Social Items

Pendekar Remaja

Karya Kho Ping Hoo

JILID 19

PADA malam hari itu, Lo Sian nampak masih duduk di atas loteng pada bagian belakang rumah, minum arak seorang diri. Baru saja datang seguci besar arak wangi yang dibeli oleh Lili dan gadis itu bahkan membuat kue yang diberikan kepada suhu-nya. Pengemis Sakti ini makan minum seorang diri sambil bernyanyi-nyanyi.

Ketika Lili yang berada di bagian bawah mendengar suara nyanyian suhu-nya, ia merasa heran. Suara pengemis Sakti itu tidak seperti biasanya, kini terdengar bernada sedih. Dia segera naik ke atas loteng dan melihat betapa bekas suhu-nya itu minum arak langsung dari guci dan kaki kirinya ditumpangkan di atas meja!

“Pek-pek, kau kenapakah?” tanya Lili sambil menghampiri kakek itu.

Lo Sian menunda minumnya dan pada saat dia menengok kepada Lili, gadis ini terkejut melihat pipi Lo Sian telah basah dengan air mata!

“Pek-pek, mengapa kau bersedih?”

Lo Sian terpaksa tersenyum ketika ia memandang wajah Lili. Alangkah sukanya ia pada gadis ini, seperti kepada puterinya sendiri.

“Tidak, Lili, aku tidak merasa bersedih. Dengan kau dan orang tuamu yang mulia berada di dekatku, bagaimana aku dapaf bersedih? Hanya aku menyesal sekali, Lili, menyesal bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang yang begini tiada guna! Aku hanya menjadi pengganggu orang tuamu, aku telah banyak mengecewakan kau dan orang tuamu sebab tidak mampu mengingat-ingat hal yang telah terjadi. Terutama sekali aku tak dapat ingat lagi di mana dan bagaimana Lie Kong Sian Taihiap meninggal dunia! Ahh, aku menjadi sebuah boneka hidup!”

“Pek-pek, kenapa hal begitu saja dibuat menyesal? Kau tak berdaya dan bukan salahmu kalau kau kehilangan ingatanmu. Lebih baik menghibur hati, agar tubuhmu menjadi sehat dan siapa tahu kalau kesehatanmu akan dapat memulihkan ingatanmu. Dengan banyak berpikir serta banyak pusing, kurasa tidak akan mendatangkan manfaat bagi ingatanmu, Pek-pek.”

“Kau betul, Lili. Kau selalu benar, sungguh aneh seorang gadis muda seperti kau dapat mengeluarkan ucapan yang begini bijaksana. Pantas benar kau menjadi puteri Pendekar Bodoh...”

Lili tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menghampiri meja dan menyalakan lilin di atas meja yang belum dipasang oleh Lo Sian. Melihat kue-kue di atas piring belum ada yang termakan oleh Lo Sian, Lili bertanya,

“Ehh, kenapa kue-kue ini belum kau makan, Pek-pek?”

“Nanti dulu, aku lebih senang minum arak yang wangi dan enak ini! Kau sungguh pandai memilih arak yang baik!” Setelah berkata demikian, Lo Sian lalu mengangkat guci besar itu dengan kedua tangannya, menuangkan isinya yang masih setengah itu langsung ke mulutnya dengan sikap seperti tadi, yaitu kaki kiri di atas meja!

Lili hanya berdiri di belakang Pengemis Sakti itu sambil tersenyum geli, karena dia dapat menduga bahwa Lo Sian tentu sudah setengah mabuk. Akan tetapi pada saat itu pula, Lili terkejut sekali melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang melayang turun laksana seekor burung besar dari atas wuwungan! Bayangan itu gerakannya gesit sekali dan melihat betapa ia melayang dengan dua lengan dikembangkan, dapat diduga bahwa dia memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Lo Sian yang sedang enak minum arak, tidak melihat berkelebatnya bayangan itu, akan tetapi Lili yang bermata tajam tentu saja dapat melihatnya. Dengan amat kuatir, gadis ini lalu meninggalkan Lo Sian, berlari turun ke bawah melalui anak tangga untuk mencegat bayangan tadi di bawah. Lo Sian masih saja minum arak, kakek ini tidak heran melihat Lili berlari-larian karena hal ini sudah menjadi kebiasaan gadis jenaka ini

Ketika tiba di bawah, Lili tidak melihat bayangan orang. Cepat-cepat dia melompat keluar dan mengelilingi rumahnya. Bayangan tadi dilihatnya melompat ke bawah ke arah depan rumah, akan tetapi mengapa sekarang tidak nampak lagi? Apakah dia salah lihat? Tidak mungkin, pikirnya, dan dengan penasaran sekali ia kemudian menyelidiki seluruh pinggir rumahnya.

Ketika tidak menemukan sesuatu, dia cepat masuk lagi ke dalam rumah dan tiba-tiba dia teringat bahwa ayah bundanya mempunyai banyak musuh. Cepat dia menuju ke kamar ayah dan ibunya yang berada di sebelah dalam. Kagetlah ia ketika melihat bahwa kamar ayah bundanya ternyata telah dimasuki orang, karena pintu kamar yang tadinya terkunci kini sudah dibuka dengan paksa!

Cepat dia ke dalam dan di situ kosong saja. Hanya sebuah lemari kayu, tempat pakaian ayah bundanya telah dibongkar orang secara paksa dan sekarang terbuka dengan isinya berantakan ke bawah. Ia merasa heran, karena pakaian itu masih utuh, tidak ada yang hilang, demikian pula tempat uang tidak diganggu.

Siapakah bayangan tadi dan apa maksudnya membongkar lemari dan memasuki kamar ayah bundanya? Dia cepat mengejar lagi keluar dari kamar. Lili marah sekali dan ingin ia menangkap maling itu. Kini dia berlari menuju ke belakang.

Makin marah dan gemas hatinya melihat tiga orang pelayan rumahnya, seorang pelayan laki-laki dan dua orang pelayan wanita sudah berada dalam keadaan tertotok di ruangan belakang. Ketika dia menghampiri mereka untuk membebaskan mereka dari totokan, dia mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya pada waktu melihat bahwa ketiga orang pelayan ini terkena totokan yang sama dengan ilmu totok yang dipelajarinya sendiri yakni ilmu totok dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Tiba-tiba teringatlah dia akan sesuatu dan mukanya menjadi merah padam. Siapa lagi kalau bukan pemuda kurang ajar yang telah merampas sepatunya dulu? Pemuda yang mengaku putera Ang I Niocu? Hanya pemuda itu saja yang pandai Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Kalau memang betul bayangan orang yang menjadi maling ini ternyata adalah pemuda putera Ang I Niocu yang belum diketahui namanya itu, kenapa ia datang seperti seorang maling? Tak mungkin putera Ang I Niocu melakukan hal ini!

Tiba-tiba ia teringat kepada Lo Sian yang berada di atas loteng dan wajahnya menjadi pucat ketika dia teringat betapa dahulu di rumah Thian Kek Hwesio, pemuda itu pernah menyerang Lo Sian karena marah mendengar Pengemis Sakti itu menyatakan bahwa Lie Kong Sian telah mati!

Dia cepat berlari-lari melalui anak tangga menuju ke loteng dan alangkah kagetnya ketika ia melihat guci arak yang tadi diminum oleh Lo Sian, kini telah menggeletak di atas lantai dan isinya mengalir keluar. Lo Sian sendiri tidak kelihatan pergi ke mana!

Lili menjadi bingung. Dia mencari ke sana ke mari, akan tetapi biar pun dia memanggil-manggil, tetap saja ia tidak dapat menemukan Lo Sian. Hati gadis ini marah bukan main. Segera diambilnya Pedang Liong-coan-kiam dan kipasnya, kemudian dengan amat cepat dia lalu melompat keluar rumah dan mencari di sekitar rumah itu.

Tiba-tiba dia melihat bayangan dua orang sedang bertempur dengan hebatnya. Karena malam itu sangat gelap, Lili hanya dapat melihat bahwa yang bertempur itu adalah dua orang laki-laki yang masih muda.

“Bangsat rendah, berani sekali kalian mengganggu rumahku!” berseru Lili dengan marah sekali.

Dia tidak tahu yang mana di antara kedua orang ini yang tadi datang ke rumahnya, akan tetapi dia lalu menyerbu mereka! Akan tetapi, kedua orang muda itu ketika mendengar suaranya, tiba-tiba mereka lalu menghentikan pertempuran, bahkan keduanya lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Kebetulan sekali, sinar lampu dari dalam rumahnya masih menerangi sedikit tempat itu sehingga ketika dia melihat orang yang berlari menerjang sinar penerangan ini, ia melihat bahwa orang itu adalah Song Kam Seng! Bukan main marahnya hati Lili. Ia pun maklum bahwa pemuda ini tentu datang untuk mencari ayahnya, karena bukankah Kam Seng sudah berjanji hendak membalaskan dendam hatinya karena ayahnya dulu dibunuh oleh Pendekar Bodoh?

“Kam Seng, manusia pengecut! Jangan berlaku sebagai maling hina dina! Apa bila kau berani, mari kita mengadu nyawa!” teriak Lili sambil mengejar cepat.

Akan tetapi Kam Seng tidak menjawab bahkan berlari makin cepat, dikejar terus oleh Lili. Pemuda ini memang maklum akan kepandaian Lili dan kalau dia melawan juga, ia takkan menang. Apa lagi, betapa pun juga, tak dapat dia bertempur melawan Lili, gadis musuh besarnya, gadis yang sesungguhnya amat dicintainya itu. Maka ia lalu melarikan diri lebih cepat lagi. Bukan saja karena ginkang dari Kam Seng sudah sangat maju, akan tetapi terutama sekali karena malam itu gelap, sebentar saja pemuda itu sudah meninggalkan Lili dan menghilang di dalam gelap!

Lili menjadi jengkel sekali. Ia memaki-maki, memanggil-manggil nama Kam Seng sambil menantang-nantang, akan tetapi karena tidak memperoleh jawaban, akhirnya dia kembali ke rumahnya. Dan ternyata Lo Sian masih belum kelihatan sehingga gadis ini menjadi makin bingung.

Sebetulnya, ke manakah perginya Lo Sian? Ketika dia sedang minum arak dan Lili telah berlari ke bawah, tiba-tiba dari atas wuwungan menyambar turun bayangan yang cepat masuk loteng itu. Lo Sian terkejut sekali ketika melihat seorang pemuda sudah berdiri di hadapannya. Dia mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang pernah menyerangnya di rumah Thian Kek Hwesio, yaitu pemuda yang mengaku sebagai putera Lie Kong Sian.

Sebelum ia sempat bertanya, Lie Siong, pemuda itu, telah mengulurkan tangan menotok jalan darah thian-hu-hiat di pundaknya. Totokan ini berdasarkan gerakan serangan dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na, ilmu silat warisan Bu Pun Su yang dulu dia pelajari dari Ang I Niocu, maka bukan main cepat dan hebatnya.

Lo Sian sedang memegang guci arak dan dia berada dalam keadaan setengah mabuk, bagaimana dia mampu menghindarkan diri dari serangan ini? Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas terkena totokan itu dan guci arak itu tertepas dari pegangannya.

Lie Siong cepat menyambar guci arak itu dan meletakkannya di atas lantai. Akan tetapi oleh karena dia tidak memperhatikan guci itu, dia meletakkan guci dalam keadaan miring sehingga isinya mengalir keluar. Kemudian, secepat kilat pemuda ini segera mengempit tubuh Lo Sian dan membawanya melompat turun!

Supaya tidak membingungkan, baiknya diceritakan secara singkat bahwa sejak berpisah dari Lo Sian dan Lili, pikiran Lie Siong sangat terganggu akibat ucapan Lo Sian yang menerangkan tentang kematian ayahnya. Oleh karena itu, ia menunda niatnya mengajak Lilani ke utara mencari rombongan suku bangsa Haimi untuk mengembalikan gadis itu kepada bangsanya, sebaliknya lalu mengajak gadis itu menuju ke Pulau Pek-le-to untuk mencari ayahnya! Akan tetapi, ia mendapatkan pulau itu berada dalam keadaan kosong!

Hatinya menjadi gelisah sekali, keadaan pemuda ini makin menderita batinnya. Pertama dia merasa menyesal akibat telah mengikat diri dengan Lilani, gadis yang amat mencinta dirinya. Kedua, dia merasa menyesal dan bingung karena mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia seperti yang dikatakan oleh Lo Sian Si Pengemis Sakti.

Dia harus dapat mencari orang tua itu untuk mencari keterangan tentang ayahnya. Akan tetapi kalau teringat betapa dia telah bertempur dan bentrok dengan Lili, puteri Pendekar Bodoh, dia menjadi bingung. Semenjak dia dapat mencabut sepatu Lili, sepatu yang kecil mungil itu selalu tersimpan dalam saku bajunya sebelah dalam, disembunyikan sebagai sebuah jimat!

Ada pun Lilani, gadis yang bernasib malang itu, semakin lama semakin merasa hancur hatinya. Dia amat mencinta Lie Siong, bersedia menyerahkan jiwa raganya, akan tetapi melihat pemuda itu sama sekali tidak mengacuhkannya, dia menjadi sedih sekali.

Bila teringat betapa dia telah kehilangan ayah bundanya, kehilangan kakeknya, dan kini dia menderita karena mencinta seorang pemuda yang tak mengacuhkannya, ahhh, gadis ini sering kali mengucurkan air mata di waktu malam. Tetapi betapa pun juga, dia selalu menyembunyikan perasaan dukanya dari mata Lie Siong.

Sesudah mendapatkan Pulau Pek-le-to kosong dan tidak mengetahui ke mana perginya ayahnya, Lie Siong lalu berkata kepada Lilani,

“Lilani, terpaksa aku harus menyusul ke Shaning...”

“Ahh, ke rumah nona cantik jelita yang galak itu? Kau dahulu bilang bahwa dia adalah puteri Pendekar Bodoh, sungguh cocok sekali...”

Lie Siong memandang tajam. “Apa maksudmu, Lilani? Kau cemburu?”

“Tidak, Taihiap, mengapa aku cemburu? Ada hak apakah maka aku dapat cemburu? Aku seorang tak berharga, tidak seperti nona puteri Pendekar Bodoh itu, yang cantik, pandai, lihai... dan...”

“Sudahlah, jangan kau berbicara tidak karuan! Hatiku sedang bingung memikirkan ayah. Siapa yang peduli gadis liar itu?” kata Lie Siong sambil mengajak gadis itu melanjutkan perjalanan. “Sekarang aku terpaksa harus pergi menyusul ke Shaning untuk menangkap pengemis gila itu. Agaknya dari dia saja aku akan mengetahui di mana adanya ayahku. Terpaksa urusan mencari suku bangsamu di utara ditunda dulu.”

Lilani tidak membantah, hanya merasa dadanya sesak oleh cemburu. Cinta orang muda manakah yang tidak terhias oleh rasa cemburu? Bukan cinta tulen kalau tidak ada rasa cemburu di dalamnya, kata orang tua.

Pada malam harinya, Lie Siong dan Lilani bermalam di sebuah hotel. Dan tidak seperti biasanya, Lie Siong berkeras tidak mau tidur sekamar dan minta kepada pelayan untuk menyediakan dua kamar yang berdampingan.

Lilani makin merasa tidak enak, gelisah dan berduka. Sampai tengah malam gadis ini tidak dapat tidur dan karena hatinya selalu teringat kepada Lie Siong, tak tertahan lagi ia lalu keluar dari kamarnya dengan perlahan. Ia sengaja membuka kedua sepatunya agar tindakan kakinya tak sampai mengagetkan Lie Siong yang ia tahu pendengarannya amat tajam itu. Ia ingin melihat apakah pemuda pujaan hatinya itu telah tidur.

Dengan kaki telanjang ia berjalan menghampiri jendela kamar Lie Siong, lalu mengintai ke dalam setelah dia mendapatkan sebuah lubang di antara celah-celah jendela itu. Dia melihat kamar itu masih terang dan ternyata pemuda pujaannya itu masih belum tidur.

Lie Siong nampak tengah duduk melamun di atas kursi dan kedua tangannya memegang sebuah benda kecil. Jari-jari tangannya mempermainkan benda itu dan ketika Lilani memandang dengan tegas, ternyata bahwa benda itu adalah sebuah sepatu yang bagus dan kecil mungil bentuknya! Bukan main panas dan perihnya hati Lilani.

Itu adalah sepatu wanita, pikirnya, dan terang bukan sepatunya. Sepatunya tidak sekecil itu! Ah, sepatu siapa lagi kalau bukan sepatu gadis puteri Pendekar Bodoh itu? Biar pun Lie Siong tidak menceritakan mengenai hasil pertempurannya melawan Lili namun Lilani dapat menduga dengan tepat.

Hal ini mudah saja bagi seorang wanita yang berada dalam keadaan cemburu, karena wanita yang sedang cemburu mempunyai kecerdikan luar biasa dalam hal menyelidiki segala sesuatu mengenai hubungan laki-laki yang dicintainya dengan wanita lain!

Bagaikan terpukul, Lilani terhuyung ke belakang dan ia menahan isak tangisnya. Karena tangisnya tak dapat tertahan lagi, maka ia tidak berani kembali ke kamarnya, takut kalau nanti Lie Siong akan mendengar suara tangisnya. Sebaliknya dia malah lari ke belakang dan keluar dari pintu belakang hotel itu menuju ke kebun belakang yang sunyi dan gelap!

Di situ dia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil kehilangan ibunya. Ia merasa sedih, gemas, dan marah. Sedih karena merasa kehilangan seorang kekasih yang dicinta sepenuh hatinya. Juga gemas melihat Lie Siong yang tak mengacuhkannya, sebaliknya tergila-gila kepada sebuah sepatu wanita lain dan marah kepada diri sendiri mengapa ia sampai demikian dalam jatuh dalam jurang asmara terhadap pemuda itu.

Di dalam kesedihannya itu, Lilani sampai tidak tahu bahwa ia tidak berada seorang diri di dalam taman itu. Dia tidak tahu bahwa di situ duduk dua orang laki-laki pemabukan yang sudah lama duduk minum arak berdua saja di situ dan keadaan mereka sudah setengah mabuk ketika Lilani datang ke situ dan menangis.

Lilani yang sedang menangis itu tiba-tiba merasa lehernya dipeluk orang dan terdengar suara parau,

“Nona manis, kenapa kau menangis? Marilah kuhibur kau…”

Lilani melompat berdiri dengan mata terbelalak. Dengan penuh kebencian dan kengerian dia melihat dua orang laki-laki menyeringai dan memandangnya seperti orang kelaparan, kemudian tangan kedua orang itu terulur maju hendak menangkapnya!

Lilani sedang merasa sedih, marah, kecewa dan perasaan yang sudah amat menggencet batinnya ini ditambah lagi oleh kebencian dan kengerian yang amat besar melihat lagak dua orang laki-laki ini. Hampir saja Lilani menjerit sekerasnya kalau ia tidak ingat bahwa jeritannya akan terdengar oleh Lie Siong dan dia tidak mau keadaannya diketahui oleh pemuda itu.

Maka sambil menahan berdebarnya hati yang membuat dadanya terasa sakit itu, ia lalu mengelak ke kiri dan tak disangkanya sama sekali, seorang di antara mereka itu memiliki gerakan yang cepat juga. Lilani sedang menderita dan keadaan malam itu agak gelap, maka gadis ini kurang cepat elakannya dan tahu-tahu lengannya sudah tertangkap oleh seorang di antara dua pemabukan itu.

“Ha-ha-ha-ha, lenganmu lemas dan halus seperti sutera, Nona... ha-ha-ha!” Orang ini lalu merangkulnya dan hendak menciumnya.

“Bukk!”

Terdengar suara orang terpukul dan disusul oleh pekik mengerikan dari laki-laki itu yang segera roboh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa lagi! Pukulan Lilani amat hebat karena selain gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan, dan kini lebih lihai karena sering kali mendapat latihan dari Lie Siong, juga pukulan dari jarak dekat ini tepat sekali mengenai ulu hati lawan sehingga jantung di dalam dada orang itu menjadi terluka!

Orang ke dua yang masih mabuk tidak tahu bahwa kawannya sudah mati, bahkan terus tertawa-tawa dan berkata kepada kawannya itu, “A-siok, terlalu sekali kau... nona manis ditinggal tidur...” Dan ia maju pula hendak merangkul Lilani.

Gadis ini sekarang sudah seperti seorang gila dan gelap mata. Sebelum tangan orang ke dua ini dapat menyentuh bajunya dia kembali mengirim serangan dengan pukulan keras ke arah dada disusul dengan tendangan ke arah lambung pemabukan ini. Terdengar jerit keras dan pemabukan ke dua ini pun roboh dalam keadaan mati!

“Eh, eh, eh, apakah yang terjadi di sini?” Seorang pelayan hotel datang berlari-lari sambil membawa sebuah lampu minyak. Akan tetapi, jawaban yang didapat hanyalah sebuah pukulan tiba-tiba yang tepat mengenai lehernya. Pelayan ini terputar di atas kakinya lalu roboh. Celaka baginya, lampu yang dibawanya itu jatuh menimpanya hingga terbakarlah pakaiannya!

Melihat betapa pelayan itu berkelojotan di dalam cahaya api, Lilani memandang dengan muka sepucat mayat dan kedua mata terbuka lebar, ada pun kedua tangannya menutup mulutnya menahan jeritannya. Alangkah ngerinya!

Dan kemudian, seperti baru sadar, dia melihat pula dua orang pemabukan yang sudah dibunuhnya di tempat itu juga. Dengan perasaan sangat tergoncang gadis yang masih bertelanjang kaki ini lalu lari secepatnya, kembali ke dalam kamarnya!

Dia berdiri di tengah kamarnya sambil terengah-engah dan meramkan kedua matanya. Kepalanya terasa pening sekali, dadanya berdetak-detak seakan-akan ada orang sedang memukul-mukulkan palu di dalamnya. Tubuhnya lemas kedua kaki menggigil dan kedua tangan gemetar. Telinganya mendengar suara gaduh yang tak karuan terdengarnya, ada pun pemandangan yang mengerikan dari ketiga mayat itu, terutama sekali pelayan yang terbakar, selalu terbayang di depan matanya.

“Aku harus tenang... harus tenang…” pikirnya dan dia lantas menjatuhkan diri di tengah kamar itu juga, duduk bersila lalu untuk menenangkan pikiran dengan bersemedhi. Untuk memperdalam lweekang-nya, memang gadis ini telah mempelajari siulian (semedhi) dari Lie Siong.

Suara ribut-ribut di luar kamarnya itu mengagetkan Lie Siong. Pemuda ini cepat-cepat menyalakan lilin di dalam kamarnya, lalu berjalan keluar hendak melihat apa gerangan yang ribut-ribut di tengah malam seperti itu. Ketika ia mendengar bahwa ada tiga orang terbunuh oleh seorang gadis, ia terkejut sekali.

Cepat dia menuju ke kamar Lilani dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa pintu kamar gadis itu setengah terbuka! Dia cepat melangkah masuk dan biar pun kamar itu gelap, dia masih dapat melihat bayangan gadis itu duduk bersila di atas lantai.

Sungguh cara siulian yang aneh, pikirnya. Kenapa tidak di atas pembaringan saja? Akan tetapi, ia tidak berani mengganggu seorang yang sedang semedhi dan secara diam-diam hendak meninggalkan kamar itu lagi kalau saja tidak mendengar isak tertahan dari gadis itu.

“Lilani, kau kenapakah?” tanyanya heran dan kuatir.

Gadis itu tidak menjawab sama sekali. Lie Siong menjadi heran dan segera menyalakan sebatang lilin di dalam kamar itu. Pada saat sinar lilin di atas meja itu sudah menerangi seluruh kamar dan ia memutar tubuh memandang, Lie Siong pun menjadi terkejut sekali. Dilihatnya Lilani dengan sepasang kaki telanjang duduk bersila di atas lantai, pakaiannya kusut, pipinya yang amat pucat itu basah dengan air matanya.

“Lilani...!” Lie Siong melangkah maju, berlutut dekat gadis itu dan tangannya memegang pundak kanan Lilani. “Kau kenapakah...?” Akan tetapi Lie Siong terpaksa memutuskan kata-katanya karena tiba-tiba kedua tangan Lilani mendorong dadanya dengan gerakan cepat dan amat kuat.

Lie Siong yang sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini akan menyerangnya, tidak mengelak atau menangkis sama sekali. Dadanya terdorong ke belakang dan ia pun langsung terlempar ke belakang dengan cepatnya sampai membentur bangku! Lie Siong membelalakkan matanya.

Tenaga dorongan dan tarikan muka Lilani lebih mengherankannya dari pada sikap gadis itu sendiri. Dorongan tenaga Lilani tak seperti biasanya, akan tetapi mengandung tenaga yang amat kuat dan aneh, sedangkan ketika gadis itu mendorongnya, gadis memandang dengan penuh kebencian, akan tetapi bibirnya tersenyum!

“Ha, kau takkan dapat mendekatiku... kau akan mampus....” bisik gadis ini dengan suara aneh. Ternyata bahwa pukulan batin yang datang secara bertubi-tubi dan hebat itu sudah membuat pikiran gadis ini terganggu dan berubah!

“Lilani...” Lie Siong melompat bangun, “apa maksudmu? Kau kenapakah...?”

Melihat Lie Siong melompat bangun, gadis itu turut melompat bangun pula, menunduk dan memandangi kedua kakinya yang telanjang, kemudian berkata sambil menyeringai, “Ha-ha-ha, sepatu itu... sepatuku! Lihat, Taihiap, bukankah kedua kakiku telanjang? Aku perlu sepatu... akan tetapi sepatu itu terlalu kecil... terlalu kecil...” dan ia lalu menangis! Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya dan berkata lagi dengan mata bersinar dan mulut tersenyum, “Aku bunuh dia! Aku bunuh mereka! Berani sekali main gila terhadap Lilani, puteri kepala suku bangsa Haimi!”

Sejak tadi, Lie Siong memandang keadaan gadis ini dengan bengong. Melihat senyum di bibir Lilani, pemuda ini merasa bulu tengkuknya meremang. Ini tak sewajarnya, pikirnya. Lebih-lebih terkejutnya ketika dia mendengar ucapan terakhir tentang pembunuhan yang keluar dari mulut Lilani.

“Lilani, jadi yang membunuh tiga orang di belakang hotel itu... kaukah orangnya?”

Lilani tertawa terkekeh. “Ya, memang aku!” teriaknya keras. “Aku Lilani sekali mencinta orang, akan berlaku setia selama hidup! Aku takkan sudi main gila dengan laki-laki lain, lebih baik aku mati! Kubunuh mereka itu, kubakar dia hidup-hidup!” Dan tiba-tiba gadis ini lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil tersedu-sedu.

Lie Siong berdiri tertegun, hatinya terharu bukan main ketika ia mendengar Lilani berkata seperti keluhan menyedihkan, “Taihiap... Taihiap... aku cinta padamu...”

Teriakan Lilani telah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar kamar sehingga kini mereka menyerbu ke arah kamar Lilani sambil berteriak-teriak,

“Tangkap pembunuh! Tangkap siluman perempuan...!”

Memang tadi ketika Lilani berlari kembali ke kamarnya, kebetulan sekali ada seorang tamu yang menjenguk dari jendelanya karena ia tertarik oleh teriakan-teriakan dua orang pemabukan yang terpukul oleh Lilani. Maka sesudah terjadi geger, dia lalu menceritakan pengalamannya dan kini mendengar teriakan-teriakan Lilani yang mengaku bahwa dia yang membunuh tiga orang itu, semua orang lalu menyerbu ke arah kamar Lilani!

Pada saat belasan orang itu sudah berada di depan pintu kamar Lilani, mereka tiba-tiba berhenti karena siapa orangnya yang tidak merasa gentar menghadapi seorang siluman wanita yang dalam waktu sebentar saja sudah membunuh tiga orang laki-laki dengan keadaan mengerikan?

“Siluman perempuan, menyerahlah untuk kami bawa ke depan pengadilan! Apa bila kau melawan kami akan mengeroyok dan membakarmu!” seorang di antara para penyerbu itu berteriak.

Lilani yang mendengar ini segera bangkit berdiri, wajahnya nampak amat menyeramkan. “Akan kubunuh kalian semua!” katanya.

Lie Siong merasa gelisah sekali. “Lilani, jangan...” katanya.

Akan tetapi Lilani tidak peduli dan hendak melompat menerjang keluar. Lie Siong segera mendahuluinya, cepat mengirim serangan kilat dan robohlah gadis itu dalam pelukannya dengan tubuh lemas tak berdaya sedikit pun juga.

“Serahkan dia kepada kami!” terdengar teriakan berulang-ulang dari para penyerbu itu.

Lie Siong maklum bahwa mereka itu sedang marah sekali, jadi tidak perlu bicara dengan mereka. Maka ia lalu menyambar pakaian gadis itu, dan sekali ia berkelebat keluar pintu, ia telah melompat keluar sambil menggendong Lilani.

Beberapa orang yang berdiri menghalangi pintu terlempar ke kanan kiri ketika terdorong oleh sebelah tangannya! Lie Siong tidak mempedulikan teriakan-teriakan mereka, dan ia langsung memasuki kamarnya, menyambar pedang serta buntalannya, sambil dikejar beramai-ramai oleh orang-orang itu.

Akan tetapi ketika mereka sampai di depan kamar pemuda ini, Lie Siong telah berkelebat keluar dan orang-orang itu hanya berdiri sambil melongo ketika melihat betapa pemuda yang menggendong gadis itu sekali mengenjotkan tubuh, telah dapat melompat ke atas genteng dan menghilang di dalam gelap!

Pada waktu Lie Siong melihat betapa keadaan gadis itu makin lama semakin tidak beres pikirannya, dia menjadi bingung sekali. Dia tidak tega dan merasa amat kasihan kepada Lilani, sungguh pun harus dia akui bahwa dia tidak mencinta gadis ini seperti cinta Lilani kepadanya. Dia hanya merasa kasihan dan bertanggung jawab.

Kini melihat keadaan Lilani yang demikian, dia merasa makin kasihan. Hatinya tidak tega untuk meninggalkan gadis ini, sungguh pun dia tahu kalau dia terus menerus berada di dekat gadis ini, dia takkan dapat bergerak bebas. Sekarang dia hendak mencari Lo Sian untuk bertanya tentang keadaan ayahnya, akan tetapi dengan Lilani yang sudah menjadi gila ini di dekatnya, bagaimana ia dapat mencapai maksudnya? Untuk membiarkan gadis ini terlepas seorang diri saja, dia juga tak sampai hati.

Akhirnya ia teringat kepada Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di kota Kiciu. Bukankah dulu pendeta gundul yang gemuk itu pernah mengobati Lo Sian? Pikiran ini membuat dia merubah niatnya untuk ke Shaning, dan ia langsung membawa Lilani ke Ki-ciu.

Ketika ia memasuki kuil itu, mau tak mau ia berdebar dan mukanya berubah merah. Dia teringat betapa di sini ia bertempur melawah Lili, puteri Pendekar Bodoh itu dan betapa ia terluka pundaknya akan tetapi berhasil merampas sebuah sepatu gadis itu yang sampai kini masih disimpannya baik-baik di dalam kantong bajunya!

Thian Kek Hwesio menerimanya dengan muka dan sikap ramah tamah. Hwesio ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang mengaku menjadi putera Lie Kong Sian, maka dia segera menyambut dengan ucapan halus,

“Anak muda, keperluan apakah yang membawamu datang ke tempatku yang buruk ini? Jangan kau menghunus pedangmu, pinceng sama sekali tidak pandai melayanimu dan pinceng paling takut melihat berkelebatnya pedang!”

Makin merah wajah Lie Siong mendengar sindiran ini. Betapa pun kerasnya hatinya, dia masih mempunyai perasaan juga dan kalau perlu, dia dapat menjadi seorang pemuda yang ramah tamah, sopan santun, dan halus. Memang pemuda ini merupakan bayangan ke dua dari sifat ibunya, Ang I Niocu, Pendekar Baju Merah yang aneh itu. Ia pun cepat menjura dengan hormat sekali dan berkata,

“Lo-suhu, mohon kau orang tua sudi memberi maaf sebesarnya kepada aku yang muda, kasar dan bodoh. Kedatanganku ini tidak lain hendak mohon pertolonganmu. Sahabatku, Nona ini, entah mengapa tiba-tiba menjadi aneh sekali dan pikirannya berubah, mohon kau orang tua sudi mengobatinya.”

Thian Kek Hwesio memandang kepada Lilani dengan mata tajam, sedangkan gadis itu berdiri bengong dan sama sekali tidak melihatnya, melainkan menatap ke arah patung-patung batu sambil melamun.

“Nona, kau kenapakah?” tanya hwesio itu dengan suara halus, akan tetapi Lie Siong merasa kagum sekali karena di dalam suara yang halus ini timbul pengaruh yang kuat sekali, yang dapat membuat orang menjadi tunduk.

Mungkin dikarenakan suara ini, atau memang jalan pikiran Lilani sedang teringat kepada kakeknya ketika melihat betapa hwesio itu memandangnya dengan mata mengasihani, karena tiba-tiba saja gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian Lilani berkata-kata dalam bahasa Haimi yang sama sekali tak dimengerti oleh Lie Siong, akan tetapi ia menjadi kagum sekali karena Thian Kek Hwesio ternyata dapat mengerti ucapan gadis ini, bahkan lalu menjawab dalam bahasa Haimi pula!

“Sicu, sahabatmu ini menderita tekanan batin yang sangat hebat sehingga mengganggu urat syarafnya. Pinceng tidak tahu mengapa dia mengalami kedukaan dan kekecewaan sedemikian rupa, akan tetapi mudah sekali untuk menyembuhkannya asal saja dia mau beristirahat di sini.”

Dengan girang sekali Lie Siong lalu menjura dan menghaturkan terima kasih. “Lo-suhu, sesungguhnya aku mempunyai urusan yang amat penting, maka kalau kiranya Lo-suhu sudi menolong, aku hendak meninggalkannya untuk sementara waktu di sini.”

“Boleh saja, Sicu. Pinceng percaya bahwa kau tentu kelak akan datang mengambilnya kembali setelah dia menjadi sembuh. Pinceng merasa bahwa gadis ini tak dapat ditinggal begitu saja olehmu.”

“Tentu, Lo-suhu. Aku takkan pergi lama dan pasti akan kembali mengambil Lilani, karena memang tujuan kami hendak ke utara.”

“Pinceng percaya penuh kepada omongan putera Lie Kong Sian Taihiap.”

Lie Siong memandang dengan penuh terima kasih, kemudian ia pun menghampiri Lilani. “Lilani, harap kau beristirahat di sini dulu dan aku akan kembali mengambilmu lagi apa bila urusanku sudah selesai.”

Akan tetapi gadis itu tidak menjawabnya, hanya berkata-kata dalam bahasa Haimi yang tidak dimengerti oleh Lie Siong. Akan tetapi Thian Kek Hwesio terharu ketika mendengar gadis itu berkata, “Taihiap, hanya engkau seorang yang kucinta, dan aku akan menurut segala kata-katamu.”

Ucapan yang tak dimengerti oleh Lie Siong akan tetapi dapat dimengerti baik oleh hwesio ini membuat Thian Kek Hwesio dapat menduga bahwa gadis ini tentulah sudah menderita asmara tak terbalas! Lie Siong lalu meninggalkan kuil dan segera menuju ke Shaning.

Demikianlah, pada malam hari itu, sebagaimana telah dituturkan pada bagian depan, Lie Siong melompat ke atas wuwungan rumah keluarga Pendekar Bodoh. Siangnya dia telah mendapat keterangan bahwa Lo Sian masih tinggal di rumah Sie Cin Hai dan bahwa Pendekar Bodoh beserta isterinya tidak berada di rumah. Yang ada hanya Lo Sian dan Lili, puteri Pendekar Bodoh.

Hal ini menggirangkan hatinya, karena betapa pun juga, Lie Siong merasa gentar juga menghadapi Pendekar Bodoh suami isteri. Kepandaian puterinya saja sudah sedemikian hebat, apa lagi mereka!

Ia sama sekali tidak mengira bahwa kedatangannya pada malam hari itu kebetulan sekali bertepatan dengan kedatangan seorang pemuda lain, yakni Song Kam Seng! Berbeda dengan Lie Siong, maksud kedatangan ini adalah hendak membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh!

Akan tetapi dengan kecewa Kam Seng mendengar keterangan bahwa Pendekar Bodoh dan isterinya sedang keluar kota, maka dia lalu datang dengan maksud mencuri pedang Liong-cu-kiam, pedang yang dulu telah mengalahkan mendiang ayahnya, Song Kun!

Kedatangan Kam Seng di malam hari itu lebih dulu dari Lie Siong. Kam Seng langsung masuk ke dalam dan berhasil mencari kamar Pendekar Bodoh yang digeledahnya, akan tetapi dia tidak dapat menemukan pedang itu karena pedang itu dibawa oleh Pendekar Bodoh.

Ada pun Lie Siong yang masuk dari kebun belakang, melihat tiga orang pelayan yang cepat ditotoknya sehingga mereka itu tidak berdaya lagi. Kemudian pemuda ini melayang naik ke atas loteng ketika dia melihat berkelebatnya bayangan Lili yang mencari-cari di luar rumah! Saat yang baik itu merupakan kesempatan baginya. Ia merobohkan Lo Sian dengan totokan dan membawa orang tua itu melompat turun.

Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar seruan perlahan,

“Bangsat, jangan kau berani menculik Suhu!” Tiba-tiba sesosok bayangan yang cukup gesit telah menyerangnya dari samping.

Lie Siong menjadi kaget dan juga heran. Siapakah adanya pemuda yang menjadi murid Lo Sian ini? Dia cepat mengelak dan meloncat jauh, kemudian melarikan diri dengan ilmu lari cepatnya, akan tetapi ternyata bahwa ilmu lari larinya hanya menang sedikit saja dari pemuda yang mengejarnya itu. Mudah saja kita menduga bahwa pemuda ini bukan lain adalah Song Kam Seng yang juga sudah keluar dari gedung itu dengan tangan hampa.

Melihat pengejarnya juga mampu berlari cepat, Lie Siong lalu menyembunyikan Lo Sian yang tidak dapat bergerak itu di dalam serumpun tetumbuhan, kemudian dia keluar dan menghampiri Song Kam Seng. Tanpa banyak cakap lagi keduanya lantas bertempur dan ternyata kepandaian mereka berimbang.

Harus diketahui bahwa Song Kam Seng sekarang bukan seperti dulu ketika ia dikalahkan oleh Lili. Kam Seng telah melatih diri dengan hebat dan tekunnya, telah banyak mewarisi kepandaian Wi Kong Siansu, maka tidak mudah bagi Lie Siong untuk mengalahkannya.

Dan ketika mereka bertempur dengan serunya, datanglah Lili yang mengejar. Keduanya takut kepada gadis ini, bukan takut kalah bertempur, akan tetapi Lie Siong tidak mau usahanya membawa Lo Sian akan terganggu, ada pun Song Kam Seng betapa pun juga tidak mau bertempur dengan gadis yang lihai dan yang dicintainya ini. Maka keduanya lalu berlari dan kebetulan sekali Lili mengejar Kam Seng, mendiamkan Lie Siong yang dengan enaknya lalu dapat membawa lari Lo Sian!

Demikianlah, seperti sudah kita ketahui, Lili menjadi bingung dan sedih sekali. Ketika ia mendengar keterangan para pelayannya yang dibuat tak berdaya oleh totokan Lie Siong, barulah gadis ini dapat menduga bahwa yang datang di rumahnya malam itu adalah dua orang, yaitu Kam Seng dan Lie Siong!

Tak salah lagi, pikirnya, yang mencuri Lo-pek-hu tentulah manusia kurang ajar yang dulu mengaku putera Ang I Niocu itu! Ia setengah dapat menduga bahwa penculikan ini tentu ada hubungannya dengan ucapan Lo Sian mengenai kematian Lie Kong Sian. Rupanya ucapan itu ada betulnya dan kini pemuda yang mengaku putera Lie Kong Sian itu tentu menculik Lo Sian untuk mendapat keterangan tentang ayahnya.

Hanya perbuatan Kam Seng yang membongkar kamar dan membuka lemari ayahnya itu masih membingungkannya. Munculnya Kam Seng di malam hari di rumahnya tidak aneh, karena memang pemuda itu pernah mengancam hendak membalas dendam terhadap ayahnya, akan tetapi mengapa pemuda itu membongkar-bongkar lemari seperti seorang maling biasa? Benar-benar ia tidak mengerti.

Pada keesokan harinya, Lili lalu menyerahkan perawatan rumah kepada para pelayan, sedangkan ia sendiri lalu pergi menyusul orang tuanya di Tiang-an. Tak enak ia berdiam di rumah saja, maka sambil mencoba untuk mengejar ‘pemuda kurang ajar’ yang sudah menculik Lo Sian, dia menuju ke Tiang-an untuk menyusul ayah-bundanya dan memberi laporan tentang terjadinya peristiwa itu.

*****

Mari kita mengikuti perjalanan Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh dengan Lin Lin isterinya yang menuju ke Tiang-an untuk mengunjungi Kwee An dan Ma Hoa untuk membicarakan tentang perjodohan putera mereka.

Mereka melakukan perjalanan berkuda dan seperti biasa, Lin Lin amat gembira di dalam perjalanan itu sehingga suaminya sering kali memandang dengan kagum karena merasa seakan-akan isterinya ini masih seperti dulu saja! Baginya, Lin Lin sampai sekarang tidak berubah, masih seperti Lin Lin pada waktu remaja puteri, lincah dan jenaka.

Pada suatu hari, ketika sepasang suami isteri pendekar ini berada di sebelah selatan kota Tiang-an, kurang lebih tiga puluh lie lagi dari Tiang-an, dan mereka sedang menjalankan kuda dengan cepatnya, tiba-tiba pada sebuah tikungan jalan, hampir saja kuda mereka beradu dengan seekor kuda yang dilarikan cepat dari depan!

Penunggang kuda itu seorang pemuda yang tampan dan gagah, cepat menarik kendali kudanya dan sambil mengeluarkan suara keras, kudanya yang besar itu berhenti dengan tiba-tiba, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan meringkik-ringkik!

Pemuda ini adalah Kam Liong, panglima muda yang sedang menuju ke selatan untuk mengadakan pemeriksaan pada penjagaan di selatan, serta sekaligus hendak singgah di Shaning untuk mewartakan kepada Pendekar Bodoh tentang mala petaka yang menimpa diri puteranya.

Kam Liong membelalakkan matanya dan tadinya dia hendak marah terhadap dua orang penunggang kuda itu, akan tetapi akhirnya dia menjadi heran dan terkejut sekali betapa dua orang penunggang kuda itu pun dapat menghentikan kuda mereka dengan tiba-tiba dan tenang saja, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Ia sendiri yang terkenal sebagai seorang ahli penunggang kuda hanya bisa menghentikan larinya kuda dengan kekerasan sampai kudanya merasa sakit pada hidungnya sehingga berjingkrak-jingkrak, akan tetapi bagaimanakah dua orang itu demikian tenang dan kuda mereka berhenti seakan-akan empat kaki kuda mereka tiba-tiba berakar pada tanah?

Dia dapat menduga bahwa dua orang yang nampaknya gagah ini tentulah orang-orang berkepandaian tinggi, maka cepat Kam Liong melompat turun dari kudanya dan menjura dengan hormatnya.

“Harap Ji-wi sudi memberi maaf kepada siauwte kalau siauwte mendatangkan kekagetan kepada Ji-wi.”

“Siapa yang kaget?” Lin Lin menjawab sambil tersenyum manis karena dia merasa suka kepada pemuda yang nampak sopan ini. “Kalau ada yang kaget, agaknya kudamu itulah yang kaget.”

Merah muka Kam Liong mendengar ucapan nyonya setengah tua yang cantik itu. Walau pun nyonya itu mengatakan bahwa yang kaget adalah kudanya, akan tetapi tentu mereka itu telah melihat bahwa yang kaget sebenarnya adalah dia sendiri!

“Siauwte she Kam bernama Liong,” ia memperkenalkan diri, “karena siauwte mempunyai urusan penting, maka buru-buru membalapkan kuda. Sungguh sangat hebat kepandaian Ji-wi menunggang kuda, benar-benar membuat siauwte tunduk sekali.”

Cin Hai dan Lin Lin memandang tajam. Jadi inikah pemuda putera Panglima Hong Sin seperti yang telah diceritakan oleh Lili itu? Tentu saja mereka tidak menduga sama sekali oleh karena Kam Liong memang selalu berpakaian biasa saja apa bila sedang melakukan pemeriksaan.

“Kaukah putera dari Panglima Kam Hong Sin?” tanya Cin Hai tiba-tiba dengan langsung, sesuai dengan wataknya yang jujur.

Kam Liong tertegun. “Benar, Lo-enghiong, tidak tahu siauwte sedang berhadapan dengan siapakah?”

“Ayahmu adalah seorang yang jujur dan baik,” kata Cin Hai tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, “kami kenal baik dengan ayahmu itu. Sayang kami belum dapat bertemu lagi sebelum dia gugur dalam peperangan.”

Kam Liong memandang semakin tajam dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Cepat dia mengerling ke arah nyonya itu, dan sekilas melihat saja maka lenyaplah keraguannya. Wajah nyonya itu sama benar dengan wajah Lili, gadis yang dirindukannya!

Dengan hati berdebar gembira dia menjura lagi sambil berkata, “Salahkah kalau siauwte mengatakan bahwa Sie-taihiap, Pendekar Bodoh yang terhormat bersama dengan isteri yang siauwte hadapi ini?”

“Pandangan matamu tajam juga, orang muda. Kau tidak menduga salah,” jawab Lin Lin.

Mendadak Kam Liong menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan senyum di bibir, kemudian terpaksa mereka pun melompat turun dari kuda. Cin Hai cepat memegang pundak Kam Liong untuk mengangkatnya bangun.

Pemuda ini amat cerdik. Dia tertarik oleh Lili dan ingin sekali meminang gadis itu menjadi isterinya, maka kini bertemu dengan orang tua gadis itu, cepat ia memberi hormat. Ketika merasa betapa kedua tangan Cin Hai menyentuh pundaknya, Kam Liong secara sengaja mengerahkan tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) supaya dapat memperlihatkan kemampuannya.

Akan tetapi, alangkah kagetnya saat pundaknya yang tadinya dikeraskan dengan tenaga Jeng-king-kang itu begitu tersentuh dan tertekan oleh jari-jari tangan Cin Hai, mendadak tenaganya lenyap sama sekali dan tubuhnya berubah menjadi lemas hingga dia terpaksa menurut saja ketika dia diangkat bangun.

“Mohon ampun sebanyaknya bahwa siauwte yang bodoh bermata buta, tidak melihat dan mengenal pendekar-pendekat besar! Sebenarnya pertemuan ini sangat membahagiakan hatiku, karena sesungguhnya siauwte memang hendak pergi ke Shaning ingin bertemu dengan Ji-wi.”

“Ada keperluan apakah Ciangkun hendak bertemu dengan kami?” tanya Cin Hai sambil memandang dengan penuh perhatian, karena sesungguhnya ia tidak begitu suka untuk berhubungan dengan segala perwira atau panglima kerajaan. Hatinya masih terluka oleh sepak terjang para perwira kerajaan yang banyak menyusahkan hidupnya pada waktu ia muda dulu.

Akan tetapi, hati Lin Lin sudah tertarik oleh kesopanan pemuda ini. Biar pun dia memiliki kedudukan tinggi, akan tetapi pandai sekali membawa diri, tidak sombong dan bersikap sopan santun. Bagi para pembaca yang sudah pernah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Lin Lin sendiri adalah puteri dari seorang perwira, maka tentu saja dia tidak merasakan ketidak sukaan terhadap kaum perwira seperti yang dirasakan oleh suaminya.

“Tentu ada keperluan yang amat penting sehingga Ciangkun sampai meninggalkan kota raja untuk mencari kami,” kata Lin Lin dengan suara lebih halus.

“Sesungguhnya, siauwte membawa berita yang amat penting mengenai keadaan putera Ji-wi, yaitu Sie Hong Beng.”

“Dia di mana? Apa yang terjadi?” Lin Lin mendesak dengan muka berubah mengandung kekuatiran.

Sudah lajimnya para lbu selalu menguatirkan keadaan puteranya. Cin Hai tetap tenang saja dan hanya sinar matanya yang mendesak kepada Kam Liong supaya cepat-cepat menceritakan apa yang telah terjadi atas diri Hong Beng.

Kam Liong lalu menuturkan dengan sejelasnya betapa Goat Lan dan Hong Beng dengan cara kekerasan telah berhasil menolong Putera Mahkota, dan betapa kemudian Goat Lan diberi karunia, diangkat menjadi selir pertama untuk Putera Mahkota yang ditolak dengan tegas oleh Giok Lan sehingga gadis itu dihukum buang ke utara dan dikawani oleh Hong Beng! Tentu saja ia tidak lupa untuk menuturkan betapa ia telah menyusul kedua orang muda itu dan memberi kuda serta memberi petunjuk.

“Siauwte sudah memberi tahu kepada Saudara Hong Beng dan Nona Kwee agar supaya mereka dan para pengawal mereka mengambil kedudukan di lereng Gunung Alkata-san, di mana siauwte dahulu mempunyai sebuah benteng yang cukup baik kedudukannya dan kuat. Bila sudah selesai tugas siauwte ke selatan, siauwte juga akan memimpin pasukan ke utara. Hal ini penting sekali karena bukan hanya bangsa Tartar saja yang mengacau, akan tetapi ada desas-desus yang mengabarkan bahwa kini bangsa Mongol di utara di bawah pimpinan raja mereka, Malangi Khan, juga hendak menyerbu ke selatan!”

Mendengar penuturan pemuda ini, Cin Hai hanya menggigit bibirnya, akan tetapi Lin Lin membanting-banting kedua kakinya dengan gemas.

“Kaisar bu-to (tiada pribudi)! Sudah ditolong nyawa anaknya, masih tidak berterima kasih, bahkan hendak menjadikan calon mantuku sebagai selir Putera Mahkota! Dia kira orang macam apakah Goat Lan itu? Sungguh tak tahu membedakan orang!”

Kam Liong adalah seorang panglima muda yang mempunyai kesetiaan terhadap Kaisar, seperti ayahnya dahulu. Oleh karena itu, mendengar betapa Lin Lin memaki Kaisar, dia menjadi tidak senang juga. Ia pun terkejut mendengar bahwa Goat Lan adalah tunangan Hong Beng sebagaimana baru saja disebut oleh Lin Lin bahwa Goat Lan adalah calon mantunya. Untuk membela nama Kaisar, Kam Liong berkata,

“Sayang sekali bahwa Nona Kwee Goat Lan atau Saudara Sie Hong Beng tidak berterus terang saja kepada Hong-siang bahwa mereka berdua sudah bertunangan. Kalau Kaisar mengetahui akan hal ini, siauwte merasa pasti Nona Kwee tak akan dipaksa menjadi selir Putera Mahkota. Sebenarnya, menjadi selir pertama dari Putera Mahkota adalah suatu kehormatan yang tinggi sekali, karena siapa tahu kalau Putera Mahkota kelak menjadi kaisar dan selir pertama sangat dicintanya, wanita itu mempunyai harapan untuk menjadi permaisuri? Dengan penolakan Nona Kwee, penolakan secara langsung di hadapan para menteri serta pembesar tinggi, sudah tentu saja Kaisar merasa terhina sekali sehingga menjatuhkan hukum buang. Siauwte menjelaskan hal ini supaya Ji-wi tidak menjadi salah mengerti.”

Cin Hai dan Lin Lin mengangguk-angguk, bahkan Cin Hai lalu menarik napas panjang dan berkata,

“Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu kaum bangsawan dan pembesar mempunyai kekuasaan dan kebenaran tersendiri, tanah yang mereka injak pun berada di atas kepala rakyat kecil!”

“Kita harus menyusul Beng-ji ke utara!” kata Lin Lin. “Baiknya kita memberi tahu kepada Engko An dan Enci Ma Hoa tentang hal ini. Mereka juga berhak mendengar berita perihal puteri mereka.”

“Ke utara bukan tempat dekat dan tidak dapat dilakukan dalam waktu pendek. Kalau kita langsung ke sana, bagaimana dengan Lili? Apakah dia takkan gelisah dan menanti-nanti kita?” kata Cin Hai. Kedua suami-isteri ini dalam ketegangannya sampai lupa bahwa di situ masih ada Kam Liong yang diam-diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Maaf, Ji-wi harap jangan mengira siauwte hendak kurang ajar. Akan tetapi sesungguhnya perjalanan siauwte ke selatan akan melalui Shaning. Jika kiranya Ji-wi tak berkeberatan, siauwte dapat menyampaikan berita ini ke rumah ji-wi, karena siauwte pernah mendapat kehormatan bertemu dengan puteri Ji-wi.”

Cin Hai mengerutkan keningnya, akan tetapi Lin Lin menjawab dengan girang,

“Bagus, kau baik sekali, Ciangkun. Lili juga telah menceritakan pertemuannya denganmu. Baiklah, apa bila kau melalui Shaning, tolong kau beritahukan kepada puteri kami bahwa kami mungkin akan terus ke utara untuk menyusul Hong Beng.”

Kam Liong merasa girang sekali, akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya, hanya menyatakan kesanggupannya dengan sikap sopan. Mereka lalu berpisah, kedua suami-isteri pendekar itu cepat mengaburkan kudanya ke Tiang-an, ada pun Kam Liong dengan hati girang lalu menuju ke Shaning.

Ketika tiba di halaman depan rumah gedung yang ditinggali oleh Kwee An di Tiang-an, seorang pelayan tua yang segera mengenal mereka cepat menyambut dan memegang kendali kuda mereka untuk dibawa ke kandang kuda.

“Selamat datang, Sie-taihiap berdua, selamat datang!” katanya girang.

Terdengar suara teriakan girang dan nampak seorang anak laki-laki yang bermuka putih dan bundar berusia kurang lebih sembilan tahun berlari keluar dari pintu depan.

“Kouw-kouw dan Kouw-thio datang...!” serunya.

“Cin-ji (Anak Cin), engkau sudah besar sekarang!” seru Lin Lin yang segera menyambut anak itu dengan kedua tangan terbuka. Dipeluknya Kwee Cin, anak ke dua dari Kwee An dan Ma Hoa dengan girang.

Pada waktu Cin Hai memeluknya pula, anak itu berbisik kepadanya, “Kouw-thio (Paman, suami Bibi), kapan kau mau mengajarku Liong-cu Kiam-sut?”

Cin Hai tertawa. Ketika anak ini baru berusia lima tahun, anak ini telah pula mengajukan permintaan untuk belajar ilmu pedang darinya. Dan sekarang anak ini menanyakan hal itu pula, sungguh seorang anak yang teguh kehendaknya.

“Bukankah ilmu pedang ayahmu juga bagus sekali? Dan ilmu bambu runcing ibumu tiada keduanya di dunia ini!” kata Cin Hai.

Kwee Cin berkata bangga, “Memang ilmu bambu runcing Ibu tidak ada bandingannya di atas dunia ini, akan tetapi kata Ayah, dalam hal ilmu pedang, tak ada yang melebihi Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut dari Kouw-thio!”

“Baiklah, Cin-ji, kelak kalau ada waktu, kau boleh mempelajari ilmu pedang dariku.”

Kwee Cin menjadi girang sekali dan ia lalu menarik tangan bibi dan pamannya itu, diajak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, sebelum mereka melangkah ke ambang pintu, dari dalam keluarlah Kwee An dan Ma Hoa dengan wajah girang sekali. Kedua suami isteri ini telah mendengar dari pelayan akan kedatangan kedua orang tamu dari Shaning ini.

Mereka segera bercakap-cakap dengan gembira sekali, akan tetapi kegembiraan mereka itu tidak berlangsung lama, terutama bagi pihak tuan rumah. Ketika Lin Lin menceritakan lagi penuturan Kam Liong mengenai peristiwa yang terjadi di istana kaisar dan hukuman yang dijatuhkan Kaisar kepada Goat Lan, wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Seperti juga suaminya, Ma Hoa juga puteri seorang perwira, maka ia tahu betul akan arti semua peristiwa ini.

“Keputusan Kaisar tidak dapat diubah. Tidak ada jalan lain, kita harus menyusul ke utara untuk membantu tugas yang diberikan kepada anak kita!” kata Ma Hoa sesudah dapat menenteramkan hatinya dari berita mengejutkan ini.

“Memang kami berdua pun telah mengambil keputusan hendak menyusul ke sana,” kata Lin Lin yang kemudian menceritakan bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah mendapat pertolongan Kam Liong bahkan telah diberi nasehat untuk menempati bekas benteng di lereng Bukit Alkata-san.

“Biar aku saja yang pergi bersama Lin Lin dan Cin Hai,” kata Kwee An kepada isterinya. “Kita tidak dapat pergi berdua meninggalkan Cin-ji seorang diri di rumah. Begitu banyak orang-orang jahat sedang memusuhi kita, maka tidak baik kalau rumah ditinggalkan, apa lagi jika meninggalkan Cin-ji seorang diri tanpa ada yang menjaganya.”

“Ayah, aku juga mau pergi! Aku mau ikut pergi menyusul Enci Lan dan membantu dia menghancurkan para pengacau yang mengganggu orang-orang di daerah perbatasan!” tiba-tiba Kwee Cin berkata dengan penuh semangat. Anak ini nampak lucu sekali, kedua tangannya dikepal dan sepasang matanya bersinar-sinar!

“Tidak boleh, sama sekali tidak boleh!” ayahnya berkata. “Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah. Kau tinggal di rumah dengan ibumu!”

Kwee Cin tampak murung, akan tetapi Ma Hoa yang dapat merasakan kebenaran ucapan suaminya ini, lalu menghibur puteranya dan berkata, “Ayahmu berkata benar, Cin-ji. Kau tak boleh ikut dan kita berdua tinggal di rumah menjaga kalau-kalau ada musuh datang.”

“Kalau ada musuh datang, jangan sembunyikan aku di dalam kamar, Ibu. Biarkan aku ikut menghadapi mereka!”

Sesudah ibunya menyanggupi, barulah Kwee Cin tidak murung lagi. Cin Hai dan Lin Lin hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An, dan pada keesokan harinya, Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin berangkat naik kuda menuju ke utara.

*****

Cersil karya Kho Ping Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su

Kam Liong yang merasa senang sekali, membalapkan kudanya menuju ke kota Shaning. Ia merasa amat bahagia, karena dapat bertemu dengan Pendekar Bodoh dan isterinya dan bisa membantu mereka. Tak dapat tidak, dia tentu telah mendatangkan kesan baik di dalam hati mereka. Akan lebih licinlah jalan menuju kepada cita-citanya, yaitu melakukan pinangan terhadap Lili. Dan sekarang ia bahkan telah mendapat perkenan mereka untuk menyampaikan berita tentang Hong Beng dan tentang kedua suami isteri itu kepada Lili, gadis yang membuatnya tidak nyenyak tidur setiap malam.

Akan tetapi, ketika ia teringat akan sesuatu, tak terasa pula ia menahan lari kudanya. Ia duduk di atas kuda yang kini tak lari lagi itu dengan bengong dan wajahnya menjadi amat muram. Bagaimana kalau ternyata bahwa Lili juga telah ditunangkan dengan lain orang? Seperti halnya Hong Beng dan Goat Lan, tanpa ia duga mereka ini sudah bertunangan! Siapa tahu kalau-kalau Lili juga sudah ditunangkan! Tidak, tidak, tidak mungkin! Ia cepat membantah jalan pikirannya sendiri dan kembali ia mengaburkan kudanya.

Ketika ia memasuki kota Shaning, tiba-tiba ia melihat seorang gadis berjalan seorang diri dari depan. Ia menjadi terkejut dan juga girang karena ia mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Lili yang berjalan sambil menggendong buntalan, ada pun gagang pedangnya nampak pada balik punggungnya. Meski pun gadis itu berada di tempat yang jauh, sekali melihat bayangannya saja, Kam Liong akan mengenalnya!

Ia cepat melompat turun dari kudanya dan kini ia berjalan kaki sambil menuntun kuda, menyongsong kedatangan Lili. Gadis ini pun ternyata sudah mengenalinya, maka segera menghampirinya. Lili bukan seorang gadis pemalu dan dia ramah tamah pula. Panglima muda ini telah berlaku ramah kepadanya, bahkan telah memberi surat tentang kakaknya, maka tidak dapat dia membiarkan pemuda itu berlalu begitu saja. Sesudah berhadapan keduanya saling memberi hormat sambil menjura.

“Sie-siocia (Nona Sie), sungguh kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini! Aku sedang menuju ke rumahmu untuk menyampaikan pesan orang tuamu!”

Lili tertegun. Bagaimana ayah bundanya dapat menyampaikan pesan kepadanya melalui Panglima Muda ini? Akan tetapi, setelah membalas penghormatan pemuda itu ia berkata,

“Di manakah kau berjumpa dengan ayah ibuku, Kam-ciangkun?”

“Di luar kota Tiang-an. Akan tetapi, marilah kita duduk di sana karena ceritaku panjang, Nona.” Kam Liong menunjuk ke arah sebatang pohon besar yang berada di pinggir jalan, maka Lili lalu mengikuti pemuda ini ke tempat itu.

Setelah mengikat kudanya pada akar pohon dan membiarkan binatang itu makan rumput di bawah pohon, Kam Liong lalu mengajak gadis itu duduk di atas batu besar dan dia pun mulai menceritakan semua hal yang telah terjadi. Ia menuturkan tentang Goat Lan dan Hong Beng, kemudian menuturkan pula tentang pertemuannya dengan Pendekar Bodoh dan isterinya.

“Kalau begitu, ayah dan ibuku telah berangkat dan menyusul ke utara, Kam-ciangkun?”

Kam Liong mengangguk. “Mungkin ayah bundamu telah pergi dengan Kwee Lo-enghiong, karena menurut mereka, sebelum berangkat hendak pergi ke Tiang-an mengajak orang tua gagah she Kwee itu.”

Lili nampak kecewa. “Ahh, kalau begitu mereka tentu telah berangkat. Aku harus segera menyusul mereka ke utara! Ahh, kasihan sekali Engko Hong Beng dan Enci Goat Lan!” Kemudian ia bangkit berdiri, menjura kepada Kam Liong dan berkata,

“Kam-ciangkun, banyak terima kasih untuk semua jerih payahmu menyampaikan berita penting ini kepadaku. Aku harus berangkat sekarang juga untuk menyusul mereka di utara!”

“Nanti dulu, Nona Sie. Ketahuilah bahwa aku sendiri pun hendak memimpin pasukan menuju ke utara. Aku telah berjanji kepada kakakmu untuk membantu mereka menghalau para pengacau dan membuat penjagaan kuat di perbatasan utara untuk menolak bahaya yang datang dari pihak Mongol. Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah, selain di daerah itu amat tidak aman dan banyak sekali penjahat, juga bagi yang belum pernah melakukan perantauan ke daerah itu, akan sukar mencari jalan ke Alkata-san. Tentu saja aku percaya penuh bahwa kau tak akan gentar menghadapi para penjahat, akan tetapi, kalau kau sudi, lebih baik kau melakukan perjalanan bersama aku dan pasukanku. Selain tidak membuang banyak waktu untuk mencari-cari, juga di tempat berbahaya itu lebih baik berkawan dari pada seorang diri saja. Daerah itu amat dingin dan kalau sampai kau terserang hawa dingin kemudian jatuh sakit, siapakah yang akan menolongmu? Dengan bergabung, kita lebih kuat menghadapi bahaya. Tentu saja aku tidak memaksamu, yakni kalau kau sudi melakukan perjalanan dengan orang bodoh seperti aku ini.”

Lili berpikir sejenak. Panglima Muda ini cukup sopan dan pemurah, juga seorang kawan seperjuangan yang tidak menjemukan. Dan dia sudah banyak menolongnya, maka apa salahnya melakukan perjalanan bersama? Kalau dipikir-pikir memang betul juga ucapan Panglima Muda ini, karena bukankah Sin Kong Tianglo, guru dari Goat Lan yang sangat sakti pun terkena bencana di daerah dingin itu? Selain dari pada semua itu, dia masih ingin banyak bertanya kepada panglima ini, baik mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, mau pun penjelasan tentang isi suratnya dahulu, yaitu surat dari Kam Liong yang memberitahukan bahwa kakaknya telah menjadi orang buruan!

“Baiklah, Kam-ciangkun, dan untuk kedua kalinya, terima kasih atas kebaikan hatimu.”

Kam Liong merasa girang sekali, seakan-akan kejatuhan bulan. Akan tetapi tentu saja ia tak mengutarakan kegirangannya ini, hanya nampak senyumnya melebar dan wajahnya berseri.

“Marilah kita ke kota Shaning dulu, Nona. Aku perlu memberi pesan kepada pembesar di Shaning agar pekerjaanku memeriksa penjagaan di selatan dapat diwakili oleh seorang perwira lain.”

Demikianlah, kedua orang muda ini masuk kota Shaning dan Kam Liong cepat memberi perintah pada pembesar setempat untuk menyampaikan surat-surat perintahnya kepada komandan barisan yang menjaga di daerah selatan. Ketika melihat tanda pangkat yang dikeluarkan oleh Kam Liong, pembesar itu segera menghormatinya sebagai seorang panglima kerajaan yang berkedudukan tinggi. Pemuda ini lalu meminta seekor kuda yang baik untuk Lili, dan pada hari itu juga, berangkatlah keduanya keluar dari kota Shaning, langsung menuju ke utara!

Sungguh sangat sedap dipandang melihat sepasang orang muda ini membalapkan kuda mereka. Yang laki-laki muda, tampan, dan gagah sekali. Yang wanita cantik jelita dan juga amat gagah. Mereka seakan-akan merupakan dua orang pembalap yang melarikan kuda untuk berlomba.

Diam-diam Kam Liong makin merasa kagum kepada Lili yang ternyata selain memiliki kepandaian tinggi, juga pandai sekali naik kuda. Ingin sekali dia menyaksikan sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian puteri dari Pendekar Bodoh ini. Dia telah menyaksikan kepandaian Hong Beng dan merasa kagum sekali. Apakah Lili juga sepandai kakaknya?

Di sepanjang jalan, Kam Liong selalu disambut dengan penuh penghormatan oleh para perwira dan pembesar setempat sehingga diam-diam Lili juga mengagumi pemuda yang masih muda sudah menduduki tempat tinggi ini. Juga Kam Liong selalu memperlihatkan sikap sopan santun, jauh sekali bedanya dengan pemuda kurang ajar yang dulu mencuri sepatunya itu! Lebih-lebih kalau ia teringat betapa pemuda kurang ajar itu telah menculik Lo Sian, makin gemaslah hatinya!

Pada saat Kam Liong ditanya oleh Lili mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, Panglima Muda ini lalu menceritakannya dengan sejelasnya, diiringi dengan pujian-pujian kepada Goat Lan dan Hong Beng sehingga Lili makin suka kepada pemuda ini.

“Dan ketika aku melihatmu, kau nampak murung. Sebenarnya, kalau boleh kiranya aku mengetahui, kau sedang menuju ke manakah, Nona?”

Apa bila pertanyaan ini diajukan oleh Kam Liong pada saat mereka bertemu, belum tentu Lili mau menceritakannya. Akan tetapi oleh karena gadis ini melihat betapa Kam Liong sungguh-sungguh seorang pemuda yang baik, gagah, dan boleh dijadikan kawan, ia lalu berkata sambil menarik napas panjang.

“Ahh, di rumah telah terjadi peristiwa yang cukup menggemparkan dan membingungkan hatiku.”

Kam Liong segera memandang dengan penuh perhatian. “Apakah yang terjadi, Nona? Siapa kiranya orang gila yang berani main-main di rumah orang tuamu?”

“Ada orang jahat yang telah menculik Sin-kai Lo Sian bekas suhu-ku.”

“Apa...? Kau maksudkan Sin-kai Lo Sian, orang tua gagah yang kujumpai bersamamu dulu, orang tua yang menuliskan kata-kata bersemangat di dinding makam panglima itu?”

Lili mengangguk. “Benar, dia yang diculik orang.”

Ia lalu menuturkan peristiwa yang terjadi di rumahnya, betapa seorang pemuda bernama Song Kam Seng masuk ke dalam rumah seperti maling dan betapa tahu-tahu Lo Sian telah lenyap. Ia tidak menceritakan kepada Kam Liong bahwa ia tahu siapa penculik itu. Hatinya segan menuturkan siapa adanya orang yang menculik Lo Sian, karena kalau memang betul pemuda kurang ajar itu adalah putera Ang I Niocu, bukankah itu berarti ia memburukkan nama Ang I Niocu yang amat dikasihi oleh ayah bundanya?

Kam Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aneh sekali. Orang yang bernama Song Kam Seng itu, mengapa dia masuk rumah seperti pencuri? Apakah yang dicurinya?”

“Entahlah, hanya kutahu bahwa dia menaruh hati dendam terhadap ayah, dan rupanya karena ayah tidak berada di rumah dia hendak mencuri sesuatu.”

“Yang lebih aneh lagi adalah lenyapnya Sin-kai Lo Sian. Siapa orangnya yang berani dan dapat menculiknya? Dia adalah seorang tua yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimana bisa diculik begitu saja? Aku masih meragukan apakah betul-betul diculik orang. Siapa tahu kalau memang dia sengaja pergi? Orang-orang kang-ouw memang banyak yang mempunyai watak aneh,” kata- pemuda itu.

Setelah diam sejenak, Lili teringat akan surat dulu itu, maka tanyanya, “Dan sekarang, Kam-ciangkun, maukah kau menjelaskan isi suratmu kepadaku dahulu itu? Kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh kakakku Hong Beng sehingga kau menyatakan bahwa dia menjadi orang buruan?”

Merahlah wajah Kam Liong mendengar pertanyaan ini. “Aku telah salah sangka, Nona. Ketika itu, aku memang mengira bahwa pemuda itu putera Pendekar Bodoh, karena dia pandai sekali dan dia dapat mainkan ilmu-ilmu silat yang menjadi kepandaian ayahmu. Akan tetapi ketika aku bertemu dengan Saudara Hong Beng barulah aku tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu bukanlah putera ayahmu.” Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dari tangan Gui Kongcu.

Mendengar penuturan ini, diam-diam Lili merasa dadanya tidak enak sekali. Hemm, tidak tahunya ‘pemuda kurang ajar’ yang telah merampas sepatunya itu telah menolong gadis cantik yang dulu dilihatnya mengejar-ngejar pemuda itu dan agaknya hubungan mereka menjadi demikian eratnya sehingga mereka tidak dapat berpisah lagi!

Mendengar penuturan Kam Liong bahwa pemuda yang disangka saudaranya itu memiliki pedang yang berbentuk naga dan lidah merah dari pedang naga itu lihai sekali, dia tidak sangsi pula bahwa pemuda yang menolong Lilani itu tentulah pemuda kurang ajar yang mengaku-putera Ang I Niocu.

“Tahukah kau, Kam-ciangkun, siapa nama pemuda yang kau sangka saudaraku itu?”

“Dia berwatak aneh, keras dan tinggi hati sekali, Nona. Dia tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi ilmu pedangnya sungguh-sungguh hebat sekali. Kalau melihat ilmu silatnya, kurasa kepandaiannya tak berada di sebelah bawah dari kepandaian kakakmu, Saudara Hong Beng.”

Lili mencibirkan bibirnya sehingga dalam pandangan Kam Liong nampak manis sekali. “Huh, kepandaian macam itu saja mengapa dikagumi? Kalau aku bertemu dia, pedang naganya pasti tak akan berkepala lagi!”

Kam Liong merasa heran sekali mengapa gadis ini agaknya amat marah dan membenci pemuda berpedang naga itu, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Makin besar keinginan hatinya untuk menyaksikan kepandaian gadis yang agaknya jumawa sekali ini. Dia tidak percaya apa bila kepandaian gadis ini akan lebih tinggi dari pada kepandaian pemuda yang menolong Lilani itu.

Pada waktu mereka tiba di kota raja, Kam Liong segera mengajak Lili singgah di rumah gedungnya dan ia memperkenalkan gadis ini kepada ibunya yang sudah janda. Nyonya Kam ternyata adalah seorang wanita terpelajar yang halus dan ramah-tamah, dan terus mengajak Lili bercakap-cakap.

Sementara itu Kam Liong lalu membuat laporan kepada Kaisar, dan kemudian menerima perintah untuk memimpin sepasukan besar tentara pilihan untuk menuju ke utara dan menggempur para pengacau serta memperkuat penjagaan tapal batas karena terdengar berita akan adanya serangan dari Malangi Khan, raja bangsa Mongol.

Kam Liong membutuhkan waktu selama tiga hari di kota raja untuk membuat persiapan, kemudian berangkatlah pasukan di bawah pimpinannya. Kini pemuda itu mengenakan pakaian panglima dan makin gagah saja. Lili minta diri dari Nyonya Kam yang baik hati, kemudian gadis ini pun ikut dengan pasukan itu, naik kuda di depan bersama Kam Liong.

Ketika mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh, semua perwira dalam barisan itu menjadi kagum dan diam-diam mereka tersenyum karena menaruh harapan bahwa komandan mereka, Kam-ciangkun, akan berjodoh dengan pendekar wanita yang lincah dan jelita ini.

Lima hari setelah pasukan ini berangkat ke utara, mereka mulai melewati daerah yang amat sukar dan dingin. Diam-diam Lili merasa bersyukur bahwa ia ikut dalam rombongan ini, karena memang harus diakuinya bahwa kalau dia melakukan perjalanan seorang diri tentu dia akan menempuh kesukaran besar sekali.

Pada suatu hari, ketika pasukan itu dengan susah payah mendaki sebuah lereng gunung yang tertutup salju, tiba-tiba saja Kam Liong dan Lili yang berkuda di depan, melihat dua orang tua berlari cepat dari arah kanan.

“Hei...! Bukankah itu Kam-ciangkun yang memimpin pasukan?” tiba-tiba salah seorang di antara kedua kakek itu berseru girang sambil berlari menghampiri.

Ketika kedua orang ini sudah dekat, hampir saja Lili tidak dapat menahan ketawanya. Dia melihat dua orang pendeta, seorang tosu dan seorang hwesio yang keadaannya sangat lucu.

Mereka sudah tua dan tosu itu bertubuh tinggi kurus, mukanya yang keriputan saking tuanya itu nampak makin menyedihkan karena selalu dia bermuka seperti orang hendak menangis! Ada pun hwesio yang menjadi kawannya itu pun lucu sekali. Tubuhnya gemuk seperti tong besar, bajunya terbuka sehingga biar pun berada di tempat dingin, perutnya yang gendut selalu nampak. Mukanya bundar seperti bal dan selalu menyeringai seperti orang yang merasa gembira sekali.

“Kam-ciangkun, apakah kau hendak memimpin pasukanmu ke Alkata-san?” bertanya Si Tosu yang mau menangis itu.

Sebelum Kam Liong menjawab dan berkata dengan dua orang pendeta itu, Lili tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya girang,

“Apakah dua orang pendeta ini bukan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio?”

Kedua orang pendeta itu terkejut dan memandang kepada Lili dengan penuh perhatian.

“Kam-ciangkun, siapakah Nona yang cantik dan gagah ini?” Si Hwesio bertanya sambil tersenyum-seyum.

“Kawan lama, Ji-wi Losuhu (Dua Orang Pendeta). Kawan lama!” Kam Liong menjawab gembira. “Tentu Ji-wi takkan dapat menduga siapa dia, karena dia ini adalah Nona Sie Hong Lie, puteri dari Sie Cin Hai Taihiap Pendekar Bodoh!”

“Apa...?!” Ceng To Tosu dengan mewek-mewek mau menangis lalu menghampiri Lili dan memegang tangan kirinya, sedangkan Ceng Tek Hwesio yang semakin lebar ketawanya juga menghampirinya dan memegang tangan kanannya.

Pendekar Remaja Jilid 19

Pendekar Remaja

Karya Kho Ping Hoo

JILID 19

PADA malam hari itu, Lo Sian nampak masih duduk di atas loteng pada bagian belakang rumah, minum arak seorang diri. Baru saja datang seguci besar arak wangi yang dibeli oleh Lili dan gadis itu bahkan membuat kue yang diberikan kepada suhu-nya. Pengemis Sakti ini makan minum seorang diri sambil bernyanyi-nyanyi.

Ketika Lili yang berada di bagian bawah mendengar suara nyanyian suhu-nya, ia merasa heran. Suara pengemis Sakti itu tidak seperti biasanya, kini terdengar bernada sedih. Dia segera naik ke atas loteng dan melihat betapa bekas suhu-nya itu minum arak langsung dari guci dan kaki kirinya ditumpangkan di atas meja!

“Pek-pek, kau kenapakah?” tanya Lili sambil menghampiri kakek itu.

Lo Sian menunda minumnya dan pada saat dia menengok kepada Lili, gadis ini terkejut melihat pipi Lo Sian telah basah dengan air mata!

“Pek-pek, mengapa kau bersedih?”

Lo Sian terpaksa tersenyum ketika ia memandang wajah Lili. Alangkah sukanya ia pada gadis ini, seperti kepada puterinya sendiri.

“Tidak, Lili, aku tidak merasa bersedih. Dengan kau dan orang tuamu yang mulia berada di dekatku, bagaimana aku dapaf bersedih? Hanya aku menyesal sekali, Lili, menyesal bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang yang begini tiada guna! Aku hanya menjadi pengganggu orang tuamu, aku telah banyak mengecewakan kau dan orang tuamu sebab tidak mampu mengingat-ingat hal yang telah terjadi. Terutama sekali aku tak dapat ingat lagi di mana dan bagaimana Lie Kong Sian Taihiap meninggal dunia! Ahh, aku menjadi sebuah boneka hidup!”

“Pek-pek, kenapa hal begitu saja dibuat menyesal? Kau tak berdaya dan bukan salahmu kalau kau kehilangan ingatanmu. Lebih baik menghibur hati, agar tubuhmu menjadi sehat dan siapa tahu kalau kesehatanmu akan dapat memulihkan ingatanmu. Dengan banyak berpikir serta banyak pusing, kurasa tidak akan mendatangkan manfaat bagi ingatanmu, Pek-pek.”

“Kau betul, Lili. Kau selalu benar, sungguh aneh seorang gadis muda seperti kau dapat mengeluarkan ucapan yang begini bijaksana. Pantas benar kau menjadi puteri Pendekar Bodoh...”

Lili tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menghampiri meja dan menyalakan lilin di atas meja yang belum dipasang oleh Lo Sian. Melihat kue-kue di atas piring belum ada yang termakan oleh Lo Sian, Lili bertanya,

“Ehh, kenapa kue-kue ini belum kau makan, Pek-pek?”

“Nanti dulu, aku lebih senang minum arak yang wangi dan enak ini! Kau sungguh pandai memilih arak yang baik!” Setelah berkata demikian, Lo Sian lalu mengangkat guci besar itu dengan kedua tangannya, menuangkan isinya yang masih setengah itu langsung ke mulutnya dengan sikap seperti tadi, yaitu kaki kiri di atas meja!

Lili hanya berdiri di belakang Pengemis Sakti itu sambil tersenyum geli, karena dia dapat menduga bahwa Lo Sian tentu sudah setengah mabuk. Akan tetapi pada saat itu pula, Lili terkejut sekali melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang melayang turun laksana seekor burung besar dari atas wuwungan! Bayangan itu gerakannya gesit sekali dan melihat betapa ia melayang dengan dua lengan dikembangkan, dapat diduga bahwa dia memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Lo Sian yang sedang enak minum arak, tidak melihat berkelebatnya bayangan itu, akan tetapi Lili yang bermata tajam tentu saja dapat melihatnya. Dengan amat kuatir, gadis ini lalu meninggalkan Lo Sian, berlari turun ke bawah melalui anak tangga untuk mencegat bayangan tadi di bawah. Lo Sian masih saja minum arak, kakek ini tidak heran melihat Lili berlari-larian karena hal ini sudah menjadi kebiasaan gadis jenaka ini

Ketika tiba di bawah, Lili tidak melihat bayangan orang. Cepat-cepat dia melompat keluar dan mengelilingi rumahnya. Bayangan tadi dilihatnya melompat ke bawah ke arah depan rumah, akan tetapi mengapa sekarang tidak nampak lagi? Apakah dia salah lihat? Tidak mungkin, pikirnya, dan dengan penasaran sekali ia kemudian menyelidiki seluruh pinggir rumahnya.

Ketika tidak menemukan sesuatu, dia cepat masuk lagi ke dalam rumah dan tiba-tiba dia teringat bahwa ayah bundanya mempunyai banyak musuh. Cepat dia menuju ke kamar ayah dan ibunya yang berada di sebelah dalam. Kagetlah ia ketika melihat bahwa kamar ayah bundanya ternyata telah dimasuki orang, karena pintu kamar yang tadinya terkunci kini sudah dibuka dengan paksa!

Cepat dia ke dalam dan di situ kosong saja. Hanya sebuah lemari kayu, tempat pakaian ayah bundanya telah dibongkar orang secara paksa dan sekarang terbuka dengan isinya berantakan ke bawah. Ia merasa heran, karena pakaian itu masih utuh, tidak ada yang hilang, demikian pula tempat uang tidak diganggu.

Siapakah bayangan tadi dan apa maksudnya membongkar lemari dan memasuki kamar ayah bundanya? Dia cepat mengejar lagi keluar dari kamar. Lili marah sekali dan ingin ia menangkap maling itu. Kini dia berlari menuju ke belakang.

Makin marah dan gemas hatinya melihat tiga orang pelayan rumahnya, seorang pelayan laki-laki dan dua orang pelayan wanita sudah berada dalam keadaan tertotok di ruangan belakang. Ketika dia menghampiri mereka untuk membebaskan mereka dari totokan, dia mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya pada waktu melihat bahwa ketiga orang pelayan ini terkena totokan yang sama dengan ilmu totok yang dipelajarinya sendiri yakni ilmu totok dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Tiba-tiba teringatlah dia akan sesuatu dan mukanya menjadi merah padam. Siapa lagi kalau bukan pemuda kurang ajar yang telah merampas sepatunya dulu? Pemuda yang mengaku putera Ang I Niocu? Hanya pemuda itu saja yang pandai Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na!

Kalau memang betul bayangan orang yang menjadi maling ini ternyata adalah pemuda putera Ang I Niocu yang belum diketahui namanya itu, kenapa ia datang seperti seorang maling? Tak mungkin putera Ang I Niocu melakukan hal ini!

Tiba-tiba ia teringat kepada Lo Sian yang berada di atas loteng dan wajahnya menjadi pucat ketika dia teringat betapa dahulu di rumah Thian Kek Hwesio, pemuda itu pernah menyerang Lo Sian karena marah mendengar Pengemis Sakti itu menyatakan bahwa Lie Kong Sian telah mati!

Dia cepat berlari-lari melalui anak tangga menuju ke loteng dan alangkah kagetnya ketika ia melihat guci arak yang tadi diminum oleh Lo Sian, kini telah menggeletak di atas lantai dan isinya mengalir keluar. Lo Sian sendiri tidak kelihatan pergi ke mana!

Lili menjadi bingung. Dia mencari ke sana ke mari, akan tetapi biar pun dia memanggil-manggil, tetap saja ia tidak dapat menemukan Lo Sian. Hati gadis ini marah bukan main. Segera diambilnya Pedang Liong-coan-kiam dan kipasnya, kemudian dengan amat cepat dia lalu melompat keluar rumah dan mencari di sekitar rumah itu.

Tiba-tiba dia melihat bayangan dua orang sedang bertempur dengan hebatnya. Karena malam itu sangat gelap, Lili hanya dapat melihat bahwa yang bertempur itu adalah dua orang laki-laki yang masih muda.

“Bangsat rendah, berani sekali kalian mengganggu rumahku!” berseru Lili dengan marah sekali.

Dia tidak tahu yang mana di antara kedua orang ini yang tadi datang ke rumahnya, akan tetapi dia lalu menyerbu mereka! Akan tetapi, kedua orang muda itu ketika mendengar suaranya, tiba-tiba mereka lalu menghentikan pertempuran, bahkan keduanya lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Kebetulan sekali, sinar lampu dari dalam rumahnya masih menerangi sedikit tempat itu sehingga ketika dia melihat orang yang berlari menerjang sinar penerangan ini, ia melihat bahwa orang itu adalah Song Kam Seng! Bukan main marahnya hati Lili. Ia pun maklum bahwa pemuda ini tentu datang untuk mencari ayahnya, karena bukankah Kam Seng sudah berjanji hendak membalaskan dendam hatinya karena ayahnya dulu dibunuh oleh Pendekar Bodoh?

“Kam Seng, manusia pengecut! Jangan berlaku sebagai maling hina dina! Apa bila kau berani, mari kita mengadu nyawa!” teriak Lili sambil mengejar cepat.

Akan tetapi Kam Seng tidak menjawab bahkan berlari makin cepat, dikejar terus oleh Lili. Pemuda ini memang maklum akan kepandaian Lili dan kalau dia melawan juga, ia takkan menang. Apa lagi, betapa pun juga, tak dapat dia bertempur melawan Lili, gadis musuh besarnya, gadis yang sesungguhnya amat dicintainya itu. Maka ia lalu melarikan diri lebih cepat lagi. Bukan saja karena ginkang dari Kam Seng sudah sangat maju, akan tetapi terutama sekali karena malam itu gelap, sebentar saja pemuda itu sudah meninggalkan Lili dan menghilang di dalam gelap!

Lili menjadi jengkel sekali. Ia memaki-maki, memanggil-manggil nama Kam Seng sambil menantang-nantang, akan tetapi karena tidak memperoleh jawaban, akhirnya dia kembali ke rumahnya. Dan ternyata Lo Sian masih belum kelihatan sehingga gadis ini menjadi makin bingung.

Sebetulnya, ke manakah perginya Lo Sian? Ketika dia sedang minum arak dan Lili telah berlari ke bawah, tiba-tiba dari atas wuwungan menyambar turun bayangan yang cepat masuk loteng itu. Lo Sian terkejut sekali ketika melihat seorang pemuda sudah berdiri di hadapannya. Dia mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang pernah menyerangnya di rumah Thian Kek Hwesio, yaitu pemuda yang mengaku sebagai putera Lie Kong Sian.

Sebelum ia sempat bertanya, Lie Siong, pemuda itu, telah mengulurkan tangan menotok jalan darah thian-hu-hiat di pundaknya. Totokan ini berdasarkan gerakan serangan dari Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na, ilmu silat warisan Bu Pun Su yang dulu dia pelajari dari Ang I Niocu, maka bukan main cepat dan hebatnya.

Lo Sian sedang memegang guci arak dan dia berada dalam keadaan setengah mabuk, bagaimana dia mampu menghindarkan diri dari serangan ini? Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas terkena totokan itu dan guci arak itu tertepas dari pegangannya.

Lie Siong cepat menyambar guci arak itu dan meletakkannya di atas lantai. Akan tetapi oleh karena dia tidak memperhatikan guci itu, dia meletakkan guci dalam keadaan miring sehingga isinya mengalir keluar. Kemudian, secepat kilat pemuda ini segera mengempit tubuh Lo Sian dan membawanya melompat turun!

Supaya tidak membingungkan, baiknya diceritakan secara singkat bahwa sejak berpisah dari Lo Sian dan Lili, pikiran Lie Siong sangat terganggu akibat ucapan Lo Sian yang menerangkan tentang kematian ayahnya. Oleh karena itu, ia menunda niatnya mengajak Lilani ke utara mencari rombongan suku bangsa Haimi untuk mengembalikan gadis itu kepada bangsanya, sebaliknya lalu mengajak gadis itu menuju ke Pulau Pek-le-to untuk mencari ayahnya! Akan tetapi, ia mendapatkan pulau itu berada dalam keadaan kosong!

Hatinya menjadi gelisah sekali, keadaan pemuda ini makin menderita batinnya. Pertama dia merasa menyesal akibat telah mengikat diri dengan Lilani, gadis yang amat mencinta dirinya. Kedua, dia merasa menyesal dan bingung karena mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia seperti yang dikatakan oleh Lo Sian Si Pengemis Sakti.

Dia harus dapat mencari orang tua itu untuk mencari keterangan tentang ayahnya. Akan tetapi kalau teringat betapa dia telah bertempur dan bentrok dengan Lili, puteri Pendekar Bodoh, dia menjadi bingung. Semenjak dia dapat mencabut sepatu Lili, sepatu yang kecil mungil itu selalu tersimpan dalam saku bajunya sebelah dalam, disembunyikan sebagai sebuah jimat!

Ada pun Lilani, gadis yang bernasib malang itu, semakin lama semakin merasa hancur hatinya. Dia amat mencinta Lie Siong, bersedia menyerahkan jiwa raganya, akan tetapi melihat pemuda itu sama sekali tidak mengacuhkannya, dia menjadi sedih sekali.

Bila teringat betapa dia telah kehilangan ayah bundanya, kehilangan kakeknya, dan kini dia menderita karena mencinta seorang pemuda yang tak mengacuhkannya, ahhh, gadis ini sering kali mengucurkan air mata di waktu malam. Tetapi betapa pun juga, dia selalu menyembunyikan perasaan dukanya dari mata Lie Siong.

Sesudah mendapatkan Pulau Pek-le-to kosong dan tidak mengetahui ke mana perginya ayahnya, Lie Siong lalu berkata kepada Lilani,

“Lilani, terpaksa aku harus menyusul ke Shaning...”

“Ahh, ke rumah nona cantik jelita yang galak itu? Kau dahulu bilang bahwa dia adalah puteri Pendekar Bodoh, sungguh cocok sekali...”

Lie Siong memandang tajam. “Apa maksudmu, Lilani? Kau cemburu?”

“Tidak, Taihiap, mengapa aku cemburu? Ada hak apakah maka aku dapat cemburu? Aku seorang tak berharga, tidak seperti nona puteri Pendekar Bodoh itu, yang cantik, pandai, lihai... dan...”

“Sudahlah, jangan kau berbicara tidak karuan! Hatiku sedang bingung memikirkan ayah. Siapa yang peduli gadis liar itu?” kata Lie Siong sambil mengajak gadis itu melanjutkan perjalanan. “Sekarang aku terpaksa harus pergi menyusul ke Shaning untuk menangkap pengemis gila itu. Agaknya dari dia saja aku akan mengetahui di mana adanya ayahku. Terpaksa urusan mencari suku bangsamu di utara ditunda dulu.”

Lilani tidak membantah, hanya merasa dadanya sesak oleh cemburu. Cinta orang muda manakah yang tidak terhias oleh rasa cemburu? Bukan cinta tulen kalau tidak ada rasa cemburu di dalamnya, kata orang tua.

Pada malam harinya, Lie Siong dan Lilani bermalam di sebuah hotel. Dan tidak seperti biasanya, Lie Siong berkeras tidak mau tidur sekamar dan minta kepada pelayan untuk menyediakan dua kamar yang berdampingan.

Lilani makin merasa tidak enak, gelisah dan berduka. Sampai tengah malam gadis ini tidak dapat tidur dan karena hatinya selalu teringat kepada Lie Siong, tak tertahan lagi ia lalu keluar dari kamarnya dengan perlahan. Ia sengaja membuka kedua sepatunya agar tindakan kakinya tak sampai mengagetkan Lie Siong yang ia tahu pendengarannya amat tajam itu. Ia ingin melihat apakah pemuda pujaan hatinya itu telah tidur.

Dengan kaki telanjang ia berjalan menghampiri jendela kamar Lie Siong, lalu mengintai ke dalam setelah dia mendapatkan sebuah lubang di antara celah-celah jendela itu. Dia melihat kamar itu masih terang dan ternyata pemuda pujaannya itu masih belum tidur.

Lie Siong nampak tengah duduk melamun di atas kursi dan kedua tangannya memegang sebuah benda kecil. Jari-jari tangannya mempermainkan benda itu dan ketika Lilani memandang dengan tegas, ternyata bahwa benda itu adalah sebuah sepatu yang bagus dan kecil mungil bentuknya! Bukan main panas dan perihnya hati Lilani.

Itu adalah sepatu wanita, pikirnya, dan terang bukan sepatunya. Sepatunya tidak sekecil itu! Ah, sepatu siapa lagi kalau bukan sepatu gadis puteri Pendekar Bodoh itu? Biar pun Lie Siong tidak menceritakan mengenai hasil pertempurannya melawan Lili namun Lilani dapat menduga dengan tepat.

Hal ini mudah saja bagi seorang wanita yang berada dalam keadaan cemburu, karena wanita yang sedang cemburu mempunyai kecerdikan luar biasa dalam hal menyelidiki segala sesuatu mengenai hubungan laki-laki yang dicintainya dengan wanita lain!

Bagaikan terpukul, Lilani terhuyung ke belakang dan ia menahan isak tangisnya. Karena tangisnya tak dapat tertahan lagi, maka ia tidak berani kembali ke kamarnya, takut kalau nanti Lie Siong akan mendengar suara tangisnya. Sebaliknya dia malah lari ke belakang dan keluar dari pintu belakang hotel itu menuju ke kebun belakang yang sunyi dan gelap!

Di situ dia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil kehilangan ibunya. Ia merasa sedih, gemas, dan marah. Sedih karena merasa kehilangan seorang kekasih yang dicinta sepenuh hatinya. Juga gemas melihat Lie Siong yang tak mengacuhkannya, sebaliknya tergila-gila kepada sebuah sepatu wanita lain dan marah kepada diri sendiri mengapa ia sampai demikian dalam jatuh dalam jurang asmara terhadap pemuda itu.

Di dalam kesedihannya itu, Lilani sampai tidak tahu bahwa ia tidak berada seorang diri di dalam taman itu. Dia tidak tahu bahwa di situ duduk dua orang laki-laki pemabukan yang sudah lama duduk minum arak berdua saja di situ dan keadaan mereka sudah setengah mabuk ketika Lilani datang ke situ dan menangis.

Lilani yang sedang menangis itu tiba-tiba merasa lehernya dipeluk orang dan terdengar suara parau,

“Nona manis, kenapa kau menangis? Marilah kuhibur kau…”

Lilani melompat berdiri dengan mata terbelalak. Dengan penuh kebencian dan kengerian dia melihat dua orang laki-laki menyeringai dan memandangnya seperti orang kelaparan, kemudian tangan kedua orang itu terulur maju hendak menangkapnya!

Lilani sedang merasa sedih, marah, kecewa dan perasaan yang sudah amat menggencet batinnya ini ditambah lagi oleh kebencian dan kengerian yang amat besar melihat lagak dua orang laki-laki ini. Hampir saja Lilani menjerit sekerasnya kalau ia tidak ingat bahwa jeritannya akan terdengar oleh Lie Siong dan dia tidak mau keadaannya diketahui oleh pemuda itu.

Maka sambil menahan berdebarnya hati yang membuat dadanya terasa sakit itu, ia lalu mengelak ke kiri dan tak disangkanya sama sekali, seorang di antara mereka itu memiliki gerakan yang cepat juga. Lilani sedang menderita dan keadaan malam itu agak gelap, maka gadis ini kurang cepat elakannya dan tahu-tahu lengannya sudah tertangkap oleh seorang di antara dua pemabukan itu.

“Ha-ha-ha-ha, lenganmu lemas dan halus seperti sutera, Nona... ha-ha-ha!” Orang ini lalu merangkulnya dan hendak menciumnya.

“Bukk!”

Terdengar suara orang terpukul dan disusul oleh pekik mengerikan dari laki-laki itu yang segera roboh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa lagi! Pukulan Lilani amat hebat karena selain gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan, dan kini lebih lihai karena sering kali mendapat latihan dari Lie Siong, juga pukulan dari jarak dekat ini tepat sekali mengenai ulu hati lawan sehingga jantung di dalam dada orang itu menjadi terluka!

Orang ke dua yang masih mabuk tidak tahu bahwa kawannya sudah mati, bahkan terus tertawa-tawa dan berkata kepada kawannya itu, “A-siok, terlalu sekali kau... nona manis ditinggal tidur...” Dan ia maju pula hendak merangkul Lilani.

Gadis ini sekarang sudah seperti seorang gila dan gelap mata. Sebelum tangan orang ke dua ini dapat menyentuh bajunya dia kembali mengirim serangan dengan pukulan keras ke arah dada disusul dengan tendangan ke arah lambung pemabukan ini. Terdengar jerit keras dan pemabukan ke dua ini pun roboh dalam keadaan mati!

“Eh, eh, eh, apakah yang terjadi di sini?” Seorang pelayan hotel datang berlari-lari sambil membawa sebuah lampu minyak. Akan tetapi, jawaban yang didapat hanyalah sebuah pukulan tiba-tiba yang tepat mengenai lehernya. Pelayan ini terputar di atas kakinya lalu roboh. Celaka baginya, lampu yang dibawanya itu jatuh menimpanya hingga terbakarlah pakaiannya!

Melihat betapa pelayan itu berkelojotan di dalam cahaya api, Lilani memandang dengan muka sepucat mayat dan kedua mata terbuka lebar, ada pun kedua tangannya menutup mulutnya menahan jeritannya. Alangkah ngerinya!

Dan kemudian, seperti baru sadar, dia melihat pula dua orang pemabukan yang sudah dibunuhnya di tempat itu juga. Dengan perasaan sangat tergoncang gadis yang masih bertelanjang kaki ini lalu lari secepatnya, kembali ke dalam kamarnya!

Dia berdiri di tengah kamarnya sambil terengah-engah dan meramkan kedua matanya. Kepalanya terasa pening sekali, dadanya berdetak-detak seakan-akan ada orang sedang memukul-mukulkan palu di dalamnya. Tubuhnya lemas kedua kaki menggigil dan kedua tangan gemetar. Telinganya mendengar suara gaduh yang tak karuan terdengarnya, ada pun pemandangan yang mengerikan dari ketiga mayat itu, terutama sekali pelayan yang terbakar, selalu terbayang di depan matanya.

“Aku harus tenang... harus tenang…” pikirnya dan dia lantas menjatuhkan diri di tengah kamar itu juga, duduk bersila lalu untuk menenangkan pikiran dengan bersemedhi. Untuk memperdalam lweekang-nya, memang gadis ini telah mempelajari siulian (semedhi) dari Lie Siong.

Suara ribut-ribut di luar kamarnya itu mengagetkan Lie Siong. Pemuda ini cepat-cepat menyalakan lilin di dalam kamarnya, lalu berjalan keluar hendak melihat apa gerangan yang ribut-ribut di tengah malam seperti itu. Ketika ia mendengar bahwa ada tiga orang terbunuh oleh seorang gadis, ia terkejut sekali.

Cepat dia menuju ke kamar Lilani dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa pintu kamar gadis itu setengah terbuka! Dia cepat melangkah masuk dan biar pun kamar itu gelap, dia masih dapat melihat bayangan gadis itu duduk bersila di atas lantai.

Sungguh cara siulian yang aneh, pikirnya. Kenapa tidak di atas pembaringan saja? Akan tetapi, ia tidak berani mengganggu seorang yang sedang semedhi dan secara diam-diam hendak meninggalkan kamar itu lagi kalau saja tidak mendengar isak tertahan dari gadis itu.

“Lilani, kau kenapakah?” tanyanya heran dan kuatir.

Gadis itu tidak menjawab sama sekali. Lie Siong menjadi heran dan segera menyalakan sebatang lilin di dalam kamar itu. Pada saat sinar lilin di atas meja itu sudah menerangi seluruh kamar dan ia memutar tubuh memandang, Lie Siong pun menjadi terkejut sekali. Dilihatnya Lilani dengan sepasang kaki telanjang duduk bersila di atas lantai, pakaiannya kusut, pipinya yang amat pucat itu basah dengan air matanya.

“Lilani...!” Lie Siong melangkah maju, berlutut dekat gadis itu dan tangannya memegang pundak kanan Lilani. “Kau kenapakah...?” Akan tetapi Lie Siong terpaksa memutuskan kata-katanya karena tiba-tiba kedua tangan Lilani mendorong dadanya dengan gerakan cepat dan amat kuat.

Lie Siong yang sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini akan menyerangnya, tidak mengelak atau menangkis sama sekali. Dadanya terdorong ke belakang dan ia pun langsung terlempar ke belakang dengan cepatnya sampai membentur bangku! Lie Siong membelalakkan matanya.

Tenaga dorongan dan tarikan muka Lilani lebih mengherankannya dari pada sikap gadis itu sendiri. Dorongan tenaga Lilani tak seperti biasanya, akan tetapi mengandung tenaga yang amat kuat dan aneh, sedangkan ketika gadis itu mendorongnya, gadis memandang dengan penuh kebencian, akan tetapi bibirnya tersenyum!

“Ha, kau takkan dapat mendekatiku... kau akan mampus....” bisik gadis ini dengan suara aneh. Ternyata bahwa pukulan batin yang datang secara bertubi-tubi dan hebat itu sudah membuat pikiran gadis ini terganggu dan berubah!

“Lilani...” Lie Siong melompat bangun, “apa maksudmu? Kau kenapakah...?”

Melihat Lie Siong melompat bangun, gadis itu turut melompat bangun pula, menunduk dan memandangi kedua kakinya yang telanjang, kemudian berkata sambil menyeringai, “Ha-ha-ha, sepatu itu... sepatuku! Lihat, Taihiap, bukankah kedua kakiku telanjang? Aku perlu sepatu... akan tetapi sepatu itu terlalu kecil... terlalu kecil...” dan ia lalu menangis! Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya dan berkata lagi dengan mata bersinar dan mulut tersenyum, “Aku bunuh dia! Aku bunuh mereka! Berani sekali main gila terhadap Lilani, puteri kepala suku bangsa Haimi!”

Sejak tadi, Lie Siong memandang keadaan gadis ini dengan bengong. Melihat senyum di bibir Lilani, pemuda ini merasa bulu tengkuknya meremang. Ini tak sewajarnya, pikirnya. Lebih-lebih terkejutnya ketika dia mendengar ucapan terakhir tentang pembunuhan yang keluar dari mulut Lilani.

“Lilani, jadi yang membunuh tiga orang di belakang hotel itu... kaukah orangnya?”

Lilani tertawa terkekeh. “Ya, memang aku!” teriaknya keras. “Aku Lilani sekali mencinta orang, akan berlaku setia selama hidup! Aku takkan sudi main gila dengan laki-laki lain, lebih baik aku mati! Kubunuh mereka itu, kubakar dia hidup-hidup!” Dan tiba-tiba gadis ini lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil tersedu-sedu.

Lie Siong berdiri tertegun, hatinya terharu bukan main ketika ia mendengar Lilani berkata seperti keluhan menyedihkan, “Taihiap... Taihiap... aku cinta padamu...”

Teriakan Lilani telah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar kamar sehingga kini mereka menyerbu ke arah kamar Lilani sambil berteriak-teriak,

“Tangkap pembunuh! Tangkap siluman perempuan...!”

Memang tadi ketika Lilani berlari kembali ke kamarnya, kebetulan sekali ada seorang tamu yang menjenguk dari jendelanya karena ia tertarik oleh teriakan-teriakan dua orang pemabukan yang terpukul oleh Lilani. Maka sesudah terjadi geger, dia lalu menceritakan pengalamannya dan kini mendengar teriakan-teriakan Lilani yang mengaku bahwa dia yang membunuh tiga orang itu, semua orang lalu menyerbu ke arah kamar Lilani!

Pada saat belasan orang itu sudah berada di depan pintu kamar Lilani, mereka tiba-tiba berhenti karena siapa orangnya yang tidak merasa gentar menghadapi seorang siluman wanita yang dalam waktu sebentar saja sudah membunuh tiga orang laki-laki dengan keadaan mengerikan?

“Siluman perempuan, menyerahlah untuk kami bawa ke depan pengadilan! Apa bila kau melawan kami akan mengeroyok dan membakarmu!” seorang di antara para penyerbu itu berteriak.

Lilani yang mendengar ini segera bangkit berdiri, wajahnya nampak amat menyeramkan. “Akan kubunuh kalian semua!” katanya.

Lie Siong merasa gelisah sekali. “Lilani, jangan...” katanya.

Akan tetapi Lilani tidak peduli dan hendak melompat menerjang keluar. Lie Siong segera mendahuluinya, cepat mengirim serangan kilat dan robohlah gadis itu dalam pelukannya dengan tubuh lemas tak berdaya sedikit pun juga.

“Serahkan dia kepada kami!” terdengar teriakan berulang-ulang dari para penyerbu itu.

Lie Siong maklum bahwa mereka itu sedang marah sekali, jadi tidak perlu bicara dengan mereka. Maka ia lalu menyambar pakaian gadis itu, dan sekali ia berkelebat keluar pintu, ia telah melompat keluar sambil menggendong Lilani.

Beberapa orang yang berdiri menghalangi pintu terlempar ke kanan kiri ketika terdorong oleh sebelah tangannya! Lie Siong tidak mempedulikan teriakan-teriakan mereka, dan ia langsung memasuki kamarnya, menyambar pedang serta buntalannya, sambil dikejar beramai-ramai oleh orang-orang itu.

Akan tetapi ketika mereka sampai di depan kamar pemuda ini, Lie Siong telah berkelebat keluar dan orang-orang itu hanya berdiri sambil melongo ketika melihat betapa pemuda yang menggendong gadis itu sekali mengenjotkan tubuh, telah dapat melompat ke atas genteng dan menghilang di dalam gelap!

Pada waktu Lie Siong melihat betapa keadaan gadis itu makin lama semakin tidak beres pikirannya, dia menjadi bingung sekali. Dia tidak tega dan merasa amat kasihan kepada Lilani, sungguh pun harus dia akui bahwa dia tidak mencinta gadis ini seperti cinta Lilani kepadanya. Dia hanya merasa kasihan dan bertanggung jawab.

Kini melihat keadaan Lilani yang demikian, dia merasa makin kasihan. Hatinya tidak tega untuk meninggalkan gadis ini, sungguh pun dia tahu kalau dia terus menerus berada di dekat gadis ini, dia takkan dapat bergerak bebas. Sekarang dia hendak mencari Lo Sian untuk bertanya tentang keadaan ayahnya, akan tetapi dengan Lilani yang sudah menjadi gila ini di dekatnya, bagaimana ia dapat mencapai maksudnya? Untuk membiarkan gadis ini terlepas seorang diri saja, dia juga tak sampai hati.

Akhirnya ia teringat kepada Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di kota Kiciu. Bukankah dulu pendeta gundul yang gemuk itu pernah mengobati Lo Sian? Pikiran ini membuat dia merubah niatnya untuk ke Shaning, dan ia langsung membawa Lilani ke Ki-ciu.

Ketika ia memasuki kuil itu, mau tak mau ia berdebar dan mukanya berubah merah. Dia teringat betapa di sini ia bertempur melawah Lili, puteri Pendekar Bodoh itu dan betapa ia terluka pundaknya akan tetapi berhasil merampas sebuah sepatu gadis itu yang sampai kini masih disimpannya baik-baik di dalam kantong bajunya!

Thian Kek Hwesio menerimanya dengan muka dan sikap ramah tamah. Hwesio ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang mengaku menjadi putera Lie Kong Sian, maka dia segera menyambut dengan ucapan halus,

“Anak muda, keperluan apakah yang membawamu datang ke tempatku yang buruk ini? Jangan kau menghunus pedangmu, pinceng sama sekali tidak pandai melayanimu dan pinceng paling takut melihat berkelebatnya pedang!”

Makin merah wajah Lie Siong mendengar sindiran ini. Betapa pun kerasnya hatinya, dia masih mempunyai perasaan juga dan kalau perlu, dia dapat menjadi seorang pemuda yang ramah tamah, sopan santun, dan halus. Memang pemuda ini merupakan bayangan ke dua dari sifat ibunya, Ang I Niocu, Pendekar Baju Merah yang aneh itu. Ia pun cepat menjura dengan hormat sekali dan berkata,

“Lo-suhu, mohon kau orang tua sudi memberi maaf sebesarnya kepada aku yang muda, kasar dan bodoh. Kedatanganku ini tidak lain hendak mohon pertolonganmu. Sahabatku, Nona ini, entah mengapa tiba-tiba menjadi aneh sekali dan pikirannya berubah, mohon kau orang tua sudi mengobatinya.”

Thian Kek Hwesio memandang kepada Lilani dengan mata tajam, sedangkan gadis itu berdiri bengong dan sama sekali tidak melihatnya, melainkan menatap ke arah patung-patung batu sambil melamun.

“Nona, kau kenapakah?” tanya hwesio itu dengan suara halus, akan tetapi Lie Siong merasa kagum sekali karena di dalam suara yang halus ini timbul pengaruh yang kuat sekali, yang dapat membuat orang menjadi tunduk.

Mungkin dikarenakan suara ini, atau memang jalan pikiran Lilani sedang teringat kepada kakeknya ketika melihat betapa hwesio itu memandangnya dengan mata mengasihani, karena tiba-tiba saja gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian Lilani berkata-kata dalam bahasa Haimi yang sama sekali tak dimengerti oleh Lie Siong, akan tetapi ia menjadi kagum sekali karena Thian Kek Hwesio ternyata dapat mengerti ucapan gadis ini, bahkan lalu menjawab dalam bahasa Haimi pula!

“Sicu, sahabatmu ini menderita tekanan batin yang sangat hebat sehingga mengganggu urat syarafnya. Pinceng tidak tahu mengapa dia mengalami kedukaan dan kekecewaan sedemikian rupa, akan tetapi mudah sekali untuk menyembuhkannya asal saja dia mau beristirahat di sini.”

Dengan girang sekali Lie Siong lalu menjura dan menghaturkan terima kasih. “Lo-suhu, sesungguhnya aku mempunyai urusan yang amat penting, maka kalau kiranya Lo-suhu sudi menolong, aku hendak meninggalkannya untuk sementara waktu di sini.”

“Boleh saja, Sicu. Pinceng percaya bahwa kau tentu kelak akan datang mengambilnya kembali setelah dia menjadi sembuh. Pinceng merasa bahwa gadis ini tak dapat ditinggal begitu saja olehmu.”

“Tentu, Lo-suhu. Aku takkan pergi lama dan pasti akan kembali mengambil Lilani, karena memang tujuan kami hendak ke utara.”

“Pinceng percaya penuh kepada omongan putera Lie Kong Sian Taihiap.”

Lie Siong memandang dengan penuh terima kasih, kemudian ia pun menghampiri Lilani. “Lilani, harap kau beristirahat di sini dulu dan aku akan kembali mengambilmu lagi apa bila urusanku sudah selesai.”

Akan tetapi gadis itu tidak menjawabnya, hanya berkata-kata dalam bahasa Haimi yang tidak dimengerti oleh Lie Siong. Akan tetapi Thian Kek Hwesio terharu ketika mendengar gadis itu berkata, “Taihiap, hanya engkau seorang yang kucinta, dan aku akan menurut segala kata-katamu.”

Ucapan yang tak dimengerti oleh Lie Siong akan tetapi dapat dimengerti baik oleh hwesio ini membuat Thian Kek Hwesio dapat menduga bahwa gadis ini tentulah sudah menderita asmara tak terbalas! Lie Siong lalu meninggalkan kuil dan segera menuju ke Shaning.

Demikianlah, pada malam hari itu, sebagaimana telah dituturkan pada bagian depan, Lie Siong melompat ke atas wuwungan rumah keluarga Pendekar Bodoh. Siangnya dia telah mendapat keterangan bahwa Lo Sian masih tinggal di rumah Sie Cin Hai dan bahwa Pendekar Bodoh beserta isterinya tidak berada di rumah. Yang ada hanya Lo Sian dan Lili, puteri Pendekar Bodoh.

Hal ini menggirangkan hatinya, karena betapa pun juga, Lie Siong merasa gentar juga menghadapi Pendekar Bodoh suami isteri. Kepandaian puterinya saja sudah sedemikian hebat, apa lagi mereka!

Ia sama sekali tidak mengira bahwa kedatangannya pada malam hari itu kebetulan sekali bertepatan dengan kedatangan seorang pemuda lain, yakni Song Kam Seng! Berbeda dengan Lie Siong, maksud kedatangan ini adalah hendak membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh!

Akan tetapi dengan kecewa Kam Seng mendengar keterangan bahwa Pendekar Bodoh dan isterinya sedang keluar kota, maka dia lalu datang dengan maksud mencuri pedang Liong-cu-kiam, pedang yang dulu telah mengalahkan mendiang ayahnya, Song Kun!

Kedatangan Kam Seng di malam hari itu lebih dulu dari Lie Siong. Kam Seng langsung masuk ke dalam dan berhasil mencari kamar Pendekar Bodoh yang digeledahnya, akan tetapi dia tidak dapat menemukan pedang itu karena pedang itu dibawa oleh Pendekar Bodoh.

Ada pun Lie Siong yang masuk dari kebun belakang, melihat tiga orang pelayan yang cepat ditotoknya sehingga mereka itu tidak berdaya lagi. Kemudian pemuda ini melayang naik ke atas loteng ketika dia melihat berkelebatnya bayangan Lili yang mencari-cari di luar rumah! Saat yang baik itu merupakan kesempatan baginya. Ia merobohkan Lo Sian dengan totokan dan membawa orang tua itu melompat turun.

Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar seruan perlahan,

“Bangsat, jangan kau berani menculik Suhu!” Tiba-tiba sesosok bayangan yang cukup gesit telah menyerangnya dari samping.

Lie Siong menjadi kaget dan juga heran. Siapakah adanya pemuda yang menjadi murid Lo Sian ini? Dia cepat mengelak dan meloncat jauh, kemudian melarikan diri dengan ilmu lari cepatnya, akan tetapi ternyata bahwa ilmu lari larinya hanya menang sedikit saja dari pemuda yang mengejarnya itu. Mudah saja kita menduga bahwa pemuda ini bukan lain adalah Song Kam Seng yang juga sudah keluar dari gedung itu dengan tangan hampa.

Melihat pengejarnya juga mampu berlari cepat, Lie Siong lalu menyembunyikan Lo Sian yang tidak dapat bergerak itu di dalam serumpun tetumbuhan, kemudian dia keluar dan menghampiri Song Kam Seng. Tanpa banyak cakap lagi keduanya lantas bertempur dan ternyata kepandaian mereka berimbang.

Harus diketahui bahwa Song Kam Seng sekarang bukan seperti dulu ketika ia dikalahkan oleh Lili. Kam Seng telah melatih diri dengan hebat dan tekunnya, telah banyak mewarisi kepandaian Wi Kong Siansu, maka tidak mudah bagi Lie Siong untuk mengalahkannya.

Dan ketika mereka bertempur dengan serunya, datanglah Lili yang mengejar. Keduanya takut kepada gadis ini, bukan takut kalah bertempur, akan tetapi Lie Siong tidak mau usahanya membawa Lo Sian akan terganggu, ada pun Song Kam Seng betapa pun juga tidak mau bertempur dengan gadis yang lihai dan yang dicintainya ini. Maka keduanya lalu berlari dan kebetulan sekali Lili mengejar Kam Seng, mendiamkan Lie Siong yang dengan enaknya lalu dapat membawa lari Lo Sian!

Demikianlah, seperti sudah kita ketahui, Lili menjadi bingung dan sedih sekali. Ketika ia mendengar keterangan para pelayannya yang dibuat tak berdaya oleh totokan Lie Siong, barulah gadis ini dapat menduga bahwa yang datang di rumahnya malam itu adalah dua orang, yaitu Kam Seng dan Lie Siong!

Tak salah lagi, pikirnya, yang mencuri Lo-pek-hu tentulah manusia kurang ajar yang dulu mengaku putera Ang I Niocu itu! Ia setengah dapat menduga bahwa penculikan ini tentu ada hubungannya dengan ucapan Lo Sian mengenai kematian Lie Kong Sian. Rupanya ucapan itu ada betulnya dan kini pemuda yang mengaku putera Lie Kong Sian itu tentu menculik Lo Sian untuk mendapat keterangan tentang ayahnya.

Hanya perbuatan Kam Seng yang membongkar kamar dan membuka lemari ayahnya itu masih membingungkannya. Munculnya Kam Seng di malam hari di rumahnya tidak aneh, karena memang pemuda itu pernah mengancam hendak membalas dendam terhadap ayahnya, akan tetapi mengapa pemuda itu membongkar-bongkar lemari seperti seorang maling biasa? Benar-benar ia tidak mengerti.

Pada keesokan harinya, Lili lalu menyerahkan perawatan rumah kepada para pelayan, sedangkan ia sendiri lalu pergi menyusul orang tuanya di Tiang-an. Tak enak ia berdiam di rumah saja, maka sambil mencoba untuk mengejar ‘pemuda kurang ajar’ yang sudah menculik Lo Sian, dia menuju ke Tiang-an untuk menyusul ayah-bundanya dan memberi laporan tentang terjadinya peristiwa itu.

*****

Mari kita mengikuti perjalanan Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh dengan Lin Lin isterinya yang menuju ke Tiang-an untuk mengunjungi Kwee An dan Ma Hoa untuk membicarakan tentang perjodohan putera mereka.

Mereka melakukan perjalanan berkuda dan seperti biasa, Lin Lin amat gembira di dalam perjalanan itu sehingga suaminya sering kali memandang dengan kagum karena merasa seakan-akan isterinya ini masih seperti dulu saja! Baginya, Lin Lin sampai sekarang tidak berubah, masih seperti Lin Lin pada waktu remaja puteri, lincah dan jenaka.

Pada suatu hari, ketika sepasang suami isteri pendekar ini berada di sebelah selatan kota Tiang-an, kurang lebih tiga puluh lie lagi dari Tiang-an, dan mereka sedang menjalankan kuda dengan cepatnya, tiba-tiba pada sebuah tikungan jalan, hampir saja kuda mereka beradu dengan seekor kuda yang dilarikan cepat dari depan!

Penunggang kuda itu seorang pemuda yang tampan dan gagah, cepat menarik kendali kudanya dan sambil mengeluarkan suara keras, kudanya yang besar itu berhenti dengan tiba-tiba, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan meringkik-ringkik!

Pemuda ini adalah Kam Liong, panglima muda yang sedang menuju ke selatan untuk mengadakan pemeriksaan pada penjagaan di selatan, serta sekaligus hendak singgah di Shaning untuk mewartakan kepada Pendekar Bodoh tentang mala petaka yang menimpa diri puteranya.

Kam Liong membelalakkan matanya dan tadinya dia hendak marah terhadap dua orang penunggang kuda itu, akan tetapi akhirnya dia menjadi heran dan terkejut sekali betapa dua orang penunggang kuda itu pun dapat menghentikan kuda mereka dengan tiba-tiba dan tenang saja, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Ia sendiri yang terkenal sebagai seorang ahli penunggang kuda hanya bisa menghentikan larinya kuda dengan kekerasan sampai kudanya merasa sakit pada hidungnya sehingga berjingkrak-jingkrak, akan tetapi bagaimanakah dua orang itu demikian tenang dan kuda mereka berhenti seakan-akan empat kaki kuda mereka tiba-tiba berakar pada tanah?

Dia dapat menduga bahwa dua orang yang nampaknya gagah ini tentulah orang-orang berkepandaian tinggi, maka cepat Kam Liong melompat turun dari kudanya dan menjura dengan hormatnya.

“Harap Ji-wi sudi memberi maaf kepada siauwte kalau siauwte mendatangkan kekagetan kepada Ji-wi.”

“Siapa yang kaget?” Lin Lin menjawab sambil tersenyum manis karena dia merasa suka kepada pemuda yang nampak sopan ini. “Kalau ada yang kaget, agaknya kudamu itulah yang kaget.”

Merah muka Kam Liong mendengar ucapan nyonya setengah tua yang cantik itu. Walau pun nyonya itu mengatakan bahwa yang kaget adalah kudanya, akan tetapi tentu mereka itu telah melihat bahwa yang kaget sebenarnya adalah dia sendiri!

“Siauwte she Kam bernama Liong,” ia memperkenalkan diri, “karena siauwte mempunyai urusan penting, maka buru-buru membalapkan kuda. Sungguh sangat hebat kepandaian Ji-wi menunggang kuda, benar-benar membuat siauwte tunduk sekali.”

Cin Hai dan Lin Lin memandang tajam. Jadi inikah pemuda putera Panglima Hong Sin seperti yang telah diceritakan oleh Lili itu? Tentu saja mereka tidak menduga sama sekali oleh karena Kam Liong memang selalu berpakaian biasa saja apa bila sedang melakukan pemeriksaan.

“Kaukah putera dari Panglima Kam Hong Sin?” tanya Cin Hai tiba-tiba dengan langsung, sesuai dengan wataknya yang jujur.

Kam Liong tertegun. “Benar, Lo-enghiong, tidak tahu siauwte sedang berhadapan dengan siapakah?”

“Ayahmu adalah seorang yang jujur dan baik,” kata Cin Hai tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, “kami kenal baik dengan ayahmu itu. Sayang kami belum dapat bertemu lagi sebelum dia gugur dalam peperangan.”

Kam Liong memandang semakin tajam dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Cepat dia mengerling ke arah nyonya itu, dan sekilas melihat saja maka lenyaplah keraguannya. Wajah nyonya itu sama benar dengan wajah Lili, gadis yang dirindukannya!

Dengan hati berdebar gembira dia menjura lagi sambil berkata, “Salahkah kalau siauwte mengatakan bahwa Sie-taihiap, Pendekar Bodoh yang terhormat bersama dengan isteri yang siauwte hadapi ini?”

“Pandangan matamu tajam juga, orang muda. Kau tidak menduga salah,” jawab Lin Lin.

Mendadak Kam Liong menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan senyum di bibir, kemudian terpaksa mereka pun melompat turun dari kuda. Cin Hai cepat memegang pundak Kam Liong untuk mengangkatnya bangun.

Pemuda ini amat cerdik. Dia tertarik oleh Lili dan ingin sekali meminang gadis itu menjadi isterinya, maka kini bertemu dengan orang tua gadis itu, cepat ia memberi hormat. Ketika merasa betapa kedua tangan Cin Hai menyentuh pundaknya, Kam Liong secara sengaja mengerahkan tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) supaya dapat memperlihatkan kemampuannya.

Akan tetapi, alangkah kagetnya saat pundaknya yang tadinya dikeraskan dengan tenaga Jeng-king-kang itu begitu tersentuh dan tertekan oleh jari-jari tangan Cin Hai, mendadak tenaganya lenyap sama sekali dan tubuhnya berubah menjadi lemas hingga dia terpaksa menurut saja ketika dia diangkat bangun.

“Mohon ampun sebanyaknya bahwa siauwte yang bodoh bermata buta, tidak melihat dan mengenal pendekar-pendekat besar! Sebenarnya pertemuan ini sangat membahagiakan hatiku, karena sesungguhnya siauwte memang hendak pergi ke Shaning ingin bertemu dengan Ji-wi.”

“Ada keperluan apakah Ciangkun hendak bertemu dengan kami?” tanya Cin Hai sambil memandang dengan penuh perhatian, karena sesungguhnya ia tidak begitu suka untuk berhubungan dengan segala perwira atau panglima kerajaan. Hatinya masih terluka oleh sepak terjang para perwira kerajaan yang banyak menyusahkan hidupnya pada waktu ia muda dulu.

Akan tetapi, hati Lin Lin sudah tertarik oleh kesopanan pemuda ini. Biar pun dia memiliki kedudukan tinggi, akan tetapi pandai sekali membawa diri, tidak sombong dan bersikap sopan santun. Bagi para pembaca yang sudah pernah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Lin Lin sendiri adalah puteri dari seorang perwira, maka tentu saja dia tidak merasakan ketidak sukaan terhadap kaum perwira seperti yang dirasakan oleh suaminya.

“Tentu ada keperluan yang amat penting sehingga Ciangkun sampai meninggalkan kota raja untuk mencari kami,” kata Lin Lin dengan suara lebih halus.

“Sesungguhnya, siauwte membawa berita yang amat penting mengenai keadaan putera Ji-wi, yaitu Sie Hong Beng.”

“Dia di mana? Apa yang terjadi?” Lin Lin mendesak dengan muka berubah mengandung kekuatiran.

Sudah lajimnya para lbu selalu menguatirkan keadaan puteranya. Cin Hai tetap tenang saja dan hanya sinar matanya yang mendesak kepada Kam Liong supaya cepat-cepat menceritakan apa yang telah terjadi atas diri Hong Beng.

Kam Liong lalu menuturkan dengan sejelasnya betapa Goat Lan dan Hong Beng dengan cara kekerasan telah berhasil menolong Putera Mahkota, dan betapa kemudian Goat Lan diberi karunia, diangkat menjadi selir pertama untuk Putera Mahkota yang ditolak dengan tegas oleh Giok Lan sehingga gadis itu dihukum buang ke utara dan dikawani oleh Hong Beng! Tentu saja ia tidak lupa untuk menuturkan betapa ia telah menyusul kedua orang muda itu dan memberi kuda serta memberi petunjuk.

“Siauwte sudah memberi tahu kepada Saudara Hong Beng dan Nona Kwee agar supaya mereka dan para pengawal mereka mengambil kedudukan di lereng Gunung Alkata-san, di mana siauwte dahulu mempunyai sebuah benteng yang cukup baik kedudukannya dan kuat. Bila sudah selesai tugas siauwte ke selatan, siauwte juga akan memimpin pasukan ke utara. Hal ini penting sekali karena bukan hanya bangsa Tartar saja yang mengacau, akan tetapi ada desas-desus yang mengabarkan bahwa kini bangsa Mongol di utara di bawah pimpinan raja mereka, Malangi Khan, juga hendak menyerbu ke selatan!”

Mendengar penuturan pemuda ini, Cin Hai hanya menggigit bibirnya, akan tetapi Lin Lin membanting-banting kedua kakinya dengan gemas.

“Kaisar bu-to (tiada pribudi)! Sudah ditolong nyawa anaknya, masih tidak berterima kasih, bahkan hendak menjadikan calon mantuku sebagai selir Putera Mahkota! Dia kira orang macam apakah Goat Lan itu? Sungguh tak tahu membedakan orang!”

Kam Liong adalah seorang panglima muda yang mempunyai kesetiaan terhadap Kaisar, seperti ayahnya dahulu. Oleh karena itu, mendengar betapa Lin Lin memaki Kaisar, dia menjadi tidak senang juga. Ia pun terkejut mendengar bahwa Goat Lan adalah tunangan Hong Beng sebagaimana baru saja disebut oleh Lin Lin bahwa Goat Lan adalah calon mantunya. Untuk membela nama Kaisar, Kam Liong berkata,

“Sayang sekali bahwa Nona Kwee Goat Lan atau Saudara Sie Hong Beng tidak berterus terang saja kepada Hong-siang bahwa mereka berdua sudah bertunangan. Kalau Kaisar mengetahui akan hal ini, siauwte merasa pasti Nona Kwee tak akan dipaksa menjadi selir Putera Mahkota. Sebenarnya, menjadi selir pertama dari Putera Mahkota adalah suatu kehormatan yang tinggi sekali, karena siapa tahu kalau Putera Mahkota kelak menjadi kaisar dan selir pertama sangat dicintanya, wanita itu mempunyai harapan untuk menjadi permaisuri? Dengan penolakan Nona Kwee, penolakan secara langsung di hadapan para menteri serta pembesar tinggi, sudah tentu saja Kaisar merasa terhina sekali sehingga menjatuhkan hukum buang. Siauwte menjelaskan hal ini supaya Ji-wi tidak menjadi salah mengerti.”

Cin Hai dan Lin Lin mengangguk-angguk, bahkan Cin Hai lalu menarik napas panjang dan berkata,

“Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu kaum bangsawan dan pembesar mempunyai kekuasaan dan kebenaran tersendiri, tanah yang mereka injak pun berada di atas kepala rakyat kecil!”

“Kita harus menyusul Beng-ji ke utara!” kata Lin Lin. “Baiknya kita memberi tahu kepada Engko An dan Enci Ma Hoa tentang hal ini. Mereka juga berhak mendengar berita perihal puteri mereka.”

“Ke utara bukan tempat dekat dan tidak dapat dilakukan dalam waktu pendek. Kalau kita langsung ke sana, bagaimana dengan Lili? Apakah dia takkan gelisah dan menanti-nanti kita?” kata Cin Hai. Kedua suami-isteri ini dalam ketegangannya sampai lupa bahwa di situ masih ada Kam Liong yang diam-diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Maaf, Ji-wi harap jangan mengira siauwte hendak kurang ajar. Akan tetapi sesungguhnya perjalanan siauwte ke selatan akan melalui Shaning. Jika kiranya Ji-wi tak berkeberatan, siauwte dapat menyampaikan berita ini ke rumah ji-wi, karena siauwte pernah mendapat kehormatan bertemu dengan puteri Ji-wi.”

Cin Hai mengerutkan keningnya, akan tetapi Lin Lin menjawab dengan girang,

“Bagus, kau baik sekali, Ciangkun. Lili juga telah menceritakan pertemuannya denganmu. Baiklah, apa bila kau melalui Shaning, tolong kau beritahukan kepada puteri kami bahwa kami mungkin akan terus ke utara untuk menyusul Hong Beng.”

Kam Liong merasa girang sekali, akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya, hanya menyatakan kesanggupannya dengan sikap sopan. Mereka lalu berpisah, kedua suami-isteri pendekar itu cepat mengaburkan kudanya ke Tiang-an, ada pun Kam Liong dengan hati girang lalu menuju ke Shaning.

Ketika tiba di halaman depan rumah gedung yang ditinggali oleh Kwee An di Tiang-an, seorang pelayan tua yang segera mengenal mereka cepat menyambut dan memegang kendali kuda mereka untuk dibawa ke kandang kuda.

“Selamat datang, Sie-taihiap berdua, selamat datang!” katanya girang.

Terdengar suara teriakan girang dan nampak seorang anak laki-laki yang bermuka putih dan bundar berusia kurang lebih sembilan tahun berlari keluar dari pintu depan.

“Kouw-kouw dan Kouw-thio datang...!” serunya.

“Cin-ji (Anak Cin), engkau sudah besar sekarang!” seru Lin Lin yang segera menyambut anak itu dengan kedua tangan terbuka. Dipeluknya Kwee Cin, anak ke dua dari Kwee An dan Ma Hoa dengan girang.

Pada waktu Cin Hai memeluknya pula, anak itu berbisik kepadanya, “Kouw-thio (Paman, suami Bibi), kapan kau mau mengajarku Liong-cu Kiam-sut?”

Cin Hai tertawa. Ketika anak ini baru berusia lima tahun, anak ini telah pula mengajukan permintaan untuk belajar ilmu pedang darinya. Dan sekarang anak ini menanyakan hal itu pula, sungguh seorang anak yang teguh kehendaknya.

“Bukankah ilmu pedang ayahmu juga bagus sekali? Dan ilmu bambu runcing ibumu tiada keduanya di dunia ini!” kata Cin Hai.

Kwee Cin berkata bangga, “Memang ilmu bambu runcing Ibu tidak ada bandingannya di atas dunia ini, akan tetapi kata Ayah, dalam hal ilmu pedang, tak ada yang melebihi Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-sut dari Kouw-thio!”

“Baiklah, Cin-ji, kelak kalau ada waktu, kau boleh mempelajari ilmu pedang dariku.”

Kwee Cin menjadi girang sekali dan ia lalu menarik tangan bibi dan pamannya itu, diajak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, sebelum mereka melangkah ke ambang pintu, dari dalam keluarlah Kwee An dan Ma Hoa dengan wajah girang sekali. Kedua suami isteri ini telah mendengar dari pelayan akan kedatangan kedua orang tamu dari Shaning ini.

Mereka segera bercakap-cakap dengan gembira sekali, akan tetapi kegembiraan mereka itu tidak berlangsung lama, terutama bagi pihak tuan rumah. Ketika Lin Lin menceritakan lagi penuturan Kam Liong mengenai peristiwa yang terjadi di istana kaisar dan hukuman yang dijatuhkan Kaisar kepada Goat Lan, wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Seperti juga suaminya, Ma Hoa juga puteri seorang perwira, maka ia tahu betul akan arti semua peristiwa ini.

“Keputusan Kaisar tidak dapat diubah. Tidak ada jalan lain, kita harus menyusul ke utara untuk membantu tugas yang diberikan kepada anak kita!” kata Ma Hoa sesudah dapat menenteramkan hatinya dari berita mengejutkan ini.

“Memang kami berdua pun telah mengambil keputusan hendak menyusul ke sana,” kata Lin Lin yang kemudian menceritakan bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah mendapat pertolongan Kam Liong bahkan telah diberi nasehat untuk menempati bekas benteng di lereng Bukit Alkata-san.

“Biar aku saja yang pergi bersama Lin Lin dan Cin Hai,” kata Kwee An kepada isterinya. “Kita tidak dapat pergi berdua meninggalkan Cin-ji seorang diri di rumah. Begitu banyak orang-orang jahat sedang memusuhi kita, maka tidak baik kalau rumah ditinggalkan, apa lagi jika meninggalkan Cin-ji seorang diri tanpa ada yang menjaganya.”

“Ayah, aku juga mau pergi! Aku mau ikut pergi menyusul Enci Lan dan membantu dia menghancurkan para pengacau yang mengganggu orang-orang di daerah perbatasan!” tiba-tiba Kwee Cin berkata dengan penuh semangat. Anak ini nampak lucu sekali, kedua tangannya dikepal dan sepasang matanya bersinar-sinar!

“Tidak boleh, sama sekali tidak boleh!” ayahnya berkata. “Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah. Kau tinggal di rumah dengan ibumu!”

Kwee Cin tampak murung, akan tetapi Ma Hoa yang dapat merasakan kebenaran ucapan suaminya ini, lalu menghibur puteranya dan berkata, “Ayahmu berkata benar, Cin-ji. Kau tak boleh ikut dan kita berdua tinggal di rumah menjaga kalau-kalau ada musuh datang.”

“Kalau ada musuh datang, jangan sembunyikan aku di dalam kamar, Ibu. Biarkan aku ikut menghadapi mereka!”

Sesudah ibunya menyanggupi, barulah Kwee Cin tidak murung lagi. Cin Hai dan Lin Lin hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An, dan pada keesokan harinya, Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin berangkat naik kuda menuju ke utara.

*****

Cersil karya Kho Ping Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su

Kam Liong yang merasa senang sekali, membalapkan kudanya menuju ke kota Shaning. Ia merasa amat bahagia, karena dapat bertemu dengan Pendekar Bodoh dan isterinya dan bisa membantu mereka. Tak dapat tidak, dia tentu telah mendatangkan kesan baik di dalam hati mereka. Akan lebih licinlah jalan menuju kepada cita-citanya, yaitu melakukan pinangan terhadap Lili. Dan sekarang ia bahkan telah mendapat perkenan mereka untuk menyampaikan berita tentang Hong Beng dan tentang kedua suami isteri itu kepada Lili, gadis yang membuatnya tidak nyenyak tidur setiap malam.

Akan tetapi, ketika ia teringat akan sesuatu, tak terasa pula ia menahan lari kudanya. Ia duduk di atas kuda yang kini tak lari lagi itu dengan bengong dan wajahnya menjadi amat muram. Bagaimana kalau ternyata bahwa Lili juga telah ditunangkan dengan lain orang? Seperti halnya Hong Beng dan Goat Lan, tanpa ia duga mereka ini sudah bertunangan! Siapa tahu kalau-kalau Lili juga sudah ditunangkan! Tidak, tidak, tidak mungkin! Ia cepat membantah jalan pikirannya sendiri dan kembali ia mengaburkan kudanya.

Ketika ia memasuki kota Shaning, tiba-tiba ia melihat seorang gadis berjalan seorang diri dari depan. Ia menjadi terkejut dan juga girang karena ia mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Lili yang berjalan sambil menggendong buntalan, ada pun gagang pedangnya nampak pada balik punggungnya. Meski pun gadis itu berada di tempat yang jauh, sekali melihat bayangannya saja, Kam Liong akan mengenalnya!

Ia cepat melompat turun dari kudanya dan kini ia berjalan kaki sambil menuntun kuda, menyongsong kedatangan Lili. Gadis ini pun ternyata sudah mengenalinya, maka segera menghampirinya. Lili bukan seorang gadis pemalu dan dia ramah tamah pula. Panglima muda ini telah berlaku ramah kepadanya, bahkan telah memberi surat tentang kakaknya, maka tidak dapat dia membiarkan pemuda itu berlalu begitu saja. Sesudah berhadapan keduanya saling memberi hormat sambil menjura.

“Sie-siocia (Nona Sie), sungguh kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini! Aku sedang menuju ke rumahmu untuk menyampaikan pesan orang tuamu!”

Lili tertegun. Bagaimana ayah bundanya dapat menyampaikan pesan kepadanya melalui Panglima Muda ini? Akan tetapi, setelah membalas penghormatan pemuda itu ia berkata,

“Di manakah kau berjumpa dengan ayah ibuku, Kam-ciangkun?”

“Di luar kota Tiang-an. Akan tetapi, marilah kita duduk di sana karena ceritaku panjang, Nona.” Kam Liong menunjuk ke arah sebatang pohon besar yang berada di pinggir jalan, maka Lili lalu mengikuti pemuda ini ke tempat itu.

Setelah mengikat kudanya pada akar pohon dan membiarkan binatang itu makan rumput di bawah pohon, Kam Liong lalu mengajak gadis itu duduk di atas batu besar dan dia pun mulai menceritakan semua hal yang telah terjadi. Ia menuturkan tentang Goat Lan dan Hong Beng, kemudian menuturkan pula tentang pertemuannya dengan Pendekar Bodoh dan isterinya.

“Kalau begitu, ayah dan ibuku telah berangkat dan menyusul ke utara, Kam-ciangkun?”

Kam Liong mengangguk. “Mungkin ayah bundamu telah pergi dengan Kwee Lo-enghiong, karena menurut mereka, sebelum berangkat hendak pergi ke Tiang-an mengajak orang tua gagah she Kwee itu.”

Lili nampak kecewa. “Ahh, kalau begitu mereka tentu telah berangkat. Aku harus segera menyusul mereka ke utara! Ahh, kasihan sekali Engko Hong Beng dan Enci Goat Lan!” Kemudian ia bangkit berdiri, menjura kepada Kam Liong dan berkata,

“Kam-ciangkun, banyak terima kasih untuk semua jerih payahmu menyampaikan berita penting ini kepadaku. Aku harus berangkat sekarang juga untuk menyusul mereka di utara!”

“Nanti dulu, Nona Sie. Ketahuilah bahwa aku sendiri pun hendak memimpin pasukan menuju ke utara. Aku telah berjanji kepada kakakmu untuk membantu mereka menghalau para pengacau dan membuat penjagaan kuat di perbatasan utara untuk menolak bahaya yang datang dari pihak Mongol. Perjalanan ke utara bukanlah perjalanan mudah, selain di daerah itu amat tidak aman dan banyak sekali penjahat, juga bagi yang belum pernah melakukan perantauan ke daerah itu, akan sukar mencari jalan ke Alkata-san. Tentu saja aku percaya penuh bahwa kau tak akan gentar menghadapi para penjahat, akan tetapi, kalau kau sudi, lebih baik kau melakukan perjalanan bersama aku dan pasukanku. Selain tidak membuang banyak waktu untuk mencari-cari, juga di tempat berbahaya itu lebih baik berkawan dari pada seorang diri saja. Daerah itu amat dingin dan kalau sampai kau terserang hawa dingin kemudian jatuh sakit, siapakah yang akan menolongmu? Dengan bergabung, kita lebih kuat menghadapi bahaya. Tentu saja aku tidak memaksamu, yakni kalau kau sudi melakukan perjalanan dengan orang bodoh seperti aku ini.”

Lili berpikir sejenak. Panglima Muda ini cukup sopan dan pemurah, juga seorang kawan seperjuangan yang tidak menjemukan. Dan dia sudah banyak menolongnya, maka apa salahnya melakukan perjalanan bersama? Kalau dipikir-pikir memang betul juga ucapan Panglima Muda ini, karena bukankah Sin Kong Tianglo, guru dari Goat Lan yang sangat sakti pun terkena bencana di daerah dingin itu? Selain dari pada semua itu, dia masih ingin banyak bertanya kepada panglima ini, baik mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, mau pun penjelasan tentang isi suratnya dahulu, yaitu surat dari Kam Liong yang memberitahukan bahwa kakaknya telah menjadi orang buruan!

“Baiklah, Kam-ciangkun, dan untuk kedua kalinya, terima kasih atas kebaikan hatimu.”

Kam Liong merasa girang sekali, seakan-akan kejatuhan bulan. Akan tetapi tentu saja ia tak mengutarakan kegirangannya ini, hanya nampak senyumnya melebar dan wajahnya berseri.

“Marilah kita ke kota Shaning dulu, Nona. Aku perlu memberi pesan kepada pembesar di Shaning agar pekerjaanku memeriksa penjagaan di selatan dapat diwakili oleh seorang perwira lain.”

Demikianlah, kedua orang muda ini masuk kota Shaning dan Kam Liong cepat memberi perintah pada pembesar setempat untuk menyampaikan surat-surat perintahnya kepada komandan barisan yang menjaga di daerah selatan. Ketika melihat tanda pangkat yang dikeluarkan oleh Kam Liong, pembesar itu segera menghormatinya sebagai seorang panglima kerajaan yang berkedudukan tinggi. Pemuda ini lalu meminta seekor kuda yang baik untuk Lili, dan pada hari itu juga, berangkatlah keduanya keluar dari kota Shaning, langsung menuju ke utara!

Sungguh sangat sedap dipandang melihat sepasang orang muda ini membalapkan kuda mereka. Yang laki-laki muda, tampan, dan gagah sekali. Yang wanita cantik jelita dan juga amat gagah. Mereka seakan-akan merupakan dua orang pembalap yang melarikan kuda untuk berlomba.

Diam-diam Kam Liong makin merasa kagum kepada Lili yang ternyata selain memiliki kepandaian tinggi, juga pandai sekali naik kuda. Ingin sekali dia menyaksikan sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian puteri dari Pendekar Bodoh ini. Dia telah menyaksikan kepandaian Hong Beng dan merasa kagum sekali. Apakah Lili juga sepandai kakaknya?

Di sepanjang jalan, Kam Liong selalu disambut dengan penuh penghormatan oleh para perwira dan pembesar setempat sehingga diam-diam Lili juga mengagumi pemuda yang masih muda sudah menduduki tempat tinggi ini. Juga Kam Liong selalu memperlihatkan sikap sopan santun, jauh sekali bedanya dengan pemuda kurang ajar yang dulu mencuri sepatunya itu! Lebih-lebih kalau ia teringat betapa pemuda kurang ajar itu telah menculik Lo Sian, makin gemaslah hatinya!

Pada saat Kam Liong ditanya oleh Lili mengenai pengalaman Goat Lan dan Hong Beng, Panglima Muda ini lalu menceritakannya dengan sejelasnya, diiringi dengan pujian-pujian kepada Goat Lan dan Hong Beng sehingga Lili makin suka kepada pemuda ini.

“Dan ketika aku melihatmu, kau nampak murung. Sebenarnya, kalau boleh kiranya aku mengetahui, kau sedang menuju ke manakah, Nona?”

Apa bila pertanyaan ini diajukan oleh Kam Liong pada saat mereka bertemu, belum tentu Lili mau menceritakannya. Akan tetapi oleh karena gadis ini melihat betapa Kam Liong sungguh-sungguh seorang pemuda yang baik, gagah, dan boleh dijadikan kawan, ia lalu berkata sambil menarik napas panjang.

“Ahh, di rumah telah terjadi peristiwa yang cukup menggemparkan dan membingungkan hatiku.”

Kam Liong segera memandang dengan penuh perhatian. “Apakah yang terjadi, Nona? Siapa kiranya orang gila yang berani main-main di rumah orang tuamu?”

“Ada orang jahat yang telah menculik Sin-kai Lo Sian bekas suhu-ku.”

“Apa...? Kau maksudkan Sin-kai Lo Sian, orang tua gagah yang kujumpai bersamamu dulu, orang tua yang menuliskan kata-kata bersemangat di dinding makam panglima itu?”

Lili mengangguk. “Benar, dia yang diculik orang.”

Ia lalu menuturkan peristiwa yang terjadi di rumahnya, betapa seorang pemuda bernama Song Kam Seng masuk ke dalam rumah seperti maling dan betapa tahu-tahu Lo Sian telah lenyap. Ia tidak menceritakan kepada Kam Liong bahwa ia tahu siapa penculik itu. Hatinya segan menuturkan siapa adanya orang yang menculik Lo Sian, karena kalau memang betul pemuda kurang ajar itu adalah putera Ang I Niocu, bukankah itu berarti ia memburukkan nama Ang I Niocu yang amat dikasihi oleh ayah bundanya?

Kam Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aneh sekali. Orang yang bernama Song Kam Seng itu, mengapa dia masuk rumah seperti pencuri? Apakah yang dicurinya?”

“Entahlah, hanya kutahu bahwa dia menaruh hati dendam terhadap ayah, dan rupanya karena ayah tidak berada di rumah dia hendak mencuri sesuatu.”

“Yang lebih aneh lagi adalah lenyapnya Sin-kai Lo Sian. Siapa orangnya yang berani dan dapat menculiknya? Dia adalah seorang tua yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimana bisa diculik begitu saja? Aku masih meragukan apakah betul-betul diculik orang. Siapa tahu kalau memang dia sengaja pergi? Orang-orang kang-ouw memang banyak yang mempunyai watak aneh,” kata- pemuda itu.

Setelah diam sejenak, Lili teringat akan surat dulu itu, maka tanyanya, “Dan sekarang, Kam-ciangkun, maukah kau menjelaskan isi suratmu kepadaku dahulu itu? Kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh kakakku Hong Beng sehingga kau menyatakan bahwa dia menjadi orang buruan?”

Merahlah wajah Kam Liong mendengar pertanyaan ini. “Aku telah salah sangka, Nona. Ketika itu, aku memang mengira bahwa pemuda itu putera Pendekar Bodoh, karena dia pandai sekali dan dia dapat mainkan ilmu-ilmu silat yang menjadi kepandaian ayahmu. Akan tetapi ketika aku bertemu dengan Saudara Hong Beng barulah aku tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu bukanlah putera ayahmu.” Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dari tangan Gui Kongcu.

Mendengar penuturan ini, diam-diam Lili merasa dadanya tidak enak sekali. Hemm, tidak tahunya ‘pemuda kurang ajar’ yang telah merampas sepatunya itu telah menolong gadis cantik yang dulu dilihatnya mengejar-ngejar pemuda itu dan agaknya hubungan mereka menjadi demikian eratnya sehingga mereka tidak dapat berpisah lagi!

Mendengar penuturan Kam Liong bahwa pemuda yang disangka saudaranya itu memiliki pedang yang berbentuk naga dan lidah merah dari pedang naga itu lihai sekali, dia tidak sangsi pula bahwa pemuda yang menolong Lilani itu tentulah pemuda kurang ajar yang mengaku-putera Ang I Niocu.

“Tahukah kau, Kam-ciangkun, siapa nama pemuda yang kau sangka saudaraku itu?”

“Dia berwatak aneh, keras dan tinggi hati sekali, Nona. Dia tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi ilmu pedangnya sungguh-sungguh hebat sekali. Kalau melihat ilmu silatnya, kurasa kepandaiannya tak berada di sebelah bawah dari kepandaian kakakmu, Saudara Hong Beng.”

Lili mencibirkan bibirnya sehingga dalam pandangan Kam Liong nampak manis sekali. “Huh, kepandaian macam itu saja mengapa dikagumi? Kalau aku bertemu dia, pedang naganya pasti tak akan berkepala lagi!”

Kam Liong merasa heran sekali mengapa gadis ini agaknya amat marah dan membenci pemuda berpedang naga itu, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Makin besar keinginan hatinya untuk menyaksikan kepandaian gadis yang agaknya jumawa sekali ini. Dia tidak percaya apa bila kepandaian gadis ini akan lebih tinggi dari pada kepandaian pemuda yang menolong Lilani itu.

Pada waktu mereka tiba di kota raja, Kam Liong segera mengajak Lili singgah di rumah gedungnya dan ia memperkenalkan gadis ini kepada ibunya yang sudah janda. Nyonya Kam ternyata adalah seorang wanita terpelajar yang halus dan ramah-tamah, dan terus mengajak Lili bercakap-cakap.

Sementara itu Kam Liong lalu membuat laporan kepada Kaisar, dan kemudian menerima perintah untuk memimpin sepasukan besar tentara pilihan untuk menuju ke utara dan menggempur para pengacau serta memperkuat penjagaan tapal batas karena terdengar berita akan adanya serangan dari Malangi Khan, raja bangsa Mongol.

Kam Liong membutuhkan waktu selama tiga hari di kota raja untuk membuat persiapan, kemudian berangkatlah pasukan di bawah pimpinannya. Kini pemuda itu mengenakan pakaian panglima dan makin gagah saja. Lili minta diri dari Nyonya Kam yang baik hati, kemudian gadis ini pun ikut dengan pasukan itu, naik kuda di depan bersama Kam Liong.

Ketika mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh, semua perwira dalam barisan itu menjadi kagum dan diam-diam mereka tersenyum karena menaruh harapan bahwa komandan mereka, Kam-ciangkun, akan berjodoh dengan pendekar wanita yang lincah dan jelita ini.

Lima hari setelah pasukan ini berangkat ke utara, mereka mulai melewati daerah yang amat sukar dan dingin. Diam-diam Lili merasa bersyukur bahwa ia ikut dalam rombongan ini, karena memang harus diakuinya bahwa kalau dia melakukan perjalanan seorang diri tentu dia akan menempuh kesukaran besar sekali.

Pada suatu hari, ketika pasukan itu dengan susah payah mendaki sebuah lereng gunung yang tertutup salju, tiba-tiba saja Kam Liong dan Lili yang berkuda di depan, melihat dua orang tua berlari cepat dari arah kanan.

“Hei...! Bukankah itu Kam-ciangkun yang memimpin pasukan?” tiba-tiba salah seorang di antara kedua kakek itu berseru girang sambil berlari menghampiri.

Ketika kedua orang ini sudah dekat, hampir saja Lili tidak dapat menahan ketawanya. Dia melihat dua orang pendeta, seorang tosu dan seorang hwesio yang keadaannya sangat lucu.

Mereka sudah tua dan tosu itu bertubuh tinggi kurus, mukanya yang keriputan saking tuanya itu nampak makin menyedihkan karena selalu dia bermuka seperti orang hendak menangis! Ada pun hwesio yang menjadi kawannya itu pun lucu sekali. Tubuhnya gemuk seperti tong besar, bajunya terbuka sehingga biar pun berada di tempat dingin, perutnya yang gendut selalu nampak. Mukanya bundar seperti bal dan selalu menyeringai seperti orang yang merasa gembira sekali.

“Kam-ciangkun, apakah kau hendak memimpin pasukanmu ke Alkata-san?” bertanya Si Tosu yang mau menangis itu.

Sebelum Kam Liong menjawab dan berkata dengan dua orang pendeta itu, Lili tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya girang,

“Apakah dua orang pendeta ini bukan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio?”

Kedua orang pendeta itu terkejut dan memandang kepada Lili dengan penuh perhatian.

“Kam-ciangkun, siapakah Nona yang cantik dan gagah ini?” Si Hwesio bertanya sambil tersenyum-seyum.

“Kawan lama, Ji-wi Losuhu (Dua Orang Pendeta). Kawan lama!” Kam Liong menjawab gembira. “Tentu Ji-wi takkan dapat menduga siapa dia, karena dia ini adalah Nona Sie Hong Lie, puteri dari Sie Cin Hai Taihiap Pendekar Bodoh!”

“Apa...?!” Ceng To Tosu dengan mewek-mewek mau menangis lalu menghampiri Lili dan memegang tangan kirinya, sedangkan Ceng Tek Hwesio yang semakin lebar ketawanya juga menghampirinya dan memegang tangan kanannya.