Jaka Galing Jilid 04

Jaka Galing

Karya Kho Ping Hoo

JILID 04

SEMENTARA itu, ketika Puspasari menghampirinya, Jaka Galing memandang dengan senyum untuk menghibur hati dara itu dan untuk menyatakan bahwa hukuman itu bukan apa-apa baginya. Puspasari menggunakan sehelai sapu tangan untuk menyeka darah dan peluh di punggung Jaka Galing.

Indra yang melihat kemesraan ini hanya menghela napas dan ia sama sekali tak iri hati atau marah, hanya menyesali nasib sendiri. Akan tetapi, ketika mendengar betapa Dewi Cahyaningsih menyebut rama prabu kepada Sang Prabu Brawijaya, tiba-tiba wajah Jaka Galing menjadi pucat sekali dan ia roboh dan pingsan!

Puspasari menjerit dan Indra juga menubruk kawannya itu dan menggoyang-goyang tubuhnya. Semua orang merasa heran, termasuk Prabu Brawijaya sendiri. Tadi ketika menerima pukulan cambuk, pemuda itu sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit bahkan bulu matanya sedikitpun tidak pernah berkedip. Mengapa sekarang tiba-tiba jatuh pingsan?

Tapi sebentar kemudian Jaka Galing siuman kembali dan begitu ia sadar, ia tertawa tergelak-gelak. Suara ketawanya membangunkan bulu tengkuk, karena terdengar menyeramkan dan ia lalu berkata kepada Prabu Brawijaya.

"Gusti sinuhun, hamba telah mendengar betapa paduka adalah seorang maha raja yang terkenal sakti mandraguna dan waspada bijaksana. Maka hamba merasa bangga sekali telah merasai sedikit hukuman cambuk dari paduka"

Puspasari heran sekali melihat sikap pemuda itu yang tiba-tiba berubah dan sama sekali tidak mau memperhatikan dia lagi. Akan tetapi, di hadapan sang Prabu Brawijaya, ia tidak berani menyatakan sesuatu hanya duduk dengan menundukkan kepala, sementara Indra juga memandang kepada Jaka Galing dengan heran. Sebaliknya Sang Prabu Brawijaya tersenyum.

"Jaka Galing, kau ternyata telah terkena fitnah, dan seharusnya aku berterima kasih kepadamu karena kau telah memenolong jiwa puteriku dari kebinasaan. Akan tetapi, masih ada satu hal lagi, yaitu tentang pembunuhan Pangeran Bagus Kuswara. Apakah betul kau yang membunuhnya?"

Jaka Galing tersenyum dan sikapnya sekarang begitu terbuka dan gembira! "Tentang hal itu, jika paduka mengijinkan, biarkanlah hamba menghadapi Adipati Gendrosakti si jahanam itu. Bila hamba telah berhadapan dengan keparat itu, tentu paduka akan mendengar sendiri!"

Jawaban ini sebenarnya kurang ajar, tetapi Sang Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, bahkan bertanya, "Eh, anak muda, apakah kau berani menghadapi Adipati Gendrosakti yang berkepandaian tinggi dan sakti mandraguna itu?"

"Hamba takkan mundur setapak pun menghadapi seorang penjahat, gusti."

Prabu Brawijaya lalu memanggil Pangeran Lembupangarsa. "Lembupangarsa" katanya dengan wajah berseri, "kau tadi telah berlaku lancang kepada Jaka Galing tanpa memeriksa dulu, sekarang kau cobalah keperwiraan anak muda itu, Jaka Galing, kau kuperkenankan melawan dan bertanding dengan Pangeran Lembupangarsa!"

Ternyata bahwa biarpun perintah ini terdengar aneh, namun sebenarnya Prabu Brawijaya hendak menguji kesaktian Jaka Galing sebelum anak muda yang menarik hatinya itu menghadapi Adipati Gendrosakti yang telah diketahui kedigdayaannya! Pula, memang Sang Prabu Brawijaya suka melihat keperwiraan, terutama dari anak-anak muda yang tampan dan gagah seperti Jaka Galing yang sikapnya betul-betul telah menarik hatinya dan menimbulkan kasih sayang di dalam dadanya.

Mendapat perintah dari Sang Prabu Brawijaya ini, Jaka Galing tampak gembira sekali. Ia lalu menyembah dan berdiri mengikuti Pangeran Lembupangarsa yang sudah siap menantinya di dalam kalangan yang dibuat oleh para perajurit yang mengelilingi tempat itu. Meraka berdua berhadapan, sama muda, sama tampan, sama gagah dan bidang bahunya. Hanya dalam soal pakaian Jaka Galing kalah, akan tetapi potongan tubuh dan dan ketampanan wajah mereka seimbang!”

“Jaka Galing, sebelum kita mengukur tenaga mengadu kesaktian, harap kau maafkan dulu kalau aku tadi telah salah tangan memukulmu.” kata Pangeran Lembupangarsa yang berwatak jujur.

“Tidak apa, gusti pangeran, hamba sedikitpun tidak menaruh dendam. Dan sebelumnya maafkan jika dalam pertandingan adu tenaga ini hamba akan salah tangan.”

“Wasapadalah!” seru Pangeran itu yang lalu menyerang dengan pukulan tangan kanan.

Jaka Galing sigap mengelak dan balas menyerang. Tak lama kemudian mereka lalu bertanding seru dan ramai. Saling tampar, saling jotos, dan saling tendang. Tetapi semua serangan kedua pihak dapat dielakkan atau ditangkis. Debu mengebul ke atas saking hebatnya gerakan-gerakan mereka yang dilakukan sepenuh tenaga. Mereka mengeluarkan kepandaian masing-masin, mengeluarkan kepandaian pencak silat dan kesaktian, akan tetapi keadaan mereka tetap berimbang tanpa ada yang kalah!

Pangeran Lembupangarsa sigap dan trampil, akan tetapi Jaka Galing cekatan dan cepat. Pertempuran itu bagaikan pertempuran dua ekor harimau yang saling bertempur mati-matian. Tak dapat ditahan lagi para perajurit bersorak ramai karena tegangnya pertempuran itu. Juga Indra dan kawan-kawannya bersorak-sorak, sedangkan Sang Prabu Brawijaya mengangguk-anggukkan kepala dan memuji. Lebih hebat dan tegang lagi pertempuran itu ketika keduanya mengeluarkan aji kesaktian mereka.

Jaka Galing kena ditampar telinganya tetapi tangan yang menampar itu meleset seakan-akan menampar batu yang licin dan Jaka Galing merasa seakan-akan hanya diusap-usap pipinya oleh tangan gadis cantik! Ia tersenyum saja menerima tamparan itu dan dengan luar biasa hebatnya ia balas menjotos dada Pangeran Lembupangarsa.

Akan tetapi ketika tangannya menghantam dada, tangan itu terpental kembali, sedangkan Pangeran Lembupangarsa hanya tersenyum saja menerima jotosan itu, seakan-akan hanya dipijit oleh tangan halus seorang dara!

Pada suatu saat Jaka Galing dapat ditangkap, diangkat ke atas lalu dilontarkan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi Jaka Galing menggunakan kesaktiannya dan jatuh kembali ketempat semula, yaitu di hadapan lawannya dengan berdiri seperti seekor kupu-kupu hinggap di atas setangkai bunga mawar!

Jaka Galing tidak mau kalah, ditangkapnya Pangeran Lembupangarsa, diangkatnya tinggi-tinggi lalu di banting! Tetapi pangeran yang gagah perkasa itupun tiba di atas tanah dengan berdiri, maka mereka lalu saling terjang kembali! Dan meledaklah suara riuh dan sorak-sorai memuji kedua ksatria yang memiliki kesaktian dan keuletan seimbang.

Kini kedua-duanya telah lupa bahwa mereka hanyalah sekedar mengukur tenaga belaka. Mereka telah menjadi panas hati karena nafsu telah menguasai hati mereka untuk saling menjatuhkan! Mereka berjuang mati-matian untuk memperoleh kemenangan, akan tetapi lawan terlampau kuat hingga kedua-duanya tak berdaya!

Pangeran Lembupangarsa yang terkenal sebagai banteng muda Majapahit dan menjadi murid terkasih dari Patih Gajah Mada yang digdaya dan sakti mandraguna, menjadi malu sekali. Ia lalu mencabut keris pusakanya yang ampuh yakni Kyai Barowo.

Melihat betapa lawannya mencabut keris yang mengeluarkan hawa panas mengerikan. Jaka Galing lalu memberi isyarat kepada Indra. Kawannya ini mengerti isyarat Jaka Galing, lalu ia mengambil tombak Kyai Santanu yang tadi dititipkan kepadanya, lalu melontarkan tombak itu ke arah kawannya. Jaka Galing menyambut tombak pusaka Kyai Santanu dan bersiap sedia.

“Kalau paduka hendak mengajak adu jiwa, silakan, pangeran!” kata Jaka Galing dengan sikap tenang.

Keduanya berdiri dengan senjata ampuh di tangan, saling berhadapan, saling pandang. Keadaan tiba-tiba menjadi tegang sekali dan kini para penonton tidak ada yang bersorak lagi, semua memandang berdebar dan tak berani bernapas. Tiba-tiba Sang Prabu Brawijaya memecah kesunyian.

“Lembupangarsa! Jaka Galing! Tahan nafsumu dan simpan senjata kalian! Tak malukah kalian ksatria yang gagah perkasa tapi lemah iman hingga mudah saja dikuasai nafsu angkara?”

Ucapan Sang Prabu Brawijaya ini merupakan air wahyu yang dingin menyiram api yang berkobar-kobar hingga sebentar saja rasa dingin menyusup kepala dan dada kedua anak muda yang gagah itu hingga mereka menjadi lemah dan sadar.

“Kau benar-benar gagah perkasa, Galing!” kata Pangeran Lembupangarsa.

“Masih belum dapat melawan kedigdayaan paduka, gusti Pangeran!” jawab Jaka Galing dengan sederhana.

Kemudian keduanya menghadap Sang Prabu Brawijaya yang merasa kagum sekali melihat sepak terjang Jaka Galing. Sang Prabu Brawijaya merasa marah sekali kepada Adipati Gendrosakti dan beliau lalu memberi perintah kepada semua orang untuk segera berangkat menuju ke Tandes.

Dewi Cahyaningsih dengan hati hancur ikut pula dalam rombongan ini, naik tandu bersama puterinya. Diam-diam di dalam puteri ini menangis tersedu-sedu dan mengeluh kepada Dewata mengapa ia bernasib semalang ini, karena betapapun juga, Adipati Gendrosakti adalah suaminya!

Kini ayahnya sendiri menuju ke sana hendak menghukum suaminya, dan isteri yang manakah yang takkan merasa hancur melihat kehancuran suaminya di depan mata?

Sementara itu, Puspasari diam-diam juga menangis, tapi biarpun ia juga merasa sedih karena perbuatan-perbuatan ayahnya, namun sebagian besar hati dan pikirannya penuh dengan bayangan Jaka Galing yang telah berubah sikapnya itu dan di dalam lubuk hatinya ia merasa bahwa tentu terjadi sesuatu dalam diri pemuda itu hingga ia merasa cemas sekali!

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo, Jaka Galing

Semenjak terjadi peristiwa yang hebat dan berlarut-larut itu, yang semenjak ia menyuruh membunuh anak isterinya sendiri dan maksud itu gagal karena kedatangan perampok-perampok yang ternyata adalah Jaka Galing dan kawan-kawannya, sampai peristiwa pembunuhan Pangeran Bagus Kuswara di tamannya, hati Adipati Gendrosakti tidak tenteram.

Ia merasa gelisah sekali dan selalu mengharap-harapkan berita yang datang dari para perajurit yang diutus membasmi Jaka Galing. Kalau saja perajuritnya berhasil menumpas Jaka Galing dan Dwipa berhasil membunuh Dewi Cahyaningsih dan puspasari, maka akan bereslah semua persoalan. Kepada Sang Prabu Brawijaya akan diceritakan semua peristiwa itu dengan menumpahkan semua kesalahan di pundak Jaka Galing si pemberontak itu!

Akan tetapi, telah tiga hari ia menunggu-nunggu, belum juga ada berita dari orang-orangnya, maka bukan main gelisahnya. Akan tetapi Sariti, selirnya yang cantik manis itu, pandai sekali menghibur hatinya hingga ia dapat juga melupakan kegelisahannya, apalagi di waktu malam hari, kalau Sariti sudah menari dan berdendang dengan gaya yang menarik hati lenyaplah semua kekesalan dan kegelisahan hatinya. Sebentar saja adipati ini telah melupakan segala hal yang membuatnya membunuh Pangeran Bagus Kuswara dan Ki Ageng Bandar dan cintanya terhadap Sariti semakin mendalam!

Ketika seorang penjaganya melaporkan pada suatu senja bahwa Sang Prabu Brawijaya dengan sekalian pengiringnya datang ke Kadipaten Tandes, menggigillah tubuh Adipati Gendrosakti. Tapi Sariti dapat menghiburnya hingga ketika ia menyambut kedatangan Sang Prabu Brawijaya dengan sembah baktinya, ia dapat menetapkan hatinya.

Sang Prabu Brawijaya sengaja menyuruh Jaka Galing, Dewi Cahyaningsih dan Puspasari bersembunyi hingga Adipati Gendrosakti tidak tahu bahwa ketiga orang itupun datang bersama sang baginda. Setelah menerima penghormatan Adipati Gendrosakti, Sang Prabu Brawijaya pura-pura bertanya ke mana perginya puterinya Dewi Cahyaningsih. Adipati memandang heran dan menyembah serta berkata.

“Aduhai ramanda prabu, bukankah hamba sudah mengirim utusan untuk menyampaikan warta yang menyedihkan bahwa Dewi Cahyaningsih dan puterinya Puspasari telah diculik si pemberontak Jaka Galing di hutan Kledung?”

“Gendrosakti, coba kau ingat-ingat. Kurangkah kurniaku kepadamu? Kau telah kuangkat menjadi adipati di Tandes, bahkan kuberi kurnia hingga puteriku Cahyaningsih kuberikan kepadamu sebagai isteri. Tapi mengapa kau berani membohong di depanku?”

Pucatlah wajah Adipati Gendrosakti mendengar ini hingga tubuhnya menggigil! “Aduh rama prabu.... hamba.... hamba tidak sekali-kali.... berani membohong....”

“Keparat! Kau berani bersumpah bahwa apa yang kau katakan tadi betul dan tidak membohong?” bentak Sang Prabu Brawijaya.

“Ti.... tidak, rama prabu.... hamba berani bersumpah....”

“Coba kau suruh selirmu yang bernama Sariti itu keluar!”

Terkejutlah Adipati Gendrosakti, tapi terpaksa ia memberi perintah kepada pelayan untuk memanggil selirnya itu. Ketika Sariti keluar dengan gaya yang lemah-lembut, semua orang memandang dengan penuh rasa kagum akan kecantikannya, tapi benci akan pengaruhnya yang jahat terhadap Adipati Gendrosakti. Sariti dengan gaya yang menarik hati sekali menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, lagak dan gayanya tidak kalah indah dan halusnya daripada sekalian puteri keraton asli.

Sang Brabu Brawijaya lalu memberi isyarat ke belakang dan Dewi Cahyaningsih beserta Puspasari lalu menghadap di situ. Bukan main kagetnya melihat betapa anak isterinya hadir di situ menjadi saksi. Ia hanya memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Sariti tampak tenang-tenang saja.

“Hai, Gendrosakti, tidak pandai pulakah kau menyapa anak isterimu yang terlepas dari bahaya maut?”

“Hamba.... hamba merasa bahagia sekali, rama prabu....” Gendrosakti menjawab gagap.

"Anakku Cahyaningsih, sekarang ceritakanlah kembali pengalaman dan penderitaanmu karena perbuatan keparat ini," kata Prabu Brawiajaya.

Sambil menangis Dewi Cahyaningsih menceritakan pengalamannya.

“Din... dinda Cahyaningsih, isteriku... sampai hatikah kau memfitnah suamimu sendiri macam ini?” Gendrosakti menggigil sambil memandang wajah isterinya dengan pucat.

“Diam kau!” bentak Sang Prabu Brawijaya.

Dwipa lalu dipanggil menghadap. Penjahat yang sudah rusak tubuhnya karena menerima pukulan tangan Lembupangarsa ini lalu dipaksa menceritakan segala perintah dan rencana Gendrosakti untuk membunuh anak isterinya. Mendengar ini, lemaslah Adipati Gendrosakti dan ia hanya menundukkan kepalanya, tidak berani mengangkat muka atau bergerak.

“Nah, penjahat kejam! Apakah kau hendak menyangkal pula? Kau hendak membunuh isterimu sendiri, hendak membunuh puteriku dan membunuh anakmu sendiri, hukuman apakah yang patut dijatuhkan kepada seorang manusia berhati binatang seperti engkau?”

Adipati Gendrosakti tidak dapat menjawab, hanya menyembah meminta ampun dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Dan masih banyak lagi, jahanam! Puteraku Bagus Kuswara dan utusanku Ki Ageng Bandar dimana?”

Adipati Gendrosakti mengangkat mukanya yang pucat bagaikan mayat. “Me... mereka... di... dibunuh oleh pemberontak Jaka Galing... ”jawabnya gagap gemetar tidak karuan.

“Manusia sesat! Lagi-lagi kau timpakan kesalahan kepada orang lain! Benar-benarkah puteraku dan utusanku itu dibunuh oleh Jaka Galing?”

“Be... benar, rama prabu...”

“Jangan kau sebut aku rama prabu lagi!” Bentak Sang Prabu Brawijaya.

Kemudian Sang Prabu Brawijaya memberi isyarat dan dari belakang muncullah Jaka Galing dengan tombak Kyai Santanu di tangan kanan. Pemuda ini bertindak perlahan dan dengan dada terangkat gagah sekali, sedangkan sepasang matanya berkilat menyambar ke arah Adipati Gendrosakti!

Melihat kedatangan anak muda itu, Gendrosakti makin bingung dan gelisah. Akan tetapi, tiba-tiba Sariti yang ikut melihat kedatangan pemuda itu, menuding sambil menangis,

“Inilah...! Inilah pembunuh gusti pangeran itu...!"

Wanita ini lalu menangis tersedu-sedu. Sang Prabu Brawijaya lalu memandang ke arah Sariti dengan pandang mata menghina. Jaka Galing lalu duduk bersila di depan Sang Prabu Brawijaya dengan tenang, tapi di dalam dadanya bernyala api kebencian melihat Gendrosakti.

“Gendrosakti, orang yang kau tuduh itu telah berada di sini. Coba kau ulangi tuduhanmu tentang pembunuhan itu.”

Dengan suara terputus-putus dan tidak leluasa, Gendrosakti lalu menuturkan betapa Jaka Galing menyerbu taman dan membunuh dua orang tamu agungnya.

“Jaka Galing, kau boleh bicara untuk membela diri dari tuduhan Gendrosakti.” Prabu Brawijaya berkata kepada Jaka Galing.

"Semua kata-kata yang keluar dari mulut Gendrosakti adalah bohong semata-mata! Pada waktu malam yang disebutkan olehnya itu, hamba sedang menghadapi serbuan Senapati Suranata di dalam hutan dan sedang mempermainkannnya dengan kurungan api. Banyak yang menjadi saksi hamba, di antaranya yang menjadi saksi adalah puteri paduka sendiri yang pada waktu itupun berada di hutan. Maka tuduhan ini hanyalah fitnah keji dan palsu belaka. Tidak ada sebab-sebab yang membuat hamba begitu gila untuk membunuh Gusti Pangeran Bagus Kuswara dan Ki Ageng Bandar yang belum pernah hamba jumpai dan tidak punya hubungan apa-apa. Hamba mohon keadilan paduka, gusti.”

“Tahukah kau siapa yang membunuh mereka?” tanya sang prabu. “Hamba tidak tahu, gusti, hal itu sebaiknya ditanyakan kepada Gendrosakti sendiri, karena ia dan selirnya pasti tahu akan hal ini.”

“Benar, aku tahu dan menjadi saksi!” tiba-tiba Sariti berseru. “Kaulah yang membunuh gusti pangeran.”

“Benarkah kata-kata selirmu itu, Gendrosakti ?” tanya sang prabu.

“Benar... rama... eh, gusti sinuhun... memang Galing ini yang membunuhnya. Bahkan dia telah melukai lengan hamba...! Dan lagi, tombak pusaka hamba juga telah dirampasnya!”

Dalam kebingungannya, ketika melihat pemuda itu masuk membawa tombak pusaka Kyai Santanu, Gendrosakti dengan linglung mengatakan tombaknya dirampas oleh Jaka Galing, sama sekali lupa bahwa tombak itu dulu digunakan untuk membunuh Panembahan Ciptaning!

“Benarkah itu, Jaka Galing? Kau melukai tangannya dan mrampas tombak Kyai Santanu?”

“Keterangan itupun bohong belaka, gusti. Hamba tidak melukai lengannya dan tidak merampas tombaknya.”

Prabu Brawijaya lalu minta tombak itu dan memandang senjata pusaka itu dengan kagum. ”Tombak yang ampuh!” Serunya, lalu ia mengembalikan tombak itu kepada Jaka Galing. “Dari mana kau mendapatkan tombak ini, Jaka Galing?”

Mendengar pertanyaan ini, Jaka Galing menjadi pucat, karena tadinya ia hendak menyembunyikan keadaan dan rahasia dirinya, tapi kini terpaksa harus mengaku. “Begini cerita sebenarnya, gusti sinuhun. Tombak ini dulu digunakan oleh Gendrosakti untuk membunuh kakek hamba tanpa dosa. Hamba lalu membawa pergi jenazah kakek hamba itu dengan tombak ini masih menancap di dada kakek hamba yang malang.”

“Mengapa tidak diambil kembali oleh Gendrosakti?” tanya sri baginda.

“Telah diusahakan untuk mencabut, gusti, tapi tombak itu tidak dapat tercabut keluar dari ulu hati kakek hamba yang sengaja hendak memberikan tombak itu kepada hamba. Dan karena ini pulalah maka timbul permusuhan antara hamba dengan Gendrosakti. Dia berusaha menghancurkan hamba, sedangkan hamba selalu bercita-cita hendak membalas dendam.” Dalam penuturannya ini, sedapat mungkin Jaka Galing tidak menyebut nama kakeknya.

“Apakah kesalahan kakekmu maka ia dibunuh oleh Gendrosakti?”

“Kakek hamba dipanggil oleh Gendrosakti dan diminta untuk memecahkan rahasia dan arti sebuah mimpinya. Gendrosakti bemimpi melihat bunga api kecil yang membakar gedungnya sampai habis. Karena tidak ada orang yang dapat memecahkan artinya, maka kakek hamba dipanggil dan diminta nasihatnya. Kakek hamba berterus terang dan menyatakan bahwa bunga api itu tanda bahwa di Kadipaten Tandes kedatangan seorang iblis berwujud manusia yang harus dilenyapkan dari Tandes, dan ketika ditanya siapa gerangan orang itu, kakek hamba berterus terang pula dan mengatakan bahwa iblis berujud manusia itu tidak lain adalah selir terkasih dari Gendrosakti yang sekarang juga menghadap di sini, yaitu Sariti! Karena pernyataan ini, maka kakek ditangkap dan dihukum di alun-alun dengan jalan dijadikan korban untuk macan putih yang ganas!”

Ketika cerita itu sampai di sini, wajah Sariti memucat dan terdengar seruan-seruan dari para pendengar.

"Akan tetapi, gusti," demikian Jaka Galing melanjutkan ceritanya, "berkat kesucian kakek hamba, macan putih itu tidak berani mengganggunya. Hamba yang berada di dusun ketika mendengar akan hal ini, lalu datang dan hamba berhasil membunuh macan putih itu. Akan tetapi, pada saat hamba bergulat melawan macan putih, Gendrosakti yang berhati curang dan jahat itu telah menggunakan tombak pusaka Kyai Santanu ini untuk menusuk ulu hati kakek hamba hingga binasa!”

Sampai di sini, Jaka Galing menundukkan muka dan suaranya terdengar gemetar mengharukan dan ketika pemuda itu mengangkat mukanya lagi, maka wajhnya memerah dan kedua matanya berkilat!

“Alangkah kejam dan alangkah jahatnya seorang yang telah mabok akan kecantikan! Sang Prabu Brawijaya bersabda, lalu beliau bertanya kepada Jaka Galing. “Siapakah kakekmu yang sakti dan suci itu?”

Suara Jaka Galing gemetar ketika menjawab, “Kakek hamba ialah Sang Panembahan Ciptaning!”

Terkejutlah Sang Prabu Brawijaya mendengar nama ini. ”Apa katamu? Kakekmu adalah Rama Panembahan Ciptaning...? Dan kau... kau ini anak siapa ? Siapakah ibumu...?”

Sambil menundukan muka Jaka Galing berkata lirih. “Mendiang ibu hamba bernama Budiarti...”

“Jagat Dewa Batara!” Sang Prabu Brawijaya mengucapkan puji-puji dan bertanya lirih. “Jaka Galing, tahukah kau siapa ayahmu?”

“Hamba... hamba tahu, gusti,” sembahnya.

“Sebelum kakek menutup mata, beliau telah menceritakan kepada hamba tentang riwayat bunda....”

“Dan... kau mengapa tidak memperkenalkan diri kepadaku, kepada ayahmu sendiri?”

“Hamba.... hamba tidak berani.. hamba hanyalah seorang anak dusun yang bodoh, sedangkan paduka... maha raja yang agung...”

Dengan terharu Sang Prabu Brawijaya turun dari kursi dan menubruk Jaka Galing sambil berkata. “Ah, Galing... puteraku... sifat-sifat yang merendah dan mulia ini tentu kau warisi dari Budiarti, ibumu yang mulia....”

Ketika dipeluk oleh Sang Prabu Brawijaya, Jaka Galing lalu memeluk dan menciumi kaki ayahnya sambil berkata lirih, “Ramanda prabu...”

Pertemuan yang mengharukan antara ayah dan anak ini membuat semua orang menjadi terharu sekali, kecuali Gendrosakti dan Sariti. Dua orang ini saling pandang dan ingin sekali mereka pada saat itu melihat tanah yang mereka injak menjadi belah agar mereka dapat melompat masuk ke dalamnya! Gendrosakti melihat ke kanan kiri hendak melarikan diri akan tetapi Pangeran Lembupangarsa telah berada di belakangnya dan memandangnya dengan mata melotot!

Sementara itu, ketika mendengar bahwa Jaka Galing adalah putera sri baginda sendiri, Puspasari tidak dapat menahan air matanya bukan hanya karena terharu seperti ibunya yang mencucurkan air mata juga, tapi sebagian besar karena kehancuran hatinya. Pantas saja terjadi perubahan pada pemuda itu ketika mendengar bahwa ibunya adalah puteri sang prabu dan ia sendiri adalah cucu Prabu Brawijaya! Tidak ia sangka bahwa ia masih anak kemenakan dari Jaka Galing dan pemuda itu adalah pamannya. Tentu saja ia tidak mungkin menjadi kekasih pemuda itu!

“Anakku yang bagus! Kau ternyata tidak mengecewakan menjadi puteraku! Sekarang kau harus ikut ramamu ke Majapahit setelah aku menjatuhkan hukuman yang tepat untuk jahanam ini! Gendrosakti, sudah jelas dosa-dosamu dan apakah yang hendak kau katakan lagi?”

Dengan tubuh gemetar Gendrosakti menyembah, tanpa kuasa mengucapkan perkataan. Bibirnya bergerak memohon amapun tanpa suara.

“Coba katakan apa kehendakmu, puteraku.”

“Hamba telah bersumpah hendak membalas dendam eyang panembahan. Maka ijinkanlah hamba menjatuhkan hukuman itu kepada Gendrosakti.”

“Kau hendak menjadi algojo untuk menjatuhkan hukuman dan membunuh keparat ini?” Tanya Sang Prabu Brawijaya dengan wajah tak puas.

“Benar, rama prabu, tapi hamba tidak akan berlaku sewenang-wenang. Biarlah dia dibebaskan untuk melawan hamba. Hamba takkan berlaku pengecut membunuh orang tak berdaya, ingin benar hamba mencoba kesaktian manusia rendah ini.”

Wajah sang prabu menjadi terang lagi, agaknya beliau puas mendengar sikap yang gagah berani dan yang agung dari puteranya itu. “Dengarlah ucapan seorang kesatria, Gendrosakti! Tidak malukah kau? Nah, kau kuberi kebebasan untuk bertanding melawan puteraku yang telah berkali-kali kau fitnah ini. Kalau kau sampai tewas dalam tangannya, maka itu memang sudah sepantasnya. Sebaliknya kalau kau yang menang, kau takkan dihukum karena membunuhnya, tapi akan dihukum karena telah membunuh Bagus Kuswara dan karena hendak membunuh anak isterimu.”

Adipati Gendrosakti tidak dapat berkata lain kecuali menerima keputusan ini. Malam hari itu, Adipati Gendrosakti dan Sariti dimasukkan ke dalam tahanan dan pertandingan akan dilakukan besok pagi. Sang prabu menitahkan supaya semua rakyat diberitahukan dan datang menyaksikan pertandingan yang akan dilakukan di alun-alun.

Ketika pada keesokan harinya para penjaga datang hendak mengeluarkan Gendrosakti dari kamar tahanan, terkejutlah mereka karena melihat bahwa Sariti, wanita yang cantik jelita itu, telah mati dengan kedua mata melotot keluar dan lidah terulur mengerikan. Ternyata, karena insyaf akan dosa-dosanya dan menyesali perbuatannya karena bujukan-bujukan jahat dari selirnya yang tercinta itu, pula karena tahu bahwa tak ada jalan hidup lagi baginya, Adipati Gendrosakti telah mencekik batang leher Sariti hingga binasa!

Ketika mendengar hal ini, Sang Prabu Brawijaya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menyebut nama Dewata. Alun-alun telah penuh oleh rakyat yang hendak menonton pertandingan hebat antara Jaka Galing yang kini disebut Pangeran Bagus Galing melawan Adipati Gendrosakti.

Pemuda ini memasuki gelanggang pertempuran dengan dada terangkat dan tombak pusaka Kyai Sentanu di tangan. Kedatangannya disambut dengan tepuk sorak riuh rendah dari rakyat yang semua bersimpati kepadanya. Ketika Adipati Gendrosakti memasuki kalangan, maka terdengar cemoohan dan caci maki dari rakyat yang membencinya. Gendrosakti memilih senjata golok yang besar dan tajam. Wajahnya pucat dan matanya merah. Ia telah mengambil keputusan hendak berkelahi mati-matian.

Sang Prabu Brawijaya menyaksikan pertandingan ini di atas sebuah panggung, bersama para senapati. Setelah atas isyarat sang prabu, gong pertandingan dipukul, maka kedua musuh besar itu saling berhadapan. Gendrosakti dengan golok di tangan kanan, sikapnya mengerikan dan mukanya mengandung kebencian, sedangkan Jaka Galing tetap tenang, bahkan senyum manis menghias mulutnya!

Tiba-tiba Gendrosakti menggereng keras dan menerkam dengan goloknya, tapi dengan sigap Jaka Galing mengelak. Golok besar menyambar leher, tapi dengan menundukkan kepala, golok itu menyambar lewat di atas kepala Jaka Galing. Gendrosakti adalah seorang perajurit yang ulung dan pandai main pencak silat, maka begitu goloknya tidak mengenai sasaran, golok itu diayun balik dan sambil berjongkok goloknya menyerang kaki Jaka Galing!

Serangan ini dasyat dan tidak terduga sekali hingga terdengar seruan-seruan tertahan di kalangan penonton, tapi dengan gerakan indah dan lincah, Jaka Galing menekan tubuh ke atas hingga sekali lagi golok itu lewat bersiutan di bawah kakinya! Para penonton bertepuk tangan riuh melihat kelincahan Jaka Galing.

Gendrosakti yang melihat betapa serangannya selalu mengenai tempat kosong, menjadi marah sekali. Ia lalu menyerang membabi buta dan mengayun-ayunkan goloknnya, diputar-putar bagaikan kitiran angin cepatnya! Sinar goloknya ditimpa matahari berkeredepan menyilaukan mata dan mengerikan sekali karena golok itu seakan-akan berubah menjadi belasan batang yang menyambar-nyambar ke tubuh Jaka Galing dengan serangan-serangan maut!

Kini Jaka Galing tidak mau mempermainkan lawannya lagi. Ia mulai mengerakkan tombaknya yang ampuh. Tombak pusaka Kyai Santanu sekan-akan memiliki mata yang dapat melihat dan kemana saja golok lawan meeyerang, selalu dapat ditangkis dan terpental! Jaka Galing lalu membalas dengan serangan-serangan hebat. Gendrosakti adalah seorang jago golok yang pandai dan jarang terkalahkan, permainan goloknya adalah warisan dari ilmu golok seberang, maka kehebatannya luar biasa.

Akan tetapi, Jaka Galing tidak hanya dapat gemblengan ilmu tombak pusaka yang dimiliki oleh Sang Panembahan Ciptaning, tapi juga mendapat gemblengan ilmu batin yang membuat gerakan-gerakannya tenang dan tetap hingga gerakan-gerakannya lebih teratur dan lebih sempurna. Sebetulnya kalu dikehendaki, Jaka Galing sudah dapat merobohkan lawannya dengan mudah.

Akan tetapi karena pemuda ini takkan merasa puas kalau menjatuhkan lawan dengan cara lain, ia selalu menujukan serangannya ke arah ulu hati Gendrosakti. Maksudnya hendak membalas dendam seperti dulu ketika kakeknya dibinasakan, yakni dengan menusukan tombak Kyai Santanu di ulu hati Gendrosakti! Adipati ini agaknya maklum akan hal ini, maka keringat dingin mulai memenuhi jidatnya dan ia dengan mati-matian manjaga dadanya dari serangan tombak.

Pada suatu saat dengan amarah meluap-luap, Gendrosakti mengayunkan goloknya ke arah leher. Ketika Jaka Galing mengelak, golok itu ditusukkan ke arah perut pemuda itu! Jaka Galing mengelak dengan melompat ke kiri dan secepat kilat kakinya menendang ke arah pergelangan tangan lawannya hingga tak dapat tercegah lagi golok yang dipegang itu terelpas dan terlempar dari tangan Gendrosakti!

Adipati itu terkejut sekali dan dengan mata terbelalak ia meliahat betapa ujung tombak pusaka Kyai Santanu meluncur cepat ke arah ulu hatinya! Ia memekik ngeri dan... “cress” ujung tombak sakti itu menembus ulu hatinya!

Dengan kedua tangan berubah merupakan cengkeraman cakar setan dan kedua lengan terangkat keatas, Gendrosakti roboh telentang, gagang tombak pusaka Kyai Santanu menancap lurus-lurus di dadanya, tepat di tengah-tengah!

Sorak-sorai gemuruh menyambut kemenangan ini dan Sang Prabu Brawijaya lalu masuk kembali ke kadipaten serta mengumpulkan semua senapati. Ketika Pangeran Bagus Galing menghadap di depan Sang Prabu Brawijaya, ia mengajukan permohonan lagi kepada ramandanya.

“Hamba mohon kepada paduka agar supaya kawan hamba Indra yang cukup mulia dan digdaya diangkat menjadi adipati di Tandes.”

Sang Prabu Brawijaya meluluskan permintaan ini dan mendapat sambutan tepuk tangan, Indra maju dan berlutut menghaturkan terima kasih kepada Sang Prabu Brawijaya.

“Masih ada sebuah permohonan lagi, ramanda yang mulia, yaitu hamba mohon supaya Adipati Indra dijodohkan dengan kemenakan hamba Dewi Puspasari, karena hamba yakin bahwa sepasang teruna remaja itu saling mengasihi dan akan menjadi sepasang suami isteri yang saling mencintai. Hamba rasa kakang mbok Cahyaningsih takkan keberatan karena beliau juga telah tahu sampai di mana keagungan dan kegagahan Adipati Indra!”

Indra menundukkan mukanya yang memerah dan melirik kepada kawannya itu dengan pandangan terima kasih sekali. Sedangkan Puspasari terisak perlahan. Sang Prabu Brawijaya yang arif bijaksana itu lalu menanyakan pendapat Indra, Dewi Cahyaningsih, dan Dewi Puspasari sendiri.

Indra tentu saja menerima dengan berbahagia dan menghaturkan terima kasih, juga Dewi Cahyaningsih menyetujui dengan hati bulat, sedangkan Puspasari sebagai seorang dara bengsawan yang sopan santun, hanya menundukkan kepala dengan muka merah!

Sang prabu lalu menjatuhkan hukuman kepada semua kaki tangan Adipati Gendrosakti atas petunjuk para senapati yang tahu benar akan adanya perajurit-perajurit kepercayaan yang selalu menjalankan perintah rahasia dan jahat. Kemudian sang prabu membawa rombongan kembali ke Majapahit. Ketika hendak berpisah, Pangeran Bagus Galing memegang erat-erat tangan Indra dan Puspasari yang mengantar sampai di depan gapura.

“Semoga kalian dapat hidup bahagia!”

Puspasari berkata lirih, “Pamanda pangeran, mohon diampunkan segala dosa hamba dan semoga pamanda juga mendapat berkah Hyang Agung serta dapat hidup berbahagia di majapahit.”

Kemudian tak tertahan lagi dara itu lari kembali ke dalam kadipaten! Indra dengan kedua mata berlinang memegang erat-erat kedua tangan kawannya dan berkata,

“Terima kasih, kawan. Kau telah mengangkat diriku yang hina dina ke tempat yang mulia, dan tidak itu saja, kau... kau telah mengorbankan hatimu... ah, kalu saja kau bukan pamannya, tentu akau akan mengundurkan diri....”

“Hush, jangan berkata begitu, Indra....”

“Aku maklum, Galing, kita sama-sama mencintainya... dan...”

“Diam! Jangan bicara macam itu kepadaku. Ingat, aku adalah pamannya dan... aku menjadi pamanmu pula, mengerti?”

Pangeran Bagus Galing terpaksa berlaku keras untuk memecahkan keadaan yang tidak menyedapkan perasaannya itu. Indra mengerti pula akan hal ini. Ia lalu berdiri tegak bagaikan seorang perajurit menghadap seorang pimpinannya dan menjawab,

“Baik... pamanda pangeran! Akan hamba jaga Puspasari baik-baik dan hamba usahakan agar ia hidup penuh bahagia!”

Pangeran Bagus Galing tersenyum melihat sikap ini. “Nah, demikianlah Adipati Indra, demikianlah seharusnya ucapan seorang laki-laki sejati! Nah, selamat tinggal, adipati!”

“Selamat jalan, pamanda pangeran yang arif bijaksana dan gagah perkasa!”

Ketika Pangeran Bagus Galing telah meloncat ke atas punggung kudanya yang berbulu dawuk dan hendak memacu kudanya itu menyusul rombongan Prabu Brawijaya, tiba-tiba Adipati Indar berseru memanggil. Pangeran Bagus Galing menahan kendali kudanya dan menengok.

“Ada apa pula, adipati?” tanyanya heran.

“Sebuah permohonan, pamanda pangeran!”

“Permohonan apakah ? Katakan saja!”

“Putera kami yang pertama akan hamba beri nama... Bagus Galing, bolehkah...?”

Kedua mata Pangeran Bagus Galing berkejap-kejap menahan tertumpahnya air mata karena terharu. Tapi ia mengeraskan hatinya dan berkata dengan suara nyaring dan keras.

“Setuju! Dan bila Bagus Galing telah terlahir, aku akan memberi sumbangan tombak Kyai Santanu kepadanya agar kelak ia akan menjadi seorang pahlawan gagah perkasa seperti ayahnya!”

Kemudian Pangeran Bagus Galing memacu kudanya dan membalapkan binatang itu menyusul rombongan Sang Prabu Brawijaya, sedangkan Adipati Indra masih berdiri di situ dengan kedua kaki terpentang, melihat tubuh kawan baiknya di atas kuda sampai bayangan dan kuda itu menghilang disebuah tikungan dan hanya terdengar suara kaki kuda berlari.

Dengan hati terharu ia masih berdiri terus di situ sambil mendengar derap kaki kuda yang membawa pergi kawannya itu dan baru berjalan perlahan ke gedung kadipaten ketika derap kaki kuda itu makin perlahan dan menghilang pula....

T A M A T


Thanks for reading Jaka Galing Jilid 04 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »