Satria Gunung Kidul

Satria Gunung Kidul

Karya Kho Ping Hoo

JILID 01

RAJA wanita atau Ratu di Majapahit yang bernama Sri Gitarja atau Tribuwana Tungga Dewi, yang disebut juga Bhre Kahuripan (1328-1359), lebih dikenal dalam dongeng Minakjinggo Damarwulan sebagai Prabu Kenya (Raja Wanita) Diah Kencana Wungu.

Didalam dongeng sejarah itu diceritakan bahwa Prabu Kenya Diah Kencana Wungu ini menikah dengan Raden Damarwulan yang menurut catatan sejarah sebenarnya bernama Cakradara dengan gelar Kertawardana. Sepasang suami-isteri kerajaan yang terkenal ini mempunyai seorang putera yang diberi nama Hayam wuruk (Ayam Muda).

Hayam Wuruk inilah yang akhirnya menduduki tahta kerajaan sebagai Raja Majapahit dengan bergelar Prabu Rajasanegara (1350-1389). Selama tiga puluh sembilan tahun. Sang Prabu Hayam Wuruk amat bijak dan pandai mengendalikan pemerintahan dan pada jaman itu, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kebesaran dan kemakmurannya, menjadi Kerajaan yang terbesar dan terkuat dalam kepulauan Nusantara.

Bahkan dalam jaman ini pula nama Majapahit dikenal, disegani, dan dikagumi oleh negara-negara seberang lautan, termashur sampai ke tiongkok ,India, Campa, Kamboja, anam. Hubungannya dengan negara-negara asing ini baik sekali dan saling menghormat, karena Majapahit dianggap sebagai kerajaan dan negara besar diantara negara-negara lain di dunia.

Semua hasil gilang-gemilang ini bukan semata-mata berkat kebijaksanaan Prabu hayam Wuruk seorang, melainkan juga berkat jasa-jasa para panglima Senopati Majapahit. Terutama sekali berkat jasa warangka-dalem atau Patih Gajah Mada, seorang perwira yang terkenal karena sakti mandraguna, dan setia lahir-batin kepada kerajaan di mana ia mengabdikan dirinya.

Dalam sejarah, belum pernah terdapat seorang patih seperti Sang Perkasa Patih Gajah Mada ini yang membela Kerajaan Majapahit semenjak ibunda Prabu Hayam Wuruk, yakni Ratu Tribuwanatungga Dewi memegang kendali kerajaan. Patih Gajah Mada menjalankan tugasnya sebagai seorang patih yang setia selama tiga puluh tiga tahun (1331-1364). Dan pada jaman keemasan Majapahit itulah kisah dibawah ini terjadi.

********************

Raja yang memerintah di Kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan, adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata mempunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan Diah Pitaloka Citraresmi memang luar biasa dan agaknya sukar dicari keduanya di dunia ini!

Bahkan Dewi Komaratih sendiri, Dewi Asmara yang terkenal sebagai bidadari tercantik di surga, agaknya akan kagum melihat wajah dan bentuk tubuh Diah Pitaloka! Tiada cacat celanya, dari ujung rambut di kepalanya sampai ke tumit kakinya. Kalau emas, dia adalah emas murni yang belum tercampur sedikitpun dengan logam lain. Seumpama batu permata, dia adalah mutiara asli yang telah digosok oleh tangan seorang ahli.

Orang yang melihatnya, baik ia laki-laki maupun perempuan, akan terbelalak matanya dan ternganga mulutnya karena takjub dan kagum menyaksikan puteri nan cantik jelita, ayu dan manis ini...!

Pada suatu hari, datanglah utusan dari Kerajaan Majapahit. Ternyata bahwa berita tentang kecantikan Diah Pitaloka tidak saja menggoncangkan alam Pasundan, bahkan juga menjadi kemang-tutur orang-orang di Majapahit dan akhirnya menggerakkan rasa asmara di dalam dada Sang Prabu Hayam Wuruk. Maka diutuslah oleh Prabu Hayam Wuruk seorang tumenggung untuk menyampaikan pinangannya ke Kerajaan Pajajaran.

Pada jaman itu, tidak ada raja yang lebih besar dan termashur daripada Prabu Hayam Wuruk. Maka, sudah selayaknya kalau pinangan Raja Majapahit ini diterima dengan hati gembira dan puas oleh Raja Dewata. Prabu Hayam Wuruk terkenal cakap, gagah perwira, masih muda dan belum mempunyai permaisuri pula. Maka selain Raja Majapahit siapa pulakah orangnya yang lebih pantas mendapat kehormatan untuk mengulurkan tangan memetik bunga puspita dari Pajajaran itu?

Betapapun juga, Ratu Dewata sangat menyinta puterinya dan takkan puas hatinya kalau belum mendengar keputusan tentang pinangan Raja Majapahit itu dari mulut Diah Pitaloka sendiri. Ia ingin mendengar pendapat puterinya, maka dipanggilnyalah Diah Pitaloka serta diceritakan tentang datangnya utusan yang membawa pinangan dari Raja Majapahit, Sang Prabu Hayam Wuruk.

Kulit muka yang putih kekuning-kuningan dan halus bersih dari Diah Pitaloka segera menjadi merah bagaikan sekuntum mawar merah yang indah. Puteri itu menundukkan kepalanya dan dadanya turun naik menahan desakan napasnya. Setelah agak reda gelora yang ditimbulkan oleh berita yang disampaikan oleh ramandanya itu, dengan suaranya yang merdu dan halus dia menjawab sambil menyembah,

"Ramanda prabu, junjungan tunggal di mayapada ini bagi hamba. Pendapat dan pikiran apakah yang ramanda kehendaki daripada hamba? Segala pendapat dan pikiran yang selalu menguasai hati dan ingatan hamba hanya satu, yakni, taat, patuh, dan setia kepada segala titah ramanda, sebagaimana layaknya seorang anak terhadap orang tuanya!

Alangkah senangnya Ratu Dewata mendengar sembah puterinya ini. Ayah manakah takkan menaruh hati sayang dan kasih yang besar terhadap seorang anak yang tidak hanya kecantikannya membanggakan hati orang tua, akan tetapi terutama yang demikian berbakti?

"Syukurlah, anakku yang manis, Ramanda akan menerima pinangan ini oleh karena menurut pendapat dan pandanganku, Sang Prabu Hayam Wuruk adalah seorang raja yang berbudi bawa laksana, pandai mengatur pemerintahan, dan bijaksana pula. Kalau engkau menjadi permaisurinya, ayahmu akan merasa puas dan tenteram, oleh karena engkau pasti akan menemui kebahagiaan di Majapahit. Semoga dewata yang agung melindungimu, Pitaloka."

Maka dengan girang hati Ratu Dewata lalu menjamu utusan dari Majapahit itu. Kemudian ia memberi jawabannya dan mengabarkan kepada Prabu Hayam Wuruk bahwa selain pinangan itu diterima dan dianggap sebagai penghormatan besar sekali, Ratu Dewata sendiri berkenan mengantar puterinya ke Majapahit dengan membawa berita gembira itu, dan tak lupa membawa serta pula hadiah-hadiah untuk sang Prabu.

Ketika berita ini disampaikan kepada rakyat Pajajaran, maka bergembiralah semua orang Siapa orangnya yang takkan merasa gembira? Puteri kedaton Pajajaran menjadi permaisuri Majapahit! Tentu saja rakyat pun ikut merasa bahagia dan bangga. Berita ini disambut oleh rakyat dengan meriah, bahkan mereka yang terdiri dari golongan berada, lalu menyelenggarakan pesta untuk merayakan dan meriahkan pertunangan itu!

Seluruh Pajajaran berpesta-pora dan bergembira ria. Hanya ada dua orang yang tidak ikut bergembira. Pertama adalah Diah Pitaloka sendiri Dara jelita ini sungguhpun di lahir tunduk dan patuh kepada ramandanya dan ikut pula memperlihatkan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya, namun di sudut hatinya timbul keraguan dan kebimbangan yang membuatnya tidak berbahagia Ia telah mendengar akan kegagahan dan kecakapan Prabu Hayam Wuruk dan ia percaya bahwa kedudukannya akan terangkat tinggi dan akan mendapat kemuliaan besar di Majapahit.

Akan tetapi, selama hidupnya ia belum pernah bertemu dan melihat dengan mata sendiri keadaan Sang Prabu Hayam Wuruk. Kalau boleh dan kalau mungkin, ia akan merasa lebih senang jika dijodohkan dengan seorang pemuda di Pajajaran sendiri, seorang pemuda yang pernah dilihatnya dan yang kegagahan atau kecakapannya telah diketahuinya dari pandangan mata sendiri, bukan hanya diketahui karena mendengar berita angin seperti halnya Prabu Hayam Wuruk!

Akan tetapi, dia adalah seorang wanita sejati yang memegang teguh kesusilaan, apalagi sebagai seorang puteri raja, ia harus memberi teladan bagi kaum putri umumnya, yakni kepatuhan terhadap orang tua dengan jalan berkorban. Ia menganggap pertunangan ini sebagai pengurbanan dirinya demi kebahagiaan orang tua dan demi kepentingan negara!

Bukankah kalau dia menerima pinangan dan mentaati kehendak ayahnya, maka orang tuanya akan berbahagia? Dan bukankah kalau dia menjadi permaisuri Raja Majapahit yang besar dan kuat, maka kedudukan Pajajaran pun akan kuat pula?

Orang kedua yang pada saat itu merasa berduka adalah seorang pemuda rupawan yang tinggal seorang diri di dalam pondoknya. Pemuda ini adalah seorang panglima perang atau Senapati muda dari Kerajaan Pajajaran. Namanya sederhana sekali, yakni Sakri.Telah tiga tahun Sakri menjadi Senapati di Pajajaran.

Pemuda ini berasal dari Gunung Kidul, di sebuah dusun kecil dekat pantai Laut selatan. Ia adalah putera seorang panembahan atau wiku ahli tapa yang sakti dan suci. Tidak mengherankan bahwa Sakri mendapat gemblengan lahir dan batin oleh ayahnya dan mewarisi kesaktian yang hebat mengagumkan.

Setelah menjadi dewasa, ayahnya menyuruh ia merantau dan mencari pengalaman hidup, dan kalau bertemu dengan orang besar yang berjodoh, supaya bersuita (menghambakan diri). Dalam perantauannya, akhirnya Sakri tiba di Pajajaran dan ia memasuki gelanggang ujian yang diadakan oleh Ratu Dewata. Kesaktian dan kegagahannya mengagumkan dan menyenangkan hati Raja Pajajaran hingga ia diterima menjadi seorang Senapati muda.

Mengapa Sakri berduka mendengar bahwa Diah Pitaloka terikat jodoh dengan Raja Majapahit?

Mudah diduga, Dada pemuda ini telah ditembus panah asmara yang mengandung bisa maha ampuh dan luka di dada kirinya makin lama makin menghebat. Cintanya terhadap puteri itu makin mendalam dan berakar. Akan tetapi, ia hanya seorang Senapati muda yang baru menghambakan diri. Dia hanyalah seorang hamba dan kedudukannya hanya setinggi rumput di ladang.

Sedangkan Diah Pitaloka adalah seorang puteri raja yang menjadi junjungannya dan kedudukan puteri itu setinggi bintang di langit!Kini, mendengar tentang diterimanya pinangan Prabu Hayam Wuruk atas diri Diah Pitaloka, Sakri hanya dapat menyesali nasib.

Malam itu Sakri tak dapat tidur. Ia duduk di atas sebuah batu di belakang pondoknya sambil berpangku tangan dan memandang ke arah bintang-bintang yang bertaburan di angkasa bebas. Berkali-kali ia menghela napas, tanda dari kehancuran kalbunya,

"Habislah harapanku, rusak binasalah cita-citaku. Duhai bintang selaksa, tolonglah aku. Hidupku kosong, tiada pegangan lagi. Apa artinya hidupku tanpa dia??"

Berulangkali ia menghela napas dan wajahnya yang tampan menjadi sepucat bintang yang teraling mega. Kemudian ia teringat akan kampung halaman. Sudah menjadi kelaziman orang bahwa dalam saat duka selalu ia akan teringat akan kampung halamannya. Ia teringat akan ayahnya, dan teringat pula akan adiknya yang bernama Saritama. Kedua orang ini adalah orang-orang yang terkasih dalam hidupnya, yakni sebelum ia bertemu dengan Diah Pitaloka.

Setelah seluruh hati dan nyawanya tercengkeram oleh kecantikan puteri itu, jarang sekali ia teringat kepada ayah dan adiknya. Tapi kini, tiba-tiba terbayanglah wajah kedua orang itu di ruang matanya dan ia menjadi rindu sekali kepada mereka. Kenangan ini mengingatkan ia kembali kepada segala petuah dan pelajaran ayahnya yang bijaksana. Dan timbulah sesal dan kecewa dalam hatiya.

Menyesal dan kecewa kepada diri sendiri. Bukankah dulu ayahnya pernah menyatakan bahwa cinta suci itu tak dikotori oleh segala kehendak dan pamrih untuk kesenangan diri sendiri? Bukankah segala perbuatan kebajikan itu baru dapat disebut sempurna apabila tidak dinodai oleh nafsu ingin menyenangkan diri sendiri?

Diah Pitaloka telah dijodohkan dengan seorang Raja Besar dan akan menjadi seorang permaisuri yang tinggi dan mulia kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia daripada kedudukannya sekarang sebagai puteri Pajajaran. Bukankah hal ini berarti bahagia bagi Diah Pitaloka? Mengapa ia harus menyesal dan berduka?

Kalau ia memang benar-benar menyintai puteri itu, sudah seharusnya apabila ia ikut bersyukur melihat orang yang dikasihinya itu menjumpai kemuliaan dan mengecap kebahagiaan. Ah, alangkah sesatnya jalan pikiran dan gelora perasaannya tadi. Hampir saja ia dibutakan oleh nafsu mudanya. Sakri menghela napas lagi, akan tetapi kini penuh kesadaran. Ia harus menerima nasib, Ia harus berani menerima sakit hati dan berani berkurban demi cintanya kepada Diah Pitaloka.

Pikiran ini melapangkan dadanya dan ia lalu bangun dari duduknya, dan masuk ke dalam pondoknya. Terdengar ayam jantan berkeruyuk tanda bahwa fajar telah mendatang. Tanpa terasa olehnya, ia telah duduk melamun semalam suntuk di belakang rumahnya!

********************

Cersil karya Kho Ping Satria Gunung Kidul

Oleh karena perjalanan dari Kerajaan Pajajaran ke Kerajaan Majapahit bukanlah perjalanan yang dekat dan mudah, maka Ratu Dewata memberi perintah agar semua Senapati dan panglima ikut mengiringkan kepergiannya mengantar Diah Pitaloka ke Majapahit. Hanya beberapa orang panglima tua saja yang ditinggal di kerajaan untuk menjaga kerajaan. Sakri juga tidak ketinggalan dan diharuskan mengiringkan rombongan itu. Rombongan keluarga agung ini berangkat dengan diantar oleh seluruh rakyat sampai di luarkota raja.

Di sepanjang jalan, rakyat di dusun-dusun yang sudah mendengar akan rombongan ini, sudah menanti di pinggir jalan untuk menyambut dan menghormat junjungan mereka dan mengagumi kecantiakan Diah Pitaloka yang naik dalam sebuah tandu. Sakri menunggang kudanya yang hitam dan besar. Kuda ini adalah hadiah dari Ratu Dewata dan karena berbulu hitam mulus, maka ia memberi nama Gagak Tantra.

Pemuda ini nampak gagah sekali hingga beberapa kali sang puteri yang tanpa disengaja menjenguk dari jendela tandu yang tertutup tirai sutera biru, melihat dia dengan pandangan mata kagum. Puteri ini merasa bangga sekali akan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria Pajajaran. Sambil duduk kembali dan menyandarkan tubuhnya di dalam tandu, ia menghela napas dan tersenyum. Di dunia ini tidak ada ksatria-ksatria yang hebat dan gagah seperti ksatria-ksatria Pajajaran, pikirnya.

Rombongan bergerak maju dengan cepat pada siang hari sedangkan pada malam hari rombongan itu bermalam di sebuah dusun yang dilalui. Kadang-kadang mereka harus bermalam di sebuah hutan, akan tetapi oleh karena rombongan itu telah membawa perbekalan lengkap, maka biarpun bermalan di dalam hutan, mereka dapat membangun sebuah tempat darurat untuk tempat bermalam Sang Prabu dan puterinya.

Pada hari ketujuh, mereka tiba di perbatasan Majapahit yang mempunyai daerah luas sekali. Oleh karena kemalaman di sebuah hutan yang liar dan luas, terpaksa rombongan itu membangun seuah pondok darurat untuk Ratu Dewata dan Diah Pitaloka tanpa ada prasangka akan adanya malapetaka yang mengancam keselamatan mereka.

Di dalam hutan yang liar itu tinggal serombongan begal yang ganas. Kepala begal itu bernama Jatimurka, seorang berusia tiga puluh tahun lebih yang bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan. Ia sangat digdaya dan memiliki ilmu weduk hingga tubuhnya tidak mempan tapak paluning pande (tak dapat dilukai oleh senjata tajam)

Disamping kehebatan dan kekebalan ini, dia juga telah mempelajari pelbagai ilmu hitam, yakni ilmu sihir yang dipelajarinya dari seorang dukun pemuja setan di hutan roban. Jatimurka memimpin empat puluh orang lebih anggota perampok rata-rata memiliki ketangkasan dan kepandaian berkelahi. Oleh karena ini, mereka ini ditakuti sekali dan jarang ada orang di sekitar hutan itu berani memasuki hutan.

Jatimurka telah mendengar akan kedatangan rombongan Ratu Dewata dan puterinya yang terkenal cantik jelita. Maka diam-diam ia sendiri bersembunyi di balik rumpun alang-alang dan mengintai. Ketika ia melihat wajah Diah Pitaloka, ia menjadi tergila-gila dan biarpun hatinya gentar juga melihat para Bayangkari (pengawal raja) dan panglima, namun ia telah mengambil keputusan tetap untuk menculik sang puteri...!

Malam itu gelap-gulita. Suasana di luar lingkungan yang dibuat oleh barisan penjaga, sangat menyeramkan. Pohon-pohon hutan berubah bagaikan raksasa-raksasa siluman yang tinggi besar dan bergerak-gerak. Suara burung-burung malam terdengar seakan-akan sekalian isi neraka pada keluar dan datang di hutan itu menambahkan seramnya keadaan.

Berkat ketinggian ilmu batinnya, Sakri menjadi tidak enak hati dan merasa seakan-akan ada bahaya mendatangi. Tentu saja ia tidak dapat memberitahukan kepada orang lain maka diam-diam ia mengadakan pemeriksaan dan berkeliling memeriksa para penjaga yang ditugaskan menjaga di setiap penjuru. Telah tiga kali ia berkeliling, akan tetapi keadaan aman hingga dadanya menjadi agak lapang. Pondok tempat Raja dan Puteri beristirahat telah sunyi, tanda bahwa penghuninya sudah tidur pulas.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba Sakri merasa betapa kantuk menyerangnya dengan hebat sekali. Hampir saja ia tak dapat bertahan lagi dan ia lalu duduk menyandarkan tubuhnya yang letih ke batang pohon jati. Pelupuk matanya bagaikan melekat dan sukar sekali dibuka. Tiba-tiba ia ingat akan perasaan tadi dan dengan sekuat tenaga batinnya ia melawan rasa kantuknya.

Ia lalu berjalan ke arah penjaga dan alangkah marahnya melihat betapa tiga orang penjaga itu telah tidur saling tindih di atas tanah, mendengkur dengan enaknya! Ia pegang pundak mereka dan diguncang-guncangkannya. Akan tetapi, tubuh penjaga yang tertidur itu bagaikan mayat yang tak mungkin terbangun pula!

Sakri merasa gemas dan menghampiri penjaga-penjaga di sudut lain. Sama saja!Penjaga-penjaga di sinipun telah tidur mengorok! Dan tak mungkin dibangunkan lagi, biarpun ia telah mengguncang dan menamparnya! Sakri berlari ke dalam dan memeriksa para panglima dan Bayangkari. Juga mereka semua telah tidur pulas!

Sakri terkejut dan maklum. Ini adalah ilmu sirep (ilmu sihir untuk menidurkan orang) yang jahat dan mukjijat! Hidungnya mencium bau kemenyan dibakar dan kembang cempaka. Celaka! Tentu ada orang jahat menjalankan sihirnya hingga semua orang kena hikmat sihir itu dan pulas. Kembali rasa kantuk menyerangnya. Akan tetapi, Sakri tidak percuma menjadi putera Panembahan Sidik Panunggal yang sakti mandraguna di Gunung Kidul...!

Ia lalu duduk menyandarkan diri di batang pohon jati, dan berpura-pura tidur pula, akan tetapi ia kerahkan tenaganya dan membaca mantera untuk menolak pengaruh jahat itu. Matanya dibuka lebar-lebar memandang dengan penuh perhatian. Dugaannya memang benar. Jatimurka telah memperlihatkan kepandaiannya, ia mempergunakan ilmu sihir Cempaka-nendra yang berhasil mempengaruhi seluruh anggota rombongan, kecuali Sakri. Tak lama kemudian, Sakri melihat bayangan hitam tinggi besar berkelebat melompati tubuh para penjaga.

Bayangan hitam itu berhenti sejenak, memandang ke kanan kiri seperti lakunya seorang maling, lalu bergerak maju perlahan ke arah pondok di mana Ratu Dewata dan Diah Pitaloka bermalam. Hati Sakri bergetar. Apakah kehendak maling digdaya ini? Ia merasa heran dan ingin melihat selanjutnya. Ia tidak segera menyerbu, akan tetapi diam-diam mengintai dan berjaga-jaga dengan pisau belatinya yang siap di tangan bilamana keadaan memerlukan.

Bayangan hitam itu membuka pintu pondok dan Sakri mengintai dari balik daun pintu dengan perhatian. Oleh karena ia melihat bahwa bayangan itu tidak memegang senjata tajam, maka ia menduga bahwa bayangan itu tentu hanya bermaksud mencuri barang berharga. Akan tetapi, alangkah herannya ketika melihat bayangan hitam itu tidak menghampiri peti tempat perhiasan Diah Pitaloka, akan tetapi langsung menuju ke pembaringan sang puteri yang tertutup tirai sutera putih.

Tangan Sakri menggigil. Ia tidak berani bertindak di dalam kamar Sang puteri, khawatir kalau-kalau mengagetkan dara itu. Akan tetapi, keraguannya ini memberi kesempatan kepada Jatimurka untuk cepat membuka tirai pembaringan dan secepat kilat ia menubruk, Puteri juwita itu telah berada dalam pondongannya dan Jatimurka melompat keluar!

Bukan main marahnya Sakri ketika melihat bahwa kedatangan penjahat itu tidak lain ialah hendak menculik Diah Pitaloka. Ia melompat keluar dari tempat mengintainya dan membentak,

"Keparat jahanam, lepaskan tanganmu yang kotor dari Sang Puteri!

Jatimurka terkejut sekali oleh karena ia tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang tidak terpengaruh oleh aji sirepnya. Karena kagetnya, ia melepaskan tubuh Diah Pitaloka hingga tubuh dara itu terbanting ke atas tanah. Akan tetapi, puteri itu tidak terjaga dari tidur seakan-akan tak merasa sama sekali, bahkan ia terus tidur pula dengan enaknya!

"Heh, pemuda keparat. Siapa kau yang berani-berani menghalangi tindakan Jatimurka?"

Sakri tersenyum, biarpun hatinya panas sekali. "Bangsat rendah! Kau berani-berani menjatuhkan sihir dan mencoba menculik Sekar Kedaton Pajajaran! Tak tahukah kau bahwa di Pajajaran masih ada seorang panglima yang bernama Sakri dan yang sama sekali tidak takut segala ilmu iblis yang kau keluarkan? Menyerahlah, karena kalau tidak, malam ini tentu akan tewas dalam tangan Sakri!"

"Ha, ha, ha, ha!" Suara ketawa Jatimurka terdengar menyeramkan sekali dan menggema di seluruh penjuru hutan. Jangkerik-jangkerik dan segala bunyi-bunyian binatang hutan serentak diam karena ketakutan mendengar suara ketawa seperti ketawa iblis ini.

"Sakri! Kau anak muda yang masih berbau pupuk di embun-embun kepalamu! Berani menentang Jatimurka?"

"Jatimurka, manusia iblis! Ingatlah betapapun saktinya kau, akan tetapi kalau tindakanmu sesat, pasti kau akan binasa!"

"Bangsat jahanam!" Jatimurka menepuk kedua tangannya dan dari segenap penjuru berlompatan keluar semua anak buahnya yang berjumlah empat puluh orang lebih! Mereka ini dengan sikap menakutkan menghampiri dan mengurung Sakri...!

Tempat itu diterangi oleh sinar obor yang banyak dipasang di sekitar tempat itu hingga Sakri dapat melihat wajah mereka yang bengis dan kejam. Maklumlah ia bahwa ia terkurung oleh segerombolan perampok kejam dan ganas. Ia berpikir cepat, dan mengambil keputusan untuk mendahului. Sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menyerang maju dan tiga orang begal kena hantam oleh kedua tangan dan sebelah kakinya hingga mereka itu jatuh terguling-guling dan berteriak kesakitan.

Pukulan Sakri bukan main kerasnya hingga untuk beberapa lama, begal-begal yang telah kena pukul ini takkan dapat bangun lagi. Sambil berseru marah para begal lalu maju mengeroyoknya dengan parang dan tombak di tangan. Sakri marah sekali, lalu menghunus keluar keris dan sekali tangan kirinya bergerak, ia telah dapat menangkap seorang anggota begal. Ia lalu mengangkat tubuh lawan ini dan dijadikan perisai!

Dengan perisai istimewa ini di tangan kiri dan keris pusakanya di tangan kanan, Sakri lalu mengamuk. Sepak terjangnya laksana seekor banteng terluka hingga ke mana saja tubuhnya bergerak, tentu terdengar teriakan keras seorang lawan yang roboh mandi darah. Tubuh perisai hidup di tangan kiri Sakri telah lama mampus karena senjata-senjata kawan sendiri yang datang bagaikan hujan dalam penyerangan mereka kepada Sakri, akan tetapi senjata itu semua diterima dengan perisai istimewa itu!

Ketika merasa, betapa perisai hidup itu membasahi tangan dan lengannya, Sakri lalu melemparkan mayat itu ke arah pengeroyoknya. Tiba-tiba ia melihat betapa diam-diam Jatimurka mempergunakan kesempatan itu untuk menyaut tubuh Diah Pitaloka lagi dan hendak melarikan gadis itu. Sakri berseru keras dan tubuhnya melayang ke arah kepala begal itu. Karena tidak ingin melukai Diah Pitaloka, Sakri masukkan kerisnya di sarung keris, dan menggunakan kedua tangannya. Tangan kiri ia gunakan untuk memegang dan memeluk pinggang Sang Puteri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengirim Pukulan Geledek yang mampir dengan hebatnya di kepala Jatimurka!

"Aduh...!!!" Jatimurka memekik kesakitan dan tubuh Sang Puteri dapat terampas. Sakri lalu melompat ke pinggir dan dengan hati-hati meletakkan tubuh Diah Pitaloka ke atas rumput. Pada saat itu, Jatimurka yang bertubuh kebal telah bangun kembali dan melompati Sakri dengan keris terhunus dari belakang! Juga para begal lainnya lalu maju mengeroyok!

Sakri memutar otaknya. Kalau ia melayani semua orang ini tentu Jatimurka akan mendapat kesempatan menculik Sang Puteri, maka ia menggeram bagaikan suara seekor harimau hingga para anak buah begal itu tergetar dan menahan serbuan mereka. Saat ini digunakan oleh Sakri untuk menubruk maju kepada Jatimurka dan ketika kepala begal itu menusuk dengan keris, Sakri memiringkan tubuh, menggunakan tangan kiri menolak pergelangan tangan lawan dan secepat kilat tangan kanannya mengirim pukulannya yang disertai Aji Kelabang Kencana!

Bukan main hebatnya pukulan yang mempunyai kemujijatan bagaikan mengandung racun ribuan kelabang menyengat ini! Seketika itu juga, tubuh Jatimurka bergulingan di atas tanah, mengaduh-aduh, menjerit-jerit, memekik-mekik kesakitan kemudian diam tak bergerak. Tubuhnya telah bengkak-bengkak dan matang biru dan nyawanya telah melayang!

Melihat kehebatan pemuda ini, sisa kawanan begal itu lainnya melempar senjata mereka lari tunggang langgang di dalam gelap! Sakri mengatur napas untuk memulihkan kekuatannya. Kemudian ia menghampiri tubuh Sang Puteri yang masih rebah tak sadarkan diri di atas tanah. Dengan penerangan obor, wajah puteri itu nampak cantik-jelita mendebarkan jantung Sakri.

Pada saat itu, Sang Puteri tersenyum dalam tidurnya, seakan-akan sedang bermimpi bertemu dengan calon suaminya, Raja Majapahit! Sakri mengurungkan niatnya hendak memondong tubuh Diah Pitaloka dan membawanya kembali ke peraduan. Ia lalu mengerahkan tenaga batinnya, membaca mantera dan menggunakan tangan kanannya menguap muka gadis itu tiga kali sambil berkata perlahan.

"Sang Puteri, sadar dan bangunlah!"

Diah Pitaloka bagaikan disiram air dingin. Serentak ia bangun duduk dan terbelalak memandang kepada pemuda yang duduk bersila di depannya. Ketika melihat bahwa iapun sedang duduk di atas rumput, kedua matanya bernyala seakan-akan mengeluarkan api dan kedua mata itu ditujukan ke arah wajah Sakri bagaikan hendak menembus wajah itu.Sakri cepat menyembah.

"Duhai Gusti pujaan hamba, janganlah Paduka melepas pandang seganas itu kepada hamba."

"Kau... Senapati Sakri... apakah yang telah kau perbuat? Bagaimana aku bisa berada di tempat ini bersama... kau... ?"

"Ampunkan hamba, Gusti. Hamba persilakan Paduka melihat ke sebelah sana."

Sambil berkata demikian, Sakri menggunakan ibu jari tangannya menunjuk ke belakangnya. Sang Puteri mengikuti arah ini dengan pandang matanya dan tiba-tiba ia menjadi pucat dan otomatis tangan kanannya diangkat naik menutupi mulutnya! Ia melihat beberapa tubuh yang tinggi besar dan mengerikan bergelimpangan di situ dan ketika melihat muka dan tubuh Jatimurka yang bengkak-bengkak mengerikan, hampir saja ia menjerit dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya!

"Sakri... apa... apakah yang telah terjadi dan mengapa orang-orang kita tidak ada yang muncul?"

Dengan sabar dan tenang, tetapi dengan suara agak gemetar oleh karena selamanya tak pernah ia bermimpi akan dapat bercengkerama berdua di atas rumput dan berhadapan dengan Diah Pitaloka, Sakri lalu menuturkan segala peristiwa yang telah terjadi.

"Aduh Dewata yang agung!" Diah Pitaloka menyebut nama dewata. "Keparat, laknat betul si Jatimurka! Berani bedebah itu mengotori tubuhku dengan tangannya! Binasakan dia, Sakri!"

Sakri menahan senyumnya melihat perubahan pada diri dara jelita ini. Tadinya ia merasa demikian takut dan ngeri, tapi sekarang begitu bersemangat dan berani!

"Dia sudah hamba binasakan, Gusti."

Kini Diah Pitaloka berdiri dan ia pandang wajah pemuda tampan dan gagah yang dengan berani memandangnya dari bawah. "Sakri kau memang gagah perkasa. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada kau!" Suaranya terdengar mengandung keharuan besar dan bahkan disertai isak.

Sakri lupa diri dan serentak ia bangun berdiri pula. Ditentangnya pandang mata dara itu dengan sinar mata yang mengandung api asmara sepenuh hatinya, hingga Diah Pitaloka menjadi takut dan malu lalu menundukkan muka.

"Mengapa pula kau memandangku seperti itu, Sakri?" tanyanya lembut.

Sakri sadar kembali dan menghela napas. "Ampun beribu ampun, Gusti pujaan hamba. Hamba hampir lupa bahwa Paduka adalah junjungan hamba, bahwa hamba hanyalah seorang Senapati rendah, dan bahwa Paduka adalah calon permaisuri Majapahit yang mulia!" Kembali Sakri menghela napas.

Untuk beberapa lama Diah Pitaloka tak dapat menjawab atau mengeluarkan kata-kata. Ia hanya memandang kepada Sakri yang bertunduk dengan mata basah oleh air mata yang di tahan-tahannya.

"Sakri,... Sakri, jangan kau berkata demikian kepadaku, pahlawan yang gagah perkasa! Hanya sampai sekiankah baktimu terhadap Pajajaran?"

Walau kata-kata ini diucapkan dengan suara bisikan tercampur sedu-sedan, namun pengaruhnya menikam jantung pemuda itu, membuatnya merasa rendah dan hina dan ia merasa malu sekali. Akan tetapi berbareng semangatnya bangkit kembali. Ia lalu menyembah dan berlutut, mengangkat dadanya dan berkata dengan suara gagah,

"Gusti yang hamba muliakan, hamba adalah Senapati dan panglima Pajajaran sejati. Untuk Paduka, hamba rela mengorbankan nyawa dan tubuh yang tak berharga ini! Mulai saat ini, hasrat hamba hanya tunggal, yakin mengharap kebahagiaan Paduka dan membela Paduka sampai hayat meninggalkan badan!"

Diah Pitaloka sangat terharu. Ia mengulurkan tangan kepada Sakri. Pemuda itu menerima jari-jari yang halus dan mungil itu sambil memandang ke atas dengan mata penuh pertanyaan. Melihat bahwa puteri itu memandangnya dengan mata basah dan bibir tersenyum, ia maklum bahwa ia dapat perkenaan, maka ditariknyalah jari-jari itu ke hidung dan mulutnya dan diciumnya dengan penuh khidmat, hormat dan sepenuh perasaan kasihnya.

Diah Pitaloka mengulurkan tangan karena hatinya tergerak oleh rasa haru dan kagum, akan tetapi kasih sayang yang memancar keluar dari hati sanubari Sakri dan yang menjalar ke bibirnya, oleh Sang Puteri dirasakan bagaikan api membakar ujung jarinya. Dengan gerakan perlahan dan lemah lembut Diah Pitaloka menarik kembali tangan itu dan berkata,

"Sakri, kuharap kau suka melindungi namaku dari cemar dan malu. Janganlah kau ceritakan kepada siapa juga akan usaha buruk Jatimurka yang hendak menculikku."

"Hamba junjung tinggi perintah Paduka dan hamba bersumpah takkan membocorkan peristiwa yang menimpa Paduka malam hari ini. Ancaman maut sekalipun takkan kuasa membuka mulut hamba!"

Setelah melempar senyum manis yang mengandung penuh rasa terima kasih ke arah Sakri, Diah Pitaloka lalu kembali dalam biliknya. Serasa dalam mimpi segala peristiwa malam itu bagi Sakri. Dadanya masih bergelombang dan pikirannya nanar karena pertemuan dengan dewi pujaan hatinya yang tak tersangka-sangka itu. Ia merasa berbahagia sekali karena sudah mendapat anugerah dewata dan diberi kesempatan membela Diah Pitaloka.

Kini hidupnya tidak kosong seperti yang dideritanya dalam beberapa hari semenjak puteri itu ditunangkan dengan Raja Majapahit. Kini ia memiliki pegangan hidup kembali, yakni bahwa seluruh jiwa-raganya akan ia persembahkan demi kebahagiaan dan keselamatan dewi yang dicintainya itu. Untuk beberapa lama Sakri tidak bergerak dari tempat duduknya semula. Ia tetap duduk bersila di atas rumput dan tak bergerak bagaikan patung.

Akhirnya, setelah gelombang di dalam dadanya mereda, ia bangun berdiri lalu mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengusir pengaruh sirep Cempaka-nendra yang masih meracuni udara di sekitar tempat itu. Maka sadarlah semua penjaga yang tadinya tertidur. Mereka menggosok-gosok mata dengan terkejut dan heran. Alangkah kaget mereka ketika melihat banyak mayat bergelimpangan di situ. Juga para panglima segera berlari keluar. Keadaan menjadi ribut.

Sebenarnya, diantara semua Senapati dan panglima, banyak yang pandai dan sakti, seperti misalnya Patih Anepaken, Demang Cabo, Penghulu Borang, Patih Pitar dan lain-lain. Akan tetapi mereka ini tadinya sama sekali tak pernah menduga akan datangnya bahaya hingga tidak sampai berjaga diri. Kalau saja mereka tahu akan datangnya bahaya yang mengancam, tentu mereka kuasa menolak sirep yang dilepas oleh Jatimurka.

Sakri lalu dihujani pertanyaan dan dengan terus terang Sakri menceritakan bahwa gerombolan begal itu melepas sirep yang ampuh dan datang bermaksud merampok. Untung ia dapat membunuh kepala begal dan beberapa orang kaki tangannya, hingga yang lain-lain lalu melarikan diri.

Ratu Dewata yang juga terjaga dari tidurnya mendengar ribut-ribut, ketika mendengar akan kegagahan Sakri, merasa berterima kasih sekali dan memuji-muji ketangkasan pemuda itu. Tak lupa raja ini menegur sekalian Senapati dan Bayangkari oleh karena kelalaian mereka, hingga kalau tidak ada Sakri yang waspada dan hati-hati, tentu begal-begal itu telah berhasil mencuri barang-barang berharga!

Pada keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan cepat. Berkat penjagaan para pengawal yang semenjak terjadinya peristiwa itu kini berlaku sangat tertib dan hati-hati, perjalanan rombongan itu selamat tidak terhalang sesuatu. Beberapa hari kemudian, rombongan Ratu Dewata telah tiba di Bubat, sebuah lapangan yang luas di sebelah utara ibu kota Majapahit.

Di tempat ini Sang Prabu memerintahkan supaya romebongan memasang kemah dan mereka berhenti di situ. Pak Lurah Bubat menerima kedatangan tamu-tamu agung ini dengan gugup dan gembira dan menyediakan apa yang ada sekuasanya untuk menjamu Raja calon mertua junjungannya yang terhormat itu. Kemudian, tergopoh-gopoh Lurah Bubat pergi menghadap ke Majapahit untuk mengabarkan perihal kedatangan rombongan Raja Pajajaran yang mengantarkan puterinya ke Majapahit.

Ratu Dewata dan sekalian pengiringnya menunggu di Bubat dengan sabar sambil beristirahat setelah melakukan perjalanan yang jauh dan penuh bahaya itu.Keputusan Sang Prabu Hayam Wuruk untuk mengangkat puteri sekar kedaton Pajajaran sebagai permaisuri disambut dengan gembira oleh rakyat Majapahit, oleh karena rakyat Majapahit sendiri sudah lama mendengar akan kecantikan puteri dan kepandaian puteri itu.

Akan tetapi, ada dua orang pembesar di Majapahit yang tidak puas dan tidak setuju akan keputusan Sang Prabu ini. Mereka adalah Wijayarajasa, Raja di Wengker dan Sang Patih Gajah Mada sendiri!

Wijayarajasa adalah suami Diah Wiat yang menjadi adinda Tribuwanatungga Dewi atau bibi dari Prabu Hayam Wuruk sendiri. Wijayarajasa tidak senang mendengar keputusan Sang Prabu untuk mengangkat seorang puteri Pajajaran sebagai permaisuri, oleh karena sudah lama ia ingin melihat puterinya yang juga cantik juita bernama Susumnadewi, yakni puteri dari seorang selirnya yang terkasih, untuk menjadi permaisuri di Majapahit!

Adapun Patih Gajah Mada tidak puas akan putusan Prabu Hayam Wuruk bukan karena mempunyai sesuatu niat demi kepentingan sendiri sebagaimana halnya Wijayarajasa, namun semata-mata karena terdorong oleh rasa baktinya terhadap Sang Prabu dan Kerajaan Majapahit.

Menurut pendapat Patih Gajah Mada seyogianya Sang Prabu mengangkat seorang puteri Jawa pula sebagai permaisuri, oleh karena selain terdapat perbedaan adat-istiadat dengan puteri Pajajaran, juga hal ini akan menimbulkan rasa iri hati di kalangan raja-raja kecil.

Kalau Sang Prabu mengambil puteri Pajajaran sebagai permaisuri muda atau selir, kiranya Patih Gajah Mada akan dapat menyetujuinya, namun sesungguhnya, sikap menentang keputusan Sang Prabu, yang terkandung dalam hati Patih Gajah Mada, tidak sehebat rasa penasaran Wijayarajasa.

Diam-diam Wijayarajasa mencari akal untuk menghalangi pernikahan agung ini. Ketika mendapat kabar bahwa Lurah Bubat berangkat ke kota raja, ia mencegatnya di jalan. Ketika bertemu dengan Raja Wengker yang menjadi paman dari Sang Prabu Hayam Wuruk Lurah Bubat segera berlutut menyembah.

"Pak Lurah Bubat kiranya yang berjalan tergesa-gesa ini! Ada keperluan apa maka kau nampak demikian gugup?" tanya Wijayarajasa.

"Hamba hendak pergi menghadap Sang Prabu di kota raja untuk mewartakan tentang kedatangan rombongan Gusti Prabu dari Pajajaran," jawabnya.

"O..., jadi Raja Pajajaran yang hendak mempersembahkan puterinya itu telah tiba?" kata Wijayarajasa dengan tersenyum mengejek, kemudian sambungnya. "Ah, Ki Lurah, dengan maksud apa engkau hendak menyampaikan berita kedatangan mereka kehadapan Gusti Prabu Hayam Wuruk?"

Pak Lurah Bubat memandang heran. "Bukankah itu sudah seharusnya dan menjadi kewajiban hamba, Gusti? Hamba mewartakan ke kota raja, agar rombongan dari Pajajaran itu disambut, karena mereka kini sedang menanti di Bubat."

"Dengar, Ki Lurah, kau harus menurut perintahku. Dan awas, kalau kau tidak mentaati perintahku ini, kau dan seluruh keluargamu akan kutumpas!"

Menggigillah seluruh tubuh Ki Lurah Bubat mendengar ancaman yang diucapkan secara tiba-tiba ini. "Apa... apakah maksud Paduka Gusti?"

"Kau perlambat perjalananmu, hingga besok baru boleh menghadap Sang Prabu, dan apabila kau telah menghadap, beritahukanlah bahwa kau diutus oleh Raja Pajajaran yang menuntut supaya Sang Prabu Hayam Wuruk sendiri datang menyambut kedatangannya di Bubat!"

Lapanglah dada Ki Lurah Bubat. Tadinya ia menyangka bahwa apa yang akan diperintahkan itu adalah sesuatu yang hebat. Tetapi kiranya hanya demikian saja kehendak Raja Wengker ini. Dan bukankah sudah seharusnya kalau calon mantu menyambut calon mertuanya?

"Baiklah, Gusti. Hamba akan mentaati perintah Paduka," jawabnya.

"Nah, aku berangkat lebih dulu, Ki Lurah. Ingat besok pagi kau boleh datang menghadap ke keraton."

Setelah memberi pesan itu, Wijayarajasa lalu memacu kudanya menuju ke kota raja dan langsung menemui Patih Gajah Mada. Setelah saling memberi salam, Wijayarajasa lalu memberitahukan bahwa rombongan Raja Pajajaran telah tiba di Bubat dan bahwa menurut berita angin yang ia dengar, Ratu Dewata dari Pajajaran itu tidak mau melanjutkan perjalanan dan akan menanti sampai datang rombongan penyambut dari Majapahit.

Patih Gajah Mada menjawab bahwa hal itu sudah semestinya dan bahwa ia sendiri bersedia mengadakan sambutan di Bubat apabila diperintah oleh Sang Prabu Hayam Wuruk. Dengan cerdik dan tidak kentara, malam hari itu Wijayarajasa membayangkan kepada Patih Gajah Mada bahwa Ratu Dewata adalah seorang raja yang sombong, angkuh dan merasa lebih tinggi kedudukannya daripada Prabu Hayam Wuruk sendiri.

Gajah Mada adalah seorang perwira gagah perkasa yang beradat jujur dan keras hati. Menghadapi siasat kelemasan lidah Wijayarajasa yang pandai bertukar-kata, akhirnya ada juga sedikit pengaruh obrolannya yang membuat hati Gajah Mada merasa kurang senang kepada Raja Pajajaran itu. Wijayarajasa girang sekali bahwa ia telah berhasil menanam bibit kebencian dalam dada patih yang berpengaruh ini.

Pada keesokan harinya, barulah Ki Lurah Bubat berani menghadap Sang Prabu Hayam Wuruk yang sedang bersiniwaka dihadap oleh semua pembesar dan panglimanya. Setelah menyembah dengan khidmad, Ki Lurah Bubat berkata,

"Ampunkan hamba yang telah berlaku lancang dan berani menghadap tanpa dipanggil, Gusti. Hamba menyampaikan berita bahwa rombongan dari Pajajaran telah tiba di Bubat dan kini memasang pesanggrahan disana. Sang Nata Ratu Dewata dari Pajajaran berkenan mengutus hamba untuk menyampaikan berita ini kepada Paduka Gusti, dan... dan... Sang Nata dari Pajajaran minta agar supaya Paduka sudi menyambut dan menjemput rombongan mereka di Bubat!" Ki Lurah Bubat teringat akan ancaman Wijayarajasa yang pada saat itu juga hadir di situ.

Berserilah wajah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar berita baik ini. Sang Prabu merasa gembira sekali karena hendak bertemu dengan puteri juita yang telah lama dirindukannya

"Baiklah, baiklah..." ujarnya. "Paman Patih Gajah Mada, segera siapkanlah semua pengiring. Aku hendak berangkat memapak mereka sekarang juga di Bubat!"

Akan tetapi, pada saat itu bibit racun yang semalam ditanam oleh Wijayarajasa di dalam hati Gajah Mada, telah mulai bersemi. Mendengar bahwa Raja Pajajaran itu minta agar supaya Sang Prabu Hayam Wuruk sendiri menyambut dan menjemput di Bubat, Patih Gajah Mada merasa marah sekali. Alangkah sombongnya Raja Pajajaran, pikirnya! Maka ia menyembah dan berkata,

"Ampunkanlah hamba berani menyampaikan kata hati hamba kepada Paduka, Gusti. Bukan semata-mata hamba hendak membantah perintah dan kehendak Paduka, akan tetapi yang hendak hamba haturkan ini adalah sekadar usul untuk menjadi bahan pertimbangan Paduka dan syukurlah apabila Paduka dapat menyetujui usul hamba ini. Menurut pendapat hamba, kurang sempurna dan bukan selayaknyalah apabila Paduka sendiri pergi melakukan penyambutan ke Bubat. Demikianlah sebabnya. Kedudukan Raja di Pajajaran tidak lebih tinggi daripada kedudukan para Raja lain yang telah takluk dan mengakui kedudukan Paduka sebagai Maharaja, hingga kedudukan Paduka lebih tinggi daripada kedudukan raja di Pajajaran. Apabila kini Paduka sendiri sampai menyambut dan memapak mereka di Bubat, hal ini sangat merendahkan kedudukan Paduka sebagai Maharaja. Terutama sekali hal ini akan mendatangkan iri hati dan tidak senang di kalangan para raja lain dan akhirnya hanya akan mendatangkan keruwetan dan kekacauan belaka. Apabila mereka itu menyatakan ketidaksukaan dan iri hati mereka. Kalau Sang Prabu Pajajaran minta dijemput, biarlah hamba dan para panglima yang menjemputnya sebagai wakil Paduka, dan Paduka cukup menanti di keraton untuk menyambut kedatangan mereka. Nah, demikianlah usul dan pendapat hamba yang hamba dasarkan semata-mata demi keluhuran nama Paduka dan kebesaran Kerajaan Majapahit, Gusti."

Termenunglah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar ucapan Patih Gajah Mada ini. Kalau orang lain yang mengeluarkan ucapan ini, mungkin Sang Prabu akan marah. Akan tetapi, Sang Prabu Hayam Wuruk telah yakin dan percaya penuh akan kebijaksanaan dan kesetiaan Patih Gajah Mada dan maklum pula bahwa usul ini benar-benar berdasar kesetiannya demi kebaikan Raja dan Negara. Setelah diam sejenak, Sang Prabu Hayam Wuruk lalu bersabda,

"Benar dan tepat pendapatmu, Pamanda Patih. Bukan karena kecongkakan, bukan karena kurang hormat, dan juga bukan untuk merendahkan kedudukan Rama Prabu di Pajajaran, akan tetapi aku tidak mengadakan penjemputan sendiri hanya untuk mencegah iri hati dan ketidak-senangan fihak ketiga. Kau benar, dan demikianlah seyogjanya. Jemputlah mereka dan aku menanti di sini."

"Ki Lurah, cepatlah kau kembali ke Bubat dan beritahukan kepada Ratu dari Pajajaran bahwa Sang Prabu tak dapat menjemput sendiri, akan tetapi Patih Gajah Mada yang akan mewakilinya."

Ki Lurah Bubat segera memacu kudanya kembali ke Bubat, akan tetapi di tengah jalan ia ditahan lagi oleh Wijayarajasa. Kembali Raja Wengker ini mengancam dan minta supaya Ki Lurah menyampaikan kepada Sang Prabu dari Pajajaran bahwa Sang Prabu Hayam Wuruk tidak suka menjemput dan memerintahkan agar supaya para tamu itu segera menghadap dan ditunggu di Majapahit.

Ki Lurah Bubat tak berani membantah dan mempercepat perjalanannya. Sesungguhnya, tidak ada sesuatu tuntutan timbul dari fihak Pajajaran. Sang Prabu beserta rombongannya berhenti dan berkemah di Bubat tak lain hanya untuk beristirahat dan untuk bersiap-siap memasuki kota raja. Tentu saja rombongan itu mengharapkan datangnya rombongan penyambut dari keraton Majapahit sebagaimana lazimnya.

Karena belum juga ada rombongan penyambut yang datang, Ratu Dewata lalu mengutus beberapa orang Senapati dan pahlawan membawa perajurit pergi kekota raja untuk memberitahukan bahwa rombongan dari Pajajaran telah siap-sedia menerima rombongan penyambut dari Majapahit. Di tengah jalan, rombongan dan barisan utusan ini bertemu dengan Ki Lurah Bubat.

Ki Lurah Bubat lalu memberitahu kepada mereka bahwa Sang Prabu Hayam Wuruk tidak suka menyambut sendiri dan memerinthakan supaya Raja Pajajaran segera masuk ke kota raja dan menghadap kepada Sang Prabu yang sudah menanti di keraton.

Jawaban ini amat menyakiti hati pemimpin rombongan yang terdiri dari Patih Anipaken, Demang Cabo dan Patih Pitar. Mereka mencela kesombongan Raja Majapahit yang sama sekali tidak menaruh hormat kepada calon mertua. Dengan hati panas mereka melanjutkan perjalanan untuk menunaikan tugas mereka sebagai utusan ratu.

Ketika mereka tiba dikota raja, Patih Gajah Mada sedang bersiap sedia untuk berangkat melakukan penjemputan dengan para pengiring dan hulubalang lain. Kedatangan barisan utusan ini segera disambutnya dengan baik. Akan tetapi Patih Anepaken yang sudah merasa sakit hati dan marah, tak dapat berlaku ramah terhadap Patih Gajah Mada, katanya,

"Sang Nata Pajajaran telah mengutus kami untuk memberi tahu bahwa rombongan Pajajaran telah siap-sedia menerima kedatangan penyambut dan penjemput di Bubat."

Ketika Patih Gajah Mada melihat sikap keras dan mendengar ucapan singkat ini, timbullah marahnya pula. Memang di dalam hati Patih Gajah Mada sudah terdapat racun yang ditanam oleh Wijayarajasa hingga ia telah mempunyai pandangan bahwa orang-orang Pajajaran ini sombong-sombong, sama sekali tidak menyangka bahwa Patih Anepaken juga mempunyai pandangan yang demikian pula terhadap orang-orang Majapahit akibat laporan palsu Ki Lurah Bubat! Syak wasangka dan salah paham telah mengeruhkan pikiran dan hati kedua fihak.

"Tidak selayaknya apabila Gusti Prabu Hayam Wuruk yang harus menjemput sendiri," jawab Patih Gajah Mada, "Menurut tingkat dan kedudukan, seharusnya Sang Prabu di Pajajaranlah yang datang menghadap dan langsung menuju ke Majapahit tanpa menanti dijemput."

Kedua patih ini mengukuhi pendirian masing-masing yang berdasar membela kehormatan kerajaan sendiri di mana mereka menghambakan diri dan sedikitpun tidak mau mengalah. Maka terjadilah pembantahan. Dalam kemarahanya Patih Anepaken bahkan lalu berkata keras,

"He, Ki Patih Majapahit, alangkah rendahnya kamu orang-orang Majapahit, memandang kami orang-orang Pajajaran! Memang kami akui bahwa Gusti Prabu Hayam Wuruk adalah seorang Maharaja yang besar. Akan tetapi janganlah kamu kira bahwa Gusti Prabu Ratu Dewata kalah dalam keagungan dan kebesaran dengan Rajamu! Kami tidak merasa junjungan kami itu lebih rendah tingkatnya dari junjungan kamu. Ingatlah bahwa Pajajaran bukanlah daerah yang telah takluk kepada Majapahit!" Patih Anepaken mengeluarkan kata-kata ini dengan wajah kemerah-merahan karena marahnya.

Pada saat perang tutur itu terjadi, datanglah Wijayarajasa dan ketika Raja Wengker ini melihat terjadinya pertikaian, hatinya girang sekali dan ia lalu menjawab kata-kata keras Patih Anepaken dengan tantangan.

"He, Patih Anepaken! Janganlah kamu mengumbar nafsu dan kesombongan di Majapahit! Ketahuilah bahwa pahlawan-pahlawan Majapahit tak dapat menelan hinaan demikian saja! Gusti Prabu telah berkenan menerima puteri Pajajaran, hal ini sudah merupakan penghormatan yang sangat besar bagi Pajajaran. Pendeknya, Raja Pajajaran harus mengiringkan puterinya kehadapan Gusti Prabu Hayam Wuruk, kalau tidak hal ini akan diselesaikan dengan ketajaman tombak dan kekebalan kulit!"

Patih Anepaken memang berdarah panas. Mendengar ini, ia telah berdiri dari tempat duduknya dan sekali tendang saja hancurlah kursi yang tadi didudukinya. Matanya bernyala-nyala dan hidungnya berkembang-kempis!

"Hai, orang-orang Majapahit! Kau kira Pajajaran tidak punya satria-satria? Ketahuilah, bagi kami orang-orang Pajajaran, kehormatan lebih utama daripada jiwa, mengerti?"

Hampir saja terjadi keributan di ruang kepatihan itu dan hampir terjadi adu tenaga diantara para pembesar itu. Akan tetapi, biarpun Sakri yang juga hadir di situ telah merasa panas seluruh tubuhnya karena marah, ia tetap dapat mempergunakan kekuatan batinnya untuk menekan kemarahannya itu. Ia lalu melompat ke dekat Patih Anepaken dan membujuk.

"Sudah, Gusti patih. Untuk apa menurutkan nafsu hati dan marah-marah di sini? Ingat bahwa kita bukan sedang berada di dalam medan peperangan dan sebagai utusan raja kita harus bersikap bijaksana."

Kepala dari Patih Anepaken serasa diguyur air dingin ketika mendengar ucapan Sakri ini dan ia lalu memandang kepada Sakri dengan pernyataan terima kasih. Memang betul, hampir saja ia lupa akan keadaan dan karenanya bahkan merendahkan martabat Rajanya dengan memperlihatkan sikap yang tidak semestinya.

Sementara itu, biarpun Patih Gajah Mada merasa menyesal mendengar tantangan yang diucapkan oleh Wijayarajasa, akan tetapi karena yang mengucapkan adalah orang dari fihaknya, maka ia tidak mungkin dapat menarik kembali kata-kata itu yang berarti akan merendahkan diri sendiri. Maka hanya berkata kepada Wijayarajasa.

"Mereka ini adalah utusan nata dan tidak seharusnya kita menghina utusan nata!"

Wijayarajasa melihat betapa dari sepasang mata Patih Gajah Mada menyinarkan rasa penuh sesal, ia tidak berani banyak cakap lagi.

Demikianlah, dalam keadaan sama-sama panas dan meradang rombongan utusan itu kembali ke Bubat. Alangkah murkanya Sang Prabu Dewata mendengar laporan patihnya karena merasa betapa kedudukannya direndahkan orang. Sabdanya dengan marah.

"Ya Jagat Dewa Batara! Mengapa dijatuhkan percobaan sehebat ini kepada hamba? Para pahlawanku sekalian. Memang semenjak kalian berangkat ke Majapahit, telah ada perasaan tidak enak dalam hatiku tanda akan adanya bahaya mendatang. Kita harus bersiap sedia menjaga datangnya segala kemungkinan. Betapapun hati seorang ayah menyinta puterinya, akan tetapi bagi seorang satria, kehormatan lebih besar artinya. Lebih baik hancur-lebur tubuh ini daripada menyerah dalam kehinaan! Persiapkanlah seluruh balatentara, kita menanti datangnya serbuan dari Majapahit! Demi keluhuran Pajajaran kita lawan mereka mati-matian!"

"Hamba rela dan bersedia membela Pajajaran sampai hancur tubuh hamba!" seru Patih Anepaken.

"Hamba bersedia membela Pajajaran sampai titik darah yang penghabisan!!" Sakri ikut berseru dengan penuh semangat.

Ratu Dewata menjadi terharu sekali, terutama mendengar seruan Sakri yang hendak membela Pajajaran sampai titik darah penghabisan! Bagi Patih Anepaken dan yang lain-lain, hal ini tidak mengherankan dan bahkan sudah selayaknya, karena mereka adalah orang-orang Pajajaran. Akan tetapi, bukankah Sakri seorang Jawa? Maka sabdanya perlahan,

"Sakri, sudah yakin benarkah hatimu bahwa kau hendak mengurbankan jiwa ragamu?"

Semua orang memandang ke arah pemuda yang gagah perkasa ini, dan Sakri juga maklum ke mana maksud pertanyaan Sang Prabu Dewata itu. Sembahnya,

"Gusti, hamba adalah seorang laki-laki yang menjunjung tinggi sifat satria utama. Semenjak kecil, ayah hamba telah menggembleng hamba dengan ajaran yang luhur dari Sri Kresna yang bijak dan waspada. Sekali hamba bersuwita, maka hamba akan setia sampai mati!"

Semua orang terharu mendengar ini, dan mereka lalu bersiap sedia menjaga datangnya serbuan dari Majapahit. Patih Gajah Mada mendengar pula dari para penyelidik akan sikap Ratu Dewata dari Pajajaran. Ia maklum bahwa demi membela kehormatan masing-masing, maka pertempuran takkan dapat dielakkan lagi. Maka ia lalu menghadap kepada Prabu Hayam Wuruk untuk minta keputusan dan perkenan akan maksudnya menggempur barisan Pajajaran di Bubat.


Thanks for reading Satria Gunung Kidul I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »