Social Items

Jaka Galing

Karya Kho Ping Hoo

JILID 02

ADIPATI yang mabok akan belaian dan rayuan Sariti yang cantik jelita, lupa akan anak istri, bahkan rela mengorbankan isteri dan anaknya demi kesenangan dan kepuasan hati kekasihnya itu. Sariti memang berpikiran cerdik dan mempunyai banyak muslihat licin. Ia majukan siasatnya, yakni Dewi Cahyaningsih dan anaknya akan diantar pulang ke Majapahit dengan pengawal-pengawal sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, di tengah jalan kedua ibu anak itu akan di binasakan, kemudian para pengawal itu lalu diharuskan lari ke Majapahit dan memberi laporan kepada Sang Prabu Brawijaya bahwa ketiak mereka mengantar Dewi Cahyaningsih dan puterinya berkunjung ke Majapahit, ditengah jalan di serang oleh Jaka Galing yang berhasil membunuh ibu anak itu!

Sungguh sissat yang kejam tapi licin luar biasa. Seperti telah merencanakan untuk menggunakan sebatang pedang yang bermata dua hingga dapat sekali pukul meruntuhkan dua lawan. Disatu pihak membinanasakan kedua wanita yang menjadi penghalang baginya itu, di pihak lain dapat merusak nama Jaka Galing yang berbahaya pula bagi Adipati Gendrosakti, hingga sang prabu tentu akan mengutus perajurit untuk menangkap Jaka Galing! Satu siasat yang harus dipuji, tapi yang harus dikutuk karena kejamnya.

Pada keesokan harinya. Adipati Gendrosakti dengan menguatkan hati dan melenyapkan segala rasa segan dan malu, memasuki kamar isterinya. Kedatangannya disambut dengan wajah heran oleh isterinya dan dengan kegembiraan oleh Puspasari, anaknya. Telah berbulan-bulan adipati ini tak pernah masuk ke dalam kamar isterinya, maka kedatangannya ini tentu saja menimbulkan heran kepada isteri yang sudah tak mengharapkan lagi kunjungan suaminya itu. Dengan cekatan Puspasari menyuguhkan minum kepada ayahnya.

Setelah duduk berhadapan dengan isterinya, Gendrosakti lalu berkata. “Yayi Dewi, sebenarnya kedatanganku ini hendak minta pertimbanganmu. Sebagaimana kau ketahuai, telah berbulan-bulan aku tidak pergi menghadap ke Majapahit.”

“Mengapa kanda tidak pergi menghadap rama prabu?” tegur Dewi Cahyaningsih yang tidak menyangka sesuatu.

Gendrosakti menghela napas. “Kau tahu, yayi, pekerjaan disisni amat banyak dan aku... Tak punya waktu untuk pergi-pergi jauh. Memang, kalau terlalu lama tidak menghadap, aku takut kalau-kalau rama prabu marah. Oleh karena itu, malam tadi aku mengambil keputusan untuk minta bantuanmu, yayi. Kau telah lama tidak bertemu dengan keluargamu di Majapahit, maka sekalian kau tengok mereka, kau wakililah aku menghadap rama prabu, menuturkan keadaan di Tandes yang tidak ada halangan suatu apapun.”

Memang di dalam hatinya, semenjak suaminya tergila-gila kepada Sriti, Dewi Cahyaningsih merasa bosan dan tidak senang tinggal di Tandes, dan sering kali terkenang kepada sanak familinya yang berada di Majapahit. Mendengar usul suaminya ini, ia merasa gembira, lalu menjawab,

“Baiklah, kanda. Kalau kanda adipati memerintahkan begitu, tentu saja saya tak berani membantah."

“Rama, ijinkanlah saya ikut kalau ibu pergi ke Majapahit.” Puspasari berkata.

Ayahnya mengangguk-angguk, “Tentu saja boleh, kalian pergialh berdua. Berkemaslah dan sementara itu aku akan memerintahkan pengawal-pengawal yang cakap untuk mengiringi perjalanan kalian, juga menyediakan barang-barang berharga untuk dihaturkan kepada rama prabu.” Kata Adipati Gendrosakti dengan suara manis, seperti seorang ayah yang baik hati!

Dengan gembira sekali Puspasari menari-nari dan lari masuk ke kamarnya sendiri di sebelah kamar ibunya untuk menyiapkan apa yang perlu di bawa dalam perjalanan jauh itu.

Gendrosakti memilih dua belas orang perwira yang paling dipercaya dan setelah memberi pesan kepada mereka, lalu disiapkan tandu dan segala keperluan. Sariti juga hadir dalam keberangkatan ini dan selir cantik jelita ini dengan gaya manis memberi bekal nasihat dan pesan agar mereka yang melakukan perjalanan itu berlaku hati-hati dan dapat menjaga diri di tengah jalan, serta membekali doa-doa selamat bagi ibu dan anak!

Setelah rombongan itu berangkat Gendrosakti menjatuhkan diri di atas kursi di dalam kamar Sariti, dan adipati tua itu termenung denga muka pucat betapapun juga, hati nuraninya memberontak dan suara hatinya mencaci maki dan mengutuknya, membuatnya termenung dengan hati menyesal.

Akan tetapi, tiba-tiba sebuah lengan yang berkulit halus memeluk lehernya dengan suara merayu-rayu dan belaian-belaian penuh kasih saying Sariti menghiburnya hingga hati nuraninya kembali tertutup.

********************

Dua belas orang yang dipilih oleh Gendrosakti untuk mengantar anak dan isterinya adalah bekas perampok-perampok jahat dan kejam yang tak pantang mundur menghadapi perbuatan yang bagaimana kejam dan ngerinya. Mereka ini adalah orang-orang taklukan, bekas pemimpin perampok yang didalam hatinya memang mempunyai sikap dendam dan memberontak terhadap kerajaan Majapahit, hingga mereka memang tepat sekali kalau diperalat oleh Gendrosakti untuk melakukan pembunuhan kejam ini.

Rombongan itu berjalan dengan cepat dan ketika hari telah menjadi senja, mereka masih berada di dalam sebuah hutan yang amat liar dan luas. Memang kedua belas pengawal itu sengaja membawa ibu dan anak itu kedalam hutan ini agar mereka dapat melakukan tugas mereka dengan leluasa. Setelah tiba di tempat yang mereka anggap cocok untuk melakukan kejahatan itu, tiba-tiba kepala pengawal, seorang tinggi besar bernama Klabangkoro berteriak memerintah agar rombongan itu berhenti.

Delapan orang pelayan pemanggul tandu merasa lega mendengar perintah ini, karena mereka telah merasa lelah sekali. Dengan perlahan mereka menurunkan kedua tandu itu dan menggunakan kain ikat kepala untuk menyeka peluh mereka yang membasahi seluruh tubuh.

Dewi Cahyaningsih dan Puspasari membuka kain renda penutup tandu dan Dewi Cahyaningsih bertanya. “Hei, pengawal, mengapa berhenti di tengah hutan? Hari sudah menjadi gelap, hayo kita lanjutkan perjalanan mencari tempat penginapan di kampung depan.”

Tapi dua belas pengawal itu mendekatinya sambil ketawa menyeringai. Melihat keadaan ini, hati Dewi Cahyaningsih merasa tidak enak, maka ia lalu keluar dari tandunya. Juga Puspasari keluar dari tandunya.

“Kita takkan melanjutkan perjalanan!” kata Klabangkoro sambil mengurut kumisnya.

Kemudian dengan cepat sekali ia mencabut goloknya yang terselip di pinggang dan sekali mengayun senjata itu, dua orang pemanggul tandu roboh mandi darah dan mati di saat itu juga tanpa dapat berteriak lagi!

Alangkah terkejutnya semua pemanggul tandu yang enam orang itu.Tapi kekagetan mereka hanya sebentar, karena pengawal-pengawal lain lalu menggunakan senjata mereka dan sekejap kemudian kedelapan pemenggul tandu itu terbunuh dan tubuh mereka berserakan di atas rumput dalam keadaan yang mengerikan!

Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya hampir saja pingsan melihat kekejaman dan pembunuhan ini. Mereka saling peluk dan menutup muka sambil menangis dan dengan tubuh menggigil mereka menanti kemungkinan selanjutnya.

“Ha, ha, ha!” terdengar Klabngkoro tertawa tergelak-gelak. “Sayang adipati tidak melihat sendiri hal ini!”

Mendengar ucapan ini, timbul dugaannya yang mengerikan di dalam hati Dewi Cahyaningsih. Dengan hati nekat, ia membuka matanya dan memandang kepada kepala pengawal ini.

“Klabangkoro! Apakah maksudmu maka kalian membunuh para pemikul tandu ini? Siapakah yang akan memanggul tandu kami selanjutnya ?”

“Ha, ha,ha! Perempuan bernasib celaka, yang akan memanggul kau hanyalh setan-setan akhirat, karena sebentar lagi kaupun akan mengikuti kedelapan anjing-anjing ini! Ha-ha ! Adapun yang akan memanggul puterimu yang cantik ini, jangan kau khawatir, tanganku masih kuat memondongnya! Betul tidak, kawan-kawan?”

Kawan-kawannya tertawa geli, dan seorang diantara mereka berkata. “Kakang Klabangkoro, jangan kau habiskan sediri. Beri aku bagian! Ha, ha!”

Mendengar ucapan ini, bukan main kaget Dewi Cahyaningsih dan Puspasari. “Apa? Kau hendak membunuh kami? Mengapa Klabangkoro, mengapa?” tanya Dewi Cahyaningsih dengan suara gemetar, sedangkan Puspasari memeluk ibunya dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Jangan kau salah sangka, Wanita! Kami hanya menjalankan perintah Adipati Gendrosakti, siapa lagi yang menyuruh kami membunuhmu kalau bukan suamimu sendiri?”

"Tetapi... tak mungkin... mengapa begitu...?” wanita yang bernasib malang itu mengeluh.

"Ha, ha, ha, !" Klabangkoro tertawa. Mudah saja diterka. Kau sudah tua, suamimu sudah tak suka lagi padamu, sudah mendapat yang baru, yang muda, yang cantik, tidak seperti kau yang sudah kisut. Ha, ha!"

Kini mengertilah Dewi Cahyaningsih. Jadi suaminya sendiri yang merencanakan penbunuhan ini! Tentu diatur bersama dengan perempuan siluman itu. Alangkah kejamnya! Tiba-tiba wanita tua itu mengangkat dada dan datang keberaniannya.

“Klabangkoro! Kau mau membunuh kami, bunuhlah. Aku tidak takut mati. Tetapi kuminta padamu dan kepada semua kawanmu. Kasihanilah anakku si Puspasari. Dia tidak tau apa-apa. Demi perikemanusian dan demi Gusti Yang Maha Agung, bebaskanlah anakku ini. Kalian boleh mengambil semua barang-barang berharga milik kami, boleh bunuh aku, tetapi kalian jangan bunuh anakku ini...” Dewi Cahyaningsih memeluk anaknya yang sudah lemas itu dengan tersedu-sedu.

“Ah, perempuan cerewet! Jangan banyak cakap!” bentak Klabangkoro sambil menarik tangan Dewi Cahyaningsih yang memeluk anaknya, tetapi ibu itu tak mau melepaskan pelukannya.

Puspasari menjerit-jerit dan mengeluh. “Ibu... Ibu...”

“Sari... Sari anakku...” Dewi Cahyaningsih juga menjerit pilu.

Kakang Klabangkoro. Mampuskan saja perempuan tua itu supaya jangan banyak rewel lagi!” kata seorang diantara pengawal-pengawal itu.

Dengan wajah menyeringai mengerikan Klabangkoro mengangkat goloknya yang masih berlumuran darah itu keatas dengan sepenuh tenaga ia membacok!”

“Trang!”

Klabangkoro bereteriak kesakitan dan goloknya hampir saja terlepas dari pegangan! Ternyata ketika ia menganyunkan goloknya membacok ke arah leher Dewi Cahyaningsih, tiba-tiba dari belakang sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki memegang tombak dan secepat kilat menggerakkan tombaknya menangkis golok yang mengancam leher wanita itu!

“Bangsat jahanam! Siapa kau begitu lancang berani mencampuri urusan kami?” Bentak Klabangkoro, sedangkan sebelas orang kawannya lalu maju mengepung.

Laki-laki itu ternyata adalah seorang yang memakai kedok ikat kepala hitam yang dibalutkan di depan mukanya sebatas mata. Dari sinar matanya dan tubuhnya, dapat diketahui bahwa ia masih muda benar, tetapi tubuhnya tegap berisi dan tampak kuat. Melihat dirinya dikepung, pemuda berkedok itu mengangkat tombaknya ke atas dan tiba-tiba dar atas sebatang pohon melayang keluar seorang pemuda lain yang juga berkedok!

Pemuda ini bersenjata sebatang pedang dan karena pakaian dan kedoknya serupa dengan yang dikenakan pemuda bertombak, mereka ini seakan-akan dua saudara kembar!

“Keparat!” pemuda bertombak itu balas memaki. “Pembunuh-pembunuh kejam, iblis bermuka manusia! Iblis-iblis macam kalian ini harus dibasmi dari muka bumi!”

Bukan main marahnya Klabangkoro mendengar caci maki ini. Biarpun dari tangkisan tadi ia maklum bahwa pemuda bertombak ini memiliki tenaga kuat, namun mereka hanya berdua, sedangkan dia mempunyai sebelas orang kawan yang telah diketahui kekuatan dan kepandaiannya. Maka ia berbesar hati dan tertawa menghina.

“Ha-ha...! Cacing-cacing busuk hendak berlaku sombong di depan naga! Mampuslah kau!” goloknya diayun tanpa ada peringatan, menunjukkan betapa curangnya kepala pengawal itu!

Akan tetapi dengan memiringkan sedikit kepalanya, bacokan itu tak mengenai sasaran dan pemuda bertombak lalu balas menyerang. Kawannya tertawa bergelak lalu memutar pedangnya yang mempunyai gerakan hebat juga. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran hebat dan mati-matian. Dua orang berkedok di keroyok oleh dua belas orang pengawal yang buas dan bertenaga kuat.

“Indra, mari pencarkan mereka!” Pemuda bertombak berseru kepada kawannya.

Memang, dalam keroyokan campur aduk itu mereka tak dapat bergerak leluasa, maka mereka lalu berkelahi sambil mundur saling menjauhi hingga para pengeroyok menjadi terpencar. Pemuda berpedang dikeroyok enam orang dan pemuda bertombak pun dikeroyok enam orang termasuk Klabangkoro!

Karena pemuda bertombak itu mengetahui bahwa para lawannya hanyalah orang-orang yang mengandalkan kebuasan dan kekuatan belaka, maka ia yakin bahwa ia dan kawannya pasti akan dapat mengalahkan mereka. Kalau kiranya para pengeroyok itu berkepandaian tinggi dan cukup membahayakan, tentu ia akan lebih senang membela diri di dekat kawannya hingga dapat saling membantu.

Kini, menghadapi enam orang pengeroyok, ia berlaku lebih leluasa karena dapat mencurahkan perhatiannya. Tombaknya diputar sedemikian rupa hingga ujung tombak berubah seakan-akan menjadi berpuluh-puluh banyaknya dan tiap ujung tombak mengeluarkan tenaga yang luar biasa, karena tiap kali senjata lawan tersentuh ujung tombak itu, senjata lawan pasti terpental!

Keenam pengeroyoknya tak berdaya dan tak dapat menyerang, karena tubuh pemuda itu dilindungi oleh puluhan batang tombak yang bergerak dan berputar cepat sekali!” Tak lama kemudian, setelah bertempur puluhan jurus, terdengar teriakakn-teriakan ngeri karena dua orang pengeroyok telah tertembus perut dan dadanya oleh ujung tombak!

Sementara itu, pemuda berpedang juga tidak kalah hebatnya. Pedangnya berputar cepat dalam gerakan-gerakan yang tak terduga sama sekali oleh keenam lawannya. Tubuhnya lincah dan gesit sekali. Selain itu, pemuda ini berwatak jenaka, karena sambil berputar tiada hentinya ia mengejek dan menggoda. Pernah ia sengaja mengetok tulang kaki seorang lawan dengan gagang pedangnya, hingga lawan itu berjingkrak-jingkrak karena kakinya merasa demikian sakit sampai terasa menyusup tulang!”

“Ha, ha! Kau seperti Burisrawa kebakaran jenggot!” pemuda itu mengejek sambil mengirimkan serangan kilat yang membuat pedangnya menari-nari itu! Sebentar saja iapun dapat merobohkan lagi tiga orang lawan dengan pedangnya!

Sementara itu, pemuda bertombak telah berhasil menewaskan empat orang dan yang melawannya kini tinggal Klabangkoro dean seorang temannya. Melihat betapa gagah perkasanya pemuda lawannya itu dan betapa kawan-kawannya telah banyak yang tewas, tiba-tiba Klabangkoro melompat jauh dan lari kearah Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang saling peluk dan berdiri menggigil di dekat tandu mereka!

Klabangkoro mengayun-ayunkan goloknya untuk membinasakan dua orang wanita itu untuk menunaikan tugas. Melihat hal ini, pemuda bertombak merasa terkejut sekali. Ia hendak meloncat mengejar, tapi lawannya yang tinggal seorang itu menghalanginya dengan pedang dan mengirim serangan ke arah lambungnya. Karena perhatian pemuda itu dicurahkan kepada Klabangkoro, hampir saja lambungtnya tertusuk pedang kalau ia tidak cepat-cepat melempar tubuh kebelakang.

Pada saat ia menggulingkan diri, ia melihat betapa Klabangkoro telah berada dekat dengan kedua wanita itu dan telah mengangkat goloknya. Tidak ada jalan lain untuk menolong kecuali dengan melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga ke arah tubuh Klabangkoro.

Lemparannya tepat sekali dan pada saat Klabangkoro hampir berhasil membunuh Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya, tiba-tiba punggung manusia jahat itu tertikam tombak hingga menembus ke dadanya! Klabangkoro berteriak ngeri dan goloknya terlepas dari tangannya. Tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya roboh telungkup tak bernyawa lagi!

Pemuda itu segera lari menghampiri tubuh Klabangkoro dan mencabut keluart ombaknya. Ketika ia menengok, ternyata orang terakhir yang melawannya tadi telah lenyap! Ia merasa menyesal karena orang itu tentu telah melarikan diri. Ketika ia berpaling, ternyata kawannya yang bersenjata pedangpun baru saja menyelesaikan pertempurannya dan dengan puas membersihkan pedangnya sambil memandangi lima orang lawannya yang telah tewas bergelimpangan di sekelilingnya!

“Indra, kau hebat sekali!” pemuda bertombak itu memuji kawannya sambil tertawa membuka kedok. Ternyata bahwa pemuda bertombak itu bukan lain ialah Jaka Galing!

Kawannya yang bernama Indra pun membuka kedoknya dan ternyata ia adalah seorang pemuda yang tampan juga, berambut keriting dan bermata penuh kegembiraan. “Kaupun hebat, Galing.”

“Tapi lawanku ada yang lari seorang.”

Mereka lalu menghampiri Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang masih saling rangkul dengan wajah pucat. Jaka Galing dan Indra tidak mengenal siapa kedua wanita itu, mereka berdua memandang kagum kepada Puspasari yang cantik manis.

“Ibu dan adik, bahaya telah lalu dan tak perlu takut dan khawatir lagi.” Galing menghibur.

Ia tak pernah menyangka bahwa wanita tua itu adalah isteri Adipati Gendrosakti dan mengira bahwa mereka berdua hanyalah wanita-wanita kampung karena memang Dewi Cahyaningsih berdua puterinya mengenakan pakaian sederhana.

“Aduh, raden.... semoga Gusti Yang Maha Agung melimpahkan rahmatNya kepada kalian berdua. Kalian telah menolong jiwa kami ibu dan anak, kalau tidak ada kalian... entah bagaimana jadinya...” wanita tua itu tersendu-sendu karena merasa terharu dan sedih.

“Sudahlah, ibu, jangan bersedih, penjahat-penjahat kejam itu telah kami bunuh semua. Kalau kami boleh bertanya, ibu dan adik ini siapakah dan hendak pergi kemana?”

Sebelum ibunya sempat menjawab, Puspasari menjawab dengan suara malu-malu dan pipi merah sambil menundukkan mukanya, “Kami... kami orang Tandes, ibuku seorang janda dan aku anak tunggalnya. Kami hendak pergi ke Majapahit mengunjungi sanak keluarga kami. Tapi dihutan tiba-tiba bertemu dengan perampok-perampok. Untung kalian berdua menolong kami, raden, dan terimalah pernyataan terima kasih kami!”

Tiba-tiba gadis itu berlutut menyembah hingga Jaka Galing merasa kikuk. Hendak membangunkan gadis itu, ia harus menyentuh pundaknya dan ia tidak berani melakukan ini. Didiamkan juga tidak enak.

“Nona... jangan... jangan kau melakukan segala upacara ini. Sudah sepantasnya manusia di dunia saling tolong-menolong.”

Setelah Puspasari berdiri kembali, ibunya berkata. “Benar kata Puspasari anakku ini, raden. Kami memang hendak pergi ke Majapahit.

Dewi Cahyaningsih maklum akan maksud Puspasari yang sengaja berbohong, karena kalua ia berterus terang, tentu kedua pemuda ini merasa terkejut dan siapa tahu kalau-kalau kedua pemuda ini merasa berkewajiban untuk mengantarkan dan memaksa mereka pulang ke Tandes.

“Tapi hari sudah menjadi gelap, dan tak mungkin melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Lagi pula, para pemikul tandu telah binasa semua. Kalau kalian sudi, kami persilakan singgah di kampung kami yang berada tak jauh dari sini dan besok barulah kalian melanjutkan perjalanan menuju ke Majapahit.” Kata Indra sambil memandang gadis yang manis itu.

Kedua wanita itu menyetujui dan Galing bersama kawannya mengiringkan mereka menuju ke sebuah kampung yang berada tak jauh dari hutan itu. Dewi Cahyaningsih dan Puspasari heran dan kagum ketika mereka tiba di kampung itu, karena di dusun yang baru itu berkumpul banyak sekali orang dari segala golongan dan mereka ini ramah tamah sekali.

Mereka disambut dengan segala kehormatan dan hampir semua orang, laki-laki maupun perempuan yang menyambut mereka, menyatakan simpati dan mengutuk para perampok yang berniat jahat terhadap mereka. Karena keramah-tamahan orang-orang itu. Dewi Cahyaningsih dan Puspasari merasa terharu dan suka sekali berada di situ.

Bagaimanakah Jaka Galing yang dulu tinggal di dusun Tuhan bersama kakeknya kini berada di dusun itu dan siapa pula kawan-kawannya penduduk dusun itu...?

********************

Dulu ketika Jaka Galing membawa pulang jenazah kakeknya dengan hati hancur karena sedihnya, ia disambut rakyat dengan perasaan terharu dan sedih. Memang nama Panembahan Ciptaning telah terkenal sebagai seorang sakti yang berbudi dan bijaksana, juga tidak sedikit orang yang telah ditolong oleh panembahan itu, baik berupa nasehat atau petuah maupun pertolongan mengobati mereka yang menderita sakit.

Selain daripada itu banyak yang mengangkat dia sebagai guru mereka, karena sedikit banyak mereka telah menerima petunjuk-petunjuk dan petuah-petuah yang berharga dari orang suci itu. Oleh karena itu, maka tidak heran apabila nasib Panembahan Ciptaning yang tewas dalam keadaan menyedihkan itu telah membangkitkan perasaan marah dan dendam di hati para pemuda itu.

Di antara para pemuda yang sakit hati terhadap Adipati Gendrosakti, adalah Indra, seorang putera kepala kampung di dusun Keling, yang menjadi murid terkasih dari Panembahan Ciptaning dan seorang kawan baik Jaka Galing semenjak kecil. Disaksikan oleh banyak orang, Jaka Galing mencabut tombak pusaka Kyai Santanu yang menancap di dada kakeknya dan ia bersumpah di depan tombak pusaka itu dengan ucapan keras dan tegas.

“Aku bersumpah untuk membalas dendam rama panembahan yang terbunuh oleh Gendrosakti dan pada suatu saat akau tentu akan mengembalikan tombak ini ke dalam dada Gendrosakti!”

Jaka Galing maklum bahwa dirinya tentu dimusuhi oleh Adipati Gendrosakti dan bukan tak mungkin besok atau lusa akan datang perajurit-perajurit dari Tandes ke dusun Tiban untuk menangkap atau membunuh dirinya. Dugaan ini dibenarkan oleh banyaknya anak muda di dusun Tiban, maka Jaka Galing lalu mengambil keputusan untuk pergi dari Tiban.

Alangkah terharu hatinya ketika hampir semua pemuda Tiban, bahkan ada beberapa orang pula dari desa Keling, yakni Indra dan kawan-kawannya, menyokong maksudnya hendak membalas dendam, Mereka lalu berkumpul dan merupakan satu pasukan terdiri dari pemuda-pemuda yang gagah berani dan bersemangat!

Karena takut kalau-kalau Adipati Gendrosakti menumpahkan amarahnya kepada keluarga mereka, maka para pemuda itu lalu memboyongi keluarga mereka dan menebang hutan untuk mendirikan sebuah dusun baru di tengah-tengah hutan. Dusun ini mereka beri nama dusun Bekti dan di dalam hutan lebat ini Galing dan Indra melatih para kawannya dalam olah keprajuritan dan permainan tombak dan pedang. Mereka siap untuk sewaktu-waktu menyerbu ke Kadipaten Tandes dan membalas dendam kepada Adipati Gendrosakti.

Sementara itu, seringkali Jaka Galing termenung jika teringat akan cerita Panembahan Ciptaning sebelum menghembuskan napas terakhir, yakni bahwa mendiang ibunya adalah seorang isteri Sang Prabu Brawijaya. Kalau begitu, dia masih berdarah bangsawan, berdarah raja, seorang pangeran. Namun ia simpan rahasia ini baik-baik dan tak pernah menceritakan kepada siapapun juga. Oleh karena itu maka semua orang masih menganggap bahwa ia adalah Jaka Galing putera Panembahan Ciptaning.

Perjumpaannya dengan Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya, membuat Jaka Galing makin benci kepada Adipati Gendrsakti. Malam itu juga, ia mengumpulkan kawan-kawannya dan menyatakan pendapatnya.

“Kawan-kawanku, peristiwa yang baru saja dialami oleh kedua tamu kita itu menyatakan betapa kacau-balaunya daerah yang yang dikuasai oleh Gendrosakti. Perampok berani muncul dimana-mana dan mengganggu rakyat, tanpa mendapat perhatian sama sekali dari Gendrosakti. Bahkan aku merasa curiga melihat pakaian para perampok itu, karena pakaian macam itu tidak layak dipakai oleh para perampok. Lebih pantas kalau mereka itu disebut pengawal-pengawal atau pemimpin-pemimpin perajurit kadipaten.”

Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang berada di ruang tengah itu dan mendengar kata-kata Jaka Galing, menjadi terkejut sekali. Tadinya mereka hanya menyangka bahwa Jaka Galing dan Indra hanyalah dua orang pemuda dusun yang gagah perkasa, dan tidak menyangka bahwa pemuda ini demikian cerdik dan seakan-akan mempunyai sikap bermusuh dan membenci Adipati Gendrosakti. Mereka berdua mendengar lebih lanjut dengan penuh perhatian.

“Memang akupun sudah menaruh curiga,” Indra membenarkan kata-kata Galing. “Mereka itu memainkan senjata dengan baik sekali dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sekali-kali tak pantas kalau mereka hanya perampok-perampok biasa. Lebih baik kita bertanya lagi kepada tamu-tamu kita.”

Semua orang menyatakan setuju dan Dewi Cahyaningsih serta puteriny dipersilakan maju mendekat. Wanita tua itu merasa kagum memandang para pemuda tampan yang duduk bersila dalam deretan rapid an sikap mereka yang sopan-sopan itu, sedangkan Puspasari menundukan kepala dengan wajah merah. Ia tidak kuasa menentang pandang mata sekian banyak pemuda yang kesemuanya ditujukan padanya dengan pandang mata kagum.

“Kanjeng bibi, harap maafkan kami kalau kami mengganggu kanjeng bibi. Sebetulnya kami merasa curiga sekali melihat keadaan para perampok yang mencegat perjalan bibi berdua sore tadi. Apakah kanjeng bibi tidak pernah melihat orang-orang itu atau tidak menyangka sesuatu mengapa bibi berdua diganggu ?”

Sambil berkata demikian, Jaka Galing memandang tajam. Dewi Cahyaningsih adalah seorang puteri dari Majapahit yang bagimanapun juga mempunyai keagungan dan perbawa besar. Melihat betapa anak muda itu mengajukan pertanyaan seakan-akan sedang memeriksanya, ia balas bertanya denga suara angkuh.

“Anak muda, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, lebih dulu perkenalkan dirimu. Siapa kau ini, raden? Dan ada hubungan apa engkau dengan Adipati Gendrosakti, siapa pula sekian anak muda yang berkumpul di sini?”

Jaka Galing tercengang mendengar suara dan pertanyaan ini. Karena ini bukanlah suara seorang wanita tua dari dusun dan pertanyaan inipun membayangkan bahwa wanita di depannya tentu tahu banyak tentang diri Gendrosakti!

“Kanjeng bibi, kiranya kepadamu aku tidak perlu membohong atau menyimpan rahasia. Aku adalah Jaka Galing putera mendiang Panembahan Ciptaning yang dibunuh mati oleh Gendrosakti!”

“Biarpun Dewi Cahyaningsih telah menekan perasaan hatinya, namun wajahnya masih berpucat mendengar pengakuan ini. Untung baginya bahwa cahaya dian yang tidak begitu terang itu membuat perubahan wajahnya tidak tampak oleh yang lain. Sementara itu, diam-diam Puspasari menggerakkan sedikit mukanya dan ia mengerling ke arah Jaka Galing.

“Jadi... kau adalah putera Panembahan Ciptaning yang bernasib malang itu raden? Aduh, raden. Kasihan sekali ramamu!” Dewi Cahyaningsih berkata perlahan. “Dan kau kumpulkan kawan-kawanmu ini untuk membalas dendam ? Hendak menggempur dan mengobrak-abrik Kadipaten Tandes?”

"Bukankah sudah selayaknya kalau aku membalaskan dendam rama panembahan? Tidak pantaskah kalau ujung tombak yang mengantar nyawa rama panembahan ini kugunakan untuk mengantar nyawa Gendrosakti menyusulnya?"

Kemudian, Jaka Galing yang untuk sesaat dikuasai oleh nafsu amarah itu teringat kembali dan menyambung kata-katanya kepada Dewi Cahyaningsih denga suara perlahan.

“Maaf, kanjeng bibi, tidak seharusnya didepan seorang tamu yang tiada sangkut pautnya sama sekali denag urusan ini aku melampiaskan amarahku.”

Ia lalu menyembunyikan tombak pusaka Kyai Santanu di belakang tubuhnya. Tapi Dewi Cahyaningsih telah mendengar itu semua, telah merasai ancaman yang tersembunyi dalam kata-kata Jaka Galing tadi. Betapapun juga, Adipati Gendrosakti adalah suaminya, suami yang pernah dicintainya, walaupun ia telah dikhianati dan hampir saja dibunuh! Sebagai seorang wanita bangsawan ia harus berani menghadapi kenyataan, berani menghadapi segala akibat dari kejahatan suaminya. Maka sambil menatap wajah anak muda yang tampan di depannya itu ia berkata, suaranya lantang.

“Bik sekali, anak muda! Kau sudah mengaku dan sudah mengutarakan semua isi hatimu. Kini, kau dengarlah baik-baik dua belas orang perampok yang kau tewaskan iu, adalah pengawal-pengawal pilihan dari Gendrosakti ! Mereka itu memang sengaja hendak membunuh aku dan anakku. Ketahuilah, aku adalah isteri Gendrosakti dan puspasari adalah anakku, anak Adipati Gendrosakti!”

“Ibu...” Puspasari mencegah dan memandang wajah ibunya denga air mata berlinang. Mengapa ibunya seberani ini membuat pengakuan di depan musuh-musuh ayahnya?

Untuk sesaat semua orang berdiam dengan mata terbelalak dan keadaan menjadi sunyi. Dan sesaat kemudian ramailah mereka itu berteriak-teriak dengan suara mengancam, bahkan Indra telah mencabut keris pusaka yang terselip di pinggangnya! Tapi Jaka Galing mengangkat kedua tangannya dan berkata perlahan.

“Diam semua! Kanjeng bibi, kau teruskan ceritamu! Mengapa kau hendak dibunuh oleh pengawal-pengawal suamimu sendiri?” Sepasang mata Jaka Galing kini memancarkan cahaya, memandang ke wajah wanita itu seakan-akan hendak menembus dan membaca isi hatinya.

“Para pengawal itu memang sengaja disuruh untuk membinasakan kami berdua . Kami disuruh pergi ke Majapahit dan diantar oleh dua belas orang pengawal. Tapi di tengah hutan, kami hendak dibunuh dan menurut mereka, memang mereka diperintah untuk membunuh kami.”

Orang-orang yang tadinya memandang marah kepada Dewi Cahyaningsih kini menggeleng-geleng kepala dan merasa heran sekali. Juga Jaka Galing merasa tak mengerti.

“Tapi, mengapa suamimu hendak membunuhmu dan membunuh puterinya sendiri?” tanyannya.

Dewi Cahyaningsih menghela napas, sementara itu Puspasari terisak-isak. “Ini semua gara-gara perempuan siluman itu. Gara-gara Sariti! Memang betul kata-kata Panembahan Ciptaning dulu bahwa dia adalah seorang perempuan siluman! Rupa-rupanya perempuan itu ingin berkuasa di Tandes, dan setelah berhasil mengusir semua selir, ia juga ingin sekali melenyapkan aku dan anakku yang dianggap penghalangnya.”

“Alangkah kejamnya! Binatang berwajah manusia!” Indra menggeram.

Dewi Cahyaningsih menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih. “Ia tidak jahat, raden. Dulu ia adalah seorang senopati yang gagah perwira dan berhati mulia. Tapi... Setelah ia memboyong ledek dari Surabaya itu ke kadipaten... ah, ia menjadi tersesat demikian jauh! Bahkan kematian Panembahan Ciptaning juga gara-gara Sariti! Aduh, suamiku, nasib apakah yang akan menimpamu kelak?” Wanita tua itu tak dapat menahan kesedihan hatinya dan ia lalu menangis tersedu-sedu.

“Keparat betul!” Jaka Galing berkata gemas. “Sayang sekali aku biarkan lepas seorang dari mereka. Tentu ia pergi membuat laporan kepada Gendrosakti dan adipati itu akan tahu bahwa isteri dan anaknya belum terbunuh.”

Kini kebencian semua orang terhadap Dewi Cahyaningsih dan Puspasari lenyap, berganti dengan perasaan kasihan, karena bukankah kedua orang ibu dan anak itupun bernasib malang dan sengsara akibat kekejaman Adipati Gendrosakti? Sampai hampir menjelang fajar mereka bercakap-cakap dan mengingat bahwa Gendrosakti Tentu akan mengejar-ngejar isteri dan puterinya yang belum terbunuh, maka Jaka Galing berpikir lebih baik kedua orang itu untuk sementara tinggal bersama mereka di kampung itu untuk menyembunyikan diri.

Hal inipun akhirnya disetujui oleh Dewi Cahyaningsih. Tadinya puteri itu hendak pergi ke Majapahit dan mengadukan hal suaminya itu kepada Prabu Brawijaya, akan tetapi sebagai seorang puteri ia merasa malu kalau terdengar oleh orang lain bahwa dia sebagai isteri Adipati Gendrosakti mengadukan suaminya sendiri. Ia tentu akan dipandang hina dan karenanya ia pikir lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi di antara orang-orang yang ramah-tamah dan sopan itu.

Semenjak saat itu, Dewi Cahyaningsih dan puterinya tinggal di kampung Bekti, hidup di antara para petani kampung . Kedua puteri bangsawan itu melewatkan waktunya dengan memberi petunjuk-petunjuk dan pelajaran kerajinan tangan kepada para wanita kampung hingga sebentar saja mereka dikasihi oleh orang-orang kampung.

Dewi Cahyaningsih dikenal sebagai seorang wanita yang cerdas dan berpengetahuan luas dan orang-oarang datang minta nasihat dan petuah dari padanya, sedangkan Puspasari dikagumi karena kecantikannya dan kepandaiannya dalam pelajaran membatik dan kerajinan tangan lainnya. Ia segera terkenal menjadi kembangnya dusun Bekti dan dipuja serta dikagumi oleh semua pemuda!

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo, Jaka Galing

Bukan main terkejut dan herannya Adipati Gendrosakti ketika pagi hari itu melihat seorang pengawalnya dating kembali berlari-lari denga wajah pucat, pakaiannya robek-robek dan napas terengah-engah serta tubuhnya lemas dan lemah karena semalam-malaman pengawal itu berlari cepat. Ia menjatuhkan diri sambil menangis di depan kaki Adipati Gendrosakti dan bersenbah.

“Aduh, gusti adipati, celakalah hamba kali ini...” “Dwipa, kenapa kau...? Dan di mana kawan-kawanmu?”

Ketika melihat bahwa semua orang yang telah menghadap di situ memandang heran, ia lalu membubarkan orang-orang itu hingga ia berada berdua saja dengan Dwipa yang berhasil menyelamatkan diri dan pulang. Pada saat itu Sariti muncul dari ruang dalam dan wanita cantik inipun menjadi pucat melihat keadaan Dwipa.

“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan bibir gemetar.

Dengan suara terputus-putus, akhirnya kuasa juga Dwipa menuturkan pengalamannya, betapa mereka dua belas orang yang bertemu dengan dua orang pemuda berkedok yang membinasakan sebelas orang di antara mereka, dan menolong Dewi Cahyaningsih dan Puspasari.

“Apa katamu?” Gendrosakti marah sekali dan kakinya bergetar menendang hingga tubuh pengawal yang bernasib malang itu terpental jauh bergulingan di atas lantai.

“Ampun, gusti adipati...”Dwipa merintih-rintih.

“Bangsat, pengecut! Manusia-manusia tiada guna! Kalian dua belas orang yang mengaku diri gagah perkasa, kalah oleh dua orang anak muda saja! Alangkah hina dan memalukan!”

Adipati Gendrosakti lalu menjatuhkan diri di atas kursi dan wajahnya pucat sekali. Hal isteri dan puterinya tak sampai terbunuh, tidak membuat ia menyesal bahkan ia bersyukur karenanya. Akan tetapi ia teringat bahwa isteri dan anaknya itu tentu akan terus pergi ke Majapahit dan kalau pengkhianatannya itu dilaporkan kepada Sang Prabu Brawijaya, apa jadinya?

Sariti menghampiri Gendrosakti dan memegang pundaknya denga jari-jari gemetar. “Celaka, kangmas... tentu sang Prabu akan mengirim barisan menggempur Kadipaten Tandes...”

Tiba-tiba Gendrosakti meloncat bangun dan membentak kepada Dwipa. “Bangsat, bangunlah dan panggil Dimas Suranata ke sini! Ingat, kalau ada yang bertanya kau harus menceritakan bahwa rombonganmu dicegat dan dirampok oleh Jaka Galing anak Panembahan Ciptaning di dalam hutan dan bahwa gusti mu Dewi Cahyaningsih dan puterinya telah mereka culik, mengerti?”

Dwipa berlutut menyembah lalu mengundurkan diri uantuk menyampaikan perintah memenggil Suranata. Tak lama kemudian Suranata datang menghadap.Ia adalah seorang perwira yang terkenal gagah dan menjadi tangan kanan Gendrosakti hingga mendapat julukan 'Banteng Tandes'.

“Dimas Suranata, apakah Dwipa telah menceritakan peristiwa yang dialami oleh isteri dan puteriku?” tanya Gendrosakti setelah mempersilahkan Suranata duduk.

"Sudah, kangmas adipati, tapi belum jelas. Mohon keterangan lebih jauh," jawab Suranata.

“Si keparat Jaka Galing, anak Panembahan Ciptaning dukun palsu itu, ternyata telah memberontak dan menjadi perampok. Dia dan kawan-kawannya telah mencegat mbakyu mu Dewi Cahyaningsih dan anakku Puspasari di dalam hutan Kledung dan membunuh mati sebelas orang pengawal serta menculik mbakyu mu dan keponakan mu. Sekarang jangan sampai terlambat, adimas, kau kerahkan barisan tamtama dan seranglah kawanan perampok di hutan Kledung itu. Bawalah Dwipa sebagai petunjuk jalan.”

“Baiklah, kangmas adipati. Jangan kau khawatir, kalau baru Jaka Galing dan beberapa orang kawannya saja buakn makanan keras bagiku. Mohon pangestumu saja!”

“Berangkatlah, adimas,dan doa restuku bersamamu!”

Pada saat Suranata menyiapkan barisan tentaranya, diam-diam Adipati Gendrosakti memberi pesan kepada Dwipa untuk membawa beberapa orang kawan ikut dalam barisan itu dan kelak setelah dapat mengobrak-abrik sarang Jaka Galing, hendaknya Dewi Cahyaningsih dan Puspasari dibunuh di dalam keributan pertempuran itu.

Biarpun Suranata telah menyatakan kesanggupannya dan telah berangkat membawa sepasukan perajurit seratus dua puluh orang banyaknya, namun Adipati Gendrosakti tetap merasa tidak enak hati, Ia merasa khawatir dan entah bagaimana, ada sesuatu yang tak sedap terasa dalam hatinya.

Belum lama barisan Suranata berangkat, tiba-tiba terdenganr gong berbunyi dan seorang penjaga memberi laporan sambil berlari-lari bahwa telah datang seorang utusan dari Sang Prabu Brawijaya dari Majapahit dan utusan itu bersama rombongannya telah memasuki pintu gapura. Kalau ada petir menyambarnya di saat itu, mungkin Gendrosakti tidak sanggup dan setakut saat ia mendengar laporan ini.

Bergegas-gegaslah ia berdiri dari kursinya, bertukar pakaian lalu keluar untuk menyambut tamu agung itu. Diam-diam ia memerintahkan pelayan kepercayaannya untuk memberitahu kepada pegawai-pegawai pribadinya untuk berjaga-jaga dan bilamana perlu, membelanya. Ia menyangka kedatangan ini tentu ada hubungannya dengan Dewi Cahyaningsih, sungguhpun menurut perhitungan agak tidak masuk akal bahwa sang prabu dapat mengetahui sedemikian cepat.

Akan tetapi, ketika melihat bahwa rombongan yang datang hanya terdiri dari belasan orang pengiring yang mengawal dua orang laki-laki, hatinya menjadi tenang kembali. Ia merasa girang sekali melihat bahwa dua orang utusan yang datang itu adalah seorang laki-laki tua yang dikenalnya, yakni penasihat Majapahit bernama Ki Ageng Bandar dan seorang pemuda tampan dan berpakaian indah sekali ialah seorang pangeran, putera selir, dan bernama Pangeran Bagus Kuswara!

Dengan senyum lebar, Adipati Gendrosakti menyambut para tamunya. “Wahai, Paman Bandar, angin baik dari manakah yang meniup paman sampai ke pondokku yang buruk ini?”

Kemudian kepada Pangeran Bagus Kuswara, ia berkata. “Dimas pangeran, kau makin tampan dan gagah saja! Kalian baik-baik saja bukan?”

Mereka saling menyapa dan menyalam dengan gembira dan Adipati Gendrosakti lalu menggiringkan para tamu agungnya ke ruang dalam. Para pelayan sibuk melayani mereka, mengeluarkan segala hidangan yang terbaik dengan sikap yang sangat hormat. Para pelayan wanita itu tak dapat mencegah mata mereka yang mengerling kearah pangeran yang tampan itu dengan kagum sekali. Dan pangeran ini, yang biasa hidup mewah dan memang terkenal sebagia seorang pangeran muda yang mata keranjang, tiada hentinya melirik ke sana ke mari mencari 'obat mata'.

Setelah menanyakan keselamatn masing-masing, Ki Ageng Bandar menuturkan maksud kedatanganya. “Karena ananda adipati telah berbulan-bulan tidak pernah datang menghadap ke Majapahit, maka saya diutus oleh sang prabu untuk menjenguk ke Kadipaten Tandes melihat keadaan. Gusti prabu merasa khawatir kalau-kalau di sini terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Akan tetapi, syukurlah bahwa ternyata keadaan di sini tentram dan damai."

Ki Ageng Bandar lalu minum air teh wangi yang dihidangkan dengan nikmatnya. “Dan aku hanya ikut saja, kangmas adipati. Ingin melihat betapa cantiknya kadipatenmu dan ingin sekali aku berjalan-jalan di tepi pantai laut!” kata Pangeran Bagus Kuswara, kemudian pangeran ini ini teringat akan kakanya dan bertanya. “Dan di manakah kakang mbok Dewi Cahyaningsih, kangmas? Aku tidak melihat beliau keluar menemui kami.”

Gendrosakti menghela napas dan tiba-tiba wajahnya berubah sedih, Setelah menghela napas berkali-kali, akhirnya berkata. "Inilah yang mengganggu pikiranku dimas pangeran. Memang dilihat dari luar seakan-akan di sini tidak terjadi sesuatu, akan tetapi sebenarnya telah terjadi peristiwa hebat yang menggoncangkan seluruh Kadipaten Tandes ini!"

Ki Ageng Bandar memandang kepada tuan rumah dengan heran. “Ada peristiwa hebat apakah, ananda adipati?”

“Kemarin aku telah mengutus isteriku yayi Dewi Cahyaningsih beserta anakku Puspasari untuk menghadap rama prabu di Majapahit dengan dikawal oleh dua belas orang pengawal pilihan. Akan tetapi....” kembali adipati itu menghela napas dan tiba-tiba saja dari kedua matanya menitikkan dua butir air mata!

“Apa yang terjadi?” kedua orang tamu itu bertanya cemas. Mereka telah dicegat perampok yang dikepalai seorang perampok muda bernama Jaka Galing. Para pemikul tandu dan para pengawal dibunuh mati, hanya seorang saja yang dapat menyelamatkan diri, sedangkan...”

Pangeran Bagus Kuswara memegang lengan kakak iparnya. “Apa yang terjadi dengan kakang mbok dan puterinya?”

“Kakakmu dan... Puspasari... telah... telah diculik oleh gerombolan Jaka Galing...!"

“Ya Jagat Dewa Batara!” Ki Ageng Bandar menyebut nama dewata.

“Babo, babo! Si keparat Jaka Galing itu harus dibinasakan!” Pangeran Bagus Kuswara mencaci.

Adipati Gendrosakti lalu menuturkan betapa ia telah mengutus Suranara membawa seratus dua puluh orang perajurit untuk membasmi kawanan perampok itu dan menolong isteri dan puterinya. Mereka lalu bercakap-cakap dan adipati itu sedapat mungkin memperlihatkan wajah muram dan sedih. Akan tetapi, pangeran muda yang sembrono itu dapat menghibur suasana dengan kata-katanya yang jenaka dan gembira. Bahkan ia berani bertanya.

“Kangmas adipati, aku mendengar berita angin bahwa kau telah memboyong kembang juita dari Surabaya, betulkah?”

Ki Ageng Bandar menggunakan matanya memberi isyarat untuk menegur pangeran yang sembrono ini, akan tetapi Adipati Gendrosakti menjawab.

“Kau maksudkan Sariti? Memang benar adimas.”

“Kangmas, mengapa kau anggap kami sebagai orang-orang asing? Bukankah kita masih sanak dekat? Mengapa kau simpan selir-selirmu di dalam dan tidak disuruh menyambut kami?”

Pertanyaan ini memang kurang ajar sekali, akan tetapi karena pangeran ini sudah biasa berlaku demikian, Adipati Gendrosakti hanya tersenyum dan menjawab,

“Dimas pangeran, aku hanyalah seorang adipati kecil, tidak seperti engkau. Mana aku berani memelihara banyak selir? Selirku hanyalah Sariti seorang!”

“Bagus, bagus! Memang kau seorang laki-laki setia. Tapi, kangmas, apa salahnya kalau kakang mbok Sariti keluar menjumpai kami? Karena ia adalah selirmu, maka ia termasuk keluargaku juga.”

Adipati Gendrosakti memang sengaja memesan supaya selirnya itu jangan keluar menemui tamu agung karena tadinya ia menyangka bahwa kedatangan mereka bertalian dengan urusan Dewi Cahyaningsih. Akan tetapi setelah ternyata bahwa kedatangan mereka itu bukan untuk urusanitu, ia lalu menyuruh seorang pelayan untuk memberitahu kepada Sariti dan meminta supaya selirnya itu keluar menyambut tamu agung.

Ketika Sariti keluar dari ruang belakang. Pangeran Bagus Kuswara memandang sambil menahan napas. Ia terpesona oleh kecantikan wanita yang sedang melenggang halus menghampiri mereka itu dan ia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang bidadari yang baru turun dari khayangan!

Demikian cantik jelitanya wajah Sariti, demikian menggairahkan potongan tubuhnya, terutama mata dan bibirnya! Sungguh, dalam pandangan mata Bagus Kuswara, belum pernah ia melihat wanita secantik dan sejelita Sariti! Bahkan Ki Ageng Bandar yang sudah tua pun untuk sesaat tercengang dan kagum melihat si jelita itu, tapi ia dapat menekan perasaannya dan batuk-batuk memberi tanda kepada pangeran yang bengong memandang wanita itu.

Pangeran Bagus Kuwara sadar dari mimpinya, lalu ia menyapa dengan hormatnya. “Kakang mbok Sariti, sungguh aku merasa bahagia sekali dapat berkenalan dengan engkau. Kangmas adipati memang seorang laki-laki yang paling berbahagia di muka bumi ini!”

Biarpun kata-kata ini sedikitpun tidak menyatakan pujian secara langsung, namun terdengar sedap dan merdu sekali di telinga Sariti. Wanita cantik itu mengerling sedikit dan cepat menundukan muka dengan lagak yang sangat sopan. Sebagai seorang dari keturunan biasa, ia menyembah kepada Pangeran Bagus Kuswara dan kepada Ki Ageng Bandar, lalu menghaturkan selamat datang kepada mereka. Suaranya yang merdu, bening, dan empuk, itu mengelus-elus dada Bagus Kuswara dan membelai-belai jantungnya, membuatnya setangah sadar!

Setelah dengan hormat menuang air teh ke dalam cangkir kedua tamu agung itu, Sariti lalu memohon diri dan mundur sambil menundukan mukanya yang cantik dengan sikap hormat sopan sekali. Setelah selir itu pergi, Ki Ageng Bandar menghela napas dan berkata.

“Ananda Adipati, sungguh kau pandai sekali memilih selir. Orang cantik dan tahu sopan santun seperti selirmu itu memang sukar dicari.”

Tentu saja Adipati Gendrosakti merasa bangga dan senang sekali mendengar pujian ini, akan tetapi ia hanya menjawab dengan sederhana.

“Ah, ia seorang bodoh dan datang dari dusun. Mana ada harga untuk dipuji-puji?”

“Kanda adipati jangan berkata demikian. Sungguh mati, terus terang ku akui bahwa selama hidup belum pernah aku melihat seorang selir demikian... baik dan sopan. Kau sungguh-sungguh bahagia, kanda adipati. Akan tetapi, pernah aku mendengar berita bahwa kakang mbok Sariti pandai sekali akan seni suara dan seni tari. Ah, kalau saja beliau sudi mempertunjukan untuk menambah meriahnya pertemuan kita ini agaknya takkan sia-sialah kedatanganku di Tandes!

Karena terdorong oleh rasa bangga akan selirnya yang terkasih, pada saat itu Gendrosakti lupa bahwa keadaan dirinya sedang diliputi kekhawatiran, hingga terlanjur berkata tanpa di sadarinya,

”Tentu saja ia suka sekali. Biarlah malam nanti kita bersama melihat ia menari dan bertembang.”

Hanya Ki Ageng Bandar seorang yang merasa akan janggalnya pembicraan kedua orang itu, akan tetapi ia tidak berani mencampuri. Suka atau duka perasaan Adipati Gendrosakti, bukanlah urusannya dan bukan termasuk tugasnya. Biarpun akhirnya Adipati Gendrosakti insyaf bahwa bersenang-senang dalam waktu itu kurang tepat, akan tetapi janjinya kepada Pangeran Bagus Kuswara tak dapat dibatalkan dan pula kehadiran dua orang tamu agung itu dapat dijadikan alasan untuk berbuat itu.

Demikianlah, pada malam hari itu, pada saat banyak penduduk Tandes yang mendengar akan malapetaka yang menimpa diri Dewi Cahyaningsih dan Puspasari merasa khawatir sekali hingga banyak orang-orang perempuan berprihatin dan malam itu sengaja tidak tidur untuk berdoa bagi keselamatan kedua puteri itu, Adipati Gendrosakti menyuruh para yogo untuk menabuh gamelan!

Dalam kesempatan yang hanya dihadiri oleh Adipati Gendrosakti dan kedua tamu agungnya ini, Sariti memperlihatkan kepandaiannya. Ia mengenakan pakaian serimpi yang terindah. Kutang hitam yang di hias renda emas itu menyentak dada, pundak dan lengannya yang telanjang tampak putih bersih dan halus bagaikan sutera.

Rambutnya yang panjang dan hitam berobak di lepas terurai ke belakang punggung dan diatas kepala dihias kembang-kembang mawar dan rangkaian melati menambah kecantikannya. Sabuk warna merah muda terhias emas permata mengikat kainnya yang diwiru indah di bagian depan dan diatur sedemikian rupa hingga ujung kain yang memanjang di belakang itu tersingkap sedikit di di bagian depan hingga betis kakinya yang menguning dan memadi bunting mengintai keluar pada tiap kali ia melangkahkan kakinya!

Kalau Sariti dalam pakaian nyonya rumah yang sopan telah dapat menggiurkan hati Pangeran Bagus Kuswara, maka Sariti dalam pakaian srimpi ini membuat pemuda itu betul-betul tenggelam dalam gelombang birahi yang membuatnya bagikan gila!

Apalagi setelah kedua lengan yang putih kuning dan telanjang itu bergerak-gerak perlahan dan lemah gemulai menurutkan suara gamelan, dengan pangkal lengan terbuka perlahan, siku melenggak-lenggok dan pergelangan tangan berputar-putar melebihi lemasnya kepala seekor ular, jari-jari tangan yang manis meruncing itu berjentik-jentik dan bergerak-gerak seakan-akan sepuluh ekor burung yang hidup.

Kaki yang maju mundur perlahan-lahan dengan gaya lemah-lembut dan sopan dengan lenggang yang tidak kasar tapi cukup membayangkan potongan tubuh yang tiada cacatnya, ditambah lagi dengan kepalanya yang manis itu bergerak-gerak di atas leher yang panjang dan indah bentuknya, berjoget leher sedemikian kenesnya hingga mendatangkan air liur di dalam mulut Pangeran Bagus Kuswara yang melihat dengan mata terbelalak!

Setelah Sariti membuka mulut bertembang, maka gelora dahsyat di dalam dada Pangeran Bagus Kuswara mencapai puncaknya dan ia mengambil keputusan nekat dan berjanji dalam hati.

“Aku harus mendapatkan perempuan ini! Biar apapun yang akan terjadi, perempuan ini harus menjadi punyaku!”

Sariti bukanlah seorang wanita yang tidak berperasaan atau berhati batu. Hatinya cukup panas dan darahnya cukup cukup menggelora ketika ia dapat menangkap sinar mata Pangeran Bagus Kuswara yang tampan dan muda itu. Suaminya adalah seorang tua yang telah tua, berusia lima puluh tahun lebih sedangkan ia berusia paling banyak dua puluh tahun!

Kini melihat seorang pangeran yang muda dan tampan serta berpakaian indah, dan yang terang-terangan memperhatikan hasrat dan suara hatinya kepadanya, maka tak heran bila dadanya berdebar-debar pula. Ia menggunakan kerling matanya memandang pangeran yang duduk di dekat suaminya dan alangkah jauh perbedaan mereka.

Yang seorang bertubuh tinggi besar dan kasar gerak-geraknya, sudah beruban dan bercambang bauk menjemukan, sedangkan yang lain bertubuh sedang dan tegap, tubuh seorang bambang, halus gerak-geriknya, berkulit putih kekuning-kuningan, rambut keriting dan hitam, wajah tampan dengan kumis kecil menghias bawah hidung yang mancung, sepasang mata jenaka dan liar membayangkan gairah, ahh... hati siapa takkan tergoda?

Pangeran Bagus Kuswara adalah seorang yang sudah berpengalaman, dan melihat gerak-gerik Sariti, ia maklum bahwa anak panah yang dilepaskannya dari kedua matanya telah mengenai sasaran yang tepat. Karena ia maklum bahwa si jelita itu tentu tidak berani berlaku sembrono di depan Adipati Gendrosaki, karena ia duduk di dekat adaipati itu, maka ia lalu menyatakan bahwa ia ingin sekali mempelajari seni gamelan yang ditabuh oleh para yogo yang mahir dan sangat dipujinya itu.

Tentu saja Adipati Gendrosakti hanya tertawa melihat kebodohan pangeran yang lebih menikmati gamelan daripada nyanyi dan tari selirnya yang indah. Pangeran itu lalu berdiri dan lalu duduk di tempat para penabuh gamelan. Sariti dengan sudut matanya dapat melihat perpindahan tempat duduk ini dan diam-diam ia merasa geli serta memuji kecerdikan pangeran itu.

Dengan duduk di tempat gamelan, maka ia dapat memandang kepada pangeran itu dengan leluasa sekali, karena tempat itu berada di seberang tempat duduk suaminya, hingga pada saat ia memutar tubuh dan menghadap pangeran, ia berdiri membelakangi suaminya. Maka terjadialh main mata yang leluasa.

Tiap Sariti memutar tubuh membelakangi suaminya dan menghadapi pangeran itu, Pangeran Bagus Kuswara pura-pura memperhatikan gamelan gambang yang dipukul oleh penabuhnya, tapi diam-diam ia mengirim lirikan-lirikan tajam dan matanya di pejam-pejamkan sambil bibirnya tersenyum penuh arti.

Sariti pun menggunakan kesempatan itu untuk mengirim lirikan-lirikan mata yang kenes dan menarik dan memperhatikan senyum semanis-manisnya dengan bibirnya yang kemerah-merahan. Melihat reaksi jelita itu, buakan main senangnya hati Pangeran Bagus Kuswara. Ia lalu memutar-mutar otak mencari akal. Para penabuh gamelan yang merasa mendapat kehormatan besar sekali karena dikagumi oleh seorang pangeran dari Majapahit, tidak tahu akan rahasia ini karena mereka megerahkan seluruh perhatian dan keahlian mereka untuk memukul gamelan sebaik-baiknya.

Dengan bisikan-bisikan, Pangeran Bagus Kuswara mendapat keterangan bahwa pemain gamelan yang sudah berusia tua bernama Pak Lenjer. Maka ia lalu menyatakan kagumnya dengan pujian-pujian muluk hingga wajah orang tua itu berseri-seri.

“Yogo sepandai engkau ini sepantasnya menjadi pemain di keratin rama prabu.” Katanya hingga Pak Lenjer merasa gembira sekali sampai wajahnya berubah kemerah-merahan dan kedua tangannya menggigil.

Setelah pertunjukan selesai dan Sariti mengundurkan diri ke kamarnya, Pangeran Bagus Kuswara menyatakan maksudnya hendak belajar menabuh gambang dari Pak Lenjer pemimpin rombongan penabuh itu. Tentu saja Adipati Gendrosakti merasa senang dan memberi perintah kepada Pak Lenjer untuk melayani gusti pangeran, sedangkan penabuh lainnya lalu mengundurkan diri.

Demikianlah, karena hari telah jauh malam, Adipati Gendrosakti mengundurkan diri setelah mengantar Ki Ageng Bandar ke kamar tamu. Sedangkan Pangeran Bagus Kuswara tinggal di ruang tengah itu bersama Pak Lenjer dan terdengarlah suara gambang dipukul perlahan ketika orang tua itu memberi petunjuk-petunjuk kepada Pangeran Bagus Kuswara.

Setelah keadaan menjadi sunyi, Pangeran Bagus Kuswara berkata. "Pak Lenjer, sudah lamakah kau menjadi penabuh gambang mengiringi permainan kakang mbok Sariti?"

"Sudah, gusti pangeran, sudah lama sekali. Semenjak Jeng Roro Sariti masih belajar menari, sudah menjadi pemukul gambang, bahkan ikut melatih beliau."

Pangeran Bagus Kuswara mengangguk-anguk dengan hati senang. Tiba-tiba ia bertanya. "Sebettulnya, kau pantas sekali menjadi pemimpin para yogo di keraton Majapahit! Bagaimana pendapatmu, Pak lenjer?"

Orang tua itu memandang penanyanya dengan mata terbelalak, lalu menyembah, "Ah, gusti. Hamba adalah seorang bodoh dan hanya pandai memainkan beberapa lagu. Mana pantas hamba menjadi pemimpin para yogo yang pandai di Majapahit? Untuk menjadi pemukul gamelan biasa saja hamba sudah kurang patut!"

"Jangan merendah, Pak Lenjer. Aku bisa menolong engkau menjadi pemimpin penabuh gamelan di keraton, atau setidaknya menjadi penabuh gambang di sana!"

Bukan main girang hati orang tua itu, karena yogo manakah yang tidak merindukan kedudukan yang mulia itu? Untuk memperlihatkan di hadapan Sang Prabu Brawijaya sendiri! untuk memainkan gamelan-gamelan pusaka yang sudah terkenal mempunyai suara yang luar biasa bagaikan gamelan dari surga!

Demikianlah, dengan licin sekali Pangeran Bagus Kuswara akhirnya dapat juga membujuk orang tua itu untuk menjdi jembatan dan penolong dia bertemu dengan Sariti!

********************


Jaka Galing Jilid 02

Jaka Galing

Karya Kho Ping Hoo

JILID 02

ADIPATI yang mabok akan belaian dan rayuan Sariti yang cantik jelita, lupa akan anak istri, bahkan rela mengorbankan isteri dan anaknya demi kesenangan dan kepuasan hati kekasihnya itu. Sariti memang berpikiran cerdik dan mempunyai banyak muslihat licin. Ia majukan siasatnya, yakni Dewi Cahyaningsih dan anaknya akan diantar pulang ke Majapahit dengan pengawal-pengawal sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, di tengah jalan kedua ibu anak itu akan di binasakan, kemudian para pengawal itu lalu diharuskan lari ke Majapahit dan memberi laporan kepada Sang Prabu Brawijaya bahwa ketiak mereka mengantar Dewi Cahyaningsih dan puterinya berkunjung ke Majapahit, ditengah jalan di serang oleh Jaka Galing yang berhasil membunuh ibu anak itu!

Sungguh sissat yang kejam tapi licin luar biasa. Seperti telah merencanakan untuk menggunakan sebatang pedang yang bermata dua hingga dapat sekali pukul meruntuhkan dua lawan. Disatu pihak membinanasakan kedua wanita yang menjadi penghalang baginya itu, di pihak lain dapat merusak nama Jaka Galing yang berbahaya pula bagi Adipati Gendrosakti, hingga sang prabu tentu akan mengutus perajurit untuk menangkap Jaka Galing! Satu siasat yang harus dipuji, tapi yang harus dikutuk karena kejamnya.

Pada keesokan harinya. Adipati Gendrosakti dengan menguatkan hati dan melenyapkan segala rasa segan dan malu, memasuki kamar isterinya. Kedatangannya disambut dengan wajah heran oleh isterinya dan dengan kegembiraan oleh Puspasari, anaknya. Telah berbulan-bulan adipati ini tak pernah masuk ke dalam kamar isterinya, maka kedatangannya ini tentu saja menimbulkan heran kepada isteri yang sudah tak mengharapkan lagi kunjungan suaminya itu. Dengan cekatan Puspasari menyuguhkan minum kepada ayahnya.

Setelah duduk berhadapan dengan isterinya, Gendrosakti lalu berkata. “Yayi Dewi, sebenarnya kedatanganku ini hendak minta pertimbanganmu. Sebagaimana kau ketahuai, telah berbulan-bulan aku tidak pergi menghadap ke Majapahit.”

“Mengapa kanda tidak pergi menghadap rama prabu?” tegur Dewi Cahyaningsih yang tidak menyangka sesuatu.

Gendrosakti menghela napas. “Kau tahu, yayi, pekerjaan disisni amat banyak dan aku... Tak punya waktu untuk pergi-pergi jauh. Memang, kalau terlalu lama tidak menghadap, aku takut kalau-kalau rama prabu marah. Oleh karena itu, malam tadi aku mengambil keputusan untuk minta bantuanmu, yayi. Kau telah lama tidak bertemu dengan keluargamu di Majapahit, maka sekalian kau tengok mereka, kau wakililah aku menghadap rama prabu, menuturkan keadaan di Tandes yang tidak ada halangan suatu apapun.”

Memang di dalam hatinya, semenjak suaminya tergila-gila kepada Sriti, Dewi Cahyaningsih merasa bosan dan tidak senang tinggal di Tandes, dan sering kali terkenang kepada sanak familinya yang berada di Majapahit. Mendengar usul suaminya ini, ia merasa gembira, lalu menjawab,

“Baiklah, kanda. Kalau kanda adipati memerintahkan begitu, tentu saja saya tak berani membantah."

“Rama, ijinkanlah saya ikut kalau ibu pergi ke Majapahit.” Puspasari berkata.

Ayahnya mengangguk-angguk, “Tentu saja boleh, kalian pergialh berdua. Berkemaslah dan sementara itu aku akan memerintahkan pengawal-pengawal yang cakap untuk mengiringi perjalanan kalian, juga menyediakan barang-barang berharga untuk dihaturkan kepada rama prabu.” Kata Adipati Gendrosakti dengan suara manis, seperti seorang ayah yang baik hati!

Dengan gembira sekali Puspasari menari-nari dan lari masuk ke kamarnya sendiri di sebelah kamar ibunya untuk menyiapkan apa yang perlu di bawa dalam perjalanan jauh itu.

Gendrosakti memilih dua belas orang perwira yang paling dipercaya dan setelah memberi pesan kepada mereka, lalu disiapkan tandu dan segala keperluan. Sariti juga hadir dalam keberangkatan ini dan selir cantik jelita ini dengan gaya manis memberi bekal nasihat dan pesan agar mereka yang melakukan perjalanan itu berlaku hati-hati dan dapat menjaga diri di tengah jalan, serta membekali doa-doa selamat bagi ibu dan anak!

Setelah rombongan itu berangkat Gendrosakti menjatuhkan diri di atas kursi di dalam kamar Sariti, dan adipati tua itu termenung denga muka pucat betapapun juga, hati nuraninya memberontak dan suara hatinya mencaci maki dan mengutuknya, membuatnya termenung dengan hati menyesal.

Akan tetapi, tiba-tiba sebuah lengan yang berkulit halus memeluk lehernya dengan suara merayu-rayu dan belaian-belaian penuh kasih saying Sariti menghiburnya hingga hati nuraninya kembali tertutup.

********************

Dua belas orang yang dipilih oleh Gendrosakti untuk mengantar anak dan isterinya adalah bekas perampok-perampok jahat dan kejam yang tak pantang mundur menghadapi perbuatan yang bagaimana kejam dan ngerinya. Mereka ini adalah orang-orang taklukan, bekas pemimpin perampok yang didalam hatinya memang mempunyai sikap dendam dan memberontak terhadap kerajaan Majapahit, hingga mereka memang tepat sekali kalau diperalat oleh Gendrosakti untuk melakukan pembunuhan kejam ini.

Rombongan itu berjalan dengan cepat dan ketika hari telah menjadi senja, mereka masih berada di dalam sebuah hutan yang amat liar dan luas. Memang kedua belas pengawal itu sengaja membawa ibu dan anak itu kedalam hutan ini agar mereka dapat melakukan tugas mereka dengan leluasa. Setelah tiba di tempat yang mereka anggap cocok untuk melakukan kejahatan itu, tiba-tiba kepala pengawal, seorang tinggi besar bernama Klabangkoro berteriak memerintah agar rombongan itu berhenti.

Delapan orang pelayan pemanggul tandu merasa lega mendengar perintah ini, karena mereka telah merasa lelah sekali. Dengan perlahan mereka menurunkan kedua tandu itu dan menggunakan kain ikat kepala untuk menyeka peluh mereka yang membasahi seluruh tubuh.

Dewi Cahyaningsih dan Puspasari membuka kain renda penutup tandu dan Dewi Cahyaningsih bertanya. “Hei, pengawal, mengapa berhenti di tengah hutan? Hari sudah menjadi gelap, hayo kita lanjutkan perjalanan mencari tempat penginapan di kampung depan.”

Tapi dua belas pengawal itu mendekatinya sambil ketawa menyeringai. Melihat keadaan ini, hati Dewi Cahyaningsih merasa tidak enak, maka ia lalu keluar dari tandunya. Juga Puspasari keluar dari tandunya.

“Kita takkan melanjutkan perjalanan!” kata Klabangkoro sambil mengurut kumisnya.

Kemudian dengan cepat sekali ia mencabut goloknya yang terselip di pinggang dan sekali mengayun senjata itu, dua orang pemanggul tandu roboh mandi darah dan mati di saat itu juga tanpa dapat berteriak lagi!

Alangkah terkejutnya semua pemanggul tandu yang enam orang itu.Tapi kekagetan mereka hanya sebentar, karena pengawal-pengawal lain lalu menggunakan senjata mereka dan sekejap kemudian kedelapan pemenggul tandu itu terbunuh dan tubuh mereka berserakan di atas rumput dalam keadaan yang mengerikan!

Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya hampir saja pingsan melihat kekejaman dan pembunuhan ini. Mereka saling peluk dan menutup muka sambil menangis dan dengan tubuh menggigil mereka menanti kemungkinan selanjutnya.

“Ha, ha, ha!” terdengar Klabngkoro tertawa tergelak-gelak. “Sayang adipati tidak melihat sendiri hal ini!”

Mendengar ucapan ini, timbul dugaannya yang mengerikan di dalam hati Dewi Cahyaningsih. Dengan hati nekat, ia membuka matanya dan memandang kepada kepala pengawal ini.

“Klabangkoro! Apakah maksudmu maka kalian membunuh para pemikul tandu ini? Siapakah yang akan memanggul tandu kami selanjutnya ?”

“Ha, ha,ha! Perempuan bernasib celaka, yang akan memanggul kau hanyalh setan-setan akhirat, karena sebentar lagi kaupun akan mengikuti kedelapan anjing-anjing ini! Ha-ha ! Adapun yang akan memanggul puterimu yang cantik ini, jangan kau khawatir, tanganku masih kuat memondongnya! Betul tidak, kawan-kawan?”

Kawan-kawannya tertawa geli, dan seorang diantara mereka berkata. “Kakang Klabangkoro, jangan kau habiskan sediri. Beri aku bagian! Ha, ha!”

Mendengar ucapan ini, bukan main kaget Dewi Cahyaningsih dan Puspasari. “Apa? Kau hendak membunuh kami? Mengapa Klabangkoro, mengapa?” tanya Dewi Cahyaningsih dengan suara gemetar, sedangkan Puspasari memeluk ibunya dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Jangan kau salah sangka, Wanita! Kami hanya menjalankan perintah Adipati Gendrosakti, siapa lagi yang menyuruh kami membunuhmu kalau bukan suamimu sendiri?”

"Tetapi... tak mungkin... mengapa begitu...?” wanita yang bernasib malang itu mengeluh.

"Ha, ha, ha, !" Klabangkoro tertawa. Mudah saja diterka. Kau sudah tua, suamimu sudah tak suka lagi padamu, sudah mendapat yang baru, yang muda, yang cantik, tidak seperti kau yang sudah kisut. Ha, ha!"

Kini mengertilah Dewi Cahyaningsih. Jadi suaminya sendiri yang merencanakan penbunuhan ini! Tentu diatur bersama dengan perempuan siluman itu. Alangkah kejamnya! Tiba-tiba wanita tua itu mengangkat dada dan datang keberaniannya.

“Klabangkoro! Kau mau membunuh kami, bunuhlah. Aku tidak takut mati. Tetapi kuminta padamu dan kepada semua kawanmu. Kasihanilah anakku si Puspasari. Dia tidak tau apa-apa. Demi perikemanusian dan demi Gusti Yang Maha Agung, bebaskanlah anakku ini. Kalian boleh mengambil semua barang-barang berharga milik kami, boleh bunuh aku, tetapi kalian jangan bunuh anakku ini...” Dewi Cahyaningsih memeluk anaknya yang sudah lemas itu dengan tersedu-sedu.

“Ah, perempuan cerewet! Jangan banyak cakap!” bentak Klabangkoro sambil menarik tangan Dewi Cahyaningsih yang memeluk anaknya, tetapi ibu itu tak mau melepaskan pelukannya.

Puspasari menjerit-jerit dan mengeluh. “Ibu... Ibu...”

“Sari... Sari anakku...” Dewi Cahyaningsih juga menjerit pilu.

Kakang Klabangkoro. Mampuskan saja perempuan tua itu supaya jangan banyak rewel lagi!” kata seorang diantara pengawal-pengawal itu.

Dengan wajah menyeringai mengerikan Klabangkoro mengangkat goloknya yang masih berlumuran darah itu keatas dengan sepenuh tenaga ia membacok!”

“Trang!”

Klabangkoro bereteriak kesakitan dan goloknya hampir saja terlepas dari pegangan! Ternyata ketika ia menganyunkan goloknya membacok ke arah leher Dewi Cahyaningsih, tiba-tiba dari belakang sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki memegang tombak dan secepat kilat menggerakkan tombaknya menangkis golok yang mengancam leher wanita itu!

“Bangsat jahanam! Siapa kau begitu lancang berani mencampuri urusan kami?” Bentak Klabangkoro, sedangkan sebelas orang kawannya lalu maju mengepung.

Laki-laki itu ternyata adalah seorang yang memakai kedok ikat kepala hitam yang dibalutkan di depan mukanya sebatas mata. Dari sinar matanya dan tubuhnya, dapat diketahui bahwa ia masih muda benar, tetapi tubuhnya tegap berisi dan tampak kuat. Melihat dirinya dikepung, pemuda berkedok itu mengangkat tombaknya ke atas dan tiba-tiba dar atas sebatang pohon melayang keluar seorang pemuda lain yang juga berkedok!

Pemuda ini bersenjata sebatang pedang dan karena pakaian dan kedoknya serupa dengan yang dikenakan pemuda bertombak, mereka ini seakan-akan dua saudara kembar!

“Keparat!” pemuda bertombak itu balas memaki. “Pembunuh-pembunuh kejam, iblis bermuka manusia! Iblis-iblis macam kalian ini harus dibasmi dari muka bumi!”

Bukan main marahnya Klabangkoro mendengar caci maki ini. Biarpun dari tangkisan tadi ia maklum bahwa pemuda bertombak ini memiliki tenaga kuat, namun mereka hanya berdua, sedangkan dia mempunyai sebelas orang kawan yang telah diketahui kekuatan dan kepandaiannya. Maka ia berbesar hati dan tertawa menghina.

“Ha-ha...! Cacing-cacing busuk hendak berlaku sombong di depan naga! Mampuslah kau!” goloknya diayun tanpa ada peringatan, menunjukkan betapa curangnya kepala pengawal itu!

Akan tetapi dengan memiringkan sedikit kepalanya, bacokan itu tak mengenai sasaran dan pemuda bertombak lalu balas menyerang. Kawannya tertawa bergelak lalu memutar pedangnya yang mempunyai gerakan hebat juga. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran hebat dan mati-matian. Dua orang berkedok di keroyok oleh dua belas orang pengawal yang buas dan bertenaga kuat.

“Indra, mari pencarkan mereka!” Pemuda bertombak berseru kepada kawannya.

Memang, dalam keroyokan campur aduk itu mereka tak dapat bergerak leluasa, maka mereka lalu berkelahi sambil mundur saling menjauhi hingga para pengeroyok menjadi terpencar. Pemuda berpedang dikeroyok enam orang dan pemuda bertombak pun dikeroyok enam orang termasuk Klabangkoro!

Karena pemuda bertombak itu mengetahui bahwa para lawannya hanyalah orang-orang yang mengandalkan kebuasan dan kekuatan belaka, maka ia yakin bahwa ia dan kawannya pasti akan dapat mengalahkan mereka. Kalau kiranya para pengeroyok itu berkepandaian tinggi dan cukup membahayakan, tentu ia akan lebih senang membela diri di dekat kawannya hingga dapat saling membantu.

Kini, menghadapi enam orang pengeroyok, ia berlaku lebih leluasa karena dapat mencurahkan perhatiannya. Tombaknya diputar sedemikian rupa hingga ujung tombak berubah seakan-akan menjadi berpuluh-puluh banyaknya dan tiap ujung tombak mengeluarkan tenaga yang luar biasa, karena tiap kali senjata lawan tersentuh ujung tombak itu, senjata lawan pasti terpental!

Keenam pengeroyoknya tak berdaya dan tak dapat menyerang, karena tubuh pemuda itu dilindungi oleh puluhan batang tombak yang bergerak dan berputar cepat sekali!” Tak lama kemudian, setelah bertempur puluhan jurus, terdengar teriakakn-teriakan ngeri karena dua orang pengeroyok telah tertembus perut dan dadanya oleh ujung tombak!

Sementara itu, pemuda berpedang juga tidak kalah hebatnya. Pedangnya berputar cepat dalam gerakan-gerakan yang tak terduga sama sekali oleh keenam lawannya. Tubuhnya lincah dan gesit sekali. Selain itu, pemuda ini berwatak jenaka, karena sambil berputar tiada hentinya ia mengejek dan menggoda. Pernah ia sengaja mengetok tulang kaki seorang lawan dengan gagang pedangnya, hingga lawan itu berjingkrak-jingkrak karena kakinya merasa demikian sakit sampai terasa menyusup tulang!”

“Ha, ha! Kau seperti Burisrawa kebakaran jenggot!” pemuda itu mengejek sambil mengirimkan serangan kilat yang membuat pedangnya menari-nari itu! Sebentar saja iapun dapat merobohkan lagi tiga orang lawan dengan pedangnya!

Sementara itu, pemuda bertombak telah berhasil menewaskan empat orang dan yang melawannya kini tinggal Klabangkoro dean seorang temannya. Melihat betapa gagah perkasanya pemuda lawannya itu dan betapa kawan-kawannya telah banyak yang tewas, tiba-tiba Klabangkoro melompat jauh dan lari kearah Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang saling peluk dan berdiri menggigil di dekat tandu mereka!

Klabangkoro mengayun-ayunkan goloknya untuk membinasakan dua orang wanita itu untuk menunaikan tugas. Melihat hal ini, pemuda bertombak merasa terkejut sekali. Ia hendak meloncat mengejar, tapi lawannya yang tinggal seorang itu menghalanginya dengan pedang dan mengirim serangan ke arah lambungnya. Karena perhatian pemuda itu dicurahkan kepada Klabangkoro, hampir saja lambungtnya tertusuk pedang kalau ia tidak cepat-cepat melempar tubuh kebelakang.

Pada saat ia menggulingkan diri, ia melihat betapa Klabangkoro telah berada dekat dengan kedua wanita itu dan telah mengangkat goloknya. Tidak ada jalan lain untuk menolong kecuali dengan melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga ke arah tubuh Klabangkoro.

Lemparannya tepat sekali dan pada saat Klabangkoro hampir berhasil membunuh Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya, tiba-tiba punggung manusia jahat itu tertikam tombak hingga menembus ke dadanya! Klabangkoro berteriak ngeri dan goloknya terlepas dari tangannya. Tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya roboh telungkup tak bernyawa lagi!

Pemuda itu segera lari menghampiri tubuh Klabangkoro dan mencabut keluart ombaknya. Ketika ia menengok, ternyata orang terakhir yang melawannya tadi telah lenyap! Ia merasa menyesal karena orang itu tentu telah melarikan diri. Ketika ia berpaling, ternyata kawannya yang bersenjata pedangpun baru saja menyelesaikan pertempurannya dan dengan puas membersihkan pedangnya sambil memandangi lima orang lawannya yang telah tewas bergelimpangan di sekelilingnya!

“Indra, kau hebat sekali!” pemuda bertombak itu memuji kawannya sambil tertawa membuka kedok. Ternyata bahwa pemuda bertombak itu bukan lain ialah Jaka Galing!

Kawannya yang bernama Indra pun membuka kedoknya dan ternyata ia adalah seorang pemuda yang tampan juga, berambut keriting dan bermata penuh kegembiraan. “Kaupun hebat, Galing.”

“Tapi lawanku ada yang lari seorang.”

Mereka lalu menghampiri Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang masih saling rangkul dengan wajah pucat. Jaka Galing dan Indra tidak mengenal siapa kedua wanita itu, mereka berdua memandang kagum kepada Puspasari yang cantik manis.

“Ibu dan adik, bahaya telah lalu dan tak perlu takut dan khawatir lagi.” Galing menghibur.

Ia tak pernah menyangka bahwa wanita tua itu adalah isteri Adipati Gendrosakti dan mengira bahwa mereka berdua hanyalah wanita-wanita kampung karena memang Dewi Cahyaningsih berdua puterinya mengenakan pakaian sederhana.

“Aduh, raden.... semoga Gusti Yang Maha Agung melimpahkan rahmatNya kepada kalian berdua. Kalian telah menolong jiwa kami ibu dan anak, kalau tidak ada kalian... entah bagaimana jadinya...” wanita tua itu tersendu-sendu karena merasa terharu dan sedih.

“Sudahlah, ibu, jangan bersedih, penjahat-penjahat kejam itu telah kami bunuh semua. Kalau kami boleh bertanya, ibu dan adik ini siapakah dan hendak pergi kemana?”

Sebelum ibunya sempat menjawab, Puspasari menjawab dengan suara malu-malu dan pipi merah sambil menundukkan mukanya, “Kami... kami orang Tandes, ibuku seorang janda dan aku anak tunggalnya. Kami hendak pergi ke Majapahit mengunjungi sanak keluarga kami. Tapi dihutan tiba-tiba bertemu dengan perampok-perampok. Untung kalian berdua menolong kami, raden, dan terimalah pernyataan terima kasih kami!”

Tiba-tiba gadis itu berlutut menyembah hingga Jaka Galing merasa kikuk. Hendak membangunkan gadis itu, ia harus menyentuh pundaknya dan ia tidak berani melakukan ini. Didiamkan juga tidak enak.

“Nona... jangan... jangan kau melakukan segala upacara ini. Sudah sepantasnya manusia di dunia saling tolong-menolong.”

Setelah Puspasari berdiri kembali, ibunya berkata. “Benar kata Puspasari anakku ini, raden. Kami memang hendak pergi ke Majapahit.

Dewi Cahyaningsih maklum akan maksud Puspasari yang sengaja berbohong, karena kalua ia berterus terang, tentu kedua pemuda ini merasa terkejut dan siapa tahu kalau-kalau kedua pemuda ini merasa berkewajiban untuk mengantarkan dan memaksa mereka pulang ke Tandes.

“Tapi hari sudah menjadi gelap, dan tak mungkin melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Lagi pula, para pemikul tandu telah binasa semua. Kalau kalian sudi, kami persilakan singgah di kampung kami yang berada tak jauh dari sini dan besok barulah kalian melanjutkan perjalanan menuju ke Majapahit.” Kata Indra sambil memandang gadis yang manis itu.

Kedua wanita itu menyetujui dan Galing bersama kawannya mengiringkan mereka menuju ke sebuah kampung yang berada tak jauh dari hutan itu. Dewi Cahyaningsih dan Puspasari heran dan kagum ketika mereka tiba di kampung itu, karena di dusun yang baru itu berkumpul banyak sekali orang dari segala golongan dan mereka ini ramah tamah sekali.

Mereka disambut dengan segala kehormatan dan hampir semua orang, laki-laki maupun perempuan yang menyambut mereka, menyatakan simpati dan mengutuk para perampok yang berniat jahat terhadap mereka. Karena keramah-tamahan orang-orang itu. Dewi Cahyaningsih dan Puspasari merasa terharu dan suka sekali berada di situ.

Bagaimanakah Jaka Galing yang dulu tinggal di dusun Tuhan bersama kakeknya kini berada di dusun itu dan siapa pula kawan-kawannya penduduk dusun itu...?

********************

Dulu ketika Jaka Galing membawa pulang jenazah kakeknya dengan hati hancur karena sedihnya, ia disambut rakyat dengan perasaan terharu dan sedih. Memang nama Panembahan Ciptaning telah terkenal sebagai seorang sakti yang berbudi dan bijaksana, juga tidak sedikit orang yang telah ditolong oleh panembahan itu, baik berupa nasehat atau petuah maupun pertolongan mengobati mereka yang menderita sakit.

Selain daripada itu banyak yang mengangkat dia sebagai guru mereka, karena sedikit banyak mereka telah menerima petunjuk-petunjuk dan petuah-petuah yang berharga dari orang suci itu. Oleh karena itu, maka tidak heran apabila nasib Panembahan Ciptaning yang tewas dalam keadaan menyedihkan itu telah membangkitkan perasaan marah dan dendam di hati para pemuda itu.

Di antara para pemuda yang sakit hati terhadap Adipati Gendrosakti, adalah Indra, seorang putera kepala kampung di dusun Keling, yang menjadi murid terkasih dari Panembahan Ciptaning dan seorang kawan baik Jaka Galing semenjak kecil. Disaksikan oleh banyak orang, Jaka Galing mencabut tombak pusaka Kyai Santanu yang menancap di dada kakeknya dan ia bersumpah di depan tombak pusaka itu dengan ucapan keras dan tegas.

“Aku bersumpah untuk membalas dendam rama panembahan yang terbunuh oleh Gendrosakti dan pada suatu saat akau tentu akan mengembalikan tombak ini ke dalam dada Gendrosakti!”

Jaka Galing maklum bahwa dirinya tentu dimusuhi oleh Adipati Gendrosakti dan bukan tak mungkin besok atau lusa akan datang perajurit-perajurit dari Tandes ke dusun Tiban untuk menangkap atau membunuh dirinya. Dugaan ini dibenarkan oleh banyaknya anak muda di dusun Tiban, maka Jaka Galing lalu mengambil keputusan untuk pergi dari Tiban.

Alangkah terharu hatinya ketika hampir semua pemuda Tiban, bahkan ada beberapa orang pula dari desa Keling, yakni Indra dan kawan-kawannya, menyokong maksudnya hendak membalas dendam, Mereka lalu berkumpul dan merupakan satu pasukan terdiri dari pemuda-pemuda yang gagah berani dan bersemangat!

Karena takut kalau-kalau Adipati Gendrosakti menumpahkan amarahnya kepada keluarga mereka, maka para pemuda itu lalu memboyongi keluarga mereka dan menebang hutan untuk mendirikan sebuah dusun baru di tengah-tengah hutan. Dusun ini mereka beri nama dusun Bekti dan di dalam hutan lebat ini Galing dan Indra melatih para kawannya dalam olah keprajuritan dan permainan tombak dan pedang. Mereka siap untuk sewaktu-waktu menyerbu ke Kadipaten Tandes dan membalas dendam kepada Adipati Gendrosakti.

Sementara itu, seringkali Jaka Galing termenung jika teringat akan cerita Panembahan Ciptaning sebelum menghembuskan napas terakhir, yakni bahwa mendiang ibunya adalah seorang isteri Sang Prabu Brawijaya. Kalau begitu, dia masih berdarah bangsawan, berdarah raja, seorang pangeran. Namun ia simpan rahasia ini baik-baik dan tak pernah menceritakan kepada siapapun juga. Oleh karena itu maka semua orang masih menganggap bahwa ia adalah Jaka Galing putera Panembahan Ciptaning.

Perjumpaannya dengan Dewi Cahyaningsih dan anak gadisnya, membuat Jaka Galing makin benci kepada Adipati Gendrsakti. Malam itu juga, ia mengumpulkan kawan-kawannya dan menyatakan pendapatnya.

“Kawan-kawanku, peristiwa yang baru saja dialami oleh kedua tamu kita itu menyatakan betapa kacau-balaunya daerah yang yang dikuasai oleh Gendrosakti. Perampok berani muncul dimana-mana dan mengganggu rakyat, tanpa mendapat perhatian sama sekali dari Gendrosakti. Bahkan aku merasa curiga melihat pakaian para perampok itu, karena pakaian macam itu tidak layak dipakai oleh para perampok. Lebih pantas kalau mereka itu disebut pengawal-pengawal atau pemimpin-pemimpin perajurit kadipaten.”

Dewi Cahyaningsih dan Puspasari yang berada di ruang tengah itu dan mendengar kata-kata Jaka Galing, menjadi terkejut sekali. Tadinya mereka hanya menyangka bahwa Jaka Galing dan Indra hanyalah dua orang pemuda dusun yang gagah perkasa, dan tidak menyangka bahwa pemuda ini demikian cerdik dan seakan-akan mempunyai sikap bermusuh dan membenci Adipati Gendrosakti. Mereka berdua mendengar lebih lanjut dengan penuh perhatian.

“Memang akupun sudah menaruh curiga,” Indra membenarkan kata-kata Galing. “Mereka itu memainkan senjata dengan baik sekali dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sekali-kali tak pantas kalau mereka hanya perampok-perampok biasa. Lebih baik kita bertanya lagi kepada tamu-tamu kita.”

Semua orang menyatakan setuju dan Dewi Cahyaningsih serta puteriny dipersilakan maju mendekat. Wanita tua itu merasa kagum memandang para pemuda tampan yang duduk bersila dalam deretan rapid an sikap mereka yang sopan-sopan itu, sedangkan Puspasari menundukan kepala dengan wajah merah. Ia tidak kuasa menentang pandang mata sekian banyak pemuda yang kesemuanya ditujukan padanya dengan pandang mata kagum.

“Kanjeng bibi, harap maafkan kami kalau kami mengganggu kanjeng bibi. Sebetulnya kami merasa curiga sekali melihat keadaan para perampok yang mencegat perjalan bibi berdua sore tadi. Apakah kanjeng bibi tidak pernah melihat orang-orang itu atau tidak menyangka sesuatu mengapa bibi berdua diganggu ?”

Sambil berkata demikian, Jaka Galing memandang tajam. Dewi Cahyaningsih adalah seorang puteri dari Majapahit yang bagimanapun juga mempunyai keagungan dan perbawa besar. Melihat betapa anak muda itu mengajukan pertanyaan seakan-akan sedang memeriksanya, ia balas bertanya denga suara angkuh.

“Anak muda, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, lebih dulu perkenalkan dirimu. Siapa kau ini, raden? Dan ada hubungan apa engkau dengan Adipati Gendrosakti, siapa pula sekian anak muda yang berkumpul di sini?”

Jaka Galing tercengang mendengar suara dan pertanyaan ini. Karena ini bukanlah suara seorang wanita tua dari dusun dan pertanyaan inipun membayangkan bahwa wanita di depannya tentu tahu banyak tentang diri Gendrosakti!

“Kanjeng bibi, kiranya kepadamu aku tidak perlu membohong atau menyimpan rahasia. Aku adalah Jaka Galing putera mendiang Panembahan Ciptaning yang dibunuh mati oleh Gendrosakti!”

“Biarpun Dewi Cahyaningsih telah menekan perasaan hatinya, namun wajahnya masih berpucat mendengar pengakuan ini. Untung baginya bahwa cahaya dian yang tidak begitu terang itu membuat perubahan wajahnya tidak tampak oleh yang lain. Sementara itu, diam-diam Puspasari menggerakkan sedikit mukanya dan ia mengerling ke arah Jaka Galing.

“Jadi... kau adalah putera Panembahan Ciptaning yang bernasib malang itu raden? Aduh, raden. Kasihan sekali ramamu!” Dewi Cahyaningsih berkata perlahan. “Dan kau kumpulkan kawan-kawanmu ini untuk membalas dendam ? Hendak menggempur dan mengobrak-abrik Kadipaten Tandes?”

"Bukankah sudah selayaknya kalau aku membalaskan dendam rama panembahan? Tidak pantaskah kalau ujung tombak yang mengantar nyawa rama panembahan ini kugunakan untuk mengantar nyawa Gendrosakti menyusulnya?"

Kemudian, Jaka Galing yang untuk sesaat dikuasai oleh nafsu amarah itu teringat kembali dan menyambung kata-katanya kepada Dewi Cahyaningsih denga suara perlahan.

“Maaf, kanjeng bibi, tidak seharusnya didepan seorang tamu yang tiada sangkut pautnya sama sekali denag urusan ini aku melampiaskan amarahku.”

Ia lalu menyembunyikan tombak pusaka Kyai Santanu di belakang tubuhnya. Tapi Dewi Cahyaningsih telah mendengar itu semua, telah merasai ancaman yang tersembunyi dalam kata-kata Jaka Galing tadi. Betapapun juga, Adipati Gendrosakti adalah suaminya, suami yang pernah dicintainya, walaupun ia telah dikhianati dan hampir saja dibunuh! Sebagai seorang wanita bangsawan ia harus berani menghadapi kenyataan, berani menghadapi segala akibat dari kejahatan suaminya. Maka sambil menatap wajah anak muda yang tampan di depannya itu ia berkata, suaranya lantang.

“Bik sekali, anak muda! Kau sudah mengaku dan sudah mengutarakan semua isi hatimu. Kini, kau dengarlah baik-baik dua belas orang perampok yang kau tewaskan iu, adalah pengawal-pengawal pilihan dari Gendrosakti ! Mereka itu memang sengaja hendak membunuh aku dan anakku. Ketahuilah, aku adalah isteri Gendrosakti dan puspasari adalah anakku, anak Adipati Gendrosakti!”

“Ibu...” Puspasari mencegah dan memandang wajah ibunya denga air mata berlinang. Mengapa ibunya seberani ini membuat pengakuan di depan musuh-musuh ayahnya?

Untuk sesaat semua orang berdiam dengan mata terbelalak dan keadaan menjadi sunyi. Dan sesaat kemudian ramailah mereka itu berteriak-teriak dengan suara mengancam, bahkan Indra telah mencabut keris pusaka yang terselip di pinggangnya! Tapi Jaka Galing mengangkat kedua tangannya dan berkata perlahan.

“Diam semua! Kanjeng bibi, kau teruskan ceritamu! Mengapa kau hendak dibunuh oleh pengawal-pengawal suamimu sendiri?” Sepasang mata Jaka Galing kini memancarkan cahaya, memandang ke wajah wanita itu seakan-akan hendak menembus dan membaca isi hatinya.

“Para pengawal itu memang sengaja disuruh untuk membinasakan kami berdua . Kami disuruh pergi ke Majapahit dan diantar oleh dua belas orang pengawal. Tapi di tengah hutan, kami hendak dibunuh dan menurut mereka, memang mereka diperintah untuk membunuh kami.”

Orang-orang yang tadinya memandang marah kepada Dewi Cahyaningsih kini menggeleng-geleng kepala dan merasa heran sekali. Juga Jaka Galing merasa tak mengerti.

“Tapi, mengapa suamimu hendak membunuhmu dan membunuh puterinya sendiri?” tanyannya.

Dewi Cahyaningsih menghela napas, sementara itu Puspasari terisak-isak. “Ini semua gara-gara perempuan siluman itu. Gara-gara Sariti! Memang betul kata-kata Panembahan Ciptaning dulu bahwa dia adalah seorang perempuan siluman! Rupa-rupanya perempuan itu ingin berkuasa di Tandes, dan setelah berhasil mengusir semua selir, ia juga ingin sekali melenyapkan aku dan anakku yang dianggap penghalangnya.”

“Alangkah kejamnya! Binatang berwajah manusia!” Indra menggeram.

Dewi Cahyaningsih menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih. “Ia tidak jahat, raden. Dulu ia adalah seorang senopati yang gagah perwira dan berhati mulia. Tapi... Setelah ia memboyong ledek dari Surabaya itu ke kadipaten... ah, ia menjadi tersesat demikian jauh! Bahkan kematian Panembahan Ciptaning juga gara-gara Sariti! Aduh, suamiku, nasib apakah yang akan menimpamu kelak?” Wanita tua itu tak dapat menahan kesedihan hatinya dan ia lalu menangis tersedu-sedu.

“Keparat betul!” Jaka Galing berkata gemas. “Sayang sekali aku biarkan lepas seorang dari mereka. Tentu ia pergi membuat laporan kepada Gendrosakti dan adipati itu akan tahu bahwa isteri dan anaknya belum terbunuh.”

Kini kebencian semua orang terhadap Dewi Cahyaningsih dan Puspasari lenyap, berganti dengan perasaan kasihan, karena bukankah kedua orang ibu dan anak itupun bernasib malang dan sengsara akibat kekejaman Adipati Gendrosakti? Sampai hampir menjelang fajar mereka bercakap-cakap dan mengingat bahwa Gendrosakti Tentu akan mengejar-ngejar isteri dan puterinya yang belum terbunuh, maka Jaka Galing berpikir lebih baik kedua orang itu untuk sementara tinggal bersama mereka di kampung itu untuk menyembunyikan diri.

Hal inipun akhirnya disetujui oleh Dewi Cahyaningsih. Tadinya puteri itu hendak pergi ke Majapahit dan mengadukan hal suaminya itu kepada Prabu Brawijaya, akan tetapi sebagai seorang puteri ia merasa malu kalau terdengar oleh orang lain bahwa dia sebagai isteri Adipati Gendrosakti mengadukan suaminya sendiri. Ia tentu akan dipandang hina dan karenanya ia pikir lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi di antara orang-orang yang ramah-tamah dan sopan itu.

Semenjak saat itu, Dewi Cahyaningsih dan puterinya tinggal di kampung Bekti, hidup di antara para petani kampung . Kedua puteri bangsawan itu melewatkan waktunya dengan memberi petunjuk-petunjuk dan pelajaran kerajinan tangan kepada para wanita kampung hingga sebentar saja mereka dikasihi oleh orang-orang kampung.

Dewi Cahyaningsih dikenal sebagai seorang wanita yang cerdas dan berpengetahuan luas dan orang-oarang datang minta nasihat dan petuah dari padanya, sedangkan Puspasari dikagumi karena kecantikannya dan kepandaiannya dalam pelajaran membatik dan kerajinan tangan lainnya. Ia segera terkenal menjadi kembangnya dusun Bekti dan dipuja serta dikagumi oleh semua pemuda!

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo, Jaka Galing

Bukan main terkejut dan herannya Adipati Gendrosakti ketika pagi hari itu melihat seorang pengawalnya dating kembali berlari-lari denga wajah pucat, pakaiannya robek-robek dan napas terengah-engah serta tubuhnya lemas dan lemah karena semalam-malaman pengawal itu berlari cepat. Ia menjatuhkan diri sambil menangis di depan kaki Adipati Gendrosakti dan bersenbah.

“Aduh, gusti adipati, celakalah hamba kali ini...” “Dwipa, kenapa kau...? Dan di mana kawan-kawanmu?”

Ketika melihat bahwa semua orang yang telah menghadap di situ memandang heran, ia lalu membubarkan orang-orang itu hingga ia berada berdua saja dengan Dwipa yang berhasil menyelamatkan diri dan pulang. Pada saat itu Sariti muncul dari ruang dalam dan wanita cantik inipun menjadi pucat melihat keadaan Dwipa.

“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan bibir gemetar.

Dengan suara terputus-putus, akhirnya kuasa juga Dwipa menuturkan pengalamannya, betapa mereka dua belas orang yang bertemu dengan dua orang pemuda berkedok yang membinasakan sebelas orang di antara mereka, dan menolong Dewi Cahyaningsih dan Puspasari.

“Apa katamu?” Gendrosakti marah sekali dan kakinya bergetar menendang hingga tubuh pengawal yang bernasib malang itu terpental jauh bergulingan di atas lantai.

“Ampun, gusti adipati...”Dwipa merintih-rintih.

“Bangsat, pengecut! Manusia-manusia tiada guna! Kalian dua belas orang yang mengaku diri gagah perkasa, kalah oleh dua orang anak muda saja! Alangkah hina dan memalukan!”

Adipati Gendrosakti lalu menjatuhkan diri di atas kursi dan wajahnya pucat sekali. Hal isteri dan puterinya tak sampai terbunuh, tidak membuat ia menyesal bahkan ia bersyukur karenanya. Akan tetapi ia teringat bahwa isteri dan anaknya itu tentu akan terus pergi ke Majapahit dan kalau pengkhianatannya itu dilaporkan kepada Sang Prabu Brawijaya, apa jadinya?

Sariti menghampiri Gendrosakti dan memegang pundaknya denga jari-jari gemetar. “Celaka, kangmas... tentu sang Prabu akan mengirim barisan menggempur Kadipaten Tandes...”

Tiba-tiba Gendrosakti meloncat bangun dan membentak kepada Dwipa. “Bangsat, bangunlah dan panggil Dimas Suranata ke sini! Ingat, kalau ada yang bertanya kau harus menceritakan bahwa rombonganmu dicegat dan dirampok oleh Jaka Galing anak Panembahan Ciptaning di dalam hutan dan bahwa gusti mu Dewi Cahyaningsih dan puterinya telah mereka culik, mengerti?”

Dwipa berlutut menyembah lalu mengundurkan diri uantuk menyampaikan perintah memenggil Suranata. Tak lama kemudian Suranata datang menghadap.Ia adalah seorang perwira yang terkenal gagah dan menjadi tangan kanan Gendrosakti hingga mendapat julukan 'Banteng Tandes'.

“Dimas Suranata, apakah Dwipa telah menceritakan peristiwa yang dialami oleh isteri dan puteriku?” tanya Gendrosakti setelah mempersilahkan Suranata duduk.

"Sudah, kangmas adipati, tapi belum jelas. Mohon keterangan lebih jauh," jawab Suranata.

“Si keparat Jaka Galing, anak Panembahan Ciptaning dukun palsu itu, ternyata telah memberontak dan menjadi perampok. Dia dan kawan-kawannya telah mencegat mbakyu mu Dewi Cahyaningsih dan anakku Puspasari di dalam hutan Kledung dan membunuh mati sebelas orang pengawal serta menculik mbakyu mu dan keponakan mu. Sekarang jangan sampai terlambat, adimas, kau kerahkan barisan tamtama dan seranglah kawanan perampok di hutan Kledung itu. Bawalah Dwipa sebagai petunjuk jalan.”

“Baiklah, kangmas adipati. Jangan kau khawatir, kalau baru Jaka Galing dan beberapa orang kawannya saja buakn makanan keras bagiku. Mohon pangestumu saja!”

“Berangkatlah, adimas,dan doa restuku bersamamu!”

Pada saat Suranata menyiapkan barisan tentaranya, diam-diam Adipati Gendrosakti memberi pesan kepada Dwipa untuk membawa beberapa orang kawan ikut dalam barisan itu dan kelak setelah dapat mengobrak-abrik sarang Jaka Galing, hendaknya Dewi Cahyaningsih dan Puspasari dibunuh di dalam keributan pertempuran itu.

Biarpun Suranata telah menyatakan kesanggupannya dan telah berangkat membawa sepasukan perajurit seratus dua puluh orang banyaknya, namun Adipati Gendrosakti tetap merasa tidak enak hati, Ia merasa khawatir dan entah bagaimana, ada sesuatu yang tak sedap terasa dalam hatinya.

Belum lama barisan Suranata berangkat, tiba-tiba terdenganr gong berbunyi dan seorang penjaga memberi laporan sambil berlari-lari bahwa telah datang seorang utusan dari Sang Prabu Brawijaya dari Majapahit dan utusan itu bersama rombongannya telah memasuki pintu gapura. Kalau ada petir menyambarnya di saat itu, mungkin Gendrosakti tidak sanggup dan setakut saat ia mendengar laporan ini.

Bergegas-gegaslah ia berdiri dari kursinya, bertukar pakaian lalu keluar untuk menyambut tamu agung itu. Diam-diam ia memerintahkan pelayan kepercayaannya untuk memberitahu kepada pegawai-pegawai pribadinya untuk berjaga-jaga dan bilamana perlu, membelanya. Ia menyangka kedatangan ini tentu ada hubungannya dengan Dewi Cahyaningsih, sungguhpun menurut perhitungan agak tidak masuk akal bahwa sang prabu dapat mengetahui sedemikian cepat.

Akan tetapi, ketika melihat bahwa rombongan yang datang hanya terdiri dari belasan orang pengiring yang mengawal dua orang laki-laki, hatinya menjadi tenang kembali. Ia merasa girang sekali melihat bahwa dua orang utusan yang datang itu adalah seorang laki-laki tua yang dikenalnya, yakni penasihat Majapahit bernama Ki Ageng Bandar dan seorang pemuda tampan dan berpakaian indah sekali ialah seorang pangeran, putera selir, dan bernama Pangeran Bagus Kuswara!

Dengan senyum lebar, Adipati Gendrosakti menyambut para tamunya. “Wahai, Paman Bandar, angin baik dari manakah yang meniup paman sampai ke pondokku yang buruk ini?”

Kemudian kepada Pangeran Bagus Kuswara, ia berkata. “Dimas pangeran, kau makin tampan dan gagah saja! Kalian baik-baik saja bukan?”

Mereka saling menyapa dan menyalam dengan gembira dan Adipati Gendrosakti lalu menggiringkan para tamu agungnya ke ruang dalam. Para pelayan sibuk melayani mereka, mengeluarkan segala hidangan yang terbaik dengan sikap yang sangat hormat. Para pelayan wanita itu tak dapat mencegah mata mereka yang mengerling kearah pangeran yang tampan itu dengan kagum sekali. Dan pangeran ini, yang biasa hidup mewah dan memang terkenal sebagia seorang pangeran muda yang mata keranjang, tiada hentinya melirik ke sana ke mari mencari 'obat mata'.

Setelah menanyakan keselamatn masing-masing, Ki Ageng Bandar menuturkan maksud kedatanganya. “Karena ananda adipati telah berbulan-bulan tidak pernah datang menghadap ke Majapahit, maka saya diutus oleh sang prabu untuk menjenguk ke Kadipaten Tandes melihat keadaan. Gusti prabu merasa khawatir kalau-kalau di sini terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Akan tetapi, syukurlah bahwa ternyata keadaan di sini tentram dan damai."

Ki Ageng Bandar lalu minum air teh wangi yang dihidangkan dengan nikmatnya. “Dan aku hanya ikut saja, kangmas adipati. Ingin melihat betapa cantiknya kadipatenmu dan ingin sekali aku berjalan-jalan di tepi pantai laut!” kata Pangeran Bagus Kuswara, kemudian pangeran ini ini teringat akan kakanya dan bertanya. “Dan di manakah kakang mbok Dewi Cahyaningsih, kangmas? Aku tidak melihat beliau keluar menemui kami.”

Gendrosakti menghela napas dan tiba-tiba wajahnya berubah sedih, Setelah menghela napas berkali-kali, akhirnya berkata. "Inilah yang mengganggu pikiranku dimas pangeran. Memang dilihat dari luar seakan-akan di sini tidak terjadi sesuatu, akan tetapi sebenarnya telah terjadi peristiwa hebat yang menggoncangkan seluruh Kadipaten Tandes ini!"

Ki Ageng Bandar memandang kepada tuan rumah dengan heran. “Ada peristiwa hebat apakah, ananda adipati?”

“Kemarin aku telah mengutus isteriku yayi Dewi Cahyaningsih beserta anakku Puspasari untuk menghadap rama prabu di Majapahit dengan dikawal oleh dua belas orang pengawal pilihan. Akan tetapi....” kembali adipati itu menghela napas dan tiba-tiba saja dari kedua matanya menitikkan dua butir air mata!

“Apa yang terjadi?” kedua orang tamu itu bertanya cemas. Mereka telah dicegat perampok yang dikepalai seorang perampok muda bernama Jaka Galing. Para pemikul tandu dan para pengawal dibunuh mati, hanya seorang saja yang dapat menyelamatkan diri, sedangkan...”

Pangeran Bagus Kuswara memegang lengan kakak iparnya. “Apa yang terjadi dengan kakang mbok dan puterinya?”

“Kakakmu dan... Puspasari... telah... telah diculik oleh gerombolan Jaka Galing...!"

“Ya Jagat Dewa Batara!” Ki Ageng Bandar menyebut nama dewata.

“Babo, babo! Si keparat Jaka Galing itu harus dibinasakan!” Pangeran Bagus Kuswara mencaci.

Adipati Gendrosakti lalu menuturkan betapa ia telah mengutus Suranara membawa seratus dua puluh orang perajurit untuk membasmi kawanan perampok itu dan menolong isteri dan puterinya. Mereka lalu bercakap-cakap dan adipati itu sedapat mungkin memperlihatkan wajah muram dan sedih. Akan tetapi, pangeran muda yang sembrono itu dapat menghibur suasana dengan kata-katanya yang jenaka dan gembira. Bahkan ia berani bertanya.

“Kangmas adipati, aku mendengar berita angin bahwa kau telah memboyong kembang juita dari Surabaya, betulkah?”

Ki Ageng Bandar menggunakan matanya memberi isyarat untuk menegur pangeran yang sembrono ini, akan tetapi Adipati Gendrosakti menjawab.

“Kau maksudkan Sariti? Memang benar adimas.”

“Kangmas, mengapa kau anggap kami sebagai orang-orang asing? Bukankah kita masih sanak dekat? Mengapa kau simpan selir-selirmu di dalam dan tidak disuruh menyambut kami?”

Pertanyaan ini memang kurang ajar sekali, akan tetapi karena pangeran ini sudah biasa berlaku demikian, Adipati Gendrosakti hanya tersenyum dan menjawab,

“Dimas pangeran, aku hanyalah seorang adipati kecil, tidak seperti engkau. Mana aku berani memelihara banyak selir? Selirku hanyalah Sariti seorang!”

“Bagus, bagus! Memang kau seorang laki-laki setia. Tapi, kangmas, apa salahnya kalau kakang mbok Sariti keluar menjumpai kami? Karena ia adalah selirmu, maka ia termasuk keluargaku juga.”

Adipati Gendrosakti memang sengaja memesan supaya selirnya itu jangan keluar menemui tamu agung karena tadinya ia menyangka bahwa kedatangan mereka bertalian dengan urusan Dewi Cahyaningsih. Akan tetapi setelah ternyata bahwa kedatangan mereka itu bukan untuk urusanitu, ia lalu menyuruh seorang pelayan untuk memberitahu kepada Sariti dan meminta supaya selirnya itu keluar menyambut tamu agung.

Ketika Sariti keluar dari ruang belakang. Pangeran Bagus Kuswara memandang sambil menahan napas. Ia terpesona oleh kecantikan wanita yang sedang melenggang halus menghampiri mereka itu dan ia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang bidadari yang baru turun dari khayangan!

Demikian cantik jelitanya wajah Sariti, demikian menggairahkan potongan tubuhnya, terutama mata dan bibirnya! Sungguh, dalam pandangan mata Bagus Kuswara, belum pernah ia melihat wanita secantik dan sejelita Sariti! Bahkan Ki Ageng Bandar yang sudah tua pun untuk sesaat tercengang dan kagum melihat si jelita itu, tapi ia dapat menekan perasaannya dan batuk-batuk memberi tanda kepada pangeran yang bengong memandang wanita itu.

Pangeran Bagus Kuwara sadar dari mimpinya, lalu ia menyapa dengan hormatnya. “Kakang mbok Sariti, sungguh aku merasa bahagia sekali dapat berkenalan dengan engkau. Kangmas adipati memang seorang laki-laki yang paling berbahagia di muka bumi ini!”

Biarpun kata-kata ini sedikitpun tidak menyatakan pujian secara langsung, namun terdengar sedap dan merdu sekali di telinga Sariti. Wanita cantik itu mengerling sedikit dan cepat menundukan muka dengan lagak yang sangat sopan. Sebagai seorang dari keturunan biasa, ia menyembah kepada Pangeran Bagus Kuswara dan kepada Ki Ageng Bandar, lalu menghaturkan selamat datang kepada mereka. Suaranya yang merdu, bening, dan empuk, itu mengelus-elus dada Bagus Kuswara dan membelai-belai jantungnya, membuatnya setangah sadar!

Setelah dengan hormat menuang air teh ke dalam cangkir kedua tamu agung itu, Sariti lalu memohon diri dan mundur sambil menundukan mukanya yang cantik dengan sikap hormat sopan sekali. Setelah selir itu pergi, Ki Ageng Bandar menghela napas dan berkata.

“Ananda Adipati, sungguh kau pandai sekali memilih selir. Orang cantik dan tahu sopan santun seperti selirmu itu memang sukar dicari.”

Tentu saja Adipati Gendrosakti merasa bangga dan senang sekali mendengar pujian ini, akan tetapi ia hanya menjawab dengan sederhana.

“Ah, ia seorang bodoh dan datang dari dusun. Mana ada harga untuk dipuji-puji?”

“Kanda adipati jangan berkata demikian. Sungguh mati, terus terang ku akui bahwa selama hidup belum pernah aku melihat seorang selir demikian... baik dan sopan. Kau sungguh-sungguh bahagia, kanda adipati. Akan tetapi, pernah aku mendengar berita bahwa kakang mbok Sariti pandai sekali akan seni suara dan seni tari. Ah, kalau saja beliau sudi mempertunjukan untuk menambah meriahnya pertemuan kita ini agaknya takkan sia-sialah kedatanganku di Tandes!

Karena terdorong oleh rasa bangga akan selirnya yang terkasih, pada saat itu Gendrosakti lupa bahwa keadaan dirinya sedang diliputi kekhawatiran, hingga terlanjur berkata tanpa di sadarinya,

”Tentu saja ia suka sekali. Biarlah malam nanti kita bersama melihat ia menari dan bertembang.”

Hanya Ki Ageng Bandar seorang yang merasa akan janggalnya pembicraan kedua orang itu, akan tetapi ia tidak berani mencampuri. Suka atau duka perasaan Adipati Gendrosakti, bukanlah urusannya dan bukan termasuk tugasnya. Biarpun akhirnya Adipati Gendrosakti insyaf bahwa bersenang-senang dalam waktu itu kurang tepat, akan tetapi janjinya kepada Pangeran Bagus Kuswara tak dapat dibatalkan dan pula kehadiran dua orang tamu agung itu dapat dijadikan alasan untuk berbuat itu.

Demikianlah, pada malam hari itu, pada saat banyak penduduk Tandes yang mendengar akan malapetaka yang menimpa diri Dewi Cahyaningsih dan Puspasari merasa khawatir sekali hingga banyak orang-orang perempuan berprihatin dan malam itu sengaja tidak tidur untuk berdoa bagi keselamatan kedua puteri itu, Adipati Gendrosakti menyuruh para yogo untuk menabuh gamelan!

Dalam kesempatan yang hanya dihadiri oleh Adipati Gendrosakti dan kedua tamu agungnya ini, Sariti memperlihatkan kepandaiannya. Ia mengenakan pakaian serimpi yang terindah. Kutang hitam yang di hias renda emas itu menyentak dada, pundak dan lengannya yang telanjang tampak putih bersih dan halus bagaikan sutera.

Rambutnya yang panjang dan hitam berobak di lepas terurai ke belakang punggung dan diatas kepala dihias kembang-kembang mawar dan rangkaian melati menambah kecantikannya. Sabuk warna merah muda terhias emas permata mengikat kainnya yang diwiru indah di bagian depan dan diatur sedemikian rupa hingga ujung kain yang memanjang di belakang itu tersingkap sedikit di di bagian depan hingga betis kakinya yang menguning dan memadi bunting mengintai keluar pada tiap kali ia melangkahkan kakinya!

Kalau Sariti dalam pakaian nyonya rumah yang sopan telah dapat menggiurkan hati Pangeran Bagus Kuswara, maka Sariti dalam pakaian srimpi ini membuat pemuda itu betul-betul tenggelam dalam gelombang birahi yang membuatnya bagikan gila!

Apalagi setelah kedua lengan yang putih kuning dan telanjang itu bergerak-gerak perlahan dan lemah gemulai menurutkan suara gamelan, dengan pangkal lengan terbuka perlahan, siku melenggak-lenggok dan pergelangan tangan berputar-putar melebihi lemasnya kepala seekor ular, jari-jari tangan yang manis meruncing itu berjentik-jentik dan bergerak-gerak seakan-akan sepuluh ekor burung yang hidup.

Kaki yang maju mundur perlahan-lahan dengan gaya lemah-lembut dan sopan dengan lenggang yang tidak kasar tapi cukup membayangkan potongan tubuh yang tiada cacatnya, ditambah lagi dengan kepalanya yang manis itu bergerak-gerak di atas leher yang panjang dan indah bentuknya, berjoget leher sedemikian kenesnya hingga mendatangkan air liur di dalam mulut Pangeran Bagus Kuswara yang melihat dengan mata terbelalak!

Setelah Sariti membuka mulut bertembang, maka gelora dahsyat di dalam dada Pangeran Bagus Kuswara mencapai puncaknya dan ia mengambil keputusan nekat dan berjanji dalam hati.

“Aku harus mendapatkan perempuan ini! Biar apapun yang akan terjadi, perempuan ini harus menjadi punyaku!”

Sariti bukanlah seorang wanita yang tidak berperasaan atau berhati batu. Hatinya cukup panas dan darahnya cukup cukup menggelora ketika ia dapat menangkap sinar mata Pangeran Bagus Kuswara yang tampan dan muda itu. Suaminya adalah seorang tua yang telah tua, berusia lima puluh tahun lebih sedangkan ia berusia paling banyak dua puluh tahun!

Kini melihat seorang pangeran yang muda dan tampan serta berpakaian indah, dan yang terang-terangan memperhatikan hasrat dan suara hatinya kepadanya, maka tak heran bila dadanya berdebar-debar pula. Ia menggunakan kerling matanya memandang pangeran yang duduk di dekat suaminya dan alangkah jauh perbedaan mereka.

Yang seorang bertubuh tinggi besar dan kasar gerak-geraknya, sudah beruban dan bercambang bauk menjemukan, sedangkan yang lain bertubuh sedang dan tegap, tubuh seorang bambang, halus gerak-geriknya, berkulit putih kekuning-kuningan, rambut keriting dan hitam, wajah tampan dengan kumis kecil menghias bawah hidung yang mancung, sepasang mata jenaka dan liar membayangkan gairah, ahh... hati siapa takkan tergoda?

Pangeran Bagus Kuswara adalah seorang yang sudah berpengalaman, dan melihat gerak-gerik Sariti, ia maklum bahwa anak panah yang dilepaskannya dari kedua matanya telah mengenai sasaran yang tepat. Karena ia maklum bahwa si jelita itu tentu tidak berani berlaku sembrono di depan Adipati Gendrosaki, karena ia duduk di dekat adaipati itu, maka ia lalu menyatakan bahwa ia ingin sekali mempelajari seni gamelan yang ditabuh oleh para yogo yang mahir dan sangat dipujinya itu.

Tentu saja Adipati Gendrosakti hanya tertawa melihat kebodohan pangeran yang lebih menikmati gamelan daripada nyanyi dan tari selirnya yang indah. Pangeran itu lalu berdiri dan lalu duduk di tempat para penabuh gamelan. Sariti dengan sudut matanya dapat melihat perpindahan tempat duduk ini dan diam-diam ia merasa geli serta memuji kecerdikan pangeran itu.

Dengan duduk di tempat gamelan, maka ia dapat memandang kepada pangeran itu dengan leluasa sekali, karena tempat itu berada di seberang tempat duduk suaminya, hingga pada saat ia memutar tubuh dan menghadap pangeran, ia berdiri membelakangi suaminya. Maka terjadialh main mata yang leluasa.

Tiap Sariti memutar tubuh membelakangi suaminya dan menghadapi pangeran itu, Pangeran Bagus Kuswara pura-pura memperhatikan gamelan gambang yang dipukul oleh penabuhnya, tapi diam-diam ia mengirim lirikan-lirikan tajam dan matanya di pejam-pejamkan sambil bibirnya tersenyum penuh arti.

Sariti pun menggunakan kesempatan itu untuk mengirim lirikan-lirikan mata yang kenes dan menarik dan memperhatikan senyum semanis-manisnya dengan bibirnya yang kemerah-merahan. Melihat reaksi jelita itu, buakan main senangnya hati Pangeran Bagus Kuswara. Ia lalu memutar-mutar otak mencari akal. Para penabuh gamelan yang merasa mendapat kehormatan besar sekali karena dikagumi oleh seorang pangeran dari Majapahit, tidak tahu akan rahasia ini karena mereka megerahkan seluruh perhatian dan keahlian mereka untuk memukul gamelan sebaik-baiknya.

Dengan bisikan-bisikan, Pangeran Bagus Kuswara mendapat keterangan bahwa pemain gamelan yang sudah berusia tua bernama Pak Lenjer. Maka ia lalu menyatakan kagumnya dengan pujian-pujian muluk hingga wajah orang tua itu berseri-seri.

“Yogo sepandai engkau ini sepantasnya menjadi pemain di keratin rama prabu.” Katanya hingga Pak Lenjer merasa gembira sekali sampai wajahnya berubah kemerah-merahan dan kedua tangannya menggigil.

Setelah pertunjukan selesai dan Sariti mengundurkan diri ke kamarnya, Pangeran Bagus Kuswara menyatakan maksudnya hendak belajar menabuh gambang dari Pak Lenjer pemimpin rombongan penabuh itu. Tentu saja Adipati Gendrosakti merasa senang dan memberi perintah kepada Pak Lenjer untuk melayani gusti pangeran, sedangkan penabuh lainnya lalu mengundurkan diri.

Demikianlah, karena hari telah jauh malam, Adipati Gendrosakti mengundurkan diri setelah mengantar Ki Ageng Bandar ke kamar tamu. Sedangkan Pangeran Bagus Kuswara tinggal di ruang tengah itu bersama Pak Lenjer dan terdengarlah suara gambang dipukul perlahan ketika orang tua itu memberi petunjuk-petunjuk kepada Pangeran Bagus Kuswara.

Setelah keadaan menjadi sunyi, Pangeran Bagus Kuswara berkata. "Pak Lenjer, sudah lamakah kau menjadi penabuh gambang mengiringi permainan kakang mbok Sariti?"

"Sudah, gusti pangeran, sudah lama sekali. Semenjak Jeng Roro Sariti masih belajar menari, sudah menjadi pemukul gambang, bahkan ikut melatih beliau."

Pangeran Bagus Kuswara mengangguk-anguk dengan hati senang. Tiba-tiba ia bertanya. "Sebettulnya, kau pantas sekali menjadi pemimpin para yogo di keraton Majapahit! Bagaimana pendapatmu, Pak lenjer?"

Orang tua itu memandang penanyanya dengan mata terbelalak, lalu menyembah, "Ah, gusti. Hamba adalah seorang bodoh dan hanya pandai memainkan beberapa lagu. Mana pantas hamba menjadi pemimpin para yogo yang pandai di Majapahit? Untuk menjadi pemukul gamelan biasa saja hamba sudah kurang patut!"

"Jangan merendah, Pak Lenjer. Aku bisa menolong engkau menjadi pemimpin penabuh gamelan di keraton, atau setidaknya menjadi penabuh gambang di sana!"

Bukan main girang hati orang tua itu, karena yogo manakah yang tidak merindukan kedudukan yang mulia itu? Untuk memperlihatkan di hadapan Sang Prabu Brawijaya sendiri! untuk memainkan gamelan-gamelan pusaka yang sudah terkenal mempunyai suara yang luar biasa bagaikan gamelan dari surga!

Demikianlah, dengan licin sekali Pangeran Bagus Kuswara akhirnya dapat juga membujuk orang tua itu untuk menjdi jembatan dan penolong dia bertemu dengan Sariti!

********************