Dukun Dari Tibet

Pendekar Rajawali Sakti

DUKUN DARI TIBET


SATU
UDARA bertambah dingin dan angin bertiup semakin kencang. Sementara gerimis yang sejak tadi mengguyur Desa Waringin Pitu berubah menjadi hujan deras. Rumah-rumah penduduk terlihat tertutup rapat. Dalam cuaca seperti ini membuat mereka malas untuk keluar rumah. Rasanya lebih betah berada di dalam, menikmati singkong rebus sambil menghirup kopi! Lagi pula di luar keadaan sudah semakin gelap. Mendung tebal yang mendekati senja ini membuat perbedaan antara siang dan malam jadi tak jelas. Semua terlihat kelam.

Jauh sebelum mencapai mulut desa, seorang laki-laki memakai topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu, tampak berjalan dengan tenang seperti tak terganggu dengan tetesan air hujan yang telah membasahi bahu dan punggungnya. Wajahnya tak jelas terlihat karena orang itu berjalan sambil menunduk. Agaknya dia sangat tak peduli dengan keadaan disekelilingnya. Juga tak terlihat bahwa dia sedang tergesa-gesa.

"Berhenti...!!"

Beberapa sosok bayangan tiba-tiba saja mengurungnya. Orang itu menghentikan langkah. Kepalanya masih tertunduk tanpa menoleh sedikitpun. Ketika secercah kilat menerangi tempat itu, sempat tertangkap oleh matanya golok-golok yang tajam berkilat di tangan orang-orang yang kini mengurungnya itu.

"Tinggalkan barang-barangmu yang berharga, dan kau boleh pergi dari sini dengan selamat!" Terdengar kembali suara membentak.

"Kalau tidak...?" sahut si orang bertopi lebar itu dingin.

"Huh, kau akan mampus!"

"Hebat! Sebelum kuserahkan barang-barang berharga yang kumiliki, bolehkah aku mengetahui sedang berhadapan dengan siapa saat ini?"

"Huh, kau tak perlu tahu! Ayo, cepat serahkan barang-barangmu!"

"Kisanak, akan sengsaralah aku karena tak mengetahui kepada siapa barang-barangku ini diberikan. Dan aku punya sikap meski kalian bunuh sekalipun, tak akan kuberikan barang-barangku sebelum mengetahui siapa kalian adanya," sahut orang bertopi lebar itu tenang.

"Bangsat! Banyak bicara lagi. Sudah, cepat habisi dia!" Teriak salah seorang yang agaknya sudah tidak sabaran lagi mendengar kata-kata orang itu.

Yang lain sudah mulai bergerak hendak menghajar, namun salah seorang yang agaknya bertindak sebagai pemimpin mereka mencegahnya.

"Sebentar! Tak ada salahnya kalau dia mengetahui siapa kita!"

"Tapi, Kala Ireng..., orang ini cerewet sekali. Kalau kau melayani sikapnya, dia akan lebih cerewet lagi nantinya!" bantah salah seorang anak buahnya.

"Betul! Sebaiknya tak usah kita ladeni dan sikat saja barang-barangnya kemudian tinggalkan saja di sini. Mau mampus atau bagaimana, terserah kita saja!" dukung seorang kawannya yang sebelah kakinya timpang.

"Tidak!" sahut Kala Ireng tegas. Orang berkulit hitam dan berkumis tipis itu kemudian melangkah mendekati si topi lebar yang memakai baju kuning. Kemudian terdengar suaranya yang pelan, namun jelas terdengar.

"Nah, kau sudah dengar siapa aku. Kala Ireng, pemimpin Rampok Lembah Maut!"

"Hmmm..., Rampok Lembah Maut? Hebatkah kalian...?" tanya orang itu lagi.

Pertanyaannya itu memang aneh dan lucu. Tentu saja menggelikan bagi Kala Ireng. Kenapa tidak? Karena sejauh lima desa nama mereka sangat ditakuti. Dan kalau sampai orang ini tak mengenalnya, sudah pasti dia pendatang baru di tempat ini. Dan hal itu. amat menggembirakan baginya. Tapi kawan-kawannya sudah tak sabaran dan mulai ribut melihat Kala Ireng agaknya masih saja meladeni pertanyaan-pertanyaan orang asing itu yang menurut mereka sama sekali tak berguna.

"Orang asing, agaknya kau tak mengenal kami sebelumnya. Pantas kelihatannya kau menganggap enteng. Nah, kuperingatkan sekali lagi. Berikan semua barang-barang berharga yang kau miliki dan kau boleh pergi dengan selamat. Kalau tidak, kau boleh mampus!"

"Ha ha ha ha...! Kukira siapa yang bicara seperti itu ternyata cuma tikus-tikus got yang kelaparan...!"

"He, setaan!"

Bangsat! Hajar dia!" maki Kala Ireng.

Pada mulanya dia menganggap orang itu telah gentar ketakutan begitu mengetahui siapa mereka. Tapi siapa sangka orang bertopi lebar itu malah ketawa keras. Bahkan dari nada suaranya terkesan meremehkan dan sama sekali tak memandang sebelah mata kepada mereka. Salah seorang anak buah Kala Ireng langsung memaki, dan sebelum diberi perintah, dia sudah mencabut golok dan menyerang orang itu dengan geram.

"Yeaaa...!"
Hup!
Plak!
"Uhk!"
"Kepuuung! Jangan biarkan lolos!"
"Yeaaa...!

Orang yang pertama menyerang tadi mengeluh kesakitan ketika dengan cepat serangannya dihindari lawan. Bahkan tahu-tahu dia merasa pergelangan tangannya seperti dihantam besi dan goloknya terpental ke atas. Tentu saja hal ini membuat kawan-kawannya semakin geram saja. Mereka menyerang lawan dengan penuh nafsu.

Plak! Duk! Des!
"Aaaakh...!"
"Heh?!

Kala Ireng tersentak kaget. Betapa tidak? Dalam sekali gebrak saja empat orang anak buahnya dibuat jungkir balik dan tak berdaya. Padahal mereka bukanlah orang sembarangan. Sadarlah dia kini bahwa si topi lebar itu bukan orang biasa yang mudah mereka taklukkan. Dia memandang tajam sambil melangkah berputar.

"Siapa kau sebenarnya?! Gerakanmu aneh dan sama sekali tak menunjukkan bahwa ilmu silatmu berasal dari negri ini!"

"Hm, apakah hal itu berarti?" sahut orang itu dingin penuh ejekan.

"Puiih! Kau boleh menyombongkan diri di hadapan mereka. Tapi menghadapi Kala Ireng jangan coba-coba!"

"Jangan bisanya hanya memaki. He, majulah kalau memang kau memiliki kepandaian hebat!"

"Mundur kalian semua!" bentak Kala Ireng.

Beberapa orang anak buahnya agak ragu mematuhi perintah ketuanya itu. Disamping mereka masih penasaran dan dendam dengan orang asing itu, mereka juga tak yakin Kala Ireng mampu menghadapinya seorang diri. Yang pasti kepandaian Kala Ireng memang hebat, tapi sebatas satu tingkat di atas kepandaian mereka. Dan kalau orang asing itu mampu menjatuhkan mereka dalam satu gebrakan, berapa jurus yang digunakan untuk menjatuhkan Kala Ireng? Mereka tampak yakin bahwa Kala Ireng bukan tandingan orang asing ini, tapi Kala Ireng sendiri begitu yakin kalau dia mampu mengatasi lawannya. Buktinya dia membentak sekali lagi ketika dilihatnya anak buahnya tetap bersikap hendak mengeroyok orang asing itu.

"Kurang ajar! He, apa telinga kalian tuli?! Mundur kalian. Menghadapi kutu busuk begini saja tak becus, huh!"

Mendengar Kala Ireng kelihatan bersikeras sekali untuk menghadapi orang asing itu sendirian, anak buahnya terpaksa mematuhi. Namun dengan sikap waspada dan menjaga segala kemungkinan buruk yang akan menimpa ketuanya"

"Yeaaa...!"
"Huh!"

Dengan suatu teriakan keras, Kala Ireng melompat sambil mengerahkan segenap kemampuan bergerak. Dia berharap dalam sekali gebrak lawan akan jungkir balik dibuatnya. Oleh sebab itu tak heran kalau dia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Bahkan tak kepalang tanggung dia menggunakan jurus andalannya untuk menjatuhkan lawan secepatnya.

Orang asing itu cuma mendengus sinis. Tubuhnya bergerak lincah menghindari serangan lawan. Kemudian mendadak dia melompat sambil melakukan satu tendangan kilat yang mengarah dagu Kala Ireng.

"Heh?!"

Kala Ireng terlonjak kaget. Kalau saja dia tak cepat membuang diri ke samping, niscaya rahangnya akan remuk dihantam tendangan lawan yang sangat keras. Angin serangannya saja mampu membuatnya terdorong. Bertambah sadarlah dia bahwa lawan memang bukan orang sembarangan. Tenaga dalamnya hebat, dan kecepatan bergeraknya luar biasa. Dia mulai tak yakin bisa mengunggulinya. Berpikir begitu diam-diam nyalinya mulai ciut, dan kekhawatirannya semakin memuncak.

Entah hal itu yang membuatnya lengah dari serangan lawan, atau karena lawan yang mampu mendikte serangannya. Mendadak Kala Ireng merasakan sambaran angin kencang yang menerpa. Buru-buru dia bergulingan menghindari diri karena mengira lawan tengah menyerangnya dengan cepat. Tapi....

Begkh!
"Akh...!"
Crab!

Jeritan Kala Ireng berhenti ketika sebuah benda tajam yang datangnya entah dari mana, menancap di dada sebelah kirinya. Anak buahnya tersentak kaget dan baru menyadari ketika tubuh ketua mereka terlempar.

"Heh?!" Keparat! Orang ini mestinya mampus sejak tadi!: maki salah seorang anak buah Kala Ireng.

"Bunuh dia, dan jangan beri ampun!"

Serentak tujuh orang anak buah Kala Ireng menyerbu dan menyerang lawan dengan ganas. Golok mereka berhamburan mengejar orang bertopi lebar itu yang bergerak lincah sekali.

"He he he he...! Tikus busuk yang tak berguna, kalian bukanlah tandinganku. Percuma saja aku membuang tenaga menghadapi kalian!"

"Huh, sombong! Kau pikir bisa luput dari kematianmu saat ini?! sahut salah seorang anak buah Kala Ireng kala mendengar ocehan lawan yang merendahkan mereka.

"Apalagi orang yang hanya punya mulut besar sepertimu!"

"Setan!"
"Yeaaa...!"
"Hup!"

"Ayo, buktikan mulut besarmu sekarang juga!"

"Ha ha ha ha...! Kenapa musti buru-buru? Tapi kalau kalian memang sudah tak sabaran menemui ketuamu, baiklah. Yeaaa...!"

Trak!
Begkh!
Crab!

"Aaaa...!"
"Hiiih!"
Praak!

Apa yang dilakukan si topi lebar itu sungguh luar biasa. Dia betul-betul membuktikan kata-katanya. Ketika tubuhnya melompat ke atas, para pengeroyoknya itu bermaksud mengejar. Namun mereka tak keburu bergerak sebab dengan tiba-tiba orang itu melempar topi lebarnya ke arah lawan-lawannya. Mereka terkesiap dan buru-buru menangkis dengan golok yang dipegangnya. Tapi siapa duga kejadiannya akan lain?

Topi lebar itu menderu kencang menimbulkan kekuatan yang mampu menghantam golok-golok di tangan mereka terpental. Belum lagi habis rasa kaget, mendadak satu hantaman keras menerpa. Orang-orang itu memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal bermandikan darah. Orang asing itu mengamuk dengan hebat dan gerakan sangat cepat. Ketika tinggal dua orang yang tersisa, telapak kirinya bergerak tanpa bisa ditangkis menghantam batok kepala salah seorang. Orang itu langsung ambruk tak bernyawa lagi.

"Hm, sekarang tinggal kau sendiri. Kau tentukan nasibmu...." kata orang asing itu menyeringai buas.

Anak buah Kala Ireng yang tinggal seorang itu mulai gemetar tubuhnya ketika lawan mendekatinya perlahan-lahan. Kini dia bisa melihat dengan jelas rupa orang itu. Sepasang alisnya tajam miring ke atas dengan mata sipit. Kumisnya kecil dan panjang pada kedua ujungnya. Rambutnya yang panjang terlihat dikepang dan dikalungkan ke leher. Pada ujungnya terlihat sebuah pisau yang diikat. Agaknya senjata inilah yang tadi merenggut nyawa Kala Ireng dan beberapa orang anak buahnya.

"Eh, aa... a...!"

"Ha ha ha ha! Kau boleh pergi dari sini dengan selamat. Katakan pada semua jago persilatan di negri ini, aku U Than Kyung akan menantang mereka!" kata orang asing itu sambil terkekeh penuh kemenangan.

Mendengar kesempatan itu, orang tersebut langsung lari terbirit-birit diiringi gelak tawa U Than Kyung yang tak putus-putusnya.

********************

Juragan Sumantri tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di beranda depan rumahnya. Wajahnya tampak kusut dan gelisah. Beberapa orang centengnya diam mematung, tak tahu apa yang harus dilakukan. Laki-laki berperawakan besar dengan perut sedikit gendut itu berhenti melangkah. Sambil menghisap tembakau yang berada di dalam cangklong gading, dia. memandang tajam pada mereka satu persatu.

"Apakah tak ada diantara kalian yang berusaha mencari dukun hebat untuk menyembuhkan putriku?"

"Maaf, Juragan. Segalanya sudah kami usahakan, dan Juragan melihat sendiri hasilnya. Mereka semua tak mampu mengobati Neng Purwasih..." sahut salah seorang centengnya yang bernama Giman.

Juragan Sumantri menghela nafas berat. Pikirannya kusut sekali memikirkan putri satu-satunya. Sudah satu purnama ini Purwasih menderita penyakit aneh. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh kudis-kudis kecil yang sulit diobati. Bukan hanya itu, namun dia juga menderita demam berkepanjangan. Panas tubuhnya dalam sehari cuma normal kira-kira dua kali penanakan nasi saja, untuk kemudian kembali diserang demam. Sudah beberapa orang dukun yang berusaha mengobati namun tak satupun yang membawa hasil. Purwasih terus menggigil sambil merintih kesakitan. Tubuhnya sudah kurus kering tinggal kulit pembalut tulang. Wajahnya yang dulu cantik, berubah bagai mayat hidup yang menjijikkan.

"Gan..., Juragan...."

"Eh, hm?! Ada apa...?!" Juragan Sumantri tersentak kaget ketika salah seorang anak buahnya menepuk pundaknya. Lamunannya buyar, dan di pintu gerbang terlihat seorang centeng tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang tak dikenalnya.

"Orang itu hendak bertemu, Juragan..." kata centeng yang tadi membangunkannya.

"Siapa dia?"

"Katanya dia hendak menyembuhkan Neng Purwasih..."

"Apa?!" Juragan Sumantri cepat bangkit dari kursinya dan memandang pada laki-laki berbaju kuning di depan sana.

"Suruh dia masuk!" lanjutnya.

Laki-laki itu perawakannya sedang saja. Matanya sipit dengan sepasang alis yang miring dan tajam. Kumisnya tipis dengan kedua ujungnya panjang hampir sedagu. Rambutnya yang panjang dikepang dan dililitkan pada lehernya. Sepintas saja Juragan Sumantri bisa menduga bahwa laki-laki yang menebak dari wajahnya berusia sekitar tiga puluh tahun lebih ini bukan penduduk negri melainkan orang asing. Apalagi cara berpakaiannya yang tak sama dengan kebanyakan orang-orang di negri ini. Tapi mendengar niatnya hendak menyembuhkan putrinya, Juragan Sumantri tak mempersoalkan itu.

"Betulkah Ki sanak bermaksud menyembuhkan putriku?" tanyanya girang.

"Juragan, aku mendengar dari orang-orang bahwa putrimu sedang sakit. Kalau memang diperkenankan aku bermaksud untuk mencoba mengobatinya...," sahut orang asing itu sambil memberi hormat. Nada suaranya terdengar halus dan sopan.

Bukan main girangnya Juragan Sumantri mendengar hal itu. Dia sendiri yang mengantarkan tamunya itu ke kamar putrinya. Istrinya yang setiap hari selalu menunggui putrinya terlihat wajahnya sedikit cerah ketika diberitahu bahwa orang asing itu bermaksud mengobati putrinya.

"Mudah-mudahan dia berhasil...," gumam Juragan Sumantri sambil berdoa di hati.

"Orang mana, Pak?" tanya istrinya serasa berbisik.

Juragan Sumantri menggelengkan kepala. Wajah istrinya tampak heran dengan dahi berkerut.

"Yang penting dia mampu mengobati anak kita," jelas Juragan Sumantri agar istrinya tak mempersoalkan hal itu.

Saking girang dan bersemangatnya, Juragan Sumantri sendiri yang mengambil dan mencarikan ramuan obat yang diminta oleh orang asing itu. Hal itu tak terlalu sulit, sebab selain mudah didapat di dapurnya, Juragan Sumantri pun memiliki kebun yang ditanami tumbuh-tumbuhan yang selama ini berguna sebagai obat-obatan di belakang rumahnya.

"Ng... eh, Kisanak terganggu dengan kehadiran kami di sini?" tanya Juragan Sumantri.

Orang asing itu tersenyum sambil menoleh sekilas. "Tidak. Kenapa musti terganggu? Bahkan dengan kehadiran bapak dan ibunya, dia akan lebih tabah dan kuat," sahut orang asing itu simpatik.

Juragan Sumantri tersenyum kecil. Demikian juga istrinya. Mereka memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan orang asing itu. Diurut-urutnya beberapa bagian di tubuh Purwasih. Gadis itu menjerit untuk beberapa saat. Namun dengan telaten orang asing itu membujuknya, sehingga terlihat Purwasih agak sedikit tenang meskipun wajahnya berkerut menahan sakit.

"Nanti setelah ramuan obatnya mendidih, dinginkan sebentar baru diminumkan kepadanya...," kata orang asing itu sambil bangkit dan memandang kepada Juragan Sumantri dan istrinya.

"Eh, apakah ada kemungkinan putri kami sembuh kembali?" tanya Juragan Sumantri.

Orang asing itu tersenyum. "Mudah-mudahan...."

"Oh, terima kasih, Ki sanak! Terima kasih...!"

"Kalau demikian saya permisi dulu..."

"Eh, tunggu dulu!" Juragan Sumantri menahan sambil merogoh saku bajunya dan menyelipkan beberapa keping uang emas ke tangan orang asing itu.

"Oh, terima kasih...."

Dimana kami dapat menghubungi Kisanak bila belum ada perkembangan baik pada putri kami?"

Orang asing itu terdiam sambil tersenyum kecil. Kemudian katanya lirih. "Saya baru datang di negri ini dan tak mempunyai tempat tinggal...."

"Astaga, sampai lupa menanyakan kepada Kisanak! Silahkan duduk lebih dulu!" sahut Juragan Sumantri mengajak orang asing itu ke ruang tamu.

Mereka berbincang-bincang untuk beberapa saat lamanya. Nama orang asing ini sulit diucapkan oleh Juragan Sumantri. Demikian pula bagi centeng-centengnya. Hal itu memang tak mengherankan sebab namanya memang asing di telinga mereka. Namun yang jelas mereka mengetahui bahwa orang ini berasal dari suatu negri yang cukup jauh dari tempat ini. Bahkan di seberang lautan sana. Suatu negri yang bernama Tibet!

"Oh, jadi demikian? Kalau begitu Ki sanak boleh menempati rumah di ujung desa ini. Itu kepunyaan kami. Nanti salah seorang centeng saya akan mengantarkannya," kata Juragan Sumantri menawarkan jasa baiknya.

Terima kasih, Juragan...."

Setelah berbincang-bincang beberapa saat lamanya, Juragan Sumantri memberi perintah salah seorang centengnya untuk mengantarkan tamunya itu ke sebuah rumah di ujung desa. Rumah itu memang sudah lama kosong tiada dihuni. Pemiliknya meninggalkan begitu saja karena merasa bahwa rumah itu banyak dihuni mahluk halus. Tak ada seorang pun di desa ini yang berani berada dekat-dekat di situ. Tapi Juragan Sumantri tak mempercayai hal itu.

Dengan harga murah dibelinya rumah itu dari pemiliknya. Meski tak ditempati, tapi sebagian penduduk desa merasa yakin bahwa sakitnya Purwasih berkaitan erat dengan ketidak percayaan Juragan Sumantri kepada hantu-hantu yang bersemayam di rumah itu. Hal ini didasari bahwa Juragan Sumantri pernah berniat merobohkan rumah itu dan membuatnya menjadi perkebunan. Namun karena putrinya keburu sakit akhirnya rencana itu diundurkan.

Apa yang dikatakan orang asing itu memang terbukti. Selang satu hari demam yang diderita Purwasih berhenti. Kemudian berangsur-angsur kudis-kudis kecil di seluruh tubuhnya mengering. Juragan Sumantri begitu telaten membalur seluruh tubuh anaknya dengan ramuan obat yang diberikan orang asing itu. Sehingga lebih kurang seminggu kemudian tubuh Purwasih telah sembuh seperti sedia kala. Bahkan kudis-kudis yang dideritanya tak meninggalkan bercak sama sekali. Bukan main gembiranya Juragan Sumantri melihat hal itu. Dia pun menjadi royal membagi-bagikan hadiah kepada orang asing itu untuk mengungkapkan perasaan senang dan syukurnya.

Orang asing itu sendiri sejak peristiwa itu banyak dimintai pertolongannya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dari mulai di desa ini namanya semakin terkenal ke desa-desa lainnya karena kemanjuran penyembuhannya yang tiada tara meski tak begitu tahu namanya, tapi orang-orang lebih banyak mengenalnya sebagai Dukun dari Tibet.

********************

DUA

Kedua penunggang kuda itu memacu kudanya lambat-lambat. Sepertinya mereka tak hendak buru-buru mencapai tujuannya. Angin senja yang berhembus sepoi-sepoi dengan pemandangan alam yang cukup indah, membuat keduanya seakan terlena. Bila melihat dari dekat, nyata terlihat bahwa kedua penunggang kuda itu adalah sepasang muda-mudi yang amat rupawan.

Yang pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang terurai dan mengenakan baju rompi putih. Sedangkan yang wanita adalah gadis berwajah cantik berbaju biru muda. Kuda-kuda yang mereka naiki pun serasi sekali. Yang ditunggangi si gadis berbulu putih, sedangkan yang ditunggangi si pemuda berbulu hitam.

Namun melihat bahwa pemuda itu membawa sebuah pedang berhulu kepala burung dipunggungnya, dan yang wanita membawa pedang serta kipas berwarna keperakan di pinggangnya, akan segera diketahui bahwa mereka bukanlah orang sembarangan. Paling tidak mereka berasal dari dunia persilatan.

"Kakang Rangga..." panggil gadis itu dengan suara bergumam.

"Hm... Tidakkah sekali waktu kau berhenti bertualang?"

Pemuda yang dipanggil Rangga, yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti itu tertawa kecil.

"Kenapa kau tertawa?"

"Karena aku tak tahu harus menjawab apa...."

"Bukankah pertanyaanku itu mempunyai jawaban yang mudah? Kakang cuma menjawab satu dari dua pilihan, ya atau tidak."

"Tapi tak semudah mengatakannya. Kalau aku berhenti bertualang, bagaimana mungkin aku bisa mengamalkan segala kepandaian yang kumiliki? Kalau tidak..." suara Rangga terhenti.

"Kalau tidak kenapa Kakang?"

Rangga memandang kepada gadis itu, kemudian kembali tersenyum kecil. "Kau tahu aku mencintaimu, bukan? Akupun mengerti apa yang harus kulakukan. Tapi...."

"Takut aku menghalangi segala gerakanmu, bukan?"

"Pandan, kenapa kau selalu curiga padaku? tanya Rangga sambil mengerutkan dahi mendengar gadis itu memotong pembicaraannya dengan nada ketus.

"Kenapa tidak? Bukankah memang hal itu yang sebenarnya mengganjal di hatimu tentang aku?"

"Aku tak pernah berpikir bahwa kau akan menghalangi segala gerak dan kebebasanku...."

"Lalu apa namanya kalau bukan itu?"

Banyak hal yang harus kau mengerti..."

Coba sebutkan satu persatu biar aku mendengar dan bisa mengerti!" tantang gadis itu yang tak lain dari Pandan Wangi, alias si Kipas Maut.

"Itu berhubungan dengan perasaan dan tekad yang ada di hatiku. Aku tak bisa menjelaskannya begitu saja selama kau mudah tersinggung, mudah curiga, dan gampang menuduh"

"Huh, katakan saja bahwa Kakang hanya mengemukakan hal itu sebagai alasan!" dengus Pandan Wangi sambil memasang wajah cemberut.

"Apakah itu berarti kau tak percaya bahwa aku mencintaimu sepenuh hati?"

Pandan Wangi diam tak mau menjawab pertanyaan Rangga itu.

"Ayolah, coba jawab!"

"Baik, aku akan jawab. Tapi sebelumnya coba jawab dulu pertanyaanku. Apa yang telah kau lakukan sehingga aku harus mempercayai bahwa kau mencintaiku sepenuh hati."

"Banyak!"
"Coba sebutkan satu persatu."
"Hm, kau tak akan cemburu?"
Rangga tersenyum simpul.
Tidak!" sahut Pandan Wangi ketus.

"Baiklah. Berapa lama kita berpisah? Hampir enam bulan, bukan? Nah, dalam jangka waktu itu banyak kejadian yang kutemui. Yang bersangkutan dalam persoalan kita adalah, aku bertemu beberapa gadis cantik, dan diantara mereka ada yang jatuh cinta dan mengharapkan aku mencintainya pula. Kau boleh percaya atau tidak bahwa aku tak pernah mencoba untuk menyeleweng. Kenapa? Karena aku yakin bahwa kau mencintaiku meskipun aku tak berada di depanmu. Lalu kenapa aku mesti menyia-nyiakan kepercayaanmu kepadaku? Tidak. Aku tak mau mengkhianatinya..." jelas Rangga singkat.

Dia memandang Pandan Wangi beberapa saat lamanya. Gadis itu membalas tatapan pemuda itu, kemudian memalingkan wajah ke arah lain dengan pandangan jengah.

"Nah, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang jawablah pertanyaanku tadi" desak Rangga.

Pandan Wangi diam tak menjawab. Rangga menunggu sesaat lamanya sebelum kembali mendesak gadis itu sambil tersenyum kecil.

"Iya, iya!" sahut Pandan Wangi kesal.
"Lho, kok jawabnya begitu?"
"Lalu aku harus jawab bagaimana?"
"Yang betul atas dasar menyadari...."
"Dan membuatmu senang karena berhasil mengecohku?"

Rangga ketawa kecil. "Kenapa kau selalu beranggapan buruk padaku?"

"Karena kau licik dan tak mau mengalah. Maunya menang sendiri, dan tak memikirkan persoalan orang lain!" ketus Pandan Wangi.

"Hm, begitu? Lalu apa namanya kalau setiap hari aku selalu memikirkanmu? Bahkan lebih besar ketimbang aku memikirkan diriku sendiri."

"Bohong!"

"Nah, mulai lagi. Kau selalu tak mau percaya omonganku."

Pandan Wangi diam dan tak mengacuhkan godaan pemuda itu.

Mendadak berkelebat tiga sosok tubuh dari sebuah cabang pohon dan mencegat perjalanan mereka.

Berhenti!"

Serentak Rangga dan Pandan Wangi menghentikan langkah kudanya. Mereka memandang dengan dahi berkerut pada tiga sosok laki-laki bertampang kasar yang berdiri di depan. Salah seorang maju kedepan sambil mengacungkan goloknya yang tajam berkilat.

"Siapa diantara kalian yang bernama U Than Kyung?!" tanya orang itu dengan suara kasar mengancam.

"Kisanak, kau salah alamat. Tak ada yang bernama itu di sini...."

"Setan! Jangan coba membohongi Sawung Kebo."

"Hm, jadi namamu Sawung Kebo? Nah, Sawung Kebo aku telah menjawab pertanyaanmu. Sekarang biarlah kami kembali berlalu," sahut Rangga dengan suara datar.

"Keparat! Lagakmu angkuh sekali, Bocah. Rupanya kau belum merasakan ketajaman golokku, he?! Tak seorang pun boleh berkata begitu selagi aku bertanya. Kau pikir dirimu sudah hebat bila sudah mampu menyandang pedang? Huh!"

Sambil mendengus begitu, Sawung Kebo langsung mengayunkan golok dan bermaksud menebas leher kuda Dewa Bayu yang sedang ditunggangi Pendekar Rajawali Sakti.

"Hieeeeeh...!!"
Tak!
"Aakh...!"

Sawung Kebo menjerit kesakitan ketika kuda itu tiba-tiba mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan menghantam pergelangan tangan laki-laki itu. Goloknya terpental jauh. Dia sendiri memegangi pergelangan tangannya yang patah. Pandan Wangi yang telah lebih dulu lompat dari punggung kudanya, tersenyum kecil.

"Ki sanak, kau terlalu kasar memperlakukan kudaku hingga membuatnya marah. Biarlah kuwakili dia untuk mengucapkan maaf padamu."

"Keparat! Cincang kuda itu!" Sawung Kebo berteriak keras sambil memberi perintah pada kedua kawannya.

"Yeaaa...!"

Kedua kawannya itu langsung melompat sambil mengayunkan golok menghajar Pendekar Rajawali Sakti. Namun pemuda itu masih diam di tempatnya sambil tersenyum meremehkan. Sesaat lagi ujung golok-golok itu akan menebas leher dan pinggangnya, mendadak tubuh pemuda itu bergerak ke atas sambil berputar meliuk-liuk menghindari sambaran senjata lawan.

"Hiyaaat...!"
Plak! Duk!
"Hugkh!"

Kedua orang itu tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba kedua kaki lawan menghajar pergelangan tangannya. Keduanya menjerit kesakitan, dan golok di tangan mereka terpental ke tanah.

"Bangsat!"

"He, masih penasaran? Ayo, ke sinilah cepat!" ejek Rangga.

"Yeaaa...!"

"Kakang, biar kuhajar tikus-tikus busuk yang tak tahu diri ini!" Pandan Wangi berteriak dan sudah langsung mencelat dari punggung kudanya ketika kedua orang itu melompat hendak menyerang Rangga kembali.

"Begkh!"
Duk!
"Aaaakh...!"

Apa yang dilakukan Pandan Wangi lebih keras ketimbang Rangga. Hatinya memang sedang kesal, dan ketiga orang ini hanya membuat kekesalannya semakin bertambah saja. Tak ampun lagi bagi mereka ketika kepalan tangan gadis itu menyodok iga seorang lawan, dan tendangan sebuah kakinya menghantam perut hingga berbunyi seperti nangka busuk. Kedua orang itu kontan menjerit kesakitan sambil berguling-gulingan di tanah.

"Ayo, ke sini kalau kau mau kuhajar juga!" bentak Pandan Wangi pada Sawung Kebo yang mulai ketakutan melihat sepak terjang kedua muda-mudi itu.

"Eh... ng..., maafkan kami, Nisanak...."

"Maaf, maaf... kepalamu! Ayo, ke sini kau! Atau mau kupecahkan kepalamu?!" bentak gadis itu dengan mata melotot dan wajah garang.

Sawung Kebo menelan ludah berkali-kali. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih keras, dan kedua kakinya seperti terpaku erat pada bumi yang dipijaknya.

"Kurang ajar! Rupanya betul-betul ingin kupecahkan batok kepalamu, he?!"

"A... ampun,Ni sanak. Aku... aa... aku...."

"Aaah, banyak bacot! Lebih baik kau mampus saja!"

Bersamaan dengan itu tubuh Pandan Wangi melompat dan bersiap hendak mengayunkan telapak tangannya ke arah batok kepala lawan. Dalam keadaan geram dan kesal yang memuncak begini, bukan tak jadi dia akan melakukan ancamannya kepada orang itu.

"Hup!"
Tap!

"Tahan, Pandan!"

Rangga bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan gadis itu untuk menghalangi niatnya.

"Lepaskan, Kakang! Orang ini hanya membuatku jengkel saja!"

"Untuk apa kau membunuhnya? Apakah dia penjahat kakap? Perusuh masyarakat? Sering membuat keonaran, atau mengganggu ketentraman setiap orang? Belum tentu, bukan? Alangkah baiknya kita tanyai lebih dulu. Siapa tahu dia punya alasan melakukan hal itu pada kita," jawab Rangga.

"Huh, Kakang memang selalu lemah terhadap lawan! Itulah salah satu kelemahanmu yang suatu saat dipergunakan lawan-lawanmu untuk membinasakanmu!" dengus Pandan Wangi jengkel.

Rangga cuma tersenyum kecil. Kemudian melangkah mendekati laki-laki bernama Sawung Kebo itu. Sempat dia melirik sekilas pada kedua orang kawannya, namun kedua orang itu tampak tak berani lagi mencoba berbuat macam-macam pada mereka. Apalagi dengan sikap Pandan Wangi yang galak dan siap menghajar mereka kalau berani membuat yang macam-macam.

"Ki sanak, katakan kenapa kau begitu bernafsu hendak menghajar kami? Lalu siapa orang yang kau maksud bernama U Than Kyung itu?" tanya Rangga.

"Eh, sebelum kujawab pertanyaanmu itu, bolehkah aku tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini?" tanya Sawung Kebo dengan suara sedikit gagap. Dia amat khawatir, jangan-jangan kedua muda-mudi ini kaki tangan orang yang tengah dicari-carinya.

"He, orang yang sedang di mukamu itulah yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti!" sahut Pandan Wangi cepat sebelum Rangga buka suara.

Mendengar kata-kata gadis itu, Sawung Kebo terperanjat kaget. Dipandanginya pemuda itu dengan seksama. Mendadak dia menjura hormat. "Ki sanak, maafkan aku yang bodoh tak bisa membedakan gunung Mahameru dihadapanku. Sekali lagi maaf. Aku betul-betul tak tahu kalau Ki sanak kau adalah pendekar mashyur itu. Kukira kalian adalah U Than Kyung, atau paling tidak kaki tangannya," kata Sawung Kebo.

"Kisanak, sejak tadi kau mempersoalkan orang itu. Apakah yang terjadi sebenarnya?"

"Dia membunuh tiga orang kawanku. Namun sayang, aku tak tahu persis bagaimana rupa orang itu. Namun beberapa orang yang melihat kejadian itu mengatakan bahwa pembunuh itu bernama U Than Kyung, pendekar dari negri asing yang kini berada di negri ini...," sahut Sawung Kebo menjelaskan.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala. Sawung Kebo juga sempat menjelaskan sepak terjang orang asing itu belakangan ini. Banyak sudah tokoh-tokoh persilatan di negri ini yang tewas di tangannya. Dan nama orang asing itu semakin santer saja, menimbulkan ketakutan sekaligus geram. Setelah bercerita beberapa saat lamanya, ketiga orang itu kemudian berlalu. Rangga dan Pandan Wangi pun melanjutkan perjalanannya.

********************

Tatang Senjaya berdiri tegak di depan pintu rumahnya. Beberapa orang muridnya berdiri mematung di dekatnya. Sementara istrinya telah kehilangan akal untuk membujuk suaminya agar tidak pergi. Tapi sebagai pendekar yang terpandang, tentu saja dia tak mau harga dirinya jatuh sekedar menyenangkan perasaan istrinya. Perempuan itu menundukkan kepala, dan terdengar isak tangisnya halus.

"Diamlah Ningsih. Kalau kau terus menangis hanya akan membuat hatiku tak tentram...."

"Kakang hendak pergi menjemput maut, bagaimana mungkin aku bisa diam dalam ketenangan?! sahut istrinya kesal.

"Kata siapa aku pergi menjemput maut. Justru aku pergi hendak membereskan persoalan."

"Orang itu berilmu tinggi, Kakang. Kau pasti akan dikalahkannya. Sudah berapa banyak tokoh persilatan yang tewas di tangannya. Rata-rata mereka berilmu tinggi.

Tatang Senjaya memandang istrinya dengan wajah tak senang. "Kau meremehkan kemampuanku, Ningsih...?"

"Bukan begitu, tapi...."

"Sudahlah, berdoa saja untukku. Aku berangkat sekarang!" potong Tatang Senjaya cepat.

Dia memerintahkan pada salah seorang anak muridnya untuk menyiapkan seekor kuda. Kemudian setelah memberi beberapa pengarahan, laki-laki berperawakan tegap dan berusia sekitar tiga puluh tahun itu memacu kudanya dengan kencang tanpa menoleh lagi kebelakang.

Tatang Senjaya adalah seorang tokoh persilatan yang namanya belakangan ini mulai dikenal berbagai kalangan semenjak dia menumpas suatu gerombolan perampok yang sering mengganggu para pedagang yang melewati jalan menuju desa mereka. Padahal selama ini gerombolan perampok itu sangat ditakuti, karena selain ganas dan kejam, mereka juga sulit ditaklukkan sebab rata-rata memiliki kepandaian ilmu silat yang hebat.

Tatang Senjaya sendiri salah seorang pedagang yang baru bermukim di tempat ini dan sudah langsung berurusan dengan gerombolan perampok itu. Masih untung dia beserta beberapa orang anak buahnya dapat menyelamatkan diri, bahkan berhasil memukul mundur gerombolan perampok itu. Sejak saat itu namanya mulai dikenal, dan banyak para pemuda di desanya yang ingin belajar ilmu silat kepadanya.

Namun beberapa hari lalu seorang bernama U Than Kyung meninggalkan sepucuk surat kepadanya yang berisi tantangan di suatu tempat. Dia tak mengenal orang itu, bahkan nama itu pun sangat asing di telinganya. Namun seorang pendekar sejati seperti dirinya mana mungkin menolak tantangan itu. Sebab orang yang menantangnya itu belakangan ini namanya hangat dibicarakan sehubungan dengan sepak terjangnya yang mulai meresahkan rimba persilatan di negri ini. Dia telah banyak membunuh tokoh-tokoh persilatan berilmu tinggi.

Waktu tiba di tempat yang telah ditentukan, matahari bersinar cerah di pagi yang sejuk ini. Sinarnya membuat bayangan menjadi panjang-panjang. Dia menunggu beberapa saat lamanya sebelum orang yang dinantinya muncul.

"Bagus! Akhirnya kau muncul juga...."

Tatang Senjaya memandang tajam pada sesosok tubuh berbaju kuning yang mengenakan topi lebar sebagai penutup kepalanya. Kedua tangannya menyatu di balik pinggang belakang. Sesaat dia tak menangkap jelas roman wajah penantangnya itu.

"Kaukah yang bernama U Than Kyung?"

"Benar, kau tak salah duga. Nah, bisa kita mulai?"

"Silahkan...," sahut Tatang Senjaya mantap sembari turun dari kudanya.

Keduanya mengambil kesempatan sambil berputar-putar pelan seolah mengintip kelemahan lawan masing-masing. Kemudian dengan satu teriakan keras, tubuh Tatang Senjaya melompat bagai harimau ganas menyerang lawan.

"Yeaaa...!"
Wut! Wut!

"Uts!"

Ujung pedang Tatang Senjaya bergerak cepat menyambar-nyambar semua titik kelemahan di tubuh lawan. Namun si baju kuning bernama U Than Kyung dengan tenang dan tanpa kesulitan sedikit pun menghindari serangan lawan dengan gerakan-gerakan indah serta sangat cepat. Sehingga tak satupun dari serangan lawan yang mampu mengenai dirinya.

Pertarungan mereka agaknya tak berlangsung lama, sebab ketika pada suatu kesempatan, U Than Kyung bergerak amat cepat dan sulit diikuti oleh lawan. Agaknya dia sudah tahu betul kelemahan lawan dan tak mau berlama-lama bertarung dengannya.

"Yeaaa...!"
Plak! Plak!
Begkh! Crab!
"Aaaa...!"

Tatang Senjaya hanya mampu mengeluh pelan. Tubuhnya terlempar sejauh dua tombak bagai selembar daun kering tertiup angin. Sekujur tubuhnya membiru terkena hantaman lawan. Pada dada sebelah kirinya masih terlihat bekas tusukan senjata tajam. Begitu tubuhnya menyentuh tanah langsung ambruk tak bernyawa lagi. U Than Kyung memandang sinis.

"Huh, kepandaianmu ternyata tak seberapa! Kau hanya membuatku kecewa saja," dengusnya sambil berlalu dari situ dengan cepat setelah menaikkan mayat Tatang Senjaya ke punggung kudanya dan menepuk pantat hewan itu hingga berlari kencang.

********************

TIGA

Sepanjang jalan yang mereka lalui banyak terdengar berita tentang sepak terjang orang asing itu. Hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti tergelitik untuk mengetahui siapa orang itu sebenarnya. Apalagi dia mendapatkan dukungan dari Pandan Wangi. Gadis itu tampak geram dan geregetan sekali begitu mendengar berita tentang keangkuhan orang yang belakangan ini namanya menggegerkan dunia persilatan.

"Kakang, apakah tidak ada baiknya kita mencari orang itu?"

"Kenapa?"

"Kok kenapa?! Orang itu begitu sombongnya dengan menantang dan membunuh tokoh-tokoh persilatan di negri ini. Sepertinya dia menganggap bahwa dirinya hebat tiada tertandingi. Orang itu sangat berbahaya dan musti diberi pelajaran!" sahut Pandan Wangi kesal.

Rangga tersenyum kecil. Langkah kuda mereka memasuki suatu desa yang cukup ramai. Dia mencari-cari sebuah kedai makanan yang agak sepi. Namun di tempat itu hanya terdapat sebuah kedai, dan cukup ramai dikunjungi orang. Padahal Rangga kurang menyukai suasana yang ramai. Apalagi di dekatnya kini ada Pandan Wangi. Namun karena perutnya yang sudah keroncongan, mau tak mau dia tak punya pilihan lain.

"Kita makan dulu, Pandan..."

Keduanya menambatkan kuda-kudanya di depan kedai itu. Kemudian dengan langkah tenang memasukinya. Di dalam terlihat pengunjung ramai sekali dan sulit melihat bahwa ada sebuah meja untuk mereka. Apalagi ruangan kedai itu memang cukup luas dan di belakangnya terdapat sebuah bangunan bertingkat dua yang dijadikan sebagai rumah penginapan.

"Silahkan, masih ada sebuah meja untuk kalian...," kata salah seorang pelayan kedai dengan sikap dan wajah yang ramah.

"Terima kasih...."

Kedua orang itu mengikuti pelayan kedai itu dari belakang sambil memandang ke kiri dan kanan. Lebih-lebih bagi Pandan Wangi. Gadis itu terlihat kesal dan geram sekali.

"Pandan, jangan perlihatkan sikap bermusuhan begitu...," bisik Rangga pelan ketika melihat sekilas raut wajah kekasihnya itu.

"Huh, semua laki-laki sama saja!" sahutnya ketus.

"Lho, kenapa?"

"Apakah Kakang tak memperhatikan? Sejak di pintu tadi mereka memperhatikanku dengan rakus sekali. Seolah-olah mereka ingin menelanku hidup-hidup. Ingin rasanya kucongkel mata mereka satu persatu!" desis Pandan Wangi sambil bersungut-sungut.

Baru saja Pandan Wangi selesai berkata demikian, salah seorang pengunjung kedai yang amat dekat dengannya langsung mencolek pantatnya dengan gemas. Gadis itu menjerit dan reflek mengibaskan tangannya dengan keras ke arah orang itu.

Plak!
Gubrak!

Beberapa pengunjung kedai yang lain terlihat terkejut ketika orang itu terpelanting menghantam meja. Pandan Wangi tak berhenti sampai di situ. Dengan cepat tubuhnya melompat dengan wajah gusar ke arah orang tadi. Sambil berkacak pinggang dia melotot garang.

"Kurang ajar! Ayo, bangun!"

"He he he he...! Tak kusangka gadis secantikmu ternyata galak dan berilmu. Boleh juga, boleh juga... he he he he...!" sahut orang itu sambil terkekeh kecil dan meraih sebumbung tuak di lantai.

Begkh!
"Aaaakh...!"

Orang itu memekik kesakitan ketika dengan tiba-tiba ujung kaki Pandan Wangi menghantam perutnya hingga membuatnya terjengkang keras. Agaknya orang itu memang sedang mabuk dan hanya besar mulut saja. Tapi mana Pandan Wangi memperdulikannya. Dia bahkan akan bergerak untuk kembali memberi pelajaran. Disentaknya tangan Rangga yang bermaksud hendak menahannya.

"Lepaskan, Kakang! Biar kuhajar sampai mampus orang yang kurang ajar itu!"

"Gadis cantik yang galak, hm, boleh juga...!" salah seorang kawan semeja dari orang yang dihajarnya tadi berdiri tegak menghalangi gadis itu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Senyumnya sinis dan sangat merendahkan sekali.

"Siapa kau?! Apa mau kuhajar juga seperti monyet busuk itu!"

"Ha ha ha ha...! Kau boleh melakukannya kalau kau mampu, Ni sanak. Aku tentu tak akan keberatan asal nanti ada imbalannya," sahut orang yang berbaju serba hitam itu tertawa kecil.

"Cuih! Mulutmu memang pantas dirobek!"

"Uts, belum kena!"
"Setan! Hiyaaa...!"

Dengan sangat bernafsu sekali, Pandan Wangi menghajar lawannya bertubi-tubi. Namun laki-laki berwajah kelimis yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu dengan tenang meladeninya. Bahkan dengan gerakan yang amat gesit dan lincah, dia mampu menghindari setiap serangan gadis itu dengan manis. Hal itu tentu saja membuat Pandan Wangi semakin penasaran saja. Dia nyaris tak percaya bahwa kepandaiannya tak mampu menjatuhkan lawannya kali ini.

"Ruangan ini terlalu sempit, Ni sanak. Ada baiknya kita bermain-main di luar sana. Kau boleh ajak kawanmu itu kalau dia suka. Atau menonton saja kalau dia ingin begitu!" sahut pemuda berbaju serba hitam itu sambil melompat ke luar kedai.

"Hiyaaat...!" Pandan Wangi berteriak keras sambil tubuhnya melenting mengikuti lawan keluar kedai.

Dengan menggeleng-gelengkan kepala Rangga terpaksa membatalkan niatnya untuk mengisi perut dan melangkah kesal keluar dari kedai itu. Bersamaan dengan itu beberapa pengunjung kedai satu-persatu keluar pula dari kedai untuk menyaksikan pertarungan yang seru itu.

"Siapakah pemuda itu sebenarnya?" tanya Rangga pada orang yang berada di sebelahnya.

"Wah, apakah kau tak tahu? Dialah si Kelelawar Hitam yang kesohor itu. Ilmunya tinggi dan sulit dicari tandingannya. Pacarmu itu pasti akan dikalahkannya, dan...," Orang itu tersenyum kecil.

"Kenapa?"

"Pacarmu itu pasti tak akan selamat darinya.

"Tak selamat bagaimana?"

"Apakah kau betul-betul tak tahu kelakuan si Kelelawar Hitam itu selama ini?" tanya orang itu heran.

Rangga tersenyum kecil. Dia sebenarnya mengetahui tentang sepak terjang si Kelelawar Hitam meski melihat rupanya baru sekali ini. Dia seorang tokoh muda persilatan yang namanya belakangan ini mulai ramai di bicarakan orang. Sikapnya ugal-ugalan dan sulit ditebak. Kadang dia suka membantu mereka yang sedang kesulitan, ditindas oleh perampok dan tuan-tuan tanah yang kejam, atau banyak menyelamatkan orang-orang dari tindasan sewenang-wenang beberapa tokoh persilatan beraliran sesat.

Namun di samping itu ada sifatnya yang sedikit banyak meresahkan masyarakat, yaitu, dia paling suka mempermainkan gadis-gadis cantik yang ditemuinya. Tak peduli istri orang lain namun kalau disukainya, maka dia akan terus merayunya.

Sementara itu pertarungan antara Pandan Wangi dan si Kelelawar Hitam berlangsung semakin seru saja. Kali ini gadis itu telah mengeluarkan kipas mautnya sebagai senjata andalan. Dalam dua jurus terlihat si Kelelawar Hitam mulai terdesak. Namun dalam satu kesempatan dia melompat tinggi dan kemudian berbalik menyerang Pandan Wangi dengan cepat menggunakan pedang yang sejak tadi belum dipergunakannya.

"He he he he...! Ternyata senjatamu memang sangat berbahaya, Ni sanak. Terpaksa aku harus menggunakan pedangku ini. Nah, hati-hatilah kau sekarang sebab ujung pedangku ini tak bermata. Dia tak bisa membedakan mana yang seharusnya dilukai dan mana yang tidak," kata si Kelelawar Hitam masih terus pamer senyum.

"Huh, kau boleh mengoceh sesuka hatimu. Sebentar lagi mulutmu akan dirobek dengan kipas mautku ini!" dengus Pandan Wangi semakin berang saja.

"Hiyaaat...!"
"Yeaaa...!"

Si Kelelawar Hitam berteriak nyaring. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat menyambar lawan dengan tak terduga. Pandan Wangi tergagap untuk beberapa saat, namun dia cepat bertindak. Sambil melentingkan tubuh, dia menghindari serangan lawan. Namun ujung pedang si Kelelawar Hitam lebih cepat lagi menyambar ke arah lehernya. Terpaksa Pandan Wangi menangkis dengan senjatanya.
Tak!
"Uhh...!"

Gadis itu mengeluh kesakitan. Sejak tadi dia sudah bisa merasakan bahwa tenaga dalam lawan lebih tinggi satu tingkat dibandingkan dengannya. Dan kalau dihitung-hitung pun memang gerakan si Kelelawar Hitam memang lebih cepat sedikit ketimbang dirinya. Tak heran bila gadis itu merasakan telapak tangannya kesemutan ketika senjata mereka beradu. Dan belum sempat dia menguasai diri, ujung senjata lawan kembali menyambar kearah dadanya dalam gerakan membelah diri dari atas ke bawah. Pandan Wangi mencekat kaget. Tak ada waktu lagi untuk menghindar. Lawan benar-benar hendak mencelakai dirinya.

"Yeaaa...!"
Trang!
"Heh?!"

Pada saat yang kritis bagi Pandan Wangi, mendadak melesat sebuah bayangan yang sangat cepat dan langsung menangkis pedang di tangan si Kelelawar Hitam. Orang itu tersentak kaget dan merasakan tangannya bergetar hebat. Namun ketika melihat siapa yang melakukan hal itu, kembali dia menunjukkan senyumnya yang tadi sempat hilang beberapa saat.

"Hm, kukira siapa, ternyata kau. Bagus, meski sebenarnya aku mengharapkan kau turun sejak tadi...."

Orang yang menyelamatkan Pandan Wangi itu tak lain dari Rangga. Ketika tubuhnya berkelebat, dia sempat menyambar sebuah golok milik seorang yang berada dekat dengannya. Dengan golok itulah dia menangkis pedang di tangan si Kelelawar Hitam.

"Ki sanak, kelakuanmu sungguh keterlaluan. Kau boleh saja mencelakakannya, tapi hendak mempermalukannya di muka orang banyak, mana bisa aku tinggal diam saja?" sahut Rangga tenang.

Dia memang mengetahui betul bahwa serangan terakhir yang dilakukan si Kelelawar Hitam tadi sama sekali tak bermaksud hendak mencelakai Pandan Wangi melainkan hendak mempermalukan gadis itu, sekaligus dia hendak memamerkan kehebatan ilmu pedang yang dimilikinya. Dan bila hal itu tak dicegah, maka bisa jadi baju yang dikenakan Pandan Wangi terkoyak dari atas ke bawah!

"Ha ha ha ha...! Matamu sungguh jeli, Ki sanak. Hebat, sungguh hebat!" puji si Kelelawar Hitam sambil tertawa lebar.

"Kakang, menepilah kau! Biar kuhajar manusia keparat ini!" bentak Pandan Wangi gusar.

"Pandan, biar orang ini menjadi urusanku. Kau sudah cukup lama bermain-main dengannya, maka sekarang biarlah aku menggantikanmu. Lagipula bukan kau sebenarnya yang diinginkannya melainkan aku. Hendaknya kau menyadari hal itu," sahut Rangga tenang.

Dia sengaja berkata begitu agar Pandan Wangi tak merasa malu di depan orang banyak begitu. Bicara sejujurnya, Rangga menyadari bahwa pemuda itu bukan tandingan Pandan Wangi. Kalau diteruskan hanya akan membuat gadis itu semakin dipermalukan lawan.

"He, Ni sanak aku memang tak perlu deganmu! Harap kau mengerti. Tapi dengan kekasihmu ini dia punya persoalan pribadi denganku. Maka kalau urusanku sudah selesai dengannya, kau boleh meneruskan urusan kita tadi!" sahut si Kelelawar Hitam menimpali sambil tertawa kecil.

Mendengar itu Pandan Wangi tak bisa bicara apa-apa lagi. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa menahan kesal dan geram yang memuncak.

"Silahkan, Ki sanak...," kata si Kelelawar Hitam tersenyum tipis.

Rangga membalas senyumannya, kemudian memandang ke arah Pandan Wangi. "Pandan, coba kupinjam barang sebentar pedangmu itu. Kasihan si empunya golok ini. Dia pasti kehilangan sekali!" katanya sambil melemparkan golok di tangannya kepada pemiliknya yang menangkapnya dengan gelagapan.

Pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi melemparkan pedangnya ke arah Rangga, dan ditangkap pemuda itu tanpa menoleh lagi.

"Silahkan...," lanjutnya.

Si Kelelawar Hitam memandang tajam ke arah Rangga. Kali ini terlihat senyumnya hilang dan berganti dengan raut wajah yang menyeramkan. Dia berputar beberapa langkah, kemudian melompat dengan gerakan cepat.

"Yeaaa...! Hup!"
Trang!
"Uh!"

Tubuh Rangga merunduk sedikit sambil mengayunkan pedang di tangannya untuk menangkis senjata lawan. Terdengar bunyi berdentang ketika kedua senjata itu beradu. Percikkan bunga api kecil menandakan bahwa keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam yang kuat. Namun terlihat wajah si Kelelawar Hitam berkerut menahan sakit setelah kedua senjata mereka beradu. Ketika keduanya kembali menyentuh tanah dalam keadaan saling membelakangi, barulah pemuda berbaju hitam itu menyadari bahwa baju di dada sebelah kirinya robek sedikit. Dan itu pasti karena sabetan pedang lawan. Dia membalikkan tubuh dan memandang pemuda berbaju rompi putih itu dengan wajah terheran-heran.

"Siapa kau sebenarnya?!"
"Lariii...! Lariii...! Gerombolan Badik Merah menyerbu!"

"Heh?!"

Rangga belum sempat menjawab ketika beberapa orang yang menyaksikan pertarungan itu berteriak-teriak panik. Di kejauhan terlihat debu mengepul tebal karena derap puluhan kaki kuda yang melaju kencang menggilas jalan utama di tempat itu. Orang-orang yang berada di tempat itu lari serabutan menyelamatkan diri. Teriakan panik mulai menggema di sana-sini, yang disusul pekik kematian dan tangis wanita dan bocah yang memilukan hati.

"Astaga, siapa setan itu sebenarnya?!" seru Rangga kaget. Buru-buru dia mencekal pergelangan tangan Pandan Wangi dan menyeretnya ke tepi agar tak tergilas kuda-kuda yang berlari kencang itu.

Tapi gerombolan itu bukan hanya sekedar lewat melainkan memang tempat inilah tujuan mereka. Persis di tengah-tengah desa mereka berhenti dan turun dari kuda-kudanya, kemudian dengan langkah lebar memasuki tiap rumah sambil mengacungkan senjata. "He, tangkap perempuan itu!"
"He he he he...! Ayo, cepaat"

Lima orang dari gerombolan itu mendekati Rangga dan Pandan Wangi. Wajah mereka tampak bengis dan garang dengan baju seragam serba merah.

Hentikan langkah kalian!" bentak Rangga garang.

"Kurang ajar! He, minggir kau bocah kalau mau selamat. Kami tak memerlukanmu!" sahut salah seorang dengan suara serak. Dengan kasar dia menarik lengan pemuda itu dan bermaksud membantingnya.

"Aaaakh...!"

Mendadak orang itu terjungkal sambil menjerit keras. Tubuhnya jatuh berdebum di tanah. Keempat orang kawannya bertindak dengan menyerang Rangga.

Kurang ajar! Cincang bocah ini!"
"Yeaaa...!"
Plak! Begkh!
"Aakh!"

Dua orang kembali memekik ketika satu sodokan kaki pemuda itu menyambar dada mereka dengan cepat. Sementara pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi pun bertindak cepat dan mengayunkan kepalan tangannya pada salah seorang lawan. Orang itu memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa mau remuk. Yang seorang lagi dengan bengis mengayunkan senjatanya berupa badik yang berukuran agak panjang menyerupai pedang.

Trak!
Breet!
"Aaaa...!"

Buru-buru Pandan Wangi menangkis dengan Kipas Mautnya, dan ketika dia kembali mengibaskan tangan, lawan memekik perlahan dengan tubuh sempoyongan dan memegangi lehernya yang disambar ujung senjata Pandan Wangi.

"Kakang, mari kita hajar setan-setan kelaparan itu!" teriak Pandan Wangi sambil melompat memasuki sebuah rumah.

Rangga bermaksud mencegah Pandan Wangi tak bertindak ceroboh, namun gadis itu tak memperdulikannya. Dia sudah menyelinap masuk. Sambil menggelengkan kepala, mau tak mau Rangga mengikutinya dari belakang. Dia tak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap gadis itu.

Pandan Wangi memang tak bisa melihat kekejaman dan penindasan berada di depannya. Dia pasti akan bertindak meski terkadang ceroboh karena terbawa hawa nafsunya sendiri yang menggebu-gebu. Dan ketika melihat gerombolan itu dengan seenaknya merampas harta benda penduduk, kemudian menyeret-nyeret beberapa orang wanita-wanita cantik, dia sudah langsung hendak melabraknya.

Dan ketika kedua orang itu mulai mengamuk, terlihat satu persatu gerombolan berbaju serba merah dengan bersenjatakan badik panjang, menjadi korban mereka. Diantara mereka ada yang terluka ringan sampai tak bisa bangun. Bahkan beberapa orang terlihat tewas dengan luka-luka di tubuhnya terkena sambaran senjata lawan. Tentu saja hal ini membuat pimpinannya menjadi gusar bukan main. Dengan segera dia memacu kudanya ke arah gerombolan anak buahnya yang kacau-balau, kemudian dia melompat turun dan berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu sebuah rumah.

"He, siapa yang berani menantang Gerombolan Badik Merah, silahkan keluar agar bisa kulihat tampang kalian!" teriaknya dengan suara keras.

Orang itu bertubuh agak pendek dan besar. Brewoknya lebat dan warna kulitnya terlihat putih kemerah-merahan. Kepalanya mengenakan destar merah dan sebuah badik panjang terselip di pinggangnya.

Perlahan-lahan dari dalam rumah itu melayang dua sosok tubuh berbaju merah yang menyambar ke orang itu. Dengan cepat tangannya terkibas dan kedua sosok tubuh anak buahnya yang telah menjadi mayat itu jatuh di tanah dengan kepala remuk.

Dari pintu rumah itu sendiri keluar sepasang muda-mudi berwajah rupawan yang amat mengejutkan orang bertubuh pendek itu. Dalam sangkaannya pastilah seorang tokoh berkepandaian tinggi dan telah berusia lanjut. Dan paling tidak berjumlah sekitar lima orang. Tapi he, siapa yang menduga demikian?

"Setan! Siapa kalian, he?!" bentak orang itu dengan suara menggelegar seolah gemuruh petir membelah angkasa.

"Dan siapa pula kau?!" sahut si wanita yang tak lain dari Pandan Wangi dengan nada ketus.

"He, bocah betina! Berani kau bicara begitu di hadapan Klambi Abang. Sudah bosan hidup, he?!" bentak orang berbaju merah dengan mata melotot.

"Hm, jadi kau bernama Klambi Abang? Bagus! Nah, perintahkan anak buahmu angkat kaki dari tempat ini, cepaaat!" bentak Pandan Wangi sambil bertolak pinggang dan sepasang matanya melotot garang.

"Kurang ajar!" Klambi Abang memaki dengan wajah gusar. Dengan satu lompatan ringan. Tubuhnya telah mencelat ke arah Pandan Wangi dan bermaksud menghajar gadis itu.

"Pandan Wangi, menepi cepat!" bentak Rangga sambil mendorong tubuh gadis itu ke samping.

Pemuda itu menyadari bahwa dari angin serangan lawan, nyata bahwa dia memiliki tenaga dalam yang kuat. Bahkan lebih kuat dibandingkan dengan si Kelelawar Hitam yang kini lenyap entah ke mana. Lagipula dalam keadaan amarah yang memuncak begitu, dia justru khawatir bahwa orang itu akan menghajar Pandan Wangi tanpa kepalang tanggung.

Bruaaakk...!
"Heh?!"

Apa yang diduga pemuda itu memang tak salah. Begitu dia mendorong tubuh Pandan Wangi, maka dia sendiri melompat ke samping untuk menghindari serangan lawan. Akibatnya rumah di belakang mereka menjadi sasaran serangan lawan sampai ambruk berantakan dengan tiang-tiang penyanggahnya hancur.

"Bagus! Ternyata kau punya kepandaian juga. Pantas berani bertingkah di depanku. Tapi kematianmu cuma menunggu waktu saja!" geram Klambi Abang sambil mendengus dan menyeri-ngai buas pada Rangga.

"Rampok hina, majulah kau! Jangan banyak mulut!" ejek Rangga semakin membuat kemarahan lawan memuncak.

"Yeaaa...!"
"Hup!"
Wut! Wut!

Klambi Abang semakin penasaran saja ketika semua serangannya dapat dihindari Rangga dengan mudah. Dia meningkatkan serangannya, dan mengeluarkan satu jurus handalnya yang bernama Menebas Lalang Mencabut Rumput. Jurus itu memang hebat dan tak mengecewakan karena beberapa saat kemudian terlihat lawan terdesak hebat. Rangga pun betul-betul merasakan tekanan yang dilakukan Klambi Abang.

Kalau saja dia tak mengerahkan jurus Sembilan Langkah Ajaib, niscaya sudah sejak tadi serangan lawan akan melukainya. Tapi dia tak bisa terus menerus bertahan dengan jurus itu. Sebagaimana diketahui, jurus Sembilan Langkah Ajaib adalah suatu jurus yang mengandalkan kelincahan bergerak untuk menghindari serangan-serangan lawan, maka pada satu kesempatan, pemuda itu melompat cepat sambil melakukan beberapa kali gerakan bersalto.

Sementara Klambi Abang sama sekali tak ingin memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan. Dia terus memburu sambil menyerang lawan dengan gencar.

"Yeaaa...!"
"Hiyaaat...!"

Tubuh Rangga meliuk-liuk dengan lincahnya dan kedua kakinya menyambar-nyambar kepala lawan dengan gencar. Klambi Abang tercekat kaget dan buru-buru menjatuhkan diri ke tanah. Namun Rangga terus mengejarnya tiada henti sambil memainkan jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa.

Plak! Plak!
"Uhh!"

Dalam satu kesempatan Klambi Abang memberanikan diri menangkis tendangan lawan dengan sapuan kakinya. Tapi dia mengeluh sendiri sambil menahan rasa sakit. Sadarlah dia bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Lagipula dibandingkan kecepatan bergerak, terlihat pemuda itu lebih unggul pula darinya. Tanpa sadar dia mengeluh sendiri, meski hal itu tak ditunjukkannya lewat sikap.

"Hm, boleh juga permainanmu, Bocah. Siapa gurumu?" tanya Klambi Abang setelah melompat agak jauh dari serangan lawan. Rangga sendiri tak meneruskan serangannya.

"Untuk apa kau tahu guruku?"

"Ha ha ha ha...! Siapa tahu aku dan gurumu punya pertalian saudara, dan kalau melihat kau berani mengganggu urusanku maka kau akan kena hukuman berat darinya!"

Kali ini Rangga yang tertawa kecil mendengar kata-kata Klambi Abang. "Ha ha ha ha...! Kau tahu Klambi Abang? Kalau sampai beliau tahu perbuatanku, dia malah akan bertepuk tangan saking gembiranya. Malah beliau akan marah-marah karena aku lama sekali memotes kepalamu!"

Ketawa Klambi Abang seketika sirna. Wajahnya kembali menyiratkan kemarahan yang tak terkendali lagi. Ditatapnya pemuda itu tajam-tajam, kemudian perlahan-lahan mencabut badik panjang yang terselip di pinggang.

"Kau akan mampus di tanganku, Bocah...!" geramnya dengan suara ditekan sedemikian rupa.

Rangga telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Namun sebelum keduanya kembali terlibat dalam pertarungan, terdengar jerit dan pekik kematian beberapa anak buah Klambi Abang yang berada di ujung jalan.

"Gerombolan Badik Merah, menyerahlah kalian! Tempat ini telah dikepung oleh tentara kerajaan...!"

"He, keparat!" Klambi Abang memaki geram mendengar teriakan mengancam itu.

Tapi ancaman itu memang beralasan sebab di setiap pelosok desa terlihat prajurit-prajurit kerajaan dengan senjata terhunus dan siap menyerang mereka. Klambi Abang mengumpulkan seluruh anak buahnya. Mereka terlihat bingung dan salah tingkah. Namun dengan tabah Klambi Abang berteriak pelan kepada mereka.

"Kalian tak perlu takut. Kita akan melawan mereka!"

"Tapi jumlah mereka lebih banyak daripada kita, Klambi!" sahut salah seorang anak buahnya.

"Huh, mereka pikir bisa menangkapku! Jangan harap!" dengus Klambi Abang geram. Dia memberi semangat dan ancaman kepada anak buahnya yang ragu-ragu dan takut. Kemudian setelah bersiap akan menempur tentara kerajaan, dia memandang tajam ke arah Rangga.

"Bocah, lain kali kita selesaikan urusan kita. Coba sebutkan kau punya julukan agar bisa kuingat-ingat kelak!"

Rangga terharu. Meskipun jahat dan memiliki sifat yang buruk, namun Klambi Abang berjiwa ksatria dan pantang menyerah. Lebih dari itu dia seorang pemimpin yang tangguh dan tegas kepada anak buahnya. Tak ada salahnya dia menghormatinya dengan menyebutkan siapa dirinya.

"Hm, jadi kau rupanya Pendekar Rajawali Sakti" Klambi Abang hanya berkata begitu, tanpa rasa heran ataupun nada datar.

Kesannya biasa saja mendengar Rangga menyebutkan julukannya. Itu berarti dia memang pernah mendengar namanya, tapi merasa bahwa pemuda itu sama sekali tak mengejutkan bagi dirinya. Kemudian setelah itu dia dan anak buahnya menggempur tentara kerajaan pada satu jurusan, dengan sengit dan semangat yang berapi-api. Apa yang dilakukan Klambi Abang memang bukanlah taktik bunuh diri, namun suatu siasat penyelamatan diri yang jitu dan tak mengambil banyak korban.

Dengan menekan pada satu jurusan, maka mereka bisa dengan leluasa menghadapi prajurit-prajurit kerajaan yang jumlahnya hampir sama. Dan ketika prajurit-prajurit kerajaan dari jurusan lain bermaksud memberi bantuan, Gerombolan Badik Merah telah berlalu dari tempat itu. Meninggalkan beberapa korban yang terjadi di kedua belah pihak. Tapi niatnya untuk tidak tertangkap oleh pihak kerajaan telah terlaksana.

"Ki sanak, siapa kalian ini?" tanya salah seorang prajurit kerajaan yang mendekati Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi.

"Kami cuma pengembara biasa. Namaku Rangga dan ini kawanku, Pandan Wangi," sahut Rangga.

"Ada urusan apa sehingga kau bentrok dengan Gerombolan Badik Merah? Dan tahukah kau bahwa orang itu tengah dicari-cari pihak kerajaan?"

"Hm, aku sungguh baru mendengar hal itu. Benarkah demikian? Sebab apa dia cari-cari pihak kerajaan.

"Mereka sering merampok dan meresahkan penduduk di wilayah kerajaan. Telah lama kami mencari jejaknya dan baru kali ini kembali bertemu. Tahukah kau kira-kira di mana sarang mereka berada?"

Rangga tersenyum kecil.

"Ki sanak mungkin tadi kau sempat melihat bahwa diantara kami bermusuhan. Bagaimana mungkin aku tahu dimana sarang Gerombolan Badik Merah. Kalau aku tahu, sudah sejak dulu kusatroni."

"Oh, begitu? Memang tadi kami sempat melihat perkelahian kalian berdua. Ki sanak, pihak kerajaan akan sangat berterima kasih sekali kalau suatu saat kau bertemu mereka dan memberitahukannya kepada kami."

"Oh, pasti akan kuberitahukan!" sahut Rangga cepat.

"Satu lagi...."

"Apa itu?"

"Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, tahukah kau siapa tokoh yang sering mencuri?"

"Suka mencuri? Siapa yang kalian maksudkan?" tanya Rangga aneh bercampur bingung. Tokoh seperti itu memang banyak terdapat, tapi baru kali ini pihak kerajaan menaruh perhatian.

"Belakangan ini banyak terdapat laporan yang mengatakan bahwa seorang tokoh persilatan sering mencuri benda-benda berharga dari para saudagar-saudagar kaya. Orang itu tak mempunyai tujuan untuk membunuh, namun kebanyakan korban-korban yang ditimbulkannya adalah mereka yang hendak menghalangi niatnya. Banyak sudah jago-jago silat yang disewa oleh saudagar-saudagar kaya untuk melindungi harta benda mereka, namun tak satupun yang mampu menangkap pencuri itu. Bahkan kebanyakan dari mereka kedapatan tewas..." jelas prajurit kerajaan itu.

Rangga tersenyum-senyum kecil. Demikian pula Pandan Wangi. Sampai para prajurit kerajaan meninggalkan tempat ini dan mereka pun berlalu, Rangga masih juga tersenyum.

"Kenapa Kakang tersenyum-senyum begitu?" tanya Pandan Wangi heran.

"Aku teringat cerita kawan. Dia seorang maling, namun hasilnya selalu dibagikan kepada rakyat yang tak mampu. Siapakah orang itu dan apa yang diinginkannya? Kita juga tak tahu, ke mana hasil curiannya itu digunakan. Bukan tak mungkin bahwa dia membagikannya kepada rakyat jelata. Lalu... he, buat apa aku musti melaporkannya kepada mereka kalau suatu saat kita bertemu dengan orang itu?" tanya Rangga seperti pada dirinya sendiri.

"Bagaimana kalau barang curian itu untuk dirinya sendiri?"

"Itu suatu kejahatan yang musti secepatnya diberantas!"

"Kakang, kau tak akan bisa menjadi raja yang bijaksana bila berpikiran begitu!" cela Pandan Wangi.

"Lho, kenapa tidak?"

"Kejahatan tetap kejahatan apapun yang di-lakukannya dari hasil kejahatannya itu, dan semuanya musti diberantas!"

Rangga ketawa kecil. "Kalau seorang raja selalu bertindak begitu, itu suatu tanda bahwa sang raja kurang bijaksana. Seorang raja yang bijaksana harus bisa berpikir panjang dan meneliti persoalan dengan mencari setiap celah yang bisa digunakan untuk mengetahui kebaikan dan keburukan suatu perkara. Bila kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya, bukanlah hal itu termasuk dalam kebaikan pula?"

"Kakang, jangan suka berpikir yang sulit-sulit. Suatu saat kau akan terjebak sendiri ke dalamnya!" ujar Pandan Wangi menasehati.

Rangga hanya tertawa mendengar kata-kata gadis itu. "Apakah kau anggap hal seperti itu terlalu sulit?"

"Apakah Kakang kira hal itu mudah dipahami orang banyak?"

"Eh, siapa yang mengatakan bahwa hal itu untuk dipahami oleh orang banyak? Aku kan hanya bicara tentang seorang raja yang harus bersikap bijaksana...?"

"Sudahlah. Kakang kalau bicara selalu tak mau kalah!" sahut gadis itu ketus dengan wajah cemberut.

Kembali Rangga hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Pandan Wangi yang sedang merajuk. Namun ketawanya tiba-tiba berhenti ketika mereka melewati sebuah rumah yang ramai dipenuhi oleh orang-orang

"Hm, ada apa di situ? Apa yang terjadi?" seru Rangga heran bercampur penasaran.

Dia membelokkan arah lari kudanya tanpa mengajak gadis itu. Hal itu tentu saja menambah perasaan kesal di hati Pandan Wangi. Namun dia terpaksa mengikuti pemuda itu. "Apa yang telah terjadi di sini, Pak?" tanya Rangga ramah pada salah seorang yang berada didekatnya.

Orang itu memandang sekilas kepada Rangga sebelum menjawab. "Mereka terkena musibah.."

"Musibah apa?"

"Setelah suaminya pergi, tak berapa lama mereka dirampok dan segala harta bendanya habis semua. Beberapa saat kemudian orang-orang membawa suaminya yang telah menjadi mayat...."

"Siapa keluarga ini dan kenapa suaminya tewas? Lalu adakah yang mengetahui siapa orang yang merampok itu?" tanya Rangga lebih lanjut.

"Suaminya yang meninggal bernama Tatang Senjaya...," jelas orang itu kemudian menceritakan sedikit yang diketahuinya dari murid-murid Tatang Senjaya sendiri.

Seperti diketahui, Tatang Senjaya tewas di tangan pendekar dari negri asing yang bernama U Than Kyung. Kemudian mayatnya ditemukan orang-orang di desa ini dan membawanya pulang. Namun setiba dirumah ternyata ada musibah yang menimpa pula. Beberapa orang muridnya didapati telah tewas. Yang tersisa hanya mereka yang kebetulan tak berada di tempat kejadian saja. Sementara anak dan istri Tatang Senjaya sendiri selamat.

"Hm, jadi tak ada yang mengetahui siapa perampok itu?" tanya Rangga setelah mendengar penuturan orang itu.

"Menurut keterangannya, orang itu mengenakan topeng. Ilmunya tinggi dan semua murid Tatang Senjaya tak mampu melawannya."

Rangga merenung beberapa saat lamanya mendengar penuturan orang tersebut. Betulkah ini ada hubungannya dengan seorang tokoh yang diceritakan prajurit kerajaan tadi padanya? Kalau benar demikian, apakah pantas dia disebut baik? Seorang maling budiman jarang membunuh korbannya jika tak terpaksa sekali. Tapi beberapa orang murid Tatang Senjaya tewas dengan cara yang mengerikan. Dan jelas hal itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang sadis.

"Bagaimana, Kakang? Apakah kau masih beranggapan bahwa pencuri itu orang baik?" tanya Pandan Wangi sinis seperti mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu.

Rangga diam saja sambil menaiki kudanya dan berlalu dari tempat itu. Kali ini terlihat wajah Pandan Wangi selalu tersenyum penuh kemenangan.

"Kau membenarkan kata-kataku, bukan?" ulang Pandan Wangi sambil tersenyum meng-goda.

"Kau boleh benar, tapi tentu tidak dengan pencuri itu. Siapa tahu dia bukan mencuri yang masuk dalam hitungan seperti yang kuceritakan tadi. Dia betul-betul pencuri yang melakukan kejahatan dan pantas mendapat hukuman yang setimpal!" sahut Rangga tenang.

"Huuu, Kakang memang tak pernah mengalah. Merasa benar sendiri, dan tak mau mendengar pendapat orang lain!" gerutu Pandan Wangi dengan kesal.

"Lho... kenapa jadi kesal sendiri? Ah, sudahlah. Lebih baik kita tak membicarakan hal itu lagi...."

Pandan Wangi diam saja tak menyahut. Rangga meliriknya berkali-kali dan berusaha menggodanya. Namun gadis itu tetap cemberut dan tak mau berpaling sedikitpun. Kedua muda-mudi itu terus berlalu hingga tiba di tepi sebuah pantai di dekat perkampungan nelayan.

"Lho, kenapa jadi melantur. Apa yang akan kita kerjakan di sini?" tanya Rangga pada diri sendiri.

"Kakang, apakah kau merasa bahwa kita tak punya tujuan? Kalau begitu untuk apa kita berleha-leha segala? Lebih baik kita pulang ke Karang Setra dan beristirahat barang beberapa bulan...," kata Pandan Wangi dengan suara datar.

"Ya, aku juga bingung. Tapi bukan soal tujuan kita, melainkan ada sesuatu yang terjadi di daerah ini dan menjadi teka-teki bagi kita. Pencurian, kemudian tokoh asing yang menantang pendekar-pendekar negeri ini, dan nanti entah apa lagi...."

Kata-kata Rangga terpotong ketika melihat suatu perkelahian yang kelihatannya tak seimbang. Seorang laki-laki tengah dikeroyok oleh sepuluh orang lawannya yang bertubuh besar-besar. Laki-laki itu sendiri bertubuh sedang dan agak kurus.

"Coba kita ke sana!" ajak Rangga.

"Kakang mau mencampuri urusan orang?"

"Kita hanya melihat-lihat saja. Kalaupun sesuatu terjadi pada kita, itu soal nanti," sahut Rangga seenaknya sambil memacu kudanya mendekati tempat perkelahian itu.

Sambil bersungut-sungut kesal Pandan Wangi terpaksa mengikuti dari belakang. Dari dekat mereka dapat melihat dengan jelas. Laki-laki yang tengah dikeroyok itu mengenakan baju putih terbuat dari sutera. Namun caranya berpakaian berbeda sekali dengan penduduk kebanyakan di negri ini. Rambutnya yang panjang digelung ke belakang, dan orang ini pun memakai sepatu panjang yang menutupi celananya. Sepasang alisnya agak miring menaungi kelopak matanya yang sipit. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya klimis. Laki-laki ini paling-paling berusia sekitar tiga puluh lima tahun atau lebih sedikit. Dengan bertangan kosong dia mampu bergerak lincah menghindari sambaran-sambaran senjata lawan-lawannya.

"Kakang, laki-laki itu pastilah orang asing di sini. Apakah tak mungkin dia yang belakangan ini ramai dibicarakan orang?!" seru Pandan Wangi curiga.

"Nah, betulkan Kakang akan mencampuri urusan orang?!"

Rangga tak menyahuti ucapan Pandan Wangi, sebaiknya malah berteriak dengan suara nyaring. "Ki sanak, apakah yang tengah terjadi di sini?!"

LIMA

Serentak orang-orang itu menghentikan perkelahian. Salah seorang dari pengeroyok itu membentak nyaring dengan suara gusar.

"Siapa kau berani mencampuri urusan orang?!!"

"He, bukankah dia Pendekar Rajawali Sakti?!" tunjuk salah seorang kawannya yang lain meyakinkan pendapat kawannya itu.

Mengetahui bahwa pemuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti, sikap mereka berubah dan tak segarang tadi. Hal itu amat menguntungkan bagi Rangga. Maka dengan suara yang lebih lunak, kembali dia bertanya kepada mereka.

"Ki sanak, apakah yang sedang terjadi di sini?"

"Pendekar Rajawali Sakti, namaku Bergawa, dan ini adalah kawan-kawanku. Adapun orang asing ini telah lama kami cari-cari karena dia telah membunuh guru kami," jelas salah seorang diantara mereka yang agaknya bertindak selaku pimpinan.

Dusta! Itu tidak benar! Bertemu dengan mereka pun baru sekali ini. Bagaimana mungkin aku bisa membunuh guru mereka?!" sahut orang asing itu cepat untuk membela diri.

"Keparat! Tutup mulutmu! Kali ini kau tak akan bisa mungkir lagi. Kelakuanmu sudah kelewat batas di negri ini!" sentak Bergawa membentak keras.

"Sebentar, Ki Bergawa. Kita harus melihat persoalan lebih jelas. Baru setelah itu mengambil keputusan."

"Ki sanak, apakah kau tak mengetahui peristiwa yang terjadi belakangan ini? Seorang pendekar asing datang ke negri ini dan membuat banyak kekacauan. Dia telah menewaskan lebih dari dua belas tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi hanya sekedar membuktikan bahwa dia lebih hebat dari kita. Kalau dibiarkan lebih lama, orang seperti itu akan besar kepala dan lama-kelamaan akan mendikte semua tokoh persilatan di negeri ini. Dan kalau hal itu telah terjadi, maka dia dengan leluasa melakukan perbuatan-perbuatan jahatnya. Nah, orang itu kini telah berada di hadapan kita! Apakah hal ini perlu dijelaskan lagi?!"

"Ya, akupun pernah mendengar berita itu dan sangat disayangkan. Tapi benarkah orang itu dia?" tunjuk Rangga pada orang asing di depannya.

"Ki sanak, namaku Cen Hui Ming. Kedatanganku ke sini ingin mencari musuh besarku yang bernama U Than Kyung. Aku baru saja menginjakkan kaki di negri ini. Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan orang-orang ini," Orang asing itu lebih dulu menyahut untuk membela diri

Rangga mengangguk-angguk pelan sambil memandang sekilas pada orang asing itu, seperti ingin meneliti kejujurannya. Kemudian dia kembali berpaling pada ketujuh orang yang berada di dekatnya itu.

"Ki sanak semua, biarlah orang ini menjadi urusanku dan kalian boleh kembali ke tempat masing-masing!"

"Pendekar Rajawali Sakti, apakah kau akan menghajar orang asing itu?" tanya Ki Bergawa.

"Aku akan mengurusnya sebaik mungkin dan menyerahkannya pada pihak kerajaan untuk diadili. Nah, pulanglah kalian!"

Nama Pendekar Rajawali Sakti dikenal sebagai orang yang tegas dan selalu berbuat kebenaran. Kalau dia sudah berkata begitu maka sudah jelas hal itu akan dilaksanakannya. Paling tidak dia bertanggung jawab terhadap orang asing itu. Maka dengan perasaan lega mereka berlalu dari tempat itu.

"Ki sanak, sekarang kita tinggal bertiga. Ada-kah sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Rangga kembali ketika orang-orang yang lain telah lenyap dari tempat itu.

"Rasanya tak ada, Ki sanak. Aku telah berkata yang sebenarnya. Kalaupun ada barangkali hanya tambahan ceritaku saja."

"Kalau tak keberatan, cobalah ceritakan padaku...."

"Baiklah. U Than Kyung merampok semua harta benda yang berharga dan membunuh semua keluargaku pada saat aku masih berada di Hoa San. Itu saja sudah cukup alasan bagiku untuk membunuhnya. Disamping itu dia adalah seorang pemberontak yang menentang kekaisaran. Orang itu dicari-cari di seluruh daratan Tiongkok," jelas Cen Hui Ming menambahkan.

Kembali Rangga mengangguk-angguk mendengar penuturan orang asing itu. "Hm, baiklah. Untuk sementara waktu aku percaya kepadamu. Tapi kalau ternyata orang yang sering membuat kekacauan di negri ini ternyata adalah kau, maka kau akan menjadi buronan yang akan dikejar-kejar untuk mendapatkan hukuman!" kata Rangga dengan tegas.

"Aku telah berkata yang sebenarnya, Ki-sanak!"

"Ya, aku mempercayai keteranganmu untuk sementara ini. Coba terangkan padaku bagaimana ciri-ciri orang yang bernama U Than Kyung itu?"

Cen Hui Ming pun menceritakan segalanya yang dia ketahui sebelumnya.

"Baiklah, terima kasih atas keteranganmu. Mungkin suatu saat aku akan bertemu dengannya untuk menyelesaikan beberapa persoalan," sahut Rangga.

"Ki sanak, kalau tak ada lagi persoalan diantara kita, maka biarlah aku berlalu. Dan... eh, bolehkah kutahu nama Ki sanak?"

"Silahkan. Namaku Rangga, dan ini kawanku, Pandan Wangi...."

Setelah menjura hormat, Cen Hui Ming berlalu dari tempat itu. Rangga memandangnya lama sampai orang itu lenyap di tikungan jalan.

"He!" Pandan Wangi mengejutkan dengan menepuk pundaknya.

"Ada apa?"

Aku tahu apa yang sedang Kakang pikirkan!" kata Pandan Wangi.

"Coba katakan!"

"Kakang pasti mau mencari orang utan itu, eh siapa namanya? U Than Kyung, ya?"

"Nah, sekarang makin pintar saja kau! Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," sahut Rangga sambil mengusap-usap kepala Pandan Wangi dan terus kabur sambil memacu Dewa Bayu sekencang-kencangnya.

"Kakang, akan kuhajar kau!" teriak Pandan Wangi kesal dan sudah menghentak tali kekang kudanya kuat-kuat.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Kedua laki-laki itu berjalan dengan gagah sambil memandang ke kiri dan kanan. Sebuah pedang masing-masing tersandang di punggungnya. Rambut mereka panjang dan diikat sehelai kain berwarna hitam dan putih, persis sama dengan warna bajunya yang belang-belang. Wajah keduanya klimis dengan kumis tipis dan terlihat masih berusia muda. Kelihatannya mereka mirip satu sama lain. Merekalah yang dalam dunia persilatan dikenal sebagai Kembar Maut Gunung Sindur. Yang seorang bernama Sentika dan seorang lagi bernama Sentanu.

"Sentika, apakah kau yakin bahwa tempatnya di sekitar sini?" tanya Sentanu curiga.

"Betul, di sekitar sini. Tapi lebih di sebelah sana ke dekat jurang itu!" tunjuk Sentika ke satu arah.

"Huh, biar sekalian kuceburkan dia ke dalam jurang itu!" dengus Sentanu geram.

"Menurut cerita banyak orang dia memiliki, kepandaian yang hebat dan luar biasa...."

"Huh, siapa yang peduli!"

Kedua orang itu terus berjalan ke tempat yang ditunjukkan oleh Sentika sehingga mereka tiba persis di dekat sebuah jurang yang menganga lebar. Keduanya tegak berdiri sambil mengerahkan pendengarannya setajam mungkin.

"Kenapa lama sekali dia datang? Aku sudah tak sabar ingin mematahkan lehernya!" geram Sentanu mulai kesal.

"Jangan suka menganggap enteng, Sentanu. Sudah banyak tokoh-tokoh rimba persilatan berilmu tinggi yang binasa ditangannya. Kita harus hati-hati dan waspada."

"Huh, orang lain boleh takut dan binasa ditangannya, tapi dengan kita jangan harap dia bisa berbuat seperti itu. Dia tidak akan dapat memperoleh apa-apa selain kematiannya!" dengus Sentanu dengan penuh keyakinan.

Mendadak begitu selesai kata-katanya, melayang sesosok tubuh dengan ringannya dari atas sebuah cabang pohon yang tak begitu jauh dari keduanya. Seorang bertubuh sedang memakai baju kuning serta mengenakan topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu. Kedua orang itu tak mampu melihat wajah orang yang baru datang itu.

"Selamat datang Kembar Maut Gunung Sindur. Ternyata kalian berjiwa ksatria dan mau memenuhi undanganku!"

"Siapa kau? Kaukah yang bernama U Than Kyung?!" tanya Sentanu dengan suara keras.

"Tak salah. Akulah U Than Kyung."

"Hm, bagus! Mari kita mulai saja permainan ini!"

Trek!

Sentanu agaknya sudah tak sabaran dan buru-buru ingin menghajar lawan. Dengan reflek dia membuka sedikit pedangnya dari warangkanya.

"Ha ha ha ha...! Agaknya kau tak sabar betul ingin ke neraka, sobat!" ejek U Than Kyung sambil tertawa.

"Pfuiih! Siapa yang akan ke neraka, kita tentukan hari ini. Ayo, majulah kau!" bentak Sentanu Kalap.

"Hm, kalau memang kau sudah tak sabar lagi, silahkan maju. Dan ajak juga saudaramu itu bersama-sama...."

"Maaf, Ki sanak. Sesuai dengan nama julukan kami, maka kami harus selalu maju bersama menghadapi lawan. Kuharap kau tak keberatan akan hal itu," sahut Sentika menjelaskan.

"Tak menjadi soal. Silahkan saja. Bukankah sudah kukatakan bahwa kalian boleh maju bersama. Dengan begitu akan lebih mudah bagiku untuk menyelesaikan pertarungan ini dengan waktu singkat," sahut U Than Kyung tenang.

Bukan main panasnya hati Sentika mendengar kesombongan lawannya itu. Jelas sekali bahwa dia sangat meremehkan mereka dan sama sekali tak memandang sebelah mata. Maka tanpa berbasa-basi lagi dia mencabut pedangnya.

"Ki sanak, keluarkanlah senjatamu!" dengusnya geram.

"Untuk menghadapi kalian, apa gunanya aku menggunakan senjata? Kedua belah tanganku ini lebih dari cukup."

"Huh, baiklah kalau itu kemauanmu. Jangan salahkan kalau kau tewas di ujung pedangku!" sahut Sentika dingin.

"Yeaaa...!" Sentanu langsung melompat sambil membentak nyaring. Ujung pedangnya menyambar-nyambar di setiap sudut dari titik kelemahan di tubuh lawan. Begitu pula halnya dengan Sentika. Paduan ilmu pedang yang mereka mainkan sungguh indah dan sangat dahsyat. Rasanya untuk mereka yang memiliki kepandaian tanggung sebentar saja pasti akan kena dilukai.

Tapi bagi U Than Kyung, dia kelihatan santai sekali meladeni lawan-lawannya itu. Tubuhnya bergerak gesit sekali menghindari sambaran senjata-senjata lawan yang setiap saat mengancam dirinya. Dan hal itu tentu saja membuat si Kembar Maut Gunung Sindur semakin geram dan penasaran saja.

"U Than Kyung, bertarunglah yang benar. Apakah kebisaanmu hanya melompat-lompat seperti monyet?!" bentak Sentanu mengejek.

"Ha ha ha ha...! Apakah kalian beranggapan cara bertarung ku tak sungguh-sungguh? Nah, dengan begini saja kalian sudah tak mampu berbuat apa-apa, bagaimana mungkin bila aku bersungguh-sungguh menghadapi kalian?" sahut U Than Kyung menyindir.

"Kurang ajar!"
"Yeaaa...!"

Sebenarnya dugaan Sentika dan Sentanu salah bila mereka mengira bahwa lawan tak bertarung sungguh-sungguh. Hal itu dilakukan oleh U Than Kyung untuk melihat sampai sejauh mana kemampuan kedua lawannya. Dan sekaligus untuk mengetahui di mana saja titik kelemahan mereka. Sebab ketika dia telah mengetahuinya, gerakannya tiba-tiba berubah cepat dengan sambaran-sambaran maut yang membuat kedua lawannya terkejut.

"Bress!"
"Huh!"
"Uhh...!"

Kedua ujung senjata lawan menyerang jan-tungnya dengan cepat. U Than Kyung mencopot topi lebarnya dan menangkis dengan benda itu kemudian dengan sekali sentak, ditariknya kedua senjata lawan. Kembar Maut Gunung Sindur terkejut. Mereka sebenarnya masih mampu mempertahankan pedangnya kalau saja kaki lawan tak menyodok dari bawah.

"Lepass...!"
Wreet!
Begkh!
"Aaaa...!"

Kedua senjata di tangan lawan terlepas ketika U Than Kyung membentak nyaring. Dari lehernya menjulur rambutnya yang panjang dikepang dengan ujungnya yang diikat sebuah pisau kecil, menyambar leher Sentika bagai belitan seekor ular. Ketika tubuhnya berputar untuk menyentak leher lawan terdengar tulang berderak patah, saat itu pula kaki kanannya menghajar dada kiri Sentanu. Kedua orang itu berteriak berbarengan dengan tubuh menggelepar-gelepar di tanah. Beberapa saat kemudian keduanya diam tak bergerak lagi. U Than Kyung meludah dengan tatapan sinis.

"Huh, cuma segini saja kemampuan kalian! Cuiih!"

Kemudian dia berlalu meninggalkan tempat itu setelah menendang kedua mayat itu ke dalam jurang.

********************

Juragan Sumantri sedikit terkejut ketika melihat siapa yang datang. Tapi dia segera menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan tamunya masuk.

"Ah, bagaimana khabarmu Saudaraku? Apakah kau suka tinggal di tempat itu? Kudengar belakangan ini kau sibuk sekali mengurusi orang yang datang berobat ke tempatmu," tanya Juragan Sumantri.

"Yah, begitulah, Sobat. Bagaimana khabarnya dengan Purwasih?"

"Syukurlah. Bulan depan kalau tak ada halangan dia akan melangsungkan perkawinannya dengan pemuda dari desa sebelah. Kau harus datang Ki Dukun!" ujar Juragan Sumantri memastikan.

Orang itu memang tak lain dari orang asing yang tempo hari mengobati penyakit yang diderita putri Juragan Sumantri. Dia sudah merelakan rumah yang ditempati orang itu menjadi miliknya sebagai ucapan rasa terima kasih. Dan agaknya setelah ditempati oleh orang asing itu, cerita-cerita mengenai adanya hantu hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Makin percayalah penduduk di sekitar tempat itu bahwa orang asing tersebut memiliki kesaktian hebat yang membuat hantu penunggu rumah itu kabur ketakutan.

Dan orang asing itu makin disegani di kampung itu. Juragan Sumantri sendiri sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri, meskipun sampai saat ini dia tak bisa menyebutkan nama asli orang asing itu dan selalu menyebutnya dengan Ki Dukun.

Mereka bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang sifatnya umum. Tapi ketika Juragan Sumantri menanyakan sesuatu, Ki Dukun tampaknya enggan untuk menjawab.

"Kenapa, Ki? Kenapa pada waktu-waktu tertentu Kisanak tak berada di rumah? Padahal banyak orang yang ingin berobat. Kalau memang ada keperluan, Ki sanak bisa katakan pada saya, dan anak buah saya akan siap membantu...."

"Itu, eh... saya memang ada keperluan pribadi yang harus diselesaikan. Dan..., kadang-kadang ada permintaan berobat ke rumahnya. Tentu saja saya tak bisa menolak. Juragan... eh, tampaknya di kotaraja kini ramai sekali dikunjungi tokoh-tokoh persilatan. Apakah yang sedang terjadi?" tanya Ki Dukun mengalihkan perhatian.

"Hm, Ki Dukun rupanya pernah juga ke kotaraja?"

"Yaaah, hanya sekedar lewat...."

"Entahlah. Aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi. Namun tampaknya belakangan ini keadaan menjadi sangat rawan. Banyak terjadi pencurian dan pembunuhan pada saudagar-saudagar kaya. Juga bersamaan dengan datangnya seorang pendekar dari negeri asing yang menantang dan banyak membinasakan tokoh-tokoh persilatan di negri ini. Maka itu Ki Dukun, Ki sanak harus berhati-hati sebagai orang asing disini. Salah-salah Ki sanak malah dituduh sebagai orang asing itu, maka akan celakalah jadinya!"

"Ya, ya... saya mengerti. Eh, ng.... Juragan, tahukah siapa Pendekar Rajawali Sakti itu dan di mana kita bisa menemuinya?" tanya Ki Dukun tiba-tiba.

"Hm, apakah Ki Dukun ingin menemuinya?"

"Tidak. Saya hanya mendengar tentang kehebatan serta keperkasaannya yang luar biasa...."

"Ya, menurut apa yang pernah kudengar, pemuda itu memang luar biasa dan memiliki kepandaian bagai Dewa. Dia banyak membantu mereka yang lemah dan turun tangan tanpa diminta sekalipun."

"Hm, pemuda? Berarti dia masih muda?"

"Betul, kata orang-orang yang pernah melihatnya dia berwajah tampan dan berambut panjang serta mengenakan baju rompi putih. Senjatanya sebuah pedang berhulu kepala burung. Dia memiliki peliharaan seekor burung rajawali raksasa...."

"Rajawali raksasa...?" tanya Ki Dukun sambil menaikkan alis.

"Begitulah menurut orang-orang yang pernah menyaksikan sepak terjangnya. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Kalau Ki Dukun suatu saat berkenalan dengannya itu baik sekali. Dia seorang tokoh persilatan yang sangat disegani di bumi jawa ini...."

"Ya, suatu saat aku pun ingin berkenalan dengannya...," sahut Ki Dukun singkat.

"Juragan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Juragan," kata salah seorang centengnya melapor.

"Siapa?"

"Wiku Dharma."

"Ah, dia ternyata cepat hadir. Katakan padanya, eh tidak usah. Biar aku sendiri yang menyambutnya," sahut Juragan Sumantri cepat, dan mengajak Ki Dukun keluar menyambut tamunya.

Di depan terlihat seorang laki-laki tua berkepala botak dengan pakaian kuning dan tasbih yang memiliki biji bulat dan besar-besar. Caranya berpakaian mirip seorang pendeta agama. Orang itu memiliki wajah yang klimis tanpa jenggot dan kumis. Sepasang alis matanya yang tebal dan telah memutih, menaungi bola matanya yang bulat. Usianya paling tidak sekitar lima puluh tahun.

Juragan Sumantri terlihat gembira sekali menyambut tamunya itu. Dia langsung memperkenalkannya dengan Ki Dukun. Kedua orang itu saling bertatapan dengan ramah. Namun Ki Dukun sempat tercekat ketika merasakan bahwa pandangan mata pendeta itu amat tajam menusuk seperti memiliki daya sihir yang kuat. Sadarlah dia bahwa pendeta ini memiliki tenaga batin yang amat kuat.

"Nah, kalau pendeta Wiku Dharma ini tadinya seorang brandal dan tukang berkelahi. Paling suka pamer kejagoan dan banyak kejahatan yang telah dilakukannya. Tapi setelah mendalami agama, dia malah berubah kebalikannya. Dia menjadi orang yang paling taat mengikuti ajaran agama," Jelas Juragan Sumantri ketika mereka telah berbincang-bincang di dalam, dan dia masing-masing menceritakan sedikit latar belakang kedua tamunya itu satu sama lain yang pernah diketahuinya.

"Pastilah tadinya seorang pendekar yang amat tangguh pula..." sahut Ki Dukun sambil tersenyum kecil.

"Begitulah. Tapi kini Wiku Dharma telah melupakan semua masa lalunya itu. Hidupnya betul-betul diabdikan untuk kepentingan agama," kata Juragan Sumantri menjelaskan.

ENAM

Kedatangan pendeta Wiku Dharma ke rumah Juragan Sumantri adalah atas undangan tuan rumah sendiri. Selain merupakan sahabat lama yang pernah dikenalnya baik, Juragan Sumantri juga berharap bahwa Wiku Dharma bisa menjadi pemimpin upacara perkawinan putrinya nanti. Hal yang terakhir yang memang merupakan tujuan pembicaraan mereka. Dan Ki Dukun agaknya bisa menangkap gejala itu, maka tak berapa lama dia pun mohon diri.

"Kenapa terburu-buru Ki Dukun? Ki sanak sudah seperti keluarga sendiri, dan untuk urusan ini tak ada yang kurahasiakan...," kata Juragan Sumantri.

"Ah, tak apa, Juragan. Kedatangan saya cuma sekedar berkunjung. Masih ada yang harus saya kerjakan di rumah untuk membuat ramuan obat. Kebetulan telah banyak yang habis...."

"O, begitu. Yah, kalau memang demikian kami tak bisa menahan lebih lama lagi," sahut Juragan Sumantri.

Dia mengantar Ki Dukun sampai beranda depan dan menyelipkan beberapa keping uang emas ke tangannya. Pada mulanya Ki Dukun agak sungkan menerimanya, namun Juragan Sumantri memaksa. Maka mau tak mau pemberian itu pun diterimanya. Memang sudah menjadi kebiasaan Juragan Sumantri selalu memberi hadiah setiap kali Ki Dukun berkunjung ke sini.

Entah karena Ki Dukun yang sungkan atas sikap Juragan Sumantri, atau karena dia memang setiap hari selalu sibuk, boleh dihitung bahwa kedatangannya ke tempat Juragan Sumantri amat jarang. Padahal jarak di antara mereka tak terpaut jauh. Selama hampir sebulan penuh, dia baru dua kali berkunjung dengan hari ini. Tapi Juragan Sumantri selalu bisa memahami alasan Ki Dukun.

Pendeta Wiku Dharma pun tak lama berkunjung ke tempat Juragan Sumantri. Setelah pembicaraan mereka selesai, dia segera mohon diri. Juragan Sumantri bermaksud menahannya dan menyuruhnya menginap mengingat jarak kelenteng dimana Wiku Dharma selama ini tinggal dengan rumahnya cukup jauh. Namun Wiku Dharma dengan alasan yang tepat terpaksa tak bisa menerima tawaran Juragan Sumantri yang simpatik itu.

Wiku Dharma melangkah pelan dengan tongkat besar di tangannya. Juragan Sumantri telah menyiapkan seekor kuda yang gagah dan kuat berjalan lama, namun dengan halus Wiku Dharma menolaknya. Dia lebih suka berjalan kaki saja. Padahal udara hari ini sangat panas. Matahari masih bersinar dengan garang agak condong ke Barat.

Melewati mulut desa, Wiku Dharma berhenti ketika sesosok tubuh menghadangnya sambil memunggunginya. Orang itu mengenakan baju kuning dan mengenakan topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu. Dengan caranya yang berdiri tegak di tengah jalan, jelas bahwa orang itu bermaksud menghadang perjalanannya. Wiku Dharma merangkapkan sebelah tangannya ke dada.

"Ki sanak, sudilah menepi dan memberi jalan kepadaku...," katanya dengan suara ramah.

"Silahkan lewat. Kau bisa lewat kiri atau kanan!"

"Baiklah kalau demikian...."

Wiku Dharma melangkahkan kaki ke kanan dan melewati orang itu. Namun baru berjalan beberapa langkah, sesosok tubuh itu kembali melayang melewati kepalanya dan kembali berdiri tegak menghadang perjalanannya. Sadarlah dia bahwa orang bertopi lebar itu betul-betul berniat menghalangi perjalanannya. Wiku Dharma berhenti dan kembali bertanya dengan suara ramah.

"Ki sanak, apa yang kau inginkan dariku. Kalau kau menginginkan harta, aku orang miskin yang tak memiliki benda berharga..."

"Aku tak butuh hartamu!"

"Jadi apa yang kau inginkan?"

"Kau harus bertarung denganku!" sahut orang bertopi lebar itu dingin.

"Ki sanak, aku tak pandai berkelahi. Bagaimana mungkin kau ingin mengajakku bertarung denganmu?"

Jangan berpura-pura, Wiku Dharma!"

"Hm, kaupun tahu namaku. Siapa kau sebenarnya?"

"Kau tak perlu mengetahuinya. Tapi jelas aku pun mengetahui bahwa kau memiliki kepandaian ilmu silat yang hebat. Nah, Wiku Dharma. Tak usah lagi berpura-pura. Aku bukan sedang bermain-main denganmu. Keluarkanlah segenap kemampuanmu karena aku tak akan segan-segan untuk menghajarmu!"

Setelah berkata begitu tubuh si topi lebar itu melesat cepat ke belakang sambil mengayunkan tangan ke arah leher Wiku Dharma.

"Yeaaat...!"
"Uts!"

"Bagus, Wiku! Mengelaklah selagi kau bisa. Kali ini kau tak bisa lagi menyembunyikan kepandaianmudi hadapanku. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu!"

"Ki sanak, kau terlalu memaksaku. Apa boleh buat. Aku terpaksa mempertahankan diri!" sahut Wiku Dharma mulai kesal melihat lawan terus-menerus mendesaknya dengan serangan gencar. Dia bisa merasakan bahwa tenaga dalam lawan sungguh hebat, itu terasa dari angin serangannya yang kuat dan mampu membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Kecepatan bergerak orang bertopi lebar ini pun sangat mengagumkan sekali. Kalau saja Wiku Dharma tak memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna, niscaya sudah sejak tadi dia kena hajar lawan.

"Yeaa...!"
Plak! Plak!

"Hebat! Sungguh hebat kau punya pukulan, Sobat. Ternyata dugaanku tak salah. Kau memiliki tenaga dalam yang kuat!" puji si topi lebar ketika pukulan mereka tadi bertemu.

Apa yang di katakan si topi lebar itu memang beralasan karena baginya agak sedikit sulit untuk mengalahkan lawannya kali ini dengan mudah. Tenaga dalam yang dimiliki Wiku Dharma tidak berada di bawahnya, meski gerakannya masih bisa di atasi oleh lawan. Tapi meskipun begitu, tetap saja terlihat bahwa si topi lebar agak berhati-hati menghadapinya.

Sementara itu pertarungan antara keduanya masih berjalan dengan seru. Si topi lebar kelihatannya mulai keteter ketika dengan geramnya Wiku Dharma mulai balas menyerang dengan pukulan-pukulan gencarnya. Kalau saja orang itu mengetahui siapa sebenarnya Wiku Dharma dan bagaimana sepak terjangnya di masa lalu, tentu dia akan berpikir dua kali untuk menyerangnya dan menganggapnya enteng.

Pada masa mudanya dulu Wiku Dharma mendapat julukan si Tangan Gajah, karena kepalan-kepalan tangannya memang amat kuat sekali dan mampu menghancurkan sebatang pohon yang cukup besar dengan sekali pukul. Dan kini dengan kedua tangannya yang hebat itu, ditambah dengan permainan tongkatnya yang mampu mendesak lawan dengan hebat, dia betul-betul berada di atas angin

"Yeaa...!"
"Hup!"
Praak!

Dalam satu kesempatan ujung tongkat di tangan Wiku Dharma menghajar telak batok kepala lawan ketika kepalan tangan kirinya tadi dapat dihindari lawan. Tapi si topi lebar masih cukup gesit sehingga hanya topinya saja yang hancur berantakan.

"Hm, sudah kuduga. Ternyata memang kau orangnya, Ki Dukun!" kata Wiku Dharma dingin ketika melihat siapa orang itu sebenarnya.

"Ha ha ha...! Bagus, kini kau telah tahu siapa aku. Tapi jangan harap kau akan selamat. Bersiaplah menerima kematianmu!"

Setelah berkata demikian, terlihat Ki Dukun membuka suatu jurus aneh sambil merapal suatu mantera.

"Apa maksudmu dengan semua ini, Ki Dukun? Diantara kita tak ada saling permusuhan," kata Wiku Dharma berusaha tenang.

Namun orang itu tak menjawab. Dia malah membentak keras sambil melompat ke arah Wiku Dharma.

"Yeaa...!"
"Heh?!"

Wiku Dharma tersentak kaget seperti tak percaya pada pandangan matanya. Dilihatnya tubuh Ki Dukun pecah berturut-turut menjadi kembarannya sendiri. Buru-buru diputarnya tongkat untuk menghalau serangan lawan. Namun satu persatu terasa bahwa dia hanya menghantam angin belaka. Tapi....

Des!
"Aakh!"

Tubuh Wiku Dharma terjungkal keras ketika satu hantaman menghajar punggungnya. Namun buru-buru dia bangkit sambil menahan nyeri pada wajahnya yang berkerut. Kepalanya terasa berkunang-kunang melihat pemandangan yang ada didepan mata. Ki Dukun yang kini berjumlah lima, seperti bergerak mengepungnya dari semua jurusan dan mengelilinginya dalam langkah-langkah pasti sambil menyeringai lebar.

"Ha ha ha...! Kalau memang kau hebat, kau tentu bisa mengalahkan ilmu Go Te Kong (Lima Dewa Bumi) yang kumiliki ini. Ayo, Wiku tahan seranganku ini!"

"Hup! Yeaaa...!"

Dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Wiku Dharma berusaha bergerak secepat mungkin untuk menghajar kelima lawannya secara bersamaan.

"Hiyaaat...!"
"Heh?!"
Praaak!
Begkh!
"Aaakh...!"

Untuk kedua kalinya tubuh Wiku Dharma terjungkal sambil menjerit keras. Serangan yang dilakukan lawan sama sekali tak diduganya. Tiba-tiba menyambar sebuah sinar berwarna biru keputih-putihan kearahnya. Dia berusaha menangkis dengan putaran tongkatnya. Tapi senjatanya itu hancur berantakan. Buku-buku jari tangan yang memegang tongkat itupun hancur tak berbentuk. Belum lagi Wiku Dharma menyadari keadaan, satu tendangan keras menghajar dadanya.

"Ha ha ha ha...! Perlu kau ketahui, Wiku Dharma. Itulah satu pukulanku yang paling handal yang bernama Shiu Lo Sat Kang (Pukulan Beracun Hawa Dingin). Kau telah terkena racunku yang amat ganas. Kalau saja pukulan itu kukerahkan setengah tenagaku saja, niscaya kau tak akan berbentuk lagi! Ha ha ha ha...! Sekarang nikmatilah kematianmu secara perlahan-lahan!"

"Ke..., keparat kau...!"

Apa yang dikatakan orang itu memang tak salah. Akibat pukulan itu saja seluruh isi dadanya terasa remuk. Tubuhnya diserang hawa dingin luar biasa yang membuat gerahamnya beradu dan bergetar. Dari sudut bibirnya meleleh darah kental berwarna kehitaman. Tubuh Wiku Dharma tersungkur di tanah. Dia berusaha bangkit, namun kedua kakinya terasa lumpuh dan sulit untuk digerakkan. Sementara itu Ki Dukun tertawa terbahak-bahak seperti menikmati betul saat-saat kematian lawannya.

"U Than Kyung, huh perbuatanmu sungguh keji! Kemana lagi kau akan bersembunyi saat ini, he?!"

"He?! Hoa San Tay Hiap (Pendekar Gunung Hoa San), Cen Hui Ming!" seru Ki Dukun ketika melihat siapa orang yang datang secara tiba-tiba di tempat itu.

Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun mengenakan baju putih. Cara berpakaiannya berbeda betul dengan kebanyakan penduduk di sini. Rambutnya yang panjang digelung ke belakang, dan wajahnya klimis dengan sepasang kelopak mata yang menyipit. Orang inilah yang bernama Cen Hui Ming. Melihat bahwa dipunggungnya tersandang sebilah pedang, dapat diduga bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Apalagi Ki Dukun memanggilnya dengan sebutan Hoa San Tay Hiap.

"U Than Kyung, kau tak akan bisa bersembunyi lagi saat ini. Ke mana pun kau pergi aku akan selalu membuntutimu dan membunuhmu agar arwah keluargaku tenang di alam sana!" ujar laki-laki bernama Cen Hui Ming itu sambil memandang tajam kepada lawan.

Ki Dukun yang dipanggil U Than Kyung itu memang terkejut melihat kehadiran laki-laki itu. Tapi hal itu hanya sesaat, sebab beberapa saat kemudian, dia yang telah kembali seperti keadaan semula, tidak lagi menerapkan ilmu Go Te Kong-nya, tertawa terbahak-bahak seperti menganggap remeh.

"Cen Hui Ming, kau pikir aku melarikan diri darimu dan pergi jauh-jauh ke sini hanya untuk itu? Ha ha ha ha...! Kau salah besar. Di sini aku bisa mendapatkan segalanya untuk menunjang perjuanganku nanti. Aku mengumpulkan harta yang banyak. Baik dari cara yang baik, maupun dengan cara yang tak baik. Tapi siapa yang peduli, he? Dan siapa pula yang takut padamu? Banyak jago-jago di negeri ini yang tewas di tanganku. Mereka tak ada apa-apanya!"

"U Than Kyung, kau sangat takabur. Hari ini riwayatmu akan berakhir di tanganku!" geram Cen Hui Ming sambil mencabut pedangnya.

Dia memang pernah berhadapan dengan orang ini sebelumnya, itulah sebabnya dia tak mau berbasa-basi lagi dengan menggunakan serangan tangan kosong, sebab U Than Kyung memang ahlinya dibidang itu. Tapi melalui permainan pedangnya, orang itu pernah kena didesaknya sebelum akhirnya kabur.

"Yeaaa...!"

"Uts! kau terlalu bernafsu, Sobat. Hati-hati-lah, sebab hal itu bisa membahayakan dirimu sendiri," sahut U Than Kyung sambil menghindar dari sambaran ujung pedang lawan yang bukan main gencarnya.

Kedua orang itu terlibat dalam pertarungan yang seru sehingga tak lagi memperhatikan Wiku Dharma. Pukulan beracun yang dilancarkan U Than Kyung tadi memang hebat dan sangat mematikan. Kalau saja Wiku Dharma tak memiliki tenaga dalam kuat, dia tentu tak bisa bertahan selama ini. Melihat kedua orang itu tak memperhatikan dirinya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyeret dirinya agar menjauhi tempat itu, dan sejauh ini terlihat mulai ada hasilnya.

Dengan bersusah payah dia terus bergerak perlahan-lahan melewati jalanan yang berbatu dan menurun. Tiba di sebuah persimpangan jalan, Wiku Dharma tersentak kaget. Di depannya telah menghadang kaki-kaki kuda. Dia mulai putus asa. Nafasnya semakin tersengal dan tenaga banyak terkuras habis. Di cobanya untuk menengadah ke atas. Namun sebelum hal itu dilakukannya, salah seorang penunggang kuda itu turun dan memapah kepalanya.

"Ki sanak, apa yang telah terjadi padamu?"

Wiku Dharma melihat seraut wajah pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang dan mengenakan baju rompi putih. Di sebelahnya terdapat seorang gadis cantik berbaju biru muda. Melihat dari raut wajah mereka, dia bisa menduga bahwa kedua orang ini bisa dipercaya.

"Ki Dukun..., U Than Kyung... pen... pencuri.... Juragan Sumantri di De... desa Madang. Aku.... Wi.... Wiku Dharma...."

Setelah berkata begitu tampaknya Wiku Dharma tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Nyawanya putus dan kepalanya terkulai di pangkuan si pemuda yang tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Nyawanya sudah tak ada, Kakang...," tanya si gadis sambil memeriksa denyut nadi Wiku Dharma.

Rangga mengangguk. "Dia terkena racun ganas. Sebaiknya kita temui dulu orang yang dimaksudnya itu. Tapi..., he, dia menyebut-nyebut nama U Than Kyung! Bukankah orang itu yang belakangan ini telah menewaskan banyak tokoh persilatan di negri ini? Apa hubungannya dengan Ki Dukun? Lalu siapa itu Juragan Sumantri?" tanyanya seperti pada dirinya sendiri.

"Kakang, Desa Madang berada di depan mata kita. Apakah tidak sebaiknya kita cari lebih dahulu Juragan Sumantri itu?" tanya si gadis yang tak lain dari Pandan Wangi alias si Kipas Maut.

"Ya, itu usul yang baik. Biar kuangkat dia ke punggung Dewa Bayu," sahut Rangga sambil mengangkat tubuh Wiku Dharma yang telah tak bernyawa itu ke punggung kudanya.

Tak berapa lama kemudian mereka telah kembali memacu kudanya pelan memasuki sebuah desa yang tak begitu ramai. Tempat ini memang agak terbelakang. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lainnya masih jarang-jarang, dan masih banyak terdapat kebun-kebun luas serta sawah-sawah yang membentang. Sehingga siapapun di desa ini pasti saling mengenal satu sama lain. Apalagi terhadap Juragan Sumantri, orang yang paling kaya di desa itu.

Juragan Sumantri sendiri terkejut ketika melihat kedatangan muda-mudi yang belum pernah dikenalnya itu. Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat mayat Wiku Dharma yang dibawa Rangga.

"Wiku Dharma, Oh! Ki sanak, apakah yang telah terjadi padanya? Dia adalah sahabatku yang paling terbaik!" seru Juragan Sumantri dengan wajah berduka.

Rangga pun menceritakan kejadian yang mereka lihat tadi, dan mencari tahu pula, siapa orang yang dimaksud Wiku Dharma tadi.

"Apa? Ki Dukun?!"

"Benar, Juragan. Dia menyebut-nyebut nama itu dan diikuti dengan nama U Than Kyung. Nama terakhir itulah yang belakangan ini sering dibicarakan banyak orang karena sepak terjangnya yang banyak menewaskan tokoh-tokoh persilatan. Wiku Dharma sempat berkata tentang seorang pencuri, tapi sayang kami tak tahu apa maksudnya, kata Rangga menjelaskan.

"Hm, apakah ini ada hubungannya dengan Ki Dukun?" gumam Juragan Sumantri seperti pada dirinya sendiri.

Orang itu tampak berpikir cepat. Dia segera memanggil lima orang anak buahnya.

"Ada apa, Juragan?" tanya salah seorang diantara mereka.

Cepat kalian pergi ke rumah Ki Dukun dan panggil dia kesini. Kalau dia tak ada, geledah rumahnya! Kalau terdapat benda-benda yang mencurigakan, cepat bawa ke sini!"

Kelima orang itu cepat berlalu mengerjakan perintah Juragan Sumantri. Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun lebih itu menghela nafas berat.

"Juragan, siapakah sebenarnya orang yang Ki sanak panggil Ki Dukun itu?" tanya Rangga perlahan.

Juragan Sumantri pun tak keberatan menceritakan orang yang selama ini dianggapnya telah menjadi saudaranya sendiri itu. Dimulai dari sembuhnya penyakit putrinya itu, dan kemudian banyak orang yang datang berobat kepadanya. Hingga dia lebih dikenal dengan panggilan Ki Dukun.

"Dukun Dari Tibet? Hm, baru kudengar nama itu. Berarti dia berasal dari suatu negri yang berdekatan dengan negeri asal Cen Hui Ming," kata Rangga bergumam seperti pada dirinya sendiri.

"Siapa Cen Hui Ming itu?" tanya Juragan Sumantri.

"Pendekar dari negri Tiongkok yang datang ke negri ini untuk mencari U Than Kyung untuk membalaskan dendamnya. Kuat dugaanku bahwa Ki Dukun adalah U Than Kyung itu, dan barangkali dia pula yang melakukan pencurian akhir-akhir ini terhadap orang-orang yang berharta banyak."

"Dari mana Ki sanak bisa menduga begitu?"

"Bukankah Juragan mengatakan bahwa Wiku Dharma orang yang bisa dipercaya? Mustahil dia mau berkata dusta tentang orang yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan bisa jadi pula bahwa orang yang mencelakakan Wiku Dharma sendiri adalah Ki Dukun itu," sambung Rangga.

Juragan Sumantri bukan tak percaya apa yang diduga pemuda itu. Apalagi dia mengetahui bahwa orang yang berada di hadapannya itu adalah seorang pendekar terkenal. Tapi Ki Dukun selama ini telah dianggapnya sebagai saudara, sangat baik dan belum pernah sekali pun menunjukkan perbuatan yang tak terpuji. Dia hanya bimbang dan berharap bahwa dugaan pemuda itu salah. Tapi....

Kelima orang centengnya telah kembali sambil membawa tiga buah karung dipunggung mereka. Bersamaan dengan itu terdengar kentongan yang dibunyikan bertalu-talu.

"Juragan, kami menemukan ini dirumah Ki Dukun!" kata salah seorang centengnya itu.

"Apa isinya? Coba buka!"

Dan ketika isi ketiga karung dibuka, terbelalaklah mata Juragan Sumantri. Di dalamnya berisi perhiasan-perhiasan terbuat dari emas serta intan permata yang harganya amat mahal dan tiada terkira. Dia sendiri tak memiliki harta kekayaan sebanyak itu. Dan rasanya mustahil di dapatkan Ki Dukun dari hasil mengobati orang-orang yang sakit. Harta kekayaan sebanyak itu paling tidak dimiliki oleh seorang raja atau lima belas orang saudagar-saudagar terkaya. Tapi Ki Dukun...? Ah!

"Mana Ki Dukun?"

"Dia tak ada di rumahnya, Juragan."

"Hmm..., apa yang telah terjadi hingga kentongan itu berbunyi?" tanya Juragan Sumantri sambil menaikkan sepasang alis.

Terlihat dari nada suara dan sikapnya, agaknya kemarahan Juragan Sumantri mulai terasa.

"Ada pertarungan di luar desa kita ini, Juragan. Menurut beberapa orang yang berpapasan dengan kami, disana ada Ki Dukun. Dia yang sedang bertarung. Tapi kami belum memastikannya karena harus membawakan berita ini dulu kepada Juragan," sahut centengnya itu.

"Apa? Ki Dukun?" Rangga ingin meyakinkan pendengarannya. Dan ketika centeng itu menganggukkan kepala, dia memandang ke arah Juragan Sumantri.

"Kalau Ki sanak tak keberatan, saya bermaksud mengajak Ki sanak untuk melihat keributan itu. Barangkali apa yang Kisanak dengar tentang Ki Dukun benar adanya," kata Juragan Sumantri.

"Terima kasih. Kami pun bermaksud demikian," sahut Rangga.

Juragan Sumantri menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan seekor kuda baginya. Dia sendiri mengajak beberapa orang centengnya untuk menyertai perjalanannya. Apa yang dikatakan centengnya itu memang tak salah. Di batas desa itu, disebuah bukit kecil terlihat ramai orang berkumpul. Kebanyakan dari mereka adalah tokoh-tokoh persilatan. Itu bisa diketahui dari cara mereka berpakaian dan senjata-senjata tajam yang mereka bawa. Bahkan para penduduk desapun banyak yang sekedar melihat-lihat meski pada jarak jauh.

"Hah?!" Juragan Sumantri terkejut melihat arena pertarungan di depan matanya.

Di tempat itu terlihat beberapa pohon tumbang dan tanah-tanah berbatu terlihat rata oleh hantaman dan tendangan orang-orang yang sedang berkelahi itu. Dan tempat itu sendiri terlihat agak lapang dengan beberapa sosok mayat bergelimpangan di tanah.

"Cen Hui Ming!" Rangga berseru kaget ketika mengenali sesosok tubuh yang tergeletak tidak bernyawa. Tubuhnya membiru dan dari sudut bibirnya mengering darah kental berwarna kehitam-hitaman.

"Orang itu terkena racun yang sama seperti yang dialami Wiku tadi, Kakang," jelas Pandan Wangi.

"Ya...," sahut Rangga mengangguk kecil.

"Aaaakh...!!"

Terdengar jeritan keras dari arena pertarungan ketika sesosok tubuh terlempar dan tersungkur dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya membiru dan darah kental berwarna kehitaman meleleh pelan dari sela bibirnya. Seorang berbaju kuning dengan rambut panjang dikepang dan dilingkarkan ke lehernya. Ujungnya terikat sebuah pisau pendek yang amat tajam dan masih terlihat berdarah. Sepasang matanya sipit, dan alis miring dan tajam.

Kalau tadi saat dia bertarung, Juragan Sumantri tak begitu mengenalinya karena orang itu bergerak amat cepat. Tapi kali ini dia dengan jelas dapat memastikan siapa orang itu sebenarnya.

"Ki Dukun? He, sejak kapan dia pandai bersilat sehebat itu?!" tanya Juragan Sumantri bingung.

"Apakah Ki sanak yakin bahwa orang itu yang biasa dipanggil Ki Dukun?" tanya Rangga.

"Yakin sekali. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya."

"Hm...," Rangga menggumam pelan. Orang asing itu dilihatnya berkacak pinggang sambil berkoar dengan angkuhnya.

"Siapa lagi yang merasa hebat dan ingin menjajal kemampuanku? Ayolah, maju ke sini!"

Begitu selesai berkata demikian, sesosok tubuh melompat dan berdiri tegak di hadapannya. Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut sebahu telah memutih semua, dibiarkan begitu saja sehingga menimbulkan kesan angker. Apalagi wajahnya yang penuh kerut-merut itu dan sama sekali tak pernah tersenyum, menambah keangkeran orang tua itu. "He, orang asing. Aku Ki Rimang yang merontokkan kesombonganmu. Ki Jaka Lola dari Perguruan Gunung Slamet boleh mampus di tanganmu. Begitu juga dengan Ki Liman Laga dari Perguruan Gajah Mungkur. Tapi berhadapan denganku, kau akan kojor!" dengus orang tua itu dengan suara serak penuh ancaman.

"Ha ha ha ha...! He, orang tua bau tanah? Kau pikir U Than Kyung bocah ingusan yang bisa kau gertak begitu macam? Majulah kalau ingin mampus!" sahut lawannya.

"Keparat! Kau rasakan pukulanku! Yeaaa...!"

Ki Rimang langsung melompat menyerang lawan dengan geram. Dia mengetahui betul bahwa lawannya kali ini memiliki ilmu yang tinggi, untuk itulah dia tak mau menganggap enteng dan telah menggunakan ilmu silatnya yang tertinggi untuk menjatuhkan lawannya secepatnya.

"Yeaa...!"
"Uts!"

Tubuh U Than Kyung atau si Dukun Dari Tibet bergerak cepat dengan lincah menghindari serangan-serangan gencar yang dilancarkan lawan. Ki Rimang memang menggunakan ilmu silat tangan kosong untuk menyerang lawan, tapi jurus-jurus yang dimainkannya bukanlah jurus sembarangan. Dalam dunia persilatan orang tua yang merupakan ketua Perguruan Camar Emas ini dikenal sebagai Cakar Maut Camar Emas. Kesepuluh jari-jari tangannya yang memiliki kuku-kuku yang tajam dan kuat. Kalau saja lawan tak cepat menghindar dari serangannya, bisa jadi cakar-cakar Ki Rimang dapat membunuhnya dengan mengoyak-ngoyak tubuhnya.

"Hiyaaat...!" U Than Kyung berteriak keras sambil menjulurkan rambutnya yang bagai ular menyambar ke arah lawan.

Wes! Wes!
Tap!
Rrrt!
"Heh!"

U Than Kyung agaknya ingin mencoba kekuatan tangan lawan yang hebat itu dengan melilitkan ujung rambutnya seperti ular melilit ketangan kiri lawan. Namun ketika dia berusaha menyentakkannya, Ki Rimang bertahan ketat. Bahkan kalau saja dia tak buru-buru melepaskan lilitannya, bukan tak mungkin kulit kepalanya akan terkelupas karena Ki Rimang bermaksud menyentakkannya.

"Syukur kau tahu diri!" dengus Ki Rimang sambil ketawa dingin mengejek lawan.

"Ha ha ha... ha...! Ternyata kau cukup hebat juga, Ki Rimang. Tapi aku tak yakin apakah kau mampu menahan pukulan Shiu Lo Im Skit Kang (Pukulan Beracun Hawa Dingin)"

Setelah berkata begitu, U Than Kyung merapal suatu mantera dari mulutnya yang berkomat-kamit. Dan kedua tangan dan kakinya membuka suatu jurus yang aneh. Ki Rimang sendiri bersiaga menghadapi segala kemungkinan dan telah menyiapkan suatu pukulan andalannya yang diberi nama Pukulan Camar Emas. Pukulan ini akan mengeluarkan cahaya keemasan dan berhawa panas.

"Yeaaa...!"

U Than Kyung memulai penyerangan. Sambil melompat dia membentak keras. Ki Rimang segera bersiaga. Tapi orang tua itu terkejut ketika menyaksikan bahwa tubuh lawan mendadak bertambah menjadi lima bagian yang sama persis dengannya. Agaknya U Than Kyung telah menggunakan ilmu Go Te Kong-nya untuk mengecoh lawan.

"Uts...!"
Des!
"Aaakh...!"

Orang tua itu menjerit kesakitan ketika satu pukulan keras menghantam dadanya. Tubuhnya terjungkal dan darah kental menetes dari sudut bibirnya. Dia berusaha bangkit untuk menghindari serangan lawan berikutnya. Tubuhnya hanya mampu bergulingan sebanyak lima kali. Padahal pada saat itulah lawan tengah melancarkan serangan pamungkas terhadapnya.

Ki Rimang tak punya pilihan lain. Keadaannya betul-betul parah. Isi dadanya seperti remuk akibat pukulan lawan tadi. Dan hawa dingin yang menyerang tubuhnya membuat segala aliran darahnya membeku dan membuat daya hidupnya semakin melemah. Padahal dia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk mengusir racun yang bersarang di tubuhnya akibat pukulan lawan. Tapi hal itu malah berakibat parah. Darah kental berkali-kali menggelogok dari mulutnya.

"Mampuslah kau orang tua busuk!" Tubuh U Than Kyung yang telah menarik kembali ilmu Go Te Kong-nya meluncur deras ke arah Ki Rimang dengan mengirim satu pukulan maut.

"Tahan!"
"He, siapa kalian?!"

U Than Kyung menghentikan serangannya ketika melihat tiga orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun membentak keras, dan menghalangi niatnya untuk menghabisi jiwa Ki Rimang. Ketiga orang mengenakan baju serba putih dan menggenggam sebuah golok masing-masing di tangannya. Tatapan mereka tajam menusuk.

Kami Tiga Malaikat Muka Pucat akan menantangmu! Kau tak perlu berlaku kejam kepada Ki Rimang!" sahut salah seorang yang berdiri di tengah dengan suara dingin.

U Than Kyung memandang mereka sesaat, dan melihat bahwa ketiga wajah orang itu putih pucat bagai tak berdarah. Persis seperti mayat hidup. Apalagi dengan postur tubuh mereka yang kurus. Terkekehlah dia melihat hal itu.

"Kenapa kau tertawa?!" bentak orang tadi dengan nada tak senang.

"Kenapa tidak? Julukan kalian sangat sesuai sekali dengan rupa kalian. Tapi akan lebih cocok lagi kalau kalian memakai gelar Tiga Setan Busuk!" sahut U Than Kyung atau selama ini banyak dikenal oleh orang-orang di sekitar desa ini dan desa-desa lainnya sebagai Dukun Dari Tibet.

"Kurang ajar! He, orang asing. Kau boleh pamer kejagoan di sini, tapi sebentar lagi kesombonganmu itu akan musnah bersama dengan putusnya lehermu!"

"Hm, kenapa mesti banyak ribut segala? Bukankah kau ingin menggantikan tua bangka busuk itu? Nah, majulah kalian semua. Satu persatu atau sekaligus tiada bedanya bagiku."

"Sombong! Kau merasakan akibatnya nanti!" dengus salah seorang Tiga Malaikat Muka Pucat sambil memberi aba-aba pada kedua kawannya.

Sesaat kemudian mereka telah melompat bersamaan dengan ringannya dan menyerang U Than Kyung dengan gencar, ilmu golok ketiga orang itu sangat hebat. Dua orang menggenggam senjatanya dengan tangan kanan, sementara yang seorang lagi terlihat kidal. Dan perpaduan dua serangan yang saling mendukung itu sedikit banyak membuat lawan agak kerepotan.

"Kakang, bagaimana pendapatmu? Apakah ketiga orang itu dapat mengungkuli lawannya?" tanya Pandan Wangi melihat pertarungan itu.

"Hm, sulit dikatakan siapa yang lebih unggul. Ilmu silat orang asing itu biasa saja, tapi ilmu malih rupa dan pukulannya sangat berbahaya!" sahut Rangga pelan.

"Tapi kurasa ketiga orang itu akan dapat dikalahkannya," lanjut Pandan Wangi.

Rangga tersenyum kecil. "Dari mana kau mengetahuinya?"

"Ketiga orang itu memang memiliki gerakan yang sangat gesit. Apalagi bila maju berbarengan. Serangan mereka pun sangat kompak. Tapi dari pukulan-pukulan dan sabetan golok mereka, akan terasa bahwa tenaga dalam mereka kalah jauh dibandingkan lawan. Meskipun tenaga mereka digabungkan menjadi satu, agaknya tetap saja tak mampu mengungguli lawannya. Sebaliknya dengan mengerahkan ilmu malih rupanya tadi, si Dukun itu akan lebih muda mengecoh lawannya, dan tak bisa dipungkiri bahwa pukulan beracunnya itulah yang amat berbahaya. Rasanya Tiga Malaikat Bermuka Pucat itu tak akan mampu menang darinya," kata Pandan Wangi menjelaskan.

"He, agaknya kau semakin pintar saja menilai seseorang ya?"

"Tapi tentu saja tak sepintarmu, Kakang...."

"Ah, siapa yang mengatakan aku pintar? Buktinya dari dulu tetap saja bodoh dan tak bisa apa-apa."

"Hm, aku tak begitu tolol untuk memilih orang bodoh menjadi kekasihku. Dan selama ini aku tak pernah salah!" Rangga tertawa kecil. "Kakang...."

"Hm...?"

"Katanya kau mau mengajariku beberapa jurus ilmu silat yang kau miliki...."

"Aku belum punya waktu luang yang tepat...."

"Bukankah selama ini kita punya banyak waktu luang selama melakukan perjalanan?"

"Ya, tapi kita selalu dibebani oleh berbagai macam peristiwa yang silih berganti datang. Dalam keadaan begitu mana mungkin aku bisa memusatkan perhatian dengan baik. Nantilah kapan-kapan akan kucari waktu yang tepat untuk itu."

"Betul?!"

"Hm, kapan aku pernah berbohong padamu?"

"Kau memang tak pernah berbohong padaku hanya sering mempermainkanku saja!" sahut Pandan Wangi menyindir.

Rangga cuma tertawa kecil, dan kembali memusatkan perhatiannya pada pertarungan itu. Diliriknya Juragan Sumantri sekilas. Laki-laki itu tampak masih terkesima dengan wajah tak percaya bahwa dukun yang selama ini dilihatnya lemah ternyata mampu mengalahkan tokoh-tokoh persilatan berilmu tinggi. Rasanya sulit dipercaya bahwa sekian lama dia telah tertipu. Makin kuatlah dugaannya ketika para centengnya menemukan benda-benda berharga itu di tempat kediaman Dukun Dari Tibet itu, bahwa orang asing itu memang berkelakuan buruk.

"Baru sekarang aku percaya setelah melihat kenyataan ini..." katanya setengah bergumam sambil memandang Pendekar Rajawali Sakti.

"Orang itu licik dan sangat berbahaya...," sahut Rangga.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan saat ini? Telah banyak tokoh-tokoh persilatan yang tewas ditangannya. Apakah ketiga orang itu mampu mengatasinya?" tanya Juragan Sumantri berharap.

"Entahlah... akupun tak bisa menduga apakah ketiga orang itu mampu mengatasinya...."

Juragan Sumantri memandang pemuda itu dengan sorot mata sayu penuh permohonan. "Ki sanak adalah seorang pendekar besar yang memiliki kepandaian tinggi. Tidakkah berniat meringkusnya...?" tanya Juragan Sumantri dengan suara lirih.

"Tentu saja. Kenapa tidak? Tapi harus menunggu kesempatan yang bagus. Kalau pada saat mereka bertarung dan tiba-tiba aku ikut turun tangan mengeroyoknya, hanya akan mempermalukan diriku saja di depan tokoh-tokoh persilatan lainnya," sahut Rangga tenang dan meyakinkan laki-laki itu.

Sementara itu pertarungan antara U Than Kyung atau Dukun Dari Tibet dengan Tiga Malaikat Muka Pucat telah mencapai tingkat yang menentukan. Apa yang diperkirakan Pandan Wangi memang tak salah. Setelah mengetahui kelemahan lawannya masing-masing, Pendekar dari negeri asing itu mulai menggebrak mereka satu persatu dengan menggunakan ilmu Go Te Kong.

Tiga Malaikat Muka Pucat tak begitu kaget melihat ilmu lawannya, sebab mereka telah melihatnya tadi. Tapi hal itu memang sangat membingungkan. Keempat kembarannya itu seperti nyata dan benar-benar terjadi kala mengadakan serangan. Namun manakala dihantam, mereka cuma memukul angin belaka. Justru pada saat itulah lawan yang asli melakukan serangan kilat. Seperti yang dilakukan saat ini.

"Yeaaa...!" Kelima sosok tubuh U Than Kyung melompat bersamaan ke arah ketiga lawannya.

Ketiga orang lawannya menghantam pelan karena menduga bahwa lawan yang menyerang mereka adalah bayanganhya saja. Tapi ternyata tipuan U Than Kyung berhasil. Salah seorang yang menyerang mereka ternyata benar-benar lawan yang asli. Seorang anggota Tiga Malaikat Muka Pucat tersentak kaget. Namun dia tak keburu menghindar sebab lawan telah memukulnya dengan pukulan beracun yang dinamakan Shiu Lo Im Sat Kang (Pukulan Beracun Hawa Dingin).

Des!
"Aaakh...!"
Crab!

Orang itu memekik kesakitan dan tubuhnya terjungkal keras. Kedua kawannya tersentak kaget. Tapi U Than Kyung tak bertindak kepalang tanggung. Waktu yang sesingkat itu digunakannya untuk mencuri kelengahan lawan. Ujung rambutnya meliuk cepat menyambar dada kiri lawan yang lain, dan tendangan kaki kanannya meremukkan tulang rusuk lawan yang tinggal seorang lagi. Kedua orang itu menjerit kesakitan. Yang seorang tubuhnya terjungkal, dan seorang lagi terhuyung-huyung sambit memegangi dada kirinya yang bolong dihantam pisau kecil yang ada di ujung rambut panjang lawan.

"Yeaaa...!"
Des! Des!
"Aaaa...!"

Sekali tubuh U Than Kyung melompat, kedua kakinya menyambar lawannya yang masih sekarat itu. Keduanya ambruk ke tanah dengan keluhan pendek dan tak bergerak-gerak lagi. Dia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, kemudian tegak berdiri sambil berkacak pinggang dan memandang orang-orang yang berada di situ dengan sikap pongah.

"Siapa lagi yang mau menjajal kemampuan-ku?"

Tak seorang pun yang berani maju. Semuanya diam membisu.

"Hm, ternyata di negri ini cuma dihuni oleh tikus-tikus pengecut yang tak memiliki nyali dan kepandaian berarti! Cuiih!" U Than Kyung meludah sambil mendengus meremehkan.

"Siapa bilang tikus takut dengan kecoak sepertimu?"

"Hei, siapa kau?!"

U Than Kyung cepat berpaling ketika seorang pemuda tampan berambut panjang terurai dan mengenakan baju rompi putih melangkah pelan mendekatinya. Di balik punggungnya terlihat sebatang pedang berhulu kepala burung. Dia mulai menduga-duga pemuda itu.

"Bukankah kau ingin sekali bertemu denganku? Demikianlah yang dikatakan Juragan Sumantri."

"Pendekar Rajawali Sakti...?!" desis Dukun Dari Tibet itu tajam dengan pandangan liar.

DELAPAN

"Ki Dukun, perbuatan apakah yang kau lakukan selama ini di belakangku? Aku memang bodoh mempercayai orang licik sepertimu. Seharusnya cukup kubayar saja pengobatan yang kau lakukan pada putriku dan hubungan kita berakhir. Tapi aku mempercayaimu sebagai orang baik dan jujur, dan sudah menganggapmu sebagai saudara. Tak kusangka bahwa kau ternyata adalah orang yang paling hina di muka bumi ini!"

"Juragan Sumantri! He, Ki sanak pun ada di sini!" seru Dukun Dari Tibet itu sambil tertawa kecil.

"Ki Dukun, kenapa kau lakukan kejahatan itu?"

"Ha ha ha ha...! Kejahatan apakah yang telah kulakukan? Mereka datang menantangku, mana mungkin aku bisa membiarkannya. Dan kalau mereka berniat membunuhku, apakah aku akan diam saja dan merelakan nyawaku mereka cabut? Ki sanak, tentu saja aku tak bodoh. Lebih baik mereka yang lebih dulu mati dari pada aku."

"Itu hanya satu dari kejahatanmu. Kaulah yang menantang tokoh-tokoh persilatan di negri ini sekedar membuktikan kehebatan ilmu yang kau miliki. Kau berdusta padaku, Ki Dukun. Lebih dari itu kau adalah seorang maling busuk!"

"Apa maksudmu?!"

"Kami menemukan tumpukan emas dan permata yang kau sembunyikan di rumahmu!"

"Apa?!!" Paras wajah Dukun Dari Tibet itu tampak tersentak kaget mendengar kata-kata Juragan Sumantri.

"Dan tiga karung hartamu telah kuambil untuk kuserahkan pada pihak kerajaan. Anak buahku pun telah kuperintahkan untuk menghubungi pihak kerajaan. Sebentar lagi mereka tentu akan datang ke sini untuk menangkapmu!" lanjut Juragan Sumantri.

"Menangkapku? Ha ha ha ha...! Kau bermimpi, Juragan. Siapa di negeri ini yang mampu menangkapku, he? Akan kubuat mereka menjadi daging-daging beku. Dan untukmu, Juragan... he, kau terlalu lancang melangkahi hartaku. Maka bagianmu adalah mampus!" geram orang asing itu hendak mencengkram Juragan Sumantri.

Namun pada saat itu juga beberapa orang centeng Juragan Sumantri melompat ke muka untuk melindungi majikannya. Rangga melihat hal itu percuma saja. Dengan sekali kibas orang-orang itu akan terjungkal terkena hajaran lawan. Maka tak ada jalan lain dia harus menyelamatkan Juragan Sumantri.

"Minggir...!" bentaknya sambil melompat dan memapaki serangan lawan.

"Yeaaa...!"

Dukun Dari Tibet itu menggeram sambil melipatgandakan tenaganya begitu melihat siapa yang berani memapaki serangannya. Sementara itu Juragan Sumantri sendiri tubuhnya seperti terdorong ketika Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan sebelah tangan kearahnya. Begitu juga beberapa centengnya. Dan dengan begitu mereka selamat dari serangan lawan. Dan dia sendiri dengan bersalto menghindari pukulan yang dilancarkan U Than Kyung. Sehingga pukulan pendekar dari negri asing itu hanya mengenai angin belaka.

"Bedebah! Hm, Pendekar Rajawali Sakti tak percuma kau disegani sebagai pendekar nomor satu di negri ini. Gerakanmu boleh juga, dan kaupun cukup cerdik untuk tidak memapaki seranganku. He he he he..., seandainya itu kau lakukan, maka kebinasaanlah bagimu!" ucap Dukun Dari Tibet itu dengan sombong.

Apa yang dirasakan Rangga dari angin serangan yang tadi dilancarkan lawan, memang sangat dahsyat dan membahayakan. Tapi bukan berarti dia akan binasa jika terkena pukulan itu. Bagaimana pun dia yakin bahwa nyawanya bukan berada di tangan lawannya.

"Siapa yang mengatakan aku akan binasa bila terkena pukulanmu itu? Hm, kalau aku tak mau memapakinya itu karena semata-mata aku masih merasa jijik," sahutnya santai.

"Kurang ajar! Huh, kau pikir dirimu terlalu hebat di kolong langit ini, he? Hari ini adalah kebinasaanmu!" geram U Than Kyung semakin memuncak.

"He, siapa yang menyombongkan diri seperti itu? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya? Lagipula siapa yang bisa memastikan kebinasaanku? Kau bukan dewa, melainkan seorang maling busuk yang hina!"

"Tutup mulutmu! Kalau telah kurobek baru kau tahu rasa!" bentak orang asing itu sambil melompat menerkam Pendekar Rajawali Sakti.

"Merobek perutmu lebih mudah ketimbang merobek mulutku, Sobat. Nah, hati-hatilah akan hal itu!" sahut Rangga santai membuat lawan semakin kalap saja. Dia sendiri dengan lincah masih terus melompat ke sana ke mari menghindari serangan lawan.

"Ayo, cabut pedangmu cepat! Biar kau mati tanpa penasaran lagi!"

Apakah kau ingin buru-buru mampus di ujung pedangku?"

"Puiih! Kesombonganmu membuatku ingin muntah!"

"Begitulah yang dirasakan banyak orang mendengar bicaramu selama ini."

"Hm, kau marah karena perkataanku memang benar adanya, bukan?"

"Yeaaa...!"
Wut! Wut!
"Uts!"

Kali ini terlihat bahwa Dukun Dari Tibet itu mulai gencar serangannya. Ujung rambutnya bagai ular yang meliuk-liuk menyambar Pendekar Rajawali Sakti. Rangga sudah melihat sejak tadi pisau kecil yang terikat di ujung rambut lawan sehingga dia bisa lebih waspada menghadapinya, dan tak mau terkecoh dengan permainan lawan. U Than Kyung sendiri, agaknya memakai siasat untuk mengadakan pertarungan jarak dekat, sehingga dengan begitu rambutnya yang dikepang panjang dan dijadikan sebagai senjata itu mampu menjangkau lawan. Kalaupun gagal, dia sudah menyiapkan sebuah pukulan telak yang pada jarak dekat mampu membuat tiga ekor gajah mati seketika.

Namun sejauh ini belum terlihat sedikitpun tanda-tanda bahwa serangan pendekar dari negri asing itu membawa hasil. Hal itulah yang membuatnya semakin geram dan penasaran. Sambil mengkertak rahang dia melancarkan jurus-jurus mautnya untuk menekan pemuda itu, lebih jauh.

"Hm, hebat! Jurus-jurus yang kau keluarkan indah dan berhawa maut," puji Pendekar Rajawali Sakti.

"Itu belum seberapa. Sebentar lagi kau akan melihat yang lebih indah untuk mengiringi kematianmu!"

"Aku orang biasa, dan itu berarti aku tak pantas mati di tanganmu."

"Huh!"

Rangga tertawa kecil melihat lawannya terus menggeram dengan penuh kemarahan.

"Hiyaaat...!"
"Hup!"
"Mampus!!"

"Belum lagi, sobat!" ejek Rangga ketika lawan mengibaskan tangan ke arah batok kepalanya dengan sekuat tenaga. Namun dengan lincahnya dia menundukkan kepala dan melenting sambil bergulung-gulung ke kiri.

Dukun Dari Tibet tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Tubuhnya ikut melenting sambil menghantam pukulan mautnya yang dahsyat itu.

"Yeaaa...!"
"Uts!"

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti bergulingan di tanah dan cepat kembali melenting sambil membuat salto beberapa kali ketika lawan terus menghujaninya dengan pukulan maut berhawa dingin yang mengandung racun ganas.

"Hm, aku tak bisa terus menerus begini. Keadaanku akan semakin gawat," pikir pemuda itu dalam hatinya.

Maka sambil membentak keras tubuh Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas sambil mengelak dari sambaran pukulan maut lawan. Setelah itu dia balas menyerang dengan cepat sambil mendorongkan telapak tangannya ke arah lawan. Dari telapak tangannya menderu cahaya ke arah lawan. Itulah salah satu pukulan mautnya yang bernama Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Hup!"

U Than Kyung agak terkejut merasakan hawa panas dari serangan lawan itu. Diam-diam dia mengeluh dalam hati. Pukulan itu sebenarnya biasa saja, namun terasa sekali dikerahkan oleh seorang tokoh yang memiliki tenaga dalam kuat. Maka jadinya dahsyat sekali. Bukan tak mungkin bahwa pukulannya yang bernama Shiu Lo Im Sat Kang dapat dipunahkan oleh pukulan lawan. Tapi dalam hati dia yakin betul akan keampuhan pukulannya. Mengingat itu rasa percaya dirinya kembali tumbuh menggebu.

Kali ini terlihat dia memandang lawan dengan tatapan tajam menusuk. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantera sambil kedua tangan dan kakinya membuka sebuah jurus yang aneh. Rangga cepat bersiaga menghadapi gejala ini.

"Kuperingatkan, sobat. Jangan kau gunakan ilmu malih rupamu itu padaku. Kau akan celaka sendiri!" ujar Rangga pelan.

"Ha ha ha ha...! Kenapa? Kau takut?"

"Tidak. Tapi hal itu percuma saja...."

"Huh, siapa yang peduli dengan gertakan-mu?!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya langsung melompat menyerang lawan. Dan bersamaan dengan itu tubuhnya langsung terbentuk menjadi lima kembaran yang bersama-sama langsung menyerang lawan.

"Yeaaa...!"

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum kecil. Dia menutup kelopak matanya dan mengerahkan ilmu Pembeda Gerak dan Suara, serta memusatkan perhatian kepada serangan lawan melalui desiran angin dan helaan nafasnya. Hal itu tak terlalu sulit dilakukan, sebab sebelumnya dia pernah menghadapi lawan yang hampir serupa dengan lawannya kali ini

Wut! Wut!
"Heh?"

U Than Kyung tersentak kaget ketika melihat bahwa pemuda itu diam saja ketika beberapa kembarannya menyerang. Namun ketika dirinya yang asli mulai menyerang, maka pemuda itu buru-buru menghindar seperti mampu membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Melihat keadaan itu semakin geram saja hatinya.

Apalagi dilihatnya lawan menghadapinya dengan cara demikian. Hal itu semakin membuat dirinya diremehkan. Dia tak memperdulikan keadaan lawan, dengan amarah yang meluap langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan mautnya secara bertubi-tubi. Ujung rambutnya pun sekali-sekali menyerang lawan dan membuat Rangga menjadi kerepotan.

"Sial! Agaknya dia mengerti bahwa pemusatan pikiranku dapat diganggu dengan suara berisik rambutnya yang mendesing-desing itu!" gerutu Rangga.

Sebenarnya hal itu dilakukan U Than Kyung secara tak sengaja. Dalam kemarahannya yang meluap bercampur rasa penasaran, dia menyerang lawan dengan menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya. Sehingga segala yang mampu dijadikan senjata digunakan untuk menjatuhkan lawan secepatnya.

Hal itu memang amat membahayakan bagi Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun dia terus-menerus mengelak, tapi sedikit banyak hal itu pasti akan mengenai dirinya. Dan kalau dia sekali kena hajar lawan, pasti lawan tak akan menyia-nyiakan kesempatan dan terus memburunya sebelum dia sempat menguasai keadaan. Hal itulah yang terpikir dalam benaknya.

Maka tanpa membuang waktu lagi dia segera mencabut pedang pusakanya sambil merapal aji Cakra Buana Sukma. Seberkas sinar biru dari batang pedang di tangannya terpancar menerangi tempat pertempuran itu untuk beberapa saat lamanya. Mereka yang menyaksikan itu terkagum sambil menggelengkan kepala penuh takjub. Namun hal itu segera dipecahkan oleh teriakan U Than Kyung.

"Yeaaa...!"

"Aji Cakra Buana Sukma...!" Pendekar Rajawali Sakti membentak keras setelah mengusap sebelah tangannya pada batang pedang pusakanya.

Glaaar...!
Cras!
"Aaakh!"

Kejadian itu begitu cepat berlalu setelah ledakan keras terjadi. Asap hitam mengepul di udara, namun sinar biru yang keluar dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti terus menderu dan menggilas pukulan yang dilancarkan lawan hingga menerpa tubuh U Than Kyung. Pada saat yang bersamaan, tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat dan menyambar dada lawan lewat ujung pedangnya. U Than Kyung cuma sempat mengeluh tertahan. Tubuhnya ambruk diselubungi sinar biru. Ketika Pendekar Rajawali Sakti tegak berdiri, lawannya telah hangus menjadi arang dan terpecah-pecah bagai sebuah batu yang retak-retak.

"Minggir! Tentara kerajaan mau lewat!"

Pendekar Rajawali Sakti cepat menyarungkan kembali pedangnya ketika melihat para prajurit kerajaan telah berada di tempat itu, Salah seorang mendekatinya dengan wajah keheranan.

"Apakah yang telah terjadi di sini, dan mana maling itu?"

Dengan tenang ditunjuknya mayat U Than Kyung yang telah tak berbentuk lagi, kemudian membalikkan tubuh untuk kembali menaiki kudanya. Prajurit kerajaan itu agaknya masih merasa bingung tak mengerti. Apa yang dilihatnya sungguh mengerikan dan sekaligus mendirikan bulu roma.

"Ki sanak, itukah maling yang sedang kalian cari...," lanjut Rangga dari atas punggung kudanya menunjuk ke arah mayat U Than Kyung yang sudah tak berbentuk lagi.

"Siapa kau ini?"

"Aku cuma seorang pengembara biasa yang tak memiliki nama...."

"Kaukah yang telah membunuhnya?"

"Begitulah kira-kira...," sahut Rangga sambil memberi salam penghormatan dan bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Tunggu!"

"Ada apa lagi, Ki sanak?"

"Baginda Gusti Prabu inenyediakan hadiah bagi siapa saja yang mampu menangkap maling itu hidup atau mati. Apakah kau tak ingin hadiah itu?"

"Sampaikan saja salam hormatku untuk Gusti Prabu. Saat ini aku belum membutuhkan hadiah yang beliau janjikan itu, sahut Pendekar Rajawali Sakti tenang.

Setelah berkata begitu, dia segera berpaling kepada Juragan Sumantri. "Juragan, Ki sanak pasti akan menyerahkan harta yang dicuri oleh Ki dukun itu, bukan?"

"Oh, tentu saja!"

"Terima kasih. Kalau demikian Ki sanak boleh berurusan dengan prajurit-prajurit kerajaan itu. Kami permisi dulu!"

"Tunggu dulu, Ki sanak! Tidakkah Ki sanak sudi mampir kembali ke rumah saya? Kami bermaksud menjamu Ki sanak berdua," kata Juragan Sumantri penuh harap.

Rangga tersenyum kecil, "Terima kasih, Ki sanak. Tapi kami harus buru-buru. Ada urusan yang harus kami kerjakan lagi," sahutnya menolak halus.

Juragan Sumantri tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar jawaban pemuda itu. Dia hanya bisa menatap kepergian mereka yang semakin jauh, dengan membawa kesan tersendiri dalam hatinya. Begitu juga dengan mereka yang berada di tempat itu.

"Kakang, sebenarnya kau tadi mampu mengalahkan orang utan itu dengan cepat dan mudah. Kenapa hal itu tak kau lakukan?" tanya Pandan Wangi ketika mereka telah berada jauh dari tempat kejadian itu.

"Dari mana kau tahu?"

"Hm, kepandaiannya tak seberapa dibandingkan denganmu. Aku tahu pasti itu. Apalagi ketika kau telah mampu melumpuhkan ilmu mulih rupanya, dia sama sekali tak kelihatan hebat. Dari mana kau belajar menghadapi lawan dengan cara seperti orang buta itu?"

"Aku pernah menghadapi lawan yang hampir mirip dengan itu dan pernah dikalahkannya...," sahut Rangga getir.

"Kau pernah dikalahkan seseorang?!" tanya Pandan Wangi seperti tak percaya akan pendengarannya sendiri.

"Kenapa? Apakah hal itu sangat mengherankan? Kalah dan menang dalam suatu pertarungan adalah hal yang biasa."

"Siapakah orang itu? Maksudku, siapa tokoh yang pernah mengalahkanmu itu?"

"Dia berjuluk si Topeng Setan. Namun pada akhirnya dia pun tewas ditanganku..."

"He, dia tewas ditanganmu? Aku semakin bingung saja?"

"Pada awalnya aku dapat dikalahkannya, namun kemudian aku mendapat petunjuk bahwa orang itu dapat dikalahkan kalau aku menghadapinya dengan cara orang buta itu, yaitu dengan mengandalkan pendengarannya saja. Aku hanya tinggal membiasakan diri untuk menghadapi serangan dalam keadaan mata tertutup. Setelah merasa yakin, barulah aku kembali menghadapinya. Dan ternyata membawa hasil yang luar biasa," jelas Rangga.

"Hm, kau harus menceritakan peristiwa itu selengkapnya padaku, Kakang!"

"Kenapa?"
"Karena... karena...."

"Aku tahu! Pasti ada sesuatu yang mengharuskan aku tak boleh tahu, bukan?!"

Rangga cengar-cengir sambil menggarukkan kepala. "Begitulah kira-kira...."

"Huh, sebal aku jadinya! Heaaa...!"

Pandan Wangi mendengus kesal sambil pasang wajah cemberut. Dia menggebrak pantat kudanya hingga hewan itu berlari lebih kencang.

"Pandan, tunggu! Ah, itu wanita kok mudah sekali cemburu...." Rangga menggeleng-gelengkan kepala sambil menyusul derap kaki kuda gadis itu.

Keduanya seperti berbalap dalam pacuan kuda meninggalkan debu yang mengepul diudara. Di atas cakrawala awan kelabu berarak terbang pelan. Dan sesekali terlihat kilatan petir menggaris langit! Sebentar lagi tentu akan turun hujan lebat. Menyuburkan bumi, dan membawa kebahagiaan bagi penghuninya.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: KEMELUT CINTA BERDARAH
Thanks for reading Dukun Dari Tibet I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »