Social Items

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 21

CIN HAI bergidik akibat ngeri, maka ia cepat-cepat menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang secara aneh sekali tiba-tiba tergoncang ketika melihat tengkorak itu dan dia lalu melompat ke samping. Ia dapat menduga bahwa senjata aneh ini tentu mengandung kekuatan hoatsut (sihir) yang dapat membuat lawan merasa terkejut, semangatnya lemah dan ngeri, maka ia lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya yang tak memegang senjata itu untuk memainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut atau Ilmu Sihir Awan Putih!

Beberapa kali dia menggerakkan lengan kiri sambil mengerahkan semangat serta tenaga lweekang hingga dari lengannya yang kiri itu mengepul uap putih! Kembali tengkorak itu menyambar ke arah kepalanya dan cepat sekali Cin Hai segera membacok tengkorak itu dengan pedangnya.

Akan tetapi segera ia menarik kembali pedangnya dan melompat lagi untuk mengelakkan diri. Entah bagaimana, ia merasa tak tega untuk membacok dan memecahkan tengkorak itu yang tiba-tiba saja tampak seolah-olah menjadi kepala seorang anak-anak yang masih utuh, lengkap dengan mata, rambut, dan hidung serta mulutnya!

Memang senjata di tangan Thai Kek Losu ini bukan senjata biasa. Sebelum tengkorak itu diikat dengan rantai, sudah lebih dulu dibawa bertapa dan dimasuki ilmu sihir. Hendaknya diketahui bahwa kepala itu diambil dari kepala seorang anak yang masih hidup, yang dikorbankan secara kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan oleh pendeta itu!

Khasiat senjata ini ialah dapat menyihir lawan dan membuat lawan di samping serasa pusing dan gentar, juga apa bila lawan hendak melawan dengan sungguh-sungguh, maka tengkorak itu akan nampak seperti masih hidup dan lengkap merupakan kepala seorang anak kecil yang menangis!

Oleh karena maklum akan kelihaian senjata ini, Cin Hai lalu menyabarkan diri dan hanya memperhatikan gerak lawannya saja. Ia mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dari setiap serangan. Setelah ia memperhatikan serangan lawan, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kakek ini benar-benar lihai serta tenaga lweekang-nya belum tentu kalah olehnya!

Akan tetapi dengan kepandaian serta pengertiannya mengenai pokok-pokok dasar segala macam gerak dan serangan lawan, Cin Hai sebetulnya tidak perlu merasa gentar. Hanya senjata hebat itulah yang membuatnya ragu-ragu dan ngeri.

Baiknya dia sudah memainkan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya sehingga sebagian besar hawa siluman yang merupakan daya sihir itu telah dapat ditolak sebagian. Namun ternyata bahwa kekuatan sihir atau ilmu hitam dari Thai Kek Losu kuat sekali. Meski pun kini Cin Hai tidak merasa gentar lagi, akan tetapi tetap dia tidak tega untuk membacok kepala atau tengkorak itu.

Cin Hai lantas mengeluarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, dan sesudah dia membalasnya dengan serangan-serangan yang amat lihai itu, Thai Kek Losu baru merasa terkejut. Ilmu pedang lawannya yang muda ini memang luar biasa. Tadi ketika dia melihat bahwa Cin Hai tak terpengaruh oleh daya sihir senjatanya dan lengan kiri pemuda itu begerak-gerak menurut garis Pat-kwa sehingga dapat menolak daya sihir, dia telah merasa kagum dan maklum bahwa ia menghadapi murid seorang sakti.

Akan tetapi dia maklum bahwa pemuda itu masih belum mampu menolak daya sihir yang membuat dia tidak tega membacok tengkorak itu dan diam-diam dia merasa girang oleh karena dengan ilmu silatnya yang tinggi, tentu dia akan mampu mendesak dan akhirnya mengalahkan lawannya ini. Tak usah banyak-banyak, jika sekali saja muka atau kepala lawannya dapat tercium oleh mulut tengkorak itu, pasti ia akan roboh dan tewas.

Kini setelah Cin Hai mengeluarkan Ilmu Silat Daun Bambu, baru ia terkejut sekali karena gerakan anak muda itu membuat ia terpaksa mencurahkan sebagian perhatiannya untuk menjaga diri. Serangan-serangan ujung pedang Liong-coan-kiam sungguh hebat dan sulit diduga, sedangkan untuk melukai kepala lawannya dengan tengkoraknya, juga bukanlah merupakan hal yang mudah karena pemuda itu memiliki kegesitan yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ginkang-nya sendiri.

Untuk dapat mempercepat kemenangannya, Thai Kek Losu lantas merogoh saku jubah dengan tangan kirinya dan ketika tangan kirinya itu bergerak, maka menyambarlah tujuh batang jarum hitam ke arah jalan darah di seluruh tubuh Cin Hai, antaranya dua batang menuju matanya. Inilah Hek-kang-ciam atau Jarum Baja Hitam yang cepat sekali lajunya karena biar pun kecil akan tetapi berat sekali.

Cin Hai dengan tenang memutar pedangnya dan aneh sekali! Semua jarum itu menempel pada Pedang Liong-coan-kiam dan melengket di sana. Kemudian sambil berseru keras, ketika Cin Hai menggerakkan pedangnya, semua jarum itu menyambar kembali ke arah tuannya.

Thai Kek Losu merasa terkejut sekali dan cepat-cepat dia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarumnya sendiri! Sebenarnya tidak aneh, oleh karena Liong-coan-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang mengandung daya tarik sembrani sehingga jarum-jarum kecil itu dapat lengket dengan mudah. Kemudian sambil mengerahkan lweekang-nya, pemuda itu dapat membuat jarum-jarum yang menempel itu terlepas dan melayang ke arah lawannya.

Kemudian tangan kiri Thai Kek Losu bergerak dan kali ini Cin Hai hanya mengelak, oleh karena yang menyambar hanya tiga batang jarum saja, akan tetapi kesempatan itu lalu digunakan oleh Thai Kek Losu untuk menghantamkan tengkoraknya ke arah batok kepala Cin Hai. Serangan ini tiba-tiba datangnya dan selain tidak terduga oleh karena perhatian Cin Hai tercurah kepada jarum-jarum itu, juga cepat sekali hingga tanpa terasa pula Cin Hai menangkis dengan pedangnya.

Terdengar suara keras ketika tengkorak itu mencium pedang dan tiba-tiba saja dari muka tengkorak itu menyambar keluar tujuh batang jarum-jarum yang berwarna kehijau-hijauan dan berbau amis karena mengandung racun. Inilah kelihaian tengkorak itu yang sengaja diserangkan dengan tiba-tiba supaya ditangkis oleh lawannya. Dari kedua lubang hidung keluar empat batang jarum, sedangkan dari mulut tengkorak itu keluar pula tiga batang. Semua jarum ini menyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan cepat sekali.

Kali ini Cin Hai benar-benar terkejut karena sama sekali tak pernah menduga akan hal ini. Ia cepat melempar tubuh ke belakang hingga seperti jatuh terjengkang dan ini pun hampir saja tidak dapat menolongnya oleh karena jarum-jarum itu lewat dekat sekali dengan kulit mukanya hingga hidungnya mencium bau yang luar biasa amis dan busuknya.

Setelah pengalaman ini, Cin Hai menjadi marah sekali, sebaliknya Thai Kek Losu menjadi kecewa dan gentar. Memang tipu tadi adalah tipu terakhir yang disengaja karena ia pasti akan dapat merobohkan lawannya. Tak tahunya, anak muda itu benar-benar hebat sekali sehingga pada saat dan keadaan yang agaknya tak mungkin dapat melepaskan diri dari bahaya maut itu, Cin Hai masih dapat mengelaknya.

Ia merasa rugi oleh karena tipu itu tidak berhasil, sebab Cin Hai takkan merasa tidak tega lagi kepada tengkorak itu oleh karena ketika pedangnya membentur tengkorak, ternyata tengkorak itu tidak pecah. Sekaligus pengalaman ini membuat hati pemuda itu menjadi tetap dan rasa kasihan serta tidak tega terhadap tengkorak itu menjadi lenyap, bahkan tergantikan rasa benci oleh karena ternyata bahwa tengkorak kecil yang dikasihinya tadi mengandung senjata maut yang hampir saja menewaskannya.

Kini Cin Hai menerjang maju lagi sambil memutar-mutar pedangnya serta mengeluarkan gerakan dan jurus-jurus Ilmu Pedang Daun Bambu yang paling hebat sehingga Thai Lek Losu terdesak mundur tanpa dapat membalas.

Pada ketika yang baik, Cin Hai menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Thai Kek Losu melalui cahaya rantai musuh dengan gerakan miring. Thai Kek Losu mencoba untuk menghindarkan serangan ini dengan mengadu nyawa, yakni dia membarenginya dengan memukulkan tengkoraknya pada muka Cin Hai. Dua senjata itu menyerang dengan cepat dalam waktu hampir bersamaan, dan kalau sekiranya kedua orang itu tidak mau menarik kembali serangan mereka, tentu kedua-duanya akan tewas.

Akan tetapi, tentu saja Cin Hai tidak sudi mengadu jiwanya. Ia maklum bahwa tengkorak itu berbahaya sekali dan mengandung racun hebat dan sekali saja ia kena tercium mulut tengkorak yang kebiru-biruan itu, maka dia akan mengalami bencana besar.

Secepat kilat dia membalik gerakan pedangnya yang memang mudah berubah-ubah itu, dan kini pedang itu menyambar ke arah rantai. Sebelum tengkorak mengenai mukanya, pedang Liong-coan-kiam dengan dorongan tenaga lweekang sepenuhnya sudah berhasil menebas putus rantai itu hingga tengkorak yang berada di ujung rantai terpental jauh dan menggelinding bagaikan bal. Pada saat itu juga, kaki kiri Cin Hai dengan cepat melayang dan mendupak dada Thai Kek Losu yang lantas terpental pula seperti tengkorak tadi dan kebetulan sekali dia jatuh ke arah tempat duduk Balaki.

Balaki tidak berani menyambut tubuh Thai Kek Losu, hanya cepat bukan main tubuhnya melayang pergi dari kursinya dan pada lain saat, tubuh Thai Kek Losu telah jatuh di atas kursi itu dan duduk dengan muka pucat.

“Yagali Khan, kuharap saja sebagai seorang raja besar, kau suka pegang teguh semua ucapanmu!” kata Cin Hai yang kemudian bertindak pergi keluar dari situ dengan langkah tenang.

Yagali Khan mengertak giginya. Jagonya yang nomor satu telah dikalahkan oleh seorang utusan atau pembawa surat saja, apa lagi kalau menghadapi panglima besar kaisar.

“Pendekar Bodoh, kami akan memegang janji, akan tetapi pada lain waktu apa bila kami mengundangmu, harap kau tidak menolak karena takut!” teriaknya.

Akan tetapi Cin Hai pura-pura tidak mendengarnya dan mempercepat langkahnya, oleh karena dia tidak mau mengikat dirinya dengan perjanjian semacam itu yang hanya akan memperbesar permusuhan belaka. Dan pula, entah kenapa, ia merasa kepalanya pening sekali dan selalu seperti hendak muntah.

Karena kepeningan kepalanya, maka Cin Hai telah mengambil jalan keliru dan ia tersesat jalan tanpa dia sadari. Pada suatu jalan simpang tiga, seharusnya dia membelok ke kiri, akan tetapi sebaliknya ia justru membelok ke kanan. Kepalanya makin pening dan kedua kakinya gemetar, akan tetapi dia berlari terus secepatnya.

Ketika dia masuk dalam sebuah hutan yang liar dan terus berlari cepat, tiba-tiba saja dia mendengar suara harimau mengaum. Akan tetapi, berbeda dengan auman harimau yang biasa, auman ini luar biasa kerasnya hingga Cin Hai sendiri sampai tergetar jantungnya. Ia segera menekan perasaan peningnya dan berlari menuju ke arah auman harimau itu karena setelah suara auman itu hilang gemanya, terdengar suara orang bersuara.

Sesudah dia tiba di satu tempat terbuka, dia menyaksikan pemandangan yang aneh dan mengagumkan. Dua orang laki-laki, yang seorang sudah tua dengan rambut dan jenggot putih, dan yang kedua setengah tua, tengah tertawa-tawa sambil mempermainkan seekor harimau yang luar biasa besar dan galaknya.

Cin Hai melangkah mendekati dan menyaksikan sepak terjang dua orang tua itu. Kakek jenggot putih itu berdiri berhadapan dengan harimau sambil dia mempermainkan bibirnya yang seakan-akan mengolok-oloknya. Orang ke dua berdiri di belakang harimau sambil tangannya bertolak pinggang. Sikap mereka ini seakan-akan bukan sedang menghadapi seekor harimau yang besar, akan tetapi seakan-akan dua orang anak-anak menghadapi seekor kucing yang jinak!

Tiba-tiba harimau itu menggereng keras dan melompat tinggi, menerkam kakek jenggot putih! Kakek itu diam saja tidak mengelak akan tetapi setelah harimau itu melayang dekat ia segera berseru dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke atas, melalui tubuh harimau dan sambil berjungkir balik di udara dia lalu menjatuhkan diri pula menduduki punggung harimau!

“Heh-heh-heh! Hayo lekas menari...!” katanya menepuk-nepuk punggung harimau besar itu dengan kedua tangannya persis anak kecil naik kuda-kudaan!

“Ha-ha-ha, Twako, jangan lepaskan dia. Ha-ha-ha!” Lelaki setengah tua yang berjenggot hitam itu tertawa gembira dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah menyambar ke arah harimau yang sedang marah sekali itu.

Harimau itu menggoyang-goyang tubuhnya membuka mulutnya lebar-lebar dan ekornya bergerak cepat dan tiba-tiba bagaikan sebatang toya, ekor yang panjang itu menyambar kepala kakek jenggot putih dari belakang. Cin Hai merasa terkejut, akan tetapi tiba-tiba seakan-akan kepala kakek itu ada mata di belakangnya, kakek itu menundukkan kepala sehingga sabetan ekor harimau mengenai tempat kosong.

Sementara itu, Si Jenggot Hitam yang sudah melompat di dekat tubuh harimau, lantas mengulurkan tangan kanannya dan menjiwir telinga harimau itu sehingga binatang liar ini menggerung-gerung kesakitan.

Ketika ekor harimau itu menyabet kembali, dengan mudah Si Jenggot Hitam menangkap ekor tadi dan menahannya di belakang hingga harimau yang hendak lari ke depan itu jadi tertahan dan tak dapat bergerak.

“Hayo, menyerah tidak kau!” kata kakek jenggot putih sambil menggenjot-enjot tubuhnya di punggung harimau.

Binatang itu hendak menggulingkan diri dan mencakar kakek itu, akan tetapi dia merasa betapa tubuh kakek itu bukan main beratnya hingga dia tak kuat berdiri lagi dan perutnya menempel pada tanah.

Cin Hai melihat dengan kagum dan heran akan kelihaian dan kegesitan kedua orang itu. Pada saat itu, dia mendengar suara keras berbunyi di udara, dan ketika dia memandang, ternyata di angkasa sedang terjadi pertempuran yang terlebih aneh lagi.

Seekor burung bangau besar sedang bertempur dengan serunya melawan seekor burung rajawali. Rajawali itu terus menyambar-nyambar dengan ganasnya, akan tetapi dengan patuknya yang runcing serta panjang bagaikan dua batang pedang itu, burung bangau dapat mempertahankan diri dengan baiknya. Ketika dua orang laki-laki itu menengok ke atas karena tertarik oleh suara burung-burung yang sedang berkelahi, mereka juga terkejut sekali.

“Kau mendekamlah!' kakek jenggot putih berseru sambil menepuk dan menotok urat di punggung harimau.

Dan aneh sekali, harimau itu tiba-tiba menjadi lemas dan mendekam tanpa berdaya lagi. Ternyata bahwa kakek itu tahu akan jalan-jalan darah binatang itu hingga dapat mengirim tiam-hoat (totokan) dengan tepat sekali. Ada pun Si jenggot Hitam segera memandang ke atas dan berseru keras, “Ang-siang-kiam, kau turunlah!”

Kemudian dia mengeluarkan suara bersuit yang nyaring sekali. Burung bangau itu diberi nama Ang-siang-kiam atau Sepasang Pedang Merah sebab patuknya memang berwarna merah dan panjang seperti sepasang pedang.

Mendengar suitan ini, dengan cepat bangau itu lalu meluncur turun dan di belakangnya, rajawali itu menyambar pula mengejar.

“Rajawali keparat!” Si Jenggot Hitam itu memaki.

Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan sebatang pelor putih yang bulat meluncur cepat ke arah dada rajawali yang mengejar bangau itu. Akan tetapi, rajawali ini gesit sekali dan sebelum pelor mengenai dadanya, dia sudah mengelak ke kiri. Sebutir pelor putih lainnya menyusul dan mengarah lehernya. Rajawali itu segera mengebutkan sayapnya dan pelor kena terpukul jatuh!

Melihat kelihaian rajawali itu, kedua orang laki-laki itu menjadi terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada pun Cin Hai yang juga memandang dengan perhatian lalu teringat akan rajawali yang dulu pernah bertanding melawan Ang I Niocu di atas perahu. Banyak persamaannya antara kedua burung rajawali itu.

Sementara itu, burung bangau yang diberi nama Ang-siang-kiam itu telah turun di atas tanah dan kini berdiri di dekat kakek jenggot hitam. Tubuh burung bangau itu tinggi sekali sehingga merupakan seekor burung bangau yang langka terdapat. Ada pun rajawali tadi karena tahu akan kelihaian dua orang manusia yang berada di bawah, lalu hanya terbang berputaran sambil mengeluarkan pekik menantang tanpa berani turun ke bawah.

Pada saat itu terdengar bentakan halus, “Sin-kim-tiauw, jangan kurang ajar!”

Mendengar suara ini, rajawali tadi lalu melayang turun dan Cin Hai menjadi girang dan juga terkejut sekali oleh karena ia mengenal suara ini sebagai suara gurunya, Bu Pun Su!

Benar saja, pada waktu kedua orang laki-laki itu pun memandang, dari sebuah tikungan, muncullah seorang kakek tua sekali yang berpakaian penuh tambalan hingga merupakan seorang jembel tua. Rajawali emas tadi telah turun dan kini berjalan di belakang kakek itu bagaikan seekor anjing yang jinak sekali.

“Suhu!” Cin Hai berseru dan segera berlari dan menghampiri, akan tetapi hampir saja ia roboh terguling karena kepalanya terasa pening sekali ketika dia berlari itu. Untung dia masih dapat menetapkan kaki dan segera berlutut.

“Cin Hai, lekas kau duduk, kumpulkan semangat dan bersihkan napas!” terdengar kakek itu berseru setelah memandang wajah muridnya.

Sekali pandang saja kakek sakti ini tahu bahwa muridnya ini telah terkena hawa beracun yang berbahaya sekali. Walau pun merasa heran, Cin Hai segera menurut dan taat akan perintah gurunya itu. Ia segera duduk bersila, meramkan mata dan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Tiba-tiba ia merasa betapa telapak tangan suhu-nya yang halus itu memegang tangannya dan dari telapak tangan suhu-nya mengalirlah hawa yang luar biasa hangat dan kuatnya melalui telapak tangannya sendiri dan terus membantu hawa kekuatan tubuhnya sendiri. Oleh karena ini, dia merasa betapa hawa tenaga di dalam tubuhnya kini menjadi berlipat ganda dan lalu ia gunakan hawa itu diputar-putar ke seluruh tubuh karena tidak tahu akan maksud suhu-nya.

“Penuhkan di dada, bersihkan paru-paru dan usir hawa racun yang tadi masuk melewati lubang hidungmu!” kakek itu berbisik perlahan.

Cin Hai diam-diam merasa terkejut dari teringatlah dia akan pertempurannya melawan Thai Kek Losu tadi. Jarum-jarum berbisa yang amat lihai dan yang keluar dari tengkorak Pendeta Sakya Buddha itu hampir saja tadi mengenainya dan menyambar dekat sekali di depan hidungnya hingga dia mencium bau yang amis dan busuk! Bukan main jahatnya jarum-jarum berbisa itu. Baru baunya saja telah mempengaruhinya, apa lagi kalau sampai terluka oleh jarum itu!

Cin Hai segera mengerahkan hawa di dalam tubuh itu di dikumpulkan di dada, mendesak keluar segala hawa kotor yang terbawa masuk oleh pernapasan ke dalam paru-parunya, sehingga ketika dia mendesak hawa itu keluar hidungnya, kembali ia mencium bau yang amis dan busuk itu! Ternyata bahwa bau yang amis dari senjata tadi telah mengeram di dalam paru-parunya. Bukan main berbahaya dan jahatnya!

Sementara itu, kedua orang penakluk harimau tadi berdiri dengan heran dan kagum pada saat melihat cara guru itu menyembuhkan muridnya. Mereka pun maklum bahwa kakek jembel itu tentu lihai sekali, maka mereka tidak berani mengganggu dan hanya berdiri memandang. Tidak lama kemudian, Bu Pun Su melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Cin Hai dan dia berdiri kembali.

“Sudah, sudah bersih...,” katanya. Cin Hai membuka kedua matanya dan segera berlutut.

“Senjata siapakah yang hampir mencelakaimu tadi, Cin Hai?”

Cin Hai lalu menceritakan mengenai pengalamannya, betapa dia menjadi utusan kaisar, menyampaikan surat kepada Yagali Khan dan betapa dia mengadu kepandaian dengan Thai Kek Losu dan berhasil mengalahkannya tanpa menyadari bahwa dia sudah hampir mendapat celaka karena senjata rahasia yang hebat dari pendeta itu.

Bu Pun Su mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus, bagus. Memang itu sudah menjadi tugasmu...”

Ketika mendengar cerita ini, dua orang pemilik burung bangau tadi segera menghampiri dan menjura dengan sikap hormat sekali.

“Ah, tidak mengira bahwa kami berdua mendapat kehormatan besar sekali untuk bertemu dengan seorang patriot yang gagah perkasa beserta suhu-nya yang sakti. Mohon tanya, siapakah Locianpwe ini dan siapa pula muridmu yang gagah perkasa?” bertanya kakek jenggot putih itu sambil menjura kepada Bu Pun Su yang jauh lebih tua darinya.

Bu Pun Su tidak membalas pemberian hormat itu, sebagaimana biasa dia memang tidak menyukai segala penghormatan, lalu menjawab seakan-akan mereka telah lama menjadi kawan baik saja,

“Burung bangaumu itu hebat sekali. Bukankah kau yang bernama Sie Lok dan disebut Si Pemelihara Harimau?”

Kakek jenggot putih itu nampak tercengang. “Eh, sungguh heran! Locianpwe benar-benar berpemandangan tajam. Memang nama siauwte Sie Lok dan ini adalah adikku Sie Kiong. Kami berdua saudara memang tukang memelihara harimau. Bolehkah kami mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

“Siapakah aku ini? Ahh, aku sendiri sudah hampir lupa siapa namaku. Kalian tanya saja kepada muridku ini!” jawabnya tak acuh sambil mendekati burung bangau dan memeriksa seluruh bulu dan tubuh burung itu dengan penuh perhatian dan tertarik sekali. Berkali-kali ia menganggukkan kepala dan berkata, “Bagus, bagus,” seolah-olah seorang ahli barang antik sedang mengagumi sebuah benda kuno yang berharga dan menarik.

Cin Hai yang sudah tahu akan sifat aneh dari suhu-nya, merasa kurang enak terhadap kedua orang tua itu, maka dia segera menjura dengan hormat sambil berkata, “Jiwi yang gagah, suhu-ku itu bernama Bu Pun Su dan siauwte sendiri bernama Sie Cin Hai.”

Kedua orang itu nampak amat terkejut karena mereka telah mendengar nama Bu Pun Su sebagai seorang kakek sakti yang luar biasa. Akan tetapi, agaknya mereka lebih tertarik mendengar nama Cin Hai karena kakek jenggot putih itu kemudian melangkah maju dan bertanya,

“Anak muda, wajahmu mengingatkan aku akan seseorang. Siapakah nama ayahmu dan siapa pula nama ibumu?”

Berdebarlah hati pemuda itu. Tadinya dia mengira bahwa persamaan she dengan kedua orang itu hanya kebetulan saja, akan tetapi mendengar pertanyaan ini, timbul perasaan ganjil di dalam hatinya.

Sambil menggeleng kepala dia menjawab, ”Siauwte tidak tahu, tak tahu siapa nama ayah dan ibu...,” sampai di sini ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena hatinya merasa terharu.

Tiba-tiba Bu Pun Su berkata dengan suara sambil lalu, “Eh, pemelihara harimau, apakah kau ketahui tentang seorang she Sie yang terbunuh mati sekeluarganya karena dianggap pemberontak?”

Mendadak kedua orang itu menjadi pucat wajahnya dan memandang kepada Bu Pun Su dengan mata terbelalak. “Locianpwe... apa... apa maksud pertanyaanmu ini...?”

Kedua orang itu teringat bahwa pemuda itu adalah utusan kaisar, maka tentu saja akan memusuhi orang-orang yang dianggap pemberontak.

Akan tetapi, Cin Hai yang mendengar pertanyaan suhu-nya ini dan yang melihat sikap kedua orang itu, tiba-tiba merasa makin berdebar. “Lo-peh, tahukah kau tentang dia yang memberontak itu? Tahukah kau...? Katakanlah, Lo-peh!”

Kakek jenggot putih itu memandang tajam lalu bertanya. “Kau bilanglah lebih dahulu apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Kau adalah seorang utusan kaisar, apa hubungannya dengan segala pemberontak?”

“Pemberontak she Sie adalah ayahku sendiri!” kata Sie Cin Hai dengan suara pilu.

Kini kakek jenggot putih itu melangkah mundur dan wajahnya menjadi amat pucat, tanda bahwa ia terkejut sekali. Si Jenggot Hitam yang bernama Sie Kiong itu pun mengeluarkan seruan kaget.

“Apa katamu...? Anak muda... mukamu memang sama benar dengan Sie Gwat Leng, pemberontak she Sie itu. Dia itu adalah adikku dan kakak dari Sie Kiong. Anak muda, apakah kau mau bilang bahwa kau adalah anak Gwat Leng...?”

Dengan kedua mata terbelalak Cin Hai lalu bertanya, suaranya gemetar. “Katakanlah... katakanlah... apakah Jiwi kenal kepada seorang wanita bernama Loan Nio yang menjadi isteri Kwee In Liang?”

“Tentu saja kenal. Dia adalah adik ipar dari Gwat Leng...”

“Ya Tuhan...! Kalau begitu kalian adalah paman-pamanku...!” terdengar Cin Hai berkata dengan dada naik turun karena menahan gelora hatinya. “Pekhu... Siokhu... aku Sie Cin Hai memang putera Sie Gwat Leng itu... tak salah lagi...” Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua orang itu sambil menahan air matanya!

Sie Lok dan Sie Kiong lalu menubruk Cin Hai dan memeluknya. “Kau anak Gwat Leng yang ikut Bibimu itu...? Ah, tak kusangka kita masih akan dapat bertemu...!” kata Sie Lok.

Bu Pun Su menghampiri mereka dan berkata, “Tidak ada perceraian yang tidak berakhir. Agaknya Thian sudah menghendaki sehingga kalian dapat saling berjumpa dengan tak tersangka-sangka. Sudah lama aku mendengar nama kalian berdua pemelihara harimau, dan telah timbul persangkaanku, maka hari ini memang aku datang hendak menyelidiki. Siapa tahu, kebetulan sekali Cin Hai datang ke sini pula dalam keadaan terpengaruh racun jahat. Sungguh, ini namanya jodoh!”

“Siokhu, Pekhu, Suhu-ku inilah yang memungkinkan keponakanmu ini sampai sekarang masih hidup!” kata Cin Hai setelah keharuan hati mereka mereda.

“Sudah lama kami mendengar nama besar Locianpwe, tidak tahunya Locianpwe adalah guru dan penolong dari keponakan kami yang tunggal ini. Terimalah pernyataan terima kasih kami, Locianpwe!” Setelah berkata demikian, Sie Lok dan Sie Kiong lalu berlutut di depan Bu Pun Su.

“Sudahlah, sudahlah, tak perlu bersikap seperti kanak-kanak,” kata Bu Pun Su dan ketika ia menggerakkan kedua tangannya menyentuh pundak kedua orang itu, mau tidak mau keduanya harus berdiri lagi karena ada tenaga yang amat besarnya mengangkat mereka bangun! Kemudian, Bu Pun Su berkata kepada Cin Hai,

“Muridku, sesudah bertemu dengan kedua pamanmu, tentu kau akan mendengar riwayat orang tuamu. Sekarang aku akan pergi, tubuhku yang sudah amat tua dan lapuk ini tak kuat untuk merantau lebih lama lagi. Sekarang aku hendak kembali ke Goa Tengkorak dan membawa Sin-kim-tiauw bersamaku. Kalau kau bertemu dengan Im Giok, suruh dia menyusulku ke sana!”

Cin Hai memandang kepada muka suhu-nya dengan bengong. “Suhu maksudkan Ang I Niocu? Bukankah Niocu sudah... sudah...,” ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Kekuasaan Thian tidak ada batasnya, anak bodoh. Aku sendiri belum memastikan benar apakah Im Giok masih hidup dan bukankah pada saat peristiwa hebat itu terjadi, baik burung ini mau pun Im Giok berada di pulau itu? Sudahlah, Cin Hai, kalau tidak dapat bertemu dengan Im Giok, akhirnya aku pun akan dapat menemuinya, entah di sini entah di sana...,“ setelah berkata demikian, sekali saja kakek itu mengebutkan lengan bajunya, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ, tanpa berpamit kepada Sie Lok dan Sie Kiong!

Memang demikianlah watak Bu Pun Su yang aneh dan selalu tidak mengacuhkan segala hal yang dianggapnya kurang perlu! Sin-kim-tiauw lalu memekik keras dan terbang cepat menyusul kakek itu.

Sie Lok menghela napas. “Telah banyak aku melihat orang pandai dan sakti, akan tetapi baru kali ini aku melihat orang yang betul-betul pandai dan berilmu tinggi. Mari, Cin Hai, mari kita pulang ke rumahku dan di sana bercakap-cakap dengan leluasa. Hari ini adalah hari yang paling gembira dan baik semenjak kami ditinggal oleh ayahmu.”

Sambil digandeng tangannya oleh Sie Kong, Cin Hai lalu ikut mereka pulang dan keluar dari hutan itu, sedangkan harimau yang telah ditotok tadi, setelah dikalungi tambang dan dipulihkan keadaannya, lalu diseret dan akhirnya berlari mengikuti mereka dengan jinak. Ternyata bahwa harimau itu pun maklum akan kelihaian kakek itu hingga menyerah kalah dan tidak berani memberontak!

Dan demikianlah cara kedua orang she Sie itu menangkap harimau dan menjinakkannya. Tiap kali bertemu dengan harimau buas, mereka lalu mengganggu dan mempermainkan harimau itu dengan kepandaian mereka yang amat tinggi. Kemudian, setelah harimau itu ditundukkan, leher harimau lalu dicancang dan dibawa pulang, bagaikan orang menuntun anjing saja.

Setelah sampai di rumah Sie Lok dan Sie Kiong yang berada di atas sebuah lereng bukit penuh dengan pohon pek dan siong, Cin Hai merasa kagum sekali oleh karena ternyata di sekeliling rumah besar itu terdapat banyak sekali harimau yang berkeliaran di sekitar rumah dengan jinak bagaikan binatang peliharaan biasa.

Ketika Cin Hai mencoba untuk menghitung jumlah harimau, yang kelihatan saja olehnya sudah ada dua puluh ekor lebih. Kemudian dia mendengar dari pamannya bahwa mereka mempunyai lebih dari empat puluh ekor harimau yang besar dan galak.

Bagaikan anjing-anjing penjaga rumah, ketika melihat Cin Hai dan menciumi bau manusia baru yang asing, harimau-harimau itu menggereng sambil memperlihatkan gigi dan taring akan tetapi ketika kedua orang she Sie itu mengangkat tangan kanan, semua harimau itu menjadi ketakutan dan mengundurkan diri. Bukan main kagumnya hati Cin Hai melihat pengaruh dan kekuasaan dua orang pamannya itu atas sekian banyaknya harimau buas.

Setelah masuk ke dalam rumah dan duduk saling berhadapan, maka berceritalah Sie Lok kepada Cin Hai. Ternyata bahwa keluarga Sie terdiri dari empat orang saudara laki-laki bernama Sie Lok, Sie Gwat Leng, Sie Ban Leng dan Sie Kiong. Keempat saudara ini pada waktu mudanya rajin mempelajari ilmu silat, dan di antara mereka, yang pandai sekali dan tinggi ilmu silatnya adalah Sie Gwat Leng dan Sie Ban Leng oleh karena kedua orang ini mendapat didikan dari seorang pertapa sakti Gobi-san.

Ada pun Sie Lok dan Sie Kiong mendapat didikan dari seorang hwesio perantau yang juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan menjadi ahli penakluk semua binatang buas. Dari hwesio inilah Sie Lok dan Sie Kiong mendapat ilmu atau cara menaklukkan harimau dan lain-lain binatang buas, bahkan mereka juga mempelajari cara menotok tubuh binatang-binatang itu.

Setelah tamat belajar, keempat saudara ini bertemu lagi dan ketika diadakan pengukuran kepandaian, ternyata bahwa Sie Gwat Leng adalah yang paling pandai, kemudian Sie Ban Leng, kemudian Sie Lok dan Sie Kiong sungguh pun bagi orang biasa boleh disebut telah memiliki ilmu silat yang amat tinggi, namun dibandingkan dengan kedua saudaranya yang menjadi anak murid Gobi-san itu, kepandaian mereka masih jauh.

Kecuali Sie Ban Leng yang mempunyai watak buruk, ketiga saudara yang lainnya adalah orang-orang yang berjiwa ksatria dan gagah, bahkan Sie Gwat Leng tiada henti-hentinya menggunakan kepandaian untuk menolong sesama manusia yang menderita. Gwat Leng merasa tidak puas sekali melihat keadaan rakyat jelata yang miskin dan papa, karena itu sering kali ia menyatakan ketidak-senangan hatinya terhadap kaisar dan pemerintahnya.

Berbeda dengan Gwat Leng dan yang lain-lain, Ban Leng selalu mengumbar hawa nafsu jahat, bergaul dengan segala macam penjahat dan membiasakan diri dengan segala jenis permainan judi. Gwat Leng juga sering kali menegurnya sehingga beberapa kali mereka bercekcok oleh karena Ban Leng tak pernah takut atau tunduk kepada kakaknya ini. Ada pun Sie Lok yang menjadi saudara tertua tak berdaya apa-apa oleh karena dia memang jauh lebih lemah dari pada Ban Leng.

Namun, betapa pun juga, Sie Ban Leng masih berlaku hati-hati dan tidak berani berlaku jahat secara berterang oleh karena dia takut kepada suhu-nya yang sudah menyuruhnya bersumpah ketika menjadi muridnya dulu. Kepada Gwat Leng dia tidak takut oleh karena biar pun ilmu kepandaian Gwat Leng lebih tinggi, akan tetapi dia tahu akan kesayangan kakaknya itu terhadap dirinya, maka dia yakin bahwa Gwat Leng tentu takkan tega untuk mencelakakannya.

Kemudian Sie Gwat Leng menikah dengan seorang gadis dusun yang cantik dan halus budi bahasanya. Mereka berdua hidup dengan rukun dan saling mencinta, penuh dengan kebahagiaan. Setahun kemudian terlahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Sie Hai yang kemudian ditambah dengan huruf ‘Cin’ oleh Loan Nio karena nyonya ini tidak ingin kalau ada orang mengetahui bahwa anak itu adalah putera Sie Gwat Leng yang memberontak.

Akan tetapi celakanya, ketika melihat isteri Sie Gwat Leng yang cantik manis, timbul hati jahat di dalam dada Ban Leng yang berwatak buruk itu. Dia mencoba untuk menggoda soso-nya sendiri hingga timbullah pertengkaran yang diakhiri dengan perkelahian antara dia dan kakaknya.

Ban Leng kena dikalahkan oleh Gwat Leng. Dengan hati sakit dan mendendam, Sie Ban Leng lalu lari meninggalkan saudara-saudaranya. Sampai bertahun-tahun tidak terdengar lagi berita mengenai dirinya. Akan tetapi, sesudah guru Gwat Leng, pertapa Gobi-san itu meninggal dunia, mereka mendengar lagi tentang keadaan Ban Leng dan ternyata bahwa Ban Leng sudah berada di kota raja, menjadi seorang jago muda yang jarang mendapat tandingan dan disegani orang banyak hingga mendapat julukan Gobi Sin-liong atau Naga Sakti dari Gobi-san!

Sie Gwat Leng masih saja bercita-cita untuk menolong kaum tani dan rakyat jelata yang lemah dan miskin. Ia mulai dengan usahanya di dalam dusun sendiri. Ia mengumpulkan orang-orang kampung, mendidik mereka dengan ilmu silat, kemudian mendesak dengan kekerasan dan pengaruh kepandaiannya kepada mereka yang tergolong hartawan untuk mengulurkan tangan membantu.

Akhirnya ia pun berhasil membuat kampungnya menjadi makmur. Semua orang bertubuh sehat dan mendapat didikan ilmu silat sehingga dapat menjaga kampung dari serangan orang jahat dan tidak ada lagi orang yang mengalami kemelaratan karena semua orang mendapat penghasilan yang cukup.

Hal ini lalu terdengar oleh kampung lain yang merasa iri dan kemudian dikabarkan orang bahwa keluarga Sie hendak mengadakan pemberontakan dan telah bersiap-siap dengan melatih orang-orang dusun dengan ilmu silat untuk kelak dipergunakan memberontak dan memukul kerajaan!

Hal ini terdengar oleh seorang perwira yang bertugas di satu tempat tak jauh dari dusun itu. Perwira ini orangnya sombong dan tanpa menanti perintah dari pusat, ia telah lancang mengadakan tindakan sendiri untuk mencari pahala.

Dia membawa anak buahnya sebanyak empat puluh orang dan menyerbu ke dusun itu! Anak buahnya mengamuk dan tidak hanya memukul dan menawan orang-orang, bahkan mengganggu anak bini orang dan merampas harta mereka!

Tentu saja Sie Gwat Leng menjadi marah sekali. Dia mengumpulkan orang-orang dusun dan melawan penyerbu-penyerbu itu hingga tentara di bawah pimpinan perwira sombong itu dapat dimusnakan berikut pemimpinnya!

Segera kota raja mendengar mengenai peristiwa ini, dan Sie Gwat Leng lalu dianggap sebagai pemberontak! Kaisar kemudian memerintahkan Kwee In Liang untuk memimpin serombongan tentara terdiri dari seratus orang untuk menawan kawanan pemberontak-pemberontak itu.

Di dalam rombongan ini ikut pula Sie Ban Leng karena orang ini mendapat kesempatan untuk membalas dendam kepada kakaknya sendiri. Biar dia tidak secara terang-terangan ikut di dalam rombongan Kwee-ciangkun, akan tetapi diam-diam dia ikut pergi kembali ke dusunnya sendiri dengan maksud membantu penindasan pemberontak, sebab ia maklum bahwa dengan adanya tiga saudaranya di dalam dusun, maka akan sukarlah bagi tentara kerajaan untuk menindas dan mengalahkan dusun itu.

Terjadilah pertempuran hebat antara tentara kerajaan dan orang-orang dusun di bawah pimpinan ketiga saudara Sie yang melakukan perlawanan karena mereka sudah merasa benci sekali terhadap kerajaan, yang ditimbulkan oleh sepak terjang yang jahat dari para tentara di bawah pimpinan perwira yang dulu menyerbu dan berhasil dihancurkan.

Benar saja dugaan Ban Leng. Kwee Ciangkun tidak berdaya menghadapi ketiga saudara Sie yang benar-benar kosen dan tangguh. Selagi dia merasa bingung, datanglah Sie Ban Leng membantunya.

Dengan licik dan curang sekali, Sie Ban Leng datang kepada kakaknya dan menyatakan penyesalannya, kemudian berkata bahwa ia sengaja datang ingin membantu perjuangan saudara-saudaranya mengusir barisan kerajaan. Tentu saja Gwat Leng, Sie Lok dan Sie Kiong merasa gembira sekali, dan menerima saudara yang sesat ini dengan dua tangan terbuka.

Tidak tahunya, pada malam harinya, ketika Sie Gwat Leng sedang tidur karena lelahnya memimpin orang-orang dusun melawan tentara negeri, Ban Leng lalu berlaku curang dan menotok kedua pundak kakaknya yang sedang tidur itu!

Sie Lok dan Sie Kiong yang melihat hal ini menjadi amat marah lalu menyerang Ban Leng yang berkhianat. Akan tetapi kepandaian mereka belum mampu melawan Ban Leng dan pada saat itu pula, sesuai dengan rencana Ban Leng dan Kwee-ciangkun, tentara negeri segera menyerbu!

Dalam keadaan tidak berdaya karena totokan Ban Leng membuatnya lumpuh, Gwat Leng ditawan, orang-orang kampung banyak yang mati dan sebagian pula ditawan, kampung dibakar habis dan semua keluarga Sie ditawan pula! Dalam suasana ribut itu, Ban Leng hendak menculik serta mengganggu isteri Gwat Leng, akan tetapi Kwee In Liang dengan marah mencegahnya.

“Semua orang tidak boleh mengganggu wanita, siapa melanggar akan dihukum!” katanya dengan garang.

Ban Leng sendiri sebetulnya tidak takut kepada Kwee In Liang, akan tetapi tiba-tiba isteri Gwat Leng yang merasa putus harapan itu, segera menggunakan kesempatan ini untuk membenturkan kepala sendiri pada dinding hingga kepalanya menjadi pecah dan tewas pada saat itu juga. Dengan hati menyesal, Ban Leng lalu meninggalkan tempat itu.

Adik perempuan isteri Gwat Leng yaitu Loan Nio, yang pada saat itu sudah remaja puteri, sambil menggendong Sie Hai yang masih kecil mencoba lari, akan tetapi dia ditangkap oleh seorang anggota tentara yang kagum melihat kecantikannya. Akan tetapi, untunglah bahwa pada waktu itu Kwee In Liang melihat hal ini terjadi. Perwira ini memberi pukulan keras hingga tentara itu pingsan, sedangkan dia lalu menolong Loan Nio dan anak kecil yang disangka anak Loan Nio itu, dibawa ke dalam rumahnya.

Loan Nio lalu diambil sebagai pelayan di rumah gedung Kwee In Liang, dan gadis yang cerdik ini lalu menitipkan Sie Hai kepada seorang wanita di luar gedung dengan memberi belanja setiap pekan, yaitu uang gajinya sendiri, seluruhnya diberikan kepada wanita itu.

Demikianlah, Sie Hai yang kemudian dinamakan Cin Hai oleh Loan Nio itu, yang di waktu itu baru berusia setahun lebih, dipelihara dengan diam-diam oleh Loan Nio. Dan setelah Loan Nio diambil sebagai isteri oleh Kwee-ciangkun, baru dia memberi tahu dengan jujur kepada suaminya bahwa Cin Hai adalah putera Sie Gwat Leng. Karena sangat mencintai dan sayang kepada isterinya yang baik budi ini, Kwee-ciangkun mau juga menerima Cin Hai di dalam gedungnya.

Ada pun Sie Lok dan Sie Kiong yang mempunyai ilmu kepandaian, dapat melarikan diri setelah mereka tidak berhasil menghukum Ban Leng yang sangat jahat dan yang sudah mengkhianati kakak sendiri itu. Mereka lalu merantau dengan hati duka. Apa lagi ketika mereka mendengar betapa Gwat Leng menjalankan hukuman mati dalam keadaan masih lumpuh, sedangkan isterinya mati membunuh diri dan keluarga lain dihukum mati pula, kedua saudara ini hanya bisa menangis dan sedih.

Mereka merasa benci sekali kepada manusia, oleh karena dianggapnya manusia adalah makhluk yang sejahat-jahatnya. Seorang saudara kandung sendiri seperti Ban Leng bisa berlaku sejahat itu, apa lagi orang lain? Maka, mereka lalu mengasingkan diri di hutan, dan menaklukkan banyak harimau untuk menjadi kawan-kawan dan penjaga mereka!

Mendengar cerita Sie Liok ini, Cin Hai merasa sedih, terharu, marah dan menyesal sekali.

“Pek-hu dan Siok-hu, di manakah adanya Paman Sie Ban Leng, manusia yang berwatak rendah dan biadab itu? Ingin sekali aku dapat melihat muka orang yang berhati binatang itu!” katanya gemas dan marah, sambil mengepal tangannya.

“Entahlah, kami berdua dulu pernah mencarinya untuk membalas dendam, akan tetapi dua kali kami sudah kena dikalahkan dan kemudian kabarnya dia merasa menyesal atas perbuatannya yang terkutuk itu dan dia telah mengasingkan diri entah di mana.”

Kemudian, atas permintaan kedua pamannya, Cin Hai dengan singkat lalu menceritakan pengalamannya. Kedua orang tua itu merasa kagum sekali. Akan tetapi, mereka masih penasaran jika belum mencoba dan mengukur sendiri kelihaian keponakannya ini, maka Sie Kiong yang berwatak gembira lalu berkata,

“Cin Hai coba kau perlihatkan kepandaianmu agar hatiku puas.”

Cin Hai tersenyum, lantas mengikuti mereka berdua keluar dari rumah di mana terdapat halaman yang cukup luas.

“Bagaimanakah aku harus memperlihatkan kebodohanku?” tanyanya kepada Sie Lok dan Sie Kiong.

“Kau lawanlah kami berdua, agar kami dapat mengukur apakah kepandaianmu ini dapat dibandingkan dengan Ayahmu atau Pamanmu yang jahat itu?” kata Sie Lok yang segera menggulung lengan bajunya.

Cin Hai maklum bahwa betapa pun tinggi ilmu kepandaian dua pamannya ini, akan tetapi melihat gerakan mereka ketika menawan harimau tadi, dia merasa yakin bahwa dia tentu akan dapat mengalahkan mereka.

“Baiklah, aku akan berusaha menjaga diri,” kata Cin Hai dengan tenang.

“Awas serangan!” tiba-tiba Sie Kiong berseru gembira.

Ia lalu menerkam dengan serangan yang cukup lihai berbahaya, sedangkan Sie Lok yang hendak menguji kelihaian keponakannya juga segera membarengi menyerang dari lain jurusan. Cin Hai mengerti akan kehebatan serangan kedua pamannya ini, maka tubuhnya lalu berkelebat dan dia pun mengeluarkan ginkang-nya yang sudah sempurna.

Kedua mata Sie Lok dan Sie Kiong menjadi kabur ketika mereka melihat betapa tubuh keponakan itu tiba-tiba berkelebat dan lenyap dari tengah-tengah kepungan. Dan tiba-tiba mereka mendengar suara Cin Hai di tempat yang jauhnya tiga tombak lebih, “Aku berada di sini.”

Bukan main heran kedua orang tua itu, dan dengan cepat mereka segera menerjang lagi, sekarang dengan cepat sekali supaya jangan sampai pemuda itu mendapat kesempatan mengelak. Sie Lok menyerang dengan jari tangan kanan dibuka dan menotok ke arah jalan darah di lambung Cin Hai, sedangkan Sie Kiong menyerang dengan pukulan tangan miring ke arah leher keponakannya.

Cin Hai berseru keras, dan dengan menundukkan kepala ia dapat mengelak dari pukulan Sie Kiong, sedangkan untuk menghadapi totokan Sie Lok, dia cepat mengulur tangan dan mendahului dengan totokan ke arah pergelangan tangan pamannya itu. Sie Lok terkejut dan menarik kembali tangannya lantas menyerang lagi dengan hebat, demikian pula Sie Kiong.

Akan tetapi, Cin Hai kemudian mengeluarkan Ilmu Silat Sianli Utauw atau Tarian Bidadari sambil berkata, “Inilah Sianli Utauw yang kupelajari dari Ang I Niocu.”

Setiap serangan kedua orang tua itu dia kelit dan sampok dengan gerakan tubuh yang lemas seakan-akan orang menari, akan tetapi serangan-serangan kedua pamannya itu tidak mampu mengenai tubuhnya sama sekali. Kedua orang tua itu merasa kagum sekali dan juga heran betapa dengan hanya menari-nari saja keponakannya ini dapat mengelak dari serangan-serangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Cin Hai memang sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya kepada kedua pamannya, karena ia ingin membuat kedua pamannya itu girang dan senang. Maka setelah mainkan Sianli Utauw berapa belas jurus untuk menghadapi serangan-serangan kedua pamannya, ia lalu merubah gerakannya dan berkata pula,

“Dan sekarang aku memainkan kepandaian pokok ilmu silat yang kupelajari dari Suhu Bu Pun Su!” Setelah ia berkata demikian, ia lalu memperhatikan gerakan-gerakan pamannya dan ia lalu mengembalikan setiap serangan dengan gerakan yang sama seperti ilmu silat kedua pamannya.

Kalau tadi menyaksikan Sianli Utauw membuat kedua orang itu terheran-heran, sekarang menghadapi betapa keponakannya itu melawan mereka dengan ilmu silat mereka sendiri, maka kedua orang she Sie itu sesudah mengeluarkan ilmu pukulan yang paling sulit dan berbahaya akan tetapi yang dikembalikan dengan sama baiknya oleh Cin Hai, keduanya tak dapat menahan keheranan mereka lagi dan dengan cepat melompat mundur.

“Nanti dulu! Dari mana pula kau mempelajari ilmu silat kami itu?” tanya Sie Lok dengan terheran-heran dan mata terbelalak!

“Aku belum pernah mempelajari ilmu-ilmu silat itu, akan tetapi memang Suhu Bu Pun Su telah melatihku untuk mengetahui semua dasar-dasar ilmu silat yang pada hakekatnya sama, sehingga setiap kali aku diserang dengan semacam ilmu silat, aku dapat meniru gerakan itu dan mengembalikannya kepada lawan dengan jurus itu juga.”

Sie Lok dan Sie Kiong saling pandang dengan heran dan mereka ini hampir tidak dapat mempercayai keterangan ini. Akan tetapi oleh karena tadi mereka telah menyaksikannya sendiri dan beberapa belas jurus pukulan yang paling terahasia dan terlihai dari mereka sudah dilakukan dengan sempurna oleh Cin Hai, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Bukan main!” kata pula Sie Kiong. “Akan tetapi Kanda Ban Leng mempunyai kepandaian Eng-jiauw-kang yang lihai sehingga ia mampu menghadapi kami berdua yang memegang senjata dengan tangan kosong saja. Maka cobalah kau menghadapi kami dengan tangan kosong pula sedangkan kami menyerang dengan senjata tajam!”

Sie Lok juga menyetujui cara percobaan kepandaian ini dan Sie Kiong lalu berlari masuk untuk mengambil dua batang pedang. Setelah menyerahkan sebatang kepada kakaknya, kedua orang tua ini lalu menghadapi Cin Hai, dan Sie Lok berkata,

“Cin Hai kau berhati-hatilah, karena ilmu pedang kami bukanlah kepandaian rendah!” Lalu ia melangkah maju dan mulai dengan serangannya. Demikianlah Sie Kong yang segera memutar pedang di atas kepala dan mengirim serangan hebat.

Cin Hai lalu memperlihatkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu Kong-ciak Sin-na. Tubuhnya dengan ringan sekali melompat-lompat ke atas laksana seekor burung merak yang sedang terbang saja dan kemudian dari atas dia menghadapi serangan pedang dengan tendangan serta cengkeraman untuk merampas senjata kedua pamannya.

Sementara itu, semenjak tadi burung bangau yang besar itu hanya berdiri memandang, kadang-kadang terbang ke atas dan berputaran di atas kepala ketiga orang yang sedang bertempur. Akan tetapi, sesudah ia menyaksikan betapa tubuh Cin Hai melayang ke atas bagaikan burung, ia lalu memekik keras dan tubuhnya melayang lalu menyambar dengan sepasang patuknya yang runcing bagai pedang itu, yang digerakkan secara hebat untuk menyerang Cin Hai.

“Ang-siang-kiam, jangan!” teriak Sie Lok.

Akan tetapi Cin Hai lalu berkata sambil tersenyum. “Biarlah, Pek-hu, dia juga mau ikut bergembira, mengapa tidak boleh?”

Demikianlah, dengan ilmu Silat Kongciak Sinna, Cin Hai melayani kedua pamannya yang dibantu oleh burung bangau itu sehingga kini dia dikeroyok tiga. Akan tetapi ilmu silatnya sungguh hebat sehingga tubuhnya seakan-akan tidak pernah mengambah bumi. Tiap kali tubuhnya turun, ia kemudian menggunakan ujung sepatunya untuk mengenjot lagi hingga tubuhnya kembali melayang ke atas.

Serangan burung bangau itu dia gagalkan dengan kepretan tangan ke arah paruh burung itu sehingga tiap kali jari tangannya menyentuh paruh, maka burung bangau itu hampir jatuh ke bawah! Sementara itu, dua pedang Sie Lok dan Sie Kiong yang bergerak bagai dua ekor ular sakti menyambar-nyambar itu dapat dihindarkannya dengan tendangan kaki dan cengkeraman yang sebaliknya bahkan mengancam pergelangan tangan mereka dan bagian tubuh lain!

Setelah menghadapi serangan tiga pengeroyok ini sampai tiga puluh jurus lebih, Cin Hai tiba-tiba melompat turun dan berkata, ”Sekarang setelah permainan Kong-ciak Sin-na tadi, aku akan mainkan Pek-in Hoat-sut, juga yang diturunkan oleh Suhu Bu Pun Su!”

Jauh sekali perbedaan ilmu silatnya ini dengan yang tadi. Apa bila tadi gerakannya gesit sekali, kini dia berdiri dengan tenang dan kokoh di atas tanah, kedua lengan tangannya digerak-gerakkan dan tiba-tiba dari kedua lengan ini mengebul uap putih! Burung bangau menyambar turun, lalu dikebut dengan tangan kiri dan ketika uap putih itu menyambar, burung itu memekik keras dan terlempar, lalu terbang lagi ke atas tanpa berani menyerang lagi!

“Hebat!” kata Sie Lok yang segera menyerang lagi, disusul oleh Sie Kiong.

Akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika sekali saja Cin Hai menangkis, pedang mereka hampir saja terlepas dari pegangan!

“Sungguh lihai sekali!” kata Sie Lok sambil berhenti menyerang dan memandang Cin Hai dengan wajah berseri. “Cin Hai, kalau tidak menyaksikan dan merasakan sendiri, aku tak akan dapat percaya bahwa kau mempunyai ilmu kepandaian seperti ilmu sihir saja! Ahh, anakku, jangankan baru seorang Ban Leng, biar dia menjadi tiga pun tak mungkin dapat mengalahkan kau! Hebat, hebat!”

“Akan tetapi, semenjak tadi Hai-ji (Anak Hai) hanya menangkis dan menjaga diri saja. Aku belum merasai kehebatan serangan balasannya. Cin Hai, coba kau cabut pedangmu agar kami dapat pula menyaksikan kiamsut-mu!”

“Baiklah,” kata Cin Hai sambil mencabut keluar Liong-coan-kiam dari pinggangnya. “Nah, Pek-hu dan Siok-hu, bersiap sedialah, aku hendak menyerang dengan Ilmu Pedang Daun Bambu!”

Sie Lok dan Sie Kong segera memutar pedang mereka dengan cepat untuk melindungi diri sehingga jangankan pedang lawan, biar pun air sepikul pun kalau disiramkan ke arah mereka tak mungkin akan dapat menembus sinar pedang mereka yang melindungi tubuh!

Cin Hai lalu menggerakkan pedangnya. Gerakannya cepat luar biasa dan matanya yang tajam sudah dapat melihat lowongan-lowongan di antara sinar pedang kedua pamannya.

“Awas!” teriaknya dan dua kali pedangnya lalu berkelebat secara luar biasa sekali. Maka terdengarlah kain robek dua kali, lantas Cin Hai menarik kembali pedangnya dan berdiri tegak!

Sie Lok dan Sie Kiong merasa heran dan segera menghentikan gerakan mereka pula. Alangkah terkejut hati mereka ketika melihat betapa baju di dada mereka telah robek dan bolong terkena ujung pedang Cin Hai yang baru menyerang segebrakan saja itu!

Keduanya lalu melempar pedang masing-masing dan maju memeluk Cin Hai. Tak terasa pula, mata mereka berlinang air mata karena girang, puas dan bangga.

“Hai-ji... kalau bangsat Ban Leng itu berada di sini, akan mampus dia di tanganmu!” kata Sie Lok.

“Cin Hai, anakku yang gagah perkasa! Ahh... kalau saja Kanda Gwat Leng masih hidup, tentu dia akan merasa bangga sekali melihat kau selihai ini...,” kata Sie Kiong dan orang tua berjenggot hitam ini menggunakan punggung tangan untuk mengusir pergi dua butir air mata yang terloncat keluar dari kedua matanya.

Dengan hati terharu Cin Hai lalu bertanya, “Di manakah makam Ibu? Dan di manakah pula jenazah Ayah dikuburkan?”

“lbumu dikuburkan di dusun Kang-cou, dan jenazah ayahmu yang dulu dibakar oleh para petugas di kota raja, dapat kami curi dan kami tanam pula di dekat makam Ibumu. Dusun itu berada di kaki Bukit Houw-san.”

Untuk dua pekan lamanya Cin Hai tinggal bersama kedua pamannya dan selama itu dia mempelajari cara-cara menangkap semua binatang buas. Burung bangau menjadi kawan baiknya dan ia merasa suka sekali kepada burung ini hingga burung itu menjadi jinak dan ke mana pun dia pergi burung itu selalu mengikutinya. Melihat hal ini, kedua pamannya kemudian menyatakan bahwa burung itu diberikan kepada Cin Hai untuk menjadi kawan seperjalanannya.

“Bawalah Ang-siang-kiam, dia dapat menjadi kawan baik dalam perjalanan,” kata Sie Lok dan Cin Hai menerimanya dengan girang hati.

Dalam waktu senggang, Cin Hai menuturkan pengalaman-pengalamannya dan bercerita pula tentang sahabat-sahabatnya, tentang Nelayan Cengeng, tentang Kwee An dan Ma Hoa, dan tidak lupa pula menceritakan tentang diri Lin Lin yang diakuinya sebagai calon isterinya sehingga kedua orang tua itu menjadi girang sekali.

“Kelak kalau kau akan menikah, tak boleh tidak kau harus memberi kabar supaya kami dapat datang minum arak kegirangan.”

Kemudian Cin Hai berpamit karena dia sudah terlalu lama meninggalkan Lin Lin. Kedua pamannya tidak dapat menahannya dan berangkatlah ia meninggalkan kedua pamannya dengan semua harimau itu, pergi dengan ilmu berlari cepat. Burung bangau yang besar terbang di atasnya dan ikut pergi bersamanya.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
Karena Cin Hai melakukan perjalanan dengan mempergunakan ilmu lari cepat dan jarang berhenti dalam kerinduannya hendak segera bertemu kembali dengan Lin Lin, sambil tidak lupa mencari-cari jejak Kwee An dan Ma Hoa yang lenyap tak meninggalkan bekas itu, maka beberapa hari kemudian sampailah dia di kaki bukit tempat tinggal Yousuf. Dia merasa heran sekali melihat betapa dusun-dusun di sekitar bukit itu sudah kosong dan tiada bermanfaat lagi!

Dengan hati berdebar cemas dia berlari ke atas bukit dan betul saja seperti apa yang dia khawatirkan, rumah Yousuf sudah roboh dan nampak seperti bekas dibakar! Dengan hati cemas dan wajah pucat Cin Hai mencari dan membongkar tumpukan puing, akan tetapi dia menjadi lega oleh karena tidak melihat tanda-tanda bahwa kekasihnya dan Yousuf menjadi korban api yang membakar rumah. Dia berdiri di depan tumpukan puing dengan tubuh lemas, dan tiba-tiba dia mendengar suara ringkik kuda dari jauh.

“Pek-gin-ma!” ia berseru dan melompat terus lari cepat mengejar ke arah suara itu.

Dan di dalam sebuah hutan dia melihat kuda itu sedang makan rumput dan kadang kala meringkik sedih seolah-olah kehilangan kawan dan merasa kesunyian. Pada saat Cin Hai lari menghampiri, ia lalu mengangkat kepalanya dan meringkik lagi, seakan-akan hendak menceritakan sesuatu.

Cin Hai memeluk leher kuda itu dan merasa menyesal sekali mengapa dia tidak menjadi kuda saja supaya dapat mengerti apa yang hendak diceritakan oleh Pek-gin-ma tentang kekasihnya!

“Pek-gin-ma, apakah yang telah terjadi pada mereka? Pek-gin-ma, kalau kau tahu tempat mereka, bawalah aku kepada Lin Lin...”

Akan tetapi, kuda itu hanya menggaruk-garuk tanah dengan kedua kaki depannya. Sementara itu, burung bangau yang ikut datang bersama Cin Hai, terbang berputaran di atas melihat-lihat daerah yang asing baginya itu. Cin Hai lantas menunggang Pek-gin-ma dan bersuit memanggil Ang-siang-kiam yang segera meluncur turun dan mengikuti ke mana pemuda itu melarikan kudanya.

Cin Hai turun dari lereng dan memeriksa dusun-dusun di sekitar daerah itu. Pada saat dia sedang berdiri di tengah dusun yang kosong sambil menuntun Pek-gin-ma, tiba-tiba dia mendengar suara tindakan kaki. Dia segera melompat ke belakang sebuah pohon besar dan dapat menangkap lengan tangan seorang penduduk dusun yang hendak melarikan diri. Orang itu masih muda dan meronta-ronta, kemudian setelah merasa bahwa ia tidak kuasa melepaskan diri lalu menjatuhkan diri berlutut sambil memohon.

“Ampun, Hohan, jangan bunuh aku,” katanya dengan tubuh menggigil.

“Berdirilah, sahabat. Aku bukan orang jahat, dan aku hanya hendak bertanya kepadamu apa yang sudah terjadi di pegunungan ini. Ke mana perginya semua penduduk dusun ini dan tahukah kau ke mana perginya orang Turki dan nona yang dulu tinggal di lereng itu?”

Ketika melihat bahwa Cin Hai bukanlah orang yang ditakutinya, pemuda dusun itu lalu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu, pegunungan itu didatangi serombongan orang Turki yang terdiri dari puluhan orang banyaknya, sambil menunggang kuda-kuda besar mereka menyerang dusun-dusun seperti orang-orang gila.

Kemudian orang-orang Turki ini menyerbu naik ke atas bukit untuk menangkap Yousuf. Terjadilah pertempuran hebat dan orang-orang dusun yang bersembunyi lantas melihat betapa Yousuf, Lin Lin dan Merak Sakti melarikan diri dari situ dengan cepat, dikejar-kejar oleh rombongan orang Turki itu!

“Entah ke mana mereka melarikan diri, agaknya mereka tidak kuat menghadapi serbuan orang-orang Turki itu!” pemuda dusun tadi mengakhiri ceritanya.

Cin Hai merasa terkejut sekali. Kalau Yousuf, Lin Lin dan Merak Sakti sampai tidak kuat menghadapi rombongan itu, tentu di dalam rombongan itu terdapat orang-orang pandai, pikirnya. Ia heran sekali, siapakah orangnya yang dapat mengalahkan Lin Lin yang sudah dilatihnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi itu? Dia benar-benar tak mengerti dan kemudian turun gunung dengan hati cemas dan pikiran bingung, diikuti oleh burung bangau yang dengan setia terbang rendah di atas kepalanya.

*****


Pendekar Bodoh Jilid 21

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 21

CIN HAI bergidik akibat ngeri, maka ia cepat-cepat menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang secara aneh sekali tiba-tiba tergoncang ketika melihat tengkorak itu dan dia lalu melompat ke samping. Ia dapat menduga bahwa senjata aneh ini tentu mengandung kekuatan hoatsut (sihir) yang dapat membuat lawan merasa terkejut, semangatnya lemah dan ngeri, maka ia lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya yang tak memegang senjata itu untuk memainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut atau Ilmu Sihir Awan Putih!

Beberapa kali dia menggerakkan lengan kiri sambil mengerahkan semangat serta tenaga lweekang hingga dari lengannya yang kiri itu mengepul uap putih! Kembali tengkorak itu menyambar ke arah kepalanya dan cepat sekali Cin Hai segera membacok tengkorak itu dengan pedangnya.

Akan tetapi segera ia menarik kembali pedangnya dan melompat lagi untuk mengelakkan diri. Entah bagaimana, ia merasa tak tega untuk membacok dan memecahkan tengkorak itu yang tiba-tiba saja tampak seolah-olah menjadi kepala seorang anak-anak yang masih utuh, lengkap dengan mata, rambut, dan hidung serta mulutnya!

Memang senjata di tangan Thai Kek Losu ini bukan senjata biasa. Sebelum tengkorak itu diikat dengan rantai, sudah lebih dulu dibawa bertapa dan dimasuki ilmu sihir. Hendaknya diketahui bahwa kepala itu diambil dari kepala seorang anak yang masih hidup, yang dikorbankan secara kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan oleh pendeta itu!

Khasiat senjata ini ialah dapat menyihir lawan dan membuat lawan di samping serasa pusing dan gentar, juga apa bila lawan hendak melawan dengan sungguh-sungguh, maka tengkorak itu akan nampak seperti masih hidup dan lengkap merupakan kepala seorang anak kecil yang menangis!

Oleh karena maklum akan kelihaian senjata ini, Cin Hai lalu menyabarkan diri dan hanya memperhatikan gerak lawannya saja. Ia mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dari setiap serangan. Setelah ia memperhatikan serangan lawan, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kakek ini benar-benar lihai serta tenaga lweekang-nya belum tentu kalah olehnya!

Akan tetapi dengan kepandaian serta pengertiannya mengenai pokok-pokok dasar segala macam gerak dan serangan lawan, Cin Hai sebetulnya tidak perlu merasa gentar. Hanya senjata hebat itulah yang membuatnya ragu-ragu dan ngeri.

Baiknya dia sudah memainkan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya sehingga sebagian besar hawa siluman yang merupakan daya sihir itu telah dapat ditolak sebagian. Namun ternyata bahwa kekuatan sihir atau ilmu hitam dari Thai Kek Losu kuat sekali. Meski pun kini Cin Hai tidak merasa gentar lagi, akan tetapi tetap dia tidak tega untuk membacok kepala atau tengkorak itu.

Cin Hai lantas mengeluarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, dan sesudah dia membalasnya dengan serangan-serangan yang amat lihai itu, Thai Kek Losu baru merasa terkejut. Ilmu pedang lawannya yang muda ini memang luar biasa. Tadi ketika dia melihat bahwa Cin Hai tak terpengaruh oleh daya sihir senjatanya dan lengan kiri pemuda itu begerak-gerak menurut garis Pat-kwa sehingga dapat menolak daya sihir, dia telah merasa kagum dan maklum bahwa ia menghadapi murid seorang sakti.

Akan tetapi dia maklum bahwa pemuda itu masih belum mampu menolak daya sihir yang membuat dia tidak tega membacok tengkorak itu dan diam-diam dia merasa girang oleh karena dengan ilmu silatnya yang tinggi, tentu dia akan mampu mendesak dan akhirnya mengalahkan lawannya ini. Tak usah banyak-banyak, jika sekali saja muka atau kepala lawannya dapat tercium oleh mulut tengkorak itu, pasti ia akan roboh dan tewas.

Kini setelah Cin Hai mengeluarkan Ilmu Silat Daun Bambu, baru ia terkejut sekali karena gerakan anak muda itu membuat ia terpaksa mencurahkan sebagian perhatiannya untuk menjaga diri. Serangan-serangan ujung pedang Liong-coan-kiam sungguh hebat dan sulit diduga, sedangkan untuk melukai kepala lawannya dengan tengkoraknya, juga bukanlah merupakan hal yang mudah karena pemuda itu memiliki kegesitan yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ginkang-nya sendiri.

Untuk dapat mempercepat kemenangannya, Thai Kek Losu lantas merogoh saku jubah dengan tangan kirinya dan ketika tangan kirinya itu bergerak, maka menyambarlah tujuh batang jarum hitam ke arah jalan darah di seluruh tubuh Cin Hai, antaranya dua batang menuju matanya. Inilah Hek-kang-ciam atau Jarum Baja Hitam yang cepat sekali lajunya karena biar pun kecil akan tetapi berat sekali.

Cin Hai dengan tenang memutar pedangnya dan aneh sekali! Semua jarum itu menempel pada Pedang Liong-coan-kiam dan melengket di sana. Kemudian sambil berseru keras, ketika Cin Hai menggerakkan pedangnya, semua jarum itu menyambar kembali ke arah tuannya.

Thai Kek Losu merasa terkejut sekali dan cepat-cepat dia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarumnya sendiri! Sebenarnya tidak aneh, oleh karena Liong-coan-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang mengandung daya tarik sembrani sehingga jarum-jarum kecil itu dapat lengket dengan mudah. Kemudian sambil mengerahkan lweekang-nya, pemuda itu dapat membuat jarum-jarum yang menempel itu terlepas dan melayang ke arah lawannya.

Kemudian tangan kiri Thai Kek Losu bergerak dan kali ini Cin Hai hanya mengelak, oleh karena yang menyambar hanya tiga batang jarum saja, akan tetapi kesempatan itu lalu digunakan oleh Thai Kek Losu untuk menghantamkan tengkoraknya ke arah batok kepala Cin Hai. Serangan ini tiba-tiba datangnya dan selain tidak terduga oleh karena perhatian Cin Hai tercurah kepada jarum-jarum itu, juga cepat sekali hingga tanpa terasa pula Cin Hai menangkis dengan pedangnya.

Terdengar suara keras ketika tengkorak itu mencium pedang dan tiba-tiba saja dari muka tengkorak itu menyambar keluar tujuh batang jarum-jarum yang berwarna kehijau-hijauan dan berbau amis karena mengandung racun. Inilah kelihaian tengkorak itu yang sengaja diserangkan dengan tiba-tiba supaya ditangkis oleh lawannya. Dari kedua lubang hidung keluar empat batang jarum, sedangkan dari mulut tengkorak itu keluar pula tiga batang. Semua jarum ini menyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan cepat sekali.

Kali ini Cin Hai benar-benar terkejut karena sama sekali tak pernah menduga akan hal ini. Ia cepat melempar tubuh ke belakang hingga seperti jatuh terjengkang dan ini pun hampir saja tidak dapat menolongnya oleh karena jarum-jarum itu lewat dekat sekali dengan kulit mukanya hingga hidungnya mencium bau yang luar biasa amis dan busuknya.

Setelah pengalaman ini, Cin Hai menjadi marah sekali, sebaliknya Thai Kek Losu menjadi kecewa dan gentar. Memang tipu tadi adalah tipu terakhir yang disengaja karena ia pasti akan dapat merobohkan lawannya. Tak tahunya, anak muda itu benar-benar hebat sekali sehingga pada saat dan keadaan yang agaknya tak mungkin dapat melepaskan diri dari bahaya maut itu, Cin Hai masih dapat mengelaknya.

Ia merasa rugi oleh karena tipu itu tidak berhasil, sebab Cin Hai takkan merasa tidak tega lagi kepada tengkorak itu oleh karena ketika pedangnya membentur tengkorak, ternyata tengkorak itu tidak pecah. Sekaligus pengalaman ini membuat hati pemuda itu menjadi tetap dan rasa kasihan serta tidak tega terhadap tengkorak itu menjadi lenyap, bahkan tergantikan rasa benci oleh karena ternyata bahwa tengkorak kecil yang dikasihinya tadi mengandung senjata maut yang hampir saja menewaskannya.

Kini Cin Hai menerjang maju lagi sambil memutar-mutar pedangnya serta mengeluarkan gerakan dan jurus-jurus Ilmu Pedang Daun Bambu yang paling hebat sehingga Thai Lek Losu terdesak mundur tanpa dapat membalas.

Pada ketika yang baik, Cin Hai menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Thai Kek Losu melalui cahaya rantai musuh dengan gerakan miring. Thai Kek Losu mencoba untuk menghindarkan serangan ini dengan mengadu nyawa, yakni dia membarenginya dengan memukulkan tengkoraknya pada muka Cin Hai. Dua senjata itu menyerang dengan cepat dalam waktu hampir bersamaan, dan kalau sekiranya kedua orang itu tidak mau menarik kembali serangan mereka, tentu kedua-duanya akan tewas.

Akan tetapi, tentu saja Cin Hai tidak sudi mengadu jiwanya. Ia maklum bahwa tengkorak itu berbahaya sekali dan mengandung racun hebat dan sekali saja ia kena tercium mulut tengkorak yang kebiru-biruan itu, maka dia akan mengalami bencana besar.

Secepat kilat dia membalik gerakan pedangnya yang memang mudah berubah-ubah itu, dan kini pedang itu menyambar ke arah rantai. Sebelum tengkorak mengenai mukanya, pedang Liong-coan-kiam dengan dorongan tenaga lweekang sepenuhnya sudah berhasil menebas putus rantai itu hingga tengkorak yang berada di ujung rantai terpental jauh dan menggelinding bagaikan bal. Pada saat itu juga, kaki kiri Cin Hai dengan cepat melayang dan mendupak dada Thai Kek Losu yang lantas terpental pula seperti tengkorak tadi dan kebetulan sekali dia jatuh ke arah tempat duduk Balaki.

Balaki tidak berani menyambut tubuh Thai Kek Losu, hanya cepat bukan main tubuhnya melayang pergi dari kursinya dan pada lain saat, tubuh Thai Kek Losu telah jatuh di atas kursi itu dan duduk dengan muka pucat.

“Yagali Khan, kuharap saja sebagai seorang raja besar, kau suka pegang teguh semua ucapanmu!” kata Cin Hai yang kemudian bertindak pergi keluar dari situ dengan langkah tenang.

Yagali Khan mengertak giginya. Jagonya yang nomor satu telah dikalahkan oleh seorang utusan atau pembawa surat saja, apa lagi kalau menghadapi panglima besar kaisar.

“Pendekar Bodoh, kami akan memegang janji, akan tetapi pada lain waktu apa bila kami mengundangmu, harap kau tidak menolak karena takut!” teriaknya.

Akan tetapi Cin Hai pura-pura tidak mendengarnya dan mempercepat langkahnya, oleh karena dia tidak mau mengikat dirinya dengan perjanjian semacam itu yang hanya akan memperbesar permusuhan belaka. Dan pula, entah kenapa, ia merasa kepalanya pening sekali dan selalu seperti hendak muntah.

Karena kepeningan kepalanya, maka Cin Hai telah mengambil jalan keliru dan ia tersesat jalan tanpa dia sadari. Pada suatu jalan simpang tiga, seharusnya dia membelok ke kiri, akan tetapi sebaliknya ia justru membelok ke kanan. Kepalanya makin pening dan kedua kakinya gemetar, akan tetapi dia berlari terus secepatnya.

Ketika dia masuk dalam sebuah hutan yang liar dan terus berlari cepat, tiba-tiba saja dia mendengar suara harimau mengaum. Akan tetapi, berbeda dengan auman harimau yang biasa, auman ini luar biasa kerasnya hingga Cin Hai sendiri sampai tergetar jantungnya. Ia segera menekan perasaan peningnya dan berlari menuju ke arah auman harimau itu karena setelah suara auman itu hilang gemanya, terdengar suara orang bersuara.

Sesudah dia tiba di satu tempat terbuka, dia menyaksikan pemandangan yang aneh dan mengagumkan. Dua orang laki-laki, yang seorang sudah tua dengan rambut dan jenggot putih, dan yang kedua setengah tua, tengah tertawa-tawa sambil mempermainkan seekor harimau yang luar biasa besar dan galaknya.

Cin Hai melangkah mendekati dan menyaksikan sepak terjang dua orang tua itu. Kakek jenggot putih itu berdiri berhadapan dengan harimau sambil dia mempermainkan bibirnya yang seakan-akan mengolok-oloknya. Orang ke dua berdiri di belakang harimau sambil tangannya bertolak pinggang. Sikap mereka ini seakan-akan bukan sedang menghadapi seekor harimau yang besar, akan tetapi seakan-akan dua orang anak-anak menghadapi seekor kucing yang jinak!

Tiba-tiba harimau itu menggereng keras dan melompat tinggi, menerkam kakek jenggot putih! Kakek itu diam saja tidak mengelak akan tetapi setelah harimau itu melayang dekat ia segera berseru dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke atas, melalui tubuh harimau dan sambil berjungkir balik di udara dia lalu menjatuhkan diri pula menduduki punggung harimau!

“Heh-heh-heh! Hayo lekas menari...!” katanya menepuk-nepuk punggung harimau besar itu dengan kedua tangannya persis anak kecil naik kuda-kudaan!

“Ha-ha-ha, Twako, jangan lepaskan dia. Ha-ha-ha!” Lelaki setengah tua yang berjenggot hitam itu tertawa gembira dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah menyambar ke arah harimau yang sedang marah sekali itu.

Harimau itu menggoyang-goyang tubuhnya membuka mulutnya lebar-lebar dan ekornya bergerak cepat dan tiba-tiba bagaikan sebatang toya, ekor yang panjang itu menyambar kepala kakek jenggot putih dari belakang. Cin Hai merasa terkejut, akan tetapi tiba-tiba seakan-akan kepala kakek itu ada mata di belakangnya, kakek itu menundukkan kepala sehingga sabetan ekor harimau mengenai tempat kosong.

Sementara itu, Si Jenggot Hitam yang sudah melompat di dekat tubuh harimau, lantas mengulurkan tangan kanannya dan menjiwir telinga harimau itu sehingga binatang liar ini menggerung-gerung kesakitan.

Ketika ekor harimau itu menyabet kembali, dengan mudah Si Jenggot Hitam menangkap ekor tadi dan menahannya di belakang hingga harimau yang hendak lari ke depan itu jadi tertahan dan tak dapat bergerak.

“Hayo, menyerah tidak kau!” kata kakek jenggot putih sambil menggenjot-enjot tubuhnya di punggung harimau.

Binatang itu hendak menggulingkan diri dan mencakar kakek itu, akan tetapi dia merasa betapa tubuh kakek itu bukan main beratnya hingga dia tak kuat berdiri lagi dan perutnya menempel pada tanah.

Cin Hai melihat dengan kagum dan heran akan kelihaian dan kegesitan kedua orang itu. Pada saat itu, dia mendengar suara keras berbunyi di udara, dan ketika dia memandang, ternyata di angkasa sedang terjadi pertempuran yang terlebih aneh lagi.

Seekor burung bangau besar sedang bertempur dengan serunya melawan seekor burung rajawali. Rajawali itu terus menyambar-nyambar dengan ganasnya, akan tetapi dengan patuknya yang runcing serta panjang bagaikan dua batang pedang itu, burung bangau dapat mempertahankan diri dengan baiknya. Ketika dua orang laki-laki itu menengok ke atas karena tertarik oleh suara burung-burung yang sedang berkelahi, mereka juga terkejut sekali.

“Kau mendekamlah!' kakek jenggot putih berseru sambil menepuk dan menotok urat di punggung harimau.

Dan aneh sekali, harimau itu tiba-tiba menjadi lemas dan mendekam tanpa berdaya lagi. Ternyata bahwa kakek itu tahu akan jalan-jalan darah binatang itu hingga dapat mengirim tiam-hoat (totokan) dengan tepat sekali. Ada pun Si jenggot Hitam segera memandang ke atas dan berseru keras, “Ang-siang-kiam, kau turunlah!”

Kemudian dia mengeluarkan suara bersuit yang nyaring sekali. Burung bangau itu diberi nama Ang-siang-kiam atau Sepasang Pedang Merah sebab patuknya memang berwarna merah dan panjang seperti sepasang pedang.

Mendengar suitan ini, dengan cepat bangau itu lalu meluncur turun dan di belakangnya, rajawali itu menyambar pula mengejar.

“Rajawali keparat!” Si Jenggot Hitam itu memaki.

Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan sebatang pelor putih yang bulat meluncur cepat ke arah dada rajawali yang mengejar bangau itu. Akan tetapi, rajawali ini gesit sekali dan sebelum pelor mengenai dadanya, dia sudah mengelak ke kiri. Sebutir pelor putih lainnya menyusul dan mengarah lehernya. Rajawali itu segera mengebutkan sayapnya dan pelor kena terpukul jatuh!

Melihat kelihaian rajawali itu, kedua orang laki-laki itu menjadi terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada pun Cin Hai yang juga memandang dengan perhatian lalu teringat akan rajawali yang dulu pernah bertanding melawan Ang I Niocu di atas perahu. Banyak persamaannya antara kedua burung rajawali itu.

Sementara itu, burung bangau yang diberi nama Ang-siang-kiam itu telah turun di atas tanah dan kini berdiri di dekat kakek jenggot hitam. Tubuh burung bangau itu tinggi sekali sehingga merupakan seekor burung bangau yang langka terdapat. Ada pun rajawali tadi karena tahu akan kelihaian dua orang manusia yang berada di bawah, lalu hanya terbang berputaran sambil mengeluarkan pekik menantang tanpa berani turun ke bawah.

Pada saat itu terdengar bentakan halus, “Sin-kim-tiauw, jangan kurang ajar!”

Mendengar suara ini, rajawali tadi lalu melayang turun dan Cin Hai menjadi girang dan juga terkejut sekali oleh karena ia mengenal suara ini sebagai suara gurunya, Bu Pun Su!

Benar saja, pada waktu kedua orang laki-laki itu pun memandang, dari sebuah tikungan, muncullah seorang kakek tua sekali yang berpakaian penuh tambalan hingga merupakan seorang jembel tua. Rajawali emas tadi telah turun dan kini berjalan di belakang kakek itu bagaikan seekor anjing yang jinak sekali.

“Suhu!” Cin Hai berseru dan segera berlari dan menghampiri, akan tetapi hampir saja ia roboh terguling karena kepalanya terasa pening sekali ketika dia berlari itu. Untung dia masih dapat menetapkan kaki dan segera berlutut.

“Cin Hai, lekas kau duduk, kumpulkan semangat dan bersihkan napas!” terdengar kakek itu berseru setelah memandang wajah muridnya.

Sekali pandang saja kakek sakti ini tahu bahwa muridnya ini telah terkena hawa beracun yang berbahaya sekali. Walau pun merasa heran, Cin Hai segera menurut dan taat akan perintah gurunya itu. Ia segera duduk bersila, meramkan mata dan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Tiba-tiba ia merasa betapa telapak tangan suhu-nya yang halus itu memegang tangannya dan dari telapak tangan suhu-nya mengalirlah hawa yang luar biasa hangat dan kuatnya melalui telapak tangannya sendiri dan terus membantu hawa kekuatan tubuhnya sendiri. Oleh karena ini, dia merasa betapa hawa tenaga di dalam tubuhnya kini menjadi berlipat ganda dan lalu ia gunakan hawa itu diputar-putar ke seluruh tubuh karena tidak tahu akan maksud suhu-nya.

“Penuhkan di dada, bersihkan paru-paru dan usir hawa racun yang tadi masuk melewati lubang hidungmu!” kakek itu berbisik perlahan.

Cin Hai diam-diam merasa terkejut dari teringatlah dia akan pertempurannya melawan Thai Kek Losu tadi. Jarum-jarum berbisa yang amat lihai dan yang keluar dari tengkorak Pendeta Sakya Buddha itu hampir saja tadi mengenainya dan menyambar dekat sekali di depan hidungnya hingga dia mencium bau yang amis dan busuk! Bukan main jahatnya jarum-jarum berbisa itu. Baru baunya saja telah mempengaruhinya, apa lagi kalau sampai terluka oleh jarum itu!

Cin Hai segera mengerahkan hawa di dalam tubuh itu di dikumpulkan di dada, mendesak keluar segala hawa kotor yang terbawa masuk oleh pernapasan ke dalam paru-parunya, sehingga ketika dia mendesak hawa itu keluar hidungnya, kembali ia mencium bau yang amis dan busuk itu! Ternyata bahwa bau yang amis dari senjata tadi telah mengeram di dalam paru-parunya. Bukan main berbahaya dan jahatnya!

Sementara itu, kedua orang penakluk harimau tadi berdiri dengan heran dan kagum pada saat melihat cara guru itu menyembuhkan muridnya. Mereka pun maklum bahwa kakek jembel itu tentu lihai sekali, maka mereka tidak berani mengganggu dan hanya berdiri memandang. Tidak lama kemudian, Bu Pun Su melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Cin Hai dan dia berdiri kembali.

“Sudah, sudah bersih...,” katanya. Cin Hai membuka kedua matanya dan segera berlutut.

“Senjata siapakah yang hampir mencelakaimu tadi, Cin Hai?”

Cin Hai lalu menceritakan mengenai pengalamannya, betapa dia menjadi utusan kaisar, menyampaikan surat kepada Yagali Khan dan betapa dia mengadu kepandaian dengan Thai Kek Losu dan berhasil mengalahkannya tanpa menyadari bahwa dia sudah hampir mendapat celaka karena senjata rahasia yang hebat dari pendeta itu.

Bu Pun Su mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus, bagus. Memang itu sudah menjadi tugasmu...”

Ketika mendengar cerita ini, dua orang pemilik burung bangau tadi segera menghampiri dan menjura dengan sikap hormat sekali.

“Ah, tidak mengira bahwa kami berdua mendapat kehormatan besar sekali untuk bertemu dengan seorang patriot yang gagah perkasa beserta suhu-nya yang sakti. Mohon tanya, siapakah Locianpwe ini dan siapa pula muridmu yang gagah perkasa?” bertanya kakek jenggot putih itu sambil menjura kepada Bu Pun Su yang jauh lebih tua darinya.

Bu Pun Su tidak membalas pemberian hormat itu, sebagaimana biasa dia memang tidak menyukai segala penghormatan, lalu menjawab seakan-akan mereka telah lama menjadi kawan baik saja,

“Burung bangaumu itu hebat sekali. Bukankah kau yang bernama Sie Lok dan disebut Si Pemelihara Harimau?”

Kakek jenggot putih itu nampak tercengang. “Eh, sungguh heran! Locianpwe benar-benar berpemandangan tajam. Memang nama siauwte Sie Lok dan ini adalah adikku Sie Kiong. Kami berdua saudara memang tukang memelihara harimau. Bolehkah kami mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

“Siapakah aku ini? Ahh, aku sendiri sudah hampir lupa siapa namaku. Kalian tanya saja kepada muridku ini!” jawabnya tak acuh sambil mendekati burung bangau dan memeriksa seluruh bulu dan tubuh burung itu dengan penuh perhatian dan tertarik sekali. Berkali-kali ia menganggukkan kepala dan berkata, “Bagus, bagus,” seolah-olah seorang ahli barang antik sedang mengagumi sebuah benda kuno yang berharga dan menarik.

Cin Hai yang sudah tahu akan sifat aneh dari suhu-nya, merasa kurang enak terhadap kedua orang tua itu, maka dia segera menjura dengan hormat sambil berkata, “Jiwi yang gagah, suhu-ku itu bernama Bu Pun Su dan siauwte sendiri bernama Sie Cin Hai.”

Kedua orang itu nampak amat terkejut karena mereka telah mendengar nama Bu Pun Su sebagai seorang kakek sakti yang luar biasa. Akan tetapi, agaknya mereka lebih tertarik mendengar nama Cin Hai karena kakek jenggot putih itu kemudian melangkah maju dan bertanya,

“Anak muda, wajahmu mengingatkan aku akan seseorang. Siapakah nama ayahmu dan siapa pula nama ibumu?”

Berdebarlah hati pemuda itu. Tadinya dia mengira bahwa persamaan she dengan kedua orang itu hanya kebetulan saja, akan tetapi mendengar pertanyaan ini, timbul perasaan ganjil di dalam hatinya.

Sambil menggeleng kepala dia menjawab, ”Siauwte tidak tahu, tak tahu siapa nama ayah dan ibu...,” sampai di sini ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena hatinya merasa terharu.

Tiba-tiba Bu Pun Su berkata dengan suara sambil lalu, “Eh, pemelihara harimau, apakah kau ketahui tentang seorang she Sie yang terbunuh mati sekeluarganya karena dianggap pemberontak?”

Mendadak kedua orang itu menjadi pucat wajahnya dan memandang kepada Bu Pun Su dengan mata terbelalak. “Locianpwe... apa... apa maksud pertanyaanmu ini...?”

Kedua orang itu teringat bahwa pemuda itu adalah utusan kaisar, maka tentu saja akan memusuhi orang-orang yang dianggap pemberontak.

Akan tetapi, Cin Hai yang mendengar pertanyaan suhu-nya ini dan yang melihat sikap kedua orang itu, tiba-tiba merasa makin berdebar. “Lo-peh, tahukah kau tentang dia yang memberontak itu? Tahukah kau...? Katakanlah, Lo-peh!”

Kakek jenggot putih itu memandang tajam lalu bertanya. “Kau bilanglah lebih dahulu apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Kau adalah seorang utusan kaisar, apa hubungannya dengan segala pemberontak?”

“Pemberontak she Sie adalah ayahku sendiri!” kata Sie Cin Hai dengan suara pilu.

Kini kakek jenggot putih itu melangkah mundur dan wajahnya menjadi amat pucat, tanda bahwa ia terkejut sekali. Si Jenggot Hitam yang bernama Sie Kiong itu pun mengeluarkan seruan kaget.

“Apa katamu...? Anak muda... mukamu memang sama benar dengan Sie Gwat Leng, pemberontak she Sie itu. Dia itu adalah adikku dan kakak dari Sie Kiong. Anak muda, apakah kau mau bilang bahwa kau adalah anak Gwat Leng...?”

Dengan kedua mata terbelalak Cin Hai lalu bertanya, suaranya gemetar. “Katakanlah... katakanlah... apakah Jiwi kenal kepada seorang wanita bernama Loan Nio yang menjadi isteri Kwee In Liang?”

“Tentu saja kenal. Dia adalah adik ipar dari Gwat Leng...”

“Ya Tuhan...! Kalau begitu kalian adalah paman-pamanku...!” terdengar Cin Hai berkata dengan dada naik turun karena menahan gelora hatinya. “Pekhu... Siokhu... aku Sie Cin Hai memang putera Sie Gwat Leng itu... tak salah lagi...” Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua orang itu sambil menahan air matanya!

Sie Lok dan Sie Kiong lalu menubruk Cin Hai dan memeluknya. “Kau anak Gwat Leng yang ikut Bibimu itu...? Ah, tak kusangka kita masih akan dapat bertemu...!” kata Sie Lok.

Bu Pun Su menghampiri mereka dan berkata, “Tidak ada perceraian yang tidak berakhir. Agaknya Thian sudah menghendaki sehingga kalian dapat saling berjumpa dengan tak tersangka-sangka. Sudah lama aku mendengar nama kalian berdua pemelihara harimau, dan telah timbul persangkaanku, maka hari ini memang aku datang hendak menyelidiki. Siapa tahu, kebetulan sekali Cin Hai datang ke sini pula dalam keadaan terpengaruh racun jahat. Sungguh, ini namanya jodoh!”

“Siokhu, Pekhu, Suhu-ku inilah yang memungkinkan keponakanmu ini sampai sekarang masih hidup!” kata Cin Hai setelah keharuan hati mereka mereda.

“Sudah lama kami mendengar nama besar Locianpwe, tidak tahunya Locianpwe adalah guru dan penolong dari keponakan kami yang tunggal ini. Terimalah pernyataan terima kasih kami, Locianpwe!” Setelah berkata demikian, Sie Lok dan Sie Kiong lalu berlutut di depan Bu Pun Su.

“Sudahlah, sudahlah, tak perlu bersikap seperti kanak-kanak,” kata Bu Pun Su dan ketika ia menggerakkan kedua tangannya menyentuh pundak kedua orang itu, mau tidak mau keduanya harus berdiri lagi karena ada tenaga yang amat besarnya mengangkat mereka bangun! Kemudian, Bu Pun Su berkata kepada Cin Hai,

“Muridku, sesudah bertemu dengan kedua pamanmu, tentu kau akan mendengar riwayat orang tuamu. Sekarang aku akan pergi, tubuhku yang sudah amat tua dan lapuk ini tak kuat untuk merantau lebih lama lagi. Sekarang aku hendak kembali ke Goa Tengkorak dan membawa Sin-kim-tiauw bersamaku. Kalau kau bertemu dengan Im Giok, suruh dia menyusulku ke sana!”

Cin Hai memandang kepada muka suhu-nya dengan bengong. “Suhu maksudkan Ang I Niocu? Bukankah Niocu sudah... sudah...,” ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Kekuasaan Thian tidak ada batasnya, anak bodoh. Aku sendiri belum memastikan benar apakah Im Giok masih hidup dan bukankah pada saat peristiwa hebat itu terjadi, baik burung ini mau pun Im Giok berada di pulau itu? Sudahlah, Cin Hai, kalau tidak dapat bertemu dengan Im Giok, akhirnya aku pun akan dapat menemuinya, entah di sini entah di sana...,“ setelah berkata demikian, sekali saja kakek itu mengebutkan lengan bajunya, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ, tanpa berpamit kepada Sie Lok dan Sie Kiong!

Memang demikianlah watak Bu Pun Su yang aneh dan selalu tidak mengacuhkan segala hal yang dianggapnya kurang perlu! Sin-kim-tiauw lalu memekik keras dan terbang cepat menyusul kakek itu.

Sie Lok menghela napas. “Telah banyak aku melihat orang pandai dan sakti, akan tetapi baru kali ini aku melihat orang yang betul-betul pandai dan berilmu tinggi. Mari, Cin Hai, mari kita pulang ke rumahku dan di sana bercakap-cakap dengan leluasa. Hari ini adalah hari yang paling gembira dan baik semenjak kami ditinggal oleh ayahmu.”

Sambil digandeng tangannya oleh Sie Kong, Cin Hai lalu ikut mereka pulang dan keluar dari hutan itu, sedangkan harimau yang telah ditotok tadi, setelah dikalungi tambang dan dipulihkan keadaannya, lalu diseret dan akhirnya berlari mengikuti mereka dengan jinak. Ternyata bahwa harimau itu pun maklum akan kelihaian kakek itu hingga menyerah kalah dan tidak berani memberontak!

Dan demikianlah cara kedua orang she Sie itu menangkap harimau dan menjinakkannya. Tiap kali bertemu dengan harimau buas, mereka lalu mengganggu dan mempermainkan harimau itu dengan kepandaian mereka yang amat tinggi. Kemudian, setelah harimau itu ditundukkan, leher harimau lalu dicancang dan dibawa pulang, bagaikan orang menuntun anjing saja.

Setelah sampai di rumah Sie Lok dan Sie Kiong yang berada di atas sebuah lereng bukit penuh dengan pohon pek dan siong, Cin Hai merasa kagum sekali oleh karena ternyata di sekeliling rumah besar itu terdapat banyak sekali harimau yang berkeliaran di sekitar rumah dengan jinak bagaikan binatang peliharaan biasa.

Ketika Cin Hai mencoba untuk menghitung jumlah harimau, yang kelihatan saja olehnya sudah ada dua puluh ekor lebih. Kemudian dia mendengar dari pamannya bahwa mereka mempunyai lebih dari empat puluh ekor harimau yang besar dan galak.

Bagaikan anjing-anjing penjaga rumah, ketika melihat Cin Hai dan menciumi bau manusia baru yang asing, harimau-harimau itu menggereng sambil memperlihatkan gigi dan taring akan tetapi ketika kedua orang she Sie itu mengangkat tangan kanan, semua harimau itu menjadi ketakutan dan mengundurkan diri. Bukan main kagumnya hati Cin Hai melihat pengaruh dan kekuasaan dua orang pamannya itu atas sekian banyaknya harimau buas.

Setelah masuk ke dalam rumah dan duduk saling berhadapan, maka berceritalah Sie Lok kepada Cin Hai. Ternyata bahwa keluarga Sie terdiri dari empat orang saudara laki-laki bernama Sie Lok, Sie Gwat Leng, Sie Ban Leng dan Sie Kiong. Keempat saudara ini pada waktu mudanya rajin mempelajari ilmu silat, dan di antara mereka, yang pandai sekali dan tinggi ilmu silatnya adalah Sie Gwat Leng dan Sie Ban Leng oleh karena kedua orang ini mendapat didikan dari seorang pertapa sakti Gobi-san.

Ada pun Sie Lok dan Sie Kiong mendapat didikan dari seorang hwesio perantau yang juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan menjadi ahli penakluk semua binatang buas. Dari hwesio inilah Sie Lok dan Sie Kiong mendapat ilmu atau cara menaklukkan harimau dan lain-lain binatang buas, bahkan mereka juga mempelajari cara menotok tubuh binatang-binatang itu.

Setelah tamat belajar, keempat saudara ini bertemu lagi dan ketika diadakan pengukuran kepandaian, ternyata bahwa Sie Gwat Leng adalah yang paling pandai, kemudian Sie Ban Leng, kemudian Sie Lok dan Sie Kiong sungguh pun bagi orang biasa boleh disebut telah memiliki ilmu silat yang amat tinggi, namun dibandingkan dengan kedua saudaranya yang menjadi anak murid Gobi-san itu, kepandaian mereka masih jauh.

Kecuali Sie Ban Leng yang mempunyai watak buruk, ketiga saudara yang lainnya adalah orang-orang yang berjiwa ksatria dan gagah, bahkan Sie Gwat Leng tiada henti-hentinya menggunakan kepandaian untuk menolong sesama manusia yang menderita. Gwat Leng merasa tidak puas sekali melihat keadaan rakyat jelata yang miskin dan papa, karena itu sering kali ia menyatakan ketidak-senangan hatinya terhadap kaisar dan pemerintahnya.

Berbeda dengan Gwat Leng dan yang lain-lain, Ban Leng selalu mengumbar hawa nafsu jahat, bergaul dengan segala macam penjahat dan membiasakan diri dengan segala jenis permainan judi. Gwat Leng juga sering kali menegurnya sehingga beberapa kali mereka bercekcok oleh karena Ban Leng tak pernah takut atau tunduk kepada kakaknya ini. Ada pun Sie Lok yang menjadi saudara tertua tak berdaya apa-apa oleh karena dia memang jauh lebih lemah dari pada Ban Leng.

Namun, betapa pun juga, Sie Ban Leng masih berlaku hati-hati dan tidak berani berlaku jahat secara berterang oleh karena dia takut kepada suhu-nya yang sudah menyuruhnya bersumpah ketika menjadi muridnya dulu. Kepada Gwat Leng dia tidak takut oleh karena biar pun ilmu kepandaian Gwat Leng lebih tinggi, akan tetapi dia tahu akan kesayangan kakaknya itu terhadap dirinya, maka dia yakin bahwa Gwat Leng tentu takkan tega untuk mencelakakannya.

Kemudian Sie Gwat Leng menikah dengan seorang gadis dusun yang cantik dan halus budi bahasanya. Mereka berdua hidup dengan rukun dan saling mencinta, penuh dengan kebahagiaan. Setahun kemudian terlahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Sie Hai yang kemudian ditambah dengan huruf ‘Cin’ oleh Loan Nio karena nyonya ini tidak ingin kalau ada orang mengetahui bahwa anak itu adalah putera Sie Gwat Leng yang memberontak.

Akan tetapi celakanya, ketika melihat isteri Sie Gwat Leng yang cantik manis, timbul hati jahat di dalam dada Ban Leng yang berwatak buruk itu. Dia mencoba untuk menggoda soso-nya sendiri hingga timbullah pertengkaran yang diakhiri dengan perkelahian antara dia dan kakaknya.

Ban Leng kena dikalahkan oleh Gwat Leng. Dengan hati sakit dan mendendam, Sie Ban Leng lalu lari meninggalkan saudara-saudaranya. Sampai bertahun-tahun tidak terdengar lagi berita mengenai dirinya. Akan tetapi, sesudah guru Gwat Leng, pertapa Gobi-san itu meninggal dunia, mereka mendengar lagi tentang keadaan Ban Leng dan ternyata bahwa Ban Leng sudah berada di kota raja, menjadi seorang jago muda yang jarang mendapat tandingan dan disegani orang banyak hingga mendapat julukan Gobi Sin-liong atau Naga Sakti dari Gobi-san!

Sie Gwat Leng masih saja bercita-cita untuk menolong kaum tani dan rakyat jelata yang lemah dan miskin. Ia mulai dengan usahanya di dalam dusun sendiri. Ia mengumpulkan orang-orang kampung, mendidik mereka dengan ilmu silat, kemudian mendesak dengan kekerasan dan pengaruh kepandaiannya kepada mereka yang tergolong hartawan untuk mengulurkan tangan membantu.

Akhirnya ia pun berhasil membuat kampungnya menjadi makmur. Semua orang bertubuh sehat dan mendapat didikan ilmu silat sehingga dapat menjaga kampung dari serangan orang jahat dan tidak ada lagi orang yang mengalami kemelaratan karena semua orang mendapat penghasilan yang cukup.

Hal ini lalu terdengar oleh kampung lain yang merasa iri dan kemudian dikabarkan orang bahwa keluarga Sie hendak mengadakan pemberontakan dan telah bersiap-siap dengan melatih orang-orang dusun dengan ilmu silat untuk kelak dipergunakan memberontak dan memukul kerajaan!

Hal ini terdengar oleh seorang perwira yang bertugas di satu tempat tak jauh dari dusun itu. Perwira ini orangnya sombong dan tanpa menanti perintah dari pusat, ia telah lancang mengadakan tindakan sendiri untuk mencari pahala.

Dia membawa anak buahnya sebanyak empat puluh orang dan menyerbu ke dusun itu! Anak buahnya mengamuk dan tidak hanya memukul dan menawan orang-orang, bahkan mengganggu anak bini orang dan merampas harta mereka!

Tentu saja Sie Gwat Leng menjadi marah sekali. Dia mengumpulkan orang-orang dusun dan melawan penyerbu-penyerbu itu hingga tentara di bawah pimpinan perwira sombong itu dapat dimusnakan berikut pemimpinnya!

Segera kota raja mendengar mengenai peristiwa ini, dan Sie Gwat Leng lalu dianggap sebagai pemberontak! Kaisar kemudian memerintahkan Kwee In Liang untuk memimpin serombongan tentara terdiri dari seratus orang untuk menawan kawanan pemberontak-pemberontak itu.

Di dalam rombongan ini ikut pula Sie Ban Leng karena orang ini mendapat kesempatan untuk membalas dendam kepada kakaknya sendiri. Biar dia tidak secara terang-terangan ikut di dalam rombongan Kwee-ciangkun, akan tetapi diam-diam dia ikut pergi kembali ke dusunnya sendiri dengan maksud membantu penindasan pemberontak, sebab ia maklum bahwa dengan adanya tiga saudaranya di dalam dusun, maka akan sukarlah bagi tentara kerajaan untuk menindas dan mengalahkan dusun itu.

Terjadilah pertempuran hebat antara tentara kerajaan dan orang-orang dusun di bawah pimpinan ketiga saudara Sie yang melakukan perlawanan karena mereka sudah merasa benci sekali terhadap kerajaan, yang ditimbulkan oleh sepak terjang yang jahat dari para tentara di bawah pimpinan perwira yang dulu menyerbu dan berhasil dihancurkan.

Benar saja dugaan Ban Leng. Kwee Ciangkun tidak berdaya menghadapi ketiga saudara Sie yang benar-benar kosen dan tangguh. Selagi dia merasa bingung, datanglah Sie Ban Leng membantunya.

Dengan licik dan curang sekali, Sie Ban Leng datang kepada kakaknya dan menyatakan penyesalannya, kemudian berkata bahwa ia sengaja datang ingin membantu perjuangan saudara-saudaranya mengusir barisan kerajaan. Tentu saja Gwat Leng, Sie Lok dan Sie Kiong merasa gembira sekali, dan menerima saudara yang sesat ini dengan dua tangan terbuka.

Tidak tahunya, pada malam harinya, ketika Sie Gwat Leng sedang tidur karena lelahnya memimpin orang-orang dusun melawan tentara negeri, Ban Leng lalu berlaku curang dan menotok kedua pundak kakaknya yang sedang tidur itu!

Sie Lok dan Sie Kiong yang melihat hal ini menjadi amat marah lalu menyerang Ban Leng yang berkhianat. Akan tetapi kepandaian mereka belum mampu melawan Ban Leng dan pada saat itu pula, sesuai dengan rencana Ban Leng dan Kwee-ciangkun, tentara negeri segera menyerbu!

Dalam keadaan tidak berdaya karena totokan Ban Leng membuatnya lumpuh, Gwat Leng ditawan, orang-orang kampung banyak yang mati dan sebagian pula ditawan, kampung dibakar habis dan semua keluarga Sie ditawan pula! Dalam suasana ribut itu, Ban Leng hendak menculik serta mengganggu isteri Gwat Leng, akan tetapi Kwee In Liang dengan marah mencegahnya.

“Semua orang tidak boleh mengganggu wanita, siapa melanggar akan dihukum!” katanya dengan garang.

Ban Leng sendiri sebetulnya tidak takut kepada Kwee In Liang, akan tetapi tiba-tiba isteri Gwat Leng yang merasa putus harapan itu, segera menggunakan kesempatan ini untuk membenturkan kepala sendiri pada dinding hingga kepalanya menjadi pecah dan tewas pada saat itu juga. Dengan hati menyesal, Ban Leng lalu meninggalkan tempat itu.

Adik perempuan isteri Gwat Leng yaitu Loan Nio, yang pada saat itu sudah remaja puteri, sambil menggendong Sie Hai yang masih kecil mencoba lari, akan tetapi dia ditangkap oleh seorang anggota tentara yang kagum melihat kecantikannya. Akan tetapi, untunglah bahwa pada waktu itu Kwee In Liang melihat hal ini terjadi. Perwira ini memberi pukulan keras hingga tentara itu pingsan, sedangkan dia lalu menolong Loan Nio dan anak kecil yang disangka anak Loan Nio itu, dibawa ke dalam rumahnya.

Loan Nio lalu diambil sebagai pelayan di rumah gedung Kwee In Liang, dan gadis yang cerdik ini lalu menitipkan Sie Hai kepada seorang wanita di luar gedung dengan memberi belanja setiap pekan, yaitu uang gajinya sendiri, seluruhnya diberikan kepada wanita itu.

Demikianlah, Sie Hai yang kemudian dinamakan Cin Hai oleh Loan Nio itu, yang di waktu itu baru berusia setahun lebih, dipelihara dengan diam-diam oleh Loan Nio. Dan setelah Loan Nio diambil sebagai isteri oleh Kwee-ciangkun, baru dia memberi tahu dengan jujur kepada suaminya bahwa Cin Hai adalah putera Sie Gwat Leng. Karena sangat mencintai dan sayang kepada isterinya yang baik budi ini, Kwee-ciangkun mau juga menerima Cin Hai di dalam gedungnya.

Ada pun Sie Lok dan Sie Kiong yang mempunyai ilmu kepandaian, dapat melarikan diri setelah mereka tidak berhasil menghukum Ban Leng yang sangat jahat dan yang sudah mengkhianati kakak sendiri itu. Mereka lalu merantau dengan hati duka. Apa lagi ketika mereka mendengar betapa Gwat Leng menjalankan hukuman mati dalam keadaan masih lumpuh, sedangkan isterinya mati membunuh diri dan keluarga lain dihukum mati pula, kedua saudara ini hanya bisa menangis dan sedih.

Mereka merasa benci sekali kepada manusia, oleh karena dianggapnya manusia adalah makhluk yang sejahat-jahatnya. Seorang saudara kandung sendiri seperti Ban Leng bisa berlaku sejahat itu, apa lagi orang lain? Maka, mereka lalu mengasingkan diri di hutan, dan menaklukkan banyak harimau untuk menjadi kawan-kawan dan penjaga mereka!

Mendengar cerita Sie Liok ini, Cin Hai merasa sedih, terharu, marah dan menyesal sekali.

“Pek-hu dan Siok-hu, di manakah adanya Paman Sie Ban Leng, manusia yang berwatak rendah dan biadab itu? Ingin sekali aku dapat melihat muka orang yang berhati binatang itu!” katanya gemas dan marah, sambil mengepal tangannya.

“Entahlah, kami berdua dulu pernah mencarinya untuk membalas dendam, akan tetapi dua kali kami sudah kena dikalahkan dan kemudian kabarnya dia merasa menyesal atas perbuatannya yang terkutuk itu dan dia telah mengasingkan diri entah di mana.”

Kemudian, atas permintaan kedua pamannya, Cin Hai dengan singkat lalu menceritakan pengalamannya. Kedua orang tua itu merasa kagum sekali. Akan tetapi, mereka masih penasaran jika belum mencoba dan mengukur sendiri kelihaian keponakannya ini, maka Sie Kiong yang berwatak gembira lalu berkata,

“Cin Hai coba kau perlihatkan kepandaianmu agar hatiku puas.”

Cin Hai tersenyum, lantas mengikuti mereka berdua keluar dari rumah di mana terdapat halaman yang cukup luas.

“Bagaimanakah aku harus memperlihatkan kebodohanku?” tanyanya kepada Sie Lok dan Sie Kiong.

“Kau lawanlah kami berdua, agar kami dapat mengukur apakah kepandaianmu ini dapat dibandingkan dengan Ayahmu atau Pamanmu yang jahat itu?” kata Sie Lok yang segera menggulung lengan bajunya.

Cin Hai maklum bahwa betapa pun tinggi ilmu kepandaian dua pamannya ini, akan tetapi melihat gerakan mereka ketika menawan harimau tadi, dia merasa yakin bahwa dia tentu akan dapat mengalahkan mereka.

“Baiklah, aku akan berusaha menjaga diri,” kata Cin Hai dengan tenang.

“Awas serangan!” tiba-tiba Sie Kiong berseru gembira.

Ia lalu menerkam dengan serangan yang cukup lihai berbahaya, sedangkan Sie Lok yang hendak menguji kelihaian keponakannya juga segera membarengi menyerang dari lain jurusan. Cin Hai mengerti akan kehebatan serangan kedua pamannya ini, maka tubuhnya lalu berkelebat dan dia pun mengeluarkan ginkang-nya yang sudah sempurna.

Kedua mata Sie Lok dan Sie Kiong menjadi kabur ketika mereka melihat betapa tubuh keponakan itu tiba-tiba berkelebat dan lenyap dari tengah-tengah kepungan. Dan tiba-tiba mereka mendengar suara Cin Hai di tempat yang jauhnya tiga tombak lebih, “Aku berada di sini.”

Bukan main heran kedua orang tua itu, dan dengan cepat mereka segera menerjang lagi, sekarang dengan cepat sekali supaya jangan sampai pemuda itu mendapat kesempatan mengelak. Sie Lok menyerang dengan jari tangan kanan dibuka dan menotok ke arah jalan darah di lambung Cin Hai, sedangkan Sie Kiong menyerang dengan pukulan tangan miring ke arah leher keponakannya.

Cin Hai berseru keras, dan dengan menundukkan kepala ia dapat mengelak dari pukulan Sie Kiong, sedangkan untuk menghadapi totokan Sie Lok, dia cepat mengulur tangan dan mendahului dengan totokan ke arah pergelangan tangan pamannya itu. Sie Lok terkejut dan menarik kembali tangannya lantas menyerang lagi dengan hebat, demikian pula Sie Kiong.

Akan tetapi, Cin Hai kemudian mengeluarkan Ilmu Silat Sianli Utauw atau Tarian Bidadari sambil berkata, “Inilah Sianli Utauw yang kupelajari dari Ang I Niocu.”

Setiap serangan kedua orang tua itu dia kelit dan sampok dengan gerakan tubuh yang lemas seakan-akan orang menari, akan tetapi serangan-serangan kedua pamannya itu tidak mampu mengenai tubuhnya sama sekali. Kedua orang tua itu merasa kagum sekali dan juga heran betapa dengan hanya menari-nari saja keponakannya ini dapat mengelak dari serangan-serangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Cin Hai memang sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya kepada kedua pamannya, karena ia ingin membuat kedua pamannya itu girang dan senang. Maka setelah mainkan Sianli Utauw berapa belas jurus untuk menghadapi serangan-serangan kedua pamannya, ia lalu merubah gerakannya dan berkata pula,

“Dan sekarang aku memainkan kepandaian pokok ilmu silat yang kupelajari dari Suhu Bu Pun Su!” Setelah ia berkata demikian, ia lalu memperhatikan gerakan-gerakan pamannya dan ia lalu mengembalikan setiap serangan dengan gerakan yang sama seperti ilmu silat kedua pamannya.

Kalau tadi menyaksikan Sianli Utauw membuat kedua orang itu terheran-heran, sekarang menghadapi betapa keponakannya itu melawan mereka dengan ilmu silat mereka sendiri, maka kedua orang she Sie itu sesudah mengeluarkan ilmu pukulan yang paling sulit dan berbahaya akan tetapi yang dikembalikan dengan sama baiknya oleh Cin Hai, keduanya tak dapat menahan keheranan mereka lagi dan dengan cepat melompat mundur.

“Nanti dulu! Dari mana pula kau mempelajari ilmu silat kami itu?” tanya Sie Lok dengan terheran-heran dan mata terbelalak!

“Aku belum pernah mempelajari ilmu-ilmu silat itu, akan tetapi memang Suhu Bu Pun Su telah melatihku untuk mengetahui semua dasar-dasar ilmu silat yang pada hakekatnya sama, sehingga setiap kali aku diserang dengan semacam ilmu silat, aku dapat meniru gerakan itu dan mengembalikannya kepada lawan dengan jurus itu juga.”

Sie Lok dan Sie Kiong saling pandang dengan heran dan mereka ini hampir tidak dapat mempercayai keterangan ini. Akan tetapi oleh karena tadi mereka telah menyaksikannya sendiri dan beberapa belas jurus pukulan yang paling terahasia dan terlihai dari mereka sudah dilakukan dengan sempurna oleh Cin Hai, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Bukan main!” kata pula Sie Kiong. “Akan tetapi Kanda Ban Leng mempunyai kepandaian Eng-jiauw-kang yang lihai sehingga ia mampu menghadapi kami berdua yang memegang senjata dengan tangan kosong saja. Maka cobalah kau menghadapi kami dengan tangan kosong pula sedangkan kami menyerang dengan senjata tajam!”

Sie Lok juga menyetujui cara percobaan kepandaian ini dan Sie Kiong lalu berlari masuk untuk mengambil dua batang pedang. Setelah menyerahkan sebatang kepada kakaknya, kedua orang tua ini lalu menghadapi Cin Hai, dan Sie Lok berkata,

“Cin Hai kau berhati-hatilah, karena ilmu pedang kami bukanlah kepandaian rendah!” Lalu ia melangkah maju dan mulai dengan serangannya. Demikianlah Sie Kong yang segera memutar pedang di atas kepala dan mengirim serangan hebat.

Cin Hai lalu memperlihatkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu Kong-ciak Sin-na. Tubuhnya dengan ringan sekali melompat-lompat ke atas laksana seekor burung merak yang sedang terbang saja dan kemudian dari atas dia menghadapi serangan pedang dengan tendangan serta cengkeraman untuk merampas senjata kedua pamannya.

Sementara itu, semenjak tadi burung bangau yang besar itu hanya berdiri memandang, kadang-kadang terbang ke atas dan berputaran di atas kepala ketiga orang yang sedang bertempur. Akan tetapi, sesudah ia menyaksikan betapa tubuh Cin Hai melayang ke atas bagaikan burung, ia lalu memekik keras dan tubuhnya melayang lalu menyambar dengan sepasang patuknya yang runcing bagai pedang itu, yang digerakkan secara hebat untuk menyerang Cin Hai.

“Ang-siang-kiam, jangan!” teriak Sie Lok.

Akan tetapi Cin Hai lalu berkata sambil tersenyum. “Biarlah, Pek-hu, dia juga mau ikut bergembira, mengapa tidak boleh?”

Demikianlah, dengan ilmu Silat Kongciak Sinna, Cin Hai melayani kedua pamannya yang dibantu oleh burung bangau itu sehingga kini dia dikeroyok tiga. Akan tetapi ilmu silatnya sungguh hebat sehingga tubuhnya seakan-akan tidak pernah mengambah bumi. Tiap kali tubuhnya turun, ia kemudian menggunakan ujung sepatunya untuk mengenjot lagi hingga tubuhnya kembali melayang ke atas.

Serangan burung bangau itu dia gagalkan dengan kepretan tangan ke arah paruh burung itu sehingga tiap kali jari tangannya menyentuh paruh, maka burung bangau itu hampir jatuh ke bawah! Sementara itu, dua pedang Sie Lok dan Sie Kiong yang bergerak bagai dua ekor ular sakti menyambar-nyambar itu dapat dihindarkannya dengan tendangan kaki dan cengkeraman yang sebaliknya bahkan mengancam pergelangan tangan mereka dan bagian tubuh lain!

Setelah menghadapi serangan tiga pengeroyok ini sampai tiga puluh jurus lebih, Cin Hai tiba-tiba melompat turun dan berkata, ”Sekarang setelah permainan Kong-ciak Sin-na tadi, aku akan mainkan Pek-in Hoat-sut, juga yang diturunkan oleh Suhu Bu Pun Su!”

Jauh sekali perbedaan ilmu silatnya ini dengan yang tadi. Apa bila tadi gerakannya gesit sekali, kini dia berdiri dengan tenang dan kokoh di atas tanah, kedua lengan tangannya digerak-gerakkan dan tiba-tiba dari kedua lengan ini mengebul uap putih! Burung bangau menyambar turun, lalu dikebut dengan tangan kiri dan ketika uap putih itu menyambar, burung itu memekik keras dan terlempar, lalu terbang lagi ke atas tanpa berani menyerang lagi!

“Hebat!” kata Sie Lok yang segera menyerang lagi, disusul oleh Sie Kiong.

Akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika sekali saja Cin Hai menangkis, pedang mereka hampir saja terlepas dari pegangan!

“Sungguh lihai sekali!” kata Sie Lok sambil berhenti menyerang dan memandang Cin Hai dengan wajah berseri. “Cin Hai, kalau tidak menyaksikan dan merasakan sendiri, aku tak akan dapat percaya bahwa kau mempunyai ilmu kepandaian seperti ilmu sihir saja! Ahh, anakku, jangankan baru seorang Ban Leng, biar dia menjadi tiga pun tak mungkin dapat mengalahkan kau! Hebat, hebat!”

“Akan tetapi, semenjak tadi Hai-ji (Anak Hai) hanya menangkis dan menjaga diri saja. Aku belum merasai kehebatan serangan balasannya. Cin Hai, coba kau cabut pedangmu agar kami dapat pula menyaksikan kiamsut-mu!”

“Baiklah,” kata Cin Hai sambil mencabut keluar Liong-coan-kiam dari pinggangnya. “Nah, Pek-hu dan Siok-hu, bersiap sedialah, aku hendak menyerang dengan Ilmu Pedang Daun Bambu!”

Sie Lok dan Sie Kong segera memutar pedang mereka dengan cepat untuk melindungi diri sehingga jangankan pedang lawan, biar pun air sepikul pun kalau disiramkan ke arah mereka tak mungkin akan dapat menembus sinar pedang mereka yang melindungi tubuh!

Cin Hai lalu menggerakkan pedangnya. Gerakannya cepat luar biasa dan matanya yang tajam sudah dapat melihat lowongan-lowongan di antara sinar pedang kedua pamannya.

“Awas!” teriaknya dan dua kali pedangnya lalu berkelebat secara luar biasa sekali. Maka terdengarlah kain robek dua kali, lantas Cin Hai menarik kembali pedangnya dan berdiri tegak!

Sie Lok dan Sie Kiong merasa heran dan segera menghentikan gerakan mereka pula. Alangkah terkejut hati mereka ketika melihat betapa baju di dada mereka telah robek dan bolong terkena ujung pedang Cin Hai yang baru menyerang segebrakan saja itu!

Keduanya lalu melempar pedang masing-masing dan maju memeluk Cin Hai. Tak terasa pula, mata mereka berlinang air mata karena girang, puas dan bangga.

“Hai-ji... kalau bangsat Ban Leng itu berada di sini, akan mampus dia di tanganmu!” kata Sie Lok.

“Cin Hai, anakku yang gagah perkasa! Ahh... kalau saja Kanda Gwat Leng masih hidup, tentu dia akan merasa bangga sekali melihat kau selihai ini...,” kata Sie Kiong dan orang tua berjenggot hitam ini menggunakan punggung tangan untuk mengusir pergi dua butir air mata yang terloncat keluar dari kedua matanya.

Dengan hati terharu Cin Hai lalu bertanya, “Di manakah makam Ibu? Dan di manakah pula jenazah Ayah dikuburkan?”

“lbumu dikuburkan di dusun Kang-cou, dan jenazah ayahmu yang dulu dibakar oleh para petugas di kota raja, dapat kami curi dan kami tanam pula di dekat makam Ibumu. Dusun itu berada di kaki Bukit Houw-san.”

Untuk dua pekan lamanya Cin Hai tinggal bersama kedua pamannya dan selama itu dia mempelajari cara-cara menangkap semua binatang buas. Burung bangau menjadi kawan baiknya dan ia merasa suka sekali kepada burung ini hingga burung itu menjadi jinak dan ke mana pun dia pergi burung itu selalu mengikutinya. Melihat hal ini, kedua pamannya kemudian menyatakan bahwa burung itu diberikan kepada Cin Hai untuk menjadi kawan seperjalanannya.

“Bawalah Ang-siang-kiam, dia dapat menjadi kawan baik dalam perjalanan,” kata Sie Lok dan Cin Hai menerimanya dengan girang hati.

Dalam waktu senggang, Cin Hai menuturkan pengalaman-pengalamannya dan bercerita pula tentang sahabat-sahabatnya, tentang Nelayan Cengeng, tentang Kwee An dan Ma Hoa, dan tidak lupa pula menceritakan tentang diri Lin Lin yang diakuinya sebagai calon isterinya sehingga kedua orang tua itu menjadi girang sekali.

“Kelak kalau kau akan menikah, tak boleh tidak kau harus memberi kabar supaya kami dapat datang minum arak kegirangan.”

Kemudian Cin Hai berpamit karena dia sudah terlalu lama meninggalkan Lin Lin. Kedua pamannya tidak dapat menahannya dan berangkatlah ia meninggalkan kedua pamannya dengan semua harimau itu, pergi dengan ilmu berlari cepat. Burung bangau yang besar terbang di atasnya dan ikut pergi bersamanya.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
Karena Cin Hai melakukan perjalanan dengan mempergunakan ilmu lari cepat dan jarang berhenti dalam kerinduannya hendak segera bertemu kembali dengan Lin Lin, sambil tidak lupa mencari-cari jejak Kwee An dan Ma Hoa yang lenyap tak meninggalkan bekas itu, maka beberapa hari kemudian sampailah dia di kaki bukit tempat tinggal Yousuf. Dia merasa heran sekali melihat betapa dusun-dusun di sekitar bukit itu sudah kosong dan tiada bermanfaat lagi!

Dengan hati berdebar cemas dia berlari ke atas bukit dan betul saja seperti apa yang dia khawatirkan, rumah Yousuf sudah roboh dan nampak seperti bekas dibakar! Dengan hati cemas dan wajah pucat Cin Hai mencari dan membongkar tumpukan puing, akan tetapi dia menjadi lega oleh karena tidak melihat tanda-tanda bahwa kekasihnya dan Yousuf menjadi korban api yang membakar rumah. Dia berdiri di depan tumpukan puing dengan tubuh lemas, dan tiba-tiba dia mendengar suara ringkik kuda dari jauh.

“Pek-gin-ma!” ia berseru dan melompat terus lari cepat mengejar ke arah suara itu.

Dan di dalam sebuah hutan dia melihat kuda itu sedang makan rumput dan kadang kala meringkik sedih seolah-olah kehilangan kawan dan merasa kesunyian. Pada saat Cin Hai lari menghampiri, ia lalu mengangkat kepalanya dan meringkik lagi, seakan-akan hendak menceritakan sesuatu.

Cin Hai memeluk leher kuda itu dan merasa menyesal sekali mengapa dia tidak menjadi kuda saja supaya dapat mengerti apa yang hendak diceritakan oleh Pek-gin-ma tentang kekasihnya!

“Pek-gin-ma, apakah yang telah terjadi pada mereka? Pek-gin-ma, kalau kau tahu tempat mereka, bawalah aku kepada Lin Lin...”

Akan tetapi, kuda itu hanya menggaruk-garuk tanah dengan kedua kaki depannya. Sementara itu, burung bangau yang ikut datang bersama Cin Hai, terbang berputaran di atas melihat-lihat daerah yang asing baginya itu. Cin Hai lantas menunggang Pek-gin-ma dan bersuit memanggil Ang-siang-kiam yang segera meluncur turun dan mengikuti ke mana pemuda itu melarikan kudanya.

Cin Hai turun dari lereng dan memeriksa dusun-dusun di sekitar daerah itu. Pada saat dia sedang berdiri di tengah dusun yang kosong sambil menuntun Pek-gin-ma, tiba-tiba dia mendengar suara tindakan kaki. Dia segera melompat ke belakang sebuah pohon besar dan dapat menangkap lengan tangan seorang penduduk dusun yang hendak melarikan diri. Orang itu masih muda dan meronta-ronta, kemudian setelah merasa bahwa ia tidak kuasa melepaskan diri lalu menjatuhkan diri berlutut sambil memohon.

“Ampun, Hohan, jangan bunuh aku,” katanya dengan tubuh menggigil.

“Berdirilah, sahabat. Aku bukan orang jahat, dan aku hanya hendak bertanya kepadamu apa yang sudah terjadi di pegunungan ini. Ke mana perginya semua penduduk dusun ini dan tahukah kau ke mana perginya orang Turki dan nona yang dulu tinggal di lereng itu?”

Ketika melihat bahwa Cin Hai bukanlah orang yang ditakutinya, pemuda dusun itu lalu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu, pegunungan itu didatangi serombongan orang Turki yang terdiri dari puluhan orang banyaknya, sambil menunggang kuda-kuda besar mereka menyerang dusun-dusun seperti orang-orang gila.

Kemudian orang-orang Turki ini menyerbu naik ke atas bukit untuk menangkap Yousuf. Terjadilah pertempuran hebat dan orang-orang dusun yang bersembunyi lantas melihat betapa Yousuf, Lin Lin dan Merak Sakti melarikan diri dari situ dengan cepat, dikejar-kejar oleh rombongan orang Turki itu!

“Entah ke mana mereka melarikan diri, agaknya mereka tidak kuat menghadapi serbuan orang-orang Turki itu!” pemuda dusun tadi mengakhiri ceritanya.

Cin Hai merasa terkejut sekali. Kalau Yousuf, Lin Lin dan Merak Sakti sampai tidak kuat menghadapi rombongan itu, tentu di dalam rombongan itu terdapat orang-orang pandai, pikirnya. Ia heran sekali, siapakah orangnya yang dapat mengalahkan Lin Lin yang sudah dilatihnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi itu? Dia benar-benar tak mengerti dan kemudian turun gunung dengan hati cemas dan pikiran bingung, diikuti oleh burung bangau yang dengan setia terbang rendah di atas kepalanya.

*****