Pendekar Remaja Jilid 14

Pendekar Remaja

Karya Kho Ping Hoo

JILID 14

TERDENGAR lagi suara ketawa dari atas dan ketika keduanya menengok ke atas, ternyata bahwa Lili sekarang telah duduk di atas cabang pohon besar itu!

“Turunlah kau, Lili! Bagus betul perbuatanmu, sesudah berpisah bertahun-tahun, masih saja kau berani mempermainkan kakakmu sendiri!” kata Hong Beng gemas.

“Aku tidak mau sebelum kau berjanji tak akan menempeleng kepalaku!” kata Lili dengan sikap manja.

“Hemm, seperti anak kecil saja kau, Lili! Biarlah, kali ini kau kuampunkan. Turunlah!”

“Tidak, Beng-ko, kalau aku turun, aku takut kepada Enci Lan!”

“Memang aku akan mencubit bibirmu!” kata Goat Lan gemas dengan muka yang masih berubah merah karena jengah.

“Nah, Engko Hong Beng. Kau dengar sendiri bagaimana galaknya calon nyonyamu! Jika kau tidak berjanji akan membalas Enci Lan dan mencubit bibirnya kalau ia menyerangku, aku tidak mau turun dan tidak mengaku sebagai adikmu!”

Digoda seperti itu, baik Hong Beng mau pun Goat Lan menjadi gemas dan malu-malu, akan tetapi tentu saja mudah diketahui bahwa di dalam dada mereka merasa bahagia sekali.

“Sudahlah, Lili, kau turunlah, tentu saja... Nona Kwee tidak akan marah kepadamu.”

“Aihh, aihh! Mengapa pakai nona-nonaan segala? Engko Hong Beng, kau benar-benar bocengli (tidak tahu aturan, tidak berbudi), mengapa menyebut calon Soso (Kakak Ipar) dengan sebutan yang bersifat sungkan-sungkan? Kau harus menyebutnya Moi-moi!”

Muka kedua orang muda itu semakin merah mendengar godaan ini dan pada saat itu, Lili melompat turun. Goat Lan segera mengulurkan kedua tangannya kepada Lili, tapi bukan untuk mencubit bibir atau menjewer telinga, melainkan untuk memeluknya.

“Lili, aku minta dengan sangat, kasihanilah aku dan jangan kau menggoda lagi. Sudah lebih dari cukup kau menggodaku!” bisiknya.

“Engko Hong Beng,” kata Lili dan ia memandang kepada kakaknya dengan bangga, “aku girang sekali menyaksikan kepandaianmu yang amat hebat! Tidak percuma kau menjadi kakakku dan menjadi calon suami Enci Goat Lan yang cantik jelita!”

“Lili!!” seru Goat Lan.

“Lili...!” bentak Hong Beng hampir berbareng. “Jangan kau menggoda saja!”

Lili yang jenaka itu kemudian menjura kepada mereka berdua. “Maaf, maaf! Aku hanya main-main saja. Engko Han Beng, mengapa kau bisa berada di tempat ini dan apakah hubunganmu dengan orang-orang pengemis yang mengerikan tadi?”

Dengan singkat Hong Beng lalu menceritakan perjalanan serta pengalamannya. Ketika mendengar tentang Lo Sian, Lili berubah air mukanya.

“Beng-ko, coba kau ceritakan bagaimana wajah orang gila itu!”

Dengan heran Hong Beng lalu menuturkan tentang wajah Lo Sian dan mendengar ini, Lili berseru, “Suhu...!”

Baik Hong Beng mau pun Giok Lan menjadi amat terkejut dan heran mendengar seruan ini. Mereka memandang kepada Lili dengan mata mengandung penuh pertanyaan.

“Tentu dia Suhu! Siapa lagi?” Lili lalu menuturkan tentang Lo Sian, pengemis sakti yang dulu sudah menolongnya dari tangan Bouw Hun Ti dan yang kemudian bahkan menjadi suhu-nya.

“Aku pun hendak mencarinya. Kalau begitu hayo kita kejar dia!”

Tiga orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan mengejar Lo Sian yang melarikan diri. Berkat ilmu ginkang mereka yang sudah sempurna, dalam waktu sebentar saja mereka sudah dapat menyusul Lo Sian yang masih berlari-lari dan berteriak-teriak,

“Pemakan jantung...! Pemakan jantung...!”

“Suhu...!” Lili berseru memanggil dengan hati terharu sekali.

Gadis itu mendahului kedua orang kawannya dan melompat ke hadapan Lo Sian. Wajah Lo Sian yang beringas itu menghadapi Lili dan sepasang matanya yang liar memandang dengan tajam. Dengan hati ngeri Lili melihat betapa mata itu sudah menjadi merah dan amat mengerikan.

Untuk sesaat Lo Sian berdiri bagaikan patung, dan dengan perlahan ia berkata, “Kau...? Aku sudah pernah melihatmu... kau...?”

“Suhu, teecu adalah Lili, Sie Hong Li muridmu! Suhu, mengapa Suhu menjadi begini...?” Tak terasa lagi air mata mengalir turun dari sepasang mata Lili yang bagus itu.

Lo Sian tidak dapat mengingat siapa adanya Lili, akan tetapi perasaannya membisikkan kepadanya bahwa gadis ini adalah seorang yang baik kepadanya, maka dia tidak mau menyerang dan kemarahan serta ketakutannya lenyap. Akan tetapi pada saat itu pula ia melihat Goat Lan dan Hong Beng yang sudah datang dan memandangnya dengan mata berkasihan.

Tiba-tiba orang gila ini menjadi liar lagi dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan jantung!” Lalu ia maju menubruk dan menyerang Hong Beng dan Goat Lan.

Melihat keadaan orang itu, Goat Lan cepat turun tangan dan berhasil menotok dada Lo Sian. Pengemis gila ini roboh dengan tubuh lemas tak berdaya lagi.

“Aku harus merobohkannya supaya dapat memeriksanya!” Goat Lan berkata singkat dan tanpa menanti pendapat kawan-kawannya dia segera berjongkok dan memeriksa nadi Lo Sian.

“Keadaan jantungnya baik,” kata Goat Lan sambil memeriksa dada dan detik urat nadi.

Hong Beng memandang dengan kagum kepada tunangannya itu. Ia sendiri sedikit-sedikit sudah pernah mempelajari ilmu pengobatan dari ibunya yang belajar dari ayahnya pula, akan tetapi tentu saja kepandaiannya ini tidak ada artinya apa bila dibandingkan dengan tunangannya yang menjadi murid Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat.

“Paru-parunya agak lemah,” terdengar Goat Lan berkata pula.

Tanpa berkata sesuatu gadis ini lalu mengeluarkan bambu kuningnya, dan menggunakan ujung bambu yang runcing untuk mengerat lengan Lo Sian. Beberapa titik darah keluar dari luka kecil itu. Goat Lan menggunakan jari tangannya untuk mengambil darah ini yang segera diperiksanya dan darah itu ia tempelkan pada ujung lidahnya! Tak lama kemudian ia meludahkan darah itu dan berkata,

“Darahnya mengandung bisa yang amat aneh!” Ia lalu berpaling kepada Lili dan berkata, “Menurut perhitunganku, bila kakek ini dulunya tidak gila seperti yang kau katakan, tentu dia pernah terkena racun hebat, sehingga racun itu mengotorkan darahnya dan merusak ingatannya. Lili, kalau di dunia ini ada orang yang dapat menolongnya, maka orang itu bukan lain adalah Thian Kek Hwesio yang tinggal di kuil Siauw-lim-si di Kiciu, tidak jauh dari sini.”

“Siapakah dia dan apakah dia mau menolongku mengobati Suhu ini?” tanya Lili penuh gairah.

“Kalau aku yang minta, mungkin dia takkan menolak. Dia adalah sahabat baik mendiang Suhu dan dia terkenal sebagai ahli penyakit gila, dan ahli pula mengobati orang terkena racun. Aku pernah diajak oleh Suhu mengunjungi Thian Kek Hwesio. Kita dapat langsung menuju ke sana.”

“Sayang sekali aku tidak dapat ikut. Baiklah, aku akan menyusul setelah urusanku pibu dengan ketua-ketua dari Hek-tung Kai-pang beres.” kata Hong Beng. “Tidak patut kalau aku melanggar janji, bukan perbuatan yang patut dibanggakan apa bila seorang gagah melanggar janjinya.”

Goat Lan mengerutkan kening. Gadis ini pernah mendengar nama Hek-tung Kai-pang dan mendengar pula bahwa kelima orang kepala dari perkumpulan pengemis ini adalah orang-orang lihai yang telah mewarisi ilmu tongkat Hek-tung-hoat yang lihai.

Menurut ibunya, ilmu tongkat Hek-tung-hoat masih satu cabang dan bahkan berasal dari Ilmu Tongkat Bambu Runcing ciptaan Hok Peng Taisu karena Hek-tung Kai-ong pencipta Ilmu Tongkat Hitam itu pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Hok Peng Taisu. Maka teringat betapa tunangannya akan menghadapi lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu, hatinya menjadi gelisah sekali.

“Lima ketua dari Hek-tung Kai-pang itu amat lihai ilmu tongkatnya,” kata Goat Lan tanpa berani memandang kepada Hong Beng.

“Aku tidak takut..., Moi-moi,” kata Hong Beng sambil mengerling ke arah Lili. Akan tetapi, Lili tidak mempunyai nafsu untuk menggoda orang ketika ia melihat keadaan Lo Sian dan ia mendengarkan dengan kesungguhan hati dan penuh perhatian.

“Aku percaya, Koko (Kanda), akan tetapi... karena mereka itu bukan orang-orang jahat, maka tidak baik kalau sampai terjadi bentrok yang menimbulkan permusuhan. Kalau saja Adik Lili mau ikut dengan kau... dan biarlah aku yang mengantarkan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) ini kepada Thian Kek Hwesio...”

“Kurasa tidak perlu, Moi-moi (Dinda). Kalau Lili ikut dengan aku, jangan-jangan aku akan dianggap takut dan dicap pengecut!”

Tiba-tiba Lili bangun dan berkata, “Biarlah aku yang mengantarkan Suhu ke Kiciu. Kiciu tak berapa jauh dari sini dan pula, perjalanan ini tidak berbahaya sama sekali. Enci Lan, kau pergilah bersama Beng-ko, dan seperti yang kau katakan tadi, lebih baik kita jangan menanam bibit permusuhan dengan Hek-tung Kai-pang. Hatiku juga tidak akan merasa tenteram jika Beng-ko pergi seorang diri saja ke sana. Nah, Enci Lan, coba kau buatkan surat untuk Thian Kek Hwesio agar dia dapat dan mau menolong Suhu.”

Goat Lan segera mempergunakan bambu runcingnya untuk mengambil kulit pohon yang lebar, kemudian dengan ujung bambunya ia menuliskan beberapa kata-kata di atas ‘surat’ istimewa ini. Melihat betapa Goat Lan setuju dengan usul Lili, Hong Beng tidak berani membantah lagi, karena siapakah orangnya yang tak akan merasa gembira dan bahagia melakukan perjalanan bersama dengan tunangannya, apa lagi bila tunangan itu secantik dan segagah Goat Lan?

Demikianlah, dengan membawa ‘surat’ dari Goat Lan, Lili hendak memulihkan keadaan suhu-nya dan ternyata Lo Sian menurut saja kepada Lili ketika Lili mengajaknya pergi! Hong Beng dan Goat Lan lalu kembali, menuju ke kota Ta-liong untuk memenuhi janji kepada Hek-tung Kai-pang pada keesokan harinya.

*****

Cersil karya Kho Ping Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su

Thian Kek Hwesio adalah seorang pendeta Buddha yang bertubuh gemuk dan berwajah tenang dan riang. Hwesio ini telah banyak merantau dan sudah beberapa kali ia melawat ke negeri barat untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Buddha. Di dalam perantauannya ke barat inilah dia mendapatkan ilmu pengobatan yang luar biasa.

Memang semenjak mudanya, Thian Kek Hwesio paling senang mempelajari ilmu ini dan ketika ia berada di negeri barat, ia bertemu dengan seorang ahli pengobatan, khususnya untuk mengobati orang-orang yang terganggu pikirannya dan orang-orang yang menjadi korban racun-racun jahat. Dia mempelajari ilmu jiwa yang sangat dalam sampai puluhan tahun lamanya sehingga ketika ia kembali ke tanah airnya, ia telah menjadi seorang ahli berilmu tinggi.

Akhirnya ia menghentikan perantauannya dan tinggal di dalam kuil Siauw-lim-si di Kiciu. Sambil memperkembangkan Agama Buddha yang dianutnya, ia pun selalu mengulurkan tangan untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Tidak jarang, apa bila terjangkit wabah penyakit di suatu tempat, tidak peduli tempat itu letaknya amat jauh, Thian Kek Hwesio pasti akan mendatanginya kemudian mengulurkan tangan menolong orang-orang yang menjadi korban. Oleh karena ini, namanya menjadi sangat terkenal sekali.

Walau pun Thian Kek Hwesio bukan seorang ahli dalam hal ilmu silat, namun namanya tetap dihormati dan disegani oleh para tokoh kang-ouw. Banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang menjadi sahabatnya, di antaranya adalah Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi tentang ilmu pengobatan.

Lili mengajak Lo Sian menuju ke Kiciu untuk mendatangi hwesio suci ini guna meminta pertolongannya mengobati Lo Sian. Di dalam perjalanan Lo Sian diam saja tak banyak berkata-kata, akan tetapi nampak lebih tenang setelah berada dekat Lili.

Beberapa kali gadis itu mencoba untuk mengingatkan bekas gurunya ini, akan tetapi Lo Sian tetap tidak dapat mengingat sesuatu, tidak dapat mengenal Lili dan tidak ingat akan namanya sendiri. Akan tetapi, dia tidak nampak gelisah, tidak berteriak-teriak lagi dan sering kali dia memandang kepada Lili dengan penuh kepercayaan dan dengan muka menyatakan ketenangan hatinya.

Meski pun Lo Sian sudah menjadi gila, namun ilmu lari cepatnya masih belum lenyap dan karenanya Lili dapat mengajaknya berlari cepat sehingga sebentar saja mereka sudah berada di dekat kota Kiciu. Ketika mereka berlari sampai di sebuah tempat yang sunyi, tiba-tiba mereka melihat dua orang sedang berkejar-kejaran.

Yang dikejar adalah seorang pemuda, ada pun yang mengejarnya seorang gadis cantik. Lili merasa heran sekali melihat gadis itu yang sambil mengejar, menangis dan berseru memanggil,

“Taihiap... jangan tinggalkan aku! Taihiap... tunggulah dan bawa aku bersamamu...!”

Pemuda itu lalu menoleh dan berkata dengan suara sedih, “Lilani, jangan kau dekati aku lagi...! Aku seorang yang jahat dan rendah budi! Jangan kau dekati lagi, Lilani...!”

“Taihiap, kalau kau tetap hendak meninggalkanku, aku akan membunuh diri! Aku tidak sanggup berpisah darimu lagi...”

Kedua orang itu adalah Lie Siong dan Lilani. Setelah pada malam hari itu di dalam hutan, akibat dorongan hati terharu, keduanya lalu saling menumpahkan perasaan hati dan lupa akan keadaan di sekelilingnya. Maka, pada esok harinya, bersama munculnya matahari, muncul pula pertimbangan dan kesadaran di hati Lie Siong.

Pemuda ini menjadi sangat terkejut dan menyesal sekali mengingat akan perbuatannya sendiri dan dia merasa sangat malu. Bagaimanakah dia, seorang pemuda yang memiliki kepandaian dan yang sering kali dapat nasehat-nasehat dari ibunya, telah menjadi mata gelap dan runtuh hatinya terhadap kecantikan dan cumbu rayu dari seorang gadis cantik seperti Lilani?

Ia menyesal sekali, akan tetapi ketika ia memandang wajah Lilani, gadis itu nampak lebih cantik dan berseri wajahnya. Sepasang mata gadis itu memandangnya dengan penuh cinta kasih sehingga Lie Siong menjadi gelisah sekali. Apakah yang sudah dia lakukan terhadap seorang gadis berhati tulus dan bersih seperti Lilani? Ah, dia berdosa, demikian pikirnya.

“Lilani...” katanya dengan suara perlahan, “aku... aku sudah berdosa kepadamu... aku... aku tak dapat lagi memandang mukamu.”

Akan tetapi Lilani menubruk dan merangkulnya. “Taihiap, mengapa kau berkata begitu? Aku, Lilani, bersumpah tak akan mencinta lain orang kecuali engkau. Engkaulah pujaanku dan hanya kepadamulah Lilani menyerahkan jiwa raganya...”

Makin perihlah perasaan hati Lie Siong mendengar ucapan dan melihat sikap gadis ini. Ia maklum dan percaya sepenuhnya bahwa Lilani benar-benar sangat mencintanya, akan tetapi dia...? Dapatkah dia selamanya harus berada di sisi Lilani? Dapatkah dia menjadi suami dari gadis ini...? Makin dipikirkan, makin gelisah dan menyesallah hati pemuda itu. Dia melanjutkan perjalanan dengan wajah muram dan Lilani mengikutinya dengan cemas dan tak mengerti.

Akan tetapi, dengan penuh kesetiaan dan kesabaran, gadis itu melayani Lie Siong dan mengikutinya ke mana saja pemuda itu pergi tanpa mau mengganggunya dan tidak pula bertanya mengapa Lie Siong berhal seperti itu.

Akhirnya mereka sampai di tempat itu dan dengan terus terang Lie Siong menyatakan bahwa dia tidak ingin melakukan perjalanan selamanya bersama Lilani.

“Lilani, dari sini ke Tiang-an tidak jauh lagi. Aku... aku tidak dapat mengantarkan kau terus ke Tiang-an. Mengapa kau tidak pergi saja seorang diri?”

Lilani menjadi pucat. “Taihiap, mengapakah kau berkata demikian? Aku... aku tidak ingin ke Tiang-an, tidak ingin ke mana pun juga kecuali ke tempat engkau berada. Aku tidak mau meninggalkan kau, Taihiap, aku ingin terus berada di sampingmu, ke mana pun juga kau pergi.”

Berkerutlah kening Lie Siong mendengar ucapan ini. “Tidak, tidak, Lilani! Aku sudah satu kali melakukan pelanggaran, melakukan perbuatan yang takkan dapat kulupakan selama hidupku. Aku tidak akan mau mengulanginya lagi. Akan tetapi... kalau kau terus berada di dekatku... aku... aku tidak dapat menanggung bahwa kegilaan tidak akan membutakan mataku lagi...”

“Kenapa pelanggaran? Mengapa hal ini kau anggap kegilaan? Taihiap, tidak percayakah kau bahwa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku? Aku tidak mengharapkan apa pun asal dapat selalu berada di dekatmu...”

“Tidak, tidak! Tidak mungkin, Lilani!” Dan larilah Lie Siong meninggalkan gadis itu! Lilani mengejar sambil berteriak-teriak memilukan dan mereka berkejaran terus sampai terlihat oleh Lili dan Lo Sian.

Lili berdiri terheran-heran mendengar dan melihat keadaan dua orang yang berkejaran itu. Akan tetapi berbeda dengan Lo Sian. Orang tua ini masih belum kehilangan watak pendekarnya, dan kini melihat dua orang muda berkejaran, sungguh pun yang mengejar adalah yang wanita, namun karena Lilani menangis memilukan, dengan mudah saja dia dapat menduga bahwa di dalam hal itu yang bersalah tentulah laki-laki yang dikejar itu! Tubuhnya bergerak dan berkelebat cepat menghadang di depan Lie Siong!

“Orang jahat! Kau sudah berani mengganggu seorang gadis dan kemudian melarikan diri?”

Ucapan yang dikeluarkan tanpa disengaja ini telah mengenai tepat sekali pada perasaan hati Lie Siong. Ia menjadi pucat dan memandang pada orang yang menegurnya. Apakah jembel mengerikan ini telah mengetahui rahasianya pula? Apakah melihat perbuatannya di dalam hutan pada malam hari yang telah menghikmatnya kemarin?

“Jangan kau mencampuri urusanku!” seru Lie Siong dan cepat dia hendak melanjutkan larinya. Akan tetapi Lo Sian cepat-cepat menggerakkan tangannya yang diulurkan hendak mencengkeram pundak Lie Siong.

Melihat gerakan yang mendatangkan angin ini, terkejutlah Lie Siong maka ia pun cepat mengelak. Sambil miringkan tubuh ke kiri, pemuda ini cepat membalas dengan sebuah totokan ke arah pinggang kanan Lo Sian yang dapat menangkis pula. Akan tetapi ketika kakek ini menangkis, tubuhnya langsung terpental ke belakang dan terhuyung-huyung, tanda bahwa dia kalah tenaga!

“Orang kurang ajar! Kau berani mengganggu Suhu?” tiba-tiba saja nampak berkelebat bayangan merah dan angin yang dingin menyerang Lie Siong dari samping kanan.

Pemuda ini cepat melompat ke belakang dan terheranlah dia ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis yang cantik jelita. Serangan gadis ini jauh lebih lihai dan hebat dari pada serangan jembel tadi! Bagaimana mungkin seorang murid memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada suhu-nya?

Akan tetapi Lili tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak memusingkan hal ini. Gadis ini pun merasa kaget dan penasaran ketika ternyata serangannya tadi dapat dielakkan dengan begitu mudahnya! Tadi dia telah menyerang dengan gerak tipu Pai-bun Twi-san (Mendorong Pintu Menolak Bukit) dengan maksud mendorong pemuda itu agar terguling, akan tetapi siapa kira bahwa dengan amat mudahnya pemuda itu telah dapat melompat dengan tepat dan mudah. Sekarang dia maju menyerang lagi dengan hebat, mengambil keputusan untuk merobohkan pemuda yang telah berani melawan suhu-nya tadi!

Lo Sian berdiri bertolak pinggang sambil tertawa-tawa menyaksikan pertempuran hebat itu. Sebaliknya, Lie Siong merasa terkejut bukan main karena ternyata bahwa gerakan gadis yang menyerangnya itu benar-benar luar biasa sekali! Cepat bagai seekor burung walet dan tiap pukulan yang menyerangnya mendatangkan angin yang kuat sekali.

Diam-diam Lie Siong merasa gembira sekali karena memang demikianlah sifatnya, suka menghadapi lawan yang tangguh. Dia lalu mengeluarkan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang dipelajarinya dari ibunya. Tentu saja oleh karena Lie Siong menerima pelajaran langsung dari Ang I Niocu, ilmu silatnya ini sempurna dan matang betul.

Kini giliran Lili yang diam-diam merasa tertegun. Dari mana pemuda lawannya ini dapat bersilat dengan ilmu silat itu demikian bagusnya? Ia pun lalu merubah gerakannya dan dengan cepat dia bersilat dengan Ilmu Silat Sian-li Utauw, sama dengan ilmu silat Lie Siong!

Pemuda ini makin kaget dan ketika ia mempercepat gerakannya, ternyata bahwa dalam hal Ilmu Silat Sian-li Utauw, ia masih menang setingkat dan berhasil mendesak Lili! Gadis ini menggigit bibir dan menjadi marah, ia berseru keras dan kini ia mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut! Kedua lengan tangannya yang berkulit halus itu mengebulkan uap putih yang menyambar-nyambar ke arah Lie Siong.

Pemuda ini hampir berseru keras saking herannya dan cepat pula ia juga mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut! Akan tetapi keadaannya sekarang berubah karena ternyata bahwa Lili lebih mahir bersilat dengan ilmu silat ini! Hal ini pun tak mengherankan, karena memang dalam hal ilmu ciptaan Bu Pun Su ini, kepandaian Pendekar Bodoh masih lebih lihai dari pada Ang I Niocu.

Sementara itu, Lo Sian yang gila hanya tertawa-tawa saja melihat pertempuran ini, ada pun Lilani yang sudah dapat mengejar sampai di sana, langsung memandang dengan terheran-heran melihat betapa dua orang itu bertempur seakan-akan sedang menari-nari saja! Gerakan keduanya demikian sama dan cocok, lemah lembut dan lemas, teramat indah dipandang mata.

“Tahan dulu!” seru Lie Siong yang makin lama makin terheran melihat betapa ilmu silat ini banyak sekali persamaannya dengan kepandaiannya sendiri. “Siapakah kau, Nona?”

Lili menjawab dengan mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, lalu mencibirkan bibirnya sambil menjawab ketus, “Laki-laki mata keranjang dan kurang ajar! Apakah telah menjadi kebiasaanmu menanyakan nama setiap orang wanita yang kau jumpai?”

Tentu saja Lie Siong menjadi marah dan mendongkol sekali. Ia merasa tersindir hingga telinganya menjadi merah. Memang hatinya sedang merasa rusuh karena perbuatannya terhadap Lilani, sekarang ia dicap oleh gadis ini sebagai seorang mata keranjang! Tanpa berkata sesuatu, ia pun lalu mencabut Sin-liong-kiam dan menghadapi gadis itu dengan mata memandang tajam.

Akan tetapi, sebelum mereka bertempur mempergunakan senjata, Lilani telah melangkah maju, menghadapi Lili dengan muka merah dan mata bersinar.

“Jangan kau mengeluarkan kata-kata kotor kepada Taihiap! Dia adalah seorang pendekar gagah perkasa, sama sekali bukan mata keranjang dan kurang ajar! Jangan sekali-kali kau berani memaki padanya!”

Sikap Lilani amat galak, seperti seekor ayam biang membela anaknya.

Melihat sikap gadis ini, Lili tersenyum menyindir, lalu memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang kembali dan berkata, “Sudahlah, jangan kau kuatir, aku tak akan melukai atau membunuh kekasihmu! Hanya ada satu hal yang sangat mengecewakan hatiku, kau adalah seorang gadis yang cantik jelita mengapa begitu tidak tahu malu mengejar-ngejar seorang pemuda? Hah, sungguh menyebalkan!” Sambil berkata demikian, Lili kemudian memegang tangan Lo Sian dan berkata,

“Suhu, mari kita pergi! Jangan melayani orang-orang ini!”

Lo Sian tertawa haha-hihi dan sebelum ikut berlari pergi bersama Lili, ia menengok pada Lie Siong dan berkata, “Orang gagah tidak akan mendatangkan air mata pada seorang gadis cantik! Ha-ha-ha!”

Ketika kedua orang itu sudah pergi merupakan dua titik bayangan yang jauh, Lie Siong masih berdiri termenung dengan pedang di tangan. Pertemuan ini berkesan dalam-dalam di hatinya. Tidak saja ia terpesona oleh kepandaian dan kecantikan Lili, akan tetapi juga kata-kata Lo Sian tadi bagaikan mengiris jantungnya.

Dia baru sadar dari lamunannya ketika Lilani memegang tangannya dan berkata dengan suara menggetar, “Taihiap, jangan kau tinggalkan Lilani!”

Lie Siong menghela napas berulang dan ketika dia memandang kepada Lilani, timbullah rasa iba yang besar.

“Lilani, aku telah melakukan dosa besar terhadapmu...”

“Bukan kau, Taihiap, akan tetapi kita berdua. Namun bagiku perbuatan kita itu bukanlah dosa…”

Memang sebetulnya hubungan antara pria dan wanita di luar perkawinan yang dirayakan, bagi Lilani bukan merupakan hal yang aneh atau melanggar. Suku bangsanya yang amat sederhana keadaan hidupnya itu tidak menitik beratkan pada upacara, akan tetapi lebih percaya kepada kesetiaan dan kasih di hati. Upacara dapat dilakukan kemudian, karena sekali dua orang telah menanam cinta kasih tak pernah ada atau jarang sekali ada yang memutuskannya atau mengingkari janjinya.”

Lie Siong dapat menduga akan hal ini, karena itu dengan hati perih dia berkata, “Lilani, ketahuilah bahwa sesungguhnya aku kasihan dan sayang kepadamu, akan tetapi... aku tidak mencintamu dan tidak mungkin menjadi suamimu!”

Ucapan ini bagaikan sebuah pedang runcing menikam ulu hati Lilani, akan tetapi gadis ini mempertahankan sakit hatinya dan sambil meramkan matanya menahan air mata, ia lalu berkata,

“Bagaimana seorang perempuan rendah dan bodoh seperti aku ini dapat mengharapkan cinta kasihmu, Taihiap? Aku sudah akan merasa bangga dan bahagia apa bila selama hidup aku dapat menjadi pelayanmu. Aku tak dapat hidup jauh darimu, dan aku tak mau ikut lain orang kecuali kalau dapat bertemu dan mengumpulkan suku bangsaku kembali!”

Berat sekali hati Lie Siong mendengar ini. “Lilani, akan kucoba untuk mengembalikan kau kepada suku bangsamu.”

“Taihiap,” mendadak saja gadis itu berkata sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang seperti bintang pagi itu, “kau tidak mencintaiku, hal ini aku dapat mengerti. Akan tetapi... bukankah kau jatuh cinta kepada... gadis tadi?”

Lie Siong meloncat mundur bagai kakinya disengat ular. “Apa maksudmu...? Dari mana kau mempunyai pikiran seperti itu? Aku tidak kenal padanya, dan sekali bertemu kami telah bertempur. Mengapa kau menyangka demikian?”

Lilani tersenyum sedih. “Orang bertempur bukan seperti yang kau lakukan tadi, Taihiap. Tadi kau dengan gadis itu bukan bertempur, akan tetapi menari-nari gembira! Alangkah indahnya tarian itu dan terus terang saja, kau memang cocok sekali dengan dia. Tadi aku merasa seolah-olah melihat sepasang dewa-dewi sedang menari!”

Hampir saja Lie Siong tertawa bergelak-gelak saking geli hatinya, sungguh pun hatinya tergerak pula oleh ucapan ini dan wajah Lili terbayang di depan matanya.

“Lilani, kau sungguh lucu! Ketahuilah bahwa ilmu silat yang kami mainkan tadi memang merupakan ilmu silat tarian yang tidak sembarang orang dapat menarikannya. Ilmu silat itu disebut ilmu Silat Sian-li Utauw (Tari Bidadari) dan aku pun masih heran memikirkan bagaimana gadis tadi sanggup memainkannya. Padahal ilmu silat itu adalah ciptaan dari ibuku sendiri!”

Dengan hati masih ingin sekali tahu siapa adanya gadis yang pandai memainkan Sian-li Utauw itu, Lie Siong melanjutkan perjalanannya bersama Lilani. Pemuda ini mengambil keputusan untuk mengikuti jejak Lili dan hendak bertanya siapa sebetulnya gadis aneh itu. Ada hubungan apakah antara gadis itu dengan ibunya? Kenapa pula gadis itu pandai memainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang lebih hebat dari pada kepandaiannya sendiri? Apakah gadis itu ada hubungannya dengan Pendekar Bodoh?

Berkali-kali Lilani berkata dengan penuh perasaan, “Taihiap, aku mempunyai perasaan bahwa kau mencinta gadis itu dan agaknya kau memang berjodoh dengan dia! Melihat kalian berdua bersilat seperti menari itu, ahhh, alangkah cocoknya!”

Diam-diam Lie Siong merasa heran sekali melihat sikap gadis ini. Baru saja menyatakan cinta kasihnya dan sekarang sudah membicarakan gadis lain tanpa ada sikap cemburu sedikit pun juga! Benar-benar gadis yang berhati putih bersih, bersikap sederhana dan harus dikasihani.

“Tidak, Lilani. Aku memang akan mencarinya untuk menantangnya bertempur lagi. Aku belum puas apa bila belum mengalahkan dia, sebagai tanda dan bukti kepadamu bahwa persangkaanmu itu tidak benar!”

“Jangan, Taihiap. Dia kelihatan galak dan lihai bukan main. Bagaimana kalau kau sampai terluka? Ahhh...”

“Aku harus menghadapinya!” kata Lie Siong berkeras. “Di samping aku hendak menguji kepandaiannya, juga ingin tahu dari mana ia mencuri Sian-li Utauw dan Pek-in Hoatsut.

*****

Sementara itu, Lili dan Lo Sian sudah memasuki kota Kiciu dan dengan mudah mereka mencari kuil Siauw-lim-si yang besar. Lili sudah tidak memikirkan lagi keadaan pemuda dan gadis yang dijumpainya di jalan, sungguh pun di dalam perjalanan tadi ia tidak habis merasa heran bagaimana Ilmu Silat Sian-li Utauw pemuda itu sedemikian hebatnya dan betapa pemuda itu dapat juga mainkan Pek-in Hoat-sut.

Ia pun ingin sekali melanjutkan pertempuran dengan pemuda itu, sebab ia masih merasa penasaran apa bila belum dapat mengalahkan pemuda yang dianggapnya sombong itu. Walau pun wajah pemuda yang elok dan gagah itu mengganggunya, namun dia berhasil mengusir bayangan itu dengan anggapan bahwa pemuda itu tidak ada harganya untuk diingat lagi, karena tentu pemuda itu adalah seorang kurang ajar dan pengganggu anak gadis!

Memikirkan halnya gadis cantik yang mengejar pemuda itu sambil menangis, Lili menjadi gemas sekali. Gemas dan benci terhadap pemuda itu, karena dia dapat menduga bahwa gadis itu tentulah korban permainan pemuda mata keranjang itu!

Thian Kek Hwesio menyambut kedatangan Lili dengan ramah tamah. Sesudah menerima ‘surat’ dari Goat Lan, pendeta gemuk itu tertawa gembira dan berkata kepada Lili,

“Nona, tentu saja aku suka berusaha menolongmu. Apa lagi kalau ada surat dari Kwee Lihiap yang kukenal baik. Tidak tahu siapakah Nona dan siapa pula orang tuamu?”

“Teecu (murid) adalah puteri dari Sie Cin Hai,” jawab Lili.

Hwesio itu mengangkat alisnya dan kedua matanya terbelalak girang.

“Ah, puteri Pendekar Bodoh? Betul-betul merupakan kehormatan besar dan kebahagiaan bahwa aku masih berkesempatan melihat keturunan Pendekar Bodoh. Masuklah Nona, dan siapakah sahabat ini?” Dia menudingkan telunjuknya kepada Lo Sian yang berdiri bagaikan patung.

“Dia adalah Sin-kai Lo Sian yang kini berada dalam keadaan sakit, Losuhu. Kedatangan teecu adalah untuk mohon pertolongan Losuhu agar suka memeriksa dan memberi obat kepadanya. Dahulu ketika teecu masih kecil, teecu adalah murid dari Sin-kai Lo Sian dan entah mengapa, setelah sekarang bertemu lagi, teecu mendapatkan Suhu berada dalam keadaan seperti ini.”

Thian Kek Hwesio yang memiliki sepasang mata bersinar sabar, tenang, halus dan juga berpengaruh itu, lalu memandang kepada Lo Sian dengan tajam, kemudian dia maju dan menghampiri pengemis gila itu.

“Sahabat, kau kenapakah?”

Akan tetapi, begitu melihat hwesio gemuk itu menghampirinya, Lo Sian tiba-tiba langsung menyerangnya dengan pukulan keras mengarah dadanya. Lili terkejut sekali dan untung bahwa dia berlaku cepat. Ia melompat menangkis pukulan Lo Sian ini, lalu menangkap lengannya.

“Suhu, jangan begitu, Losuhu ini adalah Thian Kek Hwesio yang hendak menolongmu.”

Akan tetapi, Lo Sian tiba-tiba justru memandang kepada Thian Kek Hwesio dengan mata mengandung ketakutan dan dia berteriak-teriak, “Pemakan jantung...! Tolong, pemakan jantung...!”

Agaknya melihat hwesio gundul ini, ia teringat kepada Hok Ti Hwesio dan melihat tubuh gemuk dari Thian Kek Hwesio, agaknya teringat kepada tubuh Ban Sai Cinjin, maka dia berteriak-teriak ketakutan.

“Nona, tolong bikin dia tak berdaya lebih dulu, agar mudah pinceng (aku) memeriksanya,” kata Thian Kek Hwesio dengan muka masih tenang saja.

Lili lalu mengulur tangannya dan menotok pundak Lo Sian. Karena orang gila ini memang percaya penuh kepada Lili, maka ketika ditotok, dia diam saja tidak melawan sehingga tubuhnya menjadi lemas dan ia lalu dibaringkan di atas pembaringan.

Thian Kek Hwesio lalu memeriksa seluruh tubuhnya, terutama sekali ia mempergunakan jari-jari tangannya untuk memijit-mijit bagian kepala Lo Sian, lalu dia pun menggunakan cara Goat Lan memeriksa, yaitu mengeluarkan sedikit darah dari tubuh orang gila itu.

Lili mengikuti semua pemeriksaan ini dengan penuh perhatian dan kecemasan. Akhirnya, hwesio itu menggelengkan kepalanya dan berkata sungguh-sungguh,

“Hebat sekali! Dia telah terkena racun jahat selama sepuluh tahun lebih sehingga seluruh darahnya sudah menjadi kotor. Agaknya masih mungkin bagi pinceng menghilangkan kegilaannya, karena hanya urat di kepalanya yang terganggu, akan tetapi sulit membuat ia kembali teringat akan segala kejadian yang lalu.”

“Tolonglah, Losuhu. Tolonglah sembuhkan penyakit gilanya, biarlah ia tidak bisa teringat sesuatu asalkan dia tidak gila seperti sekarang ini. Mungkin lambat laun ia akan dapat mengingat-ingat lagi.”

“Tentu saja pinceng akan berusaha menolongnya, dan mudah-mudahan Thian (Tuhan) membantu pinceng.”

Hwesio gendut itu lalu mengeluarkan beberapa puluh batang jarum yang berwarna putih dan ada pula yang kuning. Itulah gin-ciam (jarum perak) dan kim-ciam (jarum emas), alat pengobatan yang sudah amat terkenal di seluruh permukaan bumi Tiongkok.

“Nona Sie,” kata hwesio itu, “coba tolong kau ikat kaki tangannya yang kuat, kemudian kau buka kembali jalan darahnya, karena dalam keadaan terpengaruh tiam-hoat (ilmu totokan), tak mungkin pinceng dapat menolongnya.”

Lili melakukan apa yang diminta oleh Thian Kek Hwesio. Ia segera membuka bungkusan pakaiannya, mengambil ikat pinggang dan mengikat kedua kaki dan tangan Lo Sian pada kaki pembaringan, lalu ia menepuk pundak Lo Sian untuk membebaskan totokannya tadi.

Begitu terbebas, Lo Sian segera meronta-ronta dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan jantung! Tolong… tolong!”

Thian Kek Hwesio tersenyum dan mulailah dia bekerja dengan jarum-jarumnya. Dengan gerakan yang tenang dan tepat tanpa keraguan sedikit pun, ia mulai menusukkan jarum putih ke leher belakang Lo Sian sementara Lili memegangi kepala pengemis gila itu. Tiga jarum ditusukkan dan tiba-tiba lemahlah tubuh Lo Sian, suaranya makin mengecil dan akhirnya dia jatuh pingsan atau pulas!

Delapan belas jarum sudah ditusukkan oleh Thian Kek Hwesio. Tiga di belakang leher, tiga di pundak kanan, tiga di pundak kiri dan sembilan jarum lain ditusukkan pada sekitar kepalanya! Mau tidak mau Lili merasa ngeri juga melihat cara pengobatan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya ini. Bagaimanakah orang bisa tetap hidup setelah leher dan kepalanya ditusuk oleh sekian banyak jarum? Yang sangat luar biasa adalah bahwa tidak ada setitik pun darah mengalir keluar dari jarum-jarum yang ditusukkan itu.

“Biarlah dia mengaso dulu dan sementara menanti, ceritakanlah pengalamanmu, Nona. Terutama sekali pinceng ingin sekali mendengar tentang keadaan orang tuamu.”

Dengan jelas tapi singkat, Lili menuturkan keadaan orang tuanya dan betapa ia bertemu dengan Lo Sian ketika dia dulu diculik Bouw Hun Ti. Ketika dia telah selesai menuturkan pengalamannya dan ketika hwesio tua itu mendengar nama Ban Sai Cinjin sebagai guru Bouw Hun Ti, Thian Kek Hwesio mengerutkan keningnya.

“Hemm, disebutnya nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng merasa curiga, Nona Sie. Ketahuilah bahwa Sin-kai Lo Sian ini terkena racun yang amat berbahaya yang sungguh pun tidak sampai menewaskan nyawanya, tetapi membuat seluruh isi kepalanya menjadi kotor dan pikirannya tidak dapat bekerja baik. Pinceng sekarang hanya dapat menolong dia dari gangguan ketakutan sehingga ia tidak akan menjadi gila lagi. Agaknya, ketika ia minum racun atau dipaksa minum racun, ia berada dalam keadaan yang amat ketakutan atau ngeri. Entah apa yang terjadi dengan dia, akan tetapi nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng hampir berani menuduh, kakek mewah itu yang menjadi biang keladi. Bagi Ban Sai Cinjin, segala macam kekejian di dunia ini mungkin dilakukan olehnya!”

Pada saat itu terdengar Lo Sian merintih perlahan. Lili cepat melompat untuk memegangi kepalanya, karena bila kepalanya bergerak-gerak ia kuatir kalau-kalau jarum yang masih menancap di lehernya itu akan melukainya. Thian Kek Hwesio juga menghampirinya dan melihat sebentar ke arah muka Lo Sian, membuka pelupuk matanya yang masih tertutup, lalu mengangguk puas.

“Syukurlah, baik hasilnya,” hwesio itu berkata perlahan, lalu ia mencabuti jarum-jarum itu.

Lili melihat dengan hati ngeri betapa jarum perak yang tadi menancap, sesudah dicabut ujungnya berwarna kehitam-hitaman, sedangkan jarum emasnya berwarna kehijauan!

Thian Kek Hwesio lalu memasukkan tiga butir pil merah ke dalam mulut Lo Sian dan memberi minum secawan arak sehingga obat itu dapat memasuki perut pengemis itu. Sampai lama terdengar Lo Sian mengeluh kesakitan, kemudian keluhannya berhenti dan jalan napasnya nampak tenang. Peluh memenuhi mukanya dan akhirnya dia membuka matanya.

“Di mana aku...?” tanyanya seperti orang baru bangun tidur.

“Buka ikatannya,” kata Thian Kek Hwesio kepada Lili yang segera membuka ikatan kaki tangan orang tua itu.

Lo Sian bangun dan duduk dengan pandang mata yang bingung dan Lili dengan girang sekali mendapat kenyataan bahwa pandang mata Lo Sian kini telah waras kembali, tidak liar seperti tadi.

“Ehh, siapakah kalian dan di manakah aku berada?” kembali Lo Sian bertanya sambil memandang kepada Thian Kek Hwesio dan Lili berganti-ganti.

Lili lalu maju dan memegang tangannya. “Suhu, lupakah kau kepadaku? Aku adalah Sie Hong Li atau Lili, anak Pendekar Bodoh! Aku muridmu, Suhu!”

Terbelalak mata Lo Sian memandang kepada gadis jelita yang berdiri di depannya sambil tersenyum itu. “Lili...? Siapakah Lili? Dan siapa pula Pendekar Bodoh? Aku.. serasa aku pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi sudah lupa sama sekali!”

“Suhu, kau telah minum racun berbahaya dan berada dalam keadaan tidak sadar sampai sepuluh tahun. Inilah penolongmu, yaitu Thian Kek Losuhu.”

Kini Lo Sian memandang kepada hwesio itu yang masih tersenyum kepadanya. Biar pun Lo Sian masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lili, namun mendengar bahwa hwesio gendut itu sudah menolongnya, maka dia lalu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu.

“Omitohud!” Thian Kek Hwesio menyebut nama Buddha sambil cepat-cepat mengangkat bangun Pengemis Sakti, itu. “Tak percuma pinceng mengeluarkan tenaga membantumu, Sicu, ternyata kau adalah seorang yang berpribudi tinggi. Akan tetapi, ketahuilah bahwa semua orang yang baik hati tentu akan mendapat pertolongan Yang Maha Kuasa, biar pun dia tidak akan terlepas dari hukum karma. Marilah kita bicara di ruang depan, terlalu sempit di kamar ini.”

Ketiga orang itu lalu berjalan keluar dan ternyata bahwa pengobatan itu sama sekali tidak mempengaruhi keadaan kesehatan Lo Sian. Dia kini tidak gila lagi, akan tetapi dia juga tidak ingat akan kejadian di masa lampau.

Setelah mereka berada di ruang depan, Thian Kek Hwesio lalu duduk di atas sebuah bangku dan Lo Sian berdiri di depannya. Lili lalu menceritakan keadaan Lo Sian dahulu untuk membantu bekas suhu-nya itu teringat kembali.

Akan tetapi betapa pun Lo Sian mengerahkan pikirannya, ia tidak dapat mengingat-ingat lagi! Tiba-tiba matanya terbelalak dan Lili merasa terkejut sekali, takut kalau-kalau bekas gurunya ini kumat lagi penyakit gilanya. Akan tetapi Thian Kek Hwesio memberi isyarat dengan tangannya agar supaya gadis itu tetap tenang.

Berkali-kali Lo Sian memijit-mijit kepalanya seakan-akan hendak membantu semua urat syarafnya agar bekerja kembali, dan tiba-tiba ia berkata keras, “Ah... yang teringat olehku hanya Lie Kong Sian...! Lie Taihiap itu telah... mati! Benar, Lie Kong Siang telah tewas... ahh, hanya itu yang teringat olehku. Lie Kong Sian telah tewas!” Dan Sin-kai Lo Sian lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya lalu ia menangis tersedu-sedu!

Lili hendak menghampirinya, akan tetapi dicegah oleh Thian Kek Hwesio, maka gadis itu hanya bertanya, “Suhu, kau maksudkan bahwa Lie-supek telah meninggal dunia?”

Suaranya terdengar gemetar, karena gadis ini sering kali mendengar dari ayah-bundanya bahwa Lie Kong Sian adalah suami dari Ang I Niocu dan bahwa pendekar besar she Lie itu adalah suheng dari ayahnya.

Lo Sian mengangguk-angguk sambil menahan tangis. “Benar, dia telah meninggal dunia. Lie Kong Sian yang gagah perkasa, yang berbudi mulia, telah mati...!”

Pada saat itu pula terdengar bentakan hebat dari atas dan nampak berkelebat bayangan orang yang maju menerkam tubuh Lo Sian dari atas!

“Pengemis gila! Jangan kau mengacau dengan omongan bohong! Ayahku tidak meninggal dunia!” Bayangan itu ternyata adalah Lie Siong.

Dengan hati tak karuan rasa karena kaget dan tidak percaya, pemuda ini yang semenjak tadi mengintai dari atas genteng, kemudian menubruk hendak menangkap Lo Sian. Dia melompat dengan gerakan yang disebut Harimau Menubruk Kambing dan langsung jari tangan kanannya meluncur hendak menotok pundak Lo Sian.

“Suhu, awas serangan!” Lili berseru kaget.

Baiknya Lo Sian masih belum kehilangan kegesitannya. Dia cepat memutar tubuh sambil miringkan pundak, menarik kaki kanan ke belakang dan dengan demikian ia terluput dari totokan itu. Sebelum Lie Siong menyerangnya lebih lanjut, bayangan Lili telah berkelebat dan berdiri menghadapi pemuda itu.

“Hem, kiranya kau!” seru gadis itu sambil mencibirkan bibirnya ketika ia mengenal bahwa pemuda ini adalah pemuda yang tadi bertempur dengan dia. “Kau datang mau apakah?”

“Suhu-mu yang gila ini sudah berbicara tidak karuan dan dia telah menghina ayah ketika menyatakan bahwa ayah telah mati! Ayah masih hidup di Pulau Pek-le-to dengan sehat, bagaimana dia berani mengatakan bahwa ayah telah mati?”

“Siapa bilang bahwa ayahmu mati, anak muda?” Lo Sian berkata dengan sabar. “Yang mati adalah Lie Kong Sian, bukan ayahmu...”

“Orang gila! Lie Kong Sian adalah ayahku!” sambil berkata demikian, Lie Siong kembali maju hendak menyerang Lo Sian.

Sementara itu, Lili memandang dengan bengong. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini adalah putera Lie Kong Sian, yang berarti putera Ang I Niocu pula! Timbul kegembiraannya tercampur kekecewaan. Ia gembira dapat bertemu dengan putera Ang I Niocu yang sudah sering kali disebut-sebut oleh ayah bundanya, akan tetapi dia kecewa karena tadi melihat pemuda itu mempermainkan seorang gadis cantik!

Juga di dalam hatinya tiba-tiba timbul niat ingin menguji kepandaian putera Ang I Niocu ini. Maka tanpa banyak cakap, ketika melihat betapa pemuda itu hendak menyerang Lo Sian, Lili segera bergerak maju menangkis pukulan itu. Sepasang lengan tangan beradu keras dan keduanya terhuyung mundur tiga langkah.

“Bagus, gadis liar!” Lie Siong membentak. “Agaknya kau masih belum mau mengaku kalah.”

“Aku mengaku kalah? Terhadap engkau? Hemm, bercerminlah dulu, manusia sombong. Kau mengaku putera pendekar besar Lie Kong Sian? Siapa sudi percaya? Putera Ang I Niocu tak mungkin sesombong engkau dan mata keranjang pula. Hah, tak tahu malu!”

Terbelalak mata Lie Siong memandang kepada Lili. Bagaimana gadis ini seakan-akan mengenal keadaan ayah-bundanya?

“Kau siapakah?” dia mengulang lagi pertanyaannya yang diajukan siang tadi, akan tetapi kembali Lill mengejek dengan bibirnya yang manis.

“Apa kau kira dengan mengaku sebagai putera Ang I Niocu, kau akan dapat menipuku untuk memperkenalkan nama? Hah, manusia rendah, biar kucoba dulu sampai di mana sih kepandaianmu!” Sesudah berkata demikian, Lili kemudian mencabut keluar pedang Liong-coan-kiam yang tajam.

“Bagus, gadis liar! Aku pun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kepandaianmu maka kau berani membuka mulut besar!” Lie Siong juga mengeluarkan pedangnya yang aneh, yaitu Sin-liong-kiam. Maka tanpa dapat dicegah lagi kedua orang muda ini lantas melanjutkan pertempuran mereka yang siang tadi dilakukan dengan mati-matian!

Lili mempunyai Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-hoat yang luar biasa, yaitu ilmu pedang yang berdasarkan pada Ilmu Pedang Daun Bambu ciptaan ayahnya, sebab itu tentu saja ilmu pedangnya ini hebat bukan main. Begitu gadis ini menggerakkan pedangnya maka lantas berkelebatlah bayangan merah dari pakaiannya, sedangkan pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang putih menyilaukan mata!

Baik Lo Sian yang berdiri di sudut ruangan yang luas itu, mau pun Thian Kek Hwesio yang masih tetap duduk di bangku dengan sikap tenang, terpesona menyaksikan ilmu pedang yang hebat ini. Bahkan Thian Kek Hwesio biar pun tidak pandai ilmu silat akan tetapi yang sudah banyak sekali menyaksikan kepandaian orang-orang berilmu tinggi, menjadi kagum sekali hingga berkali-kali menyebut nama Buddha, “Omitohud! Alangkah hebatnya ilmu pedang ini!”

Akan tetapi, ketika Lie Siong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya, maka silaulah mata mereka berdua memandang. Tubuh Lie Siong berubah menjadi bayangan putih, sedangkan pedangnya menjadi segulung sinar keemasan yang cukup hebat menyilaukan pandangan mata.

Begitu kedua sinar itu bertemu, terdengarlah suara nyaring dari beradunya kedua pedang dan berpijarlah bunga api yang indah sekali. Makin lama makin cepat kedua orang muda itu menggerakkan senjata mereka sehingga gulungan pedang berwarna putih dan kuning emas itu menjadi satu, bergulung-gulung saling membelit seolah-olah ada dua ekor naga sakti yang sedang bertempur seru.

Api lilin di atas meja yang terdapat di ruangan itu bergerak-gerak hampir padam karena tiupan angin senjata mereka berdua. Saking gembiranya dapat menyaksikan permainan pedang ini, Thian Kek Hwesio segera bangkit berdiri, mengambil tiga batang lilin lagi dan memasangnya semua di atas meja. Di dalam penerangan tiga batang lilin tambahan ini, nampak makin indahlah sinar pedang kedua orang muda keturunan orang-orang pandai itu.

Diam-diam kedua orang muda itu terkejut sekali. Baik Lili mau pun Lie Song amat kagum menyaksikan kehebatan kepandaian lawan. Kini Lili diam-diam percaya bahwa pemuda ini tentulah putera Ang I Niocu, oleh karena dia mengenal Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-hwat dari Ang I Niocu yang pernah diturunkan oleh ayahnya, bahkan ayahnya pun dulu pernah memberi penjelasan kepadanya tentang ilmu pedang itu. Apa bila diadakan perbandingan, memang ilmu pedang dari Lili masih menang lihai, akan tetapi dalam hal ginkang dan tenaga lweekang, dia agaknya masih kalah latihan.

Sebaliknya, Lie Siong menjadi makin kagum melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh lawannya. Benar-benar ilmu pedang yang belum pernah disaksikannya selama hidupnya. Dulu ibunya pernah memberitahukan kepadanya tentang ilmu pedang ciptaan Pendekar Bodoh yang amat lihai dan agaknya inilah ilmu pedang itu!

Apakah gadis ini puteri Pendekar Bodoh? Ia menduga-duga dengan hati berdebar-debar dan makin tertariklah hatinya kepada gadis yang cantik jelita, manis, dan juga galak ini. Ia diam-diam harus mengakui bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis itu amat luar biasa perubahannya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi korban.

Akan tetapi, yang membuat hatinya berdebar-debar aneh, adalah cara Lili mainkan ilmu pedangnya. Ia setengah dapat menduga bahwa bila lawannya mau, tentu ia sudah dapat dirobohkan! Akan tetapi tiap kali ujung pedang lawannya yang tajam itu telah mendekati tubuhnya, tiba-tiba gerakan pedang diubah sedemikian rupa sehingga tidak melukainya!

Ia menjadi marah, malu dan penasaran sekali. Sambil mengertak giginya, Lie Siong yang berwatak keras dan tak mau kalah ini lalu memutar pedangnya, mengirim totokan-totokan dengan lidah pedang naga dan menusuk dengan tanduk pedang naganya. Dia berusaha untuk membalas setiap serangan dengan pembalasan tak kalah lihainya.

Sudah tiga empat kali lawannya ‘mengampuni’ dirinya dengan merubah jalan pedangnya, maka dia pun ingin sekali mendesak lawannya dan kemudian memberi kesempatan pula pada lawannya untuk melepaskan diri dari ancaman pedangnya. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendesak lawan yang mainkan ilmu pedang sehebat itu?

Ia tidak diberi kesempatan sama sekali bahkan pedang Lili makin gencar mengurungnya sehingga gulungan sinar kuning keemasan kini semakin mengecil, sebaliknya gulungan sinar pedang yang putih makin membesar dan menghebat gerakannya.

Lebih hebat lagi ketika Lili mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tahu-tahu tangan kiri gadis itu mengeluarkan sebuah kipas yang kecil dan indah. Lie Siong tadinya merasa heran dan menduga bahwa gadis itu hendak mempermainkannya dan menyombongkan diri dengan melayaninya sambil mengebut-ngebut kipas. Tidak tahunya begitu kipas itu mengebut, ia hampir berseru karena kaget dan heran.

Angin kipas itu menyambar sehingga membuat lidah pedang naganya terbentur kembali, disusul dengan pukulan kipas yang mempergunakan ujung gagangnya untuk menotok ke pundaknya. Lie Siong benar-benar merasa terkejut.

Tak pernah diduganya bahwa gadis lawannya itu demikian lihainya. Baru ilmu pedangnya saja sudah demikian hebat dan sukar baginya untuk mengalahkannya, apa lagi sekarang setelah gadis itu menggunakan sebuah kipas pula yang juga luar biasa. Siapakah gadis ini?

Dengan pedang dan kipasnya, Lili makin mengurung dan kini gadis ini menjadi bangga karena dapat mendesak pemuda itu. Kelak ia akan menceritakan kepada ayah bundanya betapa ia telah dapat mengalahkan putera dari Ang I Niocu! Dan tentu saja ia tidak mau melukai pemuda itu karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah putera dari Ang I Niocu. Ia hanya ingin mendesak kemudian memaksa pemuda itu untuk mengakui keunggulannya.

Akan tetapi, Lili sama sekali tidak tahu bahwa Lie Siong adalah seorang pemuda yang keras hati seperti ibunya dan tidak nanti pemuda ini mau mengaku kalah begitu saja! Rasa penasaran dan malu membuat Lie Siong menjadi marah dan nekad.

Ia pikir bahwa bila ia terlalu mengarahkan perhatian dan kepandaiannya pada penjagaan diri terhadap desakan gadis yang lihai itu, tentu ia takkan mampu membalas. Maka ia lalu memilih jalan nekad. Biarlah aku dirobohkan dan tewas, pikirnya, asal saja aku mampu membalasnya!

Sesudah berpikir demikian, dia lalu mencari kesempatan baik. Pada saat itu, tiba-tiba Lili menyerang dengan kedua senjata secara berbareng. Pedang Liong-coan-kiam meluncur cepat ke arah tenggorokannya dan kipas itu kini tertutup, dipergunakan untuk menotok lambungnya! Serangan berganda yang amat berbahaya dan agaknya sangat sukar untuk ditangkis atau dielakkan lagi.

Akan tetapi, Lie Siong tidak mau mempedulikan dua senjata lawannya yang mengancam dirinya ini, sebaliknya dia lalu mempergunakan Sin-liong-kiam untuk menyapu kedua kaki Lili! Pikirnya, kalau senjata-senjata lawannya diteruskan, tentu sedikitnya dia akan dapat mematahkan sebuah kaki lawan!

Lili merasa terkejut sekali. Tidak pernah disangkanya bahwa lawannya mengambil jalan nekad seperti itu! Dia lalu berseru keras dan kedua kakinya melompat ke atas. Dengan sendirinya kipasnya tidak mengenai sasaran dan pedangnya yang tak dapat ditariknya kembali itu tidak mengenai leher lawan, akan tetapi hanya menyerempet pundak kanan Lie Siong!

Lie Siong merasa betapa pundaknya menjadi perih dan sakit sekali, juga melihat darah mengalir dari pundaknya. Akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini dan saat pedangnya dapat dielakkan oleh kaki Lili yang melompat ke atas, dia lalu menggerakkan pedang itu sehingga lidah dari pedang naga itu dengan gerakan yang amat tak terduga telah melibat sepatu kiri di kaki Lili!

Gadis itu terkejut dan hendak menarik kakinya. Akan tetapi pada saat ia menggerakkan kaki kirinya, Lie Siong telah membetot sehingga sepatu kiri itu terlepas dari kaki Lili dan masih terlibat oleh lidah pedang naga itu!

“Bangsat! Kembalikan sepatuku!” Lili berseru keras.

Akan tetapi Lie Siong yang merasa sudah mampu membalas hinaan yang diterimanya dalam pertempuran itu, yaitu hinaan yang berupa ‘pengampunan’ berkali-kali dari desakan pedang, segera membawa sepatu itu dan melompat keluar dari situ.

Lili hendak mengejar, akan tetapi tanpa sepatu, kaki kirinya terasa sakit sekali menginjak lantai yang kasar. Pada saat itu, dari luar rumah kuil itu terdengar seruan Lie Siong,

“Kau harus membayar penghinaan dan kesombonganmu dengan sepatumu! Tak mudah mendapatkan sepatu yang masih dipakai dari puteri Pendekar Bodoh yang ternyata tolol dan bodoh melebihi ayahnya dan sombong pula!”

Lili hampir menangis saking jengkelnya dan melompat keluar.

“Kubunuh kau, bangsat rendah!” makinya, akan tetapi begitu kakinya menginjak batu-batu tajam, ia mengeluh, melompat kembali ke ruang itu, duduk di atas sebuah bangku dan... menangis!

Thian Kek Hwesio datang menghampiri Lili dan menghiburnya, “Nona Sie, mengapa kau menangis? Bukankah kau telah dapat mengusirnya?”

“Dia... manusia kurang ajar itu... dia sudah membawa pergi sebuah sepatuku!” jawab Lili masih menangis.

Sesungguhnya, kejadian perampasan sepatu tadi sangat cepatnya sehingga mata Thian Kek Hwesio yang tidak terlatih itu sama sekali tidak melihatnya. Kini dia memandang ke arah kaki kiri Lili dan dia berseru kaget,

“Omitohud...! Bagaimana ada laki-laki yang begitu kurang ajar? Nona Sie, apakah betul ucapanmu tadi bahwa dia adalah putera Ang I Niocu? Pinceng pernah mendengar nama Ang I Niocu yang terkenal sekali.”

Akan tetapi Lili tidak dapat menjawab, hanya melanjutkan tangisnya. Hatinya mangkel sekali dan ingin dia dapat menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya!

“Aku tidak tahu siapa Ang I Niocu dan siapa pula pemuda itu, tetapi ilmu kepandaiannya memang hebat,” tiba-tiba Lo Sian berkata. “Aku masih ingat kepada Lie Kong Sian dan agaknya pemuda itu memang patut menjadi putera Lie Kong Sian. Ilmu sitatnya tinggi dan tadi dia merampas sepatumu hanya untuk membalas penghinaan yang berkali-kali kau lakukan kepadanya.”

Thian Kek Hwesio memandang heran kepada pembicara ini, “Eh, Sicu, apa maksudmu? Mengapa kau menyatakan bahwa Nona Sie telah menghinanya berkali-kali?”

Lo Sian yang telah waras pikirannya dan memiliki pandangan yang lebih awas dari Thian Kek Hwesio berkata tenang, “Lo-suhu, di dalam pertempuran tadi, Nona ini memang selalu menjadi pendesak dan lebih lihai kepandaiannya. Akan tetapi Nona ini sengaja tak mau melukai dan merobohkan lawan, malah selalu memberi ampun dan menarik kembali serangannya pada saat pedangnya akan mengenai sasaran. Di dalam sebuah pibu, tentu saja hal ini dianggap gerakan yang amat menghina dan merendahkan lawan. Bagi orang gagah, lebih baik dirobohkan dari pada diberi ampun dan diberi kesempatan melepaskan diri dari ancaman senjata!”

Merahlah wajah Lili sesudah mendengar ucapan Lo Sian ini. Tidak disangkanya bahwa suhu-nya masih bermata setajam itu dan dapat melihat semua gerakannya! Akan tetapi, hwesio gendut itu menggeleng-geleng kepala dan menghela napas berkati-kali.

“Kalian orang-orang dunia persilatan ini benar-benar aneh sekali! Untung pinceng tidak pernah mempelajari ilmu silat, karena kalau pinceng dulu mempelajarinya, entah sudah berapa kali pinceng harus berkelahi seperti binatang buas!”

Terpaksa Lili menerima pemberian Thian Kek Hwesio, yaitu sepasang sepatu hwesio yang besar. Dia memotong dan menjahit lagi sepatu itu, dikecilkan untuk dapat dipakai oleh sepasang kakinya yang kecil mungil. Kemudian ia membujuk kepada Lo Sian untuk ikut dengan dia ke rumah ayah-bundanya di Shaning.

“Aku tidak kenal siapa adanya ayahmu yang bernama Pendekar Bodoh itu, akan tetapi oleh karena aku yakin bahwa dahulu tentu aku pernah mengenalmu dan tahu bahwa kau adalah seorang yang mulia, maka biarlah aku ikut dengan kau, Nona.”

“Suhu, mengapa kau menyebutku nona saja? Sungguh tidak enak bagiku. Sebutlah saja namaku seperti dulu, yaitu Lili!” kata Lili cemberut.

Lo Sian tersenyum. Air mukanya mulai berseri dan bercahaya seakan-akan kehidupan baru memasuki tubuhnya. Ia merasa gembira dapat melihat kejenakaan, kemanjaan, dan kegagahan nona ini, maka ia lalu menjawab,

“Baiklah, Lili, walau pun aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau menyebutku Suhu, padahal kalau melihat kepandaianmu, lebih patut akulah yang menjadi muridmu!”

Demikianlah, setelah menanti sampai tiga hari akan tetapi tidak melihat kedatangan Hong Beng dan Goat Lan, Lili menjadi hilang kesabaran dan ia mengajak Lo Sian menuju ke Shaning kembali ke rumah orang tuanya.

Di sepanjang jalan tiada hentinya Lili menuturkan hal-hal yang terjadi pada waktu dahulu kepada Lo Sian, namun, Sin-kai Lo Sian mendengar semua ini sebagai hal yang baru sama sekali dan ia tidak ingat apa-apa melainkan kematian Lie Kong Sian! Ini pun tak ia ketahui sebab-sebabnya. Lupalah dia akan nama-nama seperti Ban Sai Cinjin, Hok Ti Hwesio, Mo-kai Nyo Tiang Le dan yang lain-lain.


Thanks for reading Pendekar Remaja Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »