Bidadari Dasar Neraka

Pendekar Rajawali Sakti

BIDADARI DASAR NERAKA


SATU

Dua orang pemuda terlihat berlari kencang, seperti dikejar setan. Entah sudah berapa kali mereka menoleh ke belakang, seakan-akan ingin meyakinkan diri kalau tidak ada yang mengejar. Keringat telah mengucur deras membasahi baju, tapi mereka terus saja berlari tanpa mempedulikan keadaan. Tiba di suatu tempat yang agak sepi di pinggir hutan, pemuda yang usianya lebih muda menghentikan larinya dengan napas tersengal memburu. Yang seorang lagi ternyata juga menghentikan larinya. Tampak jelas sekali raut wajahnya mencerminkan kecemasan yang amat sangat.

“Jangan berhenti di sini, Jaran. Kita harus secepatnya tiba di desa yang terdekat. Kalau tidak, perempuan iblis itu tentu akan mengejar kita!”

“Aku sudah tidak kuat lagi, Pingkal! Napas ku akan putus rasanya!” sahut pemuda yang bernama Jaran dengan suara terputus dan tersengal memburu cepat.

“Kau ini bagaimana, Jaran...?! Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini. Kalau sampai kita ditemukannya akan celakalah jadinya!” tegas pemuda yang lebih muda, dan bernama Pingkal.

Nada bicaranya ter-dengar setengah memaksa. Jaran menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Dicobanya untuk menguatkan diri, mengikuti temannya yang telah lebih dulu kembali berlari. Tapi baru saja berlari beberapa tombak, Jaran sudah berhenti lagi. Sedangkan Pingkal mulai tidak sabar melihat temannya ini.

“Ayo...! Kuatkan semangatmu, Jaran. Kumpulkan semua tenaga yang kau miliki. Ingat! Kita terancam bahaya!” seru Pingkal memberi semangat.

“Aku tidak kuat lagi, Pingkal....”

“Jangan mengikuti kehendakmu, Jaran! Paksakan terus,” desak Pingkal.

Jaran benar-benar merasa sudah tidak kuat berlari lagi. Tapi mengingat bahaya yang masih terus mengancam, mau tak mau dia harus memaksakan diri kembali berlari. Namun baru saja berlari beberapa langkah, tiba-tiba saja....

“Hi hi hi...!”
“Heh...?!”
“Hah...?!”

Kedua anak muda itu jadi kaget setengah mati, begitu tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik yang mendirikan bulu kuduk. Seketika, wajah mereka jadi pucat pasi. Dan mereka langsung berhenti berlari, berdiri merapat.

“Kalian pikir bisa menghindar dariku? Jangan harap, Cah Bagus!”

“Heh...?!”

“Celaka...!” desis Pingkal memaki.

Belum lagi hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba saja berkelebat sebuah bayangan begitu cepat. Dan tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seseorang bertubuh ramping. Wajah cantik bagai bidadari baru turun dari kayangan. Suara tawanya yang nyaring melengking tinggi terus terdengar menyakitkan telinga.

Perempuan itu mengenakan baju yang sangat tipis, hingga tembus pandang. Bibirnya yang berbentuk indah dan berwarna merah merekah, selalu menyunggingkan senyuman genit memikat. Tampak di pinggangnya yang ramping indah, terselip sepasang pedang pendek dari perak. Rambutnya yang hitam panjang dan lebat, dibiarkan terurai hingga ke pinggul. Sesaat kedua pemuda itu menelan ludah.

Sepintas saja setiap laki-laki akan terpesona melihat kecantikannya. Bahkan siapa pun bakal tergoda untuk memiliki. Namun, berbeda dengan mereka. Wajah Jaran dan Pingkal terlihat pucat pasi memancarkan ketakutan. Golok di pinggang mereka langsung dicabut, siap menghadapi perempuan itu. Sepertinya, mereka sedang menghadapi musuh besar yang akan mengancam keselamatan.

“Hi hi hi...! Kenapa mesti main-main dengan benda berbahaya itu, Cah Bagus? Kemarilah.... Tidakkah kalian ingin bersenang-senang denganku?” terdengar lembut dan genit sekali nada suara wanita cantik bagai bidadari itu.

“Perempuan iblis! Enyah kau dariku! Kalau tidak, golok ini yang akan bicara!” ancam Pingkal membentak garang.

Jaran pun ikut-ikutan memperlihatkan wajahnya yang tidak senang sambil mendengus sinis. Tapi perempuan berwajah cantik itu hanya tertawa kecil. Sedikit pun tidak terlihat perasaan takut di wajahnya melihat kedua pemuda itu sudah menggenggam golok masing-masing. Bahkan bibirnya yang merah menyala terus mengukir senyum begitu manis dan menggoda. Dan setiap mata laki-laki yang memandangnya, pasti akan menelan air liur. Tapi, tidak demikian halnya Jaran dan Pingkal. Bagi mereka, senyuman itu terlihat bagaikan sebuah seringai serigala yang hendak mengoyak tubuh mereka sampai lumat.

“Hi hi hi...! Agaknya kalian tidak bisa dibujuk secara halus. Tapi, biarlah. Kali ini, aku harus sedikit memaksa agar kalian tahu kalau Bidadari Dasar Neraka tidak main-main dengan niatnya. Apa yang kuinginkan, jangan harap tidak kudapatkan. Salah seorang dari kalian harus menemaniku. Malah, kedua-keduanya lebih bagus!” perempuan yang menjuluki dirinya Bidadari Dasar Neraka menunjukkan wajah kesal.

Kemudian, tiba-tiba saja tubuh Bidadari Dasar Neraka sudah melesat ringan sekali ke arah kedua pemuda itu. Begitu cepat dan ringan gerakannya, sehingga membuat kedua pemuda itu jadi terperangah sesaat. Namun....

“Hati-hati, Jaran!” teriak Pingkal memperingati.

“Yeaaah...!”

“Hup!”

Kedua pemuda itu cepat-cepat berlompatan, menghindari terjangan wanita cantik yang menjuluki dirinya Bidadari Dasar Neraka. Namun tanpa diduga sama sekali, Bidadari Dasar Neraka merubah gerakannya dengan kecepatan sulit sekali diikuti pandangan mata biasa. Dan belum lagi kedua pemuda itu bisa menyadari, tahu-tahu....

Tap! “Akh...!”

Kecepatan bergerak Bidadari Dasar Neraka sangat sulit diimbangi kedua orang pemuda itu. Dan tiba-tiba saja terasa ada angin menderu dan menghantam tubuh mereka. Saat itu juga, tubuh mereka terasa seperti dihantam sesuatu yang keras sekali.

Des! Plak!
“Akh...!”
“Ugkh!”

Jaran dan Pingkal terjungkal sambil mendekap dadanya yang terasa nyeri. Golok di tangan juga sudah terlepas entah ke mana. Tapi, mereka cepat melompat bangkit berdiri lagi. Dan pada saat yang bersamaan, perempuan berwajah cantik itu sudah melompat begitu cepat, hingga tahu-tahu sudah berada di depan kedua pemuda itu lagi. Bibirnya yang merah, terus tersenyum manis memikat. Tampak pada kedua tangannya tergenggam dua bilah golok kedua anak muda itu.

“Kau, ikut denganku!” Bidadari Dasar Neraka menudingkan kedua golok itu ke arah Jaran.

“Huh! Lebih baik mati daripada melayani perempuan iblis sepertimu!” dengus Jaran sengit, sambil menyemburkan ludahnya dengan wajah garang.

“Hi hi hi...!” Sambutan Jaran yang begitu ketus, hanya disambut tawa terkikik.

“Hup!” Baru saja Jaran mengatupkan bibirnya, tiba-tiba saja tubuh Bidadari Dasar Neraka sudah bergerak begitu cepat menyambar pemuda ini. Seketika Pingkal bermaksud menghalangi dengan mengayunkan sebelah kakinya, tapi tangan perempuan itu langsung menghantam tulang keringnya.

“Hiyaaa...!”
“Hih!”
Plak!
“Akh...!”

Pingkal menjerit kesakitan. Bekas hantaman Bidadari Dasar Neraka pada kakinya kelihatan berwarna merah kebiruan dan terasa sangat sakit. Mungkin tulangnya ada yang patah. Tapi dalam keadaan begitu, keselamatan temannya masih sempat dipikirkan. Dia berusaha bangkit, walaupun tertatih-tatih.

“Jaran...!” Pingkal jadi celingukan mencari-cari temannya.

Ternyata Jaran sudah tidak ada di tempatnya lagi. Begitu juga Bidadari Dasar Neraka. Mereka lenyap begitu cepat tanpa bekas sedikit pun juga. Seakan-akan, mereka adalah segumpal asap yang tersapu angin. Memang sungguh luar biasa kecepatan gerak Bidadari Dasar Neraka. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga bisa bergerak secepat angin. Dan dalam sekejap mata saja, sudah tidak terlihat lagi hanya dengan sekali lesatan saja. Bahkan sambil menghalau Pingkal tadi, wanita itu cepat sekali menyambar tubuh Jaran. Lalu, Jaran dibawa pergi, sebelum Pingkal bisa menyadari.

“Perempuan keparat! Kembalikan temanku...!” teriak Pingkal keras.

Pingkal mencari-cari di sekitar tempat itu. Dia tahu betul, selain ilmu silatnya rendah, Jaran sebenarnya seorang pengecut. Apalagi setelah menyaksikan kesadisan perempuan itu. Kedua pemuda itu adalah murid Perguruan Silat Kembang Putih yang dipimpin Ki Balung. Tadi, mereka sedang dalam perjalanan pulang ke padepokan, setelah tugas mengantar surat undangan kepada Ki Bangkala yang mengetuai Padepokan Pedang Kilat.

Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang perempuan cantik sedang membasmi habis suatu rombongan orang berpedati. Tadinya, mereka akan berlalu saja. Tapi kelakuan perempuan itu yang sungguh aneh, membuat mereka seperti terpaku untuk menyaksikannya. Mereka melihat, Bidadari Dasar Neraka menangkap seorang pemuda tanggung berwajah tampan.

Kemudian di balik semak-semak, pemuda itu dipaksa untuk berbuat cabul. Pemuda itu menjerit-jerit seperti orang kesakitan, dan kesudahannya diam tidak bergerak. Lalu, perempuan berwajah cantik itu tertawa puas sambil membenahi bajunya yang tipis tembus pandang. Dan saat itulah dia melihat Jaran dan Pingkal. Merasa tidak unggulan setelah melihat kedahsyatan perempuan itu, keduanya langsung kabur menyelamatkan diri. Hingga akhirnya, terjadi hal seperti tadi.

Pingkal tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Hari semakin senja, dan sebentar lagi malam akan tiba. Disertai rasa putus asa, pemuda itu kembali ke padepokan. Ayunan kakinya tampak jadi terpincang-pincang akibat terkena pukulan Bidadari Dasar Neraka tadi.

“Huh! Apa pun yang akan terjadi, hal ini harus kulaporkan secepatnya...,” dengus Pingkal.

Meskipun tertatih dan terasa nyeri, tapi pemuda itu terus saja berjalan cepat. Dengan sebatang tongkat kayu yang ditemukan di tengah jalan, ayunan kakinya jadi semakin cepat. Dan dia terus berjalan tanpa menghiraukan lagi rasa nyeri di kakinya akibat terkena pukulan Bidadari Dasar Neraka.

********************

Malam sudah cukup larut menyelimuti sebagian permukaan bumi ini, Ketika Pingkal sampai di padepokannya. Saat itu, Ki Balung menyambutnya dengan heran. Apalagi, ketika tidak melihat Jaran bersamanya. Setelah meminum secentong air dingin untuk melepaskan dahaganya, Pingkal menceritakan semua yang dialaminya. Semua diceritakan panjang lebar dan jelas.

“Apa?! Bidadari Dasar Neraka katamu?!” Sepasang alis orang tua berusia sekitar enam puluh tahun itu terangkat tinggi menandakan keheranan dan rasa terkejutnya. Pingkal mengangguk cepat Beberapa orang murid yang berada di ruangan itu tidak mengerti melihat keterkejutan guru mereka ketika mendengar julukan yang disebut Pingkal. Apakah tidak terbalik? Bukankah seharusnya Ki Balung mencemaskan nasib Jaran? Kenapa malah perhatian utamanya tertuju pada Bidadari Dasar Neraka...?

“Katakan! Bagaimana ciri-ciri perempuan yang menjuluki diri Bidadari Dasar Neraka itu, Pingkal?” pinta Ki Balung.

Raut wajah orang tua itu seperti memancarkan ketidakpuasan terhadap cerita yang dituturkan Pingkal barusan. Dan sorot matanya terlihat begitu tajam merayapi wajah muridnya yang sedikit tertunduk. Pingkal sendiri seperti tidak sanggup menentang sorot mata gurunya yang begitu tajam. Bahkan sampai membuatnya jadi membisu, seakan lidahnya jadi kelu dan sulit diajak bicara.

“Katakan ciri-cirinya, Pingkal,” desak Ki Balung tidak sabar lagi.

Sebentar Pingkal masih terdiam. Ditariknya napas beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Sementara, murid-murid Ki Balung yang lain juga terdiam membisu, menunggu penuturan Pingkal.

“Wajahnya muda dan cantik, seperti gadis berusia tujuh belas tahun. Panjang rambutnya sepinggul. Dia memakai baju tipis, hingga terlihat jelas lekuk-lekuk tubuhnya. Senjatanya berupa sepasang pedang pendek dan terbuat dari perak terselip di pinggangnya. Ilmu silatnya sangat tinggi, Ki. Kami bahkan tidak bisa melihat kapan gerakannya...,” jelas Pingkal lagi.

Suaranya terdengar perlahan-lahan dan agak terputus. Ki Balung terdiam. Keningnya tampak berkerut begitu dalam, pertanda tengah berpikir keras.

“Kenapa, Ki? Apakah kau mengenalnya, Ki...?” tanya Pingkal hati-hati.

“Beberapa puluh tahun yang lalu, ada seorang perempuan berwajah jelita julukannya Bidadari Dasar Neraka. Ciri-cirinya persis dengan yang kau tuturkan barusan, Pingkal. Dan senjatanya pun sama pula. Kepandaiannya memang sangat tinggi dan sulit diukur tingkatannya. Tapi..., ah! Aku tidak yakin dia orangnya. Gadis itu pasti muridnya!”

“Kita harus mencari Jaran, Ki!” selak Pingkal cepat mengingatkan.

“Betul, Ki. Siapa tahu, perempuan itu mempunyai maksud-maksud tertentu padanya. Kasihan, Jaran masih kecil dan tidak memiliki kepandaian cukup untuk membela diri,” timpal seorang muridnya yang lain.

“Tentu! Kita akan mencarinya...,” sahut Ki Balung. Orang tua itu kemudian cepat bangkit, dan mencabut golok pusakanya yang tergantung di dinding. “Kau di sini saja, Pingkal. Aku akan mencari Jaran. Mudah-mudahan saja aku masih sempat menolongnya segera!”

“Baik, Ki,” sahut Pingkal seraya mengangguk.

“Ayo berangkat!” ajak Ki Balung pada empat orang muridnya yang mempunyai kepandaian lumayan.

“Ke mana kita akan mencarinya, Ki?” tanya Mardi, salah seorang murid yang mempunyai ilmu silat paling tinggi di antara yang lain. Ki Balung berpikir sejenak. Selama puluhan tahun, tempat persembunyian Bidadari Dasar Neraka tidak pernah diketahui orang. Banyak kabar burung yang terdengar, namun tidak ada satu pun yang benar. Perempuan itu memang sering berpindah-pindah tempat Dan kini, telah lama sekali kabar Bidadari Dasar Neraka tidak terdengar. Dan dia tidak yakin bisa menemukan persembunyian perempuan iblis itu.

“Kita akan berjalan ke mana saja...,” kata Ki Balung pelan.

Keempat muridnya mengikuti tanpa banyak bicara. Mereka terus saja berjalan meninggalkan padepokan. Sementara, Pingkal yang tetap tinggal segera mengatur murid-murid padepokan untuk berjaga-jaga. Hatinya benar-benar khawatir kalau sampai Bidadari Dasar Neraka datang ke padepokan ini. Sedangkan gurunya sudah pergi bersama empat orang murid yang berkepandaian cukup.

********************

Ki Balung dan empat orang muridnya terus berjalan semakin jauh meninggalkan padepokan. Tidak dipedulikan lagi malam yang semakin larut dan hembusan angin yang menyebarkan udara dingin menusuk tulang. Dan ketika menjelang tengah malam, mereka baru sampai di sebuah padang ilalang di bawah bukit yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Walaupun malam terasa semakin dingin, namun Ki Balung dan empat orang muridnya memilih beristirahat di padang ilalang itu. Jejak yang ditunjukkan Pingkal telah dilalui. Namun sedikit pun tidak ditemukan petunjuk, dimana Bidadari Dasar Neraka berada.

Setelah cukup melepaskan lelah, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan sekarang, mereka menuju tempat penghadangan rombongan pedati oleh Bidadari Dasar Neraka. Di tempat ini, banyak ditemukan mayat-mayat bergelimpangan. Dengan memperkirakan arah datangnya, Ki Balung mengajak murid-muridnya terus menyelusuri jejak perempuan setan itu.

Namun, itu pun tidak juga membawa hasil. Malah, keempat orang muridnya mulai lelah. Maka diputuskannya untuk istirahat dan melanjutkan pencarian esok harinya. Sementara keempat muridnya tampak tertidur pulas, Ki Balung berjaga-jaga. Tadi, muridnya yang bernama Mardi telah menawarkan diri untuk berjaga, dan menyuruhnya beristirahat.

Tapi, Ki Balung merasa kalau tubuhnya belum letih. Apalagi, dia memang selalu menyayangi murid-muridnya. Di samping itu, sepi begini sangat baik baginya untuk bersemadi. Dengan duduk bersila sambil bersandar di bawah sebatang pohon, Ki Balung memejamkan matanya. Pendengarannya dibuka lebar-lebar sambil melatih pernapasan.

Namun baru saja sekejap melakukan sikap demikian, sekonyong-konyong orang tua itu bergerak cepat. Api unggun di dekatnya seketika padam dihantam pukulan jarak jauhnya yang menimbulkan desiran angin kencang.

“Siapa itu...?!” agak keras suara Ki Balung terdengar.

“Hi hi hi...! Tua bangka ubanan! Agaknya telingamu cukup tajam juga untuk mengetahui kehadiranku di sini!” Terdengar satu suara nyaring yang disusul berkelebatnya sebuah bayangan, tepat di depan laki-laki tua itu.

“Siapa kau?!” bentak Ki Balung dengan garang.

Pandangan Ki Balung yang tajam, bisa mengetahui kalau sesosok tubuh itu adalah perempuan muda berambut panjang. Pakaiannya tipis, hingga tembus pandang. Walau cahaya bulan amat redup, namun matanya mampu melihat sepasang pedang pendek yang berkilauan di pinggang sosok yang ternyata seorang gadis. Ki Balung cepat menduga, perempuan inilah yang sedang dicarinya.

Mendengar ribut-ribut, keempat muridnya langsung terjaga dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tangan mereka langsung memegang gagang golok masing-masing.

“Aku gadis malang yang tersasar. Rumahku jauh dari sini, dan tidak tahu jalan pulang. Karena hari telah larut malam, aku berteduh di sebatang pohon. Kemudian, aku melihat kalian di kejauhan. Sudikah kalian menolong mengantarkan ku pulang?” lembut sekali suara gadis itu terdengar.

Suara gadis itu dikeluarkan seperti meleceh. Dan Ki Balung bersama keempat muridnya sama sekali tidak percaya. Apalagi, melihat gerak-gerik genit perempuan itu. Senyumnya selalu terkembang merekah, dengan kerlingan mata yang sanggup menggetarkan jantung siapa saja yang melihatnya.

“Nisanak! Jangan coba mengalihkan perhatian dengan segala omong kosongmu. Bukankah kau yang bernama Bidadari Dasar Neraka?!” tegas Ki Balung langsung, dan agak ketus.

“Hi hi hi...! Agaknya Bidadari Dasar Neraka betul-betul tidak mampu mengelabui Ki Balung. Nah, Orang Tua. Kau telah tahu, siapa aku. Tentu, kau mengerti juga, apa yang kuinginkan. Aku memerlukan bantuan empat orang pemuda yang di belakangmu itu!”

“Bidadari Dasar Neraka! Jangan coba berbaik-baik denganku dan tidak perlu mengancam. Kedatangan kami ke sini sudah jelas kau ketahui. Maka, kembalikan seorang muridku yang tadi kau culik!” Ki Balung agaknya tidak mau berbasa-basi lagi dengan perempuan itu.

“Muridmu kuculik? Sejak kapan aku jadi penculik?”

“Jangan pura-pura! Tadi sore, dua orang pemuda telah memergoki perbuatan cabul mu. Salah seorang kemudian kau bawa kabur, dialah muridku. Kuminta baik-baik, kembalikan muridku. Atau, aku harus memaksamu dengan cara kekerasan!”

“Hi hi hi...! Dasar tua bangka pikun. Bicaramu seenaknya saja. Mana mungkin aku menculik muridmu. Dialah yang mengejar-ngejarku. Dan malah, kini tidak mau pulang!” sahut Bidadari Dasar Neraka seenaknya.

“Dasar perempuan cabul! Rupanya kau memang harus dipaksa!” dengus Ki Balung jadi geram.

“Hi hi hi...!” Bidadari Dasar Neraka hanya tertawa saja mendengar kata-kata yang terasa ketus itu.

Sementara, Ki Balung sudah siap dengan golok tergenggam erat di tangan kiri, walaupun belum juga dicabut dari warangkanya. Tapi, sorot matanya terlihat begitu tajam, ke arah sepasang bola mata yang indah dan memikat, seakan hendak menembus langsung ke jantung.

"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik, Perempuan Iblis! Terimalah seranganku. Hiyaaat...!”

Selesai berkata demikian, tubuh Ki Balung bergerak menyerang perempuan itu. Dia ingin menguji, sampai sejauh mana kemampuan Bidadari Dasar Neraka yang satu ini. Satu pukulan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, langsung dilepaskan tepat mengarah ke dada Bidadari Dasar Neraka.

“Haiiit..!” Namun manis sekali Bidadari Dasar Neraka mengegoskan tubuhnya. Dan bagaikan kilat, tangan kirinya dikibaskan untuk menyambut pukulan yang dilepaskan Ki Balung.

Ki Balung jadi tersentak kaget setengah mati. Tangan Bidadari Dasar Neraka yang halus dan gemulai tampak jelas akan menangkis kepalan tangannya yang kasar dan berat Pikirnya, sungguh berani perempuan itu. Pasti dalam sekejap, dia akan terjungkal sambil mengeluh kesakitan.

Plak!

“Heh...?!” Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Telapak tangan Bidadari Dasar Neraka ternyata seperti benteng baja cina tidak bergeming sedikit pun. Namun Ki Balung tidak mau membuang waktu. Meskipun belum percaya betul kalau perempuan di depannya ini adalah Bidadari Dasar Neraka, yang jelas kepandaian wanita itu tidak bisa dianggap enteng. Maka cepat dia melompat mundur. Dan saat itu juga kaki kirinya langsung melayang menghantam ke arah kepala.

“Yeaaah...!”

“Hup!” Bidadari Dasar Neraka cepat menundukkan kepala, dan tubuhnya berputar seperti menari. Sesaat, Ki Balung jadi terpana. Kesempatan itu cepat digunakan Bidadari Dasar Neraka untuk bergerak cepat menyambar mukanya dengan ayunan kaki yang menimbulkan angin serangan kencang.

Ki Balung buru-buru membuang diri ke samping, dan bergulingan beberapa kali. Lalu cepat dia melompat bangkit berdiri lagi dengan kedua kaki kembali menjejak mantap di tanah. Sementara Bidadari Dasar Neraka terlihat berdiri tegak dengan wajah kelihatan meregang seperti menahan marah.

“Sial!” dengus Ki Balung, yang hampir saja terkena serangan balik wanita itu.

“Hi hi hi...! Tua bangka keparat! Kau meremehkan Bidadari Dasar Neraka, heh?! Terimalah akibatnya nanti!” dengus Bidadari Dasar Neraka.

“Huh! Kau pikir dengan kepandaian secuil itu akan bisa menakut-nakuti Ki Balung? Meski gurumu sendiri, aku tidak bakal gentar!”

“Jangan bawa-bawa nama guruku! Aku saja sudah cukup untuk menghajar mulut lancang mu!” sentak Bidadari Dasar Neraka berang.

“Gadis sombong! Mulutmulah yang perlu dihajar!”

“Hi hi hi...! Kita akan buktikan sekarang, Tua Bangka!”

“Jangan banyak omong kau! Hiyaaa...!” Ki Balung langsung melipatgandakan tenaga dalamnya. Dia tidak ingin lagi kecolongan seperti tadi. Dengan kecepatan bagai kilat, kembali diterjangnya wanita berwajah cantik bagai bidadari itu.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bidadari Dasar Neraka bergerak bagai tiupan angin. Tubuhnya bergerak cepat dan gerakannya betul-betul sulit diikuti mata. Apalagi, untuk menduga arah serangannya. Sambil membentak keras, tubuhnya yang melayang di atas tiba-tiba menukik tajam dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan angin panas membakar.

Ki Balung cepat-cepat melompat ke samping sambil membalas dengan pukulan andalan yang mengeluarkan sinar kuning dari telapak tangannya. Seekor kerbau kuat dan besar pun akan tewas seketika dihantam pukulan yang bernama ‘Pukulan Tapak Kuning’ itu.

Glaar...!

Satu ledakan dahsyat terjadi, ketika dua pukulan dahsyat beradu. Dan pada saat itu juga tanpa diduga sama sekali, Bidadari Dasar Neraka memutar tubuhnya dengan kecepatan sangat tinggi di udara. Lalu bagaikan kilat tubuhnya menukik deras. Dan....

“Yeaaah...!”
Wuk! Cres!
“Aaakh...!”

Ki Balung terpekik nyaring. Tubuhnya kontan terpental sejauh dua tombak dengan tangan sebatas siku buntung. Cepat-cepat ditotoknya aliran darah di sekitar siku, agar darah tidak banyak keluar. Dari mulutnya tampak meleleh darah segar. Dan seketika, keempat orang muridnya langsung memburu ke arahnya.

“Ki...!”

Ki Balung kini memuntahkan darah segar. Nafasnya tampak megap-megap. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit. Pandangannya yang tajam menusuk, diarahkan ke Bidadari Dasar Neraka yang tersenyum-senyum sinis sambil menimang-nimang pedang pendek yang telah berada di kedua belah tangannya.

Memang sungguh cepat gerakan yang dilakukan Bidadari Dasar Neraka tadi. Sehingga, sangat sulit diikuti pandangan mata biasa. Ki Balung sendiri tidak tahu, kapan wanita itu mencabut pedangnya, dan kapan pula membabatkannya. Sampai-sampai, tangannya tidak bisa lagi dipertahankan. Sekali tebas saja, tangannya sudah buntung.

“Nisanak! Ku tahu, jurus yang kau gunakan itu adalah jurus ‘Kupu-kupu Menari di Atas Bunga’. Tapi pengerahan tenaga dalam yang hebat begitu hanya bisa dilakukan oleh si Bidadari Dasar Neraka. Mustahil kalau kau adalah Bidadari Dasar Neraka yang pernah kukenal puluhan tahun yang lalu. Tapi, wajahmu mirip sekali dengannya. Dan mustahil pula kalau kau putrinya. Setahuku, Bidadari Dasar Neraka tidak pernah memiliki keturunan. Bahkan kau juga lebih pintar jika mengaku sebagai muridnya. Siapa kau sebenarnya?! Dan apa maksudmu menculik muridku?”

Suara Ki Balung terdengar tenang. Namun di balik itu, tersirat ancaman halus yang lahir dari rasa penasarannya. Sesekali mulutnya meringis menahan perih pada tangannya yang buntung dan terus mengucurkan darah segar.

“Hi hi hi...!” Namun Bidadari Dasar Neraka hanya tertawa mengikik saja. Begitu mengerikan suara tawanya, sehingga membuat bulu kuduk jadi meremang.

DUA

Bidadari Dasar Neraka tertawa nyaring, tapi kemudian melotot garang tanpa mempedulikan ocehan Ki Balung. Kedua bola matanya terbeliak lebar, dan bibirnya terkatup rapat Raut wajahnya begitu kaku, memancarkan kebengisan. Bahkan lebih mirip seekor serigala yang melihat domba sangat gemuk, sehingga membuat air liur menetes karena membayangkan kenikmatan.

“Tua bangka...! Aku tidak peduli segala yang kau katakan! Kau bersedia serahkan empat anak muda itu atau tidak?!” bentak Bidadari Dasar Neraka garang. Suaranya terdengar begitu keras dan lantang.

“Ki...! Biar kurobek saja mulut perempuan lancang itu!” Mardi yang sejak tadi sudah geram, minta izin pada gurunya untuk menghajar perempuan itu. Dan belum lagi Ki Balung berkata apa-apa, Mardi sudah mencelat dengan golok di tangan menerjang Bidadari Dasar Neraka. Begitu cepat lesatannya, sehingga membuat Bidadari Dasar Neraka jadi terperangah tidak menyangka.

“Perempuan cabul! Hadapi aku! Hiyaaa...!”

“Heh...?! Upts!”

Cepat sekali Bidadari Dasar Neraka menghindari tebasan golok Mardi. Maka, hanya sedikit saja golok yang berkilatan tajam itu lewat di depan tenggorokannya. Lalu dia cepat melompat mundur, menjaga jarak sekitar setengah batang tombak.

“Hi hi hi...! Bocah bagus! Kau pikir bisa berbuat apa padaku? Sepuluh orang seperti gurumu pun, belum tentu mampu mengalahkanku. Dan lebih baik, ikutlah baik-baik denganku. Atau, harus ku paksa lebih dulu,” kata Bidadari Dasar Neraka agak dingin nada suaranya.

“Phuih...!” Mardi hanya menyemburkan ludahnya dengan sengit

“Mardi, hati-hati!” Ki Balung memperingatkan.

Belum lagi suara peringatan Ki Balung hilang, Mardi sudah kembali melompat menyerang wanita cantik yang bernama Bidadari Dasar Neraka.

“Hup! Hiyaaat..!”
“Haiiit!"

“Mampus kau!”
Bet!

Kembali Mardi cepat menyerang. Goloknya dikebutkan beberapa kali secara beruntun, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tapi dengan liukan-liukkan tubuh yang sangat indah, Bidadari Dasar Neraka bisa menghindarinya.

“Hm.... Agaknya guru dan murid sama saja. Cepat panas dan naik darah. Untung saja wajahmu tampan, hingga aku tidak sampai hati melukaimu. Tapi kalau caramu terus begini, terpaksa aku harus melumpuhkanmu terlebih dahulu,” gumam Bidadari Dasar Neraka pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

“Jangan banyak mulut kau, Perempuan Cabul! Kau pikir, aku keledai yang seenaknya bisa dilumpuhkan! Hiyaaat..!” sentak Mardi semakin geram.

“Haiiit..!”

Kembali Mardi menyerang dengan tebasan-tebasan golok yang sangat cepat luar biasa. Tapi, tetap saja Bidadari Dasar Neraka hanya melayani dengan senyuman tersungging di bibir. Sikapnya terlihat jelas kalau meremehkan pemuda ini. Namun sebagai murid utama Ki Balung, kepandaian Mardi memang hampir menyamai gurunya. Apalagi, ketika memainkan jurus ‘Berputar Mengelilingi Bumi’.

Jurus itu sangat hebat dan dahsyat bila dimainkan dengan golok. Ditambah lagi oleh pengerahan tenaga dalamnya yang sudah tinggi. Agaknya, Mardi betul-betul ingin membuktikan kalau tidak semudah itu dapat ditaklukkan Bidadari Dasar Neraka. Tapi yang dihadapinya kali ini bukanlah tokoh sembarangan.

Nama Bidadari Dasar Neraka sudah puluhan tahun sangat disegani oleh semua golongan. Tidak sembarangan orang berani mencari perkara dengannya. Ki Balung sendiri meyakini hal itu. Dan diyakini pula kalau perempuan ini sesungguhnya adalah Bidadari Dasar Neraka yang dikenalnya dahulu. Hanya saja yang sulit dimengerti, kenapa perempuan itu masih awet muda?

“Yeaaah...!”

Pertarungan antara Mardi melawan Bidadari Dasar Neraka terus berlangsung sengit. Jurus demi jurus berlalu cepat. Entah sudah berapa jurus Mardi menyerang, tapi tetap saja dilayani Bidadari Dasar Neraka hanya dengan liuk-liukkan tubuh saja. Namun begitu, masih terlalu sulit bagi Mardi untuk menyarangkan serangan-serangan ke tubuh yang indah menggiurkan ini. Dan hingga pada satu kesempatan....

“Hih!”
Plak!
“Awas, Mardi!”

Ki Balung berteriak memperingatkan, ketika telapak tangan Bidadari Dasar Neraka menangkis pergelangan tangan Mardi yang sedang mengayunkan goloknya ke arah kepala. Tapi pemuda itu tidak cepat mengerti. Sebab kemudian, seperti ular saja tangan perempuan itu sudah menangkap pergelangan tangannya. Langsung ditariknya tubuh Mardi ke arahnya dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

“Ikh...!” Mardi berusaha bertahan sambil mengayunkan kakinya ke perut lawan.

Namun, tubuh Bidadari Dasar Neraka cepat mencelat ke atas sambil berteriak nyaring. Entah bagaimana perempuan cantik itu melakukannya, tahu-tahu golok di tangan Mardi terlepas. Bahkan tubuh Mardi tahu-tahu lemas seperti tidak bertenaga, hingga langsung ambruk ke tanah.

“Hi hi hi...! Dalam keadaan begini, tentu kau akan lebih jinak padaku!”

“Perempuan cabul, lepaskan muridku!” bentak Ki Balung geram.

Ketiga orang murid Ki Balung yang lain segera melompat menghadang Bidadari Dasar Neraka. Dan tanpa diperintah lagi, mereka langsung saja menyerang cepat dari tiga jurusan.

“Hiyaaa...!” “Yeaaah...!”

Namun, serangan mereka hanya dilayani dengan gerakan-gerakan sangat indah dan ringan. Sementara bibir wanita cantik itu terus menyunggingkan senyuman. Kenyataannya, satu pun dari serangan mereka yang berhasil menyentuh kulit tubuhnya. Dan memang, mereka bukanlah tandingan Bidadari Dasar Neraka.

“Hi hi hi...! Sungguh garang murid-muridmu, Tua Bangka! Tapi sayang, aku tidak berselera pada mereka. Ku tarik kembali ucapanku. Aku hanya memerlukan seorang muridmu yang ini saja!” ujar Bidadari Dasar Neraka sambil memanggul Mardi yang tidak berdaya di pundaknya.

Bidadari Dasar Neraka berusaha kabur, tapi ketiga murid Ki Balung tentu saja tidak membiarkan begitu saja. Serentak mereka membentuk barisan, dan kembali menyerang dari tiga jurusan. Kelebatan pedang mereka terdengar mendesing, mengancam keselamatan perempuan itu.

Namun Bidadari Dasar Neraka hanya tertawa, seperti menganggap remeh serangan itu. Tubuhnya lalu melayang tinggi ke atas cabang pohon dengan ringan, tapi ketiga murid Ki Balung terus saja mengejarnya. Bidadari Dasar Neraka kemudian mencelat sambil berputar dua kali di udara. Dan disertai teriakan keras, kedua kakinya melayang menghajar dua orang lawan yang terdekat.

“Hih!”
Duk!
“Aaakh...!”
“Menyingkir, Raga!”

Ki Balung langsung membentak. Kedua murid Perguruan Kembang Putih itu langsung menjerit kesakitan. Golok mereka terpental, dengan pergelangan tangan patah dihantam tendangan Bidadari Dasar Neraka yang sangat kuat. Perempuan itu terus bergerak cepat mengayunkan tangan kirinya, menghantam kepala lawannya yang tersisa. Saat itu juga dengan sisa tenaganya, Ki Balung melompat menyerang Bidadari Dasar Neraka, setelah terlebih dahulu memperingatkan muridnya.

“Hiyaaat..!”

“Tua bangka keparat...! Mampuslah kalau memang itu yang kau inginkan! Hiyaaat...!” Bidadari Dasar Neraka membentak sambil menghantamkan satu pukulan yang mengeluarkan sinar kuning kemerahan bagai nyala api.

“Pukulan Api Kematian’?!” Ki Balung mendesis terkejut.

Cepat-cepat Ki Balung bergerak mengegoskan tubuhnya, sambil membalas dengan pukulan andalan ‘Rase Kuning'. Tapi ternyata Bidadari Dasar Neraka sudah bergerak cepat. Dan ketika kakinya baru saja menjejak tanah, seorang murid Ki Balung langsung membabatkan goloknya ke arah pinggang perempuan itu.

Meski masih membopong tubuh Mardi di pundak, tapi Bidadari Dasar Neraka masih mampu bergerak gesit bagai burung walet. Tubuhnya tampak berputaran bagai gasing dan bergerak cepat membalas serangan lawan. Akibatnya, tiba-tiba saja orang itu terpekik. Tubuhnya kontan terlempar sejauh lima tombak, dan langsung memuntahkan darah kental kehitaman-hitaman.

Ternyata, tadi Bidadari Dasar Neraka menghantamnya dengan tendangan geledek. Bahkan bukan saja membuat tulang dadanya remuk, tapi nyawanya pun langsung melayang saat itu juga.

“Aaa...!”

“Keparat! Mampuslah kau, Perempuan Laknat!” Secarik sinar kuning dari pukulan maut Ki Balung langsung menderu kencang, menyambar Bidadari Dasar Neraka.

“Mampuslah kau, Tua Bangka Busuk! Hih...!”

Bidadari Dasar Neraka dengan geram, membalasnya. Cepat dilepaskannya ‘Pukulan Api Kematian’ disertai penggunaan tenaga dalam penuh. Kedua pukulan itu bertemu dan menimbulkan suara ledakan keras menggelegar yang sangat dahsyat sekali, disusul percikan bunga api dan asap tebal membubung.

Glaaar!

“Aaakh...!” Ki Balung memekik kesakitan. Tubuhnya langsung terlempar membentur sebatang pohon. Dari mulutnya tampak meleleh darah kental kehitam-hitaman. Orang tua itu cuma menggelepar sesaat, kemudian tidak bergerak lagi. Nyawanya putus saat itu juga.

“Ki...!” Kedua orang murid Ki Balung langsung memburu dan memeriksa keadaan orang tua itu. Tapi, nyawa Ki Balung sudah tidak tertolong lagi. Tenaganya kalah jauh dalam adu kekuatan tadi. Bukan saja pukulan mautnya yang buyar, tapi pukulan lawan terus menderu menghantam tubuhnya tanpa dapat ditahan. Tubuh Ki Balung tampak seperti terbakar kepanasan, hangus menghitam.

“Perempuan keparat! Kami akan mengadu jiwa denganmu!” bentak salah seorang murid Ki Balung geram.

“Hiyaaat..!” “Yeaaah...!”

Dengan wajah garang, mereka langsung melesat hendak menyerang. Tapi belum juga sampai, mendadak saja Bidadari Dasar Neraka sudah raib dari tempat itu. Keduanya cepat menajamkan pendengaran, namun jejak dan suara perempuan itu betul-betul tidak terdengar lagi. Dengan hati kesal bercampur dendam, dua murid Ki Balung itu kembali pulang membawa jenazah gurunya dan seorang murid lain.

Sementara itu, Bidadari Dasar Neraka tengah tertawa-tawa nyaring di kejauhan sambil mengerahkan ilmu lari cepat. Tubuhnya seperti dibungkus angin, terus bergerak ke arah utara. Sesudah beberapa saat berlari, gadis berwajah cantik bagai bidadari itu sampai di depan sebuah kuburan tua yang terletak persis di kaki sebuah bukit curam.

Bidadari Dasar Neraka terus melangkah pelan, dan berhenti di depan sebuah kuburan yang sudah rata dengan tanah. Di depannya, tampak dua buah tiang setinggi setengah tombak, terbuat dari bata. Dindingnya sudah rusak dan ditumbuhi lumut Ditekannya bagian atas tiang yang berada di sebelah kanan. Perlahan-lahan, dinding bukit sejauh dua tombak di depan makam itu terlihat terbuka lebar.

Kelihatannya, cukup dimasuki dua orang dewasa. Bidadari Dasar Neraka cepat-cepat masuk ke dalam, maka pintu itu tertutup kembali. Di dalamnya, tampak sebuah ruangan yang cukup luas, diterangi beberapa buah obor yang tergantung di dinding. Di ujung kiri dan kanannya terdapat dua buah kamar.

“Gondo Keling, dan kau Raja Manik! Ke mana kalian?!” teriak Bidadari Dasar Neraka.

Dari pintu kiri tampak keluar dua sosok tubuh yang sangat berlawanan. Yang satu bertubuh pendek gemuk dengan rambut pendek berdiri ke atas. Di pinggangnya melingkar sebuah cambuk berduri. Di sebelahnya lagi, berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus. Tangan kanannya memegang sebuah gada berduri yang cukup besar. Mereka berdua memberi hormat pada perempuan cantik ini.

Bidadari Dasar Neraka memperhatikan seksama ke arah mereka. Di mulut laki-laki pendek gemuk itu masih terlihat bekas-bekas makanan. Sedang baju laki-laki tinggi kurus terkesan kurang rapi, seperti buru-buru dibereskan. Perempuan itu menggeleng kecil sambil tersenyum.

“Sedang apa kalian?” tanya Bidadari Dasar Neraka pura-pura tidak tahu.

Kedua orang itu saling berpandangan satu sama lain.

“Goblok! Apakah telinga kalian tuli?!”

“Eh, ng.... Biasa, Nyai Nilawati...,” jawab laki-laki tinggi kurus sambil senyum malu.

“Hmmm. Kau tadi keluar, Raja Manik? Dan kini perempuan itu kau peram di dalam?!”

“Dia tidak tahu tempat ini, Nyai. Hamba membawanya dalam keadaan tidak sadar. Dan sesudah itu...,” kata Raja Manik sambil memberi isyarat dengan tangannya menyilang di atas tangan yang satunya.

“Bagus! Kau harus pastikan, kalau dia sudah mampus sebelum meninggalkannya!” Raja Manik mengangguk cepat. “Dan kau, Gondo Keling! Apa saja kerjamu selain mengenyangkan perutmu?! Kalau sampai jadi kerbau besar yang dungu, kupecahkan perutmu!”

Si pendek gemuk tersenyum sambil terkekeh. Kedua bola matanya berputaran memandangi wajah cantik di depannya. Sedangkan Bidadari Dasar Neraka masih tetap memasang wajah angker.

“Percayalah, Nyai. Hamba tetap mampu bergerak gesit walau makan sebakul sekalipun....”

“Hmmm, sudahlah. Kalian urus pemuda ini. Hati-hati. Kepandaiannya cukup lumayan, antarkan padaku nanti malam. Sekarang, aku ingin istirahat dulu!” ujar Bidadari Dasar Neraka yang dipanggil Nilawati oleh kedua orang itu.

Tubuh Mardi yang berada dalam bopongan melayang ke arah Gondo Keling dan Raja Manik. Mereka cepat menangkap dan membawanya ke sudut ruangan. Lalu, diikatnya pemuda itu dengan tali yang kuat dalam keadaan berdiri.

Bidadari Dasar Neraka sendiri menuju kamarnya yang terletak di sudut kanan ruangan itu. Di dalam kamarnya, terdapat sebuah ranjang empuk berukir indah dengan kelambu cerah warna merah jambu, juga terdapat seperangkat alat-alat makan, dan rak-rak kecil yang menempel di dinding berisi buku-buku yang sudah lusuh. Sebuah obor kecil menerangi ruangan ini.

Di atas meja dekat tempat tidur, tersedia sepiring besar buah-buahan ranum yang menimbulkan selera. Di sisi yang agak kosong di samping ranjang, juga terlihat seutas tali yang diikatkan dari dinding yang satu ke dinding di depannya.

“Hari ini tenagaku banyak terkuras. Aku harus memulihkannya kembali sebelum...,” gumam Bidadari Dasar Neraka sambil tersenyum-senyum sendiri.

Mungkin perempuan itu tengah membayangkan suasana indah nanti. Entah, apa yang ada dalam benaknya saat ini. Matanya terus menerawang, bercahaya indah bergemerlapan bagai bintang di langit.

“Pemuda itu cukup tampan dan gagah. Tapi sayang, sedikit tua. Mungkin sudah tidak perjaka lagi. Tapi tidak apalah untuk pemuas dahagaku...,” lanjut Bidadari Dasar Neraka sambil merebahkan diri.

Apa yang dilakukan perempuan itu sangat aneh. Tidurnya tidak di atas ranjang, melainkan di atas seutas tali yang menggantung di samping ranjang. Padahal, tali itu lebih kecil daripada jari telunjuknya. Dan yang pasti, tidak akan kuat menahan berat tubuhnya. Tapi kenyataannya, tali itu tidak putus. Dan ini menandakan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah demikian tinggi.

Tapi bagi Bidadari Dasar Neraka, hal ini merupakan suatu latihan ilmu meringankan tubuh yang tiada taranya. Dan dilakukan terus-menerus oleh Bidadari Dasar Neraka. Kalau saja tali itu sampai tidak melengkung ke bawah, maka boleh dikatakan ilmu meringankan tubuhnya sulit ditandingi siapa pun.

Namun tali yang tadi terentang kaku, kini hanya melengkung ke bawah kira-kira setengah jengkal. Itu pun sudah sangat hebat! Bahkan mampu tidur seenaknya di atas tali itu saja, sudah terbilang langka. Mengingat, tali itu kelihatan lapuk dan diikat seadanya pada dinding ruangan.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Desa Jambu Pasir tampak sangat ramai siang hari ini. Seperti hari-hari biasanya, terlihat banyak kesibukan para pedagang yang lalu lalang. Tempat ini sebenarnya tidak layak lagi disebut desa. Tetapi lebih tepat bila disebut sebuah kota yang cukup ramai dengan bangunannya yang indah dan megah. Bahkan tempat hiburan banyak terdapat di setiap pelosok.

Kehidupan para penduduk lebih banyak sebagai pedagang. Dan mereka yang bertani hanya terdapat jauh di luar desa. Hanya saja, penduduknya lebih suka menyebut tempat tinggal mereka sebagai desa. Tempat ini memang bersejarah.

Pada zaman dahulu, desa ini adalah daerah taklukan sebuah kerajaan besar. Mereka mendirikan benteng-benteng pertahanan, yang sampai sekarang masih dapat terlihat. Dan ketika kerajaan itu dapat dikalahkan oleh kerajaan lain, daerah ini seperti tenggelam begitu saja. Tapi, tempat ini tidak langsung dilupakan orang begitu saja. Raja yang sekarang sudah menetapkannya sebagai daerah perdagangan, yang kemudian banyak dikunjungi pendatang dari berbagai tempat.

Di daerah ini juga terdapat sebuah padepokan, tempat penggemblengan prajurit-prajurit kerajaan yang bernama Tirtaloka. Padepokan ini dipimpin seorang panglima perang, bernama Ki Wisnu Perkasa. Beliau memang sudah lama mengundurkan diri dari jabatan panglima perang kerajaan, tetapi raja tetap membutuhkan tenaganya untuk melatih para prajurit. Usianya sudah lanjut, sekitar tujuh puluh tahun. Namun ilmu silatnya cukup tinggi, sehingga sangat disegani semua golongan.

Di siang yang cukup terik itu, Ki Wisnu Perkasa kedatangan tamu yang bernama Panglima Sudra Wulung, yang saat ini memimpin seluruh pasukan kerajaan. Dalam kunjungan itu, dia menyampaikan amanat kalau Gusti Prabu tengah membutuhkan lebih dari dua puluh orang prajurit pilihan untuk menambah jumlah pasukan yang sudah ada.

“Ada apa sebenarnya, sehingga Gusti Prabu begitu terburu-buru meminta prajurit pilihan, Tuan Panglima?” tanya Ki Wisnu Perkasa.

“Perlu Kisanak ketahui, baru-baru ini Gusti Prabu mendapat kabar kalau pasukan asing sudah mendarat di Pantai Timur wilayah kerajaan kita. Beberapa orang telik sandi menyaksikan, kekuatan mereka cukup banyak dan bersenjata lengkap. Gusti Prabu hanya ingin berjaga-jaga, sebab kedatangan mereka sama sekali tidak diketahui kerajaan,” jelas Panglima Sudra Wulung.

Ki Wisnu Perkasa menganggukkan kepala. “Hmmm..., begitu kiranya. Baiklah. Hari ini juga, Kisanak akan ditemani dua puluh lima tamtama pilihan,” kata Ki Wisnu Perkasa sambil menoleh pada sa-ah seorang pemuda yang berada di sebelahnya.

“Sadewo! Hari ini kau ku pilih untuk berangkat ke istana bersama Panglima Sudra Wulung. Bawalah dua puluh empat orang tamtama terbaik bersamamu!” lanjut Ki Wisnu Perkasa.

Pemuda yang dipanggil Sadewo cepat memberi hormat pada Ki Wisnu Perkasa. Memang, dia adalah orang kepercayaannya. Usianya masih amat muda, sekitar delapan belas tahun. Parasnya tampan dan penampilannya gagah. Dadanya lebar dan bidang menandakan tubuhnya yang sehat dan kuat.

“Ini suatu kehormatan bagiku bisa mengabdi pada kerajaan. Mohon doa restunya, Ki!”

Ki Wisnu Perkasa mengangguk ramah. Sesudah memberi hormat, pemuda itu bangkit keluar. Sedangkan orang tua itu mengikuti dari belakang bersama Panglima Sudra Wulung. Di halaman depan, terlihat murid-murid padepokan yang tengah berlatih ilmu silat, perang-perangan di atas kuda, dan ilmu olah kanuragan lainnya. Sadewo tampak berdiri tegak, kemudian berteriak keras memanggil satu persatu di antara murid-murid yang tengah berlatih. Dalam sekejap saja, sudah berkumpul dua puluh empat orang kawannya yang langsung berbaris rapi.

“Kisanak semua! Hari ini, aku mendapat perintah dari Ki Wisnu Perkasa untuk memanggil kalian. Saat ini kerajaan membutuhkan tenaga kita. Dan bila di antara kalian ada yang tidak terpilih, bukan berarti aku pilih kasih atau membeda-bedakan. Hal ini semata-mata, hanya yang ulet, trampil, serta memiliki kepandaian lebihlah yang berhak menjalankan tugas ini. Tak ada seorang pun yang boleh iri hati atas terpilihnya beberapa orang di antara kalian,” kata Sadewo keras.

Kedua puluh empat orang pemuda itu tampak mengangguk. Dan yang lain pun ikut mengangguk ketika mendengarkan kata-katanya. Mereka agaknya patuh dan penuh pengabdian diri. Dan semua itu tidak lepas dari pengaruh Ki Wisnu Perkasa yang mendidik selama ini. Buktinya tak seorang pun yang menunjukkan wajah cemburu atau iri.

Semua murid-murid yang berada di padepokan, rata-rata berusia muda dan memiliki tubuh sehat dan kuat. Dan kalau pun ada yang berbeda, itu adalah lima orang pelatih yang berusia di atas empat puluh tahun. Sesudah memberi wejangan sebagaimana mestinya, Ki Wisnu Perkasa melepaskan mereka.

Kini kedua puluh lima orang pemuda itu langsung naik ke punggung kuda masing-masing. Dan bersama Panglima Sudra Wulung serta empat orang pengiringnya, mereka kini siap berangkat. Tapi pada saat yang bersamaan, terdengar suara tawa nyaring yang memekakkan telinga. Seketika semua orang yang berada di situ langsung bersiaga, melihat sesosok tubuh ramping sudah berdiri di halaman depan padepokan.

TIGA

Seorang gadis berwajah cantik jelita tersenyum genit sambil menggerak-gerakkan tubuhnya seperti perempuan penghibur. Rambutnya panjang terurai sampai pinggul. Bajunya sangat tipis, hingga lekuk-lekuk tubuh bagian dalamnya terlihat jelas. Dan ini membuat semua pemuda yang berada di situ menarik napas, menyaksikan kemolekan tubuhnya.

Di pinggangnya tampak terselip sepasang pedang pendek dari perak. Matanya jalang menatap beberapa orang pemuda berwajah tampan dan gagah. Bibirnya lalu tersenyum manis pada mereka, tanpa mempedulikan yang lain.

Sekilas saja, Ki Wisnu Perkasa dapat menduga kalau perempuan itu bukan gadis sembarangan. Tapi melihat parasnya, pasti usianya masih belia. Meski memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, namun kelakuannya sangat buruk. Terutama, bila dipandang dari segi kesopanan. Pakaiannya terlihat tak senonoh.

Dan lebih dari itu, di tempat ini sebenarnya seorang gadis dilarang berkeliaran. Buktinya tak terlihat seorang perempuan pun sejak tadi. Tapi sebagai tuan rumah, tentu saja Ki Wisnu Perkasa ingin memperlihatkan keramahannya.

“Nisanak, siapakah dirimu. Dan apa keperluanmu singgah di tempatku?” tanya Ki Wisnu Perkasa ramah.

Gadis itu tak menjawab. Malah terlihat begitu asyik memperhatikan Sadewo. Dan pemuda itu pun kelihatannya terpesona melihat kecantikan gadis itu.

“Nisanak..!”

“Eh! Apakah kau bicara padaku?” gadis itu pura-pura terkejut Ki Wisnu Perkasa tersenyum kecil.

“Apa keperluanmu datang ke sini. Dan, siapa kau sebenarnya?”

“Aku..., ng.... Hanya seorang gadis desa dan ingin melihat-lihat sekaligus ingin menemuinya!” tunjuk gadis itu ke arah Sadewo.

Ki Wisnu Perkasa curiga. Apakah gadis itu kekasih Sadewo? Diliriknya pemuda itu seperti ingin minta penjelasan. Tapi, Sadewo sendiri terlihat bingung.

“Kakang! Apakah kau malu mengakui ku sebagai kekasihmu?” kata gadis itu, sudah langsung memojokkannya sambil tersenyum genit.

“Eh, aku.... Aku...”

“Sadewo! Siapa gadis ini sebenarnya? Apakah dia kekasihmu?” desak Ki Wisnu Perkasa tegas.

“Ki Wisnu! Aku..., aku....”

“Sudahlah, Kakang Sadewo. Kalau kau memang malu mengakui ku sebagai kekasihmu, aku tak menyalahkan. Aku tahu kau kini telah mendapat kedudukan yang baik. Dan tak heran kalau kau tak mengenalku lagi...,” sahut gadis itu terdengar sedih.

Ki Wisnu Perkasa kembali mendakwa pemuda lugu itu dengan tatapan tajamnya.

“Orang tua! Biarlah aku pergi membawa duka dan anak dalam kandungan ku ini. Kakang Sadewo sudah tak mengenaliku lagi kiranya...,” sahut gadis itu sambil menunjukkan wajah duka.

“Dusta!” sentak Sadewo ketika semua mata tertuju ke arahnya.

Dalam padepokan itu, ada peraturan yang melarang murid-murid untuk menikah lebih dulu. Sebab selepas dari sini mereka akan menjadi tamtama yang kemudian akan mengabdi pada kerajaan. Siapa yang melanggar peraturan ini, akan dikeluarkan dari padepokan saat itu juga. Apalagi sampai menghamili gadis diluar nikah. Jelas itu adalah perbuatan yang memalukan nama baik perguruan. Sangsinya, bukan saja akan dikeluarkan dari perguruan, tapi juga mendapat hukuman berat!

Memang, selama ini Ki Wisnu Perkasa selalu mengajarkan tata susila pada murid-muridnya. Sebenarnya, hari ini nasib baik Sadewo mulai berjalan. Bila kerajaan memanggil, maka selanjutnya kedudukan serta derajatnya akan naik. Tapi mendengar kata-kata gadis yang sama sekali tak dikenalnya, tentu saja tegas-tegas dibantahnya. Siapa sudi jerih payahnya selama ini musnah begitu saja dalam sekejap. Walaupun, tak dipungkiri Sadewo memang terpesona melihat kecantikan gadis itu.

“Ki Wisnu Perkasa! Aku tak kenal gadis ini. Dia berdusta, dan mulutnya berbisa!”

“Hi hi hi...! Begitukah sikapmu, Kakang Sadewo? Setelah mengecap manisnya, lalu akan membuangku seenaknya? Bahkan tak mengakui perbuatanmu?! Bagaimana orang sepertimu bisa dipilih kerajaan?”

“Perempuan keparat! Apa maksudmu?! Jangan mengada-ada. Kenal denganmu saja, baru hari ini! Bahkan aku tak tahu, siapa dirimu dan dari mana asalmu!”

Gadis itu tak mempedulikan kemarahan Sadewo. Sambil tersenyum manis, kembali kepalanya menoleh ke arah Ki Wisnu Perkasa.

“Orang tua, bagaimana pendapatmu?”

Ki Wisnu Perkasa menghela napas panjang. Ditatapnya Sadewo sekilas. Dia tahu, bagaimana tabiat pemuda itu. Selama ini, Sadewo sangat dipercaya. Bahkan merupakan murid kesayangannya. Jadi, rasanya mustahil bila apa yang dituduhkan gadis itu dilakukannya. Tapi tak mungkin juga membelanya, tanpa bukti kuat.

“Nisanak! Dia akan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya, tapi setelah terbukti bersalah. Dapatkah kini kau buktikan perbuatannya yang tak senonoh padamu?”

“Hi hi hi...! Seorang guru tentu saja akan melindungi muridnya, sekalipun tindakannya tak terpuji. Aku pun memakluminya. Dan untuk meyakinimu, akan kubuktikan perbuatannya. Biar semua mata yang berada di sini menyaksikan, bagaimana buruknya kelakuan muridmu itu,” kata gadis itu, tenang.

“Ki Wisnu! Jangan percaya ucapannya! Dia berdusta! Aku sama sekali tidak mengenalnya!”

“Diamlah, Sadewo! Aku tak bisa memutuskan benar atau salah, jika bukti-bukti tidak ada!” bentak Ki Wisnu Perkasa, tegas.

Sadewo terdiam dengan hati geram. Dan ketika Ki Wisnu Perkasa mempersilakan gadis itu untuk membuktikannya, semua mata menatap ke arah gadis berwajah jelita itu. Dan tampaknya gadis itu seperti ingin mempermainkan mereka. Diam beberapa saat seperti sedang berpikir.

“Kebakaran...! Kebakaran...!” teriak seseorang tiba-tiba, sambil berlari ke depan.

Semua mata berpaling. Dan di barak belakang, terlihat asap hitam membubung tinggi. Sedangkan murid-murid lain terlihat sibuk, berlari serabutan ke arah barak yang terbakar dan membantu memadamkan api secepatnya. Ki Wisnu Perkasa bukanlah orang lalai dan cepat melupakan urusan. Ketika matanya cepat kembali berpaling, kiranya perempuan itu telah lenyap. Begitu juga Sadewo.

Apa yang terjadi sebenarnya tak ada yang tahu, kecuali gadis itu. Dia memang tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Begitu semua mata berpaling ke arah sumber api, maka secepat itu pula tubuhnya bergerak menyambar Sadewo seraya menotok urat geraknya. Kemudian gadis itu kabur dengan kecepatan sulit diikuti mata.

Kini tahulah orang tua itu, kalau telah kena diakali. Kemarahannya langsung memuncak. Bahkan kepercayaannya terhadap Sadewo lenyap seketika. Dalam pikirannya, cepat menduga kalau Sadewo ada di balik semua ini. Maka hari itu juga, semua muridnya diperintahkan mencari Sadewo untuk dihadapkan pada Ki Wisnu Perkasa. Orang tua itu telah menetapkan hukuman berat padanya.

Sedangkan sebagai pengganti Sadewo, telah diangkat wakilnya. Ki Wisnu Perkasa kini hanya bisa menggelengkan kepala dengan hati tak percaya. Salahkan penilaiannya selama ini terhadap Sadewo? Kalau dia melarikan diri dari hukuman, berarti memang betul melakukan kesalahan. Tindakannya begitu pengecut. Padahal, hal itu tak pernah diajarkan pada murid-muridnya. Kalau saja nanti, murid-muridnya yang lain menemukan Sadewo, dia hanya bisa berharap agar tak terjadi pertumpahan darah di antara mereka.

Sebenarnya, Sadewo adalah murid berbakat. Dia cerdas, kuat, dan tangkas. Tak sembarangan orang mampu mengalahkannya. Bahkan tak seorang pun dari murid-muridnya yang lain mampu menandingi ilmu silat yang dimiliki. Termasuk, para pelatih sekalipun. Memang, Sadewo langsung berada di bawah didikan Ki Wisnu Perkasa.

********************

Perempuan itu tertawa-tawa kecil sambil sesekali melirik nakal pemuda yang sedang dibopongnya. Sementara, berlari di sebelahnya adalah dua orang bertubuh aneh. Yang seorang pendek gemuk berambut berdiri kaku. Di pinggangnya tampak melingkar sebuah cambuk berduri. Sementara, seorang lagi bertubuh tinggi kurus membawa gada berduri di tangannya.

“Bagus sekali pekerjaan kalian!” kata wanita itu memuji kedua orang anak buahnya.

“He he he...! Membakar beberapa buah barak bukanlah pekerjaan sulit,” sahut laki-laki tinggi kurus sambil tersenyum simpul.

“Sayang, di sana makanannya tak ada yang enak!” gerutu laki-laki pendek gemuk itu.

“He, Gondo Keling! Apakah kau tak membantu Raja Manik?!” perempuan itu tampak marah.

Si pendek gemuk yang dipanggil Gondo Keling mengerjap-ngerjapkan mata dengan wajah takut.

“Eh..., hamba turut membantu juga, Tuan Putri. Tapi setelah itu, hamba memang ke bagian dapur dan mencari makanan....”

“Sial! Untung mereka tak menangkapmu!”

“Huh! Mana mungkin kroco-kroco itu bisa menangkapku!” Gondo Keling membusungkan dada.

“Jangan menganggap rendah. Mereka bukan calon prajurit biasa, tapi tamtama pilihan.... Hei, kenapa kau diam saja dari tadi, Sayang? Tidakkah kau ingin bermesraan denganku?” kata gadis itu, seraya membuka urat suara pemuda yang dibopongnya dengan totokan.

“Perempuan iblis! turunkan aku. Orang sepertimu mestinya dihajar sampai mampus!”

“Kakang Sadewo? Kenapa kau jadi galak sekali padaku...?”

“Perempuan rendah! Kau pikir aku suka padamu?! Phuih! Kau telah menghancurkan jerih payah ku selama ini dalam sekejap. Mereka tentu kini sedang mencariku, karena dianggap bersalah telah melarikan diri dari tanggung jawab. Aku bersumpah! Bila ada kesempatan, kau akan kubunuh!”

“Hi hi hi...! O, begitu? Jadi, saat ini mereka mencari-cari mu? Hi hi hi...! Jangan terlalu galak, Kakang Sadewo. Kau tak akan memiliki sedikit pun kesempatan untuk melakukan hal itu padaku....”

Perempuan yang sudah pasti berjuluk Bidadari Dasar Neraka itu menghentikan tawanya. Dengan isyarat, diperintahkannya dua orang anak buahnya untuk berhenti melangkah. Dan memang, dari kejauhan terlihat suatu rombongan melewati jalan utama. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang, dan dipimpin seorang penunggang kuda di depan. Perempuan itu menajamkan pandangannya, kemudian tersenyum sendiri.

“Gondo Keling, Raja Manik! Bawa dulu pemuda ini ke sarang. Aku akan menyusul!” ujar Bidadari Dasar Neraka sambil melemparkan tubuh Sadewo pada kedua orang itu.

“Tapi, Tuanku...”

“Jangan suka membantah! Kerjakan saja apa yang kuperintahkan!”

Mereka mengangguk. Ketika perempuan itu telah melesat ke arah rombongan, kedua anak buahnya langsung melangkah sambil mengerahkan ilmu lari cepat. Melihat caranya berlari, agaknya mereka bukanlah orang sembarangan. Lebih-lebih laki-laki yang bertubuh pendek gemuk. Meski tubuhnya berat, tapi gerakannya enteng dan gesit.

“Keledai-keledai dungu! Turunkan aku cepat! Kalian akan kuhajar karena berani memperlakukan aku begini!”

Gondo Keling dan Raja Manik saling berpandangan, kemudian menghentikan langkah dan memandang ke arah pemuda yang sedang dipanggul Raja Manik. Laki-laki tinggi kurus itu tampaknya kesal. Masih dalam keadaan tertotok, pemuda itu lalu dihempaskannya ke tanah.

“Keparat! Kalau bebas, akan kuhajar kalian berdua sampai babak belur!” maki Sadewo.

“Eh, Bocah Sombong! Jangan banyak bicara! Kalau sampai kesabaranku habis, kau akan mampus seketika!” desis Raja Manik menahan geram.

“Phuih! Apa yang ku takutkan dari keledai-keledai dungu seperti kalian?!”

“Bangsat!”
Begkh!
“Akh...!”

Kaki Raja Manik langsung menghajar perut pemuda itu. Maka, Sadewo langsung mengeluh menahan rasa sakit. Matanya terbelalak garang dengan urat-urat kaku penuh kegeraman.

“Keledai dungu! Ternyata aku salah kira. Kalian bukan saja dungu, tapi juga pengecut Kegarangan kalian hanya ditunjukkan pada lawan yang tak berdaya...."

“Hup!”
Tek!
“Raja Manik...?” seru Gondo Keling kaget.

Apa yang diperbuat kawannya, sungguh mengejutkan Gondo Keling. Ternyata totokan pemuda itu dibebaskannya. Kalau sampai perempuan tadi tahu perbuatannya, Raja Manik pasti tak akan selamat dari hukuman.

“Diamlah, Gondo Keling! Ingin kulihat, sampai di mana kesombongan bocah ini. Agaknya, dia terlalu yakin dengan kepandaian yang dimiliki. Nah, Bocah! Kini kau bebas. Maka, tahanlah seranganku!”

Begitu terbebas dari totokan, Sadewo langsung bangkit dan bersiap menghadapi lawan. Sementara, Raja Manik tak mau menyia-nyiakan waktu. Langsung dia berteriak nyaring sambil menyerang pemuda itu.

“Yeaaa...!”
“Hup!”

Dengan mantap, Sadewo memasang kuda-kuda dan menangkis serangan lawan.

Plak!
“Hih!”

Wajah pemuda itu tampak berkerut ketika tangan mereka beradu. Tak disangka kalau laki-laki tinggi kurus itu memiliki lengan sekeras baja. Tapi saat itu juga, kaki kanannya menendang ke perut lawan. Tubuh Raja Manik langsung terangkat tinggi. Dan sambil berputaran, sebelah tangannya melesat cepat ke dada Sadewo.

“Hiyaaat..!”
“Uts!”
Plak!

Sadewo berkelit ke samping. Namun tak urung, tangan lawan mesti di tangkis, karena nyaris menghantam dada. Serangan itu sulit dielakkan, karena saking cepatnya. Dan, saat itulah kepalan kiri Raja Manik menyodok lambung pemuda itu. Sadewo kontan terpekik Tubuhnya terjengkang ke belakang sejauh dua tombak dengan napas megap- megap.

“Hanya sedemikiankah kepandaian yang kau banggakan?” ejek Raja Manik sambil bertolak pinggang.

“Keparat! Aku belum kalah!” Sadewo cepat bangkit Dan dengan penuh nafsu, kembali diserangnya Raja Manik.

Sedangkan laki-laki tinggi kurus itu tampak kesal. Wajahnya mulai beringas, dan tangannya diangkat tinggi. Melihat itu, Gondo Keling tahu apa yang akan diperbuat kawannya.

“Raja Manik! Tahan amarah mu! Kalau sampai pemuda ini mampus di tanganmu, kau akan celaka sendiri!”

“Yeaaa...!”

Tapi Raja Manik agaknya tak mempedulikan peringatan kawannya. Sambil berteriak nyaring, kepalan tangannya yang mulai menghitam melayang ke arah lawan. Melihat hal ini, Sadewo terkejut. Hawa panas menyengat berasal dari angin serangan lawan terasa menyengat kulitnya. Bahkan kini, gerakan lawan tampak lebih gesit.

Terpaksa Sadewo menghindar untuk melepaskan diri dari kejaran serangan lawan. Nafasnya mulai memburu dan sesak, serta keringat mulai bercucuran. Tapi, lawannya seperti tak ingin memberi kesempatan sedikit pun. Dengan kemampuan yang dimiliki, Sadewo terus berusaha menyelamatkan selembar nyawanya.

Tapi pada jurus berikut, pemuda itu mulai kehilangan kepercayaan diri. Bahkan kepalan tangan Raja Manik nyaris menyerempet tubuhnya setiap kali tubuhnya bergerak. Bisa dipastikan, tiga kali lagi serangan beruntun dilancarkan, dia akan tewas dihajar pukulan lawan yang ganas.

Plak!
Begkh!
“Akh!”
“Mampusss...!”

Ketika Sadewo bergerak ke samping, kaki lawan mengait keras. Akibatnya, tubuhnya limbung. Sementara itu sebelah kaki Raja Manik cepat menghantam dadanya. Sadewo menjerit kesakitan dan pertahanannya terbuka lebar. Dan saat itulah lawan mengejar sambil menyodokkan pukulan maut ke arah dadanya.

Tap! Plak! “Heh!”

EMPAT

Raja Manik terkejut. Pada saat-saat terakhir, tiba-tiba saja satu bayangan putih melesat cepat menarik tubuh Sadewo seraya menangkis pukulan yang dilepaskannya. Sebenarnya, pukulan Raja Manik yang bernama Tapak Arang, sangat hebat dan kuat. Batang pohon besar sekalipun, akan hancur bila terkena pukulan itu.

Tapi, ternyata bayangan tadi seenaknya saja menangkis, seperti tidak terpengaruh apa-apa pada tangannya. Malah, justru dia sendiri yang merasa mendapat tekanan hebat hingga membuat tulang lengannya terasa ngilu.

Di depan Raja Manik, kini telah berdiri seorang pemuda tampan berambut gondrong terurai. Bajunya rompi putih, dengan sebilah pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya. Sadewo sendiri, terlihat terduduk dengan napas sesak di belakang pemuda yang kalau melihat ciri-cirinya adalah Pendekar Rajawali Sakti.

“Siapa kau?!” bentak Raja Manik garang.

“Siapa aku, bukan persoalan. Tapi persoalannya adalah, mengapa di antara kalian saling hendak membunuh?”

“Sial! Kau pikir, apa sudah merasa hebat setelah menyelamatkan bocah sombong itu?!”

“Hm...,” gumam pemuda yang tidak lain Rangga, atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

Tampak Raja Manik mengambil sebuah gada berduri yang sejak pertarungan dengan Sadewo tadi, dititipkan pada Gondo Keling. Laki-laki tinggi kurus itu kemudian melangkah lebar ke arah Rangga dan berhenti pada jarak satu tombak Gada berduri di tangannya langsung ditudingkan ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

“Cabutlah pedangmu. Dan, tunjukkan padaku kepandaian yang kau miliki!”

Rangga tersenyum kecil. “Begitukah yang kau inginkan? Padahal, aku hanya bertanya. Lalu, mengapa tiba-tiba kau terlihat marah, dan mengajakku berkelahi, Kisanak? Tidak bisakah kau bicara baik-baik dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya?”

“Inilah pembicaraan kita!” sentak Raja Manik, sambil mengayunkan senjata ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

“Uts!”
“Modar!”

Gada berduri Raja Manik yang kelihatan berat, melesat cepat menimbulkan angin kencang menyambar-nyambar. Disadari betul, kalau lawan sudah berani menangkis pukulan ‘Tapak Arang’, maka pastilah bukan orang sembarangan. Maka, Raja Manik tidak mau meladeninya setengah hati. Itulah sebabnya, senjata andalannya langsung digunakan sambil memainkan jurus terhebat yang diberi nama ‘Angin Puyuh Mengejar Maut’.

Rangga sendiri merasakan tekanan berat dari serangan lawan. Meski terkejut, tapi serangan itu tidak mungkin diladeni dengan sembarangan kalau tidak ingin nyawanya melayang. Di samping itu Pendekar Rajawali Sakti tidak mungkin terus menghindar. Bahkan hatinya mulai kesal, karena didesak terus. Maka dengan satu bentakan nyaring, mulai dibalasnya serangan lawan.

“Hiyaaat”
Wut!
“Uts!”
“Yeaaah...!”

Raja Manik sedikit terkejut. ketika gada berdurinya menyambar ke arah pinggang, lawannya bersalto ke depan. Dan dengan kedua tangan terentang, Rangga berusaha menghantam batok kepala Raja Manik. Buru-buru laki-laki kurus itu menyelamatkan diri. Tubuhnya bergerak mundur ke belakang sambil mengibaskan senjata ke dada lawan.

Mendapat serangan berikut, Rangga bergerak ke samping menghindari. Lalu sebelah kakinya cepat menendang bagian belakang pinggang lawan. Raja Manik terkejut, dan tidak sempat berkelit lagi.

Begkh!
“Akh!”

Laki-laki tinggi kurus itu mengeluh kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang terasa akan patah. Sambil mendelik garang, kembali senjatanya ditudingkan ke arah lawan. Wajahnya tampak semakin beringas.

“Kuhajar kau! Bocah keparat! Heaaat...!”

“Hm.... Bandel juga kau rupanya....”

Kepalan kiri Raja Manik yang meluncur cepat, ditangkis Pendekar Rajawali Sakti dengan mudah. Sementara, senjata gadanya menderu mengincar kepala lawan. Rangga cepat memutar tubuh ke kiri, sambil cepat mengayunkan kaki depannya menghantam perut Raja Manik yang belum sempat memperbaiki keadaannya.

Des!
“Akh...!”

Seketika tubuh laki-laki tinggi kurus itu terjerembab sejauh dua tombak, disertai jeritan kesakitan. Dan dari mulutnya, tampak memuntahkan darah kental kehitam-hitaman.

“Raja Manik...!” Gondo Keling berseru kaget melihat keadaan kawannya. Lalu, wajahnya berpaling ke arah Pendekar Rajawali Sakti. “Keparat! Kuhajar kau, Bocah Sinting...!”

Raja Manik merasakan nafasnya jadi sesak dan isi perutnya terasa remuk terkena tendangan geledek Pendekar Rajawali Sakti. Kalau saja pemuda itu berhati kejam, tentu sudah sejak tadi Raja Manik tewas. Tapi mana mau hal itu dilakukannya. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit dengan hati geram bercampur dendam.

Ctaaar!

Tiba-tiba, cambuk berduri Gondo Keling melecut ke angkasa menimbulkan suara yang menyakitkan telinga. Wajahnya tampak garang penuh kemarahan.

“Gondo Keling! Menepilah kau! Bocah ini bagianku!” bentak Raja Manik.

“Tidak! Tanganku pun sudah gatal melihat kesombongannya!”

“Gondo Keling! Jangan campuri urusanku!”

Tapi sebagai jawabannya, laki-laki pendek gemuk itu malah menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan ganas. Bukan main geramnya Raja Manik melihat kelakuan kawannya. Tapi amarah dan dendamnya yang memuncak pada pemuda itu, lebih menguasai pikirannya. Sehingga tanpa mempedulikan perbuatan lancang yang dilakukan Gondo Keling, langsung diserang kembali Pendekar Rajawali Sakti.

“Bocah keparat! Mampuslah kau sekarang...!”

Melihat hal ini, Rangga mendengus garang. Serangan kedua lawannya kali ini terasa berat dan menekan. Lebih-lebih senjata mereka semakin berbahaya saja mengancam keselamatan jiwanya.

“Kisanak, jangan takut! Aku akan membantumu!” Sadewo tiba-tiba bangkit dan ikut membantu Pendekar Rajawali Sakti.

“Bocah bermulut besar! Kau pikir bisa berbuat apa, heh?!” Raja Manik mengayunkan gada berdurinya ke arah lawannya.

Rangga berkelit. Dan dia terus melompat tinggi ketika pecut Gondo Keling menyambar ulu hati Sadewo. Cepat Pendekar Rajawali Sakti meluncur turun sambil mengayunkan pukulan ke tulang kering tangan kanan Gondo Keling.

“Sial!” Gondo Keling menekuk lutut. Nyaris tulang kering tangan kanannya patah kalau saja tidak cepat bergerak. Dengan kemarahan yang meluap, kali ini serangannya lebih banyak dicurahkan ke arah Rangga. Sedangkan Raja Manik menghadapi Sadewo.

Kali ini, Sadewo harus lebih berhati-hati lagi. Dan senjata lawan dihadapinya dengan keris yang sejak tadi berada di pinggang. Sementara itu, gada berduri Raja Manik telah menderu keras disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Melihat hal ini, Sadewo cukup terkejut langsung dipapaknya serangan itu dengan senjata kerisnya.

“Yeaaah...!”
Prak!

Ternyata, keris Sadewo patah jadi dua. Bahkan telapak tangannya terkelupas. Dan belum lagi Sadewo dapat berbuat sesuatu, kepalan tangan kiri Raja Manik langsung menyodok ke arah dadanya. Tak ada kesempatan lagi bagi Sadewo untuk berkelit Dan....

Des!
“Aaakh!”

Sadewo kontan memekik keras. Tubuhnya terjengkang dua tombak sambil memuntahkan darah segar. Bahkan tulang rusuknya patah beberapa buah. Sadewo berusaha bangkit, tapi saat itu juga Raja Manik telah melesat ke arahnya dengan serangan mematikan.

“Bocah sombong, mampuslah kau sekarang!”

Pada saat yang bersamaan, ujung cambuk Gondo Keling tampak seperti ular terbang, terus-menerus mengejar Pendekar Rajawali Sakti. Sepertinya Rangga agak kesulitan jika begini terus. Apalagi, teriakan Sadewo seketika mengusik hatinya. Maka tanpa membuang waktu lagi, pedang pusakanya langsung dicabut Seketika seberkas sinar biru menerangi tempat itu sesaat.

Rupanya, adanya sinar biru berkilauan, membuat semua orang yang ada di situ terperanjat. Bahkan Raja Manik yang telah siap mencabut nyawa Sadewo jadi menghentikan serangannya. Maka mendapat kesempatan demikian, Pendekar Rajawali Sakti langsung bergerak cepat menyerang. Tak tanggung-tanggung, dua orang sekaligus yang menjadi sasarannya. Gondo Keling, kemudian ke arah Raja Manik.

“Hiyaaat..!”
Tes!

Des! Begkh!
“Akh...!”

Gondo Keling dan Raja Manik kontan menjerit keras. Mereka terjungkal, dan senjata masing-masing putus menjadi beberapa potong. Kecepatan Pendekar Rajawali Sakti menyerang sungguh mengejutkan. Lebih-lebih, kedahsyatan Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Tapi waktu yang sesaat itu, sudah cukup membuat mereka harus menanggung akibat yang cukup parah!

Pendekar Rajawali Sakti kini telah menyarungkan kembali pedang pusakanya, sambil melihat kedua lawan yang megap-megap tidak berdaya. Dari mulut mereka, tidak henti-henti menetes darah kental. Keduanya berusaha bangkit dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat hidup.

“Kisanak! Aku tidak punya urusan dengan kalian. Tapi karena kalian nekat, terpaksa aku harus membela diri!”

“Huh! Kami tidak akan menerima kekalahan ini begitu saja. Suatu saat, kau akan mendapatkan balasan setimpal!” desis Raja Manik penuh dendam.

“Aku akan menunggu kapan saja, silakan kalian buat perhitungan!”

“Sebutkan julukanmu agar kami lebih mudah membuat nisan mu kelak!”

“Pendekar Rajawali Sakti tidak akan lari dari semua ini!”

“Hm.... Jadi kau bergelar Pendekar Rajawali Sakti? Baik! Tunggulah balasan kami!” dengus Raja Manik sambil mengajak Gondo Keling meninggalkan tempat itu.

Nama Pendekar Rajawali Sakti sudah tidak asing lagi bagi kalangan tokoh persilatan. Dan melihat tidak ada rasa kaget sedikit pun, jelas kalau Gondo Keling dan Raja Manik belum pernah mendengar julukan Pendekar Rajawali Sakti sebelumnya. Tapi, Rangga tidak mempedulikan hal itu. Kini kakinya melangkah mendekati Sadewo.

“Kisanak, kau tidak apa-apa...?”

“Dadaku terasa nyeri. Tapi, rasanya nanti akan sembuh. Terima kasih atas pertolonganmu, Kisanak. Namaku Sadewo. Benarkah kau Pendekar Rajawali Sakti yang kesohor itu? Kalau benar, guruku sering menceritakan tentang kehebatanmu!” Wajah Sadewo tampak cerah, sehingga rasa sakit yang diderita seperti tidak dirasakannya.

“Kisanak! Aku hanya orang biasa seperti yang lainnya. Panggil aku Rangga saja kalau tidak keberatan, coba kulihat luka dalammu.”

Rangga memeriksa luka dalam di tubuh Sadewo. Sebentar kemudian, Pendekar Rajawali Sakti mendesah sambil menggelengkan kepala.

“Kisanak, beberapa tulang rusukmu patah. Kau harus secepatnya diobati. Kalau tidak, mungkin nanti akan berakibat parah.”

Sadewo menggeleng lesu. “Lengkaplah sudah penderitaanku,” desah Sadewo lirih.

“Penderitaan? Penderitaan apakah yang kau alami?” Sadewo menghela napas beberapa saat sebelum menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.

Rangga mendengarkan penuh perhatian, sambil sesekali Rangga menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya terlihat geram penuh kekesalan.

“Apakah kau memang betul-betul tidak mengenal gadis itu?”

“Tidak! Jangankan menandainya, kenal saja baru sekali. Aku sendiri heran, apa maksudnya dia mempermalukan aku di hadapan kawan-kawan dan guruku sendiri.”

“Sekarang, lebih baik kau kembali ke padepokan. Jelaskanlah semua persoalan kepada gurumu!” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Sadewo menggeleng lesu. “Kejadian itu begitu cepat Tiba-tiba, gadis itu telah menyambarku setelah melepaskan totokan. Semuanya pasti mengira aku kabur karena takut rahasiaku terbongkar. Mereka mengira aku bersalah, dan lari dari tanggung jawab. Saat ini, mungkin mereka sedang mencariku untuk dihadapkan pada guru yang akan memberiku hukuman berat...”

“Biarlah aku ikut denganmu. Dan nanti, akan kujelaskan pada gurumu!”

“Tidak mungkin. Guruku mempunyai sifat yang sangat tegas....”

“Ada baiknya kita coba dulu. Kalau kemudian beliau tetap pada pendiriannya, hadapilah dengan jiwa ksatria. Tunjukkan bahwa kau sesungguhnya calon tamtama sejati. Bagaimana?”

Sadewo berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepala. “Baiklah....”

“Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!”

Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Langkah mereka tidak terlalu cepat, karena memang dada Sadewo terasa sakit bila dibawa berlari. Sepanjang perjalanan, mereka banyak bercerita dan saling bertukar pengalaman. Terlihat dari setiap ucapannya bahwa Sadewo begitu mengagumi pemuda itu. Tapi, memang sifat Rangga yang selalu rendah hati, sehingga tidak nampak kesombongan sedikit pun.

Sungguh tak dinyana kalau mereka kemudian bertemu murid-murid Padepokan Tirtaloka! Murid yang berjumlah sepuluh orang itu memang diperintah Ki Wisnu Perkasa untuk mencari Sadewo, dan dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun. Sadewo mengenalinya sebagai salah seorang pelatih di padepokan mereka. Namanya, Ki Sapta Ireng.

“Sadewo! Aku membawa perintah dari Ki Wisnu Perkasa untuk menangkapmu!” kata Ki Sapta Ireng, begitu mereka telah berjarak beberapa tombak.

Sadewo cukup terkejut, walaupun sudah menduga hal itu. Wajahnya yang tadi kelihatan cerah, kini berubah menjadi pucat pasi. Langkahnya pun kontan terhenti.

“Kisanak! Maafkan kelancanganku. Sadewo adalah sahabatku. Jika kalian tidak keberatan, bolehkah aku bertemu Ki Wisnu Perkasa? Aku ingin berbicara langsung pada beliau, untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya,” sela Rangga dengan suara ramah dan sopan.

“Maaf Kisanak. Ini adalah urusan dalam. Cukup kuhargai sikapmu. Tapi, kami mempunyai peraturan tersendiri. Saat ini juga, Sadewo harus menghadap guru kami untuk menerima hukuman yang harus dijalaninya!” tegas Ki Sapta Ireng.

“Ki Wisnu Perkasa pastilah orang bijaksana lagi murah hati. Dan aku menghormati beliau. Tapi, aku tidak percaya kalau pikiran beliau begitu sempit dengan menjatuhkan hukuman pada muridnya yang belum tentu bersalah. Jadi, sudilah Kisanak mempertimbangkan kembali permintaanku tadi,” lanjut Rangga, tenang.

“Kisanak! Aku tidak perlu cerewet menolak permintaanmu. Peraturan kami jelas dan tegas. Sekali Ki Wisnu Perkasa mengeluarkan kata-kata, itu adalah perintahnya yang tidak bisa dibantah! Maka sebelum kami berlaku keras padamu, kuperingatkan jangan ikut campur masalah ini!” tandas Ki Sapta Ireng, mulai tidak senang.

“Sudahlah Rangga. Kalau mereka tetap pada pendiriannya, aku tidak akan membantah. Biarlah aku ikut dengan mereka....”

“Tidak, Sadewo! Kau harus bicara lebih dulu pada gurumu, dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Kalau ternyata beliau masih juga berkeras pada keputusannya, biar aku yang akan jadi saksinya!”

“Sadewo! Kami tidak punya waktu! Kau harus ikut sekarang juga!” bentak Ki Sapta Ireng, sambil memberi isyarat pada dua orang murid Padepokan Tirtaloka untuk membawa pemuda itu.

“Tahan!” sentak Rangga, menghalangi. Ditatapnya tajam-tajam ke arah Ki Sapta Ireng.

“Menyingkirlah, Kisanak!”

“Beginikah cara-cara orang terhormat seperti kalian memperlakukan orang yang belum tentu bersalah?”

“Huh! Kau membuatku semakin marah. Jangan salahkan kalau kami bertindak kasar!”

“Ki Sapta Ireng, tahan...!” teriak Sadewo mencegah, ketika dua orang murid padepokan sudah langsung menyerang Rangga.

Tapi teriakan pemuda itu sia-sia saja, karena Ki Sapta Ireng sama sekali tidak menggubrisnya. Malah, kakinya melangkah mendekati Sadewo dan menarik tangannya, untuk segera berlalu dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti, ketika kedua orang murid padepokan terpekik kesakitan dengan tubuh terhuyung-huyung.

“Hm.... Agaknya kau berisi juga. Baiklah. Kau boleh bermain-main dulu dengan mereka!” dengus Ki Sapta Ireng.

Seketika, murid-murid padepokan yang lain langsung mengurung dan menyerang ganas Pendekar Rajawali Sakti.

“Ki Sapta Ireng! Dengar kata-kataku! Pemuda itu....”

“Diam kau, Sadewo! Apakah kau senang ada orang asing yang membelamu? Tapi walau bagaimanapun juga, kau takkan terlepas dari hukuman!”

Sadewo sebenarnya tidak gentar menghadapi Ki Sapta Ireng. Dan dia benar-benar menghormatinya sebagai utusan Ki Wisnu Perkasa. Lagi pula, melihat kekerasan orang itu, rasanya memang tidak ada gunanya lagi membantah. Kalaupun ada penyesalan, itu karena merasa telah melibatkan Pendekar Rajawali Sakti dalam urusannya.

“Kisanak! Jangan memaksaku bertindak keras pada mereka! Suruh anak buahmu menyingkir!” teriak Rangga memperingatkan.

Tapi, Ki Sapta Ireng sama sekali tidak menoleh.

“Baiklah kalau memang itu yang kau kehendaki. Terpaksa aku membela diri, kalau mereka bermaksud mencelakaiku!”

“Ki Sapta Ireng! Aku mencoba mengingatkan bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan. Kau sama saja mencelakakan murid-murid yang lain bila menyuruh menyerangnya!”

“Sadewo! Haruskah kupecahkan mulutmu agar kau diam?! Siapa pun orang yang menghalangi tugasku, dia harus mampus!”

“Kau akan menyesal, Ki Sapta...”

“Huh!”

Tapi benar saja, Ki Sapta Ireng berjalan kira-kira tujuh tombak, terdengar jerit kesakitan yang saling susul-menyusul. Mula-mula hal itu tidak dipedulikannya. Tapi ketika salah seorang tubuh anak buahnya melayang ke arahnya, mau tidak mau terpaksa wajahnya menoleh. Dan, tampaklah pemuda berbaju rompi itu sedang mengamuk hebat.

Kesepuluh orang anak buah Ki Sapta Ireng dibuat jungkir balik tidak berdaya. Dan dalam waktu sekejap saja, mereka dapat dilumpuhkan.

“Kurang ajar! Rupanya kau perlu mendapat pelajaran langsung dariku. Yeaaa...!”

“Ki Sapta, jangaaan...!” teriak Sadewo, mencegah.

Tapi laki-laki setengah baya itu telah melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

LIMA

Kalau pemuda itu mampu mengalahkan murid-muridnya dengan mudah, maka pastilah kepandaiannya sangat tinggi. Begitulah yang terpikir dalam benak Ki Sapta Ireng. Maka tanpa berpikir panjang lagi segenap kemampuannya langsung dikerahkan untuk menjatuhkan lawan secepatnya.

Melihat lawannya gencar sekali menyerang, Rangga tidak tinggal diam. Langsung dikeluarkannya jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’! Kini, tubuhnya tampak meliuk-liuk menghindari setiap serangan lawan. Gerakan kakinya sangat lincah dan cepat, sambil sesekali membalas serangan. Bahkan terkadang gerakan-gerakannya tidak beraturan, seperti orang yang kebanyakan minum arak. Tapi justru gerakan demikian, membuat lawannya sulit mendesak. Bahkan untuk mendekati saja, rasanya sudah sulit sekali.

“Yeaaah...!” Ki Sapta Ireng cepat menyodokkan kepalan tangannya ke kening Pendekar Rajawali Sakti. Maka, cepat-cepat Rangga menangkis sambil balas menyerang dengan kepalan tangan ke arah dada lawan.

“Hiyaaat..!”

“Akh! Ki Sapta Ireng kontan mengeluh, begitu dadanya terasa seperti dihantam godam. Nafasnya jadi tersengal. Dan belum juga dia berbuat sesuatu, Rangga sudah kembali menyerang. Tak ada waktu baginya, kecuali memapak serangan pukulan Pendekar Rajawali Sakti. Dan....

Plak!
“Ikh!”

Ki Sapta Ireng merasakan kedua tangannya jadi ngilu ketika beradu dengan tangan Rangga. Dan saat itu pula, Pendekar Rajawali Sakti mengayunkan kaki kanannya, langsung menghantam telak dagu lawan. Ki Sapta Ireng kontan terjajar ke belakang sambil memekik keras, merasakan sakit yang amat sangat. Bahkan dua buah giginya seketika rontok. Dan dari mulutnya, keluar darah kental.

“Bangsat! Agaknya kau memang tidak bisa dikasih hati, Bocah...!” dengus Ki Sapta Ireng sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.

Tapi belum lagi dia bersiap akan menyerang Pendekar Rajawali Sakti, tiba-tiba melesat dua sosok bayangan dan langsung berdiri tegak di tengah-tengah arena pertarungan. Ki Sapta Ireng, Sadewo, serta murid-murid padepokan yang mengenali salah seorang di antaranya, langsung memberi hormat

“Ki Wisnu Perkasa! Syukurlah kau cepat datang. Kami telah menemukan Sadewo dan bermaksud menyerahkannya, kalau saja....”

“Sudahlah, Ki Sapta Ireng. Aku mengerti persoalannya,” sahut salah seorang di antara dua sosok bayangan yang baru datang tadi.

Kedua laki-laki itu memang sudah berusia lanjut. Yang seorang, seluruh rambut kepala, kumis, dan jenggotnya telah memutih. Wajahnya lebar sedikit lonjong. Tubuhnya besar dan kekar terbalut baju putih. Kerut-kerut di wajahnya menandakan kalau usianya telah lanjut. Namun demikian sorot matanya tegas dan keras menandakan sikap hatinya. Dialah Ki Wisnu Perkasa, orang yang dihormati.

Sementara di sebelahnya, terlihat orang tua yang usianya hampir sebaya. Hanya, tubuhnya lebih sedikit pendek Bajunya kumal dan dekil seperti pengemis. Ditambah, di tangannya terdapat sebuah tongkat bambu yang agak lebar.

“Anak muda, siapa kau? Kulihat, kepandaianmu sungguh hebat. Namun sungguh sayang, bila dipergunakan untuk mengganggu urusan orang lain!” sapa orang tua berbaju putih dengan suara tenang menyelidik.

“Aku hanya seorang pengembara biasa. Namaku Rangga” sahut Rangga kalem.

“Hmmm....”

“Kisanak, maaf. Aku sama sekali tidak berniat mencampuri urusan kalian. Tapi, aku tidak bisa tinggal diam melihat ketidakadilan di depan mataku. Kalau memang kau bijaksana, mestinya akan menilai orang setelah tahu jelas latar belakang persoalannya. Tapi kalau menuduh tanpa bukti, itu hanya dilakukan orang-orang picik,” sambung Rangga, masih terdengar tenang sekali nada suaranya.

Wajah orang tua itu tampak merah mendengar kata-kata yang diucapkan Rangga. Sudah jelas, meski tidak langsung, kata-kata terakhir pemuda itu merupakan sindiran tajam yang membuat telinganya jadi panas. Tapi dia mampu menahan diri untuk bersikap setenang mungkin.

“Hmmm.... Kata-katamu memang tidak salah. Maafkanlah perkataanku tadi yang telah menyinggung perasaanmu. Ki Wisnu Perkasa memang buta hati, sehingga belum mampu melihat mana yang benar dan salah, selain dari apa yang terlihat di depan matanya....”

Rangga hanya tersenyum saja. “Sungguh kebetulan, Kisanak! Maafkanlah kata-kataku tadi. Kehadiranku ke sini, sama sekali tidak ingin mencampuri urusan guru dan murid. Secara kebetulan saja aku bertemu Sadewo yang sedang terluka dan dikerubuti dua orang tak dikenal. Lalu hatiku tergerak untuk menolong. Dan akhirnya, kami berdua berhasil mengusir lawan, meski Sadewo terluka. Kemudian Sadewo menceritakan persoalan, dirinya padaku. Dia mengakui kalau hatinya cemas, karena takut gurunya sendiri tidak percaya dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dan lagi-lagi, aku memang lancang karena bermaksud menemaninya. Juga, aku akan menjadi saksi kebenaran ceritanya padamu,” jelas Rangga singkat.

Ki Wisnu Perkasa mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berpaling pada Sadewo. Dan yang dipandangi, saat itu juga tengah memandang padanya. Tapi pandangannya langsung dialihkan kepada Pendekar Rajawali Sakti.

“Nah, Sadewo. Beranikah kau bersumpah kalau tidak pernah mengenal gadis itu sebelumnya?”

“Ampun, Guru! Aku bersumpah tidak kenal gadis itu sebelumnya. Dia hanya memfitnahku!”

“Tahukah kau, kenapa aku bisa langsung mempercayai kata-katamu?” Sadewo menggeleng. Begitu juga, Ki Sapta Ireng. Dia sedikit terkejut mendengar kata-kata Ki Wisnu Perkasa. Tidak biasanya orang tua itu cepat merubah keputusannya begitu saja. Baru tadi memerintah untuk menangkap dan menghukum Sadewo. Tapi kini tiba-tiba telah berubah dan mengampuninya.

“Nah murid-muridku semua, dengarlah penuturanku. Aku tidak akan bisa percaya pengakuan Sadewo, kalau saja Ki Bangkalan yang berada di sampingku ini tidak menjelaskan duduk persoalan yang menyangkut gadis itu. Beliau adalah salah seorang sahabatku. Ki Bangkalan bercerita kalau belakangan ini muncul seorang gadis berilmu tinggi yang suka mencari pemuda-pemuda sebagai pemuas nafsunya. Dan cara apa pun akan digunakan untuk mendapatkan pemuda yang dikehendakinya. Setelah mendengar ciri-cirinya lewat penuturan Ki Bangkalan, maka aku berkesimpulan kalau gadis itu adalah orang yang sama dengan yang mengaku kekasih Sadewo. Hanya saja, Sadewo difitnah, karena gadis itu menginginkan dirinya. Dengan begitu persoalan Sadewo selesai. Dan aku tidak akan malu menarik hukumannya, kalau ternyata memang terbukti tidak bersalah!” kata Ki Wisnu Perkasa panjang lebar.

Ki Sapta Ireng tidak berani membantah. Begitu juga murid-murid padepokan yang lainnya. Sementara wajah Sadewo tampak berseri. Dihampirinya Rangga dengan senyum tulus.

“Sobat, terima kasih atas pertolonganmu. Kini aku bebas dari fitnah keji itu. Atas nama guru, kami bermaksud mengundangmu ke padepokan,” ucap Sadewo.

“Betul, Anak Muda. Suatu kehormatan bagi kami bila bisa mengundangmu...,” timpal Ki Wisnu Perkasa. Sedangkan Ki Bangkalan sendiri mendekat sambil tersenyum kecil.

“Anak Muda, marilah ikut bersama kami. Suatu kehormatan besar bagi Padepokan Tirtaloka, karena dapat dikunjungi seorang pendekar besar sepertimu,” ajak orang tua itu ramah.

“Ah! Kisanak terlalu berlebihan. Aku hanya orang biasa yang tidak memiliki perbedaan dengan semua yang ada di sini. Maafkanlah. Bukannya bermaksud menolak, tapi aku ada urusan lain yang harus dikerjakan. Mungkin di lain waktu, bila kalian masih menerima kehadiranku, aku akan berkunjung ke Padepokan Tirtaloka,” sahut Rangga menolak halus.

“Ki Bangkalan, kau menyebutnya pendekar besar. Apakah kau sudah mengenal anak muda ini sebelumnya?” tanya Ki Wisnu Perkasa heran.

“Apakah kau betul-betul tidak mengenalnya?” Ki Bangkalan balik bertanya.

“Ki! Kawanku inilah orang yang sering diceritakan pada kami. Dialah Pendekar Rajawali Sakti!” jelas Sadewo menjelaskan.

“Oh, sungguhkah?! Betul-betul mataku telah lamur sehingga tidak bisa mengenali orang!” Ki Wisnu Perkasa tampak terkejut.

Begitu juga Ki Sapta Ireng serta murid-murid padepokan lain. Mereka benar-benar tidak tahu kalau pemuda tampan berbaju rompi putih ini adalah Pendekar Rajawali Sakti. Seorang pendekar muda yang sudah kondang dalam rimba persilatan. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya. Bukan hanya mereka yang berada di jalur golongan putih yang mengagumi, tapi juga yang berada di jalan sesat.

Orang-orang rimba persilatan pasti akan berpikir seribu kali bila harus berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti. Bukan hanya ilmu olah kanuragannya yang sangat tinggi, tapi juga ilmu kedigdayaannya sangat sukar dicari tandingannya. Belum lagi pedang pusakanya yang sangat sakti dan berpamor dahsyat. Tidak ada satu senjata pun di dunia ini yang bisa menandinginya. Jadi bukan hal aneh kalau mereka sampai terlongong, begitu tahu kalau pemuda ini adalah Pendekar Rajawali Sakti.

“Oh, sungguh malu aku! Maafkanlah atas kelancanganku tadi, Kisanak,” ucap Ki Sapta Ireng tanpa malu-malu.

“Sudahlah. Aku jadi malu hati dipuji begini. Itu hanya nama kosong belaka,” sahut Rangga jengah melihat sikap mereka yang dianggap berlebihan.

Meski mereka kembali menawarkan agar turut sudi memenuhi undangan, tapi Rangga tetap menolak dengan halus. Melihat sikap pemuda itu, akhirnya mereka tidak lagi memaksa. Kini rombongan itu kembali ke Padepokan Tirtaloka, sedangkan Rangga melanjutkan perjalanannya.

********************

“Apa...?!” Bidadari Dasar Neraka membelalakkan matanya dengan suara nyaring. Kedua anak buahnya diam sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap bola mata perempuan cantik yang mendelik lebar. Tatapannya begitu tajam berkilat-kilat, seakan-akan sepasang bola api yang hendak membakar hangus seluruh tubuh mereka.

Bidadari Dasar Neraka memang kelihatan marah sekali sampai wajahnya terlihat memerah dan meregang kaku. Tapi sebentar kemudian, gadis itu terlihat terdiam seperti memikirkan sesuatu. Keningnya jadi berkerut, dan kelopak matanya pun terlihat menyipit. Sementara, dua orang pengikutnya masih belum berani mengangkat kepala. Sudah barang tentu mereka tidak tahu perubahan yang terjadi pada wajah Bidadari Dasar Neraka.

“Tadi kalian menyebutkan julukannya. Hm.... Siapa dia?”

“Pe..., Pendekar Rajawali Sakti,” sahut Raja Manik, tergagap.

“Hmmm...,” gumam Bidadari Dasar Neraka sambil tersenyum-senyum kecil.

“Orangnya masih muda dan tampan, Nyai...,” tambah Raja Manik Laki-laki tinggi kurus ini berharap, setelah mendengar kabar itu kemarahan Bidadari Dasar Neraka akan berubah. Dia memang pandai sekali melihat perubahan raut wajah majikannya. Dan ini cepat di manfaatkannya, sebelum kemarahan wanita Bidadari Dasar Neraka kembali memuncak

“Masih muda dan tampan?”

“Betul, Nyai!” sahut Raja Manik mulai memperlihatkan senyumnya.

Raja Manik sudah menyangka kalau Bidadari Dasar Neraka sudah hilang marahnya. Tapi, ternyata perkiraannya meleset jauh. Dan tiba-tiba saja, wajah Bidadari Dasar Neraka kembali berubah meregang kaku. Dan....

“Setan! Kau ingin merubah pendirianku untuk tidak menghukummu, heh...?!” hardik Bidadari Dasar Neraka, kembali mendelik bola matanya.

Raja Manik mengkerut. Wajahnya kembali pucat pasti dan tertunduk ketakutan, melihat raut wajah Bidadari Dasar Neraka kembali angker. Dan suaranya pun sudah kembali tergagap.

“Ten..., tentu saja tidak, Nyai...,” ujar Raja Manik buru-buru.

“Bagus! Kalau begitu, cari dan tangkap dia!”

“Eh! Tapi..., tapi....”

“Goblok! Apakah kalian ingin membuat aku malu? Atau ingin kupenggal kepala kalian sekarang juga, heh...?!”

“Ba.... Baik, Nyai...,” sahut Raja Manik cepat.

Mereka langsung melangkah menuju ke pintu dengan membawa senjata baru, pengganti senjatanya yang telah dihancurkan Pendekar Rajawali Sakti. Namun senjata itu masih dengan bentuk yang sama. Mereka tampak melangkah bergegas. Tapi belum juga keluar, sudah terdengar teriakan Bidadari Dasar Neraka.

“Tunggu...!”

“Eh...?! Ada apa lagi, Nyai...?”

“Tolol! Tentu saja aku ikut denganmu!” sentak Bidadari Dasar Neraka. “Setelah dipecundangi, apakah kalian pikir mampu menangkapnya...? Huh! Goblok...?!”

“Tentu saja tidak, Nyai. Itulah yang kami maksudkan...,” wajah Raja Manik terlihat cerah.

“Apa yang kau maksudkan?!”

“Eh! Maksudku..., dia terlalu menghina, Nyai. Katanya, dia tidak takut dan akan menghajar Nyai habis-habisan kalau nanti berhadapan. Untuk itulah, kebetulan sekali kalau Nyai bermaksud bertempur dan menangkapnya. Serta...,” Raja Manik tersenyum tidak me-lanjutkan kata-katanya.

“Hi hi hi...! Kau memancingku, Raja Manik. Tapi kau pikir, aku bisa dikibuli begitu saja, he...? Setelah dikalahkan, kalian tentu dendam dan bermaksud meminjam tanganku, bukan? Tapi kalau aku bermaksud menangkapnya, bukan berarti itu kulakukan untuk kalian. Ini urusanku, mengerti...! Sedikit saja dia dicelakakan, tidak ada ampun lagi buat kalian berdua. Paham...?!” keras sekali suara Bidadari Dasar Neraka.

Raja Manik jadi terdiam membisu. Dan kini wajahnya tidak lagi bisa diangkat, untuk menatap wajah cantik wanita itu. Sedangkan Gondo Keling yang sejak tadi tidak terdengar suaranya, semakin dalam saja menundukkan wajahnya. Suaranya benar-benar tidak bisa lagi dibuka melihat kemarahan Bidadari Dasar Neraka sudah meluap, bagaikan gunung berapi yang tinggal menunggu waktu saja untuk memuntahkan laharnya.

“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Bidadari Dasar Neraka.

“Ba.... Baik, Nyai,” sahut Raja Manik dan Gondo Keling berbarengan.

Sesaat kemudian, mereka bertiga telah berlari cepat ke suatu arah yang ditunjukkan Raja Manik. Tidak ada seorang pun yang bicara lagi. Entah, apa yang ada dalam kepala mereka masing-masing saat ini. Tapi sesekali terlihat seulas senyum tersungging di bibir wanita berwajah cantik bagai bidadari yang selalu mengenakan baju tipis warna biru muda ini.

********************

Namun begitu mereka tiba di tempat pertarungan dua orang pengikut Bidadari Dasar Neraka ini melawan Pendekar Rajawali Sakti tadi, tidak satu pun yang melihat ada orang di sini. Bidadari Dasar Neraka kemudian memutuskan untuk menyusul mereka ke Padepokan Tirtaloka. Pikirnya, Pendekar Rajawali Sakti telah membawa kembali Sadewo ke sana. Tapi baru saja bermaksud meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja....

Wusss!
Slap!
“Heh...?! Hup...!”

Tiba-tiba dua buah bayangan berkelebatan begitu cepat, dan tahu-tahu di depan sudah berdiri dua sosok tubuh menghadang mereka. Wajah sosok yang baru datang itu terlihat garang, menunjukkan dendam kesumat. Melihat dari raut wajah, tampaknya mereka telah berusia sekitar empat puluh tahun lebih. Yang seorang, laki-laki berbaju kembang-kembang. Pada tangan kanannya tergenggam pedang. Sedangkan yang seorang lagi wanita berwajah bulat Pakaiannya berwarna ungu, pada tangannya terlihat sebatang tongkat berhulu kepala naga.

“Hi hi hi...! Ternyata dua orang sahabat lama yang hadir. Ki Dewok Sisik dan Nyi Palaning. Ada keperluan apa kalian jauh-jauh menemuiku?” tanya Bidadari Dasar Neraka seraya memperdengarkan suara tawanya yang nyaring dan kering.

“Hm. Ternyata dugaanku benar. Kau adalah Bidadari Dasar Neraka....” Laki-laki yang tadi disebut Bidadari Dasar Neraka bernama Ki Dewok Sisik hanya mendengus sinis.

Sebaliknya, perempuan bernama Nyi Palaning itu sudah langsung memperlihatkan kegarangannya. “Perempuan keparat! Kedatangan kami ke sini bukan bermaksud beramah-tamah denganmu. Tapi, ingin membuat perhitungan hutang nyawa!”

“Eh! Sabar dulu, Sobat. Sejak kapan aku berhutang nyawa denganmu?”

“Huh! Pura-pura berdalih. Dua hari yang lalu seorang muridku kedapatan tewas dengan tubuh pucat menguning. Sedangkan muridku yang lain kau buat cedera hingga ada yang tewas. Kau tahu, apa artinya itu? Kupikir hanya perbuatan seorang gadis bejat saja yang mengaku Bidadari Dasar Neraka. Tapi, siapa nyana pelakunya ternyata memang kau sendiri, yang dengan nafsu iblismu menyedot sari kejantanan setiap pemuda untuk membuatmu terus awet muda!”

“Hi hi hi...! Melihat caramu berbicara, agaknya kau cemburu betul denganku. Tapi, siapa yang mengatakan aku sebagai penyebab tewasnya murid-muridmu? Justru mereka hendak membunuhku! Maka, tentu saja aku melawan. Dan soal muridmu yang tewas itu, ohhh...! Dia betul-betul menggairahkan....”

“Perempuan cabul! Terimalah kematianmu! Yeaaa...!”

“Heh...! Agaknya kau semakin galak saja.” Bidadari Dasar Neraka bergerak cepat menghindari serangan.

Tapi saat itu juga Ki Dewok Sisik tak mau ketinggalan. “Nyi Palaning, jangan serakah! Dia juga punya hutang nyawa denganku!”

“Huh! Siapa peduli urusanmu! Kalau kau suka, ambil saja bagianmu nanti!”

“Aku tidak sabar. Tidak peduli apa kata orang, yang penting dia harus mampus ditanganku!” tegas Ki Dewok Sisik. Laki-laki itu sudah langsung menyerang Bidadari Dasar Neraka dengan pedang terhunus.

“Hi hi hi...! Sayang! Sebenarnya, ingin sekali aku menghajar kalian berdua bersamaan. Tapi, kedua pembantuku jadi tidak punya kerjaan. Biarlah kau bermain-main dengan mereka saja, Ki Dewok Sisik!” Kata-kata Bidadari Dasar Neraka seperti perintah bagi Raja Manik dan Gondo Keling. Tanpa diperintah langsung lagi, mereka sudah langsung melesat ke arah Ki Dewok Sisik.

“Yeaaah...!"

“Keparat! Kalau kalian ingin mampus, kemarilah lekas!” bentak Ki Dewok Sisik kesal bercampur geram, seraya menghentikan serangannya pada Bidadari Dasar Neraka.

Karena tiba-tiba saja kedua orang itu telah menyerangnya cepat sekali bagaikan angin topan dahsyat, tentu saja membuat Ki Dewok Sisik jadi berang setengah mati. Cepat dia melompat, berkelit menghindari serangan dua orang pengikut Bidadari Dasar Neraka.

“He he he...! Pikirlah, Gondo Keling. Sebaiknya dia kita apakan? Apakah kau tertarik jika nanti orang ini dibuat sup makan malam mu?”

“Ha ha ha...! Aku suka sekali, Raja Manik. Sayang, dagingnya pasti alot. Tapi tidak apalah untuk mengganjal perutku yang lapar,” sahut Gondo Keling tertawa lebar.

Merasa diremehkan begitu, tentu saja Ki Dewok Sisik semakin geram saja. Gerahamnya bergemerutukkan menahan amarah. Dan beberapa kali ludahnya disemburkan sambil mendengus, mencoba bertahan untuk tidak terpancing amarahnya. Ki Dewok Sisik langsung merubah jurus, dan memainkan jurus andalannya, ‘Memancing Bulan Bintang’. Jurus ini penuh tipu dan gerakan cepat, serta mengandalkan tenaga dalam kuat Sesaat, terlihat kedua lawan Ki Dewok Sisik kerepotan. Raja Manik menggeram. Gada berdurinya tampak meleset cepat menimbulkan desiran angin kencang, memapak setiap serangan lawan.

Sementara, Gondo Keling sendiri memainkan cambuk berdurinya seperti mengejar ke mana saja lawan bergerak.

“Hiyaaa...!”

ENAM

Pada suatu kesempatan, Ki Dewok Sisik mengelebatkan pedangnya. Melihat serangan yang begitu cepat, Raja Manik segera memapaknya dengan gada berduri.

Trakkk!

Benturan dua buah senjata yang berlawanan jenis tak dapat dielakkan lagi. Namun akibatnya, Ki Dewok Sisik jadi terlongong bengong begitu menyadari kalau pedangnya telah patah. Tubuhnya memang sempat terjajar, namun tak urung dia jadi terpaku sesaat.

Sementara, gada Raja Manik pun terlepas dari genggaman. Mendapat kesempatan baik ini, Gondo Keling segera ikut membantu dengan lecutan cambuknya. Sedangkan Raja Manik kembali menyerang dengan kepalan tangan kanan yang berisi tenaga dalam penuh.

Ctar!
Diegkh!
“Aaakh!”

Tubuh Ki Dewok Sisik langsung terjungkal ke belakang sejauh tiga tombak disertai jerit kesakitan, begitu dua serangan lawan mendarat telak di dada dan iganya. Dari mulutnya kontan menyembur darah merah kehitam-hitaman. Sesat kepalanya bergerak pelan, kemudian diam untuk selamanya. Nyawanya langsung melayang saat itu juga, dengan dada yang hancur dan tulang-tulang iga patah.

Nyi Palaning sempat melihat kematian Ki Dewok Sisik. Namun perempuan tua itu hanya mendengus sinis. Selain memang tidak ada urusan dengan orang tua itu, saat ini Bidadari Dasar Neraka sedang gencar mendesaknya. Bahkan keadaannya semakian terpojok. Tongkat di tangannya yang sejak tadi diandalkan untuk mendesak lawan, seperti tidak berarti apa-apa menghadapi kelincahan tubuh Bidadari Dasar Neraka yang bergerak ringan dan cepat sekali.

“Aku sudah bosan bermain-main denganmu, Nenek Peot! Kini terimalah kematianmu!” desis Bidadari Dasar Neraka sambil mencabut pedang kembarnya.

Sriiing!

“Huh! Perempuan rendah! Kau pikir kesombongan mulutmu mampu membuktikan hal itu? Kaulah yang akan mampus hari ini!”

Bidadari Dasar Neraka tidak mempedulikan ucapan Nyi Palaning. Dan tubuhnya sudah langsung bergerak bagai kilat dengan sambaran kedua pedang pendek dari perak di tangan yang dahsyat dan saling susul, ke arah kepala, dada, dan pinggang lawan.

Melihat serangan ini, Nyi Palaning jadi terkejut setengah mati. Agaknya, lawan betul-betul hendak membuktikan ucapannya. Maka, tongkatnya segera diputar sedemikian rupa untuk membentengi tubuhnya, dan sesekali balas menyerang.

Sementara itu dengan mengerahkan tenaga dalam penuh, Bidadari Dasar Neraka berusaha menembus pertahanan lawan. Langsung dihantamnya tongkat ditangan Nyi Palaning.

“Hiyaaat..!”
Prakkk!

Perempuan tua itu jadi terkejut, karena tongkatnya patah jadi dua dihantam pedang lawan. Bahkan tubuhnya sempat tergempur beberapa langkah ke belakang. Tangannya kontan terasa ngilu seperti kesemutan, sehabis beradu senjata tadi. Dan karena begitu terkejut, Nyi Palaning lupa pada pertahanannya. Maka....

Crab!
Cras!
“Aaakh!”

Nyi Palaning kontan berteriak kesakitan, begitu pedang lawan menembus jantungnya. Dan ternyata, Bidadari Dasar Neraka tidak memberi ampun sedikit pun. Maka sabetan pedang berikutnya, langsung menyambar leher Nyi Palaning hingga nyaris putus. Perempuan tua itu jadi terhuyung-huyung seperti ayam disembelih. Tubuhnya langsung ambruk dan nyawanya langsung melayang.

Bidadari Dasar Neraka dan kedua pembantunya langsung meninggalkan tempat itu, begitu lawan-lawannya sudah tidak berkutik lagi.

********************

Desa Parit Susuk berbatasan dengan Desa Jambu Pasir yang terletak di sebelah timurnya. Keadaannya cukup ramai, walau kalah jauh dibandingkan desa tetangganya. Saat itu seorang pemuda tampan berambut terurai tampak berjalan santai memasuki mulut Desa Parit Susuk. Pemuda berbaju rompi putih yang tidak lain Rangga, atau lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti, saat ini merasa perutnya mulai lapar.

Lalu, dicarinya kedai makanan yang terdekat Namun ada hal yang sedikit aneh. Ternyata, beberapa orang tengah memperhatikannya dengan seksama. Bahkan salah seorang dari mereka malah mendekat.

“Kisanak! Kalau kau masih sayang pada nyawamu, sebaiknya lekas tinggalkan desa ini!” kata orang itu langsung memperingatkan.

Rangga mengerutkan alisnya. “Bahaya apa gerangan Kisanak?”

“Sudahlah jangan terlalu banyak tanya! Telah banyak pemuda gagah berwajah tampan sepertimu yang menjadi korban perempuan iblis itu!”

“Perempuan iblis?” tanya Rangga, jadi teringat penuturan Sadewo.

Sebelumnya, Pendekar Rajawali Sakti memang tidak mempunyai urusan dengan perempuan itu. Tapi sepanjang jalan, banyak terdengar tentang perbuatan cabul sekaligus sangat kejam yang dilakukan wanita iblis itu. Pemuda-pemuda berparas tampan serta gagah diculiknya, lalu ditinggalkan dalam keadaan tewas.

“Siapa lagi kalau bukan Bidadari Dasar Neraka!” sahut laki-laki berkulit hitam dan berbaju lusuh.

Rangga mengangguk. “Terima kasih atas nasihatmu, Kisanak. Tapi, perutku lapar. Mana mungkin aku bisa kuat berjalan sebelum diisi....”

“Terserah mu sajalah. Aku hanya memperingatkan. Banyak orang di sini yang mengungsikan putranya ke Desa Jambu Pasir atau ke kotaraja, karena di sana lebih aman!”

Setelah berkata demikian orang itu langsung meninggalkan Rangga. Pendekar Rajawali Sakti hanya menggeleng perlahan. Dalam hatinya, setelah mendengar sepak terjang perempuan itu, justru malah ingin bertemu dan berniat menghentikan perbuatannya. Kaki Rangga lurus melangkah, dan masuk ke dalam sebuah kedai!

Kedai ini tampaknya sepi pengunjung. Paling tidak yang terlihat hanya tujuh orang yang masing-masing berada dalam empat buah meja. Melihat gerak-geriknya, agaknya mereka termasuk orang-orang persilatan. Namun Rangga tidak mempedulikan, dan langsung memesan makanan. Dan begitu pesanan datang, Rangga segera menyantapnya.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti selesai menyantap hidangan, dari mulut kedai muncul seorang gadis berparas cantik Bajunya berwarna putih dengan rambut panjang diikat pita putih. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang terbuat dari perak. Walaupun cantik namun wajahnya terlihat galak. Di sebelahnya tampak berjalan seorang pemuda gagah berwajah tampan. Di punggungnya, tersembul pedang berukuran besar.

Melihat sikap mereka, agaknya kedua anak muda ini adalah sepasang kekasih. Rangga hanya menatap mereka sekilas. Dan dia bermaksud untuk meninggalkan kedai, tapi cepat mengurungkan niatnya. Saat itu matanya melihat dua orang bertubuh besar yang tadi berada di pojok kedai, bangkit dan mendekati kedua anak muda itu.

“Bidadari Dasar Neraka! Kebetulan kau berada di sini. Kami Sepasang Naga Pertala, akan membuat perhitungan atas perbuatanmu membunuh saudara seperguruan kami!” kata salah seorang dari Sepasang Naga Pertala yang memiliki tubuh tinggi besar.

Sementara, gadis berbaju putih itu menaikkan alis dengan pandangan heran. Di liriknya kedua laki-laki bertubuh besar dan kasar itu. Yang berbicara dengannya tadi, sepasang matanya bulat seperti melotot Sedangkan yang seorang lagi, bermata sayu dengan kelopak kiri codet sepanjang jari telunjuk.

“Dua pengemis busuk, menyingkirlah dari hadapanku!” geram gadis itu dengan suara nyaring.

“Huh! Setelah sekian lama mencarimu, baru sekarang bertemu. Kau pikir apa aku akan membiarkan mu pergi begitu saja?! Kau harus menerima balasan dari kami!” balas salah seorang dari mereka dengan wajah garang.

“Kurang ajar! Apa urusannya hingga kau menuduhku yang tidak-tidak?!”

“Sudah, Taji Sulur! Untuk apa berlama-lama. Biar kubereskan perempuan keparat ini!” sentak laki-laki yang bermata sayu, langsung menghantamkan kepalan tangannya ke meja.

“Tahan, Kisanak!” teriak pemuda di sebelah gadis yang dipanggil Bidadari Dasar Neraka, berniat mencegah. Tangannya langsung disodorkan untuk menangkis.

Plak!

Tapi laki-laki bermata sayu tidak mempedulikannya. Langsung kakinya diayunkan menendang pemuda itu dengan cepat.

“Taji Lalang! Hadapilah pemuda tolol itu! Biar perempuan iblis ini kubereskan!” teriak si mata bulat yang bernama Taji Sulur, langsung menyerang gadis berbaju putih.

Hiyaaat..!”

“Gembel-gembel keparat! Kupecahkan batok kepala kalian berani mengganggu orang tanpa sebab!” teriak gadis itu, sambil berusaha mengelak.

“Berteriaklah sepuas hatimu, Perempuan Cabul! Tapi hari ini, Sepasang Naga Pertala akan menghentikan perbuatan terkutukmu!”

“Keparat! Kau tuduh aku perempuan cabul?! Hih! Betul-betul akan kuremukkan kepalamu!” sentak gadis itu geram.

Pertarungan keempat orang itu berlanjut di luar, ketika si pemilik kedai berteriak-teriak memohon agar barang-barang miliknya tidak hancur berantakan. Mendengar disebutnya nama Bidadari Dasar Neraka oleh kedua Naga Pertala itu, tentu saja menarik perhatian semua orang yang berada di situ. Mereka langsung berduyun-duyun menyaksikan pertarungan, dan memaki-maki gadis itu. Bahkan beberapa orang penduduk melemparinya dengan benda-benda keras.

Tak bisa dilukiskan betapa marahnya penduduk desa ini terhadap perempuan berjuluk Bidadari Dasar Neraka. Memang, beberapa hari ini, sepuluh orang pemuda desa kedapatan tewas dengan tubuh pucat kekuningan. Beberapa orang melihat mereka diculik oleh seorang perempuan yang berjuluk Bidadari Dasar Neraka.

“Jahanam keparat! Apa-apaan ini?! Kubunuh kalian semua...!” teriak gadis itu kalap.

Pedang pendeknya berkelebat ke sana kemari menghindari hujan benda-benda keras yang dilemparkan para penduduk ke arahnya. Dan dia juga harus menghindari serangan lawan yang bertangan kosong sambil berusaha membalas. Gerakan gadis itu sungguh gesit, hingga sedikit pun tidak mengalami kesulitan menghadapi lawan. Bahkan sedikit demi sedikit Taji Sulur terlihat mulai terdesak hebat Kedua tangannya yang memiliki kuku-kuku tajam bagai cakar maut, sama sekali tidak berkutik menghadapi permainan pedang gadis itu.

“Kini mampuslah kau, Keparat!” Sehabis membentak nyaring, ujung pedang si gadis menyambar ke arah leher Taji Sulur.

Namun, Taji Sulur cepat menundukkan kepala. Melihat kesempatan yang hanya sedikit ini, saat itu juga kaki kanan gadis itu sudah melayang ke ulu hati lawan. Taji Sulur masih sempat menghindar dengan melompat ke atas. Tapi, gadis itu telah menyusulinya dengan kelebatan pedang ke arah leher, dada, dan pinggang. Taji Sulur cepat bersalto ke samping, tapi tubuh si gadis sudah berputar dengan kedua kaki terbuka lebar. Langsung dilepaskannya tendangan beruntun ke perut dan dada Taji Sulur yang tidak mampu mengelak Tubuh lelaki bermata bulat itu terpental dua tombak. Namun sebelum jatuh ke tanah, ujung pedang gadis itu sudah memburu ke arah jantungnya.

“Tahan...!” Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat cepat ke arah pertarungan Taji Sulur melawan Bidadari Dasar Neraka.

Cepat gadis itu menghentikan serangan. Begitu juga pemuda yang tengah bertarung dengan Taji Lalang. Mereka langsung memberi hormat pada orang tua berusia lanjut dan berjenggot putih sepanjang dada.

“Eyang Guru...!”

Orang tua itu mengangguk ramah sambil mengelus jenggotnya, kemudian berpaling pada Sepasang Naga Pertala.

“Kisanak berdua, ada urusan apa hingga kalian berurusan dengan kedua orang muridku?” tanya orang tua itu, ramah.

“Huh! Kau rupanya Raja Pedang Bermata Dewa. Pantas saja permainan pedang mereka cukup tangguh. Tapi tidak kusangka kalau murid perempuanmu mempunyai sifat dan kelakuan seperti iblis!” desis Taji Sulur, dengan wajah tidak senang.

“Kisanak! Benarkah tuduhanmu itu? Kalau murid perempuanku ini dituduh bersifat dan berkelakuan seperti iblis, dapatkah kalian berdua membuktikannya?” tanya orang tua yang ternyata berjuluk Raja Pedang Bermata Dewa, masih bersikap ramah.

“Buktikan apa lagi?! Tanyakan pada semua penduduk di sini, siapa yang tidak kenal Bidadari Dasar Neraka perempuan cabul berkelakuan iblis!”

Mendengar kata-kata Taji Sulur, semua penduduk yang masih berada di situ mengacungkan tangan dengan teriakan-teriakan marah kepada gadis yang disangka Bidadari Dasar Neraka.

“Kisanak! Dengar penjelasanku! Kalian salah duga jika menuduh muridku sebagai Bidadari Dasar Neraka. Aku justru menyuruh mereka untuk menghentikan sepak terjang perempuan iblis itu!” tandas Raja Pedang Bermata Dewa.

“Dusta! Kau hanya berdalih untuk melindungi muridmu!”

“Hm.... Pernahkah sebelumnya kau bertemu perempuan itu?”

Taji Sulur dan Taji Lalang terdiam sesaat. “Melihat langsung memang tidak. Tapi dari ciri-ciri yang kami peroleh, sama dengan murid perempuanmu itu!”

“Menuduh tanpa bukti adalah fitnah, Kisanak. Kau telah memfitnah muridku. Dan itu perbuatan keji. Bagaimana mungkin bisa menuduhnya sebagai Bidadari Dasar Neraka, tanpa kau melihatnya sendiri? Apakah bila ada seratus gadis yang berpakaian sepertinya, lalu akan kau tuduh sebagai Bidadari Dasar Neraka pula? Lalu, bagaimana jika ternyata bukan perempuan yang dimaksud, sedangkan dia telah kau bunuh. Sudah puaskah hatimu karena ternyata Bidadari Dasar Neraka yang asli masih berkeliaran?”

Sepasang Naga Pertala kembali terdiam, wajahnya kali ini tidak segarang tadi. Agaknya kata-kata Raja Pedang Bermata Dewa mengena juga di hati mereka. Keduanya saling berpandangan sejenak.

“Raja Pedang Bermata Dewa! Kami tidak akan meminta maaf, sebelum terbukti kalau gadis itu bukan perempuan yang kami cari. Tapi kalau ternyata benar, maka bukan dia saja yang tidak akan selamat. Bahkan akan kupastikan, seluruh tokoh persilatan akan mengejarmu karena melindungi perempuan keji berhati iblis!”

“Aku bertanggung jawab penuh terhadap segala perbuatan yang dilakukan kedua muridku!” sahut Raja Pedang Bermata Dewa itu mantap.

Sepasang Naga Pertala mendengus sinis, sebelum meninggalkan tempat itu. Tapi belum lagi melangkah jauh, tiba-tiba sesosok tubuh ramping telah berdiri di dekat pemuda tampan murid Raja Pedang Bermata Dewa.

“Hi hi hi...! Ada urusan apa di sini, hingga kelihatan ramai sekali?”

Semua mata tersentak berpaling ke arah asal suara. Maka, tampaklah seorang gadis berparas jelita berusia sebaya dengan murid perempuan Raja Pedang Bermata Dewa. Rambutnya panjang terurai, sebatas pinggul. Bajunya tipis, sehingga bagian tubuhnya terlihat jelas. Sehingga, mata setiap laki-laki yang berada di situ seperti tidak berkedip. Di pinggangnya tampak sepasang pedang pendek terbuat dari perak. Melihat kehadiran dan gerak-geriknya yang genit dan tersenyum memikat, membuat Sepasang Naga Pertala memandang curiga.

“Siapa kau?!” bentak Taji Sulur langsung.

Tapi gadis itu pura-pura tidak mendengar. Dia malah memandang pemuda di dekatnya sambil tersenyum. “Kakang, kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak mengenaliku lagi?”

“Siapa kau?!” tanya pemuda itu dengan dahi berkerut menunjukkan kebingungannnya.

Sementara itu, murid perempuan Raja Pedang Bermata Dewa sudah langsung mencibir. “Sudahlah, Kakang Prana. Akui saja kalau memang dia kekasihmu...,” kata gadis itu sinis.

“Utari! Dengar dulu penjelasanku! Aku sama sekali tidak mengenalnya!” Pemuda yang dipanggil Prana itu bermaksud menghampiri gadis bernama Utari.

Tapi yang dihampiri sudah langsung melarikan diri dari tempat itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Baru saja Prana akan menyapa, tapi secepat itu pula gadis cantik di dekatnya bergerak menyambar. Pemuda itu cepat menyadari keadaan. Cepat ditangkisnya sambaran tangan itu, tapi jari tangan lain gadis itu menyerang dengan gerakan sulit diikuti mata biasa. Tahu-tahu saja, sebuah totokan mendarat di tubuh Prana. Akibatnya, tubuhnya jadi kaku seperti tidak bertulang. Prana langsung ambruk tertotok. Dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah, gadis itu telah menyambarnya sambil berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.

“Perempuan iblis! Ternyata kaulah orangnya! Kau pikir bisa melarikan diri dariku? Yeaaa...!”

Raja Pedang Bermata Dewa yang sempat melihat perbuatan gadis itu berniat mengejar. Dia memang telah menduga, kalau gadis itu tidak lain dari Bidadari Dasar Neraka yang sedang dipersoalkan tadi. Tapi baru saja tubuhnya hendak mengempos tenaganya, tiba-tiba dua sosok tubuh langsung menghadang dan mengirim serangan beruntun ke arahnya.

“Yeaaa...!"
Ctaaar!

“Jahanam!” maki Raja Pedang Bermata Dewa.

Kalau saja dia tidak cepat berkelit, mungkin tubuh Raja Pedang Bermata Dewa akan hancur dihajar ujung cambuk berduri milik sosok yang tak lain dari Gondo Keling. Dan belum lagi sempat menguasai diri, sabetan gada berduri dari Raja Manik nyaris meremukkan batok kepalanya. Orang tua itu cepat merebahkan tubuhnya, kemudian bergulingan dengan kaki menyilang menyambar salah seorang lawan.

“Hiyaaat..!”
“Uts!”
Wuuut!

Raja Manik dan Gondo Keling memang bukan lawan enteng bagi Raja Pedang Bermata Dewa. Dengan senjata dan kepandaian yang tidak rendah, sulit mengalahkan salah satu di antara mereka dalam waktu singkat. Bahkan, belum tentu Raja Pedang Bermata Dewa mampu mengalahkan mereka secara berbarengan. Namun demikian, nama Raja Pedang Bermata Dewa bukanlah nama kosong. Dia amat disegani semua tokoh persilatan karena ketinggian ilmu silatnya. Apalagi bila sudah memainkan ilmu pedangnya seperti saat ini.

Sementara mendengar teriakan orang tua itu. Sepasang Naga Pertala terkejut. Gadis yang baru tiba itu ternyata perempuan yang dicarinya. Tanpa mempedulikan orang tua yang sedang dikeroyok dua orang itu, mereka langsung mengejar Bidadari Dasar Neraka. Namun, meski telah mengerahkan ilmu lari cepatnya, tetap saja Bidadari Dasar Neraka itu tidak juga tersusul. Bahkan jarak mereka semaian jauh, dan akhirnya gadis itu malah menghilang. Sepasang Naga Pertala kini hanya bisa memaki-maki kesal karena kehilangan buruannya.

********************

TUJUH

Melihat gadis itu kabur sambil membawa lari pemuda murid Raja Pedang Bermata Dewa, Pendekar Rajawali Sakti mulai curiga. Maka, tubuhnya langsung melesat secara kilat. Langsung dikerahkannya ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar gadis itu. Namun setelah sekian jauh berlari, Pendekar Rajawali Sakti merasakan kalau ilmu lari cepat gadis itu hebat sekali. Meski seluruh kemampuannya sudah dikerahkan, tapi jaraknya dengan gadis itu tidak semakin dekat. Bahkan perlahan-lahan jaraknya semakin jauh.

Melihat hal itu, Rangga tidak habis pikir. Dia mendengus kesal dalam hati. Tiba-tiba, Pendekar Rajawali Sakti menghentikan larinya sambil memperhatikan arah lesatan gadis itu. Setelah menduga-duga arahnya, Rangga berlari cepat ke arah padang rumput yang agak luas. Begitu tiba, kepalanya segera mendongak ke atas. Lalu....

“Suiiit!”

Kembali Pendekar Rajawali Sakti mendongakkan kepalanya, mengharapkan rajawali raksasa sahabatnya mendengar panggilannya. Setelah menunggu beberapa saat, di kejauhan terlihat sebuah titik hitam yang semakin lama semakin besar. Dan begitu bentuknya terlihat jelas yang berupa rajawali raksasa putih keperakan, Pendekar Rajawali Sakti tersenyum girang.

“Syukurlah kau mendengar panggilan ku, Rajawali Putih....”

“Khragkh...!”

Rajawali Putih menukik cepat bagai kilat, sambil menguncupkan kedua sayapnya. Sementara, Rangga memasang kuda-kuda agar tubuhnya tidak terlontar oleh angin kencang yang ditimbulkan kepakan sayap burung rajawali sahabatnya. Dan begitu mendarat, dielus-elusnya bulu-bulu Rajawali Putih seperti ingin menumpahkan rasa rindu dan sayangnya.

“Rajawali Putih! Aku memerlukan bantuanmu. Bawalah aku ke arah utara secepatnya” kata Rangga, langsung naik ke punggung Rajawali Putih.

Seperti mengerti apa yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti, Rajawali Putih langsung melesat cepat ke arah yang ditunjukkan Rangga. Dan dalam waktu singkat, mereka sudah membelah angkasa di atas awan-awan yang berarak.

“Aneh! Ke mana gadis itu? Secepat apa pun dia bergerak, mustahil bisa menghilang begitu saja!” desis Rangga keheranan sambil memperhatikan keadaan di bawah.

Dengan mengerahkan aji Tatar Netra’ Pendekar Rajawali Sakti dapat melihat jelas apa yang ada di bawah sana. Sebuah lembah gelap yang pengap banyak ditumbuhi pohon lebat. Dari celah ranting pohon, terlihatlah sebuah pekuburan tua yang diapit sebuah lereng gunung. Di situ, ternyata tidak ada satu tempat yang diduga untuk persembunyian. Juga tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Beberapa kali Rangga berputar-putar di atas tempat itu, dan memeriksa keadaan sekelilingnya. Namun tidak juga ditemukan jejak gadis itu. Yang terlihat hanya Sepasang Naga Pertala yang berjalan pelan sambil menendang dan memukul apa saja yang ditemui di tengah jalan. Tadinya Rangga akan menyuruh Rajawali Putih untuk melesat kembali. Tapi, tiba-tiba matanya menangkap seorang gadis berbaju putih tengah berlari kencang sambil mendekap wajahnya dengan kedua tangan.

Arah yang dituju gadis itu, mau tidak mau akan berlawanan dengan Sepasang Naga Pertala, meskipun masih jauh. Rangga bisa memperhitungkan, mereka akan bertemu di persimpangan jalan. Apa yang diperkirakan ternyata terbukti. Gadis itu memang bertemu Sepasang Naga Pertala di persimpangan jalan. Namun, tampaknya gadis itu tidak peduli. Sedangkan Sepasang Naga Pertala yang memang sedang kesal karena buruannya menghilang, bermaksud menumpahkan kekesalannya pada gadis itu.

“Berhenti!”

Tapi gadis itu tidak menggubrisnya. Melihat hal ini, Taji Sulur dan Taji Lalang sudah langsung melompat menghadang. Gadis itu segera menghentikan langkahnya. Dan begitu melihat siapa yang menghadang di depannya, langsung diserang Sepasang Naga Perkasa dengan pedang pendek di tangan.

“Gembel busuk keparat! Kalau bukan karena kalian, semua ini tidak akan terjadi! Yeaaa...!”

“Huh! Kau pikir kami akan begitu mudah percaya dengan tipuan gurumu? Kali ini, kau tidak akan berdaya dan akan mampus di tangan kami!” bentak Taji Sulur sambil mendengus garang.

Maka pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Gadis yang tidak lain Utari dan merupakan murid Raja Pedang Bermata Dewa langsung menyerang ganas. Memang, sejak melihat kehadiran seorang wanita cantik yang gerak-geriknya sangat manja terhadap Pranajaya, rasa cemburunya langsung meledak!

Hatinya terasa perih dan tidak kuasa melihat hal itu. Dengan membawa luka hati, Utari pergi meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan siapa pun. Tapi, siapa nyana tiba-tiba dua orang yang tadi menimbulkan kerusuhan dan membuatnya terhina, sudah menghadangnya. Kini, tak heran kalau Utari seperti menemukan pelampiasan sakit hatinya dengan menyerang ke arah dua lawannya secara bertubi-tubi. Kalau saja berhadapan satu persatu, mungkin Utari mampu mengalahkannya.

Tapi kali ini, kedua lawan-nya maju berbarengan, menggunakan paduan ilmu silat yang kompak. Akibatnya, serangan yang dilancarkannya selalu kandas. Bahkan kalau tidak hati-hati, mungkin dia sendiri yang akan terkena serangan balasan lawan yang sangat gencar. Dan dengan satu serangan yang tidak terduga, Sepasang Naga Pertala mampu membuatnya kewalahan. Utari cepat membabatkan pedang pendeknya ketika datang serangan dari Taji Lalang dengan sodokan pukulan. Tapi, Taji Lalang cepat menarik serangannya, dan secepat kilat berkelit.

Sementara saat itu juga, Taji Sulur sudah langsung membantu dengan ayunan kaki kanannya ke perut Utari. Serangannya begitu cepat, sehingga Utari jadi terdesak hebat. Cepat dihindarinya serangan itu. Tapi kemudian, Taji Lalang menyusuli dengan pukulan ke arah dada.

“Hiyaaat..!”
Plak!

Gadis itu kontan menjerit kesakitan dan tubuhnya langsung terbanting ke tanah. Dan belum sempat Utari bangkit, Taji Sulur sudah mengejar seraya mengirimkan satu pukulan mautnya.

“Mampus!”
Wusss...!
“Heh!”

Taji Sulur tersentak kaget ketika tiba-tiba saja mendesir angin kencang yang membuatnya hampir terpental. Untung saja kuda-kudanya dipasang kuat-kuat. Ternyata angin keras yang mendesir itu berasal dari sebuah bayangan hitam yang tampak semakin membesar. Dan belum lagi Sepasang Naga Pertala tersadar, dari bayangan hitam itu melompat sosok pemuda berbaju putih. Pemuda tampan berompi putih itu berdiri gagah di antara mereka ketika angin kencang sudah berhenti.

Sementara itu Sepasang Naga Pertala sampai terbelalak memperhatikan seekor rajawali raksasa berdiri tegak dengan dada membusung. Seumur hidup, baru kali ini mereka melihat burung rajawali yang demikian besar. Sampai-sampai, mulut mereka ternganga dengan mata mendelik Sedangkan di dekat burung raksasa itu terlihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di balik punggungnya tampak tersembul gagang pedang berbentuk kepala burung. Siapa lagi kalau bukan Pendekar Rajawali Sakti.

“Kaukah pemilik burung ini? Menurut kabar, pemilik burung ini adalah Pendekar Rajawali Sakti. Kisanak! Kaukah orangnya?” tanya Taji Sulur.

“Benar. Demikianlah orang-orang memberi gelar padaku. Kulihat, sejak tadi kalian terus bertengkar. Bahkan kini ingin saling membunuh. Tidakkah kalian merasa malu dengan bertindak bodoh seperti ini? Padahal, orang yang tengah diributkan sedang mencari keuntungan di tengah-tengah kalian sendiri,” kata Rangga atau lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

“Apa maksudmu, Kisanak?” tanya Taji Sulur merasa kurang senang.

“Maksudku, kenapa kalian malah saling menumpahkan kekesalan dan kemarahan pada orang yang bukan pada tempatnya. Bidadari Dasar Neraka adalah persoalan kalian. Dan, padanyalah kalian seharusnya menumpahkan kemarahan!”

Taji Sulur dan Taji Lalang berpikir sesaat Sepertinya, mereka mengerti apa yang dikatakan pemuda itu. Tapi sebenarnya dalam benak mereka tengah terlintas bayangan, bagaimana pemuda itu mengendarai seekor burung rajawali raksasa yang mampu terbang cepat? Padahal, belum lama pemuda itu berada di dalam kedai. Dan kini, tiba-tiba sudah berada di tempat ini. Jelas, pemuda itu mengendarai rajawali raksasa untuk ikut mengejar Bidadari Dasar Neraka. Inilah kecurigaan mereka. Tidak diragukan lagi, belakangan ini banyak sekali tokoh persilatan yang mencari perempuan Bidadari Dasar Neraka untuk membuat perhitungan.

“Kisanak! Kau tadi pasti bersama kawanmu itu sudah berkeliling di angkasa. Apakah kau tidak melihat, ke mana menghilangnya Bidadari Dasar Neraka?” tanya Taji Lalang.

Rangga menggeleng lemah. “Sayang sekali..., aku sudah mencarinya hingga berputar-putar di seluruh tempat ini. Tapi, jejaknya hilang di perbukitan itu,” tunjuk Pendekar Rajawali Sakti ke satu arah. Sepasang Naga Pertala mengikuti arah yang ditunjuk pemuda itu.

“Maksudmu, Lereng Gunung Setan?!” tanya mereka hampir berbarengan.

Rangga mengerutkan dahi setelah mengangguk. Nada ucapan mereka terlihat sumbang, seperti mengisyaratkan ketakutan ketika mendengar nama tempat itu. Pendekar Rajawali Sakti sendiri baru tahu kalau perbukitan yang tadi dilihatnya bernama lereng Gunung Setan. Tapi apa hebatnya tempat itu, hingga kedua orang ini terlihat ketakutan?

“Kisanak, ada apakah di tempat itu sebenarnya?”

“Itu tempat keramat. Dan tidak seorang pun yang sampai di tempat itu, akan bisa keluar hidup-hidup. Bahkan datuk persilatan sekalipun berpikir seribu kali untuk mendatanginya,” jelas Taji Sulur.

“Hmmm, jadi sekarang bagaimana? Apakah kalian tidak bermaksud mengejar Bidadari Dasar Neraka? Besar dugaanku, dia bersembunyi di tempat itu!” kata Rangga menambahkan.

Pemuda itu sengaja berkata demikian untuk menakut-nakuti Sepasang Naga Pertala. Padahal dia sendiri tidak yakin, apakah perempuan iblis itu berada di sana. Tapi melihat paras Sepasang Naga Pertala yang mulai gentar, di situlah kesempatannya menakut-nakuti. Ditanya begitu, Sepasang Naga Pertala pura-pura tidak mempedulikannya.

“Biarlah, lain kali saja. Kalau dia kami temui di luaran. Perempuan itu tentu tidak akan selamat!” ujar Taji Sulur, menutupi rasa takutnya.

“Kisanak, kami permisi dulu!” lanjut Taji Lalang.

Sepasang Naga Pertala melirik sejenak pada Utari sebelum meninggalkan tempat itu. Bagaimanapun, nama Pendekar Rajawali Sakti memiliki pengaruh tersendiri di hati mereka. Kalau saja mereka berkeras untuk menggempur gadis itu, bukan tidak mungkin Pendekar Rajawali Sakti akan turun tangan. Bahkan persoalan akan semakin runyam. Jalan terbaik memang menghindar. Dan itu yang dilakukan Sepasang Naga Pertala.

“kisanak! Apakah kau baik-baik saja?” sapa Rangga mendekati gadis itu.

Gadis itu tidak menjawab. Malah, dia sibuk membersihkan debu-debu yang melekat pada pakaiannya. Dan tanpa menoleh lagi, kakinya terus melangkah meninggalkan pemuda itu.

Rangga tersenyum kecil sambil mendesah pelan. “Sungguh malang nasib orang tua itu memiliki murid yang tidak sopan. Bahkan sepatah kata pun tidak terucap untuk sekadar berbasa basi...,” sindir Rangga.

Gadis itu berbalik Sepasang matanya, langsung melotot garang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. “Kisanak! Jangan sampai kutampar mulutmu yang kurang ajar! Seenaknya saja kau menuduh orang tidak sopan! Apakah kau pikir sudah hebat, karena menolongku? Huh! Aku tidak memerlukan pertolonganmu!”

“Heh? Kenapa jadi marah? Apakah kau merasa kata-kataku menyinggung perasaanmu. Aku tak menuduh siapa-siapa, Nisanak!”

“Huh! Dasar laki-laki, pandai berpura-pura. Jadi kalau bukan ditujukan padaku, ditujukan kepada siapa lagi?!” dengus gadis itu kesal.

“Maaf, Nisanak! Aku tidak ada waktu untuk meladeni kelakuanmu yang kekanak-kanakan! Kalau kesal karena merasa kekasihmu memiliki perempuan lain, kau salah duga. Perempuan itu berjuluk Bidadari Dasar Neraka. Dan kekasihmu bukan sedang bersenang-senang, tapi sedang menghadapi maut!” kata Rangga, sebelum melompat ke pundak rajawali raksasa tunggangannya, lalu melesat cepat ke angkasa.

Pendekar Rajawali Sakti memang paling tidak suka meladeni gadis yang sok pintar dan mau menang sendiri. Gadis itu terhenyak. Bagaimana mungkin pemuda tadi mampu bergerak secepat itu? Dia sendiri sulit melihat gerakannya, karena tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti telah melesat cepat bersama Rajawali Putih.

“Pendekar Rajawali Sakti? Siapa dia sebenarnya? Apakah seorang datuk persilatan?” pikir Utari.

Dan pikiran itu dihubungkannya dengan sikap Sepasang Naga Pertala yang sangat hormat pada pemuda itu. Pastilah dia seorang tokoh hebat Tapi, apa yang dikatakannya tadi? Oh! Benarkah itu? Benarkah Kakang Prana saat ini dalam bahaya? Kalau benar gadis itu Bidadari Dasar Neraka, berarti aku sudah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkannya begitu saja.”

********************

“Eyang Guru, maafkanlah tindakanku yang bodoh. Ke manakah Kakang Prana sekarang?” ucap Utari, ketika telah menemui gurunya, Raja Pedang Bermata Dewa. Raja Pedang Bermata Dewa menyarungkan pedangnya sambil menghela napas berat.

“Dia dilarikan perempuan itu....”

“Bidadari Dasar Neraka?” Orang tua itu mengangguk, sehingga membuat Utari tampak cemas.

“Eyang! Kita harus menolongnya! Tadi, aku sempat bertemu Pendekar Rajawali Sakti....”

“Apa?! Pendekar Rajawali Sakti?”

Gadis itu heran melihat keterkejutan gurunya setelah mendengar julukan itu disebutnya.

“Kau bertemu dengannya? Di mana?!” Utari lalu menceritakan secara singkat pertemuannya dengan Pendekar Rajawali Sakti. Juga diceritakannya tentang kemungkinan menghilangnya Bidadari Dasar Neraka.

“Sungguh gegabah kau mengumpatnya! Aku sendiri pun belum tentu unggul melawannya. Sudahlah. Lebih baik, kita menuju lereng Gunung Setan untuk mencari jejak perempuan itu. Dan Pranajaya harus diselamatkan, apa pun akibatnya!”

“Eyang! Kenapa tempat itu begitu ditakuti?” tanya Utari.

“Konon, dahulu kala di situ bersembunyi seorang tokoh sesat yang belum pernah terkalahkan. Tapi setelah puluhan tahun, namanya tenggelam begitu saja. Yang ada hanya cerita dari mulut ke mulut yang terus hidup,” jelas orang tua itu.

Utari kini mengerti. Lalu mereka kemudian berian meninggalkan tempat pertemuan mereka. Sebuah tempat di depan kedai, tempat Pranajaya diculik Bidadari Dasar Neraka.

********************

DELAPAN

Meski tidak begitu yakin akan dugaannya, tapi Rangga menyempatkan menyelidiki tempat tadi. Firasatnya mengatakan, bahwa perempuan itu bersembunyi di tempat ini. Dan dugaannya ternyata tidak meleset. Di bawah sana atau tepatnya di daerah pekuburan, samar-samar terdengar suara orang bertarung. Rangga tidak bisa memastikan, siapa saja orang-orang itu. Maka disuruhnya rajawali raksasa sahabatnya untuk turun.

“Terima kasih, Rajawali! Sekarang terbanglah tinggi-tinggi, tapi jangan jauh-jauh. Aku masih membutuhkanmu,” ujar Rangga sebelum mereka berpisah.

“Khraaagkh...!”

“Jaga dirimu baik-baik, Rajawali!” seru Rangga sambil melambaikan tangan begitu sahabatnya telah membubung tinggi ke angkasa.

Setelah tidak terlihat lagi, Rangga langsung berlari cepat ke arah pertarungan yang dilihatnya tadi dari angkasa. Lereng Gunung Setan memang merupakan tempat angker. Bukan saja karena suasananya yang mencekam, tapi juga banyak terdapat kuburan tua. Pohon-pohonnya besar dan telah berusia ratusan tahun. Juga, terdapat sebuah cerita rakyat tentang bersemayamnya seorang tokoh sesat yang berilmu silat sangat tinggi. Dan selama malang-melintang di dunia persilatan, dia belum menemukan tandingan.

Tapi cerita itu telah terkubur puluhan tahun yang lalu. Bahkan lebih dari satu abad, sehingga sudah mulai dilupakan orang. Namun keangkeran lereng Gunung Setan tetap saja membawa ingatan yang menakutkan bagi siapa saja. Apalagi, konon tidak ada seorang pun yang selamat bila melewati tempat itu.

********************

Sementara itu, Ki Wisnu Perkasa banyak mendapat penjelasan dari sahabatnya yang bernama Ki Bangkalan. Orang tua itu sejak menjadi abdi kerajaan, memang jarang berkecimpung dalam dunia persilatan. Padahal, dulunya dia termasuk pendekar muda yang disegani. Persahabatan di antara mereka masih terus terjalin sampai sekarang. Kini, mereka sedang berjalan menuju arah yang jauh di depan terlihat bukit-bukit kecil. Salah satunya terdapat lereng Gunung Setan. Dan agaknya, itulah yang menjadi tujuan mereka.

"Apakah kau merasa yakin kalau perempuan iblis itu bersembunyi di sana?” tanya Ki Wisnu Perkasa.

“Murid-muridku telah ku sebar kemana-mana. Termasuk, mengawasi tempat itu dari kejauhan. Kau tahu sendiri, Ki Wisnu? Perempuan itu adalah Bidadari Dasar Neraka sesungguhnya. Dia telah menjadi gadis cantik, sejak hidup sezaman dengan kita....”

“Tapi, kenapa wajahnya seperti gadis remaja?”

Ki Bangkalan terkekeh. “Itulah yang sejak tempo hari ku pikirkan. Saudara seperguruanku yang bernama Ki Balung, juga beberapa orang muridnya, telah tewas. Aku baru tahu kalau dia Bidadari Dasar Neraka, dari sisa murid Ki Balung yang masih hidup. Mulanya, aku tidak yakin. Tapi ketika mendengar bahwa tempat persembunyiannya di Gunung Setan, maka dugaanku semakin kuat Setan Kayangan, yang memang bersemayam di tempat itu pasti menurunkan kepandaiannya, sehingga kemajuan Bidadari Dasar Neraka begitu pesat”

“Kita akan menemukan lawan tangguh kalau ternyata dia memang masih hidup, Ki.”

Ki Bangkalan kembali terkekeh. “Kalau Setan Kayangan masih hidup, dia sudah tua renta dan tenaganya sudah lemah!”

“Bisa saja kau bergurau, Ki....”

“Coba lihat!” Ki Bangkalan tiba-tiba menunjuk ke suatu arah, begitu telah tiba di pekuburan tua itu. Dan memang, mereka melihat gadis yang dicari-cari keluar lewat sebuah pintu di dinding bukit terjal di belakang pekuburan. Di pundaknya, terlihat sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa, dan langsung dilemparkannya begitu saja ke dalam sebuah lubang yang telah tersedia.

“Perempuan iblis! Kiranya betul kau bersembunyi di sini!” bentak Ki Bangkalan sambil melompat ke hadapan gadis itu, di susul Ki Wisnu Perkasa.

Gadis berbaju tipis berwajah cantik dengan rambut panjang terurai itu terkejut sejenak. Tapi kemudian cepat bisa menguasai diri sambil tersenyum-senyum.

“Hm.... Dua kakek bangkotan rupanya yang mengunjungi ku. Ada apa gerangan?”

“Bidadari Dasar Neraka! Perbuatanmu sudah kelewat batas. Kau harus mempertanggung jawabkannya hari ini juga!” dengus Ki Bangkalan.

“Hi hi hi...! Kata-katamu seperti Malaikat Maut yang menentukan kematianku. Ki Bangkalan dan kau Ki Wisnu Perkasa. Dahulu saja, kalian tidak mampu mengalahkanku. Apalagi sekarang, setelah aku mempelajari warisan Setan Kayangan. Dengan sekali kebut, kalian akan menyesal!”

“Heh? Jadi benar kau mewarisi kepandaian Setan Kayangan?!” kata Ki Bangkalan, terkejut. Tapi orang tua itu buru-buru menepis keterkejutan di wajahnya, dan kembali menunjukkan sikap garang.

“Hi hi hi...! Kenapa? Kau terkejut? Nah, menyingkirlah dari sini sebelum kesabaranku habis. Aku sedang tidak berselera menyambut kalian. Bidadari Dasar Neraka lalu berbalik, bermaksud masuk ke dalam gua di perut bukit. Tapi saat itu juga...

“Bidadari Dasar Neraka! Kau pikir seenaknya saja melakukan perbuatan iblismu tanpa ada tanggung jawab? Biarlah ku korbankan jiwa kroposku ini, daripada mendiamkan perbuatanmu yang semakin merajalela!” bentak Ki Wisnu Perkasa.

“Hiyaaat..!” Dengan cepat, tubuh Ki Wisnu Perkasa yang tinggi besar itu melesat menyerang Bidadari Dasar Neraka. Tampaknya dia tidak mau sungkan-sungkan lagi untuk menggunakan senjatanya yang aneh. Panjangnya seperti pedang. Tapi matanya, berlekuk-lekuk seperti keris.

Wajah Bidadari Dasar Neraka tampak beringas. Dengan cepat tubuhnya bergerak menghindar. Langsung dibalasnya serangan itu dengan sepasang pedang pendek dari perak.

“Hm. Sebenarnya aku tidak ingin membunuh orang. Tapi kalian terlalu memaksa. Biarlah, hari ini ku bungkam orang-orang sok pahlawan seperti kalian. Yeaaah...!”

Ki Wisnu Perkasa terkejut melihat gerakan perempuan itu. Pandangannya yang selama ini cukup terlatih, ternyata mendapat sedikit kesulitan melihat lawan berkelebat demikian cepatnya. Maka, cepat-cepat senjatanya dibabatkan.

Trak!
“Akh!”

Terlihat percikan bunga api ketika senjata mereka berbenturan. Kembali Ki Wisnu Perkasa mengeluh ketika tangannya terasa perih dan ngilu. Perempuan itu betul-betul tidak memberi kesempatan sedikit pun. Bahkan kini tiba-tiba ujung pedang pendeknya berkelebat ke arah tenggorokan. Ki Wisnu Perkasa cepat bergerak ke samping. Dan...

Bret!
“Akh!"

Ujung pedang berhasil merobek pinggang Ki Wisnu Perkasa. Dia berteriak kesakitan. Namun serangan Bidadari Dasar Neraka tidak berhenti sampai di situ. Bahkan ujung pedangnya yang sebuah lagi, menderu deras ke jantung lawan.

“Bidadari Dasar Neraka, lihat serangan!” Ki Bangkalan berteriak nyaring sambil melompat menyerang, pada saat-saat jiwa sahabatnya terancam.

Bidadari Dasar Neraka seketika menghentikan serangan. Dan tanpa menoleh, kakinya terayun menghajar dada Ki Wisnu Perkasa. Sedangkan tangannya memapak tongkat Ki Bangkalan yang menderu ke arah batok kepala.

“Akh...!” Ki Wisnu Perkasa terjungkal beberapa tombak sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat tendangan lawan yang begitu keras. Walau segenap tenaga dalamnya telah dikerahkan, tapi tetap saja Ki Wisnu Perkasa terluka dalam yang cukup parah. Dari mulutnya tidak henti-henti keluar darah segar.

Sementara itu, dengan geram Bidadari Dasar Neraka mencurahkan perhatian pada Ki Bangkalan. Lawannya ini sedikit memiliki kepandaian lebih tinggi dibanding Ki Wisnu Perkasa. Tapi hal itu ternyata tidak menyulitkannya. Puluhan tahun lalu, mereka memang pernah bertarung. Dan sampai saat ini, ternyata kemajuan yang dicapai orang tua itu tidak terlalu pesat Sehingga, dengan mudah serangannya dapat dibaca lawan, dan cepat dipatahkannya.

Dalam satu kesempatan, kedua pedang Bidadari Dasar Neraka berkelebat cepat, dan sulit dielakkan Ki Bangkalan. Maka sejadi-jadinya orang tua itu menangkis dengan tongkatnya. Tapi ketika ternyata mereka beradu, tongkat Ki Bangkalan putus menjadi tiga potong. Sementara itu, ujung pedang lawan yang satunya lagi ternyata langsung menyambar telak perutnya.

Bret!
“Akh!”
“Mampus!”

Ki Bangkalan mengeluh kesakitan dengan tubuh sempoyongan. Dan belum juga dia menyadari apa yang terjadi, Bidadari Dasar Neraka telah berkelebat untuk menghabisinya. Dan....

Trek!
“Heh!”
“Hiyaaat..!”
“Uts!”

Bidadari Dasar Neraka kontan menghentikan serangan ketika sebuah kerikil menghantam pedangnya. Dan tahu-tahu, di depannya terlihat seorang pemuda tampan berambut panjang. Bajunya rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung tersembul di balik punggungnya. Melihat ketampanan pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti, Bidadari Dasar Neraka mendesah kagum. Dan seketika, senyumnya terkembang.

“Hi hi hi...! Kukira tua bangka dari mana lagi yang akan menjadi pahlawan kesiangan. Tak tahunya, ternyata pemuda gagah yang kesasar di tempatku ini. Bocah, siapa namamu?” kata Bidadari Dasar Neraka, genit

“Pendekar Rajawali Sakti! Oh, syukurlah...,” desau Ki Bangkalan tersenyum lagi.

“Ow? Kaukah orangnya yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti? Hm.... Kedua pemandu ku telah bercerita banyak tentangmu. Dan, baru kali ini mereka tidak berdusta. Kau sungguh tampan dan cocok sebagai pendamping ku,” kata Bidadari Dasar Neraka dengan gerak-gerik genit dan kata-kata yang dibuat sehalus mungkin.

Rangga tersenyum kecil. “Oh! Jadi kaukah orangnya yang bergelar Bidadari Dasar Neraka? Pantas saja semua laki-laki bertekuk lutut padamu. Wajahmu demikian cantik jelita. Suatu kehormatan besar bagiku bisa menjadi pendampingmu. Kapankah aku memulainya?”

Ki Bangkalan dan Ki Wisnu Perkasa yang melihat sikap pemuda itu menjadi curiga. Kali ini, habislah harapan mereka karena ternyata Pendekar Rajawali Sakti bertekuk lutut melihat kecantikan perempuan iblis itu. Kalau mereka berpikir begitu, lain halnya Bidadari Dasar Neraka. Pemuda itu tidak terlihat sama sekali kalau sudah takluk. Kata-katanya dikeluarkan disertai rasa penuh percaya diri, seperti mengejek. Tapi, dugaannya itu disembunyikan.

“Hi hi hi...! Kenapa mesti tergesa-gesa? Kemarilah, Sayang. Sebagai pendamping ku, kau akan ku manja dan kuberi kedudukan istimewa....”

Rangga mendekati perempuan itu dengan sikap waspada. Tampak Bidadari Dasar Neraka merentangkan kedua tangannya untuk memeluknya.

“Kemarilah, Sayang. Mendekatlah lagi, agar aku bisa menumpahkan semua kasihku padamu,” ujar Bidadari Dasar Neraka dengan suara renyah dan mendayu.

Rangga terus mendekat Dan...

Plak!

Dugaan Rangga ternyata terbukti. Tangan kiri Bidadari Dasar Neraka bergerak cepat sekali, untuk menotok pundaknya. Tapi tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti tidak kalah cepat dalam menangkis. Serangan wanita iblis itu ternyata hanya berselang beberapa saat saja, seketika tangan kanannya bergerak menotok kembali.

Rangga cepat memiringkan tubuhnya. Namun bersamaan dengan itu, lutut kiri Bidadari Dasar Neraka menghantam pangkal pahanya. Dan disertai teriakan nyaring, Rangga bergerak ke atas dan berputaran beberapa kali di udara. Kemudian kedua kakinya mendarat mulus di atas tanah, tanpa suara sedikit pun.

“Hi hi hi...! Ternyata dugaanku tidak keliru. Kau bukan pemuda sembarangan. Tapi, jangan harap bisa mengelabuiku, heh? Kau akan ku taklukkan di bawah telapak kakiku!” desis Bidadari Dasar Neraka, lalu kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan sepasang pedang pendeknya.

“Hm.... Perempuan cabul, apakah kau pikir aku akan suka menyerah begitu saja? Kau boleh coba kalau mampu!” ujar Rangga, sinis.

“Kau pikir, siapa dirimu bisa berkata sombong seperti itu? Gurumu sendiri mungkin tidak akan segegabah itu!” kata Bidadari Dasar Neraka.

“Guruku memang tidak akan berkata seperti itu. Tapi, dia akan langsung menendang mu ke neraka!”

“Keparat!”
“Hm....”

Dalam kemarahannya Bidadari Dasar Neraka tidak tanggung-tanggung lagi. Kedua pedangnya menyambar cepat, dibayangi gerakan tubuhnya yang sangat cepat dan sukar diikuti pandangan biasa. Rangga cukup terkejut, tapi tidak gugup. Kecepatan lawan dalam bergerak memang luar biasa. Bahkan ketika jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’, telah dikeluarkan Bidadari Dasar Neraka masih juga mampu mengejarnya. Malah ketika jurus itu dimainkan penuh, gerakan Bidadari Dasar Neraka semakin cepat lagi.

Beberapa jurus telah berlangsung, namun Rangga tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang. Perempuan iblis itu betul-betul tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk menarik napas.

“Baru kau rasakan sekarang kalau mulut besarmu hanya omong kosong belaka. Sebentar lagi, kau akan mampus di tanganku! Yeaaah...!”

Dalam suatu kesempatan, Bidadari Dasar Neraka mengelebatkan pedang pendeknya ke arah leher Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan merunduk, Rangga berhasil mengelakkannya. Hanya saja, sayangnya Rangga tidak memperhatikan pedang pendek yang satu lagi dari Bidadari Dasar Neraka. Karena begitu tubuhnya merunduk, pedang di tangan kiri lawan menyambar dadanya.

Cras!
“Aaakh!”

Dan sebelum Rangga memperbaiki keadaannya, Bidadari Dasar Neraka telah menyusuli dengan sebuah pukulan jarak jauh yang cukup keras!

Wusss!
“Aaakh...!”

“Aku tidak akan membuatmu mati enak. Tapi, kau harus bertekuk lutut dan menyembahku untuk memohon ampun!” dengus Bidadari Dasar Neraka.

Rangga saat itu langsung terjerembab dan berguling-guling di tanah. Dan tubuhnya terus berguling-guling ketika dari telapak tangan perempuan iblis itu menyembur sebuah sinar kuning kemerah-merahan seperti nyala api. Serangannya memang seperti sengaja diarahkan ke bagian tubuh yang tidak mematikan. Dan memang, hal itu disengaja Bidadari Dasar Neraka untuk menyiksa Pendekar Rajawali Sakti terlebih dahulu.

“Pukulan Api Kematian ini akan mengakhiri kesombonganmu! Hiyaaat..!”

Rangga cepat bangkit berdiri. Dan dalam kesempatan yang sempit itu, dia merasa sudah saatnya menghadapi lawan dengan pedang pusakanya. Maka ketika tubuhnya melenting ke atas untuk menghindari serangan lawan, pedangnya telah tercabut dari warangkanya. Maka, seketika sinar biru menerangi tempat itu. Bidadari Dasar Neraka kontan terkejut melihat kehebatan pamor pedang lawan. Apalagi ketika pedang dalam genggaman pemuda itu langsung melesat cepat bagai kilat ke arahnya. Perempuan iblis itu mencoba menangkis dengan kedua pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam tinggi. Dan....

Trang!

Betapa terkejutnya Bidadari Dasar Neraka ketika melihat kedua pedangnya putus. Masih untung dia cepat menghindar dari sambaran pedang lawan berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah begitu tinggi. Kini keadaan jadi berbalik. Bidadari Dasar Neraka harus mati-matian menyelamatkan selembar nyawanya dari serangan lawan yang gencar dan tidak henti-hentinya.

Sempat terlihat, kemarahan wajah Pendekar Rajawali Sakti begitu kaku dan membiaskan luar biasa. Ketika sinar biru yang keluar dari pedangnya menerangi sekitarnya. Dengan satu gerakan gesit, tubuh Bidadari Dasar Neraka melenting ke atas. Lalu dengan cepat, dia mempersiapkan ajiannya yang sangat dahsyat “Api Kematian’!

Yeaaah...!”

Tapi Pendekar Rajawali Sakti lebih cepat dan gesit menghindar. Bahkan tangan kirinya langsung mengusap batang pedang. Kemudian, telapak kirinya cepat disorongkan ke arah lawan.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’...!”
“Heh!”
Glaaar!

Bidadari Dasar Neraka yang baru saja melepaskan ajian tidak sempat menghindar lagi. Seketika tubuhnya hancur dihantam pukulan aji ‘Cakra Buana Sukma’ yang mengeluarkan sinar biru berkilauan. Tanpa sempat mengeluh, nyawanya langsung melayang dari raga yang telah hancur.

Rangga berdiri tegak dengan sorot mata tajam memandang lawannya yang telah hancur. Lalu, pedangnya disarungkan ke warangka di punggung.

“Selamat Kisanak! Kau telah menghancurkan biang malapetaka yang sangat meresahkan rimba persilatan"

Rangga berbalik, melihat Raja Pedang Bermata Dewa telah berada di situ bersama seorang murid perempuannya.

“Maaf, Kisanak. Aku tidak sempat menyelamatkan muridmu. Dia telah tewas sebelum aku tiba...,” kata Rangga sambil menunjuk ke sebuah lubang.

“Apa? Kakang Prana tewas?! Oh, tidak! Tidaaak..! Kakang Prana, jangan tinggalkan aku...!”

Utari berteriak sambil memburu ke lubang yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti. Air mata gadis berderai ketika mengeluarkan sesosok tubuh pucat kekuning-kuningan yang telah tidak bernyawa lagi. Tangisnya begitu memilukan.

Sedangkan Raja Pedang Bermata Dewa tidak kuasa menatapnya. Ki Wisnu Perkasa dan Ki Bangkalan pun hanya menundukkan kepala, ikut berduka cita. Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti telah melesat jauh, melanjutkan petualangannya.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PENDEKAR ANEH
Thanks for reading Bidadari Dasar Neraka I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »