Social Items

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 29

Cin Hai berlari cepat, mengerahkan seluruh kepandaiannya karena benar-benar merasa gelisah sekali. Kalau saja Lin Lin kalian ganggu, pikirnya dengan gemas, awaslah kalian! Saat tiba di depan Goa Tengkorak hatinya merasa berdebar. Ia tidak mendengar sesuatu, keadaan sunyi sekali, membuat hatinya berdebar cemas dan hampir saja ia tidak berani masuk karena merasa takut melihat hal-hal mengerikan yang terjadi pada diri kekasihnya.

Sesudah menetapkan hatinya, dia lalu melompat masuk ke dalam ruang besar di mana tengkorak-tengkorak raksasa masih berdiri dengan megahnya. Bertahun-tahun dia tinggal di tempat ini mempelajari ilmu silat, maka pemandangan ini tak menimbulkan keseraman di hatinya lagi. Ia segera memandang dengan kedua matanya mencari-cari, dan karena tidak melihat Lin Lin di ruang itu, dia lalu berlari masuk ke dalam kamar tempat menaruh hio-louw (tempat hio). Dan di situ ia melihat Lin Lin rebah telentang, pucat tak bergerak bagaikan mayat.

Cin Hai berdiri terpaku di atas lantai, tak kuasa bergerak, wajahnya pucat dan kepalanya terasa pening. Hampir saja dia jatuh pingsan kalau dia tidak menekan perasaannya dan menguatkan hatinya.

“Lin Lin...!” akhirnya dia dapat berseru dan menggerakkan kakinya, menubruk maju dan memeriksa keadaan kekasihnya.

Ternyata bahwa Lin Lin hanya pingsan saja dan pernapasannya masih berjalan, sungguh pun amat lemah. Tidak ada tanda-tanda luka hebat di tubuh Lin Lin, kecuali bintik hijau yang terdapat pada lehernya, dan ketika Cin Hai meraba bintik itu, rasa panas menyerang jari tangannya. Dia merasa terkejut sekali dan dapat menduga bahwa kekasihnya tentu telah terkena senjata jarum yang mengandung racun hebat.

Bukan main marahnya Cin Hai. Kenapa suhu-nya mendiamkannya saja, malah menyerah menjadi tawanan musuh? Cin Hai lalu memondong tubuh Lin Lin dan melompat keluar. Ia tidak mau menerimanya begitu saja. Ia harus mengejar mereka itu dan memaksa mereka agar segera memberikan obat pemunah bagi kekasihnya, atau kalau mereka tak sanggup menyembuhkan Lin Lin, dia hendak mengamuk serta membunuh mereka semua dengan taruhan jiwa.

Biar pun andai kata suhu-nya akan melarang, ia akan nekat dan tidak menurut perintah suhu-nya. Cintanya pada Lin Lin jauh lebih besar dari pada ketaatannya kepada gurunya. Kecemasan telah menggelapkan jalan pikiran Cin Hai dan sambil memondong tubuh Lin Lin yang lemas tak berdaya dan meramkan kedua matanya itu, Cin Hai mempergunakan ilmu berlari cepat, melompati jurang dan mengejar secepatnya.

Akan tetapi, ketika dia tiba di sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba tubuh Lin Lin bergerak-gerak. Pada saat dia memandang, ternyata kekasihnya telah membuka matanya. Cin Hai berhenti berlari dan mendekap kepala Lin Lin sambil berbisik, “Lin-moi... Lin-moi... kau kenapakah...?”

Untuk sejenak Lin Lin tak menjawab, hanya memandang pada wajah Cin Hai seolah-olah baru sadar dari mimpi, lalu tangannya merangkul leher Cin Hai dan dia mulai menangis terisak-isak di dada pemuda itu.

Cin Hai mendiamkannya saja dan sesudah tangis Lin Lin mereda, dia baru menurunkan tubuh kekasihnya itu, didudukkan di atas rumput, ada pun ia sendiri duduk di sebelahnya. Dia merasa heran melihat betapa tubuh Lin Lin kini pulih kembali seperti biasanya, hanya wajahnya masih nampak sangat pucat. Cin Hai memegang tangan Lin Lin dan bertanya lagi dengan wajah kuatir, “Lin-moi, kau kenapakah?”

“Hai-ko, syukur sekali kau keburu datang. Telah terjadi mala petaka hebat menimpa Suhu dan diriku.”

Cin Hai mengangguk. “Aku tahu bahwa Suhu telah ditawan oleh keparat itu. Anehnya, ketika aku hendak menolongnya, Suhu bahkan melarangku dan pergi dengan suka rela menjadi tawanan mereka!”

“Kau tidak tahu, Hai-ko. Suhu sengaja mengalah dan menurut menerima hinaan mereka hanya untuk menolong jiwaku.”

Terkejutlah Cin Hai mendengar ini dan teringatlah dia akan kata-kata Hai Kong Hosiang yang mengejek pada saat ia hendak pergi meninggalkan mereka. “Apa... apa maksudmu, Moi-moi...?”

Lin Lin menarik napas panjang lalu bercerita seperti berikut.

Semenjak ikut pergi dengan Bu Pun Su, Lin Lin memperdalam ilmu pedangnya di bawah pimpinan kakek jembel yang sakti itu. Mereka berdua lebih dulu singgah di dalam hutan dan membawa serta burung Merak Sakti dan Bangau Sakti, hingga kini di Goa Tengkorak itu terdapat tiga burung sakti, yaitu Sin-kong-ciak si Merak Sakti, Sin-kim-tiauw si Rajawali Emas dan Ang-siang-kiam si Bangau Sakti.

Gadis ini melatih diri dengan giat sekali dan sebentar saja dia sudah mencapai kemajuan yang luar biasa sehingga kalau dia memainkan pedang Han-le-kiam dengan ilmu pedang yang diciptakan oleh Cin Hai untuknya, maka gerakannya menjadi luar biasa hebatnya! Bu Pun Su sudah memperbaiki gerakan-gerakannya itu dengan gerakan yang sesuai dan tepat, disesuaikan dengan pedang yang pendek itu.

Pada suatu pagi, selagi Lin Lin berlatih seorang diri di luar goa karena gadis yang rajin ini setiap hari bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih seorang diri, datanglah rombongan Hai Kong Hosiang itu. Seperti juga Cin Hai, Lin Lin merasa terkejut dan heran sekali melihat bahwa pendeta jahat itu masih hidup. Dia melihat empat orang lain datang bersama Hai Kong Hosiang, yakni dua orang perwira Mongol, seorang pendeta Sakya Buddha serta seorang nenek tua yang aneh.

“Hai Kong si Jahat! Kau belum mampus?” teriak Lin Lin dengan terheran-heran.

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak mendengar ucapan ini hingga sebelah matanya yang kiri itu melotot dan mengeluarkan air mata!

“Kwee Lin, anak jahat! Kau bersama Pendekar Bodoh yang membuat aku menjadi begini, akan tetapi, Sang Buddha adalah adil dan bijaksana! Kau memaki aku jahat, akan tetapi sebetulnya kaulah yang jahat. Buktinya, walau pun aku sudah menggelundung ke dalam jurang, akan tetapi ternyata Sang Buddha masih melindungiku dan cabang-cabang pohon menangkap dan menolong nyawaku ketika aku tergelincir jatuh ke dalam jurang! Kini aku telah datang kembali dan aku harus mencongkel salah satu matamu sebelum kubunuh mampus kau dan Cin Hai untuk membalas dendamku. Ha-ha-ha!”

“Gundul keparat, jangan sombong!” Lin Lin dengan garang memaki.

Lin Lin sekarang bukanlah Lin Lin dulu, karena sekarang ia telah mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi apa bila dibandingkan dengan dulu. Setelah membentak, ia segera menyerang dengan pedang Han-le-kiam di tangannya.

Hai Kong memandang rendah dan menghadapi gadis itu hanya dengan tangan kosong, maksudnya hendak dengan satu dua jurus saja bisa menggulingkan gadis itu, akan tetapi kesombongannya ini hampir saja membuat nyawanya melayang!

Pada waktu Lin Lin menyerang dengan gerakan Ilmu Pedang Han-le-kiam yang diberi nama Ang-I To-hwa atau Ang I Niocu Memetik Kembang, pedang pendeknya membacok ke arah jidat yang licin dari hwesio itu dengan cepat sekali. Hai Kong Hosiang tersenyum sindir dan membentak keras, lalu mempergunakan tangan kiri menyambar dari samping ke arah pergelangan tangan Lin Lin untuk merampas pedang, sedangkan tangan kanan mengeluarkan jari telunjuk, ditotolkan ke arah mata kiri Lin Lin untuk mencongkel keluar mata itu.

Tak tahunya, Lin Lin tidak melanjutkan serangannya dan secepat kilat ujung Han-le-kiam telah dibalikkan hingga dari gerakan membacok jidat berubah menjadi tusukan ke bawah mengancam tenggorokan hwesio itu dengan gerakan Cin Hai Membacok Kayu! Ada pun untuk menghadapi tusukan telunjuk Hai Kong ke arah matanya, Lin Lin mengelak sambil merendahkan tubuh dan tangan kirinya tidak mau tinggal diam akan tetapi membarengi gerakan pedangnya mengirim pukulan ke arah dada kiri Hai Kong Hosiang dengan ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang dilakukan dengan sepenuh tenaga!

Bukan main terkejutnya hati Hai Kong Hosiang saat melihat perubahan yang tak pernah disangka-sangkanya ini. Kalau saja ia tak memandang rendah dan berlaku hati-hati tentu takkan mudah dibikin terkejut oleh serangan ini, biar pun serangan Lin Lin ini benar-benar merupakan gerakan silat yang tinggi tingkatnya.

Akan tetapi karena tadinya memandang rendah dan tidak menyangka, Hai Kong Hosiang hanya dapat mengelak dari serangan pedang ke arah tenggorokannya saja, yaitu dengan jalan miringkan tubuh ke kiri. Akan tetapi menghadapi pukulan Pek-in Hoat-sut itu, ia tidak keburu berkelit lagi tetapi hanya dapat memutar dada dan menerima pukulan itu yang kini tak mengenai dada kiri, akan tetapi mengenai dada kanannya!

Hai Kong Hosiang berseru kaget lagi dan untung ia telah merasai hebatnya angin pukulan yang panas sehingga telah mengerahkan lweekang-nya ke arah dada kanan, kalau tidak pasti akan pecahlah dadanya! Tubuhnya terpental ke belakang, dan meski pun dia masih dapat mencegah tubuhnya terhuyung dan jatuh, akan tetapi dada kanannya masih terasa panas dan ketika ia melihat, ternyata kulit dadanya telah menjadi biru!

Ia mengeluarkan keringat dingin, karena kalau tadi pukulan itu mengenai dada kiri, pasti jantungnya akan terluka! Dia merasa bergidik memikirkan bagaimana gadis ini sekarang telah mempunyai ilmu kepandaian sehebat itu.

Sedangkan Lin Lin yang melihat betapa pukulan dari Ilmu Pek-in Hoat-sut yang ampuh itu tak dapat merobohkan Hai Kong Hosiang, juga menjadi terkejut dan maklum bahwa ilmu kepandaian hwesio ini telah mencapai tingkat tinggi yang sukar diukur lagi! Dia menjadi nekat dan kembali maju menyerang dengan keras, sedangkan Hai Kong Hosiang yang merasa marah segera mencabut senjatanya yang masih seperti dulu, yaitu tongkat dari tubuh ular kering, akan tetapi ular ini sekarang berwarna hijau dan mengerikan sekali.

Sambil membentak marah Hai Kong Hosiang menyambut terjangan Lin Lin dan mereka pun bertempur dengan serunya. Pendeta Sakya Buddha kawan Hai Kong Hosiang yang melihat betapa gagah gadis itu sehingga mampu mempertahankan diri dari serangan Hai Kong Hosiang dengan baiknya, menjadi habis sabar dan cepat maju mengeroyok sambil mainkan pedangnya yang juga lihai.

Pada saat Lin Lin bertempur dikeroyok dua dengan serunya, terdengar suara dari dalam goa, “Siancai... siancai….” dan muncullah tubuh Bu Pun Su dengan langkah tenang dan perlahan. “Aha, Hai Kong... engkaukah yang kembali datang mengacau? Mundurlah dan jangan bermuka tebal mengeroyok seorang gadis muda!”

Sambil berkata, Bu Pun Su membuat gerakan mendorong dengan tangan kanannya ke arah Hai Kong Hosiang dan pendeta baju merah itu, dan terkejutlah Hai Kong Hosiang serta kawannya karena dorongan ini benar-benar merupakan angin puyuh yang membuat mereka terhuyung mundur.

Lin Lin juga menahan pedangnya dan berdiri sambil memandang suhu-nya, karena pada saat itu terjadi hal yang aneh. Setelah mendorong Hai Kong dan pendeta Sakya Buddha tadi, kini Bu Pun Su berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada nenek yang tak bersepatu itu, dan berseru perlahan, “Wi Wi... kau datang juga...?”

Nenek itu tersenyum menyindir, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar merdu dan halus bagaikan suara seorang nyonya bangsawan terpelajar, “Lu Kwan Cu, di manakah ada perceraian yang kekal?”

“Wi Wi, tak kusangka bahwa kau masih hidup...”

“Kau sendiri masih betah tinggal di dunia, mengapa aku tidak?”

Melihat sikap Bu Pun Su yang agaknya takut-takut terhadap nenek itu dan mendengar percakapan mereka yang aneh ini, Lin Lin berdiri bengong dengan seluruh perhatiannya tertuju kepada suhu-nya dan nenek itu, hingga ia tidak menduga datangnya bencana dari pihak Hai Kong Hosiang.

Pada waktu melihat gadis yang gagah itu berdiri bengong, pendeta Sakya Buddha lalu mengayun tangannya dan belasan batang jarum hitam segera menyambar ke arah dada dan leher gadis itu.

Lin Lin telah mempunyai perasaan dan pendengaran yang amat halus dan tajam, maka kedatangan belasan batang jarum yang menyambar ke arahnya itu meski tidak dilihatnya tetapi dapat ditangkap oleh telinganya, maka ia menjadi terkejut sekali. Tak ada lain jalan baginya selain menggulingkan tubuh di atas tanah sehingga dengan demikian sambaran jarum-jarum itu mengenai tempat kosong dan ia dapat menghindarkan diri.

Akan tetapi dia tidak menyangka bahwa ketika itu, Hai Kong Hosiang menunjuk dengan tongkat ularnya yang ketika ditekannya segera memuntahkan jarum-jarum hijau ke arah tubuh Lin Lin yang masih bergulingan! Lin Lin mencoba berkelit, akan tetapi datangnya jarum-jarum yang lihai dan cepat itu sukar sekali dikelit atau ditangkis, maka meski pun gerakan Lin Lin cukup cepat, sebatang jarum hijau masih berhasil mengenai leher!

Lin Lin sudah mengerahkan lweekang-nya untuk membuat kulit dan dagingnya mengeras hingga jarum halus itu tidak sampai menancap seluruhnya dan ia segera melompat dan mencabut jarum itu, lalu dengan marahnya hendak menyerang Hai Kong Hosiang. Akan tetapi, tiba-tiba ia merasa pening dan menjerit keras terus roboh tak berdaya. Tubuhnya terasa panas dan lumpuh, sedangkan kepalanya pening sekali.

Ia masih melihat betapa Bu Pun Su menjadi kaget dan marah. Tadi kalau kakek itu tidak sedang terheran-heran dan seluruh perhatiannya tertarik dan hatinya tergoncang karena perjumpaannya dengan nenek itu, pasti dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk menolong Lin Lin.

Akan tetapi, keadaan kakek jembel itu tadi seperti seorang yang kena hikmat dan tidak ingat apa-apa. Bahkan ketika Lin Lin diserang oleh Hai Kong dan pendeta baju merah, ia tidak tahu atau mendengar sama sekali. Setelah Lin Lin menjerit dan roboh, barulah ia sadar dan cepat memandang.

“Hai Kong, pengecut berbatin rendah!” dia berteriak marah sambil menggerakkan kedua tangannya.

Kalau dua tangan Bu Pun Su itu jadi diangkat dan digerakkan ke arah Hai Kong Hosiang, entah nasib apakah yang akan dialami pendeta gundul itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nenek itu dengan halus akan tetapi nyaring.

“Lu Kwan Cu, jangan bergerak!”

Bu Pun Su memandang, kemudian melangkah mundur dengan muka pucat. Kini nenek itu memegang sebatang tusuk konde terbuat dari pada perak yang berbentuk naga indah sekali dan bermata intan, lantas diangkatnya tusuk konde itu tinggi-tinggi sambil matanya memandang ke arah Bu Pun Su dengan tajam. Lemaslah tubuh kakek itu dan dia cepat menurunkan kembali kedua tangannya.

“Wi Wi, kau hendak mempergunakan itu untuk membela kejahatan?” bisiknya.

“Kwan Cu, apakah kau yang sudah tua bangka ini hendak melanggar sumpahmu?”

Bu Pun Su menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak akan melanggar sumpahku biar pun tubuhku akan hancur lebur. Apakah yang kau kehendaki, Wi Wi?”

“Kehendakku yang harus kau turuti adalah kau tidak boleh mengganggu kawan-kawan ini selama mereka berada di sampingku!”

Bu Pun Su menarik napas panjang dan mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, baik, aku takkan mengganggu mereka selama mereka berada di sampingmu!” ia berjanji.

Nenek itu tersenyum dan menyimpan kembali tusuk kondenya yang begitu berpengaruh terhadap Bu Pun Su itu. Sedangkan kakek jembel itu dengan muka penuh kecemasan lalu menghampiri Lin Lin yang masih rebah miring dan memandang semua peristiwa itu dengan mata terbelalak heran. Bu Pun Su memeriksa luka di leher Lin Lin dan ketika dia meraba luka bintik warna hijau itu, dia menjadi terkejut sekali.

“Hai Kong, kau kejam sekali!” katanya sambil memandang kepada hwesio gundul yang berdiri sambil tersenyum penuh kepuasan.

“Bu Pun Su, jembel tua! Tahukah kau racun apa yang mengancam jiwa gadis ini?” tanya Hai Kong Hosiang dengan senyum sindir.

“Kau telah mempergunakan racun Ular Hijau yang hidup di Mongolia. Alangkah kejamnya hatimu!” kata Bu Pun Su.

“Ha-ha-ha. Matamu masih cukup awas!” Hai Kong Hosiang menyindir. “Tahukah kau cara bekerjanya racun itu? Ha-ha-ha! Racun Ular Hijau bekerja lambat akan tetapi pasti. Dan tidak ada obat di dunia yang dapat menyembuhkan orang yang terkena racun itu. Gadis ini hanya akan hidup selama seratus hari lagi. Keadaannya akan biasa saja, tidak merasa sakit apa-apa asalkan dia jangan merasa kuatir. Kalau dia merasa kuatir, racun itu akan lebih hebat kerjanya dan akan menyerang jantungnya hingga ia akan jatuh pingsan! Akan tetapi hal itu pun tidak berbahaya, dan pendeknya, ia akan hidup sampai seratus hari lagi. Ha-ha-ha!”

“Hai Kong, demi KeTuhanan dan Perikemanusiaan, janganlah kau sekejam itu. Aku tahu bahwa untuk racun ini ada sejenis obat di Mongolia dan kau yang bermain-main dengan racun ini tentu mempunyai pula obat penyembuhnya. Berikanlah obat itu untuk menolong nyawa muridku ini!”

“Ha-ha-ha-ha! Enak saja kau bicara, pengemis tua!” Hai Kong menjadi berani karena dia maklum bahwa kakek jembel itu berada di dalam kekuasaannya. “Aku tidak begitu bodoh untuk membawa-bawa obat itu bersamaku. Obat itu berada di suatu empat yang aman!”

“Hai Kong, aku minta kepadamu, serahkan obat itu untuk menolong dia! Aku sudah tua dan tak akan lama lagi hidup di dunia. Aku tidak takut akan kematian, akan tetapi dia ini masih muda dan masih berhak untuk hidup lebih lama lagi. Berikanlah obat itu dan aku berjanji hendak melakukan apa saja yang kau minta, asal bukan kejahatan yang harus kulakukan!” kata lagi Bu Pun Su dengan suara mengandung permohonan.

Melihat dan mendengar semuanya ini, Lin Lin segera bangkit duduk dan pada saat itu, agaknya serangan racun di tubuhnya sudah banyak mengurang.

“Suhu, teecu tidak takut mati. Biarlah teecu diancam bahaya maut, tidak apa. Akan tetapi perkenankan teecu mengadu jiwa dengan pendeta rendah budi itu!”

Bu Pun Su menggelengkan kepala. “Jangan, muridku. Bukan saatnya, jangan gunakan kekerasan...” kemudian ia memandang kepada Wi Wi Toanio, nenek yang aneh itu. “Wi Wi, sekarang apakah kehendakmu lagi?”

“Kau harus ikut dengan kami dan membantu kami mendapatkan harta pusaka terpendam di goa Tun-huang.”

“Hanya itukah?”

“Ya, hanya itu dan setelah berhasil mendapatkan harta itu, kau boleh bebas. Akan tetapi ketahuilah bahwa pihak Turki dan juga Kaisar mencari-cari pula harta itu dan kau harus melindungi kami melawan dan mengundurkan mereka!”

“Aku menurut, Wi Wi, akan tetapi hanya dengan satu syarat, tanpa dipenuhinya syarat itu, aku tak akan menurut, biar pun dengan berbuat demikian berarti aku melanggar sumpah! Marilah kita masuk ke dalam goaku dan di sana kita bicarakan hal ini lebih mendalam pula.”

Sambil menuntun tangan Lin Lin, Bu Pun Su mendahului rombongan itu memasuki Goa Tengkorak.

“Lin Lin kau beristirahatiah dalam kamar hio-louw itu dan bersemedhilah dengan tenang, membersihkan pernapasanmu supaya racun yang menyerangmu itu tidak begitu keras jalannya,” katanya kepada Lin Lin tanpa mempedulikan suara ketawa Hai Kong Hosiang yang mengejeknya.

Lin Lin melontarkan pandang mata membenci ke arah pendeta gundul itu, lalu ia mentaati perintah suhu-nya dan masuk ke dalam kamar hiolouw lalu bersila dan mengatur napas. Akan tetapi, ia memasang telinganya dan mendengarkan semua percakapan mereka.

Akhirnya diputuskan oleh Bu Pun Su, Hai Kong Hosiang, dan Wi Wi Toanio, bahwa Bu Pun Su harus membantu mereka mendapatkan harta pusaka itu, kemudian apa bila harta pusaka itu telah jatuh ke dalam tangan mereka, barulah Hai Kong Hosiang akan memberi obat penyembuh racun yang menguasai Lin Lin.

Mendengar percakapan itu, Lin Lin merasa terhina sekali dan dia juga merasa penasaran mengapa Bu Pun Su menjadi sedemikian lemah dan tidak berdaya terhadap nenek itu? Apakah nenek itu lebih lihai dari pada Bu Pun Su? Andai kata lebih lihai juga, mungkinkah suhu-nya bersikap demikian pengecut dan takluk tanpa mengadakan perlawanan terlebih dulu? Ia menjadi gelisah dan duduknya tidak bisa diam.

Tiba-tiba terdengar Bu Pun Su berkata, “Lin Lin, aku tahu mengapa kau merasa gelisah dan penasaran.” Kemudian, kakek yang lihai ini lalu berkata kepada Wi Wi Toanio, “Wi Wi, jangan kau membuat aku dipandang rendah oleh muridku sendiri. Kalau kau tak mau menceritakan riwayat kita berdua hingga terdengar muridku dengan jelas, jangan harap kau akan dapat membawaku ke barat untuk mencari harta pusaka itu.”

“Apa?” nenek itu berseru heran. “Kau tidak takut rahasia kita itu kubongkar?”

“Apakah yang kutakuti lagi? Nama buruk? Biarlah, aku sudah tak bernama lagi,” jawab Bu Pun Su.

“Tidak akan merasa malukah kau?”

“Di manakah letaknya malu? Perbuatan yang sudah dilakukan tak perlu disimpan-simpan! Telah puluhan tahu kita menyimpan rahasia itu, lebih baik sekarang dibuka sebelum kita mati.”

“Tetapi... tetapi mengapa kau masih tunduk kepadaku apa bila kau tidak takut rahasia itu terbongkar?” nenek itu suaranya mengandung gelora penuh keheranan dan kejutan.

Bu Pun Su tersenyum. “Itulah rahasiaku sendiri, Wi Wi. Sekarang ceritakanlah semuanya dengan jelas sebelum kita berangkat.”

Dengan suara gemetar, berceritalah nenek yang aneh itu…..

Dulu ketika muda dan masih berusia dua puluh lima tahun, Bu Pun Su bernama Lu Kwan Cu, muda, tampan, dan gagah. Ilmu kepandaiannya amat tinggi hingga pada masa itu ia menjagoi di seluruh daerah dan merupakan pendekar yang ditakuti para penjahat.

Karena kakeknya, Perdana Menteri Lu Pin, menderita akibat pemberontakan An Lu Shan, maka Lu Kwan Cu membenci semua orang Tartar dan mencari mereka untuk dibunuhnya sebagai pembalasan dendamnya. Yang terutama dicarinya adalah keturunan An Lu Shan yang bernama An Kai Seng dan yang sudah menjadi orang Han semenjak kawin dengan seorang gadis Han yang cantik.

An Kai Seng sendiri biar pun berkepandaian tinggi, namun merasa takut sekali kepada Lu Kwan Cu yang mencari-carinya, hingga diam-diam ia melatih diri bersama isterinya, yaitu yang bernama Wi Wi, seorang gadis Han yang masih berdarah Tartar juga dan yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akhirnya Lu Kwan Cu berhasil menjumpai mereka dan walau pun dikeroyok oleh banyak kawan-kawan An Kai Seng namun tak seorang pun dapat menghadapinya. An Kai Seng menjadi gelisah dan takut sekali hingga tiba-tiba muncullah isterinya, yaitu Wi Wi Toanio yang cantik.

Melihat suaminya berada dalam bahaya, Wi Wi Toanio lalu menggunakan kecantikannya untuk menggoda hati Lu Kwan Cu dan sengaja memancingnya dan menantangnya untuk mengadu jiwa di dalam sebuah hutan antara pendekar itu dan Ang Kai Seng suami isteri. Tantangan ini tentu saja diterima oleh Lu Kwan Cu dengan baik, dan ketika pendekar muda ini pergi ke hutan itu pada saat yang telah ditetapkan, dia hanya menjumpai Wi Wi seorang diri.

Wi Wi mempergunakan segala kecantikannya untuk memikat dan menjatuhkan hati Lu Kwan Cu dengan cara yang tak patut dituturkan di sini. Pendeknya, tahu sendirilah…

Lu Kwan Cu adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam hubungan dengan wanita dan darah mudanya langsung menggelora ketika dia menghadapi Wi Wi yang cantik dan pandai menggairahkan hatinya itu. Keteguhan imannya runtuh dan bagaikan tak sadar ia menuruti kehendak wanita itu bagaikan seekor ikan bodoh yang tidak tahu akan bahaya umpan pancing!

Sejak saat itu, ia jatuh bertekuk lutut di depan Wi Wi yang cantik dan menjadi tergila-gila. Sering kali mereka mengadakan pertemuan rahasia, dan Lu Kwan Cu sama sekali tidak sadar bahwa dia sudah melakukan perbuatan terkutuk dan melanggar kesusilaan dengan isteri orang lain, bahkan isteri musuh besarnya yang tadinya akan dibunuhnya!

Semenjak saat itu, jangankan bercita-cita membunuhnya, bahkan segala permintaan Wi Wi diturutinya belaka. Ini masih belum hebat, yang celaka sekali ialah ketika dia memberi sebatang tusuk konde kepada wanita itu pada saat dia mengucapkan sumpahnya bahwa selama hidupnya, ia akan menurut pada segala perkataan wanita yang juga bersumpah ‘mencintanya’ itu, dan tusuk konde itu menjadi saksi.

Lu Kwan Cu benar-benar mabok asmara dan tergila-gila. Dia percaya sepenuh hatinya bahwa Wi Wi benar-benar mencintainya dengan setulus hati.

Akhirnya, ketika pada suatu hari dia mengadakan pertemuan dengan Wi Wi di hutan, dia mendengar gerakan orang. Cepat dia melompat dan menangkap orang itu yang ternyata bukan lain adalah Ang Kai Seng sendiri yang mengintai. Dia hendak memukulnya, akan tetapi tiba-tiba Wi Wi mengeluarkan tusuk konde itu dan minta dia melepaskan suaminya!

Bukan main terkejut dan herannya hati Lu Kwan Cu melihat akan hal ini. Ternyatalah kini bahwa tanpa terduga-duga sekali, An Kai Seng sudah mengetahui akan perhubungan itu, dan bahkan dengan berani sekali Wi Wi mengeluarkan tusuk konde pemberiannya itu di depan suaminya untuk menolong suami itu.

Terbukalah matanya bahwa agaknya An Kai Seng dengan sengaja merencanakan hal itu bersama isterinya, yaitu sudah menggunakan isterinya yang cantik sebagai umpan untuk menjebaknya! Dalam takutnya, An Kai Seng beserta isterinya sudah menjalankan siasat keji dan rendah itu untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Hancurlah hati Lu Kwan Cu melihat kenyataan ini, akan tetapi dia adalah seorang gagah yang selalu menetapi janji. Oleh karena dia sudah berjanji kepada Wi Wi terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu.

Semenjak itu, dia lalu menjauhkan diri dari Wi Wi yang merupakan bahaya besar baginya itu. Ia takut kalau-kalau Wi Wi mempergunakan tusuk konde yang mempunyai kekuasaan besar itu untuk memerasnya dan memaksanya membantu wanita itu melakukan hal-hal yang jahat!

Maka dia melarikan diri dan merantau jauh meninggalkan tempat itu, bahkan lalu beralih nama menjadi Bu Pun Su dan bertapa di sebuah pulau kosong, yaitu Pulau Kim-san-to! Ia menyangka bahwa wanita itu tentu telah mati. Tetapi tidak tahunya, setelah menjadi tua, tiba-tiba saja wanita iblis itu kembali muncul lagi membuat gara-gara hingga terpaksa dia memegang teguh sumpah dan janjinya dulu dan terpaksa membiarkan Lin Lin terluka dan terancam bahaya maut pula.

Setelah Wi Wi Toanio menceritakan semua ini yang tidak saja didengarkan oleh Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya, akan tetapi juga oleh Lin Lin, lantas terdengar Bu Pun Su menarik napas panjang dan berkata,

“Tepat sekali ujar-ujar Nabi Khong Cu yang berbunyi, Pok-hian-houw-in, Bok-hian-houw-bi, Koh-kuncu-sin-ki-tok-ha! (Tidak ada yang lebih jelas dari pada yang tersembunyi, dan tak ada yang lebih tegas dari pada yang paling lembut. Maka seorang budiman selalu berhati-hati terhadap hal yang tersembunyi). Ujar-ujar ini jelas memperingatkan manusia akan bahayanya musuh yang bersembunyi di dalam hati dan pikiran sendiri. Segala hal yang diperbuat oleh lahir, selalu datangnya dari dalam, bagaikan munculnya tunas yang mekar terdorong oleh suatu tenaga yang keluar dari dalam cabang! Hemm, usia muda memang penuh bahaya!”

Setelah berkata demikian, Bu Pun Su lalu berkata kepada Lin Lin, “Muridku, kau telah mendengar hal itu semua, dan kau tentu mengerti mengapa aku tidak dapat melanggar sumpah sendiri. Kau tenanglah dan tunggu saja di sini dengan baik-baik bersama tiga burung kita, tunggu sampai aku kembali membawa obat penawar lukamu!”

Setelah berkata demikian, pergilah mereka meninggalkan Goa Tengkorak meninggalkan Lin Lin seorang diri di kamar hio-louw itu. Dan di dalam hatinya, Lin Lin merasa berkuatir sekali, bukan kuatir terhadap diri sendiri, karena Lin Lin berhati tabah dan tidak takut mati, akan tetapi dia menguatirkan keadaan suhu-nya. Ia lupa bahwa ia tidak boleh mempunyai perasaan kuatir, maka begitu perasaan itu mendesak jantungnya, ia menjerit keras lantas jatuh pingsan!

Dan kemudian datanglah Cin Hai menemukannya dalam keadaan masih pingsan!

Cin Hai mendengarkan penuturan itu dengan sangat tertarik, gelisah dan terharu. Jarang terdapat orang seperti suhu-nya. Gagah perkasa, memegang teguh sumpahnya, sungguh pun sumpah terhadap seorang jahat, tetapi rela mengorbankan dirinya demi keselamatan muridnya!

“Apa bila demikian halnya, kau harus menenangkan hatimu, Lin-moi. Seratus hari adalah waktu yang cukup banyak bagi kita untuk berusaha mencari obat bagimu. Meski pun aku percaya penuh kepada Suhu bahwa dia tentu akan berhasil membawa obat penyembuh itu, akan tetapi, terlebih baik pula kalau kita tidak tinggal diam dan marilah kita juga pergi ke Kansu untuk menyusul mereka. Jangan kau kuatir, Adikku, aku telah berada di sisimu dan demi Tuhan Yang Maha Agung, kau pasti akan tertolong.”

Lin Lin tidak membantah kehendak Cin Hai. Lagi pula, baginya ke barat tiada bedanya dengan ke timur atau ke mana pun, selama dia berada bersama kekasihnya. Malam itu mereka berkemas dan tidur di Goa Tengkorak, Cin Hai di ruang depan di mana terdapat banyak patung tengkorak sedangkan Lin Lin di ruang hio-louw.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali saat sinar matahari masih berwarna kemerahan, sepasang kekasih itu keluar dari goa, mulai melakukan perjalanan jauh mengejar suhu mereka menuju Kansu di barat sana. Mereka sengaja hendak meninggalkan tiga burung peliharaan mereka karena selain harus menempuh perjalanan jauh, juga mereka belum tahu akan mati hidup diri sendiri. Sesudah berjalan sejauh sepuluh li, mereka mulai keluar dari hutan yang mengelilingi Goa Tengkorak.

Pada saat itu pula, di udara nampak tiga titik hitam yang melayang turun dan tidak lama kemudian, tiga burung yang menjadi kawan Lin Lin, yaitu Merak Sakti, Rajawali Emas, dan Bangau Sakti, menyambar turun dan berdiri di dekat mereka sambil mengeluarkan suara riuh rendah, seakan-akan menegur mereka mengapa meninggalkan begitu saja.

“Marilah kalian ikut kami pergi ke barat,” kata Lin Lin.

Cin Hai lalu melanjutkan perjalanan bersama Lin Lin menuju ke barat, diikuti oleh ketiga burung sakti yang terbang tinggi di atas udara. Mengingat akan keadaan Lin Lin, Cin Hai diam-diam merasa berduka dan gelisah, sedangkan Lin Lin yang mengetahui keadaan kekasihnya itu, menghiburnya dengan berlaku riang gembira dan jenaka hingga Cin Hai merasa terhibur juga.

Melihat sikap Lin Lin, seakan-akan ia tidak menderita sakit apa-apa. Dan memang benar ucapan Hai Kong Hosiang bahwa racun Ular Hijau itu sangat halus kerjanya hingga orang yang terkena seakan-akan tidak merasa apa-apa padahal orang itu makin hari semakin mendekati maut!

Dalam usahanya menghibur Cin Hai, Lin Lin bahkan mempergiat latihan pedangnya. Cin Hai bukanlah seorang pemuda yang berhati lemah dan bersemangat kecil, maka dia pun segera dapat melupakan kekuatirannya. Sikap Lin Lin yang gembira ini banyak menolong Cin Hai, bahkan dia lalu sadar bahwa mestinya dialah yang harus memperlihatkan sikap gembira supaya kekasihnya itu tidak memikirkan keadaan dirinya dan tidak timbul rasa kuatir, perasaan yang menjadi pantangan bagi Lin Lin itu. Maka dengan gembira dia pun lalu membantu dan memberi petunjuk-petunjuk sehingga ilmu pedang Lin Lin kini menjadi semakin maju saja.

Cin Hai tidak mau menceritakan kepada Lin Lin tentang tewasnya Biauw Suthai dan Pek Toanio karena dia maklum bahwa hal ini akan membahayakan kesehatannya. Bahkan dia sengaja mengambil jalan memutar dan tidak mau melalui dusun di mana kedua pendekar wanita itu tewas.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kita mengikuti keadaan Ang I Niocu yang ditinggal seorang diri oleh Cin Hai yang pergi memberi laporan kepada Bu Pun Su. Dara Baju Merah itu menanti kembalinya Cin Hai sambil menjaga goa rahasia tempat harta pusaka itu, juga sambil menunggu datangnya rombongan Kwee An, Ma Hoa, beserta Nelayan Cengeng yang juga menuju ke Kansu dengan mengambil jalan lain.

Pada suatu hari, karena merasa kesal tidak ada kawan dan tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan, Ang I Niocu lalu keluar dan pergi berjalan-jalan di sekeliling ibu kota Lan-couw yang sangat ramai.

Daerah Kansu adalah daerah bagian barat daratan Tiongkok dan di sana banyak terdapat suku-suku bangsa, bahkan banyak pula orang-orang asing yang berdagang di situ. Oleh karena ini, maka banyak sekali nampak pemandangan-pemandangan yang ganjil, yaitu jalan-jalan penuh orang-orang yang mengenakan pakaian bermacam ragam dan warna. Banyak pula wanita-wanita suku Hui dan lain-lain yang berwajah manis dengan pakaian mereka yang berbeda dengan pakaian orang-orang Han.

Akan tetapi, pada saat Ang I Niocu berjalan-jalan dengan pakaiannya yang serba merah, langkahnya yang gagah, tubuhnya yang ramping dan wajahnya yang cantik jelita itu, dia merupakan pemandangan yang amat mencolok mata dan yang jarang dapat terlihat oleh orang-orang di sana. Oleh karenanya hampir semua mata memandang Dara Baju Merah itu dengan penuh kekaguman.

Akan tetapi Ang I Niocu sudah terbiasa dengan pandangan-pandangan mata seperti ini. Maka, dia tidak mengacuhkannya sama sekali, seakan-akan mereka semua itu hanyalah patung-patung batu yang memandangnya tanpa berkedip.

Saat lewat di depan sebuah toko yang menjual barang-barang kuno, Ang I Niocu teringat akan cawan tertutup yang menjadi penunjuk jalan baginya dan Cin Hai untuk menemukan rahasia goa rahasia itu. Dia teringat betapa anehnya dia mendapatkan cawan berukir itu, yaitu dari seorang gila!

Ketika itu dia sedang berjalan menuju ke Kansu, yaitu sebelum bertemu dengan Cin Hai. Tiba-tiba dia melihat seorang yang berpakaian tak karuan dan hampir telanjang duduk di tepi jalan, tertawa-tawa seorang diri. Orang itu adalah seorang Turki sudah tua, dan yang amat aneh adalah biar pun pakaiannya compang-camping tidak karuan dan keadaannya menunjukkan kemiskinan yang sangat besar, namun dia memegang sebuah cawan perak yang indah sekali!

Pada saat Ang I Niocu sedang memandang dengan terheran-heran, datanglah tiga orang bangsa Hui yang mendekati orang gila itu dengan mata melirik ke sana ke mari. Melihat bahwa tempat itu sunyi dan hanya ada seorang gadis baju merah berdiri di tempat yang agak jauh, ketiga orang itu lalu maju dan hendak merampas cawan perak itu.

Si Gila lalu berteriak-teriak, berdiri dan menendang-nendang, mencakar-cakar melakukan perlawanan, sambil mulutnya mengomel, “Pergi, pergi! Kalian tidak berhak mendapatkan harta pusaka ini! Pergi!”

Seorang di antara ketiga orang yang hendak merampas cawan itu lalu mengubah siasat dan sambil tersenyum dia berkata,

“Kakek sinting, biarlah kami menukarnya dengan uang untuk membeli nasi!” orang itu lalu mengeluarkan uang perak beberapa potong.

Akan tetapi orang gila itu mendekap cawan itu erat-erat sambil terus memaki. “Perampok-perampok, pergi! Aku tidak butuh uang! Harta pusaka ini milikku!”

Tiga orang itu menubruk hendak merampas cawan, namun tiba-tiba mereka roboh sambil merintih-rintih. Ternyata Ang I Niocu telah bertindak karena kasihan kepada orang gila itu.

Tiga orang laki-laki bangsa Hui itu kembali bangkit dan hendak menyerang, akan tetapi kembali tubuh Ang I Niocu bergerak cepat dan sebelum mereka tahu apakah yang terjadi dan menimpa diri mereka, tahu-tahu ketiga orang itu sudah terlempar lagi dengan tubuh sakit-sakit! Mereka memandang dengan mata terbelalak ketakutan seakan-akan melihat setan di tengah hari, lalu berlari pergi secepat kaki mereka dapat bergerak!

Orang gila itu menghampiri Ang I Niocu dan karena orang itu bertubuh tinggi sekali, maka ketika dia mengulurkan kedua tangannya yang kotor ke atas kepala Ang I Niocu, kedua tangan itu menumpang di atas kepala gadis itu, seakan-akan seorang pendeta memberi berkah.

“Kau gagah, ha-ha, mereka lari pontang-panting, ha-ha-ha! Kau patut menjadi ratu, patut memiliki harta pusaka itu. Ini, kau terimalah harta pusaka yang tak ternilai harganya!” Dia memberikan cawan perak itu kepada Ang I Niocu yang menerimanya dengan heran.

“Untuk apa cawan ini?” tanyanya.

Orang gila itu memandangnya dengan marah. “Untuk apa katamu? Itu bukanlah cawan. Bodoh, menyebut harta pusaka sebagai cawan biasa!” Si Gila itu kemudian pergi dengan langkah lebar dan terdengar ia bernyanyi dalam bahasa Turki yang tidak karuan.

Ang I Niocu mengamat-amati cawan itu dan melihat ukir-ukiran yang indah, hingga timbul rasa sayangnya. Dia lalu memasukkan cawan itu ke dalam saku dan tidak tahu maksud ucapan orang gila itu hingga ia bertemu dengan Cin Hai yang membawa tutup cawannya.

Demikianlah, sambil mengenangkan semua kejadian ini, Ang I Niocu tak sengaja berhenti di depan toko barang antik itu sambil melamun. Tiba-tiba saja dia melihat dua orang Turki berkelebat masuk ke dalam toko dan ketika seorang di antara mereka memandang keluar toko, maka nampak wajahnya yang dibayangi ketakutan hebat!

Ang I Niocu menjadi tertarik dan curiga, maka ia segera melompat ke pinggir rumah dan terus mengintai dari atas genteng. Ia melihat dua orang itu bicara dengan seorang Turki lainnya dan agaknya mereka membicarakan hal-hal yang mengandung rahasia.

Akan tetapi hanya ada sebuah kata saja yang dimengerti oleh Ang I Niocu karena mereka bicara dalam bahasa Turki, yaitu kata-kata mereka ‘Yousuf’! Kata-kata ini cukup untuk membuat ia memperhatikan mereka baik-baik dan ketika ketiga orang itu keluar dari luar rumah melalui pintu belakang lalu berlari-lari cepat, dia segera mengikuti mereka dengan diam-diam.

Dengan mudah ia dapat mengikuti ketiga orang itu tanpa mereka mengetahuinya. Untuk beberapa lama ketiga orang itu masuk keluar hutan hingga kemudian sampai di sebuah perkampungan kecil di mana terdapat banyak rumah-rumah model Turki.

Tiga orang Turki itu masuk ke dalam rumah yang terbesar. Ang I Niocu segera melompat naik ke atas genteng dari bagian belakang dan menuju ke wuwungan di sebelah tengah. Ia membuka genteng dan mengintai ke dalam dengan hati-hati. Dilihatnya ketiga orang tadi masuk ke dalam sebuah ruangan yang kebetulan sekali berada tepat di bawahnya. Di dalam ruangan yang lebar itu nampak duduk dua orang Turki.

Seorang di antara mereka telah tua sekali, dan yang seorang lagi setengah tua, sikapnya gagah. Juga kakek yang sudah sangat tua dan rambutnya sudah putih semua sehingga menimbulkan kontras yang mencolok dengan kulitnya yang hitam, nampak lemah lembut akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam berpengaruh.

Setelah melihat mereka, ketiga orang Turki itu segera maju dan memberi hormat dengan membungkukkan tubuh dalam-dalam dengan kedua tangan di depan. Mereka bertiga lalu bicara seakan-akan membuat laporan kepada dua orang itu. Tidak lama kemudian, orang setengah tua tadi menjawab dengan beberapa kalimat yang agaknya memberi perintah, karena setelah mendengar ucapan itu, tiga orang pendatang tadi lalu pergi lagi.

Tiba-tiba, orang setengah tua itu tertawa dan sambil menengok ke atas ke arah genteng yang dipijak oleh kaki Ang I Niocu ia berkata dalam bahasa Han yang lancar, “Sahabat yang berada di atas genteng, harap kau suka turun saja apa bila ada perlu dengan kami.”

Ang I Niocu terkejut sekali. Tidak pernah disangkanya bahwa orang itu dapat melihat atau mendengarkannya, dan selagi dia merasa ragu-ragu, tiba-tiba kakek rambut putih itu juga berkata,

“Nona berbaju merah agaknya Ang I Niocu! Kalau benar, kami persilakan turun karena kita masih kawan sendiri!”

Makin terkejutlah hati Ang I Niocu mendengar ini. Kalau laki-laki setengah tua itu hanya dapat mengetahui bahwa di atas genteng terdapat orang sedang mengintai, adalah kakek berambut putih itu bahkan tahu bahwa yang mengintai adalah seorang gadis baju merah, bahkan dapat menduga namanya dengan tepat! Ang I Niocu masih merasa ragu-ragu untuk turun, maka dia teringat sesuatu dan bertanya,

“Apakah seorang di antara Jiwi ada yang bernama Yousuf?”

Mendengar pertanyaan ini, laki-laki setengah tua itu berseri wajahnya dan sambil berdiri ia menjawab girang. “Akulah yang bernama Yousuf! Kalau begitu Nona tentu benar-benar Ang I Niocu adanya! Lihiap, silakan turun!”

Kini Ang I Niocu tidak merasa ragu-ragu lagi. Ia membuka beberapa potong genteng dan melayang turun sambil berkata, “Mohon dimaafkan sebanyaknya atas kelancanganku!”

Yousuf memandang kepada Nona Baju Merah itu dengan mata kagum, lalu dia menjura sambil berkata girang, “Betul, betul! Kau tentu Ang I Niocu. Aku telah lama mengenalmu dari penuturan anakku Lin Lin!”

Ang I Niocu menjadi girang sekali. “Dan aku pun sudah lama mengenal nama Yo-lopek dari kawan-kawan.”

Mendengar bahwa tanpa ragu-ragu lagi Ang I Niocu menyebut dirinya lopek (uwa) seperti Cin Hai, Kwee An dan yang lain-lain. Yousuf merasa girang sekali.

“Ang I Niocu, kedatanganmu ini bagiku laksana jatuhnya sebuah bintang dari langit! Kau disangka telah tewas di atas Pulau Kim-san-to sehingga melihat kesedihan kawan-kawan kita, aku sendiri merasa sangat berduka. Dan sekarang, tiba-tiba saja kau muncul dalam keadaan yang kebetulan sekali!”

Ang I Niocu memandang ke arah kakek berambut putih yang lihai tadi, lalu dia bertanya, “Siapakah Locianpwe yang terhormat ini?”

Kakek itu tertawa bergelak, kemudian menjawab, “Ang I Niocu, kau tentu belum pernah mendengar namaku, sungguh pun telah sering kali aku mendengar namamu dari muridku ini.”

“Ahh, kalau begitu Locianpwe tentu yang bernama Ibrahim!” kata Ang I Niocu.

Baik Ibrahim mau pun Yousuf menjadi tercengang. “Bagaimana kau bisa tahu, Lihiap?” tanya Yousuf heran.

Ang I Niocu lalu menceritakan pengalamannya, bahwa Cin Hai pernah bercerita tentang pertemuannya dengan guru Yousuf itu ketika Ibrahim menangkap ular.

Bukan main girangnya hati Yousuf pada saat mendengar bahwa Ma Hoa dan Kwee An berada dalam keadaan selamat pula, bahkan kini sedang menuju ke Lan-couw sehingga banyak kemungkinan dia akan bertemu dengan mereka kembali. Kalau tadinya dia masih agak muram wajahnya, kini dia menjadi riang gembira dan berkata,

“Lihiap, tadi kukatakan bahwa kedatanganmu ini seperti bintang jatuh dari langit, akan tetapi sekarang ternyata bahwa kau bukan merupakan bintang saja, bahkan seakan-akan bulan sendiri jatuh di pangkuanku! Kau tidak saja memperkuat fihakku, bahkan kau telah membawa berita yang sangat menggembirakan hatiku. Patut aku mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Tunggal.” Sambil berkata demikian, orang Turki itu mengangkat kedua tangan ke atas sebagai puji syukur kepada Tuhan.

“Sebenarnya, apakah yang sedang terjadi, Yo-lopek? Tadi aku melihat tiga orang itu dan aku merasa curiga. Ketika mendengar namamu disebut-sebut, aku lalu mengikuti mereka ke sini dan agaknya mereka membuat laporan. Ada apakah?” tanya Ang I Niocu yang sama sekali tak mengerti karena selama ini semua pembicaraan dilakukan dalam bahasa Turki.

Yousuf menarik napas panjang. “Sebetulnya hal yang sedang terjadi dan akan terjadi ini adalah urusan pribadi Turki sendiri. Akan tetapi, karena di sini terkandung juga soal-soal kejahatan, maka kami percaya bahwa kau tentu akan suka membantu kami. Orang-orang Turki yang berada di daerah ini terpecah menjadi dua golongan, yaitu pengikut-pengikut Pangeran Tua yang pada waktu ini masih menjadi raja di Turki, dan sebagian pula ialah pengikut-pengikut Pangeran Muda yang selalu menimbulkan kekacauan. Kami adalah para pengikut Pangeran Tua, kami selalu mengambil sikap baik dan bersahabat terhadap negerimu, akan tetapi politiknya yang bersahabat itu dikacau dan dirusak oleh Pangeran Muda yang selalu mencari perkara. Sekarang para pengikut Pangeran Muda itu bahkan memiliki maksud menyerbu ke pedalaman Tiongkok, dan mereka datang hendak mencari harta pusaka yang bukan menjadi hak orang Turki. Nah, kami para pengikut Pangeran Tua mendapat tugas untuk menghalangi maksud jahat ini, karena kalau maksud mereka itu terus dilanjutkan, yang akan menderita rugi adalah bangsa kami sendiri, karena tentu dianggap jahat oleh bangsamu. Kami bertugas menghalangi niat mereka mencuri harta pusaka itu, dan mencegah mereka melanjutkan usaha menyerbu ke wilayah Tiongkok!”

Ang I Niocu mengangguk-angguk maklum. “Kalau begitu, kau bersama kawan-kawanmu memang orang-orang gagah yang mulia, Yo-lopek. Aku pun pernah mendengar sedikit-sedikit tentang maksud orang-orang Turki itu, akan tetapi tak pernah menyangka bahwa ada dua rombongan yang bertentangan. Di fihak siapakah orang-orang seperti Siok Kwat Moli, Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin dan yang lain-lain itu berdiri?”

Tiba-tiba Ibrahim berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan gemas,

“Nah, itulah yang amat menyebalkan hati kami. Para pengikut Pangeran Muda itu sudah mempergunakan cahaya emas untuk menggunakan orang-orang jahat seperti mereka itu dalam usaha mereka yang rendah. Yang menyebalkan hati, bagaimana orang-orang Han sendiri sudi membantu usaha pengikut-pengikut Pangeran Muda yang memiliki maksud buruk terhadap negeri mereka sendiri?” Ibrahim menarik napas panjang.

Ang I Niocu tersenyum. “Tidak sangat aneh, Locianpwe. Iman yang lemah dikuasai hati, hati yang kotor dikuasai pikiran dan pikiran yang picik dikuasai oleh mata. Apa bila mata mereka sudah silau dan buta karena cahaya harta benda, kejahatan apakah lagi yang pantang bagi mereka?”

Ibrahim mengangguk-angguk. “Kau benar, kau benar...” lalu kakek rambut putih itu duduk melamun tidak mempedulikan lagi keadaan di sekelilingnya.

“Ang I Niocu,” Yousuf berkata, “sekarang kami menghadapi puncak pertentangan antara kami dan mereka. Tadi kawan-kawan sudah melaporkan bahwa para pengikut Pangeran Muda agaknya sudah mendapatkan kunci yang membawa mereka kepada tempat harta pusaka itu! Kabarnya bahwa mereka telah berhasil mendapatkan cawan yang berukirkan peta yang menunjukkan di mana tempat harta itu, yang dirampasnya dari seorang gila. Kalau hal ini betul, kami harus menghalangi mereka!”

Ang I Niocu tersenyum. “Tak usah lagi, Yo-lopek. Harta pusaka itu telah diketemukan dan yang mendapatkannya bukan lain ialah aku sendiri dan Cin Hai.”

Yousuf memandangnya dengan bengong sehingga Ang I Niocu kemudian menceritakan pengalamannya. Yousuf menjadi girang bukan main sehingga ia segera berpaling kepada gurunya dan menuturkan semua cerita Ang I Niocu dengan cepat kepada gurunya dalam bahasa Turki, karena tadi ketika Ang I Niocu bercerita, agaknya kakek itu masih melamun dan tidak mendengar apa-apa! Ibrahim juga merasa girang dan tertawa senang.

“Akan tetapi, Lihiap, kini mereka sedang menuju ke sini untuk menyerbu kami, demikian menurut laporan kawan-kawan. Kami sudah siap sedia menghadapi serbuan mereka dan kalau perlu, kami bersedia untuk bertempur pula.”

“Jangan kuatir, Yo-lopek. Aku telah berada di sini dan aku pasti akan membantu kalian.”

Pada saat itu, dari luar masuklah seorang penjaga dan memberi laporan singkat kepada Yousuf yang segera dijawabnya dengan perintah singkat pula. Orang itu lantas pergi lagi dan Yousuf lalu berkata kepada Ang I Niocu,

“Mereka telah datang dan kuminta pemimpin-pemimpin mereka agar datang ke sini untuk mengadakan pembicaraan.”

“Kalau begitu aku harus mengundurkan diri,” kata Ang I Niocu, yang menganggap bahwa tidak sepantasnya ia ikut bicara tentang urusan negara orang lain, apa lagi kalau mereka bicara dalam bahasa mereka yang tidak dimengertinya sama sekali itu.

Akan tetapi Yousuf mengangkat tangannya. “Tidak usah Lihiap. Kau duduklah saja di sini, mengawani kami berdua. Mereka yang datang ini pun hanya wakil-wakil dan para utusan saja, Semua pembicaraan akan dilakukan dalam bahasa Han, sebab mereka itu sebagian besar juga orang-orang Han yang telah kau kenal tadi.”

Rombongan tamu yang datang itu adalah tujuh orang yang terdiri dari seorang Turki tua yang bersorban merah, diiringkan oleh Siok Kwat Moli, Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin dan ketiga Kanglam Sam-lojn, yaitu Giok Im Cu, Giok Yang Cu dan Giok Keng Cu.

Pendekar Bodoh Jilid 29

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 29

Cin Hai berlari cepat, mengerahkan seluruh kepandaiannya karena benar-benar merasa gelisah sekali. Kalau saja Lin Lin kalian ganggu, pikirnya dengan gemas, awaslah kalian! Saat tiba di depan Goa Tengkorak hatinya merasa berdebar. Ia tidak mendengar sesuatu, keadaan sunyi sekali, membuat hatinya berdebar cemas dan hampir saja ia tidak berani masuk karena merasa takut melihat hal-hal mengerikan yang terjadi pada diri kekasihnya.

Sesudah menetapkan hatinya, dia lalu melompat masuk ke dalam ruang besar di mana tengkorak-tengkorak raksasa masih berdiri dengan megahnya. Bertahun-tahun dia tinggal di tempat ini mempelajari ilmu silat, maka pemandangan ini tak menimbulkan keseraman di hatinya lagi. Ia segera memandang dengan kedua matanya mencari-cari, dan karena tidak melihat Lin Lin di ruang itu, dia lalu berlari masuk ke dalam kamar tempat menaruh hio-louw (tempat hio). Dan di situ ia melihat Lin Lin rebah telentang, pucat tak bergerak bagaikan mayat.

Cin Hai berdiri terpaku di atas lantai, tak kuasa bergerak, wajahnya pucat dan kepalanya terasa pening. Hampir saja dia jatuh pingsan kalau dia tidak menekan perasaannya dan menguatkan hatinya.

“Lin Lin...!” akhirnya dia dapat berseru dan menggerakkan kakinya, menubruk maju dan memeriksa keadaan kekasihnya.

Ternyata bahwa Lin Lin hanya pingsan saja dan pernapasannya masih berjalan, sungguh pun amat lemah. Tidak ada tanda-tanda luka hebat di tubuh Lin Lin, kecuali bintik hijau yang terdapat pada lehernya, dan ketika Cin Hai meraba bintik itu, rasa panas menyerang jari tangannya. Dia merasa terkejut sekali dan dapat menduga bahwa kekasihnya tentu telah terkena senjata jarum yang mengandung racun hebat.

Bukan main marahnya Cin Hai. Kenapa suhu-nya mendiamkannya saja, malah menyerah menjadi tawanan musuh? Cin Hai lalu memondong tubuh Lin Lin dan melompat keluar. Ia tidak mau menerimanya begitu saja. Ia harus mengejar mereka itu dan memaksa mereka agar segera memberikan obat pemunah bagi kekasihnya, atau kalau mereka tak sanggup menyembuhkan Lin Lin, dia hendak mengamuk serta membunuh mereka semua dengan taruhan jiwa.

Biar pun andai kata suhu-nya akan melarang, ia akan nekat dan tidak menurut perintah suhu-nya. Cintanya pada Lin Lin jauh lebih besar dari pada ketaatannya kepada gurunya. Kecemasan telah menggelapkan jalan pikiran Cin Hai dan sambil memondong tubuh Lin Lin yang lemas tak berdaya dan meramkan kedua matanya itu, Cin Hai mempergunakan ilmu berlari cepat, melompati jurang dan mengejar secepatnya.

Akan tetapi, ketika dia tiba di sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba tubuh Lin Lin bergerak-gerak. Pada saat dia memandang, ternyata kekasihnya telah membuka matanya. Cin Hai berhenti berlari dan mendekap kepala Lin Lin sambil berbisik, “Lin-moi... Lin-moi... kau kenapakah...?”

Untuk sejenak Lin Lin tak menjawab, hanya memandang pada wajah Cin Hai seolah-olah baru sadar dari mimpi, lalu tangannya merangkul leher Cin Hai dan dia mulai menangis terisak-isak di dada pemuda itu.

Cin Hai mendiamkannya saja dan sesudah tangis Lin Lin mereda, dia baru menurunkan tubuh kekasihnya itu, didudukkan di atas rumput, ada pun ia sendiri duduk di sebelahnya. Dia merasa heran melihat betapa tubuh Lin Lin kini pulih kembali seperti biasanya, hanya wajahnya masih nampak sangat pucat. Cin Hai memegang tangan Lin Lin dan bertanya lagi dengan wajah kuatir, “Lin-moi, kau kenapakah?”

“Hai-ko, syukur sekali kau keburu datang. Telah terjadi mala petaka hebat menimpa Suhu dan diriku.”

Cin Hai mengangguk. “Aku tahu bahwa Suhu telah ditawan oleh keparat itu. Anehnya, ketika aku hendak menolongnya, Suhu bahkan melarangku dan pergi dengan suka rela menjadi tawanan mereka!”

“Kau tidak tahu, Hai-ko. Suhu sengaja mengalah dan menurut menerima hinaan mereka hanya untuk menolong jiwaku.”

Terkejutlah Cin Hai mendengar ini dan teringatlah dia akan kata-kata Hai Kong Hosiang yang mengejek pada saat ia hendak pergi meninggalkan mereka. “Apa... apa maksudmu, Moi-moi...?”

Lin Lin menarik napas panjang lalu bercerita seperti berikut.

Semenjak ikut pergi dengan Bu Pun Su, Lin Lin memperdalam ilmu pedangnya di bawah pimpinan kakek jembel yang sakti itu. Mereka berdua lebih dulu singgah di dalam hutan dan membawa serta burung Merak Sakti dan Bangau Sakti, hingga kini di Goa Tengkorak itu terdapat tiga burung sakti, yaitu Sin-kong-ciak si Merak Sakti, Sin-kim-tiauw si Rajawali Emas dan Ang-siang-kiam si Bangau Sakti.

Gadis ini melatih diri dengan giat sekali dan sebentar saja dia sudah mencapai kemajuan yang luar biasa sehingga kalau dia memainkan pedang Han-le-kiam dengan ilmu pedang yang diciptakan oleh Cin Hai untuknya, maka gerakannya menjadi luar biasa hebatnya! Bu Pun Su sudah memperbaiki gerakan-gerakannya itu dengan gerakan yang sesuai dan tepat, disesuaikan dengan pedang yang pendek itu.

Pada suatu pagi, selagi Lin Lin berlatih seorang diri di luar goa karena gadis yang rajin ini setiap hari bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih seorang diri, datanglah rombongan Hai Kong Hosiang itu. Seperti juga Cin Hai, Lin Lin merasa terkejut dan heran sekali melihat bahwa pendeta jahat itu masih hidup. Dia melihat empat orang lain datang bersama Hai Kong Hosiang, yakni dua orang perwira Mongol, seorang pendeta Sakya Buddha serta seorang nenek tua yang aneh.

“Hai Kong si Jahat! Kau belum mampus?” teriak Lin Lin dengan terheran-heran.

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak mendengar ucapan ini hingga sebelah matanya yang kiri itu melotot dan mengeluarkan air mata!

“Kwee Lin, anak jahat! Kau bersama Pendekar Bodoh yang membuat aku menjadi begini, akan tetapi, Sang Buddha adalah adil dan bijaksana! Kau memaki aku jahat, akan tetapi sebetulnya kaulah yang jahat. Buktinya, walau pun aku sudah menggelundung ke dalam jurang, akan tetapi ternyata Sang Buddha masih melindungiku dan cabang-cabang pohon menangkap dan menolong nyawaku ketika aku tergelincir jatuh ke dalam jurang! Kini aku telah datang kembali dan aku harus mencongkel salah satu matamu sebelum kubunuh mampus kau dan Cin Hai untuk membalas dendamku. Ha-ha-ha!”

“Gundul keparat, jangan sombong!” Lin Lin dengan garang memaki.

Lin Lin sekarang bukanlah Lin Lin dulu, karena sekarang ia telah mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi apa bila dibandingkan dengan dulu. Setelah membentak, ia segera menyerang dengan pedang Han-le-kiam di tangannya.

Hai Kong memandang rendah dan menghadapi gadis itu hanya dengan tangan kosong, maksudnya hendak dengan satu dua jurus saja bisa menggulingkan gadis itu, akan tetapi kesombongannya ini hampir saja membuat nyawanya melayang!

Pada waktu Lin Lin menyerang dengan gerakan Ilmu Pedang Han-le-kiam yang diberi nama Ang-I To-hwa atau Ang I Niocu Memetik Kembang, pedang pendeknya membacok ke arah jidat yang licin dari hwesio itu dengan cepat sekali. Hai Kong Hosiang tersenyum sindir dan membentak keras, lalu mempergunakan tangan kiri menyambar dari samping ke arah pergelangan tangan Lin Lin untuk merampas pedang, sedangkan tangan kanan mengeluarkan jari telunjuk, ditotolkan ke arah mata kiri Lin Lin untuk mencongkel keluar mata itu.

Tak tahunya, Lin Lin tidak melanjutkan serangannya dan secepat kilat ujung Han-le-kiam telah dibalikkan hingga dari gerakan membacok jidat berubah menjadi tusukan ke bawah mengancam tenggorokan hwesio itu dengan gerakan Cin Hai Membacok Kayu! Ada pun untuk menghadapi tusukan telunjuk Hai Kong ke arah matanya, Lin Lin mengelak sambil merendahkan tubuh dan tangan kirinya tidak mau tinggal diam akan tetapi membarengi gerakan pedangnya mengirim pukulan ke arah dada kiri Hai Kong Hosiang dengan ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang dilakukan dengan sepenuh tenaga!

Bukan main terkejutnya hati Hai Kong Hosiang saat melihat perubahan yang tak pernah disangka-sangkanya ini. Kalau saja ia tak memandang rendah dan berlaku hati-hati tentu takkan mudah dibikin terkejut oleh serangan ini, biar pun serangan Lin Lin ini benar-benar merupakan gerakan silat yang tinggi tingkatnya.

Akan tetapi karena tadinya memandang rendah dan tidak menyangka, Hai Kong Hosiang hanya dapat mengelak dari serangan pedang ke arah tenggorokannya saja, yaitu dengan jalan miringkan tubuh ke kiri. Akan tetapi menghadapi pukulan Pek-in Hoat-sut itu, ia tidak keburu berkelit lagi tetapi hanya dapat memutar dada dan menerima pukulan itu yang kini tak mengenai dada kiri, akan tetapi mengenai dada kanannya!

Hai Kong Hosiang berseru kaget lagi dan untung ia telah merasai hebatnya angin pukulan yang panas sehingga telah mengerahkan lweekang-nya ke arah dada kanan, kalau tidak pasti akan pecahlah dadanya! Tubuhnya terpental ke belakang, dan meski pun dia masih dapat mencegah tubuhnya terhuyung dan jatuh, akan tetapi dada kanannya masih terasa panas dan ketika ia melihat, ternyata kulit dadanya telah menjadi biru!

Ia mengeluarkan keringat dingin, karena kalau tadi pukulan itu mengenai dada kiri, pasti jantungnya akan terluka! Dia merasa bergidik memikirkan bagaimana gadis ini sekarang telah mempunyai ilmu kepandaian sehebat itu.

Sedangkan Lin Lin yang melihat betapa pukulan dari Ilmu Pek-in Hoat-sut yang ampuh itu tak dapat merobohkan Hai Kong Hosiang, juga menjadi terkejut dan maklum bahwa ilmu kepandaian hwesio ini telah mencapai tingkat tinggi yang sukar diukur lagi! Dia menjadi nekat dan kembali maju menyerang dengan keras, sedangkan Hai Kong Hosiang yang merasa marah segera mencabut senjatanya yang masih seperti dulu, yaitu tongkat dari tubuh ular kering, akan tetapi ular ini sekarang berwarna hijau dan mengerikan sekali.

Sambil membentak marah Hai Kong Hosiang menyambut terjangan Lin Lin dan mereka pun bertempur dengan serunya. Pendeta Sakya Buddha kawan Hai Kong Hosiang yang melihat betapa gagah gadis itu sehingga mampu mempertahankan diri dari serangan Hai Kong Hosiang dengan baiknya, menjadi habis sabar dan cepat maju mengeroyok sambil mainkan pedangnya yang juga lihai.

Pada saat Lin Lin bertempur dikeroyok dua dengan serunya, terdengar suara dari dalam goa, “Siancai... siancai….” dan muncullah tubuh Bu Pun Su dengan langkah tenang dan perlahan. “Aha, Hai Kong... engkaukah yang kembali datang mengacau? Mundurlah dan jangan bermuka tebal mengeroyok seorang gadis muda!”

Sambil berkata, Bu Pun Su membuat gerakan mendorong dengan tangan kanannya ke arah Hai Kong Hosiang dan pendeta baju merah itu, dan terkejutlah Hai Kong Hosiang serta kawannya karena dorongan ini benar-benar merupakan angin puyuh yang membuat mereka terhuyung mundur.

Lin Lin juga menahan pedangnya dan berdiri sambil memandang suhu-nya, karena pada saat itu terjadi hal yang aneh. Setelah mendorong Hai Kong dan pendeta Sakya Buddha tadi, kini Bu Pun Su berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada nenek yang tak bersepatu itu, dan berseru perlahan, “Wi Wi... kau datang juga...?”

Nenek itu tersenyum menyindir, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar merdu dan halus bagaikan suara seorang nyonya bangsawan terpelajar, “Lu Kwan Cu, di manakah ada perceraian yang kekal?”

“Wi Wi, tak kusangka bahwa kau masih hidup...”

“Kau sendiri masih betah tinggal di dunia, mengapa aku tidak?”

Melihat sikap Bu Pun Su yang agaknya takut-takut terhadap nenek itu dan mendengar percakapan mereka yang aneh ini, Lin Lin berdiri bengong dengan seluruh perhatiannya tertuju kepada suhu-nya dan nenek itu, hingga ia tidak menduga datangnya bencana dari pihak Hai Kong Hosiang.

Pada waktu melihat gadis yang gagah itu berdiri bengong, pendeta Sakya Buddha lalu mengayun tangannya dan belasan batang jarum hitam segera menyambar ke arah dada dan leher gadis itu.

Lin Lin telah mempunyai perasaan dan pendengaran yang amat halus dan tajam, maka kedatangan belasan batang jarum yang menyambar ke arahnya itu meski tidak dilihatnya tetapi dapat ditangkap oleh telinganya, maka ia menjadi terkejut sekali. Tak ada lain jalan baginya selain menggulingkan tubuh di atas tanah sehingga dengan demikian sambaran jarum-jarum itu mengenai tempat kosong dan ia dapat menghindarkan diri.

Akan tetapi dia tidak menyangka bahwa ketika itu, Hai Kong Hosiang menunjuk dengan tongkat ularnya yang ketika ditekannya segera memuntahkan jarum-jarum hijau ke arah tubuh Lin Lin yang masih bergulingan! Lin Lin mencoba berkelit, akan tetapi datangnya jarum-jarum yang lihai dan cepat itu sukar sekali dikelit atau ditangkis, maka meski pun gerakan Lin Lin cukup cepat, sebatang jarum hijau masih berhasil mengenai leher!

Lin Lin sudah mengerahkan lweekang-nya untuk membuat kulit dan dagingnya mengeras hingga jarum halus itu tidak sampai menancap seluruhnya dan ia segera melompat dan mencabut jarum itu, lalu dengan marahnya hendak menyerang Hai Kong Hosiang. Akan tetapi, tiba-tiba ia merasa pening dan menjerit keras terus roboh tak berdaya. Tubuhnya terasa panas dan lumpuh, sedangkan kepalanya pening sekali.

Ia masih melihat betapa Bu Pun Su menjadi kaget dan marah. Tadi kalau kakek itu tidak sedang terheran-heran dan seluruh perhatiannya tertarik dan hatinya tergoncang karena perjumpaannya dengan nenek itu, pasti dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk menolong Lin Lin.

Akan tetapi, keadaan kakek jembel itu tadi seperti seorang yang kena hikmat dan tidak ingat apa-apa. Bahkan ketika Lin Lin diserang oleh Hai Kong dan pendeta baju merah, ia tidak tahu atau mendengar sama sekali. Setelah Lin Lin menjerit dan roboh, barulah ia sadar dan cepat memandang.

“Hai Kong, pengecut berbatin rendah!” dia berteriak marah sambil menggerakkan kedua tangannya.

Kalau dua tangan Bu Pun Su itu jadi diangkat dan digerakkan ke arah Hai Kong Hosiang, entah nasib apakah yang akan dialami pendeta gundul itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nenek itu dengan halus akan tetapi nyaring.

“Lu Kwan Cu, jangan bergerak!”

Bu Pun Su memandang, kemudian melangkah mundur dengan muka pucat. Kini nenek itu memegang sebatang tusuk konde terbuat dari pada perak yang berbentuk naga indah sekali dan bermata intan, lantas diangkatnya tusuk konde itu tinggi-tinggi sambil matanya memandang ke arah Bu Pun Su dengan tajam. Lemaslah tubuh kakek itu dan dia cepat menurunkan kembali kedua tangannya.

“Wi Wi, kau hendak mempergunakan itu untuk membela kejahatan?” bisiknya.

“Kwan Cu, apakah kau yang sudah tua bangka ini hendak melanggar sumpahmu?”

Bu Pun Su menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak akan melanggar sumpahku biar pun tubuhku akan hancur lebur. Apakah yang kau kehendaki, Wi Wi?”

“Kehendakku yang harus kau turuti adalah kau tidak boleh mengganggu kawan-kawan ini selama mereka berada di sampingku!”

Bu Pun Su menarik napas panjang dan mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, baik, aku takkan mengganggu mereka selama mereka berada di sampingmu!” ia berjanji.

Nenek itu tersenyum dan menyimpan kembali tusuk kondenya yang begitu berpengaruh terhadap Bu Pun Su itu. Sedangkan kakek jembel itu dengan muka penuh kecemasan lalu menghampiri Lin Lin yang masih rebah miring dan memandang semua peristiwa itu dengan mata terbelalak heran. Bu Pun Su memeriksa luka di leher Lin Lin dan ketika dia meraba luka bintik warna hijau itu, dia menjadi terkejut sekali.

“Hai Kong, kau kejam sekali!” katanya sambil memandang kepada hwesio gundul yang berdiri sambil tersenyum penuh kepuasan.

“Bu Pun Su, jembel tua! Tahukah kau racun apa yang mengancam jiwa gadis ini?” tanya Hai Kong Hosiang dengan senyum sindir.

“Kau telah mempergunakan racun Ular Hijau yang hidup di Mongolia. Alangkah kejamnya hatimu!” kata Bu Pun Su.

“Ha-ha-ha. Matamu masih cukup awas!” Hai Kong Hosiang menyindir. “Tahukah kau cara bekerjanya racun itu? Ha-ha-ha! Racun Ular Hijau bekerja lambat akan tetapi pasti. Dan tidak ada obat di dunia yang dapat menyembuhkan orang yang terkena racun itu. Gadis ini hanya akan hidup selama seratus hari lagi. Keadaannya akan biasa saja, tidak merasa sakit apa-apa asalkan dia jangan merasa kuatir. Kalau dia merasa kuatir, racun itu akan lebih hebat kerjanya dan akan menyerang jantungnya hingga ia akan jatuh pingsan! Akan tetapi hal itu pun tidak berbahaya, dan pendeknya, ia akan hidup sampai seratus hari lagi. Ha-ha-ha!”

“Hai Kong, demi KeTuhanan dan Perikemanusiaan, janganlah kau sekejam itu. Aku tahu bahwa untuk racun ini ada sejenis obat di Mongolia dan kau yang bermain-main dengan racun ini tentu mempunyai pula obat penyembuhnya. Berikanlah obat itu untuk menolong nyawa muridku ini!”

“Ha-ha-ha-ha! Enak saja kau bicara, pengemis tua!” Hai Kong menjadi berani karena dia maklum bahwa kakek jembel itu berada di dalam kekuasaannya. “Aku tidak begitu bodoh untuk membawa-bawa obat itu bersamaku. Obat itu berada di suatu empat yang aman!”

“Hai Kong, aku minta kepadamu, serahkan obat itu untuk menolong dia! Aku sudah tua dan tak akan lama lagi hidup di dunia. Aku tidak takut akan kematian, akan tetapi dia ini masih muda dan masih berhak untuk hidup lebih lama lagi. Berikanlah obat itu dan aku berjanji hendak melakukan apa saja yang kau minta, asal bukan kejahatan yang harus kulakukan!” kata lagi Bu Pun Su dengan suara mengandung permohonan.

Melihat dan mendengar semuanya ini, Lin Lin segera bangkit duduk dan pada saat itu, agaknya serangan racun di tubuhnya sudah banyak mengurang.

“Suhu, teecu tidak takut mati. Biarlah teecu diancam bahaya maut, tidak apa. Akan tetapi perkenankan teecu mengadu jiwa dengan pendeta rendah budi itu!”

Bu Pun Su menggelengkan kepala. “Jangan, muridku. Bukan saatnya, jangan gunakan kekerasan...” kemudian ia memandang kepada Wi Wi Toanio, nenek yang aneh itu. “Wi Wi, sekarang apakah kehendakmu lagi?”

“Kau harus ikut dengan kami dan membantu kami mendapatkan harta pusaka terpendam di goa Tun-huang.”

“Hanya itukah?”

“Ya, hanya itu dan setelah berhasil mendapatkan harta itu, kau boleh bebas. Akan tetapi ketahuilah bahwa pihak Turki dan juga Kaisar mencari-cari pula harta itu dan kau harus melindungi kami melawan dan mengundurkan mereka!”

“Aku menurut, Wi Wi, akan tetapi hanya dengan satu syarat, tanpa dipenuhinya syarat itu, aku tak akan menurut, biar pun dengan berbuat demikian berarti aku melanggar sumpah! Marilah kita masuk ke dalam goaku dan di sana kita bicarakan hal ini lebih mendalam pula.”

Sambil menuntun tangan Lin Lin, Bu Pun Su mendahului rombongan itu memasuki Goa Tengkorak.

“Lin Lin kau beristirahatiah dalam kamar hio-louw itu dan bersemedhilah dengan tenang, membersihkan pernapasanmu supaya racun yang menyerangmu itu tidak begitu keras jalannya,” katanya kepada Lin Lin tanpa mempedulikan suara ketawa Hai Kong Hosiang yang mengejeknya.

Lin Lin melontarkan pandang mata membenci ke arah pendeta gundul itu, lalu ia mentaati perintah suhu-nya dan masuk ke dalam kamar hiolouw lalu bersila dan mengatur napas. Akan tetapi, ia memasang telinganya dan mendengarkan semua percakapan mereka.

Akhirnya diputuskan oleh Bu Pun Su, Hai Kong Hosiang, dan Wi Wi Toanio, bahwa Bu Pun Su harus membantu mereka mendapatkan harta pusaka itu, kemudian apa bila harta pusaka itu telah jatuh ke dalam tangan mereka, barulah Hai Kong Hosiang akan memberi obat penyembuh racun yang menguasai Lin Lin.

Mendengar percakapan itu, Lin Lin merasa terhina sekali dan dia juga merasa penasaran mengapa Bu Pun Su menjadi sedemikian lemah dan tidak berdaya terhadap nenek itu? Apakah nenek itu lebih lihai dari pada Bu Pun Su? Andai kata lebih lihai juga, mungkinkah suhu-nya bersikap demikian pengecut dan takluk tanpa mengadakan perlawanan terlebih dulu? Ia menjadi gelisah dan duduknya tidak bisa diam.

Tiba-tiba terdengar Bu Pun Su berkata, “Lin Lin, aku tahu mengapa kau merasa gelisah dan penasaran.” Kemudian, kakek yang lihai ini lalu berkata kepada Wi Wi Toanio, “Wi Wi, jangan kau membuat aku dipandang rendah oleh muridku sendiri. Kalau kau tak mau menceritakan riwayat kita berdua hingga terdengar muridku dengan jelas, jangan harap kau akan dapat membawaku ke barat untuk mencari harta pusaka itu.”

“Apa?” nenek itu berseru heran. “Kau tidak takut rahasia kita itu kubongkar?”

“Apakah yang kutakuti lagi? Nama buruk? Biarlah, aku sudah tak bernama lagi,” jawab Bu Pun Su.

“Tidak akan merasa malukah kau?”

“Di manakah letaknya malu? Perbuatan yang sudah dilakukan tak perlu disimpan-simpan! Telah puluhan tahu kita menyimpan rahasia itu, lebih baik sekarang dibuka sebelum kita mati.”

“Tetapi... tetapi mengapa kau masih tunduk kepadaku apa bila kau tidak takut rahasia itu terbongkar?” nenek itu suaranya mengandung gelora penuh keheranan dan kejutan.

Bu Pun Su tersenyum. “Itulah rahasiaku sendiri, Wi Wi. Sekarang ceritakanlah semuanya dengan jelas sebelum kita berangkat.”

Dengan suara gemetar, berceritalah nenek yang aneh itu…..

Dulu ketika muda dan masih berusia dua puluh lima tahun, Bu Pun Su bernama Lu Kwan Cu, muda, tampan, dan gagah. Ilmu kepandaiannya amat tinggi hingga pada masa itu ia menjagoi di seluruh daerah dan merupakan pendekar yang ditakuti para penjahat.

Karena kakeknya, Perdana Menteri Lu Pin, menderita akibat pemberontakan An Lu Shan, maka Lu Kwan Cu membenci semua orang Tartar dan mencari mereka untuk dibunuhnya sebagai pembalasan dendamnya. Yang terutama dicarinya adalah keturunan An Lu Shan yang bernama An Kai Seng dan yang sudah menjadi orang Han semenjak kawin dengan seorang gadis Han yang cantik.

An Kai Seng sendiri biar pun berkepandaian tinggi, namun merasa takut sekali kepada Lu Kwan Cu yang mencari-carinya, hingga diam-diam ia melatih diri bersama isterinya, yaitu yang bernama Wi Wi, seorang gadis Han yang masih berdarah Tartar juga dan yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akhirnya Lu Kwan Cu berhasil menjumpai mereka dan walau pun dikeroyok oleh banyak kawan-kawan An Kai Seng namun tak seorang pun dapat menghadapinya. An Kai Seng menjadi gelisah dan takut sekali hingga tiba-tiba muncullah isterinya, yaitu Wi Wi Toanio yang cantik.

Melihat suaminya berada dalam bahaya, Wi Wi Toanio lalu menggunakan kecantikannya untuk menggoda hati Lu Kwan Cu dan sengaja memancingnya dan menantangnya untuk mengadu jiwa di dalam sebuah hutan antara pendekar itu dan Ang Kai Seng suami isteri. Tantangan ini tentu saja diterima oleh Lu Kwan Cu dengan baik, dan ketika pendekar muda ini pergi ke hutan itu pada saat yang telah ditetapkan, dia hanya menjumpai Wi Wi seorang diri.

Wi Wi mempergunakan segala kecantikannya untuk memikat dan menjatuhkan hati Lu Kwan Cu dengan cara yang tak patut dituturkan di sini. Pendeknya, tahu sendirilah…

Lu Kwan Cu adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam hubungan dengan wanita dan darah mudanya langsung menggelora ketika dia menghadapi Wi Wi yang cantik dan pandai menggairahkan hatinya itu. Keteguhan imannya runtuh dan bagaikan tak sadar ia menuruti kehendak wanita itu bagaikan seekor ikan bodoh yang tidak tahu akan bahaya umpan pancing!

Sejak saat itu, ia jatuh bertekuk lutut di depan Wi Wi yang cantik dan menjadi tergila-gila. Sering kali mereka mengadakan pertemuan rahasia, dan Lu Kwan Cu sama sekali tidak sadar bahwa dia sudah melakukan perbuatan terkutuk dan melanggar kesusilaan dengan isteri orang lain, bahkan isteri musuh besarnya yang tadinya akan dibunuhnya!

Semenjak saat itu, jangankan bercita-cita membunuhnya, bahkan segala permintaan Wi Wi diturutinya belaka. Ini masih belum hebat, yang celaka sekali ialah ketika dia memberi sebatang tusuk konde kepada wanita itu pada saat dia mengucapkan sumpahnya bahwa selama hidupnya, ia akan menurut pada segala perkataan wanita yang juga bersumpah ‘mencintanya’ itu, dan tusuk konde itu menjadi saksi.

Lu Kwan Cu benar-benar mabok asmara dan tergila-gila. Dia percaya sepenuh hatinya bahwa Wi Wi benar-benar mencintainya dengan setulus hati.

Akhirnya, ketika pada suatu hari dia mengadakan pertemuan dengan Wi Wi di hutan, dia mendengar gerakan orang. Cepat dia melompat dan menangkap orang itu yang ternyata bukan lain adalah Ang Kai Seng sendiri yang mengintai. Dia hendak memukulnya, akan tetapi tiba-tiba Wi Wi mengeluarkan tusuk konde itu dan minta dia melepaskan suaminya!

Bukan main terkejut dan herannya hati Lu Kwan Cu melihat akan hal ini. Ternyatalah kini bahwa tanpa terduga-duga sekali, An Kai Seng sudah mengetahui akan perhubungan itu, dan bahkan dengan berani sekali Wi Wi mengeluarkan tusuk konde pemberiannya itu di depan suaminya untuk menolong suami itu.

Terbukalah matanya bahwa agaknya An Kai Seng dengan sengaja merencanakan hal itu bersama isterinya, yaitu sudah menggunakan isterinya yang cantik sebagai umpan untuk menjebaknya! Dalam takutnya, An Kai Seng beserta isterinya sudah menjalankan siasat keji dan rendah itu untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Hancurlah hati Lu Kwan Cu melihat kenyataan ini, akan tetapi dia adalah seorang gagah yang selalu menetapi janji. Oleh karena dia sudah berjanji kepada Wi Wi terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu.

Semenjak itu, dia lalu menjauhkan diri dari Wi Wi yang merupakan bahaya besar baginya itu. Ia takut kalau-kalau Wi Wi mempergunakan tusuk konde yang mempunyai kekuasaan besar itu untuk memerasnya dan memaksanya membantu wanita itu melakukan hal-hal yang jahat!

Maka dia melarikan diri dan merantau jauh meninggalkan tempat itu, bahkan lalu beralih nama menjadi Bu Pun Su dan bertapa di sebuah pulau kosong, yaitu Pulau Kim-san-to! Ia menyangka bahwa wanita itu tentu telah mati. Tetapi tidak tahunya, setelah menjadi tua, tiba-tiba saja wanita iblis itu kembali muncul lagi membuat gara-gara hingga terpaksa dia memegang teguh sumpah dan janjinya dulu dan terpaksa membiarkan Lin Lin terluka dan terancam bahaya maut pula.

Setelah Wi Wi Toanio menceritakan semua ini yang tidak saja didengarkan oleh Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya, akan tetapi juga oleh Lin Lin, lantas terdengar Bu Pun Su menarik napas panjang dan berkata,

“Tepat sekali ujar-ujar Nabi Khong Cu yang berbunyi, Pok-hian-houw-in, Bok-hian-houw-bi, Koh-kuncu-sin-ki-tok-ha! (Tidak ada yang lebih jelas dari pada yang tersembunyi, dan tak ada yang lebih tegas dari pada yang paling lembut. Maka seorang budiman selalu berhati-hati terhadap hal yang tersembunyi). Ujar-ujar ini jelas memperingatkan manusia akan bahayanya musuh yang bersembunyi di dalam hati dan pikiran sendiri. Segala hal yang diperbuat oleh lahir, selalu datangnya dari dalam, bagaikan munculnya tunas yang mekar terdorong oleh suatu tenaga yang keluar dari dalam cabang! Hemm, usia muda memang penuh bahaya!”

Setelah berkata demikian, Bu Pun Su lalu berkata kepada Lin Lin, “Muridku, kau telah mendengar hal itu semua, dan kau tentu mengerti mengapa aku tidak dapat melanggar sumpah sendiri. Kau tenanglah dan tunggu saja di sini dengan baik-baik bersama tiga burung kita, tunggu sampai aku kembali membawa obat penawar lukamu!”

Setelah berkata demikian, pergilah mereka meninggalkan Goa Tengkorak meninggalkan Lin Lin seorang diri di kamar hio-louw itu. Dan di dalam hatinya, Lin Lin merasa berkuatir sekali, bukan kuatir terhadap diri sendiri, karena Lin Lin berhati tabah dan tidak takut mati, akan tetapi dia menguatirkan keadaan suhu-nya. Ia lupa bahwa ia tidak boleh mempunyai perasaan kuatir, maka begitu perasaan itu mendesak jantungnya, ia menjerit keras lantas jatuh pingsan!

Dan kemudian datanglah Cin Hai menemukannya dalam keadaan masih pingsan!

Cin Hai mendengarkan penuturan itu dengan sangat tertarik, gelisah dan terharu. Jarang terdapat orang seperti suhu-nya. Gagah perkasa, memegang teguh sumpahnya, sungguh pun sumpah terhadap seorang jahat, tetapi rela mengorbankan dirinya demi keselamatan muridnya!

“Apa bila demikian halnya, kau harus menenangkan hatimu, Lin-moi. Seratus hari adalah waktu yang cukup banyak bagi kita untuk berusaha mencari obat bagimu. Meski pun aku percaya penuh kepada Suhu bahwa dia tentu akan berhasil membawa obat penyembuh itu, akan tetapi, terlebih baik pula kalau kita tidak tinggal diam dan marilah kita juga pergi ke Kansu untuk menyusul mereka. Jangan kau kuatir, Adikku, aku telah berada di sisimu dan demi Tuhan Yang Maha Agung, kau pasti akan tertolong.”

Lin Lin tidak membantah kehendak Cin Hai. Lagi pula, baginya ke barat tiada bedanya dengan ke timur atau ke mana pun, selama dia berada bersama kekasihnya. Malam itu mereka berkemas dan tidur di Goa Tengkorak, Cin Hai di ruang depan di mana terdapat banyak patung tengkorak sedangkan Lin Lin di ruang hio-louw.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali saat sinar matahari masih berwarna kemerahan, sepasang kekasih itu keluar dari goa, mulai melakukan perjalanan jauh mengejar suhu mereka menuju Kansu di barat sana. Mereka sengaja hendak meninggalkan tiga burung peliharaan mereka karena selain harus menempuh perjalanan jauh, juga mereka belum tahu akan mati hidup diri sendiri. Sesudah berjalan sejauh sepuluh li, mereka mulai keluar dari hutan yang mengelilingi Goa Tengkorak.

Pada saat itu pula, di udara nampak tiga titik hitam yang melayang turun dan tidak lama kemudian, tiga burung yang menjadi kawan Lin Lin, yaitu Merak Sakti, Rajawali Emas, dan Bangau Sakti, menyambar turun dan berdiri di dekat mereka sambil mengeluarkan suara riuh rendah, seakan-akan menegur mereka mengapa meninggalkan begitu saja.

“Marilah kalian ikut kami pergi ke barat,” kata Lin Lin.

Cin Hai lalu melanjutkan perjalanan bersama Lin Lin menuju ke barat, diikuti oleh ketiga burung sakti yang terbang tinggi di atas udara. Mengingat akan keadaan Lin Lin, Cin Hai diam-diam merasa berduka dan gelisah, sedangkan Lin Lin yang mengetahui keadaan kekasihnya itu, menghiburnya dengan berlaku riang gembira dan jenaka hingga Cin Hai merasa terhibur juga.

Melihat sikap Lin Lin, seakan-akan ia tidak menderita sakit apa-apa. Dan memang benar ucapan Hai Kong Hosiang bahwa racun Ular Hijau itu sangat halus kerjanya hingga orang yang terkena seakan-akan tidak merasa apa-apa padahal orang itu makin hari semakin mendekati maut!

Dalam usahanya menghibur Cin Hai, Lin Lin bahkan mempergiat latihan pedangnya. Cin Hai bukanlah seorang pemuda yang berhati lemah dan bersemangat kecil, maka dia pun segera dapat melupakan kekuatirannya. Sikap Lin Lin yang gembira ini banyak menolong Cin Hai, bahkan dia lalu sadar bahwa mestinya dialah yang harus memperlihatkan sikap gembira supaya kekasihnya itu tidak memikirkan keadaan dirinya dan tidak timbul rasa kuatir, perasaan yang menjadi pantangan bagi Lin Lin itu. Maka dengan gembira dia pun lalu membantu dan memberi petunjuk-petunjuk sehingga ilmu pedang Lin Lin kini menjadi semakin maju saja.

Cin Hai tidak mau menceritakan kepada Lin Lin tentang tewasnya Biauw Suthai dan Pek Toanio karena dia maklum bahwa hal ini akan membahayakan kesehatannya. Bahkan dia sengaja mengambil jalan memutar dan tidak mau melalui dusun di mana kedua pendekar wanita itu tewas.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kita mengikuti keadaan Ang I Niocu yang ditinggal seorang diri oleh Cin Hai yang pergi memberi laporan kepada Bu Pun Su. Dara Baju Merah itu menanti kembalinya Cin Hai sambil menjaga goa rahasia tempat harta pusaka itu, juga sambil menunggu datangnya rombongan Kwee An, Ma Hoa, beserta Nelayan Cengeng yang juga menuju ke Kansu dengan mengambil jalan lain.

Pada suatu hari, karena merasa kesal tidak ada kawan dan tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan, Ang I Niocu lalu keluar dan pergi berjalan-jalan di sekeliling ibu kota Lan-couw yang sangat ramai.

Daerah Kansu adalah daerah bagian barat daratan Tiongkok dan di sana banyak terdapat suku-suku bangsa, bahkan banyak pula orang-orang asing yang berdagang di situ. Oleh karena ini, maka banyak sekali nampak pemandangan-pemandangan yang ganjil, yaitu jalan-jalan penuh orang-orang yang mengenakan pakaian bermacam ragam dan warna. Banyak pula wanita-wanita suku Hui dan lain-lain yang berwajah manis dengan pakaian mereka yang berbeda dengan pakaian orang-orang Han.

Akan tetapi, pada saat Ang I Niocu berjalan-jalan dengan pakaiannya yang serba merah, langkahnya yang gagah, tubuhnya yang ramping dan wajahnya yang cantik jelita itu, dia merupakan pemandangan yang amat mencolok mata dan yang jarang dapat terlihat oleh orang-orang di sana. Oleh karenanya hampir semua mata memandang Dara Baju Merah itu dengan penuh kekaguman.

Akan tetapi Ang I Niocu sudah terbiasa dengan pandangan-pandangan mata seperti ini. Maka, dia tidak mengacuhkannya sama sekali, seakan-akan mereka semua itu hanyalah patung-patung batu yang memandangnya tanpa berkedip.

Saat lewat di depan sebuah toko yang menjual barang-barang kuno, Ang I Niocu teringat akan cawan tertutup yang menjadi penunjuk jalan baginya dan Cin Hai untuk menemukan rahasia goa rahasia itu. Dia teringat betapa anehnya dia mendapatkan cawan berukir itu, yaitu dari seorang gila!

Ketika itu dia sedang berjalan menuju ke Kansu, yaitu sebelum bertemu dengan Cin Hai. Tiba-tiba dia melihat seorang yang berpakaian tak karuan dan hampir telanjang duduk di tepi jalan, tertawa-tawa seorang diri. Orang itu adalah seorang Turki sudah tua, dan yang amat aneh adalah biar pun pakaiannya compang-camping tidak karuan dan keadaannya menunjukkan kemiskinan yang sangat besar, namun dia memegang sebuah cawan perak yang indah sekali!

Pada saat Ang I Niocu sedang memandang dengan terheran-heran, datanglah tiga orang bangsa Hui yang mendekati orang gila itu dengan mata melirik ke sana ke mari. Melihat bahwa tempat itu sunyi dan hanya ada seorang gadis baju merah berdiri di tempat yang agak jauh, ketiga orang itu lalu maju dan hendak merampas cawan perak itu.

Si Gila lalu berteriak-teriak, berdiri dan menendang-nendang, mencakar-cakar melakukan perlawanan, sambil mulutnya mengomel, “Pergi, pergi! Kalian tidak berhak mendapatkan harta pusaka ini! Pergi!”

Seorang di antara ketiga orang yang hendak merampas cawan itu lalu mengubah siasat dan sambil tersenyum dia berkata,

“Kakek sinting, biarlah kami menukarnya dengan uang untuk membeli nasi!” orang itu lalu mengeluarkan uang perak beberapa potong.

Akan tetapi orang gila itu mendekap cawan itu erat-erat sambil terus memaki. “Perampok-perampok, pergi! Aku tidak butuh uang! Harta pusaka ini milikku!”

Tiga orang itu menubruk hendak merampas cawan, namun tiba-tiba mereka roboh sambil merintih-rintih. Ternyata Ang I Niocu telah bertindak karena kasihan kepada orang gila itu.

Tiga orang laki-laki bangsa Hui itu kembali bangkit dan hendak menyerang, akan tetapi kembali tubuh Ang I Niocu bergerak cepat dan sebelum mereka tahu apakah yang terjadi dan menimpa diri mereka, tahu-tahu ketiga orang itu sudah terlempar lagi dengan tubuh sakit-sakit! Mereka memandang dengan mata terbelalak ketakutan seakan-akan melihat setan di tengah hari, lalu berlari pergi secepat kaki mereka dapat bergerak!

Orang gila itu menghampiri Ang I Niocu dan karena orang itu bertubuh tinggi sekali, maka ketika dia mengulurkan kedua tangannya yang kotor ke atas kepala Ang I Niocu, kedua tangan itu menumpang di atas kepala gadis itu, seakan-akan seorang pendeta memberi berkah.

“Kau gagah, ha-ha, mereka lari pontang-panting, ha-ha-ha! Kau patut menjadi ratu, patut memiliki harta pusaka itu. Ini, kau terimalah harta pusaka yang tak ternilai harganya!” Dia memberikan cawan perak itu kepada Ang I Niocu yang menerimanya dengan heran.

“Untuk apa cawan ini?” tanyanya.

Orang gila itu memandangnya dengan marah. “Untuk apa katamu? Itu bukanlah cawan. Bodoh, menyebut harta pusaka sebagai cawan biasa!” Si Gila itu kemudian pergi dengan langkah lebar dan terdengar ia bernyanyi dalam bahasa Turki yang tidak karuan.

Ang I Niocu mengamat-amati cawan itu dan melihat ukir-ukiran yang indah, hingga timbul rasa sayangnya. Dia lalu memasukkan cawan itu ke dalam saku dan tidak tahu maksud ucapan orang gila itu hingga ia bertemu dengan Cin Hai yang membawa tutup cawannya.

Demikianlah, sambil mengenangkan semua kejadian ini, Ang I Niocu tak sengaja berhenti di depan toko barang antik itu sambil melamun. Tiba-tiba saja dia melihat dua orang Turki berkelebat masuk ke dalam toko dan ketika seorang di antara mereka memandang keluar toko, maka nampak wajahnya yang dibayangi ketakutan hebat!

Ang I Niocu menjadi tertarik dan curiga, maka ia segera melompat ke pinggir rumah dan terus mengintai dari atas genteng. Ia melihat dua orang itu bicara dengan seorang Turki lainnya dan agaknya mereka membicarakan hal-hal yang mengandung rahasia.

Akan tetapi hanya ada sebuah kata saja yang dimengerti oleh Ang I Niocu karena mereka bicara dalam bahasa Turki, yaitu kata-kata mereka ‘Yousuf’! Kata-kata ini cukup untuk membuat ia memperhatikan mereka baik-baik dan ketika ketiga orang itu keluar dari luar rumah melalui pintu belakang lalu berlari-lari cepat, dia segera mengikuti mereka dengan diam-diam.

Dengan mudah ia dapat mengikuti ketiga orang itu tanpa mereka mengetahuinya. Untuk beberapa lama ketiga orang itu masuk keluar hutan hingga kemudian sampai di sebuah perkampungan kecil di mana terdapat banyak rumah-rumah model Turki.

Tiga orang Turki itu masuk ke dalam rumah yang terbesar. Ang I Niocu segera melompat naik ke atas genteng dari bagian belakang dan menuju ke wuwungan di sebelah tengah. Ia membuka genteng dan mengintai ke dalam dengan hati-hati. Dilihatnya ketiga orang tadi masuk ke dalam sebuah ruangan yang kebetulan sekali berada tepat di bawahnya. Di dalam ruangan yang lebar itu nampak duduk dua orang Turki.

Seorang di antara mereka telah tua sekali, dan yang seorang lagi setengah tua, sikapnya gagah. Juga kakek yang sudah sangat tua dan rambutnya sudah putih semua sehingga menimbulkan kontras yang mencolok dengan kulitnya yang hitam, nampak lemah lembut akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam berpengaruh.

Setelah melihat mereka, ketiga orang Turki itu segera maju dan memberi hormat dengan membungkukkan tubuh dalam-dalam dengan kedua tangan di depan. Mereka bertiga lalu bicara seakan-akan membuat laporan kepada dua orang itu. Tidak lama kemudian, orang setengah tua tadi menjawab dengan beberapa kalimat yang agaknya memberi perintah, karena setelah mendengar ucapan itu, tiga orang pendatang tadi lalu pergi lagi.

Tiba-tiba, orang setengah tua itu tertawa dan sambil menengok ke atas ke arah genteng yang dipijak oleh kaki Ang I Niocu ia berkata dalam bahasa Han yang lancar, “Sahabat yang berada di atas genteng, harap kau suka turun saja apa bila ada perlu dengan kami.”

Ang I Niocu terkejut sekali. Tidak pernah disangkanya bahwa orang itu dapat melihat atau mendengarkannya, dan selagi dia merasa ragu-ragu, tiba-tiba kakek rambut putih itu juga berkata,

“Nona berbaju merah agaknya Ang I Niocu! Kalau benar, kami persilakan turun karena kita masih kawan sendiri!”

Makin terkejutlah hati Ang I Niocu mendengar ini. Kalau laki-laki setengah tua itu hanya dapat mengetahui bahwa di atas genteng terdapat orang sedang mengintai, adalah kakek berambut putih itu bahkan tahu bahwa yang mengintai adalah seorang gadis baju merah, bahkan dapat menduga namanya dengan tepat! Ang I Niocu masih merasa ragu-ragu untuk turun, maka dia teringat sesuatu dan bertanya,

“Apakah seorang di antara Jiwi ada yang bernama Yousuf?”

Mendengar pertanyaan ini, laki-laki setengah tua itu berseri wajahnya dan sambil berdiri ia menjawab girang. “Akulah yang bernama Yousuf! Kalau begitu Nona tentu benar-benar Ang I Niocu adanya! Lihiap, silakan turun!”

Kini Ang I Niocu tidak merasa ragu-ragu lagi. Ia membuka beberapa potong genteng dan melayang turun sambil berkata, “Mohon dimaafkan sebanyaknya atas kelancanganku!”

Yousuf memandang kepada Nona Baju Merah itu dengan mata kagum, lalu dia menjura sambil berkata girang, “Betul, betul! Kau tentu Ang I Niocu. Aku telah lama mengenalmu dari penuturan anakku Lin Lin!”

Ang I Niocu menjadi girang sekali. “Dan aku pun sudah lama mengenal nama Yo-lopek dari kawan-kawan.”

Mendengar bahwa tanpa ragu-ragu lagi Ang I Niocu menyebut dirinya lopek (uwa) seperti Cin Hai, Kwee An dan yang lain-lain. Yousuf merasa girang sekali.

“Ang I Niocu, kedatanganmu ini bagiku laksana jatuhnya sebuah bintang dari langit! Kau disangka telah tewas di atas Pulau Kim-san-to sehingga melihat kesedihan kawan-kawan kita, aku sendiri merasa sangat berduka. Dan sekarang, tiba-tiba saja kau muncul dalam keadaan yang kebetulan sekali!”

Ang I Niocu memandang ke arah kakek berambut putih yang lihai tadi, lalu dia bertanya, “Siapakah Locianpwe yang terhormat ini?”

Kakek itu tertawa bergelak, kemudian menjawab, “Ang I Niocu, kau tentu belum pernah mendengar namaku, sungguh pun telah sering kali aku mendengar namamu dari muridku ini.”

“Ahh, kalau begitu Locianpwe tentu yang bernama Ibrahim!” kata Ang I Niocu.

Baik Ibrahim mau pun Yousuf menjadi tercengang. “Bagaimana kau bisa tahu, Lihiap?” tanya Yousuf heran.

Ang I Niocu lalu menceritakan pengalamannya, bahwa Cin Hai pernah bercerita tentang pertemuannya dengan guru Yousuf itu ketika Ibrahim menangkap ular.

Bukan main girangnya hati Yousuf pada saat mendengar bahwa Ma Hoa dan Kwee An berada dalam keadaan selamat pula, bahkan kini sedang menuju ke Lan-couw sehingga banyak kemungkinan dia akan bertemu dengan mereka kembali. Kalau tadinya dia masih agak muram wajahnya, kini dia menjadi riang gembira dan berkata,

“Lihiap, tadi kukatakan bahwa kedatanganmu ini seperti bintang jatuh dari langit, akan tetapi sekarang ternyata bahwa kau bukan merupakan bintang saja, bahkan seakan-akan bulan sendiri jatuh di pangkuanku! Kau tidak saja memperkuat fihakku, bahkan kau telah membawa berita yang sangat menggembirakan hatiku. Patut aku mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Tunggal.” Sambil berkata demikian, orang Turki itu mengangkat kedua tangan ke atas sebagai puji syukur kepada Tuhan.

“Sebenarnya, apakah yang sedang terjadi, Yo-lopek? Tadi aku melihat tiga orang itu dan aku merasa curiga. Ketika mendengar namamu disebut-sebut, aku lalu mengikuti mereka ke sini dan agaknya mereka membuat laporan. Ada apakah?” tanya Ang I Niocu yang sama sekali tak mengerti karena selama ini semua pembicaraan dilakukan dalam bahasa Turki.

Yousuf menarik napas panjang. “Sebetulnya hal yang sedang terjadi dan akan terjadi ini adalah urusan pribadi Turki sendiri. Akan tetapi, karena di sini terkandung juga soal-soal kejahatan, maka kami percaya bahwa kau tentu akan suka membantu kami. Orang-orang Turki yang berada di daerah ini terpecah menjadi dua golongan, yaitu pengikut-pengikut Pangeran Tua yang pada waktu ini masih menjadi raja di Turki, dan sebagian pula ialah pengikut-pengikut Pangeran Muda yang selalu menimbulkan kekacauan. Kami adalah para pengikut Pangeran Tua, kami selalu mengambil sikap baik dan bersahabat terhadap negerimu, akan tetapi politiknya yang bersahabat itu dikacau dan dirusak oleh Pangeran Muda yang selalu mencari perkara. Sekarang para pengikut Pangeran Muda itu bahkan memiliki maksud menyerbu ke pedalaman Tiongkok, dan mereka datang hendak mencari harta pusaka yang bukan menjadi hak orang Turki. Nah, kami para pengikut Pangeran Tua mendapat tugas untuk menghalangi maksud jahat ini, karena kalau maksud mereka itu terus dilanjutkan, yang akan menderita rugi adalah bangsa kami sendiri, karena tentu dianggap jahat oleh bangsamu. Kami bertugas menghalangi niat mereka mencuri harta pusaka itu, dan mencegah mereka melanjutkan usaha menyerbu ke wilayah Tiongkok!”

Ang I Niocu mengangguk-angguk maklum. “Kalau begitu, kau bersama kawan-kawanmu memang orang-orang gagah yang mulia, Yo-lopek. Aku pun pernah mendengar sedikit-sedikit tentang maksud orang-orang Turki itu, akan tetapi tak pernah menyangka bahwa ada dua rombongan yang bertentangan. Di fihak siapakah orang-orang seperti Siok Kwat Moli, Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin dan yang lain-lain itu berdiri?”

Tiba-tiba Ibrahim berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan gemas,

“Nah, itulah yang amat menyebalkan hati kami. Para pengikut Pangeran Muda itu sudah mempergunakan cahaya emas untuk menggunakan orang-orang jahat seperti mereka itu dalam usaha mereka yang rendah. Yang menyebalkan hati, bagaimana orang-orang Han sendiri sudi membantu usaha pengikut-pengikut Pangeran Muda yang memiliki maksud buruk terhadap negeri mereka sendiri?” Ibrahim menarik napas panjang.

Ang I Niocu tersenyum. “Tidak sangat aneh, Locianpwe. Iman yang lemah dikuasai hati, hati yang kotor dikuasai pikiran dan pikiran yang picik dikuasai oleh mata. Apa bila mata mereka sudah silau dan buta karena cahaya harta benda, kejahatan apakah lagi yang pantang bagi mereka?”

Ibrahim mengangguk-angguk. “Kau benar, kau benar...” lalu kakek rambut putih itu duduk melamun tidak mempedulikan lagi keadaan di sekelilingnya.

“Ang I Niocu,” Yousuf berkata, “sekarang kami menghadapi puncak pertentangan antara kami dan mereka. Tadi kawan-kawan sudah melaporkan bahwa para pengikut Pangeran Muda agaknya sudah mendapatkan kunci yang membawa mereka kepada tempat harta pusaka itu! Kabarnya bahwa mereka telah berhasil mendapatkan cawan yang berukirkan peta yang menunjukkan di mana tempat harta itu, yang dirampasnya dari seorang gila. Kalau hal ini betul, kami harus menghalangi mereka!”

Ang I Niocu tersenyum. “Tak usah lagi, Yo-lopek. Harta pusaka itu telah diketemukan dan yang mendapatkannya bukan lain ialah aku sendiri dan Cin Hai.”

Yousuf memandangnya dengan bengong sehingga Ang I Niocu kemudian menceritakan pengalamannya. Yousuf menjadi girang bukan main sehingga ia segera berpaling kepada gurunya dan menuturkan semua cerita Ang I Niocu dengan cepat kepada gurunya dalam bahasa Turki, karena tadi ketika Ang I Niocu bercerita, agaknya kakek itu masih melamun dan tidak mendengar apa-apa! Ibrahim juga merasa girang dan tertawa senang.

“Akan tetapi, Lihiap, kini mereka sedang menuju ke sini untuk menyerbu kami, demikian menurut laporan kawan-kawan. Kami sudah siap sedia menghadapi serbuan mereka dan kalau perlu, kami bersedia untuk bertempur pula.”

“Jangan kuatir, Yo-lopek. Aku telah berada di sini dan aku pasti akan membantu kalian.”

Pada saat itu, dari luar masuklah seorang penjaga dan memberi laporan singkat kepada Yousuf yang segera dijawabnya dengan perintah singkat pula. Orang itu lantas pergi lagi dan Yousuf lalu berkata kepada Ang I Niocu,

“Mereka telah datang dan kuminta pemimpin-pemimpin mereka agar datang ke sini untuk mengadakan pembicaraan.”

“Kalau begitu aku harus mengundurkan diri,” kata Ang I Niocu, yang menganggap bahwa tidak sepantasnya ia ikut bicara tentang urusan negara orang lain, apa lagi kalau mereka bicara dalam bahasa mereka yang tidak dimengertinya sama sekali itu.

Akan tetapi Yousuf mengangkat tangannya. “Tidak usah Lihiap. Kau duduklah saja di sini, mengawani kami berdua. Mereka yang datang ini pun hanya wakil-wakil dan para utusan saja, Semua pembicaraan akan dilakukan dalam bahasa Han, sebab mereka itu sebagian besar juga orang-orang Han yang telah kau kenal tadi.”

Rombongan tamu yang datang itu adalah tujuh orang yang terdiri dari seorang Turki tua yang bersorban merah, diiringkan oleh Siok Kwat Moli, Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin dan ketiga Kanglam Sam-lojn, yaitu Giok Im Cu, Giok Yang Cu dan Giok Keng Cu.