Pendekar Bodoh Jilid 28

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 28

DUA hari kemudian, sampailah ia di Lan-couw, ibu kota Kansu. Ketika dia sampai di luar tembok kota, dia melihat ada sebuah rumah terpencil di pinggir jalan. Tadinya dia hendak melewatinya saja, akan tetapi, tiba-tiba dia dapat melihat bayangan beberapa orang Turki berkelebat di rumah itu, maka ia menjadi tertarik dan segera melompat pula menghampiri pondok itu. Ketika dia sampai di dekat jendela pondok yang terbuka, ia mendengar suara orang bicara.

Pada saat itu dia mengalami dua macam hal yang sangat mengejutkan hatinya, bahkan membuat wajahnya menjadi pucat. Yang pertama adalah suara yang keluar dari dalam pondok itu! Jelas terdengar olehnya ada dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita, sedang bicara dan suara wanita itu mengingatkan ia kepada Ang I Niocu!

Hal kedua yang mengejutkan hatinya ialah ketika mendapat kenyataan bahwa rumah itu berikut dirinya, telah dikurung dari segenap penjuru oleh orang-orang Turki yang dipimpin oleh Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin, bahkan Si Nenek Bongkok Siok Kwat Moli juga ikut kelihatan bayangannya!

Akan tetapi dia tak mempedulikan hal yang ke dua ini, yang lebih menarik hatinya adalah suara wanita itu. Dia mendekatkan telinganya pada jendela dan mendengar suara wanita itu berkata dengan suara yang tandas dan nyaring, akan tetapi merdu,

“Jangan kau ulangi lagi ucapanmu tadi!”

“Lihiap... tidak kasihankah kau padaku? Biarlah kau boleh menjadi marah dan boleh pula membunuhku, akan tetapi aku harus selalu mengulangi pernyataanku tadi. Memang aku cinta kepadamu, Lihiap! Apa dayaku? Aku adalah seorang berdosa besar yang tadinya sudah hendak mengasingkan diri dan menyucikan diri untuk menebus dosa. Akan tetapi, semenjak aku melihat wajahmu, timbul kegembiraan hidupku. Lihiap, mungkin di dunia ini tak ada orang yang mencintaimu seperti aku!” terdengar suara seorang laki-laki berkata.

“Cukup, tutup mulutmu! Untuk ucapan ini saja, apa bila aku tidak ingat bahwa kau pernah menolongku, dan tidak ingat bahwa kau mengingatkan aku akan seseorang yang sangat kuhargai, tentu sekarang juga sudah kucabut pedangku untuk menebas batang lehermu!”

“Lihiap, kalau aku melawan, belum tentu kau akan dapat menang, akan tetapi, aku tidak sampai hati mengangkat tangan melawanmu. Kau boleh perlakukan aku sesuka hatimu, akan tetapi kasihanilah aku dan janganlah kausia-siakan cinta kasihku!”

Cin Hai tak dapat menahan lagi gelora hatinya oleh karena ia tak ragu-ragu lagi bahwa itu adalah suara Ang I Niocu! Ia cepat membuka daun jendela dan memandang ke dalam. Benar saja, yang berada di dalam pondok itu adalah Ang I Niocu dan seorang laki-laki. Ang I Niocu berdiri tegak dengan tangan kanan di gagang pedangnya sedangkan laki-laki itu berlutut di depannya!

“Niocu...!” Cin Hai berteriak dengan wajah pucat dan bibir menggigil karena masih belum percaya bahwa dara yang baju merah itu benar-benar Ang I Niocu!

Dara Baju Merah itu berpaling cepat dan mulutnya tersenyum girang ketika ia melihat Cin Hai. “Hai-Ji...!” serunya dengan suara menggetar, lalu tubuhnya melompat keluar jendela.

Mereka berdiri berhadapan, sedangkan Cin Hai memandang dengan mata terbelalak.

“Niocu... Niocu... benar-benarkah kau ini... apakah aku tidak sedang bermimpi...?” Sambil berkata demikian, air mata mengalir ke atas kedua pipi Cin Hai.

Ang I Niocu memegang kedua tangan Cin Hai. “Hai-ji... tidak, kau tidak sedang dalam mimpi. Aku betul Kiang Im Giok yang telah terlepas dari bencana di Pulau Kim-san-to.”

Saking girangnya, ingin Cin Hai memeluk dara ini, akan tetapi sebaliknya pemuda ini lalu menjatuhkan diri berlutut. Ang Niocu mengangkat bangun padanya lalu sambil menaruh kedua tangan pada pundak pemuda itu, dan air mata berlinang di bulu matanya, Ang I Niocu berkata sambil tersenyum penuh keharuan hati dan kegirangan,

“Hai-ji, kau benar-benar sudah dewasa sekarang. Bahkan kau juga telah nampak masak. Di mana Lin Lin?”

“Dia ikut belajar silat dengan Suhu.”

Ang I Niocu mengangguk girang, dan sebelum ia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari jendela itu berkelebat bayangan Ban Leng yang langsung mengayun rebabnya ke atas kepala Cin Hai. Cin Hai berkelit cepat dan sekarang barulah dia mengenali laki-laki ini sebagai orang yang dulu pernah pula menyerangnya di tepi Sungai Huangho.

”Eh, eh, tunggu dulu, kawan!” teriaknya dengan marah dan heran.

Sedangkan Ang I Niocu membentak pula, “Saudara Sie Ban Leng, jangan kau sembarangan turun tangan!”

Bukan main terkejut hati Cin Hai mendengar nama ini hingga ia tertegun bagaikan patung dan memandang ke arah pamannya itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap. Jadi inilah paman Sie Ban Leng yang dulu mengkhianati ayah bundanya?

Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba orang-orang Turki yang tadi ia lihat, telah mendatangi dengan cepat dan mengurung rumah itu! Sie Ban Leng terkejut sekali dan tiba-tiba saja ia bersuit keras memberi tanda kepada kawan-kawannya, lalu ia sendiri tanpa banyak cakap lalu memutar-mutar rebabnya menyerang Wai Sauw Pu.

Wai Sauw Pu menggerakkan tasbehnya dan berkata dengan marah, “Tangkap tiga tikus ini!”

Maka majulah semua orang Turki mengeroyok, sehingga Ang I Niocu segera mencabut pedangnya dan Cin Hai juga langsung menggerakkan sulingnya, bertempur menghadapi sekian banyaknya pengeroyok di dekat Ang I Niocu.

Tidak lama kemudian, datanglah kawan-kawan Sie Ban Leng, yaitu perwira-perwira yang menyamar. Bahkan Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu muncul pula hingga sebentar saja terjadi pertempuran hebat antara orang-orang kaisar melawan orang-orang Turki.

“Niocu, sebenarnya mereka ini datang hendak menangkap aku!” Cin Hai berkata sambil menangkis serangan lawan yang sekarang tidak begitu rapat lagi karena datangnya bala bantuan.

“Mengapa?” tanya Ang I Niocu sambil mengirim tendangan kepada seorang pengeroyok hingga orang yang tertendang itu terguling dan tak dapat bangun pula.

“Karena aku membawa sebuah tutup cawan perak yang tidak berharga!” jawab Cin Hai sambil tertawa. Akan tetapi mendengar jawaban ini, tiba-tiba Ang I Niocu memandangnya dengan mata terbelalak.

“Tutup cawan perak yang berukir di atasnya?” tanyanya.

“Betul,” jawab Cin Hai sambil memandang heran. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Hai-ji, cepat! Mari kita keluar dari kepungan ini! Saat yang baik kita pergunakan. Selagi mereka bertempur, kita boleh bekerja cepat!”

Meski pun tidak mengerti akan maksud gadis itu, namun Cin Hai lalu memutar sulingnya dan dengan cepat lalu mengikuti Ang I Niocu yang sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran, lalu keduanya lari cepat memasuki kota Lan-couw.

Ternyata Ang I Niocu telah membawanya menuju ke Goa Tun-huang yang beratus-ratus banyaknya itu.

“Coba kau keluarkan tutup cawan itu, Hai-ji,” kata Ang I Niocu.

Pada saat Cin Hai membuka bungkusan tutup cawan dan memberikannya kepada gadis itu, Ang I Niocu juga mengeluarkan sebuah cawan dan ternyata bahwa tutup itu memang pas betul. Ketika tutup cawan itu dipasang di atas cawan, Ang I Niocu memperhatikan gambar ukirannya dengan seksama. Tiba-tiba wajahnya berseri-seri, dan ia berkata,

“Goa ke tiga puluh enam dari kiri! Hayo Cin Hai, jangan membuang waktu!”

Sambil berlari-lari mencari goa ke tiga puluh enam dari kiri Cin Hai tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang rahasia cawan dan tutupnya.

“Ketahuilah bahwa sepasang cawan dan tutupnya ini merupakan peta yang menunjukkan kita ke arah tempat penyimpanan harta pusaka terpendam yang berada di dalam goa-goa ini.”

Cin Hai makin terheran dan ia segera berkata, “Niocu, aku pun mendapat tugas dari Suhu untuk mencari sepasang pedang, yaitu Liong-cu-kiam yang katanya tersimpan di dalam salah satu goa-goa di Tun-huang ini.”

“Nah, itulah,” kata Ang I Niocu girang. “Dan selain sepasang pedang itu, masih terdapat harta yang luar biasa banyaknya!”

Cin Hai hendak bertanya lagi, akan tetapi mereka telah tiba di goa ke tiga puluh enam itu dan segera mereka masuk ke dalam goa yang besar itu.

“Mari kita memeriksa kalau-kalau ada terowongan atau pintu tembusan lain!” kata Ang I Niocu.

Keduanya lalu memeriksa seluruh lantai dan dinding goa yang penuh dengan ukiran dan batu-batu berupa patung-patung Buddha, akan tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu yang mencurigakan. Mereka sudah mendorong-dorong dinding dan membersihkan lantai, juga memeriksa dengan amat teliti, akan tetapi hasilnya nihil.

Cin Hai menjadi hilang sabar. Dia lalu duduk mengaso dan berkata kepada Ang I Niocu yang masih mencari-cari.

“Niocu, untuk apakah tergesa-gesa? Marilah kita duduk bercakap-cakap dahulu dan kau ceritakan semua pengalamanmu. Aku ingin sekali mendengar dan juga kau tentu ingin mendengar pengalamanku semenjak berpisah.”

“Nanti saja, Hai-ji, orang-orang Mongol dan Turki serta orang-orang kaisar juga mencari harta pusaka ini. Kalau mereka tahu kita berada di sini tentu mereka akan segera datang menyerbu,” kata Ang I Niocu sambil masih melanjutkan memeriksa kanan kiri. “Tentang pengalamanmu, sebagian banyak aku sudah mendengar dari Kwee An dan Ma Hoa.”

“Apa?!” Cin Hai melompat memegang lengannya. “Kau sudah bertemu dengan mereka? Masih hidupkah mereka?”

Ang I Niocu tersenyum manis sambil memandangnya. “Kalau mereka sudah meninggal, bagaimana aku dapat bertemu dengan mereka?”

Bukan main girang hati Cin Hai mendengar warta ini. “Aduh, betapa mulia dan besarnya hari ini!” dia berkata sambil memandang ke atas seakan-akan berdoa dan memuji nama Thian Yang Agung. “Melihat Niocu masih hidup, juga mendengar Ma Hoa dan Kwee An selamat…”

Tiba-tiba saja dia melompat bangun dan berkata, “Niocu kita sudah memeriksa lantai dan dinding, mengapa kita lupakan yang di atas?”

“Apa maksudmu?” tanya Ang I Niocu heran.

“Langit-langit itu,” kata Cin Hai sambil menuding ke atas, “Siapa tahu kalau-kalau di situ letak rahasia yang kita cari?”

Ang I Niocu berseri dan pada wajahnya yang cantik timbul harapan baru. Mereka segera memeriksa lagi dengan lebih teliti dan akhirnya mereka harus memeriksa cawan itu lagi dengan segala ukirannya. Setelah memeriksa sampai mata mereka terasa pedas, pada akhirnya mereka mendapatkan sebuah lukisan pada tutup cawan itu yaitu lukisan patung Buddha yang duduk bersila.

“Ahh, aku tadi pernah melihat lukisan ini!” kata Cin Hai dan ia bersama Ang I Niocu mulai mencari-cari kembali dan memeriksa seluruh ukiran yang berada pada langit-langit dan di dinding.

“Itulah dia!” kata Ang I Niocu sambil menunjuk ke atas.

Benar saja, pada ujung kiri dari langit-langit goa ini, terdapat sebuah lukisan yang serupa benar dengan ukiran pada kepala cawan itu, yakni sebuah patung Buddha yang duduk bersila. Mereka lalu meneliti cawan itu lagi, oleh karena masih belum tahu apa maksud persamaan ukiran ini. Dan tahulah mereka kini.

Meski pun ukiran itu campur aduk, akan tetapi apa bila diteliti melihatnya, ternyata bahwa ada setangkai bunga yang menghubungkan Patung Buddha itu ke bawah. Mereka lalu mencari tangkai bunga ini pada dinding goa dan akhirnya mereka dapat menemukannya. Dari ukiran di atas itu terdapat ukiran bunga yang terus menuju ke bawah dan berakhir pada punggung sebuah batu yang berdiri di dekat dinding.

“Jangan-jangan inilah rahasianya!” kata Cin Hai sambil memutar-mutar patung itu, akan tetapi biar pun tidak berapa besar, ternyata patung itu berat sekali.

“Niocu, marilah kita pindahkan patung yang berat ini, siapa tahu kalau-kalau di bawahnya terdapat pintu rahasia!” Ang I Niocu kemudian membantu dan dengan persatuan tenaga mereka, terangkatlah patung itu.

“Awas!” tiba-tiba Ang I Niocu berseru.

Mereka segera menurunkan kembali patung itu dan cepat melompat mundur karena dari atas tiba-tiba terbuka sebuah lubang di atas itu! Ternyata bahwa patung ini dipasangi tali baja yang menghubungkan patung itu dengan sebuah pintu di langit-langit goa. Tali baja ini tidak dapat dilihat oleh karena dipasang di sebelah dalam dinding batu yang sengaja dibuat oleh orang-orang kuno untuk menutupi rahasia ini.

Begitu pintu pada langit-langit terbuka, dari lubang di balik pintu itu segera meluncur turun sebuah barang. Cin Hai dan Ang I Niocu sangat terkejut, dan cepat bukan main keduanya sudah melompat ke belakang sambil bersiap menghadapi segala serangan. Akan tetapi serangan itu tidak pernah datang, yang terjadi adalah tiba-tiba terdengar suara keras saat barang yang tadi meluncur turun, yang ternyata ialah sebuah peti, jatuh menimpa lantai.

Ang I Niocu dan Cin Hai merasa terkejut sekali akan tetapi juga girang. Mereka berdua saling pandang sambil tersenyum dan walau pun hati mereka sangat ingin membuka peti itu, akan tetapi mereka masih berdebar-debar maka untuk beberapa lama mereka hanya berdiri saja.

“Niocu, hayo kita buka peti itu. Siapa tahu di dalamnya penuh dengan emas permata!”

“Jangan-jangan terisi binatang beracun. Bagaimana kalau ada ular berbisa di dalamnya?” kata Ang I Niocu sambil tertawa.

Keduanya lalu maju dan bersama-sama membuka tutup peti itu dan mereka tercengang sekali. Pada saat tutup peti itu dibuka, nampaklah sinar cahaya yang berkilauan gemilang keluar dari dalam peti dan ketika mereka sudah membiasakan mata mereka yang tadinya menjadi kesilauan, mereka melihat bahwa peti kecil itu berisikan dua batang pedang yang indah sekali dan yang mengeluarkan cahaya berkilauan!

“Ah, inilah Liong-cu-kiam!” kata Cin Hai dan Ang I Niocu mengangguk.

“Agaknya benar juga, inilah pedang yang dimaksudkan oleh Susiok-couw Bu Pun Su itu!”

Otomatis mereka lalu mengulurkan tangan dan tanpa disengaja mereka telah mengambil pedang yang sesuai dengan mereka. Cin Hai mengambil pedang yang lebih panjang dan yang pada gagangnya selain tertulis nama pedang itu, yaitu Liong-cu-kiam, juga terdapat huruf ‘jantan’, sedangkan pedang yang terambil oleh Ang I Niocu terdapat huruf ‘betina’!

“Bagaimana Niocu? Harus kita apakan pedang ini?”

“Ehh, anak bodoh!” kata Ang I Niocu dan wajah Cin Hai menjadi merah berseri karena sudah lama dia rindu akan sebutan ini yang keluar dari mulut Ang I Niocu. “Tentu saja dua pedang ini kita serahkan kepada Susiok-couw! Akan tetapi sementara ini biarlah kita membawa pedang ini seorang satu.”

“Niocu, lubang di atas itu besar dan gelap, mungkin di sanalah tersimpannya harta yang kau sebutkan itu.”

Keduanya lalu berdiri dan memandang ka atas, akan tetapi karena lubang itu benar-benar gelap menghitam, mereka tidak melihat sesuatu.

“Marilah kita periksa ke atas, biarkan aku memasukinya,” kata Cin Hai, akan tetapi pada saat itu di luar terdengar banyak suara kaki orang.

“Hai-ji, lekas kita kembalikan patung itu!” Keduanya lalu mengangkat kembali patung tadi ke tempat semula dan aneh! Lubang itu tertutup dengan sendirinya dari atas!

Cin Hai sudah hendak berlari keluar, akan tetapi tiba-tiba tangan Ang I Niocu memegang lengannya, “Jangan keluar dulu, mungkin kalau terlihat oleh mereka, akan menimbulkan kecurigaan!”

Keduanya segera bersembunyi sambil mengintai dari dalam goa dan setelah rombongan orang yang terdengar bunyi kakinya itu lewat, Ang I Niocu dan Cin Hai cepat melompat keluar dari dalam goa dengan pedang Liong-cu-kiam di tangan.

Sesudah tiba di luar goa, keduanya memandang kepada pedang masing-masing dengan amat kagum oleh karena setelah berada di tempat terang ternyata sepasang pedang ini mengeluarkan cahaya yang amat indahnya. Sinar matahari yang menimpa mata pedang, terpantul kembali menimbulkan berbagai warna pada sinar pedang itu hingga keduanya selain merasa kagum, juga merasa girang sekali.

“Lebih baik kita simpan pedang ini, apa bila terlihat orang akan menimbulkan keheranan,” kata Ang I Niocu dan keduanya lalu menyimpan pedang itu di dalam baju masing-masing.

“Sekarang tiba waktunya bagimu untuk menceritakan segala pengalamanmu, Niocu. Aku sudah amat ingin mendengarkannya,” Cin Hai berkata sambil duduk di atas sebuah batu yang besar.

Ang I Niocu duduk di dekatnya dan mulai bercerita tentang segala hal yang dialaminya. Akan tetapi dia masih merasa malu untuk menceritakan tentang pertunangannya dengan Lie Kong Sian. Pada saat dia menceritakan pertemuannya dengan Sie Ban Leng, Cin Hai berkata,

“Dia itu adalah pamanku sendiri yang telah mengkhianati Ayah Bundaku.”

Terkejutlah hati Ang I Niocu mendengar ucapan ini. “Ahh, pantas saja ada persamaan pada mukanya dan mukamu. Hayo, kau sekarang ceritakan pengalamanmu!”

Cin Hai lalu menceritakan semua pengalamannya pula, dan ketika pemuda itu bercerita tentang pertandingannya melawan Song Kun.

Ang I Niocu tanpa terasa ia berseru, “Ah, Song Kun itu adalah Sute-mu yang jahat!”

“Sute siapa?” tanya Cin Hai terheran.

Tiba-tiba wajah Ang I Niocu menjadi merah. “Sute dia… ehhh, penolongku itu, Lie Kong Sian. Mereka berdua adalah murid-murid dari Han Le Sianjin, adik seperguruan Susiok-couw!”

Akhirnya, mengertilah Cin Hai dan ia berkata, “Menurut Suhu Bu Pun Su, pedang yang dapat menghadapi pedang Song Kun yang jahat itu hanyalah pedang Liong-cu-kiam ini. Sekarang pedang ini sudah kupegang, maka aku tidak takut lagi menghadapi dia!”

“Jangan kuatir, Hai-ji, aku pun bersedia membantumu untuk merobohkan dia itu, biar pun kepandaianku jauh berada di bawah tingkat kepandaianmu!”

“Ahh, jangan kau terlampau merendahkan diri, Niocu.”

Kemudian, Ang I Niocu lalu minta pada Cin Hai agar supaya pemuda ini memperlihatkan ilmu pedang yang dahulu diciptakan atas bantuannya. Dengan suka hati Cin Hai segera mengeluarkan pedang Liong-cu-kiam, lantas mulai bersilat sehingga Ang I Niocu menjadi kagum sekali.

“Ahh, kepandaianmu makin maju saja,” katanya. ”Sungguh aku merasa gembira melihat kawan-kawan mendapat kemajuan hebat. Terutama sekali yang sekarang menerima ilmu silat luar biasa adalah Ma Hoa. Ia sungguh lihai sekali dan permainannya bambu runcing benar-benar mengagumkan,”

“Tak disangka bahwa Ma Hoa yang tadinya terjerumus ke dalam tebing yang demikian tinggi, tidak saja selamat, bahkan menerima pelajaran ilmu silat tinggi. Sungguh nasib orang tidak tentu. Akan tetapi, selain Ma Hoa, Lin Lin juga bernasib baik oleh karena kini ia mendapat gemblengan dari Suhu.” Ketika membicarakan hal kekasihnya ini, wajah Cin Hai berseri dan matanya bersinar.

“Hai-ji demikian besar kasih sayangmu pada Lin Lin,” kata Ang I Niocu sambil tersenyum, “dan aku percaya bahwa cinta kasih gadis itu kepadamu tidak kalah besarnya. Aku girang sekali melihat kau bahagia, Hai-ji.”

Cin Hai merasa terharu sekali karena teringat akan pengorbanan Ang I Niocu di Pulau Kim-san-to demi kebahagiaannya dan Lin Lin.

Dengan mesra dan suara penuh harapan, Cin Hai memandang Ang I Niocu dan berkata, “Niocu, memang hatimu mulia sekali. Kudoakan sepenuh hatiku semoga kau pun akan dikaruniai kebahagiaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan mendapatkan seorang jodoh yang baik, sebagaimana diharapkan pula oleh Suhu.”

Merahlah seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya mendengar ucapan pemuda itu. Cin Hai merasa kuatir kalau-kalau Nona Baju Merah itu menjadi marah mendengar kata-katanya yang lancang itu, maka dia buru-buru melanjutkan bicaranya. “Maaf, Niocu, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu...”

Ang I Niocu mengerling padanya dan tersenyum manis. “Mengapa minta maaf? Aku tidak marah dan ucapanmu itu memang berharga untuk dipertimbangkan. Mari kita kembali ke goa itu. Mereka telah pergi dan sekarang kita memiliki kesempatan untuk mencari harta terpendam yang menurut keterangan seharusnya ada di tempat itu.”

Cin Hai merasa girang sekali mendengar ucapan Ang I Niocu tadi, maka diam-diam dia mengharapkan perubahan perasaan Ang I Niocu terhadap Kang Ek Sian, pemuda yang amat mencinta Dara Baju Merah itu.

Mendengar ajakan Ang I Niocu untuk mencari harta terpendam, sungguh pun dia sendiri tidak ingin mendapatkan harta itu, namun tanpa membantah lagi dia lalu bangun berdiri dan mengikuti nona itu kembali ke dalam goa di mana mereka tadi sudah mendapatkan Liong-cu-kiam.

“Niocu, lubang di atas itu kecil dan tak akan dapat dimasuki oleh dua orang, biarlah nanti aku saja yang masuk dan kau menjaga di luar goa, takut kalau-kalau ada orang yang akan melihat kita dan mengetahui rahasia tempat ini.”

“Baik, akan tetapi kau berhati-hatilah karena bukan tidak mungkin bahwa dalam tempat yang aneh terdapat hal-hal yang aneh dan berbahaya pula. Kabarnya pendeta-pendeta yang dulu menyimpan benda-benda ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi sekali.”

Cin Hai menjadi tertarik sekali. “Niocu, sebelum kita bertindak lebih jauh, terlebih dulu harap kau suka ceritakan padaku tentang riwayat harta terpendam itu karena tidak enak mengerjakan sesuatu yang belum diketahui baik keadaannya.”

Ang I Niocu dapat mengerti perasaan dan pendapat Cin Hai ini, maka dia lalu duduk di atas sebuah batu dalam goa itu dan berkata, “Memang seharusnya kau tahu akan hal itu, akan tetapi aku sendiri pun hanya mendengar dari lain orang dan ceritanya hanya berupa samar-samar saja,” Nona Baju Merah itu lalu menceritakan riwayat harta terpendam di dalam goa itu sebagaimana yang ia dengar dari lain orang.

Menurut pendengarannya, diceritakan orang bahwa ratusan tahun yang lalu, pada waktu pendeta-pendeta Buddha mulai memperluas perkembangan agamanya ke daerah timur, mereka mendapat tantangan keras dari orang-orang yang tidak menyetujui pelajaran agama mereka hingga tak jarang terjadi pertempuran hebat yang mengorbankan banyak jiwa orang.

Pada masa itu, di dekat perbatasan Tiongkok sebelah barat laut terdapat suku bangsa Kazak yang amat tangguh dan kuat akan tetapi dipimpin oleh seorang jahat. Orang-orang Kazak ini tiada hentinya menyerang ke wilayah pedalaman serta melakukan perampokan-perampokan yang ganas, mengumpulkan banyak barang berharga sehingga mereka itu memiliki banyak sekali emas dan permata hasil perampokan itu.

Hal ini membuat kaisar menjadi marah dan karena keadaan mereka memang kuat sekali, akhirnya kaisar membaiki para pendeta Buddha dan dapat menggunakan tenaga mereka untuk menyerbu dan menghancurkan bangsa Kazak yang suka merampok itu.

Akan tetapi, sesudah para pendeta Buddha itu berhasil membasmi para perampok serta merampas kembali barang-barang berharga, kaisar berlaku curang dan bahkan kemudian mengerahkan tentara untuk mengusir pendeta-pendeta itu dan merampas barang-barang berharga itu.

Karena tidak pernah menyangka-nyangka, para pendeta itu dapat terpukul hingga cerai berai dan sebagian di antara mereka segera melarikan diri ke goa-goa Tun-huang serta menyimpan harta benda itu di tempat rahasia. Akan tetapi, mereka itu dapat dikejar dan ditewaskan sehingga tiada seorang pun tahu di mana tempat harta pusaka itu disimpan. Hanya ada seorang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dan kemudian membuat peta pada cawan dan tutupnya.

“Nah, hanya sekianlah yang kudengar dari keterangan orang-orang, tetapi benar tidaknya entahlah,” kata Ang I Niocu kepada Cin Hai yang mendengarkan dengan hati tertarik.

“Kalau begitu, seandainya kita mendapatkan kembali harta itu, akan kita gunakan untuk apakah?” tanyanya dengan muka memandang bodoh.

Ang I Nicu tersenyum. “Hai-ji, kau benar-benar linglung! Baru kau saja orangnya yang tak tahu harus mempergunakan harta benda untuk apa! Biarlah kita mencarinya dahulu dan kalau sudah berhasil, kita bertanya kepada Susiok-couw yang tentu akan tahu apa yang harus kau lakukan.”

“Tapi, kau sendiri, Niocu? Untuk apakah harta benda itu bagimu?”

“Anak bodoh! Aku sih hanya membantu kau saja. Aku sendiri tidak membutuhkan segala macam barang itu!”

“Aku pun tidak membutuhkan! Kalau begini halnya, mengapa kita berdua harus bersusah payah mencarinya?”

“Hai-ji, ketahuilah. Selain kita, masih banyak pihak yang mencari harta itu dan apa bila harta benda yang besar itu terjatuh ke tangan orang jahat, tentu akan menimbulkan mala petaka belaka!”

Cin Hai mengangguk-angguk dan berkata, “Benar, benar! Sekarang aku ingat akan bunyi ujar-ujar yang menyatakan bahwa harta benda di tangan orang budiman akan merupakan alat hidup yang berguna dan mulia, akan tetapi sebaliknya apa bila harta benda terjatuh di tangan orang rendah budi akan menjadi alat hidup yang jahat dan merusak. Kau benar, Niocu!”

Ang I Niocu tertawa “Ah, kau dan ujar-ujarmu! Hayo kita bekerja dan jangan mencoba menjadi guru sastera di dalam goa ini!”

Cin Hai juga tertawa, kemudian mereka lalu bekerja sama untuk menggerakkan patung yang menjadi kunci pembuka pintu di atas goa. Sesudah lubang di langit-langit goa itu terbuka, Cin Hai segera melompat ke atas dan mempergunakan tangan kanannya untuk menyambar pinggiran lubang dan bergantungan di situ, kemudian dia mengayun kakinya dan masuk merayap ke dalam lubang kecil itu.

“Ahh, gelap sekali, Niocu!” katanya.

“Biasakan dulu matamu di tempat yang gelap itu, aku akan membuat api unggun di dalam goa ini agar cahayanya akan masuk ke situ dan menerangi dalam lubang,” kata Ang I Niocu yang segera mengumpulkan kayu-kayu kering di luar goa.

Tiba-tiba ketika ia sedang mengumpulkan kayu bakar itu, ia melihat dari jauh mendatangi seorang perwira. Cepat dia masuk ke dalam goa dan berkata kepada Cin Hai, “Hai-ji kau cepatlah bekerja, di luar sana ada orang, biar aku pancing dia pergi ke tempat lain!”

Setelah menyalakan api unggun, Ang I Niocu lalu meninggalkan Cin Hai dan berlari ke luar dari goa. Ia mengintai dan melihat betapa perwira itu berjalan dengan langkah lebar menuju ke situ! Ang I Niocu segera melompat jauh dan memapaki orang itu dan setelah dekat sehingga perwira itu melihatnya, dia lalu membelok ke kanan dan memperlihatkan muka takut-takut.

Perwira itu segera merasa curiga melihat seorang wanita di tempat yang sunyi itu yang memperlihatkan sikap takut-takut dan bersembunyi ketika melihatnya. Maka dia segera mengejar dan berseru, “Nona, tunggu dulu!”

Akan tetapi, Ang I Niocu berlari terus menjauhkan diri dari goa di mana Cin Hai sedang mencari harta pusaka dan setelah tiba di tempat yang cukup jauh, ia berhenti berlari dan berdiri sambil bertolak pinggang.

Perwira itu cepat sekali larinya dan sesudah berhadapan muka, dia memandang kepada Ang I Niocu dengan hati heran dan kagum. Tadinya dia mengira bahwa wanita itu adalah seorang penduduk situ, yaitu seorang perempuan suku bangsa Hui. Akan tetapi alangkah herannya ketika sekarang melihat bahwa wanita yang dikejarnya ternyata adalah seorang perempuan yang cantik jelita bagaikan seorang bidadari! Dia memandang dengan mata terbelalak dan lupa untuk menegur karena kagumnya.

Sementara itu, Ang I Niocu juga tercengang ketika menyaksikan betapa perwira itu tadi telah mempergunakan ilmu lari cepat yang cukup mengagumkan, dan tahulah dia bahwa perwira ini bukanlah orang sembarang. Dia lalu memandang penuh perhatian.

Perwira itu memakai topi pahlawan yang indah dan dihias bulu-bulu, ada pun rambutnya yang panjang dan hitam itu dikuncir dan tergantung pada punggungnya. Usianya masih muda, paling banyak baru tiga puluh lima tahun, tubuhnya sedang namun nampak kuat, sedangkan di pinggangnya tergantung sebatang pedang. Sikapnya gagah dan sepasang matanya bersinar tajam berpengaruh.

Ang I Niocu tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan panglima tertinggi di seluruh kerajaan pada waktu itu, yaitu Kam Hong Sin, yang kini menjadi panglima nomor satu di kerajaan! Ia datang menyusul para anak buahnya karena menganggap bahwa keadaan di barat sangat genting sehingga perlu turun tangan sendiri. Karena berhak bekerja secara diam-diam, maka perwira ini meninggalkan kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

“Perwira gadungan!” Ang I Niocu sengaja memaki untuk mencari perkara agar perwira itu tidak melanjutkan perjalanannya dan melihat Cin Hai, “Mengapa kau mengejarku?”

Dimaki demikian itu, Kam Hong Sin hanya tersenyum dan menjawab, “Nona yang cantik, mengapa pula kau melarikan diri dariku? Kau adalah seorang Han, apa pula kerjamu di daerah ini?”

“Kau peduli apa? Pergi!” Ang I Niocu yang segera mengulur tangan kanan mendorong agar perwira itu roboh dan lari ketakutan.

Dorongannya ini bukanlah gerakan sembarangan saja, karena ia menggunakan pukulan dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang kelihaiannya luar biasa dan tidak mungkin ditangkis oleh orang sembarangan saja.

Akan tetapi bukan main terkejutnya gadis ini ketika tubuh perwira itu tiba-tiba berkelebat dan berhasil mengelak dengan gerakan yang amat cepat! Perwira itu juga terkejut melihat serangan yang demikian hebat dan sudah mendatangkan angin yang terasa panas ketika menyerempet ujung jari tangannya itu!

“Eh, ehh, siapakah kau yang lihai ini?!” teriaknya.

Akan tetapi Ang I Niocu menyerang lagi dengan penasaran sambil membentak, “Peduli apakah kau siapa adanya aku?”

Kini perwira tertinggi di kerajaan itu tidak berani main-main lagi dan ia lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya untuk menghadapi serangan-serangan Ang I Niocu yang tidak boleh dibuat gegabah.

Ang I Niocu merasa kagum dan terheran-heran melihat seorang perwira kerajaan yang dapat menghadapi ilmu silatnya Pek-in Hoat-sut dan bahkan dapat membalas dengan serangan-serangan yang tak kurang hebatnya! Ilmu ginkang perwira muda itu betul-betul membuat Ang I Niocu tertegun oleh karena gerakannya demikian ringan hingga tubuhnya berkelebat bagaikan seekor burung saja sehingga setiap serangan dari Pek-in Hoat-sut dapat dihindarkannya dengan cepat, bahkan lweekang dari perwira itu pun tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri.

Ang I Niocu merasa penasaran sekali melihat betapa semua serangan-serangannya tak mendatangkan hasil, maka sambil membentak marah dia mencabut Liong-cu-kiam yang tersembunyi di dalam jubahnya.

“Perwira gadungan, rasakan kelihaian Ang I Niocu!”

Bukan main terkejutnya Kam Hong Sin mendengar bahwa wanita baju merah ini adalah Ang I Niocu yang tersohor dan yang sudah lama ingin sekali dijumpainya. Ia melompat ke belakang lalu mengangkat kedua lengan sebagai penghormatan.

“Ahh, ahh, tidak tahunya siauwte sekarang berhadapan dengan Ang I Niocu yang sudah menggemparkan dunia kang-ouw. Maaf, maaf, siauwte tidak tahu maka berani berlaku kurang ajar kepada Lihiap.”

“Ciangkun siapakah?” tanya Ang I Niocu heran.

“Siauwte adalah Kam Hong Sin.”

Kini Ang I Niocu yang terkejut karena tidak pernah disangkanya bahwa perwira muda itu adalah panglima tertinggi di kerajaan. Pantas saja kepandaiannya demikian hebat.

“Ah, kiranya Kam-ciangkun yang gagah perkasa. Mengapa Ciangkun meninggalkan kota raja dan berada di tempat asing dan sunyi ini?”

Akan tetapi pada saat itu, kedua mata Kam Hong Sin yang tajam itu sedang memandang dengan penuh perhatian pada pedang Ang I Niocu sehingga ia tak menjawab pertanyaan gadis itu, bahkan membalas dengan sebuah pertanyaan pula,

“Lihiap, bukankah pedang di tanganmu itu pedang Liong-cu-kiam?”

“Ciangkun, di dunia kang-ouw ada peraturan yang tidak membenarkan orang bertanya tentang pedang lain orang.”

Kam Hong Sin tersenyum, kemudian berkata dengan suara tenang, “Siauwte tahu akan peraturan itu. Akan tetapi harap diingat bahwa pada saat ini siauwte bukan berhadapan dengan Lihiap sebagai orang yang menaruh perhatian dan kagum. Kalau kiranya Lihiap merasa keberatan untuk menjawab, siauwte tetap masih akan mengulangi pertanyaan itu dengan mengingat kedudukan siauwte sebagai seorang perwira yang bertugas mencari pedang pusaka kerajaan yang hilang pada ratusan tahun yang lalu. Benarkah pedang di tanganmu itu pedang Liong-cu-kiam?”

Terpaksa Ang I Niocu yang tak mau membohong menganggukkan kepala.

“Dari manakah kau dapatkan Liongcu-kiam ini, Lihiap?”

“Hal ini tak perlu kuberitahukan kepada siapa pun juga,” Ang I Niocu menjawab setengah marah.

Kam Hong Sin tertawa dan berkata, “Biar pun kau tak memberitahukan, aku tahu bahwa pedang ini tentu kau dapatkan di sebuah di antara goa-goa Tun-huang ini. Lihiap, pedang ini adalah pedang pusaka kerajaan dan yang berhak memiliki dan menyimpannya adalah kaisar sendiri. Maka, kuminta kau dengan hormat sukalah kau mengembalikan pedang itu kepadaku agar dapat kuserahkan kepada kaisar.”

Ang I Niocu tersenyum sindir. “Enak saja kau bicara, Ciangkun. Aku yang mendapatkan pedang ini dan akulah yang berhak! Kecuali aku, orang-orang Turki serta Mongol juga mencarinya dan kalau pedang ini terjatuh ke dalam tangan mereka, apakah mereka mau mengembalikan kepadamu?”

Kam Hong Sin memandang tajam, “Lihiap, sudah lama aku mengagumi namamu sebagai seorang pendekar besar, dan aku merasa segan sekali untuk melawanmu, walau pun hal ini bukan berarti bahwa aku merasa takut. Akan tetapi, kalau kau tidak mau menyerahkan pedang itu, sebagai seorang panglima yang setia maka terpaksa aku mesti menggunakan kekerasan!”

Sepasang mata Ang I Niocu yang indah itu bercahaya marah. “Bagus, hendak kulihat bagaimana caramu menggunakan kekerasan!”

“Sudah kukatakan bahwa aku mengagumi padamu, akan tetapi bukan berarti takut!” kata Kam Hong Sin dengan suara masih tenang akan tetapi tiba-tiba ia mencabut pedangnya yang pada gagangnya tergantung sehelai tali hitam panjang. Ia membelitkan tali itu pada pergelangan tangannya dan berkata, “Lihiap, kalau kau tidak mau menyerahkan pedang kerajaan itu dengan jalan damai dan tak mau memberitahukan di mana pula tempat harta pusaka itu, terpaksa aku menggunakan jalan kekerasan dengan pedang di tangan!”

“Siapa takut kepadamu?!” bentak Ang I Niocu dengan marah sambil menyerang dengan pedang Liong-cu-kiam.

Kam Hong Sin lalu berseru keras dan menangkis dengan pedangnya yang juga bukan pedang sembarangan, lalu balas menyerang dengan hebat. Ilmu pedang perwira ini luar biasa sekali karena selain gerakannya cepat dan kuat, juga mengandalkan ginkang-nya yang luar biasa sehingga membuat tubuhnya berkelebat bagaikan halilintar menyambar.

Akan tetapi Ang I Niocu telah memiliki ilmu pedang yang mencapai tingkat tinggi sehingga ia lantas melakukan desakan-desakan hebat dan tubuhnya berputar cepat menggerakkan Liong-cu-kiam yang bercahaya berkilauan itu. Dengan gerakannya yang indah dan cepat, Ang I Niocu mendesak terus sehingga Kam Hong Sin benar-benar merasa terkejut dan kagum.

Sudah lama ia mendengar bahwa ilmu pedang Ang I Niocu telah menggemparkan dunia persilatan dan sudah lama dia ingin bertemu dan apa bila mungkin mencoba kepandaian pendekar wanita itu. Kini keinginannya terkabul sebab bukan saja ia memiliki kesempatan untuk mencoba ilmu pedang gadis itu, bahkan mereka bertempur dengan mati-matian. Terpaksa dia mengandalkan ginkang-nya untuk menghindarkan diri dari rangsekan gadis itu.

Ang I Niocu merasa penasaran karena belum juga dia berhasil merobohkan lawan yang tangguh dan gesit ini, maka lalu maju menyerang dan merobah ilmu pedangnya, meniru gerakan Cin Hai dengan serangan Ilmu Pedang Daun Bambu yang lihai. Biar pun ia tidak mempelajari ilmu pedang ini, akan tetapi pada saat menciptakan ilmu pedang ini Cin Hai mendapat bantuan darinya, maka sedikitnya ada beberapa jurus terlihai yang masih bisa teringat olehnya dan kini dia mendesak sambil mengeluarkan ilmu silat itu.

Melihat hebatnya Liong-cu-kiam yang digerakkan menyambar pinggangnya dari arah kiri ke kanan, Kam Hong Sin merasa terkejut sekali dan sambil bersuara keras ia mengenjot tubuhnya ke udara sambil berputar. Ginkang-nya benar-benar hebat dan mengagumkan sekali.

Dengan gerakan tersebut ia melompat tinggi dengan tubuh berputar beberapa kali hingga terhindar dari serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Ang I Niocu. Kemudian, dari atas Kam Hong Sin membalas serangan Ang I Niocu dengan meluncurkan pedangnya ke arah kepala Ang I Niocu dan aneh! Pedangnya itu terlepas dari tangannya dan melayang ke arah kepala Ang I Niocu bagaikan sebatang tombak yang diluncurkan!

Ang I Niocu cepat mengelak dan ketika pedang itu meluncur hendak menyentuh tanah, tiba-tiba saja pedang itu dapat bergerak kembali ke tangan Kam Hong Sin yang sudah melompat turun! Bukan main terkejutnya Ang I Niocu melihat ilmu pedang yang aneh dan lihai ini dan baru dia tahu bahwa tali hitam panjang yang mengikat gagang pedang dan yang dibelitkan di pergelangan tangan perwira itu bukan tidak ada gunanya.

Dengan tali panjang itu, maka pedang dapat disambitkan hingga dapat menyerang lawan dari jarak jauh tanpa kuatir pedang itu akan lenyap karena dapat dibetot kembali pada saat pedang itu tidak mengenai sasaran! Hal ini tidak begitu mengherankan, akan tetapi yang mengagumkan adalah cara Kam Hong Sin menggerakkan pedangnya pada waktu menyambit. Agaknya dia telah mempelajari ilmu pedang yang aneh ini sampai mendalam betul hingga pedang itu dapat dilepas dan ditarik sesuka hatinya.

Menghadapi ilmu pedang yang aneh dan lihai ini, Ang I Niocu berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling hebat. Mereka lalu bertempur kembali dengan serunya dan kali ini karena mengandalkan pedangnya yang sering kali diluncurkan untuk menyerang dari jauh, Kam Hong Sin dapat mengimbangi permainan pedang Ang I Niocu yang kini menjadi terdesak oleh serangan-serangan aneh dan berbahaya itu.

Dia merasa seakan-akan Kam Hong Sin memiliki ilmu kepandaian kiam-sut yang disebut hui-kiam atau pedang terbang yang sering dia dengar dari dongeng-dongeng yang belum pernah disaksikan. Kini mengertilah Ang I Niocu bahwa yang disebut hui-kiam atau pun pedang terbang itu tentulah ilmu pedang seperti yang dimiliki oleh Kam Hong Sin ini, yaitu pada gagang pedang diikat dengan sehelai tali panjang yang dapat mulur hingga pedang dapat disambitkan, dilayangkan dengan betotan pada talinya.

Akan tetapi, walau pun Ang I Niocu mulai terdesak oleh perwira yang tangguh dan ilmu kepandaiannya benar-benar tinggi itu, dia sama sekali tidak menjadi gentar karena bagi Ang I Niocu, di dalam hatinya tak pernah ada rasa takut menghadapi lawan. Ia melawan dengan gerakan-gerakan tenang dan cukup kuat sehingga sukarlah agaknya bagi Kam Hong Sin untuk merobohkan lawan yang luar biasa ini.

Diam-diam perwira itu mengeluh karena kalau saja ia bisa menarik gadis lihai ini menjadi kawan di pihaknya, maka ia tentu akan merasa lebih yakin akan keberhasilan tugas yang sedang dijalankannya.

Pada saat pertempuran masih berjalan seru, tiba-tiba terdengar suitan tiga kali dari jauh. Kam Hong Sin memperlihatkan muka girang dan membalas bersuit keras tiga kali pula. Tidak lama kemudian, muncullah Sie Ban Leng dan dua orang pertapa yang bukan lain ialah Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang! Melihat betapa Kam Hong Sin bertempur dengan Ang I Niocu, Sie Ban Leng teringat akan sakit hatinya terhadap Dara Baju Merah yang telah menolak cintanya itu, maka ia lalu melompat menghampiri dan berkata,

“Ang I Niocu! Mengapa kau memusuhi Kam-ciangkun pula?”

Melihat datangnya tiga orang ini, Ang I Niocu dan Kam Hong Sin lalu menunda senjata masing-masing dan melompat mundur.

“Ang I Niocu!” seru pula Ceng To Tosu sambil mewek hampir menangis “Mengapa Lihiap bertempur melawan Kam-ciangkun?”

Sementara itu, Ceng Tek Hosiang berpaling kepada Kam Hong Sin kemudian berkata, “Kam-ciangkun, Nona ini adalah Ang I Niocu seorang pendekar gagah dan bukan musuh kita!”

Kam Hong Sin tersenyum. “Sebetulnya aku pun segan melawan dia. Akan tetapi, ia telah mendapatkan tempat itu dan tidak mau memberitahukan kepadaku.”

“Apa...?” Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang berseru keras sambil membelalakkan mata penuh ketidak percayaan.

“Lihat saja, dia telah mendapatkan pedang Liong-cu-kiam, akan tetapi dia juga tidak mau mengembalikan pedang itu kepadaku.”

Tiba-tiba Sie Ban Leng mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam.

“Ha-ha-ha, Ang I Niocu, tidak tahunya kedatanganmu di sini karena kau juga mengingini harta pusaka dan pedang itu! Kembalikanlah pedang Liong-cu-kiam kepada kami, kalau kau membangkang berarti kau akan mendapat bencana.”

“Aku tidak hendak menyerahkan pedang ini, habis kalian mau apa?” bentak Ang I Niocu dengan garang.

“Memang kau tidak tahu budi! Kau pernah kutolong, akan tetapi kau bahkan menghinaku dan menolak maksud baikku, sekarang kau mencuri pedang kerajaan pula,” cela Sie Ban Leng dengan gemas.

Tiba-tiba Ang I Niocu menudingkan pedangnya ke arah muka Sie Ban Leng dan memaki. “Sie Ban Leng, manusia tak berbudi! Kau pandai memutar lidah dan kau tak mau melihat mukamu sendiri! Kau seorang yang telah mengkhianati kakaknya, yang sudah membuat kakaknya sekeluarga habis binasa, masih mau bicara tentang budi? Tak tahu malu!!”

Ang I Niocu teringat akan cerita Cin Hai mengenai kejahatan Sie Ban Leng yang sudah menjadi biang keladi kebinasaan seluruh keluarga pemuda itu, sebab itu hatinya menjadi panas dan kalau mungkin pada saat itu juga ia hendak memenggal batang leher Sie Ban Leng.

Sie Ban Leng merasa terkejut sekali hingga wajahnya menjadi pucat. “Bangsat wanita, jangan kau berbicara yang bukan-bukan!” katanya sambil mengayunkan senjatanya yang hebat, yaitu sebuah rebab yang mengeluarkan suara mengiung ketika ia gerakkan menyambar kepala Ang I Niocu.

“Akan kubalaskan sakit hati mendiang Sie Gwat Leng, kakakmu itu!” teriak Ang I Niocu sambil mengelak dan menyerang dengan hebat.

Pedang Liong-cu-kiam yang tajam luar biasa itu menyambar dan beradu dengan rebab di tangan Sie Ban Leng. Terdengarlah suara keras dan ternyata beberapa helai tali senar rebab yang terbuat dari pada kawat baja itu putus.

Sie Ban Leng merasa terkejut dan marah sekali, maka dia lalu menyerang kalang-kabut. Sementara itu, Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang hanya berdiri memandang dengan bengong, akan tetapi ketika Kam Hong Sin memberi aba-aba supaya mereka membantu, mereka terpaksa mengeluarkan senjata dan mengeroyok Ang I Niocu! Juga Kam Hong Sin berseru sambil menerjang.

“Ang I Niocu, lepaskan pedang Liong-cu-kiam itu!”

Akan tetapi, jangankan baru dikeroyok empat, biar pun dia dikepung oleh ratusan orang, Ang I Niocu takkan merasa gentar sungguh pun kepandaian empat orang pengeroyoknya itu bukan main hebatnya hingga sebentar saja dia telah terkurung dan terdesak hebat!

Dia mainkan ilmu pedangnya Ngo-lian-hoan Kiam-hoat yang cepat dan tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedang Liong-cu-kiam, melindungi tubuhnya dari senjata-senjata lawan yang datang bagaikan air hujan itu! Dia hanya dapat bertahan dan melindungi diri saja, tanpa dapat membalas sedikit pun juga.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Sementara itu, Cin Hai yang ditinggal seorang diri di lubang kecil pada langit-langit goa, setelah membiasakan matanya di tempat gelap dan mendapat sedikit penerangan dari api unggun yang dibuat oleh Ang I Niocu, lalu merangkak maju ke dalam lubang yang ternyata merupakan jalan terowongan kecil itu. Jalan itu besarnya hanya tiba pas saja dengan tubuhnya, maka ia merangkak maju lagi sambil meraba-raba.

Tiba-tiba ia melihat dua benda yang mencorong di sebelah depan, seperti sepasang mata harimau atau binatang buas lain! Ia terkejut sekali dan cepat mempersiapkan pedangnya di tangan, karena jalan mundur tak dapat ditempuhnya cepat-cepat. Dalam tempat yang merupakan lubang sempit itu, tak mungkin membalikkan tubuh dan jalan keluar baginya hanyalah merangkak mundur! Kalau dua benda yang bersinar itu ternyata mata binatang buas, ular besar umpamanya, maka dia terpaksa harus menghadapinya dalam keadaan merangkak!

Berbahaya sekali dalam keadaan demikian melawan seekor binatang buas, apa lagi bila binatang itu berbisa! Akan tetapi, yang aneh sekali, kedua benda bagaikan mata yang mencorong itu, tidak bergerak-gerak dari tempatnya meski pun sinarnya yang mencorong itu tertimpa cahaya api unggun nampak berkeredepan bagaikan mata binatang hidup.

Apakah gerangan benda itu? Untuk beberapa lama Cin Hai mendekam tanpa bergerak, takut kalau-kalau binatang itu jadi terkejut dan menyerang maju. Akan tetapi kemudian ia menduga bahwa boleh jadi binatang itu sudah mati dengan mata terbuka, karena kalau binatang itu masih hidup, mengapa sama sekali tak pernah bergerak? Namun dia masih ragu-ragu karena memang ada juga binatang yang sanggup berdiam lama sekali tanpa bergerak bagaikan mati, seperti halnya seekor ular. Sesudah lama menunggu, timbul pula keberaniannya dan dengan hati-hati sekali dia bergerak maju lagi dengan pedang siap disodorkan ke depan!

Setelah maju kurang lebih lima kaki jauhnya, dia sudah berada dekat sekali dengan dua buah benda yang mencorong itu, lalu benda itu disentuhnya dengan ujung pedangnya.

“Tingg…!”

Ujung pedangnya berdenting dan benda itu bergerak menggelinding. Ternyata benda itu adalah dua potong batu yang pada waktu dipegangnya hanya sebesar telur burung! Akan tetapi batu itu bercahaya dan ketika ia pandang penuh perhatian ternyata olehnya bahwa batu-batu itu bercahaya indah sekali.

Hatinya berdebar keras. Inilah sebagian dari pada harta pusaka itu. Dia maju terus, dan semakin banyak batu-batu bercahaya seperti itu, bahkan kini ia melihat banyak potongan emas dan perak. Yang hebat adalah batu-batu permata itu, karena bertumpuk-tumpuk sangat banyaknya pada suatu tempat, membuat terowongan kecil itu buntu, tertutup oleh benda-benda berharga itu.

Cin Hai merasa girang sekali. Tidak salah lagi, inilah harta pusaka yang dicari-cari. Dia membawa dua buah batu permata yang terbesar, besarnya tidak kurang dari sebutir telur ayam, lalu ia merayap keluar lagi. Ketika ia tiba di mulut terowongan, ia tidak melihat Ang I Niocu dan lalu melompat turun.

Ia mengeluarkan dua buah batu itu dari sakunya dan hampir saja ia berseru keras saking kagumnya. Dua buah batu itu adalah mutiara-mutiara yang besar dan cahayanya sangat indah. Dua butir mutiara besar ini saja sudah tak ternilai harganya, apa lagi yang masih bertumpuk di terowongan itu! Cin Hai cepat memutar patung batu itu sekuat tenaga ke tempat asalnya sehingga lubang pada langit-langit itu tertutup kembali, kemudian setelah menyimpan dua butir mutiara itu, ia lalu berlari keluar mencari Ang I Niocu.

Di luar sunyi saja, maka ia lalu melompat ke atas goa dan berdiri di tempat tinggi. Maka terlihatlah olehnya betapa di tempat yang agak jauh dari situ, ada empat orang sedang mengeroyok Ang I Niocu yang berada dalam keadaan terdesak sekali. Dengan marah dan cemas Cin Hai lalu melompat turun dan berlari cepat ke tempat itu. Kalau saja dia tidak merasa kuatir akan keselamatan Ang I Niocu dan tidak demikian tergesa-gesa, tentu dia akan melihat bayangan seorang pendeta Mongol berkelebat dan mengintai ketika dia keluar dari goa itu!

Begitu tiba di tempat pertempuran, Cin Hai langsung berseru, “Niocu, jangan kuatir, aku membantumu!”

Dan pedang Liong-cu-kiam di tangannya berkelebat secara luar biasa sekali hingga Kam Hong Sin merasa bukan main terkejutnya. Siapakah pemuda yang gagah perkasa dan yang memiliki ilmu pedang sehebat itu.

“Hai-ji, mereka hendak merampas pedang kita!” teriak Ang I Niocu dengan girang melihat datangnya pemuda itu.

Ketika Cin Hai melihat Sie Ban Leng, ia merasa gemas sekali lalu membentak, “Ah, inikah macamnya orang yang telah mengkhianati Ayahku?” Pedangnya menyerang hebat dan dengan suara keras, rebab itu terbelah dua!

Sie Ban Leng terkejut sekali, bukan hanya karena rusaknya senjatanya, akan tetapi juga karena kata-kata Cin Hai.

“Siapakah kau?” bentaknya.

“Kau masih ingat kepada Sie Gwat Leng? Nah, dialah Ayahku!”

Pucatlah wajah Sie Ban Leng mendengar ucapan ini hingga tubuhnya menggigil. Pada pandangan matanya, wajah Cin Hai tiba-tiba berubah menjadi wajah kakaknya yang dulu telah dikhianatinya itu! Dan sebelum dia sempat mengeluarkan sepatah kata pun, pedang Liong-cu-kiam di tangan Cin Hai telah menyambar dengan cepat. Maka robohlah Sie Ban Leng dengan dada kiri tertembus pedang dan tewas pada saat itu juga!

Melihat betapa dengan beberapa gebrakan saja pemuda itu telah berhasil menjatuhkan Sie Ban Leng, bukan main kagetnya hati Kam Hong Sin. Ia lalu bersuit keras sekali dan memutar pedangnya secara hebat untuk menahan serbuan Ang I Niocu mau pun Cin Hai. Maka, secara berturut-turut datanglah beberapa orang perwira kerajaan yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga kini yang mengeroyok kedua orang muda itu tak kurang dari sepuluh orang!

Akan tetapi, Ang I Niocu dan Cin Hai memainkan pedang dengan seenaknya saja, karena mereka ini hanya membela diri saja dan tidak berniat untuk menjatuhkan para perwira itu. Terutama sekali mereka tidak tega melukai Ceng Tek Hosiang yang bertempur sambil tersenyum dan Ceng To Tosu yang mewek dengan sedihnya itu.

Pada saat pertempuran masih berjalan dengan serunya, tiba-tiba terdengar teriakan riuh dan muncullah serombongan orang Mongol yang dikepalai oleh Thai Kek Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio!

“Pendekar Bodoh, hayo kau serahkan tutup cawan itu kepada kami!” teriak Thai Kek Losu sambil menerjang dan menyerang Cin Hai.

Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari belasan orang pendeta Mongol berjubah merah itu, Cin Hai kemudian memberi tanda kepada Ang I Niocu untuk melarikan diri. Sedangkan para perwira kerajaan ketika melihat pendeta-pendeta Mongol ini pun segera menyerangnya, sehingga terjadilah pertempuran antara perwira-perwira kerajaan dengan pendeta-pendeta Mongol.

Sebenarnya hal ini tidak dikehendaki oleh Kam Hong Sin mau pun oleh Thai Kek Losu, akan tetapi Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu yang sudah mendahului menyerang para pendeta Mongol itu, karena diam-diam mereka berdua ini suka kepada Cin Hai dan Ang I Niocu sehingga ketika para orang Mongol datang menyerang, mereka berdua lalu membantu Cin Hai dan menyerang para pendeta Mongol itu!

Memang di antara kedua golongan ini telah ada rasa benci membenci hingga mudah saja membakar api diantara mereka. Serangan Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu cukup membuat yang lain lain lalu menyerbu dan saling gempur dengan sengitnya!

Sementara itu, Ang I Niocu dan Cin Hai sudah melarikan diri secepatnya meninggalkan tempat pertempuran itu.

“Niocu, harta pusaka itu benar-benar berada di terowongan kecil itu!” kata Cin Hai kepada Ang I Niocu dan secara singkat ia menuturkan betapa banyaknya harta itu bertumpuk di dalam terowongan kecil. Ia memperlihatkan bukti dua butir mutiara itu kepada Ang I Niocu yang memandangnya dengan kagum.

“Kalau kau suka, ambillah, Niocu,” Cin Hai berkata sambil memberikan dua butir mutiara besar itu.

Ang I Niocu menerimanya, akan tetapi lalu ia kembalikan sebutir sambil berkata, “Simpanlah yang sebutir ini untuk diberikan kepada Lin Lin kelak.”

“Sekarang bagaimana baiknya, Niocu? Pihak Kaisar dan Mongol juga menghendaki harta benda itu, malah pihak Turki juga tak mau ketinggalan. Bagaimana kita harus mengambil harta itu tanpa mereka ketahui dan kalau sudah kita ambil, lalu untuk apa?”

Setelah mendengar banyaknya harta yang terdapat di tempat itu, Ang I Niocu sendiri pun menjadi bingung dan tidak tahu harus menjawab bagaimana.

“Lebih baik kita membuat laporan kepada Susiok-couw saja, Hai-ji. Kau bawalah kedua pedang Liong-cu-kiam ini dan berikan kepada Susiok-couw, sekalian kau ceritakan pula tentang harta pusaka itu dan tentang keadaan di sini.”

“Mengapa hanya aku yang harus menceritakan? Bukankah kita pergi ke sana berdua?” tanya Cin Hai.

“Tidak, kau pergilah sendiri. Aku harus tinggal di sini dan mengamat-amati goa itu, jangan sampai didapatkan oleh lain orang. Apa bila kita berdua pergi dan harta itu diambil orang lain, kita tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

Cin Hai mengangguk-angguk, dan bertanya lagi, “Kalau kedua pedang kubawa, habis kau bagaimana, Niocu? Kau perlu memiliki pedang yang cukup baik agar dapat menghadapi bahaya. Tempat ini penuh dengan orang-orang pandai dan jahat.”

Ang I Niocu tersenyum, kemudian menyerahkan pedang Liong-cu-kiam kepada Cin Hai. Dia lalu mencabut pedang Cian-hong-kiam pemberian Lie Kong

“Pedang ini cukup baik dan kuat. Kau lihatlah!”

Ang I Niocu mengayun pedangnya membacok sebuah batu karang hitam di pinggir jalan dan batu terbelah dengan mudah. Cin Hai mengangguk-angguk dan memuji.

“Po-kiam (pedang pusaka) yang bagus!”

Cin Hai lalu berangkat menuju ke tempat pertapaan suhu-nya, yaitu di Goa Tengkorak di mana dulu dia mempelajari ilmu silat dari Bu Pun Su. Sedangkan Ang I Niocu tinggal di Lan-couw untuk menjaga serta mengamat-amati goa rahasia di mana tersimpan harta pusaka yang besar itu.

Cin Hai melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke timur. Jarang dia berhenti kalau tidak hendak makan dan beristirahat, sebab dia hendak cepat-cepat sampai di tempat itu, seakan-akan ada besi sembrani yang menariknya, yaitu Lin Lin. Pemuda itu baru saja berpisah beberapa lama, tetapi sudah merasa rindu sekali dan kini ia tergesa-gesa bukan lain ialah karena ingin bertemu dengan kekasihnya itu.

Pada suatu hari ia tiba di sebuah dusun dan tertariklah hatinya melihat betapa penduduk dusun itu seakan-akan sedang mengadakan semacam pesta keramaian. Tadinya ia ingin lewat terus saja, akan tetapi pada waktu melihat beberapa orang dusun memikul sebuah orang-orangan dari kertas yang besar dan rupanya seperti Hai Kong Hosiang, ia menjadi terheran sekali dan menunda perjalanannya.

Ia menduga bahwa persamaan wajah orang-orangan itu dengan Hai Kong Hosiang tentu merupakan hal yang kebetulan saja. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia bertanya gambar siapakah yang mereka gotong itu, ia mendapat jawaban,

“Gambar si keparat Hai Kong.”

Cin Hai tertarik sekali dan ingin melihat apakah yang hendak dilakukan oleh orang-orang kampung itu dan mengapa mereka menggotong gambar Hai Kong Hosiang yang mereka maki-maki keparat. Rombongan itu menuju ke sebuah rumah kecil yang sudah dipenuhi orang dan di depan pintu rumah itu terdapat sebuah meja sembahyang.

Setelah orang-orangan itu digotong ke situ, semua orang berdiri dan memaki-maki, “Hai Kong keparat! Hai Kong Hwesio bangsat!” dan makian lain-lainnya lagi yang menyatakan kemarahan mereka.

Kemudian beramai-ramai semua orang mengeroyok orang-orangan itu dengan pukulan serta menghujani dengan senjata tajam hingga orang-orangan dari kertas itu robek-robek dan hancur, kemudian sisa-sisanya dibakar dibawah sorak-sorai yang riuh!

Cin Hai makin terheran-heran dan menonton saja. Kemudian orang-orang dusun itu lalu bersembahyang dan semuanya berlutut di hadapan meja sembahyang itu dengan muka berduka, bahkan ada pula beberapa orang wanita yang menangis! Cin Hai tak dapat lagi menahan keheranannya, maka ia lalu bertanya kepada seorang laki-laki tua yang berada di belakang dan juga ikut bertutut,

“Lopek, mengapa kalian demikian membenci Hai Kong Hosiang dan meja sembahyang siapa ini?”

Kakek itu memandang kepada Cin Hai dengan tajam dan sesudah mengetahui bahwa pemuda itu adalah orang dari luar dusun, ia lalu menjawab,

“Siangkong, ketahuilah. Dulu di dusun kami ini datang seorang hwesio jahat bernama Hai Kong Hosiang yang mengganggu kami, bahkan hampir membunuh seorang anak kecil di dusun ini. Kemudian datanglah dua orang pendekar wanita yang membela kami dan bertempur melawan Hai Kong Hosiang si keparat itu, akan tetapi dua orang pendekar wanita itu tewas di dalam tangan Si Bangsat Gundul. Oleh karena kami berterima kasih sekali terhadap kedua orang pendekar wanita yang sudah mengorbankan nyawa demi pertolongannya kepada kami maka kini kami mengadakan peringatan untuk menghormati jasanya itu.”

Cin Hai merasa amat tertarik mendengar ini. “Lopek, siapakah nama dua orang pendekar wanita yang gagah dan mulia itu?”

“Entahlah, kami juga tidak tahu dan tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui hal itu. Akan tetapi senjata kedua pendekar itu masih kami simpan dan sekarang pun kami memuja senjata-senjata mereka itu yang ditaruh di atas meja sembahyang.”

Oleh karena tertarik, Cin Hai lalu menghampiri meja itu, diikuti oleh pandang mata semua orang kampung yang merasa heran dan curiga. Cin Hai mendekati meja dan kemudian memandang. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat sebuah hud-tim (kebutan pertapa) warna merah dan sebatang pedang.

Ia melangkah maju untuk memandang lebih teliti lagi dan menjadi pucat saat ia mengenal senjata-senjata itu. Kebutan merah itu adalah senjata Biauw Suthai, ada pun pedang itu adalah pedang Pek I Toanio, guru dan suci dari Lin Lin!

Lemaslah tubuh Cin Hai dan kedua kakinya lantas gemetar. Dia segera berlutut dan ikut bersembahyang bersama semua orang kampung yang kini lenyap kecurigaan mereka melihat pemuda itu pun memberi hormat!

Selesai bersembahyang, Cin Hai segera minta keterangan penjelasan dari kakek tadi dan setelah ia mendengar cerita tentang dua orang pendekar wanita itu, bahwa yang seorang adalah seorang pendeta wanita tua dan yang kedua adalah seorang wanita berpakaian putih yang cantik, dia tidak ragu-ragu lagi. Biauw Suthai dan Pek I Toanio sudah tewas di dalam tangan si jahat Hai Kong! Kalau saja dia tidak melihat bahwa Hai Kong Hosiang sudah menggelinding ke dalam jurang, tentu dia semakin merasa dendam dan sakit hati kepada hwesio jahat itu!

Cin Hai tidak pernah bermimpi bahwa Hai Kong Hosiang yang disangkanya telah mati itu sebetulnya masih hidup dan sebentar lagi akan bertemu dengannya!

Dia lalu melanjutkan perjalanannya dan berpikir-pikir bagaimana ia harus menyampaikan berita sedih ini kepada Lin Lin. Dia maklum bahwa Lin Lin pasti akan merasa berduka sekali mendengar tentang matinya gurunya dan suci-nya yang amat dikasihinya itu.

Pada keesokan harinya, dia telah sampai dekat Goa Tengkorak, hanya tinggal perjalanan beberapa belas li saja. Pada saat ia masuk ke dalam sebuah hutan, tiba-tiba ia melihat serombongan orang berjalan cepat dari depan. Melihat gerakan mereka yang cepat, Cin Hai menjadi heran dan segera dia bersembunyi di balik sebatang pohon besar kemudian mengintai.

Ketika rombongan itu telah datang dekat, tiba-tiba ia membelalakkan kedua matanya dan menggosok-gosok mata itu seakan-akan ia tidak percaya kepada kedua matanya sendiri. Tidak salah lagi, yang berjalan di depan adalah Hai Kong Hosiang! Bentuk badan dan pakaian hwesio itu masih sama dengan dulu, hanya bedanya sekarang matanya tinggal sebelah, yang kanan tertutup dan buta, sedangkan yang kiri terdapat cacat bekas terobek dan menjadi lebih lebar dari biasa! Muka hwesio itu kelihatan buruk dan menyeramkan sekali.

Dan yang lebih mengherankan hati Cin Hai adalah ketika ia melihat Bu Pun Su berjalan di tengah-tengah rombongan itu. Anehnya, gurunya ini nampak sedih dan putus asa, hanya berjalan sambil menundukkan kepala, sebagai seorang tawanan! Aneh sekali! Siapakah orangnya yang dapat menawan dan menundukkan suhu-nya? Tidak mungkin Hai Kong Hosiang!

Cin Hai memandang rombongan itu dan selain Hai Kong Hosiang, ia melihat pula Balaki, perwira Mongol yang dulu sudah pernah dikalahkannya itu, seorang perwira Mongol lain, seorang pendeta Mongol jubah merah, dan seorang wanita tua berbaju putih bercelana hitam dan tidak bersepatu!

Wanita ini nampak aneh karena walau pun nampak tua, akan tetapi rambutnya masih hitam dan meski pun pakaiannya amat sederhana bahkan ia tidak bersepatu, akan tetapi sabuk yang mengikat pinggangnya terbuat dari pada sutera merah yang sangat panjang dan indah, sabuk yang biasanya dipakai oleh nona-nona muda! Pada jidat wanita tua itu nampak garis palang hitam, tepat di tengah-tengah alis namun agak di atas. Nenek aneh ini berjalan di sebelah kiri Bu Pun Su.

Cin Hai menjadi bengong dan terheran-heran. Apakah mungkin orang-orang ini sanggup mengalahkan serta menawan suhu-nya yang demikian sakti? Hampir dia tidak percaya, akan tetapi semua yang dipandang oleh kedua matanya bukanlah terlihat di alam mimpi!

Dari perasaan heran Cin Hai menjadi marah sekali terhadap rombongan itu. Ia mencabut sepasang pedang Liong-cu-kiam, memegangnya erat-erat di tangan kanan kiri, kemudian melompat keluar sambil berseru,

“Hai Kong keparat! Kau berani menghina Suhu-ku?!” bentaknya. Kemudian dia langsung menerjang mereka.

Semua orang sangat terkejut melihat berkelebatnya bayangan Cin Hai yang memegang sepasang pedang yang bersinar dan menggerakkannya secara hebat sekali! Balaki dan pendeta Mongol berjubah merah menyambut serangannya dengan senjata mereka, akan tetapi sekali bentrokan saja senjata kedua orang itu langsung terpental jauh, terlepas dari pegangan!

Cin Hai hendak menyerang Hai Kong dan nenek tua itu, akan tetapi mendadak terdengar suhu-nya berseru keras, “Cin Hai, tahan pedangmu!”

Suara ini menyiram api yang membakar di dalam dada Cin Hai dan ia berdiri memandang kepada suhu-nya dengan heran dan cemas. “Suhu...” katanya menahan napas, “mereka ini... mau apakah?”

“Jangan sembarangan turun tangan!” kata pula Bu Pun Su dengan suaranya yang amat berpengaruh. “Kau pergilah saja ke Goa Tengkorak dan kau tolong Lin Lin.”

“Lin Lin... kenapa dia, Suhu...?” tanya Cin Hai dengan wajah pucat.

Dan aneh sekali, Bu Pun Su menarik napas panjang dengan wajah berduka. Baru kali ini Cin Hai melihat suhu-nya berduka! “Pergilah dan kau akan mendapat penjelasan dari Lin Lin.”

Cin Hai mendengar suara ketawa bergelak dan dia cepat berpaling memandang kepada Hai Kong Hosiang yang masih tertawa sehingga menimbulkan rasa bencinya. Ingin dia menggerakkan pedangnya menusuk dada hwesio yang jahat itu.

“Akan tetapi, Suhu...,” ia mencoba membantah.

“Diam! Dan jangan banyak cakap lagi. Pergilah!” seru Bu Pun Su marah.

Dengan kepala tunduk dan beberapa kali menengok, Cin Hai lalu bertindak pergi.

“Ha-ha-ha-ha! Pendekar Bodoh, kau benar-benar tolol dan bodoh. Bu Pun Su lebih pintar dari padamu! Nyawa Lin Lin kekasihmu itu berada di dalam tanganku, dan tergantung pada Suhu-mu apakah ia menghendaki kekasihmu itu hidup atau mati. Awas, jangan kau berani main-main dengan kami apa bila menghendaki Suhu-mu dan kekasihmu itu dapat hidup! Ha-ha-ha!” Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak hingga menggema di dalam hutan itu.

Dari suara tertawanya saja membuktikan bahwa kini ilmu lweekang hwesio itu telah naik berlipat ganda sehingga diam-diam Cin Hai merasa tertegun. Akan tetapi, kepandaian itu masih jauh dari pada cukup untuk mengalahkan suhu-nya!

Dia tidak berani membantah perintah suhu-nya. Apa lagi mendengar ancaman Hai Kong Hosiang tadi, membuat ia merasa gelisah dan cemas memikirkan nasib Lin Lin. Maka ia segera berlari cepat menuju ke Goa Tengkorak diikuti oleh gema suara tertawa Hai Kong Hosiang.

Thanks for reading Pendekar Bodoh Jilid 28 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »