Social Items

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 24

PADA hari ke empatnya, tubuh Ang I Niocu sudah mulai bergerak-gerak dengan gelisah, akan tetapi tubuhnya ternyata lemah sekali. Karena gerakan yang gelisah itu, beberapa kali mantel yang menutupi tubuhnya terbuka tapi dengan cepat dan sopan, Kong Sian lalu menutupkannya kembali. Kemudian dia lalu mengurut jalan darah gadis itu hingga Ang I Niocu merasa mendingan dan tidak begitu gelisah lagi, akan tetapi gadis itu masih belum membuka matanya.

Sambil bergerak perlahan dengan mata tertutup ia berbisik, “Lin Lin…. Hai-ji….” Kemudian sambil mengeluarkan ujung lidah yang disapu-sapukan di bibirnya ia berbisik lagi, “Air…. air….”

Ketika Kong Sian meraba jidatnya, maka ternyata panasnya sudah naik lagi. Kong Sian merasa kuatir sekali dan segera mengambil air yang sudah dimatangkannya, lalu dengan sebuah sendok yang terbuat dari kayu, dia menyuapi air matang ke dalam mulut Ang I Niocu yang menelannya dengan lahap sekali. Kong Sian lalu mengambil bubur gandum yang tadi telah dimasaknya, lalu dengan pelan-pelan dia menyuapkan bubur ini sesendok demi sesendok ke dalam mulut gadis itu yang menelannya tanpa membuka mata.

Sesudah diberi makan bubur, gadis itu lalu tertidur kembali dan panasnya menurun. Kong Sian tetap menjaganya dengan perasaan penuh iba. Dalam perawatan ini, timbullah rasa cinta yang amat besar dan mendalam di hati pemuda yang telah berusia tiga puluh lima tahun ini.

Memang tadinya Kong Sian mengambil keputusan untuk tak akan kawin selama hidupnya dan terus tinggal di pulau itu menjadi pertapa, mempelajari ilmu batin, ilmu silat, dan ilmu pengobatan. Akan tetapi semenjak pertemuannya dengan Ang I Niocu dalam keadaan yang ganjil ini, hatinya selalu bergoncang keras dan dia merasa betapa hidup ini baginya menjadi berubah sama sekali.

Sering kali ia duduk di dekat Ang I Niocu dan kemudian membayangkan betapa akan hancur hatinya dan kosong hidupnya apa bila gadis cantik ini meninggal dunia karena sakitnya. Sesudah dirawat dengan sangat teliti serta telaten oleh Kong Sian selama dua hari dua malam dalam keadaan setengah sadar, dan selama itu pula Ang I Niocu belum pernah membuka matanya, maka lenyaplah demam yang menyerang dirinya. Tubuhnya menjadi segar kembali dan biar pun tubuhnya masih agak lemah, akan tetapi ia tidak gelisah lagi.

Pada hari ke tujuh semenjak dia tiba di situ, pagi-pagi hari Ang I Niocu membuka kedua matanya bagaikan baru bangun dari alam mimpi yang sangat dahsyat. Ia bangun sambil tersentak kaget dan begitu membuka mata, dia segera bangun duduk sambil memanggil nyaring.

"Lin Lin…. Hai-ji….. " dan cahaya kekuatiran hebat terbayang pada wajahnya yang cantik.

Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa kini dia sedang duduk diatas setumpuk rumput kering di dalam sebuah goa dan melihat seorang laki-laki cakap duduk di dekatnya sambil memandangnya dengan kagum sekali karena setelah kini Ang I Niocu membuka matanya Kong Sian merasa seakan-akan dia melihat seorang bidadari yang duduk di situ. Alangkah indah mata gadis itu!

Ang I Niocu meloncat ke atas karena kagetnya dan terlepaslah mantel penutup tubuhnya sehingga Kong Sian juga buru-buru melompat ke belakang dan memutar tubuhnya untuk membelakangi gadis itu.

"Nona, pakailah mantel itu baik-baik, baru kita bicara!" katanya perlahan dan halus.

Sementara itu Ang I Niocu terkejut bukan main melihat betapa pakaiannya telah robek tak karuan hingga ia hampir telanjang! Buru-buru dan dengan muka merah karena jengah, ia lalu menyambar mantel itu kembali dan menyelimuti tubuh dengan mantel itu dengan ikat pinggangnya yang berwarna kuning emas. Setelah selesai, maka dengan mata bernyala ia lalu menubruk dan menyerang Kong Sian dari belakang.

"Bangsat kurang ajar! Kau berani menghinaku?" serunya.

Mendengar ada sambaran angin pukulan, Kong Sian merasa terkejut sekali dan cepat dia mengelak sambil berkata,

"Ehh, Nona, sabar dulu... aku... aku …."

Walau pun merasa tubuhnya masih lemah, akan tetapi oleh karena marah maka Ang I Niocu tetap menyerang dengan hebat sambil mengeluarkan ilmu silat Kong-ciak Sin-na. Kong Sian merasa terkejut sekali oleh karena tentu saja dia juga mengenal ilmu silat dari suhu-nya ini, maka dengan heran ia lalu melayani Ang I Niocu dengan baik.

Makin kagumlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu gerakan gadis ini ternyata lihai sekali dan biar pun tenaganya masih lemah, akan tetapi ginkang dan lweekang gadis ini menyatakan bahwa dia menghadapi seorang pendekar wanita yang tidak boleh dibuat gegabah.

Ia pikir bahwa gerakan-gerakan ini akan membahayakan kesehatan gadis yang baru saja sembuh itu, maka dengan cepat ia lalu membalas serangan Ang I Niocu dengan totokan- totokan luar biasa dan karena Ang I Niocu belum cepat gerakannya disebabkan tubuhnya yang masih lemah, lagi pula oleh karena ilmu kepandaian silat Kong Sian memang masih lebih tinggi, maka sebentar saja pemuda itu berhasil menotok pundak Ang I Niocu yang segera mengeluh dan roboh dengan lemas!

Kong Sian segera mengangkat tubuh Ang I Niocu dan membawanya keluar goa di mana ia menaruh tubuh gadis itu di bawah sebatang pohon sehingga angin gunung yang sejuk membuat Ang I Niocu merasa nyaman sekali.

"Nona, banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan. Harap kau bersabar mendengarkan bicaraku. Pertama-tama yang perlu kau ketahui ialah kau sama sekali keliru menyangka padaku. Aku bukanlah orang jahat dan sama sekali aku tidak mempunyai maksud buruk terhadapmu. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang mengasingkan diri di pulau ini dan tujuh hari yang lalu, Sin-kim-tiauw datang terbang ke mari sambil mencengkeram tubuhmu yang sedang pingsan! Kemudian kau jatuh sakit tidak sadarkan diri sampai tujuh hari dan aku merawatmu di dalam goa itu!"

Mendengar ucapan ini, lenyaplah sinar marah dari mata Ang I Niocu dan Kong Sian lalu mengulur tangan memulihkan totokannya pada pundak gadis itu sambil berkata, "Biarlah, kalau kau tetap tidak percaya padaku, kau seranglah aku lagi, aku tak hendak membalas untuk menyatakan bahwa kata-kataku tadi benar belaka!"

Setelah sadar dari totokan, Ang I Niocu memandang dengan mata bengong dan dia tidak berkutik dari tempat duduknya. Tubuhnya masih terasa lemah sehingga ia menyandarkan diri saja pada pohon itu.

"Benar-benar masih hidupkah aku?" tanyanya perlahan setengah berbisik, karena kini dia teringat betapa dia sudah dilontarkan ke atas oleh ledakan dahsyat itu dan kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi.

Kong Sian tersenyum dan wajahnya yang tadi nampak bersungguh-sungguh itu berubah sesudah dia tersenyum. Sekarang dia tampak tampan dan matanya memancarkan seri gembira.

"Tentu saja kau masih hidup, Nona, kalau tidak bagaimana kau bisa berada di sini? Kau berada di Pulau Pek-le-to dan di pulau ini hanya akulah penghuni satu-satunya."

"Bagaimana seekor rajawali dapat membawaku ke sini?" Di mana burung itu?" tanya Ang I Niocu yang masih merasa ragu-ragu oleh karena ia masih kurang percaya kepada cerita yang aneh itu.

Lie Kong Sian lalu berdiri dan bersuit keras. Dari atas lalu terdengar suara balasan dari seekor burung dan tiba-tiba nampaklah setitik hitam yang tinggi menyambar turun dengan cepatnya. Setelah tiba mendekat, ternyata yang melayang turun itu adalah seekor burung rajawali besar, mengingatkan Ang I Niocu kepada burung rajawali yang dulu menyambar-nyambar dirinya di atas perahu ketika dia masih mencari Pulau Kim-san-to di atas perahu bersama Cin Hai dan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio. Akan tetapi rajawali ini lebih besar dan bulunya indah sekali. Sin-kim-tiauw terbang rendah lalu turun di hadapan Kong Sian, memandang kepada Ang I Niocu dengan sepasang matanya yang tajam sinarnya.

"Nah, inilah Sin-kim-tiauw yang membawamu ke sini. Sekarang akulah yang ingin minta keterangan kepadamu bagaimana kau bisa terbawa oleh burung sakti ini."

"Aku…. aku berada di Pulau Kim-san-to dan pulau itu terbakar lalu meledak hingga aku terlempar ke udara oleh ledakan itu kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. Agaknya ketika tubuhku melayang di udara dalam keadaan pingsan, burung sakti ini menyambar diriku dan membawanya ke sini. Kalau begitu, dia adalah penolong jiwaku!" Sesudah berkata demikian, Ang I Niocu lalu berdiri dan ia berlutut di depan burung itu!

Kim-tiauw itu adalah seekor burung yang luar biasa cerdiknya. Melihat Ang I Niocu, dia agaknya tahu dan sambil mengeluh panjang dia kemudian menundukkan kepalanya dan membelai kepala Ang I Niocu dengan lehernya yang berbulu tebal. Kemudian, sambil memekik gembira burung itu lalu terbang ke atas dan berputaran di udara seakan-akan merasa girang sekali bahwa ada orang yang berterima kasih dan berlutut padanya!

"Kau katakan tadi bahwa aku sudah jatuh sakit dan tidak ingat diri sampai tujuh hari di sini?" tanya Ang I Niocu sambil menghadapi Kong Sian kembali. Mereka masih duduk di atas rumput, saling berhadapan.

Kong Sian mengangguk. "Ya, kau pingsan selama tiga hari tiga malam dan tubuhmu panas sekali. Kau terserang demam hebat dan tiap hari mengigau dalam keadaan tidak ingat orang. Kemudian kau dapat bergerak, akan tetapi kau gelisah dan panas sekali dan sama sekali tidak membuka matamu. Aku telah merasa kuatir sekali dan sudah hampir habis harapanku untuk dapat melihat kau hidup lagi."

Ketika Kong Sian sedang bercerita, Ang I Niocu memandang dengan penuh keheranan. Duduk berhadapan dengan Kong Sian dan mendengar suara orang ini bercerita tentang keadaannya, dia merasa seakan-akan dia telah menjadi kenalan lama, apa lagi ketika dia dapat menangkap nada suara yang penuh getaran karena terharu pada saat pemuda itu menceritakan kegelisahannya melihat dia sakit!

“Kalau begitu, selama tujuh hari aku menderita sakit… akan tetapi… sungguh heran… bagaimana aku masih dapat hidup….?”

Kong Sian merasa segan dan malu untuk menceritakan betapa ia telah merawat gadis ini selama sakit, maka ia hanya menjawab, “Thian itu adil dan selalu melindungi orang-orang baik, maka Thian telah melindungimu dari keadaan yang membahayakan jiwamu itu.”

Ang I Niocu menggelengkan kepalanya. “Betapa pun juga, jika dalam keadaan sakit aku tidak diberi obat dan selama tujuh hari tidak makan apa-apa, tak mungkin aku akan dapat hidup! Siapakah yang merawatku dan siapa yang memberi makan padaku?”

Merahlah wajah Kong Sian mendengar ini. Sikapnya menjadi canggung sekali, ada pun suaranya menjadi gagap ketika ia menjawab, “Memang… aku telah… aku yang memberi obat kepadamu dan… dan melihat kau begitu lemah dan gelisah…. aku memberi bubur gandum kepadamu."

Ketika mendengar ini, terbayang sinar terima kasih yang amat mendalam pada mata Ang I Niocu karena biar pun pemuda itu tidak menceritakannya, ia sudah dapat menduganya. Sikap ragu-ragu untuk memberitahukan bahwa pemuda itu sudah merawatnya, membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kagum sekali. Sikap ini hanyalah menunjukkan betapa tinggi pribadi orang ini.

Akan tetapi, tiba-tiba Ang I Niocu teringat akan sesuatu dan sinar kemarahan tercampur keraguan membayang kembali pada wajahnya yang menjadi makin memerah.

"Dan... keadaan pakaianku ini…!”

Dia lalu melompat berdiri lagi, kedua tangannya terkepal, "katakanlah terus terang, apa yang terjadi dengan pakaianku? Dan mengapa pula kau menyelimutkan dengan mantel? Mantel siapakah ini?" Pertanyaan ini diucapkan dengan ketus dan marah oleh karena ia merasa bercuriga.

Kong Sian menarik napas panjang. "Nona, kalau saja bukan kau yang bersikap seperti ini dan menyangka yang bukan-bukan terhadap aku, tentu aku akan naik darah dan menjadi amat marah! Kau kira aku Lie Kong Sian ini orang macam apakah? Nona, kau boleh maki padaku, bahkan kau boleh menyerangku, akan tetapi janganlah sekali-kali kau menduga aku sudah berlaku rendah dan biadab terhadap dirimu! Pada waktu Sin-kim-tiauw datang membawamu ke sini, pakaianmu sudah robek semua dan tidak keruan macamnya, maka lalu aku menyelimutimu dengan mantelku. Nah, itulah keadaan yang sebenarnya!"

Sambil berkata demikian, teringatlah Kong Sian akan hal itu sehingga dia menundukkan kepala dengan kemalu-maluan. Kalau saja ia tidak menundukkan mukanya, tentu ia akan melihat betapa Ang I Niocu menjadi merah sekali mukanya dan betapa kedua mata gadis itu mencucurkan air mata!

Tiba-tiba Ang I Niocu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah di depan pemuda itu sambil berkata dengan suara penuh keharuan, "In-kong (Tuan Penolong), kau maafkan aku yang kasar dan sudah menuduhmu yang bukan-bukan! Kau telah menolong jiwaku, telah merawatku selama tujuh hari, memberi obat, menyuapkan makan, akan tetapi aku yang tertolong bahkan sudah menuduhmu yang bukan-bukan! Maafkanlah aku…" Ang I Niocu mengucapkan kata-kata ini sambil menangis karena tidak saja dia merasa terharu, akan tetapi dia juga teringat akan semua peristiwa dan dia menguatirkan keadaan Lin Lin dan Cin Hai!

Lie Kong Sian lalu berkata dengan halus, "Duduklah, Nona, dan kini legalah hatiku sebab sekarang kau telah percaya kepadaku."

Ang I Niocu bangun, lantas duduk kembali sambil menyusuti air matanya dengan ujung mantelnya. Ia kini merasa sangat jengah dan malu sehingga dia tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu.

"Yang amat mengherankan," katanya kemudian, "kenapa tubuhku tak terluka sedangkan aku dicengkeram dan dibawa terbang oleh seekor burung rajawali yang begitu besar dan ganas.”

“Tidak usah kau merasa heran, Nona. Sin-kim-tiauw bukanlah burung rajawali biasa. Dia telah terlatih baik sekali oleh Supek-ku yang sakti, dan mungkin hanya Supek Bu Pun Su saja yang dapat melatihnya.”

Ang I Niocu mengangkat kepalanya dan memandang tajam. “Apa? Jadi kau adalah murid keponakan dari Suhu Bu Pun Su?”

Kong Sian juga memandang heran. “Benar, mendiang Suhu-ku yang bernama Han Le adalah sute dari Supek Bu Pun Su. Nona, ketika kau menyerangku di dalam goa tadi kau telah mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna. Dari siapakah kau memperoleh ilmu itu?”

Dengan girang sekali Ang I Niocu berkata, “Kalau begitu, kau masih terhitung seheng-ku (kakak seperguruan) karena aku pernah menerima latihan silat dari Suhu Bu Pun Su! Biar pun sebetulnya Suhu Bu Pun Su masih menjadi susiok couw-ku sendiri karena mendiang ayahku ialah murid keponakannya. Akan tetapi akhir-akhir ini aku juga mendapat latihan Kong-ciak Sinna serta Pek-in Hoat-sut dari Suhu Bu Pun Su sehingga aku boleh juga menyebutnya Suhu!"

Bukan main girang rasa hati Kong Sian "Ahh, ahh, dunia ini memang tidak berapa luas! Siapa tahu bahwa aku sudah menolong seorang saudara sendiri. Sumoi, sungguh aku merasa girang sekali mendengar ini. Akan tetapi, siapakah mendiang Ayahmu?"

"Ayahku adalah Kiang Liat," jawab Ang I Niocu dengan singkat oleh karena dia merasa malu membicarakan ayahnya yang mati karena gila!

Kong Sian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku sudah pernah mendengar dari Suhu tentang ayahmu itu yang berjuluk Jian-jiu Sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu). Ketika merantau, aku juga pernah mendengar nama besar dari seorang pendekar wanita yang berjuluk Ang I Niocu, apakah kau sendiri orang itu?"

Ang I Niocu mengangguk. "Memang itu nama julukanku yang kosong tak berisi. Namaku adalah Kiang Im Giok, seorang yatim piatu yang hidup sunyi dan penuh penderitaan."

"Sumoi, kata-katamu ini benar-benar menyentuh jiwaku. Aku Lie Kong Sian juga merasa bosan sekali di dunia ramai karena hidupku sebatang kara penuh kesunyian."

Keduanya lalu berdiam sampai lama, dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kemudian Kong Sian minta kepada Ang I Niocu supaya menceritakan pengalamannya sampai dia dapat berada di Pulau Kim-san-to. Dengan panjang lebar Ang I Niocu lalu menceritakan semua pengalamannya dan menyebut nama-nama Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Nelayan Cengeng dan juga nama Yousuf dan lain-lainnya. Setelah selesai bercerita, Kong Sian lalu menepuk kepalanya sendiri sambil berkata,

"Ah, memang aku yang percuma dihidupkan di atas dunia ini! Telah terjadi peristiwa yang besar dan demikian banyaknya serta membutuhkan tenaga bantuanku, akan tetapi yang kukerjakan hanyalah duduk melamun di pulau ini! Sampai-sampai Pulau Kim-san-to telah kutinggalkan bertahun-tahun hingga sekarang lenyap dimakan api! Ah, arwah Suhu tentu marah melihat sikapku ini. Memang aku hanya orang yang berjiwa lemah!" Ia menghela napas berulang-ulang dan merasa kecewa terhadap diri sendiri.

"Suheng, kau adalah seorang gagah dan mulia dan melihat gerakanmu saat kau menotok roboh padaku tadi, aku yakin bahwa ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali. Mengapa kau sia-siakan diri di tempat ini? Mengapa kau tidak mau terjun di dunia ramai dan melakukan darma bakti sebagai orang yang berkepandaian? Kalau kau mengasingkan diri di tempat ini, bukankah berarti sia-sia saja kau mempelajari kepandaian sampai bertahun-tahun?"

Seperti biasanya, Ang I Niocu selalu merasa bahwa dia lebih berpengalaman dan lebih ‘berakal’ dari pada orang lain, maka di dalam ucapannya ini terkandung nasehat-nasehat, teguran dan penyesalan, seperti biasa orang-orang tua menasehati anak-anak atau guru menasehati murid. Memang, selama ia menjelajah di dunia kang-ouw, yang disegani oleh Ang I Niocu dan yang membuat ia tunduk hanya Bu Pun Su seorang, sedangkan kepada lain-lain orang ia bersikap ‘lebih tinggi’.

Kong Sian tersenyum mendengar ucapannya ini. "Sumoi, memang demikianlah apa bila dipandang sepintas lalu saja. Akan tetapi, selama kau malang melintang di dunia ramai, apakah yang kau dapat? Hanya permusuhan, kejahatan, dan perkelahian mengadu jiwa, bunuh-membunuh sesama manusia. Aku sudah bosan menghadapi semua itu. Di sini aku mendapatkan ketenteraman jiwa dan tak terpengaruh oleh kejahatan-kejahatan manusia yang terjadi di dunia ramai. Memang, sewaktu-waktu aku tentu keluar dari pulau ini untuk meninjau dunia ramai sehingga tidak terputus hubunganku dengan manusia umum, akan tetapi, tempat ini sudah kupilih untuk menjadi tempat tinggalku yang tetap di mana aku dapat hidup dengan tenteram dan aman sentosa!"

Ucapan ini membuat Ang I Niocu menjadi tertegun. Terutama kata-kata pertanyaan yang diucapkan oleh suheng-nya ini berkesan di dalam hatinya. Apakah yang dia dapat selama ini? Hanya kesedihan, kekecewaan, dan permusuhan belaka.

Demikianlah, kedua orang itu kemudian bercakap-cakap dengan asyiknya, menceritakan pengalaman masing-masing. Ketika mendengar tentang Cin Hai yang menjadi murid Bu Pun Su dan yang kepandaiannya sangat dipuji oleh Ang I Niocu, Lie Kong Sian merasa kagum sekali.

"Ahh, ingin sekali aku bertemu dengan dia itu! Memang sungguh mengagumkan bahwa seorang pemuda yang masih demikian muda telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian pokok dari Supek Bu Pun Su. Dahulu Suhu pernah mengatakan bahwa ilmu pengertian pokok segala gerakan ilmu silat adalah kepandaian tunggal Supek yang membuat dia menjadi seorang yang tak ada lawannya dalam dunia persilatan. Dan dia sudah mampu mencipta sendiri ilmu pedangnya. Mengagumkan sekali." Diam-diam Kong Sian membandingkan anak muda itu dengan sute-nya Song Kun yang juga amat lihai ilmu silatnya.

Sambil merawat dan memulihkan kesehatannya, Ang I Niocu berdiam di pulau itu dan melatih ilmu-ilmu silat bersama Kong Sian. Ia telah menggunakan waktu senggang untuk menjahit kembali pakaiannya hingga kini tak perlu lagi ia menyelimuti diri dengan mantel pemuda itu.

Dalam latihan ilmu silat, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda itu benar-benar hebat dan lihai sekali sehingga boleh dikata masih lebih tinggi setingkat dari pada ilmu kepandaiannya sendiri. Oleh karena ini, dia mendapat petunjuk-petunjuk dari suheng-nya ini yang juga merasa kagum sekali melihat kepandaian sumoi-nya.

Ketika mendengar tentang Song Kun, Ang I Niocu menyatakan pendapatnya,

"Suheng sudah terang bahwa sute-mu itu jahat dan membahayakan keselamatan umum, mengapa kau tidak pergi mencari dan menasehatinya?"

“Dulu sudah pernah aku mencarinya, akan tetapi dia tidak mau mendengar nasehatku," jawab Kong Sian dengan suara sedih.

"Kalau begitu, kau harus menggunakan kekerasan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memberantas kejahatan, dan siapa pun juga orangnya yang berlaku jahat, maka harus kita berantas!"

"Kami bahkan pernah bertempur dan aku tidak dapat mengalahkan. Ilmu kepandaiannya walau pun tidak lebih dari pada kepandaianku, namun ia memiliki bakat luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan sekali. Dan… dan aku tidak tega melihat dia mendapat celaka. Aku amat menyayangnya seperti adik sendiri, sumoi."

Ang I Niocu memandangnya tajam dan kagum. "Kau memang orang yang berhati mulia, akan tetapi kau terlalu lemah, Suheng. Agaknya, kalau kau sudah mencinta seseorang, kau akan membelanya sampai mati! Sayang tidak ada seseorang wanita yang mendapat kehormatan menerima cinta di hatimu itu, Suheng. Alangkah bahagianya seorang wanita yang mendapat cinta hati seorang mulia seperti kau ini!"

Ucapan ini sebenarnya hanya muncul dari watak yang jujur dari Ang I Niocu karena dia merasa betapa ada persesuaian antara dia dan Kong Sian. Dia sendiri pun kalau sudah mencinta orang, dia rela membelanya dengan taruhan jiwa sekali pun. Seperti halnya Lin Lin dan Cin Hai, ia rela untuk mengorbankan jiwa demi kebahagiaan mereka! Akan tetapi, tanpa disangkanya, ketika mendengar ucapan yang diucapkan sewajarnya ini, mendadak Kong Sian menjadi pucat sekali.

"Suheng, kau….. kau kenapakah?"

Sambil menundukkan kepala dan tak berani menentang mata Ang I Niocu, Kong Sian lalu berkata pelan, "Sumoi, sebetulnya lidahku seolah-olah beku untuk mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi biarlah kini aku berterus terang saja. Sebelum bertemu dengan kau, tak pernah terpikir olehku mengenai diri seorang wanita dan aku telah mengambil keputusan untuk hidup menyendiri di pulau ini hingga mati. Akan tetapi, setelah aku bertemu dengan kau… bahkan sebelum aku mengetahui siapa adanya kau, melihat kau menderita sakit tanpa mengetahui apakah kau orang baik-baik atau orang jahat, hatiku sudah… tertarik sekali kepadamu dan… dan…" kemudian ia mengangkat mukanya dan dengan wajah pucat ia memandang kepada gadis itu dengan mata sayu, "Sumoi… maafkan kata-kataku ini… kita sama-sama hidup tidak berisi seakan-akan kosong dan sunyi. Maukah kau... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu dengan aku di pulau ini?"

Warna merah menjalar di seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya, dan matanya terbelalak ketika dia memandang pemuda itu. "Suheng... apakah maksudmu?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Sumoi, kalau kau sudi, marilah kita hidup bersama di pulau ini... maksudku, kita hidup sebagai suami isteri!"

Kini mata Ang I Niocu memandang tajam. “Kenapa, Suheng? Kenapa kau mengajukan usul ini? Apakah yang mendorongmu?"

Sementara itu, Kong Sian sudah dapat menetapkan hatinya yang tadi berguncang hebat. Dengan gagah dia lalu mengangkat muka, memandang wajah Ang I Niocu sepenuhnya. "Sumoi, biarlah kau mendengar pengakuanku. Meski pun kau akan mentertawaiku, akan mencaci, biarlah! Aku cinta kepadamu, Sumoi, sebagai cinta seorang laki-laki terhadap seorang wanita! Belum pernah ada perasaan demikian di hatiku, akan tetapi sesudah aku melihatmu, aku cinta kepadamu, cinta dengan sepenuh jiwaku! Karena itu, sekarang aku mengajukan pinangan kepadamu, Sumoi, apa bila kau sudi, sukalah kiranya kau menjadi isteriku dan kita menghabiskan sisa hidup sebagai suami isteri di pulau ini."

Tiba-tiba saja tanpa dapat ditahan lagi, mengalirlah air mata dari kedua mata Ang I Niocu sehingga Kong Sian menjadi terkejut dan berkata halus,

"Sumoi, kalau aku menyinggung dan melukai hatimu, ampunkanlah aku. Aku tidak akan memaksamu, Sumoi, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, apa bila kau tidak suka menerima katakanlah tanpa ragu-ragu atau sungkan-sungkan lagi. Aku takkan menyesal kepadamu, hanya akan menyesali diri sendiri yang bodoh dan tidak tahu diri!"

Sambil menghapus air matanya, Ang I Niocu menggelengkan kepalanya berkali-kali dan berkata, "Bukan demikian, Suheng. Jangan kau salah sangka. Aku... aku hanya merasa terharu sekali mendengar pernyataanmu yang sama sekali tak pernah kusangka-sangka itu. Aku telah menerima budi pertolonganmu yang besar yang selama hidupku tidak akan pernah kulupa. Kau sudah menolong jiwaku dan apa bila seandainya tidak ada kau, aku Kiang Im Giok pasti sudah mati! Dan seandainya aku tidak terjatuh ke dalam tanganmu, akan tetapi ke dalam tangan laki-laki lain ahh... entah nasib apa yang akan kuderita! Kau seorang gagah dan mulia, Suheng, terlalu mulia bagiku... aku... aku seorang yang jahat dan kotor! Ketahuilah, pada waktu aku masih muda, aku telah jatuh cinta yang akhirnya mengorbankan nyawa Ayahku sendiri. Aku tidak berharga bagimu, Suheng."

"Im Giok, aku sudah tahu tentang hal itu dari Suhu-ku. Aku pernah mendengar betapa kekasihmu dibunuh oleh ayahmu sendiri. Akan tetapi, kau tidak bersalah dalam hal itu. Ayahmu meninggal dunia oleh karena serangan penyakit jantung yang berbahaya. Wajar bagi seorang gadis untuk jatuh cinta!"

"Bukan itu saja, Suheng. Semenjak peristiwa itu, aku membenci laki-laki! Banyak pemuda yang jatuh cinta kepadaku, sengaja kupermainkan perasaan cintanya sehingga mereka menjadi seperti gila! Aku berlagak membalas perasaan mereka dan apa bila mereka telah menjadi gila betul-betul, aku pergi meninggalkannya. Banyak yang sudah menjadi korban, bahkan seorang pemuda yang baik budi bernama Kang Ek Sian, yang dulu bahkan telah dipilih oleh Suhu Bu Pun Su sendiri untuk menjadi suamiku, juga telah kupermainkan dan kupatahkan hatinya!"

Kong Sian menggelengkan kepala dan menarik napas dalam. "Memang kau telah berlaku kejam dan sesat, Sumoi, akan tetapi pengakuanmu ini telah meringankan dosamu, tanda bahwa kau sudah insyaf. Aku tidak menyesal mendengar ini dan tidak mengurangi rasa cintaku padamu."

"Masih ada lagi, Suheng... " kata Ang I Niocu sambil mengusap air mata yang menitik ke atas pipinya, "aku... aku yang tidak tahu diri akhirnya telah jatuh hati! Dan aku jatuh hati serta mencinta dengan sepenuh jiwaku kepada seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda dariku, padahal ketika aku bertemu dengan dia, aku telah berusia dua puluh tahun lebih dan dia baru berusia dua belas tahun! Aku... aku yang tidak tahu malu ini diam-diam mencinta kepadanya, dan... dan orang itu adalah Cin Hai, murid Suhu Bu Pun Su yang pernah kuceritakan padamu!"

"Hmm, jadi karena itukah maka kau mati-matian hendak mengorbankan nyawamu untuk menolong Lin Lin seperti yang kau ceritakan itu? Sumoi, kau benar- benar seorang mulia yang bernasib malang dan patut dikasihani! Aku dapat membayangkan betapa suci dan mulia rasa cintamu kepada Cin Hai! Melihat pemuda itu mencinta seorang gadis lain, kau tidak sakit hati, bahkan kau berdaya sekuat tenaga hendak mempertemukan mereka! Aku tahu, Sumoi, aku dapat menyelami jiwamu dan aku merasa bersyukur sekali bahwa kau dapat mengatasi perasaan-perasaan yang kurang baik. Sumoi, cerita dan pengakuanmu ini mempertinggi nilai dirimu dalam pandanganku."

Ang I Niocu mengangkat muka dan memandang heran. "Apa? Kau tidak marah padaku, Suheng? Kau tidak memandang rendah terhadapku setelah segala apa yang kuceritakan padamu itu?"

Kong Sian menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum, dan dari matanya bersinar cinta kasih yang diliputi kekaguman hati. "Pengakuanmu bahkan telah mempertebal rasa cintaku, Sumoi. Sudah wajar bagi tiap manusia untuk melakukan kekeliruan, akan tetapi, setiap kekeliruan akan musnah apa bila orang itu sudah menyadari dan menginsyafinya. Kau adalah seorang mulia."

Mendengar ini, lemaslah seluruh anggota tubuh Ang I Niocu dan dia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput sambil menangis.

"Im Giok, jangan kau merasa berat untuk menolak permintaanku tadi. Aku maklum bahwa aku memang mungkin terlalu tua bagimu dan... "

"Tidak Suheng. Usia kita tidak berselisih jauh."

"Apa?? Jangan kau membohongi aku, Sumoi!" kata Kong Sian dengan heran.

Ang I Niocu tersenyum sedih di antara air matanya. "Aku tidak bohong, Suheng. Memang mungkin aku nampak jauh lebih muda oleh karena aku banyak makan telur dari pek-tiauw (rajawali putih), akan tetapi sesungguhnya aku telah berusia tiga puluh lebih, sedikitnya tiga puluh dua tahun!"

Kong Sian mengangguk-angukkan kepalanya, karena sebagai seorang ahli pengobatan yang menerima warisan kepandaian dari Han Le, ia maklum akan khasiat yang besar dari telur burung rajawali putih.

"Pantas, pantas saja! Dan hal ini lebih-lebih menunjukkan kegagahanmu, oleh karena tak sembarangan orang dapat mengambil telur pek-tiauw! Melihat wajahmu, agaknya engkau paling banyak baru berusia dua puluh lima lebih! Bagaimana Sumoi. Bersediakah kau menerima aku yang bodoh dan buruk rupa sebagai kawan hidupmu?"

Ang I Niocu menggunakan tangan untuk menutup mukanya. Ia merasa bingung sekali. Di dalam hati ia mengaku bahwa mungkin di dunia ini tidak ada seorang pemuda yang layak dan patut menjadi suaminya selain Kong Sian. Kepandaiannya tinggi melebihinya sendiri, rupanya tampan dan sikapnya halus dan sopan santun. Pribadinya tinggi dan hal ini telah ia buktikan ketika pemuda itu mendapatkan dirinya yang berada dalam keadaan setengah telanjang itu dan ketika pemuda ini merawatnya dengan penuh kesabaran.

Semua ini telah menunjukkan bahwa pemuda ini sungguh-sungguh mencintanya dengan sepenuh jiwa. Terutama sekali, di dalam hal usia pemuda ini sebanding dengan dia! Apa lagi? Pemuda ini bahkan telah menolong jiwanya sehingga sampai mati pun belum tentu ia bisa membalas budinya.

Akan tetapi, jika dia menerima pinangan itu, seakan-akan ia terlalu murah memberi harga kepada dirinya! Dia memang berwatak tinggi hati dan keras, dan tidak mau ditundukkan dengan mudah. Akan tetapi, untuk menolak dia pun tidak berani!

"Suheng,” katanya setelah dia berpikir dengan masak-masak, "aku harus menghaturkan beribu terima kasih atas budi kecintaanmu itu. Bagaimana aku dapat menolak pinangan seorang seperti kau? Akan tetapi hal ini terjadi terlalu tiba-tiba sehingga aku belum dapat memutuskannya karena masih merasa bingung! Sekarang begini saja, Suheng. Biarlah kau anggap aku telah menerima pinanganmu itu dan aku pun takkan malu-malu mengaku bahwa aku telah menjadi tunanganmu. Akan tetapi, soal pernikahan antara kita baru bisa terlaksana setelah kau memenuhi beberapa syarat!"

Kong Sian tersenyum dan dari ucapan ini saja ia yang sudah paham akan tabiat manusia, dapat mengetahui bahwa gadis kekasih hatinya ini memiliki adat yang tinggi dan keras! Ia menjawab sambil masih tersenyum. "Sumoi, katakanlah, apa syarat-syaratmu itu?"

"Pertama, kau harus menanti sampai aku bisa bertemu kembali dengan kawan-kawanku, terutama dengan Cin Hai dan Lin Lin. Sebelum aku dapat mempertemukan kedua sejoli ini atau melihat mereka telah berkumpul kembali, tidak mungkin aku dapat mengikat diri dengan laki-laki lain!"

Kong Sian mengangguk-angguk, karena maklum akan isi hati Ang I Niocu.

“Kedua, kita harus mendapat perkenan dari Suhu Bu Pun Su, oleh karena dahulu beliau mempunyai maksud dan kehendak untuk menjodohkan aku dengan Kang Ek Sian, yang biar pun mencintaku, akan tetapi tak kubalas cintanya itu.”

Syarat ke dua ini diam-diam menggirangkan hati Kong Sian, oleh karena dari ucapan terakhir yang menyatakan bahwa gadis ini tidak menerima pinangan Kang Ek Sian oleh karena tidak mencintanya, hampir menyatakan bahwa biar pun sedikit, gadis ini ‘ada hati’ padanya, kalau tidak, tentu ia akan menolaknya pula! Karena itu ia mengangguk-angguk kembali dengan mulut tersenyum.

“Ke tiga,” kata lagi Ang I Niocu, “kau harus keluar dari pulau ini dan turun ke dunia ramai untuk mencari sute-mu Song Kun itu dan memenuhi pesan Suhu-mu, yaitu menasehati dia atau menggunakan kekerasan terhadapnya.”

“Ahh, yang ke tiga ini berat sekali, Sumoi! Kau tahu bahwa aku amat mencintanya dan tidak tega untuk mencelakakannya!”

“Inilah kelemahan yang membuat hatiku tak puas! Kau tidak tega kepada Sute-mu karena kau mencintanya, akan tetapi apakah kau akan bertega hati melihat betapa wanita-wanita diganggunya? Kelemahanmu ini menimbulkan ketidak adilan di dalam hatimu yang tidak layak dan tidak patut dimiliki oleh seorang pendekar silat.”

Kong Sian menghela napas, kemudian menjawab, “Biarlah, hal ini perlu kurenungkan dan kupikirkan baik-baik, sumoi. Masih ada lagikah syarat-syaratmu?”

Pertanyaan ini membuat Ang I Niocu menjadi merah mukanya karena dia merasa telah keterlaluan mengajukan sekian banyak syarat. Akan tetapi, syarat-syarat itu setidaknya dapat ‘mengangkat’ harga dirinya, tidak semurah kalau ia menerimanya mentah-mentah!

“Masih ada satu hal lagi,” katanya dengan muka merah dan menundukkan kepala, “akan tetapi yang terakhir ini baru akan kuceritakan kalau kau telah memenuhi yang ketiga itu.”

“Baiklah, Sumoi. Kuterima semua syarat-syaratmu.” Kemudian Lie Kong Sian meloloskan pedangnya dari pinggang dan memberikan itu kepada Ang I Niocu, lalu berkata, “Sumoi, terimalah Cian-hong-kiam ini sebagai bukti dari pada ikatan yang ada di antara kita, dan biarlah Thian yang menjadi saksi atas pertunangan kita ini.” Kata-kata ini diucapkan oleh Kong Sian dengan suara bergetar hingga mengharukan hati Ang I Niocu yang menerima pedang itu.

Kemudian Ang I Niocu mengambil perhiasan rambutnya yang terbuat dari pada mutiara dan memberikannya kepada Kong Sian. “Aku tidak mempunyai apa-apa, Suheng dan biarlah benda ini menjadi bukti dari pada kesetiaanku.”

Tak ada upacara yang mengesahkan pertunangan mereka itu selain dari pada penukaran benda yang dilakukan dengan sikap sederhana ini akan tetapi diramaikan oleh pertemuan pandang mata mereka yang menembus ke hati masing-masing.

Sesudah itu, Ang I Niocu lalu berpamit hendak pergi mencari Cin Hai dan Lin Lin. Kong Sian segera mengambil perahunya dan ia lalu mengantarkan tunangannya itu sampai ke darat di pesisir Tiongkok. Si Rajawali Emas tidak mau ketinggalan, ikut mengantar sambil terbang di atas perahu itu.

Pada saat keduanya telah mendarat dan Ang I Niocu hendak meninggalkannya, mereka saling pandang dan Ang I Niocu berbisik, “Semoga Thian memberkahi perjodohan kita dan semoga cita-cita kita bersama akan terlaksana, Koko.”

Kedua mata Kong Sian menjadi basah karena terharu dan girang mendengar sebutan ini dan semakin yakinlah dia bahwa diam-diam Ang I Niocu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan hatinya.

“Selamat Jalan, Moi-moi, dan biarlah Sin-kim-tiauw mengawanimu.”

Ang I Niocu girang sekali. Ia berkata kepada burung rajawali itu, “Sin-kim-tiauw, kau ikutlah padaku!”

Burung itu agaknya mengerti ucapan ini, karena dia cepat menoleh kepada Kong Sian seakan-akan minta perkenannya. Dia tak akan berani pergi sebelum mendapat perkenan dari Kong Sian.

“Pergilah kau ikut dia, Kim-tiauw, dan jagalah dia baik-baik!”

Burung itu lalu mengeluarkan bunyi karena girang dan ketika Ang I Niocu berlari cepat meninggalkan tempat itu, dia lalu terbang dan mengejar. Kong Sian kembali ke pulaunya untuk merenungkan peristiwa yang tak tersangka-sangka telah terjadi dalam hidupnya itu.

Demikianlah kisah pengalaman Ang I Niocu yang diduga telah tewas itu. Beberapa bulan lamanya ia merantau mencari-cari Cin Hai dan Lin Lin. Ia kembali ke pesisir dari mana ia menyeberang ke Pulau Kim-san-to, tetapi dia tidak mendapatkan jejak kawan-kawannya sehingga ia segera menuju ke barat. Oleh karena mendengar bahwa Lin Lin ikut dengan seorang Turki dan bahwa pada waktu itu di daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, ia lalu merantau ke barat.

Pendekar Bodoh Jilid 24

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 24

PADA hari ke empatnya, tubuh Ang I Niocu sudah mulai bergerak-gerak dengan gelisah, akan tetapi tubuhnya ternyata lemah sekali. Karena gerakan yang gelisah itu, beberapa kali mantel yang menutupi tubuhnya terbuka tapi dengan cepat dan sopan, Kong Sian lalu menutupkannya kembali. Kemudian dia lalu mengurut jalan darah gadis itu hingga Ang I Niocu merasa mendingan dan tidak begitu gelisah lagi, akan tetapi gadis itu masih belum membuka matanya.

Sambil bergerak perlahan dengan mata tertutup ia berbisik, “Lin Lin…. Hai-ji….” Kemudian sambil mengeluarkan ujung lidah yang disapu-sapukan di bibirnya ia berbisik lagi, “Air…. air….”

Ketika Kong Sian meraba jidatnya, maka ternyata panasnya sudah naik lagi. Kong Sian merasa kuatir sekali dan segera mengambil air yang sudah dimatangkannya, lalu dengan sebuah sendok yang terbuat dari kayu, dia menyuapi air matang ke dalam mulut Ang I Niocu yang menelannya dengan lahap sekali. Kong Sian lalu mengambil bubur gandum yang tadi telah dimasaknya, lalu dengan pelan-pelan dia menyuapkan bubur ini sesendok demi sesendok ke dalam mulut gadis itu yang menelannya tanpa membuka mata.

Sesudah diberi makan bubur, gadis itu lalu tertidur kembali dan panasnya menurun. Kong Sian tetap menjaganya dengan perasaan penuh iba. Dalam perawatan ini, timbullah rasa cinta yang amat besar dan mendalam di hati pemuda yang telah berusia tiga puluh lima tahun ini.

Memang tadinya Kong Sian mengambil keputusan untuk tak akan kawin selama hidupnya dan terus tinggal di pulau itu menjadi pertapa, mempelajari ilmu batin, ilmu silat, dan ilmu pengobatan. Akan tetapi semenjak pertemuannya dengan Ang I Niocu dalam keadaan yang ganjil ini, hatinya selalu bergoncang keras dan dia merasa betapa hidup ini baginya menjadi berubah sama sekali.

Sering kali ia duduk di dekat Ang I Niocu dan kemudian membayangkan betapa akan hancur hatinya dan kosong hidupnya apa bila gadis cantik ini meninggal dunia karena sakitnya. Sesudah dirawat dengan sangat teliti serta telaten oleh Kong Sian selama dua hari dua malam dalam keadaan setengah sadar, dan selama itu pula Ang I Niocu belum pernah membuka matanya, maka lenyaplah demam yang menyerang dirinya. Tubuhnya menjadi segar kembali dan biar pun tubuhnya masih agak lemah, akan tetapi ia tidak gelisah lagi.

Pada hari ke tujuh semenjak dia tiba di situ, pagi-pagi hari Ang I Niocu membuka kedua matanya bagaikan baru bangun dari alam mimpi yang sangat dahsyat. Ia bangun sambil tersentak kaget dan begitu membuka mata, dia segera bangun duduk sambil memanggil nyaring.

"Lin Lin…. Hai-ji….. " dan cahaya kekuatiran hebat terbayang pada wajahnya yang cantik.

Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa kini dia sedang duduk diatas setumpuk rumput kering di dalam sebuah goa dan melihat seorang laki-laki cakap duduk di dekatnya sambil memandangnya dengan kagum sekali karena setelah kini Ang I Niocu membuka matanya Kong Sian merasa seakan-akan dia melihat seorang bidadari yang duduk di situ. Alangkah indah mata gadis itu!

Ang I Niocu meloncat ke atas karena kagetnya dan terlepaslah mantel penutup tubuhnya sehingga Kong Sian juga buru-buru melompat ke belakang dan memutar tubuhnya untuk membelakangi gadis itu.

"Nona, pakailah mantel itu baik-baik, baru kita bicara!" katanya perlahan dan halus.

Sementara itu Ang I Niocu terkejut bukan main melihat betapa pakaiannya telah robek tak karuan hingga ia hampir telanjang! Buru-buru dan dengan muka merah karena jengah, ia lalu menyambar mantel itu kembali dan menyelimuti tubuh dengan mantel itu dengan ikat pinggangnya yang berwarna kuning emas. Setelah selesai, maka dengan mata bernyala ia lalu menubruk dan menyerang Kong Sian dari belakang.

"Bangsat kurang ajar! Kau berani menghinaku?" serunya.

Mendengar ada sambaran angin pukulan, Kong Sian merasa terkejut sekali dan cepat dia mengelak sambil berkata,

"Ehh, Nona, sabar dulu... aku... aku …."

Walau pun merasa tubuhnya masih lemah, akan tetapi oleh karena marah maka Ang I Niocu tetap menyerang dengan hebat sambil mengeluarkan ilmu silat Kong-ciak Sin-na. Kong Sian merasa terkejut sekali oleh karena tentu saja dia juga mengenal ilmu silat dari suhu-nya ini, maka dengan heran ia lalu melayani Ang I Niocu dengan baik.

Makin kagumlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu gerakan gadis ini ternyata lihai sekali dan biar pun tenaganya masih lemah, akan tetapi ginkang dan lweekang gadis ini menyatakan bahwa dia menghadapi seorang pendekar wanita yang tidak boleh dibuat gegabah.

Ia pikir bahwa gerakan-gerakan ini akan membahayakan kesehatan gadis yang baru saja sembuh itu, maka dengan cepat ia lalu membalas serangan Ang I Niocu dengan totokan- totokan luar biasa dan karena Ang I Niocu belum cepat gerakannya disebabkan tubuhnya yang masih lemah, lagi pula oleh karena ilmu kepandaian silat Kong Sian memang masih lebih tinggi, maka sebentar saja pemuda itu berhasil menotok pundak Ang I Niocu yang segera mengeluh dan roboh dengan lemas!

Kong Sian segera mengangkat tubuh Ang I Niocu dan membawanya keluar goa di mana ia menaruh tubuh gadis itu di bawah sebatang pohon sehingga angin gunung yang sejuk membuat Ang I Niocu merasa nyaman sekali.

"Nona, banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan. Harap kau bersabar mendengarkan bicaraku. Pertama-tama yang perlu kau ketahui ialah kau sama sekali keliru menyangka padaku. Aku bukanlah orang jahat dan sama sekali aku tidak mempunyai maksud buruk terhadapmu. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang mengasingkan diri di pulau ini dan tujuh hari yang lalu, Sin-kim-tiauw datang terbang ke mari sambil mencengkeram tubuhmu yang sedang pingsan! Kemudian kau jatuh sakit tidak sadarkan diri sampai tujuh hari dan aku merawatmu di dalam goa itu!"

Mendengar ucapan ini, lenyaplah sinar marah dari mata Ang I Niocu dan Kong Sian lalu mengulur tangan memulihkan totokannya pada pundak gadis itu sambil berkata, "Biarlah, kalau kau tetap tidak percaya padaku, kau seranglah aku lagi, aku tak hendak membalas untuk menyatakan bahwa kata-kataku tadi benar belaka!"

Setelah sadar dari totokan, Ang I Niocu memandang dengan mata bengong dan dia tidak berkutik dari tempat duduknya. Tubuhnya masih terasa lemah sehingga ia menyandarkan diri saja pada pohon itu.

"Benar-benar masih hidupkah aku?" tanyanya perlahan setengah berbisik, karena kini dia teringat betapa dia sudah dilontarkan ke atas oleh ledakan dahsyat itu dan kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi.

Kong Sian tersenyum dan wajahnya yang tadi nampak bersungguh-sungguh itu berubah sesudah dia tersenyum. Sekarang dia tampak tampan dan matanya memancarkan seri gembira.

"Tentu saja kau masih hidup, Nona, kalau tidak bagaimana kau bisa berada di sini? Kau berada di Pulau Pek-le-to dan di pulau ini hanya akulah penghuni satu-satunya."

"Bagaimana seekor rajawali dapat membawaku ke sini?" Di mana burung itu?" tanya Ang I Niocu yang masih merasa ragu-ragu oleh karena ia masih kurang percaya kepada cerita yang aneh itu.

Lie Kong Sian lalu berdiri dan bersuit keras. Dari atas lalu terdengar suara balasan dari seekor burung dan tiba-tiba nampaklah setitik hitam yang tinggi menyambar turun dengan cepatnya. Setelah tiba mendekat, ternyata yang melayang turun itu adalah seekor burung rajawali besar, mengingatkan Ang I Niocu kepada burung rajawali yang dulu menyambar-nyambar dirinya di atas perahu ketika dia masih mencari Pulau Kim-san-to di atas perahu bersama Cin Hai dan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio. Akan tetapi rajawali ini lebih besar dan bulunya indah sekali. Sin-kim-tiauw terbang rendah lalu turun di hadapan Kong Sian, memandang kepada Ang I Niocu dengan sepasang matanya yang tajam sinarnya.

"Nah, inilah Sin-kim-tiauw yang membawamu ke sini. Sekarang akulah yang ingin minta keterangan kepadamu bagaimana kau bisa terbawa oleh burung sakti ini."

"Aku…. aku berada di Pulau Kim-san-to dan pulau itu terbakar lalu meledak hingga aku terlempar ke udara oleh ledakan itu kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. Agaknya ketika tubuhku melayang di udara dalam keadaan pingsan, burung sakti ini menyambar diriku dan membawanya ke sini. Kalau begitu, dia adalah penolong jiwaku!" Sesudah berkata demikian, Ang I Niocu lalu berdiri dan ia berlutut di depan burung itu!

Kim-tiauw itu adalah seekor burung yang luar biasa cerdiknya. Melihat Ang I Niocu, dia agaknya tahu dan sambil mengeluh panjang dia kemudian menundukkan kepalanya dan membelai kepala Ang I Niocu dengan lehernya yang berbulu tebal. Kemudian, sambil memekik gembira burung itu lalu terbang ke atas dan berputaran di udara seakan-akan merasa girang sekali bahwa ada orang yang berterima kasih dan berlutut padanya!

"Kau katakan tadi bahwa aku sudah jatuh sakit dan tidak ingat diri sampai tujuh hari di sini?" tanya Ang I Niocu sambil menghadapi Kong Sian kembali. Mereka masih duduk di atas rumput, saling berhadapan.

Kong Sian mengangguk. "Ya, kau pingsan selama tiga hari tiga malam dan tubuhmu panas sekali. Kau terserang demam hebat dan tiap hari mengigau dalam keadaan tidak ingat orang. Kemudian kau dapat bergerak, akan tetapi kau gelisah dan panas sekali dan sama sekali tidak membuka matamu. Aku telah merasa kuatir sekali dan sudah hampir habis harapanku untuk dapat melihat kau hidup lagi."

Ketika Kong Sian sedang bercerita, Ang I Niocu memandang dengan penuh keheranan. Duduk berhadapan dengan Kong Sian dan mendengar suara orang ini bercerita tentang keadaannya, dia merasa seakan-akan dia telah menjadi kenalan lama, apa lagi ketika dia dapat menangkap nada suara yang penuh getaran karena terharu pada saat pemuda itu menceritakan kegelisahannya melihat dia sakit!

“Kalau begitu, selama tujuh hari aku menderita sakit… akan tetapi… sungguh heran… bagaimana aku masih dapat hidup….?”

Kong Sian merasa segan dan malu untuk menceritakan betapa ia telah merawat gadis ini selama sakit, maka ia hanya menjawab, “Thian itu adil dan selalu melindungi orang-orang baik, maka Thian telah melindungimu dari keadaan yang membahayakan jiwamu itu.”

Ang I Niocu menggelengkan kepalanya. “Betapa pun juga, jika dalam keadaan sakit aku tidak diberi obat dan selama tujuh hari tidak makan apa-apa, tak mungkin aku akan dapat hidup! Siapakah yang merawatku dan siapa yang memberi makan padaku?”

Merahlah wajah Kong Sian mendengar ini. Sikapnya menjadi canggung sekali, ada pun suaranya menjadi gagap ketika ia menjawab, “Memang… aku telah… aku yang memberi obat kepadamu dan… dan melihat kau begitu lemah dan gelisah…. aku memberi bubur gandum kepadamu."

Ketika mendengar ini, terbayang sinar terima kasih yang amat mendalam pada mata Ang I Niocu karena biar pun pemuda itu tidak menceritakannya, ia sudah dapat menduganya. Sikap ragu-ragu untuk memberitahukan bahwa pemuda itu sudah merawatnya, membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kagum sekali. Sikap ini hanyalah menunjukkan betapa tinggi pribadi orang ini.

Akan tetapi, tiba-tiba Ang I Niocu teringat akan sesuatu dan sinar kemarahan tercampur keraguan membayang kembali pada wajahnya yang menjadi makin memerah.

"Dan... keadaan pakaianku ini…!”

Dia lalu melompat berdiri lagi, kedua tangannya terkepal, "katakanlah terus terang, apa yang terjadi dengan pakaianku? Dan mengapa pula kau menyelimutkan dengan mantel? Mantel siapakah ini?" Pertanyaan ini diucapkan dengan ketus dan marah oleh karena ia merasa bercuriga.

Kong Sian menarik napas panjang. "Nona, kalau saja bukan kau yang bersikap seperti ini dan menyangka yang bukan-bukan terhadap aku, tentu aku akan naik darah dan menjadi amat marah! Kau kira aku Lie Kong Sian ini orang macam apakah? Nona, kau boleh maki padaku, bahkan kau boleh menyerangku, akan tetapi janganlah sekali-kali kau menduga aku sudah berlaku rendah dan biadab terhadap dirimu! Pada waktu Sin-kim-tiauw datang membawamu ke sini, pakaianmu sudah robek semua dan tidak keruan macamnya, maka lalu aku menyelimutimu dengan mantelku. Nah, itulah keadaan yang sebenarnya!"

Sambil berkata demikian, teringatlah Kong Sian akan hal itu sehingga dia menundukkan kepala dengan kemalu-maluan. Kalau saja ia tidak menundukkan mukanya, tentu ia akan melihat betapa Ang I Niocu menjadi merah sekali mukanya dan betapa kedua mata gadis itu mencucurkan air mata!

Tiba-tiba Ang I Niocu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah di depan pemuda itu sambil berkata dengan suara penuh keharuan, "In-kong (Tuan Penolong), kau maafkan aku yang kasar dan sudah menuduhmu yang bukan-bukan! Kau telah menolong jiwaku, telah merawatku selama tujuh hari, memberi obat, menyuapkan makan, akan tetapi aku yang tertolong bahkan sudah menuduhmu yang bukan-bukan! Maafkanlah aku…" Ang I Niocu mengucapkan kata-kata ini sambil menangis karena tidak saja dia merasa terharu, akan tetapi dia juga teringat akan semua peristiwa dan dia menguatirkan keadaan Lin Lin dan Cin Hai!

Lie Kong Sian lalu berkata dengan halus, "Duduklah, Nona, dan kini legalah hatiku sebab sekarang kau telah percaya kepadaku."

Ang I Niocu bangun, lantas duduk kembali sambil menyusuti air matanya dengan ujung mantelnya. Ia kini merasa sangat jengah dan malu sehingga dia tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu.

"Yang amat mengherankan," katanya kemudian, "kenapa tubuhku tak terluka sedangkan aku dicengkeram dan dibawa terbang oleh seekor burung rajawali yang begitu besar dan ganas.”

“Tidak usah kau merasa heran, Nona. Sin-kim-tiauw bukanlah burung rajawali biasa. Dia telah terlatih baik sekali oleh Supek-ku yang sakti, dan mungkin hanya Supek Bu Pun Su saja yang dapat melatihnya.”

Ang I Niocu mengangkat kepalanya dan memandang tajam. “Apa? Jadi kau adalah murid keponakan dari Suhu Bu Pun Su?”

Kong Sian juga memandang heran. “Benar, mendiang Suhu-ku yang bernama Han Le adalah sute dari Supek Bu Pun Su. Nona, ketika kau menyerangku di dalam goa tadi kau telah mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna. Dari siapakah kau memperoleh ilmu itu?”

Dengan girang sekali Ang I Niocu berkata, “Kalau begitu, kau masih terhitung seheng-ku (kakak seperguruan) karena aku pernah menerima latihan silat dari Suhu Bu Pun Su! Biar pun sebetulnya Suhu Bu Pun Su masih menjadi susiok couw-ku sendiri karena mendiang ayahku ialah murid keponakannya. Akan tetapi akhir-akhir ini aku juga mendapat latihan Kong-ciak Sinna serta Pek-in Hoat-sut dari Suhu Bu Pun Su sehingga aku boleh juga menyebutnya Suhu!"

Bukan main girang rasa hati Kong Sian "Ahh, ahh, dunia ini memang tidak berapa luas! Siapa tahu bahwa aku sudah menolong seorang saudara sendiri. Sumoi, sungguh aku merasa girang sekali mendengar ini. Akan tetapi, siapakah mendiang Ayahmu?"

"Ayahku adalah Kiang Liat," jawab Ang I Niocu dengan singkat oleh karena dia merasa malu membicarakan ayahnya yang mati karena gila!

Kong Sian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku sudah pernah mendengar dari Suhu tentang ayahmu itu yang berjuluk Jian-jiu Sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu). Ketika merantau, aku juga pernah mendengar nama besar dari seorang pendekar wanita yang berjuluk Ang I Niocu, apakah kau sendiri orang itu?"

Ang I Niocu mengangguk. "Memang itu nama julukanku yang kosong tak berisi. Namaku adalah Kiang Im Giok, seorang yatim piatu yang hidup sunyi dan penuh penderitaan."

"Sumoi, kata-katamu ini benar-benar menyentuh jiwaku. Aku Lie Kong Sian juga merasa bosan sekali di dunia ramai karena hidupku sebatang kara penuh kesunyian."

Keduanya lalu berdiam sampai lama, dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kemudian Kong Sian minta kepada Ang I Niocu supaya menceritakan pengalamannya sampai dia dapat berada di Pulau Kim-san-to. Dengan panjang lebar Ang I Niocu lalu menceritakan semua pengalamannya dan menyebut nama-nama Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Nelayan Cengeng dan juga nama Yousuf dan lain-lainnya. Setelah selesai bercerita, Kong Sian lalu menepuk kepalanya sendiri sambil berkata,

"Ah, memang aku yang percuma dihidupkan di atas dunia ini! Telah terjadi peristiwa yang besar dan demikian banyaknya serta membutuhkan tenaga bantuanku, akan tetapi yang kukerjakan hanyalah duduk melamun di pulau ini! Sampai-sampai Pulau Kim-san-to telah kutinggalkan bertahun-tahun hingga sekarang lenyap dimakan api! Ah, arwah Suhu tentu marah melihat sikapku ini. Memang aku hanya orang yang berjiwa lemah!" Ia menghela napas berulang-ulang dan merasa kecewa terhadap diri sendiri.

"Suheng, kau adalah seorang gagah dan mulia dan melihat gerakanmu saat kau menotok roboh padaku tadi, aku yakin bahwa ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali. Mengapa kau sia-siakan diri di tempat ini? Mengapa kau tidak mau terjun di dunia ramai dan melakukan darma bakti sebagai orang yang berkepandaian? Kalau kau mengasingkan diri di tempat ini, bukankah berarti sia-sia saja kau mempelajari kepandaian sampai bertahun-tahun?"

Seperti biasanya, Ang I Niocu selalu merasa bahwa dia lebih berpengalaman dan lebih ‘berakal’ dari pada orang lain, maka di dalam ucapannya ini terkandung nasehat-nasehat, teguran dan penyesalan, seperti biasa orang-orang tua menasehati anak-anak atau guru menasehati murid. Memang, selama ia menjelajah di dunia kang-ouw, yang disegani oleh Ang I Niocu dan yang membuat ia tunduk hanya Bu Pun Su seorang, sedangkan kepada lain-lain orang ia bersikap ‘lebih tinggi’.

Kong Sian tersenyum mendengar ucapannya ini. "Sumoi, memang demikianlah apa bila dipandang sepintas lalu saja. Akan tetapi, selama kau malang melintang di dunia ramai, apakah yang kau dapat? Hanya permusuhan, kejahatan, dan perkelahian mengadu jiwa, bunuh-membunuh sesama manusia. Aku sudah bosan menghadapi semua itu. Di sini aku mendapatkan ketenteraman jiwa dan tak terpengaruh oleh kejahatan-kejahatan manusia yang terjadi di dunia ramai. Memang, sewaktu-waktu aku tentu keluar dari pulau ini untuk meninjau dunia ramai sehingga tidak terputus hubunganku dengan manusia umum, akan tetapi, tempat ini sudah kupilih untuk menjadi tempat tinggalku yang tetap di mana aku dapat hidup dengan tenteram dan aman sentosa!"

Ucapan ini membuat Ang I Niocu menjadi tertegun. Terutama kata-kata pertanyaan yang diucapkan oleh suheng-nya ini berkesan di dalam hatinya. Apakah yang dia dapat selama ini? Hanya kesedihan, kekecewaan, dan permusuhan belaka.

Demikianlah, kedua orang itu kemudian bercakap-cakap dengan asyiknya, menceritakan pengalaman masing-masing. Ketika mendengar tentang Cin Hai yang menjadi murid Bu Pun Su dan yang kepandaiannya sangat dipuji oleh Ang I Niocu, Lie Kong Sian merasa kagum sekali.

"Ahh, ingin sekali aku bertemu dengan dia itu! Memang sungguh mengagumkan bahwa seorang pemuda yang masih demikian muda telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian pokok dari Supek Bu Pun Su. Dahulu Suhu pernah mengatakan bahwa ilmu pengertian pokok segala gerakan ilmu silat adalah kepandaian tunggal Supek yang membuat dia menjadi seorang yang tak ada lawannya dalam dunia persilatan. Dan dia sudah mampu mencipta sendiri ilmu pedangnya. Mengagumkan sekali." Diam-diam Kong Sian membandingkan anak muda itu dengan sute-nya Song Kun yang juga amat lihai ilmu silatnya.

Sambil merawat dan memulihkan kesehatannya, Ang I Niocu berdiam di pulau itu dan melatih ilmu-ilmu silat bersama Kong Sian. Ia telah menggunakan waktu senggang untuk menjahit kembali pakaiannya hingga kini tak perlu lagi ia menyelimuti diri dengan mantel pemuda itu.

Dalam latihan ilmu silat, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda itu benar-benar hebat dan lihai sekali sehingga boleh dikata masih lebih tinggi setingkat dari pada ilmu kepandaiannya sendiri. Oleh karena ini, dia mendapat petunjuk-petunjuk dari suheng-nya ini yang juga merasa kagum sekali melihat kepandaian sumoi-nya.

Ketika mendengar tentang Song Kun, Ang I Niocu menyatakan pendapatnya,

"Suheng sudah terang bahwa sute-mu itu jahat dan membahayakan keselamatan umum, mengapa kau tidak pergi mencari dan menasehatinya?"

“Dulu sudah pernah aku mencarinya, akan tetapi dia tidak mau mendengar nasehatku," jawab Kong Sian dengan suara sedih.

"Kalau begitu, kau harus menggunakan kekerasan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memberantas kejahatan, dan siapa pun juga orangnya yang berlaku jahat, maka harus kita berantas!"

"Kami bahkan pernah bertempur dan aku tidak dapat mengalahkan. Ilmu kepandaiannya walau pun tidak lebih dari pada kepandaianku, namun ia memiliki bakat luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan sekali. Dan… dan aku tidak tega melihat dia mendapat celaka. Aku amat menyayangnya seperti adik sendiri, sumoi."

Ang I Niocu memandangnya tajam dan kagum. "Kau memang orang yang berhati mulia, akan tetapi kau terlalu lemah, Suheng. Agaknya, kalau kau sudah mencinta seseorang, kau akan membelanya sampai mati! Sayang tidak ada seseorang wanita yang mendapat kehormatan menerima cinta di hatimu itu, Suheng. Alangkah bahagianya seorang wanita yang mendapat cinta hati seorang mulia seperti kau ini!"

Ucapan ini sebenarnya hanya muncul dari watak yang jujur dari Ang I Niocu karena dia merasa betapa ada persesuaian antara dia dan Kong Sian. Dia sendiri pun kalau sudah mencinta orang, dia rela membelanya dengan taruhan jiwa sekali pun. Seperti halnya Lin Lin dan Cin Hai, ia rela untuk mengorbankan jiwa demi kebahagiaan mereka! Akan tetapi, tanpa disangkanya, ketika mendengar ucapan yang diucapkan sewajarnya ini, mendadak Kong Sian menjadi pucat sekali.

"Suheng, kau….. kau kenapakah?"

Sambil menundukkan kepala dan tak berani menentang mata Ang I Niocu, Kong Sian lalu berkata pelan, "Sumoi, sebetulnya lidahku seolah-olah beku untuk mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi biarlah kini aku berterus terang saja. Sebelum bertemu dengan kau, tak pernah terpikir olehku mengenai diri seorang wanita dan aku telah mengambil keputusan untuk hidup menyendiri di pulau ini hingga mati. Akan tetapi, setelah aku bertemu dengan kau… bahkan sebelum aku mengetahui siapa adanya kau, melihat kau menderita sakit tanpa mengetahui apakah kau orang baik-baik atau orang jahat, hatiku sudah… tertarik sekali kepadamu dan… dan…" kemudian ia mengangkat mukanya dan dengan wajah pucat ia memandang kepada gadis itu dengan mata sayu, "Sumoi… maafkan kata-kataku ini… kita sama-sama hidup tidak berisi seakan-akan kosong dan sunyi. Maukah kau... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu dengan aku di pulau ini?"

Warna merah menjalar di seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya, dan matanya terbelalak ketika dia memandang pemuda itu. "Suheng... apakah maksudmu?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Sumoi, kalau kau sudi, marilah kita hidup bersama di pulau ini... maksudku, kita hidup sebagai suami isteri!"

Kini mata Ang I Niocu memandang tajam. “Kenapa, Suheng? Kenapa kau mengajukan usul ini? Apakah yang mendorongmu?"

Sementara itu, Kong Sian sudah dapat menetapkan hatinya yang tadi berguncang hebat. Dengan gagah dia lalu mengangkat muka, memandang wajah Ang I Niocu sepenuhnya. "Sumoi, biarlah kau mendengar pengakuanku. Meski pun kau akan mentertawaiku, akan mencaci, biarlah! Aku cinta kepadamu, Sumoi, sebagai cinta seorang laki-laki terhadap seorang wanita! Belum pernah ada perasaan demikian di hatiku, akan tetapi sesudah aku melihatmu, aku cinta kepadamu, cinta dengan sepenuh jiwaku! Karena itu, sekarang aku mengajukan pinangan kepadamu, Sumoi, apa bila kau sudi, sukalah kiranya kau menjadi isteriku dan kita menghabiskan sisa hidup sebagai suami isteri di pulau ini."

Tiba-tiba saja tanpa dapat ditahan lagi, mengalirlah air mata dari kedua mata Ang I Niocu sehingga Kong Sian menjadi terkejut dan berkata halus,

"Sumoi, kalau aku menyinggung dan melukai hatimu, ampunkanlah aku. Aku tidak akan memaksamu, Sumoi, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, apa bila kau tidak suka menerima katakanlah tanpa ragu-ragu atau sungkan-sungkan lagi. Aku takkan menyesal kepadamu, hanya akan menyesali diri sendiri yang bodoh dan tidak tahu diri!"

Sambil menghapus air matanya, Ang I Niocu menggelengkan kepalanya berkali-kali dan berkata, "Bukan demikian, Suheng. Jangan kau salah sangka. Aku... aku hanya merasa terharu sekali mendengar pernyataanmu yang sama sekali tak pernah kusangka-sangka itu. Aku telah menerima budi pertolonganmu yang besar yang selama hidupku tidak akan pernah kulupa. Kau sudah menolong jiwaku dan apa bila seandainya tidak ada kau, aku Kiang Im Giok pasti sudah mati! Dan seandainya aku tidak terjatuh ke dalam tanganmu, akan tetapi ke dalam tangan laki-laki lain ahh... entah nasib apa yang akan kuderita! Kau seorang gagah dan mulia, Suheng, terlalu mulia bagiku... aku... aku seorang yang jahat dan kotor! Ketahuilah, pada waktu aku masih muda, aku telah jatuh cinta yang akhirnya mengorbankan nyawa Ayahku sendiri. Aku tidak berharga bagimu, Suheng."

"Im Giok, aku sudah tahu tentang hal itu dari Suhu-ku. Aku pernah mendengar betapa kekasihmu dibunuh oleh ayahmu sendiri. Akan tetapi, kau tidak bersalah dalam hal itu. Ayahmu meninggal dunia oleh karena serangan penyakit jantung yang berbahaya. Wajar bagi seorang gadis untuk jatuh cinta!"

"Bukan itu saja, Suheng. Semenjak peristiwa itu, aku membenci laki-laki! Banyak pemuda yang jatuh cinta kepadaku, sengaja kupermainkan perasaan cintanya sehingga mereka menjadi seperti gila! Aku berlagak membalas perasaan mereka dan apa bila mereka telah menjadi gila betul-betul, aku pergi meninggalkannya. Banyak yang sudah menjadi korban, bahkan seorang pemuda yang baik budi bernama Kang Ek Sian, yang dulu bahkan telah dipilih oleh Suhu Bu Pun Su sendiri untuk menjadi suamiku, juga telah kupermainkan dan kupatahkan hatinya!"

Kong Sian menggelengkan kepala dan menarik napas dalam. "Memang kau telah berlaku kejam dan sesat, Sumoi, akan tetapi pengakuanmu ini telah meringankan dosamu, tanda bahwa kau sudah insyaf. Aku tidak menyesal mendengar ini dan tidak mengurangi rasa cintaku padamu."

"Masih ada lagi, Suheng... " kata Ang I Niocu sambil mengusap air mata yang menitik ke atas pipinya, "aku... aku yang tidak tahu diri akhirnya telah jatuh hati! Dan aku jatuh hati serta mencinta dengan sepenuh jiwaku kepada seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda dariku, padahal ketika aku bertemu dengan dia, aku telah berusia dua puluh tahun lebih dan dia baru berusia dua belas tahun! Aku... aku yang tidak tahu malu ini diam-diam mencinta kepadanya, dan... dan orang itu adalah Cin Hai, murid Suhu Bu Pun Su yang pernah kuceritakan padamu!"

"Hmm, jadi karena itukah maka kau mati-matian hendak mengorbankan nyawamu untuk menolong Lin Lin seperti yang kau ceritakan itu? Sumoi, kau benar- benar seorang mulia yang bernasib malang dan patut dikasihani! Aku dapat membayangkan betapa suci dan mulia rasa cintamu kepada Cin Hai! Melihat pemuda itu mencinta seorang gadis lain, kau tidak sakit hati, bahkan kau berdaya sekuat tenaga hendak mempertemukan mereka! Aku tahu, Sumoi, aku dapat menyelami jiwamu dan aku merasa bersyukur sekali bahwa kau dapat mengatasi perasaan-perasaan yang kurang baik. Sumoi, cerita dan pengakuanmu ini mempertinggi nilai dirimu dalam pandanganku."

Ang I Niocu mengangkat muka dan memandang heran. "Apa? Kau tidak marah padaku, Suheng? Kau tidak memandang rendah terhadapku setelah segala apa yang kuceritakan padamu itu?"

Kong Sian menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum, dan dari matanya bersinar cinta kasih yang diliputi kekaguman hati. "Pengakuanmu bahkan telah mempertebal rasa cintaku, Sumoi. Sudah wajar bagi tiap manusia untuk melakukan kekeliruan, akan tetapi, setiap kekeliruan akan musnah apa bila orang itu sudah menyadari dan menginsyafinya. Kau adalah seorang mulia."

Mendengar ini, lemaslah seluruh anggota tubuh Ang I Niocu dan dia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput sambil menangis.

"Im Giok, jangan kau merasa berat untuk menolak permintaanku tadi. Aku maklum bahwa aku memang mungkin terlalu tua bagimu dan... "

"Tidak Suheng. Usia kita tidak berselisih jauh."

"Apa?? Jangan kau membohongi aku, Sumoi!" kata Kong Sian dengan heran.

Ang I Niocu tersenyum sedih di antara air matanya. "Aku tidak bohong, Suheng. Memang mungkin aku nampak jauh lebih muda oleh karena aku banyak makan telur dari pek-tiauw (rajawali putih), akan tetapi sesungguhnya aku telah berusia tiga puluh lebih, sedikitnya tiga puluh dua tahun!"

Kong Sian mengangguk-angukkan kepalanya, karena sebagai seorang ahli pengobatan yang menerima warisan kepandaian dari Han Le, ia maklum akan khasiat yang besar dari telur burung rajawali putih.

"Pantas, pantas saja! Dan hal ini lebih-lebih menunjukkan kegagahanmu, oleh karena tak sembarangan orang dapat mengambil telur pek-tiauw! Melihat wajahmu, agaknya engkau paling banyak baru berusia dua puluh lima lebih! Bagaimana Sumoi. Bersediakah kau menerima aku yang bodoh dan buruk rupa sebagai kawan hidupmu?"

Ang I Niocu menggunakan tangan untuk menutup mukanya. Ia merasa bingung sekali. Di dalam hati ia mengaku bahwa mungkin di dunia ini tidak ada seorang pemuda yang layak dan patut menjadi suaminya selain Kong Sian. Kepandaiannya tinggi melebihinya sendiri, rupanya tampan dan sikapnya halus dan sopan santun. Pribadinya tinggi dan hal ini telah ia buktikan ketika pemuda itu mendapatkan dirinya yang berada dalam keadaan setengah telanjang itu dan ketika pemuda ini merawatnya dengan penuh kesabaran.

Semua ini telah menunjukkan bahwa pemuda ini sungguh-sungguh mencintanya dengan sepenuh jiwa. Terutama sekali, di dalam hal usia pemuda ini sebanding dengan dia! Apa lagi? Pemuda ini bahkan telah menolong jiwanya sehingga sampai mati pun belum tentu ia bisa membalas budinya.

Akan tetapi, jika dia menerima pinangan itu, seakan-akan ia terlalu murah memberi harga kepada dirinya! Dia memang berwatak tinggi hati dan keras, dan tidak mau ditundukkan dengan mudah. Akan tetapi, untuk menolak dia pun tidak berani!

"Suheng,” katanya setelah dia berpikir dengan masak-masak, "aku harus menghaturkan beribu terima kasih atas budi kecintaanmu itu. Bagaimana aku dapat menolak pinangan seorang seperti kau? Akan tetapi hal ini terjadi terlalu tiba-tiba sehingga aku belum dapat memutuskannya karena masih merasa bingung! Sekarang begini saja, Suheng. Biarlah kau anggap aku telah menerima pinanganmu itu dan aku pun takkan malu-malu mengaku bahwa aku telah menjadi tunanganmu. Akan tetapi, soal pernikahan antara kita baru bisa terlaksana setelah kau memenuhi beberapa syarat!"

Kong Sian tersenyum dan dari ucapan ini saja ia yang sudah paham akan tabiat manusia, dapat mengetahui bahwa gadis kekasih hatinya ini memiliki adat yang tinggi dan keras! Ia menjawab sambil masih tersenyum. "Sumoi, katakanlah, apa syarat-syaratmu itu?"

"Pertama, kau harus menanti sampai aku bisa bertemu kembali dengan kawan-kawanku, terutama dengan Cin Hai dan Lin Lin. Sebelum aku dapat mempertemukan kedua sejoli ini atau melihat mereka telah berkumpul kembali, tidak mungkin aku dapat mengikat diri dengan laki-laki lain!"

Kong Sian mengangguk-angguk, karena maklum akan isi hati Ang I Niocu.

“Kedua, kita harus mendapat perkenan dari Suhu Bu Pun Su, oleh karena dahulu beliau mempunyai maksud dan kehendak untuk menjodohkan aku dengan Kang Ek Sian, yang biar pun mencintaku, akan tetapi tak kubalas cintanya itu.”

Syarat ke dua ini diam-diam menggirangkan hati Kong Sian, oleh karena dari ucapan terakhir yang menyatakan bahwa gadis ini tidak menerima pinangan Kang Ek Sian oleh karena tidak mencintanya, hampir menyatakan bahwa biar pun sedikit, gadis ini ‘ada hati’ padanya, kalau tidak, tentu ia akan menolaknya pula! Karena itu ia mengangguk-angguk kembali dengan mulut tersenyum.

“Ke tiga,” kata lagi Ang I Niocu, “kau harus keluar dari pulau ini dan turun ke dunia ramai untuk mencari sute-mu Song Kun itu dan memenuhi pesan Suhu-mu, yaitu menasehati dia atau menggunakan kekerasan terhadapnya.”

“Ahh, yang ke tiga ini berat sekali, Sumoi! Kau tahu bahwa aku amat mencintanya dan tidak tega untuk mencelakakannya!”

“Inilah kelemahan yang membuat hatiku tak puas! Kau tidak tega kepada Sute-mu karena kau mencintanya, akan tetapi apakah kau akan bertega hati melihat betapa wanita-wanita diganggunya? Kelemahanmu ini menimbulkan ketidak adilan di dalam hatimu yang tidak layak dan tidak patut dimiliki oleh seorang pendekar silat.”

Kong Sian menghela napas, kemudian menjawab, “Biarlah, hal ini perlu kurenungkan dan kupikirkan baik-baik, sumoi. Masih ada lagikah syarat-syaratmu?”

Pertanyaan ini membuat Ang I Niocu menjadi merah mukanya karena dia merasa telah keterlaluan mengajukan sekian banyak syarat. Akan tetapi, syarat-syarat itu setidaknya dapat ‘mengangkat’ harga dirinya, tidak semurah kalau ia menerimanya mentah-mentah!

“Masih ada satu hal lagi,” katanya dengan muka merah dan menundukkan kepala, “akan tetapi yang terakhir ini baru akan kuceritakan kalau kau telah memenuhi yang ketiga itu.”

“Baiklah, Sumoi. Kuterima semua syarat-syaratmu.” Kemudian Lie Kong Sian meloloskan pedangnya dari pinggang dan memberikan itu kepada Ang I Niocu, lalu berkata, “Sumoi, terimalah Cian-hong-kiam ini sebagai bukti dari pada ikatan yang ada di antara kita, dan biarlah Thian yang menjadi saksi atas pertunangan kita ini.” Kata-kata ini diucapkan oleh Kong Sian dengan suara bergetar hingga mengharukan hati Ang I Niocu yang menerima pedang itu.

Kemudian Ang I Niocu mengambil perhiasan rambutnya yang terbuat dari pada mutiara dan memberikannya kepada Kong Sian. “Aku tidak mempunyai apa-apa, Suheng dan biarlah benda ini menjadi bukti dari pada kesetiaanku.”

Tak ada upacara yang mengesahkan pertunangan mereka itu selain dari pada penukaran benda yang dilakukan dengan sikap sederhana ini akan tetapi diramaikan oleh pertemuan pandang mata mereka yang menembus ke hati masing-masing.

Sesudah itu, Ang I Niocu lalu berpamit hendak pergi mencari Cin Hai dan Lin Lin. Kong Sian segera mengambil perahunya dan ia lalu mengantarkan tunangannya itu sampai ke darat di pesisir Tiongkok. Si Rajawali Emas tidak mau ketinggalan, ikut mengantar sambil terbang di atas perahu itu.

Pada saat keduanya telah mendarat dan Ang I Niocu hendak meninggalkannya, mereka saling pandang dan Ang I Niocu berbisik, “Semoga Thian memberkahi perjodohan kita dan semoga cita-cita kita bersama akan terlaksana, Koko.”

Kedua mata Kong Sian menjadi basah karena terharu dan girang mendengar sebutan ini dan semakin yakinlah dia bahwa diam-diam Ang I Niocu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan hatinya.

“Selamat Jalan, Moi-moi, dan biarlah Sin-kim-tiauw mengawanimu.”

Ang I Niocu girang sekali. Ia berkata kepada burung rajawali itu, “Sin-kim-tiauw, kau ikutlah padaku!”

Burung itu agaknya mengerti ucapan ini, karena dia cepat menoleh kepada Kong Sian seakan-akan minta perkenannya. Dia tak akan berani pergi sebelum mendapat perkenan dari Kong Sian.

“Pergilah kau ikut dia, Kim-tiauw, dan jagalah dia baik-baik!”

Burung itu lalu mengeluarkan bunyi karena girang dan ketika Ang I Niocu berlari cepat meninggalkan tempat itu, dia lalu terbang dan mengejar. Kong Sian kembali ke pulaunya untuk merenungkan peristiwa yang tak tersangka-sangka telah terjadi dalam hidupnya itu.

Demikianlah kisah pengalaman Ang I Niocu yang diduga telah tewas itu. Beberapa bulan lamanya ia merantau mencari-cari Cin Hai dan Lin Lin. Ia kembali ke pesisir dari mana ia menyeberang ke Pulau Kim-san-to, tetapi dia tidak mendapatkan jejak kawan-kawannya sehingga ia segera menuju ke barat. Oleh karena mendengar bahwa Lin Lin ikut dengan seorang Turki dan bahwa pada waktu itu di daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, ia lalu merantau ke barat.