Social Items

Pendekar Remaja

Karya Kho Ping Hoo

JILID 10

PADA waktu ujung pedang Kam Seng sudah berada dekat sekali dengan baju Lili yang menutup pundak, tiba-tiba gadis itu yang masih saja mengipasi tubuhnya dengan kipas lalu mengubah gerakan kipasnya dan kini dia mengebut ke arah pedang Kam Seng yang ujungnya sudah mendekati pundaknya.

Kam Seng hampir mengeluarkan seruan keras saking kagetnya. Gerakan dengan kipas di tangan yang sangat sederhana namun luar biasa sekali, dibarengi penyerangan yang luar biasa pula. Sekaligus kipas itu telah melakukan tiga gerakan yang luar biasa.

Permukaan kipas menangkis ujung pedang, lalu kebutannya mendatangkan angin yang menyambar wajahnya sehingga membuat ia tak dapat membuka mata, dan gagang kipas dari gading itu cepat sekali melakukan totokan berbahaya ke arah pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang!

“Lihai sekali...!” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum. “Aku berani bertaruh bahwa ini tentulah Ilmu Kipas Maut dari Swie Kiat Siansu!”

Sementara itu Kam Seng yang lincah gerakannya telah dapat melompat mundur dan wajahnya menjadi pucat. Karena tadi memandang rendah hampir saja ia terkena totokan hanya dalam segebrakan saja. Sedangkan Lili makin kagum mendengar ucapan Wi Kong Siansu yang ternyata dapat mengenal ilmu silatnya demikian cepatnya.

Kam Seng berlaku hati-hati dan kini ia tidak berlaku sheji (sungkan) lagi. Ia mengerahkan kepandaiannya dan menyerang dengan cepat, mempergunakan Ilmu Pedang Hek-kwi Kiam-sut, yaitu ilmu pedang ciptaan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang amat ganas dan selain kuat juga amat cepat gerakannya.

Diam-diam Lili kagum juga melihat ilmu pedang ini. Sayang dia sudah berkumpul dengan orang-orang jahat, pikirnya. Bila ia terus terdidik oleh orang baik-baik, tentu ilmu sitatnya akan amat berguna.

Sama sekali Lili tidak tahu bahwa sesungguhnya dasar ilmu silat Kam Seng ia dapat dari pendidikan Mo-kai Nyo Tiang Le. Hanya ilmu pedangnya ini memang pelajaran dari Wi Kong Siansu. Agaknya pemuda ini merasa malu untuk mengeluarkan ilmu silat yang dia pelajari dari Nyo Tiang Le guna menghadapi gadis ini.

Lili maklum bahwa ilmu kepandaian Kam Seng lebih baik dan lebih berbahaya dari pada Hok Ti Hwesio. Perbedaan yang amat mencolok antara kedua orang ini ialah bahwa Hok Ti Hwesio mendasarkan kepandaiannya untuk daya tahan, tubuhnya kebal, pertahanan pun kuat, bahkan batok kepalanya juga dapat menahan pukulan maut.

Sebaliknya, Kam Seng mendasarkan kepandaiannya pada daya serang. Serangan yang dilancarkan pemuda ini sangat berbahaya dan cepat, tidak memberi banyak kesempatan kepada lawan. Akan tetapi, daya tahannya tidak sekuat Hok Ti Hwesio.

Ilmu Kipas Maut yang dia warisi dari Swie Kiat Siansu adalah semacam ilmu silat yang luar biasa sekali, dan disebut ilmu silat San-sui San-hoat (Ilmu Kipas Gunung dan Air). Kipas yang dulu dipergunakan oleh Swie Kiat Siansu adalah kipas yang layarnya terbuat dari pada kulit harimau, akan tetapi sebagai seorang gadis, Lili tidak suka menggunakan kipas yang buruk rupa.

Ia sengaja membuat kipas yang kecil dan indah bentuknya, dengan layar dari kain tebal yang dilukisi dan ditulisi syair. Dengan demkian, kipasnya ini tidak saja dapat digunakan untuk senjata, akan tetapi juga dapat dipakai untuk pemantas dan untuk mencari angin sejuk. Lukisan di atas kipasnya ini indah sekali dan syairnya ditulis sendiri oleh ayahnya, maka Lili merasa sayang sekali kepada kipas ini.

Dalam perkelahian menghadapi lawan, baru kali ini ia mempergunakan kipas ini, maka ia berlaku amat hati-hati agar jangan sampai lukisan pada kipas itu menjadi rusak. Maka ia lalu menutup kipasnya, dan hanya mempergunakan gagangnya saja untuk menghadapi Kam Seng.

Hal ini tidak saja memperlambat kemenangannya, bahkan membuat ia sukar sekali untuk menjatuhkan lawannya. Kalau kipas itu dibuka, maka senjata istimewa ini menjadi tiga kali lipat lebih berbahaya, karena gagangnya berubah menjadi dua pada kanan kiri yang keduanya dapat dipergunakan untuk menotok. Permukaan kipas dapat digunakan untuk mengacaukan pandangan mata musuh, bahkan angin kipasannya saja dapat membuat lawan menjadi bingung. Dengan menutup kipas itu, maka senjata ini hanya merupakan sebuah gagang yang digerakkan untuk menangkis atau mengirim serangan totokan.

Sebelum berguru kepada Wi Kong Siansu, terlebih dahulu Kam Seng telah mendapatkan gemblengan dari Mo-kai Nyo Tiang Le dan ia telah sering menderita sehingga ia menjadi tekun sekali melatih lweekang, maka ilmu pedangnya kini sama sekali tak dapat dibilang rendah tingkatnya.

Kalau saja Lili tidak sayang kepada kipasnya dan melayaninya dengan kipas terbuka, maka dapat dipastikan bahwa kurang dari dua puluh jurus saja Kam Seng akan sanggup dirobohkan olehnya. Akan tetapi karena Lili menghadapinya dengan kipas tertutup, maka pertempuran berjalan sengit dan ramai sekali.

Tetapi masih saja Lili selalu berada pada pihak penyerang, karena dengan pengertiannya akan dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, gadis ini dapat menduga gerakan-gerakan dan perkembangan serangan lawan lantas dapat mendahuluinya. Berbeda dengan ketika melawan Hok Ti Hwesio, Lili tidak mau mengejeknya dan tidak mau mempermainkannya pula, sebab di dalam hatinya tidak terkandung kebencian terhadap Kam Seng, hanya ada penyesalan dan kekecewaan besar melihat pemuda itu tersesat.

Setelah bertempur hampir lima puluh jurus, perlahan akan tetapi pasti Lili mulai berhasil mendesak Kam Seng. Pemuda ini merasa penasaran sekali, karena bagaimanakah Lili dapat berkelahi sedemikian kuatnya dengan hanya bersenjatakan sebuah kipas kecil? Ia lalu mengerahkan ilmu silat yang ia pelajari dari Mo-kai Nyo Tiang Le, akan tetapi sia-sia belaka. Kipas Lili betul-betul hebat sekali dan ujung gagang gading itu selalu mengancam jalan darahnya.

Pada waktu pedangnya berkelebat membabat pinggang Lili dan dapat ditangkis oleh Lili yang mementalkan gagang gadingnya kemudian membalas dengan totokan ke arah iga, terpaksa Kam Seng harus menjatuhkan diri ke bawah dengan gerak tipu Harimau Lapar Mengintai Korban. Dengan amat cepatnya, ia langsung menggerakkan pedang menyapu pergelangan kaki gadis itu.

Menghadapi serangan ini, Lili memperlihatkan kepandaiannya yang amat mengagumkan. Ia tidak melompat ke atas untuk menyelamatkan kakinya, bahkan dengan berani dia lalu memapaki datangnya pedang ini dengan gerakan kaki yang dinamakan gerak tipu Dewa Bumi Menginjak Ular.

Kaki kanannya dengan kecepatan luar biasa dan dari arah atas menyerong ke bawah dapat menyambut permukaan pedang dan sambil meminjam tenaga serangan lawan, dia menekan dan menggerakkan tenaga lweekang pada kakinya yang terus menindih dan menginjak pedang itu di atas tanah!

Kam Seng terkejut sekali. Dia cepat mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, akan tetapi sia-sia belaka. Pedangnya itu seakan-akan sudah terjepit dan tertindih oleh batu karang yang berat sekali sehingga tidak dapat terlepas dari tindihan kaki Lili yang memandangnya sambil tersenyum! Kemudian, gagang kipas gading di tangan Lili cepat menyambar turun, menotok ke arah pundak kanan Kam Seng.

Melihat datangnya totokan yang amat berbahaya ini, terpaksa pemuda itu melakukan hal yang membuatnya mendapat malu dan yang sekaligus menyatakan kekalahannya. Yaitu dia melepaskan gagang pedangnya dan menggulingkan tubuhnya ke belakang dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng! Dia dapat menghindarkan diri dari totokan, akan tetapi dia harus melepaskan pedangnya yang berarti bahwa dia telah kalah!

Dengan muka merah dia melompat bangun dan berdiri menundukkan muka, akan tetapi diam-diam dia amat mengagumi gadis puteri musuh besarnya itu.

“Hebat...! Hebat...!” kata Wi Kong Siansu sambil melangkah maju menghadapi Lili yang masih menginjak pedang.

Sekali tosu tua ini mengebutkan ujung lengan bajunya, maka tubuhnya merendah dan ujung lengan baju melibat gagang pedang itu bagaikan seekor ular. Lalu dia membetot keras akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi merah ketika merasa bahwa pedang itu tak dapat terbetot dari injakan kaki Lili!

Dia terkejut dan diam-diam dia kagum sekali karena ternyata bahwa tenaga injakan itu betul-betul hebat. Ia segera dapat menduga bahwa gadis ini tentu menggunakan tenaga Thai-san-cui, karena hanya dengan ilmu pengerahan tenaga ini sajalah betotannya dapat tertahan.

Kakek ini tersenyum-senyum, kemudian berseru, “Lepas!”

Dia lalu mengerahkan tenaga Im-yang-cui. Tenaga betotannya kali ini bukanlah tenaga membetot semata, sebab ujung bajunya itu membetot dengan tenaga terbalik, yaitu justru mendorong pedang itu ke depan, kemudian di tengah-tengah dorongannya ini, barulah ia menarik keras. Inilah tenaga Im-yang-cui yang sifatnya bertentangan, akan tetapi dapat dipergunakan dengan berbareng, maka kehebatannya pun luar biasa sekali.

Lili maklum bahwa ia tidak dapat mempertahankan injakannya lagi, maka tiba-tiba saja ia melepaskan tenaga injakannya sambil berbareng menekuk jari kakinya, yaitu ibu jari dan jari kedua, lalu jari-jari kakinya itu menggunakan gerakan menyentik pedang itu!

Memang gadis ini selain nakal, juga mempunyai banyak akal dan lihai sekali. Biar pun jari kakinya tersembunyi di dalam sepatu kain, dan tenaganya dapat berkurang karenanya, namun dia masih dapat melakukan gerakan yang lihai ini. Pedang itu yang terbetot oleh ujung lengan baju Wi Kong Siansu, ditambah dengan tenaga menyentik dari jari kaki Lili, tiba-tiba bergerak membalik dan seakan-akan terbang menuju ke arah leher tosu itu!

Kini Wi Kong Siansu yang maklum akan demonstrasi yang diperlihatkan oleh gadis itu, tidak mau ‘kalah muka’! Melihat datangnya pedang yang melayang ke arah lehernya, dia kemudian merendahkan tubuh dan membuka mulutnya. Pedang itu dengan tepat sekali memasuki mulutnya dan tergigitlah ujung pedang itu oleh gigi si kakek yang lihai!

Semua orang langsung memandang dengan melongo melihat betapa gagang pedang itu bergoyang-goyang seakan-akan pedang itu telah menancap di batang pohon! Lili sendiri pun merasa amat kagum dan terkejut karena makin maklum bahwa dia kini menghadapi seorang tosu yang berilmu tinggi sekali.

Dengan tenang Wi Kong Siansu mengambil pedang itu dari mulutnya, kemudian sambil tersenyum-senyum kepada Lili dia pun berkata,

“Siancai... Sungguh seorang gadis yang lihai, cerdik, nakal dan tabah sekali! Nona, kau masih begini muda, akan tetapi telah mewarisi kepandaian Pendekar Bodoh, bahkan kau sudah mewarisi kepandaian Swie Kiat Siansu! Tak percuma kau menjadi puteri Pendekar Bodoh! Akan tetapi pinto (aku) tidak ingin bertanding melawan seorang anak-anak seperti kau. Lebih baik kau pulang saja dan kalau memang kau ingin mengacau rumah tangga kawan-kawanku, suruhlah ayahmu yang datang ke sini.”

“Totiang, kau bilang tidak ingin bertanding melawan aku, sebaliknya siapakah yang ingin bertempur dengan kau? Telah kukatakan bahwa kedatanganku bukan hendak berurusan dengan kau, dan juga aku tidak butuh sesuatu dari Kam Seng atau si kepala gundul itu! Aku hanya perlu mencari manusia busuk yang bernama Bouw Hun Ti untuk kupenggal lehernya dan kubawa pulang kepalanya!”

Pada waktu itu, Bouw Hun Ti tidak berada di kelenteng itu. Bahkan dia tidak ada pula di dusun Tong-sin-bun, oleh karena orang she Bouw ini semenjak beberapa hari yang lalu telah pergi jauh ke utara.

Bouw Hun Ti memang seorang yang amat cerdik dan hati-hati. Biar pun ia telah berhasil mengundang datang Wi Kong Siansu untuk memperkuat kedudukannya, namun ia masih berkhawatir juga. Sesudah berunding dengan suhu-nya dan supek-nya itu dan mendapat persetujuan, ia lalu berangkat ke utara untuk mengunjungi tiga orang sahabat baiknya yang berilmu tinggi, yaitu yang disebut Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun).

Ketiga orang ini adalah orang-orang yang aneh dan sakti dan yang tinggal di Hailun, yaitu sebuah kota di daerah Mancuria. Bouw Hun Ti mengunjungi mereka untuk membujuk mereka agar datang kemudian bersama-sama menghancurkan Pendekar Bodoh beserta kawan-kawannya. Ia mempunyai harapan besar untuk mendapat bantuan ketiga orang ini yang masih terhitung keluarga dari Panglima Mongol yang bernama Balaki dan yang dulu tewas dalam perang ketika orang Mongol menyerbu ke selatan.

Mendengar kata-kata Lili yang menyatakan hendak memenggal leher Bouw Hun Ti, Wi Kong Siansu lalu tertawa.

“Ahh, sungguh kau sombong sekali, Nona. Belum tentu Bouw Hun Ti akan sedemikian mudahnya menyerahkan lehernya untuk kau sembelih! Lagi pula, pada saat ini murid keponakanku itu tidak berada di sini.”

“Bohong!” seru Lili marah. “Totiang, kau ingatlah. Walau pun aku tidak ingin bermusuhan dengan kau orang tua, akan tetapi kalau engkau hendak menyembunyikan dan membela keparat Bouw Hun Ti, terpaksa aku berlaku kurang ajar!”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh dari dalam kelenteng, disusul dengan mengebulnya asap hitam diikuti berkelebatnya tubuh seorang tua pendek gemuk yang berpakaian mewah. Ban Sai Cinjin telah datang pula sambil membawa huncwe-nya yang mengebulkan asap hitam, tanda bahwa dia sudah siap untuk bertempur! Bagaimanakah orang ini bisa datang ke kelenteng itu pada waktu malam gelap?

Sebagaimana sudah diceritakan di bagian depan, hampir semua rumah penginapan dan toko-toko besar di dusun Tong-sin-bun adalah milik dari Ban Sai Cinjin. Demikian pula rumah penginapan di mana Lili bermalam, adalah rumah penginapan orang tua ini pula.

Ketika menyaksikan kecantikan Lili, para pengurus hotel segera memberi laporan kepada Ban Sai Cinjin yang mata keranjang dan rnemang berwatak sebagai bandot tua. Ia amat gembira mendengar bahwa di hotel itu bermalam seorang gadis cantik jelita. Penuturan pengurus rumah penginapan itu bahwa gadis ini nampaknya berkepandaian tinggi, malah membuat hatinya makin gembira.

“Ha-ha-ha! Inilah yang selama ini kucari-cari,” katanya. “Aku telah merasa bosan dengan gadis-gadis yang lemah. Aku sudah bosan dengan bunga-bunga harum yang mudah layu dan rontok. Aku menghendaki bunga hutan, bunga liar. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi ketika dia mendengar bahwa gadis itu keluar dari kamar tanpa diketahui ke mana perginya, dan ditunggu-tunggu belum juga kembali, maka mulai curigalah hati Ban Sai Cinjin. Di dusun sekecil Tong-sin-bun, orang dapat melancong ke manakah? Apa lagi seorang gadis muda!

Dia lalu teringat akan penuturan pengurus hotel bahwa gadis itu berkepandaian silat, dan karena Ban Sai Cinjin merasa bahwa dia mempunyai banyak musuh yang mendendam sakit hati kepadanya, maka ia lalu berlaku waspada.

Digantinya tembakau pada huncwe-nya dan ia lalu berlari cepat menuju ke kelenteng di tengah hutan itu. Benar saja, dia melihat gadis cantik jelita itu sedang berada di dalam kelentengnya dan mengucapkan ancaman terhadap muridnya Bouw Hun Ti.

Ia kemudian tertawa dan melompat masuk, dan sambil menyembunyikan rasa kagumnya menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari gadis itu ia berkata,

“Nona, kau mencari Bouw Hun Ti? Ha-ha-ha, muridku ini sedang pergi jauh. Biarlah aku mewakilinya menyambutmu yang sudah datang dari tempat jauh. Kalau aku tahu, tentu kau tidak kuperbolehkan mendiami kamar hotelku yang kecil itu, akan kusediakan kamar besar dan mewah di rumahku. Ha-ha-ha!”

Melihat munculnya orang tua itu, maklumlah Lili bahwa dia harus melawan mati-matian, karena dia tahu akan kelihaian dan kejahatan Ban Sai Cinjin.

“Hemm, aku tahu siapa kau ini. Ban Sai Cinjin, aku memang datang untuk memenggal leher muridmu Bouw Hun Ti, untuk membalas dendamku ketika aku terculik olehnya pada waktu aku masih kecil dan terutama sekali untuk membalas dendam karena dia sudah membunuh kakekku, yaitu Yo Se Fu!”

“Mudah saja, mudah. Marilah kau ikut aku ke rumah, dan sementara menanti datangnya Bouw Hun Ti, kita makan minum untuk menghormat kedatanganmu!”

Lili maklum bahwa orang tua ini mencari perkara. Menghadapi Ban Sai Cinjin tidak boleh gegabah, apa lagi di situ terdapat Wi Kong Siansu yang menjadi suheng dari orang tua mewah ini, maka kalau tidak diserang, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri.

“Ban Sai Cinjin, kata-katamu sama hitamnya dengan tembakaumu yang berbau busuk! Siapa mau meladeni orang seperti kau? Kalau Bouw Hun Ti si jahanam itu tidak berada di sini, sudahlah!” Ia lalu menggerakkan kakinya hendak pergi dari situ.

Akan tetapi tiba-tiba Ban Sai Cinjin bergerak maju menghadang di tengah jalan.

“Ha-ha-hi-hi, enak saja kau mau pergi dari sini! Kau berani datang ke kelentengku tanpa kupanggil, dan kau datang dengan maksud jahat, apakah aku harus membiarkan kau berlaku sesuka hatimu? Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani membuka mulut besar hendak membunuh muridku. Siapakah adanya kau yang sombong ini?”

“Suhu, dia adalah puteri dari Pendekar Bodoh dan tadi pun dia hampir saja membunuh teecu!” tiba-tiba Hok Ti Hwesio berkata sambil menudingkan jarinya ke arah Lili dengan pandangan marah. Hwesio muda ini ingin sekali suhu-nya membalaskan hinaan yang dia alami tadi.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ini. Apa bila gadis ini sudah dapat mengalahkan Hok Ti Hwesio, itu tandanya bahwa kepandaian gadis ini tidak boleh dibuat gegabah. Dia menengok kepada Kam Seng dan Wi Kong Siansu dengan heran.

“Ada Suheng dan Kam Seng di sini, bagaimana dia bisa mengganggu Hok Ti?”

Kam Seng buru-buru berkata, “Teecu juga sudah kena dikalahkan oleh Nona ini.”

“Hemm, hemm, lihai juga,” Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk. “Baiknya Suheng belum turun tangan, biarlah aku yang meringkus bocah ini!” Sambil berkata demikian, dengan gerakan yang tak terduga-duga, Ban Sai Cinjin cepat mengulurkan tangan kirinya hendak menangkap pundak Lili.

Gadis itu segera mengelak dan menggunakan kipasnya yang masih dipegangnya untuk mengebut dan menotok pergelangan tangan lawan yang diulur itu. Ban Sai Cinjin hanya tersenyum-senyum saja dan sama sekali tidak mau mengelak. Kakek ini sudah memiliki kekebalan yang melebihi Hok Ti Hwesio sehingga dia tidak takut akan segala totokan biasa saja.

“Awas, Sute!” seru Wi Kong Siansu yang maklum bahwa sute-nya memandang rendah kepada gadis muda itu.

Akan tetapi sudah terlambat, karena ujung gagang kipas di tangan Lili dengan tepat telah menotok jalan darah di pergelangan tangan Ban Sai Cinjin. Kakek ini cepat mengerahkan kekebalannya, akan tetapi dia segera menjerit karena kaget dan kesakitan, dan alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa lengan kirinya menjadi lumpuh!

Bukan main hebatnya totokan yang tadi dilancarkan oleh kipas Lili ini, sehingga dia dapat mematahkan kekebalan Ban Sai Cinjin dan masih dapat menembusi kulit tebal itu untuk mencari sasarannya.

Sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dan cepat dia menggunakan tangan kanannya untuk mengetok kemudian mengurut lengan kirinya, dan dengan cepat dia dapat membebaskan lengan kirinya dari pengaruh totokan yang lihai itu!

Lili juga terkejut dan kagum sekali. Totokannya tadi berbahaya dan dapat menewaskan seorang lawan, akan tetapi kakek itu tidak menjadi roboh dan bahkan dapat memulihkan kembali jalan darahnya dengan cepat.

“Kurang ajar!” teriak Ban Sai Cinjin dengan marah sekali sehingga mukanya yang merah itu berubah menjadi pucat sekali. “Kau ganas dan liar, harus mampus di tanganku!”

Cepat seperti harimau menerkam ia lalu menubruk maju dan menggerakkan huncwe-nya mengetok kepala Lili dengan gerakan yang cepat sekali. Lili tak mau berlaku lambat dan mendadak nampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika gadis ini mencabut pedangnya, yaitu Liong-coan-kiam pemberian ayahnya!

“Tranggg…!”

Terdengar bunyi keras ketika huncwe itu beradu dengan pedang dan bunga api berpijar indah.

Ilmu silat Ban Sai Cinjin benar-benar hebat, ganas dan kuat sekali. Huncwe di tangannya menyambar-nyambar, diliputi uap hitam yang menyeramkan dan berbau tak enak sekali.

Akan tetapi, pedang Liong-coan-kiam di tangan Lili bergerak-gerak dengan indahnya pula. Sedikit pun huncwe lawannya tidak dapat mendekati tubuhnya, karena ke mana saja huncwe itu berkelebat, selalu terhalang oleh sinar pedang yang agaknya secara otomatis mengikuti gerakan lawannya. Tubuh gadis itu ketika bersilat pedang bergerak dengan lincah dan indah bagaikan orang sedang menari, begitu lemah gemulai, namun demikian kuatnya. Benar-benar mengagumkan!

Dan kini Wi Kong Siansu sendiri memandang dengan mata terbelalak, bukan saja saking kagumnya, akan tetapi juga karena heran dan bingung. Belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang yang sehebat dan seaneh ini!

Inilah ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ciptaan Pendekar Bodoh. Ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ini berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, ilmu pedang sederhana yang aneh dan lihai sekali yang diciptakan oleh Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh (baca cerita Pendekar Bodoh).

Oleh karena ilmu pedang ini ciptaan ayah Lili sendiri dan tidak pernah diturunkan kepada orang lain, tentu saja ilmu pedang ini jarang sekali terlihat di dunia persilatan, berbeda dengan ilmu-ilmu pedang dari cabang persilatan besar seperti Gobi Kiam-hoat, Kun-lun Kiam-hoat, dan lain-lain yang banyak dimainkan oleh para muridnya.

Kalau melihat Lili sedang mainkan pedang ini, agaknya ia lebih mahir dari pada ayahnya sendiri, yaitu dalam hal kelincahan serta keindahan gerakan. Akan tetapi, sesungguhnya tentu saja ia tak dapat menandingi ayahnya, terutama sekali dalam kematangan gerakan dan pengalaman pertempuran.

Kini menghadapi seorang lawan berat seperti Ban Sai Cinjin, meski pun ilmu pedangnya berhasil membingungkan lawan dan membuat huncwe maut di tangan Ban Sai Cinjin tak banyak berhasil, namun pertempuran ini membuat gadis itu menjadi letih sekali. Tiap kali senjatanya beradu dengan senjata lawan, dia langsung merasa urat-uratnya tergetar dan pertempuran kali ini telah memaksa dia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.

Ia memang tak usah khawatir akan terkena senjata lawan, akan tetapi sebaliknya, sukar pula baginya untuk dapat merobohkan lawan tangguh ini. Huncwe itu benar-benar lihai sekali dan memiliki gerakan yang serba aneh dan tak terduga.

Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan marah luar biasa. Perasaan ini timbul dari rasa malu dan penasaran. Benar-benarkah dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut dan juga Si Golok Malaikat, orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di kalangan kang-ouw dan jarang sekali menemui tandingan, sekarang tidak berdaya merobohkan seorang bocah yang belum ada dua puluh tahun usianya? Dan seorang bocah perempuan pula, yang berkulit halus, bermata bintang, berbibir merah semringah, dan nampak lemah?

Jarang ada seorang lawan, seorang kang-ouw yang bagaimana tangguhnya pun, mampu melawan huncwe-nya sampai lebih dari dua puluh jurus. Akan tetapi gadis manis ini telah melawannya sampai lima puluh jurus dan sedikit pun dia belum dapat menjatuhkannya!

“Bangsat perempuan, kau harus mampus!” mendadak Ban Sai Cinjin berseru marah dan kini tangan kirinya yang tadi tidak ikut menyerang, lalu dikepal-kepal dan kepalan tangan itu tak lama kemudian berubah menjadi kemerah-merahan!

Thio Kam Seng atau lebih benar Song Kam Seng, terkejut sekali melihat kepalan tangan susiok-nya ini. Celaka, pikirnya, kini Lili berada di pinggir jurang maut! Ia maklum bahwa kalau kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin sudah menjadi kemerah-merahan, itu tandanya bahwa kakek ini telah mengerahkan tenaga Ang-tok-jiu (Tangan Merah Beracun)! Jangan kata sampai terkena pukul, baru tersambar oleh angin pukulan tangan Ang-tok-jiu ini saja, lawan dapat roboh menderita luka hebat yang dapat membawanya ke lubang kubur!

Harus diakui bahwa Lili adalah seorang gadis yang boleh dikata pengalamannya dalam hal pertempuran masih hijau dan jarang sekali dia bertempur menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw seperti Ban Sai Cinjin. Akan tetapi, dia adalah puteri dari sepasang suami isteri pendekar besar.

Ayahnya, Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh, adalah seorang ahli silat yang sangat jarang tandingannya, sedangkan ibunya, Kwee Lin atau Lin Lin, juga memiliki kepandaian yang amat tinggi. Lebih-lebih lagi karena baik ayah mau pun ibunya telah mempunyai banyak sekali pengalaman pertempuran dan terutama sekali ayahnya sudah sering menghadapi akal-akal serta ilmu-ilmu jahat dan kejam yang dimiliki oleh golongan hek-to (jalan hitam, penjahat). Karena itu sering kali gadis ini didongengi oleh ayah bundanya, termasuk juga tentang Ang-se-jiu (Tangan Pasir Merah) dan Ang-tok-jiu yang sudah pernah dia dengar dari ayahnya.

Ia tidak mengira bahwa kakek ini memiliki ilmu yang jahat ini pula, maka setelah melihat kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin berubah merah, cepat ia menyelipkan kipasnya di saku bajunya dan ia pun segera menggerak-gerakkan tangan kirinya lalu mengerahkan tenaga sinkang-nya, bergerak-gerak ke kanan kiri hingga tak lama kemudian dari seluruh lengan kirinya mengebullah uap putih. Inilah Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut, yakni ilmu turunan dari sucouw-nya (kakek guru) yang bernama Bu Pun Su!

Pada waktu huncwe Ban Sai Cinjin melayang ke arah pelipisnya, dia menangkis dengan pedangnya dan secepat kilat Ban Sai Cinjin menonjok ke arah dadanya dengan tangan kiri yang mengandung tenaga Racun Merah itu! Angin pukulan itu sudah terlebih dahulu menyambar, namun dengan tenang akan tetapi waspada dan cepat sekali Lili kemudian menangkis pula dengan tangan kiri.

Hebat sekali tenaga pukulan Ang-tok-jiu dan tenaga tangkisan Pek-in Hoat-sut ini. Orang tidak melihat dua lengan tangan itu beradu, akan tetapi tubuh kedua orang itu terpental mundur sampai dua tindak ke belakang!

Ban Sai Cinjin menjadi pucat saking kagetnya melihat betapa gadis muda itu sanggup menangkis pukulan mautnya sedemikian lihainya. Sedangkan Lili juga terkejut sekali dan buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya ketika merasa betapa seluruh urat pada tangan kirinya terasa kesemutan! Ini adalah tanda bahwa betapa pun hebatnya ilmu silat Pek-in-hoat-sut, akan tetapi dalam hal tenaga dalam, dia masih kalah terhadap kakek ini.

Pengalaman ini membuat dia berlaku hati-hati sekali. Berkali-kali Ban Sai Cinjin kembali melancarkan serangan dengan pukulan Ang-tok-jiu, karena kakek ini pun maklum bahwa dia masih menang tenaga sehingga apa bila dia menyerang bertubi-tubi, ada harapan dia akan melukai gadis itu.

Akan tetapi kini Lili menangkis dengan cerdik sekali. Ia menggunakan tangkisan dari ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut dari samping, dengan cara menyampok tenaga serangan lawan dari samping, tidak mengadu tenaga seperti tadi. Oleh karena ini, selalu apa bila pukulan Ang-tok-jiu datang, dia tidak perlu mengadu tenaga dan hanya menyampok dari samping sambil mengelak saja. Dengan cara demikian, maka tenaga pukulan lawan yang hebat itu tidak langsung datangnya dan tidak demikian telak menghantamnya.

Wi Kong Siansu makin kagum saja, demikian pula Ban Sai Cinjin diam-diam juga kagum sekali kepada puteri Pendekar Bodoh ini. Tadinya ia tidak ingin menggunakan kelicikan dalam pertempuran ini, karena ia segan untuk merobohkan lawannya yang masih muda dan wanita pula ini dengan ilmu hitam. Namun, karena tahu bahwa ia tidak mudah dapat merobohkannya, dan hal ini akan lebih memalukannya lagi, tiba-tiba dia lalu menyedot huncwe-nya dan sekali dia berseru keras, dari mulutnya menyembur keluar asap hitam yang amat berbahaya menuju ke muka Lili!

Gadis itu terkejut sekali. Sungguh pun asap itu masih jauh dari mukanya, namun ia telah mencium baunya yang amat memuakkannya. Ia cepat melempar tubuhnya ke belakang, melakukan gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang membuat gerakan poksai (salto) sampai tiga kali dan turun beberapa tombak jauhnya dari lawannya.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Ia maklum bahwa lawannya takut kepadanya, maka ia berseru, “Nona manis, kau hendak lari ke mana?”

Lalu dia menyedot huncwe-nya pula dan kesempatan itu dia pergunakan untuk membuka kantong tembakau yang tergantung pada huncwe-nya lalu mengisi kembali mulut huncwe itu dengan tembakau baru. Ia sudah mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya dengan asap mautnya!

Lili maklum bahwa sungguh pun hawa Pek-in Hoat-sut dari tangan kirinya akan dapat menolak asap hitam itu buyar terkena hawa Pek-in Hoat-sut, asap yang ringan itu masih akan dapat menyerangnya. Asap macam ini tidak menyerangnya mengandalkan tenaga tiupan, melainkan mengandalkan kejahatan racun yang dikandungnya.

Karena itu ia segera melepaskan tenaga Pek-in Hoat-sut dari lengan kirinya dan sebagai gantinya, dia cepat mengeluarkan kipasnya. Sekali dia menggerakkan jari tangan kirinya, kipasnya ini telah terkembang dan dipegangnya seperti hendak mengipas tubuhnya.

Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa gadis ini sudah mewarisi Ilmu Silat San-sui San-hoat (Ilmu Kipas Bukit dan Air) yang lihai dari Swie Kiat Siansu, maka tanpa memperhatikan kipas ini, dia lalu menyerbu lagi dengan sekaligus mengeluarkan tiga serangan. Tangan kirinya memukul dengan Ang-tok-jiu, tangan kanannya menggerakkan huncwe menotok leher, dan dari mulutnya menyembur asap yang hitam dan tebal ke arah muka lawannya!

Lili merasa girang saat melihat lawannya tidak memperhatikan kipasnya, dan gadis yang cerdik ini lantas mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya yang sangat lihai ini. Dia menanti datangnya serangan dengan amat tenang dan sengaja berlaku agak lambat untuk menarik perhatian lawan.

Untuk menghindarkan diri dari tiga serangan itu, dia mempergunakan ginkang-nya (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, berkelit ke kanan sambil merendahkan tubuh sebab dia maklum bahwa asap hitam itu tidak akan turun ke bawah. Ia sengaja menanti untuk memancing lawannya.

Benar saja, melihat keadaan gadis yang agaknya lambat gerakannya ini, Ban Sai Cinjin menjadi girang dan mengira bahwa gadis itu telah terkena racun asap hitamnya, maka ia melanjutkan serangan dengan mencengkeram ke bawah sambil mengayun huncwe-nya. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba kipas di tangan kiri Lili dikebutkan ke arah uap hitam yang tebal tadi sehingga uap itu melayang ke arah muka Ban Sai Cinjin!

Tentu saja sebelumnya Ban Sai Cinjin telah menggunakan obat penawar untuk menolak pengaruh asap hitam dari huncwe-nya sendiri sehingga serangan asap yang membalik ke mukanya ini tidak membahayakannya sama sekali. Akan tetapi bukan itulah kehendak Lili. Kebutan kipasnya ini bermaksud membuat asap hitam itu menutupi pandang mata lawannya dan maksudnya ini memang berhasil baik. Betapa pun juga, Ban Sai Cinjin tak berani menghadapi racun asap tembakaunya sendiri dengan mata terbuka.

Untuk sesaat sambil meniup ke arah asap itu dia meramkan matanya dan dengan tidak terduga-duga sekali, tiba-tiba saja ia merasa pangkal lengan kirinya sakit sekali! Ternyata bahwa tadi pada waktu ia sedang menghadapi asap yang membalik itu, secepat kilat Lili mengelak dari serangan kedua tangannya, bergerak sambil menggeser kakinya ke kanan dan dari samping dia segera mengirim totokan dengan kipasnya yang dapat tepat sekali mengenai pangkal lengan kiri lawannya!

Tubuh Ban Sai Cinjin terhuyung ke belakang dan tiba-tiba dia merasa datangnya angin dingin ke arah leher dan lambungnya! Ia maklum akan bahaya maut itu. Ternyata bahwa lambungnya sudah diserang oleh pedang Liong-coan-kiam dengan gerakan Lutung Sakti Memetik Buah sedangkan lehernya telah diserang oleh sepasang gagang kipas dengan gerakan Gunung Thai-san Menimpa Kepala!

Ban Sai Cinjin mengeluarkan keringat dingin dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang. Akan tetapi gerakan kipas ke arah lehernya itu luar biasa cepatnya.

“Krekk!” terdengar suara dan pundaknya masih terkena gagang kipas itu.

Ban Sai Cinjin menjerit dan maklum bahwa sambungan tulang pundaknya telah terlepas! Lili tidak mau memberi hati dan terus mendesak dengan serangan yang lebih hebat lagi. Agaknya tak lama lagi nyawa Ban Sai Cinjin terpaksa akan meninggalkan raganya.

Akan tetapi, tentu saja Wi Kong Siansu tidak mau tinggal diam melihat sute-nya terancam bahaya maut. Cepat bagaikan seekor burung gagak menyambar bangkai, dia melompat ke belakang gadis itu dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya!

Lili sedang mengerahkan seluruh tenaga serta perhatiannya untuk menewaskan kakek mewah yang dibencinya itu. Sungguh pun dia mendengar angin pukulan Wi Kong Siansu dari belakang dan mencoba untuk mengelak, dia tetap terlambat.

Gerakan Wi Kong Siansu luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jalan darah kim-to-hiat di punggungnya telah kena tertotok oleh ujung lengan baju tosu itu. Lili mengeluh perlahan, kipas dan pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya dengan lemas tak berdaya langsung terkulai ke atas lantai!

Ban Sai Cinjin dengan meringis-ringis sudah dapat bangun kembali dan melihat keadaan Lili yang sudah roboh oleh suheng-nya, ia masih dapat tertawa terbahak-bahak. “Bagus, Suheng, bagus! Kau telah dapat merobohkan kuda betina liar ini!”

Matanya berkilat penuh dendam terhadap Lili, kemudian perlahan-lahan ia bergerak maju menghampiri gadis muda itu. Lili masih dapat memandang lawannya ini dan pikirannya masih berjalan terang, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah lemas tidak dapat digerakkan lagi.

Gadis ini maklum akan bahaya yang akan menimpa dirinya, dan sinar ketakutan segera terbayang pada matanya. Gadis ini tidak takut akan mati, akan tetapi ia maklum bahwa terjatuh ke dalam tangan manusia iblis seperti Ban Sai Cinjin ini, tentulah nasibnya akan jauh lebih mengerikan dari pada kematian!

Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba bayangan tubuh Kam Seng berkelebat dan pemuda ini tahu-tahu telah mendahului Ban Sai Cinjin menyambar tubuh Lili yang terus dipeluk dan dipondongnya!

“Kam Seng! Kau lepaskan dia!” Ban Sai Cinjin berseru keras dengan mata melotot.

Kam Seng memandang kepada susiok-nya. Hatinya bimbang ragu. Di lubuk hatinya ada perasaan cinta yang besar terhadap gadis ini, sungguh pun perasaan itu tertutup kabut kebenciannya karena kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, musuh besarnya! Jika gadis jelita ini harus mati, maka dialah yang berhak membunuhnya, bukan orang lain. Apa lagi dia merasa ngeri dan jijik memikirkan nasib gadis jelita ini di tangan susiok-nya. Maka ia lalu memandang kepada suhu-nya dan berkata,

“Suhu, maukah Suhu memberikan puteri musuhku ini kepada teecu?”

Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya. Karena sudah berpengalaman, dia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik oleh kecantikan gadis ini. Sebaliknya, dIa pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sute-nya, maka dia lalu berkata kepada sute-nya,

“Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah dia melepaskan rasa sakit hati dan dendamnya kepada puteri musuh besarnya!”

Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.

“Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan kau tak akan dapat menguasainya!”

Wi Kong Siansu juga tertawa. “Sute, kau sudah tua. Kam Seng lebih muda, maka kau tentu tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarkanlah dia melampiaskan dendamnya dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan sampai dia terlepas!”

Hok Ti Hwesio juga berkata kepada Kam Seng sambil menyeringai, “Sute, bila kau sudah selesai dengan dia, berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk obat!”

Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng. Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.

Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada berdebar dan muka pucat, lalu ikut pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tan-kauwsu. Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong tubuh Lili yang lemas.

“Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?”

Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhu-nya. Untuk beberapa lama dia tidak mau dan tidak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya dia menjawab juga dengan suara perlahan,

“Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat besar, karena itu teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya atau pun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas penghinaan dan sakit hati, jika tak terkabul cita-cita teecu untuk menewaskan Pendekar Bodoh.”

Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya. “Salah... salah..., muridku. Aku mengerti akan maksudmu, akan tetapi apa kau kira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai sekutu kita? Biar pun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kau kira dia akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya supaya kelak kita tidak mengalami gangguan dari padanya.”

Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara tentang seekor domba saja! Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak masuk hitungan pula, dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.

“Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu,” kata Kam Seng dan dia lalu membawa Lili ke dalam kamarnya. Di ruangan dalam, dia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda tanggung ini berkata,

“Suheng... hendak kau apakan gadis ini?”

Wajah Kam Seng berubah merah. “Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku.”

“Ah...!” hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya. Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya dia merasa pundaknya dipegang orang. Ketika dia menengok ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.

“Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora, ia mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu...! Ha-ha-ha!”

“Tidak... tidak!” Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Suheng, besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tidak kusangka sama sekali bahwa kalian demikian... demikian...”

“Apa maksudmu, Sute?” Hok Ti Hwesio memandang tajam.

“Mengapa kalian bisa begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?” Sambil berkata demikian, Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya, kemudian menutupkan pintunya keras-keras. Terdengar dia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.

Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat. Kemudian dia lalu mencari suhu dan supek-nya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.

Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam kamarnya, lalu menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya. Gadis itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya. Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng dengan tajam berapi-api!

Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud pemuda ini. Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya sudah membunuh ayah pemuda ini! Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh kebenciannya terhadap pemuda ini.

Dia maklum bahwa dia tidak berdaya sama sekali. Telah dicobanya untuk membebaskan diri dari pada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja. Dia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa dia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan tak akan dapat melawan sedikit pun juga.

Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat untuk membalas dendam. Biarlah, pikirnya, dan tunggulah saja! Apa bila aku sampai lepas dari pada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu hingga menjadi bubur!

Sementara itu Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar pucat. Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip. Seribu satu macam pikiran kini teraduk di dalam hatinya. Pikirannya menjadi pening.

Berkali-kali dia sudah mengulurkan tangan hendak meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali. Pandangan mata Lili yang bagaikan dua cahaya api itu terasa menusuk matanya. Hatinya penuh gairah kalau ia melihat wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apa lagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya itu. Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat dia senantiasa tak enak pikiran.

“Dia musuh besarku!” demikian bisik hatinya. “Aku boleh membunuhnya, menghinanya! Ayahku dulu juga terbunuh oleh ayahnya!”

“Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!” bisik suara lain di hatinya. “Dan aku... aku cinta kepadanya. Dan alangkah baiknya kalau dia bisa menjadi isteriku untuk selamanya!”

“Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!” bisik suara pertama.

“Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya malam ini kau akan menjadi suaminya!”

Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan. Untuk beberapa lama jari-jari tangannya membelai-belai rambut Lili yang halus. Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan tetapi mendadak dia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Lili.

Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu. Nafsu dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk dapat melampiaskan sakit hatinya terhadap ayah gadis itu. Akan tetapi ada kekuasaan lainnya yang menahan kehendaknya ini, kekuasaan cinta. Kekuasaan ini membuat dia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti hati mau pun raganya.

Akhirnya dia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili. Dia mencabut pedangnya dan hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut. Hendak dibunuhnya gadis ini dan habis perkara!

“Lili,” katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan. “Aku akan membunuhmu, dan sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa engkau adalah puteri musuh besarku! Ayahku bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara. Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan... dan... aku pun tidak sampai hati menghinamu! Aku... aku kasihan kepadamu!”

Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan jelita itu.

“Lili, bersiaplah untuk mati,” katanya sambil mengangkat pedangnya.

Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi telah padam, bibirnya agak tersenyum. Lili memang merasa lega bahwa ia tak akan menjadi korban penghinaan, maka dia menghadapi kematian dengan amat tabahnya.

Kam Seng mengayun pedangnya ke atas dan... tiba-tiba saja ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu terlepas ke atas lantai! Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu... mencium jidat gadis itu satu kali. Dilemparkannya tubuhnya ke belakang dan dia pun terduduk di atas bangku yang tadi didudukinya.

Cersil karya Kho Ping Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su

Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya. Terdengar helaan napas berkali-kali. “Ahh, Lili... aku... aku tidak tega membunuhmu... aku... aku cinta kepadamu!”

Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi. Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia sudah dapat membunuh Kam Seng kalau dapat. Keadaan menjadi sunyi kembali.

Kam Seng duduk seperti tadi, menghadapi Lili, tidak tahu harus berbuat apa! Betapa pun bencinya kepada Pendekar Bodoh, hatinya tetap tidak tega untuk mengganggu apa lagi membunuh gadis ini.

“Lili... Lili... aku tidak sanggup membunuhmu... tanganku gemetar... bagaimana aku bisa membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi... aku pasti akan mencari ayahmu, aku harus membalas sakit hatiku terhadap Pendekar Bodoh...!” demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.

Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok Ti Hwesio, “Supek... tolong...! Supek, lekas bantu...! Lekas bantu merobohkan gadis setan ini...!”

Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun. Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta tolong kepada suhu-nya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhu-nya sendiri, berarti bahwa tentu terjadi mala petaka hebat dan datang musuh yang tangguh.

Ia hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin. Untuk beberapa saat dia merasa ragu-ragu, lalu menghampiri Lili dan berkata,

“Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!”

Sesudah berkata demikian, Kam Seng segera menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili. Dia telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka dia tahu pula bagaimana harus membuka totokan dari suhu-nya itu. Setelah menotok pundak gadis itu, dia lalu melompat keluar sambil membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata beradu.

Walau pun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya sudah lenyap dan jalan darahnya sudah terbuka kembali, akan tetapi Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak perlahan. Dia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali jalan darahnya.

Dia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng. Hatinya merasa tidak karuan karena dia telah mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng. Kini ia merasa terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu.

Ada sedikit rasa girang dalam hatinya bahwa biar pun pemuda itu telah menggabungkan diri dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat. Masih ada kegagahan di dalam lubuk hati Kam Seng. Ia teringat akan supek-nya Song Kun, karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.

Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili cepat mengambil senjata-senjatanya kemudian melompat keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali. Ketika ia tiba di ruang luar, di bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio!

Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu bisa menghadapi lawannya sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tidak memegang senjata. Ginkang-nya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara tiga bunga itu menyambar-nyambar, di celah tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga pengeroyoknya.

“Goat Lan...!” Lili berteriak girang pada waktu ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum itu.

“Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?” Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya masih sempat berjenaka.

“Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!”

Lili segera mencabut keluar kipas dan pedangnya, lantas menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin. Ia merasa segan dan sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.

Ban Sai Cinjin sudah merasakan kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat oleh gadis ini. Dalam keadaan sehat dia masih belum dapat mengalahkan Lili, apa lagi sekarang pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah.

Kalau saja ia tidak sedang terluka, tadi pun Goat Lan tak nanti dapat mempermainkan dia begitu mudah. Dan ia maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan main-main dan memandang rendah. Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian sangat tinggi, juga sudah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak tipu-tipu curang. Pengalamannya amat luas dan tenaga lweekang-nya juga telah mendekati batas kesempurnaan. Oleh karena itu biar pun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk dapat merobohkan kakek mewah ini. Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang mempunyai ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar biasa sekali.

Berbeda dengan pertempuran antara Lili melawan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang, pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti Hwesio, berjalan berat sebelah. Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani dengan senyum simpul, apa lagi sekarang. Meski pun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sudah jauh lebih tinggi dari pada kepandaian silat para ahli silat biasa, akan tetapi bagi gadis manis itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja!

Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ? Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat Lili tertawan dalam kamar Kam Seng?

Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, dalam percakapan antara Ong Tek putera pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana dia belajar silat kepada Ban Sai Cinjin.

Betapa pun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang sejak kecil dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat segala macam pelajaran mengenai kebajikan. Ia menjadi terkejut dan juga kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini dia hormati dan junjung tinggi. Maka dia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu dia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.

Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini menjumpai suhu-nya. Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, dia pun mengerutkan alisnya.

“Sungguh berbahaya,” katanya perlahan. “Bila anak itu pulang dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, tentu nama kita akan hancur dan tercemar.”

“Kenapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia bersama guru silat itu, habis perkara!”

Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu. “Enak saja kau bicara! Apa kau kira Ong Tek itu orang biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Apa bila dia sampai lenyap, apa kau kira Pangeran Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?”

Hok Ti Hwesio tersenyum “Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek? Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le-to Lie Kong Sian, Mo-kai Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih sanggup membereskan mereka tanpa banyak ribut dan tiada seorang pun mengetahui, apa lagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru silat seperti orang she Tan itu? Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka? Kita sebarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh itu, bukankah ini baik sekali?”

Wajah Ban Sai Cinjin berseri. “Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!” ia memuji. “Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya.”

Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.

“Nah, itulah mereka yang agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!” berkata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada supek-nya, Wi Kong Siansu yang pada waktu itu sudah berada di dalam kamarnya.

Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio segera melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.

“Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?” Ban Sai Cinjin membentak.

Melihat suhu-nya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi sangat terkejut dan sinar ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.

“Suhu... teecu hendak... hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu... merasa rindu kepada ayah dan ibu...!”

“Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau tidak boleh pergi! Tentu di kota raja kau hendak membuka mulut besar tentang kami, ya?”

“Tidak... tidak, Suhu... tidak!” kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhu-nya melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.

“Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!”

Tan-kauwsu segera melompat maju. “Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin! Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!”

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut campur bicara! Apa kau kira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar sendiri pun aku tidak takut!” Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwe-nya ke arah kepala guru silat she Tan itu!

Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu sungguh pun tidak memiliki ilmu silat yang dapat dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin, namun dia sudah banyak merantau dan telah mempunyai pengalaman yang banyak dalam pertempuran. Ia cepat mengelak ke belakang, akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Pada waktu Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba saja dari atas genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang gerakannya begitu cepat sehingga nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.

“Manusia setan!” bayangan itu berseru dengan suaranya yang nyaring dan merdu. “Kau benar-benar kejam!”

Dan tiba-tiba huncwe pada tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas!

Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua buah lesung pipit di sepasang pipinya. Gadis ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi, mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu nampak berkilat.

Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwe-nya dengan tangan kosong saja! Ia maklum bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.

Gadis cantik itu tersenyum manis. “Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut. Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang lagi.” Dia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek,

“Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!”

Ong Tek lalu memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu di dalam ingatannya, kemudian dia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tan-kauwsu.

“Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!” seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek!

Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulurkan tangan dan sekali tangannya bergerak, pisau itu telah disampoknya ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke bawah dan menancap di atas lantai!

“Hmm, hwesio gundul, telah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah yang banyak mencemarkan nama para pendeta Buddha! Agaknya kau yang paling rendah di antara mereka semua!”

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan serta melihat sikap gadis itu. Tanpa banyak cakap lagi ia lantas menyerang dengan huncwe-nya. Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang.

Ban Sai Cinjin yang biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biar pun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini memiliki kecantikan yang sangat menggiurkan dan jarang terdapat, kini hatinya sama sekali tidak terguncang, bahkan ingin sekali dia membunuh gadis ini. Demikianlah, Ban Sai Cinjin dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan tangan kosong.

Sungguh hebat ilmu ginkang dari gadis itu. Dengan lincahnya dia dapat mengelakkan diri dari sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan dia masih sempat memaki-maki dan mentertawakan sambil membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh dipandang ringan.

Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini. Diam-diam ia pun mengeluh dalam hatinya. Selamanya hidup, belum pernah dia mengalami malam sesial ini. Secara berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali!

Kalau saja ia tidak terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih baik terhadap gadis yang baru datang ini. Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan dari Ilmu Silat Tangan Kosong Kwan-im Siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)!

Akan tetapi pergerakan kedua tangan gadis ini sangat aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini. Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan dia kepada empat besar di dunia dan terutama sekali kepada Bu Pun Su!

Akan tetapi, gadis yang sekarang tertawan di dalam kamar Kam Seng dan yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu ginkang-nya!

Melihat betapa dia bersama gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali dia menerima pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil supek-nya minta bantuan! Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari mala petaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.

Pendekar Remaja Jilid 10

Pendekar Remaja

Karya Kho Ping Hoo

JILID 10

PADA waktu ujung pedang Kam Seng sudah berada dekat sekali dengan baju Lili yang menutup pundak, tiba-tiba gadis itu yang masih saja mengipasi tubuhnya dengan kipas lalu mengubah gerakan kipasnya dan kini dia mengebut ke arah pedang Kam Seng yang ujungnya sudah mendekati pundaknya.

Kam Seng hampir mengeluarkan seruan keras saking kagetnya. Gerakan dengan kipas di tangan yang sangat sederhana namun luar biasa sekali, dibarengi penyerangan yang luar biasa pula. Sekaligus kipas itu telah melakukan tiga gerakan yang luar biasa.

Permukaan kipas menangkis ujung pedang, lalu kebutannya mendatangkan angin yang menyambar wajahnya sehingga membuat ia tak dapat membuka mata, dan gagang kipas dari gading itu cepat sekali melakukan totokan berbahaya ke arah pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang!

“Lihai sekali...!” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum. “Aku berani bertaruh bahwa ini tentulah Ilmu Kipas Maut dari Swie Kiat Siansu!”

Sementara itu Kam Seng yang lincah gerakannya telah dapat melompat mundur dan wajahnya menjadi pucat. Karena tadi memandang rendah hampir saja ia terkena totokan hanya dalam segebrakan saja. Sedangkan Lili makin kagum mendengar ucapan Wi Kong Siansu yang ternyata dapat mengenal ilmu silatnya demikian cepatnya.

Kam Seng berlaku hati-hati dan kini ia tidak berlaku sheji (sungkan) lagi. Ia mengerahkan kepandaiannya dan menyerang dengan cepat, mempergunakan Ilmu Pedang Hek-kwi Kiam-sut, yaitu ilmu pedang ciptaan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang amat ganas dan selain kuat juga amat cepat gerakannya.

Diam-diam Lili kagum juga melihat ilmu pedang ini. Sayang dia sudah berkumpul dengan orang-orang jahat, pikirnya. Bila ia terus terdidik oleh orang baik-baik, tentu ilmu sitatnya akan amat berguna.

Sama sekali Lili tidak tahu bahwa sesungguhnya dasar ilmu silat Kam Seng ia dapat dari pendidikan Mo-kai Nyo Tiang Le. Hanya ilmu pedangnya ini memang pelajaran dari Wi Kong Siansu. Agaknya pemuda ini merasa malu untuk mengeluarkan ilmu silat yang dia pelajari dari Nyo Tiang Le guna menghadapi gadis ini.

Lili maklum bahwa ilmu kepandaian Kam Seng lebih baik dan lebih berbahaya dari pada Hok Ti Hwesio. Perbedaan yang amat mencolok antara kedua orang ini ialah bahwa Hok Ti Hwesio mendasarkan kepandaiannya untuk daya tahan, tubuhnya kebal, pertahanan pun kuat, bahkan batok kepalanya juga dapat menahan pukulan maut.

Sebaliknya, Kam Seng mendasarkan kepandaiannya pada daya serang. Serangan yang dilancarkan pemuda ini sangat berbahaya dan cepat, tidak memberi banyak kesempatan kepada lawan. Akan tetapi, daya tahannya tidak sekuat Hok Ti Hwesio.

Ilmu Kipas Maut yang dia warisi dari Swie Kiat Siansu adalah semacam ilmu silat yang luar biasa sekali, dan disebut ilmu silat San-sui San-hoat (Ilmu Kipas Gunung dan Air). Kipas yang dulu dipergunakan oleh Swie Kiat Siansu adalah kipas yang layarnya terbuat dari pada kulit harimau, akan tetapi sebagai seorang gadis, Lili tidak suka menggunakan kipas yang buruk rupa.

Ia sengaja membuat kipas yang kecil dan indah bentuknya, dengan layar dari kain tebal yang dilukisi dan ditulisi syair. Dengan demkian, kipasnya ini tidak saja dapat digunakan untuk senjata, akan tetapi juga dapat dipakai untuk pemantas dan untuk mencari angin sejuk. Lukisan di atas kipasnya ini indah sekali dan syairnya ditulis sendiri oleh ayahnya, maka Lili merasa sayang sekali kepada kipas ini.

Dalam perkelahian menghadapi lawan, baru kali ini ia mempergunakan kipas ini, maka ia berlaku amat hati-hati agar jangan sampai lukisan pada kipas itu menjadi rusak. Maka ia lalu menutup kipasnya, dan hanya mempergunakan gagangnya saja untuk menghadapi Kam Seng.

Hal ini tidak saja memperlambat kemenangannya, bahkan membuat ia sukar sekali untuk menjatuhkan lawannya. Kalau kipas itu dibuka, maka senjata istimewa ini menjadi tiga kali lipat lebih berbahaya, karena gagangnya berubah menjadi dua pada kanan kiri yang keduanya dapat dipergunakan untuk menotok. Permukaan kipas dapat digunakan untuk mengacaukan pandangan mata musuh, bahkan angin kipasannya saja dapat membuat lawan menjadi bingung. Dengan menutup kipas itu, maka senjata ini hanya merupakan sebuah gagang yang digerakkan untuk menangkis atau mengirim serangan totokan.

Sebelum berguru kepada Wi Kong Siansu, terlebih dahulu Kam Seng telah mendapatkan gemblengan dari Mo-kai Nyo Tiang Le dan ia telah sering menderita sehingga ia menjadi tekun sekali melatih lweekang, maka ilmu pedangnya kini sama sekali tak dapat dibilang rendah tingkatnya.

Kalau saja Lili tidak sayang kepada kipasnya dan melayaninya dengan kipas terbuka, maka dapat dipastikan bahwa kurang dari dua puluh jurus saja Kam Seng akan sanggup dirobohkan olehnya. Akan tetapi karena Lili menghadapinya dengan kipas tertutup, maka pertempuran berjalan sengit dan ramai sekali.

Tetapi masih saja Lili selalu berada pada pihak penyerang, karena dengan pengertiannya akan dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, gadis ini dapat menduga gerakan-gerakan dan perkembangan serangan lawan lantas dapat mendahuluinya. Berbeda dengan ketika melawan Hok Ti Hwesio, Lili tidak mau mengejeknya dan tidak mau mempermainkannya pula, sebab di dalam hatinya tidak terkandung kebencian terhadap Kam Seng, hanya ada penyesalan dan kekecewaan besar melihat pemuda itu tersesat.

Setelah bertempur hampir lima puluh jurus, perlahan akan tetapi pasti Lili mulai berhasil mendesak Kam Seng. Pemuda ini merasa penasaran sekali, karena bagaimanakah Lili dapat berkelahi sedemikian kuatnya dengan hanya bersenjatakan sebuah kipas kecil? Ia lalu mengerahkan ilmu silat yang ia pelajari dari Mo-kai Nyo Tiang Le, akan tetapi sia-sia belaka. Kipas Lili betul-betul hebat sekali dan ujung gagang gading itu selalu mengancam jalan darahnya.

Pada waktu pedangnya berkelebat membabat pinggang Lili dan dapat ditangkis oleh Lili yang mementalkan gagang gadingnya kemudian membalas dengan totokan ke arah iga, terpaksa Kam Seng harus menjatuhkan diri ke bawah dengan gerak tipu Harimau Lapar Mengintai Korban. Dengan amat cepatnya, ia langsung menggerakkan pedang menyapu pergelangan kaki gadis itu.

Menghadapi serangan ini, Lili memperlihatkan kepandaiannya yang amat mengagumkan. Ia tidak melompat ke atas untuk menyelamatkan kakinya, bahkan dengan berani dia lalu memapaki datangnya pedang ini dengan gerakan kaki yang dinamakan gerak tipu Dewa Bumi Menginjak Ular.

Kaki kanannya dengan kecepatan luar biasa dan dari arah atas menyerong ke bawah dapat menyambut permukaan pedang dan sambil meminjam tenaga serangan lawan, dia menekan dan menggerakkan tenaga lweekang pada kakinya yang terus menindih dan menginjak pedang itu di atas tanah!

Kam Seng terkejut sekali. Dia cepat mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, akan tetapi sia-sia belaka. Pedangnya itu seakan-akan sudah terjepit dan tertindih oleh batu karang yang berat sekali sehingga tidak dapat terlepas dari tindihan kaki Lili yang memandangnya sambil tersenyum! Kemudian, gagang kipas gading di tangan Lili cepat menyambar turun, menotok ke arah pundak kanan Kam Seng.

Melihat datangnya totokan yang amat berbahaya ini, terpaksa pemuda itu melakukan hal yang membuatnya mendapat malu dan yang sekaligus menyatakan kekalahannya. Yaitu dia melepaskan gagang pedangnya dan menggulingkan tubuhnya ke belakang dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng! Dia dapat menghindarkan diri dari totokan, akan tetapi dia harus melepaskan pedangnya yang berarti bahwa dia telah kalah!

Dengan muka merah dia melompat bangun dan berdiri menundukkan muka, akan tetapi diam-diam dia amat mengagumi gadis puteri musuh besarnya itu.

“Hebat...! Hebat...!” kata Wi Kong Siansu sambil melangkah maju menghadapi Lili yang masih menginjak pedang.

Sekali tosu tua ini mengebutkan ujung lengan bajunya, maka tubuhnya merendah dan ujung lengan baju melibat gagang pedang itu bagaikan seekor ular. Lalu dia membetot keras akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi merah ketika merasa bahwa pedang itu tak dapat terbetot dari injakan kaki Lili!

Dia terkejut dan diam-diam dia kagum sekali karena ternyata bahwa tenaga injakan itu betul-betul hebat. Ia segera dapat menduga bahwa gadis ini tentu menggunakan tenaga Thai-san-cui, karena hanya dengan ilmu pengerahan tenaga ini sajalah betotannya dapat tertahan.

Kakek ini tersenyum-senyum, kemudian berseru, “Lepas!”

Dia lalu mengerahkan tenaga Im-yang-cui. Tenaga betotannya kali ini bukanlah tenaga membetot semata, sebab ujung bajunya itu membetot dengan tenaga terbalik, yaitu justru mendorong pedang itu ke depan, kemudian di tengah-tengah dorongannya ini, barulah ia menarik keras. Inilah tenaga Im-yang-cui yang sifatnya bertentangan, akan tetapi dapat dipergunakan dengan berbareng, maka kehebatannya pun luar biasa sekali.

Lili maklum bahwa ia tidak dapat mempertahankan injakannya lagi, maka tiba-tiba saja ia melepaskan tenaga injakannya sambil berbareng menekuk jari kakinya, yaitu ibu jari dan jari kedua, lalu jari-jari kakinya itu menggunakan gerakan menyentik pedang itu!

Memang gadis ini selain nakal, juga mempunyai banyak akal dan lihai sekali. Biar pun jari kakinya tersembunyi di dalam sepatu kain, dan tenaganya dapat berkurang karenanya, namun dia masih dapat melakukan gerakan yang lihai ini. Pedang itu yang terbetot oleh ujung lengan baju Wi Kong Siansu, ditambah dengan tenaga menyentik dari jari kaki Lili, tiba-tiba bergerak membalik dan seakan-akan terbang menuju ke arah leher tosu itu!

Kini Wi Kong Siansu yang maklum akan demonstrasi yang diperlihatkan oleh gadis itu, tidak mau ‘kalah muka’! Melihat datangnya pedang yang melayang ke arah lehernya, dia kemudian merendahkan tubuh dan membuka mulutnya. Pedang itu dengan tepat sekali memasuki mulutnya dan tergigitlah ujung pedang itu oleh gigi si kakek yang lihai!

Semua orang langsung memandang dengan melongo melihat betapa gagang pedang itu bergoyang-goyang seakan-akan pedang itu telah menancap di batang pohon! Lili sendiri pun merasa amat kagum dan terkejut karena makin maklum bahwa dia kini menghadapi seorang tosu yang berilmu tinggi sekali.

Dengan tenang Wi Kong Siansu mengambil pedang itu dari mulutnya, kemudian sambil tersenyum-senyum kepada Lili dia pun berkata,

“Siancai... Sungguh seorang gadis yang lihai, cerdik, nakal dan tabah sekali! Nona, kau masih begini muda, akan tetapi telah mewarisi kepandaian Pendekar Bodoh, bahkan kau sudah mewarisi kepandaian Swie Kiat Siansu! Tak percuma kau menjadi puteri Pendekar Bodoh! Akan tetapi pinto (aku) tidak ingin bertanding melawan seorang anak-anak seperti kau. Lebih baik kau pulang saja dan kalau memang kau ingin mengacau rumah tangga kawan-kawanku, suruhlah ayahmu yang datang ke sini.”

“Totiang, kau bilang tidak ingin bertanding melawan aku, sebaliknya siapakah yang ingin bertempur dengan kau? Telah kukatakan bahwa kedatanganku bukan hendak berurusan dengan kau, dan juga aku tidak butuh sesuatu dari Kam Seng atau si kepala gundul itu! Aku hanya perlu mencari manusia busuk yang bernama Bouw Hun Ti untuk kupenggal lehernya dan kubawa pulang kepalanya!”

Pada waktu itu, Bouw Hun Ti tidak berada di kelenteng itu. Bahkan dia tidak ada pula di dusun Tong-sin-bun, oleh karena orang she Bouw ini semenjak beberapa hari yang lalu telah pergi jauh ke utara.

Bouw Hun Ti memang seorang yang amat cerdik dan hati-hati. Biar pun ia telah berhasil mengundang datang Wi Kong Siansu untuk memperkuat kedudukannya, namun ia masih berkhawatir juga. Sesudah berunding dengan suhu-nya dan supek-nya itu dan mendapat persetujuan, ia lalu berangkat ke utara untuk mengunjungi tiga orang sahabat baiknya yang berilmu tinggi, yaitu yang disebut Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun).

Ketiga orang ini adalah orang-orang yang aneh dan sakti dan yang tinggal di Hailun, yaitu sebuah kota di daerah Mancuria. Bouw Hun Ti mengunjungi mereka untuk membujuk mereka agar datang kemudian bersama-sama menghancurkan Pendekar Bodoh beserta kawan-kawannya. Ia mempunyai harapan besar untuk mendapat bantuan ketiga orang ini yang masih terhitung keluarga dari Panglima Mongol yang bernama Balaki dan yang dulu tewas dalam perang ketika orang Mongol menyerbu ke selatan.

Mendengar kata-kata Lili yang menyatakan hendak memenggal leher Bouw Hun Ti, Wi Kong Siansu lalu tertawa.

“Ahh, sungguh kau sombong sekali, Nona. Belum tentu Bouw Hun Ti akan sedemikian mudahnya menyerahkan lehernya untuk kau sembelih! Lagi pula, pada saat ini murid keponakanku itu tidak berada di sini.”

“Bohong!” seru Lili marah. “Totiang, kau ingatlah. Walau pun aku tidak ingin bermusuhan dengan kau orang tua, akan tetapi kalau engkau hendak menyembunyikan dan membela keparat Bouw Hun Ti, terpaksa aku berlaku kurang ajar!”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh dari dalam kelenteng, disusul dengan mengebulnya asap hitam diikuti berkelebatnya tubuh seorang tua pendek gemuk yang berpakaian mewah. Ban Sai Cinjin telah datang pula sambil membawa huncwe-nya yang mengebulkan asap hitam, tanda bahwa dia sudah siap untuk bertempur! Bagaimanakah orang ini bisa datang ke kelenteng itu pada waktu malam gelap?

Sebagaimana sudah diceritakan di bagian depan, hampir semua rumah penginapan dan toko-toko besar di dusun Tong-sin-bun adalah milik dari Ban Sai Cinjin. Demikian pula rumah penginapan di mana Lili bermalam, adalah rumah penginapan orang tua ini pula.

Ketika menyaksikan kecantikan Lili, para pengurus hotel segera memberi laporan kepada Ban Sai Cinjin yang mata keranjang dan rnemang berwatak sebagai bandot tua. Ia amat gembira mendengar bahwa di hotel itu bermalam seorang gadis cantik jelita. Penuturan pengurus rumah penginapan itu bahwa gadis ini nampaknya berkepandaian tinggi, malah membuat hatinya makin gembira.

“Ha-ha-ha! Inilah yang selama ini kucari-cari,” katanya. “Aku telah merasa bosan dengan gadis-gadis yang lemah. Aku sudah bosan dengan bunga-bunga harum yang mudah layu dan rontok. Aku menghendaki bunga hutan, bunga liar. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi ketika dia mendengar bahwa gadis itu keluar dari kamar tanpa diketahui ke mana perginya, dan ditunggu-tunggu belum juga kembali, maka mulai curigalah hati Ban Sai Cinjin. Di dusun sekecil Tong-sin-bun, orang dapat melancong ke manakah? Apa lagi seorang gadis muda!

Dia lalu teringat akan penuturan pengurus hotel bahwa gadis itu berkepandaian silat, dan karena Ban Sai Cinjin merasa bahwa dia mempunyai banyak musuh yang mendendam sakit hati kepadanya, maka ia lalu berlaku waspada.

Digantinya tembakau pada huncwe-nya dan ia lalu berlari cepat menuju ke kelenteng di tengah hutan itu. Benar saja, dia melihat gadis cantik jelita itu sedang berada di dalam kelentengnya dan mengucapkan ancaman terhadap muridnya Bouw Hun Ti.

Ia kemudian tertawa dan melompat masuk, dan sambil menyembunyikan rasa kagumnya menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari gadis itu ia berkata,

“Nona, kau mencari Bouw Hun Ti? Ha-ha-ha, muridku ini sedang pergi jauh. Biarlah aku mewakilinya menyambutmu yang sudah datang dari tempat jauh. Kalau aku tahu, tentu kau tidak kuperbolehkan mendiami kamar hotelku yang kecil itu, akan kusediakan kamar besar dan mewah di rumahku. Ha-ha-ha!”

Melihat munculnya orang tua itu, maklumlah Lili bahwa dia harus melawan mati-matian, karena dia tahu akan kelihaian dan kejahatan Ban Sai Cinjin.

“Hemm, aku tahu siapa kau ini. Ban Sai Cinjin, aku memang datang untuk memenggal leher muridmu Bouw Hun Ti, untuk membalas dendamku ketika aku terculik olehnya pada waktu aku masih kecil dan terutama sekali untuk membalas dendam karena dia sudah membunuh kakekku, yaitu Yo Se Fu!”

“Mudah saja, mudah. Marilah kau ikut aku ke rumah, dan sementara menanti datangnya Bouw Hun Ti, kita makan minum untuk menghormat kedatanganmu!”

Lili maklum bahwa orang tua ini mencari perkara. Menghadapi Ban Sai Cinjin tidak boleh gegabah, apa lagi di situ terdapat Wi Kong Siansu yang menjadi suheng dari orang tua mewah ini, maka kalau tidak diserang, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri.

“Ban Sai Cinjin, kata-katamu sama hitamnya dengan tembakaumu yang berbau busuk! Siapa mau meladeni orang seperti kau? Kalau Bouw Hun Ti si jahanam itu tidak berada di sini, sudahlah!” Ia lalu menggerakkan kakinya hendak pergi dari situ.

Akan tetapi tiba-tiba Ban Sai Cinjin bergerak maju menghadang di tengah jalan.

“Ha-ha-hi-hi, enak saja kau mau pergi dari sini! Kau berani datang ke kelentengku tanpa kupanggil, dan kau datang dengan maksud jahat, apakah aku harus membiarkan kau berlaku sesuka hatimu? Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani membuka mulut besar hendak membunuh muridku. Siapakah adanya kau yang sombong ini?”

“Suhu, dia adalah puteri dari Pendekar Bodoh dan tadi pun dia hampir saja membunuh teecu!” tiba-tiba Hok Ti Hwesio berkata sambil menudingkan jarinya ke arah Lili dengan pandangan marah. Hwesio muda ini ingin sekali suhu-nya membalaskan hinaan yang dia alami tadi.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ini. Apa bila gadis ini sudah dapat mengalahkan Hok Ti Hwesio, itu tandanya bahwa kepandaian gadis ini tidak boleh dibuat gegabah. Dia menengok kepada Kam Seng dan Wi Kong Siansu dengan heran.

“Ada Suheng dan Kam Seng di sini, bagaimana dia bisa mengganggu Hok Ti?”

Kam Seng buru-buru berkata, “Teecu juga sudah kena dikalahkan oleh Nona ini.”

“Hemm, hemm, lihai juga,” Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk. “Baiknya Suheng belum turun tangan, biarlah aku yang meringkus bocah ini!” Sambil berkata demikian, dengan gerakan yang tak terduga-duga, Ban Sai Cinjin cepat mengulurkan tangan kirinya hendak menangkap pundak Lili.

Gadis itu segera mengelak dan menggunakan kipasnya yang masih dipegangnya untuk mengebut dan menotok pergelangan tangan lawan yang diulur itu. Ban Sai Cinjin hanya tersenyum-senyum saja dan sama sekali tidak mau mengelak. Kakek ini sudah memiliki kekebalan yang melebihi Hok Ti Hwesio sehingga dia tidak takut akan segala totokan biasa saja.

“Awas, Sute!” seru Wi Kong Siansu yang maklum bahwa sute-nya memandang rendah kepada gadis muda itu.

Akan tetapi sudah terlambat, karena ujung gagang kipas di tangan Lili dengan tepat telah menotok jalan darah di pergelangan tangan Ban Sai Cinjin. Kakek ini cepat mengerahkan kekebalannya, akan tetapi dia segera menjerit karena kaget dan kesakitan, dan alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa lengan kirinya menjadi lumpuh!

Bukan main hebatnya totokan yang tadi dilancarkan oleh kipas Lili ini, sehingga dia dapat mematahkan kekebalan Ban Sai Cinjin dan masih dapat menembusi kulit tebal itu untuk mencari sasarannya.

Sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dan cepat dia menggunakan tangan kanannya untuk mengetok kemudian mengurut lengan kirinya, dan dengan cepat dia dapat membebaskan lengan kirinya dari pengaruh totokan yang lihai itu!

Lili juga terkejut dan kagum sekali. Totokannya tadi berbahaya dan dapat menewaskan seorang lawan, akan tetapi kakek itu tidak menjadi roboh dan bahkan dapat memulihkan kembali jalan darahnya dengan cepat.

“Kurang ajar!” teriak Ban Sai Cinjin dengan marah sekali sehingga mukanya yang merah itu berubah menjadi pucat sekali. “Kau ganas dan liar, harus mampus di tanganku!”

Cepat seperti harimau menerkam ia lalu menubruk maju dan menggerakkan huncwe-nya mengetok kepala Lili dengan gerakan yang cepat sekali. Lili tak mau berlaku lambat dan mendadak nampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika gadis ini mencabut pedangnya, yaitu Liong-coan-kiam pemberian ayahnya!

“Tranggg…!”

Terdengar bunyi keras ketika huncwe itu beradu dengan pedang dan bunga api berpijar indah.

Ilmu silat Ban Sai Cinjin benar-benar hebat, ganas dan kuat sekali. Huncwe di tangannya menyambar-nyambar, diliputi uap hitam yang menyeramkan dan berbau tak enak sekali.

Akan tetapi, pedang Liong-coan-kiam di tangan Lili bergerak-gerak dengan indahnya pula. Sedikit pun huncwe lawannya tidak dapat mendekati tubuhnya, karena ke mana saja huncwe itu berkelebat, selalu terhalang oleh sinar pedang yang agaknya secara otomatis mengikuti gerakan lawannya. Tubuh gadis itu ketika bersilat pedang bergerak dengan lincah dan indah bagaikan orang sedang menari, begitu lemah gemulai, namun demikian kuatnya. Benar-benar mengagumkan!

Dan kini Wi Kong Siansu sendiri memandang dengan mata terbelalak, bukan saja saking kagumnya, akan tetapi juga karena heran dan bingung. Belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang yang sehebat dan seaneh ini!

Inilah ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ciptaan Pendekar Bodoh. Ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ini berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, ilmu pedang sederhana yang aneh dan lihai sekali yang diciptakan oleh Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh (baca cerita Pendekar Bodoh).

Oleh karena ilmu pedang ini ciptaan ayah Lili sendiri dan tidak pernah diturunkan kepada orang lain, tentu saja ilmu pedang ini jarang sekali terlihat di dunia persilatan, berbeda dengan ilmu-ilmu pedang dari cabang persilatan besar seperti Gobi Kiam-hoat, Kun-lun Kiam-hoat, dan lain-lain yang banyak dimainkan oleh para muridnya.

Kalau melihat Lili sedang mainkan pedang ini, agaknya ia lebih mahir dari pada ayahnya sendiri, yaitu dalam hal kelincahan serta keindahan gerakan. Akan tetapi, sesungguhnya tentu saja ia tak dapat menandingi ayahnya, terutama sekali dalam kematangan gerakan dan pengalaman pertempuran.

Kini menghadapi seorang lawan berat seperti Ban Sai Cinjin, meski pun ilmu pedangnya berhasil membingungkan lawan dan membuat huncwe maut di tangan Ban Sai Cinjin tak banyak berhasil, namun pertempuran ini membuat gadis itu menjadi letih sekali. Tiap kali senjatanya beradu dengan senjata lawan, dia langsung merasa urat-uratnya tergetar dan pertempuran kali ini telah memaksa dia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.

Ia memang tak usah khawatir akan terkena senjata lawan, akan tetapi sebaliknya, sukar pula baginya untuk dapat merobohkan lawan tangguh ini. Huncwe itu benar-benar lihai sekali dan memiliki gerakan yang serba aneh dan tak terduga.

Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan marah luar biasa. Perasaan ini timbul dari rasa malu dan penasaran. Benar-benarkah dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut dan juga Si Golok Malaikat, orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di kalangan kang-ouw dan jarang sekali menemui tandingan, sekarang tidak berdaya merobohkan seorang bocah yang belum ada dua puluh tahun usianya? Dan seorang bocah perempuan pula, yang berkulit halus, bermata bintang, berbibir merah semringah, dan nampak lemah?

Jarang ada seorang lawan, seorang kang-ouw yang bagaimana tangguhnya pun, mampu melawan huncwe-nya sampai lebih dari dua puluh jurus. Akan tetapi gadis manis ini telah melawannya sampai lima puluh jurus dan sedikit pun dia belum dapat menjatuhkannya!

“Bangsat perempuan, kau harus mampus!” mendadak Ban Sai Cinjin berseru marah dan kini tangan kirinya yang tadi tidak ikut menyerang, lalu dikepal-kepal dan kepalan tangan itu tak lama kemudian berubah menjadi kemerah-merahan!

Thio Kam Seng atau lebih benar Song Kam Seng, terkejut sekali melihat kepalan tangan susiok-nya ini. Celaka, pikirnya, kini Lili berada di pinggir jurang maut! Ia maklum bahwa kalau kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin sudah menjadi kemerah-merahan, itu tandanya bahwa kakek ini telah mengerahkan tenaga Ang-tok-jiu (Tangan Merah Beracun)! Jangan kata sampai terkena pukul, baru tersambar oleh angin pukulan tangan Ang-tok-jiu ini saja, lawan dapat roboh menderita luka hebat yang dapat membawanya ke lubang kubur!

Harus diakui bahwa Lili adalah seorang gadis yang boleh dikata pengalamannya dalam hal pertempuran masih hijau dan jarang sekali dia bertempur menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw seperti Ban Sai Cinjin. Akan tetapi, dia adalah puteri dari sepasang suami isteri pendekar besar.

Ayahnya, Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh, adalah seorang ahli silat yang sangat jarang tandingannya, sedangkan ibunya, Kwee Lin atau Lin Lin, juga memiliki kepandaian yang amat tinggi. Lebih-lebih lagi karena baik ayah mau pun ibunya telah mempunyai banyak sekali pengalaman pertempuran dan terutama sekali ayahnya sudah sering menghadapi akal-akal serta ilmu-ilmu jahat dan kejam yang dimiliki oleh golongan hek-to (jalan hitam, penjahat). Karena itu sering kali gadis ini didongengi oleh ayah bundanya, termasuk juga tentang Ang-se-jiu (Tangan Pasir Merah) dan Ang-tok-jiu yang sudah pernah dia dengar dari ayahnya.

Ia tidak mengira bahwa kakek ini memiliki ilmu yang jahat ini pula, maka setelah melihat kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin berubah merah, cepat ia menyelipkan kipasnya di saku bajunya dan ia pun segera menggerak-gerakkan tangan kirinya lalu mengerahkan tenaga sinkang-nya, bergerak-gerak ke kanan kiri hingga tak lama kemudian dari seluruh lengan kirinya mengebullah uap putih. Inilah Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut, yakni ilmu turunan dari sucouw-nya (kakek guru) yang bernama Bu Pun Su!

Pada waktu huncwe Ban Sai Cinjin melayang ke arah pelipisnya, dia menangkis dengan pedangnya dan secepat kilat Ban Sai Cinjin menonjok ke arah dadanya dengan tangan kiri yang mengandung tenaga Racun Merah itu! Angin pukulan itu sudah terlebih dahulu menyambar, namun dengan tenang akan tetapi waspada dan cepat sekali Lili kemudian menangkis pula dengan tangan kiri.

Hebat sekali tenaga pukulan Ang-tok-jiu dan tenaga tangkisan Pek-in Hoat-sut ini. Orang tidak melihat dua lengan tangan itu beradu, akan tetapi tubuh kedua orang itu terpental mundur sampai dua tindak ke belakang!

Ban Sai Cinjin menjadi pucat saking kagetnya melihat betapa gadis muda itu sanggup menangkis pukulan mautnya sedemikian lihainya. Sedangkan Lili juga terkejut sekali dan buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya ketika merasa betapa seluruh urat pada tangan kirinya terasa kesemutan! Ini adalah tanda bahwa betapa pun hebatnya ilmu silat Pek-in-hoat-sut, akan tetapi dalam hal tenaga dalam, dia masih kalah terhadap kakek ini.

Pengalaman ini membuat dia berlaku hati-hati sekali. Berkali-kali Ban Sai Cinjin kembali melancarkan serangan dengan pukulan Ang-tok-jiu, karena kakek ini pun maklum bahwa dia masih menang tenaga sehingga apa bila dia menyerang bertubi-tubi, ada harapan dia akan melukai gadis itu.

Akan tetapi kini Lili menangkis dengan cerdik sekali. Ia menggunakan tangkisan dari ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut dari samping, dengan cara menyampok tenaga serangan lawan dari samping, tidak mengadu tenaga seperti tadi. Oleh karena ini, selalu apa bila pukulan Ang-tok-jiu datang, dia tidak perlu mengadu tenaga dan hanya menyampok dari samping sambil mengelak saja. Dengan cara demikian, maka tenaga pukulan lawan yang hebat itu tidak langsung datangnya dan tidak demikian telak menghantamnya.

Wi Kong Siansu makin kagum saja, demikian pula Ban Sai Cinjin diam-diam juga kagum sekali kepada puteri Pendekar Bodoh ini. Tadinya ia tidak ingin menggunakan kelicikan dalam pertempuran ini, karena ia segan untuk merobohkan lawannya yang masih muda dan wanita pula ini dengan ilmu hitam. Namun, karena tahu bahwa ia tidak mudah dapat merobohkannya, dan hal ini akan lebih memalukannya lagi, tiba-tiba dia lalu menyedot huncwe-nya dan sekali dia berseru keras, dari mulutnya menyembur keluar asap hitam yang amat berbahaya menuju ke muka Lili!

Gadis itu terkejut sekali. Sungguh pun asap itu masih jauh dari mukanya, namun ia telah mencium baunya yang amat memuakkannya. Ia cepat melempar tubuhnya ke belakang, melakukan gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang membuat gerakan poksai (salto) sampai tiga kali dan turun beberapa tombak jauhnya dari lawannya.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Ia maklum bahwa lawannya takut kepadanya, maka ia berseru, “Nona manis, kau hendak lari ke mana?”

Lalu dia menyedot huncwe-nya pula dan kesempatan itu dia pergunakan untuk membuka kantong tembakau yang tergantung pada huncwe-nya lalu mengisi kembali mulut huncwe itu dengan tembakau baru. Ia sudah mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya dengan asap mautnya!

Lili maklum bahwa sungguh pun hawa Pek-in Hoat-sut dari tangan kirinya akan dapat menolak asap hitam itu buyar terkena hawa Pek-in Hoat-sut, asap yang ringan itu masih akan dapat menyerangnya. Asap macam ini tidak menyerangnya mengandalkan tenaga tiupan, melainkan mengandalkan kejahatan racun yang dikandungnya.

Karena itu ia segera melepaskan tenaga Pek-in Hoat-sut dari lengan kirinya dan sebagai gantinya, dia cepat mengeluarkan kipasnya. Sekali dia menggerakkan jari tangan kirinya, kipasnya ini telah terkembang dan dipegangnya seperti hendak mengipas tubuhnya.

Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa gadis ini sudah mewarisi Ilmu Silat San-sui San-hoat (Ilmu Kipas Bukit dan Air) yang lihai dari Swie Kiat Siansu, maka tanpa memperhatikan kipas ini, dia lalu menyerbu lagi dengan sekaligus mengeluarkan tiga serangan. Tangan kirinya memukul dengan Ang-tok-jiu, tangan kanannya menggerakkan huncwe menotok leher, dan dari mulutnya menyembur asap yang hitam dan tebal ke arah muka lawannya!

Lili merasa girang saat melihat lawannya tidak memperhatikan kipasnya, dan gadis yang cerdik ini lantas mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya yang sangat lihai ini. Dia menanti datangnya serangan dengan amat tenang dan sengaja berlaku agak lambat untuk menarik perhatian lawan.

Untuk menghindarkan diri dari tiga serangan itu, dia mempergunakan ginkang-nya (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, berkelit ke kanan sambil merendahkan tubuh sebab dia maklum bahwa asap hitam itu tidak akan turun ke bawah. Ia sengaja menanti untuk memancing lawannya.

Benar saja, melihat keadaan gadis yang agaknya lambat gerakannya ini, Ban Sai Cinjin menjadi girang dan mengira bahwa gadis itu telah terkena racun asap hitamnya, maka ia melanjutkan serangan dengan mencengkeram ke bawah sambil mengayun huncwe-nya. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba kipas di tangan kiri Lili dikebutkan ke arah uap hitam yang tebal tadi sehingga uap itu melayang ke arah muka Ban Sai Cinjin!

Tentu saja sebelumnya Ban Sai Cinjin telah menggunakan obat penawar untuk menolak pengaruh asap hitam dari huncwe-nya sendiri sehingga serangan asap yang membalik ke mukanya ini tidak membahayakannya sama sekali. Akan tetapi bukan itulah kehendak Lili. Kebutan kipasnya ini bermaksud membuat asap hitam itu menutupi pandang mata lawannya dan maksudnya ini memang berhasil baik. Betapa pun juga, Ban Sai Cinjin tak berani menghadapi racun asap tembakaunya sendiri dengan mata terbuka.

Untuk sesaat sambil meniup ke arah asap itu dia meramkan matanya dan dengan tidak terduga-duga sekali, tiba-tiba saja ia merasa pangkal lengan kirinya sakit sekali! Ternyata bahwa tadi pada waktu ia sedang menghadapi asap yang membalik itu, secepat kilat Lili mengelak dari serangan kedua tangannya, bergerak sambil menggeser kakinya ke kanan dan dari samping dia segera mengirim totokan dengan kipasnya yang dapat tepat sekali mengenai pangkal lengan kiri lawannya!

Tubuh Ban Sai Cinjin terhuyung ke belakang dan tiba-tiba dia merasa datangnya angin dingin ke arah leher dan lambungnya! Ia maklum akan bahaya maut itu. Ternyata bahwa lambungnya sudah diserang oleh pedang Liong-coan-kiam dengan gerakan Lutung Sakti Memetik Buah sedangkan lehernya telah diserang oleh sepasang gagang kipas dengan gerakan Gunung Thai-san Menimpa Kepala!

Ban Sai Cinjin mengeluarkan keringat dingin dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang. Akan tetapi gerakan kipas ke arah lehernya itu luar biasa cepatnya.

“Krekk!” terdengar suara dan pundaknya masih terkena gagang kipas itu.

Ban Sai Cinjin menjerit dan maklum bahwa sambungan tulang pundaknya telah terlepas! Lili tidak mau memberi hati dan terus mendesak dengan serangan yang lebih hebat lagi. Agaknya tak lama lagi nyawa Ban Sai Cinjin terpaksa akan meninggalkan raganya.

Akan tetapi, tentu saja Wi Kong Siansu tidak mau tinggal diam melihat sute-nya terancam bahaya maut. Cepat bagaikan seekor burung gagak menyambar bangkai, dia melompat ke belakang gadis itu dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya!

Lili sedang mengerahkan seluruh tenaga serta perhatiannya untuk menewaskan kakek mewah yang dibencinya itu. Sungguh pun dia mendengar angin pukulan Wi Kong Siansu dari belakang dan mencoba untuk mengelak, dia tetap terlambat.

Gerakan Wi Kong Siansu luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jalan darah kim-to-hiat di punggungnya telah kena tertotok oleh ujung lengan baju tosu itu. Lili mengeluh perlahan, kipas dan pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya dengan lemas tak berdaya langsung terkulai ke atas lantai!

Ban Sai Cinjin dengan meringis-ringis sudah dapat bangun kembali dan melihat keadaan Lili yang sudah roboh oleh suheng-nya, ia masih dapat tertawa terbahak-bahak. “Bagus, Suheng, bagus! Kau telah dapat merobohkan kuda betina liar ini!”

Matanya berkilat penuh dendam terhadap Lili, kemudian perlahan-lahan ia bergerak maju menghampiri gadis muda itu. Lili masih dapat memandang lawannya ini dan pikirannya masih berjalan terang, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah lemas tidak dapat digerakkan lagi.

Gadis ini maklum akan bahaya yang akan menimpa dirinya, dan sinar ketakutan segera terbayang pada matanya. Gadis ini tidak takut akan mati, akan tetapi ia maklum bahwa terjatuh ke dalam tangan manusia iblis seperti Ban Sai Cinjin ini, tentulah nasibnya akan jauh lebih mengerikan dari pada kematian!

Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba bayangan tubuh Kam Seng berkelebat dan pemuda ini tahu-tahu telah mendahului Ban Sai Cinjin menyambar tubuh Lili yang terus dipeluk dan dipondongnya!

“Kam Seng! Kau lepaskan dia!” Ban Sai Cinjin berseru keras dengan mata melotot.

Kam Seng memandang kepada susiok-nya. Hatinya bimbang ragu. Di lubuk hatinya ada perasaan cinta yang besar terhadap gadis ini, sungguh pun perasaan itu tertutup kabut kebenciannya karena kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, musuh besarnya! Jika gadis jelita ini harus mati, maka dialah yang berhak membunuhnya, bukan orang lain. Apa lagi dia merasa ngeri dan jijik memikirkan nasib gadis jelita ini di tangan susiok-nya. Maka ia lalu memandang kepada suhu-nya dan berkata,

“Suhu, maukah Suhu memberikan puteri musuhku ini kepada teecu?”

Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya. Karena sudah berpengalaman, dia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik oleh kecantikan gadis ini. Sebaliknya, dIa pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sute-nya, maka dia lalu berkata kepada sute-nya,

“Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah dia melepaskan rasa sakit hati dan dendamnya kepada puteri musuh besarnya!”

Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.

“Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan kau tak akan dapat menguasainya!”

Wi Kong Siansu juga tertawa. “Sute, kau sudah tua. Kam Seng lebih muda, maka kau tentu tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarkanlah dia melampiaskan dendamnya dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan sampai dia terlepas!”

Hok Ti Hwesio juga berkata kepada Kam Seng sambil menyeringai, “Sute, bila kau sudah selesai dengan dia, berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk obat!”

Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng. Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.

Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada berdebar dan muka pucat, lalu ikut pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tan-kauwsu. Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong tubuh Lili yang lemas.

“Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?”

Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhu-nya. Untuk beberapa lama dia tidak mau dan tidak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya dia menjawab juga dengan suara perlahan,

“Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat besar, karena itu teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya atau pun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas penghinaan dan sakit hati, jika tak terkabul cita-cita teecu untuk menewaskan Pendekar Bodoh.”

Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya. “Salah... salah..., muridku. Aku mengerti akan maksudmu, akan tetapi apa kau kira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai sekutu kita? Biar pun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kau kira dia akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya supaya kelak kita tidak mengalami gangguan dari padanya.”

Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara tentang seekor domba saja! Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak masuk hitungan pula, dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.

“Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu,” kata Kam Seng dan dia lalu membawa Lili ke dalam kamarnya. Di ruangan dalam, dia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda tanggung ini berkata,

“Suheng... hendak kau apakan gadis ini?”

Wajah Kam Seng berubah merah. “Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku.”

“Ah...!” hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya. Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya dia merasa pundaknya dipegang orang. Ketika dia menengok ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.

“Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora, ia mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu...! Ha-ha-ha!”

“Tidak... tidak!” Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Suheng, besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tidak kusangka sama sekali bahwa kalian demikian... demikian...”

“Apa maksudmu, Sute?” Hok Ti Hwesio memandang tajam.

“Mengapa kalian bisa begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?” Sambil berkata demikian, Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya, kemudian menutupkan pintunya keras-keras. Terdengar dia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.

Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat. Kemudian dia lalu mencari suhu dan supek-nya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.

Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam kamarnya, lalu menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya. Gadis itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya. Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng dengan tajam berapi-api!

Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud pemuda ini. Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya sudah membunuh ayah pemuda ini! Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh kebenciannya terhadap pemuda ini.

Dia maklum bahwa dia tidak berdaya sama sekali. Telah dicobanya untuk membebaskan diri dari pada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja. Dia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa dia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan tak akan dapat melawan sedikit pun juga.

Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat untuk membalas dendam. Biarlah, pikirnya, dan tunggulah saja! Apa bila aku sampai lepas dari pada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu hingga menjadi bubur!

Sementara itu Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar pucat. Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip. Seribu satu macam pikiran kini teraduk di dalam hatinya. Pikirannya menjadi pening.

Berkali-kali dia sudah mengulurkan tangan hendak meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali. Pandangan mata Lili yang bagaikan dua cahaya api itu terasa menusuk matanya. Hatinya penuh gairah kalau ia melihat wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apa lagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya itu. Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat dia senantiasa tak enak pikiran.

“Dia musuh besarku!” demikian bisik hatinya. “Aku boleh membunuhnya, menghinanya! Ayahku dulu juga terbunuh oleh ayahnya!”

“Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!” bisik suara lain di hatinya. “Dan aku... aku cinta kepadanya. Dan alangkah baiknya kalau dia bisa menjadi isteriku untuk selamanya!”

“Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!” bisik suara pertama.

“Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya malam ini kau akan menjadi suaminya!”

Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan. Untuk beberapa lama jari-jari tangannya membelai-belai rambut Lili yang halus. Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan tetapi mendadak dia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Lili.

Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu. Nafsu dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk dapat melampiaskan sakit hatinya terhadap ayah gadis itu. Akan tetapi ada kekuasaan lainnya yang menahan kehendaknya ini, kekuasaan cinta. Kekuasaan ini membuat dia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti hati mau pun raganya.

Akhirnya dia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili. Dia mencabut pedangnya dan hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut. Hendak dibunuhnya gadis ini dan habis perkara!

“Lili,” katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan. “Aku akan membunuhmu, dan sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa engkau adalah puteri musuh besarku! Ayahku bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara. Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan... dan... aku pun tidak sampai hati menghinamu! Aku... aku kasihan kepadamu!”

Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan jelita itu.

“Lili, bersiaplah untuk mati,” katanya sambil mengangkat pedangnya.

Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi telah padam, bibirnya agak tersenyum. Lili memang merasa lega bahwa ia tak akan menjadi korban penghinaan, maka dia menghadapi kematian dengan amat tabahnya.

Kam Seng mengayun pedangnya ke atas dan... tiba-tiba saja ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu terlepas ke atas lantai! Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu... mencium jidat gadis itu satu kali. Dilemparkannya tubuhnya ke belakang dan dia pun terduduk di atas bangku yang tadi didudukinya.

Cersil karya Kho Ping Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su

Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya. Terdengar helaan napas berkali-kali. “Ahh, Lili... aku... aku tidak tega membunuhmu... aku... aku cinta kepadamu!”

Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi. Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia sudah dapat membunuh Kam Seng kalau dapat. Keadaan menjadi sunyi kembali.

Kam Seng duduk seperti tadi, menghadapi Lili, tidak tahu harus berbuat apa! Betapa pun bencinya kepada Pendekar Bodoh, hatinya tetap tidak tega untuk mengganggu apa lagi membunuh gadis ini.

“Lili... Lili... aku tidak sanggup membunuhmu... tanganku gemetar... bagaimana aku bisa membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi... aku pasti akan mencari ayahmu, aku harus membalas sakit hatiku terhadap Pendekar Bodoh...!” demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.

Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok Ti Hwesio, “Supek... tolong...! Supek, lekas bantu...! Lekas bantu merobohkan gadis setan ini...!”

Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun. Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta tolong kepada suhu-nya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhu-nya sendiri, berarti bahwa tentu terjadi mala petaka hebat dan datang musuh yang tangguh.

Ia hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin. Untuk beberapa saat dia merasa ragu-ragu, lalu menghampiri Lili dan berkata,

“Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!”

Sesudah berkata demikian, Kam Seng segera menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili. Dia telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka dia tahu pula bagaimana harus membuka totokan dari suhu-nya itu. Setelah menotok pundak gadis itu, dia lalu melompat keluar sambil membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata beradu.

Walau pun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya sudah lenyap dan jalan darahnya sudah terbuka kembali, akan tetapi Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak perlahan. Dia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali jalan darahnya.

Dia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng. Hatinya merasa tidak karuan karena dia telah mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng. Kini ia merasa terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu.

Ada sedikit rasa girang dalam hatinya bahwa biar pun pemuda itu telah menggabungkan diri dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat. Masih ada kegagahan di dalam lubuk hati Kam Seng. Ia teringat akan supek-nya Song Kun, karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.

Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili cepat mengambil senjata-senjatanya kemudian melompat keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali. Ketika ia tiba di ruang luar, di bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio!

Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu bisa menghadapi lawannya sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tidak memegang senjata. Ginkang-nya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara tiga bunga itu menyambar-nyambar, di celah tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga pengeroyoknya.

“Goat Lan...!” Lili berteriak girang pada waktu ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum itu.

“Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?” Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya masih sempat berjenaka.

“Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!”

Lili segera mencabut keluar kipas dan pedangnya, lantas menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin. Ia merasa segan dan sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.

Ban Sai Cinjin sudah merasakan kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat oleh gadis ini. Dalam keadaan sehat dia masih belum dapat mengalahkan Lili, apa lagi sekarang pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah.

Kalau saja ia tidak sedang terluka, tadi pun Goat Lan tak nanti dapat mempermainkan dia begitu mudah. Dan ia maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan main-main dan memandang rendah. Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian sangat tinggi, juga sudah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak tipu-tipu curang. Pengalamannya amat luas dan tenaga lweekang-nya juga telah mendekati batas kesempurnaan. Oleh karena itu biar pun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk dapat merobohkan kakek mewah ini. Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang mempunyai ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar biasa sekali.

Berbeda dengan pertempuran antara Lili melawan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang, pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti Hwesio, berjalan berat sebelah. Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani dengan senyum simpul, apa lagi sekarang. Meski pun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sudah jauh lebih tinggi dari pada kepandaian silat para ahli silat biasa, akan tetapi bagi gadis manis itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja!

Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ? Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat Lili tertawan dalam kamar Kam Seng?

Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, dalam percakapan antara Ong Tek putera pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana dia belajar silat kepada Ban Sai Cinjin.

Betapa pun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang sejak kecil dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat segala macam pelajaran mengenai kebajikan. Ia menjadi terkejut dan juga kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini dia hormati dan junjung tinggi. Maka dia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu dia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.

Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini menjumpai suhu-nya. Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, dia pun mengerutkan alisnya.

“Sungguh berbahaya,” katanya perlahan. “Bila anak itu pulang dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, tentu nama kita akan hancur dan tercemar.”

“Kenapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia bersama guru silat itu, habis perkara!”

Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu. “Enak saja kau bicara! Apa kau kira Ong Tek itu orang biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Apa bila dia sampai lenyap, apa kau kira Pangeran Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?”

Hok Ti Hwesio tersenyum “Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek? Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le-to Lie Kong Sian, Mo-kai Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih sanggup membereskan mereka tanpa banyak ribut dan tiada seorang pun mengetahui, apa lagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru silat seperti orang she Tan itu? Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka? Kita sebarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh itu, bukankah ini baik sekali?”

Wajah Ban Sai Cinjin berseri. “Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!” ia memuji. “Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya.”

Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.

“Nah, itulah mereka yang agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!” berkata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada supek-nya, Wi Kong Siansu yang pada waktu itu sudah berada di dalam kamarnya.

Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio segera melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.

“Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?” Ban Sai Cinjin membentak.

Melihat suhu-nya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi sangat terkejut dan sinar ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.

“Suhu... teecu hendak... hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu... merasa rindu kepada ayah dan ibu...!”

“Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau tidak boleh pergi! Tentu di kota raja kau hendak membuka mulut besar tentang kami, ya?”

“Tidak... tidak, Suhu... tidak!” kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhu-nya melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.

“Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!”

Tan-kauwsu segera melompat maju. “Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin! Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!”

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut campur bicara! Apa kau kira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar sendiri pun aku tidak takut!” Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwe-nya ke arah kepala guru silat she Tan itu!

Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu sungguh pun tidak memiliki ilmu silat yang dapat dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin, namun dia sudah banyak merantau dan telah mempunyai pengalaman yang banyak dalam pertempuran. Ia cepat mengelak ke belakang, akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Pada waktu Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba saja dari atas genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang gerakannya begitu cepat sehingga nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.

“Manusia setan!” bayangan itu berseru dengan suaranya yang nyaring dan merdu. “Kau benar-benar kejam!”

Dan tiba-tiba huncwe pada tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas!

Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua buah lesung pipit di sepasang pipinya. Gadis ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi, mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu nampak berkilat.

Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwe-nya dengan tangan kosong saja! Ia maklum bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.

Gadis cantik itu tersenyum manis. “Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut. Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang lagi.” Dia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek,

“Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!”

Ong Tek lalu memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu di dalam ingatannya, kemudian dia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tan-kauwsu.

“Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!” seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek!

Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulurkan tangan dan sekali tangannya bergerak, pisau itu telah disampoknya ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke bawah dan menancap di atas lantai!

“Hmm, hwesio gundul, telah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah yang banyak mencemarkan nama para pendeta Buddha! Agaknya kau yang paling rendah di antara mereka semua!”

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan serta melihat sikap gadis itu. Tanpa banyak cakap lagi ia lantas menyerang dengan huncwe-nya. Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang.

Ban Sai Cinjin yang biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biar pun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini memiliki kecantikan yang sangat menggiurkan dan jarang terdapat, kini hatinya sama sekali tidak terguncang, bahkan ingin sekali dia membunuh gadis ini. Demikianlah, Ban Sai Cinjin dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan tangan kosong.

Sungguh hebat ilmu ginkang dari gadis itu. Dengan lincahnya dia dapat mengelakkan diri dari sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan dia masih sempat memaki-maki dan mentertawakan sambil membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh dipandang ringan.

Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini. Diam-diam ia pun mengeluh dalam hatinya. Selamanya hidup, belum pernah dia mengalami malam sesial ini. Secara berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali!

Kalau saja ia tidak terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih baik terhadap gadis yang baru datang ini. Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan dari Ilmu Silat Tangan Kosong Kwan-im Siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)!

Akan tetapi pergerakan kedua tangan gadis ini sangat aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini. Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan dia kepada empat besar di dunia dan terutama sekali kepada Bu Pun Su!

Akan tetapi, gadis yang sekarang tertawan di dalam kamar Kam Seng dan yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu ginkang-nya!

Melihat betapa dia bersama gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali dia menerima pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil supek-nya minta bantuan! Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari mala petaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.