatikan setelah berpaling.

"Aku mendapat keterangan penting semalam," kata Wirya memberi tahu.

"Dari mana?" tanya Rasik.

"Kau tidak perlu tahu, dari mana aku memperoleh keterangan kalau Putri Arum Winasih ada di istana ini. Juga, jangan tanya bagaimana caranya mendapatkan keterangan itu, Kakang," sahut Wirya sombong.

"Wanita...?" tebak Rasik langsung.

Wirya hanya tersenyum saja. Memang, Rasik sudah tahu betul watak temannya ini. Rasanya tidak ada waktu terbuang sedikit pun bagi Wirya, untuk mendapatkan perempuan-perempuan yang bisa diajak tidur. Memang, Wirya memiliki wajah tampan dan tubuh tegap. Dan suaranya juga sangat lembut. Tak heran kalau wanita yang kenal dengannya, tidak akan sanggup menolak. Seperti tidak sadar, tubuhnya akan direngkuh ke dalam pelukan Wirya di atas ranjang.

Keahlian Wirya yang satu ini memang tidak dapat diikuti Rasik. Meskipun juga berwajah tampan dan bertubuh tegap berotot, tapi Rasik tidak pandai merayu wanita. Apalagi, sampai mengajaknya ke atas ranjang. Dan keahlian Wirya yang satu ini memang seringkali sangat bermanfaat untuk mendapatkan keterangan yang diperlukan. Seperti sekarang ini, mudah sekali Wirya sudah tahu kalau Putri Arum Winasih berada di dalam Istana Karang Setra. Padahal, kemarin mereka baru memperkirakan saja. Walaupun, dalam hati sudah yakin kalau Putri Arum Winasih pasti berada di dalam istana bersama Panglima Gagak Sewu dan beberapa prajurit yang berhasil lolos dari kejaran para prajurit Kerajaan Jenggala yang memberontak.

"Ayo ke depan, Wirya," ajak Rasik.

Mereka kemudian melangkah menyusuri benteng istana yang tidak begitu tinggi ini. Meskipun hampir tidak terlihat adanya prajurit penjaga, tapi mereka tetap yakin kalau penjagaan di sekitar istana ini sangat ketat.

"Kakang! Kau tahu, siapa Raja Karang Setra ini...?" tanya Wirya bernada menguji.

"Prabu Rangga Pati Permadi," sahut Rasik tanpa berpaling sedikit pun.

"Kau tahu, siapa dia?"

Rasik hanya menggeleng saja.

"Dia seorang pendekar, Kakang. Dan sering bepergian. Sekarang ini, dia juga tidak ada di istana. Dan yang menggantikan kedudukannya untuk sementara, hanya adik tirinya saja. Jadi, istana ini dalam keadaan kosong, Kakang," jelas Wirya, memberi tahu.

Rasik berpaling menatap temannya ini. Sungguh tidak dimengerti, dari mana Wirya mendapatkan keterangan yang begitu lengkap. Padahal, baru kemarin mereka sampai di Kotaraja Karang Setra ini. Tapi, Wirya seperti sudah berhari-hari berada di sini. Sampai-sampai, keadaan rajanya yang sering bepergian pun diketahuinya.

"Aku bisa mengenalinya kalau dia ada, Kakang. Selain raja, dia juga seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti," kata Wirya memberi tahu lagi.

"Siapa...?!"

"Pendekar Rajawali Sakti."

Rasik begitu terkejut mendengar Raja Karang Setra bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Siapa yang tidak kenal julukan itu...? Semua orang yang pernah berkecimpung dalam rimba persilatan pasti akan mengenal Pendekar Rajawali Sakti. Seorang tokoh muda dalam rimba persilatan yang sukar sekali dicari tandingannya. Bahkan sudah banyak tokoh persilatan berkepandaian tinggi dapat ditaklukkannya, sehingga selalu menyeganinya. Tidak peduli, apakah itu lawan atau kawan.

Dan Rasik benar-benar terkejut, sampai-sampai menghentikan ayunan kakinya. Langsung dipandanginya Wirya dengan sinar mata yang begitu dalam, seakan-akan mencari kebenaran dari ucapan yang mengejutkannya barusan. Sungguh tidak pernah terkira kalau Raja Karang Setra adalah tokoh persilatan kosen yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Rasik kembali mengayunkan kakinya tanpa bicara lagi. Sedangkan Wirya juga terdiam membisu.

Dan begitu tiba di bagian depan istana, Rasik dan Wirya melihat dua orang penunggang kuda memasuki pintu gerbang. Mereka jadi tertegun, karena kedua penunggang kuda itu berpakaian biasa saja, seperti layaknya para pendekar yang berkelana di dalam rimba persilatan. Tapi, enam orang prajurit yang menjaga pintu gerbang istana itu kelihatan memberi penghormatan dengan membungkuk dan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

Seorang pemuda yang menunggang kuda hitam melompat turun begitu melewati pintu gerbang yang dibuka lebar. Dan satu penunggang kuda lainnya adalah seorang gadis cantik berbaju biru. Dia juga melompat turun dari punggung kudanya. Tampak dua orang laki-laki setengah baya menghampiri dengan langkah bergegas. Mereka segera memberi penghormatan, lalu mengambil kuda-kuda itu dan membawanya pergi ke bagian belakang.

Sementara, sepasang anak muda yang berpakaian seperti layaknya seorang pendekar itu melangkah menuju tangga istana. Saat itu, pintu gerbang tertutup. Sementara, Rasik dan Wirya terus memandangi sampai pintu gerbang tertutup rapat. Mereka berpandangan beberapa saat, tapi tidak ada seorang pun yang bersuara.

"Itu tadi Prabu Rangga yang datang, Kakang. Aku tahu, dari pakaian dan pedangnya yang dibawa," jelas Wirya.

"Hm...," Rasik hanya menggumam perlahan saja.

"Ini sudah pasti kesulitan besar, Kakang. Tidak mungkin kita bisa menandinginya," kata Wirya lagi. "Kepandaiannya begitu tinggi. Bahkan Raden Banyugara sendiri belum tentu bisa menandinginya"

"Jangan mengeluh, Wirya. Tugas ini sangat penting. Kalau berhasil, kita akan memperoleh kedudukan yang sangat tinggi di Jenggala," tegas Rasik, mengingatkan.

"Aku jadi ragu-ragu, Kakang."

"Kenapa?"

"Prabu Rangga sudah datang. Pasti penjagaan akan semakin diperketat. Dan rasanya, akan sulit untuk bisa melewatinya. Kalaupun bisa, kita harus menghadapi Prabu Rangga sendiri. Itu tidak mungkin, Kakang. Tidak mungkin kita bisa menandingi hanya berdua saja. Kau sudah dengar kehebatannya, kan...?"

Rasik hanya diam saja. Dalam hati, diakui ke benaran kata-kata Wirya tadi. Memang, mereka berdua tidak akan mungkin bisa menandingi kepandaian Pendekar Rajawali Sakti. Apalagi mereka sudah sering mendengar sepak terjang pendekar muda yang juga jadi raja di Kerajaan Karang Setra ini.

"Ayo kembali ke penginapan. Kita pikirkan nanti di sana," ajak Rasik.

Wirya hanya mengangkat bahunya sedikit saja. Sementara itu di dalam istana, semua orang tampak gembira menyambut kedatangan Rangga dan Pandan Wangi. Entah sudah berapa lama mereka meninggalkan istana ini untuk mengembara, menjelajahi ganasnya kehidupan di luar. Kegembiraan ini, terutama sekali terlihat pada Cempaka. Gadis itu seakan tidak mau lepas dari Pendekar Rajawali Sakti, dan terus menggayuti lengan sampai berada di depan pintu kamar peristirahatan Raja Karang Setra.

"Boleh aku masuk bersamamu, Kakang...?" pinta Cempaka manja.

"Kenapa tidak? Kau toh sering masuk ke sini," kata Rangga tidak keberatan.

Mereka kemudian masuk ke dalam kamar itu. Rangga membiarkan saja pintu kamar terbuka lebar yang ditunggui oleh dua orang prajurit saja. Mereka kemudian duduk di kursi panjang dekat jendela. Rangga melepaskan pedang pusakanya, dan menaruhnya di atas meja kecil dekat kursi panjang yang didudukinya. Sementara Cempaka terus memandangi, seakan begitu rindu sekali pada kakak tirinya.

"Kakang lewat Jenggala, tidak?" tanya Cempaka langsung.

"Tidak. Aku langsung ke sini setelah bertemu seorang utusan yang dikirim Danupaksi," sahut Rangga.

"Kasihan Putri Arum, Kakang. Sampai sekarang, dia tidak tahu bagaimana nasib ayahnya," kata Cempaka lagi, dengan nada suara terdengar memelas.

"Utusan itu sudah bercerita banyak padaku. Tadi Danupaksi juga sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi, aku ingin mendengar sendiri dari Putri Arum dan Paman Panglima Gagak Sewu," kata Rangga.

"Mereka masih ada di sini, Kakang," kata Cempaka memberi tahu.

Rangga hanya tersenyum saja. Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti sudah tahu kalau Putri Arum Winasih dan Panglima Gagak Sewu serta beberapa orang prajuritnya berada di istana ini, karena memang sudah diberi tahu Danupaksi. Memang tak mungkin kalau Danupaksi sampai mengirim utusan ke segala penjuru untuk mencarinya, jika tidak ada keperluan yang sangat penting dan mendesak.

"Kita harus menolongnya, Kakang," kata Cempaka lagi.

"Tentu. Tapi, tidak dengan mengerahkan prajurit untuk memerangi pemberontak itu," sahut Rangga tegas.

"Tapi semua prajurit Jenggala berpihak pada Raden Banyugara, Kakang."

"Aku tahu, Cempaka. Tapi semuanya perlu dipikirkan masak-masak. Aku rasa, ini persoalan kecil. Dan kita tidak bisa memerangi mereka begitu saja. Akan berakibat buruk bagi Karang Setra nantinya."

"Lalu, apa yang akan Kakang lakukan untuk menolong Putri Arum Winasih?" tanya Cempaka ingin tahu.

Rangga jadi tersenyum. Entah kenapa dia jadi tersenyum mendengar pertanyaan adik tirinya ini barusan. Pendekar Rajawali Sakti berpaling ke arah pintu. Dan tampaklah Danupaksi sudah berdiri di ambang pintu yang sejak tadi dibiarkan terbuka lebar. Setelah memberi sembah hormat, Danupaksi melangkah masuk. Sedangkan Rangga dan Cempaka masih tetap duduk di kursi panjang dekat jendela.

"Aku mengganggu, Kakang...?" ujar Danupaksi.

"Tidak. Duduklah...," sahut Rangga seraya tersenyum.

Danupaksi duduk di kursi yang ada di depan bangku panjang ini, menghadap langsung ke jendela. Sedangkan Rangga dan Cempaka jadi membelakangi jendela besar kamar ini.

"Baru saja aku dapat laporan dari prajurit Paman Gagak Sewu. Katanya, dia melihat dua orang kepercayaan Raden Banyugara ada di sekitar istana ini," kata Danupaksi langsung memberi laporan.

"Sudah kau lihat kebenarannya?" tanya Rangga.

"Sudah. Mereka baru datang kemarin, dan menginap di rumah penginapan Ki Sarpan," sahut Danupaksi.

"Lalu?" tanya Rangga lagi.

Belum juga Danupaksi menjawab, Pandan Wangi muncul di ambang pintu. Gadis itu langsung saja masuk, begitu melihat Rangga memberi isyarat dengan tangan untuk langsung masuk dan menutup pintu yang sejak tadi dibiarkan terbuka. Gadis berjuluk si Kipas Maut itu mengambil tempat di samping Danupaksi.

"Ada rundingan apa ini?" tanya Pandan Wangi ingin tahu.

"Danupaksi baru saja memberi tahu, kalau ada dua orang dari Jenggala berkeliaran di sekitar sini," sahut Rangga kalem.

"Kenapa tidak langsung ditangkap saja...?" selak Cempaka.

"Tidak sembarangan menangkap orang, Cempaka. Harus ada tuduhan yang tepat," kata Rangga, tetap kalem suaranya.

"Tapi tujuan mereka sudah jelas, Kakang. Mereka pasti ingin membunuh Putri Arum Winasih," selak Danupaksi.

"Belum pasti, Danupaksi. Dan ini menjadi tugasmu untuk menyelidiki tujuan mereka berada di Karang Setra ini," ujar Rangga.

"Aku sudah menyebar beberapa telik sandi di sekitar rumah penginapan itu, Kakang. Kalau ada perkembangan, pasti akan kuberitahukan," kata Danupaksi.

"Kau beri tahu saja Pandan Wangi, Danupaksi," sahut Rangga seraya menatap Pandan Wangi.

Danupaksi juga langsung menatap Pandan Wangi yang duduk di sebelahnya, kemudian beralih pada Pendekar Rajawali Sakti, dengan sorot mata minta penjelasan.

"Kau juga bisa bertindak kalau perlu, Danupaksi. Tapi untuk yang dua orang itu, aku tidak ingin kau ikut campur. Ada yang lebih besar, yang harus kulakukan," kata Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat menjelaskan.

"Apa yang akan kau lakukan, Kakang?" tanya Danupaksi.

Rangga hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan adik tirinya ini. Pendekar Rajawali Sakti lalu bangkit berdiri sambil meraih pedangnya, dan menyandangkan ke punggung. Kemudian, kakinya melangkah hendak keluar dari dalam kamar ini. Sementara, yang lain hanya memandangi saja dengan sorot mata memancarkan ketidakmengertian. Pendekar Rajawali Sakti berhenti, setelah sampai di pintu. Tangannya sudah ingin membuka pintu kamar itu, tapi tidak jadi. Segera kepalanya dipalingkan.

"Aku serahkan keamanan pada kalian semua," kata Rangga langsung membuka pintu.

"Kau akan ke mana, Kakang?" tanya Cempaka, agak keras suaranya.

Tapi Rangga sudah menghilang di balik pintu yang tertutup kembali. Sementara, mereka hanya bisa saling berpandangan saja dan sama-sama mengangkat bahu.

Sementara itu Rangga sudah berada di bagian belakang Istana Karang Setra yang megah ini. Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak memandangi sekitarnya, kemudian tertumbuk pada seorang laki laki setengah baya yang duduk di bawah pohon. Dia tahu, laki-laki itu adalah Panglima Gagak Sewu dari Kerajaan Jenggala. Rangga tersenyum sedikit dan segera menghampiri. Panglima Gagak Sewu cepat-cepat bangkit berdiri, lalu berlutut di tanah sambil memberi sembah hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

"Terimalah sembahku, Gusti Prabu," ucap Panglima Gagak Sewu dengan sikap begitu hormat.

Rangga hanya tersenyum saja. Langsung disentuhnya pundak panglima ini, memintanya bangun. Dengan sikap masih hormat, Panglima Gagak Sewu beranjak bangkit. Kini mereka melangkah ke sebatang pohon yang cukup rindang dan duduk di bawahnya.

"Semua yang terjadi di Jenggala sudah kudengar, Paman. Aku turut prihatin," kata Rangga setelah menghembuskan napas panjang.

"Maaf, Gusti Prabu. Kedatangan kami ke sini tentu sangat merepotkan. Dan pasti akan membuat kesulitan," ujar Panglima Gagak Sewu.

"Jangan pikirkan itu, Paman. Apa yang kami lakukan sudah sewajarnya. Tapi maaf, Paman. Bukannya aku tidak suka kau berada di istana ini. Sedangkan Putri Arum Winasih memang harus tetap berada di dalam istana ini dan jangan keluar dari lingkungan istana. Tapi kau tidak, Paman," kata Rangga.

"Maksud, Gusti Prabu...?" tanya Panglima Gagak Sewu tidak mengerti.

"Kau seorang panglima, Paman. Tentunya tidak ingin negerimu terus-menerus berada di tangan orang yang tidak berhak, bukan...? Kau harus bisa membebaskan negerimu dari tangan Raden Banyugara," jelas Rangga.

Panglima Gagak Sewu terdiam merenung. Dalam hatinya, Kerajaan Jenggala memang ingin direbutnya kembali dari tangan Raden Banyugara. Tapi apa mungkin...? Sedangkan prajurit yang dimiliki sekarang hanya tinggal enam belas orang saja. Dan semangat mereka juga tidak mungkin bisa diandalkan. Sedangkan Raden Banyugara memiliki prajurit yang berjumlah cukup besar. Jadi rasanya tidak mungkin merebut lagi takhta yang kini sudah dikuasai oleh orang yang tidak berhak sama sekali dengan hanya mengandalkan beberapa prajurit.

"Gusti Prabu, hamba sudah tidak lagi punya kekuatan untuk melakukan itu. Sedangkan prajurit yang hamba miliki sekarang hanya tinggal enam belas orang saja. Jadi, mana mungkin hamba bisa merebut lagi takhta dari tangan Raden Banyugara...?" ujar Panglima Gagak Sewu. "Atau barangkali, Gusti Prabu hendak meminjamkan sejumlah prajurit untuk hamba...?"

Rangga tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Tidak, Paman. Tidak seorang pun prajurit Karang Setra yang akan kukirim ke sana."

"Lalu, bagaimana hamba bisa mewujudkan impian itu...?"

"Hanya kau dan aku yang ke sana, Paman. Sedangkan enam belas prajuritmu biar berada di sini. Dan untuk keamanan Putri Arum Winasih, jangan terlalu dipikirkan. Dia aman kalau tidak keluar dari lingkungan istana ini' kata Rangga.

"Hanya berdua saja, Gusti...?"

Panglima Gagak Sewu jadi terperanjat setengah mati mendengar kata-kata Raja Karang Setra yang seakan menginginkan mereka berdua saja yang harus pergi ke Kerajaan Jenggala untuk merebut kembali takhta yang kini dikuasai pemberontak. Rasanya memang sulit dipercaya Walaupun Panglima Gagak Sewu tahu kalau Raja Karang Setra yang juga dikenal bergelar Pendekar Rajawali Sakti memiliki kepandaian tinggi, tapi hatinya masih ragu-ragu.

"Kenapa, Paman? Kau tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri...?"

"Bukan. Bukan itu, Gusti Prabu. Tapi apa mungkin...?"

"Kenapa tidak? Aku yakin, prajurit-prajurit yang sekarang berpihak pada Raden Banyugara tidak sepenuhnya berpihak padanya. Kau tahu sifat prajurit, Paman? Mereka akan mengabdi pada siapa saja yang sekarang berkuasa. Sedangkan tujuan utama kita hanyalah Raden Banyugara. Dan kalau sudah melumpuhkannya, aku yakin tidak akan ada seorang prajurit pun yang akan bertindak. Mereka pasti akan tunduk," jelas Rangga, menegaskan.

Panglima Gagak Sewu hanya terdiam saja sambil merenung. Dalam hati memang diakui kebenaran kata-kata Pendekar Rajawali Sakti barusan. Sifat prajurit memang akan mengikuti segala yang diperintahkan pimpinannya. Dan mereka selalu mengabdikan diri, pada siapa saja yang sedang berkuasa. Tapi, itu juga dikarenakan para panglima mereka ikut memberontak mendukung Raden Banyugara.

Dan ini berarti bukan hanya Raden Banyugara sendiri yang menjadi sasaran untuk dilumpuhkan, tapi juga panglima-panglima dan orang-orang di sekelilingnya yang sudah pasti tidak sedikit jumlahnya. Mereka jelas orang-orang berkepandaian tinggi, kendati tidak setinggi Panglima Gagak Sewu. Namun tetap saja panglima itu masih belum bisa meyakinkan diri.

"Sebaiknya kau bersiap-siap, Paman. Malam nanti kita berangkat," kata Rangga seraya bangkit berdiri.

"Gusti..."

Panglima Gagak Sewu ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Sedangkan Rangga tidak jadi melangkah. Langsung dipandanginya panglima berusia setengah baya ini.

"Ada apa, Paman?"

"Tidak, Gusti. Tidak jadi. Baiklah, Gusti. Malam nanti kita berangkat ke Jenggala," kata Panglima Gagak Sewu agak tergagap.

Rangga hanya tersenyum saja, kemudian memutar tubuhnya berbalik. Kini Pendekar Rajawali Sakti melangkah pergi meninggalkan panglima itu seorang diri di halaman belakang istana ini. Panglima Gagak Sewu memberi sembah hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hiding. Sedangkan Rangga sudah jauh meninggalkannya, dan tenggelam di dalam bangunan istana yang megah ini. Dan Panglima Gagak Sewu masih tetap duduk di bangku yang ada di bawah pohon ini.

Panglima itu jadi merenung sendiri memikirkan kata-kata Raja Karang Setra barusan. Sungguh tidak dimengerti, apa yang akan dilakukan Pendekar Rajawali Sakti di Jenggala nanti. Hanya berdua saja.... Rasanya sulit dipercaya dengan hanya berdua saja, bisa merebut takhta kerajaan dari tangan Raden Banyugara yang dikelilingi begitu banyak orang berkepandaian tinggi.

"Hhh...! Sebaiknya keinginannya kuikuti saja. Aku yakin, Gusti Prabu Rangga sudah punya rencana. Dia bukan saja seorang raja, tapi juga seorang pendekar dan pemikir tangguh. Hm... Sebaiknya aku memang menaruh kepercayaan penuh padanya. Mudah-mudahan saja, sang Hyang Widhi memberi jalan terang padanya," gumam Panglima Gagak Sewu perlahan, berbicara pada diri sendiri.

LIMA

Hanya tiga hari saja menunggang kuda, Rangga dan Panglima Gagak Sewu sudah tiba di batas Kerajaan Jenggala. Tidak ada sedikit pun rintangan yang dihadapi. Walaupun perbatasan dijaga para prajurit, tapi mereka tidak ada yang mengenali Panglima Gagak Sewu. Karena, panglima itu mengenakan caping bambu yang cukup besar hingga melindungi wajahnya agar tidak bisa dikenali.

Tepat di saat matahari tenggelam di balik peraduannya, mereka baru tiba di kota kerajaan itu. Pemberontakan yang dilakukan Raden Banyugara rupanya sudah merubah kota ini bagaikan kota mati yang sudah ditinggalkan penduduknya. Begitu sunyi keadaannya, hingga detak-detak langkah kaki kuda yang ditunggangi begitu jelas terdengar. Dan sepanjang jalan yang dilalui, tidak seorang pun yang dijumpai. Hanya para prajurit saja yang terlihat memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Tapi, Rangga dan Panglima Gagak Sewu terus menjalankan kudanya perlahan-lahan, tidak mempedulikan beberapa prajurit yang memperhatikan dengan sorot mata curiga.

"Kita harus cari tempat agar mereka tidak terus curiga, Paman. Terlalu berbahaya kalau sampai ditegur," bisik Rangga.

"Hamba punya teman yang bisa dipercaya, Gusti," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Sebaiknya, Paman harus membiasakan diri tidak memanggilku begitu. Ingat, Paman. Di luar istana, aku bukan raja. Panggil saja aku Rangga. Dan Paman juga jangan menyebut diri dengan sebutan hamba," kata Rangga mengingatkan.

"Maaf, aku sering lupa." ucap Panglima Gagak Sewu.

Rangga hanya tersenyum saja sedikit. Sebelum mereka sampai di Kotaraja Kerajaan Jenggala ini, memang Panglima Gagak Sewu sudah diberi tahu agar menghilangkan tata cara dalam lingkungan istana. Dan lagi, Rangga memang tidak pernah mau dianggap raja kalau tidak berada di dalam istana. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini. Pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu lebih senang menjadi seorang pendekar daripada menjadi raja. Itu sebabnya, dia sering keluar mengembara mengarungi alam bebas seperti burung.

"Paman, apa temanmu benar-benar bisa dipercaya?" tanya Rangga.

"Dia sahabatku sejak kecil, Rangga. Dan antara kami berdua, tidak ada rahasia yang tersimpan. Hanya saja, dia lebih senang menjadi orang bebas dengan mengerjakan ladangnya. Padahal, aku sudah seringkali membujuknya untuk menjadi wakilku. Tapi, rupanya dia lebih senang jadi petani," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Masih jauh rumahnya?" tanya Rangga lagi.

"Di sebelah barat, agak keluar dari kota ini," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Hm.... Bisa tengah malam baru sampai, Paman," ujar Rangga agak menggumam."

"Ya, memang. Kalau tidak ada halangan."

"Tapi, tampaknya kita akan mendapatkan halangan, Paman," ujar Rangga, semakin pelan suaranya.

Belum juga Panglima Gagak Sewu bisa menyadari maksud kata-kata Rangga barusan, mendadak saja dia jadi tersentak kaget. Ternyata tiba-tiba saja dari depan muncul sepuluh orang prajurit bersenjatakan tombak yang langsung menghadang di tengah jalan. Rangga dan Panglima Gagak Sewu segera menghentikan langkah kaki kuda mereka. Dan begitu berpaling ke belakang, tampak tidak jauh di belakang sudah menghadang sekitar dua puluh orang prajurit yang semuanya membawa tombak berukuran panjang dua kali tubuh mereka.

"Jangan gugup, Paman. Jangan membuat mereka bertambah curiga," bisik Rangga pelan.

"Baik," sahut Panglima Gagak Sewu.

Seorang prajurit yang tampaknya berpangkat punggawa, melangkah menghampiri dengan sikap angkuh. Sedangkan yang lain tetap berada di tempatnya dengan sikap siaga penuh. Rangga dan Panglima Gagak Sewu masih tetap berada di punggung kudanya. Dan punggawa yang masih kelihatan berusia muda itu berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar enam langkah lagi di depan kuda hitam yang bernama Dewa Bayu, tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Tampaknya kalian bukan orang Jenggala. Siapa kalian berdua?" tanya punggawa itu.

"Kami hanya dua orang pengembara yang kemalaman, dan sedang mencari penginapan di kota ini," sahut Rangga mencoba bersikap ramah.

"Kalian tahu, kota ini terlarang bagi pendatang. Dan kalian sudah melanggar larangan Gusti Prabu Banyugara. Kalian harus ditangkap," terdengar lantang suara punggawa itu.

"Kami tidak melakukan apa-apa yang merugikan. Kalau memang tidak diizinkan bermalam di sini, sekarang juga kami akan pergi," sahut Rangga.

"Tidak! Kalian sudah melanggar larangan Gusti Prabu," sentak punggawa itu tegas. "Prajurit...!" Tangkap mereka!"

Semua prajurit yang berada di depan dan belakang, langsung berlompatan mengepung jalan ini. Sementara, Rangga dan Panglima Gagak Sewu saling melemparkan pandangan.

"Terpaksa, Paman," ujar Rangga.

"Ya. Apa boleh buat...?" sahut Panglima Gagak Sewu seraya mengangkat bahunya sedikit.

"Tapi lebih baik menghindar saja, Paman. Bukan mereka tujuan kita," kata Rangga.

"Aku mengikutimu saja, Rangga," sahut Panglima Gagak Sewu. Dan saat itu juga...

"Tangkap mereka...!" seru punggawa itu memberi perintah.

"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga dan Panglima Gagak Sewu langsung menggebah cepat kudanya.

"Awas...!
Hup!"

Punggawa yang berada tepat di depan Rangga langsung melompat ke samping dan membanting diri hingga bergulingan ke tanah, menghindari terjangan Dewa Bayu tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiya!"

"Yeah!"

Rangga dan Panglima Gagak Sewu terus memacu cepat kudanya meninggalkan para prajurit yang tadi mengepung. Debu langsung mengepul membubung tinggi ke angkasa. Sementara, para prajurit Kerajaan Jenggala jadi terlongong bengong.

"Kejar mereka! Tangkaaap...!" teriak punggawa muda itu memberi perintah.

Tapi tidak mungkin bagi mereka mengejar kuda yang dipacu dengan kecepatan sangat tinggi itu. Dan belum juga ada seorang prajurit pun yang bergerak, kedua kuda itu sudah lenyap dari pandangan.

"Ayo, kejar mereka!" perintah punggawa berusia muda itu jadi berang.

Tanpa peduli kalau yang akan dikejar menunggang kuda, mereka segera berlarian berusaha mengejar. Sedangkan, Rangga dan Panglima Gagak Sewu sudah terlalu jauh. Sementara malam terus merayap semakin bertambah larut. Kini, prajurit-prajurit Kerajaan Jenggala menghentikan pengejarannya.

"Hooop...!"

Rangga menghentikan lari kudanya, begitu merasa tidak ada lagi prajurit yang mengejar. Kepalanya berpaling ke belakang, menatap Panglima Gagak Sewu yang tertinggal cukup jauh di belakang. Memang kuda yang ditunggangi Panglima Gagak Sewu hanya kuda biasa, sehingga tidak mungkin bisa menandingi kecepatan Dewa Bayu. Kuda hitam itu memang bukanlah kuda sembarangan. Kecepatan larinya saja bagaikan angin, sehingga sulit dicari tandingannya.

"Hop!"

Panglima Gagak Sewu segera menarik tali kekang kudanya, begitu dekat di samping kuda yang ditunggangi Rangga. Mereka sama-sama berpaling ke belakang. Memang, tidak ada tanda-tanda yang mengejar. Dan tanpa disadari, mereka justru sekarang berada di tengah-tengah sebuah kebun yang sangat luas bagaikan tak bertepi. Sepanjang mata memandang hanya kegelapan saja yang terlihat, serta pepohonan yang menghitam tersaput kabut tipis.

"Kita salah jalan, Rangga," kata Panglima Gagak Sewu memberi tahu.

"Terpaksa...," sahut Rangga agak mendesah, seraya mengangkat pundaknya sedikit.

"Ya.... Terpaksa kita harus bermalam di sini," kata Panglima Gagak Sewu lagi.

"Hm...," Rangga menggumam sedikit.

Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tidak satu rumah pun yang terlihat di tempat ini. Sepertinya mereka bukan berada di dalam kota. Kebun ini terlalu luas, hingga sulit menentukan arah lagi. Terlebih, malam ini begitu pekat. Langit terlihat hitam tersaput awan hitam. Sedikit pun tak terlihat cahaya bulan maupun bintang.

"Ada di mana kita sekarang, Paman?" Tanya. Rangga ingin tahu.

"Masih di dalam kota," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Hm..."
"Kenapa, Rangga?"

"Tidak apa-apa. Paman," sahut Rangga seraya turun dari kudanya.

Panglima Gagak Sewu juga melompat turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan sekali, pertanda ilmu meringankan tubuhnya sudah cukup tinggi. Bahkan hampir tidak menimbulkan suara saat kedua kakinya menjejak tanah. Dan kakinya segera melangkah memutari kudanya, lalu berdiri di sebelah Rangga yang masih tetap berada di depan kudanya sendiri.

"Kebun kelapa ini milik Gusti Prabu Gandaraka. Letaknya memang sudah hampir mencapai pinggiran kota. Tapi tidak terlalu jauh dari pusat kota. Dari kebun ini, kita bisa mencapai istana dengan mudah," kata Panglima Gagak Sewu memberi tahu tanpa diminta.

"Kau tahu arahnya, Paman?" tanya Rangga, mengingat keadaan sekeliling yang begitu gelap. Sedikit pun tidak ada petunjuk yang bisa dijadikan pedoman untuk mengetahui arah mata angin.

"Tidak terlalu sulit, Rangga. Aku sering ke sini. Dan daerah ini sudah kukenal dengan baik," sahut Panglima Gagak Sewu.

Rangga jadi tersenyum. Baru disadari kalau pertanyaannya tadi sangat bodoh. Sudah tentu Panglima Gagak Sewu mengenal betul tempat ini, karena sejak remaja berada di tempat ini. Bahkan telah menjadi orang penting di istana, dengan menjadi panglima kepercayaan Prabu Gandaraka. Tapi sekarang, mereka tidak tahu nasib Raja Jenggala itu. Dan mereka datang kesini juga untuk mengetahui keadaan Prabu Gandaraka. Bahkan kalau masih hidup, harus diusahakan untuk membebaskannya. Dan takhtanya yang kini berada di tangan Raden Banyugara, harus dikembalikan ke tangannya semula.

"Tempat ini terlalu terbuka, Paman. Kalau mereka tahu, tidak ada tempat lain untuk menghindar," kata Rangga.

"Ya! Kita harus mencari tempat yang cocok," sahut Panglima Gagak Sewu.

Tanpa bicara lagi, mereka berjalan sambil menuntun kuda masing-masing. Rangga mengikuti saja, ke mana ayunan langkah kaki Panglima Gagak Sewu menuju, karena memang tidak tahu arah. Rangga hanya bisa mengawasi keadaan sekelilingnya, dengan mempergunakan aji 'Tatar Netra'. Sehingga, Pendekar Rajawali Sakti bisa melihat dari jarak jauh, walaupun keadaan begitu gelap.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Rangga cepat bangun, saat merasakan hangatnya cahaya matahari menerpa kulit. Tampak Panglima Gagak Sewu tengah duduk membelakangi dekat api yang menyala kecil. Laki-laki berusia setengah baya itu berpaling dan tersenyum. Rangga menghampiri, lalu duduk bersila di depannya.

"Apa itu?" tanya Rangga.

"Singkong, Mau...?"

Rangga tersenyum saja melihat Panglima Gagak Sewu mengambil singkong bakar, dan memakannya dengan nikmat. Bibirnya tersenyum bukan karena lucu, tapi melihat keanehan. Seorang panglima yang biasa hidup serba kecukupan, kini mengisi perutnya hanya dengan singkong bakar. Sedangkan bagi Rangga sendiri, walaupun seorang raja, sudah tidak asing lagi dengan makanan seperti ini. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi, diambilnya satu, dan dimakannya dengan nikmat.

"Maaf, hanya ini yang bisa kuperoleh," ujar Panglima Gagak Sewu.

"Aku justru mengira kau tidak biasa makan seperti ini, Paman," kata Rangga.

"Sebelum jadi panglima, aku juga pengembara sepertimu, Rangga. Hanya saja, tidak lama. Yaaah..., sekitar sepuluh tahun. Jadi makanan seperti apa pun, sudah pernah kurasakan," jelas Panglima Gagak Sewu tanpa merasa tersinggung sedikit pun. "Justru aku merasa tidak enak padamu, Rangga."

"Kenapa?"

"Walaupun sehari-harinya selalu mengembara, tapi kau seorang raja. Pasti, bekalmu lebih dari cukup selama pengembaraan. Dan makananmu juga tidak sembarangan."

"Sama saja, Paman. Aku sendiri tidak pernah membawa bekal. Apa saja yang bisa jadi pengisi perut pasti kumakan. Aku rasa tidak ada bedanya, antara hidup di dalam istana atau di alam bebas. Malah, aku lebih suka hidup di alam bebas. Makanya aku lebih sering mengembara daripada berada di istana," kata Rangga menjelaskan.

"Aku kagum padamu, Rangga. Kalau saja semua raja sepertimu, pasti tidak akan ada pemberontakan atau kejahatan di dunia ini," puji Panglima Gagak Sewu tulus.

"Jangan terlalu memuji, Paman. Aku juga pernah menghadapi pemberontakan, tapi tidak sampai berhasil menggulingkan takhta."

"Ya, karena Karang Setra dikelilingj jago-jago berkepandaian tinggi. Dan lagi, siapa yang bisa menandingi kepandaianmu, Rangga? Orang orang persilatan saja akan berpikir serlbu kali berhadapan denganmu," lagi-lagi Panglima Gagak Sewu memuji.

Rangga hanya tersenyum saja mendengar pujian tulus itu. Dia berdiri melangkah menghampiri kudanya, setelah merasa cukup mengisi perut. Panglima Gagak Sewu juga berdiri setelah mematikan api yang ditimbun dengan abu tanah. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti sudah berada di atas punggung kudanya. Dan Panglima Gagak Sewu bergegas naik ke punggung kudanya sendiri.

"Masih terlalu pagi, Paman. Apa sebaiknya kita temui dulu sahabatmu itu...?" ujar Rangga memberi saran.

"Aku rasa memang itu yang terbaik, Rangga. Kita bisa memperoleh keterangan darinya," sambut Panglima Gagak Sewu.

Tanpa bicara lagi, mereka menggebah kudanya perlahan meninggalkan tempat ini. Rangga tetap mengikuti Panglima Gagak Sewu yang lebih tahu seluk beluk daerah ini. Mereka berjalan bersisian, dan menghindari keramaian. Sengaja Panglima Gagak Sewu mengambil jalan sepi, agar tidak mengundang perhatian.

Setelah cukup lama berkuda, mereka sampai di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar, tapi memiliki halaman luas. Dan suasananya juga terasa begitu damai. Rumah ini terpisah dari rumah-rumah lain. Panglima Gagak Sewu melompat turun dari punggung kudanya, kemudian melangkah memasuki halaman luas, yang dipenuhi tanaman-tanaman pangan ini. Rangga mengikuti turun dari kudanya, dan juga melangkah sambil menuntun kuda hitamnya. Dia berjalan agak ke belakang dari Panglima Gagak Sewu yang masih mengenakan tudung bambunya.

Baru saja mereka sampai di tengah-tengah halaman, pintu rumah itu sudah terbuka. Maka muncullah seorang wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun yang masih kelihatan cantik. Wanita itu tampak tertegun, melihat dua orang mendatangi rumahnya sambil menuntun kuda. Bergegas dia keluar, dan menanti di depan beranda. Panglima Gagak Sewu membuka tudungnya. begitu dekat di depan wanita ini.

"Kakang Gagak Sewu...," desis wanita itu terkejut.

"Rambulun ada, Nyi Karuni?" tanya Panglima Gagak Sewu langsung.

"Ada di dalam. Mari masuk, Kakang...," sahut wanita yang dipanggil Nyi Karuni ini.

"Terima kasih. Aku menunggu di sini saja," ujar Panglima Gagak Sewu.

"Jangan, Kakang. Bahaya...."

"Tidak mengapa, Nyi. Panggilkan saja suamimu."

"Baiklah kalau begitu. Sebentar, Kakang."

Nyi Karuni cepat berbalik, dan masuk kembali ke dalam rumahnya. Dibiarkannya saja pintunya tetap terbuka. Sementara Panglima Gagak Sewu dan Rangga menunggu di depan beranda rumah yang tidak begitu besar ukurannya ini. Dan tidak berapa lama kemudian, dari dalam rumah itu muncul Nyi Karuni bersama seorang laki-laki yang hampir sebaya dengan Panglima Gagak Sewu. Dia tampak terperanjat, melihat Panglima Gagak Sewu berada di depan rumahnya.

"Ayo masuk, Kakang. Jangan di depan saja," ajak laki-laki setengah baya itu yang ternyata Rambulun, suami Nyi Karuni.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah yang sederhana sekali bentuknya, lalu duduk di ruangan depan yang tidak seberapa luas ukurannya. Sementara, Nyi Karuni sudah menghilang di belakang. Tapi tidak lama dia keluar lagi sambil membawa minuman dan sedikit makanan. Mereka duduk di lantai tanah yang hanya beralaskan selembar tikar lusuh.

"Aku tidak mengira kau masih hidup, Kakang Gagak Sewu. Semua orang mengira kau sudah mati dibunuh Raden Banyugara," kata Rambulun.

"Aku berhasil menyelamatkan Gusti Putri Arum Winasih," kata Panglima Gagak Sewu.

"Dewata Yang Agung..., "desah Rambulun dan istrinya berbarengan.

"Lalu, bagaimana keadaan Gusti Putri?" tanya Nyi Karuni

"Sehat. Sekarang berada di Istana Karang Setra," sahut Panglima Gagak Sewu.

"Syukurlah kalau sudah sampai di sana," ucap Nyi Karuni tampak senang.

Mereka jadi terdiam.

"Kakang, keadaan di sini jauh berubah sekarang. Kau harus segera menjatuhkan Raden Banyugara. Kelakuannya semakin beringas saja. Bahkan sudah tiga hari ini, orang-orangnya diperintahkan mengambil gadis-gadis cantik. Aku tidak tahu akan diapakan gadis-gadis itu. Malah, tidak ada seorang pun yang kembali lagi," kata Rambulun memberi tahu keadaan tanpa diminta lagi.

"Benar, Kakang. Prajurit-prajurit juga jadi seperti perampok. Mereka merampas apa saja yang dimiliki rakyat. Negeri ini tidak lama lagi akan jadi neraka, kalau Raden Banyugara tidak segera digulingkan. Kau harus secepatnya mengambil tindakan, Kakang," timpal Nyi Karuni.

"Tidak semua prajurit berkelakuan seperti itu, Nyi. Mereka yang merampas bararng-barang rakyat hanya anak buah Raden Banyugara yang berpakaian prajurit. Sedangkan prajurit prajurit yang setia pada Gusti Prabu Gandaraka, semuanya dimasukkan ke dalam penjara," selak Rambulun.

Sementara, Rangga dan Panglima Gagak Sewu hanya diam saja mendengarkan Rambulun dan istrinya berebut cerita, memberi tahu keadaan di Kerajaan Jenggala ini. Tampak Panglima Gagak Sewu hanya tertunduk saja, dengan wajah terlihat memerah. Sedangkan Rangga beberapa kali melayangkan pandangan ke luar, melalui pintu yang sedikit terbuka.

ENAM

Sudah lima hari Rangga dan Panglima Gagak Sewu berada di rumah Ki Rambulun. Dan dari rumah itu, Panglima Gagak Sewu mencari keterangan dan menghubungi teman-temannya yang masih setia pada raja mereka. Sedangkan Rangga, dengan caranya sendiri mencoba mengetahui keadaan di dalam istana. Terutama, ingin tahu tentang keadaan Raja Jenggala yang sampai saat ini belum ketahuan bagaimana nasibnya.

Seperti lima malam yang lalu, Rangga sengaja keluar mendekati bangunan Istana Kerajaan Jenggala yang kelihatan megah dan terang benderang. Tampak para prajurit berjaga- jaga di setiap sudut Istana. Nyatanya penjagaan di istana ini memang ketat sekali, seakan-akan takut mendapat serangan dari luar. Dan memang, itu adalah tindakan pertama para pemberontak yang kedudukannya takut akan terguling lagi. Hingga, mereka harus melipat gandakan penjagaan di sekitar istana.

"Hm.... Bagian belakang kelihatannya tidak begitu ketat," gumam Rangga perlahan.

Lima hari memang sudah cukup bagi Rangga untuk mengetahui keadaan istana ini. Kini Pendekar Rajawali Sakti bergegas ke belakang yang berpagar tembok sangat tinggi. Bagi orang biasa, memang mustahil untuk melewati tembok yang tingginya dua kali panjang batang tombak. Tapi bagi Pendekar Rajawali Sakti, tembok yang setinggi itu bukan masalah.

Hanya sebentar Rangga mengedarkan pandangan untuk mengamati keadaan sekeliling, kemudian segera menatap ke puncak pagar tembok bagian belakang istana yang sangat tinggi ini. Dia menggumam sedikit. Dan...

"Hup!"

Ilmu yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti memang sudah sangat sempurna tingkatannya. Tak heran kalau tubuhnya bagaikan segumpal kapas saat meluncur deras ke atas tembok benteng istana ini. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga, kakinya menjejak bibir tembok. Cepat Rangga merundukkan tubuhnya, hingga merapat dengan bibir tembok ini, begitu terlihat dua orang berseragam prajurit melintas tepat di bawahnya.

Rangga baru mengangkat kepalanya, setelah dua orang prajurit itu lewat. Diamatinya keadaan sebentar, sampai mereka menghilang di balik dinding bangunan istana yang megah ini. Kini tak ada seorang prajurit pun yang terlihat. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti meluruk turun. Sungguh indah gerakannya. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya menjejak di tanah, tepat dekat pohon beringin yang tumbuh subur dan lebat daunnya.

Namun belum juga kakinya bergerak, mendadak saja sebatang tombak sudah meluncur deras ke arahnya. Cepat-cepat Rangga memiringkan tubuhnya ke kiri, hingga tombak itu lewat sedikit saja di samping tubuhnya.

"Sial...!"

Rangga jadi mengumpat kesal, begitu dari gerumbul semak dan pepohonan bermunculan orang-orang berpakaian seragam prajurit dengan tombak dan pedang terhunus. Sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah terkepung oleh tidak kurang tiga puluh orang prajurit.

"Minggir...!"

Tiba tiba saja terdengar bentakan keras yang cukup menggelegar. Maka beberapa prajurit yang berada tepat di depan Rangga bergerak menyingkir. Saat itu, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun tengah melangkah, diikuti empat orang wanita yang kelihatannya sudah berumur tiga puluh tahun. Tapi, wajah mereka masih kelihatan cantik. Malah, di punggung mereka masing-masing tersandang dua bilah pedang. Mereka berhenti, setelah jaraknya tinggal sekitar enam langkah lagi dari pemuda yang mengenakan baju rompi putih ini.

"Patih Garindra...," desis Rangga langsung mengenali laki-laki yang berpakaian sangat indah itu.

"Sudah kuduga, kau pasti muncul di sini, Pendekar Rajawali Sakti. Dengan siapa kau datang...? Dengar, Rangga. Aku tidak akan gentar, walaupun kau kerahkan seluruh prajurit Karang Setra. Dan kau juga harus tahu! Setelah Kerajaan Jenggala kukuasai, tidak lama lagi Karang Setra akan kuserang," terdengar begitu congkak nada suara Patih Garindra.

"Tidak kusangka, ternyata kau biang keladi semua ini, Patih Garindra," desis Rangga, agak dingin nada suaranya.

"Ha ha ha...!" Patih Garindra tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya terguncang.

Sedangkan empat wanita yang mendampinginya tersenyum sinis, memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan sorot mata begitu tajam menusuk. Sedangkan Rangga mengamati orang-orang yang rapat mengepungnya lewat sudut ekor matanya. Saat itu otaknya berputar keras, mencari jalan keluar untuk terbebas dari kepungan yang cukup rapat ini.

Tapi Pendekar Rajawali Sakti jadi mengeluh, karena tidak sedikit pun celah ditemukan. Hanya saja hatinya sedikit lega, karena mereka yang mengepung hanya prajurit-prajurit biasa yang berkepandaian tidak seberapa. Namun begitu. Rangga tidak ingin berbuat gegabah. Dia tidak ingin sampai melukai seorang prajurit pun. Apalagi, sampai menewaskan. Masalahnya bukan mereka yang menjadi sasaran tapi orang-orang yang ada di balik pemberontakan di Kerajaan Jenggala ini. Memang, merekalah yang sepatutnya mendapat ganjaran. Sedangkan para prajurit hanya mengikuti perintah saja, karena akan patuh pada siapa saja yang sedang berkuasa.

"Baiklah, Rangga. Meskipun kau seorang pendekar dan Raja Karang Setra, tapi sudah memasuki wilayah Kerajaan Jenggala tanpa izin. Kesalahanmu tidak akan mendapat pengampunan dari Gusti Prabu. Kau pasti tahu, apa hukuman bagi orang yang masuk dalam lingkungan istana tanpa izin, bukan...? Nah, Bersiaplah menerima hukumanmu, Pendekar Rajawali Sakti," terasa begitu dingin nada suara Patih Garindra.

"Tunggu dulu...!" sentak Rangga cepat-cepat, saat melihat Patih Garindra sudah mengangkat tangannya, hendak memberi perintah.

"Apa yang kau inginkan, Rangga?"

"Aku ingin bertemu Prabu Gandaraka," ujar Rangga tegas.

"Tidak ada Prabu Gandaraka di sini, Rangga. Raja Jenggala sekarang adalah Gusti Prabu Banyugara. Dan kau tidak perlu bertemu dengannya. Kesalahanmu sudah jelas, maka harus mati di sini sekarang juga," tegas Patih Garindra.

"Hm..."

Rangga jadi tercenung beberapa saat. Sementara Patih Garindra sudah mengangkat tangannya lagi. Maka semua prajurit yang sejak tadi mengepung, langsung mengangkat senjatanya, siap menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Seraaang...!" seru Patih Garindra lantang menggelegar.

"Hiya!"
"Yeaaah...!"

Rangga memang tidak bisa mencegah lagi. Prajurit-prajurit itu sudah berlompatan menyerangnya dari segala penjuru mata angin. Maka tidak ada lagi pilihan bagi Pendekar Rajawali Sakti, selain harus melenting ke udara, menuju ke sebatang pohon beringin yang berada tidak jauh darinya. Tapi belum juga sampai ke cabang pohon itu, empat orang wanita cantik yang mengawal Patih Garindra sudah melesat cepat bagai kilat, sambil mencabut pedang masing- masing.

"Hiyaaat...!"
"Hiyaaa...!"
Bet!
"Ups!"

Salah seorang langsung saja mengebutkan pedang di tangan kanannya, ke arah kaki Pendekar Rajawali Sakti. Tapi dengan gerakan manis sekali, pemuda berbaju rompi putih itu menarik kaki lebih ke atas. Sehingga, tebasan pedang wanita itu tidak sampai mengenai kedua kakinya. Dan dengan kecepatan luar biasa sekali, Rangga menghentakkan kaki kanannya.

"Yeaaah...!"
"Ikh...!"

Wanita itu jadi terpekik kaget. Maka cepat-cepat tubuhnya diputar dan berjumpalitan ke belakang dua kali untuk menghindari tendangan keras yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Rangga segera meluruk lagi ke bawah, sebelum tiga wanita lain melancarkan serangan. Dan begitu menjejakkan kakinya, para prajurit yang berjumlah cukup banyak sudah langsung menyerang dari segala penjuru.

"Hup! Yeaaah...!"

Tidak ada pilihan lain lagi. Dengan menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang dipadukan dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat pertama, Pendekar Rajawali Sakti menghajar para prajurit yang menyerangnya dari segala jurusan. Begitu cepat gerakan-gerakannya, sehingga setiap pukulan yang dilontarkan begitu sulit dihindari. Bahkan gerakan tangannya pun sukar diikuti pandangan mata biasa. Hingga seketika itu juga, terdengar jeritan-jeritan panjang melengking dan keluhan tertahan yang saling sambut.

Terlihat beberapa prajurit berjatuhan sambil merintih kesakitan. Untung saja. Rangga tidak mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, hingga tidak membuat prajurit- prajurit itu terluka parah. Namun mereka yang terkena, seakan sulit bisa cepat berdiri. Mereka kontan bergelimpangan sambil merintih menahan sakit.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Rangga tidak berhenti sampai di situ saja, melihat prajurit-prajurit lain masih terus ganas merangseknya. Dengan kecepatan tinggi sekali, Pendekar Rajawali Sakti melontarkan pukulan-pukulan dahsyat walaupun tidak disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Jeritan-jeritan melengking dan keluhan tertahan pun terus terdengar saling sambut, diiringi ambruknya prajurit-prajurit. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, semua prajurit yang mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti tidak ada lagi yang sanggup berdiri. Mereka merintih dengan suara begitu memelas. Sementara, Rangga berdiri tegak di antara prajurit- prajurit yang bergelimpangan. Ditatapnya Patih Garindra yang sudah didampingi lagi oleh empat orang wanita pengawalnya dengan sinar mata yang begitu tajam.

"Hm..."

Perlahan Rangga melangkah mendekati, sampai jaraknya tinggal sekitar enam langkah lagi di depan patih dari Kerajaan Jenggala ini. Tampak raut wajah Patih Garindra agak memucat, melihat Rangga dengan begitu mudah menjatuhkan prajurit-prajuritnya yang memang bukan tandingan Pendekar Rajawali Sakti.

"Bunuh dia!" perintah Patih Garindra.

Bet!
"Hap!"

Empat wanita yang semuanya berwajah cantik dan masing-masing memegang dua bilah pedang, langsung saja berlompatan ke depan. Sementara, Patih Garindra bergegas melangkah mundur menjauh. Dan sekarang, Rangga sudah kembali terkepung oleh empat orang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang masih berwajah cantik itu. Mereka bergerak memutar dengan gerakan kaki perlahan, sambil memainkan kedua pedang di depan wajah.

Sedangkan Rangga hanya memperhatikan gerakan-gerakan keempat wanita itu dengan sinar mata cukup tajam tanpa berkedip sedikit pun. Dan matanya sempat memperhatikan Patih Garindra yang kini sudah berjarak pada jarak yang cukup jauh. Rangga sendiri tidak kenal keempat wanita ini. Tapi diyakini kalau mereka dari kalangan persilatan. Ini bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan. Mereka adalah wanita-wanita yang terbiasa hidup mengembara di alam bebas, dengan segala kekerasan dan keganasannya.

"Seraaang...!" teriak Patih Garindra memberi perintah.

"Hiyaaat..!"

Belum juga lenyap teriakan Patih Garindra dari pendengaran, salah seorang wanita yang berada tepat di depan Rangga sudah melompat sambil berteriak nyaring. Kedua pedangnya langsung dikebutkan secara menyilang ke depan dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Hap!"

Namun dengan gerakan indah sekali, Rangga melompat ke belakang dua langkah menghindari serangan wanita ini. Tapi baru saja kakinya menjejak tanah, seorang wanita lainnya yang berada tepat di sebelah kanan, sudah menyerang dengan sabetan pedang di tangan kiri. Begitu cepat serangannya, hingga membuat Rangga jadi terkesiap sesaat.

"Haiiit..!"

Tapi hanya sedikit saja tubuhnya mengegos, sabetan pedang itu berhasil dihindari. Dan saat yang hampir bersamaan, wanita yang berada di belakang Pendekar Rajawali Sakti sudah melesat ke atas kepala. Dan saat itu juga pedangnya dikebutkan, tepat mengarah ke bagian atas kepala Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup! Hiyaaat..!"

Kali ini, Rangga tidak mau lagi terus-menerus berkelit menghindar. Begitu merasakan desir angin di atas kepalanya, cepat tubuhnya dibanting ke tanah. Dan dengan kecepatan bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kaki kanannya ke atas, tepat ke perut wanita yang menyerangnya dari atas kepalanya tadi. Begitu cepat tendangannya, sehingga wanita itu tidak sempat lagi menyadari. Terlebih, dia kini berada di atas. Akibatnya, tendangan itu tepat sekali menghantam perutnya yang kosong, tidak terlindungi sama sekali.

Begkh!
"Ugkh...!"

Terdengar keluhan yang pendek dan tertahan. Tampak wanita berwajah cantik itu terpental tinggi ke atas. Sementara, Rangga bangkit berdiri dengan gerakan indah dan manis sekali. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya menjejak tanah kembali.

"Hiyaaa...!"

Tepat di saat wanita yang berada di sebelah kirinya melakukan serangan, dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa, Rangga menarik kakinya ke belakang sedikit. Langsung tangan kirinya dihentakkan dengan tubuh agak doyong ke belakang. Begitu cepat gerakannya, hingga wanita itu tidak dapat lagi berkelit. Maka kibasan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dadanya yang kosong tidak terlindungi.

Des!
"Akh...!"

Wanita itu terhuyung-huyung ke belakang sambil memekik keras agak tertahan. Tampak darah muncrat keluar dari mulutnya, akibat pukulan yang cukup keras dari Pendekar Rajawali Sakti di dadanya. Saat itu juga, dua orang lainnya sudah berlompatan dari arah yang berlawanan sambil berteriak keras menggelegar. Namun, sedikit pun Rangga tidak terkejut. Bahkan malah berdiri tegak menanti. Dan begitu serangan dua orang wanita itu sudah dekat....

"Hap! Yeaaah...!"

Bagaikan kilat, Rangga melenting sedikit ke atas. Dan dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa, kedua kakinya dihentakkan sambil memutar tubuhnya. Begitu cepat serangannya, sehingga kedua wanita ini tidak dapat lagi menghindarinya.

Des!
Bugkh!
"Akh!"

"Ugkh...!"

Kedua wanita itu seketika berpentalan balik ke belakang. Sementara, Rangga menjejakkan kakinya kembali di tanah dengan manis dan ringan. Matanya melirik sedikit pada empat orang wanita yang bergelimpangan di tanah, sambil merintih menahan rasa sakit akibat hajarannya. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti sudah menatap tajam pada Patih Garindra. Perlahan kakinya terayun mendekati Patih Kerajaan Jenggala ini.

"Aku masih bisa menyambung hidupmu, kalau kau mau menunjukkan di mana Prabu Gandaraka ditawan," kata Rangga dengan suara dibuat begitu dingin.

"Dia sudah mati!" dengus Patih Garindra ketus.

"Jangan coba-coba mendustaiku, Patih Garindra! Aku tahu kalau kau, dan yang lain tidak membunuh Prabu Gandaraka. Dengar, Patih.... Aku tidak ada waktu bermain-main denganmu. Tunjukkan, di mana Prabu Gandaraka...?!" semakin dingin nada suara Rangga terdengar.

Patih Garindra tampak kebingungan. Dia tahu, siapa pemuda berbaju rompi putih yang kini semakin dekat saja. Rangga bukan saja Raja Karang Setra, tapi juga seorang pendekar muda yang sangat disegani dan sukar dicari tandingannya. Ilmu olah kanuragan dan kedigdayaannya begitu sulit ditandingi. Patih Garindra sadar kalau kepandaian yang dimilikinya masih jauh dibanding Pendekar Rajawali Sakti. Rangga memang sudah teramat dikenal dalam lingkungan Istana Jenggala. Karena, antara Prabu Gandaraka dan Pendekar Rajawali Sakti terjalin hubungan persahabatan yang sangat akrab.

Dan Patih Garindra juga tahu, kedatangan Rangga ke sini tidak bersama prajurit seorang pun. Dia pasti datang bukan sebagai raja, tapi sebagai seorang pendekar. Maka sudah pasti kedatangannya hendak membebaskan Prabu Gandaraka. Memang tidak ada pilihan lain lagi bagi Patih Garindra untuk menyelamatkan dirinya dari maut. Tapi, kecongkakannya memang sudah terkenal. Walaupun sadar tidak akan mungkin mampu menghadapi pemuda berbaju rompi putih ini, tapi tetap berusaha untuk tidak mudah menyerah begitu saja.

"Katakan, di mana Prabu Gandaraka disembunyikan, Patih...?" desis Rangga terus mendesak dengan suara terasa begitu dingin.

Pendekar Rajawali Sakti terus melangkah, membuat jaraknya dengan Patih Garindra semakin bertambah dekat saja. Sedangkan Patih Garindra sendiri, perlahan-lahan mulai menggeser kakinya ke belakang. Sementara tangan kanannya yang terlihat agak bergetar, sudah menggenggam pedang di pinggangnya. Entah sudah berapa kali ludahnya ditelan sendiri, berusaha mencari kekuatan menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Semua prajurit dan empat wanita yang tadi bersamanya sudah tidak ada lagi yang sanggup berdiri. Mereka masih bergelimpangan dengan rintihan lirih menahan rasa sakit pada bagian tubuh yang terkena tendangan maupun pukulan keras Pendekar Rajawali Sakti.

Sret!
Cring!

Rangga jadi terkesiap juga melihat Patih Garindra mencabut pedangnya. Bukannya Pendekar Rajawali Sakti gentar melihat pedang yang bercahaya keperakan itu, tapi tidak menyangka kalau Patih Garindra akan berbuat nekat menghadapinya.

"Jangan berbuat bodoh, Patih. Aku tidak ingin mencelakakanmu," kata Rangga mencoba memperingatkan.

"Phuih! Aku atau kau yang mati malam ini, Rangga!" dengus Patih Garindra seraya menyemburkan ludahnya.

"Jangan Patih...," cegah Rangga lagi, sambil berhenti melangkah dan menjulurkan tangan kanannya ke depan.

"Hiyaaat...!"

Tapi Patih Garindra rupanya sudah benar-benar gelap mata. Tidak dipedulikan lagi, siapa yang dihadapinya ini. Sambil berteriak keras menggelegar, Patih Garindra langsung saja menerjang dengan pedang terhunus di tangan kanan Sementara, Rangga tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegahnya. Dia tahu Patih Kerajaan Jelaga itu merasa tidak punya pilihan lain lagi.

Wuk!

"Haiiit..!"

Manis sekali Rangga meliukkan tubuhnya, menghindari tebasan pedang Patih Garindra. Maka ujung pedang itu hanya sedikit saja lewat di depan dadanya. Saat itu juga, Rangga cepat-cepat melompat ke belakang tiga langkah, mencoba menjaga jarak. Tapi baru saja membuka mulutnya hendak bicara, Patih Garindra sudah kembali melompat menyerang dengan cepat.

"Hiyaaat...!"
Bet!

TUJUH

Rangga terpaksa harus berjumpalitan dan meliuk-liukkan tubuhnya mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', menghadapi serangan-serangan yang dilancar Patih Garindra. Entah sudah berapa jurus berlalu, tapi Patih Garindra belum juga bisa mendesak Pendekar Rajawali Sakti, yang tetap mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.

Memang sulit untuk memecahkan gerakan-gerakan dari jurus yang dimainkan Pendekar Rajawali Sakti yang tampaknya tidak beraturan sama sekali. Bahkan terlihat seperti tidak tengah bertarung. Dan terkadang, gerakan-gerakannya seperti orang yang kebanyakan menenggak arak. Tapi, tetap saja sangat sulit bagi lawan untuk memasukkan serangannya. Liukan tubuh Pendekar Rajawali Sakti demikian indah, bagaikan seekor belut yang sangat licin dan sulit ditangkap. Dan ini membuat setiap lawan jadi semakin berang, karena merasa dipermainkan. Begitu juga Patih Garindra. Bukannya dia bertambah sadar kalau tidak mungkin bisa mengalahkan lawannya, tapi wajahnya semakin bertambah merah, menahan kemarahan yang semakin memuncak dalam dada.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"

Patih Garindra semakin memperhebat serangan-serangannya. Pedangnya berkelebatan cepat, sangat luar biasa, mengurung setiap gerak Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat gerakan pedang Patih Garindra, hingga bentuknya jadi lenyap sama sekali. Dan yang terlihat hanya kilatan-kilatan cahaya keperakan mengurung tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Gila! Serangannya semakin dahsyat saja. Aku tidak mungkin terus bertahan dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Dia harus cepat dihentikan sebelum yang lainnya tahu! Gumam Rangga dalam hati. Saat itu juga, pedang di tangan Patih Garindra berputar cepat mengarah ke kaki. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti begitu saja. Dengan cepat sekali, tubuhnya melenting ke udara. Lalu bagaikan kilat, tubuhnya menukik dengan kedua kaki bergerak berputar begitu cepat. Gerakan ini membuat Patih Garindra jadi terlongong bengong melihatnya. Dan belum juga bisa menyadari apa yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti, mendadak saja...

"Yeaaah...!" Tiba-tiba Rangga merubah gerakannya menjadi jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' tingkat pertama. Cepat sekali tubuhnya berputar, hingga kepalanya berada di bawah. Dan saat itu juga, tangan kirinya mengibas cepat bagai kilat. Akibatnya, Patih Garindra tidak sempat lagi melihat gerakan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti. Dan....

Des!
"Akh...!"

Patih Garindra jadi terpekik, begitu tiba-tiba tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti yang mengibas cepat menghantam telak di tengah dadanya. Akibatnya, seketika tubuhnya terpental cukup jauh ke belakang. Lalu tubuhnya keras sekali menghantam tanah dan langsung bergulingan beberapa kali, hingga menabrak sebatang pohon hingga hancur berkeping-keping. Rangga jadi terkejut juga mendengar pecahan pohon itu demikian keras, bagaikan dihantam pukulan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hoeeekh!"

Tampak Patih Garindra memuntahkan darah kental agak kehitaman, begitu mencoba bangkit berdiri. Sementara Pendekar Rajawali Sakti seakan masih terpana melihat akibat jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' tadi. Padahal, tadi dilepaskan masih dalam tingkat yang pertama. Malah, hanya sedikit saja mengerahkan tenaga dalam. Tapi, akibatnya sungguh di luar dugaan Patih Garindra tidak bisa lagi berdiri. Tampak darah yang keluar dari mulutnya semakin bertambah banyak saja. Perlahan kepala Patih Garindra terangkat, tapi sorot matanya begitu redup memandang langsung ke wajah Pendekar Rajawali Sakti. Darah terus mengucur dari mulutnya. Sementara Rangga sendiri tetap berdiri tegak memandangi, masih seperti tidak percaya melihat akibat jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' yang dilancarkannya.

"Kau ... Kau tidak akan berhasil, Rangga. Kau akan mati... Akh...!"

Patih Garindra langsung ambruk. Dan hanya sebentar saja tubuhnya mengejang, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Rangga jadi tersentak kaget, lalu cepat-cepat menghambur dan berlutut di sampingnya. Laki-laki berusia hampir setengah baya ini sudah tidak bernyawa lagi. Rangga cepat-cepat memeriksa bagian dada yang tadi terkena kibasan tangan kirinya, dan langsung kaget setengah mati. Memang sedikit pun tidak terlihat luka di dada Patih Garindra. Tapi...

"Eh...?!"

Rangga jadi tersentak kaget begitu membalikkan tubuh Patih Garindra. Tampak bagian punggung patih ini bergambar telapak tangan yang hangus dan mengepulkan asap. Rangga cepat melompat bangkit berdiri. Langsung disadari kalau ada orang lain yang membunuh patih ini. Saat itu juga hatinya jadi tersentak, karena semua prajurit dan empat wanita pengawal Patih Garindra sudah menggeletak tidak bernyawa lagi. Tampak pada dada mereka tergambar telapak tangan berwarna hitam yang mengepulkan asap.

Pendekar Rajawali Sakti langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun tidak terlihat seorang pun di sekitarnya. Begitu sunyi, bahkan tidak satu prajurit pun yang tampak. Padahal pertarungannya tadi menimbulkan suara-suara yang pasti akan terdengar sampai ke bagian dalam istana. Tapi sungguh sulit dipercaya, karena tidak ada seorang pun yang datang. Rangga cepat menyadari keadaan yang tidak menguntungkan ini. Maka kewaspadaannya segera ditingkatkan.

"Siapa pun orangnya, pasti memiliki kepandaian tinggi sekali. Hm...," Rangga menggumam perlahan, bicara pada diri sendiri.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi yang tampak hanya tembok benteng dan dinding istana serta pepohonan yang menghitam terselimut kegelapan malam saja. Tidak seorang pun terlihat. Bahkan sama sekali tidak terdengar adanya tarikan napas di sekeliling bagian belakang istana ini. Itu berarti tidak ada seorang pun di sekitarnya. Tapi, siapa yang membunuh Patih Garindra dan prajurit-prajurit, serta empat wanita pengawalnya ini...? Pertanyaan ini yang terus mengusik benak Pendekar Rajawali Sakti.

Perlahan Rangga mulai melangkah mendekati pintu belakang istana yang kelihatannya terbuka lebar, seperti sengaja agar Pendekar Rajawali Sakti masuk ke dalam. Meskipun yakin tidak ada seorangpun di sekitarnya, tapi Pendekar Rajawali Sakti tetap memasang tajam-tajam pendengarannya sambil mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara'. Memang, tidak sedikit pun terdengar tarikan napas seseorang.

Rangga berhenti melangkah setelah tiba di ambang pintu yang terbuka lebar ini. Perlahan kembali kakinya terayun, memasuki pintu itu. Namun, tidak ada seorang pun penjaga di sini. Dan pintu ini ternyata berhubungan langsung dengan bagian dalam istana. Kakinya terus melangkah hati-hati, mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna, hingga sedikit pun tidak terdengar suara langkahnya. Bahkan, seakan akan kedua telapak kakinya tidak menjejak lantai. Pendekar Rajawali Sakti terus berjalan hati-hati, sampai tiba di sebuah ruangan yang sangat luas dan terang benderang. Rangga tahu, ini adalah ruangan Balai Sema Agung

Tampak sebuah kursi singgasana yang sangat megah berada dalam ruangan ini. Dan di atas kursi itu, ternyata sudah duduk seorang pemuda berwajah cukup tampan, terbungkus baju putih bersih yang sangat ketat, hingga membentuk tubuhnya yang tegap dan berotot. Rangga berhenti melangkah, setelah sampai di tengah-tengah ruangan yang sangat luas dan megah ini. Pandangannya tertuju lurus pada pemuda di kursi singgasana itu. Dia tahu, pemuda inilah yang bernama Raden Banyugara.

"Selamat datang di istanaku, Pendekar Rajawali Sakti," sambut Raden Banyugara dengan bibir menyunggingkan senyum.

"Hm...," Rangga hanya menggumam sedikit.

"Aku sudah menduga, kau pasti akan dating untuk membebaskan sahabatmu. Tapi sama sekali tidak kusangka kalau kedatanganmu secepat ini," kata Raden Banyugara lagi, masih dengan nada suara lembut dan berkesan ramah.

"Kenapa kau memberontak terhadap Prabu Gandaraka, Banyugara?" Rangga mencoba menyelidik. "Kenapa? Mengapa itu mesti kau tanyakan, Rangga. Kau tahu, aku selama ini telah dianggap remeh dan lemah oleh semua keluarga istana! Karena, aku hanya mempelajari ilmu sastra dan ilmu kepemerintahan. Bahkan, Putri Arum Winasih menolak cintaku, hanya karena aku tidak memiliki ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan. Memang, aku masih keponakan Prabu Gandaraka. Tapi cinta, tidak akan memandang segalanya. Maka begitu aku tahu Arum Winasih sudah dijodohkan, aku pergi ke Gunung Mentawak untuk menuntut ilmu hitam yang serba singkat. Aku ingin membalas dendam pada mereka yang meremehkanku!" dengus Raden Banyugara, mengungkapkan isi hatinya.

Kini Rangga mengerti. Dan dari sudut ekor mata, diamatinya keadaan sekeliling ruangan ini. Ada sekitar sepuluh pintu di ruangan ini. Dan semua jendela yang ada juga dalam keadaan terbuka lebar, seakan-akan memang disengaja untuk mengundangnya datang. Saat itu, Raden Banyugara bangkit berdiri dari kursi singgasana yang sangat megah. Dia melangkah dua tindak ke depan. Sedangkan Rangga berdiri tegak, menatapnya dengan sinar mata tajam sekali.

Trik!

Raden Banyugara menjentikkan dua ujung jari tangannya. Maka saat itu juga, dari salah satu pintu muncul dua orang berseragam prajurit yang mengapit seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh lima tahun. Pakaiannya begitu lusuh dan sudah robek di sana-sini, walaupun terbuat dari bahan sutera halus yang tentu sangat mahal harganya. Rangga jadi terperanjat melihat keadaan orang yang sudah sangat dikenalnya itu. Dialah Prabu Gandaraka.

Seluruh tubuh bekas penguasa Kerajaan Jenggala itu terikat ke belakang. Bahkan ujung rantai yang membelit lehernya terdapat sebuah bandulan besi bulat sebesar kepala yang sangat berat. Tak heran kalau tubuh laki-laki tua itu jadi terbungkuk.

"Kau lihat, Rangga. Seperti itulah orang yang tidak mau menuruti kehendakku. Kalau saja takhta ini diserahkan padaku secara baik-baik, mungkin masih bisa kuberi kehidupan yang layak baginya. Tapi dia..., sahabatmu itu malah membangkang.

Dia tidak sadar kalau seluruh prajuritnya sudah tidak menyukainya lagi. Dan sekarang, kau datang untuk membebaskan pembangkang ini. Silakan.... Tapi, aku tidak bisa menjamin kehidupanmu, Rangga. Kau sudah lihat sendiri, bagaimana mereka yang tidak becus melaksanakan tugasnya. Aku tidak segan-segan mengirim mereka ke neraka," kata Raden Banyugara lembut, namun terdengar tegas sekali nada suaranya.

"Iblis...!" desis Rangga jadi geram.

Kini Pendekar Rajawali Sakti tahu, siapa yang membunuh Patih Garindra dan prajurit-prajurit di belakang istana tadi. Seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti jadi bergetar menahan kemarahan. Dia paling tidak suka melihat kekejaman yang dilakukan secara licik, dengan membunuh orang dari belakang. Baginya, itu bukan lagi perbuatan manusia. Hanya iblislah yang bisa melakukannya. Dan tentu saja parbuatan seperti itu tidak bisa terampuni lagi.

"Aku masih menawarkanmu pilihan, Rangga. Kau tinggalkan Jenggala sekarang juga dan menyerahkan Karang Setra padaku, atau akan mati sia-sia di sini. Toh, tidak lama lagi Karang Setra akan berada di tanganku," kata Raden Banyugara lagi.

"Besar sekali mulutmu, Banyugara," desis Rangga mulai tidak senang.

"Ha ha ha...! Mulut besarku ini yang membawaku berada di takhta Istana Jenggala, Rangga. tapi, aku tidak hanya bermulut besar. Aku juga bisa membuktikan semua yang kubicarakan. Kau bisa lihat. Begitu besar kekuatan yang kumiliki sekarang ini Bahkan tiga kali lipat dari kekuatan yang ada di Karang Setra. Pikirkanlah, Rangga. Rasanya sayang sekali kalau kau harus bernasib sama dengan pembangkang ini," ancam Raden Banyugara sambil menunjuk Prabu Gandaraka.

"Tidak mudah menaklukkan Karang Setra, Banyugara," dengus Rangga ketus.

"Tentu saja sangat mudah, Rangga. Dua orangku sudah menyusup ke sana. Dan sebentar lagi, mereka akan mendapatkan banyak prajurit di sana. Kemudian, pembesar pembesar yang berjiwa bobrok, satu persatu akan dipengaruhi. Mereka yang mencoba menentang, akan dikirim ke neraka. Tidak terlalu sulit bagiku, Rangga. Tanpa mengerahkan kekuatan besar, Karang Setra akan jatuh ke tanganku," kata Raden Banyugara angkuh.

"Dua orangmu sudah tertangkap, Banyugara," balas Rangga tegas.

"Tidak mungkin!" bentak Raden Banyugara jadi berang.

"Kau boleh memeriksanya sendiri. Tidak ada seorang pun dari orang-orangmu yang bisa menyusup masuk ke dalam istana. Bahkan baru berada di luar saja, mereka sudah tidak berdaya lagi. Mereka sekarang meringkuk di dalam penjara. Dan seluruh prajurit Karang Setra, sekarang sudah mengepung Jenggala. Sedangkan prajurit-prajurit yang kau banggakan, sebagian besar sudah takluk. Kau lihat saja di luar sana. Panglima Gagak Sewu tinggal menunggu isyarat dariku saja untuk menyerbu ke sini," kata Rangga, sedikit berbohong.

"Jangan banyak mulut di sini, Rangga. Kau pikir aku akan mudah terpancing...? Phuih! Sebaiknya kau pikirkan saja keselamatanmu sendiri, Rangga. Jangan coba-coba menggertakku!" geram Raden Banyugara.

"Aku tidak menggertak, Banyugara. Aku berkata yang sebenarnya. Kau tidak lagi memiliki prajurit. Mereka hanya takut padamu, tapi sebenarnya masih setia pada rajanya. Malam ini juga, kau sama sekali tidak memiliki kekuatan prajurit, Banyugara. Kini tidak ada yang bisa kau andalkan lagi," kata Rangga, semakin terdengar tenang suaranya.

"Phuih! Kau lihat, Rangga. Mereka masih setia padaku!" bentak Raden Banyugara kalap. Saat itu juga dia menjentikkan jarinya.

Trik!

Pandangan Raden Banyugara langsung menyapu ke setiap pintu yang ada di dalam ruangan ini. Tapi, pintu itu tetap saja tertutup rapat. Sementara, Rangga sudah mulai menggeser kakinya mendekati Prabu Gandaraka. Sedangkan dua orang prajurit yang tadi berada dekat Raja Jenggala ini, segera menyingkir menjauh, begitu melihat Rangga mendekati. Mereka berdua sudah tahu, siapa pemuda berbaju rompi putih ini, sehingga sudah barang tentu tidak mau mati konyol menghadapinya. Sementara itu, Raden Banyugara sudah memerah wajahnya, karena prajurit-prajurit yang sudah disiapkan di setiap pintu ternyata tidak seorang pun yang menampakkan diri. Sedangkan Rangga sudah berada di samping Prabu Gandaraka. Segera dilepaskannya rantai yang membelenggu Raja Jenggala ini.

"Setan keparat...! Keluar kalian semua! Tangkap pembangkang-pembangkang ini!" teriak Raden Banyugara.

Tapi, suara pemuda itu hanya menggema saja di dalam ruangan ini dan menghilang terbawa angin melalui jendela yang terbuka lebar. Dan begitu suaranya menghilang, semua daun pintu yang ada di dalam ruangan ini terbuka perlahan. Lalu, muncul orang-orang berpakaian seragam prajurit. Dan dari jendela, juga bermunculan para prajurit. Mereka langsung saja berdiri berjajar, mengelilingi ruangan ini. Raden Banyugara jadi tersenyum melihat prajuritnya masih lengkap.

"Kau lihat Rangga. Mereka masih setia padaku," ujar Raden Banyugara.

"Mereka akan berbalik, kalau melihat rajanya sudah bebas. Dan kau lihat sendiri, Banyugara. Prabu Gandaraka sudah tidak terbelenggu lagi. Dia sudah bebas, dan bisa memerintahkan prajuritnya untuk menangkapmu," kata Rangga lantang.

"Phuih! Kalian berdua akan mampus!" dengus Raden Banyugara sengit.

Sret!
Cring!

Langsung saja Raden Banyugara mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Digenggamnya pedang itu erat-erat dengan tangan kanan. Dan sepasang bola matanya menatap begitu tajam, menembus langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

"Prajurit! Serang mereka...!" teriak Raden Banyugara memberi perintah.

Suara Raden Banyugara terdengar begitu keras dan menggelegar bagai guntur meledak membelah angkasa. Tapi, tidak ada seorang prajurit pun yang bergerak menyerang. Mereka hanya berdiri diam terpaku, tidak bergeming sedikit pun. Sangat jelas pada raut wajah mereka terlihat penuh kebimbangan.

Memang benar perhitungan Pendekar Rajawali Sakti, Sebap prajurit pasti akan mengikuti perintah rajanya yang asli. Dan kalaupun mereka memberontak, itu hanya karena takut tekanan-tekanan dari orang yang memimpin pemberontakan dan yang menguasai kerajaan sekarang. Kini buktinya, mereka jadi bimbang setelah melihat Prabu Gandaraka terbebas. Apalagi, mereka juga melihat ada pendekar tangguh yang akan melindungi Kerajaan Jenggala ini.

Demikian pula panglima-panglima yang ikut dalam pemberontakan. Dan sebenarnya, begitu melihat tindakan Raden Banyugara yang biadab, para panglima mulai sadar kalau telah diperdaya oleh Raden Banyugara. Dan untuk berontak kembali, mereka takut. Karena jelas, kesaktian Raden Banyugara sudah demikian tinggi. Rasanya, hanya orang berkepandaian sangat tinggi saja yang dapan menundukkannya. Maka tak heran, begitu mereka melihat Pendekar Rajawali Sakti datang, para panglima, punggawa, dan prajurit menjadi agak lega.

Dan tiba-tiba saja seorang punggawa melemparkan pedang ke lantai. Secara serempak, mendadak saja semua prajurit yang ada di dalam ruangan ini melemparkan senjata ke lantai. Melihat itu, wajah Raden Banyugara jadi memerah bagai terbakar. Seketika kedua bola matanya berapi-api, menatap para prajurit yang tidak mau lagi mematuhi perintahnya. Pandangannya segera beredar ke sekeliling. Tampak semua prajurit sudah meletakkan senjata. Dan di antara mereka, tidak terlihat seorang panglima atau patih yang semula mendukung pemberontakannya.

"Setan keparat! Kalian juga mau membangkang, heh...?!" bentak Raden Banyugara geram.

Tiba-tiba saja pemuda itu menghentakkan tangan kirinya ke samping.

"Yeaaah...!"

Dan seketika itu juga, terlihat gumpalan bulatan hitam meluncur deras dari telapak tangan kiri Raden Banyugara. Dan bulatan hitam itu langsung menyebar, menjadi bulatan-bulatan hitam kecil yang menghantam beberapa prajurit di sebelah kiri ruangan ini.

"Heh...?!"

Rangga jadi terbeliak kaget, begitu melihat sekitar dua puluh orang prajurit seketika ambruk tanpa bersuara sedikit pun. Dan di dada mereka tergambar telapak tangan berwarna hitam yang mengepulkan asap. Keterkejutan Pendekar Rajawali Sakti cepat lenyap, dan berganti kegeraman yang tidak dapat lagi terbendung dalam dada.

"Keparat...! Hatimu benar-benar sudah ditunggangi iblis, Banyugara!" desis Rangga menggeram berang.

"Ha ha ha...! Kau juga akan mampus seperti mereka, Rangga. Kalian juga, Prajurit-prajurit Keparat!"

"Hhh!"

Rangga melirik sedikit pada Prabu Gandaraka yang berada di sebelah kanannya.

"Menyingkirlah, Gusti Prabu. Biar manusia iblis ini kuhadapi," ujar Rangga pelan.

"Hati-hati, Dimas Rangga. Dia punya ilmu iblis yang sangat dahsyat. Semua panglima kepercayaanku tewas di tangannya. Juga beberapa patih," kata Prabu Gandaraka memperingati.

"Aku tahu, Gusti Prabu," sahut Rangga agak datar.

"Aku percaya padamu, Dimas Rangga."

"Perintahkan semua prajurit untuk keluar."

"Baik."

Prabu Gandaraka segera melangkah ke belakang menjauhi Pendekar Rajawali Sakti. Juga di perintahkannya semua prajurit untuk keluar dari ruangan ini. Prajurit-prajurit itu segera berlompatan keluar melalui jendela, meninggalkan Rangga dan Raden Banyugara berdua saja di dalam ruangan ini. Sementara, Prabu Gandaraka juga sudah berada diambang pintu yang jaraknya cukup jauh dari mereka yang berdiri saling berhadapan dengan sorot mata tajam. Seakan-akan, mereka tengah mengukur tingkat kepandaian masing-masing.

DELAPAN

Perlahan Raden Banyugara menggerakkan kakinya, bergeser ke kanan menyusuri lantai ruangan Balai Sema Agung ini. Sementara, Rangga tetap berdiri tegak memperhatikan setiap gerakan pemuda pemberontak ini tanpa berkedip sedikit pun. Rangga sadar, ilmu yang dimiliki Raden Banyugara tidak bisa dipandang rendah. Itu sudah dilihatnya sendiri ketika dua puluh orang prajurit di ruangan ini kontan tewas hanya sekali gebrak saja. Demikian pula pada seorang patih dan puluhan prajurit yang tewas di halaman belakang istana ini.

Tap!

Rangga menggenggam erat gagang pedang pusakanya yang selalu tersandang di punggung. Dan perlahan-lahan Pedang Pusaka Rajawali Sakti dicabut dari warangkanya. Saat itu juga, membias cahaya biru yang begitu terang menyilaukan dari mata pedang itu.

Wut!

Terdengar hembusan angin yang begitu keras, saat Rangga mengebutkan pedangnya di depan dada. Dan kini, pedang itu tersilang lurus di depan dada. Cahaya biru yang memancar dari pedang itu membuat hati Raden Banyugara jadi terkesiap juga.

Ketangguhan Pedang Pusaka Rajawali Sakti sudah sering didengarnya. Dan tidak ada satu senjata pun di dunia ini yang bisa menandingi kedahsyatannya. Namun, Raden Banyugara sudah merasa kepalang basah. Dia tidak mungkin lagi mundur dari pertarungan yang akan berlangsung. Masalahnya, sudah tentu Rangga tidak akan melepaskannya begitu saja.

"Hiyaaat..!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Raden Banyugara melesat sambil mengangkat pedangnya yang tergenggam dengan kedua tangannya ke atas kepala. Dan dengan pengerahan tenaga dalam penuh, pedangnya dihantamkan tepat ke bagian tengah kepala Pendekar Rajawali Sakti.

"Haps! Yeaaah...!"

Cepat sekali Rangga mengangkat pedangnya melintang di atas kepala. Akibatnya tebasan pedang Raden Banyugara tidak dapat lagi tertahan. Saat itu juga....

Trang!
"Ikh...!"

Raden Banyugara jadi tersentak kaget setengah mati, begitu pedangnya beradu dengan Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Cepat-cepat dia melompat ke belakang, dan berputaran beberapa kali di udara, sebelum kakinya menjejak lantai.

"Heh...?!"

Saat itu juga, kedua bola mata Raden Banyugara jadi terbeliak lebar. Pedangnya kini hanya tinggal setengah. Buntung saat berbenturan dengan pedang yang memancarkan cahaya biru terang berkilauan itu.

"Hih!"
Tring!

Raden Banyugara membuang kesal pedangnya. Matanya lalu melirik sedikit pada sebatang tombak yang tergeletak tidak seberapa jauh darinya. Cepat kakinya melangkah menghampiri tombak itu. Dan dengan sentakan ujung jari kakinya, tombak itu melayang ke atas. Lalu, tangkas sekali Raden Banyugara menangkapnya.

"Hiyaaat..!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raden Banyugara melompat sambil berteriak keras. Langsung tombak berukuran panjang itu dihunjamkan ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Haiiit...!"

Dengan gerakan manis sekali, Rangga menghindari hunjaman tombak. Dan begitu lewat di samping tubuhnya, cepat tangan kirinya dihentakkan ke bagian tengah tombak ini. Begitu cepat sentakan tangan kirinya, sehingga Raden Banyugara tidak sempat lagi menarik tombaknya. Dan....

Trak!
"Hup!"

Raden Banyugara cepat-cepat melompat kebelakang sejauh tiga langkah. Dengan hati kesal, dibuangnya tombak yang juga terpenggal kena tebasan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Rangga sendiri berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada.

Kini, tidak ada lagi senjata yang bisa diandalkan Raden Banyugara. Pedang pusaka yang tergenggam di tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti memang terlalu tangguh untuk dilawan. Raden Banyugara seperti baru tersadar. Dia tahu, Rangga tidak akan menggunakan pedangnya kalau lawan yang dihadapi juga tidak menggunakan senjata. Menyadari akan watak ksatria Pendekar Rajawali Sakti, Raden Banyugara segera bersiap menggunakan tangan kosong.

"Hm...," Rangga menggumam sedikit, melihat Raden Banyugara membuka jurus tangan kosong.

Cring!

Maka dengan gerakan indah sekali, Pendekar Rajawali Sakti memasukkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangkanya di punggung. Dan seketika itu juga, ruangan yang semula terang berkilau oleh cahaya dari pedang itu, jadi kembali seperti semula. Kini ruangan itu hanya diterangi cahaya lampu yang terpancang disetiap sudut ruangan ini.

"Hiyaaat..!"

Raden Banyugara segera melompat menyerang, begitu Rangga memasukkan senjatanya. Satu pukulan keras menggeledek dilepaskan, tepat mengarah ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan indah sekali, Rangga meliukkan tubuhnya menghindari pukulan keras bertenaga dalam tinggi lawannya.

Dan tanpa diduga sama sekali, Raden Banyugara melenting ke atas, lalu berputaran sekali tepat di atas kepala Pendekar Rajawali Sakti. Dan saat itu juga, tangan kanannya mengibas cepat ke punggung, hendak meraih gagang pedang di punggung Rangga.

"Setan! Hih...!"

Rangga jadi kaget setengah mati, tidak menyangka kalau Raden Banyugara bermaksud merebut pedangnya. Maka dengan cepat Pendekar Rajawati Sakti memutar tubuhnya sambil meliuk ke kanan, hingga tubuhnya miring. Dan saat itu juga tangan kanannya dihentakkan, memberi satu pukulan cepat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Yeaaah...!"
"Hups!"

Raden Banyugara yang gagal mengambil pedang Pendekar Rajawali Sakti, cepat-cepat melenting tinggi-tinggi ke udara. Dan dengan manis sekali kakinya menjejak tanah, sebelum Rangga bisa memutar tubuh. Lalu cepat sekali pemuda itu menghentakkan kaki kanan, memberi satu tendangan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!"
"Haiiit!"

Namun hanya sedikit saja Rangga mengegoskan tubuhnya, tendangan Raden Banyugara hanya menyambar angin kosong. Saat itu juga, Rangga menghentakkan kakinya ke belakang, tanpa membalikkan tubuh sedikit pun. Begitu cepat sentakan kakinya, membuat Raden Banyugara tidak sempat lagi menghindari. Terlebih lagi, dia juga belum sempat menarik kakinya yang terhentak ke depan.

Diegkh!
"Akh...!"

Raden Banyugara jadi terpekik, begitu telapak kaki Rangga tepat menghantam dadanya. Pemuda itu kontan terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi dadanya. Tampak darah kental menetes keluar dari sudut bibirnya. Begitu keras tendangan yang dilepaskan Rangga, hingga membuat tarikan napas Raden Banyugara jadi tersendat.

"Hap!"

Raden Banyugara cepat-cepat melakukan beberapa gerakan dengan kedua tangannya. Perlahan disekanya darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Tampak sorot matanya begitu tajam, memancar lurus bagai hendak menembus dua bola mata Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak menanti sambil melipat kedua tangan didepan dada.

"Phuih!"

Raden Banyugara menyemburkan ludah yang bercampur darah. Disekanya kembali sisa darah di bibir dengan punggung tangan, lalu perlahan kakinya bergeser ke kanan. Sementara, Rangga tetap berdiri tegak memperhatikan gerakan kaki lawannya dengan mata tidak berkedip sedikit pun juga.

"Sebaiknya kau menyerah saja, Banyugara. Tidak ada gunanya terus bertahan," kata Rangga mencoba membujuk.

"Phuih! Aku lebih baik mati daripada menyerah, Rangga!" dengus Raden Banyugara seraya menyemburkan ludahnya.

"Kau harus menyadari, tidak ada seorang pun yang berdiri di belakangmu, Banyugara. Menyerahlah! Jangan mempersulit dirimu lebih parah lagi," kata Rangga lagi, terus membujuk.

"Jangan banyak omong kau, Rangga! Kau atau aku yang mati di sini!" bentak Raden Banyugara garang.

"Hm...," Rangga jadi menggumam kecil.

Pendekar Rajawali Sakti tahu, Raden Banyugara tidak akan bisa dibujuk lagi. Memang tidak ada pilihan lain lagi baginya Raden Banyugara lebih memilih mati di dalam pertarungan daripada harus menyerahkan diri dan dihukum mati sebagai pemberontak Walaupun sudah melakukan pemberontakan, memang Raden Banyugara akan tetap merasa terhormat kalau mati dalam pertarungan. Masalahnya, dia akan menjadi lecehan kalau mati di tiang gantungan, jika menyerah.

Kali ini, Rangga menghadapi pilihan yang sangat sulit. Di dalam hati kecilnya, dia tidak ingin sampai Raden Banyugara terbunuh di tangannya. Tapi sikap lawannya ini memang tidak bisa lagi dihindari. Dan memang harus diakui kalau sikap yang diambil Raden Banyugara adalah demi kehormatannya sendiri. Apa pun yang terjadi, Raden Banyugara tetap akan bertahan sampai menemui ajal di tangan lawan.

"Hhh...!"

Rangga menghembuskan napas panjang-panjang. Terasa begitu berat tarikan napasnya. Matanya melirik sedikit pada Prabu Gandaraka yang masih tetap berdiri di ambang pintu, memperhatikan dua pemuda yang berdiri saling berhadapan ini. Tidak berapa lama, perhatian Rangga kembali tertuju pada Raden Banyugara yang sudah bergerak menggeser lagi ke kanan perlahan-lahan. Kedua tangannya bergerak-gerak diikuti gerakan tubuh yang indah membuka jurus, sambil mencari peluang untuk melancarkan serangan. Sedangkan Rangga sendiri tetap berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun.

"Hiyaaat...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Raden Banyugara menghentakkan kedua tangannya ke depan. Dan seketika itu juga, dari kedua telapak tangannya melesat gumpalan asap hitam yang meluncur begitu cepat bagai kilat ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hap! Yeaaah...!"

Cepat-cepat Rangga melenting ke udara, dan berputaran beberapa kali menghindari gumpalan asap hitam yang langsung terpecah menyebar menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang menyerangnya dengan kecepatan sangat tinggi.

Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali menjejakkan kakinya di lantai, setelah gumpalan-gumpalan asap hitam itu lewat. Saat itu juga, terdengar suara-suara ledakan keras menggelegar dari belakang. Tampak dinding yang ada di belakang Pendekar Rajawali Sakti jebol terlanda gumpalan hitam ini.

"Gila...!" desis Rangga terkejut.

Sungguh tidak disangka kalau gumpalan asap hitam itu sangat dahsyat. Akibatnya, dinding istana yang sangat tebal itu hancur berkeping keping, menimbulkan kepulan debu yang memenuhi ruangan ini. Rangga cepat-cepat melompat ke belakang tiga tindak, untuk menjaga jarak dari lawannya.

"Hap!"

Cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti merapatkan kedua telapak tangan di depan dada. Dan tubuhnya langsung bergerak ke kanan, lalu dengan cepat ditarik kekiri hingga doyong hampir jatuh. Dan perlahan tubuhnya bergerak tegak. Dan kini kedua kakinya terentang lebar ke samping. Saat itu juga, dari kedua telapak tangan yang merapat di depan dada itu terlihat cahaya biru menyemburat bagai hendak keluar.

Sementara Raden Banyugara sudah kembali bersiap melancarkan serangan dahsyatnya yang disebut aji 'Tapak Dewa Hitam'. Sebuah ilmu kesaktian yang cukup dahsyat, hingga membuat Rangga terpaksa harus mengerahkan aji "Cakra Buana Sukma'.

"Hiyaaa...!"

Tepat di saat Raden Banyugara menghentakkan kedua tangannya ke depan, saat itu juga Rangga menghentakkan tangannya ke depan sambil berteriak keras menggelegar bagai ledakan guntur membelah angkasa.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"

Bersamaan dengan melesatnya gumpalan asap hitam dari kedua telapak tangan Raden Banyugara, saat itu juga dari kedua telapak tangan Rangga yang terbuka dan menjulur ke depan, melesat cahaya biru yang sangat terang menyilaukan mata. Seketika cahaya biru berkilauan itu langsung menghantam gumpalan asap hitam.

Glarrr!

Satu ledakan keras menggelegar terdengar begitu mengejutkan. Begitu kerasnya, hingga membuat seluruh dinding dan atap bangunan istana ini jadi bergetar bagai diguncang gempa.

"Yeaaah...!"

Rangga cepat-cepat menghentakkan kedua tangannya ke depan, membuat cahaya biru yang memancar dari kedua telapak tangannya terus meluruk deras ke arah Raden Banyugara. Pemuda itu kontan terbeliak lebar. Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindar. Dan memang belum juga berbuat sesuatu, cahaya biru itu sudah menghantam keras tubuhnya.

"Akh...!"

Raden Banyugara jadi terpekik, dan kontan terdorong ke belakang sejauh lima langkah. Tapi, dia tidak sampai jatuh ke lantai. Sementara, seluruh tubuhnya sudah terselubung cahaya biru yang terus memancar semakin pekat menggumpal dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aaakh...!"

Raden Banyugara memekik keras, sambil menggeliat-geliat di dalam selubung cahaya biru yang semakin menggumpal menyelimuti seluruh tubuhnya. Sama sekali tidak disadari kalau aji 'Cakra Buana Sukma yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti malah menyedot kekuatannya.

Semakin keras Raden Banyugara mengerahkan tenaga untuk keluar dari selubung cahaya biru yang menggumpal menyelimuti tubuhnya, semakin deras pula kekuatannya terbuang sia-sia. Namun semua itu sama sekali tidak disadari. Malah semakin dahsyat seluruh kekuatannya dikerahkan untuk bisa terlepas dari gumpalan cahaya biru ini.

"Hih! Yeaaah..!"

Rangga tiba-tiba saja berteriak keras, sambil menghentakkan kedua tangannya ke depan.

"Aaakh...!"

Raden Banyugara terpekik. Dan seketika itu juga tubuhnya terpental ke belakang, sejauh dua batang tombak. Pemuda itu bergulingan beberapa kali di lantai istana yang licin dan keras berkilatan ini. Gulingan tubuh Raden Banyugara baru berhenti, setelah punggungnya menghantam dinding hingga seluruh ruangan ini jadi bergetar.

"Ugkh! Hoeeekh....'"

Raden Banyugara langsung memuntahkan darah kental berwarna agak kehitaman. Dia berusaha bangkit berdiri, tapi seluruh tenaganya bagai terkuras habis. Dirasakannya seluruh tubuhnya jadi lemah, tidak bisa digerakkan lagi. Sementara, Rangga sudah melangkah menghampiri.

"Ugkh...!"

Raden Banyugara berusaha merangkak, mendekati sebilah pedang yang tergeletak tidak jauh darinya. Belum juga Rangga mendekat, Raden Banyugara sudah bisa meraih pedang itu. Dan dengan sisa kekuatan yang ada....

"Hih!"
"Eh?! Jangan...!"
Jleb!
"Hegkh...!"

Rangga jadi tersentak setengah mati. Sungguh tidak disangka kalau Raden Banyugara akan berbuat senekat itu. Jantungnya sendiri dihunjamkan dengan pedang. Darah langsung muncrat keluar dari dada kirinya yang tertembus pedang, hingga ujungnya menyembul keluar dari punggung. Saat itu juga Raden Banyugara menggeletak dengan nyawa melayang dari tubuh.

Sementara, Rangga hanya bisa berdiri mematung memandangi. Benar-benar disesalinya tindakan Raden Banyugara. Padahal, tadi ajiannya sengaja tidak dituntaskan, hingga pemuda itu masih bisa hidup dan bergerak. Tapi, rupanya Raden Banyugara sudah merasa tidak ada gunanya lagi hidup dengan kelumpuhan yang diderita. Hidupnya sendiri diakhiri dengan pedang yang dihunjamkan ke dadanya.

"Hhh...!"

Rangga menghembuskan napas panjang. Tubuhnya diputar berbalik, dan melangkah menghampiri Prabu Gandaraka yang masih tetap berdiri di ambang pintu. Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar lima langkah lagi di depan Raja Jenggala.

"Aku akan kembali ke Karang Setra, memberi tahu semua ini pada Putri Arum Winasih," kata Rangga langsung.

"Tidak menunggu besok pagi saja, Rangga?"

Rangga hanya tersenyum saja, dan terus saja melangkah melewati Raja Jenggala ini. Tapi baru melewati beberapa langkah, ayunan kakinya sudah terhenti lagi. Dan kepalanya diputar sedikit ke belakang.

"Paman Panglima Gagak Sewu ada di sini. Mungkin dia ada di rumah sahabatnya yang bernama Ki Rambulun," kata Rangga, memberi tahu.

Dan belum juga Prabu Gandaraka bisa membuka suara, Pendekar Rajawali Sakti sudah melesat cepat. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya. Hingga dalam sekejapan mata saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas lagi. Sementara Prabu Gandaraka masih tetap berdiri mematung, memandang ke arah kepergian Pendekar Rajawali Sakti yang sudah mengembalikan tahta Jenggala padanya.

"Kau benar-benar seorang pendekar ksatria, Rangga. Mudah-mudahan sang Hyang Widhi selalu bersamamu," desah Prabu Gandaraka perlahan.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: DEWA RACUN HITAM
Thanks for reading Istana Gerbang Neraka I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »