Dewa Racun Hitam

Pendekar Rajawali Sakti

DEWA RACUN HITAM


SATU
HARI belum lagi terlalu sore ketika dua orang penunggang kuda memasuki sebuah desa yang cukup ramai. Yang seorang adalah pemuda tampan berpakaian rompi putih. Pedangnya yang bergagang kepala burung, tampak tersampir di punggung. Dia tak lain dari Rangga, yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, penunggang kuda yang seorang lagi adalah gadis cantik berpakaian ketat warna biru muda. Kalau melihat kipas baja putih yang terselip di pinggangnya maka jelas sudah kalau gadis itu adalah Pandan Wangi. Kipas baja putih itulah yang menyebabkan dia dijuluki si Kipas Maut.

Rangga dan Pandan Wangi tertegun sejenak, begitu di depan sana terlihat keramaian seperti sebuah pesta besar. Orang-orang tampak berkumpul di alun-alun desa. Dan di sepanjang jalan utama desa terlihat umbul-umbul berwarna warni. Sementara, dari kejauhan terdengar irama gamelan yang hingar bingar, diiringi alunan tembang merdu dari seorang pesinden. Ketika kedua pendekar dari Karang Setra itu mendekat, terlihat kalau keramaian ini berasal dari sebuah rumah yang cukup besar. Dari beberapa orang yang ditanyai, ternyata rumah itu milik Kepala Desa Bugelan ini.

"Kau ingin ikut menari, Kakang?" sindir Pandan Wangi.

Itu dilakukannya ketika melihat Rangga tengah memperhatikan beberapa orang pemuda desa yang menari sambil mencari pasangan wanita yang sejak tadi menari mengikuti irama gamelan itu.

Rangga tersenyum kecil sambil memandang gadis itu sekilas. "Apakah aku berbakat...?"

"Apakah untuk urusan begini masih diperlukan bakat lagi?" kata Pandan Wangi, balik bertanya.

Namun Rangga tak mau meladeni ocehan gadis itu. Dia tahu betul, kalau diteruskan bisa-bisa Pandan Wangi sendiri yang akhirnya cemburu. Dan kalau sudah begitu, pasti akhirnya merajuk.

"Bagaimama, Kakang?" tanya Pandan Wangi, sambil tersenyum kecil.

"Terserah kau saja...."

"Gadis penari itu cantik-cantik, yah...," lanjut Pandan Wangi seperti bergumam.

"Ya, mereka cantik sekali!" sambung Rangga seperti hendak memanas-manasi.

Kalau sudah begitu, Pandan Wangi akan terdiam sendiri. Dan Rangga jadi tersenyum di hati. Dan ketika mereka baru saja akan beranjak, tiba-tiba terdengar ribut-ribut dari ujung desa. Beberapa orang tampak lari tergopoh gopoh sambil berteriak teriak.

"Tolong...! Banyak orang mati di dekat sumur!"

"Heh?!"

Orang-orang yang berada di dekat keramaian itu kontan tersentak kaget. Bahkan tari-tarian itu kontan berhenti. Beberapa orang segera bergerak untuk melihat kejadian yang sebenarnya. Namun belum lagi jauh berjalan, mendadak....

"Ada orang mati! Ada orang mati...!" Kembali terdengar teriakan-teriakan dari dua arah yang berbeda.

"Samiun dan keluarganya mati...!"

"Kurang ajar! Perbuatan siapa ini sebenarnya?!" bentak salah seorang yang memiliki cambang bauk sambil melompat dari arena tari-tarian, diikuti beberapa orang yang membawa golok di pinggangnya.

Agaknya, laki-laki bercambang bauk itu adalah kepala keamanan Desa Bugelan ini. Tentu saja dia merasa bertanggung jawab atas kejadian yang langsung berturut-turut menimpa desanya. Hal itu tentu saja mengejutkan. Apalagi ketika beberapa orang kembali muncul, sambil berteriak-teriak seperti beberapa orang sebelumnya.

"Tolooong...! Ada setan! Ada setaaan...!"

"Mana setannya?! Mana?!" sahut beberapa orang pemuda desa dengan wajah garang.

"Di sana!"

"Di sebelah sana..!"

Para pemuda desa itu bingung sesaat, ketika melihat orang-orang yang baru datang menunjuk ke beberapa arah. Tapi, mereka akhirnya sepakat mengambil keputusan untuk berpencar. Maka dalam sekejap keramaian itu terganggu oleh orang-orang yang mulai ketakutan. Sedangkan kepala desa ini sudah mengamankan anak-istrinya di dalam rumah.

Sementara, Rangga dan Pandan Wangi tentu saja tak mau tinggal diam melihat keadaan itu. Pandan Wangi telah lebih dulu memacu kuda nya ke satu arah, begitu melihat orang-orang banyak berlarian dari arah itu. Dan Rangga baru saja akan menyusul, namun seketika jadi ragu begitu melihat penduduk berlarian dengan wajah ketakutan dari arah berbeda. Dalam sesaat hatinya ragu, namun cepat mengambil keputusan untuk memacu kudanya ke arah itu.

Sementara, kuda berbulu putih milik Pandan Wangi telah berlari sekencang-kencangnya. Beberapa orang desa yang lebih dulu memburu ke arah itu telah terlewati. Dan seketika Pandan Wangi terkejut begitu mendengar jerit kesakitan tak begitu jauh di depannya.

"Sial! Siapa orang-orang yang bertindak biadab ini?!" geram gadis itu kesal ketika menemukan tiga sosok tubuh telah bergelimpangan menjadi mayat.

Tubuh ketiga mayat itu telah membiru, diselingi warna kemerah-merahan. Tak ada luka pukulan atau sabetan luka kecil bekas gigitan.

"Biadab! Mereka terkena racun hewan berbisa!" maki Pandan Wangi, semakin geram.

Gadis itu kembali terkejut ketika mendengar jeritan menyayat yang sayup-sayup. Buru-buru dia melompat kembali ke punggung kudanya, mendatangi tempat itu. Kudanya langsung digebah, menuju sumber jeritan. Dan begitu tiba di situ, kembali terlihat beberapa sosok tubuh bergelimpangan telah menjadi mayat. Keadaan mereka hampir sama dengan mayat mayat yang ditemui tadi. Pandan Wangi mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dan seketika sempat dilihatnya sekilas bayangan melesat cepat dari tempat itu.

"Hei, jangan lari! Berhenti, Pengecut!" bentak Pandan Wangi sengit.

Pandan Wangi langsung mengejar dengan kudanya dipacu kencang-kencang. Namun sosok bayangan itu berlari amat kencang, karena mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Sehingga meskipun Pandan Wangi telah memacu kudanya, bayangan itu belum juga tersusul. Melihat hal ini Pandan Wangi semakin penasaran saja dibuatnya. Hingga senja telah berlalu, Pandan Wangi telah semakin jauh dari desa itu, menyusuri tepi hutan. Dan yang membuat gadis itu penasaran adalah, jarak yang semakin lama semakin pendek. Sehingga, mulai jelas terlihat sosok bayangan tadi.

Dari belakang, bentuk tubuhnya kecil dan kepalanya botak. Dari bentuk tangan dan kaki, diduga buruannya tak lebih dan seorang bocah laki-laki bengal. Tapi, betapa hebatnya kalau seorang bocah mampu berlari sedemikian kencang! Dan lebih gila lagi, tenaga dan daya tahan tubuhnya luar biasa!

"Hiyaaa...!"

Namun, si Kipas Maut tentu saja tak ingin buruannya lolos. Maka dari atas kuda, Pandan Wangi melesat cepat bagai kilat.

"Berhenti! Kalau tidak, kupecahkan kepala mu!" bentak Pandan Wangi, begitu mendarat di hadapan bocah itu.

"Heh?!" Bocah itu kontan tersentak. Tapi sungguh tak diduga sama sekali kalau tiba-tiba saja dia melompat menyerang Pandan Wangi sambil mengayunkan kepalan tangan ke dada.

"Yeaaa...!"

"Kurang ajar!" maki Pandan Wangi, seraya menangkis dengan tangannya.

Plak!
"Hei!"

Pandan Wangi sadar, lawan di hadapannya hanya seorang bocah. Maka gadis itu jadi merasa tak tega ketika menangkis, sehingga hanya mengerahkan seperempat tenaganya. Namun alangkah kagetnya Pandan Wangi manakala tangannya terasa linu akibat benturan tangan tadi.

Dan belum juga habis rasa kagetnya, mendadak satu tendangan kuat dilancarkan bocah itu ke bagian bawah perutnya. Begitu cepat tendangan itu, sehingga membuat Pandan Wangi terperanjat.

"Hiaaaa...!"

Masih untung, Pandan Wangi cepat melompat ke samping. Maka, tubuhnya luput dari serangan bocah itu

"Bocah keparat! Agaknya kau tak bisa dikasih hati. Biar kubuat benjol kepalamu yang botak itu, baru tahu rasa!"

Tapi bocah itu sama sekali tak menyahut. Bahkan seperti tak peduli. Dan tiba-tiba saja, bocah itu menghentakkan tangannya. Seketika meluncurlah beberapa benda yang semula tersimpan di saku bajunya yang lebar dan dalam.

Serrr!

"Hei?! Hewan-hewan berbisa?! Kurang ajar! Rupanya memang kau pelaku pembunuhan itu, heh?! Hm.... Kau tak akan kuampuni lagi!" dengus Pandan Wangi, ketika melihat kalau benda benda itu ternyata adalah hewan-hewan berbisa berupa kalajengking, kelabang, dan ular merah berbadan kecil.

"Hup!"

Pandan Wangi terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghajar batok kepala bocah itu. Tubuhnya segera jungkir balik, menghindari serangan hewan-hewan berbisa sambil mencabut Kipas Mautnya. Dan seketika, kipas bajanya dikebutkan cepat bagai kilat.

Srakkk!
Werrr...!

Dengan sekali kibas saja, hewan-hewan berbisa itu kembali terpental ke pemiliknya. Namun dengan sigap bocah itu menangkapnya. Dia bermaksud akan melepaskan hewan-hewan menjijikkan itu kembali, namun ujung kipas Pandan Wangi yang terkembang, cepat menyambar ke arahnya. Akibatnya, bocah itu jadi tergagap. Maka buru-buru dia melompat menghindar.

"Hiiih!"
"Uts...!"

Pandan Wangi agaknya tak ingin memberi kesempatan sedikit pun bagi bocah itu untuk membangun pertahanan. Dan bocah itu sendiri, agaknya masih mampu menghindari serangan-serangan gencar lawannya. Meskipun, terlihat kerepotan. Tampak wajahnya meringis. Dan memang harus diakui, cepat atau lambat lawan pasti akan menjatuhkannya.

"Hiyaaat...!"

Satu serangan kepalan tangan kiri Pandan Wangi, membuat bocah itu terkejut. Pukulan itu bukan main-main, karena dilancarkan lewat tenaga dalam tinggi. Bocah itu terus melompat ke belakang sambil jungkir balik menghindarinya. Tapi, tendangan berikut yang dilancarkan Pandan Wangi semakin membuatnya terdesak. Bocah itu mulai berpikir kalau dalam serangan selanjutnya pasti akan dapat dijatuhkan. Maka cepat tangannya bergerak, melemparkan kembali binatang-binatang berbisa begitu ada kesempatan.

Serrr...!

Namun Pandan Wangi telah memperkirakan hal itu. Kipas Mautnya tak tanggung-tanggung lagi, langsung dikibaskan cepat dihancurkannya binatang-binatang itu. Kemudian dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa, tangannya menghantam perut bocah itu.

Diegkh...!
"Aaakh...!"

Bocah itu kontan memekik kesakitan, namun masih sempat membuang diri untuk menghindari serangan berikut.

"Bocah sial! Kau memang betul-betul tak bisa dikasih ampun! Terimalah ini hajaranku!" dengus Pandan Wangi.

Serrr...!

Tiba-tiba saja meluncur serangkum angin kencang dari arah belakang.

"Uts...! Brengsek!" Pandan Wangi memaki kesal. Secepat itu pula, Pandan Wangi menghindar ke samping sambil mengayunkan Kipas Mautnya.

Prakk!

Agaknya angin serangan itu bukan pukulan biasa. Melainkan hewan-hewan beracun seperti yang dikeluarkan bocah tadi. Tapi, jelas bukan bocah ini yang melakukannya, karena serangan gelap itu berasal dari arah belakang. Maka...

"Yeaaa...!"

Pandan Wangi segera melesat cepat, begitu melihat kelebatan bayangan hitam yang bergerak cepat menjauh. Hanya sekelebatan saja gadis itu mampu melihat buruannya. Dan bayangan itu telah menghilang dari pandangaa. Tapi, mana mau Pandan Wangi menyerah begitu saja? Hal itu justru membuatnya penasaran. Gadis itu terus mencari, menelusuri tempat sekitarnya. Namun, hasilnya nihil.

Dengan kesal gadis itu kembali ke tempat pertarungan tadi. Dan kekesalan hatinya semakin menjadi-jadi, ketika melihat bocah berkepala botak yang dilukainya tadi juga telah menghilang dari tempat itu. Pandan Wangi melihat tetesan darah yang mengucur di tanah. Namun hanya sebatas beberapa tombak saja. Selebihnya, raib entah ke mana. Tapi hal itu semakin menambah penasarannya saja.

Kini gadis itu segera menghampiri kuda putihnya. Dia melompat ringan, dan mendarat di punggung kudanya. Manis sekali gerakannya, tanda ilmu meringankan.tubuhnya makin sempurna saja. Lalu tanpa mempedulikan malam yang kian merambat pekat, Pandan Wangi memacu kudanya perlahan-lahan menuju arah lurus dari hilangnya noda darah di tanah itu.

********************

Apa yang dilihat Rangga benar-benar menggiriskan. Beberapa penduduk desa yang tadi berkerumun di depan rumah kepala desa menonton keramaian, kini kedapatan tewas. Padahal mereka tadi menuju ke arah ini, untuk melihat apa yang menyebabkan penduduk desa berlari-lari ketakutan. Pendekar Rajawali Sakti segera memeriksa mayat-mayat itu. Langsung diketahuinya kalau mereka tewas akibat sengatan hewan-hewan berbisa yang amat mematikan.

"Hm..., Siapa yang melakukan perbuatan biadab ini?" gumam Rangga sambil memperhatikan mayat-mayat satu persatu.

Pendekar Rajawali Sakti mengangkat kepala nya. Pandangannya langsung tertuju ke depan yang terlihat sepi. Segera dia melompat ke punggung kudanya dan menggebah perlahan. Diperiksanya keadaan tempat itu. Matanya yang jeli melihat tanda tanda yang mencurigakan. Maka kudanya segera dipacu ke utara. Semakin lama, tanda-tanda yang ditemuinya semakin menghilang. Dan di sebuah padang rumput luas, jejak itu hilang sama sekali seperti ditelan bumi. Terus terang, Rangga agak ragu meneruskan langkahnya. Bukan saja karena hari telah menjelang malam, namun ada yang lebih penting Keselamatan Pandan Wangi-lah yang dikhawatirkan.

Tanpa mempedulikan lagi buruannya, Pendekar Rajawali Sakti memutar langkah dan kembali menuju Desa Bugelan. Malam telah semakin larut ketika Pendekar Rajawali Sakti tiba di Desa Bugelan kembali. Suasana desa ini begitu sepi, sejak kejadian itu. Banyak penduduk yang telah mengunci pintunya rapat-rapat. Begitu sunyinya, sampai-sampai desah napas Pendekar Rajawali Sakti terdengar jelas. Memang, tak seorang pun yang ditemuinya berkeliaran di luar rumah. Rumah kepala desa yang tadi ramai, kini hanya tinggal sisa-sisanya saja. Umbul-umbul masih berkibar-kibar ditiup angin. Tak terasa, suasana sangat mencekam. Dan sepertinya siap ada jatuh korban lagi dalam sekejap mata.

"Kita menunggu di sini saja, Hitam...," ujar pemuda itu pelan.

Rangga menambatkan kudanya tak jauh dari halaman rumah Kepala Desa Bugelan, yang rupanya sosok orang penakut. Buktinya, batang hidungnya tak pernah nampak sejak peristiwa di desa yang menjadi tanggung jawabnya. Pendekar Rajawali Sakti menunggu beberapa saat lamanya. Namun sampai jauh malam, bahkan ketika kokok ayam berbunyi, belum juga terlihat tanda-tanda kalau Pandan Wangi akan hadir di tempat itu. Hatinya jadi gelisah, Kini Pendekar Rajawali Sakti segera mendekati kuda hitam tunggangannya yang bernama Dewa Bayu. Dia langsung melompat, dan hinggap di punggung kudanya. Digebahnya kuda itu perlahan.

Kini yang jadi tujuan Pendekar Rajawali Sakti adalah arah yang ditempuh Pandan Wangi kemarin sore. Namun sampai matahari mulai meninggi dan telah berjalan jauh, jejak Pandan Wangi belum juga terlihat. Pemuda itu mulai merasa cemas. Memang, Pandan Wangi kadang suka ceroboh dan tak berpikir panjang. Kalau sudah begini, Ranggalah yang kerepotan.

"Hitam, mari kita ke selatan. Aku harus memanggil Rajawali Putih sobatku, untuk mencari Pandan Wangi," kata Rangga sambil memacu kudanya.

Tak berapa lama menempuh perjalanan, Pendekar Rajawali Sakti tiba di Desa Jipang yang suasananya begitu hening. Kelihatannya hampir tak ada keceriaan disini. Beberapa penduduk terlihat menunjukkan wajah sedih dan murung. Beberapa orang malah berkumpul di depan pintu rumah, sementara dari dalamnya terdengar isak tangis yang memilukan. Keadaan itu tentu saja membuat Rangga tertegun. Pemuda itu segera turun dari punggung. kudanya, dan menghampiri salah seorang di depannya.

"Maaf, Kisanak. Apa yang terjadi di desa ini?"

Orang yang ditanya hanya memandang sekilas kepada Pendekar Rajawali Sakti. Sorot matanya tak penuh selidik, namun terkesan putus asa.

"Bencana telah menimpa kami..." sahut orang itu lesu.

"Boleh kutahu, bencana apa yang telah menimpa di sini?"

"Desa kami telah kena kutuk..."

"Hm.... Kena kutuk bagaimana?" tanya Rangga semakin bingung.

"Seluruh mata air di desa ini tercemar racun. Akibatnya beberapa orang kedapatan tewas setelah menggunakan air. Padahal sebelumnya segar-bugar. Dan dari beberapa orang dukun, mengatakan bahwa kami harus mempersembahkan sesuatu kepada penunggu air terjun di ujung timur desa kalau bencana ini tak ingin berkepanjangan," jelas orang itu.

"Apa yang akan kalian persembahkan kepada penunggu air terjun itu?"

Orang itu tak langsung menjawab. Wajahnya terlihat semakin murung. Kelihatan mulutnya berat untuk dibuka.

"Gadis perawan dengan perhiasan-perhiasan mahal di tubuhnya..," akhirnya, meluncur juga kata-kata orang itu.

Rangga menganggukkan kepala mendengar, penjelasan itu, meskipun terasa ada yang mengganjal hatinya.

"Apakah kejadian ini pernah terjadi sebelumnya..!?"

Orang itu menggeleng lesu. "Baru kali ini...."

"Aneh sekali! Kenapa harus gadis perawan? Kenapa harus mengenakan perhiasan-perhiasan mahal..?" tanya Rangga seperti pada diri sendiri.

"Kami juga tak tahu. Tapi kalau tak dituruti, seluruh penduduk desa ini akan tertimpa bencana yang lebih mengerikan."

"Kapan persembahan itu akan dilakukan?"

"Nanti malam, setelah diadakan upacara keagamaan," sahut orang itu, kemudian berlalu meninggalkan Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti tak langsung berlalu dari tempat itu. Hatinya mulai bimbang dan bingung. Apa yang harus dilakukan pada pilihan sulit seperti sekarang ini? Mencari Pandan Wangi, atau mencari tahu apa yang terjadi di desa ini, dan berusaha membantu?

Pendekar Rajawali Sakti memang tak tahu, apa yang terjadi di Desa Bugelan tempat dia dan Pandan Wangi berpisah kemarin sore. Memang, bisa jadi ada pengacau atau sebangsanya. Namun kepandaian Pandan Wangi tak bisa dipandang enteng. Rasanya kalau hanya menghadapi perampok biasa, gadis itu mampu mengatasinya. Sedangkan di desa ini, seperti ada yang tak beres. Paling tidak, firasatnya mengatakan demikian. Dan hal itu terjadi di depan matanya. Jadi, mana mungkin hal itu bisa didiamkan begitu saja.

Seharian ini Pendekar Rajawali Sakti mengelilingi Desa Jipang. Dan kecurigaannya semakin kuat, ketika melihat sumber mata air telah banyak diracuni di desa ini. Dari cerita-cerita sebagian penduduk dapat disimpulkan kalau kematian beberapa penduduk desa lain juga akibat terkena racun hewan berbisa. Lalu, siapa yang melakukan hal Itu? Dan, apa yang diinginkannya di desa ini? Hal itulah yang semakin mengelitik hati Pendekar Rajawali Sakti untuk menyelidikinya secara tuntas.

Ketika malam mulai datang. Pendekar Rajawali Sakti membuntuti lebih kurang lima puluh orang penduduk Desa Jipang yang berjalan beriringan menuju air terjun di ujung timur desa ini. Mereka memang akan mengadakan upacara keagamaan. Dari tempat yang tersembunyi, Rangga memperhatikan tingkah laku mereka yang mulai mempersiapkan jalannya upacara, begitu sampai di dekat air terjun.

Tampak seorang laki-laki bertubuh kurus, berjenggot panjang, dan bersorban lusuh di kepala, tengah berdiri di alas sebuah batu yang lebar dan lebih tinggi daripada yang lain, dengan latar belakang air terjun itu. Lalu, mukanya dihadapkan pada gemuruhnya air terjun yang menghempas ke bawah. Puluhan obor yang dipegang penduduk desa juga menerangi tempat ini. Suasana menjadi khidmat ketika mereka menggumam lirih yang berirama, yang menggema ke pelosok tempat ini. Sementara sebuah usungan telah didekatkan di belakang orang tua yang memimpin upacara.

"Oh, penguasa tempat ini! Hari ini, kami datang memenuhi undanganmu untuk mempersembahkan seorang korban yang kau inginkan. Untuk itu, hentikanlah bencana yang kau timpakan agar kami bisa hidup dan bekerja dengan tenang!" kata orang tua berjenggot panjang itu dengan suara lantang.

Tak terdengar sahutan. Mereka menunggu beberapa saat lamanya tanpa bersuara sepatah kata pun. Kemudian kembali orang tua itu mengulangi kata-katanya, namun tidak juga terdengar sahutan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka mulai meninggalkan tempat itu satu persatu sambil meninggalkan usungan yang dibungkus kain kuning itu.

Beberapa orang penduduk desa yang agaknya ditugasi untuk melihat, apakah persembahan yang berada di dalam usungan itu berkenan atau tidak, menunggu pada jarak lebih kurang tujuh tombak. Namun sampai jauh malam, usungan tadi tak disentuh oleh siapa pun juga. Bahkan ketika telah menjelang pagi, tak terjadi sesuatu pun terhadap usungan itu.

********************

Pagi ini di Desa Jipang, tepatnya dsebuah rumah yang banyak dikunjungi orang, seorang laki-laki tua berjanggut panjang tengah duduk termangu-mangu di beranda. Dia ditemani oleh seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun. Badannya kekar terbungkus pakaian merah.

"Aku juga heran, Ki Geni. Mengapa persembahan itu tidak ada yang menyentuh," kata seorang laki-laki yang menunggu persembahan di dekat air terjun, ujung timur Desa Jipang.

"Hm... Pasti ada yang tak beres, sehingga persembahan itu tidak disentuh. Mereka pasti tahu kalau ada seseorang mencoba menggagalkan persembahan itu...," gumam orang tua yang dipanggil Ki Geni sambil mengepalkan tangan. Dialah yang memimpin upacara semalam di dekat air terjun. Memang tak heran kalau rumahnya banyak dikunjungi orang, karena Ki Geni adalah pemimpin keagamaan di Desa Jipang.

"Tak beres bagaimana, Ki Geni? Bukankah kita telah memenuhi semua persyaratan yang diinginkan seperti yang kau katakan beberapa hari yang lalu?" tanya orang itu lagi.

"Betul, Juwa. Tapi seperti yang kukatakan barusan, pasti ada orang yang akan sengaja ingin menggagalkan upacara ini. Kita harus mencari tahu, siapa orang itu. Dan, apa yang diinginkannya. Kalau tidak, bencana akan datang lebih hebat!" tegas Ki Geni.

"Tapi siapa? Seluruh penduduk desa ini telah setuju. Dan tak seorang pun yang berani mengatakan tak setuju," kata laki-laki berpakaian merah, yang dipanggil Juwa.

"Barangkali orang luar...," desah Ki Geni.

"Orang luar...? Mana mungkin. Tapi...," Juwa seperti berusaha mengingat-ingat. Namun tak lama wajahnya kontan berseru. Sepertinya, dia telah berhasil mengingat ingat seseorang.

Sementara, Ki Geni hanya memandangi tak mengerti. Keningnya juga tampak berkerut dalam, berusaha menerka-nerka, apa yang hendak diutarakan Juwa.

"Aku ingat sekarang, Ki Geni. Ya, betul. Kemarin ada orang asing yang datang ke desa ini. Dia suka bertanya-tanya pada penduduk soal persembahan yang akan kita laksanakan. Jelas, orang itu pasti yang mengacaukannya!" sentak Juwa.

Namun, Ki Geni tak buru-buru menjawab. Malah, jenggotnya dielus-elus untuk beberapa saat sambil tersenyum kecil.

"Hm... Kalau memang kau yakini dia, ada baiknya cepat ditangkap dan diperiksa. Kemudian kalau ternyata benar, maka dia patut dihukum berat," sahut Ki Geni tenang.

"Baiklah akan kuperintahkan kawan-kawan yang lain untuk menangkapnya. Kebetulan menurut beberapa orang yang pernah melihatnya, pemuda itu masih berada di desa ini tadi malam. Kalau begitu, aku akan kembali sekarang, Ki Geni!" ujar Juwa sambil terus bangkit dan menjura hormat.

"Betul! Lebih cepat, maka lebih baik. Kalau ditunda sesaat saja, bisa jadi desa kita ini akan lebih dimurkai lagi...."

Belum juga kata-kata Ki Geni habis. Juwa sudah berbalik dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Tubuhnya terus menghilang di pengkolan jalan, menuju air terjun di ujung timur Desa Jipang.

Sepeninggal Juwa, Ki Geni masih tetap duduk di beranda rumahnya. Bola matanya masih mengawasi arah kepergian Juwa yang telah lenyap dari pandangan. Kemudian, pandangannya dialihkan sambil menghela napas pendek.

"Bagus! Kerjamu bagus, Ki Geni. Kau akan mendapat imbalan yang pantas untuk ini..."

Tiba-tiba terdengar suara berat seperti menggelegar, yang disusul oleh berkelebatannya sebuah bayangan hitam. Wajahnya tidak bisa dikenali, karena seluruh kepalanya tertutup kain hitam juga. Hanya bagian mukanya saja yang diberi dua buah lubang. Dan kini sosok itu telah berdiri di hadapan Ki Geni. Namun Ki Geni sendiri memang tak berani rnengangkat wajahnya. Kepalanya tertunduk dalam, dengan sikap begitu takut.

"Terima kasih. Aku akan berusaha bekerja sebaik-baiknya," ucap Ki Geni lirih

"Hm.... Agaknya. kau harus berhati-hati, Ki Geni. Pemuda yang mengacaukan upacara itu bukan orang sembarangan. Kuharap kau bisa cepat menyelesaikannya. Kalau tidak, kaulah yang akan menanggung akibatnya."

Ki Geni tercekat. Dan untuk beberapa saat, jantungnya seperti berhenti berdetak. Tak pernah disangka kalau orang asing yang semula dianggapnya remeh itu ternyata mendapat tanggapan yang sangat berarti dari orang berpakaian serba hitam yang berada di hadapannya.

"Apa... Apakah kau mengenal pemuda itu?" tanya Ki Geni takut-takut.

"Itu bukan urusanmu. Tugasmu adalah mematuhi perintah kami. Dan kalau berani membantah, maka tanggung sendiri akibatnya."

"Eh. Ng..., mana berani aku membantah perintah kalian!" sahut Ki Geni cepat.

"Hm... Kalau demikian kerjakan tugas tadi secepatnya. Dan, singkirkan pemuda itu. Kemudian, perintahkan utusan untuk datang ke Padepokan Tapak Nenggala. Katakan pada ketuanya, kalau dia dan seluruh muridnya harus tunduk di bawah junjungan kita, Dewa Racun Hitam. Kau mengerti itu?!"

"Ya..., ya.... Aku mengerti. Eh! Ng..., bagaimana dengan Padepokan Merak Emas yang didatangi utusanku beberapa hari lalu?"

"Mereka menolak untuk tunduk dan akibatnya.... Hm..., kau bisa menduga sendiri!"

Kembali Ki Geni terkejut. Hatinya seperti teriris mendengar berita itu. Bagaimanapun juga, dia mempunyai hubungan dengan padepokan yang telah berdiri lebih dari satu abad itu. Dan memang, dia adalah murid Padepokan Merak Emas angkatan ketiga puluh.

"Apa..., apakah kalian tak..."

"Ki Geni! Kau ingin mampus hari ini juga?!" potong laki-laki berpakaian serba hitam itu, keras.

"Eh! Tentu saja tidak...."

"Bagus. Kalau begitu, jangan coba-coba membela orang lain. Pikirkan saja nasibmu sendiri. Sekali mencoba untuk melawan dan memberontak, maka nyawamu tak akan selamat Camkan itu!"

Ki Geni berkali kali menganggukkan kepala. Mukanya kontan pucat dan kedua tangan dan kakinya gemetar.

"Maafkan kesalahanku. Aku tak akan pernah berpikir sedikit pun untuk melawan junjungan kita...."

"Bagus. Nah, selesaikan tugasmu secepatnya!"

Kembali Ki Geni menganggukkan kepala sambil tetap menundukkan kepala. Sebentar kemudian sekelebat dia merasakan kalau orang itu telah melesat pergi dari situ. Maka, barulah kepalanya berani diangkat. Terdengar helaan napasnya yang panjang dan berat. Bola matanya kembali menerawang jauh. Perlahan-lahan dia bangkit, lalu melangkah ke dalam kamarnya. Begitu dekat dengan pembaringan, seketika tubuhnya direbahkan.

DUA

Sementara itu, di dekat air terjun di ujung timur Desa Jipang, Pendekar Rajawali Sakti yang masih bersembunyi jadi merasa heran. Apa yang telah terjadi sesungguhnya? Kenapa persembahan itu masih tetap utuh? Ataukah hal ini memang terlalu dilebih-lebihkan oleh penduduk desa ini. Padahal di sini tak ada penunggu apa-apa?

Sampai usungan itu dibawa kembali dan tempat itu telah sepi, Rangga masih termangu. Pendekar Rajawali Sakti lalu keluar dari persembunyiannya, dan berjalan mendekati air terjun. Rangga kemudian berdiri di atas batu tempat orang tua berjanggut panjang yang semalam berdiri di sini, seraya memandang tajam kesekeliling tempat itu. Namun terlihat sesuatu yang mencurigakan. Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti akan berbalik meninggalkan tempat itu, mendadak....

Serrr! Sing!

Cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara dan berputaran beberapa kali menghindari serangan gelap itu. Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, kembali serangan meluncur datang ke arahnya.

"Edan!" maki Rangga sambil kembali melenting dan berputaran di udara. Sambil berputaran ditangkapnya beberapa buah benda yang ternyata berupa pisau kecil berpita warna-warni di ujung gagangnya. Kemudian dengan kecepatan tinggi dikembalikannya pisau-pisau yang berhasil ditangkap ke arah datangnya tadi.

"Hiyaaa!"
Pras! Crab!
"Aaakh!"

Terdengar jerit kesakitan, ketika pisau-pisau di tangan Pendekar Rajawali Sakti menderu ke arah asalnya, di balik semak-semak yang banyak tumbuh di sekitar tempat itu. Rangga tak mau bekerja ke palang tanggung. Begitu menjejak tanah, dia langsung melesat menerjang ke arah semak itu.

"Yeaaa...!"

Beberapa sosok tubuh berpakaian serba hitam langsung keluar dari balik semak-semak, begitu melihat mendapat serangan. Mereka segera melepaskan pisau pisau terbang serupa ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh!"

Sambil bergerak menghindari serangan Pendekar Rajawali Sakti melemparkan kembali, beberapa buah pisau yang berhasil dirampas ke arah pemiliknya. Dua orang berhasil menghindar, namun yang seorang lagi tak bisa lolos dari maut. Dia kontan menjerit kesakitan, dan tubuhnya langsung ambruk ke tanah.

Bruggg!

Sebentar orang itu meregang nyawa, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Mati! Melihat temannya tewas, orang-orang berpakaian serba hitam itu jadi geram. Maka salah seorang langsung menyerang Rangga. Cepat dilepaskannya kepalan tangan yang berisi tenaga dalam kuat menyambar batok kepala Pendekar Rajawali Sakti dari arah samping. Namun dengan gesit, Rangga memiringkan tubuh sambil menunduk. Maka serangan itu hanya lewat beberapa jengkal di atas kepalanya. Dan bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan tendangan kilat. Begitu cepatnya, sehingga orang itu tak dapat berkelit menghindar.

Digkh!
"Aaakh...!"

Satu lagi lawan Pendekar Rajawali Sakti terpental ke belakang, begitu dadanya terhantam tendangan. Terdengar jeritannya yang menyayat, bersamaan dengan luncuran tubuhnya. Begitu jatuh di tanah orang itu tidak bergerak-gerak lagi. Tampak darah mengalir dari mulut bibirnya.

Melihat temannya ambruk lagi, laki-laki berpakaian serba hitam lainnya langsung melompat ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan sambaran pisau-pisau terbangnya. Masih untung Rangga cepat bergerak melompat jungkir balik untuk menghindarinya. Namun hal itu telah membuat Rangga gemas bukan main. Maka sambil menggeretak rahang, tubuhnya melompat ke atas setinggi satu tombak. Kemudian bagai anak panah, tubuhnya melesat cepat ke arah lawan sambil berputaran di udara.

Plak!

Orang berpakaian hitam itu kelabakan sesaat. Namun segera ditepisnya cengkeraman tangan Pendekar Rajawali Sakti yang tiba-tiba datang. Namun, Rangga cepat menarik pulang tangannya. Dan dalam keadaan masih di udara, Rangga kembali bersalto melewati kepala orang itu. Indah sekali gerakannya. Bahkan tanpa menimbulkan suara, kakinya menjejak tanah. Begitu menjejak tanah, langsung dilepaskannya satu tendangan ke belakang, tanpa dapat dihindari orang berseragam hitam yang belum memperbaiki keseimbangannya. Maka....

Bugkh!
"Aaakh!"

Orang itu kontan mengeluh kesakitan, begitu punggungnya terhajar tendangan Rangga. Tubuhnya terjajar beberapa langkah ke depan. Bibirnya tampak meringis menahan rasa sakit. Melihat lawannya kesakitan, Rangga segera menghampiri.

"Katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku?!" bentak Rangga sambil mencengkeram leher dan mengangkat orang itu.

Orang itu kelihatan sulit bernapas dan kelabakan. Namun Rangga tak mau peduli. Malah di cengkeramnya lebih kuat lagi.

"Ekh! Oh! Le..., lepaskan cengkeramanmu dulu...."

"Katakan, siapa yang menyuruhmu?!"

"Baik, baiklah.... Ki Sam.... Aaakh...!"

"Heh? Kurang ajar!" dengus Rangga sambil melepaskan cengkeramannya.

Tiba-tiba saja orang itu memekik kesakitan, begitu dua bilah pisau menembus punggung kirinya. Tubuhnya seketika ambruk tidak bangun lagi, dengan darah mengalir dari punggungnya. Rangga masih sempat melihat sekelebatan bayangan yang mencelat kabur. Maka Pendekar Rajawali Sakti langsung memburunya, dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh setinggi-tingginya. Namun, orang yang dikejarnya ternyata telah lenyap seperti ditelan bumi. Langsung dihentikan pengejarannya, lalu dia berdiri tegak memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Hasilnya, tetap nihil. Buruannya telah lenyap!

Sambil bersungut-sungut Rangga kembali ke tempat semula. Kembali pandangan merayapi beberapa sosok mayat yang bergelimpangan setelah bertarung dengannya. Setelah merasa yakin kalau tak seorang pun yang bisa dimintai keterangan, Rangga segera menghampiri kudanya dan melompat naik. Dipacunya kuda Dewa Bayu perlahan ke arah Desa Jipang kembali.

********************

Pandan Wangi betul-betul merasa kesal sekaligus geram. Susah payah mencari buruannya, kini tiba tiba saja lenyap dari pandangan. Dan ingin kembali, tapi malam telah begitu larut. Apalagi, bukan tak mungkin kalau musuh akan menyelinap untuk mengintainya, dan kemudian menyergapnya. Itulah yang membuatnya harus mengambil keputusan untuk bermalam di tempat ini.

Pandan Wangi lalu melompat ke atas sebuah cabang pohon yang cukup tinggi dan tersembunyi. Lalu, tubuhnya direbahkan di sebatang cabang yang cukup besar, dan melelapkan diri di situ. Sementara, sebentar lagi pagi menjelang Di kejauhan sudah terdengar kokok ayam hutan Nyanyian binatang malam pun sudah tak lagi terdengar.

Pagi-pagi sekali Pandan Wangi telah terjaga. Setelah merapikan diri, dia segera melanjutkan perjalanannya. Segera dihampiri kuda putihnya yang masih setia menunggu di bawah pohon. Dengan gerakan manis sekali, Pandan Wangi melompat naik ke punggung kudanya, dan segera menggebahnya perlahan-lahan. Pandan Wangi memang bermaksud kembali ke Desa Bugelan, tempat dia dan Rangga berpisah. Ada rasa kesal dan jengkel dalam hati, sebab disangka Rangga akan mengikutinya dari belakang. Tapi, ternyata tidak. Apa yang diperbuat pemuda itu?

Apakah ada sesuatu yang terjadi di Desa Bugelan? Atau, Rangga kehilangan jejaknya? Kalau diperkirakan, Rangga memang sudah berada pada jarak yang cukup jauh dari desa itu. Malah bisa jadi Rangga memang kehilangan jejaknya. Mendadak gadis itu mendengar suara langkah serombongan orang dan langkah kaki kuda maka perhatiannya dialihkah ke arah sumber suara. Maka, terlihat di depan sana serombongan orang yang tengah berjalan dengan gerak-gerik sama sekali tak mencurigakan.

Namun rata-rata membawa senjata tajam. Dan dari cara berpakaian, jelas diketahui kalau rombongan yang berjumlah lebih kurang dua puluh orang itu adalah dari kalangan persilatan. Hanya seorang yang naik kuda berbulu coklat. Dan kelihatannya, dia adalah pemimpinnya. Tubuhnya besar memakai rompi hitam, sehingga perutnya yang buncit terlihat seperti hendak mencuat keluar. Rambutnya pendek diikat kain hitam. Wajahnya seram, dihiasi beberapa bekas luka tampak di sela-sela cambang bauknya.

Bola matanya bulat dan lebar, menampakkan urat-urat matanya yang merah. Mulanya Pandan Wangi sudah tak akan mempedulikan rombongan itu. Tapi entah kenapa rasa kecurigaannya mulai timbul ketika melihat raut-raut wajah itu sama sekali tak bersahabat. Maka dengan diam-diam, diikutinya rombongan itu dari belakang sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan. Pandan Wangi sendiri tidak tahu, ke mana arah yang ditempuh. Yang jelas, Desa Bugelan telah dilaluinya. Dan nampaknya rombongan itu terus bergerak ke arah utara. Dan kalau tak salah, agak jauh di depan sana adalah Desa Sarangan.

Rombongan itu terus bergerak menyusuri jalan yang menuju Desa Sarangan. Jalan yang dilalui di kiri dan kanannya memang berupa pohon-pohon yang besar dan tinggi, serta alang-alang setinggi satu tombak. Sehingga, tak heran kalau mereka tak tahu kalau diikuti terus oleh Pandan Wangi. Dan sebelum memasuki Desa Sarangan, rombongan itu berbelok ke kiri, menuju sebuah bangunan yang sudah terlihat. Sebuah bangungan besar, dikelilingi pagar dari gelondongan kayu.

Rombongan itu berhenti persis di depan pintu gerbang bangunan yang ternyata sebuah padepokan silat, bernama Padepokan Gagak Lumayung. Pintu gerbang yang tertutup rapat itu terbuat dari jejeran kayu jati setinggi hampir dua tombak. Salah seorang dari rombongan itu mengetuk pintu.

"Utusan dari Padepokan Golok Maut akan menghadap Ki Tambak Gering!" teriak orang itu.

"Maaf, Ki Tampak Gering tak bersedia menerima kalian," sahut sebuah suara di balik pintu gerbang itu.

"Mau atau tidak, kalian harus membuka pintu ini. Jangan sampai kami membukanya dengan paksa. Katakan pada gurumu, aku Sumawangsa yang mengunjunginya!" kali ini laki-laki yang menunggang kuda yang bersuara. Wajahnya tampak garang, memancarkan kegeramannya.

Untuk beberapa saat tak terdengar sahutan dari dalam. Rombongan itu agaknya tak sabar menunggu. Bahkan beberapa orang sudah melangkah maju, bermaksud menghajar pintu gerbang itu. Tapi saat itu juga, pintu terbuka. Beberapa murid Padepokan Gagak Lumayung tampak berdiri tegak dengan sikap waspada, menghadapi segala ke mungkinan.

"Apa keperluan kalian?" tanya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tegap dan besar, dengan sorot mata tajam. Tangan kirinya tampak menggenggam sebilah pedang yang cukup besar.

"Hm.... Kaukah Ki Tambak Gering?" tanya laki-laki penunggang kuda dengan sikap angkuh. Bahkan sama sekali tak mau turun dari kudanya.

"Jadi, kau yang bernama Sumawangsa?" balas laki-laki setengah baya yang baru saja keluar dari pintu gerbang Padepokan Gagak Lumayung. Dan dia tadi dipanggil dengan nama Ki Tambak Gering.

"Ha ha ha...! Boleh juga bicaramu, Kisanak. Tapi ketahuilah, kedatanganku ke sini membawa pesan yang harus dipatuhi...."

"Kalau tidak?"

"Kau dan murid-muridmu tak akan selamat!" dengus laki-laki yang menunggang kuda, dan bernama Sumawangsa geram.

Ki Tambak Gering tersenyum kecil mendengar penjelasan itu. Dipandanginya murid-muridnya yang telah bersiaga sejak tadi di samping kiri dan kanan, serta di belakangnya. Kemudian kembali dipandanginya Sumawangsa sambil tetap tersenyum kecil seperti meremehkan.

"Kisanak, apa aku tak salah dengar? Apakah bila kami membangkang akan berhadapan dengan maut?"

"Kau pintar menebak, Kisanak!" sahut Sumawangsa pendek.

"Nah, pesan apa yang kau bawa sebelum kami semua tak selamat?" tanya Ki Tambak Gering, dengan suara mengejek.

"Dewa Racun Hitam meminta kalian agar tunduk padanya!" sahut Sumawangsa tandas tak mempedulikan kata-kata Ki Tambak Gering.

"Dewa Racun Hitam? Hm.... Setan yang berlagak jadi raja! Dia bukan raja, tapi iblis! Jangan harap kami tunduk padanya!"

"Ki Tambak Gering! Sekali lagi kuperingatkan. Jika kau dan murid-muridmu menolak, maka seluruh murid dan padepokanmu akan kubumihanguskan!

"Kisanak! Kau boleh berkata apa saja sesuka hatimu. Tapi, jangan harap bisa berbuat sesukamu di sini!"

"Hm.... Kalau begitu, jelas sudah keputusan mu. Bersiaplah menghadapi akibatnya!"

Setelah berkata demikian, Sumawangsa memberi isyarat pada anak buahnya. Maka tanpa menunggu dua kali, anak buahnya langsung mencabut golok dan menyerbu ke depan dengan beringas.

"Yeaaa...!"

"Hancurkan mereka! bentak Ki Tambak Gering tak mau kalah garang.

Murid-murid Padepokan Gagak Lumayung yang sejak tadi tangannya sudah gatal mendengar kesombongan pihak lawan, segera melompat garang sambil menerjang buas lawan masing-masing. Maka pertarungan antara dua kelompok itu memang tak dapat dihindari lagi. Murid Padepokan Gagak Lumayung yang berjumlah lebih kurang empat puluh orang begitu bernafsu untuk menghabisi lawan secepatnya.

Sepintas akan terlihat kalau pertarungan berjalan tak seimbang. Pihak Sumawangsa berjumlah lebih sedikit daripada pihak Ki Tambak Gering. Dan tentu saja mereka akan cepat dikalahkan. Namun kejadian yang sesungguhnya amat bertolak belakang. Mesti berjumlah sedikit namun kemampuan tiap anak buah Sumawangsa jauh di atas rata-rata murid Padepokan Gagak Lumayung. Sehingga, korban tampak mulai berjatuhan di pihak Padepokan Gagak Lumayung.

TIGA

Ha ha ha...! Kau lihat, Kisanak! Muridmu satu persatu akan mampus! Dan itu adalah tanggung jawabmu!" ejek Sumawangsa sambil tertawa.

"Tutup mulutmu! Mari kita tentukan siapa di antara kita yang bakal mampus!" gertak Ki Tambak Gering sambil membuka jurus.

"Huh! Kau pikir dirimu sudah hebat? Kau akan mampus, Kisanak!"

"Sombong! Lihat serangan!" bentak Ki Tambak Gering, seraya mencabut pedang.

Sring!

Ki Tambak Gering langsung meluruk, memburu Sumawangsa.

"Yeaaa...!"

Namun Sumawangsa tak kalah sigap. Langsung goloknya dicabut memapak serangan lawan.

Sret!
Trak!
"Hiiih!"

Ki Tambak Gering tersentak kaget ketika pedangnya beradu dengan golok Sumawangsa. Dapat dirasakannya, bagaimana himpitan tenaga dalam lawan yang lebih kuat. Tak terasa, diam-diam hatinya mengeluh menyadari keadaan yang tak menguntungkan begini. Memang nama Padepokan Golok Maut tempat Sumawangsa bernaung, bukan nama kosong belaka. Belakangan ini, padepokan itu mulai dikenal banyak tokoh persilatan sehubungan dengan sepak terjang mereka yang liar dan suka berbuat sesuka hatinya. Padahal, beberapa tahun silam padepokan ini dikenal tak suka mencampuri urusan orang. Bahkan murid-muridnya terkenal sangat patuh dan rendah hati.

Apalagi, ketuanya yang bernama Ki Bagus Permana. Dia adalah seorang yang arif lagi bijaksana. Belakangan, baru diketahui kalau orang tua itu telah mangkat. Dan kini, dia digantikan murid keduanya, Sumawangsa. Sementara murid pertamanya yang bernama Indra Rukmana mendapat tugas berkelana untuk menambah pengalaman. Sumawangsa yang sama sekali tak dicantumkan sebagai pengganti ketuanya, langsung mengangkat diri sendiri sebagai Ketua Padepokan Golok Maut.

Sejak Sumawangsa bertindak sebagai Ketua Padepokan Golok Maut, maka terlihat sifatnya yang mau menang sendiri. Bahkan sepak terjangnya juga menggiriskan, sehingga murid-murid lain tak ada yang berani melawan. Apalagi ketika belakangan ini, namanya selalu dihubungkan dengan seorang tokoh yang tidak dikenal di berbagai tokoh persilatan. Namun, sepak terjangnya sungguh mengerikan.

Dialah Dewa Rajun Hitam. Sementara itu, pertarungan antara Ki Tambak Gering melawan Sumawangsa berlangsung cukup alot. Ki Tambak Gering sebagai tokoh yang telah banyak makan asam garam dunia persilatan, tentu tak akan mudah ditundukkan begitu saja. Namun, juga jangan dikira ilmu silat Sumawangsa!

Kecepatan geraknya sungguh mengagumkan. Malah beberapa kali Ki Tambak Gering terdesak hebat. Mungkin hanya karena pengalamannya saja yang membuat laki-laki setengah baya itu luput dari serangan lawan. Dan sebenarnya hanya menunggu waktu saja, serangan lawan dapat bersarang di tubuhnya. Buktinya, lambat laun Ki Tambak Gering mulai melemah. Sedangkan Sumawangsa terlihat semakin garang saja.

"Yeaaa...!"

Kini Sumawangsa melesat ke udara sambil melepaskan tendangan dahsyat bertenaga dalam tinggi.

"Uts!"

Namun, Ki Tambak Gering cepat melompat ke belakang sambil membuat gerakan salto beberapa kali untuk menghindarinya. Tapi serangan Sumawangsa tak berhenti sampai di situ. Begitu mendarat di tanah, tubuhnya terus melejit kembali ke atas mengejar lawan. Tangan kanannya yang terkepal langsung dihantamkan kuat-kuat ke perut lawan. Padahal saat itu Ki Tambak Gering tengah melompat ke belakang dengan perut menghadap ke atas. Namun Ki Tambak Gering segera mengibaskan kaki kirinya, menangkis serangan. Melihat hal ini.

Sumawangsa cepat menarik pulang tangannya. Namun begitu kibasan kaki lawan lewat, kepalan tangan kirinya cepat menghujam dada. Cepat-cepat Ki Tambak Gering membuang diri ke tanah, dan bergulingan beberapa kali. Lalu dengan gerakan manis, dia bangkit berdiri. Melihat lawannya lolos dari serangan. Sumawangsa meningkatkan serangannya. Dilepaskannya pukulan bertubi-tubi, mengarah ke bagian-bagian yang mematikan.

"Huh!" dengus Ki Tambak Gering, mengeluh mendapat tekanan berat seperti ini. Ki Tambak Gering segera memutar tubuh kesamping untuk menghindari serangan. Maka, keadaanya semakin terdesak saja. Bahkan ruang geraknya semakin terbatas.

"Hiyaaa!"

Tampaknya, Sumawangsa tak ingin memberi kesempatan lagi. Gerakan memutar Ki Tambak Gering memang telah diperhitungkan. Maka, mendadak saja dilepaskannya tendangan kaki kanan secara cepat dan beruntun ke arah pinggang kiri dan punggung lawan. Begitu cepatnya, sehingga Ki Tambak Gering tak dapat lagi menghindari.

Des!
Begkh!
"Aaakh!"

Terdengar tulang berderak patah sebelum Ki Tambak Gering menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terlempar beberapa langkah. Melihat peluang ini, Sumawangsa tak mau membiarkan begitu saja.

"Yeaaa...!"

Dengan gerakan cepat bagai kilat, Sumawangsa melompat sambil mengayunkan goloknya, berniat menebas tubuh lawan. Keadaan Ki Tambak Gering memang tak berdaya. Bisa dipastikan laki-laki setengah baya itu tak akan mampu menghindar dari ancaman maut yang kini berada di depan matanya. Dia hanya bisa pasrah, dengan mata terpejam. Namun mendadak saja...

"Hiyaaa!"
"Heh?!"

Tiba-tiba sosok bayangan biru melesat cepat ke arah Sumawangsa sambil membentak nyaring. Laki-laki itu terkejut dan terpaksa mengalihkan perhatiannya. Golok di tangannya langsung bergerak memapak senjata lawan yang tiba-tiba menyerangnya.

Trang!
"Uhhh...!"

Tapi siapa sangka ketika goloknya memapak, ternyata seperti membentur benda yang amat keras hingga menimbulkan suara dahsyat dan percikan bunga api. Bukan main terkejutnya Ketua Padepokan Golok Maut itu ketika merasakan telapak tangannya perih akibat benturan tadi. Dan belum lagi disadari apa yang telah terjadi, satu sambaran senjata lawan mengancam dadanya. Maka, buru-buru dia melompat ke belakang, menghindarinya.

Setelah lolos dari maut, laki-laki itu berdiri tegak dengan sorot mata tajam. Untung saja, penyerangnya tak mengejar. Tapi setelah tahu siapa penyerang gelapnya. Sumawangsa terkejut sendiri. Wajahnya yang tadi menyimpan rasa terkejut, mendadak tersenyum kecil melihat seorang gadis cantik berbaju biru muda berdiri tak jauh di hadapannya. Di tangan gadis itu tergenggam sebuah kipas yang terbuat dari baja putih. Seketika saja diduga kalau kipas itulah yang digunakan gadis ini untuk menangkis goloknya tadi.

"Hm.... Gadis cantik yang usilan. Sungguh gegabah berani mencampuri urusanku. Tak tahukah kau, dengan siapa berhadapan saat ini?" gertak Sumawangsa.

Gadis berbaju biru muda yang tak lain Pandan Wangi itu tersenyum kecil mendengar kata-kata Sumawangsa. Ditunjuknya laki-laki itu dengan ujung kipasnya.

"Aku tak sudi kenal dengan setan sepertimu!"

Bukan main geramnya laki-laki bertubuh besar dan bercambang bauk itu mendengar ucapan yang amat menghina dari gadis ini. Wajahnya seketika berubah kelam dan hawa kebengisan terlihat jelas ketika pipinya mengembung dan urat di pelipisnya menegang. Rahangnya bergemeletukan menahan geram dan amarah yang memuncak.

"Gadis liar! Kau pikir, siapa dirimu berani berkata begitu di hadapan Sumawangsa?! Phuih! Kau akan menerima ganjarannya atas ucapanmu tadi!" geram Sumawangsa sambil melompat dan mengayunkan golok di tangannya.

"Hm.... Malah aku takut, kaulah yang akan menerimanya," ejek Pandan Wangi sambil memutar kipasnya.

"Yeaaa...!"

Terlihat dari serangannya, Sumawangsa sangat bernafsu untuk menjatuhkan gadis itu secepatnya. Tapi memang, Pandan Wangi tidak bisa dianggap enteng. Semua serangan mudah sekali dapat dielakkan. Bahkan beberapa kali Sumawangsa sempat dibuat terkejut, ketika merasakan serangan balik yang dilancarkan Pandan Wangi. Kalau saja tak cepat menghindar, niscaya lehernya tertebas kipas berwarna putih keperakan itu. Namun demikian, sedikit pun tak terlihat perasaan kecut dan gentar di hati Sumawangsa. Bahkan laki-laki bercambang bauk itu sangat penasaran sekali.

"Betina sial! Kau akan menyesal seumur hidupmu kalau tertangkap!"dengus Sumawangsa.

"Jangan banyak bacot! Buktikanlah kalau memang mampu!"

"Keparat!"

Sumawangsa semakin geram. Goloknya diputar sedemikian rupa bagai kitiran. Dengan jurus 'Golok Terbang Menyambar Mangsa' yang amat diandalkan, diserangnya lawan dengan kacepatan sangat mengagumkan.

"Yeaaa...! Mampus!"

Ujung golok Sumawangsa menyambar bertubi-tubi ke arah leher, dada, dan pinggang. Namun dengan gerakan indah, Pandan Wangi memutar tubuhnya. Seperti orang sedang menari saja, tubuhnya meliuk-liuk menghindari sambaran senjata lawan. Namun ketika Sumawangsa melanjutkan serangannya sambil cepat memutar tubuhnya, gadis itu sedikit gelagapan. Untung saja kesiagaannya tidak dikurangi untuk mengangkat kipas. Maka langsung ditangkisnya golok lawan dengan kipasnya.

Trak!
"Huh!"

Sumawangsa mengeluh tertahan. Tangannya kontan terasa kesemutan akibat benturan kedua senjata. Namun, semua itu tak dirasakannya. Dengan nekat, kepalan kirinya cepat menghentak ke dada. Tapi, Pandan Wangi tak kalah sigap dengan jeli, langsung disambutnya serangan lawan.

Plak!

Terjadi benturan tangan kembali. Namun Sumawangsa tak kehilangan akal. Langsung serangannya disusuli oleh tendangan kaki yang cepat. Tapi...

Wuttt!
Brettt
"Aaakh...!"

Belum lagi serangan Sumawangsa sampai, ujung kipas Pandan Wangi sudah menyambar pahanya. Sumawangsa kontan menjerit kesakitan begitu tiba tiba datangnya serangan, sehingga dia tak sempat menghindar. Daging pahanya terobek dalam, langsung mengeluarkan darah. Dan belum lagi dia sempat menguasai diri, satu tendangan keras menghantam dadanya. Kembali Sumawangsa terpekik kesakitan. Tubuhnya kontan terpental sejauh lebih dari satu batang tombak. Namun belum lagi tubuhnya ambruk ketanah....

Crabbb!
Bres!
"Aaa...!"

Tiba-tiba dua orang murid Padepokan Gagak Lumayung yang berada di dekat dengan Sumawangsa, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan gerakan yang nyaris serentak, mereka menghujamkan pedang ke jantung dan leher laki-laki berwajah seram ini. Sumawangsa memekik sesaat ketika darah muncrat dari tubuhnya. Tubuhnya lalu ambruk ke tanah. Sebentar dia menggelepar, lalu diam tak bergerak lagi. Mati!

Melihat lawannya telah tewas, Pandan Wangi tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya langsung melompat, dan menghajar murid-murid Padepokan Golok Maut yang masih mengamuk sejadi-jadinya. Apalagi ketika mengetahui kalau ketua mereka sudah tewas di tangan seorang gadis cantik yang sama sekali tidak dikenal.

"Hiyaaat..!"
Cras!
Bret!
"Aaa...!"

Ujung kipas Pandan Wangi berkelebatan cepat membuat jeritan-jeritan melengking tinggi yang terdengar saling susul. Hanya dalam berapa gebrakan saja, sudah beberapa orang yang ambruk menggelepar dengan tubuh bersimbah darah. Gerakan-gerakan Pandan Wangi memang sangat cepat, hingga sulit bagi siapa saja untuk bisa menghindar.

"Keparat! Perempuan liar, mampus kau! Hiyaaat '" bentak salah seorang murid Padepokan Golok Maut. Agaknya, kepandaiannya diatas yang lain. Langsung saja dia melompat cepat menerjang Pandan Wangi.

"Hih!"

Namun dengan cepat Pandan Wangi memapak serangan golok dengan kipasnya.

Trak!"

Laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun dan berwajah lonjong itu mengeluh kesakitan ketika goloknya beradu dengan kipas di tangan si Kipas Maut. Namun dengan amarah yang meluap, dia berusaha bertahan. Padahal tubuhnya sudah dibuat jungkir balik menghindari serangan-serangan gadis cantik ini. Dalam benak laki-laki itu, semula tidak akan mengira kalau gadis ini memiliki kepandaian sedemikian hebatnya. Dan kalaupun dia mampu menewaskan Sumawangsa, itu hanya kebetulan saja.

Tapi ketika merasakan sendiri dengan berhadapan seperti ini, mau tidak mau keringat dinginnya mengucur deras. Wajahnya langsung memucat, dan jantungnya berdetak lebih kencang. Hanya keberuntungan saja yang membuatnya sampai saat ini luput dari setiap serangan si Kipas Maut ini. Namun agaknya hal itu hanya soal waktu saja. Sebab pada suatu kesempatan, ujung kipas Pandan Wangi sudah berputar dengan kecepatan bagai kilat, menimbulkan hembusan angin kencang mengandung hawa panas menyengat kulit.

"Upts!"

Laki-laki berwajah lonjong itu berusaha menghindar dengan melompat ke atas. Namun pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi sudah memutar tubuhnya sambil mengayunkan satu tendangan keras menggeledek yang begitu cepat. Hingga.

"Hiyaaa...!"
Diegkh!
"Aaakh...!"

Orang itu memekik kesakitan ketika tendangan keras menggeledek yang dilepaskan Pandan Wangi tepat menghantam dadanya. Dan begitu tubuhnya terpental ke belakang, Pandan Wangi sudah mengejar dengan kecepatan bagai kilat sambil mengibaskan kipasnya.

Wuttt!
Cras!
"Aaa...!"

Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi, begitu kipas Pandan Wangi menyambar bagian bawah pinggang lawannya. Seketika darah mengucur deras. Tampak orang itu terhuyung-huyung sambil memegangi bagian rusuk kirinya yang sobek tersambar ujung pedang si Kipas Maut. Dan tampaknya, Pandan Wangi tidak mau meninggalkan lawannya begitu saja. Sebelum laki-laki berwajah lonjong itu bisa berbuat sesuatu, tubuhnya sudah melesat cepat sambil melepaskan satu pukulan keras dan menggeledek, disertai pengerahah tenaga dalam tinggi.

"Hiyaaat..!"
Prak!

Orang itu tidak dapat lagi bersuara sedikit pun juga, saat pukulan keras bertenaga dalam tinggi menghantam kepalanya. Seketika itu juga kepalanya remuk, menimbulkan percikan darah yang berhamburan keluar. Dan nyawanya seketika melayang sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

"Huh!" Pandan Wangi mendengus sambil melihat lawannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa lagi.

Sementara murid-murid Padepokan Gagak Lumayung semakin bersemangat melihat sepak terjang Pandan Wangi. Sambil memperdengarkan teriakan-teriakan keras menggelegar, mereka merangsek murid-murid Padepokan Golok Maut yang semakin kehilangan arah, setelah pemimpin-pemimpinnya tewas. Semangat mereka langsung jatuh. Sehingga sangat berpengaruh pada setiap gerakan yang dilakukan.

Keadaan ini sama sekali tidak disia-siakan murid-murid Padepokan Gagak Lumayung. Mereka semakin ganas merangsek, membuat jeritan-jeritan panjang melengking semakin sering terdengar, disusul ambruknya tubuh-tubuh berlumuran darah yang sudah tidak bernyawa lagi. Tidak heran kalau korban yang jatuh di pihak Padepokan Golok Maut semakin bertambah. Dan ketika jumlahnya tinggal segelintir lagi, tanpa membuang-buang kesempatan, mereka lari tunggang-langgang meninggalkan kancah pertarungan.

Beberapa orang murid Padepokan Gagak Lumayung berusaha mengejar. Satu orang berhasil ditewaskan, namun dua orang yang tersisa berhasil kabur, tidak sempat terkejar lagi. Pandan Wangi mendengus kecil sambil menyelipkan kipasnya ke pinggang. Dipandanginya sekilas dua murid Padepokan Golok Maut yang sudah menghilang. Kemudian tatapannya beralih pada Ki Tambak Gering yang menghampirinya.

"Nisanak, kami sangat berterima kasih atas pertolonganmu. Aku Tambak Gering. Dan mereka adalah murid-muridku," ujar Ki Tambak Gering memperkenalkan diri dengan sikap hormat.

"Aku Pandan Wangi," sambut Pandan Wangi seraya menyeka keringat di lehernya yang jenjang dengan punggung tangan.

"Ni Pandan Wangi, kepandaian yang kau miliki sungguh luar biasa. Maafkan mata tuaku yang mungkin salah melihat. Tapi kalau tidak salah, bukankah Nisanak yang berjuluk si Kipas Maut?" tebak Ki Tambak Gering lagi.

Pandan Wangi jadi tersenyum. "Begitulah orang-orang memanggilku, Ki," sahut Pandan Wangi tanpa bermaksud menyombongkan diri.

"Oh, sungguh suatu kehormatan yang luar biasa bagi kami mendapat kunjungan pendekar besar sepertimu, Nisanak. Akan lebih merasa mendapat kehormatan lagi, kalau Ni Pandan Wangi sudi mampir ke gubuk kami. Silakan...," ajak Ki Tambak Gering mengundang dengan sikap begitu ramah dan hormat.

Pandan Wangi agak sungkan juga menerima tawaran Ketua Padepokan Gagak Lumayung ini. Tapi, dia juga tidak tega untuk menolaknya. Di samping itu, memang ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Siapa tahu, Ki Tambak Gering mengetahui persoalan yang sedang dihadapinya. Bersama beberapa orang murid utama padepokan itu, mereka melangkah masuk ke dalam ruangan utama Padepokan Gagak Lumayung.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Ki Tambak Gering tampak gembira sekali melihat tamunya sudi menyambut undangannya. Dan dalam seketika, mereka tampak repot menyediakan jamuan. Hal ini membuat Pandan Wangi semakin merasa tidak enak saja. Tapi, masih untung Ki Tambak Gering orangnya ramah dan pandai menempatkan diri sebagai tuan rumah yang baik.

"Ki Tambak Gering, aku sempat mendengar kalau kalian mendapat peringatan dari seseorang yang menamakan diri si Dewa Racun Hitam. Siapa orang itu sebenarnya, Ki?" tanya Pandan Wangi di sela-sela pembicaraan.

Ki Tambak Gering tidak langsung menjawab. Ditariknya napas panjang-panjang, dan dihembuskannya dengan berat. Kemudian perlahan-lahan diceritakannya, siapa orang yang menamakan diri Dewa Racun Hitam itu. Memang julukan itu selama ini menjadi momok yang menakutkan di berbagai padepokan di wilayah wetan ini. Dan memang, tidak ada salahnya kalau Pandan Wangi ingin mengetahuinya.

"Ceritanya sangat panjang, Nini Pandan," ujar Ki Tambak Gering sebelum memulai.

"Kalau memang Ki Tambak Gering bersedia, aku akan mendengarkan hingga selesai. Siapa tahu aku bisa membantu kesulitan kalian semua," kata Pandan Wangi bernada mendesak.

"Yang mengalami kesuliatan bukan hanya kami. Tapi, banyak orang yang senasib dengan kami, Nini Pandan. Bahkan kalau dibiarkan terus, akan menjadi kesulitan bagi semua orang, ' desah Ki Tambak Gering pelan.

"Hm.... Begitu hebatkah pengaruh Dewa Racun Hitam...?" nada suara Pandan Wangi terdengar agak menggumam.

"Begitulah...," desah Ki Tambak Gering, semakin pelan terdengar suaranya.

"Nah! Ceritakanlah padaku, Ki Tambak. Apa yang dilakukannya hingga bisa menyulitkan semua orang nantinya? Kalau memang hal itu benar, tentu ini akan menjadi urusan semua orang. Dan sebelum hal itu terjadi, alangkah baiknya kalau kita berusaha mencegahnya. Bukan begitu, Ki...?" ujar Pandan Wangi lagi.

"Apa Nini Pandan bermaksud begitu...?" tanya Ki Tambak Gering seakan ingin meyakinkan diri.

"Kenapa tidak..? Aku akan berusaha sebatas kemampuanku, Ki," tandas Pandan Wangi, mantap.

"Ni Pandan, aku tidak meremehkan kemampuanmu. Kipas maut yang memang sudah banyak dikenal orang bukanlah julukan kosong belaka. Karena, aku sendiri sudah melihatnya langsung. Tapi Dewa Racun Hitam bukanlah orang sembarangan. Kemampuannya seperti setan. Banyak sudah orang yang terpengaruh dan mengabdi padanya. Tidak peduli apakah mengabdi secara suka rela, atau karena takut oleh ancamannya. Tapi hal itu berlangsung terus. Dan semakin lama, kedudukan Dewa Racun Hitam semakin kuat saja. Apalagi, dia banyak dikelilingi tokoh berkepandalan tinggi. Akan sangat sulit bagi seseorang untuk menghancurkan Dewa Racun Hitam bila hanya sendiri saja. Biar pun pendekar yang kemampuannya telah tinggi," kata Ki Tambak Gering menjelaskan keadaannya.

Pandan Wangi hanya diam saja, mendengarkan penuh perhatian. Dan dari cerita Ki Tambak Gering barusan, semua orang pasti membayangkan kalau si Dewa Racun Hitam seorang yang berkepandaian sangat tinggi, dan sukar dicari tandingannya. Tapi bagi Pandan Wangi, tidak mudah terpengaruh begitu saja. Bahkan semakin penasaran saja ingin bertemu orangnya. Pandan Wangi mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Tambak Gering.

"Ki, apakah kau begitu yakin dengan pendapatmu? Sekuat apa pun dia, tapi jalan yang dipilihnya amat keji. Kebathilan pasti akan musnah juga oleh kebenaran. Apakah kau tak mempercayainya?" sanggah Pandan Wangi.

"Ni Pandan Wangi, aku tak menyangkal kata-katamu. Tapi hal ini agaknya tak berlaku bagi Dewa Racun Hitam. Sejauh ini, tak seorang pun yang pernah selamat dari kejarannya. Bahkan mereka yang baru saja berniat akan menentangnya, pasti akan tewas beberapa saat kemudian, sebelum berhasil menjalankan niatnya. Mata-mata Dewa Racun Hitam berada di mana-mana dan sulit diduga," kilah laki-laki setengah baya, Ketua Padepokan Gagak Lumayung itu.

"Hm.... Harus ada yang mencegah perbuatannya. Kalau tidak, dia akan semakin merajalela dan semua orang akan sengsara dibuatnya!" sahut Pandan Wangi bersemangat.

"Ni Pandan Wangi, barangkali kau belum mengenal Dewa Racun Hitam. Dia adalah ahli racun paling jahat. Dia tak segan-segan mencabut nyawa seorang atau beberapa orang yang tak disukainya," kata Ki Tambak Gering memperingatkan kembali.

"Baru kuingat sekarang. Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu, Ki. Pernah kau mendengar sumur-sumur diracuni?"

"Hal itu bukan soal aneh. Perbuatan itu dilakukan oleh kaki tangan Dewa Racun Hitam."

"Juga membunuh lawannya dengan hewan-hewan kecil yang berbisa?"

"Ya! Itu juga perbuatannya."

"Lalu, apakah kau tahu tentang bocah berkepala gundul yang memiliki kemampuan hebat itu?"

"Apa?!" Ki Tambak Gering tampak terkejut mendengar pertanyaan terakhir yang dilontarkan gadis itu. Wajahnya kontan berubah pucat.

Pandan Wangi jadi heran melihat keterkejutan laki-laki didepannya.

"Apakah kau telah bertemu mereka, Nini Pandan?"

"Aku bahkan sempat bentrok dengan mereka," sahut Pandan Wangi.

"Astaga! Hal itu benar-benar sangat berbahaya!" desis Ki Tambak Gering.

"Kenapa, Ki Tambak Gering? Apakah ada sesuatu yang aneh pada bocah-bocah itu hingga membuatmu kaget?"

"Menurut yang kudengar, mereka adalah pengawal pribadi Dewa Racun Hitam. Jumlah mereka tujuh orang. Mereka memang masih bocah, tapi kemampuannya sangat hebat. Bahkan tak sembarangan orang bisa mengalahkannya. Berapa orang yang kau temui, Nini Pandan?"

"Satu. Dan saat dia terdesak, seorang kawannya datang membantu. Namun kemudian mereka juga kabur," jelas Pandan Wangi.

Ki Tambak Gering menggeleng-geleng mendengar cerita gadis itu. "Untunglah kau selamat, Ni. Kalau mereka berjumlah tiga orang dan melakukan serangan sekaligus, maka jangan harap bisa ditaklukkan. llmu silat mereka saling berkaitan. Dan semakin lengkap jumlahnya, akan membuat ilmu silat mereka semakin sempurna. Dan kalau sudah begitu, maka kepandaian mereka hampir menyamai majikannya sendiri."

"Ki Tambak. kembali pada persoalan Dewa Racun Hitam. Setidaknya kita harus menggalang persatuan. Aku pun bermaksud demikian, karena rasanya tak mungkin bila hanya seorang diri untuk menghancurkan mereka," kata Pandan Wangi kembali.

"Benar. Tapi, hal itu tidak mudah dilakukan."

"Kenapa?"

"Seperti yang tadi telah kukatakan, Dewa Racun Hitam meluaskan pengaruhnya dengan mendatangi semua perguruan silat di wilayah timur ini agar tunduk kepadanya. Kalau ada yang berani menentang, akibatnya seperti yang tadi telah Nini Pandan saksikan sendiri. Banyak perguruan silat yang terpaksa tunduk karena takut. Namun, tak jarang yang hancur karena berani membantah. Aku sendiri telah bertekad akan mempertahankan diri seandainya mereka memaksa untuk tunduk kepada iblis itu!"

"Ki Tambak Gering, Kukira bukan hanya kau yang berpendirian begitu. Masih banyak tokoh lain yang mempunyai sikap sama. Hanya saja, kini belum kita ketahui. Namun bila kau mengirim beberapa orang murid untuk menyampaikan berita kalau kita bermaksud menggalang persatuan guna menghancurkan Dewa Racun Hitam, tentu mereka akan menyambut gembira," tegas Pandan Wangi.

Ki Tambak Gering berpikir sesaat lamanya sambil mengangguk-angguk. "Benar juga, apa yang tadi Nini Pandan katakan...," desah laki-laki itu setengah bergumam.

"Kalau memang Ki Tambak setuju, sebaiknya dilaksanakan saja segera."

"Betul. Hari ini juga, aku akan menulis surat pada tokoh-tokoh yang kuanggap menantang Dewa Racun Hitam!" seru Ki Tambak Gering dengan wajah bersemangat.

Laki-laki Ketua Padepokan Gagak Lumayung itu segera memerintahkan beberapa orang muridnya untuk menyiapkan alat-alat tulis. Namun belum lagi orang yang disuruhnya kembali, mendadak seorang muridnya masuk ke dalam ruangan dengan tergopoh-gopoh. Napasnya tersengal dan mukanya pucat.

"Sempalan! Kenapa kau? Apa yang terjadi sehingga seperti dikejar setan begitu?" tanya salah seorang murid utama Ki Tambak Gering.

Orang yang dipanggil Sempalan hanya melirik sejenak kepada kakak seperguruannya. Kemudian wajahnya dipalingkan, menatap ke arah Ki Tambak Gering.

"Guru! Di luar pintu gerbang, Ki Soma Langit dan Ki Rongo Jagat memaksa untuk dibukakan pintu. Mereka bermaksud ingin bertemu denganmu untuk membuat perhitungan atas apa yang terjadi terhadap Sumawangsa dan murid-murid Padepokan Golok Maut," jelas Sempana.

"Apa?!" sentak Ki Tambak Gering dengan wajah kaget.

Pandan Wangi yang melihat bias keterkejutan di wajah orang tua itu tentu saja merasa heran. "Ki Tambak! Ada apa gerangan? Kenapa begitu terkejut mendengar kedatangan mereka?" tanya si Kipas Maut dengan wajah bingung.

"Ni Pandan Wangi, mereka berdua adalah tokoh sesat yang berilmu tinggi. Mereka tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melampiaskan dendamnya. Setahuku, belakangan ini mereka memang menjadi kaki tangan si Dewa Racun Hitam," jelas Ki Tambak Gering.

"Tenanglah, Ki. kalau mereka datang ke sini karena kematian Sumawangsa dan murid-muridnya, itu adalah urusanku. Biarlah aku yang akan menghadapi mereka," sahut Pandan Wangi tenang sambil bangkit dari duduknya.

"Mana bisa begitu? Kau adalah tamu kami. Dan sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab kami, selama kau berada di sini. Lagi pula, urusan Sumawangsa dan murid-muridnya menjadi tanggung jawab kami!" sergah Ki Tambak Gering.

Pandan Wangi tersenyum kecil. Kemudian, memandang kepada laki-laki setengah baya itu dengan wajah arif. "Kalau demikian, mari kita hadapi mereka bersama-sama...."

Ki Tambak Gering tak bisa membantah lagi, ketika gadis itu telah melangkah keluar. Mau tak mau terpaksa dia dan murid-muridnya mengikuti. Begitu sampai di pelataran, Ki Tambak Gering memerintah kedua orang muridnya untuk membuka pintu gerbang. Kini terlihatlah dua orang penunggang kuda yang berwajah seram tengah memandang rendah kepada mereka satu persatu. Orang yang menunggang kuda berbulu coklat kehitaman itu bertubuh kurus dan agak bungkuk. Bola matanya merah dan rambutnya acak-acakan.

Ki Tambak Gering membisikkan kepada Pandan Wangi kalau orang itulah yang bernama Ki Rogo Jagat. Senjatanya sebatang tongkat sepanjang lima jengkal yang di ujungnya memiliki pengait tajam. Sementara itu, seorang lagi berbadan tegap. Dia hanya mengenakan celana komprang berwarna hijau, tanpa baju. Bibirnya dower dan hidungnya lebar serta pesek. Senjatanya sebuah gada berduri. Tanpa diberi tahu, Pandan Wangi sudah menduga kalau orang itulah yang bernama Ki Soma Langit.

"Ki Tambak Gering, inikah perempuan yang telah menewaskan Sumawangsa?" tanya Ki Rogo Jagat tanpa berpaling dari Pandan Wangi.

Ki Tambak Gering menyadari kalau pertanyaan itu tak perlu dijawab. Memang, orang itu hanya bermaksud menyindir belaka. "Ki Rogo Jagat! Ada keperluan apa kau jauh-jauh datang ke tempatku ini?" Tambak Gering meluruskan persoalan.

"Ha ha ha...! Tambak Gering! Agaknya kehadiran gadis itu di sini menumbuhkan nyalimu! Bagus! Ingin kulihat kemampuannya yang hebat itu!" ejek Ki Rogo Jagat.

"Ki Rogo Jagat! Kau tenang-tenang saja di sini. Biar aku yang akan menjajal gadis itu!" sela Ki Soma Langit sambil melompat turun dari kudanya. Gerakannya begitu ringan, seakan-akan ingin memancarkan ilmu meringankan tubuhnya yang telah tinggi.

Begitu mendarat di tanah, Ki Soma Langit langsung menghantamkan satu pukulan jarak jauh bertenaga kuat ke arah Pandan Wangi.

"Hihhh!"

Serangkum angin kencang seketika menderu ke arah Pandan Wangi. Tapi, mana mau gadis itu diremehkan begitu rupa. Bahkan dia sama sekali tak berusaha menghindar. Maka cepat disorongkannya telapak tangan kirinya ke depan. Maka dari telapak kirinya keluar hembusan angin tajam yang memapaki pukulan lawan.

Plasss!

"Heh?!" Ki Soma Langit terkejut ketika melihat pukulan jarak jauhnya buyar dihantam pukulan lawan.

"Ha ha ha...! Ki Soma Langit! Agaknya kau betul-betul menganggap rendah padanya!" ejek Ki Rogo Jagat tertawa keras.

Bukan main geramnya Ki Soma Langit mendengar sindiran itu. Amarahnya meluap, dan bola matanya melotot lebar..Gerahamnya bergemeletukkan dengan urat di kedua pelipisnya menegang.

"Perempuan liar! Huh! Rupanya kau punya sedikit kemampuan juga! Tapi jangan bangga dulu. Kau akan kulumatkan sebentar lagi!"

"Heh, Buto Ijo! Tak usah banyak bicara. Kalau kau ingin melumatkan aku, ayo lakukan sekarang!" tantang Pandan Wangi sambil berkacak pinggang.

"Setan keparat!"

"Muka badak! Jangan memaki terus. Majulah kau!"

Dengan amarah yang meluap-luap, tubuh Ki Soma Langit melompat sambil mengayunkan gada berdurinya ke arah tubuh gadis itu. Agaknya, dia berniat kalau dalam beberapa serangan saja, gadis berbaju biru muda itu akan keteter dan hancur berkeping-keping di tangannya.

"Yeaaa...!"

"Uts! Belum kena, Buto Ijo!" ejek Pandan Wangi sambil melompat ke belakang dan terus bersalto ketika gada berduri lawan menghantam kepala.

"Mampus!"

Tapi serangan Ki Soma Langit tak berhenti sampai di situ. Kemampuannya sebagai tokoh yang disegani terbukti. Dengan tiba-tiba saja, senjatanya telah mengejar sebelum gadis itu menjejakkan kaki di tanah. Pandan Wangi berdecak kagum dalam hati, namun tak mau tinggal diam begitu saja. Maka tangannya langsung mencabut kipas mautnya. Cepat dipapaknya ayunan gada berduri Ki Soma Langit.

Trang!

Ketika kedua senjata itu beradu, tahulah Pandan Wangi kalau Ki Soma Langit memang bukan sembarangan tokoh yang bisa diremehkan begitu saja. Tenaga dalamnya amat kuat. Dan lebih dari itu, gerakannya pun cukup gesit. Kedua senjata mereka sampai menimbulkan percikan bunga api, ketika beradu tadi. Dan sejurus berikutnya, tahu-tahu senjata lawan telah kembali meluruk ke arah leher. Terpaksa Pandan Wangi memiringkan kepala, untuk menghindarinya. Kemudian sambil berputar, kipasnya diayunkan ke batok kepala lawan.

"Yeaaa...!"
Wut! Wut!

Ki Soma Langit terkesiap. Buru-buru dia melompat ke samping sambil mendengus garang, namun terlambat. Karena...

"Hiyaaa...!"
Brettt!

"Keparat!" maki Ki Soma Langit, ketika tiba-tiba saja ujung kipas lawan telah menyambar kulit dadanya, hingga sedikit tergores.

Jantung Ki Soma Langit jadi berdetak lebih kencang ketika kedua kakinya menjejak tanah. Sorot matanya garang ketika gadis itu tegak berdiri sambil tersenyum kecil. Kalau saja tadi lawan melanjutkan serangan, bisa jadi dia akan dijatuhkannya. Paling tidak, lukanya tak akan seringan sekarang. Tapi mana mau Ki Soma Langit menerima kenyataan begitu saja? Tanpa mempedulikan kejutan yang dibuat lawan, dia kembali membuka jurus.

"Perempuan liar! Kau akan mampus sekarang juga di tanganku!"

"Buto ljo! Dari tadi kudengar hanya omonganmu saja yang besar. Apa memang kau besar mulut?" sindir Pandan Wangi tersenyum sinis.

"Phuih! Akan kuremukan tubuhmu sampai tak berbentuk!" geram Ki Soma Langit sambil melompat ke arah lawan.

Pandan Wangi telah siap-siaga. Kali ini dirasakannya kaiau lawan akan mengerahkan segenap kemampuan untuk mengalahkan. Maka ketika senjata lawan menyambar-nyambar ke arah tubuhnya, gadis itu segera meliuk-liuk menghindannya. Sesekali kipasnya menangkis. Namun setiap kali menangkis, Pandan Wangi jadi terkejut. Karena tangannya kontan terasa kesemutan. Dan hampir saja kipasnya itu terlepas, kalau saja tidak menambah tenaga untuk mempertahankannya.

"Yeaaa...!"
"Hup!"

Ki Soma Langit kian meningkatkan serangan. Diterjangnya Pandan Wangi sambil menyorongkan telapak kirinya ke depan. Seketika dari telapak kirinya melesat cepat selarik sinar hitam ke arah Pandan Wangi. Begitu cepat serangannya, sehingga membuat gadis itu tercekat kaget. Apalagi, pukulan maut yang dilancarkan bercampur racun yang hebat. Maka Pandan Wangi segera bergulingan ke samping untuk menghindarinya. Kemudian tubuhnya melenting cepat sambil mengayunkan ujung kipasnya ke arah tenggorokan lawan dari bawah.

"Hiiih!"

Namun dengan cepat, Ki Soma Langit menangkis dengan senjatanya.

Trang!

Laki-laki berbibir dower itu kemudian menghantamkan gada berdurinya ke batok kepala. Namun, Pandan Wangi cepat bergerak ke samping. Maka senjata gadis itu hanya lewat di samping tubuhnya yang nyaris hancur kalau tak cepat menjatuhkan diri. Ayunan senjata lawan memang kuat dan menimbulkan desir angin kencang. Sehingga, mampu membuat lawan bergetar. Pandan Wangi memang menyadari kalau Ki Soma Langit telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimiliki untuk menjatuhkan lawan secepatnya. Tapi tentu saja Pandan Wangi tak mau tinggal diam. Dia terus bergulingan menghindari sambaran senjata lawan. Kemudian pada satu kesempatan, tubuhnya melenting sambil melompat tinggi.

"Hiyaaa...!"
"Mampus!"

Ki Soma Langit berusaha membaca, kalau apa yang dilakukan gadis itu adalah kesempatan baik baginya. Maka tubuhnya langsung melesat menyusul dari belakang, sambil mengayunkan senjata ke pinggang lawan. Namun. bukan main kagetnya Ki Soma Langit ketika lawan berbalik sambil mengayunkan kipas ke arah lehernya. Masih untung gada berdurinya cepat diayunkan.

Trak!

Tapi kekuatan senjata lawan ternyata jauh di atas gada berdurinya. Akibatnya, senjatanya putus menjadi dua bagian. Terpaksa Ki Soma Langit melompat ke bawah untuk menyelamatkan diri.

"Yeaaa...!"

Pandan Wangi tak berhenti sampai di situ saja. Dalam keadaan begitu, dia terus mendesak lawan habis-habisan. Kini dalam sekejap saja, keadaan Ki Soma Langit berubah cepat. Laki-laki dower itu tak mampu mengembangkan jurus-jurusnya untuk balas menyerang, karena sibuk mempertahankan diri.

"Hiyaaa...!"
"Uts!"

Tiba-tiba ujung kipas Pandan Wangi menyambar wajah. Maka cepat-cepat Ki Soma Langit menundukkan kepala. Tapi kipas itu terus berputar membentuk lingkaran putih keperakan yang mengurung ruang geraknya. Kedudukannya semakin terjepit saja dan tak mampu bergerak leluasa.

"Mampuslah kau sekarang!" bentak Pandan Wangi nyaring.

Ki Soma Langit tercekat. Ujung kipas lawan tiba-tiba menyambar ke arah perutnya. Dan dengan menjatuhkan diri serta bergulingan, laki-laki itu masih mampu menghindarinya. Tapi dalam penyelamatan diri, Ki Soma Langit lupa memperhitungkan anggota tubuh lawan yang lain. Dan kini, dia harus menerima kenyataan pahit. Ki Soma Langit tak mampu mengelak ketika satu tendangan keras menghantam betis kanannya. Sambil mengeluh kesakitan, dia masih bisa bergerak terpincang-pincang untuk menghindari tendangan kaki lawan yang sebelah lagi.

Pandan Wangi agaknya tak ingin memberi kesempatan lawan sedikit untuk bernapas. Tendangan kaki yang tadi dilepaskan, ternyata hanya sebuah tipuan belaka. Maka begitu lawan akan bergerak menghindar, ujung kipasnya menderu ke dada kiri. Begitu cepat serangan itu dilakukan, sehingga membuat Ki Soma Langit terkejut setengah mati. Tak ada waktu lagi baginya untuk menghindar dari ancaman maut.

"Hiyaaa...!"

LIMA

Pada saat yang gawat bagi Ki Soma Langit, mendadak melesat sesosok tubuh ke arah Pandan Wangi dengan gerakan cepat bukan main.

"Heh?!"

Gadis itu tersentak kaget. Maka tanpa menoleh lagi kipasnya diayunkan dan langsung membentur benda keras.

Trakkk!

Bersamaan dengan itu, ujung kaki kiri Pandan Wangi menghantam perut Ki Soma Langit dengan keras.

Diegkh!
"Ukh!"

Orang itu kontan memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal ke tanah. Pandan Wangi berdiri tegak memandang ke arah lawan yang baru muncul. Sudah bisa diduga, siapa orang itu. Dan orang itu memang Ki Rogo Jagat. Memang, mana mungkin dia akan mendiamkan temannya begitu saja yang bakal celaka di depan mata? Hal itulah yang membuat Pandan Wangi tidak begitu terkejut.

"Hm... Permainan silatmu boleh juga. Siapa kau sebenarnya? Rasanya, aku pernah mengenalmu, Nisanak...?" tanya Ki Rogo Jagat dengan suara perlahan. Namun, matanya memandang rendah pada si Kipas Maut ini.

"Untuk apa kau tahu diriku...?"

"Ha ha ha...! Bocah! Apa kau pikir dirimu sudah hebat dengan mengalahkan temanku?" ejek Ki Rogo Jagat, menganggap rendah gadis ini.

"Kau boleh maju dan mengujiku," sahut Pandan Wangi dingin.

Pada saat itu juga, Ki Soma Langit sudah bangkit dan mendatangi mereka dengan wajah gusar.

"Ki Rogo Jagat! Jangan seenaknya bicara! Siapa bilang aku sudah dikalahkannya...?"

"Apa kau ingin mernpermalukan dirimu lagi di depan mereka?" tunjuk Ki Rogo Jagat kalem, ke arah Ki Tambak Gering dan murid-muridnya.

"Phuih! Siapa bilang aku akan mempermalukan diriku? Akan kuremukan tubuh perempuan keparat itu!" dengus Ki Soma Langit gusar, sambil melangkah yang dibuat gagah mendekati Pandan Wangi.

Tapi sebelum tiga langkah berjalan, ujung tongkat Ki Rogo Jagat sudah menghadang langkah kakinya.

"Hentikan, Soma Langit!"

Ki Soma Langit langsung menghentikan langkahnya. Dipandanginya wajah Ki Rogo Jagat dengan raut tidak senang. Kemudian dengan kasar ditepiskan tongkat yang menghadang di depannya.

"Aku tidak peduli! Akan kupecahkan batok kepala bocah ini.'" dengus Ki Soma Langit sengit.

"Sabar, Soma Langit. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu," kata Ki Rogo Jagat tetap kalem nada suaranya.

"Apa lagi yang akan kau katakan, hah...?,'" tanya Ki Soma Langit sambil menoleh sedikit.

"Kau lihat. Kipas baja putih yang tadi digunakannya dan kini terselip di pinggangnya itu? Apa benda itu tidak mengingatkanmu pada seseorang, Soma Langit...?"

Ki Soma Langit memandang sekilas pada Pandan Wangi, kemudian kembali berpaling pada Ki Rogo Jagat dengan raut wajah memancarkan kebingungan. Ki Rogo Jagat menghela napas pendek, menyadari kalau sahabatnya tidak mengerti akan kata-katanya tadi.

"Soma Langit! Lawanmu itu bukan orang sembarangan. Dialah yang berjuluk si Kipas Maut" jelas Ki Rogo Jagat langsung.

"Apa...?! Huh! Kebetulan sekali," dengus Ki Soma Langit agak tersentak sedikit.

"Ya, kebetulan.... Menurut berita yang kudengar, dia adalah kekasih Pendekar Rajawali Sakti. Dan kau harus bersiap-siap berurusan dengannya, Soma Langit"

"Huh! Siapa peduli...? Aku tidak takut walaupun dia kekasihnya raja iblis neraka sekalipun!" dengus Ki Soma Langit semakin kelihatan garang.

"Baiklah, Soma Langit. Sekarang, anggap saja aku yang mendapat giliran main-main dengan gadis ini. Bukankah giliranmu tadi sudah...?" ujar Ki Rogo Jagat.

"Kau tidak mengerti, Rogo Jagat! Aku harus memecahkan batok kepala gadis keparat ini!" sentak Ki Soma Langit.

Mendengar mereka saling cekcok begitu, sebenarnya merupakan keuntungan bagi Pandan Wangi, maupun Ki Tambak Gering dan murid-muridnya. Tapi, Pandan Wangi menangkap gejala lain. Agaknya Ki Rogo Jagat yang berusia lebih tua, lebih bisa bersikap bijaksana daripada sahabatnya. Dari tutur katanya, terlihat kalau dia tetap menjaga agar tidak terjadi perselisihan di antara mereka. Tapi Pandan Wangi menjadi tidak sabar melihat kelakuan mereka.

"Hei...! Kenapa kalian malah ribut sendiri..?! Kenapa sungkan-sungkan meladeniku? Aku tidak keberatan kalau kalian berdua ingin maju bersama. Dengan begitu, kalian lebih cepat mampus. Maka, tentu saja lebih baik lagi bagi kami!" bentak gadis itu dengan suara keras menggelegar bagai halilintar membelah angkasa.

"Kurang ajar...! Tutup mulutmu, Bocah!" bentak Ki Soma Langit semakin garang, dianggap enteng begitu.

Sebaiknya, Ki Rogo Jagat tidak langsung menjawab. Malah kakinya melangkah tenang mendekati gadis cantik berjuluk si Kipas Maut itu.

"Kau betul-betul ingin cepat mati, Bocah...?" tanya Ki Rogo Jagat dengan nada agak sinis.

"Kalian sendiri yang menginginkan," balas Pandan Wangi tidak kalah ketusnya.

"Baiklah, Bocah. Tahan seranganku. Yeaaah...!"

Ki Rogo Jagat sudah langsung membentak sambil melenting dengan kecepatan yang sangat tinggi. Saat itu juga, senjatanya diayunkan ke arah si Kipas Maut ini.

"Haiiit..!"

Pandan Wangi yang sudah bisa mengukur ketangguhan lawan, tak sungkan-sungkan lagi mencabut senjata pamungkasnya. Pedang Naga Geni! Sebilah pedang berwarna hitam, dengan gagang berbentuk kepala burung yang tersampir di balik punggungnya.

Cring!

Gadis itu, langsung saja mengayunkan pedang nya, memapak serangan tongkat Ki Rogo Jagat. Begitu cepatnya ayunan senjata yang mereka lakukan, sehingga masing-masing tidak dapat lagi menarik pulang Dan....

Trak!
"lkh...!"
"Ukh!"

Pandan Wangi agak kerepotan juga ketika menyadari kalau tongkat lawannya yang terbuat dari baja itu mampu menandingi pedangnya. Dalam sekejapan mata saja, bisa dirasakan kalau tenaga dalam lawan sangat tinggi tingkatannya. Bahkan lebih tinggi dibandingkan Ki Soma Langit. Buktinya telapak tangannya sampai bergetar kesemutan ketika senjatanya beradu tadi.

Bukan hanya itu saja. Gerakan Ki Rogo Jagat pun sangat cepat. Karena dengan tiba-tiba, senjatanya sudah kembali menyambar ke arah wajah, leher, dan jantung dalam waktu yang hampir bersamaan. Sambil berjumpalitan, Pandan Wangi menghindari serangan-serangan dahsyat mematikan ini.

Belum lagi Pandan Wangi bisa mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan Ki Rogo Jagat, Ki Soma Langit sudah melesat menyerangnya. Akibatnya, si Kipas Maut semakin bertambah kerepotan saja. Gadis itu terus berjumpalitan menghindari serangan-serangan cepat kedua lawannya. Namun di saat Pandan Wangi benar-benar terdesak, mendadak saja....

"Hm... Sungguh hebat dua orang tokoh kosen mengeroyok seorang gadis...!"

"Heh...?!"
"Hah...?!"

Ki Rogo Jagat dan Ki Soma Langit jadi tersetak kaget, dan langsung menghentikan serangan begitu tiba-tiba terdengar suara yang nyaring bergema. Sementara wajah Pandan Wangi seketika jadi berseri, begitu melihat seseorang tahu-tahu sudah ada di tempat ini.

"Kakang Rangga...!" teriak Pandan Wangi sambil berlari kecil mendekati pemuda berbaju rompi putih yang tahu-tahu sudah muncul di tempat ini.

Orang yang baru tiba itu memang Rangga, yang dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Pemuda itu lalu berjalan perlahan, menghampiri si Kipas Maut ini. Kemudian ditatapnya Ki Soma Langit dan Ki Rogo Jagat bergantian dengan sinar mata tajam.

"Hm.. Jadi kau rupanya yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...?" desis Ki Rogo Jagat terdengar dingin nada suaranya. Tatapannya juga begitu tajam menyorot langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

"Begitulah orang-orang memanggilku. Dan, kalian berdua adalah tokoh kosen yang namanya amat terkenal di penjuru mata angin, kini tak lebih dari tukang keroyok gadis muda...?" suara Rangga juga tidak kalah dingin.

"Phuih! Jangan sembarangan bicara, Bocah! Apa kau pikir aku tidak mampu memecahkan batok kepala gendakmu itu?" dengus Ki Soma Langit

"Aku percaya. Tapi kau terlalu bodoh. Sehingga, kau lupa kalau dia juga mampu merobek mulutmu yang kotor, Kisanak...?" balas Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga kelihatan sudah tidak senang pada laki-laki tua itu. Terlebih lagi, barusan Pandan Wangi dihina begitu rendah. Darahnya seketika jadi bergolak mendidih. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti masih tetap berusaha untuk tetap tenang dan bersabar. Padahal, sinar matanya terlihat memerah menyorot tajam.

"Ha ha ha...! Apa kau pikir dia punya derajat untuk main-main denganku, heh...?! Pendekar Rajawali Sakti, sudah lama aku mendengar nama besarmu. Dan julukanmu membuat tanganku sering gatal ingin merasakan pelajaran darimu. Rasanya. kau lebih pantas berhadapan denganku daripada gendakmu itu!"

"Hm... Kalau kau memang menginginkan, siapa yang bisa menolak kehormatan ini? Silakan, Kisanak," sambut Rangga, langsung saja.

Sengaja Pendekar Rajawali Sakti menyambut tantangan dengan kata-kata bernada dingin. Hatinya memang sudah muak melihat tingkah kedua orang tua ini. Mekipun tidak bisa dipastikan bakal bisa dijatuhkan, tapi paling tidak Pandan Wangi akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa mengalahkan lawannya. Dan tampaknya, hal itu bukan pekerjaan mudah. Yang jelas Pendekar Rajawali Sakti hanya tidak ingin Pandan Wangi celaka dan terluka.

"He, Kipas Maut! Aku belum kalah!" teriak Ki Soma Langit penasaran, karena belum juga bisa melampiaskan rasa geramnya pada gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut ini.

"Kau boleh maju, Kisanak!" sambut Pandan Wangi dingin.

Rangga berpaling sekilas. Dan ketika melihat Pandan Wangi begitu yakin bisa mengatasi lawannya, pemuda itu jadi tersenyum. Kembali perhatiannya dialihkan pada Ki Rogo Jagat.

"Silakan, Kisanak. Kau boleh mulai lebih dulu," ujar Rangga memberi tawaran, disertai senyum kecil.

"Phuih!" Ki Rogo Jagat menyemburkan ludahnya sedikit. Perlahan kakinya digeser ke kanan. Sorot matanya terlihat begitu tajam.

Sementara, Rangga tidak bergeming sedikit pun. Diperhatikannya setiap gerak laki-laki tua ini. Sementara, Ki Tambak Gering dan murid-muridnya yang sejak kedatangan Pendekar Rajawali Sakti, tidak lagi merasa cemas. Mereka merasa yakin kalau kedua pendekar muda itu pasti mampu mengatasi kesombongan kedua lawannya.

"Hup! Hiyaaa...!"

Sambil membentak nyaring, Ki Rogo Jagat melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Langsung tongkatnya dikebutkan ke arah kepala pemuda berbaju rompi putih ini, dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hup!"

Namun dengan gerakan manis sekali, Rangga bisa menghindarkan serangan dahsyat laki-laki tua ini. Ki Rogo Jagat memang belum pernah bertemu langsung dengan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi dari cerita-cerita yang sering kali didengamya, pemuda itu memang tidak bisa dipandang enteng. Untuk itulah dia tidak mau gegabah. Bahkan sudah langsung menyerang dengan pengerahan seluruh kemampuan yang dimilikinya.

Tapi memang lawannya kali ini bukanlah lawan sembarangan. Dengan gerakan-gerakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang sangat lincah dan ringan, Rangga mudah sekali bisa menghindan serangan-serangan Ki Rogo Jagat. Dan sejauh ini, belum ada satu serangan pun yang mampu mendesaknya. Keadaan ini tentu saja membuat Ki Rogo Jagat jadi semakin gusar saja. Gerahamnya digertakkan menahan geram. Lalu begitu cepat tongkatnya berputar, hingga langsung menyambar ke arah leher dan dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Hih! Yeaaah...!"
"Upts!"

Hampir kibasan tongkat Ki Rogo Jagat menghujam ke dada. Untung saja Rangga cepat-cepat meliukkan tubuhnya menghindar. Dan saat itu juga...

"Jebol...!" teriak Ki Rogo Jagat tiba-tiba, dengan suara keras mengejutkan.

Rangga jadi kaget juga. Cepat-cepat tubuhnya meliuk menghindari sodokan tangan kiri laki-laki tua ini. Pendekar Rajawali Sakti lalu cepat melompat ke atas sambil melepaskan satu tendangan keras, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

Sementara Ki Rogo Jagat segera menyambutnya dengan ayunan tongkat yang cepat. Namun dengan hanya mengangkat sedikit kaki, tongkat itu hanya menyapu angin saja. Dan dengan gerakan mengagumkan satu kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat ke arah dada dari bawah. Ki Rogo Jagat jadi tersetak setengah mati. Buru-buru dia melompat ke belakang sambil mengibaskan tongkatnya.

"Huh!" dengus Rangga pendek. Pendekar Rajawali Sakti cepat berputar untuk menghindari kibasan tongkat laki-laki tua ini Kemudian tubuhnya berjumpalitan mengejar, sambil melepaskan satu pukulan keras bertenaga dalam sempurna, hingga menimbulkan desir angin kencang bagai badai.

"Yeaaah...!"
Wutt!
"Haiilt..!"

Begitu Ki Rogo Jagat bisa menghindari pukulannya, Rangga cepat melompat ke samping. Kemudian tubuhnya cepat berbalik sambil menghantamkan satu pukulan sangat keras ke bahu kanan laki-laki tua ini. Sementara, Ki Rogo Jagat sudah cepat pula langsung mengibaskan tongkatnya.

Tapi sungguh tidak diduga sama sekali, kalau hal itu hanya tipuan belaka. Karena mendadak saja, Rangga sudah melesat dengan gerakan menyamping. Langsung disambamya dada Ki Rogo Jagat dengan satu tendangan menggeledek yang sangat keras luar biasa, mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna. Begitu cepatnya tendangan yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga...

Duk!
"Akh!"

Ki Rogo Jagat jadi terpekik tertahan. Namun dengan cepat tubuhnya diputar. Langsung saja tongkatnya diayunkan untuk menyambar tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Tapi belum juga tongkat itu melayang, tangan kiri Rangga sudah menghantam pergelangan tangannya. Akibatnya, tulang pergelangan tangan Ki Rogo Jagat jadi berderak remuk, dan tongkatnya terpental jatuh entah ke mana. Ki Rogo Jagat menjerit keras melengking dengan tubuh terjungkal ke belakang.

Bruk!

Keras sekali tubuh laki-laki tua itu membentur tanah. Rangga berdiri tegak memperhatikan Ki Rogo Jagat yang telentang di tanah, dan berusaha cepat bangkit.

"Setan keparat!" maki Ki Rogo Jagat berang. Bola mata laki-laki tua itu mendelik lebar, memancarkan sorot mata memerah yang begitu tajam seakan hendak menembus langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun dengan bibir meringis menahan sakit, dia berusaha keras menahannya. Pukulan yang tadi dilancarkan Rangga memang menghasilkan luka dalam yang cukup parah di dada sebelah kanan. Namun sebagai tokoh yang berilmu tinggi, tentu saja Ki Rogo Jagat tidak ingin lawannya mengetahui.

"Kisanak! Pergilah kau dari sini. Dan, sudahi persoalan ini," kata Rangga kalem.

"Keparat! Kau pikir dirimu sudah terlalu hebat, berani berkata begitu padaku, heh...?!" bentak Ki Rogo Jagat sengit.

Rangga hanya tersenyum kecil. "Terserah apa katamu, Kisanak. Tapi kalau kau masih keras kepala juga, kuperingatkan kalau aku pun bisa bertindak lebih kejam lagi," tegas Rangga.

"Phuih! Jangan dikira aku takut, Bocah!" Sambil membentak garang, Ki Rogo Jagat kembali melompat menyerang dengan kecepatan tinggi sekali. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak, menanti serangan.

"Hiyaaat..!"

Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas sambil membuka jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Tubuhnya berputaran cepat di udara. Lalu dengan kecepatan sukar diikuti mata biasa, kedua kakinya berputaran. Akibatnya. Ki Rogo Jagat jadi kelabakan. Dan pada saat yang tepat, kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti menghentak cepat ke arah batok kepala Ki Rogo Jagat.

Bet!
"Heh...?!"

Ki Rogo Jagat kaget setengah mati. Tendangan Rangga yang begitu kuat, cepat-cepat dihindari dengan merundukkan kepala. Namun dia benarbenar terkejut. Karena, tendangan itu menimbulkan desir angin yang begitu kuat, sehingga membuat tubuhnya jadi limbung. Dan saat itu juga.

"Hih!"

Belum lagi hilang rasa terkejutnya, mendadak saja kepalan tangan Rangga sudah kembali melesat cepat ke arah dada. Akibatnya, Ki Rogo Jagat jadi kelabakan menghindarinya. Cepat-cepat tubuhnya mengegos ke kiri, sambil menangkis dengan tangan kanan yang sudah patah tulang pergelangannya. Dan pada saat itu pula, kepalan tangan kirinya menghantam ke wajah Pendekar Rajawali Sakti. Namun cepat sekali Rangga sudah membuang diri ke kanan sambil mengayunkan kakinya.

"Yeaaah...!"
Plak!
Diegkh!
"Aaakh...!"

Ki Rogo Jagat jadi menjerit keras, begitu kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam pelipisnya. Seketika itu juga, tubuhnya terjungkal sambil terus bergulingan di tanah. Dan saat itu pula Rangga sudah melesat cepat sambil melepaskan satu tendangan keras luar biasa.

"Setan!
Hup...!"

Ki Rogo Jagat mengumpat di dalam hati. Cepat-cepat tubuhnya melenting ke udara. Namun tindakannya justru membawa bencana bagi dirinya sendiri. Dengan satu sentakan yang sangat kuat, lutut kanan Rangga menghantam perutnya. Akibatnya, Ki Rogo Jagat kembali terpekik dan terpental deras ke belakang.

Bruk!
"Aaakh...!"

Keras sekali tubuh Ki Rogo Jagat menghantam tanah. Seketika itu juga, darah muncrat keluar dari mulutnya. Tendangan Rangga memang bukan main kerasnya, hingga Ki Rogo Jagat hanya sempat berkelojotan sedikit. Kemudian tubuhnya mengejang kaku, dan diam tidak bergerak-gerak lagi. Rahangnya yang bekas terkena hantaman lutut kanan Pendekar Rajawali Sakti itu terlihat remuk.

"Ki...! Dia..., dia mati...!" teriak salah seorang murid Padepokan Gagak Lumayung yang berada tidak jauh dari jatuhnya Ki Rogo Jagat.

Semetara, Rangga hanya diam saja. Matanya hanya memandang ke arah pertarungan yang berlangsung antara Pandan Wangi dan Ki Soma Langit. Sekilas saja Pendekar Rajawali Sakti sudah dapat melihat kalau Ki Soma Langit sudah terdesak dengan serangan-serangan Pedang Naga Geni yang berada di tangan kanan Pandan Wangi. Apalagi, melihat temannya sudah mati. Akibatnya, Ki Soma Langit jadi gentar juga. Kegentaran itu tampaknya cepat diketahui Pandan Wangi. Sehingga gadis itu semakin memperhebat serangannya. Dan pada saat yang tepat.

"Hiyaaat..!"
Bet
Cras!
"Aaakh...!"

Dalam satu kesempatan yang tepat ujung pedang Pandan Wangi berhasil menyambar pinggang laki-laki tua ini. Ki Soma Langit kontan menjerit kesakitan, namun masih sempat berdiri dan melompat dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Langsung dia berlari cepat meninggalkan tempat ini.

"Keparat! Jangan lari kau...!" bentak Pandan Wangi memaki.

"Hiyaaat..!"

Pandan Wangi sudah melompat hendak mengejar, tapi saat itu juga Rangga sudah bergerak cepat menghadangnya.

"Tahan, Pandan Wangi...!" bentak Rangga keras. "Biarlah dia pergi."

"Huh!"

Pandan Wangi langsung menghentikan niatnya disertai hembusan napas kesal. Matanya mendelik sedikit pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Hatinya merasa tidak puas, karena dihalangi mengejar lawannya yang kabur.

"Kenapa kau menghalangiku, Kakang?" Tanya Pandan Wangi agak mendengus suaranya.

"Biarlah dia pergi, Pandan. Biar dia memberi tahu pada yang lain. Dengan begitu, kita bisa tahu siapa saja yang berpihak padanya," jelas Rangga singkat.

Meskipun hatinya masih kesal, tapi alasan yang dikemukan Rangga tidak bisa lagi dibantah. Dan Pandan Wangi memang tidak bisa lagi membantah, kecuali hanya mendengus saja sambil menyarungkan pedang ke dalam warangka di punggungnya. Sedangkan Rangga jadi tersenyum kecil melihat gadis itu memberengut sambil bersungut-sungut. Kemudian kedua pendekar dari Karang Setra itu berpaling ke arah Ki Tampak Gering, dan melangkah menghampiri. Mereka sama-sama menjura memberi penghormatan.

"Kisanak, maafkan kedatanganku ke sini hanya membuat keributan saja," ujar Rangga sopan.

"Ah, Pendekar Rajawali Sakti. Sungguh kehormatan bagiku mendapat kunjungan pendekar besar sepertimu. Silakan. .," sambut Ki Tambak Gering langsung mengajak masuk ke rumah sekaligus padepokannya.

Rangga melirik sekilas pada Pandan Wangi. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja sedikit. Sepertinya, ajakan Ki Tambak Gering disetujui. Dan mereka kemudian masuk ke dalam ruang utama Padepokan Gagak Lumayung.

ENAM

Gunung Kelud tampak berdiri gagah. Puncaknya yang runcing terlihat dari kejauhan seperti menantang langit. Punggung gunung itu sendiri tampak berwarna biru kehitaman, terhalang kabut bagai sebuah selendang putih halus yang menyelimuti sebagian lerengnya. Sinar matahari yang tadi sempat membelai, perlahan memudar bersama-sang waktu. Saat ini burung-burung mulai kembali ke sarang. Dan senja perlahan mulai merangkak, mendekati malam.

Sesosok tubuh tampak terus berlari tersaruk-saruk mendekati kaki gunung itu. Beberapa kali kakinya tersandung hingga jatuh tersungkur. Namun dengan cepat dia bangkit kembali. Jauh di depannya yang terlihat sunyi, tampak sebuah nyala api. Orang itu semakin bernafsu dan mempercepat larinya.

Nyala api itu sendiri berasal dari sebuah obor kecil yang terpancang di dinding kaki gunung. Disitu terlihat seseorang berdiri tegak sambil mengawasi keadaan sekitarnya. Di dekatnya terlihat sebuah goa yang cukup dimasuki seorang dewasa dalam keadaan tegak berdiri.

Wesss!
"Ohhh...!

Sosok yang tengah berlari itu tersentak kaget dan menghentikan larinya, ketika mendadak sebuah tombak melesat ke arahnya. Masih untung dia mampu menjatuhkan diri ke samping. Kalau tidak, niscaya ujung tongkat yang tajam dan runcing itu akan menembus batok kepalanya.

"Siapa yang berani memasuki kawasan ini?!" bentak seseorang di kegelapan malam.

"Eh, jangan! Aku Ki Soma Langit akan membawa berita buruk kepada junjungan kita!" kata sosok yang baru saja berlari, dan ternyata Ki Soma Langit.

"Ki Soma Langit? Hm..., kami kira siapa. Kenapa kau jadi penyakitan begitu?" tanya suara tadi tanpa menunjukkan diri.

"Ceritanya panjang. Aku perlu bicara langsung dengan Ki Darmala..."

"Kalau begitu, silakan kau terus ke depan sana...!"

Ki Soma Langit kembali meneruskan perjalanannya, hingga tiba di depan pintu goa itu tanpa mengalami kesulitan. Orang yang agaknya penjaga pintu goa itu pun mempersilakannya untuk masuk.

Jalan menuju ke dalam goa ini cukup panjang dan berliku-liku. Namun makin ke dalam, ruangannya terasa semakin membesar. Di tiap dinding terpancang obor-obor yang menerangi sekitarnya. Langkah kaki Ki Soma Langit terus menuju sebuah ruangan yang cukup besar. Tampak dua orang tengah berdiri tegak menjaga pintu ruangan itu.

"Aku ingin bertemu Ki Darmala...," jelas Ki Soma Langit dengan suara lemah.

"Ada keperluan apa?" tanya salah seorang penjaga dengan nada datar.

"Urusan penting. Soal Pendekar Rajawali Sakti!"

Kedua penjaga itu saling berpandangan untuk sesaat. Kemudian menyilakan Ki Soma Langit ke dalam ruangan. Ruangan itu luas dan terang, serta dipenuhi orang. Salah seorang duduk di atas sebuah kursi besar dan lebar sambil memegang sebatang tongkat hitam yang ujungnya berbentuk kepala ular merah yang sedang meleletkan lidahnya. Usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar berkepala botak. Wajahnya penuh bercak-bercak hitam dengan cambang bauk yang menambah keangkerannya. Kulitnya hitam, terbungkus pakaian hitam yang kedombrongan dengan beberapa buah kantong berukuran besar. Orang inilah yang bernama Ki Darmala alias si Dewa Racun Hitam!

Tampak beberapa orang perempuan berwajah cantik tengah bergelayutan di pundak si Dewa Racun Hitam. Tak jauh dari situ, terlihat beberapa orang bocah berkepala botak memakai baju kedombrongan berwarna hitam yang juga banyak memiliki kantong berukuran besar. Kemudian terlihat beberapa tokoh persilatan yang kini memandang tajam ke arah Ki Soma Langit yang tengah menjura hormat dalam keadaan bersujud di lantai.

"Ki Darmala, maaf, hamba gagal menjalankan tugas...," ucap Ki Soma Langit, lesu.

"Hm.... Ki Soma Langit, bangunlah. Ceritakanlah padaku, apa yang membuatmu begitu loyo seperti tikus kecebur got?" tanya Ki Darmala dengan suara datar.

Perlahan-lahan Ki Soma Langit bangkit, namun tak berani mengangkat kepalanya. "Ki Tambak Gering memiliki dua orang kawan. Agaknya, merekalah yang menghancurkan Sumawangsa beserta murid-muridnya. Dan..., dan Ki Rogo Jagat..."

"Kau ingin mengatakan kalau Ki Rogo Jagat tewas?"

Ki Soma Langit mengangguk cepat.

"Dan Ki Soma Langit yang garang serta berangasan kini dipecundangi?"

Ki Soma Langit diam tak menjawab. Tapi, wajahnya semakin menunduk mendengar kata kata Ki Darmala yang mengandung ejekan.

"Nah! Katakan padaku, siapa kedua orang hebat yang kau ceritakan tadi?"

"Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut..."

"Hm.... Kau akan mendapat hadiah atas berita mu ini, Ki Soma Langit!" seru Ki Darmala dengan wajah berseri.

"Ampun, Ki. Aku.. , aku tak berani...."

"Kemarilah. Angkatlah mukamu itu. Aku berkata sungguh-sungguh!" lanjut Ki Darmala dengan nada manis.

Dengan takut-takut, Ki Soma Langit mengangkat wajahnya sambil beringsut lebih dekat. Tapi pada saat itu juga, mendadak.

Get! Ciet!
Crab!
"Aaa...!"

Ki Soma Langit menjerit keras ketika beberapa buah benda kehitaman dilemparkan Ki Darmala ke arahnya. Benda-benda yang tak lain kalajengking berbisa itu menancap di kerongkongan, jantung, ulu hati, dan perutnya. Tubuh Ki Soma Langit langsung ambruk dengan keadaan membiru. Dari mulutnya tampak mengeluarkan busa. Setelah menggelepar-gelepar beberapa saat, kemudian nyawanya melayang. Jelas, Ki Soma Langit menderita keracunan hebat. Kelajengking kecil bertubuh hitam mengkilat itu memang memiliki bisa sangat hebat tiada duanya.

"Lemparkan mayatnya keluar, biar menjadi santapan anjing liar!" seru Ki Darmala memberi perintah.

Beberapa orang segera bergerak menggotong mayat Ki Soma Langit keluar dari ruangan itu. Sejenak suasana jadi hening di dalam goa itu, seperti di pekuburan. Agaknya hal itu sering terjadi. Mereka yang berada di tempat itu tahu, sikap apa yang harus diambil. Berdiam diri dan menunggu Ki Darmala buka mulut.

"Orang sepertinya memang patut mampus. Siapa saja yang memiliki jiwa pengecut seperti Ki Soma Langit, tak akan selamat di tanganku!" tandas Ki Darmala dengan suara keras.

Suasana di ruangan itu masih terlihat hening. Belum ada yang berani buka suara.

"Ki Sasongko, dan Ki Padmo! Apa tanggapan kalian mengenai kehadiran kedua pendekar muda itu?" tanya Ki Darmala seperti tak mempedulikan kejadian barusan.

Dua orang laki-laki berusia lanjut langsung menoleh ke arah Ki Darmala sambil memberi hormat.

"Bukankah ini kesempatan baik bagi Ki Darmala untuk membuktikan cita-cita, bahwa Dewa Racun Hitam memang patut menjadi raja di segala golongan?" sahut laki-laki tua yang berambut pendek dan putih dengan tubuh kecil. Orang inilah yang tadi dipanggil Ki Sasongko.

"Benar, Ki. Bukankah Ki Darmala telah lama menunggu kesempatan baik seperti sekarang ini? Pendekar Rajawali Sakti adalah penghalang besar bagi tujuanmu. Oleh sebab itu, dia memang harus disingkirkan! Dan kini, kita tak usah bersusah payah menelusuri jejaknya. Dia telah berada di dekat sini. Dan keadaannya seperti ular mencari penggebuk. Kita tinggal menggebuknya saja, Ki!" sambung Ki Padmo, yang bertubuh bungkuk dengan gigi mancung ke depan.

"Ha ha ha...! Betul! Apa yang kalian katakan memang tak salah. Tapi, jangan menganggap enteng. Kedua orang itu bukan orang sembarangan. Apalagi, Pendekar Rajawali Sakti. Kepandaiannya kuakui sulit diukur. Banyak sudah tokoh sakti yang tewas di tangannya. Kalian pasti pernah mendengar berita tentang itu, bukan!"

"Benar, Ki. Pendekar Rajawali Sakti memang tokoh hebat. Telah banyak tokoh sakti yang tewas di tangannya. Tapi kebanyakan dari mereka hanya memiliki nama besar tanpa kemampuan memadai. Jadi sudah sepatutnya mereka mampus di tangan pemuda itu. Tapi menghadapi Dewa Racun Hitam, jangan coba-coba berharap bisa mengunggulimu. Ki!" sahut Ki Sasongko mantap.

Pendekar Rajawali Sakti hanya dikawani oleh si Kipas Maut. Jumlah kita amat banyak. Dan sudah pasti, dia akan berpikir seribu kali untuk menentangmu, Ki. Apalagi, mencoba menghancurkanmu. Lagipula, pengaruhmu sudah meluas sampai ke mana-mana. Kalau dia mencoba menghasut, tak akan ada yang sudi membantunya!" lanjut Ki Padmo.

Ki Darmala alias si Dewa Racun Hitam hanya tersenyum kecil mendengar penuturan kedua orang tua itu. "Hm.... Apakah dengan begitu kalian akan mengatakan kalau aku mampu menghancurkan mereka?"

"Siapa yang bisa menyangsikan hal itu?" sahut Ki Sasongko, mengandung kepastian.

"Betul, Ki! Tak seorang pun yang mampu mengunggulimu!"

Kata-kata Ki Sasongko dan Ki Padmo dibenarkan yang lainnya. Dan Ki Darmala jadi tersenyum lebar mendengar pujian itu.

"Hm.... Terima kasih atas kepercayaan kalian terhadapku. Jika kalian merasa bangga terhadapku, demikian pula aku. Dewa Racun Hitam akan menjadi penguasa atas jagat ini. Demikian pula orang terdekatnya. Kalian akan menjadi orang-orang hebat yang patut disegani, dengan kemampuan yang hebat dan patut dibanggakan," ujar Dewa Racun Hitam.

Kedua orang itu serta yang lain mengangguk-anggukkan kepala mendengar kata-kata Dewa Racun Hitam.

"Oleh karena itu. aku yakin sekali kalau setiap orang yang berada di dekatku akan mampu membereskan segala persoalan," lanjut Ki Darmala.

"Tentu saja, Ki! Kalau tidak, untuk apa kami di sini?" sambung Ki Sasongko.

Ki Sasongko dan Ki Padmo terdiam sejenak, mendengar kata-kata terakhir Ki Darmala. Kini baru disadari arti perkataan Ki Darmala tadi.

"Eh! Apa maksudmu, Ki?" tanya Ki Sasongko.

"Maksudku, orang-orang terdekatku memiliki kemampuan yang hebat dan bisa dibanggakan. Oleh sebab itu, urusan Pendekar Rajawali Sakti pasti kalian mampu menanganinya dengan baik," sahut Dewa Racun Hitam enteng.

"Apakah Ki Darmala menginginkan kami membereskah Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Ki Sasongko memastikan.

"Apakah kalian takut berhadapan dengannya?" balas Ki Darmala, dingin.

"Eh? Mana berani kami membantah perintahmu. Bahkan ini merupakan tugas yang amat menggembirakan. Bukan demikian, Ki Padmo?"

"Betul! Betul, Ki. Kalau memang Ki Darmala mempercayakan pada kami untuk mengurus Pendekar Rajawali Sakti, maka kami akan senang sekali melakukannya."

"Bagus! Kalian boleh berangkat sekarang juga menemui mereka. Dan katakan, mereka berdua harus tunduk kepadaku."

"Malam ini, Ki?!" tanya Ki Sasongko, seperti tak percaya pada pendengarannya.

"Kapan lagi? Apakah ada perlunya ditunda?"

"Eh! Kalau demikian, baiklah. Kami akan berangkat sekarang juga. Bukan begitu, Ki Padmo?"

"lya, iya...," sahut Ki Padmo cepat sambil menjura hormat kemudian mengikuti Ki Sasongko berlalu dari tempat itu.

Ki Darmala tersenyum-senyum kecil mengiringi kepergian mereka, sampai hilang di mulut pintu ruangan ini. "Kalian semua, siapkan orang-orang kita untuk menyambut Pendekar Rajawali Sakti dan kawan-kawannya!"

"Ki, bukankah barusan Ki Sasongko dan Ki Padmo akan membereskannya?" sambut salah seorang dengan wajah heran.

"He he he...! Apakah kau pikir mereka akan mampu? Pendekar Rajawali Sakti bukan orang sembarangan. Dan kalau mereka yang ku tugaskan, itu karena aku tak suka pada penjilat. Mereka ke sana hanya menemui ajalnya saja. Pendekar Rajawali Sakti pasti akan ke sini, cepat atau lambat!" tegas Ki Darmala.

Orang itu mengangguk mengerti, kemudian segera memberi isyarat pada yang lain. Beberapa orang segera berlalu dari ruangan ini. Sementara, Dewa Racun Hitam hanya tersenyum kecil di singgasananya dikelilingi gundik-gundiknya.

********************

Ki Tambak Gering sangat girang ketika mendengar jawaban kalau kedua tamunya yakni Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi bersedia bermalam dipadepokannnya, bukan hanya itu. Mereka juga memang telah bertekad untuk membantu menghancurkan Dewa Racun Hitam. Kalau mulanya laki-laki setengah baya itu merasa was-was dan kecil hati, tapi dengan kehadiran Pendekar Rajawali Sakti di tempat ini. Mereka seperti mendapat semangat baru. Dalam dada setiap murid Padepokan Gagak Lumayung menyala api semangat membara untuk menghancurkan Dewa Racun Hitam yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi penduduk desa-desa sekitar Gunung Kelud.

"Rangga, apakah tak berbahaya mengirim pengantar surat secepat ini. Mereka mungkin kaget, atau bahkan merasa bimbang," tanya Ki Tambak Gering.

Memang, siang tadi Rangga meminta Ki Tambak Gering untuk mengirim surat kepada tokoh-tokoh persilatan yang selama ini menentang Dewa Racun Hitam. Para pengantar surat itu terdiri dari murid-murid Ki Tambak Gering sendiri.

"Ki Tambak! Kita seperti mengadu cepat dengan Dewa Racun Hitam. Ki Soma Langit yang kabur tadi, tentu akan memberitahukan persoalan. Dan cepat atau lambat, mereka akan ke sini. Seperti yang Ki Tambak ceritakan, maka kuat dugaanku mereka akan datang sesaat lagi. Itulah yang membuatku harus bertindak cepat mengirim surat, dan menyuruh mereka datang ke sini secepatnya," jelas Rangga.

Ki Tambak Gering mengangguk-angguk begitu mendengar penjelasan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku hanya khawatir, mereka yang dikirimi surat akan kaget dan bimbang..."

"Mereka harus menentukan keputusan cepat, Ki. Kalau tidak, Dewa Racun Hitam akan semakin merajalela!"

"Apakah kau berniat akan mendatangi sarang Dewa Racun Hitam, Rangga?"

"Bagaimana menurut Ki Tambak? Apakah itu usul yang baik?"

"Untuk menghancurkan seseorang, memang sebaiknya sampai ke akar-akarnya. Kalau kita ke sana, seperti sekali menepuk kejahatan. Maka, selesailah sudah urusannya. Tapi, itu bukanlah pekerjaan gampang. Karena, justru di sanalah mereka kuat dan sulit ditaklukkan".

"Ki Tambak benar. Tapi, kita harus ke sana. Karena sekali mereka berpencar-pencar, akan sulit bagi kita untuk menumpasnya. Kalau memang malam ini juga para tokoh yang dikirimi surat datang ke sini, kita langsung akan menyerbu ke sarang Dewa Racun Hitam!" jelas Rangga mantap.

"Rangga, apakah itu bukan tindakan gegabah?" tanya Ki Tambak kaget.

Rangga menggeleng mantap. "Tidak, Ki! Kita akan berangkat malam ini juga ke sarang Dewa Racun Hitam. Mereka akan datang ataupun tidak biar saja. Tak perlu banyak orang, tapi cukup mereka yang memiliki kepandaian lumayan serta orang-orang berani.

"Kami siap, Ki!" sahut salah seorang murid Padepokan Gagak Lumayung bersemangat.

"Aku juga! Demi membela kebenaran, kami siap berkorban nyawa!"

"Kami juga akan ke sana kalau memang Pendekar Rajawali Sakti berkata demikian!"

Mendengar jawaban murid-muridnya, hati Ki Tambak Gering tergugah juga. Perlahan kepalanya mengangguk, menyetujui usul yang dikemukakan Pendekar Rajawali Sakti tadi.

"Maaf, Ki. Usulku memang seperti mengajak mereka bunuh diri. Tapi, justru hal ini demi keselamatan kita bersama juga. Seperti yang Ki Tambak ceritakan, mereka sering melakukan kejahatan di siang hari. Oleh sebab itu, kita harus menghadapi malam hari, agar mereka kelabakan. Lagi pula, jumlah mereka banyak. Kalau kita menyerang malam hari, sulit bagi mereka untuk membedakan mana musuh dan mana kawan. Sehingga, kita bisa berusaha menekan jumlah korban yang jatuh dengan membuat tanda di antara sesama kita, agar tak terjadi saling bentrok."

"Hm.... Kalau memang begitu, rencanamu, kusetujui. Itu suatu siasat yang cukup jitu!" sahut Ki Tambak Gering bertambah semangat.

"Siapa yang tahu, di mana sarang Dewa Racun Hitam itu?" tanya Pandan Wangi.

"Tempat itu bukan rahasia, karena semua tokoh persilatan diwilayah ini mengetahuinya. Di sebuah goa di kaki Gunung Kelud!" jelas Ki Tambak Gering.

"Kalau begitu, tak berapa jauh lagi dari tempat ini," sahut Rangga.

"Pendekar Rajawali Sakti, keluar kau!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring dari luar.

"He? Siapa itu?!" seru Ki Tambak Gering dan murid-muridnya serentak kaget.

Rangga dengan tenang bangkit dari duduknya sambil tersenyum kecil. "Benar bukan kataku?"

"Anak buah Dewa Racun Hitam!" sambung Pandan Wangi sambil beranjak dari duduknya.

"Mari kita sambut mereka, Ki. Dan kita cari tahu, apa maksud kedatangannya itu," ajak Rangga.

"Eh! Iya..., iya!"

TUJUH

"Bukakan pintu gerbang itu!" perintah Ki Tambak Gering pada salah seorang muridnya, ketika Rangga memberi isyarat.

"Baik, Guru," sahut murid Padepokan Gagak Lumayung sambil membuka pintu gerbang.

Begitu pintu terbuka lebar, tampak di depan telah berdiri tegak dua sosok tubuh menyeramkan yang telah ubanan. Yang seorang bertubuh kecil, dan seorang lagi bertubuh bungkuk dengan gigi tonggos. Masing-masing bersenjatakan sebilah pedang.

"Hm.... Kukira siapa yang datang malam-malam begini. Rupanya Ki Sasongko dan Ki Padmo. Ada apa gerangan, sehingga membuat kalian singgah di sini?" sapa Ki Tambak Gering sambil memberi salam penghormatan.

Namun kedua tamu tak diundang itu seolah tak mempedulikan sikap hormat tuan rumah. Sebaliknya, mereka memandang tajam kepada semua yang hadir di tempat itu, kemudian menatap tajam kepada Pendekar Rajawali Sakti.

"Kaukah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?" tanya orang tua bertubuh kecil, yang tak lain Ki Sasongko dengan nada sinis.

"Orang tua! Kau sama sekali tak punya sopan santun terhadap tuan rumah yang telah bersikap ramah padamu. Apakah umurmu yang lanjut itu tak memberi pelajaran apa-apa bagi hidupmu?" sahut Rangga, tak mempedulikan pertanyaan orang tua itu.

"Keparat! Bocah sombong. Sebelum kau lahir di muka bumi ini, aku telah malang melintang mengajarkan sopan santun pada orang lain! Bahkan juga pada bapak moyangmu!" dengus Ki Sasongko garang.

"Boleh jadi begitu. Tapi alangkah lucunya kalau ternyata guru sepertimu adalah orang yang tolol dan sama sekali tak tahu sopan santun," sahut Pendekar Rajawali Sakti.

"Heh, Bocah! Mulutmu ternyata lebih berbisa. Tapi belum keketahui, apakah pedangmu juga lebih berbisa. Nah, cabutlah. Agar kau tak mati penasaran sebentar lagi!" kata Ki Padmo, gusar.

"Hm.... Pedangku belum pantas buat orang seperti kalian. Tapi kalau memang ingin merasa kan biarlah diwakili pedang lain saja. Aku toh, masih bisa menggunakannya juga."

Setelah berkata demikian, Rangga meminjam sebilah pedang milik salah seorang murid Ki Tambak Gering. Dengan cepat seorang murid itu melemparkan, dan cepat ditangkap Rangga.

"Hm.... Dengan pedang butut itukah kau akan melawanku?" dengus Ki Padmo merasa terhina.

"Kenapa tidak? Bukankah pedang butut ini sama dengan watakmu yang butut?" sahut Rangga santai.

"Keparat! Akan kupancung kepalamu!" geram Ki Padmo sudah langsung melompat menerjang lawan sambil mencabut pedangnya. Cepat disambarnya Pendekar Rajawali Sakti yang masih berdiri tenang.

"Yeaaa...!"
Sring!

Dengan sigap, Rangga menyambut serangan lawan dengan ayunan pedang pinjaman.

Trang!

Kini pertarungan tak dapat dihindari lagi. Sementara Ki Sasongko serta yang lain, hanya memperhatikan saja. Sebenarnya, masih ada yang ingin dibicarakan Ki Sasongko. Tapi, agaknya marah Ki Padmo mudah terbakar dan tak bisa dikendalikan lagi. Bagaimanapun, terbersit rencana dan harapan kalau mereka bisa akan dibujuk tanpa melalui pertarungan. Mendengar nama Dewa Racun Hitam, mungkin mereka akan berpikir seribu kali untuk menentang. Tapi keadaan kini sudah terlambat.

"Hiyaaa...!"
Trang!

Terlihat Ki Padmo berusaha menekan lawan sedemikian hebat, karena bermaksud cepat menundukkannya. Namun hai itu ternyata tak mudah. Jurus-jurus Pendekar Rajawali Sakti memang sulit ditembus. Bahkan kalau dia tak cepat bergerak, tubuhnya nyaris tertembus ujung pedang lawan ini.

Pedang yang digenggam Pendekar Rajawali Sakti berkelebat menyambar ke arah pinggang, kemudian meliuk menyambar ke arah jantung. Mau tak mau Ki Padmo terpaksa meliuk-liukkan tubuhnya menghindari. Kemudian, ditangkisnya serangan yang mengarah ke dada. Tapi dengan kecepatan dahsyat Rangga berputar. Dan dari arah samping, disambarnya leher laki-laki tua itu.

Karuan saja Ki Padmo terkejut. Buru-buru kepalanya ditundukkan. Namun, Pendekar Rajawali Sakti cepat melepaskan tendangan keras. Akibatnya, Ki Padmo terpaksa melompat ke belakang. Tapi pada saat yang sama ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti itu telah menderu menyambar perutnya. Dengan agak gugup, terpaksa Ki Padmo menangkisnya.

Trang!

Tanpa diduga sama sekali, Rangga berhasil menembus benteng pertahanannya. Hanya saja, arahnya ke bawah. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Padmo tak sempat menghindar. Dan....

Cras!
"Uhhh...!"

Betis Ki Padmo mendapat luka yang cukup dalam, tersambar pedang yang digenggam Pendekar Rajawali Sakti. Orang tua itu mengeluh kesakitan mendapat luka yang cukup dalam memanjang, mengeluarkan darah. Pendekar Rajawali Sakti tak melanjutkan serangan. Dia tetap tegak berdiri, seolah memberi kesempatan pada lawan untuk memperbaiki kedudukannya.

"Keparat!" maki Ki Padmo sambil membuka jurus baru. Tapi saat itu juga.

"Ki Padmo! Biarkan, kini giliranku...," selak Ki Sasongko.

"Tidak bisa! Dia harus merasakan hajaranku!" bantah Ki Padmo bersikeras.

Tapi, Ki Sasongko tak mempedulikan bantahan kawannya. Kakinya langsung melangkah perlahan, mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kuperingatkan sebelum kau mendapat kesulitan. Menyerah dan tunduklah kepada Dewa Racun Hitam. Maka, kau akan selamat!"

"Ha ha ha...! Terima kasih, Kisanak. Kau sangat baik padaku, telah memberi peringatan itu. Tapi sayang, sejak kecil aku terkenal kepala batu dan tak pernah mau menyerah. Apalagi, tunduk kepada manusia busuk, seperti Dewa Racun Hitam. Harap kau maklum!" sahut Rangga, kalem.

"Hm.... Rupanya kau lebih memilih mati. Sayang sekali, Anak Muda..."

"Oh, benarkah itu? Setahuku, soal hidup mati bukan ditentukan oleh kau atau Dewa Racun Hitam. Jadi, sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku, kalau aku harus takut terhadap kalian."

Merasa kalau usahanya secara baik-baik tak berhasil, bahkan jawaban-jawaban pemuda itu, amat menyakitkan, wajah manis Ki Sasongko berubah kelam. Raut wajahnya kini diliputi hawa membunuh.

"Kalau memang menghendaki kematian, baiklah. Tak ada jalan Iain. Bersiaplah kau!" lanjut Ki Sasongko sambil mencabut pedangnya.

Cling!

"Silakan. Aku telah siap sejak tadi!" sahut Pendekar Rajawali Sakti dingin

"Ki Sasongko! Aku belum lagi selesai!"

Ki Sasongko melirik sekilas pada Ki Padmo yang agaknya masih merasa penasaran atas kekalahannya tadi.

"Ki Padmo! Kau akan mendapat giliran, setelah aku selesai dengannya. Atau barangkali tak akan sempat..."

Setelah berkata demikian, Ki Sasongko langsung melompat menyerang lawan. Sementara, Ki Padmo tak bisa berbuat apa-apa, selain menonton dengan perasaan kesal bercampur geram.

"Yeaaa...!"
"Hup!"
Trak!

Dengan tangkas Pendekar Rajawali Sakti menangkis senjata lawan. Dan sekilas saja sudah bisa dirasakan kalau Ki Sasongko begitu bernafsu. Tak heran bila gempuran yang dilakukannya tak kepalang tanggung. Agaknya, pertarungan Ki Padmo melawan Pendekar Rajawali Sakti tadi betul-betul diperhatikan Ki Sasongko dengan seksama. Sehingga meski pun perhatian utamanya ditujukan pada titik serangan, namun tak lupa menjaga pertahanannya sedemikian rupa.

"Hm.... Pantas kau dikagumi banyak orang. Ternyata, namamu bukan kosong belaka!" puji Ki Sasongko setelah lewat beberapa jurus, namun belum juga mampu mendesak lawan.

"Kau pun hebat, Kisanak. Hanya sayang, kehebatanmu digunakan di jalan yang salah. Sehingga, orang sepertimu tak punya kebanggaan dalam hidupmu, karena setiap orang akan mengutuk dan menyumpah kepadamu. Kau ibarat sampah, Kisanak.

"He he he..! Kau boleh berkata apa saja. Tapi sebentar lagi, akan kita lihat siapa sebenarnya yang sampah. Kau atau aku," sahut Ki Sasongko. enteng.

Setelah selesai dengan kata-katanya, orang tua itu meningkatkan serangan. Kali ini seluruh kemampuan yang dimilikinya betul-betul dikerahkan untuk menghabisi lawan secepatnya. Pedangnya mendesing menimbulkan angin tajam yang mampu menggetarkan jantung. Kadang-kadang berputar bagai kitiran seperti hendak mengecoh. Namun, sejauh itu Pendekar Rajawali Sakti masih mampu mengimbanginya.

"Yeaaa...!"

Tiba-tiba Rangga membentak nyaring. Tubuhnya langsung berputar sambil mencelat ke atas. Ki Sasongko lalu menyusuli dari bawah dengan ujung pedang menyambar-nyambar, seolah mencuri kelengahan Pendekar Rajawali Sakti. Namun, sambaran pedangnya tak membawa hasil, karena tubuh Pendekar Rajawali Sakti kini bergulung terlipat, kemudian menderu keras ke bawah.

"Hiyaaa...!"

Dengan gerakan cepat, Ki Sasongko berusaha membelah pertahanan lawan. Tangan kirinya cepat melepaskan satu pukulan maut yang mengeluarkan cahaya kuning kecoklatan kearah Rangga. Namun bersamaan dengan itu, dari telapak kiri Pendekar Rajawali Sakti melesat selarik sinar berwarna merah dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Glarrr!
"Hup!"

Terjadi ledakan kecil yang begitu cepat, ketika kedua pukulan itu beradu. Tubuh Ki Sasongko kontan terlempar jauh, begitu pukulannya dihadang Pendekar Rajawali Sakti. Dan sebelum orang tua itu jatuh ke tanah, Rangga cepat memburunya dengan kecepatan luar biasa, pedang pinjaman itu langsung ditebaskan kearah leher. Dan....

Cras!
"Aaa...!"

Ki Sasongko langsung terkapar di tanah dengan leher buntung. Darah tampak mengucur deras dari lehernya.

"Ki Sasongko...! Keparat, kau harus membalas kematiannya!

"Yeaaa!"

Ki Padmo sangat terkejut melihat kematian kawannya yang mengenaskan itu. Tanpa berpikir panjang langsung diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti yang masih tegak berdiri memandangi mayat lawannya. Kali ini tampaknya Rangga tak mau banyak omong dengan lawannya. Disadarinya kalau orang seperti Ki Padmo tak bisa diajak bicara baik-baik. Maka begitu melihat lawan bernafsu ingin membunuhnya, langsung saja serangan lawan dibalas dengan sengit. Sehingga dalam beberapa saat saja Ki Padmo tampak mulai terdesak hebat. Pendekar Rajawali Sakti terus mengurung ruang gerak Ki Padmo. Dan ketika orang tua itu bergerak berputar, dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti menepis pedangnya.

"Lepas!"
"Heh?!"

Pedang di tangan Ki Padmo langsung terpental jauh sehingga membuatnya tersentak kaget. Namun buru-buru dia membuang diri kesamping, ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti menusuk lurus ke depan.

"Uts! Heh?!"

Sungguh tak disangka-sangka, ternyata sambaran pedang itu hanya gerak tipu belaka. Karena begitu Ki Padmo bergerak menghindari, maka saat itu pula satu tendangan keras meluncur ke perutnya. Begitu cepat tendangan itu, sehingga Ki Padmo tak sempat menghindari! Maka...

Bugkh!
"Ugkh...!"

Orang tua itu kontan memekik kesakitan, ketika isi perutnya terasa pecah terkena tendangan geledek Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya langsung terlempar beberapa langkah, tapi mendadak saja...

Bresss!
"Aaa...!"
"Heh?!"

Pendekar Rajawali Sakti dan orang-orang yang berada di tempat itu jadi terkejut. Tiba-tiba saja sesosok bayangan menghujam senjatanya, tepat menembus jantung Ki Padmo yang sedang terlempar itu kontan menjerit kesakitan. Dan tubuhnya tak bergerak-gerak lagi begitu menyentuh tanah, dengan darah mengucur deras.

"Maaf. Orang seperti dia memang tak pantas hidup. Pengkhianat dan tukang buat onar!" sahut seorang laki-laki berusia empat puluh tahun sambil menyarungkan golok yang agaknya telah digunakan untuk menghabisi Ki Padmo tadi.

"Oh! Kukira siapa. Ternyata, Ki Sudini. Maaf kalau kami tidak bisa menyambutmu sebagaimana mestinya," ucap Ki Tambak Gering sambil memberi salam penghormatan.

Orang yang dipanggil Ki Sudini itu membalas dengan sikap hormat. Kemudian, kepalanya berpaling ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Kisanak. Kaukah pemuda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?"

"Begitulah orang-orang memanggilku," sahut Pendekar Rajawali Sakti merendah.

"Dan kaukah yang dikenal sebagai Kipas Maut?" lanjut Ki Sudini sambil berpaling kearah Pandan Wangi.

"Tak salah, Kisanak," sahut gadis itu acuh tak acuh.

Gadis itu memang kurang begitu suka melihat sikap orang ini. Sombong dan merasa paling hebat sendiri!

"Pendekar Rajawali Sakti! Maaf, aku telah mencampuri urusanmu dengan si pengkhianat itu. Juga kau, Ki Tambak. Maafkan kedatanganku yang tak sopan ini. Tapi begitu membaca suratmu, semangatku seperti tak terbendung. Dan kebencianku kepada si keparat Dewa Racun Hitam semakin memuncak saja. Itulah sebabnya, aku langsung datang ke tempatmu ini!" ujar Ki Sudini dengan suara nyaring.

"Hm.... Tak mengapa, Ki Sudini. Kurasa, Pendekar Rajawali Sakti memaklumi hal itu. Bukan begitu, Rangga?"

Pendekar Rajawali Sakti hanya mengangguk kecil sambil tersenyum-senyum.

"Hm.... Mana yang lainnya?!" tanya Ki Sudini sambil mengedar pandang ke sekeliling.

"Ki Tambak Gering, terimalah salam hormatku!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang disusul hadirnya sesosok tubuh di pintu gerbang, Rambutnya panjang dan telah memutih. Bajunya putih panjang sampai ke lutut. Dengan tubuhnya yang kecil, orang itu terlihat lucu sekali. Padahal, usianya belum lagi lewat empat puluh tahun.

"Hm, Ki Sapto Hudoyo. Rupanya kau mau juga memenuhi udanganku. Terima kasih, Kisanak!" sahut Ki Tambak Gering.

"He he he...! Aku ke sini sekalian ingin melihat bagaimana tampang pemuda kesohor yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti itu. Sial! Padahal waktu aku seusianya, masih bau kencur dan tak becus apa-apa!" sahut orang tua itu mengomel sendiri.

Mendengar itu Rangga hanya tersenyum-senyum kecil saja. Tak berapa lama beberapa tokoh persilatan lainnya telah hadir di tempat itu. Jumlah mereka seluruhnya yang ikut menyerbu ke sarang Dewa Racun Hitam sekitar dua puluh lima orang, termasuk murid-murid Ki Tambak Gering. Rangga memberikan beberapa pengarahan sebelum mereka berangkat.

"Sudahlah.... Ayo kita serang sekarang juga keparat beracun itu! Tanganku sudah gatal mendengar ocehan dan kesombongannya!" dengus Ki Sapto Hudoyo geram.

"Baiklah. Kalau demikian mari kita berangkat sekarang juga! Oh, ya. Satu hal yang harus diingat, rombongan mesti dibagi dua. Aku, Pandan Wangi, dan Ki Tambak Gering berangkat lebih dulu. Sedangkan para Kisanak Pendekar Kebenaran mengikuti kami agak jauh di belakang. Kalian mengawasi sambil menunggu aba-aba," ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Tidak ada yang membantah. Semua itu memang telah disepakati bersama. Maka, malam itu juga mereka berangkat sambil mengendarai beberapa ekor kuda. Sementara, sisanya berjalan kaki sambil menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Seperti yang dikatakan Ki Tambak Gering, sarang Dewa Racun Hitam memang tak begitu jauh. Apalagi ditempuh dengan mengendarai kuda. Sehingga tak lama kemudian mereka telah berada di kaki Gunung Kelud.

Sementara malam semakin larut. Udara juga semakin dingin terlapis kabut, sehingga membekukan tulang. Rombongan yang dipimpin Pendekar Rajawali Sakti terus mendaki lereng gunung yang selalu dilapisi kabut ini. Setelah cukup lama, mereka akhirnya tiba didekat sebuah goa yang terlihat sepi.

"Kita berhenti di sini, Ki. Itulah goanya. Kemungkinan goa itu dijaga anak buahnya. Jadi, tak mungkin goa ini dibiarkan begitu saja!" kata Pendekar Rajawali Sakti mengingatkan sambil turun dari kudanya.

"Betul juga katamu," sahut Ki Tambak Gering sambil turun dari punggung kudanya, diikuti beberapa murid utama Padepokan Gagak Lumayung. Sedangkan para pendekar terus mengikuti dan mengawasi mereka dari jarak jauh.

Mereka berjalan mengendap-endap mendati goa yang ditunjuk Ki Tambak Gering. Namun baru saja melangkah beberapa tindak, mendadak... Beberapa sosok tubuh tiba-tiba melayang dari atas cabang pohon ke arah mereka sambil melepaskan serangan. Namun Rangga dan Pandan Wangi cepat melompat menghindar. Begitu terbebas, langsung saja kedua pendekar Karang Setra itu balas menyerang.

"Hiiih!"

Pandan Wangi bergerak tak kepalang tanggung. Gerakannya demikian cepat, tak terkendalikan lagi. Maka....

Bret!
Begkh!
"Aaa...!"

Kipas Mautnya langsung menelan korban. Dua orang tewas seketika ketika tubuhnya bergerak cepat menyambar lawan. Sementara sisanya binasa di tangan Pendekar Rajawali Sakti serta Ki Tambak Gering dan murid-muridnya. Dalam sekejap saja lima orang lawan telah binasa di tangan mereka.

Mereka kini segera mendekati goa. Salah seorang murid Ki Tambak Gering melompat masuk ke dalam, diiringi seorang kawannya setelah mendapat perintah dari Rangga. Sambil memegang obor, mereka melangkah hati-hati. Ki Tambak Gering dan Pandan Wangi mengikuti dari belakang, sementara Pendekar Rajawali Sakti dan beberapa murid Ki Tambak Gering menunggu di luar. Tak berapa lama, orang yang masuk ke dalam goa keluar.

"Sudah dibakar tempat itu?" tanya Rangga pada Pandan Wangi.

Gadis itu mengangguk. "Tapi di dalam kosong...," lanjut Pandan Wangi.

"Hm...," Rangga mengangguk-nggukkan kepala. Pada saat itulah mendadak terdengar gema suara tawa yang memenuhi seluruh tempat itu.

"Ha ha ha...! Pendekar Rajawali Sakti! Kukira kau cerdik, tapi ternyata tak lebih pintar dari seekor keledai dungu. Kalian hanya membakar ruangan kosong karena, kami lewat jalan belakang untuk mengepung kalian. Menyerahlah, karena tak ada jalan untuk melarikan diri!"

DELAPAN

Pendekar Rajawali Sakti, si Kipas Maut, Ki Tambak Gering, dan beberapa murid Padepokan Gagak Lumayung langsung melihat ke sekeliling tempat itu. Memang, tempat itu telah dipenuhi orang yang membawa obor. Tapi, mereka tenang-tenang saja tanpa menunjukkan kekhawatiran.

"Kaukah yang menyebut diri sebagai Dewa Racun Hitam?" tanya Rangga sambil menatap tajam pada orang yang tadi tertawa terbahak-bahak.

Jarak antara mereka cukup jauh juga. Dan di malam yang gelap begini, sulit bagi mereka untuk saling mengenal muka satu sama lain. Tapi bagi mereka yang memiliki tenaga batin kuat, tak menjadi halangan untuk bisa melihat muka lawannya meski dalam gelap sekalipun.

"Tak ada duanya Dewa Racun Hitam di jagat ini. Akulah orangnya!"

"Dewa Racun Hitam! Hentikanlah perbuatanmu yang terkutuk ini. Dan, jangan lagi, menumpahkan darah! Banyak sudah orang-orang tak berdosa yang menjadi korban kekejamanmu!"

"Ha ha ha...! Bocah! Sungguh lancang bicaramu dalam keadaan terjepit begini. Apakah tak kau sadar kalau maut sedang menunggu di ambang pintu?! Sebaiknya pikirkan saja keselamatan kalian sebelum memikirkan keselamatan orang lain!"

"Dewa Racun Hitam! Agaknya kau terlalu mendewakan diri sendiri. Bahkan berani menentukan kematian seseorang. Sungguh gegabah sekali, kau!"

"Kenapa tidak? Justru kutegaskan sekali lagi, hidup mati kalian berada di tanganku! Nah, pilihlah jalanmu. Menyerah, atau mati sekarang juga!"

"Sayang sekali, kedua pilihanmu itu sama sekali tak menarik!" sahut Rangga enteng.

"Hm.... Kalau demikian, kalian memang mesti mampus saat ini juga!" dengus orang itu.

"Hiyaaa...!"

Dewa Racun Hitam memberi aba-aba. Maka saat itu juga melesat beberapa batang panah ke arah Pendekar Rajawali Sakti dan kawan-kawannya. Beberapa batang anak panah malah memiliki nyala api pada ujungnya. Agaknya hal itu memang disengaja, agar disekelilingnya terang benderang. Dengan demikian mereka akan mudah melihat sasaran. Tapi baru sekali melepaskan anak panah, mendadak terdengar pekik kesakitan beberapa orang anak buah Dewa Racun Hitam.

"Aaa...!"

"Awas, serangan gelap!" teriak seseorang memberi isyarat.

"Kurang ajar! Siapa yang berani berbuat begini terhadapku?!" maki Dewa Racun Hitam garang.

"Ha ha ha...! Dewa Racun Hitam dungu! Kata siapa kau telah mengepung Pendekar Rajawali Sakti dan kawan-kawannya? Kalianlah yang sebenarnya telah terkepung. Menyerahlah, atau seluruh anak buahmu akan mampus tanpa bisa membalas!" teriak sebuah suara di antara kegelapan malam. Memang, itu adalah suara dari salah satu pendekar yang mengepung tempat ini.

"Cuihhh! Keparat! Kalian pikir mampu mengalahkanku?! Yeaaa...!"

Serrr! Serrr!

Dengan perasaan gusar bercampur geram, Dewa Racun Hitam yang memiliki penglihatan jeli melempar beberapa benda ke satu arah di rimbunan pohon yang gelap.

"Aaa...!" Beberapa saat kemudian, terdengar jerit kesakitan yang melengking nyaring.

"Sudah saatnya kita menggempur mereka, Ki! Seraaang...!" teriak Rangga memberi aba-aba.

Mereka segera berpencar, dan bergerak perlahan-lahan mendekati lawan-lawannya.

"Hancurkan mereka!" Dewa Racun Hitam memberi perintah.

Maka bagai tanggul jebol, anak buahnya langsung menyerbu menyambut Pendekar Rajawali Sakti dan kawan-kawannya. Memang, anak buah Dewa Racun Hitam bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka terdiri dari tokoh persilatan golongan hitam terkenal, serta ketua perguruan silat yang memiliki kepandaian tak rendah. Orang-orang yang telah ditaklukan Dewa Racun Hitam itu memang betul-betul membuktikan pengabdiannya!

Namun ketika Rangga telah berteriak memberi aba-aba, maka dari cabang-cabang pohon di sekitar tempat itu melesat beberapa pendekar yang terus menyerang anak buah Dewa Racun Hitam dengan semangat menyala-nyala. Pertarungan memang tak dapat dihindari lagi. Meski berjumlah tak seimbang, karena anak buah Dewa Racun Hitam memiliki jumlah hampir dua kali lipat, namun tak mengurangi semangat para pendekar.

Terlebih-lebih ketika mereka melihat Pendekar Rajawali Sakti betul-betul mengamuk seperti benteng kedaton. Meskipun hanya menggenggam sebatang pedang biasa yang dipinjam dari seorang murid Ki Tambak Gering, namun ditangannya senjata itu mampu menjatuhkan nyawa lawan lawannya. Beberapa orang tewas seketika di ujung pedangnya. Dan yang lain langsung menyusul beberapa saat kemudian. Tentu saja hal itu membuat semangat para pendekar semakin menyala nyala.

Dewa Racun Hitam agaknya begitu yakin kalau anak buahnya mampu membereskan lawan-lawannya. Tapi mau tak mau, akhirnya dia dibuat kaget sendiri melihat sepak tenang mereka. Apalagi ketika menyadari kalau Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tak bisa dikasih hati. Memang, di tangannyalah anak buahnya banyak yang tewas. Dan kalau terus dibiarkan, bisa jadi seluruh anak buahnya akan tewas. Berpikir begitu, dia langsung menggenjot tubuh sambil membentak nyaring.

"Pendekar Rajawali Sakti, akulah lawanmu! Yeaaa...!" Dewa Racun Hitam cepat melakukan serangan dengan melepaskan benda-benda berbahaya ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

Serrr! Serrr...!
"Hup!"
Pras!

Mendengar bentakan nyaring itu, Rangga langsung melompat sambil membuat gerakan berputar di atas. Dan pedangnya cepat diayunkan dengan tenaga penuh. Beberapa ekor hewan-hewan berbisa yang dilontarkan Dewa Racun Hitam kontan musnah dihantam pedangnya.

"Dewa Racun Hitam! Bagus kau mau memberi pelajaran padaku. Hanya sayang kenapa baru sekarang?!"

"Huh! Tadi atau sekarang, buatku sama saja. Kau telah menguras habis kesabaranku! Dan untuk itu, kau patut mampus!" geram Dewa Racun Hitam sambil memutar tongkat menyerang lawan dengan gencar.

Pendekar Rajawali Sakti betul-betul terkejut melihat cara lawan menyerangnya. Dewa Racun Hitam ternyata bukan nama kosong belaka. Permainan tongkatnya sungguh hebat. Bahkan kalau tak hati-hati dalam sekejap Pendekar Rajawali Sakti akan kena dijatuhkan. Mulut ular yang ada di pangkal tongkatnya terkadang menyemburkan jarum-jarum kecil yang halus dan amat beracun. Beberapa kali Pendekar Sajawali Sakti nyaris termakan serangan lawan. Namun sejauh itu, dia masih mampu menghindar dengan gerakan gesit

"Hiyaaa...!"

Rangga membentak nyaring dan berusaha membuyarkan permainan tongkat lawan dengan memutar pedang sedemikian rupa, sambil mengerahkan jurus 'Seribu Rajawali'. Kini, tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagai berjumlah seribu saja, mengelilingi Dewa Racun Hitam.

Pada mulanya, Dewa Racun Hitam sempat terkejut dan melihat seolah-olah lawan yang berjumlah seribu. Namun dia begitu percaya diri. Senjata-senjata rahasianya yang berupa hewan-hewan berbisa berbentuk kecil, membuat gerakan lawan tak bisa begitu leluasa. Belum lagi, ditambah permainan tongkatnya yang luar biasa. Tongkat itulah yang agaknya cukup merepotkan bagi Pendekar Rajawali Sakti. Sebab di tangan Dewa Racun Hitam tongkat itu tak ubahnya seperti memiliki kekuatan dahsyat.

"Hiiih!"

Ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti menyambar ke arah leher Dewa Racun Hitam. Namun dengan gesit Dewa Racun Hitam memiringkan tubuh sambil menghantam tongkatnya ke jantung. Maka cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas, menghindari serangan. Sementara, kaki kanannya cepat terayun menghantam rahang.

"Uts!"

Namun dengan gesit Dewa Racun Hitam menghindari ke kiri. Kemudian, tongkatnya dihantamkan sambil mengirim senjata rahasia. Mau tak mau, Rangga harus menangkis senjata lawan sambil melompat menghindar.

Wuttt!
Trak!

Pemuda itu tak begitu terkejut ketika melihat pedangnya patah akibat menangkis tongkat lawan. Namun yang lebih membuatnya terserak kaget, karena tiba-tiba ujung tongkat lawan mendesir ke arah tenggorokannya. Maka, buru-buru dia membuang diri kesamping, kemudian melenting ke belakang.

"Ha ha ha...! Kau akan mampus, Bocah! Kau akan mampus sekarang!" ejek Dewa Racun Hitam sambil tertawa terbahak-bahak.

Disadari betul oleh Pendekar Rajawali Sakti, tanpa senjata di tangan akan sulit sekali balas menyerang lawan. Saat ini, Dewa Racun Hitam betul-betul bernafsu menghabisinya secepat mungkin. Sehingga, sulit bagi pemuda itu untuk bergerak leluasa dan mengembangkan jurus jurusnya.

"Hiyaaa...!"
Cring!

"He he he...! Bagus! Kenapa tidak sejak tadi pedang bututmu dikeluarkan, heh?!" ejek Dewa Racun Hitam ketika melihat lawan mengeluarkan pedang pusaka yang sejak tadi tersandang di punggung.

"Kau harus hati-hati, Dewa Racun Hitam!" dengus suara Pendekar Rajawali Sakti dengan wajah dingin.

Dewa Racun Hitam sebenarnya terkejut setengah mati melihat pamor pedang lawan. Apalagi ketika melihat sekelebatan cahaya biru yang memancar menerangi tempat dari batang pedang Pendekar Rajawali Sakti. Diam-diam dalam hatinya terbersit perasaan khawatir. Tapi, mana mau hal itu ditunjukkanya di depan lawan. Maka untuk menunjukkan kalau tak merasa gentar sedikit pun dia mendahului menyerang.

"Hiyaaa...!"
Wut! Wut!

Pendekar Rajawali Sakti cepat memapak dengan pedangnya yang bersinar biru berkilauan. Dan....

"Hiiih!"
Tras!
"Heh?!"

Betapa terkejutnya hati Dewa Racun Hitam ketika tongkatnya patah menjadi tiga bagian terbabat pedang lawan. Belum lagi habis rasa kagetnya, ujung pedang lawan telah menyambar ke tenggorokan dan jantungnya, sehingga menimbulkan hawa panas yang seperti hendak menyedot darahnya. Jantung Dewa Racun Hitam berdetak lebih kencang.

Sementara gerakan-gerakan Pendekar Rajawali Sakti cepat bukan main. Bahkan meskipun Dewa Racun Hitam mampu melemparkan senjata rahasianya, namun semuanya rontok dibabat pedang itu, sebelum berhasil menyentuh kulit lawan. Sedangkan ujung pedang itu terus membayanginya, seperti tak mau lepas barang sekejap.

"Yeaaa...!"

Dalam keadaan putus asa begitu, Dewa Racun Hitam melepaskan pukulan mautnya yang dinamakan 'Kelabang Geni' ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Pukulan itu amat beracun, karena angin serangan saja mampu membuat orang tewas.

Namun pada saat itu Rangga cepat menggerakkan tangannya. Cepat telapak kiri Pendekar Rajawali Sakti mengusap batang pedang itu, kemudian dihentakkan ke depan. "Aji 'Cakra Buana Sukma'!"

Cahaya biru melesat dari telapak kiri Pendekar Rajawali Sakti menahan cahaya ungu yang dilepaskan Dewa Racun Hitam. Dan cahaya itu terus menderu kontan mengejar lawan, dan menelannya bulat-bulat.

"Aaakh!" Dewa Racun Hitam hanya menjerit pelan. Tubuhnya limbung sesaat, lalu ambruk ke tanah dalam keadaan gosong tak berbentuk. Masih terlihat bias-bias sinar biru yang menyelubunginya, sebelum akhirnya memudar.

"Dewa Racun Hitam tewas! Dewa Racun Hitam mati...'" teriak seseorang yang melihat pertarungan itu.

"Apa?!"

"Dewa Racun Hitam tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti!"

Mendengar berita itu, orang-orang tersentak kaget. Lebih-lebih, anak buah Dewa Racun Hitam. Sebaliknya, hal itu disambut gembira kawan-kawan Pendekar Rajawali Sakti.

Sebagian dari mereka menyerah, namun sebagian lagi dengan rasa penasaran mencoba bertahan. Termasuk, bocah-bocah berusia tujuh sampai delapan tahun yang berkepala botak dan memakai baju kebesaran.

"Maafkan aku, Kakang. Aku tak punya pilihan...," kata Pandan Wangi lesu ketika menewaskan dua orang bocah, dan telah berada dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau tak salah. Mereka adalah bonekanya Dewa Racun Hitam. Kalau kau tak membunuh mereka, maka merekalah yang akan membunuhmu.

Kepandaian bocah-bocah itu memang sangat luar biasa. Untunglah dalam pertempuran ini mereka terpecah-pecah. Sudahlah, tak usah dipikirkah lagi...."

"Rangga, apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang menyerah ini?" tanya Ki Tambak Gering, bingung.

"Ki Tambak bisa menilai sendiri. Apakah mereka yang tunduk terhadap Dewa Racun Hitam memang terpaksa atau kemauan sendiri. Kalau bagi mereka terpaksa, bisa diberi pengertian. Tapi bagi mereka yang secara sadar mengikuti jalan sesat Dewa Racun Hitam, patut mendapat hukuman. Soal itu bisa diserahkan pada pihak kerajaan," sahut Rangga.

Di ufuk timur matahari mulai menyemburkan cahaya fajar menerangi sebagian belahan bumi. Sementara, Pandan Wangi tampak masih melamun. Rangga bukannya tak tahu, apa yang dipikirkan gadis itu. Perasaan gadis itu sebenarnya halus, meski terkadang berangasan dan lekas naik darah.

"Sudahlah. Soal itu tak usah kau pikirkan lagi..."

"Sulit bagiku, Kakang. Mereka terlalu kecil sekali dan rasanya tanganku berlumur dosa dengan membunuh mereka...."

"Lalu bila kau terbunuh oleh mereka, apakah mereka juga akan menyesal?"

Pandan Wangi diam tak menjawab. Dan mereka kemudian segera bergabung dengan yang lain untuk meninggalkan tempat itu. Fajar terus berjalan, tanda kehidupan akan dimulai lagi Sementara, persoalan baru akan dihadapi lagi oleh kedua pendekar dari Karang Setra itu.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: TITISAN ANAK SETAN
Thanks for reading Dewa Racun Hitam I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »