Dendam Membara

Pendekar Rajawali Sakti

DENDAM MEMBARA


SATU

HARI menjelang sore. Matahari juga belum mau membenamkan diri. Bias cahayanya saja yang masih terlihat di puncak gunung sebelah barat. Di kaki sebuah bukit, tampak sesosok tubuh berompi putih berdiri tegap. Di balik punggungnya tersembul sebilah pedang. Menilik dari ciri-cirinya, sosok tubuh itu tak lain dari Rangga, atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

Saat itu Rangga tengah memperhatikan serombongan bocah berusia sekitar enam dan tujuh tahun. Mereka mendatangi seorang bocah lain yang tengah memancing di tepi sungai. Dalam pikiran Pendekar Rajawali Sakti, pastilah mereka sesama kawan. Tapi, hatinya menjadi tercekat begitu melihat salah seorang bocah bertubuh besar, langsung menendang bocah yang tengah memancing itu hingga tercebur sungai. Kailnyanya pun sampai ikut terlempar ke tepi sungai. Beruntung, bocah itu pandai berenang dan segera merayap ke tepi. Seluruh bajunya tampak basah kuyup.

“Gondo, kenapa kau menendangku? Bukankah aku tak bersalah padamu?” tanya bocah berwajah manis itu dengan tatapan sayu.

“Aku bebas berbuat apa saja padamu! Kau anak haram dan tak layak hidup!” bentak Gondo.

“Pergi kau dari sini! Kami muak melihatmu!” sahut bocah yang lainnya. Bocah itu memungut kailnya dan bermaksud meninggalkan tempat itu.

Namun salah seorang di antara mereka merasa tak puas. Didatanginya si bocah, dan dengan sekuat tenaga punggung bocah itu dipukul hingga tersungkur.

“Sudah. Bunuh saja dia sekalian!” teriak Gondo.

“Mampusin!” timpal bocah lain sambil menghampiri bocah berwajah manis itu. Tindakannya diikuti kawan yang lain, dan beramai-ramai mereka memukulinya.

“Hentikan!” bentak Rangga keras sambil menghampiri mereka.

Ketujuh bocah itu serentak berhenti memukul. Mereka memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan wajah tak senang. Rangga tak mempedulikan sikap yang ditunjukkan bocah-bocah itu. Dihampirinya bocah yang malang itu, dan membangunkannya. Kemudian dipandanginya ketujuh bocah itu satu persatu.

“Kenapa kalian memukulnya? Apakah dia telah berbuat jahat pada kalian?!”

“Huh!” Gondo menunjukkan muka sinis. “Dia anak haram. Tak boleh hidup di desa kami!” sahut salah seorang bocah.

“Ya. Dia keturunan orang jahat, dan membawa sial bagi desa kami,” timpal yang lainnya.

“Dengarlah baik-baik! Kalian sesama manusia, tak ada yang hina dan mulia dari yang lainnya. Jika ingin menjadi orang baik, tunjukkanlah sikap yang baik. Sebaliknya yang kalian lakukan tadi, apakah itu pantas disebut anak baik? Kalian memukul orang yang tak bersalah, dan itu jelas perbuatan tidak terpuji.”

“Paman, jangan membela orang jahat! Kalau tidak, orang tua Gondo akan memusuhi Paman!” sahut salah seorang bocah mengancam.

“Siapa yang mengatakan anak ini jahat?”

“Semua orang di desa ini!” sahut Gondo masih menunjukkan wajah tak bersahabat.

“Kalau begitu, siapa kepala desa di sini?”

“Ki Sarpa. Tapi meskipun Paman minta pertolongan Ki Sarpa, ayahnya Gondo masih lebih berkuasa daripada Ki Sarpa. Lebih baik Paman membiarkannya menerima hajaran dari kami!” sahut bocah bertubuh kurus, geram.

“Oh, begitu? Nah, sekarang katakan pada bapaknya Gondo. Paman melarang kalian menyalati anak ini, kecuali kalau memang dia betul-betul bersalah dan menyakiti kalian,” kata Rangga sambil tersenyum kecil.

“Paman pasti akan dihajar bapaknya Gondo!” sahut bocah bertubuh kerempeng, kesal.

“Mari kita pulang! Akan kuadukan pada bapak, biar dihajar sekalian!” ajak Gondo pada kawan-kawannya.

Ketujuh bocah itu melirik sesaat pada Rangga, sebelum berlari-lari kecil meninggalkan tempat itu.

“Sobat kecil, sekarang kau sudah aman. Siapakah namamu? Namaku Rangga.”

“Terima kasih atas pertolongan Paman. Namaku Samiaji.”

“Hm, Samiaji.... Seringkah kau menerima perlakuan seperti tadi dari mereka?”

Samiaji terdiam. Dia duduk tenang, dan kedua kakinya terjuntai ke dalam air sungai sambil sesekali mempermainkannya. Rangga mengikuti perbuatan bocah itu dan duduk bersebelahan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Samiaji...”

Bocah itu masih terdiam beberapa saat. Kemudian, terdengar suara halus dari bibirnya yang mungil. “Ya....”

“Hm.... Kenapa kau diam saja dan tak berusaha melawan?”

“Ibu dan nenek melarangku.”

“Ibu dan nenek? Bapakmu ke mana?”

Samiaji tak menjawab. Rangga jadi teringat saat bocah-bocah tadi mengejek Samiaji. Hm, sudah pasti disebabkan soal itu. Rangga tersenyum dan menepuk-nepuk pundak bocah itu, sambil mengambil kail dari tangannya.

“Paman lihat tadi kau memancing. Paman pinjam sebentar. Mudah-mudahan ikan-ikan di sungai ini berbaik hati....”

Rangga segera memusatkan pikiran sambil mengerahkan ilmu 'Tatar Netra' ke dalam air sungai. Seketika terlihat jelas ikan-ikan yang berenang hilir-mudik.

“Hup...! Kena!” katanya berseru.

Samiaji yang sudah tidak berniat memancing, kembali tertarik perhatiannya. Dilihatnya, Pendekar Rajawali Sakti memancing asal-asalan saja. Melempar mata kail ke dalam sungai, tapi secepat itu pula ditarik kembali. Namun, terlihat seekor ikan sebesar lengannya menggelepar-gelepar di mata kail.

“Kena!” teriak Rangga lagi, sambil memamerkan ikan di mata kailnya. Samiaji tertawa geli.

“Kau mau coba?”

“Mau!” sahut bocah itu cepat.

Rangga memberikan kail itu, tapi dia sendiri ikut memegangi. Samiaji terkejut. Hentakan tangan Pendekar Rajawali Sakti cepat sekali. Bahkan tak bisa diikuti pandangan matanya, ketika tiba-tiba seekor ikan tersangkut di mata kail. Bocah itu tak mempedulikan persoalan itu. Dia cukup senang berhasil menangkap ikan dengan cara yang tak pernah dilakukannya. Yaitu, tanpa meletakkan umpan di mata kail. Beberapa saat saja, telah terkumpul dua puluh ekor lebih ikan-ikan besar. Wajah bocah itu pun berseri-seri kegirangan.

“Nah, cukuplah hari ini kita memancing. Kasihan, kalau dipancing terus jumlahnya akan cepat habis. Kau boleh pulang, Samiaji!”

“Paman mau ke mana?” tanya anak itu terkejut

“Paman harus melanjutkan perjalanan....”

“Paman, mainlah ke rumahku. Ibu dan nenek pasti senang karena Paman telah membantu menangkap ikan-ikan ini.”

Rangga tersenyum. “Kau boleh membanggakan diri di depan mereka kalau ikan-ikan itu hasil tangkapanmu sendiri.”

“Itu berdusta, Paman. Nenek dan ibu melarangku berdusta. Katanya, perbuatan itu hanya dilakukan oleh anak-anak jahat. Ayolah, Paman. Kalau aku pulang membawa ikan sebanyak ini, mereka tentu tak akan percaya dan pasti menuduhku mencuri,” desak bocah itu terus-menerus.

Rangga berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya menyetujui ajakan bocah itu.

********************

Perempuan tua yang biasa dipanggil nenek oleh Samiaji, memperkenalkan nama dengan sebutan Nyi Larasati. Dan, seorang lagi yang tampak masih muda menyebutkan pula namanya. Rangga dipersilakan masuk oleh penghuni rumah ini. Perempuan tua itu berusia sekitar lima puluh tahun. Sedangkan putrinya berusia lebih dari dua puluh empat tahun. Tetapi, wajahnya terlihat cantik dan alamiah, seperti kebanyakan wanita desa.

Mereka menyambut kedatangan Pendekar Rajawali Sakti dengan ramah. Apalagi ketika Samiaji berceloteh tentang Rangga menangkap ikan dengan cara yang amat menakjubkan. Rangga hanya bisa tersenyum-senyum kecil. Ada perasaan haru menyelinap di hati Pendekar Rajawali Sakti melihat kehidupan mereka amat sederhana.

Di belakang rumah, terdapat sebuah kebun kecil yang ditanami singkong dan umbi-umbian lainnya. Rumah ini pun rasanya tak layak disebut rumah, melainkan mirip kandang kerbau yang dilapisi dinding tepas. Mereka tak memiliki kamar. Hanya ruangan yang disekat kain panjang saja.

“Nak Rangga, berdiamlah di sini. Sebentar lagi senja. Lagi pula, melihat tubuh dan pakaianmu yang penuh debu, kau pasti telah melakukan perjalanan jauh,” ujar Nyi Larasati.

“Terima kasih, Nyi. Tapi rasanya hanya merepotkan kalian saja....”

“Tidak. Kau sama sekali tak merepotkan kami. Hanya barangkali tempat kami tak layak bagimu....”

“Rumah ini lebih dari cukup, daripada aku tidur di dalam hutan,” ujar Rangga sambil tersenyum kecil.

“Paman sering tidur di dalam hutan?” tanya Samiaji terheran-heran, bercampur bias ketakutan di wajahnya.

“Betul. Kenapa?”

“Nenek sering cerita, di hutan banyak binatang buas yang suka menerkam dan memakan manusia. Pernahkah Paman bertemu binatang buas?”

“Sering sekali, tapi tak semua binatang buas menerkam manusia kalau tak terdesak dan diganggu. Meski begitu, ada juga binatang buas yang kelaparan dan ketika menemukan manusia, langsung menerkam atau membunuhnya untuk dimakan,” sahut Rangga menjelaskan.

Bocah itu terlihat ketakutan.

“Kau tak perlu takut, Samiaji. Manusia itu diberi akal untuk melawan semua musuh-musuhnya, termasuk binatang buas. Gunakan akal untuk menghadapinya dan yang lebih penting, jangan mencari gara-gara.

Samiaji menganggukkan kepala. Mereka bicara banyak malam ini dan bocah itu terlihat cerdas sekali. Meskipun usianya baru enam tahun, namun dia mengerti semua pembicaraan Rangga. Matanya tetap terbuka lebar, dengan wajah menampakkan keseriusan mendengarkan cerita-cerita pemuda berompi putih itu.

Biasanya bocah itu telah terlelap bila malam beranjak tiba. Tapi, ketika nenek dan ibunya berkali-kali menyuruh tidur sekarang, Samiaji selalu menolak.

********************

“Nyi Larasati! Keluarkan pemuda keparat itu dari rumahmu, atau harus kami dobrak!” terdengar bentakan keras dari luar rumah. Rangga terkesiap. Begitu juga dengan seluruh penghuni rumah. Nyi Larasati buru-buru membukakan pintu setelah berkata lirih kepada Rangga.

“Pasti orang-orangnya Juragan Bonteng!”

“Siapa...?” Pertanyaan Rangga tak terjawab ketika terdengar bentakan dan luar yang terdengar kasar sekali.

“Nenek peot, mana pemuda kurang ajar itu?!”

“Pemuda? Siapa yang kau maksudkan?”

“Alaaah, jangan banyak alasan kau! Dia telah menghajar putra juragan kami! Ayo, suruh keluar keparat itu!”

Rangga melirik sekilas ke arah Samiaji. Bocah itu tengah dipeluk erat ibunya dengan wajah pucat ketakutan. Dia berjalan pelan ke depan. Dilihatnya lima orang laki-laki berwajah kasar dengan golok di pinggang masing-masing. Di antara mereka terdapat seorang bocah kecil sebaya Samiaji.

“Itu dia orangnya, Paman!” tunjuk si bocah ke arah Rangga.

Salah satu dari lima orang yang berdiri paling depan, dan yang sejak tadi berteriak-teriak, melangkah mendekati Rangga. Wajahnya kasar dan banyak terdapat lubang-lubang kecil. Mulutnya lebar dan besar dengan kumis melintang. Baju di bagian dada terbuka lebar, seolah-olah ingin memamerkan kekuatan otot-ototnya.

“Huh! Hanya seorang bocah ingusan yang berani dengan bocah kecil! Ke sini kau!”

Rangga mencoba berlaku ramah dan mendekati orang itu perlahan. Namun....

Wuuut! Plak!

“Sabar, Kisanak. Ada urusan apa tiba-tiba kau berteriak-teriak seperti orang kesurupan? Lalu, apa maksudmu hendak memukulku?” tanya Rangga setelah menangkis tangan orang yang hendak menampar mukanya.

“Punya nyali juga rupanya kau! Melihat pedang di punggungmu, sedikit banyak kau pasti mengerti ilmu silat, Bocah Ingusan. Baik, kau layani Cagak Layung beberapa jurus!” sahut orang itu tanpa mempedulikan pertanyaan Rangga. Langsung dicarinya tempat yang agak luas dan segera melangkah mundur.

“Sabar dulu, Kisanak. Ada urusan apa sebenarnya?”

“Huh! Pengecut hina! Setelah menghajar putra Juragan Bonteng, kau pura-pura tak tahu!”

“Putra Juragan Bonteng? Siapa dia?”

“Keparat! Dasar pengecut!” maki Cagak Layung geram.

“Paman, untuk apa berlama-lama lagi? Hajar saja dia. Sekalian dengan bocah itu dan seluruh penghuni rumah ini!” seru bocah kecil itu, tak kalah garang dengan para pengawalnya.

Rangga melirik ke arah bocah itu, dan mengingat-ingat di mana pernah dijumpainya. Tak salah lagi! Bocah itu salah seorang dari anak-anak yang tadi ikut memukuli Samiaji. Pendekar Rajawali Sakti kini mulai mengerti penyebab kemarahan mereka. Tapi baru saja Rangga mencoba akan menjelaskan, Cagak Layung menyerang dengan ganas.

“Yeaaa...!”

“Kisanak, tahan dulu! Ini hanya salah paham!”

“Sial! Dasar pengecut, tetap saja pengecut! Terimalah seranganku ini. Ayo cabut pedangmu! Hiyaaat..!”

“Uts...!” Percuma saja Rangga berusaha menjelaskan. Orang itu telah menyerang dengan membabi-buta. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti mempertahankan diri mengingat serangan Cagak Layung tidak main-main. Sepertinya laki-laki berwajah kasar itu ingin menghabisi nyawa Pendekar Rajawali Sakti secepat mungkin.

Plak! Desss!

“Akh!” Cagak Layung menjerit kesakitan.

Rangga menghindar sambil menundukkan kepala, ketika sebilah golok lawan hampir menebas batang lehernya. Tangan kirinya menangkis pergelangan tangan kanan lawan, lalu kaki kiri menendang keras ke perut. Cagak Layung berusaha menangkis dengan tangan kirinya, tapi tendangan Rangga lebih cepat menghantam.

“Keparat!” maki Cagak Layung sambil bangkit dengan wajah meringis kesakitan.

“Sudah. Mari kita habisi secepatnya!” kata kawannya memberi perintah pada yang lain. Kelima orang itu segera mengurung Rangga dengan sikap garang.

“Kisanak, tak bisakah kita bicara baik-baik dan menyelesaikan persoalan sebagaimana layaknya manusia terhormat?”

“Keparat! Inilah cara terhormat untuk menyelesaikan persoalan. Ayo, cabut pedangmu! Kalau kau tak mau menyesal! “bentak Cagak Layung.

“Baiklah kalau kalian memang memaksa...,” jawab Rangga kesal, melihat sikap mereka.

“Yeaaa...!”
“Uts...!”
Wukkk! Plak! Begkh!
“Akh!”

Rangga menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari setiap serangan lawan. Tubuhnya meliuk-liuk seperti orang menari dan kedua kakinya bergerak lincah ke sana kemari. Begitu dua orang lawan hendak menyerang, Pendekar Rajawali Sakti cepat berkelit dan menghantam pergelangan tangan lawan hingga goloknya terpental. Yang seorang lagi, mendapat sodokan kaki Pendekar Rajawali Sakti.

Keduanya pun menjerit bersamaan. Tapi, bersamaan itu pula, ketiga kawannya meluruk ganas sambil menyabetkan golok masing-masing. Rangga mencelat ke atas sambil bersalto. Selagi berada di udara, kedua kakinya langsung menghantam punggung lawan, dan kepalan tangan kanannya menghantam keras ke tengkuk lawan yang lain. Ketiganya langsung menjerit kesakitan. Wajah mereka langsung berubah pucat Kini, mereka bangkit dengan perasaan takut.

Tetapi Rangga yang sudah kesal dengan sikap mereka, malah memasang wajah angker.

“Sini kalian!”
“Heh?!”
“Yeaaa...!”
Plak! Begkh...!

Tubuh Rangga kembali melesat cepat, menghantam kelima orang lawannya. Mereka berusaha menangkis, tapi gerakan pemuda berompi putih itu sangat cepat dan tak terduga. Kembali tubuh mereka terjerembab sambil mengeluh kesakitan.

“Ayo bangun dan serang aku lagi!” bentak Rangga.

Tapi, keempat orang itu sudah kabur meninggalkan Cagak Layung sendirian. Begitu pula bocah yang sejak tadi hanya menyaksikan pertarungan, telah ikut kabur pula.

“Awas kau, Pemuda Sialan! Juragan Bonteng tak akan membiarkan persoalan ini begitu saja!”

“Suruh juraganmu ke sini, biar aku bicara padanya!” balas Rangga sengit.

“Wah, Paman hebat! Paman Hebat! Mereka jungkir balik dihajar!” teriak Samiaji kegirangan.

Rangga melangkah ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nyi Larasati dan putrinya yang bernama Rara Ningrum, menatap Pendekar Rajawali Sakti seolah-olah ingin meminta penjelasan atas kejadian tadi. Rangga menghela napas pendek sebelum menjelaskan. Setelah mendengar penjelasan Rangga atas kejadian yang menimpa Samiaji tadi sore, kedua wanita itu menatap si bocah yang diam menundukkan kepala.

“Kenapa kau tidak ceritakan kejadian itu pada Ibu?”

“Aku... aku takut Ibu dan nenek marah. Tapi sungguh, aku tidak membuat gara-gara. Merekalah yang datang dan langsung memukul ketika aku sedang memancing sendiri di tepi sungai,” jelas Samiaji dengan suara lirih.

“Hm, Juragan Bonteng pasti tak suka mendengar kejadian ini dan keadaan kita semakin tak aman...,” desah Rara Ningrum, nadanya penuh kecemasan.

“Sudahlah, Rara. Kita harus sabar dan berserah diri menghadapi cobaan yang diberikan Yang Maha Kuasa, “ hibur Nyi Larasati menasihati.

“Tapi cobaan ini tidak pernah berhenti, Bu! Kita tak bisa selamanya hidup begini!”

“Nyi Larasati..., Rara Ningrum, ada persoalan apa sebenarnya? Apakah yang pernah terjadi antara keluarga ini dengan orang yang dipanggil Juragan Bonteng itu?” tanya Rangga hati-hati.

“Persoalannya panjang, Nak...,” desah Nyi Larasati, lirih.

Perempuan tua itu melirik ke arah putrinya. Rara Ningrum seperti mengerti, dan mengajak Samiaji tidur. Nyi Larasati sendiri memberi isyarat agar Pendekar Rajawali Sakti mengikutinya ke depan. Mereka berdua duduk di balai-balai. Lalu, berceritalah perempuan tua itu tentang kejadian yang menimpa keluarga mereka.

********************

DUA

Juragan Bonteng sangat marah mendengar laporan orang kepercayaannya. Perutnya yang buncit berguncang-guncang, ketika tubuhnya bangkit dari kursi dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Sepasang matanya yang sipit bersorot tajam. Dan, senyum yang selalu menggambarkan keculasan hatinya, kini hilang tertutup kemarahan yang meluap-luap bercampur geram. Cagak Layung dan keempat kawannya diam mematung. Mereka duduk bersila di lantai, dan merundukkan kepala dalam-dalam.

“Percuma! Menghadapi seorang pemuda ingusan saja kalian tak mampu! Apa kerja kalian di sini cuma makan tidur saja?!”

“Dia bukan orang sembarangan, Juragan...,” bantah Cagak Layung, pelan.

“Aku tak peduli! Anakku dihajar orang dan kalian tak mampu berbuat apa-apa!”

Cagak Layung terdiam. Begitu juga keempat kawannya. Sementara, Juragan Bonteng kembali duduk di kursi sambil menghela napasnya yang terasa sesak.

“Panggil Ki Sempur Walang! Cepaaat..!”

“Ba... baik, Juragan!” sahut Cagak Layung.

Bersama keempat kawannya, Cagak Layung berangkat malam itu juga ke rumah Ki Sempur Walang, laki-laki tua yang selama ini mengabdi pada Juragan Bonteng. Ki Sempur Walang bertubuh besar. Sepasang bola matanya selalu tampak merah. Meski usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, namun kerjanya setiap hari hanya mabuk-mabukan, dan bersenang-senang dengan perempuan cantik yang ada di desa ini.

Kebanyakan di antara mereka hanya terpaksa memenuhi keinginannya. Ki Sempur Walang memang amat ditakuti di desa ini. Tapi, sebagian lagi terpaksa meladeni karena menginginkan uang orang tua itu. Malam ini, terlihat Ki Sempur Walang berada di rumah Nyi Kembang Sari, Janda cantik yang ditinggal mati suaminya beberapa bulan lalu.

“Kurang ajar! Malam-malam begini mengganggu kesenangan orang!” bentak Ki Sempur Walang dengan wajah berang, ketika terdengar ketukan di pintu, diikuti suara panggilan untuknya.

Ki Sempur Walang melepaskan pelukannya pada janda cantik bertubuh sintal itu, dan melangkah ke depan. Sepasang matanya melotot, dan wajahnya langsung terlihat murka ketika melihat siapa yang datang.

“Cagak Layung?! Ada apa malam-malam begini menggangguku? Tak suka kalau aku sedikit bersenang-senang, heh?!”

“Eh! Maaf, Ki. Kami tak bermaksud mengganggu, tapi ini perintah Juragan Bonteng,” jawab Cagak Layung terbata-bata. Cagak Layung memang sangat takut kepada laki-laki tua itu. Dulu, Ki Sempur Walang pernah kesal padanya dan langsung menghajarnya habis-habisan.

“Mau apa dia?!”

“Ti... tidak tahu, Ki. Tapi Juragan Bonteng memanggil Ki Sempur Walang malam ini juga....”

“Sial! Tidak tahu orang lagi senang. Katakan padanya, apa pun urusannya, besok pagi saja diselesaikan. Malam ini aku tak mau diganggu!”

"Tapi, Ki...”

“Sial! He, Cagak Layung! Kau berani membantahku?!"

Cagak Layung menelan ludah. Dia serba salah. Memaksa orang tua ini, sama saja cari penyakit, tapi, kembali kepada Juragan Bonteng tanpa Ki Sempur Walang, juga lebih susah lagi. Saat itu Nyi Kembang Sari keluar. Tubuhnya yang padat berisi hanya terlilit kain panjang. Perempuan cantik itu memeluk Ki Sempur Walang, setelah melirik sesaat kelima orang yang masih mematung di depan pintu.

“Ada apa, Sayang...?” tanyanya mesra.

“Tak ada apa-apa, Manisku. Ayo kita kembali ke dalam,” sahut Ki Sempur Walang sambil merangkul perempuan itu dan mengunci pintu dari dalam.

Cagak Layung dan keempat kawannya diam terpaku. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada pilihan lagi bagi mereka, selain kembali kepada Juragan Bonteng, dan melaporkan penolakan Ki Sempur Walang. Mereka sudah menduga akan mendapat caci-maki dan hardikan. Dugaan Cagak Layung dan teman-temannya ternyata tepat Juragan Bonteng tidak bisa menerima penolakan bawahannya.

“Sial! Brengsek! Ki Sempur Walang semakin berbuat semaunya belakangan ini!” maki Juragan Bonteng, setelah puas memaki kelima centengnya.

“Ju.... Juragan bermaksud menugaskan Ki Sempur mengurus pemuda itu?”

“Kunyuk sial kau, Cagak! Siapa lagi yang kuharapkan, kalau bukan dia?!” Cagak Layung menelan ludah.

“Sebaiknya bersabar dulu, Juragan. Saat ini tenaganya memang diharapkan. Besok pagi-pagi sekali, pemuda itu pasti telah dibereskannya....”

“Huh! Kalau saja kalian dapat kuandalkan, tentu aku tak perlu mengemis-ngemis padanya!”

Cagak Layung kembali terdiam.

“Kalian cuma kantong-kantong nasi tak berguna! Percuma saja aku menggaji kalian. Hanya membereskan satu cecunguk saja tak becus!”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Juragan Bonteng segera menuju kamarnya. Tetapi, matanya tak dapat dipejamkan. Meskipun istri mudanya yang bahenol telah berusaha membujuk dan mencumbunya, Juragan Bonteng tetap tak bergeming. Ada satu hal yang sangat dicemaskannya sekarang.

Selama ini, tak ada seorang pun penduduk desa yang berani melawan. Termasuk kepala desa sendiri. Dia seperti raja kecil yang bisa mengatur penduduk seenaknya. Berbeda dengan Ki Sempur Walang yang suka perempuan dan tak mempedulikan apa pun, Juragan Bonteng lebih memikirkan pengaruh dan kekayaan. Dan pemuda itu, meski belum terlihat tindak lanjutnya, telah dianggap sebagai ancaman atas kekuasaannya di desa ini.

********************

Sejak kematian suaminya, Nyi Kembang Sari memang menjadi agak nakal. Tapi hal itu tidak mengherankan. Sejak gadis, perempuan itu memang agak genit dan suka meladeni laki-laki lain yang mengajak bercanda. Kematian suaminya pun tidak begitu jelas. Banyak penduduk desa menduga, kematian suaminya berkaitan dengan kehadiran Ki Sempur Walang.

Sejak bekerja pada Juragan Bonteng, Ki Sempur Walang memang sudah tertarik pada Nyi Kembang Sari. Dan selama ini, Ki Sempur Walang selalu berusaha mendapatkan perempuan yang disukainya, walau dengan cara apa pun. Belakangan ini, Ki Sempur Walang memang sering berada di sana. Bahkan, sering bermalam dan pulang pagi-pagi seperti sekarang.

Rumah kediaman Nyi Kembang Sari agak jauh dari rumah penduduk lain. Bila Ki Sempur Walang hendak menuju tempat tinggal Juragan Bonteng dari sana, dia harus melewati sebuah sungai yang biasa dipakai perempuan-perempuan desa untuk mencuci pakaian. Itu merupakan jalan terdekat, sekaligus yang disukainya.

Ki Sempur Walang lama berdiri di pinggir sungai, memperhatikan gadis-gadis yang sedang bercanda sambil mencuci. Pakaian yang melilit di tubuh mereka hanya selembar kain panjang. Dan, kalau di antara mereka sudah saling bercanda sambil bersiram-siraman air, akan terlihat jelas setiap lekuk tubuh mereka. Tetapi, bukan hanya itu saja niat Ki Sempur Walang.

Ada seorang perempuan yang membuat hatinya sangat penasaran. Seorang perempuan cantik, yang telah menjanda dengan satu anak kecil. Perempuan itu tak pernah peduli terhadapnya. Padahal, telah berkali-kali Ki Sempur Walang menggoda dan mencoba merayu.

Pernah satu kali dia menghadang perempuan itu sepulang mencuci dan bermaksud menodainya. Tetapi sungguh tak disangka, persis ketika hajatnya akan dilaksanakan, Ki Sarpa serta beberapa penduduk desa melewati tempat itu. Meski hatinya geram bukan main, tapi terpaksa perempuan itu dilepaskannya.

Pagi ini, niatnya telah bulat. Tak peduli siapa pun yang akan menghalangi tujuannya. Batinnya sangat penasaran kalau belum mendapatkan perempuan itu. Diintainya perempuan itu dari kejauhan, sambil menelan ludah berkali-kali, mengagumi kemontokan dan kemulusan tubuhnya. Perempuan itu mencuci agak jauh dari perempuan-perempuan lain. Dan kali ini, dia ditemani anaknya yang masih bocah.

Setelah menunggu agak lama, dilihatnya perempuan itu telah menyelesaikan pekerjaan dan beranjak pergi. Ki Sempur Walang mengikuti sambil mengendap-endap. Setelah tiba di tempat yang sepi, laki-laki tua itu segera melompat ke hadapan perempuan itu sambil terkekeh-kekeh.

“He he he...! Rara Ningrum, kali ini kau akan ke mana?!”

“Oh...!” wajah perempuan itu berubah pucat, ketakutan. Bocah yang berada di dekatnya langsung dipeluk. Sementara bakul berisi cucian jatuh terlepas.

“He he he...! Pagi ini kau semakin cantik, Rara. Kenapa kau selalu menolakku? Kalau bersedia menjadi istriku, apa pun yang kau minta pasti ku penuhi,” rayu Ki Sempur Walang sambil menelan ludah berkali-kali, dan mendekati perempuan itu.

“Ki Sempur, ku mohon jangan mengganggu kami. Pergilah kau. Kami hendak pulang....”

“Kau boleh pulang setelah kita bersenang-senang....”

“Ki Sempur aku mohon... aow!” perempuan itu menjerit sambil bergerak mundur ketika laki-laki itu melompat dan memeluknya.

Bocah yang tadi dipeluk, disentakkan laki-laki tua itu dengan kasar. Ki Sempur Walang segera menggumuli perempuan itu penuh nafsu. Rara Ningrum menjerit-jerit, berusaha berontak dengan sekuat tenaga.

“Orang jahat! Lepaskan ibuku! Lepaskan ibuku!” teriak bocah tadi. Punggung Ki Sempur Walang dipukul sekeras-kerasnya.

“Huh! Bocah sial! Kau mengganggu saja!”

“Akh!”

“Anakku...! Keparat! Jahanam! Lepaskan aku! Apa yang kau perbuat terhadap anakku?! Aow...! Lepaskaaan...!”

Perempuan itu semakin menjerit-jerit, ketika melihat tubuh anaknya terpental dihajar Ki Sempur Walang. Tetapi, bocah itu sungguh keras hati. Meski seluruh tubuhnya terasa amat sakit, dia berusaha bangkit untuk menolong ibunya. Diambilnya sepotong kayu kering, dan dengan sekuat tenaga dihantamkan potongan kayu itu ke punggung laki-laki yang sedang meng-gumuli ibunya.

Dukkk!

“Bocah sial! Mampuslah kau!” geram Ki Sempur Walang sambil mengayunkan sebelah tangannya dengan sekuat tenaga. Kali ini, bocah itu bukan saja akan terpental, namun bisa dipastikan akan tewas seketika terkena hantaman Ki Sempur Walang. Namun, tiba-tiba....

Plak!

“Heh!”

“Paman Rangga!” seru si bocah girang melihat kemunculan Pendekar Rajawali Sakti.

Ki Sempur Walang tersentak kaget Tangannya terasa sakit akibat tangkisan pemuda itu. Buru-buru dia bangkit dan menatap garang. Sementara, Rara Ningrum yang merasa terlepas dari nafsu setan laki-laki tua itu, buru-buru bangkit dan membenahi pakaiannya yang tak karuan. Lalu, putranya segera dipeluk.

“Jahanam keparat! Berani-beraninya kau mengganggu kesenanganku. Apa kau sudah bosan hidup, Bocah?!”

Pemuda yang baru datang itu tak lain memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. Tempat itu tak begitu jauh dari pondok mereka. Pendengarannya yang tajam mendengar teriakan Rara Ningrum tadi, dan langsung melesat ke sini.

“Kisanak, perbuatanmu sungguh tak terpuji. Sudah sepatutnya kau diperingati,” sahut Rangga tenang.

“Setan! Punya nyali juga kau rupanya! Berani mengganggu kesenangan Ki Sempur Walang, harus berani pula menanggung akibatnya!” Setelah berkata begitu, Ki Sempur Walang bergerak cepat melayangkan kepalan tangannya ke wajah Rangga.

Wukkk!

Rangga mengegoskan wajah dan bergerak ke samping. Sebelah kakinya dengan cepat mengarah ke dada lawan. Namun, dengan berani laki-laki tua itu menangkis dengan tulang kering. Agaknya, dia begitu yakin dengan tenaganya sendiri, dan merasa pasti tulang kaki pemuda itu akan remuk begitu beradu dengan tulang keringnya.

Dukkk!

“Aaakh...!” Ki Sempur Walang terpekik kesakitan sambil mengangkat sebelah kakinya.

Tetapi, saat itu juga kaki Rangga yang lain telah melesat cepat menghantam keningnya. Laki-laki tua itu terjungkal ke tanah. Rangga berdiri tegak persis di hadapannya.

“Bangunlah, Kisanak. Karena telah berani melawanmu aku siap menanggung akibatnya!” tantang Pendekar Rajawali Sakti.

“Setan!” maki Ki Sempur, dan membabatkan sebelah kaki ke lutut belakang Rangga. Tetapi, Pendekar Rajawali Sakti telah melompat dengan sebelah kaki kembali menghantam muka lawan. Kali ini Ki Sempur buru-buru menjatuhkan diri untuk menghindari tendangan Rangga, goloknya langsung dicabut dan dibabatkan ke kaki Rangga.

“Putus!”
Wuttt!
Begkh!
“Akh!"

Ki Sempur kembali terpekik ketika Rangga menekuk kaki, menghindari sabetan golok lawan, lalu bergerak cepat menghantam dadanya. Terdengar tulang dada orang tua itu berderak patah. Dari mulutnya menyembur darah segar. Pandangannya berkunang-kunang beberapa saat ketika tubuhnya berusaha bangkit.

Desss!

Kembali Ki Sempur Walang terlempar, dan menjerit kesakitan ketika satu tendangan pemuda itu membuat isi perutnya seperti diaduk-aduk. Kali ini dari mulutnya berulang-ulang memuntahkan darah segar, dan tubuhnya tak mampu bangkit lagi.

“Kisanak, kukira cukuplah pelajaran bagimu. Jangan sekali-sekali lagi mencoba berbuat kurang ajar terhadap perempuan yang tak berdaya!” dengus Rangga dan mengajak Rara Ningrum serta putranya berlalu dari tempat itu.

Begitu tiba di rumah, Samiaji langsung menceritakan peristiwa tadi kepada neneknya, sambil tak lupa memuji-muji kehebatan Pendekar Rajawali Sakti.

“Urusan ini tak akan selesai sampai di sini...,” keluh si nenek pelan. Suaranya lirih, hampir tak terdengar.

“Nyi, sedikit banyak aku telah terlibat dalam urusan ini. Ada baiknya kuselesaikan saja, dan langsung berhadapan dengan Juragan Bonteng,” kata Rangga.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Memperingatkannya agar tak berbuat semena-mena!”

“Hhh...,” Nyi Larasati menghela napas pendek.

“Kalian tunggu saja di sini. Aku akan bicara pada Juragan Bonteng, dan sekaligus pada kepala desa,” ujar Rangga seraya bangkit dan berlalu dari situ.

Nyi Larasati mau mencegah. Tapi Rangga sudah melesat cepat. Perempuan tua itu menggeleng-gelang lemah. Berkali-kali dia mendesahkan napas berat.

“Juragan Bonteng tak semudah yang dibayangkannya....”

********************

TIGA

Sejak tadi, Juragan Bonteng sudah gelisah menunggu kedatangan Ki Sempur Walang. Seharusnya, orang tua itu sudah datang, tapi sampai kopi dicangkirnya tandas, belum juga terlihat batang hidungnya.

“Cagaaak...!” teriaknya.

Laki-laki bernama Cagak itu buru-buru menghampiri majikannya di beranda depan. Wajahnya tampak ketakutan.

“Ada apa, Juragan?”

“Mana Ki Sempur Walang?”

“Eh, ng... memang belum datang juga, Juragan?”

“Masih banyak tanya lagi?! Panggil dia cepat. Kalau masih membantah, katakan aku akan memecatnya sekarang juga!”

“Baik, Juragan.”

Baru saja Cagak Layung akan memutar tubuhnya. Terlihat orang yang sedang dibicarakan berada di pintu pagar. Lelaki tua itu berjalan tertatih-tatih sambil mendekap dadanya. Dari raut wajahnya, nampak bias kesakitan hebat Cagak Layung pun segera menghampiri dengan heran.

“Ki Sempur, apa yang terjadi...?”

“Diam kau!” Cagak Layung menelan ludahnya, mendengar bentakan Ki Sempur Walang. Dalam hatinya semakin tak suka melihat kelakuan orang tua itu begitu membencinya.

“Ki Sempur, apa yang telah terjadi? Kau habis bertarung?” tanya Juragan Bonteng heran.

Orang tua itu duduk di kursi depan. Napasnya diatur beberapa saat, sebelum menjawab pertanyaan laki-laki berperut gendut itu.

“Tidak apa-apa! Aku terjatuh....”

Juragan Bonteng mengernyitkan dahi. Sekilas bisa mengetahui kalau Ki Sempur berbohong. Tapi, untuk berterus terang mengatakan yang sebenarnya, tentu akan membuat orang tua itu tak senang.

“Ada apa kau menyuruh Cagak Layung memanggilku?”

Juragan Bonteng menghela napas sesak. Kalau saja urusannya bukan soal perkelahian, mungkin masih bisa berharap banyak pada orang tua ini. Tetapi, melihat keadaan Ki Sempur demikian, tentu tak bisa diandalkan. Tetapi..., apa betul Ki Sempur babak belur dihajar seseorang? Siapa yang telah berani berbuat demikian di desa ini?

“Ada persoalan apa, Juragan Bonteng?!” tanya Ki Sempur mengulangi pertanyaannya. Kali ini lebih keras.

“Si Gondo kemarin sore dipukul seseorang. Cagak Layung sudah kukirim untuk menghajar orang itu. Tetapi, dasar ayam sayur, mereka malah babak belur. Nah, bisakah kau membereskannya sekarang?” tanya Juragan Bonteng, setelah menghela napas pendek.

“Siapa orang itu?”

“Entahlah, orang asing. Dia berada di rumah Nyi Larasati saat ini....”

“Pemuda berambut panjang dan berbaju rompi?”

Bola mata Ki Sempur terbuka lebar, menduga orang yang dimaksud Juragan Bonteng.

“He, Cagak Layung! Bagaimana pemuda yang kau katakan itu?!” teriak Juragan Bonteng.

“Ya, pemuda berambut panjang dan berompi putih,” jelas Cagak Layung mantap.

“Sial!” dengus Ki Sempur Walang sambil menghantam meja.

“Kenapa?” tanya Juragan Bonteng heran.

Ki Sempur Walang tak sudi menjawab. Hanya wajahnya saja yang geram menunjukkan isi hati penuh dendam. Sangat memalukan, dirinya yang selama ini ditakuti dan tak seorang pun berani menentang, tiba-tiba dijatuhkan seorang pemuda di hadapan wanita yang selama ini dikejarnya.

“Ki Sempur, bisakah kau membereskan pemuda itu? Kalau dibiarkan saja, dia akan besar kepala dan menginjak-injak wibawaku!” desak Juragan Bonteng, meminta bantuan laki-laki tua itu.

Ki Sempur belum menjawab, ketika dilihatnya beberapa anak buah Cagak Layung mencoba menahan seorang pemuda yang berusaha masuk ke dalam. Ki Sempur menyipitkan mata, dan bertanya pelan pada Cagak Layung yang berada di dekatnya.

“Cagak Layung, pemuda itukah yang kau maksud?”

“Betul, Ki....”

Juragan Bonteng terkejut mendengar jawaban Cagak Layung. “Mau apa dia ke sini?”

Cagak Layung dan Ki Sempur Walang terdiam. Di depan sana, terlihat keempat anak buah Cagak Layung telah mencabut sebilah golok masing-masing dan bersiap akan menyerang pemuda itu.

“Juragan Bonteng, beginikah caramu menerima tamu yang akan berkunjung secara baik-baik?!” teriak pemuda itu keras.

Juragan Bonteng terpaku sesaat. Diliriknya Cagak Layung dan Ki Sempur Walang. Tetapi, mereka membisu dan tak memberikan jawaban apa pun.

“Biarkan dia masuk!” perintah Juragan Bonteng akhirnya.

Keempat penjaga itu langsung menyarungkan golok dengan wajah penasaran. Pemuda yang tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu, melangkah pelan dan memperhatikan ketiga orang yang berada di beranda depan. Dua orang telah dikenalnya, dan pikirannya cepat membuat kesimpulan, laki-laki berperut buncit itulah tentunya Juragan Bonteng.

“Kaukah yang bernama Juragan Bonteng?” tanyanya perlahan.

Juragan Bonteng salah tingkah. Tetapi akhirnya, dia mengangguk pelan dan menyilakan pemuda itu duduk.

“Terima kasih,” sahut Rangga, mengambil tempat persis di depan mereka.

“Ada keperluan apa Kisanak datang kemari? Dan, siapa Kisanak sebenarnya?” tanya Juragan Bonteng, berpura-pura ramah.

“Aku cuma pengembara biasa yang kebetulan lewat. Namaku Rangga, terlebih dulu aku merasa perlu meminta maaf, Kisanak. Sesungguhnya, aku tak akan berlaku kasar terhadap orang-orangmu kalau mereka tidak mulai lebih dulu. Kedatanganku ke sini, membawa beberapa maksud. Pertama, ingin ku jelaskan tuduhan putra mu. Aku tidak pernah memukulnya sekali pun. Malah, dia bersama kawan-kawannya memukuli putra Rara Ningrum. Dan, aku berusaha melerai,” jelas Rangga tenang.

“Yang kedua, aku ingin Ki Sempur Walang jangan mengganggu Rara Ningrum lagi, juga kau, Juragan Bonteng. Aku mohon, jangan menambah penderitaan Nyi Larasati dengan memburuk-burukkan keluarga mereka. Bagaimana, Juragan Bonteng?”

Laki-laki berperut buncit itu tersenyum, mengangguk-anggukkan kepala. “Tentu saja, Kisanak. Aku percaya kau menyatakan yang sejujurnya!” Lalu, laki-laki itu berpaling pada Ki Sempur Walang, “Kau dengar, Ki Sempur? Aku tak mau mendengar kau mengganggu Rara Ningrum lagi!”

“I..., iya, Juragan.”

“Nah, kau dengar itu, Kisanak? Ki Sempur telah berjanji. Ada lagi yang ingin kau sampaikan padaku?”

Rangga tersenyum kecil, dan bangkit dari duduknya. “Terima kasih atas kemurahan hatimu, Kisanak. Aku akan selalu mengingatnya. Tetapi, percayalah..., aku akan datang kembali ke sini kalau ternyata kalian melanggar janji,” tegas Pendekar Rajawali Sakti sebelum berlalu dari sana.

Wajah Juragan Bonteng, yang sejak kehadiran pemuda itu selalu tersenyum-senyum, seketika berubah setelah Pendekar Rajawali Sakti menghilang dari tempat itu.

Brakkk!

Ki Sempur Walang dan Cagak Layung terkejut. Juragan Bonteng menggebrak meja sekuat-kuatnya. “Huh! Percuma saja kubayar kalian! Ki Sempur, biasanya kau garang?! Mengapa diam saja mendengarkan pemuda itu membuka mulut seenaknya? Apakah kau telah dihajarnya tadi?!”

Ki Sempur Walang terdiam.

“Ayo katakan! Apa kau telah dipecundanginya?!” Ki Sempur Walang menganggukkan kepala lemah.

“Sial!”

“Sungguhkah kau ingin menghajar pemuda itu?” tanya Ki Sempur Walang perlahan.

“Tentu saja! Dia sangat kurang ajar, dan harus diberi pelajaran!”

“Ng.... Ada seorang kenalanku yang berilmu tinggi, dan selama ini tak terkalahkan. Kalau kau bersedia, aku bisa membujuknya. Tapi....”

“Apa?! Uang? Aku tak peduli. Bawa dia ke sini, dan aku akan membayar tinggi!” sahut Juragan Bonteng.

“Baiklah kalau begitu. Sekarang juga, aku akan berangkat menemuinya. Tapi... aku perlu uang untuk ongkos perjalanan dan membayar uang muka....”

“Huh!” Juragan Bonteng mengeluarkan beberapa keping uang emas dari sakunya.

“Terima kasih, Juragan!” ujar Ki Sempur Walang, tersenyum-senyum kecil menerima kepingan uang itu.

“Bawa dia secepatnya!”

“Cagak, ayo ikut aku!”

“Tidak! Biarkan dia di sini!” tahan Juragan Bonteng cepat.

Ki Sempur cuma mengangkat bahu, dan berlalu secepatnya dari situ.

“Ke sini kalian!” panggil Juragan Bonteng pada Cagak Layung dan kawan-kawannya, setelah Ki Sempur Walang berlalu.

“Ada apa, Juragan?”

“Awasi pemuda itu. Jangan sampai terlepas dari pengawasan kalian. Orang itu harus mendapat pelajaran pahit, agar dia tahu siapa aku sebenarnya!”

“Sekarang, Juragan?”

“Kapan lagi?!”

“Ba... baik, Juragan!” sahut Cagak Layung, langsung mengajak kawan-kawannya berlalu dari sini.

Dari jauh, Juragan Bonteng mendengus sinis sambil berkali-kali menatap mereka sampai hilang dari pandangannya. Hatinya geram bukan main. Tak pernah dia menjadi orang sebodoh itu. Tetapi, melihat Cagak Layung dan Ki Sempur Walang diam tak berkutik, apa-lagi yang bisa diperbuatnya selain menuruti kemauan pemuda itu?

********************

Nyi Larasati beserta putri dan cucunya menyambut kedatangan Rangga dengan wajah harap-harap cemas. Rangga tersenyum, dan meneguk air dingin yang disuguhkan Rara Ningrum.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Rara Ningrum tak sabar.

“Aku telah bicara dengan kepala desa, tapi beliau menyerahkan persoalan padaku. Lalu aku datang ke tempat Juragan Bonteng.”

“Lalu?”

“Meminta agar dia jangan mengganggu kalian lagi. Terutama, Ki Sempur Walang. Juga, telah ku jelaskan duduk persoalan yang terjadi pada anaknya. Lalu, aku juga meminta padanya agar tidak memburuk-burukkan keluarga kalian...,” jelas Rangga.

“Apakah dia menolak dan marah?” tanya Nyi Larasati cemas.

Rangga tersenyum dan menggelengkan kepala. “Tidak Juragan Bonteng sangat baik, dan menyanggupi permintaanku.”

Nyi Larasati dan putrinya saling berpandangan. Tak sedikit pun terbias perasaan gembira di wajah mereka mendengar penuturan pemuda itu. Tentu saja, hal ini membuat Rangga heran.

“Ada apa, Nyi? Apa kalian tidak suka dengan caraku? Aku datang baik-baik pada Juragan Bonteng, dan sama sekali tak memaksanya. Adakah hal lain yang kalian sembunyikan?”

“Tidak..., terima kasih. Kami terlalu banyak merepotkanmu. Mudah-mudahan, Juragan Bonteng menepati janjinya...,” sahut Nyi Larasati sambil menggeleng lemah.

“Hm, ya. Kalau begitu aku mohon diri. Masih banyak yang akan kukerjakan,” pamit Rangga sambil bangkit dari duduknya.

“Begitu cepatnyakah?” tanya Rara Ningrum, seperti tak rela pemuda itu berlalu begitu saja.

“Paman mau ke mana?” tanya Samiaji sambil memegangi tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga tersenyum dan berjongkok, hingga wajahnya persis di depan bocah itu. “Paman harus pergi. Baik-baiklah kau dengan ibu dan nenekmu, ya?”

“Kenapa musti pergi? Tidak sukakah Paman tinggal bersama kami?”

“Tentu saja Paman suka. Tapi, kali ini ada sesuatu yang harus Paman kerjakan....”

“Setelah urusan Paman selesai, apakah Paman akan berkunjung kemari lagi?”

Rangga terdiam. Pandangannya beralih pada Rara Ningrum dan Nyi Larasati. Kedua wanita itu diam, tak memberikan reaksi. Rangga kembali menatap Samiaji sambil tersenyum kecil.

“Paman pergi dulu, ya?”

“Paman belum menjawab pertanyaanku...,” desah si bocah lirih.

Rangga terdiam, beberapa lama. Pertanyaan Samiaji sulit untuk dijawab. Kalau mengatakan akan kembali, sebenarnya dia tidak akan ke sini lagi. Dan, Rangga tidak mau mendustai anak itu. Mengatakan tidak akan kembali ke tempat ini lagi, rasanya tak tega melihat wajah Samiaji itu yang sangat berharap dirinya selalu berada di dekatnya. Tapi yang paling terpenting, tak boleh mengajarkan kebohongan. Hal itu akan menyakitkan bagi bocah seusia Samiaji.

“Samiaji, Paman mungkin tidak ke sini lagi. Setelah menyelesaikan satu urusan, urusan lain telah menanti. Hidup Paman tak pernah menetap di satu tempat...,” jelas Rangga.

Samiaji terdiam. Diperhatikannya wajah pemuda itu agak lama, kemudian kepalanya ditundukkan dengan wajah sedih. Suasana haru itu buyar ketika di kejauhan terdengar bunyi-bunyian yang menyita perhatian mereka semua. Di ujung jalan menuju desa, terlihat suatu rombongan yang akan melewati jalan utama desa.

“Siapa mereka?” tanya Rangga seperti pada diri sendiri. Dengan mengerahkan ilmu Tatar Netra, matanya mampu melihat jelas rombongan itu. Tampak beberapa pedati sarat muatan, dan beberapa penunggang kuda dengan pakaian aneka warna. Pendekar Rajawali Sakti mengernyitkan dahi. Siapakah mereka?

“Akan ada keramaian di desa ini,” gumam Nyi Larasati.

“Keramaian bagaimana, Nyi?”

“Rombongan kesenian yang sering berkeliling ke desa-desa.”

Rangga masih menunjukkan wajah heran, tidak mengerti akan penjelasan perempuan tua itu. Kemudian, Nyi Larasati menjelaskan secara singkat mengenai orang-orang itu. Rangga menganggukkan kepala.

“Ada permainan untuk anak-anak?” Kadang-kadang, mereka juga suka melakukan akrobat Kau tertarik untuk menontonnya?”

Rangga tersenyum tipis dan melirik Samiaji. “Kau suka menonton pertunjukan akrobat, Samiaji?”

“Suka sekali! Paman mau mengajakku?!” tanya bocah itu penuh harap.

“Baiklah. Kalau memang kau suka, Paman akan mengajak mu nanti malam,” janji Rangga.

“Horeee! Jadi Paman akan tinggal bersama kami?!” Samiaji berteriak kegirangan.

Rangga tak menjawab, melainkan hanya tersenyum kecil. Digendongnya bocah itu dan dibawanya berlari-lari sambil bermain-main di atas pohon. Kemudian ditunjukkannya beberapa permainan akrobat yang membuat bocah itu tercengang kagum dan tertawa-tawa kegirangan.

“Samiaji senang sekali akan kehadiran pemuda itu...,” gumam Nyi Larasati.

“Ya..,” sahut Rara Ningrum.

“Kalau saja pemuda itu menjadi suamimu, alangkah senangnya Samiaji. Hidupmu tentu tidak menderita begini, Rara....” Perempuan tua itu menoleh ke arah Rara Ningrum sambil merangkul pundaknya.

“Siapa yang berani berharap begitu, Bu...?” tanya Rara Ningrum lirih, mengerti maksud perkataan ibunya.

“Aku tak berharap, hanya berdoa untuk kebahagiaanmu.“

“Aku sudah cukup bahagia bisa mengasuh dan membesarkan Samiaji....”

“Dalam gunjingan seluruh orang desa? Ah, memang salahku menurunkan karma ini kepadamu,” keluh Nyi Larasati.

“Sudahlah, Bu. Aku menerima semua ini sebagai suratan takdir. Tak ada yang perlu disesali....”

“Tidak bisa! Aku telah bersumpah, jika keparat itu kutemukan, akan kuhajar kepalanya dengan kedua tanganku ini!” geram Nyi Larasati.

Rara Ningrum tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika sudah membicarakan Samiaji, dan penderitaan yang ditanggungnya selama ini, kenangan buruk itu selalu melintas dan tertumpah dalam air mata yang merembang di kelopak matanya. Rara Ningrum berlari kecil ke dalam. Dan, Nyi Larasati menyusul dengan wajah menyesal.

********************

EMPAT

Mata lelaki itu sipit dan selalu tampak berair. Tubuhnya agak bungkuk meski usianya belum terlalu lanjut. Bajunya lusuh seperti pengemis. Tetapi, raut wajahnya berkesan angkuh dan menganggap remeh semua orang. Begitu juga ketika berhadapan dengan Juragan Bonteng. Seakan tak peduli, kedua kakinya diangkat begitu saja di atas meja. Dari sela-sela bibirnya mengepul asap rokok kawung membentuk bulatan-bulatan tebal.

“Tahukah kau apa yang harus dilakukan?” tanya Juragan Bonteng menegaskan.

Juragan gendut itu tak yakin, kenalan Ki Sempur Walang ini mampu menangani pemuda yang telah membuatnya susah tidur. Sejak tadi, Corak Genggong bersikap acuh tak acuh. Matanya yang sipit dan selalu berair, terkantuk-kantuk menikmati hisapan asap rokok yang terus mengepul.

“Hm..., itu soal kecil. Bahkan kalau Juragan mau, aku bisa membuatnya mampus dalam sekali pukul.”

“Aku tak peduli! Kalau kau bisa membuatnya mampus, itu lebih baik lagi!”

“He he he...! Tapi upahnya.”

“Jangan khawatir, berapa pun yang kau minta pasti ku penuhi!”

“Seratus keping uang emas!”

“Apa?!” Sepasang mata Juragan Bonteng tampak membulat. Hatinya sangat terkejut, dan tidak pernah membayangkan akan diminta upah sebanyak itu. Seratus keping uang emas, bukan jumlah yang sedikit. Dirinya sendiri harus mengumpulkan dengan susah payah.

“Ya sudahlah. Kalau Juragan tidak setuju cari saja orang lain...,” sahut Carok Genggong sambil bangkit berdiri.

“Eh, sabar dulu. Sabar dulu.... Kau yakin mampu membereskannya?” tanya Juragan Bonteng meyakinkan.

“Lebih baik aku bunuh diri jika tak mampu membereskan bocah ingusan!” ujarnya sombong.

“Baiklah. Akan kuberi seperempat bagian dulu, sisanya akan ku lunasi bila kau telah membawa kepala pemuda itu.”

“He he he...! Carok Genggong tak pernah menerima upah setengah-setengah. Bila jadi, katakan jadi. Dan, beri upah seutuhnya. Tapi bila tidak, katakan tidak. Dan, aku akan berlalu secepatnya dari sini,” tegas orang bermata sipit itu tak senang.

“Aku tak punya uang sebanyak itu sekarang. Bagaimana kalau kubayar tujuh puluh lima keping dulu, dan sisanya ku lunasi lima hari lagi?”

Carok Genggong berpikir beberapa saat, sebelah akhirnya menganggukkan kepala. “Hm..., tak apalah. Hitung-hitung membantu majikan sobatku. Kalau bukan majikan Ki Sempur, mana mungkin kuterima. Nah, katakan di mana aku bisa menjumpainya? Akan kubereskan sekarang juga!”

“Di rumah Nyi Larasati. Ki Sempur Walang akan mengantarmu ke sana. Bukan begitu, Ki Sempur?”

“Betul, Ki Carok. aku akan mengantarmu sekarang juga,” sahut Ki Sempur Walang.

“Hm, kalau begitu kami berangkat sekarang!” ujar Carok Genggong sambil membuang puntung rokok. Dengan diikuti Ki Sempur Walang, mereka langsung membalikkan tubuh dan berlalu dari tempat itu.

Juragan Bonteng menghela napas lega, dan berharap Carok Genggong mampu mengatasi pemuda yang telah menghina dirinya.

“Kau percaya pada orang itu, Juragan?” tanya Cagak Layung sinis.

“Kalau tidak, siapa lagi yang harus dipercaya? Sebenarnya, aku tak suka orang itu. Sikapnya sangat sombong dan meremehkan diriku. Kalau tugasnya sudah selesai, aku ingin dia segera angkat kaki dari sini!”

“Aku malah khawatir, dirinya akan menjadi penghalang, Juragan.”

“Maksudmu?”

“Iya..., melihat sikapnya yang sangat meremehkan Juragan, bisa menjadikannya besar kepala dan berpikir untuk menetap di sini selamanya. Kalau sampai terjadi demikian, keberadaan Juragan akan terancam,” jelas Cagak Layung.

Juragan Bonteng merenungi dugaan Cagak Layung. Kemudian kepalanya terangguk-angguk dengan wajah kebingungan.

“Benar juga katamu....”

“Itulah Juragan. Sebaiknya, jangan mempercayai orang yang baru dikenal.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Juragan Bonteng kesal. “Setan keparat! Pemuda sial itu benar-benar membuat otakku buntu!”

“Jangan takut, Juragan. Masih banyak cara mengatasi pemuda itu,” saran Cagak Layung tenang.

“Sudahlah, jangan berbelit-belit! Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Juragan Bonteng tak sabar.

Cagak Layung beranjak mendekati juragannya. “Aku punya seorang kawan yang bisa diandalkan. Kalau orang itu gagal, Juragan boleh mempercayai kawanku...,” suara Cagak Layung terdengar berbisik.

Mata Juragan Bonteng mendelik dan raut wajahnya berubah tak senang. “Kalian berdua sama saja! Ingin menguras hartaku dengan alasan macam-macam!”

“Eh, jangan salah paham, Juragan! Kawanku tidak mata duitan seperti yang tadi. Bila mendengar ada orang sakti, akan didatangi dan ditantangnya orang itu. Lalu, diajak bertarung habis-habisan,” jelas Cagak Layung.

Juragan Bonteng kembali berpikir. Akalnya yang licik segera bekerja. Ada baiknya, memanfaatkan orang itu bila kata-kata Cagak Layung benar. Bagaimanapun, dibandingkan dengan Ki Sempur, Cagak Layung lebih bisa dipercaya. Orang itu telah bekerja lebih lama daripada Ki Sempur. Juragan Bonteng tahu betul watak dan kebiasaannya.

“Bawa segera orang itu. Tidak usah menunggu Carok Genggong berhasil atau tidak,” perintah Juragan Bonteng.

“Baik, Juragan!” Cagak Layung segera mengajak kawan-kawannya, setelah mendengar keputusan Juragan Bonteng.

********************

Rombongan itu memang kelompok kesenian yang sering berpindah-pindah. Mereka merencanakan singgah di desa itu selama beberapa hari. Mengadakan sandiwara panggung, akrobat dan beberapa hiburan lain. Pemuda berompi putih itu tersenyum girang melihat si bocah tertawa-tawa. Beberapa orang sedang melakukan akrobat, sambil sesekali melakukan adegan lucu yang mengundang gelak tawa.

“Paman, aku ingin melihat dari dekat,” pinta si bocah berusaha menyelip di antara kerumunan penonton lain.

“Hati-hati, Samiaji!”

“Jangan khawatir, Paman!”

Pemuda yang dipanggil Paman tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. Kepalanya menggeleng-geleng melihat kelakuan Samiaji. Sejak tadi, Samiaji merasa tak puas terhalang orang-orang di depannya. Rangga telah berusaha mendudukkan Samiaji di pundaknya. Tetapi, banyaknya orang-orang yang menonton pertunjukkan, membuat Samiaji masih merasa tak leluasa.

“Dasar bocah keras hati...,” gumamnya.

“Yang jelas, sifat anak tentu mewarisi sifat orang-tua....”

“Heh!” Rangga tersentak kaget mendengar seseorang menyahuti gumamnya.

Seketika kepalanya menoleh ke belakang, dan melihat seorang gadis berbaju hijau dengan rambut dikuncir ke belakang. Mulutnya tersenyum lebar padanya. Wajahnya cantik dengan kulit kekuning-kuningan dan halus. Bibirnya kecil dan merah, dengan hidung lancip serta bola mata bulat berbinar-binar. Kedua alis matanya hitam dan lebat. Sepintas saja, setiap laki-laki akan terpikat melihat parasnya. Terlebih melihat tubuhnya yang, padat berisi dibungkus pakaian ketat. Melihat gerak-gerik serta wajahnya, usia gadis itu tak lebih dari enam belas tahun. Rangga juga menduga demikian.

“Apakah kau bicara padaku?” tanya Pendekar Rajawali Sakti ragu.

“Aku bicara pada orang yang merasa kuajak bicara,” sahut gadis itu enteng.

“Hm, maaf. Kalau begitu aku salah duga...,” lanjut Rangga sambil memalingkan tubuh kembali.

“Kalau bapaknya angkuh, tentu anaknya akan lebih angkuh lagi....”

Rangga mendiamkan ocehan gadis itu.

“Orang angkuh biasanya berhati busuk!” Kata-kata gadis itu mulai agak keras dan terdengar jengkel.

Rangga masih pura-pura tidak mendengar. Matanya tetap tertuju pada orang-orang yang sedang mempertunjukkan akrobat.

“He, Pemuda Sial! Kau tidak mendengar suaraku?!”

Rangga masih tetap tak peduli dimaki demikian.

“Sombong!” dengus gadis itu kesal. Rupanya, gadis itu betul-betul jengkel. Maka ketika melihat perhatian Rangga tertumpah pada pertunjukan di depan, tiba-tiba gadis itu melesat melewati kepala orang-orang yang menonton. Lalu, kakinya dijejakkan persis di tengah arena. Tentu saja hal itu mengundang kagum penonton. Mereka mengira perbuatannya bagian dari pertunjukkan.

“He, Kisanak! Berbarislah kalian di sana!” perintah si gadis pada lima orang anggota rombongan yang sedang memainkan akrobat. Merasa tidak mengenal si gadis, tentu mereka ragu-ragu menuruti perintahnya.

“He, kalian tidak mendengar perintah?!” bentaknya sambil membelalak mata.

“Siapa kau? Kami tak mengenalmu?” tanya salah seorang yang bertubuh tinggi kurus. Orang itu sangat ahli melipat-lipat tubuhnya, seperti tidak bertulang saja. Dan dialah pimpinan dalam kelompok ini.

“Sial!”

“Heh!” Tiba-tiba tubuh si gadis melesat ringan di atas kelima orang itu sambil menjejakkan kakinya satu persatu. Perbuatannya tentu sangat menghina. Terutama, mereka tidak mengenal si gadis itu. Ketika giliran si tinggi kurus, kepalanya segera ditundukkan sambil tangannya diayunkan untuk menjegal.

“Kurang ajar!”

“Hihhh!” Tetapi si gadis telah menduganya. Dengan kaki yang lain, ditendangnya kepala orang itu. Si tinggi kurus pun bukan orang sembarangan. Dengan cepat, dia menghindari tendangan ke arah kepala.

“Yeaaa...!”
Plak! Des!
“Akh!”

Si tinggi kurus terpekik kesakitan. Dengan gerakan kilat, si gadis telah berbalik dan menghajar punggungnya. Tubuhnya terjerembab. Namun, cepat bangkit kembali. Ternyata, hal itu mengundang perhatian penonton. Mereka yang mengira adegan tadi sebagai bagian dari pertunjukan, kini mulai mengerti perkelahian itu sesungguhnya. Ada yang senang, tapi ada pula yang menanggapinya dengan kesal. Beruntung, hal itu tidak berlanjut ketika salah seorang mendatangi arena.

“Nisanak, siapakah kau? Mengapa mengganggu kami?” tanya seorang tua bertubuh kecil. Wajahnya ramah dan tutur katanya halus.

“Huh! Dasar orang-orang goblok! Siapa yang mengganggu? Justru aku ingin membantu agar pertunjukan lebih hidup dan hebat!” sahut si gadis ketus.

Orang tua bertubuh kecil itu masih tersenyum. “Terima kasih atas niat baikmu, Nisanak. Bukan kami tidak menerima bantuan orang lain, tapi bagaimanapun buruknya penampilan kami di mata penonton, kami akan berusaha memperbaiki tanpa diajari orang lain. Harap kau mengerti.”

“Huh, terserah!” dengus si gadis sambil beranjak pergi

“Nisanak, kau melupakan sesuatu! Tolong kembalikan ikat kepala salah seorang anggota yang ada di tanganmu!” pinta orang tua itu.

“Nih, ambil sendiri!” sahut si gadis sambil membalikkan tubuh. Tangannya menjulurkan ikat kepala merah ke arah orang tua. Dalam segebrakan tadi, gadis itu memang berhasil mempecundangi lawan dan menyambar ikat kepala si tinggi kurus. Dan, ketika hendak berlalu, sebenarnya dia pun tak lupa akan hal itu. Malah memang disengaja untuk melihat reaksi orang tua itu. Dan inilah kesempatan untuk melampiaskan kejengkelan hatinya. Orang tua bertubuh kecil itu menyipitkan mata sambil tetap tersenyum. Dengan sikap tenang dan perlahan-lahan, didekatinya si gadis. Tangannya terjulur hendak mengambil sehelai kain kecil itu.

“Hup!”
“Heh!”
Plas!

“Terima kasih atas kebaikan dan pengertianmu, Nisanak!” sahut si orang tua sambil terkekeh kecil. Diberikannya ikat kepala yang berhasil direbut dari tangan si gadis itu kepada pemiliknya semula.

Si gadis merasa sangat gusar. Isi dadanya terasa ingin meledak menahan geram. Bermaksud ingin memberi pelajaran tapi dia sendiri yang diberi pelajaran. Sengaja dipegangnya ujung kain sedikit erat, dan ujung kain lainnya terulur ke arah si orang tua. Begitu terpegang, buru-buru dikerahkan tenaga dalam hingga membuat ikat kepala itu menegang kaku.

Tapi, si orang tua tak kalah sigap. Kain pengikat kepala yang kaku itu diputarnya seperti mata bor dalam genggaman si gadis. Tentu saja si gadis terkejut. Dan, dengan satu sentakan kecil, ikat kepala itu kembali melemas ketika si orang tua menariknya.

“Ha ha ha...! Terima kasih, Kisanak. Kau membuat kedua mata muridku terbuka. Gadis itu memang nakal sekali dan suka usil mengganggu orang lain. Maafkan keteledoranku, hingga melepasnya begitu saja!”

“Heh!” Orang bertubuh kecil itu tersentak kaget. Di sana telah berdiri sesosok tubuh yang lebih tinggi sedikit darinya. Bajunya kumal seperti pengemis, dan tubuhnya kurus. Mukanya merah dan di tangannya terlihat sebuah guci kecil berisi arak. Melihat kerut-merut dan rambutnya yang telah memutih, bisa diduga usia mereka tidak terpaut jauh. Sekitar enam puluh tahun.

“Hm, tak apa Kisanak. Memang kusadari hal itu. Dan maafkan pula kekasaranku terhadap muridmu. Kalau kalian sudah mampir ke tempat kami yang hina ini, mengapa tidak langsung saja ke gubuk kami yang reot? Untuk sekadar minum seteguk atau dua teguk air? Kulihat kalian telah melakukan perjalanan melelahkan,” ujar orang tua bertubuh kecil itu ramah.

Sengaja dikatakannya hal itu untuk menghormati tamunya. Orang tua bertubuh kecil ini memang tidak menyukai keributan. Bila seorang tamu menunjukkan niat baik, dia pun tak segan bersikap baik pula. Dan, ternyata hal itu disambut baik si orang tua berbaju gembel.

“Ah, terima kasih, Kisanak. Aku si Palat Diga, dan muridku tentu mendapat kehormatan besar mendapat undanganmu.”

“Hm, sebaliknya aku si tua, Teguh Narada, mendapat kehormatan besar kunjungan seorang pendekar sepertimu,” balas orang tua bertubuh kecil merendah.

“Nah, Wulansari, kau harus memberi hormat dan meminta maaf atas kelakuanmu tadi! Ayo, beri hormat dan minta maaf!” bentak Ki Palat Diga.

Tapi, gadis itu rupanya pembangkang. Sambil memberengut, dia malah berlalu dari tempat itu. Gurunya hanya menangani sambil terkekeh-kekeh. Lalu, diajaknya orang tua bertubuh kecil itu menuju gubuk-nya.

“Dasar anak keras kepala! Sulit diatur. Pasti dia akan kembali dan membawa persoalan yang menyusahkanku...,” gumam Ki Palat Diga sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kakinya terus mengikuti langkah Ki Teguh Narada yang berjalan lebih dulu.

********************

LIMA

Sejak melihat si gadis menyerbu ke arena, Rangga sudah langsung mencari Samiaji di antara kerumunan penonton dan memondongnya di pundak.

“Kita pulang saja ya? Sudah malam...,” ajak Rangga.

“Sebentar lagi, Paman! Ini lebih seru!” sahut Samiaji menolak.

Rangga memberikan beberapa alasan, tapi Samiaji tetap berkeras. Ketika terjadi perkelahian antara si gadis dengan salah seorang pemain akrobat, dia malah tertawa-tawa lucu.

“Lihat, Paman! Orang itu tidak pandai mengelak, dan dengan mudah kakak itu menjatuhkannya!”

“Hus, tidak boleh begitu!”

“Kenapa?”

“Tidak boleh menertawai orang yang sedang kesusahan. Sebaliknya, kita harus kasihan.

Samiaji mengangguk-angguk. Sepasang matanya yang kecil dan bulat kembali mengarah ke depan. Tetapi, perkelahian itu sudah dilerai Ki Teguh Narada. Dan, Samiaji tidak mengerti peristiwa rebutan pengikat kepala antara kakek itu dan si gadis. Sedangkan bagi Rangga, hal itu membuka matanya dan segera mengetahui kakek bertubuh kecil itu bukan orang sembarangan. Tenaga dalamnya termasuk tokoh-tokoh persilatan kelas atas.

Merasa puncak acara telah berlalu, Samiaji mulai mengantuk dan mengajak Rangga pulang. Rangga tidak menolak. Sebentar lagi acara memang akan selesai. Tinggal pertunjukan untuk orang-orang dewasa. Suara gamelan dan gendang mengiringi penari-penari berbaju minim berselendang tipis sebagai pengumpan lelaki iseng yang akan menari bersama mereka.

“Paman bisa seperti orang-orang itu?” tanya Samiaji ketika dalam perjalanan pulang.

“Hm, nanti akan Paman coba ya?” jawab Rangga. Rangga menghela napas pendek. Sengaja diajaknya Samiaji menonton pertunjukkan, padahal, tadi sore mereka sudah puas bermain. Samiaji tentu akan lelah dan langsung tidur setiba di rumah. Saat itulah, Rangga berniat pergi dari pondok Nyi Larasati. Bagaimanapun hatinya telah jatuh kasihan pada Samiaji. Samiaji sudah menganggapnya orang tua sendiri. Padahal, mereka baru kenal beberapa hari. Lagi pula, mestinya dia tidak berada di situ tanpa ada hal penting yang bisa dikerjakan. Persoalan Juragan Bonteng dengan segala ulahnya telah selesai. Berarti, persoalan utama yang mengganggu keluarga Nyi Larasati telah selesai.

“Kenapa harus menunggu nanti, Paman? Tidak bisakah sekarang saja?” pinta si bocah.

“Sekarang sudah malam. Lagi pula, apakah kau tak puas dengan pertunjukan itu?”

“Aku ingin melihat Paman yang melakukannya.”

“Ya sudah, nanti saja. Sekarang, kita harus cepat-cepat tiba di rumah. Udara semakin dingin, dan kelamaan di jalan bisa membuatmu sakit Mengerti, kan?”

Samiaji menganggukkan kepala, bola matanya mulai meredup ketika Rangga menggendongnya. Tak lama kemudian, kepala Samiaji sudah terkulai di dada Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menepuk-nepuk pantatnya, dan sesekali membelai rambut Samiaji dengan kasih sayang. Baru saja Rangga mempercepat langkahnya agar tiba di rumah, ketika tiba-tiba sesosok tubuh ramping melesat dari atas cabang pohon, dan berdiri tegak di hadapannya. Rangga menghentikan langkah dan bersikap waspada.

“Hi hi hi...! Ternyata pemuda sombong sepertimu memiliki kasih sayang juga terhadap anak.”

Rangga menunjukkan wajah masam ketika tahu siapa yang muncul. Gadis berambut kuncir ke belakang itu, yang tadi mencari gara-gara dengannya.

“Apakah kau bicara padaku?” tanya Rangga sengaja ingin membuat gadis itu kesal.

“Dasar sial! Apa kau pikir di sini ada orang lain? Kalau bukan bicara denganmu, lalu bicara dengan siapa?”

Rangga tersenyum penuh kemenangan. Tetapi, wajahnya tetap terlihat datar. Bahkan, menunjukkan rasa tidak senang.

“Hm, syukurlah. Aku hanya ingin memastikan, apakah kau sedang bicara denganku atau angin...,” sahutnya tenang.

Bibir gadis itu mengatup kesal. “Belum pernah kutemui pemuda sombong seperti kau....”

“Tentu saja, karena baru tadi pagi kau turun gunung,” potong Rangga.

Ucapan Pendekar Rajawali Sakti membuat hati gadis itu sangat panas. Wajahnya merah, dan kedua matanya melotot garang. Kepalan tangannya sudah siap menghajar Rangga. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti sudah menyorongkan telapak kirinya sambil berkata perlahan.

“Ssst! Tidak bisakah kau menahan sabar sampai anakku tidur nyenyak? Kasihan, sudah sejak tadi pagi dia bermain-main terus. Nanti, kalau sudah kukembalikan pada ibunya, kita bisa bermain-main sampai puas.”

“Pemuda ceriwis, tutup mulutmu! Rasanya, aku harus membuntungi kepalamu yang sangat sombong itu!” bentak gadis itu.

“Ssst! Jangan keras-keras bicaramu. Kalau nanti anakku bangun, tentu akan mengadu pada ibunya, dan kita bisa repot. Kalau memang kau tak mau, ya sudah. Aku tak memaksa. Nah, sekarang jangan halangi niatku untuk pulang,” ujar Rangga.

Gadis itu diam ketika Rangga berlalu dari hadapannya. Tapi, secara diam-diam diikutinya dari belakang sampai ke tempat kediaman Nyi Larasati.

********************

“Yeaaa...!”
“Heh?!”

Rangga tersentak kaget. Pendengarannya yang tajam mendengar teriakan perkelahian dari arah rumah Nyi Larasati. Tubuhnya langsung digenjot dan berlari cepat untuk melihat apa yang terjadi. Pendekar Rajawali Sakti sangat heran melihat seorang laki-laki tua bertubuh agak bungkuk menyerang Nyi Larasati dengan hebat. Di dekatnya, terlihat orang yang telah dikenal Rangga sedang mencengkeram dan memeluk tubuh Rara Ningrum penuh nafsu.

Perempuan itu meronta-ronta dan menjerit ketakutan. Tetapi, jeritannya tidak dihiraukan sama sekali oleh laki-laki separuh baya, yang terus menindih tubuhnya dan berusaha membuka seluruh pakaiannya dengan paksa. Setelah meletakkan tubuh Samiaji yang terbangun mendengar suara-suara ribut itu, tubuh Rangga langsung melesat ke arah laki-laki yang sedang berusaha melampiaskan nafsu setannya.

“Jahanam keparat! Agaknya kau tidak jera dengan pelajaran yang kuberikan!”

“Heh!” Laki-laki itu terkejut dan melepaskan pelukan pada Rara Ningrum.

Wuuut! Wuuut!

Sesosok tubuh telah bergerak cepat ke arahnya. Walaupun hantaman itu berhasil dielakkan dengan membuang tubuh ke samping, tapi tendangan ujung kaki Rangga menghantam telak di perutnya.

Bugkh!
“Aaakh...!”

Terdengar suara seperti nangka busuk jatuh dari pohon. Orang itu terpekik kesakitan ketika tubuhnya terpental dua tombak sambil menyemburkan darah segar. Bagian bawah tubuhnya tersingkap ketika celananya robek lebar dan tak sempat diikat tadi.

“Ki Carok Genggong!”

Orang yang sedang bertarung dengan Nyi Larasati terkejut dan menghentikan serangan mendengar jeritan kawannya. Matanya langsung menatap tajam ke arah pemuda berbaju rompi putih yang baru datang itu.

“Phuih! Kaukah orangnya?!”

Rangga menaikkan alis. Pikirannya mengingat-ingat di mana pernah bertemu orang ini. Tapi sampai jemu mengingat, tidak juga ditemukannya. Lagi pula, pikirannya tak sempat lagi untuk mengingat berlama-lama. Laki-laki bermata sipit dan bertubuh agak bungkuk itu telah mengambil aba-aba untuk menyerang.

Sementara, Rara Ningrum yang telah terbebas segera bangkit dan membenahi pakaiannya yang tak karuan, buru-buru dihampiri perempuan tua yang bibirnya telah meneteskan darah segar akibat perkelahian tadi.

“Ibu tidak apa-apa?!” tanyanya cemas.

“Tidak apa-apa, Rara. Tak perlu cemas. Syukurlah pemuda itu cepat datang. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada kita. Oh..., aku memang tak berguna. Menghadapi bajingan busuk saja tak mampu, apalagi membalaskan dendam kita....”

“Jangan berpikir ke sana terus, Bu. Lebih baik istirahat, dan mengatur napas baik-baik!”

Nyi Larasati terdiam dan mengikuti anjuran putrinya. Napasnya yang memburu, perlahan-lahan mulai diatur kembali.

“Yeaaa...!” “Hiyaaa...!”

Begitu pikirannya kembali sadar, Nyi Larasati baru mengetahui kalau Rangga tengah bertarung dengan bekas lawannya. Sedangkan Ki Sempur Walang yang berusaha bangkit tertatih-tatih untuk mencuri kesempatan, telah dihadang seorang dara berbaju hijau berambut panjang dikuncir.

“Siapa gadis itu, Rara?”

“Entahlah, Bu. Aku juga tak tahu. Kedatangannya begitu tiba-tiba dan langsung menyerahkan Samiaji kepangkuanku. Lalu, dihadangnya laki-laki itu.”

“Samiaji cucuku, oh... kau tak apa-apa?!” jerit Nyi Larasati, seakan baru menyadari bocah kecil itu berada di dekatnya. Dipeluknya bocah itu, dan diciuminya sambil mengusap-usap kepala.

Tetapi, Samiaji hanya membalas sekilas sambil tersenyum kecil. Bola matanya tak berkedip menyaksikan pertarungan Rangga dengan orang jahat yang mengganggu ibu dan neneknya. Tak terbersit rasa takut sedikit pun di wajahnya, melihat kejadian aneh di depan matanya. Gerakan-gerakan mereka sulit diikuti karena terlalu cepat. Kepala Samiaji pun terasa pusing, namun tetap dipaksakannya untuk melihat.

Sementara, pertarungan antara Rangga dan lawannya terus berlanjut. Carok langsung mengeluarkan serangan-serangan yang cukup ganas dan mematikan. Tetapi, setelah mengamati jurus-jurus lawan, Rangga mulai mengerti kelemahannya dan mulai melancarkan serangan balasan!

“Agaknya kau sangat bernafsu membunuhku Sobat! Terpaksa aku harus melindungi diri dan memberi pelajaran padamu!” gertak Rangga.

“Huh! Bocah kencur, kau bisa berbuat apa? Kepalamu akan kutebas sebentar lagi!”

“Hiyaaa...!”
“Yeaaa...!”

Dalam suatu kesempatan, Pendekar Rajawali Sakti melompat di atas kepala lawan. Carok Genggong pun menyambutnya dengan kepalan tangan berisi tenaga dalam penuh. Dengan hanya sekali pukul, Carok Genggong yakin Rangga tidak akan berkutik lagi. Namun tidak diduganya, Rangga malah menangkis dengan kepalan tangan. Laki-laki bertubuh bungkuk itu mengeluh kesakitan, tangannya terasa perih seperti kesemutan.

Baru saja dirinya bersiaga untuk menghadapi serangan berikut, telapak kaki kanan Rangga sudah bergerak cepat menghantam dadanya. Seketika terdengar tulang rusuk Carok Genggong berderak patah. Laki-laki tua bertubuh agak bungkuk itu memekik kesakitan. Tubuhnya terjungkal sejauh dua tombak. Sebelum dirinya mampu bergerak bangkit, Pendekar Rajawali Sakti telah berkelebat cepat dengan serangan kilatnya.

“Hup!”
Plak!
Des!
“Akh...!”

Carok Genggong menjerit kesakitan ketika kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti menyodok perutnya dengan telak. Rangga berdiri tegak, persis di depan lawannya.

“Bangkitlah, Manusia Kejam! Bukankah kau ingin menebas leherku? Atau aku yang harus melakukannya pada kepalamu?!”

“Bedebah! Carok Genggong tak pernah dihina! Kau harus membayar mahal dengan jiwamu!”

“Hm....” Rangga memperhatikan tindakan lawannya. Carok Genggong berdiri tegak dengan kedua kaki ditekuk. Kedua kepalan tangannya berada di pinggang. Sesaat kemudian, terdengar rongga dadanya diisi udara. Namun, wajahnya meringis kesakitan sebelum kedua paru-parunya terisi penuh. Rasa sakit yang hebat menjalar akibat patahnya beberapa tulang rusuk. Tetapi, Carok Genggong tetap berusaha mengatasinya walaupun keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.

“Hup!” Telapak kanannya disorongkan ke depan. Terasa angin panas menjalar dari telapaknya. Rangga segera bergerak ke samping. Tetapi, Carak Genggong sudah melompat dan bersiap menghajar Pendekar Rajawali Sakti dengan telapak tangan yang kini berubah merah kecoklatan.

“Kau memang tak pantas dikasih hati lagi!” ujar Rangga sambil menyorongkan telapak tangan ke arah Carok Genggong. Dilihatnya lelaki tua itu sangat bernafsu menyerang.

Glarrr!
“Heh!"
“Aaa...!”

Carok Genggong memekik panjang, ketika tubuhnya terlempar beberapa tombak dan menggelepar-gelepar seperti ayam dipotong. 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti tak mampu dielakkan. Dan, napasnya putus beberapa saat kemudian.

Sebenarnya, Pendekar Rajawali Sakti tak bermaksud membunuh lelaki tua itu. Tetapi, Carok Genggong terlalu memaksakan diri dan terus menggempurnya, meski keadaan tubuh sudah tak memungkinkan. Akibatnya, bisa diduga orang itu akan berbuat apa pun asal lawan tewas, atau setidaknya mereka tewas berdua. Tentu saja, Rangga tidak sudi melayani kenekatan itu. Pendekar Rajawali Sakti pun balas menyerang, dan ternyata mengakibatkan kematian pada lawan.

Bersamaan dengan itu, Ki Sempur Walang terlihat lari terbirit-birit. Rangga sengaja membiarkan dan berjalan menghampiri Nyi Larasati. Segera diperiksanya keadaan tubuh perempuan tua itu.

“Kau tak apa-apa, Nyi?”

“Tidak, cuma sedikit sesak. Tak lama lagi juga akan sembuh.”

Pendekar Rajawali Sakti baru terbuka matanya. Tidak disangka, perempuan tua ini mampu menghadapi Carok Genggong. Padahal, kepandaian laki-laki bertubuh sedikit bungkuk itu cukup tinggi. Ketika malam kemarin bercerita, Nyi Larasati tidak mengatakan apa-apa. Dirinya hanya bercerita mengenai tekanan dan gunjingan orang-orang desa terhadap keluarga mereka. Salah seorang yang sangat menginginkan kepergian mereka adalah Juragan Bonteng. Dan, selebihnya perempuan tua itu menceritakan niat busuk Ki Sempur Walang, yang mengincar Rara Ningrum dan bermaksud menodai.

“Siapakah gadis itu? Apakah dia kawanmu?” tanya Nyi Larasati, mengalihkan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.

“Gadis? Gadis mana?” Rangga melihat berkeliling, tapi gadis yang dikatakan perempuan tua itu tak terlihat batang hidungnya.

“Dia sudah pergi....”

“Bagaimana rupanya?”

“Masih muda, cantik dan berambut panjang dikuncir ke belakang, serta memakai baju hijau.”

“Hm...,” Rangga mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Nyi Larasati.

“Kawanmu?”

Pendekar Rajawali Sakti menggeleng. Nyi Larasati pun tak bersemangat lagi mencari tahu, melihat reaksi Rangga yang segan menjawab.

“Ada yang ingin kubicarakan padamu, Nyi...,” ucap pemuda itu ketika melihat Nyi Larasati bermaksud melangkah ke dalam rumah.

“Persoalan apa?” tanya Nyi Larasati menghentikan langkah, dan melihat sinar mata pemuda itu mengandung kecurigaan padanya.

“Kulihat tadi kau memiliki ilmu silat yang tak rendah. Mengapa kau menyembunyikannya dariku?”

Nyi Larasati tidak langsung menjawab, dan diam beberapa saat sebelum berkata lirih.

“Masuklah ke dalam. Hari telah larut malam...”

“Silakan kalian lebih dulu. Aku akan menyelesaikan persoalan malam ini juga kepada Juragan Bonteng. Orang itu harus memegang janjinya!” geram Rangga sambil berlalu dari tempat itu.

“Mau ke mana Paman?!”

Rangga tak menjawab teriakan bocah itu. Begitu juga ketika Nyi Larasati dan Rara Ningrum berniat menahan.

“Juragan Bonteng sangat licik. Kau tunggu di sini, Rara. Aku akan membantu pemuda itu!” ujar Nyi Larasati segera berkelebat menyusul Pendekar Rajawali Sakti.

Rara Ningrum tak mampu menjawab. Wajahnya terlihat cemas sambil memeluk Samiaji. Matanya sayu memandang ke arah hilangnya kedua orang tadi. Tetapi, baru saja kakinya akan melangkah ke dalam, tiba-tiba sesosok tubuh bergerak cepat mengayunkan tangan ke lehernya.

ENAM

“Ehhh...,” Rara Ningrum mengeluh pendek. Habislah riwayatnya, dibunuh lawan tak dikenal Kedua matanya terpejam sambil memeluk Samiaji erat-erat. Namun sekian lama ditunggu, tidak juga terasa apa-apa di lehernya. Rara Ningrum memberanikan diri membuka kelopak mata. Di depannya, telah berdiri seorang gadis cantik yang tadi ikut membantu Rangga menghajar Ki Sempur Walang.

“Oh, kau rupanya. Maaf, kau mengagetkanku, Nisanak, terima kasih pertolonganmu tadi...,”

Rara Ningrum berusaha tersenyum dan mempersilakan tamunya masuk ke dalam.

“Tak perlu! Aku hanya ingin tahu, apakah kau istri pemuda itu?” tanya si gadis ketus.

“Pemuda? Pemuda yang mana?”

“Jangan berbelit-belit! Aku bisa membunuhmu saat ini juga!” bentak gadis berbaju hijau itu.

“Nisanak, kau boleh membunuh kami sekarang juga. Tapi aku tak mengerti apa yang kau maksud....”

“Sial! He, buka telingamu lebar-lebar! Pemuda berompi putih itu suamimu?!”

Rara Ningrum baru mengerti apa yang dimaksud “Dia bukan apa-apaku...,” jawabnya perlahan.

“Hm, lalu bocah itu?” tunjuk si gadis kepada Samiaji.

“Ini anakku....”

“Kenapa pemuda itu berada di sini dan sangat mengkhawatirkan dirimu? Apakah suamimu sudah mati, dan sekarang kau mencoba merayunya?”

“Nisanak, kau begitu memperhatikan Rangga, apakah dia kawan dekatmu?” Rara Ningrum balik bertanya.

“Hm... itu bukan urusanmu!” sahut si gadis ketus, segera berlalu dari situ.

Gadis yang bernama Wulandari itu, memang murid Ki Palat Diga yang sejak tadi menguntit Rangga. Ketika Pendekar Rajawali Sakti telah membereskan lawannya, secepat itu pula ditinggalkannya Ki Sempur Walang yang nyaris meninggal dihajar habis-habisan. Dan, ketika Rangga serta Nyi Larasati meninggalkan tempat itu. Wulandari juga tahu mereka akan menuju tempat kediaman Juragan Bonteng.

Wulandari bersama gurunya masih baru di sini. Tak heran, kalau dirinya tidak mengenal Juragan Bonteng. Bermula dari rasa iseng menguntit Pendekar Rajawali Sakti, akhirnya malah merasa penasaran melihat kepandaian pemuda itu sangat tinggi dan luar biasa. Bahkan, dirinya tak yakin mampu mengimbangi pemuda itu. Tadinya Wulandari berniat mengikuti Rangga. Namun, dirasa perlu menemui gurunya terlebih dulu di tempat kediaman Ki Teguh Narada.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

“Silakan masuk! Jangan malu-malu...,” ujar orang tua bertubuh kecil itu ketika membukakan pintu, dan melihat seorang gadis cantik diam mematung.

“Kau harus minta maaf, lalu memberi hormat, baru boleh masuk. Kalau membantah kau tak akan lepas dari hukumanku!” timpal gurunya dari dalam.

Meskipun merasa kesal, gadis yang ternyata Wulandari itu terpaksa melakukannya.

“Duduklah. Masalah apa lagi yang kau buat di luaran?” tanya Ki Palat Diga seperti tahu kelakuan muridnya.

“Aku tidak berbuat macam-macam!” sahut Wulandari ketus. Wajahnya terlihat masam.

“Hm, kalau tidak ada urusan penting, mana mungkin kau ke sini menemuiku...!”

Bola mata Wulandari melirik Ki Teguh Narada, kemudian kembali memandang gurunya.

“Ada berita penting yang kubawa. Tapi hanya akan kukatakan kalau kita berdua....”

“He, sobat baruku ini bisa dipercaya. Kau boleh mengatakan di hadapannya juga.”

Wulandari ragu mengatakan niat hatinya. Tapi ketika gurunya mendesak, keluar juga ucapan perlahan dari mulutnya.

“Aku baru menyaksikan beberapa orang tokoh yang sedang bertarung. Satu dari mereka memiliki ilmu silat tinggi dan mampu mengalahkan lawannya....”

“Hm, apa yang ingin kau sampaikan sesungguhnya?” tanya Ki Palat Diga enggan berpanjang lebar.

Wulandari kesal melihat gurunya belum mengerti juga. “Bukankah Guru mengajakku berpetualang untuk mencari musuh besar itu?” tegurnya mengingatkan.

“Maksudmu si keparat itu berada di sini?!” Bola mata Ki Palat Diga terbelalak. Wajahnya berbias senang bercampur dendam.

Ki Teguh Narada pun merasa kesenangan. Keduanya menatap Wulandari dan berharap gadis itu meneruskan kata-katanya. Tapi, gadis yang baru menjelang dewasa itu malah terdiam melihat perubahan mereka. Hatinya bingung, dan bibirnya terkatup rapat. Bola matanya memperhatikan mereka bergantian.

“Ayo, katakan! Apakah yang kau maksud adalah si keparat Durgasana?!” bentak Ki Palat Diga tak sadar.

“Eh, ng... bukan. ..”

“Lalu siapa?”

Wulandari segera menceritakan ciri-ciri Rangga lengkap dan jelas.

“Sial! Kukira kau membawa berita penting!” dengus Ki Palat Diga kesal.

“Tapi, justru ingin kusampaikan kecurigaanku bahwa dia muridnya!” dalih Wulandari tak mau kalah.

Ki Palat Diga dan Ki Teguh Narada saling berpandangan. Lalu, orang tua bermuka merah yang suka menenggak arak itu mengangguk-angguk.

“Bisa jadi...,” ujarnya perlahan.

“Di mana pemuda itu sekarang?”

“Tadi mereka bertarung di depan sebuah rumah, di dalam desa sana. Tetapi, sekarang pemuda itu sedang mendatangi tempat Juragan Bonteng. Urusan itu pasti ada sangkut pautnya dengan Juragan Bonteng.”

Ki Teguh Narada mengangguk-anggukkan kepala. “Ya, aku mengenalnya. Pemilik rumah yang ku tempati mengatakannya sebagai raja kecil di desa ini. Bahkan, ketika aku meminta izin membawa rombongan penghibur, justru kepala desa meminta izin dulu darinya,” katanya menjelaskan.

“Hm, jadi kaukah ketua rombongan penghibur ini?” tanya Wulandari.

Betul,” sahut Ki Teguh Narada.

“Untuk apa kau ikut campur urusan kami?”

“Wulan, jaga kata-katamu!” bentak Ki Palat Diga.

Wulandari terdiam. Kepalanya ditundukkan. Ujung bajunya dipermainkan untuk menyembunyikan hati yang kesal.

“Kau tahu apa tentang orang tua ini? Dia bukan orang sembarangan, dan mempunyai urusan yang sama dengan gurumu?!”

“Sudahlah, Ki Palat. Jangan terlalu keras pada muridmu. Dia masih muda, dan jiwanya masih bergejolak. Wajar kalau kata-katanya selalu meledak-ledak,” sahut Ki Teguh Narada menengahi.

Ki Palat Diga masih bersungut-sungut, memandangi murid satu-satunya dengan pandangan tajam. Arak di dalam gucinya berkali-kali ditenggak hingga mukanya terlihat semakin merah saja.

“Ki Palat, aku ingin tahu peristiwa apa yang terjadi di rumah Juragan Bonteng. Kalau pemuda itu sampai turun tangan, tentunya persoalan itu tidak sepele,” duga Ki Teguh Narada.

“He, kau mengenal pemuda itu?” tanya Ki Palat Diga ikut bangkit.

“Entahlah, aku tak tahu pasti. Tapi kalau mencocokkan dengan keterangan muridmu, kuduga pemuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti....”

“Pendekar Rajawali Sakti? Hm, pernah kudengar namanya. Pemuda sakti itu banyak membunuh tokoh-tokoh sesat rimba persilatan. Tapi, untuk apa dirinya mengurusi tuan tanah seperti Juragan Bonteng?”

“Itulah yang ingin kuketahui. Persoalan ini tentu tidak sekadar mengurusi Juragan Bonteng. Apalagi, muridmu mengatakan pemuda itu telah bertarung dengan seorang tokoh berilmu tinggi....”

“Hm aku jadi semakin tertarik, ingin pergi ke tempat Juragan Bonteng. Mudah-mudahan aku dapat menemukan kakak seperguruanku yang celaka itu!” dengus Ki Palat Diga, dengan wajah memancarkan dendam membara.

“Itulah alasanku membawa rombongan kemari, sebab kudengar dirinya bersembunyi tak jauh dari tempat ini....”

“Marilah, Ki Teguh. Untuk apa membuang waktu?” ajak Ki Palat Diga.

Ki Tegu Narada mengikuti dari belakang. Dan, Wulandari semakin kesal saja karena tidak dipedulikan kedua orang tua itu.

“Guru, aku ikut!” ujarnya setengah berteriak.

“Tidak. Kau tinggal di sini saja, mengawasi anak buah Ki Teguh Narada. Bantu mereka jika ada persoalan!” pesan Ki Palat Diga, cepat dan tegas.

Tetapi ketika kedua orang tua itu menghilang dari pandangan, Wulandari mengendap-endap keluar sambil menutup pintu. Dan tubuhnya segera berkelebat cepat setelah bertanya-tanya pada seorang penonton letak kediaman Juragan Bonteng.

********************

Senja baru berlalu ketika sesosok tubuh melompat dengan ringan ke atas tembok istana. Bangunan setinggi lebih kurang dua tombak itu mudah saja dicapai. Bola matanya yang cekung melirik ke sana kemari, mencari kelengahan para prajurit yang sedang bertugas. Tubuhnya yang kurus seperti melayang terbang ketika melompat ke atas wuwungan.

Bajunya yang hitam longgar berkibar-kibar seperti sayap kelelawar. Dan, rambutnya yang putih panjang meriap tertiup angin. Dilihat dari dekat, wajah orang tua itu tidak terlalu seram. Kerut-merut di wajahnya memang sudah terlihat, namun masih tampak bekas-bekas ketampanan di masa mudanya.

Tak lama kemudian, tubuhnya melayang turun dan merapat di balik tembok tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Padahal, saat itu lima orang petugas jaga sedang patroli.

Wuttt!

Tubuhnya kembali bergerak ringan melewati sebuah wuwungan atap. Dan, tiba di suatu tempat yang penuh bunga-bunga, serta kolam berair jernih. Namun laki-laki tua itu agaknya tak tertarik dengan suasana romantis. Tubuhnya kembali merayap di bawah dinding ruangan, sambil sesekali mengintip lewat jendela. Dari gerakan yang dilakukan, terlihat langkahnya kurang sempurna.

Kaki kirinya ternyata lebih pendek dari kaki kanan, sehingga bila berjalan terlihat timpang. Tetapi melihat caranya bergerak, jelas orang tua ini bukan orang sembarangan. Perlahan dibukanya sebuah jendela dan menerobos masuk ke dalam. Langkahnya menuju sebuah tempat tidur berkelambu sutera merah jambu. Di dalamnya, tergolek seorang wanita muda berwajah manis dan berkulit halus. Kedua betis yang tersingkap membuat debaran jantung lelaki tua itu semakin kencang. Pinggul yang besar dan pinggang yang ramping, serta buah dada yang padat membuatnya beberapa kali menelan ludah.

“Mayasari....

“Nghhh...,” gadis itu menggeliat sambil membalikkan tubuh. Bola matanya yang indah terkejut kaget melihat seorang laki-laki tua berada di kamarnya. Sama sekali tak dikenalinya orang tua itu.

“Tolong...!”

Tuk! Gadis itu mengeluh kecil ketika dua jari laki-laki tua itu menotok urat suara dan urat geraknya. Kemudian, tubuhnya dipondong keluar dari ruangan itu.

“He he he...! Diamlah, Manis. Kau akan senang dalam pelukan Ki Timpang. Kita akan mencari tempat yang aman dan jauh dari istana ini.”

“Heh!”

“Ada orang menyelinap ke kamar Putri Mayasari!”

“Putri Mayasari hilang!”

“Kejar...!”

“Tangkap penculik itu...!”

Suara hingar-bingar para prajurit kerajaan yang sedang berjaga saling bersahutan. Mereka melihat sesosok bayangan melesat dari kamar putri kerajaan. Penjaga yang berada di pintu kamar segera memeriksa, dan melihat putri junjungannya tak ada di dalam kamar. Istana kerajaan heboh seketika. Prajurit-prajurit kerajaan langsung mengejar bayangan yang berkelebat tadi.

“Sial!” maki laki-laki yang menyebut dirinya Ki Timpang ketika kehadirannya diketahui. Tubuhnya melayang dari satu wuwungan ke wuwungan lain dengan gerakan ringan. Meski pundaknya memondong putri kerajaan, tapi tak terlihat kesulitan sedikit pun.

“Heup!”

“Kecoa-kecoa busuk! Mana mungkin kalian mampu mengejarku. He he he...! Dasar orang-orang dungu!” dengus Ki Timpang setelah menjejakkan kaki di luar bangunan istana.

“Orang tua busuk! Kau pikir bisa lolos dariku?!” bentak seorang laki-laki tinggi besar yang memakai baju kebesaran kerajaan.

Ki Timpang mencoba mengamati. Sesaat kemudian, mulutnya terkekeh melihat lelaki yang menggenggam pedang besar di tangan kanan.

“He he he...! Hebat, hebat...! Tak percuma kerajaan busuk ini memiliki panglima perang sepertimu. Ternyata, kau bisa diandalkan juga. Tetapi, mencegah urusan Ki Timpang hanya mencari penyakit sendiri....”

“Hm, jadi kau yang bernama Ki Timpang? Orang tua busuk yang masih suka daun muda. Tetapi, kali ini kau salah alamat. Putri kerajaan tak bisa kau samakan dengan yang lain!” sahut orang bertubuh tinggi besar itu gusar.

“Ha ha ha...! Boleh juga gertakanmu. Tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Nah, kalau kau memang memiliki kepandaian, ambillah Cah Ayu ini dari tanganku....”

“Kisanak, jangan membuat urusan lebih panjang. Kau serahkan Putri Mayasari, dan kami akan melupakan perbuatanmu!” panglima kerajaan masih berbaik hati memberikan pilihan.

Ki Timpang hanya terkekeh kecil. Sepasang matanya yang cekung memperhatikan puluhan prajurit kerajaan yang telah mengepung tempat itu. Sementara, yang lainnya masih terus berdatangan.

“Bagaimana, Ki Timpang? Kau menerima tawaranku?” tanya panglima kerajaan merasa menang, mengira orang tua itu mengalah dan menerima usulnya.

“Ha ha ha...! Sekali gadis ini ada dalam pangkuanku, maka tak seorang pun dapat mengamininya. Kecuali, mereka yang sudah bosan hidup!”

“Keparat! Kalau begitu, kau memang tak bisa dikasih hati. Serang orang ini!” perintah panglima kerajaan pada prajurit-prajuritnya. “Yeaaa...!”

“He he he...! Ke sinilah kalian semua, kalau ingin mampus di tanganku!”

Wuttt!
Plak!
Plak!
Begkh!
“Aaa...!”

Tubuh Ki Timpang bergerak ringan menghindari serangan-serangan prajurit kerajaan. Tetapi, pada saat bersamaan kedua kakinya juga menghajar kian kema-ri, menghantam lawan-lawan secara tak terduga. Dalam sekejap saja, beberapa prajurit kerajaan terjungkal sambil menjerit. Ki Tampang terkekeh-kekeh kegirangan. Pengeroyokan yang dilakukan terhadapnya cuma dianggap permainan saja. Tentu, hal ini membuat panglima kerajaan geram. Langsung diperintahkan anak buahnya mundur.

“Orang tua busuk, hadapilah aku!” Tantangnya gusar, bersiap menempur lawan.

“He he he...! Jangan mendekat! Kalau tidak, Cah Ayu ini akan mampus sekarang juga!” Ki Timpang mengangkat tubuh Putri Mayasari dan mengancam hendak membantingnya. Ancaman itu membuat panglima kerajaan tak mampu berbuat apa-apa. Niat menyerang lawan diurungkannya.

“Pengecut hina! apakah keberanianmu cuma mengancam saja?”

“He he he...! Panglima goblok! Kau pikir dirimu siapa, hingga berani menganggap rendah Ki Timpang? Aku hanya lagi malas bermain-main denganmu. Nanti, kalau urusanku sudah selesai dengan gadis ini, akan kucari kau untuk menagih nyawamu yang kutitipkan sekarang. Nah, sekarang jangan ikuti aku. Kalau tidak, aku tak segan-segan membunuh Cah Ayu ini!”

Selesai berkata demikian, Ki Timpang memperhatikan mereka satu persatu. Semuanya diam mematung dengan sikap waspada. Kemudian, tiba-tiba tubuh orang itu melesat dan berlari cepat meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian, panglima kerajaan baru memerintahkan anak buahnya mengejar orang tua itu.

********************

TUJUH

Tempat kediaman Juragan Bonteng terlihat sepi bagai kuburan. Bangunan besar dengan halaman lebar berpagar tembok setinggi satu tombak itu benar-benar sunyi. Hanya terlihat lampu-lampu di halaman depan dan di dalam gedung.

Rangga tidak berpikir panjang lagi. Kakinya melompat ke atas pagar tembok, dan berjalan menyusuri hingga tiba di dekat bangunan. Kemudian, kakinya melompat ringan ke atas wuwungan, dan mencari kamar orang yang dituju. Tetapi, belum juga niatnya tercapai mengintip lewat celah-celah genteng, tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya.

“Kisanak yang di atas, silakan turun. Mengapa harus bersusah-payah mencari orang lewat jalan yang sulit?"

“Heh!” Di halaman depan, telah berdiri tegak lima sosok tubuh tak dikenal. Mereka berbaris dengan kedua tangan merapat di dada. Perlahan Rangga mendekati, dan turun persis di hadapan mereka. Di beranda depan, terlihat Juragan Bonteng duduk tenang. Di sampingnya berdiri Cagak Layung beserta empat orang anak buahnya

“Manusia keparat! Kutagih janjimu malam ini. Seorang budakmu bernama Carok Genggong telah kukirim ke akhirat!” geram Rangga melihat lelaki berperut buncit itu duduk tenang.

Juragan Bonteng sedikit terkejut mendengar berita itu. Pantas pemuda ini bisa kemari. Tetapi, mengapa Ki Sempur Walang tak memberitahukannya? Orang itu malah tak kelihatan batang hidungnya sampai saat ini. Beruntung, Cagak Layung telah berhasil membawa kawan-kawannya ke tempat ini, sehingga hatinya sedikit lega.

“He he he...! Bocah ingusan, kau pikir bisa menekanku seenak jidatmu?! Kau bermimpi bisa mengatur Juragan Bonteng,” jawab laki-laki berperut buncit dan bermata sipit sombong.

“Hm, begitukah?” dengus Rangga. Selesai bertanya begitu, tubuhnya melesat cepat ke arah Juragan Bonteng. Tetapi pada saat bersamaan, kelima orang yang berada di depannya bergerak menghalangi sambil menyerang.

“Yeaaa...!”
Plak!
Plak!

Rangga terkejut. Serangan kelima orang itu amat kompak dan kuat sekali. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari serangan kelima lawan, sambil sesekali membalas. Tetapi, dengan mudah mereka menghindari. Kemudian, mereka kembali berdiri tegak saling berhadapan.

“Keselamatan Juragan Bonteng di tangan kami. Kalau kau berbuat macam-macam padanya, langkahi dulu mayat kami berlima,” tantang salah seorang di antara mereka yang dahinya licin dan berambut sedikit

“Siapa kalian? Dan, mengapa mencampuri urusanku?”

“Buka telingamu lebar-lebar. Namaku Giri Manuk, dan keempat orang ini adalah kawan-kawanku“ sahut orang berdahi lebar dan licin itu. Sepasang matanya yang bulat dan besar menunjukkan kesombongan hati ketika memperkenalkan dirinya.

“Giri Manuk, aku tak mempunyai urusan denganmu. Kuharap, tidak mencari urusan denganku?”

“Tidak usah banyak bicara, Sobat. Bila kau berani menyentuh Juragan Bonteng, kami tidak akan berdiam diri!”

“Hm, rupanya kalian anjing-anjing penjaga manusia busuk itu...,” dengus Rangga sinis.

“Keparat! Kau berani berkata begitu padaku?! Terimalah kematianmu!” Giri Manuk langsung berkelebat cepat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, keempat kawannya memperhatikan dengan waspada.

“Yeaaa...!"

Rangga yang memang sejak tadi telah menduga, menyambutnya dengan tenang. Giri Manuk tidak memakai senjata apa pun, dan mengandalkan jurus-jurus tangan kosong yang ampuh. Gerakan tangannya sangat cepat, dan berisi tenaga dalam yang kuat Jika Pendekar Rajawali Sakti tidak menggunakan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’ untuk menghindari, tentu serangan Giri Manuk sudah berhasil mengenainya sejak tadi.

“Hm, tak kusangka kau memiliki kemampuan yang hebat juga, Bocah. Tetapi, jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!” dengus Giri Manuk geram.

Rangga tersenyum tipis. Sesungguhnya, Giri Manuk masih tergolong muda. Kemungkinan, usianya sendiri belum lewat tiga puluh lima tahun. Tetapi, seenaknya saja menyebut Rangga bocah. Sebutan itu tidak akan berpengaruh apa-apa, jika Giri Manuk berharap Pendekar Rajawali Sakti akan marah mendengar panggilannya.

“Yeaaa...!” Giri Manuk berteriak sambil melontarkan serangan.

Plak!
Des!
“Akh...!”

Giri Manuk mengeluh ketika rahangnya terkena hajaran kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dua buah giginya rontok, dan darah mengucur deras dari luka itu. Serangan yang tak terduga itu membuat hati Giri Manuk sangat penasaran. Bagaimana mungkin pemuda yang diserangnya habis-habisan, tiba-tiba mampu melejit dan berbalik menghajar dirinya!

“Giri Manuk, perlukah kami turun tangan meringkus bocah itu?” tanya salah seorang kawannya dengan nada gusar.

“Tak perlu! Aku masih sanggup meringkus bocah ini dengan tanganku sendiri!” sahut Giri Manuk sombong. Matanya kembali memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan bengis. “Bocah, tak sembarangan orang mampu memunahkan jurus ‘Membelah Badai Topan’ milikku. Kau bukan hanya berhasil memunahkannya, tetapi juga mampu membalas. Itu cukup hebat Tapi, jangan bergirang hati dulu. Kali ini kau tak akan lolos dari maut. Sebutkanlah gelar yang kau sandang agar bisa kutuliskan pada batu nisanmu nanti!” ujar Giri Manuk jumawa.

“Orang-orang menyebutku Pendekar Rajawali Sakti. Boleh kau ingat itu nanti setelah berada di akhirat!” jawab Rangga datar, namun cukup menusuk.

Seperti tak percaya pada pendengarannya, Giri Manuk memandang Rangga lekat-lekat Sebagai orang persilatan, tentu saja julukan pemuda itu sangat dikenalnya.

“Hm, jadi kaukah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti? Bagus! Sering kudengar nama besarmu, dan tanganku sudah gatal ingin menjajal kehebatan yang sering dibesar-besarkan orang,” Giri Manuk berusaha menyembunyikan perasaan takutnya dengan berujar sesombong itu.

“Giri Manuk, tak usah banyak bicara. Silakan, mulai!”

Mendengar tantangan Pendekar Rajawali Sakti, kemarahan Giri Manuk semakin menjadi. Kali ini, dia tak malu mengajak keempat orang kawannya untuk membantu. Mereka sudah bersiap-siap akan bertarung, ketika tiba-tiba sesosok tubuh ramping berkelebat di tempat itu dan langsung menyerang Giri Manuk.

“Manusia jahanam! Bertahun-tahun kau kucari, akhirnya kujumpai di sini. Terimalah kematianmu!”

“Nyi Larasati, jangan...!” Rangga segera berteriak menahan, begitu mengenal tubuh yang baru tiba.

Tetapi, peringatannya sudah terlambat Perempuan tua itu telah terlibat pertarungan dengan kelima orang lawan Pendekar Rajawali Sakti tadi. Rangga mengetahui kemampuan perempuan tua itu tidak seberapa. Menghadapi Carok Genggong saja, dirinya sudah kesulitan dan dihajar habis-habisan.

Apalagi berhadapan dengan kelima orang lawannya itu, yang memiliki kepandaian rata-rata di atas Carok Genggong. Kekhawatiran Rangga segera terbukti. Belum juga Pendekar Rajawali Sakti memberi bantuan, Nyi Larasati sudah memekik kesakitan dan tubuhnya terjungkal menghantam tembok pagar. Buru-buru dihampirinya perempuan tua itu.

“Nyi Larasati, kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Napas perempuan tua itu megap-megap, dan tubuhnya terasa sulit digerakkan. Pandangannya sayu menatap ke arah Rangga. Dan, tangannya terulur lemah memegang pundak Pendekar Rajawali Sakti.

“Rangga, maukah kau menolong kami sekali lagi?” Pendekar Rajawali Sakti menganggukkan kepala. “Tahukah kau mengapa seluruh penduduk desa mengejek Samiaji sebagai anak haram? Hinaan itu memang betul, dan tak bisa dibantah. Tetapi, semua itu bukan salah Rara Ningrum. Si keparat Giri Manuk itu yang menodainya, hingga timbul benih dalam perut Rara Ningrum. Tetapi, meski Samiaji hasil perbuatan yang menyakitkan hati, Rara Ningrum tetap berniat merawatnya. Kini, tolonglah membalaskan dendam dan sakit hati Rara Ningrum kepada si keparat itu....”

“Jangan khawatir, Nyi Larasati. Giri Manuk akan kubuat menyesal!” janji Rangga geram.

“Tolonglah, Rangga. Aku telah bersumpah pada diriku sendiri, lebih baik mati daripada tak mampu membalaskan sakit hati putri ku. Orang itu betul-betul keparat laknat! Setelah menodai putri ku secara paksa dengan seenaknya ditinggal begitu saja!” jelas Nyi Larasati berulang kali.

Rangga pun berulang-ulang menganggukkan kepala, dan menenangkan hati perempuan tua itu. Kemudian, tubuhnya berbalik menghadap kelima orang lawannya.

“Giri Manuk, kau dengar kata-kata perempuan tua itu? Dia telah bercerita banyak tentangmu. Tapi, baru kali ini aku berjumpa dengan orang yang dimaksud. Perbuatanmu sungguh keji dan terkutuk. Kau tidak akan lolos dari tanganku!”

“Huh, Pendekar Rajawali Sakti! Sungguh berani kau berkata begitu padaku. Buktikanlah, kalau memang kau mampu mengalahkan kami!” tantang Giri Manuk sambil mendengus sinis.

Rangga tidak banyak bicara lagi. Sambil memainkan rangkaian jurus Rajawali Sakti, tangannya mulai menyerang kelima lawan yang telah bersiap-siap sejak tadi.

“Yeaaa...!”
Plak!
Wuttt!

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti berputar bagai gasing beberapa saat. Kedua kakinya bergerak lincah silih berganti. Tubuhnya meliuk-liuk seperti orang menari, terlihat dua orang lawan memapaki serangannya. Rangga berputar, dan menghantamkan kepalan tangan ke muka dua orang lawan yang berusaha membokong dari belakang.

Begkh!
“Akh...!”

Keduanya menjerit kesakitan. Tulang hidung mereka patah dan mengucurkan darah. Kalau saja Rangga bersungguh-sungguh mengeluarkan seluruh tenaga, mungkin kepala kedua lawannya akan pecah dalam sekali pukul.

“Keparat! Terimalah jurus 'Tangan Maut' ini!” bentak Giri Manuk geram. Tubuhnya bergerak menghantamkan telapak tangan ke dada lawan.

Rangga melihat serangan lawan sangat sederhana, dan hal itu tentu mudah dihindari. Dengan bergerak sedikit ke belakang, maka pukulan lawan akan lewat beberapa jengkal. Tetapi, betapa terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti melihat telapak tangan lawan seperti memanjang dan cepat menghantamnya.

Begkh!
“Aaakh...!”

Rangga mengeluh kesakitan ketika tubuhnya harus jungkir balik menghindari serangan lawan. Dua orang kawan Giri Manuk telah menunggu, dan menyambut Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan maut mereka. Rangga tak punya pilihan, selain memapakinya dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Plak!
Plak!
Begkh!
“Aaa...!”

Kedua lawannya terjungkal ketika dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti melesat sinar merah yang langsung menghantam mereka. Mulut mereka menjerit kesakitan dengan tubuh menggelepar-gelepar di tanah. Rangga belum sempat memastikan kematian keduanya, tiba-tiba Giri Manuk telah kembali menyerang dengan jurus-jurus Tangan Mautnya yang unik dan hebat Kali ini. Rangga sungguh berhati-hati menghadapi serangan lawan. Jika menganggap remeh, tubuhnya akan terhajar kembali seperti tadi.

Sementara itu Juragan Bonteng melihat kelima orang panggilannya dibuat jatuh bangun oleh Pendekar Rajawali Sakti. Dirinya pun bersiap-siap masuk ke dalam bersama Cagak Layung dan keempat anak buahnya. Niatnya ingin kabur dari ancaman pemuda berompi putih itu. Namun, ketika berada di dalam ruangan tamu, laki-laki berperut buncit itu terkejut melihat dua orang laki-laki tua sedang berpesta arak di meja.

“He, Juragan Bonteng. Syukur kau datang. Mau ke mana kau? Kenapa buru-buru meninggalkan tontonan menarik di depan sana?” tanya salah seorang dari mereka.

Juragan Bonteng mengamati orang tua itu. Bajunya kumal seperti pengemis, dan mukanya merah. Usianya sekitar enam puluh tahun. Tapi, orang tua bertubuh kecil ini serasa pernah dikenalnya. Usia mereka memang tidak terpaut jauh.

“Siapa kalian, dan mengapa berada di ruangan ku?” tanyanya gusar.

“Apakah kau keberatan bila kami menumpang minum-minum di sini?” tanya orang tua bermuka merah yang tak lain Ki Palat Diga.

Sementara, Ki Teguh Narada duduk di hadapannya. Mereka tahu di halaman depan tengah terjadi pertarungan seru. Maka, mereka menyelinap ke ruangan ini lewat pintu belakang, setelah membungkam beberapa orang pembantu rumah.

Cagak Layung yang melihat sikap kedua orang tua itu sangat menjengkelkan, sudah langsung mencabut goloknya. Bersama keempat kawannya bergerak mendekati dengan sikap mengancam. Tetapi, belum juga mengucapkan sepatah kata pun, kedua orang tua itu sudah bergerak cepat. Tiba-tiba, kelihatan orang itu sudah menjerit kesakitan dan terpental menghantam dinding ruangan.

Dua orang langsung pingsan, dua la-gi merangkak-rangkak sambil merasakan sakit yang sangat hebat di sekujur tubuhnya. Sementara Cagak Layung berusaha menghilangkan rasa sakit di tubuhnya, dan sudah kembali menyerang lawan dengan kalap.

“Keparat! Kubunuh kalian...!”

“Diamlah, Sobat. Biar kuberi penjelasan tikus got ini!” ujar Ki Palat Diga pada rekannya.

“Hup!”
Plak!
Bletak!

Tangan kiri Ki Palat Diga menangkis serangan lawan, sementara guci arak di tangan kanannya menghajar ke batok kepala Cagak Layung. Bersamaan dengan itu, lutut kanannya menghajar lambung. Sehingga....

Begkh!
“Aaa...!”

Cagak Layung langsung semaput ketika tubuhnya terjungkal menghantam dinding.

“Eee... mau ke mana kau?”

Tubuh Juragan Bonteng menggigil ketakutan, dan berusaha kabur. Tetapi, Ki Teguh Narada sudah bergerak menghalangi.

“Eh, ng..., kau mau berbuat apa padaku?”

“Menurutmu apa yang pantas?”

“Di antara kita tak ada urusan apa-apa, dan aku tak pernah mengenal kalian sebelumnya....”

“Siapa yang berpikir ke arah itu? Kenal atau tidak, apa peduli kami?” sahut Ki Teguh Narada tersenyum kecil.

“Sebaiknya kita apakan babi gempal ini, Sobat?” tanya Ki Palat Diga dari arah belakang Juragan Bonteng

“Bagaimana kalau kita sate saja?”

“Hm.., lumayan juga. Sudah lama sekali aku tak makan sate manusia lintah darat sepertinya!”

Kedua orang tua itu berjalan menghampiri. Wajah Juragan Bonteng pun semakin pucat Tubuhnya menyandar ke dinding, dan pandangannya silih berganti melihat kedua orang tua itu. Dalam bayangannya, wajah kedua orang tua yang senyum-senyum itu seperti malaikat maut yang sesaat lagi akan menjemput ajalnya.

“Coba ku rasakan kulit dagingnya...,” ujar Ki Palat Diga sambil mengulurkan kepalan tangan.

“Jaaa...!”
Buk!
“Akh!”

“Cukup alot juga!” ejek Ki Palat Diga sambil tersenyum-senyum, melihat tubuh Juragan Bonteng ambruk ke lantai sambil menjerit kesakitan menerima pukulan keras di bahunya tadi.

“Bangun! Aku juga ingin merasakan bagaimana manusia busuk sepertimu mampu berbuat sewenang-wenang pada orang lain!” sentak Ki Teguh Narada sambil menarik ujung baju laki-laki berperut besar itu.

Juragan Bonteng meringis kesakitan ketika tubuhnya terangkat tinggi dan menghantam genteng rumahnya. Juragan Bonteng kembali menjerit keras. Beberapa buah genteng tampak pecah, seperti kepalanya yang juga bocor mengeluarkan darah. Belum lagi, tubuhnya yang besar itu harus jatuh berdebum ke lantai. Kedua orang itu baru saja akan kembali menghajar, ketika mereka mendengar suara tertawa lebar yang memekakkan telinga dari arah luar.

“Orang yang kita tunggu telah datang, Sobat,” duga Ki Palat Diga.

“Hm, kurasa juga begitu. Mari kita ke depan untuk bergabung,” sahut Ki Teguh Narada. Tangannya bergerak cepat menotok tubuh laki-laki berperut buncit itu sebelum mereka berlalu ke depan.

DELAPAN

Begitu tiba di beranda depan, mereka melihat seorang laki-laki bertubuh kurus dan berbaju hitam. Rambutnya putih sebatas bahu, dan dibiarkan meriap. Sebelah kakinya terlihat timpang. Dan di bahunya terlihat tubuh seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Sementara, keempat orang lawan si pemuda berompi putih itu tampak binasa. Hanya Giri Manuk yang masih kembang-kempis napasnya. Dari mulut dan hidungnya, terus-menerus mengeluarkan darah. Rupanya Giri Manuk menderita luka dalam yang cukup hebat. Giri Manuk segera bersujud pada laki-laki yang baru datang.

“Guru, oh..., syukurlah kau cepat datang, kalau tidak entah bagaimana nasibku...?!”

“Murid keparat! Kau membuatku malu saja. Menghadapi seorang bocah pentil saja tidak mampu. Lebih baik kau mampus!”

“Guru...? Aaa...!”

Dengan sadis kaki kanan orang tua bermata cekung itu terayun ke arah Giri Manuk, yang merupakan muridnya. Giri Manuk tidak mampu mengelak. Tendangan keras yang berisi tenaga dalam itu membuat kepalanya seperti mau copot dari pangkal. Rahangnya remuk ketika ujung kaki yang menghantam dada langsung bergerak terayun ke atas. Begitu menyentuh tanah, tubuhnya menggelepar-gelepar sesaat sebelum akhirnya diam tak bergerak.

“Hm. tidak heran muridnya berkelakuan iblis karena gurunya memang iblis.”

Mendengar sindiran itu, si orang tua segera berpaling. Dan, dilihatnya seorang perempuan tua yang berada di samping Pendekar Rajawali Sakti. Matanya memandang cukup lama, seperti mengenali Nyi Larasati.

“Tidak kenalkah kau padaku, Durgasana...?” tanya Nyi Larasati dingin.

“Siapa kau?! Siapa yang kau sebut Durgasana? Nama ku Ki Timpang, karena jalanku memang timpang,” bantah orang tua itu.

“Hm, siapa pun namamu, kau tidak bisa mengelabuiku...”

“Hm, kaukah Larasati...?” tanya laki-laki yang menyebut dirinya Ki Timpang itu dengan suara di hidung.

“Bagus! Kau telah mengenalku sekarang. Kini, terimalah pembalasan atas apa yang kau lakukan dahulu.” Setelah berkata demikian Nyi Larasati langsung menyerang laki-laki di hadapannya.

“Larasati, jangan main-main kau! Aku tak ingin membunuhmu!” teriak Ki Timpang bergerak menghindar.

Pada saat yang bersamaan melesat pula dua sosok bayangan dari beranda depan dan langsung menyerang Ki Timpang.

“Jahanam keparat! Terimalah kematianmu sekarang juga...!”

“Yeaaa...!”

Meski harus memanggul tubuh seorang gadis dalam pundaknya, tapi gerakan Ki Timpang sangat gesit dan lincah. Tubuhnya melayang bagai sehelai kapas tertiup angin, dan melesat jauh di dekat pintu gerbang depan. Sepasang matanya menatap tajam pada dua orang lawan yang baru datang itu.

“Hm rupanya kau Palat Diga. Dengan siapa kau ingin mencabut nyawaku saat ini?” dengus Ki Timpang.

“Ki Timpang, atau siapa pun namamu, masih ingatkah kau peristiwa dua puluh lima tahun lalu di Desa Anjar Kulon? Waktu itu kau merebut seorang gadis dari kekasihnya, padahal mereka saling mencintai. Kau merusaknya, kau menodainya, dan yang lebih sadis, kau membunuh gadis itu. Aku datang untuk menagih hutang nyawa gadis itu padamu!” geram Ki Teguh Narada cepat.

“Ya, ya... kuingat. Kau adalah kekasihnya Sekar Mayang. Hm, bagus! Kalau memang kalian telah bersiap untuk membunuhku, silakan saja kalau mampu!” sahut Ki Timpang sombong.

“Dasar murid murtad! Setelah mencuri kitab pusaka perguruan, kau malah mencelakakan guru dengan membuntungi kedua kakinya. Aku mencarimu untuk membuat perhitungan!” bentak Ki Palat Diga.

“Palat Diga, kau tak usah banyak bicara. Buktikan ucapanmu kalau kau memang mampu. Ayo, majulah bersama-sama!”

Ki Palat Diga telah menceritakan sebelumnya pada Ki Teguh Narada, ketika mereka sama-sama mengetahui mencari orang yang sama. Terlebih kepandaian Ki Timpang saat ini sulit diukur. Maka, mereka tidak merasa malu maju berbarengan. Ki Timpang sendiri sudah langsung menyambut serangan mereka ketika sudah meletakkan gadis yang dipanggulnya.

Sesungguhnya, apa yang menyebabkan orang tua itu datang ke sini? Pada saat Cagak Layung menghubungi Giri Manuk, dirinya juga bertemu dengan Ki Timpang. Tapi karena Ki Timpang ada keperluan lain, maka lelaki timpang berjanji akan menyusul ke tempat Juragan Bonteng setelah urusan selesai.

Sementara di dalam pertarungan terlihat kedua orang itu menggempur lawan yang paling dibencinya. Nyi Larasati diam saja, tak ikut campur. Rangga pun tak tahu apa yang harus dikerjakannya saat ini. Dihampirinya perempuan tua itu, dan dihiburnya setelah melihat kejadian di dalam rumah Juragan Bonteng.

“Sudahlah, Nyi. Segalanya sudah beres. Ayo kita pulang. Kasihan Rara Ningrum dan Samiaji berdua di rumah....”

“Silakan, kau pulang lebih dulu. Aku masih ingin di sini...,” sahut perempuan tua itu lirih.

“Apakah kau akan menyerangnya setelah mereka?”

Nyi Larasati diam tak menjawab.

“Nyi, tampaknya kau sangat mengenal lelaki itu. Apakah kalian pernah akrab? Kulihat, sinar mata kalian tak bisa membohongi....”

Nyi Larasati mengangguk pelan.

“Dia suamimu?"

“Ceritanya panjang, Rangga! Kami... sepasang kekasih yang saling mencintai. Suatu saat kami terperosok melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Dan, dirinya berjanji akan mengawiniku. Tapi, tak lama setelah kejadian itu, dia pergi mengembara. Bertahun-tahun aku mencarinya, sementara benih yang ditinggalkannya telah menjadi seorang bayi perempuan yang cantik. Ku asuh dia, kurawat, dan kubesarkan. Tetapi kemudian, terjadilah hal yang tak kuinginkan ketika putri ku satu-satunya dinodai seorang pemuda yang beberapa kali. Dan, yang lebih menyakitkan hati-ku, pemuda itu adalah murid dari orang yang selama ini kucari-cari...,” jelas Nyi Larasati menutup ceritanya.

Rangga menganggukkan kepala. Namun, baru saja mulutnya akan bertanya lagi, tiba-tiba terdengar pekik kesakitan diiringi terjungkalnya tubuh dua orang lawan Ki Timpang. Dari mulut mereka menyemburkan darah segar. Kedua orang tua itu berusaha bangkit tertatih-tatih. Napasnya terlihat megap-megap, namun pancaran mata mereka tajam dan penuh dendam.

“Nyi, izinkan aku membalaskan sakit hatimu, dan sakit hati semua orang padanya,” mohon Rangga sambil bangkit berdiri.

Nyi Larasati diam membisu. Dirinya tak tahu harus menjawab apa. Sebenci-bencinya pada Ki Timpang, tapi rasa cintanya masih tetap ada.

Sementara itu, Ki Timpang terkekeh-kekeh sambil bertolak pinggang. “Ha ha ha...! Hanya begitu kemampuan kalian, sudah berani bermaksud mengalahkan dan membinasakanku? Pulanglah kalian sebelum mataku muak memandang!”

“Kisanak, bicaramu sombong sekali...”

“Heh! Bocah sial, apakah kau pun menghendaki nyawaku?!” bentaknya angker. Matanya memandang tajam Pendekar Rajawali Sakti.

“Apakah kalau kukatakan iya, kau sudi memberikannya, Orang Tua?” tanya Rangga tidak kalah gertak.

“Sial! He, sebut namamu. Boleh juga kau berhadapan denganku, karena mampu menundukkan murid goblokku itu!”

“Apakah namaku bisa membuatmu takut? Kalau memang betul, tentu dengan senang hati ku sebutkan,” ujar Rangga sengaja membuat hati orang tua itu marah.

“Keparat! Kau pikir dengan mengalahkan muridku, kau pun bisa berbuat seenaknya padaku?! Huh, Bocah Pentil! Kau perlu diberi pelajaran rupanya.

Setelah berkata demikian, tubuhnya langsung berkelebat menerjang. Gerakannya cepat, dan berisi tenaga dalam kuat. Dirinya berharap, dengan sekali gebrakan pemuda itu paling tidak akan kewalahan, dan kesombongannya akan berubah menjadi rasa khawatir serta ketakutan. Tapi, bukan main kesalnya Ki Timpang melihat Pendekar Rajawali Sakti mampu menghindar dengan gesit dan tidak kalah ringannya. Berkali-kali diserangnya pemuda itu, namun Rangga tidak mengalami kesulitan sedikit pun untuk menghindari.

Rangga mengetahui lawannya ini berkepandaian tinggi. Maka, dirinya tidak mau berlaku ayal-ayalan dan menganggap rendah lawan. Dengan memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari setiap serangan lawan, tubuhnya meliuk-liuk seperti orang menari. Kedua kakinya pun bergerak lincah. Rangga mengerahkan segenap kemampuan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengimbangi gerakan lawan.

Dua jurus telah berlangsung, dan Ki Timpang belum juga berhasil mendesak Rangga. Meskipun telah mengeluarkan jurus 'Tangan Maut' yang dahsyat, tapi kali ini Rangga tak akan terkecoh dua kali. Sebab, Giri Manuk pernah mengeluarkan jurus ini. Dan sudah pasti jurus yang dimiliki gurunya akan lebih ampuh lagi.

Perlahan tapi pasti, Rangga mulai mendesak Ki Timpang dengan mengeluarkan rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Tetapi sama halnya dengan lawan, baginya pun cukup sulit menghajar Ki Timpang. Keadaan ini membuat Ki Timpang benar-benar jengkel. Dikiranya, Rangga sama sekali tak berarti. Tapi, setelah pertarungan berjalan lebih dari dua puluh jurus, belum juga terlihat tanda-tanda siapa yang akan berhasil menjatuhkan lawan.

Maka, pada jurus kedua puluh satu, tubuh Ki Timpang bergerak bergulung-gulung dan membuat lompatan ke belakang. Pendekar Rajawali Sakti segera mengejarnya dan mengirimkan satu tendangan keras. Tapi tanpa sepengetahuan Rangga, saat itu Ki Timpang tengah mengerahkan ajian mautnya yang bernama 'Tapak Nenggala'. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkan hingga kedua tangannya berubah merah menyala. Lalu, ketika kedua kakinya menjejak tanah, saat itu pula sebelah telapak tangannya menghantam ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Dari situ, melesat sinar merah laksana kabut yang menimbulkan angin menderu.

“Yeaaa...!”

Rangga terkejut melihat serangan lawan. Saat itu, tubuhnya tengah mengapung di udara. Tak ada pilihan lain, kecuali mencabut pedang pusakanya untuk menangkis sinar merah itu. Seberkas sinar biru langsung berpendar dari bilah pedang dalam genggamannya. Diusapnya dengan tangan kiri, dan dengan cepat disorongkannya ke muka sambil berteriak keras.

“Aji Cakra Buana Sukma...!”
Glarrr...!”
“Aaakh...!”

Ki Timpang menjerit kesakitan ketika pukulan sakti mereka bertemu dan menimbulkan suara menggelegar. Terlihat percikan bunga api serta asap hitam tebal membumbung angkasa. Tubuhnya terjungkal satu tombak sambil mendekap dadanya yang terasa nyeri. Saat itu juga, kakinya membuat beberapa lompatan. Dan, begitu menjejak tanah, tubuhnya kembali bergerak cepat menyerang lawan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Kali ini Ki Timpang berbuat nekat, ingin tewas bersama-sama.

“Yeaaa...!”

Rangga pun mengalami luka akibat benturan tadi. Isi perutnya seperti diaduk-aduk. Namun, Rangga cepat menguasai diri dengan bersalto beberapa kali sambil mengatur pernapasan. Dan tanpa menoleh ke belakang, pedang yang masih berada dalam genggamannya berkelebat cepat.

“Akh!”
“Durgasana...!”

Nyi Larasati memekik nyaring. Rangga menyarungkan pedangnya kembali untuk sesaat, dipandanginya Nyi Larasati yang mendekap tubuh Ki Timpang. Tubuh lelaki tua itu hangus seperti terbakar. Kemudian, ditinggalkannya dengan langkah pelan.

Kejadian tadi memang sangat cepat Meskipun tidak melihat, pendengaran Pendekar Rajawali Sakti yang tajam dapat mengetahui serangan lawan. Pendekar Rajawali Sakti mengetahui lawan tak bersenjata, dan dirinya sangat yakin, Ki Timpang tidak akan mampu menghalangi ayunan pedangnya. Dugaannya ternyata benar. Ki Timpang tak mampu menghindar. Dirinya hanya terkejut, dan selanjutnya melenguh kecil. Dari mulai dada hingga ke perut, terlihat robek dibabat pedang Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya terselimuti seberkas sinar kebiruan yang perlahan-lahan sirna dan tubuhnya berubah hitam seperti terbakar.

“Rangga...”

“Eh!” Pendekar Rajawali Sakti terkejut. Di hadapannya telah berdiri Rara Ningrum yang memeluk Samiaji. Mukanya sembab seperti habis menangis. Bola matanya memandang sayu, dan kemudian tertunduk. Rangga jadi salah tingkah. Berkali-kali matanya melirik Nyi Larasati yang masih menekuri mayat Ki Timpang.

“Sudah lama kalian berada di sini?”

Rara Ningrum mengangguk. Wanita itu tak mampu menahan perasaan dukanya yang belum dimengerti Rangga. Tetapi, ketika berjalan mendekati Nyi Larasati yang sedang menekuri mayat Ki Timpang, pemuda berompi putih mulai mengerti. Niatnya untuk pergi secara diam-diam diurungkan. Rangga hanya diam memperhatikan mereka.

“Pendekar Rajawali Sakti, aku si orang tua tak berguna Ki Teguh Narada, menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu....”

“Heh...!” Rangga baru tersadar ketika dua orang tua yang tadi bertarung dengan Ki Timpang mendekatinya, bersama gadis yang tadi dipanggul orang tua berkaki timpang itu.

“Aku si tua Palat Diga pun menanggung hutang nyawa padamu, Anak Muda,” ucap lelaki tua berwajah merah itu.

“Sudahlah, Paman! Tidak usah dipikirkan lagi, di antara kita tidak ada hutan-piutang. Yang ada, hanya saling tolong-menolong. Bukankah yang namanya kelaliman harus dilenyapkan dari muka bumi ini? Kalau kita tidak saling bahu-membahu, mana mungkin aku mampu menghadapinya seorang diri,” ujar Rangga dengan nada merendah.

“Ah, tapi siapa yang meragukan kehebatanmu, Pendekar Rajawali Sakti!” puji Ki Teguh Narada sambil tersenyum kecil.

“Paman terlalu memujiku....”

“Nah, Sobat Muda. Kini kau punya tugas baru lagi,” lanjut Ki Palat Diga.

“Tugas apa, Paman?” tanya Rangga heran.

Ki Palat Diga memberi hormat pada gadis di sebelahnya yang sejak tadi membisu. Lalu kepalanya menoleh ke arah Rangga. “Kau mengenalinya, bukan? Gadis inilah yang tadi dibawa Ki Timpang. Dia adalah putri dari Kerajaan Sanjaya. Sudilah kau mengantarkannya kembali ke istana kerajaan.”

“Hm, Paduka Putri, maafkan hamba yang tidak mengenal orang,” sahut Rangga memberi penghormatan.

“Sudahlah. Sebenarnya aku tak ingin disanjung-sanjung seperti itu. Bila mereka berdua tahu berterima kasih, aku pun ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Ikutlah denganku ke istana kerajaan. Pasti ayahanda akan memberi hadiah-hadiah yang besar padamu,” ujar gadis itu.

Rangga tersenyum kecil mendengar kata-kata gadis itu. “Tuan Putri, maafkan hamba. Jika tujuan mengajakku ke istana untuk mendapatkan hadiah, maka biarlah aku mengalah. Tuan Putri bisa mengajak kedua Paman ini....”

“Hm, kenapa? Apakah kau tak cukup dengan hadiah-hadiah?”

Rangga kembali tersenyum pahit. Gadis ini terlihat polos dan kurang bergaul. Yang ada dalam benaknya, persoalan balas budi harus ditukar dengan hadiah atau harta benda. Padahal Rangga ingin menjelaskan kalau gadis ini sama sekali tak mengenal dunianya. Rangga tidak butuh hadiah.

“Tuan Putri, maaf..., Pendekar Rajawali Sakti tak bermaksud menolak pemberian Tuan Putri. Dalam dunia kependekaran, dirinya terkenal sebagai orang yang menolong tanpa pamrih. Bila pertolongannya dihargai dengan hadiah, sama artinya dengan penghinaan.”

Ki Teguh Narada menengahi sambil menjelaskan pada gadis itu, yang terlihat kurang senang mendengar jawaban Rangga tadi. Mendengar penjelasan itu, Tuan Putri baru mengerti dan menganggukkan kepala.

“Baiklah, kalau demikian, atas nama ayahanda aku mengundangmu ke istana kerajaan. Beliau tentunya ingin berkenalan denganmu, sekaligus mengucapkan terima kasih atas apa yang kau lakukan....”

“Tuan Putri, apa yang telah kuperbuat sehingga harus ke istana untuk menemui ayahandamu, Baginda Kerajaan Sanjaya?” tanya Rangga.

“Bukankah kau telah menyelamatkan diriku?”

Rangga tersenyum kecil dan merasa geli sendiri. Dirinya tak pernah menyelamatkan gadis ini. Tapi, gadis itu berkeras dirinya yang telah menyelamatkan dari cengkeraman Ki Timpang. Lalu, gadis itu pun berkeras menginginkan Rangga datang ke istana. Semula Pendekar Rajawali Sakti enggan dan tetap menolak. Tapi Ki Palat Diga dan Ki Teguh Narada memberikan beberapa alasan, yang membuatnya setuju mengantarkan gadis itu.

“Baiklah. Tapi aku pamit dulu dengan mereka,” ujar Rangga sambil melangkah ke arah Nyi Larasati dan Rara Ningrum yang sedang menggendong Samiaji. Mereka telah berdiri tegak dan memandang Rangga dengan tatapan sayu.

“Paman mau pergi?” tanya Samiaji mendahului Rangga membuka mulut.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum kecil dan mengelus kepala bocah itu. Kemudian kepalanya mengangguk. Dilihatnya bocah itu terdiam. Tidak seperti kemarin, Samiaji selalu menahan kepergian Rangga. Kali ini, pancaran matanya tetap tak rela. Namun mulutnya terkunci rapat

“Banyak yang harus Paman kerjakan, Samiaji. Tapi Paman berjanji, bila suatu saat berada di desa ini lagi, Paman pasti mengunjungimu....” Samiaji terdiam. Rangga mengalihkan pandangan pada Nyi Larasati dan berkata pelan. “Maaf Nyi.... Kalau kau tak senang Ki Timpang terbunuh, kau boleh menghukumku....”

“Tidak. Hatiku memang tak bisa dikatakan senang, tapi sudah pantas dirinya menerima ganjaran itu...,” suara Nyi Larasati terdengar lirih.

Lalu, Rangga berpaling pada Rara Ningrum. “Maafkan aku, Rara. Aku tahu, walaupun kau tak diakui, tapi yang pasti dia adalah bapakmu. Kau tentu mencintainya.” Rara Ningrum terisak sambil menggelengkan kepala. “Aku pergi sekarang, Rara. Baik-baiklah kalian di sini. Urusan Juragan Bonteng akan kulaporkan pada Baginda Raja. Agar menghukumnya dengan adil,” janji Rangga meyakinkan bahwa hidup mereka kali ini akan aman.

Rara Ningrum tak menjawab sepatah kata pun. Air matanya tidak berhenti mengalir. Ketika Rangga perlahan-lahan meninggalkan tempat ini bersama putri raja. Terasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ada sesuatu yang melesak dalam dada dan membuat perih seluruh jiwa raganya. Bila dibandingkan putri raja dengan dirinya... anak haram. Ah, sungguh lengkaplah kehinaan itu. Dirinya tak pantas mendapat perhatian lelaki mana pun, bisik hati Rara Ningrum.

“Apakah wanita itu kekasihmu?”

“Eh, apa...?” Rangga tersentak mendengar pertanyaan putri raja.

Gadis berwajah cantik dan ayu itu tersenyum kecil. Tampak deretan gigi yang putih bersih dan bibir merah merekah. “Kau termenung memikirkannya?”

“Memikirkan siapa?”

“Wanita yang menggendong anak kecil tadi?”

“Ya, dirinya terlalu menanggung penderitaan....”

Belum habis Rangga bicara, tiba-tiba melesat sesosok tubuh ramping di hadapan mereka dan langsung mencabut pedang. Rangga segera menarik putri raja sambil memiringkan kepalanya. Ujung pedang itu lewat beberapa rambut, tapi kembali menyambar pangkal lehernya.

“Maaf, Tuan Putri!”

Disambarnya tubuh gadis itu sambil melompat ke belakang, menghindari serangan lawan yang baru datang itu. Tentu saja putri raja yang bernama Mayasari itu tersentak kaget. Baru kali ini tubuhnya dirangkul seorang laki-laki dalam keadaan sadar. Tapi karena mengetahui keadaan mereka berbahaya, dirinya diam saja. Perasaan ngeri dan takut menjalar di hatinya ketika mendengar angin berciutan dan tubuhnya melayang-layang dalam gendongan Pendekar Rajawali Sakti.

“Nisanak, kenapa kau menyerangku?” tanya Rangga heran pada penyerangnya itu.

Ternyata penyerang itu tak lain Wulandari, gadis berbaju hijau dan berambut kuncir ke belakang, murid Ki Palat Diga. Sejak tadi dirinya memang mengikuti Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan mengintip peristiwa yang terjadi di halaman depan rumah Juragan Bonteng.

“Huh! Kau tak perlu beralasan. Pemuda ceriwis sepertimu seharusnya mampus!” geram suara Wulandari.

Rangga tak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba bernafsu ingin membunuhnya. Jika terus-menerus menghindar, dirinya akan repot meladeni kekonyolan Wulandari. Maka, dalam suatu kesempatan tubuhnya berkelebat cepat.

Mayasari sampai menutup mata menahan ngeri. Tidak lama berselang, terdengar Wulandari menjerit kesakitan. Pedang di tangannya terpental jauh dan tubuhnya jatuh ke tanah dalam keadaan tak berdaya.

“Maaf, aku tak sempat melayani keinginanmu yang tak ku mengerti. Kurang dari sepeminum teh, kau akan terbebas dari totokanku!” ujar Pendekar Rajawali Sakti segera melesat dari situ.

Wulandari berteriak dan memaki-maki tak karuan. Dirinya merasa kesal melihat Pendekar Rajawali Sakti kembali menggendong gadis itu. Rasanya, Wulandari ingin melumatkan mereka berdua!

Entah mengapa, dirinya tak rela melihat Pendekar Rajawali Sakti berdekatan dengan wanita mana pun. Tak heran, bila akhirnya Wulandari uring-uringan sendiri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan!

Sementara, Pendekar Rajawali Sakti yang membawa putri raja telah melesat jauh meninggalkannya.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PUSAKA GOA NAGA

Thanks for reading Dendam Membara I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »